Anda di halaman 1dari 106

TUGAS MATA KULIAH

PERENCANAAN PERMESINAN KAPAL I

“LAY OUT ENGINE ROOM”


TIPE KAPAL
GENERAL CARGO

OLEH :
NAMA : NUN ISNAN ASWANTO
STAMBUK : D331 04 040

PROGRAM STUDI TEKNIK SISTEM PERKAPALAN


JURUSAN PERKAPALAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2009
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Kapal merupakan bangunan apung yang terdiri atas beberapa bagian atau
ruangan penting yang terdapat di dalamnya. Perlu diketahui bahwa ruangan yang ada
di atas kapal terbatas dan sangat berguna, sehingga pengaturan dan pemanfaatan
ruang yang efisien sangat diharapkan Salah satu ruangan di atas kapal yang perlu
mendapat perhatian khusus dalam penataannya adalah kamar mesin (engine room).
Hal ini disebabkan karena kamar mesin pada suatu kapal merupakan pusat dari semua
instalasi dan layanan permesinan di atas kapal.
Dengan dasar itulah maka diperlukan adanya suatu penanganan dan keahlian
khusus untuk penataan dan pengaturan komponen-komponen di dalam kamar mesin
tersebut. Penatan dan pengaturan komponen-komponen di dalam kamar mesin pada
dasarnya bertujuan untuk mengoptimalkan pemakaian kamar mesin dengan
menempatkan setiap peralatan (equipment) yang diperlukan tepat pada tempatnya.
Hal ini bertujuan untuk menjaga agar peralatan tersebut dapat berfungsi sesuai
dengan yang diharapkan pada pengoperasiannya di atas kapal. Selain itu, penataan
kamar mesin juga dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan operator manakala
akan memperbaiki atau merawat peralatan di kamar mesin.
Dengan demikian peletakan dari setiap komponen tidak lepas dari bagaimana
sistem instalasi yang harus direncanakan oleh seorang Engineer. Setiap sistem dalam
kapal merupakan jaringan instalasi pipa yang khusus dengan semua komponen mesin,
alat-alat dan perlengkapannya yang dirancang untuk menjalankan fungsi-fungsi
tertentu di atas kapal.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 1


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

I.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas adalah bagaimana cara mendesain


kamar mesin agar komponen-komponen yang ada di dalamnya dapat berfungsi
seoptimal mungkin dengan menggunakan ruangan yang sekecil mungkin?

I.3 Batasan Masalah

Agar pembahasan dalam laporan ini tidak meluas, maka perlu diberi batasan
anatara lain sebagai berikut :

1. Tipe kapal General Cargo DWT 1650 ton

2. Tidak memperhitungkan tingkat kebisingan dalam kamar mesin.

I.4 Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan pembuatan laporan adalah :

1. Sebagai syarat untuk melulusi mata kuliah “Perencanaan Kamar Mesin I


(353 D 333)”.
2. Untuk mengetahui cara mendesain tata letak komponen-komponen dalam
kamar mesin (engine room lay out).
I.5 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:
BAB.I PENDAHULUAN
Pendahuluan mencakup latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah
maksud dan tujuan serta sistematika penulisan laporan.
BAB.II LANDASAN TEORI
Membahas mengenai system layanan permesinan kapal yang terdiri atas
system start, system bahan bakar, system pelumas, system pendingin; system

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 2


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

instalasi listrik, system distribusi fluida yang meliputi system perpipaan dan
system pemompaan.
BAB.III PENYAJIAN DATA
Menyajikan ukuran utama dan koefisen utama kapal
BAB.IV PEMBAHASAN
Meliputi perhitungan daya pompa, perhitungan daya alat-alat penerangan,
perhitungan daya alat-alat khusus dan perhitungan beban daya generator.
BAB.V PENUTUP
Penutup ini berisikan kesimpulan dan saran-saran.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 3


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

BAB. II
LANDASAN TEORI

Pada dasarnya kapal terdiri atas beberapa sistem yaitu sistem permesinan
kapal yang merupakan alat penggerak kapal, sistem instalasi listrik yang berfungsi
sebagai penyedia listrik yang dibangkitkan oleh generator dan disalurkan melalui
kabel-kabel menuju ke suatu sistem panel untuk berbagai keperluan misalnya untuk
peralatan navigasi, penerangan dan penggerak pompa, sistem ditribusi fluida yang
melayani penyaluran fluida dari tempat yang satu ke tempat lainnya di atas kapal dan
terdiri atas system instalasi perpipaan dan system pemompaan.

II.1 Sistem Permesinan Kapal

Untuk melayani keperluan kerja dari semua sistem permesinan yang ada di
kamar mesin, sistem ini terdiri atas :

1. Sistem Udara Start (starting air system)


2. Sistem Bahan Bakar (Fuel oil system)
3. Sistem Minyak Pelumas (lubrication oil system)
4. Sistem Pendinginan Mesin (Cooling System)

II.1.a Sistem Start Udara (Starting Air System)


Sistem start untuk mesin penggerak dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu
secara manual, elektrik dan dengan menggunakan udara tekan. Sistem start di atas
kapal umumnya menggunakan udara bertekanan. Penggunaan udara bertekanan
selain untuk start mesin utama juga digunakan untuk start generator set, untuk
membersihkan sea chest, untuk membunyikan horn kapal, dan menambah udara tekan

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 4


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

untuk sistem hydrophore. Distribusi penggunaan udara bertekanan di atas kapal dapat
dilihat pada gambar diagram di bawah ini :

Gambar 1 : Distribusi penggunaan udara bertekanan

Pada sistem start mesin utama, udara dikompresikan dari kompressor udara
utama dan ditampung pada botol angin utama (main air receiver) pada tekanan udara
30 bar menurut ketentuan klasifikasi. Sistem udara bertekanan yang digunakan
engine pada start awal mempunyai prinsip-prinsip kerja sebagai berikut :
- Udara tekan mempunyai tekanan yang harus lebih besar dari tekanan kompresi,
ditambah dengan hambatan yang ada pada engine, yaitu tenaga untuk
menggerakkan bagian yang bergerak lainnya seperti engkol, shaft, dan lain-lain.
- Udara tekan diberikan pada salah satu silinder dimana toraknya sedang berada
pada langkah ekspansi.
- Penggunaannya dalam engine membutuhkan katup khusus yang berada pada
silinder head.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 5


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Adapun komponen pendukung utama dalam sistem start adalah :


1. Kompressor; alat ini berfungsi untuk menghasilkan udara yang akan
dikompresi ke dalam tabung udara start, dimana digerakkan oleh electric
motor yang berasal dari generator.
2. Separator; berfungsi untuk memisahkan kandungan air yang turut serta dalam
udara/udara lembab (air humidity) kompresi yang diakibatkan oleh
pengembunan sebelum masuk ke tabung botol angin. Sehingga separator
disediakan steam trap guna menampung air tersebut untuk selanjutnya
dibuang ke bilga.
3. Main air receiver; berfungsi sebagai penampung udara yang dikompresi dari
compressor dengan tekanan 30 bar sehingga selain dilengkapi indikator
tekanan (pressure indicator), main air receiver juga dilengkapi dengan safety
valve yang berfungsi secara otomatis melepaskan udara yang tekanannya
melebihi tekanan yang telah ditetapkan.
4. Reducing valve; berfungsi untuk mereduksi takanan keluaran dari main air
receiver sebesar 30 bar guna keperluan pengujian katup bahan bakar.
5. Reducing station; berfungsi untuk mengurangi tekanan dari 30 bar menjadi 7
bar guna keperluan untuk pembersihan turbocharger.

Prinsip Kerja
Prinsip kerja udara tekan adalah motor listrik yang memperoleh daya dari
generator dipergunakan untuk membangkitkan kompresor guna menghasilkan udara
bertekanan. Selanjutnya udara yang dikompresikan tersebut ditampung dalam tabung
bertekanan yang dibatasi pada tekanan kerja 30 bar. Sebelum menuju ke main air
receiver, udara tersebut terlebih dahulu melewati separator guna memisahkan air
yang turut dalam udara yang disebabkan proses pengembunan sehingga hanya udara
kering saja yang masuk ke tabung. Konsumsi udara dari main air receiver digunakan

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 6


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

sebagai pengontrol udara, udara safety, pembersihan turbocharge, untuk pengetesan


katup bahan bakar, untuk proses sealing air untuk exhaust valve yang dilakukan
dengan memberikan tekanan udara kedalam ruang bakar melalui katup buang
(exhaust valve) dibuka secara hidrolis dan ditutup dengan pneumatis spring dengan
cara memberikan tekanan pada katup spindle untuk memutar. Sedangkan untuk
proses start, udara bertekanan sebesar 30 bar dimasukkan/disalurkan melalui pipa ke
starting air distributor, kemudian oleh distributor regulator dilakukan penyuplaian
udara bertekanan secara cepat sesuai dengan firing sequence.

Kapasitas Tabung Udara Start


Kapasitas dari tabung udara harus memenuhi ketentuan dari pihak
klasifikasi/rules dan sesuai dengan manual book dari mesin yang digunakan.
Sedangkan beberapa engine builder memberikan volume teoritis total dari tabung
udara start adalah :
n2 1 2
xD xSxN1 / 3
V = 0,36 x T x C x n (1)
P p
Dimana;
V : kapasitas total tabung udara (2 botol angin) (m3)
n : Jumlah silinder dari mesin induk
D : diameter silinder dari mesin induk(m)
N : putaran mesin per mesin induk(rpm)
S : langkah torak dari mesin induk (m)
C : konstanta; untuk mesin 4 langkah dan 2 langkah dengan type pistun
trunk dan mesin 2 langkah dengan pistonr type crosshead C = 1
P : tekanan kerja maksimum udara tekan dalam botol angin utama ( 25
kg/cm2 atau 30 kg/cm2)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 7


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

p : batas minimum tekanan untuk start mesin (kg/cm2)


T : jumlah starting yang harus dilakukan untuk mesin utama (jumlah standar
20 kali).
Sedangkan dalam rules BKI. Vol. III tentang Konstruksi Mesin, kapsitas total tabung
udara adalah :
H
J a 3 (z b p me n A 0,9) v h c d
D
Dimana ;
J = kapasitas total tabung udara (dm3)
H = langkah torak silinder (cm)
D = diameter silinder (cm)
vh = volume langkah torak satu silinder (dm3)
z = jumlah silinder
pme = tekanan kerja efektif dalam silinder (kg/cm2)
a,b = faktor koreksi untuk jenis mesin
untuk mesin-mesin 2-tak, a = 0,771; b = 0,058
untuk mesin-mesin 4-tak, a = 0,685; b = 0,055
c = faktor untuk tipe instalasi
d = 1, untuk p = 30 kg/cm2
0,0584
= ( 0 ,11 0 , 05 ln p )
, untuk p ≠ 30 kg/cm2 bila tidak dilengkapi katup
1 e
reduksi tekanan.
nA = jumlah putaran (rpm)
untuk putaran nominal (nN) ≤ 1000 rpm, nA = 0,06.nN + 14
untuk putaran nominal (nN) > 1000 rpm, nA = 0,25.nN - 176
Berikut ini diperlihat gambar diagram pipa untuk sistem start dengan udara
bertekanan serta aplikasi lainnya.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 8


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Gambar 2 : Diagram pipa sistem udara

Sedangkan konsumsi udara untuk beberapa penggunaan di kapal dapat dilihat pada
tabel berikut ini :

Tabel 1 : Kebutuhan udara dan tekanan udara untuk beberapa penggunaan di kapal
Tekanan normal udara Kebutuhan udara
Penggunaan
(kg/cm2) (m3/min.)
Air horn 7–9 3
Air motor 4–7 0,25
Spray gun 4 0,5 t hoist 3,7
Air hoist 5 2,7 t hoist 17
Hydrophore unit 3-7 very little
Air operated type pump - 2
Pressure log very little

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 9


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

II.1.b Sistem Bahan Bakar


System bahan bakar adalah suatu system pelayanan untuk motor induk yang
sangat vital. System bahan bakar secara umum terdiri dari fuel oil supply, fuel oil
purifiering, fuel oil transfer dan fuel oil drain piping system. System bahan bakar
adalah suatu system yang digunakan untuk mensuplai bahan bakar dari bunker ke
service tank dan juga daily tank dan kemudian ke mesin induk atau mesin Bantu.
Adapun jenis bahan bakar yang digunakan diatas kapal bisa berupa heavy fuel oil
(HFO), MDO, ataupun solar biasa tergantung jenis mesin dan ukuran mesin. Untuk
system yang menggunakan bahan bakar HFO untuk opersionalnya, sebelum masuk
ke main engine (Mesin utama) HFO harus ditreatment dahulu untuk penyesuaian
viskositas, temperature dan tekanan.
Untuk system bahan bakar suatu mesin, semua komponen yang mendukung
sirkulasi bahan bakar harus terjamin kontinuitasnya karena hal tersebut sangat vital
dalam operasional, maka dalam perancangan ini setiap komponen utama system
harus ada yang standby (cadangan) dengan tujuan jika salah satu mengalami
trouble/disfungsi dapat secara otomatis terantisipasi dan teratasi. Peralatan tersebut
antara lain : purifier pump, supply pump, circulating pump, filter, dan lain-lain.
Adapun persyaratan yang harus dipenuhi oleh system bahan bakar tersebut sebagai
berikut :
- Tekanan; tekanan fluida dalam pipa sebelum masuk ke supply pump adalah 0 bar
dan setelah keluar harus memiliki tekanan 7 bar yang akan diteruskan ke
circulating pump masuk ke nozzle, keluar dari sini fluida mempunyai tekanan 10
bar.
- Kecepatan; laju aliran bahan bakar heavy fuel oil mempunyai batas maksimum
kecepatan yaitu 0,6 m/s.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 10


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Selain hal di atas beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu system bahan
bakar dengan menggunakan jenis bahan bakar HFO menurut rules klasifikasi adalah
sebagai berikut :
1. Bunker dari system bahan bakar berada pada deck yang terbawah dan harus
diisolasi dari ruangan yang lain (section 11.G.1.1)
2. Tangki bahan bakar harus dipisahkan dengan cofferdam terhadap tangki-
tangki yang lain (Section 10.B.2.1.3)
3. Pipa bahan bakar tidak boleh melawati tangki yang berisi feed water, air
minum, pelumas dan oil thermal (section 11.G.4.1)
4. Plastik dan gelas tidak boleh digunakan untuk system bahan bakar (section
11.G.4.6)
5. Pompa transfer, feed, booster harus direncanakan untuk kebutuhan temperatur
operasi pada kondisi medium (section 11.G.5.1)
6. Pompa transfer harus disediakan sedangkan untuk pompa service yang lain
digunakan sebagai pompa cadangan yang sesuai dengan pompa transfer bahan
bakar (section 11.G.5.2)
7. Harus ada paling sedikit 2 pompa transfer bahan bakar untuk mengisi tangki
harian. Purifier sebagai pelengkap pengisian (section 11.G.5.3)
8. Pompa feed/booster diperlukan untuk mensupply bahan bakar ke main engine
atau auxiliary engine dan pompa cadangan harus disediakan (section
11.G.5.4)
9. Untuk pendistribusian bahan bakar melalui pompa supply bahan bakar harus
dilengkapi dengan filter duplex dengan control amnual atau otomatis (section
11.G.7.1)
10. Untuk saluran masuk menggunakan filter simplex (section 11.G.7.2)
11. Purifier untuk membersihkan minyak harus mendapat persetujuan pihak
klasifikasi setempat (section 11.G.8.1)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 11


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

12. Untuk penggunaan filter secara bersamaan antara bahan bakar dan minyak
pelumas pada supply system maka harus ada pemisah (pengontrol) agar bahan
bakar dan minyak pelumas tidak tercampur (section 11.G.8.2)
13. Sludge tank harus disediakan untuk purifier agar kotoran dari purifier tidak
mengganggu kerja dari purifier tersebut (section 11.G.8.3)
14. Untuk pengoperasian dengan heavy fuel oil (HFO) harus dipasang system
pemanas (section 11. G.9.1)
15. Settling tank dan daily tank harus dilengkapi dengan system drain (section
11.G.9.2)
16. Settling tank yang disediakan berjumlah 2 dan kapasitas minimal dapat
menyediakan bahan bakar selama 1 hari atau 24 jam (secion 11.G.9.3.1)
17. Daily tank harus dapat menyediakan bahan bakar selama minimal 8 jam
(section 11.G.9.4.3)
18. Harus tersedia 2 mutually independent pre-heater (section 11.G.9.7)

Prinsip Kerja
Prinsip kerja dari sistem bahan bakar adalah sebagai berikut, bahan bakar dari
bunker (storage tank) dipompakan melalui pompa pemindah (transfer) bahan bakar ke
settling tank guna proses pengendapan selama 24 jam sebelum dipergunakan oleh
mesin. Dari settling tank dengan menggunakan feed pump bahan bakar dipindahkan
ke tangki service. Dari tangki service inilah bahan bakar selanjutnya dipergunakan
oleh mesin. Volume tangki service disesuaikan dengan kebutuhan mesin untuk
operasional selama 8 – 12 jam.

II.1.c Sistem Pelumasan (Lubrication System)


Minyak pelumas pada suatu sistem permesinan berfungsi untuk memperkecil
gesekan-gesekan pada permukaan komponen-komponen yang bergerak dan

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 12


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

bersinggungan. Selain itu minyak pelumas juga berfungsi sebagai fluida pendinginan
pada beberapa motor. Karena dalam hal ini motor diesel yang digunakan termasuk
dalam jenis motor dengan kapasitas pelumasan yang besar, maka system pelumasan
untuk bagian-bagian atau mekanis motor dibantu dengan pompa pelumas. Sistem ini
digunakan untuk mendinginkan dan melumasi engine bearing dan mendinginkan
piston.
Pada marine engine lubrication oil system dipengaruhi oleh beberapa kondisi
operasi kapal seperti trim, roll & pitching serta list. Acuan regulasi untuk sistem
pelumas sama dengan system bahan bakar yaitu section 11 rules volume 3.

Gambar 3 : diagram pipa sistem pelumas


Dimana hal-hal yang harus diperhatikan antara lain :
- Jika diperlukan pompa denga self priming harus dipakai (section 11 H.1.3)
- Filter pelumas diletakkan pada discharge pompa (section 11 H.2.3.1)
- Filter utama aliran harus disediakan system control untuk memonitor perbedaan
tekanan (section 11.H.2.3.1)
- Pompa utama dan independent stand by harus disediakan (section 11 H.2.3.5)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 13


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Lubrication oil system didesain untuk menjamin keandalan pelumasan pada


over range speed dan selama engine berhenti, dan menjamin perpindahan panas yang
berlangsung. Tangki gravitasi minyak lumas dilengkapi dengan overflow pipe
menuju drain tank. Lubrication oil filter dirancang di dalam pressure lines pada
pompa, ukuran dan kemampuan pompa disesuaikan dengan keperluan engine. Filter
harus dapat dibersihkan tanpa menghentika mesin. Untuk itu dapat digunakan filter
dupleks atau automatic back flushing filter. Mesin dengan output lebih dari 150 kw
dimana supplai pelumas dari engine sump tank dilengkapi dengan simpleks filter
dengan alarm pressure dirancang dibelakang filter dan filter dapat dibersihkan selama
operasi , untuk keperluan ini sebuah shutt off valve by-pass dengan manual operasi.
Suatu sistem pelumasan mesin yang ideal harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
1. Memelihara film minyak yang baik pada dinding silinder sehingga
mencegah keausan berlebihan pada lapisan silinder, torak dan cincin torak.
2. Mencegah pelekatan cincin torak.
3. Merapatkan kompressi dalam silinder.
4. Tidak meninggalkan endapan carbon pada mahkota dan bagian atas dari
torak dan dalam lubang buang serta lubang bilas.
5. Tidak melapiskan lak pada permukaan torak atau silinder.
6. Mencegah keausan bantalan
7. Mencuci bagian dalam mesin
8. Tidak membentuk lumpur, menyumbat saluran minyak, tapisan dan
saringan, atau meninggalkan endapan dalam pendingin minyak
9. Dapat digunakan dengan sembarang jenis saringan
10. Hemat dalam penggunaan.
11. Memungkinkan selang waktu yang relatif lama antara penggantian.
12. Memiliki sifat yang bagus pada start dingin.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 14


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Prinsip Kerja
Minyak pelumas dihisap dari lub. oil sump tank oleh pompa bertipe screw
atau sentrifugal melalui suction filter dan dialirkan menuju main diesel engine
melalui second filter dan lub. oil cooler. Temperatur oil keluar dari cooler secara
otomatis dikontrol pada level konstan yang ditentukan untuk memperoleh viskositas
yang sesuai dengan yang diinginkan pada inlet main diesel engine. Kemudian lub. oil
dialirkan ke main engine bearing dan juga dialirkan kembali ke lub. oil sump tank.

II.1.d Sistem Pendingin


Sistem pendingin pada motor induk diatas kapal berdasarkan fluida pendingin
terdiri dari air tawar, air laut ataupun minyak pelumas. Tapi prosentase terbesar yang
berpengaruh pada sistem pendingin adalah akibat dari air tawar dan air laut. Ada 2
macam sistem pendinginan yaitu :
- Sistem Pendinginan Terbuka
- Sistem Pendinginan Tertutup
Pada Sistem Pendinginan Terbuka ini fluida pendingin masuk kebagian mesin
yang akan didinginkan, kemudian fluida yang keluar dari mesin langsung dibuang
kelaut. Fluida yang digunakan pada sistem pendinginan ini dapat berupa air tawar
ataupun air laut. Sistem ini ini kurang menguntungkan dalam hal operasional.
Dimana apabila fluida yang digunakan adalah air tawar maka akan menyebabkan
biaya operasional yang tinggi dan tidak ekonomis. Sedangkan apabila menggunakan
air laut dapat menyebabkan kerusakan pada komponen mesin dan akan terjadi
endapan garam pada komponen mesin yang didinginkan.
Sistem pendinginan tertutup ini merupakan kombinasi antara sistem
pendinginan air tawar dan air laut. Sistem pendinginan air tawar (Fresh Water cooling
System) melayani komponen-komponen dari mesin induk ataupun mesin bantu
meliputi : main engine jacket, main engine piston, main engine injektor. Kebanyakan

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 15


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

sistem pendingin air tawar menggunakan peralatan sirkulasi pendingin untuk sistem
pendingin air laut yang secara terpisah. Dimana peralatan yang digunakan adalah heat
exchanger/cooler (penukar panas). Air tawar pendingin mesin yang keluar dari mesin
didirkulasikan ke heat exchanger, dan di dalam alat inilah air tawar yang memiliki
suhu yang tinggi akan didinginkan oleh air laut yang disirkulasikan dari sea chest ke
alat heat exchanger. Peralatan-peralatan lainnya pada sistem ini antara lain pengukur
pengukur tekanan pada section dan discharge line pump, termometer pada pipa
sebelum dan sesudah penukar panas, gelas pengukur/gauge glass masing-masing pada
expansion tank dan drain tank. Pengatur suhu umumnya dilengkapi dengan
mekanisme otomatis dengan katup treeway valve untuk mengatur aliran by pass air
pendingin yang diijinkan. Pada sistem pendinginan dengan air laut, air laut masuk ke
sistem melalui high and low sea chest pada tiap sisi kapal. Setiap sea chest dilengkapi
dengan sea water valve, vent pipe, dimana pipa udara ini dipasang setinggi atau lebih
dari sarat kapal untuk membebaskan udara atau uap dan blow out pipe untuk
membersihkan sea chest.
Adapun komponen-komponen peralatan pada instalasi pendingin adalah
sebagai berikut :
Instalasi air laut
1. Sea water pump; berfungsi untuk memompa air laut ke central cooler.
Pompa ini digerakkan oleh elektromotor. Kapasitas dari pompa ditentukan
berdasarkan jenis pendingin yang digunakan dan jumlah panas yang harus
dihilangkan.
2. Central cooler; berfungsi sebagai penukar kalor, panas motor induk diserap
oleh air tawar, pada saat air tawar melalui central cooler terjadi perpindahan
panas dalam central cooler (panas air tawar diserap air laut).
3. Filter air laut; berfungsi melindungi sistem dari beram karat yang berasal
dari sea chest.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 16


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Instalasi air tawar


Sistem pendingin yang terjadi pada instalasi air tawar dapat dilihat pada gambar
diagram pipa berikut ini :

Gambar 4 : diagram pipa sistem pendingin dengan air tawar


Adapun komponen-komponen peralatan pada sistem pendinginan ini antara lain :
1. Expansion tank; merupakan tangki limpahan dimana apabila terjadi
kekurangan atau kelebihan pada proses pemompaan, maka air pendingin
dapat diperoleh dari tangki ini apabila terjadi perubahan volume pada sistem
(seperti kebocoran). Disamping itu dilengkapi dengan vent pipe, sehingga
tekanan air pendingin dalam tangki tidak tinggi
2. Central cooling water pump; berfungsi memompa air yang berasal dari
mesin ke central coler atau langsung melalui thermostatic valve bersirkulasi
lagi masuk ke mesin dengan temperatur 36 oC.
3. Central cooling water thermostatic valve; sistem pendinginan temperatur
rendah ini dilengkapi three way valve dan katup pencampur air tawar yang
berasal dari by-pass ataupun yang melalui proses pendinginan di central
cooler. Sensor berada thermostatic valve yang diset pada suhu rendah.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 17


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

4. Perpipaan; kecepatan fluida maksimum adalah 3 m/s untuk bagian discharge


dan 2,5 m/s bagian suction. Penggunaan beberapa jenis katup pengontrol
seperti pengontrol temperatur yang bertujuan untuk mengarahkan air
pendingin.
5. Heat exchanger; alat ini merupakan alat penukar kalor yang digunakan
untuk mendinginkan minyak pelumas, pendingin udara, pendingin air tawar
pendingin mesin. Alat ini harus dapat menjamin suhu air yang keluar dari
mesin dan yang akan masuk ke mesin.
6. Sistem pendingin internal pada motor induk, untuk dapat melakukan start
dengan heavy fuel oil, sistem air pendingin harus mengalami pemanasan
awal sampai temperaturnya mendekati temperatur kerja dari motor induk
atau minimal 70 oC.

II.2 Sistem Instalasi Listrik


Generator set sebagai permesinan bantu di kapal berfungsi untuk menyuplai
kebutuhan energi listrik semua peralatan di atas kapal. Penentuan kapasitas generator
dipengaruhi oleh load factor peralatan. Load factor untuk tiap peralatan diatas kapal
tidak sama. Hal ini tergantung pada jenis kapal dan daerah pelayarannya seperti :
faktor medan yang fluktuatif (rute pelayaran), dan kondisi beban yang berubah-ubah
serta periode waktu pemakian yang tidak tentu atau tidak sama. Penentuan kapasitas
generator harus mendukung pengoperasian diatas kapal. Walaupun pada beberapa
kondisi kapal terdapat selisih yang cukup besar dan ini mengakibatkan efisiensi
generator (load factor generator) berkurang yang pada akhirnya mempengaruhi biaya
produksi listrik per kwh.

Dalam penentuan beban kebutuhan listrik, digunakan perhitungan analisa


beban listrik (electric load analisis) yang berupa tabel dan biasa disebut juga dengan

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 18


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

tabel kalkulasi keseimbangan beban listrik (Calculation of electric power balance)


atau sering disebut sebagai Anticipated Electric Power Consumption Tabel.
Fungsi utama generator diatas kapal adalah untuk menyuplai kebutuhan daya
listrik di kapal. Daya listrik digunakan untuk menggerakkan motor-motor dari
peralatan bantu pada kamar mesin dan mesin-mesin geladak, lampu penerangan,
sistem komunikasi dan navigasi, pengkondisian udara (AC) dan ventilasi,
perlengkapan dapur (galley), sistem sanitari, cold storage, alarm dan sistem
kebakaran, dan sebagainya.

Dalam mendesain sistem diatas kapal perlu diperhatikan kapasitas dari


generator dan peralatan listrik lainnya (besarnya kebutuhan maksimum dan minimum
dari peralatannya). Dimana kebutuhan maksimum merupakan kebutuhan daya rata-
rata terbesar yang terjadi pada interval waktu yang singkat selama periode kerja dari
peralataan tersebut, demikian juga sebaliknya. Sedangkan kebutuhan rata-rata
merupakan daya rata-rata pada periode kerja yang dapat ditentukan dengan membagi
energi yang dipakai dengan jumlah jam periode tersebut. Kebutuhan maksimum
penting diketahui untuk menentukan kapasitas dari generator yang diperlukan.
Sedangkan kebutuhan minimum digunakan untuk menentukan konfigurasi dari
electric plant yang sesuai serta untuk menentukan kapan generator dioperasikan.

Kebutuhan daya harus ditetapkan untuk kondisi pelayanan di laut, bongkar-


muat dan kondisi darurat (emergency). Seluruh perlengkapan pemakaian daya listrik
yang ada di kapal dan daya kerjanya (kapasitas) masing-masing peralatan harus
tertera dalam suatu tabel. Dalam penentuan electric balance, BKI Vol. IV (Bab I, D.1)
juga mengisyaratkan bahwa :
a) Seluruh perlengkapan pemakaian daya yang secara tetap diperlukan untuk
memelihara pelayanan yang normal harus diperhitungkan dengan daya kerja
penuh.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 19


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

b) Beban terhubung dari seluruh perlengkapan cadangan harus dinyatakan. Dalam


hal perlengkapan pemakaian daya nyata yang hanya akan bekerja bila suatu
perlengkapan serupa rusak, kebutuhan dayanya tidak perlu dimasukkan
perhitungan.
c) Daya masuk total yang harus ditentukan, dari seluruh pemakaian daya yang
hanya untuk sementara dimasukkan, dikalikan dengan suatu faktor kesamaan
waktu bersamaan (common simultancity factor) dan ditambahkan kepada daya
masuk total dari seluruh perlengkapan pemakaian daya yang terhubung tetap.
d) Daya masuk total sebagaimana ditentukan sesuai a) dan c) maupun kebutuhan
daya untuk instalasi pendingin yang mungkin ada, harus dipakai sebagai dasar
dalam pemberian ukuran instalasi generator
Sebagai seorang engineer, dalam pemilihan generator kita juga harus
mempertimbangkan keinginan dari owner dimana harus dipertimbangkan factor
ekonomisnya. Untuk pemilihan kapasitas generator selain hal-hal diatas juga perlu
mempertimbangkan hal-hal berikut ini :

1. Harga awal dari generator set yang akan kita gunakan.


2. Biaya operasional dari generator
3. Ukuran dan berat dari generator set dalam kaitannya dengan ruangan/space
yang tersedia di kamar mesin
4. Fuel consumption dari generator set yang akan digunakan
5. Reputasi dari mesin dan engine builder
6. Ketersediaan di pasaran dalam kaitannya jumlah yang tersedia di pasaran dan
ketersediaan suku cadang di pasaran
Secara umum dapat dinyatakan bahwa faktor terpenting dalam permilihan
kapasitas dari alternator adalah mudah atau sederhana dalam pengoperasiannya
(simplicity), handal atau tahan lama (reliability) dan mudah dalam perawatan atau
pemeliharaan (maintenability).

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 20


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

II.3 Sistem Distribusi Fluida


II.3.a Sistem Perpipaan
Sistem perpipaan berfungsi untuk mengantarkan atau mengalirkan suatu
fluida dari tempat yang lebih rendah ke tujuan yang diinginkan dengan bantuan mesin
atau pompa. Misalnya pipa yang dipakai untuk memindahkan minyak dari tangki ke
mesin, memindahkan minyak pada bantalan-bantalan dan juga mentransfer air untuk
keperluan pendinginan mesin ataupun untuk kebutuhan sehari-hari diatas kapal serta
masih banyak lagi fungsi lainnya. Sistem perpipaan harus dilaksanakan sepraktis
mungkin dengan minimum bengkokan dan sambungan las atau brazing, sedapat
mungkin dengan flens atau sambungan yang dapat dilepaskan dan dipisahkan bila
perlu. Semua pipa harus dilindungi dari kerusakan mekanis. Sistem perpipaan ini
harus ditumpu atau dijepit sedemikian rupa untuk menghindari getaran. Sambungan
pipa melalui sekat yang diisolasi harus merupakan sambungan flens yang diijinkan
dengan panjang yang cukup tanpa merusak isolasi.
Pada perancangan sistem instalasi diharapkan menghasilkan suatu jaringan
instalasi pipa yang efisien dimana aplikasinya baik dari segi peletakan maupun segi
keamanan dalam pengoperasian harus diperhatikan sesuai peraturan-peraturan
klasifikasi maupun dari spesifikasi installation guide dari sistem pendukung
permesinan.
Sistem perpipaan merupakan sistem yang kompleks di kapal untuk
perencanaan dan pembangunannya. Sistem perpipaan mempunyai hubungan yang
sangat erat dengan prinsip-prinsip analisa static dan dinamic stress, thermodinamic,
teori aliran fluida untuk merencanakan keamanan dan efisiensi jaringan pipa (network
piping). Peletakan komponen yang akan disambungkan dengan pipa perlu
diperhatikan untuk mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan seperti : panjang
perpipaan, susunan yang kompleks, menghindari pipa melalui daerah yang tidak
boleh ditembus, menghindari penembusan terhadap struktur kapal, dan lain-lain. Jalur

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 21


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

instalasi pipa sedapat mungkin direncanakan untuk mengindari stress yang terlalu
tinggi pada struktur.
Sistem instalasi perpipaan di kapal dapat dikelompokkan dalam beberapa
kelompok layanan di atas kapal, antara lain :
1. Layanan Permesinan; yang termasuk disini adalah sistem-sistem yang akan
melayani kebutuhan dari permesinan di kapal (main engine dan auxilliary engine)
seperti sistem start, sistem bahan bakar, sistem pelumasan dan sistem pendingin.
2. Layanan penumpang & crew; adalah sistem yang akan melayani kebutuhan bagi
seluruh penumpang dan crew kapal dalam hal untuk kebutuhan air tawar dan
sistem sanitary/drainase.
3. Layanan keamanan; adalah sistem instalasi yang akan menjamin keselamatan
kapal selama pelayaran meliputi : sistem bilga dan sistem pemadam kebakaran.
4. Layanan keperluan kapal; adalah sistem instalasi yang akan menyuplai kebutuhan
untuk menjamin stabilitas dan keperluan kapal meliputi sistem ballast dan sistem
pipa cargo (untuk kapal tanker).

II.3.b Sistem Pemompaan


Pemilihan suatu pompa untuk suatu maksud tertentu, terlebih dahulu harus
diketahui kapasitas aliran serta head yang diperlukan untuk mengalirkan zat cair yang
akan dipompa. Agar pompa dapat bekerja dengan baik tanpa mengalami kavitasi,
perlu direncanakan besarnya tekanan minimum yang tersedia pada inlet pompa yang
terpasang pada instalasinya. Dengan dasar tersebut maka putaran pompa dapat
ditentukan. Kapasitas aliran, head, dan putaran pompa dapat diketahui seperti diatas.
Tetapi apabila perubahan kondisi operasi sangat besar (khususnya perubahan
kapasitas dan head) maka putaran dan ukuran pompa yang akan dipilih harus
ditentukan dengan memperhitungkan hal tersebut. Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam pemilihan pompa dapat dilihat pada tabel berikut ini :

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 22


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Tabel 2 : Data yang diperlukan untuk pemilihan pompa


Data Yang
No. Keterangan
Diperlukan
1. Kapasitas Diperlukan juga keterangan mengenai kapasitas maksimum
dan minimum
2. Kondisi Isap Tinggi isap dari permukaan air isap ke level pompa. Tinggi
(suction) flukstuasi permukaan air isap. Tekanan yang bekerja pada
permukaan air isap. Kondisi pipa isap.
3. Kondisi Tinggi permukaan air keluar ke level pompa. Tinggi
Tekan fluktuasi permukaan air keluar. Besarnya tekanan pada
(discharge) permukaan air keluar. Kondisi pipa keluar.
4. Head total Harus ditentukan berdasarkan kondisi-kondisi diatas
pompa
5. Jenis zat cair Air tawar, air laut, minyak, zat cair khusus (zat kimia),
temperatur, berat jenis, viskositas, kandungan zat padat.
6. Jumlah
Ditentukan berdasarkan kebutuhan
pompa
7. Kondisi kerja Kerja terus-menerus, terputus-putus, jumlah jam kerja
seluruhnya dalam setahun
8. Penggerak Motor listrik, motor bakar torak, turbin uap.
9. Poros tegak Hal ini kadang ditentukan oleh pabrik pompa yang
atau mendatar bersangkutan berdasarkan instalasinya.
10. Tempat Pembatasan-pembatasan pada ruang instalasi, ketinggian
instalasi diatas permukaan air, diluar atau di dalam gedung,
flukstuasi suhu.

Sumber : Pompa dan kompressor; pemilihan, pemakaian dan pemeliharaan.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 23


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Dalam penentuan jumlah pompa yang akan digunakan, harus memperhatikan


beberapa hal antara lain :
1. Pertimbangan ekonomis;
Pertimbangan ini menyangkut masalah biaya, baik biaya investasi awal
pembangunan instalasi (Capitol cost) maupun biaya operasional dan perawatan
(maintenance).
Biaya awal instalasi; umumnya untuk laju aliran total yang sama, biaya
keseluruhan untuk pembangunan fasilitas mekanis kurang lebih tetap sama
meskipun menggunakan jumlah pompa yang berbeda.
Biaya operasional dan perawatan; komponen biaya terbesar adalah untuk daya
listrik. Tapi biaya ini dapat ditekan denga beberapa cara :
Apabila kebutuhan berubah-ubah, maka beberapa pompa dengan kapasitas
sama yaitu sebesar atau hampir sebesar konsumsi minimum harus dipakai.
Atau dapat juga menggunakan pompa dengan kapasitas berbeda.
Jika kapasitas pompa menjadi besar, efisiensi pompa juga menjadi lebih
tinggi, sehingga penggunaan daya menjadi lebih ekonomis.
Agar biaya operasional dan perawatan dapat ditekan, jumlah pompa yang
digunakan tidak boleh terlalu banyak. Selain itu sedapat mungkin pompa yang
dipakai sama agar dalam hal suku cadangnya dapat saling dipertukarkan. Hal ini
mempermudah dalam perawatan.
2. Batas Kapasitas Pompa; batas atas kapasitas suatu pompa tergantung beberapa
hal:
Berat dan ukuran terbesar yang dapat diangkut dari pabrik ke tempat
pemasangan.
Lokasi pemasangan pompa dan cara pengangkatannya.
Jenis penggerak dan cara mentransmisikan daya dari penggerak ke pompa.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 24


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Pembatasan pada besarnya mesin perkakas yang digunakan untuk pengerjaan


bagian-bagian pompa.
Pembatasan pada performansi pompa (seperti kavitasi, dll).
3. Pembagian Resiko; penggunaan hanya satu pompa untuk melayani laju aliran
keseluruhan dalam suatu instalasi yang penting adalah besarnya resiko. Instalasi
tidak akan berfungsi jika satu-satunya pompa yang ada rusak. Jadi untuk
mengurangi resiko, perlu dipakai 2 pompa atau lebih, tergantung pentingnya suatu
instalasi. Selain itu, untuk meningkatkan keandalan instalasi, perlu disediakan
sedikitnya satu pompa cadangan, tergantung pada kondisi kerja dan pentingnya
instalasi.

Head total disebut juga head manometric yang biasa tertulis pada setiap
pompa. Dalam buku “Pompa dan Kompressor” oleh Prof. Dr. Haruo Tahara, dan
Ir. Sularso, hal. 26, diberikan rumus :

H = ha + Δhp + ∑hf + (v2/2g) (m)

Dimana :

Ha = Perbedaan tinggi antara muka air di sisi keluar dan sisi isap (m)

= Head tekan + head isap


Δhp = Perbedaan tekanan statis yang bekerja pada kedua permukaan air
(m)
(v 2/2g)= Kerugian keluar pada ujung pipa keluar
hf = Berbagai kerugian head pada instalasi
= hf1 + hf2 + hf3
dimana :
- hf1 = Kehilangan head akibat gesekan sepanjang pipa lurus

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 25


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

10,666 Q1,85
hf1 = xL (m)
C 1,85 .D 4 ,85

dimana :

Q = Kapasitas pompa (m3/sec)


L = Panjang pipa lurus (m)
C = Koefisien untuk jenis pipa besi cor baru
D = Diameter pipa (m)
- hf2 = Kerugian pada belokan pipa
hf2 = f (v2/2g) x n
dimana :
f = koefisien kerugian belokan pipa
D 3,5
= [0,131 1,847 ( ) ] ( ) 0, 5
2R 90
v = kecepatan aliran dalam pipa (m/dt)
2
g = gravitasi bumi (m/sec )
n = jumlah belokan yang digunakan

- hf3 = Kerugian pada katup dan sambungan pipa


hf 3 = f x (v2/2g) x n
dimana :
f = koefisien kerugian pada katup dan sambungan pipa
v = kecepatan aliran dalam pipa (m/dt)
2
g = gravitasi bumi (m/sec )

Dalam buku “Marine Power Plant”, oleh P. Akimov. hal. 495 diberikan
rumus untuk menghitung besarnya daya pompayang digunakan :

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 26


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

QxHx
N = 3600x75x (Hp)

Dimana :
Q = Lajua aliran pompa (m3/sec)
H = Head total pompa (m)
ρ = Massa jenis air laut (kg/m3)
η = total efisiensi pompa (0,6 ~ 0,9)

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan kamar mesin adalah sebagai
berikut :
a. Ukuran dari kamar mesin, sehingga diketahui luas ruangan dan volume
ruangan.
b. Persyaratan dan ukuran setiap peralatan, hal ini dapat diketahui berdasarkan
hasil perhitungan–perhitungan dan ketentuan–ketentuan yang lain yang telah
mendapat persetujuan dari Biro Kalsifikasi yang ditunjuk.
c. Jumlah unit peralatan, dan ukuran dari peralatan-peralatan tersebut, hal ini
sangat mendukung perhitungan pengoperasian kapal tersebut.
Secara umum peralatan-peralatan yang ada di dalam kamar mesin terdiri dari :
1. Mesin utama (Main engine), berfungsi sebagai penggerak utama baling-baling
(propeller) kapal.
2. Mesin bantu (Auxiliary engine), berfungsi sebagai sumber tenaga listrik yang
akan digunakan untuk semua kegiatan pendukung diatas kapal, seperti untuk
penerangan, penggerak pompa-pompa, penggerak peralatan bongkar muat, alat
tambat, perlengkapan dapur, peralatan navigasi dan peralatan lainnya.
3. Pompa beserta instalasinya untuk memindahkan cairan yang ada di atas kapal.
Adapun jenis-jenis pompa antara lain sebagai berikut :

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 27


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

a Pompa Ballast (ballast pump), digunakan untuk mengisi tangki - tangki


ballast apabila kapal dalam keadaan kosong sehingga berfungsi untuk
menjaga keseimbangan kapal dalam keadaan kosong (tanpa muatan).
b Pompa Sanitari, digunakan untuk membersihkan air dari geladak, dan
untuk berbagai keperluan di kamar mandi seperti untuk air mandi dan juga
untuk WC.
c Pompa Minyak Pelumas, digunakan untuk memompa minyak pelumas dari
tangki induk ke tangki harian untuk keperluan mesin induk dan mesin
bantu.
d Pompa Bahan Bakar, digunakan untuk menyuplai / memindahkan bahan
bakar dari tangki induk ke mesin utama.
e Pompa Pemadam kebakaran (fire pump), digunakan dalam keadaan darurat
(terjadi kebakaran) melalui hidran-hidran yang diletakkan sedemikian rupa
sehingga mampu memadamkan kebakaran yang terjadi. Untuk daerah
bukaan geladak seperti pada palka di geladak utama, digunakan sebuah
pompa yang memasok air laut ke hydran yang diletakkan di forecastle,
sedangkan untuk ruang akomodasi digunakan pula pompa yang lain yang
menyuplai air laut ke hidran-hidran yang telah tersedia.
f Pompa Bilga (bilge pump), digunakan mengambil air dalam jumlah sedikit
dari ruangan-ruangan kapal yang dikumpulkan menjadi satu dan disalurkan
ke sumur bilga (bilge well). Air tersebut berasal dari pengembunan pelat-
pelat, perembesan pada sambungan pelat karena sambungan yang kurang
baik, air yang masuk melalui bukaan-bukaan di geladak dan freeboard pada
waktu cuaca buruk atau hujan, bekas-bekas penyemprotan dari deck dan
bangunan atas pada waktu dilakukan pencucian, air sisa dari mesin dan
propeller shaft tunnel karena kebocoran pada sambungan-sambungan pipa

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 28


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

dan bagian-bagian dari mesin-mesin, air yang merembes dari pendingin


dan lain-lain.
g Pompa Air Tawar (fresh water pump), Digunakan untuk mengisi tangki
harian yang berfungsi sebagai penyuplai air tawar untuk keperluan dapur,
air minum, mandi dan mencuci.
h Pompa Air Laut Pendingin Cooler, digunakan untuk mendinginkan
mendinginkan air tawar yang keluar dari mesin dan masuk ke dalam cooler,
dimana pompa ini bekerja secara kontinu selam mesin beroperasi.
i Pompa Kotoran (vecal pump), digunakan untuk memompa kotoran–
kotoran dari kamar mandi, ruang cuci, dapur, dan toilet.
Disamping pompa-pompa, maka peralatan penunjang yang ada dalam kamar
mesin adalah :
a Kompressor dan botol angin. Fungsi kompressor disini adalah mensupply
udara masuk ke dalam ruang bakar silinder yang kemudian akan bercampur
dengan bahan bakar yang telah diatomisasi, sebagai start awal pada mesin.
b Sea Chest, Digunakan untuk menampung air laut yang diambil langsung
dari laut dengan sistem pembukaan katup untuk berbagai keperluan air laut
di atas kapal.
c Purifier atau filter (alat pembersih/penyaring), berfungsi untuk menyaring
zat cair dari kotoran–kotoran yang memiliki tingkat polusi lebih rendah.
Contoh Pemakaian pada sistem air tawar, yaitu pemompaan dari tangki
induk ke tangki harian.
d Separator (Mesin pemisah), berfungsi untuk memisahkan zat cair yang satu
(yang memiliki kadar polusi yang tinggi) dengan zat cair yang dapat
dibuang langsung ke laut. Penggunaan separator disini terdapat pada sistem
bilga untuk menyaring kotoran yang terikut masuk dan bercampur dengan
kotoran pada sumur bilga, dan juga pada sistem bahan bakar untuk

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 29


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

menyaring kotoran yang terdapat pada sisa bahan bakar setelah masuk pada
tangki di mesin untuk dimasukkan kembali ke tangki harian.
e Peralatan pendingin (Cooler), berfungsi sebagai tempat pertukaran panas
antara fluida panas dan fluida dingin.
Penempatan peralatan tersebut di atas disesuaikan dengan fungsi dan
kegunaannya di atas kapal. Untuk pompa peletakannya disesuaikan dengan fungsinya
dan sebaiknya dekat dengan tangki yang akan di pompa. Sedangkan untuk peralatan
lainnya disesuaikan dengan fungsinya dalam suatu rangkaian instalasi untuk
pemindahan cairan di atas kapal.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 30


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

BAB III
DATA KAPAL

Data kapal awal diperoleh dari perancangan kapal I beserta data General
Arangement, berikut adalah data kapal Rancangan :

III.1 Ukuran Utama

Data kapal rancangan

Tipe kapal :GENERAL CARGO

LBP = 66,05 M
LWL = 67,71 M
B = 12,85 M
H = 5,72 M
T = 4,42 M
Vs = 12 knot = 6,1728 m/s
Displasemen = 2655,36 Ton
DWT = 1650 Ton

Koefisien bentuk kapal


Cb = 0,687
Cm = 0,986
Cw = 0,804
Cph = 0,697
Cpv = 0,855

III. 2 Rencana Trayek

Rute Pelayaran
Kapal rancangan ini memiliki rute pelayaran sebagai berikut :
Makassar - Balikpapan = 302 mil laut
Balikpapan - Makassar = 302 mil laut

Maka, jarak pelayaran Kapal ini pulang pergi adalah 604 mil laut

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 31


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Sesuai perencanaan, maka trayek kapal ini adalah Makassar – Balikpapan (PP).
Sesuai dengan radius pelayaaran sekali perjalanan adalah 250 mil laut.
Dengan perincian sebagai berikut :
Makassar – Balikpapan 302 Mil
Balikpapan – Makassar 302 Mil
604 Mil
Waktu yang diperlukan untuk menempuh 1 kali perjalanan adalah sebagai berikut
T = S/V
= 604/12
= 50,33 Jam
= 2,10 Hari
Untuk mengantisipasi gangguan dalam pelayaran, ditambahkan 15% maka diperoleh
:
15% x 50,33
T = + 50,33
= 57,879 Jam
Waktu yang diperlukan untuk bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan yang disinggahi
diperkirakan 24 jam. Jadi waktu yang
dibutuhkan dalam satu kali round trip adalah 81,879 jam atau 4 hari.

- Pelabuhan Makassar = 24 Jam


- Pelabuhan Balikpapan = 24 Jam
Jadi total waktu yang digunakan selama bongkar muat adalah 24 jam untuk satu kali
perjalanan dari Makassar – Balikpapan
Jika kapal pergi pulang dengan rute yang sama dan melaksanakan bongkar muat .maka
waktu yang diperlukan adalah 24 jam
Jadi total waktu yang diperlukan selama pelayaran pergi pulang adalah sebagai
berikut :
T = t berlayar + t bongkar muat ( hari )
= 57,87 + 48 jam
= 106 jam
= 4,41 Hari

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 32


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

III. 3 Perhitungan Tahanan Kapal

Untuk menentukan berapa tahanan dari kapal rancangan ini maka perlu
diketahui berapa besar tahanan totalnya. Untuk itu maka perhitungan Tahanan
menggunakan metode Ghuldhammer sebagai berikut.

1. Kecepatan Dinas
n = 12 Knots
2 .Kecepatan dalam m/s
ns = 6,1728 m/s
2
3. Nilai harga 0,5 . r . S . ns
dimana :
r = 1,025 Ton/m2
S = Luas bidang basah
= 1,025 x LBP x ( Cb x B + 1,7 x T )
= 1,025 x 66.05 x ( 0,687 x 12.8 + 1,7 x 4.42 )
S = 620,432 m2
S = 12115,801 ton m2/s2

4. Harga Froude Number Fn = ns/(L.g)0.5


Fn = 0,242
5. Volume Kapal (V)
V = 2643,020 m3
6. Harga Lwl /(V)1/3
= 4,897
7. Harga 103 CR for Lwl /(V)1/3 dari hasil interpolasi
103 CR Standart = 1,83
8. Menentukan harga koreksi koefisien hambatan untuk B/T
103 CR B/T = 0,16 . (B/T - 2,5 ) + 103 CR Standart
= 1,89515
9. Menentukan koefisien hambatan sisa untuk LCB

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 33


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

LCBdetail = (-43,5 . Fn + 9.2) . Lbp/100


= -0,891
LCBstandartl
(0.8/100) x Lbp = 0,5284
LCB
= LCB Detail - LCB Standart
= -1,419
10. Menentukan koreksi bentuk gading dari grafik 5.5.20 (0.2-0.5)
= 0,5
11. Koreksi hambatan sisa akibat adanya bagian tambahan
Ak = 103 CR dari Lwl/(V)1/3 . 13%
= 0,238
12. Nilai Koefisien Hambatan
sisa total
103 CRt = 103 CR + 103 B/T + 103 CR LCB + 103 B.gading + 103 AK
= 3,044
Nilai Reynold Number (Rn)
Rn = (ns . Lwl)/g dimana g =
= 351681190,9
= 3,52E+08
13. Menentukan nilai Koefisien gesek (Cf)
Cf = 0,075/(Log Rn - 2)2
= 1,750E-03
103Cf = 1,750
14. Menentukan harga Cf untuk anggota badan kapal
103Cf b = 1,02 . 103Cf
= 1,785
15. Menentukan tahanan kekasaran (103 CA) dimana L ≤ 100 maka
103CA = 0,4
16. Menentukan tahanan kekasaran (103 CAA)
103CAA = 0,07
= 0,07

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 34


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

17. Menentukan tahanan Kemudi (103 CAS)


103CAS = 0,04

18. Menentukan Nilai Koefisien Tahanan Total (CT)


103CT = 103 CRt + 103 Cf b + 103 CA + 103 CAA + 103CAS
= 5,339
CT = 0,005339
19. Menentukan nilai tahana total (Rt)
Rt = (0,5 . r . S . ns2) . ns
= 64,687 KN
20. Menentukan Effective Horse Power (EHP)
EHP = Rt . ns
= 399,297 Kwatt
21. EHP dalam satuan HP (1 HP = 0.746 Kwatt)
EHP = 535,970 HP
22. Menentukan Breake Horse Power (BHP)
BHP = EHP/η

QPC (Quasi Propulsif Coefcient) = η


η = ηo . ηR . ηH
ηo = Dari Grafik B4 - 40 Principal of Naval Archit.
dengan terlebih dulu menentukan harga K.Q1/4.J-3/4
K.Q1/4.J-3/4 = 0.1739 . Bp0.5
Bp = N . SHP1/2 . VA-5,2
DHP = EHP/h asumsi
η asumsi = 0,4 ~ 0,7
diambil 0,7
DHP = EHP/0.7 = 765,671 HP
SHP = DHP/0.98 (P of NA hal. 202)
.. . = 781,297 HP

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 35


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

SHP British = SHP . (75/76) . (1/1,025)


= 752,211 HP
N = 2000 rpm
Nkoreksi = N - (2% N) (single Screw pada service Condition)
Nkoreksi = 1960,0 rpm
VA (kecepatan air masuk) = n . (1 - w)
= 8,5 Knots
1/2 -5,2
sehingga : Bp = N . SHP . VA
= 257
K.Q1/4.J-3/4 = 2,8
Dari Grafik B4 - 40 Principal of Naval Archit.
didapat ηo = 0,395
ηR = Efficiency Rotation (untuk Kapal Single Screw) = 1.0 ~ 1.1
pilih = 1,1
ηH = (1 - t)/(1 - w)
dimana :
t = Fraksi pengurangan gaya dorong/thrust deduction fraction
dalam buku Principal of Naval Archit. Hal. 160
t =k.W k = 0,5 ~ 0,7 untuk pelat kemudi Stream line
k = 0,5 untuk pelat tipis
k = 0,7 untuk pelat tebal
k= 0,7
w (Arus ikut), untuk kapal Single Screw
w = 0,5 . Cb - 0,05
w= 0,293656306
t= k.w = 0,206
hH = 1,125
QPC = 0,471
Sehingga BHP = 1138,130 HP

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 36


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

III. 4 Perhitungan LWT Dan DWT

III. 4.a. Perhitungan Berat Kapal Kosong ( LWT)

1.) Berat baja konstruksi kapal (Wst )


Dalam buku "Ship Design For Efficiency And Economy" hal.209 menurut
Carryettes (watson & Gilffellen) untuk General cargo adalah :

Wst = Cb2/3 . L/6 . B . H0,72 . (0,002 . (L/H)2 + 1) + 5 % u/ bangunan atas


Wst = 514,2679 Ton

2.) Berat Out fit dan Accomodation (Wo+a)


Dalam buku "Ship Design for Efficiency and Economy" hal. 213
Wo+a = k . L1,3 . B0,8 . T0,3
Dimana :
k = 0,065 untuk General Cargo
maka,
Wo+a = 181,7889 Ton

3.) Berat Permesinan (Wep)

- Berat mesin utama (Wme)


Sesuai dengan hasil perhitungan tahanan dan propulsi kapal,maka
didapatkan nilai BHP = 1483,609 Hp
Dari brosur mesin digunakan besar BHP :
Merek Mesin : S U L Z E R
Tipe : AT 25 4 langkah
BHP : 1520 Hp = 1120 kW
Engine speed : 720 RPM
Total silinder : 8L Silinder
Length : 4585 Mm
Width : 1800 Mm
Height : 2270 Mm
Weight : 15 Ton
Bore : 250 Mm
Stroke : 300 Mm
SFC : 193 g/kW h = 142 g/BHP h

Jadi, Wme = 15 Ton

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 37


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

- Berat mesin bantu dan instalasi (Wremainder)


Dalam buku "Ship Design and Ship Theory" hal 71/3
Wrem = 0.56 . (MCR)0.7
Dimana :
MCR = 1.2 . BHP
= 1824
maka,
Wrem = 107,3756 Ton

Wep = Wme + Wrem


= 122,3756 Ton

Jadi, Berat Kapal Kosong (LWT)


LWT = Wst + Wo+a + Wep
= 818,4323 Ton
Jadi,
Displacement ( ) = LWT + DWT
DWT = Displacement(∆) – LWT
= 1836,9306 Ton

III. 4.b. Penentuan Jumlah ABK


Dalam buku "Ship Design and Cnstruction" hal.50 diberikan rumus pendekatan :
Nc = Cst . (Cok . (Cn/1000)1/6 + Ceng . (SHP/1000)1/5 + Cadet)
Dimana:
Cst = Koef. Steward dept. (1.2 ~1.33) = 1,2
Cok = Koef. Deck dept. (11.5 ~14.5) = 11,5
Cn = Cubic number (L . B . H)/100 = 48,5404
Ceng = Koef.Engine dept. (8.5 ~11) = 8,5
Cadet = Koef. Dept. (2 ~3) = 2
SHP = 0.98 . BHP = 1489,6 Hp
maka,
Nc = 21,78105221
Sehingga diperoleh jumlah crew sebanyak = 22 orang

Susunan Crew
Berdasarkan buku "Ship design & Ship Construction" hal.144 -155 oleh
R.Tagguat tahun 1980, diberikan perincian Crew diatas kapal sebagai
berikut :

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 38


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

- Kapten / Master : 1
Deck
- Department
a. Mualim I : 1
b. Mualim II : 1
c. Kelasi /
Seaman : 1
d. Steer man : 1
e. Bagian Pemeliharaan Deck : 2
- Staff
a. Radio
Operator : 1
b. Perwira yg memegang keuangan : 1
- Engineering Department
a. Kepala kamar mesin : 1
b. Masinis I : 1
c. Masinis II : 1
d. Juru minyak (Oil Man) : 2
e. Juru listrik : 1
Bag. Pelayanan / Steward
- Department
a. Kepala pelayan (Chief steward) : 1
b. Juru masak : 1
c. Juru pengatur hidangan (Pantry Man) : 1
d. Pemeliharaan ruangan : 2

Jadi, total ABK = 20 Orang

III. 4. c. Perhitungan Bobot Mati Kapal ( DWT)

Yang termasuk dalam komponen DWT adalah sebagai berikut :


- Berat Bahan Bakar - Berat Perbekalan
- Berat Minyak Pelumas - Berat Crew dan Bawaannya
- Berat Minyak Diesel - Berat muatan bersih / Payload
- Berat Air Tawar

1.) Berat Bahan Bakar


Kapal rancangan ini memiliki rute pelayaran sebagai berikut :
Makassar - Balikpapan = 302 mil laut

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 39


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Balikpapan - Makassar = 302 mil laut

Diasumsikan bahwa kapal ini selama pelayaran dari Makassar ke Balikpapan


akan mengisi minyak diesel dipelabuhan Balikpapan, begitu juga dari
Balikpapan ke Makassar.

Sehingga jarak pelayaran terjauh dari Makassar ke Balikpapan yaitu 302mil laut
yang dapat ditempuh dalam waktu :
t = S/v
= 25,167 jam
= 25 jam

Dari"Ship Design and Ship Theory" oleh Prof Havald Phoels, hal.10 tahun 1979,
diberikan formula :

Wfo = (Pbme . Bme) . S/ . 10-6 . (1,3~1,5)


Dimana :
Pbme = Daya mesin utama (kW) = 1120 kW
Bme = Koms. bahan bakar spesifik(SFC) dari brosur = 193 g/kW h
Pae = Daya mesin bantu 10 ~15%*Pbme = 168 kW
= 205 -211(g/kW h) u/ mesin 4-tak = 209 g/kW h
S/v = 25 jam
sehingga,
Wfo = 7,0720 Ton

2.) Berat minyak pelumas


Diasumsikan bahwa selama dalam pelayaran minyak pelumas akan
diisi penuh untuk
satu kali rute pelayaran dari Balikpapan - Makassar sejauh
302 mil laut. 8,80
10-6
Wlo = ((Pbme + Pae) . be . S/v . ) + 10%
Dimana:
be = 1.2 ~ 1,6 g/kW h u/ mesin 4-tak = 1,6 g/kWh
Sehingga,
Wlo = 0,0572 Ton

3.) Berat minyak diesel (Wdo)


Dalam buku Ship Design And Ship Theory hal. 12
Wdo = 0,2 . Wfo

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 40


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

= 1,4144 Ton

4.) Berat air tawar (Wfw)


lama pelayaran S/ = 50,33 jam pulang-pergi
2,10 hari
diambil = 2 hari
untuk faktor keamanan dan bongkar muat pada 2 pelabuhan ditambah 35%
= 2,83 hari
S/ = 3 hari = 68 Jam

A. Air minum / Drinking water


Wdw = Nc . n . S/v1 . 10-3
dimana:
n = 20 kg/ orang/ hari
Sehingga:
Wdw = 1,1325 Ton

B. Air cuci dan


mandi
W air cuci = Nc . n . S/v1 . 10-3
dimana:
n = 60 ~ 200 kg/ orang/ hari
= 200 kg/ orang/ hari
Sehingga:
W air cuci = 11,3250 Ton

C. Air pendingin mesin /Boiler feed water


Wpm = Pbme . S/ jam) . n .10-3
Dimana:
n = 0,14 Kg/Kwh (Ship Design & Ship Theory hal. 12)
Sehingga:
Wpm = 10,6546 Ton

Jadi, total berat air tawar (Wfw) = 23,1121 Ton

5.) Berat Crew dan Barang bawaan (Ship Design & Ship Theory hal. 13)
Wcpd = Nc. (WABK + Wcbb) . 10-3
Dimana:
WABK = Berat ABK = 75 kg

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 41


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Wcbb = Brt bawaan 20 -60 Kg = 60 kg


Sehingga,
Wcpd = 2,7000 Ton

6.) Berat bahan makanan (W propission) Ship Design & Ship Theory hal. 13
Wprov = Nc . n . S/n . 10-3 +10% addition
Dimana:
untuk kebutuhan makan/crew = 3 ~ 5 Kg/hari n = 4 kg
Sehingga,
Wprov = 0,2512 Ton

7.) Berat Ballast (Ship Design & Ship Theory hal. 13)
Kapasitas Ballast antara (10% ~ 50%) DWT
Ballast = 367,3861 Ton

Jadi,
Total Supply = Wfo + Wlo + Wdo + Wfw + Wcpd + Wprov
= 34,6068 ton

8.) Berat muatan kosong / Pay load


Pay Load = DWTperhit. - Supply
Sehingga:
= 1802,3238 Ton

Koreksi Payload untuk Kapal Cargo = (0,85 ~ 0,9) DWT


= Payload/DWT
= 0,98

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 42


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

III. 5 Tata Ruang Kapal dan Peletakan Tangki


Sesuai dengan peraturan BKI tentang Lambung Kapal diberikan persyaratan
sebagai berikut :

1. Jarak Gading Normal (a0)


Menurut BKI Vol. II 1996 Section 9.4.1.1.1 hal 9-1
a0 = Lbp/500 + 0,48 m
= 0,612 m
Untuk memudahkan dalam pembangunan digalangan maka ditetapkan a0 sebesar 0,6 m
Hdb = 928,12 mm
= 0,928 m
Hdb km = 1,392 m
untuk jarak gading di depan sekat haluan dan di belakang sekat buritan tidak boleh
lebih dari 0,6 m

2. Letak Sekat Ceruk Haluan /Collision bulkhead (Lch)


Menurut BKI Vol. II 1996 Section II. A. 2.1 hal 11-1
Untuk kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 200 m, sekat ceruk haluan dari
fero perpendiculer berjarak 0,05~0,08 Lbp.
Lch = 0,05 . Lbp (min)
= 3,303 m
Lch = 0,08 . Lbp (max)
= 5,284 m
Disesuaikan dengan jarak gading-gading untuk ceruk haluan, sehingga jarak
sekat ceruk haluan
dari FP adalah
Lch = 6 . a0
= 3,673 m
Jadi, sekat ini terletak pada gading no. 102

3. Letak Sekat Ceruk Buritan /Stern tube bulkheat (Lcb)


Menurut BKI Vol. II 1996 Section II. A. 2.2 hal 11-2 jarak sekat ceruk buritan
dari Bos propeller adalah 3 -5 a0, diambil 3a0.

Lcb = 3 . a0 m
= 1,836 m
Disesuaikan dengan bentuk ceruk buritan dan jarak gading dibelakang sekat
ceruk buritan,
Lcb = 6 . A0 dari after perpendiculer
= 3,673 m

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 43


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Jadi, sekat ini terletak pada gading no. 6

4. Letak Sekat Kamar Mesin (Lkm)


Panjang kamar mesin adalah 15% Lbp dan direncanakan sesuai panjang
mesin utama dan mesin bantu dengan segala perlengkapannya.

Data panjang & lebar mesin utama :


L = 4585 mm = 4,585 m
B = 1800 mm = 1,8 m
Direncanakan panjang kamar mesin adalah
15% Lbp
Lkm = 0,15 . Lbp (min)
= 9,908 m
Lkm = 0,18 . Lbp (max)
= 11,890 m
Disesuaikan dengan jarak antar gading normal, diperoleh Lkm = #### m
Diperhitungkan bahwagading 0 adalah AP, maka panjang kamar mesin terletak pada
gading nomor 6 s.d. nomor 24

5 Letak Sekat Ruang Muat /Cargo hold bulkhead(Lrm)


Menurut BKI Vol. II 1996 Section II. A. 1.2 hal 11-2, jumlah sekat yang
disyaratkan untuk kapal
dengan 65 ≤ L ≤ 85 m adalahh 4 sekat (tabel 11.1)
Menurut BKI vol.II , panjang ruang muat tidak boleh melebihi 30 m. Maka ruang
muat secara keseluruhan adalah :

Lrm = Lpb - (Lch + Lcb + Lkm)


= 47,691 m
Ruang muat ini dibagi dalam 2 buah cargo hold dengan perincian sebagai berikut :
Cargo hold 1
Jarak a0 = 0,612 m
Panjang = 23,872 m ---> 39
Letaknya pada gading nomor -----> 24 s.d. gading 63
Cargo hold 2
Jarak a0 = 0,61 m
Panjang = 23,819 m ---> 39
Letaknya pada gading nomor -----> 63 s.d. gading 102

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 44


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

6. Ruang Awak Kapal ( Crew Room)


Crew room terdapat pada main deck,poop deck, boat deck, capten deck dan
navigation deck, dengan rincian sbb :
a. Main Deck
1 Kamar kepala kamar mesin + Toilet = 12,18 (m2)
2 Kamar Masinis II + toilet = 8,12 (m2)
3 Kamar Masinis III = 7,56 (m2)
4 Kamar Oiler = 7,45 (m2)
5 Kamar Serang = 6,88 (m2)
6 Ruangan CO2 = 4,51 (m2)
7 Toilet dan Shower = 8,132 (m2)
8 Ruang Battery = 4,51 (m2)
9 Ruang Genset darurat = 6,88 (m2)
10 Kamar mandor Mesin/olir = 11,34 (m2)
11 Ruang Lobby = 8,43 (m2)
12 Gudang Peralatan = 8,43 (m2)
13 Gudang Cat = 7,69 (m2)
14 Work Shop = 7,69 (m2)

b. Poop Deck
1 Kamar Muallim I + toilet = 12,24 (m2)
2 Kamar Muallim II + toilet = 12,24 (m2)
3 Kamar Koki = 7,344 (m2)
4 Ruang makan crew = 11,628 (m2)
5 Dapur = 3,33 (m2)
6 Toilet dan Shower = 4,49 (m2)
7 Laundry = 7,344 (m2)
8 Ruang santai crew = 8,81 (m2)
9 Gudang perbekalan = 8,01 (m2)

c. Boat Deck
1 Kamar Nahkoda + toilet = 8,82 (m2)
2 Kantor = 6,36 (m2)
3 Ruang Rapat = 12,24 (m2)
4 Kamar Juru Mudi / Stearman = 5,88 (m2)
5 Kamar Operator Radio / Juru Mudi = 5,88 (m2)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 45


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

6 Ruang makan = 8,81 (m2)


7 Toilet dan Shower = 1,84 (m2)
8 Kamar Owner + toilet = 8,81 (m2)
9 Ruang Santai = 5,87 (m2)

d. Navigation Deck
1 Ruang kemudi / Wheel House = 55,08 (m2)
2 Ruang Peta = 7,34 (m2)
3 Ruang Radio = 7,34 (m2)

Tangki-tangki diletakkan pada Double Bottom sbb :


1. Tangki Bahan Bakar
Wfo = 7,072 ton
Berat
jenis = 0,95 ton/m3
( marchant ship design handbook III hal.III-9 : 0,90 ~ 0,98 ton/m3)
Vol. Tangki yang dibutuhkan = 7,444 m3
WL 0 l= 0,612
Gdng.ke ordinat FS HK
25 2,743 1 2,743
26 2,885 4 11,540
27 3,029 1,5 4,544
27,5 3,103 2 6,205
28 3,176 0,5 1,588
26,620
A WL 0 = 2/3 . l . = 10,863 m2

WL 0,5 l= 0,612
Gdng.ke ordinat FS HK
25 3,371 1 3,371
26 3,532 4 14,126
27 3,693 1,5 5,540
27,5 3,775 2 7,549
28 3,856 0,5 1,928
32,515
A WL 0,5 = 2/3 . l . = 13,268 m2

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 46


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

WL hdb l= 0,612
Gdng.ke ordinat FS HK
25 4,000 1 4,000
26 4,178 4 16,712
27 4,357 1,5 6,536
27,5 4,447 2 8,894
28 4,537 0,5 2,268
38,410
A WL hdb = 2/3 . l . = 15,674 m2

Vol. tangki l= 0,464


Awl FS HK
10,863 1 10,863
13,268 4 53,074
15,674 1 15,674
79,610

Vol = 1/3 . l .
= 12,315 m3
2. Tangki Minyak Diesel
Wdo = 1,414 ton
Berat
jenis = 0,88 ton/m3
( marchant ship design handbook III hal.III-9 : 0,88 ~ 0,90 ton/m3)
Vol. Tangki yang dibutuhkan = 1,6073 m3
WL 0 l= 0,306
Gdng.ke ordinat FS HK
29 3,325 1 3,3253
29,5 3,401 4 13,6058
30 3,478 1 3,4776
20,4087
A WL 0 = 2/3 . l . = 4,164 m2

WL 0,5 l= 0,306
Gdng.ke ordinat FS HK
29 4,0195 1 4,0195
29,5 4,1006 4 16,4022
30 4,1816 1 4,1816

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 47


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

24,6033
A WL 0,5 = 2/3 . l . = 5,020 m2

WL hdb l= 0,306
Gdng.ke ordinat FS HK
29 4,7137 1 4,7137
29,5 4,7997 4 19,1986
30 4,8856 1 4,8856
28,7979
A WL hdb = 2/3 . l . = 5,876 m2

Vol. tangki l= 0,464


Awl FS HK
4,164 1 4,164
5,020 4 20,080
5,876 1 5,876
30,120

Vol = 1/3 . l .
= 4,65914 m3
3. Tangki Minyak Pelumas
Wlub = 0,057 ton
Berat jenis = 0,9 ton/m3
( marchant ship design handbook III hal.III-9 : 0,90 ~ 0,93 ton/m3)
Vol. Tangki yang dibutuhkan = 0,064 m3
4. Tangki Air Tawar (Wfw)
Wfw = 23,112 ton
Berat jenis = 1 ton/m3
( marchant ship design handbook III hal.III-9 : 1,0 ton/m3)
Vol. Tangki yang dibutuhkan = 23,1121 m3
WL 0 l= 0,612
Gdng.ke ordinat FS HK
31 3,63 1 3,63
32 3,79 4 15,16
33 3,95 2 7,90
34 4,11 4 16,44
35 4,27 2 8,54
36 4,41 4 17,64

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 48


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

37 4,55 1 4,55
73,86
2/3 . l .
A WL 0 = = 30,140 m2

WL 0,5 l= 0,612108
Gdng.ke ordinat FS HK
31 4,340 1 4,34
32 4,495 4 17,98
33 4,645 2 9,29
34 4,789 4 19,15
35 4,927 2 9,85
36 5,052 4 20,21
37 5,176 1 5,18
86,00
2/3 . l .
A WL 0,5 = = 35,095 m2

WL hdb l= 0,612108
Gdng.ke ordinat FS HK
31 5,0493 1 5,05
32 5,2 4 20,80
33 5,34 2 10,68
34 5,467 4 21,87
35 5,584 2 11,17
36 5,694 4 22,78
37 5,801 1 5,80
98,14
2/3 . l .
A WL hdb = = 40,049 m2

Vol. tangki l= 0,464


Awl FS HK
30,140 1 30,140
35,095 4 140,379
40,049 1 40,049
210,568

Vol = 1/3 . l .

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 49


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

= 32,572 m3
5. Tangki Ballast
Wball = 367,3861 ton
Berat jenis = 1,025 ton/m3
( marchant ship design handbook III hal.III-9 : 1,025 ton/m3)
Vol. Tangki yang dibutuhkan = 358,425 m3
Tangki Ballast I Tangki Ballast II
WL 0 l= 0,612 WL 0 l= 0,612
Gdng.ke ordinat FS HK Gdng.ke ordinat FS HK
38 4,66 1 4,66 63 5,02 1 5,02
39 4,75 4 19,00 64 5,02 4 20,08
40 4,83 2 9,66 65 5,00 2 10,00
41 4,90 4 19,60 66 4,95 4 19,80
42 4,95 2 9,90 67 4,88 2 9,76
43 5,01 4 20,04 68 4,80 4 19,20
44 5,02 2 10,04 69 4,71 2 9,42
45 5,02 4 20,08 70 4,61 4 18,44
46 5,02 2 10,04 71 4,49 2 8,98
47 5,02 4 20,08 72 4,35 4 17,40
48 5,02 2 10,04 73 4,20 2 8,40
49 5,02 4 20,08 74 4,03 4 16,12
50 5,02 2 10,04 75 3,86 2 7,72
51 5,02 4 20,08 76 3,69 4 14,76
52 5,02 2 10,04 77 3,53 2 7,06
53 5,02 4 20,08 78 3,38 4 13,52
54 5,02 2 10,04 79 3,23 2 6,46
55 5,02 4 20,08 80 3,07 4 12,28
56 5,02 2 10,04 81 2,91 1,5 4,37
57 5,02 4 20,08 81,5 2,82 2 5,64
58 5,02 2 10,04 82 2,73 0,5 1,37
59 5,02 4 20,08 107 1,46 4 5,84
60 5,02 2 10,04 108 1,30 2 2,60
61 5,02 4 20,08 109 1,12 4 4,47
62 5,02 1,5 7,53 110 0,96 2 1,92
62,5 5,02 2 10,04 111 0,80 4 3,20
63 5,02 0,5 2,51 112 0,62 1 0,62
374,02 235,79
2 2
A WL 0 2/3 . l . 152,627 m A WL 0 = 2/3 . l . 96,219 m

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 50


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

= = =

WL 0,5 l= 0,612 WL 0,5 l= 0,612


Gdng.ke ordinat FS HK Gdng.ke ordinat FS HK
38 5,28 1 5,28 63 5,68 1 5,68
39 5,38 4 21,50 64 5,68 4 22,72
40 5,47 2 10,93 65 5,67 2 11,33
41 5,55 4 22,20 66 5,62 4 22,48
42 5,62 2 11,23 67 5,56 2 11,12
43 5,68 4 22,70 68 5,49 4 21,94
44 5,68 2 11,36 69 5,40 2 10,80
45 5,68 4 22,72 70 5,31 4 21,22
46 5,68 2 11,36 71 5,20 2 10,40
47 5,68 4 22,72 72 5,08 4 20,32
48 5,68 2 11,36 73 4,95 2 9,90
49 5,68 4 22,72 74 4,81 4 19,24
50 5,68 2 11,36 75 4,67 2 9,34
51 5,68 4 22,72 76 4,52 4 18,08
52 5,68 2 11,36 77 4,38 2 8,76
53 5,68 4 22,72 78 4,24 4 16,94
54 5,68 2 11,36 79 4,10 2 8,19
55 5,68 4 22,72 80 3,95 4 15,78
56 5,68 2 11,36 81 3,79 1,5 5,69
57 5,68 4 22,72 81,5 3,71 2 7,42
58 5,68 2 11,36 82 3,63 0,5 1,82
59 5,68 4 22,72 107 2,49 4 9,96
60 5,68 2 11,36 108 2,33 2 4,65
61 5,68 4 22,72 109 2,13 4 8,53
62 5,68 1,5 8,52 110 1,95 2 3,89
62,5 5,68 2 11,36 111 1,74 4 6,94
63 5,68 0,5 2,84 112 1,49 1 1,49
423,28 279,16
A WL 0,5 = 2/3 . l . = 172,729 m2 A WL0,5 = 2/3.l. = 113,917 m2

WL hdb l= 0,612 WL hdb l= 0,612


Gdng.ke ordinat FS HK Gdng.ke ordinat FS HK
38 5,90 1 5,90 63 6,34 1 6,34
39 6,00 4 24,00 64 6,34 4 25,36

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 51


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

40 6,10 2 12,20 65 6,33 2 12,66


41 6,20 4 24,80 66 6,29 4 25,16
42 6,28 2 12,56 67 6,24 2 12,48
43 6,34 4 25,36 68 6,17 4 24,68
44 6,34 2 12,68 69 6,09 2 12,18
45 6,34 4 25,36 70 6,00 4 24,00
46 6,34 2 12,68 71 5,91 2 11,82
47 6,34 4 25,36 72 5,81 4 23,24
48 6,34 2 12,68 73 5,70 2 11,40
49 6,34 4 25,36 74 5,59 4 22,36
50 6,34 2 12,68 75 5,48 2 10,96
51 6,34 4 25,36 76 5,35 4 21,40
52 6,34 2 12,68 77 5,23 2 10,46
53 6,34 4 25,36 78 5,09 4 20,36
54 6,34 2 12,68 79 4,96 2 9,92
55 6,34 4 25,36 80 4,82 4 19,28
56 6,34 2 12,68 81 4,67 1,5 7,01
57 6,34 4 25,36 81,5 4,60 2 9,20
58 6,34 2 12,68 82 4,53 0,5 2,27
59 6,34 4 25,36 107 3,52 4 14,08
60 6,34 2 12,68 108 3,35 2 6,70
61 6,34 4 25,36 109 3,15 4 12,60
62 6,34 1,5 9,51 110 2,93 2 5,86
62,5 6,34 2 12,68 111 2,67 4 10,68
63 6,34 0,5 3,17 112 2,35 1 2,35
472,54 322,53
A WLhdb = 2/3.l . = 192,830 m2 A WLhdb = 2/3.l. = 131,615 m2

Vol. tangki l= 0,464 Vol. tangki l= 0,464


Awl Luasan FS HK Awl Luasan FS HK
0 152,627 1 152,627 0 96,219 1 96,219
0,5 172,729 4 690,915 0,5 113,917 4 455,669
Hdb 192,830 1 192,830 Hdb 131,615 1 131,615
1036,37 683,504

Vol = 1/3 . l . Vol = 1/3 . l .


3
= 160,314 m = 105,73 m3
Tangki Ballast II

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 52


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

WL 0 l= 0,612
Gdng.ke ordinat FS HK
82 2,73 1 2,73
83 2,54 4 10,16
84 2,34 2 4,68
85 2,15 4 8,60
86 1,96 2 3,92
87 1,78 4 7,12
88 1,62 2 3,24
89 1,46 4 5,84
90 1,30 2 2,60
91 1,15 4 4,60
92 1,00 2 2,00
93 0,85 4 3,40
94 0,70 2 1,40
95 0,56 4 2,24
96 0,44 2 0,88
97 0,33 4 1,32
98 0,24 2 0,48
99 0,17 4 0,68
100 0,11 2 0,22
101 0,06 4 0,24
102 0,02 1 0,02
66,37
A WL 0 = 2/3 . l . = 27,084 m2

WL 0,5 l= 0,612
Gdng.ke ordinat FS HK
82 3,63 1 3,63
83 3,46 4 13,84
84 3,28 2 6,56
85 3,11 4 12,42
86 2,93 2 5,86
87 2,76 4 11,02
88 2,59 2 5,17
89 2,42 4 9,66
90 2,25 2 4,49
91 2,08 4 8,30

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 53


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

92 1,91 2 3,81
93 1,74 4 6,94
94 1,57 2 3,13
95 1,40 4 5,58
96 1,24 2 2,48
97 1,09 4 4,34
98 0,94 2 1,88
99 0,81 4 3,24
100 0,68 2 1,36
101 0,56 4 2,24
102 0,95 1 0,95
116,90
A WL 0,5 = 2/3 . l . = 47,704 m2

WL hdb l= 0,612
Gdng.ke ordinat FS HK
82 4,53 1 4,53
83 4,38 4 17,52
84 4,22 2 8,44
85 4,06 4 16,24
86 3,90 2 7,80
87 3,73 4 14,92
88 3,55 2 7,10
89 3,37 4 13,48
90 3,19 2 6,38
91 3,00 4 12,00
92 2,81 2 5,62
93 2,62 4 10,48
94 2,43 2 4,86
95 2,23 4 8,92
96 2,04 2 4,08
97 1,84 4 7,36
98 1,64 2 3,28
99 1,45 4 5,80
100 1,25 2 2,50
101 1,06 4 4,24
102 1,88 1 1,88
167,43

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 54


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

A WL hdb = 2/3 . l . = 68,323 m2


Vol. tangki l= 0,464
Awl Luasan FS HK
0 27,084 1 27,084
0,5 47,704 4 190,814
Hdb 68,323 1 68,323
286,222

1/3 . l
Vol = .
= 44,275 m3

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 55


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

BAB IV
PEMBAHASAN

IV. I. PERHITUNGAN DAYA POMPA


1.1) POMPA BALLAST
Pada buku “ Marine power plan” by p. akimov hal 492 ditentukan waktu yang
diperlukan untuk mengisi tangki ballast dengan kecepatan aliran 2 m/s adalah 4-
10 jam dengan rentang diameter pipa 60-200 mm.
Berikut urutan perhitungan daya pompa :

a.) Perhitungan Kapasitas Pompa


Pada buku “Marine power plan” by P. Akimov hal 492 diformulakan :
V
Q=
t
dimana : Volume ballast = 358,425 (m3)
Waktu yang diperlukan = 5 jam
Sehingga diperoleh
Q = 71,685 m3/jam

b) Penentuan Diameter Pipa Isap


Berdasarkan buku “Marine Power Plan” oleh Akimov pda hal. 492
diberikan formula untuk menentukan diameter pipa:
d = 4/3 x (Q) (Cm)
= 112,9 (Cm)
= 112,9 (mm)
Maka diameter yang digunakan dan sesuai dengan pasaran= 100 (mm)
c.) Perhitungan Head Total Pompa

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 56


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 26 diformulakan :
H = ha + Δhp + hl+ (V2/2g)
Dimana :
ha = Perbedaan tinggi antara titik sembarang dipipa keluar dan sembarang titik
dipipa isap (m).
= ht + hi
untuk tinggi permukaan pipa buang minimal 30 cm diatas sarat.
Jadi : ht = T – hdbkm + 0,3
Dimana : hdb = ( 350 + 45B ) = 0,928 m
hdbkm = 1,392 m (dari rencana umum)
ht = 3,63 m
hi = hdbkm – 0,05 m (jarak pipa isap dari dasar tangki)
= 1,342 m
ha = 4,974 m
Δhp = Perbedaan tekanan statis yang bekerja pada kedua permukaan.
= hp2 - hp1
Dimana: hp1 = tekanan air statis pada tangki isap.
= 0 (tidak ada tekanan tangki isap)
hp2 = tekanan air statis pada tangki tekan.
=0
Δhp = 0 - 0 = 0 m
hl = kerugian head di pipa, katup, belokan & sambungan.
= kerugian pada pipa lurus + kerugian pada belokan pipa + kerugian pada
katup-katup.
= hf1 + hf2 + hf3

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 57


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Dalam buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 31 Hazen-William.s memberikan formula untuk
menghitung kerugian gesek pada pipa lurus.
10,666xQ 1,85 xL
hf1 =
C 1,85 xD 4,85
Dimana : Q = laju aliran pompa = 0,02 m3/s
L = panjang pipa lurus (sketsa) = 85,08 m
C = koef. Jenis pipa (tabel 2.14 hal 30)
= 130 (pipa besi cor)
D = diameter pipa = 0,1 m
hf1 = 1,33 m
Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 32 terdapat formula untuk menghitung kerugian head
yang terdapat dalam jalur pipa :
V 2
hf2 = f ( Rumus umum untuk kerugian head yang terdapat dalam
2g
jalur pipa )
= Total kerugian head yang terdapat dalam jalur pipa.
= hf21 + hf22 + hf23
Dimana : f = koefisien kerugian belokan pipa, dan dalam buku yang
sama hal. 34 diberikan formula untuk menghitung kerugian
belokan pipa sebagai berikut:

D 3 .5
f = [0.131 1.847 ( ) ]( ) 0.5 ,
2R 90
f = 0,24
V = kecepatan aliran dalam pipa = 2 m/s( Gambar 2.4 pada
buku yang sama)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 58


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

g = percepatan grafitasi (m/s2) = 9,81 m/s2


sehingga, hf2 = 0,05 m
Dalam perencanaan, belokan 900 yang dipakai oleh desainer = 18 buah
sehingga hf2 = 0,05 x 18
hf2 = 1,0798 m
Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 38 diberikan formula untuk menghitung kerugian head
pada katub dan sambungan pipa :
V 2
Hf3 = Σf
2g
Dimana :
Σf = koef. Kerugian pada katub dan sambungan yang terdiri atas :
Jenis katup Jumlah (n) koefisien (f) hasil kali (nxf)
Katup bundar 6 10 60
Katup isap 2 1,91 3,82
Katup gerbang 1 0,19 0,19
Sambungan T 8 1,8 14,4
Σ(nxf) = 78,41
Hf3 = 15,986 m

Jadi, hf = hf1 + hf2 + hf3 (m)


= 22,6944 m
f.v2 / 2g (m) kerugian keluar pada ujung pipa keluar (m)
= 0,0203 m
Sehingga head total pompa dapat diketahui :
H = = ha + Δhp + hl+ (V2/2g)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 59


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

= 27,8721 m

d.) Perhitungan daya pompa


Pada buku “Marine power plan” oleh P. Akimov hal 514 diformulakan
QxHx
N=
3600x 75x
dimana :
Q = kapasitas pompa = 71,685 m3/jam
ρ = massa jenis air laut = 1025 kg/m3
η = efisiensi pompa = 0,9
H = Head total pompa = 27,8721 m

Jadi N = 8,4278 Hp ( 1 Hp = 0,7454 Kw)


= 6,8271 Kw

e.) Spesifikasi Pompa


Dari brosur pompa (dilampirkan) diperoleh:
Merek = AOLI PUMP
Type = 040-250 ( I)A
Out put = 7,5 KW
Rpm = 2900
Dimensi:
Panjang = 450 mm
Lebar = 360 mm
Tinggi = 650 mm

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 60


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

1.2) POMPA BILGA


a) Perhitungan Diameter Pompa
Pada buku " Machinery outfitting Design Manual" hal 63 diformulakan :

d = 26 + 2,7L (B H ) mm
Dimana :
L = panjang kapal (LBP)
= 66,05 m
B = lebar kapal
= 12,85 m
H = tinggi kapal
= 4,42 m
Diperoleh :
D = 84,391 mm
= 100 mm
b) Perhitungan Kapasitas Pompa
Sumber " Marine Pawer Plan" by P. Amikov, hal 492 diformulakan :
Q = (3/4 d)2 m3/jam
Dimana :
d = diameter dalam pompa dalam cm
= 10 cm
Diperoleh :
Q = 57,491 m3/jam
c.) Perhitungan Head Total Pompa
Dalam buku "Machinery Outfitting Design Manual" hal 63 diberikan formula
untuk menghitung head total pompa :
H = H1 + H2 + H3 (m)
Dimana :

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 61


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

H1 = Head tekan pompa (jarak maksimum antara sarat dan level pompa)
= T - hdbkm + lt (m)
Dimana lt = tinggi permukaan pipa di atas sarat
= 0.6 m
Jadi : ht = T – hdbkm + 0,3
Dimana : hdb = ( 350 + 45B ) = 0.928 m
hdbkm = 1,392 m (dari rencana umum)

H1 = 3,63 m
H2 = Head isap pompa (jarak antara pompa dan bilga suction)
= hdbkm - li (m)
Dimana: li = jarak pipa isap dari dasar kapal/ tangki
= 0,05 m
H2 = 1,342 m

H3 = Berbagai kerugian head di pipa, katup, belokan, sambungan, dll (m).


= Kerugian pada pipa lurus + kerugian pada belokan pipa + kerugian pada
katup-katup
= hf1 + hf2 + hf3
Dalam buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 31 Hazen-William.s memberikan formula untuk
menghitung kerugian gesek pada pipa lurus.
10,666xQ 1,85 xL
hf1 =
C 1,85 xD 4,85

Dimana : Q = laju aliran pompa = 0,016 m3/s


L = panjang pipa lurus ( sketsa ) = 54,72 m

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 62


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

C = koef. Jenis pipa ( tabel 2.14 hal 30 )


= 130 ( pipa besi cor )
D = diameter pipa = 0,1 m
hf1 = 2,407 m
Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 32 terdapat formula untuk menghitung kerugian head
yang terdapat dalam jalur pipa :
V 2
hf2 = f
2g
Dimana : f = Koefisien kerugian belokan pipa
D 3 .5
= [0.131 1.847 ( ) ]( ) 0.5
2R 90
= 0,238
V = kecepatan aliran dalam pipa = 2,033 m/s( Gambar 2.4
pada buku yang sama)
g = percepatan grafitasi (m/s2) = 9,81 m/s2
hf2 = 0.05 m
Dalam perencanaan, belokan 900 yang dipakai oleh desainer = 18 buah
sehingga hf2 = 0.05 x 17 = 0,902 m

Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 38 diberikan formula untuk menghitung kerugian head
pada katup :
V 2
hf3 = Σf
2g
Dimana :
Σf = koef. Kerugian pada katup yang terdiri atas :
Jenis katup Jumlah (n) koefisien (f) hasil kali (nxf)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 63


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Katup Saring 3 1,79 5,37


Katup bundar 1 10 10
Sambungan T 4 1,8 7,2
Σ(nxf) = 22,57
Hf3 = 4,756 m
Sehingga,
H3 = 8,065 m
Vd2 / 2g = kerugian head akibat keluar
Vd2 / 2g = 0,211
Dimana : Vd = kecepatan aliran dalam pipa = 2,033 m/s
g = Percepatan grafitasi = 9,81 m/s2
Maka head total pompa dapat diketahui:
H = H1+H2+H3
= 13,249 m

d.) Perhitungan daya pompa


Pada buku “Marine power plan” oleh P. Akimov hal 514 diformulakan
QxHx
N=
3600x 75x
dimana :
Q = kapasitas pompa = 57,491 m3/jam
ρ = massa jenis air laut = 1025 kg/m3
η = efisiensi pompa = 0,9
H = Head total pompa = 13,249 m
e.) Spesifikasi Pompa
Dari brosur pompa (dilampirkan) diperoleh:
Merek = AOLI PUMP

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 64


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Type = 040-160(I)
Out put = 3 KW
Rpm = 2900
Dimensi:
Panjang = 340 mm
Lebar = 300 mm
Tinggi = 550 mm

1.3) POMPA SANITARI AIR LAUT


Dalam Buku “Machinery outfitting design” Vol I tentang “Piping system for
diesel Ship” hal 62 laju aliran pompa sanitary ditentukan berdasarkan kebutuhan
maksimum aliran yang dibutuhkan untuk melayani kebutuhan air sanitary dikapal.
Nilai laju aliran pompa kurang lebuh terdiri atas :
Sanitary for Accomodation = 5 ~ 10 m3/jam  dipilih = 10 m3/jam
Cooling water for unit cooler = 5 m3/jam
Dengan demikian maka nila laju aliran pompa :
Q = 15 m3/jam
Dari keterangan diatas ,didapat besarnya daya pompa yang dibutuhkan adalah:
QxHx
N=
3600x 75x
N = Daya pompa (Hp)
Q = Kapasitas Pompa = 15 m3/jam
ρ = massa jenis air laut = 1025 Kg/s
H = Kerugian head Total (m)
Dalam buku “ Machinery Outfitting Design Manual” hal. 62, head total
pompa biasanya berkisar antara 35 ~ 40 meter. Jadi head total pompa yang
digunakan = 40 m.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 65


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Sehingga diperoleh
N = 2,531 Hp
= 1,888 Kw
e.) Spesifikasi Pompa
Dari brosur pompa (dilampirkan) diperoleh:
Merek = Ampco Centrifugal
Type = EC 1 ½ x 1 1/4
Out put = 2,23 KW
Rpm = 1750
Dimensi:
Panjang = 24 – 15/16 Inchi
Lebar = 8 Inchi
Tinggi = 11Inchi

1.4) POMPA PEMADAM KEBAKARAN


Pompa ini untuk menyuplai air ke sistem pemadam kebakaran. Kadang juga
pompa ini di gunakan sebagai pompa cadangan untuk ballast dan sistem bilga.
Satu pompa pemadam kebakaran sedikitnya melayani 3 selang pemadam.
(Buku"Marine Power Plant"by P. Akinov, hal 495).
a) Perhitungan Kapasitas Pompa
Debit aliran (Q) menurut buku "Machinery Outfitting Design Manual", vol
1, hal 69 adalah:
Q = 4/3 . Qb
dimana :
Qb = Kapasitas satu pompa bilga
= 57, 491 m3/jam
Q = 76,655 m3/jam

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 66


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

b) Penentuan Diameter Pipa


Dalam Rules "BKI Vol. III tahun 1978" tentang konstruksi mesin, diameter
pipa pemadam utama dapat dihitung dengan menggunakan formula :
d = 0.8 db (mm)
dimana : db = diameter pipa bilga (mm)
= 100 mm
sehingga : d = 80 mm

c.) Perhitungan Head Total Pompa


Dalam buku "Machinery Outfitting Design Manual" hal 70 diberikan formula
untuk menghitung head total pompa :
H = H1 + H2 + H3 + H4 (m)
dimana : * H1 = Tekanan nosel yang disyaratkan oleh peraturan (m)
= 3.52 m (tabel hal.70)
* H2 = Tekanan statik pada top nosel (m)
= 12 m (lihat hal. 492 buku Marine Power Plan)
* H3 = Kerugian pada pipa (loss of piping)
= 0,011* L* hf + 6 (m)
= 0,011*L*(hf1 + hf2 + hf3) + 6 (m)
Dalam buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 31 Hazen-William.s memberikan formula untuk
menghitung kerugian gesek pada pipa lurus.
10,666xQ 1,85 xL
hf1 =
C 1,85 xD 4,85

Dimana : Q = laju aliran pompa = 0,021 m3/dt


L = panjang pipa lurus (sketsa) = 58,76 m

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 67


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

C = koef. Jenis pipa (tabel 2.14 hal 30)


= 130 (pipa besi cor)
D = diameter pipa = 0,08 m
Hf1 = 12,986 m
Dalam buku yang sama Fuller memberikan formula untuk menghitung kerugian
pada belokan:
V 2
hf2 = f
2g
Dimana : f = Koefisien kerugian belokan pipa
D 3 .5
= [0.131 1.847 ( ) ]( ) 0.5
2R 90
= 0,238
V = kecepatan aliran dalam pipa = 2.033 m/s( Gambar 2.4
pada buku yang sama)
g = percepatan grafitasi (m/s2) = 9,81 m/s2

hf2 = 0,05 m
Dalam perencanaan, belokan 900 yang dipakai oleh desainer = 37 buah
sehingga hf2 = 0.062 x 37 = 1,854 m
Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 38 diberikan formula untuk menghitung kerugian head
pada katup dan sambungan pipa :
V 2
hf3 = Σf
2g
Dimana :
Σf = koef. Kerugian pada katup yang terdiri atas :
Jenis katup Jumlah (n) koefisien (f) hasil kali (nxf)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 68


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Katup putar 5 0.07 0,35


Katup gerbang 12 0,19 2,28
Close return 3 2.2 6,6
Sambungan T 13 1,8 23,4
Σ(nxf) = 26,03
hf3 = 4,8 m

sehingga;
hf (total) = hf1 + hf2 +hf3 m
= 20,325 m
maka:
* H3 = 19,135 m
* H4 = Head isap pompa
=0m
Sehingga head total pompa dapat diketahui :
H = H1+H2+H3+H4
= 34,655 m
d.) Perhitungan Daya Pompa
Pada buku “Marine power plan” oleh P. Akimov hal 514 diformulakan
QxHx
N=
3600x 75x
dimana :
Q = kapasitas pompa = 76,655 m3/jam
ρ = massa jenis air laut = 1025 kg/m3
η = efisiensi pompa = 0,9
H = Head total pompa = 34,655 m
Jadi N = 11,205 Hp

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 69


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

= 8,359 Kw
e.) Spesifikasi Pompa
Dari brosur pompa (dilampirkan) diperoleh:
Merek = AOLI pump
Type = XBD 8.8 / 5-50 x 8
Out put = 11 KW
Rpm = 1480
Dimensi:
Panjang = ---- mm
Lebar = ----mm
Tinggi = ---- mm

1.5) POMPA SANITARY AIR TAWAR


a) Perhitungan Kapasitas Pompa
Dalam perancangan diketegui volume air tawar untuk konsumsi =
23,112 m3 sedangkan lama pelayaran t = 3 hari. Maka jumlah air tawar yang
harus disuplai ketangki harian, dalam hal ini hydrofore = 7,704 m3/hari.
Dalam perencanan, hydrofore diisi setiap = 0,125 hari sedangkan volume air
yang harus dipindahkan adalah 0,963 m3 sedangkan lama pemompaan = 0,15
jam
Q = kapasitas pompa
= V/t
= 6,42 m3/jam
b.) Perhitungan Daya Pompa
Pada buku “Marine power plan” oleh P. Akimov hal 514 diformulakan
QxHx
N=
3600x 75x

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 70


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

dimana :
Q = kapasitas pompa = 6,42 m3/jam
ρ = massa jenis air tawar= 1000 kg/m3
η = efisiensi pompa = 0,9
H = Head total pompa
Dalam buku "Machinery Outfitting Design Manual" hal 62, head total pompa
biasanya berkisar antara (40 ~ 50) meter untuk sistem hydrophore dan (30 ~
40) meter untuk continous running system. Karena dalam perencanaan,
desainer menggunakan hydrophore, maka head total dari pompa yang
digunakan = 50 m
Jadi N = 1,321 Hp
= 0,985 Kw
c.) Hydrophore Unit
Dalam buku "Machinery Outfitting Design Manual" hal 61, volume tangki
hydrophore dapat dihitung dengan menggunakan formula :

P1
V= q ( a ) (m3)
P1 P2
dimana : q = volume air yang disuplai oleh pompa dalam waktu 1~2 menit.
= 0,214 (m3)
P1 = Tekanan akhir pompa
= 4,5 (kg/c m2)
P2 = Tekanan awal pompa
= 3 (kg/c m2)
a = Staying water quantity in hydrophore
= 1,5
Sehingga:

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 71


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

V = 0,963 (m3)
Dengan demikian volume yangki hydrophore yang digunakan adalah 1 (m3)
e.) Spesifikasi Pompa
Dari brosur pompa (dilampirkan) diperoleh:
Merek = Ampco Centrifugal
Type = EC 1 ½ x 1 1/4
Out put = 2,2 KW
Rpm = 1450
Dimensi:
Panjang = 24 – 15/16 Inchi
Lebar = 8 Inchi
Tinggi = 11 Inchi

1.6) POMPA BAHAN BAKAR


a) Perhitungan Kapasitas Pompa
Dalam perancangan diketahui volume bahan bakar yang dibutuhkan = 7,444
m3 sedangkan lama pelayaran t = 1 hari. Maka jumlah bahan bakar yang
harus disuplay ketangki harian = 7,444 m3/hari. Dalam perencanaan, tangki
harian diisi setiap 8 jam sehinga volume bahan bakar yang harus
dipindahkan ketangki harian adalah 2,739 m3 sedangkan lama pemompaan
= 15 menit.
Q = 10,958 m3/jam
b) Penetuan Diameter Pipa Pompa
Dalam buku "Marine Power Plan" by P. Akimov hal 492 diberikan formula
d = 4/3 x (Q)1/2
= 44,137 mm
Maka diameter pipa yang digunakan sesuai pasaran adalah 45 mm

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 72


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

c.) Perhitungan Head Total Pompa


Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 26 diformulakan :
H = ha + Δhp + hl+ (V2/2g)
Dimana :
ha = Perbedaan tinggi antara titik sembarang dipipa keluar dan sembarang titik
dipipa isap (m).
= ht + hi
Jadi : ht = T – hdbkm + 0,3
Dimana : hdb = ( 350 + 45B ) = 0,928 m
hdbkm = 1,392 m (dari rencana umum)
ht = 3,728 m
hi = hdbkm – 0,05 m (jarak pipa isap dari dasar tangki)
= 1,342 m
Jadi, ha = 5,07 m
Δhp = Perbedaan tekanan statis yang bekerja pada kedua permukaan pelumas
(m).
= Tekanan pelumas statis pada tangki isap + tekanan pelumas statis pada
tangki tekan
= hp2 - hp1
Dimana: hp1 = tekanan air statis pada tangki isap.
= 0 (tidak ada tekanan tangki isap)
hp2 = tekanan air statis pada tangki tekan.
= 0 (tidak ada tekanan tangki tekan)
Δhp = 0 - 0 = 0
hf = kerugian head di pipa, katup, belokan & sambungan.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 73


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

= kerugian pada pipa lurus + kerugian pada belokan pipa + kerugian pada
katup-katup.
= hf1 + hf2 + hf3
Dalam buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 31 Hazen-William.s memberikan formula untuk
menghitung kerugian gesek pada pipa lurus.
10,666xQ 1,85 xL
hf1 =
C 1,85 xD 4,85
Dimana : Q = laju aliran pompa = 0,003044 m3/dt
L = panjang pipa lurus (sketsa) = 9,408 m
C = koef. Jenis pipa (tabel 2.14 hal 30)
= 130 (pipa besi cor)
D = diameter pipa = 0,045 m
Hf1 = 0,927 m
Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 32 terdapat formula untuk menghitung kerugian head
yang terdapat dalam jalur pipa :
V 2
hf2 = f
2g

Dimana : f = Koefisien kerugian belokan pipa


D 3 .5
= [0.131 1.847 ( ) ]( ) 0.5
2R 90
= 0,294
V = kecepatan aliran dalam pipa = 2 m/s( Gambar 2.4 pada
buku yang sama)
g = percepatan grafitasi (m/s2) = 9,81 m/s2
hf2 = 0,0599 m

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 74


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Dalam perencanaan, belokan 900 yang dipakai oleh desainer = 13 buah


sehingga hf23 = 0,06 x 13 = 0,78 m
Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, MSME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 38 diberikan formula untuk menghitung kerugian head
pada katup :
V 2
hf3 = Σf
2g
Dimana :
Σf = koef. Kerugian pada katup yang terdiri atas :
Jenis katup Jumlah (n) koefisien (f) hasil kali (nxf)
Katup bundar 3 10 30
Katup sudut 3 5 15
Sambungan T 3 1,8 5,4
Σ(nxf) = 50,4
hf3 = 10,275 m
jadi,
hf = hf1 + hf2 + hf3 (m)
= 11,982 m
Vd2 / 2g = Kerugian head akibat kecepan keluar
= 0,204 m

Sehingga head total pompa dapat diketahui :


H = ha + Δhp + hl+ (V2/2g)
= 17,256 m
d.) Perhitungan Daya Pompa
Pada buku “Marine power plan” oleh P. Akimov hal 514 diformulakan

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 75


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

QxHx
N=
3600x 75x
dimana :
Q = kapasitas pompa = 10,958 m3/jam
ρ = massa jenis bahan bakar = 900 kg/m3
η = efisiensi pompa = 0,9
H = Head total pompa = 17,256 m
Jadi N = 0.7003 Hp
= 0,5224 Kw
e.) Spesifikasi Pompa
Dari brosur pompa (dilampirkan) diperoleh:
Merek = AOLI PUMP
Type = 2CY 1. 08/10
Out put = 0,75 Kw
Rpm = ------
Dimensi:
Panjang = ------ mm
Lebar = ------mm
Tinggi = -------mm

1.7) POMPA MINYAK DIESEL


Perhitungan Kapasitas Pompa
Dalam perancangan diketahui volue bahan bakar yang dibutuhkan = 1,607 m3
sedangkan lama pelayaran t = 1 hari. Maka jumlah bahan bakar yang harus
disuplay ketangki harian = 1,607 m3/hari. Dalam perencanaan, tangki harian
diisi setiap 8 Jam sehingga volume bahan bakar yang harus dipindahkan
ketangki harian adalah 0,591 m3 sedangkan lama pemompaan = 5 menit.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 76


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Q = 7,101 m3/jam
Penetuan Diameter Pipa Pompa
Dalam buku "Marine Power Plan" by P. Akimov hal 492 diberikan formula
d = 4/3 x (Q)1/2
= 35,529 mm
Maka diameter pipa yang digunakan sesuai pasaran adalah 40 mm
c.) Perhitungan Head Total Pompa
Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 26 diformulakan :
H = ha + Δhp + hl+ (V2/2g)
Dimana :
ha = Perbedaan tinggi antara titik sembarang dipipa keluar dan sembarang titik
dipipa isap (m).
= ht + hi
Jadi : ht = T – hdbkm + 0,3
Dimana : hdb = ( 350 + 45B ) = 0,928 m
hdbkm = 1,392 m (dari rencana umum)
ht = 3,217 m
hi = hdbkm – 0,05 m (jarak pipa isap dari dasar tangki)
= 1,342 m
Jadi, ha = 4,559 m
Δhp = Perbedaan tekanan statis yang bekerja pada kedua permukaan pelumas
(m).
= Tekanan pelumas statis pada tangki isap + tekanan pelumas statis pada
tangki tekan
= hp2 - hp1
Dimana: hp1 = tekanan air statis pada tangki isap.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 77


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

= 0 (tidak ada tekanan tangki isap)


hp2 = tekanan air statis pada tangki tekan.
= 0 (tidak ada tekanan tangki tekan)
Δhp = 0 - 0 = 0
hf = kerugian head di pipa, katup, belokan & sambungan.
= kerugian pada pipa lurus + kerugian pada belokan pipa + kerugian pada
katup-katup.
= hf1 + hf2 + hf3
Dalam buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 31 Hazen-William.s memberikan formula untuk
menghitung kerugian gesek pada pipa lurus.
10,666xQ 1,85 xL
hf1 =
C 1,85 xD 4,85
Dimana : Q = laju aliran pompa = 0,001972 m3/dt
L = panjang pipa lurus (sketsa) =25,269 m
C = koef. Jenis pipa (tabel 2.14 hal 30)
= 130 (pipa besi cor)
D = diameter pipa = 0,04 m
Hf1 = 1,975 m
Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, M SME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 32 terdapat formula untuk menghitung kerugian head
yang terdapat dalam jalur pipa :
V 2
hf2 = f
2g
Dimana : f = Koefisien kerugian belokan pipa
D 3 .5
= [0.131 1.847 ( ) ]( ) 0.5
2R 90
= 0,294

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 78


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

V = kecepatan aliran dalam pipa = 2 m/s( Gambar 2.4 pada


buku yang sama)
g = percepatan grafitasi (m/s2) = 9,81 m/s2
hf2 = 0,05999 m
Dalam perencanaan, belokan 900 yang dipakai oleh desainer = 16 buah
sehingga hf23 = 0,06 x 16 = 0,9598 m
Pada buku “Pompa dan Kompresor” Oleh Ir.Sularso, MSME & Prof. Dr.
Haruo Tahara pada hal 38 diberikan formula untuk menghitung kerugian head
pada katup :
V 2
hf3 = Σf
2g
Dimana :
Σf = koef. Kerugian pada katup yang terdiri atas :
Jenis katup Jumlah (n) koefisien (f) hasil kali (nxf)
Katup bundar 3 10 30
Katup sudut 5 5 25
Sambungan T 3 1,8 5,4
Σ(nxf) = 60,4
hf3 = 12,314 m
jadi,
hf = 15,249 m

Vd2 / 2g = Kerugian head akibat kecepan keluar


= 0,204 m
dimana : V = Kecepatan aliran zat cair = 2 m/s
g = Percepatan gravitasi = 9,81 m/s2

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 79


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Sehingga head total pompa dapat diketahui :


H = ha + Δhp + hl+ (V2/2g)
= 20,012 m
d.) Perhitungan Daya Pompa
Pada buku “Marine power plan” oleh P. Akimov hal 514 diformulakan
QxHx
N=
3600x 75x
dimana :
Q = kapasitas pompa = 7,101 m3/jam
ρ = massa jenis m. diesel= 880 kg/m3
η = efisiensi pompa = 0,9
H = Head total pompa = 20,012 m
Jadi N = 0.5146 Hp
= 0,3839 Kw
e.) Spesifikasi Pompa
Dari brosur pompa (dilampirkan) diperoleh:
Merek = AOLI PUMP
Type = 2CY1.08/10
Out put = 0,75 Kw
Rpm = -------
Dimensi:
Panjang = ------- mm
Lebar = -------mm
Tinggi = ------- mm

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 80


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

9.) Pompa kotorn (Sewage Pump)

Pompa ini digunkan untuk


mengeringkan tangki kotoran.
Volume sewage tank dapat dihitung dengan perhitungan sebagai berikut.

Toilet Bowle = 12 liter / hari / orang


Urinals = 2 liter / hari / orang
Sanitary Equipment = 5,000 liter / hari / orang
Total 19 liter / hari / orang

Diketaahui :
Jumlah crew = 20 orang
lma pelyaran = 3 hari
jadi, volume kotoran = Volume x Jumlah crew x lama pelayaran
V = 1140 liter = 1,14 m3
Volume sewage tank adalah volume kotoran ditambah margin = 0,5
V = 1710 liter = 1,71 m3

a. Penentuan Laju Aliran Pompa


Q= V/t (m3/ jam) t= 0,5 Jam
Q= 3,42 (m3/ jam)
b.Penentuan Diameter Pipa Pompa
Dalam buku "Marine Power Plan" by P. Akimov hal 492 diberikan formula
untuk menentukan diameter pipa :
d= 4/3 x (Q)1/2 (cm)
= 24,658 (mm)
Diameter pipa yang digunakan = 30 (mm)
c.Penentuan Daya Pompa
Dalam buku "Marine Power Plan" by P. Akimov hal 495 diberikan formula untuk
menghitung daya
pompa :

N = (Q . H . )/(3600 . 75 . )

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 81


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Dimana Q = laju aliran pompa = 3,420 (m3/ jam)


ρ = Massa jenis m. diesel = 1025 (kg/ m3)
η = Total efisiensi pompa (0,6 ~ 0,9) = 0,9
H = Head total pompa (m)
Untuk menghitung head total pompa dalam buku "Pompa dan Kompresor" oleh
Ir. Sularso, MsME dan Prof. DR. Haruo Tahara diberikan formula :
H = ha + Δhp + hf + (V2/ 2g) (m)
dimana :
* ha = Perbedaan tinggi antara muka air di sisi keluar dan sisi isap
= Head tekan + head isap hdb = 0,928 (m)
= ht + hi (m) hdbkm = 1,392 (m)
dimana :
ht = 1,145 (m)
hi = 11,256 (m)

Jadi ha = 12,401 (m)


Perbedaan tekanan statis yang bekerja pada kedua permukaan minyak diesel
* Δhp = (m)
= Tekanan minyak diesel statis pada tangki isap + tekanan minyak diesel statis
pada tangki tekan
(m) (tidak ada
tekanan tangki
= hpt + hpi (m) hpt = 0 tekan)
(m) (tidak ada
tekanan tangki
= 0 (m) hpi = 0 isap)
* hf = Berbagai kerugian head di pipa, katup, belokan, sambungan, dll (m)
= Kerugian pada pipa lurus + kerugian pada belokan pipa + kerugian pada katup-
katup
= hf1 + hf2 + hf3 (m)
~ Dalam buku "Pompa dan Kompresor" oleh Ir. Sularso,MsME dan Prof. DR. Haruo
Tahara hal. 31 Hazen-Williams memberikan formula untuk menghitung kerugian pada pipa
lurus :
1,85 1,85 4,85
hf1 = (10,666 . Q . L)/(C . d ) (m)
= 5,393 (m)
Dimana :

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 82


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Q= Laju aliran pompa = 0,00095 (m3/ detik)


L= panjang pipa lurus (sketsa dari gambar)
= 66,05 (m)
C = Koefisien jenis pipa (tabel 2.14 hal 30)
130 (pipa besi cor baru)
D = Diameter pipa = 0,03 (m)
~ Dalam buku yang sama Fuller memberikan formula untuk menghitung kerugian
pada belokan pipa :
2
hf2 = f. v /2g (m) R/D= 1
= 0,05999 (m) = 90
Dimana : f = Koefisien kerugian belokan pipa
3,5 o o 1/2
= 0,131 + 1,847 . (d/2R) .(q /90 )
= 0,294
V = Kecepatan aliran dalam pipa = 2 (m/s)
2
g = Percepatan gravitasi (m/s ) = 9,81 (m/s2)

Dalam perencanaan, belokan 90o yang dipakai oleh desainer = 3


hf2 = 0,1800 (m)
~ Dalam buku "Pompa dan Kompresor" oleh Ir. Sularso,MsME dan Prof. DR. Haruo Tahara
hal. 38 diberikan formula untuk menghitung kerugian pada katup dan sambungan pipa
:
f = Koef. kerugian pada katup, yang terdiri atas :
Jenis
katup/
Σf . v2/2g (m)
hf3 = sambung Juml hasil
an ah koefisien kali
= 7,217 (m) n f nxf
katup
bundar 3 10 30
sambung
an T 3 1,8 5,4
= 35,4

Jadi hf = hf1 + hf2 + hf3 (m)


= 12,790 (m)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 83


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

* Vd2/ 2g = Kerugian head akibat kecepatan keluar


= 0,2039 (m)
Sehingga head total dapat diketahui :
H = ha + Δhp + hf + (V2/ 2g) (m)
= 25,395 (m)
Dengan demikian daya pompa
juga dapat diketahui :

N = (Q . H . )/(3600 . 75 . )

= 0,3663 (Hp)
= 0,2733 (kW)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 84


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

IV.2. Perhitungan Daya Alat-Alat Penerangan


1.) Peralatan dan Lampu Navigasi
a.) Peralatan Navigasi
Dalam buku "Merchant Ship Design Hand Book
V diberikan ketentuan untuk peralatan navigasi
sehingga diperoleh :
No Jenis Alat n Daya (W) Kebutuhan Daya (W)
1 Marine radar 1 50 50
2 Echo sounder 1 50 50
3 Radio Direction Finder (RDF) 1 50 50
4 Satelit navigasi 1 50 50
5 Telegraph 1 50 50
6 Telepon 1 50 50
7 Radio komunikasi 1 50 50
8 VHF multi chanel 1 50 50
Total kebutuhan daya = 400 (W)
= 0,4 (kW)
b.) Lampu Navigasi
Dalam buku "Merchant Ship Design Hand Book V juga diberikan ketentuan
untuk lampu navigasi
sehingga diperoleh :
Daya Kebutuhan
No Alat Penerangan n (W) Daya (W)
1 Lampu samping ( side light ) :
* Starboard side 112,5o, warna hijau, jarak pancar 3 mill 1 75 75
o
* Port side 112,5 , warna merah, jarak pancar 3 mill 1 75 75
2 Lampu tiang utama ( Head mast light )
* 225o , warna putih, jarak pancar 5 mill 2 75 150
3 Lampu morse ( Morse signal light )
* 136o , warna kuning , jarak pancar 3 mill 1 60 60
4 Lampu jangkar (Anchor light )
* 360o , warna putih, jarak pancar 2 mill 2 75 150
5 Lampu buritan ( Stern light )
* 135o , warna putih, jarak pancar 2 mill 1 60 60

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 85


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

6 Lampu bongkar muat ( Cargo handling light )


* Warna bening 1 500 500
7 Lampu pelayaran ( Range )
* 225o , warna bening , jarak pancar 2 mill 1 40 40
8 Lampu sekoci
* Warna bening 2 75 150
9 Lampu sorot ( Search light )
* Lampu halogen, jarak pancar 2 mill 2 1000 2000
Total kebutuhan daya = 3260 (W)
= 3,26 (kW)

2.) Penerangan
a.) Penerangan Dalam
Asumsi untuk kebutuhan penerangan lampu-lampu kamar adalah
Untuk lampu dengan daya sebesar 20 Watt kurang lebih dapat menerangi
Ruangan sebesar 3 x 3 meter = 9 m²
Sedangkan pada Toilet digunakan lampu sebesar 10 Watt
Sehingga diperoleh :
No. Ruangan Luas (m2) n Kebutuhan Daya (W)
1 a. Main Deck
Kamar kepala kamar mesin + Toilet 12,18 1 30
Kamar Masinis II + toilet 8,12 1 30
Kamar Masinis III 7,56 1 20
Kamar Oiler 7,45 1 20
Kamar Serang 6,88 1 20
Ruangan CO2 4,51 1 20
Toilet dan Shower 8,132 2 20
Ruang Battery 4,51 1 20
Ruang Genset darurat 6,88 1 20
Kamar mandor Mesin/olir 11,34 1 20
Ruang Lobby 8,43 1 20
Gudang Peralatan 8,43 1 20
Gudang Cat 7,69 1 20
Work Shop 7,69 1 20

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 86


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Lorong / Gang 58,018 6 120


2 b. Poop Deck
Kamar Muallim I + toilet 12,24 1 30
Kamar Muallim II + toilet 12,24 1 30
Kamar Koki 7,344 1 20
Ruang makan crew 11,628 1 20
Dapur 3,33 1 20
Toilet dan Shower 4,49 2 20
Laundry 7,344 1 20
Ruang santai crew 8,81 1 20
Gudang perbekalan 8,01 1 20
Lorong / Gang 33,78 4 80
3 c. Boat Deck
Kamar Nahkoda + toilet 8,82 1 30
Kantor 6,36 1 20
Ruang Rapat 12,24 1 40
Kamar Juru Mudi / Stearman 5,88 1 20
Kamar Operator Radio / Juru Mudi 5,88 1 20
Ruang makan 8,81 1 20
Toilet dan Shower 1,836 1 10
Kamar Owner + toilet 8,81 1 30
Ruang Santai 5,87 1 20
Lorong / Gang 31,52 4 80
4 d. Navigation Deck
Ruang kemudi / Wheel House 74 8 640
Ruang Peta 7,344 2 60
Ruang Radio 7,344 2 60

Daya Total = 1130 (W)


= 1,13 (kW)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 87


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

b.) Penerangan Luar


No Penerangan Jalan n Daya (W) Kebutuhan Daya (W)
1 Main deck /Cargo hold 9 40 360
2 Poop deck 9 40 360
3 Boat deck 6 40 240
4 Navigaton deck 6 20 120
Top deck 2 40 80
Total daya = 1160 (W)
= 1,16 (kW)

IV.3 Perhitungan Daya Alat-Alat Khusus


1.)Kompresor dan Botol Angin
a.Penentuan Kapasitas Botol Angin dan Kompresor

Dalam Rules BKI Vol.III tahun 2005 tentang Konstruksi Mesin hal 2-22 G.3.1.2
diberikan formula untuk menghitung kapasitas total botol angin :

J=
H
a 3 (z b pme nA 0,9) vh c d
dimana : D
D = diameter silinder
= 25 (cm)
H = langkah torak mesin
= 30 (cm)
vh = volume langkah torak satu silinder
= 14726,216 (cm3)
= 14,726 (dm3)
z = jumlah silinder
= 8 buah
p = tekanan kerja maksimum dari botol angin
= 30 (kg/cm2)
pme = q = tekanan kerja efektif dalam silinder
= 9 (kg/cm2)
a= 0,419 untuk mesin 4 tak

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 88


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

b= 0,056 untuk mesin 4 tak


c= 1 untuk instalasi-instalasi mesin berbaling-baling satu dengan satu
mesin dihubungkan langsung atau melalui roda gigi
reduksi ke baling-baling
d= 1 untuk p = 30 kg/cm2

nA = 0.06 n 0 14 untuk rpm & no = 720 putaran


= 57,2 putaran n0 1000
sehingga :
J= 247,384 (dm3)
Dalam buku yang sama diberikan formula untuk menghitung kapasitas total kompresor :
Q= 1.7J (p-q) (dm3/jam)
= 8831,6151 (dm3/jam)
= 8,8316 (m3/jam)
b.Penentuan Daya Botol Angin dan Kompresor
Dalam buku "Marine Power Plan" by P. Akimov hal 495 diberikan formula untuk
menghitung daya blower :

N= Q*H *
HP
3600 * 75 *
dimana :
Q = Kapasitas botol angin dan kompresor = 8,8316 (m3/ jam)
ρ = Massa jenis udara = 1,293 (kg/ m3)
η = Total efisiensi botol angin dan kompresor (0,6 ~ 0,9) = 0,9
H = Head total pompa kompresor (m)
Dalam buku yang sama diberikan formula untuk menghitung head total botol angin
dan kompresor :

v2 p
H= z (m)
2g
dimana :
v = kecepatan udara = 3 (m/s)
g = percepatan garavitasi bumi = 9,81 (m/s2)
p = tekanan kerja pada head tekan kompresor

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 89


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

= 25000 (kg/m2)
γ = berat jenis udara = 1,293 (kg/m3)
z = tinggi kedudukan kompresor dan botol angin = 0 m
sehingga :
H= 19335,339 (m)
Dengan demikian daya botol angin dan kompresor
dapat diketahui :
N= 0,9086 Hp
= 0,6778 kW

2.) Tenaga Penggerak Kemudi


Dalam buku "Pesawat Bantu Mesin Induk" hal. 37 diberikan formula untuk menghitung
daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan kemudi :

Mke nk
N= (Hp)
71620
dimana :
nk = besar sudut yang ditempuh tiap menit
= 70 o
Mke = Momen putar efektif poros kemudi (Nm)
Untuk menghitung Mke, dalam Rules BKI Vol.II Section 14.4.1 diberikan formula :

3
6 D
Mke = (Nm)
1000
diamana :
D = Diameter tongkat kemudi (mm)
= 4,2 x (Qr/kr)1/3 (mm)
diamana :
Qr = Momen torsi tongkat kemudi (N)
= Cr x σ
Cr = X1 x X2 x 132 x A x Vo2 x Xt (N)
dimana :
X1 = Koefisien kemudi

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 90


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

0,800
X2 = Koefisien yang tergantung pada letak daun kemudi
0,800
Xt = Koefisien kecepatan
1
A = Luas permukaan kemudi (m2)

A= T L B 2
(1 25.( ) )
100 L
= 5,686 (m2)
Vo = Kecepatan kapal (knot)
= 12 knot
Jadi Cr = 69165,44684 (N)
σ= c x (α - kb)
c= Lebar rata-rata daun kemudi (m)
= A /(0,6 T) (m)
= 2,143874062 (m)
α= 0,66
kb = 0,08
Jadi σ = 1,2434 (m)
Qr = 86003,5643 (Nm)
kr = (ReH/235)0.75 untuk ReH > 235 kN/mm2
= 1,6278 Reh = 450 kN/mm2
Jadi D = 157,598 (mm)
Sehingga :
Mke = 23485,8933 (Nm)
Dengan demikian daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan kemudi :
N= 22,9547 (Hp)
= 17,1242 (kW)

3.) Windlass Jangkar


Dari perencanaan umum menurut Rules BKI Vol.II tahun 1996 Sec.18 hal 18-2
Diperoleh data sebagai berikut :
Equipment numeral (Z) = 450-500

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 91


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Dari angka petunjuk Z pada tabel 18.2 hal.18-5 diperoleh data jangkar sbb :
Jumlah jangkar = 3 buah Panjang tali tarik = 180 m
Berat tiap Jangkar = 1440 kg Beban tali tarik = 275 kN
Panjang rantai total = 412,5 m Jlm. Tali tambat = 4 buah
Diameter D1 = 38 mm Panj. Tali tambat = 140 m
D2 = 34 mm Beban tali tambat = 110 kN
D3 = 30 mm
Dalam buku "Sistem dan Perlengkapan Kapal" Vol I oleh Soekarsono hal.38 - 40
diberikan formula untuk menghitung daya efektif windlass jangkar :

N = (Mm x nm) / 716,2 (Hp)

dimana :

Mm = Momem torsi pada poros motor windlass (kgm)

Mcl = Momen torsi pada cable lifter (kgm)

Tcl = Daya tarik untuk satu jangkar (kg)

fh = faktor gesekan di house pipe (1.28 ~ 1.35)


= 1,35
Ga = Berat jangkar (kg)
= 1440 (kg)
Pa = Berat rantai setiap motor (kg)
= 0.023*d (untuk open link chain)
= 0,874 (kg)
La = Panjang rantai jangkar yang menggantung (m)
= 3 segel (1segel = 27.5 m)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 92


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

= 82,5 (m)
Yw = Berat jenis air laut (kg/m3)
1025 (kg/m3)
Ya = Berat jenis material rantai jangkar (kg/m3)
7750 (kg/m3)
Jadi Tcl
= 1771,357841 (kg)
Dcl = Diameter efektif cable lifter (mm)
= 0.013*d (mm)
= 0,39 (mm)

= 0,00039 (m)
cl = Efisiensi cable lifter (0.9 ~ 0.92)
= 0,92

Mcl = 0,375450847 (kgm)


a= Efisiensi total peralatan (0.7 ~ 0.85)
= 0,85
a= Perbandingan putaran poros motor windlass dengan putaran cable lifter
= Nm/Ncl
Nm = putaran poros (523 ~ 1160) rpm
= 1160 rpm
Ncl = 60 Va / 0.04 d
Va = Kecepatan tarik rantai jangkar (m/s)
= 0,2 (m/s)
Jadi Ncl
= 10000 rpm

a= 0,116
Mm = 3,807817918 (kgm)
dengan demikian daya efektif windlass jangkar :
N= 6,167367754 (Hp)
= 4,600856344 (kW)
4.) Windlass Sekoci
Dari perencanaan umum menurut buku "Sistem dan Perlengkapan Kapal" oleh Soekarsono
hal 75 diperoleh spesifikasi sekoci dengan

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 93


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

kapasitas masing-masing 14 orang :


~. Ukuran sekoci 5,18 x 1,83 x 0,715 (m)
~. Kapasitas = 143 ft3
~. Berat sekoci = 508 (kg)
~. Berat orang = 1050 (kg)
~. Berat Perlengkapan = 152 (kg)
~ Total Berat = 1710 (kg)
Daya yang dibutuhkan windlass sekoci untuk menggerakkan sekoci :

N= (Hp)

dimana :
W = Berat total sekoci
= 1710 (kg)
V = Kecepatan windlass sekoci (m/menit)
= tinggi kedudukan sekoci/ waktu yang dibutuhkan untuk
menggerakkan sekoci (m/menit)
s = Tinggi kedudukan sekoci (m)
= 8,6 (m)
t = Waktu yang dibutuhkan untuk menggerakkan sekoci (m)
= 3 (menit)
V= 2,8667 (m/menit)

= Efisiensi windlass sekoci


= 0,75
Sehingga :
N= 1,4524 (Hp)
= 1,0835 (kW)

5.) Windlass Cargo


Daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan winch cargo dapat dihitung
dengan menggunakan

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 94


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

formula :
N= (Hp)

dimana :
PQ = Tegangan tarik winch cargo (kg)
V = Kecepatan derrick/ alat angkat (m/s)
= 0,3 (m/s)
Dalam buku "Marine Power Plan" by P. Akimov diberikan formula untuk
menghitung tegangan tarik winch cargo :

PQ = (kg)

dimana :
P = Safety Load Factor (SWL) (ton)
= 10 (ton)
= 10000 (kg)
Q = Tambahan beban akibat tegangan tarik (kg)
= 25 (kg)

= Efisiensi motor (0.9~0.96)


= 0,95
sehingga
:
PQ = 10026,31579 (kg)
Dengan demikian daya yang dibutuhkan untuk mengerakkan winch cargo :
N= 40,105 (Hp)
= 29,918 (kW)

6.) Windlass Tangga


Dalam perencanaan berat tangga diperkirakan seberat = 700 (kg)
sehingga daya yang dibutuhkan windlass tangga untuk menggerakkkan tangga :

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 95


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

N= (Hp)

dimana :
W= Berat tangga (kg)
= 700 (kg)
V= Kecepatan yang dibutuhkan untuk mengerakkan tangga (m/menit)
= tinggi kedudukan tangga/waktu yang dibutuhkan untuk menggerakkan tangga (m/menit)
s= Tinggi kedudukan tangga (m)
= 6,64 m
t= Waktu yang dibutuhkan untuk menggerakkan tangga (menit)
= 1 (menit)
V= 6,64 (m/menit)

= Efisiensi windlass tangga


= 0,75
Sehingga :
N= 1,377185185 (Hp)
= 1,027380148 (kW)

7.) Kipas Pendingin Kamar Mesin (Blower)


a.Penentuan Kapasitas Blower
Dalam perancangan diketahui volume kamar mesin = 511,0 (m3),
sedangkan kapasitas blower ditentukan dalam Rules BKI Vol III tahun 1998 halaman
12 - 14 sebagai berikut :
Q= 20*Vkm (m3/ jam)
= 10219,22381 (m3/ jam)
b.Penentuan Daya Blower
Dalam buku "Marine Power Plan" by P. Akimov hal 495 diberikan formula untuk
menghitung daya blower :

N= Q * H *
HP
3600 * 75 *
dimana :

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 96


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Q = laju aliran blower = 10219 (m3/ jam)


ρ = Massa jenis udara = 1,293 (kg/ m3)
η = Total efisiensi blower (0,6 ~ 0,9) = 0,9
H = Tinggi kedudukan blower (m)
= 8 (m)
Dengan demikian daya blower dapat diketahui :
N= 0,4350 Hp
= 0,3245 kW

8.) Perlengkapan Dapur


Dalam buku "Merchant Ship Design Hand Book VI diberikan ketentuan untuk
perlengkapan
dapur sehingga diperoleh :
Kebutuhan
No Nama Peralatan n Daya (kW) Daya (kW)
1 Electric cooking range 1 0 0
2 Electric rice boiler 1 0 0
3 Electric water boiler 1 0,5 0,5
4 Electric universal 1 0 0
5 Electric frayer 1 0 0
6 Refrigerator 2 0,48 0,96
7 Electric baking oven 2 0,8 1,6
8 Electric coffe burn 1 0,1 0,1
Total daya = 3,16 (kW)

9.) Peralatan Cuci


Kebutuhan Daya
No Nama Peralatan n Daya (kW) (kW)
1 Washing machine 3 0,57 1,71
2 Extractor 0 0 0
Total daya = 1,71 (kW)

10.) Air Conditioner (AC)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 97


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Kemampuan pompa untuk mendinginkan ruangan adalah 3,8/100 (Hp/m3)


sehingga daya yang dibutuhkan untuk mendinginkan ruangan di atas kapal :
N = Kemampuan pompa x Vol. ruangan yg membutuhkan pendinginan (Hp)
Adapun ruangan yang ingin didinginkan :

No. Ruangan Volume (m3)


a. Main Deck
1 Kamar kepala kamar mesin + Toilet 29,232
2 Kamar Masinis II + toilet 19,488
3 Kamar Masinis III 18,144
4 Kamar Oiler 17,88
5 Kamar Serang 16,512
6 Ruangan CO2 10,824
7 Toilet dan Shower 19,5168
8 Ruang Battery 10,824
9 Ruang Genset darurat 16,512
10 Kamar mandor Mesin/olir 27,216
11 Ruang Lobby 20,232
12 Gudang Peralatan 20,232
13 Gudang Cat 18,456
14 Work Shop 18,456
b. Poop Deck
1 Kamar Muallim I + toilet 29,376
2 Kamar Muallim II + toilet 29,376
3 Kamar Koki 17,6256
4 Ruang makan crew 27,9072
5 Dapur 7,992
6 Toilet dan Shower 10,776
7 Laundry 17,6256
8 Ruang santai crew 21,144
9 Gudang perbekalan 19,224
c. Boat Deck
1 Kamar Nahkoda + toilet 21,168

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 98


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

2 Kantor 15,264
3 Ruang Rapat 29,376
4 Kamar Juru Mudi / Stearman 14,112
5 Kamar Operator Radio / Juru Mudi 14,112
6 Ruang makan 21,144
7 Toilet dan Shower 4,4064
8 Kamar Owner + toilet 21,144
9 Ruang Santai 14,088
d. Navigation Deck
1 Ruang kemudi / Wheel House 132,192
2 Ruang Peta 17,6256
3 Ruang Radio 17,6256

Volume total ruangan = 766,8288 (m3)


Sehingga daya yang dibutuhkan oleh Air Conditioner :
N= 29,1394 (Hp)
= 21,7380 (kW)

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 99


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

IV. 4. Perhtungan Beban Daya Generator


Tabulasi Pehitungan Beban Daya Generator Terpakai

BERLAYAR BONGKAR MUAT DARURAT


NO Nama Komponen N (kW) n SIANG MALAM SIANG MALAM SIANG MALAM
fo m fo m fo m fo m fo m fo m
A. Pompa - pompa
1 Pompa Ballast 7,500 2 0 0 0 0 0,75 11 0,8 11,25 1 15 0,9 13,5
2 Pompa Bilga 3,000 1 0,8 2,4 0,8 2,4 0,75 2,3 0,8 2,25 1 3 0,9 2,7
3 Pompa Sanitary 2,238 1 0,85 1,9 0,85 1,9 0,75 1,7 0,7 1,567 0 0 0 0
4 Pompa pemadam kebakaran 11,000 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 11 1 11
5 Pompa air tawar untuk konsumsi 2,238 1 0,85 1,9 0,85 1,9 0,85 1,9 0,8 1,79 0 0 0 0
6 Pompa Sewage 1,492 1 1 1,49 1 1,49 1 1,5 1 1,492 0,3 0,4476 0,85 1,268
8 Pompa bahan bakar 1,005 1 0,85 0,85 0,5 0,5 0,65 0,7 0,7 0,653 0,5 0,50268 0,5 0,503
9 Pompa diesel oil 1,005 1 0,85 0,85 1 1,01 0,65 0,7 0,7 0,653 0 0 0 0
B. Alat penerangan
1 Peralatan dan lampu navigasi 3,660 1 0,35 1,28 1 3,66 0 0 0,9 3,294 0,35 1,281 1 3,66
2 Penerangan 2,290 1 0,5 1,13 1 2,29 0,4 0,9 1 2,29 0,3 0,675 1 2,29
C. Alat Khusus
1 Kompresor & botol angin 0,678 1 0,85 0,58 0,85 0,58 0,8 0,5 0,8 0,542 1 0,67783 1 0,678
2 Kemudi 17,124 1 0,95 16,3 0,95 16,3 0 0 0 0 0 0 0,3 5,137
3 Windlass Jangkar 4,601 3 0 0 0 0 0,8 11 0,8 11,04 0 0 0 0
4 Windlass Sekoci 1,084 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2,16705 1 2,167
5 Windlass Cargo 29,919 3 0 0 0 0 0,75 67 0,8 67,32 0 0 0 0
6 Windlass Tangga 1,027 2 0 0 0 0 0,3 0,6 0,3 0,616 0 0 1 2,055
7 Blower / Air charger 0,325 1 1 0,32 1 0,32 1 0,3 1 0,325 0 0 0 0
8 Perlengkapan Dapur dan Cuci 4,870 1 0,3 1,46 0,3 1,46 0,3 1,5 0,3 1,461 0,1 0,487 0 0
9 Air Conditioner (AC) 21,738 1 1 21,7 1 21,7 1 22 1 21,74 0 0 0 0
TOTAL DAYA 116,754 52 55,5 124 128 35,238 44,9

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 100


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

Dari perhitungan daya yang terpakai maka dapat ditentukan jenis generator yang dipilih.
Dimana dalam pemilihn generator ditentukan besar daya yang diambil adalah = 128
kW untuk satu Generator.
Dalam perencanaan untuk memenuhi semua kebutuhn dalam setiap operasi
digunakan 2 Generator.
Sesuai denganPeraturan BKI, bhwa daya generator yang terpakai harus ditambah
15 % untuk faktor keamanan.
Jadi, Daya yang dihasilkan untuk satu buah Generator
adalah :
N = Total Daya + 15% * (Total Daya) kW
= 147,477 kW
= 197,691 HP

Berdasarkan Brosur diperoleh Spesifikasi generator sebagai


berikut :
Merek /Model Number = YANMAR
Engine Model = 6HL-HT
Number of cylinder = 6
Daya / rpm = 200 / 1500 = 149,2 HP
Frekuensi = 50 Hz
Panjang = 1910 mm
Lebar = 874 mm
Tinggi = 1322 mm
Berat = 1250 Ton

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 101


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Setelah mengerjakan laporan ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1. Desain perancangan lay-out kamar mesin, space dalam kamar mesin harus
dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin sehingga Ruangan dalam kamar
mesin tertata rapi sesuai dengan ketentuan standar peraturan regulasi.
2. Penempatan pompa-pompa dan equipment lainnya harus diatur secara
proporsional sehingga dapat berfungsi dengan baik.
3. Kebutuhan daya terbesar di atas kapal terjadi pada saat bongkar muat diwaktu
malam hari, yaitu sebesar 128 kW. Sebagai faktor keamanan ditambahkan 15%,
sehingga daya totalnya adalah 147,477 kW.

V.2 Saran
Sekiranya semua mata kuliah non-tatap muka yang berhubungan dengan
penggambaran harus diberikan jadwal kegiatan studio gambar agar studio gambar
dapat diberdayakan oleh semua mahasiswa. Selain itu, hal ini juga bertujuan agar
tugas gambar dari mahasiswa tersebut dapat terselesaikan sesuai dengan batas waktu
yang telah ditentukan.

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 102


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

DAFTAR PUSTAKA

1. Pompa dan Kompressor, oleh Dr. H. Tahara dan Ir. Sularso.


2. Teori Pompa dan Penggunaannya oleh J. B. Manga
3. Machinery Power Plan oleh P. Akimov.
4. Machinery Outfitting Design Manual “ Vol I tentang “ Piping Sistem for Diesel
Ship. Jepang
5. Rules for Steel Seagoing Ship Vol. III tentang Machinery Installation, oleh Biro
Klasifikasi Indonesia, tahun 2000
6. Sistem Dalam Kapal, oleh Ir. H. Abdul Latief Had

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 103


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 104


HASANUDDIN UNIVERSITY
PERENCANAAN KAMAR MESIN I
ENGINE ROOM
LAY OUT
NUN ISNAN ASWANTO / D331 04 040

NAVAL SYSTEM ENGINEERING 105


HASANUDDIN UNIVERSITY