Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

FILSAFAT PANCASILA
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan

Disusun oleh :

Kelompok 1
1. Restu millati
2. Ruth May
3. Siti Hayatunufus
4. Wahyu Maulana

Kelas C

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
Jalan Raya Jakarta Km.4 Pakupatan, Serang-Banten
2009
PENDAHULUAN

A. Dasar Pemikiran
Setiap warga negara dituntut untuk dapat hidup berfilsafat dan berguna bagi
negara dan bangsanya, serta mampu mengantisipasi perkembangan dan perubahan masa
depannya. Untuk itu diperlukan penguasaan ilmu pengetahuan berfilsafat dan berfikir
filsafat yang berdasar pada nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai moral nilai kemanusiaan dan
nilai-nilai budaya bangsa. Nilai-nilai dasar tersebut berperan sebagai panduan dan
pegangan hidup setiap warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara

B. Pengertian Filsafat
Dalam kehidupan manusia, filsafat senantiasa menyertai dalam diri kita.
Dengan kata lain,selama manusia itu hidup ia tidak dapat mengelak dari filsafat. Pengertian
filsafat itu sendiri sebenarnya sangat sederhana dan mudah dipahami. Istilah filsafat secara
etimologis berasal dari bahasa Yunani “philein” yang artinya cinta dan “sophos” yang
mempunyai arti bijaksana. Jadi istilah filsafat mengandung makna cinta kebijaksa
kebnaan. Pilihan manusia sebagai suatu pandangan dalam hidup yang bertujuan
memperoleh kebahagiaan itulah yang disebut hidup berfilsafat. Sebenarnya jika ditinjau
dari segi pembahasannya filsafat tidak hanya membahas tentang manusia saja, tetapi juga
bidang-bidang lainnya antara lain tentang pengetahuan, agama, etika dan sebagainya.

C. Tujuan Filsafat
Dalam kehidupan kita mempunyai tujuan hidup, apakah ke arah yang baik
atau yang buruk. Semua itu tergantung bagaimana cara berpikir kita. Hal itu sesuai dengan
tujuan berfilsafat , bagaimana cara berpikir dan bertindak dalam melakukan aktivitas
berfilsafat yang pada umumnya diartikan sebagai proses pemecahan suatu permasalahan
dengan metode atau cara tertentu yang sesuai dengan objek permasalahan tersebut.
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat
limpahan rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada
waktunya. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini.
Makalah yang kami susun ini membahas mengenai Filsafat Pancasila. Di dalamnya
berisi tentang makna Filsafat Pancasila beserta contohnya yang disusun secara sistematis
untuk memudahkan pembaca dalam memahaminya. Semoga makalah ini dapat berguna
bagi kita semua dalam menambah ilmu pengetahuan.
Dalam penyusunan makalah ini menyadari bahwa makalah ini belum sempurna dan
memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu kami membuka dengan luas kritik dan saran
dari pembaca untuk dapat menyempurnakan makalah ini dan untuk selanjutnya dapat lebih
baik lagi.
Terima kasih.

Serang, 30 September 2009

Penyusun
BAB I
FILSAFAT PANCASILA

A. CARA BERPIKIR FILSAFAT

1. Pengertian Filsafat
Dalam wacana ilmu pengetahuan sebenarnya pengertian filsafat adalah sangat
sederhana dan mudah dipahami. Filsafat adalah satu bidang ilmu yang senantiasa ada dan
menyertai kehidupan manusia.
Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia :
philo/philos/philein artinya cinta / pecinta / mencintai dan sophia, berarti kebijakan
/wisdom/kearifan/hikmah/hakikat kebenaran. Jadi, filsafat artinya cinta akan kebijakan
atau hakikat kebenaran. Hal ini nampaknya sesuai dengan sejarah timbulnya ilmu
pengetahuan, yang sebelumnya di bawah naungan filsafat.
Berfilasafat, berarti berpikir sedalam-dalamnya (merenung) terhadap sesuatu secara
metodik, sistematis, menyeluruh, dan universal untuk mencari hakikat sesuatu. Menurut D.
Runes, filsafat adalah ilmu yang paling umum yang mengandung usaha mencari kebijakan
dan cinta akan kebijakan. (BP-7, 1993 : 8).
Pada umumnya, terdapat dua pengertian filsafat, yaitu:
filsafat dalam arti produk mencakup pengertian
a. Pengertian filsafat yang mencakup arti-arti filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu,
konsep dari para filsuf pada zaman dahuluatau pendangan tertentu, yang merupakan
hasil dan proses berfilsafat dan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. filsafat dalam arti
produk, filsafat sebagai pandangan hidup, dan filsafat dalam arti praktis. Hal ini
berarti Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan
dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi bangsa Indonesia dimana
pun mereka berada.
b. Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari
aktivitas berfilsafat. Filsafat dalam pengertian jenis ini mempunyai ciri-ciri khas
tertentu sebagai suatu hasil kegiatan berfilsafat dan pada umumnya proses pemecahan
persoalan filsafat ini diselesaikan dengan kegiatan berfilsafat (dalam pengertian
filsafat yang dinamis).
filsafat dalam arti proses mencakup pengertian
Filsafat yang diartikan sebagai bentuk suatu aktivitas berfilsafat, dalam proses
pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu cara dan metode tertentu yang
sesuai dengan objek permasalahannya. Dalam pengertian ini filsafat merupakan suatu
sistem pengetahuan yang bersifat dinamis. Filsafat dalam pengertian ini tidak lagi hanya
merupakan sekumpulan dogma yang hanya diyakini ditekuni dipahami sebagai suatu
sistem nilai tertentu, tetapi lebih merupakan suatu aktivitas berfilsafat, suatu proses yang
dinamis dengan menggunakan suatu cara dan metode tersendiri.
Selain itu, ada pengertian lain, yaitu filsafat sebagai ilmu dan filsafat sebagai
pandangan hidup. Demikian pula, dikenal ada filsafat dalam arti teoretis dan filsafat
dalam arti praktis..
Nilai adalah sifat, keadaan, atau kualitas dari sesuatu yang bermanfaat bagi
kehidupan manusia, baik lahir maupun batin. Setiap orang di dalam kehidupannya, sadar
atau tidak sadar, tentu memiliki filsafat hidup atau pandangan hidup. Pandangan hidup atau
filsafat hidup seseorang adalah kristalisasi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya,
ketepatan, dan manfaatnya.
Nilai-nilai sebagai hasil pemikiran yang sedalam-dalamnya tentang kehidupan yang
dianggap paling baik bagi bangsa Indonesia adalah Pancasila, baik sebagai filsafat dalam
arti produk maupun sebagai pandangan hidup.
Filsafat merupakan kegiatan pemikiran yang tinggi dan murni (tidak terikat
langsung dengan suatu obyek), yang mendalam, dan daya pikir subyek manusia dalam
memahami segala sesuatu untukl mencari kebenaran. Berpikir aktif dalam mencari
kebenaran adalah potensi dan fungsi kepribadian manusia. Ajaran filsafat merupakan hasil
pemikiran yang sedalam-dalamnya tentang kesemestaan, secara mendasar (fundamental
dan hakiki). Filsafat sebagai hasil pemikiran pemikir (filosof), merupakan suatu ajaran atau
sisem nilai, baik berwujud pandangan hidup (filsafat hidup) maupun sebagai ideologi yang
dianut suatu mesyarakat atau bangsa dan negara. Filsafat demikian telah berkembang dan
terbentuk sebagai suatu nilai yang melembaga (dengan negara) sebagai suatu paham
(isme), seperti kapitalisme , komunisme, sosialisme, dan sebagainya yang cukup
mempengaruhi kehidupan bangsa dan negara modern.

2. Sistem Filsafat
Pemikiran filsafat berasal dari berbagai tokoh yang menjadikan manusia sebagai
subyek. Suatu ajaran filsafat yang bulat mengajarkan tentang berbagai segi kehidupan yang
mendasar. Suatu sistem filsafat sediktnya mengajarkan tentang sumber dan hakikat,
filsafat hidup, dan tata nilai (etika), termasuk teori terjadinya pengetahuan manusia dan
logika. Sebaliknya, filsafat yang mengajarkan hanya sebagian kehidupan
(sektoral,fragmentaris) tak dapat disebut sebagai sistem filsafat, melainkan hanya ajaran
filosofis seorang ahli filsafat.

3. Aliran-aliran Filsafat
a. Aliran Materialisme
Aliran materialisme mengajarkan bahwa hakikat realitas kesemestaan, termasuk
makhluk hidup dan manusia, ialah materi. Semua realitas itu ditentukan oleh materi
(misalnya benda,makanan) dan terikat pada hukum alam, yaitu hukum sebab-akibat
(hukum kausalitas) yang bersifat obyektif.
b. Aliran Idealisme/Spiritualisme
Aliran idealisme atau spiritualisme mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia
yang menentukan hidup dan pengertian manusia. Subyek manusia sadar atas realitas
dirinya dan kesemestaan, karena ada akal budi dan kesadaran rohani. Manusia yang tak
sadar atau mati sama sekali tidak menyadari dirinya apalagi realitas kesemestaan. Jadi,
hakikat diri dan kenyataan kesemestaan ialah akal budi (ide
(ide dan spirit).
spirit).
c. Aliran Realisme
Aliran realisme menggambarkan bahwa kedua aliran di atas, materials dan
idealisme yang bertentangan itu, tidak sesuai dengan kenyataan (tidak realistis).
Sesungguhnya, realitas kesemestaan, terutama kehidupan bukanlah benda (materi) semata-
mata. Karenanya, realitas adalah paduan benda (materi dan jasmaniah) dengan yang
nonmateri (spiritual, jiwa, dan rohaniah). Jadi, menurut aliran realisme, realitas merupakan
sintesis antara jasmaniah-rohaniah, materi dan nonmateri.

4. Pengertaian Pancasila sebagai Suatu Sistem


Pancasila yang terdiri dari lima sila pada hakikatnya merupakan sistem filsafat.
Yang dimaksud dengan sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling
bergabungan, saling bekerja sama untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan
merupakan suatu kesatuan yang utuh, sistem lazimnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1) Suatu kesatuan bagian-bagian
2) Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri
3) Saling berhubungan, saling ketergantungan
4) Kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama (tujuan
sistem)
5) Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks (Shore and Voich, 1974:22)
Dasar filsafat negara Indonesia terdiri atas lima sila yang masing-masing
merupakan suatu asas peradaban. Namun demikian, sila-sila pancasila itu bersama-sama
merupakan suatu kesatuan dan keutuhan, setiap sila merupakan suatu unsur (bagian yang
mutlak) dari kesatuan Pancasila. Maka dasar filsafat negar pancasila merupakan suatu
kesatuan yang bersifat majemuk tunggal. Setiap sila tidak dapat berdiri sendiri terpisah
dari sila yang lain. Pancasila sebagai suatu sistem juga dapat dipahami dari pemikiran
dasar yang terkandung dalam pancasila, yaitu emikiran tentang manusia dalmam
hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa dengan dirinya sendiri, dengan sesama
manusia, dengan masyarakat bangsa yang nilai-nilainya telah dimiliki oleh bangsa
Indonesia.
Kenyataan objektif yang ada dan terlekat pada pancasila, sehingga pancasila
sebagai suatu sistem filsafat bersifat khas dan berbeda dengan sistem filsafat yang lainnya
misalnya liberalisme, materialisme dan lainnya. Hal ini secara ilmiah disebut ciri khas
secara objektif (Notonagoro, 1975:14).

5. Nilai-nilai Pancasila Berwujud dan Bersifat Filosofis


Pendekatan filsafat Pancasila adalah ilmu pengetahuan yang mendalam tentang
Pancasila. Untuk mendapatkan pengertian yang mendalam, kita harus mengetahui sila-sila
Pancasila tersebut. Dari setiap sila-sila kita cari pula intinya. Setelah kita ketahui hakikat
dan inti tersebut selanjutnya kita cari hakikat dan pokok-pokok yang terkandung di
dalamnya, yaitu sebagai berikut.
1) Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, berarti bahwa nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila itu dijadikan tuntutan dan pegangan dalam
hubungannya dengan Tuhan, masyarakat, dan alam semesta.
2) Pancasila sebagai dasar negara, berarti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila itu dijadikan dasar dan pedoman dalam mengatur tata kehidupan
bernegara, seperti yang diatur oleh UUD 1945. Untuk kepentingan-kepentingan
kegiatan praktis operasional diatur dalam Tap. MPR No. III/MPR/2000 tentang
Sumber Hukum dan Tata Urutan Perundang-undangan, yaitu sebagai berikut.
a. Undang-undang dasar 1945
b. Ketetapan MPR
c. Undang-undang
d. Peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu)
e. Peraturan pemerintah
f. Keputusan Presiden
g. Peraturan daerah
3) Filsafat Pancasila yang abstrak tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 yang
merupakan uraian terinci dari Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dijiwai Pancasila.
4) Pancasila yang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan suatu
kebulatan yang utuh.
5) Jiwa Pancasila yang abstrak setelah tercetus menjadi Proklamasi Kemerdekaan
17 Agustus 1945, tercermin dalam pokok-pokok yang terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945.
6) Berdasarkan penjelasan otentik UUD 1945, Undang-undang Dasar 1945
menciptakan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945
pada pasal-pasalnya. Hal ini berarti pasal-pasal dalam Batang Tubuh UUD 1945
menjelmakan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD
1945 sebagai perwujudan dari jiwa Pancasila.
7) Berhubung dengan itu, esatuan tafsir sila-sila Pancasila harus bersumber dan
berdasarkan Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945.
8) Nilai-nilai yang hidup berkembang dalam masyarakat Indonesia yang belum
tertampung dalam pembukaan UUD 1945 perlu diselidiki untuk memperkuat dan
memperkaya nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam Pembukaan dan Batang
Tubuh UUD 1945, dengan ketentuan sebagai berikut
a. Nilai-nilai yang menunjang dan memperkuat kehidupan bermasyarakat dan
bernegara dapat kita terima asal tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa
dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, misalnya referendum atau
pemilihan Presiden secara langsung.
b. Nilai-nilai yang melemahkan dan bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung
dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945 tidak dimasukkan sebagai nilai-
nilai Pancasila. Bahkan harus diusahakan tidak hidup dan berkembang lagi dalam
masyarakat Indonesia, misalnya demonstrasi dengan merusak bangunan/kantor,
penjahat dihakimi massa, atau penjarahan.
c. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945
dipergunakan sebagai batu ujian dari nilai-nilai yang lain agar dapat diterima
sebagai nilai-nilai Pancasila.
Oleh sebab itu, secara filosofis, dalamkehidupan bangsa Indonesia diakui bahwa
nilai Pancasila adalah pandangan hidup. Dengan demikian, Pancasila dijadikan sebagai
pedoman dalam bertingkah laku dan berbuat dalam segala bidang kehidupan, meliputi
bidang ekonomi, politik, sosial budaya, dan pertahanan dan keamanan. Sebagai ajaran
filsafat, Pancasila mencerminkan nilai dan pandangan dasar dan hakiki rakyat Indonesia
dalam hubungannya dengan sumber kesemestaan, yakni Tuhan Yang Maha Pencipta.

C. PENGERTIAN PANCASILA SECARA FILSAFAT


Filsafat Pancasila dapat didefinisikan secara ringkas sebagai refleksi kritis dan
rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan
tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya secara mendasar dan menyeluruh.
Pembahasan filsafat dapat dilakukan secara deduktif, yakni dengan mencari hakikat
Pancasila serta menganalisis dan menyusunnya secara sistematis menjadi keutuhan
pandangan yang komprehensif. Pembahasan filsafat dapat juga dilakukan secara induktif,
yakni dengan mengamati gejala-gejala sosial budaya masyarakat, memrefleksikannya, dan
menarik hati dan makna yang hakiki dari gejala-gejala itu. Dengan demikian, kedua cara
itu memberikan hasil yang dapat disajikan sebagai bahan-bahan yang sangat penting bagi
penjabaran ideologi Pancasila. Ideologi Pancasila adalah keseluruhan prinsip normatif
yang berlaku bagi negara Republik Indonesia dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

D. KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI SUATU SISTEM FILSAFAT

Kesatuan sila-sila Pancasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan kesatuan


yang bersifat formal logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar ontologis, dasar
epistemologis serta dasar axiologis dari sila-sila Pancasila. Sebagaimana dijelaskan bahwa
kesatuan sila-sila Pancasila adalah bersifat hierarkhis dan mempunyai bentuk piramidal,
digunakan untuk menggambarkan hubungan urutan-urutan luas (kuantitas) dan dalam
pengertian inilah hubungan kesatuan sila-sila Pancasila itu dalam arti formal logis.
Wawasan filsafat meliputi bidang penyelidikan ontologi, epistemologi, axiologi.
Ketiga bidang ini dapat dianggap mencakup kesemestaan.
1. Aspek Ontologi
Menurut Runes, ontologi ialah teori tentang ada, keberadaan atau eksistensi.
Menurut Aristoteles, ontologi adalah ilmu yang menyelidiki hakikat sesuatu dan
disamakan artinya dengan metafisika. Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat
tidak hanya kesatuan yang menyangkut sila-silanya saja melainkan juga meliputi hakikat
dasar dari sila-sila Pancasila atau secara filosofis merupakan dasar dari sila-sila
Pancasila. Pancasila yang terdiri atas lima sila, setiap sila bukanlah merupakan asas yang
berdiri sendiri-sendiri, melainkan memiliki satu kesatuan dasar ontologi. Dasar ontologi
Pancasila pada hakikatnya adalah manusia, yang memilki hakikat hak mutlak
monopluralis, oleh karena itu hakikat dasar ini disebut sebagai dasar antropologis.
Subjek pendukung pokok sila-sila Pancasila adalah manusia, hal ini dapat dijelaskan
sebagai berikut: bahwa yang Berketuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang
adil dan beradab, yang berpersatuan, yang berkerayatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta yang berkeadilan sosial pada
hakikatnya adalah manusia (Notonogoro 1975:23). Demikianlah juga jikalau kita pahami
dari segi filsafat negara bahwa Pancasila adalah dasar nilai filsafat negara, adapun
pendukung pokok negara adalah rakyat dan unsur rakyat adalah manusia itu sendiri,
sehingga tepatlah jikalau dalam filsafat Pancasila bahwa hakikat dasar antropologis sila-
sila Pancasila adalah manusia.

2. Aspek Epistemologi
Epistemologi, menurut Runes, adalah bidang atau cabang filsafat yang menyelidiki
asal, syarat, susunan, metode, dan validitas ilmu pengetahuan.
Pengetahuan manusia, sebagai hasil pengalaman dan pemikiran, membentuk
budaya. Bagaimana proses terjadinya meliputi pengetahuan sampai membentuk
kebudayaan, sebagai wujud keutamaan (superioritas
(superioritas)) manusia, ingin disadari lebih
dalam. Bagaimana manusia mengetahui bahwa ia tahu, atau bagaimana manusia
mengetahui bahwa sesuatu itu ilmu pengetahuan, hal itu menjadi penyelidikan
epistemologi.
Epistemologi meneliti sumber pengetahuan, proses dan syarat terjadinya
pengetahuan serta batas dan validitas ilmu pengetahuan. Jadi, epistemologi dapat disebut
ilmu tentang ilmu atau teoti terjadinya ilmu atau science of science atau
Wissenchaftslehre. Yang termasuk cabang epistemologi adalah matematika, logika,
gramatika, dan semantik.
Jadi, epistemologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki makna dan nilai ilmu
pengetahuan, sumbernya, syarat-syarat dan proses terjadinya ilmu, termasuk semantik,
logika, metematika, dan teori ilmu.

3. Aspek Axiologi
Axiologi, menurut Runes, berasal dari istilah Yunani, axios yang berati nilai,
manfaat, pikiran atau ilmu/teori. Dalam pengertian yang modern, axiologi disamakan
dengan teori nilai, yakni sesuatu yang diinginkan, disukai, atau yang baik, dan juga
bidang yang menyelidiki hakikat nilai, kriteria, dan kedudukan metafisika sebagai suatu
nilai.
Menurut Prof. Brameled, axiologi dapat disimpulkan sebagai suatu cabang filsafat
yang menyelidiki:
1. tingkah laku moral, yang berwujud etika;
2. ekspresi etika, yang berwujud estetika atau seni dan keindahan;
3. sosio-politik, yang berwujud ideologi.
Axiologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki makna nilai, sumber nilai,
jenis dan tingkatan nilai, dan hakikat nilai, termasuk estetika, etika, ketuhanan, dan
agama.
Kehidupan manusia sebagai makhluk subyek budaya, pencipta, dan
penegak nilai, berarti manusia secara sadar mencari, memilih, dan melaksanakan
(menikmati) nilai; jadi, nilai merupakan fungsi kepribadian manusia. Bahkan, nilai di
dalam kepribadian, seperti pandangan hidup, keyakinan (agama) dan bagaimana kualitas
kepribadian. Martabat manusia ditentukan oleh keyakinannya dan amal kebajikannya.
a. Teori Nilai
Terdapat berbagai macam pandangan tentang nilai dan hal ini sangat terga ntung
pada titik tolak dan sudut ppandangnya masing-masing dalam menentukan tentang
pengertian serta hierarki nilai. Menurut tinggi rendahnya, nilai- nilai dapat dikelompokkan
dalam empat tingkat, sebagai berikut :
1. Nilai-nilai kenikmatan: dalam tingkat ini terdapat deretan nilai-nilai yang
mengenakan dan tidak mengenakan.
2. Nilai-nilai kehidupan: dalam tingkat ini terdapatlah nilai-nilai yang penting bagi
keidupan (Werte des vitalen Fuhlens) misalnya kesehatan.
3. Nilai-nilai kejiwaan: dalam tingkat ini terdapat nilai- nilai kejiwaan yang sama
tidak tergantung dari keadaan jasmani maupun lingkungan. Nilai-nilai semacam itu
ialah keindahan, kebenaran, dan pengetahuan murni yang dicapai dalam filsafat.
4. Nilai-nilai kerohanian: dalam ini terdapatlah modalitas nilai dari yang suci dan
tidak suci.
Walter G. Everet menggolong-golongkan nilai-nilai manusiawi ke dalam kelompok yaitu:
1. Nilai-nilai ekonomis, ditujukan oleh harga pasar dan meliputi semua benda
yang dapat dibeli.
2. Nilai-nilai kejasmanian, membantu pada kesehatan, efisiensi dan keindahan
dari kehidupan badan
3. Nilai-nilai hiburan, nilai-nilai permainan dan waktu senggan yang dapat
menyumbangkan pada pengayaan kehidupan
4. Nilai-nilai sosial, berasal mula dari pelbagai bentuk perserikatan manusia
5. Nilai-nilai watak, keseluruhan dari keutuhan keporibadian dan sosial yang
diinginkan
6. Nilai-nilai estetis, nilai-nilai keindahan dalam alam dan karya seni
7. Nilai-nilai intelektual, nilai-nilai pengetahuan dan pengajaran kebenaran
8. Nilai-nilai keagamaan
Notonagoro membagi nilai menjadi tiga yaitu:
1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat
mengadakan kegiatan.
2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat
mengadakan kegiatan.
3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani. Nilai kerohanian
ini dapat dibedakan atas empat macam :
• Nilai kebenaran, yang bersumber pada akal manusia.
• Nilai keindahan, atau nilai estetis, yang bersumber pada unsur perasaan manusia.
• Nilai kebaikan, atau nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendak manusia.
• Nilai religius, yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak. Nilai religius
ini bersumber kepada kepercayaan atau keyakinan manusia.

E. PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA

Istilah ideologi berasal dari kata 'idea'


'idea' yang berarti 'gagasan, konsep, pengertian
dasar, cita-cita' dan 'logos' yang berarti 'ilmu'.
'ilmu'. Kata 'idea' berasal dari kata Yunani 'eidos'
yang artinya 'bentuk'.
'bentuk'. Maka secara harafiah, ideologi berarti ilmu pengetahuan-
pengetahuan dasar. Dengan demikian ideologi mencakup pengertian tentang idea-idea,
pengertian dasar, gagasan dan cita-cita.
Sebagai suatu ideologi bangsa dan negara Indonesia maka Pancasila diangkat dari
nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam
pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara, sehingga bangsa ini
merupakan kausa materialis (asal bahan) Pancasila.

F. NILAI-NILAI PANCASILA MENJADI DASAR DAN ARAH KESEIMBANGAN


ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA

Pancasila memandang bahwa kebahagiaan manusia akan tercapai bila


dikembangkan hubungan yang serasi antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Apabila memahami nilai-nilai dari sila-sila Pancasila akan terkandung beberapa hubungan
manusia yang melahirkan keseimbangan antara hak dan kewajiban antarhubungan tersebut,
yaitu sebagai berikut
a. Hubungan Vertikal
Hubungan vertikal adalah hubungan manusia dengan Tuhan, sebagai penjelmaan
dari nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam hubungan ini, manusia memiliki
kewajiban-kewajiban untuk melaksanakan perintah Tuhan dan menghentikan segala
larangan-Nya, sedangkan hak yang diterima oleh manusia dari Tuhan adalah rahmat yang
tidak terhingga diberikan oleh Tuhan dan pembalasan amal baik di akhirat nanti.
b. Hubungan Horizontal
Hubungan horizontal adalah hubungan manusia dengan sesamanya, baik dalam
fungsinya
c. Hubungan Alamiah
Hubungan alamiah adalah hubungan manusia dengan alam sekitar yang meliputi
hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alam dengan segala kekayaannya.
Alasan yang prinsipil Pancasila sebagai pandangan hidup dengan fungsi tersebut di
atas adalah sebagai berikut
1. Pancasila mengakui adanya kekuatan gaib yang di luar diri manusia menjadi
pencipta, pengatur, serta penguasa alam semesta.
2. Pancasila mengatur keseimbangan dalam hubungan dan keserasian-keserasian,
dimana untuk menciptakannya perlu pengendalian diri.
3. Dalam mengatur hubungan, peranan dan kedudukan bangsa sangat penting.
Persatuan dan kesatuan sebagai bangsa merupakan nilai sentral.
4. Kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan, serta musyawarah untuk mufakat
dijadikan sendi kehidupan bersama.
5. Kesejahteraan bersama menjadi tujuan bersama
PENUTUP

Kesimpulan:
Dari materi-materi yang telah dipaparkan dalam makalah ini, dapat disimpulkan
bahwa filsafat merupakan suatu bidang ilmu yang senantiasa ada dan menyertai kehidupan
manusia. Dalam peranannya, filsafat juga tidak dapat dipisahkan dari hidup setiap manusia.
Filsafat Pancasila merupakan ciri khas yang dimiliki bangsa Indonesia yang
membedakannya dari bangsa-bangsa lain.

Saran :
Sebagai warga negara Indonesia, kita harus berpikir filsafat serta mengamalkan apa
yang terkandung dalam filsafat bangsa kita yakni Pancasila demi mencapai kesejahteraan
bangsa dan negara.
DAFTAR PUSTAKA

Kaelan dan Achmad Zubaidi.2007.Pendidikan


Zubaidi.2007.Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan
Tinggi.Yogyakarta:
Tinggi.Yogyakarta: Paradigma
Syarbaini, Syahrial.2001.Pendidikan
Syahrial.2001.Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi.Jakarta:
Tinggi.Jakarta: Ghalia
Indonesia