Anda di halaman 1dari 53

BAB II

SISTEM HUKUM DAN PERADILAN NASIONAL

Standar Kompetensi :
2. Menampilkan sikap positif terhadap sistem hukum dan peradilan
Nasional.

Kompetensi Dasar :
2.1. Mendeskripsikan pengertian sistem hukum dan peradilan nasional.
2.2. Menganalisis peranan lembaga-lembaga peradilan.
2.3. Menunjukkan sikap yang sesuai dengan ketentuan hukum yang
berlaku.
2.4. Menganalisis upaya pemberantasan korupsi di Indonesia
2.5. Menampilkan peran serta dalam upaya pemberantasan korupsi di
Indonesia.

A. PENDAHULUAN

---------------------------------( Ada gambar orang yang melanggar hukum)


--------------------------

Pertanyaan pertama sebelum membahas lebih lanjut tentang sistem


hukum dan peradilan nasional, mengapa manusia perlu aturan di dalam
membangun komunitas kehidupan bersama? Bahwa manusia di dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara memerlukan
aturan-aturan yang mampu menjamin rasa keadilan, ketenteraman dan
keamanan bersama. Setiap negara dimanapun berada, memiliki tujuan
atau nilai-nilai tertentu yang ingin diperjuangkan. Dalam mencapai tujuan
tersebut, agar tidak salah arah dan otoriter maka diperlukan kaidah atau
pedoman baik yang tertulis maupun tidak tertulis.
Kaidah atau pedoman tertulis, misalnya : Undang-Undang Dasar,
Peraturan Pemerintah, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP),
Peraturan Daerah, dan lain-lain. Sedangkan pedoman yang tidak tertulis,
antara lain : Kovensi (kebiasaan di dalam penyelenggaraan negara),
hukum adat pembagian waris, kebiasaan-kebiasaan upacara kematian,
dan sebagainya. Kaidah atau pedoman yang ada di dalam suatu
masyarakat, bangsa atau negara, pada hakikatnya merupakan cerminan
nilai-nilai/aturan suatu bangsa secara keseluruhan.

1
Untuk apa kaidah itu ada ? Kaidah itu ada atau diciptakan adalah
untuk menjamin terciptanya keteraturan dalam hidup bermasyarakat.
Kehidupan bersama suatu masyarakat dan bangsa akan timbul
kekacauan, manakala tidak berlandaskan pada nilai-nilai dan norma.
Untuk itulah, setiap individu di dalam masyarakat atau negara sangat
perlu mempelajari tentang sistem hukum dan peradilan yang ingin
diperjuangkan guna mewujudkan keteraturan hidup (ketertiban), rasa
aman dan sejahtera. Hal ini sejalan dengan pandangan Prof. Y. Van
Kant, bahwa tujuan hukum (dibuatnya aturan) adalah untuk menjaga
agar kepentingan tiap-tiap manusia tidak diganggu.

B. SISTEM HUKUM DAN PERADILAN NASIONAL

11 Sistem Hukum
a. Pengertian Sistem
Dalam berbagai kesempatan kita sering mendengar kata
“sistem”. Ketika berbicara pendidikan, maka orang akan bertanya
pentingnya sistem pendidikan, demikian juga ketika orang
berbicara tentang ekonomi, orang akan bertanya bagaimana sistem
ekonominya dan sebagainya. Dalam kesempatan ini kita akan
membahas tentang sistem hukum yang ada di Indonesia (sistem
hukum nasional).
Kata “sistem” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia
mengandung arti susunan kesatuan-kesatuan yang masing-masing
tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi berfungsi membentuk kesatuan
secara keseluruhan. Pengertian sistem dalam penerapannya, tidak
seluruhnya berasal dari suatu disiplin ilmu yang mandiri, karena
dapat pula hanya berasal dari pengetahuan, seni maupun
kebiasaan : seperti sistem mata pencaharian, sistem tarian, sistem
perkawinan, sistem pemerintahan, sistem hukum dan sebagainya.
Untuk dapat memperjelas dan memperluas pemahaman tentang
sistem, berikut ini terdapat beberapa sarjana yang memberikan
defenisinya.
 Prof. Prajudi
Sistem adalah suatu jaringan daripada prosedur-prosedur yang
berhubungan satu sama lain menurut skema atau pola yang
bulat untuk menggerakkan suatu fungsi yang utama dari suatu
usaha atau urusan.

 W. J. S. Poerwadarminta
Sistem adalah sekelompok bagian-bagian (alat dan sebagainya),
yang bekerja bersama-sama untuk melakukan sesuatu maksud.

 Prof. Sumantri
Sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang bekerja bersama-
sama untuk melakukan suatu maksud. Apabila salah satu bagian

2
rusak atau tidak dapat menjalankan tugasnya, maka maksud
yang hendak dicapai tidak akan terpenuhi, atau setidak-tidaknya
sistem yang telah terwujud akan mendapat gangguan.

 Drs. Musanef
Sistem adalah suatu sarana yang menguasai keadaan dan
pekerjaan agar dalam menjalankan tugas dapat teratur, atau
Suatu tatanan dari hal-hal yang paling berkaitan dan
berhubungan sehingga membentuk suatu kesatuan dan satu
keseluruhan.

Fokus Kita :
Sistem adalah kesatuan yang utuh dari sesuatu rangkaian,
yang kait mengait satu sama lain. Bagian atau anak cabang
dari suatu sistem , menjadi induk sistem dari rangkaian
selanjutnya. Begitulah seterusnya sampai pada bagian yanng
terkecil, rusaknya salah satu bagian akan mengganggu
kestabilan sistem itu sendiri. Ketatanegaraan Indonesia adalah

Unsur-unsur dalam sistem mencakup antara lain :


1) Seperangkat komponen, elemen, bagian.
2) Saling berkaitan dan tergantung.
3) Kesatuan yang terintergrasi.
4) Memiliki peranan dan tujuan tertentu.
5) Interaksi antar sistem membentuk sistem lain yang lebih
besar.

b1 Karakteristik Umum Sistem


Pemahaman tentang sebuah sistem sangat diperlukan dalam
rangka untuk semakin memperjelas pelaksanaan tugas dan fungsi
masing-masing komponen atau unsur-unsur yang ada di dalamnya
guna mencapai suatu tujuan tertentu. Di dalam setiap sistem,
terkandung prinsip-prinsip atau karakteristik umum sebagai
berikut :
a. Cenderung ke arah entropi-lamban, menua, mati.
b. Hadir dalam ruang dan waktu yang tidak bisa dihentikan.
c. Mempunyai batas-batas yang dapat berubah.
d. Mempunyai lingkungan proksimal dan distal :
 Lingkungan proksimal (lingkungan yang disadari oleh sistem).
 Lingkuangn distal (lingkungan yang berada di luar sistem).
e. Mempunyai variabel dan parameter :
 Variabel adalah faktor-faktor dalam sistem
 Parameter adalah faktor-faktor di luar sistem
f. Mempunyai sub-sistem
g. Mempunyai supra sistem.

3
Karakteristik sistem dalam alur kerjanya dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.

LINGKUNGAN

INPUT PROSES OUTPUT

LINGKUNGAN

Bonus Info Kewarganegaraan


MANAJEMEN SISTEM
Merupakan pendekatan sistem yang bersifat pragmatis, yaitu
mencari manfaat dengan mempergunakan metode sintetis atau
memadukan unsur-unsur menjadi kesatuan untuk mengintegrasikan
operasi-operasi kerja melalui perancangan yang menekankan pada
jaringan hubungan antar unsurnya.
ANALISIS SISTEM
Merupakan pendekatan sistem yang bertitik totak pada
optimalisasi penggunaan Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya
Alam (SDA) dan Sumber Daya Benda (SDB) yang ada dan tersedia
dengan mempergunakan metode penyusunan model-model kerja
untuk mencapai tujuan secara efektif, efisien dan terkendali.
c1 Sistem Hukum
Bertolak dari pengertian sistem yang telah dikemukakan di atas,
maka sistem hukum dimaksudkan adalah satu kesatuan hukum
yang berlaku pada suatu negara tertentu yang dipatuhi dan diataati
oleh setiap warganya. Sistem hukum yang dianut oleh negara-
negara di dunia pada saat ini, antara lain sistem hukum Eropa
Kontinental, sistem hukum Anglo-Saxon, sistem hukum adat, dan
sistem hukum agama.
1) Sistem hukum Eropa Kontinental, adalah
suatu sistem hukum dengan ciri-ciri adanya berbagai ketentuan-
ketentuan hukum dikodifikasi (dihimpun) secara sistematis yang
akan ditafsirkan lebih lanjut oleh hakim dalam penerapannya.
Hampir 60% dari populasi dunia tinggal di negara yang
menganut sistem hukum ini.
2) Sistem hukum Anglo Saxon, adalah suatu
sistem hukum yang didasarkan pada yurisprudensi, yaitu
keputusan-keputusan hakim terdahulu yang kemudian menjadi
dasar putusan hakim-hakim selanjutnya. Sistem hukum ini

4
diterapkan di Irlandia, Inggris, Australia, Selandia Baru, Afrika
Selatan, Kanada (kecuali Provinsi Quebec) dan Amerika Serikat
(walaupun negara bagian Louisiana mempergunakan sistem
hukum ini bersamaan dengan sistim hukum Eropa Kontinental
Napoleon). Selain negara-negara tersebut, beberapa negara lain
juga menerapkan sistem hukum Anglo-Saxon campuran,
misalnya Pakistan, India dan Nigeria yang menerapkan sebagian
besar sistem hukum Anglo-Saxon, namun juga memberlakukan
hukum adat dan hukum agama.
3) Sistem hukum Adat/Kebiasaan, adalah
seperangkat norma dan aturan adat/kebiasaan yang berlaku di
suatu wilayah, dan
4) Sistem hukum Agama, merupakan sistem
hukum yang berdasarkan ketentuan agama tertentu. Sistem
hukum agama biasanya terdapat dalam Kitab Suci.

d1 Pengertian Hukum
Hukum sulit didefinisikan karena kompleks dan beragamnya
sudut pandang yang mau dikaji. Prof. Van Apeldoorn
mengatakan bahwa “definisi hukum sangat sulit dibuat karena tidak
mungkin mengadakannya yang sesuai dengan kenyataan”. Karena
itu, sebaiknya kita lihat dulu pengertian hukum menurut para ahli
hukum terkemuka berikut ini.

 Prof. Mr. E.M. Meyers


Hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan
kesusilaan, ditujukan kepada tingkah laku manusia dalam
masyarakat, dan menjadi pedoman bagi penguasa negara dalam
melaksanakan tugasnya.

 Leon Duguit
Hukum adalah aturan tingkah laku anggota masyarakat, aturan
yang daya penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh
suatu masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama
dan yang pelanggaran terhadapnya akan menimbulkan reaksi
bersama terhadap pelakunya.

 Drs. E. Utrecht, S.H.


Hukum adalah himpunan peraturan (perintah dan larangan)
yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karen aitu
harus ditaati oleh masyarakat itu.

 S.M. Amin, S.H.

5
Hukum merupakan kumpulan peraturan yang terdiri dari norma
dan sanksi, dengan tujuan mewujudkan ketertiban dan
pergaulan manusia.

 J.C.T. Simorangkir, S.H. dan Woerjono


Sastropranoto, S.H.
Hukum adalah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa,
yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan
,masyarakat, yang dibuat oleh badan-badan resmi yang
berwajib, dan yang pelanggraan terhadapnya mengakibatkan
diambilnya tindakan, yaitu hukuman tertentu.

 Samidjo
Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan yang bersifat
memaksa, berisikan perintah, larangan, atau izin untuk berbuat
atau tidak berbuat sesuatu serta dengan maksud untuk
mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat.

Fokus Kita :
Dari beberapa pengertian tentang hukum, secara umum
dapat dikatakan bahwa hukum mencakup unsur-unsur berikut
ini :
a. Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan
masyarakat ;
b. Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang
berwenang;

11 Tujuan Hukum
Hukum mempunyai sifat mengatur dan memaksa. Adapun tujuan
dibuatnya hukum dapat dilihat pada matriks di bawah ini.

N Tokoh/ Pakar Pendapat yang Dikemukakan


o
1. Prof. Subekti, Hukum itu mengabdi pada tujuan negara,
S.H. yang menda-tangkan atau ingin mencapai
kemakmuran dan kebahagiaan pada
rakyatnya.

2. Van Mengatur pergaulan oleh hukum dengan


Apeeldoorn melindungi kepentingan-kepentingan hukum
manusia tertentu, (kehormatan,
kemerdekaan jiwa, harta benda) dari pihak
yang merugikan.

3. Teori Etis Hukum itu semata-mata menghendaki

6
“keadilan”. Isi hukum semata-mata harus
ditentukan oleh kesadaran etis kita mengenai
“apa yang adil dan apa yang tidak adil”.

4. Oeny Hukum bertujuan semata-mata untuk


mencapai keadilan, sedangkan unsur-unsur
keadilan ialah: “Kepentingan daya guna dan
kemanfaatannya”.

5. Bentham Tujuan hukum adalah semata-mata untuk


(Teori mewujudkan apa yang berfaedah bagi
Utilitarianism banyak orang. Dengan kata lain, “Menjamin
e) kebahagiaan sebesar-besarnya bagi
sebanyak mungkin orang”.

6. Prof. Y. Van Tujuan hukum adalah untuk menjaga agar


Kant kepentinbgan tiap-tiap manusia tidak
diganggu.

7. Geny Hukum bertujuan semata-mata untuk


mencapai keadilan. Sebagai unsur keadilan,
ada kepentingan daya guna dan
kemanfaatan.

8. Tujuan Ingin mengatur secara pasti hak-hak dan


Hukum kewajiban lembaga tertinggi negara,
Nasional lembaga-lembaga tinggi negara, semua
Indonesia pejabat negara, setiap warga Indonesia agar
semuanya dapat melaksanakan
kebijaksanaan-kebijaksanaan dan tindakan-
tindakan demi terwujudnya tujuan nasional
bangsa Indonesia, yaitu terciptanya
masyarakat yang terlindungi oleh hukum,
cerdas, terampil, cinta dan bangga bertanah
air Indonesia dalam suasana kehidupan
makmur dan adil berdasarkan falsafah
Pancasila.

Dengan demikian, hukum merupakan peraturan-peraturan hidup di


dalam masyarakat yang dapat memaksa orang supaya mentaati tata
tertib dalam masyarakat serta memberikan sanksi yang tegas (berupa
hukuman) terhadap siapa saja yang tidak mematuhinya.

11 Sumber Hukum
Sumber hukum adalah segala yang menimbulkan aturan yang
mempunyai kekuatan memaksa, yakni aturan-aturan yang
pelanggarannya dikenai sanki yang tegas dan nyata. Sumber hukum

7
dibedakan antara sumber hukum “material” (welborn) dan sumber
hukum “formal” (kenborn). Sumber hukum material adalah keyakinan
dan perasaan (kesadaran) hukum individu dan pendapat umum yang
menentukan isi atau materi (jiwa) hukum.

Fokus Kita :
Isi atau materi sumber hukum, dapat bersumber dari nilai
agama maupun kesusilaan, kehendak Tuhan (Thomas Aquino),
“Akal Budi” (Grotius), “Jiwa Bangsa” (F.C. Von Savigny).Pada
umumnya, isi hukum yang bersumber dari Tuhan dan akal budi
atau jiwa bangsa mempunyai kekuatan mengikat, namun masih
Isi hukum dapat menjadi peraturan yang berlaku dalam pergaulan
manusia, bila diberi bentuk tertentu. “Bentuk” atau “kenyataan” yang
oleh karenanya kita dapat menemukan hukum yang berlaku, disebut
sebagai sumber hukum formal. Sumber hukum formal adalah
perwujudan bentuk dari isi hukum material yang menentukan
berlakunya hukum itu sendiri. Macam-macam sumber hukum formal,
antara lain : Undang-undang, Traktat, Kebiasaan (Hukum tidak
tertulis), Doktrin, dan Yurisprudensi,

1. Undang-Undang
Pengertian undang-undang dapat dibedakan menjadi 2 macam,
yaitu undang-undang dalam arti material dan undang-undang
dalam arti formal.
a. Undang-undang dalam arti material, adalah setiap
peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang isinya
mengikat secara umum. Di dalam UUD 1945, dapat kita jumpai
beberapa contoh, seperti : Undang-Undang Dasar, Ketetapan
MPR, Undang-Undang, Perpu, Peraturan Pemerintah, Keputusan
Presiden, dan Peraturan Daerah.
b. Undang-undang dalam arti formal, adalah setiap
peraturan yang karena bentuknya dapat disebut undang-
undang. Misalnya, ketentuan pasal 5 ayat (1) UUD 1945
(Amandemen) yang berbunyi “Presiden memegang kekuasaan
membentuk undang-undang dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat”. Jadi, Undang-undang yang dibentuk oleh
Presiden bersama DPR tersebut dapat diakui sebagai sumber
hukum formal, karena dibentuk oleh yang berwenang sehingga
derajat peraturan itu sah sebagai undang-undang.

2. Kebiasaan (Hukum Tidak Tertulis)


Di dalam masyarakat, keberadaan hukum tidak tertulis
(kebiasaan) diakui sebagai salah satu norma hukum yang dipatuhi.
Kebiasaan, merupakan perbuatan yang diulang-ulang terhadap hal

8
yang sama dan kemudian diterima serta diakui oleh masyarakat.
Dalam praktik penyelenggaraan negara, hukum tidak tertulis
disebut Konvensi. Dipatuhinya hukum tidak tertulis, karena adanya
kekosongan hukum tertulis yang sangat dibutuhkan
masyarakat/negara. Oleh karena itu, hukum tidak tertulis
(kebiasaan) sering digunakan oleh para hakim untuk memutuskan
perkara yang belum pernah diatur di dalam undang-undang.

Fokus Kita :
Menurut Bellefroid, kebiasaan merupakan semua peraturan
yang meskipun tidak ditetapkan oleh pemerintah, tetapi ditaati
oleh seluruh rakyat karena mereka yakin bahwa peraturan itu
berlaku sebagai hukum.
Agar suatu kebiasaan mempunyai kekuatan dan dapat dijadikan
sebagai sumber hukum, maka ditentukan oleh 2 (dua) faktor
sebagai berikut :
a. Adanya perbuatan yang dilakukan berulang kali
dalam hal yang sama, yang selalu diikuti dan diterima oleh yang
lainnya.
b. Adanya keyakinan hukum dari orang-orang atau
golongan-golongan yang berkepentingan. Maksudnya adanya
keyakinan bahwa kebiasaan itu memuat hal-hal yang baik dan
pantas ditaati serta mempunyai kekuatan mengikat.
Contoh : dalam hal jual beli atau sewa menyewa terdapat pihak
penghubung (makelar) yang selalu mendapat komisi
atau persen dari hasil usahanya menghubungkan
antara penjual dengan pembeli. Meskipun hal ini tidak
diatur di dalam hukum tertulis, namun dalam
kenyataan praktik pemberian komisi selalu dipatuhi
oleh masyarakat.

3. Yurisprudensi
Yurisprudensi adalah keputusan hakim terdahulu terhadap suatu
perkara yang tidak diatur oleh undang-undang dan dijadikan
pedoman oleh hakim lainnya dalam memutuskan perkara yang
serupa. Timbulnya yurisprudensi, karena adanya peraturan
perundang-undangan yang kurang atau tidak jelas pengertiannya,
sehingga menyulitkan hakim dalam memutuskan suatu perkara.
Untuk itulah hakim membuat atau membentuk hukum baru dengan
cara mempelajari putusan-putusan hakim terdahulu, khususnya
tentang perkara-perkara yang yang sedang dihadapinya.

9
Dalam membuat yurisprudensi, bisanya seorang hakim akan
melaksanakan berbagai macam penafsiran sebagai berikut :
1) Penafsiran secara gramatikal (tata bahasa), yaitu
penafsiran berdasarkan arti kata ;
2) Penafsiran secara historis, yaitu penafsiran berdasarkan
sejarah terbentuknya undang-undang ;
3) Penafsiran sistematis, yaitu penafsiran dengan cara
menghubungkan pasal-pasal yang terdapat dalam undang-undang
;
4) Penafsiran teleologis, yaitu penafsiran dengan jalan
mempelajari hakekat tujuan undang-undang yang disesuaikan
dengan perkembangan zaman, dan
5) Penafsiran otentik, yaitu penafsiran yang dilakukan oleh si
pembentuk undang-undang itu sendiri.

Bonus Info Kewarganegaraan


PERIHAL YURISPRUDENSI
Kata yurisprudensi (Latin : Jurisprudentia = sarjana hukum).
Istilah yurisprudensi, dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Secara umum, berarti peradilan ;
2. Dalam arti sempit, merupakan ajaran
hukum yang tersusun dari dan di dalam peradilan, yang
kemudian dipakai sebagai landasan hukum ;
3. Himpunan putusan-putusan pengadilan
yang disusun secara sistematik.

4. Traktat
Traktak adalah perjanjian yang dibuat oleh dua negara atau
lebih mengenai persoalan-persoalan tertentu yang menjadi
kepentingan negara yang bersangkutan. Dalam pelaksanaannya,
traktat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
 Traktat bilateral, adalah perjanjian yang
dibuat oleh dua negara. Traktat ini bersifat tertutup, karena
hanya melibatkan dua negara yang berkepentingan. Misalnya,
masalah Perjanjian Dwi-Kewarganegaraan antara Indonesia dan
RRC.
 Traktat multilateral, adalah perjanjian yang
dibuat atau dibentuk oleh lebih dari dua negara. Traktat ini
bersifat terbuka bagi negara-negara lainnya untuk mengikatkan
diri (PBB, NATO, dan sebagainya).
Pembuatan traktat, biasanya melalui tahap-tahap berikut ini.

1
11 Penetapan isi perjanjian dalam bentuk
konsep yang dibuat/disampaikan oleh delegasi negara yang
bersangkutan.
11 Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
masing-masing.
11 Ratifikasi atau pengesahan oleh kepala
negara masing-masing sehingga sejak saat itu traktat
dinyatakan berlaku di seluruh wilayah negara.
11 Pengumuman, yaitu penukaran piagam
perjanjian.
Setelah diratifikasi oleh DPR dan kepala negara, traktat
tersebut menjadi undang-undang dan merupakan sumber
hukum formal yang berlaku.
5. Doktrin
Doktrin adalah pendapat para ahli hukum terkemuka yang
dijadikan dasar atau asas-asas penting dalam hukum dan
penerapannya. Doktrin sebagai sumber hukum formal banyak
digunakan para hakim dalam memutuskan perkara melalui
yurisprudensi, bahkan punya pengaruh yang sangat besar dalam
hubungan internasional.
Dalam hukum ketatanegaraan, kita mengenal doktrin, seperti
doktrin dari Montesquieu, yaitu Trias Politica yang membagi
kekuasaan menjadi tiga bagian yang terpisah, yakni:
 Kekuasaan eksekutif (kekuasaan untuk melaksanakan undang-
undang)
 Kekuasaan legislatif (kekuasaan untuk membuat undang-
undang)
 Kekuasaan yudikatif (kekuasaan untuk mengadili pelanggaran
undang-undang)

Bonus Info Kewarganegaraan


Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan
(TAP MPR No. III/MPR/2003)
Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan, merupakan
pedoman pembuatan aturan hukum di bawahnya. Tata urutan
peraturan perundang-undangan Indonesia adalah sebagai
berikut :
11 Undang-undang Dasar 1945 ;
11 Ketetapan MPR-RI ;
11 Undang-undang ;
4. Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang (Perpu) ;
5. Peraturan Pemerintah ;
6. Keputusan Presiden ; dan

1
7. Peraturan Daerah.

1
Penugasan Praktik 1
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Sistem Hukum
(Pengertian sistem, Sistem hukum, Pengertian hukum, tujuan
hukum dan sumber hukum), dilanjutkan Penugasan dengan
menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut :

11 Tuliskan pengertian hukum dari beberapa pendapat ahli yang


anda diketahui dan berikan inti sari dari pendapatnya !
N Tokoh
Intisari Pendapat
o Hukum
.........................................................................
..................................
1.
.........................................................................
..................................
.........................................................................
..................................
2.
.........................................................................
..................................
.........................................................................
..................................
3.
.........................................................................
..................................

11 Berikan penjelasan, mengapa sistem hukum yang dianut


negara-negara di dunia tidak
sama !.................................................................................................
..................................................
............................................................................................................
................................................. ...........................................
............................................................................................................
.......

11 Hukum mempunyai sifat mengatur dan memaksa, oleh sebab


itu perlu dibuatnya tujuan hukum. Berikan 2 (dua) tujuan hukum
seperti yang dikemukakan oleh para tokoh di bawah ini !
Prof. Subekti, SH. Prof. Y. Van Kant
................................................. ......................................................
...................... ........................
................................................. ......................................................
...................... ........................
................................................. ......................................................
...................... ........................

1
11 Berikan tanggapan penjelasan, mengapa di dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara harus berpedoman pada
hukum/aturan ! ..................................................................
............................................................................................................
.................................................
............................................................................................................
.................................................

11 Sumber-sumber hukum, mencakup antara lain Undang-


undang, Kebiasaan, Yurispru-densi, Traktat dan Doktrin ! Berikan
contoh sumber-sumber hukum di bawah ini !
Sumber Hukum Kebiasaan Sumber Hukum Adat
Kebiasaan
Tertilis
...................................................
Wujud ...................................................
....................... Tidak .......................
Tertulis
................................................... ...................................................
....................... .......................
Lokal
................................................... ...................................................
.......................
Ruang .......................
Nasional
................................................... ...................................................
....................... Internasio
.......................
nal

Ius Contitutum
Ius
11
Huku Waktu Penggolongan Hukum
m Contituendum
Hukum
Perhatikan bagan penggolongan hukumAntar
di bawah ini.
Waktu
Satu
Golongan
Semua
Pribadi
Golongan
Antar Hk. Tata
Golongan Negara
Hk. Adm.
Negara
Publik
Hk. Pidana

Hk. Acara
Isi
Hk.
Perorangan
Hk. Keluarga
Privat/Perda
ta Hk. Kekayaan

Hk. Waris

Tugas Material
Pidana
dan Formal 1
Fungsi Formal
Perdata
Formal
Keterangan:
 Berdasarkan Wujudnya
 Hukum tertulis, yaitu hukum yang dapat kita temui
dalam bentuk tulisan dan dicantumkan dalam berbegai peraturan
negara. Contoh : UUD 1945, UU, dan lain-lain.
 Hukum tidak tertulis, yaitu hukum yang masih hidup
dan tumbuh dalam keyakinan masyarakat tertentu (hukum adat).
Dalam praktik ketatanegaraan hukum tidak keyakinan disebut
konvensi (Contoh: pidato kenegaraan presiden setiap tanggal 16
Agustus).

 Berdasarkan Ruang atau Wilayah Berlakunya


 Hukum lokal, yaitu hukum yang hanya berlaku di daerah tertentu
saja (hukum adat Manggarai-Flores, hukum adat Batak, Jawa,
Minangkabau, dan sebagainya).
 Hukum nasional, yaitu hukum yang berlaku di negara tertentu
(hukum Indonesia, Malaysia, Mesir, dan sebagainya).
 Hukum Internasional, yaitu hukum yang mengatur hubungan
antara dua negara atau lebih (hukum perang, hukum perdata
internasional, dan sebagainya).

 Berdasarkan Waktu dan Diaturnya

1
 Hukum yang berlaku saat ini (ius constitutum); disebut juga
hukum positif.
 Hukum yang berlaku pada waktu yang akan datang (ius
constituendum).
 Hukum antarwaktu, yaitu hukum yang mengatur suatu peristiwa
yang menyangkut hukum yang berlaku saat ini dan hukum yang
berlaku pada masa lalu.

 Berdasarkan Pribadi dan Diaturnya


 Hukum satu golongan, yaitu hukum yang mengatur dan
berlaku hanya bagi golongan tertentu saja.
 Hukum semua golongan, yaitu hukum yang mengatur dan
berlaku bagi semua golongan.
 Hukum antargolongan, yaitu hukum yang mengatur dua orang
atau lebih yang masing-masingnya tunduk pada hukum yang
berbeda.

 Berdasarkan Isi Masalah yang Diaturnya


Berdasarkan isi masalah yang diaturnya, hukum dapat dibedakan
menjadi : hukum publik dan hukum privat.
 Hukum Publik, yaitu hukum yang mengatur hubungan antara
warga negara dan negara yang menyangkut kepentingan umum.
Dalam arti formal, hukum publik mencakup Hukum Tata Negara,
Hukum Administrasi Negara, Hukum Pidana, dan Hukum Acara.
a. Hukum Tata Negara, mempelajari negara tertentu, seperti
bentuk negara, bentuk pemerintahan, hak-hak asasi warga
negara, alat-alat perlengkapan negara, dan. Singkatnya
mempelajati hal-hal yang bersifat mendasar dari negara.
b. Hukum Administrasi negara, adalah seperangkat
peraturan yang mengatur cara bekerja alat-alat perlengkapan
negara, termasuk cara melaksanakan kekuasaan dan wewenang
yang dimiliki oleh setiap organ negara. Singkatnya, mempelajari
hal-hal yang bersifat teknis dari negara.
c. Hukum Pidana, adalah hukum yang mengatur pelanggaran-
pelanggaran dan kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan
umum yang diancam dengan sanksi pidana tertentu. Dalam
KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana), pelanggaran
(overtredingen) adalah perbuatan yang melanggar (ringan)
dengan ancaman denda. Sedangkan kejahatan (misdrijven)
adalah perbuatan yang melanggar (berat) seperti pencurian,
penganiayaan, pembunuhan, dan sebagainya.

d. Hukum Acara, disebut juga hukum formal (Pidana dan


Perdata), hukum acara adalah seperangkat aturan yang berisi
tata cara menyelesaikan, melaksanakan, atau mempertahankan
hukum material. Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara
Pidana (KUHAP) No.8/1981 diatur tata cara penangkapan,

1
penahanan, penyitaan, dan penuntutan. Selain itu juga diatur
siapa-siapa yang berhak melakukan penyitaan, penyelidikan,
pengadilan yang berwenang, dan sebagainya.

 Hukum Privat (hukum perdata), adalah hukum yang


mengatur kepentingan orang-perorangan. Perdata, berarti warga
negara, pribadi atau sipil. Sumber pokok hukum perdata adalah
Buergelijik Wetboek (BW). Dalam arti luas hukum privat (perdata)
mencakup juga Hukum Dagang dan Hukum Adat. Hukum Perdata
dapat di bagi sebagai berikut:
a. Hukum Perorangan, adalah hampunan peraturan yang
mengatur manusia sebagai subyek hukum dan tentang
kecakapannya memiliki hak-hak serta bertindak sendiri dalam
melaksanakan hak-haknya itu. Manusia dan Badan Hukum
(PT,CV<Firma, dan sebagainya) merupakan “pembawa hak” atau
sebagai “subyek hukum”.
b. Hukum keluarga, adalah hukum yang memuat serangkaian
peraturan yang timbul dari pergaulan hidup dan keluarga (terjadi
karena perkawinan yang melahirkan anak). Hukum keluarga
dapat dibagi sebagai berikut :
 Kekuasaan Orangtua, yaitu kewajiban
membimbing anak sebelum cukup umur. Kekuasaan orangtua
putus ketika seorang anak telah dewasa (21 tahun), terlalu
nakal, putusnya perkawinan.
 Perwalian, yaitu seseorang/perkumpulan
tertentu yang bertindak sebagai wali untuk memelihara anak
yatim piatu sampai cukup umur. Hal ini terjadi, misalnya
karena perkawinan keduaorangtuany outus. Di Indonesia, wali
pengawas dijalankan oleh pejabat Balai Harta Peninggalan.
 Pengampunan, yaitu seseorang/perkumpulan
tertentu yang ditunjuk hakim untuk menjadi kurator
(pengampun) bagi orang dewasa yang diampuninya
(kurandus) karena adanya kelainan; sakit ingatan, boros,
lemah daya, tidak sanggup mengurus diri, dan berkelakuan
buruk.
 Perkawinan, yaitu mengatur perbuatan-
perbuatan hukum serta akibat-akibatnya antara dua pihak
(laki-laki, dan perempuan) dengan maksud hidup bersama
untuk jangka waktu yang lama menurut Undang-undang. Di
Indonesia, diatur dengan UU No.1/1974.

c. Hukum Kekayaan
Adalah peraturan-peraturan hukum yang mengatur hak dan
kewajiban manusia yang dapat dinilai dengan uang. Hukum
kekayaan mengatur benda (segala barang dan hak yang dapat

1
menjadi milik orang atau objek hak milik) dan hak-hak yang
dapat dimiliki atas benda. Hukum kekayaan mencakup :
 Hukum benda, mengatur hak-hak kebendaan yang bersifat
mutlak 9diakui dan dihormati setiap orang). Hukum benda
terdiri dari :
1) Hukum Benda Bergerak: karena sifatnya (kendaraan
bermotor) dan karena penetapan undang-undang (surat-
surat berharga);
2) Hukum Benda Tidak Bergerak: karena sifatnya (tanah dan
bangunan), katena tujuannya (mesin-mesin pabrik), dan
karena penetapan undang-undang (hak opstal dan hipotik).
 Hukum Perikatan, mengatur hubungan yang bersifat
kehartaan antara dua orang atau lebih. Pihak pertama
(kreditur) berhak atau suatu prestasi (pemenuhan sesuatu).
Pihak lain (debitur) wajib memberikan sesuatu. Bila debitur
tidak menetapi perikatannya, hal itu dinamakan wanprestasi.
Obyeknya adalah prestasi, yaitu hal pemenuhan perikatan
yang terdiri dari :
1) Memberikan ssesuatu; yaitu membayar
harga, menyerahkan barang, dan sebagainya
2) Berbuat sesuatu; yaitu memperbaiki
barang yang rusak, membongkar bangunan, karena
putusan pengadilan , dan sebagainya.
3) Tidak berbuat sesuatu; yaitu tidak
mendirikan bangunan, tidak memakai merk tertentu
karena putusan pengadilan.

d. Hukum Waris
Hukum yang mengatur kedudukan hukum harta kekayaan
seseorang setelah ia meninggal, terutama berpindahnya harta
kekayaan itu kepada orang lain. Hukum waris mengatur
pembagian harta peninggalan, ahli waris, urutan penerima waris,
serta hibah serta wasiat. Pembagian waris dapat dilakukan
dengan cara :
 Menurut Undang-Undang, yaitu pembagian kepada si
waris yang memiliki hubungan darah terdekat. Contoh: jika
seorang ayah meninggal, hartanya akan di wariskan kepada
anak dan istrinya, tetapi apabila ia tidak mempunyai
keturunan pembagian warisannya diatur menurut undang-
undang.
 Menurut Wasiat, yaitu pembagian waris berdasarkan
pesan atau kehendak terakhir (wasiat) dari si pewaris yang
harus dinyatakan secara tertulis dalam akte notaris. Penerima
warisan disebut legataris, dan bagian warisan yang
diterimanya disebut legaat.

1
Dalam arti luas, hukum perdata mencakup pula Hukum Dagang
dan Hukum Adat.

 Hukum Dagang (Bersumber dari Wetboek Van


Koophandel), adalah hukum yang mengatur soal-soal
perdagangan/perniagaan yang timbul karena tingkah laku
manusia (person) dalam perdagangan atau perniagaan. Hal-
hal yang diatur mencakup : Buku I (perniagaan pada
umumnya) dan Buku II (hak dan kewajiban yang timbul dalam
dunia perniagaan).

 Hukum Adat, hukum adat adalah hukum yang tumbuh dan


berkembang di dalam masyarakat tertentu serta hanya
dipatuhi dan ditaati oleh masyarakat yang bersangkutan.
Contoh: pernikahan menurut adat manggarai-Flores,
pernikahan daerah Bugis, pembagian waris di Batak, dan
sebagainya.

5. Sanksi Hukum
Pada setiap negara yang menerapkan supremasi hukum, maka
setiap jenis apapun pelanggarannya akan diberikan sanksi.
Pemberian sanksi kepada yang melanggar hukum, merupakan
bentuk nyata dari suatu produk hukum baik tertulis maupun tidak
tertulis telah dilaksanakan oleh aparat penegak hukum. Hal ini juga
dimaksudkan agar para pelanggar hukum tidak mengulangi lagi
perbuatannya.

Pada negara yang warga negaranya telah melaksanakan hukum


atau peraturan-peraturan dengan baik, hal ini akan tercermin pada
kesadaran warga negara dalam hal antara lain : berlalu lintas
dengan tertib, rasa aman dan nyaman pada saat di ruang publik,
disiplin dalam antrian di halte kendaran, dan sebagainya. Berikut
ini, adalah macam-macam sanksi Pidana sesuai dengan Pasal 10
KUHP :
 Hukuman Pokok, yang terdiri dari :
a. Hukuman Mati
b. Hukuman Penjara, yang terdiri dari :
• Hukuman seumur hidup
• Hukuman sementara waktu (setinggi-tingginya 20
tahun dan sekurang-kurangnya 1 tahun)
c. Hukuman Kurungan (setinggi-tingginya 1 tahun dan sekurang-
kurangnya 1 hari).
 Hukuman Tambahan, yang terdiri dari :
a. Pencabutan hak-hak tertentu.
b. Perampasan (penyitaan) barang-barang tertentu.
c. Pengumuman keputusan hakim.

1
Catatan : Bahwa KUHP yang berlaku, terlahir pada zaman Hindia
Belanda (1 Januari 1918) yang bersumber dari (Wetboek Van
Strafreht). Namun pada masa sekarang ini KUHP tersebut telah
banyak mengalami penyesuaian.

6. Perbedaan Hukum Pidana dan Hukum Perdata


Dalam mempelajari hukum pidana dan hukum perdata, perlu
diberikan pemahaman perbedaan yang sangat mendasar dari
keduanya sebagai berikut :
 Hukum Pidana
Pelanggaran terhadap norma hukum pidana pada umumnya
segera disikapi oleh pengadilan setelah menerima berkas polisi
yang mengadakan penyelidikan dan penyidikan. Tindakan Pidana
(delik) yang disengaa disebut delik doloes, sedangkan tindak
pidana yang tidak sengaja di sebut delik coelpa.

 Hukum Perdata
Pelanggaran terhadap norma hukum perdata baru dapat disikapi
oleh pengadilan setelah ada pengaduan dari pihak yang merasa
ingin dirugikan. Di sini, ada pihak yang mengadu (penggugat)
dan pihak yang diadukan (tergugat).
Sedangkan untuk perbedaan antara hukum acara pidana dan
hukum acara perdata, dapat dilihat pada matrik berikut ini :
Perbedaan Hukum Acara
Titik Perhatian Hukum Acara Hukum Acara Pidana
Perdata
Pelaksanaan Inisiatif datang dari Inisiatif datang dari
pihak yang dirugikan pihak penuntut umum
(penggugat) (Jaksa)
Penuntutan Penuntut adalah pihak Jaksa sebagai penuntut
yang dirugikan umum, yang memiliki
(penggugat), dan wewenang atas nama
berhadapan dengan negara dan
tergugat. berhadapan dengan
pihak terdakwa.
Alat-alat Bukti 1. tulis 1. tulis
an an
2. sak 2. saks
si i
3. pers 3. pers
angkaan angkaan
4. pen 4. pen
gakuan gakuan
5. sum
pah
Kedudukan Semua pihak Jaksa mempunyai
Para Pihak mempunyai kedudukan kedudukan yang lebih
yang sama, dan hakim tinggi dari pada

2
bertindak sebagai terdakwa. Hakim aktif.
wasit dan bersifat
pasif.
Macam Hukum dapat berupa Hukum berupa
Hukuman denda, atau hukuman hukuman mati,
kurungan seba-gai penjara, kurungan,
pengganti hukuman denda dan hukuman
denda. tambahan.
Sumber-sumber yang dijadikan pedoman dalam pelaksanaan
Hukum Acara Perdata dan Hukum Acara Pidana antara lain:
1. UU Darurat No.1 Tahun 1951 (Het Herziene
Indonesische Reglement, disingkat HIR, atau Reglement
Indonesia yang sudah diperbaharui)
2. UU No.14 Tahun 1970 yang sudah dirubah
dengan UU. No. 35 Tahun 1999 tentang ketentuan-ketentuan
Pokok Kekuasaan Kehakiman, dan dirubah dengan UU No. 4
Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.
3. UU No.14 tahun 1985 tentang Mahkama Agung
dan dirubah dengan UU No.5 Tahun 2004.
4. UU No. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum,
dan dirubah dengan UU No.8 Tahun 2004.
5. UU No. 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan
Republik Indonesia, dan dirubah dengan UU No. 16 Tahun 2004.

7. Peradilan Nasional
Sesuai dengan Ketentuan Umum Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, bahwa kekuasaan kehakiman
adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan
peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan
Pancasila, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik
Indonesia.
Berdasarkan pasal 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004,
bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan
badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan sebagai berikut :
 Peradilan Umum,
 Peradilan Agama,
 Peradilan Militer,
 Peradilan Tata Usaha Negara, dan
 Oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Berikut adalah Susunan Badan atau Lembaga Peradilan yang ada di
Mahkamah
Indonesia.
Agung

Pengadilan Pengadilan
Pengadilan Pengadilan
Tinggi Tinggi Tata
Tinggi Agung Tinggi Militer
Umum/Sipil Usaha Negara

Pengadilan Pengadilan 2
Pengadilan Pengadilan
Negeri Tata Usaha
Negeri Agung Militer
Umum/Sipil Negara
Dari bagan tersebut, badan peradilan dapat diklasifikasikan
berdasarkan tingkatannya sebagai berikut.
 Pengadilan Sipil, terdiri dari :
1. Pengadilan Umum
a. Pengadilan Negeri
b. Pengadilan Tinggi
c. Mahkamah Agung
2. Pengadilan Khusus
a. Pengadilan Agama
b. Pengadilan Adat
c. Pengadilan Tata Usaha Negara (Administrasi Negara)
 Pengadilan Militer, terdiri dari:
1) Pengadilan Tentara
2) Pengadilan Tentara Tinggi
3) Mahkamah Tentara Agung

a. Pengadilan Negeri
Pengadilan Negeri adalah suatu pengadilan umum yang
sehari-hari memeriksa dan memutuskan perkara dalam tingkat
pertama dari segala perkara perdata dan pidana sipil untuk
semua golongan penduduk (warga negara dan orang asing).
Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun1986 tentang Peradilan
Umum, bahwa yang dimaksud Peradilan Umum adalah salah
satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan
pada umumnya.
Pengadilan Negeri berkedudukan di ibukota Kabupaten/Kota,
dan daerah hukumnya meliputi wilayah Kabupaten/Kota. Perkara-
perkara yang ada diselesaikan oleh hakim dan dibantu oleh
panitera. Pada tiap-tiap Pengadilan Negeri ditempatkan pula
Kejaksaan Negeri sebagai alat pemerintah yang bertindak
sebagai penuntut umum dalam suatu perkara pidana terhadap si
pelanggar hukum. Tetapi dalam perkara perdata, Kejaksaan
negeri tidak ikut campur (tangan).

b. Pengadilan Agama
Adalah pengadilan yang memeriksa dan memutuskan
perkara-perkara yang timbul antara orang-orang Islam, yang
berkaitan dengan nikah, rujuk, talak (perceraian), nafkah, waris,

2
dan lain-lain. Dalam hal yang dianggap perlu, keputusan
Pengadilan Agama dapat dinyatakan berlaku oleh Pengadilan
Negeri.

c. Pengadilan Militer
Adalah pengadilan yang mengadili hanya dalam lapangan
pidana, khususnya bagi :
1) Anggota TNI dan Polri,
2) Seseorang yang menurut Undang-Undang dapat
dipersamakan dengan anggota TNI dan Polri,
3) Anggota jawatan atau golongan yang dapat
dipersamakan dengan TNI dan Polri menurut Undang-Undang,
4) Tidak termasuk a sampai dengan c tetapi menurut
keputusan Menteri Pertahanan yang ditetapkan dengan
persetujuan Menteri Kehakiman harus diadili oleh Pengadilan
Militer.

d. Pengadilan Tata Usaha Negara


Kehadiran Pengadilan Tata Usaha Negara di Indonesia
tergolong masih sangat baru. Hal itu bisa kita lihat dari
keberadaannya yang berdasarkan UU Nomor 5 tahun 1986
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1991.
Pengadilan Tata Usaha Negara adalah badan yang berwenang
memeriksa dan memutus semua sengketa tata usaha negara
dalam tingkat pertama. Sengketa dalam tata usaha negara
adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara
sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara.
Keputusan tata usaha negara adalah suatu ketetapan tertulis
yang dikeluarkan oleh badan tata usaha negara yang berisi
tindakan hukum badan tata usaha negara berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku yang menerbitkan akibat
hukum bagi seseorang atau badan hukum.
Masalah-masalah yang menjadi jangkauan Pengadilan Tata
Usaha Negara, antara lain sebagai berikut.
1) Bidang Sosial, yaitu gugatan atau permohonan
terhadap keputusan administrasi tentang penolakan
permohonan suatu izin.
2) Bidang Ekonomi, yaitu gugatan atau
permohonan yang berkaitan dengan perpajakan, merk,
agraria, dan sebagainya.
3) Bidang Function Publique, yaitu gugatan atau
permohonan yang berhubungan dengan status atau
kedudukan seseorang. Misalnya, bidang kepegawaian,
pemecatan, pemberhentian hubungan kerja, dan sebagainya.
4) Bidang Hak Asasi Manusia, yaitu gugatan atau
permohonan yang berkaitan dengan pencabutan hak milik
seseorang serta penangkapan dan penahanan yang tidak
sesuai dengan prosedur hukum (seperti yang diatur di dalam
KUHP) mengenai praperadilan, dan sebagainya.

2
Pengadilan Tata Usaha Negara dilaksanakan oleh badan
pengadilan berikut :
a) Pengadilan Tata Usaha Negara sebagai
pengadilann tingkat pertama di kabupaten/kota.
b) Pengadilan Tata Usaha Negara sebagai
pengadilan tingkat banding di provinsi.

Bonus Info Kewarganegaraan


Dalam lingkungan pengadilan umum, selain pengadilan
negeri juga terdapat Pengadilan Tinggi. Pengadilan Tinggi
merupakan pengadilan banding tingkat kedua yang mengadili
lagi suatu perkara perdata atau pidana yang telah diputuskan
oleh Pengadilan Negeri tingkat pertama. Pemeriksaan di sini
hanya atas dasar pemeriksanaan berkas perkara saja, kecuali
bila Pengadilan Tinggi merasa perlu untuk langsung
mendengarkan para pihak yang berperkara.
Salah satu kekuasaan Pengadilan Tinggi adalah melakukan
pengawasan terhadap jalannya peradilan di dalam daerah
hukumnya dan menjaga peradilan itu diselenggarakan dengan
seksama dan sewajarnya. Pengadilan Tinggi juga mempunyai
wewenang untuk memerintahkan pengiriman berkas-berkas
perkara dan surat-surat untuk memberi penilaian tentang
kecakapan dan kerajinan para hakim. Sebagai catatan, tidak
semua perkara yang telah diputuskan oleh Pengadilan Negeri
dapat diminta banding.
Pengadilan Tinggi tidak saja berada di lingkungan pengadilan
umum, tetapi juga terdapat pada pengadilan khusus (Pengadilan
Agama dan Tata Usaha negara), serta Pengadilan Militer.
Perlu diketahui bahwa untuk dapat menuntut seseorang
yang dianggap bersalah, asas-asas berikut harus diperhatikan.
a. Asas Opportunitas
Dalam asas ini, kejaksaan tak berkewajiban untuk menutut
seseorang walaupun telah diketahui benar-benar bahwa ia
bersalah, demi kepentingan umum (asas ini dianut oleh
Indonesia).
b. Asas Legalitas
Dalam asas ini, jaksa diwajibkan menuntut setiap orang yang
melakukan delik (tindak pidana) tanpa memperhatikan
akibat-akibat yang akan timbul. Dengan perkataan lain,
setiap perkara yang cukup buktinya harus dituntut.

Penugasan Praktik 2
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Penggolongan
Hukum, Sanksi Hukum dan Perbedaan Hukum Pidana dan
2
Hukum Perdata, dilanjutkan Penugasan dengan menjawab
pertanyaan atau pernyataan setelah menyimak wacana sebagai
berikut :
HUKUMAN MATI BUKAN SOLUSI
TAPI PROBLEM
Tiga orang terpidana yang dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan
Negeri Poso, Sulawesi Tengah, Febianus Tibo, Marinus Riwu, dan
Dominggus da Silva, menyatakan diri tidak bersalah. Mereka
dituduh mendalangi pembunuhan 200 orang Muslim ketika terjadi
konflik umat beragama di Poso tahun 2001. Semua upaya hukum
telah dilakukan menentang putusan pengadilan ; mulai dari upaya
peninjauan kembali (PK) di Mahkamah Agung (MA) RI hingga
permohonan grasi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kesemuanya gagal.
Upaya terakhir dilakukan para pembelanya dengan memohon
kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengubah
hukuman seumur hidup. Ini merupakan hak prerogatif presiden yang
diatur Undang-Undang tentang Grasi. Presiden mempunyai wewenang
mengubahnya karena hukuman mati pada dasarnya bertentangan
dengan konstitusi dan hak asasi manusia.
Kalau Presiden Yudhoyono melakukannya, akan meredakan
ketegangan di Poso.Sebaliknya, pelaksanaan hukuman mati terhadap
ketiga orang tersebut akan semakin meninngkatkan suhu permusuhan
di sana. Sebagai bangsa yang menghormati Pancasila sebagai
ideologi, pidana mati harus dihilangkan dalam hukum pidana kalau
saja Indonesia ingin diakui sebagai bangsa yang beradab. Hak untuk
hidup adalah hak dasar dari setiap individu dan tidak bisa dicabut oleh
siapapun, termasuk penguasa yang sedang memerintah, raja, kaisar,
presiden, perdana menteri, jenderal, atau diktator. Mereka tidak
berhak merampas nyawa seseorang.
Indonesia sebaiknya tidak menganut hukuman mati di dalam
sistem peradilan pidana, bukan karena tidak berperikemanusiaan saja,
hak hidup dijamin dan dilindungi konstitusi, khsusunya dalam pasal
28. Oleh karena itu, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang baru
sebaiknya tidak menganut hukuman mati. Dimanapun seluruh dunia,
fakta menunjukkan hukuman mati tidak dapat menekan angka
kejahatan secara signifikan. Sebaliknya, hukuman mati selalu
menimbulkan perdebatan yang melelahkan dan berkepanjangan.
Ketiga terpidana di Poso itu sekarang menggantungkan nasibnya
pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka sekarang hidup
dalam ketidakpastian yang tentunya sangat menyiksa. Keadaan
mereka mirip dengan apa yang dideskripsikan sebuah film Hollywood
yang ditayangkan tahun 1950-an berjudul I Want To Live, dibintangi
Susan Hayward yang menghadapi eksekusi mati di negara bagian

2
Texas karena pembunuhan yang dilakukannya. Hampir saja dia
menerima pengampunan (grasi) dari Gubernur Texas, tetapi kemudian
dieksekusi di atas kursi listrik.
Ketegangan yang dialaminya, emosi yang disebabkan beerita yang
saling bertentangan tentang pelaksanaan eksekusi, perlu direnungkan
bagi pihak-pihak yang mendukung hukuman mati. Pengadilan Tibo
dan kawan-kawan yang dituduh mendalangi pembunuhan besar-
besaran (genoside) di Poso sebenarnya harus diadili pengadilan hak
asasi manusia dan bukan pengadilan biasa. Pembunuhan secara
massal termasuk kejahatan atas kemanusiaan (crime against
humanity). Ini diatur secara jelas dalam Statuta Roma.
Kenyataan bahwa Indonesia telah meratifikasi the International
Covenant on Civil and Political Rights, the International Covenant on
Social, Economical and Cultural Rights dan UN Convention Against
Torture and Other Cruel, Inhuman and Degrading Treatment and
Punishment mengandung konsekuensi untuk tidak melaksanakan
hukuman mati terhadap ketiga orang terpidana tersebut dan
terpidana lainnya.
Para pejuang hak asasi manusia memang semakin meningkatkan
protes atas hukuman mati itu. Namun pertanyaannya sekarang adalah
apakah presiden mau menggunakan haknya untuk mengubah
hukuman mati.

Sumber : Dari Frans H. Winarta, dalam Harian


Sinar Harapan, 18/4/2006.

Setelah membaca dengan cermat wacana tersebut di atas, jawablah


pertanyaan atau pernyataan berikut ini !
1. Jelaskan, apa yang mendasari pemikiran penulis dengan judul
“Hukuman Mati Bukan Solusi Tapi Problem” !
2. Menurut pendapat anda, sudah benarkah negara Indonesia
menerapakn hukuman mati bagi mereka yang bersalah (seperti
terhadap kasus Tibo Cs. di Poso). Berikan alasan !
3. Tuliskan bagaimana proses peninjauan kembali (PK) oleh Mahkamah
Agung dan pemberian grasi oleh Presiden !
4. Berikan tanggapan, bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh
Pengadilan di Indonesia dengan telah diratifikasinya penghormatan
terhadap hak asasi manusia terhadap kasus Tibo Cs. yang dihukum
mati !.

11 Peranan Lembaga-Lembaga Peradilan


a. Pengadilan Tingkat Pertama (Pengadilan Negeri)
Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang
Peradilan Umum, bahwa Pengadilan Tingkat Pertama atau
Pengadilan Negeri, dibentuk oleh Menteri Kehakiman dengan
persetujuan Mahkamah Agung yang mempunyai kekuasaan

2
hukum pengadilan meliputi satu Kabupaten/Kota. Dengan
adanya perubahan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004, maka
pembentukan Pengadilan Umum beserta fungsi dan
kewenangannya ada pada Mahkamah Agung.
Fungsi pengadilan tingkat pertama adalah memeriksa tentang
sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan yang
diajukan oleh tersangka, keluarga atau kuasanya kepada Ketua
Pengadilan dengan menyebutkan alasan-alasannya. Tugas dan
wewenang pengadilan negeri adalah memeriksa, memutus, dan
menyelesaikan perkara pidana dan perdata di tingkat pertama.
Hal lain yang menjadi tugas dan kewenangannya, antara lain :
1) Menyatakan sah atau tidaknya penangkapan, penahanan,
penghentian penyelidikan, atau penghentian tuntutan.
2) Tentang ganti kerugian dan/atau rehabilitasi bagi seseorang
yang perkaranya dihentikan pada tingkat penyidikan atau
penuntutan.
3) Memberikan keterngan, pertimbangan, dan nasihat tentang
hukum kepada instansi Pemerintah di daerahnya, apabila
diminta.
4) Mengadakan pengawasan atas pelaksanaan tugas dan tingkah
laku Hakim, Panitera, Sekretaris, dan Juru Sita di daerah
hukumnya.
5) Melakukan pengawasan terhadap jalannya peradilan dan
menjaga agar peradilan diselenggarakan dengan seksama
dan sewajarnya.
6) Memberikan petunjuk, teguran dan peringatan yang
dipandang perlu dengan tidak mengurangi kebebasan Hakim
dalam memeriksa dan memutus perkara.
7) Melakukan pengawasan atas pekerjaan notaris di daerah
hukumnya, dan melaporkan hasil pengawasannya kepada
Ketua Pengadilan Tinggi, Ketua Mahkamah Agung, dan
Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi jabatan
notaris.
Ketua Pengadilan Negeri dapat menetapkan perkara yang
harus diadili berdasarkan nomor urut, kecuali terhadap tindak
pidana yang pemeriksaannya harus didahulukan, yaitu :
1) Korupsi,
2) Terorisme
3) Narkotika/psikotropika,
4) Pencucian uang, atau
5) Perkara tidak pidana lainnya yang ditentukan oleh undang-
undang dan perkara yang terdakwanya berada di dalam
Rumah Tahanan Negara.

b. Pengadilan Tingkat Kedua


Pengadilan Tingkat Kedua disebut juga Pengadilan Tinggi yang
dibentuk dengan undang-undang. Daerah hukum Pengadilan Tinggi
berkedudukan di ibukota Provinsi, dan daerah hukumnya meliputi

2
wilayah Provinsi. Pengadilan Tinggi, disebut juga sebagai
Pengadilan Tingkat Banding.
Fungsi Pengadilan Tingkat Kedua adalah.
1) Menjadi pemimpin bagi pengadilan-pengadilan Negeri di
dalam daerah hukumnya.
2) Melakukan pengawasan terhadap jalannya peradilan di dalam
daerah hukumnya dan menjaga supaya peradilan itu diselesaikan
dengan seksama dan sewajarnya.
3) Mengawasi dan meneliti perbuatan para hakim pengadilan
negeri di daerah hukumnya.
4) Untuk kepentingan negara dan keadilan, Pengadilan Tinggi
dapat memberi peringatan, teguran, dan petunjuk yang
dipandang perlu kepada Pengadilan Negeri dalam daerah
hukumnya.
Wewenang Pengadilan Tingkat Kedua adalah.
11 Mengadili perkara yang diputus oleh pengadilan negeri dalam
daerah hukumnya yang dimintakan banding.
11 Berwenang untuk memerintahkan pengiriman berkas-berkas
perkara dan surat-surat untuk diteliti dan memberi penilaian
tentang kecakapan dan kerajinan para hakim.

c. Kasasi oleh Mahkamah Agung


Mahkamah Agung, sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 2004 sebagai perubahan atas Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1985, adalah pemegang Pengadilan Negara
Tertinggi dari semua Lingkungan Peradilan, yang dalam
melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh Pemerintah dan
pengaruh-pengaruh lain. Mahkamah Agung berkedudukan di Ibu
Kota Negara Republik Indonesia atau dilain tempat yang ditetapkan
oleh Presiden.
Pimpinan Mahkamah Agung terdiri dari seorang Ketua, seorang
Wakil Ketua, dan beberapa orang Ketua Muda. Tiap-tiap bidang
dipimpin oleh seorang Ketua Muda yang dibantu oleh beberapa
Hakim Anggota Mahkamah Agung, yaitu Hakim Agung.
Tugas atau Fungsi Mahkamah Agung adalah sebagai berikut.
1) Melakukan pengawasan tertinggi terhadap penyelenggaraan
peradilan di semua lingkungan peradilan dalam menjalankan
kekuasaan kehakiman.
2) Mengawasi tingkah laku dan perbuatan para Hakim disemua
lingkungan peradilan dalam menjalankan tugasnya.
3) Mengawasi dengan cermat semua perbuatan-perbuatan para
hakim di semua lingkungan peradilan.
4) Untuk kepentingan negara dan keadilan Mahkamah Agung
memberi peringatan, teguran, dan petunjuk yang dipandang
perlu baik dengan surat tersendiri, maupun dengan surat edaran.
Wewenang Mahkamah Agung (dalam lingkungan peradilah) adalah
sebagai berikut.

2
1) Memeriksa dan memutus permohonan kasasi, (terhadap putusan
Pengadilan Tingkat Banding atau Tingkat Terakhir dari semua
Lingkungan Peradilan),
2) Memeriksa dan memutus sengketa tentang kewenangan
mengadili,
3) Memeriksa dan memutus permohonan peninjauan kembali
putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap,
4) Menguji secara materiil hanya terhadap peraturan perundang-
undangan di bawah undang-undang,
5) Meminta keterangan tentang hal-hal yang bersangkutan dengan
teknis peradilan dari semua Lingkungan Peradilan,
6) Memberi petunjuk, teguran, atau peringatan yang dipandang
perlu kepada Pengadilan di semua Lingkungan Peradilan, dengan
tidak mengurangi kebebasan Hakim dalam memeriksa dan
memutus perkara.
7) Memeriksa dan memutus permohonan peninjauan kembali pada
tingkat pertama dan terakhir atas putusan Pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.
Tugas dan kewenangan lain (di luar lingkungan peradilan) dari
Mahkamah Agung, adalah sebagai berikut :
1) Menyatakan tidak sah semua peraturan perundang-undangan
dari tingkat yang lebih rendah daripada undang-undang atas
alasan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi,
2) Memutus dalam tingkat pertama dan terakhir, semua sengketa
yang timbul karena perampasan kapal asing dan muatannya oleh
kapal perang Republik Indonesia berdasarkan peraturan yang
berlaku,
3) Memberikan nasihat hukum kepada Presiden selaku Kepala
Negara dalam rangka pemberian atau penolakan grasi,
4) Bersama Pemerintah, melakukan pengawasan atas Penasihat
Hukum dan Notaris,
5) Memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum
baik diminta maupun tidak kepada Lembaga Tinggi Negara yang
lain.
Dalam hal kasasi, yang menjadi wewenang Mahkamah Agung
adalah membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-
pengadilan dari semua Lingkungan Peradilan karena :
1) Tidak berwenang atau melampaui batas wewenang,
2) Salah menerapkan atau karena melanggar hukum yang berlaku,
3) Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan
perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan
batalnya putusan yang bersangkutan.
Permohonan suatu kasasi dapat dilakukan oleh orang-orang dalam
perkara berikut ini.
1) Dalam hal perkara perdata, yaitu oleh pihak-pihak yang
berperkara. Permohonan demikian hanya dapat diterima apabila

2
upaya-upaya hukum biasa yang dapat digunakan telah
dimanfaatkan.
2) Dalam perkara pidana, dapat dilakukan oleh terpidana atau jaksa
yang bersangkutan sebagai pihak atau pihak ketiga yang
dirugikan.

Bonus Info Kewarganegaraan


Daerah hukum MA meliputi seluruh Indonesia dan kewajiban
utamanya adalah melakukan pengawasan tertinggi atas tindakan-
tindakan segala pengadilan lainnya diseluruh Indonesia, dan
menjaga/menjamin agar hukum dilaksanakan dengan sepatutnya.
Disamping Mahkmah Agung, juga ada suatu Kejaksaan Agung
yang dikepalai oleh Jaksa Agung. Dibawah Jaksa Agung ada
seorang atau lebih Jaksa Agung Muda. Dalam hal memeriksa dan
memutuskan perkara pidana militer, ketua, wakil ketua dan
anggota-anggota Mahkamah Agung beserta Jaksa Agung diberi
pangkat militer (tituler).

3. Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Konstitusi sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945
yang selanjutnya disyahkan menurut Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2003, memiliki wewenang dan kewajiban sebagai berikut :
a. Wewenang, yaitu mengadili pada tingkat pertama dan terakhir
yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang
terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa
kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan
oleh Undang-Undang Dasar 1945, memutus pembubaran partai
politik, dan memutus perselisihan Pemilihan Umum.
b. Kewajiban, yaitu memberi putusan atas pendapat Dewan
Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden
dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar 1945.
Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh Hakim Konstitusi
untuk masa jabatan 3 (tiga) tahun. Mahkamah Konstitusi
mempunyai 9 (sembilan) Hakim Konstitusi yang ditetapkan oleh
Presiden. Hakim Konstitusi diajukan masing-masing 3 (tiga) orang
oleh Mahkamah Agung, 3 (tiga) orang oleh Dewan Perwakilan
Rakyat, dan 3 (tiga) orang oleh Presiden. Masa jabatan Hakim
Konstitusi adalah 5 (lima) tahun, dan dapat dipilih kembali untuk 1
kali masa jabatan berikutnya.

Bonus Info Kewarganegaraan

3
IHWAL MAHKAMAH KONSTITUSI

Sejarah berdirinya lembaga Mahkamah Konstitusi diawali


dengan Perubahan Ketiga UUD 1945 dalam Pasal 24 ayat (2), Pasal
24C, dan Pasal 7B yang disahkan pada 9 November 2001. Setelah
disahkannya Perubahan Ketiga UUD 1945, maka dalam rangka
menunggu pembentukan Mahkamah Konstitusi, MPR menetapkan
Mahkamah Agung menjalankan fungsi Mahkamah Konstitusi untuk
sementara sebagaimana diatur dalam Pasal III Aturan Peralihan
UUD 1945 hasil Perubahan Keempat.
DPR dan Pemerintah kemudian membuat Rancangan Undang-
Undang tentang Mahkamah Konstitusi. Setelah melalui
pembahasan mendalam, DPR dan Pemerintah menyetujui secara
bersama Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi pada 13 Agustus 2003 dan disahkan oleh
Presiden pada hari itu. Dua hari kemudian, pada tanggal 15
Agustus 2003, Presiden mengambil sumpah jabatan para hakim
konstitusi di Istana Negara pada tanggal 16 Agustus 2003.
Ketua Mahkamah Konstitusi RI yang pertama adalah Prof. Dr.
Jimly Asshiddiqie SH. Guru besar hukum tata negara Universitas
Indonesia kelahiran 17 April 1956 ini terpilih pada rapat internal
antar anggota hakim Mahkamah Konstitusi tanggal 19 Agustus
2003. Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh Hakim
Konstitusi untuk masa jabatan 3 tahun. Saat ini Ketua Mahkamah
Konstitusi dijabat oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H, pada masa
bakti 2006-2009 (masa jabatan kedua kalinya), disumpah pada
tanggal 22 Agustus 2006.

Penugasan Praktik 3
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Peradilan
Nasional, lakukan Strategi Pembelajaran dengan Penugasan
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) atau
Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis.
Langkah-langkah :
Bentuk kelompok dengan anggotanya antara 3 – 4 orang.
Diberikan “wacana” atau kliping sesuai dengan topik
pembelejaran.
Setiap kelompok bekerja sama saling membacakan dan
menemukan ide pokok serta memberi tanggapan terhadap
wacana/kliping, dan ditulis pada lembar kertas.
Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok.
Buatlah kesimpulan bersama.
Penutup.

3
C. MACAM-MACAM NORMA DAN SANKSINYA YANG
BERLAKU DALAM MASYARAKAT

Setiap komunitas masyarakat dimanapun berada, sudah barang


tentu memiliki pedoman atau kaidah dalam penyelenggaraan hidup
secara bersama-sama. Kaidah atau pedoman di dalam penyelenggaran
kehidupan masyarakat, sering disebut sebagai “norma” yang selama
ini sesungguhnya telah kita laksanakan baik di dalam keluarga,
sekolah, maupun masyarakat.
Norma merupakan peraturan yang disepakati dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Norma merupakan aturan main dalam
kehidupan masyarakat yang bertujuan agar tidak ada benturan
kepentingan antar anggota masyarakat.

1. Pengertian Norma
Norma merupakan pedoman perilaku bagi setiap manusia dalam
suatu komunitas masyarakat yang memungkinkan seseorang untuk
menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya itu akan dinilai
orang lain; dan norma juga dapat dijadikan kriteria bagi orang lain
untuk mendukung atau menolak perilaku seseorang.
Dengan norma, setiap orang dapat dipaksa untuk bertindak sesuai
dengan ketentuan yang tercantum dalam norma itu sendiri. Jika terjadi
pelanggaran, maka terhadap si pelanggar harus dikenakan sanksi,
yaitu berupa hukuman yang harus diterimanya karena pelanggaran itu.
Contoh, jika seseorang melanggar aturan lalu lintas (menyerobot
lampu merah), ia akan ditilang dan dikenakan sanksi hukum (denda).
Berdasarkan uraian di atas, maka secara umum dapat dikatakan
bahwa norma adalah petunjuk hidup yang berisi perintah dan
larangan agar setiap
Filoloorang berperilaku
Merupakansesuai dengan
aturan, aturan dan
ukuran, atau
norma itu sehingga gi tercipta ketertiban
kaidah dan kedamaian dalam
masyarakat. Menurut A. Muis, Merupakan
norma adalah suatuketetapan
suatu cara berfikir
yangdan
bertindak yang terstruktur, terpola, dan diatur oleh kaidah-kaidah
dipakai seba-gai tolok ukur yang yang
memberitahukan Falsaf
suatu harapan akan konformitas
tidak boleh diubah sosial.
yang kemudian
NORM
at dijadikan dasar untuk sebagai
mengukur atau
A dalam Ensiklopedi Indonesia,
Di yang disebut “norma”
(Belanda : norm) dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikutdan
Dalam bentuk meter,
menilai liter,
atau kilogram, detik
memperbandingkan hal
:
sebagainya. ihwal. Tetapi dalam bidang non-fisik,
menetapkan norma atau kaidah menjadi nisbi dan
berupa perbandingan atau urutan. Contoh :
Fiil, norma tingkah laku didasarkan pada adat
kebiasaan;
Fisika Seni, norma nilai kesenian (lebih) tergan-tung
dari aliran yang sedang dominan;
Statistik, dalam lapangan psikologi, sosiologi,
asuransi ditetapkan norma atau rata-rata
3
berdasarkan perhitungan statistik;
Etika, norma tingkah laku orang dinilai sesuai
dengan adat kebiasaan, dan oleh karena itu
Fokus Kita :
Norma atau kaidah, adalah aturan yang disepakati bersama dalam
masyarakat dan memberi pedoman bagi perilaku para anggotanya
dalam mewujudkan sesuatu yang dianggap baik dan diinginkan.
Kaidah atau aturan tersebut, biasanya berwujud perintah atau

2. Macam-Macam Norma dan Sanksinya


Kita dapat menjelaskan norma dalam masyarakat berdasarkan dua
hal berikut : berdasarkan sumber/ asal-usulnya dan berdasarkan daya
mengikatnya. Berdasarkan sumber/ asal-usulnya, norma dapat dibagi
menjadi : norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan
norma hukum. Sedangkan berdasarkan daya mengikatnya, norma
dapat dibagi menjadi : Cara (Usage), Kebiasaan (Folkways), Tata
Kelakuan (Mores) dan Adat-istiadat (Custom). Masing-masing norma,
entah berdasarkan asal-usulnya ataupun berdasarkan daya
mengikatnya, memiliki sanksi tertentu.

b. Berdasarkan Sumber/ Asal-Usulnya


Untuk mempermudah pemahaman tentang macam-macam
norma yang ada di dalam masyarakat pada umumnya, perhatikan
matriks di bawah ini.

No Norma Pengertian Contoh- Sanksi


. contoh
1. Agama Petunjuk hidup yang a. Berse Tidak
berasal dari Tuhan mbah- lang-sung,
yang disampaikan yang/ibad karena
melalui utusan-Nya ah sesuai akan
(Rasul/ Nabi) yang tempat- diperoleh
berisi perintah, nya. setelah
larangan, atau anjuran- b. Tidak wafat/
anjuran. berjudi, meninggal

3
c. Suka du-nia
beramal, (pahala
dan lain- atau dosa).
lain.
2. Kesusila Aturan yang datang a. Berlak Tidak
an atau bersumber dari u jujur. tegas,
hati nurani manusia b. Bertin karena
(insan kamil) tentang dak adil. hanya diri
baik buruknya suatu c. Mengh sendiri
perbua-tan) argai yang
orang merasa-
lain. kan
(merasa
bersalah,
me-nyesal,
malu, dsb).
3. Kesopa Peraturan hidup yang a. Mengh Tidak
nan timbul dari hasil ormati tegas, tapi
pergaulan segolo-ngan orang dapat
manusia di dalam yang diberikan
masya-rakat dan lebih tua. oleh
dianggap sebagai b. Tidak masyarakat
tuntunan pergaulan berkata berupa
sehari-hari masyarakat kasar. celaan,
itu. Norma keso-panan c. Meneri cemoohan,
bersifat relatif, artinya ma atau
apa yang dianggap dengan dikucilkan
sebagai norma tangan dari
kesopanan berbeda- kanan. pergaulan.
beda di berbagai
tempat, lingkungan,
atau waktu.
4. Hukum Norma hukum adalah a. Harus Tegas,
pedoman hidup yang tertib. artinya ada
dibuat dan dipaksakan b. Harus aturan
oleh lembaga politik sesuai yang telah
suatu masayarakat prosedur. di-buat dan
(negara). Dalam c. Dilaran seca-ra
masyakarakat tertentu, g material
hukum diberlakukan mencuri, telah diatur
secara lisan; ini disebut merampo dalam (UU,
hukum adat atau k, dll. Peraturan
hukum umum. Pemerintah
, KUHAP,
Hukum mempunyai
dan
dua aspek yang
sebagainya
berkaitan erat satu
).
sama lain. Aspek
Nyata,
pertama adalah sistem
mengi-kat
norma dan aspek

3
kedua adalah sistem dan me-
kontrol sosial. Hukum maksa,
sebagai sistem norma berarti
berfungsi untuk adanya
menertibkan dan aturan
menstabilkan yang
kehidupan sosial. secara
Hukum sebagai kontrol material
sosial berfungsi untuk telah
menin-dak tegas setiap ditetapkan
pelanggaran terhadap ka-dar
nilai dan norma yang hukuman-
berlaku dalam nya
masyarakat. berdasar-
kan
Menurut Soerjono
perbuatan
Soekanto, kedua
yang
aspek tersebut perlu
dilang-
dilengkapi dengan
garnya.
aspek hu-kum lain,
Contoh:
yaitu hukum sebagai
dalam
konkretiasi atau
Pasal 359
perwujudan nilai-nilai
KUHP
yang berlaku dalam
menyebutk
masyarakat.
an,
Ciri norma hukum “Barang
antara lain adalah siapa
diakui oleh masyarakat karena
sebagai ketentuan kealpa-
yang sah dan ada annya
penegak hukum menye-
sebagai pihak yang babkan
berwenang kema-tian
memberikan sanksi. orang lain
Tujuan utama norma diancam
hukum adalah de-ngan
menciptakan suasana pidana
aman dan tentram penjara
dalam masyarakat. paling lama
lima ta-hun
atau kuru-
ngan paling
lama satu
tahun”.

c. Berdasarkan Daya Mengikatnya

3
Norma-norma yang ada dalam masyarakat mempunyai daya
mengikat yang berbeda-beda. Ada yang ikatannya lemah, ada yang
ikatannya sedang, ada yang ikatannya kuat. Umummnya para
anggota masyarakat tidak berani melanggar norma yang berdayaikat
kuat. Kalau dilihat dari daya mengikatnya terhadap para anggota
masyarakat, norma dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu : Cara,
Kebiasaan, Tata Kelakuan, dan Adat-Istiadat.

1) Cara (Usage)
Cara adalah norma yang paling lemah daya mengikatnya. Cara
atau usage lebih menonjol dalam hubungan antar individu. Orang-
orang yang melanggarnya paling-paling akan mendapatkan
cemoohan atau ejekan saja.
Contoh : ketika selesai makan seseorang bersendawa atau
mengeluarkan bunyi sebagai tanda kekenyangan. Tindakan
tersebut dianggap tidak sopan,dan karenanya orang tersebut akan
diejek atau dicemooh.

2) Kebiasaan (Folkways)
Kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk
yang sama karena orang banyak menyukai dan menganggapnya
penting dan karenanya juga terus dipertahankan. Daya
mengikatnya lebih tinggi dibandingkan Cara atau usage. Selain
hanya merupakan soal rasa atau selera belaka, kebiasaan
merupakan tindakan yang berkadar moral kurang penting. Bila
orang tidak melakukannya, ia paling-paling akan dianggap aneh,
namun tidak dicap jahat atau jelek. Setiap perilaku aneh selalu
mengundang gosip atau tertawaan orang lain, namun tidak perlu
dirajam atau dipenjarakan.
Contoh : Jika mau masuk ke rumah orang harus permisi dulu
dengan mengetuk pintu, menghormati orang yang lebih tua,
kebiasaan menggunakan tangan kanan ketika hendak
memberikan sesuatu kepada orang lain, dan sebagainya.

3) Tata Kelakuan (Mores)


Apabila kebiasaan tertentu tidak sekedar dianggap sebagai cara
berperilaku melainkan diterima sebagai norma pengatur, maka
kebiasaan itu menjadi “Tata Kelakuan”. Tata Kelakuan
mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia dan
dilaksanakan sebagai alat kontrol oleh masyarakat terhadap para
anggotanya. Tata kelakuan memaksakan suatu perbuatan
sekaligus melarang perbuatan tertentu. Pelanggaran terhadap tata
kelakuan adalah sanksi yang agak berat, seperti dikucilkan secara
diam-diam dalam pergaulan.
Contoh : berciuman di depan umum, dan berpakaian sangat
minim. Tata kelakuan dianggap penting karena :

3
 Memberikan batas-batas pada kelakuan setiap orang
(individu). Hal ini penting karena setiap masyarakat
mempunyai tata kelakuan masing-masing.
 Mengidentifikasikan individu dengan kelompoknya.
 Menjaga solidaritas di antara anggota-anggotanya demi
menjaga keutuhan dan kerja sama di antara anggota
masyarakat.

4) Adat Istiadat (Custom)


Adat-istiadat dipandang penting bagi berfungsinya suatu
masyarakat dan kehidupan sosial. Tindakan mencuri adalah
bentuk kejahatan serius terhadap adat-stiadat yang sangat
menekankan penghargaan terhadap hak milik pribadi. Tabu
merupakan adat-istiadat yang bersifat melarang (proscriptive),
yaitu menjelaskan hal-hal yang tidak boleh dilakukan.
Contoh : pada umumnya masyarakat menganggap tabu
hubungan seksual dan perkawinan antar kerabat dekat (tabu
inses), atau makan daging sesama manusia. Sanksi terhadap
dilanggarnya tabu dan adat-istiadat umumnya lebih keras
dibandingkan pelanggaran terhadap Cara, Kebiasaan, dan Tata
Kelakuan. Sanksi-sanksi itu misalnya dipenjara, dibuang/ ditolak
dalam pergaulan masyarakat, dan bahkan dirajam sampai mati.

Bonus Info Kewarganegaraan


NORMA, MORAL, MORALITAS, DAN ETIKA

Di dalam kehidupan masyarakat, kita sesungguhnya


dihadapkan pada apa yang disebut norma moral. Norma moral
adalah petunjuk tentang yang baik dan yang jahat. Kita sering
mendengar “Anda tidak bermoral”., itu artinya anda melakukan
suatu perbuatan yang tidak baik atau tercela. Lalu apa itu
moralitas ?
Moralitas adalah prinsip-prinsip mengenai yang baik dan jahat.
Akan tetapi karena moralitas itu sifatnya abstrak, maka setiap
masyarkat atau kebudayaan menetapkan dan menterjemahkan
sendiri apa yang dianggapnya sebagai “yang baik” dan “yang
jahat”. Hasilnya adalah terbentuknya norma-norma. Singkatnya,
norma merupakan operasio-nalisasi konkret dari moralitas
yang sifatnya abstrak itu.
Operasionalisasi yang paling tinggi misalnya tercermin dalam
adat istiadat dan norma kesusilaan. Lalu, kita sering pula
mendengar istilah etika. Apakah etika itu ? Etika adalah kajian
filosofis mengenai moralitas atau standar-standar perilaku.
Singkatnya “etika” adalah pelajaran atau ilmu tentang moralitas.
Hampir seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia
mengajarkan “etika”. Kata lain untuk “etika” adalah “filsafat

3
moral”.
Meskipun suatu kebudayaan merumuskan sendiri apa yang
dianggapnya perilaku bermoral atau tidak bermoral, moralitas itu
sendiri bersifat universal; artinya apa yang dianggap bermoral
atau tidak bermoral berlaku untuk semua kebudayaan dan
masyarakat di dunia ini.

Penugasan Praktik 4
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Pengertian Norma
dan Sanksinya di dalam masyarakat, amati baik-baik wacana
berikut :

113 Warga Didenda Rp. 30.000, 50 Orang Dipulangkan


Enam Perokok di Jakpus Didenda Rp. 50.000,
Penegakan Perda No 2 tahun 2005, tentang pengendalian
pencemaran udara, dan peraturan Gubernur (pergub) No 75 tahun
2005, tentang larangan merokok, di Jakarta Pusat (Jakpus), terus
digencarkan. Enam warga pecandu rokok yang seenaknya sedang
menikmati asap tembakau di kendaraan angkutan umum di
kawasan Senen, dikenakan denda masing-masing Rp. 50.000
dalam operasi yustisi yang digelar di Kecamatan Senen. Kamis
(20/4).
Selain pelanggan Pergub, dalam razia yang dipimpin Wakil
Walikota Jakpus, H Dadang Effendi, sejak pukul 10.00 hingga
12.00 itu, juga berhasil dijaring 163 warga asal daerah, 113
diantaranya dikenakan sanksi denda masing-masing Rp. 30.000
karena tidak melapor ke RT/Rw serta lurah setempat, sedangkan 50
warga lainnya dipulangkan ke kampung asal masing-masing
lantaran tidak memiliki persyaratan kependudukan.

Dedy Aryadi (23) warga Kelurahan Cempaka Baru, Kecamatan


Kemayoran, yang akan menghadiri wawancara penerimaan
karyawan dengan menumpang kendaraan Metro Mini dari terminal
Senen ke arah Jl Thamrin, terpaksa menunda perjalanannya dan
digiring mengikuti persidangan yang digelar di kantor Kecamatan
Senen.
Hakim Aman Barus yang memimpin sidang, menjatuhi
hukuman denda Rp. 50.000. Ketika Hakim Aman Barus, mengetuk
palunya, Dedy sempat tertegun sesaat dan menolak membayar
denda dengan alasan tak merasa melanggar apapun dan belum
tahu peraturan larangan merokok ”Kami salah apa pak kok di denda
sih” katanya. Namun setelah dijelaskan Perda No 2 tahun 2005,

3
tentang pengendalian pencemaran udara sudah diundangkan
setahun dan warga dianggap sudah tahu, ia tidak bisa berkutik.
Sumber : Harian
Pelita, 21/4/2006.

Berdasarkan wacana tersebut di atas, berikan penjelesan


tanggapan sebagai berikut :
1. Jelaskan, benarkah Dedy Aryadi telah dianggap melanggar
norma !
2. Tuliskan, norma apakah yang dilanggar oleh Dedy Aryadi !
3. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta peduli dalam pengendalian
pencemaran udara sehingga tidak boleh sembarang merokok.
Tuliskan, tempat-tempat yang boleh dan tidak boleh untuk
merokok !
4. Bagi penduduk DKI Jakarta yang tidak memiliki identitas,
terjaring operasi yustisi. Menurut anda, apa pentingnya dilakukan
operasi tersebut !
5. Jelaskan, mengapa dalam hal peraturan perundangan kita tidak
dapat mengatakan “tidak tahu” atas suatu pelanggaran yang
dilakukan !

D. MENUNJUKKAN SIKAP YANG SESUAI DENGAN KETENTUAN


HUKUM YANG BERLAKU

Hukum dibuat dengan tujuan menjaga dan memelihara ketertiban


dalam masyarakat, dan sekaligus juga untuk memenuhi rasa keadilan
manusia. Oleh sebab itu, agar kehidupan masyarakat dalam berbangsa
dan bernegara dapat berlangsung dengan aman, tenteram dan tertib
diperlukan sikap yang mampu mendukung ketentuan hukum yang
berlaku. Diantara sikap yang mendukung ketentuan hukum antara
lain :
1. Sikap Terbuka
Sikap terbuka, merupakan sikap yang secara internal adanya
keinginan bagi setiap warga negara untuk membuka diri dalam
memahami hukum yang berlaku di dalam masyarakat. Sikap ini
sangat penting dalam rangka menghilangkan rasa curiga dan salah
faham sehingga dapat memupuk saling rasa percaya dalam

3
membangun persatuan dan kesatuan. Sikap terbuka dalam
memahami ketentuan hukum yang berlaku, dapat mencakup hal-hal
berikut :
a. sanggup menyatakan suatu ketentuan hukum adalah benar atau
salah,
b. mau mengatakan apa adanya benar atau salah,
c. berupaya selalu jujur dalam memahami ketentuan hukum,
d. berupaya untuk tidak menutup-nutupi kesalahan.

2. Sikap Obyektif/Rasional
Bersikap obyektif atau rasional, merupakan sikap yang ditunjukkan
oleh seseorang dalam memahami ketentuan-ketentuan hukum
dikembalikan pada data, fakta dan dapat diterima oleh akal sehat.
Seseorang yang mengedepankan obyektivitas atau rasionalitas,
akan memiliki pendirian kuat dan mampu berfikir jernih dalam
menghadapi berbagai persoalan sehingga tidak mudah difitnah atau
terombang-ambing oleh keadaan. Beberapa contoh sikap obyektif
yang dapat ditunjukkan antara lain :
a. mampu menyatakan/menunjukkan bahwa suatu ketentuan
hukum benar atau salah dengan argumentasi yang baik,
b. sanggup menyatakan ya atau tidak untuk suatu pelaksanaan
ketentuan hukum dengan segala konsekuensinya,
c. mampu memberi penjelasan yang netral dan dapat diterima akal
sehat bahwa suatu pelaksanaan ketentuan hukum benar atau
salah,
d. sanggup menyatakan kekurangan atau kelemahannya jika orang
lain lebih baik,
e. menghargai orang lain sesuai dengan kemampuan, keahlian atau
profesinya.

3. Sikap Mengutamakan Kepentingan Umum


Kepentingan umum atau kepentingan orang lain, dimanapun berada
agar didahulukan. Sikap mengutamakan kepentingan umum,
merupakan sikap seseorang untuk menghargai atau menghormati
orang lain yang dirasakan lebih membutuhkan/penting dalam suatu
kurun waktu tertentu untuk sesuatu yang lebih besar manfaatnya.
Dalam pelaksanaan ketentuan hukum, sikap mengutamakan
kepentingan umum dapat dilihat pada beberapa contoh berikut ini :
a. merelakan tanah atau bangunan diambil oleh pemerintah untuk
kepentingan sarana jalan atau jembatan,
b. memberikan jalan kepada orang lain untuk lebih dahulu
menyeberang atau melewatinya,
c. memberi tempat/pertolongan kepada orang lain yang sangat
membutuhkan,
d. memenuhi tugas yang diberikan oleh atasan atau guru di sekolah
sesuai dengan kesepakatan,

4
e. membayar pajak (bumi dan bangunan, kendaraan, perusahaan,
dan lain-lain) berusaha tepat waktu.

E. UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA

1. Pengertian Korupsi
Kata “korupsi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ,
merupakan penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau
perusahaan) dan sebagainya untuk keuntungan pribadi atau orang
lain. Oleh sebab itu, perbuatan korupsi sesungguhnya selalu
mengandung unsur “penyelewengan” atau dishonest (ketidak
jujuran). Sedangkan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28
Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan
bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, disebutkan bahwa
“Korupsi” adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
tindak pidana korupsi.
Istilah korupsi yang sebangun dengan kata “kolusi” dan
“nepotisme”, nampaknya perlu juga disebutkan sebagai berikut :
 Kolusi, adalah permufakatan atau kerja sama secara melawan
hukum antar penyelenggaraan negara atau antara penyelenggara negara
dan lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau negara.
 Nepotisme, adalah setiap perbuatan penyelenggara negara
secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarga dan
atau kroninya di atas kepentingan masyarakat bangsa dan negara.

Fokus Kita :
Korupsi adalah produk dari sikap hidup satu kelompok
masyarakat yang memakai uang sebagai standar kebenaran dan
sebagai kekuasaan mutlak. Sebagai akibatnya, kaum koruptor
yang kaya raya dan para politisi korup yang berkelebihan uang
bisa masuk kedalam golongan elit yang berkuasa dan sangat

2. Gambaran Umum Korupsi


Praktik-praktik korupsi di bumi Indonesia, sebenarnya telah
berlangsung sejak era orde lama (sekitar tahun 1960-an) bahkan
sangat mungkin pada tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah melalui
Undang-Undang Nomor 24 Prp 1960 yang diikuti dengan
dilaksanakannya “Operasi Budhi” dan Pembentukan tim
Pemberantasan Korupsi berdsarkan Keputusan Presiden Nomor 228
Tahun 1967 yang dipimpim langsung oleh Jaksa Agung, belum
membuahkan hasil nyata.
Era Orde Baru, dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 3
Tahun 1971 dengan “Operasi Tertib” yang dilakukan oleh Komando
Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), namun

4
sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, modus
operandi korupsi semakin canggih dan rumit sehingga undang-
undang tersebut dinyatakan tidak mampu lagi untuk dilaksanakan.
Selanjutnya untuk lebih memperkuat pelaksanaan pemberantasan
korupsi, dikeluarkan kembali Undang-Undang Nomor 31 Tahun
1999.
Upaya-upaya hukum yang telah dilakukan oleh pemerintah,
sebenarnya sudah cukup banyak dan sistematis. Namun dirasakan
sangat berat beban korupsi di Indonesia, yakni sejak akhir tahun
1997 dimana negara mengalami krisis ekonomi dan moneter. Krisis
demi krisis menyusul kemudian terjadi krisis politik, sosial,
kepemimpinan dan kepercayaan yang pada akhirnya adalah
menjadi krisis multi dimensi. Gerakan reformasi yang
menumbangkan rezim Orde Baru, menuntut antara lain
ditegakkannya supremasi hukum dan pemberantasan Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme. Tuntutan masyarakat tersebut selanjutnya
dituangkan di dalam Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 dan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan
Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
(KKN).
Beberapa contoh kasus yang dimuat dalam harian ibukota yang
sedikit demi sedikit terkuak dan muncul ke permukaan yang sarat
berbau KKN antara lain :
a. Hilangnya aset tanah Pemda DKI Jakarta
yang mencapai Rp. 5 trilyun (Kompas, 26/3/1999),
b. Beberapa perusahaan dan pejabat
Indonesia yang menerima suap dari perusahaan Jepang
sehingga mampu memenangkan proyek milayaran yen (Media
Indonesia, 15/10/1999),
c. Berdasarkan audit Price Waterhouse
Cooper (PWC), terdapat in-efisiensi di Pertamina sejak 1 April
1996 s.d. 31 Maret 1998 sebesar US $ 6,1 milyar (Kompas,
20/7/1999).
d. Banyaknya penyimpangan di tubuh
Departemen (Perhubungan, Koperasi, Dalam Negeri) yang
mencapi trilyunan rupiah antara tahun 1998 s.d. 1999 (Kompas,
16/7/1999).
e. Dan tentu saja masih banyak yang lain.
3. Persepsi Masyarakat Tentang Korupsi
Di negara Indonesia meskipun sejak orde lama, orde baru dan sekarang
ini telah diupayakan pembernatasannya, namun hingga sekarang ini
penyakit “korupsi” masih berkembang cukup subur di segala bidang
pemerintahan dan sektor kehidupan. Rakyat kecil yang tidak memiliki alat
pemukul guna melakukan koreksi dan memberikan sanksi, pada
umumnya bersikap acuh tak acuh. Namun yang paling
menyedihkan adalah sikap rakyat menjadi semakin apatis dengan
semakin meluasnya praktek-praktek korupsi oleh beberapa oknum pejabat
lokal, maupun nasional.

4
Sedangkan persepsi pada kelompok masyarakat terpelajar (mahasiswa),
dapat identifikasi sebagai berikut :
a. Kelompok mahasiswa sering menanggapi masalah
korupsi dengan emosi yang meluap-luap dan protes-protes terbuka.
Mereka sangat sensitif terhadap perbuatan korup, juga sangat mengutuk
perbuatan yang merugikan negara dan bangsa. Oleh aspirasi sosialnya
yang sehat dan tidak memiliki vested interest, tidak henti-
hentinya mereka melontarkan kritik. Lalu memberikan
sugesti-sugesti kepada pemerintah untuk melakukan tindakan
korektif tegas terhadap perbuatan korupsi. Hal ini cukup berhasil
terutama pada saat gerakan reformasi digulirkan pada tahun 1998.
b. Mereka pada umumnya tidak melakukan identifikasi terhadap
trata ekonomi atau strata etnik tertentu. Oleh karena
pengaruh pembelajaran yang intensif, munculah kesadaran politik pada
mereka dan timbul pula aspirasi politik. Mereka mampu melihat
secara kritis, dan merasa sangat tidak puas terhadap
perbuatan-perbuatan manipulatif dan koruptif dari banyak pejabat.
Mereka masih memiliki idealisme tinggi dan berfikir jauh kedepan.
c. Kritik-kritik dan oposisi mahasiswa itu pada umumnya tidak
bersumber pada masalah kekurangan materiil atau kemiskinan, akan
tetapi karena faktor ketidak puasan dan kegelisahan psikologis
(psychological insecurity). Mereka ingin berpartisipasi dalam
usaha rekonstruksi terhadap masyarakat dan sistem
pemerintahan secara menyeluruh, mencita-citakan
keadilan, persamaan dan kesejahteraan yang lebih
merata. Tema-tema demonstrasi sering mengangkat
permasalahan “penguasa yang korup” dan “derita
rakyat”.

4. Fenomena Korupsi di Indonesia


Fenomena di negara berkembang pada umumnya termasuk Indonesia,
proses modernisasi belum mampu ditunjang oleh kemampuan sumber daya
manusia pada lembaga-lembaga politik yang ada. Sementara disisi lain,
institusi-institusi politik yang ada juga masih lemah. Lemahnya lembaga-
lembaga politik tersebut, banyak disebabkan oleh mudahnya “oknum”
lembaga tersebut dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan kelompok
business/ekonomi, sosial, keagamaan, kedaerahan, kesukuan, dan, profesi
serta kekuatan-kekuatan asing tertentu.
Pada kehidupan masyarakat yang mengalami proses perubahan, selalu
muncul kelompokkelompok sosial baru yang ingin berpartisipasi dalam
bidang politik, namun sesungguhnya banyak diantara mereka yang tidak
mampu. Di lembaga-lembaga politik, mereka (politikus instan) sering hanya
ingin memuaskan ambisi-ambisi dan kepentingan pribadinya
dengan dalih “kepentingan rakyat”. Oleh sebab itu, tidak
jarang diantara mereka sering terjebak pada ambisi pribadi dan
kepentingan kelompok tertentu. Sebagai akibatnya, terjadilah runtunan
peristiwa sebagai berikut :

4
1. Partai-partai politik sering in-konsistensi, artinya apa yang
diperjuangan dan menjadi misinya sering berubah-ubah (pendirian dan
ideologi) dan “mudah dibeli” sesuai dengan kepentingan politik saat itu.
2. Munculnya “oknum” pemimpin yang lebih mengedepankan
kepentingan-kepentingan pribadi daripada kepentingan umum, sehingga
kesejahteraan umum mudah dikorbankan. Dengan demikian, lembaga-lembaga
politik tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, dan cenderung dimanipulir
oleh oknum-oknum pemimpinnya.
3. Pada sebagian oknum pemimpin politik, partisipan dan
kelompoknya, berlomba-lomba untuk mencapai “obyek politik” dalam bentuk
keuntungan materiil dengan mengabaikan kebutuhan rakyat banyak sehingga
terjadi “kehampaan motivasi perjuangan”.
4. Terjadilah erosi loyalitas kepada bangsa dan negara, karena
lebih menonjolkan dorongan pemupukan harta kekayaan dan kekuasaan. Jadi,
mulailah penampilan pola tingkah laku yang korup.
5. Di masyarakat, mereka sebagai kelompok Orang-orang Kaya Baru
(OKB, nouveaux riches) yang ingin mendapatkan status sosial dan kekuasaan
politik yang seimbang dengan posisi ekonominya yang baru. Sumber kekuasaan
dan ekonomi, mulai terkonsentrasi pada satu atau beberapa kelompok kecil yang
melimpah sehingga kekayaan dan kesejahteraan yang ada terkonsentrasi
pada yang menguasai sumber-sumber pendapatan dan tampuk pemerintahan.
Sedangkan derita dan kemiskinan tetap ada pada kelompok masyarakat besar
(rakyat).
6. Penggunaan lembaga-lembaga politik sebagai sarana untuk mencapai
harta kekayaan itu mencakup pengertian adanya: dwi-aliansi di antara bidang
“politik” dengan sektor “ekonomi-business”. Bahkan tidak jarang nilai-nilai
politik dan lembaga-lembaga politik itu menjadi bawahan/subordinate dari
nilai dan ambisi lembaga-lembaga ekonomi. Tujuan-tujuan politik yang prinsipil
bukannya kesejahteraan dan kepentingan rakyat banyak, akan tetapi promosi dari
kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan.
7. Pada umumnya, kesempatan korupsi akan lebih meningkat
seiring dengan semakin meningkatnya jabatan dalam hierarki politik
kekuasaan. Para legislator (pembuat undangundang) tingkat nasional pada
umumnya lebih korup daripada pejabat-pejabat lokal. Demikian juga untuk
aparat birokrat tingkat atas, lebih memiliki kesempatan daripada pejabat-pejabat
eselon dibawahnya.
Dalam pemerintahan yang korup, mereka yang telah mendapatkan
kekuasaan politik tertinggi sangat mungkin memiliki kesempatan paling
banyak . Dengan demikian, maka tumbuh suburnya korupsi yang
“berat di puncak” itu hampir selalu disebabkan oleh adanya sumber daya
manusia pada kekuasaan/kelembagaan politik yang sangat lemah. Mereka
tidak mampu berdiri secara otonom sehingga tidak mampu pula
membebaskan diri dari macam-macam pengaruh penyogokan dan
pembelian kekuasaan .

Bonus Info Kewarganegaraan


4
SISI LAIN PENANGGULANGAN “KORUPSI”

Korupsi, merupakan penyakit laten yang dihampir setiap negara


memiliki “tempat untuk bersemai” sendiri. Korupsi dapat berkembang biak
atau tidak, sangat tergantung kondisi sosial politik para penyelenggara
negara dan elit politik yang berkuasa. Dan yang tidak kalah
pentingnya juga kondisi sosial budaya masyarakat setempat,
apakah mereka kritis, acuh tak acuh atau bisa diajak kerja sama.
Di negara Indonesia, upaya penanggulangan korupsi sudah
gencar dilaksanakan pada Tahun 1960 yaitu dengan
dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Prp 1960. Keluarnya
undang-undang tersebut diikuti dengan dilaksanakannya “Operasi
Budhi” dan Pembentukan tim Pemberantasan Korupsi berdsarkan
Keputusan Presiden Nomor 228 Tahun 1967 yang dipimpim
langsung oleh Jaksa Agung. Upaya pemberantasan kurang berjalan
efektif, karena faktor-faktor antara lain : pelaku sulit untuk ditindak
secara pidana, hanya ditujukan kepada pegawai negari dan belum
didukung oleh peraturan-peraturan yang ada.
Kegagalan diterapkannya Undang-Undang Nomor 24 Prp 1960,
pada masa Orde Baru kemudian diganti dengan Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 1971 yang pada waktu itu diupayakan maksimal
melalui “Operasi Tertib” yang dilakukan oleh Komando Operasi
Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Namun sejalan
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, modus
operandi korupsi semakin canggih dan rumit sehingga undang-
undang tersebut dinyatakan tidak mampu lagi untuk dilaksanakan.
Selanjutnya untuk lebih memperkuat pelaksanaan
pemberantasan korupsi, dikeluarkan kembali Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 yang dianggap sebagai penyempurnaan,
yaitu antara lain :
1. Tindak pidana korupsi dapat dilakukan korporasi,
2. Tindak pidana korupsi dirumuskan sebagai tindak pidana formil,
3. Perluasan pengertian tentang pegawai negeri,
4. Ancaman pidana diperberat dengan menentukan batas
minimum dan maksimum,
5. Akan dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang
melibatkan unsur masyarakat.

F. PERAN SERTA DALAM UPAYA PEMBERANTASAN


KORUPSI DI INDONESIA

Negara Indonesia meskipun dewasa ini telah diwarisi oleh “budaya korupsi”
yang sudah “menggurita” atau berurat berakar dalam sendi-sendi kehidupan
masyarakat, namun kita masih optimis untuk upaya penanggulangannya.
Partisipasi dan dukungan segenap lapisan masyarakyat sangat dubutuhkan

4
dalam mengawal upaya-upaya pemerintah melalui Komisi Pembeberantasa
Korupsi (KPK), dan aparat hukum lain. KPK yang ditetapkan melalui Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi untuk mengatasi, menanggulangi dan memberantas
korupsi, merupakan komisi independen yang diharapkan mampu menjadi
“martit” bagi para pelaku tindak KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).
KPK dengan keterbatasan yang ada sangat menyadari bahwa untuk
memberantas “Korupsi” di Indonesia bukanlah pekerjaan mudah. Oleh sebab itu,
agenda yang perlu dilakukan antara lain : Pertama, membangun kultur yang
mendukung pemberantasan korupsi.. Kedua, mendorong pemerintah
melakukan reformasi public sector dengan mewujudkan good governance.
Ketiga, membangun kepercayaan masyarakat. Keempat, mewujudkan
keberhasilan penindakan terhadap pelaku korupsi besar (big fish). Kelima,
memacu aparat penegak hukum lain untuk memberantas korupsi.
Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk pemberantasan
tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme di Indonesia antara lain :
1. Upaya Pencegahan (Preventif) :
a. Menanamkan aspirasi, semangat dan spirit nasional yang positif
dengan mengutamakan kepentingan nasional, kejujuran serta
pengabdian pada bangsa dan negara melalui sistem pendidikan formal,
non formal dan pendidikan agama.
b. Melakukan sistem penerimaan pegawai berdasarkan prinsip
achievement atau keterampilan teknis dan tidak lagi berdasarkan
norma ascription yang dapat membuka peluang berkembangnya
nepotisme.
c. Para pemimpin dan pejabat selalu dihimbau untuk memberikan
keteladanan, dengan mematuhi pola hidup sederhana, dan memiliki rasa
tanggungjawab sosial yang tinggi.
d. Demi kelancaran layanan administrasi pemerintah, untuk para
pegawai selalu diusahakan kesejahteraan yang memadai dan ada
jaminan masa tua.
e. Menciptakan aparatur pemerintahan yang jujur dan disiplin
kerja yang tinggi. Jabatan dan kekuasaan, akan didistribusikan melalui
norma-norma teknis kemampuan dan kelayakan.
f. Sistem budget dikelola oleh pejabat-pejabat yang mempunyai
tanggung jawab etis tinggi; dibarengi sistem kontrol yang efisien.
Menyelenggarakan sistem pemungutan pajak dan bea cukai yang efektif
dan ada supervisi yang ketat, baik di pusat maupun di daerah.
g. Melakukan herregistrasi (pencatatan ulang) terhadap kekayaan
perorangan “pejabat” yang mencolok. Kekayaan yang statusnya tidak
jelas dan diduga menjadi hasil korupsi, akan disita oleh negara.
h. Berusaha untuk melakukan reorganisasi dan rasionalisasi dari
organisasi pemerintahan, melalui penyederhanaan jumlah departemen
beserta jawatanjawatan bawahnya. Akan selalu ada koordinasi antar
departemen yang lebih baik, disertai sistem kontrol yang teratur terhadap
administrasi pemerintah, baik di pusat maupun di daerah.

4
2. Upaya Penindakan (Kuratif) :
Upaya penindakan, yaitu dilakukan kepada mereka yang terbukti
melanggar dengan diberikan peringatan, dilakukan pemecatan tidak hromat
dan dihukum pidana. Beberapa contoh penanganan kasus dan penindakan
yang sudah dilakukan oleh pemerintah melalui KPK yaitu :
a. Dugaan korupsi dalam pengadaan Helikopter jenis MI-2 Merk
Ple Rostov Rusia milik Pemda NAD (2004).
b. Dugaan korupsi dalam pengadaan Buku dan Bacaan SD, SLTP,
yang dibiayai oleh Bank Dunia (2004),
c. Dugaan korupsi dalam Proyek Program Pengadaan Busway
pada Pemda DKI Jakarta (2004),
d. Dugaan penyalahgunaan jabatan oleh Kepala Bagian
Keuangan Dirjen Perhubungan Laut dalam pembelian tanah yang
merugikan keuangan negara Rp10 milyar lebih. (2004),
e. Dugaan korupsi pada penyalahgunaan fasilitas preshipment
dan placement deposito dari BI kepada PT Texmaco Group
melalui Bank BNI (2004),
f. Kasus korupsi dan penyuapan anggota KPU, kepada tim audit
BPK (2005),
g. Kasus penyuapan panitera Pengadilan Tinggi Jakarta oleh
kuasa hukum Abdullah Puteh, dengan tersangka TSP, SRR, dan
MS. (2005)
h. Kasus penyuapan Hakim Agung MA dalam perkara
Probosutedjo, dengan tersangka Harini Wijoso, Sinuhadji, Pono
Waluyo, Sudi Ahmad, Suhartoyo dan Triyadi
i. Dugaan korupsi perugian negara sebesar 32 miliar rupiah
dengan tersangka Theo Toemion (2005)
j. Kasus korupsi di KBRI Malaysia (2005)

3. Upaya Edukasi Masyarakat/Mahasiswa.


a. Memiliki rasa tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan
kontrol sosial, terkait dengan kepentingan-kepentingan publik
(masyarakat luas),
b. Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh, karena hal ini justru akan
merugikan masyarakat itu sendiri,
c. Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan, terutama yang
dilaksanakan oleh pemerintahan desa, kecamatan dan seterusnya
sampai tingkat pusat/nasional,
d. Membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang
penyelenggaraan pemerintahan negara dan aspek-aspek hukumnya.
e. Mampu memposisikan diri sebagai subyek pembangunan dan
berperan aktif dalam setiap pengambilan keputusan untuk kepentingan
masyarakat luas.
4. Upaya Edukasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)

4
a. Indonesia Corruption Watch atau disingkat ICW adalah
sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) yang mempunyai misi
untuk mengawasi dan melaporkan kepada publik mengenai aksi
korupsi yang terjadi di Indonesia. ICW adalah lembaga nirlaba
yang terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen
untuk memberantas korupsi melalui usaha-usaha pemberdayaan
rakyat untuk terlibat/berpartisipasi aktif melakukan perlawanan
terhadap praktek korupsi. ICW lahir di Jakarta pada tanggal 21
Juni 1998 di tengah-tengah gerakan reformasi yang
menghendaki pemerintahan pasca Soeharto yang demokratis,
bersih dan bebas korupsi.
b. Transparency International (TI), adalah sebuah organisasi
internasional yang bertujuan memerangi korupsi politik.
Organisasi yang didirikan di Jerman sebagai organisasi nirlaba
sekarang menjadi organisasi non-pemerintah yang bergerak
menuju organisasi yang berstruktur demokratik.
Publikasi tahunan terkenal yang diluncurkan TI adalah Laporan
Korupsi Global. Hubungan antara kompetitifnya sebuah negara
dan korupsi telah dibahas pertama kali dalam seminar TI di
Praha, November 1998. Survei TI Indonesia yang berbentuk
Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2004 mengungkapkan
Jakarta sebagai kota paling korup di Tanah Air, disusul Surabaya,
Medan, Semarang dan Batam. Indonesia sendiri, dibandingkan
dengan negara-negara lainnya, berada di posisi keenam terkorup
di dunia menurut survei TI pada tahun 2005. IPK Indonesia
adalah 2,2, sejajar dengan Azerbaijan, Kamerun, Etiopia, Irak,
Liberia dan Usbekistan, serta hanya lebih baik dari Kongo, Kenya,
Pakistan, Paraguay, Somalia, Sudan, Angola, Nigeria, Haiti, dan
Myanmar. Menurut hasil survei ini, Islandia adalah negara paling
bebas korupsi.

Bonus Info Kewarganegaraan

POLRI DAN KPK ADA KEMAJUAN, MA KEBALIKAN

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), menilai adanya


perkembangan sangat signifikan dalam dunia hukum, terutama terkait
dengan upaya pemberantasan korupsi sepanjang tahun 2005. Menurut
direktur YLBHI Munarman, hal ini dapat dilihat dari kesediaan Kepolisian RI
(Polri) melakukan pembenahan internal serta dari semakin aktifnya kerja-
kerja KPK belakangan ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Munarman, Jumat (30/12)
dalam jumpa pers refleksi akhir tahun 2005. YLBHI dan proyeksi
tahun 2006. Sejumlah hal dievaluasi, mulai dari isu penegakan
hukum, hak asasi manusia (HAM), perburuhan, dan hak-hak sipil
masyarakat. “Akan tetapi, sangat disayangkan institusi Mahkamah
Agung (MA) justru menunjukkan kondisi kebalikan. Sebagai pucuk

4
pimpinan tertinggi lembaga hukum di Indonesia, MA sama sekali
belum memperlihatkan adanya political will membenahi
isntitusinya,” ujar Munarman.
Hingga kini institusi MA, katanya, belum menunjukkan kinerja
yang baik. Indikasinya, ungkap dia, tampak dari banyaknya pelaku
pelanggar hukum, seperti pembalakan liar, yang justru dilepas dari
jerat hukum oleh haki di tingkat pengadilan melalu mekanisme
praperadilan.

Sumber : Kompas, 2/1/2006.

4
yang masing tidak berdiri sendiri-sendiri, banyak digabungkan
dengan kata-kata lain. Kata sistem dalam penerapannya dapat
digabungkan seperti ; sistem mata pencaharian, sistem tarian,
sistem perkawinan, sistem pemerintahan, sistem hukum dan
sebagainya.
KESIMPULAN
Dalam pengertian G“sistem hukum” dimaksudkan adalah satu
kesatuan hukum yang berlaku pada suatu negara tertentu yang
dipatuhi dan ditaati oleh setiap warganya. Sistem hukum yang
dikenal negara-negara di dunia antara lain : sistem hukum eropa
kontinental, sistem hukum anglo saxon, sistem hukum adat, dan
sistem hukum agama.
Banyak ahli berbeda pendapat dalam memberikan pengertian hukum.
Meski demikian, masing-terdapat kesamaan-kesamaan tertentu
dari pengertian yang mereka berikan dengan mengindentifikasi
ciri-ciri hukum sebagai berikut : adanya perintah dan larangan,
serta perintah dan larangan itu harus ditaati oleh setiap orang.
Sumber hukum adalah segala yang menimbulkan aturan yang
mempunyai kekuatan memaksa, yakni aturan-aturan yang
pelanggarannya dikenai sanksi yang tegas dan nyata. Sumber
hukum terdiri dari sumber hukum “material” welborn
(keyakinan/perasaan/ kesadaran hukum individu dan pendapat
umum) serta sumber hukum “formal” yaitu terdiri ; undang-
undang, traktat, kebiasaan, doktrin dan yurisprudensi.
Penggolongan hukum dapat dibedakan antara lain ; berdasarkan
wujudnya, ruang atau wilayah berlakunya, waktu yang diaturnya,
pribadi yang diaturnya, serta isi masalah yang diaturnya baik yang
menyangkut hukum publik (tata negara, adminsitrasi negara,
pidana dan acara) serta hukum privat (perorangan, keluarga,
kekayaan dan waris).
Sesuai dengan UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman,
bahwa Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung
dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan ; Peradilan
Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, Peradilan Tata Usaha
Negara, dan Oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004, bahwa pembentukan
Pengadilan Umum beserta fungsi dan kewenangannya ada pada
Mahkamah Agung. Oleh sebab itu, Mahkamah Agung telah
membagi dengan jelas fungsi dan kewenangan Pengadilan tingkat
pertama, tingkat kedua, Mahkamah Agung dan Mahkamah
Konstitusi.
Setiap komunitas masyarakat dimanapun berada, sudah barang tentu
memiliki pedoman atau kaidah dalam penyelenggaraan hidup
secara bersama-sama yang disebut dengan norma. Norma yang
dikenal antara lain : norma agama, kesusilaan, norma kesopanan
dan norma hukum.
Hukum dibuat dengan tujuan menjaga dan memelihara ketertiban
dalam masyarakat, dan sekaligus juga untuk memenuhi rasa
keadilan manusia. Oleh sebab itu, agar kehidupan dalam
bermasyarakat aman, tenteram dan tertib diperlukan sikap yang
mampu mendukung ketentuan hukum yang berlaku, antara lain ;
bersikap terbuka, obyektif dan mengutamakan kepentingan
umum.
Negara Indonesia meskipun dewasa ini telah diwarisi oleh “budaya korupsi”
yang sudah “menggurita” atau berurat berakar dalam sendi-sendi 5
kehidupan masyarakat, namun kita masih optimis untuk upaya
penanggulangannya. Partisipasi dan dukungan segenap lapisan
pemerintah melalui Komisi Pembeberantasa Korupsi (KPK), dan aparat
penegak hukum lain.

LATIHAN UJI KOMPETENSI


11 Pilihan Ganda
Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling benar !

1. Penjelasan bahwa negara c. Prof. Sumantri


Indonesia adalah negara yang d. Drs. Musanef
berdasar atas hukum, terdapat di e. Soerjono Sukanto
dalam ....
a. Pembukaan UUD 5. Kita seyogyanya berlaku
1945 jujur dan berbuat baik
b. Batang Tubuh UUD terhadap sesamanya, hal
1945 ini sesuai dengan norma ....
c. Pasal II Aturan a. Norma hukum
Peralihan UUD 1945 b. Norma Agama
d. Penjelasan UUD c. Norma Kesopanan
1945 d. Norma Kesusilaan
e. TAP MPRS No. XX / MPRS e. Norma Formal
/ 1966 6. Sumber hukum yang
berasal dari
2. Negara hukum yang dianut keyakinan/kesadaran
oleh negara Indonesia individu dan pendapat
adalah negara hukum umum, adalah ....
dalam arti ..... a. material
a. formal b. formal
b. positif c. kebiasaan
c. material d. konvensi
d. deduktif e. traktat
e. induktif
7. Pembatalan atau
3. Peraturan hukum yang pernyataan tidak sah oleh
mengatur tentang mahkamah Agung terha-
bagaimana cara pelaksana- dap putusan hakim di
an oleh alat perlengkapan bawahnya, dinamakan. .
negara, disebut .... a. Banding
a. Hukum Administrasi b. Grasi
Negara c. Kasasi
b. Hukum Pidana d. judicial review
c. Hukum Acara e. amnesti
d. Hukum Perdata
e. Hukum Tata Negara 8. Salah satu hal yang
membedakan hukum publik
4. Tokoh yang berpendapat dengan hukum privat
bahwa sistem adalah adalah ...
sekelompok bagian-bagian a. Landasan
yang bekerja sama untuk hukum
melakukan suatu maksud b. Prosesnya
adalah .... c. Sanksinya
a. Prof. Wahyuditah d. saat berlakunya
b. W.J.S. Poerwadarminta e. Fungsinya

5
10. Dalam negara
9. Menurut Van Kan, hukum, sebaiknya tindakan-
Hukum Dagang merupakan tindakan negara selain
tambahan hukum perdata mempertimbangkan landasan
yang bersifat khusus atau .... hukumnya juga ....
a. lex naturalis a. Kegunaannya
b. Ius soli b. Kepentingan
c. lex specialis nya
d. lus sanguinis c. Kepastiannya
e. Private rechts d. Hasilnya
e. Subjeknya

11 Uraian
Berikan jawaban dengan singkat dan jelas pada pertanyaan-
pertanyaan dibawah ini!

1. Berikan penjelasan kembali yang dimaksud dengan sistem


hukum !
2. Jelaskan dengan memberi contoh mengapa dalam Sistem
Hukum Indonesia masih terdapat produk-produk hukum
warisan Belanda !
3. Peradilan memiliki kekuasaan bebas dan merdeka, jelaskan
apa maksudnya dan tuliskan ciri-ciri negara hukum RI !
4. Jelaskan hubungan antara sumber hukum material dan
sumber hukum formal!
5. Jelaskan perbedaan Hukum Pidana dan Hukum Perdata di tinjau dari
Proses Hukumnya !
6. Apakah yang dimaksud dengan Yurisprudensi. Mengapa keputusan
Hakim terdahulu dijadikan landasan hukum bagi Hakim dalam
memutuskan suatu perkara. Jelaskan Jawaban Anda !
7. Mengapa suatu Perkara dilanjukan ke Mahkamah Agung dan Mahkamah
Konstitusi. Hal apasajakah yang menyebabkan seseorang melakukan proses
Kasasi di Mahkamah Agung !
8. Mengapa korupsi di negara berkembang pada umumnya sudah dikatakan
“menggurita”. Hal apasajakah yang mendorong seseorang untuk melakukan
tindakan korupasi !
9. Identifikasikan faktor-faktor apasajakah yang menyebabkan gejala korupsi
tumbuh subur di dalam suatu negara !
10.Sebutkan upaya apasajakah yang dapat dilakukan baik oleh pemerintah
maupun masyarakat dalam meminimalisir dampak korupsi di Indonesia !

Inquiri

5
Bagilah kelas anda ke dalam 8 kelompok. Masing-masing kelompok
terdiri dari 4 atau 5 orang, kemudian kerjakan tugas-tugas sebagai
berikut !
1. Susunlah daftar pertanyaan terbuka (10 pertanyaan) dengan
topik bahasan sekitar perbuatan-perbuatan yang sesuai dan yang
bertentangan dengan ketentuan hukum !
2. Tentukan sendiri lokasi atau tempat yang akan dijadikan obyek
observasi dan wawancara (misalnya : sekitar pasar, sekolah,
terminal atau masyarakat sekitar anada) !
3. Setelah wawancara, identifikasikanlah perbuatan-perbuatan yang
sesuai dan yang bertentangan dengan hukum !
4. Buatlah kesimpulan dari hasil analisis kelompok anda, dan
berikan tanggapan dengan berpedoman pada dua hal berikut :
a. Cara meningkatkan kesadaran bagi masyarakat yang
sudah melaksanakan perbuatan yang sesuai dengan hukum !
b. Cara membina/menertibkannya bagi masyarakat yang
masih melaksanakan perbuatan-perbuatan yang melanggar
hukum !