Anda di halaman 1dari 4

BAB I.

Ketentuan Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Suatu pekerjaan dinilai layak bagi kemanusiaan, apabila keselamatan tenaga


kerjanya terjamin. Kematian, cacat, cedera, penyakit dan lain-lain sebagai akibat dari
melakukan pekerjaan merupakan suatu hal yang bertentangan dengan nilai-nilai
kemanusiaan. Pasal 27 ayat 2 Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa
“Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan”, pada dasarnya memberikan perlindungan menyeluruh bagi rakyat
Indonesia.
Berdasarkan pasal tersebut dikeluarkanlah Undang-undang No.14 tahun 1969
tentang Ketentuan-ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja di mana perlindungan
atas keselamatan karyawan dijamin dalam pasal 9: “Setiap tenaga kerja berhak
mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan, pemeliharaan moral kerja,
serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama”.
Untuk menjabarkan jaminan tersebut, Pemerintah kemudian mengeluarkan
Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja merupakan undang-
undang yang ditetapkan untuk mengganti Veiligheids Reglement Stbl No.406 yang
berlaku sejak tahun 1910. Hal ini dimaksudkan selain karena perkembangan
industrialisasi, mekanisasi, elektrifikasi dan modernisasi di Indonesia, juga terjadi
perubahan prinsipil dalam pengawasan keselamatan kerja dari VR yang bersifat
represif menjadi perventif.
Ruang lingkup bagi berlakunya Undang-undang ini dirumuskan pada Bab I pasal
1 ayat 1 UU No.1 tahun 1970, yaitu:
1. Tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi sesuatu usaha, yaitu tiap ruangan atau
lapangan, tertutup ataupun terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja
bekerja atau yang sering dimasuki untuk keperluan suatu usaha. Usaha-usaha
yang dimaksud tidak harus selalu mempunyai motif ekonomi atau motif
keuntungan, tapi dapat merupakan usaha-usaha sosial seperti bengkel praktek,
tempat rekreasi, rumah sakit, tempat ibadah, tempat perbelanjaan, tempat
hiburan, dimana dipergunakan instalasi-instalasi listrik dan atau mekanik yang
berbahaya.
2. Tenaga kerja, sebagai pekerja tetap maupun tidak tetap atau pada saat tertentu,
misalnya gardu transformator, ruang pompa, ruang instalasi radio dsb yang tenaga
kerjanya memasuki ruangan tersebut hanya pada waktu-waktu tertentu untuk
mengontrol, menyetel, menjalankan instalasi, dsb.
3. Bahaya kerja, adalah sumber bahaya yang ditetapkan secara terperinci dalam Bab
II pasal 2 yang berkaitan dengan:
(a) Keadaan mesin-mesin, perlengkapan, peralatan, dan bahan-bahan kerja
(b) Lingkungan kerja
(c) Sifat pekerjaan
(d) Cara kerja
(e) Proses produksi
Undang-undang ini menetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk:
a. mencegah dan mengurangi kecelakaan;
b. mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;
c. mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
d. memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian-kejadian lain yang berbahaya;
e. memberi pertolongan pada kecelakaan;
f. memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;
g. mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluasnya suhu, kelembaban,
debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara
dan getaran;
h. mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupun
psikis, peracunan, ineksi dan penularan;
i. memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
j. menyelenggarakan suhu dan lembah udara yang baik;
k. menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;
l. memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;
m.memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan cara dan proses
kerjanya;
n. mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau
barang;
o. mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;
p. mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan
penyimpanan barang;
q. mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
r. menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
Pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk
oleh Menteri Tenaga Kerja dan ahli keselamatan kerja ditugaskan untuk menjalankan
pengawasan langsung dan membantu pelaksanaan Undang-undang ini, dengan
wewenang yang diatur oleh peraturan perundangan (Bab IV pasal 5).
Pengurus atau orang yang mempunyai tugas memimpin langsung suatu tempat
kerja atau bagian yang berdiri sendiri, sesuai dengan pasal 8, 9, 11, dan 14
berkewajiban untuk:
− memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga
kerja secara berkala pada dokter yang ditunjuk oleh pengusaha dan dibenarkan
oleh pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja, dengan norma-norma
pengujian kesehatan yang ditetapkan oleh peraturan perundangan
− menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang:
(a) kondisi dan bahaya yang dapat timbul dalam tempat kerja
(b) semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat
kerja
(c) alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan
(d) cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaan
− menyelenggarakan pembinan bagi semua tenaga kerja yang berada di bawah
pimpinannya, dalam pencegahan dan penanggulangan kecelakaan,
penanggulangan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja
− memenuhi dan menaati semua syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang
berlaku bagi usaha dan tempat kerja
− melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri
Tenaga Kerja dengan tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan yang diatur
oleh peraturan perundangan
− menempatkan secara tertulis semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan,
memasang semua gambar keselamatan kerja pada tempat-tempat yang mudah
dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan
kerja
− menyediakan semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang
berada di bawah pimpinannya dan bagi setiap orang yang memasuki tempat kerja
tersebut.
Sementara hak dan kewajiban tenaga kerja diatur dalam pasal 12 dan 13:
− memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas atau ahli
keselamatan kerja
− memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2


− memenuhi dan menaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja
yang diwajibkan
− meminta pengurus agar dilaksanakan semua syarat-syarat keselamatan dan
kesehatan yang diwajibkan
− menyatakan keberatan kerja bila syarat keselamatan dan kesehatan kerja serta
alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya, kecuali dalam hal-
hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih
dapat dipertanggungjawabkan.
Meskipun Undang-undang No.1 tahun 1970 telah ditetapkan sebagai undang-
undang pokok, namun beberapa peraturan perundangan baik yang dikeluarkan lebih
dulu maupun sesudahnya masih tetap berlaku sebagai pelaksanaan, antara lain:
(1) Undang-undang Uap (Stoomordonnantie/Verordening Stoomordonnantie) th 1930
(2) Peraturan Uap (Stoomverordening) th 1930
(3) Peraturan Pemerintah RI No.7 th 1973 tentang Pengawasan Atas Peredaran,
Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida
(4) Peraturan Pemerintah RI No.19 th 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan
Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan
(5) Peraturan Pemerintah RI No.11 th 1979 tentang Keselamatan Kerja pada
Permunian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi
(6) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.01/MEN/1976 tentang Wajib Latihan
Hyperkes bagi Dokter Perusahaan
(7) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.01/MEN/1978 tentang Keselamatan
dan Kesehatan Kerja dalam Penebangan dan Pengangkutan Kayu
(8) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.03/MEN/1978 tentang Penunjukan dan
Wewenang serta Kewajiban Pegawai Pengawas Keselamatan dan Kesehatan Kerja
dan Ahli Keselamatan Kerja
(9) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.05/MEN/1978 tentang Syarat-syarat
Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pemakaian Lift Listrik untuk
Pengangkutan Orang dan Barang
(10) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.01/MEN/1979 tentang Kewajiban
Latihan Hygiene Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja bagi Paramedis
Perusahaan
(11) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.01/MEN/1980 tentang Keselamatan
dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan
(12) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan
Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja
(13) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.04/MEN/1980 tentang Syarat-syarat
Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan
(14) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.01/MEN/1981 tentang Kewajiban
Melapor Penyakit Akibat Kerja
(15) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.01/MEN/1982 tentang Bejana Tekan
(16) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.02/MEN/1982 tentang Klasifikasi Juru
Las
(17) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.03/MEN/1982 tentang Pelayanan
Kesehatan Tenaga Kerja
(18) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm
Kebakaran Otomatik
(19) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.03/MEN/1985 tentang Kesehatan dan
Keselamatan Kerja Pemakaian Asbes
(20) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.04/MEN/1985 tentang Pesawat
Tenaga dan Produksi
(21) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.05/MEN/1985 tentang Pesawat
Angkat dan Angkut
(22) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum
No.Kep.174/MEN/1986, No.104/KPTS/1986 tentang Keselamatan Kerja pada
Tempat Kegiatan Konstruksi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja 3
(23) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.01/MEN/1988 tentang Klasifikasi dan
Syarat-syarat Operator Pesawat Uap
(24) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.04/MEN/1988 tentang Berlakunya
Standar Nasional (SNI) No.SNI-225-1987 mengenai Peraturan Umum Instalasi
Listrik Indonesia 1987/(PUIL 1987) di Tempat Kerja
(25) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.01/MEN/1989 tentang Klasifikasi dan
Syarat-syarat Operator Keran Angkat
(26) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.02/MEN/1989 tentang Pengawasan
Instalasi Penyalur Petir
(27) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.02/MEN/1992 tentang Tata Cara
Penunjukan Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(28) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.Per.04/MEN/1995 tentang Perusahaan
Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(29) Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. KEP. 186/MEN/1999 tentang Unit
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja 4