Anda di halaman 1dari 17

PERHITUNGAN WAKTU DI BUMI

Makalah
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kosmografi

Disusun oleh
Anggita Khusnur Rizqi (0807015)

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2009
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim…
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi, yang mana karena
limpahan kasih sayang dan kemurahan-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat
pada waktunya. Juga lantunan shalawat senantiasa tercurah pada junjungan kita semua, Nabi
Muhammad S.A.W.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kosmografi,
dimana di dalamnya membahas tentang perhitungan waktu di bumi. Dalam makalah ini,
semua tentang perhitungan waktu di bumi dibahas, mulai dari macam-macam perhitungan,
metode, dan lain-lain.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan dan keterbatasan. Karena itulah penulis senantiasa mengharapkan kritik dan
saran yang membangun dari pembaca agar penulisan makalah selanjutnya dapat lebih baik
lagi. Tak lupa, penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang
memeberikan dukungan, baik bersifat riil maupun matreriil sehingga penulisan makalah ini
dapat terselesaikan.
Akhirnya, penulis berharap semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca serta sumbangsih ilmu yang bermanfaat bagi semua pihak.

Bandung, April 2009

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah 1
1.2. Rumusan dan Pembatasan Masalah 1
1.3. Maksud dan Tujuan Penulisan 2
1.4. Manfaat Penulisan 2
1.5. Metode Penulisan 2
1.6. Sistematika Penulisan 2

BAB II : PEMBAHASAN
2.1. Waktu 3
2.2. Standar Waktu 3
2.3. Macam-Macam Waktu 4
2.3.1. Macam-Macam Hari (day) 4
2.3.2. Macam-Macam Bulan (month) 4
2.3.3. Macam-Macam Tahun (year) 5
2.4. Perhitungan Waktu 6
2.4.1. Universal Time dan Dynamical Time (UT dan TD) 6
2.4.2. Greenwich Sidereal Time (GST) 7
2.4.3. Local Sidereal Time (LST) 8
2.5. Standar Penetapan Waktu 9

BAB III : KESIMPULAN 11

DAFTAR PUSTAKA 12
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Waktu (time) sangat penting bagi kehidupan kita. Allah SWT berfirman “Barangsiapa
yang pandai menggunakan waktu dengan benar, ia akan beruntung”.
Lalu apa yang disebut dengan waktu? Kata tersebut sering kita dengar, bahkan sangat
tidak asing lagi karena ‘waktu’ tersebut selalu ada bersama-sama kita. Selama kita hidup
waktu tidak akan pernah lepas dari kita, karena waktu tersebutlah hidup kita.
Dalam perhitungannya, waktu dinyatakan dengan besaran detik (second). Perputaran
bumi pada porosnya (rotasi bumi) telah digunakan selama berabad-abad sebagai standar
waktu untuk menetapkan panjangnya hari. Namun ternyata, perhitungan waktu berdasarkan
rotasi bumi tidak sepenuhnya akurat. Hal ini terjadi karena rotasi bumi perlahan-lahan
melambat dan tidak teratur, tidak konstan sepanjang waktu.
Karena ketidakkonstanan perhitungan waktu berdasarkan rotasi bumi, maka para peneliti
mencari cara perhitungan waktu yang lain, yang lebih akurat. Karena ketepatan waktu di
bumi sangat penting untuk keperluan-keperluan ilmiah, maka akhirnya dilahirkanlah macam-
macam rumus untuk menghitung waktu di bumi berdasarkan benda-benda langit yang ada di
jagat raya, yang akan penulis sajikan dalam bentuk makalah ini.

1.2. Rumusan dan Pembatasan Masalah


Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang di atas, penulis
merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah yang disebut dengan waktu ?
2. Bagaimana penetapan standar waktu ?
3. Apa saja macam-macam waktu ?
4. Bagaimana perhitungan waktu di bumi ?
5. Bagaimana penerapan satuan waktu ?
Agar pembahasan terarah dan tidak keluar dari tujuan, maka kami membatasi masalah ini
hanya dalam ruang lingkup perhitungan waktu di bumi saja.

1.3. Maksud dan Tujuan Penulisan


Adapun maksud dan tujuan yang hendak kami capai dalam penulisan makalah ini
adalah :
1. Memenuhi tugas perorangan yang diberikan oleh dosen mata kuliah Kosmografi.
2. Untuk mengetahui tentang perhitungan waktu di bumi.
3. Memahami tentang waktu di planet bumi diantara planet-planet di jagat raya.

1.4. Manfaat Penulisan


Adapun manfaat yang didapat dari penulisan makalah ini antara lain :
1. Mengetahui tentang konsep pengertian waktu, serta aspek-aspek yang berkaitan
dengannya.
2. Mengetahui bagaimana perhitungan waktu di bumi.
3. Sebagai referensi atau sekedar untuk memperluas pengetahuan.

1.5. Metode Penulisan


Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode studi pustaka. Untuk
menambah sumber dan wawasan, penulis mencari beberapa buku, artikel, dan brosur, juga
mencari di internet yang berhubungan dengan tema makalah ini, yaitu perhitungan waktu di
bumi.

1.6. Sistematika Penulisan


Makalah ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang masalah, rumusan dan pembatasan masalah,
maksud dan tujuan penyusunan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika
penulisan makalah.
Bab II Pembahasan, berisi materi yang membahas tentang perhitungan waktu di bumi.
Bab III Penutup, berisi kesimpulan terakhir tentang materi yang dibahas pada Bab II
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Waktu
Waktu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat
ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu
merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama
berlangsungnya suatu kejadian.
Tiap masyarakat memiliki pandangan yang relatif berbeda tentang waktu yang mereka
jalani. Sebagai contoh, masyarakat Barat memandang waktu sebagai sebuah garis lurus
(linier). Konsep garis lurus tentang waktu diikuti dengan terbentuknya konsep tentang urutan
kejadian. Dengan kata lain, sejarah manusia dilihat sebagai sebuah proses perjalanan dalam
sebuah garis waktu sejak zaman dulu, zaman sekarang, dan zaman yang akan datang.
Berbeda dengan masyarakat Barat, masyarakat Hindu memandang waktu sebagai sebuah
siklus yang berulang tanpa akhir.
Dalam dunia fisika, dimensi waktu dan dimensi ruang (panjang, luas, dan volume)
merupakan besaran pengukuran yang mendasar, selain juga berat masa dari suatu benda
(time, length, dan mass). Gabungan dari waktu, ruang dan berat masa ini dapat dipakai untuk
menceritakan dan menjelaskan misteri alam semesta secara kuantitatif (berdasarkan hasil
pengukuran).

2.2. Standar Waktu


Dalam fisika banyak kita kenal besaran-besaran, misalkan massa, kecepatan, gaya, dan
sebagainya. Besaran-besaran itu harus diukur dengan satuan-satuan yang sesuai.
Ada dua macam sistem satuan yang sering digunakan dalam besaran-besaran fisika,
yaitu sistem metrik dan sistem inggris. Tapi, dalam hal ini hanya sistem metrik saja yang
akan dibahas. Sistem metrik ini resmi digunakan di negara Prancis pada tahun 1866.
Dalam sistem metrik menggunakan besaran-besaran pokok dasar seperti panjang,
massa, dan waktu. Sistem metrik dibagi menjadi dua bagian.
• sistem MKS (meter-kilogram-sekon)
• sistem CGS (centimeter-gram-sekon)
Dalam sidangnya pada tahun 1969, Conference enerale des Poids et Measures (CGPM)
meresmikan suatu sistem satuan yang dikenal sebagai System Internationale d’United,
disingkat SI.
Dalam SI terdapat tujuh buah besaran pokok berdimensi dan dua buah besaran tambahan
tak berdimensi. Salah satu besaran pokok tersebut adalah Waktu yang dinyatakan dalam
Detik (second).

2.3. Macam-Macam Waktu


Waktu bersifat relatif. Ada macam-macam waktu, diantaranya adalah hari, bulan, dan
tahun.
2.3.1. Macam-Macam Hari (Day)
Suatu saat, suatu obyek langit tepat dalam posisi transit atau berada di meridian (saat
posisinya tertinggi, atau ketika di atas horison posisinya tepat di utara (azimuth = 0
derajat) atau selatan (azimuth = 180 derajat) atau di zenith (tepat di atas kepala kita)).
Keesokan harinya, obyek langit tersebut kembali tepat di atas meridian. Lama waktu
antara dua kali transit dinamakan dengan satu hari (day), bergantung pada jenis obyek
langit tersebut. Jika obyek itu adalah bintang tetap (fixed star) maka disebut sidereal
day. Jika obyek itu adalah matahari maka disebut solar day. Jika obyek itu adalah
matahari fiktif (yang lintasannya selalu seragam) maka disebut mean solar day.

2.3.2. Macam-Macam Bulan (Month)


Lamanya satu bulan (month) secara astronomis bergantung pada gerakan bulan (moon
atau lunar). Bulan (moon) berotasi terhadap sumbunya. Gerakan bulan (moon)
mengitari bumi dapat ditinjau menurut kerangka acuan matahari, bintang jauh atau
vernal ekuinoks. Karena lintasan bulan mengitari bumi berbentuk elips, jarak bumi-
bulan berubah setiap saat. Suatu saat mencapai jarak terdekat (perigee), belasan hari
kemudian mencapai jarak terjauh (apogee).
Selain itu, bidang orbit bulan mengitari bumi tidak sejajar dengan bidang orbit bumi
mengitari matahari (bidang ekliptika). Rata-rata kemiringan orbit bulan terhadap bidang
ekliptika adalah sekitar 5,13 derajat. Karena itu suatu saat bulan tepat berada di bidang
ekliptika dalam posisi (naik atau turun) dan belasan hari kemudian kembali tepat di
bidang ekliptika dalam posisi turun (atau naik). Titik naik dan turun saat bulan tepat di
bidang ekliptika masing-masing disebut ascending node dan descending node.
Dari berbagai macam gerakan bulan (moon) di atas, dapat didefinisikan macam-macam
bulan (month), yaitu sebagai berikut :
1. Sinodic month, yaitu lama rata-rata
satu kali bulan (moon) mengitari
bumi ditinjau dari matahari, yaitu
selama 29 hari 12 jam 44 menit 2,8
detik. Perhitungan ini dipakai
sebagai acuan untuk kalender
Islam.
2. Sidereal month, yaitu lama rata-
rata satu kali bulan (moon)
mengitari bumi ditinjau dari
bintang jauh, yaitu selama 27 hari 7
jam 43 menit 11,5 detik.
3. Tropical month, yaitu lama rata-
rata satu kali bulan (moon)
mengitari bumi ditinjau dari vernal
ekuinoks, yaitu selama 27 hari 7
jam 43 menit 4,7 detik
4. Anomalistic month, yaitu lama rata-rata satu kali bulan (moon) mengitari bumi dari
perigee ke periee berikutnya, yaitu selama 27 hari 13 jam 18 menit 33,2 detik.
5. Draconic month, yaitu lama rata-rata satu kali bulan (moon) mengitari bumi dari
satu ascending node ke ascending node berikutnya, yaitu selama 27 hari 5 jam 5
menit 35,8 detik.

2.3.3. Macam-Macam Tahun (Year)


Suatu saat, matahari menempati posisi tertentu. Dilhat dari bumi, setiap saat posisi
matahari berubah. Keesokan harinyapun, matahari pada jam yang sama juga berubah,
meskipun perubahannya kecil sekali. Akhirnya, setelah 365 hari lebih, matahari kembali
ke posisi semula. Inilah definisi satu tahun, yang juga bergantung pada kerangka acuan
pengamat atau titik referensi.
Jika titik referensinya adalah bintang jauh, maka disebut satu tahun sideris (sidereal
year), yang lamanya adalah 365,2564 hari. Jika titik referensinya adalah titik pertama
Aries, maka disebut tahun tropis (tropical year), yang lamanya 365,2422 hari. Tahun
tropis inilah yang dipakai sebagai patokan kalender Gregorian. Karena jarak matahai-
bumi berubah-ubah, suatu saat jarak keduanya mencapai minimum, yang disebut jarak
perihelion. Terhitung satu tahun anomalistik (anomalistic year) jika yang dihitung
adalah selang waktu antara satu perihelion ke perihelion berikutnya, yang lamanya
365,2596 hari.

2.4. Perhitungan Waktu


Waktu (time) sangat penting bagi kehidupan kita. Dalam standar internasional, satuan
waktu adalah detik (second). 1 menit (minute) = 60 detik. 1 jam (hour) = 60 menit. Jam
dalam desimal dapat dinyatakan dalam jam:menit:detik. Misalnya 3,125 jam = 3 jam 7 menit
30 detik.
Dalam pengertian umum sehari-hari, 1 hari (day) = 24 jam. Namun, selain perhitungan
tersebut, masih ada juga perhitungan-perhitungan lain yang lebih rumit. Diantaranya adalah
sebagai berikut.

2.4.1. Universal Time dan Dynamical Time


Dasar dari pengukuran waktu adalah rotasi bumi terhadap sumbunya. Akibat rotasi bumi,
matahari nampak bergerak, terbit di timur dan terbenam di barat. Jenis waktu yang terkait
dengan gerakan matahari yang diamati di meridian Greenwich (bujur 0 derajat) adalah
Universal Time (UT) atau Greenwich Civil Time, atau sering disebut juga Greenwich
Mean Time (GMT). Bagi yang tinggal di Jakarta atau misalnya, waktu lokal di Jakarta
(WIB) adalah GMT + 7 jam atau lebih tepat UT + 7 jam. Penambahan waktu ini
disebabkan oleh perbedaan letak lintang.
Namun perlu diketahui, rotasi bumi tidaklah konstan sepanjang waktu. Rotasi bumi
perlahan-lahan melambat dan tidak teratur. Karena itu, UT bukanlah waktu yang seragam.
Sementara itu astronom memerlukan waktu yang seragam untuk keperluan perhitungan
astronomis. Karena itu diperkenalkan sistem waktu yang seragam yaitu Dynamical
Time (TD). Selisih antara TD dengan UT adalah ΔT, yang dirumuskan
sebagai ΔT = TD – UT (1,2)
Nilai ΔT ini hanya bisa ditentukan lewat observasi. Observasi untuk
menentukan ΔT sudah dilakukan orang sejak sekitar tahun 1620 M
sampai saat ini. Tahun 1620, ΔT sekitar 124 detik. Tahun 1800 sekitar
14 detik. Tahun 2000 sekitar 64 detik. Tahun 2009 sekitar 66 detik. Di
luar rentang waktu itu, orang hanya bisa membuat perkiraan atau
ekstrapolasi. Perlu diketahui, ada pula rumus perkiraan ΔT yang lain.
Sebelum tahun 948 M : ΔT = 2715,6 + 573,36*T + 46,5*T*T (detik)
Antara tahun 948 -1600 M : ΔT = 50,6 + 67,5*T + 22,5*T*T (detik)
Dalam rumus ini, T = (Tahun – 2000) / 100
Contoh : Tahun 632 M. Maka T = (632 – 2000) / 1000 = -13,68.
ΔT = 3574 detik.

2.4.2. Greenwich Sidereal Time


Satu sidereal day lebih pendek dari satu solar day. Satu solar day lebih lama daripada satu
sidereal day karena selama rentang waktu solar day tersebut, bumi bergerak sepanjang
orbitnya sejauh kira-kira satu derajat terhadap matahari. Karena itu dibutuhkan waktu
sedikit lebih lama bagi matahari untuk kembali ke posisi semula, dibandingkan dengan
bintang tetap.
1 hari = 24 jam. Waktu yang kita gunakan sehari-hari adalah solar time. 1 solar day sama
dengan 24 jam solar time. Sementara itu, satu sidereal day atau 24 jam sidereal time sama
dengan 23 jam 56 menit 4 detik solar time. Waktu untuk menunjukkan sidereal time
adalah Greenwich Sidereal Time (GST), sedangkan waktu untuk solar time adalah UT.
Antara GST dan UT terdapat hubungan. Cara menentukan GST pada tanggal tertentu
pukul 0 UT adalah sebagai berikut :
Carilah Julian Day (JD) tanggal tersebut untuk pukul 0 UT. Kemudian menggunakan
rumus T = (JD – 2451545)/36525
Rata-rata (mean) Sidereal Time di Greenwich saat 0 UT atau Greenwich Sidereal Time
(GST) adalah :
GST = 6,6973745583 + 2400,0513369072*T + 0,0000258622*T*T
Satuan GST adalah jam. Adapun jika waktu dalam UT bukan 0 UT tetapi sembarang,
maka dihitung dulu GST yang bersesuaian dengan 0 UT, kemudian hasilnya dikalikan
dengan 1,00273790935. Perlu diketahui, 1,00273790935 sama dengan satu solar day
dibagi dengan satu sidereal day.
Nilai GST antara pukul 00:00:00 dan 23:59:59. Jika nilai GST lebih besar dari 24 jam,
kurangi dengan 24 (atau kelipatannya), dan sebaliknya jika GST lebih kecil dari nol,
maka tambahkan dengan 24 (atau kelipatannya).
Contoh : Tentukan GST untuk tanggal 17 Austus 1945 M pukul 10:00:00 WIB.
Jawab : Pukul 10:00:00 WIB = 03:00:00 UT.
Tanggal 17 Agustus 1945 M pukul 0 UT = JD 2431684,5
T = (2431684,5 – 2451545)/36525 = -0,543750855578
GST untuk 0 UT = pukul -1298,33258567 = pukul 21,66741433 = pukul
21:40:2,6916
Jadi GST untuk pukul 3 UT = pukul 21,66741433 + 1,00273790935*3 = pukul
24,675628058 = pukul 0, 675628058 = pukul 00:40:32,2160

Kita dapat pula menentukan GST dari UT.


Contoh : Tentukan UT untuk GST 17 Agustus 1945 pukul 00:40:32,2610 atau pukul
0,675628058.
Jawab : 17 Agustus 1945 = JD 2431684,5
T = -0,5453750855578
GST untuk pukul ) UT = pukul 21,66741433
GST pada soal di atas dikurangi GST untuk 0 UT, yaitu 0,675628058 –
21,66741433 = -20,991786272 = pukul 3.,008213728.
Hasil ini dibagi dengan 1,00273790935, diperoleh angka 3.
Jadi GST 17 Agustus 1945 pukul 0:40:32,2160 sama dengan 3 UT.

Sebagai catatan, rumus di atas hanya memberikan nilai rata-rata (mean) GST. Adapun
nilai GST sesungguhnya (true GST) diperoleh dengan menambahkan koreksi akibat
notasi longitude dan kemiringan bidang ekuator terhadap bidang ekliptika. Koreksi ini
cukup kecil, tidak lebih dari satu detik.
Pemahaman terhadap sidereal time sangat penting, karena Greenwich Sidereal Time akan
digunakan untuk menentukan hour angle dalam koordinat ekuator yang selanjutnya
digunakan untuk menentukan azimuth dan altitude obyek langit (matahari, bulan, dan
lain-lain), menentukan waktu terbit (rising), terbenam (setting), dan transit obyek langit,
koreksi koordinat dari geosentrik ke toposentrik, dan lain-lain.

2.4.3. Local Sidereal Time


Jenis perhitungan waktu lainnya adalah Local Sidereal Time (LST), yang dapat diperoleh
dari GST. LST suatu tempat bergantung pada bujur (longitude) tempat tersebut.
LST BT (bujur timur) = GST + BT / 15
LST BB (bujur barat ) = GST – BB / 15
Contoh : Tentukan LST di Jakarta (106,85 derajat BT) saat 17 Agustus 1945 pukul 10:00
WIB.
Jawab : Dari soal sebelumnya, diketahui bahwa 17 Agustus 1945 pukul 10:00 WIB
bersesuaian dengan GST pukul 00:40:32,2610 atau pukul 0,675628058.
Jadi, LST = 0,675628058 + 106,85 / 15 = pukul 7,7989613913 = pukul
07:47:56,261.

2.5. Penerapan Satuan Waktu


Ada dua segi dalam pengukuran waktu, yaitu untuk kepentingan sipil dan ilmu
pengetahuan. Waktu hari sangat dibutuhkan supaya kejadian-kejadian dapat disusun secara
berurutan. Pada kebanyakan pekerjaan ilmiah dibutuhkan lamanya selang waktu (time
interval) suatu kejadian berlangsung.
Kita dapat menggunakan sembarang kejadian berulang untuk mengukur waktu.
Pengukuran berlangsung dengan menghitung pengulangannya. Dari sekian banyak kejadian
yang berulang-ulang di alam, perputaran bumi pada porosnya telah digunakan selama
berabad-abad sebagai standar waktu untuk menetapkan panjangnya hari. Sebagai standar
waktu sipil sampai sekarang masih dipakai definisi satu detik rata-rata 1/86400 hari
(menggunakan perhitungan berdasarkan rotasi bumi).
Dalam sejarah, perhitungan waktu berdasarkan poros bumi telah digunakan oleh bangsa
Babilonia di tepi perairan Babilonia ratusan tahun yang lalu. Di tanah subur yang diairi
sungai Tigris dan Eufrat, sebuah peradaban tumbuh dan melakukan pencatatan gerakan langit
selama ribuan tahun. Bangsa Babilonia memiliki sistem bilangan berdasarkan satuan 60 yang
memudahkan perhitungan dengan bilangan-bilangan besar. Warisan sistem mereka yang
masih ada hingga kini yaitu 60 detik untuk menunjukkan satu menit, dan 360 derajat untuk
menunjukkan lingkaran.
Satu hari matahari rata-rata dari satu tahun ke tahun tidak sama. Telah dilakukan
pencatatan pada tahun 1960 yang menunjukkan perubahan laju rotasi bumi. Ternyata
kecepatan putaran bumi pada musim panas besar, sedangkan pada musim dingin kecil (di
belahan bumi utara) dan menurun secara pasti dari tahun ke tahun. Maka dari itu, standar
waktu matahari tidak berlaku bagi keperluan penelitian ilmu pengetahuan.
Waktu universal harus diukur berdasarkan pengamatan astronomis yang dilakukan
selama beberapa minggu. Karena itu, dibutuhkan jam bumi yang baik, ditera oleh
pengamatan astronomis. Jam kristal kwarsa yang didasarkan atas getaran berkala terus
menerus dari kristal dapat dipakai sebagai standar waktu sekunder yang baik. Yang terbaik
diantaranya dapat mencatat waktu selama setahun dengan penyimpangan maksimum 0,02
detik.
Salah satu penggunaan waktu standar adalah untuk mengukur frekuensi. Dalam daerah
frekuensi radio, perbandingan dengan jam kwarsa dapat dibuat secara elektronik dengan
ketelitian sekurang-kurangnya 10 pangkat 10, dan ketelitian sebaik itu memang seringkali
dibutuhkan. Ketelitian ini kira-kira 100 kali lebih baik daripada ketelitian yang dapat dicapai
pada penerapan jam kwarsa oleh pengamatan astronomis. Untuk memenuhi kebutuhan
standar waktu yang lebih baik, di beberapa negara telah dikembangkan jam atomik cesium
yang menggunakan getaran atomik berskala sebagai standar.

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan pada bab II, dapat disimpulkan bahwa ada banyak cara untuk
mengukur waktu di bumi. Pengukuran waktu berdasarkan rotasi bumi adalah standar waktu
yang sudah sangat umum dan digunakan oleh hampir seluruh penduduk bumi. Meskipun
begitu, pengukuran tersebut tidak begitu akurat karena dalam perputarannya, bumi perlahan-
lahan mengalami pelambatan dari tahun ke tahun.
Karena ketidakakuratan perhitungan waktu matahari (berdasarkan rotasi bumi), maka
para peneliti merumuskan perhitungan-perhitungan lain yang lebih akurat dengan
memperhitungkan banyak hal, salah satunya objek langit. Perhitungan tersebut diantaranya
Universal Time, Dynamical Time, Greenwich Sidereal Time (GST), dan Local Sidereal Time
(LST).
Dengan memperhatikan banyak hal, seperti objek langit, kita juga bisa menentukan
macam-macam hari, bulan (month), dan tahun.
Selain perhitungan-perhitungan, peneliti-peneliti di seluruh dunia juga membuat jam-
jam yang perhitungannya sangat baik. Jam tersebut juga dibuat berdasarkan perhitungan-
perhitungan yang sudah mereka rumuskan, yang berguna untuk kepentingan-kepentingan
ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA

M. Nur, Djakaria, Drs. H. M.Si., Drs. Ahmad Yani, M.Si., 2003. Pengantar Kosmografi
Untuk Geografi. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

Kamajaya, Drs., Ir. Suardhana Linggih. 1987. Penuntun Pelajaran Fisika untuk SMA.
Bandung : Ganeca.
www.wikipedia.com/waktu
www.eramuslim.com/macam-macamwaktu
www.primadonal.blog.com