P. 1
Modul Penyusunan RPJMD

Modul Penyusunan RPJMD

3.0

|Views: 10,069|Likes:
Dipublikasikan oleh Dwi Kurniawan

More info:

Published by: Dwi Kurniawan on Jul 19, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2015

pdf

text

original

Visi, misi, dan program Kepala Daerah merupakan acuan dalam
menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui ke arah mana
pembangunan dan prioritas program yang menjadi sasaran
Kepala Daerah terpilih sesuai janji yang disampaikan kepada
masyarakat pada waktu proses pemilihan kepala daerah. Tujuan
kegiatan ini:
·Memenuhi janji Kepala Daerah terpilih kepada masyarakat
·Memformulasikan visi, misi, dan program prioritas kepala
daerah terpilih untuk dijabarkan di dalam program dan kegiatan
yang akan dilaksanakan melalui RPJMD dan kegiatan tahunan
yang akan dibiayai melalui APBD
·Untuk mengklarifikasi visi, misi, dan program Kepala Daerah
terpilih, serta lebih mempertegas arah dan kebijakan
pembangunan daerah.

·Benang merah antara visi, misi, dan program pembangunan
daerah
·Formulasi fokus dan prioritas program Kepala Daerah
·Identifikasi kebutuhan sumber-sumber pembangunan dalam
mewujudkan prioritas program Kepala Daerah

·Sinkronisasi antara visi, misi, dan program Kepala Daerah

terpilih

·Rumusan program harus jelas fokusnya dan apa prioritasnya
·Kajian prioritas program dikaitkan dengan kemungkinan
pelaksanaannya.

Tujuan

Keluaran

Prinsip-prinsip

49

Focus Group Discussion atau langsung mengadakan konsultasi
dengan Kepala Daerah Terpilih dan Perwakilan Partai Politik
pendukungnya (TIM Sukses)

·Pernyataan rumusan visi, misi, dan program Kepala Daerah
terpilih.

·Umumnya rumusan pernyataan visi, misi dan program pokok
calon Kepala Daerah terpilih lebih bernuansa politis dan
bersifat umum, dan program- programnyapun seringkali
bersifat umum dan tidak fokus untuk mengatasi permasalahan/
isu yang ada di daerah, demikian pula tidak terukur, sehingga
tidak dapat dijadikan acuan dalam mengukur kinerja Kepala
Daerah. Untuk mengatasi hal ini dalam konsultasi dengan KDH
Terpilih perlu dicapai kesepakatan tentang : (1) fokus tema
pembangunan yang diinginkan; (2) agenda program yang
sesuai dengan profil dan isu pembangunan daerah; (3)
indikator kinerja utama yang dapat digunakan untuk
menentukan keberhasilan pemerintahan Kepala Daerah.
·Dalam kajian perlu lebih diidentifikasi fokus dan besaran pro-
gram yang layak untuk dilaksanakan pada masa lima tahun
pemerintahannya dalam rangka menjabarkan/mengelaborasi
rumusan program yang disusun sewaktu proses Pilkada.

Metoda

Informasi yang
Disiapkan

Hal-hal Penting
yang Harus
diperhatikan

Susunlah daftar 5 hingga 6 core val-
ues yang akan menjadi landasan
operasional untuk mencapai misi (dari
pandangan stakeholders, organisasi
masyarakat, pemerintah daerah,
DPRD dan komponen masyarakat
lainnya)

Perumusan misi perlu menjawab:
Siapa kita? Apa tujuan kita?
Masalah utama apa yang kita perlu
tangani?
Apa yang membuat kita unik atau ’dis-
tinct’ sebagai pemerintah daerah atau
organisasi?
Nilai-nilai utama (core values) apa yang
akan memandu kita mencapai misi

M-8 KAJIAN TERHADAP VISI, MISI DAN PROGRAM PRIORITAS
KEPALA DAERAH TERPILIH

Visi yang benar memenuhi syarat
sbb:
1.Mengemukakan secara jelas
kemana arah yang dituju
2.Mudah dibaca dan dipahami
3.Merefleksikan ‘spirit’ dari
pemerintah daerah
4.Masyarakat dapat ‘mengisi’ dan
memberikan ‘kontribusi’
5.Sifatnya ‘kompak’ dapat mempe-
domani pengambilan keputusan
6.Mendapatkan perhatian masya-
rakat
7.Dapat dirasakan apabila mende-
ngarkan
8.Memberikan pemahaman tentang
posisi tujuan individu dalam tujuan
bersama
9.Memberikan ‘motivating force’
10.Memberikan tantangan untuk
mencapainya

50

M-9 ANALISIS KEUANGAN DAERAH

·Kegiatan ini merupakan kajian terhadap kondisi keuangan
daerah menurut sumber-sumbernya, didasarkan atas data
perkembangan historis keuangan daerah beserta
kecenderungannya, potensi daerah, kebijakan keuangan
negara serta peraturan perundangan yang berlaku. Kegiatan
ini ditujukan untuk memperkirakan kemampuan keuangan
daerah dalam membiayai pembangunan, baik yang
bersumber dari DAU, dana bagi hasil, Pendapatan Asli Daerah
maupun sumber keuangan lainnya.

·Kerangka Ekonomi Jangka Menengah Daerah merupakan
kerangka prakiraan terhadap besaran pendapatan,
pengeluaran dan pembiayaan.
·Kerangka Pendanaan (Resource Envelope) merupakan
gambaran kemampuan pendanaan daerah untuk membiayai
belanja pemerintah.
·Kerangka fiskal daerah adalah kerangka prakiraan terhadap
pendapatan, hibah, pinjaman, dan belanja daerah.
·Proyeksi fiskal daerah adalah proyeksi terhadap pendapatan,
hibah, pinjaman dan belanja daerah.
·Target fiskal daerah adalah sasaran pendapatan dari sumber-
sumber keuangan daerah
·Celah fiskal adalah selisih antara kebutuhan fiskal daerah dan
kapasitas fiskal daerah
·Perkiraan proporsi alokasi dana pembangunan di daerah
·Perkiraan potensi sumber-sumber dana pembangunan
lainnya.

·Kemampuan keuangan daerah merupakan faktor pembatas
dalam menyelenggarakan pemenuhan kebutuhan
pembangunan daerah.
·Data historis perkembangan keuangan daerah serta peraturan
perundangan yang terkait keuangan negara/daerah
merupakan bahan kajian utama dalam analisis keuangan.

·Kerja bersama dalam Tim dengan dibantu oleh tenaga ahli
keuangan daerah

·Identifikasi sumber-sumber keuangan daerah, dan
kemungkinan potesi sumber yang lainnya.
·Kompilasi historis perkembangan keuangan daerah menurut
sumbernya untuk 5 tahun ke belakang yang dirinci menurut
sumbernya.
·Analisis terhadap pola perkembangan keuangan yang terjadi
untuk setiap sumber keuangan termasuk menilai kalau terjadi
kenaikan/penurunan yang drastis perlu ditelusuri faktor
penyebabnya.

Tujuan

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda

Langkah-langkah

51

·Analisis proyeksi pendapatan keuangan daerah dengan
mempertimbangkan peraturan perundangan yang berlaku
·Analisis prakiraan kebutuhan biaya belanja pemerintah

·Data perkembangan keuangan daerah menurut sumber
dananya untuk periode 5 tahun ke belakang, baik untuk
anggaran pendapatan maupun anggaran belanja.
·Ketentuan peraturan perundangan yang terkait dengan
keuangan negara dan keuangan daerah.

·Model-model analisis keuangan daerah

·Mengingat keuangan daerah merupakan komponen penting
dalam RPJMD maka sangat disarankan diperbantukan tenaga
ahli keuangan daerah (dari perguruan tinggi atau konsultan
lokal atau nara sumber) dalam menganalisis dan
memproyeksikan kemampuan keuangan daerah
·Nomenklatur dan struktur APBD yang digunakan tahun 2006
agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sehingga
untuk keperluan analisis perlu dilakukan penyesuaian-
penyesuaian lebih dulu.

Informasi yang
Disiapkan

Hand out

Hal-hal Penting
yang Harus
diperhatikan

PROYEKSI KEUANGAN DAERAH

Arah Kebijakan Keuangan Daerah

adalah kebijakan penyusunan program dan
indikasi kegiatannya pada pengelolaan
pendapatan dan belanja daerah secara efektif dan
efisien

Apa yang dimaksud dengan Kondisi Keuangan?

1.Kemampuan pemerintah daerah untuk
memenuhi pembayaran kewajiban bulanannya
dalam jangka pendek (Solvabilitas Kas/Cash
Solvency)
2.Kemampuan untuk membiayai pengeluaran
yang sudah dicanangkan untuk tahun fiskal/
anggaran bersangkutan (Solvabilitas anggaran/
Budgetary Solvency)
3.Kemampuan untuk menjaga keseimbangan
belanja dan pendapatan dalam jangka panjang
(Solvabilitas

jangka-panjang/Long-run

Solvency)
4.Kemampuan untuk menyediakan pelayanan
ditingkat yang ditetapkan bagi kesehatan,
keamanan, dan kesejahteraan masyarakat dan
warganya (Solvabilitas tingkat-layanan/Service-
level Solvency)

Proyeksi keuangan daerah:

Adalah ramalan pola kondisi keuangan daerah
pada periode tahun yang akan datang,
didasarkan pada kecenderungan masa lalu,

dengan asumsi bahwa masa yang akan datang
memiliki pola yang sama dengan masa lalu.

Jenis-jenis masa depan:
•Masa depan potensial:
Situasi yang mungkin terjadi berbeda dengan
keadaan sekarang. Mis: bencana alam
•Masa depan masuk akal:
Masa depan yang dapat terjadi jika pembuat
kebijakan melakukan intervensi. Misal:
Bencana kelaparan dapat dihindarkan apabila
pemerintah melakukan kebijakan untuk
menjaga stok pangan
•Masa depan normatif:
Masa depan yang seharusnya terjadi bila
dilakukan serangkaian kebijakan yang tertata.

Tujuan Proyeksi:
1.Menilai dan memahami kondisi keuangan
pemerintah daerah serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya
2.Mengidentifikasi persoalan keuangan saat ini
dan yang akan muncul
3.Mengidentifikasi kebijakan yang akan diambil
dengan segala konsekuensinya
4.Mengidentifikasi strategi dan kebijakan yang
dapat diambil guna mempengaruhi perubahan
sehingga akan mengurangi resiko yang lebih
besar

M-9 ANALISIS KEUANGAN DAERAH

52

Manfaat proyeksi:

1.Memberi informasi kecenderungan kondisi
keuangan daerah dalam kurun waktu
mendatang apakah defisit atau surplus
2.Menjaga keseimbangan pendapatan dan
belanja
3.Menjadi acuan untuk membuat perencanaan
program/kegiatan yang dapat menghasilkan
pendapatan dalam besaran maksimal yang
mungkin dapat dicapai beserta sumber-
sumbernya.
4.Menjadi acuan untuk membuat perencanaan
pengeluaran seefisien mungkin
5.Menjadi acuan untuk membuat skenario
kebijakan untuk pembiayaan program
pembangunan dalam berbagai kemungkinan
situasi keuangan (surplus atau defisit)
sehingga dapat mempertahankan tingkat
pelayanan public

Substansi Proyeksi Keuangan:

1.Mengkaji perkembangan kondisi riil keuangan
dalam seluruh komponen keuangan daerah
2.Menyimpulkan pola perkembangan dari kajian
kondisi riil tersebut.
3.Mengacu pola tersebut dibuat prediksi dan
target capaian dari seluruh komponen
keuangan daerah dalam kurun waktu yang
disepakati bersama.
4.Membuat rencana tindak untuk mengusahakan
tercapainya apa yang sudah ditargetkan.

Substansi Proyeksi Keuangan:
1.Mengkaji perkembangan kondisi riil keuangan
dalam seluruh komponen keuangan daerah
2.Menyimpulkan pola perkembangan dari kajian
kondisi riil tersebut.
3.Mengacu pola tersebut dibuat prediksi dan
target capaian dari seluruh komponen
keuangan daerah dalam kurun waktu yang
disepakati bersama.
4.Membuat rencana tindak untuk mengusahakan
tercapainya apa yang sudah ditargetkan.

Komponen Keuangan Daerah (APBD

Pembiayaan

Langkah-langkah Proyeksi:

1.Analisis Input:
a.data-data komponen APBD dalam beberapa
tahun terakhir (pendapatan, belanja,
penerimaan / pengeluaran)
b.Asumsi-asumsi: laju inflasi, pertumbuhan
PDRB
2.Analisis kecenderungan perkembangan
masing-masing komponen dalam kurun waktu
tersebut (metode rerata pertumbuhan)
3.Proyeksi berdasar kecenderungan tersebut.
4.Rencana tindak lajut atas hasil proyeksi.

Teknik-teknik yang dipakai untuk proyeksi:
1.Analisa trend:
–Parameter atau Variabel
–Pertumbuhan periode sebelumnya
2.Analisis rasio
3.Econometri
4.Regresi

Parameter atau Variabel tertentu

- PDRB
Manfaat :
·Sebagai evaluasi terhadap tingkat pertumbuhan
dan perkembangan ekonomi suatu daerah
·Untuk mengetahui struktur perekonomian suatu
daerah
·Sebagai salah satu indikator mengenai tingkat
kemakmuran suatu wilayah/ daerah dengan
mengetahui besarnya pendapatan perkapita
·Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan/
perubahan harga (inflasi/deflasi)

M-9 ANALISIS KEUANGAN DAERAH

53

·Sebagai salah satu bahan evaluasi maupun
sebagai bahan pertimbangan bagi para
pengambil kebijakan untuk meletakkan dasar
Perencanaan Pembangunan dimasa yang akan
datang.

-Pertumbuhan Jumlah penduduk
-Laju Inflasi

Pertumbuhan Periode sebelumnya

Jlh th akhir-Jlh th awal X 100% = …. %
Jlh th awal

Memperkirakan Jumlah Tahun Berikutnya:
(100 + Angka Pertumbuhan) x (Jlh th sblnya)

Proyeksi Pendapatan dan Belanja Daerah

-Trend-

Analisis Kemampuan Pinjaman

(sesuai SE Mendagri 050/2020/SJ)

Menentukan Nilai Pendapatan Daerah
Formulasi :
Y=P + M – OM
Y=Pendapatan Daerah
P=Pendapatan Asli Daerah
M =Pajak Daerah, BPHTB, Penerimaan
SDA, dan Bagian Lainnya
OM=Belanja Operasi dan Pemeliharaan,
Belanja Modal (wajib tidak bisa
dihindarkan)

Menentukan Nilai DSCR

Formulasi:
DSCR = Y / C
Y =Pendapatan Daerah
C =Besaran Kewajiban pinjaman
ditambah biaya lainnya

Syarat/ketentuan:
•DSCR > 2,5; Daerah dapat melakukan
pinjaman baru;
•DSCR = 2,5; Daerah dapat melakukan
pinjaman baru, dengan syarat untuk

proyek/kegiatan yang dapat menghasilkan
pendapatan (cost recovery);
•DSCR < 2,5; Daerah tidak dapat melakukan
pinjaman baru.

Contoh Kasus Proyeksi Keuangan

Perkembangan Pendapatan Daerah di Kabupaten
Purworejo, Tahun 1999/2000-2004 (dalam ribuan
rupiah)

Contoh:

Perkembangan Belanja di Kabupaten Purworejo,
Tahun 1999/2000-2003 (dalam jutaan rupiah)

Pada tahun 2003 Kabupaten Purworejo mengalami
defisit sebesar Rp 14,45 miliar. Sementara itu pada
tahun 2004 Kabupaten Purworejo mengalami
defisit sebesar Rp 37,40.

Dengan melihat besaran-besaran yang
menentukan dan mempengaruhi Pinjaman
Daerah, seperti PAD, DAU, Dana Bagi Hasil (Pajak
dan Bukan Pajak), Bagi Hasil Dana Reboisasi dan
Besaran Belanja Wajib; proyeksi plafon pinjaman
yang sebenarnya dapat dijadikan alternatif
pembiaayaan pembangunan daerah tidak

M-9 ANALISIS KEUANGAN DAERAH

54

dilakukan. Hal ini semata-mata untuk menjaga
prinsip kehati-hatian dengan harapan beban defisit
untuk masa-masa mendatang tidak semakin
besar.

Contoh:

Permasalahan pendapatan di Kab. Purworejo:

a.Rendahnya sumbangan PAD terhadap total
pendapatan daerah (6,87 %) untuk kurun waktu
2000 – 2004
b.Rendahnya bagi hasil pajak (5,7%) dan bagi
hasil non pajak (0,25%) terhadap total
pendapatan daerah
c.Belum optimalnya dan masih belum didatanya
dengan baik hasil-hasil pembiayaan dari
sumber swadaya masyarakat.
d.Belum banyaknya model-model kemitraan yang
dijalin dengan pihak swasta, beserta besaran
nilai-nilai proyek yang dilaksanakan. Hal ini akan
menyulitkan untuk proses hagi hasil di kemudian
hari.

Contoh:

Matriks Potensi Sumber Pendapatan Asli Daerah
dengan menggunakan matrik Potensi untuk
memproyeksikan perkembangan sumber
pendapatan di Kabupaten Purworejo, Tahun 2000-
2003

Contoh:

Rencana Tindak peningkatan pendapatan
berdasarkan hasil analisis permasalahan dan
potensi sumber pendapatan

Proyeksi alokasi dana untuk pembiayaan
program pembangunan:
1.Perlu diidentifikasi terlebih dahulu sumber
pembiayaan (asal pendanaan) yang mungkin
diraih:
a.APBN
b.APBD Provinsi
c.Kemitraan dengan swasta
d.Swadana masyarakat
e.Pinjaman
2.Perlu disepakati diantara stakeholders dan
penanggungjawab pelaksana program yang
besangkutan untuk menentukan model
alokasi dana yang akan dibagi untuk program-
program
3.Asumsi-asumsi yang bisa digunakan untuk
penentuan alokasï:
a.Jumlah penduduk wilayah sasaran
perencanaan
b.Luas wilayah
c.Lingkup program investasi

Contoh:

Dengan memasukkan unsur-unsur proyeksi
sumber-sumber pembiayaan di Kabupaten
Purworejo selama tahun 2005-2010 yang terdiri
dari: (i) Proyeksi Pendapatan Daerah; (ii)
Proyeksi Belanja Wajib; (iii) Kekuatan Anggaran
Daerah (mulai tahun 2006-2010); (iv) Swadaya
Masyarakat; dan (v) Partisipasi Swasta dengan
tidak memasukkan plafon Pinjaman; dapat
dihasilkan proyeksi dana yang tersedia untuk
pembiayaan program investasi yang
selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Proyeksi Total Dana Tersedia untuk Program-
Program Pembangunan di Kabupaten
Purworejo, Tahun 2005-2010 (dalam ribuan
rupiah)

Sumber: Materi Fasilitasi Proyeksi Keuangan Daerah (Rutiana
Dwi Wahyuningsih)

M-9 ANALISIS KEUANGAN DAERAH

55

M-10 KAJIAN RTRW-D

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengkaji arahan pembangunan
daerah untuk perencanaan jangka menengah daerah dikaitkan
dengan kebijakan tata ruang kabupaten/kota. Kegiatan ini
ditujukan untuk:
·Terformulasikan arah kebijakan pembangunan tata ruang
daerah/kota untuk jangka panjang maupun jangka menengah
·Teridentifikasi potensi-potensi pengembangan ruang yang
merupakan bagian penting dalam penentuan arah
pembangunan daerah.
·Supaya arahan pembangunan jangka menengah daerah
sesuai dengan kebijakan tata ruang

·Hasil identifikasi arahan kebijakan pengembangan ruang
terbangun beserta kinerja pencapaiannya
·Arah pengembangan fungsi-fungsi kegiatan daerah/kota serta
penempatan pusat-pusat kegiatan menurut periode
perencanaan

··Kebijakan pengembangan ruang dan arahan fungsi daerah
tergambarkan secara jelas
·Prioritas pembangunan ruang beserta fungsinya menurut
RTRW kabupaten/kota tergambarkan secara jelas.
·Perbandingan antara rencana dengan pencapaian kinerja
beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya teridentifikasi

Analisis Tim Teknis/Kelompok Kerja

Dokumen RTRW Kabupaten/Kota

Hal-hal yang perlu mendapatkan review dari dokumen RTRW
·Status dan kondisi ketersediaan penataan ruang daerah untuk
berbagai tingkatan rencana
·Kualitas penataan ruang daerah sebagai alat untuk develop-
ment controlle

·Perwilayahan pembangunan daerah
·Daya dukung daerah untuk menampung pembangunan
·Isu pemanfaatan ruang daerah (illegal logging, illegal sand
mining, alih fungsi lahan pertanian produktif, gangguan fungsi
lindung (hancurnya terumbu karang, exploitasi hutan secara
berlebihan, gangguan pada ekosistem lingkungan)
·Isu konflik antar kepentingan, pengendalian dan penertiban
pemanfaatan ruang
·Kesenjangan pembangunan antar wilayah
·Peraturan dan penerapan sanksi pelanggaran penataan ruang
·Kebutuhan revisi RTRW, RTDR

Tujuan

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda

Informasi yang
Disiapkan

Hal-hal Penting
yang Harus
diperhatikan

56

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->