Anda di halaman 1dari 25

TEKNOLOGI SEL SURYA SEBAGAI

PEMBANGKIT ENERGI LISTRIK

BAHAN LISTRIK

OLEH :

PUTU RUSDI ARIAWAN (0804405050)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

Energi adalah satu kata yang mempunyai makna sangat luas karena tidak ada
aktivitas di alam raya ini yang bergerak tanpa energi dan itulah sebabnya kata salah
seorang professor di Jepang bahwa hampir semua perselisihan di dunia ini dipicu, atau
berpangkal pada perebutan atas penguasaan sumber energi.

Secara umum sumber energi dikategorikan menjadi dua bagian yaitu non-
renewable energy dan renewable energy. Sumber energi fosil adalah termasuk kelompok
yang pertama, dan ternyata sebagaian besar aktivitas di dunia ini menggunakan energi
konvensional ini.

Saat dunia membutuhkan sumber energi alternatif ramah lingkungan yang


ketersediaannya berlimpah, serta dapat diperbarui ( renewable energy ), maka teknologi
mutakhir yang disebut solar cell tampil ke depan, teknik penyediaan tenaga ini mengubah
cahaya matahari yang persediaannya di alam semesta hampir tak terbatas, untuk
selanjutnya dijadikan energi listrik yang siap guna.

1.2 Pokok Masalah

Dari berbagai amatan tentang ketersediaan dan pengelolaan energi bila dicermati
dari waktu ke waktu, akan terlihat bahwa ternyata biaya explorasi dan exploitasi yang
cenderung selalu meningkat dengan tajam dan akhirnya energi-energi tersebut menjadi
sangat mahal dan pada titik waktu tertentu bahkan bisa habis samasekali.. Pada saat yang
sama kebutuhan akan ketersediaan energi siap pakai dalam industri dan kehidupan sehari-
hari bertambah dengan angka kelipatan yang mencemaskan para ilmuwan. Oleh karena
itulah penelitian dan pengembangan sumber energi baru sangat diperlukan terutama
energi yang ramah terhadap lingkungan, ekonomis dan ketersediaannya mencukupi untuk
kebutuhan umat manusia pada masa yang akan datang.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Salah satu sumber energi yang memiliki prospek sangat menjanjikan baik dilihat
dari sisi biaya maupun dari sudut pandang lingkungan hidup adalah energi yang berasal
dari sinar matahari.

Permasalahan mendasar dalam teknologi solar cell adalah kenyataan derajat


efisiensi yang sangat rendah dalam upaya pengubahan energi surya menjadi energi listrik.
Hingga saat ini efisiensi tertinggi yang berhasil dicapai tidak lebih dari 20 persen, itupun
masih dalam skala laboratoris.

Untuk itu di negara-negara maju, penelitian tentang solar cell ini mendapatkan
perhatian yang sangat besar, terlebih dengan isu bersih lingkungan yang menjadi sasaran
utama negara-negara maju pada masa kini.

1.3. Tujuan Penulisan

Penulisan naskah ini adalah guna mengetahui sejarah dan hasil

perkembangan penelitian serta penemuan teknologi sel surya yang digunakan

sebagai pembangkit energi listrik yang dapat diperbaharui.

1.4. Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan yang didapat dari penulisan karya ilmiah ini adalah :

1. Kegunaan teoritis

Sebagai referensi atau bahan bacaan tambahan mengenai sejarah dan hasil

perkembangan penelitian serta penemuan teknologi sel surya yang digunakan

sebagai pembangkit energi listrik yang dapat diperbaharui.

PUTU RUSDI ARIAWAN


2. Kegunaan Praktis

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang

mungkin dapat diterima dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan

untuk menghasilkan informasi yang relevan dalam pengembangan penelitian

dan penulisan karya ilmiah lebih lanjut.

1.5.Sistematika Penyajian

Karya ilmiah ini akan disajikan dalam 5 (lima) bab, setiap bab akan dibagi

lagi menjadi beberapa sub bab yang memiliki ikatan satu sama lain.

Secara sistematis akan disajikan dengan susunan sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan

Bab ini didalamnya diuraikan mengenai latar belakang masalah, pokok

permasalahan, tujuan penulisan, kegunaan penulisan dan sistematika

penyajian.

Bab II : Tinjauan Pustaka

Bab ini berisikan uraian mengenai landasan teori yang menunjang

dalam pelaksanaan penulisan karya ilmiah dan pembahasan mengenai

artikel-artikel sebelumnya.

Bab III : Metode Penulisan

Bab ini akan membahas metode penulisan karya ilmiah ini dan nantinya

dipergunakan dalam pemecahan masalah.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Bab IV : Hasil dan Pembahasan

Bab ini akan membahas gambaran umum tentang energi matahari yang

dikonversikan menjadi energi listrik serta penerapan teknologinya.

Bab V : Simpulan dan Saran

Bab terakhir dari karya tulis ini akan mengurai simpulan dari hasil

pembahasan dan pengkajian yang dilakukan pada bab sebelumnya, bab

ini juga menyajikan saran untuk pengembangan kedepan.

PUTU RUSDI ARIAWAN


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Energi

2.1.1 Menurut Bob Foster dalam bukunya yang berjudul Fisika, mendefinisikan :

“ Energi adalah sesuatu yang dapat mengubah materi sebuah benda baik dari dalam
maupun luar benda tersebut. ”

2.1.2 Menurut Encharta Encyclopedia deluxe , energi didefinisikan sebagai berikut :

“ Energy, capacity of matter to perform work as the result of its motion or its position in
relation to forces acting on it. ”

2.1.3 Menurut Sir Issac Newton dalam buku yang berjudul The Physics, energi
didefinisikan :

“ Kemampuan untuk melakukan usaha” Pelepasan energi memerlukan usaha, melakukan


usaha pada sebuah benda berarti menambah energi pada benda tersebut. Dapat ditarik
kesimpulan bahwa energi dan usaha adalah konsep yang sama.

2.2 Pengertian Energi Surya

2.2.1 Menurut Simon Roberts dalam bukunya yang berjudul Solar Electricity, Energi
matahari adalah :

“ All the energy that reaches the earth from the sun. “ jadi energi matahari adalah semua
energi yang mencapai bumi yang berasal dari matahari.

2.2.2 Menurut Encharta Encyclopedia deluxe Energi Surya terdefinisikan sebagai


berikut :

PUTU RUSDI ARIAWAN


“ Energi surya adalah energi yang diberikan matahari dari reaksi fusi di dalam inti
matahari. “

2.3 Pengertian Solar Cell ( Sel Surya )

2.3.1 Menurut Drs.Muhaimin dalam bukunya yang berjudul Bahan-Bahan Listrik untuk
Politeknik solar cell ( sel surya ) adalah :

“ Sebuah fotovoltaik yaitu bahan semikonduktor yang mengubah secara langsung energi
cahaya menjadi energi listrik. “

2.3.2 Menurut Simon Roberts dalam bukunya yang berjudul Solar Electricity Solar cell
(sel surya) adalah :

“ The word „photovoltaic‟ cell refers to an cell that caused electric by light “

2.3.3 Menurut Encharta Encyclopedia deluxe Solar cell ( sel surya ) didefinisikan
sebagai berikut :

“ Solar cells called photovoltaics made from thin slices of crystalline silicon, gallium
arsenide, or other semiconductor materials convert solar radiation directly into
electricity. “

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya energi sinar matahari dapat
dikonversi menjadi energi elektrik yang siap guna dengan menggunakan solar cell (sel
surya)

PUTU RUSDI ARIAWAN


BAB III

METODE PENULISAN

3.1 Jenis Data

3.1.1 Menurut sumbernya


1. Data primer merupakan data yang dikumpulkan dari tempat penelitian
melalui hasil wawancara langsung dengan pihak-pihak berkompeten mengenai
teknologi dari hasil penelitian yang terkait dengan energi listrik dari sel surya.
2. Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari
buku-buku dan artikel yang mengandung atau menyajikan tulisan ilmiah
tentang teknologi dari hasil penelitian yang terkait dengan energi listrik dari
sel surya.
3.1.2 Menurut sifatnya data dapat digolongkan menjadi:
1. Data kualitatif yaitu data yang tidak berbentuk angka-angka seperti sejarah
penelitian dan naskah penemuan energi listrik dari sel surya,
2. Data kuantitatif yaitu data yang berupa angka-angka dalam hal ini adalah
perhitungan-perhitungan contohnya perhitungan efisiensi dari sebuah sel
surya.

3.2 Metode Pengumpulan Data


1. Dokumentasi
Yaitu cara pengumpulan data dengan membaca buku-buku dan artikel tentang
sel surya dan hal-hal yang terkait dengan perkembangan penelitian dan
penemuan teknologi sel surya, dan kemudian mencatat dan merangkainya
dalam naskah ini.

3.3 Teknik Analisis


Data terkumpul, digunakan untuk mencapai tujuan penyajian karya tulis
ilmiah ini dianalisis secara kualitatif.

PUTU RUSDI ARIAWAN


BAB IV
PEMBAHASAN DAN ANALISA

4.1 Apa Itu Tenaga Surya


Pada umumnya tenaga surya dapat diartikan semua energi yang mencapai bumi
yang berasal dari matahari. Energi tersebut memberikan sinar yang terang, membuat
bumi ini hangat dan merupakan sumber energi bagi tumbuhan untuk hidup.
Energi matahari juga memberi manfaat langsung bagi kehidupan kita yaitu :
energi panas matahari dan energi listrik tenaga matahari , manfaat yang disebut pada
urutan ke-dua adalah subyek dari makalah ini. Kedua manfaat itu terlihat hampir sama
namun pada kenyataannya dikumpulkan dari proses yang berbeda dan membutuhkan
peralatan yang berbeda untuk mendapatkannya.
Energi panas matahari
Energi panas matahari adalah pemanfaatan tenaga panas yang dihasilkan oleh
penangkapan sinar matahari. Sejak berabad-abad yang lalu telah ada upaya-upaya untuk
menggunakan energi ini dalam kehidupan sehari hari seperti : untuk mengeringkan
jagung, mengeringkan batu bata, mengeringkan gerabah dan untuk membuat garam dari
air laut dengan menggunakan alat yang disebut bejana penguapan. Energi ini bahkan
dimanfaatkan untuk memasak dengan peralatan yang disebut tungku pengumpul tenaga
surya. Yang sekarang sangat dikenal dan banyak digunakan adalah peralatan pemanas air
tenaga surya.
Energi listrik tenaga matahari
Manfaat lain dari sinar matahari adalah energi listrik tenaga matahari. Ini lah
energi yang dihasilkan dari sinar matahari yang dikonversi menjadi energi listrik
menggunakan solar cells atau photovoltaik cells. Solar cells ( sel surya ) pertamakali
dikembangkan gunaa memberikan tenaga pada satelit untuk program luar angkasa di
tahun 1950-an. Pada saat ini sel surya telah digunakan di bumi dan diproduksi oleh
berbagai perusahaan di berbagai penjuru dunia.
Lebih lanjut mengenai sel surya dapat dilihat pada subbab-subbab berikut.

PUTU RUSDI ARIAWAN


4.2 Energi Matahari Sebagai Sumber Energi Alternatif

Sekitar tahun delapan puluhan ketika para ahli di Indonesia menawarkan sumber
energi alternatif yang banyak digunakan di negara maju yaitu nuklir, terjadi berbagai
pertentangan pendapat dan perdebatan yang cukup panjang sehingga mengandaskan
rencana penggunaan sumber energi yang dinilai sangat membahayakan tersebut. Diantara
usulan, pemikiran dan pertanyaan yang banyak dilontarkan kala itu adalah mengapa kita
tidak menggunakan sumber energi surya. Memang tidak diragukan lagi bahwa solar cell
adalah salah satu sumber energi yang ramah lingkungan dan sangat menjanjikan pada
masa yang akan datang, karena penggunaan energi ini tidak menimbulkan dampak
samping yang berupa polusi selama proses konversi energi, selain itu sumber energinya
di alam tersedia hampir tanpa batas, terlebih lagi kenyataan geograpis negeri tropis
seperti Indonesia yang menerima paparan sinar matahari sepanjang tahun dengan
intensitas maksimal.

4.3 Mengkonversikan Energi Sinar Matahari Menjadi Listrik

Energi sinar matahari dapat diubah menjadi arus listrik yang searah dengan
menggunakan silikon yang tipis. Sebuah kristal silindris Si diperoleh dengan cara
memanaskan Si itu pada tekanan yang diatur sehingga Si itu berubah menjadi penghantar.
Bila kristal silindris itu dipotong stebal 0,3 mm, akan terbentuklah sel-sel silikon yang
tipis atau yang disebut juga dengan sel surya fotovoltaik. Sel-sel silikon itu dipasang
dengan posisi sejajar / seri dalam sebuah panel yang terbuat dari alumunium atau baja
anti karat dan dilindungi dengan lapisan kaca atau plastik transparan. Kemudian pada
tiap-tiap sambungan sel dengan sel lain, diberi penghubung listrik. Bila sel-sel itu terkena
sinar matahari maka pada sambungan itu akan mengalir arus listrik. Besarnya arus /
tenaga listrik itu tergantung pada jumlah energi cahaya yang mencapai silikon itu serta
luas permukaan sel itu.

Secara sederhana solar cell terdiri dari persambungan bahan semikonduktor


bertipe p dan n (p-n junction semiconductor) yang jika tertimpa sinar matahari maka akan

PUTU RUSDI ARIAWAN


terjadi aliran electron, nah aliran electron inilah yang disebut sebagai aliran arus listrik.
Sedangkan struktur dari solar cell adalah seperti ditunjukkan dalam gambar 1.

Bagian utama perubah energi sinar matahari menjadi listrik adalah absorber
(penyerap), meskipun demikian, masing-masing lapisan juga sangat berpengaruh
terhadap efisiensi dari solar cell. Sinar matahari terdiri dari bermacam-macam jenis
gelombang elektromagnetik yang secara spektrum dapat dilihat pada gambar 2. Oleh
karena itu absorber disini diharapkan dapat menyerap sebanyak mungkin solar radiation
yang berasal dari cahaya matahari.

Lebih detail lagi bisa dijelaskan sinar matahari yang terdiri dari photon-photon,
jika menimpa permukaaan bahan solar sel (absorber), akan diserap, dipantulkan atau
dilewatkan begitu saja, dan hanya foton dengan level energi tertentu yang akan
membebaskan elektron dari ikatan atomnya, sehingga mengalirlah arus listrik. Level
energi itu disebut energi band-gap yang didefinisikan sebagai sejumlah energi yang
dibutuhkan untuk mengeluarkan elektron dari ikatan kovalennya sehingga terjadilah
aliran arus listrik. Untuk membebaskan electron dari ikatan kovalennya, energi foton (hc)

PUTU RUSDI ARIAWAN


harus sedikit lebih besar / diatas daripada energi band-gap. Jika energi foton terlalu besar
dari pada energi band-gap, maka extra energi tersebut akan dirubah dalam bentuk panas
pada solar sel. Karenanya sangatlah penting pada solar sel untuk mengatur bahan yang
dipergunakan, yaitu dengan memodifikasi struktur molekul dari semikonduktor yang
dipergunakan.

Pada asasnya sel surya fotovoltaik merupakan suatu dioda semikonduktor yang
berkerja dalam proses tak seimbang dan berdasarkan efek fotovoltaik. Dalam proses itu
sel surya menghasilkan tegangan 0,5 - 1 volt tergantung intensitas cahaya dan zat
semikonduktor yang dipakai. Sementara itu intensitas energi yang terkandung dalam
sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi besarnya sekitar 1000 Watt. Tapi karena
daya guna konversi energi radiasi menjadi energi listrik berdasarkan efek fotovoltaik baru
mencapai 25%, maka produksi listrik maksimal yang dihasilkan sel surya baru mencapai
250 Watt per m2 . Dari sini terlihat bahwa PLTS itu membutuhkan lahan yang luas. Hal
itu merupakan salah satu penyebab harga PLTS menjadi mahal. Ditambah lagi harga sel
surya fotovoltaik berbentuk kristal mahal, hal ini karena proses pembuatannya yang
rumit. Namun, kondisi geografis Indonesia yang banyak memiliki daerah terpencil sulit
dibubungkan dengan jaringan listrik PLN, kemudian sebagai negara tropis Indonesia
mempunyai potensi energi surya yang tinggi, hal ini terlihat dari radiasi harian rata-rata
permukaan wilayah Indonesia yang sebesar 4,5 kWh / m2 / hari, maka itu berarti prospek
penggunaan fotovoltaik di Indonesia pada masa mendatang cukup cerah. Untuk itulah
perlu diusahakan untuk menekan harga fotovoltaik misalnya dengan cara sebagai berikut:

Pertama menggunakan bahan semikonduktor lain seperti Kadmium Sulfat dan


Galium Arsenik yang lebih kompetitif.
Ke dua meningkatkan efisiensi sel surya dari 10% menjadi 15%.

Tentu saja agar efisiensi dari solar cell bisa mencapai derajat yang tinggi maka
foton yang berasal dari sinar matahari harus mampu diserap yang sebanyak banyaknya,
kemudian memperkecil refleksi dan rekombinasi serta memperbesar konduktivitas dari
bahannya. Untuk bisa membuat agar foton yang terserap sebanyak banyaknya, maka
absorber harus memiliki energi band-gap dengan range yang lebar, sehingga

PUTU RUSDI ARIAWAN


memungkinkan serapan optimal atas sinar matahari yang mempunyai energi sangat
bermacam-macam tersebut. Salah satu bahan yang sedang banyak diteliti adalah CuInSe2
yang dikenal merupakan salah satu dari direct semiconductor.

4.4 Teknologi Pengembangan Modul Fotovoltaik

4.4.1 Modul fotovoltaik

Komponen utama sistem surya fotovoltaik adalah modul yang merupakan unit
rakitan beberapa sel surya fotovoltaik. Untuk membuat modul fotovoltaik secara
pabrikasi bisa digunakan teknologi kristal dan thin film. Modul fotovoltaik kristal dapat
dibuat dengan teknologi yang relatif sederhana, sedangkan untuk membuat sel
fotovoltaik diperlukan teknologi tinggi.
Modul fotovoltaik tersusun dari beberapa sel fotovoltaik yang dihubungkan secara
seri dan paralel. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat modul sel surya yaitu sebesar
60% dari biaya total. Jadi, jika modul sel surya itu bisa diproduksi di dalam negeri berarti
akan bisa menghemat biaya pembangunan PLTS.
Untuk itulah, modul pembuatan sel surya di Indonesia tahap pertama adalah
membuat bingkai (frame), kemudian membuat laminasi dengan sel-sel yang masih
diimpor. Jika permintaan pasar banyak maka pembuatan sel yang dilaksanakan di dalam
negeri akan semakin ekonomis, hal ini terjadi karena pada kenyataannya teknologi
pembuatan sel surya dengan bahan silikon single dan poly cristal secara teoritis sudah
dikuasai.
Dalam bidang fotovoltaik yang digunakan pada PLTS, di Indonesia ternyata telah
melewati tahapan penelitian dan pengembangan dan sekarang menuju tahapan
pelaksanaan dan instalasi guna elektrifikasi untuk daerah pedesaan. Teknologi ini cukup
canggih dan memiliki keuntungan-keuntungan yaitu : harganya murah, ramah
lingkungan, mudah dipasang dan dioperasikan serta mudah dirawat.
Sedangkan kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan energi surya
fotovoltaik adalah investasi awal yang besar dan harga per kWh listrik yang dibangkitkan
relatif tinggi, karena memerlukan subsistem yang terdiri atas baterai, unit pengatur dan
inverter sesuai dengan kebutuhannya.

PUTU RUSDI ARIAWAN


4.4.2 Teknologi Silikon dan GaAs
Pada prinsipnya, sel surya adalah identik dengan piranti semikonduktor dioda.
Hanya saja dewasa ini strukturnya menjadi sedikit lebih rumit karena perancangannya
yang lebih cermat guna meningkatkan derajat efisiensi. Untuk penggunaan secara luas
dalam bentuk arus bolak-balik, masih diperlukan peralatan tambahan seperti inventer,
baterei penyimpanan dan lain-lain.
Kemajuan penelitian atas material semikonduktor sebagai bahan inti sel surya,
telah menjadi faktor kunci bagi pengembangan teknologi ini. Dalam teknologi sel surya,
terdapat berbagai pilihan penggunaan material intinya.
Kristal tunggal silikon sebagai pioner dari sel surya memang masih menjadi
pilihan sekarang karena teknologinya yang sudah mapan sehingga bisa mencapai efisiensi
lebih dari 20 % untuk skala riset. Sedangkan modul / panel sel surya kristal silikon yang
sudah diproduksi berefisiensi sekitar 12 %. Namun demikian, penggunaan material ini
dalam bentuk lempengan (waver) masih digolongkan mahal dan juga volume produksi
lempeng silikon tidak dapat mencukupi kebutuhan pasar bila terjadi penggunaan sel surya
ini secara massal. Sehingga untuk penggunaan secara besar-besaran harus dilakukan
uasaha untuk mempertipis lapisan silikonnya dari ketebalan sekarang yang mencapai
ratusan mikron.
Material yang berifisiensi tinggi lainnya adalah dari paduan golongan unsur III-V
GaAs dan InP. Walaupun secara teoritis efisiensinya bisa mencapai 35%, tetapi sulitnya
menumbuhkan kristal tunggal berkualitas tinggi dari material-material di atas
menyebabkan harganya tergolong sangat mahal sehingga penggunaannya masih terbatas,
terutama hanya untuk penggunaan di angkasa luar. Ditunjang oleh sifat material tersebut
yang tahan terhadap radiasi-radiasi di angkasa luar maka menggunakan bahan ini masih
menjadi pilihan utama. Hingga saat sekarang material golongan ini memang belum
dipertimbangkan untuk digunakan secara massal.
Usaha yang sedang diupayakan sekarang untuk menekan harga pembuatannya
adalah menumbuhkan lapisan GaAs di atas lempeng silikon. Namun, penggabungan dari
dua material dengan struktur berbeda ini menyebabkan timbulnya strain pada lapisan
antarmukanya sehingga menurunkan derajat efisiensi.

PUTU RUSDI ARIAWAN


4.4.3 Sel surya film tipis

Pilihan yang paling diharapkan saat ini untuk dapat diproduksi secara massal
dengan harga yang murah adalah sel surya yang terbuat dari film tipis (Thin film solar
cells). Di antaranya ada tiga material yang sedang dikembangkan secara intensif yaitu :
CuInSe2 (atau paduannya seperti CuIns2 atau CuInGaSe2), CdTe dan Silikon amorf.
Tingkat efisiensi bahan-bahan tersebut sekitar 10%, sel surya film tipis ini sudah layak
untuk diproduksi massal dengan harga yang dapat bersaing dengan sumber energi listrik
yang lain. Untuk ketiga material di atas hanya dibutuhkan ketebalan sekitar satu mikron
agar membentuk sel surya yang efisien, hal ini disebabkan oleh daya serap cahayanya
yang besar.
Sel surya film tipis CdTe telah dapat diproduksi dalam bentuk modul percobaan
dengan efisiensi sekitar 10%. Sebenarnya cukup layak pula untuk diproduksi secara
massal. Persoalannya adalah material ini belum dapat diterima dengan baik karena
mengandung unsur cadmium. Dampak buruk bahan ini adalah bila rumah yang atapnya
dinstal sel surya CdTe terbakar, unsur cadmium ini akan menimbulkan polusi yang
membahayakan.
Material CuInSe2 juga sangat diharapkan agar dapat digunakan secara luas,
material dengan daya absorpsi cahaya yang besar ini, secara teoritis mempunyai efisiensi
20% bahkan lebih. Dalam skala laboratorium saat ini telah diupayakan derajat efisiensi di
atas 15%. Kesulitan dari material yang masih baru ini adalah sukarnya mengontrol
komposisi dari ketiga unsur pembentuknya terutama saat diproduksi dalam sekala yang
besar secara massal, sehingga masih akan mengahadapi kesulitan terutama dalam
memproduksi modul dengan kualitas yang sama. Mencari proses pembuatan yang murah
dan layak untuk produksi massal adalah masalah yang menjadi pusat perhatian untuk
material golongan ini.
Yang terakhir adalah silikon amorf. Material ini juga dikenal sebagai bahan dasar
pembuatan flat panel display untuk layar komputer atau televisi portabel, hal ini
dimungkinkan karena material ini bisa dikembangkan dalam ukuran besar dengan lebar
lebih dari satu meter. Film tipis silikon amorf biasanya dibuat dengan menguraikan gas
monosilane (SiH4 ) dalam plasma yang dibangkitkan oleh penguat frekuensi radio (glow

PUTU RUSDI ARIAWAN


discharge) pada suhu yang relatif rendah (250o C). Material ini tergolong yang paling
murah di antara semua sel surya film tipis. Secara teoritis, bahan ini dapat menghasilkan
derajat efisiensi sekitar 15-16%. Kelemahannya adalah adanya degrasi / penurunan
efisiensi sekitar 30% dari harga awal, saat pertama kali disinari, walaupun pada akhirnya
menjadi stabil (efek Staebler Wronski). Panel sel surya dengan efisiensi (setelah
terdegradasi) 10% sudah berhasil dibuat. Walaupun nilai efisiensi tersebut sudah masuk
kategori layak produksi, usaha untuk menyempurnakan proses pembuatannya masih terus
berlangsung guna menekan serendah mungkin harga jualnya.
Ada dua hal lain yang juga sering dipertanyakan orang terhadap sel surya. Yang
pertama adalah polusi. Meskipun saat menggunakannya, sel surya tidak menyebabkan
polusi tapi saat pembuatannya (seperti industri semikonduktor lainnya) tetap
menimbulkan dampak limbah / polusi. Yang kedua adalah adanya parameter “energy
pay-back time” yang menyatakan lamanya waktu yang diperlukan oleh sel surya untuk
menghasilkan energi yang sama dengan energi yang dipakai saat pembuatan sel surya itu
sendiri. Terhadap dua hal di atas, sel surya film tipis silikon amorf ternyata lebih unggul
dibandingkan dengan sel surya lainnya.

4.4.4 Hibrida dengan nickel-cadmium batteries

Cadmium, dengan lambang kimia Cd, Silvery-White unsur metalik yang mudah
dibentuk. Nomor atom cadmium adalah 48, unsur ini adalah salah satu dari elemen
transisi di dalam kelompok 12 atau IIB, pada daftar susunan unsur kimia dikenal sebagai
daftar Hukum Berkala.
Cadmium telah ditemukan 1817 oleh Ahli kimia Jerman Friedrich Stromeyer, ia
menemukan Cadmium di dalam lapisan / kerak dalam tungku perapian seng. Cadmium
telah digunakan sebagai material pelapis dalam perangkat pembangkit tenaga atom
karena tingginya kemampuan serap terhadap low-energy netron.
Oleh karena itulah Sulfida Cadmium digunakan juga sebagai sel photovoltaic, dan
Sulfida Cadmium juga dimanfaatkan dalam pembuatan nickel-cadmium baterei.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Another alkaline cell similar to the Edison battery is the nickel-cadmium cell, or
cadmium battery, in which the iron electrode is replaced by one consisting of cadmium. It
also produces about 1.15 V, and its useful lifetime is about 25 years.

A new type of storage battery with a life expectancy of from 10 to 20 years was
demonstrated recently by Sonotone Corporation. The battery is half the size and will cost
half as much as conventional batteries. The grids of both positive and negative plates
consist of sintered, carbonyl-nickel powder. The active material of the positive plate
when charged is nickel oxide and that of the negative plate is cadmium. The electrolyte is
a 30 per cent by weight solution of potassium hydroxide, the specific gravity of which is
1.29 at room temperature. During charge and discharge no over-all chemical change
occurs in the electrolyte so that there are no appreciable changes in the specific gravity as
the state of a cell changes. The potential of the cell at room temperature is approximately
1.3 volts, and the terminal voltage when the cell is delivering current is about 1.2 volts.

The cells will withstand extreme conditions of temperature and can be charged at
temperatures as low as -40°F. and operate at temperatures as low as -65°F. One of the
demonstrations showed the operation of the battery under circumstances that would cause
other types to cease functioning. A nickel-cadmium unit was frozen in ice with cables
through the ice connected to an automobile-motor starter. The battery repeatedly started
the motor without difficulty. It is also unaffected by shock and vibration and is not
injured by overcharging, reversed charging, and short circuit.

Although the initial cost of this battery is greater than that of conventional types,
it is expected that the actual cost will be considerably lower because of the long life
expectancy.

Power for electronic equipment is furnished by 19,000 solar cells covering more
than 70% of the total sphere surface. They convert sunlight directly to electricity which
charges a nickel cadmium storage battery when the satellite is in sunlight. The battery
runs the equipment when Courier is in the earth's shadow.

PUTU RUSDI ARIAWAN


4.4.5 Hibrida dengan pembangkit lain

Dalam penerapannya fotovoltaik dapat digabungkan dengan pembangkit lain seperti


pembangkit tenaga diesel ( PLTD ) dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro ( PLTM ).
Penggabungan ini dinamakan sistem hibrida yang tujuannya untuk mendapatkan daya
guna yang optimal.
● Pada sistem ini hibrida PLTS merupakan komponen utama, sedang pembangkit
listrik lainnya digunakan untuk mengkompensasi kelemahan sistem PLTS dan
mengantisipasi ketidakpastian cuaca dan sinar matahari.
● Pada sistem PLTS-PLTD, maka PLTD-nya akan digunakan sebagai "bank up"
untuk mengatasi beban maksimal. Pengkajian dan penerapan sistem ini sudah dilakukan
di Bima (NTB) dengan kapasitas PLTS 13,5 kWp dan PLTD 40 kWp.

● Penggabungan antara PLTS dengan PLTM mempunyai prospek yang cera, hal ini
karena sumber air yang dibutuhkan PLTM relatif sedikit tipikal ini banyak dijumpai di
desa-desa. Untuk itulah pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang telah
merealisasi penerapan sistem model hidro ini di desa Taratak (Lombok Tengah) dengan
kapasitas PLTS 48 kWp dan PLTM sebesar 6,3 kW.

● Pada sistem hibrida antara fotovoltaik dengan Fuel Cell (sel bahan bakar), selisih
antara kebutuhan listrik pada beban dan listrik yang dihasilkan oleh fotovoltaik akan
dipenuhi oleh fuel cell. Controller berfungsi untuk mengatur fuel cell agar listrik yang
keluar sesuai dengan kepeluan. Arus DC yang dihasilkan fuel cell dan arus fotovoltaik
digabungkan pada tegangan DC yang sama kemudian diteruskan ke power conditioning
subsystem ( PCS ) yang berfungsi untuk mengubah arus DC menjadi arus AC.
Keuntungan sistem ini adalah efisiensinya tinggi sehingga dapat menghemat bahan bakar,
dan kehilangan daya listrik dapat diperkecil dengan menempatkan fuel cell dekat dengan
pusat beban.

PUTU RUSDI ARIAWAN


BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Setelah mengkaji uraian pada bab-bab dan sub bab nya masing-masing, maka ada
beberapa simpulan yang dapat diambil :
1. Dunia membutuhkan sumber energi alternatif ramah lingkungan yang
ketersediaannya memadai, murah serta dapat diperbarui ( renewable energy).
2. Salah satu sumber energi yang memiliki prospek sangat menjanjikan baik dilihat
dari sisi biaya maupun dari sudut pandang lingkungan hidup dan jumlah
ketersediaannya adalah energi yang berasal dari sinar matahari.
3. Permasalahan mendasar dalam teknologi solar cell adalah kenyataan derajat
efisiensi yang sangat rendah dalam upaya pengubahan energi surya menjadi
energi listrik. Hingga saat ini efisiensi tertinggi yang berhasil dicapai tidak lebih
dari 20 persen, itupun masih dalam skala laboratoris.
4. Energi sinar matahari dapat diubah menjadi arus listrik yang searah dengan
menggunakan silikon yang tipis. Kristal Silikon berbentuk silindris yang tebalnya
0,3 mm, disebut juga dengan nama sel surya fotovoltaik.
5. Untuk menekan harga fotovoltaik dapat dilakukan dengan cara :

Pertama menggunakan bahan semikonduktor lain seperti Kadmium Sulfat


dan Galium Arsenik yang lebih kompetitif.

Ke-dua meningkatkan efisiensi sel surya dari 10% menjadi 15%.

6. Teknologi Pengembangan Modul Fotovoltaik ada beberapa :

a. Modul Fotovoltaik

Modul fotovoltaik tersusun dari beberapa sel fotovoltaik yang dihubungkan


secara seri dan paralel. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat modul sel surya sebesar

PUTU RUSDI ARIAWAN


60% dari biaya total. Jadi, jika modul sel surya itu bisa diproduksi di dalam negeri berarti
akan bisa menghemat biaya pembangunan PLTS.

b. Teknologi Silikon dan GaAs


Pada prinsipnya, sel surya adalah identik dengan piranti semikonduktor dioda,
hanya saja strukturnya lebih rumit karena perancangannya yang lebih cermat guna
meningkatkan derajat efisiensi. Untuk penggunaan secara luas dalam bentuk arus bolak-
balik, masih diperlukan peralatan tambahan seperti inventer, baterei penyimpanan dan
lain-lain.

c. Sel Surya Film Tipis

Pilihan yang paling diharapkan saat ini untuk dapat diproduksi secara massal
dengan harga yang murah adalah sel surya yang terbuat dari film tipis (Thin film solar
cells).

d. Hibrida dengan nickel-cadmium batteries


e. Hibrida dengan pembangkit lain

Dalam penerapannya fotovoltaik dapat digabungkan dengan pembangkit lain seperti


pembangkit tenaga diesel ( PLTD ) dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro ( PLTM ).
Penggabungan ini dinamakan sistem hibrida yang tujuannya untuk mendapatkan daya
guna yang optimal.

5.2 Saran

1. Sangat menyarankan untuk dilaksanakannya penelitian, penulisan dan penerapan


teknologi solar cell dengan derajat efisiensi yang yang terus ditingkatkan dalam
pengubahan energi surya menjadi energi listrik.
2. Menyarankan lebih lanjut kerjasama beberapa pihak seperti pemerintah,
pengusaha swasta dan ilmuwan peneliti untuk mempercepat dan memastikan
upaya penerapan teknologi solar cell .

PUTU RUSDI ARIAWAN


Demikianlah simpulan dan saran yang dapat kami sajikan dalam karya tulis ini,
semoga seluruh muatan naskah ini ada manfaatnya bagi siapapun yang berkenan untuk
membaca dan mengkajinya lebih lanjut.

Keterangan gambar :
Sebuah rumah pengguna tenaga surya, di Corrales, New Mexico, lempeng datar
pengumpul tenaga surya (kanan bawah) adalah komponen penyedia energi bagi penghuni
rumah tersebut.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Ketrangan gambar :
Perangkat lempeng datar pengumpul energi surya, dimanfaatkan untuk memanaskan
bejana air berbahan tembaga, yang lebih lanjut menjadi penghangat ruangan dan
penyedia kebutuhan akan air panas bagi penghuni rumah.

PUTU RUSDI ARIAWAN


03
03

Keterangan gambar :
Experiments menggunakan photovoltaics yang berkesinambungan di Gurun Arizona.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Keterangan gambar :
Satelit Misi Maksimum, satelit ilmiah yang dirancang untuk mempelajari radiasi
matahari

PUTU RUSDI ARIAWAN


BIODATA PENULIS

Nama : Putu Rusdi Ariawan

TTL : Denpasar. 19 April 1990

Agama : Hindu

Mahasiswa Teknik Elektro Unv. Udayana

Email : turusdi.info@gmail.com

www.facebook.com/turusdi

PUTU RUSDI ARIAWAN