Anda di halaman 1dari 15

TERAPI RUQYAH TERHADAP PENYAKIT FISIK, JIWA DAN

GANGGUAN JIN

M. Darojat Ariyanto

Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl. Ahmad Yani, Tromol Pos I, Pabelan
Kartasura, Surakarta 57102 Telp (0271) 717417, 719483 (Hunting) Faks. (0271) 715448. website:
http// www.ums.ac.id Email: ums@ums.ac.id

ABSTRAK

Masih ada dalam masyarakat kita yang mempunyai persepsi yang kurang
benar tentang ruqyah, mereka beraganggapan bahwa ruqyah hany digunakan untuk
mengusir jin saja.Dari penelusuran penulis, ternyata ruqyah mempunyai manfaat
untuk beberapa terapi diantaranya, untuk terapi penyakit fisik dan psikis. Secara
medis terapi ruqyah sudah diakui keefektifannya untuk mengobati penyakit fisik
maupun psikis. Terapi ruqyah yang digunakan untuk mengusir jin keefektifannya
tergantung pada keadaan terapis, pasien, dan lingkungan dalam proses terapi.

Kata Kunci: Ruqyah, terapi, penyakit, gangguan jin

Pendahuluan
Ada persepsi di kalangan masyarakat awam bahwa terapi ruqyah adalah terapi
untuk gangguan atau kesurupan jin atau hal-hal yang bersifat gaib. Kesalahan persepsi
tersebut boleh jadi karena sering diadakan ruqyah masal untuk mengusir jin yang ada
di dalam diri manusia. Biasanya sebelum diadakan ruqyah masal, peruqyah memberi
penjelasan-penjelasan tentang ruqyah yang hanya terbatas untuk mengusir jin. Jarang
para peruqyah menjelaskan lebih luas penggunaan metode ruqyah tersebut untuk
penyembuhan fisik dan psikis. Paling-paling peruqyah hanya menjelaskan masalah
ruqyah syar’iyyah dan ruqyah syirkiyyah dan kurang pembahasan secara ilmiah.
Demikian juga beberapa kajian atau pertemuan ilmiah yang membahas ruqyah
masih terbatas membahas metode ruqyah untuk mengusir jin. Biasanya dibahas juga

1
dalam kajian atau pertemuan ilmiah tersebut masalah ruqyah syar’iyyah dan ruqyah
syirkiyyah. Jarang dibahas penggunaan ruqyah untuk penyembuhan lebih luas dan
ilmiah. Pembahasannya biasanya lebih bersifat fiqhiyyah dari pada ilmiah.
Pembahasan yang bersifat fiqhiyyah tidak berarti jelek, tetap bagus, tetapi jika tidak
disertai penjelasan yang bersifat ilmiah metode ruqyah kurang dikomunikasikan
dengan metode kesehatan lainnya yang bersifat ilmiah. Padahal ,menurut penulis,
terapi ruqyah merupakan bagian integral dari kedokteran holistik yang sekarang
dikembangkan di dunia kedokteran.
Oleh karena itu dalam tulisan ini secara singkat akan dibahas penggunaan
metode ruqyah lebih luas cakupannya dan secara singkat dikaitkan dengan penemuan-
penemuan ilmiah di bidang kesehatan baru-baru ini.

Dasar-dasar Terapi Ruqyah


Dasar-dasar terapi ruqyah terdapat di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah.
Dasar-dasar tersebut antara lain:
Di dalam Surat Al Israa’ ayat 82 Allah berfirman:

‫ن‬ ُ ْ ‫ة ل ِل‬
ِ ْ ‫مؤ‬
َ ْ ‫من ِي‬ ٌ ‫م‬
َ ‫ح‬
ْ ‫شَفاءٌ وََر‬
ِ َ‫ماهُو‬َ ‫ن‬ ِ ‫ن ال ُْقْرآ‬ َ ‫م‬
ِ ‫ل‬ ُ ‫وَن ُن َّز‬
.(82 :‫سارا ً )السراء‬ َ ّ ‫ن ا ِل‬
َ ‫خ‬ َ ْ ‫مي‬ ّ ‫وَل َي َزِي ْد ُ ال‬
ِ ِ ‫ظال‬
Dan Kami turunkan Al-Qur’an menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-
orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang
zhalim selain kerugian (S. Al-Israa’: 82).
Di dalam beberapa Hadis disebutkan:

‫ه‬ ُ ْ ‫سو‬
ِ ‫ل الل‬ َ ‫ َقا‬:‫ل‬
ُ ‫ل َر‬ َ ‫ب َقا‬ٍ ِ ‫طال‬َ ‫ي ب ْن ا َِبى‬
ِ ّ ِ ‫ن ع َل‬
ْ َ‫ع‬
‫ن‬
ُ ‫خي ُْر الد َّواِء الُقْرآ‬
َ "‫م‬َ ّ ‫سل‬
َ َ‫صّلى الله ع َل َي ْهِ و‬ َ
.(‫)رواه ابن ماجه‬
Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baik
pengobatan adalah (dengan) Al-Qur’an.” (H. R. Ibnu Majah).

2
‫ه‬
ِ ‫ل الل‬ َ ْ ‫سو‬ُ ‫ت َياَر‬ ُ ْ ‫ قُل‬:‫ل‬ َ ‫مةٍ َقا‬ َ ‫حَزا‬ُ ‫ن ا َِبى‬ْ َ‫ع‬
ً‫داواى ب ِهِ وَت َُقاة‬ ْ َ ‫ت ُرّقى ن‬
َ َ ‫ست َْرقِي َْها وَد ََواًء ن َت‬ َ ْ ‫ا ََرا َي‬
‫ن‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ى‬ َ ‫شْيئا ً فََقا‬
َ ِ‫ل ه‬ َ ِ‫ن قَد ِْرالله‬
ْ ‫م‬ ْ َ‫ ه‬.‫قي َْها‬
ِ ّ ‫ل ت َُرد‬ ِ ّ ‫ن َت‬
.(‫قَد َرِ اللهِ )رواه احمد والترمذى‬
Dari Abi Khuzamah, ia berkata: Aku berkata: Ya Rasulullah! Bagaimana
pendapatmu tentang melafazkan kata-kata doa untuk memohon kesembuhan (ruqyah),
kami bacakan ruqyyah itu dan tentang obat yang kami pergunakan untuk mengobati
penyakit serta tentang kata-kata doa untuk mohon perlindungan/pemeliharaan
(taqiyyah), lalu kami bacakan taqiyyah itu? Tidaklah hal itu berarti menolak taqdir
(ketentuan) Allah? Maka Nabi SAW menjawab: Hal itu juga termasuk taqdir Allah
(H. R. Ahmad dan Turmudzi).

‫صّلى‬ َ ِ‫ل الله‬ ُ ْ ‫سو‬ُ ‫ت َر‬ُ ْ‫مع‬


ِ ‫س‬
َ ‫ل‬ َ ‫ن ا َِبى الد ّْرَداِء َقا‬ ْ َ‫ع‬
ً ‫شْيئا‬
َ ‫م‬ْ ُ ‫من ْك‬
ِ ‫كى‬ َ َ ‫شت‬
ْ ‫نا‬ َ ّ ‫سل‬
ُ ْ‫م ي َُقو‬ َ َ‫الله ع َل َي ْهِ و‬
ِ ‫م‬
َ :‫ل‬
‫ه ال ّذ ِىْ ِفى‬ َ ‫ َرب َّناالل‬:‫ل‬ ْ ‫ه فَل ْي َُق‬
ُ َ‫خ ل‬
ٌ َ ‫كاه ُ ا‬
َ َ ‫شت‬ ْ ‫ا َوِ ا‬
ْ ْ َ ‫ك وَا‬
ِ ‫مآِء وَال َْر‬
‫ض‬ َ ‫س‬ ّ ‫ك ِفىال‬ َ ‫مُر‬ َ ‫م‬ ُ ‫س‬ ْ ‫سا‬ َ ّ ‫مآِء ت ََقد‬ َ ‫س‬ّ ‫ال‬
‫ض‬ ‫ر‬
ْ َ ‫ل‬ ْ ‫ك ِفىا‬
َ َ ‫مت‬َ ‫ح‬
ْ ‫ل َر‬ْ َ‫جع‬ ْ ‫مآِء َفا‬ َ ‫س‬ ّ ‫ك ِفى ال‬ َ ُ ‫مت‬َ ‫ح‬ْ ‫ماَر‬َ َ‫ك‬
ِ
ْ ِ‫ن ا َن ْز‬
‫ل‬ َ ْ ‫ب الط ّي ّب ِي‬ ّ ‫ت َر‬ َ ْ ‫طاَياَنا ا َن‬
َ ‫خ‬ َ َ‫فْرل ََناذ ُن ُوْب ََناو‬ِ ْ ‫َواغ‬
َ ‫ك ع ََلى هذ‬ َ ‫ع‬ِ ‫شَفا‬ِ ‫ن‬ ْ ‫م‬ِ ‫شَفاًء‬ ِ َ‫ك و‬ َ ِ ‫عن ْد‬ ِ ‫ن‬ ْ ‫م‬
ِ ‫ة‬ ً ‫م‬َ ‫ح‬ْ ‫َر‬
.(‫ن اللهِ )رواه ابوداود‬ ْ ‫ذ‬ِ ‫ا‬ ‫ب‬ َ ‫ال ْوجع فَيبرأ‬
ِ ِ ََْ ِ ْ َ
Dari Abi Dardaa’, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda:
Barangsiapa di antara kamu mengadukan (kepada Allah) tentang sesuatu atau
saudaranya yang mengadukan (kepada Allah) tentang sesuatu (penyakit), maka
hendaklah dia mengucapkan (doa): Ya Tuhan kami, Allah yang berada di langit!

3
Maha Suci nama-Mu. Perintah-Mu lah yang (berlaku) di langit dan bumi.
Sebagaimana rahmat-Mu di langit, maka jadikanlah rahmat-Mu di bumi. Ampunilah
dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kami. Engkau-lah Tuhan seluruh orang-orang
yang baik (sehat). Turunkanlah rahmat dan kesembuhan dari sisi-Mu terhadap
penyakit ini. Maka penyakit akan sembuh dengan izin Alah (H.R. Abu Dawud).

ِ‫ل ع َل َي ْه‬ َ ْ ‫جب ْرِي‬


ِ ‫ن‬ ّ َ‫ل ا‬ ُ ْ ‫سعِي ْد ِ ال‬
َ ‫خذ ْرِيّ َقا‬ َ ‫ن ا َِبى‬ْ َ‫ع‬
َ ‫م فََقا‬
‫ل‬ َ ّ ‫سل‬َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
ُ ‫صّلى الل‬َ ‫ى‬ َ ُ ِ ‫سل‬
ّ ِ ‫م اَتى الن ّب‬ ّ ‫ال‬
ِ‫ل ع َل َي ْه‬ُ ْ ‫جب ْرِي‬ ِ ‫ل‬ َ ‫فََقا‬ .‫م‬
ْ َ‫ ن َع‬:‫ل‬ َ ‫ت؟ َقا‬ َ ْ ‫شت َك َي‬ْ َ ‫مد ٌ ا‬ّ ‫ح‬َ ‫م‬ُ ‫َيا‬
َ ْ ‫ل َداٍء ي ُؤ ْذ ِي‬
‫ك‬ ّ ُ‫ك‬ ‫ن‬
ْ ‫م‬ِ ‫ك‬ َ ْ ‫سم ِ اللهِ ا َْرقِي‬ ْ ‫م ِبا‬ ُ َ ‫سل‬ ّ ‫ال‬
َ ْ ‫في‬
‫ك‬ ِ ‫ش‬ ُ ‫سد ٍ َالل‬
ْ َ‫ه ي‬ ِ ‫حا‬َ ‫ن‬ َ
ٍ ْ ‫س اوْ ع َي‬
ٍ ‫ل ن َْف‬ّ ُ ‫شّر ك‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م‬ِ َ‫و‬
.(‫ك )رواه مسلم‬ َ ْ ‫سم ِ اللهِ ا َْرقِي‬ ْ ‫ِبا‬
Dari Abi Sa’id Al Khudri, ia berkata: Bahwasanya Jibril ‘Alaihis Salam
datang kepada Nabi SAW, lalu berkata: ‘Ya Muhammad! Sakitkah engkau?’ Nabi
berkata: ‘Ya.’ Maka Jibril AS. berkata: ‘Dengan nama Allah, aku mohonkan ruqyah
untukmu dari setiap penyakit yang menimpamu dan juga dari setiap jiwa maupun
mata orang yang dengki. Allah akan menyembuhkan engkau. Dengan nama Allah,
aku akan melakukan ruqyah untukmu.’ (H. R. Muslim).

Terapi Ruqyah
Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah terapi ruqyah merupakan terapi dengan
melafatkan doa baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah untuk menyembuhkan suatu
penyakit (Agil, 1994: 41). Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah terapi ruqyah tidak
terbatas pada gangguan jin, tetapi juga mencakup terapi fisik dan gangguan jiwa.
Terapi ruqyah, menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, merupakan salah satu
metode penyembuhan yang digunakan oleh Rasulullah saw. Di samping metode
ruqyah Rasulullah saw. juga menggunakan metode pembekaman, pemanasan,
makanan, minuman, harum-haruman, lingkungan, dsb. (Agil, 1994: 2-22).

4
Terapi ruqyah ini secara syariat dibagai menjadi dua, yaitu Ruqyah Syar’iyyah
dan Ruqyah Syirkiyyah. Ruqyah Syar’iyyah mempunyai tiga syarat. Pertama,
menggunakan ayat-ayat Al Qur’an atau Hadis dengan tanpa mengubah susunan
kalimatnya. Kedua, menggunakan bahasa Arab yang fasih, dibaca denagn jelas,
sehingga tidak berubah dari makna aslinya. Ketiga, meyakini bahwa bacaan ayat-ayat
Al Quran dan Hadis tersebut hanyalah merupakan sarana atau wasilah untuk
penyembuhan, sedangkan yang menyembuhkan pada hakikatnya adalah Allah SWT
sendiri. Oleh karena hendaklah memperbagus sarana tersebut sehingga dapat lebih
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun Ruqyah yang Syirkiyyah adalah ruqyah
dengan memohon bantuan kepada selain Allah atau memohon kepada Allah sekaligus
juga memohon kepada yang lain. Bacaannya pun tidak pernah diajarkan oleh
Rasulullah dan para sahabatnya, meskipun kadang-kadang caranya mirip dengan
ruqyah syar’iyyah (Bishri, 2005: 21-22). Misalnya Al Quran dibaca dari huruf yang
terakhir (dibolak balik), atau membaca mantra-mantra dengan mengagungkan syetan
atau jampi-jampi buatan seseorang dengan bahasa tertentu (Majalah Ghaib,
No.3/Tahun 1/ 2003: 45).

Terapi Ruqyah untuk Penyakit Fisik


Ada beberapa contoh ruqyah untuk pengobatan fisik yang dilakukan oleh
Rasulullah saw. Misalnya ruqyah untuk menyembuhkan sengatan kalajengking.
Sebagaimana disebutkan di dalam Hadis sbb:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syuaibah dalam Musnad-nya dari Hadis Abdullah
bin Mas’ud , ia menceritakan:

َ ‫ فَل َد‬:‫د‬
َ ‫ج‬َ ‫س‬َ ْ ‫ ا ِذ‬,‫صّلى‬
َ ُ ‫ل الله صلعم ي‬ ُ ْ ‫سو‬
ُ ‫ب َي َْناَر‬
‫ل الله‬ ُ ْ ‫سو‬ُ ‫ف َر‬ َ ْ ‫ َفان‬,‫ه‬
َ ‫صَر‬ ِ ِ‫صب ِع‬
ْ ِ ‫ب ِفى ا‬ ٌ ‫ه ع َْقَر‬ ُ ْ ‫غ َت‬
َ ‫مات َد ْع ُ ن َب ِي ّا ً وَل‬ َ :‫ب‬ َ ‫ن الله ال ْعَْقَر‬ َ َ‫ ل َع‬:‫ل‬ َ ‫ وََقا‬,‫صلعم‬
َ َ‫جع‬
‫ل‬ َ َ‫ ف‬,‫ح‬ ٌ ْ ‫مل‬ ِ َ‫ماٌء و‬ َ ِ‫عا ِباِءَنافِي ْه‬ َ َ‫م د‬ ّ ُ ‫ ث‬:‫ل‬ َ َ ‫ قا‬.‫ه‬ُ ‫غ َي َْر‬
ْ ُ‫ َويْقَرأ ُ ق‬,‫مل ِْح‬
‫ل‬ ِ ْ ‫ماِء وَ ال‬ َ ْ ‫ضعَ الل ّد ْغ َةِ ِفى ال‬ ِ ْ‫مو‬ َ ُ‫ضع‬َ َ‫ي‬
.‫ت‬ ‫ن‬َ ‫ك‬ ‫س‬ ‫تى‬ ‫ح‬ .‫ن‬ ‫ي‬ ‫ت‬َ ‫ذ‬ ‫و‬ ‫ع‬‫م‬ ْ ‫ل‬ ‫وا‬ ,‫د‬ ‫ح‬ َ ‫هُو الله أ‬
ْ َ َ ّ َ ِ ْ َ َ
ّ ُ َ ٌ َ َ
5
Ketika Rasulullah SAW shalat, pada saat beliau berujud, tiba-tiba seekor
kalajengking menyengat jari tangannya. Maka Rasulullah keluar dan berkata: Semoga
Allah melaknat kalajengking. Kalajengking tidak membeda-bedakan antara seorang
nabi dengan yang lainnya. Kemudian Rasulullah menyuruh diambilkan air dan garam,
lalu bagian yang disengat kalajengking tersebut direndam dengan air garam itu sambil
membaca Qul huwallahu ahad dan muawwidzatain sehingga rasa sakitnya reda.
Selanjutnya diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, dari Utsman bin Abil
Ash diceritakan bahwa ia pernah datang menemui Rasulullah menceritakan sakit yang
diseritanya di bagian tubuhnya semenjak ia masuk Islam. Maka Nabi SAW bersabda:
“Letakkanlah tanganmu di atas bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkan
bismillah tiga kali, dan ucapkanlah doa berikut sebanyak tujuh kali:
َ ‫شر ما أ‬
َ ُ ُ َ‫أ‬
ُ ‫جد‬
ِ َ ّ ‫ن‬
ْ ‫م‬
ِ ,‫ه‬
ِ ِ ‫ت‬‫ر‬َ ْ ‫د‬ ‫ق‬ َ ‫و‬ ِ ‫ه‬ ‫الل‬ ِ ‫ة‬‫ز‬ّ ِ ‫ع‬ ‫ب‬
ِ ْ ‫ذ‬ ‫و‬ُ ‫ع‬
‫حاذ ُِر‬ ُ
َ ‫وَأ‬
“Aku berlindung dengan kemuliaan dan kekuasaan Allah dari keburukan apa
yang kudapati dan kukhawatirkan akan terjadi.”
Menurut Ibnul Qayyim Al –Jauziyah terapi ruqyah ini mengandung beberapa
hal, antara lain menyebut nama Allah, menyerahkan urusan kepada-Nya, memohon
perlindungan dengan kemuliaan dan kekuasaan-Nya dari bahaya rasa sakit. Semua
cara ini dapat menghilangkan rasa sakit, lalu diulang-ulang agar lebih manjur dan
lebih mengena. Sama halnya dengan meminum obat yang juga harus berulangkali
agar dapat mengeluarkan materi penyakit. Bilangan tujuh kali itu mengandung
keistimewaan (Abu Umar, 2005: 225-226).
Di dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi SAW
apabila menjenguk keluarganya yang sedang sakit,beliau mengusap tubuhnya dengan
tangan kanan beliau sambil berkta:

‫ت‬ ‫ن‬َ ‫شف أ‬ ْ ‫وا‬ :‫س‬ ْ ‫ أ َذ ْهب ال ْبأ‬,‫َالل ّهم رب الناس‬


َ ْ ِ َ َ َ ِ ِ ِ ّ ّ َ ّ ُ
‫شَفاًء ل َي َُغاد ُِر‬
ِ ,‫ك‬ َ ُ ‫شَفاؤ‬
ِ ّ ‫شَفاَء ا ِل‬
ِ َ ‫ ل‬,‫شاِفى‬
ّ ‫ال‬
.‫سَقمًا‬
َ

6
Ya Allah, Rabb dari sekalian manusia! Lenyapkanlah rasa sakitnya, berikanlah
kepadanya kesembuhan karena Engkau adalah Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada
kesembuhan melainkan karena pertolongan-Mu; kesembuhan yang tidak diiringi
dengan sakit lain.
Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah ruqyah ini mengandung unsur tawassul
kepada Allah melalui kesempurnaan rububiyah dan rahmat-Nya yang memberi
kesembuhan. Karena memang Allah satu-satunya yang dapat memberikan
kesembuhan. Sesungguhnya kesembuhan itu berasal dari-Nya. Oleh karena itu ruqyah
ini sudah mengandung tawassul kepada Allah melalui tauhid, ihsan dan keyakinan
terhadap Rububiyah Allah (Abu Umar, 2005: 225-226).
Terapi ruqyah dengan membaca ayat-ayat atau doa dari Al Qur’an dan As
Sunnah telah banyak dipraktekkan dalam penyembuhan penyakit fisik. Di Indonesia
misalnya dilakukan oleh Ustadz Haryono dengan membaca Al Fatihah dan ayat-ayat
maupun do’a dari Al Qur’an dan As Sunnah. Kurang lebih sembilan juta pasien
pernah ditanganinya (Damarhuda, 2005: 1-2, 52). Berdasarkan berbagai kesaksian,
banyak dari pasiennya mengalami kemajuan dalam kesehatannya maupun
memperoleh kesembuhan. Demikian juga beberapa Pondok Pesantren, Yayasan Islam,
Kyai, Ustadz, dan banyak orang Islam secara individu maupun kelompok telah
mempraktekkan ruqyah untuk penyakit fisik.
Secara medis terapi ruqyah dalam arti membacakan ayat-ayat atau doa-doa
dari Al Qur’an maupun As Sunnah mempunyai pengaruh dalam penyembuhan fisik.
Sebanding dengan terapi ruqyah, terapi doa telah diteliti keefektifannya dalam
penyembuhan fisik.
Dr. Dossey, dokter lulusan Universitas di Texas, menjelaskan bahwa setelah ia
mengumpulkan beberapa penelitian tentang terapi doa, dia menjelaskan bahwa
ternyata doa dapat mengendalikan sel-sel kanker, sel-sel pemacu, sel-sel darah merah,
enzim, bakteri, jamur, dan sebagainya (T. Hemaya, 1997: 171-172). Senada dengan
Dr. Dossey, William G. Braud, direktur riset di Institute of Transpersonal Psychology
di Palo Alto, melaporkan bahwa manusia mampu mempengaruhi secara mental dan
dari jarak jauh, berbagai sasaran biologis misalnya bakteri, koloni ragi, motile algae
(semacam tumbuhan), tanaman, protozoa, larva, woodlice (semacam kutu kayu),
semut, anak ayam, tikus, kucing, anjing, juga preparat sel (sel darah, neuron, sel
kanker) dan kegiatan enzim. Pada sasaran manusia, misalnya mempengaruhi gerakan
mata, gerakan motorik, kegiatan elektrodermal, kegiatan pletismografik, pernafasan,

7
dan irama otak (Saputra, 2003: 306). Hal ini menunjukkan bahwa doa atau kegiatan
pikiran manusia dapat mempengaruhi makhluk, termasuk kesehatannya.
Selanjutnya Dr. Dadang Hawari menyatakan bahwa suatu studi terhadap 393
pasien jantung di San Fransisco menunjukkan bahwa kelompok pasien yang terapinya
ditambah dengan terapi doa sedikit sekali yang mengalami komplikasi, sedang yang
tidak menggunakan terapi doa banyak menimbulkan komplikasi dari penyakit
jantungnya (Hawari, 1997: 8). Berikutnya dr. H. Tb. Erwin Kusuma Sp Kj, seorang
spesialis kedokteran jiwa di klinik Prorevital, menyatakan bahwa air yang telah diberi
doa akan berubah struktur molekunya dan dapat digunakan sebagai obat (Intisari,
2002: 61-64). Senada dengan pendapat dr. H. Tb.Erwin di atas, sebuah penelitiandi
Jepang yang dilakukan oleh Dr. Emoto menunjukkan bahwa struktur molekul air akan
berubah bila diberi kata-kata atau suara. Ia kemudian menjelaskan bahwa tubuh
manusia kurang-lebih 70 persennya adalah air, maka akan ada perubahan bila diberi
kata-kata, suara, atau doa (Bambang, 2006: 14-19). Perubahan struktur air di dalam
tubuh ini mempengaruhi tingkat kesehatannya.
Beberapa penelitian tentang efek doa terhadap kesehatan di atas, secara tidak
langsung, membuktikan bahwa terapi ruqyah, doa dari Al Qur’an dan As Sunnah,
mempengaruhi terhadap penyembuhan sakit fisik.

Terapi Ruqyah untuk Gangguan Jiwa


Adapun terapi ruqyah untuk gangguan jiwa disebutkan di dalam beberapa
hadis berikut:
Di dalam Sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih melalui Kharijah Ibnush
Shilt, dari pamannya yang menceritakan:

,‫م‬ َ ّ ‫سل‬
َ َ‫صّلى الله ع َل َي ْهِ و‬ َ ‫ى‬ ّ ِ ‫ت الن ّب‬ ُ ْ ‫ا َت َي‬
‫م‬
ْ ُ‫عن ْد َ ه‬ ِ ٍ ‫ت ع ََلى قَوْم‬ ُ ‫مَرْر‬ َ َ‫ت ف‬ ُ ْ‫جع‬َ ‫م َر‬ ّ ُ ‫ ث‬,‫ت‬ُ ‫م‬ ْ َ ‫سل‬ ْ َ ‫فَا‬
‫حد ّث َْنا‬ ُ ُ ‫ل ا َهْل‬
ُ ‫ه ا ِّنا‬ َ ‫ فََقا‬,‫د‬ ِ ْ ‫حد ِي‬َ ْ ‫موْث َقٌ ِبال‬ُ ‫ن‬ ٌ ْ‫جن ُو‬ْ ‫م‬َ ‫ل‬ ٌ ‫ج‬ ُ ‫َر‬
‫يٌء‬
ْ ‫ش‬َ ‫ك‬ َ َ ‫عن ْد‬
ِ ‫ل‬ ْ َ‫ فَه‬,‫ر‬ٍ ْ ‫خي‬
َ ِ ‫جاَء ب‬َ ْ ‫ذا قَد‬ َ ‫كه‬ َ َ ‫حب‬
ِ ‫صا‬َ ‫ن‬ ّ َ‫ا‬
‫ فَا َع ْط َوِْنى‬,‫ فَب ََرَأ‬,‫ب‬
ِ ‫حةِ ال ْك َِتا‬ ُ ُ ‫ه؟ فََرقَي ْت‬
َ ِ ‫ه ب َِفات‬ ِ ْ ‫داوِي‬
َ ُ‫ت‬

8
َ ّ ‫سل‬
‫م‬ َ َ‫صّلى الله ع َل َي ْهِ و‬ َ ‫ى‬ ّ ِ ‫ت الن ّب‬ُ ْ ‫ فَا َت َي‬,‫ة‬
ٍ ‫شا‬َ ‫ة‬ َ َ ‫مائ‬ِ
َ ْ ‫ل قُل‬
‫ت‬ ْ َ‫ ه‬:‫ة‬ َ ‫ل ا ِل ّ ه‬
ٍ َ ‫ذا وَِفى رَِواي‬ ْ َ‫ل ه‬ َ ‫ه فََقا‬ ُ ُ ‫خب َْرت‬ْ َ ‫فَا‬
‫ن‬ َ َ ‫رى ل‬
ْ ‫م‬ ِ ‫م‬ْ َ‫ها فَل َع‬
َ ْ ‫خذ‬ُ :‫ل‬ َ ‫ َقا‬,‫ل‬ َ ,‫ت‬ ُ ْ ‫ذا؟ قُل‬ َ ‫غ َي َْر ه‬
.‫ق‬
ّ ‫ح‬َ ِ‫ت ب ُِرقْي َة‬ َ ْ ‫ل ََقد ْ ا َك َل‬,‫ل‬ َ َ ‫ا َك‬
ٍ ِ ‫ل ب ُِرقْي َةِ َباط‬
Aku datang kepada Nabi saw. dan masuk Islam, kemudian aku pulang. Aku
bertemu dengan suatu kaum, di antara mereka terdapat seorang laki-laki gila dalam
keadaan diikat dengan belenggu besi. Lalu keluarganya berkata, “Sesungguhnya kami
mendapat berita bahwa temanmu itu (Nabi saw.) telah datang dengan membawa
kebaikan, apakah engkau punya sesuatu untuk mengobatinya?” Aku meruqyahnya
dengan bacaan Fatihatul Kitab, ternyata ia sembuh, lalu mereka (keluarga si sakit)
memberikan seratus ekor kambing. Aku datang kepada Nabi saw. dan menceritakan
hal itu kepadanya, lalu beliau bersabda, “Apakah hanya ini (yang engkau ucapkan)?”
Menurut riwayat yang lain disebutkan, “Apakah engkau mengucapkan selain itu?”
Aku menjawab, “Tidak.” Beliau saw. bersabda, “Ambillah ternak itu. Demi umurku,
sesungguhnya orang yang memakan dari hasil ruqyah batil (tidak boleh tetapi engkau
memakan dari ruqyah yang benar.”
Selanjutnya disebutkan juga di dalam hadis riwayat Abu Dawud. Di dalam
hadis tersebut Abu Dawud mengatakan bahwa dia mengetengahkannya melalui
Kharijah, dari pamannya yang menceritakan:

‫م‬َ ّ ‫سل‬
َ َ‫صّلى الله ع َل َي ْهِ و‬ َ ‫ى‬ ّ ِ ‫عن ْد ِ الن ّب‬
ِ ‫ن‬ ِ ‫ا َقْب َل َْنا‬
ْ ‫م‬
ْ ُ ‫عن ْد َك‬
,‫م د ََواٌء‬ ْ ُ ‫ب فََقال‬
ِ :‫وا‬ ِ ‫ن ال ْعََر‬ َ ‫م‬ِ ‫ي‬ َ ‫فَا َت َي َْنا ع ََلى‬
ّ ‫ح‬
ِ‫معْت ُوْه‬ َ ْ ‫جاؤ ُْواِبال‬ َ َ‫وها ً ِفى ال ُْقي ُوْد ِ ف‬ ْ ُ ‫معْت‬
َ ‫عن ْد ََنا‬ ّ ِ ‫فَا‬
ِ ‫ن‬
‫م‬‫يا‬ َ‫ة ا‬
َ َ َ
‫ث‬ ‫ل‬ َ ‫ث‬ ‫ب‬ ‫تا‬ ‫ك‬ْ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ة‬
َ ‫ح‬ ِ ‫ت‬ َ
‫فا‬ ‫ه‬ ‫ي‬َ ‫ل‬َ ‫ع‬ ‫ت‬ ْ ‫فى ال ُْقيود فََقرأ‬
ٍ ّ ِ َ ِ َ ِ ْ ُ َ ِ ْ ُ ِ
ُ ‫م ا َت ُْف‬
‫ل‬ ّ ُ ‫معُ ب َُزاِقى ث‬ َ ‫ج‬ْ َ ‫ ا‬,‫ة‬ً ّ ‫شي‬ِ َ ‫غ ُد ْوَة ً وَع‬
‫ت‬ ْ ‫ل‬ ‫ق‬
ُ َ ‫ف‬ ً ‫ل‬ ‫ع‬ ‫ج‬ ‫نى‬ ‫و‬َ ‫ط‬ ‫ع‬َ ‫ا‬َ ‫ف‬ ‫ل‬ ‫قا‬
َ ‫ع‬ ‫ن‬ ‫م‬ َ
‫ط‬ ‫ش‬ ‫ن‬‫ما‬ ‫ن‬َ ‫فَك َأ‬
ُ ْ ُ ِ ْ ْ ٍ ِ ْ ِ ِ َ َ ّ

9
‫م‬َ ّ ‫سل‬
َ َ‫صّلى الله ع َل َي ْهِ و‬ َ ‫ى‬ ّ ِ ‫ل الن ّب‬ِ ‫س‬ َ ‫وا‬ ْ ُ ‫ل َفََقال‬
َ َ ‫ن ا َك‬ َ ْ َ ‫فَسأ‬
ِ َ ‫ل ب ُِرقْي‬
‫ة‬ ْ ‫م‬
َ ‫رى‬ِ ‫م‬
ْ َ ‫ع‬ ‫ل‬َ ‫ف‬ ْ
‫ل‬ ُ ‫ق‬ َ
:‫ل‬ ‫قا‬
َ َ ‫ف‬ ‫ه‬
ُ ُ ‫ت‬ ‫ل‬ َ
.‫ق‬
ّ ‫ح‬ َ ْ ‫ل ل ََقد ْ ا َك َل‬
َ ِ‫ت ب ُِرقْي َة‬ ٍ ِ ‫َباط‬
Kami kembali (pulang) dari sisi Nabi saw., lalu kami sampai pada suatu kabilah
orang Badui. Mereka berkata, “Apakah kalian memiliki obat penawar, karena
sesungguhnya di kalangan kami ada seorang yang gila dibelenggu dengan rantai.”
Lalu mereka mendatangkan orang gila tersebut dalam keadaan terbelenggu. Maka aku
membacakan kepadanya Fatihatul Kitab selama tiga hari setiap pagi dan petang. Aku
menghimpun ludahku, lalu kuludahkan kepadanya sehingga si gila tersebut seakan-
akan baru lepas dari ikatannya (sembuh), lalu mereka memberiku upah. Tetapi aku
berkata, “Jangan.” Mereka berkata, “ Tanyakanlah dahulu kepada Nabi saw.” Aku
bertanya kepada Nabi saw. dan beliau bersabda, “Makanlah demi umurku, barang
siapa yang memakan (dari hasil) ruqyah yang batil (hukumnya haram), sesunguhnya
engkau makan dari ruqyah yang benar.”
Terapi ruqyah untuk gangguan jiwa ini telah dipraktekkan di beberapa pesantren
di Indonesia. Misalnya di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (Praja, 1995: 61-
63), Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqien Yogyakarta, Pondok Pesantren Al
Ghafur Situbondo (Rendra, 2000: 219), Pondok Pesantren Al Islamy, Kulon Progo,
Yogyakarta (Setyanto, 2005: 55-58), dan di beberapa Pondok Pesantren maupun
Yayasan Islam lainnya.

Secara medis metode ruqyah dalam arti membacakan ayat-ayat atau doa-doa
yang terdapat di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah, sudah dapat diterima
keefektifannya dalam terapi gangguan jiwa.
Beberapa penerapan terapi doa, senada dengan ruqyah (doa dari Al Qur’an dan
As Sunnah) yang dilakukan pada terapi gangguan jiwa di berbagai tempat telah
membantu penyembuhan para penderita gangguan jiwa. Misalnya Dr. Dossey , dokter
lulusan Universitas di Texas, menjelaskan bahwa hasil penelitian di Universitas
Redland, California menunjukkan bahwa doa mempunyai pengaruh terhadap
penyembuhan gangguan jiwa (T. Hemaya, 1997: 171-172). Selanjutnya hasil
penelitian Snyderman (1996) menyatakan bahwa terapi medik saja tanpa disertai
dengan agama (berdoa dan berzikir) tidaklah lengkap, sebaliknya terapi agama saja

10
tanpa disertai dengan terapi medik tidaklah efektif (Hawari, 2002: 24). Suatu
organisasi yang bernama Pastoral and Humanization Service telah memberikan
pelayanan kesehatan jiwa agama ke rumah-rumah sakit dalam bentuk rawatan rohani
pada penderita yang selama ini hanya menerima rawatan medik psikiatrik saja.
Ternyata metode integrasi ini membawa hasil yang lebih baik, yaitu gejala-gejala
gangguan jiwa lebih cepat teratasi dan lamanya perawatan di rumah sakit jiwa (long
stay hospitalization) dapat diperpendek (Hawari, 2002: 50).
Berdasarkan beberapa penelitian tentang pengaruh do’a terhadap penyembuhan
gangguan jiwa di atas, secara tidak langsung membuktikan bahwa terapi ruqyah,
dengan menggunakan doa dari Al Qur’an dan As Sunnah, mempunyai pengaruh
terhadap penyembuhan gangguan kejiwaan.

Terapi Ruqyah untuk Gangguan Jin


Gangguan Jin merupakan fenomena penyakit yang khas, meskipun biasanya
mempunyai gejala yang hampir sama dengan penyakit fisik dan psikis. Biasanya baru
diketahui setelah berbagai macam pengobatan fisik dan psikis gagal mengatasinya.
Misalnya pasien sudah diobati dengan berbagai obat fisik, tetapi tidak ada
pengaruhnya dan sakitnya tetap tidak berkurang. Demikian juga pasien sudah diberi
berbagai obat psikis, misalnya obat penenang, tetapi pasien tetap tidak bisa tidur dan
tetap agresif maupun menutup diri dalam jangka waktu lama. Tetapi kadang-kadang
cepat diketahui oleh orang yang berpengalaman dalam meruqyah gangguan jin,
karena ada tanda-tanda khusus yang tampak (misalnya pandangan mata maupun
pancaran energinya yang dapat dirasakan). Tetapi yang paling jelas adalah reaksi si
pasien setelah dibacakan ayat-ayat Al Qur’an maupun doa-doa dari Al Qur’an dan As
Sunnah. Biasanya ada reaksi geliatan tubuh, mimik takut atau marah, teriakan-
teriakan, dan sebagainya.
Berkaitan dengan fenomena di atas, maka terapi ruqyah terhadap gangguan jin
perlu dilakukan. Ali bin Muhammad bin Mahdi al Qarni dan Syek Abdul Aziz bin
Abdullah bin Baaz secara garis besar menjelaskan proses terapi ruqyah terhadap
gangguan jin sebagai berikut:
1. Pada Tahap Persiapan
a. Bagi terapis :
1) Mempunyai akidah yang bersih dan murni dan direalisasikannya dalam ucapan dan
perbuatan.

11
2) Ia yakin bahwa firman Allah mempunyai pengaruh yang dahsyat untuk mengusir
jin dan setan atas izin Allah SWT.
3) Mengetahui seluk beluk tentang jin.
4) Mengetahui pintu-pintu atau peluang-peluang masuknya jin.
5) Mengetahui perbuatan-perbuatan haram yang menyebabkan masuknya setan.
6)Biasa berdzikir kepada Allah SWT.
7) Beniat ikhlash ketika mengobati.
8) Sebelum mengobati hendaknya ia dan pasien berwudlu terlebih dahulu.
9)Memohon bantuan kepada Allah SWT dalam mengusir jin.
10)Menjauhkan tempat pengobatan dari lagu-lagu, musik, gambar-gambar yang
menjurus pada maksiyat, situasi yang menjurus maksiyat, anjing di rumah, dsb.

b.. Bagi Pasien.


1) Si pasien dan keluarga diberi pengetahuan dan nasihat-nasihat tentang aqidah Islam
yang benar dan murni sehingga hatinya terlepas dari ketergantungan selain Allah
SWT.
2) Dijelaskan pada pasien perbedaan pengobatan ruqyah dengan pengobatan ahli sihir
dan dukun, serta dijelaskan pada pasien bahwa Al Quran mengandung obat dan
rahmat bagi orang yang beriman.
3) Jika pasien memakai azimat hendaknya dibuang dan dibakar.
4) Jika pasien tersebut seorang wanita, hendaknya tertutup auratnya, disertai seorang
mahram, dan orang lain selain mahramnya dilarang masuk ke tempat pengobatan.
2. Pada tahap pengobatan
Pada tahap ini terapis membaca Surat atau ayat-ayat yang dapat mengusir jin,
misalnya: Al Fatihah, Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas, ayat Kursi, tiga ayat terakhir
dari Surat Al Baqarah, dsb.

3. Pasca Pengobatan.
a. Si pasien hendaknya menjaga shalat berjamaah.
b. Si pasien senantiasa berdzikir kepada Allah SWT.
c. Si pasien beberapa hari atau minggu setelah pengobatan kembali lagi pada terapis
untuk dibacakan ayat-ayat Al Qur’an kembali.
d. Si pasien hendaknya selalu membaca basmalah setiap saat dan kesempatan.

12
e. Si pasien aktif mendengarkan bacaan Al Quran atau membacanya sendiri (Ali,
1999: 80-86).
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa terapi ruqyah tidak hanya
digunakan untuk terapi gangguan jin sebagaimana difahami orang, tetapi dapat juga
digunakan untuk penyembuhan sakit fisik maupun psikis. Secara medis terapi ruqyah
dapat diterima keefektifannya dalam penymbuhan fisik maupun psikis.

Penutup
Terapi ruqyah merupakan salah satu terapi yang digunakan Rasulullah SAW
dari beberap terapi yang lain dalam mengobati penyakit. Terapi ruqyah tidak hanya
digunakan untuk mengusir jin, tetapi juga untuk terapi penyakit fisik dan psikis.
Secara medis terapi ruqyah sudah diakui keefektifannya untuk mengobati penyakit
fisik maupun psikis. Terapi ruqyah yang digunakan untuk mengusir jin keefektifannya
tergantung pada keadaan terapis, pasien, dan lingkungan dalam proses terapi.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

13
Abu Umar Basyir Al-Maidani (trans.). Metode Pengobatan Nabi SAW. Jakarta: Griya
Ilmu, 2005.

Bambang Trim dan Deny Riana (ed.). The True Power of Water Hikmah Air dalam
Olahjiwa. Bandung: MQ Publishing, 2006.

Bishri, Hasan. 53 Penjelasan Lengkap tentang Ruqyah Terapi Gangguan Sihir dan
Jin Sesuai Syariat Islam. Jakarta: Ghaib Pustaka, 2005.

Damarhuda dan Imawan Mashuri. Zikir Penyembuhan ala Ustadz Haryono. Malang:
Pustaka Zikir, 2005.

Hawari, Dadang. Do’a dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis. Jakarta: PT
Dana Bhakti Primayasa, 1997.

_______________. Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi. Jakarta:


Balai Penerbit FKUI, 2002.

Hosen Arjaz Jamad dan Wasmukan (trans.). Doa-doa Penangkal Setan. Surabaya:
Risalah Gusti, 1999.

INTISARI, April, 2002, pp. 60-64.

MAJALAH GHOIB, Edisi No.3/Tahun 1/ 1423 H/2003, p. 45.


Praja, Juhaya S. Model Tasawuf menurut Syari’ah Penerapannya dalam Perawatan
Korban Narkotika dan Berbagai Penyakit Rohani. Tasikmalaya: Penerbit PT
Latifah Press Institut Agama Islam Latifah Mubarakiyah (IAILM) Pondok
Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, 1995.

Rendra K(ed.). Metodologi Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.


S. Agil Husin Munawar dan Abd. Rahman Umar (trans.). Sistem Kedokteran Nabi
Kesehatan dan Pengobatan menurut Petunjuk Nabi Muhammad SAW.
Semarang: Penerbit Dina Utama Semarang, 1994.

Saputra, Arvin (trans.). Healing Beyond the Body Penyembuhan dan Penyegaran
Tubuh serta Jiwa. Batam: Interaksara, 2003.

Setyanto, Arif Tri. Pengaruh Dzikir terhadap Reaksi Fustrasi pada Pengguna Napza
(Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Islamy, Kulon Progo, Yogyakarta).
Skripsi pada Jurusan Ushuluddin FAI-UMS tidak diterbitkan, 2005.

Teungku Muhammad Hasbi Ashshiddieqy. Pedoman Dzikir dan Doa. Semarang: PT.
Pustaka Rizki Putra, 2002.

T. Hemaya (trans.). Kata-kata Yang Menyembuhkan Kekuatan Doa dan


Penyembuhan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1997.

14
15