Anda di halaman 1dari 67

BAB II

BUDAYA DEMOKRASI MENUJU


MASYARAKAT MADANI

Standar Kompetensi:
B. Menganalisis budaya demokrasi menuju masyarakat madani.

Kompetensi Dasar:
2.1. Mendeskripsikan pengertian dan prinsip-prinsip budaya demokrasi.
2.2. Mengidentifikasi ciri-ciri masyarakat madani.
2.3. Menganalisis pelaksanaan demokrasi di Indonesia sejak orde lama, orde
baru dan reformasi.
2.4. Menampilkan perilaku budaya demokrasi dalam kehidupan sehari-
hari.

A. PENDAHULUAN

------------------------------- ada gambar tentang kehidupan masyarakat yang


tertib, teratur, sejahtera dan damai --------------------------

Perkembangan istilah ”demokrasi” sebagai sistem politik negara,


merupakan suatu bentuk tandingan bagi bentuk pemerintahan lama yang
bersifat totaliter atau otokratis dan yang otoriter. Sebagaimana kita
ketahui, bahwa pemerintahan demokrasi dihasilkan oleh ahli-ahli
politik/ketatanegaraan sebagai jawaban atau jalan keluar untuk
mengatasi kemelut yang dialami oleh masyarakat selama ini telah
”dipaksa” menerima nilai-nilai dan sikap dan perilaku budaya yang
otoriter (monarkhi/feodalis). Dalam banyak pengalaman negara yang
menerapkan sistem politik otoriter, rakyat hanya dijadikan obyek
pelaksanaan kekuasaan yang pada akhirnya mendatangkan penderitaan
dan kesengsaraan bagi rakyat banyak.
Dewasa ini, hampir semua negara-negara di dunia menamakan sistem
politiknya dengan “negara demokrasi”. Namun demikian tidak semua
negara mampu menterjemahkan kata demokrasi yang sejalan dengan
kata perlindungan terhadap hak asasi manusia, menjunjung tinggi
hukum, tunduk terhadap kemauan orang banyak tanpa mengabaikan hak
golongan kecil, agar tidak timbul diktatur mayoritas. Demokrasi sebagai
bagian budaya dari sistem politik suatu negara akan menjadi kuat, jika
bersumber pada “kehendak rakyat” dan bertujuan untuk mencapai
kebaikan atau kemaslahatan bersama.
Kata demokrasi akan selalu berkaitan dengan persoalan perwakilan
kehendak rakyat. Sehingga dalam perkembangannya, ada yang
menggantikan istilah demokrasi dengan republiken atau partisipatori
untuk menekankan peranan warga negara dalam proses pembuatan
keputusan dan untuk menyarankan agar peranan tersebut diperkuat. Dan
dalam perkembangannya, untuk lebih memperkuat peranan warga
1
negara dalam proses pengambilan keputusan dalam bidang lain, maka
timbul istilah : demokrasi ekonomi, demokrasi kebudayaan dan bahkan
demokrasi menjadi sikap hidup, sehingga akan mencakup segala bidang
kehidupan.
Paham demokrasi yang menekankan pada pemerintahan rakyat,
mengandung arti bahwa kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat.
Dengan demikian, perlu kita pahami bahwa istilah demokrasi bertolak
dari suatu pola pikir bahwa manusia diperlakukan dan ditempatkan
sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan.
Keinginan, aspirasi, dan pendapat individu dihargai, dan mereka
diberikan hak untuk menyampaikan keinginan, aspirasi, harapan dan
pendapatnya. Salah satu hak asasi manusia adalah kebebasan untuk
mengejar kebenaran, keadilan, dan kebahagiaan. Kebebasan dan
keadilan ini melandasi keinginan ide atau gagasan dalam budaya
demokrasi suatu bangsa.
A. PENGERTIAN DAN PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI

1. Pengertian Demokrasi
Istilah demokrasi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani
“demokratia” terdiri dari dua kata, demos = rakyat dan kratos/kratein =
kekuatan/pemerintahan. Secara harafiah, demokrasi berarti kekuatan
rakyat atau suatu bentuk pemerintahan negara dengan rakyat sebagai
pemegang kedaulatannya. Dalam konteks budaya demokrasi, maka
rakyat berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi anutan
atau dipedomani akan mampu diterapkan dalam praktik-praktik
kehidupan demokratis yang tidak hanya dalam pengertian politik saja,
akan tetapi mampu diterjemahkan dalam berbagai bidang kehidupan.
Menurut Wakil Presiden RI yang pertama Mohammad Hatta disebutnya
sebagai sebuah pergeseran dan penggantian dari kedaulatan raja
menjadi kedaulatan rakyat.
Pandangam-pandangan tentang pengertian demokrasi telah banyak
dikaji oleh para ahli meskipun terdapat perbedaan, namun pada dasarnya
mempunyai kesamaan prinsip yaitu sebagai berikut :
a. Abraham Lincoln (Presiden Amerika ke-16)
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
rakyat.
b. Giovanni Sartori
Memandang demokrasi sebagai suatu sistem di mana tak seorangpun
dapat memilih dirinya sendiri, tak seorangpun dapat
menginvestasikan dia dengan kekuasaannya, kemudian tidak dapat
juga untuk merebut dari kekuasaan lain dengan cara-cara tak terbatas
dan tanpa syarat.
c. Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila
Demokrasi adalah suatu pola pemerintahan dalam mana kekuasaan
untuk memerintah berasal dari mereka yang diperintah. Atau :
Demokrasi adalah pola pemerintahan yang mengikutertakan secara
aktif semua anggota masyarakat dalam keputusan yang diambil oleh
mereka yang berwenang. Maka legitimasi pemerintah adalah

2
kemauan rakyat yang memilih dan mengontrolnya. Rakyat memilih
wakil-wakilnya dengan bebas dan melalui mereka ini
pemerintahannya. Di samping itu, dalam negara dengan penduduk
jutaan, para warga negara mengambil bagian juga dalam
pemerintahan melalui persetujuan dan kritik yang dapat diutarakan
dengan bebas khususnya dalam media massa.
d. International Commision of Jurist (ICJ)
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana hak untuk
membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga
negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan bertanggung
jawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas.
e. Diamond dan Lipset
Mendefiniskan demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan yang
memenuhi tiga syarat pokok, yaitu :
 Kompetisi yang sungguh-sungguh dan meluas diantara individu-
individu dan kelompok-kelompok organisasi (terutama partai
politik) untuk memperebutkan jabatan-jabatan pemetintahan yang
memiliki kekuasaan efektif, pada jangka waktu yang reguler dan
tidak melibatkan penggunaan daya paksa;
 Partisipasi politik yang melibatkan sebanyak mungkin warga
negara dalam pemilihan pemimpin atau kebijakan, paling tidak
melalui pemilihan umum yang diselenggarakan secara reguler dan
adil, sedemikian rupa sehingga tidak satupun kelompok sosial
(warga negara dewasa) yang dikecualikan;
 Suatu tingkat kebebasan sipil dan politik, yaitu kebebasan
berbicara, kebebasan pers, kebebasan untuk membentuk dan
bergabung ke dalam organisasi yang cukup untuk menjamin
integratis kompetisi dan partisipasi politik

Fokus Kita :
Demokrasi secara sederhana berarti pemerintahan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat. Dalam pengertian yang lebih kompleks,
demokrasi berarti suatu sistem pemerintahan yang mengabdi
kepada kepentingan rakyat dengan tanpa memandang partisipasi
mereka dalam kehidupan politik, sementara pengisian jabatan-
jabatan publik dilakukan dengan dukungan suara rakyat dan mereka

Dari beberapa pengertian tersebut di atas, kiranya dapat dipahami


bahwa di dalam negara yang menganut sistem politik demokrasi maka
negara/pemerintah senantiasa harus mengingat kehendak dan keinginan
rakyat. Jadi, tiap-tiap tindakan dalam melaksanakan kekuasaan negara
tidak bertentangan dengan kehendak dan kepentingan rakyat, dan
sedapat mungkin berusaha memenuhi segala keinginan rakyat.
Menurut Hans Kelsen, pada dasarnya demokrasi adalah
pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Jadi, dalam perkembangan
demokrasi dewasa ini dapat kita peroleh gambaran sebagai berikut :

3
a. Yang melakukan kekuasaaan negara demokrasi adalah wakil-wakil
yang terpilih, dimana rakyat yakin bahwa segala kehendak dan
kepentingannnya akan diperhatikan oleh wakil rakyat dalam
melaksanakan kekuasaan negara.
b. Cara melaksanakan kekuasaan negara demokrasi ialah senantiasa
mengingat kehendak dan keinginan rakyat.
c. Menyelesaikan setiap konflik secara damai melalui dialog yang
terbuka mmelalui cara kompromi, konsensus, kerjasama dan
dukungan, baik memanfaatkan lembaga maupun sarana komunikasi
sosial.
Dalam sistem demokrasi posisi rakyat adalah sederajat dihadapan
hukum dan pemerintahan. Rakyat memiliki kedaulatan yang sama, baik
itu kesempatan untuk memilih atau pun dipilih. Tidak ada pihak lain yang
berhak mengatur dirinya selain dirinya sendiri. Hanya saja, sebagaimana
diakui bersama oleh para ilmuwan politik, bahwa ciri utama sistem
demokrasi adalah berlakunya dan bisa tegaknya hukum dimasyarakat.
Jika hukum tidak berlaku, maka yang terjadi bukanlah demokrasi tetapi
anarkhi.
Oleh karena itu, ciri utama dari sistem demokrasi adalah a) adalah
tegaknya hukum dimasyarakat (law enforcement), dan (b) diakuinya hak-
hak asasi manusia (HAM) oleh setiap anggota masyarakat tersebut.
Dengan dua pilar ini, maka pola hubungan yang lainnya akan turut
terwarnai sebagai sebuah sistem sosial menuju sebuah masyarakat yang
lebih tertib berdasarkan hukum. Demokrasi dapat terwujud karena
adanya proses yang dinamis dalam kehidupan rakyat yang berdaulat.
Namun motivasi utama yang mendorong proses itu adalah keberanian
moral. Tanpa keberanian moral dalam arti menyelaraskan nilai-nilai
moral termasuk di dalamnya keadilan dan kebenaran, maka proses itu
akan tersumbat.
Demokrasi tidak akan efektif dan lestari tanpa substansi yang berujud
”jiwa, budaya atau ideologi” yang mewarnai pengorganisasian berbagai
elemen politik seperti partai politik, lembaga-lembaga pemerintahan
maupun organisasi kemasyarakatan. Kelestarian demokrasi memerlukan
partisipasi rakyat yang bersepakat mengenai makna dan paham bekerja
dan kegunaan demokrasi bagi kehidupan mereka. Demokrasi yang kuat
bersumber pada ”kehendak rakyat” dan bertujuan untuk mencapai
kemaslahatan bersama. Untuk itu, demokrasi selalu berkaitan dengan
persoalan perwakilan kehendak rakyat. Dalam perkembangan dewasa ini,
istilah demokrasi sudah lebih luas yaitu tidak hanya mencakup sistem
politik, tetapi juga sistem ekonomi, kebudayaan dan bahkan telah
dijadikan sebagai sikap hidup sehingga dapat mencakup segala sistem
kehidupan.

2. Pemikiran Tentang Demokrasi


Paham demokrasi yang menekankan pada pemerintahan rakyat,
mengandung arti bahwa kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat.
Dengan demikian, perlu kita pahami bahwa istilah demokrasi bertolak
dari suatu pola pikir bahwa :

4
a. Manusia diperlakukan dan ditempatkan sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai mahluk Tuhan. Keinginan, aspirasi, dan
pendapat individu dihargai, dan mereka diberikan hak untuk
menyampaikan keinginan, aspirasi, harapan dan pendapatnya.
b. Salah satu hak asasi manusia adalah kebebasan untuk mengejar
kebenaran, keadilan, dan kebahagiaan. Kebebasan dan keadilan ini
melandasi keinginan ide atau gagasan demokrasi.
c. Sesuatu yang diputuskan bersama akan memiliki kadar ketepatan dan
kebenaran yang lebih menjamin, karena keputusan yang dihasilkan
akan berakibat terhadap dirinya, maka masing-masing berusaha untuk
menghasilkan keputusan yang terbaik.
d. Didalam kehidupan masyarakat pasti akan timbul selisih paham dan
kepentingan antar individu, sehingga perlu suatu cara untuk mengatur
bagaimana mengatasinya. Cara ini sangat ditentukan oleh paham
yang dianut masyarakat yang dianut masyarakat yang bersangkutan.
Bagaimana paham ini memandang hubungan antar individu dan
masyarakat, akan menentukan pula cara untuk mengatasi selisih
paham, pendapat dan kepentingan.

Fokus Kita :
Demokrasi sebagai sistem pemerintahan oleh sebahagian banyak
orang sering disebut dengan “rule by the people”, kemudian
diartikan “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”.
Artinya bahwa rakyat selaku mayoritas mempunyai suara
menentukan dalam proses perumusan kebijakan pemerintah melaui
saluran-saluran yang tersedia (infrastruktur politik), seperti partai

Bertolak dari pola pikir tersebut maka tujuan dari demokrasi adalah
untuk memanusiakan dan memasyarakatkan manusia secara fungsional,
penuh rasa kebersamaan, dan tanggung jawab. Beberapa kriteria yang
dapat digunakan untuk menentukan situasi demokratis dalam kehidupan
masyarakat adalah sebagai berikut :

N Indikator Uraian / Keterangan


o
1. Kekuasaan Pemerintah yang demokratis sangat erat kaitannya
dengan pelaksanaan kekuasaan. Hak warga negara
untuk menikmati kekuasaan dengan cara ikut
berpartisipasi dalam kegiatan politik/pemerintah harus
dihormati.
2. Keadilan Keadilan, terutama keadilan hukum harus benar-benar
diupayakan dan perlakuan yang sam didepan hukum,
nyata adanya.
3. Kesejahter Adanya kesempatan yang sama untuk menikmati hasi-
aan hasil pembangunan.

4. Peradaban Yang meliputi pengembangan pendidikan, kreativitas,

5
dan kebebasan dalam berinovasi/berkarya.
5. Afeksi Yaitu adanya hubungan antara masyarakat dan wakil
rakyat dilembaga perwakilan. Bagaiman ara wakil
rakyat memperjuangkan aspirasi dan kepentingan
masyarakat.
6. Keamanan Yakni adanya jaminan keamanan bagi seluruh warga
negara dalam kehidupannya.
7. Kebebasan Terdapatnya kebebasan dalam berpikir, berbicara dan
mengemukakan pendapat sesuai aturan yang berlaku.
Pada abad 19 muncul gagasan demokrasi dalam wujud yang konkret
sebagai program dan sistem politik negara secara bersama-sama. Pada
tahap ini demokrasi semata-mata bersifat politis berdasarkan azas
kemerdekaan individu. Abad 20 bentuk penyelenggaraan demokrasi
berubah pada pola klasik (urusan kepentingan politik bersama) menjadi
pola negara kesejahteraan, dimana negara dianggap bertanggung jawab
atas kesejahteraan rakyat dengan cara berupaya secara aktif
meningkatkan taraf hidup warga negaranya. Pandangan pragmatis
meliputi bidang perekonomian ini merupakan tantangan sekaligus
menjadi ukuran keberhasilan suprastruktur dalam demokrasi.
Gagasan mengenai perlunya pembatasan kekuasaan dalam dalam
pola demokrasi dengan istilah rule of law meliputi empat unsur, yaitu
sebagai berikut :
a. Pengakuan hak asasi manusia.
b. Pemisahaan atau pembagian kekuasaan (trias politika).
c. Pemerintahan menurut hukum.
d. Peradilan administrasi dalam perselisihan.
Dalam bidang hukum, ketentuan rule of law meliputi sebagai berikut :
a. Supermasi hukum, dalam arti hukum lebih utama dari kekuasaan.
b. Kedudukan yang sama diphadapan hukum (equality before law).
Terjaminnya hak individu oleh pengadilan dalam abad ke-20 (setelah
PD II) terjadi perubahan konsepsi tentang demokrasi sebagai akibat/ekses
industrialisasi, sosialisme, dan pengaruh kapitalisme. Henry B. Mayo
mengatakan bahwa sistem politik yang demokratis ialah apabila
kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil
rakyat melalui pemilihan umum yang bebas dan kebersamaan politik.
Bahwa rule of the law meliputi sebagai berikut :
a. Jaminan hak individu secara konstitusional, termasuk prosedurnya.
b. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memilih.
c. Pemilihan umum yang bebas dan kebersamaan politik.
d. Kebebasan mengemukakan pendapat.
e. Kebebasan berserikat dan berposisi.
f. Pendidikan politik/ kewarganegaraan (civil education).
Disamping perumusan rule of the law juga muncul rumusan
demokrasi politik, yang nilainya dikemukakan oleh Henry B. Mayo
sebagai berikut :
a. Menyelesaikan setiap konflik secaradamai melalui dialog yang terbuka
mmelalui cara kompromi, konsensus, kerjasama dan dukungan, baik
memanfaatkan lembaga maupun sarana komunikasi sosial.

6
b. Menjamin perubahan sosial secara damai terkendali melalui cara
penyesuaian kebijaksanaan dan pembinaan oleh pemerintah.
c. Menyelenggarakan pergantian pemimpin secara teratur, damai, dan
terbuka, artinya tidak boleh atas dasar keturunan, paksaan, coup
d’etat, atau tirani minoritas.
d. Membatasi tindak kekerasan terhadap kaum minoritas.
e. Mengakui keanekaragaman sikap secara wajar hingga batas toleransi
persatuan bangsa.
f. Menjamin tegaknya keadilan.
Nilai-nilai demokrasi harus diselenggarakan dalam kehidupan
bernegara. Penyelenggaranya adalah lembaga negara. Adapun nilai-nilai
demokrasi berjalan sesuai dengan ide dasarnya, sehingga lembaga
negara yang akan melaksanakannya harus memenuhi kriteria sebagai
berikut :
a. Pemerintah yang bertanggung jawab, bersih dan berdedikasi tinggi.
b. DPR (parlemen) yang mewakili semua golongan dan kepentingan,
yang dipilih melalui pemilihan umum yang bebas, rahasia, dan atas
dasar sekurang-kurangnya dua calon untuk setiap kursi.
c. Organisasi politik sistem dwipartai atau multipartai serta organisasi
massa yang diinginkan masyarakat sebagai hubungan sosial.
d. Pers yang bebas dan terbuka untuk umum.
e. Lembaga peradilan yang independen agar lebih menjamin hak asasi
manusia secara adil.
f. Menjamin perubahan sosial secara damai terkendali melalui cara
penyesuaian kebijaksanaan dan pembinaan oleh pemerintah.
Menyelenggarakan pergantian pemimpin secara teratur, damai, dan
terbuka, artinya tidak boleh atas dasar keturunan, paksaan, coup
d’etat, atau tirani minoritas.
g. Membatasi tindak kekerasan terhadap kaum minoritas.
h. Mengakui keanekaragaman sikap secara wajar hingga batas toleransi
persatuan bangsa.
i. Menjamin tegaknya keadilan.

3. Macam-macam Demokrasi
Terdapat bermacam-macam demokrasi yang sudah menjadi bagian
dari pemerintahan negara-negara di seluruh dunia. Keanekaragaman ini
dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dan yang pada umumnya
berlaku.
 Atas Dasar Penyaluran Kehendak Rakyat
Menurut cara penyaluran kehendak rakyat demokrasi dibedakan atas :
a. Demokrasi Langsung
Demokrasi langsung berarti paham demokrasi yang
mengikutsertakan setiap warga negaranya dalam
permusyawaratan untuk menentukan kebijaksanaan umum negara.
b. Demokrasi Tidak Langsung
Demokrasi tidak langsung adalah demokrasi yang dilaksanakan
melalui sistem perwakilan. Penerapan demokrasi ini berkaitan

7
dengan kenyataan suatu negara yang jumlah penduduknya
semakin banyak, wilayahnya semakin luas, dan permasalahan yang
dihadapinya semakin rumit dan kompleks.
 Atas Dasar Prinsip Ideologi
Berdasarkan paham ini ada dua bentuk demokrasi, yakni:
a. Demokrasi Konstitusional (demokrasi liberal)
Demokrasi konstitusional adalah demokrasi yang didasarkan pada
kebebasan atau individualisme. Ciri khas demokrasi konstitusional
adalah kekuasaan pemerintahnya terbatas dan tidak
diperkenankan banyak campur tangan dan bertindak sewenang-
wenang terhadap warganya. Kekuasaan pemerintah dibatasi oleh
konstitusi.
Menurut M. Carter dan John Herz, suatu negara dinyatakan
sebagai negara demokrasi apabila ; yang memerintah dalam
negara tersebut adalah rakyat dan bentuk pemerintahannya
terbatas. Bila suatu lingkungan dilindungi oleh konvensi dari
campur tangan pemerintahan atau hukum, maka rezim ini disebut
liberal.
b. Demokrasi Rakyat
Demokrasi rakyat disebut juga demokrasi proletar yang berhaluan
Marxisme-Komunisme. Demokrasi rakyat mencita-citakan
kehidupan yang tidak mengenal kelas sosial. Manusia dibebaskan
dari keterikatannya kepada pemilikan pribadi tanpa ada
penindasan atau paksaan. Akan tetapi, untuk mencapai masyarakat
tersebut dapat dilakukan dengan cara paksa atau kekerasan.
Menurut peristilahan komunis, demokrasi rakyat adalah “bentuk
khusus demokrasi yang memenuhi fungsi diktatur proletar”. Bentuk
khusus ini tumbuh dan berkembang di negara-negara Eropa Timur
(sebelum runtuhnya Uni soviet 1990), seperti Cekoslovakia,
Polandia, Hongaria, Rumania, Bulgaria, serta Yugoslavia dan
Tiongkok. Sistem politik demokrasi rakyat disebut juga demokrasi
“proletar” yang berhaluan Marxisme-komunisme. Demokrasi
rakyat mencita-citakan kehidupan yang tidak mengenal kelas
sosial. Manusia dibebaskan dari keterikatannya kepada pemilikan
pribadi tanpa ada penindasan serta paksaan. Akan tetapi untuk
mencapai masyarakat tersebut, bila perlu dapat dilakukan dengan
cara paksa atau kekerasan.
Dalam pandangan Georgi Dimitrov (Mantan Perdana Menteri
Bulgaria), bahwa demokrasi rakyat merupakan “negara dalam
masa transisi yang bertugas untuk menjamin perkembangan
negara ke arah sosialisme”.
Ciri-ciri demokrasi rakyat dapat dibedakan menjadi dua :
1) Suatu wadah front persatuan (united front) yang merupakan
landasan kerja sama dari partai komunis dengan golongan-
golongan lainnya dalam masyarakat di mana partai komunis
berperan sebagai penguasa.

8
2) Penggunaan beberapa lembaga pemerintahan dari negara yang
lama.
Menurut Kranenburg demokrasi rakyat lebih mendewa-dewakan
pemimpin. Sementara menurut pandangan Prof. Miriam
Budiardjo, komunis tidak hanya merupakan sistem politik, tetapi
juga mencerminkan gaya hidup yang berdasarkan nilai-nilai
tertentu. Negara merupakan alat untuk mencapai komusime.
Kekerasan dipandang sebagai alat yang sah.

 Atas Dasar Yang Menjadi Titik Perhatiannya


Dilihat dari titik berat “yang menjadi perhatiannya”, demokrasi dapat
dibedakan :
a. Demokrasi Formal (negara-negara liberal)
Yaitu demokrasi yang menjunjung tinggi persamaan dalam bidang
politik, tanpa disertai upaya untuk mengurangi/menghilangkan
kesenjangan dalam bidang ekonomi.
b. Demokrasi Material (negara-negara komunis)
Yaitu demokrasi yang menitik beratkan pada upaya-upaya
menghilangkan perbedaan dalam bidang ekonomi, sedangkan
persamaan bidang politik kurang diperhatikan dan bahkan kadang-
kadang dihilangkan.
c. Demokrasi Gabungan (negara-negara nonblok)
Yaitu demokrasi yang mengambil kebaikan serta membuang
keburukan dari demokrasi formal dan demokrasi material.
Sedangkan bentuk-bentuk demokrasi menurut Sklar, yaitu terbagi
atas 5 (lima) macam sebagai berikut.

N Bentuk Uraian / Keterangan


o Demokrasi
1. Demokrasi Yaitu pemerintahan yang dibatasi oleh undang-
Liberal undang dan pemilihan umum bebas yang
diselenggarakan dalam waktu yang ajeg. Banyak
negara-negara di Afrika mencoba menerapkan
model ini, tetapi hanya sedikit yang bisa bertahan.
2. Demokrasi Para pemimpin percaya bahwa tindakan mereka
Terpimpin dipercayai rakyat, tetapi menolak persaingan
dalam pemilihan umum untuk menduduki
kekuasaan.
3. Demokrasi Yaitu menaruh kepedulian pada keadaan sosial
Sosial dan egalitarianisme bagi persyaratan untuk
memperoleh kepercayaan politik.
4. Demokrasi Yaitu menekankan hubungan timbal balik antara
Partisipasi penguasa dan yang dikuasai.
5. Demokrasi Yaitu menekankan pada proteksi khusus bagi
Konstitusional kelompok-kelompok budaya dan menekankan
kerja sama yang erat diantara elite yang mewakili
bagian budaya masyarakat utama.

9
Pelaksanaan demokrasi sebagai sistem dan sekaligus budaya politik di
suatu negara dapat berkembang dengan baik, jika tersedia faktor
pendukungnya. Dalam arti umum, para pakar sependapat bahwa
kapitalisme-lah yang paling mendukung perkembangan demokrasi,
sehingga demokrasi sendiri dipersepsikan dari leberalisme. Dengan
demikian, demokrasi hanya dapat ditemukan di negara-negara maju.
Sedangkan, liberalisme menurut Rawls ditopang oleh prinsip
egalitarianisme, yaitu adanya jaminan kebebasan politik yang adil,
persamaan kesempatan, dan prinsip mengakui adanya perbedaan.
Di negara sedang berkembang, kebanyakan perkembangan demokrasi
tersendat-sendat, jika kita menggunakan kategori Huntington bahwa di
negara yang berkembang terdapat sistem politik tradisional dengan dua
corak yang dominan, yaitu negara feodal dan negara birokratis yang
ditandai dengan pemusatan kekuasaan. Oleh sebab itu, peluang
berkembangnya demokrasi sangat kecil. Penncok menetapkan tiga
syarat tegaknya politik demokratis, yaitu faktor historis, tatanan sosial
ekonomi, dan budaya politik.
Dalam sistem politik dan budaya demokrasi, sangat dimungkinkan
adanya perbedaan pendapat, persaingan, pertentangan di antara
individu/kelompok atau individu dengan kelompok dan atau pemerintah.
Hanya saja bagaimana upaya untuk menciptakan titik temu (sinkronisasi)
antara konflik dengan konsensus, dan bagaimana pula agar konflik yang
terjadi tidak merusak sistem. Untuk itulah sikap tanggap dari pemerintah
sangat diperlukan dengan menyedeiakan mekanisme dan prosedur yang
mampu menyelesaikan konflik guna mencapai konsensus (kesepakatan).
Persoalan lain adalah bagaimana rakyat memperoleh jaminan dari
pemerintah agar benar-benar tanggap terhadap kehendak dan aspirasi
rakyat banyak dan mampu berperilaku demokratis. Menurut Robert
Dahl, bahwa untuk menjamin hal tersebut maka rakyat harus diberi
kesempatan untuk :
a. merumuskan preferensi atau kepentingannya
sendiri,
b. memberitahukan perihal preferensinya itu kepada
sesama warga negara dan kepada pemerintah melalui tindakan
individual maupun kolektif, dan
c. mengusahakan agar kepentingan itu
dipertimbangkan secara setara dalam proses pembuatan keputusan
pemerintah, artinya tidak diskriminatif berdasarkan isi dan asal-
usulnya.
Kesempatan tersebut hanya mungkin terlaksana jika lembaga-
lembaga dalam masyarakat bisa menjamin adanya beberapa kondisi
sebagai berikut :
a. Kebebasan membentuk dan bergabung dalam organisasi.
b. Kebebasan mengungkapkan pendapat.
c. Hak untuk memilih dalam pemilihan umum.
d. Hak untuk menduduki jabatan publik.
e. Hak para pemimpin untuk bersaing memperoleh dukungan dan suara.

10
f. Tersedianya sumber-sumber bersaing memperoleh dukungan dan
suara.
g. Terselenggaranya pemilihan umum yang bebas dan jujur.
h. Adanya lembaga-lembaga yang menjamin agar kebijaksanaan publik
tergantung pada suara dalam pemilihan umum dan pada cara-cara
penyampaian preferensi yang lain.
Dari penjelasan tersebut di atas, hal yang perlu dipahami bahwa
sistem politik atau budaya demokrasi akan mengatur bagaimana
masyarakat melaksanakan tuntutan dan dukungannya ke dalam sistem
politik. Walaupun kondisi-kondisi berupa hak, kesempatan dan kebebasan
harus dipenuhi, tidak berarti bersikap dan bertingkah laku semaunya
dalam suasana keterbukaan atau kebebasan politik yang praktis atau
relatif tak terbatas dan tak terkendali, karena akan mengarah pada
sistem politik anarki.

Bonus Info Kewarganegaraan

SEKILAS PERKEMBANGAN ”DEMOKRASI”

Bahwa dalam upaya untuk menciptakan suatu bentuk/sistem


pemerintahan yang baru yang dapat menjamin hak/kepentingan rakyat
banyak (demokratis) sudah berlangsung sejak berabad-abad sebelum
tarikh Masehi. Salah seorang tokoh yang dalam hal ini tidak boleh
dilupakan namanyha adalah Solon, yang dikenal sebagai tokoh
pencetus ide demokrasi bagi masyarakat negara kota (polis) Athena di
Yunani pada lebih kurang 600 tahun SM. Solon saat itu tampil untuk
memimpin negara kota Athena di saat perang saudara, saat polis
Athena dipimpin oleh Draco.
Dalam perkembangan lebih lanjut, di Inggris tumbuh paham
demokrasi yang ternyata berbeda dengan negara-negara lain termasuk
negara kota Athena. Perkembangan demokrasi di Inggris didorong oleh
pertumbuhan ekonomi dan industri yang berpengaruh bagi kondisi
sosial bangsa Inggris. Semula, pemegang kekuasaan adalah kaum
bangsawan/tuan-tuan tanah dan para ulama (para satria dan ulama)
yang selanjutnya disebut sebagai House of Lord (Majelis Tinggi). Pada
tahun 1295, parlemen Inggris menambah kelengkapan dari unsur wakil-
wakil kota-kota kecil yang selanjutnya disebut sebagai House of
Commons (Majelis Rendah).
Demokrasi modern mulai muncul di daratan Eropa setelah
renaissanse (1350-1600) dan reformasi (1500-1650), disusul kemudian
teori trias politika (1700). Pertama kali muncul kebenaran umum, bahwa
ada hak politik manusia meliputi hak hidup, hak kebebasan dan hak
milik (life, liberty, and property). Perkembangan paham demokrasi
selanjutnya, seperti Perancis dan Amerika diawali dengan revolusi.

11
Revolusi di Perancis pada tahun 1774, dipicu oleh terbitnya buku
Contract Social yang ditulis oleh J.J. Rousseau pada tahun 1772 yang
melahirkan pemikiran bahwa kedaulatan tidak dapat dapat dibagi-bagi
(bulat) dan ada di tangan rakyat. Dengan juga revolusi di Amerika,
diawali dengan lahirnya Piagam Virginia (1776) yang berisi tentang Hak-
hak Asasi Manusia dan Kedaulatan. Pada tanggal 4 Juli 1776, Thomas
Jefferson di kota Philadelphia telah menuliskan Piagam Pernyataan
Kemerdekaan yang pada akhirnya menjadi hari kemerdekaan bagi
bangsa Amerika. Negara Amerika untuk pertama kalinya di dunia yang
mencantumkan Hak-hak Asasi Manusia di dalam konstitusinya.
Demikian juga akhirnya diikuti oleh negara-negara lain di dunia tentang
paham demokrasi yang meletakkan ”kedaulatan ada di tangan rakyat”.

Sumber : Drs. M. Taopan dalam ”Demokrasi


Pancasila” 1987.

Penugasan Praktik 1
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Pengertian Demokrasi
(Pengertian Umum, Pemikiran Tentang Demokrasi, dan
Macam-Macam Demokrasi), dilanjutkan Penugasan dengan
menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut :
1. Berikan ulasan pengertian kembali tentang “demokrasi” sesuai
pendapat anda dan tokoh-tokoh terkenal !
Pendapat anda tentang
demokrasi ? ............................................................................................
........
................................................................................................................
...................................................

No Tokoh Uraian Singkat


1.
2.

12
2. Pengertian demokrasi menurut Abraham Lincoln, dikatakan
bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat. Berikan penjelasan singkatnya !
a. Dari
rakyat : .............................................................................................
......................................
..........................................................................................................
..................................................
b. Untuk
rakyat : .............................................................................................
..................................
...........................................................................................................
.................................................

3. Macam-macam demokrasi antara lain dapat dilihat atas dasar


yang menjadi titik perhatiannya. Beri penjelasan singkat pada kolom di
bawah ini!
Demokrasi Formal Demokrasi Material
..................................................... .....................................................
......................... .........................
..................................................... .....................................................
......................... .........................
..................................................... .....................................................
......................... .........................
..................................................... .....................................................
......................... .........................

4. Berikan tanggapan penjelasan, mengapa sebagai warga negara


dirasakan penting untuk memahami “budaya demokrasi ” dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara!
................................................................................................................
...................................................
................................................................................................................
...................................................
................................................................................................................
...................................................
................................................................................................................
...................................................

5. Tuliskan perbedaan dan persamaan mendasar antara bentuk


demokrasi liberal dan demokrasi konstitusional di bawah ini !
Persamaan Perbedaan
..................................................... .....................................................
........................ .........................
..................................................... .....................................................
........................ .........................
..................................................... .....................................................

13
........................ .........................
..................................................... .....................................................
........................ .........................

4. Ciri-Ciri Demokrasi
Dalam negara dengan sistem politik demokrasi, pada umumnya
ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Adanya pembatasan terhadap tindakan pemerintah
untuk memberikan perlindungan bagi individu dan kelompok, baik
dalam penyelenggaraan pergantian pimpinan secara berkala, tertib
damai dan melalui alat-alat perwakilan rakyat yang efektif.
Pembatasan ini tidak berarti bahwa tidak adanya campur tangan
pemerintah dalam beberapa segi kehidupan, sepanjang undang-
undang memberikan wewenang untuk itu.
b. Prasarana pendapat umum baik pers, televisi, dan
radio harus diberi kesempatan untuk mencari berita secara bebas
dalam merumuskan pendapat mereka. Karena kebebasan untuk
mengeluarkan pendapat, berserikat dan berkumpul, merupakan hak-
hak politik dan sipil yang sangat mendasar.
c. Sikap menghargai hak-hak minoritas dan perorangan,
lebih mengutamakan musyawarah dari pada paksaan dalam
menyelesaikan perselisihan, sikap menerima legitimasi dari sistem
pemerintahan.

Fokus Kita :
Esensi ciri-ciri empiris demokrasi, adalah bahwa demokrasi
senantiasa berkaitan erat dengan pertanggungjawaban (account
ability), kompetisi, keterlibatan, dan tinggi rendahnya kadar untuk
menikmati hak-hak dasar, seperti hak untuk berekspresi, berserikat,
Dalam pandangan Bingham Powel, Jr yang mengkaji demokrasi
secara empirik, deskriptif, institusional dan prosedural berdasarkan
political performance, menegaskan tentang ciri-ciri demokrasi sebagai
berikut :
a. Legitimasi pemerintah didasarkan pada klaim bahwa pemerintah
tersebut mewakili keinginan rakyatnya, artinya klaim pemerintah
untuk patuh pada aturan hukum didasarkan pada penekanan bahwa
apa yang dilakukan merupakan kehendak rakyat.
b. Pengaturan yang mengorganisasikan perundingan (bargaining)
untuk memperoleh legitimasi dilaksanakan melalui pemilihan umum
yang kompetitif. Pemilihan dipilih dengan interval yang teratur, dan
pemilih dapat memilih di antara beberapa alternatif calon. Dalam
praktiknya, paling tidak terdapat dua partai politik yang mempunyai
kesempatan untuk menang sehingga pilihan tersebut benar-benar
bermakna.

14
c. Sebagian besar orang dewasa dapat ikut serta dalam proses
pemilihan, baik sebagai pemilih maupun sebagai calon untuk
menduduki jabatan penting.
d. Penduduk memilih secara rahasia dan tanpa dipaksa.
e. Masyarakat dan pemimpin menikmati hak-hak dasar, seperti
kebebasan berbicara, berkumpul, berorganisasi, dan kebebasan pers.
Baik partai politik yang lama maupun yang baru dapat berusaha untuk
memperoleh dukungan.
Pandangan Henry B. Mayo dalam bukunya “Introduction to
Democratic Theory” yang memberikan ciri-ciri demokrasi dari sejumlah
nilai (values), yaitu :
a. menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga;
b. menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu
masyarakat yang sedang berubah ;
c. menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur (Orderly
succession of rulers);
d. membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum (Minimum of
coercion);
e. mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman
(deverity) dalam masyarakat;
f. menjamin tegaknya keadilan.

Di negara-negara berkembang (dengan sistem politiknya yang sedang


transisi), pada umumnya masih mencari bentuk yang selaras dengan
tingkat perkembangan masyarakat untuk mencari dan menemukan
identitas demi kebaikan bersama. Ciri yang menonjol adalah eksekutif
sangat berperan (dominatif) dalam mengembangkan identitas bersama
dan merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi guna memenuhi
kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, di satu sisi nampaknya
berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonominya, namun di sisi lain infra
struktur politik hanya berperan sebagai pendukung saja.
Karena hubungan kekuasaan yang bersifat dominatif, maka
pelaksanaannya cenderung bersifat paksaaan “otoriter” dari pada
konsensus. Hal ini berakibat akan semakin jauh dari ciri-ciri khas
demokrasi yang antara lain adanya jaminan hak-hak asasi manusia,
warga negara sama kedudukannya dihadapan hukum dan pengadilan,
hak-hak politis seperti berserikat, berkumpul, beroposisi diakui, dan
sebagainya.

Bonus Info Kewarganegaraan

15
Dalam sistem politik demokrasi, mekanisme politik antara infra dan
suprastruktur politik sering mengalami perubahan atau pertukaran
dengan cara yang tertib. Sukarna menyebutkan beberapa faktor yang
menyebabkan mekanisme politik demokrasi dapat berjalan dengan
tertib adalah sebagai berikut :
a. Dalam sistem politik demokrasi terdapat lebih dari satu partai
politik, sehingga memungkinkan adanya pemilihan yang selektif
tergantung kepada prestasi kerjanya untuk rakyat.
b. Adanya lembaga pemilihan umum yang bebas dan rahasia,
sehingga pada pemilihan tidak merasa tertekan oleh pihak manapun
untuk menentukan pilihannya.
c. Adanya kebebasan pers, sehingga dapat membina opini
masyarakat dan melakukan sosial control.
d. Adanya kesadaran daripada anggota masyarakat, yang
disebabkan oleh pengaruh pengalaman dan pendidikan, bahwa
terjadinya perubahan dalam mekanisme politik merupakan suatu
kewajaran dalam sistem demokrasi.
e. Disebabkan partai politik mendasarkan perjuangannya kepada
program, maka masyarakat dapat menilai mana program partai yang
terbaik dan dapat menilai hasilnya.
f. Perubahan mekanisme politik tidak menimbulkan perubahan
dasar negara, bentuk pemerintahan dan sistemnya, sehingga negara
tetap dalam keadaan aman dan tertib, karena tidak timbulnya
perpecahan/ peperangan disebabkan ideologi yang berbeda.
g. Keadaan ekonomi yang telah maju dan relatif menyebar
kepada seluruh lapisan masyarakat, sangat membantu terhadap
kestabilan politik, sehingga rakyat tidak bisa dipengaruhi oleh
sesuatu ideologi yang berbeda dengan ideologi negaranya. (Itulah
sebabnya partai komunis di Inggris, pada sekarang tidak dapat
berkembang).
h. Keadaan masyarakat yang telah terbiasa hidup dalam
demokrasi menganggap bahwa perbedaan-perbedaan pemikiran
perubahan-perubahan di dalam masyarakat yang demokratis,
sehingga terjadi pergantian pemerintahan sebagai hasil pemilihan
umum tidak dianggap sebagai sesuatu yang mengejutkan melainkan
sesuatu yang wajar dalam proses yang wajar.
i. Setiap kali pemerintah berganti berdasarkan hasil pemilihan
umum tidak menimbulkan perubahan fundamental dalam
ketatanegaraan, melainkan perubahan konsepsional dan operasional
yang selaras dengan konstitusi, sehingga tidakmenimbulkan
kegoncangan terhadap masyarakat.
j. Rakyat mempercayai bahwa aparatur pemerintahan yang
berkuasa dan yang akan berkuasa akan bekerja dengan keras untuk
menjadi public servant yang terbaik daripada rakyatnya, bukan
public oppressor terhadap rakyatnya.
Sumber : Arifin Rahman dalam ”Sistem Politik
Indonesia” 1998.

5. Prinsip-Prinsip Demokrasi

16
Untuk mewujudkan sistem politik yang demokratis di dalam suatu
negara, bukanlah sesuatu yang mudah. Demokrasi tidak dirancang demi
efisiensi dan pembangunan, akan tetapi demi pertanggungjawaban
sebuah pemerintahan demokrasi untuk memperoleh dukungan publik.
Untuk memperoleh dukungan publik dengan baik, maka setiap bangsa
dalam satu kesatuan sistem politik negara, harus mampu menata
pemerintahan yang berpijak pada sejarah dan kebudayaan sendiri
dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip dasar demokrasi yang diakui
secara universal. Menurut Melvin I. Urofsky ada 11 (sebelas) prinsip
demokrasi yang dikenali dan diyakini sebagai kunci untuk memahami
bagaimana demokrasi bertumbuh kembang sebagai berikut :
a. Prinsip pemerintahan berdasarkan konstitusi,
b. Pemilihan umum yang demokratis,
c. Federalisme pemerintahan negara bagian dan lokal,
d. Pembuatan undang-undang,
e. Sistem peradilan yang independen,
f. Kekuasaan lembaga kepresidenan,
g. Peran media yang bebas,
h. Peran kelompok-kelompok kepentingan,
i. Hak masyarakat untuk tahu,
j. Melindungu hak-hak minoritas, dan
k. Kontrol sipil atas militer.

Fokus Kita :
Berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi yang umum berlaku, dapat
diperoleh cakupan prinsip-prinsip sebagai berikut :
 Demokrasi sebagai sumber utama dari semua kewenangan adalah
rakyat.
 Harus adanya pembagian kekuasaan sehingga tak ada satu bagian
pun dari pemerintahan yang bisa menjadi begitu kuat yang akan
menindas keinginan rakyat.
 Hak-hak individu dan minoritas harus dihargai, dan mayoritas tidak
Prinsip-prinsip dasar demokrasi secara univerasal, memberi ketegasan
bahwa yang disebut pemerintahan yang demokratis adalah pemerintahan
yang menempatkan kewenangan tertinggi berada di tangan rakyat,
kekuasaan pemerintah harus dibatasi, dan hak-hak individu harus
dilindungi. Namun demikian, dalam praktiknya di banyak negara masih
banyak kelemahan dan ketidaksesuain dengan prinsip-prinsip demokrasi
sebagaimana dikemukakan Melvin tersebut. Penerapan prinsip-prinsip
demokrasi di masing-masing negara bersifat kondisional, artinya harus
disesuaikan dengan situasi negara dan kondisi masyarakat yang
bersangkutan.
Sementara Lyman Tower Sargent, berpendapat ada beberapa
unsur/prinsip-prinsip yang secara umum dianggap penting dalam
demokrasi, yaitu antara lain :
a. keterlibatan warga negara dalam pembuatan keputusan politik,
b. tingkat persamaan tertentu di antara warga negara,
c. tingkat kebebasan atau kemerdekaan tertentu yang diakui dan
dipakai oleh para warga negara
17
d. suatu sistem perwakilan, dan
e. suatu sistem pemilihan – kekuasaan mayoritas.
Dalam negara demokrasi, warga negara seharusnya terlibat antara
lain dalam pembuatan keputusan – keputusan politik, baik langsung
maupun melalui wakil pilihan mereka. Keterlibatan tersebut baik melalui
partisipasi aktif dalam partai politik, kelompok penekan, atau menghadiri
rapat-rapat politik dan mampu mengatakan sesuatu tentang
kebijaksanaan politik, terutama hal-hal yang dikerjakan atas nama publik.
Dalam sistem demokrasi perwakilan, keterlibatan warga negara
diusahakan dapat mendorong aparatur negara agar bersikap responsif
terhadap tuntutan sebagian besar warga negara. Ada dua pendekatan
tentang keterlibatan warga negara yang telah dikembangkan yakni teori
elitis dan partisipatori :

N Pendeka Uraian / Keterangan


o tan
1. Teori Menegaskan bahwa demokrasi adalah suatu metode
Elitis pembuatan keputusan yang mengokohkan efisiensi
dalam administrasi dan pembuatan kebijaksanaan
namun menuntut adanya kualitas ketanggapan pihak
penguasa dan kaum elit terhadap pendapat umum.
2. Teori Menegaskan bahwa demokrasi menuntut adanya tingkat
Partisipat keterlibatan yang lebih tinggi, karena sangat diperlukan
ori untuk mendatangkan keuntungan seperti ini- kita harus
menegakkan kembali demokrasi langsung.

Keterlibatan warga negara dalam sistem demokrasi, terutama


merupakan suatu langkah untuk mengendalikan tindakan-tindakan para
pemimpin politik. Argumentasi teori elistis berpusat pada efisiensi dan
ketidak mampuan para pemilih untuk menetapkan keputusan yang
memadai. Dalam pandangan ini, warga negara yang memberikan
suaranya, hanyalah suatu mekanisme untuk menengahi persaingan dan
kompetisi antar elit. Bahwa selama persaingan itu bersifat jujur, tidak
satupun kelompok tunggal/elit dapat melakukan dominasi. Para penguasa
dapat selalu dikontrol agar tidak menyalahgunakan kekuasaannya oleh
mayarakat melalui berbagai perwakilan kelompok kepentingan.
Dalam teori dan praktik politik demokrasi, masalah lain yang tidak
kalah pentingnya adalah “tingkat persamaan”. Beberapa negara baik
yang menerapkan sistem politik demokratis maupun bukan, selalu
berupaya mencapai tingkat persamaan yang lebih besar. Berkenaan
dengan masalah tingkat persamaan di dalam masyarakat, terdapat 5
(lima) ide yang terpisah atau merupakan kombinasi sebagai berikut :
persamaan politik, persamaan di muka hukum, persamaan kesempatan,
persamaan ekonomi, dan persamaan sosial atau persamaan hak.
a. Persamaan politik, yaitu mencakup dua hal yang terpisah :
 Persamaan hak suara, merupakan persamaan yang antara lain
menuntut hal-hal sebagai berikut :

18
1) setiap individu harus mempunyai akses yang mudah dan
pantas ke tempat pemilihan;
2) setiap orang harus bebas untuk menentukan pilihannya
sesuai dengan keinginannya;
3) setiap suara harus diberi nilai yang sama pada saat
perhitungan.
Kondisi ini jarang terpenuhi karena ada pembedaan terhadap para
penjahat dan terhukum, tapi memberikan harapan dengan ukuran
dan kriteria yang dapat memilih tanpa diskriminasi terutama
terhadap hak pilih kaum wanita.
 Persamaan untuk dipilih, sebagai pejabat pemerintah, berlaku
persyaratan usia dan kualifikasi khusus dengan tidak ditentukan
oleh kekayaan.
b. Persamaan di depan hukum, yaitu menunjukkan adanya perlakuan
dengan cara yang sama oleh sistem resmi yang berlaku. Suatu fungsi
utama hukum dan prosedur adalah untuk membentuk hukum-hukum
umum yang diharapkan diterima dan dipatuhi semua orang atau
bersedia menerima segala konsekuensinya. Hukum merupakan
kekuatan yang menyamakan semua anggota masyarakat yang
ditetapkan secara adil.
c. Persamaan kesempatan, biasanya mengacu pada sejauh mana
setiap individu dalam masyarakat mengalami peningkatan dan
penurunan dalam sistem kelas atau status sosialnya sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya. Bagi setiap individu tidak ada halangan
untuk bekerja keras guna mencapai prestasi tertinggi yang diraihnya.
d. Persamaan ekonomi, dapat diartikan bahwa setiap individu di dalam
masyarakat diupayakan memiliki kesempatan yang sama dalam
mengelola produksi barang/jasa, dan tingkat pendapatan serta
kesejahteraan yang memadai. Ditinjau dari sudut keadilan distributif,
hal ini dirasakan tidak adil karena setiap individu kenyataannya
berbeda tingkat kebutuhannya dan kemampuan untuk meraihnya.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana negara mampu memberikan
jaminan minimum di bidang keamanan ekonomi sebagai bentuk nyata
berjalanya sistem demokratis.
e. Persamaan sosial, dalam arti sempit dapat dikatakan bahwa hal ini
berarti tidak ada asosiasi publik atau asosiasi pribadi yang bisa
menciptakan halangan buatan bagi kegiatan-kegiatan dalam asosiasi.
Persamaan sosial mengacu pada alpanya perbedaan-perbedaan status
dan kelas yang telah dan masih dikenal di seluruh masyarakat. Boleh
jadi persamaan sosial mencakup aspek-aspek persamaan
kesempatan.

Bonus Info Kewarganegaraan


PERWAKILAN DALAM SISTEM DEMOKRASI

Teori-teori tentang perwakilan muncul sebagai reaksi bahwa


demokrasi berlangsung hanya mampu berfungsi dalam suatu negara

19
yang wilayah dan jumlah penduduknya agak kecil. Maka sejumlah teori
dikembangkan untuk menegaskan bahwa masalah ini harus
ditanggulangi oleh seorang individu yang mewakili wilayah atau
sejumlah orang. Seringkali ditandaskan bahwa, wakil harus menjadi
makrokosmos dari kemajemukan kepentingan yang ditemukan dalam
diri para pemilih, karena masing-masing kepentingan terpisah sampai
tingkat tertentu.
Hanna Fenichal menandaskan bahwa teori-teori perwakilan sangat
kompleks, di mana kata mewakili yang membantu menciptakan suatu
pemahaman terhadap masalahnya.
Pertama : kita sering berkata bahwa sesuatu mewakili suatu yang lain
bila ia merupakan reproduksi yang meyakinkan atau
merupakan suatu salinan yang tepat dari aslinya.
Kedua : kita menggunakan kata mewakili dalam arti bahwa satu
benda menyimbolkan benda yang lain.
Ketiga : kita juga sering menggunakan kata mewakili dalam arti di
mana ahli hukum bertindak untuk mewakili kliennya.
Masalah yang timbul bagi wakil, apakah ia sebagai agen bebas yang
merupakan wakil hanya dalam arti bahwa ia dipilih orang-orang dalam
suatu wilayah tertentu atau sebagai agen bagi individu atau kelompok
tertentu dengan harapan ia terpilih kembali. Atau ia sebagai wakil partai
yang bertindak atas nama partai, karena ia tidak terlibat langsung
terhadap masalah-masalah yang dihadapi para pemilih. Boleh jadi,
sebagai wakil dan bertindak dalam apa yang ia yakini sebagai
kepentingan terbaik bagi bangsa sebagai suatu kesatuan. Salah satu
masalah pokok dalam demokrasi perwakilan adalah, bagaimana
menciptakan iklim yang kondusif agar masyarakat sebagai suatu
kesatuan memainkan peranan langsung dalam pembuatan keputusan
politik.
Tujuan utama sistem perwakilan dalam negara demokrasi adalah
menyediakan sarana bagi para warga negara agar terbiasa melakukan
kontrol tertentu terhadap pembuatan keputusan politik pada saat
mereka tidak dapat secara langsung membuat keputusan itu sendiri.
Hal ini didasari pemikiran, bahwa wakil rakyat tidak dapat mengabdi
seumur hidupnya, maka diciptakanlah sarana lain berupa sistem
pemilihan yang dilakukan secara periodik. Sistem pemilihan merupakan
salah satu ciri utama sistem demokrasi.

Sumber : Arifin Rahman dalam ”Sistem Politik


Indonesia” 1998.

6. Demokratisasi
Istilah “demokratisasi” yang muncul ke permukaan sejak tahun 1970-
an, akhir-akhir ini menjadi menarik setelah terjadi “transisi demokrasi”
yaitu dengan adanya perubahan perilaku para elit politik. Disebutkan
oleh O’Donnell dan Schmitter bahwa “sikap para elit, perhitungan-
perhitungan dan kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuatnya
umumnya menentukan apakah pembukaan kesempatan (bagi demokrasi)
akan terjadi atau tidak”. Dalam pelaksanaan demokratisasi, bahwa
kendala struktural sangat memegang peranan penting walaupun bukan

20
menjadi tumpuan. Banyak asumsi dan pendapat ahli bahwa budaya
demokrasi banyak yang hancur karena antara lain faktor-faktor sosial
atau ekonomi pada tingkat makro. Akan tetapi yang lebih menentukan
adalah karena lemahnya para elit dalam mengendalikan kepemimpian.
Kondisi ideal sebuah negara demokrasi, tentu saja banyak dicita-
citakan oleh masyarakat yang menginginkan kedamaian dan
kesejahteraan hidup. Tetapi untuk menuju ke arah hal tersebut, bukanlah
sesuatu yang mudah. Proses dalam menuju kondisi-kondisi demokrasi
inilah yang disebut dengan “demokratisasi”. Demokratisasi dapat
menjadi jalan untuk keluar dari otoritarianisme, karena proses ini akan
mengembalikan hak-hak rakyat yang antara lain untuk berpartisipasi
dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial – kebudayaan dan sebagainya.
Demokratisasi, merupakan proses pendemokrasian segenap rakyat
untuk turut serta dalam pemerintahan melalui wakil-wakilnya. Atau turut
serta dalam berbagai bidang kegiatan (masyarakat/negara) baik
langsung atau tidak langsung, dengan mengutamakan persamaan hak
dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi warga negara.

Fokus Kita :
Menurut Diamond “bahwa di seluruh dunia sedang berkembang
yang paling banyak menyumbang pada pengembang demokrasi adalah
gaya kepemimpinan yang fleksibel, akomodatif, dan konsepsual”.
Konseptualisasi yang muncul dari pengalaman transisi demokrasi,
nampak menonjolkan dua karakteristik sebagai berikut :
1. pendefinisian yang menekankan dimensi prosedural yaitu
demokrasi yang mempersoalkan tata cara memerintah.
2. eksplanasi atau penjelasan terhadap keberhasilan
demokratisasi yang menekankan peranan “agen” sebagai
determinan pokok. Yaitu demokratisasi hanya akan terjadi kalau ada

Demokratisasi, biasanya diawali dengan adanya liberalisasi


(meluasnya kebebasan) yang selanjutnya berkembang dengan
longgarnya media massa, akses masyarakat terhadap politik, dan adanya
penghargaan terhadap keberagaman (pluralisme). Demokratisasi
merupakan bentuk yang lebih luas dari pada sekedar liberalisasi, karena
dalam tahap ini terdapat persaingan terbuka untuk memperoleh
dukungan rakyat yang antara lain dalam pengisian jabatan-jabatan publik
melalui pemilihan umum.
Sebagai sebuah proses, demokratisasi bukanlah proses yang berjalan
linier (lurus) tahap demi tahap. Akan selalu ada hambatan dalam menuju
suatu titik aspek baik yang datang dari sekelompok masyarakat atau dari
pemerintah itu sendiri. Jadi, demokratisasi di dalam satu negara tidak
selamanya terus meningkat menuju suatu tahap kemajuan yang tetap
(konstan). Sekali waktu, timbul masa turun – naik, gerakan perlawanan,
pemberontakan, perang saudara atau mungkin saja terjadi revolusi, dan
sebagainya.

21
Kriteria untuk sebuah masyarakat dan negara yang melakukan
demokratisasi, dapat dicermati sebagaimana pendapat Robert A. Dahl
berikut ini :

N Kriteria Uraian / Keterangan


o
1. Partisipas Sebelum sebuah kebijakan digunakan oleh asosiasi
i Efektif (negara), seluruh anggota harus mempunyai
kesempatan yang sama dan berpartisipasi efektif, agar
pandangan mereka diketahui oleh anggota-anggota
lainnya sebagaimana seharusnya kebijakan itu dibuat.
2. Persamaa Bila sebuah keputusan tentang kebijakan dibuat, maka
n Suara setiap anggota harus mempunyai kesempatan yang
sama dan efektif untuk memberikan suara dan seluruh
suara harus dihitung sama.
3. Pemaha Dalam batas waktu yang rasional, setiap anggota harus
man mempunyai kesempatan yang sama dan efektif untuk
Yang mempelajari kebijakan-kebijakan alternatif yang relevan
Jelas dan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin.
4. Pengawa Setiap anggota harus mempunyai kesempatan eksklusif
san untuk memutuskan bagaimana dan apa permasalahan
Agenda yang dibahas dalam agenda.
5. Pencakup Semua, atau paling tidak sebagian besar orang dewasa
an Orang yang menjadi penduduk tetap seharusnya memiliki hak
Dewasa kewarganegaraan penuh yang ditunjukkan oleh empat
kriteria sebelumnya.

Dalam pandangan Diamond, Linz, dan Lipset yang pernah


melakukan penelitian tentang demokrasi di Asia, Afrika, dan Amerika
Latin, mengatakan bahwa “Prestasi dan kemampuan rezim... sebagian
adalah hasil kebijakan dan pilihan yang diterapkan oleh para pemimpin,
yang tentu saja bertindak dalam batas-batas kendala lingkungan
struktual yang mereka warisi. Bahkan struktur-struktur dan lembaga-
lembaga, terutama struktur dan lembaga politik, dibentuk oleh tindakan
dan pilihan para pemimpin politik. Semakin tidak menguntungkan dan
semakin ketat kendala struktural-struktural yang dihadapi, maka demi
kelestarian demokrasi para pemimpin politik itu harus semakin pintar,
semakin inovatif, semakin berani, dan semakin berketetapan hati untuk
memperjuangkan demokrasi.”
Nampaknya mereka berkeyakinan, bahwa kalau terdapat lingkungan
struktural yang tidak kondusif untuk demokratisasi, seringkali terjadi
karena ketidakmampuan sebagian para politisi dalam menghasilkan
reformasi ekonomi dan inovasi kelembagaan yang diperlukan bagi
tumbuhnya demokrasi. Mereka menekankan pentingnya komitmen para
pemimpin politik yang kuat terhadap demokrasi. Pemimpin yang memiliki
komitken terhadap demokrasi, tentu tidak akan melakukan kekerasan,
penggunaan sarana ilegal dan inkonstitusional untuk mengejar
kekuasaan, serta akan mencegah tindakan anti demokrasi oleh partisipan
lain.

22
Penugasan Praktik
Carilah sumber informasi lain baik dari buku,2koran, majalah, internet,
Kewarganegaraan
buletin dan sebagainya, kemudian lakukan hal-hal berikut :
Rumuskan kembali tentang pemahaman ciri-ciri dan prinsip-prinsip
demokrasi !
Berikan alasan penjelasan, mengapa di dalam kehidupan bernegara
dalam sistem politik demokrasi, legitimasi pemerintah sebagai
dukungan rakyat banyak sangat penting !
Berikan penjelasan pentingnya “keterlibatan warga negara dalam
pembuatan keputusan politik”, di dalam suatu negara !
Jelaskan yang dimaksud dengan “demokratisasi” pada negara yang
menerapkan sistem politik demokrasi !
Berikan penjelasan singkat perbedaan antara ciri-ciri demokrasi
dengan prinsip-prinsip demokrasi !

Bonus Info Kewarganegaraan


PARTISIPASI DEMOKRASI PUBLIK MEMBAIK

Partisipasi publik dalam demokratisasi di Indonesia dinilai makin


baik. Patisipasi itu ditunjukkan dengan munculnya kekuatan masyarakat
madani yang mampu mempengarahi munculnya kebijakan publik dan
bahkan terlibat dalam proses pembentukannya. Rakyat juga dinilai
cepat menangkap pentingnya partisipasi itu.
Demikian diungkapkan Direktur Wilayah The Asian Foundation untuk
Kajian Islam dan Pembangunan, Robin Bush, sesuai mengikuti diskusi
peluncuran buku baru, antara lain Asas “Moral dalam Politik” karangan
Ia Shapiro dan “Memperkuat Negara” karangan Francis Fukuyama.
“Saya agak optimis dalam beberapa tahun ke depan akan ada beberapa
sistem untuk memonitor pembentukan kebijakan dan tingkat
kabupaten. Saya melihat demokratisasi di Indonesia berjalan baik”,
tuturnya.
Ia mengagumi proses itu karena dalam kurun waktu delapan tahun
Indonesia mulai memasuki arena demokratisasi yang makin dewasa.
Kenyataan bahwa saat ini sebagian besar masyarakat masih belum
dapat merasakannya, Robin melihat persoalan yang dihadapi Indonesia
sangat banyak.

Sumber : Kompas,
19/04/2006.

C. CIRI-CIRI MASYARAKAT MADANI

23
1. Konsepsi Masyarakat Madani (Civil
Society)
Mengenai penggunaan istilah masyarakat madani, sebagian besar
scholars di Indonesia sepakat bila digunakan sebagai padanan yang tepat
untuk istilah civil society. Selain istilah ini, civil society juga
diterjemahkan ke dalam istilah-istilah lain, seperti masyarakat sipil,
masyarakat kewargaan, masyarakat warga, masyarakat beradab atau
masyarakat berbudaya.
Bertolak dari hal tersebut, maka istilah masyarakat madani
merupakan padanan dari istilah civil society, sehingga eksplorasi konsep
ini relevan dengan substansi istilah terakhir. Hal yang dikemukakan di
sini bukan konsep masyarakat madani disorot secara etimologis,
melainkan ke arah substansi dan indikator-indikatornya, sehingga
mempermudah untuk mengidentifikasi dalam konteks pembentukannya
dari sisi politik.
Secara rinci substansi konsep masyarakat madani (civil society) dari
beberapa ahli bisa kita lihat berikut ini :

Sumber Substansi Indikator


M. “..suatu ruang (realm) • Mempunyai kekuasaan yang
Dawam partisipasi masyarakat, memancar dari dalam dirinya,
Rahardjo dalam perkum-pulan- berupa rasionalitas yang akan
perkumpulan sukarela menuntun anggota
(voluntary association), masyarakat kearah kebaikan
media massa, umum (Locke, Rosseau,
perkumpulan profesi, Adam Smith).
serikat buruh tani, • Memiliki potensi untuk bisa
gereja atau mengatur dirinya sendiri
perkumpulan- secara rasional dan
perkumpulan mengandung unsur kebebasan
keagamaan..” (civil (Gramsci).
society). • Terdiri dari organisasi-
organisasi yang melayani
kepentingan umum, atau
memiliki rasionalitas dan
mampu mengatur dirinya
sendiri secara bebas.
• Civil Society diterjemahkan
menjadi masyarakat madani,
mengandung tiga hal, yaitu:
agama, peradaban dan
perkotaan.
Franz “..wilayah-wilayah • Keberadaannya didekati
Magnis kehidupan sosial yang secara faktual dan bukannya
Suseno terorganisasi dan dengan pendekatan normatif.
bercirikan antara lain, • Terorganisasi, Sukarela,
kesuka-relaan Swasembada, Swadaya, dan
(voluntary), keswasem- Mandiri.
badaan (self

24
generating), dan • Terikat dengan norma-norma
keswadayaan (self atau nilai-nilai hukum yang
supporting), diikuti warganya.
kemandirian tinggi • Secara hakiki harus bebas
berhadapan dengan secara internal.
negara, dan keterikatan • Masyarakat diatur oleh pihak-
dengan norma-norma pihak yang dapat menjamin
atau nilai-nilai hukum kebebasan sege-nap warga
yang diikuti oleh masyarakat, individu, dan
warganya (masyarakat kolektif untuk mewujudkan
madani). kehidupan menurut cita-cita
mereka sendiri.
• Kehidupan bersama harus
didukung oleh suatu
konsensus dasar.
Nurcholis “..perkataan madinah, • Adanya kedaulatan rakyat
Madjid dalam peristilahan sebagai prinsip kemanusiaan
modern, menunjuk dan musyawarah.
kepada semangat dan • Berpartisipasi dan mengambil
pengertian civil society, bagian dalam proses-proses
suatu istilah Inggris menentukan kehidupan
yang berarti masyarakat bersama, terutama di bidang
sopan, beradab dan politik.
teratur dalam bentuk • Memiliki sikap-sikap terbuka,
negara yang baik.” lapang dada, penuh
pengertian dan kesediaan
untuk senantiasa mem-beri
maaf secara wajar dan pada
tempatnya.
Riswandh “..masyarakat madani • Menginginkan kesejajaran
a Imawan merupakan konsep hubungan antara warga
tentang keberadaan negara dan negara atas dasar
satu masyarakat yang prinsip saling menghormati.
dalam batas-batas • Berkeinginan membangun
tertentu mampu hubungan yang bersifat
memajukan dirinya konsultatif antara warga
sendiri melalui negara dan negara.
penciptaan aktivitas • Bersikap dan berperilaku
mandiri, dalam satu sebagai citizen yang memiliki
ruang gerak yang tidak hak dan kebebasan.
memungkinkan negara • Memperlakukan semua warga
melakukan intervensi”. negara sebagai pemegang hak
dan kebebasan yang sama
(Ramlan Subakti).
Adi “..pemikiran civil society • Berwujud kelompok-kelompok
Suryadi memang umumnya sosial.
Culla dikaitkan dengan • Memiliki sifat otonom
pengelompokkan terhadap negara.
masyarakat, tepatnya

25
menunjuk kepada
kelompok-kelompok
sosial yang salah satu
ciri utamanya ialah sifat
otonom terhadap
negara”.
Fahmi “..masyarakat madani • Banyak partai, kelompok,
Huwaydi merupa-kan simbol bagi himpunan, ikatan, dan lainnya
realita yang dipenuhi dari berbagai corak di luar
berbagai kontrol yang struktur negara.
bersifat fakultatif, yang
meng-ekspresikan
kehadiran rakyat, yang
mana hal itu mengaki-
batkan didirikannya
berbagai macam
lembaga swasta dalam
masyarakat, untuk
mengimbangi (melawan)
terhadap lembaga
kekuasaan”.
Ernest Civil society: • Tidak mengenal hierarki
Gellner “..masyarakat yang politik, ekonomi, ideologi yang
terdiri atas institusi non- tidak mentolerir adanya
pemerintah yang saingan.
otonom dan cukup kuat • Visi plural dalam
untuk dapat mendefinisikan kebenaran dan
mengimbangi negara” menentukan ukuran
kebenaran.
• Terdapat desentralisasi dalam
segenap aspek kehidupan.
• Terciptanya tatanan
masyarakat yang harmonis,
yang bebas dari eksploitasi
dan penindasan.
• Terciptanya tatanan sosial
yang tidak memerlukan
penguatan yang bersifat
memaksa.
• Fungsi pemerintah hanya
sebagai penjaga perdamaian
di antara berbagai
kepentingan besar.
United Merupakan istilah pada
States masyarakat sipil yang
Agency for dapat diterima baik
Internation dalam menjelaskan
al bidang non-
Developme pemerintahan, dan
nt (USAID) bukan untuk mencari

26
profit (laba), serta
bersifat mandiri bagi
masyarakat yang
bersang-kutan".

Kekuatan wacana masyarakat madani terletak pada sisi substansinya,


yaitu sebagai rival yang tepat ketika negara mengembangkan
korporatismenya. Di negara-negara dengan tingkat intervensi struktur
yang tinggi dan masuk ke segala bidang kehidupan rakyat, maka wacana
ini akan mendapat respon yang cukup kuat. Dalam praktiknya, masyarakat
madani akan mengembangkan model-model organisasi kemasyarakatan
semi otonom dan otonom, guna melepaskan diri dari “gurita” negara yang
telah merusak sisi kreativitas dan kebebasan masyarakat.
Realitas politik yang terjadi negara kita dan negara-negara
berkembang lainnya, menunjukkan bahwa negara adalah struktur yang
dominan, entitas yang dibenarkan mengatur masyarakat sesuai visi dan
keabsahannya. Dengan dalih “pembangunan”, kesejahteraan, kepentingan
rakyat, intervensi negara seolah-olah sah, hingga masuk ke sisi terkecil
kehidupan masyarakat sekalipun. Sehingga di sinilah letak “dominasi”
perspektif dominasi struktur yang dikembangkan negara, sebagai wacana
satu-satunya yang berhak hidup dan berkembang, mengabaikan adanya
kekuatan masyarakat madani.
Satu titik yang kemudian bisa kita temukan dalam setiap definisi
konsep masyarakat madani, -- seperti yang dikemukakan beberapa ahli di
muka -- adalah pembahasannya selalu bergandengan dengan eksistensi
negara. Baik itu dalam statement mengimbangi, bermitra atau
mengungguli negara. Namun yang pasti, masyarakat madani akan ada
meskipun dalam negara otoriter. Inilah poin utama yang akan ditemukan
dalam setiap pembahsan masyarakat madani.
Sementara itu konsep masyarakat madani yang diabstraksikan para
ahli memiliki indikator sebagai identitas karakter yang dimiliki untuk bisa
mengidentifikasi ada-tidaknya perkembangan masyarakat madani.
Pertama : Sifat partisipatif, yaitu masyarakat madani tidak akan
menyerahkan seluruh nasibnya pada negara, tetapi mereka
menyadari bahwa yang akan dominan menentukan masa depan
mereka haruslah berasal dari diri sendiri. Simulus dan negara
bukanlah penentu aktivitas dan program-program kemajuan
masyarakat ke depan, tetapi harus kekuatan masyarakatlah yang
mewarnainya, sehingga apapun konsekuensi dari setiap
kebijakan, program aksi atas nama negara selalu terdapat warna
keinginan masyarakat madani di dalamnya. Dalam tataran praktis
masyarakat madani bisa terlihat dalam setiap proses politik di
berbagai bidang, yang akan dikeluarkan negara.
Kedua : Otonom, yaitu selain sebagai masyarakat pertisipatif,
masyarakat madani juga memiliki karakter mandiri, yaitu dalam
mengembangkan dirinya tidak tergantung dan menunggu
“bantuan” negara. Masyarakat terbiasa dengan inisiatifnya
mampu berinovasi, sekaligus independen secara politik dan
ekonomi. Meskipun mengakui pluralisme, masyarakat konsisten

27
memanfaatkannya. Begitu pula secara ekonomi, masyarakat
madani relatif mandiri dengan mengembangkan aktivitasnya,
dengan menghasilkan dan membiayai sendiri.
Ketiga : Tidak bebas nilai, yaitu seluruh komponen masyarakat madani
memiliki keterikatan terhadap nilai-nilai, yang merupakan
kesepakatan hasil musyawarah demokratis (bukan sekedar
konsensus). Setiap anggota masyarakat, dalam melakukan
aktivitasnya tidak terlepas dari nilai, yang akan memagari agar
manifestasi kreativitas dan inovasinya berada dalam koridor
“kebaikan” dan tidak merugikan komponen masyarakat lainnya
serta berimplikasi positif. Nilai yang dianut bisa bersumber dari
agama dan digali dari tradisi yang kondusif.
Keempat : Merupakan bagian dari sitem dengan struktur non-
dominatif (plural), yaitu meskipun eksistensinya yang
partisipatif dan otonom terhadap kekuatan negara, namun
masyarakat madani adalah bagian dari komponen-komponen
negara. Di luar masyarakat madani, diakui keberadaan negara
dan unsur-unsur masyarakat lainnya. Namun masyarakat madani
mengakuinya, dengan syarat kekuatan-kekuatan yang berada di
luar dirinya tidak mengembangkan interaksi dominatif, seperti
tetap memegang prinsip kompetisi, non-privilege, dan tidak
memaksa, yang intinya mengakui pluralisme sebagai satu
dinamika yang dimaknai dan ditangai secara tepat.
Kelima : Termanifestasi dalam organisasi, yaitu prinsip-prinsip
organisasi dipegang oleh masyarakat madani, sebagai
perwujudan identitasnya secara material. Artinya, masyarakat
madani bukan merupakan individu-individu yang partisipatif dan
otonom saja, tetapi terdiri dari sekumpulan individu warga negara
yang tergabung dalam asosiasi-asosiasi yang memiliki tatanan
yang mampu menjamin anggotanya untuk mampu
mengekspresikan diri, mengembangkan minat, saling tukar
informasi, memediasi perbedaan-perbedaan, dan menciptakan
pola-pola hubungan yang stabil. Di samping itu, mereka juga
tertata dalam organisasi modern, yang mengembangkan nilai-
nilainya sendiri secara konsisten.

2. Pengertian Masyarakat Madani


Konsep Masyarakat madani; merupakan penerjemahan istilah dari
konsep civil society yang pertama kali digulirkan oleh Dato Seri Anwar
Ibrahim dalam ceramahnya pada Simposium Nasional dalam rangka
Forum Ilmiah pada acara Festifal Istiqlal, 26 September 1995 di Jakarta.
Konsep yang dianjurkan oleh Anwar Ibrahim ini hendak menunjukkan
bahwa masyarakat yang ideal adalah kelompok masyarakat yang
memiliki peradaban maju.

Fokus Kita :
Masyarakat madani adalah sebuah kelompok atau tatanan
masyarakat yang berdiri secara mandiri dihadapan penguasa dan
negara, memiliki ruang publik (public sphere) dalam mengemukakan
28
pendapat, adanya lembaga-lembaga yang mandiri yang dapat
menyalurkan aspirasi dan kepentingan publik.
Paradigma dengan pemilihan terma masyarakat ini dilatarbelakangi
oleh konsep kata ilahi, kota peradaban atau masyarakat kota. Disisi lain,
pemaknaan Masyarakat Madani ini juga dilandasi oleh konsep tentang
Al’Mujtama’ Al Madani yang diperkenalkan oleh Prof. Naquib al-Attas,
seorang ahli sejarah dan peradaban Islam dari Malaysia dan salah satu
pendiri dari Institute for Islamic Though and Civilization (ISTAC), yang
secara defenitif masyarakat madani merupakan konsep masyarakat ideal
yang mengandung dua komponen besar yakni masyarakat kota dan
masyarakat yang beradab. Pendapat umum dan para ahli dalam
memberikan batasan-batasan tentang masyarakat madani adalah
sebagai berikut :
a. Dato Seri Anwar Ibrahim
Masyarakat madani adalah masyarakat yang memiliki sistem sosial
yang subur yang diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin
keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan kestabilan
masyarakat. Masyarakat mendorong daya usaha serta inisiatif individu
baik dari segi pemikiran, seni, pelaksanaan pemerintah mengikuti
undang-undang dan bukan nafsu atau keinginan individu menjadikan
keterdugaan atau predict-ability serta ketulusan atau transparency
sistem.
b. Nurcholish Madjid, M. Dawan Rahardjo, dan Azyumardi Azra
Pada prinsipnya masyarakat madani adalah sebuah tatanan komunitas
masyarakat yang mengedepankan toleransi, demokrasi dan
berkeadaban serta menghargai akan adanya pluralisme
(kemajemukkan).
c. Zbigniew Rau (Dengan latar belakang kajian kawasan Eropa
Timur dan Uni Soviet).
Masyarakat madani merupakan suatu masyarakat yang berkembang
dari sejarah, yang mengandalkan ruang dimana individu dan
perkumpulan tempat mereka bergabung, bersaing satu sama lain
guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini. Ruang ini timbul
diantara hubungan-hubungan yang menyangkut kewajiban mereka
terhadap negara dan bebas dari pengaruh keluarga serta kekuasaan
negara yang diekspresikan dalam bentuk individualisme, pasar
(market) dan pluralisme.
d. Han Sung-joo (Dengan latar belakang kasus Korea Selatan).
Masyarakat madani merupakan sebuah kerangka hukum yang
melindungi dan menjamin hak-hak dasar individu, perkumpulan
sukarela yang terbatas dari negara, suatu ruang publik yang mampu
mengartikulasikan isu-isu politik, gerakan warga negara yang mampu
mengendalikan diri dan independen, yang secara bersama-sama
mengakui norma-norma dan budaya yang menjadi identitas dan
solidaritas yang terbentuk serta pada akhirnya akan terdapat
kelompok inti dalam civil society ini.

29
Konsep Han ini, mengandung 4 (empat) ciri dan prasyarat bagi
terbentuknya masyarakat madani, yakni Pertama, diakui dan
dilindunginya hak-hak individu dan kemerdekaan berserikat serta
mandiri dari negara. Kedua , adanya ruang publik yang memberikan
kebebasan bagi siapapun dalam mengartikulasikan isu-isu politik.
Ketiga, terdapatnya gerakan-gerakan kemasyarakatan yang berdasar
pada nilai-nilai budaya tertentu. Keempat, terdapat kelompok inti
diantara kelompok pertengahan yang mengakar dalam masyarakat
yang menggerakkan masyarakat dan melakukan modernisasi sosial
ekonomi.
e. Kim Sunhyuk (Dalam konteks Korea Selatan).
Masyarakat madani adalah suatu satuan yang terdiri dari kelompok-
kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan gerakan-
gerakan dalam masyarakat yang secara relatif otonom dari negara,
yang merupakan satuan-satuan dasar dari (re) produksi dan
masyarakat politik yang mampu melakukan kegiatan politik dalam
suatu ruang publik, guna menyatakan kepedulian mereka dan
memajukan kepentingan-kepentingan mereka menurut prinsip-prinsip
pluralisme dan pengelolaan yang mandiri.
Menurut Kim, pada adanya organisasi-organisasi kemasyarakatan
yang relatif memposisikan secara otonom dari pengaruh dan
kekuasaan negara. Eksistensi organisasi-organisasi ini mensyaratkan
adanya ruang publik (public sphere) yang memungkinkan untuk
memperjuangkan kepentingan-kepentingan tertentu.

Bonus Info Kewarganegaraan

30
LAHIRNYA ”CIVIL SOCIETY”

Istilah civil society berasal dari frase Latin “civilis societies” yang
mulanya digunakan oleh Cicero (106 – 43 SM), sebagai seorang
pujangga Roma. Civil society, awalnya berarti “komunitas politik”,
yaitu suatu masyarakat yang didasarkan pada hukum dan hidup
beradab; hal ini berbeda dengan bentuk masyarakat yang belum
terorganisir dan belum teratur.
Selanjutnya istilah ini berkembang terutama melalui pemikiran
John Locke (1632 – 1704) dan J.J. Rousseau (1712 – 1778).
Walaupun tidak sama persis, tetapi kurang lebih mereka
mengartikannya sebagai “masyarakat politik” (political society).
Dalam pengertian ini, civil society dibedakan dari keadaan alami
ketika belum terbentuk negara. Dalam kehidupan politik ini,
masyarakat terstruktur dalam sautu negara mendasarkan tata
kehidupan mereka pada hukum. Selain itu, telah ada pula kehidupan
ekonomi dalam bentuk pasar dan penggunaan mata uang, juga
pemanfaatan teknologi.
Pengertian civil society seperti tersebut di atas, mendapat
penentangan dari Hegel. Menurutnya, civil society bukanlah satu-
satunya hal yang dibentuk dalam perjanjian masyarakat (social
contract). Bagi Hegel, secara keseluruhan tatanan politik teridiri atas
negara di satu pihak dan civil society di pihak lain.
Pada masa kini, istilah civil society digunakan untuk
membedakan suatu komunitas di luar negara atau di luar lembaga
politik. Yaitu suatu lembaga privat yang mandiri dari pemerintah dan
terdiri atas individu yang membentuk kelompok untuk mewujudkan
kepentingan mereka sendiri secara aktif. Di Indonesia istilah ini mulai
populer pada era 1990-an. Pada masa itu berkembang keterbukaan
politik menuju demokrasi. Terdapat berbagai pandangan dari para
ahli yang mencoba menerjemahkan konsep civil society dalam
konteks Indonesia.
Beberapa istilah diperkenalkan untuk menyebarluaskan gagasan
tentang civil society, diantara istilah-istilah yang banyak digunakan
adalah ; masyarakat sipil, masyarakat warga, dan masyarakat
madani. Walaupun istilah tersebut berbeda-beda, namun bentuk
masyarakat yang dimaksudkan oleh beberapa pemikir tersebut
adalah sama, yaitu masyarakat yang menghargai keragaman
(pluralisme), kritis dan partisipatif dalam berbagai persoalan sosial
dan serta mampu mandiri.

3. Karakteristik/Ciri-ciri Masyarakat Madani


Penyebutan karakteristik masyarakat madani dimaksudkan untuk
menjelaskan bahwa dalam merealisasikan wacana masyarakat madani
diperlukan prasyarat-prasyarat yang menjadi nilai universal dalam
penegakan masyarakat madani. Prasyarat ini tidak bisa dipisahkan satu
sama yang lain atau hanya mengambil salah satunya saja, melainkan
merupakan satu kesatuan yang integral yang menjadi dasar dan nilai
bagi eksistensi masyarakat madani. Karakteristik/ciri-ciri tersebut antara

31
lain adalah adanya Free Public Sphere, Demokrasi, Toleansi, Pluralisme,
Keadilan Sosial (social justice), dan berkeadaban.

N Kriteria Uraian / Keterangan


o
1. Free Yaitu adanya ruang publik yang bebas sebagai sarana
Public dalam mengemukakan pendapat. Menurut Arendt dan
Sphere Habermas yang dimaksud dengan ruang publik secara
teoritis bisa diartikan sebagai wilayah dimana
masyarakat sebagai warga negara memiliki akses penuh
terhadap setiap kegiatan publik. Warga negara berhak
melakukan kegiatan secara merdeka dalam
menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul serta
mempublikasikan informasi kepada publik.
2. Demokra Merupakan satu identitas yang menjadi penegak
tis wacana masyarakat madani, dimana dalam menjalani
kehidupan, warga negara memiliki kebebasan penuh
untuk menjalankan aktivitas kesehariannya, termasuk
berinteraksi dengan lingkungannya. Demokratis berarti
masyarakat dapat berlaku santun dalam pola hubungan
interaksi dengan masyarakat sekitarnya dengan tidak
mempertimbangkan suku, ras dan agama. Demokrasi
merupakan salah satu syarat mutlak bagi penegakan
masyarakat madani. Penekanan demokrasi (demokratis)
di sini dapat mencakup sebagai bentuk aspek khidupan
seperti politik, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi dan
sebagainya.
3. Toleran Toleran adalah suatu sikap yang dikembangkan dalam
masyarakat madani untuk menunjukkan sikap saling
menghargai dan menghormati aktivitas yang dilakukan
oleh orang lain. Toleransi ini memungkinkan adan
adanya kesadaran masing-masing individu untuk
menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas
yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lain yang
berbeda.
Toleransi menurut Nurcholish Madjid merupakan
persoalan ajaran dan kewajiban melaksanakan ajaran
itu. Jika toleransi menghasilkan adanya tata cara
pergaulan yang “enak” antara berbagai kelompok yang
berbeda-beda, maka hasil itu harus dipahami sebagai
“hikmah” atau “manfaat”dari pelaksanaan ajaran yang
benar.
4. Pluralis Sebagai sebuah prasyarat penegakan masyarakat
me madani, maka pluralisme harus dipahami secara
mengakar dengan menciptakan sebuah tatanan
kehidupan yang menghargai dan menerima
kemajemukan dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Pluralisme tidak bisa dipahami hanya dengan sikap
mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang
majemuk, tetapi harus disertai dengan sikap yang tulus

32
untuk menerima kenyataan pluralisme itu sebagai
bernilai positif, merupakan rahmat Tuhan.
Menurut Nurcholis Madjid, konsep pluralisme adalah
pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan
keadaban (genuine engagement of diversities within the
bonds of civility). Bahkan pluralisme adalah juga suatu
keharusan bagi keselamatan umat manusia antara lain
melalui mekanisme pengawasan dan pengimbanagn
(check and balance).
5. Keadilan Keadilan dimaksudkan untuk menyebutkan
Sosial keseimbangan dan pembagian yang proposional
(Social terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara yang
Justice) mencakup seluruh aspek kehidupan. Hal ini
memungkinkan tidak adanya monopoli dan pemusatan
salah satu aspek kehidupan pada suatu kelompok
masyarakat. Secara esensial, masyarakat memiliki
hak yang sama dalam memperoleh kebijakan-kebijakan
yang ditetapkan oleh pemerintah (penguasa).

4. Menuju Masyarakat Madani


Sistem politik suatu negara, senantiasa akan berhubungan dengan
ruang publik yaitu kehidupan yang berkaitan dengan orang kebanyakan
atau rakyat. Dalam kehidupan inilah diatur proses serta mekanisme agar
seluruh aspek kehidupan menjadi teratur. Untuk itu, dibentuk lembaga-
lembaga yang membidangi urusan eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Secara umum, lembaga-lembaga tersebut diandaikan mewakili sebuah
organisasi besar yang bernama ”negara”. Selain itu ada juga lembaga
lain seperti organisasi partai politik yang akan berbicara tentang
bagaimana cara memperoleh, mengendalikan dan mempertahankan
kekuasaan.
Di luar negara, terdapat sekelompok masyarakat yang disebut sebagai
civil society yang biasanya terbentuk dari kelompok-kelompok kecil di
luar lembaga negara dan lembaga lain yang berorientasi kekuasaan.
Sebagai sebuah komunitas, posisi masyarakat madani berada di atas
keluarga dan di bawah negara atau diantara keduanya.

Fokus Kita :
Masyarakat madani (civil society), merupakan wujud masyarakat
yang memiliki keteraturan hidup dalam suasana perikehidupan yang
mandiri, berkeadilan sosial, dan sejahtera. Masyarakat madani
mencerminkan tingkat kemampuan dan kemajuan masyarakat yang
tinggi untuk bersikap kritis dan partisipatif dalam menghadapi berbagai

Bentuk nyata masyarakat madani secara sederhana dapat kita lihat


yaitu dengan berkembangnya budaya gotong royong di berbagai daerah
di Indonesia. Budaya gotong royong mampu mendorong anggota
masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan bersama secara partisipatif.
Hasil kegiatan tersebut, diarahkan pada pemberdayaan masyarakat yang

33
secara tradisional juga terdapat mekanisme pengaturan sosial yang
dikembangkan secara turun temurun. Misalnya, dalam menentukan nilai
bersama, norma, sanksi sosial yang diberlakukan dalam masyarakat
tersebut.
Kita juga dapat melihat bagaimana masyarakat mampu
mengembangkan musyawarah dan toleransi dengan berdasarkan nilai-
nilai tradisional. Mereka juga telah mampu mengembangkan budaya
kebebasan berpendapat, menghormati perbedaan dan menghargai
keberagaman.
Masing-masing masyarakat di Indonesia dengan keberagaman etnik,
bahasa, agama dan adat istiadat, mereka telah memiliki mekanisme dan
pengaturan sosial yang berbeda-beda. Namun demikian seluruh aktivitas
tersebut dilakukan secara mandiri dan mendorong partisipasi dalam
kebersamaan. Bentuk-bentuk masyarakat partisipatif yang demikian
inilah yang harus kita kembangkan agar kehidupan yang demokratis
dapat ditopang oleh masyarakat madani.
Beberapa prasyarat guna menuju masyarakat madani setelah tumbuh
dan berkembangkan demokratisasi, dapat dilihat pada bagan berikut ini.

SISTEM
POLITIK NEGARA

Memilliki kemampuan Secara umum telah


meme-nuhi kebutuhan DEMOKRASI memiliki kemampuan
pokok sendiri (mampu ekonomi, sistem
mengatasi ketergan- politik, sosial budaya
tungan) agar tidak dan pertahanan
menimbul-kan DEMOKRATISASI keamanan yang
kerawanan, terutama dinamis, tangguh serta
bidang ekonomi. berwa-wasan global.
MASYARAKAT
MADANI
(CIVIL SOCIETY)
Kualitas sumber daya manusia Semakin mantap mengendalikan
yang tinggi yang mencerminkan sumber-sumber pembiayaan
antara lain dari kemampuan dalam negeri (berbasis
tenaga-tenaga profesional untuk kerakyatan) yang berarti
memenuhi kebutuhan ketergantungan kepada sumber-
pembangu-nan serta sumber pembangunan dari luar
penguasaan ilmu pengetahuan negeri semakin kecil atau tidak
dan teknologi ada sama sekali.

Bonus Info Kewarganegaraan

34
PEMBANGUNAN MASYARAKAT MADANI
JANGAN DITELANTARKAN

Hiruk pikuk pasca peledakan bom Bali jangan sampai


menelantarkan kehendak kita bersama membangun masyarakat
madani alias masyarakat kewargaan atau civil society. Yakni
masyarakat yang bersendikan, berkerangka, serta bersosok hidup
kemanusiaan yang inklusif (terbuka), yang memahami dan
menghayati perbedaan justru untuk memperkokoh serta mewujudkan
kebersamaan.
Pembangunan masyarakat madani bukan saja penting, melainkan
ia merupakan kondisi serta jaringan yang harus menyertai terbangun
dan bisa bekerjanya demokrasi, penegakan hukum, persamaan tanpa
diskriminasi, serta keadilan sosial dan perdamaian.
Gerakan reformasi berserta pendukung, promotor dan aktivitasnya,
tidak salah mengerahkan perjuangan kepada kekuasaan eksekutif,
legislatif, yudikatif serta bisnis ekonomi. Juga diarahkan kepada
berbagai perangkatnya, termasuk lembaga dan perangkat keamanan.
Namun jangan pula dialpakan pekerjaan lain yang barangkali kurang
spektakuler, kurang memperoleh panggung, kurang seketika hasilnya,
yakni pengembangan dan pembangunan masyarakat madani.
Pemahaman tentang vicil society, menurut kita adalah
pengembangan dan pembangunan masyarakat warga yang sekali lagi
membangun komunitas yang tidak pecah menjadi sana dan sini secara
eksklusif aleh perbedaan pandangan dan kepentingan. Perbedaan
justru disadari sebagai pentingnya komunitas warga yang inklusif,
toleran, terbuka dan berbudaya serta harus kita kembangkan dan kita
bangun.

Sumber : Disadur dari Tajuk Rencana Kompas,


4/11/2002.

Penugasan Praktik 3
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Ciri-Ciri Masyarakat
Madani (Pengertian dan ciri-cirinya), lakukan Strategi
Pembelajaran dengan Penugasan Cooperative Integrated Reading
and Composition (CIRC) atau Kooperatif Terpadu Membaca dan
Menulis.
Langkah-langkah :
Bentuk kelompok dengan anggotanya antara 4 – 5 orang.
Diberikan “wacana” atau kliping sesuai dengan topik pembelejaran.
Setiap kelompok bekerja sama saling membacakan dan menemukan
ide pokok serta memberi tanggapan terhadap wacana/kliping, dan
ditulis pada lembar kertas.
Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok.
Buatlah kesimpulan bersama.
Penutup.

35
D.PELAKSANAAN DEMOKRASI DI INDONESIA SEJAK ORDE
LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI

Negara Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang


berusaha untuk membangun sistem politik demokrasi sejak dinyatakan
merdeka dan berdaulat tahun 1945. Namun banyak kalangan
berpendapat bahwa sesungguhnya negara Indonesia hingga sekarang ini
masih dalam tahap “demokratisasi”. Artinya, demokrasi yang kini
dibangun belum benar-benar berdiri dengan mantap. Masih banyak yang
harus dibangun dalam hal demokrasi, karena bukan saja berkaitan
dengan sistem politik kenegaraan, tetapi dalam arti yang lebih luas
adalah mencakup bidang budaya, hukum dan perangkat-perangkat lain
yang penting bagi tumbuhnya demokrasi dan masyarakat madani.

Fokus Kita :
Realitas demokrasi sebagai sebagai sistem juga belum mampu
menjamin keadilan distributif, karena akibat hakikat politik yang
memang memberikan peluang arena persaingan. Esensinya adalah
bagaimana mengatur/membuat distribusi tersebut lebih adil melalui

Sebagai sebuah gagasan negara demokrasi yang memenuhi


persyaratan-persayaratan ideal-universal, negara Indonesia telah
mencoba untuk menerapkannya. Sejak awal kemerdekaan negara
Indonesia, berbagai hal berkenaan dengan hubungan negara dan
masyarakat telah diatur di dalam UUD 1945. Para founding fathers
(pendiri negara) berkeinginan kuat agar sistem politik Indonesia mampu
mewujudkan pemerintahan yang melindungi segenap tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut serta dalam
perdamaian dunia. Hal-hal inilah yang melandasi gagasan-gagasan besar
bangsa dan rakyat Indonesia yang ingin diwujudkan melalaui “cita moral”
dan “cita hukum” sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.
Langkah awal demokratisasi di Indonesia, dilakukan melalui
penerbitan Maklumat Wakil Presiden No. X, tanggal 3 November 1945
tentang anjuran untuk membentuk partai politik. Kemudian langkah
berikut, adalah segera dilaksanakan pemilu untuk memilih anggota DPR
yang diselenggarakan pada tahun 1946. Namun belum siapnya
perangkat perundang-undangan yang mengatur pemilu dan instabilitas
akibat pemberontakan dan silih bergantinya kabinet, mengakibatkan
pemilu sampai dengan tahun 1950 belum dapat terselenggara. Dengan
dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 7 tahun 1953, pelaksanaan
pemilu pertama di Indoensia yang ditunggu-tunggu dapat terselenggara
pada tahun 1955 yang diikuti oleh lebih dari 30 (tiga puluh) peserta dari
perorangan (independen) dan partai politik.
Pada era berikutnya, pelaksanaan pemilu sebagai sarana demokrasi
baik pada masa orde baru maupun era reformasi terselenggara dengan
baik. Pilihan ideologi dan sistem politik demokrasi Pancasila sebagai
dasar dan falsafah negara Indonesia, merupakan hasil kristalisasi nilai-
nilai luhur budaya bangsa yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan

36
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Meskipun praktik-praktik
demokrasi Pancasila pada masa lalu menunjukkan pengalaman yang
kurang baik, bukan berarti nilai-nilai Pancasila tidak memiliki hubungan
dengan sistem politik demokrsi yang berkembang selama ini.
Sejak awal kemerdekaan para pendiri negara dan bangsa Indonesia
telah sepakat merumuskan pancasila sebagai dasar negara sehingga sila-
sila Pancasila yang tercantum di dalamnya merupakan nilai-nilai dasar
yang sepatutnya melandasi penyelenggaraan pemerintahan yang
demokratis.

1. Pengertian Demokrasi Pancasila


Rumusan singkat Demokrasi Pancasila tercantum di dalam sila
keempat Pancasila, yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Rumusan tersebut
pada dasarnya merupakan rangkaian totalitas yang terkait erat antara
satu sila dan sila lainnya (bulat dan utuh). Dalam arti umum, demokrasi
Pancasila adalah demokrasi yang dihayati oleh bangsa dan negara
Indonesia yang dijiwai dan diintegrasikan oleh sila-sila lain (nilai-nilai
luhur Pancasila).
Beberapa pendapat mengenai Demokrasi Pancasila :
a. Prof. Dr. Drs. Notonagoro, S.H.
Demokrasi Pancasila adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan yang ber-
Ketuhanan Yang Maha Esa, yang berperikemanusiaan yang adil dan
beradab, yang mempersatukan Indonesia, dan yang berkeadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.
b. Prof. Dardji Darmodihardjo, S.H.
Demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber
kepada kepribadian dan falsafah hidup bangsa Indonesia, yang
perwujudannya seperti dalam ketentuan-ketentuan Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945.
c. Drs. S. Pamudji, M.P.A.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/ perwakilan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa,
yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan
Indonesia, dan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Berdasarkan rumusan-rumusan tersebut di atas, bahwa dapat
dipahami demokrasi Pancasila adalah suatu sistem pemerintahan rakyat
yang berdasarkan kedaulatan rakyat dengan asas musyawarah untuk
mufakat sebagai sarana utama bagi pemecahan masalah-masalah politik,
ekonomi, sosial religi dan hankamnas demi terwujudnya suatu kehidupan
masyarakat yang adil dan makmur, merata material dan spiritual. Dalam
rumusan-rumusan pengertian oleh para ahli, nampak terdapat
penekanan-penekanan pada hal-hal sebagai berikut :
a. Kedaulatan rakyat, bahwa demokrasi Pancasila menolak adanya niat
untuk memanipulasi kekuasaan rakyat, seperti yang lazim terjadi pada
:
 demokrasi liberal oleh kelompok ekonomi kuat (pemilik modal);

37
 demokrasi rakyat oleh kelompok yang karena kelihaiannya
berhasil merebut, menguasai dan mengendalikan partai/negara.
b. Asas musyawarah mufakat, karena dengan asas ini dapat dihindari
penyelewengan terhadap prinsip-prinsip demokrasi Pancasila.
c. Jenis dan kategori masalah disebut eksplisit/lengkap karena
kesemuanya menyangkut kepentingan dan kedaulatan rakyat.

Fokus Kita :
Musyawarah mufakat, merupakan salah satu sarana untuk
mengambil keputusan dalam kehidupan bersama di tengah-tengah
masyarakat yang sesuai dengan Pancasila. Supaya hal ini dapat
terlaksana dengan baik, perlulah kita bersikap saling menghormati
dan menghargai dengan tetap mengingat kepentingan masyarakat,
bangsa dan negara. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan sistem

2. Konsepsi Demokrasi Pancasila


Konsepsi demokrasi Pancasila sebagaimana yang para ahli berikan
rumusannya adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/ perwakilan yang ber-Ketuhanan Yang Maha
Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan Indonesia,
dan yang bersama-sama menjiwai keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Negara Indonesia yang telah diproklamasikan pada tanggal 17
Agustus 1945, sejak awal telah dirintis oleh para pendiri negara dan
segenap bangsa Indonesia merupakan negara dengan sistem politik
demokrasi yang bersifat monodualis yang bersumber dari sifat kodrat
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Negara demokrasi
monodualis, bukan merupakan demokrasi perseorangan atau demokrasi
perseorangan/liberal dan bukan pula demokrasi golongan (kelas).
Demokrasi monodualis juga bukan demokrasi organis, yaitu massa
sebagai suatu kesatuan hanya menganggap manusia sebagai makhluk
sosial.
Rumusan sila keempat Pancasila sebagai dasar filsafat negara dan
dasar politik negara terkandung tiga unsur, yaitu : a) kerakyatan, b)
Permusyawaratan dan c) kedaulatan rakyat. Hubungan yang terkandung
di antara ketiga unsur tersebut adalah sebagai berikut. Kedaulatan rakyat
berarti penjelmaan dari sila keempat Pancasila (Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Kerakyatan ini merupakan cita-cita kefilsafatan dari demokrasi Pancasila,
di dalamnya ada dua arti, yaitu :
a. Demokrasi politik, yaitu berkaitan dengan
pelaksanaan dan penyelenggaraan negara dalam bidang politik atau
persamaan dalam politik.
b. Demokrasi sosial ekonomi, yang berkaitan dengan
pelaksanaan dan penyelenggaraan negara di bidang sosial ekonomi
atau persamaan dalam bidang kemasyarakatan dan ekonomi untuk
mewujudkan kesejahteraan bersama.

38
3. Aspek-Aspek Demokrasi Pancasila
Demokrasi Pancasila mengandung enam aspek berikut :

N Aspek Uraian / Keterangan


o
1. Aspek Bahwa paham demokrasi menunjukkan cara
Formal partisipasi rakyat dalam menyelenggarakan
pemerintah, yakni dengan mempergunakan
demokrasi perwakilan (indirect democracy). Rakyat
berpartisipasi dalam pemerintahan/penyelenggara
negara melalui wakil-wakilnya yang duduk menjadi
anggota Badan Perwakilan Rakyat.
2. Aspek Paham demokrasi yang memberikan penegasan
Material dan pengakuan bahwa manusia sebagai makhluk
tuhan mempunyai moral dan martabat yang sama.
Manusia bukan merupakan obyek melainkan
subyek. Oleh sebab itu manusia Indonesia
mempunyai kesamaan derajat, baik itu dimuka
hukum (equality before the law) maupun dalam
memperoleh kesempatan (equility for the
opportunity). Adanya pengakuan terhadap rakyat
dan martabat manusia sebagai makhluk tuhan
membawa konsekuensi adanya pengakuan
terhadap hak asasi dan kewajiban asasi.
3. Aspek Bahwa paham demokrasi yang berdasarkan pada
Normatif, norma-norma persatuan dan solideritas serta
(Kaidah), keadilan. Persatuan dan solideritas berarti
menghendaki adanya saling keterbukaan antara
warga negara dengan penguasa, sedangkan
keadilan berarti mementingkan keseimbangan
antara pemenuhan hak dan kewajiban asasi
manusia.
4. Aspek Yaitu bahwa paham demokrasi yang menitik
Optatif beratkan pada tujuan atau keinginan untuk
mewujudkan masyarakat yang sejahtera dalam
negara hukum kesejahteraan.
5. Aspek Yaitu menggambarkan perwujudan demokrasi
Organisasi dalam organisasi pemerintahan atau lembaga-
lembaga negara dan organisasi kekuatan sosial
politik serta organisasi kemasyarakatan dalam
masyarakat negara.
6. Aspek Pada aspek ini menekankan bahwa dalam
Kejiwaan/ demokrasi Pancasila dibutuhkan warga negara yang
Semangat berkepribadian, berbudi pekerti luhur, bersikap
rasional dan tekun dalam pengambdian.

4. Prinsip-Prinsip Demokrasi Pancasila

39
Bagi bangsa Indonesia, pilihan yang tepat dalam menerapkan
paham demokrasi, adalah demokrasi Pancasila yang sesuai dengan
kepribadian bangsa yang merupakan kristalisasi tata nilai sosial
budaya sendiri. Hal itu telah dipraktikkan secara turun-menurun jauh
sebelum Indonesia merdeka. Kenyataan ini dapat kita lihat pada
masyarakat desa yang menerapkan “musyawarah mufakat” dan
“gotong royong” dalam menyelesaikan masalah-masalah bersama.
Demokrasi Pancasila secara essensial menjamin bahwa rakyat
mempunyai hak yang sama untuk menentukan dirinya sendiri.
Pancasila menarik perhatian kita pada pentingnya untuk secara
bertanggung jawab menciptakan keselarasan antara manusia dengan
Tuhan, manusia dengan manusia lainnya, serta manusia dengan
lingkungannya dalam arti luas.
Secara umum, sila-sila dan nilai-nilai dari Ideologi Pancasila sudah
mencerminkan ada hubungan atau keterkaitan dengan prinsip-prinsip
demokrasi sebagaimana dikemukakan oleh Melvin I. Urofsky.
Meskipun tidak terkait dengan semua prinsip, namun sebagian besar
sudah memiliki hubungan atau keterkaitan. Apalagi, rumusan sila
keempat pada dasarnya juga merupakan rangkaian totalitas yang
terkait antara satu sila dengan sila lainnya.
Secara ideologi maupun konstitusional, demokrasi Pancasila
mengajarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Persamaan bagi seluruh rakyat Indonesia,
b. Keseimbangan antara hak dan kewajiban,
c. Pelaksanaan kebebasan yang bertanggung jawab secara moral
kepada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, dan orang lain.
d. Mewujudkan rasa keadilan sosial,
e. Pengambilan keputusan dengan musyawarah mufakat,
f. Mengutamakan persatuan nasional dan kekeluargaan, dan
g. Menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita nasional.
Dari pengertian dan prinsip-prinsip yang terkandung di dalam
demokrasi Pancasila, dalam implementasinya dapat dibedakan atas
aspek material dan aspek formal.
a. Aspek Material (Segi substansi/isi)
Demokrasi Pancasila harus dijiwai dan diintegrasikan oleh sila-sila
lainnya. Karena itulah, pengertian demokrasi Pancasila tidak hanya
merupakan demokrasi politik, tettapi juga demokrasi ekonomi dan
sosial (lihat penjelasan pasal 27, 28, 29, 30, 31, 33, dan 34 UUD
1945).
b. Aspek Formal
Demokrasi Pancasila, merupakan bentuk atau cara pengambilan
keputusan (demokrasi politik) yang dicerminkan oleh sila keempat,
yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan / perwakilan”.

Prinsip-prinsip demokrasi Pancasila sebagaimana tertuang dalam


sila keempat yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat

40
kebijaksanan dalam permusyawaratan/ perwakilan “, adalah
sebagai berikut :
a. Prinsip Pemerintah Berdasarkan Konstitusi
Kata “Kerakyatan” dalam sila keempat ini sesungguhnya
mencerminkan bahwa Pancasila sepakat kalau sumber utma dari
semua kewenagan dalam demokrasi ada di tangan rakyat. Hal
ini sesuai dengan bunyi pasal 1ayat (2) Kedaulatan berada di
tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-undang Dasar
(amandemen ketiga).
b. Adanya Pemilu Berkesinambungan
Berdasarkan sila keempat, Indonasia menerapkan demokrasi
perwakilan, bukan demokrasi langsung. Sejak pemilu 1955
sampai dengan 1999, pemilihan presiden selalu dilakukan oleh
DPR/MPR (tidak langsung) namun mulai pemilu 2004 Presiden
dan Wakil Presiden Indonesia dipilih secara langsung. Sesuai
dengan sistem pemerintahan presidensial, maka sudah
seharusnya Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat.
c. Adanya Peran Kelompok-kelompok kepentingan
Kelompok-kelompok kepentingan seperti organisasi masyarakat
dan LSM (Lembaga Sosial Masyarakat) dapat menyalurkan
aspirasi melalui komisi-komisi sebelum diadakannya sidang
umum ataupun sidang tahunan. Oleh fraksi-fraksi kemudian
aspirasi ini diperjuangkan di sidang komisi. Dalam sidang-sidang
komisi di DPR dan rapat badan pekerja MPR selama ini, dalam
mengambil keputusan selalu mengutamakan musyawarah untuk
mufakat. Jika musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, baru
disepakati pengambilan suara berdasarkan pemungutan suara
terbanyak (voting). Jika voting masih juga sulit, dicari titik temu
maka biasanya diadakan lobbying (upaya mencapai
kesepakatan di luar sidang resmi).
d. Demokrasi Pancasila menghargai HAM dan Melindungi
Hak Minoritas
Demokrasi Pancasila sedapat mungkin mencoba menghormati
hak-hak individu dan minoritas, sedangkan kelompok mayoritas
tidak boleh memakai kekuatannya untuk mencabut
kemerdekaan mendasar setiap orang.

Bonus Info Kewarganegaraan


PANDANGAN LAIN TENTANG ”DEMOKRASI
PANCASILA”
41
Beberapa pendapat atau pandangan tentang demokrasi Pancasila,
baik dari sudut pandang teori maupun implementasinya, antara lain
sebagai berikut :
1. Abdurahman Wahid, demokrasi di Indonesia adalah sesuatu
yang masih dalam proses demokrartisasi. Negara Indonesia
“seolah-olah” negara demokrasi, padahal masih semu.
2. Afan Gafar, “Kita dihadapkan pada kekuatan yang tidak
memungkinkan demokrasi dilaksanakan di Indonesia. Apalagi
dengan adanya konsep negara integralistik, sangat fasistik dan
tidak masuk akal dan orang tidak mungkin memperjuangkan
demokrasi memperjuangkan demokrasi kalau masih berpegang
pada konsep integralistik.
3. Amir Santoso, berkeyakinan bahwa di dalam masyarakat yang
belum memiliki sistem ekonomi yang demokratik, sistem hukum
yang demokratik, dan budaya politik demokratik, belum akan
tercipta sistem politik yang demokratik.
4. Peter Tanner, bahwa Indonesia jangan dulu didorong untuk
demokratisasi sekarang ini, melainkan nanti 25 tahun yang akan
datang. Kalau demokratisasi dijalankan sekarang, seluruh proses
kemajuan ekonomi yang sudah dicapai selama ini akan
berantakan. Jadi, biarlah keadaannya seperti sekarang ini.
5. Sutjipto Wirosardjono, yang perlu diwaspadai aalah bahwa yang
sesungguhnya memegang kendali kehidupan politik kita bukanlah
the formal player atau kekuatan-kekuatan formal politik yang ada
undang-undangnya, tetapi the real player atau kekuatan-kekuatan
riil yang mempunyai leverage yang jauh lebih besar dari kekuatan-
kekuatan politik formal itu. Walaupun kekuatan politik formal itu
memainkan peran, dia semata-mata akan dipakai sebagai
kendaraan yang ditumpangi oleh the real palyer tadi.
Demokrasi Indonesia merupakan demokrasi yang khas dengan ciri
pokok mengacu pada nilai-nilai Pancasila. Rumusan formal demokrasi
Pancasila mendasarkan diri pada kerakyatan namun tidak hanya
berarti kedaulatan rakyat, melainkan mencakup demokrasi politik,
ekonomi, hukum, dan kebudayaan. Demokrasi diwujudkan dalam
suatu proses musyawarah untuk mencapai mufakat. Dalam prinsip ini
terkandung kegotong-royongan. Demokrasi juga diwujudkan dalam
sistem perwakilan. Kesimpulannya, demokrasi Pancasila adalah suatu
sistem politik yang sedang diperjuangkan melalui proses
Penugasan Praktik
demokratisasi, yakni meuju kondisi ideal yang mengacu kepada nilai-
Carilah
nilai sumber informasi
Pancasila.
Kewarganegaraan lain baik dari buku, koran, majalah, internet,
buletin dan sebagainya, kemudian lakukan hal-hal berikut :
Rumuskan kembali bagaimana bangsa Indonesia memilih sistem
politik kenegaraannya dengan demokrasi Pancasila !
4
Berikan penjelasan hubungan antara nilai-nilai budaya bangsa dengan
konsepsi demokrasi Pancasila di Indonesia !
Berikan penjelasan kembali mengapa aspek material dan formal
penting dalam implementasi demokrasi Pancasila !
Berikan sekurang-kurangnya 2 (dua) contoh implementasi prinsip
demokrasi Pancasila tentang “Keseimbangan antara hak dan 42
kewajiban”!
Identifikasikan kembali prinsip “Pemerintah berdasarkan konstitusi” !
5. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia Masa ORLA,
ORBA, dan Orde Reformasi
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia dalam perjalanannya mengalami
pasang surut, hal itu ditandai dengan perubahan bentuk demokrasi yang
pernah dilaksanakan di Indonesia. Berikut adalah prkembangan
demokrasi yang pernah dilaksanakan, yaitu :

 Demokrasi Liberal (17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959)


Negara Indonesia adalah salah satu negara merdeka yang lahir
setelah Perang Dunia II (17 Agustus 1945). Meskipun sebagai sebuah
negara muda, tetapi negara Indonesia sudah memiliki perangkat-
perangkat kenegaraan yang memadai. Saat itu, kita sudah memiliki UUD
1945 sebagai konstitusi negara, Pancasila sebagai dasar negara,
Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan, Bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan, Bendera Merah Putih sebagai sebagai bendera
nasional dan Presiden-Wakil Presiden Soekarno-Hatta. Perangkat ini
kemudian dilengkapi pula dengan adanya Komite Nasional Indonesia
Pusat (KNIP) pada tanggal 29 Agustus 1945.
Fungsi KNIP semula dalah sebagai pembantu presiden, selanjutnya
kemudian beralih menjadi DPR/MPR. Perjalanan berikutnya, pemerintah
mengeluarkan peraturan tentang pembentukan partai politik. Sebagai
realisasinya, maka pada November 1945, kabinet presidensial yang
dipimpin presiden diganti oleh kabinet parlementer yang dipimpin oleh
seorang perdana mentri. Sultan Syahrir diangkat sebagai perdana
mentri dalam kabinet parlementer ini.
Dengan demikian, kabinet presidensil berlaku dari Agustus -
November 1945, sedangkan kabinet parlementer dari November 1945 -
Desember 1948. Pasca agresi militer Belanda II (19 Desember 1945),
negara Indonesia terpecah belah dan mudah diadu domba dengan
dibentuknya Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang menerapkan
sistem politik demokrasi liberal. Kedaulatan rakyat diserahkan kepada
sistem multi partai sehingga muncul banyak partai di masyarakat.
Akibatnya, suara rakyat terpecah-pecah ke dalam banyak partai dengan
efek negatif adalah adanya sikap politik yang saling menjatuhkan antara
partai satu dengan partai yang lainnya. Hal demikian adalah sangat
mungkin, mengingat pada masa itu tidak ada satupun partai besar yang
memiliki suara lebih dari 50% sehingga umur kabinet di masa demokrasi
liberal tidak berusia panjang.
Peristiwa jatuh bangunnya kabinet dapat dilihat dalam data berikut
ini :
a. Kabinet Natsir (6 September 1950 – 27 April 1951)

43
b. Merupakan kabinet pertama yang memrintah pada masa demokrasi
liberal. Natsir berasal dari Masyumi.
c. Kabinet Soekiman-Soewiryo (27 April 1951 – 3 April 1952)
d. Kabinet ini dipimpin oleh Soekiman-Soewiryo dan merupakan kabinet
koalisi Masyumi – PNI.
e. Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 3 Juni 1953)
f. Kabinet ini merintis sistem zaken kabinet, bahwa kabinet yang
dibentuk terdiri dari para ahli dibidangnya masing-masing.
g. Kabinet Ali Sastrowijoyo I (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)
h. Merupakan kabinet terakhir sebelum pemilihan umum, kabinet ini
didukung oleh PNI – NU sedangkan Masyumi menjadi oposisi.
i. Kabinet Bahanudin Harahap dari Masyumi (12 Agustus 1955 – 3 Maret
1959).
j. Kabinet Ali II (20 Maret 19955 – 14 Maret 1957), kabinet koalisi PNI,
Masyumi, dan NU.
k. Kabinet Juanda (9 April 1957) merupakan zaken kabinet.
Pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo, telah dipersiapkan
pelaksanaan pemilu II pada 29 September 1955. Namun, justru kabinet
tersebut menyerahkan mandatnya kepada presiden, kemudian
dilanjutkan oleh kabinet Bahanuddin Harap. Pada masa inilah
kemudian terlaksananya pemilu 1955, yang dinilai banyak kalangan
sebagai satu pelaksanaan Pemilu Indonesia yang bersih.
Jatuh bangunnya kabinet diera ini terus berlanjut hingga pada 1959.
Pada masa inilah terjadi kekacauan dikalangan konstituante yang tiada
berakhir, maka kemudian Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit
Presiden pada 5 juli 1959.

a. Demokrasi Terpimpin (5 Juli 1959 – 1965)


Setelah negara kesatuan Republik Indonesia selama hampir sembilan
tahun menjalani sistem politik demokrasi liberal, rakyat Indonesia sadar
bahwa sistem demokrasi tersebut tidak efektif. Ketidak cocokannya
terhadap sistem demokrasi liberal dengan sistem politik Indonesia ini bisa
dilihat dari dua hal.
Pertama : sistem demokrasi liberal bertentangan dengan nilai dasar
Pancasila, khususnya sila ketiga dan keempat tentang persatuan
Indonesia, dan permusyawaratan yang dilandasi nilai hikmah
kebijaksanaan.
Kedua : adanya ketidakmampuan konstituante untuk menyelesaikan
masalah-masalah ke-negaraan, khususnya tentang pengambilan
keputusan mengenai UUD 1945. Konflik-konflik yang
berkepanjangan ini sangat tidak menguntungkan bagi negara
Indonesia.
Dengan adanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka UUD 1945 berlaku
kembali dan berakhirlah UUDS 1950. Dekrit presiden diterima oleh rakyat
dan didukung oleh TNI AD, serta dibenarkan oleh Mahkamah Agung.

44
Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR, kedudukan DPR dan
presiden berada di bawah MPR.
Dekrit presiden memuat ketentuan pokok yang meliputi :
a. Menetapkan pembubaran konstituante.
b. Menetapkan UUD 1945 berlaku kembali bagi segenap bangsa
Indonesia.
c. Pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu singkat.
Sila keempat Pancasila yang menyatakan bahwa “kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmah dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan /
perwakilan” ditafsirkan sebagai sistem demokrasi terpimpin. Presiden
Soekarno ketika itu mengatakan bahwa kata ‘terpimpin’ itu artinya
dipimpin oleh seorang pemimpin atau panglima besar revolusi. Praktik
sistem politik demokrasi terpimpin, diwujudkan dalam kedudukan
politiknya lembaga-lembaga negara. Menurut UUD 1945 presiden ada
dibawah MPR, namun dalam kenyataan tunduk pada presiden. Presiden
menentukan apa yang harus diputuskan oleh MPR. Hal ini dilihat dari
tindakan presiden dengan pengangkatan ketua MPR yang dirangkap
wakil perdana menteri II dan pengangkatan wakil-wakil ketua MPR dari
parta-partai besar (PNI dan NU) serta dari ABRI yang masing-masing
diberi kedudukan sebagai menteri yang tidak memiliki departemen. Hal
ini menggambarkan bahwa presiden bisa berbuat apa saja terhadap
lembaga tertinggi negara tersebut.
Bukti lain tentang adanya demokrasi terpimpin yang berpusat pada
presiden, puncaknya dalam dalam Sidang Umum MPRS tahun 1963, yaitu
Presiden Soekarno diangkat menjadi presiden seumur hidup. Sebelumnya
pada 1960, DPR hasil pemilu dibubarkan oleh presiden dan dibentuk
Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong. Gagasan lain dalam
melanggengkan kedudukan presiden sebagai memimpin besar revolusi,
yaitu dengan mengusulkan prinsip Nasakom (Nasionalis, Agama, dan
Komunis).
Pada 1965 merupakan anti klimaks kekuasaan demokrasi terpimpin.
Pada September 1965 terjadi peristiwa besar yaitu dengan terbunuhnya
tujuh Jenderal TNI di Lubang Buaya Jakarta. Peristiwa ini dikenal sebagai
Gerakan 30 September 1965 atau lebih dikenal dengan G.30 S/PKI. Hal ini
mengundang reaksi mahasiswa dan rakyat Indonesia yang menuntut
presiden Soekarno untuk mundur dari jabatannya. Kemudian, Mayjen
Soeharto naik menjadi pucuk pimpinan Negara Republik Indonesia
dengan sebutan Orde Baru (Orba).
b. Demokrasi Pancasila pada masa Orde Baru (1966 –
1998)
Awal kebangkitan orde baru, bercita-cita untuk menjalankan Pancasila
dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Atas dukungan mahasiswa,
TNI, dan rakyat ketika itu, orba baru menampakkan sistem politik baru
dengan nama ”demokrasi konstitusional” atau demokrasi Pancasila yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Proses pembanguna sistem
demokrasi Pancasila ini ditandai dengan memperbaiki kondisi rakyat
Indonesia. Pemerintahan orde baru mengedepankan ekonomi sebagai
alat komunikasi dengan rakyat, merencanakan dan melakukan program

45
pembangunan ekonomi disegala bidang untuk memperbaiki keadaan
bangsa Indonesia.
Sampai dengan tahun 1970-an, proses pembangunan di Indonesia
masih berada di bawah koridor Pancasila dan UUD 1945. Namun, era
tahun 1980 dan 1990-an proses pembangunan ekonomi menjadi
mercusuar dan panglima. Kesenjangan ekonomi terjadi antara pusat dan
daerah sehingga tingkat kesejahteraan tidak merata serta semakin
meraja lelanya ”budaya” korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dalam
tubuh pemerintahan. Di bidang politik, terjadi tirani mayoritas oleh salah
satu partai politik, bahkan peran militer lebih dominan dibanding dengan
sipil. Akibatnya, demokrasi Pancasila menjadi bias dan kabur lagi.
Bahkan, posisi MPR ”menyerupai” zaman demokrasi terpimpin yang
berada di bawah kendali presiden Soeharto yang berkuasa selama 32
tahun.
Puncak kekuasaan orde baru berakhir pada tahun 1997, yaitu dengan
munculnya perlawanan rakyat melalui gerakan reformasi 21 Mei 1998
yang berhasil menurunkan Presiden Soeharto dari sebagai presiden
Republik Indonesia yang telah berkuasa selama 32 tahun.

c. Demokrasi Era Reformasi


Reformasi lahir setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri sejak 21
Mei 1998 dan digantikan oleh wakil presiden Dr. Ir. Bj. Habibie.
Berhentinya Soeharto sebagai presiden, karena tidak adanya lagi
kepercayaan dari masyarakat serta menghadapi krisis moneter dan
ekonomi yang berkepanjangan. Pelaksanaan pemilu 7 Juni 1999 yang
dianggap paling jujur dan adil dibandingkan dengan pemilu sebelumnya,
diikuti oleh 48 partai politik dengan melahirkan partai politik besar yaitu :
PDIP, Golkar, PPP, PKB, PAN, dan PBB.
Hasil pelaksanaan pemilu yang dirasakan lebih demokratis dalam
Sidang Umum MPR-RI pada bulan Oktober 1999 terpilih Ketua MPR-RI
periode 1999-2004 Dr. Amien Rais, dan Ketua DPR Ir. Akbar Tanjung.
Selanjutnya pada tanggal, 20 Oktober 1999 diadakan penyelenggaraan
pemilihan presiden RI melalu voting yang menghasilkan K.H.
Abdurahman Wahid sebagai presiden dengan memperoleh 373 suara,
dan Megawati Soekarno Putri dengan 313 suara menjadi wakil
presiden untuk periode 1999 - 2004. Untuk selanjutnya pelantikan
presiden dilakukan pada tanggal 30 Oktober 1999.
Dalam perkembangan demokrasi selanjutnya di Indonesia, peran
mahasiswa, kelompok kepentingan dan komponen rakyat Indonesia ingin
agar dilaskanakan ”reformasi total” disegala bidang. Agenda utama
adalah pemberantasan terhadap Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN),
kebebesan dalam menyampaikan pendapat (unjuk rasa), penegakkan
hukum dan jaminan terhadap pelaksanaan hak-hak asasi manusia.
Sangat disayangkan fenomena yang muncul pada saat itu, pergantian
menteri dan pengapusan departemen tertentu terjadi dalam era
pemerintahan Gusdur (panggilan akrab Presiden Abdurahman Wahid).
Akibat banyaknya kontradiksi tentang ucapan dan hal-hal yang
dilakukan pemerintahan pada saat itu sehingga dirasakan kontraproduktif
terhadap agenda reformasi, Gusdur pun terpaksa harus melepaskan kursi

46
kepresidenannya karena diguncang isu Bulogatte. MPR/DPR pun
bersidang lagi untuk mengadakan pemilihan presiden dan wakil presiden
yang baru pada 23 Juli 2001. Hasilnya Megawati Soekarno Putri terpilih
menjadi presiden dan Hamzah Haz sebagai wakil presiden, untuk periode
2001-2004.

2. Pemilihan Umum Sebagai Sarana Demokrasi


Pemilihan umum adalah suatu cara untuk memilih wakil-wakil rakyat
yang duduk di lembaga perwakilan rakyat serta salah satu pelayanan
hak-hak asasi warga negara di bidang politik. Untuk itu sudah menjadi
keharusan suatu pemerintahan dengan sisteim politik demokrasi untuk
melaksanakan pemilihan umum dalam waktu-waktu yang telah
ditentukan.
Pemilihan umum dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a. Cara langsung berarti rakyat secara langsung memilih wakil-wakilnya
yang akan duduk dibadanbadan perwakilan rakyat, contonya: pemuli
di Indonesia untuk memilih anggota DPRD II, DPRD I, dan DPR.
b. Cara bertingkat berarti rakyat memilih dulu wakilnya (senat),
kemudian wakilnya itulah yang akan memilih wakil rakyat yang akan
duduk dibadan-badan perwakilan rakyat.
Dalam pemilihan umum diharapkan wakil-wakil yang dipilih benar-
benar sesuai dengan aspirasi dan keinginan dari rakyat yang memilihnya.
Oleh sebab itu dalam ilmu politik serta teoritis dikenal cara atau sistem
memilih wakil rakyat agar mewakili rakyat yang memilihnya. Berdasarkan
kondisi tersebut di atas terdapat 3 (tiga) sistem pemilihan umum yaitu :
 Sistem Distrik
Sistem distrik merupakan sistem pemilu yang paling tua dan
didasarkan kepada kesatuan goegrafis, dimana satu kesatuan
geografis mempunyai satu wakil di parlemen. Sistem distrik sering
dipakai dalam negara yang mempunyai sistem dwi partai, seperti
Inggris serta bekas jajahannya (India dan Malaysia) dan Amerika.
Namun, sistem distrik juga dapat dilaksanakan pada satu negara yang
menganut sistem multi partai, seperti di Malaysia. Disini sistem distrik
secara alamiah mendorong partai-partai untuk berkoalisi, mulai dari
menghadapi pemilu.
Sistem distrik mempunyai beberapa keuntungan, yaitu sebagai berikut
:
1) Karena kecilnya distrik, maka wakil yang terpilih dapat dikenal
oleh penduduk distrik itu, hubungannya dengan penduduk distrik
lebih erat. wakil tersebut lebih condong untuk memperjuangkan
kepentingan distrik. Wakil tersebut lebih independen terhadap
partainya karena rakyat lebih memberikan pertimbangan untuk
memilih wakil tersebut karena faktor integritas pribadi sang wakil.
Namun demikian, wakil tersebut juga terikat dengan partainya,
seperti untuk kampanye dan lain-lain.
2) Sistem ini lebih cenderung kearah koalisi partai-partai karena
kursi yang diperebutkan dalam satu daerah, distrik hanya satu.
47
Sehingga mendorong partai menonjolkan kerjasama dari
perbedaan, setidak-tidaknya menjelang pemilu, melalui stembus
record.
3) Fragmentasi partai atau kecendrungan untuk membentuk partai
baru dapat terbendung, malah dapat melakukan penyederhanaan
partai secara alamiah tanpa paksa. Di Inggris dan Amerika Serikat
sistem ini menunjang bertahannya sistem dwi partai.
4) Lebih mudah bagi suatu partai untuk mencapai kedudukan
mayoritas dalam parlemen, tidak perlu diadakan koalisi partai lain,
sehingga mendukung stabilitas nasional.
5) Sistem ini sederhana dan serta mudah untuk dillaksanakannya.

Disamping keuntungan dari sistem distrik ini, terdapat juga beberapa


kelemahannya, yaitu sebagai berikut :
1) Kurang memperhatikan adanya partai-partai kecil dan golongan
minoritas, apabila golongan tersebut terpencar dalam beberapa
distrik.
2) Kurang representatif, dimana partai yang kalah dalam suatu distrik
kehilangan suara yang telah mendukungnya. Dengan demikian,
suara tersebut tidak diperhitungkan lagi. Kalau sejumlah partai ikut
dalam setiap distrik akan banyak jumlah suara yang hilang,
sehingga dianggap kurang adil oleh partai atau golongan yang
dirugikan.
3) Ada kecendrungan si wakil lebih mementingkan kepentingan
daerah pemilihannya dari pada kepentingan nasional.
4) Umumnya kurang efektif bagi suatu masyarakat heterogen.

 Sistem Proporsional
Sistem perwakilan proporsional adalah presentasi kursi di DPR
dibagi kepada tiap-tiap partai politik, sesuai dengan jumlah suara yang
diperolehnya dalam pemilihan umum, khusus di daerah pemilihan.
Jadi, jumlah kursi yang diperoleh satu golongan atau partai adalah
sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya dalam masyarakat.
Untuk keperluan itu kini ditentukan satu pertimbangan, misalnya 1
(satu) orang wakil : 400.000 penduduk. Sistem proporsional ini sering
dikombinasikan dengan beberapa prosedur lain, seperti sistem daftar
(list system), dimana partai mengajukan daftar calon dan sipemilih
memilih satu partai dengan semua calon yang diajukan oleh partai itu
untuk bermacam-macam kursi yang sedang diperebutkan.
Sistem proporsional memiliki beberapa keuntungan, yaitu sebagai
berikut :
1) Sistem proporsional dianggap lebih demokratis, dalam arti
lebih egalitarian, karena asas one man one vote dilaksanakan
secara penuh tanpa ada suara yang hilang.
2) Sistem ini dianggap representatif, karena jumlah kursi partai
dalam parlemen sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya
dari masyarakat dalam pemilu.
Disamping segi-segi politif atau keuntungan tersebut, sistem
proporsional juga mempunyai kelemahan, yaitu sebagai berikut.
48
1) Mempermudah fragmentasi (pembentukan partai baru). Jika terjadi
konflik intern partai, anggota yang kecewa cendrung membentuk
partai baru, sehingga peluang untuk bersatu kurang. Bahkan, ada
kecendrungan partai bukan diletakkan pada landasan ideologi atau
asas, melainkan kepentingan untuk memperebutkan jabatan atau
kursi diparlemen.
2) Sistem ini lebih memperbesar perbedaan yang ada dibandingkan
dengan kerjasama sehingga ada kecendrungan untuk
memperbanyak jumlah partai, seperti di Indonesia setelah
reformasi 1998.
3) Sistem ini memberikan peranan atau kekkuasaan yang sangat kuat
kepada pemimpin partai, karena kepemimpinan menentukan
orang-orang yang akan dicalonkan menjadi wakil rakyat. Bahkan
ada kecendrungan wakil rakyat lebih menjaga kepentingan dewan
pimpinan partainya dari pada kepentingan rakyat. Pada zaman
orde baru sistem ini dapat digunakan oleh pimpinan partai untuk
me-recall anggotanya yang vokal atau tidak sejalan dengan haluan
partai diparlemen.
4) Wakil yang dipilih renggang ikatannya dengan warga yang telah
memilihnya, karena saat pemilihan umum yang lebih menonjol
adalah partainya dan wilayah pemilihan sangat besar (sebesar
propinsi). Peranan partai lebih menonjol dari pada kepribadian sang
wakil. Di Indonesia banyak kritikan pada sistem ini dengan sebutan
seperti memilih “kucing dalam karung”, artinya rakyat memilih
tanda gambar peserta pemilu, tetapi siapa wakil yang dipilih
kurang diketahui rakyat pemilih.
5) Karena banyaknya partai bersaing sulit bagi suatu partai untuk
meraih mayoritas (50 % + 1) dalam parlemen.

 Sistem Gabungan
Sistem gabungan merupakan sistem yang menggabungkan sistem
distrik dengan proporsional. Sistem ini membagi wilayah negara dalam
beberapa daerah pemilihan. Sisa suara pemilih tidak hilang, melainkan
diperhitungkan dengan jumlah kursi yang belum dibagi. Sistem
gabungan ini diterapkan di Indonesia sejak pemilu tahun 1977 dalam
memilih anggota DPR, DPRD I, dan DPRD II. Sistem ini disebut juga
sistem proporsional berdasarkan stelsel daftar.
Penugasan Praktik 5
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Pelaksanaan Demokrasi
di Indonesia (Demokrasi Terpimpin, Masa Orde Baru, Era Reformasi),
Pemilu Sebagai Sarana Demokrasi, dilanjutkan Penugasan dengan
menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut :

1. Berikan ulasan kembali tentang pelaksanaan sistem politik


demokrasi di Indonesia era orde lama, orde baru dan era reformasi
sesuai pendapat anda secara
umum ! .................................. ..................................................................
.....................................................................................................

49
..................................................................................................................
.....................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..........................................................................................................

2. Pada masa berlakunya demokrasi liberal antara tahun 1950 s.d.


1959, hal-hal yang menonjol adalah tumbuh suburnya partai-partai
politik dan ketidak stabilan pemerintahan, berikan penjelasan dengan
singkat !
a.Tumbuh suburnya partai-partai
politik : ..................................................................................
..............................................................................................................
..................................................
..............................................................................................................
..................................................
..............................................................................................................
..................................................
b. Ketidak stabilan
pemerintahan : ..................................................................................
...............
..............................................................................................................
..................................................
..............................................................................................................
..................................................
..............................................................................................................
..................................................

3. Selama Pemerintahan orde lama pernah diberlakukan “demokrasi


liberal” dan “demokrasi terpimpin”. Jelaskan maksudnya !
Demokrasi Liberal Demokrasi Terpimpin
........................................................ .....................................................
...................... .........................
........................................................ .....................................................
...................... .........................
........................................................ .....................................................
...................... .........................
........................................................ .....................................................
...................... .........................

4. Berikan tanggapan penjelasan, mengapa di era reformasi tuntutan


masyarakat lebih mengarah ke upaya pemberantasan Korupsi Kolusi
dan Nepotisme (KKN) !
..................................................................................................................
.....................................................
..................................................................................................................
.....................................................
..................................................................................................................
.....................................................

50
..................................................................................................................
.....................................................

5. Tuliskan perbedaan dan persamaan mendasar antara pelaksanaan


pemilu dengan “sistem distrik” dan “sistem proporsional” di bawah ini !
Perbedaan Persamaan
........................................................ .......................................................
..................... .........................
........................................................ .......................................................
..................... .........................
........................................................ .......................................................
..................... .........................
........................................................ .......................................................
..................... .........................

3. Pemilihan Umum di Indonesia (Era Reformasi)


Pemilihan umum merupakan sarana demokrasi Pancasila dimaksud
untuk membentuk sistem kekuasaan negara berdaulat rakyat dengan
permusyawaratan / perwakilan sesuai dengan UUD 1945.
a. Landasan Hukum
Pelaksanaan pemilihan umum tahun 2004 didasarkan pada:
1) UUD 1945 pasal 22E; pemilu yang luber dan jurdil, 5 tahun
sekali, memilih anggota DPR, DPD, presiden dan wakil presiden,
dan DPRD, diselenggarakan oleh KPU yang bersifat nasional, tetap,
dan mandiri.
2) UU No. 31 tahun 2002 tentang partai politik.
3) UU No. 12 tahun 2003 tentang pemilu anggota DPR, DPD, dan
DPRD.
4) UU No. 22 tahun 2003 tentang susunan dan kedudukan MPR,
DPR, DPD, dan DPRD.
5) UU No. 23 tahun 2003 tentang pemilu presiden dan wakil
presiden.
6) UU No. 24 tahun 2003 tentang mahkamah konstitusi

b. Dasar Pemilihan Umum


1) Pelaksanaan pemilu tahun 2004 didasarkan pada pembukaan
UUD 1945 alinea keempat, antara lain, menyatakan bahwa,
“kemerdekaan bangsa Indonesia disusun dalam suatu Undang-
Undang Dasar yang terbentuk suatu susunan negara Republik
Indonesia yang berdaulatan Rakyat”.
2) Perubahan UUD 1945 pasal 2 ayat 1 yang mengatakan bahwa
“kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut
UUD”. Perubahan tersebut bermakna bahwa kedaulatan rakyat
tidak lagi dilaksanakan sepenuhnya oleh MPR, tetapi dilaksanakan
menurut UUD.

51
3) Dalam negara Republik Indonesia yang majemuk, yang
berwawasan kebangsaan, partai politik adalah saluran utama untuk
memperjuangkan kehendak masyarakat sekaligus sebagai sarana
kaderisasi dan rekruitmen kepemimpinan nasional dan
penyelenggaraan negara.
4) Sesuai amanat reformasi, penyelenggaraan pemilu harus
dilaksanakan lebih berkualitas agar menjamin derajat kompetisi
yang sehat, partisipatif, dan memiliki mekanisme pertanggung
jawaban yang jelas.

b. Tujuan Pemilihan Umum 2004


Pemilu diselenggarakan dengan tujuan untuk memilih wakil rakyat
dan wakil daerah, serta untuk membentuk pemerintahan yang
demokratis, kuat, dan memperoleh dukungan rakyat dalam rangka
mewujudkan tujuan nasional berdasarkan UUD 1945.

d. Asas Pemilihan Umum 2004


Berdasarkan UUD 1945 pasal 22E ayat 1, pemilu dilaksanakan
secara luber dan jurdil.
Pengertian asas pemilu :
1) Langsung
Rakyat memilih wakilnya secara langsung sesuai dengan hati
nuraninya tanpa perantara.
2) Umum
Semua warga negara yang sudah memenuhi persyaratan untuk
memilih berhak mengikuti pemilu. Kesempatan memilih ini berlaku
untuk semua warga negara, tanpa diskriminasi berdasarkan suku,
agama, ras, golongan, jenis kelamin, dan lain-lain.
3) Bebas
Setiap warga negara bebas menentukan pilihannya tanpa ada
tekanan atau paksaan dari siapapun juga.
4) Rahasia
Dalam memberikan suaranya, pemilih dijamin bahwa pilihannya
tidak akan diketahui oleh pihak manapun dan dengan jalan apapun.
5) Jujur
Dalam penyelenggaraan pemilu, setiap penyelenggara pemilu,
aparat pemerintah, peserta pemilu, pengawas pemilu, pemantau
pemilu, pemilih serta semua pihak yang berkaitan harus bersikap
dan bertindak jujur.
6) Adil
Dalam penyelenggaraan pemilu setiap peserta dan pemilih,
mendapat perlakuan yang sama sesuai dengan peraturan yang
berlaku.

e. Peserta Pemilihan Umum 2004


Pelaksanaan pemilu tahun 2004 diikuti oleh 24 partai politik
(parpol). Sebagian parpol merupakan parpol yang telah mengikuti

52
pemilu sebelumnya, sedangkan sebagiannya lagi merupak parpol
gabungan dari berbagai partai. Dibawah ini adalah nama-nama partai
politik peserta pemilu tahun 2004, yaitu:
1) PNI Marhaenisme 14) Partai Karya
2) Partai Buruh Sosial Peduli Bangsa
Demokrat 15) Partai
3) Partai Bulan Bintang Kebangkitan Bangsa
4) Partai Merdeka 16) Partai Keadilan
5) Partai Persatuan Sejahtera
Pembangunan 17) Partai Bulan
6) Partai Demokrat Reformasi
Kebangsaan 18) Partai Demokrasi
7) Partai Perhimpunan Perjuangan Indonesia
Indonesia Baru 19) Partai Damai
8) Partai Nasional Sejahtera
Banteng Kemerdekaan 20) Partai Golkar
9) Partai Demokrat 21) Partai Patriot
10) Partai Keadilan Pancasila
dan Persatuan Indonesia 22) Partai Serikat
11) Partai Penegak Islam
Demokrasi Indonesia 23) Partai Persatuan
12) Partai Nahdatul Daerah
Ummah Indonesia 24) Partai Pelopor
13) Partai Amanat
Nasional

Disamping partai politik, peserta pemilu 2004 adalah perseorangan


calon, yaitu dalam rangka memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah
(DPD). Partai-partai politik yang ada di Indonesia tidak begitu saja
mudah menjadi peserta pemilu tahun 2004 karena parpol-parpol
tersebut harus mengikuti prosedur-prosedur yang telah ditentukan
panita KPU. Dan prosedur-prosedur tersebut harus diikuti dengan baik.
Parpol yang ingin mendaftar menjadi peserta pemilu harus
mendatangi KPU dengan membawa bukti-bukti sebagai berikut :
1) Salinan surat menteri kehakiman dan HAM tentang pengesahan
parpol sebagai badan hukum.
2) Surat pernyataan yang ditanda tangani pimpinan parpol tingkat
pusat berkenaan dengan jumlah kepengurusan parpol ditingkat
propinsi yang sekurang-kurangnya 2/3 jumlah seluruh provinsi.
3) Surat pernyataan memiliki nama anggota parpol sekurang-
kurangnya seribu orang atau 1/1000 dari jumlah penduduk dari
setiap kepengurusan parpol di kabupaten, dilampirkan nama daftar
nama anggota dan kartu tanda anggota parpol yang masih berlaku.
4) Surat keterangan domisili kantor tetap dan dokumen yang sah.
5) Nama dan tanda gambar parpol dengan ukuran 10 X 10 cm
berwarna.

Selain bukti-bukti yang telah disebutkan di atas, surat pendaftaran


parpol juga harus dibawa ke KPU pada saat mendaftar. Surat

53
pendaftaran yang sah adalah apabila ditanda tangani oleh pimpinan
parpol tingkat pusat dibubuhi cap / stempel.
Hal-hal yang telah disebutkan di atas dinamakan verifikasi
administrasi yang dilakukan oleh KPU dan hasilnya akan diberitahukan
kepada parpol yang bersangkutan. Bagi parpol yang belum lulus verifikasi
administrasi, diberikan satu kali perbaikan selama-lamaya tujuh hari
sejak pemberitahuan dari KPU.
Sedangkan verifikasi faktual adalah penelitian dan pengecekan
kebenaran data mengenai hal-hal berikut :
1) Jumlah dan susunan kepengurusan parpol ditingkat
provinsi berdasarkan surat pimpinan parpol ditingkat pusat.
2) Jumlah dan susunan kepengurusan parpol ditingkat
kabupaten berdasarkan surat keputusan pimpinan parpol ditingkat
pusat.
3) Jumlah anggota parpol sekurang-kurangnya seribu
orang atau 1/1000 dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan
parpol dikabupaten berdasarkan lampiran daftar nama anggota
dan kartu tanda anggota.
4) Domisili kantor tetap dan dokumen yang sah.
Verifikasi faktual dilakukan oleh KPU provinsi terhadap susunan
kepengurusan dan domisili kantor tetap parpol di provinsi yang
bersangkutan dan dilakukan juga oleh KPU kabupaten terhadap susunan
kepengurusan, domisili kantor tetap, dan keanggotaan parpol di kabutan
yang bersangkutan.

f. Penyelenggraan Pemilu 2004


Penyelenggaraan pemilu yang menjadi tanggung jawab pemerintah
dan parpol harus mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku
dan dijiwai oleh semangat kekeluargaan dan gotong royong. Oleh sebab
itu, asas luber dan jurdil, sebagai prasyarat yang telah disepakati, harus
dilaksanakan oleh semua organisasi peserta pemilu secara murni dan
konsekuen.
 Komisi Pemilihan Umum (KPU)
Satu tahun setelah penyelenggaran pemilu tahun 1999, pemerintah
bersama DPR mengeluarkan UU No. 4 tahun 2000 tentang perubahan
atas UU No. 3/1999 tentang pemilu. Pokok isi UU No. 4 tahun 2000
adalah mengenai perubahan penting, penyelenggaraan pemilu tahun
2004 dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang
independen dan nonpartisan.
Pemilihan umum diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum
(KPU) yang bersifat nasional, tetap dan mandiri, sesuai dengan pasal
22E ayat (5).
1) Sifat “nasional” dimaksudkan bahwa KPU sebagai
penyelenggara mencakup seluruh wilayah negara kekuasaan
Republik Indonesia.
2) Sifat “tetap” dimaksudkan bahwa KPU sebagai lembaga
menjalankan tugasnya secara berkesinambungan, meskipun
keanggotannya dibatasi oleh masa jabatan tertentu.

54
3) Sifat “mandiri” dimaksudkan dalam menyelenggarakan dan
melaksanakan pemilu KPU bersifat mandiri dan bebas dari
pengaruh pihak manapun, disertai serta dengan transparansi dan
pertanggungjawaban yang jelas sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, untuk menjamin tercapainya
penyelenggaraan pemilu.

 Tugas dan Wewenag KPU


Tugas dan wewenang Komisi Pemilihan Umum adalah :
1) Merencanakan penyelenggaraan Pemilu.
2) Menetapkan organisasi dan tata cara semua tahapan
pelaksanaan pemilu.
3) Mengkoordinasikan, menyelenggarakan, dan mengendalikan
semua tahapan pelaksanaan pemilu.
4) Menetapkan peserta pemilu.
5) Menetapkan daerah pemilihan, jumlah kursi dan calon anggota
DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten / kota.
6) Menetapkan waktu, tanggal, tatacara pelaksanaan kampanye,
dan pemungutan suara.
7) Menetapkan hasil pemilu dan mengumumkan calon terpilih
anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten / kota.
8) Melaksanakan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilu.
9) Melaksanakan tugas dan kewengan lain yang diatur undang-
undang.

 Kewajiban Komisi Pemilihan Umum (KPU)


KPU berkewajiban :
1) Memperlakukan semua peserta pemilu secara adil dan setara
guna mensukseskan pemilu.
2) Menetapkan standarisasi serta kebutuhan barang dan jasa yang
berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
3) Memelihara arsip dan dokumen pemilu serta mengelola barang
inventari KPU berdasarkan peraturan perundang-undangan.
4) Menyampaiakan informasi kepada masyarakat.
5) Melaporkan penyelenggaraan pemilu kepada presiden selambat-
lambatnya 7 (tujuh) hari sesudah mengucapkan sumpah / janji
anggota DPR dan DPD.
6) Mempertanggung jawabkan penggunaan anggaran yang
diterima APBN.
7) Melaksanakan kewajiban lain yang diatur undang-undang.

 Komisi Pemilu Umum (KPU) Provinsi


1) Tugas dan wewenang KPU provinsi adalah
a) Melancarkan pelaksaan pemilu ditingkat provinsi;
b) Melaksanakan pemilu di provinsi;
c) Menetapkan hasil pemilu di provinsi;
d) Mengkordinasi kegiatan KPU kabutan / kota; dan
e) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh KPU

55
2) Kewajiban KPU provinsi
KPU provinsi berkewajiban :
a) Memperlakukan peserta pemilu secara adil dan setara.
b) Menyampaikan informasi kegiatan kepada masyarakat.
c) Menjawab pertanyaan serta menampung dan memproses
pengaduan dari peserta pemilu dan masyarakat.
d) Menyampaikan laporan secara periodik dan mempertanggung
jawabkan seluruh kegiatan pelaksaan pemilu kepada KPU.
e) Menyampaikan laporan secara periodik kepada gubernur.
f) Mempertanggung jawabkan penggunaan anggaran yang
diterima dari APBN dan APBD.
g) Melaksanakan kewajiban lain yang diatur undang-undang

 Komisi Pemilihan Umum Kabupaten / Kota


1) Tugas dan wewenang KPU kabupaten / kota :
a) Merencanakan pelaksaan pemilu di kabupaten / kota.
b) Melaksanakan pemilu di kabupaten / kota.
c) Menetapkan hasil pemilu di kabupaten / kota.
d) Membentuk PPK, PPS, KPPS dalam wilayah kerjanya.
e) Mengkordinasi kegiatan panitia pelaksana pemilu dalam wilayah
kerjanya.
f) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh KPU dan KPU
provinsi.
2) Kewajiban KPU kabuten / kota :
a) Memperlakukan peserta pemilu secara adil dan setara.
b) Menyampaikan informasi kegiatan kepada masyarakat.
c) Menjawab pertanyaan serta menampung dan memproses
pengaduan dari peserta pemilu dan masyarakat.
d) Menyampaikan laporan secara periodik dan mempertanggung
jawabkan seluruh kegiatan pelaksanaan pemilu kepada KPU
provinsi.
e) Menyampaikan laporan secara periodik kepada Bupati dan
walikota.
f) Mempertanggung jawabkan penggunaan anggaran yang
diterima dari APBN dan APBD.
g) Melaksanakan seluruh kewajiban lainnya yang diatur undang-
undang.

Sifat Independen dan non-partisan KPU saat ini tercermin dari


proses seleksi calon anggota KPU. Dari semua calon anggota KPU
yang diajukan kepada presiden untuk mendapat persetujuan DPR,
tidak satupun berasal dari parpol. Pada umumnya para calon berasal
dari kalangan perguruan tinggi / LSM. Persyaratan untuk menjadi
anggota KPU antara lain :
1) Sehat jasmani dan rohani.
2) Berhak memilih dan dipilih.
3) Mempunyai komitmen yang kuat terhadap tegaknya
demokrasi dan keadilan.
4) Mempunyai integritas pribadi yang kuat, jujur dan adil.

56
5) Memiliki pengetahuan yang memadai tentang politik,
kepartaian, pemilu dan kemampuan kepemimpinan.
6) Tidak menjadi anggota atau pengurus partai politik.
7) Tidak sedang menduduki jabatan politik dan jabatan
struktural dalam jabatan pegawai negri.
Untuk lebih mengefektifkan kinerja KPU, pimpinan KPU juga
membentuk alat kelengkapan, berupa devisi-devisi, badan urusan
rumah tangga dan panitia kerja atau tim yang dibentuk sesuai dengan
kebutuhan. Badan urusan rumah tangga bertugas melaksanakan
pengurusan hak-hak anggota KPU dan sekretariat umum serta
merumuskan rancangan anggran tahunan KPU dan rencana anggran
penyelenggaraan pemilu.
Adapun susunan keanggotaan KPU adalah sebagai berikut :
 Ketua : Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin, MA.
 Wakil ketua : Prof. Ramlan Surbaki, MA. PhD.
Anggota : Drs. Mulyana W. Kusumah
Anggota : Drs. Daan Dimara, MA.
Anggota : Prof. Dr. Rusadi Kantaprawira
Anggota : Drs. Anas Urbaningrum, MA
Anggota : Chusnul Mar’iyah, PhD.
Anggota : Dr. Hamid Awaludin
Anggota : Dra. Valina Singka Subekti, Msi

 Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu)


Panita Pengawas Pemilu adalah sebuah lembaga pengawasan yang
dibentuk dengan dasar hukum UU No. 12 tahun 2003 tentang tata
cara penyelenggaraan pemilu. Berdasarkan pasal 112 UU No. 12
tahun 2003, panwaslu ditugaskan untuk mengawasi semua tahapan
penyelenggaraan pemilu. Selain itu panwaslu juga mendapat perintah
untuk menerima laporan, menyelesaikan sengketa, serta meneruskan
temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan kepada instansi
yang berwenang.
Pemilu tahun 2004 sangat strategis sebagai bagian dari
pelaksanaan proses demokrasi, dan lebih penting lagi dalam upaya
menciptakan pemerintah yang bersih. Tugasnya, pelaksanaan pemilu
2004 harus sukses. Untuk itu, diperlukan kerjasama yang baik antara
KPU, Panwaslu, media masa, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat),
serta segenap lapisan masyarakat secara umum, dalam
mensukseskan pemilu tersebut.
Adapun anggota-anggota panwaslu diangkat oleh KPU adalah sebagai
berikut :
 Ketua : Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
 Wakil ketua : Pdt. Saut Hamonangaan Sirait, M. Th.
Anggota : H.M. Rozy Munir, S.E., M. Sc.
Anggota : Brigjen Polisi Drs. Bambang Aris Sampoerna Djati, S.H.
Anggota : Kombes Drs. Johnny Tangkudung, S.H.,M.H.
Anggota : Masyudi Ridwan, S.H.,M.H
Anggota : Dra. Siti Noordjannah Djohantini, M.M
Anggota : Topo Santoso, S.H.,M.H.

57
Anggota : Didik Supriyanto

 Jadwal Pemilu 2004


Pelaksanaan pemilu tahun 2004 berbeda dari pemilu sebelumnya,
karena pemilu sekarang merupakan pemilihan secara langsung dan
dilaksanakan 3 kali, yaitu :
1) Tanggal 5 April 2004, Pemilu untuk memilih anggota
DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten,
2) Tanggal 1 – 5 Juli 2004, Pemilu untuk memilih Presiden
dan Wakil Presiden (putaran pertama),
3) Tanggal 20 September 2004, Pemilu untuk memilih
Presiden dan Wakil Presiden (putaran kedua apabila dalam putaran
pertama jumlah suara yang didapat tidak memenuhi ketentuan).
Yang dimaksud dengan ketentuan adalah, jika calon Presiden dan
Wakil Presiden belum memperoleh jumlah suara di atas 50 %
dengan minimal 20% suara terbesar di lebih 16 provinsi.

 Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS)


1) KPPS bertugas melaksanakan pemungutan suara dan
penghitungan suara Pemilu di TPS.
2) Anggota KPPS sebanyak 7 (tujuh) orang.
3) Untuk melaksanakan tugas KPPS, di setiap TPS
diperbantukan petugas keamanan dari satuan pertahanan sipil /
perlindungan masyarakat sebanyak 2 (dua) orang.
4) KPPS berkewajiban membuat berita acara pemungutan
dan penghitungan suara serta membuat sertifikat hasil perhitungan
suara untuk disampaikan kepada PPS.

1. Daerah Pemilihan dan Jumlah Kursi Anggota DPR, DPRD


Provinsi, dan DPRD Kabupaten / Kota dan DPD.
1) Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD
kabupaten/kota, masing-masing ditetapkan Daerah Pemihan
sebagai berikut :
a) Daerah Pemilihan anggota DPR adalah provinsi atau
bagian-bagian provinsi;
b) Daerah pemilihan anggota DPRD provinsi adalah
kabupaten/kota atau gabungan kabupaten / kota sebagai daerah
pemilihan;
c) Daerah pemilihan anggota DPRD kabupaten / kota
adalah kecamatan atau gabungan kecamatan sebagai daerah
pemilihan.
2) Penetapan daerah pemilihan anggota DPRR, DPRD provinsi dan
DPRD kabupaten / kota ditentukan oleh KPU dengan ketentuan
setiap daerah pemilihan mendapatkan alokasi kursi antara 3 (tiga)
sampai 12 (dua belas) kursi.
3) Jumlah kursi DPR ditetapkan sebanyak 550.
4) Jumlah kursi anggota DPR untuk setiap provinsi ditetapkan
berdasarkan jumlah penduduk dengan memperhatikan
perimbangan yang wajar. Yang dimaksud dengan perimbangan
yang wajar dalam ayat ini adalah :

58
a) Alokasi provinsi dihitung berdasarkan tingkat kepadatan
penduduk dengan kuota setiap kursi maksimal 425.000 untuk
daerah yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi dan kuota
setiap kursi minimum 325.000 untuk daerah yang tingkat
kepadatan penduduknya rendah.
b) Jumlah kursi pada setiap provinsi dialokasikan tidak
kurang dari jumlah kursi provinsi sesuai pada pemilu tahun
1999.
c) Provinsi baru hasil pemekaran setelah pemilu 1999
memperoleh alokasi sekurang-kurangnnya 3 (tiga) kursi.
5) Tata cara perhitungan jumlah kursi anggota DPR untuk setiap
provinsi ditetapkan oleh KPU.
6) Jumlah kursi anggota DPRD provinsi ditetapkan sekurang-
kurangnnya 35 (tiga puluh lima) kursi dan sebanyak-banyaknya
100 (seratus) kursi. Jumlah anggota DPRD provinsi Nangroe Aceh
Darussalam dan DPRD provinsi Papua disesuaikan dengan
ketentuan Undang-Undang no. 18 tahun 2001 tentang otonomi
khusus bagi provinsi Nangroe Aceh Darussalam dan Undang-
undang no. 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi provinsi
Papua.
7) Jumlah kursi anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) didasarkan pada jumlah penduduk privinsi yeng
bersangkutan dengan ketentuan:
a) Provinsi dengan jumlah penduduk sampai dengan
1.000.000 (satu juta) jiwa mendapat 35 (tiga puluh lima) kursi;
b) Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 1.000.000
(satu juta) jiwa sampai dengan 3.000.000 (tiga juta) jiwa
mendapat 45 (empat puluh lima) kursi;
c) Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 3.000.000
(tiga juta) jiwa sampai dengan 5.000.000 (lima juta) jiwa
mendapat 55 (lima puluh lima) kursi;
d) Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 5.000.000
(lima juata) jiwa sampai dengan 7.000.000 (tujuh juta) jiwa
mendapat 65 (enam puluh lima) kursi;
e) Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 7.000.000
(tujuh juta) jiwa sampai dengan 9.000.000 (sembilan juta) jiwa
mendapat 75 (tujuh puluh lima) kursi;
f) Provisi dengan jumlah penduduk lebih dari 9.000.000
(sembilan juta) jiwa sampai dengan 12.000.000 (dua belas juta)
jiwa mendapat 85 (delapan puluh lima) kursi;
g) Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 12.000.000
(dua belas juta) jiwa mendapat 100 (seratus) kursi;
8) Jumlah kursi anggota DPRD setiap provinsi sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) ditetapkan oleh KPU.
9) Jumlah kursi anggota DPRD kabupaten / kota ditetapkan sekurang-
kurangnya 20 (dua puluh) kursi dan sebanyak-banyaknya 45
(empat puluh lima) kursi.

59
10) Jumlah kursi anggota DPRD kabupaten / kota sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada jumlah penduduk di
kabupaten / kota dengan ketentuan :
a) Kabupaten / kota dengan jumlah penduduk sampai
dengan 100.000 (seratus ribu) jiwa mendapat 20 (dua puluh)
kursi;
b) Kabupaten / kota dengan jumlah penduduk lebih dari
1.000.000 (seratus ribu) sampai dengan 200.000 (dua ratus ribu)
jiwa mendapat 25 (dua puluh lima) kursi;
c) Kabupaten / kota dengan jumlah penduduk lebih dari
200.000 (dua ratus ribu) sampai dengan 300.000 (tiga ratus
ribu) sampai dengan 300.000 (tiga ratus ribu) jiwa mendapat 30
(tiga pulu) kursi;
d) Kabupaten / kota dengan jumlah penduduk lebih dari
300.000 (tig aratus ribu) sampai dengan 400.000 (empat ratus
ribu) jiwa mendapat 35 (tiga lupuh lima) kursi;
e) Kabupaten / kota dengan jumlah penduduk lebih dari
400.000 – 500.000 jiwa mendapat 40 (empat puluh) kursi;
f) Kabupaten / kota dengan jumlah penduduk lebih dari
500.000 jiwa mendapat 45 (empat puluh lima) kursi.
11) Daerah pemilihan untuk anggota DPD adalah provinsi.
12) Jumlah anggota DPD untuk setiap provinsi ditetapkan 4
(empat) orang.

2. Panitia Pemilihan Luar Negri (PPLN)


1) PLN berkedudukan dikantor perwakilan RI.
2) Anggota PPLN sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dan sebanyak-
banyaknya 7 (tujuh) orang dan berasal dari wakil masyarakat
Indonesia.
3) Anggota PPLN diangkat dan diberhentikan oleh KPU atas usul
Kepala Perwakilan Republik Indonesia sesuai dengan wilayah
kerjanya.
4) Susunan keanggotaan PPLN terdiri atas seorang ketua, seorang
wakil ketua, dan anggota.
5) Tugas dan wewenang PPLN adalah :
a) Melakukan pendaftaran pemilih warga negara Republik
Indonesia;
b) Mengangkat petugas pencatat dan pendaftar;
c) Menyampaikan daftar pemilih warga negara Republik
Indonesia kepada KPU;
d) Membnetuk KPPSLN;
e) Melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara dari
seluruh TPSLN dalam wilayah kerjanya.

E. PERILAKU BUDAYA DEMOKRASI DALAM KEHIDUPAN


SEHARI-HARI

Budaya demokrasi Pancasila, merupakan paham demokrasi yang


berpedoman pada asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
60
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan yang ber-Ketuhanan
Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan
Indonesia, dan yang bersama-sama menjiwai keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia. Budaya demokrasi Pancasila mengakui adanya sifat
kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam
kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Rumusan sila keempat Pancasila sebagai dasar filsafat negara dan
dasar politik negara yang di dalamnya terkandung unsur kerakyatan,
permusyawaratan, dan kedaulatan rakyat, merupakan cita-cita
kefilsafatan dari demokrasi Pancasila. Oleh sebab itu, dalam perilaku
budaya demokrasi yang perlu dikembangkan dalam kehidupan sehari-
hari dapat adalah hal-hal sebagai berikut :
1. Menjunjung tinggi persamaan
Budaya demokrasi Pancasila, mengajarkan bahwa setiap manusia
memiliki persamaan harkat dan derajat dari sumber yang sama
sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, dalam
kehidupan sehari-hari hendaknya kita mampu berbuat dan bertindak
untuk menghargai orang lain sebagai wujud kesadaran diri mau
menerima keberagaman di dalam masyarakat. Menjunjung tinggi
persamaan, terkandung makna bahwa kita mau berbagi dan terbuka
menerima perbedaan pendapat, kritik dan saran dari orang lain
2. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban
Setiap manusia diberikan fitrah hak asasi dari Tuhan YME berupa hak
hidup, hak kebebasan dan hak untuk memiliki sesuatu. Penerapan
hak-hak tersebut bukanlah sesuatu yang mutlak tanpa batas. Dalam
kehidupan bermasyarakat, ada batas-batas yang harus dihormati
bersama berupa hak-hak yang dimiliki orang lain sebagai batasan
norma yang berlaku dan dipatuhi. Untuk itu, dalam upaya
mewujudkan tatanan kehidupan sehari-hari yang bertanggung jawab
terhadap Tuhan, diri sendiri, dan orang lain, perlu diwujudkan perilaku
yang mampu menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban
dengan sebaik-baiknya.
3. Membudayakan sikap bijak dan adil
Salah satu perbuatan mulia yang dapat diwujudkan dalam kehidupan
sehari-hari baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain adalah
mampu bersikap bijak dan adil. Bijak dan adil dalam makna yang
sederhana adalah perbuatan yang benar-benar dilakukan penuh
dengan perhitungan, mawas diri, mau memahami apa yang dilakukan
orang lain dan proporsional (tidak berat sebelah). Perlu bagi kita di
dalam masyarakat untuk senantiasa mengembangkan budaya bijak
dan adil dalam kerangka untuk mewujudkan kehidupan yang saling
menghormati harkat dan martabat orang lain, tidak diskrimanatif,
terbuka dan menjaga persatuan dan keutuhan lingkungan masyarakat
sekitar.
4. Membiasakan musyawarah mufakat dalam mengambil
keputusan
Pengambilan keputusan melalui musyawarah mufakat, merupakan
salah satu nilai dasar budaya bangsa Indonesia yang sejak lama telah
dipraktikkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
61
Paham demokrasi yang menekankan pada pemerintahan rakyat,
musyawarah
mengandung mufakat,
arti bahwa terkandung makna dipegang
kekuasaan tertinggi bahwa pada setiap
oleh rakyat.
kesempatan yang berhubungan
Dengan demikian, perlu kita pahami denganbahwa
pengambilan keputusan
istilah demokrasi
diperlukan
bertolak dari suatu pola pikir bahwa manusia diperlakukanUntuk
kesadaran dan kearifan untuk untuk memutuskan. dan
itu, sebelum suatu keputusan di terapkan selalu didahului
ditempatkan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk dengan
dialog
Tuhan. dan mau mendengar dari berbagai pihak, juga selalu
F KESIMPULAN
diupayakan untuk memahami terlebih dahulu persoalan-persoalan
Dalam ada.
yang negara yang menganut
Keputusan dengan sistem politik demokrasi
musyawarah mufakat makaakan
negara/pemerintah senantiasa harus mengingat
menghasilkan keputusan yang mampu memuaskan banyak pihak, kehendak dan
keinginan rakyat. Jadi, tiap-tiap tindakan dalam
sehingga dapat terhindar dari konflik-konflik vertikal maupun melaksanakan
kekuasaan negara tidak bertentangan dengan kehendak dan
horizontal.
kepentingan rakyat, dan sedapat mungkin berusaha memenuhi
5. Mengutamakan
segala keinginanpersatuan
rakyat. dan kesatuan nasional
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sikap
Demokrasi
hidup tidak mengutamakan
untuk lebih akan efektif dan lestari tanpa
kepentingan orangsubstansi
lain/umumyangdari
kepentingan pribadi sangat penting untuk ditumbuhkan. mewarnai
berujud ”jiwa, budaya atau ideologi” yang Kesadaran
pengorganisasian
setiap warga negaraberbagai elemen politik persatuan
untuk mengutamakan seperti partai politik,
dan kesatuan
lembaga-lembaga pemerintahan maupun
sebagai wujud rasa cinta dan bangga terhadap bangsa dan negara. organisasi
kemasyarakatan.
Kita harus mau berfikir cerdas dan bekerja keras untuk kepentingan
kemajuan
Keadaan bangsa
masyarakatdan negara melalui
yang telah berbagai
terbiasa bidang
hidup kehidupan
dalam yang
demokrasi
dapat kita lakukan.
menganggap Makna penting dalam
bahwa perbedaan-perbedaan memahami
pemikiran sikap
perubahan-
mengutamakan persatuan dan kesatuan adalah bagaimana
perubahan di dalam masyarakat yang demokratis, sehingga terjadi kita
mampu berbuat
pergantian tanpa pamrihsebagai
pemerintahan untuk kepentingan bangsa
hasil pemilihan dan negara,
umum tidak
betapapun yang kita lakukan dari hal-hal yang terkecil
dianggap sebagai sesuatu yang mengejutkan melainkan sesuatu sampai dengan
yang
yangbesar
wajardalam
dalamberbagai status
proses yang dan profesi.
wajar.
Terdapat bermacam-macam demokrasi yang sudah menjadi bagian
dari pemerintahan negara-negara di seluruh dunia yang dapat
dilihat : atas dasar penyaluran kehendak rakyat (demokrasi langsung
dan tidak langsung), atas dasar prinsip ideologi (demokrasi
konstitusional, dan rakyat), dan atas dasar yang menjadi titik
perhatiannya (demokrasi formal, material dan gabungan).
Esensi ciri-ciri empiris demokrasi, adalah bahwa demokrasi
senantiasa berkaitan erat dengan pertanggungjawaban (account
ability), kompetisi, keterlibatan, dan tinggi rendahnya kadar untuk
menikmati hak-hak dasar, seperti hak untuk berekspresi, berserikat,
berkumpul dan sebagainya.
Demokratisasi, merupakan proses pendemokrasian segenap rakyat
untuk turut serta dalam pemerintahan melalui wakil-wakilnya. Atau
turut serta dalam berbagai bidang kegiatan (masyarakat/negara)
baik langsung atau tidak langsung, dengan mengutamakan
persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi
warga negara.
Banyak pendapat yang memberi pengertian tentang civil society
atau lebih dikenal dengan masyarakat madani. Masyarakat madani
adalah sebuah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri
secara mandiri dihadapan penguasa dan negara, memiliki ruang
publik (public sphere) dalam mengemukakan pendapat, adanya
lembaga-lembaga yang mandiri yang dapat menyalurkan aspirasi
dan kepentingan publik.
Negara republik Indonesia, telah menetapkan sistem politik
demokrasi Pancasila. Demokrasi Pancasila sesuai dengan sila
62
keempat Pancasila, yaitu merupakan rangkaian totalitas yang terkait
erat antara satu sila dan sila lainnya (bulat dan utuh). Dalam arti
umum, demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang dihayati oleh
sila-sila lain (nilai-nilai luhur Pancasila).
Perilaku budaya politik demokrasi yang perlu kita kembangkan
dalam kehidupan sehari-hari antara lain; menjunujung tinggi
persamaan, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban,
membudayakan sikap bijak dan adil, membiasakan musyawarah
mufakat dalam mengambil keputusan serta mengutamakan
persatuan dan kesatuan nasional.

LATIHAN UJI KOMPETENSI

63
A. Pilihan Ganda
Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling benar !

1. Konsepsi tentang demokrasi d. ketertiban dalam bidang


adalah suatu pemerintahan hukum
yang bersendikan …. e. pelaksanaan pemilu
a. kedaulatan rakyat yang jujur dan adil
b. kedaulatan hukum 5. Tokoh yang berpendapat bahwa
c. kedaulatan negara Demokrasi Pancasila bersumber
d. kedaulatan penguasa dari kepribadian dan falsasfah
e. kedaulatan raja hidup bangsa Indonesia adalah
2. Tokoh yang mengemukakan ….
”demokrasi adalah a. Prof. Dardji Darmodihardjo
pemerintahan dari, oleh, dan b. Soerjono Soekanto
untuk rakyat”, dikemukakan c. Prof. S. Pamudji
oleh …. d. Prof. Dr. Soepomo
a. F.D. Roosevelt e. Koentjaraningrat
b. Abraham Lincoln 6. Berikut ini yang bukan
c. John F. Kennedy merupakan ciri umum
d. J.J. Rousseau demokrasi Pancasila ialah ….
e. John Locke a. mengutamakan musyawarah
mufakat
3. Di bawah ini yang bukan
b. tidak memaksakan kehendak
merupakan ciri-ciri masyarakat
kepada orang lain
madani adalah … .
c. selalu meliputi semangat
a. pengakuan dan perlindungan
kekeluargaan
HAM
d. dilakukan dengan akal sehat
b. partisipasi warga negara
dan sesuai hati nurani
dalam pemilu
e. adanya rasa gotong
c. pengutamaan kepentingan
royong
warga negara
d. pemerintahan yang 7. Tujuan Pemilu secara umum
memperhatikan adalah sebagai berikut, kecuali
kesejahteraan dan keadilan ….
rakyat. a. memilih presiden dan
e. pemerintahan yang parlemen
mewujudkan kesejahteraan b. melaksanakan kedaulatan
rakyat disegala bidang. rakyat
c. perwujudan dari hak politik
4. Faham demokrasi Pancasila,
rakyat
secara essensial menjamin
d. kesinambungan
bahwa ….
pembangunan
a. rakyat mempunyai hak sama
e. memilih wakil-wakil
untuk menentukan dirinya
rakyat
sendiri
b. persamaan dalam hukum 8. Salah satu kelebihan dari
dan pemerintahan penerapan pemilu dengan
c. asas kekeluargaan dan sistem distrik adalah … .
musyawarah mufakat a. sangat mengenal daerah dan
diantara masyarakat kepentingan rakyatnya

64
b. suara pemilu yang kalah b. Unsur Parpol
tetap akan diakui c. PPI
c. golongan mayoritas dapat d. KPU
akani jadi oposisi e. Menteri Dalam Negeri
d. lebih demokrastis dan 10. Pada masa pemerintahan
mewakili semua unsur orde lama, prak-tik demokrasi
e. DPR benar-benar yang menonjol adalah ....
menjadi wadah aspirasi a. liberalisme
rakyat b. terpimpin
9. Berdasarkan UU No. 12 tahun 2003, c. komunisme
yang menjadi penanggung jawab d. sosialisme
Pemilu adalah … . e. fasisme
a. Pemerintah Pusat
B. Uraian
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat
dan jelas !
1. Berikan penjelasan sesuai pendapat anda yang dimaksud dengan
budaya demokrasi !
2. Beri penjelasan dan alasan, mengapa dalam negara yang menerapkan
budaya demokrasi harus memberikan jaminan hukum dan
perlindungan hak asasi manusia !
3. Jelaskan bagaimana suatu perubahan dalam budaya politik suatu
negara dapat disebut dengan ”demokratisasi” !
4. Uraikanlah secara singkat, bagaimana suatu proses demokrasi dapat
dikatakan menuju masyarakat madani “Civil Society” !
5. Beri penjelasan, apakah masyarakat madani telah menjadi bagian
dalam kehidupan kenegaraan ? Jelaskan pendapat Anda !
6. Jelaskan bentuk-bnetuk demokrasi dalam sistem pemerintahan negara
!
7. Uraikan faktor-faktor penghambat bagi terciptanya demokratisasi di
Indonesia, teruturama pada masa orde baru !
8. Beri penjelasan dan alasan, bagaimana hubungan antara pelaskanaan
pemilu dengan demokrasi di dalam suatu negara !
9. Tuliskan, perbedaan mendasar penerapan demokrasi di era orde baru
dan era reformasi !
10. Bandingkan pelaksanaan pemilihan umum tahun 1999 dengan
pemilu tahun 2004 !
11. Berikan 3 (tiga) contoh perilaku yang mendukung tegaknya
prinsip demokrasi di Indonesia !

C. Studi Kasus
Demokrasi Indonesia Dinilai Tanpa Demokrat

Demokrasi sebangun dengan cita-cita ideal yang diinginkan pendiri

65
bangsa, mulai dari kemanusiaan, perwakilan, kesejahteraan, dan
keadilan sosial. Sayangnya, demokrasi yang berjalan di Indonesia saat
tanpa demokrat. Dosen Universitas Paramadina Jakarta, Yudi Latif,
mengatakan hal ini dalam Refleksi Kritis Pengalaman Indonesia
Pascakemerdekaan di Kampus Universitas Islam Syarif Hidayatullah di
Jakarta. Tampil pula sebagai pembicara, anggota DPR Partai Golkar Ade
Komarudin, Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Kebangsaan M.
Fadjroel Rachman, serta peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan
Universitas Paramadina Abbas Al-Jauhari.
“Demokrasi kita kehilangan kepemimpinan yang punya otoritas.
Meski demokrasi tidak menghendaki otoriter, tetapi otoritas harus ada
sehingga ada kepastian hukum. Demokrasi tanpa regulasi yang baik
jauh lebih buruk dari kondisi ekonomi yang buruk,” ujarnya. Dalam
konsilidasi demokrasi saat ini, menurut Yudi, diuntungkan dengan
mencairnya kutub ideologis sebagai salah satu warisan Orde Baru.
Orang bisa masuk partai yang beda dengan ormasnya di masa lalu.

Sumber : Kompas, 12/1/2007

Tagihan Tugas :
1. Setelah disimak dan baca baik-baik, jelaskan kembali apa telah ditulis
sesuai dengan persepsi yang ada dibenak anda !
2. Berikan beberapa penjelasan indikasi tentang munculnya “demokrasi
di Indonesia tanpa demokrat” dalam pelaksanaan sistem politik di
Indonesia !
3. Jelaskan dengan memberi alasan, mengapa budaya demokrasi di
Indonesia belum menyentuh pada cita-cita ideal kesejahteraan, dan
keadilan sosial !
4. Tentukan langkah-langkah nyata bagaimana agar pelaksanaan
demokrasi di Indonesia mampu memberikan otoritas kepada
pemimpinan negara dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan
sosial !
5. Berikan usulan konkrit, apa yang harus anda lakukan guna
mewujudkan demokrasi yang sebangun dengan cita-cita ideal di
Indonesia, jika anda :
a. Sebagai ketua organisasi pemuda !
b. Sebagai ketua suatu partai politik !
c. Sebagai pejabat kepala pemerintahan
(presiden) !

D.Inquiri (Tugas Kelompok)


Carilah referensi dari berbagai sumber untuk mengkaji ulang tentang
konsepsi dan rumusan tentang “Masyarakat Madani” (berikut gambar-
gambar pendukungnya) yang berkaitan dengan cita-cita ideal negara
demokrasi Indonesia !

66
1. Pahami kembali tentang rumusan “masyarakat madani”, dan
buatlah skenario (simulasi atau role play) wujud implementasinya di
sekolah dan masyarakat !
2. Carilah topik-topik dari berbagai sumber (mass media cetak atau
elektronik) sekitar wujud masyarakat madani (civil society) dalam
pemikiran anda !
3. Kemudian lakukan demonstrasi dalam bentuk simulasi atau role
play di dalam kelas !

67