Anda di halaman 1dari 21

BAB 8

MENGHINDARI JERAT HUKUM

Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari bab tentang ini, diharapkan mahasiswa bisa
menjelaskan tentang privasi, hak koreksi dan hak jawab. Kemudian
mendefinisikan hak tolak dalam profesi wartawan, delik pers. Menjelaskan
tentang jurnalisme verifikasi dan mekanisme penyelesaian sengketa pers.

Pendahuluan
Disengaja atau tidak, informasi yang disebarkan media adakalanya
menyalahi etika atau bahkan melanggar hukum. Pelanggaran etika umumnya
tidak berkonsekuensi pada hukuman penjara ataupun denda. Namun, pelanggaran
etika bisa pula menjadi persoalan hukum, jika memang terdapat pasal-pasal
hukum yang dilanggar.
Hukuman atau denda terhadap jurnalis adalah ancaman nyata, karena
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, sedikitnya
terdapat 35 pasal yang bisa dipakai untuk menuntut media. Jurnalis bisa dipenjara
atas berbagai pelanggaran, seperti penghinaan, fitnah, mencemarkan nama baik,
menghasut atau menyebarkan kebencian terhadap pemerintah, melanggar
kesusilaan, dan lain-lain. Jurnalis sering melangkahi aturan hukum karena masa
bodoh, tidak paham, atau mengabaikan batas-batas hukum yang mengatur kerja
jurnalistik.

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 92


8.1. Privasi, Hak Koreksi dan Hak Jawab
• Privasi
rivasi adalah wilayah dan perilaku pribadi seorang individu yang tidak
langsung terkait dengan kepentingan publik dan tidak merugikan orang lain,
sehingga seharusnya tidak diberitakan oleh media. Wilayah privasi antara lain
adalah rumah, tempat tinggal, atau ruangan-ruangan tertentu yang ditempati
seseorang (seperti toilet, kamar di rumah sakit, kamar hotel, dsb); aktivitas
privasi adalah kegiatan personal yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan
umum, kegiatan yang terkait dengan hobi seseorang, kehidupan rumah tangga,
atau hubungan personal.
Di kalangan selebritis dan publik figur, persoalan privasi agak lebih
longgar dibandingkan dengan masyarakat biasa, artinya wartawan seringkali
tertarik memberitakan aktivitas privasi mereka karena seringkali masyarakat
umum memiliki rasa ingin tahu terhadap apa dan dimana para selebritis.
azimnya informasi yang terkait dengan privasi seseorang (selebritis,
khusunya) merupakan berita hiburan yang lebih sering dikenal dengan istilah
”infotainment”. Berita infotainment sering dinilai sebagai bukan termasuk karya
jurnalistik, mengingat isi informasi infoteinment tidak terkait dengan
kepentingan publik—meskipun terkait dengan minat (rasa ingin tahu) individu
anggota masyarakat. Minat masyarakat berbeda dengan kepentingan publik,
karena minat terkait dengan preferensi seorang individu, sedangkan kepentingan
publik bersifat bersama-sama.
Berbeda dengan selebritis yang seringkali tidak merasa berkeberatan
wilayah atau aktivitas privasinya diekspose media, karena ekspose itu merupakan
bagian dari promosi kerja atau karir mereka. Sedangkan public figur, seperti
politisi atau pejabat, pada umumnya berkeberatan kehidupan pribadinya
diekspose, kecuali ekspose itu bersifat positif.

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 93


Ketentuan wilayah dan aktivitas pirvasi ini tidak berlaku jika persoalan
kehidupan pribadi ternyata bersinggungan dengan kepentingan publik, misalnya
pejabat yang berperilaku menyimpang, memiliki istri simpanan, dan kekayaan
yang tidak wajar, biasanya akan mengundang ekspose media.
Dalam konteks etika jurnalistik, tidak melanggar privasi adalah mematuhi
hak untuk ”sendiri” yang dimiliki individu, baik yang menjadi objek pemberitaan
maupun yang menjadi narasumber. Pelanggaran terhadap hak ini sering terjadi
karena ada asumsi di kalangan wartawan kita bahwa peristiwa rutin tidak akan
menghasilkan sebuah berita, dan karena itu mereka akan mecari peristiwa yang
luar biasa. Sesuatu yang luar biasa selalu menarik perhatian orang. Akan tetapi,
umumnya peristiwa luar biasa dalam kasus-kasus lain sering melibatkan
kehidupan pribadi individu. Jika peliputan ini diteruskan, privasi individu
tersebut bisa terganggu. Memang tidak mudah menentukan batas privasi individu
di negara kita. Namun, pada dasarnya setiap individu memiliki hak untuk
”sendiri” inilah yang harus dihormati para wartawan.
Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia sudah memberikan arahan
sejauhmana pers dapat menggunakan wewenangnya, terutama yang menyangkut
kehidupan pribadi seseorang seperti tercantum dalam Bab II tentang Cara
Pemberitaan, khususnya pada pasal 6, yakni:
”Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan
pribadi dengan tidak menyiarkan berita, tulisan, atau gambar yang merugikan
nama baik atau perasaan susila seseorang, kecuali menyangkut kepentingan
umum”.
Pasal tersebut dapat ditafsirkan bahwa ”pemberitaan hendaknya tidak
merendahkan atau merugikan harkat-martabat derajat dan nam baik sera perasaan
susila seseorang. Kecuali perbuatan pribadi itu bisa berdampak negatif bagi
masyarakat atau membayakan nyawa orang lain.

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 94


• Hak Koreksi
Kewajiban pers tertinggi adalah kewajiban koreksi jika terjadi kesalahan.
Koreksi dilakukan untuk kesalahan fakta atau data yang tidak terlalu signifikan
dan secara keseluruhan tidak mengurangi arti penting karya jurnalistik terkait.
Koreksi idealnya dilakukan oleh pihak redaksi media segera setelah mengetahui
adanya kesalahan, tidak harus menunggu ada pihak atau pembaca yang bereaksi,
jika wartawan menemukan kesalahannya, maka ia wajib melakukan koreksi.
Hak koreksi merujuk pada kekeliruan informai atau fakta yang disajikan
oleh pers, dan untuk melakukan koreksi bisa dilakukan siapa saja, tidakharus
pihak yang terkait dengan materi informasi. Misalnya keliru menyebut nama
tempat, tanggal terjadinya suatu peristiwa, dan nam oran yang terlibat di
dalamnya. Pembaca media bisa melakukan koreksi jika ada kesalahan atau
kekeliruan tulisan dalam pers.

• Hak Jawab
Hak jawab didefinisikan dalam UU Pers sebagai hak seseorang atau
kelompok untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan
menyangkut fakta atau opini yang bersifat sepihak dan tidak akurat. Hak jawab
biasanya digunakan untuk kasus kekurangan/kelemahan berita yang cukup fatal
dampaknya, seperti untuk koreksi data, kelengkapan fakta, tambahan penjelasan,
melengkapi berita sepihak, mempersoalkan akurasi, atau meluruskan opini dan
persepsi yang dinilai salah. Dengan menanggapi, meluruskan, atau melengkapi
informasi dan opini berita yang tidak akurat diharapkan berita bersangkutan
menjadi seimbang.
Hak jawab umumnya adalah wilayah kode etik bukan wilayah hukum,
lazimnya redaksi media wajib menyediakan ruang untuk hak jawab, meskipun
sifatnya prerogatif redaksi. Jika hak jawab ditulis secara proporsiona panjangnya

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 95


dan ditulis dengan bahasa yang baik, sebaiknya dimuat secara utuh. Dalam kasus
yang fatal, karena kelalaian media yang memang merugikan seseorang, hak
jawab bisa dimuat pada halaman tempat berita sehari sebelumnya dimuat (untuk
koran harian). Dalam beberapa kasus hal itu biasanya didahului dengan negoisasi
atau somasi.
Pelayanan hak jawab tidak menutup peluang untuk menuntut melalui
proses hukum. Banyak kasus sengketa pemberitaan tidak melalui proses hak
jawab, melainkan langsung menuntut ke pengadilan. Karena itu ada pengamat
hukum pers yang berpendapat, jika media telah memuat hak jawab, seharusnya
tidak boleh lagi membawa kasus itu ke pengadilan. Dalam UU Pers, soal hak
jawab ini diatur, namun tidak dijelaskan secara rinci soal hak dan kewajiban
media setelah memberikan hak jawab.
Dalam UU Pers tidak diatur adanya kompensasi bagi media yang telah
melayani hak jawab. Jadi, jika media sudah memuat hak jawab, tetap saja
dituntut ke pengadilan, membuat media juga tidak merasa perlu melayani hak
jawab dengan semestinya.

8.2. Hak Tolak dalam Profesi Wartawan


Pers memiliki suatu imunitas dalam menjalankan profesinya, antara lain
hak tolak (Verschonigsrecht) memberikan keterangan mengenai narasumber yang
wajib dijaga kerahasiaannya. Hak tolak ini bersifat universal, baik dalam sistem
pers kontinental maupun Anglo Saxon, terhadap relasinya dengan hukum perdata
maupun pidana. Imunitas pers ini harus dihargai, mengingat relasi pers,
masyarakat dan negara merupakan interelasi sosial sekaligus social trust yang
diberikan oleh masyarakat dan negara kepada pers.
Komunikasi pers adalah komunikasi kepercayaan sosial. Karena itu
pelanggaran terhadap kepercayaan ini akan menempatkan sanksi pidana dan
perdata bahkan administrasi terhadap pers. Sebagai representasi social trust,

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 96


institusi kenegararaan termasuk aparatur penegak hukum harus menghargai
komunikasi ini Karena itu, dalam rangka menjalankan profesionalisme
jurnalistiknya, pers memiliki hak tolak terhadap eksistensi nara sumbernya, apa
pun alasannya.
Dalam proses pra-ajudikasi (penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan)
imunitas atas hal tolak ini bersifat absolut, namun hak tolah menjadi relatif
sifatnya dalam proses ajudikasi apabila hakim memerintahkan atas dasar interest
of justice (kepentingan peradilan).
Dalam hal penegak hukum kesulitan memperoleh narasumber (buron),
tidaklah pada tempatnya penegak hukum melakukan penyadapan, apakah
berbentuk “tersadap” maupun memperoleh transkrip komunikasinya. Dalam
konteks relasi akademis antara media dan criminal law, suatu penyadapan dalam
bentuk tersadap maupun “transkrip komunikasi” terhadap pers merupakan suatu
bentuk sensor dalam arti luas, satu bentuk pengekangan terhadap kemerdekaan
pers yang melanggar pasal 4 ayat 2 UU No 40/1999. Ini bahkan suatu proses
penyimpangan untuk membuka hak tolak dari pers agar mengetahui nara
sumbernya yang sulit diperoleh penegak hukum.

8.3. Delik Pers

I. Definisi Delik Pers:


• Proses penyampaian pesan melalui pers yang dilarang oleh undang-undang
dan wartawan/ penulisnya diancam pidana
• Delik komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan pers.
• Delik yang untuk penyelesaiannnya memerlukan publikasi dengan
menggunakan pers dan terdiri dari pernyataan-pernyataan, pikiran atau
perasaan yang diancam pidana

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 97


• Pernyataan pikiran atau perasaan yang dapat dijatuhi pidana, untuk
penyelesainnya membutuhkan publikasi dengan pers.
Delik Pers adalah tindakan pidana yang (dapat) diancam hukuman (berkaitan
dengan penerbitan pers)

II. Kriteria Delik Pers


Kasus-kasus yang berkaitan dengan pers lazim disebut delik pers. Istilah
delik pers, sebenarnya bukan terminologi (istilah) hukum, melainkan hanya
sebutan atau konvensi di kalangan masyarakat, khususnya praktisi dan pengamat
hukum, untuk menamai pasal-pasal KUHP yang berkaitan dengan pers. Delik pers
adalah delik yang terdapa dalam KUHP tetapi tidak merupakan delik yang berdiri
sendiri.
Delik pers bagian delik khusus yang belaku umum. Karena yang sering
melakukan pelanggaran atas delik itu adalah pers, maka tindak pidana itu
dikatakan sebagi delik pers. Jadi, sama dengan tindak pidana yang dilakukan oleh
umum atau delik yang belaku umum tentang penghinaan, pencemaran nama baik,
fitnah kesusilaan, tetapi kalau dilakukan oleh pers disebut delik pers.
Menurut para ahli hukum, delik pers adalah setiap pengumuman atau
penyebarluasan pikiran melalui penerbitan pers. Terdapat tiga unsur atau kriteria
yang harus dipenuhi agar suatu perbuatan yang dilakukan melalui pers dapat
digolongkan sebagai delik pers:
a. Adanya pengumuman pikiran dan perasaan yang dilakukan melalui barang
cetakan.
b. Pikiran dan perasaan yang diumumkan atau disebarluaskan melalui barang
cetakan itu harus merupakan perbuatan yang dapat dipidana menurut
hukum.
c. Pengumuman pikiran dan persaan yang dapat dipidana tersebut dilakukan
melalui barang cetakan tadi harus dapat dibuktikan telah disiarkan kepada

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 98


masyarakat umum atau dipublikasikan. Jadi, syarat atau unsur terpenting
adalah publikasi.
Dalam kerangka ini, menurut Luwarso dalam Sumadiria 2005:232), terdapat dua
unsur yang harus dipenuhi supaya seorang wartawan dapat dimintai
pertanggungjawaban dan dituntut secara hukum, yaitu:
a. Apakah wartawan yang bersangkutan mengetahui sebelumnya isi berita
dan tulisan dimaksud.
b. Apakah yang bersangkutan sadar sepenuhnya bahwa tulisan yang
dimuatnya dapat dipidana.
Kedua unsur itu harus dipenuhi. Apabila kedua unsur ini tidak terpenuhi, maka
wartawan tersebut tidak dapat ditutut atau diminta pertanggungjawabnnya secara
hukum.
Kategori delik pers:
- Delik pers terhadap ketertiban umum
- Delik pers yang bersifat hasutan
- Delik pers yang bersifat penghinaan
- Delik pers penyiaran kabar bohong
- Delik pers yang melanggar susila

Delik pers harus memenuhi persyaratan sbb:


1. Harus dilakukan dengan barang cetakan
2. Perbuatan yang dipidana harus terdiri atas pernyataan pikiran atau perasaan
3. Dari perumusan delik pers harus ternyata (jelas) bahwa publikasi merupakan
suatu syarat untuk menumbuhkan kejahatan apabila kejahatan tersebut
dilakukan dengan suatu tulisan

III. Jenis Delik Pers

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 99


Dalam konteks hukum kita, delik pers adalah delik yang bisa
mendatangkan kerugian pada seseorang (private libel) dan delik yang bisa
mendatangkan kerugian pada negara, masyarakat, atau pemerintah (public libel)
• Public Libel
Yang termasuk public libel antara lain:
- membocorkan rahasia negara (pasal 322 KUHP)
- penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden
(pasal 134 KUHP)
- penghinaan terhadap kepala negara sahabat (pasal
144 KUHP)
- menodai bendera lambang negara (pasal 154a
KUHP),
- penodaan terhadap agama (pasal 156a KUHP)
- menghasut orang supaya melakukan perbuatan
pidana atau kekerasan terhadap penguasa (pasal 160 KUHP)
- menghina penguasa dan badan umum (pasal 207
KUHP)
- melanggar kesusilaan/pornografi (pasal 282 KUHP)

• Private Libel
Delik pers yang dapat digolongkan sebagai private libel, yaitu delik pers
terhadap orang perorangan, diatur dalam pasal-pasal KUHP mulai pasal 310
sampai pasal 315. Pasal 310 KUHP, misalnya, berbunyi:
(1) barangsiapa dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik
seseorang dengan menuduhkan suatu hal, dengan maksud yang jelas agar hal itu
diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 100


lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.
(2) Bila hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambar yang disiarkan,
dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka diancam karena
pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan
atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
(3) Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, bila perbuatan itu
jelas dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela
diri.
Contoh delil pers yang menyerang pribadi orang perorangan ini adalah
dalam kasus pemimpin redaksi Harian Rakyat Merdeka, Karim Paputungan, yang
dijatuhi hukuman penjara oeh hakim pengadilan neger Jakarta Selatan pada
tanggal 9 September 2003. Kasus delik pers ini diajukan ke pengadilan gara-gara
pemutan foto parodi Akbar Tanjung di Harian Rakyat Merdeka edisi 8 Januari
2002 yang memperlihatkan bagian tubuh bertelanjang dada dan penuh keringat.
Foto terbeut merupakan ilustrasi dari berita berjudul ”Akbar Sengaja dihabisi.
Golkar Nangis Darah.”
Karim oleh Pengadilan dianggap bersalah melanggar pasal 310 ayat (2) KUHP,
yang antara lain berbunyi: dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama
baik seseorang dengan tulisan atau gambar yang disiarkan, dipertunjukkan pada
umum atau ditempelkan.
Delik pers sendiri terdiri dari dua jenis:
1. Delik Aduan
Delik aduan berarti kasus pers baru muncul hanya apabila ada pihak yang
mengadukan kepada pihak kepolisian akibat suatu pemberitaan pers. Jadi,
selama tak ada pihak yang mengadu, pers tidak bisa digugat, dituntut, atau
diadili.
2. Delik biasa

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 101


Delik biasa, berarti kasus pers itu muncul dengan sendirinya tanpa
didahului dengan munculnya pengaduan dari pihak yang merasa dirugikan
akibat pemberitaan pers. Delik biasa, terutama berkaitan dengan lembaga
kepresidenan. Artinya, tanpa pengaduan dari pihak mana pun, kalau suatu
pemberitaan pers dianggap melakukan penghinaan terhadap presiden atau
wakil presiden, maka aparat kepolisian secara otomatis akan memrosesnya
secara hukum.
Hal ini menurut Suwarso (dalam Sumadiria 2005:233) karena kejahatan terhadap
martabat presiden dan wakil presiden menyangkut martabat negara, sehingga
demi kepentingan umum, perbuatan penghinaan itu perlu ditindak tanpa
memerlukan adanya suatu pengaduan. Jabatan mereka sebagai presiden tidak
memungkinkan mereka bertindak sebagai pengadu. Penghinaan terhdap penguasa
atau badan umum juga tergolong delik pers biasa.

IV. Kriminalisai Pers versus Delik Pers


Bergulirnya kasus-kasus hukum pers telah memunculkan dua kubu yang
saling bersebrangan. Kubu pertama adalah pihak yang merasa telah terjadi
pembelengguan kebebasan pers melalui jalur hukum pidana (KUHP) di luar UU
Pers. Kubu ini umumnya diwakili oleh insan pers. Sedangkan kubu lainnya adalah
pihak yang merasa bahwa pers sudah kebablasan sehingga perla diterapkan
hukum pidana (KUHP). Kubu ini umumnya diwakili oleh Negara, melalui polisi,
jaksa, terkadang hakim, dan pihak masyarakat yang merasa dirugikan oleh pers.
Alhasil, terjadilah perang pendapat hukum
Pihak yang merasa kebebasan pers sudah dibelenggu dengan perangkat
peraturan hukum pidana di luar UU Pers mengusung istilah kriminalisasi pers.
Artinya, jurnalis (pers) yang bersalah dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya
diarahkan (direkayasa) lewat jalur hukum untuk dapat dipidana penjara. Istilah ini
juga dimaksudkan untuk menggambarkan ketidakadilan yang dialami oleh pers

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 102


akiba pemaksaan (perekayasaan) penggunaan pasal-pasal hukum pidana (KUHP).
Insan pers mersa bahwa ada upaya sengaja untuk memberangus, mengobok-obok,
menjerat, dan bahkan mematikan kehidupan dan kebebasan pers.
Sebaliknya, pihak yang merasa bahwa pers sudah kebablasan mengedapan
penerapan hukum pidana (KUHP) dengan mengusung istilah delik pers, dimana
istilah ini telah diperluas arinya namun dipersempit penerapannya hanya untuk
menjerat tindakan yang dilakukan oleh wartawan (pers).
1. Kejahtan terhadap ketertiban umum yang diatur dalam pasal 154,
155, 156
dan 157 KUHP.
2. Kejahatan penghinaan yang menckup penghinaan terhadap
presiden dan wakil presiden yang diatur dalam pasal 134 dan 137
KUHP serta penghinaan umum yang diatur dalam pasal 310 dan
315 KUHP.
3. Kejahatan melakukan penghasutan yang diatur dalam pasal 160
dan 161 KUHP .
4. Kejahatan menyiarkan kabar bohong yang diatur dalam pasal 14
dan pasal 15 UU No. 1/1946.
5. Delik kesusilaan yang diatur dalam pasal 282 dan pasal 533
KUHP.
Semua pasal ini, dianggap kalangan pakar, pengamat, dan praktisi pers
sebagai proses sistematis ke arah kriminalisasi pers. Artinya, wartawan bisa sama
nasibnya dengan pelaku tindak kriminal seperti pencuri kambing atau perampok
toko emas, hanya karena tulisan atau berita yng dibuatnya. Kenyataan inilah yang
kerap mengundang protes keras dari kalangan pemerhati dan praktisi pers di
Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Wartawan bisa dihukum dan
dipenjarakan karena tindak kriminal seperti menipu atau mencopet. Tetapi

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 103


sebaliknya, wartawan tidak bisa dihukum hanya karena tulisan atau laporan berita
yang dibuatnya.

V. Convention On The Freedom of Information


Dalam membuat berita, seorang wartawan/jurnalis juga harus memahami
bahwa ada ketentuan internasional ”Convention On The Freedom of Information”
yang dalam kehidupan perundang-undangan kita dirumuskan sebagai Delik Pers.
7 batasan (limitasi) itu adalah:
1. National security and public order (Keamanan nasional dan ketertiban
umum)
Yakni delik terhadap keamanan Negara (KUHP pasal 112, 113), yang
antara lain memidanakan mereka yang dengan sengaja mengumumkan
surat-surat, berita-berita atau keterangan-keterangan yang diketahuinya
bahwa harus dirahasiakan (untuk kepentingan negara) atau dengan sengaja
memberitahukan atau memberikan kepada negara asing atau
mengumumkan dan seterusnya, gambar-gambar peta atu benda yang
bersifat rahasia atau bersangkutan dengan keamanan dan pertahanan
negara terhadap serangan dari luar dan seterusnya,
Dalam hal ini termasuk juga delik penyiaran kabar bohong yang dapat
merusak hubungan persahabatan antara bangsa (Systematic dissemination
of false reports to friendly among nations)
2. Expresians to war or to national, racial or religious hatred (memidanakan
hasutan untuk mengadakan perang atau untuk menimbulkan kebencian ras
atau agama (SARA). Antara lain tercantum dalam pasal 156a KUHP.
Delik ini memidanakan mereka yang dengan sengaja di muka umum
mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:
a. yang pada pokoknya bersifat bermusuhan, penyalahgunaan atau
penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 104


b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun
juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.
3. Incitement to violence and crime (hasutan untuk melakukan kekerasan dan
kejahatan)
4. Attacks on founders of religion (serangan terhadap pendiri agama)
5. Public health and moral (kesehatan dan kesusilaan)
6. Rights, honour and reputation of others (hak-hak, kehormatan dan nama
baik orang lain, yang umumnya memuat delik-delik penghinaan)
7. Fair administration or justice (umumnya menyangkut delik-delik yang
bersangkutan dengan peradilan/ jalannya peradilan yang jujur)
Penindakan terhadap perbuatan, sikap dan atau ucapan yang dapat
merendahkan dan merongrong kewibawaan, martabat, dan kehormatan
suatu badan peradilan.
- Suatu usaha untuk mempengaruhi hasil dari suatu pemeriksaan
peradilan
- Tidak mematuhi perintah Pengadilan
- Membikin obstruksi peradilan (perbuatan yang ditujukan
terhadap, ataupun yang mempunyai efek memutarbailikkan,
mengacaukan fungsi normal dan lancarnya suatu proses
peradilan)
- Scandalizing pengadilan
- Tidak berkelakuan baik dalam pengadilan

8.4. Jurnalisme Verifikasi

Disiplin verifikasi adalah ihwal yang memisahkan jurnalisme dari hiburan,


propaganda, fiksi, atau seni. Hiburan (entertainment)—dan sepupunya
infoteinment—berfokus pada hal-hal yang menggembirakan hati. Propaganda

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 105


akan menyeleksi atau mengarang fakta demi kepentingan yang sebenarnya
persuasi dan manipulasi. Fiksi mengarang skenario untuk sampai pada kean yang
lebih personal dari apa yang disebut kebenaran. Hanya jurnalisme yang sejak awal
berfokus untuk menceritakan apa yang terjadi setepat-tepatnya.
Wartawan sering gagal menghubungkan perasaan terdalam yang mereka
hayati tentang keahlian verifikai ini dengan pertanyaan filosofis mengenai peran
jurnalisme. Mereka tahu bagaimana mengecek suatu berita. Tapi mereka tak
selalu bisa mengungkapkan dengan fasih pesan yang dimainkan pengecekan suatu
berita di masyarakat. Kendati demikian, verifikasi selalu berada di dalam fungsi
pokok jurnalisme. Seperti dikatakn Walter Lippmann pada 1920 ” Sebuah
komunitas tidak bisa merdeka bila kekurangan informasi, karena dengan
informasi yang cukup kebohongan bisa dideteksi.
Karena disiplin verifikasi sangat pribadi dan begitu sering secara
serampangan dikomunikasikan, ia menjadi salah satu sebab kebingunan terbesar
dalam jurnalisme, yakni konsep obyektivitas. Makna asli dari pemikiran ini sering
dialahpahami dan sebagai besar bahkan hilang.
Saat konsep ini pertama kali berkembang, objektivitas tidak dimaksukan
untuk menyiratkan wartawan bebas dari bias. Objektivitas meminta wartawan
mengembangkan sebuah metode untuk secara konsisten menguji inforomasi—
pendekatan transparan menuju bukti-bukti—dengan tepat sehingga bias personal
dan bias budaya tidak melemahkan akurasi kerja mereka.
Kini, budaya pers modern umumnya kian melemahkan metodologi
verifikasi wartawan. Teknologi adalah sebagian penyebabnya. ”Internet dan Nexis
memberitakn wartawan akses mudah kepada berita dan kutipan tanpa mereka
perlu melakukan investigasi mereka sendiri,” ujar wartawan Geneva Overholser
(Kovach, 2006:92).
Di masa siklus berita 24 jam, wartawan sekarang menghabiskan waktu
lebih banyak mencari sesuatu untuk menambahi berita yang tengah berlangsung,

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 106


biasanya interpretasi, dan bukannya mencoba secara independen mendapati dan
memverifikasi fakta baru. ”Begitu sebuah kisah ditetaskan, maka bergulirlah
perilaku segerombolan wartawan. Sebuah kisah ditentukan oleh medium—satu
surat kabar atau laporan televisi...Hal ini sebagian disebabkan karena organisasi
berita makin terkonsolidasi (satu berita dipakai bersama-sama) dan sebagian
karena repotase elektroni, kita jadinya dijejali masukan yang sama,”kata
Overholser (Kovach 2006:92).
Saat wartawan menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencari data dari
internet atau basis data, risikonya adalah mereka bisa menjadi kian pasif, lebih
menjadi penerima ketimbang pengumpul. Untuk melawan ini, pemahaman yang
lebih baik tentang makna asli objektivitas bisa membantu menempatkan berita
pada pijakan yang lebih kukuh.

8.5. Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pers


1. Penyelesaian melalui hak jawab dan hak koreksi
Apabila seseorang merasa telah dicemarkan nama baiknya atau apabila difinah
melalui berita yang ditulis oleh media cetak, bagaimana UU No. 40/1999 tentang
Pers menjawab persoalan ini?
Terhadap sebuah karya jurnalistik yang berkaitan dengan berita, pers
sepatutnya memnuhi kaidah-kaidah yang sudah ditentukan dalam UU No. 40/199,
khusunya Pasal 5 ayat (1) yang menegaskan:
Pers Nasinal berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan
menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas
praduga tak bersalah.
Sedangkan Penjelasan Pasal 5 ayat (1) menyatakan:
Pers nasional dalam menyiarkan informasi, tidak menghakimi atau
membuat kesimpulan kesalahan seseorang terlebih lagi untuk kasus-kasus yang

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 107


masih dalam proses peradilan, serta dapat mengakomodasikan kepentingan semua
pihak yang terkait dalam pemberitaan tersebut.
Rambu-rambu inilah yang semestinya tidak dilanggar oleh pers dalam
menjalankan tugas jurnalistiknya. Namun, harus diakui bahwa rumusan Pasal 5
ayat (1) beserta penjelasannya ini kurang lengkap dan kurang jelas dalam arti
tidak secara rinci dan tegas menyebutkan ketentuan dan syarat-syarat yang
tergolong melanggar Pasal 5 ayat (1). Hal inilah yang dianggap membedakannya
dengan pasal-pasal dalam KUHP. Bagi insan pers, boleh jadi Pasal 5 ayat (1) ini
dianggap cukup jelas, namun tidak demikian halnya bagi masyarakat umum. Oleh
karena itu, masing-masing pihak dapat menginterpretasikan muatan pasal ini
secara bebas. Dan akibat dari kekurangtegasan pasal ini, tak salah pula kalau
sebagian masyarakat lebih menggunakan pasal-pasal KUHP untuk menjerat pers.
Jadi, andaikata seseorang telah merasa tercemar nama baiknya atau merasa
dirinya telah difitnah melalui pemberitaan media massa (cetak), menurut UU Pers
dapat ditafsikan bahwa pers tersebut telah menyalahi atau melanggar Pasal 5 ayat
(1). Selanjutnya, pihak yang merasa dirugikan dapat menggunakan Hak Jawab
(Pasal 5 ayat (2)) dan Hak Koreksi (Pasal 5 ayat (3)) yang wajib dipenuhi oleh
pers.
Dalam hal adanya pihak yang merasa dirugikan terhadap karya jurnalistik
(pemberitaan), tentunya dapat menggunakan serangkaian hak-hak yang sudah
diberikan oleh UU Pers. Sedangkan pers wajib memenuhi pengunaan hak jawab
dan hak koreksi yang diberikan oleh undang-undang kepada masyarakat yang
bersentuhan langsung oleh isi pemberitaan pers.
Memang, dalam hal pengunaan Hak Jawab, adakalanya masyarakat
merasa penempatannya di media cetak tidak memiliki proporsi yang sama atau
tidak berimbang, dalam arti terkadang pihak pers hanya meletakkan hak jawab
dalam rubrik surat pembaca padahal berita sebelumnya yang dianggap telah
merugikan itu ditulis dalam kolom yang besar, terkadang pihak yang merasa

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 108


dirugikan terlebih dahulu memberikan somsi (peringatan, teguran) dan
selanjutnya dapat bernegosiasi mengenai hal peletakkan kolom untuk bantahan
atau Hak Jawab.
Hak jawab ini merupkan ketentuan kode etik. Namun, oleh pembuat UU
rupanya hak jawan telah diangkat menjadi ketentuan hukum positif dalam UU No.
40.1999 tentang pers. Oleh sebab itu, sekalipun hak jawab sudah dilaksanakan
oleh pes dan secara etika sebetulnya persoalan telah dianggap selesai, tidak
tertutup kemungkinan bahwa pihak yang merasa dirugikan melanjutkan
persoalannya ke pengadilan, mengingat UU Pers ini tidak melarang hal ini.
Dengan kata lain, tidak ada ketentuan di dalam UU Pers yang menegaskan bahwa
apabila hak jawab sudah dilaksanakan, tidak boleh lagi mengajukan tuntutan ke
pengadilan.
Walaupun pengadilan juga pernah memutus perkara yang mengakui
eksistensi hak jawab sehingga dapat diangkat menjadi yurisprudensi. Dalam
pertimbangan hukum lainnya, juga disebutkan, ”Perlunya terlebih dahulu
melaksanakan hak jawab apabila sebuah berita dianggap merugikan.”
Dengan adanya yuriprudensi Mahkamah Agung, kedudukan hak jawab di
mata hukum menjadi sangat penting dan diakui kebenarannya. Maka, sebelum
mengajukan guguatan atau tuntutan ke pengadilan akibat sebuah pemberitaan,
masyarakat sebaiknya melaksanakan terlebih dahulu ketentuan hak jawab.
Sebaliknya, jika pers ketentuan penggunaan hak jawab, pers dapat dituntut
ke pengadilan dengan ancaman terkena sanksi Pasal 18 UU Pers, yaitu pidana
dengan sebesar Rp 500 juta.

2. Penyelesaian melalui Dewan Pers


Mekanisme lain yang dapat ditempuh oleh masyarakat atau pihak yang
merasa telah dirugikan oleh pemberitaan media cetak—selain penyelesaian
langsung dengan pers yang bersangkutan—adalah mengajukan pemasalahannya

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 109


kepada Dewan Pers. UU Pers, khususnya Pasal 15 ayat (2), telah secara tegas dan
khusus memberikan tujuh fungsi sekaligus kepada Dewan Pers, yakni:
a. melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain;
b. melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan pers;
c. menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik;
d. memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian
masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan
pemberitaan pers;
e. mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat dadn
pemerintah;
f. memfasilitas organisasi-organisasi pers dalam menyusun
peraturan-peraturan di bidang pers dan menigkatkan kualitas
profesi kewartawanan;
g. mendata perusahaan pers.
Dewan Pers ini merupakan lembaga yang melakukan pengawasan
terhadap penegakan etika pers, sedangkan sanksi pelanggarannya menjadi
tangung jawab perusahaan atau organisasi pers. Karena itu, Dewan Pers tidak
bekerja pada ranah hukum. Tugas Dewan Pers adalah menjadi mediator antara
masyarakat dan pers sebagai fasilitator untuk meningkatkan kualitas kemerdekaan
pers.
Dewan pers akan menguji dan mengkaji pengaduan yang terkait dengan
pemberiaan atau karya jurnalistik untuk kemudian memberikan penilaian
mengenai kualitas berita (karya jurnalistik) tersebut. Jika diperlukan, Dewan Pers
mengundang redaksi media bersangkutan untuk menjawab atau membela diri.
Selanjutnya akan dinilai apakah berita yang dimaksud telah melanggar etika, atau
tidak profesional, atau sekadar tidak akurat. Dalam dunia jurnalisme profesional,
dikenal istilah absence of malice (tidak ada niat jahat). Jadi penanganan dalam
pelanggaran etika yang dilakukan pada jurnalisme profesinal ditujukan untuk

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 110


mencari solusi atas kelalaian dan kesalahan praktik jurnalistik. Rumusan solusi
atas pelanggaran etika mencakup:
- ralat atau koreksi
- hak jawab
- permintaan maaf secara terbuka.
Dalam hal pelanggaran atau kesalahan yang dilakukan pers tergolong
berat, Dewan Pers dapat memberikan penilaian dan mengeluarkan rekomendasi
berupa teguran, peringatan keras, atau sanksi moral. Bahkan dapat
merekomendakasikan agar media yang bersangkutan melakukan permohonan
maaf secara terbuka ditambah pemuatan hak jawbn atau penulisan ulang. Upaya
seperti inilah yang pernah dilakukan oleh Laksamana Sukardi ketika berhadapan
dengan beberapa media cetak. Ia membawa perkara ini ke Dewan Pers dan tidak
memilih jalan ke pengadilan.
Bagi insan pers, mengakui kesalahan dengan mengeluarkan pernyataan
permohonan maaf secara terbuka kepada pihak yang merasa telah dirugikan
sesungguhnya sudah merupakan hukuman yang berat. Sebab, hal itu menandakan
tidak akuratnya berita atau karya jurnalitik yang disajikan kepada pembacanya.
Dan jika hal ini berulang kali dilakukan, kredibilitas media dan citra
profesionalitas wartawan (pengelola) media cetak tersebut akan menurun.
Mandat yang diberikan kepada Dewan Pers adalah sepanjang pelanggaran
etika pers (bukan lingkup pelanggaran hukum). Namun demikian, pelanggaran
etika atau kode etik juga dapat diasumsikan sebagai kesalah yang diakibatkan
oleh kelalaian bukan karena (niat) kesengajaan
Namun bila Dewan Pers melihat bukti kuat bahwa ada unsur kesengajaan,
misalnya memfitnah, mencemarkan nama baik, atau menyebarkan kabar bohong,
pihak yang merasa dirugikan bisa saja menggugatnya ke pengadilan. Dalam hal

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 111


ini, Dewan Pers tidak akan ikut campur karena pelanggaran semacam itu telah
masuk dalam lingkup hukum.
UU Pers juga memiliki legal defenses yang melindungi pers dari gugatan
yang tidak cukup beralasan. Bersama dengan Pasal 3 dan 4, Pasal 6 secara detail
menjelaskan peranan pers untuk (a) memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui;
(b) menegakkan nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi
hukum, dan hak asasi manusia, serta menghormati kebinekaan; (c)
mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan
benar; (d) melakukan pengawasan, kritik, koreksi, saran terhadap hal yang
berkaitan dengan kepentingan umum; (e) memperjuangkan keadilan dan
kebenaran.

Penutup:

1. Jelaskan tentang masalah perlindungan Privasi dan Hak Jawab dalam Pers
2. Jelaskan tentang hak Tolak dalam Profesi Wartawan
3. Jelaskan tentang Delik pers
4. Jelaskan mengenai mekanisme penyelesaian sengketa pers.
5. Jelaskan tentang Jurnalisme Verifikasi

Etika Profesi; Menjadi Jurnalis Beretika 112