Anda di halaman 1dari 26

BAHAN LISTRIK

OLEH :

PUTU RUSDI ARIAWAN (0804405050)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2010
BAB I
BAHAN ISOLASI

1.1 Pengertian.
Bahan isolasi digunakan untuk memisahkan bagian – bagian yang
bertegangan atau bagian bagian yang aktif. Hal – hal yang perlu diperhatikan
dalam bahan isolasi adalah:
1. Sifat Kelistrikan.
a. Resistivitas
Bahan isolasi yang baik adalah bahan isolasi yang memiliki
resistivitas besar tak berhingga. Semua bahan isolasi, masih
mengalirkan arus listrik (walaupun kecil) yang sering disebut dengan
arus bocor. Terdapat dua macam resistivitas yaitu resistansi volume
dan resistansi permukaan. Besarnya resistansi bahan isolasi sesuai
dengan hukum Ohm adalah:
V
Ri =
Ib
Ri = Resistansi isolasi (Ohm)
V = Tegangan yang digunakan (Volt)
Ib = Arus bocor (Ampere)
b. Permitivitas
Setiap bahan isolasi mempunyai permitivitas yang berguna untuk
digunakan sebagai dielektrik kapasitor. Kapasitansi kapasitor
bergantung pada beberapa faktor yaitu: luas permukaan, jarak antar
keeping kapasitor, serta dielektriknya.
c. Sudut Kerugian Dielektrik
Pada saat bahan isolasi diberi tegangan bolak – balik, maka
terdapat energi yang diserap oleh bahan tersebut. Akibatnya terdapat
faktor kapasitif. Besarnya kerugian yang diserap bahan isolasi
berbanding lurus dengan tegangan, frekuensi, kapasitansi dan sudut
kerugian dielektrik.

PUTU RUSDI ARIAWAN 2


2. Sifat terhadap panas
Bahan isolasi dapat rusak disebabkan oleh panas dalam kurun waktu
tertentu. Waktu tersebut dikatakan sebagai umur panas bahan isolasi.
Kemampuan suatu bahan menahan panas tanpa terjadi kerusakan disebut
ketahanan panas (heat resistance).
3. Ketahanan terhadap suhu rendah
Umumnya bahan isolasi jika terkena suhu yang rendah akan menjadi
keras dan regas. Untuk itu, biasanya bahan isolasi juga diuji pada suhu
rendah dengan pemberian vibrasi.
4. Sifat fisis dan kimia
a. Sifat kemampuan larut
Kemampuan larut bahan padat dapat dievaluasi berdasarkan
banyaknya bagian permukaan bahan yang dapat larut setiap satuan
waktu jika diberi bahan pelarut. Kemampuannya akan lebih besar jika
suhunya dinaikkan.
b. Resistansi kimia
Bahan isolasi mempunyai kemampuan yang berbeda
ketahanannya terhadap korosi yag disebabkan oleh : gas, air, asam,
basa, dan garam. Kecepatan korosi dipengaruhi oleh kenaikan suhu.
Bahan isolasi yang digunakan pada instalasi tegangan tinggi harus
mampu menahan terjadinya ozon. Bahan isolasi yang cocok digunakan
adalah bahan isolasi anorganik.
c. Higroskopisitas
Bahan isolasi mempunyai sifat higroskopisitas, yaitu sifat
menyerap air disekelilingnya, sehingga dapat memperkecil daya
isolasi. Bahan dielektrik yang molekulnya berisi kelompok hidroksil
(OH), higroskopisitasnya relatif besar.
d. Pengaruh tropis
Penggunaan bahan isolasi di daerah tropis harus memperhatikan
perubahan sifat kelistrikan setelah bahan direndam dan pertumbuhan

PUTU RUSDI ARIAWAN 3


jamur pada bahan tersebut, sehingga perlu dilapisi dengan bahan anti
jamur.
e. Resistansi Radiasi
Resistanai radiasi adalah kemampuan suatu bahan isolasi
menahan pengaruh radiasi tanpa mengalami kerusakan. Radiasi sinar
matahari mempengaruhi umur bahan isolasi, khususnya jika bahan
tersebut bersinggungan secara langsung dengan oksigen. Sinar ultra
violet menurunkan kekuatan mekanik, elastisitas dan retak – retak pada
bahan. Sinar X menyebabkan bahan polimer organic akan menjadi
lebih keras dan lebih tahan terhadap panas.

1.2 Jenis – jenis Bahan Isolasi.


1. Bahan isolasi gas
Bahan isolasi gas digunakan sebagai penyetat atau pengisolasi dan
sekaligus sebagai media penyalur panas.
a. Udara
Udara merupakan bahan isolasi yang mudah didapatkan dan
mempunyai tegangan tembus 30 kV/cm. Pada 2 buah elektroda bulat
dengan jarak cukup besar dan memungkinkan terjadinya ionisasi pada
udara di sekitarnya, maka akan timbul korona. Tegangan tembus
udara dipengaruhi tekanan udara. Contoh alat listrik yang
menggunakan udara antara lain : pada JTR, JTM, dan JTT antara
hantarannya dipisahkan dengan udara.
b. Sulphur Hexa Fluorida
Sulphur Hexa Fluorida (SF6) merupakan suatu gas bentukan antara
sulfur dengan fluor dengan reaksi eksotermis :
S + 3F2 SF6 + 262 kilocal
SF6 adalah gas terberat dengan massa jenis 6,139 kg/m3 sekitar 5
kali berat udara pada suhu 0 o C 1atm. Sifatnya adalah : tidak terbakar,
tidak larut pada air, tidak beracun, tidak berwarna dan tidak berbau.

PUTU RUSDI ARIAWAN 4


Kemampuan isolasinya 2,5 kali kemampuan udara. SF6 juga memiliki
tegangan tembus 75 kV/cm.
c. Gas-gas Lain
a. CO2 dapat digunakan sebagai gas residu pada bahan dielektrik
cair pada lat tegangan tinggi
b. Gas Freon 12 (CCl2 F2) umumnya digunakan pada teknik
pendingin dan sebagai bahan dielektrik pada kondensator.
c. Gas Neon digunakan pada lampu-lampu tabung. Tegangan
tembus 100V/cm.

2. Bahan Isolasi Cair


a. Minyak Transformator
Minyak transformator didapat dari proses pemurnian mentah.
Saat dipakai akan timbul hodro karbon karena pengaruh panas dari
rugi-rugi. Ketahanan minyak trnsformator berkurang karena
pengaruh asam dan kandungan air. Keasamannya dapat dikurangi
dengan KOH. Kandungan air dikurangi dengan Silikagel.
Kekentalannya tidak boleh lebih dari 4,2 pada suhu 20 o C dan
1,8o sampai 1,85o pada 50o C. Proses pemurnian minyak trafo :
a. Pemanasan
Minyak Trafo dipanasi sampai titik ddih air pada Penggodok
Minyak (Oil Boiler)
b. Penyaringan
Menggunakan kertas khusus (kertas higroskopis) untuk
menyaring minyak yang tercemar. Untuk mempercepat waktu,
digunakan tekanan.
c. Pemusingan
Menggunakan Silinder Sentrifugal sehingga substansi ringan
yaitu minyak akan berada di bagian tengah silinder dan
substansi lebih berat akan berada di pinggir bejana karena gaya
sentrifugal.

PUTU RUSDI ARIAWAN 5


d. Regenarasi
Menggunakan absorben, yaitu substansi yang siap menyerap
produk yang diakibatkan oleh pemakaian minyak trafo.
b. Bahan-bahan Isolasi Cair lainnya
a. Sovol, yaitu cairan agak kental dan tidak berwarna. Massa jenis
1,5 g/cm3, tegangan tembus 20 kV/cm.
b. Sovtol, yaitu cairan sovol ditambah Trichlorobenzena dengan
tujuan untuk mengurangi kekentalannya.

3. Bahan Isolasi Berserat


a. Kayu
Kayu banyak digunakan karena murah dan mudah didapat.
Sebelum digunakan, kayu harus diimpregnasi (direndam pada
minyak panas), diberi antiseptik dan dilapisi antipirin agar tak mudah
terbakar.
b. Kertas
Kertas yang digunakan pada umumnya selulose atau asetat dibuat
dari merang, bambu, atau kayu setelah berupa pulp (bubur kayu).
Kertas dapat diperkuat dengan vernis.
c. Tekstil
Tekstil yang sering digunakan biasanya berupa serat sintetis
antara lain :
a. Poliamid, seperti nilon, kapron, silon dan dederon.
b. Poliester, seperti lavsan, terilin, tetron dan dakron.
c. Serat Polistirin dan PVC.
d. Serat Anorganik
Serat ini paling banyak digunakan untuk isolasi karena memiliki
ketahanan panas yang tinggi. Contohnya seperti :
a. Asbes, yaitu kumpulan serat paralel yang dapat diperoleh dari
batuan mengandung ferry – oksida sangat banyak akan menjadi

PUTU RUSDI ARIAWAN 6


semikonduktor. Asbes tahan panas mendekati suhu 1150o C dan
meleleh jika sudah mencapai atau melebihi suhu tersebut.
b. Fiberglas
4. Bahan Isolasi Mineral
a. Mika
Mika adalah suatu mineral penting karena mempunyai resistansi
dan kekuatan mekanik tinggi, tahan panas, tahan pengaruh uap air, dan
memiliki kekuatan elastisitas tang baik. Mika sering digunakan pada
generator dan motor traksi. Jenis mika antara lain :
a. Muscovit, yaitu mika dengan rumus kimia (K2O . 3Al2O3 . 6SiO2
. 2H2O), memilki resistivitas 1014 – 1016 ohm.cm
b. Flogopit, yaitu mika dengan rumus kimia (K2O . 6MgO . 3Al2O3
. 6SiO2 . 2H2O) memiliki resistivitas 1013 – 1014 ohm.cm
b. Mikanit
Mikanit adalah mika yang diikat dengan sirlak atau gliptal,
sehingga bentuknya dapat diubah-ubah. Untuk mendapatkan kekuatan
mekanis lebih tinggi, satu sisi mikanit dilapisi kertas atau kain untuk
mencegah keretakan apabila dibengkokkan. Jenis mikanit antara lain :
a. Mikanit Komutator, yaitu mikanit yang digunakan untuk bahan
isolasi antara lamel-lamel pada komutator mesin DC. Mikanit ini
sangat kuat, karena dikerjakan pada suhu tinggi, mengandung
sedikit resin, dan tahan aus.
b. Mikanit lempengan, yaitu mikanit yang diproduksi dari muscovit
atau flogopit atau paduan keduanya diikat dengan sirlak atau
gliptal.
c. Mikanit Cetakan, yaitu mikanit yang bentuknya dapat diubah
dengan cara dipanasi lalu dicetak sebelum didinginkan. Mikanit
ini digunakan untuk pengisolasi antara poros dengan komutator
dan antara poros dengan intirotor.
d. Kertas Mika, yaitu mikanit cetakan yang satu sisinya dilapisi
kertas setebal 0,05 sampai 0,06 mm. Penggunaannya untuk

PUTU RUSDI ARIAWAN 7


membuat isolasi yang keras pada belitan jangkar mesin tegangan
tinggi.
e. Mikanit Fleksibel, yaitu mikanit yang pada suhu kamar dapat
dibengkokkan tanpa perlu pemanasan lagi. Digunakan sebagai
penyekat fleksibel, isolasi alur pada mesin listrik.
f. Pita Mika, yaitu mikanit fleksibel yang dibuat dalam ukuran
besar yang dipotong-potong kemudian digulung. Mikanit ini
dapat dibuat dari muskovit atau flogopit dan dilapisi vernis hitam
atau vernis jernih.
c. Bahan Isolasi Mineral lainnya
a. Marmer
Marmer ikatan kimianya sama dengan batu kapur tapi sifat
fisiknya berbeda. Agar didapat marmer yang kemampuan
listriknya baik, marmer harus diimpregnasi dengan parafin,
polistirin, bitumen, minyak dan sebagainya.
b. Batu Tulis
Batu Tulis digunakan pada panel PHB. Batu tulis lebih mudah
pecah dari marmer, tidak dipoles, sifat kelistrikan dan
higroskopisnya dibawah marmer. Namun batu tulis tahan
terhadap asam dan panas.
c. Klorida
Bahan ini berwarna abu-abu yang kekuatan mekanis dan sifat
kelistrikannya di bawah batu tulis. Karena itu mudah dipotong,
digergaji dan dibor. Saat digunakan sebagai isolator, harus
diimpregnasi menggunakan bakelit yang dicairkan agar sifat
kelistrikan dan mekanisnya naik dan higroskopisitasnya turun.

PUTU RUSDI ARIAWAN 8


BAB II
SERAT OPTIK

2.1 Pengertian.
Sistem komunikasi yang memakai transmisi serat optik harus
mengubah sinyal – sinyal listrik menjadi cahaya pada sisi pengirim dan
mengubah sinyal cahaya menjadi listrik pada sisi penerima.
Pemakaian serat optik (optic fibere) sebagai saluran transmisi jarak
jauh mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan transmisi
konvensional antara lain: dimensinya kecil dan ringan, bebas dari interferensi
elektromagnetis, tidak terjadi loncatan bunga api, tidak mungkin terjadi
hubung singkat, kemungkinan terjadinya percakapan silang sangat kecil, dan
tahan terhadap pengaruh kimia dan suhu.
Berdasarkan jumlah ragam gelombang, serat optik dibedakan menjadi
dua yaitu: serat optik ragam jamak dan ragam tunggal. Berdasarkan susunan
atau profil indeks biasnya, terdapat serat optik yang intinya memiliki indeks
bias homogen dan campuran. Dan berdasarkan konstruksinya, serat optik
dibedakan menjadi: serat optic yang bebentuk batang dielektrik, serat optik
dengan inti yang memiliki lapisan tunggal, dan ganda.
2.2 Teknik Pembuatan Serat Optik.
1. Pengendapan Uap Kimia.
a. Pengendapan uap kimia intern.
Bahan silika dimasukkan ke tabung kemudian diputar dan
dipanasi pada suhu tinggi. Jelaga yang menempel di dalam tabung
digunakan sebagai bahan pembuat lapisan (cladding). Untuk membuat
inti, bahan lapisan itu direaksikan dengan Pospor Chlorida (PCl3) atau
Germanium Chlorida (GeCl 4) maka diperoleh P Si atau GeSi.
Kemudian senyawa tersebut dimasukkan ke mesin pencetak.
b. Pengendapan uap kimia ekstern.
Sama seperti diatas, tetapi disisni menggunakan Aluminium
Oksida (AlO3) yang diputar dan suhunya tinggi. Kemudian ditiupkan

PUTU RUSDI ARIAWAN 9


O2 ke mandrel yang terlapisi jelaga tersebut dan lapisan terluarnya
teroksidasi sampai menjadi lapisan (cladding). Lalu mandrel ditarik
keluar sampai terbentuk pipa jelaga, pipa ini diputar dan dipanasi
hineea menjadi pejal.
c. Pengendapan uap kimia plasma.
Menggunakan gelombang mikro yang menyebabkan tabung
silika terionisir. Proses selanjutnya sama seperti proses sebelumnya.
2. Gelas Komponen Jamak.
Proses pembuatan serat optik ini dibuat dari oksida – oksida dan
garam karbonat diperoses dengan senyawa basa. Suhu yang dipakai adalah
sekitar 800o C. metode ini dapat memproduksi dalam jumlah besar dan
waktu yang relatif singkat.
3. Metode “batang dan tabung”.
Prosesnya dengan memasukkan batang inti gelas ke lapisan yang
berbentuk tabung, kemudian dipanasi. Kelemahan metode ini adalah
kemungkinan terjadi perubahan permukaan pada inti maupun lapisannya.
4. Serat Silika Dilapisi Resin Silikon.
Konstruksi dasar serat ini adalah inti yang dibuat dari Silikon
Dioksida (Si O2) dan lapisan yang terbuat dari plastik mengandung resin
silikon. Pada prakteknya, serat optik ini ditambahkan beberapa komponen
seperti: pembungkus atau jaket (penahan pengruh luar), bahan penguat :
kawat baja dan plastik, bahan pengisi : pita dan konduktor terisolasi
(menyalurkan catu daya pengulang – reapeater), sampai terbentuk satu
kesatuan kabel.

PUTU RUSDI ARIAWAN 10


BAB III
KONDUKTOR

3.1 Aluminium.
Aluminium murni mempunyai massa jenis 2,7 g/cm3, α nya 1,4 .10-5,
titik leleh 658° C dan tidak korosif. Daya hantarnya sebesar 35 m/ohm . mni
atau kira-kira 61,4 % daya hantar tembaga. Aluminium murni mudah dibentuk
karena lunak, kekuatan tariknya hanya 9 kg/mm2. Untuk itu jika aluminium
digunakan sebagai penghantar yang dimensinya cukup besar, selalu diperkuat
dengan baja atau paduan aluminium. Penggunaan aluminium misalnya untuk
busbar dan karena alasan tertentu misalnya, karena alasan ekonomi, dibuat
penghantar aluminium yang berisolasi, misalnya : ACSR - OW.

3.2 Tembaga.
Tembaga mempunyai daya hantar listrik yang tinggi yaitu 57Ω mm2/m
pada suhu 20°C. Koefisien suhu (α) tembaga 0,004 per °C. Pemakaian
tembaga adalah sebagai penghantar, misalnya : kawat berisolasi (NYA,
NYAF), kabel (NYM, NYY, NYFGbY), busbar, lamel mesin DC, cincin seret
pada mesin AC. Tembaga mempunyai ketahanan terhadap korosi, oksidasi.
Massa jenis tembaga murni pada 20° C adalah 8,96 g/cm3, titik beku 1083° C.
Kekuatan tarik tembaga tidak tinggi yaitu berkisar antara 20 hingga 40
kg/mm2, kekuatan tarik batang tembaga akan naik setelah batang tembaga
diperkecil penampangnya untuk di jadikan kawat berisolasi atau kabel.

3.3 Baja.
Baja adalah logam yang terbuat dari besi dengan campuran karbon.
Berdasarkan campuran karbonnya, baja dikategorikan menjadi 3 yaitu : baja
dengan kadar karbon rendah (0 hingga 0,25 %), kadar karbon menengah (0,25
hingga 0,55 %), dan kadar karbon tinggi (di atas 0,55 %). Meskipun
konduktivitas baja rendah yaitu 7,7 m/Ω.mm2 tetapi digunakan pada
penghantar transmisi yaitu ACSR, fungsi baja adalah untuk memperkuat

PUTU RUSDI ARIAWAN 11


konduktor aluminium secara mekanis setelah digalvanis dengan seng. Dua hal
yang menguntungkan dari penghantar bimetal, yaitu :
a. Pada arus bolak balik ada kecenderungan arus melalui bagian luar
konduktor (efek kulit).
b. Dengan melapisi baja menggunakan tembaga, maka baja sebagai
penguat penghantar terhindar dari korosi.

3.4 Wolfram.
Logam ini berwama abu-abu keputih-putihan, mempunyai massa jenis
20 g/cm3, titikleleh 3410° C, titik didih 5900° C, α 4,4.106 per ° C, tahanan
jenis 0,055 Ω.mm2/m. Wolfram diperoleh dari tambang yang pemisahannya
dari penambangan dengan menggunakan magnetik atau proses kimia. Dengan
reaksi reduksi asam wolfram (HZW04) dengan suhu 700° C diperoleh bubuk
wolfram. B ubuk wolfram tersebut kemudian dibentuk menjadi batangan
dengan suatu proses yang disebut metalurgi bubuk yang menggunakan
tekanan dan suhu tinggi (2000 atmosfir, 1600° C) tanpa terjadi oksidasi.

3.5 Molibdenum.
Molibdenum mempunyai massa jenis 10,2 g/cm3 , titik leleh 2620° C,
titik didih 3700° C, α 53. 10-7 per ° C, resistivitasnya 0,048 Ω. mm2/m
koeffisien suhu 0,0047 per °C. Di antara penggunaan Molibdenum adalah
pada tabung sinar X, tabung hampa udara, karena molibdenum dapat
membentuk lapisan yang kuat dengan gelas. Sebagai campuran logam yang
digunakan untuk keperluan yang keras, suhu tinggi, dan tahan korosi.

3.6 Platina.
Platina merupakan logam yang berat, berwarna putih keabu-abuan, tidak
korosif, sulit terjadi peleburan dan tahan terhadap sebagian besar bahan kimia.
Massa jenisnya 21,4 g.cm3, α nya 9 . 10.6 per ° C, titik leleh 1775° C, titik
didih 4530° C, resistivitasnya 0,1 Ω . mm2/m, koefisien suhu 0,00307 per °C.

PUTU RUSDI ARIAWAN 12


Platina dapat dibentuk menjadi filamen dan batang yang tipis. Penggunaan
platina antara lain untuk elemen pemanas.

3.7 Air Raksa.


Air raksa adalah satu-satunya logam yang berbentuk cair pada suhu
kamar. Resistivitasnya adalah 0,95 Q. mm2 /m, koeffisien suhu 0,00027 per
°C. Pada pemanasan di udara air raksa sangat mudah terjadi oksidasi. Air
raksa dan campurannya khususnya uap air raksa adalah beracun. Penggunaan
air raksa antara lain : gas pengisi tabung-tabung elektronik, penghubung pada
saklar air raksa, cairan pads pompa difusi, elektroda pada instrumen untuk
mengukur sifat elektris bahan dielektrik padat. Logam-logam lain yang juga
banyak digunakan pada teknik listrik di antaranya adalah : tantalum dan
niobium. Tantalum dan niobium dipadukan dengan aluminium banyak
digunakan sebagai kapasitor elektrolitik.

3.8 Bahan-bahan Resistivitas Tinggi.


Bahan-bahan resistivitas tinggi yang digunakan untuk peralatan yang
memerlukan resistansi yang besar agar bila dialiri arus akan terjadi tegangan
anliok yang besar. Contoh penggunaannya antara lain pada pemanas listrik,
rheostat dan resistor. Bahan-bahan ini harus mempunyai koefisien suhu yang
rendah. Untuk elemen pemanas, pada suhu yang tinggi untuk waktu yang lama
tidak boleh terjadi oksidasi dan meleleh.
a. Konstantan.
Bersama-sama dengan tembaga atau besi, konstantan dapat
merupakan termokopel yang dapat membangkitkan ± 40 mikro volt setiap
perbedaan suhu 1° C di antara sambungan-sambungannya. Hal ini
memungkinkan termokopel konstantan-tembaga atau konstantan-besi
digunakan alat ukur. Jika dipanasi dengan suhu yang cukup tinggi, pada
konstantan akan terbentuk lapisan oksida tipis dan ini memungkinkan
terjadinya isolasi jika dililitkan. Tegangan tembus untuk isolasi tersebut
tidak lebih dari 1 volt.

PUTU RUSDI ARIAWAN 13


b. Kromel.
Logam ini merupakan perpaduan 0,7 % Mn, 0,6 % Ni, 23 sampai
27 % Cr dengan 4,5 hingga 6,7 % Al, sisanya Fe.Kromel baik untuk
elemen pemanas air, setrika, pemanggang dan peralatan yang memerlukan
ketahanan korosi dan panas.
c. Manganin.
Warna logam ini kuning kemerah-merahan, Suhu kerjanya ± 70°
C, di bawah suhu kerja konstantan. Logam ini biasanya digunakan untuk
rheostat yang presisi karena resistivitasnya tinggi dan α nya rendah.
d. Nikrom.
Nikrom mempunyai suhu kerja yang tinggi. Sehingga digunakan
sebagai elemen pemanas. Di pasaran nikrom dapat dijumpai dengan
penampang bula tdiameter 0,1 mm ke atas dan berbentuk pita dengan
ukuran penampang 0,1 x 1 mm ke atas.
e. Karbon.
Peranan karbon pada teknik listrik cukup penting jika dilihat
kegunaannya sebagai berikut : sikat-sikat pada mesin listrik, resistor dan
rheostat, elektroda pada tungku pembakaran (tanur) busur kolam galvanis.
Beberapa perangkat elektronik dan telekomunikasi juga terbuat dari
karbon. Beberapa jenis yang digunakan sebagai sikat adalah : karbon-
grafit, grafit, elektro-grafit, grafit-tembaga dan grafit-kuningan.
f. Sikat Karbon.
Sebagai sikat pada bagian berputar pada mesin listrik, karbon
mempunyai kelebihan karena:
1. Tahan terhadap efek yang disebabkan suhu tinggi. Hal ini karena
sikat karbon mampu menahan suhu hingga 3000° C.
2. Kepadatannya rendah, sehingga memudahkan beradaptasi dengan
gerakan permukaan yang tidak beraturan.
3. Tidak terjadi pengelasan (menyatu) dengan logam pada kondisi yang
sama jika logam-logam menyatu satu sama lain.

PUTU RUSDI ARIAWAN 14


3.9 Timah Hitam.
Mempunyai massa jenis 11,4 g/cm3, agak lunak, meleleh pada suhu 327°
C, titik didih 1560° C, warna abu-abu dan sangat mudah dibentuk. Merupakan
bahan tahan korosi, mengandung racun, dan mempunyai konduktivitas 4,5
m/Ω.mm2 Pemakaian timah hitam pada teknik listrik antara lain : sel-
akumulator, selubung kabel tanah di samping digunakan sebagai pelindung
pada industri nuklir. Dalam pemakaiannya sebagai pelindung kabel tanah jika
ditanam pada tempat-tempat tersebut, diperlukan perlindungan tambahan. Di
samping timah hitam sebagai pelindung kabel tanah, digunakan paduan dari
timah hitam yang mempunyai struktur kristal yang lebih halus, lebih kuat,
lebih tahan getaran, tetapi lebih mudah korosi.

3.10 Bimetal.
Penggunaan bimetal pada teknik listrik adalah untuk rele-termal
misalnya pada Miniature Circuit Breaker (MCB), Over Load Relay (OLR).
Bimetal sebagai reletermal tidak selamanya dilewati arus, kecuali arus yang
tidak terlalu besar. Untuk memutuskan anus besar, pada rele ada belitan
pemanas khusus yang ditempatkan di sekeliling bimetal. Pengaruh panas dari
lilitan inilah yang digunakan untuk mempengaruhi pembengkokan bimetal.

PUTU RUSDI ARIAWAN 15


BAB IV
BAHAN MAGNETIK

4.1 Bahan Magnetik.


Menurut sifatnya terhadap adanya pengaruh kemagnetan, bahan dapat
digolongkan menjadi 5 yaitu : bahan diamagnetik adalah bahan yang sulit
menyalurkan garis gaya magnit (ggm). Permeabilitasnya sedikit lebih kecil
dari I dan tidak mempunyai dwikutub yang permanen. Bahan-bahan
diamagnetik antara lain : Bi, Cu, Au, Al2O3, Ni So4. Bahan paramagnetik
adalah bahan yang dapat menyalurkan ggm tetapi tidak banyak.
Permeabilitasnya sedikit lebih besar dari 1, susunan dwikutubnya tidak
beraturan. Bahan-bahan paramagnetik antara lain : Al, Pb, Fe2SO4, Fe SO4, Fe
C12, Mo, W, Ta, Pt, dan Ag.
Bahan ferromagnetik mudah menyalurkan ggm. Permeabilitasnya jauh
di atas 1. Bahan ferromagnetik antara lain : Fe, Co, Ni, Gd, Dy. Bahan anti
ferromagnetik mempunyai susceptibilitas positif yang kecil pada segala suhu,
tetapi perubahan susceptibilitas karena suhu adalah keadaan yang sangat
khusus. Susunan dwi kutubnya adalah sejajar tetapi berlawanan arah. Bahan
anti ferromagnetik antara lain : MnO2, MnO, FeO dan CoO. Istilah “bahan
magnetik” untuk umum yang digunakan hanyalah bahan ferromagnetik.
Bahan-bahan ferromagnetik dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu :
1. Bahan yang mudah dijadikan magnet yang lazim disebut bahan magnetik
lunak. Bahan ini banyak digunakan untuk inti transformator, inti motor
atau generator, rele, peralatan sonar atau radar.
2. Bahan ferromagnetik yang sulit dijadikan magnet tetapi setelah menjadi
magnet tidak mudah kembali seperti semula disebut bahan magnetik
keras, bahan ini digunakan untuk pabrikasi magnet permanen.
Momen atom dan molekul yang menyebabkan adanya dwikutub adalah
sama dengan momen dwikutub pada bahan dielektrik. Magnetisasi pada bahan
magnet seperti halnya polarisasi pada bahan dielektrik.

PUTU RUSDI ARIAWAN 16


4.2 Parameter-parameter Magnetik.
a. Permeabilitas dan Susceptibilitas Magnetik
Pada perhitungan-perhitungan tentang magnet, terdapat hubungan antara
fluxi (B) dengan satuan Wb/m2 atau tesla dengan kuat medan (H) dengan
satuan A lilit/m sebagai berikut:
B=μH
μ = μ r .µo
sehingga
B = μ r. μ o. H
μ adalah permeabilitas bahan yang merupakan hasil perkalian
permeabilitas absolut (μo) dengan permeabilitas relatif (μr). Besarnya pa = 4.
R. 10-7 H/m. Kuantitas yang diekspresikan (μr - 1) disebut magnetisasi per
unit dari intensitas medan magnet yang disebut susceptibilitas magnetisasi.
Karena μr tidak bersatuan, maka demikian pula dengan μr - 1.
b. Momen Magnetik
Seperti diketahui bahwa jika sebuah kumparan yang dilewati arus (1)
diletakkan pada rapat fluksi yang merata akan menghasilkan torsi, besar torsi
akan tergantung pada : Luas kumparan, arus dan rapat fluksi yang terpotong
bidang kumparan. Momen dwikutub magnetik hubungan dengan torsi adalah
pm = I . Akumparan
pm dengan satuan A/m2 adalah merupakan vektor yang arahnya tegak
lurus terhadap kumparan. Batang magnet permanen juga menyebabkan torsi
bila diletakkan didalam medan yang merata. Jika magnet tersebut diharapkan
untuk mendapatkan kutub-kutub bebas yang berlawanan, dapat dikatakan
sebagai momen dwikutub sebagai produk dari kuat kutub dan jarak antara
kutub-kutub.
c. Magnetisasi
Semua bahan adalah memungkinkan menghasilkan medan magnetik,
dari itu diperoleh secara eksperimental untuk menimbulkan momen magnetik.
Besarnya momen ini per unit volume disebut magnetisasi dari medium (M)
dengan satuan C/m . dt atau A/m.

PUTU RUSDI ARIAWAN 17


Pada saat medan magnetik digerakan pada suatu bahan, induksi
magnetik (rapat fluksi) adalah penjumlahan dari efek pada keadaan pakem
suatu bahan, sehingga besarnya rapat fluksi (B) menjadi :
B = µo . H + µo . M
M = (µ-1).H
= Xm. H
Xm : susceptibilitas magnetik. Magnetisasi (M) dapat diekspresikan
sebagai momen dwikutub magnetik (pm) dengan satuan C . m2 /dt atau A/nl
dimana : M = N. Pm. N adalah jumlah dwikutub magnetik per unit volume.

4.2 Laminasi Baja Kelistrikan.


Cara untuk mengubah bahan magnetik lunak untuk menjadi baja
kelistrikan yaitu dengan menambahkan silikon. Sehingga mengurangi rugi
histerisis dan arus pusar dengan tajam karena resistivitasnya bertambah.
Penambahan silikon akan menyebabkan bahan menjadi rapuh.

4.3 Bahan Magnetik Lunak Lain.


Bahan magnetik lunak yang banyak digunakan adalah paduan besi-nikel.
Pada komposisi nikel 20 % paduan menjadi non magnetis dan permeabilitas
maksimum dicapai pada komposisi nikel ± 21,5 %. Paduan yang terdiri dari
besi-nikel dengan tambahan molibdenum, chromium atau tembaga disebut
permalloy. Permalloy dapat dibedakan berdasarkan kandungan nikelnya yaitu
permalloy nikel rendah yaitu mengandung nikel 40 hingga 50 % sedangkan
yang mengandung nikel 72 hingga 80 % disebut permalloy tinggi. Permalloy
rendah mempunyai permeabilitas yang lebih rendah, mempunyai induksi pada
keadaan jenuh yang lebih tinggi, permeabilitasnya berbanding terbalik dengan
frekuensi.
Alfiser adalah sangat regas sehingga sangat mudah dijadikan bubuk
untuk dibuat bahan dielektrikmagnet. Harganya lebih murah daripada
permalloy karena komposisinya tidak tergantung Ni. Ferrit adalah
semikonduktor yang mempunyai resistivitas antara 10 2 hingga 107 Ω cm.

PUTU RUSDI ARIAWAN 18


Karena resistivitas yang tinggi tersebut, maka penggunaannya pada frekuensi
tinggi adalah tepat karena rugi daya yang disebabkan arus pusar adalah kecil.
Pada ferrit besarnya permeabilitas adalah berbanding terbalik dengan
frekuensi.

4.4 Bahan Magnet Permanen.


Magnet permanen digunakan pada instrumen penginderaan, rele, mesin-
mesin listrik yang kecil dan banyak lagi. Baja karbon yaitu baja dengan
komposisi karbon 0,4 hingga 1,7 % merupakan bahan dasar pembuatan
magnet permanen. Walaupun bahan ini tergolong harganya murah tetapi
kualitas kemagnetannya tidak terlalu tinggi. Kemagnetan bahan ini relatif
lebih mudah untuk hilang terutama disebabkan oleh pukulan atau vibrasi.
Untuk menaikkan mutu kemagnetannya, maka baja karbon ditambah wolfram,
kromium atau kobal.
Vectolit adalah bahan paduan yang terdiri dari besi, kobal oksida
sedangkan ferroxdure adalah bahan paduan yang terdiri dari besi oksida dan
barium, bahan ini juga disebut barium ferrit dan di pasaran dengan nama
arnox, indox atau ferroba, pembuatannya adalah dari bubuk bahan yang
dipadukan pada suhu yang tinggi. Penggunaannya antara lain : magnet pada
pengeras suara, perangkat penggandeng magnetik.

4.5 Magnetostriksi.
Pada saat sebuah bahan ferromagnetik diamagnetisasi, umumnya secara
fisik akari terjadi perubahan dimensi. Gejala seperti ini disebut magnetostriksi.
Terdapat 3 jenis magnetostriksi yaitu
a. Magnetostriksi longitudinal yaitu perubahan panjang searah dengan
magnetisasi.
b. Magnetostriksi transversal yaitu perubahan dimensi tegak lurus dengan
arah magnetisasi.
c. Magnetostriksi volume yaitu perubahan volume sebagai akibat dari
kedua efek diatas.

PUTU RUSDI ARIAWAN 19


BAB V
BAHAN SEMIKONDUKTOR

5.1 Pengrtian.
Konduksi elektronik baik pada bahan konduktor maupun pada semi
konduktor adalah susunan pita dari atom. Pada bahan – bahan terdapat pita
konduksi maupun pita valensi. Pada konduktor kedua pita tersebut saling
menumpuk, pada isolator jarak keduanya cukup jauh. Sedangkan pada
semi konduktor jarak keduanya tidak terlalu jauh dan ini memungkinkan
terjadinya tumpang tindih jika dipengaruhi misalnya : panas, medan
magnet dan tegangan yang cukup tinggi.
Untuk menjadikan bahan semi konduktor agar menghantarkan listrik
diperlukan silikon maupun germanium mumi disebut semi konduktor
intrinsik jika belum mendapatkan bahan tambahan, sedangkan yang sudah
mendapat tambahan disebut ekstrinsik. Bahan semi konduktor yang
mendapat tambahan As (Arsenikum) akan menjadi semi konduktor jenis
N, sedangkan yang mendapat tambahan B (Boron) akan menjadi semi
konduktor jenis P.

5.2 Semi Konduktor Intrinsik.


Kristal-kristal Si dan Ge murni adalah semi konduktor intrinsik.
Elektron-elektron yang dikeluarkan dari bagian teratas pita valensi ke bagian
pita konduksi karena energi termal adalah penyebab konduksi. Karena
perpindahan elektron-elektron dari pita valensi, maka pada pita valensi terjadi
lubang di setiap tempat yang ditinggalkan elektron tersebut. Suatu semi
konduktor intrinsik mempunyai lubang yang sama pada pita valensi dan
elektron pada pita konduksi.
Pada pemakaian, elektron yang lari ke pita konduksi dari pita valensi,
misalnya karena panas dapat dipercepat menggunakan keadaan kosong yang
memungkinkan. Pada waktu yang sama lubang-lubang pada pita valensi juga
bergerak tetapi berlawanan arah dengan gerakan elektron.

PUTU RUSDI ARIAWAN 20


5.3 Semi Konduktor Ekstrinsik.
Pada semikonduktor ekstrinsik, konduksi dapat dilakukan setelah adanya
penyuntikan bahan penambah atau pengotoran dari luar (extraneous
impurities). Proses penyuntikan bahan tambahan terhadap semi konduktor
murni disebut doping. Penambahan bahan tersebut kepada semikonduktor
murni akan meningkatkan konduktivitas semikonduktor. Suatu kristal silikon
yang didoping dengan elemen kolom 5 pada susunan berkala seperti P, As
atau Sb.
Elektron dari atom pospor adalah bergerak pada medan listrik dari kristal
silikon dan bukan pada ruang bebas seperti halnya pada atom H. Hal ini
membawa akibat konstanta dielektrik dari kristal pada perhitungan orbital dan
radius orbit elektron menjadi sangatbesar yaitu kira-kira 80 A° dibandingkan
0,5 A° dari orbit hidrogen. Ini dapat diartikan bahwa elektron ke-5 tersebut
bebas dan. tingkat energinya berdekatan terhadap pita konduksi.
Dibandingkan dengan celah energi, besamya energi ionisasi dari atom
pengotor adalah sangat kecil. Pada suhu kamar, elektron-elektron tingkat
donor sudah dikeluarkan dari pita valensi masuk ke dalam pita konduksi.
Kumpulan elektron ini jauh lebih besar dari kumpulan elektron yang
dikeluarkan dari pita valensi pada proses intrinsik.

PUTU RUSDI ARIAWAN 21


BAB VI
BAHAN SUPERKONDUKTOR

6.1 Pengertian.
Superkonduktor akan hilang super konduktivitasnya jika suhunya di atas
kritis dan medannya di atas kuat medan kritisnya. Suhu kritis tertinggi
superkonduktor adalah 18,1° K untuk senyawa Nb3Sn. Tetapi tidak selalu
terjadi pada bahan yang pada suhu kamar misalnya : Cu, Ag dan Au Maka
dapat dicatat bahwa :
a. Logam-logam menovalen adalah bukan superkonduktor.
b. Logam-logam ferromagnetik dan antiferromagnetik adalah bukan
superkonduktor.
c. Konduktor yang baik pada suhu kamar adalah bukan superkonduktor dan
logam superkonduktor sebagai logam normal adalah bukan konduktor
yang baik pada suhu kamar.
d. Film tipis dari Be, Bi dan Fe adalah menunjukkan sebagai
superkonduktor.
e. Bismut, Pb dan Te menjadi superkonduktor jika mendapat tekanan yang
tinggi.
Terdapat 2 perangkat yang sudah umum menggunakan superkonduktor
yaitu :
a. Elektromagnet.
Elektromagnet yang kuat adalah dengan ukuran yang kecil. Aplikasi dari
elektromagnet dengan superkonduktor antara lain komponen Magneto
Hidro Dinamik.
b. Elemen penghubung.
Karena superkonduktor mempunyai He dan Tc, maka dalam pemakaian
superkonduktor sebagai elemen penghubung. Artinya suatu gawai
penghubung yang menggunakan superkonduktor akan dapat berubah
sifatnya dari superkonduktor menjadi konduktor biasa karena
pengubahan suhu atau medan magnet di atas nilai kritisnya.

PUTU RUSDI ARIAWAN 22


BAB VII
BAHAN PENGUBAH ENERGI
SECARA LANGSUNG

7.1 Sel Surya.


Sel surya (solar cell) adalah sebuah foto voltaik yaitu bahan semi
konduktor yang mengubah secara langsung energi cahaya menjadi energi
listrik.
Sel surya terdiri dari sambungan p-n, sehingga menghasilkan akumulasi
muatan yang berbeda pada kedua sisi sambungan yaitu positif pada posisi n
dan negatif pada sisi p. Pada saat cahaya menembus bahan semikonduktor
tersebut maka elektron dipaksakan keluar dari tempatnya dan hal ini
menimbulkan lubang elektron yang muatannya positif. Dengan adanya batas
lapisan antara p dan n maka elektron dihalangi berkombinasi kembali dengan
demikian maka terdapat beda tegangan antara sisi p dan n.
Persoalan utama sehubungan dengan bahan adalah memilih semi
konduktor dan menyiapkan pada bentuk yang tepat, penelitian doping (untuk
membuat tipe p dan n perlu doping). Memilih resin organik untuk
penyambungan dan memilih pelapis yang mempunyi reflek pemantulan
cahaya bagus. Persoalan lain termasuk konstruksi dan resistansi rendah.

7.2 Magneto Hidro Dinamik.


Magneto Hidro Dinamik (MHD) bekerjanya adalah berdasarkan Hukum
Faraday. Seperti prinsip kerja generator konvensional, jika terjadi kecepatan
relatif antara penghantar dengan medan magnet, maka pada penghantar
tersebut akan terjadi gaya gerak listrik (ggl).
Gas untuk keperluan MHD diperoleh dari ruang pembakaran 1 yang
ditiupkan ke dalam ruang 2, di ruang ini diberikan medan magnet yang kuat
sehingga gas yang melewati di dalamnya terionisasi. Selanjutnya gas yang
terionisasi tersebut mengalir melalui ruang elektroda 3 yaitu ruang yang
bagian atas dan bawahnya terbuat dari elektroda yang dipisahkan dengan

PUTU RUSDI ARIAWAN 23


bahan isolasi. Dan elektroda ini dihubungkan dengan beban karena elektroda
atas dan bawah kutubnya berbeda. MHD dapat dirancang dengan siklus
terbuka maupun tertutup.
Kendala pada MHD di antaranya adalah korosi. Usaha untuk
menanggulanginya adalah dengan menggunakan gas-gas mulia He, Ne, Kr
dan Xe. Untuk meningkatkan kualitas gas disemprotkan dari ruang
pembakaran, pada gas tersebut diberikan bubuk halus dari Cc atau K.

7.3 Sel Pembakaran.


Bahan bakar + O2 ---------------- > oksida + energi listrik
Elemen inti dari sebuah set pembakaran adalah : bahan bakar, oksida,
elektrolit dan 2 buah elektroda. Bahan pembakar yang lebih reaktif adalah
yang dapat digunakan atau dioksidasi pada suhu yang lebih rendah. Hidrogen
atau bahan pembakar yang menghasilkan hidrogen secara langsung dapat
dioksidasi pada suhu rendah. Bahan pembakar elektrolit dapat menggunakan
minyak alam. Keuntungannya adalah harganya murah tetapi minyak alam
hanya dapat dioksidasikan pada suhu yang tinggi.

7.4 Termo Elektrik.


Pembangkitan listrik dengan termo elektrik dasarnya adalah Efek
Seebeck yaitu, jika 2 buah logam yang berbeda disambungkan salah satu
ujungnya, kemudian diberikan suhu yang berbeda pada kedua sambungan,
maka terjadi perbedaan tegangan pada ujung yang satu dengan ujung yang
lain. Untuk keperluan pembangkitan listrik tersebut umumnya bahan yang
digunakan adalah bahan semikonduktor.

7.5 Konverter Termionik.


Pembangkitan listrik dengan termionik adalah mengubah energi panas
menjadi energi listrik dengan menggunakan efek emisi termionik. Emisi
termionik adalah terlepasnya elektron dari permukaan logam yang lebih panas
ke permukaan logam lainnya yang dipanasi bersama-sama.

PUTU RUSDI ARIAWAN 24


Elektron-elektron bebas dari emiter mempunyai energi yang seimbang
dengan level Ferminya. Elektron-elektron ini dapat meninggalkan katoda,
jumlah dari energi panas yang disuplai padanya akan sama dengan fungsi
kerja katoda θ c. Elektron-elektron yang diemisikan akan menuju ke arah
kolektor (anoda), dengan kerugian energi yang kecil.
Bahan katoda hendaknya mempunyai kemampuan emisi yang cukup
pada suhu kerja, mempunyai konduktivitas listrik maupun konduktivitas panas
yang tinggi dan stabil terhadap pengaruh kimia.

PUTU RUSDI ARIAWAN 25


BIODATA PENULIS

Nama : Putu Rusdi Ariawan

TTL : Denpasar. 19 April 1990

Agama : Hindu

Mahasiswa Teknik Elektro Unv. Udayana

Email : turusdi.info@gmail.com

www.facebook.com/turusdi

PUTU RUSDI ARIAWAN 26