Anda di halaman 1dari 25

PERAN KELUARGA DALAM

KESEHATAN MENTAL

Oleh :
Dr. Anik Setyo
Wahyuningsih
Apakah Keluarga itu ?
Beberapa bentuk keluarga :
- Nuclear Family
- Extended Family
- Keluarga Campur
Gambaran keluarga modern :
~ Perceraian
~ Pernikahan Kembali
~ Kedua orang tua bekerja
Keluarga  Pusat dari sistem
interpersonal dalam tiap kehidupan
seseorang
Seorang bayi belajar bagaimana hidup
dan menerima kehidupan itu mell
interaksinya dalam keluarga
Interaksi seseorang di masa depan 
memperlihatkan intensitas ikatan
emosi & kepercayaan dasar terhadap
diri & dunia luar yang dihasilkan pada
interaksi awal dalam keluarga.
( Kendall, 1982 )
KELUARGA memiliki peranan yang
sangat penting dalam upaya
mengembangkan kesehatan
mental anak. Perawatan orang tua
yang penuh kasih sayang dan
pendidikan tentang nilai-nilai
kehidupan, baik agama maupun
sosial budaya, yang diberikannya
merupakan faktor yang kondusif
untuk mempersiapkan anak
menjadi pribadi dan anggota
masyarakat yang sehat.
Keluarga merupakan aset yang sangat
penting, individu tidak bisa hidup
sendirian, tanpa ada ikatan-ikatan
dengan keluarga. Begitu menurut
fitrahnya, menurut budayanya, dan
begitulah perintah Allah SWT. Keluarga
memberikan pengaruh yang besar
terhadap seluruh anggotanya sebab
selalu terjadi interaksi yang paling
bermakna, paling berkenan dengan
nilai yang sangat mendasar dan sangat
intim (Djawad Dahlan, dalam Jalaluddin
Rahmat dan Muhtar Gandaatmaja,
1994:49).
Keluarga mempunyai peranan
penting karena dipandang sebagai
sumber pertama dalam proses
sosialisasi (Uichol Kim & John W.
Berry). Keluarga juga berfungsi
sebagai transmitter budaya, atau
mediator sosial budaya anak
(Hurlock, 1956; dan Pervin, 1970).
Keluarga juga dipandang sebagai instansi
(lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan
insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi
pengembangan kepribadiannya, dan
pengembangan ras manusia. Jika mengaitkan
peranan keluarga dengan upaya memenuhi
kebutuhan individu, keluarga merupakan
lembaga pertama yang dapat memenuhi
kebutuhan tersebut. Melalui perawatan, dan
perlakuan yang baik dari orang tua, anak
dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasarnya, baik fisik-bilogis, maupun
sosiopsikologisnya.
Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal
yang sangat penting bagi perkembangan
emosi para anggotanya (terutama anak).
Kebahagiaan itu diperoleh apabila keluarga
dapat memerankan fungsinya secara baik.
Fungsi dasar keluarga adalah memberikan
rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang; dan
mengembangkan hubungan yang baik di
antara anggota keluarga. Hubungan cinta
kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan,
akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan,
rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman,
respek, dan keinginan untuk
menumbuhkembangkan anak yang
dicintainya.
Keluarga yang hubungan antar
anggotanya tidak harmonis, penuh
konflik, atau gap communication,
dapat mengembangkan masalah-
masalah kesehatan mental
(mental illness) bagi anak.
Fungsi keluarga
secara sosiopsikologis, keluarga berfungsi sebagai,(1)
pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga
lainnya; (2) Sumber pemenuhan kebutuhan, baik
fisik maupun psikis; (3) Sumber kasih sayang dan
penerimaan; (4) Model pola perilaku yang tepat bagi
anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat
yang baik; (5) Pemberi bimbingan bagi
pengembangan perilaku yang secara sosial di
anggap tepat; (6) Pembantu anak dalam
memecahkan masalah yang dihadapinya dalam
rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan;
(7) Pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan,
motor, verbal, dan sosial yang dibutuhkan untuk
penyesuaian diri; (8) Stimulator bagi pengembangan
kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di
sekolah maupun di masyarakat; (9) Pembimbing
dalam mengembangkan aspirasi; Dan (10) sumber
persahabatan (teman bermain) anak, sampai cukup
usia untuk mendapatkan teman di luar rumah, atau
apabila persahabatan di luar rumah tidak
memungkinkan.
Sedangkan dari sudut pandang
sosiologis, fungsi keluarga itu
dapat diklasifikasikan ke dalam
fungsi-fungsi biologis, ekonomis,
edukasi, sosialisasi, pro­teksi,
rekreasi, dan religius (M.I.
Soelaeman, 1978; Sudardja
Adiwikarta, 1988; dan Melly S.S.
Rifai, dalam Jalaluddin Rahmat
dan Muhtar G., 1994).
Terdapat banyak unsur keluarga yang
berpengaruh terhadap perkembangan
kesehatan mental anak. Keluarga
memiliki pengaruh yang sangat
berarti terhadap perkembangan
kepribadian atau kesehatan mental
anak (remaja). Unsur-unsur keluarga
yang dipandang berpengaruh itu
adalah menyangkut keberfungsian,
dan perlakuan keluarga.
1. Keberfungsian keluarga. Seiring
dengan perjalanan hidupnya yang
diwarnai oleh faktor internal (kondisi
fisik, psikis, dan moralitas para
anggota keluarga), dan faktor eksternal
(perubahan sosial budaya), maka
masng-masing keluarga mengalami
perubahan yang beragam. Ada keluarga
yang semakin kokoh dalam
menerapkan fungsinya (fungsional-
normal), namun ada juga keluarga yang
mengalami keretakan atau
ketidakharmonisan (disfungsional-tidak
normal).
2. Pola hubungan orang tua-anak (Sikap
atau perlakuan orang tua terha­dap
anak). Weiten dan Lioyd (1994:361)
mengemukakan lima prinsip effective
parenting, yaitu sebagai berikut. (a)
Menyusun standar (aturan perilaku)
yang tinggi, namun dapat dipahami.
Dalam hal ini anak diharapkan untuk
berperilaku dengan cara yang tepat
sesuai dengan usianya.
b) Menaruh perhatian terhadap perilaku anak
yang baik dan memberikan reward (ganjaran).
Perlakuan ini perlu dilakukan sebagai
pengganti dari kebiasaan orang tua pada
umumnya, yaitu bahwa mereka suka menaruh
perhatian kepada anak pada saat anak
berperilaku menyimpang, namun
membiarkannya ketika melakukan yang baik.
(c) Menjelaskan alasannya (tujuannya), ketika
meminta anak untuk mengerjakan sesuatu.
(d) Mendorong anak untuk menelaah dampak
perilakunya terhadap orang lain. (e)
Menegakkan aturan secara konsisten.
beberapa hasil penelitian tentang pengaruh
lingkungan keluarga terhadap kesehatan
mental remaja. (a) Robinson, Sheldon, dan
Glueck (M. Arifin, 1978:130) mengemukakan
ha­sil penelitiannya, yaitu bahwa delinquency
(kejahatan, kenakalan anak /remaja )menjadi
gejala yang sangat penting dari keluarga yang
retak (breakdown), yaitu yang mengalami
disintegrasi, tekanan emosional, dan
kematian orang tua atau cerai.
(b) Peck (Loree, 1970:144) telah meneliti
tentang hubungan antara karakteristik
emosional dan pola perlakuan keluarga
dengan elemen-elemen struktur kepribadian
remaja.
 Seseorang yang mengalami gangguan
perilaku berat merupakan korban dari
pesan-pesan ketidakrukunan satu
pihak dengan pihak lain dalam
keluarga
 Triad yang kaku : (1) detouring
(overproteksi) (2) koalisi (3)
triangulasi
 Masalah keluarga merupakan gejala
interpersonal : kondisi emosi salah
satu anggota keluarga berpengaruh
pada setiap anggota yang lain.
 Kondisi keluarga  kondisi individu
dlm keadaan homeostatis.
Teori Dinamika Keluarga
1. Teori Peran
Keluarga adalah unit yang berfungsi
sesuai atau tidak sesuai menurut
tingkat persepsi peran dan
interaksi diantara kinerja peran dari
setiap anggotanya.
Empat konsep dasar kesehatan
mental & keluarga :
komplementaritas,pertukaran
peran, konflik peran,kebalikan
peran.
2. Teori Perkembangan
Keluarga yang berhasil,berfungsi dengan
baik,bahagia dan kuat tidak hanya seimbang,
tetapi perhatian terhadap anggota
kelg,menggunakan waktu bersama, memilki
pola komunikasi yang baik,memiliki tingkat
orientasi yang tinggi terhadap agama, &
dapat menghadapi krisisdengan pola yang
positif.
Tahapan perkembangan keluarga ( Becvar,
1993): Keluarga baru, Keluarga dg anak, Kel.
dg balita, Kel. dg anak sekolah, Kel. dg anak
remaja, Kel. sbg pusat peluncuran,kel tahun-
tahun menengah, Pensiun.
3.Teori Sistem
Pendapat mengenai keluarga :
~ Perub. dan stres anggota kelg
berpengaruh thd seluruh kelg
~ Kelg memiliki pola interaksi
~ Simpton fisik & psikososial berkaitan
dengan pola interaksi keluarga
~ Ciri kelg sehat adalah kemampuan
menyesuaikan diri terhadap perubahan
~ Berbagi tanggung jawab bersama
~ Perilaku permasalahan harus
dipecahkan, sebelum mengganggu
keharmonisan kelg.
Sistem kelg yang disfungsional
memiliki 2 dimensi: 1. Family
Cohesion (keterikatan
emosional)
rigid,structured,flexible, & kacau.
2. Family Adaptability 
disengaged, separated,connected,
& enmeshed (terlibat)