Anda di halaman 1dari 52

Mata Kuliah

Pendidikan Agama Katolik

Universitas Gunadarma

1
BAB I
AJARAN-AJARAN POKOK IMAN KRISTIANI

A. Dasar Iman Kristiani


Iman Kristiani didasarkan pada iman para rasul, yang dimaksud dengan para
rasul adalah sekelompok murid Yesus, khususnya kelompok inti dua belas orang,
dipanggil untuk mengikuti Yesus dan ambil bagian dalam misi-Nya. Murid-murid
Yesus yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh bangsa Yahudi,
yang diutus Allah untuk menyelamatkan mereka. Kematian Yesus merupakan masa
krisis bagi mereka, seolah-olah Yesus telah gagal dalam misi-Nya. Mereka menjadi
ketakutan pada orang Yahudi lalu tinggal bersama-sama untuk berdoa memohon
petunjuk dari Allah.
Pada saat orang-orang Yahudi merayakan pesta Pentekosta, para murid secara
komunal mendapatkan pengalaman akan Roh Allah yang bekerja dalam diri mereka.
Para murid merasa dipenuhi oleh Roh Allah. Mereka tidak lagi berdiam diri dan
Petrus sebagai pemimpin kelompok mulai berkhotbah.
Keyakinan para Rasul sebagai hasil dari pengalaman Pentekosta, sebagaimana
tampak dalam khotbah Petrus adalah sebagai berikut:
1. para murid membentuk suatu komunitas jemaat.
2. dikuatkan dengan Roh Allah (Roh Kudus) yaitu Roh kenabian/kesaksian
3. mempunyai misi untuk mewartakan Yesus
4. telah dibangkitkan oleh Allah dari mati dan menjadi Tuhan dan Kristus.
Inilah iman para rasul yang mereka bagikan kepada siapa saja yang tergerak untuk
mengikuti apa yang mereka sebut “Jalan” (Jalan Keselamatan).
Para rasul sedikit demi sedikit mulai menerima anggota baru kedalam
komunitas melalui proses inisiasi dan pelajaran yang disebut “katekese”, yang
memuncak pada upacara Baptisan. Generasi pertama umat Kristiani tidak mempunyai
Kitab Suci tertulis kecuali Kitab Suci orang Yahudi. Tahap demi tahap, Paulus,
keempat penginjil, Petrus, Yudas, dan beberapa orang lainnya menulis kesaksian
iman mereka tentang apa yang telah dilaksanakan oleh Allah dalam diri Yesus
Kristus.

2
Dari ringkasan dasar-dasar iman Kristiani ini dapat terlihat bahwa “iman para
rasul” oleh jemaat Kristiani sekarang dipandang sebagai inti iman mereka yang tidak
dapat diubah. Iman tidak hanya mendahului kitab suci, melainkan juga menghasilkan
dan menentukan Kitab Suci jemaat kristiani.

B. Allah
Keyakinan inti dalam agama Kristiani yang sama dengan agama lain adalah
Allah itu satu. Orang Kristiani berkeyakinan bahwa Allah itu bersifat abadi, Maha
Kuasa, Maha Tahu, Pencipta alam semesta dan segala isinya, penyelenggara
kehidupan, Maha pengasih dan penyayang, Maha Pengampun, Transenden (jauh tidak
terjangkau oleh manusia) sekaligus Imanen (sangat dekat di lubuk hati manusia),
Maha Besar, Hakim bagi seluruh umat manusia diakir jaman.
Orang Kristiani memanggil Allah dengan sebutan Bapa, hal ini ingin
mengungkapkan iman mereka bahwa Allah itu bagaikan seorang “bapak (atau ibu)
yang penuh kasih” dalam kasih pemeliharaan-Nya kepada umat manusia.

C. Inkarnasi
Dasar iman Kristiani yang lain adalah inkarnasi (penjelmaan), yaitu
berkeyakinan bahwa Sabda Allah yang kekal dan tidak dijadikan, mewujud dalam
daging dan tinggal ditengah kita dalam diri manusia Yesus. Inkarnasi berarti
“mengambil bentuk atau menjadi daging” yakni menjadi manusia. Cara lain untuk
mengatakan bahwa Sabda Allah diwahyukan dalam pribadi manusia yaitu Yesus.
Umat kristiani yakin bahwa Yesus adalah seorang manusia yang dilahirkan
atas kuasa Allah oleh seorang wanita suci Maria yang masih perawan. Konsili-
konsili awal yang diadakan oleh Gereja mengajarkan bahwa Sabda Allah tidak hadir
dalam diri Yesus sebagai sesuatu yang asing. Yesusu dipandang sebagai seorang
pribadi, manusia penuh dalam segala hal (kecuali dalam hal dosa), tetapi ia juga
berada dalam kesatuan dengan sabda ilahi. Seperti manusia lain, Yesus berkembang
dalam pengetahuan dan pemahaman diri melalui pengalaman hidup dan relasi dengan
orang lain.

3
D. Yesus
Yesus dilahirkan di Bethlehem, tempat Daud dilahirkan dan dibesarkan sekitar
1000 tahun sebelumnya. Tahun kelahirannya adalah sekitar tahun 0, yakni awal era
ke-Kristen-an, walaupun tanggal dan tahun tepatnya tetap tidak diketahui.
Kira-kira pada tahun 30, Yesus meninggalkan kota kelahiran-Nya Nazareth
dan mulai mengajar. Dalam hal ini Ia didahului oleh saudara sepupunya yaitu
Yohanes Pemandi (atau Yahya). Pesan pokok yang disampaikan oleh Yesus terdidi
dari dua hal, yaitu:
1. Bertobatlah (berbaliklah dari dosa dan kembalilah kepada Allah);
2. Terimalah Allah untuk merajai hidup anda (terimalah Kerajaan Allah).
Sebagai tambahan atas apa yang Ia khotbahkan dan ajarkan, Yesus melakukan
hal-hal sebagai berikut:
1. membuat mujizat-mujizat dan menyembuhkan orang sakit atas kuasa
Allah
2. memerangi kuasa setan dan mengusirnya
3. mengampuni dosa-dosa atas nama Allah
4. menghibur orang sakit, orang yang berkabung dan orang miskin
5. bergaul dengan para pendosa
6. dengan keras mengkritik para pemimpin Yahudi
7. meramalkan bahwa krisis besar akan melanda dunia tapi Allah akan
mengatasinya.
8. membentuk suatu komunitas murid-murid yang hidup seperti Dia dan
mewartakan pesan-Nya kepada orang-orang lain.

E. Trinitas (Monoteisme Kristiani)


Inti pengakuan iman Kristiani adalah “Kami percaya akan Satu Allah”.
Walaupun tidak menggunakan istilah “trinitas, Perjanjian Baru berbicara tentang
Allah, yang disebut “Bapa”, yang menyampaikan pesan-Nya dalam bentuk daging
dan tinggal dalam diri Yesus (Putera), dan tentang Allah yang Maha Kuasa yang
hadir dalam segala-galanya, yang disebut “Roh Kudus”.

4
Dalam perjalanan sejarah, orang-orang Kristiani berkesimpulan bahwa sifat
Tritunggal Allah merupakan misteri kodrat Allah. Oleh sebab itu, hal itu tidak dapat
diungkapkan dengan rumusan manusiawi.
Apa yang secara pasti dapat kita katakana sehubungan dengan ajaran Kristiani
tentang kodrat tritunggal Allah adalah bahwa umat Kristiani percaya akan satu Allah,
yang kodrat-Nya mengandung tiga aspek atau cirri khas. Allah yang satu dan sama
menyatakan diri-Nya:
1. sebagai Pencipta yang Maha Kuasa dan Tuhan atas kehidupan ( disebut “Bapa”
atau “Bapa Kami” )
2. sebagai Allah yang mewahyukan Sabda Ilahi-Nya dalam diri manusia Yesus
( disebut “Putera” )
3. sebagai Allah yang hadir secara imanen, aktif, dan memberikan daya hidup dalam
alam raya ( disebut “Roh Kudus” )
Sifat-sifat tersebut adalah abadi, karena tidak ada perubahan yang mendasar
dalam Diri Allah, yang kodrat-Nya selalu sama. Sifat-sifat tersebut melekat pada
kodrat Allah, bukan merupakan sifat yang kita berikan atau aspek yang kita anggap
penting untuk dimiliki oleh Allah. Sifat-sifat tersebut penting, karena menurut
pemahaman Kristiani atas apa yang telah Ia wahyukan tentang Diri-Nya dalam kitab
suci, tidak ada satupun dari tiga sifat/sebutan tadi yang dapat disangkal atau
dihilangkan dari Allah, karena semuanya hakiki bagi kodrat Allah.
Para teolog Kristiani modern berbicara tentang “Trinitas dalam rangka
rencana penyelamatan Allah”, Allah mempunyai rencana untuk menyelamatkan umat
manusia, yang betul-betul Ia laksanakan dalam sejarah. Allah mempunyai dua cara
dalam melaksanakan karya penyelamatan-Nya, yaitu cara pertama dengan
menjelmakan pesan-Nya secara penuh dan sempurna dalam diri seorang manusia,
yang menyatakan Allah dalam segala perkataan dan perbuatan-Nya. Dalam
kemenangan Yesus atas penderitaan dan kematian, oleh kuasa penyelamatan Allah,
manusia mendapatkan kepastian tentang apa yang sedang dikerjakan Allah dan akan
dikerjakan-Nya bagi setiap orang. Melaluai dia, Allah membentuk suatu komunitas
jemaat yang akan terus bersaksi tentang keselamatan yang berasal dari Allah yang

5
telah diwahyukan melalui Dia. Inilah yang diyakini oleh orang Kristiani telah
dilakukan Allah dalam diri Yesus.
Cara kedua, Allah melaksanakan karya penyelamatan dalam alam semesta
adalah melalui kehadiran-Nya yang penuh kuasa dalam alam ciptaan dan setia
manusia baik pria maupun wanita, karya Allah seperti ini bersifat universal dan
menyentuh pada setiap orang.

6
BAB II
GEREJA DAN SEKRAMEN

Istilah Gereja dalam arti yang utama dan dasariah, adalah sebagai jemaat Kristiani,
bukan dalam arti bangunan, tempat dimana kebaktian dilaksanakan atau bukan pula
dalam arti struktur organisasi umat Kristiani yang telah berlangsung sepanjang sejarah
Gereja Kristen.
Sakramen berarti suatu kenyataan yang tampak yang menghadirkan rahmat
penyelamatan Allah. Dengan kata lain, sakramen adalah suatu tanda yang tampak dari
karya Allah yang tidak tampak.
Umat Kristiani yakin bahwa keberadaan Gereja di dunia ini menandakan karya
yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh Allah bagi umat manusia melalui Yesus.
Karya Allah, yaitu karya rekonsiliasi/perdamaian (mendamaikan manusia dengan Allah
dan manusia dengan manusia) dan karya pengudusan (membuat manusia menjadi kudus,
yaitu hidup dalam kasih dan ketaatan pada Allah).
Hampir semua orang Kristiani sependapat bahwa sakramen yang utama ada dua,
yaitu sakramen Baptis dan Ekaristi. Disamping sakramen yang utama ini, orang-orang
kristiani meyakini ada lima sakramen yang lain sehingga semuanya ada tujuh sakramen.
1. Sakramen Baptis
Sakramen pertama yang merupakan dasar bagi sakramen-sakramen lainnya
adalah sakramen baptis. Ini merupakan penerimaan awal dalam komunitas Kristiani.
Dalam sakramen baptis, seorang individu Kristiani ikut ambil bagian dalam tugas
Gereja, yaitu menjadi saksi karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus. Seorang
kristiani hanya sekali saja dibabtis, yaitu pada saat diterima masuk kedalam
komunitas Kristiani.
Kata-kata yang diucapkan pada waktu pembabtisan dilaksanakan diambil dari
Injil Markus, “Aku membaptis kamu dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus”
sejak jaman purba, telah ada kebiasaan untuk membaptis para anggota baru pada saat
hari raya terbesar, yaitu pesta paska.

7
Hari raya ini mempunyai tiga macam perayaan yang berbeda, yang masing-
masing memusatkan perhatian pada peristiwa dalam hidup Yesus yang menjadi dasar
iman Kristiani, yaitu:
a. Pada Kamis malam, dilakukan pengenangan peristiwa Perjamuan Malam
Terakhir.
b. Pada Jumat sore, mengenang wafat Yesus di kayu salib.
c. Pada Sabtu malam hingga Minggu pagi dilakukan perayaan Paska untuk
mengenang Yesus yang telah dibangkitkan oleh Allah dalam hidup baru.

2. Sakramen Penguatan (Krisma)


Sakramen yang kedua, yaitu sakramen penguatan, adalah bagian kedua dari
upacara inisiasi Kristiani. Pada pembabtisan yang menjadi tekanan adalah
pembebasan dari dosa. Dalam sakramen penguatan penekanan diletakkan pada aspek
kesaksian tentang apa yang telah dilaksanakan oleh Allah dalam diri Yesus dan aspek
penguatan dari Roh Kudus untuk tugas tersebut.
Sakramen Penguatan, yang diterimakan oleh Uskup atau wakilnya,
mengandung unsur pokok “pengurapan dengan minyak” bagi orang yang
menerimanya, dengan kata-kata, “Terimalah Roh Kudus untuk dapat menjadi saksi
Kristus”.

3. Sakramen Perkawinan
Ada dua sakramen yang berkaitan dengan status hidup. Yang pertama adalah
Sakramen Perkawinan. Menurut keyakinan Kristiani, perkawinan bukanlah sesuatu
yang duniawi, melainkan suatu status hidup yang melambangkan kasih Allah kepada
manusia. Kesatuan dalam kasih yang dialami oleh dua insane yang berjanji untuk
hidup bersama dengan setia dan saling menyayangi, membentuk suatu keluarga yang
menyediakan kondisi bagi anak-anak yang lahir untuk mendapatkan pendidikan dan
memupuk hidup dengan dilandasi iman kepada Allah.
Dalam perkawinan, kedua pasangan kristiani berjanji untuk menjadikan
perkawinan mereka tanda yang hidup dari kasih Allah kepada manusia. Atas dasar
alasan ini, orang Kristiani memandang perkawinan sebagai ikatan seumur hidup dan

8
tidak menerima adanya perceraian ataupun perkawinan kedua selagi pasangannya
masih hidup.

4. Sakramen Imamat
Sakramen kedua berkenaan dengan status hidup adalah Imamat. Sakramen ini
mengandung suatu pilihan untuk membaktikan hidup bagi pelayanan kepada jemaat
Kristiani, dan untuk melayani semua orang bersama-sama dengan jemaat. Dalam hal
ini ada tiga jabatan, yaitu:
a. Uskup, yang merupakan wakil Kristus dalam wilayah Gereja setempat yang
disebut keuskupan, sebagai pengajar, pemimpin ibadat, dan pelayan umat.
b. Imam, yang merupakan pembantu uskup dalam ketiga perannya di lingkungan
masing-masing komunitas.
c. Diakon, yang bertugas untuk mewartakan Sabda Allah dalam Injil dan untuk
menolong orang yang miskin, jompo, sakit, dan meninggal.
Semua jabatan lain dalam Gereja, seperti Paus, Uskup Agung, Kardinal, Monsinyur,
dll diberikan untuk tugas khusus dalam komunitas, tetapi tidak merupakan sakramen.

5. Sakramen Pengampunan Dosa


Ada dua sakramen yang diterimakan pada saat krisis dalam hidup orang
Kristiani, yaitu Sakramen Pengampunan Dosa (Tobat) dan Sakramen Minyak Suci.
Umat Kristiani menerima Sakramen Tobat untuk mendengarkan sabda pengampuan
Allah dan untuk disadarkan bahwa Allah selalu siap-sedia mengampuni, yaitu melalui
karya penyelamatan-Nya dalam pribadi dan hidup Yesus.

6. Sakramen Minyak Suci


Sakramen kedua yang diterimakan pada saat krisis adalah Sakramen Minyak
suci. Seperti halnya dosa (penyakit rohani) mengancam hubungan seseorang dengan
Allah, begitu pula penyakit fisik merupakan suatu krisis yang mengancam
berlangsungnya kehidupan orang didunia.
Umat Kristiani meyakini bahwa Kristus diutus oleh Allah untuk mendekati
orang-orang yang sakit, menghibur dan menyembuhkan mereka dan menyiapkannya

9
untuk menghadapi kematian. Sakramen minyak suci menunjukkan kepada orang yang
sakit bahwa ia tidak sendirian, melainkan Kristus bersama dia membimbing kepada
Allah, dan ada komunitas orang-orang beriman yang berdoa bagi dan bersama dia.

7. Sakramen Ekaristi
Bagi orang Kristiani, Sakramen Ekaristi bukan sekedar salah satu dari ketujuh
sakramen, melainkan merupakan bagian inti dari iman dan ibadat Kristiani. Kata
“Ekaristi” berarti “mengucap syukur”. Ini merupakan pengenangan dan pengulangan
kembali perjamuan malam terakhir yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan
murid-murid-Nya pada malam sebelum Ia wafat. Umat kristiani meyakini bahwa jika
mereka mengikuti perjamuan tersebut, Yesus sungguh-sungguh hadir bersama
mereka.
Ada dua unsur yang dipandang pokok dan selalu ada pada perayaan Ekaristi
disetiap Gereja, yaitu:
a. Bacaan dari Kitab Suci
b. Perjamuan bersama (penerimaan komuni)
Orang Kristiani memandang Ekaristi sebagai jantung ibadat harian kepada Allah, dan
oleh sebab itu dirayakan setiap hari. Walaupun semua orang katolik hanya diwajibkan
ikut ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi pada hari Minggu.

10
BAB III
SEJARAH PERKEMBANGAN KOMUNITAS KRISTIANI

A. Gereja Rasuli
Komunitas Kristiani yang dihasilkan dan digambarkan dalam kitab-kitab
Perjanjian Baru disebut “Gereja Rasuli” atau Gereja Apostolik, yaitu Gereja para
rasul dan jemaat atau generasi pertama kristiani yang mencakup kurun waktu antara
30-100 tahun, antara peristiwa pentakosta dan penulisan terakhir dari Alkitab.
Dibawah pimpinan Yakobus, saudara Yesus, komunitas Yahudi kristiani di
Yerusalem dan Palestina berkembang. Mereka membentuk suatu sekte Yahudi yang
dibedakan dari Yahudi lain berdasar iman mereka bahwa Al Masih Yahudi telah
datang dalam pribadi Yesus.
Paulus dan Barnabas mulai mewartakan iman kepada bangsa bukan Yahudi.
Pandangan Paulus diterima oleh Petrus dan Yakobus, yaitu sewaktu Allah
membangkitkan Yesus dari antara orang mati, zaman baru dari keselamatan Allah
telah dimulai, dan umat kristiani tidak lagi terikat untuk mengikuti Hukum Agama
Yahudi.
Dalam perjalanan waktu setelah pewartaan para rasul, semakin banyak orang
dari bangsa bukan Yahudi dikerajaan Roma menjadi Kristiani, dan akhirnya Gereja
lebih terdiri dari orang bukan Yahudi. Tradisi Kristiani menerima Petrus sebagai
pimpinan, pertama saat di Yerusalem, kemudian Antiokhia dan akhirnya di Roma.
Di situlah ia dibunuh pada zaman pemerintahan Kaisar Nero.

B. Zaman Pengejaran
Komunitas Kristiani yang mula-mula percaya bahwa Yesus akan segera
datang kembali dengan mulia menyadari bahwa kedatangan-Nya itu masih perlu
ditunggu sebelum Hari Akhir. Kitab perjanjian baru yang muncul pertama kali
adalah Surat-surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika penuh dengan harapan akan
kedatangan Yesus dan kitab-kitab yang muncul belakang lebih berisi masalah
organisasi (tata-atur) komunitas dan ajaran moral, yaitu cara orang menghayati
hidup kristiani dalam masyarakat.

11
Sedikit demi sedikit tata atur komunitas berkembang dan terbentuk. Selain itu
dalam komunitas ada beberapa orang yang dianggap menerima karunia khusus yang
perlu digunakan untuk pembangunan Gereja, selain itu ada juga orang yang
mendapat karunia untuk melakukan mukjizat, penyembuhan dan berbahasa.
Para penguasa Romawi setempat umumnya toleran, tetapi juga sering
mengejar-ngejar jemaat kristiani, banyak anggota jemaat termasuk Petrus dan
Paulus, dihukum mati karena pernyataan iman mereka.

C. Konsili-konsili Awal
1. Konsili Nicea, tahun 325
Pada waktu itu terjadi kontroversi antara Athanasius dan Arius,
keduanya teolog dari Alexandria, yang menyebar ke seluruh komunitas
kristiani sehingga perlu diadakan Konsili Ekumenis (seluruh dunia) di kota
Nicea. Mereka sama-sama setuju bahwa Sabda Allah itu menjadi manusia dan
tinggal dalam diri Yesus. Tetapi keduanya berbeda dalam hal menangkap
kodrat Sabda itu.
Karena kontroversi itu menyebabkan perpecahan dalam Gereja, maka
Kaisar Konstantinus mengadakan Konsili Nicea yang hasilnya konsili itu
menegaskan bahwa formulasi Athanasiuslah yang benar dan menolak
pandangan Arius. Konsili menghasilkan Credo (Syahadat Pendek) yang
merumuskan Sabda Allah berasal dari kodrat Ilahi dan bukan dari ciptaan.
2. Konsili Ephesus, tahun 431
Nestorius adalah seorang uskup dan teolog dari Siria. Oleh para
musuhnya ia dipandang mengajarkan bahwa Yesus memiliki dua pribadi yaitu
manusia dan ilahi. Nestorius berpandangan bahwa ajarannya sama dengan apa
yang diputuskan oleh para pemimpin Gereja di Ephesus, dan perbedaannya
hanya dalam istilah saja.
Tetapi pada saat itu secara umum dirasakan bahwa teologi Nestorius
ditolak oleh konsili Ephesus. Maka mereka yang mengikuti cara piker
Nestorius lalu disebut “Nestorian” dan mereka ini terdapat di kerajaan Romawi

12
sebelah Timur yaitu Iraq dan Iran. Merekalah yang membawa iman kristiani ke
India dan Cina.
3. Konsili Kalcedon, tahun 451
Konsili ini menolak ajaran Eutikes yang berpandangan bahwa Kristus
memiliki satu kodrat ilahi dan tidak memiliki kodrat manusiawi. Konsili
Kalcedon sangat hati-hati dengan membatasi diri untuk tidak membuat
formulasi paten tentang hubungan Yesus dengan Allah. Ini dibiarkan terbuka
bagi perkembangan pemahaman teologi di kemudian hari.
Gereja-gereja di Roma dan Konstantinopel menerima ajaran Konsili
Kalcedon, sedang Gereja di Mesir (Gereja Kopt) dan Syria (Gereja Yakobit)
menolaknya. Sejak itu Gereja Orthodox dan Syria tidak bersatu lagi dengan
Vatikan, Gereja Katolik dan Konstantinopel.

D. Kontroversi Ikonoklast
Perdebatan terjadi dalam kerajaan Byzantium antara tahun 725-842, yaitu
masalah penggunaan gambar-gambar dalam gereja. Gereja Byzantium mempunyai
tradisi menghiasi gedung gerejanya dengan mozaik dari Yesus, Maria, dan para
kudus, dan umat Kristiani menaruh hormat kepada ganbar-gambar itu. Pada
pemerintahan Kaisar Leo III (741), beberapa umat kristiani merasa tidak senang atas
penghormatan icon-icon itu.
Kontroversi di kerajaan Byzantium terjadi selam 150 tahun dan selama itu
banyak icon dihancurkan dan banyak rahib pendukung kuat penghormatan icon
dibunuh. Akibatnya diadakan konsili Nicea II (787), dan diputuskan bahwa
penghormatan wajar kepada gambar diijinkan sejauh orang beriman yang
menggunakannya sadar bahwa bukan gambarnya tetapi orangnya yang dilukiskan
yang dihormati dan penghormatan yang sejati hanya pada Allah saja. Kontroversi
itu berakhir tahun 842 waktu Ratu Theodora menyatakan bahwa gambar-gambar
suci di tempat wajar untuk dihormati di seluruh Keraaan Byzantium.

13
E. Skisma Timur – Barat
Istilah skisma berarti perpisahan/pecah antara dua lembaga kristiani, yang
dasarnya bukanlah ajaran. Skisma paling besar terjadi dalam sejarah Gereja
Kristiani ialah antara Gereja Konstantinopel dan Roma yang sering disebut “skisma
Timur-Barat”.
Meskipun ada perbedaan pandangan tentang kuasa dalam gereja, umat
kristiani Timur dan Barat tetap bersatu sampai abad IX kemudian terjadi skisma
lagi. Perpisahan antara Konstantinipel dan Roma yang bersejarah ini terjadi tahun
1045.
Dalam puluhan tahun akhir ini, gerakan persatuan gereja konstantinopel dan
Roma mulai menguat kembali. Paus Yohanes XXIII, Paulus VI dan Yohanes Paulus
II telah berkunjung ke Patriark Ekumenis di Istanbul dan sebaliknya. Kedua Gereja
telah membentuk suatu komisi bersama yang bertugas mempelajari guna
terbentuknya kesatuan Gereja yang penuh.

F. Gereja Abad Pertengahan


Dengan bertobatnya Kaisar Konstantinus (337) mengakui iman Kristiani,
maka komunitas kristiani yang dulunya sebagai sekte yang dikejar-kejar dalam
Kerajaan Romawi, menjadi Gereja yang diakui resmioleh negara. Ini membuat
perubahan besar-besaran dalam Gereja.
Penyalahgunaan terjadi dalam hidup Gereja di abad pertengahan. Salah satu
yang paling jelek ialah ‘simonia’, yaitu penjualan jabatan dan hak-hak khusus
agama. Paus, uskup dan para pastor berperan sangat ekstrem dalam hidup Gereja.
Sebenarnya terjadi juga beberapa gerakan pembaharuan dalam gereja abad
tengah itu. Beberapa menerima wewenang Paus dan berusaha menghilangkan
penyalahgunaan yang ada dalam gereja. Lainnya menolak Gereja Katolik sekaligus
dan mencari bentuk penghayatan hidup kristiani yang lebih murni.
G. Reformasi
1. Reformasi Protestan
Meskipun banyak umat kristiani mengumandangkan pentingnya
pembaharuan dalam gereja, namun “peristiwa indulgensi”-lah yang

14
meledakkan perpecahan dalam gereja katolik di Barat. Tahun 1517, Martin
Luther seorang rahib ordo St. Agustinus, dari Jerman menempelkan daftar 95
thesis yang tidak setuju dengan unsur dogma dan praktek agama yang
tradisional.
Gagasan yang dilontarkan Luther mencakup topik yang cukup luas,
dan beberapa yang penting adalah:
a. Keselamatan hanya karena iman saja
b. Alkitab adalah satu-satunya yang berwenang dalam hal iman
kristiani
c. Menolak sifat korban dari Ekaristi
d. Memperluas peran awam dalam liturgy dan kepemimpinan gereja
e. Independensi gereja local dari Roma
f. Menolak praktek-praktek keagamaan Katolik, seperti ziarah,
puasa, pengakuan dosa
g. Keberatan akan adanya penyalahgunaan, sepaerti penjualan
indulgensi, simonia, dsb.
Gerakan Reformasi tercabik-cabik sewaktu para pengikut Luther tidak
setuju dengan macam-macam unsur dari teologi Luther dan mereka memulai
Gereja mereka sendiri. Contohnya: Zwingli memimpi pembaharuan gereja di
Swiss, melepaskan diri dari Luther karena berbeda pendapat tentang kehadiran
Yesus dalam Ekaristi. Yohanes Calvin menolak pengertian imamat, pengaruh
ini sangat kuat, khususnya di Swiss, Belanda, dan Perancis dan Scotlandia.
Kelompok Anabaptis, bukanlah salah satu gerakan, tetapi terdiri dari
kelompok Protestan yang menolak baptis bayi dan sangat menekankan
penerimaan pribadi Yesus sebagai penebus. Di Inggris, pembaharuan mulai
dengan skisma yang dimulai oleh Henry VIII, yang menolak huasa wewenang
Roma tetapi tetap menerima aharan Katolik. Dibawah Elisabeth, anak Henry
VIII, unsure ajaran Protestan dimasukkan ke dalam gereja Anglikan
2. Kontra-Reformasi Katolik
Gereja Katolik dipaksa mengakui kebenaran dakwaan dari kaum
reformator. Banyak yang setuju, tetapi dilain pihak umat Katolik percaya

15
bahwa kaum reformator dalam proses selanjutnya telah membuang beberapa
unsure pokok iman kristiani dan praktek hidup yang berharga.
Maka muncullah gerakan reformasi di dalam Gereja Katolik yang
disebut Kontra-Reformasi. Pada tahun 1545-1564, Paus mengadakan Konsili
Trente. Konsili ini mengakhiri banyak penyalahgunaan yang dilontarkan oleh
reformator dan menegaskan ajaran katolik tradisional dan menetang ajaran
baru kaum Protestan.
3. Gereja Orthodox dan Reformasi
Tahun 1643 dan 1672, Gereja Orthodox menerima dua ‘Confessio’ dari
iman kepercayaan orthodox yang menentang pandangan Luther dan Calvin,
dalam hubungan tradisi dan gambar-gambar, jumlah dan makna sakramen dan
keselamatan lewat iman dan perbuatan.
Dalam dua hal Gereja Orthodox sebagian setuju dengan pandangan
Reformator tentang masalah Canon Alkitab, dimana Orthodox menerima
empat buku Apokripa (Tobit, Yudit, Sirakh dan Kebijaksanaan). Sejalan
dengan reformator, mereka menolak pandangan Gereja Katolik tentang
wewenang Paus.

H. Konsili Vatikan II (1962 – 1965)


Konsili Ekumenis terakhir dalam Gereja Katolik diadakan oleh Paus Yohanes
XXIII guna memperbaharui Gereja Katolik selaras dengan kebutuhan zaman
modern. Konsili itu mnghasilkan 16 dokumen. Beberapa hal yang penting dalam
ajaran Konsili ialah:
1. keunggulan Alkitab dalam iman Gereja;
2. imamat semua kaum beriman;
3. komitmen untuk menggalang kesatuan umat kristiani (ekumenisme);
4. keterlibatan aktif dalam perjuangan keadilan, damai dan hak-hak azasi
manusia;
5. ibadah diadakan dalam bahasa setempat kaum beriman;
6. keselamatan Allah dalam kaum beriman agama lain.

16
I. Gerakan Ekumenis
Tujuan gerakan Ekumenis (kata Yunani “oikumene” berarti seluruh dunia
yang dihuni) dalam umat kristiani ialah untuk menemukan kembali kesatuan karena
telah terjadi perpecahan dalam komunitas kristiani sepanjang sejarah.
Gerakan ekumenis dewasa ini dapat ditelusuri kembali ke Konferensi
Edinburg. 1910 yang memutuskan didirikannya Konferensi Kristiani Universal
(1925), tentang Hidup dan Sabda. Dua tahun kemudian, Konferensi Sedunia. 1927
tentang Iman dan Tatanan, di Lausanne dan mempelajari dasar teologis untuk gereja
dan kesatuan. Pada pertemuan kedua, tahun 1937, dua lembaga itu bergabung
menjadi satu berwujud Dewan Gereja-gereja Sedunia. Lalu dibuatlah suatu
konstitusi, 1938. Akibat Perang Dunia II peresmian ditangguhkan dan baru
dilaksanakan tahun 1948, dan kota Geneva dipilih sebagai pusat kantornya, sebab
Swiss netral dalam masalah politik.
Pada Konsili Vatikan II, Gereja Katolik memutuskan untuk ikut dalam
gerakan ekumenis. Tahun 1964, Paus Paulus VI, membuka suatu Sekretariat di
Vatikan yang bertugas memajukan Kesatuan Umat Kristiani. Saat ini, Gereja
Katolik menjadi anggota penuh dari Dewan Gereja-gereja setempat yang jumlahnya
58 negara.

17
BAB IV
TUHAN YANG MAHAESA dan KETUHANAN

A. Tuhan Allah Menurut Konsep Keagamaan Kuno


Pengalaman religius manusia menempatkan diri manusia sebagai makhluk
ciptaan dihadapan Sang Pencipta yang bersifat menarik hati (Fascinosum) sekaligus
menggentarkan/menakutkan (tremendum) bagi manusia. Karenanya manusia
berusaha mendekati-Nya. Banyak agama menyebut Yang Ilahi Pencipta langit dan
bumi beserta segala ciptaan lainnya sebagai Bapa, namun bukan dalam arti secara
biologis, yaitu Bapa sebagai asal usul, melainkan bermakna sebagai
pelindung/pemelihara kehidupan umat manusia. Di Timur Tengah, sebutan lain Yang
Ilahi adalah Bapa yang punya 2 pengertian, yaitu:
1. Yang Ilahi itu melahirkan: Yang Ilahi dan yang manusiawi saling bercampur
sehingga diyakini oleh suatu bangsa, termasuk bangsa Yunani Kuno, bangsa
Romawi Kuno mengaku keturunan berasal dari Dewa atau Dewi: anak-anak
Dewa atau Dewi. Hal ini terlihat dalam mitos dan legenda karya kesusastraan atau
filsafat mereka.
2. yang Ilahi meneguhkan status bapak dalam keluarga atau suku bangsa sebagai
pemegang otoritas sekaligus bermurah hati atau melindungi warga masyarakat.
Kepercayaan kepada yang Ilahi dipahami dan dihayati oleh bangsa-bangsa
kuno berdasarkan paham mitologi yang diceritakan berupa legenda-legenda yang
bercorak paham: Polytheisme, Pantheisme, Deisme/Trancendentalisme.
Namun bagaimanapun juga usaha manusia mendekatkan diri kepada Yang
Ilahi terungkapkan dalam berbagai ungkapan hubungan manusia dengan Yang Ilahi
secara lahiriah berupa:
1. Kegiatan beribadat, berdoa, bermeditasi.
2. Mendirikan tempat ibadat, berziarah.
3. Membuat aturan tata peribadatan: ritus keagamaan/liturgi dan membuat
hukum agama
4. Membuat pranata-pranata kehidupan sosial.

18
5. Mengungkapkan melalui berbagai macam karya seni keagamaan (seni
suara, seni pahat, seni lukis, dll).
Ungkapan secara lahiriah, mengenai hubungan manusia dengan Yang Ilahi,
demikian ini lazimnya disebut agama. Yang dapat diartikan sebagai : ungkapan
hubungan manusia dengan Yang Ilahi sesuai dengan kehendak universal Ilahi, maka
Agama berada dalam jalur yang benar. Dalam hal ini, Filsafat Ketuhanan memegang
peranan penting, mengingat penyelidikan tentang pengetahuan mengenai Allah dicari
atau ditemukan melalui cara-cara pendekatan rasional.
B. Tuhan Yang Mahaesa Berdasarkan Pengalaman Sejarah
Bangsa Israel
Perjanjian Lama, tidak mengenal kata Bapa untuk sebutan Allah yang
mempunyai arti biologis. Dalam pengalaman ungkapan iman bangsa Israel dikenal
Allah; sebagai Bapa Bangsa Israel dan Israel adalah anak-anak-Nya. Karena bangsa
Israel disayangi, dilindungi, dan dipilih serta dibimbing oleh Allah.
Sebutan Allah Israel ini, adalah El sebagai subyek yang berpribadi, menarik
hati manusia, sekaligus membuat manusia merasa kecil dihadapan-Nya dan Yang
memiliki segala kekuatan atau kekuasaan yang tak tertandingi oleh manusia yang
lemah. Sebutan Tuhan YME Israel adalah El sama dengan sebutan Yahwe: Sang
Pelindung atau Penyelamat.
Pengakuan iman akan Yahwe sama dengan pengakuan kepada Tuhan YME,
yang dialami sebagai pribadi dan hadir dalam sejarah keselamatan bangsa Israel:
Yahwe yang sama yang menampakkan diri kepada Bapa-Bapa Bangsa; kepada Musa
yang mengadakan perjanjian antara Yahwe dengan bangsa Israel. Dengan demikian,
pengalaman akan Tuhan YME ini, bukan diperoleh dari hasil pemikiran rasional,
melainkan diketemukan dalam pengalaman nyata dalam sejarah; Yahwe dialami
sebagai Sang Penolong, Sang Penyelamat yang sewaktu-waktu mengadili dan
menghibur umat Israel.
C. Tuhan Yang Mahaesa Berdasarkan Pengalaman Yesus
Kristus dan Kesaksian Para Rasul

19
Paham Tuhan YME sebagaimana dialami dan diajarkan oleh Yesus Kristus
dan oleh para rasul disebut paham Tuhan YME dalam Perjanjian Baru, yang berakar
pada paham-paham Tuhan YME dalam Perjanjian Lama, yang sudah dikembangkan.
Perbedaan paham antara Allah Israel dengan Allah yang dipahami Yesus
Kristus dan diimani atau diwartakan oleh para rasul dan sekarang oleh gereja terletak
pada jika Allah Israel bersifat eksklusif, hanya untuk Israel, tetapi Allah umat
Perjanjian Baru lebih menekankan sebagai Allah Yang Mahabaik bagi semua orang,
lebih-lebih menaruh bela rasa serta mengutamakan para pendosa, para penderita sakit,
orang yang terpinggirkan atau marginal status sosialnya, orang yang dipandang
rendah atau tidak diperhitungkan sebagai layaknya manusia, orang-orang yang
membutuhkan, yang miskin (9 Mat 5: 1-12, Lukas 6 : 20-23).
Melalui Putera-Nya, Allah mengajarkan atau memberi teladan bahwa Allah
Sang Pencipta adalah Bapa bagi umat manusia. Bahkan, melalui Putera-Nya pula
Perjanjian diperbaharui yakni Hukum Perjanjian Baru: Hukum Kasih sebagai ganti
atau penyempurnaan Hukum Perjanjian Lama yaitu, Hukum Taurat Musa; dalam
Hukum Perjanjian Baru.
Hukum Kasih, berisi 2 hukum yang bersifat universal:
1. Mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi
serta dengan segenap kekuatan, yang menuntut bukti nyata dari manusia agar:
2. Mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Lukas 11;27, Mat 22;
36-37).
Dengan demikian, murid-murid Kristus dituntut untuk berusaha memenuhi
Hukum Kasih, dengan mewujudkan Allah secara nyata dialami oleh setiap orang
dalam kehidupan sehari-hari.
D. Keimanan Kepada Tuhan Yang Mahaesa Berdasarkan
Iman Katolik
Iman adalah jawaban manusia kepada Allah yang mewahyukan diri kepada
manusia. Iman itu sebuah jawaban pribadi, maka untuk beriman diperlukan sebuah
keyakinan bahwa Allah ada dan Dia menghubungi manusia dan hubungan itu
berpengaruh pada hidup manusia. Beriman kepada Tuhan YME berarti mengakui

20
bahwa Tuhan itu ada dan tanpa Dia mausia tidak bisa berbuat apa-apa. Tuhan
memberi arti bagi seluruh kehidupan.
Keimanan seseorang kalau ditinjau dari segi akal budi manusia dapat disebut
kebenaran iman, yang dalam ungkapan bahasa latin disebut “fides ex auditu”.
Ungkapan itu berarti bahwa iman akan muncul berdasar pendengaran seseorang.
Konkritnya, orang akan beriman setelah mendapatkan pewartaan iman oleh orang lain
atau gereja.
Orang yang beriman wajib menata tingkah laku sesuai dengan kebenaran yang
diimani dan yang dianggap baik atau sesuai hati nurani diwujudkan dalam tindakan
nyata. Tindakan yang demikian inilah, merupakan tindakan yang arif bijaksana
seorang beriman yang juga merupakan tanda kedewasaan iman. Mampu
mempertanggungjawabkan perbuatannya baik kepada Tuhan, sesama, dunia,
lingkungan hidup dan masyarakatnya. Dengan cara demikian, manusia membangun
diri.
E. Ketakwaan Kepada Tuhan Yang Mahaesa Berdasarkan
Iman Katolik
Keimanan kepada Tuhan YME timbul pada seseorang, apabila orang tersebut
pernah mendengarkannya. Selanjutnya sebagai konsekuensi dari keimanannya, maka
orang menjatuhkan pilihan untuk menerima atau menolaknya.
Semangat anak Allah berarti bersikap atau berperilaku yang cenderung
maksimalis; sedang semangat budak adalah bersikap atau berperilaku cenderung
minimalis, penuh perhitunagan dan bermentalitas “do ut des”, yang berarti “saya
memberi agar engkau juga memberi”. Anak Allah selalu melaksanakan kehendak
Bapa-Nya yang tersirat sejak dini, tidak pernah terlambat membalas kasih-Nya. Inilah
wujud semangat kemerdekaan anak-anak Allah yang sejati.
F. Filsafat Ketuhanan (Teologi Natularis)
Dalam kenyataannya, manusia mempunyai kemampuan dasar berfikir dan
berkehendak serta bertindak secara manusiawi, yang merupakan bukti keluhuran
martabatnya sebagai manusia. Dengan kata lain, menjadi mahluk yang melebihi
makluk ciptaan lainnya karena pemilikannya berupa akal budi, untuk berfikir dan
berkehendak menjatuhkan pilihan dalam tindakan merdeka atau bermartabat manusia.

21
Filsafat Ketuhanan tidak hanya bersifat spekulatif, tetapi juga praktis
khususnya berhubungan dengan akhlak dan agama. Filsafat Ketuhanan ingin
menjelaskan eksistensi manusia sendiri, tetapi secara khusus dalam relasi dengan
pusat transcendennya ( Allah). Metoda yang dipakai tidak ditentukan oleh iman atau
agama. Melainkan, oleh penalaran manusia sendiri dan refleksi filosofis dan
metafisik.
BAB V
MANUSIA DAN MORAL

A. Persoalan Dasar Manusia


Moral erat kaitannya dengan aktivitas manusia secara individual atau kolektif.
Kedua hal tersebut saling terkait, memenuhi kebutuhan hidup manusia sekaligus
keselamatan hidupnya lahir dan batin. Dalam bab ini akan mencoba memahami apa
yang dimaksud dengan persoalan dasar manusia dan bagaimana cara pemecahan
persoalan tersebut melalui iman katolik.
Pokok masalah perkembangan dan kemajuan jaman menjadi buah bibir setiap
orang dan muncul didalam kolom-kolom surat kabar dan terbitan-terbitan lainnya.
Pokok masalah ini tidak hanya mengandung penegasan atau klarifikasi masalah, akan
tetapi juga pertanyaan serta butir kegelisahan manusia yang sangat mencemaskan.
Mengatasi persoalan dasar tersebut, berarti mengamankan secara mendasar nasib
manusia bahkan menyiapkan kondisi yang dapat menunjang tumbuh kembangnya
manusia bermartabat. Tetapi sebaliknya apabila gagal mengatasinya akan
menghancurkan martabat manusia beserta peradaban luhurnya. Menghadapi
persoalan dasar manusia yang demikian, maka penting mengetahui bagaimana
memecahkannya.
Kita bersama dengan gereja menemukan prinsip perhatian dalam Yesus
Kristus sendiri, sebagaimana diberikan kesaksian oleh Injil Kristus. Inilah sebabnya,
kita bersama gereja ingin membuat perhatian ini bertumbuh dan berkembang terus
menerus melalui hubungannya dengan Kristus. Dengan cara membangun sistem
jejaring yang handal dalam rangka memanfaatkan hubungan kerja sama sesama
manusia untuk memecahkan persoalan dasar.

22
Solidaritas sejati melampaui segala sekat-sekat batas suku atau etnis, bangsa,
ras, sosial ekonomi dll. Solidaritas ini diperlukan oleh masyarakat. Solidaritas ini ada
dalam hidup secular, karena orang mempraktekkan persaudaraan umat manusia atas
dasar kesamaan martabat sebagai manusia yang saling membutuhkan (Humanisme
Sekular).
Suatu masyarakat dimana kehidupan ipoleksosbud-hankam diwujudkan
sebaik-baiknya demi kehidupan manusia terarah pada tujuan trasendetalnya, maka
martabat manusia dapat ditumbuhkembangkan menuju kesempurnaan hidup
sejatinya. Dan ini terjadi, jika dengan perantaraan Yesus Kristus dan oleh karya
penyelamatan-Nya kita dikuatkan oleh Bapa dalam persekutuanNya dengan Roh
Kudus.
Dengan demikian, Gereja atau umat Allah dapat menampakkan diri sebagai
sakramen keselamatan umat manusia karena persatuannya dangan Allah Bapa, Putera
dan Roh Kudus berperan sebagai tanda dan sarana mewujudkan keselamatan di dunia
bagi semua orang. Hanya dengan demikian, akan berhasil memecahkan persoalan
dasar yang dihadapi bersama didunia ini.
B. Martabat Manusia
Martabat manusia setingkat dengan nilai absolut. Martabat ini, bukan akibat
pengakuan atau consensus orang atau masyarakat. Melainkan sudah ada pada
manusia secara intrinsik. Martabat manusia sebagai mahluk berakal budi dan
berkehendak merdeka berkaitan dengan tanggung jawab atas tindakannya sebagei
subyek etis. Manusia adalah mahluk yang dapat bertindak secara moril atau etis dan
karenanya berkewajiban mengembangkan diri dengan sadar.
Martabat manusia adalah perwujudan kerohaniannya (akal budi dan kehendak
mereka). Tetapi, manusia adalah mahluk rohani-jasmani yang tidak terpisahkan
(tetapi bisa dibedakan). Badan manusia mengambil bagian dalam kerohaniannya dan
sebaliknya. Kedua segi itu saling melengkapi atau saling mempengaruhi atau saling
meresapi.
Tubuh manusia ikut mengambil bagian dalam martabat manusia. Hal ini,
harus diakui dan dihormati oleh semua orang dan lembaga yang ada di dunia ini,
termasuk oleh negara dan umat beragama serta pemuka-pemukanya. Sebab martabat

23
manusia adalah anugerah dari sang Pencipta, maka tidak masuk akal menuntut
sesuatu yang berlawanan dengan martabat manusia atas dasar hukum/kepentingan
negara, apalagi atas hukum Ilahi.
Persekutuan kristiani mengakui dan menghormati martabat manusia
sepenuhnya. Inilah kewajiban keagamaan, (yang sayangnya) tidak selamanya
diamalkan dengan baik juga oleh oranng yang menyebut dirinya orang kristiani
(Katolik KTP). Dalam ajaran sosial gereka katolik martabat manusia diterangkan dan
diuraikan berdasar sumber-sumber yang ada dalam Kitab Injil Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru serta Ajaran Gereja yaitu martabat manusia sebagai ciptaan Allah,
martabat manusia bermartabat Anak Allah, dan manusia sebagai pribadi sosial dalam
ziarahnya di dunia.
C. Hakekat Dan Tanggung Jawab Manusia
Hidup manusia disamping merupakan anugerah Tuhan sekaligus mengemban tugas
panggilan (gabe und aufgabe). Dasar biblis tugas panggilan tersebut merupakan tolak
ukur tindakan manusia bertanggung jawab:
1. Kejadian 1 : 28 :
”Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu,
berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung di udara dan atas segala
binatang yang merayap dibumi” (tugas mengelola dunia ciptaan).
2. Matius 5 : 48 :
”Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di surga adalah
sempurna” (tugas mengerjakan keselamatan, istilah Paulus)
Di dalam Perjanjian Baru manusia mendapat tugas panggilan melaksanakan
kehendak Allah yang sekaligus menjadi arah tujuan hidupnya. Menjalani tugas
panggilan berarti maengembangkan martabatnya atau keluhurannya sebagai manusia
atau anak Allah. Untuk mengembangkan martabatnya, manusia harus menjatuhkan
pilihan dengan merdeka dan bertanggung jawab atas perbuatannya pada hari
kematiannya.
Dalam perkembangannya, ternyata menusia memiliki 2 unsur dalam dirinya
yaitu:

24
1. Mengacu pada Kejadian 1 : 28 bahwa manusia memiliki kodrat sebagai
mahluk ciptaan yang menjadikannya bermartabat duniawi.
2. mengacu pada Matius 5 : 48 bahwa manusia mempunyai kodrat menjadi
anak Allah yang menjadikannya bermartabat surgawi.
Kedua unsur ini, yang ada pada manusia harus diwujudkan menjadi kesatuan,
merupakan satu martabat manusia yang menampakkan diri dalam banyak segi.
Unsur-unsur duniawi bersifat sekunder dan bernilai relatif, artinya adanya terarah
sebagai bantuan untuk mencapai perkembangan kearah kesempurnaan martabat
Allah.
Unsur-unsur yang mengacaukan perkembangan manusia sudah ada dalam diri
manusia, yaitu warisan dosa asal alias situasi berdosa dimana mau tidak mau manusia
lahir didunia mengalami situasi berdosa tersebut secara langsung. Manusia terinfeksi
adanay dosa warisan tersebut, manusia secara kodratnya cenderung berbuat jahat
yang merupakan tanah subur untuk melakukan kesalahan dan perjuangan pribadi
maupun bersama-sama dalam menegakkan kerajaan Allah.
Dalam Sollicitudo Rei Socialis Paus Yohanes Paulus II, menandaskan bahwa
kekeliruan dan keterbatasan tehnis dalam pengetahuan dan pengalaman manusia
mencapai perkembangan martabatnya membutuhkan pertobatan, yang mampu
membasmi pengaruh dosa. Tanpa pertobatan yang dimulai dari diri sendiri, mustahil
tindakan manusia menghasilkan tindakan yang bertanggung jawab dan yang mampu
menumbuh-kembangkan perkembangan terarah pada tujuan hakiki hidup manusia
sejati.

25
BAB VI
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN SENI

A. Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan ialah kesadaran subjek akan objek, sadar akan sesuatu,
tertangkapnya objek oleh subjek, bersatunya objek deng subjek, apa yang dialami
oleh indra. Ilmu pengetahuan ialah pengetahuan yang disusun secara sistematis,
metodis dan isinya dapat dipertanggung jawabkan. Dalam bahasa Yunani dikenal
istilah logos. Dikatakan logos apabila memuat nilai-nilai yang bersifat ilmiah.
Karakter yang spesifik pada ilmu pengetahuan ialah usaha pencapaiannya
yang metodologis, sistematis,berlaku umum, bebas nilai meskipun ilmu pengetahuan
itu sendiri adalah nilai dalam arti sebagai sesuatu yang bermakna.
B. Teknologi
Kata teknologi berasal dari kata Yunani techne yang berarti cara dan logos
berarti ilmu pengetahuan. Teknologi adalah ilmu pengetahuan tentang teknik yang
merupakan ilmu terapan. Teknologi tidak sama dengan teknik. Teknik bukanlah ilmu
kecuali ilmu-ilmu tentang teknik. Teknologi sebagai ilmu terapan mempunyai arti
yang lebih luas daripada penerapan ilmu. Karena penerapan ilmu hanya mencakup
ilmu tertentu. Sedangan teknologi tidak terbatas pada satu ilmu. Teknik adalah
serangkaian cara yang distandarisasi agar bisa mencapai hasil yang sudah
diperhitungkan sebelumnya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi berkedudukan saling membutuhkan. Ilmu
pengetahuan menghasilkan teknologi dan teknologi memungkinkan ilmu
pengetahuan semakin mendalam.
C. Seni

26
Bicara tentang seni bisa ditemukan secara mendalam di dalam Estetika atau
Filsafat Keindahan. Estetika lebih menekankan pengalaman subjek, kurang
memperhatikan objek pengalaman entah matural object atau artificial object.
Sedangkan keindahan mengacu pada subjek yang mengamati disebut keindahan
subjektif dan keindahan yang didasarkan pada apa yang diamati disebut keindahan
objektif.
Seni mempunyai arti pengetahuan tentang ketrampilan atau kemampuan
manusia untuk menguasai apa yang ia kerjakan. Ada 2 tokoh utama dalam estetika,
yaitu Plato dan Aristoteles. Bagi Plato, seni merupakan tiruan dari dunia idea. Seni
yang sesungguhnya ada didunia idea. Sedangkan bagi Aristoteles (murid Plato), seni
merupakan tiruan dari dunia empiris.
Kemudian muncul apa yang disebut ars humana dan ars divina. Ars humana
adalah seni hidup manusia tercakup di dalamnya bagaimana bertingkah laku dan
bagaimana mengelola alam. Sedangan ars divina adalah seni yang dilihat sebagai
berpartisipasi dalam karya Ilahi.
Dari segi waktu dan ruang, kesenian terbagi atas seni temporal, yaitu kegiatan
seni yang menekankan pendengaran dan seni tata ruang, yaitu seni yang berhubungan
dengan penglihatan.
D. Ilmu Pengetahuan dan Kitab Suci
Kurang lebih 40 tahun terakhir ini terdapat banyak pembaharuan dalam
eksegese (ilmu penafsiran Kitab Suci) dan teks Kitab Suci memang sama namun
pengertiannya yang duli di up to date sehingga kontekstual.
Tahun 1893, Paus Leo XIII mengeluarkan ensiklik yang mendorong
penafsiran. Tahun 1910 – 1920 Komisi Biblis di Roma mengawasi dan melindungi
tafsiran yang tradisional. Tahun 1920 – 1930, pendirian kaum tradisional makin kuat
sampai-sampai banyak profesor yang berbeda pendapat digeser.
Tahun 1943, Paus Pius XII mengeluarkan ensiklik dalam hal:
1. kelonggaran dan kebebasan untuk menafsir
2. diwajibkan pembaharuan eksegese
3. ditegaskan untuk memperhatikan gaya-gaya sastra.
Demi jelasnya dapat dilihat bagaimana dulu dan sekarang Kitab Suci dipandang:

27
1. Dulu:
a. Kitab Suci adalah kitab yang ditulis di suga oleh Allah sendiri, kemudian
diturunkan ke dunia
b. Kitab Suci adalah 100% sabda Allah
c. Kitab Suci sebagai sabda Allah bersifat mutlak
d. Kata-kata Kitab Suci didekte oleh Allah, pengarang hanya sebagai tukang
catat
e. Kitab Suci dengan sifatnya yang mutlak dianggap tidak dapat keliru dari
segi apapun.
f. Kitab Suci merupakan dogma (ajaran yang harus diimani)
g. Ayat-ayat Kitab Suci dipakai sebagai senjata untuk mengalahkan musuh
di medan perang.
2. Sekarang
Kitab Suci adalah 100% sabda Allah, 100% sabda manusia. Artinya
sungguh-sungguh sabda Allah. Disamping itu ada keterlibatan manusia yaitu si
pengarang. Allah bersabda melalui dan didalam pengarang. Kata melalui
menunjukkan otoritas Allah. Sedangkan kata di dalam menunjukkan adanya
keterlibatan pengarang.
a. versi penulisan mengikuti bakat si pengarang
b. dipengaruhi oleh mileu (lingkungan) si pengarang
c. berdasarkan bahasa si pengarang
d. mempnyai pandangan pribadi dan menggunakan macam-macam sastra.
3. Kitab Suci bukan Buku Ilmu Pangetahuan
Tidak ada kontradiksi antara kebenaran ilmu pengetahuan dan kebenaran
Kitab Suci, yang penting harus dipahami bahwa Kitab Suci tidak bermaksud
untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, melainkan untuk mewartakan karya
keselamatan.
4. Galileo Galilei (1564 – 1642)
Ia adalah cendekiawan Italia, seorang astrolog penganut Copernicus yang
telah menyelidiki bahwa heliosentris. Planet-planet lain termasuk bumi mengitari
matahari. Ditegaskan bahwa setiap hari, bumi berputar pada porosnya selama 24

28
jam. Hal yang demikian menimbulkan konflik antara Galileo dengan hirarki
dalam gereja. Tetapi Galileo tetap membela diri dan mempertahankan faham
heliosentris.

5. Ilmu Pengetahuan dan Iman


Gereja mengakui ilmu pengetahuan sebagai hal yang wajar, dimana ilmu
pengetahuan mempunyai norma tersendiri. Justru karena diciptakan oleh Allah
Yang Mahabijaksana maka semua yang ada menjadi unik menurut tata tertibnya
masing-masing. Oleh karena itu gereja harus mengakui dan mengindahkan
kekhasan ilmu pengetahuan.
Kesesuaian yang fundamental antara penemuan ilmiah dengan norma-
norma moral meniadakan timbulnya konflik. Semua metode, semua motivasi dan
semua hasil ilmu pengetahuan senantiasa perlu dikritisi, tidak bisa diterima begitu
saja.
6. Sarjana dan Ilmu Pengetahuan
Sarjana adalah predikat formal yang disandang oleh seseorang karena
kapasitas ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Seyogyanya seorang sarjana
memiliki tanggung jawab moral dalam hal mengaplikasikan ilmu pengetahuan
yang dimilikinya.
Fungsi utama ilmu pengetahuan adalah menjadi landasan keputusan secara
benar, terlebih menyangkut pekerjaan yang secara langsung berhubujngan dengan
ilmu pengetahuan yang telah diperoleh.
Seorang sarjana dikatakan beriman apabila ia mampu mengaplikasikan ilmu yang
dimilikinya secara benar dan baik. Benar berarti ada korelasi antara keputusan
dengan ilmu pengetahuan yang mendasari keputusan. Baik berarti tidak
membelokkan nilai ilmu pengetahuan yang berdampak merugikan orang lain.
7. Dampak teknologi
Manusia senantiasa berhadapan dengan teknologi, karena teknologi
merupakan buatan manusia. Teknologi mambawa dampak yang positif dan
negatif tidak karena teknologinya tetapi karena manusia selaku pengguna

29
teknologi. Dampak positifnya adalah pekerjaan semakin efisien, produksi
semakin meningkat, hidup manusia menjadi lebih mudah. Sebaliknya teknologi
juga membawa dampak negatif karena ada keterlibatan manusia didalam
menggunakannya. Teknologi bisa membahayakan manusia bahkan memusnahkan
kehidupan manusia itu sendiri. Dampak negatif lainnya ialah meningkatkan
pengangguran karena digantikan oleh alat
Teknologi juga bisa dipakai untuk melestarikan kekuasaan, misalnya
untuk mensosialisasikan kehendak pemerintah yang menggiring rakyatnya demi
kepentingan pemerintah. Teknologi digunakan untuk menekan pihak lain bahkan
untuk menjajah bangsa lain. Diharapkan teknologi sebagai hasil pikiran manusia
akan ikut menjaga dan senantiasa dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia,
bukan untuk mendehumanisasi martabat manusia.
Teknologi hendaknya dihayati sebagai karunia Tuhan untuk memelihara,
mengembangkan dan memanfaatkannya secara manusiawi. Kemajuan ilmu
pengetahuan teknologi, dan seni tidak dapat dihindari sejalan dengan makin
pesatnya daya pikir manusia.
E. Peran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Penguasaan IPTEK merupakan syarat mutlak dalam era globalisasi untuk bisa
memproduksi dan memasarkan produk (barang dan jasa). Fakta menunjukkan,
teknolog makin canggih hingga manusia tidak bisa mengejarnya. Tidak bisa tidak kita
harus mengikuti perkembangan teknologi agar tidak ketinggalan dengan bangsa lain.
Masalah pokok bagi kita ialah bagaimana memilih dan mengembangkan teknologi
yang sesuai dengan kondisi negarea.
F. Iman, Ilmu Pengetahuan dan Amal
Adalah berlebih bila orang menyebut iman dan amal seperti halnya orang
menyebut iman kepercayaan. Seseorang dikatakan beriman apabila antara lain bisa
beramal. Beramal artinya berbuat baik, misalnya memberi bantuan kepada orang
miskin. Pertanyaannya, apakah kalau ia tidak memberi maka tidak beriman. Tidak
bisa dikatakan tidak beriman apabila ia tidak mempunyai untuk memberi.
Iman bukan ilmu pengetahuan, karena iman tidak selalu berdasarkan rasio.
Sedangkan ilmu pengetahuan dasarnya ialah akal budi atau rasio. Ilmu pengetahuan

30
menuntut pengertian dan pembuktian kebenaran. Iman justru sebaliknya, Ia tidak
mengerti seperti yang dituntut oleh ilmu pengetahuan tetapi mau menerimanya. Itulah
perbedaan hakiki antara ilmu pengetahuan dan iman. Iman sesungguhnya merupakan
karunia, karena kadang-kadang sangat sulit untuk dimengerti oleh akal budi.

BAB VII
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA

A. Masalah-Masalah Agama
Didalam masalah-masalah agama ini akan diuraikan dua bagian besar yaitu faktor
ekstern dan intern yang berasal dari umat beragama.
1. Faktor Ekstern Intervensi Pemerintah
Dalam kurun waktu 32 tahun Regim ORBA berkuasa kehidupan umat
beragama mengalami suasana yang memprihatinkan sekali dari segi kualitas,
walaupun dari segi kuantitas nampak adanya kemajuan seperti bertambahnya
tempat ibadah dll. Sebab dalam kurun waktu itu secara praktis diterapkan sistem
pemerintahan otoriter yang represif demi statusquo Regim ORBA.
Penguasa regim terlalu jauh mencampuri urusan keagamaan dengan akibat
terjadi pelanggaran hak-hak asasi pemeluk agama. Dalam situasi konflik demikian
penguasa regim memanfaatkannya dan tidak segan-segan memihak salah satu
kelompok yang sedang berkonflik. Alhasil ada kelompok yang diuntungkan dan
dirugikan dan lazimnya adalah kelompok minoritas. Padahal menurut penalaran
sehat, justru kelompok minoritaslah wajib dilindungi dan dihormati hak-hak azasi
kemanusiaannya.
2. Faktor Intern Berasal dari Umat Beragama
Di dalam menghayati agamanya terdapat sebagian pemeluk agama
bersikap dan berperilaku fanatik buta. Akibatnya kelompok pemeluk agama ini
cenderung memisahkan diri dari kehidupan masyarakat. Kelompok pemeluk
agama yang eksklusif tidak segan-segan dalam mencapai kepentingannya

31
menempuh jalur politik: Berkolusi dengan penguasa regim bersedia diperalat
demi kepentingan politik regim.
Dengan konstelasi politik demikian ini umat beragama secara keseluruhan
sulit untuk saling bersikap dan berperilaku toleran. Padahal toleransi adalah sikap
yang tdak menolak perbedaan-perbedaan: Sikap awal yang baik untuk
mengadakan dialog.
Melalui dialog masing-masing pihak bisa menukarkan inspirasi yang
terkandung dalam agama masing-masing, nilai-nilai luhur masing-masing agama
saling diungkapkan untuk menjadi kekayaan bersama. Melalui sikap dan perilaku
toleransi masing-masing pihak kelompok beragama dapat maju bersama.

B. Makna Agama Dalam Kehidupan


Pada makna agama dalam kehidupan ini akan diuraikan dua bagian besar yaitu:
1. Makna Agama Bagi Kehidupan Politik
Mencermati masalah kehidupan beragama, maka seharusnya agama tampil
berperan memberi petunjuk bagaimana mengatasi konflik dan merangkumnya
menjadi sebuah makna bagi kehidupan manusia, khususnya kehidupan politik.
Dalam hal ini agama bisa berperan melengkapi keterbatasan politik dalam
mengatasi masalah pokok yang dialami oleh manusia, yang ternyata tidak cukup
dari segi sosialnya saja.
Salah satu peran agama adalah menjalankan fungsi tugas kenabian/peran
kritisnya terhadap lembaga/kekuasaan yang membunuh Roh Agama: semangat
dasariah dalam mengemban panggilan menegakkan Kerajaan Allah didunia.
Peran agama harus dicari sedemikian rupa, sehingga mampu memberi petunjuk
mengatasi masalah-masalah dan merangkumnya mengingat keterbatasan birokrasi
modern untuk menjangkaunya. Karenanya, kini dan masa depan mutlak
dibutuhkan inter-relasi kerjasama yang harmonis antara agama dan politik.
2. Makna dan Peran Agama Katolik Bagi Kehidupan Umat Beragama
Dalam bersikap dan menjalin hubungan dengan umat beragama lain,
gereja katolik mengajarkan untuk melihat persamaan-persamaan yang dihadapi
oleh umat manusia dan bagaimana bersama-sama menghadapi keadaan itu.

32
Disamping itu mencoba melihat juga hal-hal yang tidak sama yang dapat
mendatangkan pertentangan untuk dipecahkan bersama demi kesejahteraan
bersama.
Umat katolik terpanggil untuk berperan dalam kehidupan beragamanya
untuk menghayati dan mewujudkan sikap dan perilaku yang bersifat inklusif,
pluralis, dan utuh terbuka.
Inklusif artinya, bersikap terbuka dengan menghargai kenyataan diluar
lingkungan katolik. Tidak menganggap bahwa agamanya sendiri benar. Paralelis
atau pluralis artinya, bersikap menerima bahwa ada perbedaan dengan agama lain
namun tetap menghormatinya baik ajarannya maupun mengenai pemeluk ajaran
agama yang berbeda dan tidak begitu saja mengambil alih. Sedangkan utuh
terbuka maksudnya, merupakan perkembangan sikap inklusif dan pluralis.
3. Hubungan (Kerukunan Hidup) Antar Umat Beragama
Bermacam ragam corak hubungan antar umat beragama yang antara lain
mengambil bentuk konflik, toleransi dan dialog. Persaudaraan sejati dapat
dibangun berdasarkan toleransi dan dialog, yaitu ketika orang telah mengalami
banyak hal yang pada dasarnya sama didalam ajaran-ajaran agama, dan ketika
nilai-nilai luhur dan kebijaksanaan yang diperlukan untuk hidup bersama dapat
dijadikan dasar kerja sama untuk mewujudkan kesejahteraan lahir batin bersama.
Kerjasama itu bagi umat katolik bukan hanya karena didasarkan kenyataan
kebersamaan hidup dengan umat beragama lain, tetapi juga didasarkan pada iman
katolik yang bersumber dalam kitab suci, tradisi, dan megisterium gereja.
Sehubungan dengan ini, maka perlu penyelidikan lebih dahulu naskah kitab suci.
Naskah-naskah tersebut bisa dipakai rujukan untuk menggunakan cara berpikir
mengenai keselamatan. Ada 3 cara berpikir mengenai keselamatan sbb:
a. Cara Berpikir Eklesiosentris : cara berpikir ini berpendirian bahwa
keselamatan seseorang dapat diperoleh dari gereja (berpusat pada gereja).
b. Cara Berpikir Kristosentris : cara berpikir ini berpendirian bahwa
keselamatan diperoleh langsung dari Yesus Kristus (berpusat pada Kristus)
Allah yang menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus dan keselamatan

33
itu terjadi dalam setiap kebersamaan yang mengakui Yesus Kristus sebagai
Juru Selamatnya.
c. Cara Berpikir Theosentris : cara berpikir ini berpendirian bahwa
keselamatan bersumber langsung dari Allah (berpusat pada Allah). Allah
menyelamatkan semua manusia dan berita mengenai keselamatan tersebut
disampaikan kepada manusia melalui para Utusan Allah: Musa, Yesus,
Mohammad, Budha Gautama, Khong Hoe Tjoe dlsb.
Berdasarkan ajaran dokumen Konsili Vatikan II kita dianjurkan untuk
bersikap rendah hati (penuh pertobatan dalam diri sendiri) berusaha menghormati
orang yang beragama lain, mencari titik temu/persamaan yang dapat dijadikan
landasan untuk bekerjasama dalam karya-karya sosial, kesehatan, pendidikan,
kerja bakti menanggulangi musibah, bencana alam, dan karya kemanusiaan
lainnya. Sebab melalui karya-karya demikian kita akan semakin mengalami
kebersamaan hidup dalam berkarya nyata sebagai aktualisasi iman masing-masing
umat beragama.
Kita semua diundang untuk mengubah suasana yang sewaktu-waktu dapat
mengancam kerukunan hidup antar umat beragama. Oleh karena itu pertama-tama
diperlukan perubahan sikap supaya tindakan kitapun diharapkan juga bisa
berubah, misalnya mendatangkan solusi atas konflik. Maka kita harus mencermati
apakah konflik betul-betul ditimbulkan oleh umat beragama sendiri atau karena
adanya ulah rekayasa dari pihak luar yang tidak bertanggungjawab.

34
BAB VIII
MASYARAKAT

A. Tugas Perutusan Gereja Di Dalam Masyarakat


Pada pembahasan tugas perutusan gereja didalam masyarakat ini akan dibahas
tentang saling mengasihi di dalam memasyarakat, dan sebagai ranting-ranting pokok
anggur menjadi garam dan ragi masyarakat.
1. Saling Mengasihi di Dalam Masyarakat
Orang yang telah mengalami cinta kasih, wajib untuk membagikan cinta
kasih itu kepada orang lain. Kita sebagai umat Allah yang telah mengalami cinta
Bapa, Putera dan Roh Kudus secara berlimpah harus dapat memberi dan membagi
cinta itu kepada dunia dalam perbuatan-perbuatan nyata. Kita harus dapat
melaksanakan karya-karya cinta kasih didalam dunia agar dunia tahu bahwa kita
adalah murid-murid Tuhan.
Dunia dewasa ini sangat membutuhkan cinta kasih. Segala masalah dan
bencana yang menimpa dunia disebabkan oleh kemiskinan cinta kasih. Banyak
masalah tidak akan terselesaikan tanpa cinta kasih. Mengenai cinta terhadap
sesama, Yesus mengajarkan cinta yang tidak pilih kasih, cinta tanpa perkotakan
dan klasifikasi. Tidak terbatas pada keluarga, suku, atau bangsa sendiri (Lukas
10:25-30). Lebih dari itu, kita diajari untuk mencintai musuh-musuh kita (Lukas
6:27-36). Mencintai sesama harus seperti mencintai diri sendiri (Mateus 22: 37-
40). Cinta kepada sesama merupakan bukti cinta kepada Tuhan (1 Yohanes 4:20).
2. Kita Adalah Ranting Pokok Anggur (Yohanes 15:1-8)
Persatuan dengan Yesus Kristus dibutuhkan dengan mutlak dalam karya
dan pengamalan cinta kasih kita kita kepada sesama. Motivasi, orientasi dan pola
amal kita harus bertaut pada Kristus, sebab kalau tidak, karya-karya amal kita
tidak bersifat murni lagi.

35
Maka dari itu, di dalam usaha kita mengamalkan cinta kasih di dalam
masyarakat kita harus mengusahakan tiga hal. Pertama, memurnikan motivasi
kita terus menerus. Motivasi amal kita harus tetap karena amanat dan pribadi
Kristus sendiri. Kedua, berorientasi pada Kristus. Setiap karya amal cinta kasih
kita akhirnya harus terarah pada Kristus, bukan kepada diri kita sendiri. Ketiga,
seluruh pelaksanaan karya kita harus berpola pada pola karya Yesus Kristus.
Kristus adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Ranting
tidak dapat hidup sendiri karena ia dihidupi oleh pokok anggur itu. Jadi, bila
kehidupan yang mengalir diranting-ranting itu sama dengan kehidupan yang
mengalir didalam pokok anggur, itu berarti bahwa orang-orang Katolik harus
menjadi serupa dengan Kristus.
3. Menjadi Garam, Ragi, dan Terang (Mateus 5:13-16)
Kita umat Katolik harus bisa menjadi garam, ragi dan terang dalam
masyarakat. Garam (Mateus 5:13) membuat makanan menjadi enak. Kehadiran
orang Katolik harus menjadi seperti garam bagi masyarakat. Ragi (Mateus 13:33)
membuat ketan menjadi tapai yang enak untuk disantap. Kehadiran orang Katolik
harus seperti ragi itu, membuat masyarakat menjadi lebih baik, maju dan
berkembang. Terang (Mateus 5:14-16) mengusir kegelapan dan membawa
keceriaan. Kehadiran orang Katolik harus turut mengusir semua yang gelap,
suram, hitam dan tidak manusiawi. Gereja menjadi terang bukan hanya dengan
ajarannya, tetapi juga dengan perbuatannya.
B. Keterlibatan Gereja Di Dalam Masyarakat
Pada pembahasan keterlibatan gereja di dalam masyarakat ini akan dibahas
keprihatinan terhadap sikap materialistis, dampak teknologi, ketidakjujuran,
kemurnian, hak milik dan hak hidup
1. Keprihatinan Terhadap Sikap Materialistis
Materialisme adalah suatu pandangan yang menganggab bahwa materi
(harta kekayaan berupa uang, emas, rumah, dsb) adalah diatas segalanya. Semua
yang tidak dapat dinilai/diukur dengan materi dianggab tidak ada, sehingga Tuhan
juga dianggap tidak ada.

36
Ada dua macam materialisme. Pertama, mereka menjadi materialisme
karena percaya pada ideologi materialisme. Kedua, materialisme praktis, yaitu
orangnya tidak mau disebut materialisme tetapi perbuatan dan tindakannya
sungguh hanya mencari keuntungan materi belaka.
Bahaya materialisme bagi pribadi-pribadi adalah menjauhkan orang dari
Tuhan dan sesama, sebab materi menjadi paling utama bagi orang itu. Sesama
diperalat dan diperas demi materi. Sikap materialistis membuat orang menjadi
tidak bahagia karena ambisi yang kuat untuk memiliki materi.
Sebagai umat Katolik, kita harus bisa memberi kesaksian dengan sikap
dan perbuatan bahwa materi bukanlah nilai tertinggi melainkan iman kepada
Tuhan YME. Materi tidak bersifat abadi. Kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai
rohani.
2. Keprihatinan Terhadap Ketidakjujuran
Sebagai orang Kristiani kita dituntut bersikap jujur. Jujur artinya ada
keselarasan antara perkataan, perbuatan, dan sikap hidup. Nilai kejujuran terletak
adalah jaminan untuk saling percaya, merupakan dasar dari setiap pergaulan dan
hidup bersama yang sehat dan bahagia.
Sebagai orang Kristen kita harus menghilangkan sebab-sebab yang
menumbuhkan ketidakjujuran itu. Kita harus memperjuangkan kejujuran dengan
berbagai cara. Kita harus bisa memberi kesaksian tentang kebenaran dan
kejujuran.
3. Keprihatinan Terhadap Hak Milik dan Kemurnian
Saat ini, banyak orang tidak menghargai hak milik orang lain. Didalam
sepuluh perintah Allah, perintah ketujuh dan kesepuluh melindungi milik maupun
hak milik. Kedua perintah itu mewajibkan kita mengamalkan keadilan, yaitu
merelakan dan memberikan kepada masing-masing orang apa yang menjadi
haknya.
Setiap orang berhak atas sekian banyak millik pribadi, sehingga ia dapat
hidup secara layak. Di dalam kenyataan hidup, seseorang memiliki milik pribadi
secara berlebih, sedangkan yang lain serba kekurangan. Secara Kristiani, kita
seharusnya membagi harta di dunia ini secara adil.

37
Sistem Kapitalisme dan Komunisme merongrong pribadi manusia dan
peraturan Tuhan. Komunisme tidak mengakui hak milik pribadi dan menyerahkan
segala milik kepada negara. Sedangkan kapitalisme mau menimbun harta di
dalam tangan sekelompok kecil orang.
Tentang dosa melawan kemurnian, Yesus menegaskan.”Telah kamu
dengar bahwa ada dikatakan, jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu,
barang siapa memandang seorang wanita dengan nafsu, sudah berzinah dengan
dia di dalam hatinya” (Mateus 5:27-28). Dalam hati timbul segala pikiran jahat
seperti pembunuhan, zinah, percabulan. Semua itu menajiskan manusia” (Mateus
15:19-20).
Bahaya-bahaya akibat perbuatan mesum antara lain merusak mental dan
jasmani, mengurangi/menghilangkan semangat bekerja, merugikan waktu dan
dana, dsb. Oleh karena itu, untuk menghindari permesuman hendaknya kita
menghayati nilai-nilai kemurnian, mengelak pada kegiatan yang mengarah pada
kemesuman. Mengadakan kegiatan untuk rekreatif dan mencipta, serta berdoa
untuk mempertahankan kemurnian.
4. Keprihatinan Terhadap Hak Hidup
Ada gejala didalam masyarakat bahwa nyawa manusia atau hak untuk
hidup kurang dihargai. Gejala tersebut dapat dilihat pembunuhan atau
pembantaian, pengguguran kandungan, euthanasia, narkoba dsb. Gereja
mengajarkan bahwa hidup kita itu pemberian dari Allah. Maka dari itu, hanya
Tuhanlah yang berhak atas kehidupan kita.

38
BAB IX
KEBUDAYAAN
A. Kebudayaan Indonesia
Lima hal yang mau dijelaskan dalam kebudayaan Indonesia ini adalah
kebudayaan asli Indonesia, kepercayaan asli Indonesia, pengaruh kebudayaan baru di
Indonesia, pengaruh dari masyarakat Indonesia sendiri dan perjumpaan kebudayaan
asli dengan kebudayaan baru.
Kebudayaan asli Indonesia dimulai dari jaman prasejarah, artinya jaman
sebelum bangsa Hindu masuk di Indonesia. Jaman prasejarah Indonesia dapat
diklasifikasikan menjadi 4 periode yaitu jaman batu, jaman baru, jaman suasa, dan
jaman megaliticum.
Pada jaman batu, kita mengenal peninggalan berupa alat-alat yang terbuat dari
batu seperti kapak, tombak, dll. Alat buatan jaman ini masih sangat kasar. Pada jaman
baru, alat-alat yang dibuat sudah halus. Pada jaman suasa, bangsa Indonesia telah
mengenal barang-barang berharga seperti emas, suasa,. Pada jaman suasa, bangsa
Indonesia telah mengenal barang-barang berharga seperti emas, suasa, perak, dll.
Sedangkan pada jaman megaliticum, kita telah menghasilkan alat dari batu besar
seperti tugu, lesung, arca, dsb.
Kepercayaan asli yang menentukan sikap dan tingkah laku Bangsa Indonesia
dapat dibagi menjadi dua yaitu Animisme dan Dinamisme. Animisme berasal dari
kata anima yang artinya roh. Animisme adalah suatu aliran kepercayaan yang
mempercayai bahwa kekuatan yang maha tinggi itu adalah roh. Aliran ini percaya
tidak hanya manusia yang mempunyai roh tetapi juga semua benda, binatang dan
tumbuhan. Manusia mempunyai roh yang kekal, artinya tidak dapat mati meskipun
badannya sudah mati. Dinamisme berasal dari kata dynamis yang artinya kekuatan.
Dinamisme adalah suatu aliran kepercayaan yang mempercayai bahwa kekuatan yang
maha tinggi itu ada pada benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib.

39
Selain kepercayaan asli, bangsa Indonesia juga dipengaruhi oleh kebudayaan
baru seperti agama Hindu/Budha, Islam, Kristen/Katolik. Perjumpaan asli dengan
kebudayaan baru dapat mengakibatkan asimilasi yaitu peniruan kebudayaan asing,
maksudnya kebudayaan setempat meniru seluruh kebudayaan dan bahasa asing
tersebut dan keduanya berjalan bersamaan atau mengakibatkan akulturasi yaitu
berubahnya dua kebudayaan asli yang disebabkan oleh lamanya bertemu/bergaul
dengan kebudayaan baru.
B. Pandangan Hidup dan Kebudayaan
Dunia adalah panggung sejarah manusia yang ditandai oleh kegiatan-
kegiatannya, keberhasilan dan kegagalan, dan diimani sebagai ciptaan Allah.
Kebudayaan ditentukan oleh sejarah, alam dan lingkungan. Unsur-unsur berikut
dipandang sebagai pola atau poros kebudayaan:
1. Tuhan
Tuhan atau dunia transenden (dunia diatas) melalui agama, terutama melalui hati
manusia, memainkan peranan amat penting dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kegiatan Manusia
Kebudayaan terbentuk karena ada kegiatan manusia. Kegiatan itu
menghubungkan manusia yang satu dengan yang lainnya. Setiap orang karena
pendidikan, ekonomi, politik, rekreasi dan banyak kegiatan lain lagi terjaring
dalam jaringan sosial lingkungan hidupnya.
3. Dunia Material atau Kebendaan
Di dalam proses membudaya itu, dunia material atau kebendaan amat penting
juga. Manusia bersifat material karena tubuhnya mempunyai kebutuhan material.
Tanpa materi, manusia tidak dapat hidup dan bergerak sebagai manusia.
4. Alam Pikiran Asli
Manusia terus menerus berkonfrontasi dengan dirinya sendiri, sebab ia dilahirkan
dan berkembang dalam ikatan dengan budayanya. Ia terikat pada tanah, adat,
tradisi, alam pikiran dan agama orang sebangsanya.
Di dalam kebudayaan Indonesia, erat sekali hubungan antara agama,
masyarakat dan alam. Bahkan sering unsur-unsur tersebut kurang dibedakan, malah
dicampuradukkan.

40
Dalam rangka usaha membangun masyarakat dan pembaharuan kebudayaan
tersebut, maka setiap manusia mempunyai empat tugas pokok. Pertama, membuka
diri terhadap yang transenden. Kedua, membangun solidaritas dengan sesama. Ketiga,
mengolah dan memelihara dunia benda dan alam semesta. Keempat, membangun diri
sendiri.
Tugas-tugas tersebut diatas menyatu. Manusia hanya dapat membangun diri,
kalau dalam kesatuan dengan sesama ia membangun lingkungan hidup bagi semua
orang dalam keterbukaan terhadap Yang transenden. Dengan mengembangkan
masyarakat, memelihata kekayaan alam, dan keterbukaan terhadap Yang Mengatasi
Hidup, ia memberi makna kepada hidupnya sendiri.
C. Gereja dan Negara Republik Indonesia
Perpaduan kebudayaan gereja katolik dengan Negara Republik Indonesia
menjadi sesuatu yang menarik dilihat dari segi inkulturasi. Gereja datang kenegeri ini
bersama dengan Kolonialisme Barat sehingga cukup lama hidup dalam pola tradisi
gereja Barat abad lampau.
Dasar hubungan antara dua pihak adalah saling pengakuan sesuai kedudukan
masing-masing. Gereja Katolik mengakui otonomi setiap negara dalam bidang
kemasyarakatan demi kesejahteraan rakyat seluruhnya.
Di dalam negara Pancasila, agama-agama dan negara mampunyai fungsi serta
menunaikan peranannya masing-masing. Keduanya menjalankan fungsi itu dalam
perspektif tujuan masing-masing dan dari sudut pandang yang berbeda. Perbedaan
tugas didalam situasi konkrit akan semakin jelas, sementara gereja dan negara hidup
bersama dan bekerja sama dengan erat. Karena negara maupun gereja ada demi
kepentingan masyarakat yang sama, maka harus hidup didalam suasana kerja sama.

D. Sikap Gereja Terhadap Kebudayaan Lain


Sikap gereja terhadap kebudayaan lain yang tertuang di dalam Konsili Vatikan II
sebagai berikut:
1. Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci dalam agama-agama
bukan Kristen.Gereja memandang dengan penghargaan yang jujur, cara tindak
dan cara hidup,aturan dan ajaran, yang kendati dalam banyak hal berbeda dengan

41
apa yang dipahami dan dianjurkan, toh tidak jarang memantulkan cahaya
kebenaran yang menerangi semua umat manusia.
2. Apa saja yang terdapat dalam adat kebiasaan bangsa yang bersih dari takhayul
dan kesesatan, disambut oleh gereja dengan suka hati bila mungkin diseragamkan
dalam ibadat umat (Sacrosanctum Consiliun 37).
Berdasarkan kutipan di atas kita melihat sikap gereja yang begitu tinggi
menghargai berbagai hal yang ada didalam budaya-budaya suku bangsa. Nilai-nilai
budaya suku bangsa dikatakan merupakan persiapan Ilahi bagi nilai-nilai rohani yang
baru.

42
BAB X
POLITIK
Arti Politik Secara Etimologi
Kata politik berasal dari kata Yunani yang artinya negara kota atau negara
kecil. Rakyat yang berdiam di dalam polis juga disebut polis. Polis memikili 3 ciri,
yaitu otonomi, autarkia dan kemerdekaan. Kata otonomi berasal dari kata auto dan
nomos. Auto berarti sendiri dan nomos berarti hukum atau peraturan. Otonomi berarti
mempunyai hukum atau mempunyai peraturan sendiri. Autarkia berarti kemampuan
sendiri atau swasembada. Sedangkan kemerdekaan yang dimaksud ialah hak setiap
polis untuk boleh mengungkapkan pikirannya.
Arti Politik Secara Umum
Poliotik berarti bermacam-macam kegiatan dalam negara yang berkaitan
dengan decision making untuk mencapai kepentingan bersama.
1. Esensi Politik
a. State (Negara)
Negara adalah struktur tertinggi dari suatu sistem politik. Sistem politik
berarti integrasi dan korelasi dari semua unsur terkait yang berfungsi untuk
mengidentifikasi nilai-nilai yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum
dan didistribusi secara benar.
b. Power (Kekuasaan)
Kekuasaan berarti kemampuan untuk mengatur tingkah laku suatu bangsa
yang mendiami suatu negara. Bangsa adalah struktur tertinggi dari suatu
sistem sosial, sedangkan sistem sosial yang paling rendah atau paling kecil
aialah keluarga.
c. Decision Making (Pengambilan Keputusan)
Pengambilan keputusan ialah keseluruhan proses dalam rangkan mencari
alternatif yang paling baik demi kepentingan umum.
d. Pembagian dan Alokasi

43
Salah satu fungsi politik ialah menjatah dan mendistribusi secara merata
kepada rakyat.

e. Public Policy (Kebijaksanaan Umum)


Kebijaksanaan umum berarti keputusan yang diambil oleh pemegang
kekuasaan untuk tujuan yang belum tercapai.
2. Politik dalam Perspektif Sejarah Keselamatan
Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara implisit bahkan
eksplisit banyak menyinggung tentang politik. Misalnya Nabi Natan yang
menegur Raja Daud agar tidak menindas rakyat. Yusuf menjadi raja muda di
Mesir. Maria dan Yosef dengan penuh loyalitas mendaftarkan diri ketika Kaisar
Augustus mengadakan perintah untuk mengadakan sensus penduduk dan
bagaimana Yesus sendiri secara diplomatis mengajak umatnya untuk taat kepada
pengusa politik.
Dokumen Gereja seperti Pacem in Terris dan Gaudium et Spes
menerapkan perintah Yesus tentang politik dalam politik modern. Intinya adalah
mengusahakan kesejahteraan umum terutama bagi mereka yang tidak mempunyai
akses pada kekuasaan.
3. Hal Pengambilan Keputusan
Salah satu unsur dalam politik ialah pengambilan keputusan. Masyarakat
membutuhkan suatu proses mengambil keputusan yang care terhadap aspirasi
rakyat. Untuk itu perlu diciptakan proses demokrasi yang sehat antara lain dengan
membangun kehidupan partai politik yang sehat, membentuk lembaga perwakilan
rakyat yang aspiratif, mendukung pemerintahan yang bersih dan berwibawa serta
menjaga lembaga peradilan yang jujur.
Awam dan Politik
Awam yang dimaksud disini adalah orang katolik yang bukan
rohaniawan/biarawan. Tugas politik adalah tugas yang bersifat duniawi. Didalam
politik, kaum awam dipanggil untuk mengkuduskan dunia. Artinya, agar politik yang
dijalankan didalam suatu negara sungguh-sungguh bermanfaat bagi kesejahteraan

44
seluruh rakyat (kesejahteraan bersama). Kegiatan seorang katolik senantiasa dijiwai
oleh iman katolik

Gereja Mengakui Pancasila


Warga gereja yang sekaligus sebagai warga Negara Indonesia secara otomatis
menjunjung tinggi Pancasila sebagai ideologi negara. Pancasila merupakan perekat
bagi bangsa Indonesia yang berbhineka. Gereja menerima Pancasila sebagai ideologi
terbuka yang senantiasa bersifat dinamis dan secara terus menerus diisi dan dihayati
demi persatuan bangsa. Paus Yohanes Paulus II dalam lawatannya ke Indonesia tahun
1989 telah meneguhkan hal itu. Paus memuji bahwa Indonesia memiliki Pancasila
yang memuat nilai-nilai yang universal.
Orang katolik diajak untuk berperan secara aktif dalam kancah perpolitikan,
tidak asal ikut-ikutan melainkan dengan memberikan warna etis kepada dunia politik.
Warna etis tersebut tampak dalam membangun mekanisme yang sungguh demokratis
memperjuangkan keadilan, mengembangkan wawasan kebangsaan yang konsisten
dan senantiasa mengupayakan kepentingan rakyat nukan kepentingan diri sendiri.
E. Rohaniwan dan Politik
Seyogianya para imam, biarawan dan biarawati secara terus menerus
mengikuti dinamika politik karena merekapun senantiasa berhadapan dengan situasi
politik dalam negara. Tidak berarti, mereka masuk partai politik tertentu. Hukum
Gereja melarang kaum klerus untuk ikut partai politik, serikat pekerja kecuali atas
penilaian otoritas Gereja (Kan. 287 & 2).

45
BAB XI
HUKUM

A. Pengertian Hukum
Hukum ada untuk menjaga harkat manusia, artinya untuk menjamin martabat
manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mulia dan agung (Citra Allah). Hukum
berfungsi untuk menjamin keteraturan sosial. Di dalam pembahasan hukum secara
umum menurut pandangan hidup kristiani ini akan dibahas empat hal berturut-turut
yaitu Harkat Manusia, Sepuluh Perintah Allah, Cinta Kasih, dan Kerajaan Allah.
1. Harkat Manusia
Konsili Vatikan II menegaskan, demi Injil yang dipercayakan kepadanya,
gereja dengan resmi mempermaklumkan hak-hak manusia, yakni hak perorangan,
khususnya kaum buruh, hak keluarga dan pendidikan yang berkaitan dengan tugas
kewajiban negara dengan tata nasional dan internasional yang menyangkut
kehidupan ekonomi dan kebudayaan, damai dan perang, hormat terhadap
kehidaupan sejak di rahim ibu hingga kematian.
Martabat manusia berakar didalam penciptaannya menurut citra dan rupa
Allah. Di dalam Kristus, gambar Allah yang tidak kelihatan, manusia diciptakan
menurut CITRA Pencipta, serupa dengan Dia. Di dalam Kristus, Penebus dan
Juru Selamat, citra Ilahi didalam manusia yang telah dirusakkan oleh dosa asal,
diperbaiki dalam keindahannya yang asli dan dimurnikan oleh rahmat Allah.
2. Sepuluh Perintah Allah
Sepuluh perintah Allah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar
yaitu perintah 1-3 yang mengatur hubungan Allah dengan manusia dan 4-10
mengatur hubungan manusia dengan manusia yang dapat dilihat dalam sepuluh
perintah Allah berikut:

46
a. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja dan
cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.
b. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat.
c. Kuduskanlah hari Tuhan.
d. Hormatilah ibu bapakmu
e. Jangan membunuh
f. Jangan berzinah
g. Jangan mencuri
h. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu
i. Jangan menginginkan isteri sesamamu
j. Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.
Kalau kita hubungkan dengan hidup kita sehari-hari, pelaksanaan suatu
hukum tanpa dibarengi dengan kesadaran tidak akan langgeng. Didalam
menerapkan suatu hukum, kita memerlukan sikap batin. Menilai suatu perbuatan,
tidak cukup hanya menilai benar atau salah dari segi hukum saja. Sikap lahir dan
batin harus sejalan.
3. Cinta Kasih
Hidup kristen merupakan suatu tanggapan terhadap kasih dan rahmat
keselamatan-Nya yang dianugerahkan secara bebas kepada kita melalui Tuhan
kita Yesus Kristus. Pengikut Yesus harus mengusahakan suatu sikap yang penuh
kasih kepada sesama, terlebih kepada mereka yang tersingkirkan dan tertindas.
Ketentuan hukum keagamaan mendapatkan artinya bila dilaksanakan dengan
sikap batin tepat dan diwujudnyatakan di dalam tindakan sehari-hari.
4. Kerajaan Allah
Kerajaan Allah itu perdamaian, kerukunan, keleluasaan batin, keadilan,
keutuhan kehidupan dan cinta kasih. Yesus mengajarkan bahwa titik tolak
pewartaan-Nya mengenai kedatangan Kerajaan Allah adalah terpenuhinya
harapan manusia yang sejati.
Bagi Yesus kerajaan Allah bukan kemegahan didalam dunia. Ia
mengajarkan bahwa kerajaan Allah memuat suatu janji yang tidak dapat dipenuhi
oleh teknologi, ekonomi atau ilmu pengetahuan. Kepenuhan hidup manusia sejati

47
dapat terjadi hanya bila manusia bersatu dengan Allah, dasar dan tujuan hidup
manusia.

B. Hukum Pernikahan Kristiani


Sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, dimana sila pertamanya
Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali
dengan agama sehingga, perkawinan bukan hanya mempunyai unsur lahiriah, tetapi
juga rohani.
Menurut pandangan Gereja Katolik, pada pembahasan ini akan diuraikan
empat bagian besar sebagi berikut:
1. Tujuan Pernikahan Kristiani
Pernikahan kristiani bertujuan untuk menyejahterakan suami istri dan
anak. Suami istri saling membantu dan membentuk suatu kesatuan sosial yang
paling kecil. Penyerahan diri secara tulus dalam konteks pernikahan
mengakibatkan tercapainya kesejahteraan jasmani dan rohani suami istri itu
sendiri.
Kepenuhan hidup seksual tidak bisa dianggap remeh di dalam kehidupan
berkeluarga. Didalam kehidupan berkeluarga, seks menjadi wajar. Kesejahteraan
lahir batin anak-anak harus terealisasi melalui pendidikan anak, sebab orangtua
adalah pendidik pertama dan utama. Pendidikan anak tidak berhenti pada sekolah,
tetapi pendidikan rohani (permandian, komuni pertama, krisma, dsb).
2. Perkawinan Menurut Ajaran Gereja
Menurut Konsili Vatikan II. ”Perkawinan merupakan kesatuan mesra
dalam hidup dan kasih antara pria dan wanita yang merupakan lembaga tetap
dalam kehidupan bermasyarakat” (Gaudium et Spes 48).
Berdasar kutipan tersebut, maka perkawinan katolik tidak sekedar ikatan
cinta mesra hidup bersama yang diadalan Sang pencipta dan dilindungi hukum-
hukumnya. Perkawinan menurut bentuknya merupakan suatu lembaga didalam
hidup kemasyarakatan. Tanpa pengakuan sebagai lembaga, perkawinan semacam

48
hidup bersama yang liar. Maksud dan tujuan perkawinan merupakan tujuan
perkawinan kesatuan hidup dari dua pribadi.
3. Perkawinan Menurut Kitab Hukum Kanonik
Perkawinan sebagai perjanjian bersumber dari Gaudium et Spes 48
menegaskan bahwa perkawinan sebagai perjanjian menunjukkan segi-segi
simbolis dari hubungan antar Tuhan dan umatNya didalam Perjanjian Lama
(Yahwe dan Israel) dan Perjanjian Baru (Kristus dengan gerejaNya). Tetapi
dengan perjanjian mau diungkapkan dimensi personal dari hubungan suami isteri
yang mulai sangat ditekankan pada abad modern ini.
Perkawinan sebagai sakramen merupakan unsur hakiki perkawinan antara
dua orang yang dibabtis.
Perkawinan sebagai sakramen merupakan unsur hakiki perkawinan antara
dua orang yang dibabtis. Perkawinan pria dan wanita menjadi tanda cinta Allah
kepada ciptaanNya dan cinta Kristus kepada gerejaNya.
4. Perkawinan Sebagai Sakramen
Perkawinan yang telah menjadi sakramen menpunyai dua sifat yaitu
monogami dan tidak dapat diceraikan. Monogami maksudnya, menikah antara
satu pria dengan satu wanita. Didalam pernikahan kristen ditolak poligami
(menikah antara satu pria dengan beberapa wanita) dan poliandri (menikah antara
satu wanita dengan beberapa pria).
Perkawinan itu tidak dapat diceraikan artinya perkawinan itu tetap kecuali
kematian yang memisahkan. Perkawinan kristiani tidak mengenal kawin kontrak,
artinya perkawinan hanya untuk jangka waktu tertentu lalu cerai. Pernikahan
kristiani menuntut cinta total tanpa syarat dan permanen.
Kesatuan suami istri menjadi tanda kehadiran Kristus yang selalu
mengkuduskan, mengutkan, dan menghibur tanpa syarat. Oleh karena Kristus
dengan setia menyertai dan menolong suami istri itu pun harus sanggup untuk
setia satu sama lain.
Perkawinan kristiani juga bersifat misioner, yang artinya perkawinan tidak
boleh hanya demi kepentingan kedua mempelai dan keluargnya, melainkan demi

49
kepentingan seluruh masyarakat. Kedua mempelai sebagai satu pasangan harus
menjadi garam, terang dan ragi bagi seluruh masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Ismantoro, Kuliah Agama Katolik di Peerguruan Tinggi. Jakarta : Obor, 1994.


Ketut, Sarta. Kuliah Agama Katolik, Jakarta : Unika Atma Jaya, 1999.
Komisi Kateketik KWI. GBPP Pendidikan Agama Katolik 1999, Jakarta : Komisi
Kateketik KWI, 1999.
Komkat. Mengikuti Yesus Kristus: Buku Pegangan Calon Baptis : Kanisius, 1996.
Lembaga Biblika Indonesia. Kitab Suci Perjanjian Baru : Pengantar Teks dan Catatan,
Ende : Arnoldus, 1976.
Suyati, Maria. Mengenal Yesus Kristus, Jakarta : Limen Gentium, 1992.
Thomas M, Pokok-Pokok Iman Kristiani, Yogyakarta : Univ. Sanata Dharma, 2001.
Kamus Teologi, Kanisius 1999, Yogyakarta
Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta : Obor 1993
Schultheis, M.J. Pokok-pokok Ajaran Sosial Gereja. Yogyakarta : Kanisius, 1988
Afra S. Dan Huber Th. Mengenal Iman Katolik, Jakarta : Obor, 1987
KWI, Pedoman Gereja Katolik Indonesia , Jakarta, 1995

50
Soal Pendidikan Agama Katolik

1. Menurut Anda, apa perbedaan kasih yang diajarkan Yesus dengan kasih dalam
praktek kehidupan masyarakat luas?
2. Apakah tujuan pernikahan Kristiani? Jelaskan
3. Menurut Pendapat Anda, bolehkah pernikahan diceraikan bila tidak mempunyai
anak laki-laki bahkan tidak mempunyai anak sama sekali? Mengapa?Jelaskan
4. Mengapa Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (IPTEK) seyogyanya
dimanfaatkan untuk hal-hal yang posistif?Jelaskan Jawabnya
5. Sebutkan Persoalan-persoalan dasar manusia? Setelah itu jelaskan bagaimana
cara-cara Kristiani untuk memecahkan persoalan-persoalan dasar tersebut?
6. Secara iman Katolik, apa yang dimaksud dengan martabat manusia? Jelaskan
jawaban Anda berdasarkan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Kitab Suci Pejanjian
Baru.
7. ”Hidup manusia merupakan anugerah Allah dan sekaligus merupakan tugas
panggilan Tuhan Allah”. Jelaskan pengertian kalimat tersebut.
8. Coba lukiskan dengan kata-kata Anda Sendiri pengertian tentang ”orang
beriman”. Lalu sebutkan contoh-contoh orang beriman dalam kehidupan sehari-hari?

51
52

Anda mungkin juga menyukai