P. 1
Edisi 378

Edisi 378

|Views: 1,297|Likes:
Dipublikasikan oleh Hary Buana
Mingguan Medikom Edisi 378
Mingguan Medikom Edisi 378

More info:

Published by: Hary Buana on Jul 18, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

pdf

text

original

Simak Halaman Khusus

Satu Halaman Untuk Purwakarta - Subang dan Karawang

PURWASUKA
Halaman 5

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

Media Komunikasi Masyarakat Transparan Kom omunikasi Masyarakat ansparan araka

Tepat & Perlu

HARGA ECERAN Rp2.500,- LUAR JAWA + Ongkos Kirim

Sampah Medis Bukan Limbah Biasa
Selengkapnya baca Halaman 3

DAK Pendidikan Terancam Gagal
Dunia pendidikan memang dunia kacau balau, banyak program dalam pelaksanaannya tidak terukur dan terkawal secara baik. Salah satunya adalah program Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan Tahun 2010. Sejatinya DAK bidang pendidikan dialokasikan untuk menunjang pelaksanaan program Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 Tahun yang bermutu dan merata untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Lingkup kegiatannya, pembangunan ruang perpustakaan, pengadaan perabot pendukung perpustakaan, dan penagadaan sarana peningkatan mutu pendidikan meliputi alat peraga, kit multimedia, buku pengayaan, buku referensi, ICT pendidikan dan alat elektronik pendidikan. Namun memasuki triwulan ketiga, program ini belum juga dimulai pelaksanaannya di lapangan. Terlambatnya pelaksanaan diduga keras akibat Kementerian Pendidikan Nasional tidak juga menggulirkan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan sebagai pedoman ke kabupaten/kota penerima program di seluruh Indonesia. Tidak munculnya petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan inilah yang membuat beberapa daerah kabupaten/ kota ketar-ketir. Pasalanya bila melihat rentang waktu tahun anggaran berjalan hanya tersisa beberapa bulan ke depan. Dikhawatirkan, bila pelaksanaan tidak segera dilaksanakan anggaran yang sudah mengendap di kas daerah kabupaten/ kota seluruh Indonesia akan hangus dan diluncurkan untuk tahun anggaran 2011. Salah seorang yang mengkhawatirkan kondisi ini adalah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang Drs Ma’mur Sutisna WD MMPd. Menurut Ma’mur, keterlambatan juklak juknis pelaksanaan DAK dari Kementerian Pendidikan

HIV/AIDS di Subang Menghawatirkan
SUBANG, Medikom–Kabupaten Subang menempati posisi empat di Jawa Barat dalam hal jumlah penderita HIV/AIDS. Hingga April 2010, tercatat ada sebanyak 13 penderita AIDS/HIV. Bahkan bila dikumulatifkan, jumlah penderita HIV/AIDS selama 1999-2010 sudah mencapai 352 orang dan 165 di antaranya positif AIDS. Sementara itu diperoleh informasi, urutan pertama jumlah penderita HIV/ AIDS diduduki Kota Bandung, kedua Bekasi, dan ketiga Kabupaten Bogor. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang dr H Wawan Setiawan didampingi Kasi Penyakit Menular, Suwata dan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Subang dr Ahmad Nasuhi pada acara temu media menyampaikan rencana layanan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM). Dikatakannya, pihaknya saat ini sedang berupaya mengurangi risiko berjangkitnya HIV/AIDS sebagai langkah penanggulangan dan penyebaran penyakit mematikan itu di wilayah kerjanya. Salah satunya mengurangi dampak buruk penggunaan jarum suntik maupun narkoba suntik. Sebab 39,3% kasus HIV/AIDS di Subang ditularkan melalui jarum suntik. “PTRM merupakan pilihan terbaik, sehingga ketergantungan zat suntik dialihkan pada yang diminum. Artinya bukan memfasilitasi pecandu narkotika, tapi terapi, walaupun harus dengan metadon,” ujar Wawan. Wawan menyebutkan, terapi bagi pengguna narkotika sudah dapat dilakukan di Puskesmas Sukarahayu. Untuk sementara langkah ini yang dilakukan dan metadonnya sendiri tidak mungkin mudah didapat, kecuali bagi mereka yang melakukan terapi, terutama yang terindikasi HIV. “Kita berharap, masyarakat tidak memarginalkan penderita HIV/AIDS karena tidak akan menular begitu saja, kecuali bila berhubungan intim. Dari data yang ada, 50,2 persen terjangkit akibat perilaku heteroseksual,” jelasnya. Sementara, terkait HIV/AIDS di Kabupaten Subang Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Kabupaten Subang kerap menemukan pengidap hepatitis, HIV, bahkan sifilis pada darah pendonor, termasuk penyakit lainnya. Akibatnya, darah yang diperoleh PMI terpaksa harus dimusnahkan agar tidak dipergunakan. “Data jelas ada, walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak, termasuk yang mengidap HIV. Hanya saja, kita tidak bisa memberikan data rinci karena sudah merupakan kode etik yang harus dirahasiakan,” kata Kepala UTD PMI Kabupaten Subang dr Hj

Pedagang Pasar Kawali Datangi DPRD Ciamis
Ormas Kecewa Gagal Bertemu Muspida

di hal 4

90 Persen Karaoke di Kota Cirebon Diduga Berbau Maksiat
CIREBON, Medikom–Ketua Forum Umat Islam Cirebon Prof Dr H Salim Bajri mengaku kecewa dengan batalnya pertemuan ormas Islam dengan Muspida. Karena pembatalannya dilakukan secara mendadak dengan alasan Muspida belum siap. “Padahal jika wali kotanya tidak bisa, kan bisa diwakilkan kepada wakil wali kota dan sekda, serta mengundang kapolresta untuk hadir supaya segera tuntas persoalan ini. (Karaoke Fantasy, Red),” tutur Salim Bajri. Keinginan sejumlah ormas Islam untuk bertemu dengan wali kota, Muspida, dan DPRD untuk membahas persolan Karaoke Fantasy, batal terwujud terkait dengan tidak hadirnya wali kota dan Muspida saat pertemuan yang dijadwalkan Rabu (14/7). Pertemuan yang digelar di ruang serba guna DPRD itu hanya dihadiri ormas Islam dan pimpinan DPRD. “Kami melihat tidak ada itikad baik dari Pemkot Cirebon untuk menyelesaikan persoalan ini. Oleh karena itu, kami meminta pemkot agar bisa mmencabut izin Karaoke Fantasy dalam waktu satu minggu ke depan,” ujarnya. Sebab, saat ini umat Islam di wilayah Cirebon sudah mulai gerah dengan keberadaan Karaoke Fantasy. “Kedatangan kami ke dewan minta difasilitasi untuk bertemu dengan muspida. Tetapi kalau bisa diselesaikan oleh DPRD sebagai perwakilan rakyat itu lebih baik dan kami tinggal terima hasilnya,” ungkap dia.

Ke Halaman 11

Ke Halaman 11

Masyarakat Ciamis Selatan Kecewa Jika Pemekaran Dibatalkan
Nasional ke daerah membuat daerah khawatir. Sebab, program DAK Bidang Pendidikan di daerah telah masuk dalam rencana strategis (renstra) bidang pendidikan kabupaten/kota. Renstra pendidikan ini, katanya, merupakan terjemahan dari renstra pemerintah daerah, tentu renstra daerah mengacu terhadap renstra yang ditetapkan pemerintah pusat. Salah satu program pendukung pelaksanaan renstra pendidikan adalah program DAK bidang pendidikan ini. Namun sayangnya, untuk tahun 2010 daerah kabupaten/kota belum bisa melaksanakan karena petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan belum juga diterima daerah masingmasing. Melihat waktu sedemikian mepet, katan Ma’mur, dikhawatirkan program ini tidak bisa terealisasi pada tahun 2010 ini. “Ini sangat mengkhawatirkan bila DAK tahun 2010 tidak bisa direalisasikan, dan ini merugikan daerah dan masyarakat khususnya dunia pendidikan daerah,” kata Ma’mur. Dalam kesempatan ini juga, Ma’mur menyayangkan sikap Kementerian Pendidikan Nasional yang terkesan tidak serius mengawal program ini. Hal itu terlihat, beberapa waktu lalu muncul surat pemberitahuan dari Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah tertanggal 14 Juni 2010 yang ditujukan kepada wali kota dan bupati seluruh Indonesia. Di mana dalam isi suratnya, memerintahkan daerah penerima DAK bersiap-siap melaksanakan DAK dengan mekanisme lelang. Prosedur pelelangan mengacu pada aturan Keppres 80 Tahun 2003 dan perubahannya. Tapi anehnya, lanjut kepala dinas yang telah menjabat lima tahun ini, petunjuk teknisnya tetap saja belum dikirimkan ke daerah. “Ini kan aneh. Daerah diperintahkan untuk siap-siap melaksanakan. Tapi petunjuk teknisnya belum datang juga. Dan ini membuat daerah menjadi khawatir,” kata Ma’mur. Padahal di daerah, lanjut Ma’mur, DAK bidang pendidikan sejak diluncurkan pada tahun anggaran 2005 lalu sangat membantu peningkatan kualitas pendidikan daerah. Sebab Dana alokasi khusus, kata Ma’mur, di daerah difokuskan membangun sekolahsekolah dengan tujuan mencapai sekolah berstandar nasional. Intinya sekolah berstandar nasional berspektrum satuan pendidikan di setiap sekolah memenuhi standar isi, proses, biaya, tenaga pendidik, sarana dan prasarana, kelulusan, dan manajemen. Karena itu, kata Ma’mur, tidak bisa dipungkiri DAK bidang pendidikan sangat dibutuhkan oleh daerah. Bila dalam pelaksanaan tahun 2010 ini terjadi konflik di Kementerian Pendidikan Nasional, diharapkan lanjut Ma’mur janganlah merugikan daerah. Apalagi keterlambatan dapat mengancam dan batalnya program tentu ini sangat merugikan daerah. “Konflik apapun di tingkat pusat janganlah merugikan daearah. Dan keterlambatan ini dapat mengancam batalnya program DAK bidang pendidikan yang harus diluncurkan dan tentu akan sangat merugikan daerah,” tandas Ma’mur. Apalagi, masih menurut Ma’mur, batalnya DAK bukan karena dana. Karena DAK bidang pendidikan sudah ada di kas pemerintah daerah, tinggal petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaannya daerah siap CIAMIS, Medikom-Ribuan masyarakat Ciamis selatan yang sudah yakin akan terbentuknya daerah otonomi baru dan terpisah dari Kabupaten Ciamis, dipastikan akan kecewa jika Presiden membatalkan rencana pemekaran melalui moratorium pemekaran. Mereka masih tetap berharap pembentukan Daerah Otonomi Baru Pangandaran itu tidak dibatalkan. “Kemarin dan hari ini, puluhan masyarakat di Ciamis selatan datang kepada kami. Semuanya menyatakan rasa kecewanya jika pemerintah menunda pembentukan Kabupaten Pangandaran,” kata H Soleh, tokoh masyarakat di Cijulang, Ciamis selatan, Kabupaten Ciamis, Kamis (15/7). Menurut H Soleh, warga di Ciamis selatan yang kecewa jika Pemerintah menunda pembentukan Kabupaten Pangandaran, bukan hanya puluhan atau ratusan orang, melainkan ribuan orang. Pasalnya, selama ini mereka sudah yakin bahwa keinginan untuk membentuk daerah otonom baru di selatan Ciamis itu tidak akan terbendung. Di Jakarta, sebagaimana diketahui, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan pernyataan agar pemekaran daerah ditunda atau ditinjau ulang dulu. Pasalnya, belakangan banyak daerah otonom baru yang ternyata tidak berhasil setelah terpisah dari kabupaten induknya. Sementara itu, mantan Ketua DPRD Ciamis yang sekarang menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Jeje Wiradinata, sangat memahami kekecewaan warga di Ciamis selatan, begitu mendengar Presiden tetap akan menunda pembentukan daerah otonom baru. Namun demikian, Jeje berharap masyarakat tetap tenang. “Masyarakat saya tetap harapkan tenang,” ujarnya. Ketua Presidium Pembentukan Kabupaten Pangandaran H Supratman mengatakan, walaupun Presiden mengisyaratkan soal moratorium pemekaran, presidium akan tetap mengegolkan Kabupaten Pangandaran. Andis Sose, Sekretaris Presidium Pembentukan Kabupaten Pangandaran menambahkan, untuk mengetahui kejelasan soal pemekaran, Kamis (15/7), pentolan presidium langsung berangkat ke Jakarta. Mereka antara lain H Adang Sandaan, H Iyos Rosby, Untung, Wagiman serta Camat Pangandaran Drs Rida Nirwana. (Herz/Pan)

Dewan Minta Pemkab Kaji Potensi Parkir
MAJALENGKA, Medikom–DPRD Kabupaten Majalengka meminta Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk terlebih dulu mengkaji potensi parkir sebelum berupaya membuat perda baru mengenai perparkiran dan tarif parkir. Sebab, hasil kajian yang dilakukan oleh perguruan tinggi, potensi parkir mencapai senilai Rp1 miliaran. Sedangkan selama ini pendapatan parkir tidak pernah mencapai senilai itu, bahkan jauh dari nilai Rp1 miliar. Hal tersebut disampaikan anggota DPRD yang juga panitia anggaran Aep Saripudin menyikapi rencana dibuatnya perda baru yang drafnya sudah disampaikan ke dewan. Dalam draf raperda tersebut dinyatakan kalau retribusi parkir akan dinaikkan masingmasing senilai Rp500 untuk di tempat-tempat khusus dan parkir yang bersifat insidentil. Sedangkan di tepi jalan umum, tarif parkir masih menggunakan tarif lama. “Beberapa tahun lalu itu, perguruan tinggi pernah melakukan kajian mengenai potensi pendapatan dari sektor parkir. Nilainya mencapai Rp1 miliaran setiap tahunnya. Namun ternyata apa yang dikatakan oleh hasil peneliti tersebut hingga kini belum pernah terbukti. Kondisi ini harus diteliti apa penyebabnya, manajemennya atau terjadi pembiasan atau faktor lain. Itu kita harus tahu terlebih dulu kenapa hingga tidak tercapai. Di samping itu, kita juga perlu tahu seberapa besar pendapatan rentribusi tersebut sebelum dan jika nanti dinaikkan,” ungkap Aep. Makanya jelas Aef, data prakiraan potensi harus ada dulu, agar nanti dewan bisa menganalisa, haruskan retribusi itu dinaikkan? Jika harus, seberapa besar nilai kenaikannya. Lagi pula saat ini saja, perda kenaikan retribusi parkir belum dibahas, sementara konsisi di lapangan tarif parkir sudah mulai naik.

Ke Halaman 11

Ke Halaman 11

Wanita Diduga Penculik Nyaris Dikeroyok Warga
GARUT, Medikom-Seorang Wanita yang nyaris menjadi korban amuk massa di Kampung Patrol, Desa Cidatar, Kecamatan Cisurupan Garut Jawa Barat, saat menjalani pemeriksaan di Markas Polres Garut mengaku bernama Lia (18) beralamat di Tangerang. Meskipun diduga Lia mengalami gangguan jiwa, namun berdasarkan hasil pemeriksaan sementara Lia masih terlihat normal. Meskipun terkadang tidak nyambung ketika diajak berbicara, akan tetapi untuk hal-hal tertentu Lia masih terlihat komunikatif.Lia tertangkap warga malam hari karena gerak-geriknya yang mencurigakan. Selain terlihat bingung dan mondar-mandir di sekitar tempat kegiatan mengaji yang umumnya diikuti anak-anak, juga kecurigaan warga semakin kuat saat Lia berlari ketika dua unit mobil polisi melewati daerah tersebut. Sekitar pukul 20.00 WIB, di Jalan Raya Cisurupan, tepatnya di Kampung Patrol, Desa Cidatar, Kecamatan Cisurupan, warga langsung mengakap seorang wanita berusia 30 tahun tanpa membawa identitas yang dicurigai warga sebagai pelaku penculik yang selama ini cukup meresahkan warga setempat dan beberapa kecamatan lainnya. Menurut Ano, salah seorang warga Kampung Patrol, wanita tanpa identitas tersebut bolak-balik di sekitar rumah yang di dalamnya sedang berlangsung kegiatan mengaji yang umumnya diikuti anak-anak. Wanita tersebut ditegur warga namun tidak menjawab dan berusaha melarikan diri, bahkan tas yang dibawa wanita tersebut dibuang, sehingga mengakibatkan warga curiga dan secara ramairamai menangkap wanita yang diduga pelaku penculikan. Sementara itu hampir satu jam lamanya ratusan warga bergerombol mengepung rumah salah seorang warga yang dijadikan tempat mengamankan wanita yang diduga pelaku penculikan tersebut. Beruntung sejumlah tokoh pemuda dan masyarakat serta anggota koramil dan Polsek Cisurupan segera mengamankan wanita dari amukan warga hingga akhirnya puluhan pasukan Dalmas Polres Garut yang sedang berada di Polsek Cikajang segera datang dan mengamkan wanita tersebut yang selanjutnya dibawa dengan mempergunakan kendaraan patroli menuju Markas Polres Garut. Hingga saat ini belum diketahui identitas wanita yang dicurigai sebagai pelaku penculikan yang berhasil ditangkap warga Kampung Patrol, Desa Cidatar Kecamatan

Refleksi Kritis Advokat Demi Negara Hukum
Oleh Hermanto Barus SH
Wibawa, keluhuran profesi advokat sebagai penegak hukum tidak lepas dari tanggung jawab seluruh advokat untuk menjaga citra dan kewibawaan advokat sebagai profesi yang terhormat dan mulia. Oleh karena itu, dibutuhkan pula peran, fungsi organisasi advokat (bar association) yang memiliki tanggung jawab untuk menjamin kualitas profesi advokat sebagai penegak hukum memberikan pelayanan yang terbaik kepada publik atau masyarakat secara luas. Fungsi penjagaan citra dan wibawa advokat itu mesti selalu dikedepankan searah dengan fungsi tempat berlindung dan pembela dari segala bentuk intervensi pihak lain. Fungsi lainnya yang tak kalah pentingnya secara internal ialah dalam standarisasi kompetensi advokat, pengawasan dan pendisplinan. Fungsi-fungsi yang melekat pada advokat dan organisasi profesinya menjadi standar umum mengenai defenisi, peran, dan fungsi organisasi advokat sebagaimana yang secara internasional dirumuskan dalam International Bar Association (IBA) pada tahun 1991 yang dikenal dengan IBA Standards for The Independence of The Legal Profesion. Sejarah peran advokat dalam penegakan hukum pada dekade 1970-an dikenal sebuah organisasi advokat yang berwibawa dan menjadi kebanggaan yang disebut dengan Persatuan Advokat Indonesia (Peradin). Para advokat yang tergabung dalam organisasi itu, seperti Yap Thiem Hien, Suardi Tasrif, Lukman Wiriadinata, bukan saja menunjukkan kecakapannya, tetapi juga sebagai pejuang reformasi, pejuang negara hukum, hak asasi manusia. Peran advokat pada era 1960–1970-an sebagai

Ke Halaman 11

Ke Halaman 11

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

Sisi Lain
Arah Kiblat ke Barat Laut

2

Jawa Barat

Direspons Positif oleh Masjid Jamie Kalipucang
CIAMIS, Medikom-Keluarnya fatwa MUI Pusat perihal penempatan arah kiblat ke barat laut (sebelumnya mengarah ke barat), membawa dampak yang positif. Terutama bagi masjid-masjid di daerah yang penempatannya di antara bangunan masjid dan tanahnya membuat arah kiblat tidak sesuai dengan arah kiblat yang mengarah ke barat laut. Pantauan Medikom di berbagai masjid besar di Kabupaten Ciamis, menemukan pergeseran alas tikar masjid, bergeser menurut arah kiblat yang sesuai. Berapa derajat digeser, itu tergantung dari kondisi bangunan masjid itu sendiri. Salah satunya di Masjid Jamie Kecamatan Kalipucang, terlihat pergeseran tikar yang cukup mencolok. “Adapun bentuk bangunannya tidak dirubah, namun hanya tikarnya saja yang kami ubah. Sedikit lebih miring agar maksudnya arah kiblat mengarah ke barat laut,” jelas seorang pengurus masjid. Tokoh agama setempat membenarkan adanya pergeseran arah kiblat di Masjid Jamie Kalipucang dari arah sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan keberadaan tanah wakaf tersebut yang sebelumnya pembangunan masjid ini mengarah ke tanah milik warga. Dengan itu posisi masjid disesuaikan dengan tanah wakaf itu sendiri, alhasil diakuinya keberadaan masjid ini tidak begitu mengarah ke arah kiblat. “Dengan keluarnya fatwa MUI Pusat perihal penempatan arah kiblat yang sekarang menjadi ke barat laut, membawa dampak nilai positif bagi kami untuk merubah posisi sholat yang lebih baik,” kata tokoh agama tersebut, sambil memberikan arahan pada tokoh-tokoh pemuka agama di Kecamatan Kalipucang, dengan upaya menyosialisasikan perubahan arah kiblat seakanakan tidak merubah bangunan yang telah ada. (Agus S/Pan)

KPU Tetapkan Nomor Urut 6 Cabup–Cawabup
INDRAMAYU, Medikom–Komisi Pemilihan Umum ( KPU ) Kabupaten Indramayu Jumat (16/7), akhirnya menetapkan nomor urut enam pasangan Cabup/Cawabup yang akan maju dalam perhelatan Pemilihan Kepala Daerah pada 18 Agustus 2010 mendatang. Penetapan nomor urut dengan sistem undi ini disaksikan keenam Cabup/Cawabup dengan sepuluh tim suksesnya yang berlangsung di Aula KPU Indramayu serta disaksikan ratusan pendukung dari keenam pasangan Cabup/ Cawabup tersebut. Penentuan nomor urut dengan sistem undi ini untuk nomor satu yakni pasangan Cabup/Cawabup Api Karpi-Rawita, nomor urut dua pasangan Mulyono MartonoHandaru Wijaya Kusuma, nomor urut tiga pasangan Gorri SanuriRuslandi, nomor urut empat pasangan Hj Anna Sophana- Drs H Supendi MSi, nomor urut lima pasangan Toto Sucartono-Khasan Basari dan nomor urut enam pasangan H Uryanto Hadi SH SE-H Abas Asyafah SAg MSi. Ketua KPU Indramayu Ahmad Khotibul Umam SAg menjelaskan, setelah dilakukan penetapan dan penentuan nomor urut bagi enam Cabup/Cawabup, tahap selanjutnya akan dilakukan persiapan jadwal kampanye untuk para Cabup/ Cawabup yang berlangsung selama 14 hari mulai tanggal 31 Juli hingga 14 Agustus 2010. Pantauan Medikom, jalannya pengundian nomor urut bagi enam pasangan Cabup/Cawabup yang akan maju dalam pemilukada pada 18 Agustus 2010 di KPU Indramayu berlangsung aman dan lancar. Ratusan polisi dari Polres dan Brimob diturunkan sejak pagi dengan membuat barikade di pintu masuk KPU maupun di sekitar area yang akan dijadikan tempat berkumpulnya massa. Kapolres Indramayu AKBP Nasri Wiharto SIK mengatakan, lancarnya penentuan nomor urut bagi para Cabup/Cawabup ini karena adanya kesadaran yang tinggi untuk tidak membuat keributan dari masing masing pendukung calon saat pendaftaran maupun setelah penentuan nomor urut. Kapolres juga berterimakasih kepada para calon yang bisa menempatkan para pendukungnya sesuai dengan komitmen bersama untuk saling menjaga demi kelancaran pelaksanaan pemilukada di Kabupaten Indramayu. (H YF)

Surfing Cimaja Potensial Tingkatkan Wisatawan
SUKABUMI, Medikom-Pengembangan wisata alam dan seni-budaya Jawa Barat dengan segala keunggulannya, terus dilakukan Disparbud Jabar sesuai tugas pokok dan fungsi yang dimilikinya. Salah satunya dengan mendayagunakan ombak yang dimiliki pantai Cimaja di Kabupaten Sukabumi sebagai objek dan destinasi wisata. Pernyataan ini dikemukakan Kadisparbud Jabar Ir H Herdiwan MM, Kamis (15/7), dalam rangka pengembangan potensi wisata ombak yang dimiliki pantai Cimaja, di daerah Pelabuhan Ratu. Program kerja sebagai penunjang diselenggarakan kompetisi surfing (International Cimaja Surfing Competition) pada Sabtu (17/7) hingga hingga Minggu (18/7). Kompetisi diikuti sekitar 100 peserta dari seluruh Indonesia, Australia dan Jepang. Seperti dalam sambutan resminya pada pembukaan kompetisi ini, disampaikan harapan event internasional ini bisa menjadi agenda tetap dan berkesinambungan. Pernyataan senada dikemukakan Kabid Pariwisata Drs H Dani Herdiana MSi. Bahwa peserta yang berkompetisi dalam perlombaan ini berasal dari seluruh Indonesia bergabung menjadi anggota Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) dan peselancar mancanegara yang sudah teruji kemampuannya. Seluruh peserta merupakan peselancar profesional yang sudah malang melintang dalam berbagai kompetisi dan event. Promosi wisata ombak pantai ini bertujuan memperkenalkan keunggulan wisata alam yang terdapat di Jawa Barat. Sehingga ini menjadi promosi efektif untuk lebih meningkatkan angka kunjungan wisatawan, baik mancanegara (wisman) maupun nusantara (wisnus). “International Cimaja Surfing Competition merupakan ajang turnamen internasional sekaligus mempromosikan pariwisata Jabar dengan tujuan untuk meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke Jabar,” tegasnya. Lokasi pantai Cimaja sangat ideal untuk kompetisi ini, karena memiliki ombak yang cukup besar dan tinggi, mencapai kira-kira empat meter. Keunggulan ini juga diakui oleh seluruh peserta yang sudah terlebih dahulu melakukan uji coba sebelum kompetisi dilakukan. Sebagai stimulan atau perangsang dalam perlombaan ini diperebutkan hadiah uang total Rp50 juta, trofi, dan sertifikat. Sedangkan juri yang dilibatkan telah profesional dan memiliki sertifikasi dari Standar Indonesia Surfing Championship (ISC). (Zaz)

Menipisnya Budaya Sunda di Kota Bogor

Bupati Serahkan “Kadeudeuh” Kontingen Porda Karawang
KARAWANG, Medikom-Kedatangan Kontingen Kabupaten Karawang yang usai berlaga pada ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat XI disambut secara langsung oleh Bupati Dadang S Muchtar di Aula Husni Hamid, Pemda Karawang, Rabu malam pekan lalu. Tidak hanya itu, Bupati Dadang S Muchtar pun secara spontan memberikan kadeudeuh bagi para atlet dan pelatih yang berprestasi. Atlet peraih medali emas mendapatkan kadeudeuh sebesar Rp10 juta, peraih perak mendapatkan kadeudeuh sebesar Rp7,5 juta, dan peraih perunggu mendapatkan kadeudeuh sebesar Rp5 juta. Sedangkan bagi pelatih yang telah berhasil membina atletnya meraih emas mendapatkan kadeudeuh sebesar Rp5 juta. Penyerahan kadeudeuh diberikan secara simbolis oleh unsur Muspida Kabupaten Karawang kepada lima orang atlet, yaitu Bayu Septiana dan Fitri Putri Dewi yang meraih emas pada cabang anggar, Soni Sonjaya yang meraih emas pada cabang atletik, Jaya Emon yang meraih emas pada cabang BPOC, serta Fildan Fazrian atlet termuda berusia 10 tahun dan masih duduk di kelas V SD yang meraih perunggu pada cabang sepatu roda. Bupati Dadang S. Muchtar sendiri sangat bangga terhadap perjuangan kontingen Kabupaten Karawang dalam penyelenggaraan Porda kali ini. Meskipun hanya mampu berada di posisi 14 di klasemen akhir dengan 12 emas, namun prestasi ini berhasil diraih atlet-atlet berdarah asli Karawang. “Saya bangga karena prestasi ini betul-betul diraih secara murni oleh atlet asli Karawang,” ujarnya Lebih lanjut Bupati menjelaskan bahwa kondisi ini berbeda jauh dengan penyelenggaraan Porda sebelumnya, di mana Kabupaten Karawang menjadi tuan rumah. Saat itu, Kontingen Karawang berada pada posisi ke-6 dengan 31 emas, 43 perak, dan 53 perunggu. “Karena dari jumlah tersebut, hanya 8 emas yang berhasil diraih atlet asli Karawang,” jelasnya. Kebanggaan lainnya, lanjut Bupati adalah fakta bahwa atlet-atlet asli Karawang yang turun pada Porda kali ini masih berusia sangat muda. Sebagian besar di antaranya masih sekolah di tingkat SMA, dan bahkan hampir seluruh atlet sepatu roda masih berusia SD dan SMP, namun telah mampu meraih emas. “Mereka tentunya akan memiliki masa pakai yang panjang, dan mampu berprestasi lebih jauh,” lanjutnya. Menurut Bupati, kondisi ini menunjukkan keberhasilan dari proses pembinaan atlet di Kabupaten Karawang. Untuk itu, Bupati menginstruksikan jajaran KONI Kabupaten Karawang serta para pengurus cabang olahraga untuk terus mempertahankan dan meningkatkan proses pembinaan tersebut. “Terlebih Pemerintah Daerah telah membangun infrastruktur olahraga yang representatif,” imbuhnya. Bupati menambahkan bahwa dari beberapa infrastruktur olahraga tersebut bahkan sudah berskala nasional dan internasional, seperti Arena Dayung Cipule, Stadion Singaperbangsa, Sport Hall Adiarsa, GOR Anggar Panatayudha, serta Sirkuit Sepatu Roda Karang Pawitan. “Bahkan Arena Dayung Cipule sendiri akan digunakan dalam event Asian Games 2011,” tambahnya. Sementara itu, dalam pelaksanaan Porda Jawa Barat XI di Kota Bandung, Kabupaten Karawang mengirimkan 297 atlet yang akan berlaga di 32 cabang olahraga. Mereka didampingi oleh 32 orang ofisial, 32 manajer, 32 pelatih, dan 44 asisten pelatih. Kontingen Kabupaten Karawang berada di posisi 14 dengan 12 emas, 9 perak, dan 28 perunggu. Sedangkan untuk kategori Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC), Kabupaten Karawang berhasil meraih 2 emas, 1 perak, dan 1 perunggu. (Andy Nugroho)

Paguyuban Pasundan Dikukuhkan
BOGOR, Medikom–Kepengurusan Paguyuban Pasundan Kota Bogor massa bakti 2010-2015 dikukuhkan dan dilantik oleh Ketua PB Paguyuban Pasundan H Safei di Balaikota Bogor (15/7). Pelantikan disaksikan Asisten Tata Praja Kota Bogor H Syarip Hidayat dan jajaran Muspida Kota Bogor. Pengurus yang berjumlah 41 orang dipimpin Ketuanya H Iyod Sasmita. Iyod dibantu oleh tiga orang wakilnya yakni Ketua I Aim Halim Hermana, H Asep Firdaus, dan Hj Yayah Warsiah. Sedangkan Sekrtaris dijabat R Tedi SAO Wirakusumah dibantu Sekretaris I dan II yakni Roni Suritoga, dan Ayep Ruhiyat. Bendahara Hj Edna Diani Hasrul dan Wakilnya Hj Nurhadiati. Kepegurusan dilengkapi BidangBidang yakni Bidang Organisasi dan Hukum, Pendidikan, Kerohanian, Sosial dan Ekonomi, Seni Budaya, Kewanitaan, Pemuda dan Olah Raga dan Bidang Kesekteriatan Umum. Ketua Paguyuban Pasundan H Safei menegaskan, kondusifnya organisasi Paguyuban Pasudan tidak terlepas dari ketangkasan para pengurusnya dalam membangun kemitraan dengan pemerintah daerah. Ditegaskan, organisasi tidak akan bisa hidup tanpa adanya jalinan kemitraan. “Insya Allah Paguyuban Pasundan di masing-masing anak cabang keberadaannya akan bisa dirasakan manfaatnya,” kata Safei. Safei mengatakan, kemitraan dengan pihak luar sangat dibutuhkan. Kamitraan dimaksud bukan hubungan dengan atasan. Tapi, harus merupakan hubungan mitra kerja, yang harus silih asah, silih dan silih asuh. Artinya, cabangcabang Paguyuban Pasundan harus dinamis, yang dibuktikan dengan jalinan komunikasi dua arah. Menurut Safei, Paguyuban Pasundan harus kompak dalam melaksanakan visinya sesuai diatur dalam anggaran dasar. Di era globalisasi sekarang ini orang Sunda harus berjuang sekuat tenaga mempertahankan solidaritas kasundaan sehingga Sunda tidak terpinggirkan. “Masyarakat Sunda jangan bercerai berai, makanya, perlu terus mem p e r t a h a n k a n kekompakan,” ingatnya. Walikota Bogor yang diwakili Asisten Tata Praja Kota Bogor Ade Syarif Hidayat mengakui, seiring dengan semakin derasnya pengaruh globalisasi, untuk mempertahankan budaya Sunda terasa semakin berat. Buktinya, dalam kehidupan seharisehari sudah jarang warga Kota Bogor yang berbicara menggunakan bahasa Sunda, baik di lingkungan keluarga maupun di antara sesama tetangga. Apalagi, generasi muda saat ini sepertinya tidak peduli terhadap budaya Sunda. Begitu pula di antara remaja putri saat ini sudah jarang sekali terlihat mengenakan pakaian kebaya Sunda yang menjadi ciri khasnya remaja putri Sunda. “Melihat kenyataan ini, sepertinya kita sudah kehilangan tatakrama adat budaya Sunda. Hal inilah yang mengundang keprihatinan, akibat semakin menipisnya budaya Sunda di sekitar Kota Bogor,” ungkapnya. Meski demikian tidak perlu berputus asa, warga Sunda harus terus berjuang mempertahankan dan memelihara budaya Sunda. “Kita berharap kepada Paguyuban Pasundan, bagaimana caranya bisa memelihara, merawat, dan mempertahankan budaya Sunda agar jangan sampai hilang di tatar Sunda,” pintanya. (gan)

Drs H S A Sudrajat Berkomitmen Baliho Kampanye Terselubung Marak Majukan Dunia Pendidikan
KUNINGAN, Medikom–Bukan isapan jempol belaka dalam memajukan dunia pendidikan khususnya di lingkup sekolah di bawah Kantor Kementerian Agama, Drs H S A Sudrajat berbuat total. Terbukti figur yang satu ini berhasil memenej dan mengembangkan sarana prasarana agar sekolah yang dipimpinnnya terlihat representatif. Bukan hanya itu, perilaku kedisiplinan pun tidak terlepas diterapkan kepada semua pihak. Dari mulai dirinya menjabat Kepala MTsN maupun madrasah aliyah negeri, Drs H S A Sudrajat terus mencurahkan pemikirannya agar kepemimpinannya saat dirinya menjabat maupun mutasi ke sekolah lain dapat terus dikenang oleh para guru, murid, dan masyarakat. Kali ini pun, meskipun dirinya sebentar lagi mau memasuki masa pensiun dari MAN Cigugur, tetap mempunyai pemikiran yang patut dicontoh. Karenanya, ia telah berhasil memperbaiki sekolahnya sebanyak lima lokal sejak dirinya menjabat pertama kali meneruskan kepemimpinan dulu. Bahkan di jabatan yang sekarang hampir lima tahun itu, telah merehab pula sebanyak delapan lokal berikut pembangunan lapangan bola basket. “Saya punya pemikiran oleh siapa lagi dan kapan lagi mencurahkan pemikiran guna memajukan sekolah, kalau bukan saat ini selagi saya menjabat,” terangnya saat berbincang dengan Medikom baru-baru ini. Sudrajat mengatakan, di akhir jabatanya memiliki keinginan untuk membuat sarana UKS yang representatif. Seperti halnya ada tempat praktik penanganaan yang sakit, dan warung sekolah. Namun karena waktu pensiun yang sebentar lagi, kemungkinannya ide itu akan disampaikan kepada pengganti dirinya dan kepada jajarannya. Mudah-mudahan direspons positif. Perjuangan lain pun dalam rangka meningkatkan animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke MAN Cigugur terus dilakukan, meski diakui terganjal oleh kebijakan pemerintah yang memberikan kebebasan dalam rekruitmen anak didik. Sehingga banyak yang masuk ke sekolah umum maupun SMK. “Perjuangan secara fisik, mental dan kemampuan telah kami lakukan. Bahkan pendekatan ke sekolah-sekolah supaya anak yang mau melanjutkan bisa masuk ke MAN Cigugur. Namun rupanya kita tidak memaksakan keinginan masyarakat,” ujarnya. Kendati demikian, ia tetap bekerja secara profesional dan bersaing secara sehat. Karena penilaian nanti akan muncul dari masyarakat itu sendiri. Bahwa kita memiliki kelebihan, di samping keilmuan secara umum, juga keilmuan bidang agama yang mendidik anak berjiwa luhur berbudi pekerti yang baik, taat dan patuh. “Kami juga mempunyai komitmen bahwa dalam rangka mengembangkan sekolah, diterapkan asaz terbuka dan transparan dengan semua guru. Yang terpenting tidak banyak bicara, tapi berikan contoh yang baik dalam setiap pelaksanaan dimulai dari diri kita sendiri,” ujarnya. (Yoyo Suhendar) DEPOK, Medikom–Baliho-baliho program dengan memasang gambar Wali Kota Depok, Nurmahmudi Ismail di jalan-jalan protokol di Kota Depok Jawa Barat, kini mulai menuai permasalahan baru terkait gelaran pemilukada Kota Depok yang bakal digelar 16 Oktober 2010 mendatang. Meski baliho tersebut dimaksudkan memaparkan program keberhasilan pembangunan Kota Depok, tetap saja diprotes sejumlah kalangan termasuk dari para wakil rakyat karena dianggap sebagai bentuk sosialisasi kampanye terselubung. Ketua Panwaslukada Kota Depok Samsuhadi kepada wartawan barubaru ini menjelaskan, pihaknya akan segera melakukan rapat koordinasi dengan KPU guna membahasnya masalah baliho-baliho itu agar tidak melebar. “Selayaknya yang namanya baliho tidak hanya gambar wali kotanya tetapi harus didampingi oleh wakilnya agar tidak terjadi interpretasi lain,” jelas Samsuhadi. Kritikan keras sebelumnya ditegaskan Ketua DPRD Kota Depok Rintisyanto. Rintis menganggap baliho tersebut bentuk kampanye dan sosialisasi terselubung yang di lakukan oleh Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail. Apalagi Nurmahmudi dalam pemulikada mendatang ikut mencalonkan kembali. Dari pantauan wartawan di lapangan menunjukkan bahwa baliho dengan gambar Wali Kota Depok seperti di jalan protokol seputaran Jalan Margonda dan Jalan H Juanda termasuk di kelurahan dan kecamatan dipenuhi baliho Wali Kota Depok. Sayangnya baliho tersebut hanya gambar wali kotanya saja tidak dengan wakilnya. (Lucy)

Penumpang Perdana Kuala Lumpur-Bandung 144 Orang
BANDUNG, MedikomBanyaknya permintaan masyarakat di Malaysia dan Jawa Barat, untuk kunjungan wisata, maka Malaysia Airlines, Jumat (16/7), melakukan penerbangan perdana Kuala Lumpur–Bandung. Peristiwa ini merupakan momen penting sebagai penerbangan “full service” pertama yang terbang ke Kota Bandung, yang mendarat di Bandara Husein Sastranegara. Adapun penerbangan perdana Malaysia-Bandung membawa 144 penumpang.
Pada tahun 1972 Malaysia Airlines memulai penerbangan ke Jakarta dan Medan sebanyak dua kali dalam seminggu. Sekarang ini jumlah penerbangan meningkat menjadi 88 kali dengan rincian, ke Jakarta 38 kali, Denpasar 21 kali, Medan 12 kali, Surabaya 7 kali, Bandung 7 kali dan Jogyakarta 3 kali seminggu. Demikian diungkapkan, Malaysia Airlines Managing Director/CEO, Tengku Dato Azmil Zahruddin saat mendarat di Bandara Husein Sastranegara, kepada wartawan. Permintaan atas perjalanan antara Malaysia dan Indonesia, katanya, sangat tinggi. Malaysia Airlines pada tahun lalu mengangkut 800.000 penumpang dari kedua negara. “Saya sangat gembira, karena Malaysia Airlines telah menjangkau Bandung. Satu-satunya penerbangan dari Negara Malaysia yang terbang ke kota dengan julukan Parijs Van Java,” kata Tengku Dato. Dijelaskannya, Malaysia Airlines terbang ke Bandung setiap hari dan berencana menambah tujuan ke kota lain di Indonesia. Jumlah keseluruhan penerbangan setiap minggu adalah 88 kali, dari Kuala Lumpur ke enam pintu gerbang di Indonesia, seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Jogyakarta, Denpasar dan Medan. Malaysia Airlines tahun ini telah mengembangkan jaringannya seiring dengan meningkatnya permintaan. Pada awal tahun ini pihaknya memulai penerbangan ke kota Dammam, Saudi Arabia, kota di mana minyak dan gas diproduksi di negara . “Bandung adalah kota tujuan kedua kami. Malaysia Airlines merencanakan untuk terbang ke beberapa kota tujuan lagi pada tahun ini,” ungkapnya. Juga dijelaskan, pihaknya juga akan menambah jumlah tempat duduk, memperkenalkan kota tujuan baru, dan menggunakan pesawat baru pada rute-rute tersebut. Tujuan utamanya meningkatkan “market share” antara Indonesia dan Malaysia. Di samping itu mendorong para turis untuk terbang ke Singapore, Thailand, Vietnam, Kamboja, Cina, Australia, Eropa dan juga sebaliknya, untuk mendatangkan turis dari negara tersebut ke Bandung. Tengku Dato Azmil menjelaskan, pihaknya telah memesan 50 pesawat B738-800, 25 A330 dan 6 A380 yang akan dikirim mulai tahun 2010 sampai 2015. Pada tahun 2015, untuk tingkat regional, Malaysia Airlines akan mempunyai armada yang termuda serta ramah lingkungan. Pesawat B737-800 akan digunakan untuk melayani pasar dalam negeri dan regional. Sedangkan A330-300 digunakan untuk melayani Asia Selatan, Cina, Asia Utara, Australia dan Timur Tengah. “Armada A380 akan dikhususkan untuk jurusan Sydney dan London, “kata Azmil. Selain itu, maskapai ini juga telah menambah pesawat baru untuk tujuan kota penting di ASEAN, Asia Selatan, Eropa, Afrika Selatan, Australia dan Selandia Baru. Penambahan jaringan dan armada pesawat ini, sejalan dengan “Business Initiatives” dan rencana lima tahun “Business Transformation Plan”. “Dengan target menjadikan penerbangan “bintang lima” terbaik di dunia sambil menawarkan penerbangan yang berkualitas dan bernilai tinggi,” ujarnya. Wisatawan Mancanegara Sementara Kepala BPS Jabar Drs H Lukman Ismail MA, belum lama ini, mengungkapkan, perkembangan pariwisata di Jawa Barat tak lepas dari banyaknya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus). Mengetahui seberapa besar minat wisatawan mancanegara berkunjung ke Jawa Barat, adalah dengan melihat banyaknya wisman yang berkunjung melalui pintu masuk yang ada di Jabar. Pihak BPS sendiri menyajikan perkembangan wisman yang datang ke Jabar melalui pintu masuk Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung dan Pelabuhan Muarajati di Kota Cirebon. Kedatangan tamu mancanegara melalui Bandara Husein Sastranegara pada bulan Mei 2010, kata Lukman, mengalami peningkatan 18,46 persen dibandingkan dengan bulan April 2010. Pada bulan Mei 2010, wisman yang datang ke Jawa Barat melalui pintu masuk Bandara Husein Sastranegara tercatat 8.156 wisman, sedangkan April 2010 tercatat 6.885 wisman. Wisman yang datang melalui pelabuhan Muarajati Cirebon kebanyakan para kru kapal. Angkanya mengalami peningkatan 104,04 persen, dari 99 wisman pada April 2010 menjadi 202 wisman pada Mei 2010. Wisman yang datang ke Jabar kebanyakan berkebangsaan Malaysia dan Singapura. Pada Mei 2010 tercatat wisman kebangsaan Malaysia ke Jabar melalui Husein Sastranegara sebanyak 7.098 wisman. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 5.967 wisman atau naik sebesar 18,95 persen. “Sedangkan yang berkebangsaan Singapura pada bulan April 2010 sebesar 581 naik menjadi 689 pada bulan Mei 2010,” ujarnya. (Laures)

PEROLEHAN MEDALI KOTA TASIKMALAYA
Informasi terakhir perolehan medali yang diraih Kota Tasikmalaya, Selasa (13/7) pada Porda (Pekan Olah Raga Daerah) XI Provinsi Jawa Barat adalah 12 emas, 7 perak dan 19 perunggu dengan rincian sebagai berikut:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 TOTAL Cabang Olah Raga Perolehan Medali Emas Perak Aeromodeling 3 Selam 1 Senam 1 1 Loncat Indah 1 1 Balap Sepeda 1 1 Balap Motor 1 Angkat Besi 1 2 Tarung Derajat 2 Taekwondo 1 Atletik 1 1 Bulutangkis 1 Gulat Renang Karate PABBSI Tarung Derajat Grup Pencak Silat Bridge 12 7 Perunggu 1 1 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 19

Pendapatan Pemkab Tasikmalaya Lampaui Target
TASIKMALAYA, Medikom–Wakil Bupati Tasikmalaya HE Hidayat SH MH menghadiri Rapat Paripurna tentang Penjelasan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tasikmalaya Tahun Anggaran 2009, Jumat (16/7) di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tasikmalaya. Rapat paripurna dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya, anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Komandan Brigif 13 Galuh Kostrad, Komandan Lanud Wiriadinata, Ketua Pengadilan Negeri Tasikmalaya, unsur Muspida Tasikmalaya, para asisten daerah Kabupaten Tasikmalaya, para kepala OPD, para camat serta instansi terkait lainnya. Dalam laporannya, Wakil Bupati Tasikmalaya HE Hidayat SH MH mengatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tasikmalaya Tahun Anggaran 2009 yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Tasikmalaya No 1 Tahun 2009 mengalami perubahan dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Tasikmalaya No 11 Tahun 2009 tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tasikmalaya. Disampaikan bahwa landasan hukum yang mengatur pertanggungjawaban keuangan daerah adalah pasal 298 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, menyatakan bahwa Kepala Daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD kepada DPRD, paling lambat enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. Isinya memuat laporan keuangan, meliputi laporan realisasi anggaran, neraca daerah, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan, serta dilampiri dengan laporan kinerja yang telah diperiksa BPK dan ikhtisar laporan keuangan badan usaha milik daerah/perusahaan daerah. Setelah Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melakukan evaluasi, jelasnya, secara keseluruhan kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang tercantrum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dari sisi pendapatan, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya telah melakukan intensifikasi dan ektensifikasi secara maksimal baik dari jenis pendapatan asli daerah maupun dana perimbangan dari Pemerintah Provinsi, sehingga pada tahun ini telah melampaui target anggaran pendapatan sebesar Rp 41.979.429.071. (A Cucu)

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

3

Lintas Kota
Dana Bencana Akan Cair Agustus
SOREANG, Medikom–Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bandung berjanji akan mencairkan bantuan bencana alam di Kabupaten Bandung senilai Rp400 miliar. Dana tersebut di antaranya untuk bantuan bencana alam seperti di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Hal tersebut disampaikan panitia husus (pansus) banjir dan bencana lainnya, Cecep Suhendar kepada Medikom, baru-baru ini. Pernyataan Cecep terkait dengan pembahasan Rencana Peraturan Daerah (Raperda) tentang Bencana Banjir dan Bencana lainnya di Kabupaten Bandung yang kini telah diajukan ke DPRD. Menurutnya, rencana raperda aka menjadi prioritas, sebab menyangkut pencairan dana bantuan dari pusat sekitar Rp400 miliar. “Target kita pencairan sekitar bulan Agustus sebelum pilkada,” ungkap nya. Lanjut Cecep, kepastian pencairan dana tersebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta belum lama ini. Berdasarkan hasil koordinasi, dana senilai total Rp800 miliar akan dicairkan pada APBD tahun 2010. “Maka kami optimis dana akan cair pada bulan Aagustus sebelum pelaksanaan pemilihan Bupati Bandung. Oleh karna itu, perdanya harus kita selesaikan pada pertengahn bulanAgusrus. Total bantuan angragaran tersebut senilai Rp800 miliar untuk Provinsi Jawa Barat, Rp400 miliar di antaranya dialokasikan untuk Kabupaten Bandung,” tutur Cecep. (Suhendar)

Sampah Medis Bukan Limbah Biasa
Limbah medis rumah sakit ataupun puskesmas sangat berbahaya kalau tidak dikelola sesuai dengan prosedur baku. Bahkan jika salah kelola, limbah ini berakibat fatal: seseorang bisa menjumput ajal.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan 1204/Menkes/SK/X/ 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, limbah rumah sakit harus diolah agar tidak berdampak negatif bagi manusia. Limbah medis infeksius contohnya, sangat berbahaya karena dapat menyebabkan tertularnya penyakit hingga menimbulkan kematian. Dr Mochammad Chaerul, Pakar Teknik Lingkungan ITB, mengatakan kasus yang banyak terjadi adalah penggunaan jarum suntik yang bisa menyebabkan tertularnya virus HIV. Menurut data di lapangan, jelas dia, sering terjadi kelalaian yang menyebabkan limbah medis dapat didaur ulang, seperti penemuan jarum suntik atau ampul infus di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. “Rendahnya pengelolaan limbah rumah sakit sangat memungkinkan beredarnya limbah di TPA ataupun pencemaran polusi udara yang dihasilkan dari penimbunan limbah medis,” tutur Chaerul kepada Medikom, Jumat (16/7). Aktivis Walhi Jawa Barat, Dwi Sawung, menuturkan, beberapa rumah sakit yang tidak disiplin, membuang sampah medis ke TPA Leuwigajah. Sampah medis yang biasa ditemukan antara lain organ tubuh, botol infus, jarum suntik dan yang biasa didaur ulang yaitu wadah plastik berlogam. “Dan telah menyebabkan satu orang meninggal,” tandasnya. Kecemasan akan salah kelola limbah medis sangatlah beralasan. Belum lama ini, Medikom mendapatkan warga Desa Cicangkanggirang, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat berinisial OS tengah membersihkan bekas alat suntik/sepet. Ia tampak asyik memisahkan jarum dari tabungnya, memisah-misahkan botol obat, plastik, dan kardus. OS mengatakan, barang-barang ini didapat dari Puskesmas Cicangkanggirang. “Kan lumayan bisa untuk dijual,” tandasnya tanpa beban. Ia menjelaskan, untuk satu biji botol dijual dengan harga Rp50, alat suntik/sepet dijual Rp1.000Rp1.500/biji, dan untuk kardus serta plastik dijual ke tukang rongsok per kg dihargai Rp500-Rp750. Untuk bekas alat suntik dan botol obat, kata OS, “Ada yang mengambil langsung dari perodusen di Bandung.” Sejauh ini, pengelolaan limbah medis ditengarai Sawung baru 40%, khususnya yang ada di Bandung. Bahkan ia menduga, salah satu rumah sakit di kawasan Gardujati belum memenuhi standar operation procedure (SOP) limbah. Alasannya, struktur fisik rumah sakit tidak memungkinkan melakukan insinerator limbah medis. “Pengelolaan limbah ada yang dilakukan sendiri dengan cara dibakar, ada juga yang dikelola oleh perusahaan swasta,” imbuhnya saat ditemui Medikom di markas Walhi Jln Titiran No 5 Bandung, baru-baru ini. Karenanya, tak berlebihan jika Chaerul menekankan supaya setiap rumah sakit memiliki fasilitas pengolahan limbah medis. Namun demikian, menurut data yang dimilikinya, pada tahun 2008, hanya ada delapan rumah sakit di Kota Bandung yang memiliki insinerator (tempat pembakaran), yaitu RSK Dr HA Rotinsulu, RSIA Hermina, RS Rajawali, RS Sartika Asih, SBIH, RS St Yusup, RS Dr Salamun, dan RS Boromeus. Penempatan limbah medis tambahnya, mesti jauh dari jangkauan masyarakat, karena dapat menular melalui udara. Radius yang ideal adalah 1 km. Sedangkan untuk suhu wadah limbah yang ideal untuk tempat limbah B3 adalah 20 derajat celcius agar tidak terjadi pembiakkan bakteri. Sebenarnya, ujar Chaerul, limbah medis yang perlu dikelola hanya 15%. Tetapi karena pemilahan limbah medis yang infeksius dan non infeksius (general waste) tidak dilakukan dengan baik, bisa saja limbah medis infeksius tercampur pada limbah medis domestik. Hal itulah yang membahayakan bagi masyarakat, terlebih pemulung. “Kemampuan operator dari limbah rumah sakit yang kurang kompeten pun menyebabkan tercampurnya limbah medis hingga terbuang ke TPA,” urainya. Karena rumah sakit lebih mengutamakan pelayanan kesehatan dibanding pengolahan limbah, ada alternatif bekerja sama dengan pihak ketiga untuk pengelolaan limbah. Namun demikian, tanggung jawab pengelolaan limbah tetap melekat pada rumah sakit. Jadi, apabila diserahkan kepada pihak ketiga, rumah sakit harus memantau pihak ketiga apakah sudah memenuhi standar yang ditetapkan. Dikatakan, dasar hukum mengenai pengelolaan limbah medis diatur dalam PP 18 junto 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3, termasuk limbah yang infeksius. Di dalamnya ada aturan yang berisi penghasil limbah harus bertanggung jawab penuh terhadap limbah yang dihasilkan. Untuk itu, setiap rumah sakit seharusnya memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Dalam hal ini, IPAL RSHS dinilai cukup signifikan dan dijadikan percontohan secara nasional. Kebijakan nasional menetapkan setiap rumah sakit harus memiliki tempat atau fasilitas untuk pengolahan limbah B3 secara terpusat. Pengolahan limbah medis B3 tidak hanya terpaku pada insinerator, karena kemampuan reduksinya. Suhu pembakaran bagi limbah domestik hanya 800-1.000 derajat celcius sedangkan suhu untuk limbah medis harus di atas 1.000 derajat celcius. “Dari mulai sumber untuk limbah infeksius dan non infeksius harus berbeda. Ada pemilahan wadah. Untuk limbah infeksius yang utama harus ada simbol biohazard, sedangkan untuk wadah limbah jarum suntik menggunakan bahan PPC,” terangnya. Dijelaskan, konsep pengelolaan limbah secara umum dengan cara extended producer responsibility (EPR). Artinya rumah sakit tidak perlu terlalu banyak mengelola limbah medis karena limbah yang dihasilkan bisa saja dikembalikan kepada produsennya. Namun di Indonesia belum berjalan. Bagi rumah sakit, konsep ini menguntungkan karena dapat menghemat biaya. Menurut Chaerul, rumah sakit yang memiliki standar ISO pun tidak menjamin dalam pengolahan limbah. Apalagi campur tangan pemerintah sebatas pembinaan. Idealnya, rumah sakit wajib memiliki UKL (upaya kelola lingkungan) dan UPL (upaya pemantauan lingkungan) atau kelengkapan dokumen lingkungan. “Ini menjadi salah satu tugas BPLHD untuk memantau, namun tidak memiliki power untuk menghentikan rumah sakit yang tidak memiliki dokumen kelengkapan lingkungan,” ucapnya. Program pengolahan limbah B3 Untuk menangani persoalan limbah B3 yang kewenangannya ada di Kementerian Lingkungan Hidup. Pemprov Jabar melalui Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jabar pada tahun 2006 meluncurkan Program Pengolahan Limbah B3 di Jawa Barat. Kebijakan ini merupakan suatu terobosan guna memelihara lingkungan hidup. Kepala Sub Bidang Pemantauan Pencemaran Lingkungan BLHD Jabar Hilman Charda dan Kepala Sub Bidang Mitigasi Bencana Tulus Sibuea kepada Medikom di kantor BPLHD belum lama ini menjelaskan, melalui program di atas, BPLHD Jabar mengajak setiap stakeholder untuk mengolah limbah B3 dengan benar, termasuk juga para pengelola rumah sakit. BPLHD Jabar terus melakukan koordinasi dengan BPLH di tingkat kabupaten/kota di Jawa Barat. Baru-baru ini BPLHD Jabar juga melakukan pengarahan ke daerah Tasikmalaya dan Cirebon. Program pengolahan limbah B3 tidak hanya diarahkan kepada pemerintah dan perusahaan yang menghasilkan limbah. Pemprov Jabar juga terus mendorong pihak swasta yang bergerak di bidang usaha pengolahan limbah untuk berpartisipasi. “Semakin banyak perusahaan pengolah limbah B3, berarti mengurangi beban pemerintah untuk menangani dampak negatif limbah B3 ini,” urai Hilman. Khusus untuk pengolahan limbah medis, Tulus dan Hilman mengatakan, dari program pengolahan limbah B3 telah berhasil mengundang investasi dari pihak swasta yaitu PT Jasa Medivest. Perusahaan tersebut merupakan pengolah limbah medis terbesar yang ada di Jawa Barat saat ini. Hanya saja, sangat disayangkan, para pejabat Dinas Kesehatan Provinsi Jabar yang berkali-kali dikonfirmasi Medikom berkenaan dengan pengolahan limbah medis, belum bisa memberikan keterangan. Barangkali, rigidnya birokrasi masih menjadi kendala untuk dapat memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat. (Wulan, Mbayak Ginting, Fauzy, Dadan)

PPAS 2011 Diluncurkan
BANDUNG, Medikom–Jumlah anggaran APBD Provinsi Jabar Tahun 2011 diperkirakan menurun dibandingkan dengan tahun 2010 dari Rp9,55 triliun (termasuk dana silpa Rp1,8 triliun) menjadi Rp9,2 triliun (termasuk dana Silpa sebesar Rp748,8 miliar). Anggaran belanja pegawai yang masuk pos belanja tidak langsung meningkat jumlahnya sebesar 0,45 triliun, dari Rp1,6 triliun pada APBD 2010 menjadi Rp2,05 triliun pada RAPBD 2011. Dalam RAPBD 2011, pendapatan murni Pemprov Jabar diprediksi sebesar Rp8,44 triliun, dan dana silpa Rp784,8 miliar, sehingga total pendapatan menjadi Rp9,2 triliun. Perolehan itu didapat dari pendapatan asli daerah (PAD) sebeesar Rp6,5 triliun, dana perimbangan Rp1,9 triliun, lain-lain pendapatan sah Rp12,1 miliar. Sementara pos pengeluaran belanja tidak langsung mencapai Rp4,6 triliun, terdiri dari belanja pegawai Rp2,05 triliun, belanja subsidi Rp12 miliar, belanja hibah Rp50 miliar, bansos Rp40 miliar, belanja bagi hail Kab/Kota Rp2,34 triliun, bantuan keuangan Rp100 miliar, belanja tidak terduga Rp50 miliar. Sementara nilai pos belanja langsung adalah sebesar Rp3,09 triliun. Hal tersebut terungkap dalam Rancangan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Rancangan Program Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD Provinsi Jawa Barat 2011. Ketua DPRD Jabar Ir Irfan Suryanegara saat Penyampaian KUA dan Rancangan PPAS APBD Provinsi Jawa Barat 2011 oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan baru-baru ini mengungkapkan, Rancangan KUA dan PPAS 2011 berdasarkan Permendagri No. 59/2007 harus sudah disampaikan kepada DPRD paling lambat pertengahan bulan Juni dan disepakati paling lambat akhir bulan Juli tahun berjalan. Sementara penyampaian pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tahun 2009, disampaikan paling lambat enam bulan setelah tahun anggaran berakhir (bulan Juni tahun berjalan) dan mendapat persetujuan bersama paling lama satu bulan terhitung sejak Raperda diterima sesuai Permendagri No. 13/2006. Rancangan KUA dan PPAS 2011 dan Perubahan APBD TA 2010 disampaikan minggu pertama bulan Agustus tahun berjalan dan disepakati minggu kedua bulan Agustus tahun berjalan. Sedangkan RAPBD Perubahan disampaikan paling lambat minggu kedua bulan September dan mendapat persetujuan bersama paling lambat tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir. Selanjutnya RAPBD 2011, disampaikan paling lambat minggu pertama bulan Oktober dan Persetujuan Bersama paling lambat satu bulan sebelum tahun anggaran berakhir (bulan November). dan hal itu harus menjadi perhatian dan komitmen bersama Pemerintah Provinsi dan DPRD Provinsi Jawa Barat. Irfan juga mengemukakan bahwa sesuai dengan mekanisme, maka pembahasan akan dilakukan di internal DPRD bersama Kepala Daerah, yang keduanya dalam hal ini diwakili oleh Bangar DPRD Provinsi Jawa Barat dan (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) TAPD. Di internal DPRD terlebih dahulu dibahas di komisi-komisi, selanjutnya KUA dan PPAS akan dibahas oleh Bangar dan TAPD. Belanja pegawai meningkat Meski sejak 1 Januari 2010 Pemprov Jabar sudah menerapkan sistem penggajian pegawai dengan Insentif Berbasis Kinerja (IBK) yang tujuannya menghemat anggaran, namun terlihat pada RAPBD 2011, pos belanja tidak langsung untuk belanjapegawai meningkat sebesar Rp0,45 triliun. Anggota Komisi A DPRD Jabar Deden Darmansah kepada wartawan menjelaskan, soal peningkatan belanja pegawai ini kini menjadi sorotan Komisi A DPRD Jabar. Secara logika, seharusnya sistem IBK tersebut dapat menurunkan ongkos belanja pegawai pada pos belanja tidak langsung. Sementara itu, dari segi PAD, pada RAPBD 2011 ada kenaikan dibandingkan dengan APBD 2010, yakni menjadi Rp6,5 triliun, dari sebelumnya Rp5,6 triliun. (IthinK)

Gandeng Perusahaan Swasta
UNTUK menelusuri pengolahan limbah rumah sakit di wilayah Jawa Barat, Medikom mencoba menelusuri sistem pengolahan limbah di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dan RSUD Ujungberung Kota Bandung. Menurut Kepala Instalasi Kesehatan Lingkungan RSHS Maudy Dirgahayu baru-baru ini, RSHS sangat peduli dalam pengolahan limbah medis. Apalagi letak RSHS berdekatan dengan permukiman penduduk. Oleh karena itu, pengolahan limbah medis padat RSHS dikerjasamakan dengan perusahaan pengolah limbah PT Jasa Medivest. Soalnya, pengolahan limbah medis padat dengan insinerator sudah tidak memungkinkan dilakukan di lingkungan gedung RSHS. Corong asap insinerator yang berdekatan dengan pemukiman berpotensi mengganggu masyarakat. Atas dasar tersebut, RSHS lebih memilih bermitra dengan perusahaan pengolah limbah yang lokasinya jauh dari permukiman penduduk. “Untuk memastikan pengolahan limbah medis padat ini dengan benar, kami juga memantau proses pengolahan limbah tersebut di lokasi perusahaan (di Karawang, red). Pemantauan ini untuk memastikan proses pengolahan limbah medis padat RSHS ini tidak akan membahayakan masyarakat,” ujar Maudy. Agar limbah medis padat RSHS tidak sampai didaur ulang kembali, Maudy menegaskan, pihaknya bekerja sama dengan semua unit kerja di RSHS. Mulai dari sumber awal limbah medis padat di tiap-tiap unit kerja RSHS, limbah tersebut sudah dipilah-pilah, kemudian dikemas sehingga tidak jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab. Kemudian limbah yang sudah dikemas, dikemas kembali oleh perusahaan pengolah limbah untuk dibawa ke tempat pengolahan. Jumlah limbah medis padat RSHS ini rata-rata 250-350 kg/hari. Sedangkan untuk limbah cair, Maudy menegaskan, RSHS dari dulu sudah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Jadi dengan IPAL ini, RSHS mengolah sendiri limbah cairnya. Limbah cair terdiri dari limbah domestik RSHS dan limbah medis cair. Rata-rata setiap hari jumlah limbah cair RSHS mencapai 750 m³, dan 25% dari limbah tersebut merupakan limbah medis cair. Sementara di RSUD Ujungberung Kota Bandung, menurut Asep Ali Kudus, Kasi Pemeliharaan dan Pemulasaran RSUD Ujungberung, kebijakan pengelolaan limbah medis rumah sakit tertuang dalam SK Direktur Rumah Sakit se Kota Bandung No 007/1238 a-RSUD 2010 tentang Kebijakan Pengelolaan Kesehatan Lingkungan RSUD Kota Bandung. Sesuai dengan ketentuan yang ada, pemisahan antara sampah tajam dan sampah medis dikumpulkan di TPS seluas 9 kubik dengan volume 300 kg/bulan. Pelaksanaannya melibatkan pihak swasta, PT Wastec Internasional untuk limbah medis. Budget yang disediakan Rp6.000-6.500/kg per satu kali pengangkutan. RSUD Ujungberung, jelas Asep, berpijak pada standar SOP. Di setiap tempat atau ruang tindakan disediakan wadah limbah padat yang terkontaminasi ataupun nonkontaminasi. Tapi hanya baru dua jenis yang dipisahkan, yaitu limbah tajam dan yang terkontaminasi, contoh jarum suntik. Sedangkan limbah cair ditangani oleh IPAL (instalasi pengolah air limbah), kecuali bekas cairan cucian dari laboratorium. Dikatakan, limbah B3 (berbahaya, berbau, dan beracun) yang dihasilkan oleh rumah sakit seperti ampul pecah atau jarum suntik dan organ tubuh. Wadah yang berwarna kuning untuk limbah medis dan yang warna hitam untuk limbah domestik seperti sampah-sampah pengunjung atau kertas-kertas yang tidak terkontaminasi. Dan limbah domestik dipisah antara organik dan non organik untuk dijadikan kompos sesuai dengan program Adipura. Petugas pengambil limbah B3 yaitu cleaning service dilatih dan dilengkapi dengan APD (alat pelindung diri) seperti masker dan sarung tangan. Sementara petugas pengontrol limbah datang dari BPLH baik kota maupun provinsi dengan tim khususnya mengontrol rumah sakit-rumah sakit. Namun mereka hanya “rajin” pada event Adipura. RSUD bersertifikat akreditasi tahun 2007 ini mengklaim sudah memenuhi protap dan dasar hukum yang ada terkait dengan pengendalian limbah medis. “Kita ada audit internal untuk masalah limbah dan audit eksternal dari PT Side Global enam bulan sekali dan meraih ISO 9000:1 tahun 2008,” ujar Asep di ruang kerjanya kepada Medikom, Rabu (14/7). (Wulan, Mbayak Ginting)

Limbah Medis Harus Diolah
Kemajuan teknologi semakin canggih. Kehidupan seharihari manusia pun tidak dapat lepas dari ketergantungan terhadap berbagai bahan kimia yang semakin bertambah banyak dari segi jumlah dan jenisnya. Bahan kimia tersebut terkandung dalam produk-produk yang digunakan manusia seperti hasil pertanian dan peternakan, makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, tekstil, dan sebagainya. Pada dasarnya penggunaan bahan kimia dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan manusia, namun tidak dapat dipungkiri adanya dampak negatif dari bahan kimia tersebut.
Berbagai bahan kimia yang beredar di pasaran dan terkandung dalam produk-produk konsumsi umum berpotensi menjadi limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Pengelolaan limbah B3 di Indonesia merujuk pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 juncto Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 85 Tahun 1999 (PP 18/99 jo PP 85/99) tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Peraturan ini menyatakan bahwa yang dimaksud dengan limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena sifat dan konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia, serta makhluk hidup lain. Limbah yang termasuk ke dalam limbah B3 adalah limbah yang memenuhi salah satu atau lebih karakteristik mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, limbah lain yang apabila diuji dengan metode toksikologi dapat diketahui termasuk dalam jenis limbah B3. Peraturan ini menyebutkan bahwa jenis limbah B3 menurut sumbernya meliputi limbah B3 dari sumber tidak spesifik, limbah B3 dari sumber spesifik, dan limbah B3 dari bahan kimia kedaluwarsa, tumpahan, bekas kemasan, dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi. Dari penjelasan di atas terlihat bahwa limbah B3 dihasilkan dari berbagai sumber yang secara umum terbagi atas sektor industri dan non industri. Dengan demikian, limbah B3 perlu mendapat perhatian khusus dan harus dikelola secara terpadu karena melibatkan berbagai sektor. Secara teknis operasional, pengelolaan limbah B3 menurut PP 18/99 jo PP 85/99 merupakan rangkaian kegiatan mulai dari upaya reduksi limbah yang akan terbentuk sampai terbentuknya limbah oleh penghasil. Rantai berikutnya adalah pemanfaatan limbah oleh pemanfaat, pengumpulan limbah oleh pengumpul, pengangkutan limbah oleh pengangkut, dan pengolahan atau penimbunan limbah oleh pengolah. Kegiatan tersebut berkaitan erat dengan berbagai pihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan limbah B3. Setiap mata rantai memerlukan pengawasan dan pengaturan. Aspek pengawasan dan sanksi juga diatur dalam peraturan tersebut. Badan yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi pengelolaan limbah B3 di Indonesia adalah Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal). Perjalanan limbah dalam rantai pengelolaan wajib disertai dengan dokumen. Dokumen limbah memegang peranan penting dalam memantau perjalanan limbah B3 dari penghasil limbah B3 sampai ke pengolah limbah-limbah B3. Dokumen tersebut dibuat dalam rangkap tujuh dan merupakan sarana pemantauan yang menyerupai konsep cradle to grave. Lembar pertama disimpan pengangkut limbah B3 dan ditandatangani penghasil limbah B3 (pengirim). Lembar kedua dikirim kepada Bapedal setelah ditandatangani pengangkut limbah B3. Lembar ketiga disimpan penghasil atau pengumpul limbah B3 setelah ditandatangani pengangkut limbah B3. Lembar keempat diserahkan oleh pengangkut limbah B3 kepada pengumpul atau pengolah limbah B3. Lembar kelima dikirimkan kepada Bapedal oleh pengumpul atau pengolah limbah B3. Lembar keenam dikirimkan pengangkut limbah B3 kepada bupati atau wali kota setelah ditandatangani penerima. Selanjutnya lembar terakhir dikirimkan kembali oleh pengolah limbah kepada penghasil. Peraturan lain yang turut mengatur pengelolaan limbah B3 di Indonesia adalah Keputusan Bapedal seperti Keputusan Kepala Bapedal No 2 Tahun 1995 tentang Dokumen Limbah B3. Pasal 1 Keputusan Kepala Bapedal No 2 Tahun 1995 menyebutkan bahwa dokumen limbah B3 adalah surat yang diberikan pada waktu penyerahan limbah B3 untuk diangkut dari lokasi kegiatan penghasil ke tempat penyimpanan di luar lokasi kegiatan dan atau pengumpulan dan atau pengangkutan dan atau pengolahan limbah B3 dan atau pemanfaatan limbah B3 serta penimbunan hasil pengolahan. Pasal 3 dari keputusan ini menyatakan bahwa badan usaha yang melakukan pengolahan limbah B3 wajib mengajukan permohonan kepada Kepala Bapedal untuk mendapatkan nomor registrasi terlebih dahulu sebelum dokumen limbah B3 dipergunakan dengan melampirkan izin pengelolaan limbah B3. Pengelolaan limbah B3 hanya boleh dilakukan oleh pihak yang sudah mendapat izin dari pemerintah. Berdasarkan landasan hukum di atas, maka setiap industri penghasil limbah B3, pengangkut limbah B3, dan pemanfaat limbah B3 diwajibkan melaporkan kegiatannya kepada instansi terkait dalam bentuk neraca limbah B3, manifest limbah B3, dan izin yang telah diberikan sebelumnya. Dokumen tersebut berisi data timbulan limbah B3 yang dihasilkan, disimpan, diangkut, dan dikelola. Dari sekian banyak sumber penghasil limbah B3 itu, salah satunya adalah rumah sakit. Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair, dan gas. Limbah padat rumah sakit adalah semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non-medis. Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi. Sementara limbah padat nonmedis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman, dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya. Sedangkan limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan. Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan pembakaran di rumah sakit seperti insinerator, dapur, perlengkapan generator, anastesi, dan pembuatan obat citotoksik. Limbah infeksius adalah limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan. Limbah sangat infeksius adalah limbah berasal dari pembiakan dan stock bahan sangat infeksius, otopsi, organ binatang percobaan dan bahan lain yang telah diinokulasi, terinfeksi atau kontak dengan bahan yang sangat infeksius. Limbah sitotoksis adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi dari persiapan dan pemberian obat sitotoksis untuk kemoterapi kanker yang mempunyai kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel hidup. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan 1204/Menkes/SK/X/ 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, limbah rumah sakit tersebut harus diolah sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia. (IthinK)

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

Hukum
Gedung PN Depok Beraroma Septictank
DEPOK, Medikom–Sudah lama bau tak sedap menyebar di gedung Pengadilan Negeri (PN) Depok di kawasan Kota Kembang Depok. Aroma busuk itu menyebar hampir di seluruh bagian gedung berlantai dua tersebut. Bau menyengat itu sangat terasa di dekat petugas piket dan ruang tunggu para pembezuk tahanan yang akan disidang karena di tempat tersebut terdapat dua ruang tahanan untuk para tahanan menanti giliran untuk disidang. Penyebab bau yang sangat mengganggu para pengunjung PN Depok tidak lain karena adanya septictank di taman yang sangat rendah lubang anginnya. Akibatnya dapat ditebak, aroma tak sedap hampir setiap hari menyebar di kantor PN Depok yang di Ketuai H Dwiarso Budi Santiarto SH MHum itu. Keluhan diutarakan Yeni Rosmaida (50), warga Bedahan, Sawangan Depok, yang tengah membezuk kerabatnya yang akan disidang. “Setiap bezuk pasti deh saya mencium bau dari septictank, saya rasa para pengunjung lain merasakan hal yang sama, apalagi kalau ada angin pasti orang-orang di sini tutup hidung,” ujarnya, Rabu (14/7). Entah mengapa pihak pengelola gedung PN membiarkan suasana tidak baik ini berlangsung lama. “Bukankah ini menyangkut pelayanan kepada masyarakat juga,” ungkap Yeni lagi. Sayangnya, saat wartawan ingin menanyakan hal tersebut, seperti biasa Ketua PN Depok sangat sibuk dan tidak dapat ditemui. “Bapak sedang sibuk tidak dapat diganggu,” ujar petugas di ruang Ketua PN Depok. (Lucy/Fr Ambarita)

4

Pedagang Pasar Kawali Datangi DPRD Ciamis
CIAMIS, Medikom-Diduga akibat jengkel dengan ulah toko sandang Setia yang melakukan penjulan sandang di bawah standar harga pasar, sejumlah pedagang sandang yang ada di Pasar Kawali, Jumat (16/ 7), mendatangi gedung DPRD Kabupaten Ciamis. Dalam tuntutannya, mereka meminta DPRD, dalam hal ini Komisi II, agar bisa menghentikan aktivitas penjulan sandang yang selama ini dilakukan toko Setia. Para pedagang menganggap, akibat ulah toko tersebut menjual barang sandang eceran di bawah harga pasar, sedikitnya 180 pedagang sandang di Pasar Galuh Kawali, Kabupaten Ciamis, ditinggal pelanggan. Demikian dikatakan, Jajang (34), salah satu pedagang sandang di Pasar Galuh Kawali Ciamis, saat audiensi bersama Komisi II di aula DPRD Kabupaten Ciamis, Jumat pekan kemarin. Menurut Jajang, kehadiran toko sandang Setia telah secara langsung membuat mati pemilik toko sandang yang ada di Pasar Galuh Ciamis. “Bagaimana kami tidak mati, hargaharga eceran pakaian, celana, dan sandang lainnya dijual oleh toko Setia dengan harga grosir. Sekedar untuk diketahuai saja, untuk jenis kerudung yang mereknya sama, kami membelinya dari grosir Rp11.000 per kerudung, sementara toko Setia sanggup menjualnya seharga Rp10.000 per kerudung. Dengan begitu kami pedagang kecil jelas ditinggalkan konsumen,” terangnya. Dirinya bersama 180 pedagang sandang yang ada di Pasar Galuh Ciamis, lanjutnya, meminta kepada Komisi II DPRD, agar bisa menindak lebih cepat toko tersebut. “Ya, tentunya dengan mencabut izin toko itu untuk berjualan sandang. Mengingat kalau toko itu tetap masih berjualan sandang, kami pemodal kecil bisa gulung tikar,” akunya. Hal senada dikatakan pedagang lainnya, Kokom (36), yang mengaku jengkel dengan hadirnya toko tersebut. “Mengingat, dengan spekulasi menjual barang-barang sandang eceran di bawah harga pasar, kios-kios pakaian Pasar Kawali ditinggal pembeli. Biasanya, awal masuk Lebaran sedikitnya kami akan dikerumuni pembeli. Sementara untuk musim masuk sekolah sekarang, kami sama sekali tidak dilirik pembeli,” jelasnya, seraya menambahkan, harapan terakhir Komisi II DPRD bisa membantu memecahkan masalahnya. Menanggapi tuntutan para pedagang sandang di Pasar Galuh Kawali tersebut, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Ciamis, Ahmad Irfan Alawi menegaskan, pihaknya akan segera melakukan tinjauan ke lokasi. Dan apabila toko Setia tersebut melakukan monopoli harga, pihaknya tidak akan segan-segan untuk menindak. “Mudahmudahan sebelum Ramadhan, konflik ini akan segera selesai. Dan kalau pun toko tersebut tidak bersedia mengalihkan jualan sandangnya, setidaknya harga jualnya harus sejajar dengan tokotoko pakaian yang ada di areal pasar Kawali,” jelasnya. Diakui Irfan, pihaknya tidak akan membiarkan pedagang dengan modal kecil mati. Dengan, begitu secepatnya pihaknya akan membereskan konflik tersebut. (Herz)

Penetapan Eksekusi Pengosongan Dipertanyakan Pengacara
BANDUNG, MedikomDikeluarkannya penetapan eksekusi pengosongan dan penyerahan objek tanah dan bangunan di Jalan Dr Junjunan No 86 Bandung oleh Pengadilan Negeri Bandung (PNB) dipertanyakan pengacara Purnama Sutanto SH, selaku pengacara Termohon Eksekusi. Penetapan Wakil Ketua PNB No 24/Pdt/Eks/2010/Put/PN.Bdg tertanggal 5 Juli 2010 itu dinilai tidak mencerminkan keadilan dan kepentingan kebenaran hukum yang hakiki. Oleh karena itu, tuturnya kepada Medikom, Selasa (13/7), selaku pengacara mewakili Termohon Itok Setiawan, dia meminta perlindungan hukum kepada Ketua Pengadilan Tinggi Bandung (PTB) sekaligus penangguhan pelaksanaan penetapan eksekusi paksa tersebut. Dikatakan Purnama, penetapan eksekusi yang merujuk hanya pada putusan perdata, tanpa mempertimbangkan proses persidangan pidana yang sedang berjalan di PN Bandung, sangat beralasan untuk ditinjau demi kepentingan dan wibawa hukum. Sebab alas hak Pemohon Hj Oyoh dkk, berupa surat segel yang menjadi dasar eksekusi berdasarkan putusan perdata No 213/Pdt/G/2007/ PN.Bdg Jo No 284/Pdt/2008/ PT.Bdg jo No 607 K/Pdt/2009 diduga kuat palsu. Oleh karena itu proses persidangannya dalam dua berkas perkara pidana: PDM570 - 571/BDUNG/05/2010 yang sedang berjalan dipimpin majelis hakim PN Bandung yang diketuai Made Sukadana SH MH, menurutnya, harusnya dipertimbangkan dengan mengeluarkan penangguhan eksekusi dalam perkara perdata demi kepentingan hukum publik dan bukan hukum privat. Fakta hukum tentang dugaan surat palsu diajukan sebagai dasar gugatan perdata itu, seperti diterangkan dalam surat dakwaan jaksa, bahwa Terdakwa Hj Oyoh, dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan yang menimbulkan kerugian. Perbuatan Para Terdakwa, terang kuasa Saksi Pelapor (Korban), itu didakwa dengan ketentuan Pasal 263 ayat (2) jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Surat segel tanggal 10 Desember 1936 itu, tutur Purnama, sudah pernah dipergunakan Para Terdakwa saat gugatan di PTUN Bandung, yang ternyata dimodali Sabas Gunawan untuk suatu kepentingan: nantinya hendak dibeli. Meski begitu, gugatan pembatalan sertifikat itu ditolak. Akhirnya dimenangkan kliennya, sebagai pemilik yang sah, hingga putusan berkekuatan hukum tetap. “Namun, berbekal surat segel itu, Para Terdakwa yang mengklaim objek tanah yang menjadi milik Itok Setiawan itu berdasarkan SHM No 174–175 kepunyaan ahli warisnya, kembali mengajukan gugatan perdata ke PN Bandung hingga kasasi yang dimenangkan Para Terdakwa,” papar pengacara yang akrab disapa Ivan ini. Surat segel itu, berdasarkan berita acara pemeriksaan laboratorium forensik dalam surat No.Lab:361/ DCF/2008 tertanggal 12 Maret 2008, ditemukan sejumlah keganjilan. “Di antaranya seperti produk cetak berbeda sebagaimana dokumen pembanding tentang kertas segel yang bermaterai Zagel Van Ned Indie 1 ½ G tahun 1936 tanggal 10 Desember 1936. Begitu juga surat tanda terima setoran (STTS) tahun 1993,” tegas advokat itu, mengkritisi penetapan PN Bandung yang mestinya berpihak kepada kebenaran hukum materiil, yakni menunggu perkara pidana sampai inkracht baru ditetapkan kebijakan PN Bandung. Menanggapi keberatan dari Termohon Eksekusi, Wakil Ketua PN Bandung Joko Siswanto SH, menilai itu wajar saja. Tetapi sesungguhnya, penetapan eksekusi pengosongan itu dilakukan untuk kepentingan hukum. Sebab menurutnya, PN Bandung harus mengeksekusi putusan perdata yang sudah berkekuatan hukum tetap. Tidak ada aturan mengharuskan menunggu putusan pidana, sebab dinilai berbeda. Meski demikian, penangguhan juga bisa juga ditempuh. Ditambahkannya, penetapan eksekusi dikeluarkannya sebagai keputusan dan kebijakan PN Bandung melanjutkan penetapan yang dikeluarkan Ketua PN Bandung (H Kresna Menon SH MHum) dengan acara peringatan atau aanmaning untuk Termohon Eksekusi untuk mengosongkan objek tanah dan bangunan itu. Dengan demikian, Joko meyakini penetapan eksekusi pengosongan ini sudah benar untuk menjamin kepastian hukum, yaitu dengan mengeksekusi putusan perkara perdata yang sudah berkekuatan hukum tetap. Hingga berita ini diturunkan, Sabtu (17/7), Medikom belum berhasil mendapat tanggapan dari Ketua PT Bandung H Suwardi SH, mengenai polemik dan permintaan perlindungan hukum dari Termohon Eksekusi. Menurut stafnya, Ketua PT Bandung masih mempelajari kasus atau permohonan itu. Secara terpisah, dalam perkara pidana Terdakwa Amin, dan Terdakwa Hj Oyoh, pengacaranya Singap A Pandjaitan SH MH dan Boyke Lumbansiantar SH, keberatan atas surat dakwaan jaksa. Sebab sesungguhnya dakwaan, atau perkara pidana, ini tidak bisa menggugurkan alas hak kepemilikan yang sudah diuji hingga tingkat kasasi di MA. Upaya pidana dari Termohon, katanya, sesunguhnya hanya upaya penangguhan eksekusi yang tidak beralasan secara hukum. Dengan demikian, penetapan eksekusi pengosongan yang sudah dikeluarkan PN Bandung tanggal 5 Juli 2010 harus segera dilaksanakan. Sebab tidak ada hubungannya dengan perkara pidana. “Apalagi objek yang diklaim milik Itok itu bukan pada objek milik ahli waris pada Terdakwa,” tegas Boyke di ruang persidangan utama PN Bandung. Selanjutnya JPU diberikan kesempatan seminggu oleh majelis hakim yang diketuai Made Sukadana SH MH untuk menjawab keberatan atau nota eksepsi para pengacara terdakwa, dengan jadwal, Selasa (20/7). (Zaz)

Pesta Minuman Keras Renggut Korban Jiwa
INDRAMAYU, Medikom–Pesta minuman keras dengan merenggut korban jiwa kembali terjadi. Kali ini korbannya adalah Irfandi (24), warga Desa Bogor, Kecamatan Sukra, Indramayu. Selain menewaskan Irfandi, pesta miras juga mengakibatkan Tarmudi (19) mengalami kritis dan tujuh lainnya masih dalam perawatan RSU Sentot Patrol Sukra. Diduga kematian korban akibat mengonsumsi alkohol murni berkadar 70 persen yang dioplos minuman segar bersoda ditambah Chiu (minuman keras tradisional) bersama rekannya. Korban tewas siang tadi, oleh keluarganya telah dikebumikan di tempat pemakaman umum desa setempat. Keterangan yang berhasil dihimpun Medikom Jumat (16/7) menyebutkan, peristiwa bermula saat korban menggelar pesta miras bersama beberapa orang rekan korban di sebuah rumah kosong pada Rabu pekan kemarin atau dua hari sebelum tragedi. Menurut Emi Suhaemi, ibu korban, dirinya tidak menduga jika anaknya meninggal karena oplosan miras maut. Ia hanya mengetahui kalau malam itu anaknya pulang ke rumah dalam keadaan tidak sadar. Namun beberapa saat kemudian, Irfandi mengeluh sakit perut pusing dan muntah-muntah. Melihat kondisi ini, lantas orang tua membawa Irfandi ke RSU Sentot untuk mendapatkan perawatan secara intensif. Kepada wartawan, dokter jaga RSU Sentot membenarkan peristiwa tersebut. Dia menjelaskan, para korban diduga mengalami intoksikasi (keracunan) alkohol. “Kita sudah berusaha untuk memberikan pertolongan kepada korban, namun sayang nyawanya tidak bisa tertolong. Sedangkan yang selamat sampai saat ini masih dalam perawatan intensif RSU Sentot,” ujarnya. (H YF)

Vonis Tidak Sesuai Harapan

Jaksa Bingung, Pelaku Judi Bola Kecewa
BANDUNG, Medikom-Terdakwa Torkis Dunan Hutajulu kecewa dan sempat mengucapkan kata-kata kotor. Hal itu terjadi usai persidangan yang beragendakan putusan di ruang IV Pengadilan Negeri Klas IA Bandung. Sidang perkara ini dipimpin oleh majelis hakim R Matras Supomo SH (ketua), I Gusti Lanang Dauh SH, dan Arifin SH. Tak ayal, usai mendengarkan vonis yang dijatuhkan kepada suaminya, sang istri juga spontan mencucurkan air mata. Kecewa. Begitu juga kerabatnya, langsung menelepon seseorang untuk mengkonfirmasi hasil putusan, ternyata vonisnya enam bulan penjara. Kekecewaan terdakwa dan keluarganya terhadap vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim terlihat jelas. Diduga ada kesepakatan yang tidak tercapai. Terbukti terdakwa saat divonis enam bulan penjara. Mereka terlihat menggerutu dan cemberut saat mendengarkan putusan vonis. Walaupun vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa lebih ringan dari tuntutan jaksa Rika SH yang menuntutnya dengan hukuman 10 bulan penjara karena melanggar Pasal 303 bis ayat (2) KUHP. Jaksa maupun hakim yang menyidangkan perkara terdakwa Torkis Dunan Hutajulu berpendapat sama. Baik dalam tuntutan maupun amar putusan menyatakan terbukti terdakwa melakukan tindak pidana perjudian sebagaimana tercantum dalam Pasal 303 bis. Namun, berdasarkan keterangan terdakwa dalam persidangan lalu, terdakwa mengakui sebagai bandar (mengkoordinir) dalam permainan judi bola melalui jaringan internet. Caranya dengan menampung para pemasang untuk menaruh deposit sejumlah uang melalui rekening. Para pemasang yang menentukan pilihan ataupun jagoannya serta berapa jumlah uang yang akan dipertaruhkan selama pertandingan bola Piala Dunia 2010. “Apabila jagoannya menang, maka deposit yang disimpan akan bertambah,” terang terdakwa di depan majelis hakim. Berdasarkan aturan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, perbuatan terdakwa tidak terdapat pada Pasal 303 bis, melainkan ditemukan dalam Pasal 303 KUHP. Hal itu sebagaimana dituturkan seorang praktisi hukum saat dihubungi melalui telepon selulernya. Dikatakan bahwa Pasal 303 bis hanya dikenakan untuk mereka yang melakukan perjudian semata-mata untuk iseng, dan bukan untuk mata pencaharian. Pasal 303 bis ayat (1) menyatakan barangsiapa menggunakan kesempatan main judi yang diadakan dengan melanggar ketentuan Pasal 303, ayat (2) barangsiapa ikut serta main judi di jalan umum atau di pinggir jalan umum atau di tempat yang dapat dikunjungi umum, kecuali kalau penguasa yang berwenang telah memberi izin untuk mengadakan perjudian itu. Namun, bagi bandar atau pun yang menyediakannya, maka Pasal 303 KUHP yang seharusnya dikenakan, dengan ancaman maksimal 10 tahun tahun atau pidana denda paling banyak Rp25 juta. Sedangkan Pasal 303 bis ancaman hukuman maksimalnya 4 tahun. (IWAN)

Hari Adhyaksa Ke 50, Momentum Reformasi
BANDUNG, Medikom-Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) kejaksaan guna mendukung reformasi birokrasi menjadi kebijakan strategis Kejaksaan Republik Indonesia. Menurut Jaksa Agung Hendarman Supandji SH, kebijakan itu sebagai upaya untuk mengubah citra kejaksaan selaku penegak hukum. Peringatan Hari Bakti Adhyaksa (HBA) Ke 50 yang dirayakan pada hari Kamis (22/7), menjadi momentum penting untuk meningkatkan citra sebagai penegak hukum yang bersih dan berwibawa. Dalam peningkatan kinerja dan reformasi birokrasi, katanya, ada rotasi, baik mendapat promosi atau mutasi jabatan atau karier, yang dimaksudkan untuk penyegaran birokrasi. Perencanaan karir SDM yang matang ditujukan bagi optimalisasi kinerja dalam memberikan pelayanan terbaik dalam bidang hukum. “Dengan demikian, untuk menggelola SDM itu senantiasa mesti diperhatikan aspek penyegaran, prestasi dan inovasi,” kata Jaksa Agung, dalam siaran pers yang diterima Medikom, baru-baru ini. Pernyataan senada dikemukakan Kajati Jabar H Soegiyanto SH MH, bahwa amanat Jaksa Agung itu menjadi tema HBA Ke 50. Dalam keterangannya melalui Kasipenkum Kejati Bandung Suryo Atmono SH, kepada Medikom, Jumat (16/7), disebutkan bahwa perayaan pada tahun ini ditetapkan sebagai momentum membangun kepercayaan masyarakat terhadap Kejaksaan RI melalui pelaksanaan reformasi birokrasi. Berdasarkan laporan tahunan Komisi Kejaksaan, pada tahun 2009 terdapat 431 laporan masyarakat yang ditindaklanjuti kejaksaan dengan 284 rekomendasi yang terkait kinerja dan keluhan terhadap perilaku jaksa dan pegawai tata usaha kejaksaan. Sepanjang tahun 2009, bukti keseriusan dalam reformasi birokrasi, Kejaksaan Agung telah memberhentikan 5 jaksa dan 15 pegawai tata usaha kejaksaan. Sedangkan kepada 66 orang jaksa dan pegawai TU lainnya, telah diberikan ganjaran hukuman berat seperti penurunan pangkat selama setahun, pembebasan jabatan fungsional jaksa dan pembebasan jabatan struktural. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Didiek Darmanto SH mengatakan peningkatan pengawasan terhadap jaksa dan pegawai tata usaha akan dilakukan lebih melekat. Bentuk pengawasan langsung secara melekat dilakukan oleh atasannya langsung. Secara lembaga, pengawasan melalui eksaminasi khusus dipimpin oleh Direktur Upaya Hukum Eksekusi dan Eksaminasi. Eksaminasi akan dilakukan setiap ada laporan dugaan pelanggaran yang dilakukan seluruh jajaran kejaksan, sehingga pengawasan fungsional terus berjalan. Peran dan partisipasi yang selama ini sudah terjalin, tambahnya, mesti dioptimalkan dengan turut serta secara aktif mengawasi perilaku jaksa dan pegawai tata usaha kejaksaan. Hal itu dengan harapan perilaku menyimpang yang selama ini masih terjadi, bisa menurun secara drastis. Zaz)

Hakim PNB Raih Doktor Hukum Lingkungan
BANDUNG, Medikom-Penyelesaian jalur pidana harus jadi pilihan terakhir terhadap perbuatan pidana formil tertentu dalam kasus hukum lingkungan. Semangat UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) itu sejalan dengan ketentuan UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) yang memiliki delik formil lebih bersifat umum dengan mengedepankan penegakan hukum pidana adalah jalur terahir. Perbedaan dua aturan perundang-undangan dalam delik formil itu diteliti Syahrul Machmud SH MH, dalam disertasi doktornya yang berjudul “Problematika Penerapan Delik Formal pada Penegakan Hukum Pidana Lingkungan di Indonesia”. Disertasi itu akhirnya bisa dipertanggungjawabkan dengan baik disertai catatan ada penyempurnaan, Kamis (15/7), pada sidang terbuka Program Doktor Ilmu Hukum Unisba Bandung. Tim penguji ujian promosi diketuai Prof Dr dr M Taufik Siddig Boesoiri MS SP THT KL (K) beranggotakan Prof Dr H Toto Tohir SH MH, Prof Dr HE Saefullah W SH LLM, Prof Dr Dey Ravena SH MH, Dr Syamsuharya Bethan SH MH, Prof Dr Edi Setiadi SH MH dan Prof Dr Mella Ismelina FR SH MH. Dikatakan, perbuatan atau delik formil tertentu yang harus diselesaikan dengan jalur hukum administrasi negara itu, harus dipatuhi aparat penegak hukum, termasuk hakim yang menyidangkannya. “Asas subsidairitas yang dimaknai penegakan hukum pidana diganti dengan asas ultimum remedium, yaitu jalur pidana adalah upaya terakhir menunggu penegakan hukum administrasi dinyatakan gagal. Delik formil tertentu itu, yaitu pelanggaran baku mutu air limbah, emisi dan gangguan,” tegas hakim PN Bandung yang resmi menjadi doktor hukum tersebut. Metode pendekatan secara deskriftif dan preskriftif dilakukan dengan memperoleh bahan atau data primer, sekunder dan tersier, dan studi lapangan, dengan serangkaian studi lapangan terhadap aparat penegak hukum, termasuk hakim, dengan kesimpulan penerapan aturan subsidairitas masih belum jelas. “Hasil penelitian menunjukkan masalah penerapan delik formil sebagai upaya terakhir melalui jalur pidana masih sangat sumir dan abstrak. Asas subsidairitas tidak ada aturan secara detail, sehingga bermasalah dalam operasional atau implementasi delik formil,” tegas mantan Ketua PN Sekayu Sumsel ini, seraya menambahkan, bahwa Jaksa Agung sudah mengeluarkan instruksi tentang asas subsidairitas, tetapi dalam implementasi sering diabaikan. Kesimpulan dari disertasi itu, dia usulkan harus ada prosedur tetap dalam penanganan delik formal, baik dengan asas subsidairitas dan ultimum remedium.Jangan sampai dalam implementasinya tidak dilakukan aparat penegak hukum. Secara substansi ketentuan hukum lingkungan yang baru delik formilnya yang bersifat tertentu saja, berbeda dengan ketentuan sebelumnya yang lebih bersifat umum. (Zaz)

Rintihan Istri Korban Kecelakaan
BANDUNG, Medikom-Ny Marlinah, menuntut keadilan atas perbuatan yang dilakukan Terdakwa Deddy Muhamad Supriyadi (DMS). Tuntutan keadilan disampaikan istri dari korban tabrak (meninggal) itu sejak ditangani penyidik kepolisian. Dengan berlinang air mata, tuntutan dan harapan itu kembali diutarakan istri korban (Alm) Diana Suwartriadi, didampingi pengacaranya R Willy Boyke SH MH dan Achmad Suhendar SH, Jumat (16/7), seperti diungkapkan kepada Medikom. Pertama, akibat tabrakan yang dilakukan Terdakwa, dia harus kehilangan tumpuan keluarganya. Apalagi kala penyidikan, Terdakwa tidak ditahan. Padahal perbuatan terdakwa itu berakibat tragis. Dia harus kehilangan suami dan ayah bagi anak-anak tercintanya, termasuk masa depannya. Oleh karena itu, istri korban sangat berharap majelis hakim dan jaksa yang menyidangkan perkara ini bisa merasakan kepedihan yang dirasakannya akibat perbuatan Terdakwa, supaya bertindak adil dalam proses hukum pidana ini. Pernyataan senada dikemukakan advokat Willy Boyke SH MH, bahwa semestinya sesuai ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, untuk yang diancam hukuman di atas 5 tahun beralasan ditahan di rutan di rutan sejak penyidikan. Perbuatan Terdakwa DMS (19) didakwa secara alternatif dengan ketentuan Pasal 310 ayat (4) UU RI No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan atau Pasal 310 ayat (3) UU RI No 22 Tahun 2009 dengan ancaman hukuman 6 tahun (di atas 5 tahun). Sedangkan, upaya perdata juga akan diupayakan demi keadilan bagi keluarga korban, yang terpaksa mengalami peristiwa yang tak pernah terbayangkannya. Dalam acara pemeriksaan yang didampingi pengacaranya, Terdakwa mengakui khilaf dengan kecepatan tinggi mengendarai sepeda motor Kawasaki Ninja warna merah Nopol D 2180 HA. Dengan kecepatan sekitar 80-100 km/jam, Terdakwa, hari Jumat 2 April 2010 sekitar jam 19.30, hendak melanjutkan perjalanan dari Jalan Wastu Kencana, memasuki belokan Jalan Pajajaran. Terdakwa pindah dari lajur kiri ke lajur kanan melewati median pembatas jalan. Lalu Terdakwa melihat seseorang hendak menyeberang jalan dari arah selatan menuju utara dan tepat berada di garis marka. Terdakwa sempat menyalakan lampu dim. Karena jaraknya dengan korban terlalu dekat, akhirnya sepeda motor itu menabrak korban mengenai bagian pinggulnya. Korban terpental hingga tertelungkup di trotoar. Sedangkan Terdakwa terjatuh, namun bisa berdiri kembali. Dari hidung korban keluar darah. Saat itu korban masih hidup sampai dibawa dan ditangani di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung, namun akhirnya meninggal. Majelis hakim yang diketuai Samsudin SH mengungkapkan bahwa semestinya Terdakwa mengetahui bahwa kecepatan lalu lintas dalam kota ialah 40–60 km/ jam, tidak sampai 100 km jam seperti di jalan tol. Selain menyadari hal itu, Terdakwa juga harus senantiasa memperhatikan pengguna jalan kaki yang sedang menyeberang untuk didahulukan sesuai ketentuan dalam peraturan perundangundangan lalu lintas. Tertib berkendaraan bermotor itu, kata hakim, kalau dipatuhi Terdakwa, tidak akan terjadi kecelakaan yang berakibat korbannya meninggal dunia. “Bisa dibayangkan, kalau perbuatan seperti yang dilakukan Terdakwa itu dialaminya sendiri. Bagaimana harus kehilangan orang tua dan masa depan,” tutur hakim, mengungkap fakta secara lugas di ruang sidang III PN Bandung. Zaz

Teguran Tak Dihiraukan, Pekerjaan Kontraktor Terbengkalai
BEKASI, Medikom-Pekerjaan pelebaran jalan yang dilaksanakan PT NBP di Jalan Raya Cibarusah, khusunya yang berlokasi di depan Pasar Cibarusah, masih terbengkalai. Proyek yang dibiayai dari APBD Provinsi Jawa Barat sebesar Rp932.403.272,94 itu sampai kini masih saja tertunda. Akibatnya aktivitas sehari-hari masyarakat Cibarusah menjadi terganggu, terutama di depan Pasar Cibarusah. Sedangkan di situ setiap pagi selalu padat, baik oleh pedagang maupun pembeli yang keluar masuk pasar. Di sepanjang jalan yang sedang diperbaiki dengan pengecoran itu berderet bangunan, SDN Cibarusah Kota 02, kantor UPTD PAUD/SD, Puskesmas Cibarusah, dan SMPN 01 Cibarusah. Sedangkan di sebelah kanan jalan terdapat bangunan Kantor Desa Cibarusah Kota dan SDN Cibarusah Kota 03. Yang jadi perhatian dan sangat memprihatinkan adalah terhambatnya kegiatan atau aktivitas para pengguna jalan. Sebab pekerjaan pelebaran dan perbaikan jalan itu sampai sekarang masih terbengkalai. Belum terlihat tandatanda dikerjakan kembali. Dikonfirmasi Medikom, Kepala Sub Unit Pelayanan Wilayah Kabupaten/Kota Bekasi Herison Soesnandar ST MM, di ruang kerjanya, menuturkan bahwa pihak kontraktor, PT NBP akan meneruskan pekerjaannya pada Rabu (14/7). Pihak kontraktor mengatakan hal tersebut setelah dihubungi Herison melalui telepon seluler. Terungkap pula bahwa melalui rapat SCM (show cause meeting) atau rapat pembahasan permasalahan di lapangan, salah satu di antara paket-paket yang kritis ialah yang dikerjakan PT NBP. Hal itu mengingat batas waktu pekerjaannya sampai 23 Juli 2010. Setelah melalui test case tentang

progres dari PT tersebut, jika tidak dilaksanakan juga, wewenangnya akan dilimpahkan kepada Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat yang waktunya kurang-lebih hanya tujuh hari. Jika tidak dilaksanakan juga, maka pelimpahan terakhir oleh pihak Pemda Provinsi Jawa Barat yang kemungkinan diberi waktu hanya tiga hari. Pantauan Medikom di lokasi jalan yang diperbaiki itu, sampai Sabtu (17/7), belum ada lagi kegiatan

pekerjaan oleh PT NBP. Hal itu sangat disesalkan oleh pengguna jalan, karena aktivitas mereka sehari-hari jadi terganggu. Bahkan, menurut warga, besi yang sudah dipasang pun banyak yang sudah hilang setelah sekian lama ditinggalkan. Besi-besi itu dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan tangan-tangan jahil. (Ign/Stef/Anur)

Halaman Khusus

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

PURWASUKA
Purwakarta - Subang - Karawang

5
Purwasuka diolah oleh wartawan daerah yang dikepalai Endang Kosasih, penanggung jawab Ridwan Abdulah dengan wartawan Lodewyk Butar-Butar, Slamet SP, dan Asep Oloy.

Wakil Bupati Buka Konferensi Kerja PGRI Subang
SUBANG, Medikom-PGRI sebagai wadah para pendidik di Indonesia, sangat diharap tetap kokoh dan bersatu dalam melaksanakan pembangunan di bidang pendidikan. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Bupati Ojang Sohandi pada Pembukaan Konferensi Kerja PGRI Kabupaten Subang, Kamis (15/7) di Nalendra Cottage Cijambe Subang. Selanjutnya menurut Wakil Bupati, ada pelajaran penting dari Legenda Sangkuriang-Dayang Sumbi, yaitu cinta pada produk dalam negeri dan semangat kerja yang besar dengan memiliki target yang jelas. Namun pelajaran penting lainnya ialah setiap kerja harus dilandasi nilai-nilai yang baik dan benar menurut ajaran agama maupun negara sehingga Allah SWT meridai setiap usaha yang dilaksanakan. “Karena niat Sangkuriang ingin mempersunting ibu kandungnya, ini tidak dibenarkan oleh ajaran agama maupun norma masyarakat, maka tidak diperkenankan Allah SWT sehingga usahanya menemui kegagalan,” kata Wakil Bupati. Lebih lanjut Wakil Bupati menyampaikan sosok Sangkuriang adalah pekerja keras yang tinggi besar dalam arti tinggi cita-citanya dan memliki semangat kerja yang besar. Seyogianya ada empat aspek yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kinerja, yaitu kerja keras, artinya mengeluarkan segala kemampuan yang dimiliki dengan penuh tanggung jawab. Kedua, kerja cerdas maksudnya memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi) secara jelas. Sehingga tidak terjadi pacorok kokod yang berakibat ketidakjelasan tugas dan tanggung jawabnya atau terjadi saling andalkan. Dengan kerja cerdas tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan memiliki tanggung jawab yang jelas. Ketiga, kinerja tuntas maksudnya ialah kerja dilakukan dengan tuntas tanpa meninggalkan sisa kerja lagi. Keempat kinerja ikhlas, ini bagian penting yang menjadi landasan moral etos kerja dalam melaksanakan tugas. Semua dilakukan tanpa mempertimbangkan apakah diperhatikan oleh atasan atau tidak. Melalui empat etos kerja tersebut dalam Konferensi Kerja PGRI diharapkan bisa memaksimalkan fungsi pendidikan dalam mencetak SDM yang handal terutama dalam pembangunan karakter bangsa. Pada kesempatan itu juga dilaksanakan Pelantikan Persatuan Pembina Lembaga Pendidikan (PPLP) PGRI 2009-2014 yang dilakukan oleh Ketua PGRI Provinsi Jawa Barat Drs H Edi Parmadi MMPd. Duduk sebagai Ketua PPLP PGRI Kabupaten Subang ialah Drs Asep Muslihat MSi yang saat itu memimpin pembacaan Janji Pengurus PPLP di hadapan Ketua PGRI. Hadir pula Ketua PGRI, Asep Suharja SPd, dan jajaran pengurus PGRI Provinsi Jawa Barat lainnya. (Hms)

Koperasi Harus Sejajar dengan Lembaga Ekonomi Modern
SUBANG, Medikom–Peringatan Hari Koperasi ke-63 tingkat Jawa Barat, hendaknya dijadikan sebagai langkah konkret dalam memajukan perkoperasian di Jawa Barat, sehingga tidak sekadar acara seremonial belaka. Demikian diungkapkan Bupati Subang Drs Eep Hidayat kepada Medikom barubaru ini. Sementara, agenda peringatan hari koperasi tingkat Jawa Barat akan dipusatkan di Subang pada tanggal 16 dan 17 Juli 2010. Dalam kesempatan tersebut Eep juga berharap, agar lembaga koperasi harus mampu bersaing dengan lembaga perekonomian modern yang telah lebih dulu maju. Bupati Subang Eep Hidayat berharap peringatan Hari Jadi Koperasi ke-63 tingkat Jawa Barat yang akan dilangsungkan di Subang tidak menjadi acara seromonial belaka. Momentum tersebut hendaknya dijadikan sebagai langkah konkret dalam memajukan perkoperasian di Jawa Barat. “Koperasi harus mampu bersaing dengan lembaga perekonomian modern yang telah lebih dulu maju,” kata Eep didampingi Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi setempat, Yeni Nuraeni, saat meninjau persiapan acara itu. Menurutnya, jika ingin dipercaya oleh anggota atau nasabahnya, setiap koperasi harus memiliki kejelasan usaha dan kejelasan bunga simpanan. Dengan demikian, koperasi bakal dipercaya oleh bank selaku pemberi kredit dan dipercaya oleh masyarakat selaku menyimpan dana. Dikatakan Eep, Kabupaten Subang saat ini tengah mengembangkan model koperasi semacam itu. Bahkan, kini telah ada dua unit koperasi di Subang yang dipercaya oleh bank untuk meminjam dana ratusan juta rupiah tanpa melalui tahapan. “Koperasi itu memiliki usaha yang jelas dan prospektif, sehingga pihak bank tidak ragu dalam mengucurkan kredit,” kata dia. Selain itu, kata Eep, ada pula koperasi simpan pinjam yang mampu memberikan bunga 12% per tahun pada nasabah yang menyimpan dana. Bunga sebesar itu, tentunya lebih besar dari bank umum atau bank komersial. Disebutkan, untuk menciptakan koperasi semacam itu, pihaknya terus melakukan pembinaan terhadap semua pengelola koperasi. Bahkan, pihak Pemkab telah menyaipkan dana hibah bagi koperasi yang telah mempu menjalankan usahanya dengan baik. Menurut Eep, saat ini koperasi yang sedang tumbuh secara pesat adalah koperasi wanita (kopwan) yang dikelola para ibu rumah tangga hingga ke peloksok desa. Kopwan merupakan pengembangan dari Lembaga Ekonomi Desa (LED) yang sudah dikenal lebih awal oleh mayarakat desa. “Dari ratusan LED yang tersebar di sejumlah desa, 152 di antaranya sudah berbadan hukum sebagai koperasi wanita dengan anggota sebanyak 50.000 orang. Sementara perputaran yang mereka kelola telah mencapai Rp32 miliar,” kata Eep. Wakil Gubernur Jawa barat Dede Yusuf dalam sambutannya pada kegiatan memperingati Hari Koperasi Ke-63 menjelaskan, koperasi adalah wujud implementasi dari semangat gotong royong. Untuk itu Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyediakan anggaran sebesar Rp200 miliar untuk pengembangan koperasi pada tahun 2011. “Pertahankan budaya Gotong Royong sebagai wujud nyata semangat koperasi. Untuk itu Pemprov Jabar akan menganggarkan Rp200 miliar untuk pengembangan koperasi,” ujar Wakil Gubernur Jawa Barat. Anggaran sebesar itu, jelas Wakil Gubrnur, Rp100 miliar di antaranya dalam bentuk lembaga penjamin dan Rp100 miliar lagi sebagai Badan Layanan Usaha (BLU) semacam BUMD untuk membantu koperasikoperasi yang ada. “Sebanyak 22.000 koperasi di Jawa Barat perlu mendapatkan bantuan. Untuk itu saya mengimbau kepada perbankan, BUMN dan BUMD untuk memberikan bantuan kepada koperasi supaya keberadaan koperasi terus berkembang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Wakil Gubernur dalam sambutannya. Di Kabupaten Subang saat ini telah berdiri sekitar 1.000 koperasi dengan 130.000 anggota. Dengan koperasi tersebut telah menghasilkan simpanan sebesar Rp213 miliar. Terdapat koperasi karyawan terbaik di antaranya Koperasi Karyawan Sari Ater dan Koperasi Karyawan Mina Fajar Sidik dengan perputaran dana Rp8 miliar. Sejauh ini, lanjut Bupati, telah berdiri Koperasi Wanita “Mekar Saluyu” di Desa Jambelaer, Kecamatan Dawuan dengan 1.700 anggota. Selama beroperasi telah menghimpun dana simpanan sebesar lebih dari Rp1,2 miliar dan volume usaha sebesar Rp12,5 miliar. Bagi Pemerintah Kabupaten Subang, keberadaan Koperasi Wanita “Mitra Saluyu” mengilhami berkembangnya koperasi wanita. Hingga saat ini telah berdiri 150 koperasi wanita ditambah dengan beberapa koperasi yang tengah menunggu pengesahan. Bagi Pemerintah Kabupaten Subang ini merupakan keseriusan untuk menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian masyarakat. Guna makin memantapkan langkah tekad tersebut, Pemerintah Kabupaten Subang tengah mengembangkan konsep kombinasi antara koperasi, perbankan dan asuransi. Pelayanan yang diberikan juga berupa simpanan dengan bunga profesional. Hingga saat ini telah mampu memberikan bunga simpanan hingga 12,5% per tahun yang artinya di atas bunga perbankan. Selanjutnya dibentuk pula lembaga penjamin untuk pinjaman bagi yang meninggal dunia dan cacat tetap. Bagi peminjam yang mengalami cacat tetap dan meninggal dunia sisa pinjamannya akan dibayarkan oleh lembaga penjamin. Lembaga penjamin telah memiliki anggaran jaminan sebesar Rp500 juta. Untuk meningkatkan kinerjanya mulai tahun 2011, sistem ini akan diawasi oleh konsultan profesional. Konsep ini telah mendapatkan apresiasi besar dari dunia perbankan di Subang dengan memberikan pinjaman tanpa melalui tahapan pinjaman kecil dahulu. Dalam kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan akad kredit bagi pengusaha kecil, menengah dan mikro dengan nilai antara Rp20 juta s.d. Rp1 miliar dalam bidang usaha di antaranya kelompok usaha jamur merang, usaha itik, usaha bebek, dan makanan. Selanjutnya dengan didampingi oleh Bupati, Wakil Bupati Subang dan jajaran pejabat Muspida Subang meninjau berbagai usaha yang diselenggarakan oleh koperasi dan perlaku usaha kecil dan mikro. (Loy)

Subang Berlakukan Hari Bebas Kendaraan
Upacara Gelar Pasukan dan simulasi sendiri dipimpin secara langsung oleh Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar.

Kampanye Calon Bupati Karawang di Karang Pawitan Rusuh
KARAWANG, Medikom-Kampanye salah satu Calon Bupati dan Wakil Bupati Karawang yang digelar di Lapang Karang Pawitan, Kamis pekan lalu berlangsung ricuh. Kericuhan dipicu oleh ucapan salah satu juru kampanye pasangan tersebut yang menjelekjelekkan pasangan lain. Ucapan yang bersifat black campaign tersebut ternyata didengar oleh pendukung pasangan lain yang kemudian membawa puluhan massa ke Lapang Karang Pawitan. Melihat gelagat yang tidak kondusif tersebut, petugas polisi yang mengawal pasangan yang tengah berkampanye tersebut berinisiatif mengamankan dengan menggunakan kendaraan taktis, sedangkan aparat Dalmas yang telah bersiaga langsung terjun ke lokasi kejadian, sementara tim negosiator berupaya menengahi kedua belah pihak yang berseteru. Suasana semakin panas takala kedua belah pihak menolak negosiasi dan mulai saling melempar. Pihak pengamanan sendiri tidak tinggal diam, dengan menerjunkan tim dari Dalmas Lanjutan, Brimob dan TNI langsung membubarkan massa menggunakan kendaraan Water Canon. Suasana berangsur kondusif takala tim Intel berhasil menangkap dan menahan sejumlah provokator. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Hal ini karena kejadian tersebut hanyalah simulasi yang digelar Polres Karawang dalam rangka ‘Gelar Pasukan Operasi Mantap Praja’ guna pengamanan Pemilukada Kabupaten Karawang Tahun 2010. Upacara Gelar Pasukan dan simulasi sendiri dipimpin secara langsung oleh Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar. Dalam amanatnya, Bupati mengingatkan kepada seluruh jajaran pengamanan pilkada untuk senantiasa bertindak persuasif, preventif dan edukatif, namun tetap tegas dan tidak ragu dalam menghadapi dinamika masyarakat saat pelaksanaan tahapan pemilukada. “Sehingga pelaksanaan tahapan pemilukada dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar,” pesannya. Lebih lanjut Bupati mengatakan, sebagian besar bangsa Indonesia saat ini masih belum siap menerima kekalahan, khususnya dalam proses pemilihan kepala daerah. Hal ini menyebabkan rawannnya terjadi sengketa pilkada akibat dinamika yang terjadi di masyarakat. “Sengketa pemilukada selalu terjadi dalam proses pemilukada di mana-mana,” ujarnya. Bupati melanjutkan bahwa sengketa pemilukada juga dilatarbelakangi oleh cost mengikuti pemilukada yang sangat besar. Sebagai contoh, suatu elemen masyarakat mengadakan kegiatan dengan mengundang berbagai calon bupati, tentunya dengan mengharapkan bantuan. “Hal ini menyebabkan cost pemilukada tinggi dan tentu akan berupaya mengembalikan biaya yang telah dikeluarkan,” imbuhnya. Bila terpilih, tentunya mereka akan berupaya melakukan pengembalian dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang akan menguntungkan dirinya sendiri. Sedangkan bila mereka tidak terpilih, maka akan terjadi sengketa pemilukada, karena biaya yang telah mereka keluarkan tidak sedikit. “Oleh karena itu, saya titip kepada masyarakat untuk tidak menjadikan pemilukada sebagai ajang dalam mencari rezeki,” tambahnya. (Andy Nugroho)

SUBANG, Medikom–Dalam rangka mengurangi polusi udara di wilayah Subang, pihak Polres Subang bersama Pemerintah Kabupaten Subang melakukan launching Car Free Day yang ditandai bersepeda bersama dengan start di depan Masjid Agung Al-Mushabaqoh Subang yang diikuti oleh Satuan Patroli Bersepeda dan Polisi Pariwisata, pada Jumat Pagi (16/7). Dalam sambutannya Bupati Subang Eep Hidayat mengatakan, pihak Pemerintah Kabupaten Subang sangat mengapresiasi pemberlakukan Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor. “Mudah-mudahan dengan Car Free Day pada waktu tersebut bisa mengurangi kadar polusi udara yang dihasilkan kendaraan bermotor,” kata

Bupati dalam sambutannya. Sementara, hari bebas kendaraan bermotor atau car free day di Kabupaten Subang akan diberlakukan mulai Sabtu (17/7). Untuk itulah masyarakat yang ingin bepergian dengan kendaraan bermotor diimbau untuk tidak melintasi ruas Jln Mayjen Soetoyo mulai dari Wesel hingga perempatan Gedung Organisasi Wanita (GOW). Secara resmi launching hari bebas kendaraan ini dilakukan Bupati Subang dengan ditandai pelepasan balon ke udara serta pawai sepeda dan gerak jalan. “Waktunya setiap hari Sabtu mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB,” kata Bupati Eep. Program ini dilakukan guna memberikan area terbuka yang lebih leluasa bagi publik. “Terutama untuk kegiatan olahraga jalan kaki atau bersepeda santai,” tambahnya.

Bahkan dalam gerak jalan santai yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Koperasi ke-63, Bupati sengaja menyediakan hadiah berupa sapi, kerbau, dan kambing. “Saya tetap memberikan apresiasi yang tinggi terhadap warga yang berhenti merokok, karena jelas mengurangi polusi dan tidak baik untuk kesehatan,” ungkapnya. Kapolres Subang Dadang Hartanto SH SIK MSi menyebutkan, untuk sementara hari bebas kendaraan hanya diberlakukan di ruas Jln Soetoyo dan untuk kendaraan bermotor yang datang dari arah barat atau Jakarta diarahkan ke Jln KS Tubun. Sedangkan yang dari timur dialihkan melalui Jln Otista. “Demikian pula beberapa jalan alternatif, akan dijaga agar tidak memasuki area car free day,” jelas Dadang. (Lbb)

Bupati Bahas Rencana Keberadaan Pelabuhan Karawang dengan Kemenperin
KARAWANG, Medikom-Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar, memenuhi undangan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) untuk melakukan pertemuan guna membahas rencana kelanjutan pembangunan Pelabuhan di Kabupaten Karawang yang akan dibangun di wilayah Pantai Ciparage, Senin pekan lalu. Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Kemenperin Jalan Gatot Subroto Jakarta tersebut, Bupati diterima oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (BPPI) Kemenperin DR Dedi Mulyadi MSi, Sekretaris BPPI Dra Euis Saedah MSc, dan Kepala Pusat Standarisasi Kemenperin Ir Muhammad Nadjib MBA. Bupati Dadang S Muchtar sebenarnya dijadwalkan untuk berdiskusi langsung dengan Menteri Perindustrian MS Hidayat. Namun karena hingga 1 jam lewat dari jadwal yang telah ditetapkan sang menteri masih belum muncul, Bupati memutuskan untuk hanya menitipkan berkasberkas terkait rencana pembangunan pelabuhan tersebut kepada Kepala BPPI. Hal ini terkait sikap Bupati yang sangat disiplin dan menghargai waktu. Dalam dialog singkatnya bersama Kepala BPPI tersebut, Bupati Dadang S Muchtar menilai bahwa Kabupaten Karawang merupakan daerah yang tepat untuk dijadikan pelabuhan. Karena, hingga saat ini di Kabupaten Karawang telah terdapat banyak kawasan industri dan telah ditempati ratusan pabrik. “Bahkan pabrik otomotif pun seluruhnya telah berada di Karawang,” jelasnya. Lebih lanjut Bupati mengatakan, keberadaan kawasan industri dan pelabuhan di Kabupaten Karawang sangat strategis. Salah satunya adalah karena kawasan industri tidak berada dilokasi yang padat penduduk dan memiliki akses langsung masuk kawasan industri melalui tol tanpa melalui kawasan penduduk. “Kawasan industri Karawang tidak bebenturan dengan penduduk karena berada persis di samping jalan tol,” imbuhnya. Namun demikian, lanjut Bupati, keberadaan pelabuhan hendaknya tidak menghabisi keberadaan lahan pertanian. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat jalan layang sepanjang 30 km untuk jalan masuk ke pelabuhan, sedangkan kompleks perkantoran berada di lokasi kawasan industri dan hanya dermaga yang terletak di pelabuhan. “Karena bila menggunakan jalan darat akan merusak sektor pertanian,” tambahnya. Di sisi lain Kepala BPPI Kemenperin, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa undangan pertemuan kepada Bupati Karawang terkait hasil sidang kabinet yang menyarankan agar lokasi pelabuhan alternatif Tanjung Priok ditempatkan di Karawang saja. “Keberadaan pelabuhan tentunya akan menjadikan lebih mudah bagi industri,” ujarnya. Dedi sendiri menyarankan keberadaan pelabuhan tersebut bila diajukan oleh pihak swasta tentunya akan lebih baik dan cepat. Tentunya disertai dengan persetujuan dan rekomendari dari Pemerintah Daerah dan Pemerintah Provinsi. “Hal ini berdasarkan UU Kawasan Ekonomi Khusus yang baru, yang mensyaratkan adanya regulasi dari Pemda dan Provinsi,” jelasnya. Sekretaris BPPI Kemenperin, Euis Saedah menambahkan bahwa diperkirakan pada tahun 2015, kapasitas pelabuhan Tanjung Priok sudah akan over limit dan tidak mampu lagi memenuhi perkembangan industri. “Untuk itu, diperlukan solusi kapan kapasitas pelabuhan Tanjung Priok tersebut bisa dipindahkan sebagian dan kapan bisa terpenuhi,” tambahnya. Sementara itu, rencana pembangunan Pelabuhan Karawang sendiri sebelumnya telah dilaksanakan feasibility study oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan menggunakan konsultan dari Negeri Belanda. Hasil feasibility study tersebut salah satunya menyebutkan bahwa biaya yang diperlukan untuk membangun pelabuhan mencapai Rp9,7 triliun. (Andy Nugroho)

Yankes Masyarakat Miskin Tetap Berjalan
KARAWANG, Medikom–Bupati Karawang Dadang S Muchtar dan jajaran DPRD Karawang menegaskan kembali bahwa pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di RSUD Karawang dan puskesmas tetap berjalan seperti biasa dan hanya pemberian Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang dihentikan sementara. Hal ini dilaksanakan sambil menunggu proses audit dana Jamkesda oleh auditor independen. Penegasan tersebut disampaikan oleh pihak eksekutif maupun legislatif saat pelaksanaan rapat dengar pendapat yang berlangsung di Ruang Rapat Bupati Gedung Singaperbangsa Lt II Pemkab Karawang, Senin malam pekan lalu. Rapat juga dihadiri Asisten Administrasi, Kepala Dinas Kesehatan Karawang, perwakilan RSUD, Kepala BKD dan sejumlah pejabat lainnya. Rapat dengar pendapat tersebut dilaksanakan karena adanya kesimpangsiuran terkait program Jamkesda di masyarakat. Masyarakat menganggap pelayanan kesehatan masyarakat miskin melalui program Jamkesda dihentikan karena Pemerintah Daerah memiliki hutang ke RSUD. Dalam rapat tersebut, Bupati kembali menegaskan bahwa pelayanan kesehatan rakyat miskin atau jamkesda tidak dihentikan, namun penerbitan SKTM akan difilter terlebih dahulu sampai selesai hasil audit. “Pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin sendiri akan terus dioptimasi, dan bila benarbenar miskin dapat diantar langsung oleh kepala desa,” ujarnya. Lebih lanjut Bupati menekankan agar proses audit jangan ditangguhtangguhkan lagi, dan pelaksanaannya harus dilakukan oleh auditor yang profesional serta independen juga tidak memakan waktu yang lama. “Audit diharapkan dapat selesai dalam waktu satu bulan, di mana di tengah-tengah proses harus dilaporkan hasil sampling audit tersebut,” tegasnya. Bupati menambahkan selama dua minggu SKTM ini dihentikan, kondisi dan jumlah pasien di RSUD tetap seperti biasa, dan ternyata orang-orang pun mampu membayar tanpa keluhan. Ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang mengaku miskin. “Namun demikian, pihaknya akan tetap meminta pertanggungjawaban kepala dinas terkait sejauhmana pengendalian dan koordinasi program yang telah dilaksanakan,” tambahnya seraya menyebutkan bahwa dirinya merasa kecolongan dengan timbulnya permasalahan ini.(Andy Nugroho)

KUA Kecamatan Jatisari

Jumpa Pisah Dandim 0605 dan Kajari Subang
SUBANG, Medikom–Secara pribadi Bupati Subang Eep Hidayat menyampaikan bahwa dirinya banyak menyimpan kenangan indah bersama Letkol Inf Stefanus Mahury selama menjabat sebagai Komandan Kodim 0605/Subang yang dijabatnya kurang lebih 1 tahun 3 bulan. Keakraban ini terjalin dengan baik bersama jajaran muspida lainnya. Hal tersebut disampaikan Bupati saat menyampaikan sambutannya dalam acara Jumpa Pisah Dandim 0605 Subang & Jumpa Pisah Kepala Kejaksaan Negeri Subang yang berlangsung di Aula Pemda Subang. Bupati mengatakan, selama menjabat sebagai Komandan Kodim, banyak program pemerintah berjalan dengan baik atas partisipasi aktif jajaran muspida. Dari program menanam pepaya hingga olahraga hampir semuanya pihak Kodim tidak pernah ketinggalan. Khususnya program-program yang menyangkut kepentingan rakyat Subang. “Paling berkesan ketika Pak Dandim berhasil menggulkan bola bersama dirinya masuk gawang,” ujar Bupati dalam sambutannya yang langsung disambut derai tawa. Hal sama juga disampaikan Letnan Kolonel Inf Stepanus Mahury bahwa dirinya selama menjabat sebagai Dandim kurang lebih 1 tahun 3 bulan, banyak pelajaran dan kenangan yang sulit terlupakan. Khususnya pada kekompakan jajaran muspida. “Sebenarnya saya masih sangat betah di Subang. Karena Negara mengharuskan saya meninggalkan Subang yang begitu sulit dan berat ditinggalkan,” kata Stepanus saat memberikan sambutannya yang didampingi oleh istri dan 3 orang anaknya. Ternyata rasa kerasan dirasakan oleh anak-anaknya. Ketika ditawari pindah sekolah ke Bandung, mengikuti bapaknya yang ditugasi sebagai Wakil Asisten Intelijen Kodam III Siliwangi, kedua putranya tidak mau dan lebih memilih sekolah di Subang. “Untuk itu Pak Bupati, saya mohon izin menjadi warga Subang untuk satu atau 2 tahun lagi. Atau mungkin sampai anak kami selesai sekolah,” pintanya yang langsung disambut tepuk tangan hadirin. Serah terima jabatan Komandan Kodim 0605/Subang sebenarnya telah dilakukan pada 13 Juli yang dilaksanakan di Makorem 063/Sunan Gunung Jati Cirebon. Sebagai Komandan Kodim penggantinya ialah Letkol Inf Dwi Wahyudi. Dalam sambutannya, Letkol Dwi Wahyudi menyampaikan kekagumannya pada Kota Subang yang demikian maju. Oleh karena itu kepada semua jajaran muspida, pejabat dan warga Subang, untuk tidak segan-segan membantu pihaknya dalam bertugas. “Pertama kali melihat dan merasakan Subang sungguh luar biasa.,” harap Letkol Dwi Wahyudi. Pada kesempatan sambutannya, Husni Thamrin yang diamanahi sebagai Kajari Subang menggantikan Yusron, mengaharapkan hal yang sama dalam menjalankan tugas di Subang. Bagi Husni dalam bertugas lebih merasakan sebagai menyambung tali silaturahim dengan sesama anak bangsa di mana pun dirinya ditempatkan. (Ssp)

Menyelenggarakan Pembinaan Manasik Calon Jamaah Haji
KARAWANG, Medikom-Perjalanan ibadah haji adalah perjalanan suci yang sangat memerlukan kesiapan fisik, mental, informasi dan pengetahuan tentang manasik yang proses pelaksanaan ibadahnya tidak terpengaruh oleh hal-hal lain di luar kaitan ibadah haji. Demikian Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Jatisari Kabupaten Karawang, Saeful Bachri, mengungkapkan kepada Medikom, Kamis pekan lalu di ruang kerjanya selepas melaksanakan pembinaan terhadap 78 calon jamaah haji. Menurut Saeful, maksud dan tujuan manasik ini selain untuk pengetahuan dan keterampilan, juga sekaligus memberikan informasi dan gambaran tentang situasi dan kondisi yang akan dan kemungkinan terjadi baik di perjalanan maupun di tanah suci, sehingga menjadi haji yang mabrur. “Pelatihan manasik haji ini sangat berguna pada pelaksanaan ibadah haji nantinya. Para peserta diarahkan mengikuti dengan baik dan benar serta diberikan tips agar selalu mencari informasi di berbagai media guna mengetahui situasi dan kondisi lingkungan di tanah suci yang selalu tidak menentu,” pesan putra kelahiran Karawang, 23 November 1963 ini. Catatan Medikom, pada bulan Juli 2010 ini KUA Kecamatan Jatisari menyelenggarakan pembinaan manasik calon jamaah haji untuk musim haji tahun 2010. Ini berlangsung selama 11 hari mulai 12 s.d. 22 Juli mendatang, yang diikuti oleh 78 calon jamaah dan tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis. Di samping itu, dalam program penyelenggaraan ini, KUA Kecamatan Jatisari juga memberikan nilai plus kepada para calon jamaah dengan memberikan paket buku, pulpen serta mengeluarkan sertifikat yang menyatakan telah mengikuti pembinaan selama 11 hari. (Andy Nugroho)

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

6

OPINI

Terlambat, Merugikan Orang Banyak
Stakeholder pendidikan di seluruh Indonesia pantas ketar-ketir. Hal itu terkait dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan tahun 2010 yang memasuki triwulan tiga pelaksanaannya belum bisa direalisasikan oleh kabupaten/kota penerima anggaan. Terhambatnya pelaksanaan ditengarai karena Kementerian Pendidikan Nasional sampai kini juga belum menyiapkan juklak juknis sebagai panduan daerah untuk memulai program dimaksud. Padahal program DAK bidang pendidikan adalah salah satu program primadona bagi dunia pendidikan. Sebab program ini dianggap sebagai trigger bagi daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Baik dalam menuingkatkan sarana dan prasarana maupun mutu. Karennya, terlambatnya pelaksanaan telah menimbulkan kekhawatiran. Kekhawatiran dilihat dari sisi pelaksanaan tahun anggaran yang tinggal beberapa bulan lagi. Banyak pihak tidak tahu pasti mengapa Kementerian Pendidikan Nasional seolah-olah tidak serius dan tidak mengawal pelaksanaan program ini secara serius. Padahal, bagi daerah program ini sangat diharapkan dan dinantikan. Hal itu tidak terlepas di tengah keterbatasan dana daerah dari sumber-sumber APBD yang digelontorkan ke dunia pendidikan, munculnya dana alokasi khusus bidang pendidikan dianggap bisa menanggulangi beban daerah terutama dalam meningkatkan kualitas sektor pendidikan. Apalagi DAK bidang pendidikan, dimaksudkan menunjang pelaksanaan program wajib belajar (wajar) pendidikan dasar sembilan tahun yang bermutu dan merata untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Dengan lingkup kegiatan pembangunan ruang perpustakaan, pengadaan perabot pendukung perpustakaan, dan pengadaan sarana peningkatan mutu pendidikan meliputi alat peraga, kit multimedia, buku pengayaan, buku referensi, ICT pendidikan dan alat elektronik pendidikan. Maka ketika program ini tidak ada kepastian pelaksanaannya pada tahun 2010 ini, ini menjadi isu kontroversi di daerah. Namun persoalannya, sejauh mana pihak pusat menangkap kekhawatiran daerah ini dengan merespons. Pada sisi lain kita sepakat adanya pendapat para ahli yang mengkritisi persoalan keterlambatan DAK bukanlah persoalan sepele tetapi persoalan serius bila dilihat dari mekanisasi pelaksanaan tahun anggaran. Sebab pelaksanaan DAK yang harus dilelangkan bagaimanapun membutuhkan kesiapankesiapan baik dari sisi waktu, kesiapan sumber daya maupun sosialisasi ke banyak stakeholder. Semua itu terjadi karena pelaksanaan DAK tahun 2010 berubah dari sistem block grant atau hibah, kini harus ditenderkan secara terbuka dan transparan. Perubahan sistem inilah yang mewajibkan daerah mempersiapkan diri secara cermat. Tetapi lagi-lagi persoalannya bukan hanya kesiapan daerah, pusat pun terkesan membiarkan ini berlarut-larut. Ditinjau dari sisi kebijakan publik, besarnya anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk program DAK bidang pendidikan ini patut disyukuri. Tetapi ternyata tidak diikuti kesiapan-kesiapan serius pula oleh pihak-pihak terkait. Konon, anggaran belanja kita menggunakan pendekatan anggaran berbasis kinerja. Maknanya serapan anggaran yang efektif, efisien dan akuntabilitas di satu institusi merupakan gambaran menyangkut performa kinerja institusi itu. Belajar dari itu, terhambatnya pencairan pelaksanaan DAK di kementerian terlepas berbagai intrik yang mewarnai. Ini merupakan pengingkaran kepada hak-hak publik. Dan pejabat yang sengaja menutup hak-hak publik mendapatkan pelayanan apalagi pelayanan pendidikan sungguh sebuah ironi. Apalagi anggaran itu ditujukan untuk kepentingan hajat hidup orang banyak yang bernama dunia pendidikan. Karenanya, ancaman kegagalan pelaksanaan DAK tidaklah bisa dianggap remeh. Ini persoalan serius. Kita berharap bulan ini juga Kementerian Pendidikan Nasional dalam hal ini Menteri Pendidikan M Nuh bisa menyelesaikan persoalan ini secara tuntas. Dan bila perlu presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mengambil alih penanganannya. ***

Tulalit
+ Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi rekomendasikan 1.000 peraturan daerah dibatalkan. Persoalannya, dipatuhi enggak?

+ Pemkot Bandung dinilai gagal atasi PKL yang marak di pusat-pusat kota. - Yang benarnya, PKL-nya ahli kucing-kucingan dengan Satpol PP.

Milangkala PASTAPA Nu Ka-2

Pertahankan Nilai Nilai Tradisi Kasundaan
Pastapa Mapag Uga, Mapay Tapak Lacak Sunda Pastapa Nanjeur Parahyangan Nyinar Pastapa Megar Padjadjaran Medar Pastapa Surti, Siliwangi Walagri Pastapa Nindak Buana Robah Jadi Alam Panyundaan Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wawangi Keur Urang Balarea

Orchid Key Holders

Sheraton Gelar Pameran Orchid for Children
Sheraton Bandung Hotel menggelar event pameran anggrek bertajuk Orchid for Children, 14-18 Juli 2010. Dalam kesempatan ini berbagai jenis anggrek dipamerkan termasuk beberapa jenis angrek species yang langsung diambil dari hutan-hutan yang tersebar di sekitar Jawa Barat. Keindahan anggrek yang digelar langsung saja mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat Kota Bandung. Terbukti di hari pertama begitu banyak pengunjung yang datang untuk menikmati pameran ini. Eddy Soenarno, Marketing Communications Manager Sheraton Hotel & Towers menjelaskan, pameran kali ini melibatkan para petani anggrek di Jawa Barat. Kegiatan kali ini didukung penuh ETSDC, Asosiasi Petani Anggrek Indonesia (APAI), Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), dan Disperta Provinsi Jawa Barat. “Kami berharap melalui kegiatan ini, para pecinta anggrek dari berbagai lapisan kalangan bisa menambah wawasan tentang perilaku anggrek. Sekaligus berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk misi sosial kemanusiaan. Sebab sebagian hasil penjualan anggrek akan disumbangkan kepada UNICEF-COCF (Check Out for Children Challenge) untuk mendanai program pemberian vaksin bagi anak-anak kurang mampu di Indonesia,” jelas Eddy. Yang paling menarik perhatian pengunjung dalam gelaran anggrek kali ini adalah hadirnya “Orchid Key Holders” alias anggrek di dalam botol yang bisa dijadikan sebagai gantungan kunci. Inovasi hasil peneliti tanaman anggrek dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Dr Wieny H Rizky ini mampu menyedot perhatian pengunjung. Selama

Ambu Otih Rostoyati saat membawakan Kidung Siliwangi sebagai bagian dalam acara ruatan jagad
Bagi urang sunda pituin (baca asli) Kidung Siliwangi tentunya memiliki nilai yang sangat sakral. Tidak sembarang orang bisa membawakannya karena untuk membawakan kidung ini dibutuhkan sebuah penghayatan total agar para pendengar bisa menghayati seluruh makna yang terkandung di dalamnya. Totalitas itulah yang ditunjukkan oleh Ambu Otih Rostoyati saat membawakan Kidung Siliwangi sebagai bagian dalam acara ruatan jagad yang dilakukan oleh Paguyuban Spiritual Tatar Sunda (Pastapa) di gedung Rumentang Siang Bandung Sabtu malam pekan kemarin. Selama hampir 30 menit, Ambu Otih menyihir para audience yang hadir dengan lengkingan suara nan merdu dan permainan kacapi yang membuat suasana terasa sakral. Acara Ruatan Jagad yang secara langsung dipimpin oleh Pupuhu Gede Pastapa Bunda Sonia Suma merupakan bagian dari acara milangkala Pastapa yang kedua. Suasana tradisional Sunda sangat terasa dalam acara ini, bisa dibayangkan para tamu undangan rata-rata hadir dengan pakaian pangsi khas pendekar Sunda ditambah segala pernak perniknya seperti tas karembong, iket, suling dan pernak pernik lain. Menurut Ketua Pelaksana Kegiatan Heni J Hernawijaya, acara milangkala ini diharapkan bisa menjadi ajang silaturahmi antaranggota Pastapa dengan masyarakat. Selain itu, Heni berharap acara ini bisa menjadi tonggak kebangkitan masyarakat Sunda sesuai dengan tujuan berdirinya Pastapa yaitu mempertahankan nilai-nilai tradisi kasundaan. “Nilai-nilai tradisi Sunda tentunya harus tetap dipertahankan agar tidak hilang begitu saja,” tutur Heni dalam bahasa Sunda. Sementara dalam kesempatannya berbicara, Bunda Sonia Suma mengucapkan terimkasih yang sebesar-besarnya kepada para sesepuh dan tokoh-tokoh yang sudah hadir dalam acara milangkala Pastapa yang kedua ini. “Saya mohon dukungan kepada semua pihak agar cita-cita Pastapa bisa terealisasi, dan Pastapa terus bisa menjaga eksistensinya untuk waktu yang panjang,” papar Bunda Sonia Suma juga dalam bahasa Sunda. (Hary B)

Heni J Hernawijaya

Jambore Pemuda Tingkat Jabar Menyisakan Kekecewaan
GARUT, Medikom–Gelaran Jambore Pemuda Tingkat Jawa Barat dan Kabupaten Garut yang berlangsung dari 10 hingga 14 Juli 2010 telah usai dilaksanakan. Jambore dibuka secara gebyar di salah satu perbukitan sejuk dengan pemandangan sebuah danau yang belum tereksplorasi secara maksimal oleh Pemkab Garut dan dinas terkait. Pemandangan indah tersebut berasal dari Situ Cibeureum yang terletak di kawasan kompleks Arboretum, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Keasrian dan kesejukan areal ini tak pelak menjadi pilihan Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi Jawa Barat untuk menggelar Jambore pemuda tingkat Jabar dan seKabupaten Garut. Dalam Jambore Pemuda kali ini, tema yang diusung pun tak tanggung-tanggung, yakni “Pemuda Bersatu, Bangsa Kuat dan Maju”. Sub tema bertajuk “Memberdayakan Peran Kepeloporan Pemuda untuk Membangun Kemandirian Ekonomi Bangsa. Sangat jelas acara jambore pemuda ini mempunyai program dan tujuan yang sangat membangun bagi terciptanya peranan aktif para pemuda dan pemudi di tengahtengah masyarakat. Peserta yang mengikuti jambore tercatat 160 orang peserta perwakilan kota/kabupaten se- Jawa Barat. Sementara perwakilan peserta dari kecamatan se-Kabupaten Garut, sebanyak 250 orang ditambah panitia pelaksana sebanyak 50 orang. Total peserta mengikuti perkemahan sebanyak 460 orang. Asep Saepudin (52), yang merupakan Ketua Pelaksana Acara Jambore Pemuda ini berharap gelaran acara ini mampu menjadikan iklim positif pemuda Indonesia, khususnya di wilayah Jabar dan Garut. “Ya, dengan adanya acara jambore ini, mudah-mudahan segala potensi yang ada di daerah masing-masing bisa tergali secara maksimal dengan diberdayakannya para pemuda yang tergabung dalam berbagi ormas kepemudaan. Kenapa jambore ini dilaksanakan di daerah ini. Karena memang kompleks Situ Cibreureum ini merupakan salah satu lokasi yang sangat sejuk dan belum terekspolrasi dengan maksimal. Saya yakin ke depannya kompleks tempat Wisata Situ Cibeureum ini akan menjadi salah satu aset wisata alam yang luar biasa,” ungkap Asep, saat diwawancarai Medikom di lokasi perkemahan, pada malam terakhir jambore ini. Selama berlangsungnya acara, para pemuda dan pemudi dari berbagai ormas kepemudaan mengisi acara dengan beragam kegiatan, semisal outbond, diskusi interaktif, sosialisasi terkait potensi ekonomi di daerah masing-masing. Tak ketinggalan hiburan khas daerah ditampilkan para peserta, terutama seni Sunda. Peserta juga mendapat pelayanan kesehatan 24 jam dari tim medis Puskesmas Sukakarya yang dipimpin langsung Kepala Puskesmas Nurjaman yang membuka posko kesehatan di tengah-tengah perkemahan. Menurut catatan tim medis Puskesmas Sukakarya, tidak kurang dari 200 orang selama berlangsungnya jambore mendapat perwatan secara intensif. Keluhan rata-rata peserta adalah alergi terhadap cuaca dingin pegunungan khas Garut. “Sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap berlangsungnya acara jambore ini, saya menurunkan tim medis yang berkompeten di bidangnya untuk menangani keluhan kesehatan peserta. Selama jambore ini kami siaga 24 jam. Alhamdulillah, sampai berakhirnya perkemahan ini tim medis kami bisa menjalankan tugasnya dengan baik,” tegas Nurjaman. Namun, di balik hiruk-pikuknya kegiatan para pemuda-pemudi dalam jambore ini, di luar dugaan ternyata menyisakan rasa kecewa beberapa pihak, termasuk peserta sendiri. Salah satu peserta dari Kecamatan Leles, Garut, E Juhana Jumarnis, yang merupakan Ketua PK KNPI Leles, adalah salah satu peserta yang kecewa terhadap panitia acara jambore pemuda ini. E Juhana merasa sangat kecewa karena acara jambore ini dinilai tidak maksimal dalam segala hal. Padahal acara jambore ini berlevel tingkat provinsi. Bahkan di malam terakhir, E Juhana sempat terlihat kesal, sambil mengambil mike langsung naik panggung dan berteriak lantang di tengah-tengah peserta yang tampak tidak tertib. “Teman-teman, saya sebagai pemuda Garut merasa malu dengan terjadinya ketidaknyamanan acara ini. Mudah-mudahan kejadian ini tidak terjadi lagi di Garut. Memang kami bangga dengan segala potensi alam yang ada di Garut. Namun, dengan adanya keridaknyaman ini, kami mohon maaf!” teriaknya di sela acara menjelang prosesi malam terakhir jambore. Terkait banyaknya keluhan dari peserta jambore ke pihak pemerintahan desa setempat, Asep Hamdani salah seorang tokoh berpengaruh yang juga Kepala Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Garut, menyesalkan kejadian ini. “Memang acara ini terkesan tidak profesional. Padahal acara ini level Jawa Barat, walaupun acara ini digelar di Desa Sukakarya. Anehnya, saya sebagai Kepala Desa sama sekali tidak diberikan kesempatan dalam kepanitiaan. Maka wajar jika banyak peserta jambore yang merasa kecewa,” tegas Asep Hamdani dengan nada tinggi. (KUS)

Foto atas : Jenis jenis angrek species langka yang ikut dipamerkan. insert Dr Wieny h Rizky. Bawah : salah satu jenis anggrek yang ikut di pamerkan
pameran berlangsung Wieny tak henti-hentinya mendapat pertanyaan dari para pengunjung seputar hasil inovasinya. Wieny yang juga berhasil menemukan metode mengembangbiakkan anggrek secara kultur jaringan berharap, “Orchid Key Holders” bisa menjadi souvenir khas Jawa Barat. “Angrek dalam botol kecil ini mampu bertahan sampai dengan tiga bulan. Selebihnya anggrek ini bisa dipindahkan ke media tanam untuk dibesarkan,” jeulas Wieny. (hary b)

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

7

Sudut

Selama 49 Tahun Belum Ada Perbaikan Gedung
SMAN 4 Kota Medan Dapat Kucuran Dana Rp2 M
MEDAN, Medikom-Pj Wali Kota Medan H Syamsul Arifin SE sangat sedih mendengar gedung SMAN 4 Kota Medan selama 49 tahun belum ada perbaikan. Pernyataan ini diungkapkannya ketika menerima audensi alumni SMAN 4, Rabu (14/ 7) di Balai Kota Medan. “Sangat menyedihkan sekali 49 tahun belum ada perbaikan gedung, saya kecewa sama pemerintah dan juga kecewa sama para alumni, pemerintah punya tanggung jawab sedangkan alumni punya kebanggaan kepada sekolahnya,” ungkap H Syamsul Arifin. Pj Wali Kota Medan H Syamsul Arifin SE didampingi Sekda Drs H Moh Fitriyus SH MSP, Kadis Pendidikan Drs H Hasan Basri MM, Kabag Humas Drs Hanas Hasibuan MAP, dan alumni SMAN 4 terdiri dari penasihat Diana Ginting Ketua Alumni H Rusmadi SH, Sekretaris Ir Sofyan M Silalahi dan anggota E Leonard Silalahi SP. Menurutnya, untuk pembenahan gedung SMAN 4 ini sudah dianggarkan di APBD 2010 sebesar Rp2 miliar, dan pemerintah belum bisa memenuhi keseluruhan dana yang dibutuhkan. “Pembangunan tersebut ada prosedur dan harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Untuk itulah dimintakan berkonsultasi dengan Bappeda,” ujarnya. Pj Walikota Medan juga memberikan apresiasi kepada para alumni yang merasa punya tanggung jawab terhadap kondisi gedung sekolah tersebut. Menurutnya ada tiga sumber dana untuk membenahi gedung tersebut, yaitu selain dari APBD Kota Medan 2010, dari partisipasi para alumni, juga bisa mengusulkan dana Bantuan Daerah Bawahan (BDB) dari Pemprovsu. Ketua alumni SMAN 4 H Rusmadi SH mengatakan, gedung SMAN 4 ini selama 49 tahun belum pernah dibenahi, dan utnuk pembenahan dan renovasi gedung ini memerlukan dana sebesar Rp5 miliar. Untuk itu para alumni merasa terpanggil agar ada perhatian terhadap perbaikan. Dikatakannya, untuk rencana renovasi gedung SMAN 4 ini pihaknya sudah pernah melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kota Medan, dan ini merupakan yang kesekian kalinya, sedangkan upaya pihak alumni memang ada tapi sedikit sesuai dana yang ada, seperti perbaikan perpustakaan, halaman parkir dan kantor alumni. Menurutnya, SMAN 4 Medan merencanakan reuni ke-50 atau reuni emas yang digelar tahun 2010. Pada reuni tersebut akan diundang seluruh alumni untuk menghadirinya. “Mudahmudahan pada reuni tersebut ada solusi untuk renovasi pembangunan gedung SMAN 4 yang kami banggakan ini,” ujar Rusmadi. (SS)

Orangtua Siswa Datangi DPRD Tolak Pungutan SDN Soka
BANDUNG, Medikom–Puluhan orangtua siswa baru SD Negeri Soka Kota Bandung mendatangi ruang Komisi D DPRD Kota Bandung, pecan kemarin. Kedatangan mereka sebagai bentuk protes adanya pungutan sebesar Rp800.000 oleh komite sekolah dengan alasan untuk melanjutkan pembangunan gedung baru. Pungutan tersebut dirasakan mereka sangat memberatkan. “Pungutan itu sangat memberatkan kami. Apalagi sesuai aturan, untuk penerimaan siswa baru tidak ada pungutan,” ungkap Hermawan, salah seorang perwakilan orangtua siswa. Selain pungutan untuk pembangunan ruang kelas baru sebesar Rp800.000, kata Hermawan, pungutan lain sebesar Rp700.000 juga dilakukan komite sekolah dengan alasan untuk membeli berbagai kelengkapan seperti alat tulis, seragam, hingga buku lembar kerja siswa (LKS). Menyikapi pengaduan tersebut, Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung, Achmad Nugraha mengatakan, momen penerimaan siswa baru seringkali dimanfaatkan oleh segelintir oknum dengan menarik pungutan sejumlah uang kepada orang tua siswa. Padahal tindakan itu telah melanggar ketentuan Peraturan Daerah (Perda) No 15 tentang Penyelenggaraan Pendidikan yang menegaskan larangan pungutan kepada orang tua siswa baru. “Kami akan meminta pertanggungjawaban Disdik Kota Bandung,” tegasnya, usai audensi dengan orangtua siswa SD Negeri Soka 1-6. Kepala Disdik Kota Bandung, Oji Mahroji mengaku bahwa pihaknya sudah menerima laporan tentang adanya pungutan yang dilakukan komite sekolah di SD Negeri Soka. Menurut Oji, tindakan itu seharusnya tidak boleh terjadi. Karenanya, Oji meminta agar uang pungutan yang sudah ditarik segera dikembalikan. “Saya sudah terima laporan terkait masalah ini. Dan saya sudah perintahkan untuk mengembalikan pungutan yang sudah ditarik dari orang tua siswa baru tersebut,” tegas Oji di Gedung DPRD Kota Bandung, sambil berlalu menuju kendaraannya. Sementara menurut Pjs Ketua Komite Sekolah SD Negeri Soka, Sudirman Laweh, pungutan itu terpaksa dilakukan karena selama ini para siswa belajarnya berpindahpindah, seperti di ruang olahraga akibat terbatasnya ruang kelas belajar. Sedangkan siswa sangat membutuhkan kelas. (SR)

Pelajar Korea dan kepala sekolah Youke Noor Saepul

SMK Padjadjaran Dikunjungi Siswa dari Korsel
SUKABUMI, Medikom-Belum lama ini, SMK Padjadjaran Plus Kota Sukabumi kedatangan pelajar asal Negara Korea Selatan (Korsel), sebanyak 4 orang siswa yang bekerja sama dengan National Information Agency (NIA). Para siswa Korea Selatan ini akan mengikuti pembelajaran di sekolah tersebut. Maksud kedatangan mereka selain pertukaran pelajaran dan budaya masing masing terutama mengenai IT. Kepala SMK Padjadjaran Youcke Noor Saeful mengatakan, Korea adalah negara maju dalam hal IT-nya. “Dengan adanya pertukaran pelajar ini kami berharap dapat mentransfer informasi dari mereka,” ucap Youke. Lebih lanjut dikatakannya, dirinya sangat berharap ke depannya siswa SMK Padjadjaran sendiri bisa berkunjung ke negara lain khususnya ke Korea Selatan yang difasilitasi oleh National Information Agency (NIA), karena sekolah belum mampu untuk mendanainya. Sementara Kudrat, yang mewakili Dinas Pendidikan Kota Sukabumi, mengucapkan selamat datang kepada para siswa Korea peserta pertukaran budaya tersebut di Kota Sukabumi. Menurutnya dalam bidang IT negara mereka lebih maju dari Indonesia. Ia berharap dengan adanya program ini dapat memacu kreativitas para siswa SMK Padjadjaran plus Kota Sukabumi ini. Ke-4 siswa asal Korea ini diberi nama Sunda yaitu Ujang , Asep, Udin, dan Nyai Agustine. (Neu)

STPB Targetkan “Zero Unemployment”
BANDUNG, Medikom–Prospek pariwisata Indonesia secara statistik terus naik. Walaupun sempat ada kekhawatiran dengan adanya bencana alam, namun tidak memengaruhi animo wisatawan baik asing maupun domestik untuk berwisata. “Jadi menurut saya, prospek pariwisata Indonesia akan terus meningkat,” ujar Alexander Reyaan Kabag Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) saat ditemui Medikom, Kamis (15/6) di ruang kerjanya. Ia juga menegaskan, semua itu tergantung pada supply dan demand. Buktinya, hotel-hotel dan restauran di Bandung kian menjamur untuk memenuhi faktor demand. Begitupun dengan keberadaan infrastruktur jalan yang kurang memadai, jelasnya, tidak terlalu banyak berpengaruh pada kunjungan wisata. Apalagi, wisatawan asing sangat didominasi oleh transportasi udara. Sementara, wisatawan domestik juga terkadang tidak terpengaruh dengan infrastruktur jalan dan fasilitas lainnya, yang pada kenyataannya beberapa tempat wisata di Jabar kurang memadai. “Secara umum tidak terlalu banyak berpengaruh. Artinya bukan faktor penghambat yang signifikan bagi wisatawan domestik,” ujarnya. Sejalan dengan prospeknya dunia pariwisata, kata Alex, STPB menargetkan out put bagi lulusannya harus mampu terserap oleh industri kerja. Dengan kata lain, zero unemployment. Target tersebut, sesuai dengan apa yang ditugaskan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir Jero Wacik. “Itu adalah tugas berat namun mulia bagi kami,” tandasnya, seraya menegaskan, tugas berat itu bisa mudah dilaksanakan dengan dibentuknya unit profesional development yang bertugas memfasilitasi alumni STPB agar segera terserap industri dan juga melaksanakan job fair internasional tiap tahun berbarengan dengan diesnatalis dan dibuka untuk umum, khususnya alumni STPB. Sejak ditetapkanya program zero unemployment, beberapa tahun terakhir ini STP berhasil membuat lulusannya tidak pernah menganggur, dengan jeda tiga bulan alumni STP mendapat pekerjaan di perusahaan-perusahaan bonafide seperti PT Ajinomoto dan Carrefour, terutama kapal pesiar, hotel dan perusahaan travel. Data terakhir menunjukkan 37% alumninya bekerja di luar negeri. Dijelaskan, STPB memiliki dua program yaitu program akademik S1, vokasi D3 dan D4 yang bobot praktiknya lebih banyak dibandingkan teori. Kini, tambah dia, STPB pun membuka program khusus vokasi D1 dan D2 hospitality (hotel dan restaurant) yang lebih menekankan pada persiapan siswa untuk masuk industri kerja dengan bobot praktik lebih banyak ditopang dengan PDSP (pendidikan disiplin dan sikap profesi). Menurut Alex, STPB mengadopsi program kuliah dari negara Swiss. Karena, pada tahun 1973-1979, STPB pernah bekerja sama dalam bidang program studi untuk memajukan SDM pariwisata Indonesia. Untuk itu, dianggap perlu mendatangkan para ahli dari luar negeri khususnya negara Swiss yang sangat berpengalaman dalam bidang bisnis perhotelan. “Penamaan NHI sendiri berasal dari bahasa Inggris, yaitu National Hotel Institute karena masih dikelola oleh Swiss dan berubah menjadi STPB karena sudah tidak ada kerja sama lagi. Tetapi untuk program studi dan proses pembelajaran masih menggunakan program dari Swiss untuk memenuhi kebutuhan industri saat ini di bidang hospitality,” tutur Alex. Selama ini, tambah Alex, STPB memiliki obsesi menampung siswa asing untuk belajar dalam jumlah banyak. Namun, obsesi itu terbentur dengan strategi kebijakan soal biaya sekolah bagi siswa asing yang berkisar antara Rp20 juta s.d. Rp30 juta per tahun, serta soal subsidi yang diberikan oleh pemerintah pusat. “STPB adalah UPT dari Kemenbudpar, tentu saja tidak bebas dalam menentukan tarif siswa asing yang belajar di sini. Tidak seperti swasta,” imbuhnya. Perbedaan biaya pendidikan yang cukup mencolok, ujarnya, tentu menjadi kendala. Untuk program akademik Rp7 juta/tahun, program khusus Rp13 juta/tahun. Di samping itu, adanya keterbatasan fasilitas. “Sebenarnya biaya siswa untuk kuliah itu Rp20 juta, namun mendapat subsidi dari pemerintah Rp13 juta/siswa dan itu terhitung murah karena dengan biaya praktik,” tuturnya. Alex menambahkan, walaupun STPB sekolah pariwisata, namun pemahaman kebudayaan diterapkan melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti main degung dan seni tari daerah yang dilakukan setiap hari Jumat. Sentuhan lain dari pemerintah pusat adalah diwajibkannya bagi siswa, dosen dan karyawan untuk menggunakan pakaian batik. “Dari sisi kebudayaan, STPB melakukan pengembangan dengan cara PSBM (pekan seni budaya mahasiswa) yang dilakukan satu tahun sekali selama sepekan dengan cara mengapresiasikan salah satu budaya Indonesia,” ujarnya. (NW)

SMPN 3 Siap Menuju Sekolah Adiwiyata
SUKABUMI, Medikom-SMPN 3 Kota Sukabumi berusaha untuk unggul di bidang lingkungan. Ini terbukti setiap ada penilaian lomba Adipura, SMPN 3 yang beralamat di Jln Pelabuhan II ini selalu ditunjuk sebagai sekolah percontohan, karena sekolah ini berwawasan lingkungan. Sekolah ini juga sedang mempersiapkan diri menuju sekolah Adiwiyata. Kepala SMPN 3 H Muji Purnomo mengungkapkan, sekolahnya memang tidak mempunyai unggulan seperti sekolah-sekolah lain, namun sekolahnya selalu masuk penilaian dalam Adipura, karena sekolahnya berwawasan lingkungan. Untuk mewujudkan sekolah yang berwawasan lingkungan tentunya tidak mudah karena dibutuhkan kebersamaan dan kedisiplinan. Sementara untuk mewujudkan SMPN 3 menjadi komputer, lapangan Sekolah Adiwiyata basket, bulutangkis menurut Muji banyak dan kantin sekolah kriteria yang harus yang baru. ditempuh, di antaranya Muji menamlingkungan di luar bahkan, SMPN 3 siap sekolah 20 persen melaksanakan sebagai pendukung agar semua program sekolah tetap bersih pemerintah dan siap dan hijau. Mulai dari bersaing dalam hal fisik bangunan sampai mutu dengan sekopenataan lingkungan. lah sederajat Lebih jauh Muji lainnya. Ia berharap mengungkapkan, agar dalam H Muji Purnomo sekolah yang melaksanakan dipimpinnya sekarang seluruh program di sudah menjadi sekolah standar sekolahnya tetap ada kerja sama nasional (SSN), sarana dan yang baik dari semua pihak. prasarana sudah dilengkapi mulai “Dengan ada-nya kebersamaan dari ruangan gedung yang hampir seluruh pro-gram akan berjalan 90% baru, kemudian dilengkapi lancar, yang penting selalu ada dengan ruangan lab IPA, lab komunikasi antara siswa, orang multimedia (tahun sekarang), lab tua dan guru,” ujarnya. (Ne)

Selama 49 Tahun Belum Ada Perbaikan Gedung

SMAN 4 Kota Medan Dapat Kucuran Dana Rp2 M

9.398 Siswa SMA Gakin Terima Beasiswa
SOREANG, Medikom-Sebanyak 9.398 siswa SMA dari keluarga miskin (Gakin) di Kabupaten Bandung mendapatkan bantuan beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Bandung. Bantuan beasiswa yang nominalnya berjumlah Rp1 juta per siswa tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bupati Bandung H Obar Sobarna SIP di Gedung Muh Toha, Kompleks Pemkab Bandung, Rabu (14/7). Menurut Bupati, bantuan Beasiswa Gakin ini merupakan bantuan pertama pada tahun ini dan diharapkan berlanjut pada tahun berikutnya. Mekanisme penyaluran dana beasiswa gakin ini menurut Obar, uangnya tidak diberikan langsung kepada siswa, melainkan langsung ke sekolah tempat siswa tersebut belajar, namun setiap siswa yang menerima akan mendatangani bukti penyerahan bantuan dari pemerintah ke sekolah. “Bantau tersebut nantinya bisa digunakan untuk dana sumbangan tahunan atau dana sumbangan bulanan,” jelas Obar. Bantuan beasiswa Gakin dengan anggaran sekitar Rp9,3 miliar yang berasal dari APBD Kabupaten Bandung ini belum mampu untuk mengakomodir seluruh siswa Gakin, karena jumlah siswa Gakin di Kabupaten Bandung ada sekitar 20.000 orang. “Mudah-mudahan tahun selanjutnya semua siswa Gakin bisa mendapatkan bantuan tersebut,” ujar Bupati. Pada acara tersebut juga dilakukan penyerahan secara simbolis dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) 2010, dana bantuan BOS tahun 2010 ini meningkat dari tahun sebelumnya dengan nilai yakni Rp220.953.527.000, APBD Provinsi Rp40.145.622.500 dan APBD Kabupaten Rp21.451.515.000, sedangkan penyalurannya pada tahun ini diberikan pada 1.598 sekolah dasar, dengan jumlah siswa 40.4378 orang dan 516 SMP dengan jumlah siswa 150.360 orang. Pada sambutan terakhirnya Bupati mengharapakan agar bantuan tersebut dalam penyalurannya tidak ada masalah dan tidak ada penyimpangan.Jika ada pihakpihak yang mencoba melakukan kejahatan akan berurusan dengan hukum. Pada acara tersebut, selain Bupati Bandung, tampak hadir para kepala SKPD, termasuk Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Drs H Juhana MPd, para Kabid SD, SMP, SMA (Suhendar)

MEDAN, Medikom-Pj Wali Kota Medan H Syamsul Arifin SE sangat sedih mendengar gedung SMAN 4 Kota Medan selama 49 tahun belum ada perbaikan. Pernyataan ini diungkapkannya ketika menerima audensi alumni SMAN 4, Rabu (14/7) di Balai Kota Medan. “Sangat menyedihkan sekali 49 tahun belum ada perbaikan gedung, saya kecewa sama pemerintah dan juga kecewa sama para alumni, pemerintah punya tanggung jawab sedangkan alumni punya kebanggaan kepada sekolahnya,” ungkap H Syamsul Arifin. Pj Wali Kota Medan H Syamsul Arifin SE didampingi Sekda Drs H Moh Fitriyus SH MSP, Kadis Pendidikan Drs H Hasan Basri MM, Kabag Humas Drs Hanas Hasibuan MAP, dan alumni SMAN 4 terdiri dari penasihat Diana Ginting Ketua Alumni H Rusmadi SH, Sekretaris Ir Sofyan M Silalahi dan anggota E Leonard Silalahi SP. Menurutnya, untuk pembenahan gedung SMAN 4 ini sudah dianggarkan di APBD 2010 sebesar Rp2 miliar, dan pemerintah belum bisa memenuhi keseluruhan dana yang dibutuhkan. “Pembangunan tersebut ada prosedur dan harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Untuk itulah dimintakan berkonsultasi dengan Bappeda,” ujarnya. Pj Walikota Medan juga memberikan apresiasi kepada para alumni yang merasa punya tanggung jawab terhadap kondisi gedung sekolah tersebut. Menurutnya ada tiga sumber dana untuk membenahi gedung tersebut, yaitu selain dari APBD Kota Medan 2010, dari partisipasi para alumni, juga bisa mengusulkan dana Bantuan Daerah Bawahan (BDB) dari Pemprovsu. Ketua alumni SMAN 4 H Rusmadi SH mengatakan, gedung SMAN 4 ini selama 49 tahun belum pernah dibenahi, dan utnuk pembenahan dan renovasi gedung ini memerlukan dana sebesar Rp5 miliar. Untuk itu para alumni merasa terpanggil agar ada perhatian terhadap perbaikan. Dikatakannya, untuk rencana renovasi gedung SMAN 4 ini pihaknya sudah pernah melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kota Medan, dan ini merupakan yang kesekian kalinya, sedangkan upaya pihak alumni memang ada tapi sedikit sesuai dana yang ada, seperti perbaikan perpustakaan, halaman parkir dan kantor alumni. Menurutnya, SMAN 4 Medan merencanakan reuni ke-50 atau reuni emas yang digelar tahun 2010. Pada reuni tersebut akan diundang seluruh alumni untuk menghadirinya. (SS)

SMKN 1 Katapang Menuju Sekolah Terunggul di Jabar 2015
SOREANG, Medikom-Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Katapang yang berlokasi di Jalan Ceuri Terusan Kopo KM 13,5 Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung keberadaannya terus mengalami kemajuan.Berbagai prestasi telah diraih, baik di tingkat Kabupaten Bandung, provinsi maupun tingkat nasional, sehingga tidaklah heran jika banyak lulusan SMP di Kabupaten Bandung berharap dapat diterima menjadi siswa di sekolah ini. Apalagi dengan adanya program pemerintah untuk meningkatkan mutu SDM melalui jalur sekolah kejuruan dengan harapan dapat menciptakan generasi muda sebagai tenaga trampil yang siap pakai dan memenuhi kebutuhan pasar kerja. SMKN 1 Katapang yang pada saat didirikan pada tahun 1999 silam, dengan nama awal SMKN 4 Soreang, di mana program keahlian teknologi yang diselenggarakan pun telah disesuaikan dengan pasar kerja yang ada di Kabupaten Bandung, mengingat di wilayah Kabupaten Bandung banyak terdapat pabrikan yang mapu menyerap tenaga-trampil lulusan SMK. Ketika Tahun pelajaran 1999/ 2000 di mana sekolah ini untuk pertama kali menerima siswa baru sebanyak 144 siswa, dengan program keahlian teknologi penyempurnaan tekstil, teknik elektro dan mesin perkakas. Karena saat itu gedung unit sekolah baru (USB) yang dibangun dengan Loan OCF dari pemerintah Jepang ini masih dalam tahap pengerjaan, maka kegiatan belajar mengajar dilakukan di SMPN 1 Katapang. Pada tahun 2000 sekolah ini beganti nama menjadi SMKN 1 Katapang, dan kemudian membuka program keahlian Teknik Mekanik Otomotif. SMKN Katapang pun mulai membuka kerja sama hubungan industri dengan berbagai lembaga, seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT Hanjaya dan beberapa perusahaan lainnya. Pada tahun pelajaran 2006/2007 sekolah ini kembali menambah program keahlian yakni keahlian teknik komputer jaringan. Drs Asep Rusmana SPd MMPd yang telah menjabat sebagai kepala SMKN 1 Katapang sejak 2009 terus berupaya melakukan pengembangan-pengembangan yang sejalan dengan visi, misi dan tujuan SMKN 1 Katapang, di antaranya menciptakan siswa yang beriman dan taqwa serta berwawasan global. Rencana pengembangan di antaranya mengarah menjadi sekolah menengah kejuruan terunggul di Jawa Barat pada tahun 2015. Beberapa hal hal yang menjadi kunci pokok dari rencana pengembangan SMK Negeri 1 Katapang, yakni mendapatkan sertifikat ISO, menggunakan dua bahasa dalam proses pembelajaran (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris), menjalin kemitraan dengan dunia usaha dalam dan luar negeri, memiliki sarana dan prasarana yang memenuhi standar minimal serta memiliki program unggulan. Menuruut Asep Rusmana SMKN 1 Katapang telah menyandang predikat Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) sejak tahun 2007. Pada tahun pelajaran 2010/2011 siswa yang ada sebanyak kurang lebih 1.100 siswa. Jumlah SDM termasuk guru dan karyawan yang ada saat ini berjumlah kurang lebih 102 orang, 79 di antaranya berstatus PNS Dalam rangka kerja sama sekolah dengan masyarakat, SMK Negeri 1 Katapang telah melaksanakan beberapa kegiatan, di antaranya membuka kemitraan dengan

Pemkab Garut Sambut Peserta KKL dari Jogyakarta
GARUT, Medikom–Pemerintah Kabupaten Garut senantiasa concern membangun hubungan kelembagaan dengan berbagai pihak dan selalu memberikan perhatian terhadap upaya peningkatan kualitas sumber daya aparatur. Pemkab juga fokus terhadap peningkatan kapasitas kelembagaan dalam mendorong peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan publik. Demikian disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesra Pemerintah Kabupaten Garut, R Arus Sukarna pada acara Penerimaan Peserta Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta, di Ruang Rapat Setda Kabupaten Garut, Selasa (13/7). Dirinya menambahkan, Kabupaten Garut membuka kesempatan yang seluas-luasnya kepada para peserta dan pembimbing untuk melakukan eksplorasi, baik informasi maupun fasilitas sarana dan prasarana serta personel pendamping untuk memperlancar pelaksanaan tugas

yang diembankan oleh kampusnya. Semoga Kabupaten Garut dapat memberikan pengamalan serta pengetahuan yang diharapkan oleh para peserta KKL ini. Sementara itu, Ketua Rombongan Kerja Lapangan (KKL) Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta, Tomy Suprapto mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Garut yang telah menerima rombongannya serta berharap keja sama ini akan tetap terjalin, yang diawali dengan KKL ini.

Dirinya menambahkan, para peserta merupakan perwakilan kota/kabupaten se-Indonesia. Jumlah peserta yang siap melaksanakan KKL di Kabupaten Garut berjumlah 43 orang yang akan disebar di beberapa instansi. Instansi yang akan disinggahi para peserta KKL, di antaranya Bagian Informatika, Satpol PP, Yantap, Disnakersostran, Bagian Organisasi, RSU dr Slamet, Kecamatan Garut Kota, Dinkes, Disbudpar dan Dinas TPHP. (Kus)

berbagai perusahaan dan industri. Sebagai mitra dari dunia usaha dan dunia industri SMK Negeri 1 Katapang juga terus menjalin kerja sama dengan banyak perusahaan dalam rangka membentuk tenaga kerja yang terampil dan menciptakan lapangan kerja baru. SMK Negeri 1 Katapang juga telah melaksanakan Pendidikan Kecakapan Hidup (BBE Life Skill) untuk pemuda putus sekolah yang berada di lingkungan SMK Negeri 1

Katapang. Green School Untuk mengakomodir berbagai kegiatan di sekolah, baik kegiatan akademis, non akademis maupun kegiatan ekstrakurikuler, saat ini SMKN 1 Katapang telah memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai yakni sekitar 32 ruang yang di antaranya ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, ruang belajar, perpustakaan, lab bahasa,

Lab IPA, ruang komputer, ruang BP, tiga ruang keterampilan, masjid, gudang, lapangan olahraga, lapangan upacara, ruang OSIS, ruang UKS dan WC. Lahan seluas 2 hektare yang sebagian merupakan halaman sekolah tampak tertata rapih, asri dan hijau, menandakan sekolah ini peduli terhadap lingkungan, sehingga wajar bila dijuluki Green School. (Suhendar)

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

Lintas
FWT Peringai HUT Ke-3
TASIKMALAYA, Medikom–Wali Kota Tasikmalaya Drs H Syarif Hidayat MSi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas pelaksanaan kegiatan peringatan HUT III Forum Wartawan Tasikmalaya di Gedung Korpri Dadaha, Kota Tasikmalaya, Kamis (15/7). Pada acara yang disaksikan unsur pejabat pemkot, Forum Konsultasi Daerah dan angota FWT tersebut, Wali Kota mengatakan, wartawan adalah mitra pemerintah dan mitra dari masyarakat. Ia mengimbau agar para pelaku jurnalistik untuk berkompetisi secara fair. Sekretaris FWT Apang Sopyan mnjelaskan, kegiatan peringatan HUT FWT diselengarakan tiap tahun dengan menggelar festival karaoke memperebutkan trofi Wali Kota Tasikmalaya. Kali ini, festival diikuti 35 peserta. Sementara, dalam sambutannya, Ketua FWT Hakri Miko menjelaskan, FWT berdiri sejak tahun 2007. Untuk mengisi acara pada peringatan HUT FWT, ujarnya, bukan dengan kegiatan festival karaoke saja. Tetapi ke depan, akan melaksanakan kegiatan dalam bidang pendidikan yaitu mengadakan cerdas cermat. (A Cucu)

8

Lelang Proyek Kota Depok Diduga Penuh dengan Pungli
DEPOK, Medikom–Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika proses tender lelang proyek-proyek di pemerintahan baik daerah maupun pusat selalu diwarnai pungutan liar (pungli) terhadap pengusaha yang mengikuti tender sehingga membuat gemuk para oknum panitia lelang dan kroni-kroninya. Tidak itu saja, bahkan ada beberapa oknum pengusaha seperti terjadi di Bogor Jawa Barat mengerahkan preman untuk berebut tender yang berujung terjadinya pembacokan akibat pungli. Di Kota Depok proses tender proyek hingga panitia seleksi sampai ke pengumuman pemenang lelang, tak ubahnya seperti di Bogor, penuh dengan dugaan rekayasa dan diduga pula telah terjadi pungutan liar (pungli) terhadap para pengusaha. Meski sulit untuk dibuktikan, setidaknya hal tersebut banyak diakui oleh beberapa rekanan yang mengikuti proses tender hingga hasil pengumuman lelang. Bahkan mereka mengaku rugi puluhan juta untuk biaya SPH lobi sana-sini tetapi tender tidak menang alias kalah karena sudah diatur alias ada kongkalikong yang tidak sehat. “Kalau bicara pungli itu sudah biasa bung, dan kami memang telah memberikan uang kepada sejumlah panitia lelang termasuk untuk biaya seleksi yang digelar di Puncak. Itu pun inisiatif kami, mereka tidak meminta tetapi dengan catatan perusahaan kami bisa dimenangkan saat pengumuman lelang,” ujar seorang pengusaha yang mohon dirahasiakan namanya dengan dalih kurang etis untuk dipublikasikan. Sumber juga menolak saat ditanya berapa jumlah uang yang disetor kepada panitia seleksi saat berlangsung di Puncak untuk meloloskan. Dia mengatakan sudahlah bung jangan diperdebatkan karena di setiap daerah pun seperti itu,” ujarnya. Hal senada di ungkapkan H Tobri (49). Mantan pengusaha yang kini beralih profesi menjadi pengusaha warnet itu mengungkapkan, sejak dirinya mengikuti berbagai tender di instansi pemerintahan selalu merugi karena banyak lobinya serta ada permintaan berbagai uang oleh oknum panitia lelang dengan dalih bakal diloloskan dalam proses lelang. Kenyataannya saat pengumuman tidak lolos, padahal harga penawarannya terendah dengan nomor urut tiga dari empat perusahan yang lolos seleksi. Soal pungli terhadap pengusaha oleh oknum diakui Tobri kebenarannya. Lantaran ia pernah mengalaminya. Belum lagi berbagai potongan jika tender diloloskan, harus memberi komitmen fee untuk Kepala Bidang dan Kepala Seksi yang jumlahnya bervariasi sesuai dengan pagu anggaran setelah dipotong pajak PPH dan PPN. “Kalau sudah begitu dari mana lagi pengusaha dapat untung kalau bukan mencuri volume? Akibatnya tentu dapat berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan. Makanya jangan heran jika pekerjaan baru tiga bulan sudah banyak yang rusak,” ungkap H Tobri transparan. Kepala Bidang Jalan dan Lingkungan Dinas Binamarga dan Sumberdaya Air (Dibimasda) Kota Depok, Fenti, terkait adanya dugaan pungli terhadap pengusaha oleh oknum panitia dalam proses lelang itu belum bisa ditemui. Hal yang sama kepala Dinas Dibimasda Yayan Ariyanto, belum bisa ditemui, namun sejumlah kalangan berharap kepala dinas agar menindak bawahannya jika benar ditemukan menerima pungli dari pengusaha dalam proses tender. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Inspektorat Daerah diharapkan tidak tinggal diam atas informasi dugaan adanya pungli di sejumlah daerah dalam setiap proses tender pengadan barang dan jasa. (Lucy/FR Ambarita)

Harga Sayuran Melonjak
GARUT, Medikom–Sejumlah harga kebutuhan pokok di Kabupaten Garut, Jawa Barat mengalami kenaikan. Peningkatan harga itu telah terjadi sejak satu bulan terakhir ini. Peningkatan harga paling menonjol terjadi pada komoditas sayur mayur. Kenaikan harganya mencapai antara 30-40 persen dari biasanya. Bahkan untuk harga sayuran jenis cabai mengalami peningkatan sekitar 60 persen. “Kenaikannya sulit diprediksi, berubah-ubah terus tiap harinya,” ujar Dadang Abdul Hamid (38), salah seorang pedagang di Pasar Induk Guntur, Garut, Senin (12/7). Menurut dia, fluktuasinya harga barang tersebut diakibatkan oleh kurangnya antisipasi dari pemerintah. Terbukti dari sistem distribusi barang yang kerap mengalami keterlambatan. Akibatnya persediaan barang di tingkat pedagang kian menepis. “Kami terpaksa menaikkan harga karena tidak ada pengiriman dari petani,” ujarnya. Meski harga barang melambung, tambah Dudung, para pedagang tidak memperoleh keuntungan lebih. Soalnya, omzet penjualan barang yang mengalami kenaikan itu menurun drastis. Harga jual hanya cukup untuk menutupi ongkos angkut saja. Dia mencontohkan, sebelum kenaikan harga, dirinya bisa menjual gula merah sebanyak 23 ton per minggu dengan harga Rp6.000 per kilogram. Setelah harganya naik menjadi Rp10.000 per kilogram, hanya mampu menjual sebenyak 2 kuintal selama dua pekan. “Kenaikan harga ini juga berpengaruh terhadap menurunnya daya beli masyarakat,” ujar Dudung. Karenanya, dia berharap pemerintah untuk segera mengantisipasi kelangkaan barang tersebut. Karena dampak kenaikan ini juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup para pedagang pasar tradisional. Berdasarkan pantauan di Pasar Guntur, kenaikan harga untuk pekan ini di antaranya cabai rawit yang awalnya Rp20.000 per kilogram kini menjadi Rp30.000 per kilogram, cabai merah dari Rp27.000 menjadi Rp40.000, kol yang tadinya Rp4.000 menjadi Rp5.000, kentang dari Rp5.000 menjadi Rp6.500 dan bawang putih yang tadinya Rp20.000 naik menjadi Rp24.000 per kilogram. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Tatang Hidayat, membantah bila kenaikan harga sayuran di tingkat pedagang diakibatkan oleh kelangkaan barang. Menurutnya, produksi sayuran selama satu tahun di wilayahnya rata-rata mencapai sekitar 620.000 ton. Hasil produksi pertanian itu setiap tahunnya mengalami surplus. Dia mencontohkan, dalam satu tahun produksi cabai mencapai 8090 ribu ton. Dari jumlah produksi tersebut sekitar 40 persennya dikonsumsi oleh masyarakat Garut. Sedangkan sisanya disuplai ke luar daerah. “Tidak mugkin langka, ini hanya hukum pasar saja,” ujarnya ditemui di ruang kerjanya. Menurut dia, kenaikan hargaharga sayuran ini merupakan hal yang biasa, apalagi menjelang peringatan hari-hari besar keagamaan. Karennya Tatang memprediksi harga sayuran seperti cabai akan terus mengalami kenaikan selama dua bulan ke depan menjelang Hari Raya Idulfitri nanti. (NIK)

Kejari Cikarang Menetapkan Satu Tersangka
BEKASI, Medikom-Kepala Kejaksaan Negeri Cikarang Undang Mugopal memastikan barang bukti yang disita akan dijadikan alat bukti di pengadilan. Setelah menyita ratusan barang bukti, Kejaksaan Negeri Cikarang menyita barang bukti perangkat multimedia dari 30 sekolah yang ada di Kabupaten Bekasi. Kejari Cikarang telah menetapkan satu tersangka berinisial ES dalam kasus tersebut. “Barang bukti ini akan didata dan dilaporkan ke BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan),” tegas Undang. Barang bukti perangkat multimedia yang sedang didata tersebut, di antaranya laptop, proyektor infokus, stabilizer, kamera digital, DVD player, printer, dan CD paket materi pelajaran. Kejari berharap agar Kasi Pidsus Agus Setiadi bisa secepatnya menyelesaikan kasus ini. Dalam kasus senilai Rp3 miliar tersebut baru ditetapkan satu orang tersangka berinisial ES. “Kasus multimedia ini sangat penting dengan dijebloskannya ES ke Rutan Bulak Kapal akan membuka semua rahasia yang selama ini masih mengganjal,” terang Undang.(Ign/Stef)

Bupati Ciamis Sambut Positif Harganas-Jumbara
CIAMIS, Medikom-Peringatan Hari Keluarga Nasional XVII di Kabupaten Ciamis, Kamis (15/7), dilakukan bersamaan dengan Jumbara Diloka Kencana, pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) VII, dan pendataan keluarga tingkat Kabupaten Ciamis. Bupati Ciamis H Engkon Komara, dalam sambutannya mengatakan, merupakan momen yang sangat tepat untuk merangkai berbagai kegiatan yang sifatnya saling mendukung dan membangun, sehingga memberikan manfaat yang positif bagi masyarakat. Di antaranya seperti acara jumbara kali ini yang bukan hanya dalam hal mencari kejuaraan, tetapi merupakan media silaturahmi dan membina. “Di samping hal tersebut, bahwa pelaksanaan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat yang ke tujuh ini merupakan momen yang tepat untuk mengalokasi semangat gotong royong, yang intinya saya selaku Bupati menyambut baik acara jumbara ini. Apalagi kita kaitkan acara ini secara kebersamaan dengan Hari Keluarga Nasional,” katanya. Kegiatan jumbara itu sendiri, seperti diterangkan Drs Dian selaku Kasubag Humas BK dan BM, dilaksanakan di Pantai Bojong Salawe Kecamatan Parigi, dari tanggal 12 hingga 14 Juli 2010. Dalam dari tiga hari kegiatan jumbara ini digelar, diisi dengan beberapa acara. Di antaranya lomba cerdas cermat tingkat kabupaten, lomba penyuluhan remaja Ciamis, dan lomba syair/lagu remaja guna untuk meningkatkan para remaja agar tidak terbawa kenakalan remaja yang sekarang ini sangat memprihatinkan. (Herz/Agus S)

Kereta Api Jadi Perdebatan Dua Kepala Daerah
BOGOR, Medikom–Kemacetan di Bogor sudah menjadi masalah klasik. Selain banyaknya kendaraan umum, salah satu penyebab menumpuknya jumlah kendaraan di Kota Bogor adalah akibat terfokusnya pemberangkatan kereta api dari stasiun Kota Bogor yang terletak persis di jantung Kota Bogor, Jalan Nyi Raja Permas. Hal ini mengakibatkan berbondongbondong angkutan kota (angkot) masuk dan keluar menuju stasiun. Untuk itu, Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor kini berupaya memecahkan masalah kemacetan di Bogor dengan cara membatasi jumlah kereta api yang masuk ke Stasiun Kota Bogor. Ke depan, studi kasus pemindahan pusat keberangkatan kereta api dari St Beos ke St Gambir mungkin akan diadopsi oleh Pemerintah Kota Bogor. Hal ini akan diusulkan oleh Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor kepada PT KAI selaku operator perkeretaapian di Indonesia. Solusi ini menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi kemacetan di Kota Bogor. Karena dari hasil pengamatan sementara, hampir 80% pengguna kereta api adalah warga Kabupaten Bogor, bukan warga Kota Bogor. Namun, karena keberangkatan kereta berpusat di Kota Bogor, membuat warga Kabupaten Bogor setiap harinya berduyun-duyun masuk ke wilayah kota Bogor . Ini berdampak langsung pada kemacetan dan kesemerawutan di Kota. “Bagaimana Pak Wali kalau distop saja stasiun kereta di Bogor. Karena 80% pengguna kereta adalah warga kabupaten, dengan adanya penumpang yang berpindah dari kereta ke angkot, maka angkot berebut masuk ke wilayah jantung Kota Bogor. Tidak ada lagi mereka menggubris aturan lalu lintas. Siapa yang akan menyetop mereka kalau mereka masuk pagi-pagi dan menjemput kembali pada pukul 5 sore sampai jam 9 malam. “Ini termasuk salah satu rekayasa lalu lintas yang harus kita kembangkan,” kata Bupati Bogor Rachmat Yassin dalam acara Bogor Economic Summit, di Hotel Novotel Bogor, Rabu (14/7). Walikota Bogor Diani Budiarto pun sepakat dengan ide tersebut. Menurutnya, pihaknya kini telah memberikan data dan masukan kepada PT KAI. Usulannya yaitu stasiun utama akan dibuka di Cilebut. Kemudian akan dibuka akses ke Parung, Bojong dan pusat kota. “Sekarang kan banyak orang kabupaten yang ke kota terus ke kabupaten lagi, jadi nanti orang kabupaten tidak perlu ke kota lagi. Ini masalah akses saja. Yang bikin penuh kan orang kabupaten, coba lihat kalau pagi. Jadi ini bukan mengambil alih, tetapi hanya memindahkan saja. Seperti halnya antara Stasiun Gambir dan Stasiun Kota. Ini bukan hal baru (di dunia perkeretaapian),” ungkapnya. Diani pun menekankan bahwa Stasiun Bogor tetap beroperasi. Namun pemberangkatan kereta tidak lagi dipusatkan di Bogor, tetapi di Cilebut. “Stasiun Bogor masih beroperasi, seperti Stasiun Kota dan Gambir. Sekarang tidak semua kereta masuk ke Stasiun Kota, tapi ke Gambir. Jadi hanya yang masuk ke kota yang turun di situ, sisanya turun di sana (Stasiun Gambir),” jelasnya. Namun, Diani menegaskan bahwa sekali lagi, pilihan tersebut akan diputuskan oleh PT KAI. Bukan Pemerintah Kota Bogor, apalagi Pemerintah Kabupaten Bogor. “Ini tergantung PT KAI. Yang menentukan pindah kemana itu bukan kita, kita hanya memberikan masukan saja, ini kondisinya begini. PT KAI lah yang menentukan, dengan harapan apapun keputusan yang diambil untuk kebaikan bersama.” kata Diani. (gan)

Diwarnai Kejar-Kejaran dan Tembakan

Anggota Polres Ciamis Berhasil Bekuk Kawanan Rampok
CIAMIS, Medikom-Aksi perampokan kembali menggoyang wilayah hukum Polres Ciamis, Kamis (15/7) sekitar pukul 02.00 WIB. Kali ini menjadi korban Lia Tharmita (36), seorang janda yang juga pengusaha ikan asal Dusun Kalapatiga RT 05/09, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Pelaku perampokan diduga lebih dari enam orang. Hasil rampokannya lima buah ponsel, parabola, perhiasan seberat 1 kg terdiri atas kalung, cincin dan gelang, 1 buah camcorder dan uang tunai sebesar Rp3 juta. Lalu komplotan itu melarikan diri ke arah Ciamis kota menggunakan mobil Suzuki APV. Setelah kejadian korban langsung melapor ke polsek setempat. Anggota kepolisian setempat, langsung melakukan pengejaran Kamis dini hari itu juga. Sementara Satuan Polisi Lalu Lintas Polres Ciamis melakukan upaya pencegahan dengan melakukan razia di berbagai titik jalan. Hampir empat jam melakukan pengejaran dengan berbagai cara, akhirnya anggota Polres Ciamis lainnya berhasil menemukan identitas dan ciriciri mobil pelaku perampokan. Tapi dasar perampok, tidak mau menyerah begitu saja, tetap berusaha kabur. Terjadi kejarkejaran yang ditimpali suara letusan pistol petugas. Akhirnya sebutir peluru berhasil menembus ban kiri mobil APV warna hitam tersebut. Gembosnya ban mobil membuat laju kawanan rampok tersebut akhirnya terhenti tepat di Dusun Rimpakgede RT 04/04 Desa Sukamulya Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis. Tujuh perampok keluar dari mobil dan kembali mengambil langkah seribu sembari meninggalkan kendaraannya. Suara letusan pistol petugas membuat warga setempat menyadari sedang terjadi pengejaran perampok oleh petugas kepolisian. Warga sekitar pun langsung membantu petugas mengejar kawanan perampok yang masuk wilayahnya. Alhasil sekitar pukul 07.00 pagi, warga setempat mencurigai kedatangan dua orang yang hendak membeli nasi di warung Ny Ecin, warga setempat. Saat itu Kasat Lantas Polres Ciamis, AKP Asep Sukarna yang tengah berpatroli mengejar kawanan pencuri tersebut, hendak membeli air minum ke warung Ny Ecin. Saat itu Kasat Lantas, AKP Asep Sukarna mau mengintrogasi kedua warga yang dianggap asing oleh warga sekitar. Belum sempat diinterogasi, kedua orang tersebut langsung kabur. Aksi kejar-kejaran kembali terjadi. Akhirnya terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas. Satu orang roboh diterjang peluru panas dari pistol Kasat Lantas Ciamis, AKP Asep S. Polisi berhasil meringkus Nasuha (39), warga Desa Kalisapu Kecamatan Karangjati, Cirebon, yang ternyata satu dari tujuh komplotan penjahat tersebut. Setelah melumpuhkan satu perampok, polisi kembali berhasil membekuk dua orang pelaku lainnya, yakni Sutrisno alias Trisno (39), sopir APV, warga Kampung Neglasari, Desa Suranegara Karangjati, Cirebon, dan Tarji alias Jibang (36), warga Sukanagara Kecamatan/Kabupaten Cirebon. Sementara empat orang kawanan lainnya berhasil melarikan diri ke hutan gunung Sawal. Mereka masih dalam penyisiran puluhan anggota polisi bersenjata lengkap dari berbagai fungsi. Dalam aksi pengejaran itu pihak Polres Ciamis pun melibatkan anjing pelacak. Empat pelaku yang diduga masih bersembunyi di hutan gunung Sawal ialah Selamet (30), warga Suranegara Kecamatan/Kabupaten Cirebon, Soniy (45), warga Jatiwangi Majalengka, Emul (40), warga Sumedang, dan Dodi (39), warga Cijeledug. Barang bukti (BB) yang berhasil diamankan pihak Polres Ciamis, di antaranya satu buah clurit, satu samurai, alat pijat dan mobil APV warna hitam nopol E 300 YB, kini diamankan Kanit Identifikasi Polres Ciamis Bripka Marsidi. Kapolres Ciamis AKBP Agus Susanto Santoso SIK mengatakan, pihaknya sampai Jumat (16/7), masih terus mengepung lokasi gunung Sawal. “Hingga saat ini kami terus melakukan upaya pencarian pelaku. Ada 50 anggota Polri yang kami turunkan dari berbagai kesatuan untuk mengepung kawanan perampok itu,” terang Agus kepada wartawan. Selain menurunkan anggota dan membentuk tiga tim, pihaknya pun sangat berantusias melihat respons masyarakat sekitar yang ikut serta mengejar keempat anggota kawanan rampok tersebut. “Saya sangat berterima kasih sekali kepada warga di sini, yang ikut serta dari subuh hingga sore ini mengejar perampok,” ujar Agus. (Herz)

Ratusan Tabung Gas 3 Kg Bocor dan tidak Ber-SNI
CIREBON, Medikom–Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Cirebon menemukan ratusan tabung gas elpiji ukuran 3 kg dalam kondisi bocor menyusul inspeksi mendadak (Sidak), Kamis (15/7). Temuan tersebut di antaranya saat petugas Disperindag masuk ke gudang milik Rejeki Indo Alam Jln Pekiringan, Kota Cirebon. Digudang itu ditemukan ratusan tabung ukuran 3 kg dalam keadaan bocor dan berkarat. Susanto, bagian gudang pada agen penjualan gas elpiji tersebut mengatakan, tabung gas elpiji 3 kg yang bocor teresebut telah dipisahkan dengan gas elpiji yang tidak bocor. “Tabung gas elpiji 3 kg ini merupakan pengembalian dari masyarakat. Rencananya tabung-tabung gas elpiji yang bocor ini ditukarkan kembali ke stasiun pengisian bulak elpiji (SPBE) Kanci. Jadwal pengembaliannya biasanya Selasa dan Kamis,” terang dia kepada tim pemantau yang dikomandoi Kabid Perdangan Dalam Negeri Diperindag Kota Cirebon, H Eddy Tohidi. Selain temuan kebocoran pada ratusan tabung gas elpiji 3 kg, sebelumnya petugas juga menemukan pengurangan isi tabung gas 12 kg pada sejumlah agen gas elpiji. “Pengurangan gas 12 kg dan 3 kg ini lebih dikarenakan tersimpan lama. Sehingga, terjadi penguapan gas dalam tabung gas yang kami simpan,” kilah salah seorang karyawan agen Idola Sentosa di Jln Sisingamangaraja kepada petugas. Tak hanya itu, petugas juga menyidak selang dan regulator yang dijual supermarket dan toko. Hasilnya, ditemukan sejumlah merek selang dan regulator yang tidak ber-SNI dan tidak menggunakan bahasa petunjuk Indonesia. Selang dan regulator itu antara lain merek Rinnai, Quick-on 630, dan produksi Carrefour. “Jika memang SNI yang terpasang ini diragukan, kami akan segera menarik regulator ini,” jelas Devisi Manager Carrefour Cirebon, Guntur. Kepada Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Rohedy Yoedhi K melalui Kabid Perdagangan Dalam Negeri, H Eddy Tohidi mengatakan, berdasar temuan di lapangan, pihaknya mengimbau kepada agen untuk tidak mengedarkan tabung gas bermasalah. “Meski belum diketemukan kecelakaan dalam penggunaan tabung gas, namun kami akan terus melakukan pemantauan. Ini kita lakukan demi mengamankan masyarakat dari kejadian-kejadian yang tidak kita harapkan. Karena sebagaimana kita ketahui hasil dari pemantauan kami telah banyak ditemukan tabung gas yang tak ber-SNI dan bocor,” pungkas Eddy. (Rudi)

Akibat Lemahnya Pembinaan Kota Depok Gagal Total
DEPOK, Medikom–Akibat lemah serta tidak fokusnya pembinaan, lagi-lagi kontingen Kota Depok gagal utuk maraih kehormatan bergengsi seperti pada ajang MTQ, Adipura, bahkan dalam Pekan Olahraga Daerah yang diselenggarakan di Kota Bandung, Jawa Barat. Sebagai mana diketahui Kota Depok hanya mampu menempati urutan ke-23 dari 26 kota/ kabupaten di Jawa Barat dengan perolehan tiga medali emas, empat medali perak, dan 14 medali perunggu. Sejumlah masayarakat bertanya terkait kegagalan Kota Depok meraih prestasi terbaik di bidang olahraga tingkat daerah itu. Siapa yang harus bertanggung jawab atas kegagalan itu dan kenapa selalu gagal setiap event yang bakal mengharumkan nama Kota Depok itu. “Belakangan ini Kota Depok sedang dilanda kemerosotan prestasi, di sebagian program seperti raihan Adipura, MTQ serta pekan olah raga daerah (porda) yang baru saja berakhir. Ini tentu harus menjadi acuan pihak pemerintah kota untuk melakukan evaluasi total ke dalam, karena seluruh biaya yang dikeluarkan menggunakan uang rakyat dan harus dipertanggungjawabkan,” ujar H Hilal Tambulate, mantan atlet nasional yang tinggal di bilangan Cimanggis kepada wartawan, Kamis (15/7/). Bicara gagal total, mantan petinju ini menambahkan, sejak dirinya tinggal di Kota Depok tahun 2006, prestasi Kota Depok di bidang olahraga belum ada yang mengembirakan di semua cabang olah raga, termasuk sepak bola (Persikad). Ini menandakan bahwa pembinaan atlet di Kota Depok tidak dilakukan secara maksimal termasuk minimnya fasilitas baik sarana maupun prasarana yang ada, belum lagi kesejahteraan atlet itu sendiri. “Pertanyaannya adalah ada niat tidak untuk memperbaikinya, karena jika hal ini terus-menerus dibiarkan jangan harap prestasi Kota Depok. Di ajang kejuaraan apapun pasti gagal dan sia-sia saja,” tandasnya. Sampai berita ini disusun, Kabid Pemuda dan Olahraga Kota Depok, Jondra Putra belum bisa ditemui. Begitu juga Ketua KONI Kota Depok belum bisa di hubungi. (Luci/FR Ambarita)

Kunker DPRD Ciamis Bahas Air Waduk Desa Paledah
CIAMIS, Medikom- Komisi III DPRD Kabupaten Ciamis melakukan kunjungan kerja ke Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis, Rabu (14/7). Dalam kunjungan kerja tersebut dibahas berbagai hal terkait pembangunan di Desa Paledah khususnya, dan di Kabupaten Ciamis, umumnya. Pada kesempatan tersebut hadir Muspika Kecamatan Padaherang, di antaranya Camat Padaherang Drs Mukhlis, Kepala Desa Paledah Sano, Danramil Padaherang, Polsek Padaherang, BPD, LPM, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda Desa Paledah. Sano, selaku Kepala Desa Paledah menyampaikan harapannya terkait pembangunan dalam sistem pemerataan di desa. Baginya PR yang terpenting bagaimana caranya air waduk di Desa Paledah bisa digunakan sebaik mungkin. “Adapun pada sebelumnya, telah mengupayakan permohonan pada pihak Balai Besar Citanduy,” katanya. Hal senada disampaikan Camat Drs Mukhlis, bagaimana cara pengelolaannya agar air waduk tersebut membawa berkah. Contoh kongkritnya air waduk tersebut bisa digunakan untuk lahan pertanian perikanan. Dalam jangka panjang desa tersebut bisa mensejahterakan masyarakatnya, selain bisa menghasilkan PAD bagi desa itu sendiri. Ketua Karang Taruna Desa Paledah Popo Mustofa mengharapkan apa yang disampaikan camat tersebut bisa diupayakan untuk pembuatan perdesnya. “Agar kami yang ditunjuk sebagai pengurus nantinya punya dasar kekuatan hukum,” katanya. Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Ciamis Puying Sudrajat mengakui jika pembangunan di Kabupaten Ciamis masih belum merata, baik dalam sarana jalan pedesaan maupun sarana dan pembangunan jalan-jalan kabupaten. Puying pun mengaku kebingungan terkait soal anggaran, sementara anggaran pembangunan Kabupaten Ciamis cuma Rp36 miliar. Menurutnya siapa pun pemimpin di Kabupaten Ciamis tidak akan bisa melaksanakan pola pemerataan pembangunan yang baik jika anggaran sangat tidak memadai. “Saya prihatin pada pemerintahan desa, yang mana merupakan ujung tombak pemerintahan, yang masih terabaikan oleh pemerintah baik daerah maupun pemerintah pusat. Terkait air waduk dari kurang lebih 400 ha yang mengairi pesawahan Desa Paledah, kami akan mengupayakan perihal solusi daripada permasalahan air waduk ini,” katanya. Puying juga berjanji siap membantu mempertemukan mereka kepada pihak Balai Besar Citanduy. Apalagi, kilahnya, secara pribadi dirinya dengan kepala balai tersebut sudah saling mengenal cukup baik. (Agus S/Herman)

Serangan Wereng Coklat Menggila
INDRAMAYU, Medikom– Para petani yang berada di lima kecamatan yakni Kecamatan Anjatan, Losarang, Terisi, Cikedung dan Kecamatan Gabus Wetan, dibikin kalang kabut. Pasalnya tanaman padi mereka yang dalam beberapa minggu ke depan hendak dipanen, mendadak terserang hama wereng batang coklat. Akibatnya tanaman padi tersebut mendadak rusak dan layu. Bahkan serangan hama wereng coklat tersebut secara global sudah menyerang sedikitnya 1.248 haktare sawah. Dengan kriteria serangan ringan 1.070 ha, serangan sedang 158 ha, dan serangan berat 20 ha.
Selain serangan hama wereng batang coklat, serangan tikus juga menghantui tanaman padi mereka dan merusak ribuan haktare tanaman padi pada enam kecamatan yakni Kecamatan Terisi, Widasari, Kertasemaya, Losarang, Kandanghaur, dan Kecamatan Tukdana. Secara global merusak 1.248 hsawah. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu Ir Toto Kusmarwanto melalui Kepala Seksi Rehabilitasi Lahan dan Perlindungan Tanaman (Rehalintan) Abdul Muin SP kepada Medikom di ruang kerjanya, Jumat (16/7) menyebutkan, kerusakan tanaman padi akibat serangan Hama Wereng Batang Coklat (WBC) secara global terjadi pada lima kecamatan atau pada 1.248 ha sawah, dengan kriteria ringan 1.070 ha, sedang 158 ha, dan berat 20 ha. Sedangkan serangan BLB (kresek) secara global menyerang 949 ha sawah dengan kriteria berat 12 ha, ringan 899 ha dan sedang 38 ha. “Sementara serangan hama tikus secara global merusak sedikitnya 1.604 ha dengan kriteria ringan 1.477 ha, sedang 83 ha dan berat 44 ha sawah,” jelasnya. Menurut Abdul Muin untuk mengatasi serangan hama tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu melalui Seksi Rehalintan telah melakukah langkah-langkah antara lain dengan melakukan sosialisasi dan penyuluhan baik pada tingkat desa maupun kecamatan terhadap kelompokkelompok tani yang ada. “Dan hasilnya masing-masing kelompok tersebut sudah melakukan gerakan,” ujarnya seraya menegaskan selain melakukan sosialisasi, Dinas Pertanian juga telah memberikan bantuan berupa obat-obatan pertanian dan meminjamkan alat penyemprot wereng dan fanigasi (tiran). Penyebab menggilanya serangan hama wereng coklat kresek dan tikus ini, kata Abdul Muin, selain kurangnya penyemprotan terhadap tanaman padi tersebut, juga akibat penggunaan N (urea) yang berlebihan. Selain itu penggunaan pestisida yang kurang efektif atau kurang sasaran, yang juga berakibat terjadinya serangan hama wereng coklat. “Di samping itu, faktor cuaca/ alam yang tidak mendukung seperti banyaknya curah hujan di siang hari. Sehingga mempercepat proses pertumbuhan hama wereng coklat,” tandas Abdul Muin yang juga pengajar SLPHT. (H Yonif)

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

9

Sedap Rasa

Dana Alokasi Desa Agar Segera Direalisasikan
MAJALENGKA, Medikom–Para kepala desa se Kabuaten Majalengka berharap agar dana alokasi desa (DAD) segera direalisasikan. Pasalnya, dana tersebut merupakan satusatunya dana yang sudah rutin diterima tiap tahun baik untuk kegiatan pembangunan, administrasi desa, maupun biaya operasional kepala desa dan para pamong desa, termasuk untuk lembaga yang ada di desa. Apalagi, pihak desa sangat mendesak membutuhkan dana untuk untuk administrasi desa guna memberikan pelayan terhadap masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan rutin tiap hari, baik yang dilakukan kepala desa maupun perangkat dsesa Selain itu, untuk wilayah Majalengka bagian selatan, ratarata tidak memiliki tanah adat desa seperti tanah titisara dan yang lainnya. Karenanya, sangat berharap akan pencairan dana alokasi desa tersebut. Seperti diungkapkan Kuswara SSos, Kepala Desa Kondangmekar, Kecamatan Cingambul, seluruh kepala desa di Kecamatan Cingambul lesu, karena hampir semua desa tidak memiliki tanah adat yang biasa dilelang tiap tahun untuk menambah RAPBDES. Minimalnya untuk membantu administrasi desa yang dibutuhkan tiap hari. Lain halnya dengan Juhari SSos, Kepala Desa Sukasari Kidul, Kecamatan Argaura. Menurutnya, desanya memiliki tanah adat desa yang biasa dilelang tiap tahun. Jadi, sekadar untuk biaya administrasi sudah mencukupi, kecuali untuk kegiatan temporer seperti hari jadi Majalengka harus merogoh dompet sendiri. Namum ia pun berharap dana DAD segera dicairkan. “Kasihan pada desa yang minim yang desanya tidak ditunjang oleh tanah adat desa,” tutur Juhari. Ia berharap, ke depan dana alokasi desa (ADD) khusus untuk administrasi harus dikeluarkan secara bertahap tiap triwulan sesuai dengan kebutuhan. Sebab, pelayanan terhadap masarakat dilakukan tiap hari. Jika tidak ada dana, tidak bisa memberikan pelayanan dengan optimal. “Syukur-syukur dalam menentukan DAD/ADD desa dikutsertakan, agar pemerintah tahu apa kebutuhan desa dalam satu tahun anggaran. Mana yang harus dikeluarkan di awal tahun maupun di tengah dan akhir tahun,” terangnya. (Tatang)

Sahabat Medikom yang budiman, Resep Sedap rasa kali ini adalah kiriman dari Yayuk. Redaksi Sedap Rasa menunggu kiriman resep sahabat Medikom melalui Email iwan_herdiawan@yahoo.com. Semoga anda bisa berbagi resep dengan yang lain.

Brownies
BAHAN: 225 gr mentega 100 gr cokelat bubuk 700 gr gula pasir 8 btr telur ½ sdt garam halus ½ sdt vanili 2 sdt baking powder 525 gr tepung terigu 100 gr kenari cincang kasar 100 gr kenari utuh CARA MEMBUAT: Mentega & cokelat ditim sampai meleleh sambil diaduk. Tuangkan ke mangkok adonan berisi gula pasir, aduk rata. Masukkan telur satu per satu, kocok sampai kental & naik. Masukkan garam, vanili, baking powder, kocok rata. Masukkan tepung terigu, aduk rata dengan sendok kayu, masukkan kenari cincang, aduk lagi. Tuang dalam loyang 35 x 25 x 21/2 cm, yang diolesi margarin & ditaburi tepung. Hias bagian atas dengan kenari utuh. Panggang dalam oven dengan api sedang (180oC) selama ± 60 menit sampai matang, potong setelah dingin sesuai selera.

Wakil Bupati melantik 35 direksi PD BPR, salah satunya Direktur PD BPR BKPD Manonjaya H Uus Ruslan Hamid yang berjabat tangan dengan Wakil Bupati.

Para Direksi PD BPR BKPD/ BANK Pasar/LPK Dilantik
TASIKMALAYA, Medikom–Para direksi PD BPR yang tersebar di wilayah kecamatan sebanyak 33 PD BPR BKPD/BANK Pasar/LPK, dilantik dan diambil sumpahnya oleh Wakil Bupati Tasikmalaya HE Hidayat SH MH untuk masa periode 2010–2014, Senin (12/7) di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya. Pelantikan ditujukan untuk memberikan pencerahan dan motivasi baru guna meningkatkan pelayanan dan kinerjanya salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya tersebut. Dalam amanatnya, Wakil Bupati mengatakan, dengan dilantiknya Direksi PD BPR BKPD/BANK Pasar/ LPK diharapkan dapat memberikan pencerahan dan motivasi baru guna meningkatkan pelayanan dan kinerjanya. PD BPR salah satu BUMD kebanggaan milik Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya yang perlu dipupuk dan dibina serta dipelihara agar terus memberikan andil besar. Bukan saja terhadap APBD, akan tetapi yang paling penting adalah turut serta memecahkan masalah sosial yang terdapat di tengahtengah masyarakat. Sekalipun disadari kehadiran lembaga keuangan ini belum sepenuhnya dapat memberikan pelayanan secara maksimal kepada masyarakat sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, Wakil Bupati sangat mengharapkan saran serta masukan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan itu, HE Hidayat pun berpesan kepada para Direksi dan Dewan Pengawas PD BPR BKPD/BANK Pasar/LPK agar memberikan pelayanan kepada nasabah supaya mereka merasa terlindungi dan yakin bahwa dana yang disimpan di PD BPR terjamin keamanannya. “Kedua, jangan sembarangan memberikan kredit dengan memperhatikan dan menaati aturan dan persyaratan kelayakan untuk penyaluran kredit. Sebab, kesalahan memberikan kredit akan mengganggu tingkat kesehatan bank. Ketiganya, Dewan Pengawas dan Direksi harus mampu memberikan bimbingan dan pengawasan sesuai ketentuan dan kewenangannnya dan jangan bertindak di luar ketentuan. Terakhir para Direksi harus menjadi teladan untuk para pegawai dan dapat memperingatkan pegawai yang melanggar ketentuan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya. Hadir pada acara pelantikan Sekretaris Daerah Drs H Abdul Kodir MPd, anggota DPRD, para pejabat OPD dan Pimpinan Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya, Kepala Sekretariat PD BPR BKPD/BANK Pasar/LPK Tasikmalaya. (A Cucu)

Cikondang Akan Dijadikan Desa Wisata Kelompok Tani Ikan
SUKABUMI, Medikom–Kelurahan Cikondang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi akan dijadikan Desa Wisata oleh pemerintah pusat dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Wisata. Hal itu diungkapkan langsung oleh Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Demokrat Inggrid Kansil saat melakukan reses di Kelurahan Cikondang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Selasa (13/7). Dalam kegiatan resesnya, selain berdialog dengan lurah, Camat dan unsur Muspika Citamiang juga berdialog dengan warga setempat. Dalam dialognya warga Cikondang mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan salah satu lahan eks terminal Cikondang sebagai tempat wisata kuliner dipadukan dengan tanaman hias, sehingga salah satu tujuan akan dirikannya Kelurahan Cikondang menjadi Desa Wisata dari segi pemberdayaan masyarakatnya bisa terwujud,” ungkap Yaya, salah satu warga setempat. Setelah melakukan dialog dengan warga, Ingrid juga membagikan ratusan sembako untuk warga miskin di wilayah Kelurahan Cikondang. Kemudian Ingrid langsung memantau kondisi terminal lama Cikondang yang akan dijadikan desa wisata dan objek wisata air panas Santa.

Pandawa Jadi Duta Jabar
MAJALENGKA, Medikom–Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sedang melaksanakan penilaian pada Kelompok Bududaya Ikan (POKDAKAN), Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), Labolatorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, dan Unit Pelayanan Pengembangan tingkat nasional tahun 2010. Penilaian dilaksanakan di 17 provinsi secara maraton. Untuk penilaian kelompok budidaya ikan terdiri dari beberapa jenis ikan seperti udang, ikan lele, ikan nila, ikan hias, dan lainnya. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu yang diikutsertakan dalam lomba se Indonesia itu. Jawa Barat mengikutsertakan tujuh kabupaten yang masing-masing mewakili satu kelompok budidaya. Untuk Kota Banjar diwakili oleh kelompok Galah Jaya, Kabupaten Majalengka diwakili Kelompok Pandawa, Kabupaten Purwakarta Kelompok Nila Lestari, Kabuaten Karawang oleh PPBAPL, Kota Depok Diwakili Kelompok Curug Jaya, Kabupaten Bogor diwakili Kelompok Setuju Mekar dan Kabupaten Sukabumi diwakili oleh Kelompok Sejahtera. Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka Drs Mahmud.MP, merasa bangga dengan diikutsertakannya Kelompok Pandawa yang selama ini telah dibina mengikuti lomba tingkat nasional. Dikatakan, Kelompok Pandawa menjadi duta Jawa-Barat yang telah berhasil menjadi kelompok kebanggaan Kabupaten Majalengka, sebagai kelompok inti plasma budidaya ikan lele di Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, Majalengka. “Secara normatif kami memberikan teknis, dan kelompok yang dibina telah berhasil, hal itu sangat positif. Walaupun lomba itu sendiri bukan tujuan akhir, tapi proses pelaksanaan teknis budidaya ikan lele yang diaksanakan oleh Desa Pilang Sari yang paling utama hingga telah mendapatkan sertifikat CBIB (Cara Budidaya Ikan Baik),” jelas Mahmud. H Didi, Ketua Kelompok Budidaya Ikan Lele Pandawa berharap penilaian dilaksanakan secara obyektif. Ia menjelaskan, perjalanan kelompoknya belajar dari pengalamam, berawal dari kegagalan hingga manemui keberhasilan. Jadi, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu waktu bertahun-tahun kelompok mempelajari apa yang harus dilakukan agar bisa berhasil. (Tatang)

Inggrid Kansil saat melakukan reses di Kelurahan Cikondang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Selasa (13/7).
“Saya melihat Kelurahan Cikondang mempunyai prospek bagus apabila dijadikan sebagai desa wisata,” katanya. Menurutnya, tujuan diluncurkannya program desa wisata tiada lain untuk menumbuhkan aktivitas perekonomian masyarakat, sehingga berdampak terhadap meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Seperti contoh di lahan terminal lama Cikondang misalnya, bisa dijadikan kawasan taman kota yang didukung oleh tersedianya pusat jajanan atau wisata kuliner. Sementara itu untuk objek wisata air panas Santa bisa direnovasi dan difungsikan seperti sediakala, tentunya dengan manajemen yang lebih profesional. Terlebih keunggulan yang ada di Santa yaitu kadar belerangnya yang bagus. “Saya akan mendorong pemerintah daerah untuk ikut melaksanakan program desa wisata ini,” ujar Inggrid. Ingrid menambahkan secara nasional tahun ini sebanyak 200 desa se Indonesia masuk dalam PNPM Wisata untuk dijadikan desa wisata. Bahkan di tahun 2011 bertambah menjadi 400 desa. “Dengan adanya desa wisata setidaknya bisa menjadi sarana untuk mengembangkan potensi ekonomi produktif yang terdapat di masyarakat,” terangnya. (Arya)

25 Depot Air Siap Minum PDAM Tirtanadi Tersebar di Kota Medan
MEDAN, Medikom–Fasilitas depot air minum yang dibangun oleh PDAM Tirtanadi sampai saat ini berjumlah 25 unit tersebar di beberapa lokasi. Adapun air baku yang digunakan dalam proses pengolahan air siap minum tersebut adalah air hasil olahan dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) PDAM Tirtanadi yang dipompakan ke filter 0,5 micron. Selanjutnya air yang keluar dari saring 0,5 micron masuk ke saringan carbon aktif, kemudian disaring kembali dengan saringan 0,1 micron. “Setelah melewati tahapan penyaringan, air dialirkan ke dalam tabung yang dilengkapi dengan sinar ultraviolet. Air yang masuk ke dalam tabung ini akan disinari dengan sinar ultraviolet yang bertujuan untuk mematikan bakteri yang ada dalam air. Setelah melewati proses ini, maka air yang keluar dari tabung ini sudah dapat diminum,” kata Kepala Divisi Public Relation PDAM Tirtanadi Ir H Delviyandari MPsi dalam siaran persnya, yang diterima wartawan belum lama ini di Medan. Perlu diketahui oleh masyarakat khususnya pengguna air siap minum tersebut bahwa air yang keluar dari kran depot air siap minum memang sudah dapat diminum langsung, namun wadah yang digunakan oleh masyarakat untuk menampung air tidak dapat dijamin kebersihannya (tidak steril). Apalagi kalau air tersebut disimpan dalam waktu yang cukup lama dikhawatirkan air dapat terkontaminasi. Untuk itu diimbau kepada masyarakat pengguna air siap minum agar menjaga kebersihan wadah/tempat yang digunakan untuk menampung air dan diupayakan agar air siap minum yang diambil dari depot air siap minum PDAM Tirtanadi langsung digunakan/diminum jangan disimpan apalagi disimpan dalam waktu yang cukup lama. Lokasi depot air Ditambahkan, ke 25 lokasi depot air siap minum yang dibangun oleh PDAM Tirtanadi, yakni Kantor Pusat PDAM Tirtanadi Jalan SM Raja No 1 Medan, Kantor PDAM Tirtanadi Cabang HM Yamin Jalan HM Yamin Medan, Masjid Agung Jalan Diponegoro Medan, Masjid Sabilillah Jalan Karang Sari Polonia depan SMA N 2 Medan, Kompleks Asrama Haji I Jalan AH Nasution Medan, Kompleks Asrama Haji II Jalan AH. Nasution Medan, Masjid Al-Jihad Jalan Abdulah Lubis Medan, Masjid Al Islah Jalan Sei Belutu Medan, Kantor PDAM Tirtanadi Cabang Medan Denai Jalan Garuda Perumnas Mandala, SMA Negeri 7 Jalan Timor Medan, Masjid Ar Ridwan Jalan Ayahanda Medan, Masjid Taqarrub Jalan Darussalam Medan. Kemudian Kantor PDAM Tirtanadi Cabang Belawan Kota Jalan Veteran No 1 Medan, Masjid Al Amin Jalan HM Yamin Medan, Mesjid At Tawabbin Jalan Pancing Medan, RSU Dr Pirngadi I Medan, Kantor DPRD Sumut Jalan Imam Bonjol Medan, RSU Lubuk Pakam, RSU Adam Malik Jalan Jamin Ginting Medan, Kampus UISU Jalan SM Raja Medan, RSU Dr Pirngadi II Medan, Kodam I/BB Jalan Suprapto Medan, Masjid At Taqwa Jalan Mustafa Glugur Darat Universitas Panca Budi Jalan Gatot Subroto Medan, Pangkalan TNI AU Jalan Polonia Medan. (SS)

KSU BPR Siap Bantu Masyarakat, Terutama Bagi Kaum Ibu-ibu
MEDAN, Medikom– Koperasi Serba Usaha Bantu Pengusaha Rakyat (KSU BPR) siap membantu masyarakat yang membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan usaha agar bertambah maju. Hal itu dikatakan Hasan Basri selaku Pimpinan KSU BPR kepada Medikom di sela-sela acara pameran Produkproduk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Lapangan Merdeka, pekan kemarin di Medan.
Dikatakan, KSU BPR membantu meningkatkan kesejahteraan anggota koperasi, usaha kecil dan menengah. KSU BPR juga memiliki replikasi dan pinjaman bunga rendah. Saat ini kata Dia, KSU BPR sedang memberi bantuan pinjaman modal untuk membantu para pelaku usaha kecil bagi kalangan ibu-ibu, yang memiliki usaha. Seperti usaha pembuatan kue, ternak kelinci dan usaha kedai/ warung nasi. “Kita bantu dengan memberikan pinjaman dana. Pinjaman dari KSU BPR ini kita berikan kepada kaum ibu-ibu

Balmon Tertibkan Penggunaan Frekuensi Liar di Cirebon
BANDUNG, Medikom– Penggunaan frekuensi radio tanpa izin di berbagai wilayah di Jabar mendapatkan keluhan dari para pengguna frekuensi radio yang telah berizin. Keluhan ini akibat adanya gangguan dari penggunaan frekuensi tanpa izin tersebut. Untuk memberikan kenyamanan bagi para pengguna frekuensi yang resmi ini, Balai Monitoring Spektrum Frekuensi Radio Bandung melakukan penertiban terhadap pengguna frekuensi ilegal tersebut. Kepala Balai Monitoring (Balmon) Spektrum Frekuensi Radio Bandung Sarjono barubaru ini kepada Medikom mengatakan, penertiban kali ini dilakukan di wilayah Kota dan Kabupaten Cirebon. Penertiban frekuensi difokuskan pada pengguna frekuensi untuk siaran radio. Sarjono menuturkan, dari hasil penertiban tim Balmon yang dipimpin Kasi Pemantauan dan Penertiban Balmon Spektrum Frekuensi Radio Bandung Drajanti, ada beberapa pengguna frekuensi radio yang ditemukan di lapangan tidak dapat menunjukkan atau membuktikan surat izin penggunaan frekuensi radio yang dikeluarkan oleh Departemen Komunikasi dan Informatika. Oleh karena itu, tim Balmon harus memberikan sanksi kepada mereka dengan menyegel dan mengoff-kan siaran radio tersebut untuk sementara. Akibat pelanggaran ini, para pengguna frekuensi ilegal ini akan diproses lebih lanjut. Ketika Medikom menanyakan tentang sikap para pengusaha yang menggunakan frekuensi radio tanpa izin ini, Sarjono menambahkan, pada dasarnya para pengguna frekuensi ilegal ini menyadari kesalahan mereka. Untuk itulah, Balmon selain memberikan sanksi, juga membina mereka agar menggunakan frekuensi tersebut setelah mengantongi izin. Lebih jauh Sarjono mengungkapkan, penggunaan frekuensi ilegal selain mengganggu pengguna fekuensi legal, juga merugikan Negara. Soalnya, setiap penggunaan frekuensi radio itu harus membayar PNBP kepada Negara. Sementara pengguna frekuensi ilegal tidak membayar PNBP maupun pajak karena izinnya tidak ada. “Untuk ke depan, Balmon akan terus melakukan penertiban frekuensi radio ilegal ini,” ujar Sarjono, dengan harapan agar pengguna frekuensi radio ilegal di daerah lain di wilayah Jabar menghentikan sendiri penggunaan frekuensi sebelum ditindak Balmon. (IthinK)

Puskesmas Leles Adakan Operasi Katarak Gratis
GARUT, Medikom–Sebanyak 38 orang pasien penderita sakit mata katarak asal Kecamatan Leles, Kabupaaten Garut menjalani operasi katarak secara gratis di Puskesmas Leles selama dua hari, Kamis-Jumat (15-16/7). Menurut Kepala Puskesmas Kecamatan Leles H Asep Maryaman didampingi Sri Susi Risdianti sebagai pemegang progam katarak, kegiatan ini baru dilaksanakan di Puskesmas Leles dan selanjutnya secara bergiliran setiap tahunnya dilaksanakan di Puskesmas DTP yang ada di Kabupaten Garut. Tujuan diadakanya operasi katarak gratis ini, diharapkan mulai pada tahun 2010 warga Kecamatan Leles khususnya, dan umumnya masyarakat Kabupaten Garut sudah terbebas dari kebutaan, penyakit pada umumnya dialami usia lanjut. Sementara tenaga operasi didatangkan khusus dari Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, sebanyak 11 orang dokter yang dipimpin langsung oleh dr Karmelita Safari. Asep menambahkan, dengan sangat disayangkan salah satu pasien katarak, Aka Wardi (95), warga Kampung Ciburial, Desa Ciburial, Kecamatan Leles tidak jadi dioperasi kartena tidak kooperatif. Pasalnya, pasien tersebut selagi dioperasi meronta-rota, ia harus dibius total. Berhubung tidak tersedia bius total di Puskeamas Leles, terpaka akan dirujuk ke RS dr Slamet Garut untuk dilajutkan operasi katarak. Itu pun kalau mau dilanjutkan dioperasi katarak. Pihak puskesmas pun menyediakan tempat khusus untuk menginap satu malam, karena besoknya semua pasien harus diperiksa lagi. Sedangkan tempat tinggal pasien jauh dari puskesmas. Setelah menjalani operasi katarak, semua pasien diharuskan menaati peraturan dokter, di antaranya menjaga keberesihan mata dan harus dibalut dengan verban selama dua minggu, menetesi dengan obat mata sesuai pentunjuk dokter, dan jangan terkena air, jangan digosok, jangan menunduk atau sujud, jangan berbaring pada sisi mata yang dioperasi, jangan mengaangkat beban yang terlalu berat. Lalu, setelah dioperasi mata, satu minggu dikontrol dan setelah satu bulan dioperasi ada keluhan, seperti mata sakit, bengkak supaya datang ke puskesmas atau rumah sakit, hingga kondisi mata benar-benar sehat. “Pasen harus turut peraturan dokter supaya mata yang sudah dioperasi cepat sembuh,” tandas Asep. Salah satu pasien, Udin Amil (76), warga Desa Salamnunggal, Kecamatan Leles yang sudah berbulan-bulan tidak melihat, alahamdulillah setelah dioperasi katarak secara gratis, baru satu hari dioperasi sudah melihat sejauh 2 meter. “Saya sangat berterima lasih kepada pihak puskesmas yang telah melaksanakn operasi katarak secara gratis,” ujar Udin. (Kus/Yudi K)

yang tinggal di pinggiran kota Medan. Karena mereka selama ini kurang mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah dan badan-badan koperasi lainnya, makanya KSU BPR siap membantu mereka. Saat ini jumlah nasabah KSU BPR ada sebanyak kurang lebih 2.000 nasabah khususnya kaum ibu-ibu,” katanya. Ketika ditanya Medikom terkait digelarnya acara pameran produkproduk usaha kecil dan menengah, Hasan Basri menyambut baik digelarnya acara pameran tersebut. Ia berharap pemerintah melalui Dinas Koperasi & UKM Sumatera Utara, dapat terus menggelar acara seperti ini, terutama untuk mempromosikan hasil-hasil kerajinan dari para pelaku usaha kecil dan menengah agar dapat diketahui oleh khalayak ramai. Hasan Basri meminta kepada pemerintah supaya acara pameran ini diadakan dua kali dalam setahun. Melalui pameran ini pihaknya dapat mempromosikan produk-produk usaha kecil & menengah kepada mayarakat umum. “Mudah-mudahan acara pameran ini dapat terus berlanjut dan ditingkatkan untuk menarik minat masyarakat datang dan hadir di acara pameran ini,” ungkapnya. (Sul)

Telkom Selenggarakan Speedy Digital Learning Center KidZania
BANDUNG, Medikom–PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) dan KidZania (PT Aryan Indonesia) menyelenggarakan Soft Opening Ceremony Establishment Speedy Digital Learning Center di Establishment Speedy Digital Learning Center dan Main Square KidZania baru-baru ini. Menurut Vice President Public and Marketing Communication Eddy Kurnia, Establishment Speedy Digital Learning Center KidZania menjadi tempat favorit bagi anak-anak sekaligus memberikan kesempatan kepada mereka belajar membuat animasi digital yang selanjutnya di-upload ke dalam suatu website dan jaringan sosial berdasarkan pengalaman langsung dari kehidupan nyata (active learning and first-hand role play experience) semenjak usia dini. Melalui Speedy Digital Learning Center KidZania anak akan belajar bekerja di bidang teknologi informasi khususnya creative digital animation dalam suatu wahana bermain baru yang sangat menarik bagi anak-anak, dan didorong oleh lingkungan perkembangan dunia teknologi informasi yang semakin atractive ke depan. Melalui establishment yang memiliki luas 38,95 m2 dan kapasitas sebanyak sepuluh orang ini, anak-anak akan bekerja untuk membuat suatu animasi secara digital dan mengetahui proses mengupload animasi tersebut ke dalam situs jaringan sosial anak-anak yaitu republikaanak.com. Anak-anak akan dipandu oleh dua orang zupervisor terlatih dari KidZania. Sebagai imbalan, karena mereka telah bekerja dengan baik, mereka akan mendapatkan gaji berupa mata uang resmi KidZania sebesar 20 KidZos. Dalam waktu dekat ini, Speedy bekerja sama dengan KidZania akan menghadirkan Digital Learning Center untuk memperkenalkan suatu aktivitas baru sebagai pembuat animasi dalam bentuk digital, suatu profesi yang baru dan sangat menyenangkan untuk anak– anak. Digital Learning Center sekaligus untuk memperkenalkan program khusus yang ditujukan untuk anakanak yaitu SpeedyKids. (IthinK)

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

sorot
Dewan Pers:

10

Wartawan Jangan Semaunya Membuat Berita Kasus
JAKARTA, Medikom-Menyikapi adanya wartawan yang selalu dan mau dimanfaatkan oleh sekelompok lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Jakarta untuk menyudutkan kinerja pejabat, khususnya di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemrov) DKI Jakarta, anggota Dewan Pers Abdullah Alamudi meminta agar wartawan tetap memegang teguh loyalitas dalam menjalankan tugasnya dengan berpihak kepada masyarakat. “Selain itu, membuat berita juga harus profesional dan komprehensif sesuai dengan hati nurani. Wartawan juga jangan hanya mencari-cari kesalahan pejabat saja. Dalam membuat berita kasus, juga harus ada data-data otentik. Wartawan yang mau dimanfaatkan oleh LSM adalah mereka yang medianya tempo-tempo (kadang terbit kadang tidak). Pada umumnya, ketika bertemu dengan para pejabat, mereka hanya bermaksud meminta proyek dan memeras. Bahkan dalam membuat berita juga dilakukan secara sepihak,” ujar Abdullah Alamudi saat peringatan koordinasi dengan pers dalam rangka pemahaman. Buktinya, kata salah satu Ketua LSM, ada berita yang menyudutkan Kepala Suku Dinas (Sudin) Pekerjaan Umum (PU) Jalan, Jakarta Utara Ir H Maman Suparman MEng. Berita tersebut tidak konfirmasi kepada yang bersangkutan. “Saya anggap wartawan itu tidak profesional dan telah melanggar kode etik pers,” kata Ketua LSM yang namanya tidak ingin dipublikasikan. (slamet supriyadi)

JPU dan Pengacara Baku Hantam

Nasib Kabag Umum DPRD DKI Jatmiko “di Ujung Tanduk”
JAKARTA, Medikom-Nyaris terjadi baku hantam di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, antara jaksa penuntut umum (JPU) dengan pengacara Sarwo Edhi. Hal itu terjadi di hari ketiga sidang kasus korupsi program kajian yang telah merugikan keuangan negara/ daerah sebesar Rp27,5 miliar. JPU telah menghadirkan beberapa saksi di PN Jakarta Pusat, untuk perkara dengan terdakwa Sekretaris Dewan (Sekwan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta, Drs Sarwo Edhi, Kamis (15/7). Beberapa saksi yang hadir di PN Jakarta Pusat tidak tahan dicecar pertanyaan secara bertubi-tubi oleh ketua dan dua anggota hakim PN Jakarta Pusat. Akhirnya saksi Budi Rahman (sakit dari OktoberFebruari, red) yang saat itu sebagai ketua tim pemeriksa barang/jasa program kajian di Sekretariat Dewan (Setwan) DPRD Provinsi DKI Jakarta “ngoceh” dan menyebut nama Jatmiko yang saat ini menjabat Kepala Bagian (Kabag) Umum DPRD Provinsi DKI Jakarta. Budi Rahman mengatakan, setelah keluar surat keputusan (SK) yang ditandatangani Deded Sukandar (saat ini menjabat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI, red) dirinya sakit dari bulan OktoberFebruari dan di-handle oleh sekretaris pemeriksa barang/jasa yang bernama Jatmiko. “Pada saat saya sakit di rumah sakit, saya didatangi dan disodorkan dokumen agar ditandatangani oleh saya. Saya tanya kepada Nooriza dan kawankawan siapa yang menyuruh hal ini, yang menyuruh adalah Aries Halawani Rowiyan (ditahan, red) dan Jatmiko,” kata Budi Rahman kepada ketua dan dua anggota hakim. JPU Victor Antonius pun mengatakan, di dalam ketentuan secara fisik (physically) itu tidak boleh dilakukan. Jatmiko pasti saya panggil sebab mereka itu penentu pembayaran. “Kalau mereka (Jatmiko, red) tidak tanda tangan atau paraf maka uang itu tidak bakal bisa keluar atau cair,” singkat Victor Antonius yang notabene adalah tim penyidik Kejaksan Agung (Kejagung). Pengacara Sarwo Edhi pun meminta kepada ketua dan anggota hakim agar Jatmiko segera dihadirkan di PN Jakarta Pusat. Tb Sukatma mengatakan, tidak ada yang kebal hukum sekarang ini. Siapa yang menikmati, secara hukum itu jelas aturannya. “Karena Jatmiko (sekretaris pemeriksa barang/jasa, red) itu memegang peranan penting dalam hal pembayaran. Kalau Jatmiko menolak, mungkin itu tidak ada transaksi pembayaran,” ujar Tb Sukatma, usai sidang. (slamet supriyadi)

Selewengkan BLT, Tiga Aparat Desa Dijebloskan ke Penjara
BEKASI, Medikom-Tiga aparat Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Rabu (14/7), dikirim oleh Kejari Cikarang ke Lapas Bulak Kapal. Aparat desa tersebut adalah Plh Kepala Desa sekaligus Sekdes Karangharja Nur (inisial), Ketua Badan Permuswaratan Desa (BPD) Nurj dan Kepala Urusan (Kaur) Keuangan Kus. “Ketiga tersangka yang kita tahan ini, secara bersama-sama membuat kesepakatan dengan Kepala Desa UB (sudah lebih dulu ditahan). Mereka membuat kesepakatan untuk mencairkan dana BLT (bantuan langsung tunai),” ujar Kepala Kejari Cikarang Undang Mugopal yang didampingi Kasi Pidsus Agus Setiadi. Undang mengatakan, dana BLT yang dikumpulkan sebesar Rp306.400.000. Seharusnya dana hak warga penerima BLT sebanyak 766 KK. Namun, mereka hanya menerima BLT sebesar Rp125.000, sehingga ada pemotongan Rp400.000 sampai Rp275.000 untuk setiap KK penerima BLT yang sah. Sehingga total BLT yang disunat mencapai Rp210.650.000. Undang Mugopal mengatakan, pihaknya sudah berkomitmen untuk menyikat semua pihak yang melakukan penyimpangan untuk BLT dan raskin (beras untuk keluarga miskin). Penahanan terhadap ketiga aparat Desa Karangharja merupakan kelanjutan dari pengusutan kasus serupa terhadap Kades Karangharja UB yang sebelumnya sudah ditahan Kejari Cikarang. Rahman Arif, pengacara tersangka, mengatakan, pihaknya sedang mengupayakan penangguhan penahanan terhadap kliennya. (Ign/Stef)

Ketua Komisi E Brilian Moktar:

Diduga Sarat Korupsi, DPRDSU Minta BPK Audit Dana Miliaran Talangan Kesehatan
MEDAN, Medikom–Badan Pemeriksa Keuangan dan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara diminta mengaudit dan mengusut tuntas pemanfaatan dana talangan kesehatan di Rumah Sakit Umum Dr Pirngadi Medan. “Kita minta BPK mengaudit pemanfaatan dana talangan kesehatan di Rumah Sakit Pirngadi karena sampai saat ini masih ada saja pasien miskin yang ditolak berobat di rumah sakit itu,” ujar Ketua Komisi E DPRD Sumut Brilian Moktar kepada wartawan di Medan, pekan kemarin. Politisi dari PDI Perjuangan itu menyebutkan, Sumut melalui APBD 2010 menyediakan dana talangan kesehatan sebesar Rp7 miliar, Rp 4 miliar di antaranya merupakan dana yang diklaim RSU Dr Pirngadi. Hanya saja, sampai saat ini masih ada saja masyarakat miskin yang ditolak berobat di rumah sakit itu dan kemudian mengadu ke DPRD Sumut. “Padahal Pemko Medan sendiri juga menyediakan dana talangan kesehatan sebesar Rp18 miliar hingga Rp25 miliar bagi sebanyak 500.000 warga melalui Asuransi Tafakul. Kita patut menduga ada masalah di RSU Pirngadi, karenanya kita minta BPK mengaudit dan pihak kejaksaan melakukan pengusutan,” katanya. Brilian menjelaskan, akhir-akhir ini banyak masyarakat miskin yang ditolak berobat di RSU Pirngadi, RS Haji dan di beberapa rumah sakit lain yang menerima dana talangan kesehatan. Sehubungan dengan itu, Komisi E DPRD Sumut merasa patut mempertanyakan pemanfaatan dan talangan kesehatan yang jumlahnya begitu besar tersebut. “Bukan tidak mungkin pihak rumah sakit mengajukan klaim ganda sehingga dana yang diklaim membengkak. Patut juga diduga telah terjadi penyimpangan dalam bentuk lain termasuk pemanfaatan dana yang tidak tepat sasaran atau terjadinya persekongkolan kelompok untuk kepentingan pribadi,” katanya. Menurut data Komisi E DPRD Sumut, Asuransi Kesehatan (Askes) telah mengover sebanyak empat juta jiwa warga Sumut, 700.000 lainnya dikover Jamsostek di samping sebanyak 4,123 juta warga Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Selain itu, khusus Kota Medan juga memiliki program Jaminan Pelayanan Kesehatan Medan Sehat (JPKMS) untuk 500.000 warganya dengan anggaran mencapai Rp25 milliar dan Kabupaten Toba Samosir dengan program Tobamas-nya. Dengan demikian, dari sekitar 14 juta jiwa penduduk Sumut, sebanyak 9.323 juta di antaranya sudah terkover pelayanan kesehatannya, sementara penduduk miskin di provinsi itu hanya sebanyak 1,6 juta jiwa. “Melihat data tersebut, seharusnya tidak ada masalah dengan jaminan kesehatan untuk warga miskin, tetapi kenyatannya masih banyak warga miskin yang ditolak ketika berobat di rumah sakit, khususnya di Pirngadi karena tidak memiliki Jamkesmas atau JPKMS,” katanya. Selain itu, tambah Brilian, program pelayanan kesehatan gratis di puskesmas yang dicanangkan mantan Wali Kota Abdillah juga masih berjalan hingga saat ini. Berdasarkan kondisi tersebut, Komisi E DPRD Sumut menduga ada sejumlah persoalan, mulai dari Jamkesmas yag tidak diterima warga miskin, data warga miskin di Dinas Kesehatan dan di rumah sakit tidak akurat, adanya indikasi klaim ganda, hingga terjadinya pengalihan dana untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. “Dana talangan kesehatan itu diperuntukkan bagi masyarakat miskin yang belum terlayani oleh program yang sudah ada. RSU Pirngadi, misalnya, mengajukan klaim hingga Rp4 miliar, padahal Pemko Medan juga mengalokasikan dana talangan antara Rp18 miliar hingga Rp25 miliar untuk 500.000 warganya melalui Asuransi Tafakul, tapi kenyataannya masih ada warga yang ditolak ketika hendak berobat,” katanya. Brilian selaku Ketua Komisi E DPRD Sumut minta Dinas Kesehatan Sumut mengevaluasi dana talangan kesehatan yang diberikan ke kabupaten/kota, khususnya ke Kota Medan. Dinas Kesehatan Kota Medan sendiri juga diminta mengevaluasi kerja sama dengan Asuransi Takaful. “Kita juga minta Dinas Kesehatan Kota Medan mengevaluasi sistem pemberian JPKMS,” ujarnya. (SS)

Dalang Masuk Sekolah Pertama Kali di Bogor
BOGOR, Medikom-Program dalang masuk sekolah yang diprakarsai oleh Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Bogor mendapat sambutan antusias dari ratusan siswa baru SMP Negeri I Bogor, Rabu (14/7). Para peserta Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPD) SMP Negeri I Bogor merasa terhibur dengan kedatangan dalang Jajat S, Saputra didampingi Asistennya Dadang HP. Program dalang masuk sekolah untuk memaparkan tentang sejarah pewayangan dan memperkenalkan tokoh-tokoh kepada para siswa. “Kami datang ke sini membawa tiga tokoh wayang yaitu Gatot Kaca, Cepot dan Buto Ijo,” kata Jajat dihadapan para siswa. “Dari tiga tokoh ini, siapa yang adik-adik kenal?” tanya Jajat kepada para siswa. Spontan para siswa pun menjawab, “Si Cepot.” Namun seketika para siswa tersentak kaget ketika dalang Jajat mengeluarkan tokoh wayang Buto Ijo. Para siswa pun ketakutan melihat muka Buto Ijo menyeramkan dengan lidahnya menjulur ke depan. “Si Buto Ijo adalah tokoh wayang jahat, kalau Gatot Kaca seorang ksatria pembela kebenaran,” kata Jajat. Selain membawa tiga tokoh wayang, dalang Jajat pun memperkenalkan anaknya, seorang dalang cilik bernama Bima Arya. Siswa yang baru duduk di kelas 2 SD ini dengan mahirnya memainkan tokoh Gatot Kaca di hadapan para siswa. Pada kesempatan itu dalang Jajat S Saputra memaparkan sejarah singkat pewayangan. “Di zaman wali, Sunan Kalijaga, wayang menjadi media dakwah untuk menyebarkan agama Islam,” kata dia. Sejumlah siswa mengaku terhibur dengan dalang masuk sekolah, namun mereka menyayangkan penampilannya sangat singkat. “Saya suka si Cepot yang lucu, tapi sayang cuman sebentar, “ ujar Fatma salah satu siswa. Ketua Pantia MOPD SMP Negeri I Bogor Tirta Jaya mengatakan, pihaknya mendukung program dalang masuk sekolah. “Wayang golek adalah seni budaya yang perlu dilestarikan,” ujarnya. Sementara itu Ketua Pepadi Kota Bogor Shahlan Rasyidi mengatakan, program dalang masuk sekolah merupakan yang pertama kalinya di Kota Bogor, dalam mengisi kegiatan MOPD. “Seluruhnya anggota Pepadi yang diterjunkan ke sekolah-sekolah berjumlah 14 orang,” jelasnya. Sedangkan sasaran sekolah yang dikunjungi para dalang berjumlah 36 sekolah negeri SMP/Mts, SMA/ SMK. “Untuk kali ini baru sekolah negeri dan ke depannya diharapkan seluruh sekolah di Kota Bogor,” ungkap Shahlan. Kegiatan ini, jelasnya, di samping untuk memperkenalkan wayang kepada masyarakat khususnya para siswa juga untuk melestarikan wayang golek yang kini kurang dilirik oleh masyarakat. “Jadi, intinya kita ingin memperkenalkan seni budaya Sunda,” kata dia. (wan/gn)

Ketua TP PKK DS Ny Anita Amri Tambunan Akan Terima Penghargaan dari Presiden
LUBUK PAKAM, Medikom-Ketua TP PKK Deli Serdang Ny Ir Hj Anita Amri Tambunan akan menerima penghargaan Lencana Wira Karya dalam Bidang Pembangunan Kependudukan dan Program KB Tahun 2010 dari Presiden RI Dr H Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan itu akan disampaikan pada acara Hari Keluarga Nasional XVII dan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) Tahun 2010, karena TP PKK Deli Serdang dinilai peduli dan berjasa untuk menyukseskan program Keluarga Berencana di Kabupaten Deli Serdang. Hal tersebut dijelaskan Pl Kadis Infokom Deli Serdang Drs Nagauman Sinaga, kepada wartawan, di ruang kerjanya, di Lubuk Pakam, Kamis (15/7). Menurutnya, pemberian Satya Lencana Wira Karya dalam bidang pembangunan kependudukan dan program KB Tahun 2010, ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 22/TK/ 2010, Tanggal 8 Juli 2010. Penghargaan itu, menurut penjelasan Nagauman Sinaga, akan diserahkan langsung oleh Presiden RI Dr H Susilo Bambang Yudhoyono kepada Ketua TP PKK Ny Hj Anita Amri Tambunan, di Lapangan Jabal Nur, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, tanggal 21 Juli 2010. Selain Ketua TP PKK Ny Hj Anita Amri Tambunan, turut diundang menghadiri acara puncak Harganas Tingkat Nasional ialah kelompok pria sejati Kenangan Baru Percut Seituan. (R David Sagala)

Antisipasi Pelayanan Kebakaran

Personel Damkar Perlu Ditambah
DEPOK, Medikom–Perkembangan pembangunan di Kota Depok berjalan dengan pesat. Wilayah kota pun dimekarkan menjadi 11 kecamatan. Karena itu, jumlah petugas pemadam kebakaran (damkar) Kota Depok perlu penambahan personel. Karena, jumlah petugas pemadam kebakaran yang ada sekarang, sudah tidak sesuai lagi dengan luas wilayah tersebut. Data dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok jumlah personel petugas pemadam yang ada sekitar 60 orang dengan fasilitas 11 mobil damkar, satu kantor dinas dan satu kantor Unit Pelayanan Teknik (UPT) wilayah Cimanggis. Idealnya, jika setiap kecamatan dibangun satu kantor UPT dibutuhkan sekitar 150 orang personel dan masingmasing kecamatan ditambah satu mobil damkar. H Hilal (50), tokoh masyarakat Cimanggis Selasa (12/7) di kantor Kecamatan Cimanggis mengungkapkan, petugas pemadam kebakaran memang perlu ditambah. Sebab, Kota Depok dalam kurun waktu lima tahun ke depan sudah menjadi kota padat penduduk dan pemukiman sehingga rawan kebakaran. “Jika personelnya tidak bertambah dikhawatirkan pelayanan terhadap penanggulangan bencana kebakaran tidak tertangani dengan baik sehingga dapat merugikan masyarakat. Pasalnya, kebakaran sudah padam petugas baru sampai akibat berbagai hal termasuk minimnya jumlah personel petugas pemadamnya dan fasilitas termasuk kendala lokasi yang jauh,” ujar Hilal. Sebagai mana diketahui, di Kota Depok sesuai data dari Dinas Pemadam Kebakaran, kejadian kebakaran per bulan sekitar 10 sampai 12 kali disebabkan berbagai faktor. Dinas Pemadam Kebakaran sendiri telah berupaya melakukan berbagai sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan pencegahan kebakaran termasuk membentuk Satuan Relawan Kebakaran (Satlakar) di tiap kecamatan dan kelurahan hingga ke tingakat RT dan RW. Hal itu dilakukan agar masyarakat juga ikut berperan aktif terkait penanggulangan pencegahan kebakaran di wilayah masingmasing. Selain itu, sosialisasi juga sebagai bentuk pengejewantahan program tiga pilar utama yang telah dicanangkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran sejak tahun 2008. Tetapi jika tidak dibarengi dengan penambahan jumlah personel petugas pemadam termasuk fasilitas dan sumber daya manusianya, tentu program tersebut jadi sia-sia. (Lucy)

Peringatan Harganas, Deliserdang Terima Berbagai Penghargaan

Perdata Tambunan SH:

Pemberian Makanan Ternak Sesuai dengan Porsinya
JAKARTA, MedikomUnit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Margasatwa Ragunan (TMR) Jakarta Selatan yang notabene di bawah naungan Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, benar-benar sangat transparan, jujur, dan akuntabel. Yang dipraktekkan mereka sangat sesuai dengan imbauan Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung (Kejagung), dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Pengadaan makanan ternak untuk hewan-hewan di UPT TMR Jakarta Selatan sudah sesuai dengan porsinya,” kata Perdata Tambuanan SH, salah satu anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta dari Fraksi Partai Demokrat (PD). Hal tersebut dinyatakan Perdata Tambuanan SH, baru-baru ini, di ruang Fraksi PD Gedung DPRD Provinsi DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat, berdasarkan tinjauan dari lapangan dan hasil evaluasi yang dilakukan terhadap mitra kerjanya itu. Perdata Tambunan SH mengatakan, UPT TMR Jakarta Selatan adalah salah satu mitra kerja Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta, sehingga setiap anggaran yang dialokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) selalu dikontrol dan dievaluasi, agar tidak t e r j a d i penyimpangan. “Semenjak UPT TMR Jakarta Selatan dipimpin Enny Pudjiwati (Kepala, red) dan Bambang Triyono (Tata Usaha, red), bisa dilihat secara kasat mata hewanhewan itu sehat dan gemuk,” kata Perdata Tambunan SH. Masih perkataan Perdata Tambunan SH, kalau hewanhewan di UPT TMR Jakarta Selatan pada sehat dan gemuk-gemuk, dilihatnya juga akan menarik, sehingga pengunjung sangat senang dibuatnya. “Enny Pudjiwati (Kepala) dan Bambang Triyono (TU) UPT TMR Jakarta Selatan dianggap berhasil menata keindahan, kenyamanan, kebersihan, dan kerapian. Sehingga para pengunjung UPT TMR Jakarta Selatan benar-benar dapat menikmatinya,” puji Perdata Tambunan SH. Kita juga masih ingat “omongan” Kepala dan TU-UPT TMR Jakarta Selatan, Enny Pudjiwati dan Bambang Triyono, bahwa jabatan merupakan amanah dari Allah sehingga pekerjaan yang dibiayai uang rakyat harus dikerjakan dengan sangat hati-hati. Demikianlah sehingga pemikiran Enny Pudjiwati dan Bambang Triyono sejalan dengan harapan masyarakat DKI Jakarta. (slamet supriyadi)

Para Wakil Rakyat Bolos dan Tidur Saat Rapat Paripurna
MEDAN, Medikom–Sejumlah anggota dewan bolos dan tertidur ketika membahas pandangan fraksi soal Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2009. Sejak awal, paripurna memang telah bermasalah. Jadwalnya, rapat digelar pada pukul 15.00, tapi molor setengah jam. Begitu rapat dimulai, ruangan terlihat kosong. Banyak kursi yang kosong. Sedikitnya 37 kursi tak terisi. Setelah dibuka, pemandangan fraksi pertama adalah dari Fraksi Demokrat yang disampaikan oleh Juru Bicara (Jubir) Fraksi Demokrat yakni Mustofawiyah SE. Pada penyampaian itu, ada enam kesimpulan yang dibacakan. Salah satu yang paling disoroti oleh Fraksi Demokrat adalah masalah pembangunan. “Dari dua tahun perjalanan pemerintahan Provinsi Sumut, peningkatan dalam bidang pembangunan bisa dibilang gagal. Karena pembangunan yang ada tidak lebih mementingkan kepentingan publik,” ujar Mustowafiyah di hadapan anggota DPRD Sumut dan Gubsu Syamsul Arifin SE. Setelah pandangan pertama dari Fraksi Demokrat tersebut dibacakan, Ketua DPRD Sumut Saleh Bangun sempat berniat untuk menskor rapat karena keterbatasan waktu. “Bagi yang menyampaikan atau membacakan laporannya, diharapkan singkat saja. Karena waktu kita hanya sampai pukul 17.00 WIB. Atau mungkin lebih baik diskor dan dilanjutkan besok saja dengan waktu yang lebih luang,” kata Saleh Bangun menawarkan kepada anggota dewan lainnya. Nyatanya para anggota dewan lainnya menyetujui jika rapat itu dilanjutkan. Saat giliran Fraksi PDI P, Jubirnya yakni Analisman Zalukhu yang bicara. Pada penyampaian pandangan itu, dengan tegas PDI P mengkritik habis-habisan Pemprovsu selama dua tahun ini serta penggunaan APBD 2009. Pemaparan itu pun disertai dengan pertanyaan yang meminta jawaban serta fakta-fakta yang jelas dari Gubsu saat nantinya menyampaikan jawaban terhadap hasil rapat paripurna tersebut. “Temuan-temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan RI, harus dijawab dengan sebenar-benarnya dengan menyajikan data-data yang jelas pada saat pemberian jawaban pucuk pimpinan Pemprovsu pada 15 Juli mendatang,” tandas Analisman. Mendengar pemaparan itu, Syamsul terlihat lemas dan terus bertopang dagu. Pandangan matanya juga tidak lekang memandangi Analisman. Seusai pandangan dari PDI P, kemudian dilanjutkan pandangan dari Fraksi PKS yang dibacakan oleh Amsal Nasution. “Sebaiknya, Gubsu dan Wagubsu lebih erat bergandengan tangan. Karena selama ini telah tersiar doktrin di masyarakat bahwa Gubsu dengan Wagubsu sudah pisah ranjang,” tutur Amsal Nasution. Mendengar pernyataan tersebut, para anggota dewanpun terlihat saling tersenyum. Sebelum rapat paripurna berakhir, ternyata banyak anggota dewan yang jenuh mengikuti rapat itu dan memutuskan untuk keluar dari ruang rapat. Tercatat sekira pukul 16.30 WIB, atau setengah jam sebelum rapat usai, kursi yang masih ditempati hanya sekitar 50 kursi. Sementara 50 kursi lainnya kosong melompong. Bahkan ada beberapa anggota dewan yang yang tidur. (SS)

Wakil Bupati Deliserdang H Zainuddin Mars bersama Ketua dan Wakil Ketua TP PKK Hj Anita Amri Tambunan, Hj Asdiana Zainuddin berfoto bersama dengan para pemenang di Hari Keluarga Nasional (Harganas) XVII tingkat Sumut, Kamis (8/7) di lapangan Dahlia, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat. LUBUK PAKAM, Medikom– Kabupaten Deliserdang meraih berbagai piagam dan penghargaan sebagai pemenang/teladan tingkat Provinsi Sumatera Utara tahun 2009-2010 pada puncak acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) XVII tingkat Sumut, Kamis (8/7) di lapangan Dahlia, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat. Penghargaan diserahkan oleh Gubermur H Syamsul Arifin SE. Hadir saai itu, Ketua TP PKK Sumut Hj Ftimah Habibi Syamsul Arifin, Anggota DPD RI Parlindungan Purba, unsur Muspida dan Ka BKKBN Sumut Indra Wardana SH MM, dan sejumlah bupati dan wali kota se Sumatera Utara. Pl Kadis Infokom Deliserdang Drs Naggauman Sinaga di ruang kerjanya, Jumat (8/7) mengatakan, penerimaan penghargaan dihadiri oleh Wakil Bupati Deliserdang H Zainuddin Mars, Ketua TP PKK Deliserdang Hj Anita Amri Tambunan, Wakil Ketua PKK Asdiana Zainuddin, Kaban KB dan Pemberdayaan Perempuan Dr Rita Aswati Dahlan Mars, dan Kaban PMD Deliserdang H Syafrullah SSos MAP. Berbagai piagam dan penghargaan yang diterima adalah terbaik I Desa Galang I lomba lingkungan bersih dan sehat, terbaik I lomba PLKB/PKB Rosita SamKeb SKM, terbaik I KB Perusahaan yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tanjung Morawa, juara I bakti sosial IBI, Juara II Pusat Informasi Konseling Remaja Tahap Tumbuh Kelompok Piper Beatle SMA N 2 Lubuk Pakam dan juara III penyuluh kehidupan berkeluarga bagi remaja yaitu Adewana Barus, SMA Negeri 2 Delitua. Sedangkan terbaik I lomba kelompok KB pria sejati (akseptor kontap pria) Kelompok Kenangan Percut Sei Tuan. Di tempat terpisah, Kaban KB dan Pemberdayaan Perempuan Dr Rita Aswati Dahlan Mars di Lubuk Pakam menjelaskan, Kelompok Pria Sejati (Akseptor KB Pria) Kenangan Baru telah ditetapkan panitia Harganas Pusat sebagai kelompok terbaik tingkat nasional wilayah luar Jawa Bali I, dan diundang untuk hadir pada puncak acara Harganas Tingkat Nasional di Palu Provinsi Sulawesui Tengah. Gubsu H Samsul Arifin SE pada puncak peringatan Harganas di Langkat mengajak seluruh masyarakat untuk menyukseskan percepatan revitalisasi Program Kependudukan dan KB Nasional Provinsi Sumatera Utara. (R David Sagala)

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

11

90 Persen Karaoke di Kota Cirebon Diduga Berbau Maksiat ......................................Hal 1
Dengan adanya pembatalan pertemuan antara ormas Islam dan muspida tersebut, lanjutnya, menunjukkan tidak adanya keseriusan. Pemkot Cirebon masih merasa berat untuk mencabut perizinan yang telah dikeluarkan. Menurut dia, sebenarnya bukan hanya ormas Islam yang merasa gerah dengan keberadaan Karaoke Fantasy, tapi kaum muslim di Kota Cirebon meminta agar Kota Cirebon bisa bersih dari segala bentuk kemaksiatan. Tetapi yang terjadi saat ini justru Pemkot Cirebon menambah satu lagi tempat karaoke. “Yang ada saja kami meminta untuk dihentikan, belum juga dihentikan. Kenapa sekarang justru ada yang baru. Kami tetap meminta izin karaoke dicabut,” tegasnya. Ketua DPRD Drs H Nasrudin Azis SH menyampaikan permintaan maaf atas batalnya pertemuan antara ormas Islam dan muspida. Namun demikian, dia mengaku pembatalan tersebut bukan atas dasar kesengajaan, tetapi karena ada miss komunikasi antara dirinya dengan ormas Islam. “Dalam waktu dekat ini, kami akan kembali mengagendakan pertemuan ormas Islam dengan muspida yang difasilitasi oleh DPRD,” janji dia. Sedangkan Wakil Ketua DPRD Edi Suripno SIP berjanji akan menghadirkan semua pihak untuk membicarakan persoalan Karaoke Fantasy. Sehingga nantinya diharapkan kurang dari satu minggu persoalan ini sudah bisa diselesaikan di tingkat muspida. “Kami juga tidak ingin persolan ini berlarut-larut, sehingga perlu ada pertemuan dengan mengundang semua pihak untuk duduk bersama menyelesaikan masalah Karaoke Fantasy,” tandasnya. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Cirebon H Yuyun Kurnia yang ikut dalam pertemuan tersebut menyatakan, dalam menyelesaikan persoalan karaoke harus ada winwin solution dari pemerintah. “Sebab, bagaimanapun investor tetap harus masuk ke Kota Cirebon, jangan sampai investor lari dan tidak mau berinvestasi,” tutur dia. Namun demikian, Yuyun memberikan masukan kepada Pemkot Cirebon sebelum mengeluarkan izin harus dilakukan kajian yang mendalam serta melibatkan semua pihak. Bahkan dia mengaku dalam pemberian izin Karaoke Fantasy, Kadin yang dia pimpin sama sekali tidak diberitahu oleh Pemkot Cirebon. “Selain itu, dalam pengendalian ataupun pengawasan terhadap pelaksanaan perizinan yang telah dikeluarkan juga harus dilakukan secara bersama-sama,” tukasnya. (Rudi/Yuyun)

PPM Harus Memperjuangkan Cita-cita Bangsa
LUBUK PAKAM, Medikom–Pemuda Panca Marga (PPM) merupakan tunas-tunas bangsa, pewaris perjuangan kemerdekaan dan generasi harapan bangsa yang akan memikul tanggung jawab mewujudkan cita-cita dan harapan para pejuang dan pahlawan yang secara tulus dan ikhlas memperjuangkan kemerdekaan tanah air ini. Demikian dikatakan Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan dalam sambutan tertulis yang disampaikan Sekdakab Drs H Azwar S MSi pada pelantikan dan perkenalan Pengurus Cabang Pemuda Panca Marga (PC-PPM) Kabupaten Deliserdang masa bakti 2010-2014 di Balairung, Pemkab Deliserdang, Lubuk Pakam, Kamis (8/7) siang. Lebih lanjut Bupati menegaskan, PPM sebagai salah satu organisasi yang sudah lama tumbuh dan berkembang, bahkan tidak pernah absen bersama komponen pemuda lainnya ikut berjuang membangun bangsa. “Sebagaimana diketahui, Pemuda Panca Marga ( PPM ) harus fokus menatap ke depan, jangan lagi mengalihkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Apalagi saling tuding, hujat dan saling fitnah karena akan berdampak buruk bagi perkembangan perjalanan bangsa ke depan,” ujar Bupati. Ia mengharapkan seluruh generasi muda termasuk PPM merapatkan barisan, berdiri terdepan melakukan terobosan-terobosan baru dalam bentuk karya nyata bagi upaya percepatan pembangunan di daerah melalui pola kebersamaman dengan menggerakkan segenap potensi yang ada. Ketua PD PPM Sumut HM Idaham SH MSi usai melantik PC PPM Deliserdang menekankan PPM harus mampu berbuat meneruskan citacita dan harapan para pejuang bangsa meski kondisi dan keberadaan penuh dengan tantangan. “Lakukan apa yang terbaik hingga keberadaan PPM di daerah ini bisa bersinergi seiring sejalan bergandeng tangan bersama seluruh unsur mengisi pembangunan bagi kesejahteraan masyarakat,” tuturnya. Sementara, Ketua PC PPM Deliserdang M Yusuf Sinulingga mengajak seluruh anggota PPM serta jajaran pemuda Deliserdang untuk bersatu dalam kebersamaan mengisi pembangunan serta menjaga situasi yang kondusif. Sebagai yang dipercaya memimpin organisasi anak-anak veteran/ pejuang, Yusuf menyatakan tekadnya untuk terus memperjuangkan harapan dan citacita para orang tua (pejuang). Pelantikan dan perkenalan PC PPM Deliserdang ditandai dengan penyerahan plakat kepada muspida, bingkisan kepada sejumlah anggota LVRI, serta pemotongan nasi tumpeng. PC PMM Deliserdang yang dilantik terdiri dari Ketua/Wakil M Yusuf Sinulingga, Drs Abil Tarigan, Ir H Maimuddin Nst HM Husni Siregar, Tuah Ibrahim Karo-karo dan Thomas Jefferson Tarigan SH. Sekretaris/Wakil Kamal Idris SPd, Syahrial, Budiono, M Adrian Harahap, Rusli, M Nasir. Bendahara/ Wakil Nila Shintawaty, Bengkel Tarigan, dan Ir Ruslan P Simanjuntak dan dibantu biro-biro. Hadir pada pelantikan, Dandim 0204/DS Letkol Inf Herianto Syahputra, Danyon 121/MK, Dandenpom Lubuk Pakam, anggota DPRD, Ketua DPD Partai Golkar DS Drs T Achmad Tala’a, Kadisdikpora Drs Sofyan Marpaung MPd, Kaban Kesbang Drs H Edy Azwar, LVRI serta unsur pengurus PD PPM Sumut dan KNPI. (R David Sagala)

Dewan Minta Pemkab Kaji Potensi Parkir ....................................................Hal 1
“Mengenai hal ini saya sebenarnya sudah minta data ke Dinas Perhubungan namun hingga saat ini belum menyerahkan,” kata Aef. Sementara itu dalam draf raperda Pemerintah Kabupaten Majalengka akan berupaya menaikkan tarif retribusi parkir yang dibagi menjadi tiga, yakni lokasi khusus, tepi jalan umum serta pada kegiatan insidentil. Untuk tepi jalan pemerintah tidak akan menaikan tarif. Sehingga tarif untuk kendaraan sepeda motor masih tetap Rp500 dan roda empat Rp1.000. Sedangkan untuk tarif retribusi parkir pada kegiatan insidental dan tempat khusus untuk mobil roda tiga dan empat naik menjadi Rp1.500 per sekali. (Jur)

Wanita Diduga Penculik Nyaris Dikeroyok Warga ............................................................Hal 1
Cisurupan malam tadi.Menurut Kapolsek Cisurupan, AKP Hermansyah, dalam pemeriksaan semalam, pihaknya belum memperoleh keterangan yang meyakinkan bahkan pihaknya tidak memperoleh identitas wanita berusia 30 tahunan yang ditangkap warga. Lanjut Hermansyah, dari tangan wanita tersebut hanya diperoleh kantong plastik yang berisi sejunlah uang dan dompet miliknya.Sementara itu sebelumnya kejadian serupa hampir terjadi di Polsek Cikajang yang mana dua orang yang diduga sebagai pelaku penculikan berhasil diamankan di markas Polsek Cikajang, namun berdasarkan keterangan sejumlah perwira kepolisian dari Polres Garut diketahui satu orang warga tersebut mengalami gangguan jiwa dan satu warga lainnya seorang warga yang datang ke daerah Cikajang dengan maksud membeli tanah.Di Polsek Cikajang pun ratusan warga penasaran ingin melihat langsung orang diduga pelaku penculikan yang selama ini meresahkan warga, bahkan warga meminta petugas akan menghakimi kedua orang tersebut. Untungnya puluhan petugas kepolisian dari Polres Garut dan sejumlah Polsek yang didatangkan dan dipimpin langsung Wakapolres Garut, Kompol Eka Mulyana berhasil menenangkan warga. (nik)

HIV/AIDS di Subang Menghawatirkan ...........................................................Hal 1
Dwinan Marchiawati MARS saat ditemui di sela-sela aksi donor darah pengurus PNPM Perkotaan, di Gedung Dakwah, Jln Wangsa Goparana Subang. Ia menyebutkan, penemuan itu didapat setelah darah yang diperoleh dari pendonor diperiksa dan diperoses terlebih dahulu di laboratorium Markas PMI. Tidak hanya hepatitis B atau C, tetapi juga HIV dan sifilis. “Seluruh jenis penyakit itu tidak diketahui sebelumnya, karena pemeriksaan pada setiap acara atau gelar donor darah hanya dilakukan mengenai layak tidaknya seseorang mendonorkan darahnya,” jelas Dwinan seraya menambahkan, setiap pendonor harus memenuhi syarat usia 17-55 tahun, cukup tidur, tidak dalam kondisi capek, dan stabil tekanan darahnya. Bahkan pasien wanita tidak boleh yang sedang menyusui, menstruasi, hamil atau sedang dalam berobat. Dwinan pun merasa bangga karena dari hasil pemeriksaan setiap donor darah tidak mencapai 2 persen yang berpenyakit, sehingga darah yang disumbangkan pendonor dapat dimanfaatkan untuk menolong sesama. “Mudah-mudahan keikhlasan warga yang terlibat dalam badan keswadayaan masyarakat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan yang mencapai 50 labu lebih, dapat bermanfaat dalam membantu sesama manusia. Apalagi PMI Subang selalu kekurangan dalam persediaan darah,” katanya. (Loy/Lbb)

DAK Pendidikan Terancam Gagal ................................................................Hal 1
melaksanakan. Tapi bila waktunya sangat mepet mendekati berakhirnya tahun anggaran, ini sangat merepotkan daerah dan riskan bagi daerah melaksanakannya. “Dana sudah ada di kas. Jadi kita sayangkan bila tidak bisa digunakan akibat persoalan di kementerian yang tidak tuntas,” kata Ma’mur. Senada Ma’mur, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur Dr H Saeful Millah MSc mengatakan, pihaknya juga merasa bingung karena program DAK bidang pendidikan yang diterima Kabupaten Cianjur belum bisa dilaksanakan sampai kini. Hal itu terjadi karena petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dari kementerian belum diterima. Apalagi, kata Saeful, pelaksanaan DAK tahun 2010 terjadi perubahan sistem, dari sistem swakelola dan kini harus ditenderkan pelaksanaannya. Secara khusus keterlambatan pelaksanaan juga membuat gabungan beberapa LSM di Kabupaten Cianjur mengancam akan mendemo disdik setempat. Ketika hal itu ditanyakan kepada Saeful, ia mengakui. “Ya saya sudah mendengar keterlambatan pelaksanaan DAK akan didemo oleh gabungan LSM. Saya menunggu apa yang akan diaspirasikan oleh kalangan LSM itu,” kata Saeful. Bila yang disoal menyangkut belum direalisasikannya DAK menurut Saeful, hal itu tidak bisa dimengerti. Namun pihak-pihak pendemo diharapkan memahami terhambatnya pelaksanaan DAK dikarenakan menunggu aturan yang jelas dari kementerian. Bila edaran juklak juknis sudah diterima pihak Disdik Kabupaten Cianjur segera melaksanakannya. “Semua itu akan dilaksanakan secepatnya bila aturan dari kementerian telah diterima,” katanya. Sementara itu menanggapi adanya keterlambatan realisasi DAK bidang pendidikan secara nasional, Dedi Haryadi dari Bandung Institute of Governance Studies (BIGS) mengakui, sedang mencermatinya secara serius permasalahan ini. Sungguhpun menurut Dedi, berdasarkan laporan World Bank, secara umum realisasi anggaran APBN pemerintahan RI tahun 2010 terjadi perlambatan di triwulan satu maupun di triwulan dua. Keterlambatan eksekusi DAK bidang pendidikan cukup memberikan andil. Dan ini cukup mengkhawatirkan. Apalagi DAK bidang pendidikan tahun 2010 ini angkanya mencapai Rp9 triliun lebih. Bila melihat nilainya, program ini semestinya harus dipersiapkan terukur dan terkawal dengan baik. Dedi juga tidak menepis salah satu faktor keterlambatan disebabkan adanya persoalanpersoalan administrasi dan faktor non teknis di kementerian pendidikan. Akibatnya terhambatnya eksekusi DAK bidang pendidikan tahun ini. Sinyalemen lain program DAK juga memiliki persoalan segitiga yaitu eksekutif, legislatif, dan pengusaha. “Negoisasi, bargaining yang dilakukan para pihak merupakan faktor terhambatnya eksekusi anggaran DAK ini,” kata Dedi. Menyinggung persoalan mepetnya waktu pelaksanaan terkait tahun anggaran berjalan, secara serius Dedi mengingatkan berbagai faktor non teknis semestinya tidak mengganggu jalannya pelaksanaan program di lapangan. Sebab bila pada akhirnya persoalan itu menghambat program, ini sangat disayangkan karena merugikan dunia pendidikan yang pada ujungnya merugikan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Dalam kesempatan wawancara ini juga Dedi prihatin peningkatan anggaran 20% sektor pendidikan, ternyata tidak serta merta dapat diarahkan guna meningkatkan kualitas dunia pendidikan. Hal itu disebabkan paradigma birokrat pendidikan masih kental diwarnai persoalan KKN, termasuk dalam program DAK. Walaupun untuk tahun anggaran 2010 pelaksanaannya menggunakan mekanisasi tender tapi persoalan bargaining, negoisasi tetap saja menjadi warna. “Peningkatan anggaran tidak serta merta dapat difokuskan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh,” tandas Dedi. Di tempat terpisah, pengamat anggaran Ir Bambang Wisono yang dimintai tanggapan terkait terlambatnya realisasi DAK bidang pendidikan tahun 2010 secara gamblang mengemukakan, pihaknya sedang mencermati pelaksanaan DAK tahun 2010 yang memasuki semester tiga dalam kalender tahun anggaran tetapi belum juga dieksekusi. Persoalan ini menandakan DAK pendidikan memasuki tahapan lampu kuning dilihat dari sisi anggaran. Karena, batas akhir tahun anggaran ditetapkan pada bulan Desember dan ini sudah mendekati. Tetapi, kabupaten/kota penerima DAK belum juga dapat melaksanakan. “It is something wrong. Ada yang salah di Kementerian Pendidikan Nasional. Dan ini lampu kuning yang perlu segera dituntaskan,” kata Bambang. Bila perlu, lanjutnya, DPR RI melalui Komisi X segera memanggil Menteri Pendidikan M Nuh untuk mengklarifikasi berbagai persoalan keterlambatan program DAK bidang pendidikan. Karena DAK bidang pendidikan sangat strategis. Bambang yang juga mantan staf ahli DPR RI periode 2004-2009 merasa prihatin bila anggaran DAK yang mencapai Rp9,3 triliun ini harus diluncurkan untuk tahun 2011. Bila kejadiannya seperti itu, ini sangat merugikan dunia pendidiikan karena menghambat kualitas pendidikan. “Kita berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus segera turun tangan dan menegur menteri pendidikan,” kata Bambang. Di sisi lain, kata Bambang, mekanisme pelaksanaan memang sangat mengkhawatirkan. Karena pelaksanaan tendernya saja membutuhkan waktu 40 hari. Apalagi,dari sisi penyedia jasa, kesiapan pengusaha untuk menyediakan kebutuhan barang pun bisa tidak terpenuhi bila waktunya sedemikian dekat. Dari Surabaya, keterlambatan realisasi DAK juga tercium oleh sebuah LSM. Lembaga Praktisi dan Pemerhati Pendidikan Indonesia (LP3I) secara resmi mengirimkan surat kepada Prof Suyanto Phd Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, mempertanyakan keterlambatan pelaksanaan DAK terkait adanya isu banyak terjadi perubahanperubahan terhadap isi spesifikasi alat peraga dalam juknis, dari yang telah memiliki keabsahan/legalitas diganti dengan produk baru non proses keabsahan/legalitas. Persoalan inilah yang membuat persetujuan dari Komisi X DPR RI atas usulan juknis pelaksanaan DAK pendidikan nasional belum disetujui. Namun sayang, surat resmi LP3I ini yang dilayangkan 29 Juni lalu belum dijawab oleh pihak Kementerian Pendidikan Nasional. “Surat resmi mempertanyakan berbagai persoalan keterlambatan pelaksanaan DAK yang kita kirimkan beberapa waktu lalau belum dijawab oleh Kementerian Pendidikan sampai kini,” kata Ketua LP3I Basa Alim Tualeka kepada Medikom. Di sisi lain, berdasarkan penelusuran Medikom keterlambatan pelaksanaan DAK bidang pendidikan tahun 2010 di samping telah mengundang kontroversi membuat langkah pejabat di kementerian pendidikan ini pun menjadi ‘aneh-aneh’. Hal itu terlihat setelah mengeluarkan surat perintah agar daerah mempersiapkan diri, tertanggal 14 Juni yang ditandatangani Prof Suyanto Phd sebagai Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, kembali pada tanggal 16 Juli 2010 pejabat bersangkutan mengeluarkan surat yang ditujukan kepada Ketua Komisi X DPR RI yang berisikan penyampaian konsep Permendiknas tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan DAK Bidang Pendidikan Tahun 2010. Tetapi pada hari bersamaan pejabat bersangkutan membuat surat kepada Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah memohon rekomendasi tertulis tentang petunjuk teknis penggunaan DAK bidang pendidikan tahun 2010. Namun petunjuk teknis yang diharap daerah tidak juga muncul. Sementara sikap pejabat kementerian pendidikan ini yang menyurati dua institusi berbeda menyangkut juklak juknis ini dianggap ganjil oleh Bambang Wisono. Karena mengacu UndangUndang No 2 Tahun 2010 perihal perubahan atas UU No 47 Tahun 2009 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2010 pasal 18 ayat 5b yang berbunyi “Petunjuk teknis pelaksanaan DAK pendidikan harus terlebih dahulu dikonsultasikan/mendapat persetujuan Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan sebagaimana diatur dalam pasal 15 ayat (5) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Untuk menjamin efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitasnya, maka pelaksanaan DAK pendidikan harus menggunakan metode pengadaan barang dan jasa yang mengacu kepada mekanisme sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak dalam bentuk block grant/hibah ke penerima manfaat atau sekolah”. Sebab dalam perubahan APBN petunjuk teknis hanya diperintahkan berkonsultasi kepada Komisi X DPR RI. “Kini pejabat bersangkutan sekarang memohon rekomendasi justru dari lembaga yang tidak memiliki relevansi,” kata Bambang setengah bertanya. Apalagi Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah hanyalah sebagai guidence pelaksanaan tender bukan pemberi rekomendasi apalagi menyangkut isi dan spesifikasi produk. “Lagi-lagi persoalan DAK 2010 ini memang bermasalah secara serius. Perlu ada pihak yang turun tangan terutama presiden untuk menuntaskan segera agar program DAK Bidang Pendidikan Tahun 2010 tidak terancam pelaksanaannya,” kata Bambang. ***

Refleksi Kritis Advokat Demi Negara Hukum ............................................................Hal 1
entitas yang terdidik secara keilmuan, bermoral, memiliki integritas dan berperan aktif dalam proses transformasi dalam kehidupan sosial, reformasi hukum dan peradilan, menjadi catatan dan bahan refleksi bersama seluruh stakeholders bangsa, terutama advokat dan organisasi advokat. Hak-hak publik untuk mendapatkan pelayanan hukum disertai agenda pemberdayaannya sebagai warga negara yang melekat hak dan kewajiban, harus jadi prioritas perhatian advokat secara individual dan organisasi. Perseteruan yang masih terjadi antara Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) dengan Kongres Advokat Indonesia (KAI), yang terakhir dengan pernyataan sikap DPP KAI kepada Mahkamah Agung yang belum sepakat tentang wadah tunggal yang diklaim bentuknya Peradi, Rabu (14/7), menunjukkan telah terjadi perang kepentingan di balik itu. Oleh karena itu Mahkamah Agung (MA), Pemerintah, DPR harus ikut bertanggung jawab dengan mempersiapkan segala kebijakan, instrumen dan payung hukum, agar perseteruan dan konflik yang berlarut-larut, yang genting dan cenderung memerosotkan wibawa dan citra advokat sebagai penegak hukum bisa diatasi dengan segera. Buktinya, ribuan para calon advokat yang sudah menghabiskan uang untuk mengikuti pendidikan, ujian harus terkatung-katung nasibnya. Buah dari perseteruan yang masih terjadi seperti tiada berujung. Belum lagi ribuan nasib lulusan sarjana hukum lainnya yang bingung dengan konflik dan perseteruan yang masih terjadi. Amanat Pasal 28 ayat (1) UU No 18/2003 tentang Advokat bahwa organisasi advokat merupakan satusatunya wadah profesi advokat yang bebas dan mandiri yang dibentuk untuk meningkatkan kualitas profesi advokat dalam realitasnya gagal dilaksanakan. Oleh karenanya, demi kepentingan wibawa penegak hukum advokat dan independensi, kewenangan untuk pengangkatan advokat dikembalikan kepada ketentuan sebelum berlakunya UU/ 18/2003, yakni untuk menjadi pengacara praktek pengujiannya dilakukan Pengadilan Tinggi, dan menjadi advokat kewenangan Mahkamah Agung. Mahalnya biaya untuk mengikuti pendidikan kursus profesi advokat menjadikan para lulusan sarjana hukum terbaik yang tidak memiliki dana atau uang untuk pendidikan, mengurungkan niat untuk menjadi advokat atau pengacara. Oleh karena itu solusi yang efektif dan efisien yang harus dilakukan Pemerintah, DPR, dan MA, adalah mempersiapkan segala perangkat hukum aturan perundangundangan, kebijakan, untuk mengembalikan kewenangan pengangkatan pengacara dan advokat, kepada Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung, supaya konflik yang terus berkobar bisa berakhir. Selanjutnya langkah penguatan wibawa dan integritas advokat bisa dilakukan bukan saja dalam menangani kliennya, tetapi sebagai agen perubahan untuk kebenaran dan keadilan dalam perwujudan negara hukum yang bersih dan berwibawa serta imparsial. Sebab konflik kepentingan cenderung terjadi kalau kewenangan untuk pengangkatan advokat itu tetap melekat pada organisasi atau disebut dengan wadah tunggal. Sementara sesuai misi luhur penguatan masyarakat sebagai masyarakat sipil harus mendapat perhatian, agar tidak tergerus atau dipinggirkan oleh kuatnya peran negara dan pemerintah dengan seluruh alat perlengkapannya, sehingga rakyat menjadi lemah atau dilemahkan. Peran dan tanggung jawab sosial advokat mesti dirangsang kembali sesuai roh mulia yang diemban sebagai pilar hukum dan demokrasi yang senantiasa berjuang untuk menghapus segala bentuk ketidakadilan hukum, sosial ekonomi dan hak asasi manusia (HAM). Persyaratan yang mendasar untuk mewujudkan keadilan dan kepastian hukum itu adalah penegakan hukum yang direpresentasikan dengan peradilan yang harus independen, transparan dan akuntabel. Lembaga peradilan yang bersih dan berwibawa ini mesti didukung dengan tanggung jawab dari seluruh aparat penegak hukum, yakni advokat, jaksa, hakim, polisi, KPK, negara, dan seluruh elemen masyarakat, sehingga bebas dari segala bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme. Ketidakadilan yang banyak dialami para pencari keadilan, secara sistem dalam proses penegakan hukum, dengan temuan masih banyaknya jumlah praktek-praktek penyimpangan dan penyalahgunaan kewenangan yang dimiliki, harus diatasi secara sungguhsungguh secara bersama-sama seluruh penegak hukum, negara, DPR, berbagai elemen masyarakat untuk mewujudkan negara hukum yang adil dan berwibawa. Kunci penegakan hukum yang bersih, berwibawa dan sarat integritas itu harus diprioritaskan supaya masyarakat bisa pulih kepercayaannya kepada institusi negara yang selama ini sedang merosot, seperti polisi, jaksa. Dalam kesempatan ini, momentum Hari Bakti Adhyaksa Ke 50, komitmen yang dicanangkan Jaksa Agung untuk terus melakukan reformasi dengan peningkatan kualitas SDM, perwujudan aparatur yang cakap, memiliki integritas melalui reformasi birokrasi untuk memulihkan citra dan kepercayaan masyarakat, harus didukung semua pihak, termasuk advokat sebagai sesama penegak hukum. Masyarakat sangat berharap optimalisasi kinerja secara lembaga kejaksaan agar lebih berdaya guna dengan kesadaran untuk membenahi kondisi seluruh aspek yang terdapat secara internal, termasuk yang masih bobrok dan menjadi borok. Pemberantasan korupsi tidak tebang pilih dan bisa menunjukkan indepedensinya dan tidak dipolitisasi demi kepentingan penguasa. Akhirnya diharapkan kepercayaan masyarakat bisa pulih secara bertahap, terhadap seluruh jaksa, pegawai korps Adhyaksa dengan kinerja yang ditunjukkan sebagai jaksa, pengacara negara untuk kepentingan perwujudan negara hukum yang adil dan tanpa pandang bulu. Hermanto Barus SH Advokat, Alumnus FH Unpar Bandung

Redaksi : Jalan Pratista Utara II No 12 Antapani Bandung Telp/Faks 022 7233856 Email : skmmedikom@yahoo.com Perusahaan : Jl. Peta No.149 A (Lingkar Selatan) Bandung Telp/Faks. 022 - 6001506
Diterbitkan : CV WIYATA PURNAKARYA. Berdasarkan UU No. 40/1999. Terdaftar pada Direktorat Merk Ditjen Hak & Kekayaan Intelektual Departemen Kehakiman dan HAM RI No. 556756/22 Desember 2003 Penasehat : Yodi Setiawan EDD, EDS Pendiri : LH Rahardja Pemimpin Perusahaan : HA Damini Wakil Pemimpin Perusahaan : Teddy Subarsyah SH SSos CN Dewan Redaksi : Yahya Siregar - HA Damini - Edie Nirwan S - HA Soleh Hidayat - H Rochadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi : Yahya Siregar Wakil Pemimpin Umum : Edie Nirwan S Wakil Pemimpin Redaksi : HA Soleh Hidayat Konsultan Hukum : Iwan Suwandhito SH - David Roesyidi Konsultan Kesehatan : dr Henry S Ibrahim - dr Isnindiary Sandra Dungga Manajer Keuangan : D Muliaman SE MBA Manajer Produksi : H Rochadi Manajer Iklan & Sirkulasi : Rudy Janto Soelaiman Litbang: Teddy Subarsyah SH SSos CN - Drs Heriyadi TS Redaktur Eksekutif : Dadan Supardan Redaktur Pelaksana : Hiskia Milala Redaktur Hukum : Sastrianta Sembiring Redaktur Politik: Drs A Basa MSc Redaktur Khusus : Bambang Wisono Staf Redaksi : Taryana SSos - Hary Buana - Nina Nurlinawati - Slamet Raharjo - Dudun Hamidullah - Desi Kurnia - Zulkifli SDP Lubis - Dudi Hendayat - Drs Eka Wirawan - Endang Kosasih - Kaka Suminta Koordinator Liputan/Wartawan : Kgs Dedi Iskandar Marketing : Edy Herwansyah Sekretaris Redaksi : Sulastiyah Desain Grafis : Hary Buana Sirkulasi : Sandi Lesmana Jaya - Angga Agus Junarsa - Nanang Johansyah Alamat Redaksi : Jalan Pratista Utara II No 12 Antapani Bandung Telp/Faks: 022 7233856 Perwakilan Jakarta : Jl Dr Muwardi I/37 Grogol Jakarta Barat Marketing Iklan : Jl Blitar No 13 Antapani Bandung 40291 Telp/Fax: (022) 7207988 Bank BNI 46 Cabang Kantor Unpad Bandung No Rek 6404937-3 a.n. Bpk Amin Damini H. Percetakan : CV WIYATA PURNAKARYA - Isi diluar tanggung jawab percetakan

Medikom Hadir di: Jl BKR depan Alifa, Jl BKR Depan PT INTI, Jl Peta Depan Tegalega, Jl Peta Depan RS Imanuel, Jl Peta Perempatan Jl Kopo, Jl Kopo Samping RS Imanuel, Jl Kopo Depan Alfamart, Jl Kopo Depan Bank BCA, Jl Astanaanyar, Jl Pasteur depan RSHS, Jl Pasteur Depan Yogya, Jl Pasteur samping Universitas PASIM, Jl Garuda Deket Lampu Merah, Jl Garuda, Jl Cihampelas Depan SDN Cihampelas 1,2, Jl Cihampelas Depan Pom Bensin,Jl Cihampelas Depan SMU Pasundan, Depan Alunalun, Jl Rajawali, Depan RS Rajawali, Terminal lewipanjang (dalam), Jl Terminal Leuwipanjang ( luar), Jl Tegalega Depan Museum Sri Baduga, Jl Buah Batu, Jl Buah Batu, Jl Gatot Subroto, Jl Gatot Subroto, Jl Kiaracondong, Jl Kiaracondong, Jl Soekarno Hatta, Jl Soekarno Hatta /Pasar Gede Bage, Jl Cipadung, Jl Raya Ujung Berung, Jl Raya Sumedang. Jl Padjadjaran (Depan Toko HWK), Jl Cihampelas (Depan STHB Bandung), Jl Cipaganti (Simpang Jl Dr Curie), Depan Jl Cipaganti No.37, Jl Sampurna (Depan Primajasatour), Jl Cipaganti (Depan Rumah-Praktek Prof Dr.Julianto W dan Dr Imelda A Widjojo SpPD), Jl Cipaganti (Depan Kantor Pos Cipaganti), Jl Cipaganti (Yayasan Bakti Sosial Santoso PSAA Santoso Cipaganti), Jl Setiabudhi (Depan Pizza Hut), Jl Ciumbuleuit (Depan Apotek Waringkas), Jl Ciumbuleuit (Depan Alfamart Ciumbuleuit), Jl Ciumbuleuit (Depan RSAU dr Salamun), Jl Siliwangi (Depan Siliwangi Billiards), Jl Ir H Juanda (Depan Dago Tea House), Jl Ir H Juanda Depan ITSB (Institute Tekhnologi dan Sains Bandung), Simpang Dago (Depan RM Pondok Kapau). WARTAWAN BANDUNG Kota : Mbayak Ginting - Iwan Herdiawan -Wulan- Yusuf Suryaman - Laures - Eva - Akbar Kab Bandung : Suhendar R Kab Bandung Barat : K fauzi R CIMAHI : Zaenal Abidin - Fredy HS DKI Jakarta : Slamet Supriyadi - Ahmad Taufik Nawawi TASIKMALAYA : Agus Cucu SB - Anwar SB, Lukman Nurhakim CIAMIS : Heru Pramono (Kabiro) Ipan Panuju Supriadi - Agus Supriyatman - Suherman BANJAR : Handri Martandangi CIREBON Kota : Yuyun W Kurnia BBA SE - Rudi Mulyana Kab : M Suratman - KUNINGAN : Yoyo Suhendar SUKABUMI : Anne Mustikasari - Ilham Septian B.W - Ariya Gumelar PURWAKARTA: CIANJUR : Asep Kurnia - Rizal BOGOR : M Yusuf - Eka Wirawan - A Gani DJ - Rangga Anggoro TR Putra - Edison Nizar Jt DEPOK: FR. Ambarita - Lucia S. Andreeni Perwakilan KARAWANG : Andi Nugroho BEKASI : Iwan Gunawan - Dedi Sukandi - Stefanus Lung, Agus Nuryadin MAJALENGKA: Isa Ansori P - Juremi - Tatang Sutaryat SUMEDANG : Aidin Sinaga INDRAMAYU : H. Yonif Fatkhurony SUBANG : Loy Slamet Supuwijara - Lodewyk Butar-butar - Asep Nasa PANTURA : Ridwan Abdullah GARUT : Engkus K - Yudi K - NIK NIK - AGUS TEGAL : Dodi Yahya PANDEGLANG : - KABUPATEN LEBAK : - TANGERANG: Agus Salim - H. Bainul Amin - H. Syaiful Perwakilan JAWA TIMUR : Drs Albert PS JL Jaga Raga No 18 Surabaya (Tlp: 031 3557655/08165430289) Perwakilan YOGYAKARTA : - Perwakilan LAMPUNG BARAT : Suhardin (Kabiro) - Joniyawan Sumatera Utara : (Ka Perwakilan)-Jonpery Sinulingga Medan : Syamsul - Maradona Deli Serdang : R David Sagala - Paulus Butar Butar, HILDE TIURMA TAMPUBOLON Simanlungun/Siantar: Sailan Tarigan Langkat/Kota Binje : Sagin, Hendra Sinaga, Rusmajam Kabupaten DAIRI : Amin Sitanggang

Edisi 378 Tahun VII 19 s.d. 25 Juli 2010

12

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->