Anda di halaman 1dari 13

Di awal pertemuan dapat dijelaskan mengenai

penggunaan materi bentuk pangkat, akar, dan


logaritma dalam kehidupan sehari-hari, seperti
pada perhitungan periode sebuah bandul.
Selain itu, juga dapat diberikan contoh lainnya,
seperti :
- Persamaan medan magnet ditentukan oleh
formula (LKS 3 Hlm. 15):
Lr (r 2 − L2 ) −2
H=
(4m) −1
- Menghitung nilai uang mendatang (n tahun)
dengan tingkat suku bunga i dan jumlah
uang yang diinvestasikan pada saat ini
adalah P : U = P (1 + i ) n

Bilangan berpangkat bulat positif pernah


dipelajari siswa di SMP, maka siswa diminta
untuk mengingat kembali materi tersebut.
Minta beberapa orang siswa untuk
menjelaskan secara singkat tentang bilangan
berpangkat.

Tulis contoh bilangan berpangkat, misalkan 34 = 3


x 3 x 3 x 3 = 81
Kemudian susun ke bawah bilangan dengan
bilangan pokok yang sama dan pangkat yang
menurun.
33 = 3 x 3 x 3 = 27
32 = 3 x 3 =9
1
3 =3 =3
Dari susunan tersebut, minta siswa menentukan
polanya, yaitu dibagi 3. Susun lagi dengan pangkat
yang menurun dan menggunakan pola yang sama :
30 = 1
3-1 = 1
3
3-2 = 1 = 1
32 9

Siswa diminta menyimpulkan formula untuk


pangkat bilangan bulat negatif dan nol.

1
Dalam menjelaskan sifat-sifat ini, siswa diberikan
contoh sederhana untuk masing-masing sifat,
misalnya :
1. a. 42 x 4 = (4 x 4) x 4 = 43
b. 24 x 22 = … , dan sebagainya
2. a.( 2.3)2 = (2.3)(3.2) = 2.2.3.3 = 22.32
b.(5.7)8 = …, dan sebagainya,
dan seterusnya. Dari contoh-contoh tersebut, siawa
diminta untuk menyimpulkan tentang sifat-sifat
bulangan berpangkat bilangan bulat

 Contoh 8 hingga contoh 14 bertujuan agar


siswa dapat menyederhanakan bentuk
aljabar yang memuat bentuk pangkat
menggunakan sifat-sifat bilangan
berpangkat bulat.
 Siswa diminta untuk mengamati contoh-
contoh ini dan mendiskusikannya berdua
dengan teman sebelahnya.

2
Soal-soal no.15-20 membutuhkan kemampuan
analisis yang baik, apabila siswa mengalami
kesulitan, beri contoh penyelesaian untuk salah satu
nomor, atau dari contoh lain.

• Soal-soal ini dapat dijadikan contoh aplikasi


penggunaan bentuk pangkat dalam bidang fisika.
• Untuk menambah wawasan, siswa dapat
memberikan contoh lain yang berhubungan
dengan penggunaan bentuk pangkat

• Siswa dijelaskan tentang definisi umum pangkat


pecahan yang diubah ke dalam bentuk akar.
• Siswa diminta untuk memperhatikan bahwa
bilangan pokok yang berpangkat pecahan
merupakan bilangan positif jika bilangan
berpangkat pecahan bernilai real.

3
• Siswa diminta mengamati contoh (c), apabila
bilangan pokok pada bilangan berpangkat
pecahan bernilai negatif, maka nilai dari bilangan
berpangkat pecahan merupakan bilangan
kompleks.
• Sebagai pengayaan, siswa dijelaskan mengenai
bilangan kompleks. Bilangan kompleks terdiri
dari bilangan real dan imajiner ( ί ) dengan ί = (-
1)1/2 = −1
• Berikan contoh bilangan kompleks, misalnya : 2ί
= 2(-1)1/2 = 41/2 . (-1)1/2
= (4. (-1))1/2 = (-4)1/2

 Soal (c) dan (d) serta contoh 6 merupakan soal


untuk menyederhanakan bentuk aljabar yang
memuat bentuk pangkat pecahan.
 Siswa diminta untuk mengamati langkah-
langkah penyederhanaan bentuk aljabar,
kemudian siswa diminta untuk mengubah
bentuk pangkat pecahan pada hasil akhir
menjadi bentuk akar.

4
Soal ini merupakan contoh aplikasi penggunaan
bentuk pangkat pecahan dalam bidang fisika. Siswa
diminta untuk menyederhanakan bentuk aljabarnya
dan mengubahnya menjadi bentuk akar.

Soal ini merupakan contoh penggunaan bentuk


pangkat dalam bidang matematika. Siswa diminta
menganalisis dan menunjukkan hubungan antara
formula volume dan luas permukaan bola.

• Siswa dijelaskan mengenai sifat-sifat


operasi bentuk akar.
• Dengan mengubah bentuk akar menjadi
bentuk pangkat pecahan dan
menggunakan sifat-sifat bilangan
berpangkat,siswa diminta untuk
membuktikan sifat-sifat operasi bentuk
akar ini.

• Materi ini hanya bersifat pengingatan


terhadap materi yang telah didapat siswa
sewaktu SD/SMP.
• Siswa mempelajari sendiri materi ini
dengan mengamati contoh-contoh yang
ada.

5
Siswa dijelaskan bahwa operasi akar
kuadrat dalam bentuk perkalian dan
pembagian yang dapat memakai sifat-sifat
ini.

Keterangan ini dapat dijelaskan sebagai :


= a karena a2 = b; sehingga
=2=a
Dapat juga dijelaskan dengan contoh :
= 3 karena 32 = 9, maka
= 2= 3

Sebelum dijelaskan mengenai penyederhanaan


bentuk akar, siswa diingatkan tentang mengubah
bilangan menjadi perkalian faktor-faktor prima
kuadrat.
Contoh :

50 = 2 x 52 63 = 32 x 7
2 25 3 21

5 5 3 7

Selanjutnya, dijelaskan mengenai bentuk-bentuk


akar yang dapat disederhanakan dengan
menggunakan sifat bentuk akar.

6
Sebelum dijelaskan formula merasionalkan
penyebut berbentuk akar, siswa dijelaskan tentang
kuadrat dari bentuk akar kuadrat.
( 5 )2 = 5 x 5 = 5 2 = 5
Sehingga siswa mengerti bahwa untuk
menghilangkan bentuk akar dengan cara
menguadratkan bentuk akar tersebut atau
mengalikan dengan bentuk akar yang bilangan
dibawah tanda akarnya sama.
Misalkan 3 ingin dihilangkan akar kuadratnya,
maka kuadratkan atau kalikan dengan 3 ,
sehingga
( 3 )2 = 3 atau 3 x 3 = 3

Soal ini merupakan contoh aplikasi penggunaan


bentuk akar. Pada soal no.5 ilustrasinya dapat
dilihat pada halaman awal bab ini.

Siswa dijelaskan bahwa syarat dari penjumlahan


dan pengurangan bentuk akar yaitu :
- indeks akar harus sama
- radikan (bilangan yang diakarkan) harus
sama.
Apabila kedua syarat itu tidak terpenuhi, maka
pada bentuk akar tersebut tidak dapat dilakukan
penjumlahan dan pengurangan.

7
• Siswa dijelaskan bahwa melakukan penelitian
bentuk akar dengan indeks yang sama, caranya
dengan mengalikan radikannya dan diakarkan
dengan indeks akar yang sama.
• Untuk lebih jelasnya, siswa diminta
memperhatikan contoh 21
• Siswa juga dijelaskan bahwa perkalian bentuk
akar dengan radikan yang sama dan indeks akar
yang berbeda dapat dilakukan dengan
mengubahnya menjadi bentuk pangkat pecahan.
• Contoh : 3 5 . 5 = 51/3 . 51/2
= 51/3+ ½
= 55/6 = 6 5 5

Siswa diminta mengamati contoh 24, untuk


melakukan perkalian bentuk akar dengan indeks akar
yang berbeda, caranya adalah dengan mengubah
bentuk akar ke bentuk pangkat pecahan, kemudian
samakan penyebut dari pangkatnya.

Siswa dijelaskan asal dari rumus ini, yaitu


(a = b)(a-b) = a(a-b) + b(a-b)
= a2 – ab + ab – b2
= a2 – b2

8
• Siswa dijelaskan bahwa rumus
pada memo yang digunakan adalah
rumus memo pada halaman ini.
• Siswa dijelaskan bahwa rumus (ί)
diperoleh dari :
( a + b )2 = (a + b) + 2 ab
( a + b (belum selesai)

• Siswa dijelaskan bahwa sifat-sifat operasi


pembagian bentuk akar sama seperti sifat-sifat
operasi perkalian, hanya untuk pembagian,
syaratnya adalah penyebut tidak boleh nol.
• Siswa diberikan contoh

9
• Formula-formula ini semua penyebutnya
berbentuk akar binomial/ bersuku 2. Siswa
diberikan contoh lain yang berbentuk akar lebih
dari 2 suku, misalnya :
2 + 5-2
• Siswa dijelaskan cara menentukan sekawannya
yaitu dengan mengelompokkan menjadi dua
suku.
2 + 5 - 2 dapat menjadi ( 2 + 5 )- 2
atau 2 - ( 5 - 2 )
• ( 2 + 5 ) -2 sekawannya : ( 2 + 5 ) +2
2 + 5-2
• 2 + ( 5 -2) sekawannya : 2 -( 5 -2)
• Berikan contoh lain dan minta siswa menentukan
sekawannya

Siswa diberikan definisi logaritma agar dapat


memahami bagaimana mengubah bentuk pangkat
ke bentuk logaritma dan sebaliknya.

Untuk lebih memahami cara mengubah bentuk


logaritma ke bentuk akar dan sebaliknya, siswa
diminta untuk mengamati contoh.

10
Siswa diminta untuk mengingat kembali sifat-sifat
bentuk pangkat untuk mempelajari dan
membuktikan sifat-sifat logaritma.

Siswa diberikan contoh, misalnya :


2
log (2.4) = 2log 8 <=> 2n = 8
2n = 23
n=3
2
log2 + 2log4 = 1 + 2 =3
2
log(2.4) = 2log2 + 2log4

Siswa diminta untuk mengamati contoh


menyederhanakan bentuk aljabar yang memuat bentuk
logaritma.

Soal ini merupakan contoh aplikasi penggunaan bentuk


logaritma dalam bidang fisika.

11
Siswa diminta untuk membuktikan sifat-sifat logaritma

12
13