Panduan ini disusun oleh Local Governance Support Program (LGSP), Maret 2007 Pendanaan: USAID (United States

Agency for International Development) Dilaksanakan oleh Research Triangle Institute, Indonesia LGSP USAID Strategic Participatory Planning Team dibentuk khusus untuk memberikan advocacy, pelatihan dan pendampingan kepada Pemerintah Daerah, DPRD, Organisasi Masyarakat Sipil (NGO, CBO dan CSO) dalam bidang perencanaan pembangunan daerah, baik yang bersifat perencanaan jangka panjang (RPJPD), perencanaan jangka menengah (RPJMD dan Renstra SKPD), maupun rencana tahunan (RKPD, Renja SKPD, RKA SKPD); diagnostic assessment kemampuan perencanaan daerah; seminar, workshop dan focus group discussions konsultasi publik perencanaan daerah. TIM STRATEGIC PARTICIPATORY PLANNING terdiri atas Widjono Ngoedijo Ph.D (Advisor), Engkus Ruswana (Planning Specialist) dan Indira Sari (Assistant Planning Specialist); Planning Specialist di kantor regional LGSP terdiri atas Agus Irawan Setiawan (NSRO), Rahmad Djalle (WSRO), Sri Pantjawati Handayani (WJRO), Hartanto Ruslan (CJRO), Nurman Sillia (EJRO), Undang Suryana (SSRO), Susila Utama dan Joni Chandra (NAD). LGSP mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Daerah atas informasi perencanaan yang diberikan untuk memperkaya substansi bahan pelatihan dan pendampingan ini.

PENDAPAT DAN PANDANGAN YANG DISAMPAIKAN DALAM BAHAN PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN INI ADALAH SEMATA-MATA MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB LGSP DAN TIDAK SELALU MENCERMINKAN PENDAPAT DAN PANDANGAN USAID. Untuk informasi lebih lanjut hubungi: LGSP Jakarta Stock Exchange Building Tower 1, 29 th Floor Jl. Jend. Sudirmak Kav. 52 - 53 Jakarta 12190 Phone : +62 21 515 1755-57 Facs : +62 21 515 1752 E-mail : info@lgsp.or.id Http://www.lgsp.or.id

Abstract Abstrach
Guideline for Local Participatory Planning
The Guideline for Training and Facilitation in the Preparation of Regional Development Plan is prepared in relation to the LGSP-USAID technical assistance in the area of participatory regional development planning. In accordance with the LGSP objective, the Guideline is aimed at providing better and more comprehensive understanding, strengthening capacity and capability of local government, legislature and civil society organizations in participatory orientated local development planning. The specific objective of the guideline is (1) to provide LG, DPRD and civil society organizations with better understanding of perspective and process of local participatory planning; (2) to facilitate LG in preparing related regional development plans in compliance with laws and regulations in planning and budgeting; (3) to facilitate DPRD and civil society organizations to effectively contribute to the local planning process; (4) to develop better clarification on the role, functions and jurisdictions of each actor, LG, DPRD and CSO in local development planning process. It is expected that the guideline will result in the quality enhancement of the process, performance and products of regional development plans; better integration and consistency between strategic, medium term planning, annual program and budget; more effective roles, functions and involvement of DPRD and CSOs in the decision making process related to local planning; more effective of regional plan in meeting community needs and aspirations. Basic approach used in developing the guideline is as follows: (1) to serve multi user i.e. executive, legislative, CSO, and Media; (2) to use the framework of Law 25/2004 on National Development Planning System that requires the development plan preparation should be based on technocratic, participatory, political, bottom-up and top-down planning to clarify the role of each actor, i.e executive, legislative, and CSO in decision making related to planning and budgeting; (3) to give emphasis on the strengthening of planning perspective, process and quality of planning products; (4) to use framework of Law 32/ 2004 especially in relation to the classification of government functions, obligatory and optional services in all plans preparation to ensure there is consistency between long, medium term planning and annual program and budget; (5) to be a ‘loose leaf document’ to encourage local initiatives and to ensure sustain development of the guideline; (6) to produce a practical guideline. The guideline consists of 6 (six) main sections starting with Section 1 preparation of RPJP Daerah followed with Section 2 Preparation of RPJM Daerah; Section 3 Preparation of RENSTRA SKPD; Section 4 Preparation of RKPD; Section 5 Preparation of RENJA SKPD, and Section 6 Preparation of KUA, PPAS and RKA SKPD. i

Terms used: Terms used:
RPJP Daerah Regional Long Term Development Plan is a Local Government (LG) Statutory Plan with 20 years perspective; consists of vision, mission and general direction of local development RPJM Daerah Regional Medium Term Development Plan is a LG statutory plan document with 5 years perspective, consists of Bupati/Walikota vision, mission, agenda and its translation into local development strategy, policies, five year program and indicative resource envelope and budget resources allocation for each LG Work Unit and sector RENSTRA SKPD Local Government Work Unit (Agency) Strategic Plan is a LG statutory plan document with 5 years perspective; consists of LG Work Unit vision, mission, agenda, five-year program and indicative budget RKPD Regional Government Annual Work Program and Budget is LG statutory plan document for 1 year period; consists of regional economic framework, program, activities, performance indicator, indicative budget ceiling for each LG Work Unit RENJA SKPD LG Work Unit Annual Work Program; consists of LG Work Unit program, activities and indicative budget ceiling; developed based on the results of Musrenbang (Multi stakeholders development consultation forum) and SKPD Forum (bottom-up planning process) KUA Local Government General Budget Policy prepared by LG Budget Team; developed based of RKPD; consists of previous year program and budget realization; statement of development issues and problems, challenges and opportunities; strategy and policy of LG work program; macro economic framework; target and indicator of program and activities; LG revenue projection; budget resources allocation and sources of fund PPAS Local Government Indicative Annual Budget Ceiling developed based on KUA; prepared by LG Budget Team and DPRD (Local Council) Budget Team; consist previous year program and budget realization; strategy and policy of LG Annual Budget; list, target and indicator of program and activities to be undertaken; projection of revenue, expenditure and local finance; priority and ceiling of budget for each obligatory services and SKPD RKA SKPD LG Work Unit Annual Work Budget prepared by SKPD; consists of name, title, location of program and activity proposed by SKPD; indicator of program targets, inputs, outputs and short term outcome and budget for each resource (personnel, materials, equipments) and total budget for activity DPRD Regional House of Representatives or Local Parliament CSO Civil Society Organizations

ii

SERI BAHAN PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

Bagian 1 Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)

Bagian 2 Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Bagian 3 Penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENSTRA SKPD)

Bagian 4 Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)

Bagian 5 Penyusunan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENJA SKPD)

Bagian 6 Penyusunan Kebijakan Umum APBD, Prioritas dan Plafond Anggaran Sementara (PPAS) dan Rencana Kerja Anggaran SKPD (RKA SKPD)

iii

Ringkasan Ringkasan

BAHAN PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

Pengantar Bahan Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah ini disusun dalam kerangka Bantuan Teknis Local Governance Support Program (LGSP)USAID dalam bidang perencanaan pembangunan daerah partisipatif. Sesuai tujuan dari LGSP, maka Bahan Pelatihan dan Pendampingan ini dimaksudkan untuk membantu memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh, menguatkan kemampuan dan kapasitas pemerintah daerah, legislatif dan organisasi masyarakat sipil dalam bidang perencanaan pembangunan daerah partisipatif sesuai dengan peranan dan fungsi masing-masing pihak dalam proses penyusunan perencanaan pembangunan daerah. Tujuan Adapun tujuan utama penyusunan Bahan Pelatihan dan Pendampingan ini adalah: · Memberikan kepada pemerintah daerah, legislatif dan organisasi masyarakat sipil tentang perspektif, wawasan, dan proses perencanaan pembangunan daerah secara menyeluruh · Menfasilitasi Pemerintah Daerah dalam penyusunan berbagai rencana pembangunan daerah sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundangan tentang perencanaan dan penganggaran daerah ·· Menfasilitasi Legislatif dan Organisasi Masyarakat Sipil untuk dapat memberikan kontribusi yang efektif pada proses penyusunan perencanaan pembangunan daerah · Memperjelas peranan, fungsi, dan jurisdiksi masing-masing pihak pemerintah daerah, legislatif, dan organisasi masyarakat sipil dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah Sasaran yang hendak dicapai: · Meningkatnya kualitas proses, kinerja dan keluaran penyusunan rencana pembangunan daerah · Keterpaduan perencanaan strategis jangka panjang, menengah dengan rencana dan penganggaran tahunan · Semakin efektifnya peranan, fungsi dan keterlibatan lembaga legislatif (DPRD) dan organisasi masyarakat sipil dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah · Semakin efektifnya perencanaan pembangunan daerah untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat

iv

Pendekatan Adapun pendekatan yang digunakan dalam penyusunan Bahan Pelatihan dan Pendampingan ini adalah sebagai berikut: · Ditujukan untuk multi pihak yaitu eksekutif, legislatif, dan organisasi masyarakat sipil (NGO, CBO dan CSO) · Menggunakan kerangka pendekatan Undang-Undang 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terutama pendekatan perencanaan teknokratis, partisipatif, politis, bottom up, dan top down planning untuk memperjelas peranan masingmasing pihak eksekutif, legislatif, dan organisasi masyarakat sipil dalam proses pengambilan keputusan perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah · Lebih menekankan pada penguatan perspektif dan wawasan perencanaan, proses dan kualitas penyusunan rencana pembangunan daerah · Menggunakan kerangka Undang- Undang 32/2004 dan PERMENDAGRI 13/2006 khususnya tentang klasifikasi fungsi, urusan wajib, dan urusan pilihan pemerintahan daerah untuk semua rencana guna memastikan terdapatnya benang merah dan konsistensi antara perencanaan dan penganggaran daerah · Bersifat ‘loose leaf document’ guna mendorong terdapatnya prakarsa daerah atau berbagai pihak untuk secara berkelanjutan mengembangkan dan memutakhirkan Bahan Pelatihan dan Pendampingan ini · Mengutamakan kepraktisan dan kemudahan penyusunan rencana dengan menyediakan template dan handout Kandungan Bahan Pelatihan dan Pendampingan Adapun kandungan daripada Bahan Pelatihan dan Pendampingan ini meliputi: Bagian 1 Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). Bagian 2 Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Bagian 3 Penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENSTRA SKPD). Bagian 4 Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Bagian 5 Penyusunan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENJA SKPD). Bagian 6 Penyusunan Kebijakan Umum Anggaran, Prioritas dan Plafond Anggaran Sementara (PPAS) dan Rencana Kerja Anggaran SKPD (RKA SKPD).

v

vi

Esensi Substansi Bagian per Bagian RPJPD menekankan tentang pentingnya penggunaan perencanaan strategis berbasis skenario (scenario planning) keterlibatan stakeholders yang relevant dan kompeten, terutama lembaga penelitian untuk merumuskan skenario perkembangan faktor-faktor eksternal pendorong pembangunan daerah (sosial, politik, ekonomi, teknologi, lingkungan hidup) dan implikasinya pada pembangunan daerah 20 tahun kedepan RPJMD menekankan tentang pentingnya menerjemahkan secara arif VISI, MISI dan Agenda KEPALA DAERAH TERPILIH kedalam tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan pembangunan yang merespon kebutuhan dan aspirasi masyarakat serta kesepakatan tentang tolok ukur kinerja untuk mengukur keberhasilan atau ketidak berhasilan pembangunan daerah dalam 5 tahun kedepan. RENSTRA SKPD menekankan tentang pentingnya setiap SKPD memiliki 3-5 tolok ukur kinerja kunci pelayanan SKPD yang jelas berdasarkan TUPOKSI SKPD yang dapat memberikan gambaran secara cepat kepada masyarakat tentang status kinerja pelayanan SKPD; dan rencana pencapaian program SKPD sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal; mendorong peningkatan kualitas konsultasi FORUM MULTI STAKEHOLDERS SKPD RKPD menekankan tentang pentingnya penyusunan berdasarkan Kerangka Penyelenggaraan Fungsi, Urusan Wajib dan Urusan Pilihan Pemerintahan Daerah; perumusan tujuan dan sasaran pembangunan daerah yang realistis dan konsisten dengan visi, misi KDH, dan RPJMD; memastikan bahwa sumber daya dan dana daerah diarahkan untuk menangani isu pembangunan daerah yang prioritas dan mendesak; kesesuaian dengan RKP dan Pedoman Penyusunan APBD yang diterbitkan oleh MENDAGRI setiap tahunnya; didasarkan pada kesepakatan dengan stakeholder yang dicapai melalui mekanisme Musrenbang RKPD dan Forum Multi Stakeholder SKPD; disusun dengan pendekatan perencanaan berbasis kinerja; penyusunannya transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada stakeholder; serta perlunya dukungan data dan informasi yang akurat dan mutakhir RENJA SKPD menekankan tentang pentingnya SKPD menguasai dan kompeten dalam menyusun program dan kegiatan SKPD sesuai PERMENDAGRI 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; karena RENJA SKPD merupakan dasar utama bagi penyusunan rencana dan penganggaran tahunan dan rencana strategis jangka menengah daerah. Kualitas penyusunan RENJA SKPD akan sangat menentukan kualitas rencana daerah diatasnya. Bahan Pelatihan ini juga menekankan tentang pentingnya SKPD menggunakan form RKA SKPD dalam menyusun RENJA SKPD untuk menfasilitasi keterpaduan rencana dan anggaran KUA, PPAS dan RKA SKPD ketiga dokumen ini telah diatur secara rinci dan lengkap dalam PERMENDAGRI 13/2006 . Bahan ini menekankan tentang pentingnya menggunakan RKA SKPD sebagai alat untuk meningkatkan pengelolaan pelayanan dan mengembangkan standar pelayanan SKPD karena RKA SKPD memiliki informasi yang pada dasarnya diperlukan bagi pengembangan STANDAR PELAYANAN MINIMAL.

vii

Penutup LGSP menghaturkan terima kasih atas kerjasama yang telah diberikan oleh pemerintah daerah, service provider, serta berbagai pihak lainnya yang memungkinkan Bahan Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah ini dapat disusun. Service Provider LGSP Bidang Perencanaan Partisipatif
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Nama Ir. Elysa Wulandari, M.Sc Ir. Halis Agussaini, MT Vivi Silvia, SE, M.Si T. Ahmad Yani, S.H, M.Hum Ir. Rina Lingga, MT Ir. Yusak Maryunianta, MSi DR. Jafrinur, MSP Indraddin, S. Sos, M.Si Drs. Edi Indrizal, M.Si Prof.DR. Sjafrizal Ir.Putu Oktavia, MA Ir. Nila Safrida Ir. Diding Sakri Ir.Ari Nurman, MSc Ir.Elia Rahmi Ir. Winny Astuti, MSc, Ph.D Drs. Mulyanto, ME Ahmad Zuber, S.Sos, DEA Lukman Hakim, SE, M.Si. Murtanti Jani Rahayu, ST, MT Rutiana Dwi Wahyuningsih, S.Sos, Msi Cahyo Suryanto Aluisius Hery Pratono, SE, MDM Salman Nurdin Drs. Fatchurrochim Ghany, Ec., MSP Bambang Hariyadi SE, MSi, AK Ir.Hendrawan Hamonangan, MA M Khusaini, SE, M.Si, M.A Ir. Eko Budi Santoso, Lic.Rer.Reg. Prof. DR Ananto Yudono, M.Eng Ir. Arifuddin Akil, M.T DR. Mukhlis Sufri, SE, M.Si Muslimin A. Latief, SH Muhammad Ridwan SH Posisi Participatory Planning Specialist Participatory Planning Specialist Local Economic Specialist Local Regulation Specialist Participatory Planning Specialist Participatory Planning Specialist Development Planning Specialist Participatory Planning Specialist Participatory Planning Specialist Local Economic Specialist Development Planning Specialist Development Planning Specialist Development Planning Specialist Development Planning Specialist Socio Economic and Cultural Development Specialist Development Planning Specialist Local Finance and Economic Specialist Development Planning Specialist Local Finance and Economic Specialist Development Planning Specialist Local Finance and Economic Specialist Development Planning Specialist Financial and Budget Specialist Socio Economic and Cultural Development Specialist Development Planning Specialist Local Finance and Economic Specialist Development Planning Specialist Local Finance and Economic Specialist Development Planning Specialist Development Planning Specialist Development Planning Specialist Local Economic Specialist Local Regulation Specialist Local Regulation Specialist Wil. Tugas NARO NARO NARO NARO NSRO NSRO WSRO WSRO WSRO WSRO WJRO WJRO WJRO WJRO WJRO CJRO CJRO CJRO CJRO CJRO CJRO EJRO EJRO EJRO EJRO EJRO EJRO EJRO EJRO SSRO SSRO SSRO SSRO SSRO E-mail elysawulandari@yahoo.com haliesz@yahoo.com Silviamunir @ yahoo.com teuku_yani@yahoo.com corahlimalapan@yahoo.com mar_yunianta@yahoo.com Jafrinur@yahoo.com lasp_lian@yahoo.com Syafrizal17@Yahoo.com p_oktavia@yahoo.com nilasafrida@yahoo.com diding@bdg.centrin.net.id arinurman@yahoo.com biramabogor@yahoo.com winnyastuti@yahoo.com.au m_yanto@fe.uns.ac.id myt03@plasa.com yanto.mul@gmail.com zyouber_zyoubaedi@yahoo.fr lukkim@yahoo.com arsitek@uns.ac.id cahyo@pusdakota.org herypra@hotmail.com hery_pra@ubaya.ac.id salmannurdin@yahoo.com rochim_ghany@telkom.net b_haryadi_lee@telkom.net hsaragi@yahoo.com husen@fe.unibraw.ac.id yudono@indosat.net.id Arifuddinakil@yahoo.com

viii

LGSP Participatory Planning Team
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Widjono Ngoedijo Engkus Ruswana Indira Sari Susila Utama Agus Irawan Setiawan Rahmat Djalle Sri Pantjawati Handayani Hartanto Nurman Djunaedi Sillia Undang Rukban Suryana Posisi LGSP-Planning Advisor LGSP-National Office Planning Specialist LGSP-National Office Planning Assistant LGSP-NARO Planning Specialist LGSP-NSRO Planning Specialist LGSP-WSRO Planning Specialist LGSP-WJRO Planning Specialist LGSP-CJRO Planning Specialist LGSP-EJRO Planning Specialist LGSP-SSRO Planning Specialist E-mail wngoedijo@lgsp.or.id eruswana@lgsp.or.id isari@lgsp.or.id sutama@lgsp.or.id ir2a@yahoo.com asetiawan@lgsp.or.id rdjalle@lgsp.or.id mmtrdj@hotmail.com sphandayani@yahoo.com hartantopml@yahoo.com hartantopml@telkom.net nsilia@lgsp.or.id noermant@yahoo.com’ usuryana@lgsp.or.id undang_rs@hotmail.com undang_rs@yahoo.com’ Telepon (021) 5151755 (021) 5151755 (021) 5151755 (0651) 7406446 (061) 4154202 (0751) 7055509 (022) 727344 (0274) 586289 (0341) 551007 (0411) 871814

ix

Penjelasan Penggunaan Bahan Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah

Bagian 2: RPJMD
1. BAHAN ini ditujukan bagi memenuhi kebutuhan akan referensi dasar yang lengkap dan mutakhir bagi penyusunan rencana pembangunan daerah BAHAN ini ditujukan untuk membantu meningkatkan wawasan, pemahaman, pengetahuan dan keterampilan individu yang terlibat atau berkontribusi dalam penyusunan rencana pembangunan daerah baik di lingkungan Pemerintah Daerah, DPRD, maupun organisasi masyarakat sipil (NGO, CBO dan CSO) BAHAN ini terdiri atas 6 bagian yaitu: Bagian 1: RPJPD Bagian 2: RPJMD Bagian 3: RENSTRA SKPD Bagian 4: RKPD Bagian 5: RENJA SKPD Bagian 6: KUA, PPAS, RKA SKPD Dimana masing-masing bagian pada dasarnya berdiri sendiri dan dapat digunakan secara terpisah sesuai dengan kebutuhan perencanaan daerah. 4. Untuk kepentingan penyusunan rencana, setiap BAGIAN memberikan informasi tentang rincian langkah-langkah (STEP BY STEP) yang perlu dilakukan dalam penyusunan rencana; diikuti dengan penjelasan untuk masing-masing langkah bagi memudahkan pemahaman atas tujuan, maksud langkah tersebut. TEMPLATE berupa tabel atau formulir disediakan di beberapa langkah tertentu untuk memudahkan implementasinya. HANDOUT disediakan pada bagian akhir dari setiap BAGIAN bagi individu yang ingin mendapatkan penjelasan lebih rinci atas langkah-langkah tertentu proses penyusunan rencana Setiap BAGIAN mengandung 3 alur penyusunan rencana yaitu alur teknokratis, alur partisipatif, dan alur politis dan legislasi. Ini ditujukan untuk memperjelas peranan dan tanggung jawab masing-masing pihak eksekutif, legislatif dan organisasi masyarakat sipil dalam proses penyusunan rencana. Pada alur teknokratis diharapkan eksekutif lebih besar peranannya, sementara pada alur partisipatif organisasi masyarakat sipil diharapkan lebih berperan dan pada alur legislasi/politis diharapkan lebih besar peranan DPRD. 9. Memberikan penjelasan tentang kemungkinan peranan dan kontribusi organisasi masyarakat sipil (CSO) dalam langkah berkaitan proses penyusunan rencana x

2.

3.

5.

6.

7.

8.

10. Memberikan penjelasan tentang kemungkinan peranan dan kontribusi DPRD dalam langkah berkaitan proses penyusunan rencana

11. LAMPIRAN menyediakan informasi tentang Tabel, Formulir dan Format dari PERMENDAGRI 13/2006 yang digunakan sebagai pendukung Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah. Lampiran ini terdiri atas: · Lampiran A.1 tentang Kode dan Klasifikasi urusan Pemerintahan Daerah dan Organisasi · Lampiran A.V tentang Kode dan Klasifikasi Fungsi Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota. · Lampiran A.VI tentang Pembagian Fungsi, Urusan Wajib dan Urusan Pilihan Pemerintahan Daerah · Lampiran A.VII tentang Kode dan Daftar Program dan Kegiatan Menurut Urusan Pemerintahan Daerah 12. Untuk mengefektifkan proses pembelajaran dan pemahaman BAHAN ini, disarankan menggunakan fasilitator yang kompeten dalam bidang perencanaan dan penganggaran daerah dan telah berpengalaman memberikan advokasi dan bantuan teknis kepada pemerintah daerah, DPRD dan organisasi masyarakat sipil. Fasilitator ini dapat berasal dari Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah, perguruan tinggi setempat, Lembaga Swadaya Masyarakat atau Konsultan.

xi

Daftar Isi Daftar Isi
Apa itu RPJMD .................................................................................................................. 3 Landasan Hukum RPJMD ................................................................................................. 5 Prinsip-prinsip Penyusunan RPJMD ................................................................................. 8 Keluaran Utama RPJMD ..................................................................................................11 Indikator Kualitas RPJMD ................................................................................................ 12 Kerangka Analisis RPJMD ............................................................................................... 14 Alur Proses Penyusunan RPJMD ................................................................................... 16 Step by Step Penyusunan RPJMD .................................................................................. 17 Template dan Handout..................................................................................................... 19 Daftar Peristilahan dan Singkatan ................................................................................... 20

M1 M2 M3 M4

Orientasi Perencanaan Daerah ............................................................................. 24 Pembentukan Tim Penyusunan RPJMD ................................................................ 27 Penyusunan Rencana Kerja Penyiapan Dokumen RPJMD ................................... 30 Pengumpulan Data/Informasi Kondisi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 5 Tahunan .................................................................................................. 32

M5 M6 M7 M8 M9

Penyusunan Profil Daerah dan Prediksi Masa Depan ........................................... 33 Kajian terhadap RPJPD ......................................................................................... 47 Misi, Visi, dan Program Prioritas Kepala Daerah Terpilih ....................................... 48 Kajian terhadap Visi, Misi, dan Program Prioritas Kepala Daerah Terpilih ............. 48 Analisis Keuangan ................................................................................................. 50

M10 Kajian RTRW-D ..................................................................................................... 55 M11 Review RPJMD Provinsi dan Nasional .................................................................. 56 M12 Orientasi Renstra ................................................................................................... 57 M13 Pembentukan Rencana Kerja Penyiapan Dokumen Renstra SKPD ..................... 58 M14 Penyusunan Rencana Kerja Penyiapan Dokumen Renstra SKPD ....................... 60 M15 Pengumpulan Data/Informasi Kondisi Pelayanan SKPD ....................................... 61 M16 Penyusunan Profil Pelayanan SKPD dan Prediksi Jangka Menengah .................. 62 M17 Identifikasi Stakeholders ......................................................................................... 63 M18 Penentuan Stakeholders untuk Konsultasi Publik .................................................. 65 M19 Perumusan Metoda dan Jaring Aspirasi, FGD, dan Musrenbang RPJMD ............. 67 M23 Sosialisasi Bahwa Daerah Akan Menyusun RPJMD .............................................. 71 M24 jaring Aspirasi: Isu dan Harapan Masyarakat.......................................................... 72

xii

M25 Formulasi Dokumen Rancangan Awal RPJMD ..................................................... 74 M26 Tyupoksi SKPD ...................................................................................................... 77 M27 Perumusan Visi dan Misi SKPD ............................................................................ 77 M28 Evaluasi Renstra SKPD (Renstra Dinas) Periode Lalu ......................................... 79 M29 FGDs untuk Setiap Topik........................................................................................ 81 M30 Pembahasan Ranwal RPJMD bersama SKPDs ................................................... 84 M31 Review Renstra K/L dan Renstra SKPD Provinsi .................................................. 84 M32 Perumusan Program (SKPD, Lintas SKPD, Kewilayahan) ................................... 85 M33 Identifikasi capaian Keberhasilan dan Permasalahan ............................................ 87 M34 Pembahasan Forum SKPD ................................................................................... 88 M35 Berita Acata Hasil Kesepakatan Forum SKPD ...................................................... 91 M36 Penyusunan Rancangan Awal RPJMD untuk dibahas dalam Musrenbang RPJMD .............................................................................................. 93 M37 Penyusunan Dokumen Rancangan Renstra SKPD .............................................. 94 M38 Musrenbang RPJMD .............................................................................................. 95 M39 Naskah Kesepakatan Hasil Musrenbang RPJMD .................................................. 98 M40 Penyusunan Rancangan Akhir Dokumen RPJMD Daerah .................................. 100 M41 Penyusunan Rancangan Akhir Dokumen Renstra SKPD .................................... 101 M42 Penyusunan Naskah Akademis Ranperda RPJMD ............................................. 103 M43 Penyusunan Naskah Akademis Rancangan Perka SKPD ................................... 104 M47 Pembahasan DPRD tentang Ranperda RPJMD ................................................. 104 M49 Dokumen RPJM-D yang telah disyahkan ............................................................. 105 M50 Dokumen Renstra SKPD telah disyahkan ........................................................... 105 HANDOUT ..................................................................................................................... 106 LAMPIRAN ..................................................................................................................... 149

xiii

TOPIK

RPJMD
Bahan Pelatihan dan Pendampingan
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

BAGIAN 2

1

Tentang LGSP Tentang LGSP
TOPIK GSP (Local Governance Support Program) atau Pro gram Dukungan bagi Tata Pemerintahan Daerah merupakan program peningkatan kapasitas (2005-2009) yang didanai oleh United Agency for International Development (USAID). Program ini bertujuan memperkenalkan tata pemerintahan yang efisien, transparan, dan akuntabel di beberapa provinsi terpilih di Indonesia. Prakarsa dan program LGSP ditujukan bagi peningkatan kemampuan pemerintah daerah mitra, organisasi kemasyarakatan, dan media yang mencakup bidang perencanaan dan penganggaran terpadu, pengelolaan pemerintahan daerah, pelayanan publik, pengelolaan dan mobilisasi sumber daya, serta tata pemerintahan yang partisipatif. Sampai dengan September 2009, LGSP akan bekerja dengan lebih dari 55 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Irian Jaya Barat.

L

Pengantar Pengantar
ahan pelatihan dan pendampingan ini disusun oleh LGSP USAID dengan tujuan untuk memberikan perspektif dan pemahaman yang lebih baik tentang esensi RPJMD sebagai suatu dokumen resmi perencanaan daerah. Bahan pelatihan dan pendampingan ini diharapkan dapat membantu Pemerintah Daerah untuk menyusun RPJMD secara lebih efektif, memenuhi kaidah dan kelengkapan suatu perencanaan strategis jangka menengah dan memenuhi persyaratan penyusunan RPJMD yang teknokratis, demokratis, partisipatif, dan politis; membantu DPRD untuk dapat mengikuti secara efektif dinamika proses penyusunan RPJMD, memberikan masukan, menilai, dan mengevaluasi hasilnya serta bagi Organisasi Masyarakat Sipil (NGO,CBO, dan CSO) untuk dapat memberikan kontribusi yang efektif dalam proses penyusunan dokumen RPJMD sehingga hasilnya memberikan manfaat yang sebesar-besarnya pada masyarakat.

B

2

TOPIK

APA ITU RPJMD?

APA ITU RPJMD?

P

eraturan dan perundangan di era desentralisasi memperlihatkan komitmen politik pemerintah untuk menata kembali dan meningkatkan sistem, mekanisme, prosedur dan kualitas proses perencanaan dan penganggaran daerah. Ini dilakukan dengan tujuan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan daerah yang lebih baik, demokratis, dan pembangunan daerah berkelanjutan. Dalam peraturan dan perundangan baru penyusunan rencana dikehendaki memadukan pendekatan teknokratis, demokratis, partisipatif, politis, bottom-up dan top down process. Ini bermakna bahwa perencanaan daerah selain diharapkan memenuhi kaidah penyusunan rencana yang sistematis, terpadu, transparan dan akuntabel; konsisten dengan rencana lainnya yang relevan; juga kepemilikan rencana (sense of ownership) menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Keterlibatan stakeholder dan legislatif dalam proses pengambilan keputusan perencanaan menjadi sangat penting untuk memastikan rencana yang disusun mendapatkan dukungan optimal bagi implementasinya. RPJMD atau Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah merupakan satu dokumen rencana resmi daerah yang dipersyaratkan bagi mengarahkan pembangunan daerah dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan masa pimpinan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih. Sebagai suatu dokumen rencana yang penting sudah sepatutnya Pemerintah Daerah, DPRD, dan masyarakat memberikan perhatian penting pada kualitas proses penyusunan dokumen RPJMD, dan tentunya diikuti dengan pemantauan, evaluasi, dan review berkala atas implementasinya. Karena dokumen RPJMD sangat terkait dengan visi dan misi Kepala Daerah Terpilih, maka kualitas penyusunan RPJMD akan mencerminkan sejauh mana kredibilitas KDH Terpilih dalam memandu, mengarahkan, dan memprogramkan perjalanan kepemimpinannya dan pembangunan daerahnya dalam masa 5 (lima) tahun ke depan dan mempertanggungjawabkan hasilnya kepada masyarakat pada akhir masa kepemimpinannya. RPJMD menjawab 3 (tiga) pertanyaan dasar: (1) kemana daerah akan diarahkan pengembangannya dan apa yang hendak dicapai dalam 5 (lima tahun) mendatang; (2) bagaimana mencapainya dan; (3) langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan agar tujuan tercapai.

LANDASAN HUKUM

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

KELUARAN UTAMA RPJMD

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

BAGAN ALIR PROSES PENYUSUNAN RPJMD

STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD

HANDOUT PENDUKUNG

3

TOPIK

APA ITU RPJMD?

Dalam konteks ini, adalah sangat penting bagi RPJMD untuk mengklarifikasikan secara eksplisit visi dan misi KDH Terpilih kemudian menerjemahkan secara strategis, sistematis, dan terpadu ke dalam tujuan, strategi, kebijakan, dan program prioritas serta tolok ukur kinerja pencapaiannya. Untuk mendapatkan dukungan yang optimal bagi implementasinya, proses penyusunan dokumen RPJMD perlu membangun komitmen dan kesepakatan dari semua stakeholder untuk mencapai tujuan RPJMD melalui proses yang transparan, demokratis, dan akuntabel dengan memadukan pendekatan teknokratis, demokratis, partisipatif, dan politis.

4

TOPIK

LANDASAN HUKUM RPJMD

APA ITU RPJMD?

LANDASAN HUKUM

enyusunan RPJMD perlu mengantisipasi tentang adanya diskrepansi (perbedaan) dalam peraturan dan perundangan perencanaan dan penganggaran daerah terutama tentang status hukum RPJMD; belum adanya payung pengaturan yang terpadu antara perencanaan dan penganggaran daerah yang menyebabkan kurang terintegrasinya perencanaan dan penganggaran; masih terbatasnya pemahaman di daerah tentang performance planning walaupun pengangaran daerah telah menjalankan performance budgeting untuk beberapa waktu; singkatnya waktu (3 bulan) yang diberikan dalam peraturan/ perundangan untuk menyusun RPJMD. Penyusunan RPJMD perlu mengembangkan hubungan (link) di antara peraturan dan perundangan tersebut sehingga RPJMD sebagai dokumen rencana jangka menengah mudah diterjemahkan ke dalam rencana tahunan RKPD, KUA APBD, Renja SKPD, RKA-SKPD, dan APBD. Ada 10 (sepuluh) landasan hukum utama yang mengatur sistem, mekanisme, proses, dan prosedur tentang RPJMD khususnya dan perencanaan dan penganggaran daerah pada umumnya di era desentralisasi ini, yaitu: · · · · Undang- Undang No 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) Undang- Undang No 17/2003 tentang Keuangan Negara Undang- Undang No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang- Undang No 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Peraturan Pemerintah No 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Peraturan Pemerintah No 65/2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal Peraturan Menteri Dalam Negeri No 6/2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal SE Menteri Dalam Negeri No 050/2020/SJ Tahun 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah Kabupaten/Kota SEB Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri 0008/M.PPN/01/2007/050/264A/SJ tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007 Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah 5

P

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

KELUARAN UTAMA RPJMD

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

BAGAN ALIR PROSES PENYUSUNAN RPJMD

· · ·

STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD

·

· HANDOUT PENDUKUNG ·

TOPIK

LANDASAN HUKUM

Undang-Undang No 25/2004 mengatur tentang peranan dan tanggung jawab Bappeda untuk menyiapkan RPJMD, keterkaitan visi dan misi Kepala Daerah Terpilih dengan RPJMD, pokok-pokok isi dokumen RPJMD, waktu pelaksanaan Musrenbang RPJMD dan penyampaian RPJMD; status hukum RPJMD. Undang-Undang No 17/2003 walaupun tidak mengatur secara eksplisit tentang RPJMD, namun mengatur tentang peranan dan kedudukan RKPD yang merupakan penjabaran RPJMD dalam kaitannya dengan perumusan Kebijakan Umum Anggaran (KUA), Renja SKPD, RKA SKPD, dan RAPBD. Undang- Undang ini menekankan tentang penganggaran berbasis prestasi (performance budgeting). Undang-Undang No 32/2004 memberikan penjelasan yang lebih lengkap tentang RPJMD dibandingkan dengan UU No 25/2004 tentang SPPN. Undang-Undang ini mengatur tentang fungsi RPJMD untuk menjabarkan visi, misi, dan program Kepala Daerah; perlunya konsistensi dan keselarasan dengan RPJPD dan RPJM Nasional; pokok-pokok kandungan RPJMD memuat arah kebijakan keuangan daerah, selain strategi, kebijakan umum pembangunan daerah, program lintas SKPD, dan lintas kewilayahan; RKPD merupakan penjabaran RPJMD serta; status hukum RPJMD sebagai Peraturan Daerah. Undang-Undang No 33/2004 seperti halnya Undang-Undang No 17/2003 tidak mengatur secara langsung RPJMD, namun mengatur tentang peranan dan kedudukan RKPD, Renja SKPD, RKA SKPD, dan APBD yang merupakan penjabaran RPJMD. Undang-Undang ini menekankan tentang perlunya penyusunan Renja dan RKA SKPD berbasis penganggaran kinerja. Ini menunjukkan tentang perlunya RPJMD juga menggambarkan target capaian kinerja pembangunan daerah sehingga mudah untuk ditransformasikan ke dalam rencana tahunan (RKPD). Peraturan Pemerintah No 58/2005 menekankan tentang RPJMD sebagai dasar dalam penyusunan Rancangan APBD, RKPD, Renja SKPD dan RKA SKPD sebagai penerjemahan RPJMD. Peraturan Pemerintah No 65/2005 menekankan tentang perlunya RPJMD mencakup target pencapaian Standar Pelayanan Minimal dalam jangka menengah dan kemudian dituangkan dalam RKPD untuk target pencapaian SPM Tahunan.

6

TOPIK

LANDASAN HUKUM

SEB Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas dengan Menteri Dalam Negeri tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007 mengatur secara lebih rinci tentang pelaksanaan Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan) untuk setiap jenis Musrenbang dalam rangka penyusunan RKPD dan RKP. SEB ini mengatur tentang tahapan musrenbang (pra dan pasca musrenbang), informasi yang perlu disediakan dalam musrenbang; masukan dan keluaran musrenbang; agenda; tipologi peserta musrenbang; organisasi penyelenggara, peranan dan tanggung jawab Bappeda dan SKPD dalam proses musrenbang. Secara keseluruhan, SEB ini telah memperlihatkan komitmen politik Pemerintah yang tinggi untuk melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan perencanaan daerah. Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13/2006 yang merupakan penjabaran Peraturan Pemerintah No 58/2005 telah mengatur secara rinci mekanisme, proses, dan prosedur penyusunan penganggaran tahunan daerah, termasuk di dalamnya RKPD, KUA, PPAS, RKA-SKPD, RAPBD, dan APBD. Mengingat RPJMD dijadikan dasar bagi penyusunan RAPBD, maka dokumen RPJMD perlu sedemikian rupa sehingga mudah diterjemahkan ke dalam rencana dan penganggaran tahunan daerah yang diatur dalam PERMENDAGRI No 13/2006. Ini bermakna bahwa RPJMD perlu mencerminkan kerangka penganggaran yang diatur dalam PERMENDAGRI tersebut. Untuk itu, RPJMD perlu menggunakan kerangka fungsi, urusan wajib, dan urusan pilihan pemerintahan daerah dalam menganalisis isu strategis, merumuskan strategi, kebijakan dan menetapkan prioritas programnya, setiap program perlu mempunyai tolok ukur dan target kinerja capaian program yang jelas. Pada saat ini, yang sedang dalam proses pengesahan adalah Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tahapan dan Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang No 32/2004 dan Undang-Undang No 25/2004. Diharapkan PP ini akan dapat memberikan klarifikasi atas kekurangjelasan, ketidakterpaduan, ataupun perbedaan yang timbul dari peraturan perundangan tentang perencanaan daerah.

7

TOPIK

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

APA ITU RPJMD?

LANDASAN HUKUM

· · · · ·

S

ejalan dengan Undang-Undang 25/2004 maka penyusunan RPJMD perlu memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut: Strategis Demokratis dan Partisipatif Politis Perencanaan Bottom- Up Perencanaan Top- Down

Strategis Dokumen RPJMD pada dasarnya merupakan hasil suatu proses pemikiran strategis. Kualitas dokumen RPJMD sangat ditentukan oleh seberapa jauh RPJMD dapat mengemukakan secara sistematis proses pemikiran strategis tersebut. Perencanaan strategis erat kaitannya dengan proses menetapkan ke mana daerah akan diarahkan pengembangannya dan apa yang hendak dicapai dalam lima tahun mendatang; bagaimana mencapainya; dan langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan agar tujuan tercapai. Alur pemikiran strategis (strategic thinking process) pada dasarnya mencakup elemen-elemen sebagai berikut: · Ada rumusan isu dan permasalahan pembangunan yang jelas · Ada rumusan prioritas isu sesuai dengan urgensi dan kepentingan dan dampak isu terhadap kesejahteraan masyarakat banyak · Ada rumusan tujuan pembangunan yang memenuhi kriteria SMART (specific, measurable, achievable, reliable, time bound) · Ada rumusan alternatif strategi untuk pencapaian tujuan · Ada rumusan kebijakan untuk masing-masing strategi · Ada pertimbangan atas kendala ketersediaan sumber daya dan dana (kendala fiskal daerah) · Ada prioritas program · Ada tolok ukur dan target kinerja capaian program · Ada pagu indikatif program · Ada kejelasan siapa bertanggung jawab untuk mencapai tujuan, sasaran, dan hasil, dan waktu penyelesaian termasuk review kemajuan pencapaian sasaran · Ada kemampuan untuk menyesuaikan dari waktu ke waktu terhadap perkembangan internal dan eksternal yang terjadi · Ada evaluasi terhadap proses perencanaan yang dilakukan · Ada komunikasi dan konsultasi berkelanjutan dari dokumen yang dihasilkan · Ada instrumen, metodologi, pendekatan yang tepat digunakan untuk mendukung proses perencanaan

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

KELUARAN UTAMA RPJMD

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

BAGAN ALIR PROSES PENYUSUNAN RPJMD

STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD

HANDOUT PENDUKUNG

8

TOPIK

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

Demokratis dan Partisipatif Ini bermakna bahwa proses penyusunan RPJMD perlu dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan melibatkan masyarakat (stakeholder) dalam pengambilan keputusan perencanaan di semua tahapan perencanaan: · Ada identifikasi stakeholder yang relevan untuk dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan perencanaan · Ada kesetaraan antara government dan non government stakeholder dalam pengambilan keputusan · Ada transparasi dan akuntabilitas dalam proses perencanaan · Ada keterwakilan yang memadai dari seluruh segmen masyarakat, terutama kaum perempuan dan kelompok marjinal · Ada sense of ownership masyarakat terhadap RPJMD · Ada pelibatan dari media · Ada konsensus atau kesepakatan pada semua tahapan penting pengambilan keputusan seperti perumusan prioritas issues dan permasalahan, perumusan tujuan, strategi dan kebijakan, dan prioritas program Politis Ini bermakna bahwa penyusunan RPJMD melibatkan proses konsultasi dengan kekuatan politis terutama Kepala Daerah Terpilih dan DPRD: · Ada konsultasi dengan KDH Terpilih untuk penerjemahan yang tepat dan sistematis atas visi, misi, dan program Kepala Daerah Terpilih ke dalam tujuan, strategi, kebijakan, dan program pembangunan daerah · Ada keterlibatan DPRD dalam proses penyusunan RPJMD · Ada pokok-pokok pikiran DPRD dalam proses penyusunan RPJMD · Ada naskah akademis untuk mendukung proses pengesahan RPJMD · Ada review dan evaluasi dari DPRD terhadap rancangan RPJMD · Ada review, saran dan masukan Gubernur Provinsi berkaitan terhadap rancangan RPJMD · Ada pembahasan terhadap Ranperda RPJMD · Ada pengesahan RPMJD sebagai Peraturan Daerah yang mengikat semua pihak untuk melaksanakannya dalam lima tahun ke depan.

9

TOPIK

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

Bottom-up Ini bermakna bahwa proses penyusunan RPJMD perlu memperhatikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat: · Ada penjaringan aspirasi dan kebutuhan masyarakat untuk melihat konsistensi dengan visi, misi dan program Kepala Daerah Terpilih · Memperhatikan hasil proses musrenbang dan kesepakatan dengan masyarakat tentang prioritas pembangunan daerah · Memperhatikan hasil proses penyusunan Renstra SKPD Top down Ini bermakna bahwa proses penyusunan RPJMD perlu bersinergi dengan rencana strategis di atasnya dan komitmen pemerintahan atasan berkaitan: · Ada sinergi dengan RPJP dan RPJM Nasional · Ada sinergi dan konsistensi dengan RPJPD · Ada sinergi dan konsistensi dengan RTRWD · Ada sinergi dan komitmen Pemerintah terhadap tujuantujuan pembangunan global seperti Millenium Development Goals, Sustainable Development, pemenuhan Hak Asasi Manusia, pemenuhan air bersih dan sanitasi, dsb

Tujuan Utama / Goals MDG

Dalam MDG ditetapkan delapan tujuan utama yang perlu ditindaklanjuti oleh setiap negara yang meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Memberantas kemiskinan dan kelaparan Mewujudkan pendidikan dasar Meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan Mengurangi angka kematian bayi Meningkatkan kesehatan ibu. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya Menjamin pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan Mengembangkan kemitraan global dalam pembangunan

Sumber : Millennium Development Goals reports : an assessment UNDP

10

TOPIK

KELUARAN UTAMA RPJMD

APA ITU RPJMD?

A
·

dapun keluaran utama yang diharapkan dari hasil proses penyusunan RPJMD adalah sebagai berikut:

Hasil Proses Strategis Profil Daerah berisikan status, posisi, dan kedudukan daerah dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan daerah serta kondisi internal (kelemahan dan kekuatan) dan eksternal (tantangan dan peluang) dalam 5 tahun ke depan Dokumen RPJMD yang telah disahkan berisikan visi, misi Kepala Daerah Terpilih; tujuan, arah, strategi, dan kebijakan pembangunan daerah dan keuangan daerah; prioritas program (SKPD, Lintas SKPD dan Lintas Kewilayahan). Tolok ukur dan target kinerja capaian program, pagu indikatif, dan penanggung jawab kelembagaan

LANDASAN HUKUM

· PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

KELUARAN UTAMA RPJMD

Hasil Proses Demokratis dan Partisipatif · Naskah Kesepakatan Stakeholder dalam Konsultasi Publik pada tahapan penting perencanaan dan Musrenbang RPJMD yang berisikan konsensus dan kesepakatan terhadap prioritas isu daerah jangka menengah, rumusan tujuan, arah, strategi, dan kebijakan pembangunan daerah dan keuangan daerah, program prioritas dan pagu indikatif program

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

Hasil Proses Politis BAGAN ALIR PROSES PENYUSUNAN RPJMD · · · Hasil konsultasi dengan Gubernur Provinsi berkaitan Naskah Akademis Ranperda RPJMD Perda RPJMD

STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD

HANDOUT PENDUKUNG

11

TOPIK

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

APA ITU RPJMD?

ualitas dokumen RPJMD sangat ditentukan oleh kualitas proses pemikiran strategis yang digunakan dalam proses penyusunan RPJMD. Pengertian Perencanaan Strategis

K

LANDASAN HUKUM

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

Perencanaan strategis adalah pendekatan, cara untuk mencapai tujuan; mengarahkan pengambilan keputusan dan tindakan di berbagai peringkat organisasi; sifatnya garis besar, medium to long range, menghubungkan sumber daya dan dana dengan tujuan yang ingin dicapai. Perencanaan strategis perlu melibatkan stakeholder untuk memastikan terdapatnya perspektif yang menyeluruh atas isu yang dihadapi; pemikiran dan analisis yang mendalam dan comprehensive dalam perumusan strategi; mereview mana strategi yang berhasil dan tidak; dan di antara strategi tidak saling bertentangan namun saling melengkapi. Perencanaan strategis menetapkan ke mana daerah akan diarahkan pengembangannya; apa yang hendak dicapai pada masa lima tahun mendatang; bagaimana mencapainya dan langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan agar tujuan tercapai. Esensi Perencanaan Strategis · Merumuskan tujuan dan sasaran pembangunan yang realistis, konsisten dengan visi, misi, dan program Kepala Daerah Terpilih dan dalam kerangka waktu sesuai kemampuan daerah untuk implementasinya. Arah perkembangan daerah dapat lebih dipahami oleh masyarakat; dengan demikian membangun ‘sense of owenership’ dari rencana yang dibuat Memastikan bahwa sumber daya dan dana daerah diarahkan untuk menangani isu daerah prioritas Menyediakan dasar (benchmark) untuk mengukur sejauh mana kemajuan untuk mencapai tujuan dan mengembangkan mekanisme untuk menginformasikan perubahan apabila diperlukan Mengembangkan kesepakatan untuk memadukan semua sumber daya dalam mencapai tujuan Merumuskan fokus dan langkah-langkah yang jelas untuk mencapai tujuan

KELUARAN UTAMA RPJMD

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

BAGAN ALIR PROSES PENYUSUNAN RPJMD

·

· STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD ·

· HANDOUT PENDUKUNG ·

Elemen-elemen Penting Perencanaan Strategis · · · Analisis SWOT atas profil daerah Analisis prioritas isu pembangunan daerah Perumusan tujuan 12

TOPIK

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

· · · · · ·

Desain strategi untuk mengatasi isu Klarifikasi atau perumusan visi, misi dan program Perumusan rencana Penyusunan anggaran Implementasi program Pemantauan, evaluasi, dan pemutakhiran rencana

Kualitas RPJMD
Syarat Keberhasilan Perencanaan Strategis · Mengikut sertakan stakeholders yang tepat dalam proses perencanaan · Mengkomunikasikan rencana dengan bahasa yang mudah dimengerti · Tujuan (goals) dan sasaran (objectives) rencana mesti realistis dan SMARTER (specific, measurable, acceptable, realistic, time frame, extending and rewarding) · Ada kejelasan siapa bertanggung jawab untuk mencapai tujuan, sasaran dan hasil, dan waktu penyelesaian termasuk review kemajuan pencapaian sasaran · Ada kemampuan untuk menyesuaikan dari waktu ke waktu terhadap perkembangan internal dan eksternal yang terjadi · Ada evaluasi terhadap proses perencanaan yang dilakukan · Ada komunikasi dan konsultasi berkelanjutan dari dokumen yang dihasilkan · Menggunakan instrumen, metodologi, pendekatan yang tepat untuk mendukung proses perencanaan

Berdasarkan pendekatan perencanaan strategis tersebut diatas, kualitas RPJMD dapat diukur dari hal-hal dibawah ini: · Ada kejelasan rumusan status dan kedudukan pencapaian pembangunan daerah saat ini dalam berbagai fungsi pemerintahan daerah · Ada rumusan isu dan permasalahan strategis pembangunan daerah · Ada kesesuaian antara visi, misi, dan agenda KDH terpilih dengan usaha mengoptimalkan kekuatan dan mengatasi kelemahan internal pembangunan daerah · Ada kesesuaian antara visi, misi dan agenda KDH terpilih dengan usaha mengoptimalkan peluang dan mengatasi tantangan eksternal pembangunan daerah · Ada kesesuaian rumusan tujuan, strategi, arah, dan kebijakan pembangunan daerah dengan usaha mengoptimalkan kekuatan dan mengatasi kelemahan internal pembangunan daerah · Ada kesesuaian rumusan tujuan, strategi, arah dan kebijakan pembangunan daerah dengan usaha mengoptimalkan peluang dan mengatasi tantangan eksternal pembangunan daerah · Ada penerjemahan yang baik dan sistematis dari visi, misi, dan agenda KDH terpilih ke dalam perumusan tujuan, strategi dan kebijakan pembangunan daerah · Ada penerjemahan yang baik dan sistematis tujuan, strategi dan kebijakan ke dalam rumusan prioritas program pembangunan daerah · Ada kesesuaian antara hasil rumusan isu strategis dalam pengelolaan keuangan daerah dengan rumusan tujuan, strategi, dan arah kebijakan keuangan daerah · Ada kesesuaian antara rumusan program pembangunan daerah dengan kendala fiskal daerah · Ada keterkaitan yang erat dan kontribusi program pembangunan daerah terhadap pemecahan isu dan permasalahan strategis nasional · Ada proses perencanaan yang demokratis dan partisipatif dalam keseluruhan proses pengambilan keputusan penyusunan RPJMD

13

TOPIK

KERANGKA ANALISIS RPJMD

APA ITU RPJMD?

RPJMD dalam Kerangka PERMENDAGRI No 13/2006

LANDASAN HUKUM

U

ntuk mendapatkan konsistensi dan keterpaduan antara perencanaan jangka menengah dengan perencanaan dan penganggaran tahunan, RPJMD perlu menggunakan kerangka analisis dan program yang serupa dengan kerangka program RKPD, Renja dan RKA SKPD, dan APBD. Kerangka analisis yang diusulkan untuk RPJMD adalah menggunakan pembahagian fungsi, urusan wajib, dan urusan pilihan pemerintahan daerah sebagai dasar analisis. Ini untuk memastikan bahwa RPJMD dapat diterjemahkan secara konsisten kepada rencana dan penganggaran tahunan. Adapun fungsi Pemerintahan Daerah meliputi: · Pelayanan umum · Ketertiban dan keamanan · Ekonomi · Lingkungan hidup · Perumahan dan fasilitas umum · Kesehatan · Pariwisata dan budaya · Pendidikan · Perlindungan sosial Untuk kepentingan di atas, perlu dipahami adanya table-tabel utama dari PERMENDAGRI No 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang merupakan kerangka utama bagi penyusunan RPJMD: · Lampiran A.V tentang Kode dan Klasifikasi Fungsi Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. · Lampiran A.VI tentang Pembagian Fungsi, Urusan Wajib dan Urusan Pilihan Pemerintahan Daerah · Lampiran A.VII tentang Kode dan Daftar Program dan Kegiatan Menurut Urusan Pemerintahan Daerah Pengembangan Tolok Ukur Kinerja Pembangunan Daerah

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

KELUARAN UTAMA RPJMD

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

KERANGKA ANALISIS RPJMD

BAGAN ALIR PROSES PENYUSUNAN RPJMD

STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD

HANDOUT PENDUKUNG

Untuk mengembangkan analisis pembangunan daerah yang berkelanjutan, adalah penting bagi RPJMD untuk mengembangkan tolok ukur kinerja untuk masing-masing fungsi tersebut di atas yang dapat menggambarkan dimana posisi dan kedudukan daerah saat ini dalam penyelenggaraan fungsifungsi tersebut di atas; fungsi-fungsi mana di daerah yang pada saat ini masih mengalami masalah; fungsi-fungsi mana yang perlu dikembangkan dan diperbaiki; seberapa jauh perjalanan yang mesti ditempuh untuk menuju penyelenggaraan fungsi yang optimal. 14

TOPIK

KERANGKA ANALISIS RPJMD

Pengembangan tolok ukur kinerja pembangunan daerah yang mencakup semua fungsi di atas akan memperlihatkan secara jelas sejauh mana ’sistem pembangunan daerah’ hubungan antara komponen-komponen fisikal, lingkungan sosial, ekonomi telah terjalin baik; dapat mendeteksi segera apabila terdapat permasalahan dan dapat dirumuskan pemecahannya. Pengembangan tolok ukur kinerja dapat memperlihatkan sejauh mana kemajuan dicapai dalam masa lima tahun ke depan dari penyelenggaraan fungsi-fungsi tersebut di atas. Kriteria dalam pengembangan tolok ukur kinerja: · Relevan · Mudah dipahami · Reliable · Informasi mudah diakses · Memperlihatkan perspektif jangka menengah dan panjang · Berhubungan dengan isu pembangunan daerah · Memperlihatkan hubungan antara komponen pembangunan daerah Beberapa rujukan dalam pengembangan tolok ukur kinerja pembangunan daerah yang telah dikembangkan oleh Bappenas: · Pengukuran Kinerja Penyelenggaraan Otonomi Daerah · Indeks Pembangunan Daerah · Indikator Kemajuan Otonomi Daerah · Indikator Kinerja Pencapaian Pembangunan Daerah Dalam kaitan diatas, RPJMD perlu mengembangkan: · Tolok ukur kinerja (5- 7) untuk masing-masing fungsi tersebut di atas yang dapat mencerminkan kemajuan pencapaian penyelenggaraan fungsi-fungsi tersebut secara berkelanjutan. · Target kinerja untuk masing- masing fungsi tersebut di atas dalam lima tahun kedepan yang disesuaikan sejauh mungkin dengan target kinerja capaian program pemerintah, ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku, standar pelayanan minimal atau komitmen internasional · Posisi dan kedudukan daerah pada saat ini dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi tersebut di atas · Posisi dan kedudukan daerah yang diharapkan pada 5 (lima) tahun ke depan dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi tersebut di atas · Analisis SWOT untuk menggambarkan secara lebih rinci kedudukan internal (kelemahan dan kekuatan) dan eksternal (tantangan dan peluang) daerah dalam penyelenggaraan fungsi- fungsi tersebut di atas · Strategi, kebijakan, program dan tolok ukur capaian kinerja program dalam 5 (lima) tahun ke depan untuk masing-masing fungsi

15

TOPIK

BAGAN ALIR PROSES PENYUSUNAN RPJMD

APA ITU RPJMD?

B

agan 1 Memperlihatkan alur proses penyusunan RPJMD yang dikembangkan oleh LGSP-USAID, yang mengikuti ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku tentang perencanaan daerah. Ada 3 (tiga) alur spesifik yang digambarkan di sini yaitu alur proses teknokratis-strategis, alur proses partisipatif, dan alur proses legislasi dan politik. Ketiga alur proses tersebut menghendaki pendekatan yang berbeda, namun saling berinteraksi satu sama lain untuk menghasilkan RPJMD yang terpadu. Alur Proses Strategis Alur ini merupakan alur teknis perencanaan, yang merupakan dominasi para perencana daerah dan pakar perencanaan daerah. Alur ini ditujukan menghasilkan informasi, analisis, proyeksi, alternatif-alternatif tujuan, strategi, kebijakan, dan program sesuai kaidah teknis perencanaan yang diharapkan dapat memberikan masukan bagi alur proses partisipatif. Alur Proses Partisipatif

LANDASAN HUKUM

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

KELUARAN UTAMA RPJMD

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

KERANGKA ANALISIS RPJMD

Alur ini merupakan alur bagi keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan daerah. Alur ini merupakan serangkaian public participatory atau participatory planning events untuk menghasilkan konsensus dan kesepakatan atas tahap-tahap penting pengambilan keputusan perencanaan. Alur ini merupakan wahana bagi non government stakeholder seperti NGO, CSO, CBO untuk memberikan kontribusi yang efektif pada setiap public participatory events, kemudian mereview dan mengevaluasi hasil-hasil proses strategis. Alur Legislasi dan Politik Ini merupakan alur proses konsultasi dengan legislatif (DPRD) untuk menghasilkan Perda RPJMD. Pada alur ini diharapkan DPRD dapat memberikan kontribusi pemikirannya, review, dan evaluasi atas hasil-hasil baik proses strategis maupun proses partisipatif.

BAGAN ALIR PROSES PENYUSUNAN RPJMD

STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD

HANDOUT PENDUKUNG

16

TOPIK

STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD

APA ITU RPJMD?

Tahap Persiapan M1 M2 M3 M7 M 12 M 13 M 14 M 17 M 18 M 20 M 21 M 22 Orientasi Perencanaan Daerah Pembentukan Tim Penyusun RPJMD Penyusunan Rencana Kerja Penyiapan dokumen RPJMD Visi, Misi dan Program Prioritas Kepala Daerah Terpilih Orientasi Renstra SKPD Pembentukan Tim Penyusun Renstra SKPD Penyusunan Rencana Kerja Penyiapan dokumen Renstra SKPD Identifikasi Stakeholder Penentuan Stakeholder untuk konsultasi publik Penyiapan draft SK Tim Penyusun dan SK Panduan Penyusunan dokumen RPJMD Penetapan SK Tim Penyusun dan SK Panduan Penyusunan Dokumen RPJMD Surat Perintah KepDa kepada GS & surat permintaan kepada Lembaga/NGS agar berkontribusi dalam proses RPJMD Sosialisasi bahwa daerah akan menyusun RPJMD Perumusan metoda dan panduan Jaring Aspirasi, FGD, dan Musrenbang RPJMD

LANDASAN HUKUM

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

KELUARAN UTAMA RPJMD

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

M 23 M 19

KERANGKA ANALISIS RPJMD

Tahap Penyusunan Rancangan Awal RPJMD Daerah M4 M5 M6 M8 M9 M 10 M 11 M 24 M 25 M 29 M 30 M 36 Pengumpulan Data/Informasi Kondisi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah 5 tahunan Penyusunan profil daerah dan prediksi masa depan Kajian terhadap RPJMD Kajian terhadap Visi, Misi dan Program Prioritas Kepala Daerah terpilih Analisis keuangan daerah Kajian RTRW-D Review RPJMD Provinsi dan Nasional Jaring aspirasi: Isu dan harapan masyarakat Formulasi Dok. Rancangan Awal RPJMD FGDs untuk setiap Topik Pembahasan Ranwal RPJMD bersama SKPDs Penyusunan Rancangan Awal RPJMD untuk dibahas dalam Musrenbang RPJMD

BAGAN ALIR PROSES PENYUSUNAN RPJMD

STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD

Tahap Penyusunan Rancangan Awal Renstra RPJMD HANDOUT PENDUKUNG M 15 Pengumpulan Data/Informasi Kondisi Pelayanan RPJMD M 16 Penyusunan profil pelayanan RPJMD& prediksi jangka menengah M 26 Tupoksi RPJMD M 27 Perumusan Visi dan Misi RPJMD 17

TOPIK

STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD

M 28 M 31 M 33 M 32 M 34 M 35 M 37

Evaluasi Renstra RPJMD (Renstra Dinas) periode lalu Review Renstra K/L dan Renstra RPJMD Provinsi Identifikasi capaian keberhasilan dan permasalahan Perumusan program (SKPD, Lintas SKPD, Kewilayahan) Pembahasan Forum RPJMD Berita Acara Hasil Kesepakatan Forum RPJMD Penyusunan Dokumen Rancangan Renstra RPJMD

Tahap Pelaksanaan Musrenbang Daerah Jangka Menengah M 38 M 39 Musrenbang RPJMD Naskah Kesepakatan Hasil Musrenbang RPJMD

Tahap Penyusunan Rancangan Akhir RPJMD Daerah / Renstra RPJMD M 40 M 42 M 41 M 43 Penyusunan Rancangan Akhir dokumen RPJM Daerah Penyusunan Naskah Akademis Ranperda RPJMD Penyusunan Rancangan Akhir dokumen Renstra SKPD Penyusunan Naskah Akademis Rancangan Perka SKPD

Tahap Penetapan Peraturan Daerah tentang RPJMD M 44 M 45 M 46 M 47 M 48 M 49 M 50 Penyampaian Naskah Perda RPJMD kepada Gubernur cq Bappeda Provinsi Konsultasi dengan Gubernur cq kepala Bappeda Provinsi Penyampaian Naskah perda RPJMD serta lampirannya kepada DPRD Pembahasan DPRD tentang Ranperda RPJMD Penetapan Ranperda menjadi Perda Dokumen RPJM-D yang telah disyahkan Dokumen Renstra SKPD telah disyahkan

18

TOPIK

HANDOUT PENDUKUNG

APA ITU RPJMD?

LANDASAN HUKUM

ahan Pelatihan dan Pendampingan ini didukung dengan TEMPLATE dan penjelasan ringkas (handout) tambahan tentang hal-hal penting dalam setiap tahapan penyusunan RPJMD. Handout yang dimaksud terdiri dari: 1) Arah Kebijakan Keuangan Daerah Kabupaten Pacitan 2) Proyeksi Keuangan Daerah dan Proyeksi Belanja Daerah 3) Orientasi Kerangka Regulasi Perencanaan dan Penganggaran Daerah 4) Millennium Development Goals 5) Prinsip-prinsip Good Governance 6) Fasilitasi dan Rekrutmen Fasilitator

B

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPJMD

KELUARAN UTAMA RPJMD

INDIKATOR KUALITAS RPJMD

KERANGKA ANALISIS RPJMD

BAGAN ALIR PROSES PENYUSUNAN RPJMD

STEP BY STEP PENYUSUNAN RPJMD

HANDOUT PENDUKUNG

19

DAFTAR PERISTILAHAN DAN SINGKATAN

1) Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang selanjutnya disingkat dengan RPJP adalah dokumen perencanaan untuk periode dua puluh (20) tahun. 2) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RPJPD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode dua puluh (20) tahun yang memuat visi, misi, dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional. 3) Rencana Pembangunan Jangka Menengah, yang selanjutnya disingkat dengan RPJM adalah dokumen perencanaan untuk periode lima (5) tahun. 4) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RPJMD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode lima (5) tahun yang memuat penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. 5) Rencana Pembangunan Tahunan Nasional, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode satu (1) tahun. 6) Rencana Kerja Pemerintah Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RKPD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode satu (1) tahun yang merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP Nasional, memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah, prioritas pembangunan Daerah, rencana kerja, dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. 7) Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran. 8) Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RENSTRA SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode lima (5) tahun, yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. 9) Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RENJA SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode satu (1) tahun, yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. 10) Rencana Kerja dan Anggaran SKPD, yang selanjutnya disingkat dengan RKA SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan SKPD yang merupakan penjabaran dari RKPD dan Renstra SKPD yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran, serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. 11) Rencana Tata Ruang, yang selanjutnya disingkat dengan RTR adalah dokumen yang memuat hasil perencanaan tata ruang. 12) Rencana Tata Ruang Wilayah, yang selanjutnya disingkat dengan RTRW adalah dokumen yang memuat hasil perencanaan tata ruang wilayah. 13) Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.

20

DAFTAR PERISTILAHAN DAN SINGKATAN

14) Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 15) Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. 16) Agenda pembangunan adalah penerjemahan visi ke dalam tujuan-tujuan besar (strategic goals) yang dapat mempedomani dan memberikan fokus pada penilaian dan perumusan strategi, kebijakan, dan program. 17) Strategi pembangunan adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. 18) Kebijakan pembangunan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/ Daerah untuk mencapai tujuan. 19) Program pembangunan adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. 20) Kinerja adalah adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. 21) Indikator kinerja adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat, dan/atau dampak yang menggambarkan tingkat capaian kinerja suatu program atau kegiatan. 22) Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 23) Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. 24) Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. 25) MTEF atau Medium Term Expenditure Framework/Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah adalah pendekatan penganggaran berdasarkan kebijakan, dengan pengambilan keputusan terhadap kebijakan tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran, dengan mempertimbangkan implikasi biaya akibat keputusan yang bersangkutan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. 26) Kerangka Ekonomi Jangka Menengah Daerah merupakan kerangka prakiraan terhadap besaran pendapatan, pengeluaran dan pembiayaan. 27) Kerangka Pendanaan (Resource Envelope) merupakan gambaran kemampuan pendanaan daerah untuk membiayai belanja pemerintah. 28) Kerangka fiskal daerah adalah kerangka prakiraan terhadap pendapatan, hibah, pinjaman dan belanja daerah. 29) Proyeksi fiskal daerah adalah proyeksi terhadap pendapatan, hibah, pinjaman dan belanja daerah. 30) Target fiskal daerah adalah sasaran pendapatan dari sumber-sumber keuangan daerah. 31) Celah fiskal adalah selisih antara kebutuhan fiskal daerah dan kapasitas fiskal daerah. 32) Program Legislasi Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan PROLEGDA adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis.

21

DAFTAR PERISTILAHAN DAN SINGKATAN

33) Stakeholder atau pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari pelaksanaan pembangunan. Stakeholder dapat berupa kelompok, organisasi, dan individu yang memiliki kepentingan/ pengaruh dalam proses pengambilan keputusan/ pelaksanaan pembangunan. 34) Konsultasi Publik adalah kegiatan partisipatif yang bertujuan untuk menghadirkan stakeholders dalam rangka mendiskusikan dan memahami isu dan permasalahan strategis pembangunan daerah; merumuskan kesepakatan tentang prioritas pembangunan dan mencapai konsensus tentang pemecahan masalah-masalah strategis daerah. Konsultasi publik dilakukan pada berbagai skala, tahapan dan tingkatan pengambilan keputusan perencanaan daerah. Konsultasi publik dapat berupa musrenbangda di peringkat kabupaten/kota, konsultasi forum stakeholder atau focus group discussions di peringkat SKPD maupun di peringkat lintas SKPD. 35) Musrenbang atau Musyawarah Perencanaan Pembangunan adalah forum antarpelaku dalam rangka menyusun rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah. 36) Tim Penyelenggara Musrenbang adalah Tim yang dibentuk untuk melakukan persiapan, memfasilitasi pelaksanaan, dan menindaklajuti hasil Musrenbang. 37) Peserta adalah pihak yang memiliki hak pengambilan keputusan dalam Musrenbang melalui pembahasan yang disepakati bersama. 38) Fasilitator adalah tenaga terlatih atau berpengalaman dalam memfasilitasi dan memandu diskusi kelompok ataupun konsultasi publik. Seorang fasilitator harus memenuhi kualifikasi kompetensi teknis/substansi dan memiliki keterampilan dalam penerapan berbagai teknik dan instrumen untuk menunjang efektivitas dan partisipatifnya kegiatan. 39) Narasumber adalah pihak pemberi informasi yang perlu diketahui peserta Musrenbang untuk proses pengambilan keputusan hasil Musrenbang. 40) Delegasi adalah perwakilan yang disepakati peserta Musrenbang untuk menghadiri Musrenbang pada tingkat yang lebih tinggi. 41) NGO adalah singkatan dari Non-Governmental Organization atau Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM. 42) CBO adalah singkatan dari Community based Organization atau Kelompok Masyarakat. 43) CSO adalah singkatan dari Civil Society Organization atau Organisasi Masyarakat Sipil.

22

23

M-1 ORIENTASI PERENCANAAN DAERAH

Tujuan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengadakan sosialisasi/lokakarya tentang ketentuan sistem perencanaan daerah bagi calon anggota tim penyusun dokumen perencanaan daerah, khususnya untuk RPJM Daerah dan keterkaitannya dengan dokumen perencanaan daerah lainnya. Tujuan kegiatan ini: 1) Mengetahui ketentuan regulasi yang berkaitan dengan proses dan mekanisme pelaksanaan penyusunan RPJMD 2) Mengetahui substansi dokumen RPJMD menjadi kewajiban daerah serta saling keterkaitan antar dokumen daerah 3) Mengetahui peran dan fungsi setiap kelompok pemangku kepentingan dalam proses perencanaan RPJMD 1) Memahami ketentuan peraturan perundangan yang mengatur sistem perencanaan 2) Mengetahui substansi pokok dan prinsip-prinsip dasar untuk setiap dokumen perencanaan daerah 3) Memahami dan memiliki kemampuan untuk menyusun setiap dokumen RPJMD untuk Tim RPJMD, serta kemampuan untuk menyusun Renstra SKPD bagi Tim penyusun Renstra, serta proses partisipatif yang harus dilakukan. · Peserta lokakarya/sosialisasi orientasi perencanaan daerah adalah staf daerah yang dicalonkan menjadi anggota Tim Teknis Penyusunan Dokumen serta para pengambil keputusan di daerah Di luar staf Pemda, dalam orientasi perlu juga melibatkan peserta yang berasal dari non pemerintah, seperti Perguruan Tinggi setempat, serta organisasi masyarakat dan LSM yang memiliki kompetensi di bidang pembangunan daerah.

Keluaran

Prinsip-prinsip

·

Metoda

Dapat dilakukan melalui ceramah, diskusi kelompok dan studi kasus, dibantu materi berupa bahan tayang. · Bappeda menyusun rancangan agenda kegiatan penyusunan RPJMD termasuk merencanakan lokakarya untuk orientasi perencanaan. Bappeda menyusun rancangan susunan Tim Penyusun RPJMD, yang anggotanya secara jelas diidentifikasikan nama dan instansinya. Bappeda melakukan identifikasi kemungkinan individu dari NGS yang berpotensi untuk dilibatkan menjadi anggota Tim Penyusun, serta identifikasi lembaga atau individu-individu yang potensial untuk diajak sebagai mitra dialog atau peserta FGD. Bappeda melakukan persiapan penyelenggarakan lokakarya orientasi perencanaan daerah, baik secara mandiri maupun melalui kerjasama dengan fasilitator/mitra/pemerintah pusat untuk menyelenggarakan persiapan acara.

Langkah-Langkah

·

·

·

24

M-1 ORIENTASI PERENCANAAN DAERAH

·

Bappeda mengundang calon-calon anggota Tim Penyusun dan lembaga/individu dari NGS untuk mengikuti seminar/ lokakarya Orientasi Perencanaan.

Informasi yang disiapkan

1. 2. 3. 4.

UU No 17/2003 tentang Keuangan Negara UU No 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara UU No 15/2004 tentang Tanggung Jawab Keuangan Daerah UU No 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 5. UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah 6. PP No 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 7. PP No 65/2005 tentang Pedoman Standar Pelayanan Minimal 8. PERMENDAGRI No 6/2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal 9. SE Mendagri Tahun 2005 tentang Penyusunan RPJP-D dan RPJM-D 10. SEB Mendagri dan MenPPN/Ketua Bappenas Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007 Kegiatan orientasi perencanaan sebaiknya lebih bermuatan teknis, sehingga yang sifatnya “seremonial” sedapat mungkin dihindarkan. Kegiatan ini penting untuk membangun persepsi yang sama di antara government dan non government stakeholder tentang esensi RPJMD

Hal-hal penting yang harus diperhatikan

Organisasi Masyarakat Sipil (CSO) yang diundang mengikuti kegiatan orientasi perencanaan daerah agar mengirimkan orang yang punya kapasitas dan/atau memunyai perhatian kuat pada bidang perencanaan pembangunan daerah. Hal krusial yang perlu dicermati oleh CSO dalam kegiatan orientasi perencanaan, antara lain : Pemahaman jenis-jenis perencanaan daerah, keterkaitan antar jenis perencanaan daerah dan proses penyusunan setiap dokumen perencanaan daerah. Sejauhmana payung hukum yang mengakomodasi keterlibatan CSO untuk berkontribusi dalam proses penyusunan dokumen perencanaan. Mempelajari ruang-ruang yang memungkinkan keterlibatan dan peranserta CSO dalam meningkatkan proses partisipasi penyusunan dokumen perencanaan daerah, khususnya RPJMD dan Renstra SKPD. Mempersiapkan diri bentuk keterlibatan CSO dalam proses-proses partisipatif yang telah diatur di dalam peraturan-perundangan, seperti pada proses-proses jaring aspirasi masyarakat dan konsultasi publik, musrenbang, maupun dalam proses legalisasi.

25

M-1 ORIENTASI PERENCANAAN DAERAH

DPRD sebagai mitra pemerintah daerah yang memiliki fungsi legislasi, pengawasan dan penganggaran perlu memiliki pemahaman yang cukup berkaitan dengan sistem perencanaan daerah, mengingat dokumen-dokumen perencanaan yang disusun di daerah akan bermuara pada proses legalisasi yang menjadi kompetensi DPRD. Atas dasar tersebut, maka DPRD khususnya komisi yang terkait dengan bidang perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah perlu mendapatkan pelatihan/ orientasi tentang perencanaan daerah. Adapun waktu pelaksanaan orientasi tentang perencanaan daerah dapat dilakukan bersama-sama dengan unsur pemda dan CSO, atau dapat juga dilakukan secara tersendiri khusus untuk anggota DPRD. Dalam kegiatan orientasi perencanaan daerah DPRD, hal penting yang perlu dicermati adalah : Pemahaman rangkaian proses penyusunan dokumen perencanaan daerah secara keseluruhan, baik pada tahap persiapan, pelaksanaan penyusunan dokumen, prosesproses jaring aspirasi masyarakat dan konsultasi publik, musrenbang, maupun dalam proses legalisasi. Mempelajari dan mengidentifikasi kegiatan mana yang menjadi “domain” Pemda dan mana yang menjadi domain “DPRD” dari keseluruhan rangkaian proses perencanaan. Mengidentifikasi tahapan kegiatan mana yang strategis bagi DPRD untuk memantau dan/ atau berkontribusi dalam proses penyusunan RPJMD/Renstra SKPD Mempelajari kemungkinan peranserta masyarakat dalam rangkaian kegiatan yang menjadi kewenangan (domain) DPRD.

26

M-2 PEMBENTUKAN TIM PENYUSUN RPJMD

Tujuan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membentuk Tim Penyusun dokumen RPJMD, yang anggotanya terdiri dari perwakilan unsur Bappeda, unsur SKPD dan unsur NGS (Perguruan Tinggi, LSM dan unsur perwakilan kelompok masyarakat). Tujuan utamanya adalah terbentuknya Tim Teknis yang khusus bertanggung jawab dalam penyiapan dokumen RPJMD. · Terbentuknya Tim Penyusun RPJMD yang terdiri dari TIM INTI dan KELOMPOK KERJA yang diorganisasikan menurut kompetensi fungsi-fungsi pemerintahan daerah · Terbentuknya Tim Pengarah · Teridentifikasi kelompok/individu sebagai narasumber dan mitra diskusi · Anggota Tim Penyusun adalah yang benar-benar siap untuk bertugas secara penuh dalam menyiapkan dokumen RPJMD (bukan formalitas), dengan demikian perlu dipilih orang-orang yang punya kesiapan waktu dan kemampuan teknis yang cukup. · Anggota Tim harus mempunyai tugas pokok atau punya kompetensi di bidang penyusunan perencanaan di daerah · Sedapat mungkin anggota Tim terpilih mempunyai latar belakang atau dasar pendidikan/pengalaman di bidang perencanaan daerah · Buatlah skenario susunan Tim Penyusun RPJMD, yang terdiri atas Tim Pengarah dan Tim Teknis (Pokja dan Tim Inti) lengkap dengan kebutuhan jumlah personil dan institusinya. · Rumuskan kriteria, tugas, dan fungsi serta kewajibankewajiban tim penyusun RPJMD · Identifikasi calon anggota Tim Penyusun (nama dan instansinya). Pertimbangkan kualifikasi dan kinerja mereka pada waktu mengikuti lokakarya orientasi perencanaan. · Mintalah pada setiap calon anggota tim untuk mengisi formulir isian “curriculum vitae”. · Lakukan seleksi dengan memilih sesuai kebutuhan. · Buatkan surat dari Kepala Bappeda tentang pernyataan kesediaan calon anggota terpilih untuk menjadi anggota Tim Penyusun serta kewajiban-kewajibannya, yang diketahui/ disetujui oleh Kepala SKPD yang bersangkutan atau Kepala Lembaga (untuk unsur LSM dan Kelompok Masyarakat). · Buat Surat Keputusan Kepala Bappeda tentang Penetapan Tim Penyususan RPJMD (bila diperlukan dapat diperkuat dengan diketahui Kepala Daerah).

Keluaran

Prinsip-prinsip

Langkah- Langkah

27

M-2 PEMBENTUKAN TIM PENYUSUN RPJMD

Informasi yang disiapkan

· ·

Daftar kandidat/calon anggota Tim Penyusun Ketentuan/panduan yang mengatur pembentukan Tim Penyusun RPJMD (SE Mendagri tentang Penyusunan RPJPD dan RPJMD).

Hal-hal penting yang harus diperhatikan

Anggota tim penyusun sedapat mungkin berlatar belakang pendidikan yang bervariasi sesuai dengan muatan substansi RPJMD, seperti Planologi, Sipil/Teknik Lingkungan, Ekonomi, Sosial, Studi Pembangunan, Kelembagaan/Pemerintahan. Tim Penyusun perlu mengembangkan hubungan konsultasi dengan instansi yang relevan Pemerintah Daerah Provinsi dan Pusat yang memungkinkan pertukaran informasi dapat dibangun selama proses penyusunan rencana. Susunan Organisasi Tim Penyusun RPJMD

Template

No (1) 1 2 3 4

Jabatan dalam Tim (2) Penanggung jawab Ketua Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Fungsi Pelayanan Umum - SKPD - DPRD - CSO Pokja Fungsi Ketertiban dan Keamanan Pokja Fungsi Ekonomi Pokja Fungsi Lingkungan Hidup Pokja Fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum Pokja Fungsi Kesehatan Pokja Fungsi Pariwisata dan Budaya Pokja Fungsi Pendidikan Pokja Fungsi Perlindungan Sosial

Lembaga (3) Bupati/Walikota Sekretaris Daerah Kepala Bappeda Sekretaris Bappeda

5 6 7 8 9 10 11 12

28

M-2 PEMBENTUKAN TIM PENYUSUN RPJMD

Dalam proses pembentukan tim penyusun RPJMD, CSO berkepentingan agar komposisi tim juga mencerminkan kompetensi yang baik dan partisipatif, artinya anggota tim harus terdiri atas orangorang yang punya latar belakang pendidikan/pengalaman di bidang perencanaan pembangunan daerah, dan berasal dari berbagai lembaga/unsur. Apabila di daerah terdapat lembaga/CSO yang berpengalaman memfasilitasi atau mengerjakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan, maka perlu ada keterwakilannya yang duduk sebagai anggota tim penyusun RPJMD. Perwakilan CSO yang diminta untuk terlibat menjadi anggota tim penyusun RPJMD wajib mengirimkan orang yang berlatarbelakang pendidikan dan/atau pengalaman yang terkait di bidang perencanaan pembangunan daerah, dan punya komitmen waktu dan pikiran untuk berperanserta secara maksimal. Dalam pembagian Pokja, perwakilan CSO tersebut diusahakan masuk pada Pokja yang sesuai dengan bidang/ kapasitas mereka.

DPRD memantau dan menyarankan agar Tim Penyusun dokumen RPJMD/Renstra SKPD yang dibentuk juga menyertakan perwakilan dari kelompok masyarakat yang punya kompetensi serta telah mempertimbangkan kesetaraan gender. DPRD perlu membentuk Tim Khusus (Pansus/Panja) yang berfungsi sebagai mitra (counterpart) tim penyusun RPJMD/Renstra SKPD yang berasal dari perwakilan komisi-komisi, yang pada momen-momen tertentu dalam proses penyusunan RPJMD dapat terlibat secara intensif.

29

M-3 PENYUSUNAN RENCANA KERJA PENYIAPAN DOKUMEN RPJMD

Tujuan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyusun rencana kerja penyiapan dokumen RPJMD beserta kalender dan pembagian tugasnya, yang menjadi acuan bagi Tim Penyusun dalam melaksanakan kegiatannya. Kegiatan ini bertujuan: · Agar ada kejelasan mengenai jenis dan tahapan kegiatan yang harus dilaksanakan, · Kejelasan pembagian tugas bagi setiap anggota Tim Penyusun · Adanya acuan target waktu penyelesaian setiap tahapan kegiatan termasuk yang berkaitan dengan proses-proses pelibatan masyarakat. · · · · · Rincian jenis dan tahapan kegiatan Kalender kegiatan termasuk forum-forum/kegiatan yang akan melibatkan stakeholder. Daftar Isi Dokumen RPJMD termasuk muatan pokok dari setiap bab/sub bab. Daftar atau format kebutuhan jenis data dan informasi Pembagian kerja antar anggota tim Rencana kerja yang disusun harus jelas untuk setiap tahapan kegiatan, kapan dimulainya suatu aktivitas dan kapan harus diselesaikan, Dalam kalender kegiatan juga harus dapat memperlihatkan, jenis kegiatan apa saja yang dapat dilakukan secara simultan dengan kegiatan lainnya, dan tahapan kegiatan apa yang harus menunggu tahapan kegiatan lainnya

Keluaran

Prinsip-prinsip

·

·

Metoda Langkah- Langkah

Rapat Tim Teknis/Tim Penyusun · Buat rancangan rencana kerja penyusunan RPJMD oleh Tim Inti, berupa tahapan dan rincian kegiatan (termasuk kegiatan penjaringan aspirasi, forum-forum diskusi, lokakarya dan seminar), schedule kegiatan, rancangan daftar isi dokumen RPJMD, identifikasi kebutuhan data, dan sumber data. Lakukan pertemuan seluruh anggota tim penyusun untuk membahas, mematangkan dan menyepakati rancangan rencana kerja dan rancangan daftar isi dokumen RPJMD. Lakukan pembagian Tim Penyusun ke dalam kelompokkelompok kerja (Pokja) yang pembagiannya disesuaikan dengan fungsi- fungsi pemerintah daerah dan isu/tema penting RPJMD, misal Pokja Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Pariwisata dan Budaya, Pelayanan Umum dsb. Sepakati pembagian kerja dan jadwal kegiatan/kerja setiap kelompok kerja serta agenda pertemuan lintas Pokja.

·

·

·

30

M-3 PENYUSUNAN RENCANA KERJA PENYIAPAN DOKUMEN RPJMD

Informasi yang disiapkan

·

·

Visi, misi dan agenda/program pokok calon Kepala Daerah terpilih, atau calon-calon kepala daerah (bila belum dilaksanakan pemilihan). Batasan waktu penyelesaian setiap tahapan sesuai ketentuan peraturan perundangan Kalendar Perencanaan Penyusunan RPJMD

Template

·

31

M-4 PENGUMPULAN DAN PEMUTAKHIRAN DATA/INFORMASI

Tujuan

Merupakan tahapan awal dari setiap proses perencanaan pembangunan. Kualitas dan kuantitas data dan informasi akan menentukan kualitas pengambilan keputusan rencana. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memutakhirkan data dan informasi yang diperlukan untuk menunjang kebutuhan analisis dan perencanaan pembangunan daerah jangka menengah, sehingga setiap rumusan didasarkan atas data yang dapat dipertanggungjawabkan (akuntabel) Kompilasi data dan informasi yang sistematis dan lengkap yang dapat memberikan gambaran mutakhir tentang kinerja penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan daerah dan pembangunan daerah pada umumnya · Data/informasi yang dikumpulkan dikaitkan dengan pengukuran kinerja penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan daerah Pengumpulan data/informasi melalui pendekatan partisipatif mengikutsertakan stakeholder yang relevan dan interaktif, terbuka terhadap masukan baru. Bila terjadi perbedaan data antara satu sumber dengan sumber data lainnya, maka perlu kesepakatan data dan informasi mana yang akan diambil dengan pertimbangan validasi dan kompetensi sumber. Kompilasi data Penyebaran format isian data ke setiap SKPD Data terakhir dan Data time series, diusahakan minimal 5 tahun terakhir Format penyajian data dan analisis data

Keluaran

Prinsip-prinsip

·

·

Metoda

· · · ·

Informasi yang disiapkan

Template

Profil Kinerja Pemerintahan Daerah
Fungsi Pemerintahan Daerah (1) Pelayanan Umum Tolok Ukur Kinerja (2) 1. 2. 3. 1. 2. 3. Capaian Kinerja Saat ini (3)

Ketertiban dan Keamanan Ekonomi

Lingkungan Hidup Perumahan dan Fasilitas Umum Kesehatan Pariwisata dan Budaya Pendidikan Perlindungan Sosial

32

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

Pengantar

Profil merupakan instrumen penting dalam perencanaan daerah yang ditujukan untuk mengidentifikasi, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan informasi untuk pengambilan keputusan dan kebijakan perencanaan. Profil Daerah memberikan gambaran cepat tentang situasi dan kondisi penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan daerah masa sekarang/eksisting. Apabila terdapat profil secara “time series” akan memungkinkan daerah untuk mengetahui perkembangan atau kemajuan yang dicapai dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan daerah dan memperkirakan kemungkinannya masa mendatang · Mengetahui gambaran umum, status, kedudukan dan kinerja daerah dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan daerah Mengetahui aspek-aspek apa saja yang menonjol dan kritis untuk segera ditangani Mengetahui gambaran aspek strategis daerah termasuk potensi-potensi pembangunan yang dimiliki daerah Memperkirakan prediksi ke depan atas berbagai aspek pembangunan daerah.

Tujuan

· · ·

Keluaran

Sejauh mungkin penyusunan profil daerah mengikuti pembahagian fungsi-fungsi pemerintahan daerah. Ini untuk memudahkan analisis, penyusunan strategi, kebijakan dan program RPJMD konsisten dengan perencanaan dan penganggaran tahunan yang telah diatur oleh PERMENDAGRI No 13/2006. · Profil pelayanan umum · Profil ekonomi daerah · Profil prasarana daerah dan prediksi kebutuhan perkembangannya di masa datang · Profil aspek sosial kependudukan daerah dan proyeksi perkembangannya di masa depan. · Profil lingkungan hidup dan penataan ruang daerah · Profil kesehatan · Profil Pendidikan · Profil keuangan daerah dan kecenderungan perubahan kebijakan keuangan bagi pembangunan daerah · Profil kebijakan dan peraturan-perundangan daerah · · · Penyajian profil sejauh mungkin juga menggambarkan sensitif gender Penyajian profil sesuai dengan kebutuhan analisis Bentuk penyajian mudah dibaca dan dianalisis, berupa tabel, grafik, diagram dan peta dengan diskripsi yang ringkas dan jelas Pemilihan metoda analisis sesuai dengan kebutuhan analisis dan ketersediaan data

Prinsip-prinsip

·

33

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

Metoda

· · · ·

Team Work Penyajian data dan Analisis oleh Tim Penyusun Berbagai peraturan perundangan yan terkait kebijakan pembangunan daerah, Data dan informasi tentang aspek fisik-lingkungan, tata-ruang, sosial-kependudukan, perekonomian daerah, keuangan daerah Sasaran dan Indikator Kinerja Pencapaian Pembangunan 2004-2009 Indikator Kemajuan Otonomi Daerah Pengukuran Kinerja Penyelenggaraan Otonomi Daerah Indikator Kinerja Fungsi Pemerintahan Daerah

Informasi yang disiapkan

Template

· · · ·

Hal-hal penting yang harus diperhatikan

Profil setiap fungsi perlu menampilkan serangkaian tolok ukur kinerja (5-7 tolok ukur) yang relevan, mudah dipahami, reliable dan mudah di akses datanya yang dapat mencerminkan secara jelas kondisi dan situasi serta hubungan antar fungsi pemerintahan daerah terkait. PENYUSUNAN INDIKATOR KINERJA

• Profil Daerah diperlukan sebagai bahan informasi untuk melakukan SWOT. • Agar dapat memberikan gambaran terpadu, seimbang dan komprehensif atas situasi dan kondisi daerah, sebaiknya profil daerah mencakup indikator pembangunan berkelanjutan. • Indikator di peringkat kabupaten/kota membantu dalam memberikan gambaran: – – – dimana posisi dan kondisi daerah sekarang kemana daerah akan menuju dan seberapa jauh perjalanan perlu ditempuh dari kondisi sekarang untuk mencapai kepada kondisi yang diinginkan

Indikator dapat: • Membantu mengklarifikasikan hubungan kegiatan dengan misi, agenda dan tujuan • Memberikan informasi kepada para pengambil keputusan tentang seberapa jauh efektifitas kebijakan yang dijalankan • Memberikan informasi efektifitas dana publik • Menelusuri konsistensi kebijakan dengan program dan kegiatan • Memberikan peringatan dini tentang sesuatu kondisi sebelum menjadi lebih buruk atau parah • Menunjukkan pada aspek-aspek mana masih terdapat kelemahan dan • Membantu merumuskan arah bagi perbaikan diperlukan.

1
Indikator Kinerja bersifat: • Relevant- memperlihatkan secara jelas sistem yang ingin diketahui dan terkait langsung dengan tujuan pengukuran kinerja • Mudah dipahami- baik oleh orang yang bukan ahli • Reliable- informasi yang dikemukakan dapat dipercaya • Accessible- kemudahan mendapatkan informasi/datanya • Consistent- digunakan secara seragam baik di perencanaan, penganggaran, akuntansi dan sistem pelaporan • Comparable- memberikan kejelasan kerangka referensi untuk menilai kecenderungan perkembangan kinerja dari waktu ke waktu

2

• Dalam indikator perlu dilihat aspek ’keterpaduan’ indikator; karena pada dasarnya indikator tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan. • Diperlukan ’multi dimensional indicators’ yang memperlihatkan hubungan erat antara ekonomi, politik, lingkungan dan sosial masyarakat. • Ada hirarki indikator kinerja – Masukan : Input untuk melaksanakan kegiatan – Keluaran : Hasil langsung kegiatan – Hasil : Perubahan segera yang ditunjukkan – Manfaat : Perubahan jangka pendek yang ditunjukkan – Dampak : Perubahan jangka menengah dan panjang yang ditunjukkan

3
34

4

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

Keterkaitan indikator dengan hasil - Keluaran (Output) - Hasil (Short Term Outcome) - Manfaat (Intermediate Outcome)

Renja SKPD RKPD Renstra SKPD - Dampak (Long Term Outcome/Impact) RPJMD, RPJPD Agenda Misi KDH - Outcome—perubahan yang ditunjukkan olehpeneriman kegiatan (beneficiaries) dalam jangka pendek, menengah, dan panjang

Setiap SKPD perlu mengembangkan serangkaian indikator kinerja berdasarkan tugas pokok dan fungsinya untuk mengukur efektifitas program dan kegiatannya Indikator Kinerja terdiri dari: Indikator Masukan Indikator Keluaran Indikator Hasil Indikator Manfat (Benefit) Indikator Dampak(Impact)

5

6

Indikator Keluaran adalah ukuran atas hasil langsung dari proses pelaksanaan pekerjaan (kegiatan). Contoh: · Km jalan diperbaiki/ditingkatkan/dipelihara · Luas sawah yang ditingkatkan irigasinya Indikator Hasil adalah pernyataan kualitatif tentang perubahan atau dampak positif segera segera (1-2 tahun) atau short term benefits yang dihasilkan oleh kegiatan. Ini dapat diambil dari tujuan program Renja- SKPD atau RKPD terkait. Contoh: · % penegakan Perda IMB · % peningkatan kesejahteraan keluarga miskin Indikator Manfaat adalah pernyataan kualitatif tentang perubahan jangka pendek atas penerima (beneficiaries) kegiatan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan. Ini dapat diambil dari Renstra SKPD atau RPJM-Daerah. Contoh: · % Remaja yang sehat dan terhindar dari Narkoba · % Pedagang kaki lima berhasil ditertibkan Indikator Dampak adalah pernyataan kualitatif tentang dampak atau akibat positif kegiatan dalam jangka menengah dan panjang (5-10 tahun) atau konteks strategis kegiatan. Dapat diambil dari pernyataan misi, agenda atau tujuan program RPJM-Daerah terkait untuk menunjukkan hubungan kegiatan dengan tujuan strategis pembangunan daerah. Perlu dilihat perubahan-perubahan apa yang terjadi pada masyarakat penerima kegiatan (pelanggan, masyarakat). Contoh: · % Penduduk merasa aman · % Penduduk sejahtera · % Peningkatan IPM Daerah 7

35

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

SUSTAINABLE DEVELOPMENT COMPONENTS • Beberapa pertanyaan penting dalam mengembangkan ’sustainable indicators’, yaitu apakah indikator memperlihatkan hal-hal sebagai berikut? – Daya dukung sumber-sumber alam – Daya dukung lingkungan (ekosistem) – Kualitas estetika – Kemampuan, ketrampilan, kesehatan, pendidikan penduduk (sumber daya manusia) – Modal sosial, seperti hubungan manusia, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha, pemerintahan – Community build capitals seperti infrastruktur, sistem informasi, bangunan, pertamanan – Pandangan kedepan masyarakat – Issues ekonomi, sosial, politik – Issues keadilan dan pemerataan – Hubungan antara ekonomi dan lingkungan – Hubungan antara lingkungan dan sosial masyarakat – Hubungan antara sosial masyarakat dan ekonomi – Global ekonomi

TEMPLATE SASARAN DAN INDIKATOR KINERJA PENCAPAIAN PEMBANGUNAN 2004-2009
Sasaran RPJM Nasional 2004-2009 Indikator Kinerja yang Berhubungan dengan Daerah

AGENDA AMAN DAN DAMAI 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Menurunnya konflik Menurunnya kriminalitas Menurunnya kejahatan di lautan dan lintas batas Tertanganinya separatisme Tertanganinya terorisme Berperannya Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia Terjaganya kedaulatan NKRI 1) Jumlah konflik etnis dan sosial 2) HDI dan HPI wilayah konflik 3) Indeks kriminalitas dan rasio penyelesaian kasus kriminalitas 4) Jumlah pecandu narkoba 5) Angka illegal logging dan illegal trading 6) Sosialisasi dan upaya perlindungan masyarakat terhadap aksi terorisme

AGENDA ADIL DAN DEMOKRATIS 1) 2) Meningkatnya keadilan hukum dan penegakan hukum Terciptanya sistem hukum yang konsekuen dan tidak diskriminatif serta yang memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia Meningkatnya pelayanan masyarakat Meningkatnya penyelenggaraan otonomi daerah Terpeliharanya konsolidasi demokrasi 1) Peraturan daerah yang spesifik mengenai mekanisme dan koordinasi dana dekonsentrasi 2) Perbaikan proses penyelenggaraan Musrenbang 3) Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pilkada 4) Angka Gender-related Development Index (GDI); dan 5) Angka Gender Empowerment Measurement (GEM) Kesejahteraan anak 6) Angka Partisipasi Sekolah (APS) 7) Status gizi balita buruk 8) Persalinan bayi oleh tenaga kesehatan Perlindungan anak 9) Pekerja anak (%) 10)Jumlah anak yang memiliki akte Kelahiran

3) 4) 5)

36

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

Lanjutan Template Sasaran ..........
AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

1) 2)

3) 4) 5) 6) 7)

Menurunnya jumlah penduduk miskin menjadi 8,2% pada tahun 2009 Terciptanya lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran terbuka menjadi 5,1 persen pada tahun 2009 Angka pertumbuhan rata-rata 6,6 persen pertahun Berkurangnya kesenjangan pendapatan dan kesenjangan daerah Meningkatnya kualitas manusia dengan terpenuhinya hak sosial rakyat Membaiknya mutu lingkungan hidup Meningkatnya dukungan infrastruktur.

Ekonomi 1. Pertumbuhan PDRB 2. Struktur PBRB dan PDRB per kapita 3. Kesempatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka 4. Jumlah penduduk miskin 5. Investasi dan aktivitas ekspor impor 6. Peningkatan peran UKM Pendidikan 7. Angka Buta Aksara penduduk usia 15 tahun ke atas 8. Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk setiap jenjang pendidikan 9. Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk setiap kelompok usia sekolah 10. Angka Melanjutkan Sekolah 11. Angka Putus Sekolah 12. Angka Mengulang Kelas 13. Rata-rata Lama Penyelesaian Pendidikan Kesehatan 14. Umur Harapan Hidup (UHH) 15. Angka Kematian Bayi (AKB) 16. Angka Kematian Ibu (AKI) 17. Prevalensi Gizi Kurang Kependudukan dan KB 18. Laju pertumbuhan penduduk (%) 19. Unmet need KB (%) 20. Total Fertility Rate/TFR (per perempuan) 21. Partisipasi laki-laki dalam ber-KB (%) 22. Contraceptive Prevalence Rate/CPR (%) Lingkungan Hidup 23. Kualitas air permukaan dan air tanah 24. Tingkat Pencemaran Pesisir dan Laut 25. Angka Illegal Logging 26. Luas lahan kritis Prasarana dan Sarana 27. Peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan berbagai prasarana dan sarana

Sumber: Handbook SPPN RI, Bappenas 2006

37

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

TEMPLATE INDIKATOR KEMAJUAN OTONOMI DAERAH

No 1

Parameter Skala Kehidupan Ekonomi

Indikator Pertumbuhan

Sub Indikator Pertumbuhan pendapatan Pertumbuhan investasi Pertumbuhan kesempatan kerja Distribuís pendapatan Pemerataan akses modal Daya dukung lingkungan Daya dukung manusia berkeahlian Pemberdayaan ekonomi lemah Pemberdayaan ekonomi lokal Keterpaduan birokrasi Sanitari birokrasi Ketersediaan kebutuhan dana sosial Ketersediaan infrastruktur Fasilitasi partisipasi sosial Kesetaraan gender Fasilitasi resolusi konflik Keamanan hak sipil Keamanan hak politik Keamanan hak ekonomi Kesinambungan politik Kesehatan makro ekonomi Integrasi sosial Supremasi hukum Kontrol dan pertimbangan Pertanggungjawaban politik Kebebasan pers Kemandirian daerah Lokalisme lokal

Pemerataan

Kesinambungan

Pemberdayaan

2

Layanan Publik

Efisiensi

Sufisiensi

Fasilitasi

3

Resiko-resiko lokal

Keamanan

Stabilitas

Demokrasi

Otonomi

Sumber: Handbook SPPN RI, Bappenas 2006

38

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN TEMPLATE PENGUKURAN KINERJA PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH
No 1 Parameter Umum Derajat kesejahteraan umum Ekonomi Indikator Pertumbuhan ekonomi daerahTingkat pendapatan rata-rata per kapita per tahun (PDRB atau Net Income) Penurunan angka pengangguran terbuka: - Kenaikan angka partisipasi kerja - Penurunan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) - Kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jaringan Jalan: - Rasio panjang jalan dengan luas wilayah - Rasio panjang jalan dengan kondisi tidak rusak per panjang jalan keseluruhan - Rasio panjang jalan dengan jumlah kendaraan umum roda empat Sanitasi: - Penurunan presentasi penduduk tanpa akses terhadap sanitasi Kesehatan: - Penurunan angka kematian bayi - Penurunan angka kematian ibu - Rasio jumlah penduduk dengan jumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya Pendidikan: - Rasio jumlah murid per jumlah sekolah - Rasio jumlah murid per jumlah guru - Rasio jumlah guru per jumlah sekolah Angka partisipasi sekolah: - Penurunan angka putus sekolah - Nilai rata-rata Ebta Murni/UAN Air bersih: - Akses terhadap air bersih Transportasi umum: - Rasio jumlah kendaraan umum roda 4 per 10.000 penduduk Kepegawaian : Rasio jumlah penduduk dengan jumlah PNS Pemda Keuangan : - Rasio PAD dengan jumlah penduduk Pemilu: - Rasio jumlah pemilih yang melakukan pemilihan dengan jumlah penduduk yang mempunyai hak pilih Komposisi partai politik dalam Pemilu: - Rasio jumlah partai politik pemenang Pemilu Lokal yang memperoleh kursi di Legislatif dengan jumlah seluruh Partai Politik peserta Pemilu Lokal Angka Kejadian Politik Praktis: - Kejadian politik praktis - Massa/demo dalam satu tahun

Sosial

2

Derajat Pelayanan Publik

Infrastruktur

Kebutuhan dasar

Pemerintahan

3

Derajat kehidupan demokrasi lokal

Politik

Sumber: Handbook SPPN RI, Bappenas 2006

39

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

TEMPLATE CONTOH TOLOK UKUR KINERJA URUSAN WAJIB DAN PILIHAN PEMERINTAHAN DAERAH MENURUT SKPD
Kode Urusan Fungsi dan Urusan Pelayanan umum Perencanaan Pembangunan SKPD Contoh Tolok Ukur Kinerja

1

BAPPEDA,dst

• Tingkat ketersediaan dan validitas informasi perencanaan pembangunan • Jumlah kerjasama pembangunan antar daerah • Tingkat disparitas pembangunan antar subwilayah • Tingkat kelengkapan rencana wilayah strategis • Tingkat kelengkapan rencana kawasan cepat tumbuh • Tingkat penanganan perencanaan wilayah tertinggal² Tingkat penanganan wilayah strategis • Tingkat penanganan wilayah cepat tumbuh • Tingkat penanganan perkembangan pusat-pusat kegiatan wilayah • Tingkat kesesuaian antara perencanaan pusat kegiatan dengan perkembangan actual • Tingkat penerapan perencanaan partisipatif • Tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan daerah • Tingkat kapasitas kelembagaan perencanaan pembangunan daerah • Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan daerah • Tingkat implementasi dokumen perencanaan daerah • Kualitas pelaksanaan Musrenbang • • • • • • • • • Tingkat kapasitas aparatur Tingkat pelayanan penyelenggaraan administrasi daerah Tingkat kapasitas pengelolaan keuangan daerah Tingkat professionalisme dan kompetensi staff Jumlah kasus penyalahgunaan wewenang Jumlah kasus KKN Tingkat pelayanan pengaduan masyarakat Jumlah kerjasama antar pemerintah daerah Jumlah peraturan daerah yang disusun

1

Pemerintahan Umum

DPRD, KDH&WKDH, SetDa, Sekretariat DPRD (Setwan), BPKD, Balitbang, Bawasda, Kantor Penghubung, Kecamatan, Kelurahan Badiklat, BKD, dst

1

Kepegawaian

• Tingkat kapasitas sumber daya aparatur • Tingkat keterampilan dan aparatur • Tingkat profesionalisme aparatur • • • • Tingkat ketersediaan data/informasi dan statistic daerah Tingkat penggunaan teknologi informasi untuk statistik daerah Tingkat validitas dan kemutakhiran data dan informasi daerah Tingkat kemudahan akses informasi

1

Statistik

Badan Statistik Daerah, Kantor Statistik Daerah, dst Kantor Arsip Daerah,dst

1

Kearsipan

• Tingkat kelengkapan administrasi kearsipan • Tingkat penerapan teknologi informasi dalam administrasi kearsipan • Tingkat penerapan teknologi informasi dalam pengelolaan pelestarian dokumen/arsip daerah • Tingkat pelayanan informasi kearsipan daerah • Tingkat keterbukaan informasi kearsipan daerah bagi masyarakat • Tingkat perkembangan media lokal dalam penyebarluasan informasi pembangunan daerah • Tingkat perkembangan media lokal dalam penyebarluasan informasi penyelenggaraan pemerintah daerah • Tingkat kapasitas SDM bidang komunikasi dan informasi • Akses masyarakat kepada informasi publik

1

Komunikasi dan Informatika

Dinas Informasi dan Komunikasi, Kantor Pengolahan Data Elektronik, dst

40

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

Kode Fungsi dan Urusan Urusan Pertahanan *) Ketertiban dan ketentraman Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri

SKPD

Contoh Tolok Ukur Kinerja

1

Dinas Kesbang Linmas, Dinas Ketentraman dan Ketertiban, Kantor SatPol PP

• • • • • • • • • • • •

Tingkat kriminalitas Jumlah kasus kriminalitas yang dapat diselesaikan Jumlah konflik sosial Tingkat ancaman konflik antar kelompok masyarakat Jumlah kasus pelanggaran PERDA Jumlah kasus peredaran narkoba Jumlah kasus penyalahgunaan narkoba Jumlah kasus illegal fishing Jumlah kasus illegal sand mining Jumlah kasus illegal logging Tingkat pendidikan politik masyarakat Ada/tidaknya sistem penanggulangan korban bencana alam

1

Ekonomi Perhubungan

Dinas Perhubungan, dst

• Kontribusi sektor perhubungan terhadap PDRB² Tingkat ketersediaan prasarana dan sarana/fasilitas perhubungan • Tingkat pelayanan prasarana dan sarana/fasilitas perhubungan • Tingkat pelayanan prasarana dan fasilitas LLAJ • Tingkat pelayanan prasarana dan sarana angkutan umum • Tingkat pelayanan prasarana dan sarana angkutan penumpang dan barang (darat, laut, udara) • Tingkat keselamatan/keamanan lalu lintas transportasi (darat, laut, udara) • Tingkat kecelakaan lalu lintas transportasi • • • • • • • Tingkat pengangguran terbuka Jumlah pekerja formal perdesaan/perkotaan Jumlah pekerja pada lapangan kerja kurang produktif Tingkat kesempatan kerja Kapasitas Balai Latihan Kerja Proporsi Tenaga Kerja Indonesia Terdidik Jumlah kasus pelanggaran/penyimpangan regulasi ketenagakerjaan Kontribusi sektor KUKM terhadap PDRB Tingkat kepastian usaha dan perlindungan hukum Laju pertumbuhan UMKM Laju pertumbuhan nilai ekspor produk UMKM Tingkat keterampilan SDM Usaha Mikro Akses ke permodalan pasar Kapasitas usaha dan keterampilan pengelolaan usaha kecil Tingkat investasi dalam PDRB Laju pertumbuhan investasi Ada/tidaknya sistem informasi penanaman modal Jangka waktu pengurusan prosedur perijinan start up dan operasi bisnis Tingkat keberdayaan masyarakat perdesaan Tingkat perkembangan lembaga ekonomi perdesaan Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa Tingkat kapasitas aparatur pemerintahan desa Tingkat kontribusi perempuan dalam pembangunan perdesaan

1

Tenaga Kerja

Dinas Tenaga Kerja, dst

1

Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

Dinas Koperasi dan UKM, dst

• • • • • • • • • • •

1

Penanaman Modal

Badan Penanaman Modal Daerah, dst

1

Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, dst

• • • • •

2

Pertanian

Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Peternakan, Dinas Ketahanan Pangan, dst

• • • •

Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kualitas SDM pertanian di perdesaan Cakupan bantuan beras bersubsidi pada keluarga miskin Akses terhadap kredit usaha pertanian dan sumberdaya permodalan • Tingkat ketahanan pangan kelompok miskin • Tingkat produksi bahan pangan protein hewani dan hasil ternak dan ikan

41

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

Kode Urusan

Fungsi dan Urusan

SKPD • • • • • • • •

Contoh Tolok Ukur Kinerja Tingkat produksi padi/beras Tingkat sarana hasil produksi pertanian Cakupan lahan beririgasi Kualitas pengelolaan Daerah Aliran Sungai Cakupan sistem penyuluhan Tingkat penggunaan teknologi tepat guna Nilai tambah hasil pertanian, peternakan, dan perikanan Tingkat infrastruktur perdesaan Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB Laju pertumbuhan luas hutan produksi Laju pertumbuhan luas Hutan Tanaman Industri Laju deforestasi Nilai tambah hasil hutan kayu Nilai tambah hasil hutan non kayu Cakupan sistem pengelolaan hutan yang berkelanjutan Cakupan penetapan kawasan hutan dalam tata ruang

2

Kehutanan

Dinas Kehutanan, dst

• • • • • • • •

2

Energi dan Sumberdaya Mineral

Dinas Pertambangan, dst

• Kontribusi sektor listrik, gas (dan air bersih) terhadap PDRB • Ketersediaan regulasi untuk pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan • Ketersediaan sistem pengawasan dan penertiban kegiatan rakyat yang berpotensi merusak lingkungan • Cakupan pelayanan kelistrikan • • • • • • • Kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap PDRB Tingkat perkembangan budidaya perikanan Tingkat perkembangan perikanan tangkap Ketersediaan sistem penyuluhan perikanan Tingkat pengelolaan produksi perikanan Tingkat pemasaran produksi perikanan Tingkat perkembangan kawasan budidaya laut, air payau, dan air tawar • Tingkat illegal fishing • • • • • • • • • • • • • • • Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB Ketersediaan program perlindungan konsumen Jumlah kerjasama perdagangan internasional/regional Tingkat pertumbuhan nilai ekspor Tingkat pertumbuhan nilai impor Tingkat efisiensi dan efektivitas pelayanan ekspor-impor Tingkat pertumbuhan realisasi omzet perdagangan per tahun Ketersediaan sistem pembinaan pedagang sektor informal Kontribusi sektor perindustrian terhadap PDRB Tingkat kapasitas Iptek sistem Produksi Tingkat penerapan standardisasi produk industri Laju pertumbuhan industri kecil dan menengah Tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri Volume ekspor produk industri dalam total ekspor daerah Ketersediaan kebijakan pengelolaan sentra-sentra industri potensial

2

Kelautan dan Perikanan

Dinas Kelautan dan Perikanan, dst

2

Perdagangan

Dinas Perdagangan, Dinas Pasar, dst

2

Perindustrian

Dinas Perindustrian, dst

2

Transmigrasi

Dinas Transmigrasi, dst

• Tingkat perkembangan areal transmigrasi • Jumlah transmigran yang berhasil dimukimkan • Akses transmigran kepada pelayanan pendidikan dan kesehatan • Ketersediaan program penyuluhan bagi transmigrasi lokal/ regional

1

Lingkungan hidup Penataan Ruang

Dinas Tata Ruang, dst

• Tingkat kelengkapan Rencana Tata Ruang (mulai RTRW sampai dengan RDTR) • Tingkat pemanfaatan rencana tata ruang sebagai acuan koordinasi dan sinkronisasi pembangunan antar sektor dan antar subwilayah

42

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

Kode Urusan

Fungsi dan Urusan

SKPD

Contoh Tolok Ukur Kinerja • Tingkat pengendalian pemanfaatan ruang • Jumlah konflik pemanfaatan ruang antar stakeholder setempat, antar instansi pemerintah, maupun antar kewenangan tingkatan pemerintahan • Perkembangan rasio luas kawasan lindung terhadap luas total wilayah • Proporsi rasio luas kawasan kritis terhadap luas total wilayah • Laju pertumbuhan luas kawasan bersifat kota • Tingkat penanganan kawasan terisolir

1

Lingkungan Hidup

Dinas Lingkungan Hidup, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, Dinas Pertamanan, Dinas Kebersihan, dst

• Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang • Tingkat pemanfaatan sumber daya alam • Cakupan sistem pengelolaan persampahan • Tingkat pencemaran lingkungan (air, tanah, udara) • Tingkat pelanggaran dan perusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup • Tingkat rehabilitasi/pemulihan sumber daya alam • Jumlah kasus kebakaran hutan • Jumlah DAS berkondisi kritis • Cakupan kawasan konservasi laut • Tingkat pengelolaan ekosistem pesisir-laut • Ketersediaan Early Warning System/Pernyataan Dini Bencana) • Luas daerah yang telah tercakup dalam sistem pendaftaran tanah • Cakupan informasi pertanahan • Tingkat penerapan teknologi informasi pertanahan • Jangka waktu penyelesaian administrasi pertanahan • Tingkat penyelesaian konflik-konflik pertanahan

1

Pertanahan

Badan Pertahanan Daerah

1

Perumahan dan fasilitas umum Pekerjaan Umum

Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Bina Marga, Dinas Pengairan, Dinas Pengawasan Bangunan dan Tata Kota, Dinas Cipta Karya, dst

• • • • • • • • • • • • • •

Tingkat aksesibilitas wilayah Tingkat mobilitas orang/barang Tingkat kondisi prasarana transportasi Tingkat resiko dan periode genangan banjir Jumlah kejadian bencana kekeringan Tingkat ketersediaan jaringan prasarana dan pengelolaan air baku Tingkat pemenuhan kebutuhan air untuk berbagai keperluan (rumah tangga, permukiman, pertanian, industri) Tingkat pengelolaan dan konservasi sumber daya air Tingkat pelayanan air minum Tingkat pelayanan air limbah bagi masyarakat miskin Tingkat pengendalian potensi konflik air Tingkat pengendalian pemanfaatan air tanah Tingkat perlindungan daerah pantai dari abrasi air laut Tingkat kesiagaan penanganan bencana alam Kontribusi sektor perumahan terhadap PDRB Luas dan sebaran kawasan kumuh Jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah Tingkat kemampuan penyediaan prasarana dan sarana rumah Tingkat kemantapan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman Tingkat pelayanan air bersih Tingkat pelayanan sanitasi Tingkat pelayanan penyehatan lingkungan (air limbah) Tingkat kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana pemakaman

1

Perumahan Rakyat

Dinas Pemukiman, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Pemakaman, dst

• • • • • • • • • •

43

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

Kode Urusan

Fungsi dan Urusan Kesehatan Kesehatan

SKPD

Contoh Tolok Ukur Kinerja

1

Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Sakit Jiwa, Rumah Sakit Paru-paru, Rumah Sakit Kebergantungan Obat, Dst

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • *

Umur harapan hidup Angka kematian bayi Angka kematian ibu melahirkan Tingkat prevalensi/kejadian gizi kurang pada anak balita Angka kasus anemia gizi besi pada ibu hamil Tingkat ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan Tingkat pemerataan obat dan perbekalan kesehatan Tingkat ketersediaan unit pelayanan kesehatan Tingkat keterjangkauan pelayanan kesehatan Jumlah kasus akibat pangan dan bahan berbahaya Jumlah kasus/kejadian penyakit menular Jumlah kasus penyakit malaria, DBD Tingkat prevalensi HIV/AIDS Persentase perilaku hidup sehat Akses penduduk terhadap sanitasi dasar Tingkat kunjungan penduduk miskin ke Puskesmas Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin Akses masyarakat kawasan perbatasan pada pelayanan kesehatan Proporsi tenaga dokter di Puskesmas Pemerataan tenaga kesehatan Tingkat pelayanan kesehatan Ibu dan bayi* Tingkat pelayanan kesehatan anak pra sekolah dan usia sekolah* Cakupan peserta KB aktif*² Cakupan pelayanan imunisasi* Cakupan pelayanan kesehatan jiwa Cakupan pelayanan gawat darurat Tingkat pencegahan/pemberantasan penyakit polio, TB Paru, dan ISPA* Jumlah institusi binaan untuk pelayanan kesehatan lingkungan beberapa contoh dari SPM bidang Kesehatan di Kab/kota. Selengkapnya dapat dilihat dalam KepMenKes No 1457/ MenKes/SK/X/2003 tentang Standard Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota Laju pertumbuhan penduduk Tingkat kelahiran Tingkat pelayanan kontrasepsi Kapasitas institusi daerah dalam pelaksanaan KB

1

Keluarga Berencana

BKKBD, dst

• • • •

1

Pariwisata dan budaya Kebudayaan

Dinas Kebudayaan, Permuseuman dst Dinas Pariwisata, Kebun Binatang, dst

• Ketersediaan kebijakan tentang pelestarian budaya lokal daerah • Jumlah program pengembangan kesenian dan kebudayaan daerah • Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB • Tingkat perkembangan kontribusi sektor pariwisata dalam PDRB • Tingkat perkembangan jumlah obyek wisata • Tingkat perkembangan jumlah wisatawan • Tingkat perkembangan kerjasama/kemitraan pemasaran pariwisata

2

Pariwisata

1

Agama *) Pendidikan Pendidikan

Dinas Pendidikan, Kantor Perpustakaan Daerah, dst

• Cakupan pelayanan pendidikan usia dini • Persentase penduduk yang selesai Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun • Angka partisipasi kasar penduduk yang mengikuti pendidikan menengah • Angka partisipasi kasar penduduk yang mengikuti pendidikan tinggi

44

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

Kode Urusan

Fungsi dan Urusan

SKPD

Contoh Tolok Ukur Kinerja • Tingkat mutu pendidik dan tenaga kependidikan pada jalur pendidikan formal/non formal • Angka buta aksara penduduk usia >15 th • Persentase penduduk miskin menyelesaikan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun • Akses masyarakat miskin terhadap pendidikan formal • Pemerataan pendidikan • Tingkat efektivitas manajemen berbasis sekolah²Jumlah anggaran pendidikan dari APBN/D • Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan pendidikan • Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dasar 9 tahun* • Angka Putus Sekolah (APS) pada pendidikan sekolah* dasar/sederajat • APS pada pendidikan sekolah menengah pertama/ sederajat* • APS pada pendidikan sekolah menengah atas/sederajat * beberapa contoh dari SPM bidang Pendidikan. Selengkapnya dapat dilihat dalam KepMenDikNas No 129a/ U/2004 tentang Standard Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan

1

Pemuda dan Olah Raga

Dinas Pemuda dan Olahraga, dst

• • • •

Tingkat kualitas pemuda (15-35 tahun) Sports Development Index (SDI) Prestasi olahraga dalam event-event internasional Ada/tidaknya kebijakan pengelolaan prestasi olahraga daerah • Tingkat ketersediaan prasarana dan sarana olahraga

1

Perlindungan sosial Kependudukan dan Catatan Sipil

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, dst

• Ada/tidaknya system administrasi kependudukan

1

Pemberdayaan Perempuan

Dinas Pemberdayaan Perempuan, dst

• Jumlah kebijakan daerah untuk peningkatan kualitas anak dan perempuan • Tingkat kesenjangan antara HDI dan GDI • Jumlah kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan • Akses perempuan terhadap pendidikan • Persentase penduduk perempuan berusia 10 th ke atas yang tidak/belum pernah sekolah • Persentase penduduk perempuan yang buta huruf • Akses perempuan terhadap layanan kesehatan • Angka Gender Empowerment Measurement (mengukur ketimpangan gender di bidang ekonomi (perempuan dalam angkatan kerja dan rata-rata upah di sektor non-pertanian), politik (perempuan di parlemen) dan pengambilan keputusan (perempuan pekerja profesional, pejabat tinggi, dan manajer)) • Akses perempuan untuk terlibat dalam kegiatan public • Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan • Tingkat keterwakilan perempuan di lembaga legislatif • Persentase perempuan dalam jabatan publik (PNS) • Jumlah (persentase) pekerja anak • Tingkat perlindungan perempuan • Tingkat kesehatan bagi ibu, bayi, dan anak • Tingkat/kualitas tumbuh kembang anak • Cakupan pelayanan pasangan usia subur yang tergolong masyarakat miskin

1

Keluarga Sejahtera

BKKBD, dst

45

M-5 PENYUSUNAN PROFIL DAERAH DAN PREDIKSI MASA DEPAN

Kode Urusan 1

Fungsi dan Urusan Sosial

SKPD Dinas Sosial, dst

Contoh Tolok Ukur Kinerja • Cakupan pembinaan gelandangan, pengemis, dan PMKS, anak jalanan, dan anak cacat • Akses kepada pelayanan sosial dasar bagi masyarakat miskin • Jumlah tenaga pelayanan social untuk berbagai jenis kecacatan • Peluang mengakses pelayanan umum • Persentase penurunan jumlah fakir miskin dan keluarga rentan sosial

Keterangan: 1 Kode Urusan Wajib 2 Kode Urusan Pilihan Sumber: LGSP Planning Team

46

M-6 KAJIAN TERHADAP RPJP-DAERAH

Tujuan

Mengkaji arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah termasuk pentahapan pembangunan berdasarkan skala prioritas atau proses pembangunan, yang menjadi acuan dalam penyusunan RPJMD. Kegiatan ini ditujukan untuk: · Mengetahui arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah dan relevansinya dengan rencana jangka menengah daerah yang akan disusun. · Mengetahui hal-hal prinsip yang harus dijadikan acuan dalam menentukan arah kebijakan pembangunan daerah dan program prioritas untuk periode rencana. · · Identifikasi butir-butir pokok dari rumusan visi, misi dan arah pembangunan jangka panjang daerah Kedudukan, peran, dan fungsi RPJMD dalam kebijakan pembangunan jangka panjang yang telah ditetapkan. Titik berat kajian review pada aspek arah kebijakan pembangunan yang terkait dengan peran dan fungsi daerah RPJMD, sesuai dengan periode perencanaan serta prioritas program yang akan dilaksanakan. FGD Tim Teknis/Kelompok Kerja Dokumen RPJP Daerah

Keluaran

Prinsip-prinsip

·

Metoda Informasi yang disiapkan Hal-hal penting yang harus diperhatikan

· ·

Hal-hal penting yang perlu mendapatkan review dari RPJPDaerah: · Isu strategis jangka panjang daerah · Arahan pembangunan daerah jangka panjang · Kesesuaian tahapan 5 tahunan pembangunan daerah dengan program RPJMD · Target kinerja capaian program pembangunan daerah jangka panjang · Kesesuaian visi, misi dan program KDH Terpilih dengan visi, misi pembangunan daerah jangka panjang

47

M-7 VISI, MISI DAN PROGRAM PRIORITAS KEPALA DAERAH TERPILIH

Pasal 76 ayat (2) Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah mengatur bahwa setiap calon kepala daerah pada waktu proses pemilihan kepala daerah diwajibkan untuk menyampaikan visi, misi dan programnya, baik secara lisan maupun tertulis kepada masyarakat. Pernyataan visi, misi dan program dari calon kepala daerah terpilih merupakan dasar/acuan dalam penyusunan RPJM Daerah dan penyusunan Renstra SKPD. Visi, misi, dan program/agenda kepala daerah terpilih dapat langsung digunakan dengan selesainya PILKADA untuk kepentingan penyusunan RPJMD maupun Renstra SKPD tanpa harus menunggu pelantikan Kepala Daerah terpilih. Hal ini perlu dilakukan mengingat waktu penyelesaian dokumen RPJMD yang ditentukan UU-25/2004 sangat singkat.

M-8 KAJIAN TERHADAP VISI, MISI DAN PROGRAM PRIORITAS KEPALA DAERAH TERPILIH Tujuan Visi, misi, dan program Kepala Daerah merupakan acuan dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui ke arah mana pembangunan dan prioritas program yang menjadi sasaran Kepala Daerah terpilih sesuai janji yang disampaikan kepada masyarakat pada waktu proses pemilihan kepala daerah. Tujuan kegiatan ini: · Memenuhi janji Kepala Daerah terpilih kepada masyarakat · Memformulasikan visi, misi, dan program prioritas kepala daerah terpilih untuk dijabarkan di dalam program dan kegiatan yang akan dilaksanakan melalui RPJMD dan kegiatan tahunan yang akan dibiayai melalui APBD · Untuk mengklarifikasi visi, misi, dan program Kepala Daerah terpilih, serta lebih mempertegas arah dan kebijakan pembangunan daerah. · · · Benang merah antara visi, misi, dan program pembangunan daerah Formulasi fokus dan prioritas program Kepala Daerah Identifikasi kebutuhan sumber-sumber pembangunan dalam mewujudkan prioritas program Kepala Daerah Sinkronisasi antara visi, misi, dan program Kepala Daerah terpilih Rumusan program harus jelas fokusnya dan apa prioritasnya Kajian prioritas program dikaitkan dengan kemungkinan pelaksanaannya. 48

Keluaran

Prinsip-prinsip

· · ·

M-8 KAJIAN TERHADAP VISI, MISI DAN PROGRAM PRIORITAS KEPALA DAERAH TERPILIH

Metoda

Focus Group Discussion atau langsung mengadakan konsultasi dengan Kepala Daerah Terpilih dan Perwakilan Partai Politik pendukungnya (TIM Sukses) · Pernyataan rumusan visi, misi, dan program Kepala Daerah terpilih. Umumnya rumusan pernyataan visi, misi dan program pokok calon Kepala Daerah terpilih lebih bernuansa politis dan bersifat umum, dan program- programnyapun seringkali bersifat umum dan tidak fokus untuk mengatasi permasalahan/ isu yang ada di daerah, demikian pula tidak terukur, sehingga tidak dapat dijadikan acuan dalam mengukur kinerja Kepala Daerah. Untuk mengatasi hal ini dalam konsultasi dengan KDH Terpilih perlu dicapai kesepakatan tentang : (1) fokus tema pembangunan yang diinginkan; (2) agenda program yang sesuai dengan profil dan isu pembangunan daerah; (3) indikator kinerja utama yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan pemerintahan Kepala Daerah. Dalam kajian perlu lebih diidentifikasi fokus dan besaran program yang layak untuk dilaksanakan pada masa lima tahun pemerintahannya dalam rangka menjabarkan/mengelaborasi rumusan program yang disusun sewaktu proses Pilkada.

Informasi yang Disiapkan Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

·

·

Susunlah daftar 5 hingga 6 core values yang akan menjadi landasan operasional untuk mencapai misi (dari pandangan stakeholders, organisasi masyarakat, pemerintah daerah, DPRD dan komponen masyarakat lainnya) Perumusan misi perlu menjawab: Siapa kita? Apa tujuan kita? Masalah utama apa yang kita perlu tangani? Apa yang membuat kita unik atau ’distinct’ sebagai pemerintah daerah atau organisasi? Nilai-nilai utama (core values) apa yang akan memandu kita mencapai misi

Visi yang benar memenuhi syarat sbb: 1. Mengemukakan secara jelas kemana arah yang dituju 2. Mudah dibaca dan dipahami 3. Merefleksikan ‘spirit’ dari pemerintah daerah 4. Masyarakat dapat ‘mengisi’ dan memberikan ‘kontribusi’ 5. Sifatnya ‘kompak’ dapat mempedomani pengambilan keputusan 6. Mendapatkan perhatian masyarakat 7. Dapat dirasakan apabila mendengarkan 8. Memberikan pemahaman tentang posisi tujuan individu dalam tujuan bersama 9. Memberikan ‘motivating force’ 10. Memberikan tantangan untuk mencapainya

49

M-9 ANALISIS KEUANGAN DAERAH

Tujuan

·

Kegiatan ini merupakan kajian terhadap kondisi keuangan daerah menurut sumber-sumbernya, didasarkan atas data perkembangan historis keuangan daerah beserta kecenderungannya, potensi daerah, kebijakan keuangan negara serta peraturan perundangan yang berlaku. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkirakan kemampuan keuangan daerah dalam membiayai pembangunan, baik yang bersumber dari DAU, dana bagi hasil, Pendapatan Asli Daerah maupun sumber keuangan lainnya. Kerangka Ekonomi Jangka Menengah Daerah merupakan kerangka prakiraan terhadap besaran pendapatan, pengeluaran dan pembiayaan. Kerangka Pendanaan (Resource Envelope) merupakan gambaran kemampuan pendanaan daerah untuk membiayai belanja pemerintah. Kerangka fiskal daerah adalah kerangka prakiraan terhadap pendapatan, hibah, pinjaman, dan belanja daerah. Proyeksi fiskal daerah adalah proyeksi terhadap pendapatan, hibah, pinjaman dan belanja daerah. Target fiskal daerah adalah sasaran pendapatan dari sumbersumber keuangan daerah Celah fiskal adalah selisih antara kebutuhan fiskal daerah dan kapasitas fiskal daerah Perkiraan proporsi alokasi dana pembangunan di daerah Perkiraan potensi sumber-sumber dana pembangunan lainnya. Kemampuan keuangan daerah merupakan faktor pembatas dalam menyelenggarakan pemenuhan kebutuhan pembangunan daerah. Data historis perkembangan keuangan daerah serta peraturan perundangan yang terkait keuangan negara/daerah merupakan bahan kajian utama dalam analisis keuangan. Kerja bersama dalam Tim dengan dibantu oleh tenaga ahli keuangan daerah Identifikasi sumber-sumber keuangan daerah, dan kemungkinan potesi sumber yang lainnya. Kompilasi historis perkembangan keuangan daerah menurut sumbernya untuk 5 tahun ke belakang yang dirinci menurut sumbernya. Analisis terhadap pola perkembangan keuangan yang terjadi untuk setiap sumber keuangan termasuk menilai kalau terjadi kenaikan/penurunan yang drastis perlu ditelusuri faktor penyebabnya.

Keluaran

·

·

· · · · · ·

Prinsip-prinsip

·

·

Metoda

·

Langkah-langkah

· ·

·

50

M-9 ANALISIS KEUANGAN DAERAH

· · Informasi yang Disiapkan ·

Analisis proyeksi pendapatan keuangan daerah dengan mempertimbangkan peraturan perundangan yang berlaku Analisis prakiraan kebutuhan biaya belanja pemerintah Data perkembangan keuangan daerah menurut sumber dananya untuk periode 5 tahun ke belakang, baik untuk anggaran pendapatan maupun anggaran belanja. Ketentuan peraturan perundangan yang terkait dengan keuangan negara dan keuangan daerah. Model-model analisis keuangan daerah Mengingat keuangan daerah merupakan komponen penting dalam RPJMD maka sangat disarankan diperbantukan tenaga ahli keuangan daerah (dari perguruan tinggi atau konsultan lokal atau nara sumber) dalam menganalisis dan memproyeksikan kemampuan keuangan daerah Nomenklatur dan struktur APBD yang digunakan tahun 2006 agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sehingga untuk keperluan analisis perlu dilakukan penyesuaianpenyesuaian lebih dulu.

·

Hand out Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

· ·

·

PROYEKSI KEUANGAN DAERAH
Arah Kebijakan Keuangan Daerah adalah kebijakan penyusunan program dan indikasi kegiatannya pada pengelolaan pendapatan dan belanja daerah secara efektif dan efisien Apa yang dimaksud dengan Kondisi Keuangan? 1. Kemampuan pemerintah daerah untuk memenuhi pembayaran kewajiban bulanannya dalam jangka pendek (Solvabilitas Kas/Cash Solvency) 2. Kemampuan untuk membiayai pengeluaran yang sudah dicanangkan untuk tahun fiskal/ anggaran bersangkutan (Solvabilitas anggaran/ Budgetary Solvency) 3. Kemampuan untuk menjaga keseimbangan belanja dan pendapatan dalam jangka panjang (Solvabilitas jangka-panjang/Long-run Solvency) 4. Kemampuan untuk menyediakan pelayanan ditingkat yang ditetapkan bagi kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat dan warganya (Solvabilitas tingkat-layanan/Servicelevel Solvency) Proyeksi keuangan daerah: Adalah ramalan pola kondisi keuangan daerah pada periode tahun yang akan datang, didasarkan pada kecenderungan masa lalu, dengan asumsi bahwa masa yang akan datang memiliki pola yang sama dengan masa lalu. Jenis-jenis masa depan: • Masa depan potensial: Situasi yang mungkin terjadi berbeda dengan keadaan sekarang. Mis: bencana alam • Masa depan masuk akal: Masa depan yang dapat terjadi jika pembuat kebijakan melakukan intervensi. Misal: Bencana kelaparan dapat dihindarkan apabila pemerintah melakukan kebijakan untuk menjaga stok pangan • Masa depan normatif: Masa depan yang seharusnya terjadi bila dilakukan serangkaian kebijakan yang tertata. Tujuan Proyeksi: 1. Menilai dan memahami kondisi keuangan pemerintah daerah serta faktor-faktor yang mempengaruhinya 2. Mengidentifikasi persoalan keuangan saat ini dan yang akan muncul 3. Mengidentifikasi kebijakan yang akan diambil dengan segala konsekuensinya 4. Mengidentifikasi strategi dan kebijakan yang dapat diambil guna mempengaruhi perubahan sehingga akan mengurangi resiko yang lebih besar

51

M-9 ANALISIS KEUANGAN DAERAH

Manfaat proyeksi: 1. Memberi informasi kecenderungan kondisi keuangan daerah dalam kurun waktu mendatang apakah defisit atau surplus 2. Menjaga keseimbangan pendapatan dan belanja 3. Menjadi acuan untuk membuat perencanaan program/kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan dalam besaran maksimal yang mungkin dapat dicapai beserta sumbersumbernya. 4. Menjadi acuan untuk membuat perencanaan pengeluaran seefisien mungkin 5. Menjadi acuan untuk membuat skenario kebijakan untuk pembiayaan program pembangunan dalam berbagai kemungkinan situasi keuangan (surplus atau defisit) sehingga dapat mempertahankan tingkat pelayanan public Substansi Proyeksi Keuangan: 1. Mengkaji perkembangan kondisi riil keuangan dalam seluruh komponen keuangan daerah 2. Menyimpulkan pola perkembangan dari kajian kondisi riil tersebut. 3. Mengacu pola tersebut dibuat prediksi dan target capaian dari seluruh komponen keuangan daerah dalam kurun waktu yang disepakati bersama. 4. Membuat rencana tindak untuk mengusahakan tercapainya apa yang sudah ditargetkan.

Komponen Keuangan Daerah (APBD

Pembiayaan

Langkah-langkah Proyeksi: 1. Analisis Input: a. data-data komponen APBD dalam beberapa tahun terakhir (pendapatan, belanja, penerimaan / pengeluaran) b. Asumsi-asumsi: laju inflasi, pertumbuhan PDRB 2. Analisis kecenderungan perkembangan masing-masing komponen dalam kurun waktu tersebut (metode rerata pertumbuhan) 3. Proyeksi berdasar kecenderungan tersebut. 4. Rencana tindak lajut atas hasil proyeksi. Teknik-teknik yang dipakai untuk proyeksi: 1. Analisa trend: – Parameter atau Variabel – Pertumbuhan periode sebelumnya 2. Analisis rasio 3. Econometri 4. Regresi

Substansi Proyeksi Keuangan: 1. Mengkaji perkembangan kondisi riil keuangan dalam seluruh komponen keuangan daerah 2. Menyimpulkan pola perkembangan dari kajian kondisi riil tersebut. 3. Mengacu pola tersebut dibuat prediksi dan target capaian dari seluruh komponen keuangan daerah dalam kurun waktu yang disepakati bersama. 4. Membuat rencana tindak untuk mengusahakan tercapainya apa yang sudah ditargetkan.

Parameter atau Variabel tertentu - PDRB Manfaat : · Sebagai evaluasi terhadap tingkat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi suatu daerah · Untuk mengetahui struktur perekonomian suatu daerah · Sebagai salah satu indikator mengenai tingkat kemakmuran suatu wilayah/ daerah dengan mengetahui besarnya pendapatan perkapita · Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan/ perubahan harga (inflasi/deflasi)

52

M-9 ANALISIS KEUANGAN DAERAH

· Sebagai salah satu bahan evaluasi maupun sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan untuk meletakkan dasar Perencanaan Pembangunan dimasa yang akan datang. - Pertumbuhan Jumlah penduduk - Laju Inflasi Pertumbuhan Periode sebelumnya Jlh th akhir-Jlh th awal X 100% = …. % Jlh th awal Memperkirakan Jumlah Tahun Berikutnya: (100 + Angka Pertumbuhan) x (Jlh th sblnya) Proyeksi Pendapatan dan Belanja Daerah -Trend-

proyek/kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan (cost recovery); • DSCR < 2,5; Daerah tidak dapat melakukan pinjaman baru. Contoh Kasus Proyeksi Keuangan Perkembangan Pendapatan Daerah di Kabupaten Purworejo, Tahun 1999/2000-2004 (dalam ribuan rupiah)

Contoh: Perkembangan Belanja di Kabupaten Purworejo, Tahun 1999/2000-2003 (dalam jutaan rupiah)

Analisis Kemampuan Pinjaman (sesuai SE Mendagri 050/2020/SJ) Menentukan Nilai Pendapatan Daerah Formulasi : Y = P + M – OM Y = Pendapatan Daerah P = Pendapatan Asli Daerah M = Pajak Daerah, BPHTB, Penerimaan SDA, dan Bagian Lainnya OM=Belanja Operasi dan Pemeliharaan, Belanja Modal (wajib tidak bisa dihindarkan) Menentukan Nilai DSCR Formulasi: DSCR = Y / C Y = Pendapatan Daerah C = Besaran Kewajiban pinjaman ditambah biaya lainnya Syarat/ketentuan: • DSCR > 2,5; Daerah dapat melakukan pinjaman baru; • DSCR = 2,5; Daerah dapat melakukan pinjaman baru, dengan syarat untuk Pada tahun 2003 Kabupaten Purworejo mengalami defisit sebesar Rp 14,45 miliar. Sementara itu pada tahun 2004 Kabupaten Purworejo mengalami defisit sebesar Rp 37,40. Dengan melihat besaran-besaran yang menentukan dan mempengaruhi Pinjaman Daerah, seperti PAD, DAU, Dana Bagi Hasil (Pajak dan Bukan Pajak), Bagi Hasil Dana Reboisasi dan Besaran Belanja Wajib; proyeksi plafon pinjaman yang sebenarnya dapat dijadikan alternatif pembiaayaan pembangunan daerah tidak

53

M-9 ANALISIS KEUANGAN DAERAH

dilakukan. Hal ini semata-mata untuk menjaga prinsip kehati-hatian dengan harapan beban defisit untuk masa-masa mendatang tidak semakin besar. Contoh: Permasalahan pendapatan di Kab. Purworejo: a. Rendahnya sumbangan PAD terhadap total pendapatan daerah (6,87 %) untuk kurun waktu 2000 – 2004 b. Rendahnya bagi hasil pajak (5,7%) dan bagi hasil non pajak (0,25%) terhadap total pendapatan daerah c. Belum optimalnya dan masih belum didatanya dengan baik hasil-hasil pembiayaan dari sumber swadaya masyarakat. d. Belum banyaknya model-model kemitraan yang dijalin dengan pihak swasta, beserta besaran nilai-nilai proyek yang dilaksanakan. Hal ini akan menyulitkan untuk proses hagi hasil di kemudian hari. Contoh: Matriks Potensi Sumber Pendapatan Asli Daerah dengan menggunakan matrik Potensi untuk memproyeksikan perkembangan sumber pendapatan di Kabupaten Purworejo, Tahun 20002003

Proyeksi alokasi dana untuk pembiayaan program pembangunan: 1. Perlu diidentifikasi terlebih dahulu sumber pembiayaan (asal pendanaan) yang mungkin diraih: a. APBN b. APBD Provinsi c. Kemitraan dengan swasta d. Swadana masyarakat e. Pinjaman 2. Perlu disepakati diantara stakeholders dan penanggungjawab pelaksana program yang besangkutan untuk menentukan model alokasi dana yang akan dibagi untuk programprogram 3. Asumsi-asumsi yang bisa digunakan untuk penentuan alokasï: a. Jumlah penduduk wilayah sasaran perencanaan b. Luas wilayah c. Lingkup program investasi Contoh: Dengan memasukkan unsur-unsur proyeksi sumber-sumber pembiayaan di Kabupaten Purworejo selama tahun 2005-2010 yang terdiri dari: (i) Proyeksi Pendapatan Daerah; (ii) Proyeksi Belanja Wajib; (iii) Kekuatan Anggaran Daerah (mulai tahun 2006-2010); (iv) Swadaya Masyarakat; dan (v) Partisipasi Swasta dengan tidak memasukkan plafon Pinjaman; dapat dihasilkan proyeksi dana yang tersedia untuk pembiayaan program investasi yang selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Proyeksi Total Dana Tersedia untuk ProgramProgram Pembangunan di Kabupaten Purworejo, Tahun 2005-2010 (dalam ribuan rupiah)

Contoh: Rencana Tindak peningkatan pendapatan berdasarkan hasil analisis permasalahan dan potensi sumber pendapatan

Sumber: Materi Fasilitasi Proyeksi Keuangan Daerah (Rutiana Dwi Wahyuningsih)

54

M-10 KAJIAN RTRW-D

Tujuan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengkaji arahan pembangunan daerah untuk perencanaan jangka menengah daerah dikaitkan dengan kebijakan tata ruang kabupaten/kota. Kegiatan ini ditujukan untuk: · Terformulasikan arah kebijakan pembangunan tata ruang daerah/kota untuk jangka panjang maupun jangka menengah · Teridentifikasi potensi-potensi pengembangan ruang yang merupakan bagian penting dalam penentuan arah pembangunan daerah. · Supaya arahan pembangunan jangka menengah daerah sesuai dengan kebijakan tata ruang · Hasil identifikasi arahan kebijakan pengembangan ruang terbangun beserta kinerja pencapaiannya · Arah pengembangan fungsi-fungsi kegiatan daerah/kota serta penempatan pusat-pusat kegiatan menurut periode perencanaan ·· Kebijakan pengembangan ruang dan arahan fungsi daerah tergambarkan secara jelas · Prioritas pembangunan ruang beserta fungsinya menurut RTRW kabupaten/kota tergambarkan secara jelas. · Perbandingan antara rencana dengan pencapaian kinerja beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya teridentifikasi Analisis Tim Teknis/Kelompok Kerja Dokumen RTRW Kabupaten/Kota

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda Informasi yang Disiapkan Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

Hal-hal yang perlu mendapatkan review dari dokumen RTRW · Status dan kondisi ketersediaan penataan ruang daerah untuk berbagai tingkatan rencana · Kualitas penataan ruang daerah sebagai alat untuk development controlle · Perwilayahan pembangunan daerah · Daya dukung daerah untuk menampung pembangunan · Isu pemanfaatan ruang daerah (illegal logging, illegal sand mining, alih fungsi lahan pertanian produktif, gangguan fungsi lindung (hancurnya terumbu karang, exploitasi hutan secara berlebihan, gangguan pada ekosistem lingkungan) · Isu konflik antar kepentingan, pengendalian dan penertiban pemanfaatan ruang · Kesenjangan pembangunan antar wilayah · Peraturan dan penerapan sanksi pelanggaran penataan ruang · Kebutuhan revisi RTRW, RTDR

55

M-11 REVIEW RPJMD PROVINSI DAN RPJM NASIONAL

Tujuan

Mengkaji visi dan misi pembangunan serta arah kebijakan dan program pembangunan, baik dalam lingkup nasional, maupun dalam lingkup regional provinsi yang berkaitan dengan daerah yang akan disusun RPJMD. Secara spesifik bertujuan untuk: · Mengetahui isu strategis nasional dan regional serta keterkaitan dengan daerah perencanaan. · Mengetahui strategi pembangunan daerah dan strategi pembangunan nasional serta dampaknya terhadap daerah perencanaan. · Mengetahui program-program pembangunan dalam lingkup regional dan nasional, yang dapat disinergikan dengan program daerah. · Mengetahui hal-hal prinsip yang harus diperhatikan dalam menentukan prioritas program maupun dalam menentukan arah-arah kebijakan. · Gambaran visi, misi, dan arah pembangunan nasional dan provinsi untuk jangka menengah dan kesesuaiannya dengan daerah perencanaan. Isu strategis nasional dan regional, serta keterkaitan dan dampaknya dengan daerah perencanaan, Kedudukan, peran, dan fungsi daerah perencanaan dalam kebijakan pembangunan nasional dan provinsi jangka menengah. Rumusan strategi pembangunan, kebijakan umum, dan program pembangunan nasional maupun regional provinsi dan keterkaitan serta dampaknya dengan daerah perencanaan. Titik berat kajian review pada aspek kebijakan yang terkait dengan peran dan fungsi daerah perencanaan, serta prioritas program yang akan dilaksanakan Pemerintah Pusat maupun Pemda Provinsi yang berdampak terhadap daerah perencanaan.

Keluaran

· ·

·

Prinsip-prinsip

·

Metoda Informasi yang Disiapkan Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

Analisis Tim Teknis/Kelompok Kerja · · · Dokumen RPJM Nasional Dokumen RPJM Provinsi Sinergitas antara RPJM Nasional dengan RPJMD agar pembangunan daerah dapat mengoptimalkan peranan dan sumber daya Pusat Sinergitas antara RPJM Provinsi dengan RPJMD agar pembangunan daerah dapat mengoptimalkan peranan dan sumber daya Provinsi

·

56

M-12 ORIENTASI RENSTRA SKPD

Tujuan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengadakan sosialisasi/ lokakarya tentang ketentuan sistem perencanaan daerah bagi anggota Tim Penyusun dokumen Renstra SKPD, khususnya tentang penyusunan dokumen Renstra SKPD dan keterkaitannya dengan dokumen perencanaan daerah lainnya. Kegiatan ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui ketentuan regulasi yang berkaitan dengan proses dan mekanisme pelaksanaan penyusunan Renstra SKPD. 2. Mengetahui substansi dokumen Renstra SKPD yang menjadi kewajiban setiap SKPD serta saling keterkaitan antar dokumen daerah. 3. Mengetahui peran dan fungsi setiap kelompok pemangku kepentingan dalam proses perencanaan Renstra SKPD. 1. Pemahaman ketentuan peraturan perundangan yang mengatur sistem perencanaan 2. Pengetahuan substansi pokok dan prinsip-prinsip dasar untuk setiap dokumen perencanaan daerah. 3. Pemahaman dan kemampuan untuk menyusun setiap Renstra SKPD, serta proses yang partisipatif yang harus dilakukan. · Peserta lokakarya/sosialisasi orientasi Renstra SKPD adalah staf SKPD yang dicalonkan menjadi anggota Tim Teknis Penyusunan Dokumen serta para pengambil keputusan di tingkat SKPD Dalam kegiatan orientasi Renstra SKPD perlu juga melibatkan peserta yang berasal dari non pemerintah, seperti Perguruan tinggi setempat, serta organisasi masyarakat dan LSM yang punya kompetensi dan atau keterkaitan langsung dengan bidang SKPD.

Keluaran

Prinsip-prinsip

·

Metoda Langkah-langkah

Lokakarya/Sosialisasi · Kepala SKPD menyusun rancangan agenda kegiatan penyusunan Renstra SKPD mengacu pada kalender perencanaan penyusunan RPJMD yang disusun Bappeda. Kepala SKPD menyusun rancangan susunan Tim Penyusun Renstra SKPD serta rincian tugas dan fungsinya. Kepala SKPD melakukan identifikasi kemungkinan individu dari NGS yang berpotensi untuk dicalonkan menjadi anggota Tim Penyusun, serta identifikasi lembaga atau individu-individu yang potensial untuk diajak sebagai mitra dialog atau peserta FGD. Kepala SKPD melakukan persiapan penyelenggarakan lokakarya orientasi Renstra SKPD, baik secara mandiri maupun melalui kerjasama dengan fasilitator/mitra atau Bappeda untuk menyelenggarakan persiapan acara.

· ·

·

57

M-12 ORIENTASI RENSTRA SKPD

·

Kepala SKPD mengundang calon-calon anggota Tim Penyusun dan lembaga/individu dari NGS untuk mengikuti lokakarya orientasi Renstra SKPD. UU No 17/2003 tentang Keuangan Negara UU No 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara UU No 15/2004 tentang Tanggung Jawab Keuangan Daerah UU No 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah PP No 39/2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Rencana Pembangunan PP No 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah PP No 65/2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. PERMENDAGRI No 6/2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal PERMENDAGRI No 13/2006 Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah SE Mendagri tentang Penyusunan RPJP-D dan RPJM-D SEB Mendagri dan MenPPN/Ketua Bappenas 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang 2007

Informasi yang Disiapkan

1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12)

M-13 PEMBENTUKAN TIM PENYUSUN RENSTRA SKPD

Tujuan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membentuk Tim Penyusun dokumen Renstra SKPD, yang anggotanya terdiri dari unsur SKPD yang bersangkutan ditambah dengan unsur perwakilan NGS yang mendalami permasalahan terkait dalam bidang SKPD yang bersangkutan (Forum Stakeholder SKPD apabila sudah terbentuk). Tujuannya adalah terbentuknya Tim Teknis yang bertanggung jawab dalam penyiapan dokumen Renstra SKPD. · · Terbentuknya Tim Penyusun Renstra SKPD Teridentifikasinya kelompok/individu atau lembaga sebagai narasumber dan mitra diskusi

Keluaran

Metoda Langkah-langkah

Seleksi dan koordinasi · · · Rumuskan kriteria, tugas dan fungsi serta kewajiban-kewajiban Tim Penyusun Renstra SKPD Identifikasi individu dari SKPD maupun NGS yang berpotensi untuk ditugaskan sebagai Tim Penyusun Renstra SKPD Buatlah skenario susunan Tim Penyusun Renstra SKPD, yang terdiri atas unsur SKPD yang bersangkutan ditambah kalau 58

M-13 PEMBENTUKAN TIM PENYUSUN RENSTRA SKPD

·

·

·

mungkin dengan unsur perwakilan NGS yang mendalami permasalahan terkait dalam bidang SKPD yang bersangkutan. Diskusikan kesiapan calon anggota Tim penyusun Renstra SKPD, terutama bila melibatkan anggota tim yang berasal dari NGS Buatkan surat dari Kepala SKPD tentang pernyataan kesediaan calon anggota terpilih dari unsur NGS untuk menjadi anggota Tim Penyusun serta kewajiban-kewajibannya, yang diketahui/disetujui oleh kepala lembaga yang bersangkutan. Buat Surat Keputusan Kepala SKPD tentang Penetapan Tim Penyusunan Renstra SKPD. Daftar kandidat/calon anggota Tim penyusun Ketentuan/panduan yang mengatur pembentukan Tim Penyusun Renstra SKPD.

Informasi yang Disiapkan

· ·

Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan Template

Perlu memperhatikan PERMENDAGRI No 13/2006 sebagai kerangka pendekatan dalam penyusunan Tim Renstra SKPD yaitu ruang lingkup program dan kegiatan yang menjadi cakupan SKPD Susunan Organisasi Tim Penyusun Renstra SKPD

No 1

Jabatan dalam Tim

Lembaga

1 2 3 4

Penanggung jawab Ketua Sekretaris Anggota Forum SKPD - Unsur SKPD terkait - DPRD - Perguruan Tinggi - LSM - Tokoh masyarakat - Dunia usaha/industri - Asosiasi/organisasi Profesi

Kepala SKPD Kepala Bagian Perencanaan Staf SKPD

59

M-14 PENYUSUNAN RENCANA KERJA PENYIAPAN DOKUMEN RENSTRA SKPD

Tujuan

Menyusun rencana kerja penyiapan dokumen Renstra SKPD beserta kalender dan pembagian tugasnya, yang menjadi pedoman bagi Tim Penyusun dalam melaksanakan kegiatannya. Kegiatan ini bertujuan untuk: · Menyediakan kejelasan mengenai jenis dan tahapan kegiatan yang harus dilaksanakan · Memberikan kejelasan pembagian tugas bagi setiap anggota Tim Penyusun · Menyediakan acuan berkaitan dengan kegiatan yang harus dilakukan, target waktu penyelesaian setiap tahapan kegiatan termasuk yang berkaitan dengan proses-proses pelibatan masyarakat. · Rincian jenis dan tahapan kegiatan · Kalender kegiatan termasuk forum-forum atau kegiatan yang akan melibatkan stakeholder · Daftar Isi Dokumen Renstra SKPD termasuk muatan pokok dari setiap bab/sub bab. · Daftar atau format kebutuhan jenis data dan informasi · Pembagian kerja antar anggota Tim · Rencana kerja yang disusun harus jelas untuk setiap tahapan kegiatan, kapan dimulainya dan harus diselesaikan aktivitas. · Dalam kalender kegiatan juga harus dapat memperlihatkan, jenis kegiatan apa saja yang dapat dilakukan secara simultan dengan kegiatan lainnya, dan tahapan kegiatan apa yang harus menunggu tahapan kegiatan lainnya, dan lintasan kritisnya. Lokakarya atau Rapat Tim Teknis · Buatlah rancangan/draft rencana kerja penyusunan Renstra SKPD oleh Ketua Tim Penyusun, berupa tahapan dan rincian kegiatan (termasuk kegiatan penjaringan aspirasi, forum-forum diskusi, lokakarya, dan seminar), schedule kegiatan, rancangan daftar isi dokumen Renstra SKPD, serta identifikasi kebutuhan data dan sumber data. · Lakukan pertemuan seluruh anggota Tim Penyusun untuk membahas, mematangkan, dan menyepakati rancangan rencana kerja dan rancangan daftar isi dokumen Renstra SKPD. · Sepakati pembagian kerja dan jadwal kegiatan/kerja setiap anggota Tim Penyusun, serta agenda pertemuan tim · Visi, misi, dan agenda/program pokok calon Kepala Daerah terpilih, atau calon-calon kepala daerah (bila PILKADA sedang dalam proses pelaksanaan pemilihan). · Ketentuan batasan waktu penyelesaian setiap tahapan kegiatan yang telah diatur dalam peraturan perundangan · Kalender perencanaan yang dikeluarkan Bappeda. 60

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda Langkah-langkah

Informasi yang Disiapkan

M-14 PENYUSUNAN RENCANA KERJA PENYIAPAN DOKUMEN RENSTRA SKPD

Template

· ·

SE Mendagri Nomor 050/2020/SJ tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah. Kalendar Penyusunan RPJMD dan Renstra SKPD yang ditetapkan Kepala Bappeda

M-15 PENGUMPULAN DAN PEMUTAKHIRAN DATA/INFORMASI SKPD

Pengantar

Merupakan tahapan awal dari setiap proses perencanaan pembangunan. Pemutakhiran data dan informasi diperlukan untuk menjamin terdapatnya kualitas dalam pengambilan keputusan perencanaan. Memutakhirkan data dan informasi yang dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan analisis kinerja pelayanan dan perencanaan strategis SKPD sehingga setiap rumusan kebijakan, program dan kegiatan didasarkan atas data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan (akuntabel). Kompilasi data yang sistematis dan lengkap yang meliputi data dasar sesuai bidang SKPD, pencapaian kinerja saat ini, pola perkembangan masa lalu dan aspek kebijakan serta peraturan perundangan yang terkait SKPD. · · · Data/informasi yang dikumpulkan harus valid dan sesuai dengan kebutuhan penyusunan Renstra SKPD Kompilasi data/informasi melalui pendekatan partisipatif dan interaktif, terbuka terhadap masukan baru. Bila terjadi perbedaan data antara satu sumber dengan sumber data lainnya, maka perlu kesepakatan data mana yang akan diambil dengan pertimbangan validasi dan kompetensi sumber.

Tujuan

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda Template
Urusan Layanan SKPD (1) 1

Penyepakatan Kinerja Pelayanan SKPD dan Kompilasi Data Profil Kinerja Pelayanan SKPD
Capaian Kinerja SKPD Saat ini (3)

Tolok Ukur Kinerja (2) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

2

3

61

M-16 PENYUSUNAN PROFIL PELAYANAN SKPD DAN PREDIKSI JANGKA MENENGAH

Pengantar

Profil merupakan instrumen penting perencanaan daerah, yang ditujukan untuk mengidentifikasi, mengorganisasikan, dan mengkoordinasikan informasi yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan dan kebijakan perencanaan. Profil Pelayanan SKPD menyediakan potret kinerja pelayanan SKPD masa sekarang/eksisting. Apabila profil dan kinerja pelayanan SKPD dapat berupa ‘time series’ maka profil akan dapat menunjukkan perkembangan atau kemajuan kinerja pelayanan SKPD dari masa ke masa dan dapat diprediksi kemungkinan kinerja pelayanan untuk masa yang akan datang. Penyusunan Pelayanan SKPD dan prediksi jangka menengah dimaksudkan untuk memetakan gambaran umum daerah perencanaan, identifikasi terhadap berbagai aspek yang menonjol dan strategis, kinerja perkembangan pelayanan SKPD, serta kecenderungannya di masa mendatang, dengan mempertimbangkan kemungkinan perubahan sosial, ekonomi, serta politik dan kebijakan pada periode rencana. Kegiatan ini ditujukan untuk: · Mendapatkan gambaran yang cepat dan praktis tentang kinerja pelayanan SKPD · Mengetahui aspek-aspek apa saja yang menonjol dan kritis untuk segera ditangani · Mengetahui status, posisi, dan kedudukan serta kinerja SKPD terhadap Standar Pelayanan Minimal. · Mengetahui gambaran aspek strategis SKPD termasuk potensi-potensi pembangunan yang dimiliki SKPD. · Memperkirakan prediksi ke depan atas berbagai aspek pelayanan SKPD. · · · Profil Kinerja Pelayanan SKPD sesuai TUPOKSI, fungsifungsi, urusan wajib dan pilihan SKPD Profil kemampuan pembiayaan SKPD serta potensi dan kecenderungan perkembangan Profil kebijakan dan peraturan-perundangan daerah terkait SKPD. Penyajian profil perlu disertai dengan serangkaian tolok ukur kinerja yang relevan, reliable dan mudah dipahami yang mencerminkan secara jelas kondisi dan situasi aspek yang dikemukakan Penyajian profil sejauh mungkin juga menggambarkan sensitif gender Penyajian profil sesuai dengan kebutuhan analisis Bentuk penyajian mudah dibaca dan dianalisis, berupa tabel, grafik, diagram dan peta dengan diskripsi yang ringkas dan jelas Pemilihan metoda analisis sesuai dengan kebutuhan analisis dan ketersediaan data 62

Tujuan

Keluaran

Prinsip-prinsip

·

· · ·

·

M-16 PENYUSUNAN PROFIL PELAYANAN SKPD DAN PREDIKSI JANGKA MENENGAH

Metoda

· · · ·

Team Work Penyajian data dan Analisis oleh Tim Penyusun Berbagai peraturan perundangan yang terkait kebijakan pembangunan daerah dan pengembangan SKPD Data dan informasi tentang aspek fisik-lingkungan, tata-ruang, sosial-kependudukan, dan pembiayaan pembangunan bidang atau fungsi pemerintahan yang menjadi sektor binaan SKPD.

Informasi yang Disiapkan

Template Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

Indikator Kinerja Urusan Pemerintahan Daerah · Bagi SKPD yang telah mempunyai SPM (Standar Pelayanan Minimal), baik yang telah ditetapkan secara nasional maupun daerah, hendaknya pengukuran kinerja pelayanan mengacu pada SPM tersebut, sedangkan bagi SKPD yang belum mempunyai SPM, maka perlu dirumuskan tersendiri berdasarkan analisis antara kebutuhan nyata dengan tingkat pelayanan yang dapat dipenuhi. Bagi SKPD yang belum memiliki SPM, maka dalam penyusunan Renstra SKPD perlu ditetapkan SPM yang hendak dicapai berdasarkan kajian-kajian standar kebutuhan pelayanan yang wajar.

·

M-17 IDENTIFIKASI STAKEHOLDER

Pengantar

Di dalam pemilihan stakeholder untuk diikutsertakan dalam konsultasi program perlu mempertimbangkan aspek keadilan dan keseimbangan. Pertanyaan mendasar yang perlu dipertimbangkan dalam mengidentifikasi stakeholder: 1) Siapa yang akan terkena dampak positif atau negatif, baik langsung maupun tidak langsung ? 2) Kelompok mana yang paling vulnerable (rentan)? 3) Siapa yang memiliki kepedulian atau minat terhadap dampak yang ditimbulkan program? 4) Siapa yang diperkirakan mendukung atau menolak usulanusulan program? 5) Siapa oposisi yang diperkirakan menghambat keberhasilan program? 6) Siapa yang dari segi kerjasama, keahlian atau pengaruh dapat membantu keberhasilan program? Untuk mengidentifikasi organisasi masyarakat sipil yang memiliki legitimasi, kepedulian (interests) dan kompetensi (keahlian atau sumber daya dan dana) dalam isu pembangunan daerah tertentu. Ini ditujukan untuk:

Tujuan

63

M-17 IDENTIFIKASI STAKEHOLDER

1. memastikan partisipasi semua stakeholder yang relevan dengan fungsi-fungsi pemerintahan daerah 2. mengoptimalkan peranan dan kontribusi masing-masing stakeholder Keluaran Daftar tokoh, kelompok masyarakat, dan organisasi berdasarkan bidang kepedulian dan perannya masing-masing dan tingkat keterkaitannya terhadap suatu isu atau bidang pembangunan 1. Inklusif. Memastikan terlibatnya seluruh stakeholder yang relevan, termasuk yang marjinal dan kelompok masyarakat dengan kerawanan sosial tinggi. 2. Relevan. Melibatkan hanya stakeholder yang relevan yaitu yang memiliki kepedulian, kompetensi serta peranan (termasuk pengaruh) dalam proses pemecahan permasalahan 3. Sensitif gender. Memastikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai akses yang sama pada pengambilan keputusan perencanaan daerah. Focus Group Discussion 1) Identifikasi fungsi, urusan wajib, dan pilihan SKPD yang akan ditangani 2) Menyusun daftar (long dan short list) stakeholder 3) Pemetaan Stakeholder 4) Analisis keberadaan, kemampuan, kapasitas, kompetensi, kesediaan dan komitmen stakeholder untuk berkontribusi dalam penyusunan RPJMD dan Renstra SKPD 5) Melakukan strategi untuk memobilisasi dan mempertahankan partisipasi efektif stakeholder Identifikasi dan Analisis Stakeholder

Prinsip-prinsip

Metoda Langkah-langkah

Template

No

Nama Lembaga/ Individu (2)

Alamat

Isu/Bidang yg Ditangani

Wilayah Kerja

Pengalaman Advokasi Kegiatan (6) Periode (7)

(1) 1 2 3 dst

(3)

(4)

(5)

64

M-17 IDENTIFIKASI STAKEHOLDER

Dalam rangka kegiatan identifikasi stakeholders, CSO dapat membantu atau bekerjasama dengan Bappeda, dengan cara: Menyampaikan daftar/informasi mengenai nama dan alamat kelompok masyarakat/NGOs serta bidang yang menjadi kepedulian atau digarap mereka, personil/tenaga ahli yang dimiliki. Pengalaman fasilitasi/advokasi masing-masing CSOs dan personilnya. Daftar nama/alamat dan kepedulian/keahlian dari tokoh-tokoh masyarakat.

Dalam rangka kegiatan identifikasi stakeholders, DPRD dapat memberikan masukan kepada Bappeda berupa data/informasi tentang keberadaan dan kompetensi kelompok masyarakat/ organisasi non pemerintah, dunia usaha dan tokoh-tokoh masyarakat yang dapat dilibatkan dalam proses penyusunan RPJMD/Renstra SKPD.

M-18 PENENTUAN STAKEHOLDER UNTUK KONSULTASI PUBLIK DAN FGD Tujuan Untuk mengidentifikasi organisasi masyarakat sipil yang memiliki keterkaitan (relevansi), kapasitas, kompetensi, dan kredibilitas dalam pembahasan isu pembangunan daerah jangka menengah. Ini ditujukan untuk: 1. Memastikan partisipasi semua stakeholder yang relevan 2. Mengoptimalkan peranan dan kontribusi masing-masing stakeholder Daftar tokoh, kelompok masyarakat, dan organisasi berdasarkan bidang kepedulian/keterkaitan, peran, dan kapasitasnya masingmasing terhadap isu atau kebijakan pembangunan daerah jangka menengah 1. Inklusif. Memastikan terlibatnya seluruh stakeholder yang relevan, termasuk yang marjinal dan kelompok masyarakat dengan kerawanan sosial tinggi. 2. Relevan. Melibatkan hanya stakeholder yang relevan yaitu yang memiliki kepedulian, kapasitas, kompetensi serta peranan (termasuk pengaruh) dalam proses perumusan isu dan kebijakan pembangunan jangka panjang

Keluaran

Prinsip-prinsip

65

M-18 PENENTUAN STAKEHOLDER UNTUK KONSULTASI PUBLIK DAN FGD

3. Sensitif gender. Memastikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai akses yang sama pada pengambilan keputusan perencanaan daerah. Metoda Langkah-langkah Focus Group Discussion 1) Identifikasi bidang/isu yang akan ditangani 2) Analisis keberadaan, kemampuan, kapasitas, dan komitmen stakeholder berdasarkan hasil identifikasi dan analisis stakeholder 3) Menyusun daftar stakeholder yang akan dilibatkan dalam konsultasi publik dan FGD penyusunan RPJM Daerah Penentuan stakeholder
Pengalaman Advokasi Kegiatan (5) Periode (6) Penilaian Hubungan thd Isu dalam Konsultasi Publik (beri skor 1 untuk sangat lemah sampai dengan 5 untuk sangat kuat) Relevansi (7) Kompetensi (8) Komitmen (9) Total (10)

Template

No (1) 1 2 3 dst

Nama Lembaga/ Individu (2)

Isu/Bidang yang ditangani (3)

Kerja Wilayah (4)

Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

Stakeholder perlu memenuhi kriteria equity (semua pihak yang terpengaruh oleh rencana), resources (semua pihak yang mengendalikan keputusan alokasi sumber daya dan dana untuk implementasi rencana), dan legitimacy (semua pihak yang berwenang untuk berbicara atas nama konstituennya)

CSO dapat memberikan saran/usulan mengenai siapa-siapa tokoh masyarakat/kelompok masyarakat/organisasi yang dapat dilibatkan dalam forum-forum diskusi terfokus/FGD sesuai bidang bahasan, dan siapa-siapa yang perlu diajak/terlibat dalam kegiatan konsultasi publik beserta alasan yang mendasarinya.

66

M-19 PERUMUSAN METODA DAN PANDUAN JARING ASPIRASI: FGD, FORUM SKPD, MUSRENBANG DAN FORUM KONSULTASI

Tujuan

Untuk memperoleh acuan teknis pelaksanaan jaring aspirasi, FGD, dan MUSRENBANG RPJMD sesuai dengan kondisi dan kemampuan daerah masing-masing. Ini mencakup: 1. Merumuskan metoda dan panduan jaring aspirasi masyarakat 2. Merumuskan metoda dan panduan FGD untuk pembahasan dan penyepakatan profil dan isu strategis daerah dan FGD pembahasan rancangan visi, misi, dan arah pembangunan 3. Merumuskan metoda dan panduan MUSRENBANG RPJMD 1. Disepakatinya metoda dan panduan jaring aspirasi masyarakat 2. Disepakatinya metoda dan panduan FGD 3. Disepakatinya metoda dan panduan MUSRENBANG RPJMD 1. Inklusif. Memastikan terlibatnya seluruh stakeholder yang relevan, termasuk kelompok marjinal dan kelompok masyarakat dengan kerawanan sosial tinggi. 2. Relevan. Melibatkan hanya stakeholder yang relevan yaitu yang memiliki kepedulian, kompetensi serta peranan (termasuk pengaruh) dalam proses pemecahan permasalahan 3. Sensitif gender. Memastikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai akses yang sama pada pengambilan keputusan perencanaan daerah. Workshop 1. Bagan Alur Proses, Prosedur, dan Mekanisme Penyusunan RPJMD 2. Rencana Kerja (Tim Penyusun) Penyusunan Dokumen RPJMD 3. Contoh-contoh panduan dari Pemerintah Daerah lain (jika ada) 4. Draft metoda dan panduan yang telah disiapkan Tim Penyusun a. Panduan Konsultasi Publik b. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang RPJMD Ruang Lingkup Panduan minimal mencakup: 1) Latar belakang/alasan kegiatan (jaring aspirasi, FGD, MUSRENBANG RPJMD) dilaksanakan 2) Maksud dan Tujuan 3) Output Kegiatan 4) Jadwal dan Agenda 5) Langkah-langkah Pelaksanaan - Penyiapan informasi konsultasi (draft dokumen yang akan dibahas, peraturan perundangan terkait, dokumen pendukung, tools/form yang akan digunakan, dll)

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda Informasi yang Disiapkan

Template

Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

67

M-19 PERUMUSAN METODA DAN PANDUAN JARING ASPIRASI: FGD, FORUM SKPD, MUSRENBANG DAN FORUM KONSULTASI

- Persiapan konsultasi (pembentukan panitia, penyiapan panduan pelaksanaan per sesi kegiatan, penyiapan anggaran pelaksanaan, identifikasi alat/pendukung pelaksanaan, rekrutmen/kriteria fasilitator, mengundang peserta dan nara sumber, penggandaan materi yang perlu dipelajari peserta sebelum kegiatan) - Pelaksanaan konsultasi (agenda, peserta, nara sumber, penanggung jawab, pembagian kelompok diskusi, perumusan kesepakatan, alat pendukung) - Pasca pelaksanaan konsultasi (tindak lanjut atas kesepakatan yang dicapai)

CSO yang dilibatkan sebagai tim penyusun atau fasilitator, dapat bekerjasama memberikan kontribusi dalam perumusan metoda dan panduan jaring aspirasi, mencakup FGD, forum SKPD, Musrenbang dan Forum konsultasi, yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan daerah masing-masing, khususnya yang berkaitan dengan agenda, tata-cara dan metoda pelaksanaan jaring aspirasi. Hal yang perlu dicermati oleh CSO dalam perumusan metoda dan panduan ini, antara lain : Apakah metoda dan agenda yang direncanakan memungkinkan dapat menampung aspirasi masyarakat dari berbagai kalangan masyarakat. Dari agenda dan metoda yang direncanakan untuk setiap jenis kegiatan jaring aspirasi, apakah prosesnya dapat berjalan optimal. Memastikan bahwa metodologi dan teknik penjaringan aspirasi masyarakat mencakup semua segmen keterwakilan masyarakat, terutama kelompok perempuan dan marjinal CSO dapat memberikan usulan mengenai metoda dan tata cara penjaringan aspirasi yang lebih optimal untuk setiap jenis kegiatan penjaringan, termasuk peserta yang diundang, narasumber yang diundang, keluaran yang diharapkan, waktu pelaksanaan, agenda kegiatan, fasilitator dan media yang digunakan dan tempat pelaksanaan.

68

M-19 PERUMUSAN METODA DAN PANDUAN JARING ASPIRASI: FGD, FORUM SKPD, MUSRENBANG DAN FORUM KONSULTASI TEMPLATE KONSULTASI PUBLIK PERENCANAAN DAERAH KOTA/KABUPATEN:………………… KONSULTASI NOMOR :.......TAHUN ANGGARAN:........................

Panduan Konsultasi Publik Perencanaan Daerah ditujukan untuk membantu Pemerintah Daerah dalam menyiapkan konsultasi publik bagi penyusunan dan pembahasan rencana daerah di berbagai tingkatan pemerintahan dalam kerangka menerapkan perencanaan partisipatif secara efektif

No

DESKRIPSI KONSULTASI

1

Jenis konsultasi perencanaan (beri tanda √ pada kotak yang sesuai)
Mediasi Negosiasi Dialog Advisory Konsultasi publik Partisipasi publik Komitmen Publik Koordinasi Sektoral

2

Tahapan dalam proses perencanaan (beri tanda yang sesuai (jawaban boleh lebih dari satu)

√ pada kotak

Penyusunan kalender perencanaan Perumusan jumlah dan jenis konsultasi perencanaan yang diperlukan Identifikasi stakeholder Perumusan outline dokumen perencanaan Penjaringan aspirasi masyarakat Perumusan profil Perumusan issue Perumusan visi jangka panjang daerah Klarifikasi dan penjabaran visi dan misi kepala daerah Perumusan visi dan misi skpd Perumusan tujuan Perumusan strategi Perumusan kebijakan Perumusan program dan kegiatan Perumusan indikator kinerja Penyusunan anggaran Pelaksanaan rencana Monitoring dan evaluasi

3

Deskripsi singkat (berikan alasan mengapa konsultasi perencanaan ini diperlukan) Tujuan konsultasi perencanaan Sasaran konsultasi perencanaan Keluaran konsultasi perencanaan Pelaksanaan konsultasi perencanaan
Hari, tanggal, waktu Tempat Sponsor Penyelenggara : : :

4 5 6 7

69

M-19 PERUMUSAN METODA DAN PANDUAN JARING ASPIRASI: FGD, FORUM SKPD, MUSRENBANG DAN FORUM KONSULTASI Lanjutan ...........
No
DESKRIPSI KONSULTASI

8

Metode konsultasi perencanaan
focus group discussions workshop presentasi kepada kelompok masyarakat jajak pendapat talk show penyebaran angket lain-lain (sebutkan :

)

9

Informasi yang disediakan untuk konsultasi (jelaskan secara spesifik, kapan informasi ini diberikan? lampirkan informasi yang diberikan) Media yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada stakeholder dalam rangka konsultasi perencanaan (beri tanda “ pada kotak yang sesuai, jawaban boleh lebih dari satu)
surat kabar internet surat phone televisi radio pamflet spanduk lain-lain (sebutkan :

10

)

11

Stakeholder yang dilibatkan (jelaskan secara rinci, asal, organisasi, macam kontribusi yang diperkirakan dapat diberikan)
Stakeholder dari unsur Pemerintah : Stakeholder dari unsur Non Pemerintah : DPR :

12 13 14 15

Fasilitator (siapa, asal, organisasi) Agenda konsultasi (kegiatan rinci menurut hari, jam, kegiatan) Strategi pelaksanaan konsultasi perencanaan Tools atau instrumen yang digunakan oleh stakeholder untuk menyampaikan pendapat Rekaman proses konsultasi perencanaan (analisis proses pelaksanaan konsultasi, dinamika, motivasi, kapasitas peserta, hasil kesepakatan dsb)
Dinamika peserta Motivasi peserta Kapasitas peserta Proses mencapai kesepakatan : : : :

16

17 18

Naskah kesepakatan (deklarasi akhir konsultasi) Pelaporan hasil konsultasi (harus dibuat dan disampaikan kepada peserta konsultasi; mencantumkan secara jelas perubahan yang telah dilakukan sebagai hasil konsultasi)
Kapan disampaikan Perubahan yg diakomodasi Perubahan yg tdk diakomodasi : : :

19

Mekanisme pemantauan dan evaluasi paska konsultasi

70

M-23 SOSIALISASI BAHWA DAERAH AKAN MENYUSUN RPJMD

Tujuan

Kegiatan ini ditujukan untuk menyediakan informasi awal bagi seluruh pemangku kepentingan daerah tentang rencana daerah untuk menyusun RPJMD; mensosialisasikan proses, prosedur, dan mekanisme penyusunan RPJMD; menyampaikan isu dan perspektif yang terkait dengan penyusunan RPJMD; mendapatkan partisipasi seluruh stakeholder yang relevan; menyepakati jumlah dan jadwal konsultasi publik/FGD yang akan dilakukan.Kegiatan ini dilakukan agar seluruh stakeholder dapat mempersiapkan diri untuk memberikan kontribusi yang efektif dalam proses penyusunan RPJMD 1) Disepakatinya proses dan mekanisme penyusunan RPJMD 2) Jumlah dan jadwal konsultasi publik/FGD yang disepakati 1. Inklusif. Memastikan terlibatnya seluruh stakeholder yang relevan, termasuk kelompok marjinal dan kelompok masyarakat dengan kerawanan sosial tinggi. 2. Relevan. Melibatkan hanya stakeholder yang relevan yaitu yang memiliki kepedulian, kompetensi serta peranan (termasuk pengaruh) dalam proses pemecahan permasalahan 3. Sensitif gender. Memastikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai akses yang sama pada pengambilan keputusan perencanaan daerah. Lokakarya Orientasi Penyusunan RPJMD dan Renstra SKPD disertai informasi melalui Media Surat Kabar atau Elektronik 1) Visi, Misi dan Agenda Kepala Daerah Terpilih 2) Bagan Alur Proses, Prosedur, dan Mekanisme Penyusunan RPJMD 3) Rencana Kerja (Tim Penyusun) Penyusunan Dokumen RPJMD

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda

Informasi yang Disiapkan

71

M-24 JARING ASPIRASI ISU DAN HARAPAN MASYARAKAT

Tujuan

Mengartikulasikan visi, misi dan agenda Kepala Daerah Terpilih dan menghimpun isu yang dihadapi dan harapan seluruh stakeholder terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah jangka menengah. Ini ditujukan untuk mendapatkan informasi terkini atas berbagai issue yang dihadapi dan harapan seluruh masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah jangka menengah 1) Rumusan permasalahan/isu yang dihadapi masyarakat 2) Rumusan harapan masyarakat 1) Partisipatif dan interaktif; proses penjaringan ini harus melibatkan seluruh stakeholder secara seimbang, baik dalam penyampaian informasi, analisis, dan interpretasi informasi 2) Cepat dan mendasar; tahap ini dimaksudkan untuk menstrukturkan informasi yang diterima untuk mendukung tahap perumusan isu strategis 3) Open-ended; informasi yang diterima bersifat dapat dikembangkan, diperluas, dan dimutakhirkan sehingga kualitas informasi tsb dapat terus diperbaiki. 4) Sensitif gender; sedapat mungkin, informasi yang diperoleh dalam tahap ini dipilah berdasarkan gender 5) Menyeluruh; rumusan isu dan harapan tsb disajikan dalam format dan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh seluruh masyarakat Dapat berupa Focus Group Discussion, jajak pendapat/pooling, talk show, atau penyebaran angket/kuesioner melalui media surat kabar ataupun elektronik Contoh Angket Sederhana untuk Menghimpun Isu dan Harapan Stakeholder terkait Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Jangka Menengah

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda

Template

Beri tanda √ untuk kotak yang sesuai dengan jawaban Anda
1) Fungsi Pemerintahan Daerah yang paling perlu ditingkatkan pelayanannya Pelayanan Umum Ketertiban dan Ketentraman Ekonomi Lingkungan Hidup Perumahan dan Fasilitas Umum Kesehatan Pariwisata dan Budaya Pendidikan Perlindungan Sosial

72

M-24 JARING ASPIRASI ISU DAN HARAPAN MASYARAKAT

2) Urusan Pemerintahan Daerah yang paling perlu ditingkatkan pelayanannya Perencanaan Pembangunan Pemerintahan Umum Kepegawaian Statistik Kearsipan Komunikasi dan Informatika Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Perhubungan Tenaga Kerja Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Penanaman Modal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pertanian Kehutanan Energi dan Sumberdaya Mineral Kelautan dan Perikanan Perdagangan Perindustrian Transmigrasi Penataan Ruang Lingkungan Hidup Pertanahan Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Kesehatan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Kebudayaan Pariwisata Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kependudukan dan Catatan Sipil Pemberdayaan Perempuan Sosial

Kontribusi dan peranserta yang dapat dilakukan oleh perwakilan CSO dalam kegiatan ini, antara lain : bertindak sebagai fasilitator kegiatan dengan tugas mendorong dan membangkitkan keberanian masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan pemikiran mereka berkaitan dengan isu pembangunan serta harapan yang mereka inginkan. Mengklarifikasi isu dan usulan penanganannya kepada peserta lainnya, serta mengelompokkan isu-isu yang bersifat lokal, daerah, regional ataupun nasional. Memfasilitasi penyusunan prioritas isu-isu strategis dan penanganannya. CSO dapat juga memberikan hasil kajian dan pengamatan mereka dan/atau hasil advokasi mereka terhadap masyarakat yang didampinginya berkaitan terhadap isu-isu pembangunan jangka menengah di daerah dan harapan mereka terhadap penanganan isu-isu tersebut.

73

M-24 JARING ASPIRASI ISU DAN HARAPAN MASYARAKAT

DPRD melalui Tim Panja/Pansus RPJMD atau perwakilan dari komisikomisi di DPRD perlu hadir secara penuh mengikuti proses jaring aspirasi masyarakat yang dilaksanakan tim penyusun untuk menangkap isu-isu apa yang dianggap strategis oleh masyarakat serta apa harapan mereka. Kegiatan ini dapat juga diagendakan sebagai salah satu program reses DPRD. Hal yang perlu dicermati oleh DPRD dalam proses jaring aspirasi isu dan harapan masyarakat, antara lain : Menampung dan memillah-milah isu-isu yang bersifat lokal, regional maupun nasional. Mengelompokkan isu yang berkaitan dengan fisik-prasarana, lingkungan hidup, sosialbudaya, ekonomi, politik dan pemerintahan. Mengklarifikasi isu-isu yang disampaikan masyarakat apabila diperlukan. Bersama-sama Pemda memberikan penjelasan umum kepada masyarakat peserta jaring aspirasi tentang permasalahan yang dihadapi daerah, serta visi dan misi daerah untuk jangka 5 tahun kedepan, serta kebijakan-kebijakan nasional yang perlu diketahui masyarakat. Mencatat dan menangkap harapan masyarakat dan kesanggupan masyarakat dalam mengatasi berbagai isu strategis daerah. Catatan hasil jaring aspirasi isu dan harapan masyarakat dijadikan sebagai bahan buat DPRD dalam merumuskan kebijakan-kebijakan daerah, serta sebagai pegangan dalam mengkaji (mereview) rancangan RPJMD/Renstra SKPD.

M-25 FORMULASI DOKUMEN RANCANGAN AWAL RPJMD

Tujuan

Rancangan awal RPJMD merupakan dokumen awal dalam rangka penyusunan RPJMD, yang disusun setelah mempertimbangkan dan menganalisis berbagai aspek yang terkait dengan kebutuhan penyusunan rencana jangka menengah daerah pada tahap-tahap sebelumnya. Kegiatan ini ditujukan untuk: · Menentukan koridor program agar tidak terlalu jauh melenceng dari sasaran yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi dan situasi daerah · Acuan bagi SKPD, Kecamatan dan Desa dalam merumuskan dan merancang kegiatan programnya · · · · · · · · Gambaran umum kinerja pembangunan daerah sekarang dan kemungkinan tantangan di masa depan Perkiraan kemampuan keuangan daerah dan ketersediaan biaya pembangunan Rumusan visi dan misi daerah Isu strategis daerah dan prioritas penanganan Rancangan strategi pembangunan daerah Rancangan kebijakan umum Rancangan prioritas program Kepala Daerah Rancangan arah kebijakan keuangan daerah

Keluaran

74

M-25 FORMULASI DOKUMEN RANCANGAN AWAL RPJMD

Prinsip-prinsip

·

· ·

Perumusan rancangan awal RPJMD lebih menitikberatkan pada hasil analisis/kajian dan pertimbangan aspek-aspek teknis Uraian dan rumusan harus singkat, jelas dan terukur sehingga tidak mengandung interpretasi yang berbeda. Rancangan awal RPJMD harus memuat program prioritas, target kinerja capaian program dan pagu indikatif program (SKPD) dan Alokasi Dana Desa, agar terdapat panduan yang jelas mengenai koridor anggaran, sehingga rumusan usulan program/kegiatan lebih realistis.

Metoda Informasi yang Disiapkan

Kerja Kelompok dari Tim Penyusun RPJMD Rumusan hasil analisis/kajian tahapan sebelumnya, meliputi : · Profil daerah dan kecenderungan · Hasil kajian terhadap RPJPD · Hasil kajian RPJMD Provinsi · Hasil kajian tehadap RTRW · Hasil Analisis Keuangan Daerah · Hasil kajian visi, misi dan program kepala daerah terpilih · Hasil jaring aspirasi dan harapan masyarakat Prototipe Daftar isi RPJMD
Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Penyusunan RPJMD 1.2. Landasan Hukum 1.3. Maksud, Tujuan, dan Ruang Lingkup 1.4. Kedudukan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan lainnya 1.5. Sistematika Penulisan Bab II Tinjauan Umum Kondisi dan Permasalahan Pembangunan Daerah Membincangkan tentang profil, status, kondisi, situasi, pengkajian kinerja capaian, rumusan isu dan permasalahan strategis dalam penyeleng-garaan fungsi-fungsi pemerintahan daerah secara menyeluruh 2.1 Kondisi Geografis Daerah 2.2 Pelayanan Umum 2.3 Ketertiban dan Ketentraman 2.4 Ekonomi 2.5 Lingkungan Hidup 2.6 Perumahan dan Fasilitas Umum 2.7 Kesehatan 2.8 Pendidikan 2.9 Pariwisata dan Budaya 2.10 Pendidikan 2.11 Perlindungan sosial 2.12 Keuangan Daerah 2.13 Rumusan Issue Strategis Pembangunan Daerah Bab III Tinjauan Terhadap Dokumen Perencanaan Terkait 3.1 RPJM Nasional 3.2 RTRW Nasional dan RTRW Provinsi (untuk RPJM Provinsi)

Template

75

M-25 FORMULASI DOKUMEN RANCANGAN AWAL RPJMD

3.3 3.4

RPJM Provinsi RTRW Provinsi dan RTRW Kabupaten/Kota(untuk RPJM Kabupaten/ Kota)

Bab IV Visi, Misi dan Agenda Pembangunan Daerah Mengemukakan secara jelas visi, misi dan agenda (program) Kepala Daerah Terplih 4.1 Visi 4.2 Misi 4.3 Agenda (apabila ada) Bab V Tujuan, Strategi, dan Arah Kebijakan Pembangunan Daerah Berdasarkan visi, misi dan agenda Kepala Daerah Terpilih dirumuskan tujuan (SMART), strategi pencapaian tujuan dan kebijakan yang akan ditempuh untuk masing-masing strategi pembangunan daerah. 5.1 Tujuan 5.2 Strategi 5.3 Arah Kebijakan Umum (untuk setiap fungsi pemerintahan daerah tersebut diatas) 5.4 Arah Kebijakan Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan Bab VI Program Pembangunan Daerah Untuk masing-masing program perlu dicantumkan nama program, tolok ukur dan target kinerja capaian program dan pagu indikatif 6.1 Program Pembangunan 6.1.1 Program SKPD 6.1.2 Program Lintas SKPD 6.1.3 Program Lintas Kewilayahan 6.2 Program Pengembangan Kelembagaan dan Legislasi Daerah Bab VII Kaidah Pelaksanaan Mengemukakan tentang program dan kegiatan pendukung yang diperlukan untuk dapat mengimplementasikan RPJMD secara efektif 7.1 Konsistensi penyusunan Renstra SKPD, RKPD, dan Renja SKPD dengan RPJMD 7.2 Pemantauan dan evaluasi kinerja pencapaian program RPJMD 7.3 Penguatan kemampuan dan kapasitas DPRD untuk memantau dan mengevaluasi RPJMD 7.4 Penguatan kemampuan dan kapasitas Non Government Stakeholder untuk memantau dan mengevaluasi implementasi RPJMD Lampiran Tabel-Tabel Penting (dalam Lampiran) sekurang-kurangnya mencakup: 1. Fungsi, Tolok Ukur Capaian Pelaksanaan, Issue dan Permasalahan masing-masing fungsi pemerintahan daerah 2. Dokumentasi Kesepakatan Konsultasi Publik dan Musrenbang RPJMD 3. Program, Tolok Ukur dan Target Kinerja Capaian Program, dan Pagu Indikatif menurut fungsi-fungsi pemerintahan daerah 4. Kondisi dan Situasi Keuangan Daerah 5 Tahun lalu (Penerimaan dan Belanja) 5. Proyeksi Fiskal Daerah 6. Kerangka Pendanaan Jangka Menengah
Referensi: 1) Daftar Isi dan Substansi Bahasan RPJM Daerah menurut SE Mendagri 050/2020/SJ Tahun 2005 2) Daftar Isi RPJM Nasional 2004-2009

76

M-26 TUPOKSI SKPD

Tujuan

Melakukan kajian terhadap tugas pokok dan fungsi SKPD dalam rangka menentukan visi dan misi SKPD dikaitkan dengan visi dan misi kepala daerah terpilih. Kegiatan ini ditujukan untuk: · Mengidentifikasi peluang kontribusi SKPD dalam rangka pencapaian visi, misi, dan program prioritas/agenda dari Kepala Daerah terpilih. · Menentukan arah pengembangan dan prioritas kinerja SKPD · · · · Formulasi tugas pokok dan fungsi SKPD berdasarkan aspek legalitas (Perda/PP) Kemampuan dan potensi SKPD Identifikasi kewenangan SKPD yang mungkin tumpang-tindih dengan SKPD lainnya Identifikasi isu pokok permasalahan pelayanan SKPD di daerah

Keluaran

Prinsip-prinsip

Tugas pokok dan fungsi SKPD akan digunakan sebagai landasan dalam merumuskan visi dan misi SKPD serta dalam rangka menyusun indikasi rencana program jangka menengah. Kerja Tim · · · Aspek legalitas pembentukan SKPD Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Perumusan visi, misi SKPD yang dikaitkan dengan visi dan misi Kepala Daerah terpilih, hendaknya tidak mengabaikan tugas pokok dan fungsi SKPD dalam pelayanan kepada masyarakat.

Metoda Informasi yang Disiapkan Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

M-27 PERUMUSAN VISI DAN MISI SKPD

Tujuan

Setiap perencanaan strategis memerlukan fokus- yaitu visi. Visi dapat dikatakan juga semacam ‘tujuan’ yang dapat mengarahkan dan mendorong semua stakeholder (pemerintah dan non pemerintah) berkontribusi pada pencapaian visi. Visi mempunyai jangkauan 5 tahun atau lebih ke depan. Visi merupakan keadaan ‘ideal’, sifatnya memberikan inspirasi dan arah serta posisi (setting) daerah di masa depan. Misi merupakan jabaran tentang apa yang akan dilakukan, siapa penerima manfaat (beneficiaries), apa kompetensi utama daerah dan mengapa itu perlu dilakukan. Misi sifatnya berlaku secara terus menerus (tidak terbatas waktunya). Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan visi dan misi dari SKPD dalam rangka menunjang pencapaian visi dan misi daerah serta program prioritas pembangunan dari Kepala Daerah dengan 77

M-27 PERUMUSAN VISI DAN MISI SKPD

memperhatikan tugas pokok dan fungsi SKPD. Tujuannya adalah untuk menentukan arah pembangunan SKPD yang dapat menunjang pencapaian kinerja Kepala Daerah terpilih yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Keluaran · Dasar pertimbangan perumusan visi dan misi · Rumusan visi SKPD · Rumusan misi SKPD · Rumusan visi dan misi harus SMART, sehingga dapat digunakan sebagai acuan pembangunan dan dapat diukur kinerjanya. · Rumusan visi, misi SKPD harus menunjang visi, misi daerah sesuai dengan tupoksinya Team Work · Hasil kajian terhadap visi, misi dan program prioritas Kepala Daerah terpilih · Tupoksi SKPD yang bersangkutan Panduan penyusunan Visi dan Misi (LGSP) Rumusan visi harus jelas, sederhana sehingga mudah dipahami, mengembangkan kultur, nilai-nilai tertentu yang dapat menstimulasi stakeholder untuk mencapainya. Visi sejauh mungkin spesifik dan berakar pada kondisi dan situasi setempat dan disepakati oleh semua stakeholder. Misi terdiri atas pernyataan misi dan nilai-nilai utama atau ‘core values’ yang menjadi landasan operasional untuk mencapai misi Daftar 5 hingga 6 core values yang akan menjadi landasan operasional untuk mencapai misi (dari pandangan stakeholder, organisasi masyarakat, Pemerintah Daerah, DPRD dan komponen masyarakat lainnya). Perumusan misi perlu menjawab:Siapa kita? Apa tujuan kita?Masalah utama apa yang kita perlu tangani?Apa yang membuat kita unik atau distinct sebagai Pemerintah Daerah atau Organisasi?Nilai-nilai utama apa yang akan memandu kita mencapai misi?Rumusan Visi, Misi, dan Program SKPD harus SMARTAda keterkaitan erat antara Visi, Misi, dan Agenda KDH Terpilih dengan Visi dan Misi serta TUPOKSI SKPDRumusan pada tahap ini masih berupa rancangan yang disusun oleh Tim Penyusun Renstra SKPD, yang nantinya akan dibahas dalam forum SKPD.Rumusan visi dan misi harus memayungi tugas pokok SKPD yang terkait pelayanan. 78

Prinsip-prinsip

Metoda Informasi yang Disiapkan

Template Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

M-28 EVALUASI RENSTRA SKPD (RENSTRA DINAS) PERIODE LALU

Tujuan

Evaluasi dimaksudkan untuk menjamin kesinambungan terhadap program-program SKPD sebelumnya yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Tujuan kegiatan ini adalah untuk: · Mengevaluasi kinerja pelaksanaan kebijakan dan program pembangunan SKPD pada periode yang lalu serta efektifitasnya. · Menentukan arah kebijakan dan strategi pembangunan SKPD untuk jangka menengah berikutnya. · · Program-program sebelumnya yang perlu dilanjutkan pada Renstra SKPD berikutnya Program-program yang membutuhkan program lainnya untuk menjamin kesinambungan pemanfaatan hasil program yang lalu. Evaluasi menitikberatkan pada aspek konsistensi program dengan pelaksanaan dan kesesuaiannya dengan kebutuhan masyarakat. Mekanisme pelaksanaan program (sumber dana dan kerjasama dengan SKPD Provinsi atau dengan Departemen).

Keluaran

Prinsip-prinsip

·

·

Metoda Informasi yang Disiapkan Template

Kerja Kelompok ·· Renstra SKPD periode yang lalu · Pencapaian kinerja program tahun lalu Target dan Realisasi Kinerja Capaian Program Renstra SKPD
Pendanaan Target 5 (5) 1 Realisasi Th Ke2 3 4 (6) Relevansi 5 (7)

Capaian Kinerja No Nama Program (2) Target 1 (1) 1 2 3 dst (3) Realisasi Th Ke2 3 4 (4)

79

M-29A PENETAPAN TUJUAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN SKPD

Tujuan

Merumuskan tujuan, strategi, dan kebijakan pembangunan untuk bidang SKPD berdasarkan visi, misi SKPD dan evaluasi terhadap Renstra periode sebelumnya untuk menunjang pencapaian pembangunan daerah jangka menengah. Ini meliputi: · Menentukan arah/fokus pembangunan SKPD · Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang SKPD · Merumuskan langkah-langkah kebijakan apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembangunan SKPD · · · Rumusan tujuan pembangunan SKPD Rumusan strategi untuk mencapai tujuan pembangunan SKPD Rumusan kebijakan SKPD yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembangunan.

Keluaran

Prinsip-prinsip

Tujuan-tujuan adalah pernyataan tentang apa yang perlu dicapai untuk mencapai visi, misi dan mengatasi isu yang dihadapi. Tujuan strategis, strategi, dan kebijakan SKPD dirumuskan berasaskan pendekatan SMART Kerja Kelompok Tujuan-tujuan adalah pernyataan tentang apa yang perlu dicapai untuk mencapai visi, misi dan mengatasi isu yang dihadapi. Tujuan-tujuan strategis dirumuskan berasaskan pendakatan SMART. SPESIFIK TERUKUR DAPAT DICAPAI REALISTIS DAN BERORIENTASI HASIL JANGKA WAKTU PENCAPAIAN YANG JELAS Tujuan- tujuan strategis menstimulasi stakeholder untuk mengembangkan kemampuan dan kapasitasnya untuk mencapai visi dan misi. Perumusan tujuan-tujuan strategis dapat menciptakan iklim yang kondusif untuk mengoptimasikan kinerja pemerintah daerah. Tujuan-tujuan strategis menjawab: Apakah tujuan mencerminkan arah dan prioritas Apakah tujuan memberikan indikasi kearah perumusan program Apakah tujuan berorientasi ke depan (2-5 tahun kedepan) Apakah tujuan bersifat ‘result oriented’ Apakah tujuan mudah dipahami

Metoda Hal-Hal penting harus diperhatikan

80

M-29A PENETAPAN TUJUAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN SKPD

Identifikasi pendekatan dan strategi kunci pencapaian untuk masing-masing tujuan strategis melalui suatu FGD (dan brainstorming). Strategi berorientasi pada perubahan strukturalStrategi berkaitan dengan memposisikan pemerintah daerah dalam menghadapi perubahan-perubahan. Ada review terhadap strategi masa lalu yang berhasil dan kurang berhasil. Pastikan bahwa masing- masing strategi tidak saling bertentangan (konflik) tetapi saling mendukung dan melengkapi.

M-29 FGD UNTUK SETIAP TOPIK

Tujuan

Melakukan beberapa pembahasan untuk setiap substansi Rancangan Awal RPJMD. Diusulkan sedikitnya dilakukan empat kali FGD, masing-masing untuk pembahasan: · Profil daerah dan prediksi kondisi umum daerah 5 tahun yang akan datang · Isu strategis dan strategi pembangunan daerah · Analisis kemampuan keuangan daerah dan arah kebijakan keuangan daerah· Kebijakan umum dan Program Prioritas Kepala DaerahKegiatan ini diharapkan menghasilkan rumusan substansi Rancangan Awal RPJMD berdasarkan analisis dan kesepakatan stakeholder kunci/ahli · Profil daerah dan prediksi kondisi umum daerah 5 tahun yang akan datang berdasarkan analisis dan kesepakatan stakeholder kunci/ahli Isu strategis dan strategi pembangunan daerah berdasarkan analisis dan kesepakatan stakeholder kunci/ahli Analisis kemampuan keuangan daerah dan arah kebijakan keuangan daerah berdasarkan analisis dan kesepakatan stakeholder kunci/ahli Kebijakan umum dan Program Prioritas Kepala Daerah berdasarkan analisis dan kesepakatan stakeholder kunci/ahli

Keluaran

· ·

·

Prinsip-prinsip

1. Inklusif. Memastikan terlibatnya seluruh stakeholder kunci/ahli yang relevan. 2. Relevan. Melibatkan hanya stakeholder yang relevan yaitu yang memiliki kepedulian, kompetensi serta peranan (termasuk pengaruh) dalam proses pemecahan permasalahan

81

M-29 FGD UNTUK SETIAP TOPIK

3. Sensitif gender. Memastikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai akses yang sama pada pengambilan keputusan perencanaan daerah 4. Partisipatif dan interaktif; proses pembahasan ini harus melibatkan seluruh stakeholder secara seimbang, baik dalam penyampaian informasi, analisis, dan interpretasi informasi Informasi yang Disiapkan · · · · Template · · · · Formulasi Dokumen Rancangan Awal RPJMD yang disusun Tim Penyusun RPJMD Ringkasan isu strategis nasional berdasarkan fungsi-fungsi pemerintahan daerah Ringkasan target pencapaian nasional dalam lima tahun yang akan datang Informasi/dokumen terkait/relevan yang dimiliki stakeholder Check list pencapaian VS target pembangunan 5 tahun terakhir berdasarkan fungsi dan urusan pemerintahan daerah Check list isu/permasalahan berdasarkan fungsi dan urusan pemerintahan daerah Form analisis SWOT atau FFA (untuk perumusan isu strategis dan strategi pembangunan) Score/kriteria pembobotan guna penentuan isu prioritas daerah

Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

Pembahagian kelompok diskusi (FGD) perlu disesuaikan dengan pembahagian fungsi pemerintahan daerah, ini guna memungkinkan diskusi yang fokus, mendalam dan hasil yang efisien dan efektif

Contoh Form Force Field Analysis
No Kekuatan Pendukung Jumlah Puskesmas Pembantu AdanyaPP tentang SPM Skors No Kekuatan Penghambat Kurangnya tenaga Dokter Kurangnya Obat dan Perbekalan Minimnya Alokasi Dana APBD Total Skors Skors

Form Analisis SWOT
Faktor Positif Internal Kekuatan _ _ _ _ Kelemahan _ _ _ _ Eksternal Peluang _ _ _ _ Ancaman _ _ _ _ 1

5

1

5

2

3

2

3

Negatif

3

2

Total Skors

8

10

82

M-29 FGD UNTUK SETIAP TOPIK

Template Identifikasi Capaian Target Pembangunan dari Setiap Urusan Pemerintahan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir
TUJUAN PROGRAM KEGIATAN (5) TARGET KINERJA TARGET CAPAIAN KINERJA PROGRAM/ CAPAIAN KEGIATAN PROGRAM/ MENURUT SPM KEGIATAN (6) (7) CAPAIAN PROGRAM /KEGIATAN SAAT INI (8) ORGANISASI (TERKAIT DENGAN PELAKSANAAN URUSAN) (9)

KODE FUNGSI (2)

KODE URUSAN (2)

NAMA FUNGSI (3)

BIDANG URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH (4)

1 2

Urusan Wajib Urusan Pilihan

CSO yang diminta keterlibatannya dalam pembahasan-pembahasan materi RPJMD, perlu mengirimkan wakilnya yang punya kompetensi sesuai bidang/topik bahasan. Diharapkan perwakilan CSO yang terlibat memberikan kontribusi pemikiran dan sebaiknya juga membekali diri dengan hasil-hasil kajian atau pengamatan mereka berkaitan dengan topik bahasan. CSO perlu mencermati konsep/ pemikiran yang dibuat tim penyusun RPJMD. Beberapa hal yang harus dicermati antara lain : · Apakah konsep rumusan yang dikemukakan sudah ditunjang atas kajian berdasarkan data yang memadai · Apakah validitas data yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan. · Apakah rumusan isu yang dikemukakan sesuai dengan kondisi dan situasi nyata di lapangan. · Apakah rumusan-rumusan isu, strategi, kebijakan dan program telah mempertimbangkan hasil jaring aspirasi masyarakat yang dilakukan sebelumnya. · Apakah rumusan-rumusan strategi, kebijakan dan program yang dikemukakan sudah didasari atas kepentingan umum, dan berorientasi pada pemberdayaan kelompok-kelompok marginal, maupun kesetaraan jender. · Apakah rumusan-rumusan yang diusulkan memenuhi prinsip-prinsip SMART sehingga dapat diukur kinerjanya. · Memastikan bahwa setiap SKPD memiliki 3-5 indikator kinerja yang relevan dengan TUPOKSI SKPD dan dapat memggambarkan kinerja pelayanan SKPD dalam mencapai tujuan dan sasaran RPJMD.

DPRD melalui komisi-komisi yang ada perlu terlibat dalam pembahasanpembahasan FGD sesuai topik/substansi RPJMD. Komisi-komisi DPRD tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran/pandangan dan mengkritisi dalam hal : Hasil analisis kondisi dan prediksi daerah serta validitas data yang digunakan Perumusan isu-isu strategis daerah serta kaitannya dengan isu-isu nasional. Asumsi-asumsi yang digunakan dalam analisis kemampuan dan perumusan arah kebijakan keuangan daerah. Perumusan berbagai kebijakan dasar sektoral dan prioritas-prioritas yang ditentukan daerah, serta sinkronisasi dengan kebijakan-kebijakan pembangunan nasional. Penjabaran visi dan misi ke dalam program dan prioritas pembangunan dikaitkan dengan realisasi permasalahan daerah dan harapan masyarakat.

83

M-30 PEMBAHASAN RANCANGAN AWAL RPJMD BERSAMA SKPD

Tujuan

Melakukan pembahasan atas Rancangan Awal RPJMD yang telah disusun oleh Tim Penyusun RPJMD guna memperoleh konfirmasi, klarifikasi, dan kesepakatan dengan SKPD. Kegiatan ini menghasilkan rumusan substansi Rancangan Awal RPJMD yang disepakati bersama seluruh SKPD. Rumusan Rancangan awal RPJMD yang disepakati bersama SKPD yang memuat kesepakatan tentang tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan pembangunan daerah jangka menengah, program prioritas SKPD, lintas SKPD dan kewilayahan, tolok ukur, dan target kinerja capaian masing-masing program. Diskusi kelompok · Dokumen Rancangan Awal RPJMD yang disusun Tim Penyusun RPJMD

Keluaran

Metoda Informasi yang Disiapkan

M-31 KAJIAN RENSTRA SKPD PROVINSI DAN RENSTRA KEMENTRIAN & KELEMBAGAAN Tujuan Evaluasi dimaksudkan untuk mengidentifikasi kemungkinan sinergi program SKPD antara program daerah dengan program provinsi maupun program nasional. Adapun tujuannya adalah untuk: · Mengetahui prioritas program pelayanan bidang SKPD yang bersangkutan dalam skala pembangunan provinsi maupun dalam lingkup nasional. · Mengidentifikasi kemungkinan kerjasama dan sinergi antara program daerah dengan provinsi maupun nasional · Pencapaian optimalisasi program bidang SKPD yang bersangkutan. · · · · Isu pokok bidang SKPD dalam lingkup provinsi maupun nasional Prioritas program pembangunan provinsi bidang SKPD yang bersangkutan Prioritas program pembangunan nasional bidang SKPD yang bersangkutan Identifikasi program-program provinsi dan atau nasional yang dapat dikerjasamakan atau disinergikan dengan program daerah untk bidang SKPD yang bersangkutan. Kesesuaian isu bidang SKPD antara nasional, provinsi, dan daerah dapat meningkatkan sinergi dan pencapaian terhadap permasalahan 84

Keluaran

Prinsip-prinsip

·

M-31 KAJIAN RENSTRA SKPD PROVINSI DAN RENSTRA KEMENTRIAN & KELEMBAGAAN

·

Kajian dititikberatkan pada rumusan isu dan prioritas programnya

Metoda

Focus Group Discussion Tim Penyusun RPJMD dan Renstra SKPD; konsultasi dengan Departemen Teknis/Sektoral terkait di Pusat dan SKPD terkait di Provinsi. · · Identifikasi isu strategis bidang pelayanan SKPD dari Renstra SKPD Provinsi dan Renstra Kementrian dan Lembaga (KL) Kajilah apakah daerah studi (kabupaten/kota) yang bersangkutan tercakup dalam isu di atas, dan apakah sesuai dengan isu pokok permasalahan yang dihadapi di daerah. Identifikasi rumusan dan besaran program maupun kegiatan yang direncanakan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat di daerah studi untuk memecahkan isu permasalahan tersebut. Identifikasi Dana Bantuan Pusat Dan Provinsi Dan Dana Dekonsentrasi Identifikasi kemungkinan program/kegiatan yang membutuhkan kerjasama lintas kewilayahan Renstra SKPD Provinsi yang sesuai SKPD yang bersangkutan Renstra KL untuk bidang SKPD yang bersangkutan

Langkah-langkah

·

· ·

Informasi yang Disiapkan Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

· ·

Harus diidentifikasi betul program nasional maupun program provinsi untuk bidang SKPD yang lokasi pembangunannya di daerah yang bersangkutan, agar tidak terjadi tumpang-tindih kegiatan.

M-32 PERUMUSAN PROGRAM (SKPD, LINTAS SKPD, KEWILAYAHAN)

Tujuan

Merumuskan kebutuhan program pembangunan untuk bidang SKPD yang bersangkutan untuk 5 tahun mendatang, baik yang akan dilaksanakan oleh SKPD sendiri, yang membutuhkan kerjasama program dengan SKPD lain, maupun yang membutuhkan kerjasama antar wilayah, misalnya di kawasan perbatasan, maupun program yang merupakan satu sistem yang saling terkait antar wilayah kerja SKPD dengan wilayah lainnya. Tujuan kegiatan ini mencakup: · Mengindentifikasi kebutuhan program bidang pelayanan atau fungsi pemerintahan yang menjadi binaan SKPD selama kurun waktu 5 tahun · Mensinergikan program antar berbagai wilayah, melalui program lintas SKPD dan program lintas kewilayahan, sehingga mempercepat proses pemenuhan kebutuhan masyarakat secara efisien. 85

M-32 PERUMUSAN PROGRAM (SKPD, LINTAS SKPD, KEWILAYAHAN)

Keluaran

· · ·

Formulasi rancangan program dan kegiatan SKPD beserta kemungkinan sumberdananya Formulasi rancangan program dan kegiatan yang memerlukan keterlibatan dua atau lebih SKPD, beserta SKPD-SKPD yang terkait. Formulasi rancangan program dan kegiatan yang memerlukan keterlibatan dua atau lebih wilayah kabupaten/kota, beserta kabupaten/kota yang terkait. Koordinasi dan kerjasama lintas SKPD maupun lintas kewilayahan dalam menangani permasalahan pelayanan SKPD akan menentukan tingkat keberhasilan dan efektifitas program dan kegiatan yang direncanakan. Kesepakatan penanganan program dan kegiatan yang bersifat lintas SKPD maupun lintas kewilayahan wajib diprioritaskan dan pelaksanaannya betul-betul dikoordinasikan. Kerja kelompok Lokakarya untuk koordinasi dan penyepakatan rencana pelaksanaan Identifikasi rumusan dan besaran program maupun kegiatan yang direncanakan provinsi dan pusat di daerah perencanaan untuk memecahkan isu permasalahan tersebut. Identifikasi kemungkinan program/kegiatan yang membutuhkan kerjasama lintas kewilayahan Hasil identifikasi permasalahan yang cukup ditangani oleh SKPD tertentu Hasil identifikasi permasalahan yang membutuhkan penanganan lintas SKPD Hasil identifikasi permasalahan yang membutuhkan penanganan lintas kewilayahan. Lampiran A.VII PERMENDAGRI 13/2006 tentang Kode dan Daftar Program dan Kegiatan Menurut urusan Pemerintahan Daerah yang dilengkapi dengan target kinerja capaian program dan pagu indikatif (dalam lima tahunan)
Target Kinerja Capaian Program (tahun)
I II III IV V I

Prinsip-prinsip

·

·

Metoda

· · ·

Langkah-langkah

·

Informasi yang Disiapkan

· · ·

Template

·

Kode (1) xxxxx xxxxx xxxxx dst

Program (2)

Pagu Indikatif (tahun)
II III IV V

(3)

(4)

Hal-hal Penting yang harus diperhatikan

·

Rencana kerja, penjadwalan dan tujuan, sasaran dan target kinerja capaian program/kegiatan lintas SKPD maupun lintas kewilayahan perlu dikoordinasikan dan disepakati bersama di antara SKPD.

86

M-33 CAPAIAN KEBERHASILAN DAN PERMASALAHAN SERTA KAJIAN TERHADAP STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM)

Tujuan

Sesuai PP No 65/2006 tentang Pedoman Standar Pelayanan Minimal dan PERMENDAGRI No 6/2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan SPM maka SPM yang ditetapkan secara nasional merupakan acuan dalam menentukan pencapaian kinerja pelayanan SKPD maupun sebagai pertimbangan dalam menyusun perencanaan, khususnya target kinerja capaian program dan kegiatan SKPD. Kegiatan ini ditujukan untuk: · Mengukur tingkat pencapaian kinerja pelayanan SKPD terhadap SPM serta menentukan target kinerja capaian program yang ingin dituju selama kurun waktu jangka menengah · Mengetahui permasalahan atau kendala pencapaian kinerja pelayanan SKPD. · Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebutuhan program dan skala prioritasnya · Tingkat pencapaian pelayanan SKPD saat ini dibandingkan terhadap SPM (jika SPM telah ada), atau terhadap kebutuhan pelayanan (jika SPM belum ditetapkan). Kebutuhan peningkatan tingkat pelayanan yang dibutuhkan dalam rangka pencapaian SPM atau kebutuhan pelayanan.

Keluaran

·

Metoda Langkah-langkah

Kajian dilakukan Tim Kerja · · Identifikasi perkembangan capaian kinerja pelayanan SKPD selama beberapa tahun terakhir (5 tahun), Bandingkan capaian kinerja SKPD dengan SPM yang telah ditetapkan (bila sudah ada SPM) atau dengan standar kebutuhan tertentu berdasarkan perhitungan teknis (bila belum ada SPM). Lakukan kajian seberapa besar gap/jurang perbedaan antara capaian kinerja dengan SPM atau Standar kebutuhan minimal. Lakukan kajian terhadap permasalahan dan kendala yang menyebabkan terjadinya perbedaan atau selisih antara capaian kinerja dengan SPM/Standar kebutuhan minimal. Identifikasi kebutuhan pengembangan untuk 5 tahun kedepan sesuai SPM atau Standar kebutuhan minimal. Tentukan target pencapaian sasaran kinerja pelayanan untuk 5 tahun mendatang dengan mempertimbangkan kemampuan serta permasalahan dan kendala yang dihadapi. Data kinerja tingkat pencapaian pelayanan SKPD (time series) SPM untuk bidang SKPD baik yang ditetapkan secara nasional, maupun provinsi dan Kabupaten/Kota

·

·

· ·

Informasi yang Disiapkan

· ·

87

M-33 CAPAIAN KEBERHASILAN DAN PERMASALAHAN SERTA KAJIAN TERHADAP STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM)

Template

Target dan Realisasi Kinerja Capaian Kegiatan Menurut SPM
Target Kinerja Capaian Kegiatan Menurut SPM (tahun ke-)
I II III IV V

No (1) 1 2 3 dst

Program (2)

Kegiatan (3)

Realisasi Kinerja Capaian Kegiatan (tahun ke-)
I II III IV V

(4)

(5)

M-34 PEMBAHASAN FORUM SKPD

Tujuan

Kepala SKPD mengkoordinasikan pembahasan rancangan Renstra SKPD dengan Forum SKPD. Kegiatan ini ditujukan mengelaborasi, mengkonsolidasikan dan mencapai kesepakatan dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) pembangunan SKPD terhadap Rancangan Renstra SKPD. Kegiatan ini juga ditujukan untuk mengkoordinasikan berbagai kepentingan (cross sectoral) dalam pengambilan keputusan. Kegiatan ini juga untuk menumbuhkan semangat bekerja sama di antara stakeholder dalam pengambilan keputusan di berbagai tahapan perencanaan. Materi kesepakatan dan komitmen hasil Forum Renstra SKPD dijadikan masukan utama penyempurnaan rancangan RPJM Daerah, serta menjadi rancangan akhir Renstra SKPD, mencakup: - visi, misi, dan tujuan pembangunan SKPD - strategi dan kebijakan pembangunan SKPD - program dan indikasi kegiatan 1) Inklusif: memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholder SKPD yang relevan untuk mengidentifikasi masalah dan aspirasinya, menunjukkan posisinya, dan merumuskan peranan dan kontribusinya 2) Legitimasi: karena stakeholder Forum SKPD merupakan representatif dari berbagai CSO, maka rencana yang dibuat akan mendapatkan legitimisasi dan dukungan yang lebih kuat. 3) Merespon terhadap kebutuhan: berorientasi pada hasil yang konkrit atas kebutuhan multi stakeholder berdasarkan diskusi dan negosiasi di antara peserta. 4) Mendorong kerjasama dan komitmen: merupakan wadah yang memungkinkan adanya pertukaran pengetahuan, keahlian, dan mobilisasi sumber daya dari berbagai sumber. Di samping

Keluaran

Prinsip-prinsip

88

M-34 PEMBAHASAN FORUM SKPD

itu, wadah ini juga mendorong pemahaman bersama tentang isu dan membangun konsensus. 5) Pengembangan konsensus: mendorong pemahaman yang lebih baik atas perbedaan perspektif dan kepentingan, memfasilitasi pemahaman bersama dan berbagi kepentingan, serta membangun kemauan untuk bekerjasama merumuskan pemecahan masalah. Metoda Langkah-langkah Workshop dan FGD Tahap persiapan: a. Menyiapkan panduan pelaksanaan yang memuat durasi, tanggal/waktu pelaksanaan, mekanisme, susunan acara dan informasi untuk disampaikan kepada peserta FORUM SKPD b. Mengirim surat undangan kepada peserta Tahap pelaksanaan: a. Pemaparan analisis kondisi umum daerah dan prediksi 5 (lima) tahun kedepan; b. Pemaparan visi, misi, dan program Kepala Daerah; c. Pemaparan sasaran hasil pembangunan jangka menengah dan rencana kerja RPJMD yang terkait dengan tugas dan fungsi SKPD ybs; d. Inventarisasi kegiatan yang diperlukan sesuai fungsi dan tugas SKPD dalam melaksanakan rencana kerja RPJMD; e. Perumusan dan penyepakatan tujuan dan strategi serta kebijakan SKPD; f. Penyerasian kegiatan dari rencana kerja SKPD amanat Rancangan Awal RPJMD dengan tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan SKPD; g. Daftar kegiatan dan program Renstra SKPD h. Pemaparan dan penyepakatan program pembangunan daerah yang meliputi program SKPD, Lintas SKPD, dan program kewilayahan, sebagai hasil dari menghimpun kegiatankegiatan dalam rencana kerja RPJMD ke dalam program SKPD, Program Lintas SKPD dan Porsi Program SKPD dalam Program Kewilayahan Tahap pasca pelaksanaan: - Penyusunan naskah kesepakatan Forum SKPD - Penyampaian naskah kesepakatan Forum SKPD kepada Tim Penyusun Renstra SKPD Informasi yang Disiapkan a) Naskah Rancangan Renstra SKPD b) Analisis Renstra K/L terkait dan RPJMD yang akan digunakan dalam pembahasan Rancangan Renstra SKPD

89

M-34 PEMBAHASAN FORUM SKPD

Template

- Lampiran A. X Permendagri No 13/2006 - Lampiran A. VII Permendagri No 13/2006

Ringkasan Lampiran A.X Permendagri No 13/2006
Bidang Urusan Pemerintah Daerah (2) Target Kinerja Capaian Program/ Kegiatan (3) Trget Kinerja Keluaran (4) Organisasi (5) Pagi Indikatif (Rp) (6)

Kode (1)

Ringkasan Lampiran A.VII Permendagri No 13/2006
Program dan Kegiatan (2) Tolak Ukur Kinerja Keluaran (3) Trget Kinerja Capaian Program (4)

Kode (1)

CSO yang tergabung dalam forum SKPD perlu membekali diri dengan pemahaman dan kajian-kajian sesuai dengan bidang SKPD yang dimasukinya. Beberapa hal yang perlu dicermati oleh dalam berbagai kegiatan pembahasan forum SKPD, diantaranya: Apakah forum SKPD sudah melibatkan stakeholders yang memadai, sehingga dari segi keterwakilan peserta sudah mencerminkan partisipatif. Mendorong/memfasilitasi agar proses perumusan tujuan pembangunan SKPD jangka menengah, perumusan strategi dan kebijakan pembangunan SKPD, serta perumusan program dan indikasi prioritas kegiatan, dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat yang punya kompetensi di bidang sektor ini. Mengawal agar perumusan program SKPD mempunyai akuntabilitas tinggi, yaitu dengan mempertimbangkan capaian kinerja periode sebelumnya, acuan SPM yang ada, Renstra SKPD provinsi, serta hasil jaring aspirasi masyarakat yang terkait dengan sektor SKPD yang bersangkutan. CSO dapat juga mengemukakan pemikiran/konsep hasil kajian mereka sendiri untuk dibahas bersama dalam forum SKPD sekaligus sebagai konsep pembanding bagi konsep yang disusun tim penyusun Renstra SKPD. Turut merumuskan dan menandatangani berita acara hasil kesepakatan forum SKPD dan mengawal kosistensinya pada proses-proses berikutnya.

90

M-34 PEMBAHASAN FORUM SKPD

DPRD melalui komisi yang terkait dengan masing-masing SKPD terlibat aktif dan berkontribusi dalam pembahasan-pembahasan forum SKPD, termasuk dalam merumuskan visi, misi dan tujuan SKPD, strategi dan kebijakan sektor serta program dan indikasi kegiatan yang dicanangkan SKPD. Hal pokok yang perlu dicermati oleh DPRD dalam pembahasan forum SKPD adalah: Apakah visi, misi dan tujuan pembangunan yang dituangkan dalam Renstra SKPD dapat mendukung pencapaian visi-misi dan prioritas program kepala daerah terpilih. Apakah strategi dan kebijakan dasar pembangunan sektor SKPD sesuai dengan tupoksi SKPD dan sinkron dengan kebijakan-kebijakan pembangunan nasional serta terkait dengan prioritas-prioritas yang ditentukan daerah. Apakah program dan indikasi kegiatan yang dirumuskan konsisten dengan visi, misi , tujuan, strategi dan kebijakan dasar SKPD Memastikan bahwa setiap SKPD memiliki 3-5 indikator kinerja yang relevan dengan TUPOKSI SKPD dan dapat memggambarkan kinerja pelayanan SKPD dalam mencapai tujuan dan sasaran RPJMD. Bagaimana dampak rumusan program dan indikasi kegiatan dikaitkan dengan kemampuan penyediaan anggaran dan arah kebijakan keuangan daeerah, serta kerangka regulasi yang dibutuhkan. Prioritas-prioritas kegiatan dan program apa yang mendesak dan membutuhkan penanganan segera.

M-35 BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD

Tujuan

Sebagai pernyataan konsensus peserta atas materi pembahasan dalam Forum SKPD dan komitmen peserta untuk terus mendukung tahapan berikutnya. Kegiatan ini ditujukan 1) sebagai berita acara untuk menformalkan secara eksplisit hasil-hasil kesepakatan atas rumusan prioritas isu strategis SKPD, pernyataan visi, misi, dan tujuan pembangunan SKPD, strategi dan kebijakan, kesepakatan atas program dan indikasi kegiatan SKPD, serta kerangka untuk tindak lanjut 2) sebagai alat pemantauan atas pelaksanaan komitmen yang telah disepakati baik komitmen teknis, sumber daya dan dana, termasuk kesepakatan untuk bekerjasama dalam kerangka partisipatif Naskah kesepakatan Forum SKPD (Jangka Menengah) 1) komunikatif dan inklusif- naskah kesepakatan akan menfasilitasi komunikasi semua pihak dengan membuat eksplisit pandangan dan interest yang berbeda dan proses negosiasi sehingga menghasilkan kesepakatan 91

Keluaran Prinsip-prinsip

M-35 BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN FORUM SKPD

2) dinamis- naskah kesepakatan bersifat dinamis, merupakan instrument penting perencanaan berorientasi tindakan dan hasil. Merupakan pernyataan resmi atas hasil-hasil suatu proses partisipasi, sifatnya selalu mengikuti perkembangan dan perubahan dalam implementasinya 3) komitmen- mengemukakan secara jelas dan eksplisit tujuantujuan dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam mencapai tujuan baik secara individu maupun kolaboratif 4) saling melengkapi- naskah kesepakatan yang dirumuskan secara partisipatif ini akan memberikan parameter (nilai tambah) baru bagi daerah dalam pelaksanaan ’good local governance’ Metoda Langkah-langkah Workshop 1) Agenda Forum SKPD dan diskusi dalam kelompok kerja dan pleno perlu distrukturkan sedemikian rupa sehingga hasilhasilnya mudah dituangkan kedalam naskah kesepakatan 2) fasilitator yang independen perlu ditugaskan untuk menyusun rancangan naskah kesepakatan atas nama semua pihak peserta Forum SKPD 3) rancangan naskah kesepakatan selanjutnya direview oleh kelompok kecil yang merepresentasikan semua stakeholder 4) naskah kesepakatan disetujui, ditandatangani oleh semua pihak peserta Forum SKPD 5) pelembagaan naskah kesepakatan dalam peraturan Kepala SKPD 6) review pelaksanaan naskah kesepakatan secara berkala, terutama apabila ada perubahan yang signifikan dalam kondisi ekonomi, sosial, politik dan kelembagaan Contoh: Naskah Kesepakatan Model Daftar Isi Naskah Kesepakatan:Naskah kesepakatan Forum SKPD merupakan pernyataan resmi pandangan dan komitmen dari berbagai stakeholder SKPD ybs dan perwujudan akuntabilitas dan transparansi. Secara garis besar naskah kesepakatan memuat, antara lain: 1. Pembukaan (alasan pertemuan Forum SKPD) 2. Mandat – kerangka regulasi yang melandasi pelaksanaan Forum SKPD 3. Prinsip-prinsip pelaksanaan Forum SKPD 4. Paket komitmen dan tindak lanjut yang disepakati (prioritas program dan kegiatan) 5. Pagu Indikatif dan Sumber Dana6.Sistem dan Mekanisme Pengendalian, Pemantauan, dan Evaluasi 7. Persetujuan dan penandatanganan oleh perwakilah stakeholder 92

Hand out Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

M-36 PENYUSUNAN DOKUMEN RANCANGAN RPJMD

Tujuan

Rancangan RPJMD merupakan dokumen yang disusun berdasarkan masukan dari dokumen Renstra SKPD, hasil pembahasan rancangan awal RPJMD bersama seluruh SKPD dan hasil diskusi terfokus untuk setiap topik bahasan. Kegiatan ini ditujukan untuk: · Lebih memantapkan rumusan isu, strategi, kebijakan, dan program berdasarkan masukan setiap SKPD dan diskusi terfokus. · Mempersiapkan bahan yang lengkap untuk Musrenbang RPJMD. · · · · · · · · Gambaran umum kondisi dan prediksi daerah Perkiraan kemampuan keuangan daerah dan ketersediaan biaya pembangunan Rumusan visi dan misi daerah Isu strategis daerah dan prioritas penanganan Rancangan strategi pembangunan daerah Rancangan kebijakan umum Rancangan prioritas program Kepala Daerah Rancangan arah kebijakan keuangan daerah Perumusan rancangan RPJMD lebih menitikberatkan pada hasil analisis/kajian dan pertimbangan aspek-aspek teknis yang diperkaya dengan diskusi-diskusi terfokus. Uraian dan rumusan harus singkat, jelas dan terukur sehingga tidak mengandung interpretasi yang berbeda.

Keluaran

Prinsip-prinsip

·

·

Metoda Informasi yang Disiapkan

Kerja Kelompok Rumusan hasil analisis/kajian tahapan sebelumnya, meliputi : · Rancangan awal RPJMD · Hasil diskusi FGDs · Hasil pembahasan Ranwal RPJMD bersama SKPD · Dokumen Rancangan Renstra SKPD Prototype Daftar Isi Dokumen RPJMD (LGSP) · Rancangan RPJMD harus lengkap memuat seluruh jenis program serta perkiraan pembiayaan, termasuk perkiraan alokasi dana desa yang akan digunakan oleh desa dalam melaksanakan Musrenbang serta perkiraan alokasi dana untuk SKPD yang akan digunakan bagi SKPD dalam menampung usulan-usulan dari Musrenbang Desa/Kelurahan, Musrenbang Kecamatan dan hasil kajian SKPD sendiri. Rumusan program RPJMD, pada dasarmya merupakan kumpulan renstra SKPD daerah yang bersangkutan yang telah dikaitkan dengan kemampuan pendanaan serta faktor keterbatasan lainnya yang demiliki daerah.

Template Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

·

93

M-37 PENYUSUNAN DOKUMEN RANCANGAN RENSTRA SKPD

Maksud

Rancangan Renstra SKPD merupakan dokumen rancangan perencanaan SKPD untuk jangka menengah yang disusun dalam rangka menunjang visi, misi dan program prioritas Kepala daerah terpilih sesuai dengan tupoksinya masing-masing, serta berdasarkan pada panduan rancangan awal RPJMD · Menyiapkan panduan bagi SKPD dalam menunjang kinerja Kepala Daerah terpilih sekaligus menjalankan fungsi pelayanan umum kepada penduduk sesuai tupoksinya, yang akan dituangkan dalam rencana kerja tahunan SKPD. Memberikan masukan lengkap pada rancangan RPJMD berupa detail rancangan program SKPD Gambaran umum kinerja pelayanan SKPD Rumusan visi dan misi SKPD Isu strategis yang terkait kinerja pelayanan SKPD Perkiraan ketersediaan biaya pembangunan Rancangan tujuan, strategi, dan kebijakan Rancangan program dan kegiatan yang dilengkapi dengan indikasi pendanaan, kerangka regulasi dan kerangka anggaran. Perumusan rancangan Renstra SKPD yang lebih menitikberatkan pada pemberian pelayanan kepada penduduk sesuai tupoksinya, sekaligus berarti menunjang kinerja Kepala Daerah terpilih. Rancangan Renstra SKPD harus berdasarkan hasil analisis/kajian dan pertimbangan aspek-aspek teknis yang diperkaya dengan diskusi-diskusi terfokus. Program dan kegiatan yang diusulkan harus dilengkapi dengan tolok ukur kinerja input dan output yang jelas.

Tujuan

·

Keluaran

· · · · · ·

Prinsip-prinsip

·

·

·

Metoda Informasi yang Disiapkan

Kerja Kelompok · · · · · Rumusan hasil kajian Renstra SKPD Provinsi Rancangan awal RPJMD dan hasil pembahasannya bersama SKPD Rumusan hasil pembahasan Forum SKPD Rumusan hasil kajian pencapaian keberhasilan dan permasalahan SKPD, Rumusan kebutuhan program, berdasarkan kajian-kajian sebelumnya. Rumusan program dan kegiatan harus lengkap dan terukur, juga dilengkapi dengan perkiraan pembiayaan, Sasaran menunjang visi, misi dan prioritas program kepala daerah terpilih tidak boleh mengabaikan fungsi SKPD dalam memberikan pelayanan umum kepada penduduk. Rancangan program dan kegiatan SKPD wajib dikoordinasikan dengan program dan kegiatan SKPD Provinsi. 94

Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

· ·

·

M-38 MUSRENBANG RPJM-D

Tujuan

Sesuai UU No 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, diperlukan pelaksanaan Musrenbang untuk penyusunan RPJMD. Kepala Bappeda mengkoordinasikan kegiatan ini dengan tujuan membahas rancangan RPJM Daerah bersama para pemangku kepentingan pembangunan. Hasil Musrenbang dijadikan masukan bagi penyempurnaan rancangan RPJM Daerah. Materi kesepakatan dan komitmen hasil Musrenbang Jangka Menengah Daerah sebagai masukan utama penyempurnaan rancangan RPJM Daerah, menjadi rancangan akhir RPJM Daerah. 1. Inklusif: memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholder yang relevan untuk mengidentifikasi kepedulian mereka, menunjukkan posisinya, dan memutuskan peran dan kontribusinya 2. Proses berkelanjutan: bukan merupakan proses yang berhenti pada waktu Musrenbang saja, melainkan tahapan ini akan ditindaklanjuti dengan keterlibatan CSO dalam tahapan pengawalan, implementasi, pengendalian dan evaluasi rencana. 3. Demand Driven: Musrenbang perlu difasilitasi dan dipandu oleh fasilitator yang kompeten untuk menghasilkan keluaran yang nyata dan menstrukturkan pembahasan sedemikian rupa sehingga kondusif bagi peserta untuk menyampaikan masalah dan pendapatnya 4. Merespon terhadap kebutuhan: berorientasi pada hasil yang konkrit atas kebutuhan multi stakeholder berdasarkan diskusi dan negosiasi di antara peserta. 5. Kerjasama: merupakan wadah yang memungkinkan adanya pertukaran pengetahuan, keahlian, dan mobilisasi sumber daya dari berbagai sumber. Di samping itu, wadah ini juga mendorong pemahaman bersama tentang isu dan membangun konsensus. 6. Konsensus: mendorong pemahaman yang lebih baik atas perbedaan perspektif dan kepentingan, memfasilitasi pemahaman bersama dan berbagi kepentingan, serta membangun kamauan untuk bekerjasama mencari pemecahan masalah. Workshop dan FGD. Lazimnya didahului dengan Pleno berupa latar belakang dan presentasi, kemudian Sidang Kelompok membahas isu, peranan, dan kontribusi masing-masing stakeholder, brainstorming dan diakhiri dengan Pleno untuk merangkum hasil kelompok dan merumuskan kesepakatan.

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda

95

M-38 MUSRENBANG RPJM-D

Langkah-langkah

Tahap persiapan: a. Menyiapkan panduan pelaksanaan yang memuat durasi, tanggal/waktu pelaksanaan, mekanisme dan susunan acara dengan kelompok bahasan sebagai berikut: · Pemaparan visi, misi, dan program Kepala Daerah; · Pemaparan hasil analisis kondisi umum daerah dan prediksi · 5 (lima) tahun kedepan; · Pemaparan dan penyepakatan strategi pembangunan · daerah dan kebijakan umum; · Pemaparan dan penyepakatan arah kebijakan keuangan · daerah; · Pemaparan dan penyepakatan program pembangunan daerah yang meliputi program SKPD, Lintas SKPD, dan program kewilayahan daerah b. Mengirim surat undangan kepada peserta Tahap pelaksanaan: a) Pemaparan visi, misi, dan program Kepala Daerah; b) Pemaparan analisis kondisi umum daerah dan prediksinya; c) Pemaparan dan penyepakatan strategi pembangunan daerah utamanya komposisi dan durasi masing-masing rencana kerja untuk menghasilkan sasaran hasil pembangunan jangka menengah dan kebijakan umum; d) Pemaparan dan penyepakatan arah kebijakan keuangan daerah; e) Pemaparan dan penyepakatan program pembangunan daerah yang meliputi program SKPD, Lintas SKPD, dan program kewilayahan; f) Merumuskan kesepakatan para pemangku-kepentingan pembangunan hasil Musrenbang Jangka Menengah Daerah; g) Membacakan hasil rumusan oleh Kepala Bappeda Tahap pasca pelaksanaan: · Penyusunan naskah kesepakatan Musrenbang RPJMD · Penyampaian naskah kesepakatan Musrenbang RPJMD kepada Tim Penyusun RPJMD

Informasi yang Disiapkan Template

Naskah Rancangan RPJM Daerah

Surat Edaran Menteri Dalam Negeri NOMOR 050 / 2020 / SJ TAHUN 2005 tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah dan RPJM Daerah

96

M-38 MUSRENBANG RPJM-D

Dalam musrenbang CSO teribat dalam sidang pleno, sidang kelompok maupun perumusan kesepakatan. Dalam sidang/pembahasan kelompok masing-masing CSO diarahkan tergabung dalam kelompok yang sesuai dengan bidang yang menjadi perhatian/garapannya, sehingga akan menghasilkan kontribusi yang maksimal. Peran yang dapat dilakukan CSO, dalam pelaksanaan Musrenbang RPJMD, antara lain : Mendorong/memfasilitasi agar proses pelaksanaan musrenbang tidak terjebak pada acara seremonial, melainkan ikut aktif bekerjasama agar pelaksanaan musrenbang RPJMD lebih intensif dalam pembahasan substansi dengan peserta musyawarah yang melibatkan keterwakilan pemangku kepentingan yang memadai. Bertindak sebagai fasilitator dalam diskusi/pembahasan kelompok yang mendorong dinamika pembahasan dan kecermatan dalam membahas rumusan-rumusan yang diusulkan sesuai usulan dan sasaran pelaksanaan musrenbang maupun tujuan pembangunan secara umum. Memastikan bahwa RPJMD memuat capaian program dan alokasi dana yang memadai untuk mencapai STANDAR PELAYANAN MINIMAL untuk semua pelayanan dasar terutama bagi masyarakat berpendapatan rendah Memastikan bahwa RPJMD memuat indikator kinerja penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan daerah dan kinerja diperingkat program pembangunan daerah yang memungkinkan masyarakat dapat menilai keberhasilan atau ketidak berhasilan pencapaian VISI, MISI dan AGENDA KEPALA DAERAH TERPILIH Mengawal agar substansi RPJMD mengandung muatan strategi, kebijakan dan program yang berorientasi pada kepentingan umum dan pemberdayaan kelompok-kelompok marginal, serta mempertimbangan tujuan pembangunan global (Millenium Development Goals). Mencermati substansi bahasan, yang meliputi kondisi dan prediksi daerah serta isu-isu strategis daerah, analisis kemampuan keuangan daerah dan arah kebijakan keuangan daerah, strategi dan kebijakan umum pembangunan daerah, serta program prioritas daerah dikaitkan dengan hasil jaring aspirasi masyarakat. Mengawal dan mengidentifikasi apakah materi hasil kesepakatan forum SKPD telah diakomodasi dalam draft musrenbang yang akan dibahas.

Unsur DPRD melalui komisi-komisi yang ada perlu terlibat aktif dalam pelaksanaan musrenbang RPJMD, baik dalam sidang/pembahasan kelompok maupun dalam sidang pleno dan perumusan kesepakatan bersama. Dalam musrenbang, kedudukan unsur DPRD sama dengan peserta lainnya yang diharapkan memberikan kontribusi pemikiran dan pendapatnya terhadap materi bahasan. Sesuai dengan latar belakang institusi yang diwakilinya, maka unsur DPRD ini diharapkan juga memberikan pandangan/ pendapatnya dari aspek regulasi serta kebijakan daerah. Kemungkinan peranan dan kontribusi yang dapat diberikan oleh DPRD: • Merumuskan isu dan permasalahan strategis daerah • Memberikan pokok-pokok pikiran tentang tema dan prioritas program pembangunan daerah • Memastikan bahwa tujuan, strategi, kebijakan dan capaian program prioritas RPJMD benarbenar diorganisasikan secara terpadu dan sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat • Memastikan bahwa RPJMD memuat capaian program dan alokasi dana yang memadai untuk mencapai STANDAR PELAYANAN MINIMAL untuk semua pelayanan dasar terutama bagi masyarakat berpendapatan rendah • Memastikan adanya kesepakatan tentang indikator kinerja penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan daerah dan kinerja diperingkat program pembangunan daerah yang memungkinkan masyarakat dapat menilai keberhasilan atau ketidak berhasilan pencapaian VISI, MISI dan AGENDA KEPALA DAERAH TERPILIH • Merumuskan kebutuhan dukungan program regulasi untuk pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD • Memastikan kesepakatan MUSRENBANG RPJMD telah memuat komitmen dari semua pihak untuk melaksanakannya.

97

M-39 NASKAH KESEPAKATAN HASIL MUSRENBANG RPJMD

Tujuan

Kegiatan ini ditujukan sebagai (1) pernyataan konsensus peserta atas materi pembahasan dalam Musrenbang RPJMD dan komitmen peserta untuk terus mendukung tahapan berikutnya; (2) sebagai berita acara untuk menformalkan secara eksplisit hasil-hasil kesepakatan atas rumusan prioritas isu strategis daerah, agenda pembangunan SKPD, strategi dan kebijakan, serta kesepakatan atas program pembangunan 5 tahunan dan kerangka untuk tindak lanjut; (3) sebagai alat pemantauan atas pelaksanaan komitmen yang telah disepakati baik komitmen teknis, sumber daya dan dana, termasuk kesepakatan untuk bekerja sama dalam kerangka partisipatif Naskah kesepakatan hasil Musrenbang RPJMD 1. komunikatif dan inklusif- naskah kesepakatan akan menfasilitasi komunikasi semua pihak dengan membuat eksplisit pandangan dan interest yang berbeda dan proses negosiasi sehingga menghasilkan kesepakatan 2. dinamis- naskah kesepakatan bersifat dinamis, merupakan instrument penting perencanaan berorientasi tindakan dan hasil. Merupakan pernyataan resmi atas hasil-hasil suatu proses partisipasi, sifatnya selalu mengikuti perkembangan dan perubahan dalam implementasinya 3. komitmen- mengemukakan secara jelas dan eksplisit tujuantujuan dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam mencapai tujuan baik secara individu maupun kolaboratif4. saling melengkapi- naskah kesepakatan yang dirumuskan secara partisipatif ini akan memberikan parameter (nilai tambah) baru bagi daerah dalam pelaksanaan ’good local governance’ Workshop 1. Agenda Musrenbang RPJMD dan diskusi dalam kelompok kerja dan pleno perlu distrukturkan sedemikian rupa sehingga hasil-hasilnya mudah dituangkan ke dalam naskah kesepakatan 2. fasilitator yang independen perlu ditugaskan untuk menyusun rancangan naskah kesepakatan atas nama semua pihak peserta Musrenbang RPJMD 3. rancangan naskah kesepakatan selanjutnya direview oleh kelompok kecil yang merepresentasikan semua stakeholder 4. naskah kesepakatan disetujui, ditandatangani oleh semua pihak peserta Musrenbang RPJMD 5. pelembagaan naskah kesepakatan dalam peraturan Kepala Daerah

Keluaran Prinsip-prinsip

Metoda Langkah-langkah

98

M-39 NASKAH KESEPAKATAN HASIL MUSRENBANG RPJMD

6. review pelaksanaan naskah kesepakatan secara berkala, terutama apabila ada perubahan yang signifikan dalam kondisi ekonomi, sosial, politik dan kelembagaan Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan Model Daftar Isi Naskah Kesepakatan: Naskah kesepakatan Musrenbang RPJMD merupakan pernyataan resmi pandangan dan komitmen dari berbagai stakeholder dan perwujudan akuntabilitas dan transparansi. Secara garis besar naskah kesepakatan memuat, antara lain: 1. Pembukaan (alasan pertemuan Musrenbang RPJMD) 2. Mandat – kerangka regulasi yang melandasi pelaksanaan Musrenbang RPJMD 3. Prinsip-Prinsip pelaksanaan Musrenbang RPJMD 4. Paket komitmen dan tindak lanjut yang disepakati ( tujuan, sasaran, kebijakan, prioritas program, target kinerja capaian program) 5. Pagu Indikatif dan Sumber Dana 6. Mekanisme Pengendalian, Pemantauan dan Evaluasi7. Persetujuan dan penandatanganan oleh seluruh perwakilan stakeholder

Tim perumus kesepakatan hasil musrenbang terdiri atas unsurunsur perwakilan pemerintah daerah, perwakilan DPRD, perwakilan tokoh masyarakat, perwakilan CSO (Perguruan Tinggi, Asosiasiasosiasi/perhimpunan, kelompok pengusaha, Organisasi Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat). Dalam perumusan kesepakatan, CSO berperan untuk menyusun sekaligus menjaga agar rumusan hasil musrenbang tidak keluar dari kesepakatan-kesepatan yang telah dicapai secara bersama, untuk itu sebelum ditandatangani naskah kesepakatan disampaikan terlebih dahulu kepada peserta pleno untuk dimintai persetujuannya.

Tim perumus kesepakatan hasil musrenbang terdiri atas unsur-unsur perwakilan pemerintah daerah, perwakilan DPRD, perwakilan tokoh masyarakat, perwakilan CSOs (Perguruan Tinggi, Asosiasi-asosiasi/ perhimpunan, kelompok pengusaha, Organisasi Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat). Dalam perumusan kesepakatan unsur DPRD sama dengan tim perumus lainnya secara bersama-sama menyusunnya dengan mempertimbangkan kemungkinan pelaksanaannya, dikaitkan dengan potensi dan permasalahan daerah.

99

M-40 PENYUSUNAN DOKUMEN RANCANGAN AKHIR RPJMD

Tujuan

Penyusunan Dokumen Rancangan Akhir RPJMD merupakan tahapan akhir kegiatan dari proses teknis perencanaan yang muatan isinya sama dengan Rancangan RPJMD setelah dibahas bersama seluruh stakeholder melalui Musrenbang RPJMD. Kegiatan ini ditujukan untuk finalisasi dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk jangka 5 tahun mendatang, yang akan dijadikan sebagai acuan dalam merencanakan pembangunan tahunan daerah. Dokumen RPJMD lengkap yang berisikan tentang: · Gambaran umum kondisi dan prediksi daerah · Perkiraan kemampuan keuangan daerah dan ketersediaan biaya pembangunan · Rumusan visi dan misi daerah · Isu strategis daerah dan prioritas penanganan · Strategi pembangunan daerah · Kebijakan umum daerah · Prioritas program Kepala Daerah · Arah kebijakan keuangan daerah (termasuk perkiraan pagu indikatif) Rancangan Akhir RPJMD harus sudah lengkap dan telah mengakomodasi kesepakatan-kesepakatan yang dicapai pada tahap-tahap sebelumnya. Dilaksanakan oleh Kelompok Kerja 1. Pelajarilah dan kajilah materi yang tertuang dalam Naskah Kesepakatan Hasil Musrenbang RPJMD. 2. Verifikasi kelengkapan teknis dari hasil kesepakatan Musrenbang, seperti lokasi, volume, standar satuan dan harga, kriteria-kriteria yang digunakan, format teknis. 3. Cek ulang dan perbaiki rancangan RPJMD terhadap hasil kesepakatan Musrenbang, 4. Konfirmasikan ulang program-program yang akan dilaksanakan oleh Kementrian dan Lembaga, serta SKPD Provinsi di daerah rencana untuk tahun yang direncanakan. Rumusan hasil analisis/kajian tahapan sebelumnya, meliputi : · Rancangan RPJMD · Naskah kesepakatan Hasil Musrenbang RPJMD. Prototype Daftar Isi RPJMD · Substansi Rancangan Akhir RPJMD merupakan rangkuman dari Renstra-renstra SKPD, sedangkan Renstra SKPD sendiri disusun berdasarkan acuan/koridor yang telah disepakati

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda Langkah-langkah

Informasi yang Disiapkan

Template Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

100

M-40 PENYUSUNAN DOKUMEN RANCANGAN AKHIR RPJMD

· ·

dalam Rancangan Awal RPJMD. Dengan demikian, substansi seluruh Renstra SKPD tidak berbeda dengan substansi RPJMD. Rancangan Akhir RPJMD dapat digunakan sebagai lampiran kelengkapan Naskah Akademik Rancangan Perda RPJMD. Rancangan Akhir RPJMD yang telah di-Perda-kan merupakan satu-satunya dokumen perencanaan jangka menengah daerah.

M-41 PENYUSUNAN DOKUMEN RENSTRA SKPD

Tujuan

Penyusunan Dokumen Rencana Strategis (Renstra) SKPD dilaksanakan setelah pelaksanaan Musrenbang RPJMD, yang pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari rancangan Renstra SKPD yang dibuat sebelumnya, dengan memasukkan koreksi dan kesepakatan hasil musrenbang untuk program dan kegiatan yang terkait dengan bidang SKPD. Secara formal penyusunan dokumen Renstra SKPD dibuat setelah diselesaikannya dokumen akhir RPJMD. Kegiatan ini ditujukan untuk finalisasi dokumen Rencana Strategis SKPD jangka 5 tahun mendatang, merupakan acuan bagi SKPD dalam merumuskan program pembangunan tahunannya dan terkait dengan tugas SKPD dalam meningkatkan pelayanan serta menunjang visi dan misi Bupati. Dokumen Rentra SKPD yang berisikan tentang · Gambaran umum dan kondisi kinerja pelayanan SKPD dan prediksi jangka menengah kedepan · Perkiraan kemampuan pendanaan pelayanan SKPD · Rumusan visi dan misi SKPD · Isu strategis bidang SKPD dan prioritas penanganan · Strategi dan kebijakan pelayanan SKPD · Prioritas program dan kegiatan SKPD · Indikasi pendanaan, kerangka regulasi dan kerangka anggaran · · Renstra SKPD dibuat secara simultan dengan proses penyusunan RPJMD. Substansi Renstra SKPD sama dengan substansi yang terkandung dalam rancangan Akhir RPJMD. Rancangan Akhir RPJMD memuat semua program dan kegiatan SKPD untuk 5 tahun mendatang, sedangjkan detail teknis dan kedalaman informasinya disajikan dalam Renstra SKPD.

Keluaran

Prinsip-prinsip

Metoda

Dilaksanakan oleh Kelompok Kerja SKPD

101

M-41 PENYUSUNAN DOKUMEN RENSTRA SKPD

Informasi yang Disiapkan

Rumusan hasil analisis/kajian tahapan sebelumnya, meliputi : · Rancangan Akhir RPJMD · Rancangan Renstra SKPD untuk bidang masing-masing. · Naskah kesepakatan Hasil Musrenbang RPJMD · Naskah hasil forum SKPD. Prototype Daftar Isi Renstra SKPD
BAB.1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan 1.3 Landasan Hukum 1.4 Kedudukan dan Peranan Renstra SKPD dalam Perencanaan Daerah 1.5 Sistematika Penulisan BAB.2 TUGAS POKOK DAN FUNGSI SKPD 2.1 Struktur Organisasi 2.2 Susunan Kepegawaian dan kelengkapan 2.3 TUPOKSI 2.4 Sistem, Prosedur, Mekanisme (dan lain-lain yang perlu) BAB.3 PROFIL KINERJA PELAYANAN SKPD 1.1 Kinerja Pelayanan Masa Kini (menurut berbagai aspek pelayanan dan capaian terhadap STANDAR PELAYANAN MINIMAL) 1.2 Kelemahan dan Kekuatan Internal 1.3 Peluang dan Tantangan Eksternal 1.4 Rumusan Permasalahan Strategis yang dihadapi masa kini 1.5 Rumusan Perubahan, Kecenderungan Masa Depan yang berpengaruh pada TUPOKSI SKPD 1.6 Rumusan Perubahan Internal dan Eksternal yang perlu dilakukan (untuk lebih efisien dan efektif) BAB.4 VISI, MISI, TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 1.1 Visi SKPD 1.2 Misi SKPD 1.3 Tujuan (memenuhi kriteria SPECIFIC,MEASURABLE, ACHIEVABLE, RESULTS ORIENTED,TIME BOUND) 1.4 Strategi 1.5 Kebijakan BAB.5 PROGRAM 5.1 Program SKPD 5.2 Program Lintas SKPD 5.3 Program Lintas Kewilayahan 5.4 Pagu Indikatif dan Indikasi Sumber Pendanaan BAB.6 PENUTUP

Template

Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

·

·

Renstra SKPD berisikan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan selama 5 tahun ke depan yang dilengkapi dengan indikasi pendanaan dan sumber keuangannya, baik sumber dana APBN, APBD Provinsi maupun APBD Kabupaten/Kota. Renstra SKPD disahkan melalui Peraturan Kepala SKPD dan merupakan dokumen acuan dalam penyusunan program tahunan.

102

M-42 PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIS RANCANGAN PERDA RPJMD

Tujuan

Penyusunan Naskah Akademis Rancangan Perda RPJMD dibuat sebagai kelengkapan proses legalisasi dokumen RPJMD menjadi dokumen resmi daerah yang akan dicatatkan dalam Lembaran Daerah. Tujuannya adalah mempermudah proses legalisasi dokumen RPJMD. Naskah/rancangan Perda yang siap untuk dibahas bersama DPRD untuk disahkan setelah mengakomodasi masukan dari DPRD. · Substansi naskah akademis rancangan Perda tidak berbeda dengan dokumen RPJMD, perbedaan hanya dalam bentuk formatnya, yaitu dari format teknis, menjadi format legal/ hukum. Bentuk naskah akademis rancangan Perda RPJMD mempunyai 2 alternatif, yaitu naskah teknis (dokumen RPJMD) yang disatukan dengan naskah legalitasnya, atau naskah legalitas dibuat tersendiri dengan naskah teknis (dokumen RPJMD) dijadikan sebagai lampiran yang tidak terpisahkan.

Keluaran

Prinsip-prinsip

·

Metoda

Lokakarya Tim Penyusun dengan Bagian Hukum Sekretariat Daerah Rancangan Akhir RPJMD

Informasi yang Disiapkan Template

· ·

Pedoman penyusunan Perda Keputusan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional No.G159.PR.09.10 Tahun 1994 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Naskah Akademik Peraturan Perundang-undangan. Untuk mempermudah pemahaman isi dari RPJMD dan/atau substansi Naskah Akademis Rancangan Perda RPJMD bagi DPRD, maka Tim penyusun perlu menyiapkan ringkasan eksekutif RPJMD Naskah Akademis sekurang-kurangnya memuat: - Latar belakang perlunya membuat Perda - Maksud dan tujuan serta permasalahan yang akan ditangani Perda - Manfaat Perda bagi masyarakat umum - Bagaimana cara Perda akan mengatasi masalah yang ada - Ruang lingkup Substansi yang akan diatur oleh Perda - Pemenuhan Perda terhadap asas kepentingan umum, asas keterbukaan, dan asas akuntabilitas - Pengaturan kelembagaan untuk implementasi Perda - Sanksi Naskah Ranperda memuat: - Judul Perda 103

Hal-hal Penting yang Harus diperhatikan

·

·

·

M-42 PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIS RANCANGAN PERDA RPJMD

- Menimbang. Konsiderans sosiologis, filosofis dan yuridis - Mengingat. Landasan hukum yang memberikan kewenangan dan Substansi - Menetapkan. Adalah batang tubuh PERDA yang mencakup: · Ketentuan Umum · Asas dan Tujuan · Ruang Lingkup Pengaturan (substansi PERDA) - Isu strategis daerah - Visi, misi - Agenda pembangunan daerah - Tujuan, strategi, dan kebijakan umum pembangunan daerah - Kebijakan keuangan daerah - Program prioritas · Ketentuan Sanksi · Ketentuan Peralihan · Ketentuan Penutup · Penjelasan atas Perda M-43 PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIS RANCANGAN PERKA SKPD

Penjelasan:

Peraturan dan perundangan yang ada tidak mengatur tentang perlunya naskah akademis untuk Peraturan Kepala SKPD. Namun apabila ada inisiatif untuk melakukannya dapat mengikuti cara-cara penyusunan Naskah Akademis Perda RPJMD.

M-47 PEMBAHASAN DPRD TENTANG RANPERDA RPJMD

Pembahasan Ranperda RPJMD oleh DPRD bersifat terbuka, oleh karena itu perlu ditentukan agar ada perwakilan CSO yang ikut menghadiri pembahasan DPRD. Dalam hal ini CSO yang diundang dapat berfungsi sebagai pemantau dan atau sebagai narasumber. Kewajiban CSO dalam proses pembahasan Ranperda, antara lain : Mereview konsep naskah akademik Ranperda dikaitkan dengan kesepakatan-kesepakatan publik yang pernah dicapai pada tahap-tahap sebelumnya. Memantau dan menjaga agar pembahasan tidak menyimpang dari substansi RPJMD yang tertuang di dalam Ranperda. Membantu Tim Pemda dalam menjelaskan dan mengklarifikasi konsep-konsep atau rumusanrumusan yang tertuang dalam Ranperda. Mencatat keberatan-keberatan DPRD atau perubahan yang dilakukan DPRD. Membantu Pemda dalam mensosialisasikan hasil pembahasan Ranperda oleh DPRD kepada masyarakat, apabila sudah dicapai kesepakatan/keputusan.

104

M-47 PEMBAHASAN DPRD TENTANG RANPERDA RPJMD

Pembahasan Ranperda RPJMD merupakan kewenangan (domain) DPRD, namun selaras dengan paradigma yang berkembang, agar mempunyai legitimasi yang kuat, maka proses pembahasan Ranperda ini perlu juga menghadirkan perwakilan CSOs sebagai narasumber, serta pelaksanaan pembahasan diselenggarakan secara terbuka, sehingga masyarakat dapat menyaksikan dan memantau jalannya persidangan. Dalam pembahasan ini, DPRD perlu juga mengkaji catatan dan rekomendasi dari Gubernur cq Ketua Bappeda Provinsi atas naskah Perda, dan memeriksa apakah telah diakomodasi dalam naskah Perda yang disampaikan Pemda untuk dibahas DPRD.

M-49 DOKUMEN RPJMD YANG TELAH DISYAHKAN

Penjelasan:

Merupakan dokumen perencanaan jangka menengah daerah yang telah berketetapan hukum, melalui Perda, yang menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah yang bersifat tahunan, maupun bagi penyusunan Renstra SKPD.

M-50 DOKUMEN RENSTRA SKPD TELAH DISYAHKAN

Penjelasan:

Merupakan dokumen perencanaan jangka menengah SKPD yang telah resmi dan disepakati dengan legalitas melalui Peraturan Kepala SKPD, yang menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja SKPD.

105

H A N D O U T

HANDOUT HANDOUT

106

H A N D O U T
PROYEKSI KEUANGAN DAERAH DAN PROYEKSI BELANJA DAERAH
MUBARNO, Service Provider LGSP
I. PENDAHULUAN Di dalam PP 58/2005 dibahas pula tentang penyusunan rancangan APBD, secara ringkas dapat ditarik garis tata urutan proses penyusunan rancangan APBD: Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 1. RKPD disusun pemerintah daerah adalah merupakan penjabaran dari RPJMD dengan menggunakan bahan dari Renja SKPD untuk jangka waktu 1(satu) tahun yang memuat rancngan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan dan kewajiban daerah (mempertimbangkan prestasi capaian standar pelayanan minimal), rencana kerja yang terukur dan pendanaannya baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Renja SKPD merupakan penjabaran dari Renstra SKPD yang disusun berdasarkan evaluasi pencapaian pelaksanaan program dan kegiatan tahun sebelumnya. Dokumen RPJMD yang disusun oleh kepala daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun, merupakan penjabaran visi, misi dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dengan memperhatikan RPJM Nasional dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah. 2. Rensta SKPD yang disusun oleh SKPD yang mengacu pada RPJMD memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan

1.1. Ruang Lingkup Proyeksi keuangan daerah dan proyeksi belanja daerah adalah sebagai kelengkapan dari dokumen perencanaan daerah, analisis keuangan daerah diperlukan karena dapat memperlihatkan kondisi eksisting keuangan daerah baik dari pos pendapatan maupun pada pos belanja yang nantinya dapat dipergunakan dalam penentuan proyeksi ke depan dengan upaya-upaya peningkatannya, selain itu dapat diketahui pula perkiraan dana perimbangan, termasuk dalam melaksanakan analisis perencanaan keuangan daerah apabila kemampuan daerah mencukupi maka dapat pula melaksanakan pinjaman. Peraturan Pemerintah No 58 tahun 2005 merupakan tata aturan kewenangan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan keuangan daerah yang mana merupakan suatu subsistem dari sistem pengelolaan keuangan negara, adapun yang melatarbelakangi terbitnya PP No 58 Tahun 2005 dan telah digunakan sebagai acuan sebelumnya adalah: • UU 17/2003 tentang Keuangan Negara • UU 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara • UU 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara • UU 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Dengan diterbitkannya PP 58/2005 bertujuan dalam pengelolaan keuangan negara dan daerah dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, dengan tiga pilar tata kelola pemerintahan yaitu transparansi, akuntabilitas dan partisipatif. Transparansi: merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-luasnya tentang keuangan daerah. Akuntabilitas: segala bentuk penggunaan dana yang dipergunakan dapat dipertanggung jawabkan. Partisipatif: keterlibatan stakeholder (masyarakat luas) sejak dalam pelaksanaan penyusunan anggaran sampai pada pelaksanaan kegiatan pembangunan, di antaranya berupa konsultasi publik sebagai media untuk menyampaikan kepada masyarakat informasi penganggaran.

Kebijakan Umum APBD (KUA) Kepala Daerah berdasarkan RKPD menyusun rancangan KUA sebagai landasan penyusunan RAPBD untuk tahun berikutnya berpedoman pada pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan oleh Mendagri dan disampaikan kepada DPRD, disepakati bersama DPRD dalan nota kesepakan dan ditandatangani bersama menjadi Kebijakan Umum APBD, selanjutnya kepala daerah menerbitkan pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagai pedoman kepala SKPD menyusun RKASKPD Adapun garis besar isi dari Kebijakan Umum APBD adalah rancangan prioritas kegiatan dan plafon

107

H A N D O U T
anggaran sementara, hal tersebut dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menentukan skala prioritas dalam urusan wajib dan urusan pilihan b) Menentukan urutan program dalam masingmasing urusan c) Menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) disusun oleh kepala SKPD dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah, penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja. Secara garis besar Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) memuat rencana pendapatan, belanja untuk masing-masing program dan kegiatan menurut fungsi untuk tahun yang direncanakan dirinci sampai dengan rincian obyek pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta prakiraan maju untuk tahun berikutnya Arah Kebijakan Keuangan Daerah adalah kebijakan penyusunan program dan indikasi kegiatannya pada pengelolaan pendapatan dan belanja daerah secara efektif dan efisien. Untuk memenuhi kebutuhan uraian Arah Kebijakan Keuangan Daerah tersebut maka data yang diperlukan, antara lain mengenai: a. Sumber pendapatan daerah dan sejarah perkembangannya; b. Alokasi belanja daerah dan sejarah perkembangannya; c. Kebijakan umum anggaran. Dengan demikian perencanaan keuangan daerah yang lebih strategis akan lebih dapat memberikan kontribusi yang lebih berarti bagi pelaksanaan dan atau penyelenggaraan otonomi daerah, mendorong terciptanya akselerasi pembangunan daerah dan pemerataan hasil-hasilnya hingga keberhasilan dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat daerah. Keberadaan sistem pemerintah yang baik (good governance), dengan adanya perencanaan keuangan daerah akan menjadi sebuah pendekatan model yang amat strategis, dan lebih memungkinkan timbulnya kekuatan untuk menggali dan atau memberdayakan potensi daerah. Potensi daerah baik berupa sumber daya manusia, alam, buatan dan ekonomi, harus diberdayakan seoptimal mungkin secara komprehensif sehingga benar-benar mampu memberikan nilai tambah bagi pemerintah daerah dengan segenap masyarakat daerah. Dengan pendekatan model seperti inilah tantangan dapat dieleminir dan peluang dapat lebih diberdayakan, sehingga kesan adanya tantangan atau beban berat yang datang bersamaan dengan peluang yang memberikan harapan besar bagi daerah sejak bergulirnya otonomi daerah berdasarkan UU No.22 tahun 1999 dapat diantisipasi. 1.2. Proses Penyusunan Perencanaan Keuangan Daerah Penyusunan perencanaan keuangan daerah dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1. Mereview data realisasi selama kurun waktu paling sedikit 5(lima) tahun kebelakang 2. Mengidentifikasi kemampuan pembiayaan eksisting baik terhadap pembiayaan yang berasal dari pemerintah, masyarakat maupun swasta. 3. Mengkaji kemungkinan peningkatan kemampuan pembiayaan secara optimal baik pembiayaan dari pemerintah, masyarakat maupun swasta. 4. Menghitung atau memperkirakan kemampuan pembiayaan pembangunan jangka menengah berdasarkan kemungkinan-kemungkinan peningkatan yang ada. 5. Merumuskan program-program dan rencana tindak pemantapan pembiayaan pembangunan. 6. Memproyeksikan seluruh pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan. II. GAMBARAN UMUM POTENSI PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN DAERAH

2.1. Perekonomian Daerah Mengacu kepada visi dan misi daerah, yang nantinya akan ditindaklanjuti dengan pernyusunan anggaran, maka perlu adanya melihat realita potensi daerah yang ada, hal tersebut akan menjadikan pedoman dalam menentukan kebijakan penganggaran untuk masa yang akan datang. Secara makro, untuk dapat mengukur tingkat pertumbuhan ekonomi, mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat serta evaluasi tentang sasaran pembangunan yang telah dicapai. Salah satu pedoman yang harus ada adalah tersedianya data PDRB, yaitu dengan menghitung nilai produk barang-barang yang dihasilkan di suatu Kota/ Kabupaten minimal setiap tahun. Dari hasil penghitungan dimaksud disebut dengan penghitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dari nilai PDRB yang dimaksud kita dapat pula mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat dengan menghitung pendapatan perkapita. Untuk lebih mendekati sasaran pembangunan ke depan,

108

H A N D O U T
sebaiknya PDRB perkapita dihitung sampai ke wilayah yang lebih kecil seperti dimulai dari distrik, kabupaten/kota, propinsi sampai perkapita dalam suatu negara. Dengan tersedianya data PDRB, berbagai manfaat dan kegunaan yang dapat diperoleh antara lain adalah sebagai berikut : a. Sebagai evaluasi terhadap tingkat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi suatu daerah b. Mengetahui struktur perekonomian suatu daerah c. Sebagai salah satu indikator mengenai tingkat kemakmuran suatu wilayah/daerah dengan mengetahui besarnya pendapatan perkapita d. Mengetahui tingkat pertumbuhan/ perubahan harga (inflasi/deflasi). e. Sebagai salah satu bahan evaluasi maupun sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan untuk meletakkan dasar Perencanaan Pembangunan dimasa yang akan datang. Beberapa konsep yang digunakan dalam penghitungan PDRB. a. PDRB adalah seluruh nilai netto barang dan jasa (komoditi) yang diproduksi pada suatu wilayah domestik/regional tanpa memperhatikan pemilikan faktor-faktor produksinya. PDRB dapat dilihat dari tiga pendekatan, yaitu: • Segi produksi, PDRB merupakan jumlah netto atas suatu barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi dalam suatu wilayah dan biasanya dalam jangka waktu tertentu (satu tahun) • Segi pendapatan, PDRB merupakan jumlah balas jasa (pendapatan) yang diterima oleh faktor-faktor produksi karena ikut sertanya dalam proses produksi dalam suatu wilayah dan biasanya dalam jangka waktu tertentu (satu tahun) • Segi pengeluaran, PDRB merupakan jumlah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga, pemerintah dan lembaga swasta non profit, investasi serta ekspor netto (setelah dikeluarkan impornya), biasanya dalam jangka waktu tertentu (satu tahun) b. PDRB atas dasar harga berlaku, adalah jumlah nilai barang dan jasa (komoditi) atau pendapatan, atau pengeluaran yang dinilai sesuai dengan harga berlaku pada tahun yang bersangkutan c. PDRB atas Harga Konstan adalah nilai barang dan jasa, atau PDRB atau pengeluaran yang dinilai atas dasar harga tetap (konstan) d. PDRN (Produk Domestik Regional Netto) adalah nilai PDRB dikurangi dengan nilai penyusutan (depresiasi) barang modal Dalam penyajian PDRB selalu dibedakan atas dasar harga berlaku dan harga konstan. Nilai PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi, karena nilai PDRB ini tidak dipengaruhi oleh perubahan harga. Sedangkan PDRB atas dasar harga berlaku digunakan untuk melihat besar dan struktur ekonomi suatu daerah. Sebagai contoh perhitungan PDRB disajikan pada tabel dibawah ini. Tabel 1 . Pertumbuhan PDRB Tahun 2001 s/d 2005
Tahun Harga Berlaku Nilai (Rp.Juta) 2001 2002 2003 2004 2005 197,631.34 264,438.25 288,445.92 354,189.46 402,842.39 Rata-rata Harga Konstan

Pertumb. % Nilai (Rp.Juta) Pertumb. % 33.80% 9.08% 22.79% 13.74% 19.85% 160,761.84 163,895.31 158,763.33 179,473.48 186,732.55 Rata-rata

1.95% -3.13% 13.04% 4.04% 3.98%

Pertumbuhan Ekonomi Pada perencanaan penganggaran perlu juga melihat pertumbuhan ekonomi karena kemampuan keuangan yang akan diproyeksikan daerah dapat diukur dengan pertumbuhan ekonomi yang nyata. Sebagai contoh disajikan tabel pertumbuhan ekonomi dibawah ini:

Tabel 2. Persentase Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan, Tahun 2002 – 2005 (dalam %)
Tahun Sektor 2002 Pertanian Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bangunan Perdagangan Hotel & Restoran Angkutan dan Komunikasi Lembaga Keuangan Jasa-jasa PDRB 0.53 1.69 -23.71 14.34 -9.11 5.11 2003 0.47 -7.05 -2.83 15.08 -9.78 9.11 2004 28.43 21.36 19.51 2.53 30.32 12.56 2005 3.85 11.69 -15.85 11.62 13.46 12.97 Rata-rata 8.32 6.92 -5.72 11.09 6.22 9.94

10.32

13.51

10.69

13.44

11.99

167.24 -29.17 -56.48 3.95 1.95 -7.1 -3.13 5.68 13.04

-9.41 10.65 4.04

18.11 3.29 3.97

109

H A N D O U T
Struktur Perekonomian Daerah Struktrur perekonomian ini memberikan gambaran persentase peranan masing-masing sektor terhadap pembentukan total PDRB suatu daerah. Semakin besar presentase suatu sektor, semakin besar pula pengaruh sektor tersebut terhadap perekonomian suatu daerah. Sebagai contoh disajikan tabel pertumbuhan ekonomi dibawah ini. Tabel 3. Struktur Perekonomian Daerah Menurut Lapangan Usaha Atas Harga Konstan, Tahun 2002 – 2005 (dalam %)
Tahun Sektor 2002 Pertanian Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bangunan Perdagangan Hotel & Restoran Angkutan dan Komunikasi Lembaga Keuangan Jasa-jasa PDRB 25.01 2.34 22.69 0.94 14.12 6.12 2003 24.66 2.34 16.98 1.06 12.59 6.31 2004 25.57 2.24 17.03 1.26 11.73 7.11 2005 29.05 2.41 18.01 1.14 13.52 7.08 Rata-rata 29.00 2.58 14.56 1.23 14.74 7.68

Tabel 5. Penduduk Umur 10 Tahun Keatas Menurut Jenis Kelamin dan Kegiatan Utama Tahun 2005
Keterangan Bekerja Mencari Pekerjaan Sekolah Lainnya Jumlah Pria 2,205 1,582 2,844 659 7,290 Wanita Jumlah 1,038 745 1,339 310 3,432 3,243 2,327 4,183 969 10,722 Persentase 30.25% 21.70% 39.01% 9.04% 100.00%

Tabel 6. Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan dan Jenis Kelamin Tahun 2005
Lapangan Pekerjaan Pertanian Pertambangan/ Penggalian Industri Listrik, Gas dan Air Konstruksi Perdagangan Angkutan Jasa/ Keuangan Lainnya Jumlah Pria 416 0 810 101 322 215 215 120 409 2,608 Wanita 83 0 303 9 35 118 18 33 36 635 Jumlah 499 0 1,113 110 357 333 233 153 445 3,243

4.75

5.14

5.73

5.59

6.09

2.3. Perkembangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang berbasis kinerja akan berpengaruh pada tingkat kemajuan pembangunan daerah. Semakin tinggi APBD akan semakin mendorong percepatan dan pertumbuhan pembangunan daerah, dengan demikian semakin tinggi APBD pengeluaran (belanja untuk pembangunan) yang dapat dilakukan pemerintah daerah akan semakin besar sehingga pada gilirannya sektor ekonomi akan berkembang lebih cepat sebagai multiflier efek dari pengeluaran pemerintah daerah tersebut, khususnya pengeluaran pembangunan. Pada prinsipnya APBD adalah merupakan gambaran seluruh kegiatan daerah dan seluruh pembiayaannya, setelah rencana anggaran ditentukan yang berasal dari usulan seluruh SKPD, maka rancangan anggaran akan diadakan pembahasan secara intern dengan melibatkan stakeholder, selanjutnya diinformasikan kepada masyarakat dapat berupa konsultasi publik, hal ini mencerminkan transparansi anggaran daerah Dalam pelaksanaan melihat kemampuan pembiayaan daerah dalam membiayai kegiatan dapat dilakukan pada pelaksanaan musrenbang, pada musrenbang tersebut prioritisasi kegiatan ditentukan yang disesuaikan dengan kebijakan umum anggaran dan di sesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

4.02 20.01

10.52 20.40

7.70 21.65

2.96 20.24 100.00

2.58 21.53 100.00

100.00 100.00 100.00

2.2. Perkembangan Penduduk & Tenaga Kerja Pada perencanaan penganggaran perlu juga melihat perkembangan penduduk dan tenaga kerja, karena penyusunan anggaran yang mengacu kepada visi misi daerah lebih dapat difokuskan dengan memperhitungkan perkembangan penduduk dan tenaga kerja, sebagai contoh disajikan tabel di bawah ini: Tabel 4. Rata-rata Pertumbuhan Penduduk Tahun 2003 – 2005
Kecamatan 2003 2004 2005 Rata2 Pertumb Penduduk (%) 3.64% 4.45% 2.44% 4.57% 3.94%

Kecamatan A Kecamatan B Kecamatan C Kecamatan D Total

4,051 14,431 5,795 3,847 28,124

4,196 15,183 5,863 4,057 29,299

4,351 15,744 6,080 4,206 30,381

Sebagai contoh tabel perkembangan tenaga kerja disajikan tabel berikut ini:

110

H A N D O U T
III PROGRAM PENINGKATAN PENDAPATAN DAERAH DAN PEMANTAPAN PENGELOLAAN BELANJA DAERAH 3.1. Realisasi Peningkatan PAD selama 5 (lima) Tahun Anggaran Hal ini dilaksanakan evaluasi terhadap realisasi PAD selama 5(lima) tahun dapat dilihat perumbuhan masing-masing pos penerimaan maupun belanja yang nantinya dipergunakan sebagai pedoman/acuan dalam penentuan perkiraan maju (proyeksi) untuk jangka menengah 5(lima) tahun ke depan. Sebagai contoh disajikan tabel dibawah ini: Tabel 7. Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2001 s/d 2005 (data simulasi)
Tahun Anggaran Sektor 2001 A. Pendapatan Asli Daerah (1+2+3+4) 1. Pajak Daerah 2. Retribusi Daerah 3. Hasil BUMD 4. Lain-lan PAD yg sah B. Dana Perimbangan C. Jumlah Pendapatan (A + B) 5.567 2002 7.046 2003 2004 2005 Pertumbuhan % 0.34

Tabel 8. Format Inventarisasi dan skedul Pinjaman Daerah
Uraian Tgl/No.SK Saldo Awal Bupati/ Tgl:....... WaliKota & Persetujuan DPRD Penambahan Awal tgl:........ Pengurangan Awal tgl:....... Saldo Akhir Tgl:....... Penjelasan

Jumlah

3.3. Potensi Pendapatan yang akan dikembangkan Pada pembahasan ini dimaksudkan bahwa kemampuan keuangan daerah sangat terbatas, maka dari itu kita mencoba menggali potensi yang ada didaerah yang masih belum dikelola secara baik, nantinya potensi yang dapat dikelola dengan baik akan sangat membantu kontribusinya ke kas daerah, sehingga penganggaran daerah akan mendapat tambahan pemasukan guna membiayai kegiatan pembangunan di daerah. Sebagai contoh disajikan tabel berikut ini:

8.593 12.826 19.624

1.346 1.092 2.542 0.587 2.921

1.704 1.382 3.217 0.743 3.698

2.078 1.685 3.924 0.907 4.510

3.101 2.516 5.856 1.353 6.731

3.902 3.251 9.224 3.248 8.414

0.27 0.28 0.35 0.55 0.27 0.31

Tabel 9. Identifikasi Potensi Daerah yang Masih Belum Dikelola
Jenis Potensi Lokasi Perkiraan Potensi Kec A Kec B 500.000m3/th 26.250 pengunj/th Rencana Pelaksanaa TA 2007 TA 2007

PeBahan Gal Gol C Wisata Bahari

8.488 10.745 13.103 19.557 28.038

3.2. Inventarisasi dan Skedul Pinjaman Daerah Pada pembahasan pinjaman daerah sangat perlu dilakukan inventarisasi, karena akan sangat membantu dalam penentuan anggaran, akan dapat diketahui beban pinjaman daerah beserta biaya lainnya dari tahun ketahun, sehingga akan memudahkan pengalokasian anggaran. Sebagai contoh disajikan tabel berikut ini:

3.4.

Efisiensi dan Efektivitas Belanja Daerah

Pada pembahasan ini dengan maksud kita dapat mengetahui besaran dari belanja aparatur, belanja publik, belanja pembiayaan, dapat dilihat apakah belanja proyek akan memacu pertumbuhan ekonomi daerah, apakah alokasi setiap program/ kegiatan oleh masing-masing SKPD membawa perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, dapat juga diukur perbandingan antara belanja untuk aparat dengan belanja untuk masyarakat. Analisis efisiensi dan efektivitas belanja daerah mempunyai tujuan untuk melihat kecenderungan pengeluaran anggaran berpihak kepada aparat atau kepada masyarakat, melihat sektor program yang prioritas yang dilaksanakan oleh masingmasing SKPD apakah sesuai dengan arah kebijakan pemerintah daerah.

111

H A N D O U T
Adapun langkah-langkah untuk analisis: 1. Memperbandingkan (menghitung ratio) belanja modal, antara belanja aparat dengan belanja publik pada masing-masing tahun anggaran Sebagai ilustrasi contoh dibawah ini : Ratio belanja daerah : belanja aparatur 3.500.326.341 = 819,25% : : belanja publik 427.260.829 x 100% x 100%

Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa belanja modal masih berpihak kepada aparat, karena rasionya sangat besar 2. Memperbandingkan (menghitung ratio) masing-masing belanja dengan total belanja yang dianggarkan pada tahun tertentu Ratio belanja administrasi umum : : : total belanja 11.614.148.003 x 100% x 100%

belanja adm umum 3.823.153.776 = 32,92%

Ratio belanja operasional pemeliharaan: Belanja O&M 3.762.914.678 = Ratio belanja modal: Belanja modal 3.927.587.170 = Ratio belanja transfer: Belanja transfer 46.309.374 = Ratio belanja tidak disangka: Belanja tdk disangka 54.183.005 = 0,47% : : total belanja 11.614.148.003 x 100% x 100% 0,40% : : total belanja 11.614.148.003 x 100% x 100% 33,82% : : total belanja 11.614.148.003 x 100% x 100% 32,40% : : total belanja 11.614.148.003 x 100% x 100%

Pada perhitungan ratio belanja diatas dapat diketahui bahwa pada pos belanja yang besar mendapat anggaran adalah belanja modal, akan tetapi alokasi belanja modal masih lebih banyak didominasi kepada belanja aparatur, sedangkan alokasi belanja publik masih sangat kecil.

112

H A N D O U T
IV. METODA PERHITUNGAN PROYEKSI KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH DALAM MENUNJANG RENCANA PROGRAM JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) Proyeksi Pendapatan Daerah :

4.1.

4.1.1. Pendapatan Asli Daerah Dalam pelaksanaan Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) perlu adanya melihat kemampuan keuangan daerah 5(lima) tahun kedepan yang nantinya akan dipergunakan sebagai perkiraan anggaran rencana pembiayaan dalam jangka menengah tersebut Adapun pendekatan untuk memperkirakan perkiraan maju (proyeksi) sebagai pertimbangan penghitungan adalah sebagai berikut: • Parameter atau Variabel tertentu: o Pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) o Pertumbuhan Jumlah Penduduk o Laju Inflasi Pertumbuhan periode sebelumnya Pada pendekatan ini kita melihat pertumbuhan realisasi 5(lima) tahun terakhir , adapun formulasi yang dipergunakan sebagai pendekatan berikut ini adalah : SUM(((2002-2001)/2001)+((2003-2002)/2002)+((2004-2003)/2003)+((2005-2004)/2004))/4 sebagai contoh disajikan data simulasi berikut ini : Tabel 9. Realisasi APBD TA 2004 s/d 2005 & Perkiraan Maju 2006 s/d 2010 (milyar rp)
Uraian Penerimaan 2001 A. Pendapatan Asli Daerah : 1. Pajak Daerah 2. Retribusi Daerah 3. Hasil BUMD 4. Lain-lan PAD yg sah B. Dana Perimbangan C. Jumlah Pendapatan (A + B) 5.567 1.346 1.092 2.542 0.587 2.921 8.488 Tahun Anggaran 2002 7.046 1.704 1.382 3.217 0.743 3.698 2003 8.593 2.078 1.685 3.924 0.907 4.510 2004 12.826 3.101 2.516 5.856 1.353 6.731 19.557 2005 19.624 3.902 3.251 9.224 3.248 8.414 28.038 Pertumbuhan % 0.27 0.28 0.35 0.55 0.27 0.31 Perkiraan Maju 2006 2007 2008 49.492 7.961 6.767 22.573 12.190 17.086 66.578 2009 68.102 10.098 8.641 30.420 18.943 21.637 2010 94.273 12.808 11.034 40.994 29.438 27.399

26.577 36.172 4.949 6.277 4.151 5.300 12.430 16.751 5.048 7.844 10.655 13.492 37.232 49.664

10.745 13.103

89.739 121.672

Trend Pada pendekatan perkiraan maju (proyeksi) dengan menggunakan metode trend adalah sebagai berikut dibawah ini:

Tahun 2001 2002 2003 2004 2005

Realisasi 1.346 1.704 2.078 3.101 3.902 Proyeksi

= Rumus Trend ($B$2:$B$6,$A$2:$A$6,A8,True)

2006 2007 2008 2009 2010

4.379 5.029 5.680 6.331 6.982

= Rumus Trend ($B$2:$B$6,$A$2:$A$6,A11,True)

113

H A N D O U T
4.1.2. Dana Perimbangan Pada pembahasan dana perimbangan ini (DAU, DAK,dll), akurasi penggunaan pendekatan metode proyeksi belum ada yang benar-benar dapat dipergunakan sebagai pedoman, karena penentuan dana perimbangan yang berasal dari pusat merupakan pemberian langsung (given) dan sangat tergantung kepada beberapa hal, antara lain: • Kebutuhan fiskal, adalah merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar, dengan dasar ukuran jumlah penduduk, luas wilayah, indeks kemahalan konstruksi, PDRB perkapita, dan indeks pembangunan manusia Kapasitas fiskal, adalah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD dan dana bagi hasil Proyeksi Belanja Daerah Belanja Aparatur Daerah

4.2. 4.2.1.

Adalah merupakan belanja yang berupa : belanja administrasi umum, belanja operasi dan pemeliharaan, serta belanja modal/pembangunan yang dialokasikan pada atau digunakan untuk membiayai kegiatan yang hasil, manfaat, dan dampaknya tidak secara langsung dinikmati oleh masyarakat (publik) 4.2.2. Belanja Pelayanan Publik

Adalah merupakan belanja yang berupa : belanja administrasi umum, belanja operasi dan pemeliharaan, serta belanja modal/pembangunan yang dialokasikan pada atau digunakan untuk membiayai kegiatan yang hasil, manfaat, dan dampaknya secara langsung dinikmati oleh masyarakat (publik) 4.3. Proyeksi Pembiayaan, termasuk status hutang daerah, kemampuan daerah untuk melakukan pinjaman • Pembiayaan Pada pembahasan pembiayaan terlebih dahulu kita mengetahui komponen pembiayaan yaitu terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan Pengeluaran pembiayaan mencakup: pembentukan dana cadangan, penyertaan modal pemerintah daerah, pembayaran pokok hutang, dan pemberian pinjaman Penerimaan pembiayaan mencakup: sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu, pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, termasuk penerimaan pinjaman, dan penerimaan kembali pemberian pinjaman • Status hutang daerah Apabila daerah telah melaksanakan pinjaman/hutang, maka skedul/jadwal pinjaman dengan menggunakan format/tabel yang telah disajikan didepan (tabel 8), hal ini akan memudahkan pada sisi penganggaran untuk mengalokasikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengan pinjaman Kemampuan daerah untuk melakukan pinjaman Pada pembahasan ini, daerah diberikan kewenangan untuk melaksanakan pinjaman, adapun terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi pemerintah daerah sebagai peminjam diantaranya: DSCR > 2,5; Daerah dapat melakukan pinjaman baru; DSCR = 2,5; Daerah dapat melakukan pinjaman baru, dengan syarat untuk proyek/kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan (cost recovery); DSCR < 2,5; Daerah tidak dapat melakukan pinjaman baru. Terdapat beberapa formulasi yang dapat dipergunakan untuk menghitung DSCR tersebut diatas, dibawah ini disajikan salah satu cara penghitungan (versi SE Mendagri 050/2020/SJ): Menentukan nilai pendapatan daerah:

114

H A N D O U T
Y = P + M - OM
Y P M = = = Pendapatan Daerah. Pendapatan Asli Daerah. Pajak Daerah, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, penerimaan SDA, dan bagian daerah lainnya. Belanja Operasi dan Pemeliharaan, serta Belanja Modal yang harus dipenuhi/tidak bisa dihindarkan dalam tahun anggaran ybs.

OM =

Menentukan nilai DSCR, dengan rumus:

DSCR = Y C
C Y = = besaran kewajiban pinjaman ditambah biaya lainnya. Pendapatan Daerah.

Sebagai contoh penghitungan DSCR, disajikan data simulasi sebagai berikut:

Tabel 10. Realisasi APBD TA 2004 s/d 2005 & Perkiraan Maju 2006 s/d 2010 (milyar rp)
Tahun Anggaran Uraian Penerimaan 2001 A. Pendapatan Asli Daerah (1+2+3+4) 1. Pajak Daerah 2. Retribusi Daerah 3. Hasil BUMD 4. Lain-lan PAD yg sah B. Dana Perimbangan C. Jumlah Pendapatan (A + B) D. Belanja 1. Belanja Administrasi Umum 2. Belanja Operasional Pemeliharaan 3. Belanja Modal (a+b) a. Belanja Aparatur b. Belanja Publik 4. Belanja Transfer 5. Belanja Tidak Tersangka Jumlah Belanja E. Pembiayaan 1. Penerimaan a. Sisa lebih Perhit Anggaran th lalu b. Penerimaan Pinjaman Obligasi c. Transfer dari dana cadangan d. Hasil penj aset daerah yg dipisahkan 2. Pengeluaran a. Pembayaran utang pokok jatuh tempo b. Transfer ke dana cadangan c. Penyertaan Modal d. Sisa lebih Perhit Anggaran th ini Jumlah Pembiayaan 5.567 1.346 1.092 2.542 0.587 2.921 8.488 2002 7.046 1.704 1.382 3.217 0.743 3.698 10.745 2003 8.593 2.078 1.685 3.924 0.907 4.510 13.103 2004 2005 Perumbuhan Proyeksi % 0.53 0.26 0.29 0.58 1.40 0.25 0.43 31.435 4.909 4.200 14.528 7.798 10.517 41.953

12.826 19.624 3.101 3.902 2.516 3.251 5.856 9.224 1.353 3.248 6.731 8.414

19.557 28.038

1.987 1.111 2.308 2.096 0.212 0.029 0.021 5.456

2.233 1.406 2.684 2.437 0.246 0.033 0.027 6.382

2.566 1.715 3.121 2.834 0.287 0.038 0.033 7.473

3.019 2.559 3.629 3.296 0.333 0.045 0.049 9.301

3.823 3.763 3.928 3.500 0.427 0.046 0.054 11.614

0.27 0.47 0.08 0.06 0.28 0.03 0.10 0.25

4.842 5.533 4.266 3.718 0.548 0.048 0.059 14.747

2.622 2.395 0.106 0.068 0.052 10.815 6.612 0.086 1.085 3.032 13.437

3.318 3.032 0.135 0.086 0.066 14.214 8.370 0.109 1.374 4.362 17.533

4.715 4.362 0.164 0.109 0.081 17.645 10.207 0.132 1.675 5.630 22.360

6.128 5.630 0.245 0.132 0.121 28.188 15.235 0.198 2.500 10.256

10.866 10.256 0.275 0.198 0.138 35.608 16.282 0.227 2.675 16.424

0.77 0.82 0.12 0.49 0.15 0.26 0.07 0.15 0.07 0.60 0.35

17.119 16.424 0.309 0.227 0.158 47.730 17.401 0.261 2.862 27.205 64.848

34.316 46.474

115

H A N D O U T
Maka perhitungan DSCR adalah :
Uraian Formulasi Periode Realisasi 2001 5.567 2.921 5.456 3.032 3.032 6.612 45.9% 2002 7.046 3.698 6.382 4.362 2003 8.593 4.510 7.473 5.630 2004 12.826 6.731 9.301 10.256 10.256 15.235 67.3% 2005 19.624 8.414 11.614 16.424 16.424 16.282 Proyeksi 2006

Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah,BPHTB,SDA, & Bag Lainnya Operasional & Pemeliharaan, Blj Modal Wajib Pendapatan Daerah ( Y = P + M - OM) Pendapatan Daerah ( Y = P + M - OM) Kewajiban Pinjaman + Biaya Lainnya DSCR (Debt Service Coverage Ratio)

P M OM Y Y C Y/C

31.435 10.517 14.747 27.205 27.205 17.401

4.362 5.630 8.370 10.207 52.1% 55.2%

100.9% 156.3%

Latihan
Waktu 60 menit Tujuan Latihan 1. Memberikan pemahaman kepada peserta tentang tatacara membuat perencanaan pendapatan untuk mengetahui potensi keuangan daerah 5 (lima) tahun kedepan sebagai kesiapan financial guna menunjang Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) atau dalam kurun masa proyeksi 5 (lima) tahun 2. Memberikan pemahaman kepada peserta dalam efisiensi penggunaan anggaran daerah terutama dengan melakukan analisis pos belanja daerah baik belanja aparatur maupun belanja pelayanan publik pada masing-masing unit satuan kerja 3. Menghitung peluang guna melaksanakan pinjaman baru Proses 1. membagikan format realisasi keuangan daerah yang telah disiapkan kepada peserta untuk diisi dengan menggunakan bahan-bahan Perhitungan APBD lima tahun terakhir, dan/atau data-data pendukung dari unit pengelola (satuan kerja) 2. Mengidentifikasi sumber dana yang berasal dari Provinsi maupun Pusat (DAU,DAK,dll) 3. memilah masing-masing pos belanja daerah untuk masing-masing unit satuan kerja Metode Latihan 1. bagi peserta dalam kelompok berdasarkan asal peserta 2. minta setiap kelompok mengisi/mengerjakan format yang telah disiapkan 3. Bahan yang akan dipergunakan sebagai latihan adalah : • Perhitungan APBD Tahun 2001 s/d 2005 • Peraturan Daerah • SK Bupati Tentang Pajak dan Retribusi Daerah, dll • Kabupaten Dalam Angka (PDRB, Jumlah Penduduk, Laju Tingkat Inflasi, dll • Dokumen Penetapan Dana Perimbangan (DAU, DAK, dll) • Dokumen Pinjaman (apabila Daerah telah melaksanakan pinjaman) Contoh/Form untuk latihan: 1. Form – 1. Realisasi Perhitungan APBD Tahun 2001 – 2005 2. Form – 2. Realisasi Belanja untuk unit satuan kerja Tahun 2001 – 2005 3. Form – 3. Realisasi Dana yang bersumber dari Provinsi dan Pusat 4. Form – 4. Perincian Pinjaman Daerah 5. Form – 5. Penghitungan Debt Service Coverage Ratio (DSCR) 6. Form – 6. Proyeksi Keuangan Daerah (Penerimaan dan Belanja Daerah) Tahun 2006 - 2010

116

H A N D O U T
Form - 1 Kabupaten / Kota : ____________ Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2001 s/d 2005

Realisasi No Keterangan 2001 PENDAPATAN 1 PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 2 DANA PERIMBANGAN Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Propinsi 3 LAIN-LAIN PENERIMAAN YANG SAH Jumlah Pendapatan BELANJA BELANJA APARATUR DAERAH : 1 BELANJA ADMINISTRASI UMUM - Belanja Pegawai - Belanja Barang dan Jasa - Belanja Perjalanan Dinas - Belanja Pemeliharaan 2 BELANJA OPERASI dan PEMELIHARAAN - Belanja Pegawai - Belanja Barang dan Jasa - Belanja Perjalanan Dinas - Belanja Pemeliharaan 3 BELANJA MODAL - Belanja Tanah - Belanja Bangunan - Cadangan BELANJA PELAYANAN PUBLIK : 1 BELANJA ADMINISTRASI UMUM - Belanja Pegawai - Belanja Barang dan Jasa - Belanja Perjalanan Dinas - Belanja Pemeliharaan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2002 2003 2004 2005

Rata2 Perumbuhan 2001-2005

0.00

0.00

0.00 0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

117

H A N D O U T
Lanjutan Form 1..........
Realisasi No Keterangan 2001 2002 2003 2004 2005 Rata2 Perumbuhan 2001-2005

2

BELANJA OPERASI dan PEMELIHARAAN - Belanja Pegawai - Belanja Barang dan Jasa - Belanja Perjalanan Dinas - Belaja Pemeliharaan

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

3

BELANJA MODAL - Belanja Tanah - Belanja Bangunan - Cadangan

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

4

BELANJA BAGI HASIL DAN BANTUAN KEUANGAN BELANJA TIDAK TERSANGKA Jumlah Belanja Surplus / Defisit Anggaran PEMBIAYAAN

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00 0.00

0.00 0.00

0.00 0.00

0.00 0.00

0.00 0.00

0.00 0.00

1

PENERIMAAN - Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Yang Lalu - Penerimaan Pinjaman dan Obligasi - Transfer dari Dana Cadangan - Hasil Penjualan Asset Daerah Yang Dipisahkan

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

2

PENGELUARAN - Pembayaran Utang Pokok Yang Jatuh Tempo - Transfer ke Dana Cadangan - Penyertaan Modal - Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Ini

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Debt Service Coverage Ratio (DSCR)

118

H A N D O U T
Form - 2 Rincian Pos Belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten ___________
No

URAIAN BIDANG & UNIT ORGANISASI

2001
Aparatur Publik

2002
Aparatur Publik

2003
Aparatur Publik

2004
Aparatur Publik

2005
Aparatur Publik

2006
Aparatur Publik

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

Badan Pengawas Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Badan Pengelola Keuangan Daerah Badan Pengendalian dan Pelestarian Lingk.Hidup Badan Sosial Badan Kepegawaian Daerah Badan Hubungan Masyarakat dan Informasi Badan Promosi dan Investasi Badan Pemberdayaan Masyarakat Kantor Kesatuan Bangsa Kantor Perlindungan Masyarakat Kantor Perpustakaan dan Arsip Dinas Kesehatan Dinas Pendidikan Dinas Pertanian Dinas Pekerjaan Umum Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Perhubungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Pertanahan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Dinas Pertambangan dan Energi Dinas Permukiman dan Pengembangan Wilayah Dinas Kependudukan dan Tenaga Kerja Jumlah 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

Form - 4 Daftar/Skedul Pembayaran Pinjaman Daerah Kabupaten ___________
Uraian Tanggal/No. SK Bupati/Walikota dan Persetujuan DPRD Saldo Awal Tgl………. Penambahan Pengurangan Saldo Akhir Tgl………. Tgl………. Tgl………. Penjelasan

Jumlah

119

H A N D O U T
Form - 5 Perhitungan Kemampuan Melaksanakan Pinjaman (DSCR) Kabupaten ___________
Periode Realisasi APBD Uraian Formulasi
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Periode Realisasi APBD

Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah,BPHTB,SDA, & Bag Lainnya Operasional & Pemeliharaan, Blj Modal Wajib Pendapatan Daerah ( Y = P + M - OM)

P M OM Y 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Pendapatan Daerah ( Y = P + M - OM) Kewajiban Pinjaman + Biaya Lainnya

Y C

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

DSCR (Debt Service Coverage Ratio)

Y / C

Keterangan : Berdasarkan SE Mendagri-050-2020-SJ

Form - 6 Kabupaten / Kota : ____________ Proyeksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2006 s/d 2010
Proyeksi Keuangan daerah No Keterangan 2006 PENDAPATAN 1 PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 2 DANA PERIMBANGAN Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Propinsi 3 LAIN-LAIN PENERIMAAN YANG SAH Jumlah Pendapatan BELANJA BELANJA APARATUR DAERAH : 1 BELANJA ADMINISTRASI UMUM - Belanja Pegawai - Belanja Barang dan Jasa - Belanja Perjalanan Dinas - Belanja Pemeliharaan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.0% 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.0% 0.0% 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.0% 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.0 % 2007 2008 2009 2010 Rata2 Perumbuhan 2006-20010

120

H A N D O U T
Lajutan Form 6 .............
Proyeksi Keuangan daerah No Keterangan 2006 2 BELANJA OPERASI dan PEMELIHARAAN - Belanja Pegawai - Belanja Barang dan Jasa - Belanja Perjalanan Dinas - Belanja Pemeliharaan 3 BELANJA MODAL - Belanja Tanah - Belanja Bangunan - Cadangan BELANJA PELAYANAN PUBLIK : BELANJA ADMINISTRASI UMUM - Belanja Pegawai - Belanja Barang dan Jasa - Belanja Perjalanan Dinas - Belanja Pemeliharaan 2 BELANJA OPERASI dan PEMELIHARAAN - Belanja Pegawai - Belanja Barang dan Jasa - Belanja Perjalanan Dinas - Belaja Pemeliharaan 3 BELANJA MODAL - Belanja Tanah - Belanja Bangunan - Cadangan 4 BELANJA BAGI HASIL DAN BANTUAN KEUANGAN BELANJA TIDAK TERSANGKA Jumlah Belanja Surplus / Defisit Anggaran PEMBIAYAAN 1 PENERIMAAN - Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Yang Lalu - Penerimaan Pinjaman dan Obligasi - Transfer dari Dana Cadangan - Hasil Penjualan Asset Daerah Yang Dipisahkan 2 PENGELUARAN - Pembayaran Utang Pokok Yang Jatuh Tempo - Transfer ke Dana Cadangan - Penyertaan Modal - Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Ini Debt Service Coverage Ratio (DSCR) 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.0% 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.0% 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.0% 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.0% 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.0% 0.00 2007 0.00 2008 0.00 2009 0.00 2010 0.00 Rata2 Perumbuhan 2006-20010 0.0%

1

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.0%

0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00

0.0% 0.0% 0.0%

5

121

H A N D O U T
CONTOH: ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN PACITAN
Kebijakan pengelolaan keuangan daerah tidak terlepas dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dilakukan dengan menekankan pada prinsip keadilan, kepatutan, dan manfaat sebagai konsekuensi hubungan keuangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Terbitnya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagai pengganti Undangundang Nomor 22 tahun 1999 memberikan warna baru landasan penyeleng-garaan pemerintahan daerah. Pengelolaan keuangan daerah berdasarkan pada Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tersebut bertumpu pada upaya peningkatan efisiensi, efektifitas, akuntabilitas, dan transparansi pengelolaan keuangan publik baik dari sisi pendapatan maupun belanja. Inti perubahan yang akan dilakukan antara lain mempertajam esensi pengelolaan keuangan daerah dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menyangkut penjabaran terhadap hak dan kewajiban daerah dalam mengelola keuangan publik, meliputi mekanisme penyusunan, pelaksanaan dan penatausahaan, pengendalian dan pengawasan, serta pertanggungjawaban keuangan daerah. Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance, pengelolaan keuangan daerah disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampaun pendapatan daerah serta dilakukan secara profesional mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan prinsip : 1. Partisipasi masyarakat ; 2. Transparasi dan akuntabilitas anggaran ; 3. Disiplin anggaran ; 4. Keadilan ; dan 5. Efisiensi dan efektifitas anggaran. 1. ARAH PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Pengelolaan Pendapatan Daerah harus memperhatikan upaya, untuk peningkatan pajak dan retribusi serta penerimaan daerah lainnya. Hal ini dimungkinkan karena Pendapatan Daerah dalam struktur APBD Kabupaten Pacitan masih merupakan momen yang cukup penting peranannya dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan maupun pelayanan publik. Arah pengelolaan pendapatan daerah Kabupaten Pacitan Tahun 2006 - 2011 ditekankan pada mobilisasi sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan penerimaan lainnya guna lebih mengoptimalkan kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan Daerah Penerimaan pendapatan daerah kabupaten Pacitan dari tahun ke tahun secara umum mengalami kenaikkan walaupun bersifat fluktuatif. Peningkatan pendapatan masih didominasi oleh sumber-sumber pendapatan yang diperoleh dari dana perimbangan baik pos bagi hasil pajak, bagi hasil bukan pajak, Dana Alokasi Umum maupun Dana Alokasi Khusus. Penerimaan Pendapatan Daerah tahun 20011005 rata-rata meningkat 8,78 % setiap tahunnya, sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat 13,18 %. Hal ini tampak pada sebagaimana tersebut dalam tabel 5.1 berikut ini : 2. ARAH PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Arah pengelolaan belanja daerah Kabupaten Pacitan pada tahun 2006 – 2011 ditekankan pada peningkatan proporsi belanja untuk kepentingan dan kebutuhan masyarakat Pacitan dengan tetap memperhatikan proporsi dan eksistensi penyelenggaraan pemerintahan. Sehingga perlu penekanan pada efisiensi belanja aparatur pada pelaksanaannya. Di samping itu perlunya efektifitas anggaran dan prioritasisasi program dalam mendukung pembangunan daerah. 2.1 ARAH PEMBIAYAAN DAERAH Sebagaimana ketentuan yang telah diatur pada penjelasan pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, dan pasal 83 ayat (2) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, disebutkan bahwa jumlah kumulatif defisit anggaran tidak diperkenankan melebihi 3 % dari PDRB tahun bersangkutan. Mengingat tingkat ketergantungan Pemerintah Kabupaten Pacitan terhadap Pemerintah Pusat dari sisi anggaran masih cukup tinggi, maka peranan pemerintah Kabupaten Pacitan untuk mencari sumber anggaran guna menunjang percepatan pembangunan amatlah dibutuhkan. Upaya terobosan yang mungkin dapat dilaksanakan adalah dengan penerbitan dan penjualan obligasi serta hutang. Namun dalam pelaksanaannya diperlukan suatu kajian yang komprehensif serta selektif dalam perwujudannya.

2.1.1 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN

122

H A N D O U T
Tabel 5.1 Rekapitulasi APBD Kabupaten Pacitan Tahun 2001 - 2006
Realisasi No (1)
A

Urian 2001 (2)
SISA LEBIH PERHIT. ANGGARAN TH. LALU BAGIAN PENDAPATAN ASLI DAERAH

2002 (4)
28,549,162,202

2003 (5)
25,814,078,600

2004 (6)
21,766,560,618

2005 (7)
29,876,670,687.71

2006 (8)
-

(3)
3,609,739,846

B

8,089,121,342

11,635,503,811

12,335,930,512

11,659,734,778

12,703,261,959.36

11,843,022,862.00

a. Pos Pajak Daerah b. Pos Retribusi Daerah

1,255,913,323 2,588,489,672

2,181,700,324 3,289,149,249

2,736,240,879 3,370,017,167

2,964,459,020 4,229,303,990

3,015,691,776.40 3,809,613,453.67

2,992,400,000.00 3,790,247,830.00

c. Pos Bagian Laba BUMD d. Lain-lain Pend Yg Syah C BAGIAN DANA PERIMBANGAN a. Bagi Hasil Pajak b. Bagi hasil Bukan Pajak c. Dana Alokasi Umum d. Dana Alokasi Khusus e. Dana Darurat f . Dana Perimbangan dr Propinsi BAG. LAIN-LAIN PEND. DAERAH YG SYAH a. Penerimaan dari Pem. Pusat b. Penerimaan dari Propinsi

17,709,345 4,227,009,002 205,619,317,106

233,979,424 5,930,674,814 211,065,576,536

272,489,898 5,957,182,568 226,415,742,878

273,347,464 4,192,624,304 239,583,497,541

331,875,032.71 5,546,081,696.59 263,524,666,673 .00

336,875,032.00 4,723,500,000.00 389,939,723,003.00

7,067,159,683 1,190,403,423 197,361,754,000 -

8,886,954,406 1,571,653,380 198,358,043,750 2,248,925,000 -

13,552,051,447 1,029,445,802 204,940,000,000 6,894,245,629 -

16,780,774,064 646,412,113 211,332,000,000 10,824,311,364 -

17,191,044,290 639,953,269 222,922,000,000 11,320,000,000 11,451,669,114

13,175,683,483.00 764,768,000.00 338,655,000,000.00 28,430,000,000.00 8,914,271,600.00

9,434,523,834

10,412,279,673

24,057,483,769

23,427,602,858

10,695,000,000

2,749,000,000.00

5,586,643,238

2,970,750,000

16,414,550,000

14,290,362,000

10,695,000,000

2,749,000,000.00

3,847,880,596

7,441,529,673

7,642,933,769

9,137,240,858

-

-

JUMLAH

226,752,702,128

261,662,522,222

288,623,235,759

296,437,395,795

316,799,599,320.07

404,531,745,864.00

Sumber : Bagian Keuangan *) Angka sementera sebelum Perhitungan Anggaran Tahun 2005 **)Angka Penetapan APBD Tahun2006

Tabel 5.2 Ratio PAD dibanding dengan APBD Kab. Pacitan Tahun 2001 - 2005

TAHUN

APBD

PAD

Ratio Kemandirian Daerah ( % ) 3.57 4.45 4.27 3.93 4.01 4.06

Kenaikan PAD (%)

2001 2002 2003 2004 2005 * ) JUMLAH

226,752,702,128.90 261,662,522,224.70 288,623,235,760.23 296,437,395,796.94 316,799,599,320.07 1,390,275,455,230.84

8,089,121,324.00 11,635,503,812.00 12,335,930,514.00 11,659,734,778.00 12,703,261,959.36 56,423,552,387.36

43,84 6,02 -5,48 8,95 13,33

123

H A N D O U T
Berdasarkan tabel tersebut, prosentase kenaikan APBD terjadi secara fluktuatif. Demikian pula halnya dengan prosentase kenaikan PAD, bahkan pada tahun 2004 PAD justru mengalami penurunan sebesar 5,4 % apabila dibandingkan dengan PAD tahun 2003. Salah satu ukuran untuk mengetahui kemampuan Pemerintah Daerah dalam menjalankan fungsi pelayanan masyarakat dapat dilihat dari kapasitas keuangan daerah, yaitu perbandingan antara Pendapatan Daerahdengan APBD. Kenyataan masih menunjukkan tingginya ketergantungan daerah terhadap anggaran yang berasal dari dana perimbangan. Rata-rata besarnya rasio sumbangan PAD terhadap APBD hanya sebesar 4,06 %. Kondisi tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang yang perlu disikapi dengan usaha keras, agar komposisi perimbangan antara PAD dan pendapatan dari pusat mencapai titik keseimbangan (equilibrium). Ratio PAD terhadap APBD Kabupaten Pacitan tahun 2001 – 2005 dapat dilihat sebagaimana tersebut dalam tabel 5.2 maupun grafik 5.1 di berikut ini : Grafik 5.1 Ratio PAD dibanding dengan APBD, Kab. Pacitan Tahun 2001 – 2005 Tabel 5.3 Proyeksi Penerimaan Pendapatan Daerah Tahun 2006 – 2011
NO Tahun Proyeksi ( Rp ) Kenaikan (%) (1) 1 2 3 4 5 6 (2) 2006 2007 2008 2009 2010 2011 (3) 404.531.745.945,00 428,803,650,701.00 454,531,069,743.00 481,803,781,927.00 510,712,008,842.00 541,354,729,372.00 (4) 6,00 6,00 6,00 6,00 6,00

Sumber : Bagian Keuangan Sekretariat Daerah

Dengan asumsi kondisi makro dan mikro ekonomi tidak mengalami perubahan serta stabilitas politik tetap terjaga, maka proyeksi pendapatan daerah tersebut masih cukup wajar. Hal ini nampak sebagaimana digambarkan pada grafik 5.2 berikut : Grafik 5.2 Proyeksi Penerimaan Pendapatan Daerah Tahun 2006 s/d 2011

Keterangan: Pendapatan Asli Daerah APBD
Sumber: Bappeda

Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Mengingat dalam penerimaan pendapatan daerah terdapat variable yang “uncontrollable” terutama pos penerimaan Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus, maka proyeksi tersebut masih memungkinkan berubah. Kemungkinan terjadinya perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan kebijakan dari Pemerintah Pusat tentang upah / gaji pegawai maupun keserasian penggunaan antar wilayah. Oleh karena itu, peningkatan kinerja pendapatan daerah dari pos Pendapatan Asli Daerah harus ditingkatkan dalam upaya mewujudkan kemandirian daerah. Proyeksi PAD Kabupaten Pacitan dapat digambarkan sebagaimana tersebut dalam tabel 5.4 dan grafik 5.3 berikut :

Dengan mempertimbangkan angka pertumbuhan pendapatan tahun 2001-2005, maka proyeksi penerimaan Daerah pada Tahun 2006 sampai dengan 2011 diperkirakan terjadi pertumbuhan ratarata sebesar 5,92% dengan distribusi sebagaimana terlihat pada tabel 5.3 berikut ini.

124

H A N D O U T
Tabel 5.4 Proyeksi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun 2006-2011
NO Tahun Proyeksi ( Rp )

Belanja Daerah Peranan sektor pemerintah terhadap dinamika ekonomi daerah di Kabupaten Pacitan cukup tinggi, mengingat proporsi anggaran pemerintah mencapai 25% dari total PDRB. Sumbangan output sektor pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 20% sehingga alokasi pengeluaran pemerintah cukup signifikan mempengaruhi ekonomi daerah. Rata-rata pertumbuhan belanja pemerintah Kabupaten Pacitan mencapai 11,5% per tahun sampai tahun 2005, sehingga intervensi pemerintah daerah perlu lebih terfokus pada sektorsektor yang menjadi lokomotif pertumbuhan daerah. Dalam lima tahun terakhir 2001 - 2005, proporsi anggaran belanja rutin terhadap total APBD mengalami peningkatan, dari 68% pada 2001 menjadi 78% pada 2004, meskipun pada 2002 sempat menurun menjadi 62%. Angka ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan sehingga berada pada kisaran 75% pada 2006 dan 2007, serta 76% pada 2008 hingga 2010. Demikian juga terhadap total APBD, proporsi belanja rutin mencapai 60%, namun trend penurunannya relatif kecil yaitu berkisar pada angka 58% pada 2007 hingga 2011. Gambaran perbandingan antara belanja rutin dan belanja pembangunan kurun waktu 6 (enam) tahun, 2001 – 2006 dilihat sebagaimana tersebut dalam grafik 5.4 di bawah. Grafik 5.4 Perbandingan Belanja Rutin dan Belanja Pembangunan Tahun 2001 - 2006

(1) 1 2 3 4 5 6

(2) 2006 2007 2008 2009 2010 2011

(3)

11,843,022,862.00 13,027,325,482.00 14,330,057,996.00 15,763,063,956.00 17,339,370,351.00 19,073,307,386.00

Bagian Keuangan Sekretariat Daerah

Grafik 5.3 Proyeksi Pendapatan Asli Daerah Tahun 2006 s/d 2011

Sumber: Dinas Pendapatan Daerah

Dengan memperhatikan kecenderungan kenaikan PAD tahun 2001 – 2005 serta mempertimbangkan keadaan dan upaya-upaya peningkatan pertumbuhan perekonomiam Kabupaten Pacitan untuk masa 5 (lima) tahun mendatang, maka dapat diproyeksikan peningkatan PAD rata-rata sebesar 10 % per-tahunnya. Kebijakan pengelolaan pendapatan daerah diarahkan untuk menggali dan mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan daerah melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah, optimalisasi asset dan kekayaan pemerintah daerah termasuk mengembangkan sektor-sektor potensial yamg selama ini belum optimal. Optimalisasi peningkatkan pendapatan daerah terhadap obyek yang betul–betul potensial dilakukan dengan tidak memberatkan masyarakat serta tidak merusak lingkungan.

Keterangan: Belanja Rutin Belanja Pembangunan Sumber: Data diolah Bappeda

125

H A N D O U T
Gambaran pengelolaan belanja daerah sebagaimana tersebut dalam tabel maupun grafik diatas, menunjukkan bahwa anggaran belanja rutin yang sebagian besar digunakan untuk membiayai kegiatan aparatur masih mendominasi belanja pemerintah dibandingkan dengan anggaran pembangunan yang merupakan representasi anggaran publik. Adapun anggaran belanja daerah pada tahun 2006 s/d 2011, dapat diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 5,46 %. Hal ini ditentukan dengan memperhatikan keadan kenaikan 5 tahun sebelumnya dan mengasumsikan keadaan 5 tahun mendatang. Distribusi peningkatan pertumbuhan belanja tahun 2006-2011 dapat dilihat pada tabel 5.6 dan grafik 5.5 dibawah ini (APBD tahun 2006 telah ditetapkan dan saat ini telah dan sedang dijalankan). Tabel 5.6 Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2006 – 2011
NO Tahun Proyeksi ( Rp ) NO (1) 1 2 3 4 5 6 (2) 2006 2007 2008 2009 2010 2011 (3) TAHUN LANGSUNG TIDAK LANGSUNG (1) 1 2 3 4 5 (2) 2006 2007 2008 2009 2010 2011 (3) 38 % 41 % 42 % 43 % 44 % 45 % (4) 62 % 59 % 58 % 57 % 56 % 55 %

Mencermati besarnya belanja yang harus dikeluarkan pada lima tahun mendatang diperlukan upaya secara serius untuk mengelola belanja daerah sesuai dengan arah dan kebijakan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, arah pengelolaan belanja harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan publik terutama masyarakat miskin dan kurang beruntung, dikelola dengan hasil yang baik dan biaya rendah (work better dan cost less) melalui pendekatan kinerja di setiap organisasi terkait, mendasarkan pada standar analisa biaya, standar harga, tolok ukur kinerja dan standar pelayanan minimal serta memperhatikan prinsip value for money. Identifikasi belanja pengeluaran akan dibedakan menurut belanja langsung dan belanja tidak langsung guna meningkatkan aspek transparansi. Kriteria tersebut bertitik tolak dari indikator kegiatan yang dilakukan. Proporsi belanja daerah menurut fungsi dari tahun 2006 – 2011 dari belanja langsung maupun tidak langsung dapat diproyeksikan seperti dalam tabel 5.7 di bawah ini. Tabel 5.7 PROPORSI BELANJA DAERAH MENURUT FUNGSI TAHUN 2006 – 2011

402,531,745,945.00 424,670,991,971.98 448,027,896,530.43 472,669,430,839.61 498,666,249,535.79 526,092,893,260.25

6 Sumber: Data diolah Bappeda

Grafik 5.5 Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2006 – 2011

Sumber data: APBD Kabupaten Pacitan Tahun 2001- 2005, diolah

Sedangkan proyeksi untuk proporsi pada setiap tahunnya secara jelas sebagaimana tersebut pada lampiran 5.1. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 atahun 2005, aliran kas Kabupaten Pacitan menunjukkan bahwa aktivitas operasional sangat dominan dibandingkan aktivitas investasi. Aliran kas untuk investasi hanya mencapai Rp 20 milyar, atau hanya mencapai 7% terhadap aliran kas dari aktivitas operasional, yang mencapai Rp 263 milyar. Dibandingkan wilayah lain, angka ini relatif kecil, misalnya dengan Kabupaten Sleman yang mencapai 15%. Artinya, alokasi sumber daya masih terfokus untuk kegiatan operasional, belum ada upaya serius untuk melakukan ekspansi dalam meningkatkan kapasitas daerah. Gambaran aliran kas sebagaimana tersebut table 5.8 berikut:

Sumber: Data diolah Bappeda

126

H A N D O U T
Tabel 5.8 Laporan Aliran Kas Tri Wulan IV 2005

ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Aliran Kas Masuk Pendapatan Asli Daerah Pendapatan dari Dana Perimbangan Lain-lain pendapatan yang sah Jumlah Aliran Kas Keluar Belanja Administrasi Umum Belanja Pegawai/Personalia Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Operasi dan Pemeliharaan Belanja Pegawai/Personalia Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan Belanja Tidak Tersangka Jumlah Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Operasi

12.710.623.959 263.517.304.673 10.695.000.000 286.922.928.632

Pembayaran Utang Pokok Yang Jatuh Tempo Jumlah Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan Kenaikan (Penurunan) Bersih Kas Selama Periode Saldo Awal Kas Saldo Akhir Kas SILPA Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Berjalan

716.458.569 26.385.610.769

2.774.601.348 27.102.069.339 29.876.670.687

187.057.188.291 169.098.640.102 10.119.647.143 2.928.862.150 4.910.038.896

29.876.670.687

Sumber : Diolah Bappeda

42.592.456.243 5.617.345.020 16.081.270.234 2.850.908.440 18.042.932.549 32.255.994.099 1.241.156.600 263.146.795.233 23.776.133.396

Pembiayaan Daerah Pengelolaan pendapatan daerah akan menekankan pada keserasian antara kebutuhan biaya dan pendapatan. Prinsip bahwa nilai tambah pendapatan daerah akan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat merupakan upaya mobilitas sumber daya lokal melalui peningkatan pendapatan daerah tidak akan menimbulkan gangguan terhadap alokasi sumber daya, dengan konsekuensi adanya efisiensi biaya/belanja daerah. Adapun kebijakan yang ditetapkan dalam pembiayaan daerah ini adalah : 1. Pendapatan Daerah tahun 2006 - 2011 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan ratarata sebesar 5,92 %, sedangkan kebutuhan belanja daerah akan mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 5,46 %. Kondisi ini menunjukkan bahwa perkiraan pendapatan sedikit lebih besar dari perkiraan kebutuhan belanja, sehingga dalam kurun waktu 5 tahun ke depan APBD Kabupaten Pacitan diperkirakan akan mengalami surplus. 2. Surplus anggaran akan digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan pembangunan lainnya. Namun nilai dari surplus ini belum memungkinkan dapat membiayai seluruh aspek belanja pembangunan, sehingga perlu untuk dilakukan upaya alternatif guna memenuhi kebutuhan biaya pembangunan. Proyeksi APBD Kabupaten Pacitan tahun 2006– 2011, dapat dilihat sebagaimana tersebut dalam grafik 5.6 berikut:

ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Aliran Kas Masuk Penjualan Investasi Jangka Panjang Penjualan Aktiva Tetap Jumlah Aliran Kas Keluar Belanja Modal Pembelian Investasi Jangka Panjang Jumlah Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Investasi ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS PEMBIAYAAN Aliran Kas Masuk Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun lalu Transfer Dari Dana Cadangan Penerimaan Pinjaman dan Obligasi Hasil Penjualan Aset Daerah Yang Dipisahkan Jumlah Aliran Kas Keluar Transfer ke Dana Cadangan Penyertaan Modal

0 0 0

20.285.073.478 20.285.073.478 (20.285.073.478)

27.102.069.339

27.102.069.339

716.458.569

127

H A N D O U T
Grafik 5.6. Proyeksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Pacitan

Keterangan : Proyeksi pendapatan Proyeksi Belanja Sumber: RPJMD Kabupaten Pacitan 2006-2011

Grafik diatas menunjukkan bahwa mulai tahun 2001 sampai dengan 2005 terjadi trend yang positip, yaitu adanya surplus APBD. Sedangkan pada tahun 2006, sesuai dengan penetapan APBD pendapatan masih lebih besar dari belanja daerah, meskipun hanya terjadi surplus kurang lebih 3 (tiga) Miliyar. Dengan mempertahankan tingkat pertumbuhan pendapatan 5,92 % dan belanja daerah 5,46 %, dapat diproyeksikan keadaan surplus menjadi semakin signifikan untuk lima tahun mendatang. Dengan berlandaskan pada keadaan diatas, maka belanja daerah akan dioptimalkan pada prioritas program yang memihak kepentingan dan kebutuhan masyarakat, disamping tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam penggunaannya, belanja daerah harus tetap mengedepankan

efisiensi maupun efektivitas sesuai dengan prioritas untuk memberikan dukungan pada strategi pembangunan daerah. Peningkatan peranan sektor pajak daerah dalam memberikan sumbangan ke PAD menimbulkan konsekuensi kebutuhan kebijakan ekstensifikasi pajak melalui perluasan basis pajak tanpa menimbulkan distorsi bagi perkembangan ekonomi lokal perlu dikembangkan. Demikian juga dengan program intensifikasi perlu dilakukan melalui upaya terus-menerus dalam melakukan perbaikan ke dalam dan senantiasa meningkatkan kesadaran wajib pajak.

128

H A N D O U T
PROYEKSI KEUANGAN DAERAH
HERY PRATONO, Service Provider LGSP
PENGANTAR Proyeksi keuangan dan belanja daerah merupakan kelengkapan dokumen perencanaan daerah untuk melakukan analisis keuangan daerah. Proyeksi ini akan digunakan sebagai dasar penentuan kebijakan keuangan daerah yang tidak terlepas dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dilakukan dengan menekankan pada prinsip money follow function sebagai konsekuensi hubungan keuangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Terbitnya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagai pengganti Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 memberikan warna baru landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pengelolaan keuangan daerah berdasarkan pada Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tersebut bertumpu pada upaya peningkatan efisiensi, efektifitas, akuntabilitas, dan transparansi pengelolaan keuangan publik baik dari sisi pendapatan maupun belanja. KONSEP DASAR Inti perubahan yang ingin dilakukan dalam arah kebijakan keuangan daerah antara lain mempertajam esensi pengelolaan keuangan daerah dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menyangkut penjabaran terhadap hak dan kewajiban daerah dalam mengelola keuangan publik, meliputi mekanisme penyusunan, pelaksanaan dan penatausahaan, pengendalian dan pengawasan, serta pertanggungjawaban keuangan daerah. Dalam pengelolaan keuangan daerah dilandaskan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu: 1. Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 2. Undang-undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; 3. Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; 4. Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 105 tahun 2001 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; 6. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan; dan 7. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggung jawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Pengelolaan Pendapatan Daerah Pendapatan daerah dalam struktur APBD merupakan elemen penting bagi kemampuan pemerintah daerah dalam melakukan kontrol terhadap alokasi sumber daya. Pengembangan sistem pendapatan daerah dibutuhkan untuk menjamin stabilitas pendapatan daerah supaya pemerintah lokal mampu mengembangkan administrasi dan keuangan layanan publik yang lebih independen dan autonomous. Pengelolaan pendapatan daerah hendaknya menekankan pada keserasian antara kebutuhan pengeluaran dan pendapatan. Prinsip bahwa nilai tambah pendapatan daerah akan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat merupakan upaya mobilitas sumber daya lokal melalui peningkatan pendapatan daerah tidak akan menimbulkan gangguan terhadap alokasi sumber daya. Sampai akhir Maret 2006, Departemen Dalam Negeri tengah memproses pembatalan 393 perda pajak dan retribusi yang menghambat iklim investasi. Sebagian besar perda ternyata masih mengedepankan kepentingan pemerintah daerah, di mana peningkatan Pendapatan Asli Daerah seringkali menjadi alasan utama penentuan pajak dan retribusi. Di lain pihak, visi daerah sering kali dilupakan dalam merumuskan peraturan daerah hanya yang berorientasi pada pendapatan asli daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance, pengelolaan keuangan daerah Daerah dilakukan secara profesional, terbuka, dan bertanggungjawab sesuai dengan perudang-undangan yang berlaku. Aturan pokok yang ditetapkan dalam Undang-undang Dasar tersebut dijabarkan ke dalam asas-asas umum pengelolaan keuangan daerah yang meliputi: 1. Asas tahunan; 2. Asas universalitas; 3. Asas kesatuan; 4. Asas spesialitas; 5. Akuntabilitas berorientasi pada hasil; 6. Profesionalitas; 7. Proporsionalitas; 8. Keterbukaan dalam pengelolaan keuangan; dan 9. Pemeriksaan keuangan yang bebas dan mandiri.

129

H A N D O U T
Tabel 1 Metode Kaji Ulang Perda Pendapatan Daerah
KPPOD Eksternal Prinsip: konteks ekonomi secara luas (i.e. free trade, persaingan sehat, eksternalitas negatif, kewenangan pemerintah) OED Relevansi Tujuan: konsistensi dengan strategi pembangunan nasional, regional, kota Dampak sektoral: daya saing, efisiensi, dan keberlanjutan Efficacy: kejelasan tentang ukuran keberhasilan Efficiency: hasil yang didapat dan sumber daya terpakai Sustainability: ketersediaan sumber daya, dukungan masyarakat Performance Pemerintah Daerah: strategi pemerintah daerah untuk mencapai tujuan dan mengelola sumber dayanya, termasuk kualitas implementasi perda. RIA Identifikasi Masalah: uji definisi masalah, identitas wewenang hukum, susunan regulasi Alternatif regulasi: self regulation, quasi regulation, explicit regulation Tujuan Regulasi: solusi masalah yang adil Manfaat dan Biaya: dari sisi pelaku bisnis, konsumen, dan pemerintah Kepatuhan: penegakan peraturan daerah

Internal Peraturan

Substansi: keterkaitan antara tujuan dan isi, obyek dan subyek pungutan, hak dan kewajiban wajib pungut, standar pelayanan, filosofi dan prinsip pungutan

Yuridis

Teknis yuridis: relevansi acuan sumber hukum, perundangan terbaru, kelengkapan teknis yuridis formal

Pusdakota (2005)

Pengembangan metode kajian tentang kebijakan daerah dilakukan antara lain oleh KPPOD (Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah), OED (Operation Evaluation Department, World Bank), serta Deperindag dan PEG-USAID. Dalam melakukan kajian terhadap perda, KPPOD menggembangkan metode yang menggunakan pendekatan teknis hukum dan ekonomi, sementara RIA berfokus pada pendekatan konsep intervensi pemerintah untuk memberikan solusi dalam mengatasi kegagalan mekanisme (pasar) yang tidak bisa dipecahkan oleh masyarakat sendiri. Di lain pihak, pendekatan OED lebih menekankan sinergi tujuan antar berbagai stakeholder utama yang terlibat dalam pembangunan daerah, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun lembaga pemerintah lain yang terkait. Pengelolaan Belanja Daerah Belanja daerah diarahkan pada peningkatan proporsi daerah untuk memihak kepentingan dan kebutuhan masyarakat lokal, disamping tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam penggunaannya, belanja daerah harus tetap mengedepankan efisiensi maupun efektivitas sesuai dengan prioritas untuk memberikan dukungan pada strategi pembangunan daerah. Garis besar isi Kebijakan Umm APBD merupakan rancangan prioritas kegiatan dan plafon anggaran

sementara. Tahapan pertama dalam proses rancangan tersebut adalah (1) menentukan skala prioritas dalam urusan wajib dan urusan pilihan, seperti sektor yang menuntut standar pelayanan minimal, (2) Penentuan urutan program untuk masing-masing urusan dilakukan, serta (3) penyusunan plafon anggaran sementara untuk masing-masing program. Upaya mewujudkan anggaran berbasis kinerja sering kali masih menemui jalan buntu. Kinerja dalam melaksanakan TUPOKSI atau kegiatan rutin bagian atau seksi tidak terukur karena tidak ada indikator kinerja yang dihubungkan ke dalam biaya tidak langsung. Misalnya, alokasi dana pendidikan minimal 20% dari APBD dipandang belum memenuhi karena dihitung berdasarkan alokasi dana anggaran belanja pembangunan. Di lain pihak, eksekutif menggunakan alasan bahwa alokasi dana untuk pendidikan sudah dilakukan pada alokasi anggaran belanja pegawai yang bekerja di sektor pendidikan. Di lain pihak, program pendidikan bisa dimasukkan dalam program pelatihan yang merupakan belanja pembangunan di sektor lainnya non pendidikan. Sebagian besar belanja anggaran merupakan belanja tidak langsung (biasanya sekitar 65-85%) akan menyulitkan pengukuran keberhasilan suatu program. Metode yang biasa digunakan untuk

130

H A N D O U T
melakukan analisis biaya tidak langsung adalah activity-based costing. Namun metode ini masih belum banyak dikembangkan untuk sektor publik. Selama ini, metode ini masih dikembangkan untuk sektor swasta dalam menentukan harga suatu produk. pengaruh lingkungan ekonomi yang cukup besar terhadap penerimaan daerah. Di lain pihak, penyusunan anggaran penge2 Pendapatan Asli Daerah luaran daerah sebaiknya mengPengeluaran rUTIN gunakan basis aktivitas (activitybased costing) yang dibutuhkan untuk mencapai prioritas pembangunan daerah berdasarkan indikator kinerja yang terukur. Untuk melihat kinerja keuangan daerah, derajat kemandirian daerah dapat diukur dari seberapa jauh Pendekatan Statistik penerimaan yang berasal dari daerah mampu Proyeksi keuangan bisa dilakukan dengan memenuhi kebutuhan daerah. menggunakan trend atau model regresi. Proyeksi PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) akan Pembiayaan Daerah dilakukan dengan menggunakan trend dengan Berdasarkan ketentuan pasal 17 ayat 3 Undang estimasi vektor autoregression, yaitu estimasi Undang Nomor 17 2003 tentang Keuangan Negara dengan menggunakan basis data beberapa periode dan pasal 83 ayat 2 dalam Undang-Undang Nomor sebelumnya. Dalam kasus ini akan digunakan dua 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan basis data periode tahun sebelumnya (-1) dan dua antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, tahun sebelumnya (-2), sehingga fungsi jumlah kumulatif defisit anggaran tidak melebihi 3 persamaannya dapat ditulis sebagai berikut: persen dari Produk Domestik Regional Bruto tahun bersangkutan. PDRB = f(PDRB(-1), PDRB(-2))

1

Pendapatan Asli Daerah Total Pengeluaran Daerah

Bagi perekonomian daerah yang berbasis sektor primer seperti Daerah , peranan anggaran pemerintah sebagai motor penggerak ekonomi daerah menuntut kebijakan yang cenderung ekspansif. Salah satu alternatif bagi pembiayaan daerah adalah hutang, yang diharapkan dapat mengatasi masalah keterbatasan dana segar, meningkatkan alternatif investasi daerah, maupun meningkatkan mobilitas pendapatan lokal. Di lain pihak, risiko yang harus ditanggung berupa lemahnya anggaran pemerintah (soft budget constraint) akibat disiplin fiskal yang lemah, moral hazard, dan perilaku oportunis kelembagaan pemerintah daerah. Kondisi stabilitas ekonomi makro, baik berupa fluktuasi nilai tukar maupun tingkat suku bunga, merupakan faktor eksternal yang perlu dicermati dalam memilih alternatif sumber pembiayaan daerah dari hutang. PROYEKSI KEUANGAN DAERAH Ada dua konsep yang ingin disampaikan dalam proyeksi keuangan daerah. Untuk pendapatan daerah, proyeksi keuangan daerah bisa dilakukan dengan menggunakan analisis statistik, karena

Hasil estimasi dengan menggunakan software econometric views adalah sebagai berikut PDRB = -0,609605 (PDRB (-1)) + 1,293098 (PDRB (-2))* Hasil tersebut menunjukkan bahwa PDRB pada dua tahun sebelumnya lebih berpengaruh dalam menentukan proyeksi keuangan (secara statistik signifikan disimbolkan dengan *), sedangkan kondisi satu tahun sebelumnya secara statistik tidak cukup berpengaruh. Kenaikan satu satuan PDRB pada tahun ini (misalnya dalam milyar rupiah) akan menyebabkan kenaikan sebesar 1,29 satuan pada dua tahun yang akan datang. Secara detail perhitungan bisa dilihat dari tabel dalam lampiran. Hasil estimasi akan digunakan sebagai penentuan asumsi dasar yang selanjutnya akan mempengaruhi besaran angka pendapatan dan belanja daerah. Misalnya pada 2004, PDRD sebesar 100 milyar dan 2005 sebesar 105 milyar. Maka pada tahun 2006 PDRB diperkirakan sebesar 129 yang berasal dari PDRB tahun 2004 dikalikan koefisien estimasi (100x1,29).

Tabel 2. Proyeksi PDRB 2004 100 2005 105 2006* 129 100x1,29 2007* 135.45 105x1,29 2008* 166.41 135,45x1,29 2009* 174.7305 166,41x1,29 2010* 214.6689 174,73x1,29

* = hasil estimasi

131

H A N D O U T
Penggunaan regresi digunakan dalam melakukan proyeksi suatu variabel yang akan ditentukan oleh keberadaan variabel lain. Misalnya dalam penilaian BHPBP (Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak) akan menggunakan variabel PDRB dan tingkat kepadatan penduduk (density) sebagai variabel yang mempengaruhi. Hasil estimasi menunjukkan persamaan sebagai berikut: BHPTB = -0,971310* +0,000590(Density)* + 0,0007(PDRB)*

Dalam menentukan proyeksi BHPTB, semua variabel penentu dalam model signifikan secara statistik mempengaruhi BHPTB. (Pengujian secara statistik bisa dilihat pada bagian lampiran). Tabel 3. Proyeksi BHPTB 2005 2006 2007 Pdrb* 1000 1010 1015 Density* 100 120 125 BHPTB** -0.211 -0.1922 -0.18575 Persamaan =-0.97+(0.00059*1000)+(0.0007*100) =-0.97+(0.00059*1010)+(0.0007*120) =-0.97+(0.00059*1015)+(0.0007*125)

* = asumsi, ** = perkiraan

Pendekatan Medium Term Expenditure Framework MTEF merupakan mekanisme untuk menentukan skala prioritas dan memastikan alokasi dana untuk mencapai target dari skala prioritas tersebut. MTEF terdiri dari proyeksi (1) top-down terhadap ketersediaan sumber daya agregat untuk menentukan pengeluaran publik dengan mempertimbangkan kondisi stabilitas ekonomi makro, (2) proyeksi biaya yang dibutuhkan dalam melakukan suatu kebijakan dan bersifat bottom-up, serta (3) kerangka kerja untuk melakukan rekonsiliasi antara biaya dan ketersediaan sumber daya. Disebut medium term karena perencanaan ini menggunakan data yang berbasis prospektif, misalnya untuk satu tahun ke depan (n+1) maupun tahun-tahun berikutnya (n+2) dan (n+3). Pada tingkat politik, keputusan untuk melakukan peningkatan jasa layanan publik dan transformasi dalam proyeksi yang realistis didasarkan kemampuan pembiayaan anggaran daerah. Sistem ini menuntut keterlibatan pengambil kebijakan, perencanaan, dan penganggaran sejak awal dalam siklus penganggaran. Pengambilan keputusan dalam menentukan anggaran ini sangat ditentukan oleh integritas dan kualitas informasi data. Dengan demikian, tujuan utama MTEF adalah memperkuat pengambilan keputusan politis dalam proses anggaran. Pos pengeluaran biasanya stabil mengalami peningkatan sedangkan pos penerimaan ada kalanya mengalami fluktuasi seperti terlihat pada

kasus di Pacitan (gambar 1). Dalam gambar 1 terlihat kecenderungan penurunan penerimaan daerah sementara pengeluaran masih tetap meningkat. Trend yang dilakukan dengan menggunakan excel hanya mungkin bisa dilakukan apabila estimasi dengan autoregresi (-4) benarbenar signifikan. Namun demikian, kondisi penerimaan daerah sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan ekonomi. Ada kemungkinan daya beli masyarakat pada 2005 akibat kenaikan BBM (inflasi) mengalami penurunan sehingga terjadi penurunan pendapatan daerah. Misalnya terjadinya inflasi yang dicerminkan oleh kenaikan ihk (indeks harga konsumen) akan diikuti oleh penurunan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar 1,000085 juta rupiah. PAD = -1,000085 (IHK)* Kondisi ini cukup rawan bagi Kabupaten Pacitan untuk terjebak dalam kebangkrutan. Berdasarkan ketentuan pasal 17 ayat 3 Undang Undang Nomor 17 2003 tentang Keuangan Negara dan pasal 83 ayat 2 dalam Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, jumlah kumulatif defisit anggaran tidak melebihi 3 persen dari Produk Domestik Regional Bruto tahun bersangkutan. Fenomena defisit yang mengakibatkan bangkrutnya suatu daerah pernah dialami oleh Rio de Janeiro pada 1988, Cleveland pada 1978. Bahkan kota besar sekaliber New York pun pernah mengalami kebangkrutan pada 1975.

132

H A N D O U T

Gambar 1. Realisasi dan Perkiraan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Pacitan

Masalah ini juga pernah dialami oleh Uganda pada 1996, namun negara tersebut terlepas dari bencana kebangkrutan setelah menerapkan MTEF. Upaya melakukan rekonsiliasi penerimaan yang merosot dilakukan dengan melakukan pemotongan sejumlah pos pengeluaran yang tidak efisien. Saat itu defisit mencapai 8,9% terhadap PDRB, sehingga untuk menghidari penurunan kualitas layanan publik, Pemerintah Uganda memilih mencari pinjaman lunak (grant). Defisit anggaran pemerintah diperkirakan akan mencapai 2,5% setelah pemerintah memanfaatkan grant.1 Dalam beberapa kasus seperti Uganda pada 1992 dan Korea, MTEF dilakukan oleh suatu negara pada saat mengalami krisis fiskal serta mendukung pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Hal ini dilakukan karena MTEF memungkinkan kerjasama antar dinas dan perencanaan dilakukan dalam periode yang lebih panjang sehingga pendekatan holistik menjadi sangat mungkin dilakukan.

1

Untuk diskusi lebih lanjut tentang Uganda baca Bevan (2001) The Budget and Medium-Term Expenditure Framework in Uganda, African Region Working Paper Series No 24 atau www.worldbank.org/afr/wps/index.htm

133

H A N D O U T
Tabel 4: Proses pendukung utama MTEF
Proses Utama Penentuan sumber daya agregat Proses Pendukung Analisis kondisi makroekonomi, proyeksi keuangan daerah, dan definisi kebijakan fiskal yang berkelanjutan Tujuan Membuat proyeksi yang realistis dari keberadaan sumber daya dalam jangka menengah yang akan dialokasikan untuk program pengeluaran Untuk menunjukkan tujuan sektoral, program, dan aktivitas termasuk sumber daya yang diperlukan Untuk menentukan kesepakatan dalam program pengeluaran jangka menengah

Formulasi dan rencana pengeluaran sektoral

Dinas melakukan formulasi pengeluaran program sektoral

Rekonsiliasi sumber daya yang tersedia dengan rencana pengeluaran sektoral Menentukan alokasi sektoral jangka menengah

Dewan dan stakeholders melakukan rekonsiliasi antara keterbatasan sumber daya dengan kebutuhan pengeluaran Berdasarkan data yang relevan, pengambil keputusan mengalokasikan sumber daya ke sektor-sektor Formulasi anggaran tahunan

Untuk mengkomunikasikan ke dinas-dinas tentang kebijakan pengeluaran sektoral dengan keterbatasan sumber daya agregat Untuk memastikan bahwa anggaran yang dipersiapkan merefleksikan kesepakatan program pengeluaran sektoral Untuk mencegah penyimpangan yang berlebihan

Mengumumkan batas pengeluaran sektoral untuk satu tahun dalam MTEF

Memastikan bahwa pelaksanaan penganggaran sejalan dengan keinginan anggaran Memastikan bahwa hasil yang diinginkan tercapai

Akuntansi, pelaporan, dan pengendalian anggaran digunakan dalam pelaksanaan anggaran tahunan Insentif bagi staff yang mempunyai kinerja bagus. Ex post audit dan evaluasi

Untuk mengkaitkan kepentingan staff pemda dan para politisi dengan keinginan publik

Pembiayaan Daerah Berdasarkan arah pembiayaan daerah yang memungkinkan pembiayaan daerah dari pajak, analisis kebutuhan hutang daerah merupakan proyeksi kebutuhan pemerintah daerah untuk melakukan investasi dengan dasar arus penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah untuk menentukan kemampuan membayar. Berdasarkan konsep perhitungan DSCR (Debt Service Coverage Ratio) yaitu kemampuan maksimal pemerintah lokal dalam mengelola sumber pembiayaan dari hutang, jumlah pembiayaan hutang per tahun (berupa pembayaran pokok hutang, bunga pinjaman, dan biaya lainnya) sebaiknya kurang dari 2,5 (PAD+ Bagian Daerah+Belanja Wajib). Tabel , kemampuan Pemerintah Daerah dalam membayar angsuran tahunan sebesar Rp 89 milyar pada 2005, dan terus meningkat menjadi Rp 127 milyar pada 2011. Besar hutang yang dimungkinkan maksimal kurang dari 75% APBD. Tabel 5. Potensi Pembiayaan Daerah
2006 Pendapatan Daerah 1. Bagi Hasil Pajak 2. Bagi Hasil Bukan Pajak 3. PAD Belanja Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Pemeliharaan Belanja Perjln Dinas Belanja Lain-lain (PAD+BD+DAU) DSCR Maksimal Kemampuan Mengangsur Maksimal Hutang 452.579 18.215 434.364 228.785 192.316 13.264 5.419 3.531 14.255 223.794 2,5 89.518 2007 491.848 20.298 471.550 248.949 207.845 14.756 6.249 4.006 16.092 242.900 2,5 97.160 256.222 2008 531.118 22.382 508.737 269.113 223.375 16.249 7.079 4.482 17.929 262.006 2,5 104.802 269.506 2009 570.388 24.465 545.923 289.277 238.904 17.742 7.908 4.957 19.765 281.111 2,5 112.444 282.790 2010 609.045 26.548 582.497 308.828 254.434 19.235 8.738 5.432 20.990 300.217 2,5 120.087 282.977 2011 648.009 28.632 619.377 328.686 269.964 20.727 9.567 5.907 22.521 319.323 2,5 127.729 308.153

134

H A N D O U T
Penutup Penguatan keterkaitan antara prioritas pembangunan daerah dengan perencanaan pengeluaran merupakan tahapan menuju visi pembangunan daerah. Informasi tentang bagaimana dana masyarakat dialokasikan yang mencerminkan transparansi dan akuntabilitas menuntut political will pemerintah. Sering kali, pemerintah lupa akan mandat yang diberikan rakyat sehingga proses politik terjebak pada perebutan kekuasaan yang justru mempunyai potensi menimbulkan bencana kebangkrutan. Konsep penganggaran kinerja yang memungkinkan prinsip anggaran defisit dengan melibatkan pendekatan partisipasif masih berhadapan dengan penyakit lama yaitu ego sektoral serta keterisolasian antara perencanaan dan panganggaran. Arah kebijakan umum APBD merupakan instrumen strategis untuk menjembatani kebijakan jangka menengah dengan perencanaan program dan penganggaran tahunan. Penjabaran program dan kegiatan bredasarkan bidang kewenangan dilihat sebagai suatu formula yang konsisten terhadap seluruh tahapan mulai perencanaan sampai dokumen APBD. Lampiran Dependent Variable: PAD Method: Least Squares Date: 04/01/06 Time: 11:42 Sample: 1 336 Included observations: 336
Variable C IHK R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.725838 -1.000085 0.999972 0.999972 11.63600 45222.42 -1300.339 2.007487 Std. Error 0.708497 0.000290 t-Statistic -1.024476 -3443.026 Prob. 0.3064 0.0000 1082.613 2188.909 7.752019 7.774740 11854426 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic Obs*R-squared 0.004516 0.009140 Probability Probability 0.995494 0.995440

Ramsey RESET Test:
F-statistic Log likelihood ratio 0.060129 0.121684 Probability Probability 0.941654 0.940972

White Heteroskedasticity Test:
F-statistic Obs*R-squared 0.086985 0.175445 Probability Probability 0.916712 0.916015

135

H A N D O U T
Dependent Variable: POVGAP Method: Least Squares Date: 04/01/06 Time: 11:59 Sample: 1 336 Included observations: 336
Variable C BPEGAWAI AREA R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 585.8161 -0.004695 -0.002557 0.024238 0.018377 469.4168 73377267 -2542.158 0.788990 Std. Error 50.32133 0.003521 0.001043 t-Statistic 11.64151 -1.333477 -2.452358 Prob. 0.0000 0.1833 0.0147 500.2768 473.7905 15.14975 15.18383 4.135794 0.016819

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

Dependent Variable: NPOOR000 Method: Least Squares Date: 04/01/06 Time: 12:01 Sample: 1 336 Included observations: 336
Variable C BPEGAWAI POVGAP R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -10006.20 1.612234 9.430947 0.626641 0.624399 9480.549 2.99E+10 -3552.008 1.605469 Std. Error 1176.100 0.071185 1.096897 t-Statistic -8.507943 22.64860 8.597839 Prob. 0.0000 0.0000 0.0000 14167.32 15469.28 21.16076 21.19484 279.4516 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

Estimasi dengan Vektor Autoregression Date: 04/01/06 Time: 12:50 Sample(adjusted): 2002 2004 Included observations: 3 after adjusting endpoints Standard errors & t-statistics in parentheses
PDRB PDRB(-1) -0.609605 (0.86358) (-0.70591) 1.293098 (0.74086) (1.74540) 0.362302 -0.275397 4.45E+15 66708460 -56.65642 -55.32309 -55.92402 78167742 59068818

PDRB(-2)

R-squared Adj. R-squared Sum sq. resids S.E. equation Log likelihood Akaike AIC Schwarz SC Mean dependent S.D. dependent

136

H A N D O U T
Date: 04/01/06 Time: 13:07 Sample(adjusted): 2003 2005 Included observations: 3 after adjusting endpoints Standard errors & t-statistics in parentheses
TOTBELJ TOTBELJ(-1) -0.005577 (0.00643) (-0.86718) 1.142034 (0.00976) (116.995) 0.999889 0.999779 5.30E+14 23018628 -53.46434 -52.13101 -52.73193 9.07E+08 1.55E+09 TOTPEND(-1)

Date: 04/01/06 Time: 13:08 Sample(adjusted): 2003 2005 Included observations: 3 after adjusting endpoints Standard errors & t-statistics in parentheses
TOTPEND 2.218271 (0.21341) (10.3946) -1.298909 (0.23176) (-5.60450) 0.680068 0.360136 2.49E+15 49877645 -55.78415 -54.45081 -55.05174 2.90E+09 62353684

TOTBELJ(-2)

TOTPEND(-2)

R-squared Adj. R-squared Sum sq. resids S.E. equation Log likelihood Akaike AIC Schwarz SC Mean dependent S.D. dependent

R-squared Adj. R-squared Sum sq. resids S.E. equation Log likelihood Akaike AIC Schwarz SC Mean dependent S.D. dependent

Dependent Variable: BHPBP Method: Least Squares Date: 04/01/06 Time: 23:45 Sample: 1 336 Included observations: 336
Variable C DENSITY PDRBTOTAL R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.971310 0.000590 0.000700 0.511679 0.508746 2.880259 2762.532 -830.7044 1.690620 Std. Error 0.197422 8.81E-05 4.93E-05 t-Statistic -4.919972 6.694283 14.21424 Prob. 0.0000 0.0000 0.0000 1.259482 4.109400 4.962526 4.996607 174.4639 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

137

H A N D O U T
ORIENTASI KERANGKA REGULASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN DAERAH
Instrumen Hukum Penganggaran Daerah Perencanaan dan B. Peraturan Pemerintah (PP) o PP-37/2005 tentang Kedudukan Keuangan DPRD sebagai pengganti PP-24/2004 o PP-55/2005 tentang Dana Perimbangan o PP -58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah o PP-65/2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM o PP-72/2005 tentang Desa o PP-73/2005 tentang Kelurahan o PP-79/2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah o RPP yang merupakan turunan dari UU No 32/ 2004, turunan UU No 33/2004, dan turunan UU 25/2004 o PP yang terkait dengan penyusunan RKP/ RKPD dan Penyusunan RKA-KL/RKA-SKPD

A. Undang-Undang (UU) o UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara terutama pasal 17 – 20. o UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terutama pasal 21 – 27. o UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah terutama pasal 150 – 154 dan pasal 179 – 199. o UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Pemerintah Daerah terutama pasal 66 – 86. o UU No 01 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara o UU No 24/1992 tentang Penataan Ruang o RUU tentang RPJP Nasional

Sumber: HandBook 2006, Bappenas

138

H A N D O U T
C. Peraturan Presiden (PERPRES) o o PERPRES No 7/2005 tentang RPJM Nasional Tahun 2004-2009 PERPRES tentang RKP beserta lampirannya dan PERPRES tentang DAU Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dikeluarkan setiap tahun.

D. Komitmen dan Konvensi Internasional o Prinsip-prinsip Good Governance o Millenium Development Goals

Diagram I Keterkaitan Antara Undang-undang yang Berkaitan Dengan Perencanaan dan Penganggaran Daerah

Dokumen Perencanaan dan Penganggaran Daerah Secara substansi, dokumen bersifat hierarkis yaitu dokumen yang jangka waktunya lebih panjang menjadi rujukan bagi dokumen yang jangka waktunya lebih pendek.

Tabel 1 Dokumen Perencanaan Menurut UU 25/2004 dan UU 32/2004
Dokumen RPJP Daerah (jangka waktu 20 tahun) · · · Isi visi, misi, dan arah pembangunan daerah (UU No. 25/ 2004 pasal 5 ayat 2)(UU No. 32/2004 pasal 150 ayat 2) arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, dan · program satuan kerja perangkat daerah, lintas satuan kerja perangkat daerah, dan program kewilayahan disertai dengan · Rujukan Mengacu pada RPJP Nasional Ditetapkan Oleh RPJP Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah (UU No. 25/2004 pasal 13 ayat 3)(UU No. 32/2004 pasal pasal 150 ayat 3 butir e)

RPJM Daerah (jangka waktu 5 tahun)

· · ·

·

· ·

penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah berpedoman pada RPJP Daerah memperhatikan RPJM Nasional,

Peraturan Kepala Daerah (paling lambat setelah 3 bulan dilantik)(UU No. 25/ 2004 pasal 19 ayat 3)RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah (UU No. 32/2004 pasal 150 ayat 3 butir e)

·

139

H A N D O U T
Dokumen Isi rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif(UU No. 25/2004 pasal 5 ayat 2)(UU No. 32/2004 pasal 150 ayat 3 butir b) Renstra-SKPD (jangka waktu 5 tahun) · · · · · · · visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan(UU No. 25/2004 Pasal 7 ayat 1)(UU No. 32/2004 Pasal 151ayat 1) · disusun sesuai dengan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah berpedoman kepada RPJM Daerah Renstra-SKPD ditetapkan dengan peraturan pimpinan satuan kerja perangkat daerah setelah disesuaikan dengan RPJM Daerah (UU No. 25/2004 pasal 19 ayat 4) Rujukan Ditetapkan Oleh

·

RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) (jangka waktu 1 tahun)

·

memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, ·· prioritas pembangunan daerah, · rencana kerja dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.(UU No. 25/ 2004 pasal 5 ayat 3)(UU No. 32/2004 pasal 150 ayat d) · Kebijakan (Kerangka Regulasi), program (Kerangka Kegiatan), dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat(UU No. 25/ 2004 pasal 7 ayat 2)(pasal 151 ayat 2) Diatur dengan PP 39/ 2006

· ·

Penjabaran RPJM Daerah Mengacu RKP

Peraturan Kepala Daerah (UU No. 25/2004 pasal 26 ayat 2)

· ·

Renja-SKPD (jangka waktu 1 tahun)

· ·

Berpedoman pada Renstra SKPD Mengacu pada Rancangan Awal RKPD (pasal 21, UU-25/2004)

Tidak diatur

Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana

·

Diatur dengan PP 39/2006

Diatur dengan PP 39/2006

140

H A N D O U T
Tabel 2 Dokumen Penganggaran Menurut Peraturan Perundangan
Dokumen Kebijakan Umum APBD Isi Kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasari untuk periode 1 thn • Skala prioritas dalam urusan wajib dan urusan pilihan; urutan program dalam setiap urusan dan plafon anggaran sementara masingmasing program Rencana pendapatan, belanja masing-masing program dan kegiatan menurut fungsi untuk tahun yang direncanakan Dirinci sampai dengan rincial objek pendapatan, belanja dan pembiayaan serta prakiraan maju untuk tahun berikutnya Anggaran pendapatan, anggaran belanja dan pembiayaan (psl-16 UU-17) APBD yang disetujui oleh DPRD terinci sampai dengan unit organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja (UU-17/ 2003, pasal 20 ayat 5). • • Rujukan RKPD (psl 18 UU-17) PP-58/2005 pasal 34 Ditetapkan Oleh Nota Kesepakatan Pemda-DPRD

Prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS)

• •

Kebijakan Umum APBD (UU-33 psl 71 & UU-17 psl 18) PP-58/2005 pasal 35

Kesepakatan PemerintahDPRD

RKA-SKPD

• • •

KU-APBD Prioritas dan Plafon (UU-33 psl 72) Pedoman penyusunan RKA-SKPD dari KepDa (PP-58/2005 psl 35) Pasal 40 PP58/2005

Tidak diatur

APBD

• •

RKPD (UU17 psl-17 & UU25 psl 25 ) Kompilasi RKA-SKPD yang telah dikonsultasikan dengan DPRD

Peraturan Daerah

Sumber: Bahan Sosialisasi UU SPPN Bappenas tahun 2004

141

H A N D O U T
Proses dan Kelembagaan dalam Perencanaan dan Penganggaran Daerah
Berdasarkan UU No. 25/2004 dan UU No. 32/2004, proses penyusunan dokumen perencanaan, baik untuk Rencana Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD), maupun untuk Rencana Kerja Pemerintah/Rencana Kerja Pemerintah Daerah adalah sama yaitu: 1. Kepala Bappeda menyiapkan rancangan Dokumen Rencana (RPKPD/RPJMD/RKPD). 2. Rancangan Dokumen Rencana menjadi bahan utama bagi Musrenbang. 3. Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang. 4. Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJP Daerah berdasarkan hasil Musrenbang.1 Sedangkan Renstra-SKPD disusun oleh Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada rancangan awal RPJM Daerah, demikian juga Renja-SKPD disusun oleh Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan mengacu kepada rancangan awal RKPD dan berpedoman pada Renstra-SKPD. Dari proses tersebut maka ada dua kegiatan penting yang akan menentukan kualitas dokumen perencanaan yaitu: kegiatan menyusun rancangan awal dokumen rencana dan kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Kegiatan pertama adalah proses teknokratis, sedangkan kegiatan kedua adalah proses partisipatif.2 Penyesuaian APBD dengan perkembangan dan/ atau perubahan keadaan dibahas bersama DPRD dengan Pemerintah Daerah dalam rangka penyusunan prakiraan Perubahan atas APBD tahun anggaran yang bersangkutan, apabila terjadi: 1. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD; 2. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja; 3. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan anggaran yang berjalan; Beberapa Isu penting dan Konsekuensi dari Instrumen Hukum Perencanaan dan Penganggaran Daerah: 1) Bappeda merupakan satu-satunya SKPD yang mengkoordinasikan proses perencanaan di daerah. Sebagai konsekwensinya, Bappeda satu-satunya lembaga yang bertanggung jawab dalam melaksanakan siklus perencanaan dan kualitas isi dokumen perencanaan daerah. Untuk perencanaan tahunan, hanya ada satu dokumen perencanaan di daerah yaitu Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). RKPD merupakan penjabaran RPJM Daerah tahun yang direncanakan dan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (RenjaSKPD). Karena APBD adalah cerminan dari kebijakan alokasi sumber daya publik, maka dokumen APBD dituangkan dalam bentuk peraturan daerah. Untuk itu, berdasarkan UU No. 17/2003, DPRD harus mulai terlibat dalam pembahasan anggaran mulai dari proses Musrenbang (kecamatan atau di wilayah pemilihan), penetapan Kebijakan Umum APBD, penetapan prioritas dan plafon APBD. Merujuk pada UU No. 17/2003 pasal 19, dapat disimpulkan bahwa posisi SKPD dan DPRD dalam proses anggaran sangat kuat. Berdasarkan Kebijakan Umum, Prioritas dan Plafon APBD, SKPD dapat langsung menyusun RKA-SKPD. RKA-SKPD langsung dikonsultasikan dengan DPRD sebagai bagian dari pembahasan awal RAPBD. Kegiatan ini merupakan reformasi yang sangat penting, karena dengan proses ini maka dimungkinkan adanya kesamaan pandangan mengenai alokasi dan besaran anggaran antara pengguna anggaran (SKPD) dan pengawas anggaran (DPRD), namun ternyata dalam PP-58/2005 prosesnya terjadi perubahan 3. Dalam proses penyusunan anggaran, Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) menyusun rancangan peraturan daerah tentang APBD berikut dokumen pendukung berdasarkan RKA-SKPD yang telah ditelaah Tim Anggaran Pemerintah Daerah. Meskipun secara teoritis dokumen MTEF bisa berjangka waktu dua sampai tiga tahun, UU No. 17/2003 secara tegas menetapkan bahwa dokumen MTEF dibuat oleh SKPD untuk jangka waktu dua tahun. Meskipun hanya untuk jangka waktu dua tahun, tetapi dokumen ini sangat berguna bagi Bappeda untuk dijadikan bahan dalam menyusun rancangan awal RKPD.

2)

3)

4)

5)

6)

1

2 3

Berdasarkan UU No. 25/2004 proses penyusunan RPJPD diatur dalam pasal 10 – 12, proses penyusunan RPJMD diatur dalam pasal 14 – 18, dan proses penyusunan RKPD diatur dalam pasal 20 – 25. Sedangkan dalam UU No. 32/2004 diatur dalam pasal 150 – 154. Pemilahan proses perencanaan yang teknokratis dan partisipatif dapat dilihat dalam penjelasan UU No. 25/2004. Pengaturan mengenai proses penyusunan RKA-SKPD menurut UU 17/2003 berbeda dengan UU 32/2004. UU No. 32/2004 tidak mengharuskan SKPD untuk berkonsultasi dengan DPRD pada saat menyusun dokumen RKA-SKPD, berbeda juga dengan yang diatur melalui PP 58/2005, dimana RKA-SKPD yang telah disusun oleh Kepala SKPD disampaikan kepada PPKD untuk selanjutnya dibahas oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah.

142

H A N D O U T
7) Proses pembahasan RAPBD sejak penyampaian nota RAPBD oleh Kepala daerah ke DPRD menjadi pendek. Ini konsekwensi dari keterlibatan DPRD dalam proses-proses pembahasan awal RAPBD yang meliputi penetapan KU-APBD, penetapan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara dan proses Musrenbang mulai dari tingkat Kecamatan. 4. 5. Mendapatkan aspirasi masyarakat dan Sebagai wahana untuk agregasi kepentingan dan mobilisasi dana

Peran Masyarakat Sesuai amanat UU No. 25/2004, perencanaan pembangunan harus melalui pelibatan penyeleng gara negara dan masyarakat. Dengan demikian, ruang partisipasi seluruh pelaku pembangunan dijamin dan terbuka luas. Ada tiga asas penting yang membuka partisipasi masyarakat dalam undang-undang tersebut yaitu: 1. Asas “kepentingan umum” yaitu asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif; 2. Asas “keterbukaan” yaitu asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia Negara 3. Asas “akuntabilitas” yaitu asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. UU No. 25/2004 juga menetapkan “mengopti malkan partisipasi masyarakat” sebagai salah satu tujuan SPPN (pasal 2 ayat 4 huruf d). Partisipasi masyarakat berguna untuk: 1. Mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat 2. Menciptakan rasa memiliki pemerintahan 3. Menjamin keterbukaan, akuntabilitas dan kepentingan umum

Sebagai konsekwensi dari sistem perencanaan dan penganggaran daerah yang ditetapkan oleh UU No. 17/2003 dan UU No. 25/2004 maka monitoring dan evaluasi pelaksanaan rencana dan anggaran ada di Bappeda dan SKPD. Yang penting harus dikembangkan adalah, hendaknya monitoring dan evaluasi tidak hanya sebatas pengisian dokumen LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kegiatan Instansi Pemerintah), melainkan juga harus dikembangkan metode monitoring dan evaluasi yang berorientasi pada kinerja yang dinilai oleh pengguna. Untuk itu pemerintah perlu melakukan survey kepuasan masyarakat terhadap program-program yang dilaksanakan. Selanjutnya hasil monitoring dan evaluasi –yang menyerap aspirasi masyarakatdapat dijadikan input bagi proses penyusunan RKPD, AKU, Proses Musbangdes, UDKP, forumforum sektoral, dan RKA-SKPD.

143

H A N D O U T
MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS: APAKAH ITU?
Pengantar Pada tahun 2000, awal pergantian zaman dari abad 20 ke abad 21 yang disebut era milenium, sebanyak 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) termasuk Indonesia mengikuti Sidang Majelis Umum PBB. Pertemuan bertujuan mendiskusikan berbagai permasalahan yang terkait erat dengan peningkatan kesejahteraan dan kelangsungan hidup bangsa, serta penegakan hak asasi dan kerjasama internasional untuk memajukan bangsa dengan target dan indikator yang jelas. Pertemuan ini berhasil mengadopsi Deklarasi Mileenium, yang berisi komitmen untuk menjawab berbagai tantangan di era milenium, menetapkan langkah konkrit melalui tujuan, itarget dan indikator yang ditetapkan dari tahun 1990 sampai tahun 2015. Tujuan Utama / Goals MDG Dalam MDG ditetapkan delapan tujuan utama (goal) yang perlu ditindaklanjuti oleh setiap negara yang meliputi: 1. memberantas kemiskinan dan kelaparan 2. mewujudkan pendidikan dasar 3. meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 4. mengurangi angka kematian bayi 5. meningkatkan kesehatan ibu. 6. memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya 7. menjamin pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan 8. mengembangkan kemitraan global dalam pembangunan Kedelapan tujuan utama MDGs ini sebenarnya telah menjadi arahan pelaksanaan pembangunan di Indonesia, seperti yang tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 yang selanjutnya tercantum dalam Program Pembangunan Nasional (Propenas), lengkap dengan indikator kinerjanya yang akan dicapai dalam kurun waktu yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa delapan permasalahan utama tersebut dirasakan oleh hampir seluruh negara. Target dan Indikator Kinerja Masing-masing tujuan utama mempunyai target dan indikator kinerja untuk mewujudkan kesejahteraan hidup bangsa yang ditetapkan dari tahun 1999 sampai 2015. Target dan indikator masing-masing tujuan utama tersebut adalah: Target (3) menjamin semua anak, laki-laki dan perempuan dimanapun berada mampu menyelesaikan pendidikan dasarnya. Indikator: v Ratio partisipasi di sekolah dasar v Proporsi murid kelas 1 mencapai kelas 5 v Tingkat melek huruf pada penduduk usia 15-24 tahun 3. Promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan Target (4) memperkecil kesenjangan gender pada sekolah dasar dan sekolah menengah pada tahun 2005 dan pada semua jenjang pendidikan pada tahun 2015. Indikator: v Ratio perempuan terhadap laki-laki di sekolah dasar, menengah pertama dan sekolah menengah atas. v Ratio perempuan melek huruf terhadap laki-laki usia 15-24 tahun. v Kontribusi perempuan dalam angkatan kerja di luar sektor pertanian. v Proporsi perempuan yang duduk di parlemen. 4. Penurunan angka kematian anak Target (5) menurunnya dua pertiga angka kematian anak dibawah lima tahun pada tahun 1990-2015. Indikator: v Tingkat kematian anak di bawah lima tahun v Tingkat kematian bayi v Proporsi anak usia satu tahun yang mendapat imunisasi campak 1. Pemberantasan kemiskinan dan kelaparan Target (1) tinggal 50 persen proporsi penduduk dengan penghasilan dibawah 1 dolar sehari. Indikator: v Proporsi penduduk dibawah 1 dollar sehari v Ratio kesenjangan kemiskinan v Persebaran kuantil orang miskin dalam konsumsi nasional Target (2) Antara tahun 1990–2015 proporsi penduduk kelaparan tinggal separuhnya. Indikator: v Prevalensi balita kurang berat badan v Proporsi penduduk dibawah garis kemiskinan konsumsi. 2. Meningkatkan pendidikan dasar

144

H A N D O U T
5. Meningkatkan kesehatan ibu Target (6): menurunkan dua pertiga ratio kematian ibu pada tahun 1990- 2015. Indikator: v Ratio kematian ibu v Proporsi kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan terlatih. 6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya Target (7): pada tahun 2015 turun separuhnya dan mulai menghentikan penyebaran HIV/AIDS. Indikator: v Prevalensi HIV di kalangan wanita hamil umur 15-24 tahun. v Tingkat prevalensi kontrasepsi v Jumlah anak yatim piatu korban HIV/AIDS Target (8): tahun 2015 tidak ada lagi kejadian malaria dan penyakit lainnya. Indikator: v Tingkat prevalensi dan tingkat kematian akibat malaria v Proporsi penduduk di wilayah berisiko malaria yang menggunakan pencegahan malaria secara efektif serta melakukan langkah pengobatan. v Tingkat prevalensi dan tingkat kematian akibat TBC v Proporsi kasus TBC yang terdeteksi dan yang menjalankan perngobatan. 7. Pengelolaan berkelanjutan lingkungan hidup yang 8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan Target (12): Pengembangan sistem perdagangan bebas, berdasar aturan, dapat diramalkan serta tidak diskriminatif dan sistem keuangan, termasuk kesepakatan mengenai pemerintahan yang bersih, pembangunan dan pengentasan kemiskinan baik nasional maupun internasional. Target (13): perhatian kepada kebutuhan negaranegara berkembang di kepulauan, termasuk tarif dan akses terhadap kuota ekpor negara berkembang dan miskin. Target (14): memperhatikan kebutuhan khusus negara landlocked dan negara kepulauan Target (15): kesepakatan terhadap masalah hutang negara berkembang melalui standard nasional dan internasional untuk ditangguhkan masa pengembaliannya. Indikator: v Subsidi pertanian domestik dan ekport di negara Target (16): kerjasama dengan negara berkembang dan negara maju untuk menciptakan lapangan kerja bagi para pemuda. Indikator: v Tingkat pengangguran kelompok umur 15-24 tahun Target (17): Kerjasama dengan perusahaan farmasi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku obat bagi negara sedang berkembang. Indikator: v Proporsi penduduk yang mempunyai akses terhadap obat yang dibutuhkan secara berkesinambungan Target (18): Kerjasama dengan pihak swasta untuk mengembangkan teknologi baru terutama informasi dan komunikasi. Indikator: v Saluran telepon per 1000 penduduk v Komputer per 1000 penduduk Penutup Tujuan utama, target dan indikator dalam Millenium Development Goals ini dapat dikatakan merupakan penjabaran lebih rinci dari hasil kesepakatan International Conference for Population and Development di Kairo tahun 1994 dan hasil Konferensi Wanita tahun 1995 di Beijing. Hal ini menunjukkan bahwa semua permasalahan yang dihadapi negaranegara berkembang khususnya, menjadi perhatian dunia dan semua negara berusaha bekerjasama untuk mengatasinya menuju masyarakat dunia yang sejahtera.
Sumber: Millennium Depelopment Goals reports: an assessment UNDP

Target (9): mengintegrasikan prinsip-prinsip pengembangan lingkungan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan program negara dan mencegah kerusakan sumber-sumber alam. Indikator : v Proporsi luas hutan v Wilayah cagar alam v Efisiensi penggunaan energi v Emisi karbondioksida. Target (10): pada tahun 2015 proporsi penduduk yang tidak mempunyai akses terhadap air minum sehat menurun 50 persen. Indikator : v Proporsi penduduk yang mempunyai akses berlanjut terhadap sumber air yang memadai. Target (11): pada tahun 2020, 100 juta penghuni daerah kumuh mengalami peningkatan taraf hidup yang bermakna. Indikator : v Proporsi penduduk yang mempunyai akses terhadap sanitasi yang memadai. v Proporsi penduduk yang mempunyai akses terhadap pemukiman

145

H A N D O U T
PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE
Prinsip-prinsip utama ’good governance’ terdiri dari: Sustainability Subsidiarity Equity Efficiency Transparency and Accountability Civic Engagement and Citizenship Security Sustainability Prinsip Sustainability dapat diartikan dengan: terdapatnya keseimbangan antara kebutuhan sosial, ekonomi dan lingkungan untuk masa sekarang dan generasi masa mendatang. Untuk itu, diperlukan adanya komitmen yang jelas dan kuat terhadap usaha pengurangan kemiskinan. Para Pimpinan pada semua segmen masyarakat perlu memiliki visi jangka panjang dan strategi untuk pembangunan berkelanjutan dan mampu mengorganisir segenap sumber daya dan dana dan kepentingan untuk tujuan bersama yang lebih baik Beberapa tindakan praktis yang dapat dilakukan antara lain: • melakukan konsultasi dengan stakeholders untuk menyepakati visi dan misi strategis daerah melalui perencanaan strategis secara partisipatif • melakukan proses konsultasi untuk perencanaan lingkungan dan manajemen dari penggunaan sumber daya secara lebih berhatihati dengan memperhitungkan dampak negatifnya untuk generasi mendatang • mengintegrasikan pengurangan kemiskinan ke dalam perencanaan daerah • melestarikan historical dan cultural heritage • memastikan kemampuan keuangan untuk mempromosikan kegiatan ekonomi melalui partisipasi masyarakat dalam kehidupan ekonomi daerah • promosi transfer teknologi Subsidiarity Prinsip Subsidiarity dapat diartikan dengan: pendelegasian kewenangan dan sumber daya ke tingkatan yang terdekat dengan penyediaan pelayanan, konsisten dengan prinsip pelayanan yang efisien dan efektivitas pembiayaan (cost effective). Hal ini akan mengoptimasikan potensi keterlibatan masyarakat dalam proses ’governance’ pelayanan. Desentralisasi dan demokratisasi lokal akan memperbaiki tingkat responsivitas (responsiveness) kebijakan dan usaha penyediaan pelayanan yang memenuhi keinginan masyarakat. Beberapa tindakan praktis yang dapat dilakukan antara lain: • pengembangan kerangka pendelegasian kewenangan dan tanggung jawab dalam pelayanan umum dari tingkat kabupaten/kota ke tingkat kecamatan/kelurahan/desa • peraturan daerah yang memungkinkan organisasi masyarakat sipil dapat berpartisipasi dalam masalah-masalah penyediaan pelayanan umum untuk meningkatkan ’responsiveness’ pemerintah daerah dalam pelayanan kepada masyarakat • transfer dana yang transparan dan pemberian dukungan pengembangan kapasitas adminsitratif, teknikal dan manajemen pada tingkat kecamatan/kelurahan Equity Prinsip equity berkaitan dengan akses kepada pengambilan keputusan dan ’basis necessities’ (kebutuhan dasar) kehidupan. Pria dan wanita memiliki akses yang sama dalam partisipasi pengambilan keputusan, penetapan prioritas dan proses alokasi sumber daya. Daerah yang baik ádalah yang memberikan desempatan lepada semua baik yang miskin, remaja atau lanjut usia (lansia), kelompok minoritas, cacat, dengan akses yang sama terhadap penyediaan nutrisi, pendidikan, kesempatan kerja, perawatan kesehatan, perumahan, penyediaan air bersih, sanitasi dan lain-lain pelayanan dasar. Beberapa tindakan praktis yang dapat dilakukan antara lain: • memastikan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai akses yang sama kepada pengambilan keputusan, sumber daya, pelayanan dasar (melalui gender disaggregated data) • mengembangkan kuota untuk perwakilan perempuan dalam pemerintahan daerah dan memberikan peluang untuk mencapai posisi/ jabatan tinggi dalam pemerintahan daerah • memastikan kebijakan ekonomi mendorong sektor informal • mempromosikan kepastian pemilikan lahan (security land tenure (land and property)) • menghilangkan semua hambatan dalam urusan pelayanan umum dan keuangan • menciptakan kerangka regulasi daerah yang ‘fair’ dan ‘predictable’ Efficiency Prinsip efficiency dalam Good Governance dapat diartikan dengan: mengutamakan prinsip efisiensi dalam penyediaan pelayanan umum dan dalam mempromosikan pengembangan ekonomi lokal.

146

H A N D O U T
Daerah perlu mengelola keuangannya dengan baik dan cost effective juga dalam mengelola sumbersumber pendapatan dan belanja; administrasi pelayanan umum berbasis ’competitiveness’, keterlibatan sektor swasta dan masyarakat dalam perekonomian daerah. Beberapa tindakan praktis yang dapat dilakukan antara lain: • penyediaan dan regulasi pelayanan umum melalui kemitraan dengan sektor swasta dan masyarakat sipil • mempromosikan ’user pay principles’ yang adil untuk pelayanan Pemerintah Daerah dan infrastruktur • mempromosikan ’management contracts’ • mengintegrasikan perencanaan dan pengelolaan antar sektor • efisiensi dan efektifitas dalam pengumpulan pendapatan daerah • penghilangan hambatan-hambatan dalam pengurusan pelayanan Transparency and Accountability Prinsip Transparansi dan Akuntabilitas dalam Good Governance dapat diartikan sebagai pertanggungjawaban Pemerintah Daerah kepada masyarakatnya. Prinsip ini merupakan hal terpenting dalam good governance. Korupsi perlu diberantas karena dapat mengurangi kredibilitas pemerintah daerah dan memperparah kemiskinan penduduk. Transparansi dan akuntabilitas adalah penting untuk stakeholders memahami pemerintahan daerah dan mengetahui bagaimana, apa, dan siapa penerima manfaat dari pengambilan keputusan pemerintah daerah. Perundangan dan kebijakan publik mestilah transparan. Pimpinan daerah perlu memperlihatkan standard integritas professional dan pribadi yang tinggi. Partisipasi masyarakat merupakan elemen kunci dalam mempromosikan transparansi dan akuntabilitas. Beberapa tindakan praktis yang dapat dilakukan antara lain: • mendorong konsultasi publik untuk masalahmasalah berkaitan dengan keuangan daerah melalui mekanisme participatory budgeting; tender dan prosedur pengadaan (procurement) yang transparan • penggunaan ’integrity pacts’ dan monitoring mekanisme pengadaan • internal dan external audit untuk laporan keuangan tahunan dan didiseminasikan ke publik untuk dibahas • penerapan kebijakan bersifat disinsentif, untuk mencegah tindakan korupsi • penghilangan hambatan dalam pengurusan perizinan • simplifikasi sistem retribusi dan pajak daerah • • • mengembangkan ‘code of conduct’/tata tertib mengembangkan stándar akuntabilitas dan penyediaan pelayanan seperti ISO menciptakan mekanisme umpan balik (feedback) seperti ombudsman, hotlines, prosedur penyampaian komplain, citizen report cards mempromosikan hak Publik untuk mengakses informasi pemerintahan daerah akses bagi investor terhadap informasi pemerintahan daerah

• •

Civic Engagement and Citizenship Prinsip Civic Engagement and Citizensip dapat dilakukan dengan beberapa tindakan praktis seperti: • mempromosikan demokratisasi lokal melalui partisipasi dalam pengambilan keputusan • pengembangan regulasi yang memungkinkan masyarakat sipil dapat berpartisipasi secara efektif dalam komite perencanaan di berbagai peringkat pemerintah daerah • pembentukan ’city watch’ groups • mempromosikan mekanisme public hearing ataupun citizen forum Security Setiap individu memiliki hak untuk mendapatkan keamanan. Kekurang keamanan akan meningkatkan marginalisasi kelompok masyarakat miskin. Daerah perlu menghindarkan conflict dan disasters dengan mengikut sertakan masyarakat dalam pencegahan konflik dan pencegahan bencana alam. Beberapa tindakan praktis yang dapat dilakukan: • menciptakan iklim damai dan toleran melalui public campaign • meningkatkan rasa aman dilingkungan kelompok masyarakat miskin melalui penyediaan akses ke lapangan kerja, kredit, pendidikan dan pelatihan • menerapkan perencanaan lingkungan hidup berbasis partisipasi masyarakat • menangani permasalahan keamanan bagi kelompok-kelompok rawan seperti perempuan, remaja melalui pelatihan • meningkatkan fungsi-fungsi kepolisian • meningkatkan kesadaran akan resiko dari bencana alam dan merumuskan rencana pencegahan bencana alam berbasis partisipasi masyarakat • penyusunan emergency plan disemua unit kerja pemerintah daerah • penyusunan rencana tindak untuk menghindarkan kekerasan terhadap perempuan, anakanak dan keluarga (sumber: UN HABITAT)

147

H A N D O U T
FASILITASI DAN REKRUTMEN FASILITATOR
WIDJONO NGOEDIJO
Proses perencanaan partisipatif melibatkan berbagai kelompok stakeholder dan menggunakan berbagai mekanisme pertemuan seperti musyawarah pembangunan daerah (musrenbangda), focus group discussions, forum konsultasi, kelompok kerja untuk terwujudnya pertukaran informasi dan pemikiran; terjadinya dialog dan pembahasan tentang berbagai isu, strategi, kebijakan dan program serta kesepakatan tentang tindakan yang perlu dilakukan. Namun berbagai mekanisme pertemuan partisipatif tersebut di atas hanya akan mencapai tujuannya apabila difasilitasi yaitu diorganisasikan, distrukturkan, difokuskan dan diberikan dukungan yang memadai. Oleh karena itu peranan fasilitator dalam proses perencanaan partisipatif memegang peranan sangat penting. proses pengambilan keputusan strategis, untuk memastikan diskusi yang fokus dan terdapatnya hasil-hasil yang nyata dari pertemuan (3) fasilitator mempunyai peranan untuk memastikan bahwa proses dan mekanisme partisipatif menghasilkan keluaran yang diharapkan (4) fasilitator idealnya memiliki pengetahuan dan pengalaman memberikan fasilitasi dan kemampuan untuk mengaplikasikan teknik fasilitasi pada substansi yang dibahas (5) fasilitator mampu mengidentifikasi ’technical tools’ yang tepat (seperti ruang pertemuan yang memenuhi syarat, penyusunan agenda pertemuan, program kegiatan, persiapan makalah, materi, logistik, alat peraga, meta plan, flip charts dsb yang diperlukan)

Tujuan Fasilitasi dan Rekrutmen Fasilitator Langkah- Langkah Fasilitasi Tujuan utama fasilitasi adalah sebagai berikut: (1) menciptakan suasana pertemuan yang konstruktif dan interaktif . Fasilitasi yang baik menciptakan suasana pertemuan yang mendorong peserta untuk menyampaikan pendapat dan aspirasinya secara bebas berbasis saling menghormati, dimana masing-masing peserta berpartisipasi secara aktif dalam diskusi dan pemecahan masalah. Fasilitasi menghilangkan hambatan atau kendala dan menciptakan suasana informal yang diperlukan untuk membangun kesepahaman dan mencapai kesepakatan. (2) meningkatkan partisipasi dan produktivitas konsultasi. Perencanaan dan metoda fasilitasi serta implementasinya merupakan prasyarat penting untuk keberhasilan proses dan mekanisme partisipasi. Fasilitasi menjamin terselenggaranya pertemuan dan konsultasi yang fokus, terstruktur baik dalam kaitan dengan pencapaian tujuan pertemuan, sehingga partisipasi stakeholder menjadi optimal. Adapun langkah- langkah utama dalam fasilitasi: (1) Tetapkan secara jelas maksud dan tujuan pertemuan, apa keluaran utama yang harus dihasilkan dan proses yang diperlukan. Untuk ini dapat disiapkan Kerangka Acuan (Terms of Reference) pertemuan (2) Gunakan teknis visualisasi dan moderasi yang efektif untuk mengorganisasikan pendapat, prakarsa atau gagasan secara partisipatif (3) Berusaha mendengar semua kontribusi pemikiran peserta dan mencoba mensarikan/ menyimpulkan atau mengorganisasikan pendapat dan gagasan yang dikemukakan. (4) Siapkan ’logical structure’ diskusi untuk memastikan fokus pembahasan dan terdapatnya hasil yang nyata dari pertemuan. (5) Ciptakan suasana yang menyenangkan dan informal untuk mendorong terwujudnya interaksi yang bebas di antara peserta pertemuan (6) Usahakan agar setiap partisipan berbicara dan memberikan kontribusi dengan memberikan apresiasi atas apa yang dikemukakan dan dukungan emosional (7) Ciptakan dialog yang positif dan konstruktif (8) Konsolidasikan hasil pembahasan kearah pencapaian kesepakatan (konsensus) (9) Ciptakan kondisi kondusif untuk terdapatnya komitmen pada akhir pertemuan untuk menindaklanjuti atau mengimplementasikan hasil pertemuan. Partisipan perlu mengetahui secara jelas apa tindakan selanjutnya yang akan dilakukan.

Prinsip-Prinsip Fasilitasi dan Rekrutmen Fasilitator Adapun prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam fasilitasi: (1) setiap partisipan memiliki legitimasi untuk mengekspresikan dan menegosiasikan aspirasi dan kepentingannya (2) perlu ada ’logical framework’. Fasilitasi perlu dilandasi logical framework yang merujuk pada

148

L A M P I R A N

L A M P II R A N LAMP RAN

149

L A M P I R A N
Lampiran A.V : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI Nomor : 13 Tahun 2006 Tanggal : 15 Mei 2006

KODE DAN KLASIFIKASI FUNGSI

KODE 01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11.

FUNGSI Pelayanan Umum Pertahanan *) Ketertiban dan ketentraman Ekonomi Lingkungan Hidup Perumahan dan fasilitas umum Kesehatan Pariwisata dan Budaya Agama *) Pendidikan Perlindungan sosial

Keterangan : *) Urusan Pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah

150

L A M P I R A N
Lampiran A.VI : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI Nomor : 13 Tahun 2006 Tanggal : 15 Mei 2006

KODE DAN KLASIFIKASI BELANJA DAERAH MENURUT FUNGSI UNTUK KESELARASAN DAN KETERPADUAN PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

KODE 01 01 01 01 01 01 01 02 03 03 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 05 05 05 05 06 06 06 07 07 07 08 08 08

URAIAN Pelayanan umum Perencanaan Pembangunan Pemerintahan Umum Kepegawaian Statistik Kearsipan Komunikasi dan Informatika Pertahanan *) Ketertiban dan ketentraman Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Ekonomi Perhubungan Tenaga Kerja Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Penanaman Modal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pertanian Kehutanan Energi dan Sumberdaya Mineral Kelautan dan Perikanan Perdagangan Perindustrian Transmigrasi Lingkungan hidup Penataan Ruang Lingkungan Hidup Pertanahan Perumahan dan fasilitas umum Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Kesehatan Kesehatan Keluarga Berencana Pariwisata dan budaya Kebudayaan Pariwisata

1 1 1 1 1 1

06 20 21 23 24 25

1

19

1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2

07 14 15 16 22 01 02 03 05 06 07 08

1 1 1

05 08 09

1 1

03 04

1 1

02 12

1 2

17 04

151

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VI.................. KODE URAIAN

09 10 10 10 11 11 11 11 11

Agama *) Pendidikan Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Perlindungan sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Pemberdayaan Perempuan Keluarga Sejahtera Sosial

1 1

01 18

1 1 1 1

10 11 12 13

Keterangan : *) Urusan pemerintahan yang menjadi wewenang pemerintah

152

L A M P I R A N
Lampiran A.VII : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI Nomor : 13 Tahun 2006 Tanggal : 15 Mei 2006 KODE DAN DAFTAR PROGRAM DAN KEGIATAN MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH

KODE

PROGRAM DAN KEGIATAN PROGRAM DAN KEGIATAN PADA SETIAP SKPD

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x

xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx

xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx

01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Penyediaan jasa surat menyurat Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor Penyediaan jasa jaminan pemeliharaan kesehatan PNS Penyediaan jasa jaminan barang milik daerah Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional Penyediaan jasa administrasi keuangan Penyediaan jasa kebersihan kantor Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja Penyediaan alat tulis kantor Penyediaan barang cetakan dan penggandaan Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor Penyediaan peralatan rumah tangga Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan Penyediaan bahan logistik kantor Penyediaan makanan dan minuman Rapat-rapat kordinasi dan konsultasi ke luar daerah Dst………………….. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Pembangunan rumah jabatan Pembangunan rumah dinas Pembangunan gedung kantor Pengadaan mobil jabatan Pengadaan kendaraan dinas/operasional Pengadaan perlengkapan rumah jabtan/dinas Pengadaan perlengkapan gedung kantor Pengadaan peralatan rumah jabatan/dinas Pengadaan peralatan gedung kantor Pengadaan mebeleur Pengadaan ………………. s/d dst…………. Pemeliharaan rutin/berkala rumah jabatan Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan rumah jabatan/dinas Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor Pemeliharaan rutin/berkala peralatan rumah jabatan/dinas Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor Pemeliharaan rutin/berkala mebeleur Pemeliharaan rutin/berkala ………………. s/d

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

153

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 02 02 02 02 02 02 02 03 03 03 03 03 03 03 04 04 04 04 04 05 05 05 05 05 06 06 06 06 06 06 09 s.d 14 01 02 03 04 05 39 40 41 42 43 44 45 PROGRAM DAN KEGIATAN dst…………. Rehabilitasi sedang/berat rumah jabatan Rehabilitasi sedang/berat rumah dinas Rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor Rehabilitasi sedang/berat mobil jabatan Rehabilitasi sedang/berat kendaraan dinas/operasional dst…………. Program peningkatan disiplin aparatur Pengadaan mesin/kartu absensi Pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya Pengadaan pakaian kerja lapangan Pengadaan pakaian KORPRI Pengadaan pakaian khusus hari-hari tertentu dst…………. Program fasilitas pindah/purna tugas PNS Pemulangan pegawai yang pensiun Pemulangan pegawai yang tewas dalam melaksanakan tugas Pemindahan tugas PNS dst…………. Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Sosialisasi peraturan perundang-undangan Bimbingan teknis implementasi peraturan perundang-undangan dst…………. Program peningkatan pengembangan sistem pelaporan capaian kinerja dan keuangan Penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPD Penyusunan laporan keuangan semesteran Penyusunan pelaporan prognosis realisasi anggaran Penyusunan pelaporan keuangan akhir tahun dst…………. Program dst………. Program dst………. URUSAN WAJIB Pendidikan Program Pendidikan Anak Usia Dini Pembangunan gedung sekolah Pembangunan rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Penambahan ruang kelas sekolah Penambahan ruang guru sekolah Pembangunan ruang locker siswa Pembangunan sarana dan prasarana olahraga Pembangunan saranan dan prasarana bermain Pembangunan ruang serba guna/aula Pembangunan taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir Pembangunan ruang unit kesehatan sekolah Pembangunan ruang ibadah Pembangunan perpusatakaan sekolah Pembangunan jaringan instalasi listrik sekolah dan perlengkapannya

01 02 03 04 05 06

01 02 03 04

01 02 03 04

15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13

154

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 PROGRAM DAN KEGIATAN Pembangunan sarana air bersih dan sanitary Pengadan buku-buku dan alat tulis siwa Pengadaan pakaian seragam sekolah Pengadaan pakaian olahraga Pengadaaan alat praktik dan peraga siswa Pengadaan mebeluer sekolah Pengadaan perlengkapan sekolah Pengadaaan alat rumah tangga sekolah Pengadaaan sarana mobilitas sekolah Pemeliharaan rutin/berkala bangunan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang kelas sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang guru sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang locker siswa Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana olahraga Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana bermain Pemeliharaan rutin/berkala ruang serba guna/aula Pemeliharaan rutin/berkala taman, lapangan uapacara dan fasilitas parkir Pemeliharaan rutin/berkala ruang unit kesehatan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang ibadah Pemeliharaan rutin/berkala perpustakaan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala jaringan instalasi listrik sekolah dan perlengkapannya Pemeliharaan rutin/berkala sarana air bersih dan sanitary Pemeliharaan rutin/berkala alat peraktik dan peraga siswa Pemeliharaan rutin/berkala meneluer sekolah Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala alat rumah tangga sekolah Pemeliharaan rutin/berkala sarana mobilitas sekolah Rehabilitasi sedang/berat bangunan sekolah Rehabilitasi sedang/berat rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Rehabilitasi sedang/berat asrama siswa Rehabilitasi sedang/berat ruang kelas sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang guru sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang locker siswa Rehabilitasi sedang/berat sarana olahraga Rehabilitasi sedang/berat sarana bermain Rehabilitasi sedang/berat ruang serba guna/aula Rehabilitasi sedang/berat taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir Rehabilitasi sedang/berat ruang unit kesehatan sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang ibadah Rehabilitasi sedang/berat perpustakaan sekolah Rehabilitasi sedang/berat jaringan instalasi listrik dan perlengkapannya Rehabilitasi sedang/berat sarana air bersih dan sanitary Pelatihan kompetensi tenaga pendidik Pengembangan pendidikan anak usia dini Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini Pengembangan data dan informasi pendidikan anak usia dini Penyusunan kebijakan pendidikan anak usia dini Pengembangan kurikulum, bahan ajar dan model pembelajaran pendidikan ank usia dini Penyelenggaraan koordinasi dan kerjasama pendidikan anak usia dini Perencanaan dan penyusunan program anak usia dini Publikasi dan sosialisasi pendidikan anak usia dini Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst……………………

155

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 PROGRAM DAN KEGIATAN Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Pembangunan gedung sekolah Pembangunan rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Penambahan ruang kelas sekolah Penambahan ruang guru sekolah Pembangunan ruang locker siswa Pembangunan sarana dan prasarana olahraga Pembangunan sarana dan prasarana bermain Pembangunan ruang serba guna/aula Pembangunan taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir Pembangunan ruang unit kesehatan sekolah Pembangunan ruang ibadah Pembangunan perpusatakaan sekolah Pembangunan jaringan instalasi listrik sekolah dan perlengkapannya Pembangunan sarana air bersih dan sanitary Pengadan buku-buku dan alat tulis siwa Pengadaan pakaian seragam sekolah Pengadaan pakaian olahraga Pengadaaan alat praktik dan peraga siswa Pengadaan mebeluer sekolah Pengadaan perlengkapan sekolah Pengadaaan alat rumah tangga sekolah Pengadaaan sarana mobilitas sekolah Pemeliharaan rutin/berkala bangunan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang kelas sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang guru sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang locker siswa Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana olahraga Pemeliharaan rutin/berkala ruang serba guna/aula Pemeliharaan rutin/berkala taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir Pemeliharaan rutin/berkala ruang unit kesehatan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang ibadah Pemeliharaan rutin/berkala perpustakaan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala jaringan instalasi listrik sekolah dan perlengkapannya Pemeliharaan rutin/berkala sarana air bersih dan sanitary Pemeliharaan rutin/berkala alat peraktik dan peraga siswa Pemeliharaan rutin/berkala mebeluer sekolah Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala alat rumah tangga sekolah Pemeliharaan rutin/berkala sarana mobilitas sekolah Rehabilitasi sedang/berat bangunan sekolah Rehabilitasi sedang/berat rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Rehabilitasi sedang/berat asrama siswa Rehabilitasi sedang/berat ruang kelas sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang guru sekolah Rehabilitasi sedang/berat laboratorium dan praktikum sekolah Rehabilitasi sedang/berat sarana mobilitas sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang locker siswa Rehabilitasi sedang/berat sarana olahraga Rehabilitasi sedang/berat ruang serba guna/aula Rehabilitasi sedang/berat taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir Rehabilitasi sedang/berat ruang unit kesehatan sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang ibadah

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53

156

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 PROGRAM DAN KEGIATAN Rehabilitasi sedang/berat perpustakaan sekolah Rehabilitasi sedang/berat jaringan instalasi listrik dan perlengkapannya Rehabilitasi sedang/berat sarana air bersih dan sanitary Pelatihan kompetensi tenaga pendidik Pelatihan kompetensi siswa berprestasi Pelatihan penyusunan kurikulum Pembinaan forum masyarakat peduli masyarakat Pembinaan SMP terbuka Penambahan ruang kelas baru SMP/MTS/SMPLB Penyediaan bantuan operasional sekolah (BOS) jenjang SD/MI/SDLB dan SMP/MTS serta pesantren Salafiyah dan satuan pendidikan Non-Islam setara SD dan SMP Penyediaan Biaya operasional madrasah Penyediaan buku pelajaran untuk SD/MI/SDLB dan SMP/MTS Penyediaan dana pengembangan sekolah untuk SD/MI dan SMP/MTS Penyelenggraan paket A setara SD Penyelenggraan paket B setara SMP Pembinaan kelembagaan sekolah dan manajemen sekolah dengan penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) di satuan pendidikan dasar Pembinaan minat, bakat dan kreativitas siswa Pengembangan comprehensive teaching and learning (CTL) Pengembangan materi belajar mengajar dan metode pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi Penyebarluasan dan sosialisasi berbagai informasi pendidikan dasar Penyediaan beasiswa retrieval untuk anak putus sekolah Penyediaan beasiswa transisi Penyelenggaraan akreditasi sekolah dasar Penyelenggaraan Multi-Grade Teaching di daerah terpencil Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pendidikan Menengah Pembangunan gedung sekolah Pembangunan rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Penambahan ruang kelas sekolah Penambahan ruang guru sekolah Pembangunan laboratorium dsan ruang praktikum sekolah (laboratorium bahasa, Komputer, IPA, IPS dan lain-lain) Pembangunan ruang locker siswa Pembangunan sarana dan prasarana olahraga Pembangunan ruang serba guna/aula Pembangunan taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir Pembangunan ruang unit kesehatan sekolah Pembangunan ruang ibadah Pembangunan perpusatakaan sekolah Pembangunan jaringan instalasi listrik sekolah dan perlengkapannya Pembangunan sarana air bersih dan sanitary Pengadan buku-buku dan alat tulis siwa Pengadaan pakaian seragam sekolah Pengadaan pakaian olahraga Pengadaaan alat praktik dan peraga siswa Pengadaan mebeluer sekolah Pengadaan perlengkapan sekolah Pengadaaan alat rumah tangga sekolah Pengadaaan sarana mobilitas sekolah Pemeliharaan rutin/berkala bangunan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas kepsek, guru, penjaga sekolah

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01

xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx

16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17

64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

157

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

PROGRAM DAN KEGIATAN
Pemeliharaan rutin/berkala ruang kelas sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang guru sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang locker siswa Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana olahraga Pemeliharaan rutin/berkala ruang serba guna/aula Pemeliharaan rutin/berkala taman, lapangan uapacara dan fasilitas parkir Pemeliharaan rutin/berkala ruang unit kesehatan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang ibadah Pemeliharaan rutin/berkala perpustakaan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala jaringan instalasi listrik sekolah dan perlengkapannya Pemeliharaan rutin/berkala sarana air bersih dan sanitary Pemeliharaan rutin/berkala alat peraktik dan peraga siswa Pemeliharaan rutin/berkala mebeluer sekolah Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala alat rumah tangga sekolah Pemeliharaan rutin/berkala sarana mobilitas sekolah Rehabilitasi sedang/berat bangunan sekolah Rehabilitasi sedang/berat rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Rehabilitasi sedang/berat asrama siswa Rehabilitasi sedang/berat ruang kelas sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang guru sekolah Rehabilitasi sedang/berat laboratorium dan praktikum sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang locker siswa Rehabilitasi sedang/berat sarana olahraga Rehabilitasi sedang/berat ruang serba guna/aula Rehabilitasi sedang/berat taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir Rehabilitasi sedang/berat ruang unit kesehatan sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang ibadah Rehabilitasi sedang/berat perpustakaan sekolah Rehabilitasi sedang/berat jaringan instalasi listrik dan perlengkapannya Rehabilitasi sedang/berat sarana air bersih dan sanitary Rehabilitasi sedang/berat sarana mobilitas sekolah Pelatihan kompetensi tenaga pendidik Pelatihan penyusunan kurikulum Pembinaan forum masyarakat peduli pendidikan Pengembangan alternatif layanan pendidikan menengah untuk daerah-daerah pedesaaan, terpencil dan kepulauan Penyediaan bantuan operasional manajemen mutu (BOMM) Penyediaan beasiswa bagi keluarga tidak mampu Penyelenggraan paket C setara SMU Pembinaan kelembagaan sekolah dan manajem n sekolah dengan penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) Pengembangan materi belajar mengajar dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi Peningkatan kerjasama dengan dunia usaha dan industri Penyebarluasan dan sosialisasi berbagai informasi pendidikan menengah Penyelenggaraan akreditasi sekolah menengah Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pendidikan Non Formal Pemberdayaan tenaga pendidik non formal Pemberian bantuan operasional pendidikan non formal Pembinaan pendidikan kursus dan kelembagaan Pengembangan pendidikan keaksaraan Pengembangan pendidikan kecakapan hidup Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan non formal Pengambangan data dan informasi pendidikan non formal Pengembangan kebijakan pendidikan non formal Pengembangan kurikulum, bahan ajar dan model pembelajaran pendidikan non formal Pengembangan sertifikasi pendidikan non formal Perencanaan dan penyusunan pendidikan non formal Publikasi dan sosialisasi pendidikan non formal

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12

158

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 18 18 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 13 14

PROGRAM DAN KEGIATAN
Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pendidikan Luar Biasa Pembangunan gedung sekolah Pembangunan rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Penambahan ruang kelas sekolah Penambahan ruang guru sekolah Pembangunan laboratorium dsan ruang praktikum sekolah (laboratorium bahasa, komputer, IPA, IPS dan lain-lain) Pembangunan ruang locker siswa Pembangunan sarana dan prasarana olahraga Pembangunan ruang serba guna/aula Pembangunan taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir Pembangunan ruang unit kesehatan sekolah Pembangunan ruang ibadah Pembangunan perpusatakaan sekolah Pembangunan jaringan instalasi listrik sekolah dan perlengkapannya Pembangunan sarana air bersih dan sanitary Pengadan buku-buku dan alat tulis siwa Pengadaan pakaian seragam sekolah dan kelengkapannya serta pakaian olahraga Pengadaaan alat praktik dan peraga siswa Pengadaan mebeluer sekolah Pengadaan perlengkapan sekolah Pengadaaan alat rumah tangga sekolah Pengadaaan sarana mobilitas sekolah Pemeliharaan rutin/berkala bangunan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang kelas sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang guru sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang locker siswa Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana olahraga Pemeliharaan rutin/berkala ruang serba guna/aula Pemeliharaan rutin/berkala taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir Pemeliharaan rutin/berkala ruang unit kesehatan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala ruang ibadah Pemeliharaan rutin/berkala perpustakaan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala jaringan instalasi listrik sekolah dan perlengkapannya Pemeliharaan rutin/berkala sarana air bersih dan sanitary Pemeliharaan rutin/berkala buku-buku ajar Pemeliharaan rutin/berkala alat peraktik dan peraga siswa Pemeliharaan rutin/berkala meneluer sekolah Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan sekolah Pemeliharaan rutin/berkala alat rumah tangga sekolah Pemeliharaan rutin/berkala sarana mobilitas sekolah Rehabilitasi sedang/berat bangunan sekolah Rehabilitasi sedang/berat rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah Rehabilitasi sedang/berat asrama siswa Rehabilitasi sedang/berat ruang kelas sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang guru sekolah Rehabilitasi sedang/berat laboratorium dan praktikum sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang locker siswa Rehabilitasi sedang/berat sarana olahraga Rehabilitasi sedang/berat ruang serba guna/aula Rehabilitasi sedang/berat taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir Rehabilitasi sedang/berat ruang unit kesehatan sekolah Rehabilitasi sedang/berat ruang ibadah Rehabilitasi sedang/berat perpustakaan sekolah Rehabilitasi sedang/berat jaringan instalasi listrik dan perlengkapannya Rehabilitasi sedang/berat sarana air bersih dan sanitary Pelatihan kompetensi tenaga pendidik Pelatihan penyusunan kurikulum Pembinaan forum masyarakat peduli pendidikan

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58

159

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 01 02 02 02 02 02 02 02 02 02 xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 15 15 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 19 19 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 23 59 60

PROGRAM DAN KEGIATAN
Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pelaksanaan sertifikasi pendidik Pelaksanaan uji kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan Pelatihan bagi pendidik untuk memenuhi standar kompetensi Pembinaan kelompok kerja guru (KKG) Pembinaan lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP) Pembinaan pusat pendidikan dan pelatihan guru (PPPG) Pendidikan lanjutan bagi pendidik untuk memenuhi standar kualifikasi Pengembangan mutu dan kualitas program pendidikan dan pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan Pengembangan sistem pendataan dan pemetaan pendidik dan tenaga kependidikan Pengembangan sistem penghargaan dan perlindungan terhadap profesi pendidik Pengembangan sistem perencanaan dan pengendalian program profesipendidik dan tenaga kependidikan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan Pemasyaraktan minat dan kebiasaan membaca untuk mendorong terwujudnya masyarakat pembelajar Pengembangan minat dan budaya baca Supervisi, pembinaan dan stimulasi pada perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan sekolah dan perpustakaan masyarakat Pelaksanaan Koordinasi pengembangan kepustakaan Penyediaan bantuan pengembangan perpustakaan dan minat baca di daerah Penyelenggaraan kordinasi pengembangan budaya baca Perencanaan dan penyusunan program budaya baca Publikasi dan sosialisasi minat dan budaya baca Penyediaan bahan pustaka perpustakaan umum daerah Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Manajemen Pelayanan Pendidikan Pelaksanaan evaluasi hasil kinerja bidang pendidikan Pelaksanaan kerjasama secara kelembagaan di bidang pendidikan Pengendalian dan pengawasan penerapan azas efesiensi dan efektifitas penggunaan dana dekonsentrasi dan dana pembantuan Sosialisasi dan advokasi berbagai peraturan pemerintah di bidang pendidikan Pembinaan dewan pendidikan Pembinaan komite sekolah Penerapan sistem dan informasi manajemen pendidikan Penyelenggaraan pelatihan, seminar dan lokakarya serta diskusi ilmiah tentang berbagai isu pendidikan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program dst………. Kesehatan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan Pengadaaan obat dan perbekalan kesehatan Peningkatan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan Peningkatan keterjangkauan harga obat dan perbekalan kesehatan terutama untuk penduduk miskin Peningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas dan rumah sakit Peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst……………………

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

01 02 03 04 05 06 07

160

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 17 17 17 17 17 17 17 18 18 18 18 18 18 18 18 19 19 19 19 19 19 19 20 20 20 20 20 20 20 20 21 21 21 21 21 21 22 22 22

PROGRAM DAN KEGIATAN
Program Upaya Kesehatan Masyarakat Pelayanan kesehatan penduduk miskin dipuskesmas dan jaringannya Pemeliharaan dan pemulihan kesehatan Pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya Penyelenggaraan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan wabah Perbaikan gizi mayarakat revitalisasi sitem kesehatan Pelayanan kefarmasian dan perbekalan kesehatan Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generik esensial Peningkatan kesehatan masyarakat Peningkatan pelayanan kesehatan bagi pengungsi korban bencana Peningkatan pelayanan dan penanggulangan masalah kesehatan penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan Penyelenggaraan penyehatan lingkungan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pengawasan Obat dan Makanan Peningkatan pemberdayaan konsumen/masyarakat di bidang obat dan makanan Peningkatan pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya Peningkatan kapasitas laboratorium pengawasan obat dan makanan Peningkatan penyidikan dan penegakan hukum di bidang obat dan makanan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pengembangan Obat Asli Indonesia fsilitasi pengembangan dan penelitian teknologi produksi tanaman obat Pengembanganstandarisasi tanaman obat bahan alam indonesia Peningkatan promosi obat bahan alam indonesia di dalam dan di luar negeri Pengembangan sistem dan layanan informasi terpadu Peningkatan kerjasama antar lembaga penelitian dan industri terkait Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan masyarakat Pengembangan media promosi dan informasi sadar hidup sehat Penyuluhan masyarakat pola hidup sehat Peningkatan pemanfaatna sarana kesehatan Peningkatan pendidikan tenaga penyuluh kesehatan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Perbaikan Gizi Masyarakat Penyusunan peta informasi masyarakat kurang gizi Pemberian tambahan makanan dan vitamin Peanggulangan kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium (GAKY), kurang vitamin A dan kekurangan zat gizi mikro lainnya Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi Peningkatan gizi lebih Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pengembangan Lingkungan Sehat Pengkajian pengembangan lingkungan sehat Penyuluhan menciptakan lingkungan sehat Sosialisasi kebijakan lingkungan sehat Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Penyemprotan/fogging sarang nyamuk Pengadaan alat fogging dan bahan-bahan fogging

01 02 03 04 05 06 07 08 09 11 12 13 14 15 16

01 02 03 04 05 06

01 02 03 04 05 06 07

01 02 02 03 04 05

01 02 03 04 05 06 07

01 02 03 04 05

01 02

161

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 23 23 23 23 23 23 23 23 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 26 26 26 26 01 02 03 01 02 03 04 05 07 08 09 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12

PROGRAM DAN KEGIATAN
Pengadaan vaksin penyakit menular Pelayanan vaksinasi bagi balita dan anak sekolah Pelayanan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular Pencegahan penularan penyakit endemik/epidemik Pemusnahan/karantina sumber penyebab penyakit menular Peningkatan Imunisasi Peningkatan surveillance epideminologi dan penaggulangan wabah Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (kie) pencegahan dan pemberantasan penyakit Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan Penyusunan standar kesehatan Evaluasi dan pengembangan standar pelayanan kesahtan Pembangunan dan pemutakhiran data dasar standar pelayanan kesehatan Penyusunan naskah akademis standar pelayanan kesehatan Penyusunan standar analisis belanja pelayanan kesehatan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin Pelayanan operasi katarak Pelayanan kesehatan THT Pelayanan operasi bibir sumbing Pelayanan sunatan masal Penanggulangan ISPA Penanggulangan penyakit cacingan Pelayanan kesehatan kulit dan kelamin Pelayanan kesehatan akibat gizi buruk/busung lapar Pelayanan kesehatan akibat lumpuh kayu Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya Pembangunan puskesmas Pembangunan puskesmas pembantu Pengadaaan puskesmas perairan Pengadaaan puskesmas keliling Pembangunan posyandu Pengadaaan sarana dan prasarana puskesmas Pengadaaan sarana dan prasarana puskesmas pembantu Pengadaaan sarana dan prasarana puskesmas perairan Pengadaaan sarana dan prasarana keliling Peningkatan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap Peningkatan puskesmas pembantu menjadi puskesmas Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana puskesmas Pemeliharaan rutin/berkala saranan dan prasarana puskesmas pembantu Pemeliharaan rutin/berkala saranan dan prasarana puskesmas perairan Pemeliharaan rutin/berkala saranan dan prasarana puskesmas keliling Pemeliharaan rutin/berkala saranan dan prasarana posyandu Peningkatan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap Peningkatan puskesmas pembantu menjadi puskesmas Rehabilitasi sedang/berat puskesmas pembatu Rehabilitasi sedang/berat puskesmas perairan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit/ rumah sakit jiwa/rumah sakit paru-paru/rumah sakit mata Pembangunan rumah sakit Pembangunan ruang poliklinik rumah sakit Pembangunan gudang obat/apotik

01 02 03 04 05 06 07

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11

162

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

PROGRAM DAN KEGIATAN
Penambahan ruang rawat inap rumah sakit (VVIP, VIP, Kelas I,II,III) Pengembangan ruang gawat darurat Pengambangan ruang ICU, ICCU, NICU Pengembangan ruang operasi Pengambangan ruang terapi Pengembangan ruang isolasi Pengembangan ruang bersalin Pengembangan ruang inkubator Pengembangan ruang bayi Pengembangan ruang rontgen Pengembangan ruang laboratorium rumah sakit Pembangunan kamar jenazah Pembangunan instalasi pengolahan limbah rumah sakit Rehabilitasi bangunan rumah sakit Pengadaan alat-alat rumah sakit Pengadaan obat-obatan rumah sakit Pengadaan ambulance/mobil jenazah Pengadaan mebeleur rumah sakit Pengadaan perlengkapan rumah tangga rumah sakit (dapur, ruang pasien, laundry, ruang tunggu dan lain-lain) Pengadaan bahan-bahan logistik rumah sakit Pengadaan pencetakan administrasi dan surat menyurat rumah sakit Pengembangan tipe rumah sakit Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit/rumah sakit jiwa/rumah sakit paru-paru/rumah sakit mata Pemeliharaan rutin/berkala rumah sakit Pemeliharaan rutin/berkala ruang poliklinik rumah sakit Pemeliharaan rutin/berkala gudang obat/apotik Pemeliharaan rutin/berkala ruang rawat inap rumah sakit (VVIP, VIP, Kelas I,II,III) Pemeliharaan rutin/berkala ruang gawat darurat Pemeliharaan rutin/berkala ruang ICU, ICCU, NICU Pemeliharaan rutin/berkala ruang operasi Pemeliharaan rutin/berkala ruang terapi Pemeliharaan rutin/berkala ruang isolasi Pemeliharaan rutin/berkala ruang bersalin Pemeliharaan rutin/berkala ruang inkubator Pemeliharaan rutin/berkala ruang bayi Pemeliharaan rutin/berkala ruang rontgen Pemeliharaan rutin/berkala ruang laboratorium rumah sakit Pemeliharaan rutin/berkala kamar jenazah Pemeliharaan rutin/berkala instalasi pengolahan limbah rumah sakit Pemeliharaan rutin/berkala alat-alat kesehatan rumah sakit Pemeliharaan rutin/berkala ambulance/mobil jenazah Pemeliharaan rutin/berkala mebeleur rumah sakit Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan rumah sakit Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan kemitraan asuransi kesehatan masyarakat kemitraan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular kemitraan pengolahan limbah rumah sakit kemitraan alih teknologi kedokteran dan kesehatan kemitraan peningkatan kualitas dokter dan paramedis kemitraan pengobatan lanjutan bagi pasien rujukan kemitraan pengobatan bagi pasien kurang mampu Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst……………………

01 02 03 04 05 06 07 08 09

163

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 02 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 15 15 16 16 16 16 16 16 17 17 17 17 17 17 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 29 29 29 29 29 29 29 29 29 30 30 30 30 30 30 30 30 30 31 31 31 31 31 31 32 32 32 32 32 xx

PROGRAM DAN KEGIATAN
Program peningkatan pelayanan kesehatan anak balita Penyuluhan kesehatan anak balita Imunisasi bagi anak balita Rekrutmen tenaga pelayanan kesehatan anak balita Pelatihan dan pendidikan perawatan anak balita Pembangunan sarana dan prasarana khusus pelayanan perawatan anak balita Pembangunan panti asuhan anak terlantar balita Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program peningkatan pelayanan kesehatan lansia Pelayanan pemeliharaan kesehatan rekruitmen tenaga perawat kesehatan Pendidikan dan pelatihan perawatan kesehatan Pembangunan pusat-pusat pelayanan kesehatan Pembangunan panti asuhan Pelayanan kesehatan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan Pengawasan keamanan dan kesehatan makanan hasil industri Pengawasan dan pengendalian keamanan dan kesehatan makanan hasil produksi rumah tangga Pengawasan dan pengendalian keamanan dan kesehatan makanan restaurant Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak Penyuluhan kesehatan bagi ibu hamil dari keluarga kurang mampu Perawatan berkala bagi ibu hamil dari keluarga kurang mampu Pertolongan persalinan bagi ibu hamil dari keluarga kurang mampu dst…………………… Program dst………. Pekerjaan Umum Program Pembangunan Jalan dan Jembatan Perencanaan pembangunan jalan Survei kontur jalan dan jembatan Pembangunan jalan Perencanaan pembangunan jembatan Pembangunan jembatan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong Perencanaan Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong Survei kontur saluran drainase/gorong-gorong Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pembangunan turap/talud/brojong Perencanaan turap/talud/brojong Survei kemiringan lereng turap/talud/bronjong Pembangunan turap/talud/bronjong Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst……………………

01 02 03 04 05 06 07 08

01 02 03 04 05 06 07 08

01 02 03 04 05

01 02 03 04

01 02 03 04 05 06 07

01 02 03 04 05

01 02 03 04 05

164

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 18 18 18 18 18 18 18 19 19 19 19 19 20 20 20 20 20 21 21 21 21 21 22 22 22 22 22 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13

PROGRAM DAN KEGIATAN
Program rehabilitasi/pemeliharaan Jalan dan Jembatan Perencanaan rehabilitasi/pemeliharaan jalan Perencanaan rehabilitasi/pemeliharaan jembatan Rehabilitasi/pemeliharaan jalan Rehabilitasi/pemeliharaan jembatan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program rehabilitasi/pemeliharaan talud/bronjong Perencanaan rehabilitasi/pemeliharaan talud/bronjong Perencanaan rehabilitasi/pemeliharaan talud/bronjong Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program inspeksi kondisi Jalan dan Jembatan Inspeksi kondisi Jalan Inspeksi kondisi Jembatan Evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program tanggap darurat Jalan dan Jembatan Rehabilitasi jalan dalam kondisi tanggap darurat Rehabilitasi jembatan dalam kondisi tanggap darurat Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pembangunan sistem informasi/data base jalan dan jembatan Penyusunan sistem informasi/data base jalan Penyusunan sistem informasi/data base jembatan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan Pembangunan gedung balai latihan kebinamargaan Pembangunan gedung workshop Pembangunan laboratorium kebinamargaan Pengadaan alat-alat berat Pengadaan peralatan dan perlengkapan bengkel alat-alat berat Pengadaan alat-alat ukur dan bahan labolatorium kebinamargaan Rehabilitasi/pemeliharaan gedung balai latihan kebinamargaan Rehabilitasi/pemeliharaan gedung workshop Rehabilitasi/pemeliharaan laboratorium kebinamargaan Rehabilitasi/pemeliharaan alat-alat bera Rehabilitasi/pemeliharaan peralatan dan perlengkapan bengkel alat-alat berat Rehabilitasi/pemeliharaan alat-alat ukur dan bahan labolatorium kebinamargaan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya Perencanaan pembangunan jaringan irigasi Perencanaan pembangunan jaringan air bersih/air minum Perencanaan pembangunan reservoir Perencanaan pembangunan pintu air Perencanaan normalisasi saluran sungai Pembangunan jaringan air bersih/air minum Pembangunan reservoir Pembangunan pintu air Pelaksanaan normalisasi saluran sungai Rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi Rehabilitasi/pemeliharaan jaringan air bersih/air minum Rehabilitasi/pemeliharaan reservoir Rehabilitasi/pemeliharaan pintu air

01 02 03 04 05 06

01 02 03 04

01 02 03 04

01 02 03 04

01 02 03 04

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14

165

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 24 24 24 24 24 25 25 25 25 25 25 25 25 25 26 26 26 26 26 26 26 26 26 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 29 29 29 29 29 30 30 01 02 03 04 05 06 07 08 14 15 16 17 18

PROGRAM DAN KEGIATAN
Rehabilitasi/pemeliharaan normalisasi saluran sungai Rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi yang telah dibangun Rehabilitasi/pemeliharaan petani pemakai air Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program penyediaan dan pengolahan air baku Pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa Rehabilitasi prasarana pengambilan dan saluran pembawa Pemeliharaan prasarana pengambilan dan saluran pembawa Pembangunan sumur-sumur air tanah Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan air Peningkatan distribusi penyediaan air baku Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pengembangan, pengelolaan dan konversi sungai, danau dan sumber daya air lainnya Pembangunan embung dan bangunan penampung air lainnya Pemeliharaan dan rehabilitasi embung dan bangunan penampung air lainnya Rehabilitasi kawasan kritis daerah tangkapan sungai dan danau Rehabilitasi kawasan lindung daerah tangkapan sungai dan danau Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sungai, danau dan sumber daya air lainnya Peningkatan konversi air tanah Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah Penyediaan prasarana dan sarana air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah Penyediaan prasarana dan sarana air limbah Pengembangan teknologi pengolahan air minum dan air limbah Fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air limbah Fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air minum Pengembangan distribusi air minum Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air minum Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air limbah Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pengendalian banjir Pembangunan reservoir pengendali banjir Rehabilitasi/pemeliharaan reservoir pengendali banjir Rehabilitasi/pemeliharaan bantaran dan tanggul sungai Pengembangan pengelolaan daerah rawa dalam rangka pengendali banjir Peningkatan partisipasi masyarakat dalam penaggulangan banjir Mengendalikan banjir pada daerah tangkapan air dan badan-badan sungai Peningkatan pembersihan dan pengerukan sungai/kali Peningkatan pembangunan pusat-pusat pengendali banjir Pembangunan prasarana pengaman pantai Pembangunan tanggul pemecah ombak Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh Perencanaan pengembangan infrastruktur Pembangunan/peningkatan infrastruktur Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pembangunan infrastruktur perdesaaan Penataan lingkungan pemukiman penduduk perdesaan

01 02 03 04 05 06 07 08

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12

01 02 03 04

01

166

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 03 03 03 03 03 03 03 03 03 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 16 16 16 16 16 16 16 16 17 17 17 17 17 17 17 17 17 18 18 18 18 18 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 xx xx xx xx xx xx xx xx xx 30 30 30 30 30 30 30 30 xx 02 03 04 05 06 07 08 09

PROGRAM DAN KEGIATAN
Pembangunan jalan dan jembatan perdesaan Pembangunan sarana dan prasarana air bersih perdesaaan Pembangunan pasar perdesaaan Rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan perdesaaan Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air bersih perdesaaan Rehabilitasi/pemeliharaan pasar pedesaaan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program dst………. Perumahan Program Pengembangan Perumahan Penetapan kebijakan, strategu dan program perumahan Penyusunan norma, standar, pedoman, dan manual (NSPM) Koordinasi penyelenggaraan pengembangan perumahan Sosialisasi peraturan perundang-undangan di bidang perumahan Koordinasi pembangunan perumahan dengan lembaga/badan usaha Fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan masyarakat kurang mampu Pembangunan sarana dan prasarana rumah sederhana sehat Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Lingkungan Sehat Perumahan Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan tentang pembangunan perumahan Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar terutama bagi masyarakat miskin Penyuluhan dan pengawasan kualitas lingkungan sehat perumahan Pengendalian dampak resiko pencemaran lingkungan Penetapan kebijakan dan strategi penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pemberdayaan komunitas Perumahan Fasilitasi pemberian kredit mikro untuk pembangunan dan perbaikan perumahan Fasilitasi pembangunan prasarana dan sarana dasar pemukiman berbasis masyarakat Peningkatan peran serta masyarakat dalam pelestarian lingkungan perumahan Peningkatan sistem pemberian kredit pemilikan rumah Sosialisasi dan fasilitasi jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program perbaikan perumahan akibat bencana alam/sosial Fasilitasi dan stimulasi rahabilitasi rumah akibat bencana alam Fasilitasi dan stimulasi rahabilitasi rumah akibat bencana sosial Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran Penyusunan norma, standar, pedoman, dan manual pencegahan bahaya kebakaran Sosialisasi norma, standar, pedoman, dan manual pencegahan bahaya kebakaran Koordinasi perijinan pemanfaatan gedung Pengawasan pelaksanaan kebijakan pencegahan kebakaran Kegiatan pendidikan dan pelatihan pertolongan dan pencegahan kebakaran Kegiatan rekruitment tenaga sukarela pertolongan bencana kebakaran Kegiatan penyuluhan pencegahan bahaya kebakaran Pengadaan sarana dan prasarana pencegahan bahaya kebakaran Pemeliharaan sarana dan prasarana pencegahan bahaya kebakaran

01 02 03 04 05 06 07 08 09

01 02 03 04 05 06 07

01 02 03 04 05 06 07 08

01 02 03 04

01 02 03 04 05 06 07 08 09

167

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 04 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 19 19 19 19 19 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 xx 10 11 12 13 14

PROGRAM DAN KEGIATAN
Rehabilitasi sarana dan prasarana pencegahan bahaya kebakaran Kegiatan pencegahan dan pengendalian bahaya kebakaran Peningkatan pelayanan penanggulangan bahaya kebakaran Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program pengelolaan areal pemakaman Penyusunan kebijakan, norma, standar, pedoman, dan manual pengelolaan areal pemakaman Pengumpulan dan analisis data base jumlah jiwa yang meninggal Koordinasi pengelolaan areal pemakaman Koordinasi penataan areal pemakaman Pemberian perijinan pemakaman Pembangunan sarana dan prasarana pemakaman Pemeliharaan sarana dan prasarana pemakaman Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program dst………. Penataan Ruang Program Perencanaan Tata Ruang Penyusunan kebijakan tentang penyusunan tata ruang Penetapan kebijakan tentang RDTRK, RTRK, dan RTBL Sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang rencana tata ruang Penyusunan rencana tata ruang wilayah Penyusunan rencana detail tata ruang kawasan Penyusunan rencana teknis ruang kawasan Penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan Penyusunan rancangan peraturan daerah tentang RTRW Fasilitasi peningkatan peran serta masyarakat dalam perencanaan tata ruang Rapat koordinasi tentang rencana tata ruang Revisi rencana tata ruang Pelatihan aparat dalam perencanaan tata ruang Survey dan pemetaan Koordinasi dan fasilitasi penyusunan rencana tata ruang lintas kabupaten/kota Monitoring, evaluasi dan pelaporan rencana tata ruang dst…………………… Program Pemanfaatan Ruang Penyusunan kebijakan perizinan pemanfaatan ruang Penyusunan norma, standar, dan kriteria pemanfaatan ruang Penyusunan kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang Fasilitasi peningkatan peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang Survey dan pemetaan Pelatihan aparat dalam pemanfaatan ruang Sosialisasi kebijakan, norma, standar, prosedur dan manual pemanfaatan ruang Koordinasi dan fasilitasi penyusunan pemanfaatan ruang lintas kabupaten/kota Monitoring, evaluasi dan pelaporan pemanfaatan tata ruang dst…………………… Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang Penyusunan kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang Penyusunan prosedur dan manual pengendalian pemanfaatan ruang Fasilitasi peningkatan peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang Pelatihan aparat dalam pengendalian pemanfaatan ruang Pengawasan pemanfaatan ruang Koordinasi dan fasilitasi pengendalian pemanfaatan ruang lintas kabupaten/kota Sosialisasi kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst……………………

01 02 03 04 05 06 07 08 09

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

01 02 03 04 05 06 07 08 09

168

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 15 16 16 16 16 16 16 16 17 17 17 17 17 17 17 18 18 18 18 18 18 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 20 20 20 20 20 21 21 21 21 01 02 03 04

PROGRAM DAN KEGIATAN
Perencanaan Pembangunan Program Pengembangan data/informasi Pengumpulan, updating dan analisis data informasi capaian target kinerja program dan kegiatan Penyusunan dan pengumpulan data informasi kebutuhan penyusunan dokumen perencanaan Penyusunan dan analisis data informasi perencanaan pembangunan kawasan rawan bencana Penyusunan dan analisis data informasi perencanaan pembangunan ekonomi Penyusunan profile daerah dst…………………… Program Kerjasama Pembangunan Koordinasi kerjasama wilayah perbatasan Koordinasi kerjasama pembangunan antar daerah Fasilitasi kerjasama dengan dunia usah/lembaga Koordinasi dalam pemecahan masalah-masalah daerah Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pengembangan Wilayah Perbatasan Koordinasi penyelesaian masalah perbatasan antar daerah Sosialisai kebijakan pemerintah dalam penyelesaian perbatasan antar negara Koordinasi penetapan rencana tata ruang perbatasan Penyusunan perencanaan pengembangan perbatasan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Perencanaan Pengembangan Wilayah Strategis dan cepat tumbuh Sosialisasi kebijakan pemerintah dalam Pengembangan Wilayah Strategis dan cepat tumbuh Koordinasi penetapan rencana Pengembangan Wilayah Strategis dan cepat tumbuh Penyusunan perencanaan Pengembangan Wilayah Strategis dan cepat tumbuh Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Perencanaan Pengembangan Kota-kota menengah dan besar Koordinasi penyelesaian permasalahan penanganan sampah perkotaan Koordinasi penyelesaian permasalahan transportasi perkotaan Koordinasi penanggulangan dan penyelesaian bencana alam/sosial Koordinasi perencanaan penanganan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi Koordinasi perencanaan penanganan pusat-pusat industri Koordinasi perencanaan penanganan pusat-pusat pendidikan Koordinasi perencanaan penanganan perumahan Koordinasi perencanaan penanganan perpakiran Koordinasi perencanaan pair minum, drainase dan sanitasi perkotaan Koordinasi penanggulangan limbah rumah tangga dan industri perkotaan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program peningkatan kapasitas kelembagaan perencanaan pembangunan daerah peningkatan kemampuan teknis aparat perencana Sosialisasi kebijakan perencanaan pembangunan daerah Bimbingan teknis tentang perencanaan pembangunan daerah dst…………………… Program perencanaan pembangunan daerah Pengembangan partisipasi masyarakat dalam perumusan program dan kebijakan layanan publik Penyusunan rancangan RPJPD Penyelenggaraan musrenbang RPJPD

01 02 03 04 05 06

01 02 03 04 05 06

01 02 03 04 05 06

01 02 03 04 05

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12

01 02 03

169

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 16 16 16 16 16 16 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 23 23 23 23 23 23 24 24 24 24 24 25 25 25 25 25 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14

PROGRAM DAN KEGIATAN
Penetapan RPJPD Penyusunan rancangan RPJMD Penyelenggaraan musrenbang RPJMD Penetapan RPJMD Penyusunan rancangan RKPD Penyelenggaraan musrenbang RKPD Penetapan RKPD Kordinasi penyusunan laporan kinerja pemerintah daerah Kordinasi penyusunan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan rencana pembangunan daerah dst…………………… Program perencanaan pembangunan ekonomi Penyusunan masterplan pembangunan ekonomi daerah Penyusunan indikator ekonomi daerah Penyusunan perencanaan pengembangan ekonomi masyarakat Koordinasi perencanaan pembangunan bidang ekonomi Penyusunan tabel input output daerah Penyusunan masterplan penanggulangan kemiskinan Penyusunan indikator dan pemetaan daerah rawan pangan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program perencanaan sosial budaya Koordinasi penyusunan masterplan pendidikan Koordinasi penyusunan masterplan kesehatan Koordinasi perencanaan pembangunan bidang sosial dan budaya Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program perencanaan prasarana wilayah dan sumber daya alam Koordinasi penyusunan masterplan prasarana perhubungan daerah Koordinasi penyusunan masterplan pengendalian sumber daya alam dan lingkungan hidup Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program perencanaan pembangunan daerah rawan bencana Koordinasi penyusunan profile daerah rawan bencana Koordinasi pembangunan daerah rawan bencana Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Perhubungan Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan Perencanaan pembangunan prasaranan dan fasilitas perhubungan Penyusunan norma, kebijakan, standar dan prosedur bidang perhubungan Koordinasi dalam pembangunan prasaranan dan fasilitas perhubungan Sosialisasi kebijakan di bidang perhubungan Pembangunan sarana dan prasarana jembatan timbang Peningkatan pengelolaan terminal angkutan sungai, danau dan penyebrangan Peningkatan pengelolaan terminal angkutan darat Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ Rehabilitasi/pemeliharaan sarana alat pengujian kendaraan bermotor Rehabilitasi/pemeliharaan prasarana balai pengujian kendaraan bermotor Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana jembatan timbang Rehabilitasi/pemeliharaan terminal/pelabuhan dst……………………

01 02 03 04 05 06 07 08 09

01 02 03 04 05

01 02 03 04

01 02 03 04

01 02 03 04 05 06 07 08 09

01 02 03 04 05

170

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 07 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 16 16 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 18 18 18 18 18 19 19 19 19 19 20 20 20 20 20 xx

PROGRAM DAN KEGIATAN
Program peningkatan pelayanan angkutan Kegiatan penyuluhan bagi para sopir/juru mudi untuk peningkatan keselamtan penumpang Kegiatan peningkatan disiplin masyarakat menggunakan angkutan Kegiatan temu wicara pengelola angkutan umum guna meningkatkan keselamatan penumpang Kegiatan uji kelayakan saran transportasi guna keselamtan penumpang Kegiatan pengendalian disiplin pengoperasian angkutan umum di jalan raya Kegiatan penciptaan keamanan dan kenyamanan penumpang dilingkungan treminal Kegiatan pengawasan peralatan keamanan dalam keadaaan darurat dan perlengkapan pertolongan pertama Kegiatan penataan tempat-tempat pemberhentian angkutan umum Kegiatan penciptaan disiplin dan pemeliharaan kebersihan di lingkungan terminal Kegiatan penciptaan layanan cepat, tepat, murah dan mudah Pengumpulan dan analisis data base pelayanan jasa angkutan Pengembangan sarana dan prasarana pelayanan jasa nagkutan Fasilitasi perijinan di bidang perhubungan Sosialisasi/penyuluhan ketertiban lalu lintas dan angkutan Kegiatan pemilihan dan pemberian penghargaan sopir/juru mudik/awak kendaraaan angkutan umum teladan Koordinasi dalam peningkatan pelayanan angkutan Monitoring, evaluasi dan pelaporan dst…………………… Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan Pembangunan gedung terminal Pembangunan halte bus, taxi gedung terminal Pembangunan jembatan penyebrangan gedung terminal dst…………………… Program peningkatan dan pengamanan lalu lintas Pengadaan rambu-rambu lalu lintas Pengadaan marka jalan Pengadaan pagar pengaman jalan dst…………………… Program peningkatan kelaikan pengoperasian kendaraan bermotor Pembangunan balai pengujian kendaraan bermotor Pengadaan alat pengujian kendaraan bermotor Pelaksanaan uji petik kendaraan bermotor dst…………………… Program dst………. Lingkungan Hidup Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan Penyusunan kebijakan manajemen pengelolaan sampah Penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan persampahan Penyusunan kebijakan kerjasama pengelolaan persampahan Peningkatan operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana persampahan Pengembangan teknoligi pengolahan persampahan Bimbingan teknis persampahan Peningkatan kemampuan aparat pengelolaan persampahan Kerjasama pengelolaan persampahan Kerjasama pengelolaan sampah antar daerah Sosialisasi kebijakan pengelolaan persampahan Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst …. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup Koordinasi Penilaian Kota Sehat/Adipura

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18

01 02 03 04

01 02 03 04

01 02 03 04

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13

01

171

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 19 19 19 19 19 19 19 01 02 03 04 05 06 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17

PROGRAM DAN KEGIATAN
Koordinasi penilaian langit biru Pemantauan Kualitas Lingkungan Pengawasan pelaksanaan kebijakan bidang lingkungan hidup Koordinasi penertiban kegiatan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Pengelolaan B3 dan Limbah B3 Pengkajian dampak lingkungan Peningkatan pengelolaan lingkungan pertambangan Peningkatan peringkat kinerja perusahaan (proper) Koordinasi pengelolaan Prokasih/Superkasih Pengembangan produksi ramah lingkungan Penyusunan kebijakan pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup Koordinasi penyusunan AMDAL Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengendalian lingkungan hidup Pengkajian pengembangan sistem insentif dan disinsentif Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst…. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Konservasi Sumber Daya Air dan Pengendalian Kerusakan Sumber-Sumber Air Pantai dan Laut Lestari Pengembangan dan Pemantapan Kawasan Konservasi Laut, Suaka Perikanan, dan Keanekaragaman Hayati Laut Pengembangan Ekowisata dan Jasa Lingkungan Pengendalian Dampak Perubahan Iklim Pengendalian Kerusakan Hutan dan Lahan Peningkatan Konservasi Daerah Tangkapan Air dan Sumber-sumber Air Pengendalian dan Pengawasan pemanfaatan SDA Koordinasi pengelolaan konservasi SDA Pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem Pengembangan dan Pengelolaan Kawasan World Heritage Laut Pengembangan Kerjasama Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Regional Koordinasi Pengendalian Kebakaran Hutan Peningkatan peran serta masyarakat dalam perlindungan dan konservasi SDA Koordinasi peningkatan pengelolaan kawasan konservasi Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst….. Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber daya Alam Pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang, mangrove, padang lamun, estuaria dan teluk Perencanaan dan penyusunan program pembangunan pengendalian sumber daya alam dan lingkungan hidup Rehabilitasi hutan dan lahan Pengembangan kelembagaan rehabilitasi hutan dan lahan Penyusunan pedoman standar dan prosedur rehabilitasi terumbu karang, mangrove, dan padang lamun Sosialisasi pedoman standar dan prosedur rehabilitasi terumbu karang, mangrove, dan padang lamun Peningkatan peran serta masyarakat dalam rehabilitasi dan pemulihan cadangan SDA Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst…. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Peningkatan edukasi dan komunikasi masyarakat di bidang lingkungan Pengembangan data dan informasi lingkungan Penyusunan data sumberdaya alam dan neraca sumber daya hutan (NSDH) nasional dan daerah Penguatan jejaring informasi lingkungan pusat dan daerah Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst…..

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17

01 02 03 04 05 06 07 08 09

172

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 08 09 09 09 09 09 09 09 09 09 09 09 09 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 16 16 16 16 17 17 17 01 02 03 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 20 20 20 20 20 20 20 20 21 21 21 21 21 22 22 22 22 22 22 22 22 23 23 23 23 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 01 02 03 04

PROGRAM DAN KEGIATAN
Program Peningkatan Pengendalian Polusi Pengujian emisi kendaraan bermotor Pengujian emisi udara akibat aktivitas industri Pengujian kadar polusi limbah padat dan limbah cair Pembangunan tempat pembuangan benda padat/cair yang menimbulkan polusi Penyuluhan dan pengendalian polusi dan pencemaran Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst…. Program pengembangan ekowisata dan jasa lingkungan di kawasankawasan konservasi laut dan hutan Pengembangan ekowisata dan jasa lingkungan di kawasan konservasi Pengembangan konservasi laut dan hutan wisata Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst…….. Program Pengendalian kebakaran hutan Pengadaan alat pemadam kebakaran hutan Pemetaan kawasan rawan kebakaran hutan Koordinasi pengendalian kebakaran hutan Penyusunan norma, standar, prosedur dan manual pengendalian kebakaran hutan Sosialisasi kebijakan pencegahan kebakaran hutan Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst…. Program Pengelolaan dan rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut Pengelolaan dan rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut Pengembangan sistem manajemen pengelolaan pesisir laut Dst…. Program Pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) Penyusunan kebijakan, norma,standard prosedur dan manual pengelolaan RTH Sosialisasi kebijakan, norma, standard, prosedur dan manual pengelolaan RTH Penyusunan dan analisis data/informasi pengelolaan RTH Penyusunan program pengembahan RTH Penataan RTH Pemeliharaan RTH Pengembangan taman rekreasi Pengawasan dan pengendalian RTH Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan RTH Monitoring dan evaluasi Dst… Program dst… Pertanahan Program pembangunan sistem pendaftaran tanah Penyusunan sistem pendaftaran tanah Sosialisasi sistem pendaftaran tanah Dst… Program Penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah Penataan penguasaan, pemilikan , penggunaan dan pemanfaatan tanah Penyuluhan hukum pertanahan Dst… Program Penyelesaian konflik-konflik pertanahan Fasilitasi penyelesaian konflik-konflik pertanahan dst….

01 02 03 04 05 06 07

01 02 03 04 05 06 07

01 02 03

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11

01 02 03

01 02

173

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 09 09 09 09 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 17 17 17 17 17 17 17 17 17 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 xx xx xx xx 18 18 18 xx

PROGRAM DAN KEGIATAN
Program Pengembangan Sistem Informasi Pertanahan Penyusunan sistem informasi pertanahan yang handal Dst… Program dst… Kependudukan dan Catatan Sipil Program Penataan Administrasi Kependudukan Pembangunan dan Pengoperasian SIAK secara terpadu Pelatihan tenaga pengelola SIAK Implementasi Sistem Administrasi Kependudukan (membangun, updating, dan pemeliharaan) Pembentukan dan Penataan Sistem Koneksi (Inter-Phase Tahap Awal) NIK Koordinasi pelaksanaan kebijakan Kependudukan Pengolahan dalam penyusunan laporan informasi kependudukan Penyediaan informasi yang dapat diakses masyarakat Peningkatan pelayanan publik dalam bidang kependudukan Pengembangan data base kependudukan Penyusunan kebijakan kependudukan Peningkatan kapasitas aparat kependudukan dan catatan sipil Sosialisasi kebijakan kependudukan Peningkatan kapasitas kelembagaan kependudukan Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst.. Pemberdayaan Perempuan Program keserasian kebijakan peningkatan kualitas Anak dan Perempuan Perumusan kebijakan peningkatan kualitas hidup perempuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi Perumusan kebijakan peningkatan peran dan posisi perempuan di bidang politik dan jabatan publik Pelaksanaan sosialisasi yang terkait dengan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst…. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak Advokasi dan fasilitasi PUG bagi perempuan Fasilitasi pengembangan pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan (P2TP2) Pemetaan potensi organisasi dan lembaga masyarakat yang berperan dalam pemberdayaan perempuan dan anak Pengembangan materi dan pelaksanaan KIE tentang kesetaraan dan keadilan gender (KKG) Penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak Peningkatan kapasitas dan jaringan kelembagaan pemberdayaan perempuan dan anak Evaluasi pelaksanaan PUG Pengembangan sistem informasi Gender dan Anak Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst… Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan Pelaksanaan kebijakan perlindungan perempuan di daerah Pelatihan bagi pelatih (TOT) SDM pelayanan dan pendampingan korban KDRT Penyusunan sistem perlindungan bagi perempuan Sosialisasi dan advokasi kebijakan penghapusan buta aksara perempuan (PBAP) Sosialisasi dan advokasi kebijakan perlindungan tenaga kerja perempuan Sosialisasi sistem pencatatan dan pelaporan KDRT Penyusunan profil perlindungan perempuan lansia dan cacat Fasilitasi upaya perlindungan perempuan terhadap tindak kekerasan

01 02

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15

01 02 03 04 05

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

01 02 03 04 05 06 07 08

174

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 15 15 15 15 15 15 15 15 16 16 16 16 17 17 17 17 17 17 18 18 18 19 19 19 20 20 20 20 21 21 21 01 02 01 02 xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx 17 17 18 18 18 18 18 18 18 18 19 19 19 19 01 02 03 04 05 06 07 09 10

PROGRAM DAN KEGIATAN
Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst… Program Peningkatan peran serta dan kesetaraan jender dalam pembangunan Kegiatan pembinaan organisasi perempuan Kegiatan pendidikan dan pelatihan peningkatan peran serta dan kesetaraan jender Kegiatan penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam membangun keluarga sejahtera Kegiatan bimbingan manajemen usaha bagi perempuan dalam mengelola usaha Kegiatan pameran hasil karya perempuan di bidang pembangunan Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst… Program penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak Workshop peningkatan peran perempuan dalam pengambilan keputusan Pemberdayaan lembaga yang berbasis gender Dst…………… Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Program Keluarga Berencana Penyediaan Pelayanan KB dan Alat Kontrasepsi bagi Keluarga Miskin Pelayanan KIE Peningkatan Perlindungan Hak Reproduksi Individu Promosi Pelayanan Khiba Pembinaan Keluarga Berencana Pengadaan sarana mobilitas tim KB keliling Dst…………… Program Kesehatan Reproduksi Remaja Advokasi dan KIE tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) Memperkuat dukungan dan partisipasi masyarakat Dst…………… Program pelayanan kontrasepsi Pelayanan konseling KB Pelayanan pemasangan kontrasepsi KB Pengadaan alat kontrasepsi Pelayanan KB medis operasi Dst…………… Program pembinaan peran serta masyarakat dalam pelayanan KB/KR yang madiri Fasilitasi pembentukan kelompok masyarakat peduli KB Dst…………… Program promosi kesehatan ibu, bayi dan anak melalui kelompok kegiatan di masyarakat Penyuluhan kesehatan ibu, bayi dan anak melalui kelompok kegiatan di masyarakat Dst…………… Program pengembangan pusat pelayanan informasi dan konseling KRR Pendirian pusat pelayanan informasi dan konseling KKR Fasilitasi forum pelayanan KKR bagi kelompok remaja dan kelompok sebaya diluar sekolah Dst…………… Program peningkatan penanggulangan narkoba, PMS termasuk HIV/ AIDS Penyuluhan penanggulangan narkoba, PMS termasuk HIV/ AIDS Dst……..

01 02 03

01 02 03 04 05 06 07

01 02 03

01 02 03 04 05

01 02 03

01 02

175

L A M P I R A N
Lanjutan Lampiran A VII.................. KODE
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 12 12 12 12 12 12 12 12 13 13 13 xx xx 15 15 01 02 xx xx xx xx xx xx xx xx xx 22 22 22 23 23 23 24 24 24 01 02

PROGRAM DAN KEGIATAN
Program pengembangan bahan informasi tentang pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak Pengumpulan bahan informasi tentang pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak Dst…….. Program penyiapan tenaga pendamping kelompok bina keluarga Pelatihan tenaga pendamping kelompok bina keluarga di kecamatan Dst…….. Program pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU Pengkajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU Dst…….. Sosial Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya Peningkatan Kemampuan (Capacity Building) petugas dan pendamping sosial pemberdayaan Fakir Miskin, KAT dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya Pelatihan keterampilan berusaha bagi keluarga miskin Fasilitasi manajemen usaha bagi keluarga miskin Pengadaan sarana dan prasarana pendukung usaha bagi keluarga miskin Pelatihan keterampilan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial Dst…….. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Pengembangan Kebijakan tentang akses sarana dan prasarana publik bagi penyandang cacat dan lansia Pelayanan dan perlindungan sosial, hukum bagi korban eksploitasi, perdagangan perempuan dan anak Pelaksanaan KIE konseling dan kampanye sosial bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Pelatihan keterampilan dan praktek belajar kerja bagi anak terlantar termasuk anak jalanan, anak cacat, anak nakal Pelayanan psikososial bagi PMKS di trauma centre termasuk bagi korban bencana Pembentukan pusat informasi penyandang cacat dan trauma center Peningkatan kualitas pelayanan, sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi PMKS Penyusunan kebijakan pelayanandan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial Koordinasi perumusan kebijakan dan sikronisasi pelaksanaan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dan penurunan kesenjangan penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut tanggap cepat darurat dan kejadian luar biasa Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst…………… Program pembinaan anak terlantar Pembangunan sarana dan prasarana tempat penampungan anak terlantar Pelatihan keterampilan dan praktek belajar kerja bagi anak terlantar Penyusunan data dan analisis permasalahan anak terlantar Pengembangan bakat dan keterampilan anak terlantar Peningkatan keterampilan tenaga pembinaan anak terlantar Monitoring, evaluasi dan pelaporan Dst……………

01 02

01 02

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx

15 15 15 15 15 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 17 17 17 17 17 17 17 17

03 04 05 06 07

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12

01 02 03 04 05 06 07

176

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful