Anda di halaman 1dari 87

TEKNIK PENGECORAN & PELEBURAN LOGAM

MODUL PRAKTIKUM Oleh : ABRIANTO AKUAN, ST., MT.
MODUL PRAKTIKUM
Oleh :
ABRIANTO AKUAN, ST., MT.
LOGAM MODUL PRAKTIKUM Oleh : ABRIANTO AKUAN, ST., MT. LABORATORIUM TEKNIK PRODUKSI JURUSAN TEKNIK METALURGI

LABORATORIUM TEKNIK PRODUKSI JURUSAN TEKNIK METALURGI

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI BANDUNG

2010

PETUNJUK PRAKTIKUM

I. MAKSUD DAN TUJUAN

Praktikum Teknik Pengecoran Logam merupakan penerapan teori-teori yang pernah diberikan dalam perkuliahan. Tujuan utama dari praktikum Teknik Pengecoran logam ini adalah:

Dapat membuat pola dan cetakan pasir untuk membuat produk coran logam.

pola dan cetakan pasir untuk membuat produk coran logam.  Menentukan dan merencanakan sistim saluran dalam

Menentukan dan merencanakan sistim saluran dalam suatu pembuatan produk coran logam.

Mengetahui beberapa proses atau teknik dalam pembuatan cetakan.

Mengetahui besaran-besaran atau parameter proses yang terlibat dan berpengaruh terhadap cetakan yang yang dibuat.

Merencanakan dan membuat barang jadi melalui teknik pengecoran logam.

Mengetahui cara-cara pengujian kualitas pasir cetak untuk proses pengecoran logam.

Dengan melakukan praktikum ini, diharapkan peserta (praktikan) memiliki pengalaman praktek dalam proses produksi/manufaktur melalui proses pengecoran logam.

II.

PERATURAN PRAKTIKUM

2.1

Tata Tertib

Tidak dibenarkan memakai sandal, sepatu sandal dan sejenisnya.

Tas dan barang-barang yang digunakan selama praktikum harus disimpan ditempat yang telah disediakan.

praktikum harus disimpan ditempat yang telah disediakan.  Dilarang melakukan praktikum tanpa seijin instruktur

Dilarang melakukan praktikum tanpa seijin instruktur yang bersangkutan.

2.2

2.3

2.4

Selama berada dilaboratorium dilarang merokok, makan dan minum.

Praktikum harus menjaga keamanan dan ketenangan selama berada dilaboratorium.

Diwajibkan memakai pakaian savety dalam setiap melakukan praktek.

Kehadiran

Praktikan yang tidak mengikuti satu kali praktikum dianggap gagal dan harus mengulang pada kesempatan berikutnya.

Waktu pelaksanaan praktikum diatur dengan jadwal yang telah ditentukan.

Praktikan diharuskan menyerahkan formulir kehadiran kepada instruktur pada setiap melakukan praktek.

Pemakaian Alat

instruktur pada setiap melakukan praktek. Pemakaian Alat Periksa kelengkapan alat sebelum melakukan praktek. Setiap

Periksa kelengkapan alat sebelum melakukan praktek.

Setiap pemakaian alat harus

seijin instruktur.

Kehilangan atau kerusakan alat adalah tanggung jawab satu kelompok peserta praktikum.

alat adalah tanggung jawab satu kelompok peserta praktikum. Setiap akhir praktikum, ruangan dan alat-alat yang digunakan

Setiap akhir praktikum, ruangan dan alat-alat yang digunakan harus dibersihkan.

Sebelum meninggalkan laboratorium, praktikan harus lapor pada instruktur untuk memeriksa alat-alat yang telah

digunakan.

Tugas dan Laporan

Laporan praktikum diisi pada logbook yang telah disediakan.

Sebelum dan sesudah praktikum akan diadakan responsi dan ujian akhir praktikum. Adapun waktu dan tempat ditentukan kemudian.

 

Setiap praktikum harus mengumpulkan dan mengisi logbook praktikum secara perorangan setelah seluruh praktikum diselesaikan.

Logbook praktikum diisi dengan tulisan tangan.

2.5

Penilaian Sistematika penilaian mengikuti aturan sebagai berikut:

 

1.

Nilai Ujian Nilai Kehadiran Nilai Laporan Nilai Presentasi

Nilai Ujian

Nilai Kehadiran

Nilai Laporan

Nilai Presentasi

= 15 %

2.

= 25 %

4.

= 20 %

5.

= 40 %

III.

KESELAMATAN KERJA

3.1

Ringkasan Umum Keselamatan kerja merupakan target pertama dalam setiap

proses produksi terutama proses pengecoran logam, karena dalam proses ini kita akan berhadapan dengan bahaya-bahaya yang mungkin terjadi diantaranya:

Terkena percikan dari logam cair atau terak.

Terkena jilatan api atau panas dari pembakaran tungku peleburan.

Risiko terjadinya kebakaran.

Bahaya potensial ini diharapkan tidak akan menjadi bahaya riil apabila semua peraturan keselamatan telah diikuti dengan seksama dan selalu bekerja menurut prosedur serta tata cara yang aman dan benar. Dengan demikian kita akan terhindar dari bahaya dan tempat kita bekerja menjadi tempat yang aman.

3.2

Ketentuan dan Prosedur Keselamatan

Siapkanlah bahwa keadaan lingkungan kerja dan peralatannya siap untuk dipakai, dan periksa kembali peralatan sebelum bekerja.

Pakailah pakaian kerja dengan alat pelindung diri (APD) lainnya yang diperlukan.

Bekerjalah sesuai petunjuk yang ada.

Tanyakanlah pada instruktur/asistan anda, bila kurang jelas dalam bekerja.

Berhati-hatilah dalam penggunaan alat-alat perlengkapan serta posisi dalam bekerja.

Usahakan nyala api dalam kondisi yang baik.

Jauhkan bahan-bahan yang mudah terbakar dari api.

Usahakan muatan yang akan dilebur, dalam keadaan bersih bebas dari air oli dan bahan lainnya yang dapat menyebabkan percikan atau ledakan.

Bersihkan lantai pasir tempat proses pengecoran dari air, kotoran dan sebagainya.

Jaga jarak aman anda dengan tungku peleburan dan peralatan lain pada saat peleburan dan penuangan logam cair.

Gunakan selalu alat pelindung diri (APD): sarung tangan kulit, apron, helm, kacamata, sepatu kerja, masker, tang jepit dan lain sebagainya.

Tidak diperbolehkan memegang peralatan dan produk coran tanpa alat pelindung diri (APD) selama proses peleburan dan pengecoran sedang berjalan.

Seluruh pakaian berbahan katun minimal 90% atau lebih. Dan tidak memiliki kantong disetiap bagianya baik baju maupun celana, jika ada maka kantong itu harus tertutup.

Jaket, kaca mata, pelindung muka, helm, sarung tangan kulit atau aluminized gloves, dan sepatu harus dalam keadaan baik.

Menggunakan sepatu tipe moulder atau kick-off saat melakukan proses pengecoran.

Mengunakan masker respirator anti debu saat mengeluarkan logam cair dari tungku.

Menggunakan pelindung telinga jika ada dalam area pengecoran.

Tidak memiliki rambut terlalu panjang, atau merapihkan rambut dengan menyembunyikannya dengan helm pengaman.

Untuk praktikan yang melakukan peleburan, cek temperatur, inokulasi dan deslaging harus menggunakan kaca mata yang memiliki kaca gelap dan terang (google).

kaca mata yang memiliki kaca gelap dan terang (google) .  Tidak dianjurkan menggunakan jam kinetik

Tidak dianjurkan menggunakan jam kinetik dan barang-barang elektronik.

Peralatan penaggulangan pertama seperti pemadam api (fire extinguisher) dan kotak P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan) diharuskan ada pada beberapa titik dalam satu unit casting shop atau dan diposisikan pada tempat yang aman dan mudah terjangkau.

3.3 Prosedur Penanganan Efek Lingkungan

Polusi merupakan dampak negatif dari proses pengecoran, polutan yang dihasilkan dari proses ini adalah debu partikel pasir dari

sisa cetakan yang ringan dan mudah terbawa angin, air dari sisa reaksi katalis binder, dan sisa reaksi yang terjadi pada slag yang diangkat.

Selain memperhatikan hal diatas maka praktikan secara individual juga harus mampu membaca kode yang ada pada setiap peralatan atau label kodifikasi material berbahaya seperti kode radioaktif, mudah terbakar, korosif, iritan, racun dan kode material berbahaya lainya.

MODUL 1 PENGUJIAN PASIR CETAK

Pasir cetak untuk cetakan pasir, memerlukan sifat-sifat yang harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Mempunyai sifat mampu bentuk sehingga mudah dalam pembuatan cetakan dengan kekuatan yang cocok, cetakan yang dihasilkan harus kuat sehingga tidak rusak karena dipindah- pindahkan dan mampu menahan berat logam cair pada saat penuangan. Oleh karena itu kekuatan pada temperatur kamar dan kekuatan panasnya merupakan sifat yang sangat diperlukan.

b. Mempunyai daya salur (permeabilitas) udara yang cocok. Untuk mengurangi cacat tuang seperti rongga penyusutan, gelembung gas atau kekasaran permukaan. Dengan adanya rongga-rongga di antara butir-butir pasir, maka udara atau gas dapat disalurkan keluar dari cetakan.

c. Mempunyai distribusi besar butir yang tepat.

d. Mempunyai sifat tahan panas terhadap temperatur logam cair yang dituangkan.

e. Mampu dipakai lagi atau dapat dipakai berulang-ulang supaya ekonomis.

f. Pasir cetak, harus mudah didapat.

Tabel. Persyaratan fisik pasir cetak untuk berbagai jenis dan ukuran benda cor.

Jenis dan Ukuran benda coran

Ukuran Kehalusan butir rata-rata (GFN)

Ukuran

% kadar

Permeabilitas

lempung

Baja:

 

Besar & menengah

35

- 50

100 - 200

10

– 16

Kecil

50

- 70

Diatas 100

12

- 16

Besi cor:

 

Besar

40-70

50-150

15-20

Menengah

70-100

50-80

12-18

Kecil

100-140

20-50

12-18

Paduan Tembaga:

 

Besar

90-110

25-50

15-20

Menengah

100-120

20-40

12-18

Kecil

Dibawah 140

15-30

12-18

Aluminium:

 

Besar

100-120

20-40

15-20

Menengah/kecil

Dibawah 140

10-25

10-20

1.1 Pengujian Kadar Air dan Lempung

Pasir yang terlalu basah akan mempunyai daya salur udara yang

kecil dan pasir yang terlalu kering akan kurang kekuatannya.

Pemeriksaan kadar air ini dilakukan dengan menggunakan rumus

dibawah ini.

Berat Awal-Berat Akhir % kadar air = -------------------------------- x 100 % Berat Awal

Prosedur pengujian kadar air:

1. Siapkan pasir cetak sebanyak 50 gram.

2. Letakkan dalam alat pemanas.

3. Lanjutkan pengujian dengan memanaskan pasir dalam oven

pada temperatur 100-150 o C selama15 menit.

4. Dinginkan dan timbang.

5. Kadar air didapatkan dari selisih berat pasir cetak yang

dinyatakan dalam persen.

6. Keringkan lagi selama 5 menit.

7. Dinginkan dan timbang lagi.

8. Ulangi lagi (pengeringan selama 5 menit), sampai berat pasir

tidak berubah lagi.

Daya rekat antar butir pasir, sangat bergantung pada kadar

lempung dalam pasir. Untuk suatu persentase kadar lempung

tertentu, diperlukan sejumlah kadar air tertentu pula sehingga akan

didapatkan kekuatan pasir yang maksimum. Kekuatan tersebut juga

dipengaruhi oleh bentuk dan besarnya butir-butir pasir

Pasir yang terdapat di bumi akan bercampur dengan lmpung

atau tanah liat. Dalam pengertian untuk cetakan pasir, maka pasir ini terbagi atas:

1. pasir alam

2. pasir sintetis

Pasir alam adalah pasir yang mengandung kadar lempung sekitar 15- 25% dan dalam proses pengecoran pasir ini seringkali langsung digunakan tanpa penambahan lempung lagi. Pasir sintetis adalah pasir murni dengan penambahan lempung menurut kebutuhan. Penambahan tersebut biasanya sekitar 20%. Lempung yang baik, dapat dikenal dari daya serap airnya cukup dengan penambahan

sekitar 8-10%. Sedangkan bentonit sudah cukup baik dengan penambahan 5%. Lempung membutuhkan air untuk mengikat butir pasir. Sehingga kadar air yang dibutuhkan untuk pasir sintetis dengan lempung, dengan sendirinya akan lebih rendah dibanding kadar air yang dibutuhkan untuk pasir alam. Lempung atau tanah liat (clay) adalah kumpulan dari pada mineral tanah liat yang mempauanyai kristal sangat kecil, umumnya

berbentuk pipih (flake). Ukuran dari butir-butir tanah liat adalah sekitar 0,005 mm sampai 0,02 mm. Lempung sebagai komponen kedua dalam pasir cetak harus mempunyai sifat-sifat yang diperlukan yaitu:

a. Menghasilkan daya ikat yang tinggi.

b. Menjadi liat bila basah, sehingga mudah diberi bentuk.

c. Menjadi keras setelah dikeringkan.

Untuk itu, mineral lempung yang umum dipergunakan orang untuk bahan pengikat dalam pasir cetak ialah montmoriollit (bentonit), lempung tahan api (fireclay), halloysit dan illit. Jenis pertamalah yang sering digunakan orang.

Pemeriksaan kadar lempung ini dilakukan dengan menggunakan

rumus dibawah ini.

Berat Awal-Berat Akhir % kadar lempung = ------------------------- x 100 % Berat Awal

Metoda yang digunakan untuk analisa kadar lempung adalah dengan

jalan pencucian, yaitu dengan menggunakan alat Continous Clay

washer tipe PKA seperti yang ditunjukkan pada Gambar berikut ini:

tipe PKA seperti yang ditunjukkan pada Gambar berikut ini: Prosedur pengujian kadar lempung: 1. Timbang pasir

Prosedur pengujian kadar lempung:

1. Timbang pasir kering seberat 50 gram.

2. Masukkan ke dalam beker gelas kapasitas 800 ml.

3. Isi dengan air sebanyak 400 ml.

4. Tambahkan 10 ml dari 5% larutan Natrium pirofosfat

(Na 4 P 2 O 7 .10H 2 O).

5. Didihkan selama 3-5 menit di atas pemanas (hot plate).

6. Dinginkan sampai temperatur kamar.

7. Aduk selama 5 menit.

8. Atur kecepatan air sesuai dengan temperatur air yang

digunakan seperti tertera pada tabel di bawah ini:

Water Temperature ( o C)

Flow (ml/min)

Setting

10

89

51

12

92

53

14

96

56

16

100

60

18

104

64

20

108

68

22

113

72

24

118

76

9. Isi tabung gelas pada Continous Clay Washer dengan air

setengahnya. 10.Tambahkan kristal-kristal Natrium Pirofosfat sebanyak 2 sendok makan. 11.Masukkan pasir ke dalam tabung gelas pada alat. 12.Pasang kembali tutup karet pada tabung. 13.Biarkan terus air mengalir pada tabung dengan kecepatan yang diperlukan, hingga air dalam tabung menjadi betul-betul jernih. 14.Setelah air betul-betul jernih, keluarkan pasir dan ditampung pada beker gelas. 15.Diamkan selama 10 menit. 16.Air didekantasi keluar. 17.Saring pasir melalui kertas saring yang telah diketahui beratnya. 18.Keringkan (pasir + kertas saring), hingga beratnya konstan. 19.Berat akhir pasir (gr) = (berat pasir + berat kertas saring) – (berat kertas saring).

Prosedur pengujian kadar lempung dengan cara lain:

1. Siapkan pasir sisa uji kadar air.

2. Masukkan pasir kedalam gelas kimia yang berisi larutan NaOH 2% lakukan hal ini hingga pasir benar-benar bersih.

3. keringkan pasir hasil pencucian tersebut pada 100-150 o C selama 60 menit.

4. Hitung selisih beratnya, nyatakan kadar lempung dalam persen.

Pengaruh kadar air dan lempung terhadap kekuatan pasir cetak. 1.2 Pemeriksaan Distribusi Ukuran Butir Pasir
Pengaruh kadar air dan lempung terhadap kekuatan pasir cetak. 1.2 Pemeriksaan Distribusi Ukuran Butir Pasir

Pengaruh kadar air dan lempung terhadap kekuatan pasir cetak.

1.2 Pemeriksaan Distribusi Ukuran Butir Pasir

Suatu cara untuk menyatakan ukuran besarnya butir pasir ditunjukkan dengan GFN (Grain Fineness Number) merupakan ukuran kehalusan rata-rata butir pasir. Makin tinggi angkanya, maka pasir semakin halus dan daya salur udaranya (permeabilitas) relatif rendah. Pada umumnya pasir tidak terdiri dari butiran-butiran dengan ukuran sama. Untuk mengetahui distribusi dari butir-butir pasir yang mempunyai besar butir yang berbeda-beda, maka dilakukan analisa

ayak (Sieve analysis).

Distribusi ukuran butir pasir dapat dibagi dalam empat jenis: a. Distribusi ukuran butir sempit ,

Distribusi ukuran butir pasir dapat dibagi dalam empat jenis:

a. Distribusi ukuran butir sempit, artinya susunan ukuran butir hanya terdiri dari kurang lebih dua fraksi saja.

b. Distribusi ukuran butir sangat sempit, 90 persen dari ukuran besar butir terdiri dari satu fraksi.

c. Distribusi ukuran butir lebar, artinya susunan ukuran butir terdiri dari lebih kurang tiga fraksi.

d. Distribusi ukuran butir sangat lebar, susunan ukuran butir terdiri dari lebih dari tiga fraksi.

Distribusi butir sempit akan memberikan permeabilitas yang lebih tinggi, dan sebaliknya. Distribusi ukuran butir berpengaruh juga pada kekuatan cetakan. Distribusi ukuran butir lebar akan memberikan kekuatan pasir cetak yang lebih tinggi.

Prosedur pengujian kehalusan pasir cetak:

1. Siapkan pasir cetak kering yang akan diuji sebanyak 50 gram.

2. Susun ayakan pada mesin pengguncang (ro-tap) secara berurutan.

3. Masukkan kedalam alat ayak.

4. Ayak selama 15 menit, dengan memutar penyetel waktu yang terdapat pada alat.

5. Timbang butir-butir pasir yang tertinggal pada tiap-tiap fraksi.

6. Berat butir-butir pasir yang tertinggal pada tiap-tiap fraksi dikalikan dengan suatu faktor perkalian tertentu, menghasilkan suatu produk.

7. AFS Grain Fineness Number adalah jumlah dari hasil perkalian tersebut (jumlah produk) dibagi dengan jumlah berat butir-butir pasir yang tertinggal pada semua fraksi dari 50 gram pasir uji.

yang tertinggal pada semua fraksi dari 50 gram pasir uji. Alat ayak pasir laboratory sifter type

Alat ayak pasir laboratory sifter type PSA-E.

Nomor kehalusan butir dihitung dengan rumus:

∑ (W n . S n ) GFN = -------------- ∑ (W n )

GFN = Nomor kehalusan butir

W n = Berat pasir didapat dari tiap ayakan (gr)

S n

= Faktor pengali

1.3

Pemeriksaan Daya Salur Udara (Permeabilitas)

Sifat yang sangat mempengaruhi terhadap hasil benda coran

adalah daya salur udara (permeabilitas) dari pasir cetak yang

digunakan sebagai cetakan pasir. Pasir cetak yang telah dipadatkan

harus dapat dilalui oleh gas-gas sewaktu dilakukan penuangan ke

dalam cetakan.

Permeabilitas ini tergantung pada beberapa faktor, diantaranya

adalah ukuran besar butir pasir, bentuk butir pasir, kadar air dan

kadar lempung. Permeabilitas ini dihitung melalui persamaan berikut:

Q . L P = -------------

p .

A . t

P= Permeabilitas

Q= Volume udara yang lewat melalui spesimen

L= Panjang spesimen (5 cm)

A= Luas irisan spesimen (19,625 cm 2 )

P= Tekanan udara (gr/cm 2 )

t= Waktu yang diperlukan untuk melewatkan volume udara Q melalui

spesimen (menit)

Prosedur Pemeriksaan permeabilitas pasir cetak:

1.3.1 Persiapan Pasir

-

Masukkan pasir yang telah ditimbang ke dalam pengaduk

(mixer) yang khusus digunakan untuk pengujian-pengujian.

- Masukkan bahan pengikat sesuai dengan jumlah yang diperlukan.

- Aduk selama 5 menit.

- Keluarkan Pasir dari mixer dan telah siap untuk pembuatan batang percobaan.

dari mixer dan telah siap untuk pembuatan batang percobaan. Alat Pengaduk Pasir laboratory Mixer type PLK.

Alat Pengaduk Pasir laboratory Mixer type PLK.

1.3.2 Pembuatan Batang Percobaan Batang percobaan ini mempunyai garis tengah 50 mm dan tinggi 50 mm. Untuk pembuatannya diperlukan sejumlah pasir yang setelah mendapat pukulan tiga kali pada alat pemadat (sand rammer), harus mencapai tinggi 50 mm dan kemudian ditimbang. Berdasarkan pengalaman maka dapat ditentukan bahwa beratnya terletak antara 145 dan 170 gram. Adapun jumlah berat yang sebenarnya harus ditentukan dengan percobaan. Setelah ditimbang pasir selanjutnya dimasukkan dalam silinder tekan, kemudian ditempatkan pada meja alat pemadat. Pemukul dari alat pemadat beserta stang dan pemberatdinaikkan dengan memutarkan keping eksentris sebelah kiri dan setelah silinder tekan yang telah diisi tadi diletakkan di bawahnya, dengan perlahan-lahan diturunkan kembali. Pemadatan pasir

dikerjakan dengan memutar engkol yang kecil pada sebelah kanan hingga membuat alat pemadat yang lepas dapat memberi pukulan. Pukulan ini dikerjakan hingga tiga kali berturut-turut. Setelah pukulan yang ketiga maka batang percobaan yang telah dipadatkan harus sedemikian panjangnya hingga tanda garis dari batang pemadat terletak di tengah-tengah atau di antara lubang pada standar alat pemadat. Ini menandakan bahwa batang percobaan pasir telah mencapai tinggi 50 mm dengan toleransi 1 mm. Bila hal tersebut tak tercapai, maka percobaan harus diulangi lagi, bila perlu ditambah atau dikurangi dengan beberapa gram. Pada umumnya pemeriksaan pasir dikerjakan hingga tiga kali nerturut-turut untuk kemudian ditentukan hasil rata-ratanya.

nerturut-turut untuk kemudian ditentukan hasil rata-ratanya. Alat pemadat pasir (sand rammer). @@ Teknik Metalurgi –

Alat pemadat pasir (sand rammer).

1.3.3 Pemeriksaan Permeabilitas

- Pemeriksaan daya salur udara dilakukan terhadap batang percobaan yang berbentuk silinder, dengan menggunakan alat

”permeability meter”.

- Putar tutup pada kedudukan ”A” angkat (tarik) pengapung ke atas hingga didapatkan penghisapan sejumlah udara kedalam ruangan. Putar katup pada kedudukan ”E”.

- Batang percobaan setelah ditumbuk tiga kali, ditempatkan pada sumbat karet denagn kedudukan terbalik, yaitu ruang kosong yang lebih besar dari silinder terhadap pentil (orifice), sedemikian hingga sumbat karet dapat tertutup dengan rapat, dalam keadaan demikian katup harus pada kedududkan ”E”.

- Putar katup pada kedududkan ”B”, ini berarti bahwa alat sedang bekerja dan pengukuran dapat dibaca.

- Setelah selesai pembacaan, katup diputar lagi pada kedududkan ”E”, yang berarti alat telah berhenti dan siap untuk digunakan lagi.

berarti alat telah berhenti dan siap untuk digunakan lagi. Permeability meter type PU-E. @@ Teknik Metalurgi

Permeability meter type PU-E.

1.3

Pemeriksaan Kekuatan Tekan Basah

Bila menuang logam ke dalam cetakan terutama cetakan yang besar, tekanan yang ada pertama pada dasar, kemudian pada dinding-dinding samping, bila penuangan telah selesai pada bagian

atas (atap) dari cetakan, lihat Gambar berikut ini.

bagian atas (atap) dari cetakan, lihat Gambar berikut ini. Kekuatan pada suatu cetakan. Kekuatan pasir cetak

Kekuatan pada suatu cetakan.

Kekuatan pasir cetak dipengaruhi juga oleh bentuk butir pasir. Bentuk butir pasir seperti Gambar di bawah ini yang terbagi atas:

butir pasir seperti Gambar di bawah ini yang terbagi atas: Atas kiri: lancip (angular) Atas kanan:

Atas kiri: lancip (angular) Atas kanan: bulat (rounded) Bawah kiri: setengah bulat (sub angular) Bawah kanan: bergumpal (coumpound)

Bentuk pasir menurut AFS.

Bentuk butir yang bulat (rounded) cenderung membentuk kekuatan tekan yang rendah dengan permeabilitas yang tinggi. Sedangkan bentuk yang lain, sebaliknya yaitu akan membentuk kekuatan tekan tinggi dengan permeabilitas rendah. Untuk menghindari perubahan bentuk cetakan, kekuatan cetakan tekan harus mempunyai suatu harga minimum tertentu 700 gr/cm 2 (0,07 MPa). Pengujian kekuatan tekan dilakukan dengan menggunakan alat Universal Strength Machine, yang dapat dilihat pada Gambar berikut ini:

Machine , yang dapat dilihat pada Gambar berikut ini: Universal Strength Machine. Prosedur Pengujian Kekuatan

Universal Strength Machine.

Prosedur Pengujian Kekuatan Tekan:

Batang percobaan berbentuk silinder setelah diperiksa daya salur udara dengan menggunakan suatu batang pendorong dikeluarkan dari tabung pembuat batang percobaan, kemudian ditempatkan antara kedua batang dari alat percobaan tekan hingga rata pada sisi-sisinya. Dengan perlahan-lahan pemutar diputar dan batang percobaan akan tertekan terus hingga retak/pecah. Bersamaan dengan retaknya batang percobaan ini maka jarum manometer akan turun kembali, akan tetapi tegangan tekannya tetap ditunjuk oleh jarum pengikut. Kemampuan manometer tekan rendah (kanan) hanya sampai pada penunjukkan 2000 gr/cm 2 (0,2 Mpa). Pada manometer, angka- angka hasil percobaan dapat dibaca pada skala paling luar, yaitu pada

manometer tekanan rendah dalam gram per cm 2 , dan angka-angka hasil pada skala tersebut masih harus dikalikan dengan 100, sedangkan pada skala manometer tekanan tinggi, angka-angka dinyatakan dalam kg/cm 2 .

tekanan tinggi, angka-angka dinyatakan dalam kg/cm 2 . Kekuatan tekan beberapa jenis pasir cetak pada berbagai

Kekuatan tekan beberapa jenis pasir cetak pada berbagai temperatur.

1.4 Pemeriksaan Kekuatan Geser Basah

Sifat ini sangat penting gunanya untuk mencegah pecahnya pasir pada saat model diangkat dari cetakan, lihat Gambar di bawah

ini.

saat model diangkat dari cetakan, lihat Gambar di bawah ini. Kekuatan geser dan tarik dalam pasir

Kekuatan geser dan tarik dalam pasir cetak.

Seperti ditunjukkan dalam gambar tersebut, pasir cenderung untuk menempel pada bagian sudut-sudutnya. Bila rangka diangkat, kekuatan geser menjadi besar hingga memungkinkan terjadi pecahnya cetakan. kekuatan geser basah yang dianjurkan, minimum 200 gr/cm 2 (0,02 MPa).

Prosedur pengujian kekuatan geser:

Pengujian kekuatan geser dikerjakan sama seperti pada pengujian kekuatan tekan, dengan perbedaan bahwa keping penekan untuk pengujian kekuatan geser ini harus diganti dengan keping yang dapat menggeserkan batang percobaan pada penampang membujur (untuk pengujian kekuatan tekan menggunakan keping dengan permukaan rata, sedang untuk pengujian kekuatan geser menggunakan keping dengan setengah permukaan menonjol). Pada pengujian kekuatan geser sampai dengan 1600 gr/cm 2 (0,16 Mpa). Pembacaan hasil pengujian pada manometer tekanan rendah (kanan), sedang untuk penguijian kekuatan geser di atas 1600 gr/cm 2 pembacaan hasil pengujian pada manometer tekanan tinggi (kiri). Seperti pada pengujian kekuatan tekan, pada pengujian kekuatan geser penunjukkan manometer masih harus dikalikan dengan 100 (manometer tekanan rendah) untuk mendapatkan besarnya tegangan tekan dalam gr/cm 2 . Angka pada skala manometer tekanan tinggi dinyatakan dalam kg/cm 2 . Pembacaan manometer pada skala yang tengah (nomor dua dari luar).

manometer pada skala yang tengah (nomor dua dari luar). Keping untuk pengujian kekuatan tekan. @@ Teknik

Keping untuk pengujian kekuatan tekan.

Keping untuk pengujian kekuatan geser. Kiri: pengukur tekanan tinggi Kanan: pengukur tekanan rendah A: kekuatan

Keping untuk pengujian kekuatan geser.

Keping untuk pengujian kekuatan geser. Kiri: pengukur tekanan tinggi Kanan: pengukur tekanan rendah A: kekuatan tekan

Kiri: pengukur tekanan tinggi Kanan: pengukur tekanan rendah A: kekuatan tekan (kg/cm2) B: kekuatan geser (kg/cm2) C: kekuatan tarik (kg/cm2) D: kekuatan tekan (gr/cm2) pembacaan x100 E: kekuatan geser (gr/cm2) pembacaan x100

Manometer pada Universal Strength Machine.

1.5 Pemeriksaan Kemampuan Mengalir (Flowability)

Flowability adalah sifat yang memungkinkan pasir menutupi seluruh model dengan baik, terutama pada dinding yang vertikal dan pada sudut-sudut, seperti dalam Gambar di bawah ini.

dan pada sudut-sudut, seperti dalam Gambar di bawah ini. Cetakan jelek yang diakibatkan oleh pasir cetak

Cetakan jelek yang diakibatkan oleh pasir cetak dengan flowability rendah.

Flowability sangat banyak dipengaruhi oleh kadar air dalam pasir. Biasanya flowability terletak antara 45-55%.

Prosedur pengujian flowability:

Batang percobaan berbentuk silinder yang memenuhi syarat, artinya setelah mendapat pukulan tiga kali berturut-turut pada sand rammer, tinggi batang percobaan tersebut 50 mm (tanda garis dari batang pemadat terletak di antara lubang pada standar alat pemadat), ditimbang untuk mengetahui beratnya. Timbang pasir (yang belum dipadatkan) seberat batang percobaan tersebut, masukkan kedalam alat penguji flowability, kemudian ditempatkan pada meja alat pemadat. Lakukan pemadatan/pukulan tiga kali berturut-turut seperti pada pembuatan batang percobaan berbentuk silinder. Setelah pukulan yang ketiga, baca penunjukkan pada skala tangkai rammer, dan padukan Diagram Flowability, seperti pada Gambar berikut ini:

padukan Diagram Flowability , seperti pada Gambar berikut ini: Diagram flowability. @@ Teknik Metalurgi – UNJANI

Diagram flowability.

Alat bantu sand rammer untuk pengujian flowability. 1.6 Pemeriksaan Kekerasan Cetakan Suatu sifat yang penting

Alat bantu sand rammer untuk pengujian flowability.

1.6 Pemeriksaan Kekerasan Cetakan

Suatu sifat yang penting mendekati tegangan tekan dan geser adalah kekerasan cetakan. Penentuan kekerasan ini memberikan gambaran mengenai pemadatan pada permukaan dari beberapa tempat cetakan. Terutama pada pembuatan cetakan dengan tangan, maka penentuan kekerasan akan menunjukkan tempat dimana perlu diadakan pemedatan tambahan. Pada mesin cetak getaran, penentuan kekerasan akan dapat menunjukkan apakah jumlah pukulan dari meja sudah cukup atau belum. Pengujian kekerasan cetakan basah dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut Green Hardness tester.

Prosedur pengujian kekerasan:

Sebelum alat digunakan, pen pengunci ditekan kekiri sehingga jarum penunjuk dengan bebas dapat digerak-gerakkan. Pengujian dilakukan dengan menekan bola logam yang terdapat pada bagian bawah alat pada permukaan cetakan, jarum akan bergerak sesuai dengan arah perputaran jarum jam, sampai berhenti. Bila jarum sudah berhenti pen pengunci di tekan kekanan hingga apabila alat diangkat dari permukaan cetakan, jarum akan tetap pada penunjukkan. Kemudian dilakukan pembacaan. Angka yang ditunjuk oleh jarum tersebut adalah kekerasan cetakan yang diperiksa.

Untuk pemeriksaan kekerasan permukaan cetakan di laboratorium dengan membuat cetakan dari kayu yang berukuran panjang 13 cm, lebar 13 cm dan tinggi 5 cm, seperti ditunjukkan pada Gambar berikut ini:

tinggi 5 cm, seperti ditunjukkan pada Gambar berikut ini: Cetakan kayu untuk memeriksa kekerasan permukaan cetakan.

Cetakan kayu untuk memeriksa kekerasan permukaan cetakan.

Cetakan kayu untuk memeriksa kekerasan permukaan cetakan. Green hardness tester. 1.7 Pemeriksaan Titik Sinter Titik

Green hardness tester.

1.7 Pemeriksaan Titik Sinter

Titik sinter dari pasir cetak adalah sifat yang sangat penting untuk menentukan apakah suatu jenis pasir dapat dipergunakan sebagai cetakan pasir. Bila logam mengisi rongga cetakan, maka logam cair akan menyentuh pasir dan memanaskannya. Pasir cetak ini tidak boleh meleleh atau menjadi lemah di bawah pengaruh panas itu, sebab kualitas permukaan benda cor akan sangat kasar. Makin besar ukuran butir-butir pasir, makin kurang mudah terpengaruh terhadap

pelelehan. Oleh karena itu jelas bahwa makin tinggi temperatur penuangan, butir-butir pasir harus berukuran lebih besar. Pasir murni pada umumnya mempunyai titik leleh kurang lebih 1705 o C, sedangkan pasir alam mempunyai titik leleh antara 1327- 1370 o C.

pasir alam mempunyai titik leleh antara 1327- 1370 o C. Pemuaian panas beberapa jenis pasir. @@

Pemuaian panas beberapa jenis pasir.

MODUL 2 PEMBUATAN POLA DAN CETAKAN

Pengecoran adalah proses penuangan logam cair ke dalam cetakan yang memiliki rongga sesuai dengan bentuk yang direncanakan, kemudian dibiarkan mendingin dan membeku didalam cetakan sehingga dihasilkan suatu produk coran. Dalam proses ini, beberapa hal yang harus dilakukan untuk membuat produk coran

adalah pencairan logam, pembuatan cetakan dan inti, penuangan logam cair, pembongkaran, pembersihan coran dan pengerjaan akhir. Pemilihan cetakan pasir yang akan digunakan pada proses pengecoran logam dipengaruhi oleh beberapa faktor teknis dan pertimbangan ekonomisnya. Ada beberapa jenis cetakan pasir yang biasa dipergunakan, yaitu antara lain:

a. Cetakan pasir basah

b. Cetakan pasir kering

c. Cetakan pasir CO2 proses

d. Cetakan pasir kulit

e. Cetakan pasir yang mengeras sendiri lainnya

Proses pengecoran dengan cetakan pasir dilakukan dengan menggunakan gaya gravitasi secara natural agar logam cair dapat mengisi rongga cetakan dengan baik, oleh karena itu desain sistim saluran (gating system) akan sangat menentukan kualitas produk cor. Setiap tahapan yang dilakukan harus menyesuaikan dengan diagram alir proses pengecoran yang merupakan urutan dari tahapan proses pengecoran untuk menghasilkan produk cor yang baik dengan produktivitas yang tinggi. Berikut ini adalah contoh diagram alir proses pengecoran cetakan pasir yang sering dilakukan di industri pengecoran pada umumnya.

Diagram alir proses pengecoran dengan cetakan pasir. 2.1 Pola Pola atau pattern adalah suatu model

Diagram alir proses pengecoran dengan cetakan pasir.

2.1 Pola Pola atau pattern adalah suatu model yang memiliki ukuran dan bentuk yang sama dengan bentuk produknya kecuali pada bidang- bidang tertentu yang disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti bidang pisah (parting line), bentuk rongga (cavity), dan proses pemesinannya. yang menyebabkan kesulitan untuk dibentuk langsung pada pola. Faktor-faktor tersebut selanjutnya akan diantisipasi dengan perhitungan penyusutan logam dan toleransi pemesinannya. Untuk itu ada beberapa faktor diatas yang harus diperhatikan pada saat perencanaan pola yaitu.

2.2.1 Bidang pisah (Parting line) Fungsi dari bidang pisah ini adalah memisahkan atau membuat partisi dari bagian pola bagian atas (cope) dan dengan pola bagian

bawah (drag). Untuk itu bagian pola atas dan bawah harus memiliki acuan agar tidak mengalami kesalahan dimensi.

2.2.2 Penyusutan Pola

Pada setiap pola yang akan harus diketahui dahulu material apa yang akan digunakan untuk pembuatan produk. Ukuran pola harus ditambahkan dengan ukuran penyusutannya, setiap logam memiliki nilai penyusutan berbeda, antara lain besi cor memiliki nilai penyusutan (shringkage) sebesar 1%, aluminium 1.5 % dan baja 2%.

2.2.3 Kemiringan Pola

Setiap pola yang akan dibuat harus memiliki kemiringan tertentu yaitu dengan tujuan agar pada waktu pencabutan model dari cetakannya, pola tersebut tidak mengalami kerusakan dan memudahkan pada saat proses pencabutan pola dari cetakannya. Kemiringan setiap pola tergantung pada tinggi rendahnya ukuran pola tersebut jika ukuran dari suatu pola tinggi maka

kemiringannya kecil, sedangkan jika ukuran dari suatu pola rendah maka kemiringannya besar. Pada aplikasinya dilapangan ternyata kemiringan yang dibuat tersebut adalah ±1 o dan juga dipengaruhi oleh faktor kesulitan suatu dari pola.

2.2.4 Bahan dan Jenis Pola Bahan-bahan yang dipakai untuk pola yaitu kayu, resin, atau

logam. Dalam proses pengecoran tertentu atau khusus digunakan pola plaster atau lilin. A. Pola Kayu Kelebihan bahan pola dari kayu yaitu:

Digunakan untuk pola yang bentuk dan ukurannya rumit.

Mudah didapat.

Mudah dikerjakan (proses pengerjaannya mudah)

Harganya murah.

Kekurangan bahan pola dari kayu yaitu:

Tidak bisa mengerjakan produksi massal.

Sering terjadi penyusutan.

B. Pola Logam

Kelebihan bahan pola dari logam yaitu:

Bisa digunakan untuk produksi massal

Mudah didapat.

Kekurangan dari bahan pola logam yaitu:

Tingkat kesulitan perjakan

Tidak bisa mengerjakan pola yang rumit bentuk maupun ukurannya.

C. Resin sintetis

Kelebihan bahan pola dari resin sintetis yaitu:

Dapat digunakan untuk bentuk dan ukuran yang rumit

Biasanya untuk produksi massal Kekurangan bahan pola dari resin sintetis yaitu:

Harganya relatif mahal dan sulit didapat

2.2.5 Peralatan Pembuatan Pola Proses manufaktur pola kayu memerlukan alat-alat kerja kayu (carpenter) yang cukup modern, seperti gergaji mesin, alat penghalus permukaan, bor kayu, dan alat-alat pahat. Proses pembuatanya sendiri cukup rumit karena alat ukur yang digunakan memiliki panjang yang berbeda dengan ukuran normal akibat adanya nilai penyusutan logam, untuk itu sangat diprlukan ketelitian pada saat pembuatanya. Pola yang terbuat dari logam diproses dengan menggunakan mesin-mesin yang cukup canggih seperti dengan menggunakan mesin

CNC

Wire cut, dan mesin

konvensional seperti bangku bubut, freis, bor, dan gerinda.

Tujuan utama pembuatan cetakan pasir dengan bantuan pola, adalah sebagai berikut:

(computerize

numerical

control),

Untuk mendapatkan produk coran dengan kualitas geometri yang baik, seperti bentuk, dimensi dan posisi.

Mempertinggi efisiensi dan produktivitas proses pengecoran massal. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam perancangan pola adalah sebagai berikut:

 

Menetapkan parting line sebagai pemisah antara cope dan drag.

Menentukan tambahan dimensi akibat penyusutan logam dan akibat goyangan pada saat pola dilepas dari rongga cetakan.

Menentukan kemiringan pola agar mudah dilepaskan dari rongga cetak.

Menentukan tambahan dimensi untuk kompensasi dari adanya proses pemesinan.

2.3

Sistim Saluran

Saluran tuang dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu bagian untuk mengalirnya logam cair mengisi rongga cetakan. Bagian-bagiannya meliputi cawan tuang (pouring basin), saluran turun (sprue), saluran pengalir (runner), dan saluran masuk (ingate).

Sistem saluran yang ideal harus memenuhi kriteria seperti; mengurangi cacat, menghindari penyusutan dan dapat mengurangi biaya produksi, berikut adalah uraian dari karakteristik sistim saluran yaitu:

a. Dapat mengurangi terjadinya turbulensi aliran logam cair kedalam rongga cetakan. Turbulensi akan menyebabkan terjebaknya gas- gas/udara atau kotoran (slag) didalam logam cair yang dapat menghasilkan cacat coran.

b. Mengurangi masuknya gas-gas kedalam logam cair.

c. Mengurangi kecepatan logam cair yang mengalir kedalam cetakan, sehingga tidak terjadi erosi pada cetakan.

d. Mempercepat pengisian logam cair kedalam rongga cetak untuk menghindari pembekuan dini.

e. Mengakomodir pembekuan terarah (directional solidification) pada produk coran. f. Gradien temperatur yang terjadi saat masuknya logam cair kedalam cetakan harus sama baiknya dengan gradien temperatur pada permukaan cetakan sehingga pembekuan dapat diarahkan menuju riser.

temperatur pada permukaan cetakan sehingga pembekuan dapat diarahkan menuju riser . @@ Teknik Metalurgi – UNJANI
temperatur pada permukaan cetakan sehingga pembekuan dapat diarahkan menuju riser . @@ Teknik Metalurgi – UNJANI
temperatur pada permukaan cetakan sehingga pembekuan dapat diarahkan menuju riser . @@ Teknik Metalurgi – UNJANI

Berikut ini ditunjukkan jenis-jenis dari sistim saluran:

Berikut ini ditunjukkan jenis-jenis dari sistim saluran: Sistim saluran terdiri atas:  Saluran masuk (gate) .

Sistim saluran terdiri atas:

Saluran masuk (gate).

Saluran pengalir (runner).

Saluran turun (sprue).

Penentuan coran dalam sistem saluran:

Tempatkan dimensi coran yang besar pada bagian bawah.

Minimalkan tinggi dari coran.

Tempatkan daerah terbuka dibagian bawah.

Tempatkan coran sedemikian rupa hingga riser berada pada tempat tertinggi dari coran untuk bagian yang besar. Jika akan dibuat terpisah (cope and drag):

Umumnya runner, gate dan sprue ditempatkan pada drag.

Tempatkan bidang pisah (parting plane) relatif serendah

mungkin terhadap coran.

Tempatkan bidang pisah pada bagian dimana coran mempunyai

luas permukaan terbesar.

2.3.1 Sprue

Sprue atau saluran tuang adalah suatu saluran vertikal tempat penuangan atau pouring logam cair yang berada pada daerah diatas parting line yang akan meneruskan logam cair kedalam gate, riser dan produk cor. Secara umum bentuk saluran masuk ada beberapa tipe diantaranya adalah sprue seperti terompet dan pouring basin (bush) yang berbentuk seperti kotak makanan.

pouring basin (bush) yang berbentuk seperti kotak makanan. Saluran masuk logam cair sprue dan basin. Posisi

Saluran masuk logam cair sprue dan basin.

Posisi dan tinggi sprue sangat menentukan kecepatan alir dari logam cair yang akan mengisi rongga cetakan. Oleh karena itu untuk perhitungan tinggi sprue efektif (ESH, effective sprue height) kita dapat menghitungnya dengan persamaan.

ESH

H

P

2

2 C

H

=

Tinggi sprue. (Cm)

C

=

Tinggi coran. (Cm)

P

=

Tinggi coran dari cope hingga bagian teratasnya. (Cm)

coran. (Cm) P = Tinggi coran dari cope hingga bagian teratasnya. (Cm) @@ Teknik Metalurgi –

Disain sprue/downsprue merupakan bagian yang penting saat logam cair dituangkan. Disain sprue harus menghindarkan terjadinya turbulensi logam cair. Aliran logam yang turbulen akan menyebabkan meningkatkan daerah yang terkena udara sehingga sehingga oksidasi mudah terjadi. Oksida yang terbentuk akan naik ke permukaan logam cair sehingga menyebabkan coran menjadi kasar permukaannya atau oksida akan terjebak didalam coran dan menyebabkan cacat.

Ukuran sprue harus dapat membatasi laju aliran logam cair (jika sprue besar, laju aliran akan tinggi akibatnya terbentuk dross, dengan blind-ends pada runner akan menjebak dross yang tidak diinginkan.)

Ukuran sprue yang dibuat menjadikan laju aliran tetap.

Bentuk sprue persegi panjang lebih baik dibandingkan dengan bentuk bulat untuk luas permukaan yang sama (menghindarkan kecenderungan aliran berputar (vortex formation)). Umumnya bentuk sprue mengecil kebawah dengan kemiringan 2-7 o .

formation) ). Umumnya bentuk sprue mengecil kebawah dengan kemiringan 2-7 o . @@ Teknik Metalurgi –

Contoh-contoh sprue:

Contoh-contoh sprue : • Ukuran standar sprue menurut Swift, Jackson dan Eastwood 0,5÷1,5 in 2 (1,27÷3,81

Ukuran standar sprue menurut Swift, Jackson dan Eastwood 0,5÷1,5 in 2 (1,27÷3,81 cm 2 ) untuk bentuk persegi panjang ataupun bulat. Sprue bulat dengan ketinggian yang rendah tidak akan menyebabkan vortex problem, mudah dibuat dan ekonomis untuk bentuk coran kecil .

Ketinggian sprue ditentukan oleh tinggi coran dan riser.

Sprue ditempatkan sejauh mungkin dari saluran masuk

(ingates).

Sprue ditempatkan dibagian tengah pengalir (runner).

Ukuran sprue 1,27x0,48 cm untuk coran kecil dan 2,54x16 cm untuk coran tipis yang besar.

Sprue dibuat bentuk meruncing (tapered).

Metoda lain untuk membersihkan logam cair sebelum memasuki gate dan runner, adalah dengan menggunakan secondary sprue:

Pertimbangan untuk menentukan lokasi sprue , yaitu:  Kemudahan untuk proses pouring .  Distribusi

Pertimbangan untuk menentukan lokasi sprue, yaitu:

Kemudahan untuk proses pouring.

Distribusi logam cair dapat merata kedalam cetakan.

Panjang runner dari sprue.

merata kedalam cetakan.  Panjang runner dari sprue . 2.3.2 Runners • Menggunakan standar dan ukuran

2.3.2 Runners

cetakan.  Panjang runner dari sprue . 2.3.2 Runners • Menggunakan standar dan ukuran yang umum

Menggunakan standar dan ukuran yang umum dipakai.

Bentuk persegi panjang, baik digunakan untuk cetakan pasir.

Membuat perpanjangan runner (blind-ends) untuk menjebak dross yang terbentuk.

• Membuat perpanjangan runner (blind-ends) untuk menjebak dross yang terbentuk. @@ Teknik Metalurgi – UNJANI 37

Ukuran

luas

sprue/choke.

runner

3

kali

luas

ujung

keluar

sprue/down

Ukuran runner biasanya dibuat berdasarkan perbandingan sprue

: runner : gate. (misalnya, 1:3:2), contoh kasus:

sprue : runner : gate . (misalnya, 1:3:2), contoh kasus: Choked runner: Total area of gate:

Choked runner:

Total area of gate:

W (Width) = (3 ~ 4) T (Thickness) l (length) = 1.5 T or 37 ~ 50 mm A = (Sectional area of choked runner) X 2 t = Thickness of gate w = Width of gate = (4 ~ 6) t

Perangkap dross/pengotor pada runner:

gate = (4 ~ 6) t Perangkap dross /pengotor pada runner : 2.3.3 Gate Adalah saluran

2.3.3 Gate Adalah saluran yang mendistribusikan langsung logam cair kedalam rongga produk cor. Ingate harus mudah dipotong untuk proses pelepasan produk

cor dari bagian sistem salurannya biasa disebut fettling, oleh karena itu dalam

pembuatan ingate kita harus memperhatikan ukuran coran, ketebalanya, kondisi

cetakan dan ukuran dan bentuk ingatenya itu sendiri.

kondisi cetakan dan ukuran dan bentuk ingatenya itu sendiri. Contoh bentuk geometri desain ingate. Keterangan: a.

Contoh bentuk geometri desain ingate.

Keterangan:

a. circular / lingkaran

e. tipe-U

b. hexagonal

f. persegi

c. segitiga

g. tipe-W

d. semi-circular

Pertimbangan-pertimbangan dalam perencanaan gate:

Gate dipasang pada bagian yang tebal.

Gunakan ukuran standar dan bentuk yang umum digunakan

(biasanya berbentuk persegi panjang).

Tempatkan gate dengan meminimalkan terjadinya pengadukan

atau erosi pada pasir cetak oleh aliran logam cair.

Tidak menempatkan gate pada posisi perangkap dross.

Jarak yang pendek antara gate dan coran.

Jumlah gate yang banyak, diperbolehkan untuk temperatur

pouring yang rendah.

A. Hubungan antara gate dan runner:

untuk temperatur pouring yang rendah. A. Hubungan antara gate dan runner : @@ Teknik Metalurgi –

Untuk menghasilkan aliran logam cair agar seragam memasuki semua gate, maka:

1. Momentum harus diturunkan secara bertahap dengan penurunan dimensi

runner.

2. Tekanan harus ditingkatkan secara bertahap dengan meningkatkan gesekan melawan aliran didalam gate.

dengan meningkatkan gesekan melawan aliran didalam gate . B. Hubungan proporsi luas penampang sprue , runner

B. Hubungan proporsi luas penampang sprue, runner dan gate terhadap distribusi aliran cair logam adalah sebagai berikut:

1. Ketika total luas penampang dari gate lebih kecil dari runner, logam cair akan mengsi runner dengan cepat dan memiliki kecenderungan untuk mengalir ke dalam cetakan melewati setiap gate.

2. Ketika luas penampang total dari gate lebih besar dari runner, logam cair akan sulit memasuki sprue dan runner, dan ini juga tidak mudah untuk memindahkan pengotor didalam sprue dan runner. Aliran dari logam cair yang melewati gate menjadi tidak seragam.

3. Untuk kasus bottom gate, walaupun luas total penampang gate lebih besar daripada runner, aliran menjadi relatif cepat dan seragam akibat tekanan sebagai gesekan melawan aliran.

4. Didalam kasus top gate, ketika total luas penampang gate lebih besar daripada runner, aliran melalui gate menjadi tidak seragam.

D. Penentuan Lokasi Gate , prinsipnya gate harus ditempatkan pada bagian yang tebal, sehingga cairan

D. Penentuan Lokasi Gate, prinsipnya gate harus ditempatkan pada bagian yang tebal, sehingga cairan logam dapat langsung masuk kedalam cetakan dengan cepat tanpa tahanan, dan proses finishing menjadi lebih mudah.

cetakan dengan cepat tanpa tahanan, dan proses finishing menjadi lebih mudah. @@ Teknik Metalurgi – UNJANI

E. Posisi

gate

pada

runner,

sebaiknya

mempertimbangkan

hal-hal

sebagai berikut:

a. Meletakkan gate pada lokasi yang jauh dari sprue dan runner

extension.

b. Meletakkan gate pada arah yang berlawanan dengan aliran logam cair.

c. Ketika gate dipasang pada arah yang sama dengan aliran logam, maka akan memudahkan kotoran ikut masuk.

aliran logam, maka akan memudahkan kotoran ikut masuk. F. Ruang antara gate , runner dan cetakan

F. Ruang antara gate, runner dan cetakan yang sempit menyebabkan cetakan mudah rusak dan ikut mengalir dengan logam cair. Tetapi bila ruang terlalu besar, gate menjadi lebih panjang, akibatnya porositas mudah terjadi pada gate.

panjang, akibatnya porositas mudah terjadi pada gate . G. Ketinggian gate dan runner, yang penting runner

G. Ketinggian gate dan runner, yang penting runner harus mendistribusikan logam cair kebagian cetakan, dan pada saat yang sama, dapat memindahkan pengotor di dalam logam cair. Jadi ketinggian runner harus lebih tinggi dari gate. Untuk memberi tekanan logam cair pada gate, umumnya ketinggian runner 4 kali lebih tinggi dari gate. Tetapi untuk segi ekonomis, tinggi runner biasanya 2 kali tinggi gate.

2.4 Gating Ratio Didefinisikan sebagai perbandingan antara luas penampang melintang sprue : total luas penampang

2.4 Gating Ratio

Didefinisikan sebagai perbandingan antara luas penampang melintang

sprue : total luas penampang runner : total luas penampang gate. Umumnya untuk besi cor dan baja, rasio ini menurun, menurut banyak peneliti, gating ratio yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:

Quick pouring

= 1

: 2 : 4

Ordinary pouring

= 1 :0,9 : 0,8

Slow pouring

= 1 : 0,7 : 0,5

Perbedaan rasio untuk top gating dan bottom gating yaitu:

 Top gating = 1 :0,9 : 0,8  Bottom gating = 1 :1,1 :
Top gating
= 1 :0,9 : 0,8
Bottom gating
= 1 :1,1 : 1,2
2.5
Saluran Penambah (Riser)

Riser didisain dekat ke bagian yang tebal dan berfungsi sebagai

umpan logam cair selama pembekuan. Riser mempunyai ukuran dan

konstruksi agar dapat membeku paling akhir. Pertimbangan terhadap

Riser adalah sebagai berikut:

Tempatkan riser dekat bagian yang tebal.

Penggunaan side riser umumnya ditempatkan diatas ingate,

digunakan untuk coran dengan dinding tipis.

Riser diukur berdasarkan volume logam cair.

Riser dibuat cukup besar agar dapat mengisi bagian yang menyusut dan terakhir membeku.

Riser mempunyai perbandingan yang besar antara volume:luas dari corannya sendiri sehingga coran akan membeku terlebih dahulu dibandingkan riser.

coran akan membeku terlebih dahulu dibandingkan riser . Ketinggian riser tergantung dari jenis riser yang

Ketinggian riser tergantung dari jenis riser yang digunakan.

Untuk top riser Side riser

= 1,5 kali diameter riser = 0,75 – 2 kali diameter riser

Hubungan antara diameter dan tinggi riser :

Untuk memudahkan pembuangan riser , biasanya dibuat riser neck . Riser akan efektif jika riser

Untuk memudahkan pembuangan riser, biasanya dibuat riser neck. Riser akan efektif jika riser neck dibuat lebih pendek.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI 46
@@ Teknik Metalurgi – UNJANI 46
Sebagai contoh perhitungan gating system , diberikan pada tabel excel dibawah ini: Perancangan dimensi sistim

Sebagai contoh perhitungan gating system, diberikan pada tabel excel dibawah ini:

gating system , diberikan pada tabel excel dibawah ini: Perancangan dimensi sistim saluran produk gear diatas

Perancangan dimensi sistim saluran produk gear diatas dimulai

berdasarkan contoh perhitungan sebagai berikut:

No

 

NOTASI & RUMUS

INPUT

OUTPUT

 

1

Casting product weight, Wo (Kg)

100

 

2

Density, ρ (Kg/cm^3)

 

0,0078

 

3

Yield ratio, y (%)=(Wo/W)x100

63,418

 

4

Pouring weight, W (Kg)=Wox100/y

 

157,68

5

Pouring time, tp (sec)=CW=0.8W

 

10,05

Konstanta, C=0,5-0,8 (quick & medium pouring)

 
 

C=2 (slow pouring)

     

6

Pouring Volume, Qp (cm^3)=W/r

 

20138,21

7

Flowing volume, qi (cm^3/sec)=(Qp/tp) / n

 

2004,65

8

Sprue height, Ht (cm)

 

40

 

9

Casting height, c (cm)

 

7

 

10

Parting Line height, p (cm)

 

3,5

11

Effective pouring height, He (cm):

   

A. He=Ht-(P^2/2c), produk terbagi 2 oleh part line

39,13

B. He=Ht, produk semuanya dibawah part line

40,00

C. He=Ht-P/2, produk semuanya diatas part line

38,25

12

Jenis Gating Sistim: (A : B : C)

A

 

13

Velocity at gate, Vg (cm/sec)=Z2g He

 

98,08

Z=Flow coeffisient=0,35-0,8

 

g=Konstanta gravitasi=9,8 m/sec^2

14

Total area of gate section, Sg (cm^2)=W/(r.tp.Vg)

 

20,44

15

Number of gate, n

 

1

 

16

Area of gate section, Ag (cm2)=Sg/n

 

20,44

17

Gatting ratio:

 

Sprue

Runner

Gate

A.

1

:

2 :

4

= quick (cepat)

5,11

10,22

20,44

B. 1:0,9:0,8 = ordinary (sedang)

25,55

22,99

20,44

C. 1:0,7:0,5 = slow (lambat)

40,88

28,62

20,44

D. Lainnya=

1 : 1,2 : 1,2

17,03

20,44

20,44

18

Jenis Gating Ratio: (A : B : C : D)

C

   

19

Area of sprue section, As (cm^2) - diameter bawah:

7,22

   
 

diameter atas:

11,408

tinggi:

40,00

   
 

Area of runner section, Ar (cm^2)

 

4,95

 

20

lebar atas:

 

lebar bawah:

   

5,75

 

tinggi:

   

5,35

 

panjang:

   

33,96

 

Jarak ke Ingate pertama:

 

16,98

 

21

Area of gate section, Ag (cm2)

lebar atas:

   

14,88

 

Lebar bawah:

   

15,68

tinggi:

   

1,34

   

panjang:

   

10,22

22

Velocity at spue, Vs (cm/sec)=qi/As

49,04

   

23

Velocity at runner, Vr (cm/sec)=qi/Ar

 

70,06

 

24

Velocity at gate, Vg (cm/sec)=qi/Ag

   

98,08

25

Reynold number, Re = (10^5 . Wp) / (tp . 10 P)

Sprue

Runner

Gate

P=perimeter (cm)

 

6927,21

7620,67

4838,30

Re<2300

 

: aliran laminary

     
 

Semi

Semi

Semi

2300<Re<13800

: aliran non turbulent

Turbulen

Turbulen

Turbulen

Re>13800

 

: aliran turbulent

     
2.6 Cetakan dan Inti Cetakan dan Inti pada pengecoran logam merupakan salah satu komponen penting
2.6 Cetakan dan Inti Cetakan dan Inti pada pengecoran logam merupakan salah satu komponen penting

2.6 Cetakan dan Inti

Cetakan dan Inti pada pengecoran logam merupakan salah satu komponen penting untuk menghasilkan suatu produk logam melalui proses pengecoran. Cetakan adalah suatu alat pada proses pengecoran yang terbuat dari suatu material tahan temperatur tinggi (refractory) dan memiliki suatu rongga dengan bentuk geometri tertentu untuk di cor dan menghasilkan suatu produk cor yang sesuai dengan bentuk geometri rogga tersebut.

Pada dasarnya suatu cetakan dapat menggunakan berbagai macam bahan yang memiliki kemampuan untuk menampung cairan logam yang panas dengan tidak mengalami suatu perubahan fisik dan kimia hingga dapat mempengaruhi hasil pengecoran logam tersebut. Material yang saat ini masih banyak digunakan untuk cetakan pengecoran logam antara lain logam dan pasir. Pasir hingga saat ini masih mendominasi sebagai material cetakan karena pasir memiliki beberapa keuntungan antara lain mudah di dapat dan cukup murah. Inti adalah suatu model skala penuh untuk membentuk permukan bagian dalam dari suatu produk cor yang tidak mampu dibentuk oleh rongga dari cetakan. Suatu inti dalam pengecoran logam sangat diperlukan karena dengan inti suatu proses pengecoran dapat lebih efektif, inti dapat meningkatkan yield ratio dari suatu proses pengecoran dan dapat mempermudah proses lanjut dari suatu produk pengecoran. Untuk membuat suatu cetakan pasir maka akan dibutuhkan bahan lain yang akan di mixing dengan pasir agar sifat-sifat yang diinginkan seperti mampu bentuk, mampu tekan, mampu retak, refractoriness, permeabilitas dan sifat yang diinginkan lainnya dapat dicapai. Beberapa bahan lain yang ditambahkan kedalam pasir cetak antara lain:

A. Bentonit, adalah suatu bahan pengikat atau binder yang dicampurkan kedalam pasir cetak dengan tujuan meningkatkan mampu bentuk dari pasir cetak. B. Coal dust, adalah suatu bahan tambahan pada pasir cetak yang bertujuan agar pasir lebih terbuka ketika logam cair dituangkan hingga permeabilitas pasir tetap baik dan juga berfungsi untuk membentuk film gas CO 2 agar antara pasir dan logam cair terpisah dan melindungi butir pasir supaya tidak terjadi overheat dan fusi terhadap permukaan logam. C. Air dan Gula tetes, adalah bahan tambahan untuk membantu meningkatkan mampu tekan dan kekuatan dari pasir cetak.

D. Bahan tambahan lain untuk pasir cetak seperti: Dextrine, diethyl glicol, soda ash, tepung maizena, tepung tapioka dan bahan tambahan lainya.

Bahan tambahan yang ditambahkan tersebut akan di-mixing di dalam mixer pasir selama beberapa menit agar seluruh campurannya merata dan siap untuk di bentuk cetakan. Komposisi campuran pasir cetak akan berbeda tergantung dari logam yang akan dicor dan posisi pasir dalam cetakan yaitu pasir muka dan pasir pengisi. Beberapa bahan tambahan juga berfungsi untuk preparasi pasir cetak setelah digunakan berulang-ulang, preparasi yang dilakukan antara lain sand

tempering dan sand condition. Komposisi untuk pembuatan cetakan pasir.

No.

Komposisi pasir muka

Jumlah (%)

1.

Pasir Baru

20

2.

Pasir Bekas

80

3.

Bentonit

2

4.

Coaldust/Karbon

0,1

5.

Gula Tetes

0,2

6.

Air

1,2

7.

Waktu Mixing

15-25 Menit

No.

Komposisi pasir isi

Jumlah

1.

Pasir Bekas

100

2.

Bentonit

1

3.

Air

1,2

4.

Waktu Mixing

10-15 Menit

Komposisi lain dari cetakan green sand atau cetakan pasir basah yang terdiri atas:

Campuran pasir silika (air: 3-4% dan pasir bekas: balance)

Bentonit (8-10%)

Air (3-4%)

Gula tetes (0,5-1%)

Jika ada penggunaan inti, maka dapat dibuat dengan cara CO 2 -Proses dengan komposisi bahan cetakan yang dipakai adalah sebagai berikut:

Pasir silika (pasir baru: balance)

Air Kaca (Water Glass) (4-6%)

Gula tetes (1/2-1%)

Komposisi pasir untuk inti dapat menggunakan pasir cetak furan yaitu:

Pasir silika baru 4-11%

Pasir silica bekas 89-96%

Binder 1-1,5% dari total pasir

Catalist 30-50% dari binder

Bahan-bahan tersebut masuk mesin continuos mixer furan dimana

binder (furfuryl alcohol) sebagai pengikat dan catalyst (Sulfuric Acid,

H 2 SO 4 ) sebagai pengeras. Setelah tercampur maka pasir dikeluarkan dari mesin.

2.7 Prosedur Percobaan:

1.

Rencanakan pola yang akan dipergunakan.

2.

Pembuatan pola.

3.

Rencanakan sistim saluran yang akan dibuat.

4.

Persiapkan bahan atau peralatan bantu.

5.

Pembuatan Cetakan Pasir.

5.1

Memadatkan pasir

Pasir cetak yang kekerasannya didapatkan dari pemadatan adalah pasir cetak dengan pengikat lempung (bentonit). Proses pemadatan akan mengurangi volume pasir sebesar 20-30% dari sebelum dipadatkan, maka rongga antara butiran pasir akan hilang, dan butiran pasir akan terikat satu sama lain dengan baik. Pemadatan dengan alat pemadat haruslah rata dan menyeluruh, selain itu pertimbangan lainnya adalah:

Pasir cetak harus mampu menahan tekanan pengecoran, dan ukurannya tidak boleh berubah.

 Pasir cetak harus tetap dapat dilewati udara hingga gas-gas dapat lebih mudah keluar. Penusukan

Pasir cetak harus tetap dapat dilewati udara hingga gas-gas dapat lebih mudah keluar. Penusukan lubang gas dapat dilakukan sebagai lubang tambahan (ventilasi).

Untuk dapat mencapai kepadatan yang baik alat-alat tangan yang dipergunakan adalah:

- Penumbuk runcing. Memiliki permukaan tumbuk yang runcing untuk menghasilkan tumbukan yang keras. Disamping itu dapat pula digunakan untuk menumbuk pasir cetak pada daerah sudut dan celah.

untuk menumbuk pasir cetak pada daerah sudut dan celah. - Penumbuk datar Memiliki permukaan tumbuk yang
untuk menumbuk pasir cetak pada daerah sudut dan celah. - Penumbuk datar Memiliki permukaan tumbuk yang

- Penumbuk datar Memiliki permukaan tumbuk yang lebar. Kekuatan tumbuk lebih kecil dan digunakan untuk penumbukkan akhir hingga hasil tumbukkan rata.

untuk penumbukkan akhir hingga hasil tumbukkan rata. - Penumbuk bertekanan udara. Digunakan untuk mengerjakan

- Penumbuk bertekanan udara. Digunakan untuk mengerjakan benda besar.

5.2 Pemolesan Pasir Cetak Pemolesan sebagai salah satu teknik pembuatan cetakan, hanya dilakukan pada pengerjaan cetakan dengan pasir berpengikat lempung (bentonit). Pemolesan dilakukan pada pasir disekeliling pola, dimana pasir ditekan sekitar 1 mm kedalam. Dengan demikian pola dapat dikeluarkan tanpa merusak tepi-tepi cetakan.

pola dapat dikeluarkan tanpa merusak tepi-tepi cetakan. Proses pemolesan ini juga dapat memperbaiki tepi-tepi yang

Proses pemolesan ini juga dapat memperbaiki tepi-tepi yang rusak, pemolesan dilakukan dengan cara memoleskan pasir pada permukaannya. Daya lekat pasir cetak berpengikat lempung dapat dinaikkan hanya dengan membasahi sedikit pasir yang akan dilekatkan. Alat-alat pemoles yang umum digunakan adalah:

- Lanset Berupa sebuah daun pada satu sisi dan sendok pada sisi yang lainnya, digunakan untuk memoles permukaan kecil dan untuk membuat saluran-saluran penuangan.

permukaan kecil dan untuk membuat saluran-saluran penuangan. - Sendok semen Digunakan untuk memoles permukaan yang lebar

- Sendok semen Digunakan untuk memoles permukaan yang lebar dan untuk membuat saluran- saluran besar juga daerah cawan tuang.

membuat saluran- saluran besar juga daerah cawan tuang. - Kait pasir Dengan pengaitnya, rontokan pasir dapat

- Kait pasir Dengan pengaitnya, rontokan pasir dapat diangkat sekaligus memoles bagian-bagian cetakan yang dalam. Dengan pisaunya,

pemolesan bagian-bagian yang tegak dapat dilakukan, juga untuk memperbesar saluran turun.

tegak dapat dilakukan, juga untuk memperbesar saluran turun. - Kaki besi Untuk memoles bentuk-bentuk dan posisi

- Kaki besi Untuk memoles bentuk-bentuk dan posisi yang sulit pada rongga cetakan yang dalam.

dan posisi yang sulit pada rongga cetakan yang dalam. - Sendok poles Digunakan untuk memoles serta

- Sendok poles Digunakan untuk memoles serta memperbaiki permukaan cetakan.

Digunakan untuk memoles serta memperbaiki permukaan cetakan. - Kancing pemoles Untuk membuat ataupun memperbaiki radius

- Kancing pemoles Untuk membuat ataupun memperbaiki radius ataupun sudut-sudut cetakan.

ataupun memperbaiki radius ataupun sudut-sudut cetakan. - Batang pemoles bulat Terdiri dari sebuah batang dengan

- Batang pemoles bulat Terdiri dari sebuah batang dengan kaki-kaki pemoles oval, berfungsi seperti kaki besi.

dengan kaki-kaki pemoles oval, berfungsi seperti kaki besi. - Batang pemoles datar Untuk memoles permukaan yang

- Batang pemoles datar Untuk memoles permukaan yang terdapat jauh didalam rongga cetakan, dan permukaan yang tidak rata.

permukaan yang terdapat jauh didalam rongga cetakan, dan permukaan yang tidak rata. @@ Teknik Metalurgi –

5.3 Urutan Pembuatan Cetakan

5.3.1 Rangka cetak untuk cetakan bawah diletakkan diatas landasan. Pola bagian bawah diletakkan.

diletakkan diatas landasan. Pola bagian bawah diletakkan. 5.3.2 Bahan pemisah cair (bahan dasar lilin ataupun minyak

5.3.2 Bahan pemisah cair (bahan dasar lilin ataupun minyak tanah) atau serbuk (graphit, debu, arang) disemprotkan atau ditaburkan.

5.3.3 Pengayakan pasir muka diatas pola setebal 2 cm dan ditekan dengan tangan untuk menghasilkan permukaan tuangan yang halus.

tangan untuk menghasilkan permukaan tuangan yang halus. 5.3.4 Pengisian dengan pasir pengisi dan dipadatkan setiap

5.3.4 Pengisian dengan pasir pengisi dan dipadatkan setiap tebal pasir sekitar15 cm.

5.3.5 Perataan pasir dan untuk hal-hal khusus ditusukkan batang besi sebagai lubang pembuangan gas.

5.3.6 Cetakan bawah dibalik

sebagai lubang pembuangan gas. 5.3.6 Cetakan bawah dibalik 5.3.7 Pemolesan 5.3.8 Rangka cetakan atas dipasangkan @@

5.3.7 Pemolesan

5.3.8 Rangka cetakan atas dipasangkan

gas. 5.3.6 Cetakan bawah dibalik 5.3.7 Pemolesan 5.3.8 Rangka cetakan atas dipasangkan @@ Teknik Metalurgi –

5.3.9 Pola bagian atas dipasangkan juga saluran turun dan penambah, bahan pemisah disemprotkan /ditaburkan.

5.3.10 Pengayakan pasir muka, ditekan dengan tangan.

5.3.10 Pengayakan pasir muka, ditekan dengan tangan. 5.3.11 Pengisian dengan pasir pengisi dipadatkan lapis demi

5.3.11 Pengisian dengan pasir pengisi dipadatkan lapis demi lapis.

5.3.12 Perataan pasir, penusukan lubang gas.

5.3.13 Saluran turun dan penambah dicabut keatas cetakan atas diangkat lalu dibalik.

penambah dicabut keatas cetakan atas diangkat lalu dibalik. 5.3.14 Pembasahan pasir pada sekitar sisi pola cetakan

5.3.14 Pembasahan pasir pada sekitar sisi pola cetakan atas, pola dipukul-pukul hingga longgar terhadap cetakannya. Pola bagian atas diangkat.

pola dipukul-pukul hingga longgar terhadap cetakannya. Pola bagian atas diangkat. @@ Teknik Metalurgi – UNJANI 57
5.3.15 Saluran turun dan penambah diperbesar/diperbaiki. 5.3.16 Saluran terak dan saluran masuk dibuat (bila tidak

5.3.15 Saluran turun dan penambah diperbesar/diperbaiki.

5.3.16 Saluran terak dan saluran masuk dibuat (bila tidak dicetakan atas, di cetakan bawah).

5.3.17 Pembasahan pasir pada sekitar sisi pola cetakan bawah,

pemuklan pola hingga longgar. Pola bagian bawah diangkat.

5.3.18 Perbaikan permukaan cetakan.

5.3.19 Penaburan grafit pada rongga cetakan. Cetakan yang lebih

besar dilakukan pelapisan (pelapis dengan pencair air maupun alcohol).

5.3.20 Peletakkan inti pada cetakan bawah saluran pembuangan gas dari dudukan inti kearah rangka cetak digores.

5.3.21 Perakitan cetakan

inti kearah rangka cetak digores. 5.3.21 Perakitan cetakan 5.3.22 Pembebanan ataupun pengekleman. @@ Teknik Metalurgi

5.3.22 Pembebanan ataupun pengekleman.

rangka cetak digores. 5.3.21 Perakitan cetakan 5.3.22 Pembebanan ataupun pengekleman. @@ Teknik Metalurgi – UNJANI 58

6. Pembuatan Cetakan Pasir Furan Pada penggunaan pasir cetak mengeras sendiri (misal: pasir cetak berpengikat resin phenol ataupun resin furan), pengerjaan pemadatan dan pemolesan tidak diperlukan lagi. Terutama pada

pembuatan cetakan penuh dengan pola polisterin, proses pengerjaan semakin sederhana.

Pola diletakkan dalam rangka cetak yang telah diberi landasan pasir cetak atau pada lubang galian.

Saluran tuang dan penambah dipasangkan.

Pasir cetak ditimbunkan hingga hanya menyisakan permukaan atas cawan tuang saja. Penusukkan lubang-lubang pembuangan gas (bila perlu).

Cetakan selesai dan tunggu hingga pasir mengeras.

2.8 Pencatatan Data:

1. Catat setiap tahap atau urutan kerja yang dilakukan.

2. Hitung volume pola benda coran lengkap dengan sistim salurannya.

3. Catat berapa penyusutan dari ukuran pola.

4. Catat berapa volume dan berat pasir cetak untuk cetakan- cetakan pasir yang dipakai.

5. Gambarkan sistim saluran cetakan pada sebuah rangka cetak (jangan lupa menentukan cup, drag dan garis pisahnya).

MODUL 3 TUNGKU PELEBURAN & PERHITUNGAN MUATAN

I.

TUJUAN PRAKTIKUM

Mengetahui cara kerja tungku peleburan untuk logam-logam ferro dan non-ferro.

Dapat menentukan dan merencanakan muatan (material charging).

II.

TEORI DASAR

2.1

Klasifikasi Tungku

Dalam suatu industri pengecoran, tungku peleburan merupakan suatu komponen penting karena dapat menentukan tahapan proses produksi selanjutnya. Disamping itu penanganan terhadap logam juga merupakan hal yang cukup penting dalam suatu proses produksi. Logam cair dalam keadaan ideal, kualitas hasil proses pengecorannya akan sangat tergantung pada teknik pencetakkan dan perlakuan terhadap logam cair tersebut serta tergantung pula pada jenis tungku yang dipergunakan, selain itu tungku tersebut juga akan mempengaruhi kecepatan dan kapasitas peleburan. Penggunaan jenis tungku dengan gangguan pada permukaan logam cair seminimum mungkin, akan sangat disukai, oleh karena itu jenis tungku dengan terjadinya kontak langsung hasil pembakaran dan logam cairnya harus dihindari. Disamping itu, jenis tungku yang dilengkapi dengan sistim kontrol temperatur juga penting, karena dengan semakin tingginya temperatur logam cair, maka kelarutan gas dan reaksi oksidasi akan semakin besar yang akan berpengaruh terhadap terbentuknya cacat-cacat coran. Tungku adalah sebuah peralatan yang digunakan untuk mencairkan logam pada proses pengecoran atau untuk memanaskan bahan dalam proses perlakuan panas. Karena gas buang dari bahan bakar berkontak langsung dengan bahan baku, maka jenis bahan bakar yang dipilih menjadi penting. Sebagai contoh, beberapa bahan tidak akan mentolelir sulfur dalam bahan bakar. Bahan bakar

padat akan menghasilkan bahan partikulat yang akan mengganggu bahan baku yang ditempatkan didalam tungku. Untuk alasan ini, maka:

Hampir seluruh tungku menggunakan bahan bakar cair, bahan bakar gas atau listrik sebagai masukan energinya.

Tungku induksi dan busur (arc) menggunakan listrik untuk melelehkan baja dan besi tuang.

Tungku pelelehan untuk bahan baku bukan besi menggunakan bahan bakar minyak.

Tungku yang dibakar dengan minyak bakar hampir seluruhnya menggunakan minyak tungku, terutama untuk pemanasan kembali dan perlakuan panas bahan.

Minyak diesel ringan (LDO) digunakan dalam tungku bila tidak dikehendaki adanya sulfur.

Idealnya tungku harus memanaskan bah an sebanyak mungkin sampai mencapai suhu yang seragam dengan bahan bakar dan tenaga kerja sesedikit mungkin. Kunci dari operasi tungku yang efisien terletak pada pembakaran bahan bakar yang sempurna dengan udara berlebih yang minimum. Tungku beroperasi dengan efisiensi yang relatif rendah (dibawah 70 %) dibandingkan dengan peralatan pembakaran lainnya seperti boiler (dengan efisiensi lebih dari 90 %). Hal ini disebabkan oleh suhu operasi yang tinggi didalam tungku. Sebagai contoh, sebuah tungku yang memanaskan bahan sampai suhu 1200 o C akan mengemisikan gas buang pada suhu 1200 C atau lebih yang mengakibatkan kehilangan panas yang cukup signifikan. Tungku secara luas dibagi menjadi dua jenis berdasarkan metoda pembangkitan panasnya: tungku pembakaran yang me nggunakan bahan bakar, dan tungku listrik yang menggunakan listrik. Tungku pembakaran dapat digolongkan menjadi beberapa bagian seperti ditunjukkan dalam Tabel 2.1 jenis bahan bakar yang digunakan, cara pemuatan bahan baku, cara perpindahan panasnya dan cara pemanfaatan kembali limbah panasnya. Tetapi, dalam prakteknya tidak mungkin menggunakan penggolongan ini sebab tungku dapat menggunakan berbagai jenis bahan bakar, cara pemuatan bahan ke tungku yang berbeda, dll. Tungku yang paling umum digunakan akan dijelaskan dalam bagian berikutnya.

Tabel 2.1 Klasifikasi tungku

Metoda klasifikasi

Jenis dan contoh

 

Dibakar dengan minyak

Jenis bahan bakar yang digunakan

Dibakar dengan gas

Dibakar dengan batubara

 

Berselang (intermittent) atau batch

Berkala

Penempaan

Pengerolan ulang / re-rolling batch /pusher

Pot

Cara pengisian bahan

Kontinyu

Pusher

Balok berjalan Perapian berjalan Tungku bogie dengan sirkulasi ulang kontinyu Tungku perapian berputar/ rotary hearth furnace

 

Radiasi (tempat perapian terbuka)

Cara perpindahan panas

Konveksi (pemanasan melalui media)

Cara pemanfaatan kembali limbah panas

Rekuperatif

Regeneratif

2.1.1 Tungku Krusibel

Tungku krusible merupakan salah satu jenis tungku dengan sistim

pemanasan tidak langsung (indirect fuel fired furnace). Fungsi utamanya adalah

untuk melebur logam Aluminium dan sejenisnya. Peleburan muatan dilakukan

dengan menggunakan krusibel yang dipanaskan bagian luarnya secara konduksi

melalui dinding krusibel dengan sumber panas dari pembakaran minyak, gas,

kokas, arang atau pemanasan dari filamen listrik.

Berdasarkan cara pencairan logamnya, tungku krusibel diklasifikasikan

dalam 3 jenis (Gambar 2.1), yaitu:

1. Tungku jenis lift-out

2. Tungku jenis stationary

3. Tungku jenis tilting

Pada tungku jenis lift-out, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.1, krusibel

ditempatkan didalam rangka tungku, setelah logam mencair maka krusibel

dikeluarkan dari dalam tungku. Krusibel yang dipergunakan harus selalu menggunakan jenis refraktori dengan kapasitas maksimum 50 kg aluminium. Kerugian dari jenis tungku ini adalah keterbatasan dalam menghasilkan produktivitas dalam jumlah yg tinggi, memerlukan jumlah tenaga kerja yg banyak, dan buruknya kondisi kerja, tetapi keperluan biaya perlengkapannya paling murah. Tungku jenis stationary adalah jenis tungku dengan krusibel yang ditempatkan secara permanen, kapasitas peleburannya berkisar antara 150 – 450 kg aluminium dan jenis krusibel refraktori maupun besi cor dapat digunakan dalam tungku jenis ini, tetapi krusibel jenis besi cor perlu selalu dilapis ulang dengan bahan refraktori secara periodik. Keuntungan dari jenis tungku ini adalah terletak pada kecocokkannya untuk beralih dari peleburan satu jenis paduan ke jenis paduan lainnya dan tungku jenis stationari ini sangat baik untuk pemurnian aluminium serta biaya instalasi yang diperlukan relatif tinggi. Tungku krusibel jenis tilting, digunakan untuk peleburan dalam jumlah yg besar berkisar sampai 450 kg aluminium, dan penuangan logam cairnya dengan cara dimiringkan, logam cair akan mengalir melalui saluran yang ada pada dinding tungku atau pada bagian atas bibir tungku. Keuntungan dari jenis tungku ini adalah dapat melebur dengan jumlah muatan yang besar, logam cair dapat dituangkan dengan mudah dan cepat, tetapi memerlukan biaya instalasi yang relatif cukup tinggi.

tetapi memerlukan biaya instalasi yang relatif cukup tinggi. Gambar. 2.1 Beberapa jenis tungku krusibel; a. lift-out

Gambar. 2.1

Beberapa jenis tungku krusibel; a. lift-out crucibel, b.Stationary pot, dan c.tilting-pot.

Effesiensi panas/peleburan dari tungku jenis krusibel adalah berkisar antara: 15- 30 %, rendahnya effisiensi tersebut karena tingginya panas yang hilang melalui saluran gas buang. Struktur utama konstruksi tungku jenis krusibel terdiri atas; krusibel, lapisan refraktori, sistim pembangkit panas dan alat pengukur temperatur.

2.1.2 Tungku Kupola

Kupola merupakan tungku yang memiliki bentuk silinder vertikal yang memiliki kapasitas besar. Tungku ini diisi dengan material pengisi antara lain besi, kokas, flux atau batu kapur, dan elemen paduan yang memungkinkan. Tungku ini memiliki sumber energi panas dari kokas dan gas yang diberikan untuk meningkatkan temperatur pembakaran. Hasil peleburan dari tungku ini akan ditapping secara periodik untuk mengeluarkan besi cor yang telah mencair.

periodik untuk mengeluarkan besi cor yang telah mencair. Gambar 2.2 Skematis dari tungku kupola. @@ Teknik

Gambar 2.2 Skematis dari tungku kupola.

2.1.3

Tungku Busur Listrik

Peleburan logam menggunakan tungku ini dilakukan dengan menggunakan energi yang berasal dari listrik berupa arc atau busur yang dapat mencairkan logam. Tungku jenis busur listrik ini biasanya digunakan untuk proses pengecoran baja.

listrik ini biasanya digunakan untuk proses pengecoran baja. Gambar 2.3 Electric furnace indirect system. Gambar 2.4

Gambar 2.3 Electric furnace indirect system.

baja. Gambar 2.3 Electric furnace indirect system. Gambar 2.4 Electric furnace direct system. 2.1.4 Tungku

Gambar 2.4 Electric furnace direct system.

2.1.4 Tungku Induksi

Tungku induksi adalah tungku yang menggunakan energi listrik sebagai sumber energi panasnya, arus listrik bolak-balik (alternating current) yang melewati koil tembaga akan menghasilkan medan magnetik pada logam pengisi (charging material) didalamnya. Medan magnet ini juga akan melakukan mixing pada logam cair akibat adanya gaya magnet antara koil dan logam cair yang akan menimbulkan efek pengadukan (stiring effect) untuk menghomogenkan komposisi pada logam cair.

Logam cair didalam tungku harus dihindarkan dari kontak langsung terhadap koil. Oleh karena itu material tahan temperatur tinggi sebagai lining tungku harus memiliki ketebalan yang cukup untuk menahan beban logam cair didalamnya. Pada gambar dibawah ini ditunjukan beberapa komponen utama dari suatu tungku induksi.

beberapa komponen utama dari suatu tungku induksi. Gambar. 2.5 Tungku induksi listrik. Setelah logam pengisi

Gambar. 2.5 Tungku induksi listrik.

Setelah logam pengisi telah mengalami pencairan maka tungku induksi ini telah dilengkapi dengan suatu pengendali untuk melakukan penuangan (titling) kedalam suatu ladle yang lebih kecil yang dibawa hook crane atau ladle yang dibawa oleh dua operator pouring ke cetakan.

2.1.5 Tungku Converter.

Converter ialah sebuah tabung baja dengan dinding berlapis dan tahan terhadap temperatur tinggi serta ditempatkan pada sebuah dudukan yang dibentuk sedemikian rupa agar posisinya dapat diubah secara vertikal mapun secara horizontal dengan posisi mulut berada disamping atau diatas bahkan

dibawah. Posisiposisi ini diperlukan untuk pengisian, penghembusan karbon dioksida dan penuangan hasil pemurnian (lihat Gambar 2.6).

dioksida dan penuangan hasil pemurnian (lihat Gambar 2.6). Gambar 2.6 Tungku Converter Bessemer. Proses pemurnian ini

Gambar 2.6 Tungku Converter Bessemer.

Proses pemurnian ini dilakukan dengan terlebih dahulu mencairkan besi mentah ke dalam converter yang berada pada posisi horizontal kemudian converter diubah posisinya pada posisi vertikal dan pada posisi ini udara bertekanan 140 KN/m 2 dihembuskan melalui dasar converter ke dalam besi mentah cair, dengan demikian maka unsur karbon akan bersenyawa dengan oksigen menjadi karbon dioxida (CO 2 ) dan mengikat unsur-unsur lainnya. Dengan tekanan udara sedemikian itu unsur-unsur tersebut akan terbawa keluar dari converter, proses ini dilakukan dalam waktu 20 menit, dari proses ini besi mentah memiliki unsur-unsur paduan tidak lebih dari 0,05 % dan 0,006 % diantaranya adalah unsur karbon dan dianggap sebagai besi murni atau Ferrite (Fe), selanjutnya ditambahkan unsur karbon ke dalam converter ini dengan jumlah tertentu sesuai dengan jenis baja yang dikehendaki hingga 2,06%, coverter ini berkapasitas antara 25 ton sampai 60 ton. Pada dasarnya berbagai metoda dalam proses pembuatan baja ini ialah proses pemurnian unsur besi dari berbagai unsur yang merugikan sebagaimana

telah dikemukakan terdahulu, oleh karena itu dalam proses pembuatan baja dengan menggunakan sistem converter ini ialah salah satu proses pemurnian atau pemisahan besi dengan menggunakan bejana sebagai alat pemanasan (peleburan) besi kasar tersebut. (lihat Gambar 2.7) yang merupakan bagian dari bentuk pemurnian besi kasar dengan dapur basa dari sistem converter.

besi kasar dengan dapur basa dari sistem converter. Gambar 2.7 Proses oxigen pada dapur basa untuk

Gambar 2.7 Proses oxigen pada dapur basa untuk pemurnian besi kasar (pig Iron)

2.1.6 Tungku Thomas dan Bessemer

Thomas dan Bessemer melakukan proses pemurnian besi kasar dalam pembuatan baja ini pada prinsipnya sama yakni menggunakan Converter, namun Bessemer menggunakan Converter dengan dinding yang dilapisi dengan Flourite dan Kwarsa sehingga dinding Converter menjadi sangat keras kuat dan tahan terhadap temperatur tinggi, akan tetapi dinding converter ini menjadi bersifat asam sehingga tidak dapat mereduksi unsur Posphor, oleh karena itu dapur Bessemer hanya cocok digunakan dalam proses pemurnian besi kasar dari bijih besi yang rendah Posphor (Low-Posphorus Iron Ores). Sedangkan Thomas menyempurnakannya dengan memberikan lapisan batu kapur (limestone) atau Dolomite sehingga dinding converter menjadi basa dan mampu mereduksi kelebihan unsur Posphor dengan mengeluarkannya bersama terak (lihat gambar 2.8). Linz-Donawitz (LD-Processes), salah satu proses pemurnian besi dengan sistem converter ini pertama dikembangkan di

austria, proses dengan hembusan udara bertekanan hingga 12 bar di atas convertor dengan posisi vertical, setelah besi mentah (pig iron) bersama dengan sekrap dimasukan yang kemudian dibakar, udara yang dihembuskan menghasilkan pembakaran dengan unsur karbon, belerang dan posphor yang terkandung didalam besi mentah tersebut, hal ini terjadi pada saat converter dalam posisi miring.

hal ini terjadi pada saat converter dalam posisi miring. Gambar 2.8 LD Top Blown Converter. Proses

Gambar 2.8 LD Top Blown Converter.

Proses pembakaran ini terlihat pada nyala api dibagian converter. Baja dengan kadar karbon 0,2 % akan tercapai dengan pembakaran hingga 20 menit, namun jika diinginkan kadar karbon yang lebih tinggi dari 0,2 %, maka hembusan udara dapat dihentikan sehingga proses pembakaran akan terhenti. komposisi unsur yang terdapat pada besi ini dapat dianalisis dengan mengambil contoh dari besi cair sebelum terjadi pembekuan dan jika komposisi yang dikehendaki telah tercapai maka besi dapat dikeluarkan dari converter dan membiarkan slag (terak) tertinggal didalam converter yang akan dikeluarkan melalui lubang terak. lihat gambar 2.9. Dari proses pemurnian besi dengan menggunakan metoda ini akan dihasilkan baja yang memiliki sifat mekanik yang baik untuk diproses menjadi baja paduan (Alloy Steel) maupun sebagai baja karbon (non paduan) karena tingkat kemurniannya serta bebas dari unsur nitrogen (N) atau zat lemas yang merugikan. Bahan ini juga sangat baik digunakan sebagai baja lembaran (Sheet

metals) yang banyak digunakan sebagai bahan baku karoseri kendaraan, tangki serta baja-baja konstruksi. Pabrik Baja Austria “VöEST” (Vereignite

Osterreischische Eisen Und Stahlwerke Aktiengesselschaft) menghasilkan baja

dunia di tahun 1974. Rotor Processes, Converter dengan posisi mendatar (Horizontal) merupakan converter dimana terdapat dua buah pipa oksigen, masingmasing pipa ini salah satunya diarahkan pada bagian dasar converter didalam besi cair dan akan terbakar bersama peleburan besi kasar (pig Iron) bersama baja rongsokan, proses pembakaran ini akan menghasilkan gas karbonmonoksida (CO) yang juga akan terbakar dan menghasilkan karbon dioksida (CO2) untuk meratakan proses pemurnian. Selama proses pembakaran ini converter berputar dengan kecepatan 0,5 sampai 2 put/mt. Kemudian undara ditiupkan melalui salah satu pipa yang berada pada permukaan logam cair, dengan demikian unsur-unsur yang terkandung pada besi akan terdesak keluar bersama dengan gas CO 2 .

pada besi akan terdesak keluar bersama dengan gas CO 2 . Gambar 2.9 Rotor mixed Blown

Gambar 2.9 Rotor mixed Blown Converter.

Kaldo processes, menggunakan cara yang sama dengan yang dilakukan pada rotor proses namun pada sistem Kaldo ini converter diposisikan miring 17 o , dalam proses ini converter juga diputar dengan kecepatan putaran hingga 30 put/ment. Dengan putaran ini sangat baik karena dapat mempercepat arus transformasi panas, namun hanya menggunakan sebuah pipa peniup dimana besi kasar bersama besi tua dilebur didalam converter ini dan kemudian ditiup dengan oksigen melalui pipa tersebut. converter ini dapat memurnikan besi dengan penurunan kadar phosphor hingga 2 % (lihat gambar 2.10).

Gambar 2.10 Kaldo top blown converter. Gambar 2.11 Blast Furnace. @@ Teknik Metalurgi – UNJANI

Gambar 2.10 Kaldo top blown converter.

Gambar 2.10 Kaldo top blown converter. Gambar 2.11 Blast Furnace. @@ Teknik Metalurgi – UNJANI 71

Gambar 2.11 Blast Furnace.

2.2

Perhitungan Muatan

Perhitungan muatan (material balance) pada proses peleburan aluminium, umumnya mengandung 30-70 material (bahan baku) utama yang meliputi ingot Aluminium dan silikon, serta unsur paduan lain yang secara langsung ditambahkan pada logam cair seperti; Mg, Zn, dan logam lain yang memiliki titik cair yang rendah lainnya. Pengaruh unsur paduan ketika proses peleburan dan pencairan paduan aluminium, ditunjukkan pada Tabel berikut ini.

Tabel. 2.2 Pengaruh Unsur paduan pada peleburan aluminium.

 

Pengaruh

Berasal dari:

Unsur

Baik

Buruk

   

-menurunkan keuletan -meningkatkan cacat keropos -menimbulkan bintik (keras) di permukaan

-master alloys

Fe<1%

menaikkan kekuatan tarik

(FeSi)

-Ladle

   

-Geram

 

-memperbaiki kekerasan dan kekuatan -mempermudah pemesinan

 

-Geram atau

Cu: 2-4%

-menurunkan ketahanan korosi

skrap

-master alloys

Si: 5-7%

-memperbaiki kekuatan -meningkatkan mampu alir -mengurangi pemuaian -meningkatkan ketahanan korosi -meningkatkan mampu mesin

-menurunkan ketangguhan -menyebabkan rapuh (jika kandungannya terlalu tinggi)

-skrap

-master alloys

Zn<1%

 

-menurunkan kekuatan -menurunkan ketahanan korosi -menimbulkan cacat rongga (jika kandungannya terlalu tinggi)

-skrap

Meningkatkan mampu alir

-master alloys

 

-meningkatkan kekuatan dan daya tahan terhadap temperatur tinggi -mengurangi pengaruh besi -meningkatkan ketahanan korosi

-menurunkan mampu alir -menghasilkan bintik (keras) dipermukaan -mengkasarkan butir

-skrap

Mn<0,5%

-master alloys

 

-meningkatkan mampu mesin -menghaluskan butir -meningkatkan ketahanan korosi

-menurunkan ketangguhan -menimbulkan bintik permukaan -meningkatkan kecenderungan cacat rongga udara

-skrap

Mg<0,5%

-master alloys

Ni<0,3%

-Meningkatkan kekuatan -meningkatkan ketahanan korosi

menurunkan fluiditas atau mampu alir

-skrap

-master alloys

Pb<0,1%

 

-menyebabkan segregasi -menyebabkan cacat hot shortness (rapuh panas)

-skrap

Memperbaiki mampu mesin

-master alloys

Sn<0,1%

-meningkatkan mampu mesin -memperbaiki struktur

-menimbulkan hot crack (retak panas) -menimbulkan presipitasi

-skrap

-master alloys

Cr<0,3%

-menurunkan timbulnya korosi tegangan -memperbaiki ketangguhan

Menghasilkan senyawa antar logam yang tidak diinginkan

-skrap

-master alloys

Dalam perhitungan muatan ini perlu diperhitungkan juga adanya

kehilangan unsur karena proses peleburan (melting loss) yang nilainya sangat

tergantung pada tipe tungku yang digunakan dalam proses peleburan, teknik

peleburan, kondisi muatan, dan lain-lain. Tabel 1.4 menunjukkan besarnya

kehilangan unsur yang didasarkan pada jenis muatan dan jenis tungku.

Tabel. 2.3 Pengaruh jenis muatan dan tungku terhadap besarnya kehilangan unsur peleburan (melting loss).

 

Virgin charge

Oxidised and contaminated charge

Metal

Electric and

 

Electric and

 

crucible

furnaces

Reverbratory

furnaces

crucible

furnaces

Reverbratory

furnaces

Mg

2-3

3-5

3-5

3-10

Be

2-3

3-5

3-5

5-10

Al

1-1.5

1-2

1-2

2-3

Na

2-3

3-5

3-5

5-10

Zn

1-3

2-4

2-3

3-5

Mn

0.5-1

1-2

1-2

2-3

Sn

0.5-1

1-1.5

1-1.5

1.5-2

Fe

0.5-1

0.5-1

0.5-1

0.5-1

Ni

0.5-1

0.5-1

0.5-1

0.5-1

Si

0.5-1

1-1.5

1-1.5

1.5-2

Cu

0.5-1

1-2

1-2

2-3

Pb

0.5-2

1-2

-

-

Berikut ini disampaikan contoh hasil perhitungan muatan yang telah

diketahui terlebih dahulu komposisi kimianya dalam suatu proses peleburan

Aluminium dengan suatu target komposisi kimia tertentu.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI 74

MODUL 4 PELEBURAN & PEMADUAN LOGAM

MODUL 4 PELEBURAN & PEMADUAN LOGAM I. TUJUAN PRAKTIKUM  Dapat melakukan proses peleburan dan pemaduan

I.

TUJUAN PRAKTIKUM

Dapat melakukan proses peleburan dan pemaduan logam.

Mengetahui besaran-besaran atau parameter proses yang terlibat dan berpengaruh terhadap produk coran yang yang dibuat.

Mengetahui cara-cara pengujian proses dan kualitas produk coran.

TEORI DASAR

II.

2.1

Prinsip kerja pencairan muatan pada tungku jenis krusibel dengan sumber panas dari bahan bakar minyak (cair) atau arang/kokas (padat) adalah dengan cara bahan bakar dimasukkan kedalam ruang reaksi (burner) sehingga akan menimbulakan panas dialirkan secara radiasi kedinding krusibel. Selanjutnya energi panas ini dipindahkan secara konduksi kedalam muatan melalui dinding krusibel. Reaksi pembakaran antara bahan bakar dengan oksigen (O 2 ) dalam udara menghasilkan gas CO 2 dan H 2 O serta energi panas. Energi panas tersebut yang diperlukan untuk mencairkan muatan dalam krusibel hingga mencair. Proses pencampuran antara bahan bakar dan oksigen dalam udara, berlangsung sangat pendek. Pemanasan bahan bakar dan dara dilakukan sangat cepat, karena pemanasan cepat inilah senyawa-senyawa hidrokarbon tersebut terurai menjadi senyawa-senyawa yang lebih ringan dengan unsur dasar karbon dan hidrogen. Sebagai hasil dekomposisi thermal ini, sebagian besar pembakaran terjadi antara hidrogen dan karbon elemental. Unsur hidrogen terbakar denan nyala api yang tidak terlihat (luminous flame), sementara unsur karbon terbakar dengan nyala api kuning yang khas (yellow

flame).

Prinsip Pencairan Muatan pada Tungku Krusibel

2.2

Peleburan Aluminium dan Paduannya

Aluminium murni dan paduan aluminium dapat dicairkan dengan

berbagai cara. Tungku

reveratory furnaces yang memakai sumber panas dari gas atau bahan bakar minyak, dan tungku electric resistance serta electric radiation adalah jenis-jenis tungku yang biasa digunakan. Salah satu jenis tungku peleburan logam yang banyak digunakan yaitu, Sealed crusible furnace (Gambar. 1). Dengan kerangka yang terbuat dari baja yang dilas, bagian atas ditutup lembaran baja yang dilapisi dengan bata tahan api, bagian lining terbuat dari bata tahan api setebal 3-4 in. Tungku crusible biasanya digunakan untuk peleburan logam non ferrous, seperti aluminium, seng, tembaga dan timah. Pada tungku peleburan ini, crusible biasanya terbuat dari tanah liat atau grafit yang diletakan didalam ruang pembakaran.

coreless,

channel

induction,

crusible,

open-heart

coreless , channel induction, crusible , open-heart Gambar. 2.1 Tungku yang digunakan dalam proses pembuatan

Gambar. 2.1 Tungku yang digunakan dalam proses pembuatan Aluminium.

Crusible yang terbuat dari besi cor atau baja digunakan dengan tujuan untuk menyediakan panas yang cukup bagi logam sehingga temperatur logam cair konstan. Crusible jenis ini mempunyai konduktivitas panas dan kekuatan mekanik yang baik. Tetapi crusible yang terbuat dari besi cor atau baja mempunyai kelemahan, yaitu unsur Fe dapat larut kedalam logam aluminium cair. Untuk menanggulangi hal ini tungku harus sering dibersihkan dan dilapisi

dengan refraktory wash.

Tabel 2.1 Titik cair dan temperatur penuangan dari paduan aluminium

 

TEMP. MULAI

TEMP.

AKHIR CAIR

TEMP. PENUANGAN

PADUAN DAN KOMPOSISI

CAIR

( 0 C )

(

0 C)

( 0 C )

Al – 4,5Cu

521

 

644

700

– 780

Al – 4Cu – 3Si

521

 

627

700

– 780

Al – 4,5Cu – 5Si

521

 

613

700

– 780

Al – 12Si

574

 

582

670

– 750

Al –9,5Si – 0,5Mg

557

 

596

670

– 740

Al – 3,5Cu – 8,5Si

538

 

593

700

– 780

Al –7 Si – 0,3 Mg

557

 

613

700

– 780

Al – 4Cu – 1,5mg – 2Ni

532

 

635

700

– 760

Al – 3,8 Mg

599

 

641

700

– 760

Al – 10 Mg

499

 

604

700

– 760

AL – 12Si – 0,8Cu – 1,7 Mg – 2,5Ni

538

 

566

670

– 740

Al – 9 – Si – 3,5Cu – 0,8Mg – 0,8Ni

520

 

582

670

– 740

2.3 Kelarutan Gas pada Cairan Aluminium dan Paduan

Secara umum telah diketahui bahwa atom dalam bentuk gas akan bersatu atau masuk kedalam logam cair. Ketika dua atom bersatu membentuk suatu molekul, molekul gas tersebut akan keluar, tapi bisa juga gas tersebut terperangkap didalam logam cair membentuk gelembung. Didalam peleburan aluminium, hanya sedikit hidrogen yang diserap dari atmosfer. Sumber utaman

hidrogen didalam Al adalah uap air, uap panas, atau hasil dari reaksi kimia sebagai berikut

3H 2 O

(uap air)

+

2Al

(aluminium)

=

6H

(Hidrogen)

+

Al 2 O 3

(aluminium oksida)

Temperatur logam cair juga menentukan jumlah hidrogen yang diserap. Ketika temperatur naik volume hidrogen yang larut kedalam logam cair akan semakin besar seperti yang terlihat pada Tabel. 2.

Tabel. 2.2 Hubungan temperatur dengan daya larut hidrogen.

TEMPERATUR

HYDROGEN SOLUBILTY

0

C

0

F

(cc /100gms)*

 

0

32

0,0000001

400

752

0,005

660-solid

1220

0,036

660-liquid

1220

0,69

700

1292

0,92

750

1382

1,23

800

1472

1,67

850

1562

2.15

*Meassured at pressure of one atmosphere and a temperatur 20 C