Anda di halaman 1dari 4

Laporan Kasus

TERAPI PRILAKU
A. J. Tanra
Bagian Psikiatri FK. UNHAS

SUMMARY
11 year-old girl was admitted to the hospital with aphasia, since approximately 1 year. The patient could only
communicate through signal languages, sometime only mouth movement without any voice, but the voice could be
heard when she cried. There was weakness of extremities and the patient could not walk or doing other activities
such as eating, bathing and had to be helped by her mother. Approximately 2 years ago, the patient was refered from
Inco Hospital with diagnosis of cathatonic schizophrenia, but after intensive examination, the patient suffered decrease
of counciousness and was treated in Wahidin Sudirohusodo Hospital for 6 months with encephalitis. After improvement
of her counciousness, the patient still could not talk and weakness of extremities.Educational achievement was
declined, could not help herself, very dependent to her parent and emotional control was impaired. In neurological
examination was found weakness of rihgt extremities, increase of muscles tone and physiological reflexes. There
wasn’t any pathological sign in CT-scan result. Piracetam syrup 2 times 1 spoon daily was given for the treatment
along with occupational therapy, speech therapy and token economy behaviour psychotherapy. (J Med Nus. 2006;26
: 100-103)

RINGKASAN
Seorang anak perempuan R, 11 thn, datang dengan keluhan tidak bisa bicara yang dialami sejak kurang lebih 1
tahun yang lalu. Pasien hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat, kadang hanya ada gerakan mulut
tanpa mengeluarkan suara, namun bila pasien nangis, suaranya akan keluar. Tangan dan kaki kanan pasien pun
lemah, sehingga pasien sulit berjalan, dan melakukan aktivitas lainnya, sehingga untuk makan dan mandi, pasien
harus dibantu oleh ibunya, makan kadang disuapi oleh ayahnya. Kurang lebih 2 tahun lalu, pasien dikirim dari Inco
dengan diagnosa Skizofrenia Katatonik stupor, setelah diperiksa, didapatkan bahwa pasien mengalami kesadaran
menurun dan dirawat di RS. Wahidin Sudirohusodo selama kurang lebih 6 bulan dengan ensefalitis dan setelah
kesadarannya membaik, pasien tidak dapat berbicara, lemah pada tungkai dan tangan kanannya. Prestasi
pendidikan mengalami kemunduran dari apa yang telah dicapainya, kurang dapat menolong dirinya sendiri,
sangat bergantung pada orang tuanya, pengendalian emosi agak terganggu. Pada status neurologis ditemukan
fungsi motorik pada ekstremitas superior dan inferior dextra lemah. Tonus otot pada ekstremitas superior dan
inferior dextra meningkat. Refleks fisiologis pada ekstremitas superior dan inferior dextra meningkat. Refleks
patologis tidak ada. Hasil CT-scan tidak ada kelainan. Terapi yang diberikan adalah farmakoterapi Piracetam sirup
2x1 sendok makan, fisioterapi terapi okupasi dan terapi bicara dan psikoterapi terapi perilaku Token Economy.(J
Med Nus. 2006;26 : 100-103)

Identitas pasien
An. R, 11 thn, perempuan, tinggal di Soroako, agama berjalan, dan melakukan aktivitas lainnya, sehingga
Islam, kelas 5 SD. Dirawat di RS Perjan Wahidin untuk makan dan mandi, pasien harus dibantu oleh ibu
Sudirohusodo pada bln September 2004. atau ayahnya. Saat pertama kali bertemu dengan pasien,
pasien banyak tersenyum, bila ditanya sesuatu, akan
Riwayat psikiatri dijawab dengan acungan jempolnya bila pasien
memberi jawaban positif untuk pertanyaan yang
diperoleh dari catatan medik dan alloanamnesis dari
diberikan padanya. Kadang menggerakkan mulutnya
Ny. H, 27 thn, ibu kandung pasien, seorang ibu rumah
seakan-akan ingin bicara tapi tidak mengeluarkan suara.
tangga, yang tinggal serumah dengan pasien. Pasien
Saat diberikan soal berhitung yang sederhana, pasien
datang dengan keluhan utama tidak bisa bicara Dialami
bisa menjawab dengan cukup baik.
sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu. Pasien hanya bisa
berkomunikasi dengan bahasa isyarat, kadang hanya Riwayat penyakit dahulu
ada gerakan mulut tanpa mengeluarkan suara, namun Kurang lebih 2 tahun lalu, pasien dikirim dari Inco ke
bila pasien nangis, suaranya akan keluar. Tangan dan seorang Psikiater dengan diagnosa Skizofrenia Katatonik
kaki kanan pasien pun lemah, sehingga pasien sulit stupor, setelah diperiksa, didapatkan bahwa pasien

100 J Med Nus Vol. 24 No.2 April-Juni 2005


mengalami kesadaran menurun dan dirawat oleh perhatian cukup, daya ingat dan pikiran abstrak sulit
seorang neurolog di RS. Wahidin Sudirohusodo selama dinilai. Pasien kurang dapat dirinya sendiri k a r e n a
kurang lebih 6 bulan dengan ensefalitis dan setelah untuk makan dan mandi, pasien harus dibantu oleh
kesadarannya membaik, pasien tidak dapat berbicara, ibunya, makan pun masih disuapi oleh ayahnya.
lemah pada tungkai dan tangan kanannya. Setelah Gangguan Persepsi tidak ada.
kesadarannya membaik, pasien dikonsul ke bagian
Pikiran. Produktivitas dan kontinuitas pikiran sulit
psikiatri dan dirawat selama 3 bulan dengan diagnosa
dinilai karena adanya hendaya berbahasa, yaitu pasien
gangguan mental organik. Dengan terapi bicara selama
tidak dapat berbicara. Preokupasi dan waham tidak ada.
+ 3 bulan, pasien sudah bisa mengucapkan 1-2 patah
kata, kemudian pasien pulang ke Soroako dan tidak Pengendalian Impuls kurang baik karena saat
pernah kontrol. Dan saat ini pasien datang kembali sedang marah atau menangis, pasien memukul ibunya,
dengan keluhan tidak bisa bicara. dan menjatuhkan diri ke lantai.
Daya Nilai dan Tilikan. Pasien sangat bergantung
Riwayat kehidupan pribadi
pada orang tuanya, dependent, semua serba dilayani.
Riwayat prenatal dan perinatal tidak ada kelainan, Uji daya nilai dan penilaian realitas cukup baik. Pasien
semua dalam batas normal. Pada masa kanak awal, merasa dirinya sakit sehingga mengharapkan dan
pasien sangat dimanja oleh kedua orang tuanya membutuhkan perhatian yang berlebihan.
khususnya ayahnya, karena ayahnya pernah menikah
selama lima tahun namun belum dikaruniai anak, Pemeriksaan diagnostik lebih lanjut
kemudian ayahnya menikah lagi dengan ibu pasien, Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum
sehingga pasien merupakan anak yang sangat tampak kesulitan berjalan, kesadaran komposmentis,
diharapkan. Pada usia 1 tahun, adik pasien lahir. Pada tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 80x/menit, frekuensi
masa kanak pertengahan, pasien tumbuh dan pernapasan 20x/menit, suhu tubuh 370C, konjungtiva:
berkembang seperti anak seusianya. Pasien adalah tidak pucat, sklera: tidak ikterik, cor dan pulmo: dalam
anak yang penurut, dan termasuk anak yang pendiam batas normal, abdomen: dalam batas normal,
jika dibandingkan dengan adiknya. Pasien mulai masuk ekstremitas: tangan dan tungkai kanan lemah.
sekolah dasar pada usia 5 thn, prestasinya cukup baik. Dari pemeriksaan neurologis didapatkan gejala
Menurut ibunya, bila pulang sekolah biasanya pasien rangsang menings tidak ada, pupil bulat, isokor, refleks
langsung masuk ke kamar untuk kerja PR, dan akan cahaya +/+, fungsi motorik pada ekstremitas superior
keluar bila PRnya sudah selesai. Pasien jarang dan inferior dextra lemah. Tonus otot pada lengan dan
menceritakan keadaannya di sekolah kepada orang kaki kanan meningkat. Refleks fisiologis pada lengan
tuanya bila tidak ditanya. Pasien punya beberapa teman dan kaki kanan meningkat. Refleks patologis tidak ada.
yang sering bermain ke rumah. Saat sakit pun cukup Hasil CT-scan tidak ada kelainan.
banyak teman pasien yang menjenguknya.
Riwayat keluarga Evaluasi multiaksial
Pasien adalah anak pertama dari 2 bersaudara, Aksis I : dengan adanya gejala berupa tidak bisa bicara,
adiknya perempuan. Hubungan pasien dengan tidak dapat melakukan aktifitas sendiri seperti makan,
keluarganya baik, kedua orang tua dan adiknya sangat mandi, berpakaian, sangat bergantung pada orang
menyayangi pasien. Saat ini pasien tinggal di bersama tuanya, menurunnya prestasi pendidikan dibandingkan
kedua orang tuanya dan adik. Sejak sakit, pasien sulit dengan anak seusianya, pengendalian impuls agak
makan dan mandi sendiri, harus dibantu oleh ibunya. terganggu, dan hal ini dialami setelah sembuh dari
ensefalitis kurang lebih 2 tahun yang lalu, maka diagnosa
Pemeriksaan status mental. diarahkan pada Sindrom Pasca-ensefalitis (F07.1)
Penampilan. Pasien berpakaian rapi, rambut Aksis II : tidak ada ciri kepribadian yang menonjol,
terpotong pendek dan ikal, senang tersenyum, tampak tahap perkembangan sesuai dengan anak
sulit berjalan. Kesadaran baik, saat wawancara pasien seusianya.
tampak tenang, tersenyum saat ditanya, dan hanya Aksis III : afasia motorik dan spastis extremitas
mengacungkan jempol sebagai jawaban. Jika berjalan, superior dan inferior dextra
pasien menyeret kaki kanannya. Sikap terhadap Aksis IV : tidak ada stresor psikososial
pemeriksa kooperatif. Aksis V : GAF Scale 70-61
Keadaan afektif. Afek kesan normotimia, ekspresi
Daftar problem
afektif senyum-senyum, serasi dan empati dapat
dirabarasakan. Organobiologis : afasia motorik, spastis extremitas sup
& inf dextra
Fungsi Intelektual (kognitif). Taraf pendidikan
Psikologis : adanya rasa bergantung (manja) pada
mengalami kemunduran dari apa yang telah dicapainya.
orang tuanya
Orientasi waktu, tempat dan orang baik, konsentrasi dan

J Med Nus Vol. 24 No.2 April-Juni 2005 101


Sosiologis : ketidakmampuan dalam merawat melaksanakan suatu tugas atau bertingkah laku seperti
dirinya sendiri. yang dikehendaki; keping ini kemudian dapat ditukarkan
dengan berbagai penguat positif seperti barang di toko,
Prognosis : baik
atau suatu kegiatan yang diizinkan seperti dapat keluar
Rencana terapi bermain, dll. Tujuan dari terapi ini adalah menciptakan
suasana dan tingkah laku yang wajar dan dikehendaki.
Farmakoterapi : Piracetam sirup 2x1 sendok makan
Keping-keping itu merupakan alat perantara antara
Fisioterapi : terapi okupasi dan terapi bicara
tingkah laku yang dikehendaki dan penguat. Token
Psikoterapi : terapi perilaku Token Economy
economy dapat dilakukan pada anak yang lebih besar
* Menjelaskan secara sederhana kepada pasien dan dan dapat menunda pemuasan.(1)
keluarga tentang terapi perilaku ini.
Penggunaan tanda-tanda sebagai pemerkuat bagi
* Meminta persetujuan dan kerja sama dari pasien
tingkah laku yang layak memiliki beberapa keuntungan(2,3):
maupun dari keluarga pasien untuk berpartisipasi
dalam pelaksanaan terapi ini. P Tanda-tanda tidak kehilangan nilai insentifnya.
* Menentukan perilaku-perilaku apa saja yang akan P Tanda-tanda bisa mengurangi penundaan antara
diubah ataupun perilaku-perilaku yang harus dimiliki tingkah laku yang layak dengan ganjarannya.
oleh pasien. P Tanda-tanda bisa digunakan sebagai pengukur yang
kongkrit bagi motivasi individu untuk mengubah
No Tingkah Laku Dilakukan Tdk. Dilakukan tingkah laku tertentu.
(bintang merah) (Bintang biru)
P Tanda-tanda bisa digunakan dalam bentuk perkuatan
1. Mengeluarkan suara : yang positif dan negatif.
Huruf P Individu memiliki kesempatan untuk memutuskan
Suku kata bagaimana menggunakan tanda-tanda yang
Kata diperolehnya.
Kalimat
2. Latihan motorik halus- Langkah-langkah dalam mengatur terapi Token
dengan tangan kanan : economy :(4)
1-2 Garis P Adanya komunikasi yang baik antara pasien dengan
> 3 garis terapis.
Huruf P Identifikasi tingkah laku-tingkah laku yang menjadi
Kata target.
Kalimat P Tentukan kemungkinan-kemungkinan untuk masing-
masing target.
3. Makan sendiri
P Tentukan peraturan penggunaan token-token
4. Berpakaian sendiri tersebut.
5. Mandi sendiri P Harus dibuat kesepakatan antara pasien dan terapis.
Token economy merupakan salah satu contoh dari
Menjelaskan tentang jumlah token yang akan perkuatan yang ekstrinsik, yang menjadikan orang-orang
diberikan dan benda apa yang dapat ditukarkan dengan melakukan sesuatu untuk meraih “pemikat di ujung
jumlah token yang didapatkan. Bila pasien melakukan tongkat”. Tujuan prosedur ini adalah mengubah
tingkah laku yang diharapkan, akan diberi 1 bintang motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsik.
merah, bila tidak dilakukan akan diberi bintang biru. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang
Setelah 1 minggu, jumlah bintang merah akan dikurangi diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi
dengan jumlah bintang biru (selisih bintang merah dan cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku yang
baru.(2)
biru). Bila jumlah bintang merah lebih dari 15 buah,
pasien bisa menukarkannya dengan boneka Mickey yang Pada pasien ini, terapi perilaku mulai diberikan saat
dia inginkan (atau benda-benda sesuai perjanjian). pasien akan berobat jalan, sehingga sangat dibutuhkan
kerja sama dari keluarga secara khusus ibunya.
DISKUSI Seminggu setelah pemberian terapi ini, ibu pasien
melaporkan adanya kemajuan, seperti adanya usaha
Token economy dapat diterjemahkan secara bebas untuk makan sendiri, walaupun masih sulit. Minggu
sebagai hasil pendapatan, suatu sistem insentif sebagai kedua, ibu pasien melaporkan bahwa pasien sudah bisa
hasil kerja seseorang dengan menggunakan asas mengucapkan kata “mama”, sudah mau makan sendiri,
operan conditioning yang bertujuan untuk mengubah berusaha untuk mandi dan berpakaian sendiri.
suatu pola tingkah laku. Penguat yang digunakan seperti Kemudian pasien dan ibunya pulang ke Soroako dan
keping (tokens), angka, atau penghargaan, yang belum kontrol hingga saat ini di Poliklinik RS. Wahidin
diberikan kepada penderita bila mereka dapat Sudirohusodo.

102 J Med Nus Vol. 24 No.2 April-Juni 2005


KESIMPULAN terapi, perlu dilakukan penelitian dan studi-studi
komparatif (Sherman, 1973). Dengan demikian,
Salah satu sumbangan yang penting dari terapi perbaikan metode terapi bisa dilakukan.
perilaku adalah caranya yang sistematik, dimana
metode dan teknik terapeutiknya telah menjadi subjek DAFTAR RUJUKAN
bagi pengujian eksperimental. Oleh karenanya prosedur
1. Roan WM : Terapi untuk Mengubah Tingkah Laku, edisi 1,
terapi perilaku berada dalam proses perbaikan dan Speed Offset Jakarta, 1980
pengembangan yang terus menerus, dan kriteria
pemunculan hasil-hasil yang diharapkan sangat baik. 2. Corey G : Terapi Tingkah Laku, Teori dan Praktek Konseling
Hasil klinis metode-metode terapi perilaku pada dan Psikoterapi, Rafika Aditama, Bandung, 2003, hal. 196-
227
umumnya membesarkan hati, baik tingkat
keberhasilannya maupun efisiensinya (Sherman, 1973). 3. Maultsby MC; Wirga M : Behavior Therapy, Encyclopedia
Para terapis perilaku melandaskan pendekatan mereka of Mental Health, Academic Press, 1998, available at http:/
pada beberapa variabel: pengenalan yang cermat atas /www.arcobem.com
tingkah laku yang maladaptif, prosedur-prosedur 4. Corrigan PW : Use of a Token Economy With Seriously
treatment, dan pengubahan tingkah laku. Para pemuka Mentally Ill Patients:Criticisms and Misconceptions,
terapi perilaku menyatakan bahwa untuk mengetahui Psychiatric Services, Vol. 46, Issue 12, December 1995,
kekuatan dan kelemahan masing-masing pendekatan on CD-ROM.

J Med Nus Vol. 24 No.2 April-Juni 2005 103