Anda di halaman 1dari 9

GANGGUAN KECEMASAN

MAKALAH

Tugas ini disusun untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Psikologi Abnormal

Dosen Pengampu : Sri Rejeki, M.Si.

Disusun oleh:
Sakinah (0844110 )
Ahmad Safii (084411005)
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO
SEMARANG

2009

GANGUAN MAKAN (NERVOSA DISORDER)


I. Pendahuluan
Gangguan makan diakibatkan mereka yang terobsesi dengan berat badan dan
bermaksud untuk mencapai citra tubuh yang ideal. Ada juga yang memiliki siklus
dimana mereka makan banyak dan kemudian berkenginan untuk menghilangkan
kelebihan makan mereka, misalnya dengan memuntahkannya. Pola yang
disfungsional ini adalah 2 tipe utama dari ganguan makan, yaitu aneroksia nervosa
dan bulimia nervosa. Selain itu ada pula ganguan makan berlebihan yaitu suatu
ganguan yang memiliki karakteristik makan berlebihan yang berulang tanpa
memuntahkannya; atau yang bisaa disebut dengan binge serta kelebihan lemak tubuh
(obesitas). Gangguan sering disertai dengan berbagai bentuk psikologi. Termasuk
depresi, ganguan kecemasan dan ganguan penyalahgunaan zat.

II. Pokok Permasalahan


1. Perkembangan Gangguan Makan;
2. Tipe Gangguan Makan;
3. Penyebab gangguan makan;
4. Penanganan untuk gangguan makan.

III. Pembahasan
1. Perkembangan Gangguan Makan
Banyak studi diberbagai Negara yang menunujukkan bahwa gangguan
makan adalah masalah yang meluas dimana-dimana tetutama di Negara maju.
Gangguan ini meningkat tajam di Negara-negara barat dari tahun 1960 sampai
1995 (Hoek, 2002). Peningkatan gangguan makan tentu cukup memusingkan bila
terjadi dalam populasi secara keseluruhan-yang membuat gangguan-gangguan ini
lebih menarik adalah karena mereka cenderung spesifik secara kultural. Dulu
ganguan makan tidak ditemukan di Negara-negara sedang berkembang, dimana
akses untuk mendapatkan makanan yang cukup pun masih merupakan perjuangan-
perjuangan sehari-hari bagi sebgaian besar penduduknya. Namun sekarang
situasinya berbeda, bukti-bukti menunujukkan bahwa gangguan makan semakin
mendunia. Tidak hanya Amerika saja namun diikuti oleh Jepang dan Hongkong.
Gangguan makan cenderung terjadi pada segmen yang relative kecil dalam
populasi lebih dari 90% kasus berat menimpa perempuan muda, kebanyakan dari
keluarga kelas menengah-keatas, yang hidup di lingkungan yang kompetitif secara
social. Jumlah penderita anoreksia dan bulimia pada pria sekitar sepersepuluh
jumlah wanitanya (APA, 2000). Kira-kira 0,5% (1:200) wanita dilingkungan kita
mengidap anoreksia nervosa (APA, 2000). Penderita bulimia nervosa dikalangan
wanita diperkirakan berkisar antara 1% dan 3% (APA, 200) sedangkan penelitian
menunjukkan bahwa 65% orang dewasa di AS mengalami kelebihan berat badan
dan lebih dari 30 % memnuhi kriteria obesitas.1

2. Tipe Gangguan Makan


a. Anoreksia Nervosa
Anoreksia (anorexia) berasal dari bahasa yunani an-, yang artinya
“tanpa”, dan orexis, artinya “hasrat untuk”. Anoreksia memilki arti “ tidak
memilki hasrat untuk (makanan)”, yang sesungguhnya keliru, karena kehilangan
nafsu makan diantara penderita anoreksia nervosa jarang terjadi. Namun
demikian, penderita mungkin menolak makan lebih dari yang dibutuhkan untuk
mempertahankan berat badan minimal sesuai tinggi badan dan usia mereka.
Sering terjadi, mereka melaparkan diri hingga mencapai suatu titik yang
membahayakan.
Aneroksia nervosa berkembang pada tahap remaja awal dan akhir, antara
usia 12 dan 18 tahun, namun kemunculan pada usia yang lebih awal atau lebih
tua juga terkadang ditemukan.
Karakteristik diagnostic untuk Anoreksia Nervosa:
• Menolak untuk mempertahankan berat badan pada atau diatas

1 V.Mark Durand dan David H. Barlow, Intisari Psikologi Abnormal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2007, hlm. 2-3
berat badan minimal yang normal sesuai dengan usia dan
tinggi seseorang; misalnya, berat badan 15% di bawah
normal.
• Ketakutan yang kuat terhadap penambahan berat badan atau
menjadi gemuk, meskipun tubuhya kurus.
• Citra tubuh yang terdistorsi dimana tubuh seseorang atau
bagian tubuh seseorang dipandang sebagai gemuk, walaupun
orang lain memandang orang tersebut kurus.
• Dalam kasus wanita yang telah mengalami menstruasi,
terjadi ketidakhadiran tiga atau lebih periode menstruasi.
Ada dua Subtipe umum dari anoreksia, yaitu tipe makan
berlebihan/membersihkan dan tipe menahan.
Komplikasi medis dari anoreksia, anoreksia dapat mengakibatkan
komplikasi medis yang serius yang dalam kasus ekstrem dapat berakibat fatal.
Seperti anemia, sakit pada perut, menstruasi tidak teratur bahkan kematian.
b. Bulimia Nervosa
Bulimia barasal dari bahasa yunani bous, yang artinya “sapi” atau
“kerbau” dan limos, yang artinya “ rasa lapar”. Gambaran tidak indah yang
terinspirasi dari arti istilah tersebut adalah makan yang terus-menerus, seperti
sapi yang memamah biak. Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang
memilki karakteristik episode yang berulang untuk menelan makanan dalam
jumlah besar, diikuti dengan cara-cara yang tidak tepat untuk mencegah
pertambahan berat badan, misalnya dengan memuntahkannya.
Bulimia terjadi pada usia rata-rata remaja akhir, bisaanya mempengaruhi
wanita berkulit putih pada remaja akhir atau awal dewasa.
Karakteristik diagnostic bulimia nervosa antara lain :
• Episode berulang dari makan berlebihan ssepeti yag
ditunjukan oleh kedua hal berikut ini:
 Memakan makanan dalam umlah yang sangat luar bisaa
selama periode 2 jam, dan
 Merasa kehilangan control terhadap pemasukan
makanan padasaat episode tersebut.
• Perilaku tidak sesuai yang sering terjadi untuk menjaga
agar berat tubuh tidak bertambah seperti
membangkitkan rasa ingin muntah, penyalahgunaan
obat pencahar, diuretic atau enema dengan berpuasa
atau latihan berlebihan.
• Rata-rata minimal dalam seminggu terjadi dua episode
makan berlebihan dan perilaku kompensasi yang tidak
sesuai untuk menghindari bertamahnya berat badan,
dan hal ini terjadi minimal selama 3 bulan.
• Perahtian berlebihan yang terus menerus pada bentuk
dan berat badan.
Episode makan berlebihan lalu memuntahkannya dapat menghasilkan
komplikasi medis yang serius.
c. Binge dan Obesitas
Gangguan makan berlebihan (binge-eating disorder/BED) suatu gangguan
yang berulang memilki karakteristik makan berlebihan yang berulang tanpa
memuntahkannya. BED diklasifikasikan dalam manual DSM sebagai gangguan
potensial yang masih membutuhkan studi lebih lanjut.
BED cenderung berusia lebih tua dari pada penderita anoreksia dan
bulimia. Seperti gangguan makanan lainnya, kondisi ini lebih banyak ditemukan
pada wanita.
Kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis gangguan ini juga
membutuhkan evaluasi lebih jauh lagi.
• Menunjukan kondisi makan berlebihan setidaknya 2 hari
dalam seminggu selama 3 bulan (stotland, 2000).
• Selama decade makan berlebihan, mereka akan terus makan
meskipun sudah merasa kenyang.
• Penderita merasa malu bila terlihat saat makan berlebihan
dan merasa bersalah sesudahnya.
Obesitas suatu kondisi kelebihan lemak tubuh, bisaanya ditentukan oleh
IMT diatas 30.

3. Penyebab gangguan makan


Hampir sama dengan jenis gangguan-gangguan yang lain, pada gangguan
makan ini juga banyak sebab yang melatarbelakangi gangguan ini. Akan tetapi ada
faktor yang paling dominant, yaitu faktor social dan kultural.2
1) Faktor Sosiokultural
Yang menjadi pertanyaan kami, mengapa para pemuda bisa masuk
kedalam rutinitas Purging yang bersifat menghukum dan membahayakan jiwa
itu? Para perempuan barat, tampak lebih hebat itu lebih penting dari pada tubuh
yang sehat. Untuk wanita yang hidup pada taraf kelas menengah ke atas, harga
diri, kebahagiaan, kesuksesan banyak dipengaruhi oleh ukuran tubuh.
Imperatif kultural untuk kelansingan tubuh secara lansung
menghasilkan tindakan diet, itu merupakan langkah berbahaya yang membawa
orang tergelincir masuk kedalam anoreksia dan bulimia (gangguan makan).
Para Teoritikus sosiokultural lebih menitikberatkan pada faktor sosial
dan harapan dari masyarakat pada wanita muda sebagai kontributor terhadap
terhadap gangguan makan (Bemporad, 1996; stice, 1994). tekanan untuk
mencapai standart kurus yang tidak realistis, dikombimasikan dengan
pentingnya faktor penampilan dapat menyebabkan menjadi tidak puas dengan
tubuh mereka sendiri (Stice, 2001). ketidakpuasan tubuh pada wanita dapat
menjadi penyebab dari diet yang berlebihan dan perkembangan perilaku makan
yang terganggu.3
2) Faktor Psikologi
Meskipun budaya untuk ikut bertubuh kurus pada kaum wanita
memainkan peran utama bagi terjadinya gangguan makan, mayoritas para
wanita yang mendapatkan tekanan ini tidak mengalami gangguan makan. Ada
faktor-faktor lain yang terlibat. Faktor yang paling sering dihubungkan dengan
bulimia adalah setidaknya ada riwayat diet yang kaku (Patton dkk 1999).
wanita dengan bulimia bisaanya melakukan diet yang ekstrem yang ditandai
dengan ketatnya aturan tentang apa yang mereka makan, berapa banyak yang
bisa mereka makan, dan berapa sering mereka boleh makan (Drewnowski dkk,
1994). tidak mengherankan bila mereka lebih memikirkan berat badan daripada
wanita yang tidak menderita bulimia (Zotter dan Crowther 1991). Dalam

2 Ibid, hlm. 15
3 Jeffrey s. Nevid, Spencer A. Rathus dan Beverly Greene, Psikologi Abnormal, Edisi ke-V, jilid II,
Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005, hlm. 48.
keadaa ini menjadi rantai reaksi dimana dengan makan berlebihan
menyebabkan ketakutan akan bertambahnya berat badan, sehingga memicu
keinginan untuk memuntahkanya atau melakukan latihan fisik yang berlebihan
guna mengurangi berat badan.
Ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri adalah faktor penting lainnya
dalam gangguan makan (Heatherton dkk, 1997). Ketidakpusan terhadap tubuh
dapat mengasilkan usaha-usaha yang maladaptif (dengan melaparkan diri dan
memuntahkan) untuk mencapai berat badan dan tubuh yang diinginkan.4
3) Faktor Biologis
Para ilmuan menduga bahwa terdapat ketidaknormalan dalam
mekanisme otak yang mengatur rasa lapar dan kenyang pada penderita bulimia,
kemungkinan terbesar berkaitan dengan serotonin kimiawi otak (Goode, 2000).
Serotonin memainkan peran penting dalam pengaturan mood dan nafsu makan,
terutama selera terhadap karbohidrat. Rendahnya serotonin, atau kurangnya
sensitivitas dari sensor serotonin otak, dapat menyebabkan munculnya episode
makan berlebihan, terutama karbihidrat (Levitan dkk., 1997). Pemikiran ini
didukung bahwa antidepresan, seperti prozac, yang meningkatkan aktivitas
serotonin, dapat menurunkan episode makan berlebihan pada wanita pengidap
bulimia (Jimerson dkk, 1997).
Disamping itu, terdapat pula bebrapa petunjuk adanya peran faktor
genetic pada gangguan makan (Wade dkk., 2000). Bukti kuat dating dari
penelitian terhadap 2000 wanita kembar, dimana terdapat prevalensi bulimia
yang lebih tinggi, yaitu 23 % berbanding 9 %, terdapat pada pasangan kembar
satu telur dibanding kembar dua telur (Kendler dkk, 1991).
4) Faktor Keluarga
Konflik dalam keluarga sering kali menjadi penyebab dalam gangguan
makan (Fairburn dkk., 1997). Beberapa teoritikus berfokus pada efek brutal
dari self-starvation terhadap orang tua. Mereka mengatakan bahwa beberapa
remaja menggunakan penolakan untuk makan sebagai cara menghukum orang
tuamereka karena perasaan kesepian dan keterasingan yang mereka rasakan di
rumah.
5) Faktor Sel Lemak

4 Ibid, hlm. 49
Berbeda dengan Nervosa atau bulimia, faktor disini adalah salah satu
faktor obesitas. Terkadang bagi orang-orang obesitas ketika ingin menurunkan
berat badan (kegemukan) dan mempertahankan profil langsing dpat dirusak
oleh sel-sel dalam tubuh mereka sendiri yang dinamakan sel lemak (fat cells).
Sel lemak adalah sel yang menyimpan lemak. Sel lemak berisi jaringan lemak
dalam tubuh yang disebut adipose. Orang-orang obesitas memiliki lebih
banyak sel lemak dari pada orang yang tidak memiliki obesitas. Kaitannya
dengan obesitas adalah ketika kita selesai makan, tingkat gula darah menurun,
mendorong lemak dari sel-sel ini untuk mengedarkan lebih banyak makanan
pada tubuh. Hipotalamus pada otak mendeteksi pengisongan lemak pada sel
ini. Hipotalamus kemudian memberi tanda pada korteks selebral, memicu
dorongan rasa lapar yang memotivasi makan kemudian mengisi kembali sel
lemak.5

4. Penanganan Untuk Gangguan Makan


Banyak pendapat bahwa gangguan makan itu sulit ditangani. Bahkan
kebanyakan orang yang mengidap anoreksia nervosa dapat dirwat di rumah sakit,
terutama ketika terjadi penurunan berat badan secara drastis.
Terapi psikodinamika terkdang dikombinasikan dengan terapi prilaku
untuk menggali lebih dalam konflik psikilogis yang ada. Terapi keluarga juga
sangat membantu mengatasi konflik keluarga yang mendasari.
Terapi kognitif-behavioral (Cognitive behavioral therapy/CBT), berguna
dalam membantu penderita bulimia untuk mengatasi pikiran dan keyakinan yang
self-defeating, seperti pemikiran yang tidak realistis dan perfeksionis mengenai
diet dan berat bedan.
Pola pemikiran disfungsional lain yang juga umum adalah pemikiran
dikotomis (semua atau tidak sama sekali) yeng menadikan alasan mereka
mengeluarkan makanan ketika gagal, walaupun sedikit, melakukan diet ketat. CBT
juga memaparkan kecenderungan penderita untuk menitik beratkan penampilan
sebagai penentu self-worth. Untuk menghilangkan kebisaaan memuntahkan diri,
terapis dapat menggunakan tehnik behavioral yaitu pemaparan terhadap
pencegahan respon yang dikembangkan utuk penanganan gangguan obsesif-

5 Ibid, hlm. 57
kompulsif.
Bentuk terapi lain, seperti terapi interpersonal (interpersonal therapy/IPT),
juga terbukti efektif dalam penanganan bulimia. Terapi ini menekankan pada
penyelesaian masalah interpersonal dengan keyakinan bahwa fungsi interpersonal
yang semakin efektif akan menghasilkan kebisaaan dan sikap makan yang lebih
sehat.
Obat antidepresian juga memberikan manfaat terapiutik dalam menangani
bulimia (Goode, 2000). Obat-obatan itu juga dipercaya efektif untuk menurunkan
keinginan makan berlebihan dengan menormalkan serotonin-unsur kimia dalam
otak yang terlibat dalam pengaturan nafsu makan.

IV. Penutup
Demikian makalah ini kami susun, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.
Kami menyadari masih terdapat berbagai kekurangan di dalamnya, baik dari segi
susunan maupun isinya, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari anda
sekalian sebagai bahan pertimbangan kami dalam menyusun makalah kami di
kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

V.Mark Durand dan David H. Barlow, Intisari Psikologi Abnormal, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2007
Jeffrey s. Nevid, Spencer A. Rathus dan Beverly Greene, Psikologi Abnormal, Edisi ke-V,
jilid II, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005