Anda di halaman 1dari 53

1

BAB III
PERANAN PERS DALAM MASYARAKAT
DEMOKRASI

Standar Kompetensi :
A. 2. Mengevaluasi peranan pers dalam masyarakat demokrasi.

Kompetensi Dasar :
2.1. Mendeskripsikan pengertian, fungsi dan peranan serta perkembangan pers di
Indonesia.
2.2. Menganalisis pers yang bebas dan bertanggung jawab sesuai kode etik jurnalistik
dalam masyarakat demokratis di Indonesia.
2.3. Mengevaluasi kebebasan pers dan dampak penyalahgunaan kebebasan media massa
dalam masyarakat demokratis di Indonesia.

PENDAHULUAN

-------------------------------(Ada gambar kalangan pers sedang


meliput )------------------------------

Salah satu ciri menonjol negara demokrasi adalah adanya kebebasan untuk berekspresi.
Kebebasan berkespresi dapat terwujud dalam berbagai bentuk, seperti ; berkesenian,
menyampaikan protes atau menyebarkan gagasan melalui media cetak sebagai bagian dari
bentuk ekspresi. Di antara media ekspresi dan penyebarluasan gagasan yang banyak dikenal
masyarakat adalah melalui pers.
Dalam sejarah kehidupan masyarakat Indonesia, dunia Pers tidaklah asing. Jauh sebelum
Indonesia merdeka, awal kemunculan Pers merupakan alat perjuangan bagi seluruh komponen
masyarakat Indonesia dalam menyampaikan aspirasinya guna mencapai Proklamasi
Kemerdekaan. Pasca Proklamasi Kemerdekaan 1945, peranan pers sangat besar sebagai alat
perjuangan dalam rangka menyebarluaskan informasi atau berita-berita ke seluruh pelosok
daerah Indonesia bahkan penjuru dunia. Dalam perkembangannya di Indonesia, dunai pers
pernah mengalami pasang surut baik di era liberal, orde lama, orde baru maupun era reformasi.
Pada kehidupan masyarakat demokratis, salah satu peranan penting pers adalah sebagai
penggerak prakarsa masyarakat, memperkenalkan usaha-usahanya sendiri, dan menemukan
potensi-potensinya yang kreatif dalam usaha memperbaiki peri kehidupannya.
Pers yang juga mengemban misi sebagai salah satu alat kontrol sosial terhadap pemerintah,
telah mampu memberikan kontribusi guna melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan dalam
melaksanakan pemerintahan. Oleh sebab itu, agar tidak terjadi pemberitaan yang menjurus
fitnah setiap insan pers telah dibekali Kode Etik Profesi wartawan Indonesia yang harus
dipatuhi. Kode Etik mencakup : 1) Kepribadian Wartawan Indonesia, 2) Pertanggung jawaban,
3) Cara Pemberitaan dan Menyatakan Pendapat, 4) Pelanggaran Hak Jawab, 5) Sumber Berita,
6) Kekuatan Kode Etik, dan 7) Pengawasan Penataan Kode Etik.
Era globalisasi dewasa ini telah memberi peranan yang lebih besar kepada dunia pers dalam
menggalang prakarsa dan kreativitas warga masyarakat melalui berbagai infrastruktur teknologi
informasi. Dunia pers dalam perspektif demokrasi, telah menemukan jati diri dan kebebasannya
yang mampu menembus batas-batas negara baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya,
2

hukum, pertahanan kemanan dan sebagainya. Oleh sebab itu, memasuki era globalisasi seluruh
komponen birokrasi, maupun masyarakat harus bersikap arif dan bijaksana dalam menanggapi
kritik, saran yang dilontarkan dunia pers.
B. PENGERTIAN, FUNGSI DAN PERAN SERTA PERKEMBANGAN PERS
DI INDONESIA

1. Pengertian Pers
Dalam kehidupan modern, kebutuhan orang akan komunikasi dan informasi semakin
meningkat. Informasi dibutuhkan oleh orang untuk memperluas wawasan dan pengetahuan.
Tidak jarang informasi juga menjadi bahan pertimbangan bagi seseorang untuk mengambil
suatu keputusan. Dalam hal ini, pers menyediakan berbagai informasi yang berguna bagi
masyarakat luas. Tidak hanya itu, pers juga dapat dimanfaatkan untuk membentuk opini
publik atau mendesakkan kepentingan publik agar diperhatikan oleh penguasa.
Dengan semakin berkembangnya dunia informasi, pers sebenarnya semakin dekat
dengan kehidupan kita. Lantas, apa sesungguhnya makna pers itu sendiri ? Untuk
memahami makna tentang pers, berikut ini akan diberikan beberapa pengertian :
a. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata “pers” berarti a) alat cetak untuk
mencetak buku atau surat kabar; 2) alat untuk menjepit, memadatkan; 3) surat kabar
dan majalah yang berisi berita : berita seperti yang ditulis oleh ..... ; 4) orang yang
bekerja di bidang persuratkabaran.
b. Ensiklopedi Indonesia, istilah Pers merupakan nama seluruh penerbitan berkala :
koran, majalah, dan kantor berita.
c. Ensiklopedi Pers Indonesia, istilah Pers merupakan sebutan bagi
penerbit/perusahaan/kalangan yang berkaitan dengan media masa atau wartawan.
Sebutan ini bermula dari cara bekerjanya media cetak yang awalnya menekankan huruf-
huruf di atas kertas yang akan dicetak. Dengan demikian segala barang yang dikerjakan
dengan mesin cetak disebut pers.
d. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, bahwa yang dimaksud Pers
adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan
jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan
menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar,
serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak,
media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.
e. Profesor Oemar Seno Adji, Pers dalam sempit seperti diketahui mengandung
penyiaran-penyiaran pikiran, gagasan atau berita-berita dengan kata tertulis. Sebaliknya
pers dalam arti luas memasukkan di dalamnya semua media mass communications yang
memancarkan pikiran, dan perasaan seseorang baik dengan kata-kata tertulis maupun
dengan lisan.
Dengan demikian dapatlah diketahui, bahwa pers dalam arti sempit merupakan
manifestasi dari “Freedom of the press”, sedangkan pers dalam arti yang luas
merupakan manifestasi dari “freedom of speech” dan keduanya tercakup oleh pengertian
“freedom of expression”.

f. L. Taufik, dalam bukunya “Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia”, menyatakan


bahwa pengertian pers terbagi dua, yaitu pers dalam arti sempit dan pers dalam arti luas.
3

 Pers dalam arti sempit diartikan sebagai surat kabar, koran, majalah, tabloid, dan
buletin-buletin kantor berita. Jadi, pers terbatas pada media tercetak.
 Pers dalam arti luas mencakup semua media massa, termasuk radio, televisi, film
dan internet.

f. Leksikom Komunikasi, Pers berarti : 1) usaha percetakan dan penerbitan, 2) usaha


pengumpulan dan penyiaran berita, 3) penyiaran berita melalui surat kabar, majalah,
radio, dan televisi. Sedangkan istilah “press” berasal dari bahasa Inggris “to press”
artinya menekan, selanjutnya press atau pers diartikan sebagai surat kabar dan majalah
(dalam arti sempit) dan pers dalam arti luas yang menyangkut media massa (surat kabar,
radio, televisi, dan film).

Fokus Kita :
Dalam perkembangannya, istilah Pers diberi pengertian dengan penerbitan pers.
Bahkan belakangan pengertiannya meliputi dua hal : pers dalam arti sempit, yakni
media cetak dan pers dalam arti luas, yakni meliputi semua barang cetakan yang
ditujukan untuk umum sebagai pengganti istilah printed mass media. Tapi juga
lazim untuk menyebut orang atau kegiatan yang berhubungan dengan media massa
elektronik. Sedangkan wartawan sebagai bagian dari pers adalah orang yang secara

2. Teori-teori Tentang Pers


Telah diuraikan secara singkat di muka bahwa pers berperan antara lain untuk
menyebarluaskan informasi. Dalam konteks hak asasi manusia, hak setiap orang untuk
memperoleh informasi merupakan hak yang diakui secara universal. Sementara dalam
kedudukannya sebagai media massa, pers juga dapat menjadi wahana untuk menyuarakan
ekspresi (kehendak, kepentingan, gagasan dan keyakinan). Kebebasan untuk berekspresi ini
pun merupakan hak asasi yang berlaku universal. Dengan demikian, kemerdekaan pers
perlu memperoleh jaminan perlindungan agar hak asasi manusia tidak tertindas.
Teori tentang kebebasan pers mulai memperoleh perhatian besar sejak tahun 1956.
Dalam situasi perang dingin, muncul gejala persaingan antara dua ideologi besar, yaitu
Komunisme dan Liberalisme. Tidak mengherankan jika konsep kemerdekaan pers
kemudian berkembang sesuai dengan semangat zaman yang tengah dilanda persaingan
tersebut di atas. Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm dalam buku
“Four Theories The Press”, yang diterjemahkan oleh Putu Lakman Sanjaya Pendit dan
dikutip oleh Krisna Harahap dalam bukunya “Pasang Surut Kemerdekaan Pers”,
mengemukakan empat teori kemerdekaan pers. Ke-empat teori pers tersebut adalah sebagai
berikut :

a. Teori Pers Otoritarian


Teori ini muncul berkaitan erat dengan pandangan filosofis tentang hakikat negara
dan masyarakat. Teori Otoritarian menganggap negara merupakan ekspresi tertinggi
dari organisasi kelompok manusia, mengungguli masyarakat dan individu. Negara
dianggap sesuatu yang terpenting dalam membangun dan mengembangkan manusia
seutuhnya. Tanpa negara, manusia tidak dapat mencapai tujuan hidupnya dan akan tetap
4

menjadi manusia primitif. Pada saat teori ini lahir, hubungan antara pers dan negara
berada dalam kerangka seperti itu.
Pada teori tentang pers otoritarian, kedudukan negara mengungguli kelompok
manusia dan individu. Dengan demikian dibenarkan adanya sensor pendahuluan,
pembredelan, pengendalian produksi secara langsung oleh pemerintah dan sebagainya,
yang dikukuhkan oleh peraturan perundang-undangan. Keberadaan pers sepenuhnya
bertujuan untuk mendukung pemerintah yang bersifat otoritas, sehingga pemerintah
langsung menguasai, mengawasi dan mengendalikan seluruh media massa. Dengan
demikian, pers merupakan alat penguasa untuk menyampaikan keinginannya
kepada rakyat. Andai pun ada kebebasan pers, kebebasannya itu pun tidak harus
menyalahkan atau mengkritik penguasa.
Fokus Kita :
Teori Otoritarian menganggap negara merupakan ekspresi tertinggi dari organisasi
kelompok manusia, mengungguli masyarakat dan individu. Negara dianggap
sesuatu yang terpenting dalam membangun dan mengembangkan manusia
seutuhnya. Tanpa negara, manusia tidak dapat mencapai tujuan hidupnya dan akan
tetap menjadi manusia primitif.
Menurut pendapat Mc. Quail, di dalam teori pers otoritarian disebutkan prinsip-
prinsip dasar pelaksanaan sebagai berikut :
1) Media selamanya (akhirnya)harus tunduk kepada penguasa yang ada.
2) Penyensoran dapat dibenarkan.
3) Kecaman terhadap penguasa atau terhadap penyimpangan dari kebijakan resmi tidak
dapat diterima.
4) Wartawan tidak mempunyai kebebasan di dalam organisasinya.

b. Teori Pers Libertarian


Teori ini merupakan reaksi terhadap Teori Pers Otoritarian dan sekaligus
menjungkir balikkannya. Jika teori Otoritarian menekankan kepada negara sebagai
ekspresi tertinggi dari organisasi kelompok manusia, maka dalam teori Libertarian
kebalikannya, yaitu tekanan diberikan kepada individu dan masyarakat yang kelak
melahirkan pemikiran tentang demokrasi.
Sesuai dengan ajaran demokrasi, manusia memiliki hak-hak alamiah untuk mengejar
kebenaran yang hakiki dan memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat, secara
lisan dan tulisan (pers) tanpa kontrol dari pemerintah (pihak luar). Maka, Teori
Libertarian berpendapat bahwa pers harus memiliki kebebasan yang seluas-luasnya
untuk membantu manusia mencari dan menemukan kebenaran yang hakiki tersebut.
Salah satu cara yang paling efektif untuk mencari dan menemukan kebenaran itu ialah
melalui pers. Menurut teori ini, pers merupakan sarana penyalur hati nurani rakyat
untuk mengawasi dan menentukan sikap terhadap kebijakan pemerintah. Karenanya ia
bukanlah alat kekuasaan pemerintah, sehingga ia harus bebas dari pengaruh dan
pengawasan pemerintah.

Fokus Kita :
Menurut teori libertarian, pers merupakan sarana penyalur hati nurani rakyat
untuk mengawasi dan menentukan sikap terhadap kebijakan pemerintah. Oleh sebab
itu, pers bukanlah alat kekuasaan pemerintah, sehingga ia harus bebas dari pengaruh
dan pengawasan pemerintah. Dengan demikian teori ini memandang sensor sebagai
inkonstitusional terhadap kemerdekaan pers.
5

Dengan demikian, teori ini memandang sensor merupakan tindakan yang


inkonstitusional terhadap kemerdekaan pers. Menurut Krisna Harahap Pers
Libertarian, mempunyai tugas sebagai berikut :
1) Melayani kebutuhan kehidupan ekonomi (iklan)
2) Melayani kebutuhan kehidupan politik
3) Mencari keuntungan (demi kelangsungan hidupnya)
4) Menjaga hak warga negara
5) Memberi hiburan.
Selanjutnya Krisna Harahap menyebutkan tentang ciri-ciri pers yang merdeka
(libertarian) sebagai berikut :
1) Publikasi bebas dari setiap penyesoran pendahuluan,
2) Penerbitan dan pendistribusian terbuka bagi setiap oran tanpa memerlukan izin atau
lisensi,
3) Kecaman terhadappemerintah, pejabat atau partai politik tidak dapat dipidana,
4) Tidak ada kewajiban mempublikasikan segala hal,
5) Publikasi “kesalahan” dilindungi sama halnya degan publikasi kebenaran dalam hal-
hal yang berkaita dnegan opini dan keyakinan,
6) Tidak ada batasan hukum terhadap upaya pengumpulan informasi untuk
kepentingan publikasi,
7) Wartawan mempunyai otonomi profesional dalam organisasi mereka.

c. Teori Tanggung Jawab Sosial


Pada awal abad ke-20, “lahirlah” teori pers lain, yaitu Teori Tanggung Jawab Sosial
(Social Responsibility sebagai protes terhadap Teori Libertarian yang mengajarkan
kebebasan mutlak, yang dianggap telah menimbulkan kemerosotan moral masyarakat.
Teori ini mengemukakan dasar pemikiran bahwa kebebasan pers harus disertai
dengan tanggung jawab kepada masyarakat. Menurut Teori Tanggung Jawab Sosial,
kebebasan pers itu perlu dibatasi oleh dasar moral, etika dan hati nurani insan pers.
Prinsip dasar pandangannya adalah bahwa kemerdekaan pers harus disertai dengan
kewajiban-kewajiban, antara lain untuk bertanggung jawab kepada masyarakat.
Menurut Krisna Harahap prinsip utama teori Tanggung Jawab Sosial, dapat
ditandain sebagai berikut :
1) Media mempunyai kewajiban tertentu kepada masyarakat.
2) Kewajiban tersebut dipenuhi dengan menetapkan standar yang tinggi atau
professional tentang keinformasian, kebenaran, obyektivitas, keseimbangan, dsb.
3) Dalam menerima dan menerapkan kewajiban tersebut, media seyogyanya dapat
mengatur diri sendiri dalam kerangka hukum dan lembaga yang ada.
6

4) Media seyogyanya menghindari segala sesuatu yang mungkin menimbulkan


kejahatan, yang akan mengakibatkan ketidaktertiban atau penghinaan terhadap
minoritas etnik atau agama.
5) Media hendaknya bersifat pluralis dan mencerminkan kebhinekaan.
6) masyarakatnya dengan memberi kesempatan yang sama untuk mengemukakan
berbagai sudut pandang dan hak untuk menjawab.
7) Masyarakat memiliki hak mengharapkan standar prestasi yang tinggi dan intervensi
dapat dibenarkan untuk mengamankan kepentingan umum.
Mengenai kebebasan pers, Komisi Kemerdekaan Pers menyatakan bahwa
kemerdekaan pers itu harus diberi arti :
1) Bahwa kebebasan tersebut tidaklah berarti bebas untuk melanggar kepentingan-
kepentingan individu yang lain.
2) Bahwa kebebasan harus memperhatikan segi-segi keamanan negara.
3) Bahwa pelanggaran terhadap kemerdekaan pers membawa konsekuensi/ tanggung
jawab terhadap ukuran yang berlaku.
Pengertian kemerdekaan pers yang diberikan oleh Komisi Kemerdekaan Pers seperti
tersebut di atas menunjukan bahwa kemerdekaan yang mutlak hanyalah merupakan
khayalan belaka. Menurut teori tanggung jawab sosial, bahwa pembatasan terhadap
kemerdekaan pers itu justru perlu diadakan dengan alasan : untuk melindungi
kehormatan dan nama baik individu/kelompok, melindungi nilai-nilai yang berlaku
dalam masyarakat dan melindungi ketertiban serta keamanan, baik yang datang dari
dalam (subversi) maupun yang datang dari luar (agresi).
Perlunya pembatasan pers, yaitu dimaksudkan untuk kepentingan : keamanan
sosial, ketertiban umum, memelihara persahabatan antar negara, melindungi agama
yang dianut oleh masyarakat, melindungi ras/golongan suku bangsa, melindungi
orang/masyarakat, dan melindungi hak-hak peradilan terhadap”contempt of court” atau
pengkhianatan/pendiskreditan pengadilan.

Bonus Info Kewarganegaraan


Komisi Kemerdekaan Pers menggariskan lima hal yang menjadi tuntutan
masyarakat modern terhadap pers, dan merupakan ukuran pelaksanaan kegiatan pers,
yakni :
1. Pers dituntut untuk menyajikan laporan tentang kejadian sehari-hari secara jujur,
mendalam dan cerdas. Ini merupakan tuntutan kepada pers untuk menulis secara
akurat, dan tidak berbohong.
2. Pers dituntut untuk menjadi sebuah forum pertukaran komentar dan kritik, yang
berarti pers diminta untuk menjadi wadah diskusi di kalangan masyarakat,
walaupun berbeda pendapat dengan pengelolanya sendiri.
3. Pers hendakanya menonjolkan sebuah gambaran yang representatif kelompok-
kelompok dalam masyarakat. Hal ini mengacu pada segelintir kelompok minoritas
dalam masyarakat yang juga memiliki hak yang sama dalam masyarakat untuk
didengarkan.
4. Pers hendaknya bertanggung jawab dalam penyajian dan penguraian tujuan dan
nilai-nilai dalam masyarakat.
7

5. Pers hendaknya menyajikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh


berita sehari-hari. Ini berkaiatan dengan kebebasan informasi yang diminta
masyarakat.

d. Teori Pers Komunis


Teori ini beranjak dari ajaran Karl Marx yaitu Marxisme/Komunisme. Menurut
Teori Pers Komunis, pers merupakan alat pemerintah (partai yang berkuasa) dan bagian
integral dari negara, sehingga pers harus tunduk kepada pemerintah.
Pers Komunis berfungsi sebagai alat untuk melakukan “indoktrinasi massa”.
Sehubungan dengan itu, F. Rachmadi (1990) dalam bukunya “Perbandingan Sistem
Pers”, menyatakan bahwa dalam hubungan dengan fungsi dan peranan pers Komunis
sebagai alat pemerintah dan partai, pers harus menjadi suatu collective propagandist,
collective agitation dan collective organizer. Ciri-ciri Teori Pers Komunis ini adalah
sebagai berikut :
1) Media berada di bawah pengendalian kelas pekerja, karenanya ia melayani
kepentingan kelas tersebut.
2) Media tidak dimiliki secara pribadi.
3) Masyarakat berhak melakukan sensor dan tindakan hukum lainnya untuk mencegah
atau menghukum setelah terjadinya peristiwa publikasi anti masyarakat.
Penugasan Praktik Kewarganegaraan 1
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Pengertian, Fungsi dan Peran Serta
Perkembangan Pers Indonesia (Pengertian Pers, dan Teori-teori tentang pers),
dilanjutkan Penugasan dengan menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut :

1. Berikan ulasan pengertian kembali tentang “Pers” sesuai pendapat anda dan tokoh-tokoh
terkenal !
Pendapat anda tentang
Pers? .....................................................................................................................
....................................................................................................................................................
.....................
No Tokoh Uraian Singkat
.......................................................................................................
Oemar Seno ...............
1.
Adji .......................................................................................................
...............
.......................................................................................................
2. L. Taufik ...............
.......................................................................................................
...............

2. Dalam teori pers “Otoritarian” menganggap negara merupakan ekspresi tertinggi dari
organisasi kelompok manusia, mengungguli masyarakat dan individu. Berikan penjelasn
singkatnya yang dimaksud dengan !
a. Negara merupakan ekspresi
tertinggi: .......................................................................................
8

.............................................................................................................................................
....................
b. Mengungguli
masyarakat: ..............................................................................................................
.............................................................................................................................................
.....................

3. Menurut Teori Tanggung Jawab Sosial, kebebasan pers itu perlu dibatasi oleh dasar
moral, etika dan hati nurani insan pers. Beri penjelasan singkat pada kolom di bawah ini !
Dasar moral Hati nurani insan pers
....................................................................... ....................................................................
....... .........
....................................................................... ....................................................................
....... .........
....................................................................... ....................................................................
....... .........
....................................................................... ....................................................................
....... .........

4. Berikan tanggapan penjelasan, mengapa di dalam pers kemerdekaan yang mutlak hanyalah
merupakan khayalan belaka !
....................................................................................................................................................
...................
....................................................................................................................................................
...................
....................................................................................................................................................
...................

5. Tuliskan perbedaan dan persamaan pada teori pers “Otoriterian” dengan “Komunis” di
bawah ini !
Persamaan Perbedaan
....................................................................... ....................................................................
......... .........
....................................................................... ....................................................................
......... .........
....................................................................... ....................................................................
......... .........
....................................................................... ....................................................................
......... .........
9

3. Sistem Pers di Beberapa Negara

a. Sistem Pers Barat (USA)


Pada negara-negara Barat yang diwakili oleh Amerika dan Eropa, kebebasan pers
diyakini sebagai bagian dari kebebasan berekspresi yang dimiliki oleh setiap individu.
Oleh sebab itu, masyarakat meminta kepada negara agar memberikan kemerdekaan
dengan tanpa turut campur terlalu dalam terhadap kehidupan pers.

Fokus Kita :
Representasi sistem pers barat ini dapat diwakili oleh sistem pers Amerika Serikat
dan Eropa. Negara-negara barat pada umunya baik Amerika maupun Eropa menganut
falsafah yang sama yaitu “Liberalisme”, yang menjadi landasan sistem sosial, sistem
politik dan sistem pemerintahan mereka.

Perihal kebebasan pers di Amerika yang mengusung falsafah “Liberalisme”, telah


mengundang pro dan kontra dalam beberapa kasus sebagai berikut :

Pandangan Pro Kebebasan Pandangan Kontra Kebebasan


Kebebasan pers telah terbukti memberi Kemerdekaan pers Amerika Serikat yang
sumbangan positif bagi praktik demokrasi dan terlalu bebas, telah menuai kritik-kritik tajam
kontrol yang efektif terhadap pengelolaan terhadap pers itu sendiri. Pers yang dianggap
negara. Sebagai contoh, dapat dikemukakan terlalu asyik mengungkap aspek-spek negatif
salah satu kasus yang meng-hebohkan dunia Amerika Serikat, sehingga membuat negara
pers Amerika Serikat, yaitu Watergate. Kasus Amerika tampak buruk di mata dunia.
ini bermula dari tertang-kapnya lima orang Edwin Emery dan kawan-kawan dalam
yang memasuki kantor Parti Demokrat di buku “Introduction to Mass Communiction”
kompleks Watergate, Washington DC dengan menyatakan bahwa “memang benar konstitusi
tanpa izin pada tanggal 17 Juni 1972. Amerika Serikat menjamin kebebasan pers,
Beberapa pejabat tampak berusaha yang semestinya harus berjalan bersama-
menutupi apa yang sebe-narnya terjadi di sama dengan kebebasannya. Interpretasi
balik kasus ini. Penyelidikan yang dilakukan mengenai tanggungjawab ini sebagian besar
oleh Carl Bernstein dan Bob Woodward, diserahkan kepada integritasi, etika, dan rasa
dua orang wartawan Washington Post moral dari orang yang menulis, menerbitkan
menguak hubu-ngan kelima kawanan pencuri dan berbicra”.
tersebut dengan Gedung Putih. Terungkap Hal ini dapat menimbulkan berbagai
kemudian bahwa kelima orang tersebut bahaya, karena kekuatan pers dapat membakar
melakukan upaya memata-matai Partai opini dan emosi publik dalam situasi konflik
Demokrat yang merupakan lawan politik sosial dan keadaan sensitif lainnya.
presiden berkuasa, Richard M. Nixon Kemerdekaan pers yang terlalu bebas ini,
(berasal dari Partai Republik). dalam dua sampai tiga dasa warsa terakhir
Kasus ini berakhir dengan dipenjarakannya dirasakan merusak moral masya-rakat dan
para pelaku kejahatan dan mundurnya mengganggu keamanan pemerintah.
Presiden Nixon dari jabatan Presiden Amerika Belakangan ini tuntutan masyarkat dan
Serikat. Atas kerja keras mengungkap kasus pemerintah terhadap pertanggung jawaban pers
tersebut, dua wartawan yang bersangkutan semakin serius. Kritik-kritik tajam pun sangat
kemudian memperoleh pengharagaan pers deras menghujani pers, karena pers dianggap
yang bergengsi, yaitu Pulitzer. terlalu komersial, merusak moral masyarakat
dan lain-lain, serta telah berani melanggar hak
kehidupan pribadi seseorang melalui tulisan-
10

tulisannya yang sensasional, murahan, demi


kepentingan untuk meraup uang yang
sebanyak-banyaknya.

Jika di lihat dari aspek hubungan pers dengan pemerintah Amerika Serikat, dapat
digambarkan sebagai hubungan persaingan. Artinya pers Amerika Serikat bebas dari
campur tangan pemerintahannya dan demikian pula sebaliknya, sehingga terdapat
persaingan diantara pers dengan pemerintah, terutama dalam hal megembangkan diri
dan kepemimpinan. Di Amerika Serikat, pers mempunyai kebebasan untuk bergerak. Di
dalam sistem liberal seperti di Amerika serikat, pers tidak berorientasi pada politik
pemerintah, artinya pers bukan merupaka terompet pemerintah seperti di negara-negara
sosialis.
Disisi lain perlu difahami pula bahwa hubungan antara pers, pemerintah dan
masyarakat di Amerika dan Eropa, sesungguhnya dapat digambarkan sebagai “upaya
saling mengontrol”. Artinya, walaupun ideologi kebebasan yang dianut memberi
kemerdekaan berekspresi, tetapi bukan berarti semuanya tanpa kontrol. Hubungan yang
demikian dapat menciptakan pemerintahan yang bersih dan kuat serta masyarakat sipil
yang juga kuta. Kondisi yang demikian memberi sumbangan penting bagi terbangunnya
kehidupan sosial yang demokratis.

Bonus Info Kewarganegaraan


Dikalangan eksekutif pers Amerika Serikat, seperti redaktur, dan para editor
yang merasa profesi persnya telah tercemar akibat itu semua, berusaha menyusun
Kode Etik Pers yang di sebut “Canon Jurnalism”, yang isinya dikutip oleh F.
Rachmadi antara lain sebagai berikut :
a. Tanggung jawab (Romawi I) yaitu hak koran untuk menarik pembaca tidak ada
yang membatasi kecuali pertimbangan tentang kesejahteraan publik. Jurnalis
yang memakai kekuatannya untuk kepentingan sendiri atau tujuan yang tak
berharga adalah durhaka pada kepercayaan yang tertinggi.
b. Ketulusan, kebenaran, ketepatan (Romawi IV), yaitu kepercayaan pembaca
adalah dasar bagi semua yang dinamakan jurnalisme. Bagi koran, untuk berbuat
jujur adalah hal yang memaksa.
c. Netral/adil (Romawi V), yaitu memisahkan laporan berita dengan pernyataan
pendapat. Laporan berita haruslah bebas dari pendapat atau macam-macam bias.
d. Fair play (Romawi VI), yaitu antara lain berisi larangan untuk mencampuri hak
pribadi atau perasaan seseorang tanpa pembenaran undang-undang dan harus
mengadakan koreksi lengkap mengenai kesalahan seriusnaya mengenai fakta
atau opini yang mereka buat, apapun masalahnya.
Kode etik ini merupakan bentuk atau isyarat bahwa pers Amerika Serikat menuju
kepada pers yang bertanggung jawab.

b. Sistem Pers Komunis (Rusia)


Kehidupan pers di negara-negara komunis (yang akan diwakili oleh Sistem Pers
Rusia) pada umumnya, merupakan cerminan sistem sosial dan politik komunis. Bertolak
11

dari konsep bahwa kepemilikan atas sarana-sarana produksi dan distribusi berada di
bawah kekuasaan negara, maka pers di negara Komunis dimiliki sepenuhnya oleh
pemerintah; tidak adak kepemilikan oleh perorangan atau swasta. Pemerintah dan partai
komunis menggunakan pers sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuannya, yaitu
sebagai instrumen yang terintegrasi dengan kekuasaan pemerintah dan partai untuk
kegiatan propaganda dan agitasi.
Menurut Heinz Ditriech Fisher dan John C. Merril, dalam buku “Internasional
Communication” yang di kutip oleh F. Rachmadi, menyatakan “ Membicarakan sistem
pers Uni Soviet (Rusia), tidak dapat terlepas dari tiga nama tokoh yang meletakan
dasar sistem pers Soviet. Mereka adalah Lenin, Stallin, dan Kruchcev.”..... “Menurut
Lenin, pers harus melayani kepentingan kaum buruh yang merupakan kelompok
mayoritas”. Dijelaskan lebih lanjut, Lenin adalah pencetus teori pers komunis dan
Stalinlah yang menerapkan ajaran Lenin. Stalinlah yang membuat lembaga sensor,
penekanan-penekanan, dan sebagainya, sedangkan Krushcev lebih menyadari bahwa
pers itu ternyata dapat juga menjadi forum pertukaran pendapat.

Fokus Kita :
Didalam sistem pers komunis dikenal adanya lembaga kontrol atau lembaga sensor
yang diberi nama Glavit yang bertugas antara lain mengawasi bahan-bahan pers yang
akan dipublikasikan dan tugas-tugas untuk mengamankan politik ideologis dan
keamanan.

Secara ringkas tentang fungsi pers di bekas negara Uni Soviet (Rusia) seperti yang
ditulis oleh F. Rachmadi , adalah sebagai berikut :
1) Pers sebagai alat propaganda, agitator, dan organisator kolektif.
2) Pers merupakan tempat pendidikan kader-kader komunis di kalangan masa.
3) Pers bertugas sebagai lembaga yang memmobilisasi dan berorganisir masa untuk
pembangunan ekonomi.
4) Pers menerapkan dan menyiarkan semua dekrit, keputusan, intruksi yang di
keluarkan oleh Komite Sentral Partai maupun oleh Pemerintah Rusia serta bahan
publikasi lain dari pemerintah.
5) Pers berfungsi sebagai alat untuk melakukan kontrol dan kritik.
Sesuai dengan fungsi dan peranan pers di Rusia, mereka tidak mementingkan
pemberitaan, karena badan sensor tidak akan memberi izin untuk memberitakan
kejadian-kejadian penting yang tidak dikehendaki, serta menghindari pemberitaan-
pemberitaan tentang hak asasi manusia.

c. Karakteristik Pokok Pers Barat dan Pers Komunis


Sistem pers sebagaimana sistem-sistem yang lain di berbagai negara, memiliki ciri
khas atau karakteristik masing-masing. Berikut ini, perbandingan karakteristik pers
Barat dan pers Komunis/Sosialis.

Perbandingan Karakteristik Sistem Pers


Pers Barat Pers Komunis
1. Mengagung-agungkan kebebasan pers 1. Sistem pers Komunis/ Sosialis
yang seluas-luasnya, karena mereka didasari oleh ajaran Marxisme/
merasa bahwa kebebasan pers berkaitan Leninisme.
12

erat dengan kebebasan politik (asas


Demokrasi). Pers memiliki peranan
penting di dalam sistem politik modern.
2. Pers berada di tangan partai
2. Hubungan pers dan pemerintah adalah komunis dan menjadi organ
saling berhadapan (adversary theory), propaganda dan agitasi partai
dengan persaingan yang sama. Pers untuk mencapai masyarakat
bebas dari campur tangan pemerintah komunis internasional. Kekua-
dan sebaliknya. Demikian pula saan ada ditangan satu partai,
hubungan dengan masyarakat, yaitu partai komunis dengan
keduanya sama-sama saling sistem pengendalian media
membutuhkan. Tanpa saling masa secara sentral.
menunjang, maka baik pers maupun
masyarakat akan sama-sama kehilangan
mata rantai kehidupan. 3. Kebebasan pers secara formal di
jamin dalam konstitusi, tetapi di
3. Media masa, khususnya pers, sebagai dalam praktiknya terdapat
ajang bisnis besar (di Amerika Serikat). penekanan-penekanan, dengan
Pelayanan pokok terhadap kemajuan di ciptakannya lembaga sensor
bidang ekonomi, adalah bahwa pers yang di sebut “GLAVIT”.
mampu menjangkau konsumen yang
luas untuk mengiklankan suatu produk.
Tanpa iklan, produk industri tidak akan
dikenal oleh konsumen. 4. Kebebasan hanya ada pada
kaum proletar, yaitu kaum
4. Angka sirkulasi surat kabar sangat buruh. Menurut Lenin, sistem
tinggi. Ratio antara surat kabar dengan pers yang berlaku di Soviet
penduduk berbanding 1 : 3, bahkan ada adalah pers yang melayani
yang mencapai 1: 2. Sirkulasi surat kepentingan kaum buruh.
kabar yang besar itu ditunjang oleh
sistem disribusi yang baik pula. 5. Kebebasan individu dibatasi dan
masyarakatnya bersifat tertutup.
5. Media masa khusunya pers,
mempunyai pengaruh yang kuat
terhadap kehidupan sosial dan politik
dalam masyarakat.
6. Reading habit masyarakat tinggi,
ditunjang oleh pendapata per kapita
yang tinggi pula.
7. Teknik persurat kabaran sangat
modern, ditunjang oleh teknologi
komunikasi yang canggih.

4. Sistem Pers di Negara-Negara Berkembang

a. Pengertian
Sebagian besar negara-negara berkembang adalah negara-negara yang baru merdeka
setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua yang ada pada kawasan benua Asia, Afrika,
13

dan Amerika Latin. Kehadirannya ada yang lahir melalui perjuangan kemerdekaan
(seperti Indonesia, Vietnam, Aljazair), ada pula yang merupakan pemberian dari negara
penjajahnya seperti India, dan Malaysia. Akibat cara memperoleh kemerdekaan yang
berbeda, hal ini sangat berpengaruh terhadap sosial, ekonomi, politik dan budaya serta
sistem pers negara yang bersangkutan. Pers di negara-negara berkembang pun berada
dalam proses perubahan nilai-nilai lama ke nilai-nilai baru yang lebih bersifat
nasionalisme.
Namun ironisnya setelah terbentuknya pemerintahan sendiri yang berdaulat,
sebagian negara-negara berkembang tersebut masuk kembali dalam pusaran penjajahan.
Bedanya, penjajahan kali ini dilakukan oleh pemerintahan sendiri yang dipimpin oleh
pemimpin yang otoriter. Para pemimpin otoriter ini melakukan kontrol terhadap segenap
kehidupan masyarakat dan sebaliknya, berupaya membebaskan pemerintahannya dari
kontrol masyarakat.

Fokus Kita :
Penduduk di negara-negara berkembang dengan jumlah lebih kurang 70 % dari
penduduk dunia, hanya sekitar 26% yang mengkonsumsi surat kabar dari total
sirkulasi surat kabar di dunia. Hal ini menunjukkan, bahwa minat baca (reading
habit) penduduk negara-negara berkembang masih sangat rendah yang disebabkan
karena angka tuna aksara (buta huruf) masih tinggi dan pendapatan per kapita masih
rendah pula.
Lembaga pers juga tidak lepas dari pengaruh dan kontrol pemerintah. Hal ini tidak
dapat dihindarkan dari kenyataan bahwa pers dapat menjadi pembentuk opini publik.
Jika kritisme pers dapat dibungkam, besar kemungkinan kendali terhadap segenap
kehidupan rakyat akan tergenggam aman di tangan penguasa.

b. Sistem Pers dan Karakteristiknya di Negara-negara Berkembang


Sistem politik dan sistem pemerintahan di negar-negara berkembang pada umumnya
masih mengikuti atau meneruskan sistem pemerintahan/sistem politik negara bekas
penjajahnya dengan beberapa penyesuaian, termasuk pula pada sistem persnya. Pers di
negara-negara berkembang hingga kini, kebanyakan berada dalam proses transisi dan
transformasi dari nilai-nilai lama (kolonial) ke nilai-nilai baru (nasional).
Dengan demikian berarti mereka berada dalam proses mencari bentuk yang paling
tepat, atau sedang berusaha keras untuk menemukan indentitas dirinya. Ciri-ciri khusus
sistem pers pada negara-negara berkembang umumnya adalah sebagai berikut :
1) Sistem persnya cenderung mengikuti sistem pers negara bekas penjajahnya.
2) Pers di negara berkembang sampai saat ini berada dalam bentuk transisi. Ia masih
berusaha mencari bentuk yang tepat atau mencari identitas. Karena masih dalam
taraf transisi, maka pers negara berkembang biasanya kurang stabil.
3) Negara berkembang umumnya sedang membangun. Hal ini menyebabkan pers
dituntut untuk bisa berperan sebagai “agent of social change” di mana pers bersma-
sama pemerintah mempunyai tanggung jawab atas keberhasilan pembangunan.
4) Secara umum kebebasan pers di negara berkembang diakui keberadaannya, tetapi
dalam pelaksanaannya terdapat pembatasan-pembatasan. Hal ini disebabkan oleh
karena pers dituntut untuk ikut menjamin atau mengusahakan stabilitas politik dan
14

ikut serta dalam pembangunan ekonomi. Pada umumnya, sistem persnya menganut
sistem tanggung jawab sosial (social responsibility ).
5) Pada umumnya, pers di negara berkembang mengalami masalah yang sama di
bidang komunikasi, yaitu; ketimpangan informasi, monopoli, dan pemusatan yang
berlebihan dari sumber dan jalur komunikasi. Hal ini mengakibatkan adanya
dominasi negara maju atas negara berkembang di bidang informasi dan komunikasi.
6) sistem dan pola hubungan antara pers dan pemerintah mempunyai tendensi
perpaduan antara sistem-sistem yang ada (libertarian, authoritarian, social
responsibility, dan lain-lain.).

Penugasan Praktik Kewarganegaraan 2

Carilah sumber informasi lain baik dari buku, koran, majalah, internet, buletin dan
sebagainya, kemudian lakukan hal-hal berikut :
Rumuskan kembali pemahaman tentang “Sistem Pers” yang diterapkan di
beberapa negara (Barat, Komunis dan Berkembang) !
Berikan alasan penjelasan, mengapa sistem pers di negara-negara barat
(terutama di Amerika Serikat yang berfalsafah liberalisme) ada tidak sependapat
dengan kebebasan pers yang ada !
Berikan alasan penjelasan, mengapa di negara-negara Komunis pada
umumnya, kebebasan pers sulit diwujudkan !
Tulisakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) karakteristik sistem pers di negara-
negara berkembang pada umumnya !
Berikan penjelasan, bagaimana hubungan antara keberadaan pers yang bebas
dan bertanggung jawab dengan hak asasi manusia dan demokrasi !

5. Sifat, Fungsi dan Peranan Pers

a. Sifat Pers
Ideologi atau falsafah yang dianut setiap negara, akan berpengaruh terhadap sifat
pers yang ada di negara tersebut. Oleh sebab itu, sifat pers antara satu negara dengan
negara lainnya tidak sama. Hingga sekarang paling tidak terdapat 6 (enam) sifat pers
yang penerapannya berbeda, yaitu dapat dilihat berikut ini :

Sifat Pers Contoh


No Keterangan/Uraian
(Falsafah) Negara
1. Liberal Kebebasan pers dipersepsikan sebagai Amerika
Democration kebebasan yang tanpa batas. Artinya, Serikat,
press (Pers kritik dan komentar pers dapat dilakukan Inggris, &
Demokrasi kepada siapa saja, termasuk kepada kepala negara-negara
liberal). negara sekalipun. Presiden Amerika Serikat, Eropa.
15

Richard Nixon misalnya, tumbang setelah


dihujat habis-habisan pers AS, karena
skandal “ watergate-nya”.

2. Communist Press Terbentuk karena latar belakang Rusia, Cina,


(Pers Komunis) pemerintahan negaranya yamg menitik Kuba, Korea
beratkan pada kekuasaan tunggal Partai Utara, dan
Komunis. Dengan demikian, suara pers lain-lain.
harus sama dengan suara partai komunis
yang berkuasa, dan wartawannya adalah
orang-orang yang setia kepada partai
komunis. Pers komunis umumnya berada di
negara-negara sosialis yang menganut
ideologi komunis atau marxisme.

3. Authoritarian Terlahir dari negara penganut politik fasis, Jerman (Adolf


Press (Pers dimana pemerintah berkuasa secara mutlak. Hitler) dan
Otoriter ) Pers Otoriter terjadi pada saat pemerintahan Italia
Nazi Jerman (1936-1945) yang sangat (Musolini)
terkenal kekejamannya. Pers dilarang
melakukan kritik dan kontrol kepada
pemerintah. Pers hanya untuk kepentingan
penguasa.

4. Freedom and Istilah ini semula merupakan slogan dari


Responsibility negara-negara barat, yang menginginkan
Perss (Pers kebebasan pers harus
Bebas dan dipertanggungjawabkan kepada kehidupan
Bertanggung- bermasyarakat. Akan tetapi karena negara-
jawab) negara tersebut masing-masing mempunyai
pandangan berbeda terhadap pengertian
bebas, maka kebebasan pers disetiap negara
menjadi berbeda pula, tergantung pada
bobot yang dianut oleh masimg-masimh
negara.

5. Development Dimunculkan oleh para jurnalis dari negara- Indonesia, dan


Press (Pers negara yang sedang berkembang negara-negara
Pembangunan) (development country) dengan alasan karena Asia, Afrika
sedang giat-giatnya melakukan dan Amerika
pembangunan. Namun masing-masing Latin.
negara tersebut memiliki arah dan tujuan
pembangunan yang berbeda. Untuk
menyamakan pandangan terhadap pers
pembangunan, Wilbur Schramm memberi-
kan batasan sebagai berikut :
a. Pers harus dapat menciptakan iklim
pem-bangunan di negaranya.
b. Pers harus mampu mengarahkan perha-
tian masyarakat dari kebiasaan lama
16

menjadi perilaku yang lebih maju lagi.


c. Pers harus mampu memperluas panda-
ngan (cakrawala) bagi masyarakatnya.
d. Pers harus dapat meningkatkan aspirasi
dan mendorong masyarakat berpola
pikir kearah kehidupan yang lebih baik
lagi.
e. Pers harus bisa memperlebar tukar piki-
ran (diskusi) dan kebijakan (policy).
f. Pers harus mampu menetapkan norma
sosial.
g. Pers harus mampu membantu secara
substansial dari semua jenis kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.

6. Five Foundation Dilahirkan oleh bangsa Indonesia karena Indonesia


Press (Pers falsafah negaranya adalah Pancasila.
Pancasila) Sampai sekarang belum ditemukan definsi
yang tepat. Beberapa tokoh pers, memberi
ancar-ancar sifat pers Pancasila itu adalah
pers yang melihat segala sesuatu secara
proposional. Pers Pancasila mencari
keseimbangan dalam berita atau tulisannya
demi kepentingan dan kemaslahatan semua
pihak sesuai dengan konsensus demokrasi
Pancasila.

b. Misi dan Fungsi Pers


Pers sesungguhnya lebih dikenal sebagai Lembaga Kemasyarakatan (social
institution). Sebagai lembaga sosial, pers mempengaruhi pola pikir dan kehidupan
masyarakat, tetapi sebaliknya masyarakat juga berpengaruh terhadap pers. Pers dapat
mempengaruhi masyarakat karena ia sebagai komunikator massa. Pers berusaha
menyampaikan informasi dengan sesuatu yang baru, karena masyarakat sebagai
konsumen pers, sangat selektif dalam memilih informasi.
Pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang pengumpulan dan
penyebaran informasi mempunyai misi sebagai berikut :
1) Ikut mencerdaskan masyarakat,
2) Menegakkan keadilan,
3) Memberantas kebatilan.

Fokus Kita :
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pada Pasal 3
antara lain disebutkan pers nasional berfungsi sebagai media informasi, pendidikan,
hiburan, kontrol sosial dan dapat juga sebagai lembaga ekonomi.
17

Dalam tulisan Kusman Hidayat yang berjudul “Dasar-dasar Jurnalistik/Pers“


menyatakan bahwa Pers mempunyai 4 (empat) fungsi sebagai berikut :
1) Fungsi Pendidik, yaitu melalui karya-karya tercetaknya dengan segala isi, baik
langsung ataupun tidak langsung dengan sifat keterbukaannya, membantu
masyarakat meningkatkan budayanya. Segala peristiwa yang dimuat pers,
masyarakat bisa menilai sendiri hal ihwal sebagai teladan bagi kehidupannya.
Melalui rubrik-rubrik khusus, seperti ruang kebudayaan atau ruang ilmu
pengetahuan, dapat menambah pengetahuan masyarakat.
2) Fungsi Penghubung, dengan ciri universalitasnya, pers merupakan sarana lalu-
lintas hubungan antar manusia. Melalui pers akan tumbuh saling pengertian atau
dapat digunakan oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan untuk menumbuhkan
kontak antar manusia agar tercipta saling pengertian dan saling tukar pandangan
bagi perkembangan dan kemajuan hidup manusia.
3) Fungsi Pembentuk Pendapat Umum; melalui rubrik-rubrik dan kolom-kolom
tertentu seperti tajuk rencana, pikiran pembaca, pojok, dan lain-lain, merupakan
suatu ruang untuk memberikan pandangan atau pikiran kepada khalayak pembaca.
4) Fungsi Kontrol, dengan fungsi ini pers berusaha melakukan bimbingan dan
pengawasan kepada masyarakat tentang tingkah laku yang benar atau tingkah laku
yang tidak dikehendaki oleh khalayak.
Bonus Info Kewarganegaraan

Menurut Mochtar Lubis, di negara-negara berkembang pers mempunyai 5


(lima) fungsi, yaitu :
a. Fungsi pemersatu, yakni memperlemah tendensi perpecahan, baik perpecahan
sosial maupun kultural.
b. Fungsi pendidik, artinya memberikan informasi perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, do samping menunjukkan betapa kemajuan IPTEK
itu dapat dimanfaatkan untuk mencapai kesejahteraan material dan spiritual.
c. Fungsi “public watch dog “ atau penjaga kepentingan umum. Dalam hal ini
pers harus melawan setiap penyalahgunaan kekuasaan dana korupsi, menentang
setiap kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat, serta
menyuarakan kepentingan kelompok kecil rakyat yang tidak dapat menyuarakan
kehendaknya.
d. Fungsi mengapuskan mitos dan mistik dari kehidupan politik negara-negara
berkembang.
e. Fungsi sebagi forum untuk membicarakan masalah-masalah politik yang
dihadapi oleh negar-negara Asia, dan menumbuhkan dialog agar timbul
pemecahan masalah yang dihadapi bersama.

c. Peranan Pers
Di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, disebutkan bahwa
pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut :
18

1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.


2) Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum,
dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan.
3) Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan
benar.
4) Melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan
dengan kepentingan umum.
5) Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Fokus Kita :
Pers dalam menjalankan fungsi, tugas dan peranannya menghadapi banyak
tantangan dan masalahnya sendiri. Pers ditantang untuk bekerja lebih profesional
sesuai kode etik jurnalistik, dan dilain pihak pers menghadapi masalah bagaimana
memperoleh tenaga yang profesional, cakap dan terampil.

Sedangkan menurut Jacob Utama, dalam konteks masyarakat Indonesia pers


mempunyai peranan khusus sebagai berikut :
1) Tugas untuk memperkuat dan mengkreatifkan konsensus-konsensus dasar nasional.
Ini penting karena umumnya negara sedang berkembang adalah bangsa yang masih
membutuhkan konsensus dasar bagi perekat integrasi nasional. Itulah infrastruktur
kejiwaaan bagi pembangunan bangsa.
2) Pers perlu mengenali masalah-masalah sosial yang peka dalam masyarakatnya.
Bukan untuk didiamkan, tetapi juga bukan serta merta diberitakan begitu saja. Perlu
diusahakan pemecahannya bersama pemerintah dan masyarakat secara bijaksana
dengan tetap berorientasi maju.
3) Pers perlu menggerakkan prakarsa masyarakat, memperkenalkan usaha-usahanya
sendiri, menemukan potensi-potensinya yang kreatif dalam usaha memperbaiki peri
kehidupannya.
4) Pers menyebarluaskan dan memperkuat rasa mampu masyarakat untuk mengubah
nasibnya sendiri.
5) Kekurangan, kegagalan, serta korupsi dilaporkan bukan untuk merusak dan
membangunkan rasa pesimis, tetapi untuk koreksi dan membangkitkan kegaairahan
dan selalu melangkah
Penugasan Praktik Kewarganegaraan 3
maju. Karena itu harus bersedia mengoreksi diri dan
dikoreksi.
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Sifat, Fungsi dan Peranan Pers, lakukan
Strategi Pembelajaran dengan Penugasan Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC) atau Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis.
Langkah-langkah :
Bentuk kelompok dengan anggotanya antara 4 – 5 orang.
Diberikan “wacana” atau kliping sesuai dengan topik pembelejaran.
Setiap kelompok bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide
pokok serta memberi tanggapan terhadap wacana/kliping, dan ditulis pada
lembar kertas.
Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok.
Buatlah kesimpulan bersama.
Penutup.
19

6. Perkembangan Pers di Indonesia

a. Pers Jaman Penjajahan Belanda


Pemerintah penjajah Belanda sejak menguasai Indonesia, mengetahui dengan benar
pengaruh surat kabar terhadap masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu dipandang perlu
membuat undang-undang khusus untuk membendung pengaruh pers Indonesia, karena
merupakan momok yang harus diperangi.
Saruhum dalam tulisannya yang berjudul “Perjuangan Surat Kabar Indonesia”
yang dimuat dalam sekilas “Perjuangan Surat Kabar”, menyatakan: “Maka untuk
membatasi pengaruh momok ini, pemerintah Hindia Belanda memandang tidak cukup
mengancamnya saja denagn Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Setelah ternyata
dengan KUHP itu saja tidak mempan, maka diadakanlah pula artikel-artikel tambahan
seperti artikel 153 bis dan ter. 161 bis dan ter. dan artikel 154 KUHP. Hal itu pun
belum dianggap cukup, sehingga diadakan pula Persbreidel Ordonantie, yang
memberikan hak kepada pemerintah penjajah Belanda untuk menghentikan penerbitan
surat kabar /majalah Indonesia yang dianggap berbahaya”.
Tindakan lain, di samping Persbeidel Ordonantie adalah Haatzai Artikelen, karena
pasal-pasalnya mengancam hukuman terhadap siapapun yang menyebarkan perasaan
permusuhan, kebencian serta penghinaan terhadap pemerintah Nederland dan Hindia
Belanda (Pasal 154 dan 155) dan terhadap sesuatu atau sejumlah kelompok penduduk di
Hindia Belanda (Pasal 156 dan 157). Akibatnya, banyak korban berjatuhan, antara lain
S.K. Trimurti, sampai melahirkan di penjara, bahkan ada yang sampai di buang ke
Boven Digul.
Demikian juga jaman pendudukan Jepang yang totaliter dan facistis, orang-orang
surat kabar (pers) Indonesia banyak yang berjuang tidak dengan ketajaman penanya
(tulisan), melainkan menempuh cara dan jalan lain (misalnya melalui organisasi
keagamaan, pendidikan, politik, dan sebagainya). Hal ini menggambarkan bahwa
kehidupan pers ketika itu sangat tertekan.

Bonus Info Kewarganegaraan


Surat kabar sebagai senjata untuk menyebarkan cita-cita sudah dikenal di dalam
sejarah dunia. Julius Caesar sebagai pendiri kemaharajaan Romawi pada abad
sebelum masehi, sudah mengetahui betapa pentingnya surat kabar sebagai senjata
yang tajam, sehingga ia menganjurkan untuk menerbitkan surat kabar “Acta
Diurna”.
Napoleon Bonaparte pun menerbitkan surat kabar untuk mempertahankan
20

pendiriannya dan menyerang musuh-musuhnya.


Pers tertua berbahasa Melayu Indonesia antara lain : Bromartani (Solo, 1855),
Djurumartini (1864), Darmo Kondo (1903) yang menjadi harian tahun 1910, juga
harian Pewarta Deli (1912) di Medan.

b. Pers di Masa Pergerakan


Masa pergerakan adalah masa bangsa Indonesia berada pada detik-detik terakhir
penjajahan Belanda sampai saat masuknya Jepang menggantikan Belanda. Pers pada
masa pergerakan tidak bisa dipisahkan dari kebangkitan nasional bangsa Indonesia
melawan penjajahan.
Setelah munculnya pergerakan modern Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908, surat
kabar yang dikeluarkan orang Indonesia lebih banyak berfungsi sebagai alat perjuangan.
Pers saat itu merupakan “terompet” dari organisasi pergerakan orang Indonesia. Surat
kabar nasional menjadi semacam parlemen orang Indonesia yang terjajah. Pers
menyuarakan kepedihan, penderitaan dan merupakan refleksi dari isi hati bangsa
terjajah. Pers menjadi pendorong bangsa Indonesia dalam perjuangan memperbaiki
nasib dan kedudukan bangsa.
Beberapa contoh harian yang terbit pada masa pergerakan, antara lain sebagai
berikut:
1) Harian “Sedio Tomo” sebagai kelanjutan harian Budi Utomo yang terbit di
Yogyakarta didirikan bulan Juni 1920.
2) Harian “Darmo Kondo” terbit di Solo, yang dipimpin oleh Sudarya Cokrosisworo.
3) Harian “Utusan Hindia” terbit di Surabaya, yang dipimpin oleh HOS.
Cokroaminoto.
4) Harian “Fadjar Asia” terbit di Jakarta, dipimpin oleh Haji Agus Salim.
5) Majalah mingguan “Pikiran Rakyat” terbit di Bandung, didirikan oleh Ir. Soekarno.
6) Majalah berkala “Daulah Rakyat”, dipimpin oleh Moch. Hatta dan Sutan Syahrir.
Karena sifat dan isi pers pergerakan anti penjajahan, pers mendapat tekanan dari
pemerintah Hindia Belanda. Salah satu cara pemerintah Hindia Belanda saat itu adalah
dengan memberikan hak kepada pemerintah untuk memberantas dan menutup usaha
penerbitan pers pergerakan. Pada masa pergerakan itu berdirilah Kantor Berita
Nasional Antara pada tanggal 13 Desember 1937.

c. Pers di Masa Penjajahan Jepang


Jepang menduduki Indonesia selama kurang lebih 3,5 tahun. Untuk meraih simpati
rakyat Indonesia, Jepang melakukan propaganda tentang Asia Timur Raya. Namun,
propaganda itu hanyalah demi kejayaan Jepang belaka. Sebagai konsekuensinya,
seluruh sumber daya Indonesia diarahkan untuk kepentingan Jepang.

Fokus Kita :
Pada masa penjajahan Jepang, boleh dikatakan pers nasional mengalami
kemunduran besar. Pers nasional yang pernah hidup di jaman pergerakan secara
sendiri-sendiri dipaksa bergabung untuk tujuan yang sama, yaitu mendukung
kepentingan Jepang.
21

Pers di masa pendudukan Jepang semata-mata menjadi alat pemerintah Jepang dan
bersifat pro Jepang. Beberapa harian yang muncul pada masa itu, antara lain:
1) Asia Raya di Jakarta
2) Sinar Baru di Semarang
3) Suara Asia di Surabaya
4) Tjahaya di Bandung
Pers nasional masa pendudukan Jepang memang mengalami penderitaan dan
pengekangan kebebasan yang lebih daripada jaman Belanda. Namun, ada beberapa
keuntungan yang didapat oleh para wartawan atau insan pers di Indonesia yang bekerja
pada penerbitan Jepang, antara lain sebagai berikut:
1) Pengalaman yang diperoleh para karyawan pers Indonesia bertambah. Fasilitas dan
alat-alat yang digunakan jauh lebih banyak daripada masa pers jaman Belanda. Para
karyawan pers mendapat pengalaman banyak dalam menggunakan berbagai fasilitas
tersebut.
2) Penggunaan Bahasa Indonesia dalam pemberitaan makin sering dan luas. Penjajah
Jepang berusaha menghapuskan bahasa Belanda dengan kebijakan menggunakan
bahasa Indonesia dalam berbagai kesempatan. Kondisi ini sangat membantu
perkembangan bahasa Indonesia yang nantinya juga menjadi bahasa nasional.
3) Adanya pengajaran untuk rakyat agar berpikir kritis terhadap berita yang disajikan
oleh sumber-sumber resmi Jepang. Selain itu, kekejaman dan penderitaan yang
dialami pada masa pendudukan Jepang memudahkan para pemimpin bangsa
memberikan semangat untuk melawan penjajahan.

d. Pers di Masa Revolusi Fisik


Periode revolusi fisik terjadi antara tahun 1945 sampai 1949. Masa itu adalah masa
bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan yang berhasil diraihnya pada
tanggal 17 Agustus 1945. Belanda ingin kembali menduduki Indonesia, sehingga
terjadilah perang mempertahankan kemerdekaan. Pada saat itu, pers terbagi menjadi dua
golongan, yaitu :
1) Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh tentara pendudukan Sekutu dan Belanda
yang selanjutnya dinamakan Pers Nica (Belanda).
2) Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh orang Indonesia yang disebut Pers
Republik.
Kedua golongan ini sangat berlawanan. Pers Republik disuarakan oleh kaum
Republik, yang berisi semangat mempertahankan kemerdekaan dan menentang usaha
pendudukan Sekutu. Pers ini benar-benar menjadi alat perjuangan masa itu. Sebaliknya,
Pers Nica berusaha mempengaruhi rakyat Indonesia agar menerima kembali Belanda
untuk berkuasa di Indonesia.
22

Beberapa contoh Koran Republik yang muncul pada masa itu, antara lain harian
“Merdeka”, “Sumber”, “Pemandangan”, “Kedaulatan Rakyat”, “Nasional” dan
“Pedoman”. Jawatan Penerangan Belanda menerbitkan Pers Nica, antara lain “Warta
Indonesia” di Jakarta, “Persatuan” di Bandung, “Suluh Rakyat” di Semarang, “Pelita
Rakyat” di Surabaya dan “Mustika” di Medan. Pada masa revolusi fisik inilah,
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Serikat Pengusaha Surat Kabar (SPS) “lahir”.
Kedua organisasi ini mempunyai kedudukan penting dalam sejarah pers Indonesia.
Pemerintah republik Indonesia untuk pertama kali mengeluarkan peraturan yang
membatasi kemerdekaan pers terjadi pada tahun 1948. Menurut Smith, “dalam
kegembiraan kemerdekaan ini, pers dan pemerintah bekerja bergandengan tangan erat
sekali dalam seratus hari pertama masa merdeka itu”.

Fokus Kita :
Pejabat pemerintah pada awalnya menyuarakan perasaan yang tepat bahwa
kebebasan pers merupakan sesuatu yang mutlak bagi kebebasan jiwa manusia,
keharusan bagi martabat manusia, dan menjdi dasar bagi proses demokrasi. Namun
belakangan akibat kritikan pers yang pedas, timbul pemaksaan agar pers tunduk di
bawah kekuasaan pemerintah.

Pemerintah memperlihatkan itikad baik terhadap pers dan berusaha membantunya


dengan mengimpor dan mensubsidi kertas koran dan dengan memberikan pinjaman
keuangan. Pada awalnya semua berjalan lancar, namun saat pers mulai bertindak dengan
menyerang pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat sampai pada presiden sendiri,
nampaknya pemerintah yang baru ketika itu belum dapat menerima kritikan yang pedas.
Sesuai dengan fungsi, naluri dan tradisinya, pers harus menjadi penjaga kepentingan
publik (public watch dog). Pers telah menyampaikan saran-saran yang amat diperlukan
oleh pemerintah. Kritik-kritik pers yang pedas dan menjengkelkan, menjadi beban
pemerintah yang terlampau berat, sehingga pemerintah mulai memukul balik kepada
pers. Konflik keduanya berkembang menjadi pertentangan permanen dan pers dipaksa
tunduk di bawah kekuasaan pemerintah.
Untuk menangani masalah-masalah pers, pemerintah membentuk Dewan Pers pada
tanggal 17 Maret 1950. Dewan Pers tersebut terdiri dari orang-orang persuratkabaran,
cendikiawan, dan pejabat-pejabat pemerintah, dengan tugas:
1) Penggantian undang-undang pers kolonial,
2) Pemberian dasar sosial ekonomis yang lebih kuat kepada pers Indonesia (artinya,
fasilitas-fasilitas kredit dan mungkin juga bantuan pemerintah),
3) Peningkatan mutu jurnalisme Indonesia,
4) Pengaturan yang memadai tentang kedudukan sosial dan hukum bagi wartawan
Indonesia (artinya, tingkat hidup dan tingkat gaji, perlindungan hukum, etik
jurnalistik dan lain-lain).
Namun akibat kekuasaan pemerintah yang tidak terlawan, menyebabkan organisasi-
organisasi pers tidak berkutik. Tidak tampak bukti bahwa lembaga-lembaga ini berhasil
membelokkan jalannya kegiatan-kegiatan anti pers, secara berarti.

Bonus Info Kewarganegaraan


23

Edward C. Smith dalam bukunya “Pembredelan Pers Indonesia” mengutip


Ruslan Abdulgani ketika berbicara tentang krisis keadaan Republik Indonesia
sedang bertempur pada tahun 1948, ia mengusulkan :
“Dalam masa belum tercapainya kesatuan ini -- yang mencapai puncaknya
pada peristiwa Madiun (pemberontakan Komunis) -- Republik Indonesia
mengeluarkan peraturannya yang pertama yang membatasi kemerdekaan pers. Yang
terkenal ialah pembatasan yang dikenakan terhadap surat-surat kabar yang ada
hubungannya dengan FDR (Front Demokrasi Rakyat) (Komunis), seperti Harian
Patriot, Buruh dan Suara Ibu Kota. Sebaliknya, FDR ketika terjadi perebutan
kekuasaan di Madiun, mengenakan pembatasan terhadap surat kabar Api Rakyat
untuk memungkinkan “Front Nasional” dapat didengar masyarakat.
Pembatasan yang mencerminkan sikap tidak toleran di kalangan kelompok
militer yang baru, dan ketidaksenangan mereka terhadap kecaman pers nasional ,
ialah pelarangan selama beberapa minggu surat kabar Suara Rakyat Kediri,
mengakibatkan tutupnya surat kabar ini”.

e. Pers di Era Demokrasi Liberal (1949-1959)


Di era demokrasi liberal, landasan kemerdekaan pers adalah Konstitusi Republik
Indonesia Serikat (RIS 1949) dan Undang-Undang Dasar Sementara (1950). Dalam
Konstitusi RIS -- yang isinya banyak mengambil dari Piagam Pernyataan Hak Asasi
Manusia sedunia Universal Declaration of Human Rights, -- pada pasal 19
menyebutkan “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan
pendapat”. Isi pasal ini kemduain dicantumkan kembali dalam Undang-Undang Dasar
Sementara (1950).

Fokus Kita :
Pers di Zaman Liberal (1950-1959) sesuai dengan struktur politik yang berlaku pada
waktu itu, lebih banyak menimbulkan akibat-akibat negatif daripada positif. Selama
periode tahun 1952-1959 menurut catatan Edward C. Smith, terjadi tindakan anti
pers sebanyak 374 kali, dan yang terbanyak selama tahun 1957, yaitu mencapai angka
125 kali.

Awal pembatasan terhadap kebebasan pers adalah efek samping dari keluhan para
wartawan terhadap pers Belanda dan Cina. Pemerintah mulai mencari cara membatasi
penerbitan itu, karena negara tidak akan membiarkan ideologi “asing” merongrong
Undang-undang Dasar. Pada akhirnya pemerintah melakukan pembredelan pers, dengan
tindakan-tindakannya yang tidak terbatas pada pers asing saja.
Pertanda akan terjadinya pembatasan terhadap kebebasan pers, terbaca dalam artikel
Sekretaris Jenderal Kementrian Penerangan, Ruslan Abdulgani, yang antara lain :
“...khusus di bidang pers beberapa pembatasan perlu dikenakan atas kegiatan-kegiatan
kewartawanan orang-orang asing...”. Pernyataan di atas ditindak lanjuti dengan
pengesahan Undang-Undang yang mengharuskan para penerbit Belanda membayar tiga
kali lipat untuk kertas koran ketimbang pers Indonesia.

f. Pers di Zaman Orde Lama atau Pers Terpimpin (1956-1966)


24

Lebih kurang 10 hari setelah Dekrit Presiden R.I. yang menyatakan kembali ke
UUD 1945, tindakan tekanan terhadap pers terus berlangsung, yaitu pembredelan
terhadap Kantor berita PIA dan Surat Kabar Republik, Pedoman, Berita Indonesia, dan
Sin Po yang dilakukan oleh Penguasa Perang Jakarta.

Fokus Kita :
Di zaman orde lama atau Demokrasi Terpimpin atau era Pers Terpimpin, pers lebih
banyak merupakan alat penguasa daripada alat penyambung lidah rakyat.

Upaya untuk membatasi kebebasan pers itu tercermin dari pidato Menteri Muda
Penerangan Maladi, ketika menyambut HUT Proklamasi Kemerdekaan R.I ke-14,
antara lain ia menyatakan; “...Hak kebebasan individu disesuaikan dengan hak kolektif
seluruh bangsa dalam melaksanakan kedaulatan rakyat. Hak berfikir, menyatakan
pendapat, dan memperoleh penghasilan sebagaimana yang dijamin Undang-Undang
Dasar 1945 harus ada batasnya: keamanan negara, kepentingan bangsa, moral dan
kepribadian Indonesia, serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa”.
Pada awal 1960, penekanan kepada kebebasan pers diawali dengan peringatan
Menteri Muda Penerangan Maladi bahwa “langkah-langkah tegas akan dilakukan
terhadap surat kabar, majalah-majalah, dan kantor-kantor berita yang tidak mentaati
peraturan yang diperlukan dalam usaha menerbitkan pers nasional”. Masih pada tahun
1960, penguasa perang mulai mengenakan sanksi-sanksi perizinan terhadap pers. Demi
kepentingan pemeliharaan ketertiban umum dan ketenangan, penguasa perang mencabut
izin terbit Harian Republik.
Memasuki tahun 1964 kondisi kebebasan pers semakin memburuk, hal ini
digambarkan oleh E.C. Smith dengan mengutip dari “Army Handbook“ bahwa
Kementerian Penerangan dan badan-badannya mengontrol semua kegiatan pers.
Perubahan yang ada hampir-hampir tidak lebih dari sekedar perubahan sumber
wewenang karena sensor tetap ketat dan dilakukan secara sepihak.
Berdasarkan uraian di atas, tindakan-tindakan penekanan terhadap kemerdekaan
pers oleh penguasa Orde Lama, bertambah bersamaan dengan meningkatnya ketegangan
dalam pemerintahan. Tindakan-tindakan penekanan terhadap kebebasan pers merosot,
ketika ketegangan dalam pemerintahan menurun. Lebih-lebih setelah percetakan-
percatakan diambil alih oleh pemerintah dan para wartawan diwajibkan untuk berjanji
mendukung politik pemerintah, sangat sedikit pemerintah melakukan tindakan
penekanan kepada pers.

Bonus Info Kewarganegaraan

Tindakan pembatasan terhadap kemerdekaan pers selama tahun 1959 sama


arahnya dengan tahun-tahun sebelumnya, dengan jumlah tindakan sebanyak 73 kali.
Selama 1960 terjadi tiga kali pencabutan izin terbit, sedangkan pada tahun 1961
mencapai 13 kali. Rincian tindakan penekanan atau tindakan anti pers selama 14
tahun sejak Mei 1952 sampai dengan Desember 1965, menurut catatan Edward C.
Smith mencapai 561 tindakan.
Pemerintah menekankan bahwa fungsi utama pers ialah menyokong tujuan
revolusi dan semua surat kabar menjadi juru bicara resmi pemerintah. Hal ini
25

diungkapkan Smith berdasarkan pandangan Presiden Soekarno ketika berpidato di


muka rapat umum HUT ke-19 PWI, yang dimuat oleh New York Times, antara lain
“...Saya dengan tegas menyatakan sekarang bahwa dalam suatu revolusi tidak boleh
ada kebebasan pers. Hanya pers yang mendukung revolusi yang dibolehkan hidup”,
katanya. “Pers yang bermusuhan terhadap revolusi harus disingkarkan”.

g. Pers di Era Demokrasi Pancasila dan Orde Baru


Di awal pemerintahan Orde Baru, menyatakan bahwa akan membuang jauh-jauh
praktek demokrasi terpimpin dan menggantinya dengan Demokrasi Pancasila.
Pernyataan tersebut tentu saja membuat para tokoh politik, kaum intelektual, tokoh
umum, tokoh pers terkemuka dan lain-lain menyambutmya dengan antusias sehingga
lahirlah istilah Pers Pancasila.
Pemerintahan Orde Baru sangat menekankan pentingnya pemahaman tentang Pers
Pancasila. Menurut rumusan Sidang Pleno XXV Dewan Pers, (Desember 1984) bahwa
“Pers Pancasila adalah pers Indonesia dalam arti pers yang orientasi, sikap dan
tingkah lakunya berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hakekat Pers
Pancasila adalah pers yang sehat, yakni pers yang bebas dan bertanggung jawab
dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan obyektif,
penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstrukrif”

Fokus Kita :
Memasuki era Orde Baru, pers menyambutnya dengan penuh suka cita, karena
pemerintah memberi kebebasan penuh kepada pers setelah mengalami masa
traumatik selama tujuh tahun di zaman Orde Lama. Apalagi apabila pemberitaan
menyoroti kebobrokan rezim Orde Lama.

Masa “bulan madu” antara pers dan pemerintah ketika itu dipermanis dengan
keluarnya Undang-undang Pokok Pers (UUPP) Nomor 11 Tahun 1966, yang dijamin
tidak ada sensor dan pembredelan, serta penegasan bahwa setiap warga negara
mempunyai hak untuk menerbitkan pers yang bersifat kolektif, dan tidak diperlukan
surat izin terbit. Kemesraan tersebut ternyata hanya berlangsung kurang lebih delapan
tahun, karena sejak terjadinya “Peristiwa Malari” (peristiwa limabelas Januari 1974),
kebebasan pers mengalami set-back (kembali seperti jaman Orde Lama).
Terjadinya Peristiwa Malari tahun 1974, berakibat beberapa surat kabar dilarang
terbit Tujuh surat kabar terkemuka di Jakarta (termasuk Kompas ) diberangus untuk
beberapa waktu dan baru diijinkan terbit kembali, setelah para pemimpin redaksinya
menandatangani surat pernyataan maaf. Penguasa lebih menggiatkan larangan-larangan
melalui telepon supaya pers tidak menyiarkan suatu berita, ataupun para wartawan lebih
diperingatkan untuk mentaati kode etik jurnalistik sebagai “selfcensorship”.(saya
memperhitungkan ). Demikian juga pengawasan terhadap kegiatan pers dan wartawan
diperketat. (menjelang ) Sidang MPR-1978.
Pers pasca Malari merupakan pers yang cenderung “mewakili” kepentingan
penguasa, pemerintah atau negara. Pada saat itu pers jarang, malah tidak pernah
melakukan kontrol sosial secara krisis, tegas dan berani. Pers pasca Malari tidak
artikulatif dan mirip dengan jaman rezim Demokrasi Terpimpin. Perbedaan hanya pada
26

kemasan yakni rezim Orde Baru melihat pers tidak lebih dari sekedar institusi politik
yang harus diatur dan dikontrol seperti halnya dengan organisasi massa dan Partai
Politik.

Bonus Info Kewarganegaraan

Prof. Oemar Seno Adji, SH dalam bukunya “Mass Media dan Hukum”
menggambarkan kebebasan pers di alam demokrasi Pancasila, dengan karakteristik
sbb:
1. Kemerdekaan pers harus diartikan sebagai kemerdekaan untuk mempunyai dan
menyatakan pendapat dan bukan sebagai kemerdekaan untuk memperoleh alat-
alat dari expression tadi, seperti dikatakan oleh negara-negara sosialis.
2. Tidak mengandung lembaga sensor preventif.
3. Kebebasan ini bukanlah tidak terbatas, tidak mutlak dan
bukanlah tidak bersyarat sifatnya.
4. Ia merupakan suatu kebebasan dalam lingkungan batas-
batas tertentu, dan syarat-syarat limitatif dan demokratis, seperti diakui oleh
hukum internasional dan ilmu hukum.
5. Kemerdekaan pers ini dibimbing oleh rasa tanggung
jawab, dan membawa kewajiban-kewajiban yang untuk pers sendiri disalurkan
melalui beroepsthiek mereka.
6. Ia merupakan kemerdekaan yang disesuaikan dengan
tugas pers sebagai kritik adalah negatif karakternya, melainkan pula ia positif
sifatnya, apabila ia menyampaikan “wettige-initiativen “ dari pemerintah.
7. Aspek positif di atas tidak mengandung dan tidak
membenarkan suatu konklusi, bahwa posisinya adalah “subordinated “ terhadap
penguasa politik.
8. Adalah suatu kenyataan, bahwa aspek positif ini jarang
ditemukan oleh kaum Libertarian sebagai suatu unsur essentiel dalam persoalan
mass-communication .
9. Pernyataan, bahwa pers itu tidak “subordinated ” kepada
penguasa politik berarti, bahwa konsep authoritarian tidak acceptable bagi Pers
Indonesia.

10. Konsentrasi perusahaan-perusahaan pers, bentukan dari


“chains “yang bisa merupakan ekspresi dari kapitalisme yang “ongebreideld “,
merupakan suatu hambatan yang “daadwerkelijk “ dan ekonomis terhadap
pelaksanaan idee kemerdekaan pers. Pemulihan suatu bentuk perusahaan, entah
dalam bentuk co-partnership atau co-operative entah dalam bentuk lain, yang
tidak memungkinkan timbulnya konsentrasi dari perusahaan pers dalam satu
atau beberapa tangan saja, adalah perlu.
11. Kebebasan pers dalam lingkungan batas limitatif dan demokratis , dengan
menolak tindakan preventif adalah lazim dalam Negara Demokrasi dan karen
27

aitu tidak bertentangan dengan idee pers merdeka.


12. Konsentrasi perusahaan-perusahaan yang membahayakan “performance “ dari
pers excessife, kebebasan pers yang dirasakan berkelebih-lebihan dan seolah-
olah memberikan hak kepada pers untuk misalnya berbohong (the right to lie ),
mengotorkan nama orang (the right to vilify ), the right ti invade privacy, the
right to distort dan lain-lain, dapat dihadapi dengan rasa tanggung jawab dari
pers sendiri. Ia harus memberikan ilustrasi tentang suatu pers yang bebas, akan
tetapi bertanggung jawab (a free and responsible ).

h. Kebebasan Pers di Era Reformasi


Sejak masa reformasi tahun 1998, pers nasional kembali menikmati kebebasan pers.
Hal demikian sejalan dengan alam reformasi, keterbukaan dan demokrasi yang
diperjuangkan rakyat Indonesia. Pemerintahan pada masa reformasi sangat
mempermudah izin penerbitan pers. Akibatnya, pada awal reformasi banyak sekali
penerbitan pers atau koran-koran, majalah atau tabloid baru bermunculan. Bisa
dikatakan pada awal reformasi kemunculan pers ibarat jamur di musim hujan.
Kalangan pers mulai bernafas lega ketika di era reformasi pemerintah mengeluarkan
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kendati belum sepenuhnya memenuhi
keinginan kalangan pers, kelahiran undang-undang pers tersebut disambut gembira,
karena tercatat beberapa kemajuan penting dibanding dengan undang-undang
sebelumnya, yaitu Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang Pokok-Pokok Pers
(UUPP).

Fokus Kita :
Pada tanggal 21 Mei 1998 Orde Baru tumbang dan mulailah Era Reformasi. Tuntutan
reformasi bergema di semua sektor kehidupan, termasuk sektor kehiduan pers.
Selama rezim Orde Lama dan ditambah dengan 32 tahun di bawah rezim Orde Baru,
Pers Indonesia tidak berdaya, karena senantiasa di bawah bayang-bayang maut
terancam pencabutan surat izin terbit.

Di dalam Undang-undang Pers yang baru ini, dengan tegas menjamin adanya
kemerdekaan pers, sebagai hak asasi warga negara (Pasal 4). Itulah sebabnya mengapa
tidak lagi di singgung perlu tidaknya surat izin terbit. Di samping itu ada jaminan lain
yang diberikan oleh undang undang ini, yaitu terhadap pers nasional tidak di kenakan
penyensoran, pembredelan dan pelarangan penyiaran sebagaima tercantum dalam Pasal
4 ayat (2).
Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan
mempunyai hak tolak. Tujuan hak tolak adalah agar wartawan dapat melindungi
sumber informasi, dengan cara menolak menyebutkan identitas sumber informasi. Hak
tersebut dapat digunakan jika wartawan dimintai keterangan oleh penjabat penyidik dan
atau dimintai menjadi saksi di pengadilan. Hak tolak dapat dibatalkan demi kepentingan
dan keselamatan negara atau ketertiban umum yang dinyatakan oleh pengadilan.
Pada masa reformasi ini dengan keluarnya Undang-Undang tentang pers, yaitu
Undang- Undang No. 40 Tahun 1999 tentang pers, maka pers nasional melaksanakan
peranan sebagai berikut :
28

1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan informasi


2) Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum
dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan
3) Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan
benar
4) Melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan
dengan kepentingan umum
5) Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Bonus Info Kewarganegaraan

Dengan lahirnya Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999, maka tamatlah


riwayat Peraturan Menteri Penerangan Nomor 01 Tahun 1998 yang masih
mewajibkan kepada para penerbit untuk memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers
(SIUPP). Perusahaan pers tidak perlu lagi mendaftarkan diri ke Departemen
Penerangan untuk memperoleh SIUPP sebagai mana diatur dalam undang-undang
Pokok Pers Nomor 21 Tahun 1982.
Jadi, jika di era Orde Lama dan Orde Baru, pers sepenuhnya bertanggung jawab
kepada pemerintah, sehingga pers terpaksa sepenuhnya tunduk pada kemauan
pemerintah, sedangkan pers di era Reformasi pertanggungjawaban adalah kepada
profesi dan hati nurani sebagai insan pes.
Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara, dan pers bebas dari
tindakan pencegahan, pelarangan, dan atau penekanan agar hak masyarakat untuk
memperoleh informasi terjamin. Kemerdekaan pers adalah kemerdekaan yang di
sertai kesadaran pentingnya penegakkan supremasi hukum yang dilaksanakan oleh
pengadilan, dan tanggung jawab profesi yang dijabarkan dalam Kode Etik Jurnalistik
seta sesuai dengan hati nurani insan pers.

Penugasan Praktik Kewarganegaraan 4

Carilah sumber informasi lain baik dari buku, koran, majalah, internet, buletin
dan sebagainya, kemudian lakukan hal-hal berikut :
Rumuskan kembali pemahaman
bagaimana suatuanda bangsa
tentang secara sosiologiskehidupan
maupun
Rumuskan kembali perkembangan
politis dapat terbentuk !
pers di Indonesia semenjak pra kemerdekaan hingga sekarang ini !
Berikan penjelasan hubungan antara adanya manusia dengan
Berikan penjelasan
terbentuknya bagaimana
bangsa di dalam peranan
suatu negara pers! Indonesia pada masa
tertentu
penjajahan Belanda dan Jepang !
Berikan penjelasan kembali mengapa unsur konstitutif, merupakan unsur
mutlak dalampenjelasan
Berikan berdirinyakembali
suatu negara ! peranan pers di masa revolusi yang
tentang
Berikandikatakan
sekurang-kurangnya
sebagai “penjaga kepentingan publik” !dan berbedaan antara warga
2 (dua) contoh persamaan
negara dengan bukan warga negara berdasarkan hak dan kewajibannya !
Berikan sekurang-kurangnya
Identifikasikan kembali dalam2 bentuk
(dua) indikator
apa sajakahyangbatas
mendasar antara
suatu negara
peranan pers pada
dengan negara lainmasa
! orde lama dan orde baru !
Identifikasikan kembali dalam bentuk apa sajakah perubahan pers di
Indonesia paska rezim orde baru atau era reformasi dewasa !
29

C. PERS YANG BEBAS DAN BERTANGGUNG JAWAB SESUAI KODE


ETIK JURNALISTIK DALAM MASYARAKAT DEMOKRATIS DI
INDONESIA

1. Landasan Hukum Pers Indonesia


 Pasal 28 UUD 1945
“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan
tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.
 Pasal 28 F UUD 1945
“Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari,
memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.
 Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia
Lebih rincinya lagi terdapat pada Piagam Hak Asasi Manusia, Bab VI, Pasal 20 dan 21
yang berbunyi sebagai berikut:
(20) “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya”.
(21) “Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,
mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis
saluran yang tersedia”.
d. Undang-Undang No. 39 Tahun 2000 Pasal 14 Ayat 1 dan 2 tentang Hak Asasi
Manusia
(1) “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang
diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya”.
(2) “Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah
dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang
tersedia”.
 Undang-undang No. 40 Tahun 1999 dalam Pasal 2 dan Pasal 4 ayat 1 tentang pers
Pasal 2 berbunyi, “Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang
berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum”.
Pasal 4 Ayat 1 berbunyi, “Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga
negara”.

Fokus Kita :
Lahirnya Undang-Undang Pers yang baru (Nomor 40 Tahun 1999) atas pertimbangan
bahwa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan pokok
pers sebagaimana telah diubah lagi dengan Undang-undang No. 4 Tahun 1967 dan
diubah lagi dengan Undang-undang No. 21 Tahun 1982, yang dianggap sudah tidak
sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan zaman.
30

Peraturan tentang pers yang berlaku sekarang ini (Undang-Undang Nomor 40 Tahun
1999 telah diundangkan pada tanggal 23 September 1999 yang dimuat dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 166), memuat berbagai perubahan yang
mendasar atas Undang-Undang pers sebelumnya. Hal ini dimaksudkan agar pers berfungsi
maksimal sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Fungsi
yang maksimal tersebut diperlukan karena kemerdekaan pers adalah satu perwujudan
kedaulatan rakyat dan merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis.
Pencabutan undang-undang lama yang diganti dengan undang-undang baru, pada
hakekatnya mencerminkan adanya perbedaan nilai-nilai dasar politis ideologis antara orde
baru dengan orde reformasi. Hal ini tampak dengan jelas dalam konsideran undang-undang
pers yang baru, yang antara lain bahwa undang-undang tentang ketentuan pokok pers yang
lama dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Di samping itu tentang
fungsi, kewajiban, dan hak pers dalam undang-undang yang baru tidak lagi mengkaitkannya
dengan penghayatan dan pengamalan inti P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila).

Bonus Info Kewarganegaraan


Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya, pers harus
menghormati hak asasi setiap orang. Oleh sebab itu pers dituntut profesional dan terbuka
untuk dikontrol masyarakat, antara lain: bahwa setiap orang dijamin hak jawab dan hak
koreksinya.
Pers memiliki peranan penting dalam mewujudkan Hak Asasi Manusia (HAM)
sebagaimana dijamin di dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
Indonesia Nomor XVII/MPR/1998 yang antara lain yang menyatakan “bahwa setiap
orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi sejalan dengan Piagam
Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hak asasi manusia.” Selanjutnya dalam Pasal 19
berbunyi, “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan
pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan
untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media
apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah”.
Pers juga melaksanakan kontrol sosial (social control ) untuk mencegah terjadinya
penyalahgunaan kekuasaan baik korupsi, kolusi, nepotisme, maupun penyelewengan dan
penyimpangan lainnya.

2. Norma-Norma Pers Nasional


Pers sebagai salah satu unsur mass media yang hadir di tengah-tengah masyarakat demi
kepentingan umum, harus sanggup hidup bersama-sama dan berdampingan dengan
lembaga-lembaga masyarakat lainnya dalam suatu suasana keserasian/sosiologis. Dalam hal
ini, corak hubungan antara satu dengan yang lainnya tidak akan luput dari pengaruh falsafah
yang dianut oleh masyarakat dan bangsa kita, yakni Pancasila dan struktur sosial dan politik
yang berlaku di sini.

Fokus Kita :
Berdasarkan norma-norma keserasian sosiologis yang berpedoman kepada Pancasila,
pers Indonesia dalam pola berpikir dan bekerjanya tidak akan melepaskan diri dari
nilai-nilai gotong-royong yang telah menjadi ciri khas dari pandangan dan sikap bangsa
dan masyarakat.
31

Dalam melaksanakan fungsinya sehari-hari, partisipasi pers dalam pembangunan


melibatkan lembaga-lembaga masyarakat lainnya yang lingkup hubungannya, dapat dibagi
dalam dua golongan sebagai berikut:
1) Hubungan antara pers dan pemerintah
2) Hubungan antara pers dan masyarakat cq. golongan-golongan dalam masyarakat.
Hubungan antara pers dan pemerintah terjalin dalam bentuk yang dijiwai oleh semangat
persekawanan (partnership) dalam mengusahakan terwujudnya masyarakat yang adil dan
makmur berdasarkan Pancasila.
Dalam alam pembangunan, stabilitas politik, ekonomi dan sosial merupakan prasyarat
untuk suksesnya usaha-usaha pembangunan yang sedang diselenggarakan. Dalam hal ini
hendaknya pers merasa “terpanggil” untuk membantu pemerintah dalam menjalankan
kekuasaan pemerintahan umum demi kemantapan stabilitas yang dinamis, tanpa
mengurangi hak-haknya memberikan kritik yang sehat dan konstruktif dalam alam
kebebasan yang bertanggung jawab.
Dalam negara yang sedang membangun, pers sebagai lembaga masyarakat secara
implisif perlu juga dibangun. Dalam hal ini, pemerintah sejauh kemampuannya merasa
“terpanggil” untuk membantu usaha-usaha pers untuk membangun dirinya sendiri, agar
dalam waktu secepat mungkin pers sendiri mampu mengembangkan dirinya atas dasar
kekuatan sendiri.
Jika terjadi perbedaan atau konflik pendapat antara pemerintah dan pers dalam
menjalankan fungsinya masing-masing, maka yang dijadikan dasar penyelesaian adalah
ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku, namun tetap dengan berlandaskan pada itikad
baik untuk menjamin atau menegakkan asas kebebasan pers yang bertanggung jawab.
Hubungan antara pers dan masyarakat dijiwai semangat dan itikad baik untuk saling
membina demi kemajuan masing-masing.
Dalam menjalankan fungsi-fungsinya sebagai sarana penerangan, pendidikan umum,
kontrol sosial dan hiburan pers menjadi wahana bagi pembinaan pendapat umum yang
sehat. Di satu pihak, pers ikut menajamkan daya tangkap dan daya tanggap masyarakat
terhadap langkah-langkah kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Di lain pihak, dengan
meningkatkan daya tangkap dan daya tanggap masyarakat tersebut yang akan tercermin
dalam peningkatan secara kualitatif dan kuantitatif pendapat umum yang disuarakan, pers
dapat menjadi wahana untuk menyampaikan pendapat umum tersebut sebagai “denyut
jantung” rakyat kepada pemerintah untuk dipakai sebagai bahan pengkajian bagi tepat
tidaknya langkah-langkah kebijaksanaan tersebut. Dengan demikian pers membantu
masyarakat meningkatkan partisipasinya dalam melaksanakan tugas-tugas nasional melalui
komunikasi dua arahnya.
Dalam alam dan suasana membangun di mana pers sendiri masih memerlukan
pembangunan diri di segala bidang, masyarakat perlu membantu dan membimbing
pertumbuhan dan perkembangan terhadap segala kekurangan yang terdapat di dalam pers
atau secara positifnya, bantuan masyarakat ini diwujudkan dalam tetap menumpahkan
kepercayaan masyarakat terhadap pers nasional sebagai salah satu sumber informasinya
yang pokok. Dengan jalan demikian perbedaan atau konflik pendapat di dalam tubuh pers
atau lingkungan pers sendiri, atau antara pers dengan masyarakat cq. golongan dalam
masyarakat, dicarikan penyelesaiannya atas dasar hukum yang berlaku, namun tetap
berlandaskan pada itikad baik dari suatu pers yang bertanggung jawab dalam alam hidup
Pancasila.
32

3. Organisasi Pers
Organisasi Pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers (ps. 1: 5).
Organisasi-organisasi tersebut mempunyai latar belakang sejarah, alur perjuangan dan
penentuan tata krama professional berupa kode etik masing-masing. PWI (Persatuan
Wartawan Indonesia) yang lahir di Surakarta, dalam kongresnya yang berlangsung tanggal
8-9 Februari 1946 dan SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar) yang lahir di serambi Kepatihan
Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 8 Juni 1946, merupakan komponen penting dalam
pembinaan pers Indonesia. Ketika itu di Indonesia sedang berkobar revolusi fisik melawan
kolonialisme Belanda yang mencoba menjajah kembali negeri kita.
Dari organisasi inilah adanya komponen sistem pers nasional, yang di dalamnya
terdapat Dewan Pers sebagai lembaga tertinggi dalam sistem pembinaan pers di Indonesia
dan memegang peranan utama dalam membangun institusi bagi pertumbuhan dan
perkembangan pers.
Dewan pers yang independent, dibentuk dalam upaya mengembangkan kemerdekaan
pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional (UU No. 40/1999 ps. 15: 1). Dan Dewan
pers melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut:
a. Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain;
b. Melakukan pengkajian untuk pengembangan pers;
c. Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik;
d. Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas
kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers;
e. Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat dan pemerintah;
f. Memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan di bidang pers dan
meningkatkan kualitas profesi kewartawanan;
g. Mendata perusahaan pers (ps. 15: 2).

Anggota Dewan Pers terdiri dari:


a. Wartawan yang dipilih oleh organisasi wartawan;
b. Pimpinan perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers;
c. Tokoh masyarakat, ahli bidang pers atau komunikasi dan bidang lainnya yang dipilih
oleh organisasi perusahaan pers;
d. Ketua dan wakil ketua Dewan Pers dipilih dari dan oleh anggota;
e. Keanggotaan Dewan Pers sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 3 pasal 15 ditetapkan
dengan keputusan presiden;
f. Keanggotaan Dewan Pers berlaku untuk masa tiga tahun dan sesudah itu hanya dapat
dipilih kembali untuk satu periode berikutnya.

4. Sistem Pers Indonesia


Sistem pers merupakan subsistem dari sistem komunikasi, sedangkan sistem komunikasi
itu sendiri merupakan bagian dari sistem kemasyarakatan (sistem sosial). Sistem
komunikasi adalah sebuah pola tetap tentang hubungan manusia yang berkaitan dengan
33

proses pertukaran lambang-lambang yang berarti untuk mencapai saling pengertian dan
saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan suatu masyarakat yang harmonis.

Fokus Kita :
Suatu sistem pers, adalah sistem kebebasannya. Suatu sistem pers diciptakan untuk
menentukan bagaimana sebaiknya pers itu dapat melaksanakan kebebasan dan
tanggungjawabnya.
Pers dalam sejarah Indonesia, memiliki peranan yang efektif sebagai jembatan
komunikasi timbal balik antara pemerintah dan masyarakat, serta masyarakat dengan

Ciri khas sistem pers adalah sebagai berikut :


a. integrasi (integaration )
b. keteraturan (regularity )
c. keutuhan (wholeness )
d. organisasi (organization )
e. koherensi (coherence )
f. keterhubungan (connectedness ) dan
g. ketergantungan (interdependence ) dari bagian-bagiannya.

Inti permasalahan dalam sistem kebebasan pers adalah sistem kebebasan untuk
mengeluarkan pendapat (freedom of expression ) di negara-negara barat atau sistem
kemerdekaan untuk “mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan”, sebagaimana
tercantum dalam Pasal 28 UUD 1945.
Faham dasar sistem pers Indonesia tercermin dalam konsideran Undang-undang Pers,
yang menegaskan bahwa “Pers Indonesia (nasional) sebagai wahana komunikasi massa,
penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak,
kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang
profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari
campur tangan dan paksaan dari manapun”.
Dengan demikian, sistem pers Indonesia tidak lain adalah sistem pers yang berlaku di
Indonesia. Kata “Indonesia” adalah pemberi, sifat, warna, dan kekhasan pada sistem pers
tersebut. Dalam kenyataan, dapat dijumpai perbedaan-perbedaan essensial sistem pers
Indonesia dari periode yang satu ke periode yang lain, misalnya Sistem Pers Demokrasi
Liberal, Sistem Pers Demokrasi Terpimpin, Sistem Pers Demokrasi Pancasila, dan Sistem
Pers di era reformasi, sedangkan falsafah negaranya tidak berubah.

5. Kode Etik Jurnalistik Dan Tanggung Jawab Profesi Kewartawanan


Media massa pers berperan membina dan mengembangkan pendapat umum (publik
opini), menumbuhkan dan menyalurkan aspirasi masyarakat secara positif dan konstruktif,
serta mengembangkan komunikasi timbal balik antara kekuatan sosial masyarakat. Lebih
jauh lagi media massa pers ikut pula berperan dalam penumbuhan dan pengembangan
kehidupan sistem politik demokratis.

Fokus Kita :
Pers Indonesia yang telah meletakkan dasar kebebasan yang bertanggung jawab, dalam
kerangka memainkan peranan strategis telah bergabung dalam satu wadah Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) merupakan organisasi wartawan di Indonesia yang
dikukuhkan Pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Penerangan Nomor
47/Kep/Menpen/1975.
34

Penerapan pers yang bebas dan bertanggungjawab dikembangkan dan dibina dalam
suasana yang harmonis terhadap lingkungan, serta merangsang timbulnya kreativitas, bukan
sebaliknya dengan menimbulkan ketegangan-ketegangan yang bersifat antagonistis.
Kehidupan pers nasional Indonesia, merupakan produk dari sistem nilai yang berlaku
dalam masyarakat yang diproyeksikan ke dalam bidang kegiatan pers, maka dalam
menjalankan peranannya pers sebagai salah satu modal bangsa menggunakan aturan main
(rules of the game ) pers nasional:
1. Landasan Idiil : Falsafah Pancasila (Pembukaan UUD 1945).
2. Landasan Konstitusi : Undang-Undang Dasar 1945.
3. Landasan Yuridis : Undang-undang Pokok Pers.
4. Landasan Strategis : GBHN.
5. Landasan Profesional : Kode Etik Jurnalistik.
6. Landasan Etis : Tata nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Bonus Info Kewarganegaraan
Prof. Oemar Seno Adji, dalam bukunya berjudul “Hukum Kebebasan Pers “, dari
J.C.T. Simorangkir, SH., menyimpulkan mengenai kebebasan pers Indonesia sebagai
berikut :
I. Hukum Indonesia telah mengakui/mengatur/menjamin perihal kebebasan pers.
II. Kebebasan pers di Indonesia tidaklah dapat dilihat/diukur semata-mata dengan kaca
mata/ukuran luar negeri.
III. Ciri kebebasan pers Indonesia, adalah:
a. Pers yang bebas dan bertanggung jawab ;
b. Pers yang sehat:
c. Pers sebagai penyebar informasi yang obyektif;
d. Pers yang melakukan kontrol sosial yang konstuktif;
e. Pers sebagai penyalur aspirasi rakyat dan meluaskan komunikasi dan partisipasi
masyarakat ;
f. Terdapat interaksi positif antara pers, pemerintah dan masyarakat.
IV Kebebasan pers diakui, dijamin dan dilaksanakan di Indonesia dalam rangka
pelaksanaan Demokrasi Pancasila.

a. Pertanggungjawaban
Pers sebagai salah satu unsur mass media hadir di tengah masyarakat bersama
dengan lembaga masyarakat lainnya harus mampu menjadikan diri sebagai forum
pertukaran pikiran, komentar, dan kritik yang bersifat menyeluruh dan tuntas, tidak
membedakan kelompok, golongan dan etnis ataupun agama. Semuanya itu harus
mendapatkan porsi yang seimbang.
35

Fokus Kita :
Dalam menjalankan profesinya seorang wartawan harus dengan sadar menjalankan
tugas, hak, dan kewajiban, dan fungsinya yakni mengemukakan apa yang sebenarnya
terjadi, jelas, terang, dan mudah dimengerti serta bersifat terbuka.

Pers dalam pengembangan kegiatan sehari-hari harus berada dalam konteks interaksi
positif antara pers dan Pemerintah serta masyarakat. Jika ada masalah dalam
masyarakat, maka pers berupaya membantu menjernihkan persoalan, bukan
sebaliknya ikut memperburuk persoalan yang ada di lingkungan masyarakat itu. Ia harus
memainkan fungsi mendidiknya.
Guna menunjang pertumbuhan dan perkembangan masyarkaat, pers perlu
melakukan hal-hal berikut :
1) Menghimpun bahan-bahan yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
masyarakat, sehingga dapat memberikan partisipasinya dalam melancarkan program
pembangunan.
2) Mengamankan hak-hak pribadi (hak azasi) untuk menghindari tirani dan membina
kehidupan yang demokratis sehingga golongan minoritas tidak ditindas oleh
golongan mayoritas.
3) Mampu menampung dan menyalurkan kritik dan saran yang bagaimanapun
pedasnya, sekalipun yang dituju pers itu sendiri, demi berlangsungnya perbaikan dan
penyempurnaan.
4) Memberikan penerangan melalui iklan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat
tentang barang dan jasa yang berguna dan tepat guna dari produk-produk yang ada.
5) Memelihara kesejahteraan masyarakat dan memberikan hiburan, seperti dengan
menyajikan cerita pendek, fiksi, teka-teki silang, komik, dan sebagainya.
6) Memupuk kekuatannya sendiri (permodalan dan sumber daya manusianya) hingga
terbebas dari pengaruh luar, seperti pemberi modal dan intervensi dari pihak-pihak
tertentu yang bisa mempengaruhi kebebasan dan idealismenya.
7) Menjalankan fungsi kemasyarakatan dengan melakukan penyelidikan untuk
mendapatkan kebenaran dan kontrol sosial demi kepentingan umum, namun dalam
penyajiannya harus bersifat objektif dan mengemukakan alternatif-alternatif
pemecahan, tidak bersifat menghasut apalagi memvonis seseorang (trial by the press
).
8) Dalam penyajian tulisannya, pers dengan bijaksana harus menggunakan pendekatan
praduga tak bersalah (presumption of innocence), terutama berita-berita yang
langsung menyinggung pribadi (hak azasi) seseorang seperti kesusilaan.
9) Menghindari penyajian bahan berita yang sensitif baik berupa gambar, ulasan,
karikatur dan sebagainya yang dapat menimbulkan gangguan stabilitas, seperti
menyangkut Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA).
10) Menghindari penulisan,berita, ulasan, cerita, gambar, dan karikatur yang cenderung
bersifat pornografi dan sadisme, kekejaman dan kekerasan yang tidak sesuai dengan
nilai-nilai moral. Demikian pula pemberitaan yang bersifat gossip (desas-desus)
36

tanpa didukung fakta yang kuat dan akan merusak nama baik seseorang atau
golongan.
11) Pers dapat menyajikan bahan siaran atau tulisan-tulisannya yang selalu
menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi dan golongannya.
Demikian juga harus menghindari penyebaran secara terbuka dan terselubung ajaran
Marxisme/Leninisme atau Komunisme.

Bonus Info Kewarganegaraan

PERS PANCASILA

Sidang pleno ke 25 Dewan Pers di Solo, tanggal 7 dan 8 Desember 1981, telah
membuat keputusan dan merumuskan pengertian Pers Pancasila yang menjadi pola
kehidupan Pers Nasional. Pers Pancasila adalah pers yang orientasi, sikap, dan
tingkahlakunya berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Sedangkan Pers pembangunan merupakan Pers Pancasila dalam pembangunan sebagai
bagian dari kehidupan bermasyarakat., berbangsa dan bernegara, termasuk
pembangunan itu sendiri.
Hakekat Pers Pancasila adalah adalah pers yang sehat, bebas dan bertanggung
jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan
obyektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstruktif. Melalui Pers
Pancasila dapat dikembangkan suasana saling percaya menuju masyarakat terbuka
yang demokratis dan bertanggungjawab. Dalam mengamalkan Pers Pancasila
mekanisme yang dipakai adalah interaksi positif antara masyarakat, pers, dan
Pemerintah. Dewan Pers berperan sebagai pengembang mekanisme interaksi positif
tersebut.
Dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1983 tentang GBHN, disebutkan bahwa fungsi
pers antara lain sebagai penyebar informasi yang obyektif, melakukan kontrol sosial
yang konstruktif, menyalurkan aspirsi rakyat dan meluaskan komunikasi dan partisipasi
masyarakat.
Dengan memperhatikan rumusan Dewan Pers dan Ketetapan MPR di atas, dapat
dirumuskan bahwa pers berfungsi sebagai berikut.
1. Mendidik (educatif)
2. Menghubungkan masyarakat (sosial contact )
3. Menyalurkan aspirasi masyarakat (agen of information )
4. Membentuk pendapat umum (pblic opini )
5. Melakukan sosial kontrol (sosial control )
6. Memberikan hiburan (entartiment ).

b. Kode Etik Jurnalistik


Dalam melaksanakan fungsi dan peranannya yang strategis, pers melalui organisasi
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) telah menetapkan Kode Etik Kewartawanan, yang
sudah dimulai dari sebelum Indonesia Merdeka, seperti Persatuan Djurnalis Indonesia
(PERDI).
37

Fokus Kita :
Tentang Kode Etik Wartawan sesungguhnya telah dijadikan pedoman sejak
berdirinya PWI di Surakarta bulan Februari 1946. Penegasan berlakunya Kode Etik
Jurnalistik mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 1955. Dalam Kongres PWI di
Medan (1955), telah dikeluarkan pengesahan berlakunya Kode Etik Jurnalistik
tersebut. PWI dalam sidang gabungan PWI Pusat dengan Badan Pekerja Kongres
yang berlangsung di Ujung Pandang (1968) menetapkan pula perubahan Kode Etik
Jurnalistik tahun 1955, hal ini akan terus diperbaiki sesuai dengan gerak pertumbuhan

Kode Etik Jurnalistik merupakan aturan mengenai perilaku dan pertimbangan moral
yang harus dianut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya. Secara lengkap Kode
Etik Jurnalistik adalah sebagai berikut :

KODE ETIK JURNALISTIK

PEMBUKAAN

Bahwasanya kemerdekaan pers adalah perwujudan kemerdekaan menyatakan


pendapat sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 UUD 1945, dan karena itu wajib
dihormati semua pihak.
Kemerdekaan pers merupakan salah satu ciri negara hukum yang dikehendaki oleh
penjelasan-penjelasan Undang-Undang Dasar 1945. Sudah barang tentu kemerdekaan
pers itu harus dilaksanakan dengan tanggung jawab sosial serta jiwa Pancasila demi
kesejahteraan dan keselamatan Bangsa dan negara. Karena itulah PWI menetapkan
Kode Etik Jurnalistik untuk melestarikan asas kemerdekaan pers yang bertanggung
jawab.

Pasal 1
KEPRIBADIAN WARTAWAN INDONESIA

Wartawan Indonesia adalah warga negara yang memiliki kepribadian :


a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. berjiwa Pancasila;
c. taat pada Undang-Undang Dasar 1945;
d. bersifat ksatria;
e. menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia;
f. berjuang untuk emansipasi bangsa dalam segala lapangan sehingga dengan
demikian turut bekerja ke arah keselamatan masyarakat Indonesia sebagai anggota
masyarakat bangsa-bangsa di dunia.

Pasal 2
PERTANGGUNGJAWABAN

1. Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tangung jawab dan bijaksana


mempertimbangkan perlu/patut atau tidaknya suatu berita, tulisan, gambar,
karikatur dan sebagainya disiarkan.
38

2. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan :


a. hal-hal yang sifatnya destruktif dan dapat merugikan negara dan bangsa;
b. hal-hal yang dapat menimbulkan kekacauan;
c. hal-hal yang dapat menyinggung perasaan susila, agama kepercayaan atau
keyakinan seseorang atau sesuatu golongan yang dilindungi undang-undang.

3. Wartawan Indonesia melakukan pekerjaannya berdasarkan kebebasan yang


bertanggung jawab demi keselamatan umum. Ia tidak menyalahgunakan jabatan
dan kecakapannya untuk kepentingan sendiri dan/atau kepentingan golongan.

4. Wartawan Indonesia dalam menjalankan tugas jurnalistiknya yang menyangkut


bangsa dan negara lain, mendahulukan kepentingan nasional Indonesia.

Pasal 3
CARA PEMBERITAAN DAN MENYATAKAN PENDAPAT

1. Wartawan Indonesia menempuh jalan dan cara yang jujur untuk memperoleh
bahan-bahan berita dan tulisan dengan selalu menyatakan identitasnya sebagai
wartawan apabila sedang melakukan tugas peliputan.
2. Wartawan Indonesia meneliti kebenaran sesuatu berita atau keterangan sebelum
menyiarkannya, dengan juga memperhatikan kredibilitas sumber berita yang
bersangkutan.
3. Di dalam menyusun suatu berita, wartawan Indonesia membedakan antara kejadian
(fakta) dan pendapat (opini), sehingga tidak mencampuradukkan fakta dan opini
tersebut.
4. Kepala-kepala berita harus mencerminkan isi berita.
5. Dalam tulisan yang memuat pendapat tentang sesuatu kejadian (byline story),
wartawan Indonesia selalu berusaha untuk bersikap obyektif, jujur, dan sportif
berdasarkan kebebasan yang bertangung jawab dan menghindarkan diri dari cara-
cara penulisan yang bersifat pelanggaran kehidupan pribadi (privacy), sensasional,
immorial atau melanggar kesusilaan.
6. Penyiaran setiap berita atau tulisan yang berisi tuduhan yang tidak berdasar, desas-
desus, hasutan yang dapat membahayakan keselamatan bangsa dan negara,
fitnahan, pemutarbalikan sesuatu kejadian, merupakan pelanggaran berat terhadap
profesi jurnalistik.
7. Pemberitaan tentang jalannya pemeriksaan perkara pidana di dalam sidang-sidang
pengadilan harus dijiwai oleh prinsip “praduga tak bersalah”, yaitu bahwa
seseorang tersangka harus dianggap bersalah telah melakukan suatu tindak pidana
apabila ia telah dinyatakan terbukti bersalah dalam keputusan pengadilan yang
telah memiliki kekuatan tetap.
8. Penyiaran nama secara lengkap, identitas dan gambar dari seorang tersangka
dilakukan dengan penuh kebijaksanaan, dan dihindarkan dalam perkara-perkara
yang menyangkut kesusilaan atau menyangkut anak-anak yang belum dewasa.
Pemberitaan harus selalu berimbang antara tuduhan dan pembelaan dan
dihindarkan terjadinya “trial by the press”.
39

Pasal 4
HAK JAWAB

1. Setiap pemberitaan yang kemudian ternyata tidak benar atau berisi hal-hal yang
menyesatka, harus dicabut kembali atau diralat atas keinsyafan wartawan sendiri.
2. Pihak yang merasa dirugikan wajib diberi kesempatan secepatnya untuk menjawab
atau memperbaiki pemberitaan yang dimaksud, sedapat mungkin dalam ruangan
yang sama dengan pemberitaan semula dan maksimal sama panjangnya, asal saja
jawaban atau perbaikin itu dilakukan secara wajar.

Pasal 5
SUMBER BERITA

1. Wartawan Indonesia menghargai dan melindungi kedudukan sumber berita yang


tidak bersedia disebut namanya. Dalam hal berita tanpa menyebutkan nama sumber
tersebut disiarkan, maka segala tanggung jawab berada pada wartawan dan/atau
penerbit pers yang bersangkutan.
2. Keterangan-keterangan yang diberikan secara “off the record” tidak disiarkan,
kecuali apabila wartawan yang bersangkutan secara nyata-nyata dapat
membuktikan bahwa ia sebelumnya memiliki keterangan-keterangan yang
kemudian ternyata diberikan secara “off the record” itu. Jika seorang wartawan
tidak ingin terikat pada keterangan yang akan diberikan dalam suatu pertemuan
secara “off the record”, maka ia dapat tidak menghadirinya.
3. Wartawan Indonesia dengan jujur menyebut sumbernya dalam mengutip berita,
gambar atau tulisan dari suatu penerbitan pers, baik yang terbit di dalam maupun
di luar negeri. Perbuatan plagiat, yaitu mengutip berita, gambar atau tulisan tanpa
menyebutkan sumbernya, merupakan pelanggaran berat.
4. Penerimaan imbalan atau sesuatu janji untuk menyiarkan suatu berita, gambar atau
tulisan yang dapat menguntungkan atau merugikan seseorang, sesuatu golongan
atau sesuatu pihak dilarang sama sekali.
Pasal 6
KEKUATAN KODE ETIK

1. Kode Etik ini dibuat atas prinsip bahwa pertanggungjawaban tentang penataannya
berada terutama pada hati nurani setiap wartawan Indonesia.
2. Tiada satu pasal dalam Kode Etik ini yang memberi wewenang kepada golongan
manapun di luar PWI untuk mengambil tindakan terhadap seorang wartawan
Indonesia atau terhadap penerbitan pers di Indonesia berdasarkan pasal-pasal dalam
Kode Etik ini, karena sanksi atas pelanggaran Kode Etik ini adalah merupakan hak
organisatoris dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) melalui organ-organnya.

Bonus Info Kewarganegaraan


M. Alwi Dahlan, Ph. D, menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi
40

pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik, yakni:


1) Etik Institusional, yaitu sistem aturan, peraturan, kebijaksanaan dan kendala formal
yang dikembangkan oleh institusi yang memiliki media, maupun yang mengawasi
media. Fungsinya adalah untuk mencapai tujuan institusi yang bersangkutan , seperti
penegakkan ideologi, keuntungan, kekuasaan dan sebagainya.
2) Etik Personel, yaitu sistem nilai dan moralitas perorangan yang merupakan hati
nurani wartawan, didasarkan pada keyakinan atau kepercayaan pribadi yang
menimbang tindakan yang hendak dilakukannya.
3) Etik Profesional, yaitu menentukan cara pemberian yang paling tepat sehingga
informasi itu mudah diterima oleh khalayak, dalam proporsi yang wajar. Kode Etik
Profesioinal ini adalah tolak ukur perilaku dan pertimbangan moral yang disepakati
bersama oleh komunitas profesi jurnalistik. Tujuannya adalah untuk menghasilkan
karya yang memenuhi kebutuhan khalayak akan informasi, namun dilakukan dengan
cara tanggung jawab sosial yang tinggi.
Dalam penerapan Kode Etik Jurnalistik, ia akan bergerak di antara Etik Personal dan
Etik Institusional. Etik Profesional mungkin saja berbeda dengan Etik Institusional yang
berlaku disegala media yang bersangkutan, sekali pun Etik Personal telah meloloskan
materi berita bersangkutan. Pembinaan dan pengembangan media pers akan ditentukan
oleh sikap dan kepribadian dari media bersangkutan atau dalam hal ini bisa dikatakan
oleh wartawannya.
Kredilibitas sebuah media pers itu akan ditentukan oleh objektif tidaknya materi
berita yang disiarkannya, tanggung jawab sosial yang diperlihatkannya, kedalaman dan
ketajaman analisanya. Hal ini akan ditentukan oleh ketaatannya kepada Kode Etik
Jurnalistik. Kode Etik Jurnalistik ini akan terus berperan dan semakin penting dalam
menyongsong kemajuan dan perkembangan teknologi dimasa mendatang. Hal-hal yang
tidak mungkin diambil dan diungkapkan pada saat sekarang dengan kemajuan teknologi
seperti kamera, tape recorder, alat penyadap percakapan yang semakin canggih, kiranya
hanya bisa dibatasi dengan penataan Kode Etik Jurnalistik.
Demikian juga halnya dengan pelestarian nilai-nilai kepribadian bangsa, ideologi
Pancasila yang menjadi dasar falsafah bangsa bila berhadapan dengan globalisasi dunia
dan kemajuan ilmu teknologi, perlu pengawalannya dengan Kode Etik Jurnalistik.
Jangan wartawan terjebak untuk memanipulasi informasi, menyiarkan berita secara tidak
jujur.
Penugasan Praktik Kewarganegaraan 5
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Pers yang bebas dan betanggung jawab
sesuai kode etik jurnalistik dalam masyarakat demokratis di Indonesia, dilanjutkan
Penugasan dengan menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut :

1. Berikan penjelasan, bagaimana batasan yang dimkasud “pers yang bebas dan betanggung
jawab”, dan Berikan Contohnya !
Penjelasan : ...............................................................................................................................
....................
....................................................................................................................................................
.....................
No Contoh Uraian Singkat
1. ..................................................................................................
..................................................................................................
41

............................
..................................................................................................
2. ..................................................................................................
............................

2. Dalam menjalankan fungsi-fungsinya sebagai sarana penerangan, pendidikan umum,


kontrol sosial dan hiburan pers menjadi wahana bagi pembinaan pendapat umum yang
sehat. Berikan penjelasn singkatnya yang dimaksud dengan !
a. Pendidikan umum
: ..........................................................................................................................
..............................................................................................................................................
....................
b. Kontrol sosial
: ....................................................................................................................................
..............................................................................................................................................
....................

3. Organisasi Pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers yang
mempunyai latar belakang sejarah, alur perjuangan dan penentuan tata krama
professional berupa kode etik masing-masing. Beri penjelasan singkat pada kolom di
bawah ini !
Alur perjuangan Tata krama professional
....................................................................... ....................................................................
....... .........
....................................................................... ....................................................................
....... .........
....................................................................... ....................................................................
....... .........
....................................................................... ....................................................................
....... .........

4. Berikan tanggapan penjelasan, mengapa pers harus memiliki “rasa pertanggungjawaban”


terhadap informasi/berita-berita yang ditulisnya !
....................................................................................................................................................
...................
....................................................................................................................................................
...................
....................................................................................................................................................
...................

5. Tuliskan perbedaan dan persamaan organisasi pers di Indonesia pada masa sebelum dan
setelah reformasi di bawah ini !
Persamaan Perbedaan
....................................................................... ....................................................................
......... .........
....................................................................... ....................................................................
42

......... .........
....................................................................... ....................................................................
......... .........
....................................................................... ....................................................................
......... .........
D. KEBEBASAN PERS DAN DAMPAK PENYALAHGUNAAN KEBEBASAN
MEDIA MASSA DALAM MASYARAKAT DEMOKRATIS DI
INDONESIA

1. Kebebasan Pers Indonesia


Kebebasan pers adalah kebebasan mengemukakan pendapat, baik secara tulisan
maupun lisan, melalui media pers, seperti harian, majalah, dan buletin. Kebebasan pers
dituntut tanggung jawabnya untuk menegakkan keadilan, ketertiban dan keamanan dalam
masyarakat, bukan untuk merusakkannya. Kebebasan harus disertai tanggung jawab,
sebab kekuasaan yang besar dan bebas yang dimiliki manusia mudah sekali disalahgunakan
dan dibuat semena-mena. Demikian juga pers harus mempertimbangkan apakah berita
yang disebarkan dapat menguntungkan masyarakat luas atau memberi dampak positif pada
masyarakat dan bangsa. Inilah segi tanggung jawab dari pers. Jadi, pers diberi kebebasan
dengan disertai tanggung jawab sosial.
Selanjutnya, Komisi Kemerdekaan Pers menggariskan lima hal yang menjadi tuntutan
masyarakat modern terhadap pers, yang merupakan ukuran pelaksanaan kegiatan pers,
yaitu sebagai berikut :
a. Pers dituntut untuk menyajikan laporan tentang kejadian sehari-hari secara jujur,
mendalam dan cerdas. Ini merupakan tuntutan kepada pers untuk menulis secara
akurat dan tidak berbohong.
b. Pers dituntut untuk menjadi sebuah forum pertukaran komentar dan kritik, yang berarti
pers diminta untuk menjadi wadah diskusi di kalangan masyarakat, walaupun berbeda
pendapat dengan pengelola pers itu sendiri.
c. Pers hendaknya menonjolkan sebuah gambaran yang representative kelompok-
kelompok dalam masyarakat. Hal ini mengacu pada segelintir kelompok minoritas
dalam masyarakat yang juga memiliki hak yang sama dalam masyarakat untuk
didengarkan.
d. Pers hendaknya bertanggung jawab dalam penyajian dan penguraian tujuan dan nilai-
nilai dalam masyarakat.
e. Pers hendaknya menyajikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh berita
sehari-hari. Ini berkaitan dengan kebebasan informasi yang diminta masyarakat.
Adapun landasan hukum kebebasan pers Indonesia termaktub dalam :
a. Undang-undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kebebasan Menyampaikan Pendapat di
Muka Umum
b. Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers
c. Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

2. Pers, Masyarakat dan Pemerintah


43

Hal terpenting yang harus diperhatikan berkaitan antara pers, masyarakat dan
pemerintah adalah sebagai berikut :
a. Interaksi harus dikembangkan sekreatif mungkin untuk tercapainya tujuan
pembangunan, yaitu kesejahteraan manusia dan masyarakat Indonesia seutuhnya.
Interaksi positif antara ketiga komponen tidak bisa lain berlangsung dalam perangkat
dan pranata Pancasila, norma dan etika dasar bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan
Negara Republik Indonesia. Karena itu, sebelum menjabarkan lebih lanjut, bagaimana
interaksi positif antara ketiga komponen itu bisa dikembangkan secara maksimal, perlu
lebih dulu dipahami hakekat Pancasila bagi kehidupan nasional Indonesia.
b. Negara-negara demokrasi Liberal Barat mendasarkan kehidupan dan dinamiknya
pada individu dan kompetisi secara antagonis, sedangkan negara-negara komunis
berdasarkan kepada pertentangan kelas yang bersifat dialektis materiil. Adapun negara
Indonesia yang berdasarkan Pancasila, berpaham pada keseluruhan dan
keseimbangan, baik antara individu dan masyarakat maupun antara berbagai kelompok
sosialnya. Dinamika dikembangkan bukan dari pertarungan menurut paham “singa gede
menang kerahe” (singa besar pasti menang bertarung), melainkan atas paham hidup
menghidupi, simbiosis mutualis. Pola dasar dan sistem nilai yang demikian itu juga
menjadi dasar dan semangat dari hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat.
Hubungan itu tidak disemangati oleh sikap apriori atau saling curiga, apalagi saling
memusuhi. Hubungan itu adalah hubungan perkerabatan yang fungsional.
c. Antara pemerintah, pers dan masyarakat, harus dikembangkan hubungan fungsional
sedemikian rupa, sehingga semakin menunjang tujuan bersama yaitu terwujudnya
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Dimungkinkan adanya perbedaan pendapat dalam proses hubungan tersebut.
Namun perbedaan pendapat tidak harus ditafsirkan sebagai konflik melainkan sebagai
proses kreatif dan dinamis dalam usaha mencapai harmoni dan keseimbangan yang
setiap kali semakin maju, kuantitatif dan kualitatif.
d. Hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat, sesungguhnya merupakan
pengejawa-ntahan dari nilai-nilai Pancasila. Itulah sebabnya, salah satu pendekatan
kultural terhadap segala persoalan, lebih cocok dengan identitas Indonesia, lagipula
pendekatan kultural ini telah dibuktikan kharisma dan daya mampunya dalam periode
perjuangan kemerdekaan nasional, sehingga mampu membangkitkan semangat
patriotisme, pengorbanan tanpa pamrih dan dedikasi total terhadap kepentingan rakyat
banyak. Pendekatan kultural juga dapat memperlancar proses kembar, yaitu kontinuitas
dan perubahan yang menjadi ciri-ciri kehidupan setiap bangsa, apalagi bangsa yang
sedang membangun. Pembangunan berarti perubahan yang terarah seca bertahap tapi
konsisten. Sedangkan perubahan itu agar kokoh, harus berakar dan akar itu adalah
kontinuitas. Kontinuitas dari nilai kebudayaan bangsa yang paling mulia, termasuk di
antaranya warisan nilai-nilai empat puluh lima.
e. Baik untuk menjamin tercapainya sasaran maupun karena sesuai dengan asas demokrasi
Pancasila, maka dalam hubungan fungsional antara pemerintah, pers dan masyarakat,
perlu dikembangkan kultur politik dan mekanisme yang memungkinkan berfungsinya
sistem kontrol sosial dan kritik secara efektif dan terbuka. Tetapi kontrol sosial itu pun
substansi dan caranya tidak terlepas dari asas keselarasan dan keseimbangan,
kekerabatan dan hidup menghidupi.
f. Pembangunan masyarakat bisa berlangsung dalam pola evolusi, reformasi dan
revolusi. Jika kita menempatkan pembangunan nasional Indonesia ke dalam salah satu
dari ketiga kategori itu, maka yang paling tepat ialah pada pola reformasi. Pembangunan
44

dalam pola reformasi berarti perobahan terarah yang fundamental sesuai dengan konsep
masyarakat Pancasila, namun dilaksanakan secara bertahap dan menurut asas prioritas.
g. Seluruh bidang kehidupan masyarakat hendak dibangun, tetapi pelaksanaannya
bertahap dan selektif, semakin hari semakin maju dan menyeluruh sehingga akhirnya
seluruh bidang kehidupan masyarakat bangsa dan negara dijamahnya, ditransformir
menjadi masyarakat Pancasila. Pendekatan bertahap, berprioritas, berencana merupakan
pendekatan yang tepat, mengingat serta keterbatasan yang ada pada kita, tetapi seluruh
prosesnya perlu dipercepat (diakselarasi), karena sebagai bangsa dihadapkan dengan
faktor waktu yang semakin mengejar. Pemerintah, pers dan masyarakat harus mampu
membangun diririnya sendiri agar menjadi lembaga yang lebih baik dan lebih ampuh
untuk melaksanakan pembangunan.
h. Adanya kekurangan merupakan gejala umum yang harus kita terima bersama.
Bukan agar kita menyerah dan menjadi dalih dari berbagai kemungkinan
penyalahgunaan, melainkan agar kita mampu melihat segala sesuatunya dengan proporsi
yang tepat dan konstruktif. Agar dalam melakukan koreksi, kita tidak menimbulkan
apatisme dan antipati melainkan justru menggairahkan usaha-usaha perbaikan dan
pembangunan itu sendiri. Di samping menunjukkan kekurangan-kekurangan, pers harus
bisa juga menunjukkkan hal-hal positif. Berlaku kembali di sini asas keselarasan dan
keseimbangan yang merupakan tipe ideal masyarakat kita, sekali pun merupakan nilai
dalam proses pendekatan. Interaksi berarti proses pengaruh-mempengaruhi sebagai
dasar dari konsensus bersama yang merupakan hasil komunikasi dua arah timbal balik.
i. Hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat merupakan hubungan kekerabatan
dan fungsional yang terus menerus dikembangkan dalam mekanisme dialog. Di
samping mekanisme dialog, juga perlu dikembangkan mekanisme lain, yaitu
diselenggarakan seminar sebagai kegiatan rutin yang kreatif dalam usaha
mengembangkan konsepsi, nilai-nilai dan mekanisme. Dalam usaha memelihara
kontinuitas yang kreatif, juga dipandang bermanfaat untuk menerbitkan buku-buku
dalam bidang pers, sehingga menjadi bahan bacaan bagi para wartawan, pejabat
pemerintah maupun perguruan tinggi. Perlu diketahui bahwa kini telah diterbitkan tiga
buku hasil panitia Dewan Pers, yaitu “Sejarah Pers Indonesia, Pornografi dan Pers
Indonesia dan Naskah Pengetahuan Dasar bagi Wartawan Indonesia”.
j. Dalam hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat, otonomi masing-masing
lembaga sesuai dengan asas Demokrasi Pancasila, dihormati dan perlu
dikembangkan. Salah satu karya otonomi ialah apa yang dengan baik bisa dilakukan
sendiri oleh lembaga masyarakat, tidak perlu pemerintah mencampurinya. Dalam
konteks ini, misalnya perlu dikembangkan adanya mekanisme efektif oleh masyarakat
pers sendiri untuk mengatur perilaku kehidupannya. Pelaksanaan kode etik dan sanksi
atas pelanggaran, misalnya perlu ditingkatkan. Disarankan agar dipelajari kemungkinan
dibentuknya suatu Dewan Kehormatan, yang terdiri dari tiga pihak; pers,
masyarakat, pemerintah. Dewan kehormatan yang demikian itu agar dibentuk di pusat
maupun di daerah sesuai dengan kebutuhannya.
k. Jadi, bila dibahas lebih spesifik lagi, pers memang “lahir” di tengah-tengah
masyarakat, sehingga pers dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Pers “lahir” untuk memenuhi tuntutan masyarakat untuk
memperoleh informasi yang aktual dengan terus-menerus mengenai peristiwa-peristiwa
besar maupun kecil. Pers sebagai lembaga kemasyarakatan tidak dapat hidup sendiri,
akan tetapi pers dipengaruhi dan mempengaruhi lembaga kemasyarakatan yang lain.
45

l. Menurut Wilbur Schramm, pers bagi masyarakat adalah “Watcher, forum and teacher”
(pengamat, forum dan guru). Maksud pernyataan di atas adalah, bahwa setiap hari pers
memberikan laporan dan ulasan mengenai berbagai macam kejadian dalam dan luar
negeri, menyediakan tempat (forum) bagi masyarakat untuk mengeluarkan pendapat
secara tertulis dan turut mewariskan nilai-nilai kemasyarakatan dari generasi ke
generasi.

3. Dampak Penyalahgunaan Kebebasan Media


Dalam kehidupan masyarakat, media massa dapat memberikan informasi atau berita
yang jelas dan akurat. Media massa dalam penyampaian beritanya untuk kehidupan
masyarakat memiliki manfaat yang cukup besar. Istilah media mengandung makna untuk
semua organisasi, baik swasta maupun pemerintah yang bertugas mencari informasi kepada
publik. Mereka menggunakan alat atau media seperti koran, radio, televisi, seni pertunjukan
dan lain sebagainya. Peralatan tersebut digunakan untuk menyampaikan pesan.
Namun jika fungsi-fungsi penyampaian informasi atau berita disalahgunakan, hal ini
dapat berdampak sebagai berikut (lihat boks jejak pendapat Kompas, tanggal 12 Februari
2007).

JEJAK PENDAPAT KOMPAS

Pers Semakin Tenggelam Di Dekapan Komersialisme

Dunia pers Indonesia semakin tenggelam dalam ideologi komersial, setelah ideologi
kebebasan mampu diraihnya pascalengsernya kekuasaan Orde Baru. Sayangnya,
pergeseran ideologi itu membuat fungsi media masa sebagai alat pendidikan masyarakat
tidak lagi menjadi ciri yang kuat melekat.
Kehadiran pers dalam sebuah sistem politik modern merupakan wujud dari
kedaulatan rakyat, dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan
masyarakat yang demokratis. Melalui pers, kekosongan ruang publik yang terjadi, baik
antarkelompok masyarakat maupun antara pemerintah dan masyarakat, bisa terjembatani.
Pers sebagai instrumen komunikasi yang melibatkan manusia dalam jumlah yang besar
menjadi forum bagi berlangsungnya dialog secara terbuka antarkelompok dalam
masyarakat serta antara masyarakat dan pemerintah.
Di sini pers memainkan peran sentral sebagai pemasok dan penyebar informasi yang
diperlukan untuk memfasilitasi pembentukan opini publik dalam rangka mencapai
konsensus bersama atau mengontrol kekuasaan para penyelenggara negara. Pers yang
bebas akan memainkan peran sebagai forum dialog yang demokratis, termasuk
memberikan kesempatan bagi suara yang mungkin selama ini terabaikan. Ia juga
memainkan peranan sebagai sumber informasi yang berharga, sebagai pelengkap atau
bahkan bisa pula menjadi alat utama bagi proses pendidikan, serta sebagai alat kontrol
yang efektif terhadap kinerja penguasa dan proses pembangunan.
Kebebasan pers Indonesia, sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, mencakup jaminan dan perlindungan hukum serta
tidak adanya campur tangan atau paksanaan dari pihak manapun terhadap pekerjaan Pers.
Selain itu, pers nasional juga tidak dikenal penyensoran, pembredelan atau
pelarangan penyiaran. Dengan kata lain, di bawah aturan yang baru, kebebasan pers
sebagai ekspresi dari hak asasi dan hak politik mendapat jaminan hukum. Di bawah sistem
46

Orde reformasi sekarang, fungsi pers tidak seharusnya sekadar medium penebar informasi,
hiburan, dan pendidikan, tetapi juga berfungsi sebagai alat kontrol sosial.
Fungsi dasar
Sayangnya, pers di negeri ini, baik media cetak maupun media elektronik, hingga saat
ini masih banyak berkutat dengan fungsi dasarnya sebagai medium penyebar informasi,
hiburan, dan pendidikan. Kedua jenis media itu memang sudah mampu menjangkau
mayoritas publik penggunaannya dalam memberikan informasi. Setidaknya, mayoritas
responden merasa puas dengan kemampuan media ini dalam menyebarkan informasi
kepada masyarakat. Begitu juga dengan fungsi hiburan yang dibawa oleh kedua media ini.
Kepuasan responden terhadap aspek hiburan media massa tidak hanya terhadap apa yang
disajikan oleh media elektronik, terutama televisi, tetapi juga dari yang mereka baca dari
media cetak.
Adapun untuk fungsi pendidikan, tampaknya responden masih lebih percaya kepada
media cetak ketimbang media elektronik. Setidaknya, 57,2 persen responden merasa puas
dengan fungsi pendidikan yang mereka dapat dari media cetak. Sementara responden yang
puas dengan fungsi pendidikan yang diberikan oleh media elektronik hanya 42,5 persen.
Apresiasi responden terhadap media cetak dan media elektronik itu mencerminkan
tingginya kebutuhan informasi di masyarakat. Meskipun informasi yang diperoleh dikemas
dalam perspektif yang berbeda-beda, tetapi soal aktualitas, obyektivitas, dan netralitas
media selalu menjadi tolok ukur kejujuran media massa dalam mengungkapkan fakta.
Terhadap tolok ukur itu, sebagian besar (62,0 persen) responden menilai,
pemberitaan yang dilakukan oleh media massa saat ini sudah sesuai dengan fakta,
sementara 33 persen responden malah menilai sebaliknya. Begitu juga dengan soal
proporsionalitas pemberitaan. Bagi 51,9 persen responden, media massa saat ini sudah
proporsional dalam memberitakan suatu peristiwa. Namun, pendapat ini ditentang 43,1
persen responden yang melihat media massa saat ini cenderung melebih-lebihkan sebuah
pemberitaannya.
Soal keberpihakan media, lebih dari separuh bagian (53,7 persen) responden menilai
media massa saat ini sudah berimbang dalam memberitakan sebuah peristiwa, sementara
42,5 persen responden menanggapi sebaliknya. Kendati demikian, keberhasilan pers itu
tidak lantas membuat pers Indonesia bebas dari ekses negatif yang di timbulkan akibat
kebebasan pers yang dimilikinya. Benturan idealisme pers dengan kepentingan internal dan
eksternal pers selalu mengondisikan pers Indonesia dalam posisi yang dilematis. Inilah
persoalan klasik yang selalu melanda pers Indonesia selama ini.
Peran pers yang begitu besar dalam pembentukan opini publik membuat lembaga ini
selalu berbenturan dengan kepentingan pemerintah. Pada masa Orde Baru, sering kali pers
dipaksa mengakomodasikan kepentingan pemerintah atau terpaksa berhadapan dengan
penguasa jika bersikukuh mempertahankan idealisme kebebasannya.
Namun, tampaknya dunia pers saat ini sudah bisa menikmati kebebasannya.
Setidaknya, lebih dari separuh bagian (52,6 persen) responden merasakan media massa
saat ini sudah bebas dari pengaruh, terutama tekanan atau intervensi penguasa. Meskipun
demikian, 43,6 persen responden malah merasa pengaruh pemerintah masih cukup kuat
terhadap media massa. Berbeda dengan penguasa, pengaruh tokoh politik malah dirasakan
cukup kuat di dalam kehidupan pers saat ini. Separuh bagian responden merasakan hal ini.
Hubungan saling mempengaruhi antara pers dan pihak yang berada di luar dirinya,
seperti yang terungkap dalam jejak pendapat ini, memberi penegasan bahwa tidak ada
indenpendensi absolut dalam kehidupan pers. Fenomena ini bisa dilihat dari orientasi pers
saat ini. Sebagian besar responden menilai media massa saat ini cenderung berorientasi
pada aspek komersial ketimbang idealisme pers sebagai politik pembebasan.
Kecenderungan ini bisa dilihat dari fenomena pemberitaan yang dilakukan media
47

massa saat ini. Bagi media elektronik, untuk mengejar rating yang tinggi, program acara
bersifat sensasional, yang kandungan pendidikannya untuk publik relatif rendah, semakin
sering ditawarkan kepada publik. Unsur pornografi, kekerasan, hingga mistik pun
dipublikasikan. Sebagian besar (64,5 persen) responden mengaku prihatin dengan tayangan
televisi yang mengandung kekerasan.
Menurut sebagian responden itu, penayangan adegan kekerasan di televisi pada masa
reformasi ini sudah berlebihan. Begitu juga dengan tayangan yang berbau pornografi.
Lebih dari separuh bagian (58,0 persen) responden mengaku, tayangan itu sudah
berlebihan. Keprihatinan yang sama juga diungkapkan oleh 58,6 persen responden
terhadap penayangan acara televisi yang berbau mistik. Kecenderungan serupa terjadi di
media cetak. Kendati tidak separah yang ditayangkan media elektronik, publik tetap
memprihatinkan pemunculan berita berbau pornografi, kekerasan, atau mistik.
Begitulah wajah kebebasan pers Indonesia saat ini. Di satu sisi keberadaannya
mencerminkan tanggung jawab sosialnya bagi masyarakat dan negara, namun di sisi lain,
keberadannya malah dikhawatirkan menghancurkan moral bangsa ini. Inilah eforia pers
yang menghasilkan wajah pers Indonesia dengan karakter yang beragam seperti sekarang.
Catatan : Jumlah responden = 722 orang, dengan cakupan wilayah : Jakarta, Yogyakarta,
Surabaya, Medan, Padang, Banjarmasin, Pontianak, Manado, Makassar dan Jayapura.

Sumber : Sultani (Litbang Kompas), 12/2/2007.

Bonus Info Kewarganegaraan


08 Februari 2007 16:17:53
Kemajuan Teknologi Jadi Tantangan
Pers
Saat ini, melalui teknologi, masyarakat dapat
berpartisipasi aktif dalam berbagai media
komunikasi. Perkembangan ini juga membawa
perubahan besar pada industri media massa. Beberapa
penelitian menyimpulkan, suratkabar (media cetak)
mulai menuju kematian, yang ditandai dengan
menurunnya jumlah tiras. Masa keemasan suratkabar
telah lewat, digantikan dengan media elektronik.
Namun, suratkabar tetap bisa hidup. Syaratnya harus melakukan perluasan dengan bergerak di
bisnis multimedia. Di Indonesia upaya ini telah dimulai. Kelompok-kelompok suratkabar besar saat
ini merambah kepemilikannya ke radio, televisi, dan bisnis lainnya.
Demikian beberapa pemikiran yang muncul dalam acara Dewan Pers Menjawab yang
disiarkan langsung stasiun TVRI, Rabu, 7 Februari lalu, bertema Refleksi Hari Pers Nasional
(HPN). Tema ini diangkap untuk menyambut hari pers yang diperingati setiap tanggal 9 Februari.
Acara yang dipandu Hinca IP Pandjaitan ini menghadirkan wartawan senior, Djafar H. Assegaf,
anggota Dewan Pers, Sabam Leo Batubara, dan program officer UNESCO-Jakarta, Arya
Gunawan.
Assegaff menyatakan komunikasi adalah fitrah manusia. Karena itu setiap hari manusia
membutuhkan media massa. Pada abad teknologi saat ini hukum besi berlaku, sehingga
menurutnya bisnis media massa membutuhkan skill yang luas dan modal besar.
Terkait dengan peringatan HPN, Assegaff memandang pentingnya pendidikan bagi wartawan.
Ia juga menyoroti pentingnya kebiasaan membaca (reading habit). Sebab salah satu tantangan
untuk meningkatkan tiras suratkabar adalah bagaimana meningkatkan minat baca. Assegaff
menyatakan, “Sekarang adalah abad new media. (Namun) semua tidak ada artinya kalau tidak
48

didalami dengan membaca koran, dan lebih lagi membaca buku”.


Sementara itu Leo membenarkan berbagai riset yang menyimpulkan adanya penurunan tiras
surat kabar di dunia. Namun, menurutnya, hal itu tidak berlaku di beberapa negara seperti India.
Mengutip hasil pertemuan serikat penerbit surat kabar seluruh dunia yang berlangsung tahun 2000
lalu, Leo menyatakan suratkabar perlu melakukan konvergensi untuk dapat bertahan hidup.
Ia melihat di Indonesia sudah ada kencenderungan demikian. Selain ke suratkabar, kelompok
pebisnis pers telah memperluas bisnisnya ke radio dan televisi. Dengan demikian suratkabar dapat
tetap eksis. Apalagi suratkabar punya kelebihan dibanding media elektronik. “Kelebihan suratkabar
yang tidak bisa ditandingi yaitu kedalaman berita”, ungkapnya.
Menanggapi pers di Indonesia yang sering dinilai telah sangat bebas dan cenderung
kebablasan, Leo menyatakan, pers sebetulnya belum benar-benar bebas. “Di Indonesia pers yang
mengungkap korupsi tapiEpers malah yang ditangkap. Jadi pers belum bebas”.
KESIMPULAN
Sedangkan Arya melihat posisis pers diuntungkan dengan reformasi. Pers dapat
terbuka, tidak lagi memerlukan izin sehingga tidak dapat dibredel. Kebebasan pers saat ini,
menurut Arya, adalah berkah, ancaman, dan sekaligus tantangan. Tantangan pertama
Istilah
pers “pers” pada
Indonesia umumnya
adalah mengandung
menjaga arti merupakan
kebebasan penerbitanteknologi
pers. “Ancaman” yang berkaitan
manjadi
tantangan berikutnya. Ia menambahkan, keberadaan wartawan pemeras dandan
dengan media massa atau wartawan. Dapat juga merupakan lembaga sosial
wahana komunikasi
penyalahgunaan massaoleh
kebebasan yangkalangan
melaksanakan kegiatan
pers sendiri jurnalistik
menjadi baik cetak
tantangan maupun
lainnya. Karena
elektronik.
itu perlu ditekankan pentingnya peningkatan profesionalisme wartawan. (Redaksi-Dewan
Pers).
Dalam pelaksanaan pers di beberapa negara, terdapat kebebasan pers yang ternyata
antar negara tidak sama. Ada beberapa negara yang menganut pers Barat dan pers
Komunis. Demikian juga di dalam karakteristiknya, ada Sumber
yang menerapkan teori pers :
http://www.dewanpers.org/dpers.php
otoriterian, libertarian, tanggung jawab sosial dan komunis.
Perkembangan pers di Indonesia yang terus mengalami kemajuan, adalah setelah
pemerintah republik Indonesia terbentuk pada tahun 1945. Pasang surut pers di
Indonesia dialami baik pada masa revolusi, era demokrasi liberal, zaman orde lama
atau pers terpimpin, era demokrasi Pancasila dan orde baru, serta kebebasan pers era
reformasi.
Setiap negara memilki karakteristik pers yang berbeda antara satu negara dengan
negara lain, hal ini sangat tergantung kepada ideologi atau falsafah yang dianutnya.
Ada 6 sifat pers yang kita kenal, yaitu : pers demokrasi liberal, pers komunis, pers
otoriter, pers bebas dan bertanggung jawab, pers pembangunan, dan pers Pancasila.
Pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang pengumpulan dan
penyebaran informasi, memiliki Visi yakni : ikuat mencerdaskan masyarkat,
menegakkan keadilan dan memberantas kebatilan.
Menurut Kusman Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Dasar-dasar
Jurnalistik/Pers” menyebutkan ada 4 fungsi pers : yaitu fungsi pendidik, fungsi
penghubung, fungsi pembentuk pendapat umum dan fungsi kontrol.
Pers dalam menjalankan fungsi, tugas dan peranannya menghadapi banyak tantangan
dan masalahnya sendiri. Pers ditantang untuk bekerja lebih profesional sesuai kode
etik, dan dilain pihak pers menghadapi masalah bagaimana memperoleh tenaga yang
profesional, cakap dan terampil.
Undang-Undang Pers yang pernah ada di Indonesia, antara lain : Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 1966, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1967, Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 1982, dan terbaru Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.
Penerapan pers yang bebas dan bertanggungjawab dikembangkan dan dibina dalam
suasana yang harmonis terhadap lingkungan, serta merangsang timbulnya kreativitas,
bukan sebaliknya dengan menimbulkan ketegangan-ketegangan yang bersifat
antagonistis.
Pers melalui organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) telah memilki Kode Etik
Jurnalistik yang merupakan aturan mengenai mengenai perilaku dan pertimbangan
moral yang harus dianut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya.
49

LATIHAN UJI KOMPETENSI

A. Pilihan Ganda
Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling benar !

1. Berikut ini merupakan kategori b. media yang sering menghasut


pengertian Pers sesuai dengan Kamus c. mitra komunikasi yang jujur
Umum Bahasa Indonesia, kecuali .... d. sarana komunikasi yang ampuh
a. alat cetak untuk mencetak buku e. lembaga yang harus diwaspadai
atau surat kabar. 3. Pada awal revolusi, sesuai dengan
b. merupakan nama seluruh pener- fungsinya pers harus menjadi penjaga
bitan yang berkala. kepentingan publik atau disebut ....
c. alat untuk menjepit atau mema- a. public of security
datkan. b. public watch dog
d. surat kabar dan majalah yang c. public of prosperity
berisi berita. d. public of opinion
e. orang yang bekerja di bidang per- e. public of interest
suratkabaran.
4. Pada masa orde lama, peranan pers
2. Perkembangan pers pada jaman lebih banyak merupakan ....
Belanda banyak mengalami hambatan, a. alat bagi kepentingan rakyat
karena pers dianggap sebagai .... b. penampung aspirasi rakyat
a. momok yang harus diperangi c. sosial kontrol rakyat
50

d. alat bagi para penguasa maka pers tersebut melaksanakan


e. penyambung lidah rakyat fungsi ....
a. Kontrol
5. Salah satu alasan pemerintahan Orde
b. opini publik
Baru yang kemudian membatasi
c. penghubung
kebebasan pers pada masa itu
d. sensasi publik
adalah ....
e. pendidik
a. demonstrasi insan pers yang
anarkis
9. Sesuai dengan Undang-Undang No.40
b. pemogokan penerbitan pers
Tahun 1999 tentang Pers, bahwa salah
c. munculnya pers asing yang
satu peranan pers nasional adalah ....
komunis
a. memenuhi hak masyarakat untuk
d. terjadinya peristiwa Malari 1974
mengetahui
e. pers disusupi kepentingan barat
b. selalu berupaya menggerakan
6. Berikut ini adalah yang termasuk
prakarsa masyarakat
dalam sifat-sifat pers yang antara satu
c. selalu menjadi penengah dalam
negara dengan negara lain berbeda,
mengatasi konflik
kecuali ....
d. mendorong terwujudnya negara
a. Pers demokrasi liberal
hukum Indonesia
b. Pers reformasi
e. menyebarluaskan informasi yang
c. Pers komunis
selalu terbaru
d. Pers pembangunan
e. Pers otoriter
10. Dalam upaya pers menempatkan
7. Salah satu misi pers yang harus kepentingan nasional di atas
ditegakkan di Indonesia adalah .... kepentingan pribadi atau golongan,
a. melakukan peliputan dengan baik maka harus dihindari penyebaran
b. selalu berdiri di atas kebenaran secara terbuka atau terselubung
c. ikut mencerdaskan masyarakat ajaran-ajaran yang mengarah pada ....
d. memperjuangkan rasa keadilan a. Kapitalisme dan liberalisme
e. mendorong clean governance b. Sosialisme dan ajaran-ajarannya
8. Jika pers melakukan pengawasan c. Liberalisme dan ajaran-ajarannya
kepada masyarakat tentang tingkah d. Komunisme dan ajaran-ajarannya
laku yang tidak dikehendaki khalayak, e. Marxisme atau komunisme

B. Uraian
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas !

1. Jelaskan yang anda ketahui makna pers dalam kehidupan masyarkat demokratis !
2. Salah satu karakteristik pers adalah adanya kebebasan yang bertanggung jawab, berikan
alasan mengapa demikian !
3. Beri penjelasan singkat perbandingan sisem dan kemerdekaan pers pada negara barat
dengan negara berkembang pada umumnya !
4. Berikan contoh sekurang-kurangnya 3 (tiga) dampak positif kelahiran era reformasi dengan
kebebasan pers di Indonesia !
5. Beri penjelasan perbedaan yang mendasar antara sifat pers pada negara yang berfalsafah
demokrasi liberal dengan komunis !
51

6. Jelaskan yang dimaksud bahwa pers memiliki fungsi pendidik dan penghubung !
7. Berikan alasan, mengapa salah satu peranan pers berdasarkan Undang-Undang Nomor 40
Tahun 1999 yaitu memperjuangkan keadilan dan kebenaran !
8. Menurut pendapat anda, apa langkah-langkah yang paling mungkin dilaksanakan
pemerintah Indonesia dalam rangka menghadapi pers di era reformasi yang cenderung
mengedepankan kebebasannya dari pada tanggungjawabnya !
9. Jelaskan, mengapa dalam melaksanakan tugas kewartawanan diperlukan Kode Etik
Jurnalistik !
10. Berikan alasan mengapa Kode Etik Jurnalistik menjadi aturan mengenai perilaku dan
pertimbangan moral yang harus dianut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya !

C. Tugas dan Diskusi


1. Diskusikan dengan teman-temanmu tentang topik-topik berikut ini !
a. Hubungan kebebasan pers dengan demokratisasi.
b. Tantangan dunia pers dalam menjembatani kepentingan rakyat dan pemerintah.
c. Pentingnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan peranan pers di Indonesia.
d. Melalui pers yang bebas dan bertanggung jawab dapat terwujud tegaknya keadilan !

2. Carilah referensi lain baik dari buku, koran, buletin, majalah, internet dan sebagainya yang
berhubungan dengan pers yang bebas dan bertanggung jawab !
Bentuklah kelompok sesuai dengan kebutuhan !
a. Rumuskan kembali yang dimaksud dengan pers !
b. Jelaskan mengapa di negara Indonesia lebih tepat menerapkan teori pers tanggung
jawab sosial !
c. Jelaskan kembali fungsi dan peranan pers dalam kehidupan masyarakat !
d. Berikan contoh dampak positif dan negatif pers Indonesia di era orde baru dan pasca
orde baru (reformasi) !
e. Buatlah analisis tentang penerapan peranan pers yang bebas dan bertanggung jawab di
Indonesia dalam rangka mendorong masyarakat dan pemerintah menuju kehidupan yang
demokratis !
f. Buatlah makalah sehubungan dengan pembahasan tersebut dan presentasikan hasilnya
di depan kelas !

D. Inquiry
Isilah titik-titik pada kolom berikut ini untuk menganlisis fungsi pers Indonesia dalam
mendorong kehidupan masyarakat yang demokratis !

No Fungsi Pers Indikator / Keterangan Contoh


1. Pendidik .......................................................................... ...................................
........... .....
.......................................................................... ...................................
........... .....
.......................................................................... ...................................
........... .....
2. Penghubung .......................................................................... ...................................
52

........... .....
.......................................................................... ...................................
........... .....
.......................................................................... ...................................
........... .....
3. Pembentuk .......................................................................... ...................................
Pendapat ........... .....
Umum .......................................................................... ...................................
........... .....
.......................................................................... ...................................
........... .....
4. Kontrol .......................................................................... ...................................
........... .....
.......................................................................... ...................................
........... .....
.......................................................................... ...................................
........... .....
5. Pemersatu .......................................................................... ...................................
........... .....
.......................................................................... ...................................
........... .....
.......................................................................... ...................................
........... .....
DAFTAR PUSTAKA (TAMBAHAN)

Anwary. S. Dr., “Bunga Rampai Amanat Rakyat Jilid I”, Jakarta, Penerbit Institute of
socio-Ekonomics and Political Studies”, 2001.
Deden Faturohman dan Wawan Subari, “Pengantar Ilmu Politik”, Malang, Penerbit
Universitas Muhammadiyah Malang, 2002.
Eyo Kahya, “Perbandingan Sistem dan Kemerdekaan Pers”, Bandung, Penerbit Pustaka
Bani Quraisy, 2004.
Heru Santoso, Ir. M.Hum., dkk., “Sari Pendidikan Pancasila”, Yogya, Penerbit PT Tiara
Wacana, 2002.
Idup Suhadi Drs. M.Si. dan Desi Fernanda Drs. M.Soc.Sc., “Dasar-dasar
Kepemerintahan Yang Baik”, Jakarta, Lembaga Administrasi Negara Republik
Indonesia, 2001.
Kurniawan dan Junaedhie, “Ensiklopedi Pers Indonesia”, Jakarta, Penerbit Gramedia
Pustaka Utama, 1991.
Pramudito Sumalyo, “Ideologi Negara dan Tantangan Zaman”, Jakarta, PT Golden
Terayon Press, 1995.
Salamoen Soeharyo, Drs. MPA. Dan Nasri Effendi Drs. M.Sc., “Sistem Administrasi
Negara Republik Indonesia”, Jakarta, Lembaga Administrasi Negara Republik
Indonesia, 2001.
Winarno, A. Drs. M.Sc., dan Tri Saksono SH. M.Pd., “Kecerdasan Emosional”, Jakarta,
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2001.
Wahyu Suprapri Hj. Dra. MM. Dan Sri Ratna Hj. Ir. MM., “Pengenalan dan Pengukuran
Potensi Diri”, Jakarta, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2001.
Yurnaldi dkk., “Jurnalistik Siap Pakai”, Padang, Penerbit Angkasa Raya.

Anda mungkin juga menyukai