P. 1
Laporan Berita Media Cetak Tanggal 20 Juli 2010

Laporan Berita Media Cetak Tanggal 20 Juli 2010

|Views: 65|Likes:
Dipublikasikan oleh faneella
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Categories:Types, Legal forms
Published by: faneella on Jul 21, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2010

pdf

text

original

Departemen Keuangan

Selasa, 20 Juli 2010

No

Media

Ringkasan

Judul

1.

Kompas (19)

Porsi APBN Belum Optimal

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai porsi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi pembiayaan pembangunan dan stimulasi pertumbuhan ekonomi masih perlu dioptimalkan. Anggaran hanya untuk belanja rutin. Presiden Yudhoyono mengemukakan hal itu ketika memberi pengantar pada Rapat Kabinet Terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (19/7). Rapat yang membahas APBN dan kebijakan fiskal ini dihadiri Wakil Presiden Boediono dan menteri-menteri bidang perekonomian. (DAY/RYO)

2.

Suara Karya (11 )

Konsekuensi Mengurangi Utang Luar Negeri

Sumber penerimaan negara meluputi pajak pusat dan pajak daerah, retribusi, keuntungan BUMN/BUMD, denda dan sita, pencetakan uang, pinjaman, sumbangan/hadiah. Pencetakan uang bisa dilakukan pemerintah untuk menutup defisit anggaran apabila tak ada lagi alternatif lain. Besarnya jumlah uang yang dicetak harus akurat agar tidak mengganggu target inflasi. Pinjaman sebagai sumber penerimaan negara bisa didapat dari pasar uang dalam negeri atau luar negeri. Pembayaran Anda untuk denda tilang masuk sebagai penerimaan negara. (red)

3.

Media Indonesia (13)

Politik Anggaran Melempem

Pancairan yang terlambat menjadi gambaran kurang efektifnya anggaran negara sebagai pelumas berputarnya roda ekonomi. Demikian diungkap ekonom Hendri Saparini saat dihubungi Media Indonesia, kemarin. Menurutnya, pemerintah tidak memiliki politik anggaran yang jelas. Akibatnya, sebesar apapun anggaran yang dialokasikan tidak bisa memberi dampak kepada rakyat. (Asep Toha)

4.

Seputar Indonesia (14)

Alokasi Transfer Daerah Dinilai Kurang

Alokasi anggaran transfer daerah dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dinilai masih kurang dan tidak mampu mengakomodasi kebutuhan pembangunan daerah. Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah Bappenas Max Pohan mengatakan, pembangunan daerah telah. menjadi prioritas pemerintah. Terlebih setelah presiden menyebutkan bahwa 80% daerah hasil pemekaran baru berkinerja buruk. (wisnoe moerti)

5.

Republika (1 )

SBY Ingatkan Pengusaha

Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada 1 Juli lalu tak hanya meresahkan pengusaha dan rakyat biasa konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun khawatir kenaikan TDL akan membuat pengusaha menaikkan harga produk secara berlebihan, sehingga harga-harga barang bisa melonjak tak terkendali. Presiden rnerninta biaya produksi berbagai perusahaan akibat kenaikan TDL dikontrol dan dipastikan tidak ada penyimpangan. (M Ikhsan Shiddiqey/Shally Pristine)

o Bisnis Indonesia

o Media Indonesia lO'Seputar Indonesia

o Investor Daily

o Rakyat Merdeka

o Kompas

o Neraca

o Republika

o Indo Pos

o Koran Tempo

[Tanggal 1""- 07->0'0 I Halaman I 14

]

D Pikiran Rakyat D Suara Karya

o Jurnal Nasional

D Suara Pembaruan o Sinar Harapan

o The Jakarta Post

o Jakarta Globe

o Business News D Financial Times

o The Wall Street Journal

o MaJalah Tempo

o Warta Ekonomi

o Gatra

o Trust

o Kontan (Tabloid)

Alokasi Transfer

o Okezone.com D Inilah.com

D Antara.co.id

o DetikFinance.com o

Daerah Dinilai Kurang

JAKARTA (81) - Alokasi anggaran transfer daerah dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dinilai masih kurang dan tidak mampu mengakomodasi kebutuhan pembangunan daerah.

22

Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah Bappenas Max Pohan mengatakan, pembangunan daerah telah menjadi prioritas pemerintah. Terlebih setelah presiden menyebutkan bahwa 80% daerah hasil pemekaran baru berkinerja buruk.

"Akan segera dibuat grand deSig11 pemerintah daerah sebagai kunci menggenjot performa pemerintah daerah. meliputi tiga hal, pimpinan dan SDM, Iembaga dan institusi, serta pengelolaan keuangan," ujar Max dalam diskusi permasalahan otonomi daerah di Gedung Bappenas, Jakarta, kemarin.

Terkait persoalan keuangan, Max menilai, alokasi anggaran transfer daerah yang dirumuskan dalam APBN, dinilai kurang dan belum mampu mengakomodasikebutuhan pembangunan daerah. "Persoalan selama ini adalah dana transfer daerah masih dirasa kurang.Sedangkankebutuhan di daerah juga cukup banyak. Termasuk - untuk belanja pegawai,"paparnya.

Sekadar diketahui, dalam APBN·P 2010, total belanja pemerintah mencapai Rp1.126 triliun. Dari total anggaran belanja tersebut, 69% di antaranya atau sekitar Rp781,S triliun dialokasikan untuk belanja pemerintah pusat, Sedangkan 31 % sisanya atau sekitar Rp344,6 triliun dialokasikan untuk transfer daerah. Berdasarkan data Bappenas, dalam kurun waktu 200S-2011,jum1ah anggaran untuk transfer daerah selalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Rata-rata mengalami peningkatan sebesar 22,6% per tahun.

Menurut Max, persoalan keuangan atau transfer daerah baik berupa dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), maupun dana bagi hasil, menjadi persoalan bagi hampir semua daerah. "Solusinya adalah ditambah anggaran untuk transfer daerahnya," tandasnya,

Direktur Pernbangunan Kawasan Khusus, Daerah Tertinggal, Daerah Perbatasan dan Rawan Bencana Bappenas Suprayoga Hadi menjelaskan, alokasi anggaran transfer daerah, terutama yang dialokasikan bagi daerah otonom bam lebih banyak dipergunakan untuk belanja pegawai dibanding belanja modal. "Perbandingannya GO% dipakai untuk belanja pegawai. Sedangkan sisanya untuk kebutuhanpembangunandaerah. termasuk belanja modal," tandasnya.

Dia menjelaskan.rata -rata daerah otonom baru menghabiskan dana transfer daerah untuk belanj a rutin pegawai lantaran masih harus memenuhi kewajiban menyediakan susunan organisasi teknis kepegawaian (SOTK) atau dinas-dinas. Dengan demikian, hal itu berimbas juga pada anggaran yang dialokasikan.

Menurut dia, evaluasi yang menyebutkan kinerja daerah otonom bani tidak maksimal, mengingat selama kurun waktu 3-4 tahun pascapemekaran daerah baru, pemerintah daerah setempat disibukkan melakukan konsolidasi. "Pem bentukan dinas dan kebutuhangaji pegawai secara tidak langsung mem be bani anggaran juga," ungkapnya.

Yoga mengatakan, mekanisme

transfer daerah yang dijalankan saat ini amat berbeda dengan mekanisme sebelum maraknya pemekaran daerah. Saat ini, lanjut dia, dengan semangat desentralisasi dan otonomi daerah, pemerintah pusat memberikan kewenangan penuh bagi daerah untuk mengelola dan mem bagi alokasi anggaran transfer daerah yang bersumber dari pernerintah pusat (APBN).

MenurutYoga, alokasi anggaran yang ada idealnya dimaksimalkan dan pengelolaannya diatur sedemikian rupa agar mampu memenuhi kebutuhandaerah. "Kalau dulu mekanismenya, sudah dibagibagi mana yang untuk belanja rutin, mana yang untuk pembangunan .. Kalau sekarang kmi transfer daerah bentuk gelondongan dan mekanisme pembagiannya dibebaskan dan diserahkan sepenuhnya ke pemda," paparnya.

Direktur Eksekutif Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Agung Pambudhi mengungkapkan, hasil evaluasiyangmenunjukkan buruknya pengelolaan daerah terutama daerah otonami baru sudah diprediksi sejak awal. "Karena kebanyakan daerah pemekaran baru dilandasi kepentingan politik dan mengesampiugkan faktor lain; yaitu ekonomi daerah dan kewilayahan," tandasnya.

Agung melihat, banyak daerah yang sesungguhnya dinilai belum siap untuk mandiri dan mengelola daerahnya sendiri, termasuk dalam hal pengelolaan keuangan. Salah satu indikatornya adalah pengelolaan anggaran daerah tel" utama belanja daerahyang belum sesuai dengan karakteristik ekonomi daerahnya masing-masing.

Pennasalahannya selama ini, lanjut Agung,kurang ada terobosan dad pemerintah daerah

untuk mengarahkan belanjanya sesuai dengan karakteristik ekonomi dan kebutuhan dasar penunjang daerah. "Hal yang utama terkait dengan pelayanan dasar, seperti pendidikan dankesehatan, serta infrastruktur dasar seperti air bersih, dan sarana transportasi. Itu harus disesuaikan juga dengan kebutuhan di daerah karena tidak selalu cocok dengan daerah lainnya," paparnya.

Jika kenyataannya saat ini belanja daerahlebih banyak untuk gaji pegawai dan persiapan administrasi pemerintahan, hal tersebut tergolong wajar mengingat daerah pemekaran baru. Agung menyebutkan, untuk belanja daerah otonomi baru, 70% dihabiskan untuk belanja pegawai. Sedangkansisanya,30% untukrnodal pernbangunan, seperti infrastruktur, pendidikan dan kesehatan.

Menurut dia, evaluasi terhadap

. 205 daerahotonomi baru, hams se· laludilakukan. "Setiap tahun harus dievaluasi sampai tiga tahun pascapemekaran. Jika tiga tahun tidak ada perkembangan, perlu dipikirkan upaya penggabungan dengan daerah induknya," ungkapnya.

Sekadar diketahui, dalam APBN- P 2010, pemerintah menaik-

kan tambahan dana transfer dae-

rah sebesar Rpl2,2 triliun menjadi Rp344,6 triliun. jumlah itu terdiri

dari dana perimbangan Rp314.4 triliun, serta dana otonomi khusus

dan penyesuaian Rp30,2 triliun, Dana bagi hasil (DBH) juga mengalami penambahan sebesar Rp2,7 triliun. DBH migas bertambah

sebesar Rp5,4 triliun untuk me- ~ ... ". nutupi kurang bayar pada tuhan .

2008 dan 2009. Namun, ada pengurangan DBH pajak PBB dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) sebesar Rp2,4 triliun.

(wisnoemoerti) I

~

J

D The Jakarta Post D Jakarta Globe

D Business News D Financial Times

D The Wall Street Journal

o Majalah Tempo

o Warta Ekonomi

o Gatra

o Trust

o Kontan (Tabloid)

o Okezone.com

o Inilah.com

o Antara.co.id

o DetikFinance.com o

Politik Anggaran Melernpem

Pemerintah tidak memiliki politik anggaran yang jelas. Akibatnya, sebesar apa pun anggaran yang dialokasikan tidak memberi dampak pada rakyat.

"

Asep Toha

-,

P ENCAIRAN yang ter[ambat menjadi gambaran huang efektifnya anggaran negara sebagai pelumas berputarnya roda ekonorni.

Demikian diungkap ekonom Hendri Saparini saat d ihubungi Media Indonesia, kernarin, Menurutnya, pemerintah tidak memiliki politik anggaran yang je1as. Akibatnya, sebesar apa pun anggaran yang dialokasikan tidak bisa memberi dampak kepada rakyat.

"Lihat saja anggaran pendidikart. Meski alokasinya sernakin besar, tidak membuat biaya pendidikan menjadi murah. Ini karena politik anggarannya tidak jelas."

Hendri menarnbahkan, semestinya pemerintah bisa membcnahi perencanaan anggaran dengan tujuan jelas.

Setelah perencanaan dibenahi, tahap selanjutnya masalah ,implementasi. Besar anggaran

Daerah jadi ayem dengan anqqaran yang lam bat. " Hendri Saparini Pengamat ekonami

saat ini telah mencapai Rp1.126 triliun, tapi dampaknya rnasih terbilang minim.

Pemerintah kerap menyalahkan daerah soal lambatnya pencairan anggaran. Padahal, otoritas fi skal tidak memberikan pembekalan yang baik dengan penekanan yang tegas.

Daerah yang belum mampu memanfaatkan anggaran secara produktif dibiarkan nyaman dengan berbagai kelonggaran seperti untuk menernpatkan dana di surat utang negara (SUN) atau Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

"Daerah jadi ayem dengan anggaran yang lambat. Akhir-

22

nya, anggaran hanya dialokasikan pada belanja rutin yang tidak memberi manfaat banyak bagi rakyat," kata Hendri.

Seperti diberitakan Media IndoIlesia (19/7), masih sekitar 95% anggaran daerah digunakan untuk memenuhi kebutuhan birokrasi. Belanja daerah lebih banyak digunakan untuk kantor, mobil baru, operasional pegawai, dan gaji.

Salah sasaran

Semen tara itu, Direkmr Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Agung Pambudi menyatakan ketidakefektifan anggaran daerah disebabkan selain jumlahnya kurang, peruntukannya juga salah sasaran.

Khususnya di daerah otonomi bam (DaB) yang merupakan hasil pemekaran. Akibatnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencatat sebanyak 95% anggarannya hanya untuk beIanja infrastruktur birokrasi,

"Saya harapkan ke depan DaB mu lai tinggal land as untuk memprakarsai pembangunan infrastruktur pend idikan dan kesehatan, jalan, dan listrik," tegas Agung.

Hal itu dibenarkan Deputi Bidang Pengembangan dan

Biro Hubungan Masyarakat Departemen Keuangan

Otonorni Daerah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Max Pohan.

"Pemanfaatan dana perirnbangan belum sinkron dengan kebutuhan nyata daerah. Masih banyak untuk membiayai kegiatan operasional," ujar Max.

Keduanya sepakat, selain alokasi yang kurang, kapasitas penyaluran anggaran juga harus ditingkatkan. Selama ini 15% rata-rata anggaran dana desentralisasi tidak terserap habis,

Harusnya pemerintah responsi£ terhadap hal itu dengan melakukan pengawasan dan pendampingan dalam penyerapan anggal'an.

Dari segi porsi, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk daerah telah rneningkat signifikan. Dalam sepuluh tahun terakhir, alokasi APBN untuk daerah berada dalam kisaran 30%. Pada APBN-P 2010, menjadi Rp344,6 triliun atau setara 35%.

Bahkan, masih ada dana peruntu kan daerah yang kewenangannya masih dilakukan pemerintah pusat. Namun, efektivitas dana itu belum maksimal. (sT/Rrn/E-1)

asep@mediaindonesia.com

[T,ngg'l I"" - D7 - .",ID 1 Halarnan ..... 1 _'1,-( ----'

]

D Bisnis Indonesia D Media Indonesia o Seputar Indonesia D Investor Daily

D Rakyat Merdeka

D Kompas

o Neraca

o Republika n Indo Pos

D Koran Tempo

Q_,Pikiran Rakyat ~ 5uara Karya

D Jurnal Nasional D Suara Pembaruan D Sinar Harapan

22

D The Jakarta Post

o Jakarta Globe

o Business News D Financial Times

o The Wall Street Journal

D Majalah Tempo

o Warta Ekonomi

o Gatra

o Trust

D Kontan (Tabloid)

D Okezone.com

o Inilah.com

o Antara.co.id

o DetikFinance.com o

EDITORIAL

Konsekuensi Mengurangi Utang Luar Negeri

SUMBER penerimaan negara melipuli pajak pusat dan pajak daerah, retrlbusi, keuntungan· BUMN/BUMD, denda dan sita, pencetakan uang, pinjaman. sumbanganlhadiah atau hibah. sampai penyeJenggaraan undian berhadiah. Pencetakan uang bisa dllakukan pemerintah untuk menutup defisit anggaran apabila tak ada lagi alternatif lain. Besarnya jumlah uang yang dlcetak harus akurat agar tldak mengganggu target inflasL Pinjaman sebagai sumber penerimaan negara blsa didapat dari pasar uang dalam negeri atau luar negeri. Pembayaran Anda untuk denda lilang masuk sebagai penerimaan negara.

Dalam rentang waktu sanga! lama-mencapai puluhan tahun hingga tahun-tahun terakhir ini -ketergantungan penerimaan negara dari pinjaman luar negeri masih lerbilang cukup besar. Pemerintahan sekarang bahkan dinilai terus memperbesar volume utang luar negeri yang didapalkan dari beberapa lembaga keuangan multilateral. Ada kesan ambivalen. Ingln memperkecil porsi utang luar negeri dalam pembiayaan pembangunan, tetapi pada saat bersamaan masih mencairkan pinjaman baru. Padahal, juga pada saat yang sama, A~BN harus mengalokasikan anggaran sangal besar untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang luar negeri setiap tahunnya. Pemerintah berkali-kali didesak untuk memperkecil beban pembayaran cicllan pokok dan bunga utang luar negeri, agar APBN kita lebih kuat rnernbi-

ayai pembangunan. .

Ketika rnejnbuka rapat terbatas bidang ekonomi di Kantor Kepresidenan, kemarin, Presiden memerintahkan pengurangan pembiayaan baru dari luar negeri dalam bentuk utang agar tidak membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Presiden lebih memilih pembiayaan luar negeri berupa hibah atau pemutihan utang. Seperti dalam kerja sama dengan Norwegia terkait rencana pemberian hibah kepada Indonesia sebesar 1 millar dolar AS atau sekitar Rp 9 triliun.

Pemutihan utang telah diterapkan dalam kerja sam a

Indonesia dengan organisasi internasional Global Fund dan sejurnlah negara. Pemutihan utang memberi kesempatan kepada negara berulang untuk mengalihkan kewajiban rnernbayar utang ke dalam berbagai kegiatan lain untuk kepentingan negara itu. Selain. kerja sam a dengan neqaranegara itu, pemerinlah sedang merintis kerja sama dengan Australia dan beberapa negara Eropa untuk menerapkan mekanisme terse but. Presiden juga berharap rasio utang terhadap pendapatan nasional dalam APBN sernakin turun.

Apa yang dikemukakan Presiden memang sangat ideal.

Kalau bertekad kuat, kita akan mandiri. Masalahnya adalah bagaimana mengurangi keterganlungan kita pada utang luar negeri itu sendlrt. Itulah tantangan kita. Karena segala sesualunya ditentukan oleh pemerintah, maka pengurangan peran utang luar negeri harus dimulai dengan konsistensi kemauan politik pemerintah sendiri.

Tapi, persoalannya tak sslasai hanya dengan rnenqurangi peran ulang luar negeri. Pemerintah mau tak mau harus menggali sumber penerimaannya dari dalam negeri. Kontributor terbesar pensrtmaan negara dari dalam negeri adalah pajak. Masih ada celah untuk memperbesar pandapatan dari pajak mengingat rasio pajak kita terbilang rendah. Apalagi jika tidak ada lagi pengge!apan pajak seperti yang dilakukan Gayus Tarnbunan dkk.

Walaupun ada beragam sumber penenmaaan negara, tetapi secara psikologis tidak mudah bagi pemerintah memaksunalaan surnber-surnoer penenmaan negara itu karena banyak janji belum dipenuhi, terutama janji menyejahterakan rakyat dan menghad\rkan pemerintahan yang bersih, Rakyat tentu saja tak mau pembayaran pajak dan retribusi diqunakan untuk mernbiayai para birokrat malas dan korup.

Kita setuju dengan ide Presiden mengurangi potsi utang luar negeri. Tapi ide itu punya konsekuensi log is, yakni porsi utang luar negeri itu akan kita tutup dengan apa? Presiden dan para pembant :nyalah yang harus kreatif ."?"

Biro Hubungan Masyarakat Departemen Keuangan

D Bisnis Indonesia

o Media Indonesia

o Seputar Indonesia

o Investor Daily D Rakyat Merdeka

El Kompas

o Neraca

o Republika

o Indo Pos

o Koran Tempo

o Pikiran Rakyat

o Suara Karya

o Jurnal Nasional

o Suara Pembaruan

o Sinar Harapan

(Tanggal 120· 01 -).010 1 Halaman 1 1'3

]

o The Jakarta Post

o Jakarta Globe

o Business News

o Financial Times

o The Wall Street Journal

o Majalah Tempo

o Warta Ekonomi

o Gatra

o Trust

o Kontan (Tabloid)

o Okezone.com

o Inilah.com

o Antara.co.id

o DetikFinance.com o

PorsiAPBN Belum Optimal

Penyerapan Semester I Baru 35 Persen

4 JAKARTA, KOMPAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai porsi dari Anggaran Pendapatan 5 dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi pembiayaan pembangunan dan stimulasi

6

pertumbuhan ekonomi masih perlu dioptimalkan.

Anggaran hanya untuk belanja rutin.

7

Presiden Yudhoyono menges mukakan hal itu ketika memberi pengantar pada Rapat Kabinet Terbatas ill Kantor Presiden, Ja- 9 karta, Senin (19/7). Rapat yang membahas APBN dan kebijakan fiskal ini dihadiri Wakil Pre sid en 10 Eoediono dan menteri-menteri bidang perekonomian.

"Kita arnati porsi dari APEN 11 kita untuk pertumbuhan ekonomi atau pernbangunan dan ang- 12 garan yang sudah terikat atau dulu kita sebut anggaran rutin, itu belurn tepat rasionya," ujar 13 Presiden,

Presiden mengingatkan, semakin besar APBN seharusnya juga 14 memberikan porsi yang lebih besar untuk pembiayaan pembangunan. Dengan begitu, makin is tinggi pula rasio pembiayaan pembangunan dibandingkan biaya rutin atau administrasi,

16 "Saya meminta kepada para menteri dan juga bersama-sama DPR nanti bicarakan dengan 17 baik. Jangan karena APEN kita persentasenya naik terus, nominalnya naik terus, kemudian pe- 18

22

ngeluaran kemen terian/lembaga yang tidak harus ikut naik illnaikkan juga," ujarnya.

Total anggaran belanja negara tahun 2010 Rp 1.204,9 triliun dan sebagian besar untuk anggaran be1anja pemerintah pusat yang mencapai 69,8 persen, yakni Rp 840,9 triliun. Selebihnya, Rp 364 triliun atau 30,2 persen, ditransfer ke daerah,

. Presiden juga mengingatkan agar perbaikan rasio pembiayaan pembangunan itu juga diterapkan pemerintah daerah dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

" J angan sampai tidak ada sama sekali pembiayaan untuk infrastruktur dasar ill daerah-daerah karena habis untuk belanja pegawai dan pengeluaran adrninistrasi yang lain," ujar Presiden.

Seusai rapat kabinet terbatas, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, rapatjuga membahas upaya mendorong penyerapan APBN serta memastikan penerirnaan dad pajak dan bukan paj ak sesuai

1.200 -

Perkembangan Realisasi Belanja Negara

1.000 -

800 -

Anggaran Belanja Negara'" (Triliun Rupiah) III Realisasi""" (Triliun Rupiah)

600 -

400 -

·J·.··.·.·I;· •• • • • ••• • ••

200 -

0-

2005 200~ 2007 2008 2009

Persentase 90,2 9S,4 100,7 99,6 96,5

" Merupakan data dari APBN-P kecuali tahun Z005 (APBNPII) dan 2009 (APBN) ';,,', Merupakan data LKPP kecuali 2009 (APBN'P)

Sumter: Litb,mg Kornpas, diulah da~i Nota K~ua~gi!n den APBN 2010

BlTYVNG

potensinya serta berkelanjutan. Penyerapan 35 persen

Terkait dengan penyerapan anggaran, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, APEN 2010 baru terserap 35 persen pada posisi 30 Juni 2010 atau selarna semester 1. "Karakteristiknya memang di semester pertama itu lebih pelan, nanti di semester dua pencairannya besar, Jadi antara Juni dan Desember," ujar Agus.

Sementara itu, Wakil Menteri

Pekerjaan Umum Hermanto Dardak, Senin di Jakarta, mengatakan, penyerapan anggaran oleh Kementerian Pekerjaan Umum pada tahun anggaran 2010 ini 1ebih cepat dibandingkan pad a tahun 2009. Dengan pelaksanaan

tender yang lebih awal serta membailrnya cuaca, diharapkan penyerapan anggaran dapat lebih cepat lagi.

Hingga Senin, penyerapan keuangan tahun anggaran 2010 5ebesar Rp 9,58 triliun atau 27,27 persen, sedangkan penyerapan fisik sebesar 35,21 persen. Sementara penyerapan keuangan tahun anggaran 2009 pada hari yang sarna pada tahun lalu sebesar Rp' 9,47 triliun atau 26,96 persen, sedangkan penyerapan fisik mencapai 31,51 persen. Tahun 2010 anggaran infrastruktur di PU sebesar Rp 34,9 triliun.

(DAY/RYO)

Biro Hubungan Masyarakat Departemen Keuangan

]

Halaman ,-I _----'

o The Jakarta Post

o Jakarta Globe

o Business News

o Financial Times

o The Wall Street Journal

o Majalah Tempo 0 Okezone.com

o Warta Ekonomi Dlnilah.com

o Gatra 0 Antara.co.id

D Trust 0 DetikFinance.com

o Kontan (Tabloid) 0

o Bisnis Indonesia

o Media Indonesia

o Seputar Indonesia D Investor Daily

D Rakyat Merdeka

o Kompas D;Qeraca I!fRepublika D Indo Pos

o Koran Tempo

o Pikiran Rakvat

o Suara Karya

o Jurnal Nasional

o Suara Pembaruan

o Sinar Harapan

say Ingatkan Pengusaha

M Ikhsan Shiddieqy, Shally Pristine

tidak akan segan-segan memberikan peringatan pada mereka yang sama sekali tidak punya hati dengan menaikkan ongkos produksi, baik barang maupun jasa yang melebihi kepatutan," kata SBY.

Diakui SBY, bahwa keputusan menaikkan TDL atau mengurangi subsidi listrik merupakan pilihan pahit. Namun, jika pemerintah tak melakukan, dampak buruknya lebih besar.

Sebelumnya, pemerintah menyatakan bahwa kenaikan TDL per 1 Juli rata-rata mencapai 10 persen dan untuk industri kenaikan TDL 6-15 persen. Namun, kalangan pengusaha : mengaku menerima rincian tagihan listrik PLN bulan depan yang nilainya melonjak 40-80 persen dari sebelumnya. Pengusaha pun menuding pemerintah dan PLN salah hitung kenaikan TDL. Bila kenaikan TDL terlalu besar, angka inflasi 2010 dikhawatirkan melonjak.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pemerintah sudah merumuskan kenaikan TDL bagi industri akan mencapai maksimal18 persen, bahkan ada yang mengalami penurunan maksimalIf persen. Hatta menjamin rumusan itu sudah dihitung dan disimulasikan terutarna untuk tarif daya maksimum dan multiguna, sehingga tidak ada lagi kenaikan tagihan listrik hingga 40 persen. "Sedikit yang terkena kenaikan 18 persen sehingga kita mengharapkan

range rata-ratanya tidak jauh dari angka 12-15 persen sebagaimana yang semula diantisipasi," janji Hatta.

Ketua Asosiasi Perigusaha Indonesia Djimanto mengaku, pengusaha masih menunggu kepastian total tagihan listrik setelah dihapuskannya komponen tarif tambahan seperti daya maksimum dan multiguna. Karena itu, dia menyesalkan Presiden yang melontarkan aneaman sebelum ada kepastian angka kenaikan tagihan listrik. Apalagi belum ada titik temu dalam negosiasi TDL.

"Tidak bisa dong diancamaneam begitu. Bagaimanapun pengusaha merupakan komponen bangsa yang sama-sama ingin membangun perekonomian negara ini," kata Djimanto. Dia mengingatkan, pengusaha sulit menghindari kenaikan harga jual produknya. Bila tidak menaikkan harga saa t ini, pengusaha tidak akan mampu membeli bahan baku di masa depan yang harganya naik.

Direktur Pusat Studi Internasional untuk Ekonomi dan Keuangan Terapan IPB Iman Sugema menilai, pernya taan Presiden masih wajar dan normatif. Namun, kenaikan TDL memang akan membuat kenaikan ongkos produksi sehingga berdampak pada harga jual barang .• agung budiono, ed: rahrnad bh "

Pengusaha sulit tidak menaikkan harga produk.

JAKARTA __:. Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada 1 Juli lalu tak hanya meresahkan pengusaha dan rakyat biasa konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun khawatir kenaikan TDL akan membuat pengusaha menaikkan harga produk seeara berlebihan, sehingga harga-harga barang bisa melonjak tak terkendali.

Presiden meminta biaya produksi berbagai perusahaan akibat kenaikan TDL dikontrol dan dipastikan tidak ada penyimpangan, "Tidak bisa dibenarkan, bahkan secara moral, manakala ada perusahaan mampang-mumpung, memakai alasan yang tadinya kenaikan (TDL) relatif keeil dilipatgandakan," kata SBY dalam rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, Senin (19/7).

Presiden berjanji akan meninjau langsung perusahaan dan industri. Dia juga mengingatkan bahwa perusahaan dan industri memiliki tanggung jawab untuk ikut menyelamatkan perekonomian. "Saya juga

22

Biro Hubungan Masyarakat Departemen Keuangan

'~edikit yang terkena kenaikanTDL 18persen.

,t

Hatta Rajasa Menko Perekonomian

."

~engusaha

juga ingin membangun perekonomian.

"

Djimanto .' Ketua Apindo

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->