Anda di halaman 1dari 13

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 102 TAHUN 2000

TENTANG

STANDARDISASI NASIONAL

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

a. bahwa dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas, daya guna


produksi, mutu barang, jasa proses system dan atau personel yang
dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing perlindungan konsumen
pelaku usaha tenaga kerja dan masyarakat khususnya dibidang keselamatan
keamanan kesehatan dan lingkungan hidup maka efektifitas pengaturan di
bidang standarisasi perlu lebih di tingkatkan;
b. bahwa Indonesia telah ikut serta dalam persetujuan pembentukan Organisasi
Perdagangan Dunia (World Trade Organization)yang di dalamnya mengatur
pula masalah standarisasi berlanjut dengan kewajiban untuk menyesuaikan
peraturan perundang-undangan nasional di bidang standarisasi;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan
huruf b, dipandang perlu untuk mengganti Peraturan Pemerintah Nomor 15
Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia;

Mengingat :

1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945 sebagaimana telah di ubah


dengan Perubahan Kedua Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 10 tahun 1961 tentang Peraturan Pemerintah
Penganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1961 tentang Barang menjadi
Undang-undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1961 Nomor
215, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2210);
3. Undang-undang Nomor 2 tahun 1981 tentang Metrology Legal (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 11, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3193);
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3274);
5. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 46 Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3317);
6. Undang undang Nomor 15 tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran
Negara Republic Indonesia tahun 1985 nomor 74, Tambahan Lembaran
Nomor 3317);
7. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan
Tumbuhan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 56,
Tambahan Lembaran Nomor 3482);
8. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3495);
9. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Persetujuan Pembentukkan
WTO (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3564);
10. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia tahun 1996 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3656);
11. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran
(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1997 Nomor 23, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3676);
12. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68,Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3699);
13. Undang-undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3821);
14. Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor GO, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3839);
15. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154 Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3881);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1989 tentang Standar Nasional untuk
Satuan Ukuran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor
3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3388);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan
Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 131,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3867);
18. Peraturan Pemerintahan Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangn Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 51 Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3950);
19. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan
Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor
107, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3980);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG STANDARDISASI NASIONAL.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

1. Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata
cara dan metode yang disusun berdasarkan konsessus semua pihak yang
terkait dengan memperlihatkan syarat-syarat keselamatan, keamanan,
kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan
dating untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya.
2. Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan
merevisi standar,yang dilaksanakan secara tertib dan bekerjasama dengan
semua pihak.
3. Standar Nasional Indonesia (SNI), adalah standar yang di tetapkan oleh
Badan Standardisasi Nasional dan berlaku secara nasional.
4. Rancangan Standar Nasional Indaonesia (RSNI),adalah rancangan standar
yang dirumuskan oleh panitia teknis setelah tercapai konsensus dari semua
pihak yang terkait.
5. Perumusan Standar Nasional Indonesia adalah rangkaian kegiatan sejak
pengumpulan dan pengolahan data untuk menyusun Rancangan Standar
Nasional Indonesia sampai tercapainya konsensus dari semua pihak yang
terkait.
6. Penetapan Standar Nasional Indonesia adalah kegiatan menetapkan
Rancangan Standar Nasional Indonesia menjadi standar Indonesia.
7. Penetapan Standar Nasional Indonesia adalah kegiatan menggunakan
Standar Nasional Indonesia oleh pelaku usaha.
8. Revisi Standar Nasional Indonesia adalah kegiatan penyempurnaan Standar
Nasional Indonesia sesuai dengan kebutuhan.
9. Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia adalah keputusan pimpinan
instansi teknis yang berwenang untuk memberlakukan Standar Nasional
Indonesia secara wajib terhadap barang dan atau jasa.
10. Akreditasi adalah rangkaian kegiatan pengakuan formal oleh Komite
Akreditasi Nasional (KAN) yang menyatakan bahwa suatu
lembaga/laboraturium telah memenuhi persyaratan untuk melakukan
kegiatan sertifikasi tertentu.
11. Sertifikasi adalah rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat terhadap barang
dan atau jasa.
12. Sertifikat adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh lembaga/laboraturium
yag telah diakreditasi untuk menyatakan bahwa barang, jasa, proses, system
atau personel telah memenuhi standar yang dipersyaratkan.
13. Tanda SNI adalah tanda sertifikasi yang dibubuhkan pada barang kemasan
atau label yang menyatakan telah terpenuhinya persyaratan Standar
Nasional Indonesia.
14. Barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidar berwujud, baik
bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat
dihabiskan, yang dapat diperdagangan, dipakai, dipergunakan, atau
dimanfaatkan oleh konsumen.
15. Jasa adalah setiap layanan berbentuk pekerjaan atau prestasi yang
disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.
16. Sistem Standardisasi Nasional (SSN) adalah tatanan jaringan sarana dan
kegiatan standardisasi yang serasi, selaras dan terpadu serta berwawasan
nasional,yang meliputi penelitian dan pengembangan standardisasi,
perumusan standar, penetapan standar, akreditasi sertifikasi, metrology,
pembinaan dan pengawasan standardisasi , kerjasama, informasi dan
dokumentasi, pemasyarakatan dan pendidikan dan pelatihan standardisasi.
17. Badan Standardisasi Nasional (BSN), adalah Badan yang membantu
Presiden dalam menyelenggarakan pengembangan dan pembinaan dibidang
standardisasi sesuai dengan pengaturan perundanundangan yang berlaku.
18. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang
berbentuk badan hukum maupun bukan badan hokum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara
Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian
menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
19. Instansi teknnis adalah kantor Menteri Negara, Departemen atau Lembaga
Pemerintah Non Departemen yang salah satu kegiatannya melakukan
kegiatan standarsasi.
20. Pimpinan instansi teknis adalah Menteri Negara atau Menteri yang
memimpin Departemen atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non
Departemen yang bertanggung jawab atas kegiatan standardisasi dalam
lingkup kewenangannya.

BAB II
RUANG LINGKUP
STANDARDISASI NASIONAL

Pasal 2

Ruang lingkup standardisasi nasional mencangkup semua kegiatan yang


berkaitan dengan metrology teknik, standar, pengujian dan mutu.

BAB III
TUJUAN STANDARDISASI NASIONAL

Pasal 3

Standaridisasi Nasional bertujuan untuk :

1. Meningkatkan perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja,


dan masyarakat lainnya baik untuk keselamatan, keamanan, kesehatan
maupan pelestarian fungsi lingkungan hidup;
2. Membantu kelancaran perdagangan;
3. Mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam perdagangan.
BAB IV
KELEMBAGAAN

Pasal 4

1. Penyelenggaraan pengembangan dan pembinaan di bidang standardisasi


dilakukan oleh Badan Standardisasi Naasional.
2. Pelaksanan tugas dan fungsi Badan Standardisasi Nasional di bidang
akreditasi dilakukan oleh Komite Akreditasi Nasional.
3. Komite Akreditasi Nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
mempunyai tugas menetapkan akreditasi dan memberikan pertimbangan
serta saran kepada Badan Standardisasi Nasional dalam menetapkan system
akreditasi dan sertifikasi.
4. Pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Standardisasi nasional di bidang
Standardisasi Nasional untuk Satuan Ukuran dilakukan oleh Komite Standar
Nasional untuk Satuan Ukuran.
5. Komite Standardisasi Nasional untuk Satuan Ukuran sebagaimana
dimaksud dalam ayat (4) mempunyai tugas memberikan pertimbangan dan
saran kepada Badan Standardisasi Nasional mengenai standar nasional
untuk satuan ukuran.
6. Badan Standardisasi Nasional, Komite Akreditasi Nasional dan Komite
Standar Nasional untuk Satuan Ukuran sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), ayat (2) dan ayat (4) dibentuk dengan Keputusan Presidden.

Pasal 5

1. Badan Standardisasi Nasional menyusun dan menetapkan system


Standardisasi Nasional dan Pedoman di bidang standardisasi nasional.
2. Sistem Standardisasi Nasional dan pedoman sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) merupakan dasar dan pedoman pel;aksanaan yang harus diacu
untuk setiap kegiatan standardisasi di Indonesia.
3. Dalam penyusunan Sistem Standardisasi Nasional dan pedoman
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), badan Standardisasi Nasional
memperhatikan masukan dari instansi teknis dan pihak yang terkait dengan
standardisasi .
BAB V
PERUMUSAN DAN PENETAPAN SNI

Pasal 6

1. Standar Nsional Indonesia disusun melalui proses perumusan Rancangan


Standar Nasional Indonesia.
2. Perumusan Rancangan Standar Nasional Indonesia dilaksanakan oleh
Panitia Teknis melalui Konsensus dari semua pihak yang terkait
3. Ketentuan tentang Konsensus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur
lebih lanjut oleh Kepala Badan Stadardisasi Nasionsal.

Pasal 7

1. Rancangan Standar Nasional Indonesia ditetapkan menjadi Standar


Nasional Indonesia oleh Kepala Badan Standardisasi Nasioanal.
2. Standar Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberi
nomor urut, dan kode bidang standar sesuai pedoman badan standardisasi
nasional.

Pasal 8

Kaji ulang dan revisi Standar nasional Indonesia dilaksanakan oleh Panitia
Teknis melaui consensus dari semua pihak yang terkait.

Pasal 9

1. Panitia Teknis sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (2) Pasal 8


ditetapkan oleh Kepala Badan standarisasi Nasional berdasarkan pedoman
yang disepakati oleh Badan Standarisasi nasional bersama instansi teknis.
2. Dalam pelaksanaan tugasnya Panitia teknis dikoordinasikan oleh instansi
teknis sesuai dengan kewenangannya.
3. Dalam hal instansi teknis belum dapat melakukan koordinasi sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2), Badan standarisasi Nasional dapat
mengkoordinasikan Panitia teknis dimaksud.
4. Panitia Teknis dalam melaksanakan tugasnya mengacu pada Pedoman
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5.
Pasal 10

Dalam rangka perumusan Rancangan Standarisasi nasional Indonesia, kaji


ulang Standar Nasional Indonesia, dan revisi Standar Nasional Indonesia,
Badan Standarisasi Nasional dan instansi teknis dapat melakukan kegiatan
Penelitian dan Pengembangan standarisasi.

Pasal 11

Ketentuan lebih lanjut mengenai Perumusan dan Penetapan Standar Nasional


Indonesia diatur dengan Keputusan Kepala Badan Standarisasi Nasional.

BAB VI
PENERAPAN SNI

Pasal 12

1. Standar Nasional Indonesia berlaku di seluruh wilayah Republik Indonesia.


2. Standar Nasional Indonesia bersifat sukarela untuk diterapkan oleh pelaku
usaha.
3. Dalam hal standar Nasional Indonesia berkaitan dengan kepentingan
keselamatan, keamanan, kesehatan masyarakat atau pelestarian fungsi
lingkungan hidup dan atau pertimbangan ekonomis, instansi teknis dapat
memberlakukan secara wajib sebagian atau keseluruhan spesifikasi teknis
dan atau parameter dalam Standar Nasional Indonesia.
4. Tata cara Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam ayat (3), diatur lebih lanjut dengan keputusan Pimpinan instansi
teknis sesuai dengan bidang tugasnya.

Pasal 13

Penerapan Standar Nasional Indonesia dilakukan melalui kegiatan sertifikasi


dan akreditasi.

Pasal 14

1. Terhadap barang dan jasa, proses, system dan personel telah memenuhi
ketentuan/spesifikasi teknis Standar Nasional Indonesia dapat diberikan
sertifikat dan atau dibubuhi tanda SNI.
2. Sertifikasi dilakukan oleh lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi, lembaga
pelatihan, atau laboratorium.
3. Tanda SNI yang berlaku adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran
Peraturan Pemerintah ini.
4. Persyaratan dan tata cara pemberian sertifikasi dan pembubuhan tanda SNI
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh
Ketua Komite Akreditasi Nasional.

Pasal 15

Pelaku usaha yang menerapkan Standar Nasional Indonesia yang diberlakukan


secara wajib, harus memiliki sertifikat dan atau tanda SNI.

Pasal 16

1. Lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi, lembaga pelatihan, atau


laborotorium sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) di akreditasi
oleh Komite akreditasi Nasional.
2. Unjuk kerja lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi, lembaga pelatihan, atau
laboratorium sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diawasi dan dibina oleh
Komite Akrediasi Nasional.

Pasal 17

1. Biaya akreditasi dibebankan kepada lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi,


lembaga pelatihan atau laboratorium yang mengajukan permohonan
akreditasi.
2. Besarnya biaya akreditasi diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah
tersendiri.

Pasal 18

1. Pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau mengedarkan barang dan atau
jasa, yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan Standar Nasional
Indonesia yang telah diberlakukan secara wajib.
2. Pelaku usaha, yang barang dan atau jasanya lebih memperoleh sertifikat
produk dan atau tanda standar Nasional Indonesia dari lembaga sertifikasi
produk, dilarang memproduksi dan mengedarkan barang dan atau jasa yang
tidak memenuhi Standar nasional Indonesia.
Pasal 19

1. Standar Nasional Indonesia yang diberlakukan secara wajib dikenakan


sama, baik terhadap barang dan atau jasa produksi dalam negeri maupun
terhadap barang dan atau jasa impor.
2. Barang dan jasa impor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pemenuhan
standarnya ditunjukkan dengan sertifikat yang diterbitkan oleh lembaga
sertifikasi atau laboratorium yang telah diakrediatsi Komite Akrediatsi
Nasional atau Lembaga Sertifikasi atau laboratorium Negara pengekspor
yang diakui Komite Akreditasi Nasional.
3. Pengakuan lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi, lembaga pelatihan atau
laboratorium Negara pengekspor oleh Komite Akrediatsi Nasional
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) didasarkan pada perjanjian saling
pengakuan baik secara bilateral maupun multilateral.
4. Dalam hal barang dan atau jasa impor sebagaimana dimaksud dlam ayat (1)
tidak dilengkapi sertifikat, pimpinan instansi teknis dapat menunjuk salah
satu lembaga sertifikasi atau laboratorium baik didalam maupun di luar
negeri yang telah diakreditasi dan atau diakui oleh Komite Akreditasi
Nasional umntuk melakukan sertifikasi terhadap barang dan atau jasa impor
dimaksud.

Pasal 20

1. Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 12 ayat (3) dinotifikasikan Badan Standardisasi Nasional kepada
Organisasi Perdagangan Dunia setelah memperoleh masukan dari instansi
teknis yang berwenang dan dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan
sebelum Standar Nasional Indonesia yang diberlakukan secarra wajib
berlaku efektif.
2. Badan Standardisasi Nasional menjawab pertanyaan yang dating dari luar
negeri yang berkaitan dengan Pemberlakuan Standar Nasional Indonedia
setelah memperoleh masukan dari instansi teknis yang berwenang.

Pasal 21

Ketentuan lebih lanjut mengenai Pemberlekuan Standar nasional Indonesia


diatur dengan Keputusan pimpinan instansi teknis yang berwenang.
BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 22

1. Pimpinan instansi teknis dan atau Pemerintah daerah melakukan pembinaan


terhadap pelaku usaha dan masyarakat dalam menerapkan standar.
2. Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi konsultasi,
pendidikan, latihan, dan pemasyarakatan standardisasi.

Pasal 23

1. Pengawasan terhadap pelaku usaha, barag danatau jasa yang telah


memperoleh sertifikat dan atau dibubuhi tanda SNI yang diberlakukan
secara wajib, dilakukan oleh Pimpinan instansi teknos sesuai
kewenangannya dan atau Pemerintah Daerah.
2. Pengawasan terhadap unjuk kerja pelaku uasha yang telah memperoleh
sertifikat produk dan atau tanda SNI dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi
produk yang menerbitkan sertifikat dimaksud.
3. Masyarakat dan Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat
melakukan pengawasan terhadap barang yang beredar dipasaran.

BAB VIII
SANKSI

Pasal 24

1. Pelaku usaha yang melaukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam


pasal 18 ayat (1) dan (2) dapat dikenakan sanski administrative dan atau
sanksi pidana.
2. Sanksi administrative sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa
pencabutan sertifikat produk dan atau pencabutan hak penggunaan tanda
SNI, pencabutan izin usaha, dan atau penarikan barang dari peredaran.
3. Sanksi pencabutan sertifikat produk dan atau hak penggunaan tanda SNI
dilakukan oleh lembaga sertifikasi produk.
4. Sanksi pencabutan izin usaha dan atau penarikan barang dari peredaran
ditetapkan oleh instansi teknis yang berwenang dan atau Pemerintah
Daerah.
5. Sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa sanksi pidana
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 25

1. Pada saat ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, semua ketentuan


pelaksanaan yang berhubungan dengan standardisasi yang telah ditetapkan
oleh Pimpinan instansi teknis dan atau Dewan Standardiasai Nasional dan
atau Kepala Badan Standardiasai Nasional, dinyatakan tetrap berlaku
sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru
berdasarkan Peraturan pemerintah ini.
2. Khusus untuk ketentuan pelaksanaan yang berhubungan dengan penuandaan
SNI yang telah ditetapkan oleh Mneteri Perindustrian dan Perdagangan
wajib disesuaikan paling lambat 2 (dua) tahun sejak ditetapkannya
Peraturan Pemerintah ini.

BAB X
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 26

Dengan berlakunya Peraturan ini, Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991


tentang Standar Nasional Indonesia dan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun
1991 tentang Penyusunan Penerapan dan Pengawasan Standar Nasional
Indonesia dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 27

Peraturan pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Pemerintah ini dengan penempatanya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 10 November 2000

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

ABDURRAHMAN WAHID

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 10 November 2000
SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DJOHAN EFFENDI

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000


NOMOR 199.