P. 1
Gorontalo PEA Report_Final 14032008

Gorontalo PEA Report_Final 14032008

|Views: 607|Likes:
Dipublikasikan oleh Dwi Kurniawan

More info:

Published by: Dwi Kurniawan on Jul 27, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2012

pdf

text

original

BACKGROUND REPORT

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN PELAYANAN PUBLIK DI PROVINSI PEMEKARAN
KAJIAN PENGELUARAN PUBLIK GORONTALO 2008

Bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo Universitas Gorontalo

Desentralization Support Facility - Eastern Indonesia Jl. DR. Soetomo No. 26 - Makassar 90113 Tel : +62 411 3650320 - 22 Fax : +62 411 3650323 Website: www.bakti.org Dicetak pada bulan Maret 2008. Foto-foto dihalaman sampul: Copyright © Pemprov. Gorontalo Laporan yang berjudul Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo: Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran merupakan hasil kerja bersama antara Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Universitas Gorontalo yang di dukung oleh Bank Dunia dan DSF-SOfEI serta pendanaan yang berasal dari Pemerintah Kerajaan Belanda dan DfID-Kerajaan Britannia Raya melalui Decentralization Support Facility (DSF). Kami tidak menjamin kecermatan data yang terdapat pada penelitian ini. Batasan, warna, angka, dan informasi lain yang tertera pada setiap peta dalam penelitian ini tidak mencerminkan penilaian kami tentang status hukum sebuah wilayah atau merupakan bentuk pengakuan dan penerimaan atas batasan tersebut. Untuk pertanyaan lebih lanjut mengenai laporan ini silakan menghubungi Bambang Supriyanto (rianto2000id@yahoo.com), sedangkan untuk informasi mengenai pelaksanaan program silakan menghubungi John Theodore Weohau (jweohau@worldbank.org) atau Bastian Zaini (bzaini@worldbank.org).

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran
Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Kata Pengantar Pemerintah Provinsi Gorontalo

Saya menyambut gembira peluncuran laporan Gorontalo Public Expenditure Analysis (Gorontalo PEA) yang merupakan laporan komprehensif pertama yang membahas masalah keuangan daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah di Provinsi Gorontalo. Sebagai salah satu provinsi termuda di tanah tanah air, tentunya tidak sedikit tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo. Tingkat kemiskinan yang tinggi merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi oleh Provinsi yang saya pimpin ini. Pemerintah, sebagai pengayom masyarakat memiliki tanggung jawab yang berat dan mulia dalam upaya-upaya pembangunan daerah, pemberantasan kemiskinan dan pelayanan publik dasar – di bidang pendidikan dan kesehatan misalnya – kepada seluruh lapisan masyarakat. Dalam melaksanakan ketiga tugas utamanya tersebut, keberhasilan Pemerintah daerah akan sangat bergantung pada tiga hal. Pertama, visi pemerintahan daerah dalam membangun wilayahnya; kedua, kapasitas birokrasi pemerintahan; dan ketiga, sumber daya keuangan yang dimilikinya. Visi yang tajam sangat dibutuhkan dalam mengarahkan upaya-upaya pembangunan daerah sehingga mampu mensinergikan upaya dari berbagai aktor maupun stakeholders pembangunan lainnya. Lebihlebih bagi daerah baru dengan sumberdaya yang terbatas seperti Gorontalo diperlukan visi dan kepemimpinan yang membumi sehingga dapat memacu seluruh lapisan masyarakat untuk bersamasama melepaskan diri dari belenggu kemiskinan menuju masa depan yang lebih sejahtera. Dalam kurun waktu 2001-2006, Gorontalo telah membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah menjadi hambatan dalam mengelola tata-pemerintahan yang baik dan dalam merumuskan visi dan perencanaan pembangunan yang maju dan berwawasan. Upaya pengentasan kemiskinan sebenarnya dapat secara cepat direalisasikan bila daerah mampu mengenali potensi unggulan lokal yang ada dan kemudian memfokuskan upaya pertumbuhan terhadap sektor-sektor tersebut. Gorontalo telah merintis hal tersebut dengan Program Agropolitan Jagung serta pengembangan Teluk Tomini sebagai salah satu etalase pengembangan perikanan nasional dan regional di KTI. Sebagai provinsi baru, Gorontalo telah berhasil menyusun APBD yang berbasis kinerja sejak tahun 2003. Lalu pada tahun 2004 Provinsi Gorontalo telah berupaya menyusun Standar Pelayanan Minimal untuk beberapa jenis pelayanan di bidang keuangan dan sekaligus standar biayanya sebagai dasar penyusunan anggaran kinerja. Ini semua menunjukkan upaya berkelanjutan Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam melakukan reformasi birokrasi terutama terkait dengan pengelolaan keuangan daerah. Tentunya masih banyak kekurangan dan tantangan yang dihadapi oleh Gorontalo seperti yang tertulis dalam laporan ini. Tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah Provinsi ke depan pada dasarnya bukan merupakan hambatan sepanjang upaya-upaya pembangunan daerah terus memperoleh dukungan

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

i

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

dari Pemerintah Kabupaten dan Kota sebagai penggerak utama pembangunan di tingkat akar rumput, serta dari Pemerintah Pusat dan Lembaga Donor. Buku ini kiranya dapat menjadi dokumen pembelajaran yang berharga bagi kami, Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo agar lebih baik lagi menata keuangan daerah dan birokrasi pemerintahan menuju entrepreneurial government yang sesungguhnya. Terwujudnya dokumen ini adalah berkat kerja keras berbagai pihak. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih atas kerjasama Bank Dunia dan Kantor Decentralization Support Facility Eastern Indonesia (DSF-SOfEI). Saya juga menyampaikan penghargaan dan rasa bangga atas keterlibatan Tim Universitas Gorontalo sebagai local knowledge centre dalam memfasilitasi penulisan laporan ini. Semoga dokumen ini dapat bermanfaat bagi jajaran Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota seProvinsi Gorontalo baik sebagai referensi pengelolaan keuangan daerah maupun sebagai planning tool bagi perencanaan daerah. Gorontalo, Oktober 2007

Dr. Ir. Fadel Muhammad Gubernur Gorontalo

ii

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Kata Pengantar Desentralization Support Facility - Eastern Indonesia
Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo ini merupakan laporan latar belakang (background report) yang disusun oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Universitas Gorontalo. Laporan ini merupakan salah satu output dari Program Kajian Pengeluaran Publik dan Peningkatan Kapasitas, atau lebih dikenal sebagai program PEACH (Public Expenditure Analysis and Capacity en Hancement). Program PEACH Gorontalo merupakan program milik Pemerintah Provinsi Gorontalo, yang mendapatkan dukungan pendampingan teknis dari Bank Dunia dan Kantor Decentralization Support Facility Eastern Indonesia (SOfEI). Program ini dimulai pada bulan Juni 2006 melalui prakarsa Gubernur dan Kepala BAPPEDA Provinsi Gorontalo melalui Forum Kawasan Timur Indonesia, suatu forum pertukaran pengetahuan antar berbagai pelaku pembangunan baik dari kalangan pemerintahan, perguruan tinggi, maupun organisasi-organisasi non-pemerintah yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pembangunan bagi bangsa Indonesia. Terlaksananya program ini merupakan wujud kesungguhan Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk memperkuat pengelolaan keuangan daerahnya dalam rangka peningkatan pelayanan publik di provinsi yang belum lama dimekarkan ini. Kiranya melalui laporan ini pemerintah dan masyarakat di Provinsi Gorontalo dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang pengelolaan keuangan daerahnya yang memungkinkan penguatan terstruktur dan terencana bagi peningkatan kinerja pemerintahan daerah. Penelitian dan analisa data dilakukan oleh Tim PEACH dari Universitas Gorontalo yang terdiri dari Bambang Supriyanto, Bachtiar, Duke Arie Widagdo, Elvis Mus Abdul, Fitriary A. Puhi, Hartati Inaku, Ilyas Lamuda, Mohamad Rolli Paramata, Razak H. Umar, dan Syamsul Qamar Ngabito. Dukungan selama penelitian dan analisa data diperoleh dari Pemerintah Provinsi Gorontalo, terutama dari kantor BAPPEDA dan Badan Keuangan Daerah, antara lain dari Prof. DR. Winarni Monoarfa, Bp. Andha Fauzi Miraza, Bp. Darmadi, Bp. Aryanto Husain dan Bp. Jamal Moodoeto. Sementara itu, pendampingan teknis dari SOfEI/Bank Dunia diberikan oleh Bastian Zaini, Eleonora Suk Mei Tan, Bambang Suharnoko dan John Theodore Weohau. Komentar dan input yang berharga juga diberikan oleh Wolfgang Fengler, Akhmad Bayhaqi dan Diane Zhang. Dukungan manajemen dan logistik diberikan Caroline Tupamahu dan Chairani Triasdewi. Desain serta layout dikerjakan oleh Nur Syamsul. Terima kasih atas kerjasama semua pihak yang telah bekerjasama dalam penelitian ini dan telah menghasilkan dokumen yang dapat mendukung interaksi antar pemerintahan daerah dan nasional. Apresiasi dan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Kerajaan Belanda serta DfIDKerajaan Britannia Raya melalui Decentralization Support Facility (DSF) yang telah menyediakan dukungan pendanaan bagi terlaksananya program ini. Makassar, Februari 2008

Petrarca Karetji
Team Leader – SOfEI

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

iii

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Daftar Isi
Kata Pengantar Pemerintah Provinsi Gorontalo Kata Pengantar DSF-SOfEI Daftar Isi Ringkasan Eksekutif 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Geografi Ekonomi Penduduk 2. SIKLUS PENGANGGARAN Kerangka Peraturan Perundang-Undangan APBD dan Reformasi Keuangan Daerah Sistem Perencanaan Sistem Penganggaran Managemen Kas dan Pengadaan Akuntansi dan Pelaporan Analisis PFM Rekomendasi 3. PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN Struktur Penerimaan Keuangan Daerah Provinsi Gorontalo Tingkat Realisasi Penerimaan Keuangan Penerimaan Perkapita Proyeksi Penerimaan Pembiayaan Rekomendasi 4. PENGELUARAN Struktur dan Komposisi Pengeluaran Struktur dan Komposisi Pengeluaran Berdasarkan Klasifikasi Bidang dan Ekonomi Tingkat Realisasi Pengeluaran Belanja Luncuran Provinsi Gorntalo Pengeluaran Dekonsentrasi Pusat Rekomendasi 5. ANALISIS SEKTORAL KESEHATAN Kondisi Kesehatan di Provinsi Gorontalo Output Kinerja Kesehatan Gorontalo i iii iv x 1 2 3 4 7 11 12 12 14 16 18 19 19 23 25 26 31 33 35 36 38 39 40 42 46 48 50 52 53 54 54 55

iv

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Penerimaan Sektor Kesehatan di Provinsi Gorontalo Pengeluaran Sektor Kesehatan di Provinsi Gorontalo Rekomendasi PENDIDIKAN Kondisi Pendidikan di Provinsi Gorontalo A. Penerimaan Dana Bidang Pendidikan di Provinsi Gorontalo B. Pengeluaran Sektor Pendidikan di Provinsi Gorontalo Rekomendasi INFRASTRUKTUR Kondisi Infrastruktur Penerimaan Infrastruktur Belanja Infrastruktur 1. Belanja Menurut Klasifikasi Ekonomi 2. Belanja Modal PERTANIAN Program Agropolitan dan Sumberdaya Pertanian Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Komoditi Pertanian Tanaman Pangan Utama Penerimaan dan Financing Belanja Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Agriculture Contribution Rekomendasi 6. ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN Reformasi Birokrasi Pemerintahan di Provinsi Gorontalo Struktur Organisasi Pegawai Negeri Sipil Tunjangan Kinerja Daerah Sumber Dana Tunjangan Kinerja Daerah Implikasi Tunjangan Kinerja Daerah Rekomendasi

56 57 59 60 60 62 63 66 67 67 71 71 72 73 74 74 77 80 83 87 90 91 92 94 95 98 100 101 103

Daftar Tabel
1.1 2.1 2.2 2.3 Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Gorontalo Perkembangan Regulasi Pengelolaan Keuangan Reformasi Pengelolaan Keuangan Daerah di Provinsi Gorontalo Perubahan Atas Dokumen-dokumen Utama Perencanaan di Provinsi Gorontalo 5 12 13 15

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

v

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

2.4 2.5 2.6 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 4.1 4.2 4.3 4.4 5.1.1 5.2.1 5.2.2 5.2.3 5.2.4 5.3.1 5.3.2 5.3.3 5.3.4 6.1 6.2

Proses Penyusunan APBD di Provinsi Gorontalo Rasio Likuditas Pemerintah Provinsi Gorontalo (Milyar Rp) Hasil Survey PFM pada Provinsi, 1 Kota dan 4 Kabupaten Proporsi PAD Provinsi dan Kabupaten/Kota Terhadap Total Penerimaan Masing-Masing Daerah Tingkat Realisasi Penerimaan Daerah (Persen) Surplus/Defisit dan Pembiayaan Netto Pemerintah Daerah di Gorontalo (dalam Milyar Rupiah) SILPA (Nominal) Provinsi dan Kabupaten di Gorontalo Perbandingan Nilai Total Surplus/Defisit, Pembiayaan, dan Silpa Provinsi Tahun 2002-2005 Tingkat Realisasi Pengeluaran Provinsi dan Kab/Kota Berdasarkan Bidang Tahun 2002-2005 Tingkat Realisasi Pengeluaran Provinsi dan Kab/Kota Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Tahun 2002-2005 Belanja Luncuran Provinsi Gorontalo Tahun 2003 (Miliar Rupiah) Belanja Luncuran Provinsi Gorontalo Tahun 2004 (Miliar Rupiah) Ratio Kesehatan di Provinsi Gorontalo Tahun 2005 Rasio pendidikan di Gorontalo tahun 2005 Trends Net and Gross Enrolment Rates Indikator Pelayanan Pendidikan Gorontalo 2005 Trend of Regional Education Expenditures (Province + District + Deconcentrated) Indikator Infrastruktur Gorontalo dan Nasional (%) Kondisi Jaringan Jalan di Gorontalo, 2005 Tipe Jaringan Jalan di Gorontalo, 2005 Perkembangan Ruas Jalan Selang Tahun 2002-2005 Alokasi Anggaran Tunjangan Kinerja Daerah Perbandingan Implementasi TKD antar Daerah

17 21 22 30 32 33 37 38 47 48 49 50 54 60 61 62 65 67 68 68 69 99 102

Daftar Gambar
1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 Luas Wilayah Provinsi se-Sulawesi Persentase Luas Wilayah Kabupaten Kota di Gorontalo Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Gorontalo Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan Prosentase Penduduk Miskin Gorontalo Penduduk Miskin Se Indonesia Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Kota se-Provinsi Gorontalo Trend Jumlah Pengangguran SAKERNAS Vs SUSENAS 2 3 4 4 5 6 6 7

vi

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

1.9 1.10 1.11 2.1 2.2 2.3 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 5.1.1 5.1.2 5.1.3 5.1.4 5.1.5 5.1.6 5.2.1 5.2.2 5.2.3 5.2.4 5.2.5 5.3.1 5.3.2.

Trend Jumlah Penduduk Provinsi Gorontalo Trend Jumlah Penduduk Provinsi Se Sulawesi Densitas Penduduk Kabupaten Kota di Gorontalo se-Provinsi Gorontalo Tahun 2005 Skema Proses Perencanaan di Provinsi Gorontalo Reformasi jalur Birokrasi Proses Otorisasi Keuangan Daerah Perbandingan Provinsi dengan Kabupaten/Kota Atas Temuan Bawasda Provinsi Total Realisasi Penerimaan Riil Kabupaten/Kota dan Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2005 Proporsi Bagian Penerimaan Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2005 Dana Perimbangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2002-2005 Pendapatan Asli Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2002-2005 Pendapatan Asli Daerah Riil Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2005 Penerimaan Daerah Perkapita Riil Provinsi dan Kabupaten/Kota Pendapatan Asli Daerah Perkapita Riil Provinsi dan Kabupaten/Kota Dana Perimbangan dan DAU Perkapita Riil Provinsi dan Kabupaten/Kota Proyeksi Pendapatan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Kota 36 Komposisi Pengeluaran Riil Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2002-2005 Komposisi Penerimaan dan Pengeluaran Perkapita Riil Provinsi dan Kabupaten/ Kota Tahun 2002-2005 Proporsi Pengeluaran Menurut Klasifikasi Bidang di Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2005 Proporsi Kumulatif Pengeluaran Rata-Rata Riil Perbidang Provinsi dan Kabupaten/ Kota Tahun 2002-2005 Proporsi Kumulatif Belanja Riil Menurut Klasifikasi Ekonomi Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2005 Proporsi Kumulatif Pengeluaran Riil Menurut Klasifikasi Ekonomi pada Kabupaten/ Kota Tahun 2002-2005 Proporsi Pengeluaran Dekonsentrasi Pusat Di Daerah Gorontalo Ratio Kesehatan di Provinsi Gorontalo Tahun 2005 Pemberian Imunisasi Komplit Anak Dibawah 2 Tahun Penerimaan Dana Bidang Kesehatan Tahun 2005 Pengeluaran Bidang Kesehatan Provinsi Gorontalo Pengeluaran Bidang Kesehatan Cross province subnational health spending, 2005 Angka Partisipasi Sekolah Tahun 2005 Penerimaan Dana Bidang Pendidikan 2005 Pengeluaran Bidang Pendidikan 2005 Pengeluaran Bidang Pendidikan Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Tahun 2005 Belanja Modal Bidang Pendidikan 2005 Keadaan Ruas Jalan Gorontalo Tahun 2005 Akses mendapat air minum dari pipa PDAM di Indonesia (%)

8 8 9 16 18 20 26 28 29 30 31 33 34 35 41 42 43 44 45 46 51 55 56 56 57 58 58 61 63 63 64 64 68 70

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

vii

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

5.3.3 5.3.4 5.3.5 5.3.6 5.3.7 5.3.7 5.4.1 5.4.2 5.4.3 5.4.4 5.4.5 5.4.6 5.4.7 5.4.8 5.4.9 5.4.10 5.4.11 5.4.12 5.4.13 5.4.14 5.4.15 5.4.16 5.4.17 5.4.18 5.4.19 5.4.20 5.4.21 5.4.22

Proporsi populasi yang memiliki akses Sanitasi di Indonesia (%) Penerimaan Bidang PU Kimpraswil Belanja Infrastruktur Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2005 Komposisi Belanja Ekonomi Provinsi Gorontalo pada Sektor Infrastruktur Tahun 2005 Komposisi Belanja Ekonomi Kab/Kota se-Provinsi Gorontalo pada Sektor Infrastruktur Tahun 2005 Komposisi Belanja Ekonomi Kab/Kota se-Provinsi Gorontalo pada Sektor Infrastruktur Tahun 2005 Tenaga Kerja Sektor Pertanian Provinsi Gorontalo Perbandingan Jumlah Tenaga Kerja Pertanian Provinsi Gorontalo dengan Provinsi Lain di Indonesia Pengeluaran Rumah Tangga Petani di Provinsi Gorontalo Benefit Incidence Terhadap Penguasaan / Kepemilikan Lahan Pertanian Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jagung dan Padi Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2005 Perbandingan Produktivitas dan Persentase Luas Jagung dan Padi Gorontalo Terhadap Nasional Perbandingan Produktivitas Komoditi Pangan Gorontalo Terhadap Nasional Ekspor dan Perdagangan Antar Pulau Jagung dan Perikanan Provinsi Gorontalo Jumlah Anggaran dan Realisasi APBD dan APBN Tahun 2002-2005 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo Jumlah Anggaran dan Realisasi APBD Tahun 2002-2005 Bidang Pertanian Kabupaten/Kota se-Provinsi Gorontalo Pendapatan Asli Daerah Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2005 Komponen Pendapatan Asli Daerah Provinsi Gorontalo tahun 2002-2005 Trend Realisasi APBD dan APBN (Riil) Tahun 2002 2005 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo Realisasi Anggaran Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo Realisasi Anggaran Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Bidang Pertanian Kabupaten/ Kota Se-Provinsi Gorontalo Realisasi Anggaran Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo Realisasi Anggaran Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Bidang Perikanan dan Kelautan Kabupaten/Kota Se-Provinsi Gorontalo Realisasi Belanja APBD Kabupaten/Kota Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Trend Anggaran APBN dan APBD pada Pengembangan Jagung dan Non Jagung Produk Domestik Regional Bruto Sektor Pertanian Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2005 Persentase Produk Domestik Regional Bruto Sektor Pertanian Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2005 Produk Domestik Regional Bruto Sub Sektor Pertanian Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2005

70 71 71 72 72 73 75 76 76 77 77 78 79 80 81 81 82 82 83 84 84 85 85 86 87 88 88 89

viii

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

6.1 6.2 6.3 6.4 6.5 6.6 6.7 6.8

Penggabungan dua Institusi Keuangan Daerah menjadi Badan Keuangan Provinsi Gorontalo pada Tahun 2003 Perkembangan PNS Pemda Provinsi Gorontalo Perkembangan Pegawai Provinsi Gorontalo Perkembangan Jumlah Pegawai dan Rasio Pegawai Kabupaten/Kota Jumlah Pegawai di Provinsi Gorontalo Menurut Jabatan Tahun 2005 Trend Linear Total Anggaran Tunjangan Kinerja Daerah Tahun 2006-2008 Belanja Pegawai Pemerintah Provinsi Gorontalo selang Tahun 2002 s.d 2005 Rasio Kemandirian Keuangan Pemerintah Provinsi Gorontalo Selang Tahun 2002 s.d. 2005

94 95 96 97 97 100 101 102

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

ix

RINGKASAN EKSEKUTIF
Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

RINGKASAN EKSEKUTIF

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

I. Selayang Pandang Gorontalo Keunikan sejarah Gorontalo bukan hanya terletak pada keberhasilannya meraih kemerdekaan sebelum Indonesia yakni tanggal 23 Januari 1942, melainkan juga proses otonomisasi yang melahirkannya sebagai Provinsi baru di Indonesia melalui Undang-Undang 38 tahun 2000 tanggal 22 Desember 2000. Dalih utama Gorontalo membentuk daerah otonom dari induknya Sulawesi Utara adalah upaya kuat untuk memperoleh kesetaraan di bidang ekonomi dan memberangus ketidakadilan di bidang ekonomi dan politik. Dengan segala potensi sumber daya yang dimiliki seperti pertanian, perikanan dan kelautan, hasil-hasil hutan, dan berbagai potensinya Gorontalo berusaha untuk bangkit sebagai provinsi baru. Indikasi kebangkitan Gorontalo dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang rata-rata meningkat 6,55% setiap tahun sejak tahun 2001, yang umum berada diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional 4,62%. Dengan luas wilayah 12.215,44 km2, lima kabupaten satu kota, Gorontalo didiami oleh penduduk sebanyak 917.949 jiwa. Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, penggerak utama perekonomian Gorontalo adalah sektor Pertanian, sebagaimana tercermin pada pembentuk utama Produk Domestik Regional Bruto dan jumlah angkatan kerja yang terserap pada sektor tersebut yang mencapai 48,04 %. Dibalik tingginya pertumbuhan ekonomi terdapat dua permasalahan berat yang dihadapi, yakni kemiskinan dan pengangguran. Gorontalo tercatat sebagai provinsi termiskin di Indonesia pada tahun 2004, menempati urutan ketiga setelah Papua dan Maluku. (28,87%). Pengangguran juga cukup tinggi, data Sakernas tahun 2004 mencatat pengangguran di Gorontalo sebanyak 45.360 jiwa sementara Susenas mencatat ada 57.412 jiwa. Seiring banyaknya permasalahan kehidupan ekonomi yang harus diatasi, sebagai pemilik resources terbesar di daerah tidak ada alasan bagi pemerintah untuk mengelola kebijakan publik secara efektif, efisien dan ekonomis, terutama pada aspek kapasitas fiskal daerah. Paling tidak, ditengah minimnya peran swasta dan masyarakat, pemerintah berusaha memaksimalkan peluang-peluang minimal terutama melalui aspek fiskalnya. II. Siklus Penganggaran dan Proses Reformasi Pengelolaan Keuangan Daerah Ada dua tahapan dalam reformasi pengelolaan keuangan daerah Propinsi Gorontalo: (1) tahap prerequisite, terdari: penyusunan kebijakan pelayanan publik, sosialisasi dan bimbingan teknik, hingga mencari pejabat kunci (outsourcing), (2) tahap Penerapan Reformasi Administrasi Keuangan yang terdiri dari: penyempurnaan perangkat hukum, perencanaan dan penganggaran, perbaikan sistem dan prosedur akuntansi serta pengembangan kapasitas dan penataan kelembagaan. Tahapan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Provinsi memiliki skenario yang jelas tentang arah reformasi pengelolaan keuangan daerah. Sementara itu pada tingkat Kabupaten/Kota, pengelolaan keuangan daerah mengabaikan skenario akademis sebagaimana pemerintah Provinsi - sebagian memulai dari aspek penyusunan peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah, tetapi sebagian lagi belum. Kabupaten Gorontalo dan Boalemo telah memiliki Perda tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah. Perda ini mengatur pembagian anggaran pendapatan dan belanja daerah. Sedangkan untuk

xi

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

RINGKASAN EKSEKUTIF

Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo sampai saat ini masih melakukan penyusunan Ranperda tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, sehingga dalam setiap penyusunan APBD masih mengacu pada ketentuan Nasional yang berlaku. Pada tataran pelaksanaan baik Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten dan Kota melaksanakan Musrenbang yang diawali melalui kegiatan musrenbang pada stuktur pemerintahan terbawah yakni Desa. Dalam rangka memantapkan hasil-hasil musrenbang itu, Pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) baik Provinsi maupun Kabupaten dan Kota melakukan sinkronisasi waktu dengan waktu pelaksanaan Jaring Aspirasi Masyarakat (Jaring Asmara) yang dilakukan oleh DPRD, agar keduanya tidak memiliki gap yang terlalu jauh. Meskipun demikian, bukan berarti semua persoalan telah tertangani secara keseluruhan. Ketidakpastian hukum sempat mewarnai legitimasi dokumen perencanaan daerah di tingkat Provinsi. Dokumen perencanaan yang dipakai pada tahun 2005 masih mengacu pada perda 31 tahun 2002 yang masa pemberlakuanya hanya sampai pada tahun 2004. Pembatasan periodisasi perencanaan sebagaimana pada perda tersebut dibuat untuk mengikuti periodisasi DPRD. Proses otorisasi telah mengalami 4 kali perubahan mulai dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2006. Proses otorisasi pada tahun 2002 melalui 15 tahap, mulai dari dinas (SKPD) sampai pencairan melalui Gubernur. Namun sejak tahun 2006 proses itu mengalami perubahan hanya dengan 3 kali tahapan mulai dari Dinas, Bendahara Dinas (SKPD) sampai pada pencairan melalui Bagian keuangan. Setelah itu dinas (SKPD) melakukan proses otorisasi sampai pada tingkat Wakil Gubernur. Tahapan evaluasi atas proses otorisasi sebagaimana disebut d atas dilakukan dalam rangka penggunaan anggaran diatur melalui Perda 39/2002. Bentuknya, Laporan Keuangan Berkala dan Laporan Triwulan, dibuat oleh Kepala Unit Kerja Pengguna Anggaran setiap akhir bulan selanjutnya kepada kepala daerah dalam bentuk laporan keuangan pengguna anggaran. Sedangkan laporan triwulan disampaikan oleh pemerintah daerah kepada DPRD sebagai pemberitahuan pelaksanaan APBD untuk setiap 3 (tiga) bulan tahun anggaran. Laporan triwulan disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya triwulan yang bersangkutan. Berdasarkan Pengukuran Kinerja Pengelolaan Keuangan Publik (PFM) diketahui bahwa kapasitas pemerintah kabupaten/kota untuk mengelola dana publik secara efisien menunjukkan kinerja yang baik, namun kurangnya perlengkapan kerja dan latar belakang pendidikan pengelola masih menjadi hambatan bagi perbaikan proses perencanaan dan penganggaran. Nilai total rata-rata untuk pengelolaan keuangan publik dari 5 kabupaten/kota yang disurvei adalah 65%, artinya sangat bagus dan dapat diterima secara substansial. Dua nilai tertinggi diduduki oleh dua daerah yaitu Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo (masing-masing 72%); dan yang terendah adalah Kabupaten Bone Bolango (59%). Dari pengukuran 9 bidang strategis dalam Kinerja Pengelolaan Keuangan daerah, nilai terendah diperoleh bidang kerangka peraturan, manajemen aset, dan utang investasi publik (masing-masing 48%, 51%, dan 53%). Secara rinci hasil PFM menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota memiliki kerangka peraturan yang sudah cukup baik/cukup dapat diterima untuk meningkatkan transparansi dan partisipasi publik (57%), mengelola dana publik secara efektif (68%), penegakan peraturan dan struktur organisasi (46%), audit eksternal secara rutin (55%,) sudah cukup baik dan

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

xii

RINGKASAN EKSEKUTIF

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

pengawasan indipenden yang efektif (88 %) excellent. Kelemahan secara umum pada tingkat kabupaten/kota adalah manajemen aset, yaitu dalam hal kebijakan, prosedur, pengendalian dan pengelolaan aset (13 %). Selain itu pemerintah kabupaten/kota (kecuali kabupaten Gorontalo) juga masih lemah dalam jalur kebijakan, prosedur, dan pengendalian untuk mendorong pengelolaan kas yang efisien dan sistem pengaduan resmi pada pengadaan (32 % dan 0 %). Hal ini disebabkan beberapa bagian pokok pengelolaan keuangan belum diakomodasi, seperti pendelegasian kewenangan, prosedur otorisasi, prosedur pembukaan rekening dan prosedur yang mengatur hubungan regulasi keuangan dengan pemerintah pusat. Sementara itu, terkait pengadaan barang dan jasa umumnya pemerintah kabupaten/kota belum memiliki perda yang mengaturnya secara khusus akibatnya tidak terdapat sistem pengaduan resmi dalam bidang tersebut. Meskipun demikian segala pengaduan dari rekanan yang terkait dengan proses tender tetap diakomodasi oleh panitia tender sebagaimana yang diamanatkan dalam Kepres 80/2003. III. Penerimaan dan Pembiayaan Kinerja pengelolaan keuangan daerah, termasuk sistem penganggaran, tercermin pada penerimaan dan pengeluaran APBD berserta rinciannya. Pengelolaan Keuangan daerah yang baik menghasilkan keseimbangan antara optimalisasi penerimaan dan efisiensi pengeluaran. Dalam konteks ini penerimaan rata-rata baik provinsi maupun kabupate/kota selama tahun 2002-2005 mencapai nilai riil Rp 967,74 M. Nilai ini dapat memenuhi total pengeluaran riil rata-rata Rp 944,64 M, atau 1,02 berbanding 1,00. Berdasarkan persentase peningkatan rata-rata pertahun tersebut terlihat bahwa terjadi kenaikan penerimaan rata-rata 11,77% dan pengeluaran rata-rata naik 12,30% pertahun. Sebelum adanya pemekaran daerah Kabupaten Bone Bolango dan Pohuwato, pada tahun 2003 Penerimaan naik 27,38% dan Pengeluaran naik 30,75% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun pada tahun 2004 setelah pemekaran, penerimaan hanya naik 5,75% dan begitu pula pengeluaran hanya naik 5,60% dibandingkan tahun sebelumnya, dan untuk tahun 2005, penerimaan naik 2,19% dan pengeluaran naik 0,55%. Berdasarkan perbandingan tersebut, ternyata bahwa setelah pemekaran dua daerah persentase kenaikan dari penerimaan riil dan pengeluaran riil mengalami penurunan drastis pada tahun 2004 dan 2005. Konsekuensi logis dari sebuah pemekaran adalah beban anggaran keuangan bagi daerah otonomi baru. Pemekaran wilayah secara otomatis diikuti dengan mobilisasi asset ke daerah-daerah mekaran. Kabupaten Gorontalo dimekarkan menghasilkan Bone Bolango, Boalemo menghasilkan Pohuwato Secara umum penerimaan pemerintah daerah didominasi oleh penerimaan dari sumber Dana Perimbangan terutama dari Dana Alokasi Umum (DAU). Rata-rata penerimaan Dana Perimbangan dari pusat pada total kab/kota adalah 90,73%, propinsi 84,08% dan total propinsi dan kab/kota 89,87%. Sisanya adalah penerimaan dari Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak SDA, kecuali hanya pada tahun 2003 Propinsi Gorontalo menerima Dana Alokasi Khusus. Kontribusi Sumber Daya Kelautan di Teluk Tomini, Program Agropolitan, potensi mineral dan hasil hutan serta potensi kekayaan alam lainnya belum menghasilkan sumber pembiayaan pembangunan. Hal ini nampak pada pembentukan dana dari Bagian Lain-Lain Penerimaan Yang Sah, dan PAD, hanya rata-rata 9,28%. Sementara itu sepanjang tahun 2002-2005 dana perimbangan yang terbentuk oleh Dana Bagi Hasil (Pajak dan Bukan Pajak SDA) juga tidak signifikan.
xiii Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

RINGKASAN EKSEKUTIF

Sebenarnya sumber Penerimaan PAD, Pajak Daerah dan Laba Perusahaan Milik Daerah potensial dikembangkan mengingat pajak daerah rata-rata meningkat 16,30 %. Sementara itu, Retribusi Daerah Provinsi sekalipun mencapai rata-rata 146,42 % peningkatannya per tahun namum pada tahun 2004 turun 72,58 %. Dengan demikian peningkatan rata-rata pertahun yang sangat tinggi disebabkan oleh kontribusi kenaikan sebesar 424,74 % pada tahun 2003 yang merupakan kontribusi dari Retribusi Sumbangan Pihak Ketiga. Ditingkat Kabupaten/Kota Pajak Daerah rata-rata meningkat 16,73 % dan Retribusi Daerah rata-rata 24,26 %, tetapi kedua pos penerimaan ini mengalami penurunan pada tahun 2005. Kemandirian Daerah masih berada pada rentang 2,05% sampai dengan 17,06% jika dilihat dari proporsi PAD terhadap total penerimaan daerah masing-masing di Gorontalo pada selang waktu 2002-2005. Secara rata-rata, yang paling rendah proporsinya adalah Bone Bolango (2,62%) dan yang paling tinggi adalah Provinsi Gorontalo (15,89%). Sedangkan tingkat kemandirian PAD Kota Gorontalo mencapai 9,87%, Kabupaten Gorontalo 5,26%, Kabupaten Boalemo 4,85% dan Kabupaten Pohuwato 6,95%. Penerimaan Daerah Perkapita Riil Boalemo terbesar tahun 2002 2003 dan Kota Gorontalo terbesar tahun 2004-2005, sedangkan PAD Perkapita Riil Kota Gorontalo Tertinggi dan Bone Bolango Terendah. Kecuali pada tahun 2003, PAD Riil Kota Gorontalo tertinggi pada tahun 2002, 2004, 2005. Bahkan pada Tahun 2005 PAD perkapita Kota Gorontalo sangat tinggi melebihi PAD Perkapita Propinsi. Dalam hal surplus/defisit, Propinsi Gorontalo mengalami surplus anggaran dalam tahun 2002-2005 sementara Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo mengalami defisit tahun 2003 dan 2005. Kabupaten Gorontalo defisit yang besar pada tahun 2004 dan 2005 yang menyebabkan daerah ini memiliki rata-rata defisit 1,9 Milyar pertahun. Sedangkan Penerimaan SILPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) pada tahun sebelumnya menjadi pos andalan dalam penerimaan pembiayaan baik di Propinsi maupun Kabupaten/Kota. SILPA yang diperhitungkan dari Surplus/Defisit dikurangi dengan pembiyaan Netto (selisih Penerimaan Pembiayaan dan Pengeluaran Pembiayaan), pada umumnya ada pada setiap laporan pembiayaan di Propinsi dan Kabupaten/Kota. Bahkan sering menjadi satusatunya pos penerimaan pembiayaan. Penerimaan pembiayaan akan digunakan sebagai pengeluaran pembiayaan, diantaranya adalah penyertaan modal. Penyertaan modal pemerintah belum dilaksanakan secara maksimal setiap tahun dari pemanfaatan surplus sebagai upaya penambahan investasi daerah. IV. Pengeluaran Perkembangan pengeluaran riil mulai tahun 2003, baik Propinsi maupun Kabupaten/Kota mengalami kenaikan antara 24 % hingga 31 %. Keadaan ini tidak terjadi pada tahun 2004 dimana Kabupaten Gorontalo mengalami penurunan pengeluaran hingga 25,27 % dan Kabupaten Boalemo menurun 39,75 %. Untuk tahun 2005, penurunan terjadi pada Propinsi Gorontalo (5,56%), Kabupaten Gorontalo (7,68%), dan Kabupaten Boalemo (1,17%). Penurunan terjadi bukan karena pengurangan anggaran pengeluaran, tetapi karena pelaksanaan pemekaran di daerah-daerah. Kabupaten Boalemo adalah kabupaten yang memiliki penerimaan dan pengeluaran riil perkapita tertinggi dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya selang tahun 2002-2003 dan Kabupaten Pohuwato tertinggi tahun 2005. Pada tahun 2005 Kabupaten Boalemo menunjukkan penerimaan dan

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

xiv

RINGKASAN EKSEKUTIF

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

pengeluaran riil perkapita tertinggi dengan tingkat penerimaan riil mencapai Rp.101.233/Bulan (Boalemo Rp.87.474/bulan) dan pengeluaran riil perkapita mencapai Rp.90.165/bulan (Boalemo Rp.84.638/bulan). Kondisi perekonomian Kabupaten Boalemo perkapita sangat baik karena daerah ini terkenal antara lain sebagai pusat perdagangan, industri manufaktur dan jasa di wilayah Barat Gorontalo. Klasifikasi Pengeluaran menurut Bidang di Propinsi Gorontalo, Administrasi Umum Pemerintahan merupakan bidang tertinggi proporsi alokasi pengeluaran dengan rata-rata proporsi 39,04 % pertahun. Bidang Pertanian dan Bidang Perikanan dan Kelautan sebagai program unggulan Propinsi Gorontalo hanya memiliki proporsi 7,70 % dan 3,45 % pertahun. Administrasi Umum merupakan bidang yang menyerap banyak dana karena di Propinsi Gorontalo terdapat sekitar 11 lembaga/badan yang harus dibiayai dalam operasional administrasi umum. Alokasi untuk Sekretariat Daerah (Setda) paling tinggi menyerap dana, rata-rata tahun 2002-2005 proporsi alokasi yang direalisasikan mencapai 47,65 %. Alokasi ini terdistribusi pada 8 Biro dan Pimpinan Setda. Proporsi alokasi bidang Pertanian merupakan alokasi rata-rata relatif rendah, yakni 2,17 %, begitu pula bidang Perikanan dan Kelautan yang hanya mengalokasikan rata-rata 0,79 % pertahun. Sementara itu, pengeluaran berdasarkan Klasifikasi Ekonomi menunjukkan bahwa Belanja Modal/Pembangunan merupakan pengeluaran tertinggi yang dialokasikan Propinsi Gorontalo. Ratarata proporsi alokasi pengeluaran riil pada selang tahun 2002-2005 lebih banyak dialokasikan untuk Belanja Modal/Pembangunan dengan rata-rata 40,83% pertahun, tetapi sejak tahun 2003 alokasinya makin berkurang. Tahun 2002 dan 2003 masih dominan terbesar dialokasikan yakni 63,60 % dan 44,31 % . Tahun 2004 Belanja Pegawai yang menduduki posisi tertinggi yakni 30,25 % sehingga Belanja Modal/Pembangunan turun menjadi 27,67%. Pada tahun 2005 Belanja Modal/Pembangunan tinggal 27,75 % dan Belanja Pegawai sebagai alokasi terbesar yakni 33,92 %. Ini berarti terdapat kecenderungan pengurangan alokasi pengeluaran untuk belanja Modal/Pembangunan setiap tahun. Tingkat Kabupaten/Kota alokasi terbesar adalah Belanja Pegawai yang besarannya relatif sama setiap tahun. Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Bone Bolango, rata-rata mengalokasikan belanja pegawai paling tinggi dibanding dengan belanja ekonomi lainnya, dengan proporsi pengeluaran riil di atas 50 %, yakni masing-masing Kota Gorontalo 52,20%, Kabupaten Gorontalo 61,65%, dan Kabupaten Bone Bolango 55,35%. Sedangkan belanja Modal/Pembangunan masing-masing 27,06%, 20,42% dan 29,62%. Sisanya dialokasikan pada belanja ekonomi lainnya. Rata-rata, Belanja Pegawai 51,39 % dan Belanja Pembangunan 29,60 %. Kabupaten Boalemo, dan Kabupaten Pohuwato, mengalokasikan Pengeluaran riil dalam belanja Modal/Pembangunan lebih tinggi dari belanja ekonomi lainnya. Propinsi Gorontalo rata-rata mengalokasikan 40,83%, Kabupaten Boalemo 41,40 % dan Kabupaten Pohuwato 39,65%. Sedangkan rata-rata belanja riil Pegawai masing-masing daerah 21,19%, 37,92% dan 33,57 %. Sisanya dialokasikan pada belanja ekonomi lainnya. Tingkat realisasi Pengeluaran Propinsi Gorontalo, baik dalam klasifikasi Bidang maupun klasifikasi ekonomi Ekonomi rata-rata mencapai 89,57% lebih rendah dari pada Kabupaten/Kota yang mencapai realisasi 92,84%. Dengan demikian, di Kabupaten/Kota tingkat realisasi tertinggi yang terjadi setiap tahun adalah Bidang Kesehatan, yang direalisasikan di atas 100%, kecuali pada tahun 2004. Kinerja

xv

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

RINGKASAN EKSEKUTIF

realisasi anggaran yang mendekati 100% adalah ditingkat Kabupaten/Kota. Tingkat realisasi total pengeluaran pertahun menurut Klasifikasi Ekonomi adalah sama dengan Klasifikasi Bidang. Tingkat realisasi anggaran di atas 100 % tidak terdapat di Propinsi Gorontalo dan Kabupaten/Kota, kecuali hanya salah satu item belanja tahun 2002 yakni Belanja Lain-Lain. Di Provinsi Gorontalo, pada tahun 2003 dan 2004, terdapat Belanja Luncuran sebagai pengeluaran yang harus direalisasikan karena belum selesai pelaksanaannya pada tahun sebelumnya. Tahun 2002 dan 2005 tidak terdapat Belanja Luncuran. Dana Dekonsentrasi yang dikucurkan oleh pemerintah pusat pada tahun 2005 dan 2006 terbilang sangat besar. Pada tahun 2005 dana ini mencapai Rp 1,16 Trilyun dan tahun 2006 sebesar Rp 2,642 Trilyun. Jumlah ini sangat jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana tahun 2002 hanya 193 Milyar, tahun 2003 menjadi 404 Milyar dan tahun 2004 sebesar 391 Milyar. Proporsi (share) pada masing-masing bidang setiap tahun relatif sama, terinci dalam 19 Bidang Dana Dekonsentrasi. Proporsi alokasi dana dominan terbesar dikucurkan adalah bidang Pendidikan, Kebudayaan, dan Kepercayaan Terhadap Tuhan, rata-rata proporsinya tahun 2002- 2006 adalah 24,24 %/tahun. V. Sektoral 1. Kesehatan Penerimaan sektor kesehatan mengandalkan sumber pendanaan pemerintah pusat. Dukungan pendanaan kesehatan oleh pemerintah daerah masih rendah terutama kabupaten/kota. Alokasi penerimaan rata-rata berkisar antara 5-20 persen sedangkan pada tingkat propinsi di bawah 2 persen. Sumber-sumber penerimaan APBN berasal dari JPKM, tugas pembantuan. Pengeluaran bidang kesehatan mengalami peningkatan meski belum signifikan dengan upaya peningkatan kualitas layanan. Prosentase pengeluaran kesehatan terhadap belanja total APBD selama lima tahun terakhir dibawah 2 persen. Pengeluaran ini masih jauh dari anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni paling sedikit 5 persen dari PDB per tahun atau 15 persen dari APBD. Belanja pegawai merupakan pengeluaran terbesar bidang kesehatan. Tahun 2005, Pengeluaran kesehatan bersumber dari APBD Propinsi lebih dari 50 % dibelanjakan untuk belanja pegawai (2,6 M), sisanya untuk belanja barang dan jasa 1,6 M (34 %), belanja modal 280 juta (6%), sedangkan untuk pos belanja pemeliharaan serta perjalanan dinas pada tahun 2005 dimasukkan pada belanja barang dan jasa, masing-masing 91 juta (1,9 %) dan 631 juta (12,9 %). Jenis pengeluaran belanja pegawai meliputi pembayaran gaji dan tunjangan 1,4 Milyar, tambahan penghasilan PNS 834 Juta dan Belanja Pengembangan Sumber Daya Aparatur Daerah 20 Juta. Pada tingkat kabupaten/kota belanja Modal lebih besar 39 % dari belanja pegawai 33 %. Strategi pendanaan kesehatan bersifat insidentil terutama pada saat adanya dana luncuran pemerintah pusat dan hibah. Provinsi Gorontalo mempunyai pengeluaran perkapita kesehatan Gorontalo sebesar Rp. 86.150/orang. Pengeluaran riil perkapita kesehatan Gorontalo urutan kesembilan secara nasional.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

xvi

RINGKASAN EKSEKUTIF

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

2. Pendidikan Kebijakan belanja disektor pendidikan difokuskan pada peningkatan: perluasan pemerataan, mutu, relevansi dan akuntabilitas pendidikan serta peningkatan kualitas profesionalisme pendidikan tinggi. Secara umum pengeluaran bidang pendidikan jika dibandingkan dengan total Belanja Daerah maupun bidang lainnya sejak tahun 2002 hingga 2005 hanya 5%. Sebaliknya pada tingkat kabupaten/kota pengeluaran bidang pendidikan diatas 20%, namun termasuk didalamnya gaji pegawai dan guru sehingga besaranya hanya berada di bawah 5%. Belanja pegawai masih mendominasi pengeluaran pendidikan baik pada tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. Besarnya belanja pegawai pada tingkat kabupaten/kota disebabkan adanya kewenangan pengelolaan guru di daerah sedangkan pada tingkat propinsi oleh masih kecilnya alokasi pendidikan dibandingkan dengan jumlah pegawai. Adapun untuk Belanja Modal lebih diarahkan untuk pembangunan gedung kantor dan pembebasan lahan. Belanja program pengembangan pendidikan berbasis kawasan menyedot anggaran besar dari dana yang bersumber dari APBD propinsi. Dana ini diperuntukan untuk program Pendidikan berbasis Kawasan (PBK) pada semua jenjang & jenis pendidikan dengan penguatan pada kompetensi lokal. Pembangunan SMK Pertanian, Diklat Guru, penyusunan kurikulum dan pencetakan buku PBK. Subsidi penyelenggaraan Paket B dan C. Subsidi bagi siswa SD termasuk pengadaan ijazah STK dan SD. Sedangkan dana yang bersumber dari dana Dekonsentrasi dibelanjakan untuk program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Dana ini sebagian besar diarahkan pada subsidi rehabilitasi gedung sekolah dan perluasan dan peningkatan mutu sekolah dasar. 3. Infrastruktur Pada sektor infrastruktur, lebih dari 50% Penerimaan dana bidang Infrastruktur berasal dari sumber APBD kabupaten/kota, sedangkan bersumber dari pemerintah propinsi dan dana perimbangan. Belanja modal/pembangunan mendominasi komposisi belanja ekonomi di sektor infrastruktur. Belanja modal/pembangunan pada tahun 2005 mencapai lebih dari 70 % lebih besar dari belanja pemeliharaan dan biaya ekonomi lainnya (Gambar 5.3.5 dan 5.3.6). Hal yang sama ditemukan pada komposisi belanja ekonomi kabupaten. Lebih dari 90 % digunakan untuk belanja modal/pembangunan lebih besar dari belanja ekonomi lainnya. Bidang transportasi membelanjakan lebih dari 60 %, kemudian berturut-turut diikuti dengan belanja dibidang irigasi sebesar lebih dari 15 %, air bersih kurang dari 4 %, dan belanja dibidang kelistrikan berkisar 3 - 6 %. 4. Pertanian Di sektor Pertanian, Total realisasi anggaran yang disediakan Pemerintah Daerah Propinsi Gorontalo baik APBD maupun APBN Bidang Pertanian sebesar 15,82 milyar dan 40,75 milyar. Rata-rata 44,47% (APBD) dan 38,79% (APBN) diperuntukkan belanja Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Besaran belanja pada sektor pertanian ketahanan pangan), berpengaruh pada upaya pengembangan pertanian melalui program peningkatan kualitas sumberdaya manusia pertanian, program

xvii

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

RINGKASAN EKSEKUTIF

intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, pengembangan agribisnis tanaman pangan dan hortikultura. Total anggaran yang berasal dari APBN dan APBD mengalami peningkatan rata-rata 60,94%. Sedangkan jumlah realisasi total mengalami peningkatan rata-rata 63,37%. Proporsi suplai anggaran yang berasal dari APBN dalam bentuk dana dekonsentrasi lebih besar (rata-rata 71,53%) dibandingkan dengan dana yang disediakan oleh Pemerintah Daerah melalui dana APBD, yakni ratarata 28,47%. Penerimaan dari PAD sektor pertanian meningkat sebesar 107,65%. Sumbangan pihak ke-3 APBD memberikan kontribusi terbesar, rata-rata sebesar 117,697 juta rupiah, kemudian JAPP, jasa ketatausahaan dan sumbangan pihak ke-3 dari kegiatan APBN. Berdasarkan total anggaran yang disediakan oleh Pemerintah Daerah maka proporsi realisasi anggaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sebesar 54,80%, sedangkan Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Gorontalo 45,20%. Ratarata realisasi anggaran yang berasal dari APBD Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo pada belanja modal/pembangunan lebih besar (50,74%) dibandingkan dengan belanja non modal (49,26%), walaupun terjadi kecenderungan menurun sebesar 53,60%. Sebaliknya belanja perjalanan dinas mengalami kenaikan signifikan sebesar 58,85%. Belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja pemeliharan mengalami kenaikan yang signifikan masing-masing 31,33%, 26,60%, dan 7,04%. Penggunaan APBD untuk realisasi belanja non modal lebih besar dibandingkan dengan belanja modal. Belanja modal lebih banyak dipenuhi melalui anggaran yang berasal dari APBN. Pada tahun 2005, rata-rata realisasi anggaran pertanian kabupaten/kota Propinsi Gorontalo pada belanja modal/pembangunan lebih kecil (39,56%) dibandingkan dengan belanja non modal (60,44%). Proporsi anggaran belanja pegawai pada belanja non modal dominan dibandingkan dengan belanja lainnya. Penggunaan dana untuk belanja pegawai yang besar terkait dengan upaya pengadaan pegawai dalam rangka memenuhi kebutuhan daerah. Rata-rata realisasi APBD Dinas Perikanan dan Kelautan pada belanja modal/pembangunan lebih besar (50,17%) dibandingkan dengan belanja non modal (49,83%), walaupun terjadi kecenderungan menurun sebesar 37,62%. Sebaliknya terjadi pada belanja pegawai, belanja barang dan jasa, belanja perjalanan dinas dan belanja pemeliharan mengalami kenaikan yang signifikan masing-masing 34,12%, 28,94%, 18,41%, dan 46,98%. Pada tahun 2005, rata-rata realisasi anggaran bidang perikanan dan kelautan kabupaten/kota se-Propinsi Gorontalo pada belanja modal/pembangunan lebih besar (71,03%) dibandingkan dengan belanja non modal (28,97%). Besarnya jumlah belanja modal/pembangunan dibidang perikanan merupakan indikasi kuatnya keinginan pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan potensi sumberdaya perikanan yang belum dikelola secara maksimal. Proporsi anggaran rata-rata peruntukan pengembangan jagung lebih besar (79,40%) dibandingkan dengan non jagung (20,60%). Jumlah anggaran APBN khusus jagung memiliki proporsi lebih banyak (68,80%), selebihnya 31,20% didanai oleh APBD. Trend anggaran rata-rata yang disediakan untuk mengembangan jagung mengalami kenaikan signifikan sebesar 36,45%, sebaliknya untuk komoditi non jagung cenderung turun rata-rata 27,29%. Trend penganggaran tersebut menunjukkan adanya perhatian Pemerintah Propinsi Gorontalo dan Pemerintah Pusat yang sangat besar, untuk mencapai tingkat produksi sebanyak 1 (satu) juta ton pada tahun 2005. Selain itu keseriusan dan konsistensi pemerintah untuk menjadikan jagung sebagai brand komoditi untuk Propinsi Gorontalo, dengan harapan nilai jual komoditi lebih kompetitif di pasar global.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

xviii

RINGKASAN EKSEKUTIF

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

VI. Administrasi dan Pemerintahan Dalam rangka memperbaiki citra birokrasi, pemerintah Provinsi Gorontalo mengarahkan Visi pada entrepreneurial government system. Pendekatannya adalah dengan melakukan re-enginering terhadap; (1) Mind-set Personalia (budaya kerja dan Pola pikir), (2) System (Perbaikan Strukur, Mekanisme serta Prosedur Kerja), (3) Performance Kelembagaan Pemerintah, dan (4) Kebijakan Pemberian Tunjangan Kinerja Daerah (TKD). Langkah-langkah ini sebenarnya merupakan bentuk penerapan New Public Management ( NPM ) yang merupakan jawaban untuk mereformasi birokrasi pemerintahan di Provinsi Gorontalo. Upaya Pemerintah Provinsi dalam mengimplementasikan Konsep New Public Management, dapat diwujudkan dengan program kegiatan: Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah, Anggaran Berbasis Kinerja, High Performance Government. Restrukturisasi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo dilakukan dalam upaya mendesain organisasi dengan fungsi staff dan lini menuju pada pencapaian-pencapaian kinerja pembangunan daerah. Komposisi terakhir (2006) organisasi perangkat daerah terdiri dari Sekretariat Daerah sebagai unsur staf, kemudian unsur lini terdistribusi dalam 9 Badan, 12 Dinas, Sekretariat Dewan, dan 2 Kantor serta 1 Balai. Sebelum Pemerintah Pusat memberlakukan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuanga Daerah, Pemerintah Propinsi Gorontalo lebih dahulu membentuk Badan Keuangan Daerah yang merupakan hasil penggabungan Biro Keuangan dan Dinas Pendapatan Daerah melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2003. Perubahan ini berdampak pada 2 (dua) aspek yakni: (1) aspek stuktur, terjadi sinkronisasi antara kebijakan pengelolaan aset dengan kebijakan penganggaran, dan (2) aspek fungsi dengan adanya pengalihan kewenangan, bukan saja kepada Badan Keuangan tetapi juga kepada masing masing kepala SKPD. Tindak lanjut penataan sistem pengelolaan keuangan, dibentuk OTK baru Bagian/Bidang Keuangan yang otonom (eselon III) dalam struktur Badan/Dinas yang ada di lingkungan Pemerintah Propinsi. Secara administratif personilnya ditempatkan oleh Badan Kepegawaian berdasarkan rekomendasi Badan Keuangan untuk membantu dalam penyeragaman sistim pelaporan dan pengendalian keuangan dimasing masing SKPD. Tetapi dalam implementasinya, kebijakan ini menimbulkan beberapa kendala di antaranya ; Masih sangat terbatasnya Sumber daya manusia yang spesifik di bidang pengelolaan keuangan. Belum terintegrasinya sistem informasi manajemen pelaporan keuangan secara on line antara SKPD SKPD dengan Badan Keuangan Propinsi Gorontalo Dalam kapasitas kelembagaan, masih terdapat adanya tumpang tindih kebijakan disisi kewenangan pengelolaan keuangan antara intenal SKPD sebagai pelaksana program/kegiatan dengan Badan Keuangan sebagai pemegang otoritas di bidang keuangan. Saat ini, daya tarik Pemerintah Propinsi baik bagi pejabat maupun pegawai dari level dan instansi asal

xix

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

RINGKASAN EKSEKUTIF

sangat tinggi. Ketertarikan untuk memilih berkarir di Propinsi dipicu oleh aspek kesejahteraan yang lebih menjanjikan dibanding instansi asal yang kerap dibungkus dengan alasan “ingin membantu pemerintah propinsi”. Sehingga tidak hanya mobilisasi antara PNS Kabupaten Kota ke Propinsi yang terjadi, tetapi juga bagi PNS Fungsional (semisal Dosen Perguruan Tinggi) ke Struktural Pemerintah Propinsi, maupun PNS pusat memilih untuk dipekerjakan di propinsi. Kesejahteraan yang menjadi incaran semua PNS dari berbagai level adalah adanya pemberian Tunjangan Kinerja Daerah oleh pemerintah propinsi. Meskipun cerita awalnya berasal dari upaya mensiasati pos honor honor kegiatan dalam APBD. Honor-honor tersebut dikonversi menjadi Tunjangan Kinerja Daerah (TKD). Kebijakan Tunjangan Kinerja Daerah merupakan konsep inovatif dalam bentuk performance pay untuk mendukung pelaksanaan New Publik Management (NPM). Pada tahun 2004 kebijakan TKD ini mulai diterapkan dengan prinsip trial and error, baru pada tahun 2005 terbit Peraturan Gubernur Nomor 45 tahun 2005 sebagai payung hukum pelaksanaannya. Peraturan Gubernur dimaksud, dasar pelaksanaannya diinspirasi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 105 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, didalamnya menyebutkan bahwa; “Pemerintah Daerah dapat memberikan tambahan penghasilan berdasarkan Pertimbangan Objektif sesuai dengan kemampuan keuangan daerah dengan Persetujuan DPRD”. Peraturan Gubernur Nomor 45 Tahun 2005 diantaranya mengatur; Komponen Penilaian Kinerja Daerah, Mekanisme dan Sistem Pembayaran TKD, Pencapaian Prestasi Tinggi, Ketentuan Tarif Tunjangan Kinerja Daerah. Sumber dana untuk Tunjangan Kinerja Daerah diperoleh dari Dana Alokasi Umum. Alokasi Tunjangan Kinerja Daerah tahun 2005 adalah Rp.25.835.017.101 dengan persentase realisasi anggaran TKD terhadap Total Belanja Pegawai Propinsi Gorontalo pada tahun yang sama adalah sebesar 39,21%. Pada tahun 2003 persentase belanja pegawai naik sebesar 89,43% dari tahun 2002, tahun 2004 persentase belanja pegawai naik 69,54% dari tahun 2003, sedangkan pada tahun 2005 turun sebesar 10,39% dari tahun 2004. Ini mengambarkan bahwa upaya Pemerintah Propinsi Gorontalo dalam mengkonversi honor-honor kepanitiaan dan lain lain (honor yang masuk dalam pos belanja pegawai non gaji) ke dalam bentuk Tunjangan Kinerja Daerah menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa kebijakan Alokasi Anggaran Tunjangan Kinerja Daerah Pemerintah Propinsi Gorontalo dapat mengefisienkan anggaran untuk belanja pegawainya.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

xx

PENDAHULUAN

1

1

PENDAHULUAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Latar Belakang Sepenggal Sejarah Gorontalo Jauh sebelum masa penjajahan Belanda, Gorontalo merupakan sebuah jazirah yang didiami oleh komunitas secara berkelompok-kelompok atau kerap dalam bahasa etnik setempat, disebut sebagai “pohalaa”. Masing-masing pohalaa tersebut memiliki pemimpin sendiri yang disebut raja (bahasa etnik setempat: Olongia). Dalam catatan sejarah terdapat lima pohalaa besar, masing-masing Gorontalo, Limboto, Bone, Bolango dan Atinggola. Pada tahun 1922, dalam masa penjajahan Belanda, Gorontalo dibagi menjadi tiga afdeeling yaitu Gorontalo, Boalemo, Buol. Masing-masing afdeeling terdiri dari beberapa distrik yang dipimpin oleh seorang Jogugu dan Under Distrik dipimpin oleh Marsaole (setingkat Camat). Pada masa perjuangan kemerdekaan, manuskrip sejarah Gorontalo mencatat bahwa Gorontalo merdeka pada tanggal 23 Januari 1942, jauh sebelum Soekarno dan Mohamad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Meski merdeka sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, para pejuang kemerdekaan mengikatkan Gorontalo dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, terintegrasi dengan Provinsi Sulawesi Utara. Jika pada masa perjuangan kemerdekaan, rakyat Gorontalo mengusung semangat untuk lepas dari penjajahan Belanda, maka masa-masa setelah kemerdekaan diisi dengan perjuangan untuk memperoleh kesetaraan sosial dan politik serta keadilan ekonomi. Semangat itulah yang mengantarkan masyarakat Gorontalo secara bersama-sama berjuang untuk memekarkan diri dan membentuk Provinsi Gorontalo. Sungguhpun demikian semangat untuk memperoleh kesetaraan sosial politik dan keadilan ekonomi tidak akan menemui momentumnya manakala desentralisasi dan otonomi daerah, tidak dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Adalah pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, telah menjadi kanal yang mengalirkan emosi pemekaran wilayah yang dipicu oleh alasan kesenjangan dan ketidaksetaran dengan daerah induk. Akhirnya, Gorontalo resmi menjadi Provinsi ke-32 di Indonesia melalui UndangUndang Nomor 38 tahun 2000. Luas Wilayah Provinsi Gorontalo memiliki luas wilayah 12.215,44 km2. Dibandingkan dengan provinsi lain di Sulawesi, Gorontalo memiliki luas wilayah terkecil. Lihat Gambar 1.1.
Gambar 1.1 Luas Wilayah Propinsi se-Sulawesi
9% 7% 6% Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Barat

24%

35%

19%

Sumber: BPS 2006

2

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENDAHULUAN

1

Jumlah Kabupaten Pada saat pembentukan provinsi, Gorontalo hanya memiliki 2 Kabupaten (Gorontalo dan Boalemo) dan 1 Kota (Gorontalo), dalam beberapa tahun jumlah kabupaten bertambah. Tercatat diantara Kabupaten yang mekar setelah provinsi adalah Kabupaten Pohuwato (mekaran Kabupaten Boalemo), Kabupaten Bone Bolango (mekaran Kabupaten Gorontalo) dan Kabupaten Gorontalo Utara (mekaran Kabupaten Gorontalo). (Gambar 1.2 )
Gambar 1.2 Persentase Luas Wilayah Kabupaten Kota di Gorontalo Bone Bolango 16% Kota Gorontalo 1%

Kabupaten Gorontalo (Gorontalo Utara) 28%

Pohuwato 37%

Boalemo 18% Sumber: Gorontalo dalam Angka, 2005 Tim PEA Universitas Gorontalo, 2006

Geografi Gorontalo merupakan salah satu provinsi yang berada dalam pulau Sulawesi, berderetan dengan Provinsi Sulawesi Utara. Gorontalo dalam posisinya, tepat terletak di mulut Teluk Tomini. (Lihat Peta)
Laut Sulawesi
Sulawesi Tengah Gorontalo Boalemo Bone Bolango Sulawesi Utara

Pohuwato

Kota Gorontalo Teluk Tomini

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

3

1

PENDAHULUAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gorontalo terletak diantara 0,19'-1,15' Lintang Utara dan 121,23' -123,43' BT. Bagian Barat Gorontalo berbatasan dengan Sulawesi Utara di bagian Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini, dibagian Timur dengan Sulawesi Tengah. Pada bagian Utara berhadapan dengan Laut Sulawesi. Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi. Meskipun Gorontalo merupakan provinsi termuda di Indonesia tetapi pertumbuhan ekonomi, Gorontalo menunjukkan peningkatan pesat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 pertumbuhan ekonomi Gorontalo meningkat rata-rata 6,55 % setiap tahun.
Gambar 1.3 Pertumbuhan Ekonomi Propinsi Gorontalo
8 7 6 5 4 3 2 1 0 2001 2002 2003 Tahun 2004 2005 3.8 4.3 Nasional (%) Gorontalo (%) 5.49 6.42 4.5 5 6.86 6.93 5.5 7.06

Level pertumbuhan ekonomi Gorontalo ini berada diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya mencapai 4,62 %. Meskipun demikian pertumbuhan ekonomi pada tahun 2004 dan 2005 mengalami stagnasi dibanding dengan pertumbuhan nasional. Struktur Sektor Pertanian merupakan pembentuk utama Produk Domestik Regional Bruto di Gorontalo, walaupun dalam rentang waktu lima tahun pertumbuhannya berjalan konstan. (Gambar 1.4 dan Tabel 1.1)
Gambar 1.4 Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan

PDRB P ro p in Gorontalo P D R BProvinsi s i G o ro n ta lo
2,500,000
2 ,50 0 ,0 0 0

2,000,000
2 ,0 0 0 ,0 0 0

1,500,000
1,50 0 ,0 0 0

1,000,000
1,0 0 0 ,0 0 0

500,000
50 0 ,0 0 0

0
2000 2001 2000 2001 Pertanian P e rta n i a n Industri Pengolahan In d u s tri P e n ge lo h an Bangunan B a n g u n a n Komunikasi Pengangkutan & P e n ga n g ku ta n & K o m u n ik a s i Jasa-Jasa

2002 2002

2003 2004 2005 2003 2004 2005 Pertambangan dan Penggalian P e rtaGas b a ng a n da n P en g ga lia n Listrik, m & Air Bersih L is tri k , G a s &&Air B e rs ih Perdagangan, Hotel Restoran P e rd a g Persewaan, & Jasa Perusahaans to ra n Keuangan, a n ga n H o te l & R e

K e ua n g a n, P e rs e w a a n & Ja s a P eru s a h a a n

J a s a -J a s a

Sumber: BPS Provinsi Gorontalo 2006 S u m b e r : BP S P r o p in s i G o r o n t a lo Data olahan Tim PEA Universitas Gorontalo

2006 Da t a O la h a n T im P EA Un iv e r s it a s G o r o n t a lo

4

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENDAHULUAN

1

Tabel 1.1 Laju Pertumbuhan PDRB Propinsi Gorontalo Tahun % Lapangan Usaha A. Sektor Primer 1. Pertanian 2. Pertambangan dan Penggalian B. Sektor Sekunder 1. Industri dan Pengolahan 2. Listrik, Gas dan Air Bersih 3. Bangunan C. Sektor Tersier 1. Perdagangan Hotel dan Restoran 2. Pengangkutan dan Komunikasi 3. Keuangan dan Jasa. Perusahaan 4. Jasa-Jasa Laju Pertumbuhan 2001 7,23 7,05 14,82 -6,49 -13,35 12,86 2,66 7,34 3,42 13,17 5,34 16,63 5,49 2002 8,85 8,73 13,09 4,82 5,51 7,76 3,71 6,44 3,65 -8,27 14,98 12,10 6,42 2003 4,78 4,49 15,44 5,94 4,98 3,42 7,41 8,13 1,72 5,34 27,27 9,00 6,86 2004 3,17 3,16 3,36 5,08 5,15 11,93 4,46 8,57 2,54 22,44 20,13 5,45 5,49 2005 7,38 7,31 9,66 4,80 4,73 5,44 4,84 7,63 3,76 9,36 16,37 5,12 7,06

Kemiskinan Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak menjamin Gorontalo luput dari hambatan-hambatan besar. Ditengah pertumbuhan yang terbilang tinggi justru Gorontalo memiliki jumlah penduduk miskin yang besar. Sekitar 28,87 % pada tahun 2004 penduduk Gorontalo hidup dalam keadaan miskin (lihat Gambar 1.5).
Gambar 1.5 Prosentase Penduduk Miskin Gorontalo
60 50 40 30 20 10 0 1999 Sumber: Susenas-World Bank, 2005 Tim PEA Universitas Gorontalo 2000 2001 2002 2003 2004 32.94

49.54 32.53 32.13 29.12 28.87

Dibandingkan dengan provinsi-provinsi di Indonesia, Gorontalo berada pada urutan ke 3 termiskin. Peringkat ini berdasarkan data tahun 2004. Namun data penduduk miskin sebagaimana pada Gambar 1.5, menunjukkan trend menurun sejak sebelum dan setelah pembentukan Provinsi Gorontalo.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

5

1

PENDAHULUAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 1.6 Penduduk Miskin Se Indonesia

Penduduk Miskin Seluruh Provinsi di Indonesia Tahun 2004
Nasional Papua Maluku Gorontalo Aceh Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bengkulu Lampung Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Jawa Tengah Sumatera Selatan Jawa Timur Yogyakarta Sulawesi Selatan Sumatera Utara Kalimantan Barat Riau Jambi Maluku Utara Jawa Barat Kalimantan Timur Sumatera Barat Kalimantan Tengah Bangka Belitung Sulawesi Utara Banten Kalimantan Selatan B ali DKI Jakarta

Gorontalo

0

10

20

30

40

Sumber: BPS-World Bank, 2005 Tim PEA Universitas Gorontalo

Diantara daerah-daerah di Gorontalo, kantong kemiskinan terbesar berada di Kabupaten Gorontalo. Gambar 1.7 merupakan potret konstribusi kabupaten kota terhadap jumlah masyarakat miskin di Gorontalo.
Gambar 1.7 Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Kota se-Propinsi Gorontalo

70 60 50 40 30 20 10 0 1999 2000 2001 2002 2003 2004 13.78 6.37 9.85 10.75 38.03 38.03 37.3 35.7 Kota Gorontalo 36.6 33.39 13.27 10.88 32.75 32.7 32.39 32.47 Kab. Boalemo Kab. Gorontalo 59.75

Sumber: Susenas-World Bank, 2005 Tim PEA Universitas Gorontalo

6

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENDAHULUAN

1

Persoalan kemiskinan bukan semata-semata dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi. Dalam konteks kemiskinan ada persoalan yang berhubungan dengan pendidikan, kesehatan, dan paling penting lagi adalah akses masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja dan kapital. Faktor terakhir ini menuntut peran serta pemerintah dalam mengelola kebijakan-kebijakan publik yang lebih berpihak kepada masyarakat. Oleh sebab itu kebijakan pemerintah harus lebih tepat sasaran. Disamping kemiskinan, masalah lain yang menimpa Gorontalo ditengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, adalah jumlah pengangguran yang relatif besar. Namun perbedaan sangat mencolok terlihat pada data pengangguran berdasarkan SAKERNAS dengan SUSENAS. (Lihat Gambar 1.8).
Gambar 1.8 Trend Jumlah Pengangguran SAKERNAS vs SUSENAS
250000

200000

150000

100000

50000

0 2001 Sakernas Perkotaan Sakernas Pedesaan Sakernas Total Susenas Perkotaan Susenas Pedesaan Susenas Total 10582 16994 27576 12113 12954 25067 2002 13992 29400 43392 17522 31763 49285 2003 15257 21157 36414 64339 161295 225634 2004 11505 33855 45360 21348 36064 57412

Sumber: Susenas-World Bank, 2005 Tim PEA Universitas Gorontalo

Terlepas dari data Sakernas dan Susenas, paling tidak ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengangguran diantaranya faktor pendidikan, tetapi paling utama adalah ketersediaan lapangan kerja, disamping faktor-faktor ekonomi lainya.

Penduduk Penduduk Provinsi Gorontalo dari tahun ke tahun, cenderung meningkat. Tetapi peningkatan yang paling signifikan terjadi pada tahun 2003 yakni sebesar 28.130 jiwa. (Gambar 1.9)

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

7

1

PENDAHULUAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 1.9 Trend Jumlah Penduduk Propinsi Gorontalo

940 Jumlah (Ribuan Jiwa) 920 900 880 860 840 820 800 2001 2002 2003 2004 2005 843.259 852.927 881.057 899.653 917.949

Sumber: Susenas-World Bank, 2005 Tim PEA Universitas Gorontalo

Fertilitas sangat terkendali. Gorontalo memiliki jumlah penduduk paling sedikit diantara provinsi lainya di Sulawesi. (Gambar 1.10). Pada Gambar ini juga nampak bahwa perkembangan jumlah penduduk Gorontalo sebelum dan setelah provinsi cenderung statis.
Gambar 1.10 Trend Jumlah Penduduk Propinsi Se Sulawesi

Tren Jumlah Penduduk Provinsi Se Sulawesi Tujuh Tahun Terakhir
T re n d J u m la h P e n d u d u k P r o p in s i S e S u la w e s i T u ju h T a h u n T e ra k h ir
9,000,000 9 ,0 0 0 ,0 0 0 8,000,000 8 ,0 0 0 ,0 0 0 7,000,000 7 ,0 0 0 ,0 0 0 6,000,000 6 ,0 0 0 ,0 0 0 5,000,000 5 ,0 0 0 ,0 0 0 Gorontalo G O R O N TA L O Sulawesi Utara S ULUT Sulawesi Tengah S U L TE N G Sulawesi Selatan SU LSEL Sulawesi Tenggara S U L TR A

4 ,0 0 0 ,0 0 0 4,000,000
3,000,000 3 ,0 0 0 ,0 0 0 2,000,000 2 ,0 0 0 ,0 0 0 1,000,000 1 ,0 0 0 ,0 0 0

-

0

1 1999 999

220000 00

220011 00

220022 00

2003 2003

2004 2004

2005 2005

8

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENDAHULUAN

1

Kabupaten Gorontalo, memiliki penduduk terbesar di Provinsi Gorontalo. (lihat Gambar 1.11). 45 % dari total penduduk Provinsi Gorontalo pada tahun 2005 berada di Kabupaten Gorontalo. Kota Gorontalo adalah wilayah terpadat di antara Kabupaten Kota se-Provinsi Gorontalo. Meskipun Kabupaten Gorontalo memiliki persentase jumlah penduduk terbesar pada tahun 2005, tetapi dari segi kepadatan penduduk, kota Gorontalo memiliki tingkat kepadatan tertinggi berdasarkan perhitungan penduduk per km2.
Gambar 1.11 Densitas Penduduk Kabupaten Kota di Gorontalo se-Provinsi Gorontalo Tahun 2005

Kab. Pohuwato, 25 Kab. Boalemo, 39 Kab. Bone Bolango, 59 Kab. Gorontalo, 121

Kota. Gorontalo, 2157

Sumber : BPS Propinsi Gorontalo, Tahun 2006

Kepadatan yang tinggi di Kota Gorontalo salah satunya dipengaruhi oleh luas wilayah yang hanya 1% dari total luas wilayah Provinsi Gorontalo, namun didiami oleh 17% dari total penduduk Provinsi Gorontalo. Sedangkan 28% dari total luas provinsi (Kabupaten Gorontalo) didiami oleh 45% penduduk.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

9

1

PENDAHULUAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

10

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

SIKLUS PENGANGGARAN

2

2

SIKLUS PENGANGGARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Kerangka Peraturan Perundang-Undangan Secara hirarkis ketentuan yang mengatur tentang pengelolaan keuangan diatur melalui bab VIII Hal Keuangan pasal 23 UUD 45 yang merupakan dasar hukum tertinggi dalam pengelolaan keuangan. Ketentuan ini mengatur tentang hal pengelolaan keuangan negara melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, sedangkan yang mengatur tentang pengelolaan keuangan daerah (merupakan bagian dari keuangan negara) selain diatur dalam pasal tersebut juga diatur melalui pasal 18 UUD 45 tentang Pemerintah Daerah. Bersumber dari UUD 45 inilah kemudian melahirkan produk perundangundangan yang mengatur tentang pengelolaan keuangan daerah seperti diatur melalui UU 22/1999, UU 25/1999, UU 17/2003, UU 1/2004, UU 15/2004,UU 32 Tahun 2004, UU 33 Tahun 2004, serta peraturan pelaksana dari undang-undang tersebut. Pemerintah Provinsi Gorontalo yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000 yang disahkan pada tanggal 22 Desember 2000, dalam sejarah perjalanan tentang pengelolaan keuangan daerah mengalami berbagai macam transformasi atau penyesuaian terhadap produk perundang-undangan di tingkat pusat yang mengatur tentang pengelolaan keuangan daerah. Peraturan daerah pertama tentang pengelolaan keuangan daerah yakni Perda 39/2002 menyesuaikan dengan PP 105/2000 dan Kepmendagri 29/2002, kemudian saat ini perda tersebut diganti dengan Perda 3/2006 menyesuaikan PP 58/2005 dan Permendagri 13/2006. Meskipun pemerintah daerah melalui kerangka peraturan daerahnya menata pengelolaan keuangan daerah, namun banyaknya perubahan regulasi dari pemerintah pusat telah membingungkan dan menciptakan ketidakpastian dalam pengelolaan keuangan daerah.
Tabel 2.1 Perkembangan Regulasi Pengelolaan Keuangan PERATURAN UU PP PERATURAN TEKNIS PERDA 1999
UU 22/99 UU 25/99

2000
UU 38/00 PP 104/00 PP 105/00 PP 108/00

2001

2002

2003
UU 17/03

2004
UU 15/04 UU 32/04 UU 33/04

2005

2006

PP 24/05 PP 58/05 KEPMEN DAGRI 29/02 PERDA 39/02 APBD 2002 APBD 2003 APBD 2004 APBD 2005

PP 8/06 PERMEN DAGRI 13/06 PERDA 3/06 APBD 2006

APBD dan Reformasi Keuangan Daerah Untuk pertama kalinya pada tahun 2002 Pemerintah Provinsi Gorontalo menyusun APBD-nya. APBD 2002 menggunakan format lama dengan klasifikasi belanja rutin dan belanja pembangunan. Tanggal 30 September 2002 dibentuk Perda 39/2002 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah sebagai aturan pelaksana dari Kepmendagri 29/2002 yang menjadi dasar dalam penyusunan APBD

12

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

SIKLUS PENGANGGARAN

2

tahun 2003 dan 2004, dengan klasifikasi belanja aparatur dan publik. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang ada didalam PP 105/2000 bahwa pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah ditetapkan dengan peraturan daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan pemerintah melalui Kepmendagri 39/2002. APBD 2005 masih menggunakan klasifikasi belanja aparatur dan publik sesuai Kepmendagri 29/2002 dan diperkuat Perda 39/2002 yang mendasarinya. Namun pelaporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD 2005 menggunakan klasifikasi belanja Operasi dan belanja Modal. Perubahan format yang dipakai dalam pelaporan menunjukkan inkonsistensi, namun perubahan ini dilakukan karena menyesuaikan PP 24 Tahun 2005 dan PP 58 Tahun 20051. Best practices dan son practices di manfaatkan sebagai dasar pelaksanaan APBD.
Tabel 2.2 Reformasi Pengelolaan Keuangan Daerah di Propinsi Gorontalo No
1.

Perihal Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah

2002
Laporan Keuangan Tahunan Diaudit BPK setelah diajukan ke DPRD,WTP

2003
Laporan Keuangan Tahunan Diaudit BPK setelah diajukan ke DPRD,WTP

2004
Laporan Keuangan Tahunan Diaudit BPK sebelum diajukan ke DPRD,WTP Dipublikasi di media massa

2005
Laporan Keuangan Interim Laporan Keuangan tahunan Akan diaudit BPK Dipublikasikan on line

2.

Penerapan anggaran berbasis kinerja/ABK

Di pelajari

Diterapkan sesuai Kepmendagri Penyiapan Perda tentang Badan Keuangan

Diterapkan sesuai Kepmendagri Penggabungan Biro Keuangan dan Dipenda menjadi Badan Keuangan sebagai CFO (chief financial officer)

Diterapkan sesuai UU No. 17/2003 Dinas sebagai Pengguna Anggaran atau COO (chief operational officer) Menyiapkan Bagian Keuangan (eselon III) pada masingmasing satker.

3.

Restrukturisasi Kelembagaan Pengelolaan Keuangan Daerah

Penyiapan Perda Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah

Sumber data : Bagian Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo, Tahun 2005

Provinsi Gorontalo menerapkan dua tahapan pembaharuan/reformasi sesuai dengan kondisi yang di miliki, yaitu: Tahap awal sebagai suatu Prerequisite dan Tahap Penerapan Reformasi Administrasi Keuangan. Tahap awal sebagai prerequisite terdiri dari; penyusunan kebijakan pelayanan publik, sosialisasi dan bimbingan teknik, dan mencari pejabat kunci (outsourcing). Sedangkan tahap
1 Lihat penjelasan Kepala Badan Keuangan Daerah

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

13

2

SIKLUS PENGANGGARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Penerapan Reformasi Administrasi Keuangan terdiri dari: penyempurnaan perangkat hukum, perencanaan dan penganggaran, perbaikan sistem dan prosedur akuntansi serta pengembangan kapasitas dan penataan kelembagaan. Potret Kabupaten/Kota Tentang Perda Pengelolaan Keuangan Daerah Pengelolaan keuangan daerah untuk setiap kabupaten/kota, jika dibandingkan dengan Provinsi Gorontalo, sebagian ada yang sudah memiliki peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah, tetapi sebagian lagi masih dalam tahap penyusunan. Kabupaten Gorontalo telah memiliki Perda tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah yang dibentuk melalui Perda 44/2002. Pembagian struktur belanja dalam Perda ini masih menggunakan klasifikasi belanja Aparatur dan belanja Publik. Sampai saat ini Pemerintah Kabupaten Gorontalo masih melakukan penyesuain terhadap lahirnya peraturan perundang-undangan yang baru untuk kemudian dikonfersi menjadi Perda pengelolaan keuangan daerah untuk menggantikan perda yang lama. Demikian juga halnya dengan Kabupaten Boalemo yang telah memiliki Perda tentang pengelolaan keuangan daerah. Perda yang dimaksud adalah Perda 1/2004 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah. Melalui perda ini diatur mengenai pembagian anggaran belanja daerah menjadi Belanja Aparatur dan Belanja Publik. Sedangkan untuk Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo sampai dengan saat ini masih melakukan penyusunan Ranperda tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Sehingga dalam setiap penyusunan APBD masih mengacu pada ketentuan Nasional yang berlaku. Sistem Perencanaan Penerapan Sistem Perencanaan di Provinsi Gorontalo. Provinsi Gorontalo sejak disahkan pada tahun 2000 selama ini menetapkan sistem perencanaan daerah berdasarkan Tap MPR/IV/1999 tentang GBHN, UU 25/2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) dan UU 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). Berdasarkan peraturan ini kemudian dilahirkan dokumen perencanaan daerah berupa Perda 1/2002 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Provinsi Gorontalo 2002-2004, Perda 30/2002 tentang Program Pembangunan Daerah Provinsi Gorontalo 2002-2004, Perda 31/2002 tentang Rencana Strategis Daerah Provinsi Gorontalo 20022004 yang kemudian diganti dengan Perda 4/2006 Tentang RPJMD 2005-2007 dan Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (REPETADA). Jenis dan Proses Perencanaan Undang-undang Perencanaan Nasional (UU 25/2004) menegaskan fungsi-fungsi badan-badan perencanaan Bappenas di tingkat pusat dan Bappeda di daerah. Mekanisme perencanaan di daerah mencerminkan sistem perencanaan di tingkat nasional, termasuk perencanaan pembangunan jangka panjang (20 tahun), jangka menengah (5 tahun), dan rencana tahunan yang merinci butir-butir rencana jangka menengah sekaligus prospek pembiayaannya. Perubahan sistem perencanaan ini berdampak pada perubahan dokumen perencanaan daerah di Provinsi Gorontalo yang digambarkan melalui Tabel 2.3.

14

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

SIKLUS PENGANGGARAN

2

Tabel 2.3 Perubahan Atas Dokumen-dokumen Utama Perencanaan di Propinsi Gorontalo Dokumen Pemerintah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Pola Dasar Pembangunan Daerah (POLDAS) 20022004 Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) 20022004 Rencana Strategis Daerah (Renstrada) 2002-2004 Peraturan Daerah 20 Tahun Dokumen yang digantikan Produk Hukum Jangka Waktu

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)

Perda 4/2006 Tentang RPJMD 2005-2007

5 Tahun

Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (REPETADA)

Peraturan Kepala Daerah

Tahunan

Satuan Kerja Pemerintah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD)
Sumber : - TAP/MPR/IV/1999, UU 25/2000, UU 25/2004 - Perda 1/2002, Perda 30/2002, Perda 31/2002, Perda 4/2006

Rencana Strategis (RENSTRA)

Peraturan Pimpinan SKPD

5 Tahun

Tahunan

Dalam kenyataannya proses perencanaan masih menemui beberapa kendala akibat ketidakpastian hukum. Sebagai contoh dokumen perencanaan yang dipakai untuk tahun 2005 seharusnya renstrada yang diperdakan melalui Perda 31 tahun 2002, renstrada tersebut hanya berlaku sampai dengan tahun 2004 karena mengikuti periodisasi DPRD. Akibatnya APBD 2006 yang proses perencanaannya dimulai tahun 2005 tidak dapat menggunakan renstrada tersebut, padahal RPJMD belum ditetapkan. RPJMD tersebut baru ditetapkan pada tahun 2006 melalui Perda No. 4/2006. Proses perencanaan di Provinsi Gorontalo dilakukan melalui musyawarah yang dilaksanakan baik di tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Desa yang dikenal dengan Musrenbang. Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) melakukan beberapa inovasi dalam rangka perencanaan dan pembangunan daerah. Salah satunya adalah dengan melakukan sinkronisasi waktu pelaksanaan Musrembang dengan waktu pelaksanaan Jaring Aspirasi Masyarakat yang dilakukan oleh DPRD. Biasanya sinkronisasi ini dilaksanakan pada masa reses anggota DPRD, sehingga apa yang dihasilkan oleh Musrenbang tidak akan berbeda jauh dengan Jaring Asmara. Melalui sinkronisasi ini diharapkan pembahasan prioritas program di DPRD tidak lagi terjadi permasalahan dan mengalami waktu yang panjang.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

15

2

SIKLUS PENGANGGARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Selain mekanisme Musrembang dan Jaring Asmara, Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam rangka membuat perencanaan daerah juga membuat acara seperti Talk Show melalui RRI setiap bulan, dan Halo Gubernur. Acara ini merupakan inovasi Pemerintah Daerah Provinsi Gorontalo untuk turun langsung mengakomodir keinginan masyarakat yang nyata-nyata dibutuhkan.2
Gambar 2.1 Skema Proses Perencanaan di Propinsi Gorontalo

PEMDA
SINKRONISASI WAKTU PELAKSANAAN

DPRD

MUSREMBANG DESA

MUSREMBANG KAB

JARING ASMARA

MUSREMBANG PROV

TALK SHOW RRI HALO GUBERNUR

RKPD PROV GORONTALO (Pembahasan di DPRD)

Sumber: Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Kabid. Makro BAPPEDA Propinsi Gorontalo, 2006

Sistem Penganggaran Disaat daerah-daerah lain di Indonesia masih menerapkan manual keuangan daerah dalam penyusunan anggaran, Provinsi Gorontalo telah menerapkan anggaran berbasis kinerja tepat pada tahun 2003, sesuai pemberlakuan Kepmendagri No. 29/2002. Sementara, Standar Pelayanan Minimal dan Standar Analisa Belanja baru disusun pada tahun 2006. Proses penyusunan APBD dilaksanakan berdasarkan Perda No. 39 tahun 2002 dengan tahapantahapan sebagaimana pada Tabel 2.4.
2 Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bidang Makro Bappeda Propinsi Gorontalo..

16

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

SIKLUS PENGANGGARAN

2

Tabel 2.4 Proses Penyusunan APBD di Propinsi Gorontalo Tahapan Kegiatan Pemerintah Daerah bersama-sama DPRD menyusun arah dan kebijakan umum APBD. AKU berpedoman pada Renstrada dan dokumen perencanaan daerah lainnya, pokok-pokok pikiran DPRD, aspirasi masyarakat, serta kebijakan Nasional. Berdasarkan arah dan kebijakan umum APBD, Kepala Daerah menyusun strategi dan prioritas APBD. Kepala daerah menerbitkan Surat Edaran kepada seluruh unit kerja untuk menyusun Rencana Anggaran Satuan Kerja . Unit kerja membuat Usulan Program, Kegiatan, dan Anggaran yang dituangkan kedalam Rencana Anggaran Satuan Kerja Rencana Anggaran Satuan Kerja diserahkan kepada Tim Anggaran Eksekutif untuk dinilai kewajaran beban kerja dan biaya kegiatannya. Hasil Pembahasan Tim Anggaran Eksekutif dituangkan dalam Rancangan APBD. Tim Anggaran Eksekutif membahas Rancangan APBD bersama Panitia Anggaran DPRD. Kepala Daerah menyampaikan rancangan APBD kepada DPRD untuk mendapatkan persetujuan. Peraturan Daerah tentang APBD yang telah disetujui oleh DPRD, disahkan oleh Kepala Daerah menjadi Perda tentang APBD. Apabila rancangan APBD tidak disetujui DPRD, Pemerintah Daerah berkewajiban menyempurnakan rancangan APBD tersebut. Penyempurnaan rancangan APBD tersebut harus disampaikan kembali kepada DPRD. Apabila rancangan APBD setelah dilakukan penyempurnaan ternyata tidak disetujui DPRD, pemerintah Daerah menggunakan APBD tahun sebelumnya sebagai dasar pengurusan Keuangan Daerah.
Sumber : Perda 39/2002.

Waktu Paling Lambat 5 bulan sebelum tahun anggaran dimulai

Paling Lambat 4 bulan sebelum tahun anggaran dimulai. Pada bulan September.

Paling Lambat 1 bulan sebelum anggaran dimulai. Paling Lambat 1 bulan setelah tahun anggaran dimulai.

Paling Lambat 1 bulan setelah tanggal dikembalikan. Paling Lambat 15 hari kerja.

Provinsi Gorontalo mulai melakukan penyesuaian regulasi terhadap ketentuan proses perencanaan dan pengganggaran APBD. Saat ini proses penyusunan anggaran di Provinsi Gorontalo mulai melakukan penyesuaian terhadap ketentuan-ketentuan di tingkat nasional. Sebagai konsekuensinya APBD Provinsi Gorontalo untuk tahun anggaran 2007 mulai melakukan penyesuaian terhadap PP 58/2005 dan Permendagri 13/2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang diatur melalui Perda 3/2006 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah sebagai pengganti Perda 39/2002.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

17

2

SIKLUS PENGANGGARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Pelaksanaan anggaran selalu konsisten dilaksanakan per 1 Januari. Kalau pembayaran bersifat komitmen seperti pengadaan barang dan jasa berdasarkan proses administrasi waktunya paling singkat 3 bulan. Sementara APBD setelah ditetapkan, diberi waktu 3 hari tetapi hal ini tidak mungkin. SKPD diberikan uang yang nantinya dipertanggungjawabkan sebelum adanya pembayaran. Uang tersebut dimasukkan kedalam pemegang kas SKPD. Managemen Kas dan Pengadaan Pengelolaan kas pada tahun 2002 tidak efisien. Banyaknya prosedur otorisasi penandatanganan, prosedur pemanfaatan uang dalam rekening bank dan prosedur pembayaran kepada suplier barang dan jasa belum terakomodasi secara substantif, apalagi diimplementasikan melalui peraturan daerah.
Gambar 2.2 Reformasi jalur Birokrasi Proses Otorisasi Keuangan Daerah Tahun 2002 Tahun 2006

G

G

G

W

W

W

W S

S A K K A

S S K

A K K

D SPP SPM CHEQUE

D SPP FLOW

D SPM

K CHEQUE

Keterangan : D : Dinas (SKPD) K : Bagian Keuangan Q : Bendahara Dinas A : Asisten 2

S : Sekda W : Wakil Gubernur G : Gubernur

18

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

SIKLUS PENGANGGARAN

2

Untuk memperbaikinya, proses otorisasi telah mengalami 4 kali perubahan mulai dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2006. Proses otorisasi pada tahun 2002 melalui 15 kali tahapan, dimulai dari dinas (SKPD) sampai dengan pencairan melalui Gubernur. Namun sejak tahun 2006 proses itu mengalami perubahan hanya dengan 3 kali tahapan mulai dari Dinas, Bendahara Dinas (SKPD) sampai pada pencairan melalui bagian keuangan. Setelah itu dinas (SKPD) melakukan proses otorisasi sampai pada tingkat Wakil Gubernur. Pemprov memang telah melakukan pemotongan birokrasi dalam pengelolaan kas, tetapi dalam penerapan metode pencatatan masih terdapat hambatan. Pencatatan keuangan yang diterapkan di pemerintah daerah belum sepenuhnya menjelaskan pemanfaatan anggaran pada akhir dan awal tahun anggaran berikutnya. Proses pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Gorontalo memiliki keunikan dibandingkan daerah kabupaten/kota lain di Provinsi Gorontalo yakni dengan melakukan proses tender secara terbuka dihadapan masyarakat, pemerintah eksekutif, legislatif dan stakeholder. Termasuk juga adanya otonomi kewenangan dalam pengelolaan pengadaan barang dan jasa di masing-masing SKPD. Akuntansi dan Pelaporan Provinsi Gorontalo sangat intens melakukan penyempurnaan-penyempurnaan sistem dan prosedur akuntansi keuangan daerah sejak akhir 2001. Sebagai contoh: (1) Pemprov berhasil mendisiplinkan SKPD menyusun laporan triwulanan tepat waktu, sehingga Pemprov menyusun Neraca Keuangan Daerah per 31 Desember, (2) diterapkannya Sistem Akuntansi berbasis aplikasi komputer (on line) mulai tahun 2004, meski belum didukung oleh staff profesional, (3) pada tahun 2003 Pemprov telah menerapkan APBD berbasis kinerja, meskipun belum sepenuhnya. Karena belum adanya indikatorindikator nyata untuk mendukung penyelenggaraan sistem tersebut. Sistem akuntansi di SKPD belum seragam. Meskipun SKPD telah menyusun laporan triwulanan tepat waktu, tetapi dalam realitasnya bentuk laporan tersebut masih bersifat manual, dan belum menggunakan sistem aplikasi komputer. Akibatnya Badan Keuangan Daerah yang kemudian selanjutnya melakukan penyusunan laporan secara komputerisasi. Dengan demikian, di Provinsi Gorontalo inisiatif pembaharuan dalam pengelolaan akuntansi dan pelaporan bukan berasal dari bawah (bottom level), melainkan inisiatif pada level atas (top level management). Monitoring dan Evaluasi Evaluasi yang dilakukan dalam rangka penggunaan anggaran diatur melalui Perda 39/2002 yang dilakukan dalam bentuk Laporan Keuangan Berkala dan Laporan Triwulan. Laporan keuangan berkala dibuat oleh Kepala Unit Kerja Pengguna Anggaran setiap akhir bulan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya kepada kepala daerah dalam bentuk laporan keuangan pengguna anggaran. Sedangkan laporan triwulan disampaikan oleh pemerintah daerah kepada DPRD sebagai pemberitahuan pelaksanaan APBD untuk setiap 3 (tiga) bulan tahun anggaran. Laporan triwulan disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya triwulan yang bersangkutan.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

19

2

SIKLUS PENGANGGARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Internal Audit Secara institutional mekanisme pengendalian internal di Provinsi Gorontalo dilakukan oleh Badan Pengawas Daerah (Bawasda) yang dibentuk berdasarkan Perda 15/2002 dengan uraian tupoksi yang diatur melalui SK Gubernur Gorontalo 166 tahun 2002. Berdasarkan hasil audit internal yang dilakukan Bawasda Provinsi Gorontalo selama kurun waktu 2001-2005 terdapat temuan yang dibagi berdasarkan klasifikasi temuan administratif dan temuan kerugian negara/daerah. Selama tahun 2001 s.d 2005 terdapat 958 temuan adminstrasi. 500 kasus telah selesai, 46 kasus masih dalam proses, 414 belum selesai.
Gambar 2.3 Perbandingan Provinsi dengan Kabupaten/Kota Atas Temuan Bawasda Propinsi

600 500 400 300 200 100 0 14 Selesai 82 39
7

488

332 Dalam Proses Kabupaten/Kota

Dalam Proses

Belum

Sumber: Bawasda Propinsi Gorontalo, 2006

Sebagai contoh temuan administratif berdasarkan Laporan Kinerja Bawasda Provinsi Gorontalo Tahun 2001-2005 ditemukan bahwa pengelolaan keuangan belum sepenuhnya mengacu pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Investasi Publik Pemerintah Provinsi Gorontalo melakukan investasi pada beberapa bidang di tahun 2002 sampai dengan tahun 2005. Disamping memberikan pinjaman kepada pemerintah kabupaten. Investasi dilakukan dalam bentuk Penyertaan modal dan deposito. Kegiatan investasi yang dilakukan pemprov mempengaruhi kondisi likuiditas pemerintah provinsi. Hal ini nampak pada data likuiditas pemerintah Provinsi Gorontalo sebagaimana pada Tabel 2.5.

20

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

SIKLUS PENGANGGARAN

2

Tabel 2.5 Rasio Likuditas Pemerintah Propinsi Gorontalo (Milyar Rp) Tahun 2002 2003 2004 2005 Aktiva Lancar 17.684.652.351,65 16.778.986.285,42 29.822.902.349,66 48.922.690.751,03 Kewajiban Lancar 1.381.201.837,21 256.697.149,00 269.949.233,00 30.245.840.195,00 Rasio (%) 1.280,38 6.536,49 11.047,60 161,75

Sumber: Bawasda Propinsi Gorontalo, 2006

Pengelolaan Aset Masih dalam konteks monitoring dan evaluasi, sistim pencatatan aset tetap yang dilakukan oleh pemerintah Derah Provinsi Gorontalo sudah mengacu pada PP 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, tetapi dalam implementasinya belum sempurna. Contoh, belum adanya pengakuan beban penyusutan, khususnya tahun 2005. Selain itu pencatatan aset masih dilakukan oleh biro umum, diluar BKD. Hal ini menyebabkan pengelolaan asset tidak optimal. Audit dan Eksternal Monitoring Sejak tahun 2002 Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Gorontalo setelah diajukan ke DPRD Provinsi selalu diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK-RI). Hasil audit tersebut untuk pertamakali pada tahun 2004 telah dipublikasikan di media massa. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut BPK-RI memberikan penilaian Wajar Tanpa Pengecualian untuk laporan keuangan tahun anggaran 2002 sampai dengan tahun 2005. Namun untuk tahun anggaran 2006 terdapat temuan kerugian negara yang belum ditindaklanjuti berdasarkan data audit BPK-RI. Sampai dengan akhir Semester I TA 2006 terdapat 297 temuan pemeriksaan, telah ditindaklanjuti sebanyak 189 temuan pemeriksaan. Sisanya belum ditindaklanjuti sebanyak 108 temuan. Demikian juga halnya dengan hasil pemeriksaan BPK-RI untuk Semester II TA 2006 menunjukkan tindak lanjut hasil pemeriksaan terdapat 296 rekomendasi, telah ditindaklanjuti sebanyak 15 rekomendasi. Sisa sebanyak 281 rekomendasi. Laporan audit BPK-RI memuat opini atas kewajaran penyajian laporan keuangan yang meliputi laporan realisasi anggaran, neraca, arus kas, dan catatan atas laporan keuangan yang telah disusun oleh pemerintah daerah. Tipe opini yang digunakan BPK-RI ada lima yaitu; pendapat wajar tanpa pengecualian (WTP), pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraph penjelasan (WTP-PP), pendapat wajar dengan pengecualian (WDP), pendapat tidak wajar dan penyataan tidak memberikan pendapat.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

21

2

SIKLUS PENGANGGARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Analisis PFM Peningkatan penerimaan daerah dan wewenang pengelolaannya, kapasitas pemerintah kabupaten/kota untuk mengelola dana publik secara efisien menunjukkan kinerja yang sudah baik. Penilaian ini ditunjukkan oleh hasil Survei Pengelolaan Keuangan Publik (PFM),3 yang menilai kapasitas pengelolaan keuangan pemerintah kabupaten/kota, kerangka peraturan, dan pertanggungjawaban. Survei PFM tidak mengukur perlengkapan dan prasarana yang tersedia secara menyeluruh, akan tetapi pejabat pemerintah mengatakan bahwa kurangnya perlengkapan kerja dan latar belakang pendidikan pengelola masih menghambat kearah perbaikan proses perencanaan dan penganggaran. Nilai rata-rata keluruhan untuk pengelolaan dana publik dari 5 kabupaten/kota yang disurvei adalah 65 persen (Tabel 2.5) artinya sangat bagus dapat diterima secara substansial. Dua nilai tertinggi diduduki oleh dua daerah yaitu Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo (Masing-masing 72 persen). Dan yang terendah adalah Kabupaten Bone Bolango (59 persen).
Tabel 2.6 Hasil Survei PFM pada Provinsi, 1 Kota dan 4 Kabupaten Provinsi Bidang Strategis
Kerangka Peraturan Perencanaan dan Penganggaran Pengelolaan Kas Pengadaan Barang dan Jasa Akuntansi dan Pelaporan Audit Internal Utang dan Investasi Publik Manajemen Asset Audit Eksternal dan Pelaporan

Kota Gorontalo
52% 85% 73% 83% 74% 89% 63% 55% 78%

Kabupaten Boalemo Pohuwato B.Bolango
48% 75% 80% 60% 81% 61% 38% 32% 56% 44% 83% 55% 58% 70% 78% 25% 41% 78% 28% 66% 52% 62% 85% 61% 63% 32% 78%

Gorontalo
68% 75% 86% 63% 78% 89% 63% 68% 89%

Gorontalo
60% 58% 82% 62% 89% 83% 75% 64% 78%

Rata-Rata
50% 74% 71% 65% 80% 77% 55% 49% 75%

Total

75%

70%

75%

64%

62%

58%

67%

Dari 9 bidang strategis yang disurvei, nilai terendah diperoleh bidang kerangka peraturan, manajemen aset, dan utang investasi publik (masing-masing 48 persen, 51 persen, dan 53 persen). Secara rinci, hasil survei PFM menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota memiliki kerangka peraturan yang sudah cukup baik/cukup dapat diterima untuk meningkatkan transparansi dan partisipasi publik (57 persen) Tabel 2.5, untuk mengelola dana publik secara efektif (68 persen) Tabel 2.5, dan untuk penegakan peraturan dan struktur organisasi (46 persen) Tabel 2.5. Audit eksternal secara rutin (55

3 Survei PFM dilaksanakan oleh Tim PEA Universitas Gorontalo pada tanggal 2-28 Januari dan oleh Unhas tanggal 6 -24 Februari 2007.

22

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

SIKLUS PENGANGGARAN

2

persen, Tabel 2.5) sudah cukup baik dan pengawasan indipenden yang efektif (88 persen, Tabel 2.5) excellent. Kelemahan secara umum pada kabupaten/kota adalah manajemen aset yaitu pada jalur kebijakan, prosedur, pengendalian dan pengelolaan aset (13 persen), hal tersebut karena tiga kabupaten bahkan tidak memiliki perda (Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Pohuwato, dan Kabupaten Bone Bolango). Pemerintah kabupaten/kota (kecuali kabupaten Gorontalo) masih lemah dalam jalur kebijakan, prosedur, dan pengendalian untuk mendorong pengelolaan kas yang efisien dan sistem pengaduan resmi pada pengadaan (32 persen dan 0 persen, Tabel 2.5). Hal ini lebih disebabkan beberapa bagian pokok pengelolaan keuangan belum diakomodasi, seperti misalnya pendelegasian kewenangan, prosedur otorisasi, prosedur pembukaan rekening dan prosedur yang mengatur hubungan regulasi keuangan dengan pemerintah pusat. Demikian pula terkait dengan tidak adanya perda yang mengatur pengadaan barang dan jasa, sehingga sistem pengaduan resmi tidak diatur secara khusus. Namun demikian segala pengaduan dari rekanan yang terkait dengan proses tender tetap diakomodasi oleh panitia tender sebagaimana yang diamanatkan dalam Kepres 80/2003. Tantangan kedepan pemerintah kabupaten/kota yang teridentifikasi adalah kapasitas staf yang tersedia, bukanlah pada jumlah staf. Dengan semakin meningkatnya peran daerah dalam pengelolaan keuangan publik yang lebih baik dengan sendirinya mendorong adanya kebutuhan akan administrator dengan kualifikasi yang lebih baik terutama dibidang akuntansi dan perencanaan.

REKOMENDASI 1. Inovasi yang dilakukan harus seimbang dengan peraturan yang mendasarinya. Prinsip Asas Legalitas. 2. Penyusun dan pengguna anggaran sebagaimana amanat pasal 194 UU 32/2004 harus selalu berpedoman pada Perda tentang Pokok-pokok Penelolaan Keuangan Daerah yang berlaku. 3. Dalam melakukan Penyertaan modal investasi agar lebih memperhatikan tingkat likuiditas. 4. Perlu meningkatkan kapasitas kelembagaan dalam hal pengawasan pertanggungjawaban dan pengelolaan keuangan daerah.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

23

2

SIKLUS PENGANGGARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

24

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

3

3

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Struktur Penerimaan Keuangan Daerah Provinsi Gorontalo Pemerintah Provinsi Gorontalo dan pemerintah kabupaten/kota di Gorontalo, sangat dituntut kemampuan manajerialnya dalam mengoptimalkan berbagai sumber daya yang dimiliki, agar terdapat penerimaan keuangan daerah yang cukup untuk mencukupi kebutuhan biaya pembangunan disegala bidang. Penerimaan keuangan daerah yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah, sangatlah sedikit dibandingkan dengan Dana Perimbangan dari Pemerintah Pusat, sebagaimana tidak berimbangnya kebijakan pemerintah antara mengoptimalkan sumber daya manusia dan sumber daya alam. Total Penerimaan Provinsi dan Kabupaten/Kota Total Penerimaan Riil pemerintah daerah di Provinsi Gorontalo pada umumnya mengalami penurunan. Hal ini disebabkan laju inflasi Gorontalo yang tinggi, bahkan di atas rata-rata inflasi nasional.
Gambar 3.1 Total Realisasi Penerimaan Riil Kabupaten/Kota dan Propinsi Gorontalo Tahun 2002-2005
1.200,00 1.000,00
183.60 112.17 129.65 237.92 121.28 195.00

114.01 107.07 239.02 345.72 96.81 263.37 191.48 161.81 204.89

800,00 Milyar Rupiah
154.79

600,00 400,00 200,00

265.90 194.63

281.60

270.24

0,00 2002 Provinsi Kab. Gorontalo 2003 Kota Gorontalo Kab. Pohuwato 2004 Kab. Bone Bolango Kab. Boalemo 2005

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Kecuali Kabupaten Pohuwato dan Bone Bolango, semua daerah mengalami penurunan pada tahun 2005. Provinsi Gorontalo turun sebesar 4,04 %, Kota Gorontalo 4,83%, Kabupaten Gorontalo 0,46%, dan Kabupaten Boalemo turun 6,44%. Pada tahun 2004, penurunan sangat besar terjadi di Kabupaten Boalemo (turun 37,90%) dan Kabupaten Gorontalo (turun 30,86%). PAD Bone Bolango dan Pohuwato pada tahun 2005 meskipun turun, tapi tidak menyebabkan turunnya pendapatan daerah secara keseluruhan. Karena peningkatan terjadi pada Dana Perimbangan, khususnya penerimaan dari DAK dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak SDA.

26

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

3

Selain inflasi, faktor-faktor yang berpengaruh pada penurunan total penerimaan riil tahun 2005 adalah sebagai berikut : 1. Provinsi Gorontalo: Penerimaan PAD Lainnya turun 11,84% Penurunan pada Dana Perimbangan sebesar 6,63% sebagai akibat Bagi Hasil Pajak Bukan SDA turun 88,59%, DAU turun 8,93% dan DAK tidak ada penerimaan. 2. Kota Gorontalo: Penerimaan PAD Lainnya turun 63,19% Dana Perimbangan turun 8,19% sebagai akibat penurunan pada DAU sebesar 7,02% , DAK 27,54% dan Bagi Hasil dari Pemerintah Provinsi 31,86%. 3. Kabupaten Gorontalo: Dana Perimbangan turun 0,65% sebagai akibat penurunan pada DAU sebesar 3,37%, DAK 1,06% dan Dana Penyesuaian 9,79% 4. Boalemo: PAD turun 6,06% sebagai akibat turunnya Pajak Daerah 3,64% dan Retribusi Daerah 14,69%. Dana Perimbangan turun 4,50% sebagai akibat turunnya Bagi Hasil Bukan Pajak SDA 90,36%, DAU 2,16%, DAK 15,32% dan Bagi Hasil Pajak Provinsi 12,59%. Pemekaran wilayah merupakan penyebab terjadinya Penurunan penerimaan pada tahun 2004. Pemekaran wilayah, secara otomatis diikuti dengan mobilisasi asset ke daerah-daerah mekaran. Kabupaten Gorontalo dimekarkan menghasilkan Bone Bolango, Boalemo menghasilkan Pohuwato. Item pendapatan yang menyebabkan penurunan pada tahun 2004 adalah : 1. Kabupaten Gorontalo. PAD turun 43,91% sebagai konsekuensi dari penurunan pada Pajak Daerah sebesar 4,99%, Retribusi Daerah 10,19% dan PAD Lainnya 86,78%. Dana Perimbangan turun 27,74% karena turunnya Dana Bagi Hasil Pajak sebesar 19,85%, DAU 30,02% dan Dana Penyesuaian 40,51% Pendapatan Daerah Lainnya turun 100%. 2. Boalemo: PAD turun 63,89% sebagai konsekuensi dari turunnya seluruh item penerimaan PAD itu sendiri. Dana Perimbangan turun 36,20% karena turunnya DAU sebesar 48,56%. Penerimaan Daerah Lainnya turun 24,74%.

Proporsi Masing-Masing Bagian Dalam Penerimaan Ketergantungan Gorontalo terhadap pemerintah pusat sangat tinggi. Seluruh penerimaan pemerintah daerah umumnya masih dikontribusi oleh penerimaan dari Dana Perimbangan terutama dari Dana Alokasi Umum.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

27

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

3

Gambar 3.3 Dana Perimbangan Propinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2002-2005
PROPINSI
70 70 60 60

KAB/KOTA
600 600

13 14

250 250

232
12 12

Milyar Rupiah

8 8 6 6 4 4 2 2 0-

157

150 150 100 100 50 50 0 -

Milyar Rupiah

10 10

M ily ar R upiah

Milyar Rupiah Milyar Rupiah

200 200

Milyar Rupiah

50 50 40 40 30 30 20 20 10 10

500 500

478
450 450 400 400

-0 2002
2002

2002

2003

2004

2005

Bagi Bagi Hasil Pajak Pajak Bagi Hasil Bukan Pajak Sumber Daya Alam Bukan Pajak SDA Bagi Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Umum

2003 2004 2005 Bagi Hasil Pajak Bagi HasilPajak Bagi asil H Pajak Sumber Bagi Hasil Bukanan Bukak PajDaya Alam Dam Al Sumber aya Dana okasi Dana Alokasi Khusus us Al Khus Bagi asil H & Pajeuangan Bagi Hasil Pajakak Keuangan dari Provinsi darnsi & K i Propi Dana Dana Penyesuaian esuaian Peny Dana okasi mum Dana Alokasi Umum U Al

2003

2004

2005

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007

Potensi Sumber daya kelautan di daerah Gorontalo, sebagai sektor unggulan, belum memberi kontribusi pada perolehan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak SDA. Faktor penyebabnya adalah karena eksplorasi dan eksploitasi Sektor Perikanan Kelautan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan, dikendalikan oleh pemerintah pusat melalui kewajiban membayar Royalti/Iuran, demikian pula dalam mengalokasikan atau membagi hasilnya ke daerah. Pemerintah daerah tidak mungkin memungut iuran atau retribusi hasil laut dari usaha kecil nelayan yang banyak dilakukan oleh masyarakat. Disparitas Antara PAD dan Dana Perimbangan Pajak Daerah dan Laba Perusahaan Milik Daerah merupakan sumber penerimaan PAD yang meningkat stabil. Kondisi ini menunjukkan bahwa kedua sumber ini potensial dikembangkan mengingat pajak daerah rata-rata meningkat 16,30 %. Retribusi Daerah Provinsi sekalipun mencapai rata-rata 146,42 % peningkatannya pertahun, tetapi pada tahun 2004 turun 72,58 %. Jadi peningkatan rata-rata pertahun yang sangat tinggi karena kontribusi kenaikan sebesar 424,74 % pada tahun 2003 yang merupakan kontribusi dari Retribusi Sumbangan Pihak Ketiga. Ditingkat Kabupaten/Kota Laba BUMD rata-rata meningkat 123,86 % pertahun dan meningkat terus diatas 64%. Sedangkan Pajak Daerah rata-rata meningkat 16,73 % dan Retribusi Daerah rata-rata 24,26 %, tetapi kedua pos penerimaan ini mengalami penurunan pada tahun 2005. Zona zerro retribution. Pemerintah Provinsi menerapkan retribusi nol sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan publik. Pemberlakuan ini akan dimulai sejak tahun 2006 yang ditunjukan dengan tidak dianggarkannya Retribusi Daerah pada APBD tahun 2006. Namun hal ini tidak sejalan dengan kebijakan di tingkat pemerintah kabupaten/kota. Meskipun di tingkat Provinsi Gorontalo menolkan retribusi, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kab/kota berlomba menggenjot perolehan retribusi.
Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran 29

Milyar Rupiah M ily ar R upiah

211

211

559

560

568
550 550

3

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 3.2 Proporsi Bagian Penerimaan Kabupaten/Kota di Propinsi Gorontalo Tahun 2002 - 2005

PROPINSI
% 120.00 0.00 0.10 0.00 0.01 % 120.00 1.96 3.34

KAB/KOTA

100.00

100.00

3.04

4.36

80.00

80.00

60.00 40.00

84.03

84.13

85.23

82.92

60.00 40.00

92.67

89.91

90.49

89.83

20.00 15.97 0.00 2002 2003 2004 2005 15.77 14.77 17.06

20.00 5.37 0.00 2002 2003 2004 2005 6.76 6.47 5.81

Lain-lain Penerimaan yang Sah Dana Perimbangan PAD

Lain-lain Penerimaan yang Sah Dana Perimbangan PAD

Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Secara rata-rata kab/kota 90,73%, provinsi 84,08% dan total provinsi kab/kota 89,87% penerimaan setiap tahunnya berasal dari pemerintah pusat, berupa Dana Perimbangan. Sisanya adalah penerimaan dari Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak SDA, kecuali hanya pada tahun 2003 Provinsi Gorontalo menerima Dana Alokasi Khusus. Kontribusi Sumber Daya Kelautan di Teluk Tomini, Program Agropolitan, potensi mineral dan hasil hutan serta potensi kekayaan alam lainnya belum menghasilkan sumber pembiayaan pembangunan. Hal ini nampak pada pembentukan dana dari Bagian Lain-Lain Penerimaan Yang Sah, dan PAD, hanya rata-rata 9,28%. Dana perimbangan yang terbentuk oleh Dana Bagi Hasil (Pajak dan Bukan Pajak SDA) juga tidak signifikan, karena dominan terbesar sepanjang tahun 2002 2005 adalah Dana Alokasi Umum.

28

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

3

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar. 3.4 Pendapatan Asli Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2002 - 2005
PROPINSI KAB/KOTA
35 30

40
Milyar Rupiah
Milyar Rupiah

30 20 10 2002 2003 2004 2005 Pajak Daerah Pajak Daerah Retribusi D aerah Retribusi Daerah Laba Perus haan Milik Daerah a ilik aerah Laba Perusahaan M D Lain-lain Pendapat Asli Daerah Yang Sah an l aerah Yang Sah Lain-lain Pendapatan Asi D

25 20 15 10 5 0 2002 2003 2004 2005

Pajak Daerah Pajak Daerah Retribusi Daerah Retribusi Daerah Laba Perusahaan Milik Daerah Laba Perusahaan Milik Daerah Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah

Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Penerapan zona nol retribusi di tingkat Provinsi sangat wajar, karena jumlah retribusinya sangat kecil, jika dibandingkan dengan kabupaten kota. Gambar 3.4. menunjukkan bahwa PAD Provinsi Gorontalo mengandalkan Pajak Daerah yang meningkat setiap tahun, sedangkan PAD Kabupaten/Kota lebih banyak mengandalkan Retribusi Daerah sebagai sumber PAD. Pemberlakuan retribusi nol tidak hanya mempengaruhi penerimaan pendapatan daerah, juga berimbas pada tingkat kemandirian daerah. Jika tidak dibarengi dengan peningkatan pada pos penerimaan lainnya, maka tingkat kemandirian daerah akan semakin rendah. Dengan kata lain, ketergantungan terhadap pemerintah pusat semakin besar.
Tabel 3.1 Proporsi PAD Propinsi dan Kabupaten/Kota Terhadap Total Penerimaan Masing-Masing Daerah
2002
Realisasi (Rp 000.000) Provinsi Kota Gorontalo Bone Bolango Kab.Gorontalo Pohuwato Boalemo 31,081 12,295 12,352 6,480 4.19 4.69 Proporsi (%) 15.97 7.60

2003
Realisasi (Rp 000.000) 41,937 14,153 21,290 13,252 7.22 6.16 Proporsi (%) 15.77 7.39

2004
Realisasi (Rp 000.000) 41,590 18,391 504 11,942 11,105 4,785 Proporsi (%) 14.77 8.98 3.20 5.00 10.37 4.20

2005
Realisasi (Rp 000.000) 46,113 22,449 134 12,328 4,586 4,495 Proporsi (%) 17.06 11.51 2.05 5.18 3.54 3.81

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

30

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

3

Tabel di atas menggambarkan bahwa kemandirian daerah masih berada pada rentang 2,05% sampai dengan 17,06% jika dilihat dari proporsi PAD terhadap total penerimaan daerah masing-masing di Gorontalo selang tahun 2002 - 2005. Rata-rata yang paling rendah proporsinya adalah Bone Bolango (2,62%) dan paling tinggi adalah Provinsi Gorontalo (15,89%). Kota Gorontalo tingkat kemandirian dalam PAD mencapai 9,87%, Kabupaten Gorontalo 5,26%, Kabupaten Boalemo 4,85% dan Kabupaten Pohuwato 6,95%. Jumlah PAD riil kabupaten kota dan provinsi berada pada rentang Rp. 134 juta sampai dengan Rp. 46 Milyar, berbanding jauh dengan total penerimaan riil daerah yang berada pada rentang Rp 96 Milyar sampai dengan Rp 345 Milyar. Sumber PAD terbesar pemerintah provinsi berasal dari Pajak Daerah, sumber pemerintah kota dan kabupaten adalah Retribusi Daerah, kecuali Boalemo dan Bone Bolango. Pajak Daerah Provinsi memiliki kontribusi 77,07%, Retribusi Daerah 6,51%, Laba Perusahaan Daerah 0,43% dan Lain-Lain PAD Yang Sah 16,03% terhadap pembentukan PAD. Kota Gorontalo memiliki proporsi Retribusi Daerah terbesar dengan rata-rata 62,53%, selanjutnya Pohuwato 62,24% dan Kabupaten Gorontalo 46,91%. Untuk Laba Perusahaan Daerah proporsi terbesar diperoleh Kabupaten Gorontalo, sebesar 3,01%. Boalemo dan Bone Bolango komposisi PADnya terbesar dibentuk oleh Penerimaan PAD Lainnya (56,60% dan 59,97%).
Gambar 3.5 Pendapatan Asli Daerah Riil Propinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2005

Kab. Boalemo Kab. Pohuwato Kab. Gorontalo Kab. Bone Bolango Kota Gorontalo Provinsi 10 Pajak Daerah Retribusi Daerah 20 Milyar Rupiah Laba Perusahaan Milik Daerah Lain-lain PAD Yang Sah 30 40 50

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Tingkat Realisasi Penerimaan Keuangan Tingkat realisasi Dana Bagi Hasil Pajak Bukan SDA Provinsi Gorontalo lebih rendah dibanding Dana Perimbangan Lainnya dengan perencanaan anggaran yang terkesan asal jadi. Selama kurun waktu 20022005 tingkat realisasi total pendapatan Provinsi Gorontalo dan pemerintah kab/kota ratarata adalah di atas 90%. Provinsi Gorontalo tingkat realisasi adalah rata-rata 100,12%. Namun dibalik prestasi tersebut secara parsial, Dana Bagi Hasil Bukan Pajak SDA memiliki tingkat realisasi rata-rata yang rendah, yaitu 35%. Dengan tingkat realisasi 82,69% (791 juta) pada tahun 2004, di tahun 2005

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

31

3

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

tidak dianggarkan kembali namun memiliki realisasi sebesar 82 juta. Fenomena ini menurut penjelasan Bagian Penganggaran pada Badan Keuangan Daerah Provinsi Gorontalo, disebabkan karena tidak adanya penganggaran dari dinas terkait, baik itu dari bidang kehutanan, pertambangan maupun perikanan sehingga Badan Keuangan kesulitan dalam menentukan nilai anggarannya. Konfirmasi lebih lanjut pada Badan Keuangan Provinsi, diperoleh keterangan bahwa Dana Bagi Hasil Pajak Bukan SDA direalisasikan dari pusat tidak menentu setiap tahun, bahkan ditingkat Kabupaten/kota ada yang tidak memperolehnya sama sekali. Mengingat dana ini merupakan kewenangan pada pemerintah pusat dalam menagih, mengumpulkan, dan mengalokasikan ke daerah, maka pemerintah daerah tidak dapat mengelola dan mengoptimalkan obyek penerimaan ini, bahkan tidak dapat merencanakannya. Penerimaan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak SDA berasal dari: Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH). Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH). Iuran eksplorasi dan eksploitasi (Royalties) termasuk didalamnya dari Sektor Perikanan Kelautan dan Pertambangan Umum Pemberian Hak Atas Tanah Iuran Tetap (Land Rent) DAU Provinsi Gorontalo tahun 2005 tingkat realisasinya di bawah 100%. Seluruh tingkat realisasi penerimaan dari DAU untuk kabupaten/kota selama tahun 2002-2005 senantiasa mencapai 100%, kecuali untuk Bone Bolango dan Pohuwato yang berupa angka proyeksi. Untuk Provinsi, khusus tahun 2004 realisasinya 99,999% dan tahun 2005 99,26%. Hal ini menurut penjelasan Bagian Penganggaran pada Badan Keuangan Provinsi disebabkan oleh kekeliruan dan keterlambatan dalam penagihan kucuran DAU dari Pusat. Secara keseluruhan pendapatan Provinsi dari Dana Perimbangan terealisasi ratarata 100,83%.
Tabel 3.2 Tingkat Realisasi Penerimaan Daerah (Persen)
2002
Provinsi PAD Pajak Daerah Retribusi Daerah Laba Perusahaan Daerah Lain-lain PAD yang Sah Dana Perimbangan Bagi Hasil Pajak B. Hasil bukan Pajak SDA DAU DAK Bagi Hasil Pajak dan Keuangan dari Provinsi Dana Otonomi Khusus Lain-lain Total 101.71 109.63 116.30 115.46 89.19 100.33 132.24 33.34 100.00 Kab/Kota 100.25 105.14 99.16 56.38 102.33 103.35 121.94 84.75 100.00 574.68 Provinsi 89.95 86.42 69.45 131.99 148.05 99.89 111.76 23.94 100.00 100.00

2003
Kab/Kota 108.95 100.55 92.80 165.53 126.21 100.74 116.03 60.96 100.00 100.79 118.16 100.00 9.45 97.30 100.00 101.23 Provinsi

2004
Kab/Kota 89.30 105.58 95.38 58.25 73.99 98.02 103.98 151.06 99.60 99.62 139.34 40.17 111.61 98.63 97.76 Provinsi 90.35 96.79 87.35 85.21 67.47 100.22 109.88 82.69 100.00

2005
Kab/Kota 86.50 87.25 90.43 83.36 76.91 100.92 107.95 133.72 100.22 100.42 97.49 102.08 100.40 102.83 99.93 102.47 99.40 103.58 98.53 128.53 102.88 249.36 99.26

100.00 114.86 103.38

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

32

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

3

Penerimaan Perkapita Penerimaan Daerah Perkapita Riil Boalemo terbesar tahun 2002-2003 dan Kota Gorontalo terbesar tahun 2004-2005. Selama tahun 2002-2003 Pendapatan Daerah Boalemo lebih kecil dibanding kabupaten/kota lainnya di Gorontalo, namun pendapatan Riil Perkapita terbesar melampaui pendapatan pemerintah Provinsi/kabupaten/kota. Hal ini disebabkan jumlah penduduknya yang lebih sedikit. Sebaliknya Kabupaten Gorontalo meski jumlah pendapatan daerahnya terbesar namun diimbangi oleh jumlah penduduk yang besar sehingga memiliki penerimaan daerah perkapita yang terendah di antara kabupaten/kota dan Provinsi. Kota Gorontalo di tahun 2004 dan 2005 memiliki pendapatan daerah perkapita yang lebih tinggi di antara kabupaten/kota bahkan di atas total Provinsi/kabupaten/kota.
Gambar 3.6 Penerimaan Daerah Perkapita Riil Propinsi dan Kabupaten/Kota
2,000 1,800 1,600 1,400

Ribuan Rupiah

1,200 1,000 800 600 400 200 2002 Kota Gorontalo Pohuw ato 2003 Bone Bolango Boalemo 2004 Kab.Gorontalo Prov /Kab/Kota 2005

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

PAD Perkapita PAD Perkapita Riil Kota Gorontalo Tertinggi dan Bone Bolango Terendah. Kecuali pada tahun 2003, PAD Riil Kota Gorontalo tertinggi pada tahun 2002, 2004 dan tahun 2005. Bahkan pada Tahun 2005 PAD perkapitanya sangat tinggi melebihi dari PAD Perkapita Provinsi. Peningkatan ini karena besarnya penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah dimana kebijakan diarahkan pada optimalisasi pemungutan retribusi dari Pajak Hotel dan Restoran sebesar 10% dari total transaksi yang dilakukan. Hal ini terbukti dengan peningkatan retribusi selama tahun 2002-2005 berturut turut 7,30%, 23,50% dan 61,8%.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

33

3

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Kabupaten Pohuwato, setelah dimekarkan dari Kabupaten Boalemo, pada tahun 2004 dan 2005 memiliki PAD perkapita riil tertinggi kedua setelah Kota Gorontalo, yang berarti melebihi dari Kabupaten induknya.
Gambar 3.7 Pendapatan Asli Daerah Perkapita Riil Propinsi dan Kabupaten/Kota
160,000 140,000 120,000 100,000

Rupiah

80,000 60,000 40,000 20,000 2002 2003 2004 2005

Kota Gorontalo Pohuw ato
Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Bone Bolango Boalemo

Kab.Gorontalo Prov /Kab/Kota

Seperti halnya dengan keadaan total Penerimaan Daerah, Kabupaten Gorontalo memiliki PAD Riil yang tertinggi di antara Kab/Kota. Dengan jumlah penduduk yang terbesar, menyebabkan PAD Riil Perkapita menjadi kecil, bahkan hanya berada sedikit di atas dari Bone Bolango yang memiliki jumlah PAD yang terendah. Dana Perimbangan dan DAU Perkapita Riil Trend penerimaan Dana Perimbangan Perkapita Riil adalah sama trendnya dengan penerimaan DAU Perkapita Riil sebagaimana terlihat dalam Gambar 3.8. Alokasi DAU dari pusat yang sangat mempertimbangkan populasi penduduk, merupakan bagian terbesar dalam penerimaan Dana Perimbangan, sehingga trendnya sama dengan penerimaan total Dana Perimbangan perkapita pula. Pada tahun 2002 - 2003, Kabupaten Boalemo masih dominan tertinggi dalam penerimaan Dana Perimbangan Perkapita riil dari Pusat. Pada tahun 2004 tertinggi adalah Kota Gorontalo dan tahun 2005 adalah Kabupaten Pohuwato. Jika diperbandingkan antara Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Boalemo, kedua daerah ini nyaris hampir sama dalam populasi penduduk, tetapi ternyata pada tahun 2005 Kabupaten Pohuwato memperoleh alokasi yang sangat besar dari Dana Perimbangan. Alokasi DAU Perkapita riil bagi Kabupaten Pohuwato lebih besar dari pada Kabupaten induknya (Boalemo) dalam tahun 2004 dan 2005, bahkan tahun 2005 menempati urutan pertama di atas

34

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

3

Kabupaten/Kota dan Provinsi, sedangkan tahun sebelumnya menempati urutan kedua setelah Kota Gorontalo. Dengan demikian terdapat indikasi kesamaan dengan kemampuan Kabupaten Pohuwato dalam menghasilkan PAD Perkapita Riil tahun 2004-2005 sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
Gambar 3.8 Dana Perimbangan dan DAU Perkapita Riil Propinsi dan Kabupaten/Kota
DANA PERIMBANGAN RILL
1,800 1,600 1,600 1,400 1,200

DANA ALOKASI UMUM RILL

(Ribu)

1,400

(Ribu)
2002 Kota Gorontalo Kab.Gorontalo Boalemo 2003 2004 2005 Bone Bolango Pohuw ato Prov /Kab/Kota

1,200 1,000 800 600 400 200 -

1,000 800 600 400 200 2002 Kota Gorontalo Kab.Gorontalo Boalemo 2003 2004 2005

Bone Bolango Pohuw ato Prov /Kab/Kota

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Proyeksi Penerimaan Kabupaten Gorontalo dan Boalemo memiliki trend proyeksi yang negatif, Provinsi yang terbesar. Kondisi ini merupakan imbas dari pemekaran wilayah yang terjadi pada kedua daerah sejak tahun 2003. Jika pemekaran wilayah masih akan terjadi dalam 5 tahun kedepan, maka trend dari keduanya akan senantiasa menurun. Penurunan ini disebabkan aset dan potensi daerah kemungkinan lebih banyak berada di daerah pemekaran, sementara konsentrasi penduduk lebih banyak di daerah induk. Fenomena ini harus lebih disiasati karena akan menyebabkan pesndapatan daerah perkapita semakin turun dan ketergantungan daerah induk terhadap pemerintah pusat juga akan semakin besar. Namun secara rata-rata, kabupaten dan kota tetap memiliki trend pendapatan daerah riil yang positif.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

35

3

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 3.9 Proyeksi Pendapatan Pemerintah Propinsi dan Kabupaten Kotaa
(Milyar Rupiah)
836.2 854.8 873.5 906.3

817.5

313.7

338.0

362.2

386.5

398.6

2006

2007 Prov insi

2008

2009 Kab/Kota

2010

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Pembiayaan Dalam struktur penerimaan yang ada dalam Laporan APBD beserta penjabaran komponennya, senantiasa diikuti dengan pengelolaan pembiayaan, karena hasil penerimaan akan diteruskan dengan pengelolaan penerimaan pada pos-pos pembiayaan. Provinsi Gorontalo mengalami surplus anggaran sementara Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo mengalami defisit. Secara rata-rata meski mengalami defisit di tahun 2003 dan 2005, Kota Gorontalo memiliki surplu Rp 182 juta pertahun. Tidak demikian halnya dengan Kabupaten Gorontalo. Defisit yang sangat besar pada tahun 2004 dan dilanjutkan pada tahun 2005 menyebabkan daerah ini memiliki rata-rata defisit Rp 1,9 Milyar pertahun. Defisit terbesar yang terjadi pada tahun 2004 disebabkan oleh penurunan yang terjadi pada pendapatan lebih besar dibandingkan dengan penurunan pada pos pengeluaran. Trend surplus pemerintah Provinsi lebih baik dibandingkan dengan kabupaten kota karena peningkatan pengeluaran dibarengi dengan peningkatan pendapatan yang seiring dengan peningkatan pengeluaran itu sendiri. Sementara Pohuwato dalam tahun 2004 dan 2005 meski dibawah Provinsi, tetapi surplusnya yang terbesar di antara kabupaten kota.
Tabel 3.3 Surplus/Defisit dan Pembiayaan Netto Pemerintah Daerah di Gorontalo (dalam Milyar Rupiah)
2002
Surplus/ Defisit Provinsi Kota Gorontalo Bone Bolango Kab.Gorontalo Pohuwato Boalemo 4.18 4.29 9.04 7.40 Pembiayaan Netto 0.00 19.34 -9.04 0.00 Surplus/ Defisit 12.88 -2.89 0.44 1.14

2003
Pembiayaan Netto 3.04 21.01 6.16 0.00 Surplus/ Defisit 13.03 4.65 1.01 -17.32 9.01 3.82

2004
Pembiayaan Netto 12.01 17.04 0.00 17.04 0.00 0.00 Surplus/ Defisit 17.81 -6.22 3.72 -0.24 14.17 3.64

2005
Pembiayaan Netto -7.66 18.46 -3.23 4.54 -14.17 21.39

Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

36

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

3

Penerimaan Pembiayaan Penerimaan SILPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) pada tahun sebelumnya menjadi pos andalan dalam penerimaan pembiayaan baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota. SILPA yang diperhitungkan dari Surplus/Defisit dikurangi dengan pembiyaan Netto (selisih Penerimaan Pembiayaan dan Pengeluaran Pembiayaan), pada umumnya ada pada setiap laporan pembiayaan di Provinsi dan Kabupaten/Kota, bahkan sering menjadi satu-satunya pos penerimaan pembiayaan. Tingginya penerimaan pembiayaan riil Provinsi pada tahun 2003 karena adanya Transfer Dana Cadangan sebesar Rp 17,5 M, dan pada tahun-tahun berikutnya senantiasa mengalami penurunan, walaupun tahun 2004 penerimaan kembali pada Pinjaman Sementara, Deposito Yang Dijaminkan, dan Piutang Pihak Ketiga. Kota Gorontalo dalam penerimaan pembiayaan selain ada penerimaan Silpa tahun sebelumnya, pada tahun 2003-2005 menerima piutang pihak ketiga. Tahun 2003 sebesar Rp 3,2 M, 2004 sebesar Rp 4,1 M dan tahun 2005 sebesar Rp 16,64 M. Kabupaten Gorontalo pada tahun 2002 mengalami Defisit sebesar tahun 2002 sehingga penerimaan pembiayaan juga mengalami defisit dan tidak terdapat SILPA. Dalam laporan pembiayaan, secara normatif SILPA yang dihasilkan pada tahun ini, harus nampak pada penerimaan pembiayaan tahun berikutnya. Namun kenyataannya memiliki perbedaan sebagai akibat dari adanya pembebanan pencatatan transaksi di luar rekening pembiayaan.
Tabel 3.4 SILPA (Nominal) Propinsi dan Kabupaten di Gorontalo
2002
Awal Provinsi Kota Gorontalo Bone Bolango Kab.Gorontalo Pohuwato Boalemo 19.34 (8.97) Akhir 13.03 23.63 7.40 Awal 13.03 19.29 16.97 16.41

2003
Akhir 15.92 18.12 17.40 1.14 Awal 5.86 18.12 17.40 16.83

2004
Akhir 25.04 21.68 0.17 3.82 Awal 21.45 0.30 0.17 2.96 20.81

2005
Akhir 10.16 12.25 0.49 4.30 25.03

Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Pengeluaran Pembiayaan Penyertaan modal pemerintah belum dilaksanakan secara maksimal setiap tahun dari pemanfaatan surplus sebagai upaya penambahan investasi daerah. Provinsi Gorontalo dalam pengeluaran pembiayaan secara riil melakukan penyertaan modal dalam jumlah besar pada tahun 2003 yakni ke BUMD dan perhotelan masing-masing sebesar Rp 5,8 M. Dan tahun 2004 dan tahun 2005 terjadi penyertaan modal ke BUMD masing-masing Rp 7,8 M dan Rp 5,0 M. Pengeluaran lain terbesar adalah Pembayaran Pada Pihak Ketiga (Rp 16,5M) tahun 2002, Transfer Ke Dana Cadangan (Rp 17,5 M) tahun 2003. Kota Gorontalo melakukan penyertaan modal hanya pada tahun 2005 sebesar Rp 1,2 M sebagai jumlah terbesar dalam penyertaan modal pemerintah. Pengeluaran lainnya adalah pembayaran
Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran 37

3

PENERIMAAN DAN PEMBIAYAAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

pinjaman pada pemerintah pusat tahun 2002, dan pembayaran utang pokok yang jatuh tempo pada tahun 2005. Kabupaten Gorontalo pada tahun 2005 melakukan penyertaan modal pemerintah hanya Rp 634 juta dan jumlah terbesar pengeluaran terjadi pada tahun 2003 sebagai Pembentukan Dana Cadangan sebesar Rp 5,8 M. Pengeluaran Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Berjalan terjadi di Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato sebagai pengeluaran terbesar, dimana Kabupaten Boalemo sebesar Rp 19,2 M pada tahun 2003 dan Kabupaten Pohuwato sebesar Rp 17,2 M pada tahun 2005.
Tabel 3.5 Perbandingan Nilai Total Surplus/Defisit, Pembiayaan, dan Silpa Propinsi Tahun 2002 2005
2002
Surplus/Defisit Penerimaan Pengeluaran SILPA Pembiayaan Netto 4,179,028,004 22,695,917,346 13,844,006,945 13,030,938,405 8,851,910,401

2003
12,878,691,307 28,030,938,405 24,990,000,000 15,919,629,712 3,040,938,405

2004
13,031,963,191 19,513,101,477 7,502,220,894 25,042,843,774 12,010,880,583

2005
17,814,689,110 6,665,250,000 14,320,567,564 10,159,371,546 (7,655,317,564)

Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

REKOMENDASI 1. Rencana zero retribution revenue harus diimbangi dengan kebijakan yang dapat mendukung upaya mengoptimalkan pos pendapatan lainnya agar kemandirian lebih meningkat seperti: a.. Pajak Daerah: Pajak Kenderaan di Air. Pajak Air Permukaan dan Air Bawah Tanah. b. Laba Perusahaan Milik Daerah (penyertaan modal pada perusahaan yang memiliki rentabilitas yang tinggi), c. Lain Lain PAD Yang Sah : Pendapatan Denda atas Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan. Pendapatan Denda Pajak. 2. Konsentrasi penduduk terbesar di Kabupaten Gorontalo harus diimbangi dengan pengelolaan potensi daerah seefisien dan seefektif mungkin. 3. Harus ada dukungan kebijakan dari pemerintah kabupaten kota dengan kebijakan yang relevan 4. Identifikasi dan optimalisasi sumber-sumber pendapatan harus dilakukan agar pemerintah daerah mampu untuk membiayai pelaksanaan pembangunannya 5. Investasi usaha pada sektor kelautan, perlu ditumbuh-kembangkan dan dikendalikan oleh pemerintah daerah Gorontalo; Proporsi jumlah dana bagi hasil bukan SDA diperjelas pada pemerintah pusat; Perlu ada perubahan regulasi usaha di sektor kelautan yang dikendalikan oleh pemerintah pusat. 6. Perlu adanya arah kebijakan umum yang berorientasi jangka panjang yang dapat menyeimbangkan struktur penerimaan dari pusat dan struktur penerimaan yang mandiri 7. Pengalihan pencatatan SILPA harus dimunculkan dengan jelas dalam APBD agar tidak menimbulkan interprestasi yang berbeda atas penggunaan dana daerah dan untuk menghindari penambahan pengeluaran belanja daerah yang tidak nampak dalam APBD baik menurut Klasifikasi Bidang dan Klasifikasi Ekonomi maupun dalam Pembiayaan itu sendiri. 8. Pemerintah dapat melakukan penyertaan modal sebagai upaya penambahan investasi daerah.

38

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

PENGELUARAN

4

4

PENGELUARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Struktur dan Komposisi Pengeluaran Pengeluaran (expenditure) merupakan tindakan penggunaan penerimaan (revenue) yang diperoleh dan dalam melakukan pengeluaran harus seimbang dengan penerimaan yang bersumber dari berbagai pendapatan. Jika suatu daerah semakin meningkat penerimaan dari berbagai sumber pendapatan maka semakin banyak kebutuhan dan keinginan masyarakat yang terpenuhi karena pada akhirnya segala daya upaya dalam membiayai program pembangunan adalah untuk kebutuhan dan keinginan masyarakat. Perbandingan Penerimaan dan Pengeluaran Riil Provinsi dan Kabupaten/Kota Jika dirata-ratakan total penerimaan kumulatif provinsi dan kabupaten/kota pada selang tahun 20022005 yang mencapai nilai riil rata-rata Rp.967,74 M, maka dapat memenuhi total pengeluaran nilai riil rata-rata Rp 944,64 M, atau 1,02 berbanding 1,00. Namun dalam hal persentase peningkatan ratarata pertahun, menunjukkan bahwa kenaikan penerimaan mencapai rata-rata 11,77% dan pengeluaran rata-rata naik 12,30% pertahun. Sebelum adanya pemekaran daerah Kabupaten Bone Bolango dan Pohuwato, pada tahun 2003 Penerimaan naik 27,38 % dan Pengeluaran naik 30,75 % dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun pada tahun 2004 setelah pemekaran, penerimaan hanya naik 5,75 % dan begitu pula pengeluaran hanya naik 5,60% dibandingkan tahun sebelumnya, dan untuk tahun 2005, penerimaan naik 2,19% dan pengeluaran naik 0,55%. Berdasarkan perbandingan tersebut, ternyata bahwa setelah adanya pemekaran dua daerah, persentase kenaikan dari penerimaan riil dan pengeluaran riil mengalami penurunan drastis pada tahun 2004 dan 2005. Konsekuensi logis dari sebuah pemekaran adalah beban anggaran keuangan bagi daerah otonomi baru. Pengeluaran Riil provinsi dan Kabupaten/Kota Perkembangan pengeluaran riil pada tahun 2003, baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota mengalami kenaikan antara 24 % hingga 31 %. Keadaan ini tidak terjadi pada tahun 2004 dimana Kabupaten Gorontalo mengalami penurunan pengeluaran hingga 25,27 % dan Kabupaten Boalemo menurun 39,75 %. Untuk tahun 2005, penurunan terjadi pada Provinsi Gorontalo (5,56%), Kabupaten Gorontalo (7,68%), dan Kabupaten Boalemo (1,17%). Penurunan terjadi bukan disebabkan oleh pengurangan anggaran pengeluaran, namun nilai penerimaan keuangan daerah makin berkurang seiring dengan pelaksanaan otonomisasi di daerah-daerah.

40

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENGELUARAN

4

Gambar 4.1 Komposisi Pengeluaran Riil Propinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2002-2005
1,200,00

1,000,00 182.27 800,00 145.79 600,00 252.37 400,00 194.87 156.60 200,00 189.55 0 2002 Provinsi Kota Gorontalo 2003 Kab. Bone Bolango 250.85 345.21

109.81 97.16

108.53 115.48

257.97

238.16

95.70 199.78

117.56 201.22

267.27

252.42

2004 Kab. Gorontalo Kab. Pohuwato

2005 Kab. Boalemo

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Penerimaan dan Pengeluaran Riil Perkapita Kabupaten Boalemo adalah kabupaten yang memiliki penerimaan dan pengeluaran riil perkapita tertinggi dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya pada selang tahun 2002-2003 dan Kabupaten Pohuwato tertinggi tahun 2005. Dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit maka Kabupaten yang merupakan mekaran dari Kabupaten Gorontalo ini, mempunyai penerimaan riil perkapita rata-rata selang tahun 2002-2005 sebesar Rp 114.100/bulan dan pengeluaran perkapita riil rata-rata Rp 110.370/bulan, dibandingkan dengan total Provinsi Kab/Kota di Gorontalo yang memiliki penerimaan riil perkapita Rp 90.876/bulan dan pengeluaran perkapita riil Rp 88.698/bulan. Sekalipun demikian, Boalemo memiliki rata-rata perkembangan penerimaan riil perkapita perbulan turun 10,28% dan pengeluaran riil perkapita perbulan turun 8,75%. Agak berbeda dengan Kabupaten Pohuwato sebagai daerah mekaran dari Kabupaten Boalemo, pada tahun 2005 Kabupaten Boalemo menunjukkan penerimaan dan pengeluaran riil perkapita tertinggi dengan tingkat penerimaan riil mencapai Rp.101.233/Bulan (Boalemo Rp 87.474/bulan) dan pengeluaran riil perkapita mencapai Rp.90.165/bulan (Boalemo Rp 84.638/bulan). Kondisi perekonomian Kabupaten Boalemo perkapita sangat baik karena daerah ini terkenal antara lain sebagai pusat perdagangan, industri manufaktur dan jasa di wilayah Barat Gorontalo.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

41

4

PENGELUARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 4.2 Komposisi Penerimaan dan Pengeluaran Perkapita Riil Propinsi dan Kabupaten/ Kota Tahun 2002-2005
7,000,00 6,000,00
1,035.01 1,035.01 1,081.98 572.14 953.00

5,000,00 4,000,00
1,500.87 1,746.24 918.31 621.37 845.37 626.27 779.30

3,000,00 2,000,00
1,129.49

1,335.11

1,355.04

1,286.13

1,000,00
873.46 1,102.73 1,145.32 1,136.00

0 2002 Provinsi Kota Gorontalo 2003 Kab. Bone Bolango 2004 Kab. Gorontalo Kab. Pohuwato 2005 Kab. Boalemo

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Struktur dan Komposisi Pengeluaran Berdasarkan Klasifikasi Bidang dan Ekonomi Komposisi Pengeluaran Berdasarkan Klasifikasi Bidang Pengeluaran menurut klasifikasi Bidang terdiri dari 21 bidang, data di Tingkat Provinsi dan Kabupaten yang mempunyai pos pengeluaran adalah 19 bidang. Dalam analisis ini, klasifikasi bidang dibagi atas Administrasi Umum Pemerintahan, Pertanian, Perikanan dan Kelautan, Pendidikan dan Kebudayaan, Pekerjaan Umum, Perhubungan, dan Bidang Lainnya. Di Provinsi Gorontalo, Administrasi Umum Pemerintahan merupakan bidang tertinggi proporsi alokasi pengeluaran, dengan rata-rata proporsi 39,04 % pertahun. Bidang tertinggi berikutnya adalah pekerjaan umum yakni 16,93 % pertahun, disusul dengan bidang Perhubungan yang proporsinya mencapai 8,18 %. Bidang Pertanian dan Bidang Perikanan dan Kelautan sebagai program unggulan Provinsi Gorontalo hanya memiliki proporsi 7,70 % dan 3,45 % pertahun. Pada Tahun 2005 Bidang Administrasi Umum Pemerintahan di Provinsi Gorontalo merupakan proporsi alokasi terbesar sejak tahun 2002 yang proporsinya mencapai 45,78 %. Bidang pekerjaan Umum pada tahun 2003 dialokasikan sebesar 24,12 %, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2004 dan 2005. Agak berbeda dengan bidang Perhubungan yang proporsi pada tahun 2003-2005 sudah sangat kecil dibandingkan dengan tahun 2002 yang proporsinya mencapai 24,47 %. Prioritas untuk alokasi layanan dasar yakni Bidang Pendidikan dan Pertanian masih relatif kecil proporsi pengeluaran sebagaimana prioritas program pembangunan. Begitu pula pemberian layanan dasar bidang kesehatan yakni rata-rata hanya 1,19 %.

42

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENGELUARAN

4

Alokasi rata-rata proporsi bidang pertanian sebagai sektor unggulan Provinsi Gorontalo rata-rata hanya dialokasikan 7,70 %, sedangkan Bidang Administrasi Umum merupakan proporsi terbesar dengan rata-rata 45,75 %. Gorontalo dengan jumlah penduduk yang sebagian besar bekerja di bidang pertanian dan karakteristik daerahnya yang masih merupakan daerah pertanian, seharusnya lebih memberdayakan potensi ekonomi pada sektor pertanian. Apalagi cakupan target dalam program unggulan daerah merupakan sektor pertanian seperti perikanan dan kelautan, agropolitan, kehutanan dan perkebunan, dan sektor-sektor lain bidang pertanian.
Gambar 4.3 Proporsi Pengeluaran Menurut Klasifikasi Bidang di Propinsi Gorontalo Tahun 2002-2005
100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2002 ADUM PEMERINTAHAN BIDANG KESEHATAN PERHUBUNGAN 2003 2004 2005 PERIKANAN & KELAUTAN PEKERJAAN UMUM
39.91 33.66 36.83 45.78 0.94 24.47 24.12 3.94 3.33 4.40 12.08 18.70 5.52 5.63 3.65 5.62 1.20 4.37 2.83 6.55 1.80 2.91 6.54 17.18 14.19 19.91 4.40 23.92 2.33 2.52 20.95

0.84

PERTANIAN PEENDIDIKAN & KEBUDAYAAN LAINNYA

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Administrasi Umum merupakan bidang yang menyerap banyak dana karena di Provinsi Gorontalo terdapat sekitar 11 lembaga/badan yang harus dibiayai dalam operasional administrasi umum, sebagaimana penuturan staf Badan Keuangan Provinsi Gorontalo. Alokasi untuk Sekretariat Daerah (Setda) paling tinggi menyerap dana dimana rata-rata tahun 2002-2005 proporsi alokasi yang direalisasikan mencapai 47,65 %. Alokasi ini terdistribusi pada 8 Biro dan Pimpinan Setda. Urutan berikutnya adalah Bawasda yang proporsi alokasinya rata-rata mencapai 10,59 %. Untuk DPRD mencapai 9,89 %, dan Sekretariat DPRD sebesar 6,88 %. Sedangkan Badan Keuangan/Dipenda ratarata proporsi alokasi mencapai 6,59 % dan Kepala Daerah (Gubernur dan Wakil Gubernur) sebesar 5,00 %. Pengeluaran bidang Administrasi umum lainnya tersebar pada BKD dan Diklat (4,22%), Bappeda (4,51 %), Badan Perwakilan Jakarta (3,91 %), KPU (1,47 %), dan Badan Kesbang Linmas (2,82%). Jika dilihat secara total daerah Gorontalo, dominan alokasi pengeluaran perbidang adalah bidang Pendidikan dan kebudayaan sebagaimana dalam gambar berikut :

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

43

4

PENGELUARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 4.4 Proporsi Kumulatif Pengeluaran Rata-Rata Riil Perbidang Propinsi dan Kabupaten / Kota Tahun 2002-2005
100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30%
0.54 6.87 2.66 1.38 0.28 8.01 1.35 2.00 33.14 38.16 35.60 9.86 9.64 0.98 2.64 34.84 32.17 12.18 1.37 15.01 0.58 11.82 16.19 1.70 16.50 5.31 1.12 11.38 8.71

20% 10% 0% 2002 ADUM PEMERINTAHAN BIDANG KESEHATAN PERHUBUNGAN 2003 2004
23.20 26.13 28.67

2005 PERIKANAN & KELAUTAN PEKERJAAN UMUM

PERTANIAN PEENDIDIKAN & KEBUDAYAAN LAINNYA

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Bidang pendidikan dan kebudayaan, rata-rata dialokasikan 35,19 % pertahun sebagai komitmen Kabupaten/Kota dalam pemberdayaan SDM terutama pendidikan dasar 9 tahun. Jika di tingkat Provinsi, Administrasi Umum dan Pemerintahan sebagai bidang yang banyak menyerap dana, namun ditingkat Kabupaten/Kota sebagai jumlah terbesar kedua dengan rata-rata 27,78 %. Selanjutnya bidang Pekerjaan Umum rata-rata dialokasikan 13,68 %. Untuk layanan dasar Kesehatan agak sedikit lebih besar dari Provinsi, yakni rata-rata 8,59 %. Proporsi alokasi bidang Pertanian merupakan alokasi rata-rata relatif rendah, yakni 2,17 %, begitupula bidang Perikanan dan Kelautan yang hanya mengalokaskan rata-rata 0,79 % pertahun. Komposisi Pengeluaran Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Belanja Modal/Pembangunan merupakan pengeluaran yang tertinggi yang dialokasikan Provinsi Gorontalo. Rata-rata proporsi alokasi pengeluaran riil pada selang tahun 2002 2005, lebih banyak dialokasikan untuk Belanja Modal/Pembangunan yakni rata-rata 40,83% pertahun, tetapi sejak tahun 2003 alokasinya makin berkurang. Tahun 2002 dan 2003 masih dominan terbesar yang masingmasing dialokasikan 63,60 % dan 44,31 % . Tahun 2004 Belanja Pegawai yang menduduki posisi tertinggi yakni 30,25 % sehingga Belanja Modal/Pembangunan turun menjadi 27,67%. Pada tahun 2005 Belanja Modal/Pembangunan tinggal 27,75 % dan Belanja Pegawai sebagai alokasi terbesar yakni 33,92 %. Ini berarti terdapat kecenderungan pengurangan alokasi pengeluaran untuk belanja Modal/Pembangunan setiap tahun.

44

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENGELUARAN

4

Setiap tahun rata-rata proporsi untuk Belanja pegawai Provinsi mencapai 21,19% dan Barang dan Jasa dialokasikan 17,78 %. Namun keadaan jadi berubah pada tahun 2005 dimana dalam Barang dan Jasa tersebut terdapat Belanja Perjalanan Dinas dan Pemeliharaan, sehingga pada tahun 2005 ini tidak nampak pencatatan keuangan secara terpisah.
Gambar 4.5 Proporsi Kumulatif Belanja Riil Menurut Klasifikasi Ekonomi Propinsi Gorontalo Tahun 2002-2005
100%
17.78 12.91 15.38 12.23

80%
27.67 44.31 27.75

60%
2.40 63.60 8.38 1.55 6.79 14.16 15.92 33.92

40%

20%

1.00 2.36 30.25 7.13 8.14 20.28 26.10

0%

2002 Pegawai Barang & Jasa

2003 Perjalanan Dinas

2004 Pemeliharaan

2005 Modal/Pembangunan Lain-lain

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Tingkat Kabupaten/Kota alokasi terbesar adalah Belanja Pegawai yang besarannya relatif sama setiap tahun. Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Bone Bolango, rata-rata mengalokasikan belanja pegawai yang paling tinggi dibanding dengan belanja ekonomi lainnya, dengan proporsi pengeluaran riil di atas 50 %, yakni masing-masing Kota Gorontalo 52,20%, Kabupaten Gorontalo 61,65%, dan Kabupaten Bone Bolango 55,35%. Sedangkan belanja Modal/Pembangunan masingmasing 27,06%, 20,42% dan 29,62%. Sisanya dialokasikan pada belanja ekonomi lainnya. Secara ratarata, Belanja Pegawai 51,39 % dan Belanja Pembangunan 29,60 %. Kabupaten Boalemo, dan Kabupaten Pohuwato, mengalokasikan Pengeluaran riil dalam Modal/Pembangunan lebih tinggi dari belanja ekonomi lainnya. Provinsi Gorontalo rata-rata mengalokasikan 40,83%, Kabupaten Boalemo 41,40 % dan Kabupaten Pohuwato 39,65%. Sedangkan belanja riil Pegawai masing-masing mengalokasikan rata-rata 21,19%, 37,92% dan 33,57 %. Sisanya dialokasikan pada belanja ekonomi lainnya. Khusus Belanja Perjalanan Dinas dan Belanja Pemeliharaan pada Provinsi Gorontalo, Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango, berdasarkan data yang berhasil dihimpun, pada tahun 2005 tidak mengalokasi kedua jenis belanja tersebut karena telah dimasukkan sebagai bagian dari Belanja Barang dan Jasa.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

45

4

PENGELUARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 4.6 Proporsi Kumulatif Pengeluaran Riil Menurut Klasifikasi Ekonomi pada Kabupaten/Kota Tahun 2002-2005
100%
6.51 3.00 3.11 5.71

80%
37.46

31.84

26.16

22.92 1.41 15.94

60%
1.02 3.42 0.77

2.11 10.80

3.01

2.41

3.94 10.63

2.28

40%
50.82 53.75 51.74

20%

49.24

0% 2002 Pegawai Barang & Jasa 2003 Perjalanan Dinas 2004 Pemeliharaan 2005 Modal/Pembangunan Lain-lain

Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Tingkat Realisasi Pengeluaran Tingkat realisasi Pengeluaran Provinsi Gorontalo, baik dalam klasifikasi Bidang maupun Ekonomi ratarata mencapai 89,57 % lebih rendah dari pada Kabupaten/Kota yang mencapai realisasi 92,84 %. Perbandingan tingkat realisasi menurut Klasifikasi Bidang antara Provinsi dan Kabupaten/Kota selama tahun 2002 -2005 adalah sebagai berikut : Tahun 2002, tingkat realisasi tertinggi di Provinsi Gorontalo adalah Bidang Lain-Lain yang direalisasikan sebesar 135,74% dan yang terendah realisasinya adalah bidang Sosial yakni 45,09 %, dengan tingkat realisasi total pengeluaran 91,98%. Sedangkan Kabupaten/Kota tingkat realisasi tertinggi adalah Bidang Kesehatan sebesar 104,98% dan terendah adalah bidang Perindustrian dan Perdagangan yakni 73,49%, dengan tingkat realisasi total pengeluaran 93,40%. Tahun 2003, tingkat realisasi tertinggi di Provinsi Gorontalo adalah Bidang Kependudukan yakni 100,60 % dan yang terendah adalah bidang perindustrian dan Perdagangan yakni 61,17 %, dengan tingkat realisasi total pengeluaran 89,64 %. Sedangkan Kabupaten/Kota tingkat realisasi tertinggi adalah Bidang Kesehatan sebesar 102,47 % dan terendah adalah bidang kependudukan yakni 73,61 %, dengan tingkat realisasi total pengeluaran 93,19 %. Tahun 2004, tingkat realisasi tertinggi di Provinsi Gorontalo adalah Bidang Lingkungan Hidup yakni 98,08 % dan yang terendah adalah bidang Ketenagakerjaan yakni 75,31 %, dengan tingkat realisasi total pengeluaran 88,89 %. Sedangkan Kabupaten/Kota tingkat realisasi tertinggi adalah Bidang Kesehatan sebesar 97,94 % dan terendah adalah bidang Lain-Lain yakni 45,85 %, dengan tingkat realisasi total pengeluaran 91,01 %.

46

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENGELUARAN

4

Tahun 2005, tingkat realisasi tertinggi di Provinsi Gorontalo adalah Bidang Kesehatan yakni 95,71 % dan yang terendah adalah bidang Perikanan dan Kelautan yakni 82,04 %, dengan tingkat realisasi total pengeluaran 87,76 %. Sedangkan Kabupaten/Kota tingkat realisasi tertinggi adalah Bidang Kesehatan sebesar 105,68 % dan terendah adalah bidang Lain-Lain yakni 58,18 % , dengan tingkat realisasi total pengeluaran 93,78 %. Dengan demikian, di Kabupaten/Kota tingkat realisasi tertinggi yang terjadi setiap tahun adalah Bidang Kesehatan, yang direalisasikan di atas 100 %, kecuali pada tahun 2004. Kinerja realisasi anggaran yang mendekati 100 % adalah ditingkat Kabupaten/Kota.
Tabel 4.1 Tingkat Realisasi Pengeluaran Propinsi dan Kab/Kota Berdasarkan Bidang Tahun 2002-2005
Bidang
ADUM PEMERINTAHAN PERTANIAN PERIKANAN & KELAUTAN PERTAMBANGAN & ENERGI KEHUTANAN & PERKEBUNAN PERINDUSTRIAN & PERDAGANGAN PERKOPERASIAN PENANAMAN MODAL KETENAGAKERJAAN KESEHATAN PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN SOSIAL PENATAAN RUANG PERMUKIMAN PEKERJAAN UMUM PERHUBUNGAN LINGKUNGAN HIDUP KEPENDUDUKAN OLAH RAGA KEPARIWISATAAN PERTANAHAN LAIN-LAIN TOTAL

2002 Provinsi
87.79 99.70 84.62 74.77 70.68 67.20 58.96 67.59 86.22 45.09 82.18 95.10 95.89 135.74 91.98

2003 Provinsi
90.78 84.99 83.62 66.30 84.20 61.17 74.58 69.23 83.17 65.85 96.93 83.12 96.06 100.60 93.31 89.64

2004 Kab/Kota
87.31 87.31 86.88 86.02 71.32 83.30 89.41 97.94 92.94 89.95 72.58 93.17 92.21 95.22 92.45 74.71 95.46 45.85 91.01

2005 Provinsi
85.59 92.85 82.04 93.50 90.16 95.23 90.67 95.71 92.21 93.46 89.19 90.66 91.32 83.69 87.76

Kab/Kota
91.88 91.10 92.67 97.55 87.20 73.49 93.06 91.33 104.98 92.93 93.51 87.89 88.56 98.49 96.80 88.58 84.30 86.80 90.73 74.91 100.00 93.40

Kab/Kota Provinsi
86.80 87.66 89.44 86.87 97.28 87.39 88.27 102.47 93.08 96.71 98.75 99.20 99.27 93.06 95.98 73.61 92.05 98.46 99.90 93.19 85.46 92.88 89.87 95.35 86.66 92.58 75.31 92.17 89.81 97.89 92.32 91.32 98.08 90.58 88.89

Kab/Kota
90.80 89.94 92.86 91.46 83.94 87.60 92.01 105.68 94.37 93.00 99.82 93.31 94.41 95.40 87.60 93.72 99.30 58.18 93.78

Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Tingkat realisasi total pengeluaran pertahun menurut Klasifikasi Ekonnomi adalah sama dengan Klasifikasi Bidang. Perbandingan tingkat realisasi menurut Klasifikasi Ekonomi antara Provinsi dan Kabupaten/Kota selama tahun 2002 2005 adalah sebagai berikut : Tahun 2002, pada Provinsi Gorontalo, tertinggi adalah Belanja Lain-Lain (118,77%) dan terendah adalah Belanja Pegawai (57,68%). Sedangkan Kabupaten/Kota, tertinggi adalah Belanja Modal/Pembangunan (94,90%) dan terendah adalah Belanja Pemeliharaan (77,04%).

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

47

4

PENGELUARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Tahun 2003, pada Provinsi Gorontalo, tertinggi adalah Belanja Modal/Pembangunan (95,27 %) dan terendah adalah Belanja Pegawai (75,70 %). Sedangkan Kabupaten/Kota, tertinggi adalah Belanja Modal/Pembangunan (98,01%) dan terendah adalah Belanja Pemeliharaan (80,14 %). Tahun 2004, pada Provinsi Gorontalo, tertinggi adalah Belanja Perjalanan Dinas (96,87%) dan terendah adalah Belanja Modal/Pembangunan (84,29 %). Sedangkan Kabupaten/Kota, tertinggi adalah Belanja Pegawai (92,26 %) dan terendah adalah Belanja Lain-Lain (75,48%). Tahun 2005, pada Provinsi Gorontalo, tertinggi adalah Belanja Pegawai (92,19 %) dan terendah adalah Belanja Lain-Lain (83,76 %). Sedangkan Kabupaten/Kota, tertinggi adalah Belanja Barang dan Jasa (97,59 %) dan terendah adalah Belanja Lain-Lain (87,10%). Tingkat realisasi anggaran di atas 100 % tidak terdapat di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten/Kota, kecuali hanya salah satu item belanja tahun 2002 yakni Belanja Lain-Lain.
Tabel 4.2 Tingkat Realisasi Pengeluaran Propinsi dan Kab/Kota Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Tahun 2002-2005
BELANJA
PEGAWAI BARANG & JASA PERJALANAN DINAS PEMELIHARAAN MODAL/PEMBANGUNAN LAIN-LAIN TOTAL

2002 Provinsi
57.68 91.63 94.27 81.13 93.35 118.77 91.98

2003 Provinsi
75.70 92.99 92.93 82.03 95.27 93.31 89.64

2004 Kab/Kota
92.26 91.45 81.03 90.79 91.78 75.48 91.01

2005 Provinsi
92.19 87.55 85.94 83.76 87.76

Kab/Kota
90.65 91.21 81.46 77.04 94.90 92.71 92.12

Kab/Kota Provinsi
92.96 86.73 87.87 92.35 98.01 80.14 93.19 90.52 88.73 96.87 89.49 84.29 90.58 88.89

Kab/Kota
93.65 97.59 94.04 94.48 91.58 87.10 93.49

Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Belanja Luncuran Provinsi Gorntalo Di Provinsi Gorontalo, pada tahun 2003 dan 2004, tercatat Belanja Luncuran sebagai pengeluaran yang harus direalisasikan karena belum selesai pelaksanaannya pada tahun sebelumnya. Tahun 2002 dan 2005 tidak terdapat Belanja Luncuran. Belanja Luncuran secara riil tahun 2003 dianggarkan sebesar Rp 7,63 M, dan realisasinya adalah Rp 7,04 M dengan Belanja Luncuran terbesar adalah Pembangunan Gedung Pemerintah Provinsi Gorontalo. Dalam tahun 2003 itu, terdapat 23 kegiatan yang harus didanai oleh Belanja Luncuran tahun sebelumnya, yang tersebar pada 10 Bidang, dan Bidang Pekerjaan Umum merupakan belanja terbesar. Sedangkan dalam tahun 2004 dianggarkan sebesar Rp 4,37 M dan realisasinya adalah Rp 3,49 M dengan Belanja Luncuran Terbesar adalah Pembangunan/Rehab Kantor PU dan Kimpraswil sebagai bagian dari pembangunan gedung pemerintah. Dalam tahun 2004 itu, terdapat 29 kegiatan yang harus didanai oleh Belanja Luncuran tahun sebelumnya, yang tersebar pada 8 Bidang, dan Bidang Perhubungan merupakan belanja terbesar.

48

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENGELUARAN

4

Tahun 2002 tidak terdapat Belanja Luncuran karena sistem penganggaran belum sepenuhnya baik sejak dibentuknya Provinsi Gorontalo pada pertengahan tahun 2001. Selanjutnya pada tahun 2005 tidak terdapat lagi Belanja Luncuran karena pemerintah Provinsi Gorontalo telah menggunakan sistem anggaran berbasis kinerja.

Tabel 4.3 Belanja Luncuran Propinsi Gorontalo Tahun 2003 (Miliar Rupiah)
No
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Kegiatan
Pembangunan Gedung Samsat Penimbunan Halaman Rumah Dinas Penunjang Penelitian & Evaluasi Prog. Pembangunan Penunjang Sarana Perlengkapan & Humas Pelaksanaan Pengawasan Provinsi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Pemantapan & Rehabilitasi Kawasan Hutan & Lahan Peningkatan Pelayanan Kesehatan Pengembangan Iklim Pendukung Usaha KUKM Peningkatan Pendidikan & Olahraga Pembangunan Jembatan Timbang Peningkatan Mutu Sumber Daya Kelautan & Perikanan Eks. Proyek Pengembangan Industri Kecil & Menengah Pembinaan & Pengembangan Usaha Tani Holtikultura Pembinaan & Pengembangan Usaha Tani Ternak Biaya Pemeliharaan Transportasi - Dinas PU Marina and Coastal Resources Management Penanggulangan Banjir Wilayah I Pembangunan Jalan Provinsi Gorontalo Pembangunan Jalan Akses Provinsi Gorontalo Pembangunan Jembatan Provinsi Gorontalo Pembangunan Gedung Pemerintah Provinsi Gorontalo Pembuatan Saluran Duicker

Bidang
ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM KEHUTANAN & PERKEBUN KEHUTANAN & PERKEBUN KESEHATAN KETENAGAKERJAAN PENDIDIKAN PERHUBUNGAN PERIKANAN & KELAUTAN PERINDAG PERTANIAN PERTANIAN PU PU PU PU PU PU PU PU

Anggaran
0.06 0.09 0.03 1.34 0.07 0.04 0.13 0.05 0.22 0.17 0.05 0.44 0.03 0.04 0.13 0.18 0.07 0.65 0.93 0.18 0.63 2.11 -

Realisasi
0.06 0.09 1.25 0.03 0.03 0.05 0.22 0.01 0.06 0.03 0.13 0.18 0.65 0.93 0.17 0.51 2.10 0.56

Proporsi
0.83 1.23 17.76 0.46 0.48 0.64 3.11 0.14 0.86 0.38 1.77 2.56 9.29 13.14 2.41 7.17 29.86 7.92

Total
Proporsi dari realisasi dan dalam satuan Persen Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

7.63

7.04

100.00

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

49

4

PENGELUARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Tabel 4.4 Belanja Luncuran Propinsi Gorontalo Tahun 2004 (Miliar Rupiah)
No
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24 25. 26. 27. 28. 29.

Kegiatan
Pembangunan Ruang Serba Guna Wagub Pembebasan Tanah Kamla Kwandang Pengadaan Mobil Jabatan Sekda Pembuatan Pagar Rudis Pagar DPRD Biaya Konsultan Pengaspalan Jalan UPT Samsat Pohuwato Pengaspalan Jalan UPT Samsat Boalemo Pemagaran UPTD Samsat Limboto Pembang. Uji Fisik Kend. Bermotor UPTD Pohuwato Pembang. Uji Fisik Kend. Bermotor UPTD Boalemo Research Desain Konstruksi & Training Komp. Samsat Survey and Mapping Rapat Konsultasi Publik Renstra dan Zonation Plan Diklat Kepemimpinan Tk III angakatan I AMDAL/UKL-UPL Proyek Pembang. Jembatan Talumolo Seminar Dewan Riset Daerah Instalasi Sumur Bor Pusat PPP Sapi Unggul Alat Angkutan Apung Bermotor Bintek & Prototip Alat Industri, Yodisasi garam di MBO Pelatihan Teknis & Bantuan Alat Industri Pakan Ternak Pengembangan Usaha Eko. Produktif/Modal Bergulir Pelaksanaan Pengawasan&Tera Ulang UTTP pd Sidang Pembangunan Jalan Pangea 17 Km Jalan Akses Tobango Barat cs Pembangunan / Rehab Kantor PU / Kimpraswil Pembebasan Tanah Jembatan Timbang Pembangunan Terminal Cargo Pembangunan Obyek Wisata Otanaha Pembangunan Jembatan Timbang

Bidang
ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM ADUM LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PERTANIAN PERIKANAN & KELAUTAN PERINDAG PERINDAG PERINDAG PERINDAG KETENAGAKERJAAN PU PU PERHUBUNGAN PERHUBUNGAN PERHUBUNGAN PERHUBUNGAN

Anggaran
0.22 0.08 0.29 0.01 0.02 0.06 0.04 0.02 0.03 0.02 0.26 0.03 0.02 0.26 0.04 0.05 0.05 0.23 0.06 0.19 0.06 0.04 0.75 0.00 0.69 0.17 0.11 0.29 0.32

Realisasi
0.22 0.01 0.02 0.06 0.04 0.02 0.03 0.02 0.26 0.03 0.02 0.24 0.04 0.04 0.05 0.21 0.06 0.19 0.05 0.01 0.36 0.68 0.13 0.11 0.29 0.32

Proporsi
6.24 0.00 0.00 0.33 0.49 1.75 1.13 0.47 0.79 0.49 7.42 0.91 0.43 6.94 1.03 1.23 1.37 6.10 1.65 5.32 1.56 0.31 10.19 0.00 19.40 3.80 3.22 8.19 9.24

Total
Proporsi dari realisasi dan dalam satuan Persen Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

4.37

3.49

100.00

Pengeluaran Dekonsentrasi Pusat Dana Dekonsentrasi yang dikucurkan oleh pemerintah pusat pada tahun 2005 dan 2006 terbilang sangat besar. Pada tahun 2005 dana ini mencapai Rp.1,16 Trilyun dan tahun 2006 sebesar Rp. 2,642 Trilyun. Jumlah ini sangat jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana tahun 2002 hanya Rp 193 Milyar, tahun 2003 menjadi Rp 404 Milyar dan tahun 2004 sebesar Rp 391 Milyar. Proporsi (share) pada masing-masing bidang setiap tahun relatif sama yang terinci dalam 19 Bidang Dana Dekonsentrasi. Proporsi alokasi dana yang dominan terbesar dikucurkan adalah bidang Pendidikan, Kebudayaan, dan Kepercayaan Terhadap Tuhan, rata-rata proporsinya tahun 2002-2006 adalah 24,24 %/tahun.

50

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENGELUARAN

4

Bidang dana Dekonsentasi yang terbesar berikutnya adalah Bidang Kesejahteraan Sosial, Kesehatan dan Peranan Wanita, yakni rata-rata proporsi alokasi adalah 17,13%/tahun. Selanjutnya bidang Transportasi, Meteorologi dan Geofisika mencapai rata-rata proporsi sebesar 14,42 %. Dari semua bidang ini, proporsi rata-rata terkecil adalah Bidang Politik Dalam Negeri, Hubungan Luar Negeri, Informasi dan Komunikasi, yang hanya mencapai 0,04 % / tahun, karena dana dikucurkan hanya pada tahun 2003 saja. Dana Dekonsentrasi untuk pemerintah provinsi hanya ada sejak tahun 2004. Sedangkan Bidang Industri yang senantiasa dikucurkan tiap tahun, tapi proporsi alokasi rata-ratanya hanya 0,23 % pertahun.
Gambar 4.7 Proporsi Pengeluaran Dekonsentrasi Pusat Di Daerah Gorontalo

2006 2006
2005 2005

2004 2004
2003 2003 2002 2002 0% 0% 20% 20% 40% 40% 60% 60% 80% 80% 100% 100%

INDUSTRI Industri PERTANIAN,KEHUTANAN, DAN PERIKANAN Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pengairan PENGAIRAN TENAGAKerja Tenaga KERJA Perdagangan, Pengembangan Usaha Nasional PERDAGANGAN, PENGEMBANGAN USAHA NASIONAL TRANSPORTASI, METEOROLOGI DAN GEOFISIKA Transportasi, Meteorologi dan Geofisika Pertambangan dan Energi PERTAMBANGAN DAN ENERGI Pembangunan Daerah dan Transimigrasi PEMBANGUNAN DAERAH DAN TRANSMIGRASI LINGKUNGAN HIDUP DAN TATA RUANG Lingkungan Hidup dan Tata Ruang PENDIDIKAN,KEBUDAYAAN NASIONAL,KEPERCAYAAN THD TUHAN Pendidikan, Kebudayaan Nasional, Kepercayaan Terhadap Tuhan KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA SEJAHTERA Kependudukan dan Keluarga Sejahtera KESEJAHTERAAN SOSIAL,KESEHATAN,PERANAN Anak Kesejahteraan Sosial, Kesehatan, Peranan Wanita, WANITA,ANAK DA PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN Perumahan dan Permukiman AGAMA Agama ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Ilmu Pengetahuan dan Teknologi HUKUM Hukum APARATUR NEGARA DAN PENGAWASAN Aparatur Negara dan Pengawasan POLITIK Dalam Negeri, Hubungan Luar LUAR NEGERI, INFORMASI DAN KOMUNIKASI Politik DALAM NEGERI, HUBUNGAN Negeri, Informasi dan Komunikasi PROVINSI Provinsi
Nilai Riil, Konstan tahun 2005 Sumber : - Badan Keuangan Propinsi Gorontalo, 2007 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

51

4

PENGELUARAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

REKOMENDASI 1. Penetapan APBD harus memperhatikan tingkat inflasi 2. Dalam melaksanakan pemekaran daerah hendaknya mempertimbangkan potensi penerimaan pendapatan yang ada, karena akan membebani pengeluaran keuangan daerah induk. Adanya daerah pemekaran baru Kabupaten Gorontalo Utara dan isu pemekaran baru, potensi ekonominya harus diperhitungkan secara matang. 3. Pemerintah harus bekerja keras dalam meningkatkan pendapatan daerah jika populasi penduduk sangat banyak dan pertumbuhan penduduknya tinggi, sehingga dapat memenuhi berbagai pengeluaran keuangan demi kebutuhan penduduk yan banyak pula. 4. Komitmen pemerintah yang menempatkan bidang Pertanian serta Perikanan dan Kelautan sebagai Program Unggulan, harus ditingkatkan dengan memperbesar alokasi anggaran keuangan untuk kedua bidang tersebut. 5. Pengeluaran untuk Belanja Pegawai sudah mendesak untuk diarahkan pada kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pengeluaran bidang lainnya yang secara langsung dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 6. Dipandang perlu untuk menetapkan norma dan peraturan transparansi belanja Perjalanan Dinas yang menyeluruh pada semua strata pimpinan pemerintahan 7. Kinerja penganggaran perlu ditingkatkan untuk menjamin ketepatan dalam perencanaan, melalui pemutakhiran data yang menunjang sistem penganggaran 8. Setiap tahun sudah pasti bahwa ada pelaksanaan program/kegiatan berjangka waktu lebih dari tahun. Oleh karena itu perlu dikembangkan koordinasi lintas instansi pemerintah dalam pelaporan pelaksanaan program/kegiatan. 9. Dipandang perlu mengusulkan kepada pemerintah pusat mengenai adanya Dana Dekonsentrasi yang ada di daerah, agar ada transparansi jumlah dan satuan yang dialokasikan dapat diketahui. Transparansi sangat penting untuk membuat sinkronisasi dana dekonsentrasi dengan perencanaan dan pelaksanaan APBD.

52

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

ANALISIS SEKTORAL

5

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

KESEHATAN Kondisi Kesehatan di Provinsi Gorontalo Ketersediaan sarana dan tenaga kesehatan Gorontalo secara umum memadai namun distribusi belum merata. Tercatat tahun 2005 jumlah Rumah sakit pemerintah 6 buah, rumah sakit swasta 1 buah. Puskesmas 60 unit, Pustu 216 unit, posyandu 738 buah, pondok bersalin desa (Polindes) 259 unit. Dokter umum 128 orang, Bidan 234 orang.1 Kesenjangan ketersediaan dokter dan bidan terhadap layanan kesehatan masyarkat terjadi antar kota dan kabupaten. Di kota Gorontalo pelayanan kesehatan cukup terjangkau dibandingkan di kabupaten (Gorontalo, Boalemo, Pohuwato dan Bone Bolango) lihat Tabel 5.1.1 Banyaknya polindes yang tidak layak huni dan minim fasilitas menyebabkan bidan sering tidak berada di tempat kerja. Ketersediaan jamban, air bersih yang belum memadai dan tempat tinggal bidan desa merupakan bagian penting yang turut memperburuk kondisi pelayanan kesehatan Polindes, banyak bidan yang lebih memilih tinggal di kota dari pada desa.2
Tabel 5.1.1 Ratio Kesehatan di Provinsi Gorontalo Tahun 2005
No 1. 2. 3. 4. 5. Distric Kota Gorontalo Kab. Gorontalo Kab Boalemo Kab. Bone Bolango Kab. Pohuwato Rata-rata Minimum Maximum Ratio Ratio Dokter/ Bidan/ 10.000 pddk 10.000 pddk 2.644 11.487 7.479 7.225 8.905 7.548 2.644 11.487 18.510 3.109 2.992 4.724 3.340 6.535 2.992 18.510 Jumlah Dokter 56 36 14 17 12 27 12 56 Jumlah Bidan 8 133 35 26 32 47 8 133 Bidan/km2 Dokter/km2 (service area) (service area) 1 95 178 117 354 147 1 354 8 26 71 76 133 63 8 133

Akses masyarakat miskin terhadap layanan kesehatan masih rendah. Program JPKM dan BLT tahun 2005 yang ditujukan kepada kelompok masyarakat miskin belum sepenuhnya dinikmati. Sebagian

1 BPS Propinsi dan Kabupaten/kota tahun 2005 2 Di Kecamatan Batudaa Pantai kabupaten Gorontalo dengan (1456) 65 % KK Miskin terdapat 13 Polindes, namun yang layak dipakai hanya 5

buah. Pelayanan kesehatan didukung oleh 13 bidan dan 1 dokter. Jarak tempuh terdekat 2 Km (Polindes Lopo) dan terjauh 60 Km (Polindes Huwongo) yang berada di perbatasan kecamatan Paguyaman Pantai kabupaten Boalemo. Sejak tahun 1997 pembangunan Polindes tidak ada lagi. Terdapat puskesmas pembantu berbentuk panggung dibangun oleh pemerintah Sulawesi Utara (1997) namun tidak dimanfaatkan karena tidak aman dan tidak ditunjang oleh sarana pendukung lainnya. Tujuh dari sepuluh ibu- hamil yang berkunjung ke Polindes adalah orang miskin. Sumber : Wawancara dengan tenaga kesehatan Puskesmas Batudaa Pantai, 10 Januari 2007.

54

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

besar masyarakat miskin belum memperoleh layanan kesehatan baik melalui program Jaminan Pelayanan Kesehatan Mandiri (JPKM) maupun penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT). 3 Output Kinerja Kesehatan Gorontalo Kondisi kesehatan Gorontalo belum menunjukan perbaikan signifikan dengan permasalahan mendasar kesehatan didaerah. Data BPS tahun 2003 menunjukan bahwa angka kematian bayi (Infant Mortality Rate) tertinggi di daerah ini, Gorontalo 77.0, Nusa Tenggara Barat 74.0, Sulawesi Tenggara 67.00, dan Lampung 55.0. Sementara itu, 4 provinsi dengan angka kematian bayi terendah adalah Bali 14.0, D.I. Yogyakarta 20.0, Sulawesi Utara 25.0, dan Sumatera Selatan 30.0. 4
Gambar 5.1.1 Keadaan Status Gizi Kurang Kab/Kota Se-Propinsi Gorontalo
35 30 25 20 15 10 5 0 2001 2002 2003 Kab. Bone Bolango
5.05 7.79 8.6 28.9 19.5 23.34 20.18

30.88 27.25 19.4 18.8

Kota Gorontalo Kab. Gorontalo Kab. Boalemo Kab. Pohuwato

TARGET NASIONAL 15%
Sumber: Dinas Kesehatan Propinsi Gorontalo

Dalam hal pertolongan persalinan pertama lebih banyak ditangani Tenaga medis 59 % dan dukun 41 %. Angka ini masih dibawah rata-rata nasional 71 %. Meskipun resiko kematian ibu melahirkan yang ditangani oleh dukun cukup tinggi namun pemanfaatan jasa dukun masih tinggi. Tingginya penanganan persalinan oleh dukun terjadi di Kabupaten Boalemo 84,65 % dan terendah di kota Gorontalo hanya 31,96 % (Susenas : BPS). Penanganan persalinan oleh dukun ini secara umum lebih disebabkan oleh biayanya murah serta masih minimnya jumlah bidan utamanya di desa-desa terpencil. 5 Sebanyak 65% balita di Gorontalo belum mendapat imunisasi komplit. Angka ini lebih tinggi dari angka national 27%. Pemberian imunisasi komplit di bawah 13-24 bulan didominasi kelompok pengeluaran tinggi (Poorest) baik pada rata-rata provinsi maupun kabupaten/kota.
3 Data susenas 2005 menunjukan 83,07 % masyarkat miskin belum memiliki jaminan kesehatan, sedangkan dari 79,256 kk miskin rumah

tangga penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahun 2005 terdapat 62,53 % yang tidak mampu berobat ke puskesmas/poliklinik.
Sumber BPS Propinsi Gorontalo ; Susenas 2005 dan Profil Penduduk miskin Gorontalo 2005. 4

Strategi Penanggulangan Kemiskinan tahun 2003 relatif murah, mudah dan lebih bersifat komunikatif-kekrabatan. Selain itu penanganan persalinan cukup menyeluruh mulai pembersihan ariari hingga perawatan ibu dan bayi yang biasanya berlangsung selama 40 hari.

5 Keterbatasan ekonomi adalah salah satu penyebab masih tingginya penanganan persalinan oleh tenaga dukun. Biaya persalinan oleh dukun

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

55

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 5.1.2 Pemberian Imunisasi Komplit Anak Dibawah 2 Tahun
1,20

1,00

0,80

0,60

0,40

0,20

0,00 Rata-rata Provinsi Kab. Boalemo Kab. Gorontalo Kab. Pohuwato Kab. Bone Bolango Kota Gorontalo

1 (poorrest)

2

3

4

5 (richest)

Sumber : - Susenas, 2005 - Tim PEA Universitas Gorontalo

Rendahnya perilaku hidup bersih masyarakat menyebabkan besarnya jumlah kasus penyakit menular dan penyakit tidak menular. Untuk kasus penyakit demam berdarah Dengue (DBD) misalnya ada tahun 2004 kasus ini hanya berjumlah 14 dan tahun 2005 meningkat tajam menjadi 213.6
Gambar 5.1.3 Penerimaan Dana Bidang Kesehatan Tahun 2005
1% 23%

APBD Propinsi APBD Kab/Kota Dekonsentrasi 76%

Sumber : - BKD Propinsi Gorontalo, Bagian Keuangan Kab/kota, - Bagian Keuangan Dinas Kesehatan (Konsolidasi)

Penerimaan Sektor Kesehatan di Provinsi Gorontalo Penerimaan Dana bidang kesehatan masih mengandalkan sumber pendanaan pemerintah pusat. Dukungan pendanaan kesehatan oleh pemerintah masih rendah ditingkat kabupaten/kota. Alokasi penerimaan rata berkisar antara 5-20 persen sedangkan pada tingkat provinsi tidak cukup 2 persen. Sumber-sumber penerimaan APBN berasal dari JPKM, tugas pembantuan.
6 Dikes Propinsi tahun 2006.

56

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Pengeluaran Sektor Kesehatan di provinsi Gorontalo Pengeluaran bidang kesehatan mengalami peningkatan namun belum signifikan dengan upaya peningkatan kualitas layanan di daerah. Prosentase pengeluaran kesehatan terhadap belanja total APBD selama lima tahun terakhir dibawah 2 persen. Pengeluaran ini masih jauh dari anjuran Organisasi Kesehatan sedunia (WHO) yakni paling sedikit 5 persen dari PDB per tahun atau 15 persen dari APBD.
Gambar 5.1.4 Pengeluaran Bidang Kesehatan Propinsi Gorontalo
Pengeluaran Bidang Kesehatan
8.000 7.000 6.000 Millions 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0 2002 2003 2004 2005 2006 0% Nominal Real 2002 2003 2004 2005 1.780
1.463

Pengeluaran Bidang Kesehatan (Real)
100%

5.846 80% 4.536 3.208
4.536 6.714 422 490 588 1.339

Belanja modal/pembangunan Belanja pemeliharaan Belanja perjalanan dinas

40%

2.100
2.917 1.797

40%
1.158 1.207

2.234 2.600

Belanja barang dan jasa Belanja pegawai

20%

Sumber : BKD Propinsi Gorontalo

Belanja pegawai merupakan pengeluaran terbesar bidang kesehatan. Selama empat tahun (20022005) belanja pegawai menggunakan anggaran lebih dari 50 persen dari total belanja bidang kesehatan. Besarnya porsi belanja pegawai juga terjadi di tingkat kabupaten/kota. Belanja ini diperuntukan bagi pegawai pada dinas kesehatan maupun pengelola rumah sakit daerah. Pada tingkat provinsi belanja pegawai terbesar pada tahun 2004. Peningkatan ini terjadi karena adanya penambahan pos Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) sebesar Rp 939,275,000. Untuk tahun 2005 Pengeluaran kesehatan yang bersumber dari APBD pada tingkat provinsi lebih dari 50 % dibelanjakan untuk belanja pegawai (2,6 M), sisanya untuk belanja barang dan jasa 1,6 M (34 %), belanja modal 280 juta (6%) sedangkan untuk pos belanja pemeliharaan serta perjalanan dinas pada tahun 2005 dimasukan pada belanja barang dan jasa, masing-masing Rp 91 juta (1,9 %) dan 631 juta ( 12,9 %). Jenis pengeluaran belanja pegawai meliputi pembayaran gaji dan tunjangan 1,4 Milyar, tambahan penghasilan PNS Rp 834 Juta dan Belanja Pengembangan Sumber Daya Aparatur Daerah Rp 20 Juta. Pada tingkat kabupaten/kota belanja Modal lebih besar 39 % dari belanja pegawai 33 %. Strategi pendanaan kesehatan lebih bersifat insidentil jika ada dana luncuran pemerintah pusat dan hibah. Hal ini mengakibatkan tidak kontinyuitasnya program dan penanganan kesehatan bagi masyarakat miskin. Pemerintah daerah (dinas kesehatan) tidak dapat berbuat banyak bagi peningkatan program kesehatan sebab alokasi anggaran dinas untuk pembangunan-publik bersumber dari APBD lebih banyak diarahkan pada sharing dana DAK/Dekonsentrasi sisanya untuk program dinas yang lebih bersifat rutin dan ceremonial.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

57

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 5.1.5 Pengeluaran Bidang Kesehatan
Komposisi Pengeluaran Kesehatan menurut Klasifikasi Ekonomi (2005)
0,0 0,0 33,2 36,5 2,2 24,4 0,7 Belanja lain-lain Belanja Modal/Pembangunan Belanja Pemeliharaan Belanja Perjalanan Dinas 57,3 39,5 Belanja barang dan jasa Belanja Pegawai

Komposisi Belanja Modal Bidang Kesehatan tahun 2005

100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

0,0 6,2

0,0

26%

36%
Modal tanah untuk Bangunan Gedung Bangunan Gedung Tempat Kerja Alat-alat Studio dan Kom bapekesman Lain-lain

17%
Kabupaten/Kota Provinsi

21%

Sumber : BKD Propinsi dan kabupaten/kota

Provinsi Gorontalo mempunyai pengeluaran perkapita kesehatan Gorontalo sebesar Rp. 86.150 /orang. Pengeluaran riil perkapita kesehatan Gorontalo urutan kesembilan secara nasional.
Gambar 5.1.6 Cross province subnational health spending, 2005 Subnational Health Expenditures
350 300 250 200 10 9 8 7 6

Rp

150 100 50 0
Gorontalo Bengkulu Maluku Sumatera Sumatera Kalimantan Kalimantan Kalimantan Kalimantan DI Yogyakarta Sumatera Lampung Sulawesi Average Sulawesi Sulawesi Sulawesi Papua Jambi NAD NTT DKI Jakarta Jawa Barat Bangka Maluku Banten Bali Jawa Jawa Riau NTB

4 3 2 1 0

Per capita

Share

Source: World Bank staff calculations, SIKD 2005

58

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

%

5

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

REKOMENDASI 1. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan di daerah-daerah pemekaran. Sepanjang tahun 2003-2005 terjadi dua kali pemekaran wilayah baru kabupaten (kabupaten Bone Bolango dan kabupaten Pohuwato). Pemekaran ini juga diikuti oleh penambahan jumlah kecamatan dan desa, sementara jumlah sarana / prasarana kesehatan belum tersedia, hal ini menyebabkan sering terabaikannya pelayanan kesehatan dasar masyarakat. Kasus-kasus kekurangan tenaga kesehatan, gizi buruk dan kejadian luar biasa lainnya lebih banyak dilaporkan dari wilayah pemekaran. 2. Penyediaan fasilitas dan sarana penunjang kesehatan untuk efektifitas layanan kesehatan. Masih minimnya ketersediaan sarana pendukung layanan kesehatan masih banyak terjadi di Puskesmas, Puskesmas Pembantu maupun Polindes. 3. Penataan sistem informasi data kesehatan untuk prioritas alokasi anggaran kesehatan. Kesadaran pentingnya rekaman data kesehatan oleh instansi-instansi teknis penyedia masih rendah. Banyaknya data kesehatan yang tidak tersedia menyebabkan lemahnya penanganan masalah kesehatan. Terjadi inkonsistensi data antar provinsi dan kabupaten/kota. 4. Harmonisasi tata hubungan penyedia layanan kesehatan provinsi dan kabupaten/kota. Lambannya penangangan masalah kesehatan sering disebabkan oleh kurangnya koordinasi didaerah. Pemahaman tentang kewenangan pelayanan kesehatan kurang diikuti oleh keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Ego sektoral/wilayah sering mengalahkan kepentingan umum/masyarakat. 5. Pemerintah Provinsi lebih memaksimalkan koordinasi program/anggaran dengan kabupaten/kota. Membaiknya pengeluaran riil perkapita kesehatan Gorontalo perlu diikuti oleh pendistribusian secara merata dana kesehatan pada wilayah baru pemekeran dan terpencil. 6. Penguatan koordinasi pembentukan kelembagan baru pelayanan kesehatan. Pembentukan Badan Kesehatan Pelayanan Kesehatan Mandiri (Bapelkesman) dinilai 'mubazir' karena tumpang tindih kewenangan antar instansi teknis kesehatan didaerah.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

59

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PENDIDIKAN Kondisi Pendidikan di Provinsi Gorontalo Sektor Pendidikan merupakan bagian penting program unggulan pemerintah Provinsi Gorontalo dalam hal pengembangan Sumber Daya Manusia.7 Pembangunan sektor pendidikan menjadi pilihan strategis pencapaian visi pembangunan Gorontalo. Kondisi pendidikan sejak tahun 2001 mengalami peningkatan. Data BPS Gorontalo tahun 2005 yang dikonsolidasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi menunjukan bahwa terdapat SD/MI berjumlah 849 buah, SMP/Mts 178 buah dan SMA/MA 74 buah. Ketersediaan guru umumnya memadai, namun distribusi guru yang tidak merata antar kabupaten/kota. Selain itu ketidaksesuaian guru dengan mata pelajaran yang diasuh masih menjadi persoalan.
Tabel 5.2.1 Rasio pendidikan di Gorontalo tahun 2005
Jumlah Tingkat Pendidikan Sekolah SD / MI SLTP / Mts SMA / MA 849 178 74 Siswa 133,891 36,287 21,670 Guru 6,098 3,074 2,031 Siswa : Guru 22 12 11 Siswa : Sekolah 158 204 293 Distric

Sumber : Diknas Propinsi Gorontalo, Profil Pendidikan Propinsi Gorontalo, 2005.

Lemahnya manajemen pengeloaan pendidikan dan political will pemerintah daerah menjadi bagian dari sebab masalah ketidakmerataan Guru. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom dalam hal kewenangan pendidikan belum optimal dilaksanakan.
Kotak 1. Untuk kepentingan pemerataan Guru, Bupati Gorontalo mengeluarkan SK No 821.2/08/SK/52/2006 tanggal 20 November 2006 tentang Mutasi Guru. Kebijakan ini ditempuh sebagai implementasi dari SK mendiknas nomor 195/F/TU/2006 yang menetapkan Kabupaten Gorontalo sebagai pilot project Better Employment and Re-development Management Universal Teacher Up-grading tahun 2006-207 Kebijakan ini mendapat reaksi keras beberapa orang guru yang menilai bahwa mutasi dilakukan secara sewenangwenang dan tanpa melalui pertimbangan yang matang. Namun pemerintah daerah beralasan untuk peningkatan pelayanan pendidikan dan beradasr pada peraturan kepegawaian. Gugatan diproses di PTUN Manado Sulawesi utara.

Pemerintah daerah yang mempunyai otoritas pengelolaan guru sering dihadapkan pada kebijakan yang dinilai 'sewenang-wenang' dan tidak populis. Hubungan antara pemerintah daerah dan pemerintah provinsi sering tidak harmonis dalam hal pengaturan dan alih fungsi guru dalam dan lintas kabupaten-kota.
7 Renstrada Propinsi Gorontalo 2001-2006. Program unggulan propinsi Gorontalo yakni pengembangan sumber daya manusia, pertanian dan

perikanan.

60

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Angka Partisipasi sekolah di Gorontalo merata baik pada kelompok masyarakat miskin (poorest) dan kaya (richest). Analisa manfaat pendidikan berdasarkan data Susenas 2005 menunjukan bahwa Angka partisipasi sekolah pada semua strata pengeluaran masyarakat diatas 90 %, demikian halnya angka melek huruf dan penggunaan sarana pendidikan. Tingginya angka partisipasi sekolah juga terjadi tingkat kabupaten/kota. (Gambar 5.2.1)
Gambar 5.2.1 Angka Partisipasi Sekolah Tahun 2005
Angka Partisipasi Sekolah Kab/Kota Tahun 2005
1 0,98 0,96 0,94 0,92 0,9 0,88 0,86 0,84 Rata-rata Provinsi Kab. Boalemo 1 (poorest) Kab. Gorontalo 2 3 Kab. Pohuwato 4 Kab. Bone Bolango 5 (richest) Kota Gorontalo APK SD 20,0 0,0 2001 APM SD 2002 2003 APK SLTP 2004 APM SLTP 2005 APK SMA APM SMA 80,0 60,0 40,0

Angka Partisipasi Sekolah Gorontalo (Tahun 2001-2005)
120,0 100,0

Sumber : Susenas 2005

Sumber : Profil pendidikan Gorontalo 2005

Kesejanjangan output pendidikan antar kabupaten/kota terjadi dan berada dibawah rata-rata nasional maupun di wilayah Timur Indonesia. Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) sebagai salah satu indikator penting yang digunakan untuk mengukur output pendidikan. Kota Gorontalo output pendidikan relatif baik dibandingkan kabupaten. Selama tahun 2002-2005 Angka Partisipasi Kasar Pendidikan (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah Dasar (SD/MI) naik 0,7 persen. Peningkatan efesiensi output pendidikan signifikan terjadi pada tingkat SLTP dan SMU, meskipun masih kecil dan masih dibawah rata-rata nasional. (Gambar 5.2.3)
Tabel 5.2.2 Trends Net and Gross Enrolment Rates
2002 TINGKAT PENDIDIKAN SD Gorontalo GER North Sulawesi GER Central Sulawesi GER Indonesia GER Sumber: Susenas 2002 dan 2005 0.81 0.93 0.88 1.04 0.90 1.06 0.93 1.06 SMP 0.42 0.58 0.67 0.88 0.51 0.71 0.61 0.80 SMA 0.23 0.33 0.44 0.57 0.27 0.37 0.37 0.50 SD 0.88 1.04 0.91 1.07 0.92 1.06 0.93 1.07 SMP 0.46 0.64 0.66 0.86 0.61 0.78 0.65 0.82 SMA 0.32 0.44 0.50 0.70 0.35 0.45 0.42 0.53 2005

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

61

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Akses masyarakat terhadap layanan pendidikan belum merata. Jarak Sekolah Dasar di Kabupaten Pohuwato dan Boalemo harus + 44 km dibandingkan kota Gorontalo yang hanya 4 km. Perbedaan yang menonjol terjadi pada Sekolah lanjutan (SLTP/SMA). Rasio sekolah dengan siswa masih menjadi permasalahan pendidikan yang perlu di seriusi.

Tabel 5.2.3 Indikator Pelayanan Pendidikan Gorontalo 2005
Net Enroll ment Rate (%) No. Distric Gross Enrolment Rate (%) Number of Schools BPS SD
144 385 82 127 102 840 280 82 840

Service area (Km2) BPS

Rasio Sekolah /10.000 siswa BPS

BPS Susenas Dinas Pend. Nasional SD SD SMP SMA

SMP
25 68 17 24 27 161 54 17 161

SMA
17 23 7 12 10 69 23 7 69

SD
0,4 8,9 27,4 15,6 44,0 14,5 18,5 0,4 44,0

SMP
2,6 50,4

SMA
3,8 149,0

SD
80,7 68,3 51,9 75,3 49,0 65,8

SMP
3,79 3,94 4,06 3,15 4,13 3,84

SMA
5,58 8,78 10,93 5,33 10,92 7,92 8,24 5,33 10,93

1. 2. 3. 4. 5.

Kota Gorontalo Kab. Gorontalo Kab. Boalemo Kab. Bone Bolango Kab. Pohuwato Province Average Minimum Maximum

98,04 93,32 93,82 82,25 85,22 90,53 90,53 82,25 98,04

113,46 88,09 87,82 113,61 52,56 32,64 99,80 61,96 27,95

132,2 321,2 82,7 165,4

102,46 65,30 39,70 79,59 101,8 41,56 20,46 61,89 41,71

166,3 449,1 75,9 85,0 2,6 177,0 210,9 3,8

101,78 61,89 41,71 79,59 41,56 20,46

65,17 3,82 49,03 3,15 80,74 4,13

113,61 88,09 87,82

166,3 449,1

Sumber : - Podes 2005 - BPS Gorontalo 2005 - Dinas Pendidikan Nasional

A. Penerimaan Dana Bidang Pendidikan di Provinsi Gorontalo Dana pemerintah pusat (dekonsentrasi) masih mendominasi penerimaan dana bidang pendidikan. Meskipun demikian penerimaan ini masih dapat diimbangi kabupaten/kota penerimaan cukup besar dibandingkan provinsi yang hanya dua persen dari APBD. Struktur penerimaan dana pendidikan lebih banyak mengandalkan luncuran dana dari pemerintah pusat. Sumber dana pendidikan pada APBD lebih bersifat sebagai 'umpan' dan pendampingan program pendidikan nasional.8

8 Pendidikan belum menjadi pilihan bagi pengembangan SDM di daerah. Minimnya dana pendidikan yang dialokasikan setiap tahun adalah

bukti akan hal ini. Meskipun dana alokasi APBD besar, biasanya untuk menyiasati luncuran dana APBN/hibah pendidikan. Syaratnya harus ada dana pendamping 10-30 % dari total dana yang diluncurkan. Jadi strategi 'serang' jika ada dana menjadi hal yang biasa dilakukan untuk terhadap dana pendidikan di daerah. Sumber: Wawancara tenaga pendidikan kabupaten Gorontalo.

62

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Gambar 5.2.2 Penerimaan Dana Bidang Pendidikan 2005
2%

39%

APBD Propinsi APBD Kab/Kota 59% Dekonsentrasi

Sumber: - BKD Propinsi dan Kab/Kota Propinsi Gorontalo, 2005 - SIKD tahun 2005

B. Pengeluaran Sektor Pendidikan di Provinsi Gorontalo Kebijakan belanja pemerintah disektor pendidikan difokuskan pada peningkatan, perluasan pemerataan pendidikan, peningkatan mutu, relevansi pendidikan dan akuntabilitas pendidikan serta peningkatan kualitas profesionalisme pendidikan tinggi.9
Gambar 5.2.3 Pengeluaran Bidang Pendidikan 2005

300.000 250.000 Millions 200.000 150.000 100.000 50.000 Kab/Kota Provinsi

2002

2003

2004

2005

Sumber : BKD propinsi dan kab/kota propinsi Gorontalo tahun 2002-2005

9 Rencana Strategi Daerah tahun 2002-2006

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

63

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Secara umum pengeluaran bidang pendidikan jika dibandingkan dengan total Belanja Daerah maupun bidang lainnya sejak tahun 2002 hingga 2005 hanya 5%. Sebaliknya pada tingkat kabupaten/kota pengeluaran bidang pendidikan diatas 20%, namun jika di keluarkan gaji pegawai dan guru maka dibawah 5%
Gambar 5.2.4 Pengeluaran Bidang Pendidikan Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Tahun 2005 Komposisi Pengeluaran Pendidikan menurut Klasifikasi Ekonomi (2005)
100 % 90 % 80 % 70 % 60 % 50 % 40 % 30 % 20 % 10 % 0% 33,0 86,1 0,6 1,3 2,7 0,5 2,0 11,3 0,2 0,1 11,9

Belanja lain-lain Belanja modal/pembangunan

22,4

Belanja pemeliharaan Belanja perjalanan dinas Belanja barang dan jasa Belanja pegawai

Kabupaten/Kota

Provinsi

Sumber: - BKD Propinsi dan Kab/Kota Propinsi Gorontalo, 2005 - SIKD tahun 2005

Belanja pegawai masih mendominasi pengeluaran pendidikan baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Besarnya belanja pegawai pada tingkat kabupaten/kota disebabkan adanya kewenangan pengelolaan guru di daerah sedangkan pada tingkat provinsi oleh masih kecilnya alokasi pendidikan dibandingkan dengan jumlah pegawai. Adapun untuk Belanja Modal lebih diarahkan untuk pembangunan gedung kantor dan pembebasan lahan.
Gambar 5.2.5 Belanja Modal Bidang Pendidikan 2005 Komposisi Belanja Modal Pendidikan tahun 2005
12%

15%

44%

29%
Bangunan Gedung Tempat Kerja Bantuan Gedung SKB Biaya Tanah untuk Gedung Lain-lain

Sumber: - BKD Propinsi Gorontalo, 2005

64

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Belanja program pengem-bangan pendidikan berbasis kawasan menyedot anggaran besar dari dana yang bersumber dari APBD provinsi. Dana ini diperuntukan untuk program Pendidikan berbasis Kawasan (PBK) pada semua jenjang & jenis pendidikan dengan penguatan pada kompetensi lokal. Pembangunan SMK Pertanian, Diklat Guru, penyusunan kurikulum dan pencetakan buku PBK. Subsidi penyelenggaraan Paket B dan C. Subsidi bagi siswa SD termasuk pengadaan ijazah STK dan SD. Sedangkan dana yang bersumber dari dana Dekonsentrasi dibelanjakan untuk program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Dana ini sebagian besar diarahkan pada subsidi rehabilitasi gedung sekolah dan perluasan dan peningkatan mutu sekolah dasar.
Kotak 2. Pendidikan Berbasis Kawasan (PBK) adalah entry point program pengembangan SDM Gorontalo. Sejak dibuatnya master plan PBK tahun 2002 beberapa kegiatan srategis yang telah dilakukan adalah uji coba di SD,SMP dan SMU tahun 2003. Pertengahan tahun 2004 PBK diterapkan pada semua jenjang pendidikan melalui pendekatan Teknobisnis Agrokompleks dengan melibatkan 11.218 siswa dan 167 guru yang tersebar di 101 SD , 33 SMP dan 31 SMA. Tahun 2006 pengelolaan PBK memperoleh nilai 'sangat baik' dari BPKP Perwakilan SULUT. Sumber : Profil Pembangunan Gorontalo 2002-2006

Tabel 5.2.4 Trend of Regional Education Expenditures (Province + District + Deconcentrated)
Rp (Bln)
Province Expenditures District Expenditures Deconcentrated Expenditures Total Regional Education Expenditures (2005 prices) Nominal Total Regional Education Expenditures Growth Real Total Regional Education Expenditures Education Exp. (% of total regional) Per capita

2002
6.3 191.2 68.9 266.4 218.9

%
2 72 26 100

2003
14.1 257.1 110.8 382.1 326.8 30.3

%
4 67 29 100

2004
11.7 264.9 91.0 367.6 334.3 -3.9 25.22 409,722

%
3 72 25 100

2005
13.9 252.9 181.9 448.7 448.7 13.9 16.88 719,110

%
3 56 41 100

28.80 312,631

26.43 432,908

Sumber: - World Bank staff calculations based on Gorontalo BKD data. Note. * = planned spending

Belanja bidang pendidikan Gorontalo pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota fluktuatif dan cenderung menurun dari tahun ke tahun. Kecuali belanja dekonsentrasi membaik. Meskipun demikian secara Nasional Gorontalo memiliki anggaran pendidikan riil perkapita penduduk ketiga setelah NAD dan Papua. Kenaikan percapita ini naik duakali lipat pada tahun 2005. Adapun untuk belanja kebutuhan masyarakat untuk pendidikan masih dibawah nasional. Dana share mengalami kenaikan hanya 0,7 persen sejak tahun 2002.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

65

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

REKOMENDASI 1. Mendesak bagi pemerintah daerah untuk melakukan distribusi guru ke wilayah terpencil. Ketersediaan guru didaerah umumnya memadai, namun penyebarannya belum merata. Rasio Guru dengan siswa antar desa-kota masih tinggi akibatnya beban mengajar guru pun bervariasi. Permasalahan lainnya berpengaruh adalah minimnya kehadiran guru dalam memenuhi beban mengajar pada proses belajar mengajar. 2. Peningkatan Partisipasi Sekolah pada jenjang lebih tinggi perlu diikuti oleh penyiapan sarana prasarana dan dukungan infrastruktur didaerah. Keterbatasan sarana pendidikan pada tingkat SLTP/SMU menyebabkan akses pendidikan masyarakat terbatas. Melimpahnya jumlah siswa SLTA diwilayah perkotaan (Kota Gorontalo dan Limboto) merupakan bagian dari belum baiknya pengelolaan pendidikan dan minimnya sarana- prasarana. 3. Pengelolaan yang lebih baik terhadap pengangkatan dan penempatan guru. Lemahnya perencanaan kebutuhan, pengangkatan dan penempatan guru akibat rendahnya kemampuan daerah dalam penyiapan basis data dan analisis kebijakan pendidikan. Ketersediaan data pendidikan didaerah dapat dioptimalkan untuk kepentingan kebijakan yang lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu Pemerintah daerah perlu memperhatikan permasalahan kualifikasi, jenjang dan spesialisasi, dan kompotensi guru. 4. Ketepatan dan keakuratan informasi pencairan keuangan pendidikan sangat penting bagi pencapaian program pendidikan yang lebih baik. Keterlamabatan transfer anggaran pemerintah pusat ke daerah sering menimbulkan mandeknya program pendidikan. Tidak jarang instansi teknis mengembalikan dana ke pusat karena keterbatasan waktu, meskipun kegiatan dilaksanakan biasanya lebih bersifat ceremonial menghabiskan anggaran.

66

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

INFRASTRUKTUR Kondisi Infrastruktur Sebagian besar pembangunan infrastruktur di Gorontalo disediakan oleh pemerintah. Pada sektor lain seperti pertambangan, industri rumah tangga, kelistrikan, sanitasi, komunikasi, sebagian besar dibangun oleh pihak swasta. Rata-rata 30 % dari biaya modal dalam lima tahun terakhir dialokasikan untuk penyediaan sarana air bersih, dan fasilitas sanitasi, jaringan jalan, dan irigasi, dan listrik. Pembangunan infrastruktur di Gorontalo lebih rendah dari tingkat rata-rata nasional. Rumah tangga yang mendapat akses pipa air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), kondisi jalan baik, dan fasilitas sanitasi, masih berada pada tingkat lebih rendah dari rata-rata nasional. Indikator lainnya menunjukkan lebih tinggi dari rata-rata nasional seperti lahan irigasi sebagai persentase terhadap luas lahan pertanian, dan tingkat kepadatan jalan, (Tabel 5.3.1).
Tabel 5.3.1 Indikator Infrastruktur Gorontalo dan Nasional (%) Indikator
Rumah tangga yang mendapat akses pipa air minum Rumah tangga yang memiliki fasilitas sanitasi Lahan irigasi sebagai presentase terhadap lahan pertanian Kondisi jalan yang baik Tingkat kepadatan jalan (km/1000 orang)* Sumber: - Susenas BPS 2004 dan 2005, - PU Kimpraswil Propinsi, Kab./Kota.

Gorontalo
16 29 63.3 44 4,5

Indonesia
18,5 62.7 54,6 49 1,7

1. Jalan dan Tranportasi Transportasi darat dalam hal ini jalan menjadi transportasi utama yang digunakan di Gorontalo. Jaringan jalan yang tersedia di Gorontalo yaitu sepanjang 4123,49 km, dengan panjang jalan Nasional sebesar 616,24 km, jalan provinsi sebesar 468,22 km, jalan kabupaten sepanjang 3039,03 km, dan jalan desa sepanjang 229,85 km (Gambar 5.3.1)10 . Lebih dari 70 % jaringan jalan tersebut tersebar di empat kabupaten. Sebagai penunjang program agropolitan pemerintah provinsi membangun jalan akses ke wilayah sentra produksi pangan sepanjang 156,7 km.

10 PU Kimpraswil & BAPPPEDA Propinsi Gorontalo., 2006.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

67

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 5.3.1 Keadaan Ruas Jalan Gorontalo Tahun 2005

Jalan Akses Agropolitan, Desa, 229.85 156.70

Nasional, 616.24 Propinsi, 468.22

Kabupaten, 3309.03
Sumber: - Susenas BPS 2004 dan 2005, - PU Kimpraswil Propinsi Gorontalo

Tingkat kepadatan jalan di Gorontalo relatif lebih tinggi dari rata-rata nasional. Rata-rata tingkat kepadatan ruas jalan di Gorontalo sebesar 4,54 km/1000 lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 1,7 km/1000 orang. Kondisi jalan dalam keadaan baik lebih rendah daripada rata-rata nasional. Kondisi baik jaringan jalan di Gorontalo, jalan nasional 29 %, jalan provinsi 32,55 % dan jalan kabupaten sebesar 49%. Bagaimanapun juga, ada 37% jaringan jalan perlu mendapatkan perbaikan secepatnya (Tabel 5.3.2).

Tabel 5.3.2 Kondisi Jaringan Jalan di Gorontalo, 2005
Kondisi baik Jenis jalan Km Nasional Provinsi Kabupaten Nasional 179,73 152,40 1490,75 1822,88 % 29,17 32,55 49,05 44,21 Km 358,12 315,82 118,34 792,28 % 58,11 67,45 3,89 19,21 Km 78,39 0,00 1429,94 1508,33 % 12,72 0,00 47,05 36,58 Km 616,24 468,22 3039,03 4123,49 % 100 100 100 100 Kondisi sedang Kondisi buruk Panjang jalan

Sumber: PU Kimpraswil Propinsi Gorontalo, 2005

68

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Tabel 5.3.3 Tipe Jaringan Jalan di Gorontalo, 2005
Nasional (Km) Aspal Non-Aspal Total 592,94 23,3 616,24 % 96,22 3,78 100 Provinsi (Km) 296,69 171,53 468,22 % 63,37 36,63 100 Kabupaten (Km) 1.737,75 1.301,28 3039,03 % 57,18 42,82 100

Sumber: PU Kimpraswil Propinsi Gorontalo, 2005

Persentase jalan nasional merupakan tipe jalan aspal tertinggi di Gorontalo. Tipe jalan aspal secara berturut-turut yaitu jalan nasional 96 %, jalan provinsi 63 %, dan jalan kabupaten 57 %. Bagaimanapun juga tipe jalan non aspal persentasenya rata-rata berada dibawah jalan aspal (Tabel 5.3.3). Keadaan fisik jalan selang tahun 2002-2005 cenderung didominasi oleh pekerjaan pemeliharaan jalan. Hal ini dilihat pada keadaan setiap tahun pada Tabel 5.3.4, dimana pekerjaan pemeliharaan mendominasi pekerjaan ruas jalan, kemudian diikuti dengan pekerjaan pembangunan dan sedikit pekerjaan peningkatan status jalan.
Tabel 5.3.4 Perkembangan Ruas Jalan Selang Tahun 2002- 2005
2002 Kondisi Fisik Jalan Nasional (km) Maintenance (km) Development (km) Upgrading (km) Kondisi Fisik Jalan Provinsi (km) Maintenance (km) Development (km) Upgrading (km) Kondisi Fisik Jalan Kab/Kota (km) Maintenance (km) Development (km) Upgrading (km)
Sumber: PU Kimpraswil Propinsi Gorontalo, 2005

2003 551,03 551,03 0 0 468,22 468,22 0 0 2374,20 2374,2 0 0

2004 616,24 532,54 83,7 18,49 468,22 438,36 14,93 14,93 3039,03 2374,2 664,83 0

2005 616,24 616,24 3,72 3,72 468,22 198,26 134,98 134,98 3039,03 3039,03 0 0

551,03 551,03 0 0 468,22 468,22 0 0 2374,20 2374,2 0 0

2. Air Bersih dan Fasilitas Sanitasi Akses untuk mendapatkan air bersih dari PDAM di Gorontalo lebih rendah daripada rata-rata nasional. Sebesar 16,01 % populasi di gorontalo mendapatkan air minum dari pipa PDAM lebih rendah daripada rata-rata nasional sebesar 18,5% (Gambar 5.3.2).

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

69

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 5.3.2. Akses mendapat air minum dari pipa PDAM di Indonesia (%)
Pr o v . Pa p u PapuaaBarat Prov. a B r a t Pr o v .Prov. p u a Pa Papua Pr o v . MProv. Malukuta r a a lu k u U Utara Pr o v .Prov.aMaluku M lu k u Pr o v . G o r Gorontalo Prov. o n ta lo Pr o v . S u la w e s i T e n g g a r a Prov. Sulawesi Tenggara Pr o v . S u la w SulawesiaBarat Prov. e s i B r a t Pr o v . S u la w eSulawesi la ta n Prov. s i S e Selatan Pr o v . S u laProv. SulawesinTengah w e s i Te g ah Pr o v . S u la w Sulawesita r a Prov. e s i U Utara Pr o v . K a Prov. Kalimantan Timur lim a n ta n T im u r Pr o v . K a lim a n ta n S e la ta n Prov. Kalimantan Selatan Pr o v . K a lim a nKalimantannTengah Prov. ta n T e g a h Pr o v . K a lim aKalimantanaBarat Prov. n ta n B r a t Pr o v . N u s a Prov. n g g Tenggara Timur T e Nusa a r a T im u r Pr o v . N u s a Prov. n g g a r a B aBarat T e Nusa Tenggara r a t Pr o v . B Bali Prov. a li Pr o v . Prov. n te n B a Banten Pr o v . J a w a T im u r Prov. Jawa Timur Pr o v . D I Prov. g yYogyakarta Y o DI a k a r ta Pr o v . J a w a JawanTengah Prov. T e g a h Pr o v . J a w a B aBarat Prov. Jawa r a t D K I J a kJakarta DKI a r ta Pr o v . K e Prov. Kepulauan ia u p u la u a n R Riau Pr o v . K e p u la u a n B a n g k a Prov. Kepulauan Bangka Pr o v . L a mLampung Prov. p u n g Pr o v . B e nBengkulu Prov. g k u lu Pr o v . S u m a te r a S e la ta n Prov. Sumatera Selatan Pr o v Prov. Jambi . Ja m b i Pr o vProv. ia u . R Riau Pr o v . S Prov.a tr a B aBarat u m Sumatera r a t Pr o v . S Prov. a tr a U ta r a u m Sumatera Utara

16

45

41

47

Sumber: Susenas BPS, 2005

Rumah tangga yang memiliki fasilitas sanitasi di Gorontalo terendah dari seluruh provinsi di Indonesia (Gambar 5.3.3). Kenyataan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian keluarga atau rumah tangga di Gorontalo telah memiliki standar minimum fasilitas sanitasi, namun masih sekitar 47 persen rumah tangga di Gorontalo belum memiliki kemampuan untuk membangun fasilitas sanitasi sama sekali11, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya sebesar 19,5 %.
Gambar 5.3.3 Proporsi populasi yang memiliki akses Sanitasi di Indonesia (%)
Prov. a B r a t Pr o v . Pa p u PapuaaBarat Pr o v .Prov. p u a Pa Papua Pr o v . MProv. Malukuta r a a lu k u U Utara Prov.aMaluku Pr o v . M lu k u Prov. o n ta lo Pr o v . G o r Gorontalo Prov. Sulawesi Tenggara Pr o v . S u la w e s i T e n g g a r a Prov. e s i B r a t Pr o v . S u la w SulawesiaBarat Prov. s i S e Selatan Pr o v . S u la w eSulawesi la ta n Pr o v . S u laProv. SulawesinTengah w e s i Te g ah Pr o v . S u la w Sulawesita r a Prov. e s i U Utara Prov. Kalimantan Timur Pr o v . K a lim a n ta n T im u r Pr o v . K a lim a n ta n S e la ta n Prov. Kalimantan Selatan Pr o v . K a lim a nKalimantannTengah Prov. ta n T e g a h Prov. n ta n B r a t Pr o v . K a lim aKalimantanaBarat Pr o v . N u s a Prov. n g g Tenggara Timur T e Nusa a r a T im u r Pr o v . N u s a Prov. n g g a r a B aBarat T e Nusa Tenggara r a t Prov. a li Pr o v . B Bali Pr o v . Prov. n te n B a Banten Pr o v . J a w a T im u r Prov. Jawa Timur Pr o v . D I Prov. g yYogyakarta Y o DI a k a r ta Prov. T e g a h Pr o v . J a w a JawanTengah Prov. Jawa r a t Pr o v . J a w a B aBarat D K I J a kJakarta DKI a r ta Pr o v . K e Prov. Kepulauan ia u p u la u a n R Riau Prov. Kepulauan Bangka Pr o v . K e p u la u a n B a n g k a Pr o v . L a mLampung Prov. p u n g Prov. g k u lu Pr o v . B e nBengkulu Prov. Sumatera Selatan Pr o v . S u m a te r a S e la ta n Pr o v Prov. Jambi . Ja m b i Pr o vProv. ia u . R Riau Pr o v . S Prov.a tr a B aBarat u m Sumatera r a t Prov. a tr a U ta r a Sumatera Utara Pr o v . S u m

16

45

41

47

Sumber: Susenas BPS, 2005
11 BPS, Susenas 2005

70

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

3. Irigasi Persentase lahan irigasi terhadap lahan pertanian lebih rendah dari rata-rata nasional. Sekitar 63.34 % atau 22.669 Ha dari total lahan pertanian (35.789 Ha), berfungsi sebagai lahan irigasi, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 54,6%. Penerimaan Infrastruktur Lebih dari 50% Penerimaan dana bidang Infrastruktur berasal dari sumber APBD kabupaten/kota, sedangkan bersumber dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat berimbang.
Gambar 5.3.4 Penerimaan Bidang PU Kimpraswil
20%

26%

APBD Propinsi APBD Kab/Kota Dekonsentrasi

54%
Sumber: - BKD kab/ kota dan Propinsi Gorontalo - SIKD tahun 2005

Belanja Infrastruktur Belanja Infrastruktur di Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan selama lima tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa Provinsi Gorontalo mempunyai perhatian yang sangat besar dalam pembangunan infrastruktur di Gorontalo. Pengeluaran tersebut dipergunakan untuk membiayai pembangunan di sektor transportasi serta penyediaan irigasi dan fasilitas air bersih.
Gambar 5.3.5 Belanja Infrastruktur Propinsi Gorontalo Tahun 2002-2005
60 50 51.75 45.45 52.87

Milyar Rupiah

40 30 20 10 0 2002 2003 2004 2005 6.14

Sumber: - BKD kab/ kota dan Propinsi Gorontalo - SIKD tahun 2005

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

71

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

1. Belanja Menurut Klasifikasi Ekonomi Belanja modal/pembangunan mendominasi komposisi belanja ekonomi di sektor infrastruktur. Belanja modal/pembangunan pada tahun 2005 mencapai lebih dari 70 % lebih besar dari belanja pemeliharaan dan biaya ekonomi lainnya (Gambar 5.3.5 dan 5.3.6). Hal yang sama dijumpai pada komposisi belanja ekonomi kabupaten, dimana lebih dari 90 % digunakan untuk belanja modal/pembangunan lebih besar dari belanja ekonomi lainnya.
Gambar 5.3.6 Komposisi Belanja Ekonomi Propinsi Gorontalo pada Sektor Infrastruktur Tahun 2005
Belanja Lain-lain, 5% Belanja Pegaw ai, 9.14% Belanja Barang dan Jasa, 12.02%

Belanja Pemeliharaan, 0.00%

Belanja Modal dan Pembangunan, 73.90%

Belanja Perjalanan Dinas, 0.00%

Sumber: - BKD kab/ kota dan Propinsi Gorontalo - SIKD tahun 2005

Gambar 5.3.7 Komposisi Belanja Ekonomi Kab/Kota se-Propinsi Gorontalo pada Sektor Infrastruktur Tahun 2005
Belanja Barang dan Belanja Pegaw ai 4% Belanja Lain-lain 0% Jasa 2% Belanja Pemeliharaan 2%

Belanja Perjalanan Belanja Modal dan Pembangunan 91% Dinas 1%

Sumber: - BKD kab/ kota dan Propinsi Gorontalo - SIKD tahun 2005

72

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

2. Belanja Modal Belanja modal/pembangunan infrastruktur bidang transportasi menyerap dana terbesar selama lima tahun terakhir. Bidang transportasi membelanjakan lebih dari 60 %, kemudian berturut-turut diikuti dengan belanja dibidang irigasi sebesar lebih dari 15 %, air bersih kurang dari 4 %, dan belanja dibidang kelistrikan berkisar 3 - 6 % (Gambar 5.3.7).
Gambar 5.3.7 Komposisi Belanja Ekonomi Kab/Kota se-Propinsi Gorontalo pada Sektor Infrastruktur Tahun 2005 Dekon dan TP APBD

Penunjang Agropolitas 1.14% Irigasi, 27.58% Air Bersih dan Sanitasi, 2.26% Transporta si, 62.94% Listrik, 6.09%

Penunjang Agropolitas 1.14%

Listrik, 2.96%

Irigasi, 14.81% Transporta si, 60.07% Air Bersih dan Sanitasi, 2.26%

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

73

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

PERTANIAN Program Agropolitan dan Sumberdaya Pertanian Pembangunan sektor pertanian sebagai core competency Provinsi Gorontalo, dilaksanakan melalui pengembangan agropolitan berbasis jagung untuk mewujudkan corn province. Pengembangan agropolitan dengan maize economy diwujudkan melalui implementasi 9 pilar pembangunan pertanian yakni 1) penyediaan alsintan dalam bentuk Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) dan angkutan agropolitan; 2) penyediaan dana penjaminan petani (APBN, APBD, Askrindo, Bank); 3) penyediaan benih unggul, pupuk dan pengendalian hama/penyakit; 4) memperlancar pemasaran dengan jaminan harga dasar melalui BUMD kerjasama dengan pengusaha antar pulau dan ekspor; 5) pembangunan/penyediaan irigasi dan jalan akses agropolitan; 6) show window disetiap kabupaten dan posko agropolitan; 7) peningkatan SDM pertanian; 8) meningkatkan efektivitas peran maize centre dalam penelitian dan pengkajian teknologi pertanian modern berbasis organik; dan 9) perencanaan dan koordinasi serta limited government intervention. Aplikasi teknologi yang spesifik seperti perluasan areal tanam, peningkatan mutu intensifikasi dan optimalisasi pengelolahan hasil, penyimpanan dan pasca panen serta pemasarannya, dilakukan untuk memaksimalkan produksi dan produktivitas pertanian. Pengembangan kawasan pertanian yang berpotensi menjadi kawasan agropolitan, dilakukan melalui: 1. Pemberdayaan masyarakat pelaku agribisnis melalui pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang efisiensi. Sistem ini dapat meningkatkan produksi, produktivitas komoditi pertanian serta produk-produk olahan pertanian; Pemberdayaan melalui pelatihan dan mindsetting pelaku ekonomi pertanian dalam meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian serta penguatan permodalan terutama dilakukan pada industri-industri. 2. Penguatan kelembagaan petani; Pembentukan kelompok tani melibatkan pemerintah desa dan kecamatan untuk mengefisienkan dan mengefektifkan pelaksanaan program-program dan penyaluran bantuan kepada petani. dan mengoptimalkan fungsi sarana dan infrastruktur pertanian yang telah dibangun 3. Pengembangan kelembagaan sistem agribisnis (penyedia agroinput, pengelolaan hasil, pemasaran dan penyedia jasa); Klinik agropolitan sebagai salah satu usaha yang dikembangkan berfungsi membantu dalam penyediaan sarana produksi pertanian dan layanan teknologi produksi. 4. Pengembangan kelembagaan penyuluhan pembangunan terpadu; Pengembangan lembaga penyuluhan untuk mensosialisasikan kegiatan dan program peningkatan produktivitas petani dan pertanian. Pembenahan kuantitas dan kualitas penyuluh dilaksanakan untuk memenuhi target produksi. 5. Pengembangan iklim yang kondusif bagi usaha dan investasi; Pembangunan infrastruktur penunjang dan perbaikan iklim serta sistem investasi mendukung peningkatan kerjasama wilayah terutama di kawasan regional Sulawesi. Pelaksanaan program Celebes Corn Belt, ditujukan untuk percepatan peningkatan produksi tanaman jagung.

74

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Kerjasama wilayah di Sulawesi dalam rangka pengembangan jagung melalui Celebes Corn Belt, bertujuan mewujudkan pembangunan pertanian (maize economy), dalam upaya peningkatan competitive advantage, value added, dan value changed potensi daerah. Langkah implementatif dimulai tahun 2002 dengan melaksanakan 3 (tiga) program, yaitu Program Ketahanan Pangan, Program Pengembangan Agribisnis dan Program Pengembangan Komoditi Unggulan Berbasis Jagung yang merupakan Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Provinsi Gorontalo. Daya serap tenaga kerja di sektor pertanian dibandingkan dengan sektor lainnya di Provinsi Gorontalo sangat besar dan prospektif. Gambar 5.4.1 memperlihatkan total jumlah tenaga kerja disektor pertanian mengalami penurunan sebesar 23,98%. Walaupun pada sektor formal mengalami kenaikan sekitar 62,22%, sebagai akibat penambahan jumlah tenaga penyuluh pertanian dan pegawai yang bekerja di instansi pemerintah. Namun pada sektor pertanian informal (petani), terjadi penurunan sekitar 28,30%. Persentase tenaga kerja informal lebih besar (93,27%) dibandingkan dengan formal (6,73%). Produktivitas tenaga kerja dibidang pertanian Provinsi Gorontalo, masih dibawah angka 1 (satu) yakni rata-rata LQ 0,57. Angka produktivitas ini hampir sama secara nasional. Rata-rata persentase jumlah tenaga yang bekerja di sektor pertanian lebih besar (54,67%) dibandingkan dengan sektor lainnya. Hal ini lebih disebabkan luas lahan yang masih tersedia yakni sekitar 37,95% (1.221.544 Ha) dari total luas wilayah Provinsi Gorontalo dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan usaha pertanian dan berkembangnya sektor agribisnis.
Gambar 5.4.1 Tenaga Kerja Sektor Pertanian Propinsi Gorontalo
Jumlah Tenaga Kerja Pertanian
250
205 194

Perbandingan Persentase Penduduk Bekerja per Sektor Tahun 2005
10%
18.17 18.24 15.88 13.33

Tenaga Kerja (Ribuan Orang)

200
195 159 146

80% Persentase (%)
187 155 140

13.28

150

60% 40%

11.77

100

50
10 13 7 16

56.78

52.55

20% 0% Laki-laki
Lain-lain Pedagang

0 2001 2002 Tahun Informal Formal Total 2003 2005

Perempuan
Jasa Pertanian

Sumber: - Sakernas, 2005 - BPS Propinsi Gorontalo, 2006

Secara nasional, jumlah tenaga kerja yang dapat diserap oleh sektor pertanian di Provinsi Gorontalo, berada pada urutan kedua dari bawah, hal ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang rendah (Gambar 5.4.2) Serapan tenaga kerja dan terbukanya lapangan pekerjaan baru dibidang pertanian, berpengaruh pada

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

75

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

penerimaan dan pengeluaran petani dan keluarganya. Gambar 5.4.3 memperlihatkan pada tahun 2001 sekitar 83,85% penduduk yang berprofesi petani memiliki pengeluaran per bulan lebih kecil dari Rp 150.000,-. Pada tahun 2005, terjadi peningkatan pengeluaran petani sebanyak Rp 183.930,(48,26%) atau rata-rata per tahun sebanyak Rp 61.310,Penerimaan rumah tangga yang semakin meningkat dialami oleh petani yang berstatus ekonomi
Gambar 5.4.2 Perbandingan Jumlah Tenaga Kerja Pertanian Propinsi Gorontalo dengan Propinsi Lain di Indonesia
2003 7000 2004
6,154 5,986 4,406
832 753 669 728

6000 Jumlah Tenaga Kerja (ribuan jiwa)

5,000

4,000

3,000
1,791 1,781 1,917 1,950 2,000 2,060

649 647

534 521

405 195

346 367

181 138

0

10 11

185 136

227 196

245 250

384 370

481 485

527 555

640 676

1,000

651 689

705 743

936 830

812 813

937 837

988 866

1,066 1,093

1,371 1,423

2,000

2,527 2,374

Sumatera Utara

Jawa Barat

3,862

Sulawesi Selatan

Sumatera Selatan

Jawa Tengah

Kalimantan Selatan

Kalimantan Tengah

Sulawesi Tenggara

Kalimantan Timur

Irian Jaya Barat/Papua

Nanggroe Aceh Darussalam

Nusa Tenggara Barat

Kalimantan Barat

Provinsi

Sumber: Sakernas, 2005

Gambar 5.4.3 Pengeluaran Rumah Tangga Petani di Provinsi Gorontalo
Pengeluaran Rata-rata Rumah Tangga Petani 600 565 430 444 381

Pengeluaran (Ribuan Rp)

500 400 300 200 100 0 2002

2003 Tahun

2004

Nusa Tenggara Timur

2005

Sumber: Data Susenas, BPS Propinsi Gorontalo, 2005

76

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Bandar Lampung

DKI Jakarta

Sulawesi Utara

DI Yogyakarta

Bangka Belitung

Sulawesi Tengah

Sumatera Barat

Maluku Utara

Jawa Timur

Gorontalo

Maluku

Jambi

Bali

Banten

Bengkulu

Riau

7,371 7,388

8,000

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

lemah yang memiliki lahan dengan luas kurang dari 1 (satu) hektar. Gambar 5.4.4, menunjukkan jumlah individu yang tergolong strata ekonomi miskin, lebih banyak menguasai atau memiliki lahan pertanian, dan cenderung berkurang pada masyarakat yang memiliki level ekonomi yang lebih tinggi. Kecuali Kota Gorontalo, umumnya lahan pertanian lebih banyak dikuasai oleh masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi yang lebih tinggi, namun petani yang bekerja sebagai buruh tani di lahan pertanian tersebut tergolong petani miskin.
Gambar 5.4.3 Pengeluaran Rumah Tangga Petani di Propinsi Gorontalo
Penguasaan/Kepemilikan Lahan Pertanian
0,80 Persentase (%) 0,60 0,40 0,20 0,00 Provinsi Gorontalo Kab. Boalemo Kab. Gorontalo Kabupaten/Kota 1. Poorest 2 3 4 5. Richest Kab. Pohuwato Kab. Bone Bolango Kota Gorontalo

Sumber: Data Susenas, BPS Propinsi Gorontalo, 2005

Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Komoditi Pertanian Tanaman Pangan Utama Tanaman jagung dan padi merupakan tanaman pangan utama di Provinsi Gorontalo, jumlah produksi pada tahun 2006 (angka perkiraan) masing-masing sebesar 416.222 ton dan 192.583 ton (lihat Kotak 1). Jika dibandingkan dengan komoditi pangan lain (kedelei, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar), produksi kedua komoditi sangat besar. Hal ini sangat terkait dengan besarnya perhatian Pemerintah Daerah cukup besar dalam mengembangkan kedua komoditi ini dan kebutuhan masyarakat yang tinggi.

Gambar 5.4.5 Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jagung dan Padi Propinsi Gorontalo Tahun 2002 -2005
Jagung
450,000 400,000 31.34 350,000 Luas Panen (ha) Produksi (ton) 300,000 250,000 251,223 200,000 150,000 100,000 50,000 45,718 0 2002 2003 2004 Tahun Luas Panen Produksi Produktivitas Luas Panen 2005 130,251 58,716 72,529 5.00 0 183,998 15.00 107,525 10.00 20.00 28.50 34.64 400,046 30.00 Produktivitas (kw/ha) Luas Panen (ha) Produksi (ton) 25.00 37.13 40.00 35.00 180,000 160,000 140,000 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 50,000 0 2002 2003 Tahun Produksi Produktivitas 2004 2005 34,652 34,635 36,731 39,110 43.21 42.74 43.50 43.00 42.50 42.00 41.50 153,222 44.22 45.09 156,158

Padi
167,153 160,306 45.50 45.50 Produktivitas (kw/ha) 44.50 44.00

Sumber: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo, 2006

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

77

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 5.4.5 memperlihatkan, luas panen, produksi dan produktivitas jagung mengalami peningkatan signifikan masing-masing 135,19%, 207,1% dan 30,29%. Sedangkan komoditi padi luas panen dan produksi mengalami kenaikan sebesar 12,87% dan 9,1%, tetapi produktivitasnya cenderung mengalami penurunan sebesar 3,35%. Ada indikasi bahwa penurunan produktivitas padi, disebabkan oleh lebih intensifnya pengembangan tanaman jagung dalam mendukung program agropolitan dengan komoditi unggulan jagung. Disamping adanya upaya intensifikasi dan ekstensifikasi melalui penggunaan benih unggul dan penggunaan lahan-lahan yang produktif termasuk lahan tidur, sehingga produksi jagung mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Jika dibandingkan perkembangan kedua komoditi pada level nasional, maka berdasarkan Gambar 5.4.6, tingkat produktivitas jagung Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan dan berada di atas produktivitas nasional pada tahun 2004/2005. Sebaliknya tanaman padi mengalami penurunan, dan tetap berada di bawah level nasional. Walaupun persentase luas panen dan produksi jagung maupun padi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Gambar 5.4.6 Perbandingan Produktivitas dan Persentase Luas Jagung dan Padi Gorontalo Terhadap Nasional
40.00
34.70

48.00

35.00
46.18 43.21 45.38 44.69 45.09 45.36

47.00

30.00 Produktivitas (kw/ha) 25.00

46.00 45.00 Produktivitas (kw/ha)

20.00
44.22 43.21 42.74

44.00 43.00

10.00

28.50

30.88

31.34

32.41

34.64

33.44

37.13

34.54

37.91

34.70

10.00 5.00 0

42.00 41.00 40.00

2002

2003

2004 Tahun

2005

2006

Jagung Gorontalo

Jagung Nasional

Padi Gorontalo

Padi Nasional

Sumber: - BPS Nasional - Tim PEA Universitas Gorontalo, 2006

78

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Gambar 5.4.7. memperlihatkan bahwa pada tahun 2004-2005 produktivitas dan laju rata-rata kenaikan komoditi pangan lainnya (kedelei, kacang tanah dan kacang hijau) Provinsi Gorontalo lebih tinggi dibandingkan nasional. Sebaliknya produktivitas ubi kayu dan ubi jalar masih berada di bawah rata-rata nasional.
Gambar 5.4.7 Perbandingan Produktivitas Komoditi Pangan Gorontalo Terhadap Nasional
160 140 Produktivitas (ku/ha) 120 100 80
47 46 38 35 43 46 45 45 43 45

Gorontalo Nasional

149

155

119

115

117

159

114

163 94 104

180

101

95 103

60 40 20 0

92

31 32

35 33

14 13 13 12 12 10

37 35

10 13 10 11

Kedelai

10 11

Kedelai

Kedelai

14 13 12 12 12 10

Kacang

Kacang

Kacang

Kacang

Kacang

Kacang

Kedelai

Jagung

Jagung

Jagung

Jagung

Kacang

Kacang

Padi

Padi

Padi

Padi

Ubi

Ubi

Ubi

Ubi

Ubi

Ubi

13 13 12 12 11 10

Ubi
400,00 0

2003

2004 Tahun/Jenis Komoditi

2005

2006

Kotak 3
Produksi Perikanan
60100 50,000 Produksi (ton)
40,316 55,073
U b i J a la r L U A S P A N E N K O M O D IT I P A N G A N

Luas Panen Komoditi Pangan

352 2 ,7 0 8 404 506 1 ,0 4 8 950 796 929 595 793 680 248 4 ,3 4 1 4 ,3 2 7 3 ,3 4 4 2 ,0 1 4 2 ,9 0 7 1 ,1 2 4 541 1 ,5 1 8

2005 20 0 4 20 0 3 20 0 2

U b i K a yu

40,000
38,123

43,286

30,000 20,000 10,000

Produksi perikanan dari tahun 2002 sampai 2005, menunjukkan trend meningkat
2005

J e n i s K o m o d it i

k a c a n g H ij a u

K a c a ng T a na h

K e d e le i

1 0 7 ,5 2 5

Ja gung
4 5 ,7 1 8 3 9 ,1 1 0 3 6 ,7 3 1 3 4 ,6 3 5 3 4 ,6 5 2

7 2 ,5 2 9 5 8 ,7 1 6

2002

2003 Tahun

2004

Padi
2 0 ,0 0 0

4 0 ,0 0 0

6 0 ,0 0 0

8 0 ,0 0 0

1 0 0 ,0 0 0

Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo, 2006

L u a s (h a )

PRODUKSI KOMODITI PANGAN

Produksi Ternak
1,000,000 900,000 800,000 700,000 Jumlah (ekor) 600,000 500,000 400,000 300,000 200,000 100,000 2002 2003 Tahun
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo, 2006 Kambing Sapi Potong Ayam Bura

S u m ber d a ta : D in a s P e rta n ia n d a n K e ta h a n a n P a n g a n 3,308 2005 P6,944 p in si G oron talo, 200 6 ro Ubi Jalar 3,721
4,293

Produksi Komoditi Pangan

2004 2003 2002

Produksi ternak dari tahun 2002 sampai 2005, menunjukkan trend meningkat terutama ternak ayam buras

Ubi Kayu J e n is K o m o d it i

12,211 9,700 9,436 9,755 726 637 745 249 5,378 3,711 3,189 2,328 4,038 1,350 542 1,849

kacang Hijau

Kacang Tanah

Kedelei

400,046

Jagung
130,251

251,223 183,998 167,153 160,306 156,158 153,222

2004

2005

Padi
50,000 100,00 0 150,00 0

200,00 0

250,00 0

300,00 0

350,00 0

Produksi (ton)

Ubi
1 2 0 ,0 0 0

94
450,00 0

105

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

79

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Peningkatan produksi dan produktivitas jagung yang besar membuka peluang Provinsi Gorontalo melakukan ekspor dan perdagangan antar pulau komoditi. Data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo tahun 2006 (Gambar 5.4.8) memperlihatkan kenaikan ekspor dan perdagangan antar pulau jagung rata-rata sebesar 11.377 ton.
Gambar 5.4.8 Ekspor dan Perdagangan Antar Pulau Jagung dan Perikanan Propinsi Gorontalo
140,000 127,561 120,000 100,000 Volumen (ton) 80,000 67,704 60,000 40,000 20,000 0 6,700 1,177 2001 1,669 2002 Jagung Sumber: - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo, - Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Gorontalo, 2006 52,207

27,554 8,967 9,234 10,157

2003 Tahun Perikanan

2004

2005

Sebagai perbandingan jumlah ekspor komoditi perikanan dari tahun 2001 sampai 2005 kapasitasnya masih berada dibawah komoditi jagung. Jumlah ekspor perikanan cenderung mengalami kenaikan, dengan rata-rata setiap tahun sebesar 30,71%. Penerimaan dan Financing Total realisasi anggaran yang disediakan Pemerintah Provinsi Gorontalo yang berasal dari APBD dan APBN untuk Bidang Pertanian yakni sebesar 15,82 milyar dan 40,75 milyar. Rata-rata 44,47% (APBD) dan 38,79% (APBN) diperuntukkan untuk belanja Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Besaran belanja pada sektor pertanian ketahanan pangan), berpengaruh pada upaya pengembangan pertanian melalui program peningkatan kualitas sumberdaya manusia pertanian, program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, pengembangan agribisnis tanaman pangan dan hortikultura. Berdasarkan Gambar 5.4.9 total anggaran yang berasal dari APBN dan APBD mengalami peningkatan rata-rata 60,94%. Sedangkan jumlah realisasi total mengalami peningkatan rata-rata 63,37%. Proporsi suplai anggaran yang berasal dari APBN dalam bentuk dana dekonsentrasi lebih besar (ratarata 71,53%) dibandingkan dengan dana yang disediakan oleh Pemerintah Daerah melalui dana APBD, yakni rata-rata 28,47%.

80

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Gambar 5.4.9 Jumlah Anggaran dan Realisasi APBD dan APBN Tahun 2002-2005 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo
2005 Tahun 2004 2003 2002
Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran 5.000 2002 Anggaran APBN APBD 8.087 1.594 Realisasi 8.087 0.935 10.000 15.000 2003 Anggaran 17.656 8.152 Realisasi 17.550 7.230 20.000 2004 Anggaran 18.974 9.176 Realisasi 18.707 8.679 25.000 30.000 2005 Anggaran 20.141 10.026 Realisasi 19.095 9.639 APBD APBN 35.000

Jumlah (Mily ar Rupiah)
Sumber: - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo, - Badan Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo, 2006

Gambar 5.4.10 Jumlah Anggaran dan Realisasi APBD Tahun 2002-2005 Bidang Pertanian Kabupaten/Kota se-Propinsi Gorontalo
Anggaran dan Realisasi Belanja Bidang Pertanian (Kabupaten/Kota)

Anggaran dan Realisasi Belanja Bidang Pertanian (Kabupaten/Kota)

2005
T Tahun a hun
2004

2003
2002 2002

Realisasi Anggaran
5.000 5.000 10.000 10.000 15.000 15.000 20.000 20.000 25.000 25.000

0.000
2002 Realisasi Anggaran 13.351 14.656

2003 9.975 11.379

2004 15.172 17.378

2005 20.784 23.110

Jumlah (Milyar Rupiah) Rupiah) Jumlah (Milyar Sumber: - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo, - Badan Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo, 2006

Gambar 5.4.10 menunjukkan total anggaran dan realisasi yang berasal dari APBD bidang pertanian kabupaten/kota mengalami peningkatan rata-rata 21,12% dan 21,27%. Dukungan Pemerintah dalam memenuhi jumlah anggaran yang dibutuhkan dalam mengembangkan pertanian di Provinsi

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

81

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gorontalo signifikan, walaupun anggaran yang berasal dari APBD sangat terbatas, namun perhatian Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam upaya menggiatkan dan menjalankan program-program pertanian sangat besar, dengan kenaikan anggaran sangat besar setiap tahunnya. Penerimaan dari Operasi (Langsung dan Tidak Langsung) Gambar 5.4.11 dan 5.4.12 menunjukkan penerimaan dana yang bersumber dari PAD sektor pertanian meningkat sebesar 107,65%. Sumbangan pihak ke-3 APBD memberikan kontribusi terbesar dengan rata-rata sebesar 117,697 juta rupiah, kemudian JAPP, jasa ketatausahaan dan sumbangan pihak ke-3 dari kegiatan APBN.
Gambar 5.4.11 Pendapatan Asli Daerah Propinsi Gorontalo Tahun 2002-2005
200 150 100 50 2002 Retribusi Daerah Lain-Lain 2003 7.285 140.289 2004 5.260 174.327 2005 187.575 118.861

Juta Rupiah

Tahun
Sumber: Badan Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo, 2006

Gambar 5.4.12 Komponen Pendapatan Asli Daerah Propinsi Gorontalo tahun 2002-2005
160 140 120 Jasa Ketatausahaan JAPP SP-3 APBD SP-3 APBN 140.289

105.738

107.061

Juta Rupiah.

100 80 60 40 20 0 2002 2003 Tahun 2004 2005 7.285 17.704 5.260 18.525 11.800 50.189

Sumber: Badan Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo, 2006

82

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Gambar 5.4.13 menunjukkan bahwa nilai APBD dan APBN (riil) dari tahun ke tahun lebih besar dibandingkan dengan nilai nominalnya. Berdasarkan koreksi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Gorontalo, trend realisasi APBD dan APBN (riil) mengalami peningkatan masing-masing rata-rata 218,96% dan 33,84%. Peningkatan jumlah realisasi APBD dan APBN, lebih dipengaruhi oleh peningkatan jumlah anggaran yang disediakan oleh pemerintah daerah dan pusat dan relatif tidak terpengaruh secara signifikan oleh inflasi yang terjadi di Provinsi Gorontalo.
Gambar 5.4.13 Trend Realisasi APBD dan APBN (Riil) Tahun 2002-2005 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo
25.00 20.00 Milyar Rupiah 15.00

10.00 5.00 0 2002* 2003 Tahun Nominal APBD Riil (APBD) Nominal APBN Riil (APBN) 2004 2005

Sumber: - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo, - Badan Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo - Tim PEA Universitas Gorontalo, 2006

Belanja Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Berdasarkan total anggaran yang disediakan oleh Pemerintah Daerah maka proporsi realisasi anggaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sebesar 54,80%, sedangkan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo 45,20%. Gambar 5.4.14 menunjukkan bahwa rata-rata realisasi anggaran yang berasal dari APBD Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo pada belanja modal/pembangunan lebih besar (50,74%) dibandingkan dengan belanja non modal (49,26%), walaupun terjadi kecenderungan menurun sebesar 53,60%. Sebaliknya belanja perjalanan dinas mengalami kenaikan signifikan sebesar 58,85%. Sedangkan belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja pemeliharan mengalami kenaikan yang signifikan masing-masing 31,33%, 26,60%, dan 7,04%. Penggunaan dana yang berasal dari APBD untuk realisasi belanja non modal lebih besar dibandingkan dengan belanja modal. Belanja modal lebih banyak dipenuhi melalui anggaran yang berasal dari APBN.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

83

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 5.4.13 Trend Realisasi APBD dan APBN (Riil) Tahun 2002-2005 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo
1.634 5.889 5.915

Belanja modal/pembangunan

Belanja Lain-lain/Bantuan Sosial Klasifikasi Ekonomi

-

0.020 0.066 0.107 0.093 0.027

2005 2004 2003 2002 0.726

Belanja pemeliharaan

Belanja perjalanan dinas

0.202 0.125 0.042 0.251 0.241 0.287

5.035

Belanja barang dan jasa

Belanja pegawai

0.856 0.558

2.178 2.230

0,00

1,00

2,00

3,00

4,00

5,00

6,00

7,00

Realisasi Anggaran (Milyar Rupiah)

Sumber: Badan Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo, 2006

Gambar 5.4.15 menunjukkan bahwa pada tahun 2005, rata-rata realisasi anggaran bidang pertanian kabupaten/kota Provinsi Gorontalo pada belanja modal/pembangunan lebih kecil (39,56%) dibandingkan dengan belanja non modal (60,44%), Proporsi anggaran bagi belanja pegawai pada belanja non modal lebih dominan dibandingkan dengan belanja lainnya. Penggunaan dana untuk belanja pegawai yang besar terkait dengan upaya pengadaan pegawai dalam rangka memenuhi kebutuhan daerah.
Gambar 5.4.15 Realisasi Anggaran Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Bidang Pertanian Kabupaten/Kota se-Propinsi Gorontalo

Belanja modal/pembangunan

8.22

Klasifikasi Ekonomi

Belanja pemeliharaan

0.88

Belanja perjalanan dinas

0,62

Belanja barang dan jasa

3.82

Belanja pegawai

7.24

0,00

1,00

2,00

3,00

4,00

5,00

6,00

7,00

8,00

9,00

Realisasi Anggaran (Milyar Rupiah)

Sumber: Badan Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo, 2006

84

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Gambar 5.4.16 Realisasi Anggaran Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Gorontalo
1,583.61

Belanja modal/pembangunan

3,089.22

16.60 134.31 157.82 65.59 177.06 219.42 107.95 77.34 1,024.97 1,727.25 1,590.57

6,727.71

Belanja Lain-lain/Bantuan Sosial Klasifikasi Ekonomi

2005 2004 2003 2002

Belanja pemeliharaan

Belanja perjalanan dinas

Belanja barang dan jasa

99.16 142,94

Belanja pegawai

835.73 420.87

2,131.27 2,394.18

-

1,000

2,000

3,000

4,000

5,000

6,000

7,000

8,000

Jumlah Realisasi Anggaran

Sumber: Badan Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo, 2006

Gambar 5.4.16 menunjukkan bahwa rata-rata realisasi anggaran yang berasal dari APBD Dinas Perikanan dan Kelautan pada belanja modal/pembangunan lebih besar (50,17%) dibandingkan dengan belanja non modal (49,83%), walaupun terjadi kecenderungan menurun sebesar 37,62%. Sebaliknya terjadi pada belanja pegawai, belanja barang dan jasa, belanja perjalanan dinas dan belanja pemeliharan mengalami kenaikan yang signifikan masing-masing 34,12%, 28,94%, 18,41%, dan 46,98%.
Gambar 5.4.17 Realisasi Anggaran Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Bidang Perikanan dan Kelautan Kabupaten/Kota Se-Propinsi Gorontalo

Belanja modal/pembangunan

5,49

Klasifikasi Ekonomi

Belanja pemeliharaan

Belanja perjalanan dinas

0,15

Belanja barang dan jasa

0,44

Belanja pegawai

1,62

0,00

1,00

2,00

3,00

4,00

5,00

6,00

Realisasi Anggaran (Milyar Rupiah)

Sumber: Badan Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo, 2006

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

85

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 5.4.17 menunjukkan bahwa pada tahun 2005, rata-rata realisasi anggaran bidang perikanan dan kelautan kabupaten/kota se-Provinsi Gorontalo pada belanja modal/pembangunan lebih besar (71,03%) dibandingkan dengan belanja non modal (28,97%). Besarnya jumlah belanja modal/pembangunan dibidang perikanan merupakan indikasi kuatnya keinginan pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan potensi sumberdaya perikanan, yang belum dapat dikelola secara maksimal. Perhatian Pemerintah Provinsi Gorontalo terhadap dua dinas unggulan dalam pemenuhan sumberdaya manusia baik secara kuantitas maupun kualitas serta meningkatnya kinerja pegawai berpengaruh pada beberapa pos belanja terutama non modal. Gambar 5.4.18 menunjukkan rata-rata realisasi belanja modal/pembangunan bidang pertanian kabupaten/kota se-Provinsi Gorontalo lebih rendah (40,84%) dibandingkan dengan belanja non modal (59,16%). Namun demikian proporsi realisasi belanja modal/pembangunan Kabupaten Boalemo jauh lebih tinggi dibandingkan belanja non modal yakni 68,59%. Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo memiliki belanja pegawai lebih besar (32,58% dan 60,93%) dibandingkan dengan belanja modal/pembangunan yakni 23,00% dan 37,57%. Sebaliknya Kabupaten Boalemo, Pohuwato dan Bone Bolango mempunyai belanja modal/pembangunan lebih tinggi (masing-masing 68,59%, 28,61% dan 46,45%) dibandingkan dengan belanja pegawai (27,84%, 22,52% dan 30,75%).
Gambar 5.4.18 Realisasi Belanja APBD Kabupaten/Kota Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi
3.000
2.689 2.536

2.500
2.166 2.090

2.000

Milyar (Rupiah)

1.658 1.547

1.500
1.218 1.074

1.383

1.000
0.801 0.758

0.879 0.754

0.500

0.446 0.217 0.032 0.0220.013 0.050 0.030 0.033 0.085 0.022 0.262 0.009

0.000 Kota Gorontalo

Kabupaten Gorontalo

Boalemo

Pohuwato

Bone Bolango

Kabupaten/Kota Belanja Pegawai Belanja P meliharaan e Belanja B arang dn asa a J Belanja Modal/Pembangunan Belanja P rjalanan D e inas

Sumber: Badan Keuangan Daerah Propinsi Gorontalo, 2006

86

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Gambar 5.4.19 Trend Anggaran APBN dan APBD pada Pengembangan Jagung dan Non Jagung
18.00 16.00 14.00 APBD Non jagung APBD Jagung APBN Non jagung APBN Jagung 15.813 13.865 10.591 10.00 8.00 7.080 6.00 4.00 2.00 0.00 2002
Sumber: Tim PEA Universitas Gorontalo, 2006

Anggaran (Milyar Rupiah) .

12.00

4.877 3.210

5.870 4.328 4.136 0.080 2003 Tahun 0.364 2004

5.108

6.434

2.704

1.685

0.397 2005

Gambar 5.4.19 menunjukkan bahwa proporsi anggaran rata-rata yang diperuntukkan untuk pengembangan jagung lebih besar (79,40%) dibandingkan dengan non jagung (20,60%). Jumlah anggaran yang berasal dari APBN, khusus pengembangan jagung memiliki proporsi lebih banyak (68,80%), selebihnya 31,20% didanai oleh APBD. Trend anggaran rata-rata yang disediakan untuk mengembangan jagung mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 36,45%, sebaliknya untuk komoditi non jagung cenderung turun rata-rata 27,29%. Trend penganggaran tersebut menunjukkan adanya perhatian Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Pusat yang sangat besar, untuk mencapai tingkat produksi sebanyak 1 (satu) juta ton pada tahun 2005. Selain itu keseriusan dan konsistensi pemerintah untuk menjadikan jagung sebagai brand komoditi untuk Provinsi Gorontalo, dengan harapan nilai jual komoditi lebih kompetitif di pasar global. Agriculture Contribution Sektor Pertanian merupakan salah satu sektor lapangan usaha yang memberikan kontribusi yang besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Gorontalo dan mengalami peningkatan dari tahun 2002 sampai 2006. Berdasarkan harga yang berlaku tahun 2002 2005, PDRB pertanian berkisar 660,587 juta rupiah pada tahun 2002 dan 981,125 juta rupiah pada tahun 2005. Sedangkan berdasarkan harga konstan tahun 2000, juga mengalami peningkatan yakni 533,708 juta rupiah pada tahun 2002 menjadi 617.383 juta rupiah (lihat Gambar 5.4.20).

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

87

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 5.4.20 Produk Domestik Regional Bruto Sektor Pertanian Propinsi Gorontalo tahun 2002-2005

2005

617,383 981,125

2004

575,307 853,681

Tahun

2003

557,678 804,665

2002

533,708 660,587

Harga Konstan Harga Berlaku

-

200,000

400,000

600,000 Jutaan Rupiah

800,000

1,000,000

1,200,000

Sumber: BPS Propinsi Gorontalo, 2006

Gambar 5.4.21 Persentase Produk Domestik Regional Bruto Sektor Pertanian Propinsi Gorontalo tahun 2002-2005
100% 90% 80% 70% Persentase (%) 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2001 2003 2004 2005 30.75 32.45 30.47 28.97 32.24 31.52 30.41 30.48

PDRB

Harga Konstan

Sumber: BPS Propinsi Gorontalo, 2006

Kontribusi pertanian terhadap peningkatan PDRB Provinsi Gorontalo menunjukkan persentase yang signifikan dibandingkan dengan sektor lapangan usaha lainnya. Gambar 5.4.21 menunjukkan bahwa sektor pertanian memberikan kontribusi pada PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 30,75% dan cenderung menurun sampai tahun 2005 yakni 28,97%, walaupun pada tahun 2003 mengalami peningkatan sebesar 32,45%. Rata-rata PDRB atas harga berlaku dari tahun 2002 2005 adalah 30,66%. Sedangkan berdasarkan harga konstan mengalami penurunan dari 32,24% pada tahun 2002 menjadi 30,48% pada tahun 2005 atau rata-rata 31,16% dari total PDRB Provinsi Gorontalo.

88

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ANALISIS SEKTORAL

5

Gambar 5.4.22 Produk Domestik Regional Bruto Sub Sektor Pertanian Propinsi Gorontalo tahun 2002-2005
152,975

P erikanan

118,205 110,932 105,597

2005 2004 2003 2002
151,883

Kehutanan

25,434 20,702 42,874 44,363

Sub Sektor

P eternakan
97,741

138,106 128,284

Tanaman P erkebunan
144,602

250,598 224,859 202,896

400,234

Tanaman B ahan M akanan
268,284

351,808 319,679

-

50,000

1 00,000

1 50,000

200,000

250,000

300,000

350,000

400,000

450,000

Jutaan Rupiah

Sumber: BPS Propinsi Gorontalo, 2006

Seluruh subsektor mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, kecuali subsektor kehutanan. Tanaman bahan makanan memberikan sumbangan terbesar dan mengalami kenaikan dari 268.284 pada tahun 2002 menjadi 400.234 pada tahun 2005, disusul subsektor tanaman perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan (Gambar 5.4.22). Berdasarkan ratio PDRB pertanian Provinsi Gorontalo dan PDRB pertanian secara Nasional atas dasar harga konstan, maka nilai LQ sektor pertanian di Provinsi Gorontalo lebih besar dari satu dan cenderung mengalami penurunan dari tahun 2002 sampai 2004, berarti peranan sektor pertanian di Provinsi Gorontalo lebih menonjol dibandingkan secara nasional. Ratio PDRB Kabupaten/Kota di dalam Provinsi Gorontalo dan PDRB pertanian Provinsi Gorontalo memiliki nilai LQ >1, kecuali Kota Gorontalo yakni hanya mempunyai nilai LQ rata-rata 0,31. Location Quotient sektor pertanian yang lebih besar dari satu tersebut menunjukkan produk pertanian di Provinsi Gorontalo mengalami surplus dan dapat diekspor. Hal ini mengindikasikan prospek komoditi utama yang dikembangkan terutama jagung tumbuh lebih cepat dari rata-rata nasional. Dengan demikian Provinsi Gorontalo memiliki keunggulan komparatif secara nasional untuk sektor pertanian. Peningkatan PDRB pertanian ini ditentukan oleh peningkatan pendapatan pada subsektor tanaman pangan yang memiliki kontribusi yang sangat besar, selanjutnya sub sektor tanaman perkebunan, peternakan, perikanan. dan kehutanan. Peningkatan PDRB menunjukkan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Gorontalo, terutama masyarakat pertanian.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

89

5

ANALISIS SEKTORAL

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

REKOMENDASI 1. Dukungan anggaran belanja yang bersumber dari APBD dan APBN diperlukan dalam rangka membangun infrastruktur penunjang, pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang efisiensi. 2. Pendekatan pembangunan wilayah berbasis komunitas lokal, tidak terfokus pada pengembangan satu komoditi unggulan tetapi didasarkan pada potensi dominan daerah, sehingga kontinuitas ketahanan pangan daerah dan pengembangan agribisnis lebih terjamin. 3. Standar harga jagung dan komoditi dominan harus diupayakan lebih tinggi dengan tetap melaksanakan limited government intervention, jika terjadi penurunan harga di bawah harga standar yang telah ditetapkan. 4. Perlu peningkatan jumlah penerimaan APBD melalui pencapaian peningkatan PAD di sektor pertanian. 5. Peningkatan proporsi belanja modal/pembangunan perlu ditingkatkan dan realisasi belanja difokuskan pada kegiatan produktif 6. Peningkatan secara proporsional anggaran belanja berdasarkan klasifikasi ekonomi, dengan memperhatikan efektivitas dan efisiensi serta benefitivitas setiap pos belanja. 7. Kebijakan pemerintah harus lebih propoor dan hasil pembangunan perlu diupayakan lebih merangsang peningkatan pendapatan petani dan pelaku pertanian lainnya, dengan tetap memperhatikan daya serap dan produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian. 8. Koordinasi dan sinergitas langkah Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/kota dalam menjalankan program pengembangan pertanian dan perikanan perlu dilakukan dengan tetap melihat proporsi anggaran pembangunan.

90

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

6

6

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Reformasi Birokrasi Pemerintahan di Provinsi Gorontalo Desentralisasi pemerintahan telah menumbuhkan harapan besar akan terwujudnya kualitas pelayanan publik yang lebih baik. Dalam realitasnya, setelah 6 tahun desentralisasi, ternyata kualitas pelayanan publik masih sangat jauh dari harapan. Kondisi pelayanan publik cenderung memprihatinkan, akibatnya citra birokrasi sebagai penyelenggara pemerintahan makin terpuruk. Untuk memperbaiki citra birokrasi pemerintahan, maka Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Visi Pemerintahannya mengarahkan pada enterpreneurial government system. Pendekatannya adalah dengan melakukan reenginering terhadap: Mind-set Personalia ( budaya kerja dan Pola pikir ), System (Perbaikan Strukur, Mekanisme serta Prosedur Kerja), Performance Kelembagaan Pemerintah, dan Kebijakan Pemberian Tunjangan Kinerja Daerah (TKD). Semua pendekatan itu adalah bentuk penerapan dari New Public Management ( NPM ) yang merupakan jawaban untuk me-reformasi birokrasi pemerintahan di Provinsi Gorontalo. New Public Management bukanlah konsep yang baru sebagai alat untuk memperbaiki pelayanan terhadap masyarakat, namun pemerintah Provinsi Gorontalo berusaha menjadikannya sebagai suatu konsep bernilai yang dapat diimplementasikan secara nyata melalui penataan budaya pemerintahan. NPM, ditujukan untuk melakukan reinvention terhadap pemerintah daerah agar dapat memenuhi tuntutan kinerja, memberikan kecepatan pelayanan publik dengan penekanan terhadap perilaku manajemen pemerintahan yang berjiwa wirausaha (entrepreneurship government), untuk pencapaian hasil dan akuntabilitas dalam rangka menjamin pemanfaatan anggaran publik secara efektif dan efisien. Sebagai sebuah gerakan kultural di lingkungan pemerintah daerah, konsep NPM memang belum dipahami secara luas oleh kalangan pejabat setingkat eselon I dan II, serta sebagian kecil pada eselon III dan IV. Para PNS lebih banyak mengenal Tunjangan Kinerja Daerah dibanding NPM. Meski sebenarnya TKD merupakan salah satu bentuk manifestasi NPM. Paling tidak ada dua faktor yang menyebabkan kurangnya pemahaman NPM dikalangan PNS Pemerintah Provinsi. Pertama, faktor tingkat kerumitan memahami konsep NPM itu sendiri. Kedua, faktor belum optimalnya sosialisasi konsep ini. Upaya Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam mengimplementasikan Konsep New Public Management, dapat diwujudkan dengan program kegiatan sebagai berikut: a. Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah Pada saat terbentuknya pemerintahan provinsi, aparatur harus menyesuaikan dengan karakteristik pemerintahan provinsi. Hal ini menjadi alasan utama dilaksanakan NPM melalui peningkatan kapasitas Pemerintah Daerah. Tidak sekedar meningkatan kapasitas, tetapi juga berusaha menggeser pola pikir dan budaya organisasi dari budaya birokrasi menuju budaya entreprenuer. Pengembangan kapasitas Pemerintah Provinsi Gorontalo juga dimanifestasikan pada rekruitmen dan penempatan Para Akademisi pada pos pos jabatan strategis untuk mempercepat proses transformasi kemampuan aparat Pemda. Pengisian formasi pejabat setingkat eselon II dengan

92

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

6

sumber daya dari Kampus dengan kualifikasi pendidikan S3, pencangkokan pejabat pusat ke daerah dalam rangka sharing knowledge and experience. Kebijakan ini menimbulkan sinergitas yang sangat baik antara aparat birokrat murni dengan akademisi. b. Anggaran Berbasis Kinerja Pemerintah Provinsi Gorontalo telah menerapkan Performance Based Budgeting sejak tahun 2003. Dalam realitasnya juga sejak tahun 2003 adanya otonomi dalam penyusunan dan pemanfaatan anggaran oleh masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Pada tahun 2004 telah dibuat kontrak kinerja (performance agreement) antara pimpinan SKPD dengan Gubernur. Kontrak kinerja ini telah dijadikan dasar dalam menyusun anggaran berbasis kinerja melalui APBD hemat dan efektif. Tahun 2004 telah di dipublikasikan Laporan Neraca Keuangan Daerah diberbagai media masa lokal dan nasional sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat (akuntabilitas Publik), yang diakui secara nasional. Berkenaan dengan anggaran berbasis kinerja, bersamaan dengan itu pemerintah mulai menerapkan Tunjangan Kinerja Daerah. Pemerintah Provinsi Gorontalo melihat bahwa untuk mencapai target kelembagaan pemerintah, harus sejalan dengan target-target individu yang menjadi penggerak lembaga pemerintah (PNS). Pada konteks kelembagaan, target yang dimaksud adalah produktivitas pemerintah, sedangkan untuk individu-individu yang bekerja di pemerintah target dimaksud adalah produktivitas yang sebanding dengan kesejahteraan. c. High Performance Government Penerapan Performance Budgeting memiliki implikasi pada pemenuhan high performance government. Dalam rangka mencapai target pemerintahan berkinerja tinggi, maka aspek perlakuan terhadap klien dibenahi. Artinya pemerintahan Provinsi Gorontalo selalu menempatkan masyarakat sebagai warga negara yang layak mendapat perlakuan dalam bentuk layanan oleh pemerintah. Dalam konteks ini maka customer satisfaction menjadi sasaran utama. Dengan dihasilkannya Standard Operasional Procedure (SOP) Provinsi Gorontalo, telah memberikan arah yang jelas dan terukur bagi setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) didalam menjalankan Tugas Pokok dan Fungsinya. Untuk menjalankan SOP tersebut, ditetapkan Lima Nilai Budaya Kerja Pemerintah Provinsi Gorontalo sebagai instrumen implementasinya yakni: innovation (inovasi), teamwork (kerjasama tim), prosperity (kesejahteraan masyarakat), trust society (kepercayaan masyarakat), dan speed (cepat). Pemerintah Pusat belum menetapkan Standar Pelayanan Minimum (SPM), Pemerintah Provinsi Gorontalo di beberapa SKPD telah berupaya mengkonversi Standard Operasional Procedure (SOP) sebagai pengganti pengukuran Standar Pelayanan Minimum. Petunjuk tekhnis tentang Penyusunan SPM sudah ada, tetapi kendala yang dihadapi dalam pembuatannya adalah kurang tersedia sumber daya manusia yang dapat merancang dan mengimplementasikan SPM berdasarkan karakteristik tugas pelayanan organisasi.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

93

6

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Struktur Organisasi Restrukturisasi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo dilakukan dalam upaya mendesain organisasi dengan fungsi staf dan lini menuju pada pencapaian-pencapaian kinerja pembangunan daerah. Komposisi terakhir ( 2006 ) organisasi perangkat daerah terdiri dari Sekretariat Daerah sebagai unsur staf, kemudian unsur lini terdistribusi dalam 9 Badan, 12 Dinas, Sekretariat Dewan, dan 2 Kantor serta 1 Balai. Sebelum Pemerintah Pusat memberlakukan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuanga Daerah, Pemerintah Provinsi Gorontalo telah lebih dahulu membentuk Badan Keuangan Daerah yang merupakan hasil penggabungan Biro Keuangan dan Dinas Pendapatan Daerah melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2003. Perubahan ini berdampak pada 2 (dua) aspek yakni: aspek stuktur diharapkan terjadi sinkronisasi antara kebijakan pengelolaan aset dengan kebijakan penganggaran, dan aspek fungsi dengan adanya pengalihan kewenangan, bukan saja kepada Badan Keuangan tetapi juga kepada masing masing kepala SKPD.

Gambar 6.1 Penggabungan dua Institusi Keuangan Daerah menjadi Badan Keuangan Propinsi Gorontalo pada tahun 2003

GUBERNUR / WAKIL GUBERNUR SEKDA

SEKWAN

DINAS DISPENDA

BADAN

ASIST.PEMERINTAHAN ASIST.PEMB ASIST.ADMIN BIRO UMUM

BADAN KEUANGAN BIRO KEUANGAN

Sumber: Propinsi Gorontalo 2006

94

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

6

Sebagai tindak lanjut penataan sistem pengelolaan keuangan maka dibentuk OTK baru Bagian/Bidang Keuangan yang otonom (eselon III) dalam struktur Badan/Dinas yang ada di lingkungan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Secara administratif personilnya ditempatkan oleh Badan Kepegawaian berdasarkan rekomendasi Badan Keuangan untuk membantu dalam penyeragaman sistim pelaporan dan pengendalian keuangan dimasing masing SKPD. Kebijakan ini menimbulkan beberapa kendala di antaranya: Masih sangat terbatasnya sumber daya manusia yang spesifik di bidang pengelolaan keuangan. Belum terintegrasinya sistem informasi manajemen pelaporan keuangan secara on line antara SKPD SKPD dengan Badan Keuangan Provinsi Gorontalo Dalam kapasitas kelembagaan, masih terdapat adanya tumpang-tindih kebijakan disisi kewenangan pengelolaan keuangan antara intenal SKPD sebagai pelaksana program/kegiatan dengan Badan Keuangan sebagai pemegang otoritas di bidang keuangan.

Pegawai Negeri Sipil Untuk melihat kapasitas kelembagaan birokrasi pemerintahan provinsi dari segi ketersediaan penyelenggara layanan publik, dapat dilihat dari jumlah serta komposisi menurut golongan, jenjang kepangkatan pegawai negeri sipil dalam beberapa tahun terakhir sebagaimana digambarkan pada gambar 6.2.
Gambar 6.2 Perkembangan PNS Pemda Propinsi Gorontalo
1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 Pegawai
Sumber: BKD dan Diklat Propinsi Gorontalo Tahun 2006

1467 1293 907 638 2002 2003 2004 2005

Gambar di atas menunjukkan bahwa jumlah pegawai negeri sipil meningkat selama empat tahun terakhir. Ini diakibatkan oleh adanya kebijakan rekriutmen dan juga proses perpindahan pegawai Kabupate /Kota menjadi pegawai di Provinsi Gorontalo. Daya tarik Pemerintah Provinsi baik bagi pejabat maupun pegawai biasa di Kabupaten Kota sangat tinggi. Faktor ini dipengaruhi oleh, terutama dari aspek kesejahteraan yang lebih menjanjikan dibanding memilih berkarir di Kabupaten Kota, formasi struktur yang belum terisi, tempat kerja di

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

95

6

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

pusat kota. Juga adanya pengalihan status PNS Fungsional (semisal Dosen Perguruan Tinggi) ke Struktural Pemerintah Provinsi dan penempatan PNS pusat dipekerjakan di pemerintah daerah. Perkembangan PNS Pemerintah Provinsi Gorontalo dapat dijadikan indikator kemampuan pemerintah dalam mengelola pegawai. Untuk melihat komposisi PNS berdasarkan Golongan dan pendidikan dapat disampaikan melalui gambar 6.3. di bawah ini.
Gambar 6.3 Perkembangan Pegawai Propinsi Gorontalo Perkembangan Pegawai Gorontalo Menurut Golongan 1000 800
758 869

Perkembangan Pegawai Provinsi Gorontalo Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2002-2005 700 600 500 400
433 305 250 68 96 116 125 758 555 527 617

600 400 200 0
339 211 81 7

502 391 342 244 179 151 10 14 193 14

300 200 100 0
278

158 167

52 58

2002

2003
Golongan I Golongan III

2004

2005

2002
£ SLTA

2003
Diploma

2004
S-1

2005
³ S-1

Golongan II Golongan IV

Sumber: BKD dan Diklat Propinsi Gorontalo Tahun 2006

Kenaikan jumlah berdasarkan Golongan selama empat tahun terakhir menunjukkan bahwa penjenjangan karir Golongan dan kepangkatan PNS di Provinsi Gorontalo berjalan dengan baik. Sementara Penurunan persentase pada jenjang pendidikan SLTA, yang diikuti dengan kenaikan persentase jenjang pendidikan Diploma dan Sarjana, menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan kompetensi pegawai. Hal ini terwujud karena ; adanya kebijakan pemberian izin belajar yang diberikan Pemerintah Provinsi Gorontalo kepada pegawai, memotivasi pegawai untuk meningkatkan pendidikan secara formal dengan harapan dapat mencapai karir yang lebih baik dalam struktur organisasi kepegawaian. Pegawai Honorer Daerah ( Tenaga Kontrak ) Rekruitmen tenaga honorer daerah untuk pengisian formasinya, belum diumumkan secara terbuka dan transparan kepada masyarakat dan cenderung menggunakan spoil system. Kecuali, untuk rekruitmen tenaga Guru Kontrak yang di umumkan melalui media massa. Data tahun 2005 menurut data Badan Kepegawaian dan Diklat Provinsi Gorontalo, bahwa jumlah pegawai honorer daerah yang terdaftar adalah 1417 orang.

96

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

6

Potret Kabupaten Kota Dibandingkan dengan Kabupaten lainnya, Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo adalah pemberi sumbangan terbesar terhadap keberadaan jumlah pegawai yang ada di Provinsi Gorontalo pada awal Pemerintahan Provinsi.
Gambar 6.4 Perkembangan Jumlah Pegawai dan Rasio Pegawai Kabupaten/Kota Perkembangan Jumlah Pegawai Kabupaten/Kota Tahun 2002-2005
18000 16000 14000 12000 1000 8000 6000 4000 2000 0 2002 Kota Gorontalo Kab Boalemo 2003 2004 2005 Kab. Bone Bolango Kota Gorontalo Kab. Gorontalo Kab Boalemo Kab. Pohuwato Kab. Bone Bolango
4.135 4.239 4.079 6.214 4.221 8.446 1.207 1.144 1.426 6.386 1.429 1.603 2.280 6.623

Rasio Pegawai dengan Jumlah Penduduk Kabupaten Kota Tahun 2005
74,44 37,05

62,85

66,62

54,08

Kab. Gorontalo Kab. Pohuwato

Sumber: Badan/Bagian Kepegawaian Kabupaten/Kota Tahun 2006 ( Tim PEA )

Rasio PNS dengan jumlah penduduk kabupaten kota yang berada di bawah rasio PNS Pemerintah Provinsi dengan jumlah penduduk, dipengaruhi juga oleh jumlah pegawai berdasarkan kelompok jabatan yang tidak berimbang. PNS kabupaten kota lebih banyak di dominasi oleh kelompok jabatan Fungsional (Guru dan Tenaga Kesehatan) dibanding dengan kelompok jabatan struktural seperti tenaga struktural seperti yang nampak dalam gambar berikut ini.
Gambar 6.5 Jumlah Pegawai Di Propinsi Gorontalo Menurut Jabatan Tahun 2005 Jumlah Pegawai di Provinsi Gorontalo Menurut Jabatan Tahun 2005 7000
6132 Jumlah pegawai menurut jabatan secara konsisten kabupaten/Kota lebih besar pegawai fungsional dibandingkan dengan struktural. Hal ini disebabkan oleh urusan pelayanan publik sebagian besar berada di tingkat kabupaten kota.

6000 5000 4000 3000 2000 1000 0
Kota Gorontalo Kab. Gorontalo Kab. Bone Bolango Struktural Kab Boalemo Fungsional 645 484 352 486 2825 2281 1603

882 197 Kab. Pohuwato

513 10 Provinsi Gorontalo

Sumber : Gorontalo Dalam Angka Tahun 2005/2006

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

97

6

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Tunjangan Kinerja Daerah Latar belakang kebijakan Pemberian Tunjangan Kinerja Daerah adalah untuk mensiasati pos honor honor kegiatan dalam APBD. Bentuk honor-honor kegiatan seperti ini kurang adil dan kurang berdampak positif pada kinerja, sebab setiap ada kegiatan yang dilaksanakan oleh unit-unit kerja, biasanya honor-honor tersebut hanya dinikmati oleh pejabat pejabat tertentu, sementara beban kerja justru lebih besar tertumpu pada aparat pelaksana pada jenjang yang ada dibawahnya. Setelah melalui kajian dan mempelajari kondisi keuangan daerah sejak tahun 2002, akhirnya honor honor tersebut dikonversi menjadi Tunjangan Kinerja Daerah (TKD). Kebijakan Tunjangan Kinerja Daerah merupakan konsep inovatif dalam bentuk performance pay untuk mendukung pelaksanaan New Public Management (NPM). Pada tahun 2004 kebijakan TKD ini mulai diterapkan dengan prinsip trial and error, baru pada tahun 2005 Peraturan Gubernur Nomor 45 tahun 2005 menjadi payung hukum bagi pelaksanaannya. Peraturan Gubernur ini dasar pelaksanaan dijiwai oleh Peraturan Pemerintah Nomor 105 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, yang didalamnya menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah dapat memberikan tambahan penghasilan berdasarkan pertimbangan objektif sesuai dengan kemampuan keuangan daerah dengan Persetujuan DPRD. Hal yang diatur dalam Peraturan Gubernur Nomor 45 Tahun 2005 adalah: Komponen Penilaian Kinerja Daerah, Mekanisme dan Sistem Pembayaran TKD, Pencapaian Prestasi Tinggi, Ketentuan Tarif Tunjangan Kinerja Daerah. Kajian tentang ketentuan yang diatur dalam Pergub. 45 tahun 2005 dapat disajikan sebagaimana berikut ini : 1. Komponen Penilaian Kinerja Daerah Jika Pada tahun 2004 dasar penilaian hanya dilakukan pada persoalan disiplin pegawai saja, maka sejak diberlakukannya Peraturan Gubernur Nomor 45 Tahun 2005 tidak hanya disiplin tetapi juga Komponen penilaian kinerja seperti ; Pemahaman atas Tupoksi, Inovasi, Kecepatan Kerja, Keakuratan Kerja dan Kerjasama. a. Elemen Disiplin Disiplin yang diterapkan dalam komponen penilaian kinerja langsung membawa pengaruh positif terhadap absensi pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Kehadiran Pegawai tepat waktu meningkat secara signifikan, dari 65% rata rata sebelumnya menjadi 93% setelah adanya kebijakan TKD. (Sumber : BKD & Diklat Provinsi Gorontalo Tahun 2006) b. Elemen Pemahaman Tupoksi, Inovasi, Kecepatan kerja, Keakuratan Kerja dan Kerjasama Semua elemen tersebut di atas sangatlah sulit untuk ditentukan kuantifikasinya dalam bentuk angka ataupun persentase, nilai relatifitasnya cukup tinggi. Seharusnya Penentuan kriteria penilaian dan pembobotan kinerja akan sangat berbeda untuk masing masing satuan kerja. Hal itu bisa dilihat pada analisa jabatan (job analysis) dan analisa beban kerja (work load analysis) untuk setiap satuan kerja. Akan lebih bijaksana jika perhitungan penilaian kinerja berdasarkan pada satuan kerja masing masing.

98

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

6

2. Mekanisme Penilaian Kinerja dan Sistem Pembayaran Tunjangan Kinerja Daerah Secara berjenjang proses penilaian dilakukan oleh atasan langsung untuk masing masing satuan kerja pemerintah daerah ( SKPD ). Selanjutnya daftar penilaian kinerja diserahkan ke sekretariat daerah dan diteruskan ke Badan Keuangan untuk diverifikasi lebih lanjut. 3. Pencapaian Prestasi Tinggi Selain pemberian Tunjangan Kinerja Daerah terdapat pula pemberian bonus atau reward atas prestasi kerja yang tinggi sebesar Rp. 2.500.000,00 ( dua juta lima ratus ribu Rupiah ) yang ditambahkan pada TKD bulan bersangkutan. Proses penilaian prestasi kerja tertinggi ditetapkan oleh Baperjakat pada setiap masa kinerja. Penilaian ini tidak hanya berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil saja, tetapi berlaku juga bagi Tenaga Honorer (Kontrak). 4. Ketentuan Tarif Tunjangan Kinerja Daerah Dengan Peraturan Gubernur Nomor 45 Tahun 2005 ini, maka konsekuensi logis yang harus diterima adalah adanya jaminan terhadap sustainable kebijakan pemberian Tunjangan Kinerja Daerah oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo. Sebagai ilustrasi, dapat dilihat beban anggaran yang harus dikeluarkan Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk pos pembiayaan TKD setiap tahunnya seperti terlihat pada Tabel 6.1.
Tabel 6.1 Alokasi Anggaran Tunjangan Kinerja Daerah Alokasi Anggaran Tunjangan Kinerja Daerah Pemda Propinsi Gorontalo Tahun 2005
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Jabatan Jabatan Gubernur Wakil Gubernur Eselon I B Eselon II A Eselon II B Eselon III A Eselon IV A Staf Tenaga Kontrak 1 1 1 25 12 133 342 954 1417 Jumlah TDK/Jabatan Rp. 10.000.000,00 Rp. 9.000.000,00 Rp. 8.000.000,00 Rp. 6.500.000,00 Rp. 4.000.000,00 Rp. 2.500.000,00 Rp. 1.250.000,00 Rp. Rp. 750.000,00 500.000,00 Rp. Rp. Rp. TKD / Tahun 120.000.000,00 108.000.000,00 96.000.000,00

Rp. 1.950.000.000,00 Rp. 576.000.000,00 Rp. 3.990.000.000,00 Rp. 5.130.000.000,00 Rp. 5.130.000.000,00 Rp. 8.502.000.000,00 Rp. 29.058.000.000,00

Total TKD Sebelum Potongan Penilaian Kinerja dan PPh Pasal 21 Sumber : Tim PEA Gorontalo Tahun 2006

Jika pada Penilaian Kinerja mencantumkan Komponen/Elemen dan indikator variabel sebagai dasar untuk menentukan nilai Kinerja yang dijadikan standar pembayaran TKD, maka dalam Penentuan Tarif TKD tidak terdapat dasar penetapan angka untuk pembayaran nominal Rupiah menurut jabatan.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

99

6

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Tanggapan Pegawai Pemerintah Daerah Propinsi Gorontalo terhadap Penilaian Kinerja: 1. Menurut anda komponen mana dari penilaian kinerja yang mudah anda pahami untuk dilaksanakan? 9 dari 10 responden menyatakan komponen disiplin yang mudah dipahami. 2. Menurut anda komponen mana dari penilaian kinerja yang sulit untuk anda pahami dan laksanakan? 7 dari 10 responden menyatakan komponen Inovasi yang sulit untuk dipahami. 3. Menurut anda apakah mekanisme penilaian kinerja yang diterapkan sudah dijalankan secara optimal ? 6 dari 10 responden menjawab : Belum Optimal. 4. Menurut anda apakah standar penilaian kinerja yang ada sudah memenuhi unsur keadilan? 7 dari 10 respoden menjawab: Belum Memenuhi Keterangan : Responden diambil dari staf pegawai dan tenaga honor daerah karena memiliki populasi terbanyak dan secara langsung bersentuhan dengan operasional pekerjaan.

Sumber Dana Tunjangan Kinerja Daerah Sumber dana untuk Tunjangan Kinerja Daerah diperoleh dari Dana Alokasi Umum. Dengan alokasi Tunjangan Kinerja Daerah untuk tahun 2005 adalah Rp.25.835.017.101 dengan persentase realisasi anggaran TKD terhadap Total Belanja Pegawai Provinsi Gorontalo pada tahun yang sama adalah sebesar 39,21%. Berdasarkan pada perkembangan jumlah pegawai menurut jabatannya, maka dapat diproyeksikan jumlah anggaran Tunjangan Kinerja Daerah untuk tahun tahun kedepan, sebagaimana tergambar pada hasil analisis trend linier di Gambar 6.6.
Gambar 6.6 Trend Linier Total Anggaran Tunjangan Kinerja Daerah Tahun 2006-2008 Grafik Trend Linear Total Anggaran Tunjangan Kinerja Daerah Pemda Provinsi Gorontalo Tahun 2006-2008
37 36 35 34 33 32 31 30 29 Tahun 2006 31.340.700.000
Sumber : Tim PEA Gorontalo Tahun 2006

36 34

Billions

31

Tahun 2007 33.528.600.000

Tahun 2008 35.716.500.000

100

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

6

Berdasarkan trend analysis di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata setiap tahunnya anggaran untuk Tunjangan Kinerja Daerah akan mengalami penambahan sebesar ±Rp 2 milyar per tahun. Implikasi Tunjangan Kinerja Daerah Untuk melihat dan mengukur pengaruh kebijakan TKD terhadap anggaran belanja pegawai pemerintah Provinsi Gorontalo dapat dijelaskan pada Gambar 6.7.
Gambar 6.7 Belanja Pegawai Pemerintah Propinsi Gorontalo Selang Tahun 2002 s.d. 2005 Grafik Belanja Pegawai Provinsi Gorontalo pada Selang Tahun 2002-2005
80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00 2002 2003 2004 Belanja Pegawai
Sumber : Badan Keuangan Propinsi Gorontalo dan Bank Dunia

2005

Pada tahun 2003 persentase belanja pegawai naik sebesar 89,43% dari tahun 2002, tahun 2004 persentase belanja pegawai naik 69,54% dari tahun 2003, sedangkan pada tahun 2005 turun sebesar 10,39% dari tahun 2004. Ini mengambarkan bahwa upaya Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam mengkonversi honor-honor kepanitiaan dan lain-lain (honor yang masuk dalam pos belanja pegawai non gaji) ke dalam bentuk Tunjangan Kinerja Daerah menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa kebijakan Alokasi Anggaran Tunjangan Kinerja Daerah Pemerintah Provinsi Gorontalo dapat mengefisienkan anggaran untuk belanja pegawainya. Selanjutnya ukuran kinerja Pemerintah Provinsi Gorontalo dapat dinilai dari capaian kemandirian keuangan daerah secara umum pada Gambar di bawah ini.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

101

6

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

Gambar 6.8 Rasio Kemandirian Keuangan Pemerintah Propinsi Gorontalo Selang Tahun 2002 s.d. 2005 Perkembangan Rasio Kemandirian Keuangan Pemda Provinsi Gorontalo Selang Tahun 2002-205
17,07% 15,97%

17,50% 17,00% 16,50% 16,00% 15,50% 15,00% 14,50% 14,00% 13,50%

15,77% 14,77%

2002

2003

2004

2005

Rasio Kemandirian (PAD: Total Revenue)

Sumber: Tim PEA Gorontalo Tahun 2006 Keterangan : Perhitungan Rasio Kemandirian Keuangan di atas dihitung berdasarkan Perbandingan Persentase antara PAD dengan Total Revenue.( Halim 2004)

Pada tahun 2002 Rasio kemandirian keuangan daerah sebesar 15,97%, tahun 2003 turun menjadi 15,77%, tahun 2004 turun hingga 14,77% (capaian terendah) serta tahun 2005 naik mencapai 17,07% ( capaian tertinggi ). Kebijakan Tunjangan Kinerja Daerah memberikan sumbangan positif terhadap kondisi kemandirian keuangan yang dicapai Pemerintah Provinsi Gorontalo dan memberikan gambaran hasil yang baik terhadap Pencapaian Kinerja Aparatur serta tercapainya Efisiensi dan Efektifitas Penganggaran sebagai akibat performance pay dalam bentuk Tunjangan Kinerja Daerah. Sebagai bahan perbandingan, Tabel 6.2 menyajikan perbandingan penerapan TKD di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten/Kota.
Tabel 6.2 Perbandingan Implementasi TKD antar Daerah
Daerah
Propinsi Gorontalo

Latar Belakang
Semangat Enterpreneur government menuju pencapaian efisiensi dan efektifitas kerja pegawai Perbedaan Penghasilan pegawai dari honor kegiatan Proyek dan Kepanitiaan

Sasaran
Pemanfaatan anggaran yang terbatas dikaitkan dengan penghargaan dan persaingan aparat dalam kinerja dan harga Rendahnya Kontribusi dan produktivitas pegawai akibat kondisi pendapatan diluar gaji yang tidak merata Menghilangkan Ketimpangan penghasilan pegawai akibat pameo “ meja basah “ dan “ meja kering “

Indikator Penilaian
- Disiplin ( 30 % ) - Kinerja ( 70 % )

Aspek Legalitas
Peraturan Gubernur

Respon & HasilCapaian
- Peningkatan Disiplin - Efisiensi anggaran belanja pegawai - Peningkatan Kemandirian Keuangan Daerah - Peningkatan dan Pemerataan pendapatan Pegawai - Adanya kepastian dalam penerimaan pendapatan - Efisien penggunaan APBD - Menghilangkan rasa iri pegawai - Peningkatan Disiplin pegawai - Peningkatan dan Pemerataan pendapatan Pegawai - Meminimalisir kecemburuan antar pegawai - Efisiensi anggaran - Peningkatan Motivasi kerja - Diterima baik seluruh oleh pegawai

Kabupaten Solok

Disiplin kerja

Keputusan Bupati

Kota Pekanbaru

Semangat good government meliputi ; peningkatan kapasitas, manajemen Berbasis Kinerja dalam pengelolaan asset, pelayanan masyarakat dan upaya pemberantasan korupsi Upaya menciptakan efisiensi dalam pemerintahan dengan kondisi keterbatasan sumberdaya alam dan manusia

Disiplin kerja

Keputusan Walikota

Kabupaten Jembrana

Program kerja bersama dalam rangka upaya mewujudkan tata pemerintahan yang baik

Disiplin kerja

Keputusan Bupati

102

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

Kajian Pengeluaran Publik Gorontalo 2008

ADMINISTRASI DAN PEMERINTAHAN

6

REKOMENDASI 1. Pemerintah Daerah perlu melakukan kajian tentang komposisi struktur kepegawaian secara ketat, melakukan reposisi dan manajemen personil, baik menyangkut recruitment, placement, development, appraisal serta renumeration. 2. Pemerintah Daerah Perlu menerbitkan Konsep New Public Management yang dibuat dalam bentuk buku pegangan (buku saku) dan dibagikan kepada semua pegawai di lingkungan pemerintah 3. Memfasilitasi pembuatan SPM untuk semua SKPD dengan melibatkan tenaga ahli (expert) yang kompeten. 4. Melaksanakan Workshop tentang Tunjangan Kinerja Daerah dengan melibatkan pakar pengelolaan keuangan, Perguruan Tinggi, dan masyarakat.

Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik di Provinsi Pemekaran

103

Didukung oleh:

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->