P. 1
renstraKesehatan

renstraKesehatan

|Views: 848|Likes:
Dipublikasikan oleh ideajogja

More info:

Published by: ideajogja on Jul 28, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG.

Perubahan global yang cepat dewasa ini menuntut kemampuan organisasi untuk melakukan perubahan, perbaikan, penyesuaian dalam pengendalian lingkungan

organisasinya sehingga mampu meningkatkan kinerja dan akuntabilitas yang berorientasi kepada proses dan hasil yang ingin dituju. Dengan demikian diperlukan adanya perencanaan program-program strategis yang baik dan terukur. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan ekonomi, perkembangan epidemiologi, dan perubahan pola penyakit memaksa organisasi pemerintah untuk mengikuti dan mengelola perubahan yang ada agar organisasi tetap bisa bertahan dan mampu mencapai tujuan pembangunan kesehatan yang telah ditetapkan. Dalam era komunikasi, informasi dan teknologi ini, baik kegiatan manufaktur maupun jasa sangat membutuhkan kemampuan baru agar organisasi dapat berhasil secara kompetitif. Segala perubahan tersebut juga mengakibatkan tuntutan dari berbagai stake holders untuk berubah. Masyarakat yang semakin kritis dan kebutuhan akan kesehatan yang semakin dirasakan memaksa SDM kesehatan sebagai pelaku pembangunan kesehatan perlu mengikuti perkembangan yang terjadi di lingkungan internal maupun eksternal. Mengacu pada penjabaran Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, ditetapkan bahwa kesehatan merupakan bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh kabupaten. Dalam menghadapi perubahan-perubahan yang sifatnya

dinamis di bidang kesehatan, pemerintah kabupaten mempunyai wewenang dan tanggung Renstra Dinkes dan KB

jawab dalam pembangunan kesehatan masyarakat di wilayahnya menuju derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan memanfaatkan potensi yang ada agar semua sumberdaya dapat memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan pembangunan kesehatan. Berdasarkan Instruksi Presiden nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, maka perencanaan strategis merupakan sebuah proses dalam mencapai tujuan pembangunan dalam kurun waktu 1 – 5 tahun. Program-program pembangunan strategis yang disusun, secara keseluruhan dirangkum dalam satu bentuk dokumen Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja ( Renja ) Dinas. Renstra dan Renja ini pada prinsipnya merupakan penjabaran dari Renstra dan Renja Kabupaten seperti yang tertuang dalam RPJM. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi perangkat Daerah, maka pada awal tahun 2007terjadi penggabungan organisasi (merger) antara Dinas Kesehatan dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang berubah nama menjadi Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes dan KB). Dengan penggabungan tersebut, maka penataan sumber daya, program dan kebijakan harus dilaksanakan. Strategi dalam peningkatan pelayanan kesehatan dan KB kepada masyarakat juga perlu disusun kembali untuk mencapai visi yang diharapkan sehingga revisi terhadap Renstra ini dilakukan. B. MAKSUD DAN TUJUAN PENYUSUNAN RENSTRA Penyusunan Rencana Strategis (RENSTRA) dan rencana kerja (RENJA) dimaksudkan untuk memberikan arah kebijakan dan strategi perencanaan pembangunan kesehatan dan keluarga berencana di Kabupaten Gunungkidul agar pelaksanaannya dapat terkoordinasi, terarah, terpadu dan berkesinambungan selama kurun waktu lima tahun yaitu dari tahun 2007 – 2010.

Tujuan disusun Rencana strategis adalah : Renstra Dinkes dan KB

1. 2.
3.

Mengantisipasi perubahan yang semakin kompleks. Membangun langkah mencapai visi organisasi Memudahkan para pelaku (stakeholder) dalam melakukan kegiatan Peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Peningkatan kualitas manajemen kesehatan .

4. 5.

C. LANDASAN 1. Undang-undang Nomor 25 tahun Nasional. 2. Instruksi Presiden nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). 3. Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah 4. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul nomor 2 tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gunungkidul tahun 2001 – 2010 5. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul nomor 23 tahun 2000 tentang struktur organisasi Dinas Kesehatan. 6. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 1 tahun 2006 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2005 – 2010. 7. Keputusan Bupati Gunungkidul nomor.23/KPTS/2001 tentang Uraian Tugas Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul. 8. Keputusan Bupati Gunungkidul nomor 275/KPTS/2003 tentang Standart Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. 9. Perda Kabupaten Gunungkidul Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pembentukan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Dinas – dinas Daerah.
10. Keputusan Bupati Gunungkidul Nomor..... Tahun 2007 Tentang Uraian Tugas Dinas

2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

Kesehatan den Keluarga Berencana Kabupaten Gunungkidul. 11. Peraturan Bupati No 17 tahun 2007 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja Insatansi Pemerintah (SAKIP) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Renstra Dinkes dan KB

D. HUBUNGAN RENSTRA-SKPD DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA Perencanaan pembangunan meliputi empat tahapan yaitu (1) penyusunan rencana; (2) penetapan rencana; (3) pengendalian pelaksanaan rencana dan (4) evaluasi pelaksanaan rencana. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk pereode lima tahun. Renstra SKPD dibuat sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan jangka Menengah (RPJM) Daerah Gunungkidul dan Rencana Jangka Panjang maupun Rencana Jangka Menengah Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Rencana Pembangunan Tahunan yang disebut Rencana Kerja (Renja) adalah dokumen perencanaan untuk pereode satu tahun. Rencana Kerja disusun berpedoman pada RenstraSKPD yang memuat kebijakan, program dan kegiatan prioritas pembangunan. Pelaksanaan pembangunan tidak hanya dilaksanakan oleh Pemerintah tetapi perlu mendorong partisipasi masyarakat. Perencanaan pembangunan disusun secara sistematis, terarah dan terpadu berdasar prioritas yang ada dengan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki dan koordinasi antar pelaku pembangunan. E. SISTEMATIKA PENULISAN BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Maksud dan Tujuan C. Landasan Hukum D. Hubungan Renstra-SKPD dengan dokumen Perencanaan lainnya. E. Sistematika Penulisan BAB II : GAMBARAN UMUM ORGANISASI A. Struktur Organisasi B. Tugas Pokok dan Fungsi Renstra Dinkes dan KB

BAB III : IDENTIFIKASI FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL ORGANISASI A. Pencermatan Lingkungan Internal dan Eksternal 1. 2. Kondisi Internal Kondisi Eksternal B. Kesimpulan Analisis Internal dan Ekternal C. Analisis SWOT D. Faktor Kunci Keberhasilan E. Kondisi yang Diinginkan dan proyeksi ke depan

BAB IV : RENCANA STRATEGIS A. Visi dan Misi B. Tujuan dan Sasaran
C. Rencana Strategis Lima Tahunan D. Rencana Kerja (Tahun 2008 sampai dengan tahun 2010)

Renstra Dinkes dan KB

BAB II GAMBARAN UMUM ORGANISASI

A. Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Struktur Organisasi Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Gunungkidul seperti tercantum dalam Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah adalah sebagai berikut :

B aganStruk D IN A S K E S K E LU A R G A
Gambar1 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kab. Gunungkidul Berdasar Perda Nomor 11 Tahun 2006

B. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi 1. Kedudukan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana adalah unsur pelaksanan Pemerintah daerah di bidang kesehatan dan keluarga berencana. Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana dipimpin oleh seorang kepala dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. 2. Tugas Pokok Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana mempunyai tugas menyelenggarakan urusan rumah tangga Pemerintah Daerah dan tugas pembantuan di bidang kesehatan dan keluarga berencana. 3. Fungsi Dalam menyelenggarakan tugas, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana
a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan umum di bidang kesehatan dan keluarga

berencana. b. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan dan keluarga berencana. c. Pelaksanaan bimbingan teknis di bidang kesehatan dan keluarga berencana d. Penyuluhan di bidang kesehatan dan keluarga berencana e. Pelaksanaan pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. f. Pelaksanaan pengendalian di bidang kesehatan dan keluarga berencana. g. Pelaksanaan promosi kesehatan dan jaminan kesehatan masyarakat. h. Pelaksanaan pelayanan kesehatan dasar, khusus dan rujukan. i. j. l. Pelaksanaan pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan. Pelaksanaan pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit menular. Pelayanan kesehatan ibu dan anak.

k. Pelaksanaan upaya kesehatan keluarga dan masyarakat. m. Pelayanan kesehatan usia lanjut. n. Pelaksanaan upaya perbaikan gizi masyarakat. o. Pembinaan kelembagaan dan partisipasi. p. Pelaksanaan komunikasi, informasi, dan edukasi keluarga berencana. q. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja.

r. t.

Pembinaan keluarga berencana. Pelayanan perijinan.

s. Pelaksanaan peningkatan kesehajahteraan keluarga. u. Pengelolaan UPT.
v. Pengelolaan ketatausahaan dinas.

BAB III IDENTIFIKASI FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL ORGANISASI

A. KONDISI INTERNAL a. Derajat Kesehatan Masyarakat Derajat kesehatan masyarakat dapat diketahui dari indikator utama (UHH, AKI, AKB, Status Gizi) dan indikator tambahan lain dari program pembangunan kesehatan. Kondisi derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Gunungkidul selama lima tahun terakhir adalah sebagi berikut : Tabel Derajat Kesehatan Masyarakat Gunungkidul Tahun 2002 – 2006 Jenis 2002
Umur harapan hidup Jml kematian Neonatus Jml kematian bayi Jml Kematian Ibu Angka 35 kasus 25 kasus 16 kasus 10 kasus 25,12/ 1000 72.6/10000 0

Tahun 2003 2004
70,53 th 17 kasus 57 kasus 4 kasus 35/1000 38,6/10000 0

Target 2005
70,53 th 15 kasus Menurun Menurun 150/100.000 KH < 40 / 1000 KH 55/100.000 KH

8 kasus

4 kasus 10,5/1000 37,8/10000 0

Kematian 26,06 / 1000 62.5/100000

bayi Angka Kematian ibu Gizi Buruk

1,15

1,34

1,64

1,21

<1%

b. Upaya Kesehatan 1. Kesehatan ibu dan Anak Tabel 9 Cakupan Upaya Kesehatan Ibu dan anak di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2002 – 2004 Jenis - Cakupan K1 - Cakupan K4 - Cakupan persalinan Nakes 2002 82 65 73,1 2003 73,8 62,76 85,36 2004 95 87,5 91,25 2005 2006 Target 95 % 95 % 95 %

2. Perbaikan Gizi masyarakat Tabel 9 Cakupan Pemantauan Status Gizi ( PSG ) di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2002 – 2006

JENIS INDIKATOR * Status Gizi Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih * Kurang Energi Protein (KEP) KEP Nyata (BGM) KEP Total (gizi kurang dan buruk) * Anemia Anemia Ibu Hamil Anemia Balita Kurang Energi Kronis (KEK) WUS Sumber data : Dinkes GK

2002 1,15 12,46 84,63 1,20

2003 1,34 12,52 84,67 1,47

2004 1,64 13,68 83,37 1,43

2005 1,21 12,95 83,62 2,21

TARGET <1% < 20 % > 78 % 1%

1,15 13,6

1,34 13,86

1,64 15,32

1,21 14,16

<1% < 15 %

43,91 65,30 26,54

41,30 28,16 26,38

41,30 28,16 35,6

40,12 28,16 35,7

< 30 < 35 20

3. Pemberdayaan Masyarakat

Tabel 17 Strata PHBS di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2003 dan 2004 Strata I. Warna merah (Buruk) II. Warna kuning (Kurang) III. Warna hijau (Cukup) IV. Warna biru (Baik) 2003 19,75% 31,00% 4,26% 8,99% 2004 9,0 % 27,0 % 42,0 % 22,0 % Target < 25 % 25 – 49 % 50 – 74 % > 75 %

4. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tabel Jumlah Kasus Baru TBC-Paru, Kusta, DBD, Diare dan ISPA

di Kab. Gunungkidul tahun 2000 - 2004 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Jumlah Kasus Baru TBC -Paru
BTA (+) BTA (-) Ro (+)

Kusta 6 9 7

DBD

Diare

ISPA

102 105 168

118 90 86

Sumber : SP2TP Puskesmas 5. Penyehatan Lingkungan Tabel 15 Perumahan dan Tempat Umum Sehat Di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2004 Jenis TTU Rumah Sehat Restoran/warung makan Kantor sehat Pasar sehat Toko Sehat Salon sehat Sumber : DINKES GK Hasil 57.6 73.88 81 65 62.09 72.9 Target 60 %

6. Upaya Pengobatan Tabel 11 Jumlah Kunjungan Pasien Puskesmas Kab. Gunungkidul Tahun 2001 - 2004 No 1 2 3 4 5 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah Kunjungan 439.901 495.386 535.986 648.365 788.962

Sumber : Bagian Keuangan Dinkes dan KB

B. SUMBER DAYA KESEHATAN 1. Sumber daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan unsur pokok dalam menjalankan fungsi pembangunan kesehatan. Sumber daya manusia kesehatan di Kabupaten Gunungkidul terdiri dari berbagai macam profesi dan tenaga non profesi kesehatan dari jenjang pendidikan SD sampai dengan S-2 yang tersebar pada Dinas Kesehatan dan KB, Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari, dan Unit Pelaksana Puskesmas). Komposisi pegawai non profesi masih mendominasi dengan prosentase yang lebih besar dibanding dengan jalur profesi tenaga kesehatan. Upaya rasionalisasi melalui jalur tugas belajar maupun ijin belajar ke jenjang lebih lanjut sesuai kebutuhan telah dilaksanakan melalui dana block grant. Kegiatan lain ditempuh melalui upaya penataan manajemen sumber daya manusia. Data tenaga kesehatan selengkapnya sebagai berikut : Tabel Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Profesi di Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Gunungkidul Tahun 2007 No Jenis tenaga DINKES Pusk. JML 1 Tenaga Medis (dokter umum 3 81 84 dan dr. Gigi) 2 Paramedis Perawatan 4 374 378 (perawat, bidan dan perawat gigi) 3 Paramedis non Perawatan 2 105 107 (gizi, sanitasi) 4 Kesehatan Masyarakat 18 12 30 5 Penyuluh KB 0 81 81
Sumber : Sub Bag Kepegawaian Din Kes dan KB Kab GK Th 2007

Teknis

(Farmasi,

Laboratorium

Kesehatan

dan

Lingkungan,

Berdasar pada tabel di atas, profesi tenaga kesehatan dari paramedis perawatan merupakan yang terbanyak sedangkan tenaga medis berada pada rangking ketiga. Tenaga medis dan paramedis lebih dominan berada di Puskesmas. Dari tenaga kesehatan yang ada, beberapa profesi kesehatan belum memenuhi target yang diharapkan diantaranya adalah dokter, perawat dan bidan. Kecukupan tenaga dokter di masyarakat dapat dilihat dari Ratio dokter per 100.000 penduduk. Ratio dokter umum per 100.000 penduduk pada tahun 2007 adalah 12,28 yang artinya, 1 dokter melayani 8.143 penduduk. Ratio tenaga dokter dengan puskesmas adalah 1,55 artinya bahwa 1 puskesmas dilayani oleh 1 – 2 dokter umum. Rasio Dokter Gigi adalah 0.86 sehingga tidak semua

Puskesmas terdapat Dokter gigi. Mutu pelayanan kesehatan tidak lepas dari kecukupan sumber daya manusia, sehingga penataan dan pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia kesehatan di Kabupaten Gunungkidul merupakan hal yang sangat patut untuk diperhatikan. 2. Sarana Prasarana Kesehatan Sarana pelayanan kesehatan pemerintah berupa Puskesmas beserta jaringannya telah tersedia di setiap kecamatan. Meskipun jumlah sarana telah cukup memadai, namun dari segi kualitas sebagian tidak memenuhi syarat lagi untuk digunakan karena kondisi-kondisi tertentu. Yang menjadikan kendala adalah lokasi sarana pelayanan kesehatan yang kurang strategis karena keterbatasan penyediaan tanah dari kas desa. Jumlah sarana pelayanan kesehatan Pemerintah selama lima tahun terakhir tidak banyak mengalami perubahan dibanding dengan tahun sebelumnya sedangkan sarana kesehatan swasta mengalami peningkatan dalam kuantitas yaitu untuk Balai Pengobatan, Rumah Barsalin dan Apotek. Jumlah sarana pelayanan kesehatan di Kabupaten Gunungkidul sebagai berikut : Tabel Sarana Pelayanan Kesehatan Pemerintah dan swasta di Kabupaten Gunungkidul TAHUN 2007 JENIS Jumlah Rumah Sakit Pemerintah Jumlah Rumah Sakit Swasta Jumlah Puskesmas Rawat Jalan Jumlah Puskesmas Rawat Inap Jumlah Puskesmas pembantu Jumlah Puskesling Jumlah Polindes Jumlah Posyandu Jumlah Apotek Jumlah Balai Pengobatan Swasta Jumlah Dokter Praktek Swasta Jumlah Rumah bersalin Jumlah Bidan Praktek Swasta Jumlah Dukun Bayi 3. Sumberdaya Dana 2007 1 1 16 13 108 37 29 1457 9 37 65 5 149 582

Sumberdana

pembangunan

bidang

kesehatan

di

Kabupaten

Gunungkidul dibiayai dari dana APBN, APBD, Dana Dekonsentrasi dan Bantuan Luar Negri. Berbagai sumberdana tersebut ada yang disalurkan langsung ke rekening Kepala Puskesmas yaitu dana untuk Gakin dan ada yang melalui Pemerintah kabupaten maupun Pemerintah Propinsi. Bantuan dana dari APBN yang disalurkan ke Kabupaten Gunungkidul, selama ini banyak diwujudkan dalam bentuk obat program (TBC, Kusta, Malaria, vaksin) dan beberapa alat kesehatan. Dana lain adalah dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui Dinas Kesehatan Propinsi lokasi kegiatan sebagian berada di Kabupaten. Dana kesehatan yang bersumber dari APBD Kabupaten terdiri dari dana aloaksi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK). Dana alokasi umum (DAU) dipergunakan untuk keperluan belanja tidak langsung berupa gaji pegawai dan belanja langsung berupa belanja kegiatan program sedangkan Dana Alokasi Khusus (DAK) dipergunakan untuk keperluan belanja alat kesehatan, rehabilitasi gedung Puskesmas, dan kegiatan lain yang telah ditentukan petujuk penggunaannya dari Pemerintah Pusat. Bantuan luar negri banyak dikucurkan dalam bentuk Grant sehingga pegelolaan lebih banyak langsung ke Dinas Kesehatan. Propincial Health Project (PHP 1) adalah salah satu proyek yang diluncurkan ke Kabupaten Gunungkidul yang dimulai sekitar akhir tahun 2000 sampai dengan tahun 2007. Dana tersebut banyak digunakan untuk kegiatan di daerah dalam rangka kesiapan daerah menghadapi desentralisasi bidang kesehatan. c. Peraturan Perundangan dan Kebijakan Bidang Kesehatan Dukungan kebijakan melalui perangkat hukum merupakan faktor penting sebagai dasar dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan atau program-program pembangunan kesehatan di daerah. Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan akan menjadi acuan pokok dalam pelaksanaan pembangunan di bidang kesehatan yang didukung dengan produk hukum kesehatan lainnya. Adanya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan banyak perubahan menuju Desentralisasi di Bidang Kesehatan. Kebijakan desentralissi melalui Peraturan daerah memberikan yang kegiatan dan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) ada di Propinsi tetapi

landasan yang kuat bagi Dinas Kesehatan untuk menyusun kebijakan-kebijakan baru sebagai implementasi dari otonomi pembangunan kesehatan. Beberapa peraturan daerah telah dihasilkan sebagai manifestasi atas lahirnya desentralisasi di Kabupaten Gunungkidul. Pengembangan kebijakan yang dihasilkan antara lain adalah perijinan pelayanan kesehatan swasta dan Standart Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Dalam upaya memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan dan peningkatan pendapatan asli daerah di Kabupaten Gunungkidul telah ditempuh melalui Perda nomor 7 tahun 2007 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan di Puskesmas yang merupakan revisi dari Perda sebelumnya. B. KONDISI EKSTERNAL 1. Kependudukan. Jumlah penduduk Gunungkidul hampir setiap tahun mengalami kenaikan. Jumlah penduduk di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2004 tercatat 755.941 jiwa dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk sekitar 0,99 % per tahun. Kepadatan penduduk (Man Land Ratio) 507/km2 dengan perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan (sex ratio) sebesar 96,18 %. Jumlah Keluarga 157.328, dengan rata-rata penduduk perkeluarga (family size) adalah 4.84 jiwa Kelompok umur yang mendominasi adalah kelompok usia produktif. Jika penduduk usia tidak produktif semakin besar, beban tanggungan ekonomi penduduk usia produktif semakin tinggi, karena sebagian pendapatan yang diperoleh dari golongan usia produktif harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan mereka golongan usia yang tidak produktif. Rasio beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2004 diperoleh angka 61,19 % berarti setiap 61 penduduk usia produktif ( umur 14 – 64 tahun ) menanggung 100 penduduk usia tidak produktif.

Komposisi penduduk Gunungkidul memiliki karakteristik konstruktif yaitu penduduk pada kelompok umur termuda jumlahnya sedikit. Struktur penduduk tersebut juga ditandai dengan meningkatnya kelompok usia lanjut (kriteria 60 tahun keatas).

Pada tahun 2004 terdapat 8.182 kelahiran sehingga Tingkat Fertilitas kasar (Crude Birth Rate) adalah 10,82 kelahiran bayi per 1000 penduduk. Tingkat fertilitas Umum (General Fertility Rate) adalah 49,36 per 1000 wanita umur 15 – 49 tahun. 2. Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk. Data dari Askes berdasarkan kuota gakin untuk Kabupaten Gunungkidul menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2004 sebanyak 173.250 jiwa. Berdasar Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2003 prosentase penduduk miskin di Kabupaten Gunungkidul didapatkan angka 25,3 %, menurun 0,56 % dibanding tahun 2002. Dibandingan dengan Kabupaten lain di di DIY. Kabupaten Gunungkidul mempunyai prosentase penduduk miskin yang terbesar. Kemiskinan yang dimaksud disini adalah ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, baik kebutuhan pangan maupun non pangan. Berdasarkan lokasi, penduduk miskin banyak berdomisili di daerah pedesaan dibanding dengan daerah perkotaan, hal ini berbeda dengan hasil survey pada tahun awal krisis ekonomi dimana penduduk miskin justru banyak ditemukan di daerah perkotaan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu pencerminan kemajuan perekonomian suatu daerah, yang didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dalam waktu satu tahun. PDRB Kab. Gunungkidul atas dasar harga berlaku sebesar 2.410.553 juta rupiah dengan kontribusi terbesar diberikan oleh sektor pertanian, kemudian disusul sektor perdagangan. Penduduk usia kerja terdiri dari angkatan kerja yaitu penduduk yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan dan bukan angkatan kerja yang terdiri dari mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga. Dilihat dari status pekerjaan utama, sebagian besar penduduk Kabupaten Gunungkidul bekerja sebagai buruh atau karyawan (52,71 %), sedangkan yang berusaha dengan dibantu buruh tetap masih sedikit (2,73 %). Agama yang dianut oleh penduduk di Kabupaten Gunungkidul terdiri dari Islam, Kristen, Katolik, Hindhu, Budha dan kepercayaan lain. Agama yang dianut sebagian besar penduduk adalah Islam (94,96 %).

3. Dinamika masyarakat Lingkungan akan banyak mempengaruhi dinamika yang ada di masyarakat, baik lingkungan sosial, ekonomi, politik dan budaya. Globalisasi terjadi dengan tidak bisa kita bendung sehingga membawa dampak pada berbagai bidang. Demikian pula berkembangnya teknologi informasi membawa banyak perubahan di masyarakat dari berbagai kalangan. Mudahnya masyarakat dalam mengakses informasi dari luar semakin mandukung terjadinya perubahan di masyarakat, baik mengarah ke positip maupun perubahan yang berujung negatif. Sebagian besar masyarakat di wilayah Gunungkidul telah memiliki sarana informasi baik berupa televisi, player ataupun radio yang bisa diakses di seluruh wilayah kecamatan sehingga informasi dari luar daerah dengan mudah bisa dinikmati sebagai hiburan sekaligus sumber informasi yang bisa merubah pola kehidupan masyarakat. Hal ini juga didukung dengan semakin mudahnya masyarakat dalam akses transportasi karena jalan yang telah banyak dibangun. Banyaknya penduduk usia produktif yang bekerja di luar daerah Gunungkidul membawa perubahan pada ekonomi maupun budaya setempat. Pada musim lebaran tiba, maka “kaum boro” ini akan banyak yang pulang kampung (mudik) untuk tujuan silaturohmi yang tentunya juga membawa dana dan berbagai pengalaman yang akan berdampak pada masyarakat di wilayah asalnya. Kegiatan gotong royong di masyarakat juga terlihat masih kental yang dibuktikan dengan budaya menengok orang sakit, saling kunjung bila ada warga yang hajatan, kegiatan kerja bakti di kampung, dan sebagainya yang masih banyak dijumpai baik di desa maupun di wilayah perkotaan. 4. Kemitraan dengan Pihak Swasta Dalam melaksanakan pembangunan di bidang kesehatan, Dinas Kesehatan dan KB banyak melakukan kerjasama dengan lintas sektor, swasta dan pihak luar negri. Lintas sektor yang memberikan kontribusi dalam pembangunan bidang kesehatan diantaranya Dinas Sobermas, Dinas Pendidikan, Kebanglinmas, Dinas pertanian, Dinas Peternakan, dan Kantaor Pengendalian Dampak Lingkungan (Kapedal). Pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan kesehatan meliputi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan lembaga kemasyaraatan yang berada di wilayah Kabupaten

Gunungkidul. Untuk pihak luar yang berperan dalam pembangunan kesehatan di wilayah Gunungkidul pada lima tahun terakhir adalah dari First Propincial Health Project (PHP I) dengan sumber dana dari Bank Dunia. Dalam penanganan pasca gempa bumi 27 Mei 2006, beberapa pihak swasta baik dalam negri maupun luar negri telah memberikan andil dalam membangun fasilitas fisik dan penanganan pasien. Pembangunan fisik gedung pasca gempa yang dilakukan pihak swasta adalah Puskesmas Pembantu Banyusoco, Playen II oleh karyawan PT. Otsuka dan Puskesmas Patuk I oleh PT Unilever Indonesia sedangkan pembangunan Puskesmas yang dibantu dari luar negri meliputi Puskesmas Playen II dibangun dari Korea dan Puskesmas Panggang I oleh Japanesse Red Cross Society (JRCS) atau Palang Merah Jepang.

A. Pencermatan Lingkungan Internal dan Eksternal Organisasi

INTERNAL Strength = S ( Kekuatan )
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Adanya ketentuan peraturan yang mengatur tentang kesehatan (Undang-undang, keputusan mentri, Perda dan kebijakan lain yang mendukung) Adanya kelembagaan yang menangani kesehatan sampai tingkat kecamatan dan desa. Tersedianya tenaga dari berbagai profesi kesehatan di sarana pelayanan kesehatan pemerintah Tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung terlaksananya program kesehatan Tersedianya anggaran yang mendukung terlaksananya program kesehatan Banyaknya lembaga dengan upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) Adanya pedoman, petunjuk pelaksananaan dan petunjuk teknis penerapan program kesehatan

EKSTERNAL Opportunity = O ( Peluang )
1. Adanya komitmen politis antara pemerintah daerah/eksekutif dan lembaga legislatif terhadap pembangunan bidang kesehatan 2. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan akan kesehatannya. 3. Dukungan/partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan program kesehatan 4. Perkembangan teknologi yang mendukung pengelolaan programprogram kesehatan 5. Peluang kerjasama dengan lintas sektor, swasta dan lembaga kemasyarakatan dalam pembangunan bidang kesehatan. 6.

Weakness = W ( Kelemahan )
1. 2. 3. 4. 5. 6. Peraturan dan kebijakan belum dipahami secara optimal Kuantitas dan kualitas SDM belum terpenuhi lemahnya sistem informasi kesehatan Kurang tertibnya pengelolaan administrasi kesehaatn Baru sebagian kegiatan memiliki standar operational prosedur (SOP) penggalian anggaran kesehatan bersumber masyarakat masih sulit dilaksanakan

1. Kesan masyarakat terhadap mutu yankes di Puskesmas bisa menjadikan masyarakat tidak puas. 2. Menurunnya status derajat kesehatan masyarakat yang diukur dengan indikator UHH, AKI, AKB, status Gizi masyarakat dan angka penyakit menular. 3. Perilaku hidup yang tidak sehat di masyarakat. 4. Lingkungan yang mengganggu kesehatan (polusi, sanitasi jelek, dsb) 5. Endemi dan pandemi penyakit yang berpotensial wabah. 6. Tidak adanya peran serta masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan. 7. Meningkatnya angka kemiskinan di masyarakt yang membuat akses biaya kesehatan tidak terjangkau

Threat = T ( Ancaman )

39

B. ANALISIS FAKTOR STRATEGIS INTERNAL DAN EKSTERNAL (IFAS dan EFAS) KESIMPULAN FAKTOR INTERNAL STRATEGIS Faktor internal Bobot Peringka t KEKUATAN 1. Adanya ketentuan peraturan yang mengatur tentang kesehatan (Undang-undang, keputusan mentri, Perda dan kebijakan lain yang mendukung) 2. Adanya kelembagaan kesehatan yang menangani kesehatan sampai tingkat kecamatan dan desa. 3. Tersedianya tenaga dari berbagai profesi kesehatan di sarana pelayanan kesehatan pemerintah 4. Tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung terlaksananya program kesehatan 5. Tersedianya anggaran yang mendukung terlaksananya program kesehatan 6. Banyaknya lembaga dengan upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) 7. Adanya pedoman, petunjuk pelaksananaan dan petunjuk teknis penerapan program kesehatan 9 3 27 VI Skor Priorita s PELUANG 1. Adanya komitmen politis antara pemerintah daerah/eksekutif dan lembaga legislatif terhadap pembangunan bidang kesehatan 2. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan akan kesehatannya. 3. Dukungan/partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan program kesehatan 4. Perkembangan teknologi yang mendukung pengelolaan program-program kesehatan 5. Peluang kerjasama dengan lintas sektor, swasta dan lembaga kemasyarakatan dalam pembangunan bidang kesehatan. 22 4 88 I KESIMPULAN FAKTOR EKSTERNAL STRATEGIS Faktor Eksternal Bobot Peringkat Skor Priorita s

20

2

40

IV

15

2

30

V

18

3

54

I

26

3

72

II

16

3

48

II

20 17

3 3

60 51

III IV

12 15 10 2

3 3

36 45 20

V III VII

40

100 KELEMAHAN 1. Peraturan dan kebijakan belum dipahami secara optimal 2. Kuantitas dan kualitas SDM belum terpenuhi 3. Kurang tertibnya pengelolaan administrasi kesehatan 4. Baru sebagian kegiatan memiliki standar operational prosedur (SOP) 5. penggalian anggaran kesehatan bersumber masyarakat masih sulit dilaksanakan 6. Lemahnya sistem informasi kes 15 26 20 17 10 12 2 3 2 2 2 2 30 48 40 34 20 22 IV I II III VI V ANCAMAN

100

1. Kesan masyarakat terhadap 11 mutu yankes di Puskesmas bisa menjadikan masyarakat tidak puas. 2. Menurunnya status derajat 15 kesehatan masyarakat yang diukur dengan indikator UHH, AKI, AKB, status Gizi masyarakat dan angka penyakit menular. 3. Perilaku hidup yang tidak sehat 18 di masyarakat. 4. Lingkungan yang mengganggu 14 kesehatan (polusi, sanitasi jelek, dsb) 5. Endemi dan pandemi penyakit 10 yang berpotensial wabah. 6. Tidak adanya peran serta masyarakat dalam 20 pembangunan bidang kesehatan. 7. Meningkatnya angka kemiskinan di masyarakt yang membuat akses biaya kesehatan 12 tidak terjangkau

2

22

VI

3

45

III

3 2 2 3

57 28 20 60

II IV VII I

2

24

V

100

100

41

C. KESIMPULAN ANALISIS FAKTOR STRATEGIS (Strategic factors Analysis Summary / SFAS) Faktor Strategis Kunci
• • • • • • • • Tersedianya tenaga dari berbagai profesi kesehatan di sarana pelayanan kesehatan pemerintah (S) Tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung terlaksananya program kesehatan (S) Adanya komitmen politis antara pemerintah daerah/eksekutif dan lembaga legislatif terhadap pembangunan bidang kesehatan (O) Dukungan/partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan program kesehatan (O) Kuantitas dan kualitas SDM belum terpenuhi (W) Kurang tertibnya pengelolaan administrasi kesehatan (W) Perilaku hidup yang tidak sehat di masyarakat (T) Tidak adanya peran serta masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan (T) Kunci sukses SDM Kunci sukses pendukung pelayanan

Komentar

Penyusunan produk hukum (Perda kesehatan) Partisipasi dalam pembangunan kesehatan Penataan dan peningkatan SDM Dalam pengelolaan data Menghambat keberhasilan program Beban berat pemerintah

42

D. MATRIK SWOT
Kekuatan ( S ) 1. Faktor Internal 2. 3. 4. 5. 6. 7. Faktor Eksternal Peluang ( O ) 1. Adanya komitmen politis antara pemerintah daerah/eksekutif dan lembaga legislatif terhadap pembangunan bidang kesehatan 2. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan akan kesehatannya. 3. Dukungan/partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan program kesehatan 4. Perkembangan teknologi yang mendukung pengelolaan program-program kesehatan 5. Peluang kerjasama dengan lintas sektor, swasta dan lembaga kemasyarakatan dalam pembangunan bidang kesehatan. Adanya ketentuan peraturan yang mengatur tentang kesehatan (Undang-undang, keputusan menteri, Perda dan kebijakan lain yang mendukung). Adanya kelembagaan yang menangani kesehatan sampai tingkat kecamatan dan desa. Tersedianya tenaga dari berbagai profesi kesehatan di sarana pelayanan kesehatan pemerintah Tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung terlaksananya program kesehatan Tersedianya anggaran yang mendukung terlaksananya program kesehatan Banyaknya lembaga dengan upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) Adanya pedoman, petunjuk pelaksananaan dan petunjuk teknis penerapan program kesehatan Kelemahan ( W ) 1. 2. 3. 4. 5. Peraturan dan kebijakan belum dipahami secara optimal Kuantitas dan kualitas SDM belum terpenuhi Kurang tertibnya pengelolaan administrasi kesehatan Baru sebagian kegiatan memiliki standar operational prosedur (SOP) Penggalian anggaran kesehatan bersumber masyarakat masih sulit dilaksanakan

Strategi S - O 1. Menggunakan peraturan dan produk hukum kesehatan untuk melaksanakan program-program kesehatan 2. Mendayagunakan kelembagaan kesehatan masyarakat dengan memanfaatkan Dukungan/partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan program kesehatan 3. mendayagunakan tenaga kesehatan dengan memanfaatkan teknologi yang mendukung pengelolaan program-program kesehatan 4. menggunakan sarana dan prasarana kesehatan dengan memanfaatakan kerjasama dengan pihak swasta dan masyarakat. 5. menggunakan anggaran kesehatan dengan meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan program kesehatan 6. menggunakan UKBM dalam peningkatan partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan program kesehatan 7. menggunakan juklak dan juknis dengan memanfaatkan Perkembangan teknologi yang mendukung

Strategi W - O 1. Mengatasi keterbatasan pemahaman Peraturan dan kebijakan dengan memanfaatkan komitmen politis. 2. Mengatasi kekurangan SDM dari segi kuantitas dan kualitas dengan memanfaatakan komitmen politis ekskutif dan legeslatif 3. Mengatasi kekurangan SDM dari segi kuantitas dan kualitas dengan memanfaatakan partisipasi masyarakat terhadap program kesehatan 4. Meningkatkan tertib administrasi kesehatan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. 5. Meminimalkan kekurangan anggaran kesehatan bersumber masyarakat dengan memanfaatakn peluang kerjasama dengan pihak lain.

43

pengelolaan program-program kesehatan Ancaman ( T ) 1. Kesan masyarakat terhadap mutu yankes di Puskesmas bisa menjadikan masyarakat tidak puas. 2. Menurunnya status derajat kesehatan masyarakat yang diukur dengan indikator UHH, AKI, AKB, status Gizi masyarakat dan angka penyakit menular. 3. Perilaku hidup yang tidak sehat di masyarakat. 4. Lingkungan yang mengganggu kesehatan (polusi, sanitasi jelek, dsb) 5. Endemi dan pandemi penyakit yang berpotensial wabah. 6. Tidak adanya peran serta masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan. 7. Meningkatnya angka kemiskinan di masyarakat yang membuat akses biaya kesehatan tidak terjangkau Strategi S - T 1. Menggunakan peraturan dan produk hukum kesehatan untuk meminimalkan kesan jelek masyarakat terhadap mutu pelayanan. 2. Mendayagunakan kelembagaan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan amsyarakat. 3. mendayagunakan tenaga kesehatan untuk menekan Endemi dan pandemi penyakit yang berpotensial wabah. 4. menggunakan sarana dan prasarana kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan amsyarakat. 5. menggunakan anggaran kesehatan untuk membantu akses biaya kesehatan masyarakat yang tidak terjangkau. 6. menggunakan juklak dan juknis untuk meminimalkan kesan jelek masyarakat terhadap mutu pelayanan Strategi W - T 1. Mengatasi keterbatasan pemahaman peraturan dan kebijakan dengan mengurangi perilaku hidup yang tidak sehat di masyarakat. 2. Mengatasi kekurangan SDM dari segi kuantitas dan kualitas dengan menekan angka penyakit yang berpotensial wabah 3. Meningkatkan tertib administrasi kesehatan dengan mengurangi ketidakpuasan pasien/konsumen. 4. Meminimalkan kekurangan anggaran kesehatan bersumber masyarakat dengan mengurangi angka kemiskinan di masyarakat.

E. KESIMPULAN ANALISIS STRATEGI DARI MATRIK SWOT KESIMPULAN ANALISIS FAKTOR INTERNAL STRATEGIS
Faktor internal Bobot Peringkt Skor Prioritas

KESIMPULAN ANALISIS FAKTOR EKSTERNAL STRATEGIS
Faktor Eksternal Bobot Peringkt Skor Prioritas

44

KEKUATAN (S-O) 1. Menggunakan peraturan dan produk hukum kesehatan untuk melaksanakan program-program kesehatan 2. Mendayagunakan kelembagaan kesehatan (Puskesmas dan jaringannya) dengan memanfaatkan Dukungan/partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan program kesehatan 3. mendayagunakan tenaga kesehatan dengan memanfaatkan teknologi yang mendukung pengelolaan program-program kesehatan 4. menggunakan sarana dan prasarana kesehatan dengan memanfaatakan kerjasama dengan pihak swasta dan masyarakat. 5. menggunakan anggaran kesehatan dengan meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan program kesehatan 6. menggunakan UKBM dalam peningkatan partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan program kesehatan 7. menggunakan juklak dan juknis dengan memanfaatkan Perkembangan teknologi yang mendukung pengelolaan programprogram kesehatan 8 3 24 VII

PELUANG (W-O) 1. Mengatasi keterbatasan pemahaman peraturan dan kebijakan dengan memanfaatkan komitmen politis. 2. Mengatasi kekurangan SDM dari segi kuantitas dan kualitas dengan memanfaatakan komitmen politis ekskutif dan legeslatif 3. Mengatasi kekurangan SDM dari segi kuantitas dan kualitas dengan memanfaatakan partisipasi masyarakat terhadap program kesehatan 4. Meningkatkan tertib administrasi kesehatan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. 5. Meminimalkan kekurangan anggaran kesehatan bersumber masyarakat dengan memanfaatakn peluang kerjasama dengan pihak lain 25 3 75 II

13

3

39

IV

15

2

30

IV

30

4

120

I

22

4

88

I

15

3

45

III

17

2

34

III

13

2

26

V

12

3

36

V

20

4

80

II

10

3

30

VI

45

100
KELEMAHAN (S-T) 1. Menggunakan peraturan dan produk hukum kesehatan untuk meminimalkan kesan jelek masyarakat terhadap mutu pelayanan. Mendayagunakan kelembagaan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Mendayagunakan tenaga kesehatan untuk menekan Endemi dan pandemi penyakit yang berpotensial wabah. Menggunakan sarana dan prasarana kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Menggunakan anggaran kesehatan untuk membantu akses biaya kesehatan masyarakat yang tidak terjangkau. Menggunakan juklak dan juknis untuk meminimalkan kesan jelek masy terhadap mutu pelayanan 25 2 50 II ANCAMAN (W-T) 1. Mengatasi keterbatasan pemahaman peraturan dan kebijakan dengan mengurangi perilaku hidup yang tidak sehat di masyarakat. 2. Mengatasi kekurangan SDM dari segi kuantitas dan kualitas dengan menekan angka penyakit yang berpotensial wabah 3. Meningkatkan tertib administrasi kesehatan dengan mengurangi ketidakpuasan pasien/konsumen. 4. Meminimalkan kekurangan anggaran kesehatan bersumber masyarakat dengan mengurangi angka kemiskinan di masyarakat

100

15

2

30

IV

2.

17

2

34

III

22

3

66

II

3.

12 10

2 2

24 20

V VI

33

2

69

I

4.

30

2

60

III

5.

20

3

60

I

6.

15

2

30

IV

100

100

46

F. FAKTOR KUNCI KEBERHASILAN
1. Mendayagunakan tenaga kesehatan dengan memanfaatkan teknologi yang

mendukung pengelolaan program-program kesehatan
2. Menggunakan UKBM dalam peningkatan partisipasi masyarakat terhadap

keberhasilan program kesehatan 3. Mengatasi kekurangan SDM dari segi kuantitas dan kualitas dengan memanfaatakan partisipasi masyarakat terhadap program kesehatan 4. Mengatasi keterbatasan pemahaman peraturan dan kebijakan dengan memanfaatkan komitmen politis. 5. Menggunakan anggaran kesehatan untuk membantu akses biaya kesehatan masyarakat yang tidak terjangkau. 6. Menggunakan peraturan dan produk hukum kesehatan untuk meminimalkan kesan jelek masyarakat terhadap mutu pelayanan. 7. Mengatasi kekurangan SDM dari segi kuantitas dan kualitas dengan menekan angka penyakit yang berpotensial wabah 8. Meningkatkan tertib administrasi kesehatan dengan mengurangi ketidakpuasan pasien/konsumen.

C. KONDISI YANG DIINGINKAN DAN PROYEKSI KE DEPAN. 1. Keadaan sekarang dan harapan stake holder KEADAAN PADA SAAT INI HARAPAN 5 TH Y.A.D. PELANGGAN PUSKESMAS : HARAPAN KEDEPAN : • Pelanggan Eksternal : masyarakat di • Pelanggan Eksternal : dalam dan luar wilayah kerja seluruh masyarakat di lingkungan Puskesmas yang sebagian besar kerja Puskesmas dari semua lapisan merupakan kelas menengah ke bawah, baik yang mempunyai asuransi peserta ASKES, peserta kesehatan maupun yang tidak. JPKMM/JAMKESOS/ASKESKIN. • Pelanggan Internal : seluruh • Pelanggan Internal : seluruh karyawan karyawan di puskesmas yang di puskesmas profesional dan punya komitmen tinggi terhadap mutu pelayanan. • Pelayanan yang bermutu, merata dan terjangkau sehingga 47

tercipta kepuasan pelanggan. MANAJEMEN : HARAPAN KEDEPAN • Manajemen SDM yang belum tertata. • Penerapan fungsi manajemen dalam organisasi (planning, • Manajemen operasional yang belum organizing, controlling, optimal. evaluating) • Manajemen keuangan berbasis • Penggunaan tenaga yang kinerja profesional sesuai dengan • Sarana dan prasarana yang kurang kompetensinya. lengkap. • Pemenuhan kebutuhan sumberdaya (SDM, dana, sarana prasarana) kesehatan dari segi kualitas dan kuantitas di setiap unit kerja. • Terciptanya komitmen bersama menuju perubahan kearah lebih baik. • Penggunaan standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap tindakan di sarana pelayanan kesehatan. PEMILIK : HARAPAN PEMILIK KEDEPAN • PEMDA • PEMDA dengan pengelolaan seluruh sumber daya yang ada • Puskesmas, Gudang farmasi dan secara optimal sehingga tercipta Labkesda merupakan UPT Dinas kemandirian Puskesmas, Kesehatan Kabupaten. memenuhi target pendapatan maupun program dan mensejahterakan karyawan dengan tetap menjaga mutu pelayanan. PRODUK PUSKESMAS : • Paradigma sakit. • Pelayanan rawat jalan • Pelayanan rawai inap • Konsultasi kesehatan : klinik sehat. • Pelayanan BP Umum, BP Gigi, KIAKB, • Pelayanan penunjang : laboratorium, Gizi HARAPAN PRODUK KEDEPAN • Paradigma sehat. • Pengobatan rawat jalan dan rawat inap yang ditunjang dengan perlengkapan penunjang pemeriksaan yang lengkap. • Melengkapi konsultasi ahli / dokter spesialis yang banyak dibutuhkan masyarakat. • Pelayanan kesehatan dasar menyeluruh, terpadu dengan menekankan pada upaya preventif 48

dan promotif tanpa mengesampingkan upaya curatif dan rehabilitatif.

2. Target Pelayanan yang diharapkan sesuai Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan
NO. JENIS PELAYANAN 1Perijinan kerja/paket : tenaga kesehatan 2Perijinan Sarana Kesehatan INDIKATOR Waktu yang diperlukan : 6 hari kerja Waktu yang diperlukan RSU : 12 hari kerja Sarana kesehatan lainnya (termasuk praktek

berkelompok) : 12 hari kerja 3Perijinan Apotek dan Toko Obat Waktu yang diperlukan : 6 hari kerja 4 Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Dasar 1Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil 80 % ibu hamil terlayani K-4 dan Bayi Lahir 90 % neonatal terlayani KN-2 80 % persalinan oleh tenaga kesehatan 75 % Bayi dilayani deteksi dini tumbuh 2Pelayanan Kesehatan Bayi dan Anak Prasekolah kembang oleh tenaga kesehatan, 4 kali per tahun 75 % Anak balita dilayani deteksi dini tumbuh kembang oleh tenaga kesehatan, 2 kali per tahun 100 % murid SD dan seting kat SD (kelas I) diperiksa kesehatan umum dan gigi,1 kali 3Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah pertahun 80 % Anak SD dan setingkat SD memperoleh pemberian makanan tambahan 70 % Peserta aktif KB dilayani 25 % usia lanjut (60 tahun ke atas) mendapat Pelayanan kesehatan 80 % bayi telah menerima imunisasi dasar lengkap 20 % penderita katarak pada gakin dioperasi 10 % penderita kelainan refraksi murid SD dan setingkat SD pada gakin dikoreksi 10 % gangguan jiwa yang dideteksi di sarana pelayanan kesehatan umum dilayani 15 % penduduk memperoleh pelayanan rawat jalan di sarana kesehatan dalam 1 th 15 % penduduk memperoleh pelayanan rawat

4Pelayanan Kesehatan Usia Subur 5Pelayanan Kesehatan Usia lanjut

6Pelayanan Imunisasi 7Pelayanan Kesehatan Indera

8Pelayanan Kesehatan Jiwa Masyarakat 9Pelayanan Pengobatan dan Perawatan Kesehatan Masyarakat

49

inap yang prima 40 % keluarga rawan (memi liki salah satu dari : - bayi/balita dengan gizi buruk - keluarga ada yang menderita penyakit khusus (TB, anemia, KEK) - ibu hamil yang menderita resiko tinggi Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Rujukan Tersedianya Pelayanan Kesehatan Rujukan 4 pelayanan keahlian dasar (kebidanan, bedah, penyakit dalam dan anak) Kemampuan mencapai 70 % BOR Tersedianya pelayanan ke gawatdaruratan dan penanggulangan bencana 100 %

Penyelenggaraan Pelayanan Penunjang Kesehatan Pelayanan Laboratorium Klinik dan Kesehatan Masyarakat

Tersedianya laboratorium dengan kemampuan memberikan pelayanan pemeriksaan laboratorium Klinik sederhana Tersedianya laboratorium RSUD dengan kemampuan memberikan pelayanan pemeriksaan laboratorium klinik terbatas Tersedianya laboratorium kesehatan masyarakat dengan kemampuan memberikan pelayanan pemeriksaan laboratorium kesehatan masyarakat parameter terbatas 60 % desa sehat strata III dan atau IV 70 % penduduk berperilaku sehat

5 1Penyuluhan Perilaku Sehat Promosi 2 Kesehatan untuk

Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Kesehatan

6 1Penyelenggaraan Penyelidikan Epidemologi dan Penanggulangan KLB ( Kejadian Luar Biasa ) 2Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular

15 % Posyandu mandiri 50 % Posyandu madya Organisasi kemasyarakatan tercakup program Promosi kesehatan 100 % desa/kelurahan KLB dilakukan PE 100 % kasus dtanggulangi 0 % angka kesakitan 85 % kesembuhan penderita TB Paru BTA+ 50 % penurunan jumlah kasus malaria Kurang dari 1 % prevalensi kusta per 10.000 penduduk 85 % Penemuan pneumonia balita

50

10 % prevalensi sifilis dan gonore di kalangan kelompok perilaku resiko tinggi 50 % penurunan jumlah kasus DBD 50 % penurunan jumlah kasus diare 7 1Pengawasan Kualitas Lingkungan 50 % tempat-tempat umum (TTU) memenuhi standar 50 % tempat pengolahan makanan (TPM) memenuhi standar 50 % keluarga menghuni rumah sehat 70 % sediaan air bebas jentik nyamuk 100 % ketersediaan jenis obat sesuai standar pelayanan kesehatan dasar 75 % ketersediaan jumlah obat sesuai standar pelayanan kesehatan dasar dan 15 % sarana pelayanan kesehatan umum melaksanakan upaya pencegahan dan penanggulangan (P3) NAPZA 70 % balita ditimbang (D/S) 85 % balita diatas garis merah 100 % balita mendapat kapsul VIT A 2 dua kali per tahun 80 % ibu hamil mendapat 90 tablet Fe 100 % wanita usia subur dan murid SD/setingkat di daerah endemik berat mendapat kapsul yodium 100 % pemberian makanan pendamping ASI pada Bayi gizi kurang dari gakin 100 % balita gizi buruk men dapat perawatan sesuai standar 40 % ibu menyusui tercakup program penyuluhan ASI Eksklusif 60 % rumah

2Pengendalian Vektor 8Penyediaan Obat untuk Pelayanan Kesehatan Dasar

Pelayanan 9

Pencegahan

Penanggulangan Narkotika, Psikotropika dan Zat aktif lainnya yang berbasis masyarakat 10 1Pemantauan Pertumbuhan Balita 2Pemberian Suplemen Gizi

3Pelayanan Gizi

4Penyuluhan Gizi Seimbang

tangga

tercakup

program

penyuluhan Garam beryodium yang memenuhi syarat

51

BAB IV RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) A. Visi dan Misi Kabupaten Visi adalah hal yang diinginkan pada akhir pereode perencanaan yang kondisinya direpresentasikan dalam sejumlah sasaran hasilpembangunan yang dicapai melalui program pembangunan dalam bentuk rencana kerja. Recana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Kabupaten Gunungkidul tahun 2006 – 2010 mengadopsi visi kepala daerah yaitu : Visi : “Menjadi Pemerintah Daerah yang baik dan bersih, responsif untuk mendukung terwujudnya masyarakat mandiri dan kompetitif”. Penjelasan dari visi tersebut merupakan perwujudan pemerintahan yang baik dan bersih guna menciptakan kondisi masyarakat yang memiliki kemampuan mengembangkan potensinya didukung dengan kualitas sumber daya manusia yang tinggi dan mempunyai akses teknologi informasi, sehingga mampu memanfaarkan peluang dan tantangan globalisasi. Visi kabupaten dijabarkan lebih lanjut kedalam misi yang akan menjadi taggung jawab seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) di Kabupaten Gunungkidul untuk mencapai cita-cita masa depan. Adapun Misi yang ditetapkan adalah : Misi : 1. Mewujudkan reformasi birokrasi 2. Mewujudkan pengembangan sumber daya manusia masyarakat

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan
Pendataan

39

3. Mewujudkan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam (SDA) wilayah yang berwawasan lingkungan dengan pendekatan kewilayahan. 4. Mewujudkan pengembangan dunia usaha dan koperasi.

B . Visi dan Misi Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (SKPD) Visi : “ Terwujudnya Gunungkidul Sehat Mendukung Indonesia Sehat 2010” Misi : 1. menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan 2. mendorong kemandiriran masyarakat untuk hidup sehat 3. meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau 4. memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. 5. meningkatkan pengelolaan sumber daya 6. meningkatkan pelaksanaan manajemen dan sistem informasi kesehatan
7. meningkatkan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.

C. Tujuan dan Sasaran Organisasi Tujuan dan sasaran diarahkan untuk mewujudkan visi yang dijabarkan dalam misi Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana sebagai berikut :
No 1 Misi Menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan Tujuan Terwujudnya pembangunan ber wawasan kesehatan Sasaran Meningkatnya Kerjasama lintas sektor dalam bidang kesehatan. Mengoptimalkan kerjasama lintas batas antar Kabupaten.

a. b.

2

Mendorong kemandiriran masyarakat hidup sehat

untuk

Terwujudnya a. kemandirian masyarakat untuk hidup sehat b.

Meningkatnya promosi kesehatan masyarakat Meningkatnya perilaku hidup bersih dan sehat

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan
Pendataan

40

c.

dimasyarakat dari berbagai tatanan Meningkatnya peranserta masyarakat dalam bidang kesehatan

3

Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau

terwujudnya pelayanan a. kesehatan yang bermutu dan terjangkau b.

Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat Meningkatnya pengawasan NAPZA dan bahan berbahaya lain. Menurunnya angka kematian ibu, bayi dan balita Menurunnya kasus baru dan kematian akibat penyakit menular Mencegah perluasan penyakit menular Meningkatnya status gizi masyarakat Meningkatnya tempattempat umum yang memenuhi syarat kesehatan Meningkatnya pengelolaan sumber daya kesehatan secara efektif dan efisien

4

Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya

Meningkatnya a. kesehatan individu, keluarga dan masyarakat b. beserta lingkungannya c. d. e. f.

5

Meningkatkan Pemberdayaan Sumberdaya kesehatan

dan

Terwujudnya pengelolaan daya yang baik

a. sumber

meningkatny a pengelolaan sumber daya kesehatan secara efektif dan efisien

6

Meningkatkan dan Memantapkan Manajemen dan SIK

Terwujudnya a. manajemen dan informasi kesehatan yang efektif b. c.

Meningkatnya pelaksanaan menejemen dan informasi kesehatan Menejemen dan administrasi yang mendukung pelayanan publik. Peningkatan perencanaan kesehatan

7

Meningkatkan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.

Terwujudnya keluarga a. yang berkualitas b.

Meningkatnya kepesertaan KB aktif bagi wanita dan pria. Meningkatnya kesehatan reproduksi remaja dan usia subur.

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan
Pendataan

41

BAB V PROGRAM DAN KEGIATAN

Program kegiatan pada rencana strategis dinas kesehatan tahun 2006-2010 merupakan penjabaran dari visi, misi dan kebijakan RPJM Kabupaten Gunungkidul 2008-2012. Secara rinci dapat dilihat pada matrik dibawah ini :
Misi Kabupate n Misi : kesatu Mewujudkan reformasi birokrasi Kebijakan Program Kegiatan SKPD Dinas Kesehatan dan KB 1.1. Mengembangkan kompetensi dan profesionalisme pegawai 1.1.3 Peningkatan Kualitas pelayanan publik 1. 2. 3. 4. 5. Pengembangan administrasi dan manejemen kesehatan Pengembangan sistem kesehatan Penggalangan kemitraan lintas sektor dan swasta. Peningkatan kualitas SDM Pengelolaan manejemen keuangan

1.2

Meningkatkan kapasitas birokrasi, kelembagaan, dan pengawasan

1.2.4 peningkatan pengawasan dan akuntabilitas publik aparatur

1.

Monitoring dan evaluasi kegiatan program kesehatan

1.2.6.Peningkatan 1. Pembangunan dan rehab serta sarana dan pemeliharaan rumah medis dan prasarana aparatur paramedis 2. 1.5 Meningkatkan keterpaduan program1.5.1 Peningkatan kualitas perencanaan pengadaan kendaraan dinas dengan buttom up planning

1. Penjaringan perencanaan 2. Peningkatan koordinasi

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan
Pendataan

42

program pembangunan antara propinsi dan pusat 1.6. Meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi untuk mendukung kinerja pemerintah

partisipatif

penyusunan rencana pembangunan bidang kesehatan

1.6.2 Pemantapan pengelolaan data dan pendayagunaan teknologi informasi

1. Pengumpulan, pengolahan dan analisa data serta penyebarluasan informasi kesehatan 2. Penelitian dan pengambangan bidang kesehatan 3. Pengelolaan dan pengembangan produk hukum kesehatan 4. Pengembangan standar oprasional dan prosedur pelayanan kesehatan 5. Penyediaan hardware dan software sistem informasi kesehatan 6. Pengembangan dan pembinaan sistem informasi kesehatan 1. Pengembangan media dan pengadaan sarana promosi kesehatan 2. Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat 3. Pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan 4. Pengembangan UKBM 5. Penyelenggaraan upaya kesehatan kerja 6. Pengembangan Jaminan pemeliharaan kesehatan bersumber masyarakat 1. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan 2. Pelayanan kesehatan khusus 3. Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) 4. pelayanan kesehatan usila 5. pelayanan kesehatan remaja 6. pelayanan KB 7. Peningkatan kesehatan reproduksi 1. Pencegahan penyakit menular 2. Pemberantasan penyakit

Misi : kedua 2. Mewujudkan pengamban gan sumber daya manusia masyarakat

2.2

Meningkatkan kualitas dan akses pelayanan kesehatan

2.2.1 Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat

2.2.2 Upaya kesehatan masyarakat dan perorangan

2.2.3 Percepatan pemberantasan penyakit

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan
Pendataan

43

3. 4.

menular langsung maupun tidak langsung (diare, ISPA, DBD, kusta, malaria, AIDS, kecacingan dan TBC). Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Surveylans penyakit

2.2.4 Perbaikan gizi masyarakat

1. Tatalaksana pengelolaan gizi buruk. 2. Pengembangan paket pelayanan gizi 3. Pencegahan dan penanggulangan masalah gizi 4. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) 5. Upaya Peningkatan Gizi keluarga (UPGK) 6. Gizi Institusi 1. Peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan Puskesmas Pengadaan alat kesehatan (medis dan non medis ) dan laboratorium Pengembangan pembiayaan kesehatan

2.2.5 Peningkatan sumberdaya kesehatan

2. 3.

2.2.6 Lingkungan sehat

1. Pengawasan kualitas lingkungan 2. Pembinaan tempat pengelolaan makanan 3. Pengembangan kawasan sehat 4. Pengendalian dampak pencemaran lingkungan 5. pemeriksaan kualitas air 1. Pengendalian penggunaan obat secara rasional 2. Pengawasan obat dan makanan 3. Pembinaan pengobat dan obat tradisional 4. Pengawasan mutu pangan 1. Pengadaan obat, bahan laborat dan perbekalan kesehatan 2. Perencanaan obat secara terpadu 3. Pengelolaan gudang dan distribusi obat 1. Peningkatan pelayanan kesehatan dan penanggulangan

2.2.7 Pengawasan obat dan makanan

2.2.8 Obat dan perbekalan kesehatan 2.5 Mengoptimalkan tindaklanjut kerjasama 2.5.2 Kerjasama antar daerah bidang

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan
Pendataan

44

operasional dengan kabupaten tetangga di bidang kesehatan

masalah kesehatan lintas batas pelayanan kesehatan 2. Kerjasama pemberantasan penyakit menular lintas batas 3.Penanganan KLB dan Bencana Alam 1. Pengawasan dan pembinaan pelayanan kesehatan swasta 2. Pengelolaan perijinan praktek pelayanan kesehatan swasta

2.6 Mengembangkan kerjasama dengan lembaga swasta / lain

2.6.2 fasilitasi kesehatan swasta

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan
Pendataan

45

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan
Pendataan

46

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 47

RENCANA STRATEGIS
DINAS KESEHATAN DAN KELUARGA BERENCANA TAHUN 2008 - 2012 No 1 Misi Menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan Tujuan Terwujudnya pembangunan ber wawasan kesehatan Sasaran c. Meningkatnya Kerjasama lintas sektor dalam bidang kesehatan. d. Mengoptimalkan kerjasama lintas batas antar Kabupaten.
Misi Kabupaten Misi : kesatu Kebijakan Program Kegiatan SKPD Kesehatan

2

Mendorong kemandiriran masyarakat untuk hidup sehat

Mewujudkan Terwujudnya d. Meningkatnya reformasi kemandirian promosi kesehatan birokrasi masyarakat untuk masyarakat hidup sehat e. Meningkatnya perilaku hidup bersih dan sehat dimasyarakat dari berbagai tatanan f. Meningkatnya peranserta masyarakat dalam bidang kesehatan

1.1. Mengemban gkan kompetensi dan profesionalis me pegawai

1.1.3 Peningka tan Kualitas pelayana n publik

Pengembangan administrasi dan manejemen kesehatan 7. Pengembangan sistem kesehatan 8. Penggalangan kemitraan lintas sektor dan swasta. 9. Peningkatan kualitas SDM 10. Pengelolaan manejemen keuangan

6.

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 48

3

Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau

terwujudnya c. Meningkatnya pelayanan kesehatan kualitas pelayanan yang bermutu dan kesehatan kepada terjangkau masyarakat d. Meningkatnya pengawasan NAPZA dan bahan berbahaya lain.

1.2 Meningkatka n kapasitas 1.2.4 birokrasi, peningka kelembagaan tan , dan pengawa pengawasan san dan akuntabil itas publik aparatur 1.2.6.Peningk atan sarana dan prasarana aparatur 2. Pengembangan kelembagaan kesehatan 3. Monitoring dan evaluasi kegiatan program kesehatan

4

Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya

Meningkatnya g. Menurunnya kesehatan individu, angka kematian ibu, keluarga dan bayi dan balita masyarakat beserta h. Menurunnya lingkungannya kasus baru dan kematian akibat penyakit menular i. Mencegah perluasan penyakit menular j. Meningkatnya status gizi masyarakat k. Meningkatnya tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan l. Meningkatnya pengelolaan sumber daya kesehatan secara

1.

Peningkatan saranan prasarana aparatur

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 49

efektif dan efisien 5 Meningkatkan dan Pemberdayaan Sumberdaya kesehatan Terwujudnya b. menin pengelolaan sumber gkatnya pengelolaan daya yang baik sumber daya kesehatan secara efektif dan efisien
1.5 Meningkatka n keterpaduan programprogram pembanguna n antara propinsi dan pusat 1.6. Meningkatka n penguasaan dan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi untuk mendukung kinerja pemerintah 1.5.1 Peningka tan kualitas perencan aan partisipat if 1.6.2 Pemanta pan pengelol aan data dan pendayag unaan teknologi informasi 3. Penjaringan perencanaan dengan buttom up planning 4. Peningkatan koordinasi penyusunan rencana pembangunan kesehatan

6

Meningkatkan dan Memantapkan Manajemen dan SIK

Terwujudnya d. Meningkatnya manajemen dan pelaksanaan informasi kesehatan menejemen dan yang efektif informasi kesehatan e. Menejemen dan administrasi yang mendukung pelayanan publik. f. Peningkatan perencanaan kesehatan

7. Pengumpulan, pengolahan dan analisa data serta penyebarluasan informasi kesehatan 8. Pengembangan penelitian kesehatan 9. Pengelolaan dan pengembangan produk hukum kesehatan 10. Pengembangan standar oprasionel dan prosedur pelayanan kesehatan 11. Pengadaan sarana sistem informasi kesehatan 12. Pengembangan dan pembinaan sistem informasi kesehatan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 50

7

Meningkatkan Terwujudnya kualitas pelayanan keluarga KB dan kesehatan berkualitas reproduksi.

Mening Misi : kedua yang katnya kepesertaan KB aktif bagi wanita dan pria. d. Mening katnya kesehatan reproduksi remaja dan usia subur. 2. Mewujudkan 2.2 e. c.
pengambang an sumber daya manusia masyarakat

Meningkatka n kualitas dan akses pelayanan kesehatan

2.2.1 Promosi kesehata n dan pemberd ayaan masyarak at

7. Pengembangan media dan pengadaan sarana promosi kesehatan 8. Pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat 9. Pemberdayaan masyarakat 10. Pengembangan Posyandu 11. Penyelenggaraan upaya kesehatan kerja 12. Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat

f.

2.2.2 Upaya kesehata n masyarak at dan perorang an

8.

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan 9. Pelayanan kesehatan khusus 10. Pelayanan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 51

11. 12. 13. 14.

kesehatan ibu dan anak (KIA) Pengelolaan program pelayanan kesehatan usila Pengelolaan program pelayanan kesehatan remaja Peningkatan pelayanan KB Peningkatan kesehatan reproduksi

g.

5.

2.2.3 Percepat an pembera ntasan penyakit

Pemberantasan penyakit menular langsung maupun tidak langsung (diare, ISPA, DBD, kusta, malaria, AIDS dan TBC). 6. Pencegahan penyakit menular 7. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) 8. Surveylans penyakit 7. Tatalaksana pengelolaan gizi buruk. 8. Pengembangan paket pelayanan gizi 9. Pencegahan dan

h.

2.2.4 Perbaika n gizi masyarak at

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 52

penanggulangan masalah gizi 10. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) 11. Upaya Peningkatan Gizi keluarga (UPGK) 12. Gizi Institusi

i.

2.2.5 Peningka tan sumberd aya kesehata n

4. Peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan Puskesmas 5. Pengadaan alat kesehatan (medis dan non medis ) dan laboratorium 6. Pengawasan kualitas lingkungan 7. Pembinaan tempat pengelolaan makanan 8. Pengembangan kawasan sehat 9. Pengendalian dampak pencemaran lingkungan 10. pemeriksaan kualitas air 5. Pengendalian penggunaan obat secara rasional 6. Pengawasan obat dan makanan 7. Pembinaan pengobat dan obat tradisional 8. Pengawasan mutu pangan

j.

2.2.6 Lingkun gan sehat

k.

2.2.7 Pengawa san obat dan makanan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 53

l.
2.2.8 Obat dan perbekal an kesehata n

4. Pengadaan obat, bahan laborat dan perbekalan kesehatan 5. Perencanaan obat secara terpadu 6. Pengelolaan gudang dan distribusi obat

m.

2.5

1. Peningkatan pelayanan Mengoptimal kesehatan lintas batas kan 2.5.2 tindaklanjut Kerjasam 2. Kerjasama pemberantasan kerjasama a antar penyakit menular lintas operasional daerah batas dengan bidang kabupaten pelayana 3.Penanganan KLB dan tetangga di n Bencana Alam bidang kesehata kesehatan n 2.6.2 fasilitasi kesehata n swasta 3. Pengawasan dan pembinaan pelayanan kesehatan swasta 4. Pengelolaan perijinan praktek pelayanan kesehatan swasta

n.

2.6 Mengemban gkan kerjasama di bidang pendidikan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 54

dan kesehatan dengan lembaga swasta / lain

VISI MISI

: Gunungkidul Sehat Mendukung Indonesia Sehat : 1.
Sasaran organisasi Uraian 2 Meningkatnya Kerjasama lintas sektor dalam bidang kesehatan. Masyarakat, lintas sektor dan stake holder memberikan kontribusi positif terhadap kesehatan. Indikator 3 Jumlah LSM kes. Jumlah Organisasi Kes. Jml Dinas/instansi yang mendukung program kes. PHBS Strata I : • Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kebijakan 4 Strategi Program 5 1. Lingkungan sehat Penggalangan kemitraan lintas sektor dan swasta a) peningkatan kerjasama lintas sektor Kerjasama dalam perencanaan, dalam bidang kesehatan. pelaksanaan dan penilaian b) pengembangan program kesehatan

Tujuan organisasi 1 Terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan


Terwujudnya • kemandiriran masyarakat untuk hidup sehat •

Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memelihara dan memperbaiki status dan keadaan kesehatannya Terbentuknya perilaku hidup

2. Promosi kesehatan masyarakat a)

dan pemberdayaan

Pengembangan sarana dan media promosi kesehatan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 55

• •

bersih dan sehat dimasyarakat dari berbagai tatanan Meningkatnya peranserta masyarakat dalam bidang kesehatan Mendorong meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

• Strata II : Strata III : Strata IV : • •

Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan Upaya preventif dan promotif Pengembangan UKBM

b) c)

Pemberdayaan masyarakat dalam upaya kes. Peningkatan pendidikan kes. kpd. masyarakat

Terlaksananya • pelayanan kesehatan yang bermutu dan • terjangkau • •

Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Ketersediaan pelayanan kesehatan seuai kebutuhan Meningkatnya Akreditasi dan legislasi sarana pelayanan kes. Pemerintah dan swasta Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan

Yankes Gakin : 100 %

• • • • • • •

Peningkatan Mutu dan akses Pelayanan Kesehatan Kemandirian puskesmas Revitalisasi puskesmas Pelayanan kesehatan masyarakat miskin melalui JPK-MM Perijinan yankes Pemerintah dan swasta Peningkatan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan Peningkatan perlindungan masyarakat terhadap penyalahgunaan obat, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya lainya. Peningkatan pembinaan batra dan produsen makmin

3. Peningkatan mutu dan akses pelayanan kesehatan

a) b) c) d)

Pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin Peningkatan kualitas sarana dan prasarana puskesmas Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan. Peningkatan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas.

4. peningkatan kualitas pelayanan publik forum SKPD bidang kesehatan monitoring dan evaluasi ekgiatan Dinkes

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 56

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 57

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 58

Peningkatan kes. individu, keluarga dan • masyarakat beserta lingkungannya • . • • • •

Kematian neonatal : 0,30 % Kematian maternal : 30/100.000 KH Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit Persalinan tenaga kesehatan : 80 % Menurunnya angka kematian ibu, bayi dan balita Bumil resiko tinggi : 10 % Meningkatnya status gizi masyarakat BBLR : < 1,5 % Meningkatnya kesehatan anak pra-sekolah, remaja dan Anemia bumil : < 40 % usila Meningkatnya lingkungan Bumik Kekurangan Energi Kronis : < 25 % sehat Balita Gizi Buruk : < 1 % Cakupan ASI eksklusif : 80 % Cakupan penggunaan garam beryodium dlm rmh tangga : 90 % Kab. Dan Kec. endemis (GAKY) ringan

• • • • • •

Peningkatan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar Meningkatnya pelayanan kes. Usila dan remaja Meningkatnya Status gizi masyarakat Pengurangan angka kesakitan Pengurangan angka kematian ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 59

dengan TGR (Total Goiter Rate) : < 19 % Cakupan SPAL : 60 % Jamban sehat : 80 % Sarana air bersih kesehatan : 80 % Rumah sehat : 60 % memenuhi syarat

Terwujudnya • pengelolaan sumber daya kesehatan. • • •

Ratio dokter dengan penduduk 1 : ............ Terwujudnya peningkatan pengelolaan SDM kesehatan Ratio dokter dengan Puskesmas 1 : 2 Biaya kesehatan yang dikelola secara efisien Persen APBD kesehatan : 15 % Tersedianya sarana dan prasarana pelayanan kesehatan Tersedianya esensial dan sangat esensial di yang bermutu Puskesmas : 100 % Tersedianya obat yang efektif dan efisien

• • • • • • •

Pengembangan dan pengelolaan SDM kesehatan. peningkatan pendapatan dan retribusi Penggunaan dana kesehatan yang efisien Peningkatan kondisi dan mutu sarana dan prasarana pelayanan kesehatan Penyediaan obat-obatan sangat-sangat essensial Peningkatan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan Peningkatan perlindungan masyarakat terhadap penyalahgunaan obat, narkotika, psikotropika, zat

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 60

adiktif dan bahan berbahaya lainya. Peningkatan pembinaan batra dan produsen makmin

Terwujudnya 1. pelaksanaan manajemen dan informasi kesehatan yang efektif 2. 3.

Meningkatnya kualitas dalam perencanaan, penggerakan pelaksaaan, pengendalian, pengawasan dan evaluasi program kesehatan Meningkatnya sistem informasi kesehatan Terwujudnya regulasi/peraturan perundangan yang mendukung program kesehatan.

a) b) c) d)

Meningkatnya kualitas dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program kesehatan. Tersedianya informasi kesehatan Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan melalui kegiatan litbangkes Penyusunan rancangan kebijakan dan peratutan perundangan untuk pengembangan kesehatan

a)

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 61

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 62

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 63

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 64

MATRIK PROGRAM LIMA TAHUNAN SKPD

Kebijakan strategis 1 1. Sosialisasi masalah kesehatan dengan Lintas Sektor

Program 2

Indikasi Kegiatan Kerangka Anggaran Kerangka Regional 3 4

Pagu Indikatif Lima tahunan 5

Ket. (Mitra SKPD/Lokasi) 6

2. Kerjasama dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian program kesehatan

3. Kemitraan dengan swasta

4. Peningkatan Perilaku Hidup

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 65

Bersih dan Sehat (PHBS)

5. Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan

6. Upaya preventif dan promotif

7. Pengembangan UKBM

8. Peningkatan Mutu dan akses Pelayanan Kesehatan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 66

9. Kemandirian puskesmas

10. Revitalisasi puskesmas

11. Pelayanan kesehatan masyarakat miskin melalui JPK-MM

12. Perijinan yankes Pemerintah dan swasta 13. Peningkatan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan

14. Peningkatan perlindungan masyarakat terhadap penyalahgunaan obat, narkotika, psikotropika, zat

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 67

adiktif dan bahan berbahaya lainya.

15. Peningkatan pembinaan batra dan produsen makmin

16. Peningkatan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar

17. Meningkatnya pelayanan kes. Usila dan remaja

18. Meningkatnya Status gizi masyarakat

19. Pengurangan angka kesakitan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 68

20. Pengurangan angka kematian ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi

21. Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular

22. Pengembangan dan pengelolaan SDM kesehatan

23. peningkatan pendapatan dan retribusi

24. Penggunaan dana kesehatan yang efisien

25. Peningkatan kondisi dan mutu sarana dan prasarana pelayanan kesehatan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 69

26. Penyediaan obat-obatan sangat-sangat essensial

27. Peningkatan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan

28. Peningkatan perlindungan masyarakat terhadap penyalahgunaan obat, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya lainya.

29. Peningkatan pembinaan batra dan produsen makmin

30. Meningkatnya kualitas dalam

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 70

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program kesehatan.

31. Tersedianya informasi kesehatan

32. Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan melalui kegiatan litbangkes

33. Penyusunan rancangan kebijakan dan peratutan perundangan untuk pengembangan kesehatan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 71

MATRIK PROGRAM TAHUNAN SKPD

No 1

Program 2

Indikasi Kegiatan Kerangka Anggaran Kerangka Regulasi 3 4

Rp 5

Pagu Indikatif tahunan Sumber pendanaan Lokasi Kegiatan 6 7

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 72

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 73

MATRIK ANALISIS SWOT DARI LINGKUNGAN STRATEGIS

Internal/eksternal

Kekuatan

Kelemahan

Peluang Ancaman

No

Kekuatan
Adanya PERDA Struktur Organisasi Kesehatan Perda Retribusi Pelayanan

Kelemahan
Rasio tenaga profesional kesehatan di Puskesmas, RS dan Dinas masih sangat rendah Kemampuan teknis, manajerial SDM dan disiplin pegawai Kesehatan Kualitas sarana sebagian kurang baik

Peluang
Desentralisasi

Ancaman

Optima

sta Pengembangan pelayanan Banyaknya masyarakt miskin

M Pember

Kesehatan Jumlah 12 Sarana

ma Usulan pembanguan dan Kondisi Geografis Dampak krisis ekonomi

ke Peningk

pemerintah cukup rehab ke DAU Jumlah sarana UKBM masih cukup • Kondisi fisik UPTD belum memadai • Dukungan Negara Donor atas program-program memadai • Pelaksanaan kemitraan dengan LSM kepada keluarga miskin dan org. non politik kurang Kader Kes. • Sarana, Prasarana, tatalaksana sistem • Jumlah Cukup Informasi masih sangat kurang Jumlah tenaga cukup memadai • Manajemen Perencanaan belum • Dampak rasional Pembangunan terhadap lingkungan meningkat • Belum berorientasi kepada Paradigma Sehat • Kebutuhan Masyarakat terhadap • Sistem penilaian kinerja karyawan Pelayanan Kesehatan belum mampu mendorong motivasi dan inovasi Project oriented Perkembangan Pelayanan Konsep Sentralisme masih melekat dalam perencanaan program Dukungan dana Provincial Health Project Beban kerja tinggi di Puskesmas kesehatan swasta Perkembangan Perusahaan – perusahaan di daerah Keterlibatan Organisasi anggaran kesehatan dari Kerja sama lintas sektor masih bersifat seremonial

se Mening

pe

ke

Pemanf • Aktivitas kader kesehatan kurang • Biaya kesehatan tinggi

Optima

pe

Pember

lin

Transisi

Demografie

dan

Penyesu

Epidemiologi Mobilisasi Penduduk

ke Mening

me Dampak pembangunan

LSM, non

ke Mengur

terhadap lingkungan Perilaku baik masyarakat belum

pe

10

Meningkatnya pembiayaan DAU

politik dan akademisi Kemajuan Ilmu pengetahuan komputer dan dan Teknologi (terutama telekomunikasi) Adanya Bapel JPKM

Mengem

11

Program JPS-BK

Data hasil Survey atau penelitian masih sangat terbatas untuk

Kemapuan kesehatan

pembiayaan masyarakat

mening

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 74

13

Perkembangan pelayanan kesehatan swasta cukup pesat

wilayah Gunungkidul Mutu Pelayanan di UPTD masih buruk

Keterikatan

keluarga

rendah Berkembangnya produk obat, makanan, kosmetika Pengembangan alkes, dan

Pengem

tenaga kerja di luar obat Ketersediaan sarana Alkes UPTD tidak Memadai Upaya promotif dan preventif tidak terdukung oleh dana operasional Puskesmas wilayah (“Boro”) Pengembangan Kawasan Wisata Kesepakatan seluruh dalam mengalokasikan 15 % APBD Perkembangan wira usaha Keinginan / kemauan Bupati Indonesia

ke

14 15

Ketersediaan mencukupi

anggaran

Kawasan

Peningk

wisata Keseimbangan Profesional–non profesional keterbatasan Belanja Daerah Motivasi karir kurang karena struktur flat Dampak pengembangan tempat wisata Extended family masih banyak dijumpai di kalangan masyarakat Iklan berbagai produk yang tidak sehat (misal rokok ) cukup banyak Penurunan jumlah kesehatan Menurunya masyarakat paritisipasi kader dan Anggaran

ter Perbaik

16 17 18

Perangkat hukum di bidang kesehatan kurang Ketidak jelasan status RSUD dalam tatanan struktur organisasi Belum semua jabatan struktural terisi

Peningk

Pe Peningk

positif stake holder Struktur penduduk konstruktif

Pr Penataa

ru

19

Masih banyak tenaga kesehatan yang “nglajo”

Media

informasi

telah

Mencip

terjangkau di seluruh pelosok wilayah Penguasaan bahasa dan kemampuan baca meningkat Persepsi menengah atas dan stake holder terhadap kesehatan pemerintah Peningkatnya pengobatan tradisonal, Pos Kesehatan Institusi pelayanan

ke

20

Penguasaan Ilmu pengetahuan dan teknologi kurang

Proaktif

21

Program-prorgam kurang inovatif

22

Suasana kerja lebih cenderung sosial ketimbang profesional

jumlah

Ketidak

puasan

atas

mutu

layanan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 75

C. MATRIK ANALISIS

Tabel 19. ANALISIS DETERMINAN PRIORITAS MASALAH KESEHATAN
No Masalah Kematian bayi dan Neonatus 1. BBLR Mutu garam beryodium rendah Keterlibatan / peran serta stake holder tidak ada atau sangat minim Konsumsi Ikan 1,85% Status Gizi Masyarakat secara umum masih rendah Konsumsi padi-padian 25,30% Biaya untu kesehatan masih rendah 1,92% Perilaku hidup sehat masih rendah 53,3% masih berada dalam garis merah Cakupan garam yodium pada bumil massih rendah Pola makan tidak bagus : Konsumsi daging 3,8% Cakupan persalianan Lingkungan Perilaku

Y

Cakupan pemanfaatan pelayanan)

Cakupan K4 mas

Cakupan Fe rendah Petugas Pelaksana pro Tenaga perencana dan

di Tk II masih ku Rasio tenaga profe

2. Pneumoni

Cakupan rumah sehat rendah Keterlibatan / peran serta stake holder tidak ada atau sangat minim

Pola konsumsi gizi kurang baik: konsumsi ikan 1,85%, konsumsi daging :3,81%, konsumsi padi-padian: 25,30% Biaya untuk pemeliharaan kesehatan rendah

penduduk rendah SIK kesehatan Ibu ana Keterlibatan masy., LS Sistem Pembiayaan Petugas Pelaksana pro

Diagnosa kurang tep memadai)

Status

Gizi

Masyarakat

ikut

berperan

(1,92%) PHBS masih rendah (53,3 % warna merah).

Tenaga

perencana

memper-lemah kondisi tubuh

program di Tk II SIK kurang bagus Anggaran Asuransi rendah

3. Diare

Cakupan kualitas air bersih masih rendah Cakupan Jamban sehat masih rendah Cakupan air bersih masih rendah Keterlibatan / peran serta stake holder tidak ada atau sangat minim.

Cakupan PHBS rendah (Warna merah 53,3%) Pengetahuan rendah Keterlambatan berobat

Keterlibatan LS, LSM, Petugas Pelaksana

programn profesi

Anggaran kesehatan kecil Anggaran asuransi

Monev dan SIK kurang

Mutu pelayanan Diare

4. Gizi

Tanah berkapur sehingga Kurang garam

Pola konsumsi gizi kurang baik: konsumsi ikan

Keterlibatan Masy, LS Cakupan pemanfaatan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 76

beryodium Tanah kurang subur Curah hujan dan Musim

1,85%, konsumsi daging :3,81%, konsumsi padi-padian: 25,30% (perilaku) Petugas Pelaksana Biaya untuk pemeliharaan kesehatan rendah (1,92%) Status PHBS warna merah masih tinggi

Tenaga perencana

Keterlibatan / peran serta stake holder tidak ada atau sangat minim Status Gizi masyarakat secara umum masih rendah

Rasio tenaga profesion

Keterlibatan LSM rend Peran serta masyarakat rendah

SIK kesehatan Ibu ana Sistem Pembiayaan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 77

No

Masalah 5. Anemi Ibu

Lingkungan Pola pertanian (penyediaan bahan pangan) Status Gizi khususnya bumil, bufas masih sangat rendah

Perilaku Pola konsumsi gizi kurang baik: konsumsi ikan 1,85%, konsumsi daging :3,81%, konsumsi padi-padian: 25,30% (perilaku) Biaya untuk pemeliharaan kesehatan rendah

Y Cakupan pemanfaatan Petugas Pelaksana

Tenaga perencan (1,92%) Status PHBS warna merah masih tinggi Peran serta masyarakat rendah

program masih ku

Keterlibatan / peran serta stake holder tidak ada atau sangat minim

Rasio tenaga prof. kese

Keterlibatan stake hold

SIK kesehatan Ibu ana Sistem Pembiayaan

TB Paru

Cakupan rumah sehat rendah Status gizi dan sosial ekonomi masyarakat yang masih rendah Beberapa stake holder penting tidak terlibat / berperan serta

Cakupan PHBS masih rendah (warna merah (53,3 %) Pengetahuna dn kesadaran penderita kurang Kedisiplinan PMO kurang

Penduduk berpendidik Petugas Pelaksana pro

Upaya promosi petu Pelayanan)

Tenaga perencana dan

di Tk II masih ku SIK kurang bagus

Stake holder kurang be Monev kurang

Cakupan penemuan pe Sistem Pembiayaan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 78

Tabel 20. MATRIK ANALISIS SWOT No

Kekuatan
Adanya PERDA Struktur Organisasi Kesehatan

Kelemahan
Rasio tenaga profesional kesehatan di Puskesmas, RS dan Dinas rendah masih sangat

Peluang
Desentralisasi

Ancaman
Tingkat sosial ekonomi masyarakat

Strategi Kebijakan
Optimalisasi fungsi organisasi Dinas Kesehatan untuk pemberdayaan stake holder dalam mempertahankan DKM (Derajad Kesehatan Masyarakat) Pemberdayaan Puskesmas dan RSUD untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pemerataan pelayanan kesehatan khususnya kepada keluarga miskin

Peningkatan pembiayaan dengan disetujuinya Perda Retribusi Pelayanan Kesehatan Jumlah Sarana Kesehatan pemerintah cukup

Kemampuan manajerial dan pegawai

teknis, SDM disiplin

Dukungan Legisaltif

Tingkat pendidikan masyarakat masih rendah

Petugas berorientasi

belum

Anggaran Pemerintah

Kondisi Geografis

Peningkatan mutu SDM tenaga kesehatan dalam meningkatkan peran serta masyarakat menuju kemandirian pembiayaan kesehatan Pemanfaatan komunikasi untuk menjalin kemitraan dengan swasta

kepada Paradigma Sehat

Memiliki RSUD

Sistem penilaian kinerja karyawan mampu mendorong motivasi dan inovasi Sarana, Prasarana, tatalaksana sistem Informasi masih sangat kurang belum

Jumlah Kader Kesehatan Cukup

Pelaksanaan kemitraan dengan LSM dan org. non politik kurang Biaya kesehatan tinggi

Komunikasi Internal cukup baik

Kebutuhan Masyarakat terhadap Pelayanan Kesehatan Dampak Pembangunan terhadap lingkungan meningkat Perkembangan Pelayanan kesehatan swasta Perkembangan Perusahaan – perusahaan di daerah

Pemberdayaan tenaga kesehatan untuk meningkatkan PHBS dan lingkungan sehat

Jumlah tenaga cukup besar

Manajemen Perencanaan belum rasional

Aktivitas kader kesehatan kurang

Optimalisasi fungsi organisasi untuk pencegahan dan penanggulangan penyakit

Master Plan Dinas Kesehatan dan RSUD jelas Iklim Reformasi

Project oriented

Transisi Demografie dan Epidemiologi Mobilisasi Penduduk

Penyesuaian tarip Puskesmas dan RSUD untuk peningkatan pelayanan kesehatan Meningkatkan kwalitas SDM dalam rangka pemberdayaan untuk meningkatkan peran serta

Konsep masih

Sentralisme melekat

dalam perencanaan program

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 79

masyarakat termasuk Dukungan dana Provincial Health Project Beban kerja tinggi di Puskesmas Keterlibatan LSM, Organisasi non politik dan akademisi Dampak pembangunan terhadap lingkungan swsta di bidang kesehatan Mengurangi beban kerja Puskesmas dengan menyusun kebijakan pengembangan pelayanan kesehatan dasar dan 10 Meningkatnya anggaran pembiayaan kesehatan dari DAU Kerja sama lintas sektor masih seremonial bersifat Kemajuan Ilmu pengetahuan dan Teknologi (terutama komputer dan telekomunikasi) Perilaku masyarakat belum baik rujukan Mengembangkan SIK untuk penyediaan data yang akurat

NO
11

Kekuatan
Program JPS-BK

Kelemahan
Data hasil Survey atau penelitian sangat untuk masih terbatas wilayah

Peluang
Adanya Bapel JPKM

Ancaman
Kemapuan pembiayaan kesehatan masyarakat rendah Dampak krisis ekonomi

Analisis kelayakan
meningkatkan pembiayaan kesehatan

12

Jumlah sarana UKBM masih cukup memadai

Gunungkidul Kondisi fisik UPTD belum memadai

Dukungan Negara Donor atas programprogram kepada keluarga miskin

Meningkatkan sarana fisik untuk prasarana UPTD untuk penyediaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat utamanya gol menengah kebawah Pengembangan sarana prasarana pendukung khususnya sub sistem kesehatan Peningkatan kinerja SDM Jajaran Kesehatan dan pelaku yang peduli terhadap kesehatan Perbaikan dan Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan

13

Perkembangan pelayanan kesehatan swasta cukup pesat

Mutu

Pelayanan

di

Keterikatan keluarga tenaga kerja di luar wilayah (“Boro”)

Berkembangnya produk obat, makanan, alkes, dan kosmetika Pengembangan Kawasan wisata

UPTD buruk

masih

14

Ketersediaan anggaran obat mencukupi

Ketersediaan Memadai

sarana

Pengembangan Kawasan Wisata

Alkes UPTD tidak

15

Upaya

promotif

dan tidak oleh

Kesepakatan Bupati seluruh Indonesia dalam mengalokasikan 15 % APBD

Keseimbangan Profesional– non profesional dan keterbatasan Anggaran Belanja Daerah Motivasi karir kurang karena struktur flat

preventif terdukung dana Puskesmas

operasional

16

Perangkat bidang kurang

hukum

di

Perkembangan wira usaha

Peningkatan pelayanan kesehatan melalui pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

kesehatan

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 80

17

Ketidak jelasan status RSUD tatanan organisasi dalam struktur

Keinginan / kemauan positif stake holder

Dampak pengembanga n tempat wisata

(JPKM) Peningkatan Efisiensi di semua sektor pelayanan mulai dari kegiatan Preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif (Paradigma Sehat) Penataan unit pelaksana teknis Dinas uintuk pelayanan kesehatan dan rujukan

18

Belum semua jabatan struktural terisi

Struktur penduduk konstruktif

Extended family masih banyak dijumpai di kalangan masyarakat Iklan berbagai produk yang tidak sehat (misal rokok ) cukup banyak Penurunan jumlah kader kesehatan Menurunya paritisipasi masyarakat

19

Masih banyak tenaga kesehatan “nglajo” yang

Media informasi telah terjangkau di seluruh pelosok wilayah

Menciptakan dan Mendorong perkembangan pola kemitraan bidang kesehatan

20

Penguasaan pengetahuan

Ilmu dan

Penguasaan bahasa dan kemampuan baca meningkat Persepsi menengah atas dan stake holder terhadap pelayanan kesehatan pemerintah Peningkatnya jumlah pengobatan tradisonal, Pos Kesehatan Institusi

Proaktif dalam mencari peluang bagi pembangunan bidang kesehatan

21

teknologi kurang Program-prorgam kurang inovatif

22

Suasana

kerja

lebih sosial

Ketidak puasan atas mutu layanan

cenderung ketimbang profesional

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 81

NO
23

Kekuatan

Kelemahan
Dana guna membangun infra kurang struktur struktur (infra untuk desentralisasi

Peluang
Komunikasi cukup sebagian wilayah Peningkatan Harapan Masyarakat Penurunan angka Umur Hidup baik dan di

Ancaman
Ketergantungan masyarakat subsidi atas

Analisis kelayakan

transportasi telah besar

24

sustainability) Cakupan upaya pelayanan kesehatan masih promosi masih rendah Anggaran kesehatan rendah

Peningkatan neonatus

angka

kematian bayi dan

25

Peningkatan prevalensi / incident penyakit TB-paru, rate menular ISPA,

kematian ibu

26

Cakupan

pemanfaatan oleh masih

Penurunan rate kematian DBD

Incident dan akibat

Malaria Peningkatan prevalensi penyakit menular non

pelayanan kesehtaan masyarakat 27 rendah Petugas

penyakit menular Peningkatan status Gizi Buruk Masyarakat

pelaksana

profesional (fungsional) lapangan 28 masih terbatas Mutu petugas penyusun program kesehatan profesional tingkat 29 di kabupaten

Kebocoran inefisiensi

dan

penggunaan obat di Puskesmas Kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan melalui suntikan Tingginya kasus Berat Bayi Lahir Rendah (manifestasi Gizi) Mutu garam beryodium di rendah Pertolongan oleh pasaran Gunungkidul masih

kurang memadai Sistem pembiayan Puskesmas

31

32

33

persailnan tenaga

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 82

kesehatan 34 rendah Perilaku baik Penemuan berbagai penyakit 36

masih kesehatan belum kasus macam menular

masyarakat 35

masih sangat rendah Kualitas air

Rencana Strategis Dinkes dan KB Kab. GK, by Sei Perencaraan dan Pendataan 83

ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS

A. LINGKUNGAN EKSTERNAL Dukungan politis melalui perangkat hukum merupakan faktor penting dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan atau program-program pembangunan kesehatan. Adanya beberapa Peraturan Daerah baik secara umum maupun khusus bidang kesehatan menjadi kekuatan utama dalam mendukung upaya peningkatan pelayanan kesehatan prima kepada masyarakat. Keberadaan Perda struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul serta Perda tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan di Puskesmas merupakan tahap yang sangat penting yang menjadi dasar bagi perancangan program-program yang lain. Perda baru tentang Struktur organisasi berdasarkan PP 8 tahun 2003 tengah diproses konsep rancanganannya untuk dilanjutkan dalam pembahasan dengan Pemerintah Daerah. Keberadaan Peraturan Daerah lainnya yang telah disusun sebelum masa desentralisasi beberapa nampaknya masih sesuai untuk dioperasionalisasikan namun beberapa perlu dilakukan revisi segera. Diberlakukannya Desentralisasi melahirkan Perda baru tentang pelayanan Kesehatan swasta yang sebelumnya belum bisa dilaksanakan. Pelayanan umum yang ada kaitanya dengan peningkatan status kesehatan masyarakat yang pengelolaannya dilaksanakan oleh lintas sektor terkait antara lain pelayanan keluarga berencana, pelayanan pemberian makanan tambahan bagi anak sekolah, kesehatan lingkungan, pelayanan usaha kesehatan sekolah dan sebagainya merupakan daya dukung yang perlu dikembangkan dan dikoordinasikan lebih lanjut sehingga akan mempercepat penanganan masalah kesehatan yang ada dalam upaya menuju derajat kesehatan masyarakat Perkembangan teknologi dan pendidikan dalam bidang kesehatan memberikan dampak banyak munculnya sarana pelayanan kesehatan swasta termasuk Rumah Sakit telah telah berkembang dengan munculnya berbagai Balai Pengobatan swasta, Rumah Bersalin swasta maupun dokter praktek dan bidan praktek swasta. RSUD merupakan sebuah aset kesehatan yang layak untuk dikembangkan lebih luas mengingat fungsinya sebagai rujukan dari berbagai unit layanan kesehatan. RSUD merupakan kekuatan penting bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Gunungkidul khususnya dalam pemberian layanan tingkat lanjut bagi pasien yang memerlukannya.

84

Iklim desentralisasi memberikan banyak reformasi yang terus bergulir sehingga memberikan nuansa baru yang lebih baik. Globalisasi juga memberikan tantangan ke depan dalam kemampuan organisasi untuk menyesuikan diri atau kemampuan untuk senantiasa memperbaharui diri dalam mengendalikan lingkungannya sehingga memberikan kontribusi yang kondusif bagi proses manajemen organisasi. Dengan latar belakang krisis ekonomi yang terjadi maka perhatian kepada keluarga miskin menjadi semakin meningkat mengingat kemampuan mereka dalam pembiayaan kesehatan yang semakin lemah. Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK) yang diluncurkan sekitar tahun 1997 untuk memberikan safety fund bagi keluarga miskin yang dilanjutkan dengan program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan bakar Minyak (PKPSBBM) sangat membantu penanganan dalam pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin, namun sebagai bentuk subsidi dan telah mulai membaiknya suasana ekonomi ataupun status derajat kesehatan masyarakat maka perlu dipikirkan untuk Exit strategy – nya agar berkembang suatu kemandirian pembiayaan kesehatan masyarakat. Paradigma sehat merupakan paradigma yang dikembangkan dalam mencapai Indonesia Sehat tahun 2010 melalui strategi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan orientasi bahwa pelayanan preventif dan promotif mendapatkan porsi lebih utama tanpa mengabaikan pelayanan curatif dan rehabilitatif. Persepsi masyarakat tentang Puskesmas sebagai unit pelayaan bagi orang sakit sehingga mereka akan berkunjung bila sakit perlu dirubah karena hal ini bertentangan dengan konsep sehat itu sendiri yang tidak hanya mengobati sakit namun juga menjaga sehat. Disiplin pegawai meskipun telah lama menjadi sorotan namun hingga saat ini masih tetap memprihatinkan. Sistem reward dan punisment bagi pegawai belum mapan dan belum dilaksanakan dengan baik. Pengembangan karir merupakan sarana pemacu motivasi pada banyak organisasi, namun demikian hal ini belum menjadi pokok perhatian utama pegawai mengingat sistem penilaian kinerja yang masih perlu banyak pembenahan (struktural maupun fungsional).

B. ANALISIS LINGKUNGAN INTERNAL 1. Sumber Daya Manusia Kesehatan

Meningkatnya jumlah pelayanan kesehatan swasta bisa sebagai peluang maupun tantangan bagi

85

sarana pelayanan kesehatan Pemerintah yang berdampak pada jumlah pasien yang berkunjung ke Puskesmas maupun ke Rumah Sakit Pemerintah. Semakin berkembangnya pelayanan kesehatan diperlukan pembinaan maupun landasan hukum yang jelas malpraktek yang tidak bertanggungjawab. Peran serta masyarakat dalam penyediaan sarana dapat dikaji dari banyaknya sarana UKBM yang ada di masyarakat misalnya Posyandu. Namun demikian peran serta masyarakat diluar penyediaan UKBM antara lain menyangkut kader kesehatan mengalami pasang surut. Salah sau faktor yang menyebabkan kemungkinan dari strategi kebijakan dari unsur Pemerintah yang belum tepat dengan memberikan berbagai insentif yang pada akhirnya terbentur kepada keterbatasan dana dan menyebabkan pola kemandirian tidak dapat diraih kembali. Selain hal tersebut banyaknya tugas rangkap yang diberikan kepada kader karena keterbatasan kualitas sumber daya manusia yang tersedia di masyarakat setempat untuk mengelola program kesehatan dan program-program lainya diluar kesehatan. Kesadaran dan kerelaan bekerja demi kemajuan daerahnya juga berperan dalam proses naik turunnya jumlah kader kesehatan di masyarakat. Jumlah sarana UKBM selama lima tahun terakhir tidak banyak mengalami perbedaan dibanding tahun sebelumnya. Data selengkapnya sebagai berikut : Tabel 7. Jumlah Sarana UKBM di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2000 - 2004 JENIS Jumlah Pos UKK Jumlah Posyandu Jumlah Poskestren Jumlah Batra Jumlah Kader 2000 24 1447 6 1939 5725 2001 24 1447 6 1939 5725 2002 37 1447 3 1339 7992 2003 37 1446 3 1339 7992 2004 37 1457 9 1339 7992 guna melindungi masyarakat dari

Sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) merupakan kelompok sasaran yang diharapkan partisipasinya. Jumlah Posyandu yang cukup besar yang merata hampir di setiap dusun serta jumlah kader yang relatif banyak merupakan modal dalam pembangunan kesehatan oleh masyarakat dalam rangka menuju kemandirian dalam bidang kesehatan.

3. Pembiayaan Kesehatan

86

Dalam rangka mempersiapkan proses pelaksanaan Desentralisasi di Kabupaten Gunungkidul telah diluncurkan dukungan dana Provincial Health Project (PHP I) yang dimulai pada tahun 2000 dan akan berakhir tahun 2006 yang cukup memberikan peran dalam penataan organisasi Dinas Kesehatan secara keseluruhan. Pendanaan ini sangat berguna dalam menciptakan berbagai infra struktur organisasi dalam menapaki era desentralisasi. Tujuan dari bantaun dana PHP I adalah menciptakan infra struktur yang mantap dalam upaya pelaksanaan desentralisasi untuk meningkatkan kemampuan kemandirian organisasi dan mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Kajian dari sumber dana Dana Alokasi Umum (DAU) dari tahun ke tahun menunjukan bahwa ada trend peningkatan meskipun masih belum sepenuhnya mampu memenuhi keinginan terutama untuk belanja operasional pembangunan (belanja langsung). Kesepakatan Bupati seluruh Indonesia yang berkomitmen untuk mengalokasikan minimal 15 % dari anggaran daerah bagi anggaran kesehatan (sebagaimana disarankan oleh WHO) nampaknya belum diadopsi secara nyata oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengingat keterbatasan dana dan program kesehatan masih kurang atau belum dipandang sebagai yang paling prioritas dalam penganggaran DAU. 4.1. Dana Rutin dan Pembangunan Kesehatan Dana pembangunan kesehatan yang dialokasikan melalui Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit berasal dari dana APBD dengan sumber Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang digunakan untuk kegiatan rutin (belanja tidak langsung) maupun pembangunan (belanja langsung).

Tabel 8. Alokasi Dana Kesehatan untuk Dinas Kesehatan dan Puskesmas Di Kab. Gunungkidul Tahun 2002 - 2004

No 1 2

Jenis/Sumber APBN APBD ( DAU /DAK) Gaji pegawai Belanja Non gaji (Belanja langsung dan tak langsung) Sarana/prasarana (DAK) APBD I /

2002 150.400.000 15.693.200.000 284.300.000

2003 0 15.262.486.790 19.559.332.940

2004 0 16.977.891.739 19.878.498.239

3

437.500.000 7.500.000

1.773.750.000 0

1.550.000.000 0

87

Propinsi/Dekonsentra 4 5 si PHP (Propincial Health Project) JPS-BK/KPSBBM/ Jamkessos
JUMLAH

3.558.400.000 2.677.500.000

2.357.203.000 2.593.184.000

1.451.948.000

Sumber anggaran program-program kesehatan di kabupaten Gunungkidul yang berasal dari pusat nampak mulai berkurang dan anggaran yang berada di daerah mulai naik seiring dengan perubahan pola desentralisasi. Dilihat dari komposisi anggaran yang ada ternyata prosentase anggaran kesehatan sebagian besar diperuntukkan bagi gaji pegawai serta untuk belanja rutin/ belanja tak langsung. Dana alokasi kusus merupakan sumber dana yang dipakai untuk pembangunan fisik berupa rehab Puskesmas, Puskesmas pembantu, rumah dokter dan paramedis serta belanja modal berupa alat kesehatan. Anggaran yang berasal dari Pusat banyak berupa barang misalnya vaksin untuk program imunisasi dan alat kesehatan. Tahun 2005 merupakan pereode akhir pembiayaan yang bersumber dari Propincial Health Project (PHP). Dana PHP mulai dikucurkan dan memberikan pengaruh cukup besar dalam pembiayaan prorgam-prorgam kesehatan khususnya dalam pengembangan kemampuan sustainability dari Dinas Kesehatan setelah 2005. Pelayanan kesehatan bagi warga miskin sesuai yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 34 bahwa masyarakat miskin ditanggung oleh negara maka jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin disediakan melalui program Jaring pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK) yang dimulai sekitar tahun 1997 yang dilanjutkan dengan dana dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak ( PKPSBBM) bidang kesehatan pada tahun 2003 sampai akhir tahun 2004. untuk program selanjutnya diteruskan dengan Program Jaminana Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPK-MM) yang dikelola oleh PT ASKES. 4.2. Retribusi Kesehatan Retribusi bidang kesehatan diperoleh dari Puskesmas (Pelayanan harian, jasa medis, jasa Puskesmas), Perijinan pelayanan kesehatan swasta, dan dari pelayanan Rumah sakit. Hasil penarikan retribusi kesehatan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 9. Retribusi Bidang Kesehatan dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Di Kabupaten Gunungkidul tahun 2002 sampai dengan 2004

88

Retribusi dan PAD 1. RSUD 2. Pusk. 3. PAD Murni daerah

2002 4.634.295.900 800.744.550 242.980.047.108,76

2003 4.609.606.250 723.512.850 333.985.149.670,53

2004 764.290.025 (RI dan RJ

Dibanding dengan tahun 2002, penurunan pendapatan ternyata tidak hanya terjadi pada RSUD Wonosari tetapi juga menurun tajam (9,65 %) terjadi di Puskesmas. Hal ini sangat erat dengan jumlah kunjungan pasien dimana pada tahun 2003 mengalami penurunan. Penarikan retribusi kesehatan di Puskesmas berdasar pada Perda Nomor 14 tahun 2000 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan, sedangkan untuk Rumah sakit berdasarkan pada Perda nomor 13 tahun 2000. Pada pertengahan tahun 2000 baik Retribusi Puskesmas maupun Rumah sakit mengalami perubahan kenaikan tarip yaitu untuk Rumah sakit retribusi pada rawat jalan yang semula Rp 2.000 menjadi Rp 5.000 sedangkan Puskesmas yang semula Rp 300 menjadi Rp 1.500. Kenaikan ini diperhitungkan mengingat desentralisasi telah diterapkan di semua Kabupaten. Dengan kenaikan tarif ini, maka dipersiapkan akan mendukung kegiatan operasional Puskesmas maupun Rumah sakit menuju swadana. Semakin berubahnya harga-harga di pasaran serta banyak munculnya pelayanan kesehatan swasta memberikan sinyal bahwa pola tarip di Puskesmas perlu ada peninjauan ulang sehingga dimungkinkan timbulnya Perda yang baru mengganti perda 14 tahun 2000.

89

MATRIK ANALISIS SWOT DARI LINGKUNGAN STRATEGIS

Internal/eksternal

Kekuatan

Kelemahan

Peluang Ancaman

No

Kekuatan
Adanya PERDA Struktur Organisasi Kesehatan Perda Retribusi Pelayanan

Kelemahan
Rasio tenaga profesional kesehatan di Puskesmas, RS dan Dinas masih sangat rendah Kemampuan teknis, manajerial SDM dan disiplin pegawai Kesehatan Kualitas sarana sebagian kurang baik

Peluang
Desentralisasi

Ancaman

Optima

sta Pengembangan pelayanan Banyaknya masyarakt miskin

M Pember

Kesehatan Jumlah 12 Sarana

ma Usulan pembanguan dan Kondisi Geografis Dampak krisis ekonomi

ke Peningk

pemerintah cukup rehab ke DAU Jumlah sarana UKBM masih cukup • Kondisi fisik UPTD belum memadai • Dukungan Negara Donor atas program-program memadai • Pelaksanaan kemitraan dengan LSM kepada keluarga miskin dan org. non politik kurang Kader Kes. • Sarana, Prasarana, tatalaksana sistem • Jumlah Cukup Informasi masih sangat kurang Jumlah tenaga cukup memadai • Manajemen Perencanaan belum • Dampak rasional Pembangunan terhadap lingkungan meningkat • Belum berorientasi kepada Paradigma Sehat • Kebutuhan Masyarakat terhadap • Sistem penilaian kinerja karyawan Pelayanan Kesehatan belum mampu mendorong motivasi dan inovasi Project oriented Perkembangan Pelayanan Konsep Sentralisme masih melekat dalam perencanaan program Dukungan dana Provincial Health Project Beban kerja tinggi di Puskesmas kesehatan swasta Perkembangan Perusahaan – perusahaan di daerah Keterlibatan Organisasi anggaran kesehatan dari Kerja sama lintas sektor masih bersifat seremonial

se Mening

pe

ke

Pemanf • Aktivitas kader kesehatan kurang • Biaya kesehatan tinggi

Optima

pe

Pember

lin

Transisi

Demografie

dan

Penyesu

Epidemiologi Mobilisasi Penduduk

ke Mening

me Dampak pembangunan

LSM, non

ke Mengur

terhadap lingkungan Perilaku baik masyarakat belum

pe

10

Meningkatnya pembiayaan DAU

politik dan akademisi Kemajuan Ilmu pengetahuan komputer dan dan Teknologi (terutama telekomunikasi) Adanya Bapel JPKM

Mengem

11

Program JPS-BK

Data hasil Survey atau penelitian masih sangat terbatas untuk wilayah Gunungkidul Mutu Pelayanan di UPTD masih buruk

Kemapuan kesehatan

pembiayaan masyarakat

mening

13

Perkembangan pelayanan kesehatan

Keterikatan

keluarga

rendah Berkembangnya produk obat,

Pengem

90

swasta cukup pesat 14 15 Ketersediaan mencukupi anggaran obat Ketersediaan sarana Alkes UPTD tidak Memadai Upaya promotif dan preventif tidak terdukung oleh dana operasional Puskesmas

tenaga kerja di luar wilayah (“Boro”) Pengembangan Kawasan Wisata Kesepakatan seluruh dalam mengalokasikan 15 % APBD Perkembangan wira usaha Keinginan / kemauan Bupati Indonesia

makanan, kosmetika Pengembangan

alkes,

dan

ke

Kawasan

Peningk

wisata Keseimbangan Profesional–non profesional keterbatasan Belanja Daerah Motivasi karir kurang karena struktur flat Dampak pengembangan tempat wisata Extended family masih banyak dijumpai di kalangan masyarakat Iklan berbagai produk yang tidak sehat (misal rokok ) cukup banyak Penurunan jumlah kesehatan Menurunya masyarakat paritisipasi kader dan Anggaran

ter Perbaik

16 17 18

Perangkat hukum di bidang kesehatan kurang Ketidak jelasan status RSUD dalam tatanan struktur organisasi Belum semua jabatan struktural terisi

Peningk

Pe Peningk

positif stake holder Struktur penduduk konstruktif

Pr Penataa

ru

19

Masih banyak tenaga kesehatan yang “nglajo”

Media

informasi

telah

Mencip

terjangkau di seluruh pelosok wilayah Penguasaan bahasa dan kemampuan baca meningkat Persepsi menengah atas dan stake holder terhadap kesehatan pemerintah Peningkatnya pengobatan tradisonal, Pos Kesehatan Institusi pelayanan

ke

20

Penguasaan Ilmu pengetahuan dan teknologi kurang

Proaktif

21

Program-prorgam kurang inovatif

22

Suasana kerja lebih cenderung sosial ketimbang profesional

jumlah

Ketidak

puasan

atas

mutu

layanan

91

C. ANALISIS DETERMINAN KESEHATAN Analisis determinan ini perlu disampaikan sebagai salah satu rangkaian analisis yang dilakukan untuk memecahkan permasalahan dengan pendekatan determinan yang berpengaruh terhadap munculnya permasalahan kesehatan. Determinan permasalahan kesehatan merupakan indikator yang akan menjadi pokok fokus penyelesaian sedangkan analisis dengan pendekatan organisasi dilakukan dengan analisis SWOT. Kedua analisis ini akan saling mengisi kekurangan dimasing-masing metode. SWOT lebih mengutamakan pendekatan manajerial dan organisasi sedangkan analisis determinan (HL.Blum) ini lebih cenderung kepada pendekatan epidemiologi. Hasil analisis dari kedua metode digabungkan bersama untuk menghasilkan strategi kebijakan yang lebih lengkap.

PEMBAHASAN IDENTIFKASI DETERMINAN Dari hasil identifikasi, kombinasi antara kecenderungan dan perbandingan standar diperoleh kekuatan masalah diurutkan menurut nilainya sebagai berikut : Nilai 5 ( tren buruk, perbandingan standar buruk ) a. b. c. d. e. Angka Kematian Bayi Angka Kematian Neonatus TB Paru ISPA Status Gizi (buruk dan Lebih)

Nilai 3 (tren/ perbandingan buruk, perbandingan/tren baik) a. c. e. f. Diare (CFR) Anemi Ibu Hamil KEK WUS Penyakit non Menular (Neoplasma, Kanker, DM, Jiwa, Mata, Hipertensi, Asma, Alergi)

b. Malaria d. Anemi balita

g. Gangguan system otot

92

Nilai 1 (tren dan perbandingan baik) - (lain-lain)

Indikator Hasil
MORTALITAS ι Angka Kematian Bayi ι Kasus Kematian Neonatus ι Kasus Kematian Ibu MORBIDITAS Penyakit Menular 1. DBD Incident rate CFR (%) 2. TB-Paru Prevalensi Case Fatality Rate 3. ISPA Angka Kesakitan Non Pneumoni Angka Kesakitan Pneumoni 4 Diare Angka Kesakitan Diare ( CFR Diare (%) 5. Malaria (API) Penyakit Non Menular Gangguan Sistem Otot Kesehatan Gigi dan Mulut Alergi Asma Hipertensi Kesehatan Mata Kesehatan Jiwa Diabetes Melitus Kanker Neoplasma Jinak Status Gizi + + -

Tren Asumsi
Buruk Buruk Baik

target

Target Asumsi
Buruk Buruj Baik

Kekuatan
5 5 1

23/1000 turun turun

0 + + + -+ + + _ + + baik Baik Baik Baik Baik

Baik Baik Baik Baik Buruk Baik Baik Baik Buruk Buruk Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Buruk Buruk Buruk Baik Baik Buruk

5/1000 0,5 0 11/1000 1/1000 < 28/1000 0,5 300/1000 150 46 25 10 12 8 2 0,05 0,05 0,03 <1% < 20 % > 78 % <1% 24 4.5 55 < 35 20

Baik Baik Buruk Baik Buruk Buruk Baik Buruk Baik Baik Baik Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Baik Baik Buruk baik baik Buruk Buruk Buruk

1 1 5 1 5 3 1 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 5 1 1 5 1 1 3 3 3

( ( ( (
KEP

Buruk Kurang Baik Lebih

KEP Total KEP nyata (BGM) Anemia ( Anemia Ibu Hamil ( Anemia Balita KEK WUS

( (

Dengan mempertimbangkan tingkat live saving, kegawatan, berat-besar masalah, teknologi dan sumberdaya maka kematian bayi dan neonatus disepakati memiliki nilai yang lebih dengan pertimbangan utama mengingat tingginya tingkat kamatian. Pertimbangan tersebut diperlukan dengan mengingat bahwa beberapa permasalahan

93

tersebut memiliki kekuatan yang sama misalnya dengan TB paru. . Kematian Bayi dan Neonatus merupakan satu permasalahan yang tidak terlepaskan dan untuk selanjutnya dalam pembahasan dan akan disatukan sebagai permasalahan mendasar di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Pengkajian melalui identifikasi determinan (kuantitatif dan kualitatif) akan mengkaji tiap permasalahan dalam perspektif yang lebih khusus. Kematian bayi dan neonatus banyak dipengaruhi oleh BBLR dimana BBLR sendiri dipengaruhi oleh Anemia dan status gizi ibu hamil. Pneumoni memiliki andil memperbesar kematian. Kesehatan lingkungan, perilaku dan mutu pelayanan perlu diidentifikasikan untuk menjelaskan potensi yang membuat penyakit ini tetap tumbuh berkembang. Kesakitan Diare pada kelompok bayi maupun perinatal perlu menjadi perhatian pula mengingat bahwa penyakit ini selalu masuk dalam kelompok 5 besar penyakit di rumah sakit dan 10 besar di Puskesmas kelompok bayi dan perinatal. Kematian bayii dan neonatus sebagai permasalahan utama, tersusun atas determinan kesakitan dan status gizi yang kurang baik. Beberapa permasalahan mendasar lain, termaktub dalam kasus kematian bayi dan neonatus sehingga permasalahan TBParu menjadi permasalahan kedua meskipun memiliki keterkaitan tidak langsung pula terhadap kesehatan ibu dan bayi. Dengan demikian komposisi yang dapat disusun adalah sebagai berikut : 1) Masalah Utama a) Angka kematian bayi dan neonatus  BBLR (berat Bayi Lahir Rendah) , ISPA (Infeksi Saluranm Pernafasan Atas) – Pneumoni, Status Gizi , Anemia , Diare b) TB Paru 2) Masalah Penting Malaria, Anemi balita, KEK (Kekuarangan Energi Kronis) WUS, Penyakit non Menular (Neoplasma, Kanker, DM, Jiwa, Mata, Hipertensi, Asma, Alergi), Gangguan system otot 3) Perlu Mendapat Perhatian: Nilai 1 (tren dan perbandingan baik) - (lain-lain)

94

C. MATRIK ANALISIS

Tabel 19. ANALISIS DETERMINAN PRIORITAS MASALAH KESEHATAN
No Masalah Kematian bayi dan Neonatus 1. BBLR Mutu garam beryodium rendah Keterlibatan / peran serta stake holder tidak ada atau sangat minim Konsumsi Ikan 1,85% Status Gizi Masyarakat secara umum masih rendah Konsumsi padi-padian 25,30% Biaya untu kesehatan masih rendah 1,92% Perilaku hidup sehat masih rendah 53,3% masih berada dalam garis merah Cakupan garam yodium pada bumil massih rendah Pola makan tidak bagus : Konsumsi daging 3,8% Cakupan persalianan Lingkungan Perilaku

Y

Cakupan pemanfaatan pelayanan)

Cakupan K4 mas

Cakupan Fe rendah Petugas Pelaksana pro Tenaga perencana dan

di Tk II masih ku Rasio tenaga profe

2. Pneumoni

Cakupan rumah sehat rendah Keterlibatan / peran serta stake holder tidak ada atau sangat minim

Pola konsumsi gizi kurang baik: konsumsi ikan 1,85%, konsumsi daging :3,81%, konsumsi padi-padian: 25,30% Biaya untuk pemeliharaan kesehatan rendah

penduduk rendah SIK kesehatan Ibu ana Keterlibatan masy., LS Sistem Pembiayaan Petugas Pelaksana pro

Diagnosa kurang tep memadai)

Status

Gizi

Masyarakat

ikut

berperan

(1,92%) PHBS masih rendah (53,3 % warna merah).

Tenaga

perencana

memper-lemah kondisi tubuh

program di Tk II SIK kurang bagus Anggaran Asuransi rendah

3. Diare

Cakupan kualitas air bersih masih rendah Cakupan Jamban sehat masih rendah Cakupan air bersih masih rendah Keterlibatan / peran serta stake holder tidak ada atau sangat minim.

Cakupan PHBS rendah (Warna merah 53,3%) Pengetahuan rendah Keterlambatan berobat

Keterlibatan LS, LSM, Petugas Pelaksana

programn profesi

Anggaran kesehatan kecil Anggaran asuransi

Monev dan SIK kurang

Mutu pelayanan Diare

4. Gizi

Tanah berkapur sehingga Kurang garam beryodium Tanah kurang subur Curah hujan dan Musim

Pola konsumsi gizi kurang baik: konsumsi ikan 1,85%, konsumsi daging :3,81%, konsumsi padi-padian: 25,30% (perilaku) Biaya untuk pemeliharaan kesehatan rendah

Keterlibatan Masy, LS Cakupan pemanfaatan Petugas Pelaksana

Tenaga perencana

95

Keterlibatan / peran serta stake holder tidak ada atau sangat minim

(1,92%) Status PHBS warna merah masih tinggi

Rasio tenaga profesion

Keterlibatan LSM rend

Status Gizi masyarakat secara umum masih rendah Peran serta masyarakat rendah

SIK kesehatan Ibu ana Sistem Pembiayaan

96

No

Masalah 5. Anemi Ibu

Lingkungan Pola pertanian (penyediaan bahan pangan) Status Gizi khususnya bumil, bufas masih sangat rendah

Perilaku Pola konsumsi gizi kurang baik: konsumsi ikan 1,85%, konsumsi daging :3,81%, konsumsi padi-padian: 25,30% (perilaku) Biaya untuk pemeliharaan kesehatan rendah

Y Cakupan pemanfaatan Petugas Pelaksana

Tenaga perencan (1,92%) Status PHBS warna merah masih tinggi Peran serta masyarakat rendah

program masih ku

Keterlibatan / peran serta stake holder tidak ada atau sangat minim

Rasio tenaga prof. kese

Keterlibatan stake hold

SIK kesehatan Ibu ana Sistem Pembiayaan

TB Paru

Cakupan rumah sehat rendah Status gizi dan sosial ekonomi masyarakat yang masih rendah Beberapa stake holder penting tidak terlibat / berperan serta

Cakupan PHBS masih rendah (warna merah (53,3 %) Pengetahuna dn kesadaran penderita kurang Kedisiplinan PMO kurang

Penduduk berpendidik Petugas Pelaksana pro

Upaya promosi petu Pelayanan)

Tenaga perencana dan

di Tk II masih ku SIK kurang bagus

Stake holder kurang be Monev kurang

Cakupan penemuan pe Sistem Pembiayaan

97

Tabel 20. MATRIK ANALISIS SWOT No

Kekuatan
Adanya PERDA Struktur Organisasi Kesehatan

Kelemahan
Rasio tenaga profesional kesehatan di Puskesmas, RS dan Dinas masih sangat rendah Kemampuan

Peluang
Desentralisasi

Ancaman
masyarakat

Tingkat sosial ek

Peningkatan

pembiayaan Perda

dengan Retribusi

teknis,

Dukungan Legisaltif

Tingkat rendah

pen

disetujuinya

manajerial SDM dan disiplin pegawai

masyarakat

Pelayanan Kesehatan

Jumlah Sarana Kesehatan pemerintah cukup

Petugas berorientasi

belum kepada

Anggaran Pemerintah

Kondisi Geografis

Paradigma Sehat

Memiliki RSUD

Sistem penilaian kinerja karyawan mampu belum mendorong

Jumlah

Kader

Pelaksanaan org.

kem non

Kesehatan Cukup

dengan LSM

Komunikasi Internal cukup baik

motivasi dan inovasi Sarana, Prasarana, tatalaksana Informasi sistem masih

Kebutuhan Masyarakat terhadap Pelayanan Kesehatan Dampak Pembangunan terhadap lingkungan meningkat Perkembangan Pelayanan kesehatan swasta Perkembangan Perusahaan perusahaan daerah – di

kurang Biaya kesehatan ti

Jumlah tenaga cukup besar

sangat kurang Manajemen Perencanaan belum rasional

Aktivitas kader ke kurang

Master Plan Dinas Kesehatan dan RSUD jelas Iklim Reformasi

Project oriented

Transisi Demogra

Epidemiologi

Konsep Sentralisme masih melekat dalam perencanaan program

Mobilisasi Pendud

Dukungan dana Provincial Health Project

Beban

kerja

tinggi

di

Keterlibatan Organisasi politik akademisi Kemajuan pengetahuan Teknologi (terutama komputer

LSM, non dan Ilmu dan

Dampak

pemba

Puskesmas

terhadap ling

10

Meningkatnya anggaran pembiayaan kesehatan dari DAU

Kerja sama lintas sektor masih seremonial bersifat

Perilaku

mas

belum baik

dan

telekomunikasi)

NO
11

Kekuatan
Program JPS-BK

Kelemahan
Data hasil Survey atau

Peluang
Adanya Bapel JPKM

Ancaman
Kemapuan

pemb

98

penelitian wilayah 12 Jumlah sarana UKBM masih cukup memadai

masih

kesehatan

sangat terbatas untuk Gunungkidul Kondisi fisik UPTD belum memadai

masyarakat re

Dukungan Donor kepada

Negara atas keluarga keluarga kerja di wilayah

Dampak krisis eko

program-program miskin Keterikatan tenaga luar 14 Ketersediaan mencukupi 15 anggaran obat Ketersediaan sarana Alkes UPTD Memadai Upaya promotif preventif operasional Puskesmas 16 Perangkat bidang 17 hukum di tidak dan tidak (“Boro”) Pengembangan Kawasan Wisata Kesepakatan dalam mengalokasikan 15 % APBD Perkembangan usaha Keinginan / kemauan positif holder Struktur penduduk Extended family kalangan 19 Masih banyak tenaga yang Media informasi telah terjangkau seluruh Ilmu dan di pelosok Iklan masyarakat berbagai yang (misal tidak stake wira Bupati

13

Perkembangan pelayanan kesehatan swasta cukup pesat

Mutu Pelayanan di UPTD masih buruk

Berkembangnya obat, alkes,

ma

kosmetika Pengembangan K wisata Keseimbangan profesional keterbatasan Anggaran Daerah Motivasi karir

seluruh Indonesia

Profesional–n

terdukung oleh dana

B

kesehatan status

karena struktu

kurang Ketidak jelasan

Dampak pengem

RSUD dalam tatanan struktur organisasi 18 Belum semua jabatan

tempat wisata

struktural terisi

konstruktif

banyak dijum

kesehatan “nglajo” 20 Penguasaan pengetahuan 21

rok

wilayah Penguasaan bahasa dan kemampuan baca meningkat Persepsi menengah atas dan stake holder terhadap pelayanan kesehatan pemerintah Peningkatnya jumlah pengobatan tradisonal, Kesehatan Pos

cukup banyak Penurunan jumlah kesehatan Menurunya

teknologi kurang Program-prorgam kurang inovatif

pari

masyarakat

22

Suasana

kerja

lebih sosial

Ketidak puasan ata layanan

cenderung ketimbang profesional

99

Institusi

100

NO
23

Kekuatan

Kelemahan
Dana guna membangun infra kurang struktur struktur (infra untuk desentralisasi

Peluang
Komunikasi cukup sebagian wilayah Peningkatan Harapan Masyarakat Penurunan angka Umur Hidup baik dan di

Ancaman
Ketergantungan masyarakat subsidi atas

Analisis kelayakan

transportasi telah besar

24

sustainability) Cakupan upaya pelayanan kesehatan masih promosi masih rendah Anggaran kesehatan rendah

Peningkatan neonatus

angka

kematian bayi dan

25

Peningkatan prevalensi / incident penyakit TB-paru, rate menular ISPA,

kematian ibu

26

Cakupan

pemanfaatan oleh masih

Penurunan rate kematian DBD

Incident dan akibat

Malaria Peningkatan prevalensi penyakit menular non

pelayanan kesehtaan masyarakat 27 rendah Petugas

penyakit menular Peningkatan status Gizi Buruk Masyarakat

pelaksana

profesional (fungsional) lapangan 28 masih terbatas Mutu petugas penyusun program kesehatan profesional tingkat 29 di kabupaten

Kebocoran inefisiensi

dan

penggunaan obat di Puskesmas Kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan melalui suntikan Tingginya kasus Berat Bayi Lahir Rendah (manifestasi Gizi) Mutu garam beryodium di rendah Pertolongan oleh kesehatan rendah pasaran Gunungkidul masih

kurang memadai Sistem pembiayan Puskesmas

31

32

33

persailnan tenaga masih

101

34

Perilaku baik Penemuan berbagai penyakit

kesehatan belum kasus macam menular

masyarakat 35

36

masih sangat rendah Kualitas air

102

BAB IV RENCANA STRATEGIS

A. ISU STRATEGIS

Isu strategis utama adalah desentralisasi dan otonomi pembangunan di bidang kesehatan. Isu ini sangat berpengaruh dalam tatalaksana pemerintahan dan penatalaksanaan program-program pembangunan kesehatan. Isu ini perlu menjadi landasan dalam pemikiran pembangunan di masa yang akan datang di kabupaten Gunungkidul. Isu kedua yang tak kalah penting adalah pembiayaan daerah. Dengan lahirnya UU nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah, membuka peluang bagi daerah untuk mampu memanfaatkan anggaran dana untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sekaligus menciptakan sumber-sumber pendapatan baru bagi daerah. Kemampuan daerah dalam menyusun berbagai program pembangunan daerah sangat tergantung kepada keberadaan dan pengelolaan pembiayaan ini. Berdasarkan kajian-kajian determinan permasalahan kesehatan yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul, dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai isu-isu pokok yaitu berbagai determinan yang menjadi bagian yang muncul dalam permasalahan-permalsahan kesehatan terutama kepada permasalahan-permasalahan utama dan harus ditangani segera. Isu pokok merupakan permasalahan dalam determinan kesehatan yang selalu muncul dalam setiap masalah. Dari analisis determinan faktor yang paling sering muncul adalah sebagai berikut : 1. Status Gizi Masyarakat secara umum masih rendah 2. Keluarga miskin dan pembiayaan kesehatan di masyarakat 3. Mekanisme Pembiayaan Kesehatan (Preventif dan Promotif ) di Puskesmas 4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat masyarakat 5. Manajemen pelayanan kesehatan ( terutama SDM dan sistem informasi kesehatan ) Status Gizi masyarakat menjadi menarik untuk dikaji mengingat hasil diskusi dan analisis yang banyak mengkaitkan secara menyeluruh akar dari permasalahan pokok. Permasalahan Gizi ditengarai dalam permasalahan-permasalahan kesehatan di Kabupaten Gunungkidul, memilki andil yang cukup besar terhadap penurunan kemampuan / daya tahan tubuh yang mengakibatkan semakin besarnya terkena resiko-resiko baik penyakit menular maupun tidak menular. Kondisi fisik yang tidak bagus memberikan peluang bagi mudahnya berbagai serangan maupun gangguan kerusakan organ tubuh. Angka kematian bayi, neonatus dan ibu hamil, meskipun data real di kabupaten gunungkidul belum tersedia lengkap, namun dari berbagai referensi menunjukan bahwa faktor gizi menjadi salah satu akar permasalahan tersebut. Terlepas dari faktor perilaku dan penyebab lain yang menyebabkan bahwa faktor gizi menjadi pokok masalah, dari hasil pengalaman, pengamatan dan referensi, kemungkinan intervensi kepada faktor gizi secara tepat akan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi berbagai permasalahan utamanya yang menjadi

103

masalah utama di Kabupaten Gunungkidul.Mengingat bahwa kondisi status gizi masyarakat yang masih rendah, maka dapat diperkirakan bahwa kemungkinan permaslaahan penyakit menular, kematian bayi, ibu hamil dan (mulai berkembang) penyakit non menular / degeneratif yang rutin terjadi. Intervensi gizi tetap diperlukan dengan perbaikan mutu pelayanan terutama dalam penanganan mutu manajemen dan sistem informasi yang diperbaiki secara sungguh-sungguh sangat diperlukan pada saat ini. Kemiskinan menjadi kendala utama selama ini untuk membangun dinamisasi pembangunan kesehatan. Diperlukan perubahan strategi mendasar untuk membangun kemandirian dari keluarga miskin melalui berbagai macam produk program yang berorientasi kepada keluarga miskin tanpa melupakan masyarakat yang lain. Keterlibatan masyarakat, LSM dan Stake holder lain sangat diperlukan untuk secara bersama-sama mendukung upaya kesehatan khususnya mengatasi kendala sosial ekonomi selama ini. Manajemen pelayanan kesehatan di banyak negara berke berkembang (kecuali Kuba) memang dalam kondisi yang belum menguntungkan. Tidak dapat terlepas pula di wilayah Kbau[aten Gunungkidul sebagai bagian dri negara kesatuan Republik Indonesia. Berbagai kendala program tidak bisa terselesaikan dengan baik karena penataan manajemen yang belum sempurna. Penyediaan data-data valid dan cepat masih menjadi barang langka dan perlu mendapat perhatian mengingat sebagai pondasi utama perencanaan program data menjadi sangat vital untuk dibenahi. Ketersediaan data tentu tidak akan terdukung apabila manajemen tidak memiliki kekuatan pula untuk membangun. Kekuatan-kekuatan tersebut sangat tergantung kepada SDM-SDM yang berada di lingkungan Kesehatan kabupaten Gunungkidul , dan tentu saja stake holder di Seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul . Pengembangan SDM memang sangat diperlukan mengingat perbanduingan profesional – non profesional yang cukup besar. Upaya mengejjar kualitas SDM ini perlu dicarikan jalan keluar sehingga sebelum 2005 telah tersedia jumlah minimal yang memadai sehingga apa yag diangankan di tahun 2005 bisa terwujud. Isu strategis lain yang perlu mendapat perhatian adalah struktur organisasi khususnya status Rumah Sakit. Isu ini perlu diperhatikan mengingat bahwa pola pengamatan epidemiologi tidak mungkin bisa dilakukan tanpa keterlibatan seluruh unit teknis kesehatan termasuk rumah sakit. Keberadaan rumah sakit secara jelas akan memungkinkan bagi Dinas Kesehatan untuk membuat rancangan pola integrasi baik teknis maupun non teknis dengan rumah sakit.

B. KEBIJAKAN STRATEGIS Dengan lahirnya UU no 22 dan 25 tahun 1999 tentang otonomi dan perimbangan keuangan pusat dan daerah diharapkan Kabupaten menjadi daerah yang mampu merencanakan kebutuhan dan arah perkembangannya sendiri. Ini berarti Kabupaten harus mampu menggali sumber-sumber daya yang ada dan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Melalui otonomi dan desentralisasi diharapkan Kabupaten akan menjadi daerah yang memiliki produktivitas tinggi. Namun dalam pelaksanaan otonomi dan desentralisasi masih dijumpai berbagai

104

macam kendala, diantaranya adalah keterbatasan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusia ; dan salah satu yang menentukan kualitas sumber daya manusia adalah derajat kesehatan. Nilai yang dapat diterapkan sebagai landasan untuk melaksanakan misi sebagaimana telah diutarakan diatas, disesuaikan dengan karakteristik dan nila budaya masyarakat di Kabupaten Gunungkidul yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip :

105

a. Profesionalisme b. Proaktif dan Inovatif c. Prestasi kerja d. Pelayanan prima Hasil analisa determinan (Outcomes/impact), analisis SWOT (Proses) dan kajian isu-isu pokok dikaitkan dengan visi, misi dan nilai diperoleh beberapa faktor penentu dalam penetapan tujuan, sasaran, stategi pelayanan dalam upaya mewujudkan Gunungkidul Sehat 2005 meliputi: 1) Gizi 2) Pelayanan kesehatan keluarga miskin dan pembiayaan kesehatan 3) Sanitasi / Kesehatan Lingkungan 4) Perilaku hidup bersih dan sehat 5) Manajemen pelayanan kesehatan (Mutu SDM dan SIK) Sejalan dengan hal tersebut, beberapa hal penting yang harus mendapat perhatian adalah : a) Pengembangan sarana prasarana pendukung khususnya sub sistem kesehatan

b) Peningkatan kinerja SDM Jajaran Kesehatan dan pelaku yang peduli terhadap kesehatan c) Perbaikan dan Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan d) Peningkatan pelayanan kesehatan melalui pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan e) Peningkatan Efisiensi di semua sektor pelayanan mulai dari kegiatan Preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif (Paradigma Sehat) f) Penataan unit pelaksana teknis Dinas uintuk pelayanan kesehatan dan rujukan g) Menciptakan dan Mendorong perkembangan pola kemitraan bidang kesehatan h) Proaktif dalam mencari peluang bagi pembangunan bidang kesehatan Mengancu kepada aspek-aspek tersebut diatas, maka rumusan kebijakan dapat diarahkan kepada peningkatan Gizi masyarakat melalui peningkatan pelayanan kesehatan dan lingkungan dengan cara memaksimalkan efisiensi dan pelayanan kesehatan kepada keluarga miskin. Untuk mewujudkan kebijakan tersebut maka perlu dipertimbangkan pula : 1) Optimalisasi struktur operasional Dinas dalam melaksanakan Tupoksi ; 2) penerapan transformasi, advocacy dan adaptasi program secara konsisten pada seluruh jaringan pelaksanaan program Mengancu kepada aspek-aspek tersebut diatas maka rumusan tujuan kebijakan dapat diarahkan pada “meningkatkan gizi masyarakat melalui peningkatan pelayanan kesehatan dan lingkungan dengan cara memaksimalkan effisiensi dan pelayanan kesehatan kepada keluarga miskin “ Untuk menuju kearah tersebut, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebagai sasaran : • • Mengoptimalkan struktur operasional Dinas dalam pelaksanaan TUPOKSI-nya Peningkatan kualitas SDM melalui berbagai pendidikan dan pelatihan teknis maupun struktural

106

• • •

Pengembangan Sistem Informasi Melibatkan secara proaktif LSM / Organisasi non Politik dan masyarakat dalam program perencanaan kebijaksanaan dan perencanaan daerah khususnya pelayanan kesehaan Penerapan tranformasi, advocacy dan adaptasi program secara konsisten pada seluruh jaringan pelaksanaan program

107

C. MATRIK RENCANA STRATEGIS ( Tabel 21 ) SUB SEKTOR
KESEHATAN

MISI ORGANISASI

TUJUAN ORGANISASI

SASARAN

1. menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan, 2. . mendorong kemandiriran masyarakat untuk hidup sehat, 3. memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau 4. memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.

meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajad kesehatan dan gizi masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat Gunungkidul yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata di seluruh wilayah Gunungkidul.

meningkatn

dan gizi ma

oleh keman

kemitraan sw

perilaku hid

peningkatan manajemen kesehatan.

kesehatan se

RENCANA STRATEGIS TAHUN 2006 - 2010 Visi Misi organisasi Tujuan organisasi Sasaran organisasi Ukuran

T

108

hasil GK Sehat Menuju Indon esia sehat 2010 Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat Terwujudnya kemandiriran masyarakat untuk hidup sehat • • Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memelihara dan memperbaiki status dan keadaan kesehatanya Terbentuknya perilaku hidup bersih dan • • sehat dimasyarakat dari berbagai tatanan Meningkatnya peranserta masyarakat dalam bidang kesehatan Mendorong meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan Terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan Meningkatnya Kerjasama lintas sektor dalam holder bidang memberikan kesehatan. kontribusi Masyarakat, lintas sektor dan stake positif terhadap kesehatan.

109

110

Program yang disusun untuk lima tahun mendatang meliputi : 1. Promosi kesehatan dan Pemberdayaan masyarakat kerangka kegiatan yang disusun terdiri dari : a.penggalangan kemitraan dengan lintas sektor dan swasta b. pengembangan media dan pengadaan sarana promosi kesehatan c.pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat d. pemberdayaan masyarakat e.penyelenggaraan upaya kesehatan kerja f. jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat 2. Upaya Kesehatan Masyarakat Jenis kegiatan upaya kesehatan masyarakat meliputi : a. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan b. Pengawasan dan pembinaan pelayanan kesehatan swasta c. Pengelolaan perijinan praktek pelayanan kesehatan swasta d. Pelayanan kesehatan khusus e. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) f. Peningkatan pelayanan kesehatan remaja dan usila 3. Percepatan pemberantasan penyakit Upaya percepatan pemberantasan penyakit dilakukan melalui kegiatan:

111

a. Pemberantasan penyakit menular langsung maupun tidak langsung (diare, ISPA, DBD, kusta, malaria, AIDS dan TBC). b. Penanggulangan KLB penyakit, gizi dan keracunan c. Pencegahan penyakit melalui imunisasi d. Surveylans penyakit 4. Perbaikan gizi masyarakat Dalam upaya melaksanakan perbaikan gizi masyarakat terutama pada usia rawan gizi yaitu bayi, balita, bumil dan nifas, maka dilakukan kegiatan sebagai berikut : a. b. c. d. e. f. Tatalaksana pengelolaan gizi buruk. Pengembangan paket pelayanan gizi Pencegahan dan penanggulangan masalah gizi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) Upaya Peningkatan Gizi keluarga (UPGK) Gizi Institusi

5. Lingkungan sehat Kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan lingkungan ditempuh melalui : a. Pengawasan kualitas lingkungan b. Pembinaan tempat pengelolaan makanan c. Pengembangan kawasan sehat d. Pengendalian dampak pencemaran lingkungan 6. Sumber daya kesehatan Sumber daya kesehatan menyangkut sumber daya manusia, sumber daya sarana prasarana dan sumber daya keuangan. Kegiatan meliputi : a. b. c. Pengembangan sumber daya manusia Pengelolaan menejemen keuangan Pengembangan sarana dan prasarana kesehatan

7. Obat dan perbekalan kesehatan Dalam rangka memenuhi kebutuhan obat utuk pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas

112

dilaksanakan kegiatan sebagi berikut : a. b. c. d. Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan Perencanaan obat secara terpadu Pengelolaan obat Pengadaan bahan dan reagen laboratorium

8. Pengawasan obat dan makanan Peredaran obat yang sulit dibendung di pasaran, maraknya pengobat tradisional dan perlunya keamanan pangan untuk dikonsumsi masyarakat maka ditempuh melalui kegiatan: a. b. c. d. Pengendalian penggunaan obat secara rasional Pengawasan obat dan makanan Pembinaan pengobat dan obat tradisional Pengawasan mutu pangan

9. Pemantapan pengelolaan data dan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi Dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembangunan kesehatan perlu didukung dengan informasi kesehatan yang baik. Untuk memenuhi kebutuhan informasi kesehatan dilaksanakan kegiatan sebagai berikut : a. b. c. d. Pengumpulan, pengolahan dan analisa data serta penyebarluasan informasi kesehatan Pengembangan penelitian kesehatan Pengadaan sarana pengembangan sistem informasi Pengembangan dan pembinaan sistem informasi kesehatan

10. Peningkatan kualitas pelayanan publik. Sebagai lembaga yang banyak berhadapan dengan masyarakat secara langsung, maka pelayanan prima sangat dibutuhkan. Untuk meningkatkan pelayanan kepada publik dilaksanakn kegiatan sebagai berikut : a.
b.

Pengelolaan kebijakan dan produk hukum kesehatan Penjaringan perencanaan dengan buttom up planning Monitoring dan evaluasi kegiatan program kesehatan Peningkatan pelaksanaan administrasi kesehata

c. d.

113

a. Tujuan Keluarga Berencana 1) Meningkatkan kesadaran, pemahaman, partisipasi dan perlindungan hak-hak reproduksi bagi semua individu, remaja, dan keluarga. 2) Meningkatkan jaminan dan kualitas pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi. 3) Meningkatkan partisipasi pria dan promosi KB serta kesehatan reproduksi agar berwawasan jender. 4) Mengintegrasikan pelayanan KB dengan pelayanan promosi dan konseling masalah kesehatan reproduksi untuk meningkatkan status kesehatan dan kelangsungan hidup ibu, bayi, dan anak. 5) Menyelenggarakan perlindungan dan penghapusan tindak kekerasan reproduksi terhadap perempuan, anak, dan remaja. 6) Menyelenggarakan advokasi, komunikasi, informasi, dan edukasi sesuai dengan keinginan masyarakat. 7) Memfasilitasi dan meningkatkan peran institusi masyarakat dalam pelaksanaan kependudukan dan keluarga berencana.

BAB III RENCANA SRATEJIK

114

A. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai atau dihasilkan pada Rencana Stratejik Dinas Kependudukan dan KB dalam jangka waktu 2004 dan 2005 mengacu kepada pernyataaan visi dan misi dan didasarkan pada isu stratejik serta analisisnya. Dalam hal ini ada yang dinyatakan dalam bentuk kuantitatif, dan ada yang dituangkan dalam bentuk kualitatif yang menunjuk pada kondisi yang ingin dicapai di masa mendatang seperti terdapat pada format isian dalam buku ini. B. Sasaran Sasaran adalah hasil yang ingin dicapai secara nyata oleh Dinas Kependudukan dan KB Kabupaten Gunungkidul dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur dalam kurun waktu yang lebih pendek dari tujuan. Dalam hal ini dirancang indikator sasaran sebagai ukuran tingkat keberhasilan seperti terdapat dalam isian form dalam buku ini. C. Strategi Stratregi dimaksudkan cara untuk mencapai Tujuan dan Sasaran yang dijabarkan ke dalam kebijakan-kebijakan dan program-program.
a. Kebijakan,

merupakan

ketentuan-ketentuan

yang

telah ditetapkan yang

selanjutnya dijadikan acuan pengembangan dan pelaksanaan program/kegiatan.
b. Program, dimaksudkan sebagai kumpulan kegiatan yang sistematis dan terpadu

untuk mendapatkan hasil yarg dilaksanakan ataupun dalam rangka kerjasama dan koordinasi dengan lintas sektoral dan masyarakat oleh Dinas Kependudukan dan KB Kabupaten Gunungkidul. Kebijakan dan Program di Dinas Kependudukan dan KB Kabupaten Gunungkidul dilakukan setiap tahun karena keberhasilan Program Kependudukan dan KB termasuk Peningkatan kualitas keluarga memang sangat erat kaitannya dengan kebijakan yang telah ditetapkan.

115

RENCANA STRATEJIK TAHUN 2004 s/d 2005 Instansi : Visi : Misi : Dinas Kependudukan dan KB Kab. Gunungkidul Penduduk dan Keluarga Berkualitas 2010 (1 Penyelenggaraan administrasi kependudukan dalam rangka memberikan perlindungan hukum bagi penduduk melalui ) pemberian status kependudukan (2 Peningkatan kesadaran masyarakat dan kemampuan pengelolaan Administrasi Kependudukan ) (3 Penyediaan Data dan informasi Kependudukan sebagai pendukung Perencanaan Pembangunan ) Sasaran URAIAN 2 Meningkatnya kinerja pengelola administrasi kependudukan INDIKATOR 3 75 % Cara Mencapai Tujuan Sasaran KEBIJAKAN PROGRAM 4 5 SK Kepala Dinas Meningkatkan tentang peningkatan pengetahuan kemampuan aparat wawasan dan pengelola ketrampilan administrasi pengelola kependudukan administrasi kependudukan SK Kepala Dinas Meningkatkan KIE tentang penyampaian informasi secara luas pada masyarakat SK Bupati tentang penyediaan data yang akurat SK Bupati tentang pelayanan prima Penyiapan Program SIAK dan SIDUGA Pengadaan sarana dan prasarana Keterangan 6

Tujuan 1 Terwujudnya tertib administrasi kependudukan

Pemanfaatan Sistem Informasi Kependudukan Kepuasan Masyarakat

Meningkatnya kesadaran masyarakat atas hak dan kewajiban status kependudukan Pengelolaan data berbasis teknologi Meningkatkan pelayanan

75 %

25 % 75 %

116

pendukung pelayanan prima RENCANA STRATEJIK TAHUN 2004 s/d 2005 Instansi : Visi : Misi : Dinas Kependudukan dan KB Kab. Gunungkidul Penduduk dan Keluarga Berkualitas 2010 (4 Pemberdayaan dan penggerakan masyarakat , institusi untuk membangun penduduk dan keluarga berkualitas ) Sasaran URAIAN INDIKATOR 2 3 1. Meningkatny 1. Peran KB a cakupan aktif kesertaan KB meningkat 1 % 2. Meningkatny a tertib administrasi pencatatan dan pelaporan 2. Peserta KB baru mencapai 75 % dari (PDM) 3. Menurunnya Unmetneed 4. Meningkatny a rutinitas pencatatan Cara Mencapai Tujuan Sasaran KEBIJAKAN PROGRAM 4 5 SK Bupati tentang 1. Meningkatka PPKBD n pembinaan PKK KIE kepada IMP 2. Pembinaan IMP Keterangan 6

Tujuan 1 Meningkatkan peran serta institusi masyarakat dalam program KB, KS, TASKIN, PUG

3. Orientasi IMP

117

dan pelaporan kader

118

RENCANA STRATEJIK TAHUN 2004 s/d 2005 Instansi : Visi : Misi : Dinas Kependudukan dan KB Kab. Gunungkidul Penduduk dan Keluarga Berkualitas 2010 (5 Penggalangan kemitraan dalam pengentasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan, kemandirian dan ketahan keluarga ) Sasaran URAIAN 2 Meningkatkan dukungan lintas sektoral baik pemerintah maupun swasta dalam program KB, KS, TASKIN, dan PUG INDIKATOR 3 Terbinanya hubungan kerjasama yang baik dan berkesinambunagn dengan lintas sektoral Cara Mencapai Tujuan Sasaran KEBIJAKAN PROGRAM 4 5 TOP KB 1. Orientasi KRR 2. Orientasi KB/KR Keterangan 6

Tujuan 1 Meningkatkan kerja sama yang baik dengan lintas sektoral baik pemerintah maupun swasta dalam program KB, KS, TASKIN, dan PUG Meningkatkan derajat kesejahteraan penduduk/keluarga miskin

119

RENCANA STRATEJIK TAHUN 2004 s/d 2005 Instansi : Visi : Misi : Dinas Kependudukan dan KB Kab. Gunungkidul Penduduk dan Keluarga Berkualitas 2010 (6 Peningkatan Kualitas Pelayanan Administrasi Kependudukan, KB dan Kesehatan Reproduksi ) Sasaran URAIAN 2 Meningkatnya kualitas pelayanan administrasi kependudukan, KB, KS INDIKATOR 3 Terciptanya rasa kepuasan klien (peserta KB) dengan ditandai menurut menurunnya efek samping komplikasi dan kegagalan 0 % Cara Mencapai Tujuan Sasaran KEBIJAKAN PROGRAM 4 5 SK Bupati tentang Melaksanakan TOP KB pelatihan bagi SK Kepala Dinas pengelola dan pelaksana pelayanan administrasi kependudukan KB dan KR SK Bupati tentang Melaksanakan TOP KB, KS pelatihan tenaga SK Kepala Dinas medis dokter dan bidan Taskin melalui perbaikan perumahan dan pemukiman Pendampingan Keterangan 6

Tujuan 1 Mewujudkan pelayanan yang memadai baik dibidang kependudukan, KB dan KS Mewujudkan pelayanan yang memadai baik dibidang kependudukan, KB dan KR Mendayagunakan tenaga fungsional dengan memanfaatkan IMP

Meningkatnya kualitas pelayanan administrasi kependudukan, KB, KR Mendayagunakan tenaga fungsional dengan memanfaatkan IMP yang mendukung program TASKIN Mendayagunakan tenaga

Terciptanya rasa kepuasan klien (peserta KB) dengan ditandai menurut menurunnya efek samping komplikasi dan kegagalan 100 % tenaga fungsional SK Komite dan IMP mendukung TASKIN dari program TASKIN tingkat pusat s/d daerah 100 % tenaga fungsional UU No. 10/1992

120

fungsional dengan memanfaatkan IMP yang mendukung program keluarga sejahtera UPPKS

dan IMP mendukung PP No. 21/1994 program keluarga sejahtera/UPPKS

UPPKS

RENCANA STRATEJIK TAHUN 2004 s/d 2005 Instansi : Visi : Misi : Dinas Kependudukan dan KB Kab. Gunungkidul Penduduk dan Keluarga Berkualitas 2010 (7 Peningkatan promosi perlindungan dan upaya mewujudkan hak-hak reproduksi, kesetaraan dan keadilan gender serta ) perlindungan anak Keterangan 6

Sasaran Cara Mencapai Tujuan Sasaran URAIAN INDIKATOR KEBIJAKAN PROGRAM 1 2 3 4 5 Meningkatkan Meningkatkan 1. Meningkatny SK Kepala Dinas KIE melalui pengetahuan dan pengetahuan a jumlah 1. Pemutaran peran serta danpartisipasi kelompok film masyarakat dalam masyarakat dibidang kegiatan KB2. Radio spot mewujudkan kegiatan program KS 3. Leaflet perlindungan dan KB/KR, kesetaraan 2. Jumlah 4. Dialog/wawan hak-hak reproduksi, dan keadilan gender kesertaan KB cara melalui kesetaraan dan serta perlindungan meningkat radio keadilan gender serta anak perlindungan anak Mendayagunakan Meningkatnya Terfahaminya PUG ketentuan yang pemahaman PUG bagi 50 Tujuan

121

mengatur pengarusutamaan gender dan KPA

perencana Meningkatnya pemahaman KPA

1 Mendayagunakan ketentuan yang mengatur Pengarusutamaan gender dan KPA

2 Meningkatkannya pemahaman PUG Meningkatnya pemahaman KPA

3 Terfahaminya PUG bagi 50 perencana di lingkungan Dinas,Badan, Instansi, Kantordan Lembaga, LSM, organisasi Terfahaminya kesejahteraan dan keperiindungan anak di lingkungan Dinas.Badan, Instansi, Kantor dan Lembaga, LSM, organisasi sebanyak 50 orang

4 Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang PUG dalam Pembangunan Nasional Keputusan Bupati Gunungkidul tentang Pembentukan POKJA PUG Kab Gunungkidul TA 2003 Rencana Induk Pembagunan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (RIP-KPA)20012005

5 Peningkatan kualitas hidup perempuan. Peningkatan kualitas hidup anak dan remaja

6

122

RENCANA STRATEJIK TAHUN 2004 s/d 2005 Instansi : Visi : Misi : Dinas Kependudukan dan KB Kab. Gunungkidul Penduduk dan Keluarga Berkualitas 2010 (8 Peningkatan kualitas hidup perempuan di berbagai bidang strategis melalui pengarus utamaan gender ) Sasaran URAIAN 2 Meningkatnya kualitas program pemberdayaan perempuan dan PUG INDIKATOR 3 Terwujudnya koordinasi dan evaluasi program pemberdayaan perempuan dan PUG Cara Mencapai Tujuan Sasaran KEBIJAKAN PROGRAM 4 5 • Inpres No 9 Th 2000 Peningkatan kualitas tentang hidup perempuan Pengarusutamaan gender dalam Pembangunan Nasional • Keputusan Bupati Gunungkidul Nomor 82/KPTS/TIM/2003 tentang Pembentukan Kelompok PUG Kab. Gunungkidul • Keputusan Bupati Gunungkidul Nomor 81/KPTS/TIM/2003 tentang Pembentukan Tim Pengelola dan Keterangan 6

Tujuan 1 Mendayagunakan ketentuan yang mengatur tentang PUG

123

Sekretariat Tetap Program Peningkatan Pemberdayaan Perempuan dalam Pembanguan Kab. Gunungkidul RENCANA STRATEJIK TAHUN 2004 s/d 2005 Instansi : Visi : Misi : Dinas Kependudukan dan KB Kab. Gunungkidul Penduduk dan Keluarga Berkualitas 2010 (9 Peningkatan pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan keluarga ) Sasaran INDIKATOR 3 50 keluarga yang tergabung dalam wadah kelompok usaha ekonomi produktif meningkat pendapatannya 100 % PKB secara rutin mampu mendampingi kelompok usaha ekonomi produktif 75 % forum mekanisme operasional digunakan Cara Mencapai Tujuan Sasaran KEBIJAKAN PROGRAM 4 5 UU No. 10/1992 Pendampingan kelompok ekonomis PP 21/1994 produktif keluarga (UPPKS) Keterangan 6

URAIAN 1 2 Meningkatkan Pemberdayaan pendapatan KK kemampuan usaha bagi miskin melalui usaha perempuan ekonomi produktif Peningkatan ....... PKB dalam kelompok dan IMPsebagai perpanjangan tangan dalam pendampingan usaha ekonomi produktif melalui kelompok Peningkatan kualitas mekanisme operasional sebagai media penyampaian informasi

Tujuan

124

pemberdayaan usaha ekonomi produktif bagi perempuan

sebagai media penyampai informasi usaha ekonomi produktif

1 Mendayagunakan tenaga fungsional yang mendukung kegiatan pembinaan, pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga

2 Meningkatnya pembinaan, Pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan keluarga. Meningkatnya peran institusi/lembaga yang peduli porgram pemberdayaan perempuan. Meningkatnya kualitas kesejahteraan keluarga

3 Terwujudnya koordinasi dan pembinaan lintas sektoral dalam pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan keluarga di 18 kecamatan. Tertingkatkannya program/kegiatan pemberdayaan perempuan dari institusi/lembaga yang peduli program pemberdayaan perempuan. Terwujudnya koordinasi dan

4 Keputusan Bupati GK Nomor 137/KPTS/TIM/2003 tentang Pembentukan Tim Pembina pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan keluarga Kab. GK

5 Peningkatan kualitas hidup perempuan. Pemberdayaan keluarga

6

125

pembinaan kader BKS di 18 kecamatan

126

RENCANA STRATEJIK TAHUN 2004 s/d 2005 Instansi : Visi : Misi : Dinas Kependudukan dan KB Kab. Gunungkidul Penduduk dan Keluarga Berkualitas 2010 (10 Peningkatan Pendapatan Asli Daerah ) Sasaran URAIAN INDIKATOR 2 3 Pemberdayaan perempuan 100 % kelompok kegiatan UPPKS melalui wadah usaha peminjam modal ekonomis/UPPKS mampu mengembalikan tepat waktu Cara Mencapai Tujuan Sasaran KEBIJAKAN PROGRAM 4 5 SK dari Pusat – Pendampingan Daerah tentang permodalan kelompok UPPKS Komite Penanggulangan Kemiskinan Keterangan 6

Tujuan 1 Meningkatkan derajat kesejahteraan keluarga/perempuan

127

BAB IV RENCANA KERJA TAHUNAN TAHUN 2004 Instansi : Dinas Kependudukan dan KB Sasaran Uraian 1 Meningkatnya kualitas pengetahuan kader dibidang pendataan keluarga Indikator 2 Persentase peningkatan kualitas SDM dalam pendataan keluarga Rencana Tingkat Capaian (Target) 3 Peningkatan kualitas kader 25 % Program 4 Pendataan keluarga Kegiatan Indikator Kinerja a. Input Uraian b. Output c. Outcame 5 6 • Orientasi a. Jumlah dana yang tersedia pendataa b. Jumlah kader yang orientasi n c. Meningkatnya keluarga pengetahuan kader tentang dan pendataan keluarga bantuan operasio nal kader pendataa n • Pemanta uan pelaksan aan pendataa a. Jumlah dana yang tersedia b. Terlaksananya pemantauan di lapangan c. Meningkatnya kualiats hasil pendataan Rencana Tingkat Capaian (Target) 8 55.025.000 18 kec

Satuan 7 Rupiah Kecamatan

Ket 9

Rupiah Kecamatan

3.600.000 18 kec

128

Meningkatnya informasi tentang kependudukan dan Program KB Meningkatnya kinerja petugas ditingkat kecamatan

Persentasi Pengembangan peningkatan kualitas data informasi 20 % tentang kependudukan dan Program KB Persentase peningkatan SDM petugas lapangan Peningkatan kualitas petugas lapangan 20 % Peningkatan kapasitas SDM

n keluarga • Ekspose hasil pendataa n keluarga

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terlaksananya ekspose hasil pendataan keluarga c. Meningkatnya kualiats hasil pendataan

Rupiah Kegiatan

4.000.000 1 keg

• Penyusu a. Jumlah dana yang tersedia nan dan b. Terlaksananya penyusunan dan pengolahan data pengolah terpadu an bank c. Meningkatnya kualitas data data kependudukan, KB terpadu dan KS • Operasio a. Jumlah dana yang tersedia b. Pelaksanaan pengolahan nal data KB - KS pengolah an data c. Tersedianya data KB – KS yang berkualitas KB - KS • Pengolah a. Jumlah dana yang tersedia b. Pelaksanaan pengolahan an dan data KB - KS umpan balik dan c. Tersedianya data KB – KS yang berkualitas distribusi hasil program • Operasio a. Jumlah dana yang tersedia b. Pelaksanaan pemantauan nal ke lapangan pemanta c. Teridentifikasi masalah pan

Rupiah

1.500.000

Rupiah bulan

3.600.000 12 bulan

1.900.000 12 bulan

6.480.000 18 kec

129

50 % dari hasil scoring

Prosentase pemahaman aparat pengelola adminduk meningkat

Tertingkatkan nya kualitas pegelola adminduk 50 %

Meningkat kan pengetahuan, wawasan dan ketrampilan pengelola adminduk Meningkatka n KIE

pelaksan dan meningkatkan aan ketrampilan petugas di program lapangan kecamata n Bimbingan Masukan : teknis adm. Dana kependudukan SDM Keluaran : Jumlah peserta Hasil : Tingkat kualitas aparat Penyelenggaraan Masukan : sosialisasi Dana pelaksanaan SDM SIAK Keluaran : peserta Hasil : Peningkatan pengetahuan SIAK

Rupiah Orang Orang

15.000.000 180 aparat 180

Meningkatnya kesadaran masyarakat atas hak dan kewajiban status kependudukan

Tertingkatnya kesadaran masyarakat

Cakupan pengurusan adminduk 75 %

Rupiah Orang Lembar %

10.000.000 75 aparat 75 aparat Pemahaman aparat meningkat 75 % 20.000.000

Pengelolaan data berbasis teknologi

Prosentase validasi data meningkat

Validitas data Penyiapan mencapai 75 % program SIAK dan SIDUGA

Pelaksanaan uji coba aplikasi SIAK

Masukan : Dana SDM Keluaran : Database kependudukan Hasil :

Rupiah Orang Kec %

2 kec Validitas

130

Penyusunan data kependudukan

Data berbasis teknologi informasi Masukan : Dana SDM Keluaran : Buku Hasil : Tersajinya Data kependudukan Masukan : Dana SDM Keluaran : Perangkat SIAK Hasil : Peningkatan pelayanan

data 75 % Rupiah Orang eksemplar % Rupiah Orang Paket % 11.500.000

150 Validitas data 75 % 105.730.000

Meningkatkan pelayanan

Prosentase sarana prasarana meningkat

Dua kecamatan pilot project dapat terpenuhi

Pengadaan sarana dan prasarana pendukung pelayanan prima

Pengadaan dan pemeliharaan sarana program SIAK

3 Terdistribus ikannya sarana program SIAK 229.280.000 180 aparat 45.000 KTP 24.000 KK 75 %

Peningkatan pelayanan pendaftaran penduduk

Masukan : Dana SDM Keluaran : Jumlah KK, KTP Hasil :

Rupiah Orang Lembar %

131

Meningkatnya kesadaran masyarakat atas hak dan kewajiban status kependudukan

Tertingkatnya kesadaran masyarakat

Cakupan pengurusan adminduk 75 %

Meningkatka n KIE

Kesadaran masyarakat Penyelenggaraan Masukan : sosialisasi Dana pelaksanaan SDM SIAK Keluaran : peserta Hasil : Peningkatan pengetahuan SIAK

Rupiah Orang Lembar %

masyarakat 10.000.000 75 aparat 75 aparat Pemahaman aparat meningkat 75 % 100.000.000

Pengelolaan data berbasis teknologi

Prosentase validasi data meningkat

Validitas data Penyiapan mencapai 75 % program SIAK dan SIDUGA

Pelaksanaan uji coba aplikasi SIAK

Masukan : Dana SDM Keluaran : Database kependudukan Hasil : Data berbasis teknologi informasi Masukan : Dana SDM Keluaran : Buku Hasil : Tersajinya Data kependudukan

Rupiah Orang Kec % Rupiah Orang eksemplar %

18 kec Validitas data 90 % 20.000.000

Penyusunan data kependudukan

150 90 % Validitas data

132

Peningkatan pelayanan pendaftaran penduduk

Masukan : Dana SDM Keluaran : Jumlah KK, KTP Hasil : Kesadaran masyarakat

Rupiah Orang Lembar %

meningkat 350.000.000 180 aparat 60.000 KTP 24.000 KK 75 % masyarakat

133

Meningkatnya calon kesertaan KB

Meningkatnya tertib administrasi pencatatan dan pelaporan bagi IMP

Peserta KB aktif meningkat 70 % Peserta KB baru mencapai 60 % Menurunnya jumlah Un meet need 60 % Desember 2003 80 % IMP melaksanakan pencatatan dan pelaporan

7.708 peserta aktif 8.135 peserta KB baru 8.135 peserta

Pengadaan sarana dan prasarana pelayanan KB serta pelaksanaan program KB Meningkatka n pembinaan / KIE kepada IMP

Pengadaan alkon a. Jumlah dana yang tersedia implant b. Tersedianya jumlah alkon implant bagi keluarga miskin dan miskin sekali c. Terlayaninya keluarga miskin dan miskin sekali Pertemuan Tri Komponen a. Jumlah dana yang tersedia b. Tersalurnya alat kontrasepsi Pil dan Kondom c. Terlayaninya peserta KB pil dan Kondom a. Jumlah dana yang tersedia b. Terlaksananya penyuluhan program KB - KS c. Jumlah orang diberi KIE meningkat

Rupiah Akseptor

Rupiah 127 akseptor

Laporan perbulan rutin dan benar

Rupiah Strip dan LS

Penggalakan program KB – KS melalui pemutaran film, radio spot dan wawancara melalui radio Pameran program Kependudukan KB dan KS

Rupiah

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terlaksananya pameran 2 kali c. Sosialisasinya hasil dan pelaksanaan program Kependudukan KB - KS

Rupiah Paket

Terlayaniny a peserta KB Pil dan Kondom sejumlah 22.276 KK Pemutaran film : 50 kali Wawancara radio : 4 kali Radio spot : 9 kali Terlaksanan ya pameran 2 kali pada hari Jadi GK dan Pekan Raya Wonosari

134

Meningkatnya dukungan lintas sektoral baik pmerintah maupun swasta dalam program KB

Terbinanya kemiraan/kerjas ama yang baik dan berkesinambung an

Program berjalan lancar

Meningkatnya kualitas petugas pelayanan dan administrasi KB

Terciptanya kepuasan klien (peserta KB)

Efek samping, kegagalan dan komplikasi menurun 50 % dari th 2003

Meningkatka n kerjasama lintas sektor dalam pelaksanaan program KB melalui Manunggal KB Kesehatan Peningkatan kualitas pertemuan koordinasi dan pengayoman KB

TMKK KB dan kesehatan • Bayangkara KB Kesehatan • Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan Pertemuan Medis teknis

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terlaksananya program KB Manunggal TMKK, Bayangkara, dan Kesatuan Gerak PKK c. Hubungan kerjasama yang harmonis antar sektor

Rupiah Paket

TMKK 1 pkt Bykra1pkt Kes PKK 1 pkt

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terselenggaranya pertemuan Medis Teknis c. Meningkatnya kualitas pelayanan KB

Rupiah Orang

60 orang

Rapat koordinasi a. Jumlah dana yang tersedia kecamatan b. Terselenggaranya rakor kecamatan c. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berjalan dengan baik Rapat koordinasi a. Jumlah dana yang tersedia desa b. Terselenggaranya rakor desa c. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berjalan

Rupiah Paket

4 pkt x kec

Rupiah Paket

4 pkt x desa

135

dengan baik

136

Bantuan operasional kader/IMP

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terselenggaranya bantuan operasional bagi IMP c. Meningkatnya patisipasi IMP dalam program KB

Rupiah Orang

•144 koord PPKBD •1434 PPKBD •7088 sub PKKBD 10 kasus

Masih tingginya angka keluarga miskin

Kondisi rumah dari sisi lantai masih dari tanah

7.500 keluarga

Taskin melalui perbaikan perumahan dan pemukiman

Bantuan a. Jumlah dana yang tersedia pengayoman b. Terlayaninya akseptor KB bagi peserta KB yang mengalami kegagalan dan komplikasi c. Akseptor yang mengalami komplikasi dan kegagalan dapat terayomi Orientasi KB – a. Jumlah dana yang tersedia KR bagi Apsari b. Terselenggaranya orientasi PKK, PPKBD KB – KR bagi Apsari dan remaja PKK, PPKBD dan remaja c. Meningkatnya pengetahuan KB KR bagi Apsari PKK, PPKBD dan remaja Pemberian a. Jumlah dana yang tersedia stimulan b. 7.500 keluarga mampu lantainisasi/taski memperkeras lantai rumah n melalui c. Meningkatnya perbaikan kesejahteraan keluarga perumahan dan

Rupiah Kasus

Rupiah Orang

45 orang

Rupiah Keluarga

100 %

137

pemukiman

138

Rendahnya mentalitas wirausaha khususnya perempuan Meningkatnya pemahaman PUG

Pendapatan (keluarga) rendah

50 kelompok dilatih sampai dibantu permodalan 50 orang

Pendampinga n kelompok UPPKS/UP2 K Peningkatan kualitas hidup perempuan

Terpahaminya PUG bagi 50 perencana di lingkungan Dinas, Badan, Kantor Terpahaminya kesejahteraan dan perlindungan anak

Pemberian stimulan pinjaman permodalan dan pelatihan kelompok Sosisalisasi PUG

Meningkatnya pemahaman KPA

50 orang

Anak dan remaja

a. Jumlah dana yang tersedia b. 50 kelompok mempunyai kegiatan ekonomis produktif c. Meningkatnya kesejahteraan kelompok a. Jumlah dana yang tersedia b. Terselenggaranya sosialisasi PUG bagi 50 orang c. Meningkatnya pengetahuan PUG bagi perencana Baleka, LSM dan organisasi Fasilitasi dan a. Jumlah dana yang tersedia analisis gender b. Terlaksananya fasilitasi dan pelatihan analisis gender bagi 60 orang aparat perencana c. Meningkatnya program responsif gender Penyusunan data a. Jumlah dana yang tersedia dan evaluasi b. Tersusunnya data dan program evaluasi program pemberdayaan pemberdayaan perempuan perempuan dan dan KPA KPA c. Meningkatnya koordinasi keterpaduan evaluasi pemberdayaan perempuan

Rupiah Persen

75 %

Rupiah Orang

50 orang

Rupiah Orang

60 orang

Rupiah Kelompok

5 kelompok

139

dan KPA

RENCANA KERJA ( RENJA ) DINAS KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA TAHUN 2004 - 2005

140

BAB V RENCANA KERJA TAHUNAN TAHUN 2005 Instansi : Dinas Kependudukan dan KB Sasaran Uraian 1 Meningkatnya kualitas pengetahuan kader dibidang pendataan keluarga Indikator 2 Persentase peningkatan kualitas SDM dalam pendataan keluarga Rencana Tingkat Capaian (Target) 3 Peningkatan kualitas kader 25 % Program 4 Pendataan keluarga Kegiatan Indikator Kinerja a. Input Uraian b. Output c. Outcame 5 6 • Orientasi a. Jumlah dana yang tersedia pendataa b. Jumlah kader yang orientasi n c. Meningkatnya keluarga pengetahuan kader tentang dan pendataan keluarga bantuan operasio nal kader pendataa n • Pemanta a. Jumlah dana yang tersedia b. Terlaksananya pemantauan uan di lapangan pelaksan c. Meningkatnya kualiats aan hasil pendataan pendataa Rencana Tingkat Capaian (Target) 8 9.270.000 18 kec

Satuan 7 Rupiah Kecamatan

Ket 9

Rupiah Kecamatan

3.600.000 18 kec

141

Meningkatnya informasi tentang kependudukan dan Program KB Meningkatnya kinerja petugas ditingkat kecamatan

Persentasi Pengembangan peningkatan kualitas data informasi 20 % tentang kependudukan dan Program KB Persentase peningkatan SDM petugas lapangan Peningkatan kualitas petugas lapangan 20 % Peningkatan kapasitas SDM

n keluarga • Ekspose hasil pendataa n keluarga

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terlaksananya ekpose hasil pendataan keluarga c. Meningkatnya kualitas data hasil pendataan

Rupiah Kegiatan

4.000.000 1 keg

• Penyusu a. Jumlah dana yang tersedia nan dan b. Terlaksananya penyusunan dan pengolahan data pengolah terpadu an bank c. Meningkatnya kualitas data data kependudukan, KB terpadu dan KS • Operasio a. Jumlah dana yang tersedia b. Pelaksanaan pengolahan nal data KB - KS pengolah an data c. Tersedianya data KB – KS yang berkualitas KB - KS • Pengolah a. Jumlah dana yang tersedia b. Pelaksanaan pengolahan an dan data KB - KS umpan balik dan c. Tersedianya data KB – KS yang berkualitas distribusi hasil program • Operasio a. Jumlah dana yang tersedia b. Pelaksanaan pemantauan nal ke lapangan pemanta c. Teridentifikasi masalah pan

Rupiah

2.250.000 1 kegiatan

Rupiah bulan

9.000.000 12 bulan

3.840.000 12 bulan

6.480.000 18 kec

142

Prosentase pemahaman aparat pengelola adminduk meningkat

Tertingkatkan nya kualitas pegelola adminduk 50 %

Meningkat kan pengetahuan, wawasan dan ketrampilan pengelola adminduk Meningkatka n KIE

pelaksan dan meningkatkan aan ketrampilan petugas di program lapangan kecamata n Bimbingan Masukan : teknis adm. Dana kependudukan SDM Keluaran : Jumlah peserta Hasil : Tingkat kualitas aparat Penyelenggaraan Masukan : sosialisasi Dana pelaksanaan SDM SIAK Keluaran : peserta Hasil : Peningkatan pengetahuan SIAK

Rupiah Orang Orang % Rupiah Orang Lembar % 15.000.000 75 aparat 75 aparat Pemahaman aparat meningkat 75 % 500.000.000

Meningkatnya kesadaran masyarakat atas hak dan kewajiban status kependudukan

Tertingkatnya kesadaran masyarakat

Cakupan pengurusan adminduk 75 %

Pengelolaan data berbasis teknologi

Prosentase validasi data meningkat

Validitas data Penyiapan mencapai 75 % program SIAK dan SIDUGA

Pelaksanaan uji coba aplikasi SIAK

Masukan : Dana SDM Keluaran : Database kependudukan Hasil :

Rupiah Orang Kec %

2 kec Validitas

143

Penyusunan data kependudukan

Data berbasis teknologi informasi Masukan : Dana SDM Keluaran : Buku Hasil : Tersajinya Data kependudukan Masukan : Dana SDM Keluaran : Perangkat SIAK Hasil : Peningkatan pelayanan

data 75 % Rupiah Orang eksemplar % Rupiah Orang Paket % 11.500.000

150 Validitas data 75 % 105.730.000

Meningkatkan pelayanan

Prosentase sarana prasarana meningkat

Dua kecamatan pilot project dapat terpenuhi

Pengadaan sarana dan prasarana pendukung pelayanan prima

Pengadaan dan pemeliharaan sarana program SIAK

3 Terdistribus ikannya sarana program SIAK 229.280.000 180 aparat 45.000 KTP 24.000 KK 75 %

Peningkatan pelayanan pendaftaran penduduk

Masukan : Dana SDM Keluaran : Jumlah KK, KTP Hasil :

Rupiah Orang Lembar %

144

Meningkatnya kesadaran masyarakat atas hak dan kewajiban status kependudukan

Tertingkatnya kesadaran masyarakat

Cakupan pengurusan adminduk 75 %

Meningkatka n KIE

Kesadaran masyarakat Penyelenggaraan Masukan : sosialisasi Dana pelaksanaan SDM SIAK Keluaran : peserta Hasil : Peningkatan pengetahuan SIAK

Rupiah Orang Lembar %

masyarakat 10.000.000 75 aparat 75 aparat Pemahaman aparat meningkat 75 % 100.000.000

Pengelolaan data berbasis teknologi

Prosentase validasi data meningkat

Validitas data Penyiapan mencapai 75 % program SIAK dan SIDUGA

Pelaksanaan uji coba aplikasi SIAK

Masukan : Dana SDM Keluaran : Database kependudukan Hasil : Data berbasis teknologi informasi Masukan : Dana SDM Keluaran : Buku Hasil : Tersajinya Data kependudukan

Rupiah Orang Kec % Rupiah Orang eksemplar %

18 kec Validitas data 90 % 20.000.000

Penyusunan data kependudukan

150 90 % Validitas data

145

Peningkatan pelayanan pendaftaran penduduk

Masukan : Dana SDM Keluaran : Jumlah KK, KTP Hasil : Kesadaran masyarakat

Rupiah Orang Lembar %

meningkat 350.000.000 180 aparat 60.000 KTP 24.000 KK 75 % masyarakat

146

Meningkatnya calon kesertaan KB

Meningkatnya tertib administrasi pencatatan dan pelaporan bagi IMP

Peserta KB aktif meningkat 70 % Peserta KB baru mencapai 60 % Menurunnya jumlah Un meet need 60 % Desember 2003 80 % IMP melaksanakan pencatatan dan pelaporan secara tertib

7.708 peserta aktif 8.135 peserta KB baru 8.135 peserta

Pengadaan sarana dan prasarana pelayanan KB serta pelaksanaan program KB Meningkatka n pembinaan / KIE kepada IMP

Pengadaan alkon a. Jumlah dana yang tersedia implant b. Tersedianya jumlah alkon implant bagi keluarga miskin dan miskin sekali c. Terlayaninya keluarga miskin dan miskin sekali Pertemuan Tri Komponen a. Jumlah dana yang tersedia b. Tersalurnya alat kontrasepsi Pil dan Kondom c. Terlayaninya peserta KB pil dan Kondom a. Jumlah dana yang tersedia b. Terlaksananya penyuluhan program KB - KS c. Jumlah orang diberi KIE meningkat

Rupiah Orang

Laporan perbulan rutin dan benar

Rupiah Strip dan Losin

Penggalakan program KB – KS melalui pemutaran film, radio spot dan wawancara melalui radio Pameran program Kependudukan KB dan KS

Rupiah

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terlaksananya pameran 2 kali c. Sosialisasinya hasil dan pelaksanaan program Kependudukan KB - KS

Rupiah Paket

Terlayaniny a peserta KB Pil dan Kondom sejumlah 22.276 KK Pemutaran film : 50 kali Wawancara radio : 4 kali Radio spot : 9 kali Terlaksanan ya pameran 2 kali pada hari Jadi GK dan Pekan Raya Wonosari

147

Pengadaan sarana KIE viewer dan laptop Meningkatnya dukungan lintas sektoral baik pmerintah maupun swasta dalam program KB Terbinanya kemiraan/kerjas ama yang baik dan berkesinambung an Program berjalan lancar Meningkatka n kerjasama lintas sektor dalam pelaksanaan program KB melalui Manunggal KB Kesehatan • • • TMKK KB dan kesehatan Bayangkara KB Kesehatan Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terealisasinya pengadaan sarana KIE (viewer dan laptop) c. Meningkatnya kualitas kie KIE a. Jumlah dana yang tersedia b. Terlaksananya program KB Manunggal TMKK, Bayangkara, dan Kesatuan Gerak PKK c. Hubungan kerjasama yang harmonis antar sektor

Rupiah Set

1 set viewer dan laptop

Rupiah Paket

• TM KK 1 pkt • Bykr a 1pkt • Kes PK K 1 pkt 60 orang

Meningkatnya kualitas petugas pelayanan dan administrasi KB

Terciptanya kepuasan klien (peserta KB)

Efek samping, kegagalan dan komplikasi menurun 50 % dari th 2003

Peningkatan kualitas pertemuan koordinasi dan pengayoman KB

Pertemuan Medis teknis

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terselenggaranya pertemuan Medis Teknis c. Meningkatnya kualitas pelayanan KB

Rupiah Orang

Rapat koordinasi a. Jumlah dana yang tersedia kecamatan b. Terselenggaranya rakor kecamatan

Rupiah Paket

4 pkt x kec

148

c. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berjalan dengan baik

149

Rapat koordinasi a. Jumlah dana yang tersedia desa b. Terselenggaranya rakor desa c. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berjalan dengan baik Bantuan a. Jumlah dana yang tersedia operasional b. Tersedianya bantuan kader/IMP operasional bagi IMP c. Meningkatnya partisipasi IMP dalam program KB

Rupiah Paket

4 pkt x desa

Rupiah Orang

•144 koord PPKBD •1434 PPKBD •7088 sub PKKBD 80 orang

Lokakarya pening pelayanan KB melalui Bidan Praktek Swasta

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terselenggaranya Lokakarya IBI c. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berjalan dengan baik Bantuan a. Jumlah dana yang tersedia pengayoman b. Terlayaninya akseptor KB bagi peserta KB yang mengalami kegagalan dan komplikasi c. Akseptor yang mengalami komplikasi dan kegagalan dapat terayomi

Rupiah Orang

Rupiah Kasus

5 kasus

150

Meningkatnya •Meningkatnya pengetahuan jumlah dan partisipasi kelompok masyarakat kegiatan KB dalam •Meningkatnya program KB partisipasi/kese rtaan KB

• Peran pria 72 klp • Kelompok KRR meingkat 18 • Peserta KB aktif 0,75 %

Meningkatny a pengetahuan dan partisipasi masyarakat melalui orientasi dan sosialisasi

Orientasi KRR bagi guru dan siswa

a. Jumlah dana yang tersedia Rupiah b. Terlayaninya akseptor KB Orang yang mengalami kegagalan dan komplikasi c. Akseptor yang mengalami komplikasi dan kegagalan dapat terayomi Rupiah Orang

4 orang

Orientasi KB – KR bagi Apsari PKK, PPKBD dan remaja

Masih tingginya angka keluarga miskin

Kondisi rumah dari sisi lantai masih dari tanah

7.500 keluarga

Taskin melalui perbaikan perumahan dan pemukiman

a. Jumlah dana yang tersedia b. Terselenggaranya orientasi KB – KR bagi Apsari PKK, PPKBD dan remaja c. Meningkatnya pengetahuan KB KR bagi Apsari PKK, PPKBD dan remaja Pemberian a. Jumlah dana yang tersedia stimulan b. 7.500 keluarga mampu lantainisasi/taski memperkeras lantai rumah n melalui c. Meningkatnya perbaikan kesejahteraan keluarga perumahan dan pemukiman

45 orang

Rupiah Keluarga

100 %

151

Rendahnya mentalitas wirausaha khususnya perempuan Meningkatnya pemahaman PUG

Pendapatan (keluarga) rendah

50 kelompok dilatih sampai dibantu permodalan 50 orang

Pendampinga n kelompok UPPKS/UP2 K Peningkatan kualitas hidup perempuan

Terpahaminya PUG bagi 50 perencana di lingkungan Dinas, Badan, Kantor Terpahaminya kesejahteraan dan perlindungan anak

Pemberian stimulan pinjaman permodalan dan pelatihan kelompok Sosisalisasi PUG

Meningkatnya pemahaman KPA

50 orang

Anak dan remaja

a. Jumlah dana yang tersedia b. 50 kelompok mempunyai kegiatan ekonomis produktif c. Meningkatnya kesejahteraan kelompok a. Jumlah dana yang tersedia b. Terselenggaranya sosialisasi PUG bagi 50 orang c. Meningkatnya pengetahuan PUG bagi perencana Baleka, LSM dan organisasi Fasilitasi dan a. Jumlah dana yang tersedia analisis gender b. Terlaksananya fasilitasi dan pelatihan analisis gender bagi 60 orang aparat perencana c. Meningkatnya program responsif gender Penyusunan data a. Jumlah dana yang tersedia dan evaluasi b. Tersusunnya data dan program evaluasi program pemberdayaan pemberdayaan perempuan perempuan dan dan KPA KPA c. Meningkatnya koordinasi keterpaduan evaluasi pemberdayaan perempuan

Rupiah Persen

75 %

Rupiah Orang

50 orang

Rupiah Orang

60 orang

Rupiah Kelompok

5 kelompok

152

dan KPA

153

BAB V PENGUKURAN DAN RENCANA EVALUASI KINERJA A. Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi Dinas Kependudukan dan KB Kabupaten Gunungkidul. Pengukuran ini merupakan hasil dari penilaian yang sistimatik dan didasarkan pada kelompok indicator kinerja kegiatan yang bempa indikator-indikator proses, keluaran, hasil, manfaat, dan dampak. masukan,

B. Evaiuasi Kinerja Evaluasi Kinerja adalah kegiatan untuk menilai terhadap pencapaian setiap indicator kinerja kegiatan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang hal-hal yang mendukung keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan suatu kegiatan. Hal ini dilakukan agar diketahui pencapaian realisasi, kemajuan, dan kendala yang dijumpai dalam rangka pencapaian misi, agar dapat dinilai dan dipelajari guna perbaikan pelaksanaan program/kegiatan di masa yang akan datang. 1. Evaluasi Kinerja I (Kegiatan) Evaluasi Kinerja Kegiatan dilakukan dengan melihat kesesuaian antara kegiatan dengan program dengan menggunakan indicator kinerja, pembobotan kegiatan, capaian kelompok indicator kinerja sehingga dapat diperoleh nilai capaian kegiatan. Indikator kinerja yang digunakan dalam adalah: a. Indikator masukan/input b. Indikator proses c. Indikator keluaran/output

154

d. Indikator hasil/outcome e. Indikator ManfaaVbenefit f. Indikator dampak/impacts.

Untuk jelasnya dapat dilihat dalam format berikut : Pengukuran Kinerja Kegiatan Tahun …… Instansi : Dinas Kependudukan dan KB Kabupaten Gunungkidul Kegiatan Program Uraia n 2 Indikator Satuan Kinerja 3 4 Rencana Tingkat Capaian (Target) 5 Presentase Pencapaian Rencana Tingkat Capaian (Target) 7 Ket

Realisasi

1

6

8

155

Penghitungan prosentase pencapaian rencana tingkat capaian (kolom 7) perlu memperhatikan karakteristik komponen realisasi. Dalam kondisi : 1) Semakin tinggi realisasi menunjukkan pencapaian kinerja yang semakin baik, maka digunakan rumus :

Prosentase pencapaian rencana = Realisasi x 1 0% 0 Rencana

tingkat capaian

2) Semakin tinggi realisasi menunjukkan semakin rendah pencapaian kinerja, maka digunakan rumus :

Prosentase pencapaian rencana = tingkat capaian Rencana - (Realisasi - Rencana) x 1 0% 0 Rencana

2. Evaluasi Kinerja II (Sasaran) Pengukuran Pencapaian Sasaran Tahun …… Instansi : Dinas Kependudukan dan KB Kabupaten Gunungkidul

156

Sasaran 1

Indikator Sasaran 2

Rencana Tingkat Capaian (Target) 3

Realisasi 4

Prosentase Pencapaian Rencana Tingkat Capaian 5

Ket 6

1) Semakin tinggi realisasi menunjukkan pencapaian kinerja yang semakin baik, maka digunakan rumus :

Prosentase pencapaian rencana = Realisasi x 1 0% 0 Rencana

tingkat capaian

2) Semakin tinggi realisasi menunjukkan semakin rendah pencapaian kinerja, maka digunakan rumus :

157

Prosentase pencapaian rencana = tingkat capaian Rencana - (Realisasi - Rencana) x 1 0% 0 Rencana

C. Hasil Evaluasi Berdasarkan hasil-hasil perhitungan formulir di atas maka dilakukan evaluasi terhadap pencapaian setiap indikator kinerja kegiatan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang hal-hal yang mendukung keberhasilan atau kegagalan program yang telah direncanakan.

BAB VI PENUTUP Rencana Stratejik dan Rencana Kerja Dinas Kependudukan dan KB Kabupaten Gunungkidul sebagai penjabaran visi, misi, dan nilai serta faktor kunc, keberhasilan ini dibuat dan disusun sebagai panduan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi sesuai yang telah digariskan dalam tahun 2004 dan 2005 sebagai Dinas yang baru. Dukungan, saran, dan kerjasama dari semua pihak yang terkait sangat diharapkan untuk mendukung keberhasilan sesuai yang direncanakan.

158

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->