Anda di halaman 1dari 21

ANALOG TO DIGITAL CONVERTER

Tugas Mata Kuliah Komunikasi Data

Oleh:

PUTU RUSDI ARIAWAN (0804405050)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2010
ANALOG TO DIGITAL CONVERTER

To store analog nature A/D


signal to the computer Converter

Sampling
PAM (Pulse Amplitudo Modulator)
quantizing

Perangkat elektronika modern kebanyakan melakukan pengolahan data


secara digital. Karena sinyal pada umumnya secara alamiah merupakan sinyal
analog, maka keberadaan peranti pengubah (konversi) data dari analog ke digital,
dan sebaliknya menjadi sangat vital. Sebuah pengubah analog-ke-digital
(analog-to-digital converter, disingkat ADC) adalah sebuah alat yang mengubah
sinyal berkelanjutan menjadi angka digital terpisah. Biasanya, sebuah ADC
mengubah sebuah voltase ke sebuah angka digital.

Sistem Pengolahan Sinyal Digital

Proses pengolahan sinyal digital, diawali dengan proses mengubah


sinyal masukan yang berupa sinyal analog. Proses ini mengubah representasi
sinyal yang tadinya berupa sinyal analog menjadi sinyal digital. Proses ini
dilakukan oleh suatu unit ADC (Analog to Digital Converter).
Unit ADC ini terdiri dari sebuah bagian Sample/Hold dan sebuah
bagian quantiser. Unit sample/hold merupakan bagian yang melakukan
pengubahan orde ke-0, yang berarti nilai masukan selama kurun waktu T
dianggap memiliki nilai yang sama. pengubahan dilakukan setiap satu satuan
waktu yang lazim disebut sebagai waktu peubah (sampling time). Bagian
quantiser akan merubah menjadi beberapa level nilai, pembagian level nilai ini
bisa secara uniform ataupun secara non-uniform misal pada Gaussian quantiser.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Unjuk kerja dari suatu ADC bergantung pada beberapa parameter,
parameter utama yang menjadi pertimbangan adalah sebagai berikut :
1. Kecepatan maksimum dari waktu cuplik.
2. Kecepatan ADC melakukan konversi.
3. Resolusi dari quantiser, misal 8 bit akan mengubah menjadi 256 tingkatan
nilai.
4. Metoda kuantisasi akan mempengaruhi terhadap kekebalan noise.

Gambar 1. Proses sampling

Sinyal input asli yang tadinya berupa sinyal analog, x(T) akan diubah
dan diquantise sehingga menjadi sinyal digital x(kT). Dalam representasi yang
baru inilah sinyal diolah.
Keuntungan dari metoda ini adalah pengolahan menjadi mudah dan
dapat memanfaatkan program sebagai pengolahnya. Dalam proses sampling ini
diasumsikan kita menggunakan waktu cuplik yang sama dan konstan, yaitu Ts.
Parameter cuplik ini menentukan dari frekuensi harmonis tertinggi dari sinyal
yang masih dapat ditangkap oleh proses cuplik ini. Frekuensi sampling minimal
adalah 2 kali dari frekuensi harmonis dari sinyal.
Untuk mengurangi kesalahan cuplik maka lazimnya digunakan filter
anti-aliasing sebelum dilakukan proses pencuplikan. Filter ini digunakan untuk
meyakinkan bahwa komponen sinyal yang dicuplik adalah benar-benar yang
kurang dari batas tersebut. Sebagai ilustrasi, proses pencuplikan suatu sinyal
digambarkan pada gambar berikut ini.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Gambar 2. Pengubahan dari sinyal kontinyu ke sinyal diskret

Setelah sinyal diubah representasinya menjadi deretan data diskrete,


selanjutnya data ini dapat diolah oleh prosesor menggunakan suatu algoritma
pemrosesan yang diimplementasikan dalam program. Hasil dari pemrosesan akan
dilewatkan ke suatu DAC (Digital to Analog Converter) dan LPF (Low Pass
Filter) untuk dapat diubah menjadi sinyal kontinyu kembali. Secara garis besar,
blok diagram dari suatu pengolahan sinyal digital adalah sebagai berikut :

Gambar 3. Blok Diagram Sistem Pengolahan Sinyal Digital

Proses pengolahan sinyal digital dapat dilakukan oleh prosesor general


seperti halnya yang lazim digunakan di personal komputer, misal processor
80386, 68030, ataupun oleh prosesor RISC seperti 80860. Untuk kebutuhan
pemrosesan real time, dibutuhkan prosesor yang khusus dirancang untuk tujuan
tersebut, misal ADSP2100, DSP56001, TMS320C25, atau untuk kebutuhan
proses yang cepat dapat digunakan paralel chip TMS320C40. Chip-chip DSP ini
memiliki arsitektur khusus yang lazim dikenal dengan arsitektur Harvard, yang
memisahkan antara jalur data dan jalur kode. Arsitektur ini memberikan
keuntungan yaitu adanya kemampuan untuk mengolah perhitungan matematis
dengan cepat, misal dalam satu siklus dapat melakukan suatu perkalian matrix.
Untuk chip-chip DSP, instruksi yang digunakan berbeda pula. Lazimnya mereka
memiliki suatu instruksi yang sangat membantu dalam perhitungan matrix, yaitu
perkalian dan penjumlahan dilakukan dalam siklus (bandingkan dengan 80386,
proses penjumlahan saja dilakukan lebih dari 1 siklus mesin).

PUTU RUSDI ARIAWAN


1. Fungsi Transfer Ideal Konverter Analog-ke-Digital
Secara teoritis, fungsi transfer ideal untuk ADC berbentuk garis lurus.
Bentuk ideal garis lurus hanya dapat dicapai dengan konverter data beresolusi tak-
hingga. Karena tidak mungkin mendapatkan resolusi tak hingga, maka secara
praktis fungsi tranfer ideal tersebut berbentuk gelombang tangga seragam.
Semakin tinggi resolusi ADC, semakin halus gelombang tangga tersebut.
ADC ideal secara unik dapat merepresentasikan seluruh rentang
masukan analog tertentu dengan sejumlah kode keluaran digital. Pada gambar 1
ditunjukkan bahwa setiap kode digital merepresentasikan sebagian dari rentang
masukan analog total. Oleh karena skala analog bersifat kontinyu sedangkan kode
digital bersifat diskrit, maka ada proses kuantisasi yang menimbulkan kekeliruan
(galat). Apabila jumlah kode diskritnya (yang mewakili rentang masukan analog)
ditambah, maka lebar undak (step width) akan semakin kecil dan fungsi transfer
akan mendekati garis lurus ideal.
Lebar satu undak (step) didefinisikan sebagai 1 LSB (least significant
bit) dan unit ini digunakan sebagai unit rujukan untuk besaran-besaran lain dalam
spesifikasi peranti konversi data. Unit 1 LSB itu juga digunakan untuk mengukur
resolusi konverter karena ia juga menggambarkan jumlah bagian atau unit dalam
rentang analog penuh.
Resolusi ADC selalu dinyatakan sebagai jumlah bit-bit dalam kode
keluaran digitalnya. Misalnya, ADC dengan resolusi n-bit memiliki 2n kode
digital yang mungkin dan berarti juga memiliki 2n tingkat undak (step level).
Meskipun demikian, karena undak pertama dan undak terakhir hanya setengah
dari lebar penuh, maka rentang skala-penuh (FSR, full-scale range) dibagi dalam
(2n-1) lebar undak. Karenanya,

1 LSB = FSR/(2n-1)

PUTU RUSDI ARIAWAN


untuk konverter n-bit.

PUTU RUSDI ARIAWAN


3. Kesalahan (Galat) Statik
Kesalahan statik adalah kesalahan (galat) yang mempengaruhi akurasi
konverter bila konverter tersebut mengkonversi sinyal statik (DC, direct current).
Yang termasuk dalam jenis galat statik adalah galat offset, galat bati (gain error),
non-linieritas integral, dan non-linieritas diferensial. Masing-masing galat dapat
diekspresikan dalam unit LSB atau kadang-kadang sebagai prosentase dari FSR.
Misalnya, galat ½ LSB untuk konverter 8-bit adalah sama dengan 0,2% FSR.
1. Galat Offset
Secara grafis galat offset didefinisikan sebagai selisih antara titik offset
nominal dan titik offset aktual. Pada ADC, titik offset adalah nilai undak-tengah
(midstep) jika keluaran digitalnya nol, sedangkan untuk DAC titik offset adalah
nilai undak saat masukan digitalnya nol. Dengan kata lain, galat offset atau disebut
juga galat nol (zero error) pada DAC adalah tegangan keluaran saat masukan
digitalnya nol. Pada ADC, galat nol adalah nilai tegangan masukan yang
diperlukan untuk menghasilkan keluaran digital nol. Galat offset ini diakibatkan
oleh masukan tegangan atau arus offset pada penguat atau komparator. Umumnya
kesalahan ini dapat dikoreksi dengan pemasangan potensiometer penepat
(trimming potentiometer) eksternal sebagai pengatur offset nol.
2. Galat Bati (Gain Error)
Galat bati, didefinisikan sebagai selisih antara titik bati (gain point)
nominal dan aktual pada fungsi transfer setelah galat offset dikoreksi ke nol.
Untuk ADC, titik bati adalah nilai undak-tengah bila keluaran digital merupakan
skala penuh. Pada DAC, titik bati adalah nilai undak bila masukan digitalnya
adalah skala penuh. Kesalahan ini merepresentasikan perbedaan kemiringan
fungsi transfer ideal dengan fungsi transfer aktual. Koreksi atas kesalahan ini
dapat dilakukan dengan menepatkan (trimming) resistor umpan balik pada
penguat.
3. Galat Nonlinieritas Diferensial
Galat nonlinieritas diferensial, yang secara grafis adalah selisih antara
lebar undak (pada ADC) atau tinggi undak (pada DAC) aktual dengan nilai ideal 1
LSB. Sebagai contoh, DAC dengan undak 1,25 LSB pada perubahan satu kode
digital dikatakan memiliki galat nonlinieritas diferensial ¼ LSB. Dengan

PUTU RUSDI ARIAWAN


demikian, bila lebar undak atau tinggi undak bernilai tepat 1 LSB maka berarti
galat nonlinieritas diferensialnya nol. Jika nilai nonlinieritas diferensial
melampaui 1 LSB, ada kemungkinan konverter menjadi tidak monotonik. Ini
berarti besaran keluaran menjadi semakin mengecil bila besaran masukannya
bertambah. Pada ADC, mungkin saja ada kode yang hilang, yakni satu atau lebih
dari 2n kemungkinan kode biner tidak pernah muncul.
4. Galat Nonlinieritas Integral
Galat nonlinieritas integral atau sering disebut galat linieritas, adalah
penyimpangan nilai pada fungsi transfer aktual dari garis lurusnya. Definisi ini
berlaku bagi ADC maupun DAC. Pada ADC penyimpangan ini diukur pada
transisi dari satu undak ke undak berikutnya, sedangkan pada DAC penyimpangan
diukur pada setiap undaknya.
5. Galat Akurasi Mutlak (Absolute Accuracy Error)
Galat akurasi mutlak atau kadang-kadang disebut galat total (total
error) ADC adalah nilai maksimum selisih antara nilai analog dengan nilai undak-
tengah (midstep) ideal, yang diakibatkan oleh galat kuantisasi dan galat-galat
lainnya. Bila suatu ADC 12-bit dinyatakan akurat ± 1 LSB, maka hal itu sama
artinya dengan ± 0,0265% atau dua kali lipat dari galat kuantisasi minimum yang
dimungkinkan, yakni 0,0122%. Akurasi konverter meliputi jumlah seluruh
kesalahan yang terjadi, termasuk kesalahan kuantisasi, tetapi pada umumnya
jarang dinyatakan dalam lembar data karena berbagai kesalahan atau galat yang
terjadi tersebut dicantumkan terpisah-pisah.
Pada DAC, spesifikasi yang dinyatakan sebagai akurasi memberikan
gambaran penyimpangan tegangan keluaran terburuk dari garis lurus ideal yang
ditarik antara titik nol dan titik skala penuh. DAC 12-bit tidak dapat memiliki
akurasi konversi yang lebih baik dari ± 1/2 LSB atau ± 1 bagian dari 212+1 (±
0,0122% skala penuh) karena keterbatasan resoludinya. Sebenarnya angka
0,0122% skala penuh menggambarkan penyimpangan dari 100% akurasi,
sehingga seharusnya akurasi dinyatakan sebagai 98,9878%. Akan tetapi telah
menjadi kebiasaan bahwa angka 0,0122% tersebut dinyatakan sebagai akurasi
atau keakuratan, bukan ketakakuratan.

PUTU RUSDI ARIAWAN


4. Efek Kuantisasi
Masukan analog ADC biasanya berupa sinyal kontinyu yang memiliki
kemungkinan nilai tak terhingga banyaknya, sedangkan keluaran digital
merupakan fungsi diskrit dengan kemungkinan nilai yang dibatasi jumlahnya oleh
resolusi konverter. Oleh karena itu dapat dipahami apabila dalam pengubahan
bentuk analog ke bentuk digital, beberapa sinyal analog berbeda nilai yang
direpresentasikan dengan tegangan berbeda pada masukannya, direpresentasikan
dengan kode digital yang sama pada keluarannya. Beberapa informasi hilang dan
distorsi tertambahkan pada sinyal.
Untuk fungsi transfer gelombang-tangga ideal pada ADC, kesalahan
antara masukan digital dengan bentuk digital keluarannya memiliki fungsi rapatan
probabilitas yang seragam (uniform probability density function) jika sinyal
masukannya diasumsikan acak. Kesalahan itu dapat bervariasi dalam rentang ± ½
LSB atau ± q/2, di mana q adalah lebar satu undak.
p(e ) = 1/q untuk (- q/2 £ e £ + q/2),
dan
p(e ) = 0 untuk keadaan lainnya
Daya derau rata-rata (rerata kuadrat) galat pada undak diberikan oleh persamaan:

yang akan menghasilkan :


N2 = (q2 / 12)
Rerata kuadrat galat total, N2 , pada seluruh area konversi adalah
jumlah rerata kuadrat tiap level kuantisasi dikalikan dengan probabilitasnya.
dengan berasumsi bahwa konverter ideal, lebar tiap undak kode adalah identik dan
karenanya memiliki probabilitas sama.
Untuk kasus ideal :
N2 = (q2 / 12)
Misalkan suatu masukan F(t) berbentuk sinusoida dengan amplitudo A sehingga:
F(t) = A sin w t

PUTU RUSDI ARIAWAN


yang memiliki nilai rerata kuadrat F2(t), di mana

adalah daya sinyal. Karenanya, perbandingan sinyal terhadap derau (signal to


noise ratio, SNR) adalah :

Karena
q = 1 LSB = (2A/2n) = A/(2n-1)
maka

Persamaan di atas memberikan nilai ideal untuk konverter n-bit dan menunjukkan
bahwa setiap tambahan resolusi 1 bit akan memperbaiki SNR sebesar 6 dB.

Spesifikasi Elektris Konverter Data


Selain spesifikasi yang berkaitan dengan karakteristik internal sistem
konversi data yang dijelaskan di atas, beberapa spesifikasi yang merujuk pada
karakteristik elektris peranti juga mempengaruhi kinerja peranti konverter data.
Berikut ini di bahas beberapa di antaranya.
1. Waktu Penetapan (settling time)
Waktu penetapan adalah waktu yang diperlukan DAC untuk mencapai
nilai akhir sesudah terjadi perubahan kode digital masukan. Spesifikasi untuk
waktu penetapan ini biasanya dicantumkan bersama dengan laju slew (slew rate).
2. Slew Rate
Slew rate merupakan keterbatasan yang melekat (inherent) pada
penguat keluaran yang ada pada DAC yang membatasi laju perubahan tegangan
keluaran sesudah terjadi perubahan kode digital masukan. Besaran slew rate

PUTU RUSDI ARIAWAN


dinyatakan dalam satuan volt/m s, dan pada umumnya bernilai antara 0,2 sampai
beberapa ratus V/m s.
3. Koefisien Temperatur
Aus atau usangnya komponen pembentuk peranti konversi data karena
umur akan menghasilkan atau memperparah beberapa jenis kesalahan (galat) pada
temperatur operasi yang berubah-ubah. Galat offset dapat berubah akibat koefisien
temperatur penguat dan komparator. Kesalahan dapat juga terjadi karena
bergesernya tegangan rujukan atau berubahnya nilai resistor tangga (akibat
panas). Pada dasarnya, hampir semua kesalahan, kecuali resolusi dan galat
kuantisasi, terpengaruh oleh koefisien temperatur komponen dalam konverter
data.
4. Overshoot dan Glitch
Overshoot dan glitch muncul pada saat terjadi perubahan kode digital
masukan pada DAC. Glitch adalah lonjakan tegangan sangat singkat (sehingga
berbentuk seperti paku) yang terjadi akibat ketakserempakan pensaklaran tiap-tiap
bit. Jika masukan DAC berubah dari 01111 menjadi 10000, misalnya, maka 4
buah saklar pada DAC membuka dan sebuah saklar menutup. Jika kecepatan
membuka/menutup tiap-tiap saklar tidak sama maka terdapat saat sangat singkat
di mana keluaran menunjukkan nilai tak-sebenarnya baru kemudian mencapai
kondisi mapan (settle). Glitch seperti ini dapat diredam pada tegangan keluaran
DAC karena penguat keluaran umumnya tidak dapat mengikuti laju perubahan
yang sangat cepat. Penguat keluaran menghasilkan overshoot atau ayunan
tegangan yang dapat diminimalkan tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali.
5. Kemelesetan Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, akibat usia komponen terutama resistor dan
semikonduktor, karakteristik peranti konverter data menjadi berubah.
Karakteristik peranti yang paling terpengaruh adalah linieritas dan galat offset.
6. Laju Konversi Data
Laju konversi data adalah kecepatan ADC atau DAC melakukan
konversi data berulang. Hal ini dipengaruhi oleh waktu tunda perambatan pada
rangkaian pencacah, tangga saklar dan komparator, tangga RC dan waktu
penetapan penguat, serta laju slew penguat dan kompartor. Laju konversi

PUTU RUSDI ARIAWAN


didefinisikan sebagai jumlah konversi per detik atau dapat juga dinyatakan
sebagai waktu konversi, yakni lamanya waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan satu proses konversi (termasuk efek waktu penetapan).
7. Laju Detak
Laju detak dispesifikasikan sebagai laju pulsa minimum dan
maksimum yang harus dipasang pada peranti konverter data. Terdapat hubungan
tetap antara laju konversi minimum dengan laju detak, tergantung pada tipe dan
akurasi konverter. Semua yang mempengaruhi laju konversi dari suatu ADC
membatasi laju detak.

Tegangan analog memiliki Pada suatu “tegangan digital”


jumlah kemungkinan hanya ada beberapa kemungkinan
level tegangan yang tak hingga level tegangan

PUTU RUSDI ARIAWAN


A Closer Look to Quantization

Equally spaced
levels
(ini disebut uniform
quantizing)

• Bila menggunakan uniform quantizing, noise kuantisasi akan sangat


terasa pada
sinyal-sinyal berlevel rendah
• Solusi untuk menanggulangi noise kuantisasi adalah dengan
menambah jumlah level,
tetapi akibatnya bit rate hasil pengkodean akan menjadi lebih tinggi
• Solusi elegan yang ditempuh adalah dengan tidak menambah jumlah
level,
melainkan dengan membedakan kerapatan level
• Level kuantisasi pada sinyal-sinyal rendah lebih rapat daripada untuk
sinyal berlevel tinggi
• Hal ini dilakukan dengan mengkompress (compressing) sinyal di
sumber
• Di tujuan dilakukan proses dekompress (expanding)
• Proses compressing dan expanding disebut companding

PUTU RUSDI ARIAWAN


Sampling
Teknik ini memungkinkan perubahan sinyal analog menjadi bit-bit
digital. Teknik itu disebut teknik sampling. Jika telah menjadi sinyal digital maka
sinyal ini jauh lebih baik, sedikit noisenya dan juga dapat diproses dengan mudah.
Digital Signal Prosessing merupakan perkembangan dari teknik ini yang
memungkinkan kita membentuk sample-sample yang berupa suara seperti yang
ada pada keyboard, syntitizer, Audio Prosessing, dll.
Pada dasarnya semua suara audio, baik vokal maupun bunyi tertentu
merupakan suatu bentukan dari getaran. Ini menandakan semua audio memiliki
bentuk gelombangnya masing-masing. Umumnya bentukan gelombangnya
disebut dengan sinyal analog. Sinyal analog adalah sinyal yang bentuknya seperti
pada Gambar dibawah. Namun sebuah teknik memungkinkan sinyal ini diubah
dan diproses sehingga menjadi lebih baik.

Proses sampling
Pada proses ini terjadi suatu pencuplikan dari bentukan sinyal analog.
Pencuplikan dilakukan pada bagian-bagian sinyal analog. Ini dilakukan dengan
sinyal-sinyal sample. Ada suatu aturan tertentu dari sinyal ini. Teori Shannon
menyatakan frekuensi sinyal ini paling sedikit adalah 2 kali frekuensi sinyal yang
akan disampling (sinyal analog). Ini adalah batas minimum dari frekuensi sample
agar nantinya cuplikan yang diambil menunjukkan bentukan sinyal yang asli
(analog). Lebih besar tentunya lebih baik, karena cuplikan akan lebih
menggambarkan sinyal yang asli. Setelah dilakukan proses ini maka terbentuklah
suatu sinyal analog-diskrit yang bentuknya menyerupai aslinya namun hanya
diambil diskrit-diskrit saja.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Quantisasi
Ini adalah proses pembandingan level-level tiap diskrit sinyal hasil
sampling dengan tetapan level tertentu. Level-level ini adalah tetapan angka-
angka yang dijadikan menjadi bilangan biner. Sinyal-sinyal diskrit yang ada akan
disesuaikan levelnya dengan tetapan yang ada. Jika lebih kecil akan dinaikkan dan
jika lebih besar akan diturunkan. Prosesnya hampir sama dengan pembulatan
angka. Tetapan level yang ada tergantung pada resolusi dari alat, karena tetapan
level merupakan kombinasi angka biner, maka jika bitnya lebih besar
kombinasinya akan lebih banyak dan tetapan akan lebih banyak. Ini membuat
pembulatan level sinyal diskrit menjadi tidak jauh dengan level aslinya. Dan
bentukan sinyal akan lebih bervariasi sehingga akan terbentuk seperti aslinya.
Proses ini membuat sinyal lebih baik karena bentukkannya lebih tetap. Proses ini
juga mengecilkan error dari suatu sinyal.

Perubahan ke digital
Setelah diquantisasi maka tiap-tiap diskrit yang ada telah memiliki
tetapan tertentu. Tetapan ini dapat dijadikan kombinasi bilangan biner, maka
terbentuklah bilangan-bilangan biner yang merupakan informasi dari sinyal.
Setelah menjadi sinyal digital maka proses-proses perekayasaan dapat dilakukan.
Yang harus dilakukan adalah merubah informasi digital tersebut dengan proses
digital sehingga menjadi suara-suara yang kita inginkan. Proses dapat dilakukan
dengan berbagai macam alat-alat digital (komputer). Sample-sample yang ada
juga digunakan sebagai informasi untuk menciptakan suara dari berbagai macam
alat elektronik (keyboard dan syntitizer). Penyimpanan suara juga akan lebih baik
karena informasinya adalah digital sehingga berkembanglah CD dan DAT (Digital
Tape).

PUTU RUSDI ARIAWAN


Figure 1: Ideal transfer function of a 3-bit ADC

Figure 2: 3-bit ADC transfer function with - 1/2 LSB offset

PUTU RUSDI ARIAWAN


Figure 3: Offset error

Figure 4: Quantization error vs. output code

Figure 5: Full-scale error

PUTU RUSDI ARIAWAN


Figure 6: Differential nonlinearity

Figure 7: Integral nonlinearity error

PUTU RUSDI ARIAWAN


Figure 8: An FFT of ADC output codes

Figure 9: SNR— A measure of the signal compared to the noise

PUTU RUSDI ARIAWAN


Figure 10: FFT showing harmonic distortion Figure

11: Spurious-free dynamic range (SFDR)

PUTU RUSDI ARIAWAN


BIODATA PENULIS

Nama : Putu Rusdi Ariawan

TTL : Denpasar. 19 April 1990

Agama : Hindu

Mahasiswa Teknik Elektro Unv. Udayana

Email : turusdi.info@gmail.com

www.facebook.com/turusdi

PUTU RUSDI ARIAWAN