Anda di halaman 1dari 6

Sajak Syahril En-Nursy

Mantra Pletora

Kuhormati segenggam darah hitam yang menderas, muncrat di samping palingmu, untuk
menerbangkan sacral hingga terbit petala surga yang juga membiaskan benang syahdu
lagu-lagu, kusingkirkan bekas serentetan darah itu

Membeku, kental dalam pintalan gema gemuruh suasana jeritan amputasi hati
Kau tau,
Sampah mungil di lembar kabut tengah malam itu,
Kusibak dengan seutas makna dalam baskom yang retak

Rowo-rowo manunggaling
Panyuran sutro kencono
Seisining jagat kang kaguncang
Patrine manah ing pangerso
Dedalon kanthi jiwo nelongso

Hanya kau tujuh jejak


Yang masih mungkin menanggal di atas keangkeran parade tebaran nujum
Berpancar rapuh pletora
Yang kian membutir-butir

Sketsa Isak

Harum benar panorama sela tangismu


Seakan selangkangan igauan terbelah dan retak
Kemudian serpihnya berserakan
Dari puncak median mengalir
Tumpahkan seluk-beluk isak yang mensketsa

Buh, duh, oess! Bedebah!


Mengapa hanya sebatang gelundungan botol
Yang senantiasa dirindu liang dangkal itu,
Kau bikin sketsa isak
Biarkan botolmu mengapung di atas sana
Bersama Landa Sunyi

Malam mengecup jantung


Ketika dingin sedang berdialog
Tanpa hamparan lepuh kulit darah
Asingkan lebam di kecupan malam
Landa sunyi
Arti potret kecipak embun itu
Mengendus hara luka
Bantal, guling, kemul
Semua pancat, dan mengecup jantung
Malam jum’at kliwon

Raungan Jiwa

Katakanlah aku masih memanjat


Ranting kering jiwa nakalmu
Seperti gaduh riuh belantara
Pekarangan samping tempatmu berdiri
Jiwamu meraung
Inginkan nista atas semesta
Semua mengikuti ranting yang saling pepatahan
Di sana

Bunga Senja Untuk Malam

Lintas senja menancap dalam penggalan malam


Tadi sore,
Sempat menanggal berbingkai
Bunga kabar layang pandang
Menggariskan bekas keriuhan
Bunga senja yang tadi sore
Dan segenap tancapannya

Kumohon!
Madukanlah isimu….
Jangan kau empedukan samar senyap
Pada pwnggalan malam
Bunga senja yang tadi sore
Dan bariskan manis….
Untuk malam
Waktu Yang Berskala

Waktu yang berskala itu dikoyakkan


Lentera mantra
Untuk mengisi lajur penapak jejak
Lalu, seribu tangan juga meroda melalui pikiran tumpul
Ia bersama kaki kembali membakar langkah
Searah rel gaungan waktu yang berskala

Lisan seribu frasa juga menyesaki


Cekungan penapak jejak
Berisik juga

Ternyata,
Dalam waktu memang berskala
Kian terkoyak oleh mereka seribu tangan
Dan lisan yang mencericit-cicit
Dengan mantra seperti tikus

Bulan Itu Kubuat Malu

Bulan itu kubuat malu


Sekarang, bulan dengan penuh pancaran rayuan keelokannya, membangunkan aku untuk
bertelungkup pada kabut malam, ia seakan menarik-narik jiwaku melalui sinar emasnya
yang memipa lewat lubang genting rumah ingusku.

Aku dibuatnya setengah malu, ia terus mencongkelkan jasad, berpose kemarahan


yang mencekam, mencengkeram, menerawang kegalauan.

Malam yang kian terbang bersama dering-dering nisbi kemalangan di setiap


persendian sudut barat. Kini, bulan itu kubuat amat malu, ia menyelimuti tubuh berbelas
helai awan gosong, ia persis sangat malu, mengintip aku via cela-cela mungil di atas
genting seyokkan rumah kunoku. Ia megintip, melirik, memata-matai di balik sekat
gumpalan awan malam ketika ku bersujud menelungkupkan telapak risau menghambakan
jiwa pada sang esa.

Di Kemudian Malam

Aku kangen sukmamu yang melayu


Menghembuskan nafas keabadian
Di kemudian
Manggutkan pilar, larutkan senyap purba
Tirisan penggal sakral
Melekat pada malam di kemudian tandus
Yang ada di situ hanya tersisa darah jiwa
Mengental dan memaksa belia

‘07

Dua alis, dua embun, dua pipih

Dua alis yang menyabit


Mengikuti lelap dalam keindahan malam
Tetapi, kutemukan juga dua butir embun lembut
Yang menyapa dua pipihmu

Apa maksudmu?

Desember ‘08

Gelantung Mimpi

Gelantung mimpi masih bermain dengan harapan


Mangkring di ranting kering kebebasan
Seutas urat telah menjerat batin ranting itu,

Lantas, jeratannya memporandakan rajutan


Sekurung melodi mimpi
Yang kini mulai membungkam diri

Selaput Mantra
bagi : A.M Ridlwan

Kang,
aku heran, goresanmu penuh luka, penuh penyakit,
hanya lekuk-belekuk searah wangi tintamu
dengan sederat garis-garis kertas tipis di ujung empat cekung mata
tak mampu menyusup buah antologi begundal koral.

Kang,
Suara apa yang mampu mengeruk selaput mantra, dalam usaha
Aku benar kagum
Karena sempat kuhampiri darma mushafmu
Di laci kemarin itu
Tak ada bekas usia senja
Dan kemudian, semuanya menyapa
Teras eltase pada sudut timbar

Sangkut paut apa, hingga tumpahan


Nisbimu terbengkalai dalam sia-sia

“apa ada yang beda?”


Kataku geram seiring lagu surya malam
Diperanakkan kandang sastra

September, ‘08

Sayatan Namamu
Bagi : H-O Sambeng

Namamu menyayat suasana


Dalam lingkaran buram
Ingusmu juga tak kalah
Mengarungi kelopak kasmaran saklar kehidupan

Menggerang ketika bertali


Kerinduan peran dalam krama agung

Itulah namamu

Belum lagi mulutmu,


Mulutmu berbusa puitis
Selalu mengisi, menebal di dinding-dinding
Ruang kehampaan
Dan sangat membekas

‘08

Mantra Tersaji Tuk Bapak

Hai, gelagat jagat alam semesta

Kau sembrono
Kau lancang
Kau rakus

Dan yang menelan Bapakku


Bersama wanita dalang kondang

Sedang, si Emak selalu merengek


Di ruang-ruang kayumu
Merangkak jiwa pada Bapak

Hei, gelagat jagat alam semesta

Kau yang diam


Kau yang sepi
Kau yang bisu

Dan yang memuntahkan igauan


Sendi perasaan si Emak dalam kekosongan

Bersama waktu ia melepuh


Dalam dunia ia melemah

Pulanglah Bapakku!
Lekas pulang

Balada Hati
Bagi : Ibnati Imran

Neng,
Andai panjenengan mampu meraba suara gemericik ragaku, pastinya juga akan menjerit
seperti aliran muara belantara geladak telapak hati
Entah kenapa dalam linkar siku saja aku terlelap
Ini merupakan suatu alamat bahwa hatiku terlalu paradok
Dengan sekoci yang panjenengan layarkan melalui nafas angin

Neng,
Apa panjenengan juga mampu bersaksi pada kecipak anganku yang selalu mencengkram
raut senyum mungilmu
Pastikan bahwa neng tidak buta dalam sela gaduh di antara gelombang kebimbangan

Neng,
Coba bukalah kamus jiwaku pada halaman tertentu, bila perlu torehkan saja, luruhkan
satu persatu di kamus itu muhal dijelaskan bahwa: intensitas kendali pikiran terlalu
ruwet, aku benar tak mau dicekoki sederet makna yang merayap-rayap, mendera jiwa
hingga bersendawa luka