Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN

FISIOLOGI TANAMAN

PENENTUAN TEKSTUR TANAH DAN PENETAPAN STABILITAS


AGREGAT DI LABOR BPTP SOLOK

Oleh :

Aprisal Saprianto
BP : 07 016 004

Dosen Pembimbing :

Ir. Edi Joniarta, MP

PROGRAM STUDI TEKNIK SUMBER DAYA AIR DAN LINGKUNGAN


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH
PAYAKUMBUH
2009

1
PENENTUAN TEKSTUR TANAH

Tekstur tanah merupakan susnan relatif dari besar butir tanah, terdiri dari pasir
berukuran2 mm- 50 u, debu berukuran 50 u – 2 u dan liat berukuran kurang dari 2 u
(menurut USDA).
Dalam tekstur tanah terdapat 12 kelas yaitu : pasir, debu, liat, pasir berlempung,
lempung berpasir, lempung, lempung berdebu, lempung berliat, lempung liat berpasir,
lempung liat berdebu, liat berpasir dan liat berdebu. Penetapan tekstur tanah
didasarkan pada hukum Stokes yang menyangkut kecepatan pengendapan dari pada
butiran berbentuk bola dalam suatu cairan.
V = 2/9 g.r2 (d1-d2)/n
Dimana :
V = kecepatan pengendapan.
G = gravitasi.
R = jari-jari butiran.
D1 = berat jenis butiran.
D2 = berat jenis cairan.
N = kekentalan cairan, tergantung pada suhu.

Pada dasarnya penetapan ini harus dilakukan pada suhu tetap dan kisaran berat
jenis butiran tanah diabaikan. Penetapan tekstur tanah yang umum dilakukan
dilaboratorium ialah dengan cara pipet dan cara hydrometer. Dibawah ini adalah cara
penetapan dengan pipet.

Alat-alat yang digunakan :

 Gelas piala (beaker glass) 2 liter.


 Gelas ukur 1 liter.
 Ayakan 50 u, 100 u, dan 500 u. Apabila fraksi pasir tidak akan dipisah-pisahkan
lagi maka cukup dengan ayakan 50 u saja.
 Bak perendam.
Prosedur kerja analisa tekstur :

2
 Timbang tanah 10 g, masukan kedalam gelas piala.
 Tambahkan H2O2 50 ml, kemudian panaskan sampai asapnya habis.
 Tambahkan aquades sampai volumenya 200 ml tambah HCL 20 ml.
 Biarkan mendidih 10 menit. Jadikan volume sampai 700 ml dengan penambahan
aquades, kemudian panaskan lagi sampai volumenya kembali 200 ml.
 Kemudian dinginkan 1 malam.
 Keesokan harinya tambahkan Natrium Difosfat (NA4P2O7 10 H2O) 10 ml..
 Saring dengan ayakan 212 mikro meter.
 Setelah didapatkan pasir volume cairan jadikan 500 ml tambah aquades
kemudian aduk selama 1 menit.
 Lalu di pipet 20 ml, dimasukan cawan penguap.
 Biarkan selama 3 jam kemudian pipet 20 ml dan masukan ke cawan (untuk
debu).
 Terlebih dahulu timbang cawan penguap dan masukan kedalam cawan
kemudian masukan kedalam oven pada suhu 105 selama 1 malam atau 12 jam.
 Setelah kering dinginkan dan ditimbang.

Pengamatan ini dilakukan selama 3 hari- 3 malam supaya data yang dibutuhkan
bisa di dapatkan secara valid.
Dibawah ini ada contoh hasil penetapan tekstur yang kami lakukan didalam labor
tekstur. Kami terpaksa mengambil sampel tanah yang sudah jadi, karena untuk
pengamatan nya memakan waktu yang cukup lama jadi kami dari mahasiswa tidak
bisa menunggu lama lagi. Sehingga data yang sudah ada kami jadikan patokan sebagai
bukti bahwa kami ke labor BPTP sudah mendapatkan hasil.

3
Contoh hasil penetapan tekstur :

A. Sampel pasir.
Berat cawan kosong penguap = 21.90
Berat cawan + isi = 22.30
Berat cawan + isi – berat cawan kosong = 0.40
Rumusnya :
Pasir = A/ A+25 (B-0.01) x 100%.
Jawab
Pasir = 0.40/ 0.40+25 (0.30-0.01) x 100%.
= 0.40/ 25.4 (0.29) x 100%.
= 0.40/ 7.366 x 100% = 5.43.

B. Sampel debu.
Berat cawan kosong = 23.40
Berat cawan + isi = 23.70
Berat cawan + isi – berat cawan kosong = 0.30
Rumusnya :
Debu = 25 (B-C) / A+25 (B-0.01) x 100%.
Jawab
Debu = 25 (0.30-0.10)/ 0.40+25 (0.30-0.01) x 100%.
= 25 (0.20)/ 25.4 (0.29) x 1005.
= 5/ 7.366 x 100% = 67.88.

C. Sampel liat.
Berat cawan kosong = 23.00
Berat cawan + isi = 23.10
Berat cawan + isi – berat cawan kosong = 0.10
Rumusnya :
Liat = 25 (C-0.01) / A+25 (B-0.01) x 100%.

4
Jawab
Liat = 25 (-0.01)/ A+25 (B-0.01) x 100%.
= 26.69

Disini data atau jumlah ke-3 data harus 100% tidak lebih, makanya kenapa saya
tidak mencari hasil liat dengan menggunakan rumus, karena hasilnya sudah dipatokan
dari hasil pasir dan debu. Misalnya = hasil debu + hasil pasir – 100%.
= 5.43 + 67.88 = 100 - 73.31 = 26.69. maka data liat yang kami dapat diwaktu labor
adalah 26.69, karena kami mengambil patokan yang diajari oleh ibuk yang
membimbing kami dilapangan atau petugas dari BPTP sendiri.

Selain ini juga ada sampel tanah yang ada pada buku atau contoh soal tentang
hasil penetapan tekstur dilapangan.
Sampel Jonggol.
Volume pipet 49.6763 cc (Al) 9.4123 cc (A2).
Berat kering peptisator 0.8667 g (B).
Fraksi <50 u 0-50 u 0-20 u 0-10 u 0-2 u
No. Cawan 22 25 5 29
Brt cwn + tnh 39.8338 39.9966 40.0911 39.0952
Berat cawan 39.1180 39.8735 39.9700 39.0035
Berat fraksi 0.7158 0.1231 0.1211 0.0917
(c) (c1) (c2) (c3) (c4)
Berat fraksi 14.4093 13.0786 12.8716 9.7426
Dalam 1 liter
(D) (D1) (D2) (D3) (D4)
Berat fraksi - 13.5426 12.2119 12.0049 8.8759
Brt peptisator

5
Fraksi 50 u total berat 50-100u, 100-200u, 200-500u, 500-1000u, >1000u.
(P) (P1) (P2) (P3) (P4) (P5)
4.5604 2.4487 0.8992 0.5725 0.3443 0.2957

Berat fraksi <50u +>50u 18.1030(E)


Berat fraksi/ 100 gx5 90.5150
% bahan organik 1.50
% kandungan air 6.10
% CaCO3 -
Total (T) 98.1150

0-20 2-10u 10- 20- 50- 100- 200- 500- >1000u Total
20u 50u 100u 200u 500u 1000u

Fraksi (F1) (G1) (H1) (K1) (L1) (M1) (N1) (O1) (Q1) (R)
Mineral/ 49.050 17.248 1.158 7.351 13.526 4.967 3.162 1.902 1.633 100.033
100 g tnh

Fraksi (F2) (G2) (H2) (K2) (L2) (M2) (N2) (O2) (Q2) 100.0
mineral 49.0 17.3 1.2 7.3 13.5 5.0 3.2 1.9 1.6
x 100%
fraksi
mineral

Jadi :
 Fraksi liat (0-20) = 49.0%
 Fraksi debu (20-50u) = 25.8%
 Fraksi pasir (50u-2mm) = 25.2%

6
PENETAPAN STABILITAS
AGREGAT

Dengan stabilitas (kemantapan) agregat tanah dimaksudkan ketahanan agregat


tanah terhadap daya yang dapat menimbulkan penghancuran agregat tersebut.
Penetapan stabilitas agregat tanah secara kwantitatip dilaboratorium dilakukan
dengan cara pengayakan kering dan basah menurut metoda yang dikemukakan olejh
De Leenher dan De Boodt (1959). Dasar dari pada metoda ini aialah mencari perbedaan
rata-rata berat diameter agregat tanah pada pengayakan kering dan pengayakan basah.

Cara kerja :
A. Pengayakan kering.
 Contoh tanah diambil dari lapang, kemudian dikering udarakan (jangan
ditumbuk).
 Kira-kira 500 gram tanah kering udara ditaruh diatas ayakan 8 mm.
Dibawah ayakan ini berturut-turut terdapat ayakan-ayakan 4.76 mm,
2.83 mm, 2 mm dan 0 mm.
 Tumbuk tanah dengan anak lumpang (alu kecil) sampai semua tanah
turun melalui ayakan 8 mm.
 Goncang ayakan ini dengan tangan 5 kali.
 Masing-masing fraksi agregat lalu ditimbang, kemudian nyatakan dalam
%. Persentasi agregat = 100% dikurangi dengan % agregat lebih kecil
dari 2 mm.
 Lakukanlah pekerjaan ini sebanyak 4 kali ulangan.

B. Pengayakan basah.
 Agregat-agregat yang diperoleh dari pengayakan kering, kecuali agregat
lebih kecil dari 2 mm ditimbang dan masing-masing dimasukan kedalam
cawan nikel (diameter 7.5 cm, tinggi 2.5 cm) banyaknya di sesuaikan
dengan perbandingan ketiga agregat tersebut dan totalnya harus 100
gram.

Misalnya :

7
Pengayakan 500 gram tanah diperoleh.
Kelas Indeks stabilitas
Sangat stabil sekali >200
Sangat stabil 80-200
Stabil 66-80
Agak stabil 50-66
Kurang stabil 40-50
Tidak stabil (<40)

Ukuran ayakan menurut mili mikron yang digunakan adalah :

a) 4.76 Astm/ mili mikron.


b) 2.83 Astm/ mili mikron.
c) 2 Astm/ mili mikron.
d) 1 Astm/ mili mikron.
e) 0.5 Astm/ mili mikron.
f) 0.297 Astm/ mili mikron.
g) <0.297 Astm/ mili mikron.

Dilapangan kami Cuma melakukan dan mengamati 2 metoda, yaitu penentuan


tekstur tanah dan penetapan stabilitas agregat. Kami tidak sempat melakukan
permeabilitas karena waktu yang kami lakukan tidak banyak, sehingga data yang
didapat juga tidak banyak.

8
9