Anda di halaman 1dari 16

1.

HIGIENE INDUSTRI

Higiene industri adalah Ilmu dan seni yang mencurahkan perhatian pada pengenalan,
evaluasi dan kontrol faktor lingkungan dan stress yang muncul di tempat kerja yang
mungkin menyebabkan kesakitan, gangguan kesehatan dan kesejahteraan atau
menimbulkan ketidaknyamanan pada tenaga kerja maupun lingkungan. Faktor
lingkungan kerja yang dapat menimbulkan bahaya di tempat kerja(occupational health
hazards) adalah bahaya faktor fisika, bahaya faktor kimia, bahaya faktor biologi,faktor
ergonomi dan psikologi.

Bahaya faktor fisika meliputi : kebisingan, pencahayaan, iklim kerja/tekanan panas,


getaran, radiasi dsb. Bahaya faktor bilogi meliputi virus, bakteri, jamur dsb. Bahaya
faktor kimia meliputi debu, Pb, NOx, NH3, CO, dsb.

Agar pekerja bisa nyaman dan produktif perlu upaya untuk meminimalkan bahaya di
tempat kerja. Upaya untuk melakukan pengendalian bahaya tersebut meliputi: eliminasi,
substitusi,isolasi dan rekayasa enginering, upaya administrasi dan menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD)

Selama proses menganalisa seorang Industrial Hygienist melakukan:


• Mengidentifikasi bahaya-bahaya yang mungkin dapat terjadi, permasalahan-
permasalahan kerja serta resikonya. Menganalisa kondisi-kondisi yang dapat
diukur untuk mencari permasalan yang timbul.
• Mengembangkan strategi sampling dan menggunakan peralatan-peralatan
sampling yang dimiliki untuk mengukur seberapa besar sumber bahaya di tempat
kerja.
• Melakukan pengamatan terhadap bagaimana dampak sumber-sumber bahaya
kimia dan fisika dapat mempengaruhi kesehatan pekerja dengan melakukan
pengukuran.
• Membandingkan hasil sampling dengan standart atau petunjuk yang relevan
untuk menentukkan apakah pengontrolan khusus diperlukan.

A. PROSES PRODUKSI
1.Pengertian proses Produksi

Proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya
sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk
memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau
menambah kegunaan barang atau jasa(Assauri,1995).

Proses juga diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produksi itu
dilaksanakan. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan danan menambah
kegunaan (Utility) suatu barang dan jasa. Menurut Ahyari (2002) proses produksi
adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah keguanaan suatu barang dan
jasa dengan menggunakan factor produksi yang ada.

Melihat kedua definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa proses produksi
merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang
atau jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin,
bahan baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia.

2.Jenis-Jenis Proses Produksi


Jenis-jenis proses produksi ada berbagai macam bila ditinjau dari berbagai segi.
Proses produksi dilihat dari wujudnya terbagi menjadi proses kimiawi, proses
perubahan bentuk, proses assembling, proses transportasi dan proses penciptaan
jasa-jasa adminstrasi (Ahyari, 2002). Proses produksi dilihat dari arus atau flow
bahan mentah sampai menjadi produk akhir, terbagi menjadi dua yaitu proses
produksi terus-menerus (Continous processes) dan proses produksi terputus-putus
(Intermettent processes).

Perusahaan menggunakan proses produksi terus-menerus apabila di dalam


perusahaan terdapat urutan-urutan yang pasti sejak dari bahan mentah sampai
proses produksi akhir. Proses produksi terputus-putus apabila tidak terdapat
urutan atau pola yang pasti dari bahan baku sampai dengan menjadi produk akhir
atau urutan selalu berubah(Ahyari,2002).

Penentuan tipe produksi didasarkan pada faktor-faktor seperti:


(1) volume atau jumlah produk yang akan dihasilkan,
(2) kualitas produk yang diisyaratkan,
(3) peralatan yang tersedia untuk melaksanakan proses. Berdasarkan
pertimbangan cermat mengenai faktor-faktor tersebut ditetapkan tipe proses
produksi yang paling cocok untuk setiap situasi produksi. Macam tipe
proses produksi dari berbagai industri dapat dibedakan sebagai berikut
(Yamit,2002):

a.Proses produksi terus-menerus

Proses produksi terus-menerus adalah proses produksi barang atas dasar aliran
produk dari satu operasi ke operasi berikutnya tanpa penumpukan disuatu titik
dalam proses. Pada umumnya industri yang cocok dengan tipe ini adalah yang
memiliki karakteristik yaitu output direncanakan dalam jumlah besar, variasi atau
jenis produk yang dihasilkan rendah dan produk bersifat standar.
b.Proses produksi terputus-putus

Produk diproses dalam kumpulan produk bukan atas dasar aliran terus-menerus
dalam proses produk ini. Perusahaan yang menggunakan tipe ini biasanya
terdapat sekumpulan atau lebih komponen yang akan diproses atau menunggu
untuk diproses, sehingga lebih banyak memerlukan persediaan barang dalam
proses.

c.Proses produksi campuran

Proses produksi ini merupakan penggabungan dari proses produksi terus-menerus


dan terputus-putus. Penggabungan ini digunakan berdasarkan kenyataan bahwa
setiap perusahaan berusaha untuk memanfaatkan kapasitas secara penuh.

B. BAHAN BAKU
Dalam penggunaannya, obat mempunyai berbagai macam bentuk. Semua bentuk
obat mempunyai karakteristik dan tujuan tersendiri. Ada zat yang tidak stabil jika
berada dalam sediaan tablet sehingga harus dalam bentuk kapsul atau ada pula
obat yang dimaksudkan larut dalam usus bukan dalam lambung. Semua
diformulasikan khusus demi tercapainya efek terapi yang diinginkan. Ketikapun
bagi kita yang berpraktek di apotek, maka perlu diperhatikan benar etiket obat
yanbg dibuat. Misalnya tablet dengan kaplet itu berbeda, atau tablet yang harus
dikunyah dulu (seperti obat maag golongan antasida), seharusnyalah etiket obat
memuat instruksi yang singkat namun benar dan jelas. Jangan sampai pasien
menjadi bingung dengan petunjuk etiket obat. Oleh karena itu penting sekali bagi
kita semua untuk mengetahui bentuk sediaan obat.

1.Pulvis(serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan,
ditujukan untuk pemakaian luar.
2.Pulveres
Merupakan serbuk yang dibagi bobot yang kurang lebih sama, dibungkus
menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.Contohnya
adalah puyer

3.Tablet(compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk
tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu
jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.

a.Tablet kempa

paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta penandaannya


tergantungdesaincetakan.

b.Tablet cetak

Dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam lubang
cetakan

c.Tablet trikurat

tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. sudah jarang ditemukan
d.Tablet hipodermik

Dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk
membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral.

e.Tablet sublingual
dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakan tablet di
bawah lidah.

f.Tablet bukal

Digunakandenganmeletakandiantarapipidangusi

g.tablet Effervescent

Tablet larut dalam air. harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan
tahan lembab.Pada etiket tertulis "tidak untuk langsung ditelan"

h.Tablet kunyah

Cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak dirongga mulut,


mudah ditelan,tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak.

4.Pil(pilulae)
Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan
dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena
tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.

5.Kapsul(capsule)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak
yang dapat larut.keuntungan/tujuan sediaan kapsul adalah
:
a. menutupi bau dan rasa yang tidak enak

b .menghindari kontak langsung dengan udara dan sinarmatahari


c. Lebih enak dipandang (memperbaikipenampilan)

d. Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan
pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian
dimasukan bersama serbuk lain kedalam kapsul yang lebih besar.

e. Mudahditelan

6.Kaplet(kapsultablet)
Merupakan sedian padat kompak dibuat secara kempa cetak, bentuknya oval
seperti kapsul.

7.Larutan(solutiones)
Merupakan sedian cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat
larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya,cara peracikan,
atau penggunaannya,tidak dimasukan dalam golongan produk lainnya. Dapat juga
dikatakan sedian cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut,
misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran
pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum)
dan larut antopikal(kulit).

8.Suspensi(suspensiones)
Merupakan sedian cair mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam
fase cair.macam suspensi antara lain:suspensioral(juga termasuk
susu/magma),suspensi topikal(penggunaan pada kulit) suspensitetestelinga(telinga
bagianluar),suspensioptalmik,suspensisirupkering.
9.Emulsi(elmusiones)
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase dalam sistem dispersi, fase
cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya,
umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi.

10.Galenik
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau
tumbuhan yang disari.

11.Ekstrak(extractum)
Merupakan sediaan yang pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari
simplisisa nabati atau simplisia hewani menggunakan zat pelarut yang
sesuai.kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau
serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang
ditetapkan.

12.Infusa
Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati
dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit.

13.Imunoserum(immunosera)
Merupakan sediaan yang mengandung imunoglobulin khas yang diperoleh dari
serum hewan dengan pemurnian. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular
dan mengikut kuman/virus/antigen.

14.Salep(unguenta)
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit
atau selaput lendir. Salep dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang
mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau
terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.

15.Suppositoria
Merupakan sedian padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan
melalui rektal, vagina atau uretra,umumnya meleleh, melunak atau melarut pada
suhu tubuh.Tujuan pengobatan adalah
:
a. Penggunaan lokal -> memudahkan defekasi serta mengobati gatal,iritasi, dan
inflamasi karena hemoroid.

b. Penggunaan sistematik -> aminofilin dan teofilin untuk asma,klorpromazin


untuk anti muntah,kloral hidrat untuk sedatif dan hipnitif,aspirin untuk analgesik
antipiretik.

16.Obat tetes(guttae)

Merupakan sediaan cair berupa larutan,emulsi atau suspensi, dimaksudkan untuk


obat dalam atau obat luar. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan
penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes
baku yang disebutkan farmakope indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa
antara lain : guttae (obat dalam), guttae oris (tetes mulut), guttae auriculares (tetes
telinga), guttae nasales (tetes hidung), guttae opthalmicae (tetes mata).

17.Injeksi(injectiones)
Merupakan sediaan steril berupa larutan,emulsi atau suspensi atau serbuk yang
harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang
disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau
selaput lendir. Tujuannya agar kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien
yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.

C. PENGOLAHAN LIMBAH

1. Limbah padat
Untuk memudahkan mengenal jenis limbah yang akan
dimusnahkan, perlu dilakukan penggolongan limbah. Dalam
kaitan dengan pengelolaan, limbah klinis dikategorikan men-
jadi 5 golongan sebabagi berikut :

Golongan A :
1) Dressing bedah, swab dan semua limbah terkontaminasi
dari kamar bedah.
2) Bahan-bahan kimia dari kasus penyakit infeksi.
3) Seluruh jaringan tubuh manusia (terinfeksi maupun tidak),
bangkai/jaringan hewan dari laboratorium dan hal-hal lain yang
berkaitan dengan swab dan dreesing.

Golongan B :
Syringe bekas, jarum, cartridge, pecahan gelas dan benda-
benda tajam lainnya.

Golongan C :
Limbah dari ruang laboratorium dan postpartum kecuali
yang termasuk dalam golongan A.

Golongan D :
Limbah bahan kimia dan bahan-bahan farmasi tertentu.
Golongan E :
Pelapis Bed-pan Disposable, urinoir, incontinence-pad, dan
stomach.

Pelaksanaan pengelolaan
Dalam pelaksanaan pengelolaan limbah klinis perlu di-
lakukan pemisahan penampungan, pengangkutan, dan penge-
lolaan limbah pendahuluan.

1) Pemisahan

Golongan A

1. Dressing bedah yang kotor, swab dan limbah lain yang


terkontaminasi dari ruang pengobatan hendaknya ditampung
dalam bak penampungan limbah klinis yang mudah dijangkau
bak sampah yang dilengkapi dengan pelapis pada tempat
produksi sampah Kantong plastik tersebut hendaknya diambil
paling sedikit satu hari sekali atau bila sudah mencapai tiga
perempat penuh. Kemudian diikat kuat sebelum diangkut dan
ditampung sementara di bak sampah klinis. Bak sampah
tersebut juga hendaknya diikat dengan kuat bila mencapai tiga
perempat penuh atau sebelum jadwal pengumpulan sampah.
Sampah tersebut kemudian dibuang dengan cara sebagai
berikut :

a) Sampah dari haemodialisis


Sampah hendaknya dimasukkan dengan incinerator. Bisa
juga digunakan autoclaving, tetapi kantung harus dibuka dan
dibuat sedemikian rupa sehingga uap panas bisa menembus
secara efektif.
(Catatan: Autoclaving adalah pemanasan dengan uap di bawah
tekanan dengan tujuan sterilisasi terutama untuk limbah
infeksius).

b) Limbah dari unit lain :


Limbah hendaknya dimusnahkan dengan incinerator. Bila

2. Limbah cair
Limbah rumah sakit mengandung bermacam-macam
mikroorganisme, bahan-bahan organik dan an-organik.
Beberapa contoh fasilitas atau Unit Pengelolaan Limbah
(UPL) di rumah sakit antara lain sebagai berikut:

a) Kolam Stabilisasi Air Limbah (Waste Stabilization Pond


System)

Sistem pengelolaan ini cukup efektif dan efisien kecuali


masalah lahan, karena kolam stabilisasi memerlukan lahan
yang cukup luas; maka biasanya dianjurkan untuk rumah sakit
di luar kota (pedalaman) yang biasanya masih mempunyai
lahan yang cukup.

Sistem ini terdiri dari bagian-bagian yang cukup sederhana


yakni :
1. Pump Swap (pompa air kotor).
2. Stabilization Pond (kolam stabilisasi) 2 buah.
3. Bak Klorinasi
4. Control room (ruang kontrol)
5. Inlet
6. Incinerator antara 2 kolam stabilisasi
7. Outlet dari kolam stabilisasi menuju sistem klorinasi.
b) Kolam oksidasi air limbah (Waste Oxidation Ditch Treat-
ment System)

Sistem ini terpilih untuk pengolahan air limbah rumah


sakit di kota, karena tidak memerlukan lahan yang luas. Kolam
oksidasi dibuat bulat atau elips, dan air limbah dialirkan secara
berputar agar ada kesempatan lebih lama berkontak dengan
oksigen dari udara (aerasi). Kemudian air limbah dialirkan ke
bak sedimentasi untuk mengendapkan benda padat dan lumpur.
Selanjutnya air yang sudah jernih masuk ke bak klorinasi
sebelum dibuang ke selokan umum atau sungai. Sedangkan
lumpur yang mengendap diambil dan dikeringkan pada Sludge
drying bed (tempat pengeringan Lumpur).

Sistem kolam oksidasi ini terdiri dari :

1. Pump Swap (pompa air kotor)


2. Oxidation Ditch (pompa air kotor)
3. Sedimentation Tank (bak pengendapan)
4. Chlorination Tank (bak klorinasi)
5. Sludge Drying Bed ( tempat pengeringan lumpur, biasanya
1-2 petak).
6. Control Room (ruang kontrol)

c) Anaerobic Filter Treatment System


Sistem pengolahan melalui proses pembusukan anaerobik
melalui filter/saringan, air limbah tersebut sebelumnya telah
mengalami pretreatment dengan septic tank (inchaff tank).
Proses anaerobic filter treatment biasanya akan meng-
hasilkan effluent yang mengandung zat-zat asam organik dan
senyawa anorganik yang memerlukan klor lebih banyak untuk
proses oksidasinya. Oleh sebab itu sebelum effluent dialirkan
ke bak klorida ditampung dulu di bak stabilisasi untuk mem-
berikan kesempatan oksidasi zat-zat tersebut di atas, sehingga
akan menurunkan jumlah klorin yang dibutuhkan pada proses
klorinasi nanti.