Anda di halaman 1dari 6

TEORI ADMINISTRASI

Reformasi Birokrasi di Indonesia


Belum Sempurna

Disusun Oleh:
NAMA : Fauzy Yudistira
NIM : 08.11. 252
DOSEN PENGAJAR : SUHU

SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINSTRASI


SATYA NEGARA PALEMBANG
2010-2011

Reformasi Birokrasi di Indonesia hanya omong


kosong

1
Oleh : Fauzy Yudistira

Pada saat awal terjadinya reformasi di Indonesia, salah satu agenda


politiknya adalah reformasi birokrasi dan reformasi birokrasi sangat erat
kaitannya dengan reformasi administrasi khususnya di lembaga-
lembaga milik pemerintah. Harus penulis akui ada beberapa departemen
dan lembaga pemerintah yang telah mereformasi lembaganya sehingga
kinerjanya bisa dikatakan baik. Seperti Departemen pendidikan,
Departemen kesehatan dan Dirjen Pajak yang mendapat penilaian baik
dari dalam negeri maupun dari pihak luar.

Sayangnya hanya sedikit lembaga pemerintah yang menerapkan dan


melakukan reformasi administrasi secara sungguh-sungguh. coba anda
bandingkan pelayanan administrasi public yang dikelola swasta dengan
kantor pelayan public yang di pegang oleh pemerintah sangat jauh
berbeda, baik dari sisi pelayan administrasi dan prosedur
administrasinya. Penulis yakin pembaca pasti mempunyai pengalaman
yang serupa dengan penulis. Pelayanan administrasi dan prosedur
administrasi di kantor dan biro-biro pemerintah sangat rumit dan
berbelit-belit dan sudah tentu mahal karena banyak biaya-biaya siluman
yang harus masyarakat bayar ke oknum-oknum pegawai dikantor
tersebut.

Hal inilah yang menjadi perhatian dan menimbulkan rasa prihatin


penulis sehingga penulis membahas hal ini. Penulis akan membahas
sebuah lembaga pemerintah di kota palembang yang menjadi tempat
tinggal penulis. Departemen ini sangat familiar dimata masyarakat
karena departemen ini yang menjadi administrator. Pengawas dan
eksekutor dibidang yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Karena
besarnya wewenang diemban menjadikan oknum-oknum di lembaga
pemerintah ini menjadi lupa diri dan lupa tanggung jawab akan tugas
dan kewajibannya Sebagai pegawai negeri.

Anda pernah mengunakan angkutan kota atau bus kota, penulis yakin
semua orang di negara ini pernah naik angkutan kota maupun bus kota.
Nah banyak angkot atau bus yang anda jumpai di kehidupan anda
sehari-hari. Semua angkutan umum baik di daratan, laut dan udara
berada dalam satu pengawasan yaitu departemen perhubungan. Penulis
akan membahas tentang dinas perhubungan kota palembang khususnya
di divisi angkutan darat.

Secara umum untuk dapat memperpanjang dan mengubah izin trayek


angkutan kota (Angkot) harus memenuhi tiga persyaratan yaitu :

2
1. Persyaratan administrasi
2. Perayaratan Teknis
3. Membayar biaya perizinan

Penulis mendapatkan source data dari website departemen


perhubungan yaitu:

1. Persyaratan Administrasi meliputi hal-hal sebagai berikut :


a. Memiliki surat izin trayek yang masih berlaku.
b. Memiliki kendaraan bermotor yang layak jalan dan
dibuktikan dengan buku uji (kir).
c. Mempunyai tempat penyimpan kendaraan bermotor
dibuktikan dengan gambar atau foto lokasi penyimpanan.
d. Menyerahkan surat keanggotaan Organda.

2. Persyaratan Teknis meliputi dua hal yaitu:


a. Memperlihatkan secara fisik kendaraan bermotor
kepada petugas.
b. Serta mengupayakan agar memberikan pelayan
terbaik kepada penumpang.

3 Membayar biaya perizinan sebesar Rp.


25000,- (Nasional)

Namun kenyataan dilapangan sangat jauh berbeda dari aturan. Penulis


mempunyai pengalaman nyata akan proses perizinan di dinas
perhubungan kota palembang. Kebetulan kelurga penulis mempunyai
angkot jurusan Kenten Laut - Pasar Kuto.

DISHUB KOTA
Penulis akan menceritakan pengalaman pertama penulis saat
memperpanjang izin trayek. Pada tahun 2005. Saat penulis memasuki
kantor dishub kota di pelabuhan 35 ilir palembang, di pintu gerbang
terpampang papan reklame yang bertuliskan “ JANGAN MENGGUNAKAN
CALO ” Belum sempat penulis memasuki kantor tersebut penulis
dicegat oleh petugas disana.

Petugas itu menayakan ada kepentingan apa saya datang ke kantor ini.
Lantas penulis utarakan maksud kedatangan saya untuk
memperpanjang trayek angkutan kota milik keluarga penulis serta
menanyakan syarat-syarat apa saja yang harus di penuhi agar bisa
memperpanjang trayek tersebut.

3
Kemudian petugas menanyakan surat-surat apa saja yg penulis bawa
dan ditunjukan kepada petugas itu, tak lama kemudian petugas itu
hanya mengambil surat izin trayek dan berkata “Biaya nya dua ratus
ribu” awalnya saya agak bingung namun akhirnya saya mengerti
maksud ucapannya. Saya pun berkata “Kok mahal benar, di papan itu
hanya tertera Rp. 60000,-” sembari menujuk sebuah papan yang tak
jauh dari pintu gerbang kantor. Lalu petugas itu berkata “Suruh be
papan itu yang ngurusnyo” aku terdiam tak bisa bicara, mau tak mau
akhirnya penulis meminta keringanan biaya dan bernegosiasi dengan
petugas tersebut.

Singkat cerita dicapai kesepakatan yaitu 170 ribu biaya yang harus
penulis keluarkan. Dan saat penulis meminta kwitansi sebagai bukti
pembayaran petugas itu tidak memberikannya yang penting besok
sudah selesai trayek nya.

Coba anda bayangkan berapa banyak jumlah angkutan di kota


palembang. Tentu anda telah dapat menduga berapa rupiah yang
terkumpul dari masyarakat dikarenakan ulah semua petugas di tempat
itu. Penulis yakin semua petugas itu berbagi rata atas kejahatan
mereka.

Masyarakat dihadapkan dengan satu pilihan sehingga mau tak mau


masyarakatpun harus mengikuti apa yang menjadi peraturan yang
dibuat oleh petugas-petugas disana. Hingga saat ini pun tak pernah
mengalami perubahan administrasi maupun reformasi prosedur dalam
melayani masyarakat.

Belum lagi masalah pengujian kendaraan umum, semua petugas disana


menjadi calo dengan biaya-biaya yang jelas mereka tentukan sendiri.
Bagaimana tidak mengunakan calo jika yang jadi calo ternyata petugas
itu sendiri.

Langkah-langkah pembenahan.
Penulis belum merasa pantas memberikan solusi namun penulis tetap
mencoba memberikan langkah-langkah yang membangun untuk
kepentingan bersama. Menurut penulis langkah-langkah yang harus
dilakukan adalah untuk membenahi kebobrokan yang terjadi adalah :

1. Leadersip (kepemimpinan)
Masukan orang yang jujur dan melakukan semua tugas sesuai
dengan protap yang telah ditentukan. Sehingga bisa
mengurangi resiko terjadinya kecurangan.

4
2. Main Set (Pola pikir)
Yaitu mengubah pola pikir dan filosofi serta tujuan menjadi
pegawai negeri sipil bukan untuk dilayani melainkan untuk
melayani sehingga sumber daya manusianya menjadi lebih
disiplin dan ulet.

3. Seleksi Terpusat (Penerimaan)


Seleksi dengan adil dan ketat semua anggota masyarakat yang
ingin berkarir menjadi abdi negara sesuai dengan
kemampuannya dan memiliki kwalitas yang baik. Serta
perekrutan dilakukan oleh kementrian perhubungan pusat
sehingga mengurangi resiko KKN dalam perekrutan pegawai
negeri sipil. Dan ini memenuhi rasa keadilan masyarakat
semua lapisan bukan hanya kelurga pejabat didaerah yang bisa
berkarir menjadi abdi negara.

4. Reformasi Sistem dan Prosedur


Reformasi sistem dan prosedur di dinas perhubungan dengan
sistem komputerisasi sehingga semua rangkaian kerja dapat
terekam dan tersimpan dalam pusat data sehingga
mempercepat proses pelayanan terhadap masyarakat dan juga
dapat memudahkan dalam hal pengawasan kerja dan evaluasi.

5. Perkuat fungsi pengawasan


Dengan pengawasan yang ketat ini dapat mengurangi secara
signifikan terjadinya korupsi. Badan Pengawasan itu diberikan
hak-hak untuk melakukan tindakan-tindakan di kala ada oknum
yang melanggar aturan. Kalo perlu diberi hak untuk pemecatan
jika kesalahan yang dilakukan sudah sangat berat.

6. Reward and punishment (penghargaan dan hukuman)


Berikan penghargaan kepada pegawai-pegawai yang
berprestasi yang telah menjalankan tugas dan fungsinya
dengan benar dan sesuai aturan baik berupa bonus ataupun
tunjangan yang dapat memacu dirinya agar bekerja dengan
penuh semangat.

Jangan ragu untuk menguhukum pegawai yang malas dan


melakukan korupsi atau pun melanggar aturan sehingga
memberikan efek jera kepada pegawai lain agar tidak dengan
sengaja melakukan kesalahan atau pun melakukan kecurangan
(korupsi) dalam pekerjaannya.

5
7. Kesejahteraan
Tingkatkan kesejahteraan pegawainya dengan keadaan yang
layak dan cukup ini dapat mengurangi kecurangan (korupsi)
dari pegawai dan petugas yang bekerja. Karena masalah
kesejahteraan ini merupakan hal yang paling di tuju setiap
manusia didunia termasuk juga pegawai negeri sipil. Penulispun
menyadari bahwa kesejahteraanlah menjadi penyebab utama
terjadinya praktek korupsi.

Usia Bangsa Indonesia memang masih sangat muda, setelah


dijajah selama 350 tahun sedikit banyak budaya feodalisme masih
melekat di masyarakat Indonesia. Bangsa ini masih belajar dan terus
belajar menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. Penulis
berkeyakinan ada suatu masa dimana baik rakyat dan pemerintahan
republik Indonesia mencapai keaadaan yang baik yang dipandang dan
disegani oleh negara lain. Kapan hal itu terjadi? Hanya tuhan yang tau.

Semoga apa yang penulis bahas diatas menjadi pembelajaran bagi


kita bersama dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.