Anda di halaman 1dari 4

“Kebijakan Privatisasi penyebab

Krisis Air”
Problem kelalaian dalam mengelola Sumber Daya Air (SDA) akan berakibat
bencana. Wacana privatisasi SDA pun semakin nyata dirasakan masyarakat. Potret
konflik SDA di berbagai daerah kian meluas. Cepat atau lambat, krisis kelangkaan air
akan terjadi di Indonesia.

Sejak tahun 1998, 208 negara di dunia telah mengalami kelangkaan air, bahkan angka
ini diperkirakan akan naik menjadi 56 negara pada tahun 2025. Meluasnya konflik air
di Indonesia, kerap memicu peluang Indonesia menjadi bagian dari negara yang
mengalami kelangkaan air tersebut. Jika akar masalah tidak segera diselesaikan dan
model pengelolaan air tidak segera diperbaiki, maka ancaman tersebut akan terjadi.

Air adalah sumber kehidupan. Satu definisi yang ironi terdengar saat ini. Di tengah
giatnya pemerintah mendongkrak sumber dana dari sektor tambang dan perkebunan,
pada saat yang sama sumber daya air kian menyusut. Untuk itu, persoalan air, harus
dilihat sebagai fokus kajian persoalan lingkungan.

Praktek salah urus pengelolaan SDA justru bermuara dari kebijakan. Salah satu
kebijakan yang menuai kecaman banyak pihak adalah Undang-undang No.7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air (UUSDA). Sejak lahirnya peraturan tersebut pada
tanggal 19 Februari 2004, Peraturan Daerah (Perda) yang terkait privatisasi air kian
menjamur. Betapa tidak, beberapa pasal dalam peraturan tersebut memberikan
peluang privatisasi sektor penyediaan air minum, dan penguasaan sumber-sumber air
(air tanah, air permukaan, dan sebagian badan sungai) oleh badan usaha dan individu.
Akibatnya, hak atas air bagi setiap individu terancam dengan adanya agenda
privatisasi dan komersialisasi air di Indonesia.

Persoalan tersebut justru menuai konflik baru, di tengah runtuhnya kedaulatan


rakyat atas air oleh swasta selama ini. Selain itu, agenda ini justru didorong oleh
lembaga keuangan (World Bank, ADB, dan IMF) di sejumlah negara sebagai
persyaratan
pinjaman.
Parahnya, UUSDA
ini lahir sebagai
bagian dari
persyaratan
pencairan pinjaman
program WATSAL
dari World Bank.

Setidaknya terdapat
tiga hal yang perlu

Krisis Air Yang Berlangsung Secara Terus - Menerus Di Afrika


dicermati dari UUSDA tersebut. Pertama, UUSDA membuka peluang sebesar-
besarnya terhadap privatisasi, baik itu yang dilakukan oleh perorangan maupun
perusahaan swasta. Privatisasi SDA dengan mudah dapat diperoleh hanya dengan
mengantongi izin pemerintah. Parahnya, praktek perizinan selama ini korup dan
menyampingkan hak masyarakat.

Melalui privatisasi ini, maka jaminan pelayanan hak dasar rakyat banyak tersebut
ditentukan oleh swasta dengan mekanisme pasar. Dalam hal ini, World Bank justru
menyatakan “Manajemen sumberdaya air yang efektif haruslah memperlakukan air
sebagai “komoditas ekonomis” dan “ partisipasi swasta dalam penyediaan air
umumnya menghasilkan hasil yang efisien, peningkatan pelayanan, dan mempercepat
investasi bagi perluasan jasa penyediaan”. (World Bank, 1992).

Menurut World Bank, air yang diperoleh masyarakat saat ini masih berada di bawah
“harga pasar” dan perlu dinaikkan. Baik World Bank dan ADB dalam “Kebijakan
Air”-nya mendorong diterapkannya mekanisme harga yang mengadopsi apa yang
disebut sebagai Full Cost Recovery. Secara singkat, Full Cost Recovery berarti
konsumen membayar harga yang meliputi seluruh biaya. Dengan demikian
privatisasi, sebagaimana yang telah terjadi di sejumlah negara, identik dengan
kenaikan harga tarif air.

Kedua, hak masyarakat sekitar hutan yang selama ini mengambil air dari sumber air
di wilayahnya kian terancam. Mereka harus rela membagi Air yang selama turun
temurun mereka ambil secara gratis untuk kepentingan swasta. Bahkan, bukan tidak
mungkin, mereka pun harus membayar, tergantung pada kebijakan pemerintah
setempat. Fakta hari ini menunjukkan, pemerintah daerah kerap mendongkrak
pendapatan asli daerahnya (PAD) ketimbang kebutuhan masyarakatnya. Dalam hal
ini, semakin menunjukkan adanya legitimasi Pelanggaran HAM atas rakyat oleh
negara.

Betapa tidak, pada tahun


2002, Komite Hak
Ekonomi Sosial dan
Budaya PBB dalam
komentar umum No.15
memberikan penafsiran
yang lebih tegas terhadap
pasal 11 dan 12 Konvensi
Hak Ekonomi, Sosial dan
Budaya dimana hak atas
air tidak bisa dipisahkan
dari hak-hak asasi
manusia lainnya. Dengan
kata lain jaminan terhadap
hak atas air bagi
Krisis air menjadi masalah yang semakin mengancam
masyarakat merupakan
umat manusia
tanggung jawab
pemerintah.
Ketiga, ambiguitas peraturan perundang-undangan selama ini kerap menuai
penafsiran beragam. Dalam UUSDA, kemungkinan penafsiran lebih diarahkan untuk
memperbesar peluang pemberian hak guna usaha atas air. Sikap reaktif pemerintah
tersebut telah memunculkan kasus di berbagai daerah, misalnya saja kasus Perda
retribusi air Kab Mojokerto Jawa Timur, kasus kelangkaan air untuk irigasi sawah
petani akibat usaha bendungan milik swasta di Karawang Jawa Barat, dan lain
sebagainya. Di sisi lain, konflik petani Kedung Ombo Jawa Tengah setidaknya
menjadi bukti, bahwa usaha swastanisasi tersebut menyengsarakan rakyat.

Penghancuran lingkungan
Tanpa disadari, saat ini kita sedang menghadapi bencana baru, yakni proses
dehumanisasi yang diakibatkan oleh kebijakan yang tidak pro rakyat. Proses
dehumanisasi tersebut muncul dengan berbagai reaksi, mulai dari kekerasan
struktural, pemiskinan dan peminggiran, serta pengkhianatan atas pemenuhan hak-hak
ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan begitu, pemenuhan HAM yang dulu pernah
menjadi strategi peradaban manusia untuk melindungi martabat manusia, saat ini
secara sistematik dan struktural dikhianati oleh negara.

Keyakinan pemerintah terhadap privatisasi, membuat pemerintah seolah reaktif


dengan melahirkan kebijakan yang memberi peluang menjual aset negara kepada
investor swasta. Persoalan klasik ini justru menyengserakan masyarakat miskin. Di
berbagai tempat, kebijakan tersebut justru membawa bencana lingkungan hidup dan
HAM. Akibatnya, masyarakat tidak punya pilihan lain, kecuali melepaskan sumber
alam dan tanah mereka.

Saat ini, penghancuran lingkungan berupa pencurian keanekaragaman hayati melalui


rezim paten, privatisasi dan komodifikasi air maupun pelayanan sosial menjadikan

Privatisasi sumber air banyak mengakibatkan kerusakan ekologi


negara tidak mampu lagi mempertahankan jati diri sebagai pelindung warga negara.
Negara menjadi lemah karena jebakan dan intervensi tersebut.

Krisis air adalah dimensi kerusakan ekologis bumi yang paling menyebar, paling sulit
dan paling tidak terlihat. Persoalan ini bukan hanya terjadi akibat pertumbuhan
populasi, tapi diperparah oleh penggunaan air yang berlebihan. Dalam hal tersebut,
manusia telah merusak bumi dan menghancurkan kapasitasnya untuk menerima,
menyerap dan menampung air. Pembabatan hutan dan pertambangan telah
menghancurkan kemampuan serap yang dimiliki tanah untuk menyimpan air. Hal lain
yang tak bisa dipungkiri, meningkatnya penggunaan bahan bakar minyak telah
menyebabkan polusi udara dan perubahan iklim yang menjadi penyebab utamanya
banjir dan kekeringan.

Akhirnya, krisis ekologi yang kian parah mengharuskan kita untuk


mempertimbangkan nilai dan fungsi alam melalui audit kebijakan ekologis yang
layak. Artinya, melakukan audit atas kelayakan kebijakan yang pro ekologis. Audit
kebijakan ekologis ini harus menghormati fungsi lingkungan dan menghormati
masyarakat. Untuk itu, gerakan lingkungan ini menjadi relevan mengantarkan
perubahan kebijakan lingkungan di sektor air yang lebih baik, ditengah ancaman bagi
peradaban manusia dan kelestarian lingkungan saat ini. Semoga!