Anda di halaman 1dari 13

KOMPONEN-KOMPONEN

BUDAYA POLITIK

Created by : - Indana
- Muhamad Novan
- Muhamad Billal
- Senna Tafuri
Pengertian budaya politik
A. Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik sebagai
suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap
sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap
terhadap peranan warga negara yang ada di dalam sistem
itu. Dengan kata lain, bagaimana distribusi pola-pola
orientasi khusus menuju tujuan politik diantara masyarakat
bangsa itu. Lebih jauh mereka menyatakan, bahwa warga
negara senantiasa mengidentifikasikan diri mereka dengan
simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan
orientasi yang mereka miliki.
B. Rusadi Sumintapura: Budaya politik tidak lain adalah pola
tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan
politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik.
Berikut ini adalah beberapa pengertian budaya politik yang dapat dijadikan
sebagai pedoman untuk lebih memahami secara teoritis sebagai berikut :
 Budaya politik adalah aspek politik dari nilai-nilai yang terdiri atas
pengetahuan, adat istiadat, tahayul, dan mitos. Kesemuanya dikenal dan
diakui oleh sebagian besar masyarakat. Budaya politik tersebut memberikan
rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain.
 Budaya politik dapat dilihat dari aspek doktrin dan aspek generiknya. Yang
pertama menekankan pada isi atau materi, seperti sosialisme, demokrasi,
atau nasionalisme. Yang kedua (aspek generik) menganalisis bentuk,
peranan, dan ciri-ciri budaya politik, seperti militan, utopis, terbuka, atau
tertutup.
 Hakikat dan ciri budaya politik yang menyangkut masalah nilai-nilai adalah
prinsip dasar yang melandasi suatu pandangan hidup yang berhubungan
dengan masalah tujuan.
 Bentuk budaya politik menyangkut sikap dan norma, yaitu sikap terbuka dan
tertutup, tingkat militansi seseorang terhadap orang lain dalam pergaulan
masyarakat. Pola kepemimpinan (konformitas atau mendorong inisiatif
kebebasan), sikap terhadap mobilitas (mempertahankan status quo atau men­
dorong mobilitas), prioritas kebijakan (menekankan ekonomi atau politik).
POLA SIKAP DAN ORIENTASI INDIVIDU

Menurut Gabriel Almond  (1966) budaya politik adalah pola sikap dan
orientasi individu terhadap politik diantara anggota sistem politik.
Orientasi individu itu memiliki sejumlah komponen yakni :
 Orientasi Kognitif  : pengetahuan, keyakinan
 Orientasi Afektif  : perasaan terkait, keterlibatan, penolakan dan
sejenisnya tentang ibyek politik
 Orientasi Evaluasi : penilaian dan opini tentang obyek politik yang
biasanya melibatkan nilai-nilai standar terhadap obyek politik dan
kejadian-kejadian.
Orientasi individu terhadap obyek politik dapat dipandang dari tiga hal
itu. Oleh karena itu seorang individu mungkin memiliki tingkat
akurasi tinggi terhadap cara kerja sistem politik, siapa pemimpinnya
dan masalah-masalah dari kebijakannya. Inilah yang disebut dimensi
kognitif. Namun ia mungkin memiliki perasaan alienasi atau
penolakan terhadap sistem. Mungkin keluarga atau sahabatnya
sudah punya sikap seperti itu. Mungkin ia tak merespon tuntutan
terhadapnya oleh sistem. Itulah yang disebut dimensi afektif.

Akhirnya seseorang mungkin memiliki penilaian moral terhadap sistem.


Barangkali noram-norma demokrasinya mendorong dia menilai
sistem sebagai tidak cukup responsif terhadap tuntutan politik atas
norma-norma etiknya mendorong dia mengecam tingkat korupsi dan
nepotisme.Dimensi-dimensi ini saling berkaitan dan mungkin
memiliki kombinasi dalam berbagai cara.
ORIENTASI INDIVIDU DAN
KOLEKTIF
Walter A Rosenbaum menyebutkan, budaya politik dapat
didefinisikan dalam dua cara.
 Pertama, jika terkonsentrasi pada individu, budaya
politik merupakan fokus psikologis. Artinya bagaimana
cara-cara seseorang melihat sistem politik. Apa yang dia
rasakan dan ia pikir tentang simbol, lembaga dan aturan
yang ada dalam tatanan politik dan bagaimana pula ia
meresponnya.
 Kedua, budaya politik merujuk pada orientasi kolektif
rakyat terhadap elemen-elemen dasar dalam sistem
politiknya. Inilah yang disebut “pendekatan sistem”.
ASPEK POLITIK SISTEM NILAI
 Albert Widjaja menyatakan budaya politik adalah aspek politik
dari sistem nilai-nilai yang terdiri ide, pengetahuan, adat
istiadat, tahayul dan mitos. Kesemuanya ini dikenal dan diakui
sebagain besar masyarakat. Budaya politik tersebut memberi
rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain.
Ia malah menyamakan budaya politik dengan konsep “ideologi”
yang dapat berarti “sikap mental”, “pandangan hidup”, dan
“struktur pemikiran”. Budaya politik, katanya, menekankan
ideologi yang umum berlaku di masyarakat, bukan ideologi
perorangan yang sifatnya sering khusus dan beragam.
OBYEK-OBYEK ORIENTASI POLITIK
Obyek yang jadi orientasi politik adalah sistem politik secara keseluruhan,
peran politik atau struktur tertentu,individu atau kelompok yang memikul
peran tertentu, kebijakan publik yang khusus. Termasuk didalamnya
adalah aktor politik dan ego dari aktor politik.
Almond sendiri seperti dikutip dalam Mochtar Mas’oed (1984) membagi tiga
jenis budaya politik.
 Budaya politik parokial dimana kesadaran obyek politiknya kecil atau
tidak ada semakli terhadap sistem politik. Kelompok ini aka ditemukan di
berbagai lapisan masyarakat.
 Budaya politik kaula adalah mereka yang berorientasi terhadap sistem
politik dan pengaruhnya terhadap outputs yang mempengaruhi kehidupan
mereka seperti tunjangan sosial dan hukum. Namun mereka tidak
berorientasi terhadap partisipasi dalam struktur inputs.
 Budaya politik partisipan adalah individu yang berorientasi terhadap
struktur inputs dan proses  dan terlibat didalamnya atau melihat dirinya
sebagai potensial terlibat, mengartikulasikan tuntutan dan membuat
keputusan.
NO Budaya Politik Penjelasan
a. Frekuensi orientasi terhadap sistem sebagai obyek umum, obyek-
obyek input, obyek-obyek output, dan pribadi sebagai partisipan aktif
mendekati nol.
b. Tidak terdapat peran-peran politik yang khusus dalam masyarakat.
c. Orientasi parokial menyatakan alpanya harapan-harapan akan
1 Parokial perubahan yang komparatif yang diinisiasikan oleh sistem politik.
d. Kaum parokial tidak mengharapkan apapun dari sistem politik.
e. Parokialisme murni berlangsung dalam sistem tradisional yang lebih
sederhana dimana spesialisasi politik berada pada jenjang sangat
minim.
f. Parokialisme dalam sistem politik yang diferensiatif lebih bersifat
afektif dan normatif dari pada kognitif.

a. Terdapat frekuensi orientasi politik yang tinggi terhadap sistem politik yang
diferensiatif dan aspek output dari sistem itu, tetapi frekuensi orientasi
terhadap obyek-obyek input secara khusus, dan terhadap pribadi sebagai
partisipan yang aktif mendekati nol.
2 Subyek/Kaula b. Para subyek menyadari akan otoritas pemerintah
c. Hubungannya terhadap sistem plitik secara umum, dan terhadap output,
administratif secara esensial merupakan hubungan yang pasif.
d. Sering wujud di dalam masyarakat di mana tidak terdapat struktur input
yang terdiferensiansikan.
e. Orientasi subyek lebih bersifat afektif dan normatif

a. Frekuensi orientasi politik sistem sebagai obyek umum, obyek-obyek


input, output, dan pribadi sebagai partisipan aktif mendekati satu.
b. Bentuk kultur dimana anggota-anggota masyarakat cenderung
diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem politik secara
komprehensif dan terhadap struktur dan proses politik serta
3 PARTISIPAN administratif (aspek input dan output sistem politik)
c. Anggota masyarakat partisipatif terhadap obyek politik
d. Masyarakat berperan sebagai aktivis .
Rosenbaum menulis daftar tentang orientasi terhadap elemen-elemen tatanan
politik.
 1. Orientasi terhadap struktur pemerintah
Orientasi rejim, bagaimana individu mengevaluasi dan merespon terhadap lembaga
pemerintahan, simbol-simbol, para pejabat dan norma-normanya.
Orientasi terhadap inputs dan outputs pemerintah, bagaimana individu merasakan
dan merespon terhadap tuntutan untuk kebijakan publik dan kebijakan yang
diputuskan pemerintah.
 2. Orientasi terhadap yang lain dalam sistem politik
Orientasi identifikasi, kesatuan politik, wilayah geografis dan kelompok dimana ia
merasa memilikinya.
Kepercayaan politik, sejauh mana seseorang merasa terbuka, kooperatif atau
bersikap toleran dalam bekerja dalam kehidupan masyarakat.
“Aturan permainan”, konsep individu tentang aturan mana yang harus diikuti dalam
kehidupan kenegaraan.
 3. Orientasi terhadap Aktivitas Politiknya
Kompetensi Politik, seberapa sering dan dalam cara bagaimana seseorang
berpartisipasi dalam kehidupan politik, mana yang paling sering digunakan sebagai
sumber politik baginya dalam masalah kenegaraan.
Political Efficacy, perasaan bahwa tindakan politik individu memiliki atau dapat
menghadirkan pengaruh atas proses politik.
TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK
 Berdasarkan Sikap Yang di Tunjukan
a. Budaya Politik Militan
 Budaya politik dimana perbedaan tidak dipandang sebagai usaha
mencari alternatif yang terbaik, tetapi dipandang sebagai usaha
jahat dan menantang. Bila terjadi kriris, maka yang dicari adalah
kambing hitamnya, bukan disebabkan oleh peraturan yang salah,
dan masalah yang mempribadi selalu sensitif dan membakar
emosi.
b. Budaya Politik Toleransi
 Budaya politik dimana pemikiran berpusat pada masalah atau ide
yang harus dinilai, berusaha mencari konsensus yang wajar yang
mana selalu membuka pintu untuk bekerja sama. Sikap netral
atau kritis terhadap ide orang, tetapi bukan curiga terhadap
orang.
 Bedasarkan sikap terhadap tradisi dan perubahan
a. Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Absolut
 Budaya politik yang mempunyai sikap mental yang absolut
memiliki nilai-nilai dan kepercayaan yang. dianggap selalu
sempurna dan tak dapat diubah lagi. Usaha yang diperlukan
adalah intensifikasi dari kepercayaan, bukan kebaikan. Pola pikir
demikian hanya memberikan perhatian pada apa yang selaras
dengan mentalnya dan menolak atau menyerang hal-hal yang
baru atau yang berlainan.
b. Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Akomodatif
 Struktur mental yang bersifat akomodatif biasanya terbuka dan
sedia menerima apa saja yang dianggap berharga. Ia dapat
melepaskan ikatan tradisi, kritis terhadap diri sendiri, dan
bersedia menilai kembali tradisi berdasarkan perkembangan
masa kini.
PENUTUP
Meskipun pengertian budaya politik masih kabur, namun
berbagai pandangan yang muncul dari pakar politik
memperlihatkan upaya untuk menguraikan soal pelik ini.
Dari berbagai pendapat itu memang terlihat bahwa bidaya
politik terkait dengan sesuatu yang abstrak dalam
kehidupan politik.
Namun kehidupan yang abstrak itu memang ada dan kadang-
kadang dalam praktek mendominasi proses politik.