P. 1
Majalah ACEHKINI #05

Majalah ACEHKINI #05

|Views: 449|Likes:
Dipublikasikan oleh Khairul Umami
Majalah ACEHKINI edisi Juni 2008
Majalah ACEHKINI edisi Juni 2008

More info:

Published by: Khairul Umami on Jul 23, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

Sections

ACEHKINI Juni 2008

1

JUNI, 2008

Rp. 16.000,-

www. acehkini.co.id

2

ACEHKINI Juni 2008

3

FIGURA

Daftar Isi

No. 05 | I |Juni 2008

Penerbit PT. ACEHKINI Dewan Redaksi Yuswardi AS, Nurdin Hasan, Irfan Sofni, Adi Warsidi Redaktur Mismail Laweueng, Fakhrurradzie Gade Koordinator Liputan Maimun Saleh Wartawan
Daspriani Y Zamzami, Fikar AMT, Chaideer Mahyuddin, Fachry, Dedek (Banda Aceh), Imran MA (Lhokseumawe), Halim Mubary (Bireuen), Misdarul Ihsan (Subulussalam) Fotografer Hasbi Azhar,
Fauzan Ijazah Keuangan Abdul Munar Penata Letak gepe Ombudsman Stanley Konsultan Nurlis E. Meuko Distribusi Muhammad Yusuf, Akmal Abzal Alamat Jl. Angsa No 23 Batoh, Banda Aceh
Telepon 0651.7458793 website www.acehkini.co.id e-mail redaksi@acehkini.co.id

SEARAH JARUM JAM DARI KIRI BAWAH: CHAIDEER MAHYUDDIN —ACEHKINI; YO FAUZAN —ACEHKINI; WIN —ACEHKINI; CHAIDEER MAHYUDDIN —ACEHKINI; HASBI AZHAR —ACEHKINI; YO FAUZAN —ACEHKINI

Foto Sampul; Chaideer Mahyuddin/ACEHKINI. inset, dari kiri: Yo Fauzan/ACEHKiNi dan Chaideer Mahyuddin/ACEHKiNi.

COVER
STORY

HALAMAN |4 | |5 | |6 | | | | |8 | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | |20 | | | | | | | | | |24 | | |26 | | | | | | | | | | |29 | | | | |32 | | | | | | | | | | | | |37 | | | | | |41 | | |43 | | |45 | | |47 | | | | | | | | | |50

4 | SURAT

5 | SALEUM

6 | KOLOM Azhari

8 | ‘Perang Bintang’ dari
Bintang
Awalnya adalah
hubungan kekeluargaan
dari Bintang. Belakangan,
seorang ‘bintang’
membangkang sebelum
perjuangan berhasil
digapai.

14 | ‘Saudara Kembar’ dari
Barat Selatan
Mengikuti
Jejak Aceh Louser Antara
membelah Aceh. Tapi
dukungan dari elit tidak
bulat.

FOKUS

EKONOMI &
BISNIS

PELESIR

GAYA
HIDUP

32 | REKONSTRUKSI

Bermula dari Piring Emas

33 | FEATURE Setelah
Tanda Luka Terungkap

37 | INDUSTRI Menjegal
Andalas Hingga ke Madrid

39 | USAHA KECIL Rezeki
dari Pelancong

41 | TRADISI Merawat
Tradisi Berat di Ongkos

43 | LINGKUNGAN

Kebanggaan dari Pucuk
Bakau

45 | OLAHRAGA Dalam
Pelukan Ombak

47 | PERJALANAN Macau,
Cermin di Selatan Cina

50 | Martunis Dikibuli Tukul

SENI &
BUDAYA

ALAM

Kampung Bintang di Aceh Tengah, hal. 8

16 | Kampung Antara di
Kutaraja
Orang-orang Gayo
hidup berdampingan di
Banda Aceh. Berharap tak
ada diskriminasi.

18 | CATATAN: Gayo

M Adli Abdullah.

Kampung Antara di Banda Aceh yang dihuni oleh komunitas
Gayo perantauan, hal. 16

Sekretariat KP3 ALA

20 | Setelah Secarik Memo
Wakil Presiden
Jusuf Kalla
berada di balik lolosnya
partai bekas pemanggul
senjata dalam verifikasi.
Berkat lobi pada suatu pagi
di bulan April.

24 | Main Api Uang Korban
Perang
Indikasi korupsi
di Badan Reintegrasi
Aceh diduga melibatkan
sejumlah pejabat. Ada
yang sedang diperiksa
kejaksaan.

26 | ESAI FOTO
‘Jalur Sutra’ Soraya

28 | KOLOM
Raisa Kamila

29 | Obat Hati dari Turki Di
balik kisah sukses siswa
sekolah Fatih membawa
pulang medali emas dari
Turki.

HUKUM

SAINS

NANGGROE

hal. 26

4

Surat

Kenapa Majalah ACEHKINI
Terlambat Terbit?

Saya pembaca setia Majalah ACEHKINI.
Isinya sudah sangat bagus dan sudah
memenuhi kontek, baik unsur politik,
ekonomi, sosial budaya dan lainnya. Apa-
lagi majalah edisi khusus yang lalu (Pak
Gubenur Irwandi pakai topi koboi). Menu-
rut saya, laporannya sudah sangat bagus,
mendetil dan lengkap untuk ukuran sebuah
majalah lokal. Apalagi jarang ada majalah
lokal yang berani melakukan liputan dan
investigasi secara mendetil. Saya salut den-
gan awak redaksi dalam mengemas sebuah
berita menjadi laporan. Dan saya tahu para
awak re daksi Majalah ACEHKINI meru-
pakan orang-orang profesional di dunia
jurnalistik.

Tapi saya sebagai pembaca mau ber-
tanya kenapa majalah ACEHKINI terbit-
nya lama sekali, selalu tidak tepat jadwal.
Bukankah seharusnya majalah ini terbit
sebulan sekali. Kok malah dua bulan sekali
bahkan ada yang tiga bulan sekali baru ter-
bit. Tolong redaksi tanggapannya mengapa
ini terjadi. Apa karena para kru redaksi
orang-orang sibuk semua. Saya berharap
Majalah ACEHKINI tetap jaya dan menjadi
majalah lokal yang diperhitungkan di bumi
Aceh. Terimakasih.

Ridwan
Banda Aceh

Tolong Tertibkan Jalan
Diponegoro

Jalan Diponegoro merupakan jalan utama
dan jalur padat di pusat perbelanjaan Kota
Banda Aceh. Jika kita melewati Jalan Di-
ponegoro di waktu sore, tepatnya di depan
Pasar Aceh yang sedang direnovasi baunya
sangat amis, karena para pedagang ikan
dan lainnya jika waktu sore berjualan di
sepanjang jalan tersebut. Mereka tanpa
bersalah membuang bekas air ikan di jala-
nan sehingga mengakibatkan jalan menjadi
licin dan bau sangat menyengat, bagaikan
kita melewati pasar ikan aja. Padahal jalan
itu dilalui banyak orang dan sangat meng-
ganggu pengguna jalan.
Kita berharap kepada pihak terkait
untuk segera menertibkan para pedagang
dan penjual ikan untuk tidak berjualan
lagi di sepanjang jalan tersebut. Bila perlu

Malam Renungan AIDS Nusantara

Pengunjung malam renungan AIDS di Taman Sari, Jum’at (23/5). Acara yang
bertemakan ‘Lawan Aids, Bukan Orangnya’ diikuti 14 lembaga dari Aceh dan Medan
yang peduli terhadap penyakit mematikan itu. [Chaideer Mahyuddin]

pihak terkait membuat pos khusus di jalan
tersebut untuk mengawasi para pedagang
agar tidak berjualan lagi di sana.
Kita sangat malu dengan sebutan Se-
rambi Mekkah dan mayoritas penduduknya
beragama Islam tapi lingkungan kita sangat
jorok, bukanlah kebersihan itu sebagian
dari iman? Harapan kita semua pihak
terkait untuk mendukung kota kita ini
menjadi kota yang bersih. Terimakasih atas
dimuatnya komentar saya ini.

Usman
Banda Aceh

Perangi AIDS, Bukan Orangnya

Laporan Departemen Kesehatan Republik
Indonesia pada 2007 memperkirakan
ada 1.095 kasus HIV dan AIDS di
Nanggroe Aceh Darussalam. Sekteraris
Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi
(KPAP) NAD, Drs. H. Bakhtiar Yusuf,
MM meminta masyarakat untuk peduli
terhadap pencegahan penyakit human

immunodefciency virus (HIV) dan
Acquired Immune Defciency Syndrome

(AIDS) itu.

Dia menyebutkan, meskipun angka
tersebut baru perkiraan namun semua
pihak harus tetap waspada karena di
Aceh saat ini sudah ditemukan 19 kasus
yang terdapat di 12 kabupaten/kota.
“Berdasarkan perkiraan, apabila ada satu
kasus HIV dan AIDS yang terungkap, maka

diduga akan muncul 100 kasus lainnya.
Jadi, kemungkinan saja jumlah kasus yang
diperkirakan Depkes itu benar. Tapi, kita
berharap tidak benar,” kata dia pada jumpa
pers panitia bersama Malam Renungan
AIDS Nusantara, Kamis (22/5) di Banda
Aceh.

Menurut Bakhtiar, data tersebut masih
bersifat estimasi populasi resiko tinggi
tertular HIV yang dikeluarkan Depkes RI.
Data yang dirilis Depkes itu menyebutkan,
angka 1.095 kasus itu meliputi penggunaan
injection drug user (IDU) atau pengguna
narkoba suntik mencapai 1.035 kasus atau
40.9 persen; wanita dengan pekerja sosial
(WPS) atau PSK mencapai 42 kasus (5,36
persen); Pelanggan WPS 176 (1.07 persn);
Lelaki PS/Gay/LSL mencapai 118 kasus
(1.64 persen); dan Narapidana mencapai 33
kasus (3.02 persen).
Kemudian, ada ada juga pasangan
IDU dan non IDU yang mencapai 147
kasus (13,58 persen); dan pasangan WPS
27 (0,24 persen) kasus. Sementara itu,
untuk pasangan pelanggan waria tidak
ditemukan kasus terjangkit virus human

immunodefciency virus (HIV) dan
Acquired Immune Defciency Syndrome

(AIDS).

Dikatakan, penyebaran penyakit HIV
dan AIDS tidak hanya melalui hubungan
seks, tapi faktor resiko yang paling
besar adalah melalui jarum suntik, yang

ACEHKINI Juni 2008

5

biasanya dilakukan oleh orang-orang yang
kecanduaan narkotika.
Ia menyatakan, kasus HIV/AIDS di
Aceh mulai terungkap pada tahun 2004,
yakni hanya satu kasus, kemudian pada
tahun 2007 sudah meningkat lagi menjadi
18 kasus. “Kasus HIV dan AIDS merupakan
fenomena gunung es, yakni di atas saja
yang kelihatan, sedangkan di bawahnya
yang besar tidak kelihatan. Tapi yang
paling penting upaya pencegahan dan
penyuluhan yang gencar,” katanya.
“Kita juga mendoakan mereka yang
telah mendahului kita karena HIV dan
AIDS. Kegiatan ini untuk menggugah hati
masyarakat untuk lebih peduli akan HIV
dan AIDS, meningkatkan kesadaran dan
memerangi stigma,” ujar Karimuddin,
koordinator MRAN 2008.
Menurut Karim yang didampingi
Ko ordinator Aceh Journalist for AIDS
(AJFA), Munawardi Ismail, tujuan kegiatan
itu di antaranya untuk menunjukkan
kepedulian tanpa pamrih dalam
memahami dan menyikapi kenyataan
HIV dan AIDS di dunia umumnya dan di
Indonesia khususnya. Selain juga untuk
memberikan dukungan moral kepada
orang yang terinfeksi HIV dan AIDS tanpa
diskriminasi dari siapapan.
Menurut Karim, begitu sapaan
akrabnya, di Indonesia kasus AIDS
pertama kali ditemukan tahun 1987.
Hingga Desember 2007, terdapat 10.384
kasus AIDS, dengan kasus meninggal
sebanyak 2.287. apabila digabungkan data
HIV dan AIDS, maka totalnya berjumlah
16.288 orang, ujarnya sambil menyebutkan
sumber data dari Ditjen PPM dan PL
Depkes RI.

Banda Aceh, 23 Mei 2008
Violet Grey, AYOMI, CMPP, YAKITA,
MAP, TAMMI, AJFA, FORHAKA,
SEFA, PMI Banda Aceh, WCP, IYP,
Care dan NAD Support Group,
American Red Cross dan
Australian Red Cross.

surat/foto untuk redaksi harap dialamatkan ke:

redaksi@acehkini.co.id

Saleuem

BAK SEHABIS MENDAKI PUNCAK
Everest di Himalaya sana. Begitu pula
keringat rakyat saat mendengar kabar
pemerintah menaikkan harga bahan
bakar minyak. Sialnya, jauh sebelum itu,
harga-harga bahan pokok sudah duluan
bergerak. Imbasnya, rakyat dan semua
kita harus menerima keputusan pahit nan
“sakit” ini.

Kenapa ini terjadi? Teori ekonomi
menyapa begini: permintaan dan
penawaran berhubungan fungsional satu
sama lain. Bila permintaan naik, harga
akan naik atau bila penawaran naik, harga
akan turun. Atau kalau harga naik, maka
permintaan akan turun. Guna mencapai
keseimbangan, jumlah permintaan akan
sama dengan jumlah penawaran.
Kita, seperti kehabisan teori untuk
mengulas ini. Sekalipun menyandang
tingkat kesarjanaan ekonomi tertinggi.
Atau bahkan lulusan universitas
tersohor di Amerika Serikat. Semua itu
tak kuasa menghadang laju harga yang
membumbung.
Lebih sialnya, posisi kami. Di kala
sedang merakit ‘kemesraan’ dengan Anda
pembaca setia,
kabar buruk
menyergap
meja redaksi.
Segala kenaikan
membuat kepala
kami bak rumah
robek dihantam
tsunami. Boleh
jadi lebih parah
lagi. Pasalnya,
kenaikan harga
kertas pun tak
bisa terbendung.

Imbasnya harga cetak majalah naik.
Praktis, segala menu yang hendak
disaji pun menyebabkan operational
cost
majalah bertambah. Ini menjadi
keputusan sulit, ibarat makan buah
simalakama. Maka dengan berat hati kami
kabarkan ke pembaca; harga majalah
kita terpaksa naik sedikit. Semoga tak
membuat kantong pailit. Persentasenya
pun tak selangit.
Pembaca, seperti haba di awal tadi,
keputusan menaikkan harga bandrol

majalah dari Rp 13.000 menjadi Rp 16.000
adalah bak memanggul ratusan kubik batu
kali; berat dan sulit. Keputusan itu pun
diambil setelah melintasi diskusi panjang
oleh jajaran manajemen ACEHKINI. Tentu
saja dengan mengacu pada harga kertas
dan biaya cetak semakin mahal.
Di satu sisi, kami menolak menaikkan
harga majalah. Tetapi di sisi lain, kami
juga tidak bisa bertahan dengan gempuran
harga serba mahal. Di tengah zaman serba
sulit inilah, kita sama-sama bergelut. Kami
tetap senantiasa menyajikan informasi-
informasi terkini yang dikupas tuntas,
sementara Anda, pembaca kami yang
budiman, menyisihkan sedikit uang
sarapan pagi untuk ACEHKINI.
Semoga pula kenaikan harga majalah
ini tidak mengakhiri kebersamaan Anda
dengan kami. Prinsip kami, uang yang
Anda sisihkan untuk membeli majalah
tak boleh sia-sia. Karenanya, kami terus
berupaya mengemas majalah ini melalui
liputan-liputan mendalam, yang beda
dengan media lain di Aceh. Lihat saja
misalnya di edisi ini, Anda kami suguhkan
ragam berita.

Ada soal isu pemekaran Provinsi
Aceh. Saudara-saudara kita di dataran
tinggi Gayo, Singkil, pantai barat-selatan
mengumandangkan cerai dengan Aceh.
Cerita di balik talak tiga yang dijatuhkan
kepada Aceh, kami kemas sebagai laporan
utama. Seiring perkembangan kekinian
Aceh, kami juga menambah dua rubrik
baru.

Dalam cover story, Anda bisa
mengikuti perkembangan politik soal
partai politik lokal yang didirikan para
bekas gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka.
Partai ini sudah dua kali ganti nama.
Kami menemukan cerita di balik prosesi
pergantian nama. Secarik memo dari
Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadikan
jaminan bagi GAM untuk mengganti nama
partai. Ada juga prestasi anak-anak Aceh
di kancah internasional, yang bisa Anda
temukan di rubrik Sains.
Berbagai laporan menarik lain tersaji
dalam edisi yang ada di tangan Anda ini.
Selamat menikmati kabar aktual dari
kami. Semua disajikan khusus untuk
Anda. [a]

Maaf, Harga Naik

6

KETIKA BENCANA TIBA DI BURMA
pada awal bulan Mei 2008, uang tsunami
Aceh sudah lama habis. Kuntoro bilang
sama Bill Clinton dan Uni Eropa:
rekonstruksi beres, ini foto dan laporannya.
Korban tsunami terkejut, BRR mau keluar
Aceh tahun depan, tapi rumah kami belum
selesai dibangun. Lalu korban tsunami
datang ke BRR menuntut uang rehab
sebesar Rp 15 juta serta menolak alokasi
kebijakan Rp 2,5 juta yang ditetapkan
BRR. BRR terkejut, masa rumah belum
dibangun? Tapi uang tsunami sudah lama
habis!

Lalu BRR—bukan justru mengingat
ke mana saja uang tersebut sudah mereka
habiskan—mempertanyakan apakah warga
yang demo itu termasuk korban tsunami
seperti yang dilaporkan Pak Kun kepada
Clinton dan Uni Eropa? Boleh jadi ini
pasti warga yang dihasut oleh partai lokal
menjelang Pemilu 2009. Sialan, BRR pikir
partai lokal kayak Partai Rakyat Aceh
punya uang untuk mengecek siapa yang
sudah dapat rumah dan siapa yang belum.
BRR lupa—karena tak banyak ahli hitung
bekerja di sana, tapi diramaikan oleh
tukang rawi konsep—hampir sebagian uang

Rumah
dalam
Museum

AZHARI

Kolom

ILUSTRASI OLEH CEK IS BASRI

tsunami sudah mereka habiskan untuk
membayar tukang cek ditambah ahli-
bantu-pikir wanna be dan bukan untuk
tukang cat.

BRR juga lupa kenapa mereka abai
membangun rumah korban tsunami,
karena BRR sedang melibatkan diri dalam
persekongkolan jahat guna menghancurkan
ingatan korban tsunami melalui
pembangunan museum tsunami seharga
Rp 70 M.

Akhiruddin Gerak, bakal menghitung
dengan cepat berapa jumlah rumah korban
tsunami yang dapat dibangun andai BRR
tak punya ambisi untuk membangun
museum ini. Udin yang jujur, BRR yang
culas tahu mereka hanya dapat mengakali
Bill Clinton atau Uni Eropa, misalnya
dengan menunjukkan foto rumah-rumah
yang dibangun oleh Pemerintah Turki
sebagai rumah yang mereka bangun.
Pembangunan museum itu juga dapat
kita sebut dalam rangka mematut wajah
BRR di sidang-sidang kebencanaan
dunia, panggung tempat BRR biasa
berbual: Aceh adalah teladan bagaimana
seharusnya uang bencana dikelola, kami
tak hanya membangun rumah tapi juga

Rakyat bicara dengan Tuhan,
Para borjuis bicara tentang Tuhan

- Kierkegaard

BRR
sesungguhnya
sedang berusaha
memanipulasi
yang nyata
dengan cara
membangun yang
transendental.

ACEHKINI Juni 2008

7

membangun sesuatu yang transendental
seperti museum tsunami, yang tidak
akan mungkin didapati dalam proses
rekonstruksi di Srilanka dan Thailand.
Memang kalau kita mau melihat lebih
terang pada wajah korban bencana Burma
hari-hari ini tak secebispun tergambar
di sana bahwa mereka membutuhkan
museum untuk menyimpan ingatan
tentang kegilaan badai nargis. So pathetic,
bukankah watak rendah diri kepada tuan
kerap terbit sebab terbiasa berkata takabur
pada korban tsunami!
Apa lacur, ketakaburan BRR sendirilah
yang telah menumbuhkan ratusan
ribu museum abadi dalam kepala para

korban tsunami terutama ingatan yang
menyangkut sisi-sisi paling kelam dalam
proses rekonstruksi di Aceh. Ratusan
museum yang tidak dapat ditumbangkan
bahkan oleh datangnya tsunami berikutnya
itulah yang bakal mengalamatkan kutuk
sepanjang dunia ini belum berakhir kepada
lembaga yang bernama BRR itu, dan
takdir itulah yang ingin BRR cegah dengan
membangun museum tsunami.
Jadi jelas sekarang kenapa BRR
memutuskan membangun rumah dalam
museum daripada membangun museum
dalam rumah. Dalam satu museum
tsunami BRR berharap dapat mengisi
dengan ratusan ribu rumah korban

tsunami yang lupa dibangunnya. Rumah-
rumah dalam museum itulah nanti yang
bakal melucuti ratusan ribu ingatan
korban tsunami tentang ratusan rumah
mereka yang belum selesai (atau tak layak)
dibangun oleh BRR, sekaligus menjadi
ruang untuk memoderasi keputusasaan
ratusan ribu korban akibat rekonstruksi
yang gagal.

BRR seperti kita ketahui punya banyak
jalan untuk membebaskan diri dari audit
dan kriminal. Sebagaimana gelapnya

kasus pembuatan buku dan proyek flm

dokumenter. Tapi bagaimanakah caranya
untuk lari dari ingatan korban tsunami
yang senantiasa mengguncang harga diri
BRR di masa-masa mendatang? Pasal
tentang itulah yang ingin dihapus BRR
dengan mendirikan museum terkutuk itu.
BRR dengan demikian sedang

berusaha menyusun fksi untuk mewakili

ingatan korban tsunami dengan jalan
mengendalikan tema utama: tsunami
yang mengharukan dan rekonstruksi yang
berhasil. Saya menduga BRR mengambil
ilham pembangunan museum ini dari
kegagalan mereka membangun jalur
penyelamatan manusia di pemukiman
dekat pantai –lintasan tempat orang keluar
dengan cepat apabila gempa berkekuatan
besar datang.

Di dinding museum tsunami, selain
foto-foto yang merangsang hasrat
wisatawan bencana, BRR antara lain
juga akan memasang foto-foto yang
memperlihatkan betapa gigihnya para
korban tsunami bertarung melawan nasib
buruk mereka. Foto-foto inilah akan
menggantikan keputusasaan yang tak
dapat ditanggung oleh buruknya kerja
BRR selama proses rekonstruksi dengan
panorama keharuan. Juga musik yang
meneduhkan apabila kita melintasi
ruang-ruang dalam museum
itu. Keharuan dan doa adalah
campuran yang meneguhkan
bagaimana seharusnya korban
tawakal menghadapi bencana
dan menerima takdir mereka.
Ketafakuran inilah nanti
yang pelan-pelan menutupi segala
keburukan BRR dalam rekonstruksi
di Aceh.

BRR sesungguhnya sedang
berusaha memanipulasi yang
nyata dengan cara membangun
yang transendental. Dalam
bahasa lain, melalui museum
ini BRR sangat jelas sedang
membicarakan nilai-nilai
ketuhanan kepada korban
tsunami, tapi seperti kita
tahu para korban tsunami
kerap berbicara dengan
Tuhannya mengenai satu pasal:
betapa celanya BRR. [a]

8

UTAMA | ACEH LEUSER ANTARA

‘Perang
Bintang’ dari
Bintang

Awalnya adalah hubungan kekeluargaan dari Bintang.
Belakangan, seorang ‘bintang’ membangkang sebelum
perjuangan berhasil digapai.

oleh MAIMUN SALEH

FOTO: YO FAUZAN —ACEHKINI

ACEHKINI Juni 2008

9

10

UTAMA | ACEH LEUSER ANTARA

“MEREKA SAUDARA KAMI, BAIK
atau buruk tetap kami ikut.” Hasan Aman
Usmada mengucapkan kalimat itu tanpa
ragu. Di usia yang sudah 68 tahun, dia
tetap mengikuti perkembangan politik di
kampungnya.

Mereka yang dimaksud Hasan adalah
trio bersaudara: Rahmat Salam, Tagore
Abubakar Bintang dan Iwan Gayo. Tiga
orang ini belakangan dikenal sebagai
penggerek bendera ‘calon provinsi’ Aceh
Louser Antara (ALA).
Mereka memang berasal dari kampung
yang sama dengan Hasan: Kuwala Satu,
Kecamatan Bintang, Aceh Tengah. Hasan
mengenang Tagore dan Iwan sebagai putra
Abubakar Bintang, tokoh Partai Nasional
Indonesia di Aceh Tengah, tahun 50-an.
Sedangkan, Rahmat Salam adalah ipar
mereka.

Hasan ingat betul, suatu hari Tagore
pulang kampung. Hasan girang bukan
kepalang. Dia sudah geregetan merasakan
lambatnya pertumbuhan ekonomi di
kampungnya. Hari itu, dia bermaksud
curhat, mempertanyakan pembangunan
Bintang. Tetapi, alih-alih mendapat
dukungan, Tagore malah memintanya
berhenti berpolitik. “Gak usah kakek main
politik, urus aja kebun kopi yang serius,”
ujar Tagore.

Meski banyak melahirkan ‘bintang’
dalam kancah perpolitikan, Bintang hanya
satu potret daerah terpuruk. Nyaris tak
terlihat bangunan beton. Kemiskinan

tampak jelas di dinding kayu rumah-
rumah warga, rata-rata mulai merapuh
disantap rayap. “Lihat meranti penyangga
atap rumah saya, itu sudah sejak zaman DI
(Darul Islam),” ujar Hasan.
Walau miskin, Bintang kesohor.
Pemerintah setempat mempromosikan
kecamatan ini jadi lokasi tujuan wisata
di timur danau Laut Tawar. Andalannya
panorama elok; diapit persawahan,
dikelilingi perbukitan dan berhadapan
langsung dengan Laut Tawar.
Sayangnya tak disertai infrastruktur
memadai. Walhasil, wisatawan langka,
warga tak mereguk laba. Di danau indah
itu, warga menggantung hidup dari
keramba dan menjala ikan depik.
Kendati kemiskinan melilit, Bintang
lumayan memproduksi politikus lokal. Janji
kesejahteraan saat pemilihan umum, selalu
laris di sini. Di Aceh Tengah, kecamatan ini
tergolong penyetor anggota legislatif cukup

signifkan meski penduduknya berbilang

8.000-an orang.
Kekerabatan yang masih kental juga
modal bagi politisi setempat. Walau
mengaku tak punya harapan terhadap
wakil-wakil yang telah dipilihnya, warga
tidak menyesal dan tetap memilih siapapun
yang mencalonkan diri menjadi anggota
parlemen atau eksekutif dari daerah
mereka.

Iwan Gayo, mantan juru bicara pusat
Komite Persiapan Pembentukan Provinsi
Aceh Louser Antara (KP3ALA), menduga
ramainya politikus di Bintang tak lepas dari
keberadaan Kerajaan Lingga. Di sanalah
keturunan bangsawan Lingga hidup turun-
temurun.

Periode 1999 hingga 2004 setidaknya
sembilan kursi di legislatif Aceh Tengah
ditempati politikus asal Bintang. Dan kini,
ada tiga politisi yang menjadi wakil rakyat
setempat. Sayangnya, “Mereka tak peduli
kampungnya!” keluh Hasan.
Politik pula yang nyaris merenggut

Ide pembentukan provinsi sendiri
di wilayah pedalaman Aceh telah
muncul di awal-awal kemerdekaan
Indonesia. Saat DI/TII, Prof
Baihaqi AK sempat berbicara
dengan Tgk Daud Beureueh
tentang rencana pembentukan
lima provinsi di Aceh. Tapi, ide
itu tidak terwujud karena Jakarta
memberikan Daerah Istimewa
Aceh setelah lebur dari Sumatera
Utara.

1971. Sejumlah tokoh wilayah
pedalaman Aceh membentuk
Sekretariat Bersama Golongan
Karya, yang salah satu misinya
mewacanakan pembentukan
provinsi baru terpisah dari Daerah
Istimewa Aceh.
1976. Hasan Tiro
mendeklarasikan Aceh Merdeka.
Wacana pembentukan provinsi
terpisah dari Aceh sempat
tenggelam hingga tahun 1986.

1987. Sejumlah tokoh gagas
wacana pembentukan Provinsi
GALAKSI (Gayo, Alas, Singkil).
Mereka bergerak diam-diam untuk
menggalang dukungan.
1989. Para tokoh itu
menggagas wacana pembentukan
Provinsi GATS (Gayo, Alas,
Tamiang, Singkil)
1998. Nama Provinsi Aceh
Louser Antara (ALA) diputuskan
dalam satu pertemuan di Jakarta.

Pertemuan akbar yang
dihadiri para tokoh
dari lima kabupaten
digelar di Jakarta
untuk menyatukan
persepsi bagi
perjuangan ALA.

Akhir 1999.

Wacana pembentukan
ALA pertama kali
masuk ke DPR RI yang
dikoordinir oleh tim
11 yang terdiri atas
beberapa tokoh ALA.

12 Juli.

Komite Persiapan
Pembentukan
Provinsi Aceh Leuser
Antara (KP3ALA)
dibentuk, yang
dicanangkan oleh
sejumlah tokoh.

> 1945-1950an

> 1971 - 1976

> 1987 - 1998

> 1999

> 2000

> 2001
Mei.
Satu pertemuan
rahasia digelar di
Brastagi, Sumtera
Utara, yang dihadiri para
tokoh lima kabupaten
untuk mengatur strategi
pembentukan ALA. Usul
inisiatif dewan pertama
kali digulirkan DPR RI. Usul
ini diprakarsai Prof Baihaqi
AK (anggota dewan dari
PPP). Tetapi berakhir di
sidang paripurna pada
akhir 2004 dan ide ALA
kembali tenggelam.

Perjuangan Panjang Membelah Aceh

riwayat Bintang. Juni 1956, saat
pemberontakan Darul Islam meletus,
Desa Kuwala Satu dan Kuwala Dua hanya
kumpulan arang. Hingga menjelang senja,
bunga api dan asap masih mengepul.
Selanjutnya, warga terpaksa tinggal di
gubuk-gubuk reot dalam kebun kopi.
Kisah bermula dari datangnya seorang
laki-laki ke Bintang. Dari Takengon,

Hasan, lelaki tua di
Kuwala Satu, dihadapkan
pada pilihan sulit:
saudara mana harus
didukung? Sebab, ‘perang
bintang’ dari Bintang baru
saja dimulai.

KIRI-KANAN: DEDEK —ACEHKINI; YO FAUZAN —ACEHKINI. BAWAH: YO FAUZAN —ACEHKINI

ACEHKINI Juni 2008

11

Hanya bentakan serdadu yang terdengar.
“Di mana mereka (anggota Darul Islam),”
pekik tentara. “Siapa yang kasih makan!”
sambung yang lain. Hasan tak bisa
melupakan peristiwa itu.
Pasukan Diponegoro berang, interogasi
massal gagal menemukan anggota Darul
Islam. Lantas, rumah-rumah warga yang
telah kosong menjadi sasaran amuk.
Entah bagaimana tiba-tiba api tersulut,
pemukiman miskin itu musnah. “Bangkit,
seorang warga yang mengalami gangguan
jiwa meninggal. Ia dalam pasungan dan
warga tak diizinkan menolong,” kisah
Hasan.

Kuwala Satu rata tanah, namun
semangat warga tidak punah. Perlahan-
lahan mereka menebas pohon, menurunkan
kayu ke desa dan membangun kembali
pemukiman.

Lepas dari tragedi Juni kelam 58
tahun silam, Bintang tak bebas dari

dampak konfik bersenjata antara pasukan

pemerintah dengan Gerakan Aceh Merdeka
(GAM). Di rimba yang mengelilingi Bintang,
perang sering menyalak.
Ekonomi bangkrut. Terlebih sejak
tentara mengetatkan aktivitas warga di
ladang berbukit. Padahal hampir seluruh
warga Bintang menggantungkan hidup dari

23 Agustus. Ribuan
warga berunjukrasa di
Kantor Bupati Bener
Meriah dan Aceh
Tengah untuk menuntut
percepatan pembentukan
ALA.

4 September. Perwakilan
masyarakat Aceh Tengah,
Gayo Lues, Bener Meriah,
Aceh Tenggara, dan Aceh
Singkil dalam pertemuan di
Medan mendesak DPR RI
mempercepat pengesahan
ALA.

28 September.

Rancangan Undang-
undang Provinsi ALA
yang merupakan
inisiatif DPR disahkan
untuk dibahas.

7 Desember. Ketua
Panitia Ad Hoc I
Dewan Perwakilan
Daerah (DPD) RI yang
membidangi masalah
pemekaran wilayah
mendukung rencana
pembentukan ALA.

30-31 Mei. Kongres
Pembentukan ALA digelar
di Kutacane, ibukota Aceh
Tenggara. Rencana kerja dan
pendanaan ditandatangani
bupati dan ketua DPRD lima
kabupaten.

13 Juli. Ketua DPRD
NAD, Sayed Fuad Zakaria
menyatakan DPRD akan
membahas wacana
pembentukan ALA dalam
rapat panitia musyawarah.

> 2004

> 2005

23 Agustus.

Pimpinan DPRD Aceh
Tengah, Gayo Lues,
Bener Meriah, Aceh
Tenggara, dan Singkil
menolak isi MoU
Helsinki antara RI
dan GAM. Penolakan
disampaikan
dalam pertemuan
dengan Wakil Ketua
DPR RI, Soetardjo
Soerjogoeritno.
Mereka mendesak
pembentukan ALA
dipercepat.

4 Desember.

Ribuan warga
dari 11
kabupaten
mendeklarasikan
pembentukan
ALA dan Aceh
Barat Selatan
(ABAS) di Basket
Hall Senayan,
Jakarta.

dia membawa sepucuk info darurat
untuk anggota Darul Islam yang berniat
menggelar konferensi di sana. “Sudah
ketahuan. Jangan lanjutkan!” katanya
dengan rupa pucat.
Tanpa pikir panjang, seluruh pengikut
Teungku Daud Beureueh meninggalkan
Bintang. Selain warga setempat yang tersisa
hanya umbul-umbul dan meunasah yang

telah disolek menyerupai aula.
Menjelang sore, informasi mata-mata
terbukti. Bintang telah dikurung pasukan
Batalyon Diponegoro. Penyisiran dilakukan
tanpa desing baku tembak. Seluruh warga
dikumpulkan di dua lokasi yakni meunasah
dan pusat perkantoran yang kini telah
menjadi pasar.
Bintang senyap. Warga membisu.

>

12

ATAS-BAWAH: WIN —ACEHKINI; YO FAUZAN —ACEHKINI. INSET: HASBI AZHAR —ACEHKINI

21 Juni. Anggota DPR RI
asal Aceh, Muhammad Yus,
mewacanakan pemindahan
ibukota Aceh ke Takengon
sebagai upaya meredam
aspirasi ALA. Tahun 2001, saat
menjabat Ketua DPRD Aceh, dia
juga pernah mewacanakan hal
serupa, tetapi ditentang banyak
pihak.

22 Juni. Penjabat Gubernur
NAD, Mustafa Abubakar,
menyetujui wacana
pemindahan ibukota Aceh dari
Banda Aceh ke Takengon.

9 Juli. Sejumlah
anggota DPRD Aceh
Tengah dan Bener
Meriah berangkat
ke Jakarta untuk
memantau proses
pembahasan
RUU PA. Mereka
berharap
pemekaran ALA
dimasukkan dalam
UUPA. Tapi, upaya
itu gagal karena
dalam UUPA tak
ada pasal soal
pemekaran.

22 Januari.

Pemekaran ABAS
dan ALA kembali
masuk DPR melalui
usul inisiatif untuk
dibahas dalam rapat
Paripurna DPR RI.

23 Januari.

Gubernur Irwandi
Yusuf menentang
keras dan berjanji
akan melawan setiap
upaya pemecahan
Aceh.

20 Februari. Sembilan
panitia Pembentukan
Provinsi Aceh Barat-
Selatan (ABAS) yang
tergabung dalam Tim
Kajian Penyusunan
Rencana Umum Tata
Ruang Kota Persiapan
Ibukota dan Provinsi ABAS
mengundurkan diri.

21 Februari. Seratusan
kepala desa berunjukrasa di
Gedung DPRK Aceh Tengah
menuntut percepatan
pembentukan ALA.

23-24 Februari 2008.

Tokoh masyarakat, politisi,
dan pejabat pemerintah
menggelar pertemuan di
Medan dan mengeluarkan
tujuh rekomendasi percepatan
pembentukan ALA.

24 Februari. Aksi
penggalangan dukungan
pemekaran ALA di Rimo,
Subulussalam, gagal
karena tak ada warga
yang membubuhkan tanda
tangan di kain putih yang
dibentangkan.

25 Februari. Hari Ulang
Tahun Kabupaten Bener
Meriah keempat diisi dengan
pengumpulan ribuan tanda
tangan pada spanduk putih
yang dibentang di lapangan
Pacuan Kuda Desa Karang Rejo,
Kecamatan Wih Pesam.

26 Februari. Ratusan kepala
desa menggelar unjukrasa di
DPRK Aceh Tengah menuntut
percepatan pemekaran ALA.

> 2006

> 2008

kopi. Tak ayal, kebun-kebun telantar.
Denyut ekonomi mulai berdetak,
setelah perjanjian damai antara
pemerintah dan GAM. Saat itu pula,
perjuangan pembentukan provinsi baru
kembali kuat menguak.
Paling akhir, unjukrasa ratusan
kepala desa ke DPR RI di Jakarta, akhir
Maret lalu. “Stempel dan lencana jabatan
diserahkan ke pemerintah sebagai
pertanda pembekuan pemerintahan desa,”
kata Iwan Gayo.
Tak sulit bagi Iwan menggalang massa
dari Aceh Tengah. Pasalnya, seluruh
anggota parlemen merestui. Sementara,
di kabupaten tetangga Bener Meriah,
yang merupakan wilayah pemekaran dari
Aceh Tengah, Tagore yang berkuasa. Dari
dua kabupaten inilah, para kepala desa
diberangkatkan ke Jakarta.
Pemerintahan desa belum sempat beku,
Iwan mendapat kabar pemecatan dirinya
dari Ketua Hubungan Masyarakat dan
Publikasi KP3ALA. Surat pemecatannya
diteken oleh Ketua Umum KP3ALA, Prof
Tgk H Baihaki AK dan Sekretaris Jenderal,
Burhan Alpin.

Rahmad Salam, Ketua KP3-ALA Pusat,

memvonis Iwan sebagai “pengkhianat.”
“Kami menganggap dia sudah innalillahi
wa inna ilaihi raji’un
. Dia itu pengkhianat.
Kami tidak perlu bertindak kasar
terhadap dia karena perjuangan kami
lebih mengedepankan perdamaian untuk
mencapai keadilan,” ujar Rahmad pada
jurnalis ACEHKINI, Nurdin Hasan.
Selain dicap pengkhianat, Rahmad juga
menyatakan pihak keluarga mem-parak
Iwan. Menurut hukum adat masyarakat
Gayo, parak adalah hukuman cukup berat
karena telah diusir dan tidak dilibatkan
lagi dalam setiap kegiatan keluarga. “Dia
sudah dikeluarkan dari keluarga besar
kami karena (pengkhianatan) ini yang
pertama yang terjadi dalam keluarga kami.
Malah kalau dia meninggal, pihak keluarga
tidak akan melakukan shalat jenazah
kepadanya,” kata Rahmad.
Begitupun, Rahmad mengaku tetap
sedih atas desersinya Iwan. Bujukan untuk
kembali dalam barisan perjuangan ALA
telah diupayakan, “tapi dia tetap ngotot,”
kata Rahmad. Hilangnya satu bintang
tak menyurut semangat membelah Aceh.
Pertengahan Mei lalu, ratusan demonstran
ALA menggebrak Jakarta untuk kesekian

Dia sudah dikeluarkan
dari keluarga besar kami
karena (pengkhianatan) ini
yang pertama terjadi dalam
keluarga kami. Malah kalau
dia meninggal, pihak keluarga
tidak akan melakukan shalat
jenazah kepadanya.

— RAHMAD SALAM

<

UTAMA | ACEH LEUSER ANTARA

ACEHKINI Juni 2008

13

27 Februari. Ketua Komite
Persiapan Pembentukan Provinsi
Aceh Barat Selatan (KP3 ABAS),
Tjut Agam, dalam pertemuan
dengan berbagai komponen
masyarakat pantai Barat dan
Selatan Aceh, mengatakan
rencana pembentukan ABAS yang
telah dirintis sejak 2003, diharap
terwujud Agustus 2008.

27 Februari. Ribuan warga
berparade di Takengon untuk
memperjuangkan pembentukan
ALA.

10-25 Maret. Ratusan kepala
desa dari Aceh Tengah dan Bener
Meriah berunjukrasa di beberapa
lokasi di Jakarta, menuntut
percepatan pembentukan ALA.

28 Maret. Ketua DPRK
Aceh Selatan, Abdul Salam,
mengatakan pihaknya
mendukung pemekaran ABAS.

10 April. Ratusan kepala
desa berunjukrasa di DPRK
Bener Meriah untuk menuntut
percepatan pembentukan ALA.

11 April . Iwan Gayo, yang
menjabat Ketua Humas dan
Publikasi Komite Persiapan
Pembentukan Provinsi ALA
(KP3ALA) bertemu Gubernur Aceh
Irwandi Yusuf. Setelah pertemuan
itu, Iwan Gayo diangkat menjadi
Ketua Komite Percepatan
Pembangunan Daerah Tertinggal
Aceh (KP2DTA).

12 April. Iwan Gayo dipecat dari
kepengurusan KP3 ALA karena
dianggap sebagai ”pengkhianat.”

3 Mei. Wakil Ketua Komisi II DPR,
M Fachrudin menyatakan seluruh
persyaratan pembentukan
ALA dan ABAS sudah terpenuhi
seperti jumlah penduduk,
cakupan wilayah, potensi ekonomi
dan kajian akademis.

13 Mei. Ketua DPR RI, Agung
Laksono, menyatakan dari
21 RUU pemekaran, hanya
delapan yang sudah paripurna,
tapi tak termasuk ALA dan
ABAS. Begitupun, Komisi II
DPR RI sepakat melanjutkan
pembahasan RUU ALA dan ABAS.

12-14 Mei. Ratusan demonstran
berunjukrasa di depan Istana
Wapres, Depdagri dan DPR RI
untuk menuntut percepatan
pembentukan ALA. 10
demonstran nekat menerobos
Istana Negara sehingga ditangkap
dan diperiksa polisi selama
beberapa jam. Tapi, akhirnya
dibebaskan.

Saya ingin terlibat membangun
daerah pedalaman Aceh.
Kesejahteraan lebih penting
bagi rakyat. Setelah itu, baru
bicara pemekaran lagi.

kalinya. Malah, ada yang nekat menerobos
Istana Negara.
Rahmad mengibaratkan keluarnya
Iwan Gayo dari KP3ALA bagai “hilang
segelas air di tengah lautan luas”. “Tokoh-
tokoh masyarakat adat Gayo di Jakarta
menyatakan bahwa kehilangan Iwan Gayo
sama dengan hilangnya segelas air laut
tawar, “ ujar Rahmad.
Mengapa Iwan dicap pengkhianat?
Penulis Buku Pintar ini dianggap telah
membangun kerjasama dengan ‘musuh’
yang menentang upaya pembentukan
provinsi pecahan dari Nanggroe Aceh
Darussalam. Siapa lagi kalau bukan
Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh. Tak hanya
itu, Iwan mendapat jabatan baru: Ketua
Komite Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal (KP2DT).
Iwan Gayo punya cerita soal ini.
Menurutnya, hari kedua demo di Jakarta,
Maret lalu, telepon genggamnya berdering.
Di ujung telepon, seseorang yang mengaku

bernama Elfan, putra Lhoknga yang

memimpin Greenomic Indonesia di
Jakarta, mengajaknya berdamai. “Pak
Iwan, mari kita dialog, bagaimana
bersama-sama membangun Aceh,” kata

Elfan seperti ditirukan Iwan Gayo. Saat
itu, kata Iwan, Elfan mengaku utusan

Gubernur Irwandi.

Elfan yang dihubungi ACEHKINI

hanya tertawa saat ditanya apakah dirinya
diutus gubernur. “Ini bukan soal diutus
atau tidak, tapi bagaimana kita sama-sama
membangun Aceh,” ujarnya.
Awalnya, Iwan tak merespon ajakan itu.
Prinsipnya, “Sekali layar terkembang, surut
kita berpantang”. Namun, beberapa hari
kemudian, setelah upaya pengembalian
stempel kepala desa tak berhasil, Iwan

patah arang. Tak lama, diantar Elfan, dia

balik ke Banda Aceh menjumpai gubernur.
“Saya ingin terlibat membangun daerah
pedalaman Aceh. Kesejahteraan lebih
penting bagi rakyat. Setelah itu, baru bicara
pemekaran lagi,” ujarnya. Walhasil, satu
bintang kini bersama Irwandi.
Akibatnya, warga Bintang kini seakan
berada dalam dilema. Hasan, lelaki tua
di Kuwala Satu, dihadapkan pada pilihan
sulit: saudara mana harus didukung?
Sebab, ‘perang bintang’ dari Bintang baru
saja dimulai.[a]

— IWAN GAYO

14

‘Saudara Kembar’ dari Barat Selatan

hanya tersenyum saja ketika ditanya soal
itu. “Tjut Agam (tokoh pemekaran ABAS)
pernah mengajak saya membantu, tapi saya
menolak secara halus,” sebutnya.
“Yang penting bagaimana sekarang kita
bersatu padu membangun Aceh, bukan
mem bahas hal yang tidak terlalu perlu,”
ujarnya.

Informasi tak menyentuh sampai ke
akar. Malah, ada warga yang tak tahu
soal ABAS. Teungku Rusbini, pimpin an
pesantren Al-Ridha, Aceh Selatan menga-
takan tak begitu paham tentang isu pe me -
karan. Dia hanya sering mendengar bahwa
ada sebagian pejabat yang memperjuangkan
pemekaran, yang katanya untuk kesejahte-
raan rakyat di wilayah barat selatan.
Tapi, Rusbini tak ambil peduli. “Bagi
saya, yang penting aman dan damai saja,
dengan begitu perlahan masyarakat akan
sejahtera. Saya tak tahu pemekaran itu.”

***

oleh ADI WARSIDI

SPANDUK ITU TERENTANG
sepanjang jalan, dari Calang, Aceh Jaya
sampai Tapak Tuan, Aceh Selatan. Latar
putih dengan tulisan hitam, umumnya
pesan adalah ajakan mendukung sebuah
pemekaran provinsi baru; Aceh Barat
Selatan (ABAS).
Sekejab, bertebaranlah kain-kain itu.
Seakan sudah seperti provinsi baru. Di
sebuah persimpangan Kota Meulaboh,
Aceh Barat, misalnya; sebuah spanduk
melekat erat pada pagar sebuah bangunan.
Mudah terlihat, ‘Selamat Datang Provinsi
ALA & ABAS’. Bagi yang tak paham dan
baru berkunjung ke wilayah itu, ini adalah
provinsi baru.

ABAS mengklaim wilayahnya terdiri
atas enam kabupaten; Aceh Jaya, Aceh
Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh
Selatan dan Simeulu.
Berhitung hari, satu persatu spanduk
lenyap pada tempat-tempat sunyi dan
mudah dijangkau. Yang tertinggal hanya

di tempat ramai dan susah dimusnahkan.
Pemuda di Aceh Jaya menurunkannya
sebagian, lalu sebagian Aceh Barat sampai
ke Aceh Selatan.
“Kami sendiri yang menurunkan
spanduk-spanduk pemekaran ABAS itu,
karena kami tak setuju. Malam dinaikkan,
siang kami turunkan,” kata Safrizal kepada
ACEHKINI. Dia warga Bakongan, Aceh
Selatan dan orang dekat Teungku Abrar
Muda, bekas Panglima Muda GAM wilayah
tersebut.

Tak heran, di Bakongan tak ada span-
duk berkibar. Kata Safrizal, warga di sana
tak setuju jika wilayah itu pisah dari Aceh.
Karena pemekaran hanya kepentingan para
segilintir elit politik di wilayah tersebut.
“Kami hanya meminta Bakongan dan seki-
tarnya pisah dengan Aceh Selatan, peme-
karan kabupaten,” sebutnya.
Waled Marhaban, Pimpinan Pesantren
Raudhatul Muna, Aceh Selatan tak menolak
secara langsung pemekaran ABAS. Dia

DARI ATAS: ADI WARSIDI —ACEHKINI; YO FAUZAN —ACEHKINI

UTAMA | ACEH LEUSER ANTARA

Mengikuti Jejak
Aceh Louser Antara
membelah Aceh.
Tapi dukungan dari
elit tidak bulat

ACEHKINI Juni 2008

15

‘Saudara Kembar’ dari Barat Selatan

ISU PEMEKARAN PROVINSI ABAS
mencuat ke permukaan bersamaan dengan
Aceh Louser Antara (ALA). Mereka telah
mendeklarasikan bakal provinsi itu sejak
akhir 2005 lalu di Jakarta. Belakangan ini,
isu itu semakin mencuat setelah DPR-RI
merancang draft UU pemekaran provinsi
tersebut.

Wakil Bupati Aceh Barat, Fuadri
menilai momentum pemekaran tak
diperlukan sekarang. “Bukan perkara
setuju dan tak setuju, tapi belum saatnya.
Masyarakat tak penting itu, yang
penting adalah akses kebijakan untuk
kesejahteraan,” sebutnya.
Dia menyebutkan isu pemekaran lebih
kepada persoalan politik elit. Dampaknya
juga untuk sebagian orang saja. Penilaian-
nya, ada orang-orang yang getol memper-
juangkan Provinsi ABAS karena merasa ka-
lah bersaing nantinya dengan tokoh-tokoh
lokal di Aceh, setelah pemerintah melegal-
kan partai lokal.

Tak setuju juga diungkapkan Wakil
Bupati Aceh Jaya, Zamzami A Rani. “Kalau
pun pemekaran jadi, sepertinya Aceh
Jaya bergabung saja dengan Jantho (Aceh
Besar),” sebutnya.
Dia optimis, masyarakat Aceh Jaya tak
pernah setuju dengan pemekaran itu. Soal
spanduk yang juga bertebaran di sana, Zam-
zami menyebut itu dipasang oleh orang-
orangnya Tjut Agam. “Dia memakai orang-
orang Forkab (Forum Komunikasi Anak
Bangsa) untuk naikkan spanduk. Forkab itu
kan tidak pas dengan KPA,” sebutnya.
Forkab adalah organisasi yang
umumnya terdapat para mantan GAM

yang menyerah semasa konfik dulunya.

Sementara Komite Peralihan Aceh (KPA)
adalah lembaga gerilyawan GAM yang tetap
eksis melawan republik sampai damai ada,
15 Agustus 2005 silam.
Kondisi penolakan tak berpengaruh
pada komentar yang dilontarkan Ketua
Komite Persiapan Pembentukan Provinsi
(KP3) ABAS, Tjut Agam. Dia optimistis
pada perjuangannya. Bahkan dia berani
mengklaim dukungan tokoh dan masyara-
kat terhadap provinsi ABAS sangat besar,
sekitar 95 persen. “Ini aspirasi masyara-
kat,” sebut Wakil Ketua Dewan Perwakilan
Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat itu.
KP3 ABAS berpusat di Meulaboh,
sementara untuk kabupaten berpusat

di ibukota masing-masing. Pelantikan
pengurusnya telah dilakukan pertengahan
Maret lalu. Tjut Agam dan tokoh ABAS
juga terus berusaha melobi Jakarta untuk
kepentingan pemekaran tersebut.
Lahir di Kaway XVI, Tjut Agam sudah
berusia 69 tahun. Tamat Sekolah Menengah
Atas (SMA), dia bergabung dengan Tentara
Nasional Indonesia (TNI). Sampai pensiun,
dia memilih jalur politik lewat Golongan
Karya (Golkar). Jadilah Tjut Agam politisi
di Aceh Barat. Dia memimpin Golkar di
sana dalam tiga periode, dari tahun 1993
sampai 2004. Kini dia penasehat partai.
Di dewan, Tjut Agam juga beruntung.
Dia memegang tampuk ketua dewan Aceh
Barat para tahun 1997. Kini dia duduk
sebagai wakil ketua. Soal ABAS, dia
optimistis berjuang sampai akhir.
Soal spanduk yang diturunkan warga,
Tjut Agam menilai karena adanya sebagian
orang yang tidak senang dengan isu peme-
karan ABAS. Dia tak memungkiri kalau
geliat ABAS kalah dibandingkan dengan
ALA. Tapi katanya, “ABAS tak bisa dipisah-
kan dari ALA, kami layaknya saudara kem-
bar, satu pisah yang lainnya juga ikut.”
Kendati perlawanan di sana-sini, belum
ada gesekan yang berbuah kekerasan antar-
pendukung. Penolakan dari barat masih
sebatas menaikkan dan menurunkan
spanduk. [a]

16

DULU DAERAH ITU DIKENAL
dengan nama Lampoh Cina. Tak ada
rumah warga di lahan yang dipenuhi
semak belukar, hingga pada tahun 1980-
an seorang perwira polisi membeli rawa-
rawa itu. Abdul Kadir namanya. Ia orang
Gayo. Polisi yang bertugas di bidang
pelayanan Surat Izin Mengemudi itu lalu
membangun rumah bagi keluarganya.
Awalnya, hanya Kadir dan beberapa
kerabatnya yang menghuni kompleks baru
itu. Seiring perjalanan waktu, warga di
kompleks kian bertambah. Terhitung ada
12 kepala keluarga atau sekitar 60 jiwa
warga keturunan Gayo bermukim di sana,
termasuk empat anak Abdul Kadir. Daerah

itu menjadi kompleks keluarga. Tak heran,
setelah Kadir meninggal, warga kompleks
menabalkan namanya sebagai nama lorong.
Kompleks Abdul Kadir kerap jadi tempat
persinggahan bagi warga Gayo yang datang
ke Banda Aceh. Putra-putri Gayo yang
sedang menempuh pendidikan di Banda
Aceh juga banyak yang ngekos di sini. Abdul
Kadir dikenal sebagai pribadi berjiwa sosial
tinggi. Menurut Sulaiman, warga Gayo yang
menetap di sana sejak 29 tahun silam, jiwa
sosial Abdul Kadir bukan hanya bagi warga
Gayo, tapi juga dari warga dari suku lain.
“Bapak tidak pernah pilih orang dalam
bergaul,” kata Asnah, anak sulung Kadir
kepada ACEHKINI, awal Maret lalu.

Lorong Abdul Kadir yang terletak di
Jalan Keusyik Amin Beurawe, Kecamatan
Kuta Alam, adalah salah satu kompleks war-
ga Gayo di Kutaraja. Berjarak sekitar 320 ki-
lometer dari tanah leluhur, komunitas Gayo
tidak pernah melepaskan identitas mereka.
Suatu sore di bulan Maret, saat ACEHKINI
bertandang ke Lorong Abdul Kadir, suasa-
na Gayo sangat terasa. Empat remaja putri
bercengkrama di ayunan di serambi rumah
bercat putih. Mereka asik bercengkrama
dalam bahasa Gayo. Di sudut penghabisan
lorong, di bawah pohon jambu, seorang
pemuda memetik gitar, menyanyikan lagu
khas mereka. “Linge-linge basu linge,” salah
satu bait yang sempat terekam.

Kampung
Antara
di Kutaraja

Orang-orang Gayo hidup
berdampingan di Banda Aceh.
Berharap tak ada diskriminasi.

oleh ARIF SURAHMAN
dan JAMALUDDIN

CHAIDEER MAHYUDDIN —ACEHKINI

UTAMA | ACEH LEUSER ANTARA

ACEHKINI Juni 2008

17

Kebiasaan suku Gayo “mengasingkan”
diri dalam sebuah komunitas tersendiri
sering dianggap orang sebagai sikap warga
negeri Antara yang tertutup. Padahal,
menurut Sulaiman, orang Gayo sangat
terbuka. Lihat saja kemajemukan warga di
Aceh Tengah dan Bener Meriah. “Ada orang
Aceh, Pidie, Jawa, dan Padang. Tidak ada
masalah, mereka bisa hidup berdampingan,”
kata lelaki 55 tahun itu.
Walaupun membentuk komunitas Gayo
di perantauan, tapi mereka tidak lantas
menutup diri dengan warga sekitar. Menurut
Asnah, putri almarhum Abdul Kadir, selama
ini hubungan antara komunitas Gayo dengan
warga asli Beurawe sangat harmonis.

Mereka selalu mengundang warga jika ada
acara di komunitas, begitu juga sebaliknya.
Bukti lain, beberapa penyewa di kompleks
Abdul Kadir merupakan warga Sigli dan
Bireuen.

“Warga Gayo bisa menyesuaikan diri
dengan baik,” kata Lurah Beurawe Ahmad
Wahab saat ditanya hubungan antara warga
Beurawe asli dengan suku Gayo.
Kampung Antara tak hanya di Beurawe.
Di Desa Doy, Kecamatan Ulee Kareng ada
tujuh keluarga Gayo menetap. Ada juga
15 keluarga yang tinggal berdampingan
di Desa Ie Masen kecamatan yang sama.
Rumah mereka saling berdekatan. Di Desa
Doy, kebanyakan tinggal di Dusun Kapai
Kleng dan Ade. Hubungan mereka dengan
warga sekitar harmonis.
Erlisa, warga Desa Doy keturunan
Gayo, mengaku orang Gayo sudah tinggal
berkelompok. Penyebabnya, kata dia,
lebih karena mereka kompak satu sama
lain di perantauan. Apalagi mereka punya
paguyuban seperti Keluarga Laut Tawar dan
Keluarga Negeri Antara.

Dia mengaku belum pernah diajak pihak
Komite Persiapan Pemekaran Provinsi Aceh
Louser Antara (KP3 ALA) untuk mendukung
pemisahan kawasan dataran tinggi Gayo
dari Aceh. Jamhuri malah mengajak KP3
ALA dan Pemerintah Aceh untuk duduk
bersama untuk mencari solusi terbaik bagi
permasalahan yang membelenggu kawasan
Gayo.

Menurutnya, dataran tinggi Gayo
yang tediri atas Kabupaten Aceh Tengah,
Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara,
dan ditambah Aceh Singkil, serta Kota
Subulussalam, memang masih sangat
jauh tertinggal dibandingkan dengan
pembangunan di Aceh pesisir, terutama
bidang pendidikan, transportasi, dan jalur
komunikasi. “Pemerintah harus diskusi dan
memahami apa yang mereka minta. Juga
masyarakat Aceh Tengah harus memahami
apa yang mereka tuntut,” kata dia.
Jika Jamhuri memilih bersikap netral,
tidak demikian dengan Sukardi. Dosen
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Syiah Kuala ini malah terang-

Dua paguyuban ini sering dijadikan war-
ga Gayo di perantauan untuk berkumpul dan
berbagi informasi. “Kami menyebutnya ber-
sesawahan
. Jadi informasi itu berantai dari
satu keluarga ke keluarga lain,” kata dia.
Bersesawahan inilah yang dipakai
saat ada asoe lhok (penduduk asli) mau
menjual tanah. “Makanya, waktu beli tanah
bersama-sama,” katanya, tersenyum.
Lantas berpengaruhkah perjuangan
sebagian masyarakat di Negeri Antara
untuk memisahkan diri dari Aceh terhadap
komunitas Gayo. “Kalau saya diajak oleh
KP3ALA, saya kebingungan menjawabnya,”
kata Jamhuri, dosen IAIN Ar-Raniry,
kepada ACEHKINI.

terangan mendukung pemekaran. “Gayo jauh
dari kota provinsi dan sulit dijangkau, wajar
kalau meminta pemekaran,” ujarnya. “Saya
berharap pemerintah mau memberikan itu
(pemekaran). Sumberdaya alam yang ada
akan mampu menciptakan kesejahteraan
dan kemakmuran bagi warga di sana.”
Di Lorong Abdul Kadir, Sulaiman,
tidak hirau pada hiruk pikuk politik di
tanah kelahirannya. Bagi dia, bisa hidup
tenang saja sudah lebih dari cukup. Tapi dia
berpesan agar pemerintah memperhatikan
kesejahteraan masyarakat, tak hanya di
dataran tinggi Gayo, tapi juga di kawasan
lain. “Yang penting tidak ada diskriminasi,”
kata Sulaiman. [a]

18

Jadi, artikel ini dalam rangka menerus-
kan impian saya untuk membangun Aceh
sebagai sebuah kesatuan utuh dan tidak
ada keinginan pihak manapun untuk ber-
pisah sebagai orang Aceh. Dalam sejarah
disebutkan, suku Gayo adalah penduduk
negeri Pasai yang lari ke hulu sungai Peu-
sangan karena tidak mau masuk agama
Islam (Russel Jones, 1999; Hill, A.H 1960).
Cerita ini bermula pada saat Syech Ismail
dari Mekkah datang ke Samudra Pasai dan
mengislamkan Meurah Silu yang kemudian
bergelar Malikussaleh. Setelah Meurah Silu
diislamkan, Syech Ismail memintanya me-
ngumpulkan segala hulubalang dan rakyat
Samudra Pasai untuk memeluk agama Is-
lam. Di samping Meurah Silu, saat itu juga
memeluk Islam Tun Seri Kaya yang bergelar
Sayid Ali Ghiyatuddin dan Tun Baba Kaya
bergelar Syech Semayamuddin. Sedangkan
sebagian penduduk yang tidak mau masuk
Islam mengungsi ke pedalaman hulu Peu-
sangan nama lain dari Negeri Gayo.
Untuk menggambarkan suku bangsa
yang ada di Aceh sewaktu pemerintahan
kerajaan Aceh dinukilkan dalam hadih maja
Aceh sebagai berikut “sukee lhee reuthoh
bak aneuk drang, sukee ja sandang jeurah
haleuba, sukee tok bate na bacut-bacut,
sukee imuem peut yang gok-gok donya”
.
Belakangan saya tahu kalau hadih maja ini
dilantunkan oleh penyanyi Aceh, Rafy. Ha-
rus diakui, tak banyak yang pa ham makna
hadih maja tersebut. Sukee di sini berarti
suku sehingga hadih maja ini menggambar-
kan beragamnya suku yang ada di Kerajaan
Aceh Darussalam tempoe doeloe, yang ber-
hasil disatukan oleh Sultan Alaidin Riayat-
syah Al Qahhar (1537-1565).
Orang Gayo dikelompokkan dalam
suku lhee reutoh yang diumpamakan
aneuk drang, yang berarti seperti pohon
padi yang tumbuh kembali setelah musim
panen. Bahasa lainnya adalah sebuah

Gayo

M ADLI ABDULLAH

Catatan

Dewan Kehormatan international Collective
Support of Fishworkers, Brussel, Belgia

Saya pernah bermimpi bahwa Aceh

adalah satu suku yang tidak pernah
dipisahkan oleh alasan apapun.
Mimpi ini saya dapatkan ketika
berkeliling Aceh dan beberapa negara,
bahwa Aceh selalu dianggap sebagai satu
suku bangsa. Jadi, semua etnik yang ada di
Aceh adalah suku bangsa Aceh. Saya sendiri
mungkin memiliki darah dari India atau
Arab, tapi saya tak pernah menganggap diri
sebagai orang India atau Arab, saya tetap
mengaku saya adalah orang Aceh. Namun
kadang impian saya itu hilang, jika ada
satu etnik di Aceh yang ingin memisahkan
diri dari suku bangsa Aceh. Impian saya
membangun Aceh untuk sebuah identitas
bersama, ternyata terganggu oleh munculnya
sikap sebagian orang yang ingin keluar dari
Aceh. Impian saya ini sebenarnya sama
dengan impian orang Jepang ketika mereka
membangun negeri dari kepungan bom
Hiroshima dan Nagasaki, walaupun mereka
memiliki beberapa suku bangsa, tetapi
mereka tetap mengaku orang Jepang.

Jika saja Snouck
hidup kembali,
tentu dia akan
menasihati agar
Gayo dan Alas
tetap bersatu,
karena ka wasan
inilah yang paling
disegani oleh para
pasukan Belanda.

DARI ATAS: DOK —PRIBADI; YO FAUZAN —ACEHKINI

ACEHKINI Juni 2008

19

penggambaran tentang suku tiga ratus ini
banyak sekali dibandingkan dengan suku-
suku lainnya yang ada dalam Kerajaan
Aceh. Dalam kelompok suku tiga ratus ini
termasuk orang-orang Batak Karee yang
berdomisili di Lampanah dan Mantee di
Lamteuba, Aceh Besar. Sedangkan pen-
datang dari India yang masih beragama
Hindu dan kawin dengan penduduk asli
Aceh mereka tidak digolongkan dalam suku
tiga ratus, tapi dikelompokkan dalam suku
Ja Sandang. Arab, Cina, Jawa, Bugis, Turki.
Bagi mereka yang sudah memeluk Islam
dikenal dalam suku tok batee dan imuem
peut sebagai kelompok terakhir. Mereka
yang sering dilukiskan sebagai pahlawan
dalan sejarah perpolitikan kerajaan Aceh.
Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam
sudah begitu kuat dan Aceh menjadi lima
besar negara Islam di dunia bersama Turki
Usmani, Marokko, Iran, Agra India. Sultan
berhasil mengeratkan hubungan keempat
suku ini dengan salah satu cara melalui
politek meubisan, seperti Sultan Iskandar
Muda (1607-1636) kawin dengan Putri Gayo
yang melahirkan Meurah Pupok, sultan
pernah menikah dengan Putri Sani dari

Ribee, Pidie, melahirkan Ratu Safatuddin

dan Iskandar Muda naik pelaminan dengan
Putri Kamaliah (Putroe Phang), adik Sultan
Ahmadsyah Pahang (Malaysia), tetapi tak
memiliki keturunan.
Perkawinan ini sebenarnya politik ke-
rajaan untuk menyatukan negeri-negeri
yang sudah takluk ke Kerajaan Aceh Da-
russalam. Di samping politek meubisan
untuk menyamakan persepsi antara keem-
pat suku itu, juga dilakukan desentralisasi
kekuasaan raja dengan membagi kekuasaan
di Aceh berdasarkan kehulubangan dan
keudjroeen sehingga wilayah dataran tinggi
Aceh dibagi ke dalam Radjo Tji’ Bobasan,
Keu djroeen Boekit, Keudjroeen Siah Oeta-
ma, Keudjroeen Linggo. Keudjroeen Aboe’,
Gajo Loeos, Keudjroeen Petiambang, Keud-
jroeen Bambel dan Keudjroeen Poeloe Nas.
Hal serupa juga dilakukan di wilayah tak-
lukan Aceh lainnya di Semenanjung Tanah
Melayu seperti Perak, Pahang dan Johor.
Kilas balik sejarah seperti ini penting
diangkat kembali ke permukaan, sebab
satu hal yang cukup menarik untuk diingat,
Aceh selalu menjadi rebutan bangsa asing.
Pertanyaannya adalah mengapa Aceh begitu
penting buat bangsa asing. Dalam hal ini,

saya teringat Raffes pernah menasihatkan

Pemerintah Inggris pada abad ke 19 dengan
kalimatnya “a country like Acheh by military
operation will be lost and nothing to gain
”.
Akibatnya, Inggris tetap menganggap Aceh
sebagai negara strategis di kawasan Selat
Malaka dan meminta Belanda menghormati
kemerdekaan Aceh dalam perjanjian antara
Belanda dan Inggris di London pada tahun
1824. Perjanjian itu dikenal dengan nama
London Treaty.

Pascaperang Aceh Belanda 1873-1942

Menurut buku-buku bacaan yang saya
dapat, sebenarnya Belanda tidak begitu
berminat menguasai Kerajaan Aceh, apalagi
pada saat itu Aceh tidak memiliki sumber
daya alam yang menggiurkan seperti se-
karang. Cuma Belanda menganggap Aceh
menjadi benalu bagi eksistensi bisnisnya di
Selat Melaka. Akhirnya, Belanda berusaha
melobi Inggris untuk merevisi London
Treaty
1824 dengan tawaran Gold Coast
(Pantai Gading) di Afrika akan diserahkan
ke Inggris bila bersedia merevisi traktat
tersebut yang salah satu pasalnya mengakui
eksistensi Kerajaan Aceh dan melarang
Belanda mengintervensi ke Aceh.
Tahun 1870, Inggris tertarik dengan
tawaran Belanda dan mengadakan pakatan
baru dengan nama Traktat Sumatra
(Su matra Treaty). Traktat inilah yang
menyebabkan Belanda begitu bersemangat
untuk menaklukkan Aceh. Genderang
perang pun ditabuh pada tanggal 26 Maret
1873. Tapi apa lacur, perang ini menjadi
perang terpanjang dalam sejarah perang
kolonialnya, dengan cost yang harus dibayar
mahal oleh Belanda. Salah satu wilayah
yang sangat sulit ditakluki Belanda adalah
dataran tinggi Gayo dan Alas sehingga
dalam Seminar Perjuangan Aceh yang
dilaksanakan di Medan, 22-25 Maret 1976,
seorang pemakalah, T Cut Amat, menulis
pejuang-pejuang Aceh dari dataran tinggi
Gayo dan Alas sebenarnya sudah sejak
puluhan tahun lalu telah bergelimang di
medan jihad bersama-sama dan bahu-
membahu dengan patriot Aceh lainnya baik
dari pesisir barat dan timur.
Pada 1902, Prof Dr Snouck Hurgronje
menulis laporan kepada Pemerintah Be-
landa di Amsterdam, bahwa ada wilayah
Aceh di kawasan bukit barisan yakni Gayo
dan Alas yang belum pernah tertakluk oleh
pasukan Belanda. Kawasan ini, menurut
dia, menjadi basis pejuang Aceh dalam
menyerang Belanda. Laporan ini sangat
menggusarkan Van Heuts, panglima perang
Belanda di Aceh. Maka, setelah membumi-
hanguskan Batee Iliek (Kabupaten Bireuen
sekarang), dia memerintahkan pasukannya
bersiap-siap menyerang Gayo dan Alas dan
menunjuk Overste GCE Van Daalen sebagai
panglima operasi. Belanda telah mengerah-
kan pa sukan di dataran tinggi Aceh untuk
menyerang masyarakat Gayo dan Alas sejak
8 Februari 1902 sampai 23 Juli 1904 dalam
perang ini Van Daalen hanya berucap “me-
nyerah ataupun semuanya mati.”
Tetapi masyarakat Gayo dan Alas tak
gentar dengan ancaman Belanda dan
mereka terus berjuang mempertahankan
bumi Iskandar Muda walaupun beberapa
ulee balang di pesisir telah menandatangani
korte verklaring dan menyerah kepada
Belanda. Orang-orang Gayo dan Alas tetap
setia mengikuti seruan ulama-ulama besar

Aceh yang sekaligus pemimpin perang Aceh
melawan Belanda seperti Tgk Syik Di Tiro,
Tgk Syik di Awe Geutah, Tgk Syik Paya
Bakong, Tgk Syik Seupot Mata, dan lain-
lain. Selain para ulama besar itu, Sultan
Muhammad Daudsyah—yang akhirnya di-
buang ke luar Aceh dan meninggal pada
4 Februari 1939 di Jatinegara, Jakarta—
pernah memimpin pergerakan di dataran
tersebut.

Van Daalen dan tentara Marsose
(pasukan elit Belanda) melancarkan operasi
di dataran tinggi Aceh selama dua tahun.
Akibat operasi sapu bersih itu, tak kurang
dari 2.902 masyarakat Gayo dan Alas
syahid. Adapun sekitar 1.159 korban perang
ini terdiri dari perempuan dan anak-anak.
Agaknya, peristiwa ini menjadi salah satu
kejahatan perang yang pernah dilakukan
oleh Belanda di bumi Serambi Mekkah.
Baru pada tahun 1922 Belanda berhasil
mengusai penuh dataran tinggi Aceh terse-
but dan membagi daerah Gayo dan Alas ke
dalam delapan keudjroeen (kerajaan negeri)
dan empat ondeafdeeling melalui Statblaad
1922 No 451 yaitu Onderafdeeling Takengon
yang terdiri dari Radjo Tji’ Bobasan, Keud-
jroeen Boekit, Keudjroeen Siah Oetama,
Keudjroeen Linggo. Onderafdeeling Serbod-
jadi terdiri dari Keudjroeen Aboe’. Onder-
afdeeling Gajo Loeos terdiri dari keudjroeen
Petiambang dan Onderafdeeling Alas terdiri
dari Keudjroeen Bambel dan Keudjroeen
Poeloe Nas.

Jadi, sebenarnya aset Aceh adalah
wilayah Gayo dan Alas. Walaupun daerah
ini terlambat dalam pembangunan—setelah
Aceh menjadi sebuah provinsi dalam
negara baru yang bernama Indonesia—
namun kawasan ini tetap menjadi tempat
kesayangan, sebab tanahnya yang subur.
Mereka tidak perlu sibuk memikirkan arus
situasi modernisasi yang sedang melanda
Aceh saat ini.

Impian saya selanjutnya adalah wilayah
Gayo dan Alas ini tetap menjadi ikon
orang Aceh asli yang tetap berwibawa.
Dan kita berharap orang Gayo dan Alaslah
yang mampu menjadi ‘penjaga gawang’
terakhir identitas Aceh di muka nasional
dan internasional. Jika saja Snouck hidup
kembali, tentu dia akan menasihati agar
Gayo dan Alas tetap bersatu, karena ka-
wasan inilah yang paling disegani oleh
para pasukan Belanda. Demikian pula,
jika arwah syuhada itu hidup kembali,
tentu mereka bertanya kenapa kami ingin
dipisahkan ketika merdeka, padahal
saat kami berperang, karena tetap ingin
mempertahankan harga diri sebagai
orang Aceh. Jadi sebenarnya bagi saya,
orang Gayo dan Alas mau pisah, silahkan
saja, tetapi amanah syuhada tetap harus
diperhitungkan. Jangan kemudian Aceh ini
menjadi pecah karena kita ingin keluar dari
identitas kita sendiri. [a]

20

Setelah
Secarik
Memo
Wakil
Presiden

oleh YUSWARDI AS
dan FAKHRURRADZIE GADE

Jusuf Kalla berada
di balik lolosnya
partai bekas
pemanggul
senjata dalam
verifikasi. Berkat
lobi pada suatu
pagi di bulan
April.

CHAIDEER MAHYUDDIN —ACEHKINI

COVER STORY | PARTAI LOKAL

ACEHKINI Juni 2008

21

ADNAN BEURANSAH AKHIRNYA
bisa menarik nafas lega. Akhir bulan lalu,
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia

memutuskan partainya lolos verifkasi

bersama 11 partai lain. Juru bicara Partai
GAM, eh, Partai Aceh itu pantas girang.
Pasalnya, kelompoknya telah menempuh

jalan berliku agar bisa lolos verifkasi.

Dugaan bakal lolosnya GAM dalam

verifkasi partai lokal sebenarnya sudah

muncul saat mereka memutuskan meng-
ubah nama partai untuk kedua kalinya.
Diumumkan secara resmi pada 21 Mei lalu—
hanya dua hari menjelang pengumuman

hasil verifkasi—perubahan nama itu tidak

muncul mendadak.
Seperti diketahui, dideklarasikan pada 7
Juli tahun lalu, Partai GAM muncul dengan
menggunakan bendera Gerakan Aceh
Merdeka sebagai lambang partai: gambar
bulan sabit dan bintang, dihiasi garis hitam
putih di sisi atas dan bawah dengan warna
merah sebagai latar belakang. Meskipun
petinggi GAM mengaku sudah mendapat
restu presiden, nama dan lambang itu
tetap ditolak Jakarta. Sebab asumsi orang
masih mengarah pada gerakan menuntut
kemerdekaan kendati para bekas pemanggul
senjata itu mengaku tidak ada kepanjangan
dari kata GAM. Polisi Aceh bahkan meminta
GAM menurunkan plang nama yang
terpampang di kantor partai.
Ketika itu GAM bersikukuh tak akan
mengubah lambang. Pemilihan nama GAM,
“Harga mati bagi kami,” ujar Juru bicara
Komite Peralihan Aceh Ibrahim Syamsudin
saat itu. Akibatnya, reaksi Jakarta kian keras.
Tak hanya TNI/Polri, suara penolakan juga
datang dari sejumlah politisi nasionalis di
gedung DPR RI. “Nama itu mengarah pada
konotasi merdeka,” ujar Wakil Ketua Komisi
Keamanan DPR, Sidarto Dhanusubroto.
Tujuh bulan berlalu. Pada 25 Febru-
ari 2008, GAM memutuskan mengubah
lam bang: menghilangkan gambar bulan
bintang dan menggantinya dengan tulisan
GAM. Latar belakangnya tetap sama: di-
dominasi warna merah dan garis hitam
putih di sisi atas dan bawah. Kali ini, kata
GAM memiliki kepanjangan: Gerakan Aceh
Mandiri. Penambahan kepanjangan itu
gampang ditebak, menghilangkan konotasi
tuntutan merdeka. Rupanya, inipun tak me-
nyelesaikan masalah. Langkah GAM masih
terhadang. Bagi Jakarta, stigma GAM se-
bagai gerakan yang menuntut kemerdekaan
tak hilang selama tiga huruf itu masih dipa-
kai. “Huruf ‘G’ itu masih dipermasalahkan
pemerintah pusat,” ujar Adnan Beuransah
kepada ACEHKINI.
Partai GAM pun dihadapkan pada
pilihan: mempertahankan nama GAM de-

ngan konsekuensi tak lolos verifkasi, atau

mengganti nama baru. Pilihan jatuh pada
opsi kedua: mengganti nama partai. Juru
bicara Komite Peralihan Aceh (wadah baru

bagi orang-orang GAM) Ibrahim Syamsuddin
mengatakan, sebelum memutuskan nama
Partai Aceh sebagai nama baru, sempat
muncul ide menggantinya dengan Partai
Aceh Mandiri. Namun, usulan ini mentah
karena sudah ada Partai Aceh Meudaulat.
“Kalau disingkat akronimnya sama, PAM,”
ujar Ibrahim.

Lantas, siapa yang mengusulkan nama
Partai Aceh? Ini yang tak jelas benar.
Ibrahim bilang, nama itu muncul dari
pimpinan Gerakan Aceh Merdeka. Namun,
menurut salah satu pimpinan partai ini di
Aceh Besar, nama itu datang dari Wakil
Presiden Jusuf Kalla.
Ceritanya bermula pada pertengahan
April lalu. Saat itu, pemerintah Indonesia
dan Gerakan Aceh Merdeka mengadakan
round table meeting ketiga yang membahas
soal apa saja yang telah dicapai pascadamai.
Pertemuan berlangsung dua hari di Hotel
Manhattan, Kuningan, Jakarta Selatan.
Dari GAM hadir Meuntroe Malek Mahmud,
Zaini Abdullah, Zakaria Saman, Muzakkir
Manaf dan Ibrahim Syamsudin. Pemerintah
Indonesia diwakili sejumlah orang yang
terlibat perundingan damai di Helsinki, di
antaranya Menteri BUMN Sofyan Djalil,
mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid
Awaluddin, Farid Husain dan sejumlah
tokoh lain.

Agenda yang dibahas antara lain soal
perkembangan realisasi perjanjian damai,
nasib sembilan tahanan politik yang ma-
sih mendekam di penjara dan sejumlah isu
penting lain. Nah, hari kedua, barulah mem-
bahas soal partai politik lokal. Disinggung
pula soal nama partai GAM yang dinilai ma-
sih mencerminkan gerakan kemerdekaan.
Hingga pertemuan berakhir, tak ada kata
sepakat soal ini.
Pihak GAM pun putar otak. Apalagi,

batas waktu verifkasi partai lokal kian

dekat. Sedikit saja terlambat, alamat tak
lolos dari lubang jarum. Solusinya, pihak
GAM sepakat menemui Wakil Presiden
Jusuf Kalla di rumahnya keesokan hari.

***

JARUM JAM BARU MENUNJUKKAN
pukul 08.15 WIB ketika kelima orang
itu tiba di kediaman Jusuf Kalla di Jalan
Diponegoro, Jakarta Pusat. Mereka adalah
Malek Mahmud, Zaini Abdullah, Zakaria
Saman, Muzakir Manaf dan Ibrahim
Syamsudin. Mereka didampingi orang-
orang kepercayaan Jusuf Kalla, seperti
Hamid Awaludin dan Farid Husein.
Sayangnya, yang dicari tak ada di rumah.
Sang Wakil Presiden sedang muncul live di
sebuah stasiun televisi swasta.
Tak lama menunggu, Jusuf Kalla muncul
di mulut pintu. Pertemuan diawali dengan
sarapan bersama. Usai basa-basi sejenak,
perbincangan masuk ke pokok persoalan:

22

soal Partai GAM.
“Mohon Pak Malek ubah nama partai,”
kata Jusuf Kalla kepada Malek Mahmud,
seperti ditirukan seorang petinggi GAM
yang ikut dalam pertemuan itu. Menurut
sumber itu, Kalla menilai nama GAM dapat
menimbulkan penafsiran negatif.
Singkat kata, usai berdiskusi dengan
anggota delegasi, Malek Mahmud setuju.
Lalu, muncullah nama Partai Aceh. Meski
masih menggunakan latar belakang simbol
bendera GAM, namun kesediaan mengganti
nama dianggap sudah cukup.
Munculnya nama baru itu tak berarti
persoalan selesai. Pihak GAM masih belum
yakin partai mereka tak lagi diusik. Jusuf
Kalla pun diminta menuliskan secarik
memo sebagai jaminan. “Kita belum yakin
kalau tidak ada hitam di atas putih. Kalau
misalnya itu ada, itulah buktinya bahwa
Pemerintah Indonesia tidak akan menuntut
lebih daripada itu,” ujar Adnan Beuransah.
Menurut Adnan, memo itu diperlukan
agar tak terulang sejarah diplomasi antara
Teungku Daud Beureueh dengan Presiden
Soekarno. “Makanya kami minta harus ada
bukti hitam putihnya. Jaminan inilah yang
membuat kami yakin,” ujarnya.
Awalnya, Jusuf Kalla tak langsung setu-
ju. Namun, delegasi GAM ngotot. “Kami
mengancam tak mau pulang jika tidak ada
jaminan,” ujar Ibrahim. Kalla pun lalu men-
diskusikan permintaan itu dengan timnya.
Hasilnya, Kalla bersedia menuliskan memo
sebagai jaminan. Berkop Wakil Presiden,
memo itu ditulis di secarik kertas. Intinya,
Kalla merestui penggunaan nama Partai
Aceh dan menjamin Partai GAM, eh, Partai

Aceh dapat melaju mulus dalam verifkasi.

Tak heran, saat mengumumkan
perubahan nama secara resmi, sebulan
setelah pertemuan di rumah Wapres, Adnan
Beuransah dengan mantap berujar, ”Ini
adalah perubahan terakhir. Tak ada lagi
perubahan nama setelah ini.”
Adanya memo itu juga dibenarkan
Zakaria Saman, bekas Menteri Pertahanan
Gerakan Aceh Merdeka. Pria asal Tangse,
Pidie, ini mengaku pihaknya yang meminta
jaminan itu. Tanpa itu, kata dia, pihak GAM
tak punya pegangan apapun. “Tapi nama
Partai Aceh kami yang usulkan,” ujar bekas
pemasok senjata GAM itu.
Kenapa Jusuf Kalla bersedia menge-
luarkan memo untuk GAM? ACEHKINI
yang mengontak dua wakil pemerintah yang
hadir dalam pertemuan itu yakni Sofyan
Djalil dan Mantan Menteri Hamid Awalu-
din tak berhasil mendapat jawaban. Kedua
orang yang pernah terlibat dalam perundin-
gan di Helsinki ini tak menjawab telepon.
Jawaban justru datang dari Juru Bi-
cara Komite Peralihan Aceh, Ibrahim
Syamsudin. Menurutnya, itu dilakukan
untuk menyelamatkan perdamaian di Aceh.
“Perdamaian di Aceh ini harus kekal sampai
kiamat,” kata Ibrahim menirukan ucapan
Kalla saat itu.

Di kalangan bekas pemanggul senjata,
perubahan nama itu sempat menimbulkan
riak-riak kecil. Sebuah sumber di kalangan
GAM menuturkan, dalam sebuah rapat
internal partai, nama baru sempat diper-
debatkan. Bagi yang menolak, nama baru
dianggap tak membawa identitas GAM.
Namun, para petinggi GAM bergerak
cepat. Sebelum pertentangan semakin
keras, mereka memanggil semua bekas

panglima wilayah yang rata-rata kini
menjadi “komandan” partai di daerah
masing-masing. “Kita jelaskan, kalau
macet, tujuan untuk duduk di legislatif tidak
tecapai. Kalau bertahan dengan nama lama,
maka kita tidak akan sampai pada tujuan
itu. Karena itu kita mengikuti alur yang
diinginkan pemerintah. Sebab, mau tidak
mau pemerintah harus melahirkan partai
untuk anggota GAM sebab itu amanah MoU
Helsinki,” jelas Adnan.
Bekas panglima GAM Aceh Besar
Muharram menegaskan, dirinya yang
membawahi wilayah Aceh Besar dan Banda
Aceh siap menjalankan keputusan pimpinan.
Ia menggaku sudah mensosialisasikan nama
baru itu hingga ke tingkat bawah. “Bagi
kami tak ada masalah, yang penting partai

lolos verifkasi,” ujar Muharram.

***

BAGI GAM, SATU TAHAPAN KRITIS
telah berlalu. Tapi, tak berarti partai ini
bisa otomatis ikut pemilu. Masih ada tahap

verifkasi berikutnya yang dilakukan oleh

Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh.
Untuk lolos tahap ini sejumlah persiapan
sudah dilakukan, di antaranya menyiapkan
KTP dan kartu anggota dan menyiapkan
orang-orang yang duduk di DPRA. “Target
kami menguasai parlemen secara dominan,”
ujar Adnan.

Setelah dua kali ganti nama, partai
yang dihuni mantan kombatan itu tak
ingin terpental. “Kita sudah mundur dua
langkah, kalau sampai tiga langkah bisa
berarti masuk jurang,” ujar Adnan. Karena
alasan itu pula, memo Jusuf Kalla di bulan
April itu terbukti cukup ampuh. Setidaknya,
satu batu sandungan terlewati.
Kepala Kantor Wilayah Hukum dan Hak
Asasi Manusia Aceh Razali Ubit memilih
tutup mulut saat ditanya soal memo Wapres
itu. Kepada Jamaluddin dari ACEHKINI,
ia malah meminta hal itu tidak ditulis.
“Saya mohon jangan (ditulis), karena akan
menimbulkan hal-hal yang tidak baik.
Mungkin sampai menimbulkan benturan
nanti, inilah yang kita pikir sama-sama.
Tapi ini menurut saya, tapi tolong didiamkan
saja,” ujarnya usai mengumumkan nama

partai yang lolos verifkasi, Jumat, 23 Mei

lalu.

Tak jelas benar benturan yang dimaksud.
Logikanya, jika tak ada aturan yang
dilanggar, kenapa mesti ragu. Kata sebuah
iklan: tanya kenapa? [a]

CHAIDEER MAHYUDDIN —ACEHKINI

Juru Bicara Partai Aceh, Adnan
Beuransah (kanan) memberikan
keterangan pers tentang perubahan nama
Partai GAM menjadi Partai Aceh.

COVER STORY | PARTAI LOKAL

ACEHKINI Juni 2008

23

Kenapa Partai GAM harus
mengubah nama?

Partai ini pertamanya bernama
partai GAM dengan Ketua Umum Malek
Mahmud, secara hukum kewarganegaraan
beliau bukan warga Indonesia walaupun
beliau kelahiran Aceh. Ini mengenai status
kewarganegaraan, oleh karena itu mereka
mengubah akta pendirian dengan Ketua
Umum Muzakir Manaf dan Sekjen M. Yahya
dan Bendarahawan Hasanuddin. Karena ada
masalah pada nama dan lambang, partai ini
mengubah namanya menjadi Partai Gerakan
Aceh Mandiri. Gerakan Aceh Mandiri ini
masih bertentangan dengan aturan yang ada.

Di mana pertentangannya?

Adanya kata gerakan dalam nama partai
itu. Tidak ada istilah gerakan dalam partai
kecuali pada organisasi atau LSM. Jadi demi
kebaikan, demi menuju Aceh yang baik
mereka melakukan perubahan lagi dengan
nama terakhir yaitu Partai Aceh.

Saat perubahan nama partai ini
apakah tidak ada masalah lagi?

Ada permasalah kecil tapi terselesaikan
dengan musyawarah dan saling menghormati
dalam menyelesaikan masalah dengan baik.

Hasil verifkasi ini dikemanakan?

Tugas kami sudah selesai meneliti
persyaratan dan telah mengeluarkan badan
hukum. Berikutnya, dimuat dalam berita
negara dan kemudian kami melaporkan
kepada Menteri Hukum dan HAM bahwa
kami sudah selesai melakukan tugas ini yang
telah diberi wewenang dan fungsi secara
undang-undang.

Perubahan dari Partai GAM
menjadi Partai Aceh apakah sudah
tidak ada masalah lagi?

Mudah-mudahan tidak ada lagi karena

sudah diverifkasi oleh tim persamaan

persepsi.

Perubahan nama Partai Gerakan
Aceh Mandiri menjadi Partai Aceh
kabarnya setelah ada intervensi
oleh Wakil Presiden. Kenapa ini bisa
terjadi?

Saya mohon itu ditutup saja, saya nggak
mengerti itu. Jangan itu, nanti ada masalah.
Nggak baik nanti akan menuju keributan

orang. Tolonglah dijaga, saya pun nggak
mengerti.

Setelah diverifkasi baru ada

perubahan nama apakah ini tidak
bertentangan

dengan

landasan

verifkasi yang ada?

Itu dibolehkan. Artinya begini, pertama
dalam tenggat waktu mendaftar. Kemudian
kalau ada perubahan akta pendirian baik
pengurusan maupun yang lain, dia melapor
kepada Kanwil Hukum dan HAM Aceh.
Tetapi yang penting telah mendaftar pada
tenggat waktu yang telah ditentukan, dan
perubahannya sebelum diumumkan hasil

verifkasi. Karena sudah ada badan hukum,

jadi sudah selesai dan tidak bisa diubah lagi.

Landasannya?

PP Nomor 20/2007 tentang partai lokal.
Pada Bab III, Pasal 5 disebutkan perubahan
anggaran dasar, perubahan anggaran ru mah
tangga, azas, nama, lambang, tanda gambar
dan kepengurusan partai politik lokal didaf-
tarkan pada Kantor Wilayah Departemen di
Aceh, dalam hal ini kantor Departemen Hu-
kum dan HAM Provinsi Aceh.

Jadi tidak ada masalah?

Iya, tidak ada masalah.

Departemen Anda meloloskan
Partai Aceh setelah menerima memo
dari Wakil Presiden?

Saya nggak ngerti juga itu.

Kami mendapat informasi Kanwil
Hukum dan HAM mendapat kopian
memo itu.

Saya nggak tahu juga. Saya mohon maaf,
cuma apakah ada, ee... saya mohon maaf ini.
Saya rasa begini, saya mohon maaf, kalau pun
ada, ee… Mohon maaf Pak, akan mengundang
penafsiran atau akan ada yang tersinggung.
Jadi demi kebaikan, kita diamkan saja itu.

Jadi pada dasarnya ada?

Itu tidak bisa, saya mohon… (Razali
tampak kebingungan)

Tapi ini sudah menjadi rahasia

umum…

Kalau dibilang ada mungkin ada. Tapi
saya mohon Pak jangan juga, karena akan
menimbulkan hal-hal yang tidak baik.
Mungkin sampai menimbulkan benturan
nanti, inilah yang kita pikir sama-sama. Tapi
ini menurut saya, tapi tolong didiamkan saja.
[a]

Tolong
Didiamkan
Saja

Kepala Kanwil
Departemen Hukum
dan HAM Aceh

Razali Ubit

Ada masalah
kecil tapi
terselesaikan
dengan
musyawarah
dan saling
menghormati
dalam
menyelesaikan
yang baik.

oleh JAMALUDDIN

MISMAIL LAWEUENG —ACEHKINI

24

Main Api Uang Korban Perang

oleh MISMAIL LAWEUENG

Laporan: Daspriani Y Zamzami, Jamaluddin, Murdani, dan Arif Surahman

Indikasi korupsi di Badan Reintegrasi Damai Aceh
diduga melibatkan sejumlah pejabat.
Ada yang sedang diperiksa kejaksaan.
Seriuskah penegakan hukum jatah korban konflik?

TUDINGAN TAK SEDAP DIARAHKAN
ke lembaga yang mengurusi uang korban
perang: Badan Reintegrasi-Damai Aceh
(BRA). Badan Pengawas Keuangan dan
Pembangunan (BPKP) menguak adanya
ketidakberesan dalam penyaluran bantuan
tahun anggaran 2007. Meski masih berupa
indikasi, temuan itu membuat pengurus
BRA kalang-kabut.
Dipublikasikan Maret lalu, BPKP men-
sinyalir sejumlah ketimpangan. Temuan
itu berdasarkan hasil pemeriksaan BPKP
Provinsi Aceh terhadap kantor cabang BRA
di 12 kabupaten/kota: Banda Aceh, Aceh
Besar, Pidie, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh
Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh
Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Tengah,
dan Bener Meriah.
Dalam penelusurannya, tim
menemukan penyaluran bantuan

pemberdayaan eko nomi korban konfik

senilai Rp 10, 5 miliar bagi 1.059 orang
tidak sesuai petunjuk operasional kegiatan.
Dari uang sejumlah itu, saat pemeriksaan
dilakukan, yang disalur baru Rp 7,7 miliar.
Sisa dana Rp 2,8 miliar dipakai buat
biaya lokakarya dan honor Unit Pelaksana
Penyaluran (UPP). Padahal, anggaran
untuk itu tidak tercantum dalam Daftar

Uang Rp 10,5 milyar untuk 1.059 orang (Rp 10 juta per
orang). BPKP menilai tidak sesuai petunjuk operasional.

Ada dana bantuan korban konfik mengendap di BPD dan

Bank Mandiri Rp 13,2 miliar.

Uang sebesar Rp 4 milyar (versi gerak 1,3 milyar) masuk
ke rekening pribadi bendahara BRA Aceh Selatan Aka
Mulyadi. Uang disimpan di Bank BPD Aceh.

Di Pidie, BRA masih menyimpan uang korban konfik Rp

4 miliar.

Pemotongan bantuan untuk anggota PETA Rp 1,5 miliar di
Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Ada indikasi penyelewengan uang sewa kantor BRA Aceh
Barat Daya. Pemilik kantor mengaku hanya menerima 14
juta, sedangkan anggaran Rp 20,2 juta. Terjadi selisih Rp
6,2 juta.

Dalam Kasus Pidie, saldo per 11 Februari 2008 hanya Rp
1,5 milyar dan pada 12 Maret menciut menjadi Rp 959
ribu. Penyaluran terlambat karena data penerima rumah
tidak valid.

Bantuan untuk PETA tidak melibatkan BRA. Penyaluran
diserahkan kepada Dinas Sosial lewat Kesbang Linmas

Dana untuk lokakarya dan honor UPP memang tidak
tercantum dalam DIPA tahap pertama, namun ada di DIPA
tahap kedua APBN-P 2007.

Uang Rp 4 milyar benar disimpan di rekening bendahara
BRA Aceh Selatan. Tapi, sebagian telah disalurkan. Pada
4 Februari 2008 sisa uang tinggal Rp 1,3 miliar.

Soal dana bantuan korban konfik yang mengendap di

Bank BPD dan Bank Mandiri, hanya tersisa Rp 1,89 miliar.

Versi BPKP

Versi BRA

AK JAILANI

Hukum

ACEHKINI Juni 2008

25

bentuk advokasi,” jelasnya. Meski BRA

sudah mengklarifkasi, namun Gerak akan

melanjutkan advokasi kasus ini sampai
terbukti secara hukum.
Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Aceh
M Adam mengaku tengah menyelidiki
dugaan penyelewengan bantuan untuk
korban perang. “Sebelumnya, kami sudah
meminta BPKP membuat laporannya, dan
itu sudah kita terima,” katanya.
Namun, tambah Adam, BPKP juga
melaporkan dua dugaan korupsi lain:
penyelewengan dana diyat dan bantuan
untuk PETA. “Kedua laporan itu sudah
diteruskan ke kepolisian, jadi kami hanya
menangani dugaan penyelewengan bantuan
ekonomi,” katanya. Beberapa orang sudah
dimintai keterangan, termasuk bendahara
BRA. “Jadi masih dalam proses, tunggu
saja hasilnya,” tegas Adam.
Kepala Pelaksana Kerja BPKP Aceh

Abdul Rahman Datjong saat dikonfrmasi

ulang mengatakan, temuan pihaknya baru

bersifat pemetaan. ”Belum fnal adanya

korupsi,” ujarnya.
Kasus itu telah dilimpahkan ke ke-
polisian. Rahman membenarkan uang yang
mengendap di rekening pribadi telah disa-
lurkan dan sisanya dikembalikan ke kas
negara. “Kami sedang menunggu perminta-
an dari gubernur dan kepolisian untuk me-
nindaklanjuti kasus itu,” katanya.
Kapolda Aceh Irjen (Pol) Rismawan
mengatakan kasus ini masih tahap
penyelidikan, belum ke penyidikan karena
informasi tentang kerugian negara belum
valid. “Kami menunggu laporan lanjutan
dari BPKP,” ujarnya.
Tampaknya, proses reintegrasi masih
harus menempuh jalan panjang. Tak heran
Martti Ahtisaari, fasilitator perdamaian
antara pemerintah dan Gerakan Aceh
Merdeka, dalam kunjungannya ke Aceh
belum lama ini menilai, “Saya rasa proses
reintegrasi masih menjadi tugas berat bagi
kita semua, karena akan membutuhkan
waktu beberapa tahun lagi.” Keresahan
mantan Presiden Finlandia masuk akal.
Sebab, masih ada yang berani bermain api
dengan uang untuk korban perang. [a]

Main Api Uang Korban Perang

melibatkan BRA, melainkan diserahkan
ke Dinas Sosial. “Dinas lalu menugaskan
Kesbang Linmas,” ujarnya.
Dawan membantah informasi masih

ada dana bantuan korban konfik yang

mengendap di BPD dan Bank Mandiri
senilai Rp 13,2 miliar. “Yang benar jumlah
total dana yang belum tersalurkan hanya
Rp 1,89 miliar,” tukasnya.
Untuk mencegah terulangnya kasus
serupa, BRA akan memperketat penga-
wasan. Masalahnya, BRA pusat tak punya
kewenangan mutlak, sebab BRA kabupaten
dibentuk berdasarkan SK bupati. “Dana
memang dari pusat. Intervensi ke dananya
bisa, tapi ke orangnya tidak bisa. Kita
hanya bisa menegur langsung ke BRA-nya,”
jelasnya.

Dalam kasus Aceh Selatan, kata dia,
dananya sudah dipindahkan kembali ke
rekening BRA Aceh Selatan. Menurut
Dawam, kasus itu terjadi karena kelalaian
semua pihak. “Kita bersyukur hari ini
ada temuan seperti ini. Di satu sisi, BRA
provinsi kelihatan lemah dari monitoring
dan terlalu percaya ke kabupaten, hal ini
terus kita diperbaiki,” ujarnya.
Gerakan Antikorupsi (Gerak) Aceh
yakin, dari Rp 250 miliar dana BRA 2007
besar kemungkinan lebih Rp 4 miliar
diselewengkan. Itu sebabnya, Gerak me-
minta penegak hukum bertindak cepat.

“Sebelum kepercayaan korban konfik

rusak,” kata Ambo Bugis, Manager
Program Pendidikan dan Politik Anggaran
Gerak.

Menurut dia, dalam kasus

pemberdayaan ekonomi korban konfik,

bantuan disalurkan melalui KPPN dan
Dinas Sosial seharusnya ditransfer
langsung ke rekening kolektif. Faktanya,
kata dia, pelaksanaannya dilakukan oleh
BRA Provinsi.

Selain ‘transfer’ pengelolaan dari Dinas
Sosial kepada BRA, uang sebesar Rp 10,5
miliar baru disalurkan Rp 7,7 miliar. Sisa
dana Rp2,8 miliar digunakan untuk biaya
lokakarya dan biaya honor UPP. “Padahal
itu tidak teranggarkan dalam DIPA 2007,”
katanya.

Akibatnya, kata Ambo, negara merugi
Rp 1,2 miliar. Rinciannya, Rp 290 juta dari
pembiayaan lokakarya serta biaya honor
bagi 233 UPP selama empat bulan senilai
Rp 943 juta. Soal temuan dana diendapkan
dalam rekening pribadi bendahara Aka
Mulyadi di Bank BPD Aceh, Ambo menilai,
“Ini juga terindikasi merugikan negara.”
Dalam kasus pemotongan bantuan
PETA, Gerak menemukan keterlibatan
sejumlah pejabat. Ada pula ketidakjelasan
pertanggungjawaban keuangan Rp 110
juta. “Kita akan mengontak pengurus BRA
daerah yang jadi tersangka temuan BPKP
untuk mengetahui duduk persoalan sebagai

Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
Di Aceh Selatan, BPKP menemukan
uang senilai Rp 4 miliar mengendap di
rekening pribadi bendahara BRA setempat.
Di Pidie, ada temuan BRA setempat masih

menyimpan uang korban konfik Rp 4

miliar. Di Aceh Tengah dan Bener Meriah
ditemukan pemotongan bantuan untuk
anggota Pembela Tanah Air (PETA) – front
yang aktif memburu anggota Gerakan Aceh
Merdeka semasa perang – Rp 1,5 miliar.
Ketua Badan Pelaksana BRA Dawam
Gayo menghargai temuan itu. Namun, ia
menyayangkan sikap BPKP yang mempu-

blikasikan temuan tanpa klarifkasi BRA.

Dalam kasus Aceh Selatan, ia mengakui ke-
benarannya. “Dana akhir yang tersisa pada
4 Februari 2008 setelah disalurkan kepada
penerima sebesar Rp 1,3 miliar. Kita sudah
menyuratinya. Masalahnya bukan hanya di
bendahara, (tapi) Bank Pembangunan Dae-
rah setempat juga dipertanyakan kenapa
membolehkan,” ujarnya.
Dia menyebutkan, BRA tidak menolerir
penyimpangan dan korupsi terhadap

bantuan korban konfik. “Jika terbukti ada

pelanggaran hukum, kami mempersilakan
aparat penegak hukum menindaknya
sesuai aturan berlaku,” tegasnya.
Begitupun, Dawan menyebutkan

laporan BPKP tak sepenuhnya benar.
Soal penyaluran bantuan pemberdayaan

ekonomi korban konfik, misalnya, kata

dia, penyalurannya sudah sesuai kerangka
acuan dan disetujui Gubernur Irwandi
Yusuf. Bantuan itu disalurkan dalam dua
tahap: pertama 60 persen, berikutnya
40 persen. “Penetapan ini dimaksudkan
agar bantuan benar-benar dimanfaatkan
sesuai usulan penerima manfaat sendiri,”
jelasnya.

Soal temuan BPKP di Pidie, Dawan
menyebutkan, berdasarkan rekening koran
giro BPD Sigli, pada saldo akhir per 11
Februari 2008, tersisa Rp 1,5 miliar dan
pada 12 Maret lalu tersisa lagi menjadi Rp
959 ribu. “Penyaluran terlambat karena
masih adanya 66 rumah bantuan tahap
pertama yang telah disalurkan, tapi
hasilnya masih nol karena data penerima
bantuan belum valid. Prosesnya, rumah
itu dibangun langsung oleh penerima
manfaat,” ujarnya. Mungkin, karena
itu, “Diberikan uang bukan untuk buat
rumah, tapi ada yang beli motor,” tambah
Koordinator Bidang Sosial Budaya BRA
Asmawati Hasan.
Dalam kasus bantuan untuk PETA,
menurut Dawam, bantuan itu tidak

Kami sedang
menunggu permintaan
dari gubernur dan
kepolisian untuk
menindaklanjuti
kasus itu.

26

‘Jalur
Sutra’
Soraya

Foto : Yo Fauzan
Teks : Maimun Saleh

Robin-robin melenggang, meliuk-liuk di antara
akar meranti yang memenuhi Lae Soraya. Ini jalur
padat, bebas rambu, dan macet. Tak ada lampu
merah di simpang jalan. Di tepian, di pucuk meranti,
damar laut atau medang, burung jalak, nuri bahkan
gagak hitam bersenandung. Penumpang perahu
bermesin yang disebut robin itu tak tampak cemas.
“Sejak ada dunia, tak pernah ada jalan darat!”
kata Ihsan, seorang warga, selepas melintas sungai
yang melintang di Rawa Singkil, pekan lalu. Bagi
nelayan Kecamatan Kuala Baru, Aceh Singkil, Lae
Soraya lebih dari sekedar ‘jalur sutra’, jalur pelayaran
yang menghubung China dan Eropa. Inilah jalur
dagang dan transportasi yang membawa mereka ke
dunia luar.

Lewat sungai ini, warga Kuala Baru melabuhkan
ikan-ikan asin di kota Singkil. Lalu dibawa dengan
fery ke Simeulue. Lewat darat, dipasarkan ke Medan
dan Sibolga, Sumatera Utara. Dari laut diangkut ke
Nias.

Esai Foto

ACEHKINI Juni 2008

27

Menumpang robin ke Singkil
menyita waktu sekitar satu jam.
Selain perjalanan bisnis, ongkos
perahu imut ini terbilang mahal,
Rp 10 ribu sekali berlayar.
Untuk menyewa satu robin,
bisa mencapai Rp 100 ribuan.
“Kami berharap di sini menjadi
kawasan wisata kelak, biar
pendapatan kami bertambah,”
kata seorang pemilik robin.
Saat pemilik robin
menyematkan harapannya. Rupa
Soraya tak lagi ramah. Di banyak
sisi, terlihat pohon-pohon mati,
kerontang. Pembabatan hutan
Kawasan Ekosistem Lauser
(KEL) terus berlanjut. Amuk
Soraya, ‘jalur sutra’ hanya
menanti waktu.[a]

28

HAI ANAK-ANAK MUDA YANG
malang, sudah berapa kali kalian berunjuk
rasa? Menampakkan diri di simpang lima
dan berteriak penuh semangat menentang
standardisasi nilai ujian nasional. Percaya-
lah. Apapun yang kalian perbuat tidak akan
menggerakkan barang sejengkal nurani
kami untuk meniadakan standardisasi nilai
itu. Kalian tahu apa tentang segala kebijakan
pendidikan? Terima sajalah.
Kami sengaja menciptakan standar
semacam ini, bukan hanya untuk mengejar
ketinggalan Tanah Air kita, juga bukan
hanya untuk meraup rupiah. Kami tidak
ingin kelak kalian bernasib sama seperti
kami: duduk di belakang meja dan membuat
kebijakan sesuka hati, seolah kami banyak
bekerja. Betapa mulia niat kami!
Ah. Kalian anak-anak malang. Sudah
berapa tahun kalian sekolah? Enam?
Sembilan? Dua belas atau tujuh belas?
Otak kalian masih tumpul. Tanpa
standardisasi nilai mana mungkin kalian
mau belajar? Kami tahu bagaimana ber-
binarnya mata kalian melihat angka delapan
dan sembilan menari-nari di lembaran
ijazah yang akan meluluskan kalian ke
jenjang berikutnya. Pun kami tahu kalian
akan halalkan segalanya agar berhasil
melewati standar nilai itu. Berapa standar
tahun ini? Empat? Lima? Atau lima koma
dua lima?

Terserah. Yang penting nilai-nilai itu
tercetak pada laporan hasil pencapaian
mutu pendidikan Tanah Air. Ha-ha-ha. Biar
Malaysia dan Singapura tahu Indonesia
masih mampu mengejar, sekalipun terseok
dan butuh alat bantu, juga kaki palsu.
Hei, barusan kami mendengar seorang
temanmu menyebut kami berperut buncit
dan berotak kapitalis. Darimana dia tahu
bahasa itu? Apa yang diajarkan guru-
gurumu di sekolah?
Huh. Kalian tidak tahu membalas jasa
kami yang bekerja mengutak-atik kebijakan
pendidikan. Tahu tidak sih, kami terpaksa
harus meluangkan waktu sejenak dengan
istri-istri kami agar rapat penyusunan ang-
garan pendidikan dapat kami lambungkan
beberapa nominal, lalu kami kantongi.
Sudahlah, kami bosan mendengar jeritan
kalian, menuntut standar guru dan fasilitas
pendidikan disamakan, baik di kota dan
pedalaman. Berkutat sajalah kalian dengan
rumus kimia dan teori sosiologi, bukankah
pelajaran sudah ditambah menjadi enam?
Belajarlah. Belajarlah untuk pasrah
pada kenyataan atau barangkali ke-
kejaman? Ha-ha-ha.
Karena, dengan sistem semacam
ini, kelak kalian menjadi pengikut kami.
Bukan pembangkang. Biarlah pemimpin
kami yang cipta dengan menunjuk
keponakan kami yang baru pulang
dari Eropa atau Amerika. Kami sengaja
ciptakan sistem standardisasi nilai agar

Wahai
Anak-anak
Bèë Chuëng!

RAISA KAMILA

Kolom

kalian hanya mampu menjadi pengikut,
jangan sampai jadi pemimpin. Terlebih jadi
pembangkang.

Jangan tuntut kami mengubah kebi-
jakan itu. Karena bagi kami dulu, nilai
lebih penting ketimbang ilmu. Lupakanlah
perkara kreativitas dan tetek bengek lain.
Belum lagi tuntutan kalian mengenai
penyamaan fasilitas sekolah di kampung-
kampung pedalaman Aceh yang hampir
rubuh, agar disamakan dengan sekolah-
sekolah megah di kota Banda Aceh.
Tenanglah. Kelak kami akan sulap agar
persentase kelulusan daerah itu unggul,
seakan fasilitas dan standar gurunya sama
dengan SMA Negeri 8 Jakarta.
Nanti kami akan pasang spanduk dengan
bahasa gaul ala kalian supaya kalian lebih
bersemangat ikut ujian nasional. Apa ya
kira-kira kalimat penyemangat yang cocok?
Cape dhe.

Hei anak-anak muda béë chuëng.
Berhentilah meributkan ujian nasional.
Kalian memang tidak lebih dari anak-
anak malas, pembangkang yang tidak tahu
aturan. Belajarlah yang banyak dan lupakan
urusan sosial di sekitar kalian. Harusnya

ujian nasional mampu mengisolasi kalian
supaya tidak tahu bagaimana busuknya
kami jalankan kebijakan.
Penolakan standardisasi nilai ujian
nasional bukan saja merugikan kalian. Jika
dihapus, kamipun rugi. Itu sama dengan
menghapus proyek paling basah abad ini.
Jelas kan anak-anak?
Maka, cukuplah tuntutan kalian. Jangan
sampai kami bertindak gegabah. Bukankah
kalian tahu, kami mampu berbuat apa saja
untuk membungkam bibir-bibir tajam
kalian?

Kami pun bisa menandai siapa-siapa
yang berhidung paling mancung dalam
upaya penolakan standardisasi nilai ujian
nasional ini. Dan akan kami buat dia tidak
lulus! Seperti siapa itu, teman kalian? Ah,
ya! T. Oryza, si juru bicara gerakan anak-
anak malas yang hanya tahu demonstrasi
saja. Nah, kalian tidak mau kan bernasib
seperti dia? Tercantum namanya pada
blacklist anak-anak yang kelak tidak kami
luluskan pada ujian nasional?
Tutup mata pada realita, tuli pada
jeritan rakyat, dilengkapi kesiapan mental
yang tinggi adalah sekian dari persyaratan
utama menjadi orang-orang seperti kami.
Toh kami bisa berbuat apa saja selama kami
berkuasa.

Seperti halnya kalian yang mengalami
penderitaan psikologis menjelang ujian
nasional, begitu pula kami saat menghadapi
segelintir pihak semacam kalian. Dan,
seperti halnya kalian menuntut peningkatan
standardisasi guru dan fasilitas sekolah
sebelum standardisasi nilai, kami pun
menuntut hal bernada serupa! Tingkatkan
dulu gaji dan fasilitas kami, baru bicara
mutu kerja. Ah, memang nikmat benar
menjadi orang-orang seperti kami.
Karena itu, jangan ganggu kami. Apalagi
dengan unjuk rasa. Kalian yang berunjuk
rasa, mengacungkan telunjuk ke muka kami,
tanpa pulang dulu ke rumah untuk mandi
dan berganti seragam sungguh membuat
kami terganggu, wahai anak-anak béë
chuëng
. [a]

Pelajar jurusan ilmu sosial dan
bergerak pada divisi teknologi
informasi di Solidaritas Independen
Kaum Muda Aceh (SIKMA)

FOTO: DOK —PRIBADI; ILUSTRASI: CEK IS BASRI

ACEHKINI Juni 2008

29

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->