Anda di halaman 1dari 7

http://www.indonesian-products.biz/download/tips/LetterofCredit.

doc

BAB I
PENDAHULUAN

Kegiatan perdagangan luar negeri yang meliputi trnsaksi ekspor dan impor barang
maupun jasadapat dilaksanakan dengan baik, apabila hubungan pembayarannya dapat
diselenggarakan dengan lancar dan terjamin bagi semua pihak. Adapun cara
pembayaran yang lazim dilakukan ialah dengan cara yang tidak langsung, artinya
melalui jasa perbankan.
Diantara beberapa cara pembayaran yang akan diuraikan diantaranya Letter of Credit
atau Surat Kredit Berdokumen dianggap sebagai suatu cara pembayaran paling ideal
saat ini. Oleh karena pelaksanaanya melibatkan kegiatan jasa perbankan yang masing-
masing berada di negara berlainan, maka dirasa sangat perlu adanya kesesuaian cara
pembayarab yang dilakukan oleh bank-bank itu dalam bentuk peraturan yang
mengandung sifat keseragaman baik dalam cara maupun mengenai pengertiannya.

Walaupun pada hakikatnya dalam mekanise pembayaran dengan L/C hanya terdapat 3
pihak utama yaitu pembeli, penjual, dan bank pembuka. Akan tetapi dalam
perkembangan bentuk dan jenisnya ternyata telah melibatkan lebih daripada itu.
Perlu diketahui, bahwa bentul L/C yang sekarang kita kenal adalah bentuk dimana bank
membuka kredit atas amanat dari pembeli.

Cara pembayaran dengan L/C tentu saja tidak lepas dari adanya syarat dan kondisi
yang ditetapkan oleh pihak yang bersangkutan. Salah satu dari persyaratan itu, ialah
bahwa pembayaran baru dapat dilaksanakan apabila kepada bank telah diserahkan
dokumen-dokumen yang secara formal telah memenuhi syarat yang ditetapkan dalam
L/C itu.

Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa penyerahan dokumen adalah sebagai


suatu syarat dilakukannya pembayaran. Namun demikian, tidak mustahil adakalanya
terjadi penyimpangan dokumen dari syarat dan kondisi yang telah ditetapkan.

BAB II
ISI

A. Pengertian Letter Of Credit

Yang dimaksud dengan letter of credit adalah letter of credit yang diterbitkan oleh bank
dengan segala macam sifat dan jenisnya. Dalam transaksi jual beli antara eksportir dan
importir, penggunaan L/C merupakan cara yang paling aman bagi eksportir maupun
importir, karena adanya kepastian bahwa pembayaran akandilakukan apabila syarat
L/C dipenuhi. Namun demikian cara pembayaran ini biayanya relatif lebih besar
dibanding dengan cara pembayaran yang lain.

Atas L/C yang dibuka oleh importir, eksportir atau supplier di luar negeri diberi hak
untuk menarik wesel sebesar nilai harga barang yang dikirimnya atas nama importir.
Wesel ini beserta dokumen-dokumen pengapalan barangnya oleh eksportir
disearahkan kepada bank koresponden yang menjadi penerima L/C untuk dimbilalih.
Pembayaran yang dilakukan atas dasar L/C tersebut berarti bank koresponden
membayar lebih dahulu atas nama bank pembuka L/C sehingga tampaknya ada unsur
kredit. Jangka waktu antara pembayaran yang dilakukan bank penerima L/C dengan
pembayaran yang dilakukan oleh bank pembuka L/C dikenakan sekedar bunga. Karena
pembayaran atas dasar L/C ini dilakukan berdasarkan dokumen pengapalan barang,
maka L/C yang dibuka sering disebut documentary letter of credit, yakni pembayaran
L/C yang dijamin dengan dokumen.

B. Fungsi Bank Sebagai Perantara Pembayaran Luar Negeri

Dalam aktifitas perdagangan internasional baik dari segi ekspor maupun impor ternyata
fungsi bank sangatlah penting, terutama fungsi sebagai perantara di bidang
pelaksanaan teknis pembayaran luar negeri.

Untuk menjalankan tugas perantara dalam transaksi perdagangan internasional yang


dimaksud, suatu bank tentu saja tidak akan dapat bekerja sendiri dan hal ini kiranya
tidaklah mungkin apabila bank yang bersangkutan memang menginginkan tugasnya
sebagai perantara harus berhasil baik. Untuk itu maka bank-bank tersebut harus
mengadakan hubungan koresponden dengan bank-bank di luar negeri terutama
dengan bank-bank prima yakni bank-bank yang dalam dunia perbankan dan
perdagangan internasional tidak diragukan lagi bonafiditasnya serta moral dan financial
standingnya. Oleh karena bank-bank di luar negeri tersebut seolah-olah merupakan
agen dari bank yang bersangkutan, maka hubungan dimaksud sering dikenal dengan
sebutan Agency Arrangement yang mengatur tentang caa-cara penyelesaian
sehubungan dengan kepentingan-kepentingan yang menyangkut kegiatan bank
masing-masing.
Di sinilah kiranya letak fungsi penting dari pada bank sebagai perantara dalam
pembayaraan luar negeri, disamping untuk mempercepat dan mempermudah
pelaksanaannya, hubungan koresponden yang demikian berarti adanya pemakaian
jasa-jasa dari bank luar negeri, juga dapat memberikan keuntungan kepada bank-bank
yang telah menunjuknya sebagai bank koresponden atas dasar prinsip resiprositas.
Dilihat dari sifatnya, suatu hubungan koresponden antara bank-bank di Indonesia
dengan bank-bank di luar negeri dapat dilakukan dengan 3 macam cara:

1. Depository Correspondent
Yaitu suatu hubungan antara bank dengan bank di luar negeri dimana bank yang
bersangkutan memelihara rekening pada bank luar negeri tersebut.

2. Non Depository Correspondent

Yaitu suat hubungan antara bank dengan bank di luar negeri dimana bank yang disebut
pertama tidak memelihara rekening pada bank di luar negeri itu.
3. One Side Correspondent

Yaitu suatu hubungan antara bank dengan bank di luar negeri tanpa pemeliharaan
suatu rekening.

C. Pihak-Pihak Dalam Letter Of Kredit

Dalam suatu mekanisme L/C terlibat secara langsung beberapa pihak ialah:
a. Pembeli atau disebut juga buyer, importer
b. Penjual atau disebut juga seller atau exporter
c. Bank pembuka atau disebut juga opening bank, issuing bank
d. Bank penerus atau disebut juga advising bank
e. Bank pembayar atau paying bank
f. Bank pengaksep atau accepting bank
g. Bank penegosiasi atau negotiating bank
h. Bank penjamin atau confirming bank

Dalam keadaan yang sederhana suatu L/C menyangkut 3 pihak utama, ialah pembeli,
penjual, dan bank pembuka.

D. Kewajiban dan Tanggung Jawab Dalam L/C

Mengenai hal ikhwal yang menyangkut kewajiban dan tanggung jawab bank sebagai
pihak yang berurusan dengan dokumen-dokumen, telah diatur secara lengkap yang
garis besarnya dapat dikemukan sebagai berikut:

1. Bank wajib memeriksa semua dokumen dengan ketelitian yang wajar untuk
memperoleh kepastian bahwa dokumen-dokumen itu secara formal telah sesuai
dengan L/C.

2. Bank yang memberi kuasa kepada bank lain untuk membayar, membuat pernyataan
tertulis pembayaran berjangka, mengaksep, atau menegosisi dokumen, maka bank
yang memberi kuasa tersebut akan terikat untuk mereimburse.

3. Issuing bank setelah menerima dokumen dan menganggap tidak sesuai dengan L/C
yang bersangkutan, harus menetapkan apakah akan menerima atau menolaknya.

4. Penolakan dokumen harus diberitahukan dengan telekomunikasi atau sarana


tercepat dengan mencantumkan penyimpangan-penyimpangan yang ditemui dan minta
penegasan status dokumen tersebut.

5. Issuing bank akan kehilangan hak menyangkut bahwa dokumen-dokumen itu tidak
sesuai dengan syarat-syarat L/C.
6. Bila bank pengirim dokumenmenyatakan terdapat penyimpangan pada dokumen dan
memberitahukan bahwa pembayaran, pengaksepan, atau penegosiasian dengan syarat
atau berdasarkan indemnity telah dilakukannya.

7. Bank-bank dianggap tidak terikat kewajiban atau tanggung jawab mengenai:


? Bentuk, kecukupan, ketelitian, keaslian, pemalsuan atau keabsahan menurut hukum
daripada tiap-tiap dokumen.

? Syarat-syarat khusus yang tertera dalam dokumen-dokumen atau yang ditambahakan


padanya.
? Uraian, kwantitas, berat, kwalitas, kondisi, pengepakan, penyerahan, nilai atau
adanya barang-barang.

? Itikad baik atau tindakan-tindakan dan atau kealpaan, kesanggupan membayar utang,
pelaksanaan pekerjaan atau standing daripada si pengirim.

8. Bank-bank juga dianggap tidak terikat kewajiban atau tanggung jawab atas akibat-
akibat yang timbul karena kelambatan dan atau hilang dalam pengiriman daripada
berita-berita, surat-surat atau dokumen-dokumen.

9. Bank-bank tidak terikat kewajiban atau tanggung jawab sebagai akibat yang timbul
karena terputusnya bisnis mereka disebabkan hal-hal di luar kekuasaanya.

10. Bila bank memperbunakan jasa-jasa bank lain dalam melaksanakan instruksi
applicant, maka hal tersebut adalah atas beban dan resiko applicant.

E. Bentuk Dan Jenis L/C

1. Revocable Letter Of Credit

Adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan
lebih dahulu kepada beneficiary. Dari ketentuan tersebut menunjukan bahwa suatu L/C
yang dapat ditarik kembali atau dibatalkan tidak menciptakan suatu ikatan hukum
antara pihak bank dan beneficiary.

Sebenarnya bentuk revocable ini kurang tepat apabila disebut L/C karena tidak
mengandung jaminan bahwa wesel-weselnya akan dibayar ketika diajukan, mengingat
pembatalan mungkin telah terjadi tanpa pemberitahuan kepada beneficiary. Oleh
karena itu bentuk L/C yang demikian kurang disukai oleh penjual dan jarang
dipergunakan.

2. Irevocable Letter Of Credit

Adalah suatu L/C yang tidak dapat diubah atau dibatalkan tanpa persetujuan semua
pihak baik pembeli, penjual, maupun pihak bank yang bersangkutan. Selama jangka
waktu berlakunya yang ditentukan dalam L/C, issuing bank tetap menjamin untuk
membayar, mengaksep, atau menegosiasi wesel-wesel yang ditarik atas L/C tersebut
asalkan syarat-syarat dan kondisi yang ditetapkan didalamnya terpenuhi.

3. Confirmed Irrevocable Letter Of Credit

Sebagaimana diketahui sifat khusus suatu L/C adalah credit standing bank itu
ditambahkan pada kredit standing pembeli dalam L/C yang bersangkutan. Namun
demikian dapat terjadi kredit standing daripada issuing bank tidak memuaskan bagi
pihak penjual, hal ini timbul apabila misalnya issuing bank hanya suatu bank lokal tanpa
mempunyai reputasi internasional sehingga pihak penjual memandang perlu untuk
meminta jaminan kepada advising bank. Dalam hal ini penjual akan mengajukan
permohonan agar dibuka suatu confirmed L/C.

4. Transferable Letter Of Credit

Adalah suatu kredit yang memberikan hak kepada beneficiary untuk meminta kepada
bank yang diamanatkan untuk melakukan pembayaran atau akseptasi atau kepada
setiap bank yang berhak melakukan negosiasi, untuk menyerahkan hak atas kredit itu
seluruhnya atau sebagian kepada satu pihak ketiga atau lebih.

5. Back To Back Letter Of Credit

Back to back letter of credit ini dipakai dalam keadaan seperti halnya pada transferable
L/C yakni, suatu transaksi dagang yang dilakukan dengan melalui pedagang perantara
atau dalam keadaan dimana hubungan langsung antara pembeli dan supplier tidak
dimungkinkan oleh peraturan-peraturan negara yang bersangkutan. Walaupun ada
persamaan demikian tetapi tidak berarti bahwa ketentuan-ketentuan yang berlaku
terhadap transferable L/C seluruhnya berlaku juga bagi back to back L/C.

6. Red Clause Letter Of Credit

Adalah suatu klausula yang memuat makna anti cipatory yaitu menyangkut sesuatu hal
yang sifatnya didahulukan. Adapun yang didahulukan disini adalah pembayaran atas
L/C oleh bank yang dilakukan sebelum dokumen-dokumen yang disyaratkan
diserahkan. Atas dasar inilah maka red clause L/C termasuk dalam golongan yang
disebut anti cipatory credit.

7. Green Ink Clause Letter Of Credit

Green ink clause letter of credit hampir serupa dengan red clause L/C, yakni juga
memberikan uang muka kepada beneficiary sebelum pengapalan barang-barang
dilakukan.
8. Revolving Letter Of Credit

Dalam suatu kegiatan perdagangan luar negeri antara penjual dan pembeli sering
terjadi serentetan transaksi secara kontinyu dan teratur baik waktu maupun jumlah.
Adapun cara pembayarannya dapat dilakukan dengan pembukaan L/C seperti yang
telah diutarakan di atas untuk masing-masing transaksi.

9. Stand By Letter Of Credit

Suatu jaminan khusus yang biasanya dipakai sebagai “stand by” oleh pihak beneficiary
atau bank atas nama nasabahnya. Dalam hal ini apabila pihak applicant gagal untuk
melaksanakan suatu kontrak atau gagal untuk membayar pinjaman atau memenuhi
pinjaman lain bank yang bersangkutan akan membayar kepada beneficary atas
penyerahan selembar sight draft dan surat pernyataan dari beneficiary, yang
menyatakan bahwa applicant atau kontraktor tidak dapat melaksanakan kontrak yang
disetujui, membayar pinjaman atau memenuhi kewajiban lain itu.

F. Prosedur Transaksi Letter Of Credit

1. Pihak penjual dan pembeli mengadakan negosiasi jual beli barang hingga terjadi
kesepakatan.
2. Pihak pembeli diharuskan membuka L/C dalam negeri pada suatu bank (bank
pembuka L/C)

3. Setelah L/C DN dibuka, oleh bank pembuka L/C segera memberitahukan kepada
bankpembayar bahwa L/C DN telah dibuka dan agar disampaikan kepada si penjual
barang.
4. Penjual barang mendapat pemberitahuan dari bank pembayar bahwa pembeli telah
membuka L/C barang dagangan sudah dapat segera dikirim. Disini penjual barang
meneliti apakah L/C terjadi perubahan dari syarat yang telah disetujui semula.

5. Pihak penjual menghubungi maskapai pelayaran atau perusahaan angkutan lainnya


untuk mengirimkan barang-barang ke tempat tujuan.

6. Pada waktu pembeli menerima kabar dari perusahaan pengangkutan bahwa barang
telah datang, maka pihak pembeli harus membuatkan certificate of receipts atau
konosemen yang harus diserahkan kepada bank pembayar dan penjual. Hal ini
dilakukan setelah memeriksa kebenaran L/C dengan faktur atau barang yang dikirim
oleh si pembeli.

7. Atas dasar konosemen penjual segera menghubungi bank pembayar dengan


menunjukan dokumen L/C dan surat pengantar dokumen disertai denga wesel yang
berfungsi sebagai penyerahan dokumen dan penagihan pembayaran kepada bank
pembayar.
8. Bank pembayar setelah menerime dokumen dari penjual segera menghubungi bank
pembuka L/C. Oleh bank pembuka L/C segera memberitahukan penerimaan dokumen
dilampiri dengan perhitungan-perhitungannya kepada pembeli.

9. Pembeli menerima dokumen dari bank pembuka L/C

10. Pembeli segera melunasi seluruh kewajibannya atas jual beli tersebut kepada bank
pembuka L/C.

11. Bank pembuka L/C memberi konfirmasi penerimaan dokumen dan sekaligus
memberitahukan bahwa si pembeli telah membayar. Dengan demikian memberi ijin
kepada bank pembayar untuk melakukan pembayaran kepada si penjual. Kemudian
semua arsip disimpan.

12. Oleh bank pembayar akan dilakukan pembayaran dengan memperhatikan diskonto
atau perhitungan wesel.

BAB III
KESIMPULAN

Dari hasil penelaahan kata demi kata tersebut akhirnya kita sampai pada
suatu kesimpulan bahwa suatu hubungan pembyaran luarnegeri diperlukan dalam
penyelesaian lalu lintas bayar-membayar antara para pihak yang mengadakan usaha
dimana mereka masing-masing berada di negara berlainan. Suatu hubungan
pembayaran luar negeri pada hakekatnya diperlukan dalam penyelesaian transaksi-
transaksi yang diadakan oleh para pihak, yaitu dalam transaksi-transaksi perdagangan
internasional yang meliputi transaksi ekspor dan impor baik barang maupun jasa.

Oleh karena dilihat dari sudut resultatnya, suatu perdagangan luar negeri baru akan
dapat dilaksanakan dengan baik apabila hubungan pembayarannya dapat
diselenggarakan dengan baik pula, secara a contrario suatu hubungan pembayaran
luar negeri baru ada setelah adanya transaksi perdagangan dengan luar negeri.

Sudah barang tentu para pihak dalam transaksi perdagangan internasional itu
menginginkan agar transaksi yang mereka adakan dapat berjalan baik dan lancar tanpa
adanya hambata-hambatan apapun. Keinginan yang demikian itu akan tampak lebih
jelas dalam hal para pihak mengharapkan diperolehnya keuntungan yang maksimal
daripada hasil transaksinya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Terwujudnya
keuntungan yang maksimal bagi para pihak secara timbal balik merupakan salah satu
tujuan utama daripada transaksi yang mereka adakan sehingga hasil itu baru akan
nyata apabila cara pembayaran yang mereka tempuh cukup baik dan terjamin. Pada
umumnya cara yang baik dan terjamin dimaksud yang lajim ditempuh dalam
perdagangan luar negeri adalah cara pembayaran yang tidak langsung dalam arti
melalui aktifitas perbankan.