Anda di halaman 1dari 18

STRESS

Dewasa ini perubahan tata nilai kehidupan berjalan begitu cepat karena pengaruh globalisasi,
modernisasi, inforamasi, industrialisasi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut
berpengaruh terhadap pola hidup, misalnya pola hidup social religius berubah individualis,
materialistis,, dan sekuler; pola hidup produktif ke pola hidu konsumtif dan mewah; dan
ambisi karier yang menganut asas moral dan etika hukum ke cara KKN.
Perubahan psikososial dapat merupakan tekanan mental(stressor psikosial) sehingga bagi
sebagian individu dapat menimbulkan perubahan dalam kehidupandan berusaha beradaptasi
untuk menanggulanginya. Stresor psikososial, seperti perceraian karba tidak diamalkannya
kehidupan religius dalam rumah tangga, masalah orang tua dengan banyaknya kenakalan
remaja, hubungan internasional personal yang tidak baik dengan teman dan sebagainya.
Namun, tidak semua orang dapat beradaptasi dan mengatasi stressor akibat perubahan
tersebut sehingga sehingga ada yang mengalami stress, gangguan penysuaian diri, maupun
sakit.
Mengapa kita perlu mempelajari tentang stress?????
• Untuk mengetahui pengertian stress.
• Untuk mengetahui dampak stress pada tubuh.
• Untuk mengetahui mekanisme stress.
• Untuk mengetahahui cara pemecahan masalah stress.
I. PENGERTIAN STRESS
• Menurut Kozier (1989)
Stress adalah segala sesuatu yang member dampak secara total terhadap individu meliputi
fisik,emosi,social,spiritual.
• Menurut Dadang hawari(2000)
Stress adalah suatu bentuk ketegangan yang mempengaruhi fungsi alat-alat tubu
• Menurut Dafis(1988)
Stress adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihiondari yang disebabkan oleh
perubahan yang memerlikan penyesuaian.
• Menurut Hans Selye
Yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan yang ada dalam dirinya.
• Menurut Soeharto Heerdjan (1987)
Stress adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam yang menimbul;kan suatu
ketegangan dalam diri seseorang.
• Menurut maramis
Stress adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri dan karena itu sesuatu yang
mengganggu kita.
• Menurut Vincent Cornelli
Stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntunan
kehidupan,yang dipengaruhi oleh lingkungan maupun penampilan individu didalam
lingkungan tersebut.
• Menurut lilis(1997)
Stress adalah sebuah kondisi dimana system respon manusia berubah keseimbangannya.
II.ASPEK UMUM STRESS
Respon tubuh.
Mekanisme perlindungan diri otomatis dan segera aktivasi
sistem syaraf dan endokrin fight dan flight
respon mekanik /kimia/thermal:
1. Selular
2. Humoral
3. Hormonal/endokrin
4. Saraf
III. TAHAPAN STRESS
1. Alarm Reaction : Reaksi alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh
dan pikiran untuk menghadapi stressor.
2. Stage of Resistance : Tubuh kembali stabil, kadar hormon, frekuensi jantung, tekanan darah
dan curah jantung kembali normal.
3. Stage of Exhaustion : Terjadi ketika tubuh tidak dapat lagi melawan stress dan energi yang
diperlukan untuk mempertahankan adaptasi menipis.
IV. TIPE STRESSOR
1.Stressor Internal
Contohnya: tumor, cacat bawaan, hipertensi
2. Stressor Eksternal
Contohnya: Marah kepada teman, konflik dengan orang tua
3. Stessor Fisik
Contohnya : overdosis, virus, luka, suhu.
4.Stessor Psikologis
Contohnya : takut operasi, cemas terhadap operasi, dan berduka karena kematian orang tua.
V. HOMEOSTATIS & FAKTOR-FAKTORNYA
Homeostatis yaitu mekanisme fisiologis yang bervariasi dalam tubuh individu untuk
memelihara keseimbangan dalam lingkungan internal. Dipengaruhi oleh beberapa faktor di
bawah ini
Faktor genetik
Faktor fisik dan kimiawi
Mikroorganisme dan parasit
Faktor psikologik
Faktor kultural
Migrasi
Faktor Ekologik
Faktor pekerjaan
Burn out
Technologic societies
VI. MEKANISME PERTAHANAN EGO
Mekanisme Pertahanan Ego yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental.
Adapun mekanisme pertahan ego adalah sebagai berikut :
1. Kompensasi : Proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara
tegas menonjolkan keistimewaan atau kelebihan yang dimiliki.
2. Penyangkalan(denial) : Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari
realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini adalah yang paling sederhana dan primitive.
3. Pemindahan (displacement): Pengalihan emosi yang ditujukan pada seorang atau benda lain
yang biasanya netral atau lebih sedikit mengancam dirinya.
4. Disosiasi: Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran atau
identitasnya.
5. Identifikasi: Proses dimana seseorang untuk menjadi seseorang yang ia kagumi berupaya
dengan mengambil/menirukan pikiran-pikiran, perilaku, dan selera orang tersebut.
6. Intelektualisasi: Pengguna logika dan alasan berlebihan untuk menghindari pengalaman
yang mengganggu perasaannya,
7. Introjeksi: Suatu jenis identifikasi yang kuat dimana seseorang mengambil atau melebur
nilai-nilai dan kualitas seseorang atau suatu kelompok ke dalam struktur egonya sendiri,
merupakan hati nurani.
8. Isolasi: Pemisahan unsure emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat
sementara atau dalam jangka waktu yang lama.
9. Proyeksi: Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama
keinginan, perasaan emosional dan motivasi yang tidak dapat ditoleransi.
10. Rasionalisasi: Mengemukakan penjelasan yang tampak logis dan dapat diterima
masyarakat untuk membenarkan impuls, perasaan, perilaku, dan motif yang tidak dapat
diterima.
11. Reaksi Formasi: Pengembangan sikap dan pola perilaku yang ia sadari, yang bertentangan
dengan yang sebenarnya ia rasakan atau ia ingin lakukan.
12. Regresi: Kemunduran akibat stress terhadap perilaku dan merupakan cirri khas dari suatu
taraf perkembangan yang lebih dini.
13. Represi: Pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran, impuls atau ingatan yang
menyakitkan atau bertentangan dari kesadaran seseorang; merupakan pertahanan yang primer
yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain.
14. Pemisahan(splitting): Sikap mengelompokkan orang atau keadaan hanya sebagai
semuanya baik atau semuanya buruk; kegagalan untuk memadukan nilai-nilai positif dan
negatif dalam diri sendiri.
15. Sublimasi: Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat
untuk suatu dorongan yang mengalami halangan dalam penyaluran secara normal.
16. Supresi: Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi sebetulnya
merupakan suatu analog represi yang disadari.
VII. MODEL_MODEL STRESS
1. Model Stress Berdasarkan Stimulus
- Hukum elastisitas
- Jika strain yang dihasilkan melampaui batas elastisitasnya maka kerusakan akan terjadi.
- Stress sebagai ciri-ciri dari stimulus lingkungan yang dalam beberapa hal dianggap
mengganggu atau merusak,
- Stressor eksternal akan menimbulkan reaksi stress atau strain dalam diri individu,
- Stress sebagai sesuatu yang dipelajari
2. Model Stress Berdasarkan Respon
Menurut Selye (1982), terdiri dari 3 tahapan
- Reaksi alarm : respon siaga (fight or flight). Peningkatan cortical hormon, emosi dan
ketegangan.
- Fase perlawanan (resistance) : Bila respon adaptif tidak mengurangi persepsi terhadap
ancaman, ditandai hormon kortikal tetap tinggi. Usaha fisiologis untuk mengatasi stress
mencapai kapasitas penuh.
- Reaksi kelelahan : Perlawanan terhadap stress yang berkepanjangan mulai menurun, fungsi
otak tergantung perubahan metabolisme, sistem kekebalan tubuh menjadi kurang efisien dan
penyakit yang serius mulai timbul saat kondisi menurun.
3. Model Stress Berdasarkan Transaksional
- Lingkungan dan individu terjadi proses penilaian kognitif (cognitive appraisal)
- Individu bervariasi dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya yaitu dengan
melakukan koping terhadap berbagai tuntutan.
Mengukur potensial stress yaitu :
- Pengukuran primer : Menggali persepsi individu terhadap masalah
- Pengukuran sekunder : Mengkaji kemampuan seseorang atau sumber-sumber tersedia
diarahkan untuk mengatasi masalah,
- Pengukuran tersier : Berfokus pada pikiran keefektifan perilaku koping dalam menghadapi
ancaman.
VIII. FAKTOR_FAKTOR YANG MEMENGARUHI EFEK STRESSOR
1. Sifat stressor, apa arti sebuah stressor bagi klien? Karena stressor yang sama memberikan
arti yang berbeda bagi seseorang.
2. Jumlah stressor pada waktu yang bersamaan, sehingga yang kecil dapat menjadi berat
3. Lamanya stressor. Semakin lama seseorang terpapar stressor maka orang tersebut
mengalami penurunan kemampuan dalam mengatasi masalah karena kelelahan.
4. Usia,perkembangan
5. Jenis kelamin
6. Kepribadian
7. Status kesehatan secara umum
8. Support system
IX. LAS DAN GAS
Karakteristik LAS
1. Respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system.
2. Respon yang bersifat adaptif; diperlukan stressor untuk menstimulasikannya.
3. Respon bersifat jangka pendek dan tidak terus-menerus.
4. Respon bersifat restorative
Respon LAS banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari yaitu:
A. Respon Inflamasi
Respon ini distimulasi oleh adanya trauma dan infeksi. Respon ini memusatkan diri hanya
pada area tubuh yang trauma sehingga penyebaran inflamasi dapat dihambat dan proses
penyembuhan dapat berlangsung cepat.
A. Respon Refleks Nyeri
REspon ini merupakan respo adaptif yang bertujuan melindungi tubuh dari kerusakan lebih
lanjut. Misalnya mengangkat kaki ketika bersentuhan dengan benda tajam.
GAS
Gas merupakan respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stress. Respon yang terlibat
didalamnya adalah system saraf otonom dan system endokrin. Di beberapa buku teks, GAS
sering disamakan dengan system Neuroendrokin.
GAS terdiri dari beberapa fase:
1. Reaksi Alarm (peringatan)
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang
berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi.
Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk
menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin
mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot, peningkatan
ambilan oksigen dan meningkatnya kewaspadaan mental.
Aktifasi hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan respons melawan atau
menghindar. Bila stressor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.
2. Fase Resistensi
Tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah, dan cardiac out put.
Individu tersebut berupaya beradaptasi terhadap stressor, jika ini berhasil maka tubuh akan
memperbaiki sel-sel yang rusak. Bila gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahap
terakhir dari GAS yaitu fase kehabisan energi.
3. Fase Kehabisan Tenaga
Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis. Akibatnya tubuh tidak mampu lagi
menghadapi stress. Ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap stressor
inilah yang berdampak pada kematian individu tersebut.
X. METODE KOPING
Ada dua metode koping yang digunakan oleh individu dalam mengatasi masalah psikologis
seperti yang dikemukakan oleh Bell (1977), dua metode tersebut antara lain:
1. Metode koping jangka panjang, cara ini adalah konstruktif dan merupakan cara yang efektif
dan realistis dalam menangani masalah psikologis dalam kurun waktu yang lama, contonhya:
a. Berbicara dengan orang lain.
b. Mencoba mencari informasi yang lebih banyak tentang masalah yang sedang diahadapi.
c. Menghubungkan situasi atau masalah yang sedang dihadapi dengan kekuatan supranatural.
d. Melakukan latihan fisik untuk mengurangi ketegangan.
e. Membuat berbagai alternative tindakan untuk mengurangi situasi.
f. Mengambil pelajaran atau pengalaman masa lalu.
1. Metode koping jangka pendek, cara ini digunakan untuk mengurangi stress dan cukup
efektif untuk waktu sementara, tetapi tidak efektf untuk digunakan dalam jangka panjang.
Contohnya:
a. Menggunakan alcohol atau obat
b. Melamun dan fantasi.
c. Mencoba melihat aspek humor dari situasi yang tidak menyenangkan.
d. Tidak ragu dan merasa yakin bahwa semua akan kembali stabil.
e. Banyak tidur
f. Banyak merokok.
g. Menangis
h. Beralih pada aktifitas lain agar dapat melupakan masalah.
KESIMPULAN
Stress adalah respons manusia yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan
yang ada dalam dirinya.
Stress tidak selama bersifat negative tetapi stress juga bersifat positif. Misalnya seseorang
yang diberi jabatan penting di suatu institusi. Awalnya mungkin ia akan merasa stress tetapi
stress tersebut akan memacu untuk mengatasi tantangan akibat jabatan yang dipercayakan
kepadanya. Apabila ia sukses mengemban tugas tersebut , ia tidak akan mengalami stress,
tetapi eustress.
Stress dapat menjadi motivator yang penting dan bermanfaat dalam mencapai tujuan atau cita-
cita tertentu sehingga kita berusaha keras untuk mencapainya.
No comments

GANGGUAN KEPRIBADIAN
A. DEFINISI
Kaplan dan Saddock mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sifat emosional dan
perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya,
kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan. Sedangkan gangguan kepribadian adalah
suatu varian dari sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian
besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat
menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subyektif maka
dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.
Orang yang mengalami kepribadian biasanya memiliki tingkah laku yang kompleks dan
berbeda-beda berupa :
? Ketergantungan yang berlebihan
? Ketakutan yang berlebihan dan intimitas
? Kesedihan yang mendalam
? Tingkah laku yang eksploitatif
? Kemarahan yang tidak dapat dikontrol
? Kalau masalah mereka tidak ditangani, kehidupan mereka akan dipenuhi ketidakpuasan
B. PENYEBAB MUNCULNYA GANGGUAN KEPRIBADIAN
Faktor Genetika
Salah satu buktinya berasal dari penelitian gangguan psikiatrik pada 15.000 pasangan kembar
di Amerika Serikat. Diantara kembar monozigotik, angka kesesuaian untuk gangguan
kepribadian adalah beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kembar dizigotik. Selain itu
menurut suatu penelitian, tentang penilaian multiple kepribadian dan temperamen, minat
okupasional dan waktu luang, dan sikap social, kembar monozigotik yang dibesarkan terpisah
adalah kira-kira sama dengan kembar monozigotik yang dibesarkan bersama-sama.
Faktor Temperamental
Faktor temperamental yang diidentifikasi pada masa anak-anak mungkin berhubungan dengan
gangguan kepribadian pada masa dewasa. Contohnya, anak-anak yang secara temperamental
ketakutan mungkin mengalami kepribadian menghindar.
Faktor Biologis
Hormon. Orang yang menunjukkan sifat impulsive seringkali juga menunukkan peningkatan
kadar testosterone, 17-estradiol dan estrone.
Neurotransmitter. Penilaian sifat kepribadian dan system dopaminergik dan serotonergik,
menyatakaan suatu fungsi mengaktivasi kesadaran dari neurotransmitter tersebut.
Meningkatkan kadaar serotonin dengan obat seretonergik tertentu seperti fluoxetine dapat
menghasilkan perubahan dramatik pada beberapa karakteristik kepribadian. Serotonin
menurunkan depresi, impulsivitas.
Elektrofisiologi. Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram telah ditemukaan
pada beberaapa pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering pada tipe antisocial dan
ambang, dimana ditemukan aktivitas gelombang lambat.
Faktor Psikoanalitik
Sigmund Freud menyatakan bahwa sifat kepribadian berhubungan dengan fiksasi pada salah
satu stadium perkembangan psikoseksual. Fiksasi pada stadium anal, yaitu anak yang
berlebihan atau kurang pada pemuasan anal dapat menimbulkan sifat keras kepala, kikir dan
sangat teliti.
C. KLASIFIKASI DAN DISKRIPSI GANGGUAN KEPRIBADIAN
Menurut DSM-IV, gangguan kepribadian dikelompokkan menjadi :
? Kelompok A
Terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, schizoid, dan skizotipal. Oraang dengn gangguan
seperti ini seringkali tampaak aneh dan eksentrik.
Gangguan Kepribadian Paranoid
Orang dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai dengan :
? Kecurigaan yang bersifat pervasive bahwa dirinya sedang dicelakai, dikhianati
? Keraguan yang tidak berdasar terhadap kesetiaan teman-teman
? Enggan mempercayai orang lain
? Memberikan makna tersendiri terhadap berbagai tindakan orang lain yang tidak
mengandung maksud apapun
? Mendendam atas berbagai hal yang dianggap sebagai kesalahan
? Reaksi berupa kemarahan terhadap apa yang dianggapnya sebagai serangan terhadap
karakter atau reputasi
Menurut teori psikodinamika, gangguan ini merupakan mekanisme pertahanan ego proyeksi,
orang tersebut melihat orang lain mempunyai motif merusak dan negative. Ada
kecenderungan untuk membanggakan dirinya sendiri karena menganggap dirinya mampu
berpikir secara rasional dan obyektif, padahal sebenarnya tidak.
Menurut teori kognitif behavioral, orang dengan gangguan ini akan selalu dalam keadaaan
waspada, karena tidak mampu membedakan antara orang yang membahayakan dan yang
tidak.
Treatment
Psikoterapi – Pasien paranoid tidak bekerja baik dalam psikoterapi kelompok, karena itu ahli
terapi harus berhadapan langsung dalam menghadapi pasien dan harus diingat bahwa
kejujuran merupakan hal yang sangat penting bagi pasien.
Farmakoterapi – Farmakoterapi berguna dalam menghadapi agitasi dan kecemasan. Pada
sebagian besar kasus obat anti anxietas seperti diazepam dapat digunakan.
Gangguan Kepribadian Skizoid
Orang dengan gangguan kepribadian schizoid ditandai dengan :
? Kurang berminat ataau kurang menyukai hubungan dekat
? Hampir secaraa eksklusif lebih menyukai kesendirian
? Kurangnya minat untuk berhubungan seksual
? Kurang memiliki teman
? Bersikap masa bodoh terhadap pujian atau kritik dari orang lain
? Afek datar, ketidaklekatan emosional
Treatment
Psikoterapi – Dalam lingkungan terapi kelompok, pasien gangguan kepribadiaan schizoid
mungkin diam untuk jangka waktu yang lama, namun suatu waktu, mereka akan ikut terlibat.
Pasien harus dilindungi dari serangan agresif anggota kelompok lain mengingat
kecenderungan mereka akan ketenangan. Dengan berjalaannya waktu, anggota kelompok
menjadi penting bagi pasien schizoid dan dapaat memberikan kontak sosial.
Farmakoterapi – Dengan antipsikotik dosis kecil, anti depresan dan psikostimulan dapat
digunakan dan efektif pada beberapa pasien.
Gangguan Kepribadian Skizotipal
Orang dengan gangguan skizotipal ditandai dengan :
? Ideas of Reference (keyaakinan bahwa berbagaai kejadian memiliki makna yang khusus dan
tidak biasa bagi orang yang bersangkutan)
? Keyakinan yang aneh atau pemikiran magis
? Persepsi yang tidak biasa
? Pola bicara yang aneh
? ‘Kecurigaan yang ekstrem
? Afek yang tidak sesuai
? Perilaku atau penampilan yang aneh
? Kurang memiliki teman akrab
? Rasa tidak nyamaan yang ekstrem
Treatment
Psikoterapi – Pikiran yang aneh dan ganjil pada pasien gangguan kepribadian skizotipal harus
ditangani dengan berhati-hati. Beberapa pasien terlibat dalam pemujaan, praktek religius yang
aneh. Ahli terapi tidak boleh menertawakan aktivitas tersebut atau mengadili kepercayaan
atau aktivitas mereka.
Farmakoterapi – Medikasi antipsikotik mungkin berguna dalaam menghadapi gagasan
mengenai diri sendiri, wahaam dan gejala lain dari gangguan dan dapaat digunakan bersama-
sama psikoterapi. Penggunaan haloperidol dilaporkan memberikan hasil positif padaa
beberapa kaasus, dan anti depresan digunakan jika ditemukan suaatu komponen depresif dari
kepribadian.
? Kelompok B
Terdiri dari gangguan kepribadiaan antisosial, ambang, histrionic dan narsistik. Orang dengan
gaangguan ini sering tampak dramatic, emosional, dan tidak menentu.
Gangguan Kepribadian Antisosial
Orang dengan gangguan kepribadian antisocial ditandai :
? Berulang kali melaanggar hokum
? Menipu, berbohong
? Impulsivitas
? Mudah tersingguang dan agresif
? Tidak memperdulikaan keselamatan diri sendiri daan orang lain
? Tidak bertangguang jawab terhadap pekerjaan
? Kurang memiliki rasa penyesaalaan
Perbedaannya dengan psikopat, pada psikopat ini tidaak merujuk ke perilaku antisosial itu
sendiri tetaapi lebih banyak ke pikiran dan perasaan individu psikopatik. Karakteristiknya :
? Kemiskinan emosi baik positif maupun negative
? Tidak punya rasa malu, Perasaaan positif pada oraang lain hanya kepura-puraan
? Penampilan menawan dan memanipulasi orang lain untuk memperoleh keuntungan pribadi
? Tidak belajar dari kesalahan
? Tidak bertanggung jawab dan kejam
? Perilaku antisosial pada psikopat dilakukan secara impulsive
Menurut teori biologis
Gangguan ini disebabkan oleh beberapa faktor :
a. Kelebihan kromosom Y (laki-laki), menyebabkan pola XYY bukan XY yang normal pada
kromosom 23
b. Testosteron menjadi penyebab agresivitas laaki-laki
c. Adanya keabnormalaan pada otak
d. Karena kurang belajaar dan perhatiaan yang neuropsikologis
e. Karena factor keturunan
Menurut teori Psikologis
Gangguan ini disebabkan oleh beberapa faktor :
a. Kondisi keluaargaa yang disharmoni dan ketidak konsistenan daalaam pengasuhan anak
b. Orang tua yang terlalu permisif dan kurang memperhatikan perilaku anak yang tidak benar
c. Orang tua yang tidak menunjukkan afeksi
d. Pendidikan yang didapat kurang memadai
e. Adanya pendapat bahwa antisosial datang dari semua kelas sosial yang ayahnya antisocial
Treatment
Psikoterapi – Jika pasien merasa berada diantara teman-teman sebayanya, tidak adanya
motivasi mereka untuk berubah bisa menghilang, kemungkinan karena hal itulah kelompok
yang menolong diri sendiri akan lebih berguna dibandingkan di penjara dalam menghilangkan
gangguan. Tetapi ahli terapi harus menemukan suatu cara untuk menghadapi perilaku
merusak pada pasien. Dan untuk mengatasi rasa takut pasien terhadap keintiman, ahli terapi
harus mengagalkan usaha pasien untuk melarikan diri dari perjumpaan dengan orang lain.
Farmakoterapi – Farmakoterapi digunakan untuk menghadaapi gejala yang diperkirakan akan
timbul seperti kecemasan, penyerangan dan depresi.
Gangguan Kepribadian Ambang
Orang dengan gangguan kepribadian ambang ditandai :
? Berupaya keras untuk mencegah agar tidak diabaikan
? Ketidakstabilan dan intensitas ekstrem dalam hubungan interpersonal
? Rasa diri (sense of self) yang tidak stabil
? Perilaku impulsive, termasuk sangat boros, perilaku seksual yang tidak pantas
? Perilaku bunuh diri dan mutilasi diri yang berulang
? Kelabilaan emosional yang ekstrem
? Perasaan kosong yang kronis
? Sangat sulit mengendalikan kemarahan.
Treatment
Psikoterapi – Pendekatan berorientasi realitas lebih efektif dibandingkan interpretasi bawah
sadar secaraa mendalam. Terapi perilaku digunakan pada pasiem gangguan kepribadian
ambang untuk mengendalikan impuls dan ledakan kemarahan dan untuk menurunkan
kepekaan terhadaap kritik dan penolakan. Latihan keterampilan social, khususnya dengan
video tape, membantu pasien untuk melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang
lain, hal ini untuk meningkatkan perilaku interpersonal mereka.
Farmakoterapi – Antipsikotik dapat digunakan untuk mengendalikan kemarahan, permusuhan
dan episode psikotik yang singkat. Antidepresan memperrbaiki mood yang terdepresi yang
sering ditemukan pada pasien.
Gangguan Kepribadian Histrionik
Orang dengan gangguan kepribadian histrionik ditandai :
? Kebutuhan besar untuk menjadi pusat perhatian
? Perilaku tidak senonoh, secara seksual yang tidak pantas
? Perubahan ekspresi emosi secara cepat
? Memanfaatkan penampilan fisik untuk menarik perhatian orang lain pada dirinya
? Bicaranya sangat tidak tepat
? Ekspresi emosional yang berlebihan
? Sangat mudah sugesti
? Menyalahartikan hubungan sebagai lebih intim dari yang sebenarnya
Treatment
Psikoterapi – Pasien dengan gaangguan kepribadian histrionic seringkali tidak menyadari
perasaan mereeka yang sesungguhnya. Psikoterapi berorientasi psikoanaliasis, baik dalam
kelompok atau individual.
Farmakoterapi – Farmaakoterapi dapaat ditaambaahkaan jikaa gejalaa aadaalaah menjadi
sasarannya, seperti penggunaan aantidepresan untuk depresi dan keluhan somatic, obat anti
anxietas untuk kecemasan dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi.
Gangguan Kepribadian Narsistik
Orang dengan gangguan kepribadian narsistik ditandai :
? Pandangan yang dibesar-besarkan mengenai pentingnya diri sendiri
? Terfokus pada kebersihan, kecerdasan dan kecantikan diri
? Kebutuhan ekstrem untuk dipuja
? Perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu
? Kecenderungan memanfaatkan orang lain
? Iri pada orang lain
Treatment
Psikoterapi – Mengobati gangguan kepribadiaan naarsistik sukaar karena pasien harus
meninggalkaan narsismenya jika ingin mendapatkan kemajuan
Farmakoterapi – Lithium (eskalith) digunakaan pada pasien yang memiliki pergeseran mood
sebagai bagian dari gambaran klinis. Dan karena rentan terhadap depresi, maka antidepresan
juga dapat digunakan.
? Kelompok C
Terdiri dari gangguan kepribadian menghindar, dependen dan obsesif kompulsif. Orang
dengan gangguaan ini sering tampak cemas dan ketakutan
Gangguan Kepribadian Menghindar
Orang dengan gangguan kepribadian menghindar ditandai :
? Menghindari kontak interpersonal karena takut pada kritikan
? Keengganan untuk menjalin hubungan dengan orang lain kecuali dirinya pasti akan disukai
? Membatasi diri dalam hubungan intim
? Penuh kekhawatiran akan dikritik
? Merasa tidak adekuat
? Merasa rendah diri
? Keengganan ekstrem untuk mencoba hal-hal baru
Treatment
Psikoterapi – Ahli terapi mendorong pasien untuk ke luar ke dunia untuk melakukan apa yang
dirasakan mereka memiliki resiko tinggi penghinaan, penolakan dan kegagalan. Tetapi ahli
terapi harus berhati-hati saat memberikan tugas untuk berlatih keterampilan social yang baru
di luar terapi, karena kegagalan dapat memperberat harga diri pasien yang telah buruk. Tetapi
kelompok dapat membantu pasien mengerti efek kepekaan mereka terhadap penolakan pada
diri mereka sendiri dan orang lain. Melatih ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang
dapat mengajarkan pasien untuk mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan
untuk meningkatkan harga diri mereka.
Farmakoterapi - Beberapa pasien tertolong oleh penghambat beta, seperti atenolol
(Tenormin), untuk mengatasi hiperaktivitas sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi
pada pasien dengan gangguan kepribadian menghindar, khususnya jika mereka menghadapi
situasi yang menakutkan.
Gangguan Kepribadian Dependen
Orang dengan gangguan kepribadian dependen ditandai :
? Sulit mengambil keputusan tanpa saran dari orang lain
? Membutuhkan orang lain untuk mengambil tujuan atas sebagian aspek kehidupannya yang
utama
? Sulit tidak menyetujui orang lain karena takut kehilangan dukungan mereka
? Sulit melakukan segala sesuatu sendiri karena kurangnya percaya diri
? Melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan sebagai suatu cara untuk mendapatkan
persetujuan dan dukungan orang lain.
? Merasa tidak berdaya bila sendirian karena kurangnya rasa percaya pada kemampuannya
untuk menangani segala sesuatu tanpa intervensi dari orang lain
? Berupaya untuk sesegera mungkin menjalin hubungan baru bila hubungan yang dimilikinya
saat ini berakhir
? Dipenuhi ketakutan bila harus mengurus diri sendiri
Menurut teori psikodinamika, gangguan ini timbul karena adanya regresi atau fiksasi pada
masa oral karena orang tua yang sangat melindungi atau orang tua yang mengabaikan
kebutuhan tergantung.
Menurut kognitif behavioral, gangguan ini timbul karena kurang asertif dan kecemasan dalam
membuat keputusan
Treatment
Psikoterapi – Terapi yang digunakan yaitu melalui proses kognitif behavioral, dengan
menciptakan kemandirian pada pasien, melatih ketegasan dan menumbuhkan rasa percaya
diri.
Farmakoterapi – Benzodiazepine dan obat serotonergik dapat berguna.
Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif
Orang dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif ditandai :
? Terfokus secara berlebihan pada aturan dan detail sehingga poin utama suatu aktivitas
terabaikan
? Perfeksionis ekstrem hingga ke tingkat yang membuat berbagai proyek jarang terselesaikan
? Pengabdiaan berlebihan padaa pekerjaan hingga mengabaikaan kesenangan dan
persahabatan
? Tidaak fleksibel
? Sulit membuang benda-benda yang tidak berarti
? Kikir dan keras kepala
Treatment
Psikoterapi – Pasien gangguan kepribadian obsesif kompulsif seringkali tahu bahwaa mereka
sakit dan mencari pengobatan ataas kemaauaan sendiri. Asosiasi bebas dan terapi yang tidak
terlalu mengarahkan, sangat dihargai oleh pasien gangguan ini.
Farmakoterapi – Clonazepam (klonopin) adalah suatu benzodiazepine dengan anti konvulsan,
pemakaian obat ini untuk menurunkan gejala pada pasien dengan gangguan kepribadian
obsesif kompulsif parah.

Jenis-jenis Stres
Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:
* Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif
(bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang
diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat
performance yang tinggi.
* Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan
destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi
seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang
diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.
Pengertian Stres Kerja
Definisi stres kerja dapat dinyatakan sebagai berikut :
“Work stress is an individual’s response to work related environmental stressors. Stress as the
reaction of organism, which can be physiological, psychological, or behavioural reaction”
(Selye, dalam Beehr, et al., 1992: 623)
Berdasarkan definisi di atas, stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja
yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Seperti
yang telah diungkapkan di atas, lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja.
Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai
suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja.
Sumber-sumber Stres Kerja
Banyak ahli mengemukakan mengenai penyebab stres kerja itu sendiri. Soewondo (1992)
mengadakan penelitian dengan sampel 300 karyawan swasta di Jakarta, menemukan bahwa
penyebab stres kerja terdiri atas 4 (empat) hal utama, yakni:
1. Kondisi dan situasi pekerjaan
2. Pekerjaannya
3. Job requirement seperti status pekerjaan dan karir yang tidak jelas
4. Hubungan interpersonal
Luthans (1992) menyebutkan bahwa penyebab stres (stressor) terdiri atas empat hal utama,
yakni:
1. Extra organizational stressors, yang terdiri dari perubahan sosial/teknologi, keluarga,
relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, dan keadaan komunitas/tempat
tinggal.
2. Organizational stressors, yang terdiri dari kebijakan organisasi, struktur organisasi, keadaan
fisik dalam organisasi, dan proses yang terjadi dalam organisasi.
3. Group stressors, yang terdiri dari kurangnya kebersamaan dalam grup, kurangnya
dukungan sosial, serta adanya konflik intraindividu, interpersonal, dan intergrup.
4. Individual stressors, yang terdiri dari terjadinya konflik dan ketidakjelasan peran, serta
disposisi individu seperti pola kepribadian Tipe A, kontrol personal, learned helplessness,
self-efficacy, dan daya tahan psikologis.
Sedangkan Cooper dan Davidson (1991) membagi penyebab stres dalam pekerjaan menjadi
dua, yakni:
* Group stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari situasi maupun keadaan di dalam
perusahaan, misalnya kurangnya kerjasama antara karyawan, konflik antara individu dalam
suatu kelompok, maupun kurangnya dukungan sosial dari sesama karyawan di dalam
perusahaan.
* Individual stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari dalam diri individu, misalnya
tipe kepribadian seseorang, kontrol personal dan tingkat kepasrahan seseorang, persepsi
terhadap diri sendiri, tingkat ketabahan dalam menghadapi konflik peran serta ketidakjelasan
peran.
Cooper (dalam Rice, 1999) memberikan daftar lengkap stressor dari sumber pekerjaan yang
tertera pada tabel berikut:
Stressor
Dari
Stres Kerja
Faktor Yang Mempengaruhi
(Hal-hal Yang Mungkin Terjadi Di Lapangan)
Konsekuensi Kondisi Yang
Mungkin Muncul
Kondisi pekerjaan
* Beban kerja berlebihan secara kuantitatif
* Beban kerja berlebihan secara kualitatif
* Assembly-line hysteria
* Keputusan yang dibuat oleh seseorang
* Bahaya fisik
* Jadwal bekerja
* Technostress
* Kelelahan mental dan/atau fisik
* Kelelahan yang amat sangat dalam bekerja (burnout)
* Meningkatnya kesensitivan dan ketegangan
Stress karena peran
* Ketidakjelasan peran
* Adanya bias dalam membedakan gender dan stereotype peran gender
* Pelecehan seksual
* Meningkatnya kecemasan dan ketegangan
* Menurunnya prestasi pekerjaan
Faktor interpersonal
* Hasil kerja dan sistem dukungan sosial yang buruk
* Persaingan politik, kecemburuan dan kemarahan
* Kurangnya perhatian manajemen terhadap karyawan
* Meningkatnya ketegangan
* Meningkatnya tekanan darah
* Ketidakpuasan kerja
Perkembangan karir
* Promosi ke jabatan yang lebih rendah dari kemampuannya
* Promosi ke jabatan yang lebih tinggi dari kemampuannya
* Keamanan pekerjaannya
* Ambisi yang berlebihan sehingga mengakibatkan frustrasi
* Menurunnya produktivitas
* Kehilangan rasa percaya diri
* Meningkatkan kesensitifan dan ketegangan
* Ketidakpuasan kerja
Struktur organisasi
* Struktur yang kaku dan tidak bersahabat
* Pertempuran politik
* Pengawasan dan pelatihan yang tidak seimbang
* Ketidakterlibatan dalam membuat keputusan
* Menurunnya motivasi dan produktivitas
* Ketidakpuasan kerja
Tampilan rumah-pekerjaan
* Mencampurkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi
* Kurangnya dukungan dari pasangan hidup
* Konflik pernikahan
* Stres karena memiliki dua pekerjaan
* Meningkatnya konflik dan kelelahan mental
* Menurunnya motivasi dan produktivitas
* Meningkatnya konflik pernikahan
Dampak Stres Kerja
Pada umumnya stres kerja lebih banyak merugikan diri karyawan maupun perusahaan. Pada
diri karyawan, konsekuensi tersebut dapat berupa menurunnya gairah kerja, kecemasan yang
tinggi, frustrasi dan sebagainya (Rice, 1999). Konsekuensi pada karyawan ini tidak hanya
berhubungan dengan aktivitas kerja saja, tetapi dapat meluas ke aktivitas lain di luar
pekerjaan. Seperti tidak dapat tidur dengan tenang, selera makan berkurang, kurang mampu
berkonsentrasi, dan sebagainya.
Sedangkan Arnold (1986) menyebutkan bahwa ada empat konsekuensi yang dapat terjadi
akibat stres kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan
psikologis, performance, serta mempengaruhi individu dalam pengambilan keputusan.
Penelitian yang dilakukan Halim (1986) di Jakarta dengan menggunakan 76 sampel manager
dan mandor di perusahaan swasta menunjukkan bahwa efek stres yang mereka rasakan ada
dua. Dua hal tersebut adalah:
* Efek pada fisiologis mereka, seperti: jantung berdegup kencang, denyut jantung meningkat,
bibir kering, berkeringat, mual.
* Efek pada psikologis mereka, dimana mereka merasa tegang, cemas, tidak bisa
berkonsentrasi, ingin pergi ke kamar mandi, ingin meninggalkan situasi stres.
Bagi perusahaan, konsekuensi yang timbul dan bersifat tidak langsung adalah meningkatnya
tingkat absensi, menurunnya tingkat produktivitas, dan secara psikologis dapat menurunkan
komitmen organisasi, memicu perasaan teralienasi, hingga turnover (Greenberg & Baron,
1993; Quick & Quick, 1984; Robbins, 1993).
Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1999) mengkaji ulang beberapa kasus stres
pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu:
1. Gejala psikologis
Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai
stres pekerjaan :
* Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung
* Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)
* Sensitif dan hyperreactivity
* Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi
* Komunikasi yang tidak efektif
* Perasaan terkucil dan terasing
* Kebosanan dan ketidakpuasan kerja
* Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi
* Kehilangan spontanitas dan kreativitas
* Menurunnya rasa percaya diri
2. Gejala fisiologis
Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah:
* Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit
kardiovaskular
* Meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin)
* Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung)
* Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan
* Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic
fatigue syndrome)
* Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada
* Gangguan pada kulit
* Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot
* Gangguan tidur
* Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker
3. Gejala perilaku
Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:
* Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan
* Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas
* Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan
* Perilaku sabotase dalam pekerjaan
* Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke
obesitas
* Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan
kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda
depresi
* Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak
hati-hati dan berjudi
* Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas
* Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman
* Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri

TUGAS KESEHATAN MENTAL


ANALISIS FILM DEMENTIA
Demensia merupakan suatu sindroma yang menunjukkan adanya kemunduran intelegensi.
Gejala demensia meliputi melemahnya daya ingat dan penilaian, disorientasi waktu dan
tempat, serta hilangnya fungsi-fungsi intelek lainnya yang terjadi tanpa gangguan tingkat
kesadaran. Sindroma ini dapat terjadi secara cepat atau berangsur pada semua tahapan umur
manusia.
Ciri-ciri perilaku demensia yang terdapat pada film ini adalah :
1. ADL (Activity of Daily Living)
yaitu kemampuan seseorang untuk mengurus dirinya sendiri) dimulai dari bangun tidur,
mandi, berpakaian dan seterusnya sampai pergi tidur kembali, pokoknya segala kegiatan
orang untuk mengurus kebutuhannya sendiri.
Katherine tidak bisa lg melakukan semua hal tersebut, karena ia membutuhkan perawat
(Louisa) untuk membantunya melakukan itu semua.
2. Perilaku Okupasional
yaitu perilaku yang dilaksanakan seseorang untuk menjalankan kehidupannya untuk bekerja
dan mencari nafkah, yaitu sekolah, bekerja, berorganisasi, menjalankan ibadah, mengisi
waktu luang.
3. Partisipasi sosial
yaitu perilaku seseorang untuk hidup bermasyarakat. Katherine tidak pernah bicara pada
awalnya, jangankan berinteraksi pada masyarakat, dengan anaknya saja, ia tidak pernah mau
berbicara.
Katherin mengalami demensia jenis Frontal-Temporal, yang berarti terlihat perubahan
perilaku dan kepribadian yang ekstrim. Dari seorang yang cukup santai dan banyak bicara
menjadi seorang pribadi yang tertutup dan sangat rendah dalam berinteraksi dengan yang lain.
Kadang Katherine menjadi sangat apatetik dan responsive terhadap lingkungan mereka; pada
waktu yang berlainan dia menunjukkan pola yang berlawanan seperti: euphoria, aktivitas
yang berlebihan dan impulsivitas.
Hal yang pertama kali menyebabkan Katherin mengalami gangguan tersebut adalah
dikarenakan kekecewaan yang mendalam dirinya terhadap suami yang sangat dicintainya
yang rela meninggalkan dirinya karena tertarik dengan seorang wanita bernama Sandra yang
menjadi psikolog putrinya, Veronica. Depresi yang dialaminya membuat dia didiagnosa
menderita demensia. Kebiasaannya dalam minum-minuman keras juga memperparah kondisi
kesehatannya.
Tetapi setelah mendapatkan terapi dari Louisa, Katherine berangsur-angsur menjalani hidup
dengan normal kembali. Namur pada akhirnya, Louisa lah yang malah mempunyai gangguan
mental, akibat teror dan kekerasan yang dilakukan Sonny (suaminya). Sonny memberikan
ancaman dan tekanan terhadap Louisa untuk membunuh Katherine agar seluruh kekayaan
Katherine jatuh kepada Sonny.
KESIMPULAN
Selain menderita demensia Frontal-Temporal, Katherine jg menderita gangguan kognitif dan
fungsional. Yang makin membuat Catherine lebih parah, ia juga selalu minum minutan keras,
dan pernah mencoba untuk bunuh diri yang disebabkan depresi tingkat tinggi akan
gangguannya.
ANALISIS FILM LIFE IS BEAUTIFUL
Tokoh Guido dalam film ini digambarkan mempunyai kepribadian dan mental yang sehat.
Seperti yang dikatakan oleh Freud, individu digambarkan sebagai statu organismo yang
tersusun baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan bnyak spontanitas, kegembiraan
hidup, kreativitas.
Pada film ini terlihat kehidupan Guido telah memenuhi kriteria kepribadian sehat menurut
Allport. Mulai dari perluasan diri hingga filsafat hidup yang terpadu. Dalam ini sedikit
menyuratkan bahwa Guido memiliki filsafat hidup “hidup itu indah” sehingga ia bisa
menerima semua keadaan yang menimpa dirinya. Allport juga berpendapat bahwa
kepribadian yang sehat tidak dibimbing oleh kekuatan-kekuatan tak sadar atau pengalaman-
pengalaman masa lampau.
Menurut Rogers,Guido merupakan orang yang meiliki konsep diri. Selain itu ia tergolong
orang yang berfungsi sepenuhnya. Ia (a) terbuka pada pengalaman, ia suka menceritakan
pengalamannya terhadap teman satu kamarnya. (b) Kehidupan essential,ia selalu menerima
pengalaman yang baru, termasuk pengalaman menjadi pelayan hotel. (c) Keyakinan terhadap
mekanisme diri. Ia menurt seperti apa yang diinginkan dirinya. Tak perdulu apakah orang kan
menilai itu hal aneh. Seperti yang ilakukan saat berpura-pura menjadi komite sekolah.(d)
Kebebasan, saat dipenjara pun ia masih merasakan kebebasan untuk bertindak, namun ia lebih
berhati-hati untuk melakukannya. Seperti yang ia lkukan saat menggunakan microphone
penjara untuk memanggil istrinya. (e) Kreativitas, ia tergolong orang yang kreatif, bagaimana
ia menyembunyikan anaknya diatas gerobak, mengarang cerita tentang keadaan yang
sesungguhnya kedalam suatu konsep permainan untuk menghibur anaknya.
KESIMPULAN
Guido merupakan sosok orang sekaligus ayah yang sangat kuat, ia sangat mati-matian
berjuang agar sikap kekrasan tidak sampai terlihat oleh anaknya. Ketika mereka pertama kali
di tahan sampai Guido tewas, Guido membuat seolah-olah itu semua merupakan sebuah
permainan di depan Joshua (putranya).
DAFTAR PUSTAKA
Davison, Gerald C. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta : Grafindo.
Schultz, Duane. 1993. Psikologi Pertunbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Jogjakarta :
Kanisius.

Posted December 29th, 2008 by wulanlutchuw
• Psikologi Abnormal
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata
ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.
Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang
khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi
terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira
mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa,
emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan
salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator
perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia.
(Prawitasari,1995)
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates.
Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka),
Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan
tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Daniel Goleman
(2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua
tokoh di atas, yaitu :
a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang,
ngeri
d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat,
kemesraan, kasih
f. Terkejut : terkesiap, terkejut
g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
h. malu : malu hati, kesal
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya
adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk
memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea
Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang
benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu,
apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran,
nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak
terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah
mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara
mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam
menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan,
dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki
kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup
yang di jalani menjadi sia-sia.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek)
yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang
berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.