Anda di halaman 1dari 23

i

PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA


PENGEMBANGAN BELUT LISTRIK SEBAGAI SUMBER ENERGI
LISTRIK DALAM SKALA MIKRO

BIDANG KEGIATAN:
PKM-GT

Disusun oleh:
Enang Saepuloh 140310090006 2009
Imam Budi Aji 230110090101 2009
Thoriq Syaeful Rahman 140310080035 2008

UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2010

i
ii

HALAMAN PENGESAHAN USUL


PKM-GT

1. Judul Kegiatan : Pengembangan Belut Listrik Sebagai Sumber Energi


Listrik Dalam Skala Mikro
2. Bidang Kegiatan : ( ) PKM-AI (√ ) PKM-GT

3. Ketua Pelaksana Kegiatan


a. Nama Lengkap : Enang Saepuloh
b. NIM : 140310090006
c. Jurusan : Fisika
d. Universitas/Institut/Politeknik : Universitas Padjadjaran
e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Situjaya RT. 01 RW. 04 Cipondok,
Sukaresik, Tasikmalaya
(085223714629)
f. Alamat email : prianang33@yahoo.com

4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 (dua) orang

5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar : Kusnahadi Susanto, S. Si., MT.
b.NIP : 1980091420050
c.Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jalan Andir nomor 130/77 Bandung
(081322744935)

Bandung, 4 Maret 2010


Menyetujui
Pembantu Dekan III Ketua Pelaksana,
Bidang kemahasiswaan

( Wahyu Alamsyah, Drs., MS. ) ( Enang Saepuloh )


NIP. 19521115 198403 1 001 NIM. 14031009006

Pembantu Rektor III Dosen Pembimbing


Bidang Kemahasiswaan

( Trias Nugrahadi, dr., Sp. KN. ) ( Kusnahadi Susanto, S. Si., MT. )


NIP. 19610704 199103 1 002 NIP. 19800914 200501 1 002

ii
iii

KATA PENGANTAR

Salam sejahtera kepada kita semua, semoga apa yang telah dan akan kita
lakukan selalu memperoleh rahmat dan karunia Sang Pencipta Allah swt.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju, dengan
ditemukannya berbagai instrumen yang meringankan beban kerja manusia.
Pertumbuhan hidup manusia begitu pesatnya, sehingga penyebaran penduduk
tidak merata disetiap daerahnya. Kondisi bentang alam Indonesia yang terdiri atas
pulau-pulau, serta topograpi wilayah yang unik, disertai kontur daerah yang
beraneka ragam, menyebabkan kondisi sosiologi masyarakat berbeda-beda.
Permasalahan penduduk, seperti kekuranan pasokan energi listrik melanda
negara kita tercinta maka diperlukan adanya gagasan yang inovatif untuk
menanggulangi masalah tersebut.
Karya tulis yang berjudul ” Pengembangan Belut Listrik Sebagai Sumber
Energi Listrik dalam Skala Mikro ” diharapkan mampu memberikan sumbangsih
ide pemikiran ditemukannya sumber energi listrik terbarukan ramah lingkungan,
efektif dan efisien.
Dalam penyusunan karya tulis ini penulis mengucapakan terimakasih atas
bantuan dari pihak-pihak yang telah membantu terwujudnya karaya tulis ini,
diantaranya :
1. Bapak Kusnahadi Susanto selaku dosen pembimbing, yang telah
memberi masukan-masukan ide dalam pembuatan karya tulis ini.
2. Dr. Mungki di Jakarta yang telah memberikan bantuan ide dan
sarannya sampai menemani dan menujukan data-data pendukung.
3. Teman-teman jurusan Fisika dan Perikanan yang telah memberikan
bantuan berupa moral dan materilnya.
4. Seluruh civitas akademika UNPAD yang telah memberikan curahan
ide dan pemikiran lain dan pada pihak-pihak lain yang tidak bisa
disebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa gagasan tulis ini sangat sulit untuk terealisasikan
dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Tetapi penulis optimis dengan ketekunan kita
bisa merealisasikannya menjadi sebuah karya terbesar kita.
Penulis menyadari pula tentunya dalam pembuatan karya tulis ini, banyak
sekali kekurangan, krtik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.
Mohon maaf atas kekurangannya. Semoga bermanfaat dan dapat
diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Bandung, 4 Maret 2010

Penyusun

iii
iv

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... ii


KATA PENGANTAR .......................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR …………………………………………...……... v
RINGKASAN ......................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................. 2
Latar Belakang ……………………………………….….……… 2
Tujuan ………………………………………………..…………. 3
Manfaat ………………………………………………...…..….... 3
GAGASAN ………………………………………………………….…. 4
Kondisi Kelistrikan Bangsa Indonesia Saat Ini ………….……... 4
Solusi yang Pernah diajukan ………..…………………….…….. 5
Solusi yang Diajukan …………………………………….……… 9
Pihak-Pihak Terkait yang Bisa Mengimplementasikan Gagasan 10
Langkah Strategis yang Dilakukan……..………………………. 11
KESIMPULAN ………………………………….…………………….. 12
DAFTAR PUSTAKA …………………………………….…………… 14
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ……………………………………….. 15

iv
v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Belut Listrik …………………………………………….... 9


Gambar 2. Medan Listrik yang Dipancarkan Belut Listrik ………… 10
Gambar 3. Skema Aliran Arus yang Dihasilkan ……………………..11

v
1

RINGKASAN

Merupakan suatu kenyataan bahwa kebutuhan akan energi, khususnya


energi listrik di Indonesia, makin berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari
kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari seiring dengan pesatnya peningkatan
pembangunan di bidang teknologi, industri dan informasi. Namun pelaksanaan
penyediaan energi listrik yang dilakukan oleh PT.PLN (Persero), selaku lembaga
resmi yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola masalah kelistrikan di
Indonesia, sampai saat ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
akan energi listrik secara keseluruhan. Kondisi geografis negara Indonesia yang
terdiri atas ribuan pulau dan kepulauan, tersebar dan tidak meratanya pusat-pusat
beban listrik, seperti kondisi daerah pesisian khususnya pesisir pantai selatan
Pulau Jawa, belum seluruhnya terjangkau oleh jaringan listrik. Hal ini diperlukan
pengembangan energi listrik terbarukan, yang murah, ramah lingkungan, efektif
dan efisien, serta cocok dikembangkan di daerah pesisr pantai.
Sesuai dengan perkembangan zaman akan ditemukan alat-alat elektronik
yang memerlukan energi listrik dengan voltase kecil maka pengembangn
pemanfaatan energi yang dihasilkan sidat atau belut ini bisa terealisasi
kedepannya. Setelah berkembang diharapkan pemerintah bisa lebih
memperhatikan dalam kelestarian belut listrik dan juga pemanfaatan potensi
sumber daya alam di Indonesia ini. Sehingga kasus kekurangn energi, daerah
tertinggal penyediaan jaringan listrik bisa terbantu dengan ditemukannya energi
terbarukan ini.
Pengembangan Belut Listrik sebagai sumber energi listrik sangatlah tepat
sekali dikembangkan di daerah pesisir pantai. Karena daerah penyebaran belut
listrik sendiri berada di daerah laut bagian dalam. Bisa hidup di daerah rawa-rawa
yang berlumpur dan gelap. Sehingga penduduk pesisir pantai (nelayan) dengan
mudah bisa mendapatkannya. Seperti wilayah pantai yang mayoritas kehidupan
masyarakatnya mengandalkan hasil laut atau berprofesi sebagai nelayan.
Belut listrik yang panjangnya bisa mencapai 2 meter, 7/8 tubuhnya adalah
ekor. Di sepanjang ekor berderet lebih dari 5000 sel seperti batrei yang
berkekuatan 1, 2 volt. Apabila batrei ini dihubungkan seri, maka jumlah tegangan
yang dihasilkan sebesar 600 volt.
Arus yang dihasilkan kita hubungkan kedalam prototipe lalu kita
hubungkan kedalam tempat penampungan arus berupa tempat penampungan
(accumulator) atau lain sebagainya yang bisa menampung arus listrik. Arus yang
dihasilkan besarnya satu ampere, energi yang besar ini kita manfaatkan untuk
kehidupan sehari-hari.
Manfaat gagasan ini apabila dikembangkan, bisa memberikan sumbangan
pemikiran sebagai jawaban dari permasalahan kekurangn energi. Dengan
ditemukannya energi terbarukan yang diharapkan bisa membantu kehidupan para
nelayan untuk melaut, petani kecil, masyrakat untuk keperluan penerangan.

1
2

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kemajuan teknologi pada masa sekarang ini bukanlah merupakan hal yang
dapat disanggah lagi. Kemajuan teknologi khususnya kemajuan teknologi
elektronika semakin lama semakin menggiring manusia dalam berbagai
kemudahan. Diantaranya kemudahan berkomunikasi, kemudahan penggunaan alat
rumah tangga, kemudahan penggunaan alat-alat listrik, dan sebagainya. Jika kita
bandingkan dengan teknologi masa lalu, semakin kedepan teknologi selalu
menawarkan hal yang semakin praktis. Dibuktikan dengan teknologi beterai
sebagai permulaan sampai energi terbarukan seperti solar cell.
Peralatan teknologi yang semakin maju menggiring manusia kedalam
kondisi yang serba praktis. Dari segi konsumsi energi, teknologi masa kini juga
semakin menawarkan teknologi yang hemat energi. Yang paling nyata
diantaranya adalah kemajuan teknologi layar monitor. Dari mulai CRT yang
membutuhkan tegangan yang cukup tinggi, hingga LED yang menawarkan
keindahan tampilan dan kebutuhan tegangan yang rendah. Sehingga tak dapat kita
pungkiri bahwa mungkin saja dalam kurun waktu yang cukup singkat akan
diproduksi berbagai macam peralatan hemat listrik selain LED.
Kebutuhan sumber-sumber listrik skala mikro ini memberikan gagasan
kreatif tentang potensi pengembangan sumber-sumber energi mikro yang baru
dan inovatif. Mengingat begitu banyak potensi alam dan segala sumber dayanya
yang bisa di manfaatkan untuk kepentingan produksi energi. Hingga saat ini,
pemanfaatan sumber daya alam sebagai sumber energi listrik adalah berbicara
tentang PLTA, solar cell, panas bumi, energy angin, dan sebagainya. Namun
demikian saat ini cukup jarang ditemukan sumber-sumber produksi listrik yang
memanfaatkan makhluk hidup sebagai sumber utamanya.
Belut listrik merupakan salah satu makhluk hidup yang dapat
memproduksi listrik melalui mekanisme biologisnya tersendiri. Listrik yang
disengatkan merupakan listrik alami yang tidak membutuhkan bantuan alat
apapaun dalam mekanismenya. Mengingat bahwa arus listrik itu dapat dialirkan
dan ditampung dalam alat-alat spesifik (semisal accumulator), gagasan untuk
menangkap listrik yang mengalir dari tubuh belut listrik dan menampungnya
merupakan gagasan kreatif yang sangat potensial pengembangannya.
Gagasan ini merupakan gagasan tentang produksi listrik dalam skala
mikro. Kedepannya bukan tidak mungkin pemanfaatannya dapat dikembangkan
menjadi sumber tenaga listrik terbarukan dalam skala makro. Hal ini mungkin saja
terjadi jika teknologi sudah dapat dikembangkan untuk menciptakan alat yang
dapat menangkap listrik dengan efisiensi yang sangat tinggi.
Ditambah kondisi masyarakat indonesia di daerah pesisir pantai dan
pedalaman tidak semuanya memperoleh penerangan dari pihak pemerintah (PLN)
sebagi pemasok energi listrik. Karena pembangunan jaringan listrik yang tidak
merata, menyebabkan masih terdapat daerah yang kondisi penerangan rumah-
rumahnya masih menggunakan lampu minyak.

2
3

Seiring bahan bakar minyak yang langka, masyarakat untuk kepeluan


penerangannya beralih pada lilin, yang praktis digunakan. Tetapi lilin harganya
mahal tidak sebanding dengan waktu penerangan yang dibutuhkan. Karena lilin
mudah habis terbakar.
Dengan ditemukannya bebagi alat-alat elektronik yang bisa membantu
pengembangan konsepan ini. Diharapkan masyarakat dipesisir mendapat pasokan
listrik untuk keperluan rumah tangga seperti untuk penerangan, nelayan melaut,
bahkan untuk kepentingan media informasi, seperti TV, radio dan lain sebagainya.

Tujuan

Belut Listrik Sebagai Cadangan Energi Listrik dalam Skala Mikro adalah
hal yang menarik untuk dikembangkan. Listrik yang dihasilkan belut bisa
mencapai 500-600 volt dengan arus sebanding satu ampere, Energi yang lumayan
besar itu kita bisa manfaatkan dengan cara:
1. Memberikan gagasan bahwa belut lsitrik bisa dikembangkan menjadi
sumber energi listrik terbarukan dalam skala mikro.
2. Energi listrik yang dihasilkan belut listrik, diharapkan bisa memberikan
jawaban akan kekurangan energi listrik di daerah pesisir, pedalaman dan
daerah tertinggal lainya.
3. Memberikan gagasan proses pemindahan enrgi listrik yang dihasilkan oleh
belut kedalam tempat penyimpanan atau penyaluran listrik.

Manfaat

Manfaat gagasan ini apabila dikembangkan, bisa memberikan sumbangan


sebagai jawaban dari permasalahan kekurangn energi. Ditemukannya energi
terbarukan serta bisa membantu kehidupan para nelayan untuk melaut, petani
kecil, perumahan penduduk dalam hal penerangan. Sehingga penduduk bisa
menggunakan bola lampu tidak lagi lampu minyak untuk penerangannya
Sesuai dengan perkembangan zaman akan ditemukan alat-alat elektronik
yang memerlukan energi listrik dengan voltase kecil maka pengembanga
pemanfaatn energi yang dihasilkan sidat atau belut ini bisa terealisasi kedepannya.
Setelah berkembang diharapkan pemerintah bisa lebihj memperhatikan dalam
kelestarian belut listrik dan juga pemanfaatn potensi sumber daya alam di
Indonesia ini. Sehingga kasus kekurangn energi, dareah tertinggal penyediaan
jaringan listrik bisa terbantu dengan ditemukannya energi terbarukan ini.
Pemanfaatan belut listrik juga bisa melestarikan populasi belut listrik karena belut
listrik disediakan tempat penangkaran untuk memperpanjang hidupnya.

3
4

GAGASAN

Kondisi Kelistrikan Bangsa Indonesia Saat Ini

Konsumsi listrik nasional tahun 1990 s.d. tahun 2002 meningkat dengan
laju pertumbuhan rata-rata sebesar 10% pertahun dari 27,7 TWh (1990) menjadi
87,1 TWh (2002). Sejalan dengan hal tersebut, produksi listrik PLN meningkat
dari 23,29 TWh pada tahun 1990 menjadi 89,29 TWh atau meningkat dengan laju
pertumbuhan rata-rata 8,8% per tahun. Produksi listrik PLN tersebut memerlukan
bahan bakar fosil dan bahan bakar terbarukan sebesar 72,27 Juta SBM pada tahun
1990 menjadi 178,69 Juta SBM pada tahun 2002 atau rata-rata meningkat sebesar
7,8% per tahun (1).
Jenis bahan bakar yang digunakan oleh pembangkit listrik yang
mengalami peningkatan tertinggi selama periode tersebut adalah bahan bakar gas
bumi, yaitu sebesar 27,8% per tahun, kemudian diikuti pemakaian panas bumi
yang mengalami peningkatan sebesar 15,1%, batubara sebesar 10,1%, minyak
solar sebesar 9,5%, dan tenaga air sebesar 2,7%. Adapun pemakaian minyak
diesel dan minyak bakar untuk pembangkit listrik selama kurun waktu 12 tahun
tersebut menurun masing-masing dengan angka pertumbuhan sebesar -3,3% dan -
1% per tahun (1).
Belum optimalnya pemanfaatan energi baru dan terbarukan disebabkan
energi baru dan terbarukan belum kompetitif dibandingkan dengan energi
konvensional. Salah satu sebab kurang berkembangnya pemanfaatan energi baru
dan terbarukan sampai saat ini adalah harga listrik yang dibangkitkan dari energi
baru dan terbarukan antara lain, PLTN, PLTS, PLTB, PLTMH serta PLT energi
terbarukan lainnya, masih lebih tinggi daripada yang dibangkitkan dengan energi
fosil. Hal ini disebabkan oleh biaya konstruksi per KW pembangkit listrik energi
terbarukan cukup tinggi, dan disamping itu pembangkit listrik tenaga air dan
panasbumi biasanya terletak jauh dari pusat kebutuhan yang menyebabkan biaya
transmisi dan distribusi menjadi lebih mahal.
Selama periode tersebut, belum terdapat PLTN di Indonesia. Pemanfaatan
PLTN biasanya dalam kapasitas pembangkit yang besar, karena pembangkit
tenaga nuklir merupakan pembangkit beban dasar dengan biaya investasi yang
tinggi, tetapi diimbangi dengan biaya bahan bakar yang rendah. Oleh karena itu,
dapat dianggap bahwa PLTN hanya mungkin dibangun di Jawa karena beban
listrik di Jawa jauh lebih tinggi dibanding dengan wilayah lainnya.
Sejalan dengan peningkatan kebutuhan listrik dikemudian hari yang
diperkirakan dapat tumbuh rata-rata 6,5% per tahun hingga tahun 2020, maka
pemanfaatan energi sebagai bahan bakar pembangkit listrik juga akan meningkat.
Untuk itu, diperlukan analisis jumlah dan jenis bahan bakar yang diperlukan
pembangkit listrik.
Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan jumlah
penduduk, kebutuhan akan energi listrik di Indonesia meningkat dengan pesat.
Karena kesalahan perencanaan di masa lalu, kebutuhan energi listrik meningkat
jauh lebih pesat dibanding yang bisa disediakan oleh PT. PLN. Akibatnya, terjadi

4
5

pemadaman bergilir dimana-mana. Padahal hampir setengah daerah di Indonesia


belum mendapatkan kesempatan mendapatkan listrik.
Problem kedua yang dihadapi oleh PT. PLN adalah subsidi yang terus
membengkak. Selisih antara harga produksi dan harga jual energi listrik adalah
penyebab utama. Harga produksi membengkak karena sebagian besar energi
listrik dibangkitkan dengan BBM yang mahal serta tidak efisiennya sistem
pembangkit, transmisi, dan distribusi. Rendahnya harga jual juga menyebabkan
dorongan untuk melakukan penghematan menjadi sangat rendah di kalangan
konsumen.
Problem ketiga yang penting dan unik di Indonesia adalah kondisi
geografis negara kita yang terdiri atas banyak pulau dan terletak di dekat
katulistiwa. Kondisi banyak pulau merupakan kondisi unik yang tidak bisa
dibandingkan dengan negara lain sehingga agak susah melakukan benchmark
apakah sistem kita sudah efisien atau belum. Kondisi negara yang terletak di
katulistiwa juga membawa konsekuensi tersendiri. Di pulau Jawa dan Sumatra
misalnya, semua orang bangun dan tidur pada waktu yang sama, semua
melakukan aktivitas pada jam yang sama. Semua merasakan temperatur yang
hampir sama. Akibatnya, beban puncak di seluruh bagian pulau Jawa dan Sumatra
terjadi pada waktu yang sama. Artinya, keuntungan sistem interkoneksi yang
diharapkan bisa mengurangi beban puncak menjadi tidak ada. Kondisi ini berbeda
dengan Eropa dan Amerika yang temperaturnya berbeda dari bagian satu ke
bagian yang lain dan mempunyai beda waktu yang cukup signifikan. Dengan kata
lain, pola perencanaan yang berjalan baik di Amerika dan Eropa tidak bisa kita
terapkan di Indonesia (1).
Dilain pihak kondisi pemukiman penduduk pesisir dan pedalaman yang
belum tersentuh pembangunan listrik masih dalam keadaan “gelap”. Perlu
dibangun pembangkit listrik, akan teatpi dalam percepatan pemabangunan listrik
tersebut pemerintah dipermasalahkan dengan baiaya pembangunan sehingga
pembangunan tidak bisa terealisasikan. Sampai saat ini masyarakat di pesisir dan
pedalaman untuk penerangan rumah-rumah mereka masih menggunakan lampu
minyak, untuk mencari bahan bakarnya susah minta ampun.

Solusi yang Pernah Diajukan

Masalah khas dari ketenagalistrikan adalah tidak adanya penyimpan energi


listrik yang andal dan efisien. Akibatnya, energi listrik harus dibangkitkan pada
saat diperlukan. Semua pembangkit, saluran transmisi, dan saluran distribusi harus
dibangun dengan kapasitas sama dengan beban maksimum sistem ditambah
dengan suatu margin aman tertentu. Padahal, beban maksimum mungkin hanya
terjadi selama beberapa jam setiap harinya. Akibatnya, lebih dari setengah
pembangkit dan saluran transmisi yang dibangun dengan biaya sangat mahal
harus menganggur setiap harinya.
Sayangnya, negara kita kurang berpihak pada isu penghematan. Harga
listrik yang murah karena subsidi menyebabkan konsumen merasa tidak perlu
berhemat. Tidak ada insentif bagi konsumen yang melakukan penghematan dan
tidak ada insentif untuk produsen yang menjual peralatan hemat energi.
Seharusnya ada regulasi yang mendorong konsumen untuk melakukan

5
6

penghematan dan yang memaksa hanya peralatan yang hemat energi yang bisa
dijual di negara ini. Pemerintah pusat dan daerah serta bumn harus bisa menjadi
contoh dalam gerakan hemat energi ini. Perlu diingat bahwa hemat energi tidak
identik dengan bekerja dalam kegelapan dan tidak nyaman. Penghematan tidak
boleh mengurangi produktivitas dan kenyamanan. Pada banyak kasus,
penghematan bisa dilakukan tanpa biaya. Jika penghematan dilakukan, penulis
yakin bahwa negara ini tidak perlu membangun pembangkit dan saluran transmisi
baru sebanyak yang direncanakan saat ini. Pembangunan 2×10000 MW
pembangkit batubara tidak akan menyelesaikan masalah tetapi malah
menimbulkan masalah baru karena isu kemadirian, isu sarana pendukung, isu
lingkungan, dan isu pembiayaan.
Mandiri Energi Listrik
Pada saat ini, pemerintah berusaha membangun banyak pembangkit listrik
tenaga batu bara yang katanya jauh lebih murah dibanding pembangkit lain. Akan
tetapi perlu diingat bahwa tidak semua daerah mempunyai batu bara. Artinya, batu
bara harus didatangkan dari daerah lain atau bahkan dari negara lain. Dari kondisi
ini saja, kita telah membuat beberapa daerah tidak bisa mandiri energinya.
Penggunaan batu bara juga membawa isu lingkungan tersendiri.
Di pulau Jawa sekalipun, pembangkitnya sebagian besar menggunakan
batu bara. Batu bara harus didatangkan dari Sumatra atau Kalimantan. Artinya,
kebutuhan energi di pulau Jawa sangat tergantung pada daerah lain. Selain itu,
tidak ada perencanaan yang matang dari lokasi penempatan pembangkit. Saat ini,
hampir semua pembangkit besar ada di Jawa Timur dan Barat yang jauh dari
lokasi konsumen. Setiap hari sebagian besar kebutuhan listrik penduduk Jakarta
harus didatangkan dari Paiton yang jaraknya hampir 1000 km.
Mestinya, setiap daerah di rancang untuk mandiri energi. Setiap daerah
harus mempunyai pembangkit yang mampu memenuhi daerahnya. Pasokan dari
daerah lain melalui saluran transmisi hanya digunakan sebagai backup atau
cadangan. Sumber energi yang digunakan harus bisa didapat di daerah tersebut,
bukan mendatangkan dari daerah lain. Jika pulau Jawa terdapat banyak panas
bumi, potensi ini harus dipilih sebelum memilih batu bara. Perlu dicatat bahwa
Indonesia mempunyai potensi panas bumi yang sangat besar. Walaupun pada saat
ini panas bumi lebih mahal dari batu bara, penulis yakin bahwa pembangkit ini
akan lebih murah di masa yang akan datang. Dengan memanfaatkan panas bumi,
kita tidak perlu membangun pelabuhan batu bara dan sistem transportasi yang
mahal. Selain itu, penggunaan panas bumi akan mengurangi emisi CO2 yang
terbukti membahayakan lingkungan. Panas bumi juga harus segera dimanfaatkan
karena tidak bisa disimpan dan tidak bisa dieksport.
Pada saat ini, hanya PT. PLN yang boleh menjual energi listrik ke
konsumen. Monopoli ini membuat tidak adanya insentif bagi PLN untuk
melakukan efisiensi dan bekerja secara profesional. Rakyat tidak mempunyai
pilihan lain. Apapun kwalitasnya, berapapun harganya, rakyat harus terima.
Jika kompetisi dibuka, konsumen bisa mempunyai pilihan. Jika ada
perusahaan lain yang mampu memproduksi listrik dengan biaya dan kwalitas yang
lebih baik. Konsumen pasti mau membayar lebih tinngi jika memang kwalitasnya
lebih baik, seperti halnya Pertamax dibandingkan dengan bahan bakar jenis lain.
Isu kompetisi di tingkat retail ini sejalan dengan kemandirian energi dan regional
pricing. Pembangkit-pembangkit kecil lokal akan mengurangi kebutuhan beban

6
7

puncak sehingga mengurangi biaya saluran transmisi. Pemain lokal juga


diperlukan untuk memenuhi kebutuhan listrik di tempat-tempat yang mana PT.
PLN tidak mampu memenuhinya. Pemain lokal semacam ini hanya akan tumbuh
jika sistem regional pricing dijalankan dan kwalitas dimasukkan dalam aspek
tarif. Adanya pemain lokal juga meningkatkan kemandirian energi suatu daerah.
Isu kompetisi pasti banyak ditentang terutama oleh PT. PLN. Akan tetapi
ini wajar karena sistem yang sudah established pasti menolak perubahan yang
mengganggu status quo. Ini juga sudah terbukti pada awal deregulasi sistem
telekomunikasi, penerbangan, dan penyiaran. Walaupun awalnya banyak yang
mengkhawatirkan, deregulasi terbukti bisa menurunkan harga dan menaikkan
efisiensi. Setiap perubahan pasti mendapatkan tantangan. Akan tetapi kita harus
maju terus dan memperjuangkannya jika kita yakin itu benar dan bermanfaat
untuk negara ini. Undang-undang kelistrikan sekarang yang melarang kompetisi
harus segera diperbaiki.
Adapun solusi lain yang pernah diajukan untuk mengurangi kekurangan
energi lsitrik, para ahli telah membangun suatu pembangkit tenaga nuklir, uap
(geotermal), sel surya, dan lain sebagainya. Tetapi hal itu belum bisa menyentuh
seluruhnya. Di daerah pantai para ahli telah mengembangkan pembangkit listrik
tenaga gelombang pasang, angin, dan lain sebagainya. Hal itu adalah temuan
terbarukan dijamannya, apabila dikembangkan terus menerus, bisa menambah
pasokan listrik negara. Banyak lagi para ahli memanfaatkan tenaga-tenaga alam
dan bahan organik lainya disulap menjadi pembantu dalam pembangkit tenaga
listrik.
Pemerintah pernah memberikan arahan tentang langkah-lngkah kongkrit
dalam penanggulangan kekurangan energi diantarnya :
Langkah jangka pendek yang harus segera dilakukan untuk mengatasi
masalah kelistrikan adalah:
1. Mendorong penghematan energi melalui insentif dan peraturan yang
lebih nyata. Ini bisa dimulai dengan penghematan di kantor-kantor
pemerintah, BUMN,sekolah, kampus dan fasilitas umum.
2. Mendorong pengurangan beban puncak dengan memanfaatkan
pembangkit cadangan yang banyak dimiliki konsumen.
3. Mendorong munculnya pemain baru yang mampu menjual listrik
berdasarkan kwalitas tanpa subsidi. Perlu diingat bahwa peningkatan
kwalitas tidak identik dengan menaikkan harga. Ini terutama penting di
daerah-daerah yang sudah maju atau menuntut pelayanan listrik yang
baik seperti halnya Jakarta, Surabaya, Bali, dan masih banyak lagi.
4. Mendorong penggunaan sumber energi terbarukan tidak hanya di
daerah terpencil tetapi juga di Jakarta yang potensinya besar. Isu
kemandirian energi harus ditekankan dibanding isu penghematan
biaya. Jika sebagian besar gedung di Jakarta mengganti kaca
jendelanya dengan sel surya, hampir 30% kebutuhan energi listrik di
Jakarta berkurang.
5. Mendorong segera disempurnakan undang-undang kelistrikan sehingga
memungkinkan sistem kelistrikan yang sesuai kondisi Indonesia.
Undang-undang ini harus mendorong lahirnya iklim kompetisi yang
menguntungkan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Perlawanan

7
8

terhadap perubahan pasti ada tetapi kita tidak boleh menyimpan bom
waktu.
Adapun dalam rangka hal pemecahan tentang kelistrikan jiga harus
diperhatikan. Berikut sedikit contoh langkah jangka panjang yang harus ditempuh
untuk memecahkan masalah kelistrikan adalah:
1. Mendorong penggunaan sumber-sumber energi yang tersedia lokal di
setiap daerah. Setiap daerah mempunyai potensi yang berbeda-beda.
Sumber energi dari luar daerah harus bersifat suplemen, bukan utama.
Pada saat ini, subsidi sangat besar karena setiap daerah dipaksa
menggunakan pembangkit yang bahan bakarnya tidak terdapat di
daerah tersebut.
2. Menyiapkan SDM yang mampu bekerja dengan iklim kelistrikan yang
baru. Isu SDM ini sangat penting karena pendidikan teknik di bidang
ini sudah lama dibiarkan terlantar tanpa ada program nasional yang
jelas.
3. Mengintegrasikan sistem kelistrikan dengan infrastruktur lainnya
sehingga didapatkan infrastruktur yang murah secara total. Tanpa
adanya integrasi, sangat sulit menciptakan sistem kelistrikan yang
efisien. Tidak ada satupun pemerintah di dunia ini yang berkewajiban
menyediakan listrik di semua daerah dan lokasi. Dana sebesar apapun
tidak akan cukup untuk melistriki semua daerah di Indonesia.
4. Mendorong perkembangan teknologi yang mendukung sistem
kelistrikan yang kompetitif. Perlu banyak teknologi baru untuk menuju
era kelistrikan yang baru dan efisien. Karena kelistrikan Indonesia
bersifat unik maka harus dikembangkan sendiri.
Pemerintah sendiri talah memberikan arahan secara makro tentang
pengembagan energi kelistrikan. Saat ini, sebagian besar kebutuhan akan energi
listrik dipenuhi oleh sumber energi yang kurang layak. Sumber energi listrik yang
berasal dari batu bara dan mesin diesel dengan bahan bakar solar, tidak layak
karena menimbulkan polusi udara, dan sumbernya bukanlah yang dapat
diperbaharui dalam waktu singkat. Kedua sumber energi tersebut dapat habis
dalam jangka waktu yang mungkin tak lama lagi. Pembangkit listrik tenaga atom,
memang menjanjikan energi yang besar, tetapi tidak memiliki kemanan yang
terjamin, dan bisa menimbulkan bencana yang fatal jika terjadi kebocoran radiasi.
Tenaga air dan panas bumi saat ini adalah sumber tenaga listrik yang cukup ramah
lingkungan. Keduanya tidak menimbulkan polusi yang berbahaya (tentu dengan
pengelolaan yang baik). Untuk beberapa daerah, kedua sumber energi itu cukup
banyak. Tetapi krisis air yang telah terjadi di beberapa PLTA di daerah Sumatera,
juga mengingatkan kita bahwa sumber energi ini tidaklah stabil. Untuk kasus
sumber air yang rusak, perlu kita ingat, itu juga akibat kelalaian manusia dalam
mengelola lingkungannya. Jika sumber air dapat terjaga dengan baik, maka PLTA
adalah sumber energi listrik yang memenuhi syarat terbaik untuk dimanfaatkan
manusia. Sumber energi ini tidak menimbulkan polusi dan tersedia dalam jumlah
banyak. Teknologi untuk pemanfaatannyapun cukup sederhana (1).
Masih ada sumber energi listrik yang lain yang bisa dimanfaatkan untuk
memenuhi kebutuhan manusia akan energi ini. Angin, panas matahari, gelombang
laut, bio-energi, adalah beberapa alternatif yang mungkin digunakan. Beberapa
sumber energi tersebut bergantung dengan lokasi tertentu. Tidak semua tempat

8
9

memiliki sumber energi yang banyak untuk beberapa pilihan tersebut. Gelombang
laut dan angin mungkin dapat dimanfaatkan oleh daerah pantai.

Solusi yang Diajukan

Pembangkit listrik yang ideal seharusnya dapat memenuhi 3 syarat, yaitu


tidak menimbulkan polusi, sumber energi tersedia dalam jumlah yang banyak, dan
dapat dibangun dengan teknologi sederhana. Oleh karena itu kita mencoba
mengembangkan konsep pengembangan energi listrik ysng dihailkan oleh belut
lsitrik.
Electrophorus electricus, lebih dikenal sebagai belut listrik, menempati
bagian timur laut Amerika Selatan, termasuk Guyanas dan Sungai Orinoco
Amazon, sedangkan di wilayah Indonesia banyak ditemukan di pesisir Pantai
Kepulaun Seribu, Pangandaran dan lau-laut dalam. Adapun klasifikasi belut listrik
adalah :
-> Kingdom : Animalia
-> Phylum : Chordata
-> Subphylum : Vertebrata
-> Class : Actinopterygii
-> Order : Gymnotiformes
-> Suborder : Gymnotoidei
-> Family : Electrophoridae
-> Species : Electrophorus electricus
Spesifikasi fisika belut listrik adalah : massa 20 kg, panjang 2,50 m. Belut
listrik tidak benar-benar belut, mereka sebenarnya ostariophysians, namun
memiliki kemiripan fisik yang kuat untuk benar belut. Tubuh panjang dan seperti
ular, kekurangan caudal, sirip dorsal dan panggul

Gambar 1. Belut listrik


E. electricus tinggal terutama di bagian bawah sungai berlumpur dan
kadang-kadang rawa-rawa, dan memilih daerah sangat gelap. Namun, mereka
harus permukaan agak sering karena mereka udara yang bernapas, memperoleh
sampai 80 persen dari oksigen melalui metode ini. Alat ini memungkinkan E.
electricus untuk bertahan hidup dengan nyaman dalam air yang memiliih
konsentrasi yang sangat rendah oksigen terlarut.
Meskipun belut listrik memiliki potensi untuk menjadi binatang yang
cukup agresif . Belut listrik benar-benar hanya menggunakan organ tubuh mereka
yang kuat lucutan listrik untuk memangsa dan tujuan defensif. Organ listrik lemah
digunakan untuk pembuangan electrolocation serta identifikasi terhadap benda
asing. Hal ini khususnya penting karena penglihatannya kurang. Mereka adalah
hewan nokturnal yang hidup di perairan yang berlumpur hitam, jadi mereka harus
bergantung pada listrik yang dikeluarkannya untuk merasakan adanya ancaman

9
10

dan gangguan. Belut listrik cenderung tinggal relatif kaku untuk sepenuhnya
menggunakan kemampuan listrik. Mereka memiliki muatan positif di dekat
kepala, sedangkan ujung ekor adalah negatif. Ketika pemindaian lingkungan
mereka dengan arus listrik, mereka mulai pada ekor dan menyelesaikan dengan
kepala. Untuk melakukan hal ini ikan harus mampu berenang mundur.
Belut listrik melindungi dirinya dengan cara mengejutkan listrik. Mereka
dapat menghasilkan tegangan setinggi 650 volt. Meskipun shock ini jarang
mematikan itu sudah cukup untuk mencegah serangan musuh. Pulsa elektrik
defensif ini diciptakan oleh dua organ dalam E. electricus, Main dan Hunters
organ seperti terdapat pada gambar 2.

Gambar 2. Medan listrik yang dihasilkan oleh belut listrik


Energi listrik yang dihasilkan yang bisa mencapai 500-650 volt ini,
sebanding dengan arus satu ampere, kita manfaatkan sebagai sumber listrik.
Dengan cara merangsang belut listrik supaya dibuat merasa terganggu, sehingga
menghailkan listrik, listrik yang dihasilkan oleh belut listrik, dikarenakan 7/8
bagian tubuh belut listrik merupakan ekor terdidri atas lempengan-lempengan
baterai sebanyak 5000 buah yang tegangannya masing-masing sebesar 1,2 volt.
Apabila berderet secara seri maka kita akan mengahsilkan tegangan kurang lebih
sebesar (1,2 volt X 5000 = 600 Volt) untuk karaktristik belut yang panjangnya
sekitar 2 kuer.
Kepala yang berkutub negatif dan ekor berkutub positif dihubungkan oleh
kabel yang membawa arus sebesar satu ampere tegangan 600 volt terhadap
promotor, merubah arus AC menjadi DC, lalu promotor yang mengeluarkan arus
DC dihubungkan dengan baterai/accu serta dihubungkan terhadap inverter dan
dihubungkan terhadap alat pemanfaat energi, seperti lampu rumah, atau alat
elektronik lainya seperti radio.

10
11

Gambar 3. Skema aliran listrik

Pihak-Pihak Terkait yang Bisa Mengimplementasikan Gagasan

• Jurusan Fisika FMIPA UNPAD : dalam hal ini, pihak jurusan memberikan
dukungan berupa bimbingan untuk tahapan awal pengembangan gagasan
ini. Yang berupa bimbingan dalam teknologi kelistrikannya. Secara teknis
dukungan tersebut adalah pinjaman fasilitas labolatorium dan
pendampingan oleh dosen yang kompeten dalam pembuatan alat untuk
menangkap energi listrik dan penampungan.
• Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan : sebagai mitra
kerja antar displin ilmu yang mengembangkan studi literatur tentang
hewan avertebrata khususnya dalam hal ini belut listrik. Supaya bisa
banyak mengetahui daerah sumber populasi belut listrik terbanyak di
Indoneisa.
• Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan BPPT : Kami sadari
bahwa yang kami ajukan dalam proposal ini adalah gagasan yang besar
dan prospektif, untuknya kami merasa bahwa diperlukan dukungan
pemerintah untuk pengembangan gagasan ini. Secara lebih kongkrit
dukungan dari LIPI dan BPPT dapat berupa dukungan fasilitas penelitian,
dukungan fasilitas pembangunan, ataupun dukungan berupa bimbingan.
Serta pembanguan berupa alat-alat perangsang belut listrik supaya
mengeluarkan energinya, serta alat-alat penampung energi belut listrik.
• Departemen Kelautan dan Perikanan, untuk membantu memfasilitasi alat-
alat nelayan dalam penangkapan belut listrik, pemetaan laut, serta
penangkaran belut listrik di pesisir pnatai.
• Departemen Pekerjaan Umum, untuk menfasilitasi pemabangunan irigasi
penangkaran, pembuatan danau/waduk serta pelebaran sungai sebagai
pengairan untuk habiat belut listrik.

Langkah Strategis yang Dilakukan

• Langkah awal , studi literatur.

11
12

Tahapan awal berupa studi literatur terhadap seluruh objek dan alat terkait
gagasan ini. Secara lebih terperinci, tahapan awal adalah tahapan untuk
meneliti belut listrik meliputi kondisi habitat belut listrik, bagaimana belut
listrik dapat mengeluarkan sengatan listrik dan bagaimana fisiologinya.
Kemudian tahapan selanjutnya adalah meneliti bagaimana listrik yang
berasal dari sengatan belut listrik dapat dialirkan ke dalam penyimpan
arus sementara (misalkan aki), supaya bisa dimanfaatkan.
• Tahapan kedua adalah uji labolatorium
Uji labolatorium tentang kebenaran studi literatur, apakah sesuai atau tidak
denagn teori yang dikemukakan. Dengan bekerja sama pihak LIPI dan
akademisi dari universitas untuk meneliti bagaimana kesesuai belut listrik
tersebut dengan gagasan atau teori.
• Tahapan ketiga adalah pebuatan kolam atau danau buatan untuk
pembudidayaan belut listrik, pembuatan alat penampung energi listrik.
Pada tahapan ini kita mulai mencoba membudidayakan habitat belut listrik
di tempat-tempat penangkaran seperti danau, waduk, sungai, dan lain
sebagainya. Alternatif lain sebagai cara untuk penangkaran belut adalah
dengan membuat penangkaran belut didalam laut dimana tempat habitat
belut itu berada. Dengan merancang kontruksi kandang belut yang ideal,
tanpa merusak habitat dan ekosistem yang ada. Dengan bantuan
Departemen kelautan yang mampu memberikan peta konsep tentang
kondisi ekosistem laut. Departemen Pekerjaan Umum dalam pembuatan
kolam atau irigasinya. Setelah bekerjasa,a dengan BPPT dalam pembuatan
alat-alat penyaluran dan penampung energi lsitrik yang dihasilkan belut.

KESIMPULAN

Gagasan yang diajukan adalah pemanfaatan energi listrik yang disengatkan


oleh belut listrik bisa dialirkan kedalam penampung sementara berupa alat
penampung (boleh accumulator) atau sejenisnya. Gagasan ini memerlukan
implementasi skala sebagai pengujian dari hipotesa awal.
Adapun teknik yang nyata bisa dilakukan adalah
• Peneliatian dan studi pustaka
• Uji labolatorium
• Pembangunan dan pembuatan segala keperluan yang berkaitan dengan
pemanfaatan energi yang dihasilkan belut listrik
• Pemanfaatn hasil/ penggunaan
Semua itu tidak lepas dari kerjasama dengan pihak-pihak terkait yang bisa
membantu dalam pengembangn gagasan ini menjadi sebauh kenyataan.
Jika kita menghitung satu belut listrik yang panjangnya dua meter atau
satu meter. Dengan diasumsikan belut listrik yang panjangnya 2 meter, 7/8
ekornya terdiri atas 5000 buah batrei yang terangkai berupa lempengan baterai
alami. Satu baterei menghasilkan1,2 volt di kalikan 5000, hasilnya berkisar 600

12
13

volt dalam satu sentakan. Satu belut bisa memberikan sentakan sampai empat kali
jika mendapatkan bahaya atau rangsangan yang menggangu. Tetapi voltase yang
dihasilkan lebih rendah.
Supaya belut listrik tidak kelelahan, setelah diberi rangsangan
dikembalikan ke habitatnya. Selama 2 hari untuk kembali pada keadaan awal.
Dengan gagasan ini kami yakin bisa terimplementasi jika kita sungguh-sungguh
mengkajinya lebih jauh lagi.

13
14

DAFTAR PUSTAKA

Anonim1.2009. Activity Electric Fish. http://www.amazonvoyage.org/html.


(diakses 1 maret 2010)

Anonim2. 2007. http://forum.djawir.com/elektronika-umum-127/ask-cara-


membuat-charger-buat-aki-
35001/assets/downloads/Educators%20Guide_9-12.pdf (diakses 3 maret
2010)

Anonim3. 2003. Promotion of Renewreable Energy, Energy of Greenhouse Gas


Abatement. Country (diakses 4 maret 2010)

Caroline C. Curtis, Philip K. Stoddard. 2002. Mate preference in female electric


fish, Brachyhypopomus pinnicaudatus. Elsevier Science Direct.

Diego Rother, Adriana Migliaro , Rafael Canetti, Leonel Gómez a , Angel Caputi
, Angel Caputi , Ruben Budelli . 2003. Electric images of two low resistance
objects in weakly electric fish. Elsevier Science Direct.

James H Thorp, Alan P Covich. 2001. Ecology and Classification of North


American Fresh Water Invertebrates. Academic Press.

Setyawan H, Potentials and Thermodynamics of Cells, Jurusan Teknik Kimia FTI


– ITS
Ramdani, mohammad. 2003. Rangakaian listrik. Bandung. STT Telkom.

14
15

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Ketua Pelaksana

Nama : Enang Saepuloh


NIM : 140310090006
Tempat/Tanggal lahir : Tasikmalaya, 7 Desember 1990
Jenis Kelamin : Laki-laki
Berat / Tinggi badan : 50 kg / tinggi 165
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Status pernikahan : Belum menikah
Hobi : Menulis

Riwayat Pendidikan :
TK : TK Sayiful Ulum 1997
SD : SDN Pondoksari 2003
SLTP : MTs. Al-Misfalah 2006
SMK : MAN Kiarakuda Ciawi 2009

Pengalaman Organisasi :

- Ketua Osis MAN Kaiarakuda Ciawi 2008


- Ketua IPMT 2009
- BEM KEMA FMIPA UNPAD 2010

Enang Saepuloh
NIM. 140310090006

15
16

1. Anggota Satu

Nama : Thoriq Syaeful Rahman


NIM : 140310080035
Tempat/Tanggal lahir : Sumedang, 04 Juli 1991
Jenis Kelamin : Laki-laki
Berat / Tinggi badan : 51 Kg / 172 cm
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Status pernikahan : Belum menikah
Hobi : Main Piano, Baca, Belajar.

Riwayat Pendidikan :

SD : SDIT IMAM BUKHARI 2003


SLTP : SMPIT IBNU ABBAS 2006
SMA : SMAN 1 Sumedang 2008

Pengalaman Organisasi :

- Wakil Ketua II BPM Kema FMIPA Unpad 2009-2010


- Staff Penalaran Akademik BP HIFI FMIPA Unpad 2009-2010
- Staff Syiar Dakwah KAMUFI Unpad 2009-2010

Thoriq Syaeful Rahman


NIM. 140310080035

16
17

2. Anggota Dua

Nama : Imam Budi Aji


NIM : 230110090101
Tempat/Tanggal lahir : Klaten, 7 Januari 1990
Jenis Kelamin : Laki-laki
Berat / Tinggi badan : 54 Kg / 170 cm
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Status pernikahan : Belum menikah
Hobi : Volley ball, bermain gitar, menciptakan lagu

Riwayat Pendidikan :

TK : TK Dharma Wanita, Klaten 1996


SD : SDN Jurang-jero II, Klaten 2002
SLTP : SLTPN II Karanganom, Klaten 2005
SMK : SMK Muhammadiyah 1 Klaten 2008

Pengalaman Organisasi :

- Anggota OSIS SMK 1 Muhammadiyah, Klaten 2007


- Wakil Ketua Remaja Masjid “Al-Hidayah”, Klaten 2007-2008

Imam Budi Aji


NIM. 230110090101

17
18

Pembimbing

a. Nama Lengkap dan Gelar Kusnahadi Susanto.,S.Si.,MT


b. Golongan/Jabatan/NIP III.a / Asisten Ahli / 19800914 200501 1 002
c. Tempat dan Tanggal Lahir Bandung, 14 September 1980
Jurusan Fisika
d. Alamat Kantor Fakultas MIPA – Unpad
Jl. Raya Bandung-Sumedang KM. 21 Jatinangor
e. Telepon Kantor 022 – 7796014
Jl. Andir No.130. RT.01/RW.10
f. Alamat Rumah
Kel.Dunguscariang Kec. Andir Bandung – 41380
g. Telepon/HP 081 322 744 935
h. E-mail k.susanto@unpad.ac.id - cozy_fi@yahoo.com

- Geofisika Eksplorasi
j. Bidang minat penelitian
- Instrumentasi Geofisika
i. Pendidikan Terakhir
S2 – Teknik Geofisika ITB

k. Pengalaman Penelitian
Kusnahadi S, Ahmad Zaenuddin. Karakterisasi Zona Sliding Dan Arah Gerakan Tanah
(Longsor) Di Perbukitan Ranggawulung Subang Menggunakan Metoda Geolistrik
Tahananjenis Dan Global Positioning System (GPS). Fisika Unpad – Geofisika Unila.
Didanai Hibah Strategis Nasional – DIKTI NO. 1159/H6.1/Kep/HK/2009.

Asep H, Kusnahadi S. Eksplorasi Geofisika Untuk menemukan lahan tambang X baru di


daerah Toli-Toli Sulawesi Tengah menggunakan metoda geolistrik 2D. Kerjasama dengan
PT. GeoOre Intercontinent, 2009.

Asep H, Kusnahadi S. Eksplorasi Geofisika Untuk menemukan Prospek air bersih daerah
X di wilayah Binjai Sumatra Utara. Kerjasama dengan PT. Aqua. 2009

Kusnahadi Susanto.,S.Si.,MT
NIP : 19800914 200501 1 002

18

Anda mungkin juga menyukai