Anda di halaman 1dari 12

http://www.gratis45.com/cintaseks/artikel-pendidikan-seks-remaja.

html

Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk


remaja
Sebuah Kebutuhan ataukah Malapetaka?
Kembali ke daftar artikel Beberapa saat yang lalu, masyarakat digemparkan oleh
berita tentang cuti hamil untuk siswi yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan
(KTD), yang dilansir secara besar – besaran di media massa. Disusul kemudian
berbagai komentar dan tanggapan dari pihak masyarakat terhadap usulan dari Ibu
Khofifah, selaku Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan / Kepala BKKBN tersebut,
termasuk salah satunya adalah Kakanwil Yogyakarta ( dimuat di Harian Bernas Feb
2001) yang menyatakan bahwa siswi yang hamil tersebut harus dihukum seberat –
beratnya bukannya malah diberikan kelonggaran dengan cuti hamil. Nh, kalo kayak
gini bakal muncul pertanyaan dalam benak kita bagaimana dengan “sang pacar
tercinta” yang bikin hamil tersebut, apakah dia juga bakal dapat hukuman yang
setimpal dengan perbuatannya, ataukah justru ia bebas berlenggang, lolos dari sanksi
yang diterapkan oleh pihak sekolah?

Di lain pihak bakal muncul permasalahan lain dengan maraknya kasus kehamilan tidak
diinginkan ini, yaitu apakah hal ini diakibatkan karena remaja terlalu banyak menerima
informasi tentang seksualitas ataukah justru karena kita nggak tahu sama sekali?
Akibatnya banyak anggapan miring tentang diberikannya pendidikan seksualitas untuk
remaja karena justru akan membuat remaja mencoba – coba / bereksperimen dengan
perilaku seks yang beresiko. Nah,lo…bener nggak sih opini ini?

Lentera Sahaja PKBI Yogyakarta adalah sebuah proyek yang berada di bawah naungan
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, yang peduli terhadap permasalahan
kesehatan reproduksi remaja. Proyek ini bergerak dalam hal perlindungan dan
pencegahan HIV/AIDS, PMS (Penyakit Menular Seksual) serta KTD untuk remaja dan
kelompok marginal. Sasaran dari proyek ini adalah remaja berusia 10 – 24 tahun, yang
rentan karena perilaku seksual beresiko, rendahnya akses terhadap layanan dan
informasi kesehatan reproduksi / seksual, termarginalisasi (terpinggirkan ) karena
status gender/orientasi seksnya dan status sosial ekonomi. Banyak kegiatan yang
dijalankan misalnya konseling, program siaran interaktif di radio, penulisan rubrik di
media massa, pendampingan / outreach untuk anak sekolah maupun remaja jalanan
serta kelompok marginal yang lain. Tentu semua ini dilakukan dengan berpayung pada
nilai – nilai non diskriminatif, adil gender, demokratis, setara dan juga partisipatif.

Masalah kesehatan reproduksi memang merupakan sebuah masalah yang pelik bagi
remaja, karena masa remaja merupakan masa di mana manusia mengalami
perkembangan yang pesat baik fisik, psikis maupun sosial. Di mana perubahan ini juga
akan berdampak pada perilaku remaja tersebut. Perkembangan fisik ditandai dengan
semakin matang dan mulai berfungsinya organ – organ tubuh termasuk organ
reproduksinya. Perubahan psikis yang dialami pada masa pubertas tersebut adalah
lebih perhatian terhadap diri sendiri, lebih perhatian dan juga ingin diperhatikan oleh
lawan jenisnya, dengan menjaga penampilanya. Termasuk dalam perubahan secara
psikis ini adalah inginnya si remaja manjadi mandiri tanpa harus diatur – atur lagi oleh
orang tua. Sedangkan perubahan social yang dialaminya adalah bahwa remaja pada
fase ini akan lebih dekat dengan teman sebayanya dibandingkan dengan orang tuanya
sendiri. Hal ini tentu banyak sekali akibatnya, salah satunya adalah sumber informasi,
karena remaja cenderung lebih dekat dengan teman sebayanya maka kemungkinan
iapun akan lebih percaya pada informasi yang berasal dari teman – temannya,
termasuk informasi tentang seksualitas. Padahal informasi seperti itu belum tentu
dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Inilah yang akhirnya memunculkan mitos-mitos di seputar seksualitas, sebuah informasi


yang belum pasti kebenarannya, namun sudah terlanjur dipercaya oleh remaja. Mitos
yang paling ngetren di kalangan remaja adalah hubungan seks ( HUS ) sekali nggak
bakalan bikin hamil. Atau HUS adalah tanda cinta dan sayang khususnya di hari-hari
spesial seperti ‘hari jadian’, ultah ataupun valentine day. Namun ternyata dari kejadian
inilah angka KTD pun membengkak setiap tahunnya. Salah satu cara menyikapi mitos-
mitos tersebut adalah dengan memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi
dengan tepat dan benar, dan hal ini tercakup dalam pendidikan kesehatan reproduksi /
seksualitas. Pendidikan seksualitas bukan sekedar memberi informasi yang lengkap
mengenai seksualitas, misalnya dari sudut pandang bilogis yaitu tentang organ
reproduksi tetapi juga mengajarkan ketrampilan untuk memilih dan
mengkomunikasikan pilihannya, serta mengajarkan laki-laki untuk lebih menghormati
perempuan dengan demikian pendidikan seksualitas justru melindungi remaja dari
resiko hubungan seks yang tidak terlindungi. Mengingat rasa ingin tahu remaja yang
besar maka memaparkan fakta dan strategi pengambilan keputusan merupakan
sesuatu yang sangat penting dalam pendidikan seksualitas. Ada beberapa persyaratan
yang harus dipenuhi agar pendidikan seks yang diberikan sesuai dengan kebutuhan
remaja, serta tidak menyimpang dari prinsip pendidikan seksualitas itu sendiri.

Kriteria tersebut adalah :


1. pendidikan seksualitas harus didasarkan pada penghormatan atas hak reproduksi
dan hak seksual remaja untuk mempunyai pilihan
2. berdasarkan pada kesetaraan gender
3. melibatkan remaja untuk berpartisipasi dalam semua aspek pendidikan seksualitas
4. dilakukan secara formal maupun non formal
5. pendidikan seksualitas haruslah dilengkapi dengan peningkatan akses terhadap
layanan yang terjangkau, friendly ( ramah ), dan tidak membeda-bedakan

Nah, kita bisa lihat khan, kalau pendidikan seksualitas tuh merupakan sebuah
kebutuhan bagi kita para remaja, untuk mengurangi dahaganya atas informasi
seksualitas yang benar dan bertanggung jawab yang tidak pernah kita dapatkan dari
manapun, dari keluarga, sekolah maupun dari sumber-sumber lain. Apalagi saat ini
tantangan yang dihadapi oleh remaja tidaklah ringan di mana kita musti berada di
jaman yang serba modern, semua serba ada dan tersedia sehingga hanya kita
sendirilah yang bisa mengontrol perilaku berkaitan dengan masalah seksualitas.
Sehingga dengan adanya bekal pendidikan seksualitas ini harapannya adalah kita bakal
menjadi lebih berdaya, bisa memutuskan mana yang terbaik untuk kita dengan segala
resiko yang harus ditanggung.

Masyarakat menganggap bahwa pendidikan seksualitas merupakan sebuah malapetaka


karena adanya persepsi / anggapan yang keliru tentang pendidikan seks itu sendiri di
mana pendidikan seks selalu dianggap identik dengan mengajari remaja untuk
berhubungan seks, padahal masalah seksualitas itu sangatlah luas dari semenjak
manusia lahir sampai ia mati. Kebutuhan ataukah malapetaka sangat tergantung pada
bagaimana masyarakat bisa memahami remaja, sebagai seorang yang sedang berada
di persimpangan jalan bingung untuk memilih jalan mana yang harus ia lalui, dan
pendidikan seksualitas itu berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi remaja.

http://www.idai.or.id/remaja/artikel.asp?q=20103211494

Kesehatan Reproduksi Remaja dalam Aspek Sosial

Objektif:
1. Memahami pengetahuan dan masalah reproduksi pada remaja.
2. Memahami penanganan dalam aspek sosial yang menunjang penanganan reproduksi
remaja secara paripurna.
Definisi mengenai remaja ternyata mempunyai beberapa versi sesuai dengan karakteristik
biologis ataupun sesuai dengan kebutuhan penggolongannya. Pada umumnya remaja
didefinisikan sebagai masaperalihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia
remaja menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun. Namun
jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi
remaja. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua
(tidak mandiri), maka dimasukkan ke dalam kelompok remaja.
Masa remaja merupakan peralihan masa kanak-kanak menjadi dewasa yang melibatkan
perubahan berbagai aspek seperti biologis, psikologis, dan sosial-budaya. WHO mendefinisikan
remaja sebagai perkembangan dari saat timbulnya tanda seks sekunder hingga tercapainya
maturasi seksual dan reproduksi, suatu proses pencapaian mental dan identitas dewasa, serta
peralihan dari ketergantungan sosioekonomi menjadi mandiri. Secara biologis, saat seorang anak
mengalami pubertas dianggap sebagai indikator awal masa remaja. Namun karena tidak adanya
petanda biologis yang berarti untuk menandai berakhirnya masa remaja, maka faktor-faktor
sosial, seperti pernikahan, biasanya digunakan sebagai petanda untuk memasuki masa dewasa.
Rentang usia remaja bervariasi bergantung pada budaya dan tujuan penggunaannya. Di Indonesia
berbagai studi pada kesehatan reproduksi remaja mendefinisikan remaja sebagai orang muda
berusia 15-24 tahun. Sedangkan menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) remaja berusia 10-24 tahun. Sementara Departemen Kesehatan dalam program
kerjanya menjelaskan bahwa remaja adalah usia 10-19 tahun. Di dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat menganggap remaja adalah mereka yang belum menikah dan berusia antara 13-16
tahun, atau mereka yang bersekolah di sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah
atas (SMA).1
Reproduksi
Secara sederhana reproduksi berasal dari kata re = kembali dan produksi = membuat atau
menghasilkan, jadi reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam
menghasilkan keturunan demi kelestarian hidup.2
Kesehatan Reproduksi
Kesehatan Reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala
hal yang berkaitan dengan fungsi, peran & sistem reproduksi.
Kesehatan Reproduksi Remaja
Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan
proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti
bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.2
Masalah remaja
Program kesehatan reproduksi remaja mulai menjadi perhatian pada beberapa tahun terakhir ini
karena beberapa alasan:
• Ancaman HIV/AIDS menyebabkan perilaku seksual dan kesehatan y yreproduksi remaja
muncul ke permukaan. Diperkirakan 20-25% dari semua infeksi HIV di dunia terjadi
pada remaja. Demikian pula halnya dengan kejadian IMS yang tertinggi di remaja,
khususnya remaja perempuan, pada kelompok usia 15-29.3
• Walaupun angka kelahiran pada perempuan berusia di bawah 20 tahun menurun, jumlah
kelahiran pada remaja meningkat karena pendidikan seksual atau kesehatan reproduksi
serta pelayanan yang dibutuhkan.
• Bila pengetahuan mengenai KB dan metode kontrasepsi meningkat pada pasangan usia
subur yang sudah menikah, tidak ada bukti yang menyatakan hal serupa terjadi pada
populasi remaja.
• Pengetahuan dan praktik pada tahap remaja akan menjadi dasar perilaku yang sehat pada
tahapan selanjutnya dalam kehidupan. Sehingga, investasi pada program kesehatan
reproduksi remaja akan bermanfaat selama hidupnya.
• Kelompok populasi remaja sangat besar; saat ini lebih dari separuh populasi dunia
berusia di bawah 25 tahun dan 29% berusia antara 10-25 tahun.
Menanggapi hal itu, maka Konferensi Internasinal Kependudukan dan Pembangunan di Kairo
tahun 1994 menyarankan bahwa respon masyarakat terhadap kebutuhan kesehatan reproduksi
remaja haruslah berdasarkan informasi yang membantu mereka menjadi dewasa yang dibutuhkan
untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Aborsi, kehamilan dan kontrasepsi pada remaja
Aborsi diartikan sebagai tindakan menghentikan kehamilan dengan sengaja sebelum janin dapat
hidup diluar kandungan (sebelum kehamilan 20 minggu atau berat janin masih kurang dari 500
gram) tanpa indikasi medis yang jelas.5 Pada remaja dikota besar yang mempunyai tipe ”Early
sexual experience, late marriage”, maka hal inilah yang menunjang tejadinya masalah aborsi
biasanya terjadi di kota besar. Disinyalir bahwa saat ini di Indonesia terjadi 2,6 juta aborsi setiap
tahunnya. Sebanyak 700.000 diantaranya pelakunya adalah remaja. Data mengenai aborsi di
Indonesia seringkali tidak begitu pasti karena dalam pelaksanaan kasus aborsi baik si pelaku
yang diaborsi maupun yang melakukan indakan aborsi tidak pernah melaporkan kejadian
tersebut, bahkan seringkali dilakukan secara sembunyi sembunyi. Pada pertemuan Konferensi
Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo tahun 1994, telah dikemukakan
mengenai hak hak wanita dalam mendapatkan pelayanan Kesehatan Reproduksi yang baik,
diantaranya bahwa mereka mempunyai hak mendapatkan pelayanan Aborsi yang aman (safe
abortion), hal ini dimaksudkan untuk menurunkan angka kematian maternal yang hal inilah yang
mungkin merupakan salah satu “hambatan” dalam upaya menyelenggarakan pelayanan aborsi
yang aman.
Pencegahan aborsi adalah usaha yang harus diutamakan terlebih dahulu dalam upaya penurunan
angka kematian maternal. Sebuah organisasi di Amerika Serikat/Kanada “Ontario Consultant on
Religious Tolerance” sebuah organisasi yang mempunyai misi menurunkan angka aborsi di
Amerika Serikat mengemukakan mengenai mengapa terdapat perbedaan angka kehamilan tidak
diinginkan dan angka aborsi, dimana kejadian di Eropa ternyata jauh lebih rendah dibandingkan
di Amerika Serikat. Pada penelitian itu dikemukakan mengapa angka kehamilan yang tidak
diinginkan dan angka aborsi di Eropa lebih rendah dari pada Amerika Serikat karena baik dari
masyarakat maupun pemerintahnya mempunyai beberapa keadaan yang secara umum
digambarkan sebagai berikut bahwa di Eropa kaum muda memandang kehamilan yang tidak
diinginkan dan aborsi adalah malapetaka, sehingga mempunyai prioritas yang tinggi dalam
mencegah keadaan itu, remaja yang lebih bertanggung jawab atas reproduksinya, dan juga dari
pihak pemerintah yang mendorong penelitian di bidang ini, mendorong advokasi dari organisasi
religious, menyediakan alat kontrasepsi untuk remaja seperti kondom yang dapat dibeli dengan
harga murah bahkan gratis, menyelenggarakan pendidikan reproduksi di sekolah, dan
memberikan informasi melalui media yang seluas luasnya.6 Keadaan yang secara umum dapat
terjadi pada proses seksual yang tidak aman adalah: kehamilan yang tidak diinginkan yang akan
menjurus ke aborsi atau kehamilan remaja yang beresiko, terinfeksi penyakit menular
seksual,termasuk didalamnya HIV/AIDS. Upaya pencegahan yang dianjurkan adalah: tidak
melakukan hubungan seksual. Jika sudah berhubungan dianjurkan untuk memakai alat
kontrasepsi terutama kondom (pencegahan Infeksi Menular Seksual) atau alat kontrasepsi lain
untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, dan dianjurkan untuk mempunyai pasangan
yang sehat.2,7,8,9
Infeksi Menular Seksual pada remaja
Di Amerika Serikat, remaja usia 15–17 tahun dan dewasa muda 18– 24 tahun merupakan
kelompok usia penderita IMS yang tertinggi dibandingkan dengan kelompok usia lain.10
Metaanalisis dari berbagai publikasi di Medline yang dikerjakan oleh Chacko, dkk. 2004,
mengemukakan bahwa prevalensi klamidia pada wanita usia 15 - 24 tahun di klinik keluarga
berencana (KB) adalah: 3,0 -14,2% dan gonore 0,1% - 2,8%.11 Di Thailand, pada 1999 Paz-
Bailey, dkk. melakukan penelitian di tiga sekolah kejuruan di Propinsi Chiang Rai. Mereka
melaporkan bahwa dari 359 remaja wanita usia 15–21 tahun yang telah melakukan hubungan
seksual, dengan pemeriksaan laboratorium polymerase chain reaction (PCR), 22 orang (6,1%)
positif terinfeksi klamidia dan 3 orang (0,3%) terinfeksi gonore.12
Di Indonesia sendiri hingga saat ini sistem pencatatan dan pelaporan kunjungan berobat di sarana
pelayanan kesehatan dasar tidak dapat dijadikan acuan untuk menentukan besaran masalah
IMS/ISR. Data yang berasal dari laporan bulanan puskesmas dan rumah sakit pemerintah hanya
mencantumkan dua macam IMS yaitu: gonore dan sifilis. Laporan tersebut juga tidak melakukan
analisis berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin. Di Poli Divisi Infeksi Menular Seksual
Departemen Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Perjan RS Dr. Ciptomangunkusumo, pada tahun
2004, Infeksi Genitalia Non Spesifik (IGNS) pada wanita merupakan penyakit yang terbanyak
yaitu 104 dari 541 kunjungan baru pasien wanita. Sedangkan gonore ditemukan pada 17 pasien
wanita dan trikomonas pada 11 pasien wanita.13
Pencegahan dan penanganan IMS/HIV/AIDS serta kesehatan reproduksi remaja merupakan
bagian dari paket kesehatan reproduksi esensial (PKRE), yang disetujui dalam Lokakarya
Nasional Kesehatan Reproduksi Mei 1996, selain kesehatan ibu & anak (KIA) serta KB.14 Pada
tahun 1999 Departemen Kesehatan melalui Direktorat Bina Kesehatan Keluarga mencoba
mewujudkan keterpaduan PKRE tersebut, dengan menyusun langkah-langkah praktis PKRE di
tingkat pelayanan kesehatan dasar menjadi beberapa komponen. Komponen tersebut adalah:
kontrasepsi, pelayanan kehamilan, persalinan & nifas, perawatan pasca keguguran, kasus
perkosaan, serta pemeriksaan IMS/ISR dan HIV di kalangan remaja. Pelayanan kesehatan
reproduksi di tingkat pelayanan kesehatan dasar tersebut diharapkan dapat menurunkan risiko
keguguran, kehamilan tak dikehendaki, persalinan pada usia muda, dan menurunkan angka
IMS/ISR serta HIV pada remaja. Namun, hingga saat ini belum ada implementasi nyata,
walaupun beberapa uji coba untuk memadukan pelayanan IMS dengan pelayanan KIA atau KB
telah dilakukan oleh Depkes dan lembaga lain.
Pelayanan Remaja yang direkomendasikan
Pelayanan kesehatan reproduksi yang direkomendasikan adalah:15,16
• konseling , informasi dan pelayanan Keluarga Berencana (KB)
• pelayanan kehamilan dan persalinan (termasuk: pelayanan aborsi yang aman, pelayanan
bayi baru lahir/neonatal)
• pengobatan infeksi saluran reproduksi (ISR) dan penyakit menular seksual (PMS),
termasuk pencegahan kemandulan
• Konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja (KRR)
• Konseling, informasi dan edukasi (KIE) mengenai kesehatan reproduksi
Mengapa Remaja Perlu Mengetahui Kesehatan Reproduksi.
Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai
proses reproduksi serta berbagai faktor yang berhubungan. Dengan informasi yang benar,
diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses
reproduksi.
Pengetahuan dasar yang perlu diberikan kepada remaja.2
• Pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang
remaja)
• mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana ymerencanakan
kehamilan agar sesuai dengan keinginannya dan pasangannya
• Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap ykondisi kesehatan
reproduksi
• Bahaya penggunaan obat obatan/narkoba pada kesehatan yreproduksi
• Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual
• Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
• Mengembangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat ykepercayaan diri
agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif
• Hak-hak reproduksi
Kesimpulan
Proses reproduksi merupakan proses melanjutkan keturunan yang menjadi tanggung jawab
bersama laki-laki maupun perempuan. Karena itu baik laki-laki maupun perempuan harus tahu
dan mengerti mengenai berbagai aspek kesehatan reproduksi. Kesalahan dimana persoalan
reproduksi lebih banyak menjadi tanggung jawab perempuan tidak boleh
Daftar Pustaka
1. Situmorang A. Adolescent Reproductive Health in Indonesia: A report 1. prepared for
STARH program Johns Hopkins University. Jakarta: Center for Communication
Program, 2003.
2. Regional Training Seminar on guidance and counseling.Modul 7, Adolescent 2.
Reproductive Health.ed: John Allen.UNESCO.France.June.2002
3. The Health of Young People: A Challenge and A Promise. World Health 3. Organization,
1993.
4. Nafis Sadik (ed.), Making a Difference: Twenty-five Year of UNFPA Experience. 4.
UNFPA, 1994.
5. Leveno K,Cunningham FG,Alexander JM et al.Early Pregnancy Loss.Williams 5.
Manual of Pregnancy Complication,22nd ed.Mc Graw-Hill Companies.2007. h. 3-14
6. SJ Ventura et al,Trends in pregnancy rates for the United States,1976-97:an 6.
update,National Vital Statistic Reports.2001;49(4):1-10
7. Contraception and Adolesents. Pediatrics 2007; 120(5): h. 1135-48.7.
8. Greydanus DE, et al. Contraception in the Adolescent. Pediatrics, 2001; 8. 107(3): h.
562-73.
9. Rimsza M. Counselling the Adolescent about Contraception. Pediatric Review, 9. 2004;
24(5): h. 162-70.
10. Shafii T, Burstein GR. An overview of sexually transmitted infections among 10.
adolescents. Adolesc Med 2004; 15: h. 201-14.
11. Risser WL, Bortot AT, Benjamins AJ, Feldmann JM, Barratt MS, Eissa MA, dkk. 11.
The epidemiology of sexually transmitted infections in adolescents. Semin Pediatr Infect
Dis 2005; 16: h. 160-167.
12. Paz-Bailey G, Kilmarx PH, Supatwikul S, Chaowanachan T, Jeeyapant S, 12. Sternberg
M, etc. Risk Factor for Sexually Transmitted Diseases in Northern Thai Adolescents. Sex
Transm Dis; 2003; 30: h. 320-6
13. Laporan Morbiditas Divisi Infeksi Menular Seksual Departemen Ilmu 13. Kesehatan
Kulit dan Kelamin FKUI Perjan RS Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta, Januari-Desember
2004.
14. Profil Kesehatan Republik Indonesia 2003. Departemen Kesehatan Republik 14.
Indonesia. WHO, 2003.
15. Mahler H.Stateman to The ICPD Cairo.Journal of the family 15.
welfare.1994,Dec40(4):h.8-10
16. Summary of the programme action.International Conference on Population and
Development (ICPD) Cairo. 1994
Penulis : J.M. Seno Adjie | Sumber : Buku The2nd Adolescent Health National Symposia:
Current Challenges in Management
http://askep-askeb.cz.cc/2010/03/remaja-dan-kesehatan-reproduksi.html
Remaja dan Kesehatan Reproduksi

(whandi.net) Remaja
adalah golongan yang cukup banyak terdapat dalam susunan penduduk
Indonesia dimana dari 200 juta penduduk, sekitar 20 % adalah golongan
yang berusia 10 - 14 tahun. Kelak mereka akan menjadi orang tua dan
mempunyai anak

Remaja pun mempunyai kedudukan yang unik karena


dalam ilmu kedokteran digolongkan dalam usia peralihan ( pubertas) dan
masa anak-anak ke masa dewasa. Peralihan yang terjadi bukan saja fisik
dan mental, tetapi juga terjadi perubahan secara berangsur-angsur pada
sistim reproduksinya menjadi matang dan berfungsi seperti orang dewasa.
Setiap perubahan bagaimana pun juga akan menyebabkan timbulriya
goncangan bagi individu yang mengalami.

Kesehatan reproduksi
secara singkat dapat digambarkan sebagai suatu keadaan dimana fisik
mental dan sosial dinyatakan sehat supaya dapat menjalankan fungsi
reproduksi. Hal ini berarti mencakup
1. Kemampuan ber-reproduksi
2. Berhasil mempunyai anak yang sehat, dapat tumbuh dan berkembang menjadi
manusia dewasa
3.
Aman menjalankan proses reproduksi termasuk melakukan hubungan seks,
hamil, melahirkan, memilih jumlah anak dan menetapkan pemakaian KB.
Dan
yang terpenting disini adalah hak laki-laki atau perempuan untuk
mendapatkan informasi dun pelayanan serta menentukan keinginannya dalam
kehidupan reproduksi.

Seperti yang telah disebut di atas, usia


remaja berdasar antara 12 - 24 th (12 - 21 th) Pada awal usia remaja
teqadi perkembangan dan pemasangan alat dan fungsi reproduksi secara
berangsur-angsur sampai mereka memasuki usia dewasa muda. Hal ini
ditandai dengan adanya perubahan fisik seperti tubuh menjadi lebih
tinggi dan otot tubuh menjadi lebih membesar, timbulnya jerawat wajah,
tumbuh bulu diketiak dan kemaluan, tumbuhnya payudara, tejadi perubahan
suara dan tumbuh kumis pada remaja pria. Dan yang terpenting adalah
datangnya haid pada remaja putri dan hadirnya mimpi basah pada remaja
putra, sebagai tanda bahwa organ reproduksinya mulai berfungsi.
Perubahan ini kadang-kadang menimbulkan rasa cemas, takut, malu, merasa
dirinya menjadi lain dan remaja pun bingung, karena mereka tidak
mempunyai pengetahuan yang cukup dan tidak mendapat informasi yang
memadai.

Selain itu terjadi pula perubahan minat dan perilaku pada remaja seperti:
• mereka mulai memperhatikan penampilannya
• mulai tertarik pada lawan jenisnya
• melakukan usaha untuk menarik perhatian lawan jenis, bertingkah laku lebih
genit.

Dikota
besar, gejala-gejala seperti ini dapat kita lihat dengan banyak-nya
remaja yang mangkal dan 'ngeceng' di pusat-pusat perbelanjaan (mal),
tempat-tempat pertunjukan, atau kalau remaja tinggal di pinggiran kota
atau desa, terlihat gerombolan remaja yang memadati tontonan layar
tancap, pertunjukan dangdut di perayaan-perayaan.. Mereka terlihat
berdandan habis-habisan memakai pakaian yang sedang 'ngetrend' dan
terutama perilaku remaja banyak diarahkan untuk menarik perhatian.

Salahkah
sepenuhnya remaja melakukan hal tersebut?, sulit bagi kita untuk
menghakimi mereka, semata-mata dari tingkahnya yang genit, bebas dan
kadang beriebihan. Seiring dengan matangnya alat reproduksi, maka pada
tubuh remaja juga teqadi peningkatan hormon seks (estrogen, progestron,
ondmgen, antosteron) yang mempunyai libido (dorongan/gairah seks).

Libido
ini adalah karunia Tuhan, untuk menimbulkan keinginan yang berhubungan
dengan aktivftas seks yang diperlukan dalam reproduksi manusia. Rasa
ingin tahu, sulitnya meredam dan mengendalikan dorongan seks ditambah
tidak adanya pengetahuan dan informasi yang memadai mengenai kesehatan
reproduksi, dapat menyebabkan remaja terjerumus pada kesulitan 'besae”.

Seperti
yang disebut di atas bahwa hak untuk mendapatkan informasi dan
pelayanan reproduksi adalah hak setiap orang. Sementara pada orang
dewasa saja agaknya sulit diriapat karena sifat 'tabu' membicarakan
masalah seks. Apalagi pada remaja, dimana seharusnya mereka lebih baik
mendapat informasi dari orang tua. Tetapi karena sebagian orang tua
adalah produk diriikan generasi lama yang merasa tidak pantas, malu dan
mengelak untuk membicarakan seks dengan anaknya. Bahkan mereka sendiri
sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan kesehatan reproduksi yang lebih
dibanding anaknya, walaupun orang tua adalah pelaku seks yang aktif.

Memang
sudah ada beberapa LSM dan pusat pelayanan remaja yang menyediakan
pelayanan reproduksi dalam bentuk ceramah, konsultasi melalui
telpon/surat dan ada beberapa buku saku yang pernah diterbitkan, tetapi
belum banyak, menjangkau masyarakat remaja dan belum dimasyarakatkan
secara maksimal. Sementara banyak pihak termasuk remaja, orang tua,
guru, pendiriik pemuka agama dan tokoh, masyarakat yang merasa takut
apabila informasi dan pendiriikan seks diberikan kepada remaja akan
disalah gunakan oleh remaja. Maka remaja pun lebih senang bertanya pada
teman sebaya yang tidak lebih baik pengetahuannya atau melihat dari
film di TV , bioskop dan membaca dari buku, majalah yang lebih banyak
menyajikan seks secara vulgar ketimbang pengetahuan pendiriikan seks
yang benar.

Beberapa contoh 'masalah' kesehatan reproduksi remaja yang sedng muncul pada
saat seminar/ceramah

1. Masturbasi
Dari
ceramah yang diadakan, selalu timbul pertanyaan mengenai masturbasi
Amankah? berdosakah? bisa menyebabkan kemandulan? bisakah menghilangkan
keperawanan?. Pertanyaan tersebut mungkin dapat mencerminkan adanya
hasrat seks yang timbul pada remaja.

2. Jerawat dan bau bodan


Bisa
jadi hal ini adalah sepele bagi orang dewasa, tetapi bagi remaja yang
mengalami merupakan malapetaka, dapat menghilangkan percaya diri,
menyebabkan rasa rendah diri dalam pergaulan. Padahal jerawat adalah
keadaan normal pada saat puber yang akan hilang sendiri setelah
menginjak masa dewasa. Bau badan dapat terjadi karena kelenjar keringat
mulai aktif saat puber dan dapat diatasi dengan menjaga kebersihan
diri. Dokter pun sering tidak menolong dengan memberikan penjelasan
pada remaja, cukup memeriksa dan memberi resep.

3. Keputihan pada remja putri


Sebagian
besar remaja putd mengalami keputihan, keluarnya cairan bedebih dari
vagina. Walaupun keputihan bisa terjadi secara fisiologis dan normal,
tetapi bisa juga disebabkan karena jamur atau kuman. Keadaan ini
membuat remaja putri merasa tidak nyaman dan umumnya mereka enggan
berkonsultasi dengan dokter kerena harus membicarakan dan diperiksa
alat kelaminnya.

4. Keperawanan
Ternyata baik di kota
besar dan kecil, topik ini banyak dipertanyakan baik oleh remaja putra
maupun putri; karena walaupun zaman sudah maju, sebagian orang
menganggap bahwa virgin/perawan adalah tanda pada seorang perempuan
baik-baik Remaja putri sering takut bila keperawanannya dapat hilang
akibat olah raga, terjatuh, terobek oleh jarinya sendiri, saat
membersihkan daerah vagina ketika buang air kecil, buang air besar.
Remaja putra pun sering mempertanyakan tanda fisik yang dapat dilihat
dari seorang perempuan apakah dia masih perawan atau tidak Mengapa
masalah keperawanan masih saja dipertanyakan dan mengapa keperjakaan
tidak menjadi isu moral.

Beberapa hal yang harus menjadi perhatian utama bagi remaja dalam kaitan
dengan kesehatan reproduksi:

1. Penundaan Usia Nikah


Karena
harus menyelesaikan sekolah dan meniti kalir, maka banyak remaja yang
harus menunda usia nikah. Sementara pematangan organ reproduksi dan
gairah/libido semakin mendesak Perlu ada jalan keluar untuk
mengatasinya.

2. lnformosi seks yang aman.


Banyak
penelitian yang mengungkapkan remaja sudah melakukan hubungan seks di
beberapa tempat dengan pacarnya atau berganti-ganti pasangan. Apabila
hubungan seks sudah menjadi kebutuhan biologisnya, apakah bisa kita
menyuruh begitu saja menghentikan? Ada baiknya bila terdapat informasi
yang baik dan lengkap untuk remaja yang 'sudah terlanjur agar mereka
dapat melakukan hubungan seks yang aman sehingga dapat terhindar dari
PMS/AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan.

3. Parnikahan pada usia muda.


Hal
ini dapat terjadi pasangan remaja yang mengalami 'kecelakaan'.
Bagaimana dengan masa depan mereka yang harus putus sekolah, bagaimana
dengan proses kehamilan dan persalinan pada remaja putri yang beresiko
tinggi, dan dimana pasangan muda bisa memperoleh kontrasepsi supaya
tidak terlanjur punya bayi berikut?

Pada keluarga yang mengalami


kesulitan ekonomi, anak gadisnya adalah tambang emas untuk mengentaskan
kemiskinan keluarga. Bahkan sebelum alat reproduksiriya matang, remaja
putri sudah dikawinkan dengan laki-laki yang lebih tua, lebih matang,
dan jam terbang pengalaman seks nya sudah banyak, dengan demikian
potensi untuk tertular PMS lebih besar dan juga karena semaidn muda la
memulai hubungan seks dan berpotensi melahirkan anak banyak dalam
keadaan gizi kurang, remaja putri juga beresiko untuk mendapat penyakit
kanker leher rahim.

4. Remaja yang menjual dirinya untuk kebutuhan hidup atau kesenangan semata.
Tingginya
angka standar aborsi dikalangan remaja, sering dikaitkan dengan pola
hidupnya yang tidak lepas dari pengaruh lingkungan, keinginan untuk
hidup mewah, mencoba bertualang dalam cinta, ajakan teman sering
membuat remaja tidak mampu mempertahankan norma-norma yang sudah
diajarkan oleh agama, orang tua dan sekolah. Gemedap kehidupan sering
menggoda pada remaja untuk lebih mudah melakukan hubungan seks dengan
siapa saja.

Dari pembahasan di atas kita dapati bahwa ternyata


tidak mudah untuk mempersiapkan remaja memasuki tahap reproduksi sehat
kaitan antara remaja, orang tua, guru, tokoh masyarakat tokoh agama,
pihak pemerhati dan tenaga kesehatan harus lebih terbuka dalam hal
pembedan informasi dan pelajaran kesehatan reproduksi. (dr. Ramona
Sari/hqweb01.bkkbn.go.id)