Anda di halaman 1dari 64

1

BAB III
PERANAN PERS DALAM MASYARAKAT
DEMOKRASI

Standar Kompetensi :
2. Mengevaluasi peranan pers dalam masyarakat demokrasi.

Kompetensi Dasar :
2.1. Mendeskripsikan pengertian, fungsi dan peranan serta
perkembangan pers di Indonesia.
2.2. Menganalisis pers yang bebas dan bertanggung jawab sesuai kode
etik jurnalistik dalam masyarakat demokratis di Indonesia.
2.3. Mengevaluasi kebebasan pers dan dampak penyalahgunaan
kebebasan media massa dalam masyarakat demokratis di
Indonesia.

PENDAHULUAN

-------------------------------(Ada gambar kalangan pers sedang


meliput )------------------------------

Salah satu ciri menonjol negara demokrasi adalah adanya kebebasan


untuk berekspresi. Kebebasan berkespresi dapat terwujud dalam berbagai
bentuk, seperti ; berkesenian, menyampaikan protes atau menyebarkan
gagasan melalui media cetak sebagai bagian dari bentuk ekspresi. Di
antara media ekspresi dan penyebarluasan gagasan yang banyak dikenal
masyarakat adalah melalui pers.
Dalam sejarah kehidupan masyarakat Indonesia, dunia Pers tidaklah
asing. Jauh sebelum Indonesia merdeka, awal kemunculan Pers merupakan
alat perjuangan bagi seluruh komponen masyarakat Indonesia dalam
menyampaikan aspirasinya guna mencapai Proklamasi Kemerdekaan. Pasca
Proklamasi Kemerdekaan 1945, peranan pers sangat besar sebagai alat
perjuangan dalam rangka menyebarluaskan informasi atau berita-berita ke
seluruh pelosok daerah Indonesia bahkan penjuru dunia. Dalam
perkembangannya di Indonesia, dunai pers pernah mengalami pasang surut
baik di era liberal, orde lama, orde baru maupun era reformasi. Pada
kehidupan masyarakat demokratis, salah satu peranan penting pers adalah
sebagai penggerak prakarsa masyarakat, memperkenalkan usaha-usahanya
sendiri, dan menemukan potensi-potensinya yang kreatif dalam usaha
memperbaiki peri kehidupannya.
Pers yang juga mengemban misi sebagai salah satu alat kontrol sosial
terhadap pemerintah, telah mampu memberikan kontribusi guna
melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan dalam melaksanakan
pemerintahan. Oleh sebab itu, agar tidak terjadi pemberitaan yang
2

menjurus fitnah setiap insan pers telah dibekali Kode Etik Profesi wartawan
Indonesia yang harus dipatuhi. Kode Etik mencakup : 1) Kepribadian
Wartawan Indonesia, 2) Pertanggung jawaban, 3) Cara Pemberitaan dan
Menyatakan Pendapat, 4) Pelanggaran Hak Jawab, 5) Sumber Berita, 6)
Kekuatan Kode Etik, dan 7) Pengawasan Penataan Kode Etik.
Era globalisasi dewasa ini telah memberi peranan yang lebih besar
kepada dunia pers dalam menggalang prakarsa dan kreativitas warga
masyarakat melalui berbagai infrastruktur teknologi informasi. Dunia pers
dalam perspektif demokrasi, telah menemukan jati diri dan kebebasannya
yang mampu menembus batas-batas negara baik dalam bidang politik,
ekonomi, sosial budaya, hukum, pertahanan kemanan dan sebagainya.
Oleh sebab itu, memasuki era globalisasi seluruh komponen birokrasi,
maupun masyarakat harus bersikap arif dan bijaksana dalam menanggapi
kritik, saran yang dilontarkan dunia pers.
PENGERTIAN, FUNGSI DAN PERAN SERTA PERKEMBANGAN
PERS DI INDONESIA

1. Pengertian Pers
Dalam kehidupan modern, kebutuhan orang akan komunikasi dan
informasi semakin meningkat. Informasi dibutuhkan oleh orang untuk
memperluas wawasan dan pengetahuan. Tidak jarang informasi juga
menjadi bahan pertimbangan bagi seseorang untuk mengambil suatu
keputusan. Dalam hal ini, pers menyediakan berbagai informasi yang
berguna bagi masyarakat luas. Tidak hanya itu, pers juga dapat
dimanfaatkan untuk membentuk opini publik atau mendesakkan
kepentingan publik agar diperhatikan oleh penguasa.
Dengan semakin berkembangnya dunia informasi, pers sebenarnya
semakin dekat dengan kehidupan kita. Lantas, apa sesungguhnya
makna pers itu sendiri ? Untuk memahami makna tentang pers, berikut
ini akan diberikan beberapa pengertian :
a. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata “pers” berarti a) alat
cetak untuk mencetak buku atau surat kabar; 2) alat untuk menjepit,
memadatkan; 3) surat kabar dan majalah yang berisi berita : berita
seperti yang ditulis oleh ..... ; 4) orang yang bekerja di bidang
persuratkabaran.
b. Ensiklopedi Indonesia, istilah Pers merupakan nama seluruh
penerbitan berkala : koran, majalah, dan kantor berita.
c. Ensiklopedi Pers Indonesia, istilah Pers merupakan sebutan bagi
penerbit/perusahaan/kalangan yang berkaitan dengan media masa
atau wartawan. Sebutan ini bermula dari cara bekerjanya media cetak
yang awalnya menekankan huruf-huruf di atas kertas yang akan
dicetak. Dengan demikian segala barang yang dikerjakan dengan
mesin cetak disebut pers.
d. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, bahwa
yang dimaksud Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi
massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari,
memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan
3

informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan


gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan
menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran
yang tersedia.
e. Profesor Oemar Seno Adji, Pers dalam sempit seperti diketahui
mengandung penyiaran-penyiaran pikiran, gagasan atau berita-berita
dengan kata tertulis. Sebaliknya pers dalam arti luas memasukkan di
dalamnya semua media mass communications yang memancarkan
pikiran, dan perasaan seseorang baik dengan kata-kata tertulis
maupun dengan lisan.
Dengan demikian dapatlah diketahui, bahwa pers dalam arti sempit
merupakan manifestasi dari “Freedom of the press”, sedangkan pers
dalam arti yang luas merupakan manifestasi dari “freedom of speech”
dan keduanya tercakup oleh pengertian “freedom of expression”.

f. L. Taufik, dalam bukunya “Sejarah dan Perkembangan Pers di


Indonesia”, menyatakan bahwa pengertian pers terbagi dua, yaitu
pers dalam arti sempit dan pers dalam arti luas.
 Pers dalam arti sempit diartikan sebagai surat kabar, koran,
majalah, tabloid, dan buletin-buletin kantor berita. Jadi, pers
terbatas pada media tercetak.
 Pers dalam arti luas mencakup semua media massa, termasuk
radio, televisi, film dan internet.

f. Leksikom Komunikasi, Pers berarti : 1) usaha percetakan dan


penerbitan, 2) usaha pengumpulan dan penyiaran berita, 3) penyiaran
berita melalui surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Sedangkan
istilah “press” berasal dari bahasa Inggris “to press” artinya
menekan, selanjutnya press atau pers diartikan sebagai surat kabar
dan majalah (dalam arti sempit) dan pers dalam arti luas yang
menyangkut media massa (surat kabar, radio, televisi, dan film).

Fokus Kita :
Dalam perkembangannya, istilah Pers diberi pengertian dengan
penerbitan pers. Bahkan belakangan pengertiannya meliputi dua
hal : pers dalam arti sempit, yakni media cetak dan pers
dalam arti luas, yakni meliputi semua barang cetakan yang
ditujukan untuk umum sebagai pengganti istilah printed mass
media. Tapi juga lazim untuk menyebut orang atau kegiatan yang

2. Teori-teori Tentang Pers


4

Telah diuraikan secara singkat di muka bahwa pers berperan antara


lain untuk menyebarluaskan informasi. Dalam konteks hak asasi
manusia, hak setiap orang untuk memperoleh informasi merupakan hak
yang diakui secara universal. Sementara dalam kedudukannya sebagai
media massa, pers juga dapat menjadi wahana untuk menyuarakan
ekspresi (kehendak, kepentingan, gagasan dan keyakinan). Kebebasan
untuk berekspresi ini pun merupakan hak asasi yang berlaku universal.
Dengan demikian, kemerdekaan pers perlu memperoleh jaminan
perlindungan agar hak asasi manusia tidak tertindas.
Teori tentang kebebasan pers mulai memperoleh perhatian besar
sejak tahun 1956. Dalam situasi perang dingin, muncul gejala persaingan
antara dua ideologi besar, yaitu Komunisme dan Liberalisme. Tidak
mengherankan jika konsep kemerdekaan pers kemudian berkembang
sesuai dengan semangat zaman yang tengah dilanda persaingan
tersebut di atas. Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur
Schramm dalam buku “Four Theories The Press”, yang diterjemahkan
oleh Putu Lakman Sanjaya Pendit dan dikutip oleh Krisna Harahap
dalam bukunya “Pasang Surut Kemerdekaan Pers”, mengemukakan
empat teori kemerdekaan pers. Ke-empat teori pers tersebut adalah
sebagai berikut :

a. Teori Pers Otoritarian


Teori ini muncul berkaitan erat dengan pandangan filosofis tentang
hakikat negara dan masyarakat. Teori Otoritarian menganggap
negara merupakan ekspresi tertinggi dari organisasi kelompok
manusia, mengungguli masyarakat dan individu. Negara dianggap
sesuatu yang terpenting dalam membangun dan mengembangkan
manusia seutuhnya. Tanpa negara, manusia tidak dapat mencapai
tujuan hidupnya dan akan tetap menjadi manusia primitif. Pada saat
teori ini lahir, hubungan antara pers dan negara berada dalam
kerangka seperti itu.
Pada teori tentang pers otoritarian, kedudukan negara
mengungguli kelompok manusia dan individu. Dengan demikian
dibenarkan adanya sensor pendahuluan, pembredelan, pengendalian
produksi secara langsung oleh pemerintah dan sebagainya, yang
dikukuhkan oleh peraturan perundang-undangan. Keberadaan pers
sepenuhnya bertujuan untuk mendukung pemerintah yang bersifat
otoritas, sehingga pemerintah langsung menguasai, mengawasi dan
mengendalikan seluruh media massa. Dengan demikian, pers
merupakan alat penguasa untuk menyampaikan keinginannya
kepada rakyat. Andai pun ada kebebasan pers, kebebasannya itu
pun tidak harus menyalahkan atau mengkritik penguasa.
Fokus Kita :
Teori Otoritarian menganggap negara merupakan ekspresi
tertinggi dari organisasi kelompok manusia, mengungguli
masyarakat dan individu. Negara dianggap sesuatu yang
terpenting dalam membangun dan mengembangkan manusia
5

Menurut pendapat Mc. Quail, di dalam teori pers otoritarian


disebutkan prinsip-prinsip dasar pelaksanaan sebagai berikut :
1) Media selamanya (akhirnya)harus tunduk kepada penguasa yang
ada.
2) Penyensoran dapat dibenarkan.
3) Kecaman terhadap penguasa atau terhadap penyimpangan dari
kebijakan resmi tidak dapat diterima.
4) Wartawan tidak mempunyai kebebasan di dalam organisasinya.

b. Teori Pers Libertarian


Teori ini merupakan reaksi terhadap Teori Pers Otoritarian dan
sekaligus menjungkir balikkannya. Jika teori Otoritarian menekankan
kepada negara sebagai ekspresi tertinggi dari organisasi kelompok
manusia, maka dalam teori Libertarian kebalikannya, yaitu tekanan
diberikan kepada individu dan masyarakat yang kelak melahirkan
pemikiran tentang demokrasi.
Sesuai dengan ajaran demokrasi, manusia memiliki hak-hak
alamiah untuk mengejar kebenaran yang hakiki dan memiliki
kebebasan untuk menyatakan pendapat, secara lisan dan tulisan
(pers) tanpa kontrol dari pemerintah (pihak luar). Maka, Teori
Libertarian berpendapat bahwa pers harus memiliki kebebasan yang
seluas-luasnya untuk membantu manusia mencari dan menemukan
kebenaran yang hakiki tersebut. Salah satu cara yang paling efektif
untuk mencari dan menemukan kebenaran itu ialah melalui pers.
Menurut teori ini, pers merupakan sarana penyalur hati nurani rakyat
untuk mengawasi dan menentukan sikap terhadap kebijakan
pemerintah. Karenanya ia bukanlah alat kekuasaan pemerintah,
sehingga ia harus bebas dari pengaruh dan pengawasan pemerintah.

Fokus Kita :
Menurut teori libertarian, pers merupakan sarana penyalur hati
nurani rakyat untuk mengawasi dan menentukan sikap terhadap
kebijakan pemerintah. Oleh sebab itu, pers bukanlah alat
kekuasaan pemerintah, sehingga ia harus bebas dari pengaruh
dan pengawasan pemerintah. Dengan demikian teori ini
memandang sensor sebagai inkonstitusional terhadap

Dengan demikian, teori ini memandang sensor merupakan


tindakan yang inkonstitusional terhadap kemerdekaan pers. Menurut
Krisna Harahap Pers Libertarian, mempunyai tugas sebagai
berikut :
1) Melayani kebutuhan kehidupan ekonomi (iklan)
2) Melayani kebutuhan kehidupan politik
3) Mencari keuntungan (demi kelangsungan hidupnya)
4) Menjaga hak warga negara
6

5) Memberi hiburan.
Selanjutnya Krisna Harahap menyebutkan tentang ciri-ciri pers
yang merdeka (libertarian) sebagai berikut :
1) Publikasi bebas dari setiap penyesoran pendahuluan,
2) Penerbitan dan pendistribusian terbuka bagi setiap oran tanpa
memerlukan izin atau lisensi,
3) Kecaman terhadappemerintah, pejabat atau partai politik tidak
dapat dipidana,
4) Tidak ada kewajiban mempublikasikan segala hal,
5) Publikasi “kesalahan” dilindungi sama halnya degan publikasi
kebenaran dalam hal-hal yang berkaita dnegan opini dan
keyakinan,
6) Tidak ada batasan hukum terhadap upaya pengumpulan informasi
untuk kepentingan publikasi,
7) Wartawan mempunyai otonomi profesional dalam organisasi
mereka.

c. Teori Tanggung Jawab Sosial


Pada awal abad ke-20, “lahirlah” teori pers lain, yaitu Teori
Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility sebagai protes
terhadap Teori Libertarian yang mengajarkan kebebasan mutlak,
yang dianggap telah menimbulkan kemerosotan moral masyarakat.
Teori ini mengemukakan dasar pemikiran bahwa kebebasan pers
harus disertai dengan tanggung jawab kepada masyarakat. Menurut
Teori Tanggung Jawab Sosial, kebebasan pers itu perlu dibatasi oleh
dasar moral, etika dan hati nurani insan pers. Prinsip dasar
pandangannya adalah bahwa kemerdekaan pers harus disertai
dengan kewajiban-kewajiban, antara lain untuk bertanggung jawab
kepada masyarakat.
Menurut Krisna Harahap prinsip utama teori Tanggung Jawab
Sosial, dapat ditandain sebagai berikut :
1) Media mempunyai kewajiban tertentu kepada masyarakat.
2) Kewajiban tersebut dipenuhi dengan menetapkan standar yang
tinggi atau professional tentang keinformasian, kebenaran,
obyektivitas, keseimbangan, dsb.
3) Dalam menerima dan menerapkan kewajiban tersebut, media
seyogyanya dapat mengatur diri sendiri dalam kerangka hukum
dan lembaga yang ada.
4) Media seyogyanya menghindari segala sesuatu yang mungkin
menimbulkan kejahatan, yang akan mengakibatkan
ketidaktertiban atau penghinaan terhadap minoritas etnik atau
agama.
7

5) Media hendaknya bersifat pluralis dan mencerminkan


kebhinekaan.
6) masyarakatnya dengan memberi kesempatan yang sama untuk
mengemukakan berbagai sudut pandang dan hak untuk
menjawab.
7) Masyarakat memiliki hak mengharapkan standar prestasi yang
tinggi dan intervensi dapat dibenarkan untuk mengamankan
kepentingan umum.
Mengenai kebebasan pers, Komisi Kemerdekaan Pers
menyatakan bahwa kemerdekaan pers itu harus diberi arti :
1) Bahwa kebebasan tersebut tidaklah berarti bebas untuk
melanggar kepentingan-kepentingan individu yang lain.
2) Bahwa kebebasan harus memperhatikan segi-segi keamanan
negara.
3) Bahwa pelanggaran terhadap kemerdekaan pers membawa
konsekuensi/ tanggung jawab terhadap ukuran yang berlaku.
Pengertian kemerdekaan pers yang diberikan oleh Komisi
Kemerdekaan Pers seperti tersebut di atas menunjukan bahwa
kemerdekaan yang mutlak hanyalah merupakan khayalan belaka.
Menurut teori tanggung jawab sosial, bahwa pembatasan terhadap
kemerdekaan pers itu justru perlu diadakan dengan alasan : untuk
melindungi kehormatan dan nama baik individu/kelompok, melindungi
nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat dan melindungi ketertiban
serta keamanan, baik yang datang dari dalam (subversi) maupun
yang datang dari luar (agresi).
Perlunya pembatasan pers, yaitu dimaksudkan untuk kepentingan
: keamanan sosial, ketertiban umum, memelihara persahabatan antar
negara, melindungi agama yang dianut oleh masyarakat, melindungi
ras/golongan suku bangsa, melindungi orang/masyarakat, dan
melindungi hak-hak peradilan terhadap”contempt of court” atau
pengkhianatan/pendiskreditan pengadilan.

Bonus Info Kewarganegaraan


Komisi Kemerdekaan Pers menggariskan lima hal yang menjadi
tuntutan masyarakat modern terhadap pers, dan merupakan ukuran
pelaksanaan kegiatan pers, yakni :
1. Pers dituntut untuk menyajikan laporan tentang kejadian sehari-
hari secara jujur, mendalam dan cerdas. Ini merupakan tuntutan
kepada pers untuk menulis secara akurat, dan tidak berbohong.
2. Pers dituntut untuk menjadi sebuah forum pertukaran komentar
dan kritik, yang berarti pers diminta untuk menjadi wadah diskusi
di kalangan masyarakat, walaupun berbeda pendapat dengan
pengelolanya sendiri.
3. Pers hendakanya menonjolkan sebuah gambaran yang
representatif kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini
8

mengacu pada segelintir kelompok minoritas dalam masyarakat


yang juga memiliki hak yang sama dalam masyarakat untuk
didengarkan.
4. Pers hendaknya bertanggung jawab dalam penyajian dan
penguraian tujuan dan nilai-nilai dalam masyarakat.
5. Pers hendaknya menyajikan kesempatan kepada masyarakat
untuk memperoleh berita sehari-hari. Ini berkaiatan dengan
kebebasan informasi yang diminta masyarakat.

d. Teori Pers Komunis


Teori ini beranjak dari ajaran Karl Marx yaitu
Marxisme/Komunisme. Menurut Teori Pers Komunis, pers merupakan
alat pemerintah (partai yang berkuasa) dan bagian integral dari
negara, sehingga pers harus tunduk kepada pemerintah.
Pers Komunis berfungsi sebagai alat untuk melakukan
“indoktrinasi massa”. Sehubungan dengan itu, F. Rachmadi (1990)
dalam bukunya “Perbandingan Sistem Pers”, menyatakan bahwa
dalam hubungan dengan fungsi dan peranan pers Komunis sebagai
alat pemerintah dan partai, pers harus menjadi suatu collective
propagandist, collective agitation dan collective organizer. Ciri-ciri
Teori Pers Komunis ini adalah sebagai berikut :
1) Media berada di bawah pengendalian kelas pekerja, karenanya ia
melayani kepentingan kelas tersebut.
2) Media tidak dimiliki secara pribadi.
3) Masyarakat berhak melakukan sensor dan tindakan hukum lainnya
untuk mencegah atau menghukum setelah terjadinya peristiwa
publikasi anti masyarakat.
Penugasan Praktik 1
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Pengertian, Fungsi dan
Peran Serta Perkembangan Pers Indonesia (Pengertian Pers,
dan Teori-teori tentang pers), dilanjutkan Penugasan dengan
menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut :
1. Berikan ulasan pengertian kembali tentang “Pers” sesuai pendapat
anda dan tokoh-tokoh terkenal !
Pendapat anda tentang
Pers? ..........................................................................................................
...........
....................................................................................................................
.....................................................
No Tokoh Uraian Singkat
.................................................................................
Oemar .....................................
1.
Seno Adji .................................................................................
.....................................
9

.................................................................................
2. L. Taufik .....................................
.................................................................................
.....................................

2. Dalam teori pers “Otoritarian” menganggap negara merupakan


ekspresi tertinggi dari organisasi kelompok manusia, mengungguli
masyarakat dan individu. Berikan penjelasn singkatnya yang dimaksud
dengan !
a. Negara merupakan ekspresi
tertinggi: .......................................................................................
..............................................................................................................
...................................................
b. Mengungguli
masyarakat: ........................................................................................
......................
...............................................................................................................
...................................................

3. Menurut Teori Tanggung Jawab Sosial, kebebasan pers itu perlu


dibatasi oleh dasar moral, etika dan hati nurani insan pers. Beri
penjelasan singkat pada kolom di bawah ini !
Dasar moral Hati nurani insan pers
........................................................ .....................................................
...................... ........................
........................................................ .....................................................
...................... ........................
........................................................ .....................................................
...................... ........................
........................................................ .....................................................
...................... ........................

4. Berikan tanggapan penjelasan, mengapa di dalam pers kemerdekaan


yang mutlak hanyalah merupakan khayalan belaka !
....................................................................................................................
...................................................
....................................................................................................................
...................................................
....................................................................................................................
...................................................

5. Tuliskan perbedaan dan persamaan pada teori pers “Otoriterian”


dengan “Komunis” di bawah ini !
Persamaan Perbedaan
........................................................ .....................................................
........................ ........................
10

........................................................ .....................................................
........................ ........................
........................................................ .....................................................
........................ ........................
........................................................ .....................................................
........................ ........................
11

3. Sistem Pers di Beberapa Negara

a. Sistem Pers Barat (USA)


Pada negara-negara Barat yang diwakili oleh Amerika dan Eropa,
kebebasan pers diyakini sebagai bagian dari kebebasan berekspresi
yang dimiliki oleh setiap individu. Oleh sebab itu, masyarakat
meminta kepada negara agar memberikan kemerdekaan dengan
tanpa turut campur terlalu dalam terhadap kehidupan pers.

Fokus Kita :
Representasi sistem pers barat ini dapat diwakili oleh sistem
pers Amerika Serikat dan Eropa. Negara-negara barat pada umunya
baik Amerika maupun Eropa menganut falsafah yang sama yaitu
“Liberalisme”, yang menjadi landasan sistem sosial, sistem politik
dan sistem pemerintahan mereka.

Perihal kebebasan pers di Amerika yang mengusung falsafah


“Liberalisme”, telah mengundang pro dan kontra dalam beberapa
kasus sebagai berikut :

Pandangan Pro Kebebasan Pandangan Kontra Kebebasan


Kebebasan pers telah terbukti Kemerdekaan pers Amerika Serikat
memberi sumbangan positif bagi yang terlalu bebas, telah menuai
praktik demokrasi dan kontrol yang kritik-kritik tajam terhadap pers itu
efektif terhadap pengelolaan sendiri. Pers yang dianggap terlalu
negara. Sebagai contoh, dapat asyik mengungkap aspek-spek
dikemukakan salah satu kasus yang negatif Amerika Serikat, sehingga
meng-hebohkan dunia pers Amerika membuat negara Amerika tampak
Serikat, yaitu Watergate. Kasus ini buruk di mata dunia.
bermula dari tertang-kapnya lima Edwin Emery dan kawan-kawan
orang yang memasuki kantor Parti dalam buku “Introduction to Mass
Demokrat di kompleks Watergate, Communiction” menyatakan bahwa
Washington DC dengan tanpa izin “memang benar konstitusi Amerika
pada tanggal 17 Juni 1972. Serikat menjamin kebebasan pers,
Beberapa pejabat tampak yang semestinya harus berjalan
berusaha menutupi apa yang sebe- bersama-sama dengan
narnya terjadi di balik kasus ini. kebebasannya. Interpretasi
Penyelidikan yang dilakukan oleh mengenai tanggungjawab ini
Carl Bernstein dan Bob sebagian besar diserahkan kepada
Woodward, dua orang wartawan integritasi, etika, dan rasa moral dari
Washington Post menguak hubu- orang yang menulis, menerbitkan
ngan kelima kawanan pencuri dan berbicra”.
tersebut dengan Gedung Putih. Hal ini dapat menimbulkan
Terungkap kemudian bahwa kelima berbagai bahaya, karena kekuatan
orang tersebut melakukan upaya pers dapat membakar opini dan
memata-matai Partai Demokrat emosi publik dalam situasi konflik
yang merupakan lawan politik sosial dan keadaan sensitif lainnya.
presiden berkuasa, Richard M. Kemerdekaan pers yang terlalu
Nixon (berasal dari Partai Republik). bebas ini, dalam dua sampai tiga
Kasus ini berakhir dengan dasa warsa terakhir dirasakan
12

dipenjarakannya para pelaku merusak moral masya-rakat dan


kejahatan dan mundurnya Presiden mengganggu keamanan pemerintah.
Nixon dari jabatan Presiden Amerika Belakangan ini tuntutan masyarkat
Serikat. Atas kerja keras dan pemerintah terhadap
mengungkap kasus tersebut, dua pertanggung jawaban pers semakin
wartawan yang bersangkutan serius. Kritik-kritik tajam pun sangat
kemudian memperoleh deras menghujani pers, karena pers
pengharagaan pers yang bergengsi, dianggap terlalu komersial, merusak
yaitu Pulitzer. moral masyarakat dan lain-lain, serta
telah berani melanggar hak
kehidupan pribadi seseorang melalui
tulisan-tulisannya yang sensasional,
murahan, demi kepentingan untuk
meraup uang yang sebanyak-
banyaknya.

Jika di lihat dari aspek hubungan pers dengan pemerintah Amerika


Serikat, dapat digambarkan sebagai hubungan persaingan. Artinya
pers Amerika Serikat bebas dari campur tangan pemerintahannya dan
demikian pula sebaliknya, sehingga terdapat persaingan diantara pers
dengan pemerintah, terutama dalam hal megembangkan diri dan
kepemimpinan. Di Amerika Serikat, pers mempunyai kebebasan
untuk bergerak. Di dalam sistem liberal seperti di Amerika serikat,
pers tidak berorientasi pada politik pemerintah, artinya pers bukan
merupaka terompet pemerintah seperti di negara-negara sosialis.
Disisi lain perlu difahami pula bahwa hubungan antara pers,
pemerintah dan masyarakat di Amerika dan Eropa, sesungguhnya
dapat digambarkan sebagai “upaya saling mengontrol”. Artinya,
walaupun ideologi kebebasan yang dianut memberi kemerdekaan
berekspresi, tetapi bukan berarti semuanya tanpa kontrol. Hubungan
yang demikian dapat menciptakan pemerintahan yang bersih dan
kuat serta masyarakat sipil yang juga kuta. Kondisi yang demikian
memberi sumbangan penting bagi terbangunnya kehidupan sosial
yang demokratis.

Bonus Info Kewarganegaraan


Dikalangan eksekutif pers Amerika Serikat, seperti redaktur, dan
para editor yang merasa profesi persnya telah tercemar akibat itu
semua, berusaha menyusun Kode Etik Pers yang di sebut “Canon
Jurnalism”, yang isinya dikutip oleh F. Rachmadi antara lain
sebagai berikut :
a. Tanggung jawab (Romawi I) yaitu hak koran untuk menarik
pembaca tidak ada yang membatasi kecuali pertimbangan
tentang kesejahteraan publik. Jurnalis yang memakai
kekuatannya untuk kepentingan sendiri atau tujuan yang tak
berharga adalah durhaka pada kepercayaan yang tertinggi.
b. Ketulusan, kebenaran, ketepatan (Romawi IV), yaitu
kepercayaan pembaca adalah dasar bagi semua yang
13

dinamakan jurnalisme. Bagi koran, untuk berbuat jujur adalah


hal yang memaksa.
c. Netral/adil (Romawi V), yaitu memisahkan laporan berita
dengan pernyataan pendapat. Laporan berita haruslah bebas
dari pendapat atau macam-macam bias.
d. Fair play (Romawi VI), yaitu antara lain berisi larangan untuk
mencampuri hak pribadi atau perasaan seseorang tanpa
pembenaran undang-undang dan harus mengadakan koreksi
lengkap mengenai kesalahan seriusnaya mengenai fakta atau
opini yang mereka buat, apapun masalahnya.
Kode etik ini merupakan bentuk atau isyarat bahwa pers
Amerika Serikat menuju kepada pers yang bertanggung jawab.

b. Sistem Pers Komunis (Rusia)


Kehidupan pers di negara-negara komunis (yang akan diwakili oleh
Sistem Pers Rusia) pada umumnya, merupakan cerminan sistem
sosial dan politik komunis. Bertolak dari konsep bahwa kepemilikan
atas sarana-sarana produksi dan distribusi berada di bawah
kekuasaan negara, maka pers di negara Komunis dimiliki sepenuhnya
oleh pemerintah; tidak adak kepemilikan oleh perorangan atau
swasta. Pemerintah dan partai komunis menggunakan pers sebagai
alat untuk mencapai tujuan-tujuannya, yaitu sebagai instrumen yang
terintegrasi dengan kekuasaan pemerintah dan partai untuk kegiatan
propaganda dan agitasi.
Menurut Heinz Ditriech Fisher dan John C. Merril, dalam buku
“Internasional Communication” yang di kutip oleh F. Rachmadi,
menyatakan “ Membicarakan sistem pers Uni Soviet (Rusia), tidak
dapat terlepas dari tiga nama tokoh yang meletakan dasar sistem
pers Soviet. Mereka adalah Lenin, Stallin, dan Kruchcev.”..... “Menurut
Lenin, pers harus melayani kepentingan kaum buruh yang
merupakan kelompok mayoritas”. Dijelaskan lebih lanjut, Lenin
adalah pencetus teori pers komunis dan Stalinlah yang menerapkan
ajaran Lenin. Stalinlah yang membuat lembaga sensor, penekanan-
penekanan, dan sebagainya, sedangkan Krushcev lebih menyadari
bahwa pers itu ternyata dapat juga menjadi forum pertukaran
pendapat.

Fokus Kita :
Didalam sistem pers komunis dikenal adanya lembaga kontrol
atau lembaga sensor yang diberi nama Glavit yang bertugas
antara lain mengawasi bahan-bahan pers yang akan dipublikasikan
dan tugas-tugas untuk mengamankan politik ideologis dan
14

Secara ringkas tentang fungsi pers di bekas negara Uni Soviet


(Rusia) seperti yang ditulis oleh F. Rachmadi , adalah sebagai
berikut :
1) Pers sebagai alat propaganda, agitator, dan organisator kolektif.
2) Pers merupakan tempat pendidikan kader-kader komunis di
kalangan masa.
3) Pers bertugas sebagai lembaga yang memmobilisasi dan
berorganisir masa untuk pembangunan ekonomi.
4) Pers menerapkan dan menyiarkan semua dekrit, keputusan,
intruksi yang di keluarkan oleh Komite Sentral Partai maupun oleh
Pemerintah Rusia serta bahan publikasi lain dari pemerintah.
5) Pers berfungsi sebagai alat untuk melakukan kontrol dan kritik.
Sesuai dengan fungsi dan peranan pers di Rusia, mereka tidak
mementingkan pemberitaan, karena badan sensor tidak akan
memberi izin untuk memberitakan kejadian-kejadian penting yang
tidak dikehendaki, serta menghindari pemberitaan-pemberitaan
tentang hak asasi manusia.

c. Karakteristik Pokok Pers Barat dan Pers Komunis


Sistem pers sebagaimana sistem-sistem yang lain di berbagai
negara, memiliki ciri khas atau karakteristik masing-masing. Berikut
ini, perbandingan karakteristik pers Barat dan pers Komunis/Sosialis.

Perbandingan Karakteristik Sistem Pers


Pers Barat Pers Komunis
1. Mengagung-agungkan 1. Sistem pers Komunis/
kebebasan pers yang seluas- Sosialis didasari oleh
luasnya, karena mereka ajaran Marxisme/
merasa bahwa kebebasan pers Leninisme.
berkaitan erat dengan
kebebasan politik (asas
Demokrasi). Pers memiliki
peranan penting di dalam 2. Pers berada di tangan
sistem politik modern. partai komunis dan
2. Hubungan pers dan pemerintah menjadi organ
adalah saling berhadapan propaganda dan agitasi
(adversary theory), dengan partai untuk mencapai
persaingan yang sama. Pers masyarakat komunis
bebas dari campur tangan internasional. Kekua-saan
pemerintah dan sebaliknya. ada ditangan satu partai,
Demikian pula hubungan yaitu partai komunis
dengan masyarakat, keduanya dengan sistem
sama-sama saling pengendalian media
membutuhkan. Tanpa saling masa secara sentral.
menunjang, maka baik pers
maupun masyarakat akan 3. Kebebasan pers secara
15

sama-sama kehilangan mata formal di jamin dalam


rantai kehidupan. konstitusi, tetapi di dalam
praktiknya terdapat
3. Media masa, khususnya pers,
penekanan-penekanan,
sebagai ajang bisnis besar (di
dengan di ciptakannya
Amerika Serikat). Pelayanan
lembaga sensor yang di
pokok terhadap kemajuan
sebut “GLAVIT”.
bidang ekonomi, adalah bahwa
pers mampu menjangkau
konsumen yang luas untuk
mengiklankan suatu produk. 4. Kebebasan hanya ada
Tanpa iklan, produk industri pada kaum proletar, yaitu
tidak akan dikenal oleh kaum buruh. Menurut
konsumen. Lenin, sistem pers yang
berlaku di Soviet adalah
4. Angka sirkulasi surat kabar
pers yang melayani
sangat tinggi. Ratio antara
kepentingan kaum buruh.
surat kabar dengan penduduk
berbanding 1 : 3, bahkan ada 5. Kebebasan individu
yang mencapai 1: 2. Sirkulasi dibatasi dan
surat kabar yang besar itu masyarakatnya bersifat
ditunjang oleh sistem disribusi tertutup.
yang baik pula.
5. Media masa khusunya pers,
mempunyai pengaruh yang
kuat terhadap kehidupan sosial
dan politik dalam masyarakat.
6. Reading habit masyarakat
tinggi, ditunjang oleh
pendapata per kapita yang
tinggi pula.
7. Teknik persurat kabaran sangat
modern, ditunjang oleh
teknologi komunikasi yang
canggih.

4. Sistem Pers di Negara-Negara Berkembang

a. Pengertian
Sebagian besar negara-negara berkembang adalah negara-negara
yang baru merdeka setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua yang
ada pada kawasan benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Kehadirannya ada yang lahir melalui perjuangan kemerdekaan
(seperti Indonesia, Vietnam, Aljazair), ada pula yang merupakan
pemberian dari negara penjajahnya seperti India, dan Malaysia.
Akibat cara memperoleh kemerdekaan yang berbeda, hal ini sangat
16

berpengaruh terhadap sosial, ekonomi, politik dan budaya serta


sistem pers negara yang bersangkutan. Pers di negara-negara
berkembang pun berada dalam proses perubahan nilai-nilai lama ke
nilai-nilai baru yang lebih bersifat nasionalisme.
Namun ironisnya setelah terbentuknya pemerintahan sendiri yang
berdaulat, sebagian negara-negara berkembang tersebut masuk
kembali dalam pusaran penjajahan. Bedanya, penjajahan kali ini
dilakukan oleh pemerintahan sendiri yang dipimpin oleh pemimpin
yang otoriter. Para pemimpin otoriter ini melakukan kontrol terhadap
segenap kehidupan masyarakat dan sebaliknya, berupaya
membebaskan pemerintahannya dari kontrol masyarakat.

Fokus Kita :
Penduduk di negara-negara berkembang dengan jumlah lebih
kurang 70 % dari penduduk dunia, hanya sekitar 26% yang
mengkonsumsi surat kabar dari total sirkulasi surat kabar di dunia.
Hal ini menunjukkan, bahwa minat baca (reading habit) penduduk
negara-negara berkembang masih sangat rendah yang disebabkan
karena angka tuna aksara (buta huruf) masih tinggi dan
Lembaga pers juga tidak lepas dari pengaruh dan kontrol
pemerintah. Hal ini tidak dapat dihindarkan dari kenyataan bahwa
pers dapat menjadi pembentuk opini publik. Jika kritisme pers dapat
dibungkam, besar kemungkinan kendali terhadap segenap kehidupan
rakyat akan tergenggam aman di tangan penguasa.

b. Sistem Pers dan Karakteristiknya di


Negara-negara Berkembang
Sistem politik dan sistem pemerintahan di negar-negara
berkembang pada umumnya masih mengikuti atau meneruskan
sistem pemerintahan/sistem politik negara bekas penjajahnya dengan
beberapa penyesuaian, termasuk pula pada sistem persnya. Pers di
negara-negara berkembang hingga kini, kebanyakan berada dalam
proses transisi dan transformasi dari nilai-nilai lama (kolonial) ke nilai-
nilai baru (nasional).
Dengan demikian berarti mereka berada dalam proses mencari
bentuk yang paling tepat, atau sedang berusaha keras untuk
menemukan indentitas dirinya. Ciri-ciri khusus sistem pers pada
negara-negara berkembang umumnya adalah sebagai berikut :
1) Sistem persnya cenderung mengikuti sistem pers negara bekas
penjajahnya.
2) Pers di negara berkembang sampai saat ini berada dalam bentuk
transisi. Ia masih berusaha mencari bentuk yang tepat atau
mencari identitas. Karena masih dalam taraf transisi, maka pers
negara berkembang biasanya kurang stabil.
17

3) Negara berkembang umumnya sedang membangun. Hal ini


menyebabkan pers dituntut untuk bisa berperan sebagai “agent of
social change” di mana pers bersma-sama pemerintah mempunyai
tanggung jawab atas keberhasilan pembangunan.
4) Secara umum kebebasan pers di negara berkembang diakui
keberadaannya, tetapi dalam pelaksanaannya terdapat
pembatasan-pembatasan. Hal ini disebabkan oleh karena pers
dituntut untuk ikut menjamin atau mengusahakan stabilitas politik
dan ikut serta dalam pembangunan ekonomi. Pada umumnya,
sistem persnya menganut sistem tanggung jawab sosial (social
responsibility ).
5) Pada umumnya, pers di negara berkembang mengalami masalah
yang sama di bidang komunikasi, yaitu; ketimpangan informasi,
monopoli, dan pemusatan yang berlebihan dari sumber dan jalur
komunikasi. Hal ini mengakibatkan adanya dominasi negara maju
atas negara berkembang di bidang informasi dan komunikasi.
6) sistem dan pola hubungan antara pers dan pemerintah
mempunyai tendensi perpaduan antara sistem-sistem yang ada
(libertarian, authoritarian, social responsibility, dan lain-lain.).

Carilah sumberPraktik
Penugasan informasi lain baik dari
2 buku, koran, majalah,
internet, buletin dan sebagainya, kemudian lakukan hal-hal berikut :
Kewarganegaraan
Rumuskan kembali pemahaman tentang “Sistem Pers” yang
diterapkan di beberapa negara (Barat, Komunis dan
Berkembang) !
Berikan alasan penjelasan, mengapa sistem pers di negara-
negara barat (terutama di Amerika Serikat yang berfalsafah
liberalisme) ada tidak sependapat dengan kebebasan pers yang
ada !
Berikan alasan penjelasan, mengapa di negara-negara
Komunis pada umumnya, kebebasan pers sulit diwujudkan !
Tulisakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) karakteristik sistem
pers di negara-negara berkembang pada umumnya !
Berikan penjelasan, bagaimana hubungan antara
keberadaan pers yang bebas dan bertanggung jawab dengan
hak asasi manusia dan demokrasi !

Sifat, Fungsi dan Peranan Pers

a. Sifat Pers
18

Ideologi atau falsafah yang dianut setiap negara, akan


berpengaruh terhadap sifat pers yang ada di negara tersebut. Oleh
sebab itu, sifat pers antara satu negara dengan negara lainnya tidak
sama. Hingga sekarang paling tidak terdapat 6 (enam) sifat pers
yang penerapannya berbeda, yaitu dapat dilihat berikut ini :

N Sifat Pers Contoh


Keterangan/Uraian
o (Falsafah) Negara
1. Liberal Kebebasan pers dipersepsikan Amerika
Democration sebagai kebebasan yang tanpa Serikat,
press (Pers batas. Artinya, kritik dan Inggris, &
Demokrasi komentar pers dapat dilakukan negara-
liberal). kepada siapa saja, termasuk negara
kepada kepala negara sekalipun. Eropa.
Presiden Amerika Serikat, Richard
Nixon misalnya, tumbang setelah
dihujat habis-habisan pers AS,
karena skandal “ watergate-nya”.

2. Communist Terbentuk karena latar belakang Rusia,


Press (Pers pemerintahan negaranya yamg Cina, Kuba,
Komunis) menitik beratkan pada kekuasaan Korea
tunggal Partai Komunis. Dengan Utara, dan
demikian, suara pers harus sama lain-lain.
dengan suara partai komunis yang
berkuasa, dan wartawannya
adalah orang-orang yang setia
kepada partai komunis. Pers
komunis umumnya berada di
negara-negara sosialis yang
menganut ideologi komunis atau
marxisme.

3. Authoritaria Terlahir dari negara penganut Jerman


n Press politik fasis, dimana pemerintah (Adolf
(Pers berkuasa secara mutlak. Pers Hitler) dan
Otoriter ) Otoriter terjadi pada saat Italia
pemerintahan Nazi Jerman (1936- (Musolini)
1945) yang sangat terkenal
kekejamannya. Pers dilarang
melakukan kritik dan kontrol
kepada pemerintah. Pers hanya
untuk kepentingan penguasa.

4. Freedom Istilah ini semula merupakan


and slogan dari negara-negara barat,
Responsibili yang menginginkan kebebasan
ty Perss pers harus dipertanggungjawabkan
(Pers kepada kehidupan bermasyarakat.
19

Bebas dan Akan tetapi karena negara-negara


Bertanggun tersebut masing-masing
g-jawab) mempunyai pandangan berbeda
terhadap pengertian bebas, maka
kebebasan pers disetiap negara
menjadi berbeda pula, tergantung
pada bobot yang dianut oleh
masimg-masimh negara.

5. Developmen Dimunculkan oleh para jurnalis Indonesia,


t Press dari negara-negara yang sedang dan
(Pers berkembang (development negara-
Pembangun country) dengan alasan karena negara
an) sedang giat-giatnya melakukan Asia, Afrika
pembangunan. Namun masing- dan
masing negara tersebut memiliki Amerika
arah dan tujuan pembangunan Latin.
yang berbeda. Untuk menyamakan
pandangan terhadap pers
pembangunan, Wilbur Schramm
memberi-kan batasan sebagai
berikut :
a. Pers harus dapat menciptakan
iklim pem-bangunan di
negaranya.
b. Pers harus mampu
mengarahkan perha-tian
masyarakat dari kebiasaan
lama menjadi perilaku yang
lebih maju lagi.
c. Pers harus mampu memperluas
panda-ngan (cakrawala) bagi
masyarakatnya.
d. Pers harus dapat meningkatkan
aspirasi dan mendorong
masyarakat berpola pikir
kearah kehidupan yang lebih
baik lagi.
e. Pers harus bisa memperlebar
tukar piki-ran (diskusi) dan
kebijakan (policy).
f. Pers harus mampu
menetapkan norma sosial.
g. Pers harus mampu membantu
secara substansial dari semua
jenis kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
20

6. Five Dilahirkan oleh bangsa Indonesia Indonesia


Foundation karena falsafah negaranya adalah
Press (Pers Pancasila. Sampai sekarang belum
Pancasila) ditemukan definsi yang tepat.
Beberapa tokoh pers, memberi
ancar-ancar sifat pers Pancasila itu
adalah pers yang melihat segala
sesuatu secara proposional. Pers
Pancasila mencari keseimbangan
dalam berita atau tulisannya demi
kepentingan dan kemaslahatan
semua pihak sesuai dengan
konsensus demokrasi Pancasila.

b. Misi dan Fungsi Pers


Pers sesungguhnya lebih dikenal sebagai Lembaga
Kemasyarakatan (social institution). Sebagai lembaga sosial, pers
mempengaruhi pola pikir dan kehidupan masyarakat, tetapi
sebaliknya masyarakat juga berpengaruh terhadap pers. Pers dapat
mempengaruhi masyarakat karena ia sebagai komunikator massa.
Pers berusaha menyampaikan informasi dengan sesuatu yang baru,
karena masyarakat sebagai konsumen pers, sangat selektif dalam
memilih informasi.
Pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang
pengumpulan dan penyebaran informasi mempunyai misi sebagai
berikut :
1) Ikut mencerdaskan masyarakat,
2) Menegakkan keadilan,
3) Memberantas kebatilan.

Fokus Kita :
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,
pada Pasal 3 antara lain disebutkan pers nasional berfungsi sebagai
media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial dan dapat juga
sebagai lembaga ekonomi.
Dalam tulisan Kusman Hidayat yang berjudul “Dasar-dasar
Jurnalistik/Pers“ menyatakan bahwa Pers mempunyai 4 (empat)
fungsi sebagai berikut :
1) Fungsi Pendidik, yaitu melalui karya-karya tercetaknya dengan
segala isi, baik langsung ataupun tidak langsung dengan sifat
keterbukaannya, membantu masyarakat meningkatkan
budayanya. Segala peristiwa yang dimuat pers, masyarakat bisa
menilai sendiri hal ihwal sebagai teladan bagi kehidupannya.
Melalui rubrik-rubrik khusus, seperti ruang kebudayaan atau ruang
ilmu pengetahuan, dapat menambah pengetahuan masyarakat.
21

2) Fungsi Penghubung, dengan ciri universalitasnya, pers


merupakan sarana lalu-lintas hubungan antar manusia. Melalui
pers akan tumbuh saling pengertian atau dapat digunakan oleh
lembaga-lembaga kemasyarakatan untuk menumbuhkan kontak
antar manusia agar tercipta saling pengertian dan saling tukar
pandangan bagi perkembangan dan kemajuan hidup manusia.
3) Fungsi Pembentuk Pendapat Umum; melalui rubrik-rubrik dan
kolom-kolom tertentu seperti tajuk rencana, pikiran pembaca,
pojok, dan lain-lain, merupakan suatu ruang untuk memberikan
pandangan atau pikiran kepada khalayak pembaca.
4) Fungsi Kontrol, dengan fungsi ini pers berusaha melakukan
bimbingan dan pengawasan kepada masyarakat tentang tingkah
laku yang benar atau tingkah laku yang tidak dikehendaki oleh
khalayak.
Bonus Info Kewarganegaraan

Menurut Mochtar Lubis, di negara-negara berkembang pers


mempunyai 5 (lima) fungsi, yaitu :
a. Fungsi pemersatu, yakni memperlemah tendensi
perpecahan, baik perpecahan sosial maupun kultural.
b. Fungsi pendidik, artinya memberikan informasi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, do samping
menunjukkan betapa kemajuan IPTEK itu dapat dimanfaatkan
untuk mencapai kesejahteraan material dan spiritual.
c. Fungsi “public watch dog “ atau penjaga kepentingan
umum. Dalam hal ini pers harus melawan setiap
penyalahgunaan kekuasaan dana korupsi, menentang setiap
kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat, serta
menyuarakan kepentingan kelompok kecil rakyat yang tidak
dapat menyuarakan kehendaknya.
d. Fungsi mengapuskan mitos dan mistik dari kehidupan
politik negara-negara berkembang.
e. Fungsi sebagi forum untuk membicarakan masalah-masalah
politik yang dihadapi oleh negar-negara Asia, dan
menumbuhkan dialog agar timbul pemecahan masalah yang
dihadapi bersama.

c. Peranan Pers
Di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,
disebutkan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai
berikut :
1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.
22

2) Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya


supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati
kebhinekaan.
3) Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang
tepat, akurat dan benar.
4) Melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal
yang berkaitan dengan kepentingan umum.
5) Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Fokus Kita :
Pers dalam menjalankan fungsi, tugas dan peranannya
menghadapi banyak tantangan dan masalahnya sendiri. Pers
ditantang untuk bekerja lebih profesional sesuai kode etik
jurnalistik, dan dilain pihak pers menghadapi masalah bagaimana

Sedangkan menurut Jacob Utama, dalam konteks masyarakat


Indonesia pers mempunyai peranan khusus sebagai berikut :
1) Tugas untuk memperkuat dan mengkreatifkan konsensus-
konsensus dasar nasional. Ini penting karena umumnya negara
sedang berkembang adalah bangsa yang masih membutuhkan
konsensus dasar bagi perekat integrasi nasional. Itulah
infrastruktur kejiwaaan bagi pembangunan bangsa.
2) Pers perlu mengenali masalah-masalah sosial yang peka dalam
masyarakatnya. Bukan untuk didiamkan, tetapi juga bukan serta
merta diberitakan begitu saja. Perlu diusahakan pemecahannya
bersama pemerintah dan masyarakat secara bijaksana dengan
tetap berorientasi maju.
3) Pers perlu menggerakkan prakarsa masyarakat, memperkenalkan
usaha-usahanya sendiri, menemukan potensi-potensinya yang
kreatif dalam usaha memperbaiki peri kehidupannya.
4) Pers menyebarluaskan dan memperkuat rasa mampu masyarakat
untuk mengubah nasibnya sendiri.
5) Penugasan Praktik serta korupsi dilaporkan
Kekurangan, kegagalan, 3 bukan untuk
Setelah mempelajari
Kewarganegaraan materi-materi
merusak dan membangunkan tentang
rasa : Sifat,
pesimis, tetapi Fungsi dan
untuk koreksi
Peranan Pers, lakukan
dan membangkitkan StrategidanPembelajaran
kegaairahan selalu melangkah dengan
maju.
Penugasan Cooperative Integrated Reading and Composition
Karena itu harus bersedia mengoreksi diri dan dikoreksi.
(CIRC) atau Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis.
Langkah-langkah :
Bentuk kelompok dengan anggotanya antara 4 – 5 orang.
Diberikan “wacana” atau kliping sesuai dengan topik
pembelejaran.
Setiap kelompok bekerja sama saling membacakan dan
menemukan ide pokok serta memberi tanggapan terhadap
wacana/kliping, dan ditulis pada lembar kertas.
Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok.
Buatlah kesimpulan bersama.
23

6. Perkembangan Pers di Indonesia

a. Pers Jaman Penjajahan Belanda


Pemerintah penjajah Belanda sejak menguasai Indonesia,
mengetahui dengan benar pengaruh surat kabar terhadap
masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu dipandang perlu membuat
undang-undang khusus untuk membendung pengaruh pers Indonesia,
karena merupakan momok yang harus diperangi.
Saruhum dalam tulisannya yang berjudul “Perjuangan Surat
Kabar Indonesia” yang dimuat dalam sekilas “Perjuangan Surat
Kabar”, menyatakan: “Maka untuk membatasi pengaruh momok ini,
pemerintah Hindia Belanda memandang tidak cukup mengancamnya
saja denagn Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Setelah ternyata
dengan KUHP itu saja tidak mempan, maka diadakanlah pula artikel-
artikel tambahan seperti artikel 153 bis dan ter. 161 bis dan ter. dan
artikel 154 KUHP. Hal itu pun belum dianggap cukup, sehingga
diadakan pula Persbreidel Ordonantie, yang memberikan hak
kepada pemerintah penjajah Belanda untuk menghentikan penerbitan
surat kabar /majalah Indonesia yang dianggap berbahaya”.
Tindakan lain, di samping Persbeidel Ordonantie adalah Haatzai
Artikelen, karena pasal-pasalnya mengancam hukuman terhadap
siapapun yang menyebarkan perasaan permusuhan, kebencian serta
penghinaan terhadap pemerintah Nederland dan Hindia Belanda
(Pasal 154 dan 155) dan terhadap sesuatu atau sejumlah kelompok
penduduk di Hindia Belanda (Pasal 156 dan 157). Akibatnya, banyak
korban berjatuhan, antara lain S.K. Trimurti, sampai melahirkan di
penjara, bahkan ada yang sampai di buang ke Boven Digul.
Demikian juga jaman pendudukan Jepang yang totaliter dan
facistis, orang-orang surat kabar (pers) Indonesia banyak yang
berjuang tidak dengan ketajaman penanya (tulisan), melainkan
menempuh cara dan jalan lain (misalnya melalui organisasi
keagamaan, pendidikan, politik, dan sebagainya). Hal ini
menggambarkan bahwa kehidupan pers ketika itu sangat tertekan.
24

Bonus Info Kewarganegaraan


Surat kabar sebagai senjata untuk menyebarkan cita-cita sudah
dikenal di dalam sejarah dunia. Julius Caesar sebagai pendiri
kemaharajaan Romawi pada abad sebelum masehi, sudah
mengetahui betapa pentingnya surat kabar sebagai senjata yang
tajam, sehingga ia menganjurkan untuk menerbitkan surat kabar
“Acta Diurna”.
Napoleon Bonaparte pun menerbitkan surat kabar untuk
mempertahankan pendiriannya dan menyerang musuh-musuhnya.
Pers tertua berbahasa Melayu Indonesia antara lain :
Bromartani (Solo, 1855), Djurumartini (1864), Darmo Kondo (1903)
yang menjadi harian tahun 1910, juga harian Pewarta Deli (1912)
di Medan.

b. Pers di Masa Pergerakan


Masa pergerakan adalah masa bangsa Indonesia berada pada
detik-detik terakhir penjajahan Belanda sampai saat masuknya Jepang
menggantikan Belanda. Pers pada masa pergerakan tidak bisa
dipisahkan dari kebangkitan nasional bangsa Indonesia melawan
penjajahan.
Setelah munculnya pergerakan modern Budi Utomo tanggal 20
Mei 1908, surat kabar yang dikeluarkan orang Indonesia lebih banyak
berfungsi sebagai alat perjuangan. Pers saat itu merupakan
“terompet” dari organisasi pergerakan orang Indonesia. Surat kabar
nasional menjadi semacam parlemen orang Indonesia yang terjajah.
Pers menyuarakan kepedihan, penderitaan dan merupakan refleksi
dari isi hati bangsa terjajah. Pers menjadi pendorong bangsa
Indonesia dalam perjuangan memperbaiki nasib dan kedudukan
bangsa.
Beberapa contoh harian yang terbit pada masa pergerakan, antara
lain sebagai berikut:
1) Harian “Sedio Tomo” sebagai kelanjutan harian Budi Utomo yang
terbit di Yogyakarta didirikan bulan Juni 1920.
2) Harian “Darmo Kondo” terbit di Solo, yang dipimpin oleh Sudarya
Cokrosisworo.
3) Harian “Utusan Hindia” terbit di Surabaya, yang dipimpin oleh
HOS. Cokroaminoto.
4) Harian “Fadjar Asia” terbit di Jakarta, dipimpin oleh Haji Agus
Salim.
5) Majalah mingguan “Pikiran Rakyat” terbit di Bandung, didirikan
oleh Ir. Soekarno.
6) Majalah berkala “Daulah Rakyat”, dipimpin oleh Moch. Hatta dan
Sutan Syahrir.
25

Karena sifat dan isi pers pergerakan anti penjajahan, pers


mendapat tekanan dari pemerintah Hindia Belanda. Salah satu cara
pemerintah Hindia Belanda saat itu adalah dengan memberikan hak
kepada pemerintah untuk memberantas dan menutup usaha
penerbitan pers pergerakan. Pada masa pergerakan itu berdirilah
Kantor Berita Nasional Antara pada tanggal 13 Desember 1937.

c. Pers di Masa Penjajahan Jepang


Jepang menduduki Indonesia selama kurang lebih 3,5 tahun. Untuk
meraih simpati rakyat Indonesia, Jepang melakukan propaganda
tentang Asia Timur Raya. Namun, propaganda itu hanyalah demi
kejayaan Jepang belaka. Sebagai konsekuensinya, seluruh sumber
daya Indonesia diarahkan untuk kepentingan Jepang.

Fokus Kita :
Pada masa penjajahan Jepang, boleh dikatakan pers nasional
mengalami kemunduran besar. Pers nasional yang pernah hidup di
jaman pergerakan secara sendiri-sendiri dipaksa bergabung untuk
tujuan yang sama, yaitu mendukung kepentingan Jepang.

Pers di masa pendudukan Jepang semata-mata menjadi alat


pemerintah Jepang dan bersifat pro Jepang. Beberapa harian yang
muncul pada masa itu, antara lain:
1) Asia Raya di Jakarta
2) Sinar Baru di Semarang
3) Suara Asia di Surabaya
4) Tjahaya di Bandung
Pers nasional masa pendudukan Jepang memang mengalami
penderitaan dan pengekangan kebebasan yang lebih daripada jaman
Belanda. Namun, ada beberapa keuntungan yang didapat oleh para
wartawan atau insan pers di Indonesia yang bekerja pada penerbitan
Jepang, antara lain sebagai berikut:
1) Pengalaman yang diperoleh para karyawan pers Indonesia
bertambah. Fasilitas dan alat-alat yang digunakan jauh lebih
banyak daripada masa pers jaman Belanda. Para karyawan pers
mendapat pengalaman banyak dalam menggunakan berbagai
fasilitas tersebut.
2) Penggunaan Bahasa Indonesia dalam pemberitaan makin sering
dan luas. Penjajah Jepang berusaha menghapuskan bahasa
Belanda dengan kebijakan menggunakan bahasa Indonesia dalam
berbagai kesempatan. Kondisi ini sangat membantu
perkembangan bahasa Indonesia yang nantinya juga menjadi
bahasa nasional.
3) Adanya pengajaran untuk rakyat agar berpikir kritis terhadap
berita yang disajikan oleh sumber-sumber resmi Jepang. Selain itu,
26

kekejaman dan penderitaan yang dialami pada masa pendudukan


Jepang memudahkan para pemimpin bangsa memberikan
semangat untuk melawan penjajahan.

d. Pers di Masa Revolusi Fisik


Periode revolusi fisik terjadi antara tahun 1945 sampai 1949. Masa
itu adalah masa bangsa Indonesia berjuang mempertahankan
kemerdekaan yang berhasil diraihnya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Belanda ingin kembali menduduki Indonesia, sehingga terjadilah
perang mempertahankan kemerdekaan. Pada saat itu, pers terbagi
menjadi dua golongan, yaitu :
1) Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh tentara pendudukan
Sekutu dan Belanda yang selanjutnya dinamakan Pers Nica
(Belanda).
2) Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh orang Indonesia yang
disebut Pers Republik.
Kedua golongan ini sangat berlawanan. Pers Republik disuarakan
oleh kaum Republik, yang berisi semangat mempertahankan
kemerdekaan dan menentang usaha pendudukan Sekutu. Pers ini
benar-benar menjadi alat perjuangan masa itu. Sebaliknya, Pers Nica
berusaha mempengaruhi rakyat Indonesia agar menerima kembali
Belanda untuk berkuasa di Indonesia.
Beberapa contoh Koran Republik yang muncul pada masa itu,
antara lain harian “Merdeka”, “Sumber”, “Pemandangan”,
“Kedaulatan Rakyat”, “Nasional” dan “Pedoman”. Jawatan
Penerangan Belanda menerbitkan Pers Nica, antara lain “Warta
Indonesia” di Jakarta, “Persatuan” di Bandung, “Suluh Rakyat” di
Semarang, “Pelita Rakyat” di Surabaya dan “Mustika” di Medan. Pada
masa revolusi fisik inilah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan
Serikat Pengusaha Surat Kabar (SPS) “lahir”. Kedua organisasi ini
mempunyai kedudukan penting dalam sejarah pers Indonesia.
Pemerintah republik Indonesia untuk pertama kali mengeluarkan
peraturan yang membatasi kemerdekaan pers terjadi pada tahun
1948. Menurut Smith, “dalam kegembiraan kemerdekaan ini, pers
dan pemerintah bekerja bergandengan tangan erat sekali dalam
seratus hari pertama masa merdeka itu”.

Fokus Kita :
Pejabat pemerintah pada awalnya menyuarakan perasaan yang
tepat bahwa kebebasan pers merupakan sesuatu yang mutlak bagi
kebebasan jiwa manusia, keharusan bagi martabat manusia, dan
menjdi dasar bagi proses demokrasi. Namun belakangan akibat
kritikan pers yang pedas, timbul pemaksaan agar pers tunduk di
27

Pemerintah memperlihatkan itikad baik terhadap pers dan


berusaha membantunya dengan mengimpor dan mensubsidi kertas
koran dan dengan memberikan pinjaman keuangan. Pada awalnya
semua berjalan lancar, namun saat pers mulai bertindak dengan
menyerang pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat sampai pada
presiden sendiri, nampaknya pemerintah yang baru ketika itu belum
dapat menerima kritikan yang pedas.
Sesuai dengan fungsi, naluri dan tradisinya, pers harus menjadi
penjaga kepentingan publik (public watch dog). Pers telah
menyampaikan saran-saran yang amat diperlukan oleh pemerintah.
Kritik-kritik pers yang pedas dan menjengkelkan, menjadi beban
pemerintah yang terlampau berat, sehingga pemerintah mulai
memukul balik kepada pers. Konflik keduanya berkembang menjadi
pertentangan permanen dan pers dipaksa tunduk di bawah
kekuasaan pemerintah.
Untuk menangani masalah-masalah pers, pemerintah membentuk
Dewan Pers pada tanggal 17 Maret 1950. Dewan Pers tersebut
terdiri dari orang-orang persuratkabaran, cendikiawan, dan pejabat-
pejabat pemerintah, dengan tugas:
1) Penggantian undang-undang pers kolonial,
2) Pemberian dasar sosial ekonomis yang lebih kuat kepada pers
Indonesia (artinya, fasilitas-fasilitas kredit dan mungkin juga
bantuan pemerintah),
3) Peningkatan mutu jurnalisme Indonesia,
4) Pengaturan yang memadai tentang kedudukan sosial dan hukum
bagi wartawan Indonesia (artinya, tingkat hidup dan tingkat gaji,
perlindungan hukum, etik jurnalistik dan lain-lain).
Namun akibat kekuasaan pemerintah yang tidak terlawan,
menyebabkan organisasi-organisasi pers tidak berkutik. Tidak tampak
bukti bahwa lembaga-lembaga ini berhasil membelokkan jalannya
kegiatan-kegiatan anti pers, secara berarti.

Bonus Info Kewarganegaraan

Edward C. Smith dalam bukunya “Pembredelan Pers


Indonesia” mengutip Ruslan Abdulgani ketika berbicara tentang
krisis keadaan Republik Indonesia sedang bertempur pada tahun
1948, ia mengusulkan :
“Dalam masa belum tercapainya kesatuan ini -- yang
mencapai puncaknya pada peristiwa Madiun (pemberontakan
Komunis) -- Republik Indonesia mengeluarkan peraturannya yang
pertama yang membatasi kemerdekaan pers. Yang terkenal ialah
pembatasan yang dikenakan terhadap surat-surat kabar yang ada
28

hubungannya dengan FDR (Front Demokrasi Rakyat) (Komunis),


seperti Harian Patriot, Buruh dan Suara Ibu Kota. Sebaliknya, FDR
ketika terjadi perebutan kekuasaan di Madiun, mengenakan
pembatasan terhadap surat kabar Api Rakyat untuk
memungkinkan “Front Nasional” dapat didengar masyarakat.
Pembatasan yang mencerminkan sikap tidak toleran di
kalangan kelompok militer yang baru, dan ketidaksenangan
mereka terhadap kecaman pers nasional , ialah pelarangan
selama beberapa minggu surat kabar Suara Rakyat Kediri,
mengakibatkan tutupnya surat kabar ini”.

e. Pers di Era Demokrasi Liberal (1949-1959)


Di era demokrasi liberal, landasan kemerdekaan pers adalah
Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS 1949) dan Undang-Undang
Dasar Sementara (1950). Dalam Konstitusi RIS -- yang isinya banyak
mengambil dari Piagam Pernyataan Hak Asasi Manusia sedunia
Universal Declaration of Human Rights, -- pada pasal 19 menyebutkan
“Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan
pendapat”. Isi pasal ini kemduain dicantumkan kembali dalam
Undang-Undang Dasar Sementara (1950).

Fokus Kita :
Pers di Zaman Liberal (1950-1959) sesuai dengan struktur politik
yang berlaku pada waktu itu, lebih banyak menimbulkan akibat-
akibat negatif daripada positif. Selama periode tahun 1952-1959
menurut catatan Edward C. Smith, terjadi tindakan anti pers
sebanyak 374 kali, dan yang terbanyak selama tahun 1957, yaitu

Awal pembatasan terhadap kebebasan pers adalah efek samping


dari keluhan para wartawan terhadap pers Belanda dan Cina.
Pemerintah mulai mencari cara membatasi penerbitan itu, karena
negara tidak akan membiarkan ideologi “asing” merongrong Undang-
undang Dasar. Pada akhirnya pemerintah melakukan pembredelan
pers, dengan tindakan-tindakannya yang tidak terbatas pada pers
asing saja.
Pertanda akan terjadinya pembatasan terhadap kebebasan pers,
terbaca dalam artikel Sekretaris Jenderal Kementrian Penerangan,
Ruslan Abdulgani, yang antara lain : “...khusus di bidang pers
beberapa pembatasan perlu dikenakan atas kegiatan-kegiatan
kewartawanan orang-orang asing...”. Pernyataan di atas ditindak
lanjuti dengan pengesahan Undang-Undang yang mengharuskan para
penerbit Belanda membayar tiga kali lipat untuk kertas koran
ketimbang pers Indonesia.

f. Pers di Zaman Orde Lama atau Pers Terpimpin (1956-1966)


29

Lebih kurang 10 hari setelah Dekrit Presiden R.I. yang menyatakan


kembali ke UUD 1945, tindakan tekanan terhadap pers terus
berlangsung, yaitu pembredelan terhadap Kantor berita PIA dan Surat
Kabar Republik, Pedoman, Berita Indonesia, dan Sin Po yang
dilakukan oleh Penguasa Perang Jakarta.

Fokus Kita :
Di zaman orde lama atau Demokrasi Terpimpin atau era Pers
Terpimpin, pers lebih banyak merupakan alat penguasa daripada
alat penyambung lidah rakyat.

Upaya untuk membatasi kebebasan pers itu tercermin dari pidato


Menteri Muda Penerangan Maladi, ketika menyambut HUT
Proklamasi Kemerdekaan R.I ke-14, antara lain ia menyatakan;
“...Hak kebebasan individu disesuaikan dengan hak kolektif seluruh
bangsa dalam melaksanakan kedaulatan rakyat. Hak berfikir,
menyatakan pendapat, dan memperoleh penghasilan sebagaimana
yang dijamin Undang-Undang Dasar 1945 harus ada batasnya:
keamanan negara, kepentingan bangsa, moral dan kepribadian
Indonesia, serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa”.
Pada awal 1960, penekanan kepada kebebasan pers diawali
dengan peringatan Menteri Muda Penerangan Maladi bahwa
“langkah-langkah tegas akan dilakukan terhadap surat kabar,
majalah-majalah, dan kantor-kantor berita yang tidak mentaati
peraturan yang diperlukan dalam usaha menerbitkan pers nasional”.
Masih pada tahun 1960, penguasa perang mulai mengenakan sanksi-
sanksi perizinan terhadap pers. Demi kepentingan pemeliharaan
ketertiban umum dan ketenangan, penguasa perang mencabut izin
terbit Harian Republik.
Memasuki tahun 1964 kondisi kebebasan pers semakin
memburuk, hal ini digambarkan oleh E.C. Smith dengan mengutip
dari “Army Handbook“ bahwa Kementerian Penerangan dan badan-
badannya mengontrol semua kegiatan pers. Perubahan yang ada
hampir-hampir tidak lebih dari sekedar perubahan sumber wewenang
karena sensor tetap ketat dan dilakukan secara sepihak.
Berdasarkan uraian di atas, tindakan-tindakan penekanan
terhadap kemerdekaan pers oleh penguasa Orde Lama, bertambah
bersamaan dengan meningkatnya ketegangan dalam pemerintahan.
Tindakan-tindakan penekanan terhadap kebebasan pers merosot,
ketika ketegangan dalam pemerintahan menurun. Lebih-lebih setelah
percetakan-percatakan diambil alih oleh pemerintah dan para
wartawan diwajibkan untuk berjanji mendukung politik pemerintah,
sangat sedikit pemerintah melakukan tindakan penekanan kepada
pers.

Bonus Info Kewarganegaraan


30

Tindakan pembatasan terhadap kemerdekaan pers selama


tahun 1959 sama arahnya dengan tahun-tahun sebelumnya,
dengan jumlah tindakan sebanyak 73 kali. Selama 1960 terjadi tiga
kali pencabutan izin terbit, sedangkan pada tahun 1961 mencapai
13 kali. Rincian tindakan penekanan atau tindakan anti pers
selama 14 tahun sejak Mei 1952 sampai dengan Desember 1965,
menurut catatan Edward C. Smith mencapai 561 tindakan.
Pemerintah menekankan bahwa fungsi utama pers ialah
menyokong tujuan revolusi dan semua surat kabar menjadi juru
bicara resmi pemerintah. Hal ini diungkapkan Smith berdasarkan
pandangan Presiden Soekarno ketika berpidato di muka rapat
umum HUT ke-19 PWI, yang dimuat oleh New York Times, antara
lain “...Saya dengan tegas menyatakan sekarang bahwa dalam
suatu revolusi tidak boleh ada kebebasan pers. Hanya pers yang
mendukung revolusi yang dibolehkan hidup”, katanya. “Pers yang
bermusuhan terhadap revolusi harus disingkarkan”.

g. Pers di Era Demokrasi Pancasila dan Orde Baru


Di awal pemerintahan Orde Baru, menyatakan bahwa akan
membuang jauh-jauh praktek demokrasi terpimpin dan menggantinya
dengan Demokrasi Pancasila. Pernyataan tersebut tentu saja
membuat para tokoh politik, kaum intelektual, tokoh umum, tokoh
pers terkemuka dan lain-lain menyambutmya dengan antusias
sehingga lahirlah istilah Pers Pancasila.
Pemerintahan Orde Baru sangat menekankan pentingnya
pemahaman tentang Pers Pancasila. Menurut rumusan Sidang Pleno
XXV Dewan Pers, (Desember 1984) bahwa “Pers Pancasila adalah
pers Indonesia dalam arti pers yang orientasi, sikap dan tingkah
lakunya berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
Hakekat Pers Pancasila adalah pers yang sehat, yakni pers yang
bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai
penyebar informasi yang benar dan obyektif, penyalur aspirasi rakyat
dan kontrol sosial yang konstrukrif”

Fokus Kita :
Memasuki era Orde Baru, pers menyambutnya dengan penuh suka
cita, karena pemerintah memberi kebebasan penuh kepada pers
setelah mengalami masa traumatik selama tujuh tahun di zaman
Orde Lama. Apalagi apabila pemberitaan menyoroti kebobrokan

Masa “bulan madu” antara pers dan pemerintah ketika itu


dipermanis dengan keluarnya Undang-undang Pokok Pers (UUPP)
Nomor 11 Tahun 1966, yang dijamin tidak ada sensor dan
pembredelan, serta penegasan bahwa setiap warga negara
31

mempunyai hak untuk menerbitkan pers yang bersifat kolektif, dan


tidak diperlukan surat izin terbit. Kemesraan tersebut ternyata hanya
berlangsung kurang lebih delapan tahun, karena sejak terjadinya
“Peristiwa Malari” (peristiwa limabelas Januari 1974), kebebasan pers
mengalami set-back (kembali seperti jaman Orde Lama).
Terjadinya Peristiwa Malari tahun 1974, berakibat beberapa
surat kabar dilarang terbit Tujuh surat kabar terkemuka di Jakarta
(termasuk Kompas ) diberangus untuk beberapa waktu dan baru
diijinkan terbit kembali, setelah para pemimpin redaksinya
menandatangani surat pernyataan maaf. Penguasa lebih
menggiatkan larangan-larangan melalui telepon supaya pers tidak
menyiarkan suatu berita, ataupun para wartawan lebih diperingatkan
untuk mentaati kode etik jurnalistik sebagai “selfcensorship”.(saya
memperhitungkan ). Demikian juga pengawasan terhadap kegiatan
pers dan wartawan diperketat. (menjelang ) Sidang MPR-1978.
Pers pasca Malari merupakan pers yang cenderung “mewakili”
kepentingan penguasa, pemerintah atau negara. Pada saat itu pers
jarang, malah tidak pernah melakukan kontrol sosial secara krisis,
tegas dan berani. Pers pasca Malari tidak artikulatif dan mirip dengan
jaman rezim Demokrasi Terpimpin. Perbedaan hanya pada kemasan
yakni rezim Orde Baru melihat pers tidak lebih dari sekedar institusi
politik yang harus diatur dan dikontrol seperti halnya dengan
organisasi massa dan Partai Politik.

Bonus Info Kewarganegaraan

Prof. Oemar Seno Adji, SH dalam bukunya “Mass Media dan


Hukum” menggambarkan kebebasan pers di alam demokrasi
Pancasila, dengan karakteristik sbb:
1. Kemerdekaan pers harus diartikan sebagai kemerdekaan untuk
mempunyai dan menyatakan pendapat dan bukan sebagai
kemerdekaan untuk memperoleh alat-alat dari expression tadi,
seperti dikatakan oleh negara-negara sosialis.
2. Tidak mengandung lembaga sensor preventif.
3. Kebebasan ini bukanlah tidak terbatas, tidak
mutlak dan bukanlah tidak bersyarat sifatnya.
4. Ia merupakan suatu kebebasan dalam
lingkungan batas-batas tertentu, dan syarat-syarat limitatif dan
demokratis, seperti diakui oleh hukum internasional dan ilmu
hukum.
5. Kemerdekaan pers ini dibimbing oleh rasa
tanggung jawab, dan membawa kewajiban-kewajiban yang
untuk pers sendiri disalurkan melalui beroepsthiek mereka.
6. Ia merupakan kemerdekaan yang disesuaikan
dengan tugas pers sebagai kritik adalah negatif karakternya,
32

melainkan pula ia positif sifatnya, apabila ia menyampaikan


“wettige-initiativen “ dari pemerintah.
7. Aspek positif di atas tidak mengandung dan
tidak membenarkan suatu konklusi, bahwa posisinya adalah
“subordinated “ terhadap penguasa politik.
8. Adalah suatu kenyataan, bahwa aspek positif
ini jarang ditemukan oleh kaum Libertarian sebagai suatu unsur
essentiel dalam persoalan mass-communication .
9. Pernyataan, bahwa pers itu tidak
“subordinated ” kepada penguasa politik berarti, bahwa konsep
authoritarian tidak acceptable bagi Pers Indonesia.

10. Konsentrasi perusahaan-perusahaan pers,


bentukan dari “chains “yang bisa merupakan ekspresi dari
kapitalisme yang “ongebreideld “, merupakan suatu hambatan
yang “daadwerkelijk “ dan ekonomis terhadap pelaksanaan
idee kemerdekaan pers. Pemulihan suatu bentuk perusahaan,
entah dalam bentuk co-partnership atau co-operative entah
dalam bentuk lain, yang tidak memungkinkan timbulnya
konsentrasi dari perusahaan pers dalam satu atau beberapa
tangan saja, adalah perlu.
11. Kebebasan pers dalam lingkungan batas
limitatif dan demokratis , dengan menolak tindakan preventif
adalah lazim dalam Negara Demokrasi dan karen aitu tidak
bertentangan dengan idee pers merdeka.
12. Konsentrasi perusahaan-perusahaan yang membahayakan
“performance “ dari pers excessife, kebebasan pers yang
dirasakan berkelebih-lebihan dan seolah-olah memberikan hak
kepada pers untuk misalnya berbohong (the right to lie ),
mengotorkan nama orang (the right to vilify ), the right ti
invade privacy, the right to distort dan lain-lain, dapat dihadapi
dengan rasa tanggung jawab dari pers sendiri. Ia harus
memberikan ilustrasi tentang suatu pers yang bebas, akan
tetapi bertanggung jawab (a free and responsible ).

Kebebasan Pers di Era Reformasi


Sejak masa reformasi tahun 1998, pers nasional kembali
menikmati kebebasan pers. Hal demikian sejalan dengan alam
reformasi, keterbukaan dan demokrasi yang diperjuangkan rakyat
Indonesia. Pemerintahan pada masa reformasi sangat
mempermudah izin penerbitan pers. Akibatnya, pada awal reformasi
banyak sekali penerbitan pers atau koran-koran, majalah atau tabloid
baru bermunculan. Bisa dikatakan pada awal reformasi kemunculan
pers ibarat jamur di musim hujan.
33

Kalangan pers mulai bernafas lega ketika di era reformasi


pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun
1999 tentang Pers. Kendati belum sepenuhnya memenuhi keinginan
kalangan pers, kelahiran undang-undang pers tersebut disambut
gembira, karena tercatat beberapa kemajuan penting dibanding
dengan undang-undang sebelumnya, yaitu Undang-Undang Nomor 21
Tahun 1982 tentang Pokok-Pokok Pers (UUPP).

Fokus Kita :
Pada tanggal 21 Mei 1998 Orde Baru tumbang dan mulailah Era
Reformasi. Tuntutan reformasi bergema di semua sektor kehidupan,
termasuk sektor kehiduan pers. Selama rezim Orde Lama dan
ditambah dengan 32 tahun di bawah rezim Orde Baru, Pers
Indonesia tidak berdaya, karena senantiasa di bawah bayang-

Di dalam Undang-undang Pers yang baru ini, dengan tegas


menjamin adanya kemerdekaan pers, sebagai hak asasi warga
negara (Pasal 4). Itulah sebabnya mengapa tidak lagi di singgung
perlu tidaknya surat izin terbit. Di samping itu ada jaminan lain yang
diberikan oleh undang undang ini, yaitu terhadap pers nasional tidak
di kenakan penyensoran, pembredelan dan pelarangan penyiaran
sebagaima tercantum dalam Pasal 4 ayat (2).
Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum,
wartawan mempunyai hak tolak. Tujuan hak tolak adalah agar
wartawan dapat melindungi sumber informasi, dengan cara menolak
menyebutkan identitas sumber informasi. Hak tersebut dapat
digunakan jika wartawan dimintai keterangan oleh penjabat penyidik
dan atau dimintai menjadi saksi di pengadilan. Hak tolak dapat
dibatalkan demi kepentingan dan keselamatan negara atau
ketertiban umum yang dinyatakan oleh pengadilan.
Pada masa reformasi ini dengan keluarnya Undang-Undang
tentang pers, yaitu Undang- Undang No. 40 Tahun 1999 tentang pers,
maka pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut :
1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan
informasi
2) Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya
supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati
kebhinekaan
3) Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang
tepat, akurat dan benar
4) Melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal
yang berkaitan dengan kepentingan umum
5) Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
34

Bonus Info Kewarganegaraan

Dengan lahirnya Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999, maka


tamatlah riwayat Peraturan Menteri Penerangan Nomor 01 Tahun
1998 yang masih mewajibkan kepada para penerbit untuk memiliki
Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Perusahaan pers tidak
perlu lagi mendaftarkan diri ke Departemen Penerangan untuk
memperoleh SIUPP sebagai mana diatur dalam undang-undang
Pokok Pers Nomor 21 Tahun 1982.
Jadi, jika di era Orde Lama dan Orde Baru, pers sepenuhnya
bertanggung jawab kepada pemerintah, sehingga pers terpaksa
sepenuhnya tunduk pada kemauan pemerintah, sedangkan pers di
era Reformasi pertanggungjawaban adalah kepada profesi dan hati
nurani sebagai insan pes.
Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara,
dan pers bebas dari tindakan pencegahan, pelarangan, dan atau
penekanan agar hak masyarakat untuk memperoleh informasi
terjamin. Kemerdekaan pers adalah kemerdekaan yang di sertai
kesadaran pentingnya penegakkan supremasi hukum yang
dilaksanakan oleh pengadilan, dan tanggung jawab profesi yang
dijabarkan dalam Kode Etik Jurnalistik seta sesuai dengan hati
nurani insan pers.

Carilah sumber informasi lain baik dari buku, koran, majalah,


Penugasan Praktik
internet, buletin dan sebagainya, kemudian4lakukan hal-hal berikut
: Kewarganegaraan
Carilah sumber informasi lain baik dari buku, koran, majalah,
internet, Rumuskan
buletin dan sebagainya,
kembali kemudian
pemahaman lakukan hal-haltentang
anda berikut
: perkembangan kehidupan pers di Indonesia semenjak pra
Rumuskan hingga
kemerdekaan kembali bagaimana
sekarang ini ! suatu bangsa secara
sosiologis maupun politis dapat terbentuk !
Berikan
Berikan penjelasan
penjelasan bagaimana
hubungan antaraperananadanya
pers Indonesia
manusia
pada masa penjajahan Belanda dan Jepang !
dengan terbentuknya bangsa di dalam suatu negara tertentu
! Berikan penjelasan kembali tentang peranan pers di masa
Berikanyang
revolusi penjelasan kembali
dikatakan mengapa
sebagai unsurkepentingan
“penjaga konstitutif,
merupakan
publik” ! unsur mutlak dalam berdirinya suatu negara !
Berikan sekurang-kurangnya 2 (dua) contoh persamaan dan
Berikan
berbedaan sekurang-kurangnya
antara warga negara dengan 2 (dua)
bukanindikator yang
warga negara
mendasar antara peranan pers
berdasarkan hak dan kewajibannya ! pada masa orde lama dan
orde baru !
Identifikasikan kembali dalam bentuk apa sajakah batas
suatu negara dengan
Identifikasikan negara lain
kembali dalam! bentuk apa sajakah
perubahan pers di Indonesia paska rezim orde baru atau era
reformasi dewasa !
PERS YANG BEBAS DAN BERTANGGUNG JAWAB SESUAI KODE
ETIK JURNALISTIK DALAM MASYARAKAT DEMOKRATIS
DI INDONESIA
35

1. Landasan Hukum Pers Indonesia


 Pasal 28 UUD 1945
“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran
dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-
undang”.
 Pasal 28 F UUD 1945
“Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh
informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya,
serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,
mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan
segala jenis saluran yang tersedia”.
 Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia
Lebih rincinya lagi terdapat pada Piagam Hak Asasi Manusia, Bab VI,
Pasal 20 dan 21 yang berbunyi sebagai berikut:
(20) “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh
informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan
sosialnya”.
(21) “Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.
d. Undang-Undang No. 39 Tahun 2000 Pasal 14 Ayat 1 dan 2 tentang
Hak Asasi Manusia
(1) “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh
informasi yang diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan
lingkungan sosialnya”.
(2) “Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan
menggunakan segala jenis sarana yang tersedia”.
 Undang-undang No. 40 Tahun 1999 dalam Pasal 2 dan Pasal 4 ayat 1
tentang pers
Pasal 2 berbunyi, “Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud
kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi,
keadilan dan supremasi hukum”.
Pasal 4 Ayat 1 berbunyi, “Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak
asasi warga negara”.

Fokus Kita :
Lahirnya Undang-Undang Pers yang baru (Nomor 40 Tahun 1999)
atas pertimbangan bahwa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966
tentang Ketentuan-ketentuan pokok pers sebagaimana telah diubah
lagi dengan Undang-undang No. 4 Tahun 1967 dan diubah lagi
dengan Undang-undang No. 21 Tahun 1982, yang dianggap sudah
tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan zaman.
36

Peraturan tentang pers yang berlaku sekarang ini (Undang-Undang


Nomor 40 Tahun 1999 telah diundangkan pada tanggal 23 September
1999 yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999 Nomor 166), memuat berbagai perubahan yang mendasar atas
Undang-Undang pers sebelumnya. Hal ini dimaksudkan agar pers
berfungsi maksimal sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 28 Undang-
Undang Dasar 1945. Fungsi yang maksimal tersebut diperlukan karena
kemerdekaan pers adalah satu perwujudan kedaulatan rakyat dan
merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara yang demokratis.
Pencabutan undang-undang lama yang diganti dengan undang-
undang baru, pada hakekatnya mencerminkan adanya perbedaan nilai-
nilai dasar politis ideologis antara orde baru dengan orde reformasi. Hal
ini tampak dengan jelas dalam konsideran undang-undang pers yang
baru, yang antara lain bahwa undang-undang tentang ketentuan pokok
pers yang lama dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan
zaman. Di samping itu tentang fungsi, kewajiban, dan hak pers dalam
undang-undang yang baru tidak lagi mengkaitkannya dengan
penghayatan dan pengamalan inti P4 (Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila).

Bonus Info Kewarganegaraan


Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya, pers
harus menghormati hak asasi setiap orang. Oleh sebab itu pers
dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol masyarakat, antara
lain: bahwa setiap orang dijamin hak jawab dan hak koreksinya.
Pers memiliki peranan penting dalam mewujudkan Hak Asasi
Manusia (HAM) sebagaimana dijamin di dalam Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998
yang antara lain yang menyatakan “bahwa setiap orang berhak
berkomunikasi dan memperoleh informasi sejalan dengan Piagam
Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hak asasi manusia.” Selanjutnya
dalam Pasal 19 berbunyi, “Setiap orang berhak atas kebebasan
mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk
kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari,
menerima dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui
media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah”.
Pers juga melaksanakan kontrol sosial (social control ) untuk
mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan baik korupsi, kolusi,
nepotisme, maupun penyelewengan dan penyimpangan lainnya.

2. Norma-Norma Pers Nasional


Pers sebagai salah satu unsur mass media yang hadir di tengah-
tengah masyarakat demi kepentingan umum, harus sanggup hidup
bersama-sama dan berdampingan dengan lembaga-lembaga
37

masyarakat lainnya dalam suatu suasana keserasian/sosiologis. Dalam


hal ini, corak hubungan antara satu dengan yang lainnya tidak akan
luput dari pengaruh falsafah yang dianut oleh masyarakat dan bangsa
kita, yakni Pancasila dan struktur sosial dan politik yang berlaku di sini.

Fokus Kita :
Berdasarkan norma-norma keserasian sosiologis yang berpedoman
kepada Pancasila, pers Indonesia dalam pola berpikir dan bekerjanya
tidak akan melepaskan diri dari nilai-nilai gotong-royong yang telah
menjadi ciri khas dari pandangan dan sikap bangsa dan masyarakat.

Dalam melaksanakan fungsinya sehari-hari, partisipasi pers dalam


pembangunan melibatkan lembaga-lembaga masyarakat lainnya yang
lingkup hubungannya, dapat dibagi dalam dua golongan sebagai berikut:
1) Hubungan antara pers dan pemerintah
2) Hubungan antara pers dan masyarakat cq. golongan-golongan dalam
masyarakat.
Hubungan antara pers dan pemerintah terjalin dalam bentuk yang
dijiwai oleh semangat persekawanan (partnership) dalam mengusahakan
terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Dalam alam pembangunan, stabilitas politik, ekonomi dan sosial
merupakan prasyarat untuk suksesnya usaha-usaha pembangunan yang
sedang diselenggarakan. Dalam hal ini hendaknya pers merasa
“terpanggil” untuk membantu pemerintah dalam menjalankan
kekuasaan pemerintahan umum demi kemantapan stabilitas yang
dinamis, tanpa mengurangi hak-haknya memberikan kritik yang sehat
dan konstruktif dalam alam kebebasan yang bertanggung jawab.
Dalam negara yang sedang membangun, pers sebagai lembaga
masyarakat secara implisif perlu juga dibangun. Dalam hal ini,
pemerintah sejauh kemampuannya merasa “terpanggil” untuk
membantu usaha-usaha pers untuk membangun dirinya sendiri, agar
dalam waktu secepat mungkin pers sendiri mampu mengembangkan
dirinya atas dasar kekuatan sendiri.
Jika terjadi perbedaan atau konflik pendapat antara pemerintah
dan pers dalam menjalankan fungsinya masing-masing, maka yang
dijadikan dasar penyelesaian adalah ketentuan-ketentuan hukum
yang berlaku, namun tetap dengan berlandaskan pada itikad baik
untuk menjamin atau menegakkan asas kebebasan pers yang
bertanggung jawab. Hubungan antara pers dan masyarakat dijiwai
semangat dan itikad baik untuk saling membina demi kemajuan masing-
masing.
Dalam menjalankan fungsi-fungsinya sebagai sarana penerangan,
pendidikan umum, kontrol sosial dan hiburan pers menjadi wahana bagi
pembinaan pendapat umum yang sehat. Di satu pihak, pers ikut
menajamkan daya tangkap dan daya tanggap masyarakat terhadap
langkah-langkah kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Di lain pihak,
dengan meningkatkan daya tangkap dan daya tanggap masyarakat
tersebut yang akan tercermin dalam peningkatan secara kualitatif dan
38

kuantitatif pendapat umum yang disuarakan, pers dapat menjadi


wahana untuk menyampaikan pendapat umum tersebut sebagai “denyut
jantung” rakyat kepada pemerintah untuk dipakai sebagai bahan
pengkajian bagi tepat tidaknya langkah-langkah kebijaksanaan tersebut.
Dengan demikian pers membantu masyarakat meningkatkan
partisipasinya dalam melaksanakan tugas-tugas nasional melalui
komunikasi dua arahnya.
Dalam alam dan suasana membangun di mana pers sendiri masih
memerlukan pembangunan diri di segala bidang, masyarakat perlu
membantu dan membimbing pertumbuhan dan perkembangan terhadap
segala kekurangan yang terdapat di dalam pers atau secara positifnya,
bantuan masyarakat ini diwujudkan dalam tetap menumpahkan
kepercayaan masyarakat terhadap pers nasional sebagai salah satu
sumber informasinya yang pokok. Dengan jalan demikian perbedaan
atau konflik pendapat di dalam tubuh pers atau lingkungan pers sendiri,
atau antara pers dengan masyarakat cq. golongan dalam masyarakat,
dicarikan penyelesaiannya atas dasar hukum yang berlaku, namun tetap
berlandaskan pada itikad baik dari suatu pers yang bertanggung jawab
dalam alam hidup Pancasila.

3. Organisasi Pers
Organisasi Pers adalah organisasi wartawan dan organisasi
perusahaan pers (ps. 1: 5). Organisasi-organisasi tersebut mempunyai
latar belakang sejarah, alur perjuangan dan penentuan tata krama
professional berupa kode etik masing-masing. PWI (Persatuan Wartawan
Indonesia) yang lahir di Surakarta, dalam kongresnya yang berlangsung
tanggal 8-9 Februari 1946 dan SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar) yang
lahir di serambi Kepatihan Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 8 Juni
1946, merupakan komponen penting dalam pembinaan pers Indonesia.
Ketika itu di Indonesia sedang berkobar revolusi fisik melawan
kolonialisme Belanda yang mencoba menjajah kembali negeri kita.
Dari organisasi inilah adanya komponen sistem pers nasional, yang di
dalamnya terdapat Dewan Pers sebagai lembaga tertinggi dalam sistem
pembinaan pers di Indonesia dan memegang peranan utama dalam
membangun institusi bagi pertumbuhan dan perkembangan pers.
Dewan pers yang independent, dibentuk dalam upaya
mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers
nasional (UU No. 40/1999 ps. 15: 1). Dan Dewan pers melaksanakan
fungsi-fungsi sebagai berikut:
a. Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain;
b. Melakukan pengkajian untuk pengembangan pers;
c. Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik;
d. Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian
pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan
pemberitaan pers;
39

e. Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat dan


pemerintah;
f. Memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan di
bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan;
g. Mendata perusahaan pers (ps. 15: 2).

Anggota Dewan Pers terdiri dari:


a. Wartawan yang dipilih oleh organisasi wartawan;
b. Pimpinan perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi perusahaan
pers;
c. Tokoh masyarakat, ahli bidang pers atau komunikasi dan bidang
lainnya yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers;
d. Ketua dan wakil ketua Dewan Pers dipilih dari dan oleh anggota;
e. Keanggotaan Dewan Pers sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 3
pasal 15 ditetapkan dengan keputusan presiden;
f. Keanggotaan Dewan Pers berlaku untuk masa tiga tahun dan sesudah
itu hanya dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya.

4. Sistem Pers Indonesia


Sistem pers merupakan subsistem dari sistem komunikasi, sedangkan
sistem komunikasi itu sendiri merupakan bagian dari sistem
kemasyarakatan (sistem sosial). Sistem komunikasi adalah sebuah pola
tetap tentang hubungan manusia yang berkaitan dengan proses
pertukaran lambang-lambang yang berarti untuk mencapai saling
pengertian dan saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan suatu
masyarakat yang harmonis.

Fokus Kita :
Suatu sistem pers, adalah sistem kebebasannya. Suatu sistem pers
diciptakan untuk menentukan bagaimana sebaiknya pers itu dapat
melaksanakan kebebasan dan tanggungjawabnya.
Pers dalam sejarah Indonesia, memiliki peranan yang efektif sebagai
jembatan komunikasi timbal balik antara pemerintah dan

Ciri khas sistem pers adalah sebagai berikut :


a. integrasi (integaration )
b. keteraturan (regularity )
c. keutuhan (wholeness )
d. organisasi (organization )
e. koherensi (coherence )
f. keterhubungan (connectedness ) dan
g. ketergantungan (interdependence ) dari bagian-bagiannya.
40

Inti permasalahan dalam sistem kebebasan pers adalah sistem


kebebasan untuk mengeluarkan pendapat (freedom of expression ) di
negara-negara barat atau sistem kemerdekaan untuk “mengeluarkan
pikiran dengan lisan dan tulisan”, sebagaimana tercantum dalam Pasal
28 UUD 1945.
Faham dasar sistem pers Indonesia tercermin dalam konsideran
Undang-undang Pers, yang menegaskan bahwa “Pers Indonesia
(nasional) sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan
pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak,
kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan
kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan
dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan
dari manapun”.
Dengan demikian, sistem pers Indonesia tidak lain adalah sistem pers
yang berlaku di Indonesia. Kata “Indonesia” adalah pemberi, sifat,
warna, dan kekhasan pada sistem pers tersebut. Dalam kenyataan,
dapat dijumpai perbedaan-perbedaan essensial sistem pers Indonesia
dari periode yang satu ke periode yang lain, misalnya Sistem Pers
Demokrasi Liberal, Sistem Pers Demokrasi Terpimpin, Sistem Pers
Demokrasi Pancasila, dan Sistem Pers di era reformasi, sedangkan
falsafah negaranya tidak berubah.

5. Kode Etik Jurnalistik Dan Tanggung Jawab Profesi


Kewartawanan
Media massa pers berperan membina dan mengembangkan pendapat
umum (publik opini), menumbuhkan dan menyalurkan aspirasi
masyarakat secara positif dan konstruktif, serta mengembangkan
komunikasi timbal balik antara kekuatan sosial masyarakat. Lebih jauh
lagi media massa pers ikut pula berperan dalam penumbuhan dan
pengembangan kehidupan sistem politik demokratis.

Fokus Kita :
Pers Indonesia yang telah meletakkan dasar kebebasan yang
bertanggung jawab, dalam kerangka memainkan peranan strategis
telah bergabung dalam satu wadah Persatuan Wartawan
Indonesia (PWI) merupakan organisasi wartawan di Indonesia yang
dikukuhkan Pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Penerangan

Penerapan pers yang bebas dan bertanggungjawab dikembangkan


dan dibina dalam suasana yang harmonis terhadap lingkungan, serta
merangsang timbulnya kreativitas, bukan sebaliknya dengan
menimbulkan ketegangan-ketegangan yang bersifat antagonistis.
Kehidupan pers nasional Indonesia, merupakan produk dari sistem
nilai yang berlaku dalam masyarakat yang diproyeksikan ke dalam
bidang kegiatan pers, maka dalam menjalankan peranannya pers
41

sebagai salah satu modal bangsa menggunakan aturan main (rules of


the game ) pers nasional:
1. Landasan Idiil : Falsafah Pancasila (Pembukaan
UUD 1945).
2. Landasan Konstitusi : Undang-Undang Dasar 1945.
3. Landasan Yuridis : Undang-undang Pokok Pers.
4. Landasan Strategis : GBHN.
5. Landasan Profesional : Kode Etik Jurnalistik.
6. Landasan Etis : Tata nilai yang berlaku dalam
masyarakat.
Bonus Info Kewarganegaraan
Prof. Oemar Seno Adji, dalam bukunya berjudul “Hukum
Kebebasan Pers “, dari J.C.T. Simorangkir, SH., menyimpulkan
mengenai kebebasan pers Indonesia sebagai berikut :
I. Hukum Indonesia telah mengakui/mengatur/menjamin perihal
kebebasan pers.
II. Kebebasan pers di Indonesia tidaklah dapat dilihat/diukur semata-
mata dengan kaca mata/ukuran luar negeri.
III. Ciri kebebasan pers Indonesia, adalah:
a. Pers yang bebas dan bertanggung jawab ;
b. Pers yang sehat:
c. Pers sebagai penyebar informasi
yang obyektif;
d. Pers yang melakukan kontrol
sosial yang konstuktif;
e. Pers sebagai penyalur aspirasi
rakyat dan meluaskan komunikasi dan partisipasi masyarakat ;
f. Terdapat interaksi positif antara pers, pemerintah dan
masyarakat.
IV Kebebasan pers diakui, dijamin dan dilaksanakan di Indonesia dalam
rangka pelaksanaan Demokrasi Pancasila.

a. Pertanggungjawaban
Pers sebagai salah satu unsur mass media hadir di tengah
masyarakat bersama dengan lembaga masyarakat lainnya harus
mampu menjadikan diri sebagai forum pertukaran pikiran, komentar,
dan kritik yang bersifat menyeluruh dan tuntas, tidak membedakan
kelompok, golongan dan etnis ataupun agama. Semuanya itu harus
mendapatkan porsi yang seimbang.

Fokus Kita :
Dalam menjalankan profesinya seorang wartawan harus dengan
sadar menjalankan tugas, hak, dan kewajiban, dan fungsinya yakni
mengemukakan apa yang sebenarnya terjadi, jelas, terang, dan
mudah dimengerti serta bersifat terbuka.
42

Pers dalam pengembangan kegiatan sehari-hari harus berada


dalam konteks interaksi positif antara pers dan Pemerintah serta
masyarakat. Jika ada masalah dalam masyarakat, maka pers
berupaya membantu menjernihkan persoalan, bukan sebaliknya
ikut memperburuk persoalan yang ada di lingkungan masyarakat itu.
Ia harus memainkan fungsi mendidiknya.
Guna menunjang pertumbuhan dan perkembangan masyarkaat,
pers perlu melakukan hal-hal berikut :
1) Menghimpun bahan-bahan yang dapat meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan masyarakat, sehingga dapat
memberikan partisipasinya dalam melancarkan program
pembangunan.
2) Mengamankan hak-hak pribadi (hak azasi) untuk
menghindari tirani dan membina kehidupan yang demokratis
sehingga golongan minoritas tidak ditindas oleh golongan
mayoritas.
3) Mampu menampung dan menyalurkan kritik dan saran
yang bagaimanapun pedasnya, sekalipun yang dituju pers itu
sendiri, demi berlangsungnya perbaikan dan penyempurnaan.
4) Memberikan penerangan melalui iklan dengan sebaik-
baiknya kepada masyarakat tentang barang dan jasa yang
berguna dan tepat guna dari produk-produk yang ada.
5) Memelihara kesejahteraan masyarakat dan memberikan
hiburan, seperti dengan menyajikan cerita pendek, fiksi, teka-teki
silang, komik, dan sebagainya.
6) Memupuk kekuatannya sendiri (permodalan dan sumber
daya manusianya) hingga terbebas dari pengaruh luar, seperti
pemberi modal dan intervensi dari pihak-pihak tertentu yang bisa
mempengaruhi kebebasan dan idealismenya.
7) Menjalankan fungsi kemasyarakatan dengan melakukan
penyelidikan untuk mendapatkan kebenaran dan kontrol sosial
demi kepentingan umum, namun dalam penyajiannya harus
bersifat objektif dan mengemukakan alternatif-alternatif
pemecahan, tidak bersifat menghasut apalagi memvonis
seseorang (trial by the press ).
8) Dalam penyajian tulisannya, pers dengan bijaksana harus
menggunakan pendekatan praduga tak bersalah (presumption of
innocence), terutama berita-berita yang langsung menyinggung
pribadi (hak azasi) seseorang seperti kesusilaan.
9) Menghindari penyajian bahan berita yang sensitif baik
berupa gambar, ulasan, karikatur dan sebagainya yang dapat
43

menimbulkan gangguan stabilitas, seperti menyangkut Suku,


Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA).
10) Menghindari penulisan,berita, ulasan, cerita, gambar, dan
karikatur yang cenderung bersifat pornografi dan sadisme,
kekejaman dan kekerasan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai
moral. Demikian pula pemberitaan yang bersifat gossip (desas-
desus) tanpa didukung fakta yang kuat dan akan merusak nama
baik seseorang atau golongan.
11) Pers dapat menyajikan bahan siaran atau tulisan-tulisannya
yang selalu menempatkan kepentingan nasional di atas
kepentingan pribadi dan golongannya. Demikian juga harus
menghindari penyebaran secara terbuka dan terselubung ajaran
Marxisme/Leninisme atau Komunisme.

Bonus Info Kewarganegaraan


PERS PANCASILA

Sidang pleno ke 25 Dewan Pers di Solo, tanggal 7 dan 8 Desember


1981, telah membuat keputusan dan merumuskan pengertian Pers
Pancasila yang menjadi pola kehidupan Pers Nasional. Pers Pancasila
adalah pers yang orientasi, sikap, dan tingkahlakunya berdasarkan
nilai-nilai Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Sedangkan Pers
pembangunan merupakan Pers Pancasila dalam pembangunan
sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat., berbangsa dan
bernegara, termasuk pembangunan itu sendiri.
Hakekat Pers Pancasila adalah adalah pers yang sehat, bebas dan
bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar
informasi yang benar dan obyektif, penyalur aspirasi rakyat dan
kontrol sosial yang konstruktif. Melalui Pers Pancasila dapat
dikembangkan suasana saling percaya menuju masyarakat terbuka
yang demokratis dan bertanggungjawab. Dalam mengamalkan Pers
Pancasila mekanisme yang dipakai adalah interaksi positif antara
masyarakat, pers, dan Pemerintah. Dewan Pers berperan sebagai
pengembang mekanisme interaksi positif tersebut.
Dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1983 tentang GBHN, disebutkan
bahwa fungsi pers antara lain sebagai penyebar informasi yang
obyektif, melakukan kontrol sosial yang konstruktif, menyalurkan
aspirsi rakyat dan meluaskan komunikasi dan partisipasi masyarakat.
Dengan memperhatikan rumusan Dewan Pers dan Ketetapan MPR
di atas, dapat dirumuskan bahwa pers berfungsi sebagai berikut.
1. Mendidik (educatif)
2. Menghubungkan masyarakat (sosial contact )
3. Menyalurkan aspirasi masyarakat (agen of information
)
4. Membentuk pendapat umum (pblic opini )
5. Melakukan sosial kontrol (sosial control )
6. Memberikan hiburan (entartiment ).
44

b. Kode Etik Jurnalistik


Dalam melaksanakan fungsi dan peranannya yang strategis, pers
melalui organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) telah
menetapkan Kode Etik Kewartawanan, yang sudah dimulai dari
sebelum Indonesia Merdeka, seperti Persatuan Djurnalis Indonesia
(PERDI).

Fokus Kita :
Tentang Kode Etik Wartawan sesungguhnya telah dijadikan
pedoman sejak berdirinya PWI di Surakarta bulan Februari 1946.
Penegasan berlakunya Kode Etik Jurnalistik mulai dilaksanakan pada
tanggal 1 Mei 1955. Dalam Kongres PWI di Medan (1955), telah
dikeluarkan pengesahan berlakunya Kode Etik Jurnalistik tersebut.
PWI dalam sidang gabungan PWI Pusat dengan Badan Pekerja
Kongres yang berlangsung di Ujung Pandang (1968) menetapkan

Kode Etik Jurnalistik merupakan aturan mengenai perilaku dan


pertimbangan moral yang harus dianut dan ditaati oleh media pers
dalam siarannya. Secara lengkap Kode Etik Jurnalistik adalah
sebagai berikut :

KODE ETIK JURNALISTIK

PEMBUKAAN

Bahwasanya kemerdekaan pers adalah perwujudan kemerdekaan


menyatakan pendapat sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 UUD
1945, dan karena itu wajib dihormati semua pihak.
Kemerdekaan pers merupakan salah satu ciri negara hukum yang
dikehendaki oleh penjelasan-penjelasan Undang-Undang Dasar 1945.
Sudah barang tentu kemerdekaan pers itu harus dilaksanakan
dengan tanggung jawab sosial serta jiwa Pancasila demi
kesejahteraan dan keselamatan Bangsa dan negara. Karena itulah
PWI menetapkan Kode Etik Jurnalistik untuk melestarikan asas
kemerdekaan pers yang bertanggung jawab.

Pasal 1
KEPRIBADIAN WARTAWAN INDONESIA

Wartawan Indonesia adalah warga negara yang memiliki


kepribadian :
a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
45

Esa;
b. berjiwa Pancasila;
c. taat pada Undang-Undang Dasar
1945;
d. bersifat ksatria;
e. menjunjung tinggi hak-hak asasi
manusia;
f. berjuang untuk emansipasi bangsa
dalam segala lapangan sehingga dengan demikian turut bekerja
ke arah keselamatan masyarakat Indonesia sebagai anggota
masyarakat bangsa-bangsa di dunia.

Pasal 2
PERTANGGUNGJAWABAN

1. Wartawan Indonesia
dengan penuh rasa tangung jawab dan bijaksana
mempertimbangkan perlu/patut atau tidaknya suatu berita,
tulisan, gambar, karikatur dan sebagainya disiarkan.

2. Wartawan Indonesia
tidak menyiarkan :
a. hal-hal yang sifatnya destruktif dan dapat merugikan
negara dan bangsa;
b. hal-hal yang dapat menimbulkan kekacauan;
c. hal-hal yang dapat menyinggung perasaan susila, agama
kepercayaan atau keyakinan seseorang atau sesuatu
golongan yang dilindungi undang-undang.

3. Wartawan Indonesia
melakukan pekerjaannya berdasarkan kebebasan yang
bertanggung jawab demi keselamatan umum. Ia tidak
menyalahgunakan jabatan dan kecakapannya untuk kepentingan
sendiri dan/atau kepentingan golongan.

4. Wartawan Indonesia
dalam menjalankan tugas jurnalistiknya yang menyangkut bangsa
dan negara lain, mendahulukan kepentingan nasional Indonesia.

Pasal 3
CARA PEMBERITAAN DAN MENYATAKAN PENDAPAT

1. Wartawan Indonesia menempuh jalan dan cara yang jujur


untuk memperoleh bahan-bahan berita dan tulisan dengan selalu
menyatakan identitasnya sebagai wartawan apabila sedang
melakukan tugas peliputan.
2. Wartawan Indonesia meneliti kebenaran sesuatu berita
atau keterangan sebelum menyiarkannya, dengan juga
46

memperhatikan kredibilitas sumber berita yang bersangkutan.


3. Di dalam menyusun suatu berita, wartawan Indonesia
membedakan antara kejadian (fakta) dan pendapat (opini),
sehingga tidak mencampuradukkan fakta dan opini tersebut.
4. Kepala-kepala berita harus mencerminkan isi berita.
5. Dalam tulisan yang memuat pendapat tentang sesuatu
kejadian (byline story), wartawan Indonesia selalu berusaha untuk
bersikap obyektif, jujur, dan sportif berdasarkan kebebasan yang
bertangung jawab dan menghindarkan diri dari cara-cara
penulisan yang bersifat pelanggaran kehidupan pribadi (privacy),
sensasional, immorial atau melanggar kesusilaan.
6. Penyiaran setiap berita atau tulisan yang berisi tuduhan
yang tidak berdasar, desas-desus, hasutan yang dapat
membahayakan keselamatan bangsa dan negara, fitnahan,
pemutarbalikan sesuatu kejadian, merupakan pelanggaran berat
terhadap profesi jurnalistik.
7. Pemberitaan tentang jalannya pemeriksaan perkara
pidana di dalam sidang-sidang pengadilan harus dijiwai oleh
prinsip “praduga tak bersalah”, yaitu bahwa seseorang tersangka
harus dianggap bersalah telah melakukan suatu tindak pidana
apabila ia telah dinyatakan terbukti bersalah dalam keputusan
pengadilan yang telah memiliki kekuatan tetap.
8. Penyiaran nama secara lengkap, identitas dan gambar
dari seorang tersangka dilakukan dengan penuh kebijaksanaan,
dan dihindarkan dalam perkara-perkara yang menyangkut
kesusilaan atau menyangkut anak-anak yang belum dewasa.
Pemberitaan harus selalu berimbang antara tuduhan dan
pembelaan dan dihindarkan terjadinya “trial by the press”.

Pasal 4
HAK JAWAB

1. Setiap pemberitaan yang kemudian ternyata


tidak benar atau berisi hal-hal yang menyesatka, harus dicabut
kembali atau diralat atas keinsyafan wartawan sendiri.
2. Pihak yang merasa dirugikan wajib diberi
kesempatan secepatnya untuk menjawab atau memperbaiki
pemberitaan yang dimaksud, sedapat mungkin dalam ruangan
yang sama dengan pemberitaan semula dan maksimal sama
panjangnya, asal saja jawaban atau perbaikin itu dilakukan secara
wajar.

Pasal 5
SUMBER BERITA

1. Wartawan Indonesia menghargai dan melindungi


47

kedudukan sumber berita yang tidak bersedia disebut namanya.


Dalam hal berita tanpa menyebutkan nama sumber tersebut
disiarkan, maka segala tanggung jawab berada pada wartawan
dan/atau penerbit pers yang bersangkutan.
2. Keterangan-keterangan yang diberikan secara “off the
record” tidak disiarkan, kecuali apabila wartawan yang
bersangkutan secara nyata-nyata dapat membuktikan bahwa ia
sebelumnya memiliki keterangan-keterangan yang kemudian
ternyata diberikan secara “off the record” itu. Jika seorang
wartawan tidak ingin terikat pada keterangan yang akan diberikan
dalam suatu pertemuan secara “off the record”, maka ia dapat
tidak menghadirinya.
3. Wartawan Indonesia dengan jujur menyebut sumbernya
dalam mengutip berita, gambar atau tulisan dari suatu
penerbitan pers, baik yang terbit di dalam maupun di luar negeri.
Perbuatan plagiat, yaitu mengutip berita, gambar atau tulisan
tanpa menyebutkan sumbernya, merupakan pelanggaran berat.
4. Penerimaan imbalan atau sesuatu janji untuk menyiarkan
suatu berita, gambar atau tulisan yang dapat menguntungkan
atau merugikan seseorang, sesuatu golongan atau sesuatu pihak
dilarang sama sekali.
Pasal 6
KEKUATAN KODE ETIK

1. Kode Etik ini dibuat atas prinsip bahwa


pertanggungjawaban tentang penataannya berada terutama pada
hati nurani setiap wartawan Indonesia.
2. Tiada satu pasal dalam Kode Etik ini yang memberi
wewenang kepada golongan manapun di luar PWI untuk
mengambil tindakan terhadap seorang wartawan Indonesia atau
terhadap penerbitan pers di Indonesia berdasarkan pasal-pasal
dalam Kode Etik ini, karena sanksi atas pelanggaran Kode Etik ini
adalah merupakan hak organisatoris dari Persatuan Wartawan
Indonesia (PWI) melalui organ-organnya.

Bonus Info Kewarganegaraan


M. Alwi Dahlan, Ph. D, menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang
mempengaruhi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik, yakni:
1) Etik Institusional, yaitu sistem aturan, peraturan, kebijaksanaan
dan kendala formal yang dikembangkan oleh institusi yang memiliki
media, maupun yang mengawasi media. Fungsinya adalah untuk
mencapai tujuan institusi yang bersangkutan , seperti penegakkan
ideologi, keuntungan, kekuasaan dan sebagainya.
48

2) Etik Personel, yaitu sistem nilai dan


moralitas perorangan yang merupakan hati nurani wartawan,
didasarkan pada keyakinan atau kepercayaan pribadi yang
menimbang tindakan yang hendak dilakukannya.
3) Etik Profesional, yaitu menentukan cara
pemberian yang paling tepat sehingga informasi itu mudah
diterima oleh khalayak, dalam proporsi yang wajar. Kode Etik
Profesioinal ini adalah tolak ukur perilaku dan pertimbangan moral
yang disepakati bersama oleh komunitas profesi jurnalistik.
Tujuannya adalah untuk menghasilkan karya yang memenuhi
kebutuhan khalayak akan informasi, namun dilakukan dengan cara
tanggung jawab sosial yang tinggi.
Dalam penerapan Kode Etik Jurnalistik, ia akan bergerak di antara
Etik Personal dan Etik Institusional. Etik Profesional mungkin saja
berbeda dengan Etik Institusional yang berlaku disegala media yang
bersangkutan, sekali pun Etik Personal telah meloloskan materi berita
bersangkutan. Pembinaan dan pengembangan media pers akan
ditentukan oleh sikap dan kepribadian dari media bersangkutan atau
dalam hal ini bisa dikatakan oleh wartawannya.
Kredilibitas sebuah media pers itu akan ditentukan oleh objektif
tidaknya materi berita yang disiarkannya, tanggung jawab sosial yang
diperlihatkannya, kedalaman dan ketajaman analisanya. Hal ini akan
ditentukan oleh ketaatannya kepada Kode Etik Jurnalistik. Kode Etik
Jurnalistik ini akan terus berperan dan semakin penting dalam
menyongsong kemajuan dan perkembangan teknologi dimasa
mendatang. Hal-hal yang tidak mungkin diambil dan diungkapkan
pada saat sekarang dengan kemajuan teknologi seperti kamera, tape
recorder, alat penyadap percakapan yang semakin canggih, kiranya
hanya bisa dibatasi dengan penataan Kode Etik Jurnalistik.
Demikian juga halnya dengan pelestarian nilai-nilai kepribadian
bangsa, ideologi Pancasila yang menjadi dasar falsafah bangsa bila
berhadapan dengan globalisasi dunia dan kemajuan ilmu teknologi,
perlu pengawalannya dengan Kode Etik Jurnalistik. Jangan wartawan
terjebak untuk memanipulasi informasi, menyiarkan berita secara
tidak jujur.
Penugasan Praktik 5
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Pers yang bebas dan
betanggung jawab sesuai kode etik jurnalistik dalam
masyarakat demokratis di Indonesia, dilanjutkan Penugasan
dengan menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut :
1. Berikan penjelasan, bagaimana batasan yang dimkasud “pers yang
bebas dan betanggung jawab”, dan Berikan Contohnya !
Penjelasan : ................................................................................................
...................................................
....................................................................................................................
.....................................................
No Contoh Uraian Singkat
49

.............................................................................
1. .............................................................................
......................................................................
.............................................................................
2. .............................................................................
......................................................................

2. Dalam menjalankan fungsi-fungsinya sebagai sarana penerangan,


pendidikan umum, kontrol sosial dan hiburan pers menjadi wahana
bagi pembinaan pendapat umum yang sehat. Berikan penjelasn
singkatnya yang dimaksud dengan !
a. Pendidikan umum
: .............................................................................................................
.............
...............................................................................................................
...................................................
b. Kontrol sosial
: .............................................................................................................
.......................
...............................................................................................................
...................................................

3. Organisasi Pers adalah organisasi wartawan dan organisasi


perusahaan pers yang mempunyai latar belakang sejarah, alur
perjuangan dan penentuan tata krama professional berupa kode etik
masing-masing. Beri penjelasan singkat pada kolom di bawah ini !
Alur perjuangan Tata krama professional
........................................................ .....................................................
...................... ........................
........................................................ .....................................................
...................... ........................
........................................................ .....................................................
...................... ........................
........................................................ .....................................................
...................... ........................

4. Berikan tanggapan penjelasan, mengapa pers harus memiliki “rasa


pertanggungjawaban” terhadap informasi/berita-berita yang ditulisnya !
....................................................................................................................
...................................................
....................................................................................................................
...................................................
....................................................................................................................
...................................................

5. Tuliskan perbedaan dan persamaan organisasi pers di Indonesia pada


masa sebelum dan setelah reformasi di bawah ini !
50

Persamaan Perbedaan
........................................................ .....................................................
........................ ........................
........................................................ .....................................................
........................ ........................
........................................................ .....................................................
........................ ........................
........................................................ .....................................................
........................ ........................
A. KEBEBASAN PERS DAN DAMPAK PENYALAHGUNAAN
KEBEBASAN MEDIA MASSA DALAM MASYARAKAT
DEMOKRATIS DI INDONESIA

1. Kebebasan Pers Indonesia


Kebebasan pers adalah kebebasan mengemukakan pendapat, baik
secara tulisan maupun lisan, melalui media pers, seperti harian, majalah,
dan buletin. Kebebasan pers dituntut tanggung jawabnya untuk
menegakkan keadilan, ketertiban dan keamanan dalam masyarakat,
bukan untuk merusakkannya. Kebebasan harus disertai tanggung
jawab, sebab kekuasaan yang besar dan bebas yang dimiliki manusia
mudah sekali disalahgunakan dan dibuat semena-mena. Demikian juga
pers harus mempertimbangkan apakah berita yang disebarkan dapat
menguntungkan masyarakat luas atau memberi dampak positif pada
masyarakat dan bangsa. Inilah segi tanggung jawab dari pers. Jadi, pers
diberi kebebasan dengan disertai tanggung jawab sosial.
Selanjutnya, Komisi Kemerdekaan Pers menggariskan lima hal
yang menjadi tuntutan masyarakat modern terhadap pers, yang
merupakan ukuran pelaksanaan kegiatan pers, yaitu sebagai berikut
:
a. Pers dituntut untuk menyajikan laporan tentang kejadian sehari-hari
secara jujur, mendalam dan cerdas. Ini merupakan tuntutan kepada
pers untuk menulis secara akurat dan tidak berbohong.
b. Pers dituntut untuk menjadi sebuah forum pertukaran komentar dan
kritik, yang berarti pers diminta untuk menjadi wadah diskusi di
kalangan masyarakat, walaupun berbeda pendapat dengan pengelola
pers itu sendiri.
c. Pers hendaknya menonjolkan sebuah gambaran yang representative
kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini mengacu pada
segelintir kelompok minoritas dalam masyarakat yang juga memiliki
hak yang sama dalam masyarakat untuk didengarkan.
d. Pers hendaknya bertanggung jawab dalam penyajian dan penguraian
tujuan dan nilai-nilai dalam masyarakat.
51

e. Pers hendaknya menyajikan kesempatan kepada masyarakat untuk


memperoleh berita sehari-hari. Ini berkaitan dengan kebebasan
informasi yang diminta masyarakat.
Adapun landasan hukum kebebasan pers Indonesia termaktub dalam :
a. Undang-undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kebebasan Menyampaikan
Pendapat di Muka Umum
b. Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers
c. Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

2. Pers, Masyarakat dan Pemerintah


Hal terpenting yang harus diperhatikan berkaitan antara pers,
masyarakat dan pemerintah adalah sebagai berikut :
a. Interaksi harus dikembangkan sekreatif mungkin untuk
tercapainya tujuan pembangunan, yaitu kesejahteraan manusia dan
masyarakat Indonesia seutuhnya. Interaksi positif antara ketiga
komponen tidak bisa lain berlangsung dalam perangkat dan pranata
Pancasila, norma dan etika dasar bagi kehidupan masyarakat, bangsa
dan Negara Republik Indonesia. Karena itu, sebelum menjabarkan
lebih lanjut, bagaimana interaksi positif antara ketiga komponen itu
bisa dikembangkan secara maksimal, perlu lebih dulu dipahami
hakekat Pancasila bagi kehidupan nasional Indonesia.
b. Negara-negara demokrasi Liberal Barat mendasarkan kehidupan
dan dinamiknya pada individu dan kompetisi secara antagonis,
sedangkan negara-negara komunis berdasarkan kepada
pertentangan kelas yang bersifat dialektis materiil. Adapun negara
Indonesia yang berdasarkan Pancasila, berpaham pada keseluruhan
dan keseimbangan, baik antara individu dan masyarakat maupun
antara berbagai kelompok sosialnya. Dinamika dikembangkan bukan
dari pertarungan menurut paham “singa gede menang kerahe” (singa
besar pasti menang bertarung), melainkan atas paham hidup
menghidupi, simbiosis mutualis. Pola dasar dan sistem nilai yang
demikian itu juga menjadi dasar dan semangat dari hubungan antara
pemerintah, pers dan masyarakat. Hubungan itu tidak disemangati
oleh sikap apriori atau saling curiga, apalagi saling memusuhi.
Hubungan itu adalah hubungan perkerabatan yang fungsional.
c. Antara pemerintah, pers dan masyarakat, harus dikembangkan
hubungan fungsional sedemikian rupa, sehingga semakin
menunjang tujuan bersama yaitu terwujudnya masyarakat adil dan
makmur berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Dimungkinkan adanya perbedaan pendapat dalam proses
hubungan tersebut. Namun perbedaan pendapat tidak harus
ditafsirkan sebagai konflik melainkan sebagai proses kreatif dan
dinamis dalam usaha mencapai harmoni dan keseimbangan yang
setiap kali semakin maju, kuantitatif dan kualitatif.
d. Hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat, sesungguhnya
merupakan pengejawa-ntahan dari nilai-nilai Pancasila. Itulah
52

sebabnya, salah satu pendekatan kultural terhadap segala persoalan,


lebih cocok dengan identitas Indonesia, lagipula pendekatan kultural
ini telah dibuktikan kharisma dan daya mampunya dalam periode
perjuangan kemerdekaan nasional, sehingga mampu
membangkitkan semangat patriotisme, pengorbanan tanpa
pamrih dan dedikasi total terhadap kepentingan rakyat banyak.
Pendekatan kultural juga dapat memperlancar proses kembar, yaitu
kontinuitas dan perubahan yang menjadi ciri-ciri kehidupan setiap
bangsa, apalagi bangsa yang sedang membangun. Pembangunan
berarti perubahan yang terarah seca bertahap tapi konsisten.
Sedangkan perubahan itu agar kokoh, harus berakar dan akar itu
adalah kontinuitas. Kontinuitas dari nilai kebudayaan bangsa yang
paling mulia, termasuk di antaranya warisan nilai-nilai empat puluh
lima.
e. Baik untuk menjamin tercapainya sasaran maupun karena sesuai
dengan asas demokrasi Pancasila, maka dalam hubungan fungsional
antara pemerintah, pers dan masyarakat, perlu dikembangkan
kultur politik dan mekanisme yang memungkinkan berfungsinya
sistem kontrol sosial dan kritik secara efektif dan terbuka. Tetapi
kontrol sosial itu pun substansi dan caranya tidak terlepas dari asas
keselarasan dan keseimbangan, kekerabatan dan hidup menghidupi.
f. Pembangunan masyarakat bisa berlangsung dalam pola evolusi,
reformasi dan revolusi. Jika kita menempatkan pembangunan
nasional Indonesia ke dalam salah satu dari ketiga kategori itu, maka
yang paling tepat ialah pada pola reformasi. Pembangunan dalam
pola reformasi berarti perobahan terarah yang fundamental sesuai
dengan konsep masyarakat Pancasila, namun dilaksanakan secara
bertahap dan menurut asas prioritas.
g. Seluruh bidang kehidupan masyarakat hendak dibangun, tetapi
pelaksanaannya bertahap dan selektif, semakin hari semakin
maju dan menyeluruh sehingga akhirnya seluruh bidang kehidupan
masyarakat bangsa dan negara dijamahnya, ditransformir menjadi
masyarakat Pancasila. Pendekatan bertahap, berprioritas, berencana
merupakan pendekatan yang tepat, mengingat serta keterbatasan
yang ada pada kita, tetapi seluruh prosesnya perlu dipercepat
(diakselarasi), karena sebagai bangsa dihadapkan dengan faktor
waktu yang semakin mengejar. Pemerintah, pers dan masyarakat
harus mampu membangun diririnya sendiri agar menjadi lembaga
yang lebih baik dan lebih ampuh untuk melaksanakan pembangunan.
h. Adanya kekurangan merupakan gejala umum yang harus kita
terima bersama. Bukan agar kita menyerah dan menjadi dalih dari
berbagai kemungkinan penyalahgunaan, melainkan agar kita mampu
melihat segala sesuatunya dengan proporsi yang tepat dan
konstruktif. Agar dalam melakukan koreksi, kita tidak menimbulkan
apatisme dan antipati melainkan justru menggairahkan usaha-usaha
perbaikan dan pembangunan itu sendiri. Di samping menunjukkan
kekurangan-kekurangan, pers harus bisa juga menunjukkkan hal-hal
positif. Berlaku kembali di sini asas keselarasan dan keseimbangan
53

yang merupakan tipe ideal masyarakat kita, sekali pun merupakan


nilai dalam proses pendekatan. Interaksi berarti proses pengaruh-
mempengaruhi sebagai dasar dari konsensus bersama yang
merupakan hasil komunikasi dua arah timbal balik.
i. Hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat merupakan
hubungan kekerabatan dan fungsional yang terus menerus
dikembangkan dalam mekanisme dialog. Di samping mekanisme
dialog, juga perlu dikembangkan mekanisme lain, yaitu
diselenggarakan seminar sebagai kegiatan rutin yang kreatif dalam
usaha mengembangkan konsepsi, nilai-nilai dan mekanisme. Dalam
usaha memelihara kontinuitas yang kreatif, juga dipandang
bermanfaat untuk menerbitkan buku-buku dalam bidang pers,
sehingga menjadi bahan bacaan bagi para wartawan, pejabat
pemerintah maupun perguruan tinggi. Perlu diketahui bahwa kini
telah diterbitkan tiga buku hasil panitia Dewan Pers, yaitu “Sejarah
Pers Indonesia, Pornografi dan Pers Indonesia dan Naskah
Pengetahuan Dasar bagi Wartawan Indonesia”.
j. Dalam hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat, otonomi
masing-masing lembaga sesuai dengan asas Demokrasi
Pancasila, dihormati dan perlu dikembangkan. Salah satu karya
otonomi ialah apa yang dengan baik bisa dilakukan sendiri oleh
lembaga masyarakat, tidak perlu pemerintah mencampurinya. Dalam
konteks ini, misalnya perlu dikembangkan adanya mekanisme efektif
oleh masyarakat pers sendiri untuk mengatur perilaku kehidupannya.
Pelaksanaan kode etik dan sanksi atas pelanggaran, misalnya perlu
ditingkatkan. Disarankan agar dipelajari kemungkinan dibentuknya
suatu Dewan Kehormatan, yang terdiri dari tiga pihak; pers,
masyarakat, pemerintah. Dewan kehormatan yang demikian itu agar
dibentuk di pusat maupun di daerah sesuai dengan kebutuhannya.
k. Jadi, bila dibahas lebih spesifik lagi, pers memang “lahir” di
tengah-tengah masyarakat, sehingga pers dan masyarakat
merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pers
“lahir” untuk memenuhi tuntutan masyarakat untuk memperoleh
informasi yang aktual dengan terus-menerus mengenai peristiwa-
peristiwa besar maupun kecil. Pers sebagai lembaga kemasyarakatan
tidak dapat hidup sendiri, akan tetapi pers dipengaruhi dan
mempengaruhi lembaga kemasyarakatan yang lain.
l. Menurut Wilbur Schramm, pers bagi masyarakat adalah “Watcher,
forum and teacher” (pengamat, forum dan guru). Maksud pernyataan
di atas adalah, bahwa setiap hari pers memberikan laporan dan
ulasan mengenai berbagai macam kejadian dalam dan luar negeri,
menyediakan tempat (forum) bagi masyarakat untuk mengeluarkan
pendapat secara tertulis dan turut mewariskan nilai-nilai
kemasyarakatan dari generasi ke generasi.

3. Dampak Penyalahgunaan Kebebasan Media


54

Dalam kehidupan masyarakat, media massa dapat memberikan


informasi atau berita yang jelas dan akurat. Media massa dalam
penyampaian beritanya untuk kehidupan masyarakat memiliki manfaat
yang cukup besar. Istilah media mengandung makna untuk semua
organisasi, baik swasta maupun pemerintah yang bertugas mencari
informasi kepada publik. Mereka menggunakan alat atau media seperti
koran, radio, televisi, seni pertunjukan dan lain sebagainya. Peralatan
tersebut digunakan untuk menyampaikan pesan.
Namun jika fungsi-fungsi penyampaian informasi atau berita
disalahgunakan, hal ini dapat berdampak sebagai berikut (lihat boks
jejak pendapat Kompas, tanggal 12 Februari 2007).

JEJAK PENDAPAT KOMPAS

Pers Semakin Tenggelam Di Dekapan


Komersialisme
Dunia pers Indonesia semakin tenggelam dalam ideologi komersial,
setelah ideologi kebebasan mampu diraihnya pascalengsernya
kekuasaan Orde Baru. Sayangnya, pergeseran ideologi itu membuat
fungsi media masa sebagai alat pendidikan masyarakat tidak lagi
menjadi ciri yang kuat melekat.
Kehadiran pers dalam sebuah sistem politik modern merupakan
wujud dari kedaulatan rakyat, dan menjadi unsur yang sangat
penting untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang demokratis.
Melalui pers, kekosongan ruang publik yang terjadi, baik antarkelompok
masyarakat maupun antara pemerintah dan masyarakat, bisa
terjembatani. Pers sebagai instrumen komunikasi yang melibatkan
manusia dalam jumlah yang besar menjadi forum bagi berlangsungnya
dialog secara terbuka antarkelompok dalam masyarakat serta antara
masyarakat dan pemerintah.
Di sini pers memainkan peran sentral sebagai pemasok dan
penyebar informasi yang diperlukan untuk memfasilitasi
pembentukan opini publik dalam rangka mencapai konsensus
bersama atau mengontrol kekuasaan para penyelenggara negara. Pers
yang bebas akan memainkan peran sebagai forum dialog yang
demokratis, termasuk memberikan kesempatan bagi suara yang
mungkin selama ini terabaikan. Ia juga memainkan peranan sebagai
sumber informasi yang berharga, sebagai pelengkap atau bahkan bisa
pula menjadi alat utama bagi proses pendidikan, serta sebagai alat
kontrol yang efektif terhadap kinerja penguasa dan proses
pembangunan.
Kebebasan pers Indonesia, sebagaimana yang dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, mencakup jaminan
dan perlindungan hukum serta tidak adanya campur tangan atau
paksanaan dari pihak manapun terhadap pekerjaan Pers. Selain itu,
pers nasional juga tidak dikenal penyensoran, pembredelan
atau pelarangan penyiaran. Dengan kata lain, di bawah aturan yang
55

baru, kebebasan pers sebagai ekspresi dari hak asasi dan hak politik
mendapat jaminan hukum. Di bawah sistem Orde reformasi sekarang,
fungsi pers tidak seharusnya sekadar medium penebar informasi,
hiburan, dan pendidikan, tetapi juga berfungsi sebagai alat kontrol
sosial.
Fungsi dasar
Sayangnya, pers di negeri ini, baik media cetak maupun media
elektronik, hingga saat ini masih banyak berkutat dengan fungsi
dasarnya sebagai medium penyebar informasi, hiburan, dan pendidikan.
Kedua jenis media itu memang sudah mampu menjangkau mayoritas
publik penggunaannya dalam memberikan informasi. Setidaknya,
mayoritas responden merasa puas dengan kemampuan media ini dalam
menyebarkan informasi kepada masyarakat. Begitu juga dengan fungsi
hiburan yang dibawa oleh kedua media ini. Kepuasan responden
terhadap aspek hiburan media massa tidak hanya terhadap apa yang
disajikan oleh media elektronik, terutama televisi, tetapi juga dari yang
mereka baca dari media cetak.
Adapun untuk fungsi pendidikan, tampaknya responden masih lebih
percaya kepada media cetak ketimbang media elektronik. Setidaknya,
57,2 persen responden merasa puas dengan fungsi pendidikan yang
mereka dapat dari media cetak. Sementara responden yang puas
dengan fungsi pendidikan yang diberikan oleh media elektronik hanya
42,5 persen. Apresiasi responden terhadap media cetak dan media
elektronik itu mencerminkan tingginya kebutuhan informasi di
masyarakat. Meskipun informasi yang diperoleh dikemas dalam
perspektif yang berbeda-beda, tetapi soal aktualitas, obyektivitas, dan
netralitas media selalu menjadi tolok ukur kejujuran media massa dalam
mengungkapkan fakta.
Terhadap tolok ukur itu, sebagian besar (62,0 persen) responden
menilai, pemberitaan yang dilakukan oleh media massa saat ini
sudah sesuai dengan fakta, sementara 33 persen responden malah
menilai sebaliknya. Begitu juga dengan soal proporsionalitas
pemberitaan. Bagi 51,9 persen responden, media massa saat ini sudah
proporsional dalam memberitakan suatu peristiwa. Namun, pendapat ini
ditentang 43,1 persen responden yang melihat media massa saat ini
cenderung melebih-lebihkan sebuah pemberitaannya.
Soal keberpihakan media, lebih dari separuh bagian (53,7 persen)
responden menilai media massa saat ini sudah berimbang dalam
memberitakan sebuah peristiwa, sementara 42,5 persen responden
menanggapi sebaliknya. Kendati demikian, keberhasilan pers itu tidak
lantas membuat pers Indonesia bebas dari ekses negatif yang di
timbulkan akibat kebebasan pers yang dimilikinya. Benturan idealisme
pers dengan kepentingan internal dan eksternal pers selalu
mengondisikan pers Indonesia dalam posisi yang dilematis. Inilah
persoalan klasik yang selalu melanda pers Indonesia selama ini.
Peran pers yang begitu besar dalam pembentukan opini publik
membuat lembaga ini selalu berbenturan dengan kepentingan
pemerintah. Pada masa Orde Baru, sering kali pers dipaksa
mengakomodasikan kepentingan pemerintah atau terpaksa berhadapan
56

dengan penguasa jika bersikukuh mempertahankan idealisme


kebebasannya.
Namun, tampaknya dunia pers saat ini sudah bisa menikmati
kebebasannya. Setidaknya, lebih dari separuh bagian (52,6 persen)
responden merasakan media massa saat ini sudah bebas dari pengaruh,
terutama tekanan atau intervensi penguasa. Meskipun demikian, 43,6
persen responden malah merasa pengaruh pemerintah masih cukup
kuat terhadap media massa. Berbeda dengan penguasa, pengaruh
tokoh politik malah dirasakan cukup kuat di dalam kehidupan pers saat
ini. Separuh bagian responden merasakan hal ini.
Hubungan saling mempengaruhi antara pers dan pihak yang berada
di luar dirinya, seperti yang terungkap dalam jejak pendapat ini,
memberi penegasan bahwa tidak ada indenpendensi absolut dalam
kehidupan pers. Fenomena ini bisa dilihat dari orientasi pers saat ini.
Sebagian besar responden menilai media massa saat ini cenderung
berorientasi pada aspek komersial ketimbang idealisme pers
sebagai politik pembebasan.
Kecenderungan ini bisa dilihat dari fenomena pemberitaan yang
dilakukan media massa saat ini. Bagi media elektronik, untuk mengejar
rating yang tinggi, program acara bersifat sensasional, yang kandungan
pendidikannya untuk publik relatif rendah, semakin sering ditawarkan
kepada publik. Unsur pornografi, kekerasan, hingga mistik pun
dipublikasikan. Sebagian besar (64,5 persen) responden mengaku
prihatin dengan tayangan televisi yang mengandung kekerasan.
Menurut sebagian responden itu, penayangan adegan kekerasan di
televisi pada masa reformasi ini sudah berlebihan. Begitu juga dengan
tayangan yang berbau pornografi. Lebih dari separuh bagian (58,0
persen) responden mengaku, tayangan itu sudah berlebihan.
Keprihatinan yang sama juga diungkapkan oleh 58,6 persen responden
terhadap penayangan acara televisi yang berbau mistik. Kecenderungan
serupa terjadi di media cetak. Kendati tidak separah yang ditayangkan
media elektronik, publik tetap memprihatinkan pemunculan berita
berbau pornografi, kekerasan, atau mistik.
Begitulah wajah kebebasan pers Indonesia saat ini. Di satu sisi
keberadaannya mencerminkan tanggung jawab sosialnya bagi
masyarakat dan negara, namun di sisi lain, keberadannya malah
dikhawatirkan menghancurkan moral bangsa ini. Inilah eforia pers yang
menghasilkan wajah pers Indonesia dengan karakter yang beragam
seperti sekarang.
Catatan : Jumlah responden = 722 orang, dengan cakupan wilayah :
Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang, Banjarmasin, Pontianak,
Manado, Makassar dan Jayapura.

Sumber : Sultani (Litbang Kompas),


12/2/2007.

Bonus Info Kewarganegaraan


08 Februari 2007 16:17:53
57

Kemajuan Teknologi Jadi


Tantangan Pers
Saat ini, melalui teknologi, masyarakat
dapat berpartisipasi aktif dalam berbagai
media komunikasi. Perkembangan ini juga
membawa perubahan besar pada industri
media massa. Beberapa penelitian
menyimpulkan, suratkabar (media cetak)
mulai menuju kematian, yang ditandai
dengan menurunnya jumlah tiras. Masa
keemasan suratkabar telah lewat,
digantikan dengan media elektronik. Namun, suratkabar tetap bisa hidup.
Syaratnya harus melakukan perluasan dengan bergerak di bisnis multimedia.
Di Indonesia upaya ini telah dimulai. Kelompok-kelompok suratkabar besar
saat ini merambah kepemilikannya ke radio, televisi, dan bisnis lainnya.
Demikian beberapa pemikiran yang muncul dalam acara Dewan Pers
Menjawab yang disiarkan langsung stasiun TVRI, Rabu, 7 Februari lalu,
bertema Refleksi Hari Pers Nasional (HPN). Tema ini diangkap untuk
menyambut hari pers yang diperingati setiap tanggal 9 Februari. Acara yang
dipandu Hinca IP Pandjaitan ini menghadirkan wartawan senior, Djafar H.
Assegaf, anggota Dewan Pers, Sabam Leo Batubara, dan program officer
UNESCO-Jakarta, Arya Gunawan.
Assegaff menyatakan komunikasi adalah fitrah manusia. Karena itu setiap
hari manusia membutuhkan media massa. Pada abad teknologi saat ini hukum
besi berlaku, sehingga menurutnya bisnis media massa membutuhkan skill
yang luas dan modal besar.
Terkait dengan peringatan HPN, Assegaff memandang pentingnya
pendidikan bagi wartawan. Ia juga menyoroti pentingnya kebiasaan membaca
(reading habit). Sebab salah satu tantangan untuk meningkatkan tiras
suratkabar adalah bagaimana meningkatkan minat baca. Assegaff
menyatakan, “Sekarang adalah abad new media. (Namun) semua tidak ada
artinya kalau tidak didalami dengan membaca koran, dan lebih lagi membaca
buku”.
Sementara itu Leo membenarkan berbagai riset yang menyimpulkan
adanya penurunan tiras surat kabar di dunia. Namun, menurutnya, hal itu
tidak berlaku di beberapa negara seperti India. Mengutip hasil pertemuan
serikat penerbit surat kabar seluruh dunia yang berlangsung tahun 2000 lalu,
Leo menyatakan suratkabar perlu melakukan konvergensi untuk dapat
bertahan hidup.
Ia melihat di Indonesia sudah ada kencenderungan demikian. Selain ke
suratkabar, kelompok pebisnis pers telah memperluas bisnisnya ke radio dan
televisi. Dengan demikian suratkabar dapat tetap eksis. Apalagi suratkabar
punya kelebihan dibanding media elektronik. “Kelebihan suratkabar yang tidak
bisa ditandingi yaitu kedalaman berita”, ungkapnya.
Menanggapi pers di Indonesia yang sering dinilai telah sangat bebas
dan cenderung kebablasan, Leo menyatakan, pers sebetulnya belum benar-
benar bebas. “Di Indonesia pers yang mengungkap korupsi tapi pers malah
yang ditangkap. Jadi pers belum bebas”.
Sedangkan Arya melihat posisis pers diuntungkan dengan reformasi.
Pers dapat terbuka, tidak lagi memerlukan izin sehingga tidak dapat
dibredel. Kebebasan pers saat ini, menurut Arya, adalah berkah,
ancaman, dan sekaligus tantangan. Tantangan pertama pers
58

Indonesia adalah menjaga kebebasan pers. “Ancaman” teknologi


manjadi tantangan berikutnya. Ia menambahkan, keberadaan wartawan
pemeras dan penyalahgunaan kebebasan oleh kalangan pers sendiri
menjadi tantangan lainnya. Karena itu perlu ditekankan pentingnya
peningkatan profesionalisme wartawan. (Redaksi-Dewan Pers).

Sumber :
http://www.dewanpers.org/dpers.ph
Istilah “pers” pada umumnya mengandung arti merupakan
p
penerbitan yang berkaitan dengan media massa atau wartawan.
Dapat juga merupakan lembaga sosial dan wahana komunikasi
E
massa yang melaksanakanKESIMPULAN
kegiatan jurnalistik baik cetak maupun
elektronik.
Dalam pelaksanaan pers di beberapa negara, terdapat kebebasan
pers yang ternyata antar negara tidak sama. Ada beberapa negara
yang menganut pers Barat dan pers Komunis. Demikian juga di
dalam karakteristiknya, ada yang menerapkan teori pers otoriterian,
libertarian, tanggung jawab sosial dan komunis.
Perkembangan pers di Indonesia yang terus mengalami kemajuan,
adalah setelah pemerintah republik Indonesia terbentuk pada tahun
1945. Pasang surut pers di Indonesia dialami baik pada masa
revolusi, era demokrasi liberal, zaman orde lama atau pers
terpimpin, era demokrasi Pancasila dan orde baru, serta kebebasan
pers era reformasi.
Setiap negara memilki karakteristik pers yang berbeda antara satu
negara dengan negara lain, hal ini sangat tergantung kepada
ideologi atau falsafah yang dianutnya. Ada 6 sifat pers yang kita
kenal, yaitu : pers demokrasi liberal, pers komunis, pers otoriter,
pers bebas dan bertanggung jawab, pers pembangunan, dan pers
Pancasila.
Pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang
pengumpulan dan penyebaran informasi, memiliki Visi yakni : ikuat
mencerdaskan masyarkat, menegakkan keadilan dan memberantas
kebatilan.
Menurut Kusman Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Dasar-
dasar Jurnalistik/Pers” menyebutkan ada 4 fungsi pers : yaitu fungsi
pendidik, fungsi penghubung, fungsi pembentuk pendapat umum
dan fungsi kontrol.
Pers dalam menjalankan fungsi, tugas dan peranannya menghadapi
banyak tantangan dan masalahnya sendiri. Pers ditantang untuk
bekerja lebih profesional sesuai kode etik, dan dilain pihak pers
menghadapi masalah bagaimana memperoleh tenaga yang
profesional, cakap dan terampil.
Undang-Undang Pers yang pernah ada di Indonesia, antara lain :
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966, Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1967, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982, dan terbaru
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.
Penerapan pers yang bebas dan bertanggungjawab dikembangkan
dan dibina dalam suasana yang harmonis terhadap lingkungan,
serta merangsang timbulnya kreativitas, bukan sebaliknya dengan
menimbulkan ketegangan-ketegangan yang bersifat antagonistis.
memilki Kode Etik Jurnalistik yang merupakan aturan mengenai
mengenai perilaku dan pertimbangan moral yang harus dianut dan
ditaati oleh media pers dalam siarannya.
59

LATIHAN UJI KOMPETENSI

A. Pilihan Ganda
Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling benar !

1. Berikut ini merupakan e. lembaga yang


kategori pengertian Pers harus diwaspadai
sesuai dengan Kamus Umum 3. Pada awal revolusi,
Bahasa Indonesia, kecuali .... sesuai dengan fungsinya pers
a. alat cetak untuk harus menjadi penjaga
mencetak buku atau surat kepentingan publik atau
kabar. disebut ....
b. merupakan
a. public of
nama seluruh pener-bitan
security
yang berkala.
b. public watch
c. alat untuk dog
menjepit atau mema- c. public of
datkan. prosperity
d. surat kabar dan d. public of opinion
majalah yang berisi berita.
e. public of
e. orang yang
interest
bekerja di bidang per-
suratkabaran. 4. Pada masa orde lama,
peranan pers lebih banyak
2. Perkembangan pers merupakan ....
pada jaman Belanda banyak a. alat bagi
mengalami hambatan, karena kepentingan rakyat
pers dianggap sebagai .... b. penampung
a. momok yang aspirasi rakyat
harus diperangi c. sosial kontrol
b. media yang rakyat
sering menghasut d. alat bagi para
c. mitra komunikasi penguasa
yang jujur e. penyambung
d. sarana lidah rakyat
komunikasi yang ampuh
60

5. Salah satu alasan a. Kontrol


pemerintahan Orde Baru yang b. opini publik
kemudian membatasi c. penghubung
kebebasan pers pada masa itu d. sensasi publik
adalah .... e. pendidik
a. demonstrasi
insan pers yang anarkis 9. Sesuai dengan Undang-
b. pemogokan Undang No.40 Tahun 1999
penerbitan pers tentang Pers, bahwa salah
c. munculnya pers satu peranan pers nasional
asing yang komunis adalah ....
d. terjadinya a. memenuhi hak
peristiwa Malari 1974 masyarakat untuk
e. pers disusupi mengetahui
kepentingan barat b. selalu berupaya
6. Berikut ini adalah yang menggerakan prakarsa
termasuk dalam sifat-sifat masyarakat
pers yang antara satu negara c. selalu menjadi
dengan negara lain berbeda, penengah dalam
kecuali .... mengatasi konflik
a. Pers demokrasi d. mendorong
liberal terwujudnya negara hukum
b. Pers reformasi Indonesia
c. Pers komunis e. menyebarluaska
d. Pers n informasi yang selalu
pembangunan terbaru
e. Pers otoriter
10. Dalam upaya pers
7. Salah satu misi pers
menempatkan kepentingan
yang harus ditegakkan di
nasional di atas kepentingan
Indonesia adalah ....
pribadi atau golongan, maka
a. melakukan
harus dihindari penyebaran
peliputan dengan baik
secara terbuka atau
b. selalu berdiri di
terselubung ajaran-ajaran
atas kebenaran
yang mengarah pada ....
c. ikut
a. Kapitalisme dan
mencerdaskan masyarakat
liberalisme
d. memperjuangka
b. Sosialisme dan
n rasa keadilan
ajaran-ajarannya
e. mendorong
c. Liberalisme dan
clean governance
ajaran-ajarannya
8. Jika pers melakukan d. Komunisme dan
pengawasan kepada ajaran-ajarannya
masyarakat tentang tingkah e. Marxisme atau
laku yang tidak dikehendaki komunisme
khalayak, maka pers tersebut
melaksanakan fungsi ....
61

B. Uraian
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas !

1. Jelaskan yang anda ketahui makna pers dalam kehidupan masyarkat


demokratis !
2. Salah satu karakteristik pers adalah adanya kebebasan yang
bertanggung jawab, berikan alasan mengapa demikian !
3. Beri penjelasan singkat perbandingan sisem dan kemerdekaan pers pada
negara barat dengan negara berkembang pada umumnya !
4. Berikan contoh sekurang-kurangnya 3 (tiga) dampak positif kelahiran era
reformasi dengan kebebasan pers di Indonesia !
5. Beri penjelasan perbedaan yang mendasar antara sifat pers pada negara
yang berfalsafah demokrasi liberal dengan komunis !
6. Jelaskan yang dimaksud bahwa pers memiliki fungsi pendidik dan
penghubung !
7. Berikan alasan, mengapa salah satu peranan pers berdasarkan Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 1999 yaitu memperjuangkan keadilan dan
kebenaran !
8. Menurut pendapat anda, apa langkah-langkah yang paling mungkin
dilaksanakan pemerintah Indonesia dalam rangka menghadapi pers di
era reformasi yang cenderung mengedepankan kebebasannya dari pada
tanggungjawabnya !
9. Jelaskan, mengapa dalam melaksanakan tugas kewartawanan diperlukan
Kode Etik Jurnalistik !
10. Berikan alasan mengapa Kode Etik
Jurnalistik menjadi aturan mengenai perilaku dan pertimbangan moral
yang harus dianut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya !

C. Tugas dan Diskusi


1. Diskusikan dengan teman-temanmu tentang topik-topik berikut ini !
a. Hubungan kebebasan pers dengan demokratisasi.
b. Tantangan dunia pers dalam menjembatani kepentingan rakyat
dan pemerintah.
c. Pentingnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan peranan
pers di Indonesia.
d. Melalui pers yang bebas dan bertanggung jawab dapat terwujud
tegaknya keadilan !

2. Carilah referensi lain baik dari buku, koran, buletin, majalah, internet
dan sebagainya yang berhubungan dengan pers yang bebas dan
bertanggung jawab !
Bentuklah kelompok sesuai dengan kebutuhan !
a. Rumuskan kembali yang dimaksud dengan pers !
62

b. Jelaskan mengapa di negara Indonesia lebih tepat menerapkan


teori pers tanggung jawab sosial !
c. Jelaskan kembali fungsi dan peranan pers dalam kehidupan
masyarakat !
d. Berikan contoh dampak positif dan negatif pers Indonesia di era
orde baru dan pasca orde baru (reformasi) !
e. Buatlah analisis tentang penerapan peranan pers yang bebas dan
bertanggung jawab di Indonesia dalam rangka mendorong
masyarakat dan pemerintah menuju kehidupan yang demokratis !
f. Buatlah makalah sehubungan dengan pembahasan tersebut dan
presentasikan hasilnya di depan kelas !

D. Inquiry
Isilah titik-titik pada kolom berikut ini untuk menganlisis fungsi
pers Indonesia dalam mendorong kehidupan masyarakat yang
demokratis !

N Fungsi Indikator / Keterangan Contoh


o Pers
1. Pendidik .......................................................... ...........................
........................... .............
.......................................................... ...........................
........................... .............
.......................................................... ...........................
........................... .............
2. Penghubu .......................................................... ...........................
ng ........................... .............
.......................................................... ...........................
........................... .............
.......................................................... ...........................
........................... .............
3. Pembentu .......................................................... ...........................
k ........................... .............
Pendapat .......................................................... ...........................
Umum ........................... .............
.......................................................... ...........................
........................... .............
4. Kontrol .......................................................... ...........................
........................... .............
.......................................................... ...........................
........................... .............
.......................................................... ...........................
........................... .............
5. Pemersat .......................................................... ...........................
u ........................... .............
.......................................................... ...........................
63

........................... .............
.......................................................... ...........................
........................... .............
DAFTAR PUSTAKA (TAMBAHAN)

Anwary. S. Dr., “Bunga Rampai Amanat Rakyat Jilid I”, Jakarta, Penerbit
Institute of socio-Ekonomics and Political Studies”, 2001.
Deden Faturohman dan Wawan Subari, “Pengantar Ilmu Politik”,
Malang, Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang, 2002.
Eyo Kahya, “Perbandingan Sistem dan Kemerdekaan Pers”, Bandung,
Penerbit Pustaka Bani Quraisy, 2004.
Heru Santoso, Ir. M.Hum., dkk., “Sari Pendidikan Pancasila”, Yogya,
Penerbit PT Tiara Wacana, 2002.
Idup Suhadi Drs. M.Si. dan Desi Fernanda Drs. M.Soc.Sc., “Dasar-dasar
Kepemerintahan Yang Baik”, Jakarta, Lembaga Administrasi
Negara Republik Indonesia, 2001.
Kurniawan dan Junaedhie, “Ensiklopedi Pers Indonesia”, Jakarta,
Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 1991.
Pramudito Sumalyo, “Ideologi Negara dan Tantangan Zaman”, Jakarta,
PT Golden Terayon Press, 1995.
Salamoen Soeharyo, Drs. MPA. Dan Nasri Effendi Drs. M.Sc., “Sistem
Administrasi Negara Republik Indonesia”, Jakarta, Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia, 2001.
Winarno, A. Drs. M.Sc., dan Tri Saksono SH. M.Pd., “Kecerdasan
Emosional”, Jakarta, Lembaga Administrasi Negara Republik
Indonesia, 2001.
Wahyu Suprapri Hj. Dra. MM. Dan Sri Ratna Hj. Ir. MM., “Pengenalan
dan Pengukuran Potensi Diri”, Jakarta, Lembaga Administrasi
Negara Republik Indonesia, 2001.
Yurnaldi dkk., “Jurnalistik Siap Pakai”, Padang, Penerbit Angkasa Raya.