Anda di halaman 1dari 15

1

Aspek Reproduksi dan Ekologis Brek (Puntius orphoides) dan Lukas (P. bramoides)
Sebagai Dasar Domestikasi dan Diversifikasi Budidaya Perikanan

PRIYO SUSATYO, SUGIHARTO, W.


LESTARI
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
Korespondens : Telp.: 085869718260; fax: (0281)631700
E-mail address: p_susatyo@yahoo.com

Abstrak

Penelitian tentang upaya penelusuran tentang aspek reproduksi, ekologis beberapa jenis
ikan tangkapan Brek (Puntius orphoides), dan Lukas (P. bramoides) dari sungai Serayu Banyumas
(secara terintegasi dan sistematik) sebagai dasar upaya domestikasi dan diversifikasi budidaya
perikanan intensif. Penelitian dilakukan dengan tujuan: (1) mengaklimasi dan
mempredomestikasikan dua jenis ikan hasil tangkapan dari Sungai Serayu Banyumas (Brek dan
Lukas) pada kolam alami (ex situ); (2) mengetahui profil hormonal estrogen (17ß-estradiol),
progesterone, testoteron, FSH ikan jantan dan betina selama periode pre-domestikasi/satu siklus
reproduksi; (3) mengetahui gambaran histologis perkembangan testis dan ovarium ikan tersebut
selama satu siklus reproduksi; (4) mengetahui beberapa aspek fisiologis dan ekologis (karakteristik
substrat habitat baru, kebiasaan pakan); (5) natural spawning (pemijahan alami di kolam budidaya)
dibantu dengan metode induksi GnRh analogue. Preparasi sediaan histiologis dengan metode
paraffin, pewarnaan Haematoxylin Eosin; analisis hormon dengan metode ELISA menggunakan
mesin Microplate Reader-LB-6200 Labotron. Uji kesukaan pakan dari media/substrat
pemeliharaan (index of electivity dan index of preponderance. Hasil yang diperoleh: Ikan Brek dan
Lukas sudah berhasil adaptif (data indeks kesukaan pakan/Indeks of Preponderance masing-
masing 56,893 dan 62,854. profil hormon sampai akhir periode predomestikasi 8 bulan, berurutan
dari Brek dan Lukas : (17ß-estradiol = 1058,06–854,85 pg./ml; 395,18–854,85pg/ml); progesterone
= 0,29–0,72 ng/ml; 0,20-0,52 ng/ml); (FSH = 10,87-15,68 mlU/ml; 8,26-13,74 mlU/ml);
(testosterone = 4,18-9,92 ng/ml; 3,98-9,34 ng/ml). ada 5 (lima) tahapan perkembangan oogenesis
Brek dan Lukas sama yakni chromatin nucleolar stage (cns); perinucleolar stage (ps); cortical
alveolar stage (cas); vitellogenic stage (vs) dan mature/ripe stage (ms). Tahapan spermatogenesis
Brek, Benter, Lukas sama yakni tahap spermatogonium; spermatosit primer; spermatosit
sekunder; spermatid, spermatozoa. Pada pre-domestikasi 4 bulan hanya induk Lukas yang
mampu memijah; dan pada akhir periode pre-domestikasi 8 bulan, Brek dan Lukas berhasil
memijah. Semua induk stok yang masih berada di kolam alami dan akan terus didomestikasi untuk
menjadi stok induk super suatu saat. Larva pasca penetasan tetap dipelihara untuk penelitian lebih
lanjut.

Kata kunci: pre-domestikasi, ikan Brek (Puntius orphoides), ikan Lukas (P. bramoides); indeks
elektivitas pakan, reproduksi

Pengantar
Daerah Aliran Sungai Serayu meliputi daerah aliran yang sangat luas, meliputi kabupaten
Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap memiliki keanekaragaman jenis
ikan yang hidup di situ dan beberapa diantaranya dari Familia Cyprinidae dengan jumlah spesies
dan jumlah individu yang cukup banyak (Lestari dan Sugiharto, 2008). Terdapat 7 spesies ikan
dari familia Cyprinidae yang berhasi tertangkap dari sepanjang hulu sampai dengan bagian middle
DAS Serayu, yakni Osteochilus hasselti C.V. (Nilem); O. Microcephalus; O. kahajenensis; Puntius
javanicus (Tawes); P. orphoides ( Brek); Rasbora argyrotaenia; R. lateristriata. Sedangkan
menurut Harsini (2005) dan Halamsyah (2000), di sepanjang DAS Serayu area wilayah Banyumas
2

(middle) berhasi tertangkap 9 spesies dari familia Cyprinidae, yakni Puntius javanicus (Tawes); P.
bramoides (Lukas); P. binotatus (Beunteur); Osteochilus hasselti C.V. (Nilem); O. Microcephalus;
O. kahajenensis; Rasbora argyrotaenia; R. lateristriata. Tetapi jenis ikan Brek dan Lukas saat ini
sudah berada pada kondisi kritis (jumlahnya semakin sedikit).
Di daerah Banyumas, beberapa jenis ikan air tawar yang telah lama dibudidayakan dan
memiliki nilai ekonomi cukup penting sampai saat ini adalah Gurami, Nilem, Lele, Tawes, ikan
Mas, Nila, Mujahir (Susatyo dan Sugiharto, 2001; Susatyo dan Soeminto, 2002).
Salah satu upaya untuk menangani domestikasi beberapa jenis ikan tangkapan (Brek dan
Lukas) yang cenderung semakin menurun jumlahnya adalah dengan melakukan kegiatan awal
predomestikasi dengan serangkaian penelitian guna mendapatkan pengetahuan dan teknik untuk
mempersiapkan ikan uji tersebut pada kondisi siap dibudidayakan di kolam budidaya alami (ex-
situ). Dalam rangka pemanfaatan ikan Brek dan Lukas secara berkelanjutan, diperlukan upaya
predomestikasi dengan berpedoman pada data dasar biologi dan ekologinya, seperti aspek biologi
reproduksi ikan uji, baik mengenai aspek anatomi-histologi proses gametogenesis, regulasi
hormonal maupun strategi reproduksinya, fisiologi, perilaku/kebiasaan makan, kemampuan
memijah, dan karakteristik substrat habitatnya di alam. Menurut Kime (2008), analogi
menggunakan informasi dari jenis ikan lain untuk menduga aspek reproduksi ikan uji tersebut
tidak akan dapat memperoleh informasi yang valid, apalagi untuk mengetahui mampu tidaknya
jenis ikan uji tersebut menyelesaikan siklus reproduksinya di alam, tidak sepenuhnya dapat
dilakukan mengingat tingginya plastisitas reproduksi pada masing-masing jenis ikan. Jadi, harus
dilakukan penelitian secara langsung pada ikan Brek dan Lukas untuk memperoleh informasi
semua aspek yang mendukung syarat-syarat berhasilnya kegiatan domestikasi. Diharapkan
melalui penelitian ini (baik pada skala lapangan maupun laboratorium) dapat ditemukan model
domestikasi yang teruji dan aplikatif bagi masyarakat maupun pihak pengguna lainnya.
Kegiatan Penelitian ini dilakukan kegiatan dengan tujuan untuk : (1) mengaklimasi dan
mempredomestikasi ikan Brek dan Lukas, ikan hasil tangkapan dari Sungai Serayu pada kolam
alami yang memenuhi beberapa syarat budidaya; (2) mengetahui profil hormonal periodikal yakni
estrogen (estradiol-17β), progesteron, testosteron, FSH induk ikan jantan dan betina selama
periode predomestikasi/satu siklus reproduksi; (3) mengetahui histologis perkembangan testis dan
ovarium ikan ini selama satu siklus reproduksi yang dievaluasi dengan mengukur IKG dan
mengamati perkembangan oosit serta spermatozoa; (4) mengetahui beberapa aspek ekologis dan
fisiologis (karakteristik substrat habitat baru, kebiasaan pakan); (5) natural spawning (pemijahan
alami di kolam budidaya) atau dibantu dengan metode induksi dengan Ovaprim.

Bahan dan Metode


Penelitian dengan metode survei. Materi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah ikan-Brek dan ikan Lukas jantan - betina dengan bobot tubuh 250-400 gr (Brek) dan 100-
3

200 gr (Lukas), hasil tangkapan dari sepanjang aliran Sungai Serayu. Kegiatan penangkapan ikan
dilakukan di sungai Serayu yang melewati Kabupaten Banyumas saja, meliputi region sungai
Serayu yang alirannya dimulai diantara dukuh Congot, kecamatan Kemangkon Purbalingga
sebagai up stream, Kedung Uter Kecamatan Banyumas sebagai middle stream. Sedangkan region
sungai Serayu barat selatan adalah aliran sungai setelah keluar pintu gerbang Bendung Gerak
Serayu yang merupakan lokasi aliran Serayu terakhir yang berbatasan dengan Kabupaten Cilacap
sebagai down stream.
Ikan-ikan hasil tangkapan (Brek dan Lukas) di predomestikasikan dalam dua buah kolam
pemeliharaan ukuran 10 x 10 m2 yang disekat-sekat menjadi 16 petak, menggunakan batas
rangka bambu berstrimin. Suplai air yang cukup dengan in let dan out let yang lancar. Penelitian
dilaksanakan dari bulan Februari 2008 sampai dengan Desember 2009. Kelompok ikan tahap
predomestikasi 1 bulan (Maret-April 2009), digali informasi hormonal dan gametogenesisnya pada
bulan Mei 2009, predomestikasi 2 bulan (April-Juni 2009), digali informasinya pada bulan Juni
2009; predomestikasi 4 bulan (Februari-Juni 2009), digali informasi pada Akhir Juli 2009;
predomestikasi 8 bulan (Februari-Oktober 2009), digali informasinya pada bulan Oktober 2009;
sejak pemeliharaan awalnya ini di beri pakan berupa pellet pakan buatan dan berselang-seling
dengan daun sente dan daun singkong.
Pengukuran kadar hormon dilakukan menggunakan metode EIA/ELISA, dengan kit’s
catalog EIA-estradiol kit (untuk estradiol), EIA-progesteron kit (untuk progesteron) dan EIA-
testosteron kit (untuk testosteron). Sebelum dilakukan pengukuran kadar hormon, dilakukan
kalibrasi menurut prosedur yang telah ditentukan oleh Petunjuk Kit. Assay dilakukan
menggunakan mesin Microplate Reader-LB-6200 Labotron.
Ovarium dan testis diangkat dari rongga abdomen melalui pembedahan. Organ-organ ini
difiksasi dengan larutan Normal Buffer Formalin (NBF) selama minimal 24 jam pada suhu ruang.
Selanjutnya dibuat sediaan histologis dengan metode parafin dan diwarnai dengan Mayer’s
Haematoxylin-Eosin. Oosit dikelompokkan ke dalam lima tahapan yaitu chromatin nucleolar stage,
perinucleolar stage, cortical alveolar stage, vitellogenic (yolk) stage dan mature / ripe stage.
Ukuran diameter oosit pada setiap tahapan perkembangan dalam masing-masing ovarium diamati
untuk mengidentifikasi jenis tahapan ini. (Çakici dan Üçüncü, 2007). Untuk spermatogenesis
denga tahapan spermatogonium, spermatosit primer, spermatosit sekunder dan spermatozoa
(Brito dan Bazzoli, 2004).
Induksi pemijahan alami dengan menyuntikkan/menginduksikan GnRH analogue pada
induk jantan dan betina yang ditengarai telah matang kelamin, menggunakan Ovaprim 0.5 cc/kg
BB. Selanjutnya analisis fisika dan kimia air dilakukan pada stasiun sampling sungai Serayu dan
kolam percobaan meliputi temperatur, nilai pH, kandungan O2 terlarut dan CO2 bebas.
Tabulasi dan Presentasi Data. Penghitungan gonado-somatik indeks (GSI) atau Indeks
Kematangan Gonad (IKG). IKG dihitung dengan rumus = bobot gonad : (bobot tubuh+bobot
gonad) x 100%. Data berupa kadar masing-masing hormon steroid dan gonadotropin (Tabel 2 dan
4

3), IKG (Tabel 4), juga index of electivty dan index of preponderance (Tabel 6) disajikan dalam
bentuk tabel dan grafik batang. Histologis gonad jantan dan betina dianalisis secara deskriptif.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan pengamatan selama kegiatan penelitian diperoleh hasil sebagai berikut.


Lokasi Penangkapan ikan uji dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Lokasi Pengamatan pada Tiga Stasiun Penangkapan Ikan di Aliran Sungai Serayu
No Nama Desa Altitude Lintang Selatan Bujur Timur
1 Congot (upstream) 384 m dpl 070 20’ 499’’ 1090 20’ 796’’
2 Kedung Uter (middle stream) 285 m dpl 070 30’ 519’’ 1090 17’ 422’’
3 Bendung Gerak (down stream) 254 m dpl 070 31’ 393’’ 1090 12’ 139’’

Tabel 2. Rerata kadar hormon steroid pada ikan Brek pada akhir periode predomestikasi 1; 2; 4
dan 8 bulan
Seks Rerata Kadar hormon (data ± SD)
Hormon
ikan 1 bulan 2 bulan 4 bulan 8 bulan
Betina Est (pg/ml) 1293.59 ± 45.44 1021.63 ± 27.56 1541.08 ± 72.52 1493.27 ± 183.09
Prog (ng/ml) 0.31 ± 0.02 0.51 ± 0.03 0.47 ± 0.19 0.84 ± 0.03
FSH (mIU/ml) 10.75 ± 0.10 13.64 ± 0.62 13.82 ± 1.08 14.09 ± 1.45
Jantan Testos(ng/ml) 5.07 ± 0.61 7.50 ± 0.70 9.10 ± 0.17 8.95 ± 0.87

Tabel 3. Rerata kadar hormon steroid pada ikan Lukas pada akhir periode predomestikasi 1; 2; 4
dan 8 bulan
Seks Rerata Kadar hormon (data ± SD)
Hormon
ikan 1 bulan 2 bulan 4 bulan 8 bulan
Betina Est (pg/ml) 652.77 ± 17.36 489.00 ± 15.29 455.94 ± 37.40 750.22 ± 86.43
Prog (ng/ml) 0.26 ± 0.03 0.42 ± 006 0.47 ± 0.04 0.69 ± 006
FSH (mIU/ml) 8.97 ± 0.76 11.46 ± 1.047 10.72 ± 1.90 11.89 ± 1.72
Jantan Testos(ng/ml) 4.38 ± 0.33 5.88 ± 0.64 6.88 ± 0.06 8.66 ± 075
Keterangan :
Est = estradiol; Prog = progesteron; Testos = testosteron; FSH =Follicle Stimulating Hormon

Gametogenesis Ikan Uji. Testis Lukas maupun Brek memiliki bentuk dan formasi yang
sama, tunggal dan bercabang dua, beraspek jernih transparan. Ovarium Brek dan Lukas seperti
halnya ovarium Cyprinideae yang lain berupa organ berpasangan yang menyatu pada bagian
anteriornya, terletak ke arah anterior organ viscera dengan kisaran warna kuning cerah, kuning tua
dan kuning oranye sesuai kematangan kelamin.
Aktivitas Oogenesis. Berdasarkan pengamatan histologis terhadap gonad betina ikan uji,
baik Brek, maupun Lukas, keduanya menunjukkan gambaran tingkat perkembangan oosit yang
relatif sama. Semua tahapan perkembangan oosit pada kedua jenis ikan uji tersebut pada setiap
akhir masing-masing periode predomestikasi dijumpai, hanya berbeda pada proporsinya. Evaluasi
histologis pada gonad betina menunjukkan adanya lima tahapan perkembangan oosit, yakni
chromatin nucleolar stage (cns), perinucleolar stage (ps), cortical alveolar formation stage (cas),
vitellogenic stage (vs) dan mature / ripe stage (ms) (Gambar 3). Tahapan perkembangan oosit dari
5

dua jenis ikan uji (Brek dan Lukas) meskipun relatif sama, tetapi berbeda pada diameter oosit pada
masing-masing tahapan perkembangannya (Tabel 4).
Indeks Kematangan Gonad. Nilai IKG ketiga jenis ikan betina memperlihatkan
kecenderungan yang meningkat pada akhir masing-masing periode predomestikasi (Gambar 1).

Gambar. 1. Indeks Kematangan Gonad Ikan Brek dan Lukas betina (kiri) dan jantan (kanan) pada
awal dan akhir masing-masing periode predomestikasi

Gambar 2. Proporsi Oosit pada Tahapan Oogenesis Induk Brek (kiri) dan Lukas (kanan)
Keterangan :
P1b = predomestikasi 1 bulan; P2b = predomestikasi 2 bulan; P4b = predomestikasi 4 bulan; P8b =
predomestikasi 8 bulan; (cns = chromatin nuclear stage; ps = perinuclear stage; ca = cortical alveolar
stage ; vs = vitellogenic stage; ms = mature / ripe stage)

Tabel 4. Variasi diameter oosit tahapan perkembangan pada masing-masing jenis ikan uji
Diameter oosit (µm)
No Jenis tahapan oosit
Brek Lukas
1 chromatin nucleolar stage (cns) 129 – 137 202 - 237
2 perinucleolar stage (ps) 146 – 219 285 - 380
3 cortical alveolar stage (cas) 286 – 302 332 - 366
4 vitellogenic stage (vs) 396 – 428 446 - 503
5 mature/ripe stage (ms) 541 – 646 684 - 788

Aktivitas Spermatogenesis. Identifikasi terhadap histologi testis menunjukkan bahwa


struktur mikroskopis testis kedua jenis ikan uji baik Brek maupun Lukas yang semuanya dari
familia Cyprinidae adalah sama, yakni termasuk tipe testis lobuler berlumina. Testis Brek dan
Lukas berjumlah satu pasang, atau mirip tunggal bercabang dua, organ ini memanjang,
menggantung pada dinding dorsal tubuh oleh selaput mesenterium. Testis beraspek transparan,
bening dan pada pengamatan anatomi organ ini diselubungi oleh badan lemak. Testis tersusun
6

sebagai suatu anastomosa/anyaman dari lobulus-lobulus yang bertemu pada saluran sperma
utama yakni ductus spermaticus. Dua zona secara tegas dapat segera terlihat dalam pengamatan
pada potongan melintang testis. Pada region luar didominasi oleh struktur lobulus seminiferus
dengan dinding berisi sel-sel epitel germinalis spermatogenik. Region sebelah dalam tersusun oleh
lumen-lumen lobulus yang terisi oleh spermatozoa.
Tipe sel dari testis dalam urutan pemasakan sesuai dengan pengesahan dari uji screening
untuk substansi aktif endokrin pada ikan, OECD dalam Brito and Bazzoli, 2004) adalah :(1)
Spermatogonium: tipe sel terbesar dan terdiri dari nukleus vesikuler dengan membran nukleus
yang tegas dan nukleoli; (2) Spermatocyte: spermatosit primer lebih besar dari spermatosit
sekunder; (3) Spermatid: tipe sel terkecil dengan inti padat dan lingkaran sempit pada sitoplasma
yang asidofilik; (4) Spermatozoa: sel matang dengan nucleus bulat beraspek gelap dan berflagella.
Sel-sel spermatogenik ini tersebar secara acak di dalam testis dalam kelompok-kelompok tipe sel.
Di dalam lumina lobulus terdapat beberapa kelompok sel yang berada pada tahapan
spermatogenik yang sama. Dijumpai juga sel Sertoli, berada pada dinding lobula bersama sel-sel
germinal lainnya.
Pada periode predomestikasi 1 bulan dan 2 bulan, testis ikan Brek dan Lukas berada pada
tahapan initial ripening, spermatogonia berjumlah sedikit, spermatosit primer dan spermatosit
sekunder dalam jumlah yang relatif banyak, tetapi jumlah tahapan spermatozoa sedikit.
Sedangkan pada akhir periode predomestikasi 4 dan 8 bulan, telah mencapai tahapan mature/ripe
stage, sebagian lumina lobula didominasi oleh spermatozoa dengan jumlah relatif banyak (Gambar
4).

Tahap perkembangan oosit Deskripsi struktur histologis


Chromatin nuclear stage
Oosit merupakan sel berbentuk sferis/bola kecil mengandung sebuah
nukleus terletak di sentral sel. Nukleus mengandung satu sampai empat
nucleoli bersama dengan anyaman khromatin. Sitoplasma merupakan
lapisan tipis, dan bersifat basofilik kuat (suka terhadap pewarnaan yang
sifatnya basa). Sel folikuler sulit untuk diamati ( ) = 30µ

Perinuclear stage
Jumlah nukleoli bertambah dan tersusun sepanjang sisi dalam dari
membran nukleus. Nukleus besar dan dikelilingi oleh peningkatan massa
sitoplasma yang tampak terlihat kurang basofilik. Sel-sel folikuler adalah
monolayer, tersusun atas satu lapis sel pipih membungkus oosit ( )=
30 µ
Cortical alveoli stage
Sitoplasma terisi pemunculan vesikel-vesikel terang (cortical alveoli).
Vesikel mulai terakumulasi pada bagian tepi/perifer oosit. Nukleus tetap
perinukleoler. Membrane nukleus mulai menjadi kusut. Satu bungkus
primer tipis bersifat asidofilik, zona radiata terlihat di bagian tepi nukleus.
Lapisan folikuler terlihat di bagian tepi oosit ( ) = 30 µ

Vitelogenic (yolk) stage


Ukuran oosit meningkat. Granula yolk kecil terlihat sebagai suatu area
7

berbentuk cincin bersifat asidofilik dalam sitoplasma. Nukleus masih


kusut. Zona radiata tampak terang/cerah sebagai satu pita non seluler
yang sangat asidofilik. Lapisan-lapisan folikuler berupa lapisan kolumner
atau kuboid simpleks (yang berkembang dengan baik) dibungkus oleh
lapisan thecal (tersusun atas sel-sel pipih berlapis) ( ) = 30 µ

Mature / ripe stage


Terlihat pembesaran cortical alveoli dan granula yolk. Ukuran oosit
meningkat. Terlihat Migrasi nukleus kearah perifer/tepi oosit. Lapisan
zona radiata terlihat terang/cerah. Sel-sel folikel bentuk kubus atau kubus
rendah dikelilingi/dibungkus oleh lapisan thecal tipis ( ) = 100 µ

Gambar 3. Deskripsi struktur histologis masing-masing tahapan perkembangan oosit Brek dan
Lukas yang dijumpai pada gonad betina, Harris Hematoxylin-Eosin

BREK LUKAS

Gambar 4. Proporsi masing-masing tahapan spermatogenesis pada Ikan Brek dan Lukas pada
masing-masing periode predomestikasi

Proporsi spermatogenesis pada ikan Brek dan Lukas pada periode predomestikasi. Pada
periode predomestikasi 1 bulan dan 2 bulan, testis ikan Brek dan Lukas berada pada tahapan
initial ripening, spermatogonia berjumlah sedikit, spermatosit primer dan spermatosit sekunder
dalam jumlah yang relatif banyak, tetapi jumlah spermatozoa sedikit. Sedangkan pada akhir
periode predomestikasi 4 dan 8 bulan (Gambar 4), telah mencapai tahapan mature/ripe stage,
sebagian lumina lobula didominasi oleh spermatozoa dengan jumlah banyak.
Aktivitas Pemijahan selama periode predomestikasi, telah dilaksanakan tiga kali
penginduksian pemijahan, yakni pada akhir periode predomestikasi 2 bulan, 4 bulan dan 8 bulan
(Tabel 5). Kegiatan ini dilakukan untuk menguji kemampuan melakukan pemijahan induk jantan
dan betina pasca predomestikasi di kondisi kolam alami ex situ. Berdasarkan hasil kegiatan ini
diharapkan dapat diketahui kesiapan induk-induk pasca predomestikasi, sebagai dasar penjajagan
awal budidaya nantinya.
8

Tabel 5. Data Ikan-ikan yang dicoba untuk dipijahkan dengan bantuan induksi Ovaprim pada
akhir periode predomestikasi 1; 2; 4 dan 8 bulan
No Tanggal Keterangan
pemijahan/jenis
ikan
3-06-2009 1 ekor induk betina (400 gram) : 3 ekor induk jantan (rata-rata 250 gram), 6
Akhir jam setelah penginduksian, induk betina mati (IKG sudah cukup tinggi, yakni
1 Predomes Brek 19), hasil pengamatan histologis sediaan gonad betina menunjukkan sudah
tikasi 2 mencapai tahapan vitelogenesis menjelang mature (dilakukan di kolam
bulan percobaan), tidak berhasil mijah
3 ekor betina matang kelamin (± 60 gram) : 5 jantan (± 50 gram), ± 10 jam
7-07-2009 setelah induksi ovaprim berhasil mijah secara parsial, 8 jam setelah mijah
Akhir telur-telur mengalami swelling, sebagian telur-telur lainnya kandungan
2 Predomes Lukas kuning yolk nya keluar dari telur. Semua induk betina mati 1 jam setelah
tikasi 4 spawning. Hasil pengamatan histologis gonad induk betina ini sudah
bulan mencapai tahap vitelogenesis (dilakukan di akuarium ukuran 30 x 60 x 50
cm
2 ekor betina matang kelamin (± 225 gram) : 5 jantan (± 100 gram), 11 jam
setelah induksi ovaprim berhasil mijah, semua induk baik betina maupun
24-10- Brek jantan sehat pasca mijah (dilakukan di bak berukuran 2.5 m x 1 m). Telur-
3 2009 telur hasil mijah didistribusi dan ditebar di bak penetasan dan beberapa
Akhir akuarium, berhasil menetas dan hidup
predomes 4 ekor betina matang kelamin (± 75 gram) : 4 jantan (± 50 gram), 12 jam
tikasi 8 setelah induksi ovaprim berhasil mijah, semua induk baik betina maupun
bulan Lukas jantan sehat pasca mijah (dilakukan di bak berukuran 2.5 m x 1 m). Telur-
telur hasil mijah didistribusi dan ditebar di bak penetasan dan beberapa
akuarium, berhasil menetas dan hidup

Uji Kebiasaan Pakan Ikan. Plankton yang ditemukan di kolam percobaan selama penelitian
terdapat 54 genera (zooplankton 22 genera dan fitoplankton 32 genera). Zooplankton terdiri dari (6
genera) dari Kelas Rotifera; 8 genera dari Kelas Crustaceae; 4 genera dari Kelas Ciliata; 3 genera
dari Kelas Sarcodina. Sedangkan fitoplankton (2 genera) dari Kelas Euglenophyceae; 8 genera
dari Kelas Cyanophyceae; 11 genera dari Kelas Chlorophyceae dan 11 genera dari Kelas
Bacillariophyceae (Tabel 6).

Tabel 6. Nilai index of preponderance (IP) jenis pakan ikan uji pada masing-masing kolam
pemeliharaan
Nilai Index of Preponderance (%)
No Jenis Pakan
Kolam Brek Kolam Lukas
1. Zooplankton 10,632 9,986
2. Fitoplankton 56,893 62,854
3. Undetermined material 0,518 0,048
4. Cacing - 7,622
5. Potongan hewan 0,03 0,002
6. Potongan tumbuhan 28,893 1,528
7. Gastropoda - 15,023
8. Detritus 1,268 1,264

Pengamatan terhadap isi saluran pencernaan ikan Brek dan Lukas didapatkan 51 genera
(zooplankton 9 genera dan fitoplankton 42 genera). Zooplankton terdiri dari 2 genera dari Kelas
Rotifera; 3 genera dari Kelas Ciliata; 2 genera dari Kelas Sarcodina. Sedangkan fitoplankton 2
genera dari Kelas Euglenophyceae; 10 genera dari Kelas Cyanophyceae; 17 genera dari Kelas
Chlorophyceae dan 13 genera dari Kelas Bacillariophyceae.
9

Penelitian penelusuran profil hormonal, aktivitas gametogenesis dan spek ekologis


ikanBrek dan Lukas yang tertangkap di Sungai Serayu ini bertujuan untuk menggali informasi awal
profil hormonal dan tingkat perkembangan reproduksi ikan-ikan tangkapan yang
dipredomestikasikan di kolam-kolam budidaya, sebelum ikan-ikan ini siap untuk dibudidayakan.
Upaya predomestikasi ikan dari lingkungan in situ (sungai, perairan laut dan lain-lain) ke
lingkungan ex situ barunya (misal kolam budidaya) akan selalu diikuti serangkaian proses adaptasi
terhadap kondisi baru ini, termasuk pengaruh paparan fotoperioda di lingkungan barunya. Upaya
ini dilakukan oleh Kujawa et al (1999) pada ikan-ikan liar dalam status hampir punah di Polandia,
yang didomestikasi melalui perlakuan model kolam pembenihan untuk induk matang gonad
dengan pemijahan buatan.
Di alam bebas, pada perairan seperti sungai, danau, laut, aktivitas fisiologi reproduksi ikan-
ikan yang hidup di dalamnya sangat dipengaruhi oleh fotoperiodisitas setempat (Zanuy et al.
1995). Zanuy mengamati pengaruh fotoperiode hari-hari terang yang panjang yang dan hari-hari
gelap terhadap profil hormonal plasma 17β-estradiol (E2) dan proses vitelogenesis ovarium,
fekunditas, waktu pemijahan dan kualitas telur ikan sea bass. Fekunditas relatif dari kelompok ikan
terpapar hari terang yang pendek sama dengan kelompok kontrol 257.000 butir telur dengan
230.000 butir telur/ kg induk betina siap mijah. Tetapi pada kelompok ikan terpapar hari terang
panjang fekunditas relatifnya menurun sampai dengan separoh dari nilai fekunditas kelompok
kontrol (124.000 butir telur).
Profil hormonal ikan-ikan teleostei, baik dari perairan laut maupun tawar (non budidaya)
beberapa telah dilaporkan oleh Frantzena et al (2004), Skjæraasen et al (2004); Shimizu (2003);
Zanui et al (1995). Semua author ini melaporkan penelitiannya mengenai hubungan pengaruh
fotoperiode terhadap profil hormonal dan perkembangan reproduksi ikan uji. Tetapi level beberapa
hormon ikan uji ini didapatkan dari kelompok ikan-ikan yang tertangkap di perairan alami dari
berbagai periode musim, untuk ikan-ikan dari daerah tropis kurang informasinya.
Data fluktuasi profil keempat jenis hormone pada ikan Brek dan Lukas jantan dan betina
tersaji Tabel 2 dan Tabel 3, sedangkan nilai Indeks Kematangan Gonad pada Gambar 1.
Gambaran aktivitas gametogenesis baik oogenesis maupun spermatogenesis menunjukkan
bahwa terjadi peningkatan parameter-parameter ini sampai akhir periode predomestikasi 8 bulan.
Meskipun tidak diikuti dengan keberhasilan induksi pemijahan di akhir periode predomestikasi 1; 2;
dan 4 bulan, karena hanya induk-induk Lukas yang berhasil mijah pada akhir periode
predomestikasi 2 bulan, tetapi pada akhir periode predomestikasi 8 bulan, induk-induk Brek dan
Lukas keduanya berhasil mijah (Tabel 5).
Reproduksi pada ikan dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yang mengontrol kelenjar
endokrin terutama yang berperan dalam pembentukan hormon reproduksi yang diperlukan untuk
perkembangan gonad, gametogenesis dan siklus reproduksi (Fujaya, 2002). Shimizu (2003)
menjelaskan bahwa proses reproduksi, penyiapan pemasakan kelamin ikan sampai dengan
periode pemijahan dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan, fotoperioda dan temperatur.
10

Selanjutnya dijelaskan bahwa pada musim kering (summer) dengan hari terang yang pendek
(≤13L), proses kemunduran gonad yang kuat memulai berhentinya periode pemijahan. Tetapi
kedua peneliti Fujaya dan shimizu, hanya meneliti ikan-ikan pada daerah sub tropis yang tentunya
sangat berbeda dengan fotoperiode daerah tropois.
Proses predomestikasi ikan uji pada penelitian ini dimulai pada bulan Februari 2009.
Sampai akhir Bulan Februari 2009 hujan terakhir masih turun di lokasi penelitian, desa Kutosari
Kecamatan Baturaden, Banyumas, meskipun frekuensi tidak setiap hari. Mulai Maret 2009 sampai
dengan Agustus 2009 di daerah Banyumas sudah mulai memasuki musim kemarau. Meskipun
demikian input air kolam percobaan tidak pernah kekurangan, mengingat lokasi kolam sangat
dekat dengan sumber mata air yang berasal dari Baturaden. Seperti ikan-ikan tropis lainnya,
tentunya ikan sungai Brek dan Lukas secara alami terkondisi pada kisaran alami fotoperiode
12L:12D hingga 14L:10D bahkan sampai 16L:8D.
Profil hormon 17β- estradiol dari kedua kelompok ikan uji pada akhir predomestikasi 2
(P2b) dan 4 bulan (P4b) menurun dibandingkan kadar awalnya pada predomestikasi 1 bulan
(Tabel 2 dan Tabel 3). Profil hormon progesterone, FSH dan Testosteron justru relatif meningkat
dari periode predomestikasi 1 bulan sampai akhir periode predomestikasi 8 bulan (P8b). Periode
predomestikasi 2 bulan (P2b) dimulai pada bulan Maret - Mei, predomestikasi 4 bulan (P4b)
dimulai bulan Februari – Juni, sedangkan predomestikasi 8 bulan dimulai pada bulan februari –
Oktober. Periode P2b dan P4b berada pada musim kemarau, dimana hari terang yang panjang
bisa maksimal (≥ 14L).
Terjadi penurunan kadar 17β-estradiol dari periode P1b, P2b, tetapi pada P4b dan P8b
kadarnya justru terus meningkat bersamaan dengan peningkatan kadar hormon progesteron mulai
dari periode P2b, P4b sampai dengan akhir periode P8b . Keadaan ini merupakan suatu hal yang
menarik karena proporsi oosit tahap vitelogenic stage (vs) pada akhir periode P4b dan P8b justru
terus meningkat (Gambar 2). Menurut Biswas et al (2005) hormon 17β-estradiol yang diproduksi
pada ovarium sebagian akan menuju ke hati untuk memacu sintesis vitelogenin. Vitelogenin yang
diproduksi oleh hati akan dibawa ke gonad melalui aliran darah dan diinternalisasi ke dalam
sitoplasma oosit pada proses vitelogenesis (Fujaya, 2002). Proses vitelogenesis akan
mengakibatkan bertambah besarnya volume oosit sebagai suatu proses perubahanan tahapan
perkembangan oosit ke tahapan vitelogenesis pre mature (Arukwe dan Goksoyr, 2003; Çakici dan
Üçüncü, 2007). Dalam hal ini pola regulasi hormonal kedua jenis ikan Brek dan Lukas belum dapat
dijelaskan, karena dalam penelitian ini tidak dilakukan pengukuran kadar vitelogenin selama
periode predomestikasi. Oleh karena itu, penelitian ini belum dapat menjelaskan apakah profil
vitellogenin (fluktuasinya) mengikuti fluktuasi 17β- estradiol dan progesteron.
Kadar hormon testosteron dan FSH pada kedua jenis ikan uji Brek dan Lukas meningkat
dari periode P1b, P2b, P4b sampai dengan P8b. Pada umumnya, kelompok ikan dari Familia
Cyprinidae dapat melakukan pemijahan sepanjang tahun seperti juga Nilem (Osteochilus hasselti)
11

dan Tawes (Puntius javanicus). Fasilitasi testosteron dan FSH pada ikan jantan dan betina adalah
memicu gametogenesis ke arah pematangan gonad.
Terdapat keterlambatan proses oogenesis kedua jenis ikan uji pada penelitian ini untuk
mencapai tahapan mature pada induk-induk betina. Dilihat dari Gambar 2, proprosi oosit yang
mendekati 40% – 50% baru dapat dicapai induk-induk betina pada akhir periode predomestikasi 8
bulan (P8b). Seperti diketahui, ikan-ikan tropis dari kelompok Cyprinideae seperti halnya Nilem,
Tawes yang juga satu familia dengan Brek dan Lukas (materi penelitian ini) dapat melakukan
pemijahan kembali lebih kurang setelah 2 sampai dengan 3 bulan dari pemijahan sebelumnya. Hal
inilah yang menjadikan pertanyaan, mengapa pada ikan-ikan predomestikasi pada penelitian
(khususnya Brek dan Lukas yang kemungkinan telah berhasil memijah di sungai, kemungkinan),
tidaklah demikian dan perlu waktu cukup panjang (8-9 bulan) setelah di predomestikasikan di
kolam budidaya dari tempat aslinya di sungai Serayu. Kemungkinan yang bisa untuk menjelaskan
adalah terjadinya stress pada ikan-ikan predomestikasi. Pada dua bulan pertama aklimatisasi
predomestikasi di kolam, ikan-ikan uji belum mau mengkonsumsi pakan (pellet, daun sente,
maupun daun ubi kayu) yang diberikan. Proses adaptasi pakan terjadi setelah memasuki akhir
bulan kedua yakni mau mengkonsumsi pellet, pada akhir bulan ketiga, baru mulai mengkonsumsi
pakan tambahan. Lebih lanjut diketahui bahwa ikan yang mengalami stress akan meningkatkan
sekresi hormon glukokortikoid dari kelenjar adrenal, sekresi glukokortikoid akan menghambat
sekresi gonadotropin dari kelenjar pituitari (Matsuwaki et al., 2006). Dengan demikian hal yang
mungkin terjadi pada penelitian ini terjadi karena aklimatisasi ikan dengan lingkungan barunya.
Banyak spesies ikan dalam program konservasi ke arah domestikasi mengalami disfungsi
reproduktif (Kouril et al., 2008). Kasus yang terjadi pada kelompok familia Cyprinidae yakni
difungsi reproduksi ini ditandai dengan ketidak mampuannya untuk mencapai final oocyte
maturation (Yaron,1995; Mananos et al., 2009). Setelah sukses menyelesaikan tahap
vitellogenesis, ikan ternyata tidak mampu melanjutkan tahap gamatogenesis dan ovulasi
berikutnya. Hal seperti inilah yang kemungkinan terjadi pada ikan Brek dan Lukas pada penelitian
ini. Peningkatan kadar hormon progesteron, FSH dan testosteron pada periode predomestikasi
sampai dengan 4 bulan (P4b) belum mampu untuk mendukung pencapaian pada tahapan
kematangan oosit dari induk-induk ini.
Oleh karena kondisi lingkungan artifisial seperti halnya kolam konservasi ikan inilah
beberapa jenis ikan familia Cyprinidae menunjukkan disfungsi endokrin reproduksi (Kroupova et
al., 2005; Sudova et al., 2007), yakni kebanyakan pada tingkat final oocyte maturation (Yaron,
1995). Hal ini disebabkan oleh sekresi hormon LH yang tidak cukup dari kelenjar hipofisa
(Mananos et al., 2009), yang dibutuhkan bagi aktivasi steroidogenesis dan FOM (Kouril dan
Kodorek, 2007).
Dilihat dari pengamatan histologis terhadap ovarium/gonad betina dan testisnya, maka ikan
Brek dan Lukas sebagaimana kelompok Cyprinidae lainnya yang sejenis dikelompokkan ke dalam
kelompok multiple spawners (multiple-batch group- asynchronous spawner) (Mananos et al.,
12

2009), dengan karakteristik dijumpainya berbagai atau semua tahapan perkembangan oogenik
pada gonad betina dan spermatogenik pada testis. Hasil penghitungan IKG pada induk betina
Brek dan Lukas yang dapat mencapai nilai 16% - 19% pada periode final oocyte maturation
menjelang mijah. Pada pengamatan di kolam, 2 ekor induk betina Brek yang telah mencapai nilai
IKG tinggi ± 19% sampai dengan akhir predomestikasi 8 bulan belum dapat memijah, itupun mati
beberapa setelah sebelumnya diberikan perlakuan induksi Ovaprim beberapa jam pasca induksi.
Induk betina yang mati ini, pada hasil pengamatan histologis gonad keduanya telah mencapai
tahap mature oocye stage dengan proporsi 83.7 %. Kemungkinan yang terjadi adalah over ripe
pada telur-telurnya, sementara itu pemicuan perangsangan dari lingkungan untuk memijah belum
atau tidak segera tercapai. Tetapi, untuk induk betina lainnya (seperti induk yang telah berhasil
memijah pasca induksi Ovaprim pada akhir predomestikasi 8 bulan) pada 25 Oktober 2009 (Tabel
5), pada salah satu induk yang dikorbankan (tidak ikut dipijahkan) untuk keperluan pengamatan,
memiliki nilai IKG 16% dengan gambaran histologi gonad telah mencapai tahap matang/mature
oocyte juga, tetapi dengan proporsi yang lebih rendah 60,6%.
Menurut beberapa peneliti yang menangani konservasi ikan-ikan dari kelompok Cyprinidae
(Alok et al., 1997; Kouryl et al., 2008) penginduksian induk-induk betina menggunakan Canadian
preparation Ovaprim yang mengandung GnRH + domperidone 0,5 cc/kg bobot badan, seperti
yang kami lakukan pada penelitian ini sangat membantu mengatasi terjadinya disfungsi reproduksi
pada ketidakmampuan induk mencapai tahap akhir (final oocyte maturation) yang selanjutnya bisa
berhasil menyelesaikan tahap memijahnya.
Pada uji kebiasaan pakan ikan Brek dan Lukas yang telah dilakukan (Tabel 6), dapatlah
dijelaskan bahwa terdapat sedikit perbedaan antara kolam pemeliharaan Brek dan Lukas. Pada
kolam Brek potongan tumbuhan dan fitoplankton adalah sebagai pakan utama, zooplankton
sebagai pakan pelengkap, potongan hewan dan detritus merupakan pakan tambahan. Pada kolam
Lukas fitoplankton adalah pakan utama, zooplankton, cacing dan gastropoda sebagai pakan
pelengkap, potongan hewan, detritus dan potongan tumbuhan sebagai pakan tambahan.
Bagaimanapun juga, hasil pengujian ini dapat digunakan untuk mengkonfirmasi apakah ikan-ikan
uji telah sepenuhnya memanfaatkan jenis-jenis pakan alami dalam kolam, sebagai syarat
keberhasilan kemampuan adaptifnya dengan kondisi barunya ex situ.
Kami masih memiliki beberapa stok pasangan induk Brek dan Lukas yang telah melewati
masa predomestikasi hampir 9 bulan. Pada kesempatan lainnya benih larva pasca pemijahan
induk Brek dan Lukas yang masih hidup tetap kami pelihara sampai saat ini mudah-mudahan
dapat dilanjutkan dengan penelitian berikutnya sampai usia matang kelamin pertama, sedangkan
induk-induk Brek dan Lukas di kolam bisa menjadi induk super ”predomesticated”.
Kesimpulan
1. Proses aklimatisasi dengan pola predomestikasi mencapai tahap berhasil, dilihat dari nilai
Index of preponderance (kesukaan pakan alami) pada kolam percobaan mencapai kisaran
13

37%-63% (fitoplankton); 20%-39% (potongan tumbuhan), 8,75%-10,79% (zooplankton); 0,2%-


14,9% (detritus, gastropoda, cacing dan potongan hewan);
2. Kadar Hormon ikan Brek dan Lukas : 17β- estradiol turun dari periode P1b – P4b dan
meningkat pada akhir periode P8b; progesteron, FSH dan testosteron terus meningkat mulai
periode P1b – akhir periode P8b;
3. Histologi oogenesis, ovarium terdiri atas 5 kelompok tahapan perkembangan oosit :
chromatin nucleolar stage (cns); perinucleolar stage (ps); cortical alveolar stage (cas);
vitellogenic stage (vs) dan mature / ripe stage (ms), sedangkan histologi spermatogenik testis
terdiri dari 5 kelompok tahapan : spermatogonium, spermatosit primer; spermatosit sekunder;
spermatid dan spermatozoa;
4. Pada akhir periode predomestikasi 8 bulan 2 ekor induk Brek : 5 induk jantan berhasil
memijah; 5 pasang induk Lukas berhasil memijah pasca induksi sGnRH + domperidone 0,5
cc/kg bobot badan (Ovaprim), ± 10-12 jam pasca induksi.

Ucapan Terima Kasih


Terima kasih kami sampaikan kepada Dewan Riset Nasional dan Kementerian
Riset dan Teknologi RI, yang telah memberikan dana Penelitian Ristek Insentif Dasar
Tahun 2008-2009 sehingga kami dapat menyelesaikan kegiatan penelitian dan
pelaporannya tepat waktu.

Daftar Pustaka
Abasal, F.J. & Megina, C. 2004. Testicular development in migrant and spawning bluefin tuna
(Thunnus thynnus (L.) from the eastern Atlantic and Mediterranean. J. Fish Bull. Vol.102,
pp: 407-417.
Alimuddin & Wiyono, E.S. 2005. Domestikasi atau restocking? INOVASI Vol. 5/XVII/November
2005. http://www.io.ppi-jepang.org. Diakses 10 April 2008.
Alok D., Pillai, D. & Garg, L.C. (1997): Effect of d-Lys6 salmon sGnRH alone and in combination
with domperidone on the spawning of common carp during the late spawning season.
J.Aquaculture International, Vol 5, pp: 369–374.
APHA, 1985. Standard Methods for The Examination of Water and Waste Water, Public Health
Association Inc, New York.
Arukwe, A. & Goksoyr, A. 2003. Eggshell and Egg Yolk Proteins in Fish : Hepatic Proteins for the
Next Generation : Oogenetic, Population, and Evolutionary Implications of Endocrine
Disruption. Comparative Hepatology 2:1-21. URL : http://www.comparative-
hepatology.com. 16 Maret 2009
Biswas .A.K, Morita, T., Yoshizaki, G., Maita, M. & Takeuchi, T. 2005. Control of reproduction in
Nile tilapia Oreochromis niloticus (L.) by photoperiod manipulation. J. Aquaculture, Vol
(243), pp : 229– 239.
Brito,M.F.G & Bazzoli, N. 2003. Reproduction of the surubim catfish (Pisces, Pimelodidae) in the
São Francisco River, Pirapora Region, Minas Gerais, Brazil. Arq. Bras. Med. Vet. Zootec.,
Vol. 55(5), pp : 624-633.
Çakici, Ő & Üçüncü, I. 2007. Oocyte Development in the Zebrafish, Danio rerio (Teleostei:
Cyprinidae). E.U. Journal of Fisheries Sciences. 24 (1-2), pp: 137-141.
14

Frantzena, M., Arnesenb, A.M., Damsgårdb, B., Tveitenb, H. & Johnsena, H.K. 2004. Effects of
photoperiod on sex steroids and gonad maturation in Arctic charr. J.Aquaqulture.Vol. (7),
pp : 6-13.
Fujaya, Y. 2002. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. Direktorat Jenderal
Perguruan Tinggi. Jakarta.
Halamsyah, A.I. 2000. Pakan Kebiasaan, Indeks Kematangan Gonad, Fekunditas dan Faktor
Kondisi Ikan Lukas (Puntius bramoides C.V.) di Sungai Banjaran Kabupaten Banyumas.
Laporan Penelitian. Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto
Harsini. 2005. Kebiasaan Pakan Ikan Brek (Puntius arphoides) yang Tertangkap di Sungai
Serayu. Laporan Penelitian. Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto.
Haryono. 2008. Proses Domestikasi Ikan Tambra (Tor spp.) Untuk Pemanfaatan Berkelanjutan.
http://www.biotek.lipi.go.id. Diakses 17 April 2008.
Kime, A. 2008. Production of germ-line chimera in rainbow trout by blastomere trasplantation. Mol.
Rep. Dev. Vol (59), pp :380-389.
Kouril J., Svoboda A., Hamackova J., Kalab P., Kolarova J., Lepicova A., Sedova M., Savina L.,
Rendon P.M., Svobodova Z., Barth T. & Vykusova B. (2007): Repeated administration of
different hormonal preparations for artificial propagation and their effects on reproduction,
survival and blood biochemistry profiles of female tench (Tinca tinca L.). Czech Journal of
Animal Science, Vol (52), pp : 183–188.
Kouril J., Mraz, J., Hamackova, J., & Barth, T. 2008. Hormonal induction of tench (Tinca tinca L.)
with the same treatments at two sequential reproductive seasons. J. Cybium, Vol. (32_, pp :
61-66.
Kroupova H., Machova J. & Svobodova Z. 2005. Nitrite influence on fish: a review. J. Veterinarni
Medicina, Vol. (50), pp : 461–471.
Kujawa, R., Kucharczyk, D., Maincare, A. 1999. A Model System For Keeping Spawners of Wild
and Domestic Fish Before Artificial Spawning. J. Aquacultural Engineering. Vol. (20), pp :
85-89.
Lestari, W. & Sugiharto. 2008. Studi Bioekologi Ikan Sungai Mastacembelus unicolor dari Sungai
Serayu yang Terancam Punah, dalam Upaya Membangun Strategi Konservasi. Laporan
Penelitian Fundamental DIKTI.
Mananos E., Duncan, N., & Mylonas, D. 2009. Reproduction and control of ovulation, spermiation
and spawning in cultured fish. 3–80. In: Cabrita E., Robles V., Herraez P. (eds.): Methods in
Reproductive Aquaculture: J. Marine and Freshwater Species. CRC Press, Florida. 549 pp.
Skjæraasen, J.E., Salvanes, A.G.V., Karlsen, Ø., Dahle, R., Nilsen, T. & Norberg,B. 2004. The
Effect of Photoperiod on Sexual Maturation, Appetite and Growth in Wild Atlantic Cod
(Gadus morhua L.) . J. Fish Physiology and Biochemistry. Vol.30 (2), pp : 163-174 (12).
Shimizu, A. 2003. Effect of photoperiod and temperature on gonadal activity and plasma steroid
levels in a reared strain of the mummichog (Fundulus heteroclitus) during different phases
of its annual reproductive cycle. National Research Institute of Fisheries Science, Fisheries
Research Agency, Fukuura 2-12-4, Kanazawa, Yokohama 236-8648, Japan.
Sudova E., Machova J., Svobodova Z. & Vesely T. 2007: Negative effects of malachite green and
possibilities of its replacement in the treatment of fish eggs and fish: a review. J. Veterinarni
medicina, Vol. (52), pp : 527–539.
Susatyo, P. dan Soeminto. 2002. Viabilitas Telur Ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V.) yang
Ditunda Oviposisinya Setelah Menunjukkan Gejala Mijah. Biosfera. Scientific Journal. Vol.
12 (2).
15

Susatyo, P. dan Sugiharto. 2001. Aspek Perubahan Hormonal dan Histologis Selama
Perkembangan Ovarium Belut Sawah (Monopterus albus Zuiew) yang Diinduksi Secara
Artifisial. Biosfera.Scientific Journal. Vol. (16).
Yaron, Z. 1995. Endocrine control of gametogenesis and spawning induction in the carp. J.
Aquaculture, Vol. (129), pp : 49–73.
Zanuy, S., Prat, F., Carillo, M. & Bromage, N.R. 1995. Effects of constant photoperiod on
spawning and plasma 17P-oestradiol levels of sea bass (Dicentrarchus labrax). J. Aquat.
Living Resour., Vol. (8), p : 147-152.