Anda di halaman 1dari 4

http://senyawa-kimia.blogspot.com/2010/02/perkembangan-tradisi-hindu-budha-di.

html

Teknologi

Masyarakat Indonesia dari sebelum masuknya agama Hindu-Budha sebenarnya sudah


memiliki budaya yang cukup tinggi. Dengan masuknya pengaruh budaya Hindu-Budha di
Indonesia semakin mempertinggi teknologi yang sudah dimiliki bangsa Indonesia
sebelumnya. Pengaruh Hindu-Budha terhadap perkembangan teknologi masyarakat
Indonesia terlihat dalam bidang kemaritiman, bangunan dan pertanian.

Perkembangan kemaritiman terlihat dengan semakin banyaknya kota-kota pelabuhan,


ekspedisi pelayaran dan perdagangan antar negara. Selain itu, bangsa Indonesia yang
awalnya baru dapat membuat sampan sebagai alat transportasi kemudian mulai dapat
membuat perahu bercadik.

Perpaduan antara pengetahuan dan teknologi dari India dengan Indonesia terlihat pula pada
pembuatan dan pendirian bangunan candi baik candi dari agama Hindu maupun Budha.

Bangunan candi merupakan hasil karya ahli-ahli bangunan agama Hindu-Budha yang
memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Selain itu terlihat dalam penulisan prasasti-
prasastri pada batu-batu besar yang membutuhkan keahlian, pengetahuan, dan teknik
penulisan yang tinggi. Pengetahuan dan perkenalan teknologi yang tinggi dilakukan secara
turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Dalam bidang pertanian, tampak dengan adanya pengelolaan sistem irigasi yang baik mulai
diperkenalkan dan berkembang pada zaman masuknya Hindu-Budha di Indonesia. Tampak
pada relief candi yang menggambarkan teknologi irigasi pada zaman Majapahit.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

http://senyawa-kimia.blogspot.com/2010/02/perkembangan-tradisi-hindu-budha-di.html
Arsitektur

Salah satu pengaruh peradaban Hindu-Budha adalah bidang arsitektur.

Seni bangunan tampak pada bangunan candi sebagai wujud percampuran antara seni asli
bangsa Indonesia dengan seni Hindu-Budha. Candi merupakan bentuk perwujudan akulturasi
budaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan hasil bangunan zaman megalitikum
yaitu bangunan punden berundak-undak yang mendapat pengaruh Hindu Budha. Contohnya
candi Borobudur. Pada candi disertai pula berbagai macam benda yang ikut dikubur yang
disebut bekal kubur sehingga candi juga berfungsi sebagai makam bukan semata-mata
sebagai rumah dewa. Sedangkan candi Budha, hanya jadi tempat pemujaan dewa tidak
terdapat peti pripih dan abu jenazah ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-
http://senyawa-kimia.blogspot.com/2010/02/pengaruh-penyebaran-budaya-hindu-
buddha.html

Arsitektur

Arsitektur atau seni bangunan ala masa Hindu-Buddha juga bertahan hingga kini. Meski
tampilannya tidak lagi serupa benar dengan bangunan Hindu-Buddha (candi), tetapi pengaruh
Hindu-Buddha membuat arsitektur bangunan yang ada di Indonesia menjadi khas.

Salah satu ciri bangunan Hindu-Buddha adalah “berundak.” Sejumlah undakan umumnya
terdapat di struktur bangunan candi yang ada di Indonesia. Undakan tersebut paling jelas terlihat
di Candi Borobudur, bangunan peninggalan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha.

Hal yang khas dari arsitektur candi adalah adanya 3 bagian utama yaitu ‘kepala’, ‘badan’ dan
‘kaki.’ Ketiga bagian ini melambangkan ‘triloka’ atau tiga dunia, yaitu: bhurloka (dunia
manusia), bhuvarloka (dunia orang-orang yang tersucikan), dan svarloka (dunia para dewa).
Untuk lebih jelasnya, lihat Figure 1.

Pengaruh sistem 3 tahap hidup religius manusia ini bertahan cukup lama. Bahkan ia banyak
diadaptasi oleh bangunan-bangunan yang dibangun pada masa yang lebih kekinian. Bangunan-
bangunan yang memiliki ciri seperti ini beranjak dari bangunan spiritual semisal masjid maupun
profan (biasa) semisal Gedung Sate di Bandung.

Arsitektur semacam candi ini sebagian terus bertahan dan mempengaruhi bangunan-bangunan
lain yang lebih modern. Misalnya, Masjid Kudus mempertahankan pola arsitektur bangunan
Hindu ini. Masjid Kudus aslinya bernama Masjid Al Aqsa, dibangun Jafar Shodiq (Sunan
Kudus) tahun 1549 M. Yang unik adalah, sebuah menara di sisi timur bangunan masjid
menggunakan arsitektur candi Hindu.
Selain bentuk menara, sisa lain arsitektur Hindu pun terdapat pada gerbang masjid yang
menyerupai gapura sebuah pura. Juga tidak ketinggalan lokasi wudhu, yang pancurannya dihiasi
ornament khas Hindu.

Banyak hipotesis yang diutarakan mengapa Jafar Shodiq menempatkan arsitektur Hindu ke
dalam sebuah masjid. Hipotesis pertama mengasumsikan pembangunan tersebut merupakan
proses akulturasi antara budaya Hindu yang banyak dipraktekkan masyarakat Kudus sebelumnya
dengan budaya Islam yang hendak dikembangkan. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi Cultural
Shock yang berakibat terasingnya orang-orang pemeluk Islam baru sebab tercerabut secara tiba-
tiba dari budaya mereka.

Hipotesis kedua menyatakan bahwa penempatan arsitektur Hindu diakibatkan para arsitek dan
tukang yang membangun masjid menguasai gaya bangunan Hindu. Ini berakibat hasil
pembangunan mereka bercorak Hindu.

Pengaruh arsitektur Hindu pun terjadi pada bangunan yang lebih kontemporer semisal Gedung
Sate yang terletak di Kota Bandung. Gedung Sate didirikan tahun 1920-1924 dengan arsiteknya
Ir. J. Gerber. Ornamen-ornamen di bawah dinding gedung secara kuat bercirikan ornament masa
Hindu Indonesia. Termasuk pula, menara yang terletak di puncak atas gedung yang mirip dengan
menara masjid Kudus atau tumpak yang ada di bangunan suci Hindu di daerah Bali.

Bangunan modern lain yang memiliki nuansa arsitektur Hindu juga ditampakkan Masjid Demak.
Nuansa arsitektur Hindu pada masjid yang didirikan tahun 1466 M misalnya tampak pada atap
limas yang bersusun tiga (meru), mirip dengan candi dimana bermaknakan bhurloka, bhuvarloka,
dan svarloka. Namun, tiga makna tersebut kemudian ditransfer kearah aqidah Islam menjadi
islam, iman, dan ihsan.

Ciri lainnya adalah bentuk atap yang mengecil dengan kemiringan lebih tegak ketimbang atap di
bawahnya. Atap tertinggi yang berbentuk limasan ditambah hiasan mahkota pada puncaknya.
Komposisi ini mirip meru, bangunan tersuci di pura Hindu.6