Anda di halaman 1dari 44

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN TINGKAT II

FORMULASI
KEBIJAKAN PUBLIK

Oleh:
DR. JOKO WIDODO, MS
STAF PENGAJAR PPS-UNTAG SURABAYA
WIDYAISWARA DIKLATPIM II

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA


BADAN DIKLAT PROPINSI JAWA TIMUR
TAHUN 2007 – 2008
LANGKAH-LANGKAH
ANALISIS KEBIJAKAN
 PERUMUSAN MASALAH, MENGHASILKAN
INFORMASI MENGENAI KONDISI-KONDISI
YANG MENIMBULKAN MASALAH KEBIJAKAN
(POLICY PROBLEM).
 PERAMALAN, MENYEDIAKAN INFORMASI
KEBIJAKAN MENGENAI KONSEKUENSI DI
MASA MENDATANG DARI PENERAPAN
ALTERNATIF KEBIJAKAN, TERMASUK TIDAK
MELAKUKAN SESUATU (MASA DEPAN
KEBIJAKAN).
2
LANGKAH-LANGKAH
ANALISIS KEBIJAKAN
 REKOMENDASI, MENYEDIAKAN INFORMASI
MENGENAI NILAI ATAU KEGUANAAN RELATIF DARI
KONSEKUENSI DI MASA DEPAN DARI SUATU
PEMECAHAN MASALAH (AKSI KEBIJAKAN).
 PEMANTAUAN, MENGHASILKAN INFORMASI
TENTANG KONSEKUENSI SEKARANG DAN MASA
LALU DITERAPKANNYA ALTERNATIF KEBIJAKAN
(HASIL KEBIJAKAN).
 EVALUASI, MENYEDIAKAN INFORMASI MENGENAI
NILAI ATAU KEGUNAAN DARI KONSEKUENSI
PEMECAHAN MASALAH (KINERJA KEBIJAKAN).

3
ANALISIS KEBIJAKAN YANG BERORIENTASI
PADA MASALAH

KINERJA
KEBIJAKAN

EVALUASI PERAMALAN
PERUMUSAN
MASALAH

PERUMUSAN
PERUMUSAN

MASALAH
MASALAH

HASIL
MASALAH MASA DEPAN
KEBIJAKAN
KEBIJAKAN KEBIJAKAN

PERUMUSAN
MASALAH
PEMANTAUAN REKOMENDASI

AKSI
KEBIJAKAN 4
FORMULASI
KEBIJAKAN PUBLIK

 PEMAHAMAN MASALAH.
 AGENDA SETTING.
 POLICY PROBLEM
FORMULATION.
 POLICY DESIGN.

5
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN TINGKAT II

PEMAHAMAN
MASALAH KEBIJAKAN

Oleh:
DR. JOKO WIDODO, MS
STAF PENGAJAR PPS-UNTAG SURABAYA
WIDYAISWARA DIKLATPIM II

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA


BADAN DIKLAT PROPINSI JAWA TIMUR
TAHUN 2007 – 2008
ESENSI KEBIJAKAN
PUBLIK.
 UNTUK MEMCAHKAN MASALAH YANG
TUMBUH KEMBANG DI MASYARAKAT.
 UNTUK MENGATUR DAN MENGENDALIKAN
MASYARAKAT.
 MELAKUKAN KEGIATAN TERTENTU.
 MENCAPAI TUJUAN TERTENTU.
 MENGALOKASIKAN SUMBER DAYA KEPADA
MASYARAKAT.
 DILAKUKAN OLEH INSTANSI YANG
BERKEWENANGAN.
 DAN LAIN-LAIN.
7
PERUMUSAN MASALAH
KEBIJAKAN
 MENGHENDAKI PERUMUSAN MASALAH YANG
BAIK DAN BENAR.
 MASALAH YANG TELAH DIRUMUSKAN
DENGAN BAIK DAN BENAR, BERARTI SEPARO
MASALAH SUDAH TERPECAHKAN .
 KEBERHASILAN DALAM MEMECAHKAN
MASALAH MENGHENDAKI DIKETEMUKANNYA
PEMECAHAN YANG BENAR ATAS MASALAH
YANG BENAR.
 KEGAGALAN SERING TERJADI, KARENA KITA
MEMECAHKAN MASALAH YANG SALAH DARI
PADA MENDAPATKAN PEMECAHAN YANG
SALAH TERHADAP MASALAH YANG BENAR.
8
PERUMUSAN MASALAH DALAM ANALISIS KEBIJAKAN
PENGENALAN SITUASI
MASALAH MASALAH

PERUMUSAN
MASALAH

PEMERTAAN
PEMETAAN
MASALAH SOLUSI
MASALAH MASALAH
KEBIJAKAN

TIDAK
MASALAH
BENAR

YA
PEMECAHAN
MASALAH

SOLUSI PEMECAHAN
KEBIJAKAN KEMBALI
MASALAH

TIDAK YA
MASALAH
TERPECAHKAN
9
MASALAH PUBLIK ?
 SUATU KONDISI DAN ATAU SITUASI YANG
MENGHASILKAN KEBUTUHAN-KEBUTUHAN ATAU
KETIDAK PUASAN PADA RAKYAT, UNTUK MANA
PERLU DICARIKAN CARA-CARA
PENANGGULANGANNYA (JAMES E. ANDERSON,
1979).
 KEBUTUHAN MANUSIA YANG PERLU DIATASI ATAU
DIPECAHKAN (CHARLES O. JONES, 1984).
 KEBURUHAN-KEBUTUHAN, NILAI-NILAI,
KESEMPATAN-KESEMPATAN YANG TIDAK
TEREALISIR, DAN HANYA DAPAT DICAPAI MELALUI
TINDAKAN KEBIJAKAN PUBLIK (DUNN, 1994, EDISI
INDONESIA, 1998: 210-213).

10
APA ISSUES ?

 ISSUES, MERUPAKAN PROBLEM-PROBLEM


UMUM YANG BERTENTANGAN (KONFLIK) SATU
SAMA LAIN (CONTRAVERSIAL PUBLIC
PROBLEMS).
 NOT ALL PROBLEMS BECOME PUBLIC, NOT
ALL PUBLIC PROBLEMS BECAME ISSUES, AND
NOT ALL ISSUES ARE ACTED ON IN
GOVERNMENT).

11
KAPAN PROBLEMA UMUM MENJADI
POLICY PROBLEMS ?

 BILA PROBLEMA BARU DAPAT MEMBANGKITKAN ORANG


BANYAK UNTUK MELAKUKAN TINDAKAN TERHADAP
PROBLEMA-PROBLEMA ITU (ONLY THOSE THAT MOVE PEOPLE
TO ACTION BECOME POLICY PROBLEMS).
 MASYARAKAT MEMPUNYAI “POLITICAL WILL” UNTUK
MEMPERJUANGKAN PROBLEMA ITU MENJADI PROBLEMA
KEBIJAKAN.
 PROBLEMA ITU DITANGGAPI POSITIF OLEH PENGAMBIL
KEBIJAKAN, DAN MEREKA BERSEDIA MEMPERJUANGKAN
PROBLEMA ITU MENJADI PROBLEMA KEBIJAKAN, DAN
MEMASUKKAN DALAM AGENDA PEMERINTAH, SERTA
MENGUSAHAKAN MENJADI KEBIJAKAN NEGARA.
12
 SUATU ISTILAH YANG PADA UMUMNYA
DIGUNAKAN UNTUK MENGGAMBARKAN
ISSUES YANG DINILAI OLEH PUBLIC PERLU
DIAMBIL SUATU TINDAKAN (CHARLES O.
JONES, 1984).
 SUATU KESEPAKATAN UMUM, BELUM TENTU
TERTULIS, TENTANG ADANYA SUATU
MASALAH PUBLIK YANG PERLU MENJADI
PERHATIAN BERSAMA, DAN MENUNTUT
CAMPUR TANGAN PEMERINTAH UNTUK
MEMECAHKANNYA (MUHADJIR, 1995).
13
KAPAN POLICY PROBLEMS MENJADI
GOVERNMENT AGENDA ?

 ISSUE ITU MEMPEROLEH PERHATIAN YANG LUAS


ATAU SETIDAK-TIDAKNYA DAPAT MENIMBULKAN
KESADARAN MASYARAKAT.
 ADANYA PERSEPSI DAN PANDANGAN ATAU
PENDAPAT PUBLIK YANG LUAS, BAHWA BEBERAPA
TINDAKAN PERLU DILAKUKAN UNTUK MEMECAHKAN
MASALAH ITU.
 ADANYA PERSEPSI YANG SAMA DARI MASYARAKAT,
BAHWA MASALAH ITU ADALAH MERUPAKAN SUATU
KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB YANG SYAH
DARI BEBERAPA UNIT PEMERINTAHAN (COBB DAN
ELDER).
14
ISU TAMPIL KE AGENDA
 MENURUT JACK L. WALKER (1982).
 ISSUES TERSEBUT MEMPUNYAI DAMPAK
YANG BESAR PADA BANYAK ORANG.
 ADA BUKTI YANG MEYAKINKAN, AGAR
LEMBAGA LEGISLATIF MAU
MEMPERHATIKAN MASALAH TERSEBUT
SEBAGAI MASALAH YANG SERIUS.
 ADA PEMECAHAN YANG MUDAH DIPAHAMI
TERHADAP MASALAH YANG SEDANG
DIPERHATIKAN.
15
ISU TAMPIL KE AGENDA

 CHARLES O. JONES (1984).


 SCOPE DAN KEMUNGKINAN
DUKUNGAN TERHADAP ISSUES
TERSEBUT DAPAT DIKUMPULKAN.
 PROBLEM ATAU ISUES TERSEBUT
DINILAI PENTING.
 ADA KEMUNGKINAN MASALAH
(ISSUES) TERSEBUT DAPAT
TERPECAHKAN.
16
KESIMPULAN ISU BISA TAMPIL
KE AGENDA PEMERINTAH
 ISSUES ITU DINILAI PENTING DAN
MEMBAWA DAMPAK YANG BESAR PADA
BANYAK ORANG.
 ISSUES TERSEBUT MENDAPATKAN
PERHATIAN DARI PARA POLICY MAKER.
 ISSUES TERSEBUT SESUAI DENGAN
PLATFORM POLITIK (PROGRAM POLITK).
 ISSUES TERSEBUT KEMUNGKINAN
BESAR DAPAT PECAHKAN.

17
Tingkat Pemahaman
Berdasarkan Teori Gunung Es
(1) Jenis Tingkat Orientasi
Tindakan Ungkitan Waktu
(Senge,1994) (Kim,1994) (Kim, 1994)

Rendah Sekarang

Kejadian Reaktif

Pola
Perilaku Responsif

Struktur Sistemik

Generatif
Model-Model Mental
Tinggi Akan Datang

18
PEMAHAMAN MASALAH YANG
MEMPENGARUHI DINAMIKA KEBIJAKAN
NO UNSUR KETERANGAN
1 EVENTS PERISTIWA-PERISTIWA YANG TERJADI DI
MASYARAKAT.
2 PATTERN OF • ADANYA KESAMAAN PERILAKU ANTARA
BEHAVIOR PERISTIWA SATU DENGAN PERISTIWA LAINNYA
YANG TERJADI DI MASYARAKAT.
• PENYEBAB MUNCULNYA MASALAH YANG SAMA DI
NATARA PERISTIWA-PERISTIWA YANG TERJADI DI
MASYARAKAT.

3 SYSTEMIC • PENSTRUKTURAN HUBUNGAN POLA PERILAKU


STRUCTURE YANG TERJADI ANTARA PERISTIWA SATU
DENGAN PERISTIWA LAINNYA YANG TERJADI DI
MASYARAKAT.

4 MENTAL MODEL • KESIMPULAN DARI HUBUNGAN PERISTIWA SATU


DENGAN PERISTIWA LAINNYA YANG TERJADI DI
MASYARAKAT.
• DILAKUKAN DENGAN CARA MEMFOKUSKAN PADA
PENYEBAB DAN BUKAN AKIBAT DARI HASIL 19
PENSTRUKTURAN MASALAH.
Agenda Setting
Private Problems adalah masalah-masalah yang
mempunyai akibat yang terbatas, atau hanya
Private menyangkut pada satu atau sejumlah kecil orang yang
Problems terlibat secara langsung.

Public Problems adalah masalah-masalah


Public yang mempunyai akibat lebih luas termasuk
Problems akibat-akibat yang mengenai orang-orang
yang secara tidak langsung terlibat.

Political Issues adalah perbedaan


pendapat masyarakat tentang
Issues solusi dalam menangani masa-
lah (policy action).
Systematic Agenda: issue dirasakan oleh
semua warga masyarakat politik yang patut
mendapat perhatian publik dan issue Sistemic
tersebut berada dalam yuridiksi kewenangan Agenda
pemerintah.

Institutional Agenda: serangkaian issue yang secara tegas Institutional


membutuhkan pertimbangan-pertimbangan yang aktif dan
Agenda
20
serius dari pembuat keputusan yang syah / otoritatif.
NO TATARAN MASALAH
1 PRIVATE MASALAH-MASALAH YANG MEMPUNYAI
PROBLEM AKIBAT YANG TERBATAS, ATAU HANYA
MENYANGKUT PADA SATU ATAU
SEJUMLAH KECIL ORANG YANG TERLIBAT
SECARA LANGSUNG.
2 PUBLIC MASALAH-MASALAH YANG MEMPUNYAI
PROBLEM AKIBAT LEBIH LUAS TERMASUK AKIBAT-
AKIBAT YANG MENGENAI ORANG-ORANG
YANG SECARA TIDAK LANGSUNG
TERLIBAT.
3 POLICY PERBEDAAN PENDAPAT MASYARAKAT
ISSUES TENTANG SOLUSI DALAM MENANGANI
MASA-LAH (POLICY ACTION).
21
NO TATARAN MASALAH
4 SYSTEMIC ISSUE DIRASAKAN OLEH SEMUA
AGENDA WARGA MASYARAKAT POLITIK YANG
PATUT MENDAPAT PERHATIAN PUBLIK
DAN ISSUE TERSEBUT BERADA DALAM
YURIDIKSI KEWENANGAN PEMERINTAH.

5 INSTITUTION ISSUE DIRASAKAN OLEH SEMUA


AL AGENDA WARGA MASYARAKAT POLITIK YANG
PATUT MENDAPAT PERHATIAN PUBLIK
DAN ISSUE TERSEBUT BERADA DALAM
YURIDIKSI KEWENANGAN PEMERINTAH.
22
NO TATARAN MASALAH
1 PRIVATE PKL MENGGANGGU PARA
PROBLEM PENGGUNA JALAN.
2 PUBLIC SETIAP PENDUDUK TERGANGGU
PROBLEM DENGAN KEBERADAAN PKL.

3 POLICY ISSUES  PKL PERLU DITERTIBKAN.


 PEMBATASAN URBAN.
 PERLU PEMBINAAN PKL..
4 SYSTEMIC  PERILAKU PKL.
AGENDA  PENATAAN PKL.
5 INSTITUTIONAL  PERILAKU PKL.
23
AGENDA
META
MASALA
PENCARIAN H PENDEFINISIAN
MASALAH MASALAH

SITUASI MASALAH
MASALA SUBSTANTI
H F

PENGENALAN
SPESIFIKASI
MASALAH
MASALAH
MASALA
H
FORMAL
24
N TAHAPAN MASALAH
O
1 SITUASI PKL MENGGANGGU PENDUDUK.
MASALAH
2 META MASALAH  TEMPAT PKL TIDAK TERTATA RAPI.
 PKL TUMBUH SUBUR.
 PKL PRODUK SAMPAH.
 PKL GANGGU KEINDAHAN KOTA.
 PERILAKU PKL SEENAKNYA.

3 MASALAH  PKL TUMBUH SUBUR.


SUBSTANTIF  TEMPAT PKL TIDAK TERTATA RAPI.
 PERILAKU PKL.
4 MASALAH  PERILAKU PKL. 25

FORMAL
KEGIATAN PERUMUSAN MASALAH

AKTIVITAS PENGENALAN MASALAH,


MENGHASILKAN SITUASI MASALAH.
AKTIVITAS PENCARIAN MASALAH,
MENGHASILKAN META MASALAH.
AKTIVITAS PENDEFINISIAN MASALAH,
MENGHASILKAN MASALAH SUBSTANTIF.
AKTIVITAS SPESIFIKASI MASALAH,
MENGHASILAKAN MASALAH FORMAL.
26
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN TINGKAT II

PENGEMBANGAN
ALTERNATIF KEBIJAKAN
(POLICY DESIGN)
Oleh:
DR. JOKO WIDODO, MS
STAF PENGAJAR PPS-UNTAG SURABAYA
WIDYAISWARA DIKLATPIM II

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA


BADAN DIKLAT PROPINSI JAWA TIMUR
TAHUN 2007 – 2008
POLICY DESIGN
MUSTOPADIDJAYA, 2000)

 PENGKAJIAN PERSOALAN.
 PENETAPAN TUJUAN.
 PERUMUSAN ALTERNATIF.
 PENYUSUNAN MODEL.
 PENENTUAN KRITERIA.
 PENILAIAN ALTERNATIF.
 PERUMUSAN REKOMENDASI.
28
LANGKAH-LANGKAH POLICY ANALISIS
(POLICY DESIGN)

 PENGKAJIAN PERSOALAN, MENEMUKAN DAN


MEMAHAMI HAKEKAT DARI PERMASALAHAN
DAN KEMUDIAN MERUMUSKANNYA DALAM
HUBUNGAN SEBAB AKIBAT.
 PENETAPAN TUJUAN DAN SASARAN,
ADALAH AKIBAT YANG SECARA SADAR INGIN
DICAPAI ATAU DIHINDARI.
 PERUMUSAN ALTERNATIF, SEJUMLAH ALAT
ATAU CARA-CARA YANG DAPAT DIGUNAKAN
UNTUK MENCAPAI, LANGSUNG ATAU TIDAK,
SEJUMLAH TUJUAN YANG TELAH
29 DITENTUKAN.
LANGKAH-LANGKAH POLICY ANALISIS
(POLICY DESIGN)

 PENYUSUNAN MODEL, PENYEDERHANAAN


DARI KENYATAAN PERSOALAN YANG
DIHADAPI, DIWUJUDKAN DALAM HUBUNGAN
KAUSAL ATAU FUNGSIONAL.
 PENENTUAN KRITERIA, DIPERLUKAN UNTUK
MENILAI ALTERNATIF.
 PENILAIAN ALTERNATIF, MENDAPAT
GAMBARAN LEBIH JAUH MENGENAI TINGKAT
EFEKTIVITAS DAN FISIBILITAS.
 PERUMUSAN REKOMENDASI, SARAN-SARAN
ALTERNATIF YANG DIPERHITUNGKAN DAPAT
30 MENCAPAI TUJUAN SECARA OPTIMUM.
• FREE MARKET MODEL.
• COST.
• BENEFIT.
• STANDING. DG METODE
• EXTERNALITIES.
BERDASARKA •
• ELASTICITY.
N KONSEP FORCASTING
EKONOMI • MARGINAL ANALYSIS.
.
PENTING • EQUITY.
1. EXTRAPOLATIVE
TECHNIQUE.
KRITERIA DENGAN MEMPERHITUNGKAN 2. MODELING.
PENILAIAN TINGKAT FISIBILITAS PELAKSANAAN
ALTERNATIF DAN KINERJA YANG DITIMBULKAN
3. INTENSIVE
FORCAS-
KEBIJAKAN
TING TECHNIQUE
• TECHNICAL
KRITERIA FEASIBILITY • EVALUATING
UMUM YANG • ECONOMIC &
1. DISCOUNTING.
DIGUNAKAN FINANCIAL 2. THREE
MEASURE
• POLITICAL VIABILITY OF EFFICIENCY.
3. SENSIVITY
• ADMINISTRATIVE ANA-
OPERA- LYSIS.
4. ALLOCATION
31 BILITY.
FORMULES.
KRITERIA PENILAIAN
 TECHNICAL FEASIBILITY.
 ECONOMIC AND FINANCIAL
FEASIBILITY.
 POLITICAL VIABILITY.
 ADMINISTRATIVE
OPERABILITY.
32
KRITERIA PENILAIAN (1)

 TECHNICAL FEASIBILITY.
 MELIHAT SAMPAI SEJAUHMANA SETIAP ALTERNATIF KEBIJAKAN DAPAT
MENCAPAI TUJUAN DAN SASARAN YANG TELAH DITETAPKAN.
 KRITERIA PENILAIAN INI LEBIH MENEKANKAN PADA ASPEK “EFEKTIVITAS”
SUATU ALTERNATIF LANGKAH INTERVENSI DALAM MENCAPAI APA YANG
MENJADI TUJUAN DAN SASARAN YANG TELAH DITETAPKAN.
 ECONOMIC AND FINANCIAL FESIBILITY.
 MELIHAT SAMPAI SEJAUH-MANA SETIAP ALTERNATIF KEBIJAKAN
MEMBUTUHKAN BIAYA, DAN
 SEBERAPA BESAR KEUNTUNGAN YANG DAPAT DIPEROLEH DARI
SETIAP ALTERNATIF KEBIJAKAN. KRITERIA INI LEBIH MENEKANKAN
PADA ASPEK “EFISIENSI” DARI SETIAP ALTERNATIF KEBIJAKAN
PUBLIK MENCAPAI APA YANG MENJADI TUJUANNYA.
 KRITERIA INI DAPAT MENGGUNAKAN TEKNIS COST AND BENEFIT
ANALYSIS.
33
KRITERIA PENILAIAN (2)

 POLITICAL VIABILITY.
 MELIHAT SEBERAPA JAUH EFEK MAUPUN DAMPAK POLITIK YANG AKAN
DITIMBULKAN OLEH SETIAP ALTERNATIF KEBIJAKAN.
 DAMPAK POLITIK DARI ALTERNATIF KEBIJAKAN INI AKAN DILIHAT DARI
TINGKAT AKSEBILITAS (ACCEPTABILITY), KECOCOKKAN DENGAN NILAI DI
MASYARAKAT (APPROPRIATENESS), RESPONSIVITAS (RESPONSIVENESS),
KESESUAIAN DENGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN (LEGAL
SUITABILITY), DAN PEMERATAAN (EQUITY).
 KRITERIA INI, INTINYA UNTUK MEMPEROLEH DUKUNGAN POLITIK (POLITICAL
SPONSORSHIP) TERHADAP ALTERNATIF KEBIJAKAN YANG DIUSULKAN.
 ADMINISTRATIVE OPERABILITY.
 MELIHAT SEBERAPA BESAR KEMUNGKINAN SUATU ALTERNATIF KEBIJAKAN
DAPAT BERHASIL DILAKSANAKAN DALAM KONTEK POLITIK, EKONOMI,
SOSIAL, DAN ADMINISTRASI YANG BERLAKU.
 KRITERIA ADMINISTRATIVE OPERABILITY INI AKAN MELIHAT DARI DIMENSI
OTORITAS INTANSI PELAKSANA, KOMITMEN KELEMBANGAAN, KAPABILITAS
STAF DAN DANA, DAN DUKUNGAN ORGANISASI.
34
NO KRITERIA KETERANGAN
1 EFEKTIVITAS  APABILA SUATU ALTERNATIF TERTENTU
DAPAT MENGHASILKAN OUTCOMES YANG
DIINGINKAN.
2 EFISIENSI  BESARNYA USAHA DAN UPAYA YANG
DIPERLUKAN UNTUK MENGHASILKAN SUATU
TINGKAT EFEKTIVITAS TERTENTU, YANG
UMUMNYA DIUKUR DARI BIAYA.
3 ADEQUASI  SEBERAPA JAUH KEMAMPUAN SUATU
TINGKAT EFEKTIVITAS TERTENTU MEMENUHI
KEPERLUAN, NILAI, ATAU KEMUNGKINAN
MENIMBULKAN MASALAH BARU.
 MENEKANKAN PADA KUATNYA HUBUNGAN
ANTARA ALTERNATIF KEBIJAKAN DENGAN
HASIL YANG DIHARAPKAN.
35
NO KRITERIA KETERANGAN
4 PEMERATAAN  DISTRIBUSI EFEK ATAU AKIBAT DAN
UPAYA DI ANTARA BERBAGAI
KELOMPOK SASARAN YANG
BERBEDA DALAM MASYARAKAT.
5 RESPONSIVENESS  SEPERAPA JUAH SUATU KEBIJAKAN
MEMENUHI ATAU MEMUASKAN
KEPERLUAN, PREFERENSI, ATAU
NILAI-NILAI SUATU KELOMPOK
MASYARAKAT TERTENTU.
6 APPRORIATENESS  NILAI ATAU MANFAAT DARI SUATU
TUJUAN PROGRAM DAN KETAHANAN
SUATU ASUMSI-ASUMSI YANG
MENDASARI TUJUAN.
36
NO KRITERIA DIMENSI

1 TECHNICAL  EFEKTIVITAS, PENCAPAIAN


FEASIBILITY TUJUAN, APAKAH ALTERNATIF
KEBIJAKAN MENCAPAI HASIL
(AKIBAT) YANG DIHARAPKAN,
ATAU MENCAPAI TUJUAN DARI
DIADAKAN TINDAKAN.
2 ECONOMIC AND  EFISIENSI (BIAYA DAN HASIL),
FINANCIAL BERKENAAN JUMLAH USAHA
FEASIBILITY. YANG DIPERLUKAAN UNTUK
MENGHASILKAN TINGKAT
EFEKTIVITAS TERTENTU, YANG
UMUMNYA DIUKUR DENGAN
37 BIAYA.
NO KRITERIA DIMENSI
3 POLITICAL  ACCEPTABILITY, APAKAH ALTERNATIF
KEBIJAKAN DITERIMA OLEH AKTOR
VIABILITY. KEBIJAKAN DAN KELOMPOK SASARAN.
 ACCEPTABILITY
 APPROPRIATENESS, APAKAH
 APPROPRIATENESS KEBIJAKAN SESUAI DENGAN NILAI-NILAI
 RESPONSIVENESS. MASYARAKAT.
 LEGAS SUITABILITY  RESPONSIVENESS, PERSEPSI
 EQUITY MASYARAKAT, APAKAH KEBIJAKAN AKAN
MEMENUHI KEBUTUHAN MEREKA.
 LEGAS SUITABILITY, APAKAH
KEBIJAKAN DIDUKUNG OLEH
PERANGKAT HUKUM YANG MEMADAI.
 EQUITY, APAKAH EFEK DAN DAMPAK
KEBIJAKAN SAMA DAN SEIMBANG ANTAR
KELOMPOK MASYARAKAT.

38
NO KRITERIA DIMENSI
4 ADMINISTRATIVE  DAPAT DIIMPLEMENTASIKAN
OPERABILITY. PADA KONTEKS SOSIAL,
POLITIK, DAN ADMINISTRASI
YANG BERLAKU.
 APAKAH TERSEDIA STAF YANG
CUKUP.
 APAKAH INSTANSI TERKAIT AKAN
MENDUKUNG IMPLEMENTASI
KEBIJAKAN PROGRAM.
 APAKAH TERSEDIA SARANA UNTUK
MELAKSANAKAN KEBIJAKAN
PROGRA,.
 APAKAH KEBIJAKAN DAPAT
DILAKSANAKAN TEPAT WAKTU.
39
PENILAIAN ALTERNATIF
ALTERNATIF
NO KRITERIA KET
A B C

1 Technical
Feasibility
2 Economic and
financial feability.
3 Political Viability.
4 Administrative
Operability.
JUMLAH
40 RANGKING
41
TEMUKAN DAN
PAHAMI

KAJI
HAKEKATNPERSOAL

MASALAH
AN, DAN RUMUSKAN

RUMUSKAN SECARA
JELAS DAN
REALISTIS, DAN
TERUKUR

CARA MENCAPAI
TUJUAN: (1)
PENGAMATAN, PERBAIKI
SECARA BERANGSUR,
DAN HASIL KAJI YANG
PENENTUAN RUMUSKAN
TUJUAN ALTERNATIF

DIHADAPI
TUANGKAN MODEL
DALAM
BENTUK:
(3) SKEMATIK,
SUSUN
MODEL

(4) FISKAL,
(5) GAME, DLL.

JELAS DAN KONSISTEN:


PRAGMATIS,
ADMINISTRATIF, NILAI-
NILAI ABSTRAKS
FONDAMENTAL

DAPATKAN GAMBARAN
TTG TNGJAT
EFEKTIVITAS,
FISINILITAS, ETIS, DAN
TENTUKAN PILIHAN

FILOSOFIS.

GAMBARAN DARI
SEJUMLAH PILIHAN
YANG TEPAT DENGAN
LANGKAH-LANGKAH POLICY ANALYSIS

TUJUAN, LINGKUNGAN,
ADMINISTRASI, DAN
EKONOMI.
RUMUSKAN
KRITERIA ALTERNATIFREKOMENDASI
42
POLA PEMBUATAN
KEPUTUSAN IDEAL

PURE

MODEL
DAN UNIVERSAL

RATIONAL

YEHEZKEL
SAMA DG 1
DITAMBAH
KEPUTUSAN

MODEL
PALING
EKONOMIS DAN RASIONAL
KEBIJAKAN

ECONOMICALLY

EFISIEN
BUAT
EKSPERIMEN,
MEMPEROLEH
ALTERNATIF
DECISION

PALING EFEKTIF
SEQUENTIAL

PERUBAHAN YANG
SEDIKIT DARI

DROR, DALAM ISLAMY,


KEBIAJAKN YANG
MODEL

SUDAH ADA
INCREMENTAL

FOKUS PADA
PROSES
PEMILIHAN
MODEL

ALTERNATIF 1
SATISFYING

YANG PALING
MEMUASKAN
MODEL-MODEL PERUMUSAN

PEMBUATAN
KEPUTUSANN
EXTRA

MODEL

YANG SANGAT
RATIONAL

RASIONAL

IDENTIFIKASI
NILAI, KEGUNAAN
MODEL
OPTIMAL

PRAKTIS
INTEGRATIVE
MENURUT

43
PROSES,
STRUKTUR

TIONAL
INSTITU-
ORGANISASI

HENRY,
PEMERINTAHAN

DIBUAT HANYA
OLEH “KELOMPOK
ELITE” ANGGAP
ELITE
MASSA
DIRI LEBIH
MAMPU.

ATAS DESAKAN
“KELOMPOK
KEPENTINGAN”
KELOMPOK

DALAM ISLAMY, 1992


KEBIJAKAN PUBLIK

THOMAS R. DYE DAN NICHOLAS


DEMMANDS
SUPPORT DAN
RESOURCES DARI
SISTEM
POLITIK

LINGKUNGAN
INPUT MENJADI
OUTPUT.
DG PROSES DATA
DAN SUMBER DAYA,
ANALISIS, RAMALAN,
AKIBAT, DAN
BANDINGKAN DG
RATIONAL

KEBIJAKAN
SIVE MODEL
COMPREHEN-

RASIONAL.

KEBIJAKAN DG
TAL

PERU-BAHAN
SEDIKIT DARI
INCREMEN-
MODEL-MODEL PROSES PEMBUATAN

YANG SUDAH ADA

GABUNGAN ASPEK
MIX

POSITIF DARI
MODEL 5 DAN 6
SCANNING
POLICY PAPER
 PENDAHULUAN.
 FORMULASI KEBIJAKAN PUBLIK.
 A. AGENDA SETTING.
 B. POLICY PROBLEM FORMULATION.
 C. POLICY DESIGN.
1. TUJUAN KEBIJAKAN.
2. ALTERNATIF KEBIJAKAN.
3. PENYUSUNAN MODEL ALTERNATIF KEBIJAKAN.
4. PENILAIAN DAN PERANGKINGAN ALTERNATIF.
5. REKOMENDASI ALTERNATIF KEBIJAKAN.
 STRATEGI PELAKSANAAN ALTERNATIF KEBIJAKAN
YANG DIPILIH.
44 PENUTUP.