PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DIBIDANG K3 I.

PENDAHULUAN Undang-undang Dasar 1945 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (pasal 27 ayat 2). Pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan adalah pekerjaan yang bersifat manusiawi sesuai dengan harkat dan martabat manusia, sehingga pekerja berada dalam kondisi selamat dan sehat, terhindar dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Berdasarkan ketentuan tersebut, telah diterbitkan Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, antara lain mengatur tentang perlindungan tenaga kerja yaitu bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan, kesusilaan, pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia dan nilai agama. Khusus untuk keselamatan kerja, setahun kemudian dikeluarkan Undangundang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Undang-undang ini menggantikan Undang-undang Keselamatan yang diterbitkan di zaman Hindia Belanda pada tahun 1910 yang dikenal dengan singkatan VR yaitu “Veilegheids Reglement”. Undang-undang No. 1 tahun 1970 lebih bersifat preventif dibanding dengan VR yang bersifat represif. Ruang lingkup keselamatan kerja yang diatur dalam UU No. 1 tahun 1970 mencakup keselamatan kerja di semua tempat kerja baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara di wilayah negara Republik Indonesia. Karena itu sumber bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang berada di tempat kerja harus dikendalikan melalui penerapan syarat keselamatan dan kesehatan kerja sejak tahap perencanaan, proses produksi, pemeliharaan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasaran, pemakaian, penyimpanan, pembongkaran dan pemusnahan bahan, barang produk teknis dan alat produksi yang mendukung dan dapat menimbulkan bahaya dan kecelakaan. Syarat keselamatan kerja tersebut di berlakukan ditempat kerja yang memakai antara lain peralatan yang berbahaya, bahan B3, pekerjaan konstruksi dan perawatan bangunan, usaha pertanaman kehutanan dan perikanan, usaha pertambangan, usaha pengangkutan barang dan manusia, usaha penyelaman, pekerjaan dengan tekanan udara atau suhu

DK3N – LK3I

1

tinggi/rendah, pekerjaan dalam tangki atau lubang, serta di tempat kerjanya yang terdapat atau menyebarkan suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar, radiasi, suara dan getaran. Untuk menjamin keselamatan dan kesehatan ditempat kerja yang menggunakan alat atau bahan yang berbahaya dan beracun, atau lingkungan tempat kerja yang dapat menimbulkan penyakit akibat kerja dan kecelakaan, maka berbagai persyaratan K3 perlu di penuhi. Selain Undang-undang Keselamatan Kerja di berbagai sektor diterbitkan pula berbagai Undang-undang yang antara lain mengatur keselamatan dan atau kesehatan pekerja, instalasi, sarana kerja, kondisi tempat kerja, 1. Undang-undang No. 6 tahun 1967 tentang Peternakan dan Hewan 2. Undang-undang No. 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan 3. Undang-undang No. 5 tahun 1984 tentang Perindustrian 4. Undang-undang No. 15 tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan 5. Undang-undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman 6. Undang-undang No. 13 tahun 1992 tentang Perkeretaapian 7. Undang-undang No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas Darat 8. Undang-undang No. 15 tahun 1992 tentang Penerbangan 9. Undang-undang No. 21 tahun 1992 tentang Pelayaran 10. Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. 11. Undang-undang No. 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran 12. Undang-undang No. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi Setiap Undang-undang tersebut ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturan Menteri dan peraturan perundangan lainnya. II. PERATURAN PERUNDANGAN K3 SAAT INI A. Hirarki Peraturan Perundang-undangan di bidang K3 disertai isi singkat peraturan. Tata urutan peraturan perundangan yang berlaku adalah UUD 1945, TAP MPR, Undang-undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturanperaturan pelaksanaan lainnya seperti Peraturan Menteri, Instruksi Menteri, dll. Berikut ini Peraturan Perundang-undangan K3 yang disusun sesuai hirarki disektor Ketenagakerjaan.

DK3N – LK3I

2

penerangan yang cukup dan sedapat mungkin mendapat penerangan alam. Undang-undang ini melarang menjalankan atau mempergunakan pesawat uap yang tidak mempunyai ijin yang diberikan oleh kepala jawatan pengawasan keselamatan kerja (sekarang Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Ketenaga Kerjaan dan Pengawasan Norma Kerja-Departemen Tenaga Kerja). Undang-undang ini juga mengatur prosedur pelaporan peledakan pesawat uap. serta proses berita acara pelanggaran ketentuan undang-undang ini. 2. Undang-undang ini memberlakukan Konvensi ILO nomor 120. di dalam air maupun di udara di wilayah Republik Indonesia. perlengkapan saniter. dan perlengkapan P3K. keselamatan terhadap bahan. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja terdiri dari XI bab dan 18 pasal. perlindungan terhadap kebisingan dan getaran. dan alat-alat lain yang bersambungan dengan ketel uap. yang berlaku bagi badanbadan perniagaan. suhu yang nyaman.Undang-undang 1. Pesawat uap menurut Undangundang ini adalah ketel uap. dan bagian bagiannya yang pekerjanya terutama melakukan pekerjaan kantor. di permukaan air. jasa. dan bekerja dengan tekanan yang lebih tinggi dari tekanan udara. di dalam tanah. persyaratan bangunan dibawah tanah. air minum. DK3N – LK3I 3 . mengatur tentang keselamatan dalam pemakaian pesawat uap. tempat kerja dan tempat duduk. Undang-undang Uap Tahun 1930. Undang-undang No. tempat ganti pakaian. Undang-undang nomor 3 Tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional nomor 120 mengenai Higiene dalam Perniagaan dan Kantor-kantor. Bab III (pasal 3 dan 4) mengenai syarat-syarat keselamatan kerja Bab IV (pasal 5 – 8) tentang pengawasan Bab V (pasal 9) tentang pembinaan K3 Bab VI (pasal 10) tentang P2K3 Bab VII (pasal 11) tentang kecelakaan kerja Bab VIII (pasal 12) tentang kewajiban dan hak tenaga kerja Bab IX (pasal 13) tentang kewajiban bila memasuki tempat kerja Bab X (pasal 14) tentang kewajiban pengurus Bab XI (pasal 15 – 18) tentang ketentuan penutup 3. Terhadap pesawat uap yang dimintakan ijinnya akan dilakukan pemeriksaan dan pengujian dan apabila memenuhi persyaratan yang diatur peraturan Pemerintah diberikan Akte Ijin. proses dan teknik yang berbahaya. Dalam azas umum konvensi ini diatur syarat kebersihan. Bab I (pasal 1) menjelaskan tentang istilah-istilah Bab II (pasal 2) tentang ruang lingkup yang meliputi keselamatan dan kesehatan kerja disemua tempat kerja baik didarat.

terdiri dari 12 Bab dan 90 pasal. pengobatan dan atau perawatan. disebutkan bahwa Undang-undang ini merupakan pembaharuan dan perluasan dibandingkan dengan undang-undang sebelumnya (Veilegheids Reglement Tahun 1910) yaitu : 1. Pengembangan program diatur dengan Peraturan Pemerintah. Perubahan pengawasan yang bersifat represif menjadi prefentif 3.Didalam penjelasan umum. 5. pembayaran jaminan hari tua serta pelayanan jaminan kesehatan. Tambahan pengaturan pembinaan keselamatan kerja bagi manajemen dan tenaga kerja 6. DK3N – LK3I 4 . Dalam undang-undang ini diatur kepesertaan. Pada pasal 23 dinyatakan: . Diatur juga keluarga yang berhak menerima jaminan kematian. Tambahan pengaturan pemungutan retribusi tahunan 4. yang mengatur bahwa setiap tenaga kerja berhak atas jaminan sosial tenaga kerja. Ruang lingkup program meliputi jaminan kecelakaan kerja.kesehatan kerja diselenggarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal. serta rehabilitasi serta santunan berupa uang yang meliputi:sementara tidak mampu bekerja. cacat total selama-lamanya baik fisik maupun mental dan santunan kematian. iuran.kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja. Undang-undang nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. dan syarat kesehatan kerja. . jaminan haritua dan jaminan kesehatan. jaminan kematian. dan setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam pemeliharaan dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. Perluasan Ruang lingkup 2. Perumusan tehnis yang lebih tegas 4. Badan penyelenggara serta ketentuan pidana. Dari 15 upaya kesehatan. Menurut undang-undang ini setiap orang berhak memperoleh derajat kesehatan yang optimal. . pencegahan penyakit akibat kerja. Penyesuaian tata usaha/ administrasi yang diperlukan bagi pelaksana pengawas 5. .setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja. jaminan dan tata cara pembayaran. keluarga dan lingkungan. Jaminan kecelakaan meliputi biaya pengangkutan. salah satunya adalah upaya kesehatan kerja. Undang-undang nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. pemeriksaan.Ketentuan mengenai kesehatan kerja diatur dengan Peraturan Pemerintah. Undang-undang ini terdiri dari sepuluh Bab dan 35 pasal. cacat sebagian selama-lamanya. Untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja diselenggarakan program jaminan sosial dengan mekanisme asuransi.

Ijin diberikan apabila pestisida efektif dan cukup aman dipakai dan memenuhi syarat-syarat teknis lain serta digunakan sesuai petunjuk yang tercantum dalam label..6. 9. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang antara lain mengatur tentang Landasan. Pemutusan hubungan kerja. pengupahan dan kesejahteraan. Peraturan Uap 1930. Ijin dapat ditinjau atau dicabut apabila ditemukan pengaruh samping yang tidak diinginkan. dan Ketentuan peralihan. Penempatan tenaga kerja. DK3N – LK3I 5 .I nomor 19 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang 8. Pelatihan kerja. penyimpanan dan Penggunaan Pestisida. Peraturan ini memuat persyaratan teknis keselamatan ketel uap dan pesawat uap selain ketel uap. yaitu lebih besar dari  kg/cm 2 di atas tekanan udara luar dan paling tinggi  kg/cm2 di atas tekanan udara luar. Perlindungan. Hubungan kerja. mengatur pembagian pesawat uap berdasarkan tekanan uapnya. Pembinaan. Pengawasan. Kesempatan dan perlakuan yang sama. Dalam Undang–undang ini K3 diatur dalam Bab X Perlindungan. Asas dan Tujuan. penguap. Peraturan in memuat ketentuan untuk mendapatkan ijin penggunaan pesawat uap. Penggunaan tenaga kerja asing. Untuk melindungi keselamatan pekerja guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. Penyidikan Ketentuan pidana dan sanksi administratif. moral dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. Peraturan ini melarang pestisida yang tidak terdaftar/tidak memperoleh ijin dari Menteri Pertanian. Perencanaan tenaga kerja dan informasi ketenagakerjan. Peraturan Pemerintah R. Ijin sementara dan ijin percobaab berlaku selama satu tahun dan ijin tetap lima tahun. pengering uap.I nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran. serta ketentuan mengenai pesawat uap yang tidak memerlukan akte ijin. bejana uap antara lain mengenai persyaratan bahan pembuat. Pengupahan dan kesejahteraan Bagian I Perlindungan Paragraf 5 Keselamatan dan kesehatan kerja pasal 86 dan 87. Dalam pasal 87 disebutkan bahwa setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen K3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. ijin sementara atau ijin percobaan. perlengkapan pengaman dan tata cara pengujian. Peraturan Pemerintah 7. Perluasan kesempatan kerja. Ijin yang diberikan dapat berupa ijin tetap. Peraturan Pemerintah R. Dalam pasal 86 disebutkan bahwa setiap pekerja berhak untuk mendapatkan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja. Hubungan industrial. Undang-undang No.

pengoperasian. pembangunan. jalan tempat kerja. termasuk mudah terbakar dan mudah meledak dalm ruang kerja. mengatur pengaturan keselamatan kerja di bidang pertambangan dilakukan oleh Menteri Pertambangan setelah mendengar pertimbangan Menteri Tenaga Kerja. Peraturan Pemerintah ini telah diganti dengan Peraturan Pemerintah No.I nomor 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi. bejana tekan dan bejana vakum. Pengangkatan pejabat pegawasan keselamatan kerja setelah mendengar pertimbangan Menteri Tenaga Kerja. 63 tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion 11. dan heat exchanger. instalasi uap air. Peraturan ini mewajibkan setiap instalasi atom mempunyai petugas proteksi radiasi. penyimpanan dan pemakaian zat radioaktif. Juga diatur pelaporan pelaksanaan pengawasan serta pengecualian pengaturan dan pengawasan ketel uap dari PeraturanPemerintah ini. tempat penimbunan. demikian pula kompressor. 10. larangan dan pencegahan umum. Menteri Pertambangan melakukan pengawasan keselamatan kerja berpedoman kepadan Undang-undang nomor 1 Tahun 1970 serta Peraturan pelaksanaannya. pompa vakum. pengelasan. pesawat dan perkakas. instalasi penyalur.I nomor 11 Tahun 1975 tentang Keselamatan Kerja terhadap Radiasi. perlengkapan penyelamatan dan pelindung DK3N – LK3I 6 . pemadam kebakaran. pencemaran lingkungan. wewenang dan tanggung jawab menteri pertambangan. dan dalam pelaksanaan pengawasan menyerahkan kepada Dirjen dengan hak substitusi sedang tugas dan pekerjaan pengawasan tersebut dilaksanakan oleh kepala inspeksi dan pelaksana inspeksi tambang. Pejabat tersebut mengadakan kerjasama dengan pejabat pengawasan keselamatan kerja dari departemen Tenaga Kerja baik di Pusat dan di Daerah. pengolahan bahan berbahaya. Peraturan pemerintah ini juga mengatur persyaratan teknis keselamatan dalam pemurnian dan pengolahan mulai dari perencanaan. tungku pemanas. Peraturan Pemerintah R. terdiri dari 9 Bab dan 25 pasal. listrik. proses dan peralatan khusus. penerangan lampu. Untuk mengawasi ditaatinya peraturan keselamatan kerja terhadap radiasi perlu ditunjuk ahli proteksi radiasi oleh instansi yang berwenang. pemeliharaan dan perbaikan instalasi. Peraturan Pemerintah R. termasuk persyaratan keselamatan untuk bangunan. pembongkaran dan pemuatan minyak dan gas bumi. yang terdiri dari 31 Bab dan 58 pasal mengatur tata usaha dan pengawasan keselamatan kerja pada pemurnian dan pengolahan minyak dan gas bumi.Pertambangan.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja. pengawasan. kesehatan dan kebersihan . kewenangan dan kewajiban pegawai pengawas serta kewenangan dan kewajiban ahli keselamatan. penyeretan dengan traktor (yarding). terdiri atas tujuh pasal. ketentuan peralihan dan penutup. Peraturan Menteri 12. yang mewajibkan perusahaan untuk mengirimkan setiap dokter perusahaannya untuk mendapat latihan dalam bidang higiene perusahaan. kerja. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor Per 01/Men/1979 tentang kewajiban latihan Hygiene Perusahaan kesehatan dan keselamatan Kerja bagi Paramedis Perusahaan. penebangan kayu. ketentuan pidana. tugas dan wewenang pelaksana inspeksi tambang.diri. mengatur tentang norma keselamatan da kesehatan pada berbagai pekerjaan dalam penebangan dan pengangkutan kayu. Transmigrasi dan Koperasi nomor Per-01/Men/1978 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dalam Penebangan dan Pengangkutan Kayu. keberatan dan pertimbangan. Peraturan Menteri Tenaga Kerja. kewajibannnnn umum pengusaha. kesehatan dan keselamatan kerja. Peraturan Menteri ini terdiri dari tujuh pasal. Pelaksana latihan adalah Lembaga Nasional Hiperkes. 15. tersedianya peralatan dan obat-obatan untuk P3K dan penerangan yang cukup apabila bekerja pada malam hari. syarat-syarat pekerja. Transmigrasi dan Koperasi nomor Per-01/Men/1976 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes bagi Dokter Perusahaan. Transmigrasi dan Koperasi nomor Per-03/Men/1978 tentang Persyaratan penunjukan dan wewenang serta kewajiban Pegawai pengawas keselamatan kerja dan ahli keselamatan kerja. terdiri DK3N – LK3I 7 . terdiiri atas tujuh Bab dan 17 pasal. Juga diatur sikap kerja yang aman dalam mengangkat barang. pertolongan pertama pada kecelakaan. pengangkutan kayu dengan lori. pemuatan kayu dengan loader. Salah satu kewajiban pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja adalah menjaga kerahasiaan keterangan yang didapat karena jabatannya. pengangkutan kayu dengan truk. kepala teknik dan pekerja. 14. pemuatan kayu kekapal. Peraturan Menteri Tenaga Kerja. Kesengajaan membuka rahasia ini diancam hukuman sesuai ketentuan Undang-undang Pengawasan Perburuhan. mulai dari penjelajahan hutan. 13. Peraturan menteri ini mengatur persyaratan untuk ditunjuk sebagai pengawas keselamatan kerja dan sebagai ahli keselamatan kerja.

mudah dicapai dan diambil dan dilengkapi tanda pemasangan. pekerjaan memancang. pembongkaran. Penyelenggara latihan adalah Pusat dan Balai Higiene Perusahaan. Semua perusahaan yang termasuk dalam ruang lingkup Undangundang Keselamatan kerja harus mengadakan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan pemeriksaan kesehatan berkala. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor Per 01/Men/1980 tentang Keselamatan dan kesehatan kerja pada konstruksi bangunan. Pemeriksaan kesehatan khusus dilakukan terhadap tenaga kerja/golongan tenaga kerja tertentu. jenis busa. Selanjutnya peraturan Menteri ini mengatur persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja antara lain tempat kerja dan alat kerja. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 04/Men/1980 tentang Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api ringan. peralatan konstruksi bangunan. pekerjaan beton. perancah. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor Per 02/Men/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan kerja. kabel baja. Dalam peraturan menteri ini juga diatur tatacara pemeiiksaan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan. penggalian. tangga. dan peralatan bantu. B. Keselamatan dan kesehatan kerja. Peraturan menteri ini mengatur setiap perusahaan yang mempekerjakan para medis diwajibkan mengirimkan setiap tenaga para medis untuk mendapat latihan bidang higiene perusahaan. mesin-mesin.atas delapan pasal. jenis tepung kering dan jenis gas. Direktur Jenderal dapat menunjuk Badan sebagai penyelenggara pemeriksaan kesehatan tenaga kerja. terdiri atas sebelas pasal. kesehatan dan keselamatan kerja. Alat pemadam api ringan harus ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat dengan jelas. tambang. Setiap kecelakaan dan kejadian berbahaya harus dilaporkan. rantai. C dan D. terdiri atas 19 Bab dan 106 pasal. Peraturan menteri ini mengatur pada setiap pekerjaan konstruksi bangunan harus diusahakan pencegahan kecelakaan dan sakit akibat kerja pada tenaga kerja. 16. alat angkat. konstruksi di bawah tanah. terdiri atas enam bab dan 27 pasal. DK3N – LK3I 8 . Waktu pekerjaan dimulai harus segera disusun suatu unit organisasi keselamatan dan kesehatan kerja. 18. Dalam peraturan ini kebakaran digolongkan menjadi golongan A. perlengkapan penyelamatan dan pelindung diri dan ketentuan hukuman. 17. Sedang alat pemadam api ringan dibagi menjadi jenis cairan.

terdiri dari delapan bab dan 87 pasal. bulanan atau tahunan. terdiri dari enam bab. Pengujian juru las terdiri dari ujian teori dan ujian praktek. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 01/Men/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja terdiri atas 9 pasal. dan konsultasi serta pembinaan teaga kerja. Diatur ruangan dan bagiannya yang memerlukan detektor kebakaran. bejana transport. pengangkutan. pembuatan dan pemakaian. Juru las dianggap terampil apabila telah menempuh ujian las dengan hasil memuaskan. bejana penyimpanan gas yang dikempa menjadi cair terlarut atau terbeku. kelas II. termasuk botol-botol baja. Peraturan ini mengatur tentang kode warna. Ujian praktek harus dapat menunjukkan keterampilan mengelas seperti yang ditentukan peraturan ini. mingguan. DK3N – LK3I 9 . dan 36 pasal. dan pemasangan. dan kelas III. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja. pencegahan. pemasangan. terdiri atas sepuluh bab dan 48 pasal. Juga diatur bebarapa cara penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja. cara pengisian. Menurut peraturan ini. rehabilitasi. terdiri atas 12 pasal. 21. 22. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 01/Men/1982 tentang Bejana Tekan. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 02/Men/1982 tentang Kualifikasi Juru Las di Tempat Kerja. Laporan disampaikan dalam dua kali 24 jam setelah penyakit akibat kerja didiagnosa. dan mempunyai sertifikat juru las. antara lain sistem deteksi panas. 20. Pengurus wajib memberikan pelayanan kesehatan kerja. pengobatan. yang diatur tatacaranya dalam peraturan ini. Mengatur bejana tekan selain pesawat uap. Pelayanan kesehatan kerja meliputi pemeriksaan kesehatan. Dilampirkan daftar penyakit akibat kerja yang harus dilaporkan. Juga diatur berbagai sistem detektor alarm kebakaran. mengatur perencanaan. juru las digolongkan menjadi juru las kelas I. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 02 Tahun 1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Otomatik. Peraturan menteri ini mencabut peraturan khusus FF dan peraturan khusus DD. asap dan api. mengatur kewajiban pengurus dan Badan yang menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan untuk melaporkan penyakit akibat kerja yang ditemukan dalam pemeriksaan kesehatan berkala dan pemeriksaan kesehatan khusus. pesawat pendingin. pemeliharaan dan pengujian instalasi alarm kebakaran otomatik di tempat kerja. perbaikan dan perubahan teknis. Instalasi harus dipelihara dan diuji secara berkala. 23. mengatur hak setiap tenaga kerja untuk mendapat pelayanan kesehatan kerja.19.

melaporkan proses dan jenis asbes yang digunakan. penerangan pekerja. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 03 Tahun 1985 tentang Keselamatan dan Kesehatan kera Pemakaian Asbes. pemeriksaan dan pengujian. 27. Selain itu diatur kebersihan lingkungan kerja. pemasangan. Setiap pesawat angkat dan angkut tidak boleh dibebani melebihi beban maksimum yang diijinkan. perubahan dan atau perbaikan teknis. Selain itu diatur kewajiban pengurus untuk menyediakan alat pelindung diri. melarang pemakaian asbes biru dan cara penggunaan asbes dengan menyemprotkan. dan melaporkan kerusakan alat pelindung diri. keselamatan perlengkapan transmisi mekanik. dan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja. Beban maksimum yang diijinkan harus ditulis pada bagian yang mudah dilihat dan dibaca dengan jelas. tidak cacat dan memenuhi syarat. pengendalian debu asbes. Juga diatur mengenai pemeriksaan. 25. buku petunjuk mengenai bahaya debu asbes dan cara pencegahannya. analisa debu asbes. terdiri atas dua belas bab dan 147 pasal. alat kerja dan/atau ventilasi. keselamatan mesin perkakas dll. pemakaian. terdiri atas delapan pasal. ketentuan mengenai alat perlindungan. peredaran. harus cukup kuat. Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum nomor Kep 174/Men/86 . menyatakan berlaku pedoman pelaksanaan tentang keselamatan dan kesehatan kerja pada tempat kegiatan konstruksi bangunan sebagai pedoman pelaksanaan Peraturan DK3N – LK3I 10 . Demikian pula pesawat angkutan di atas landasan dan diatas permukaan. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 04 Tahun 1985 tentang Pesawat Tenaga dan Produksi.nomor 104/KPTS/86 tentang Keselamatan dan Kesehatan kerja pada tempat kegiatan konstruksi. pengujian bagi bejana tekan sebagai penggerak mula motor diesel. pembuatan.24. Peraturan ini mengatur syarat-syarat teknis berbagai pesawat angkat dan angkut. terdiri atas sepuluh bab dan 25 pasal. memakai dan melepas alat pelidung diri di tempat yang ditentukan. mengatur ketentuan umum teknis keselamatan kerja pada pesawat tenaga dan pesawat produksi. 26. serta perlengkapan pesawat angkat dan angkut. Kewajiban tenaga kerja untuk memakai alat pelindung diri. memasang tanda/rambu. terdiri atas dua belas bab dan 146 pasal. Syarat keselamatan mencakup bahan konstruksi. termasuk komponen-komponennya. pengujian dan pengesahan pesawat tenaga dan pesawat produksi.serta pemeliharaan pesawat angkat dan angkut. mengatur perencanaan. Menteri Tenaga Kerja nomor 05 Tahun 1985 tentang Pesawat angkat dan Angkut. pengesahan. alat angkutan jalan riil.

31. Kualifikasi operator terdiri dari operator kelas I. 29. terdiri atas delapan bab dan 13 pasal. Keanggotaan P2K3 adalah unsur pengusaha dan unsur pekerja. Menteri tenaga kerja dapat menunjuk ahli keselamatan kerja bidang konstruksi di lingkungan Departemen Pekerjaan umum. terdiri dari 16 pasal. terdiri atas delapan bab dan 13 pasal. kesehatan. keracunan dan penyinaran radioaktif membentuk P2K3.atas usul Menteri Pekerjaan Umum. terdiri atas sepuluh pasal. kesehatan. Sekretaris P2K3 adalah ahli K3 dari perusahaan yang bersangkutan. DK3N – LK3I 11 . memberlakukan PUIL 1987 di tempat kerja. umur. Operator diberi kewenangan sesuai dengan kualifikasinya. 28. Operator diberi kewenangan sesuai dengan kualifikasinya. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 04 Tahun 1988 tentang Berlakunya Standard Nasional Indonesia (SNI) No: SNI-225-1987 Mengenai Peraturan Umum Instalasi Listrik Indonesia 1987 (PUIL 1987) di Tempat Kerja. Peraturan Menteri ini mewajibkan pengusaha atau pengurus tempat kerja yang mempekerjakan 100 orang pekerja atau lebih atau menggunakan bahan. Operator kelas II dan operator kelas III. kebakaran. umur. Selain mengatur tugas dan fungsi p2K3. mengikuti kursus operator dan lulus ujian sesuai kualifikasinya.Menteri Tenaga Kerja nomor 01/Men/1980. pengalaman. 30. mengikuti kursus operator dan lulus ujian sesuai kualifikasinya. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 01 Tahun 1989 tentang Kualifikasi dan Syarat-syarat Operator Keran Angkat. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 01 Tahun 1988 tentang Kualifikas dan Syarat-syarat Operator Pesawat Uap. Jumlah dan kualifikasi operator untuk ketel uap serta kurikulum operator sesuai kualifikasinya dicantumkan dalam lampiran peraturan ini. juga mengatur tentang tatacara penunjukan ahli K3. administrasi. Jumlah dan kualifikasi operator untuk masingmasing keran dicantumkan dalam lampiran peraturan ini. Peraturan ini mengatur persyaratan pendidikan. pengalaman. Pengurus wajib menyesuaikan instalasi listrik yang digunakan di tempat kerjanya dengan ketentuan SNI 2251987. proses dan instalasi yang mempunyai risiko besar terjadi peledakan. Peraturan ini mengatur persyaratan pendidikan. administrasi. Kualifikasi operator pesawat uap terdiri dari operator kelas I dan operator kelas II. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 04 Tahun 1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Tata-cara Penunjukan Ahli Keselamatan Kerja. dan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab sesuai dengan kualifikasinya.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 03 Tahun 1998 tentang Tatacara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan. 34. mengatur tujuandan sasaran Sistem Manajemen K3.. 35. dan harus dilaksanakan oleh pengurus. memonitor dan menetapkan syarat keselamatan dan kesehatan kerja. serta bidang kegiatannya. mengatur persyaratan istalasi penyalur petir tentang kemampuan perlindungan. Selain itu ketentuan mengenai Audit SMK3 dan Sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja. dan lulus seleksi. lampiran III memuat formulir laporan audit dan lampiran IV memuat ketentuan penilaian hasil audit. Ditetapkan berdasarkan permohonan dari pimpinan instansi dan dokumen pribadi yang perlu dilampirkan. terdiri atas sebelas bab dan 60 pasal. bangunan yang mempunyai antena. terdiri dari tujuh bab 21 pasal. terdiri dari lima bab dan 15 pasal. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 02 Tahun 1989 tentang Pengawasan Instalasi Penyalur Petir. Selain itu diatur juga pemeriksaan dan pengujian. persyaratan instalasi penyalur petir untuk cerobong asap. kriteria perusahaan yang wajib melaksanakannya. pengusaha dan seluruh tenaga kerja sebagai suatu kesatuan. terdiri dari sepuluh bab dan 12 pasal serta tiga lampiran. 33. pembumian. minta keterangan. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 04 Tahun 1995 tentang Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja. mengatur kewajiban pengurus atau pengusaha DK3N – LK3I 12 . persyaratan bahan dan sertifikat atau hasil pengujian bagianbagian instalasi. penghantar penurunan. Kewajibannya adalah membantu mengawasi pelaksanaan peraturan perundang-undangan K3 dan melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada Menteri Tenaga Kerja serta merahasiakan keterangan yang didapat karena jabatannya. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 02 Tahun 1992 tentang Tatacara Penunjukan Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Memuat persyaratan teknis untuk penerima. 36. pekerjaan. mengatur jenis perusahaan jasa K3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 05 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. ketahanan teknis dan ketahanan terhadap korosi. pengesahan dan ketentuan pidana. menara. Ketentuan-ketentuan yang wajib dilaksanakan perusahaan dalam menerapkan SMK3. pengalaman. mengatur persyaratan untuk dapat ditunjuk menjadi ahli keselamatan dan kesehatan kerja harus memenuhi persyaratan pendidikan. Peraturan ini juga mengatur persyaratan administrasi dan persyaratan teknis untuk dapat menjadi perusahaan jasa K3. Lampiran I memuat pedoman penerapan SMK3.32. lampiran II memuat pedoman teknis audit. terdiri dari enam bab dan 15 pasal. Diatur pula kewenangan Ahli Keselamatan Kerja untuk memasuki tempat kerja.

Fungsi : menghimpun dan mengolah segala data/ atau permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja yang bersangkutan serta membantu pengusaha/ manajemen mengadakan serta meningkatkan penyuluhan. Ketua P2K3 memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan P2K3 dibantu oleh wakil ketua. mengatur kapasitas angkut dan jumlah orang yang dapat diangkut. Sekretaris dan Anggota. pengawasan. perbaikan. tatacara pelaporan dan pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan oleh pengawas ketenagakerjaan. lampiran II laporan pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan kerja. Tugas pokok memberi saran dan pertimbangan kepada pengusaha/ menyusun tempat kerja yang bersangkutan mengenai masalahmasalah K3. pengangkatan dan pemberhentian. DK3W dan P2K3. ruang luncur dan lekuk dasar. terdiri atas tujuh bab dan 15 pasal. b. Keputusan Menteri ini merupakan pelaksanaan dari undang-undang keselamatan kerja pasal 10 yang antara lain menetapkan tugas dan fungsi P2K3 sebagai berikut : a. mesin dan kamar mesin. Organisasi P2K3 terdiri dari sekurang-kurangnya Ketua. persyartan teknis keselamatan bagian-bagian lift dan pemasangannya. 155/Men/1984 yang merupakan penyempurnaan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. mengatur tugas dan fungsi dokter penasehat. tatacara pemberian pertimbangan medis. Pemberhentian dan Tata-kerja Dokter Penasehat. Keanggotaan : P2K3 beranggotakan unsur-unsur organisasi pekerja dan pengusaha/ manajemen. talibaja dan tromol. Lampiran satu adalah bentuk laporan kecelakaan. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Demikian pula persyaratan teknis keselamatan kerja pembuatan. lampiran IV bentuk laporan pemeriksaan dan pengkajian peristiwa kebakaran/peledakan/bahaya pembuangan limbah 37. pemasangan. lampiran III bentuk laporan pemeriksaan dan pengkajian penyakit akibat kerja.melaporkan kecelakaan. 38. Keputusan Menteri Tenaga Kerja 39. dan perubahan lift serta pemeriksaan. latihan dan penelitian K3 c. Sekretaris P2K3 memimpin dan DK3N – LK3I 13 . Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 04 Tahun 1998 tentang Pengangkatan. serta pelaporan dan pembinaan. pengujian dan pengawasannya. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 03 Tahun 1999 tentang Syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift untuk Pengangkutan Orang dan Barang. terdiri dari enam bab 34 pasal. 125/Men/1982 tentang Pembentukan Susunan dan Tata Kerja DK3N. dll.

Selain itu diatur penetapanpotensi bahaya instalasi. 04 tahun 1987 tentang P2K3 dan Tata Cara Penunjukan Ahli Keselamatan Kerja) 40. sedang Sekretaris P2K3 adalah tenaga profesional K3 yaitu manajer K3 atau ahli K3. bidang penyakit dalam. nilai ambang batas kuantitas bahan kimia. sedang Lampiran II adalah laporan medik penyakit akibat kerja yang merupakan rahasia medik. bidang penyakit Paru. mengatur kewajiban pengusaha mengendalikan bahan kimia berbahaya untuk mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja. frekuensi radio/gelombang mikro.mengkoordinasikan keputusan P2K3. 42. serta penunjukan petugas dan ahli K3 kimia. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. bidang psikiatri. terdiri dari enam bab dan 27 pasal. (lebih lanjut tentang P2K3 diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 41. Keputusan Menteri ini juga menetapkan batas waktu pemajanan untuk faktor-faktor fisik yang melampaui NAB. dan radiasi sinar ultra ungu. yang meliputi bidang pengobatan mata. mengatur mengenai tata cara diagnosis dan pelaporan penyakit akibat kerja. hidung dan tenggorok (THT). Keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor 333 Tahun 1989 tentang Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja terdiri atas enam pasal. penyakit telinga. Pedoman ini dipakai untuk menetapkan diagnosis dan penilaian cacat karena kecelakaan dan penyakit akibat kerja guna memperhitungkan hal-hal tenaga kerja. Keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor 51 Tahun 1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Di Tempat kerja terdiri dari 12 pasal. tudas-tugas sekretariat dan melaksanakan Ketua P2K3 seyogyanya adalah top manajemen disuatu tempat kerja atau sekurang-kurangnya manajemen yang terdekat dengan pimpinan puncak. bidang orthopaedi. Keputusan Menteri ini merupakan pedoman pelaksanaan dari Undangundang No. kebisingan. menetapkan nilai ambang batas untuk iklim kerja. Keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor 187 Tahun 1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja. bidang penyakit akibat radiasi mengion. bidang neurologi dan bidang penyakit kulit. 2 Tahun 1951 tentang Pernyataan berlakunya Undangundang Kecelakaan Tahun 1947 yang telah diganti dengan Undangundang No. DK3N – LK3I 14 . getaran. Lampiran I adalah bentuk laporan kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja. dengan menyediakan lembar data keselamatan bahan dan label dan menunjuk petugas dan ahli K3 kimia.

11 tahun 1975 tentang Keselamatan Kerja terhadap Radiasi. Peraturan Pemerintah dibuat sebagai pelaksanaan suatu Undang-undang. Keterkaitan antara Peraturan Perundang-undangan di bidang K3 1. Berdasarkan Undang-undang tersebut diterbitkan berbagai Peraturan Pemerintah (PP) tentang berbagai hal yang dalam undang-undang tersebut perlu jabarkan dalam Peraturan Pemerintah. Pelaksanaan suatu peraturan perundangan dengan peraturan perundangan lain : yang terkait a) Apabila suatu materi pengaturan dari suatu UU terdapat pula pada undang-undang yang lain. Umum Pada umumnya setiap sektor mempunyai dasar hukum dalam bentuk Undang-undang sebagai landasan pelaksanaan kegiatan di sektor tersebut. sedangkan peraturan pelaksanaannya langsung dalam bentuk Peraturan Menteri atau Keputusan Menteri Tenaga Kerja. 1 tahun 1970 telah diterbitkan berbagai Peraturan Menteri dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja seperti dapat dilihat pada uraian Hirarki Peraturan Perundangan K3 diatas. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Dalam diktum mengingat di sebutkan selain UU No. seperti halnya UU No.B. 31 tahun 1965 tentang Ketentuan Pokok Tenaga Atom. Peraturan Pemerintah disusun atas dasar ketentuan dalam Undang-undang terkait. Contoh 1 Dari Undang-undang No. DK3N – LK3I 15 . 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Dari Undang-undang No. 31 tahun 1965 tentang Ketentuan Pokok Tenaga Atom. maka dalam menetapkan pelaksanaan dalam bentuk PP perlu menyebut kedua landasan UU terkait. Pada kenyataannya terdapat Undang-undang yang peraturan pelaksanaannya bukan berbentuk Peraturan Pemerintah. Dalam Undang-undang maupun Peraturan Pemerintah pada umumnya disebut instansi yang bertanggung jawab atas ketentuan yang diatur. 2. Undangundang ini sampai saat ini tidak mempunyai Peraturan Pemerintah. telah diterbitkan Peraturan Pemerintah No. Jadi seharusnya tidak ada Peraturan Pemerintah yang tidak ada landasan Undangundangnya. dicantumkan pula Undang-undang No.

maka berbagai Peraturan Menteri Tenaga Kerja berkaitan dengan pelaksanaan ketentuan yang tercantum dalam pasal-pasal dari Undangundang No. 104/KPT/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Tempat Kegiatan Konstruksi. 44 PrP tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas. 1 tahun 1970. Undangundang Gangguan tahun 1926 dan Governement Besluits) No. 1 tahun 1970. maka sebagai pelaksanaannya dapat dibuat “Surat Keputusan Bersama” yang ditandatangani oleh dua orang pimpinan Departemen/ Non Departemen terkait. 1 tahun 1970. 8 tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara. Dalam hal Undang-undang No. mengurangi dan memadamkan kebakaran 3) mencegah dan mengurangi bahaya peledakan DK3N – LK3I 16 . c) Keterkaitan Undang-undang dengan peraturan pelaksanaannya. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. SKB ini ditetapkan atas dasar Undangundang No. 9 tahun 1941 tentang Syarat Umum untuk Bangunan Umum yang dilelangkan. atau Peraturan Pemerintah dengan Peraturan Menteri/ Keputusan Menteri. 11 tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi.Contoh 2 Peraturan Pemerintah No. b) Apabila dalam suatu Peraturan Pemerintah dinyatakan bahwa Instansi tertentu memiliki suatu kewenangan sedang dalam Peraturan Pemerintah yang lain Instansi lain memiliki kewenangan untuk suatu materi pengaturan yang sama. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Contoh 3 Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum No. sebagai pelaksanaan dari UU No. 174/Men/1986 – No. Keterkaitan Undang-undang dengan Peraturan Pemerintah. Kep. harus merupakan peraturan pelaksanaan dari pasal-pasal yang ada dalam Peraturan Perundangan yang lebih tinggi. tentang Keselamatan Kerja. Undang-undang No. Undang-undang No. pada pasal 3 ayat (1) berbunyi : Dengan peraturan Perundangundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk : 1) mencegah dan mengurangi kecelakaan 2) mencegah. dan Undang-undang No.

uap. cara dan proses kerjanya 14)mengamankan dan memperlancar pengangkitan orang. kotoran. debu. cuaca. alat kerja. hembusan angin. Pasal 4 ayat (1) menyatakan “Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja dalam perencanaan. lingkungan. gas. pemasangan. pemakaian. tanaman atau barang 15)mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan 16)mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat. peracunan. peredaran. DK3N – LK3I 17 .4) memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya 5) memberi pertolongan pada kecelakaan 6) memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja 7) mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluasnya suhu. kelembaban. asap. pembuatan. perdagangan. produk tehnis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan. binatang. sinar atau radiasi. 17)mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya 18)menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi. penggunaan. kesehatan dan ketertiban 13)memperoleh keserasian antara tenaga kerja. perlakuan dan penyimpanan barang. suara dan getaran 8) mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik phisik maupun psychis. insfeksi dan penularan 9) memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai 10)menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik 11)menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup 12)memeliharan kebersihan. pemeliharaan dan penyimpanan bahan. III. IMPLEMENTASI DAN KENDALA Peraturan perundang-undangan dibidang K3 telah diterbitkan cukup banyak di berbagai sektor dan bidang kegiatan pemerintah. pengangkutan. barang. Dari pasal 3 ayat (1) dan 4 diturunkan berbagai Peraturan atau Keputusan Menteri Tenaga Kerja sebagaimana dapat dilihat dalam uraian tentang Hirarki Peraturan Perundang-undangan tersebut diatas.

Walaupun implementasi berbagai peraturan perundangan tersebut belum optimal tetapi keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja telah memberikan kecenderungan semakin baik. Asosiasi pekerja.Pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan perundangan K3 masih belum efektif dan menyeluruh . .Peraturan Perundangan K3 dalam bentuk Standar jumlahnya masih sangat terbatas dan banyak yang tidak sesuai lagi dengan ilmu dan tehnologi mutakhir. lembaga masyarakat lainnya dalam kampanye K3 yang dilancarkan sejak tahun 1984. Dari analisa DK3N pada akhir abad 20. berbagai masalah dan tantangan terhadap pelaksanaan K3 masih cukup besar.Terdapat tumpang tindih pengaturan K3 yang dilaksanakan berbagai instansi teknis . kurang sosialisasi dan biaya audit dirasa memberatkan.Sistem pelaporan K3 belum dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku . selamat dan bahagia. DK3N – LK3I 18 . Hal tersebut disebabkan karena tingkat pemahaman terhadap SMK3 masih rendah. . K3 masih dianggap sebagai beban dalam biaya belum sebagai kebutuhan bagi kegiatan. antara lain : . Hal tersebut berkat usaha pemerintah. masih mengalami kendala.Panitia Pembina K3 diperusahaan yang wajib dibentuk belum terlaksana sesuai peraturan yang berlaku .Penegakan hukum terhadap pelanggaran peraturan perundangan K3 sangat lemah. Pengusaha belum menyadari bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hak dasar pekerja dan produktivitas dapat ditingkatkan apabila para pekerjanya dalam kondisi sehat. . perusahaan. .Kesadaran dan komitmen pengusaha dan pekerja terhadap K3 masih belum tinggi. Kendala terhadap implementasi peraturan perundangan K3 juga terjadi karena fihak perusahaan masih ingin mencari jalan pintas dengan cara berkolusi dengan para pengawas.Sistem Manajemen K3 yang diharapkan dapat meningkatkan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan dan sekaligus akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Seringkali sarana K3 dipenuhi sesuai peraturan tetapi kualitasnya dipilih yang lebih rendah karena pertimbangan biaya.Belum adanya Peraturan Pemerintah yang mengatur K3 secara menyeluruh sebagai pelaksanaan Undang-undang Keselamatan Kerja.

Semua produk dari mana saja dapat masuk secara bebas kemana saja dan pilihan diserahkan kepada masyarakat dalam persaingan bebas. Sistem Manajemen K3 yang saat ini sudah diberlakukan perlu direvisi disesuaikan dengan Rekomendasi ILO tentang SMK3 (ILO Recommendation on OSH. persaingan ekonomi menjadi sangat tajam karena pada saat itu proteksi pemerintah terhadap berbagai produk dalam negeri baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor dilarang di lakukan sesuai dengan persetujuan internasional. produktif dan bermutu tinggi. Sertifikasi Kompetensi SDM K3 Karena itu trend peraturan perundang-undangan K3 akan terfokus kepada tiga masalah tersebut dalam jangka pendek atau menengah disamping mengadakan revisi peraturan perundangan yang ada serta pengembangan peraturan K3 di berbagai sektor sesuai Undang-undang terkait. agar mampu meningkatkan kualitas efisiensi dan produktivitas dalam memenangkan persaingan di pasar bebas. karena selain standar K3 yang ada saat ini sangat sedikit juga banyak yang sudah tidak sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi mutahir seperti DK3N – LK3I 19 . disamping itu tenagakerja yang terlibat dalam produksi harus memperoleh perlindungan sesuai dengan deklarasi ILO tentang hak-hak dasar pekerja/ buruh. TREND PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN K3 Dimasa depan usaha pemerintah di bidang K3 harus ditujukan untuk menghadapi tantangan global serta untuk mengatasi kendala dan berbagai permasalahan K3 yang ada saat ini. Apabila tidak diperhatikan masalah K3 maka kemungkinan besar produk yang dihasilkan tidak boleh memasuki pasar bebas. Sistem Manajemen K3 2. yaitu : 1. Standardisasi K3 akan memperoleh perhatian pemerintah. Hal ini berarti perlakuan terhadap tenaga kerja khususnya dibidang keselamatan dan kesehatan pekerja akan memperoleh pengawasan yang ketat oleh dunia internasional. Untuk dapat memenangkan kompetisi dalam pasar bebas maka setiap produk harus di hasilkan secara efisien.MS). Dalam era global yang tidak lama lagi akan kita masuki. Untuk menghadapi tuntutan internasional tersebut maka ada tiga hal pokok di bidang K3 yang akan mendapat perhatian pemerintah. Standarisasi K3 3.IV.

ketenagalistrikan dan ketenaganukliran. Sedangkan DK3N telah berprakarsa membantu berdirinya Lembaga Sertifikasi Kompetensi K3 yang telah di deklarasikan tanggal 12 Januari 2000 dan saat ini sedang diusahakan akreditasi dari Badan Standardisasi Nasional (BSN). koordinasi antar sektor untuk menghilangkan pengawasan yang tumpang tindih. pertanian. Sertifikat kompetensi dapat dikeluarkan oleh pemerintah dan atau Lembaga Swadaya Masyarakat yang memperoleh akreditasi dari BSN. industri. pertambangan dan energi. 1 tahun 1970 diharapkan dapat dimutahirkan agar berbagai kendala penerapan K3. Penutup Peraturan perundang-undangan dibidang perlindungan tenaga kerja yang meliputi keselamatan dan kesehatan Kerja. DK3N – LK3I 20 . Saat ini sedang disiapkan sistem Standardisasi Nasional K3 oleh Depertemen Tenaga Kerja yang mendapat dukungan sepenuhnya dari Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N). V. karena sampai saat ini baik kualitas maupun kuantitas SDM-K3 masih memprihatinkan. Disamping itu Undang-undang No. dan Jaminan Sosial tenaga kerja telah berkembang dengan baik.yang ditetapkan oleh standar internasional. konstruksi. Pemerintah tentunya akan mengeluarkan peraturan perundangan SDM yang memerlukan sertifikat kompetensi. kesehatan. Nanti semua standar yang dihasilkan akan ditetapkan sebagai standar Nasional Indonesia (SNI) saat ini baru ada kurang dari 50 SNI di bidang K3 sedang di dunia internasional berjumlah raturan standar K3. standar tatacaradan standar pengujian. Disamping itu persyaratan sertifikasi dan kompetensi SDM-K3 mendapat perhatian serius. Keselamatan dan Kesehatan Kerja juga berkembang dengan baik disemua sektor seperti sektor ketenagakerjaan. kehutanan dan perkebunan. Standar K3 pada garis besarnya meliputi standar spesifikasi. transportasi. untuk mengantisipasi berbagai Konvensi ILO yang belum terakomodasi dalam Undang-undang Keselamatan Kerja dengan pelaksanaan Otonomi Daerah dimana kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota sangat besar dan bersifat mandiri dikembangkan sesuai dengan kebutuhan daerah. Departemen Tenaga Kerja sedang menyusun sistem Akreditasi dan Sertifikasi kompetensi tenaga kerja secara umum.

Trend Perundang-undangan K3 dimasa depan ditujukan untuk menghadapi era global di mana akan terjadi liberalisasi ekonomi dan Otonomi Daerah. Komitmen pimpinan perusahaan terhadap K3 masih relatif rendah disamping itu pengawasan terhadap pelaksanaan K3 masih perlu ditingkatkan dan fihak pengusaha masih banyak yang melakukan jalan pintas dengan cara berkolusi dengan pengawas dan pemberi ijin ketimbang memenuhi segala kewajibannya dalam memenuhi syarat keselamatan.  DK3N – LK3I 21 .Di era global dimana dunia seakan tanpa tapal batas akan terjadi liberalisasi perekonomian. Kendala terhadap implementasi peraturan perundang-undangan K3 umumnya adalah masih belum difahaminya dan bahwa K3 akan menghasilkan keuntungan karena dengan K3 efisiensi dan produktivitas meningkat. Perjanjian WTO 1994 menyatakan bahwa “negara anggota tidak boleh membuat ketentuan teknis yang dapat menghambat masuknya barang dari negara anggota kecuali bagi hal yang menyangkut keselamatan dan kesehatan kerja”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful