Anda di halaman 1dari 15

Masalah kesehatan yang paling menarik perhatian berbagai sektor dan program adalah

masalah gangguan penggunaan NAPZA. Bukti-bukti ilmiah terkini telah menunjukkan


bahwa penyalahgunaan NAPZA khususnya mereka yang telah mengalami fase
ketergantungan, adalah brain disease, dimana proses kuratifnya membutuhkan waktu
yang panjang dan cara penanganan yang komprehensif. Sayangnya, sebagian besar
pemangku kepentingan di bidang NAPZA cenderung mengabaikan fakta yang penting
ini. Pendekatan yang digunakan cenderung bersifat moral model. Solusi penangananpun
lebih dititikberatkan pada pendekatan penegakan hukum. Pendekatan penegakan hukum
ini cenderung melarikan pengguna pada penjara daripada program terapi dan rehabilitasi.
Sesungguhnya pendekatan penegakan hukum itu sendiri di berbagai belahan dunia sudah
terbukti kurang efektif dalam merubah perilaku ketergantungan seseorang. Ada banyak
laporan, baik yang dilakukan secara sistematis maupun pribadi bahwa perilaku
ketergantungan NAPZA terus berlanjut sekalipun seseorang telah berada dalam lembaga
pemasyarakatan / rumah tahanan. Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa
penegakan hukum tidak penting, melainkan lebih menyoroti bagaimana sebaiknya sebuah
kebijakan dapat menyokong perubahan perilaku positif bagi mereka yang
menyalahgunakan NAPZA.
Kita tahu bahwa terdapat dualisme hukum positif yang berlaku di Indonesia saat ini. Hal
ini tercermin dari isi pasal-pasal pada UU no. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU
no. 22 tahun 1997 tentang Narkotika. Uraiannya adalah sebagai berikut:
• UU no 5 tahun 1997 tentang Psikotropika
o Pasal 17 dan 38 yang mengatur tentang kewajiban menjalani rehabilitasi
o Pasal 59 yang mengatur tentang ancaman pidana penjara
• UU no 22 tahun 1997 tentang Narkotika
o Pasal 45, 47 dan 48 tentang kewajiban menjalani rehabilitasi
o Pasal 78 dan 79 tentang ancaman pidana penjara
Seorang hakim pada sebuah pengadilan negeri di Jakarta pada saat diwawancara pernah
mengatakan bahwa hakim pada umumnya tahu mengenai dualisme ini, tetapi tidak cukup
memiliki keberanian untuk memutuskan wajib rehabilitasi bagi para pengguna karena
ketiadaan petunjuk teknis penggunaan pasal-pasal tersebut. Selain itu, tekanan berbagai
pihak untuk putusan pidana penjara jauh lebih kuat dibandingkan putusan wajib
rehabilitasi. Tidak heran bila sebagian besar pengguna NAPZA yang tertangkap oleh
petugas menghuni penjara dibandingkan dengan menjalani program rehabilitasi.
Dari berbagai literatur yang ada terbukti bahwa pemenjaraan tidak akan memperbaiki
status kesehatan, mental dan psikologis pengguna NAPZA. Kasus warga binaan lembaga
pemasyarakatan yang dirujuk ke RS Ketergantungan Obat (RSKO) sejak 2007 pada
umumnya berada pada kondisi umum yang buruk, dimana kurang lebih setengah
diantaranya sudah sulit untuk dilakukan intervensi medis oleh jenis layanan yang ada di
RSKO. Mereka yang dirujuk pada umumnya adalah pengguna NAPZA yang telah
terinfeksi HIV dan berada pada fase AIDS. Pertolongan menjadi sangat terlambat,
sementara mereka yang masih terlihat ”sehat” di lapas/rutan dianggap tidak memiliki
masalah kesehatan, sehingga belum menjadi prioritas penanganan medis. Kondisi lapas /
rutan yang tidak menunjang kondisi kesehatan fisik dan mental warga binaan semakin
menjauhkan proses perubahan perilaku ke arah yang positif.
Analisis biaya atas berbagai modalitas terapi bagi pengguna NAPZA di negara bagian di
US menunjukkan bahwa:
• Untuk setiap dolar yang dihabiskan bagi setiap pengguna yang mengikuti program
terapi dan rehabilitasi menghemat hingga 4 hingga 5 dolar atas biaya-biaya yang terkait
dengan penggunaan NAPZA (misalnya, kecelakaan akibat mabuk, kriminalitas,
hilangnya produktivitas, dll)
• Dalam setahun, proses penegakan hukum atas pengguna NAPZA menghabiskan
biaya $ 39.600 dan biaya bila yang bersangkutan tidak menjalani program terapi dan
rehabilitasi adalah $ 43.300 (MDA, 2002). Biaya ini jelas sangat tinggi bila dibandingkan
dengan pengguna NAPZA yang menjalani program yang hanya menghabiskan biaya rata-
rata $ 2.941 (CSAT, 2002).
Fakta di atas jelas menunjukkan bahwa program terapi dan rehabilitasi jauh lebih efisien.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa pengguna yang berada dalam program
untuk kurun waktu setidaknya 3 bulan mengalami perubahan perilaku yang signifikan.
Perubahan perilaku ini dapat lebih langgeng sifatnya apabila mereka menjalani program
lebih lama dan membina kontak dengan terapis serta teman sebaya yang positif setelah
selesai menjalani program.
Pemerintah perlu secara serius membuat suatu kebijakan yang lebih mendorong
pengguna untuk mencari pertolongan terapi dan rehabilitasi. Adanya wacana
menjalankan ketentuan wajib lapor dapat menjadi kontra produktif atas intervensi terapi
dan rehabilitasi. Lapor diri lebih berkonotasi pada penegakan hukum. Bila tujuannya
adalah untuk membantu mengatasi gangguan penggunaan zatnya, maka sebaiknya yang
perlu diberlakukan adalan ketentuan wajib menjalani terapi. Alokasi anggaran untuk
dapat mensubsidi pengguna dalam menjalani terapi dan rehabilitasi mutlak disediakan.
Pemerintah tidak perlu membangun pusat-pusat terapi dan rehabilitasi baru. Optimalisasi
atas pusat layanan yang ada sekarang ini perlu dilakukan. Selain itu juga perlu dilakukan
dukungan bagi sektor swasta dan lembaga non-pemerintah (LSM) yang menyediakan
layanan terapi dan rehabilitasi. Kerjasama dengan sektor swasta, khususnya dalam aspek
corporate social responsibility (CSR) yang dapat membantu masalah pembiayaan
program, menjadi sangat penting. Program-program perlu ditingkatkan mutunya dan
diperluas modalitasnya. Evaluasi atas keberhasilan program perlu dilakukan secara ajeg
sebagai akuntabilitas pada masyarakat Indonesia bahwa kebijakan ini terbukti jauh lebih
efektif daripada pemenjaraan.
PERMASALAHAN NARKOBA DI INDONESIA

A. Pendahuluan
Permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba
merupakan permasalahan yang masih dihadapi oleh negara – negara di dunia,
termasuk Indonesia. Akhir – akhir ini permasalahan tersebut semakin marak dan
komplek terbukti dengan meningkatnya jumlah penyalahguna, pengedar yang
tertangkap dan pabrik narkoba yang di bangun di Indonesia.
Berbagai upaya telah banyak dilakukan oleh pemerintah, swasta dan
masyarakat untuk mencegah dan mengatasi masalah tersebut. Namun, upaya –
upaya tersebut belum bisa dikatakan berhasil.
Kenapa upaya – upaya yang telah banyak dilakukan masih belum
mencapai hasil yang memuaskan? Apa saja kelemahan dan kendala dalam
mencegah dan mengatasi permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap
narkoba selama ini ? Apa yang perlu diperbaiki untuk mengatasinya ? Uraian
berikut dapat menjelaskan hal – hal tersebut.

B. Permasalahan Narkoba di Indonesia


Saat ini menurut hasil penelitian jumlah penyalahguna narkoba adalah
1,5% dari penduduk Indonesia atau sekitas 3,3 juta orang. Dari 80 juta jumlah
pemuda Indonesia, 3 % sudah mengalami ketergantungan narkoba, serta sekitar
15. 000 orang telah meninggal dunia (BNN,2006). Bahkan menurut Kalakhar
BNN, Drs I Made Mangku Pastika, setiap hari, 40 orang meninggal dunia di
negeri ini akibat over dosis narkoba. Angka ini bukanlah jumlah yang sebenarnya
dari penyalahguna narkoba. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.
Menurut Hawari (2002), fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti
fenomena gunung es. Angka yang sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari
jumlah penyalahguna yang ditemukan.
Meningkatnya jumlah penyalahguna narkoba dari tahun ke tahun tentunya
tidak bisa dianggap masalah yang ringan, tetapi perlu dianggap serius agar
penanggulangannya juga bisa dilakukan secara serius.
Secara umum diakui bahwa permasalahan penyalahgunaan narkoba di
Indonesia sangatlah kompleks, baik dilihat dari penyebabnya maupun
penanganannya. Bila dilihat dari penyebab terjadinya, penyalahgunaan narkoba
disebabkan oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor
– faktor tersebut antara lain faktor letak geografi Indonesia, faktor ekonomi,
faktor kemudahan memperoleh obat, faktor keluarga dan masyarakat, faktor
kepribadian serta faktor fisik dari individu yang menyalahgunakannya.
Dilihat dari letak geografi, Indonesia memang sangat beresiko menjadi
sasaran empuk pengedar narkoba karena posisi Indonesia yang terletak diantara
dua benua dan dua samudra. Disamping itu juga karena negara Indonesia
adalah negara kepulauan dengan banyak pelabuhan yang memudahkan jaringan
gelap dalam mengedarkan narkoba.
Dari faktor ekonomi, keuntungan yang berlipat dari bisnis narkoba
menyebabkan semakin maraknya bisnis ini di negeri kita. Dalam satu hari
seorang pengedar bisa mendapatkan uang yang sangat banyak karena harga
narkoba itu mahal. Satu pil ekstasi saja harganya 40.000 rupiah. Disamping
faktor keuntungan, faktor sulitnya mendapatkan pekerjaan dan gaya hidup yang
serba konsumtif juga merupakan faktor penyebab yang mendorong seseorang
menjadi pengedar narkoba.
Untuk faktor kemudahan memperoleh obat, saat ini di Indonesia narkoba
bisa dengan mudah diperoleh baik ditempat umum seperti warung maupun di
tempat – tempat tertentu seperti diskotik. Banyak yang menawarkan dan menipu
si korban agar mau mencoba. Awalnya diberikan gratis dengan dalih pertemanan
atau ingin menolong mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Bahkan narkoba
bisa ditemukan di kamar kos mahasiswa. Hasil penelitian Amin (2002)
mengungkap bahwa mahasiswa yang kos di jatinangor, Sumedang memperoleh
narkoba dari temannya yang sama – sama kos. Mereka menggunakan narkoba
dan melakukan sex bebas sebagai sarana rekreasi.
Faktor keluarga juga turut berperan dalam maraknya penyalahgunaan
narkoba. Zaman sekarang, akibat tuntutan kebutuhan hidup, kedua orang tua
harus membanting tulang untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga. Karena
kesibukannya, orang tua terkadang tidak punya waktu untuk berkomunikasi
dengan anak – anaknya. Dampaknya anak merasa tidak diperhatikan sehingga
mereka mencari orang lain diluar rumah yang mau memperhatikan mereka, dan
membentuk nilai – nilai sendiri dengan mengkaitkan dirinya dengan cara
menggunakan narkoba (Kusumanto dan Saifun,1975 dalam Yongky, 2003). Hal
tersebut juga didukung oleh Hawari (2002) yang menyatakan bahwa alasan
remaja menyalahgunakan narkoba adalah karena kehidupan keluarga yang tidak
harmonis, orang tua yang terlalu sibuk dan untuk lari dari masalah yang sedang
dihadapi.
Kurangnya contoh teladan dari orang tua dan kurangnya penanaman
disiplin di rumah membuat anak – anak cenderung bebas melakukan apa saja.
Dengan kondisinya yang serba ingin tahu membuat remaja akhirnya juga
terjerumus kepada penyalahgunaan narkoba.
Faktor lain yang juga menjadi penyebab banyaknya penyalahguna
narkoba adalah masyarakat. Akibat trend kehidupan yang cenderung
individualistis, saat ini kepedulian diantara anggota masyarakat terhadap
anggota masyarakat lainnya menjadi sangat berkurang. Dulu, bila ada anak
tetangga yang bersikap kurang sopan atau berbuat salah, tetangga berusaha
menegur. Tapi sekarang hal itu sudah tidak terjadi lagi karena pertama merasa
bahwa itu bukan anak saya, kedua karena takut orang tua si anak malah marah
kalau anaknya ditegur. Budaya yang dianut oleh sekelompok masyarakat juga
sangat besar pengaruhnya. Budaya ini terbentuk karena adanya publik figur
yang memberikan contoh. Misalnya, saat ini di kalangan remaja tertentu
menyalahgunakan narkoba menjadi kebanggaan karena artis idola mereka juga
menggunakan narkoba.
Faktor kepribadian seseorang juga berpengaruh terhadap
penyalahgunaan narkoba. Menurut YATIM (1991), penyalahguna narkoba
mempunyai ciri kepribadian lemah, mudah kecewa, kurang kuat menghadapi
kegagalan, bersifat memberontak dan kurang mandiri. Sedangkan hasil
penelitian Erwin Wijono, dkk (1982) dalam Yongky (2003) di RSKO Jakarta
menyimpulkan bahwa ketergantungan obat terlarang mudah terjadi pada mereka
dengan ciri –ciri kepribadian : mudah kecewa, cepat emosi, pembosan, lebih
mengutamakan kenikmatan sesaat tanpa memikirkan akibatnya di kemudian hari
atau pemuasan segera.
Faktor kepribadian ini sangat erat kaitannya dengan faktor keluarga,
dimana kepribadian seseorang sebenarnya banyak dibentuk dalam keluarga.
Bagaimana seorang anak diasuh oleh orang tuanya sangat berpengaruh
terhadap terbentuknya kepribadiannya. Seseorang yang diasuh dengan
pola asuh yang kurang tepat seperti terlalu dimanjakan atau sebaliknya
terlalu dikekang akan membentuk kepribadian yang lemah dan tidak
mandiri.

C. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Peredaran Narkoba


Karena penyebab yang sangat kompleks dari penyalahgunaan narkoba,
penanggulangannyapun tidaklah sederhana. Berbagai upaya telah banyak
dilakukan oleh pemerintah dalam rangka memerangi narkoba. Untuk
mengkoordinasikan penanganan masalah tersebut pemerintah sejak tahun 2002
telah membuat suatu Badan yang mengurusnya yaitu Badan Narkotika Nasional
(BNN) berdasarkan UU no 22 th 1997 pasal 54 serta Kepres no 17 th 2002.
Tugas pokok BNN adalah mengkoordinasikan instansi terkait dalam menyusun
kebijakan dan pelaksanaannya di Bidang penyediaan, pencegahan,
pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Disamping itu
juga melaksanakan pencegahan dan pemberantasan peredaran gelap narkoba.
BNN dalam operasionalnya ditingkat provinsi dilaksanakan oleh Badan
Narkotika Provinsi (BNP) dan pada tingkat kabupaten Kota oleh Badan narkotika
Kabupaten/Kota (BNK). Sampai saat ini telah terbentuk 31 BNP dari 33 provinsi
dan baru terbentuk 270 BNK dari 460 Kabupaten Kota di seluruh Indonesia.
Sayangnya, baru sebagian kecil dari BNP dan BNK tersebut yang mempunyasi
kantor sendiri dan mendapat anggaran dari APBD (SADAR, Maret, 2007).
Akibatnya, fungsi BNP dan BNK sendiri belum banyak terlihat.
Strategi Nasional .P4GN diarahkan pada terwujudnya Indonesia bebas
NARKOBA th 2015 melalui Pengurangan permintaan (demand reduction),
pengurangan sediaan (suplai reduction) dan pengurangan dampak buruk (harm
reduction) yang ditunjang dengan program penelitian dan pengembangan,
pemantapan koordinasi antar lembaga, pelibatan masyarakat dalam kegiatan
P4GN dan kerjasama international (SADAR, Maret, 2007).
Dalam upaya pengurangan permintaan melalui upaya preventif,
pemerintah melalui BNN telah melakukan berbagai upaya seperti pelatihan bagi
para fasilitator Penyuluh P4GN sebagai upaya meningkatkan keterampilan
mereka. Disamping itu juga telah bekerjasama dengan sekolah – sekolah untuk
melakukan penyuluhan. Melakukan kampanye anti narkoba dengan slogan anti
narkoba seperti “Say no to drug”, Narkoba, kado istimewa dari neraka, dan
sebagainya. Melakukan peringatan hari anti narkoba setiap tahun. Mengadakan
buku – buku, leaflet, pamlet, poster, VCD dan sebagainya yang dapat digunakan
masyarakat untuk memahami tentang narkoba. Disamping itu juga telah
diterbitkan tabloid SADAR oleh BNN yang berisikan berita seputar narkoba.
Pada bulan mei 2007 Pemerintah juga telah bekerjasama dengan Metro TV
untuk kampanye perang melawan narkoba.
Dalam upaya pemberantasan peredaran gelap narkoba pemerintah
melalui aparat keamanan dan penegak hukum telah banyak melakukan
penangkapan , penggerebekan serta pemberian hukuman. Seperti misalnya
penutupan pabrik narkoba di Cikande, Serang, Banten, tahun 2005,
penggeledahan di Lembaga Pemasyarakatan dan pemberian hukuman mati oleh
Mahkamah Agung pada 9 orang pengelola pabrik ekstasi Cikande baru – baru
ini (Pikiran Rakyat, mei 2007).
Dalam upaya kuratif dan rehabilitatif, pemerintah telah berupaya
mengadakan pusat – pusat rehabilitasi bagi korban narkoba seperti misalnya
RSKO di Jakarta dan pusat rehabilitasi narkoba di berbagai Rumah sakit Jiwa di
Indonesia dan panti rehabilitasi. Penanganan korban di pusat rehabilitasi
beragam, ada yang menggunakan substitusi dengan obat dan ada pula tanpa
obat, ada yang menggunakan pendekatan terapeutic community, pendekatan
spiritual dan lain – lain.
Bukan hanya pemerintah yang telah berupaya melakukan upaya
pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Masyarakatpun
sebenarnya sudah banyak yang berperan. Banyak LSM, yayasan maupun unsur
masyarakat seperti Karang taruna dan tokoh masyarakat yang dengan swadaya
melakukan upaya – upaya preventif, promotif dan rehabilitatif.
Apakah upaya tersebut telah mampu mengatasi permasalahan narkoba ?
Secara jujur tentu belum karena angka penyalah gunaan narkoba terus
meningkat dari tahun ke tahun.
D. Analisa Terhadap Berbagai Upaya Pencegahan dan
Penanggulangan Peredaran Narkoba
Dari Uraian diatas dapat dikatakan bahwa telah banyak upaya yang dilakukan
pemerintah dan organisasi masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi
masalah penyalahgunaan narkoba. Akan tetapi masih banyak kelemahan dan
kendala yang dihadapi.
Kelemahan pertama yaitu program BNN sampai tahun 2006 masih banyak
terfokus pada suplai reduction (SADAR, Desember, 2006). Pemantapan seaport
dan airport Interdiction menjadi salah satu upaya BNN bersama instansi terkait
untuk mencegah masuknya narkoba ke wilayah Indonesia. Hasilnya cukup
memuaskan, namun karena di Indonesia banyak pelabuhan laut terbuka yang
tidak punya alat pendeteksi canggih seperti X-Ray di bandara, maka peredaran
gelap narkoba masih saja terjadi (KOMPAS, 2005). Kasus 966 kilogram shabu di
teluk Naga yang terungkap pada bulan Agustus 2005 cukup sebagai bukti
sulitnya mengontrol kejadian ini. Bahkan akhir – akhir ini Indonesia bukan lagi
hanya sebagai kawasan peredaran saja tapi juga sebagai produsen. Beberapa
pabrik narkoba telah berdiri seperti misalnya pabrik ekstasi di Serang, Banten.
Kedua, BNN terlalu banyak mengerjakan program sendiri, kurang
melibatkan instansi terkait dan LSM. Seperti yang diungkapkan oleh Veronica,
direktur YCAB Jakarta. BNN harusnya seperti Bandar program, memberdayakan
LSM untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keahliannya kemudian
memberikan akses dan fasilitas kepada mereka untuk mempermudah pekerjaan
(SADAR, Desember, 2006). BNN sebaiknya lebih memerankan fungsinya
sebagai fasilitator dan koordinator kegiatan – kegiatan pemberantasan
penyalahgunaan narkoba dengan mendorong berbagai unsur yang ada di
masyarakat untuk lebih banyak terlibat dalam upaya memerangi
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
Ketiga, BNP serta BNK sebagai perpanjangan tangan BNN selama ini
belum berfungsi dengan baik. Beberapa BNP dan BNK hanya melakukan
kegiatan yang sifatnya seremonial seperti misalnya peringatan hari anti
NARKOBA tanpa menjalankan fungsi utamanya sebagai fasilitator dan
koordinator program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba.
Akibatnya timbul ketidakpuasan dari masyarakat terhadap kinerja BNP dan BNK.
Banyak dari LSM yang ada di daerah merasa tidak puas terhadap kinerja BNP
dan BNK. Konsekuensi lain adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
institusi terkait dan kelompok masyarakat tidak terkoordinir dengan baik
sehingga tidak mencapai sasaran.
Untuk itu diperlukan upaya evaluasi dan monitoring terhadap kinerja BNN,
dan lebih penting lagi evaluasi dan monitoring terhadap kinerja BNP dan BNK.
Disamping itu Pemerintah perlu membuat alat ukur untuk mengukur keberhasilan
BNP dan BNK dalam upaya pencegahan dan pemberantasan peredaran gelap
narkoba. Jangan sampai program – program yang ada hanyalah diatas kertas
atau lebih parah lagi hanyalah fiktif belaka.
Keempat adalah kurangnya kesadaran masyarakat awam tentang peran
mereka dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan
narkoba. Hal ini mungkin terkait dengan kurangnya sosialisasi keberadaan BNN,
BNP dan BNK serta program – programnya ke masyarakat sehingga masyarakat
banyak yang tidak mengenal adanya BNN, BNP dan BNK. Masyarakat hanya
tahu bahwa permasalahan narkoba adalah tanggung jawab pihak kepolisian
saja. Karena kurangnya pengetahuan dan ketakutan yang berlebuhan, mereka
cenderung tidak melaporkan kasus – kasus yang mereka temukan. Salah
seorang Kanit narkoba di Cimahi menceritakan pengalamannya tentang sulitnya
mendapatkan informasi dari masyarakat. Dia pernah mengiklankan “siapa yang
mau memberi informasi tentang adanya kasus narkoba di daerah mereka, akan
dibayar tinggi.” Tapi tetap tidak ada yang melapor.
Untuk lebih meningkatkan peran serta masyarakat, maka dalam setiap
kampanye atau penyuluhan di masyarakat perlu disampaikan tentang konsep
bela negara dimana seluruh rakyat Indonesia wajib membela negara. Jadi
semua warga negara diwajibkan untuk perang melawan penyalahgunaan dan
perdagangan gelap narkoba. Disamping itu kepada BNN, BNP dan BNK agar
lebih meningkatkan sosialisasinya ke masyarakat, terlebih lagi masyarakat di
pedesaan.
Kelima adalah masih kurangnya melibatkan unsur – unsur masyarakat
yang sebenarnya sangat strategis, efektif dan efisien untuk upaya preventif
seperti tokoh agama, kelompok ibu – ibu PKK, dan para kader di tingkat RT dan
RW. Permasalahan penyalahgunaan narkoba sangat terkait dengan masalah
moral dan kepribadian. Karena itu sangatlah tepat untuk melibatkan para tokoh
agama atau ulama atau ustad dan ustadzah dalam program pencegahan. Jika
perlu mereka didukung dengan dana yang memadai untuk menjalankan tugas
mereka. Bukan hanya untuk sektor terapi dan rehabilitasi seperti yang telah
dilakukan BNN dengan membuat kesepakatan bersama antara BNN, Colombo
plan dan Nahdatul ulama pada bulan Februari 2006
Para ibu – ibu PKK dan Ibu – ibu kader juga sangat penting untuk
dilibatkan dalam program pencegahan. Sebagaimana yang telah diketahui
bahwa sekitar 80 % dari pengguna adalah remaja. Remaja ini masih dalam
tanggung jawab orang tua. Kaum Ibu merupakan orang pertama yang bertugas
mendidik putra – putrinya. Ketidaktahuan kaum ibu tentang tumbuh kembang
anak dan remaja, pola asuh yang tepat bagi anak dan remaja serta narkoba bisa
menjadi penyebab remaja terjerumus menyalahgunakan narkoba.
Keenam adalah penyuluhan yang dilakukan selama ini pada masyarakat
terutama remaja kurang memperhatikan kondisi sasaran. Penyampaian materi
cenderung monoton, kurang variatif. Hasil penelitian Suryani (2006), baru – baru
ini tentang persepsi remaja terhadap pelaksanaan penyuluhan narkoba di
Jatinongor menunjukkan 54,4 % responden menyatakan negatif terhadap
metode dan pemberi materi pada penyuluhan yang pernah mereka ikuti. Mereka
menyarankan agar metode yang digunakan disesuaikan dengan kondisi remaja.
Ketujuh adalah bahwa program pencegahan dan rehabilitasi narkoba
belum menjangkau daerah pedesaan. Banyak orang – orang di pedesaan yang
tidak paham tentang narkoba sehingga mereka dengan mudah terjerumus.
Sebagai contoh banyak diantara para korban yang ada di Panti rehabilitasi
Pamardi Putra Lembang, Bandung berasal dari daerah pedesaan seperti Cililin,
pedesaan garut dan kuningan, Jawa Barat. Di daerah pedesaan di Sumatra
ketika saya kunjungan kesana, masyarakatnya banyak yang tidak mengerti
tentang permasalahan narkoba dan mereka belum pernah mendapatkan
penyuluhan tentang narkoba. Banyak remaja yang terlibat penyalahgunaan
narkoba.
Masalah lain adalah banyak dari slogan – slogan yang dibuat kurang
simpati, terkesan seram, dan misleading information : sebagai contoh
“NARKOBA kado istimewa dari neraka”. Apa betul narkoba itu membawa orang
ke neraka, atau menyebabkan orang masuk neraka? Bukankah narkoba itu
bermanfaat untuk pengobatan? Yang ke neraka adalah orang yang
menyalahgunakan, mengedarkan atau yang melindungi pengedarnya bukan
narkobanya. “NARKOBA adalah barang haram”. Betulkah narkoba itu barang
haram? Kalau begitu tidak boleh digunakan sekalipun untuk tujuan pengobatan.
Kalimat “Perangi NARKOBA” juga kurang tepat. Kalau perang artinya
narkoba itu musuh, padahal kalau dilihat defenisinya menurut WHO, narkoba
adalah semua zat, kecuali makanan, minuman atau oksigen yang jika
dimasukkan kedalam tubuh dapat mengubah fungsi tubuh secara fisik dan atau
psikologis. narkoba itu terdiri dari narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya.
Narkotika menurut UU no 22 th1997 adalah suatu zat atau obat yang berasal
dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau peribahan kesadaran, hilangnya rasa dan dapat
menimbulkan ketergantungan. Sedangkan defenisi psikotropika menurut UU no
5 tahun1997 adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika
yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat
yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas normal dan perilaku.
Narkoba itu sebetulnya sudah ada sejak zaman dahulu dan sebenarnya
bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kenapa diperangi ? Siapa dan apa
sebenarnya yang harus diperangi ?
Ungkapan say no to drug, menurut Veronica Colondam, Chief Excecutife
Officer YCAB, untuk sebagian orang memang ampuh tapi untuk sebagian orang
malah jadi penasaran. Kenapa say no ? Tanpa pengetahuan yang memadai
malah membuat mereka menjadi penasaran (SADAR, Desember, 2006). Hasil
penelitian LSM KEREN terhadap siswa SMA swasta di Cimahi menunjukkan
bahwa 59 % responden menunjukkan sikap yang favorable terhadap
penyalahgunaan narkoba. Pernyataan yang menyatakan menggunakan
NARKOBA sama dengan penyalahgunaan narkoba, bahwa penggunaan rokok
dan ganja merupakan “pintu gerbang” ke “zat yang lebih keras” agaknya kurang
tepat karena ada perbedaan antara mencicipi, menggunakan, menyalahgunakan
dan kecanduan. Dan penggunaan satu jenis narkoba tidak selalu pasti mengarah
kepada penggunaan narkoba lainnya.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka slogan – slogan yang
berkaitan dengan narkoba yang telah beredar di masyarakat, perlu dievaluasi
sejauh mana keefektifannya, bagaimana persepsi masyarakat terutama target
sasaran terhadap slogan tersebut dan bagaimana dampaknya. Sekaranglah
waktunya untuk merobah cara – cara lama yang memberikan informasi yang
cenderung menakut – nakuti dan berlebihan menjadi pemberian informasi yang
jujur, proporsional dan cara pandang yang positif. Sebagai contoh slogan yang
baik misalnya Demi bangsa dan negara ini, mari kita semua berjuang
memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
Masalah yang paling serius adalah adanya unsur korupsi dan kolusi
dalam penanganan kasus NARKOBA. Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan
oleh salah seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri mengungkap
tentang bagaimana mafia peradilan dalam penanganan kasus narkoba.
Disamping itu juga, rendahnya moral para penegak hukum, membuat mereka
sendiri terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba, bahkan menjadi pelindung
para pengedar narkoba. Kasus seorang Kapolsek di Bogor baru – baru ini yang
tertangkap basah sedang menggunakan shabu merupakan salah satu dari
banyak kasus yang sangat memalukan dan membahayakan.
Berkaitan dengan permasahan ini, agaknya memang cukup sulit untuk
diatasi. Karena korupsi sudah menjadi budaya di negeri kita ini. Orang akan
merasa malu kalau ketahuan maling, tapi orang tidak merasa malu kalau
ketahuan korupsi. Padahal maling dan korupsi itu kan secara hakekatnya sama.
Mungkin perlu adanya sebuah terobosan dalam menghapus budaya ini.
Perlu ditanamkan kepada masyarakat bahwa korupsi itu adalah maling. Atau
hilangkan saja kata korupsi, sebut saja maling untuk semua perbuatan yang
mengambil sesuatu yang bukan haknya. Jadi sekalipun dia pejabat atau
penegak hukum, seandainya dia mengambil sesuatu yang bukan haknya, dia
tetap dibilang maling, sama seperti seorang penggangguran yang maling motor.
Pemberian hukuman yang tegas bagi maling – maling yang berkeliaran di
negara kita ini, sangatlah penting agar memberi efek jera dan takut untuk
melakukannya. Seharusnya ada pemimpin yang berani menegakkan hukum
dengan tegas dan adil tanpa pandang bulu.
Disamping itu menumbuhkan kesadaran berTuhan (God Consciousness)
bagi para penegak hukum sangatlah penting untuk menumbuhkan keberanian
mereka dalam menangani kasus – kasus peredaran gelap narkoba dan kasus –
kasus korupsi lainnya, jangan sampai kasus – kasus yang telah terungkap tidak
dituntaskan. Dengan menumbuhkan kesadaran berTuhan seseorang akan
bekerja dengan ikhlas (God oriented) dan ihsan (melakukan sesuatu dengan
kesadaran bahwa semua perbuatannya dilihat Allah). Sehingga membuat
seseorang tidak berani berbohong, berbuat curang, memanipulasi data atau
perbuatan tercela lainnya.

E. Kesimpulan
Permasalahan penyalahgunaan dan pererdaran gelap narkoba memang
bukanlah masalah yang sederhana. Masalahnya sangat komplek dan bisa
dikatakan rumit. Karena itu diperlukan berbagai upaya yang komprehensif dan
berkesinambungan dalam memeranginya.
Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, pihak swasta dan
masyarakat selama ini nampaknya belum menunjukkan hasil yang memuaskan,
hal ini disebabkan oleh berbagai kelemahan dan kendala terutama dalam
koordinasi aplikasi program, evaluasi dan monitoring serta masalah moral
penegak hukum.
Dalam rangka semangat untuk terus memerangi penyalahgunaan dan
peredaran gelap narkoba, mari kita perbaiki kelemahan – kelemahan tersebut
dan kita atasi berbagai kendala dengan cara yang cerdas.
Demi bangsa dan negara ini, mari kita semua terus berjuang memerangi
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Kita harus menang! Insyaallah.

Daftar Pustaka
Amin (2002). Pengalaman Remaja Dalam Menghadapi Krisis Maturasi di
Jatinangor. Skripsi

Anggaran minim, kinerja BNP dan BNK Tidak Optimal : Penanggulangan


NARKOBA Makin Besar Kendala. PiKiran Rakyat, Kamis 13
Januari 2005

Hawari D (2001). Terapi (detoksifikasi), Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir


(sistim terpadu) Pasien NARKOBA. Jakarta : UI Press

Hawari D (2002). Penyalahgunaan dan ketergantungan NAZA. Jakarta:


Balai Penerbit FKUI

Mangku Pastika (2007). P4GN, Kendala dan Implementasinya. SADAR. 1


(V) Maret 2007 : 20 – 21

MA Memvonis Mati 9 Tersangka Ekstasi. Pikiran Rakyat. No 64 th LXI, 30


Mei 2007

Organisasi Kesehatan Sedunia (1991). Menanggulangi Ketagihan Obat dan


Alkohol; Pedoman bagi petugas Kesehatan Masyarakat Dengan petunjuk untuk
pelatih, Penerbit ITB Bandung

Prinantyo. Ditunggu, Komitmen Pemerintah Baru Perangi NARKOBA.


KOMPAS. Rabu. 15 Desember 2004

Suryani (2006). Persepsi Remaja Tentang Pelaksanaan Penyuluhan Narkoba di


Jatinangor. Inpress

Undang – Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 1997 tentang


Psikotropika

Undang – Undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 1997 tentang


Narkotika

Veronica Colondam, CEO YCAB : BNN jadi “Bandar” Program. SADAR.


12 (V), Desember 2006: 36 – 38
Yatim, D (1991). Apakah penyalahgunaan Obat itu?. Dalam Kepribadian,
Keluarga dan Narkotika: Tinjauan sosial psikologis. Jakarta:
Penerbit ARCAN

Yongki (2003). Narkoba, Pendekatan Holistik : Organobiologik, psikoedikasional


dan psiko sosial budaya.
http://rudyct.tripod.com/sem1_023/Yongky.htm

……………Jalan Panjang BNN. SADAR. 12 (v), Desember 2006 :34 – 38