Anda di halaman 1dari 208

TUGAS

TUGAS AKHIR
AKHIR

PERENCANAAN SISTEM MANAJEMEN


PERENCANAAN SISTEM MANAJEMEN
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
(SMK3) DI PPNS-ITS
(SMK3) DI
(Berdasarkan PPNS-ITS
PERMENAKER 05/MEN/1996)
(Berdasarkan PERMENAKER 05/MEN/1996)

Gratcia N. Simanjuntak
NRP. 6506.040.003

Gratcia N. Simanjuntak

NRP (6506.040.003)
TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
1
SURABAYA 2010
FINAL PROJECT

SAFETY AND HEALTH MANAGEMENT


SYSTEM PLAN (SMK3) in PPNS-ITS
(Based on PERMENAKER 05/MEN/1996)

Gratcia N. Simanjuntak

NRP (6506.040.003)

DEPARTMENT OF HEALTH AND SAFETY ENGINEERING


SURABAYA SHIPBUILDING STATE POLYTECHNIC
SEPULUH NOPEMBER INSTITUT OF TECHNOLOGY
SURABAYA 2010

i
LEMBAR PENGESAHAN

Disetujui oleh Tim penguji Tugas Akhir Tanggal Ujian : 29 Juni 2010
Periode Wisuda : September 2010

Mengetahui/menyetujui,

Dosen Penguji Tanda tangan

1. Galih Anindita, ST (............................................... )


2. Mirna Apriani, ST (................................................ )
3. Priyo Agus Setiawan, ST (………………………………)
4. Wiediartini, SE, MT (………………………………)

Dosen Pembimbing Tanda tangan

1. Mirna Apriani, ST (………………………………)


2. Indri Santiasih, S.KM (………………………………)

Program Studi D4 Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Mengetahui/menyetujui
Ketua Program Studi,

Projek Priyonggo S.L., ST., MT


NIP. 131792970

ii
ABSTRAK

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya adalah sebuah perguruan tinggi


negeri dibawah naungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang memiliki
komitmen dalam menerapkan Keselamatan dan Kesehatan kerja. Perguruan tinggi
negeri ini adalah satu-satunya yang memiliki program studi Teknik Keselamatan
dan Kesehatan kerja di Indonesia. Manajemen puncak PPNS-ITS berencana
mewujudkan kampus yang safety. Kondisi PPNS-ITS yang memiliki jumlah
karyawan lebih dari 100 orang dan memiliki potensi bahaya yang cukup besar,
mengharuskan PPNS-ITS untuk menerapkan SMK3 sesuai dengan Permenaker
05/MEN/1996.
Tugas akhir ini adalah sebuah perencanaan SMK3 yang bersifat
aplikatif, mampu diterapkan secara manajemen untuk mendukung komitmen K3
manajemen PPNS-ITS. Perencanaan ini berdasarkan peraturan menteri tenaga
kerja. Draft manual yang disusun akan dilengkapi dengan prosedur dan form yang
berkaitan dengan prosedur tersebut. Dalam penerapannya, akan dilakukan oleh
seluruh bagian dan divisi di PPNS-ITS. Manajemen puncak akan melakukan
peninjauan ulang untuk memastikan bahwa seluruh klausul dilaksanakan untuk
melakukan perbaikan berkelanjutan, demi menuju visi PPNS-ITS.
Setelah seluruh prosedur dan manual selesai disusun, maka dilakukan
penerapan sebagai bentuk komitmen pelaksanaan K3. Jika sistem manajemen ini
diterapkan secara keseluruhan, maka hasil akhir dari penerapan sistem manajemen
K3 ini adalah berupa pengakuan dari pemerintah yang diberikan dalam bentuk
sertifikat SMK3 dan bendera.

Kata kunci: SMK3.

iii
ABSTRACT

Shipbuilding State Polytechnic of Surabaya is a government university


under the Sepuluh Nopember Institute of Technology which has commitment to
implement occupational health and safety program. This government college is
the only one which has a safety engineering study program in Indonesia. The top
management has a plan to realize a PPNS-ITS campus of safety. The condition of
PPNS-ITS which has more than 100 employees, and has a high potential of
hazard, requires a safety and health management system according to the
regulation of the minister of labor (Permenaker 05/MEN/1996).
This final project is a plan of safety and health management system
which can be applicated by the top management, to support the management’s
commitment for occupational health and safety. This design based on the
regulation of labor minister. The manual draft will be prepared including the
procedures and forms related to the manual. In its implementation/apllication,
will be performed by all sections and division in PPNS-ITS. The top management
will perform a management review to ensure that all clauses implemented, for
continuous improvement, in order to PPNS-ITS vision.
After all of the procedures and manual were compiled, it is implemented
as a form of commitment to the implementation of safety. If this management
system is implemented, then the end of result of this safety and health management
system is an acknowledgement form the goverment, given in the form of certificate
and flag.

Key words: Safety and health management system.

iv
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanya kepada Tuhan Allah Bapa, Putra dan Roh
Kudus, sumber dari segala sesuatu, hanya oleh anugerahNya penulis mampu
menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik dan tepat waktu sebagai syarat
kelulusan Diploma IV Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Politeknik
Perkapalan Negeri Surabaya-Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Penulis juga
menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Keluarga tercinta, kedua orang tua dan adik-adik yang selalu mendoakan
dan memberi dorongan semangat kepada penulis.
2. Bapak Ir. Muhammad Mahfud M. MT selaku Direktur PPNS-ITS
3. Bapak Projek Priyonggo, S.L.,S.T.,M.T sebagai ketua program studi
teknik keselamatan dan kesehatan kerja.
4. Ibu Mirna Apriani, S.T., selaku dosen pembimbing I yang telah
memberikan waktu yang berharga untuk membimbing penulis dalam
menyelesaikan tugas akhir ini.
5. Ibu Indri Santiasih, S.KM, selaku dosen pembimbing II yang telah
memberikan waktu untuk membimbing penulis, meskipun dalam keadaan
mengandung. Penulis berharap anak yang lahir nanti dapat menjadi teladan
dan kebanggaan bagi orang tua dan negara.
6. PT. United Tractor yang menjadi acuan penulis dalam menyusun tugas
akhir ini.
7. Wanita spesial dalam hidup penulis, Maria Carolina Lopulalan yang
memberikan dukungan semangat dan doa sehingga penulis tetap mampu
bertahan dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
8. Teman-teman K3 2006 yang telah memberikan bantuan berharga (Juwita,
Afrizal) bagi penulis, dan teman yang lain yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu.
9. Seluruh staf dan karyawan PPNS-ITS, terutama kepala setiap laboratorium
dan bengkel.
10. Seluruh dosen PPNS-ITS dan khususnya dosen K3
11. Pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan seluruhnya.

v
Penulis berharap tugas akhir ini dapat diterapkan secara manajemen,
karena itu adalah impian penulis dan tujuan khusus penulis. Penulis sadar bahwa
tugas akhir ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, segala bentuk
saran dan kritik sangat dibutuhkan untuk menjadikan tugas akhir ini lebih
sempurna.

Surabaya, Juli 2010

Penulis

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................. ii
ABSTRAK........................................................................................................ iii
KATA PENGANTAR..................................................................................... v
DAFTAR ISI.................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL............................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR....................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 1
1.1 Latar belakang............................................................................................. 1
1.2 Perumusan masalah..................................................................................... 2
1.3 Tujuan.......................................................................................................... 2
1.4 Manfaat penelitian....................................................................................... 3
1.5 Batasan permasalahan................................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... 4
2.1 Sistem manajemen....................................................................................... 4
2.2 Manajemen K3............................................................................................ 5
2.3 Sistem manajemen K3
2.3.1 Sejarah sistem manajemen K3.......................................................... 5
2.3.2 Sistem manajemen K3 di beberapa negara....................................... 7
2.3.3 Manfaat penerapan sistem manajemen K3........................................ 9
2.3.4 Penerapan sistem manajemen K3 berdasarkan Permenaker
05/MEN/1996................................................................................... 12
2.4 PHA (Preliminary Hazard Analysis)........................................................... 14
BAB III METODOLOGI PENELITIAN..................................................... 16
3.1 Lokasi penelitian......................................................................................... 16
3.2 Kerangka penelitian..................................................................................... 16
3.3 Tahap identifikasi awal............................................................................... 16
3.4 Tahap pengumpulan data............................................................................ 17
3.5 Tahap penyusunan draft SMK3................................................................... 17
3.6 Tahap analisa dan kesimpulan
3.6.1 Analisa............................................................................................... 17
3.6.2 Kesimpulan....................................................................................... 18
BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA....................................... 20
4.1 Data untuk SMK3
4.1.1 Komitmen perusahaan tentang K3.................................................... 20
4.1.2 Kebijakan K3.................................................................................... 20
4.1.3 Profil perusahaan............................................................................... 21
4.1.4 Struktur organisasi perusahaan......................................................... 23
4.1.5 Visi dan misi perusahaan.................................................................. 24
4.2 Usulan pembentukan tim kerja.................................................................... 24
4.3 Usulan pembentukan divisi K3................................................................... 25
4.4 Usulan penunjukan Manajemen Representatif............................................ 25
4.5 Perhitungan jumlah jam kerja praktek........................................................ 26
4.6 Penetapan indikator kinerja......................................................................... 27
vii
4.7 Penyusunan draft manual SMK3................................................................ 28
4.8 Penyusunan prosedur bagi draft manual SMK3......................................... 47
4.9 Penerapan prosedur
4.9.1 Prosedur identifikasi bahaya............................................................. 47
4.9.2 Prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan........................................ 62
4.10 Analisa penerapan prosedur
4.10.1 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel
konstruksi..................................................................................... 73
4.10.2 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel
sheet metal.................................................................................... 74
4.10.3 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel
permesinan................................................................................... 74
4.10.4 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel
non metal...................................................................................... 74
4.10.5 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di
laboratorium steam power plant.................................................. 75
4.10.6 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di
laboratorium automatic diesel engine.......................................... 75
4.10.7 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di
laboratorium reparasi listrik......................................................... 75
4.10.8 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di
laboratorium SPPK...................................................................... 75
4.10.9 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di
laboratorium uji bahan................................................................. 76
4.10.10 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di
laboratorium instrumentasi listrik dan fisika............................... 76
4.10.11 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di
laboratorium kimia....................................................................... 76
4.10.12 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di
laboratorium ergonomi................................................................. 76
4.10.13 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di
laboratorium reparasi mesin......................................................... 77
4.11 Kesimpulan penerapan prosedur............................................................... 77
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................... 78
5.1 Kesimpulan.................................................................................................. 78
5.2 Saran............................................................................................................ 78
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 79
LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sistem manajemen K3 di beberapa negara....................................... 8


Tabel 3.1 Tabel rencana kegiatan...................................................................... 18
Tabel 4.1 Perhitungan jumlah jam kerja praktek di PPNS-ITS selama 1
tahun................................................................................................. 27
Tabel 4.2 Kategori bahaya................................................................................ 48
Tabel 4.3 Identifikasi bahaya di bengkel konstruksi......................................... 49
Tabel 4.4 Identifikasi bahaya di bengkel sheet metal....................................... 50
Tabel 4.5 Identifikasi bahaya di bengkel permesinan....................................... 51
Tabel 4.6 Identifikasi bahaya di bengkel pengelasan........................................ 52
Tabel 4.7 Identifikasi bahaya di bengkel non metal.......................................... 53
Tabel 4.8 Identifikasi bahaya di laboratorium steam power plant.................... 54
Tabel 4.9 Identifikasi bahaya di laboratorium automatic diesel marine........... 55
Tabel 4.10 Identifikasi bahaya di laboratorium reparasi listrik......................... 56
Tabel 4.11 Identifikasi bahaya di laboratorium SPPK...................................... 57
Tabel 4.12 Identifikasi bahaya di laboratorium instrumentasi listrik dan
fisika................................................................................................. 57
Tabel 4.13 Identifikasi bahaya di laboratorium reparasi mesin........................ 59
Tabel 4.14 Identifikasi bahaya di laboratorium kimia...................................... 60
Tabel 4.15 Identifikasi bahaya di laboratorium ergonomi................................ 61
Tabel 4.16 Identifikasi bahaya di laboratorium kontroller dan
mikroprosessor.................................................................................. 62
Tabel 4.17 Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel konstruksi.................. 62
Tabel 4.18 Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel sheet metal................ 65
Tabel 4.19 Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel permesinan................ 66
Tabel 4.20 Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel non metal................... 67
Tabel 4.21 Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium steam power
plant.................................................................................................. 68
Tabel 4.22 Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium automatic diesel
marine............................................................................................... 68

ix
Tabel 4.23 Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium reparasi listrik.... 69
Tabel 4.24 Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium SPPK................. 70
Tabel 4.25 Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium uji bahan............ 70
Tabel 4.26 Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium instrumentasi
listrik dan fisika................................................................................ 71
Tabel 4.27 Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium kimia................. 72
Tabel 4.28 Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium ergonomi........... 72
Tabel 4.29 Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium reparasi mesin... 73

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagan elemen Permenaker 5/MEN/1996...................................... 14


Gambar 3.1 Diagram alir tugas akhir................................................................ 19

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Denah PPNS-ITS


Lampiran II Kumpulan Prosedur
Lampiran III Data

xii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya adalah perguruan tinggi yang
berada dibawah naungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Perguruan
tinggi ini memiliki beberapa jurusan dan program studi, antara lain Teknik
Kelistrikan Kapal, Teknik Bangunan Kapal, Teknik Mesin, Program Studi D4
Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Program Studi D4 Teknik
Otomasi, Program Studi D4 Teknik Pengelasan. Salah satu program studi
yang ada di PPNS-ITS adalah Program Studi D4 Teknik Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3). Program studi ini dibuka pada tahun 2003 dengan
mahasiswa lintas jalur. Sebagai sebuah perguruan tinggi satu-satunya di
Indonesia yang memiliki Program Studi Teknik Keselamatan dan Kesehatan
Kerja, pihak manajemen merasa perlu untuk mewujudkan kampus PPNS-ITS
sebagai sebuah kampus yang safety yang dapat menjadi contoh bagi kampus
lainnya. Dalam rangka memenuhi tuntutan kemajuan jaman, serta untuk
menunjukkan keseriusan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya untuk
mewujudkan visi menjadi kampus yang safety, pihak manajemen telah
membentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah sebuah
sistem yang mengutamakan keselamatan dalam bekerja, tidak melihat besar
kecilnya pekerjaan dan tempat kerja tersebut. Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan kerja ini sangat bermanfaat karena dapat
menciptakan lingkungan kerja yang aman, melindungi pekerja dan orang lain
yang ada di tempat kerja, serta memperkecil biaya yang harus dikeluarkan
untuk memperbaiki atau membeli barang baru, serta membayar santunan bagi
pekerja yang mengalami kecelakaan. Sistem ini dapat diterapkan dalam
struktur organisasi perusahaan dan dapat diaudit untuk menilai apakah sistem
ini berjalan dengan baik dan sesuai prosedur, serta untuk memperoleh
sertifikat SMK3 dari Depnakertrans.

1
Sebagai suatu sistem, PPNS-ITS memiliki tingkatan mulai dari tingkat
manajemen hingga tingkat karyawan. Jumlah tenaga kerja yang bekerja di
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya berjumlah lebih dari 100 orang, yang
bertugas di bengkel dan laboratorium di PPNS-ITS. Menurut Permenaker No.
Per-05/MEN/1996 Bab III pasal 3 menyatakan bahwa tempat kerja yang
berisi 100 orang atau lebih; memiliki potensi bahaya yang yang ditimbulkan
oleh karakteristik proses atau bahan produksi; atau dapat mengakibatkan
kecelakaan kerja dan kerugian wajib menerapkan SMK3. Pihak manajemen
memiliki suatu komitmen untuk membentuk suatu sistem yang memiliki visi,
misi, dan tujuan yang harus dipenuhi dalam rangka mewujudkan kampus
PPNS berstandar Internasional.

Untuk mendukung program manajemen dalam menerapkan PPNS-ITS


sebagai kampus yang safety maka penulis merencanakan sebuah Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dapat digunakan sebagai
sebuah pedoman untuk menuju visi tersebut. Dengan Sistem Manajemen K3
ini diharapkan PPNS-ITS dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi lainnya
untuk menerapkan K3 yang lebih baik.

1.2 Perumusan Masalah


Pada penelitian ini yang menjadi rumusan permasalahan adalah
bagaimana menyusun suatu draft Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3).

1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun draft Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) berdasarkan Peraturan menteri
tenaga kerja RI No. Per-05/MEN/1996 bagi PPNS-ITS.

2
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaaat dari penelitian ini :

1. Bagi PPNS-ITS sebagai user

Sebagai suatu rekomendasi yang sangat penting dan berguna serta dapat
diterapkan secara manajemen.

2. Bagi penulis

Sebagai suatu pembelajaran dan menambah pengetahuan tentang Sistem


Manajemen K3.

1.5 Batasan Permasalahan


Mengingat keterbatasan penulis, luas serta kompleksnya
permasalahan, dan agar pembahasan lebih terarah, serta terstruktur maka
penulis membatasi bahwa :

1. Dokumen (manual) yang akan disusun sampai pada tahap peninjauan


ulang dan peningkatan oleh manajemen
2. Tahap penerapan/implementasi prosedur membahas elemen tentang:
- Identifikasi kebutuhan pelatihan (bengkel dan laboratorium)
- Identifikasi bahaya (bengkel dan laboratorium)

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Manajemen


Dalam suatu organisasi, kita mengenal adanya suatu struktur. Setiap
elemen dalam struktur tersebut memiliki peran masing-masing. Manajemen
puncak sebagai pemegang kekuasaan memiliki tanggung jawab penuh atas
organisasi yang dipimpinnya. Pihak manajemen berkewajiban menerapkan
syarat-syarat keselamatan kerja yang beberapa diantaranya adalah mencegah
dan mengurangi kecelakaan, memberi pertolongan pada kecelakaan, dan
syarat lain yang fungsinya adalah untuk melindungi tenaga kerja atau
karyawan, serta orang lain yang ada di tempat kerja (Undang-undang No.1
tahun 1970, pasal 3). Biasanya manajemen puncak memiliki visi dan misi
yang harus dicapai dalam rentang waktu jabatan organisasi tersebut. Tidak
jarang dalam manajemen tersebut terdapat beberapa perbedaan, namun pada
akhirnya menuju suatu tujuan dan sasaran yang sama. Setiap organisasi harus
memiliki sistem manajemen yang menjamin agar kegiatan organisasi tersebut
dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan alur yang tepat.
Kebijakan dan komitmen manajemen selalu mencakup keseluruhan
tujuan dan sasaran dari organisasi tersebut. Jika ada kebijakan yang
menyimpang maka akan menghambat pencapaian. Oleh karena itu sebuah
organisasi harus menerapkan sistem manajemen yang tepat dan saling
mendukung agar keseluruhan visi dan misi perusahaan atau organisasi dapat
tercapai tepat pada waktunya. Dalam penetapan kebijakan dan komitmen ini
harus berlandaskan undang-undang yang berlaku di Indonesia. Kebijakan dan
komitmen ini akan dilaksanakan oleh seluruh elemen dalam sistem
manajemen tersebut, termasuk diantaranya adalah P2K3 yang dibentuk oleh
perusahaan itu sendiri (Per 04/MEN/1987, pasal 2).

4
2.2 Manajemen K3
Dalam pasar bebas yang marak dengan berbagai persaingan,
penerapan manajemen K3 sangat penting untuk dijalankan dengan baik dan
terarah. Proses industrialisasi merupakan “syarat mutlak” untuk membangun
negeri ini. Pengalaman di negara lain menunjukkan bahwa trend suatu
pertumbuhan dari sistem K3 adalah melalui fase-fase, yaitu fase
kesejahteraan, fase produktivitas kerja, dan fase toksikologi industri (Suardi,
2006).
Sekarang ini, K3 sebagaimana halnya aspek-aspek tentang pengaturan
tenaga kerja, sedang pada fase “kesejahteraan”, terutama pada umumnya para
buruh. Mungkin setelah tercapainya kestabilan politik, hukum, dan ekonomi,
kita bisa mulai menginjakkan kaki ke fase produktivitas kerja. Sedang fase
toksikologi industri, cepat lambatnya dicapai tergantung pada kemampuan
untuk mengembangkan perindustrian pada umumnya.
Penerapan peraturan perundangan dan pengawasan serta perlindungan
para buruh merupakan prinsip dasar dalam sistem manajemen ini.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang disesuaikan dengan “sistem
ergonomi” (penyesuaian beban kerja/alat kerja dengan kemampuan dan fisik
pekerja), merupakan salah satu usaha untuk mencetak para buruh yang
produktif dengan peningkatan SDM yang profesional dan andal.

2.3 Sistem Manajemen K3


2.3.1 Sejarah Sistem Manajemen K3
Dibandingkan dengan dua kerabat dekatnya, sistem manajemen
mutu ISO 9001:2000 dan sistem manajemen lingkungan ISO
14001:2004, sistem manajemen K3 memang belum begitu terkenal.
Standar yang sekarang dikenal seperti OHSAS 18001:1999 pun tidak
diterbitkan oleh lembaga standardisasi dunia (ISO), tapi melalui
kesepakatan badan-badan sertifikasi yang ada diberbagai negara
(Suardi, 2006).
Sistem manajemen K3 sebenarnya telah mulai diterapkan di
Malaysia pada tahun 1994 dengan dikeluarkannya Undang-undang

5
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada 1996. Lembaga ISO juga telah
mulai merancang sebuah sistem manajemen K3 dengan melakukan
pendekatan terhadap sistem manajemen mutu ISO 9000 dan sistem
manajemen lingkungan ISO 14000. Hasil workshop yang diadakan saat
itu adalah didapatkan agar ISO menghentikan upayanya membangun
sebuah sistem manajemen K3 sejenis ISO 9000 dan ISO 14000.
Alasannya kala itu adalah K3 merupakan struktur yang bersifat tiga
pihak (tripartite) maka penyusunan ketentuan standard sistem
manajemen K3 diserahkan ke masing-masing negara.
Pada tahun 1998, The Occupational Safety and Health Branch
(sekarang: SafeWork) ILO bekerja sama dengan International
Occupational Hygiene Association (IOHA) melakukan identifikasi
elemen-elemen kunci dari sebuah sistem manajemen K3.
Pada akhir tahun 1999, anggota lembaga ISO yaitu British
Standards Institution (BSI) meluncurkan sebuah proposal resmi (Ballot
document ISO/TMB/TSP 190) untuk membuat sebuah komite teknik
ISO yang bertugas membuat sebuah Standar Internasional
Nonsertifikasi. Hal ini menimbulkan persaingan dengan ILO yang
sedang mempopulerkan sistem manajemen K3. ILO sendiri didukung
oleh International Organization of Employers (IOE) dan International
Confederation of Free Trade Unions (ICFTU) dan afiliasi-afiliasinya.
Akibatnya proposal yang diusulkan oleh BSI pun ditolak.
Draft final yang disusun ILO dihasilkan awal tahun 2001. Hasil
pertemuan pada April tahun 2001 The ILO Guidelines on OSH
Management System (THE ILO/OSH 2001) pun disepakati.
THE ILO/OSH 201 merupakan model yang unik. Selain dapat
disesuaikan dengan sistem manajemen lainnya, tapi tidak ditujukan
untuk menggantikan undang-undang di negara bersangkutan, tidak
mengikat dan tidak mempersyaratkan sertifikasi.
Akan tetapi pada tahun 1999 BSI dengan badan-badan sertifikasi
dunia meluncurkan juga sebuah standard sistem manajemen K3 yang
diberi nama Occupational Health and Safety Management System

6
(OHSAS 18001). Struktur yang dimiliki THE ILO/OSH 2001 pun
memiliki kesamaan dengan OHSAS 18001.

2.3.2 Sistem Manajemen K3 di Beberapa Negara


Sebuah kabar baik, beberapa negara di dunia sudah
mengembangkan sendiri sebuah sistem manajemen K3. Berarti ini
menunjukkan adanya perhatian yang kuat dari negara-negara tersebut.
Kebanyakan sistem yang diterapkan di negara bersangkutan dibuat
dalam bentuk undang-undang atau ketetapan menteri. Di India dan
Malaysia, peraturan K3 yang dibuat dalam istilah umum hanya
menyebutkan bahwa pengusaha bertanggung jawab dalam mengelola
K3, dan tidak secara khusus menjelaskan suatu sistem manajemen K3.
Di Australia penerapan sistem manajemen K3 diatur di tingkat Negara
bagian untuk membuat suatu organisasi yang dikenal dengan the Joint
Accreditation System of Australia and New Zealand (JAS-ANZ). China
dan Thailand membuat sebuah standar sistem manajemen K3 yang
dikenal dengan OHSMS Trial Standard dan TIS 18000 series. Jadi
setiap negara melakukan pendekatan yang berbeda termasuk pihak yang
bertanggung jawab dalam menetapkan ketentuan tersebut, walaupun
pada intinya memiliki tujuan yang sama. Dalam tabel dibawah akan
terlihat fungsi pemerintah dalam sistem manajemen K3 (Suardi, 2006).

7
Tabel 2.1 Sistem manajemen K3 di beberapa Negara

Negara Penanggung Aturan Isi Sistem


jawab sertifikasi
Australia- Komisi (The Pedoman Pengendali
Selandia nasional K3, National bagi JAS-ANZ yang
Baru gubernur OHS Negara- diakreditasi
negara improvement negara badan sertifikasi
bagian, framework bagian, SMK3
agensi yang by NOHSC) dukungan
terkait pada untuk
JAS-ANZ AS/NZS
4301
China Komisi OHSMS Materi Akreditasi
nasional Trial pedoman organisasi
ekonomi dan Standard bagi biro sertifikasi dan
perdagangan, dan komisi komisi registrasi
biro nasional pedoman auditor komisi
pengawas pedoman
keamanan
produksi
Hongkong Departemen Kerangka Pedoman Rencana audit
perburuhan kerja dewan K3 safety OSHC
parlemen
untuk SMK3
India Menteri (Standard NA Bukan pada
perburuhan, K3) tingkat nasional
direktorat
jenderal
industri dan
inspektorat
propinsi
Indonesia Menteri Ketetapan Pedoman Tiga kategori
tenaga kerja menteri SMK3 dan sertifikasi
dan tentang audit berdasarkan
transmigrasi SMK3 dan audit
ketetapan
audit
Jepang Menteri Peraturan Pedoman Tidak ada
kesehatan, tentang bagi sertifikasi resmi
perburuhan pedoman K3 kegiatan
dan SMK3
kesejahteraan
Korea Menteri Pedoman Kode Sertifikasi
perburuhan, SMK3 KOSHA program
Korea pada SMK3 KOSHA 2000
Occupational dan
Safety and program
Health KOSHA
Agency 2000
(KOSHA)
8
Lanjutan tabel 2.1
Negara Penanggung Aturan Isi Sistem
jawab sertifikasi
Malaysia Menteri (Undang- OHSAS Sertifikasi
sumber daya undang K3) 18001 bagi OHSAS 18001
manusia standard oleh SIRIM
organisasi QAS Sdn Bhd
Singapura Menteri Regulasi Kode Tidak
tenaga kerja industri praktis mensyaratkan
untuk sertifikasi
SMK3
Thailand Menteri TIS 18000 Pedoman Sertifikasi TIS
perburuhan SMK3 18000 oleh
dan khususnya institusi
kesejahteraan bagi sertifikasi
sosial dan perusahaan sistem
perindustrian kecil dan manajemen
menengah
Sumber: (SMK3 Rudi Suardi)

2.3.3 Manfaat Penerapan Sistem Manajemen K3


Sistem manajemen K3 memiliki manfaat yang dapat dirasakan
langsung oleh karyawan maupun industri terkait.
- Perlindungan karyawan
Tujuan inti penerapan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja atau K3 adalah memberi perlindungan kepada
pekerja. Bagaimanapun, pekerja adalah asset perusahaan yang
harus dipelihara dan dijaga keselamatannya. Pengaruh positif
terbesar yang dapat diraih adalah mengurangi angka kecelakaan
kerja. Kita tentu menyadari karyawan yang terjamin
keselamatan dan kesehatannya akan bekerja lebih optimal
dibandingkan karyawan yang terancam keselamatan dan
kesehatan kerjanya. Dengan adanya jaminan keselamatan,
keamanan, dan kesehatan selama bekerja, mereka tentu akan
memberikan kepuasan dan meningkatkan loyalitas mereka
terhadap perusahaan.

9
- Memperlihatkan kepatuhan pada peraturan dan undang-undang
Banyak organisasi yang telah mematuhi peraturan menunjukkan
eksistensinya dalam beberapa tahun. Kita bisa saksikan
bagaimana pengaruh buruk yang didapat bagi perusahaan yang
melakukan pembangkangan terhadap peraturan dan undang-
undang, seperti citra yang buruk, tuntutan hukum dari badan
pemerintah, seringnya menghadapi permasalahan dengan
tenaga kerjanya, semua itu tentunya akan mengakibatkan
kebangkrutan. Dengan menerapkan sistem manajemen K3,
setidaknya sebuah perusahaan telah menunjukkan itikad
baiknya dalam mematuhi peraturan perundangan sehingga
mereka dapat beroperasi normal tanpa menghadapi kendala dari
segi ketenagakerjaan (Suardi, 2006).

- Mengurangi biaya
Tidak berbeda dengan falsafah dasar sistem manajemen pada
umumnya, sistem manajemen K3 juga melakukan pencegahan
terhadap ketidak sesuaian. Dengan menerapkan sistem ini, kita
dapat mencegah terjadinya kecelakaan, kerusakan atau sakit
akibat kerja. Dengan demikian kita tidak perlu mengeluarkan
biaya yang ditimbulkan akibat kejadian tesebut. Memang dalam
jangka pendek kita akan mengeluarkan biaya yang cukup besar
dalam menerapkan sebuah sistem manajemen K3. Apalagi jika
kita juga melakukan proses sertifikasi dimana setiap enam
bulannya akan dilakukan audit yang tentunya juga merupakan
biaya yang harus dibayar. Akan tetapi jika penerapan sistem
manajemen K3 dilaksanakan secara efektif dan penuh
komitmen, nilai uang yang dikeluarkan tersebut jauh lebih kecil
dibandingkan dengan biaya yang ditimbulkan akibat kecelakaan
kerja. Salah satu biaya yang dapat dikurangi dengan penerapan
sistem manajemen K3 adalah biaya premi asuransi. Banyak
perusahaan yang mengeluarkan biaya premi asuransi yang jauh

10
lebih kecil dibandingkan sebelum menerapkan sistem
manajemen K3 (Suardi, 2006).

- Membuat sistem manajemen yang efektif


Tujuan perusahaan beroperasi adalah mendapatkan keuntungan
yang sebesar-besarnya. Hal ini akan dicapai dengan adanya
sistem manajemen perusahaan yang efektif. Banyak variabel
yang ikut membantu pencapaian sebuah sistem manajemen
yang efektif, disamping mutu, lingkungan, keuangan, teknologi
informasi dan K3. Salah satu bentuk nyata yang bisa kita lihat
dari penerapan sistem manajemen K3 adalah adanya prosedur
terdokumentasi. Dengan adanya prosedur, maka segala aktivitas
dan kegiatan yang terjadi akan terorganisir, terarah dan berada
dalam koridor yang teratur. Rekaman-rekaman sebagai bukti
penerapan sistem disimpan untuk memudahkan pembuktian dan
identifikasi akar masalah ketidak sesuaian. Persyaratan
perencanaan, evaluasi dan tindak lanjut merupakan bentuk
bagaimana sistem manajemen yang efektif. Pengendalian dan
pemantauan aspek penting menjadi penekanan dan ikut
memberi nilai tambah bagi organisasi. Penerapan sistem
manajemen K3 yang efektif akan mengurangi rapat-rapat yang
membahas ketidak sesuaian. Dengan adanya sistem maka hal
itu akan dapat dicegah sebelumnya disamping kompetensi
personel yang semakin meningkat dalam mengetahui potensi
ketidak sesuaian. Dengan demikian organisasi dapat
berkonsentrasi melakukan peningkatan terhadap sistem
manajemennya dibandingkan melakukan perbaikan terhadap
permasalahan-permasalahan yang terjadi (Suardi, 2006).

- Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan


Karyawan yang terjamin keselamatan dan kesehatan kerjanya
akan bekerja lebih optimal dan ini tentu akan berdampak pada

11
produk yang dihasilkan. Pada gilirannya ini akan meningkatkan
kualitas produk dan jasa yang dihasilkan dibandingkan sebelum
dilakukan penerapan sistem manajemen K3, citra organisasi
terhadap kinerjanya akan semakin meningkat, dan tentu ini
akan meningkatkan kepercayaan pelanggan (Suardi, 2006).

2.3.4 Penerapan Sistem Manajemen K3 Berdasarkan Permenaker


05/MEN/1996
Peraturan menteri tenaga kerja no 05/MEN/1996 merupakan
sebuah pedoman yang data digunakan untuk menyusun sebuah sistem
manajemen K3 dalam sebuah perusahaan. Dalam peraturan ini jelas
dikatakan bahwa tempat kerja yang berisi 100 orang atau lebih;
memiliki potensi bahaya yang yang ditimbulkan oleh karakteristik
proses atau bahan produksi; atau dapat mengakibatkan kecelakaan kerja
dan kerugian wajib menerapkan SMK3 (Per 05/MEN/1996, pasal 3).
Peraturan menteri ini menetapkan bahwa tujuan dan sasaran
sistem manajemen K3 adalah menciptakan suatu sistem keselamatan
dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur
manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang
terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan
penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien
dan produktif.
Dalam penerapan sistem manajemen K3, perusahaan wajib
melaksanakan ketentuan sebagai berikut:
a. Menetapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja
dan menjamin komitmen terhadap penerapan sistem
manajemen K3.
b. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran
penerapan keselamatan dan kesehatan kerja.
c. Menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja
secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan
mekanisme pendukung yang diperlukan mencapai

12
kebijakan, tujuan dan sasaran keselamatan dan kesehatan
kerja.
d. Mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja
keselamatan dan kesehatan kerja serta melakukan
perbaikan dan pencegahan.
e. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan
sistem manajemen K3 secara berkesinambungan dengan
tujuan meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan
kerja.
Didalam peraturan menteri ini, ditetapkan apa yang wajib
diterapkan oleh perusahaan melalui pelaksanaan prosedur (wajib
prosedur), dan apa yang tidak wajib diterapkan (tidak wajib prosedur).
Seluruh prosedur yang disusun akan disimpan secara rapi melalui
sistem pendokumentasian untuk memastikan bahwa seluruh prosedur
telah diterapkan sebagaimana mestinya.
Untuk pembuktian penerapan sistem manajemen K3 maka
perusahaan dapat melaksanakan audit yang dilakukan oleh badan audit
yang ditunjuk oleh menteri. Elemen yang akan diaudit adalah sebagai
berikut:
a) Pembangunan dan pemeliharaan komitmen
b) Strategi pendokumentasian
c) Peninjauan ulang desain dan kontrak
d) Pengendalian dokumen
e) Pembelian
f) Keamanan bekerja berdasarkan sistem manajemen K3
g) Standar pemantauan
h) Pelaporan dan perbaikan kekurangan
i) Pengelolaan material dan pemindahannya
j) Pengumpulan dan penggunaan data
k) Pemeriksaan sistem manajemen
l) Pengembangan keterampilan dan kemampuan

13
Pedoman ini cocok diterapkan di Indonesia karena telah diuji
kesesuaiannya dengan kondisi di Indonesia. Dalam peraturan ini
dijelaskan bahwa sistem manajemen K3 mengikuti sebuah pola yang
terstruktur seperti dibawah ini.

Perbaikan
berlanjut

Peninjauan ulang Komitmen dan


dan peningkatan kebijakan
oleh manajemen

Perencanaan

Penerapan
Pengukuran dan
evaluasi

Gambar 2.1 Bagan elemen Permenaker 05/MEN/1996


(sumber: SMK3 Rudi Suardi)

2.4 PHA (Preliminary Hazard Analysis)


Preliminary Hazard Analysis adalah sebuah teknik yang
dikembangkan oleh angkatan bersenjata Amerika (U.S. Army). Dalam CPI
(Chemical Process Industry), PHA dilaksanakan secara lazim selama konsep
desain pabrik proses atau selama perkembangan terdahulu untuk menentukan
potensi bahaya apa saja yang ada. PHA tidak mencegah/menghalangi
keperluan penilaian potensi bahaya yang lebih jauh; faktanya PHA biasanya
digunakan sebagai perintis evaluasi potensi bahaya selanjutnya. Ada dua
keuntungan penggunaan PHA yaitu:
1) Dapat mengidentifikasi potensi bahaya dan pada saat bersamaan
juga dapat dikoreksi dengan biaya dan gangguan sekecil mungkin.
2) Dapat menolong identifikasi tim pengembang dan/atau
mengembangkan petunjuk operasi yang dapat digunakan diseluruh
masa hidup proses operasi tersebut.
14
Didalam PHA, tim mendaftarkan elemen dasar dari sistem dan
potensi-potensi bahaya yang menarik perhatian, yang mana dapat
didefenisikan di tahap konsep desain. Daftar ini dapat termasuk:
- Sifat potensi bahaya dari bahan baku, pertengahan proses,
katalis, limbah dan produk akhir.
- Peralatan/perlengkapan pabrik
- Lingkungan operasi
- Prosedur operasi
- Denah instalasi
- Pelindung kebakaran dan perlengkapan keamanan
Tim identifikasi akhirnya mengklasifikasikan potensi bahaya yang
ada pada beberapa kategori yaitu:
- Kategori I : Negligible
- Kategori II : Marginal
- Kategori III : Critical
- Kategori IV : Catastrophic
Organisasi yang menggunakan teknik PHA sebaiknya
mendefinisikan lebih lanjut setiap kategori diatas kepada tim sehingga mereka
dapat menilai setiap potensi bahaya secara tepat. Kemudian tim akan
mencatat masukan apa saja yang mereka identifikasi untuk memperbaiki atau
meringankan potensi bahaya (Guidelines for hazard evaluation procedures).

15
BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menjelaskan pengelolaan permasalahan yang akan diteliti.


sesuai dengan alur yang terstruktur dengan penyelesaian permasalahan yang ada
didalam metode penelitian. Metode penelitian ini menjelaskan tentang langkah –
langkah penyelesaian tugas akhir ini.

3.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di PPNS-ITS.

3.2 Kerangka Penelitian

Dalam memecahkan masalah diperlukan kerangka penelitian yang


merupakan pegangan dalam memecahkan masalah yang dihadapi dari awal
hingga akhir penyelesaian. Kerangka penelitian yang dilakukan ada pada
gambar 3.1 diagram alir tugas akhir.

3.3 Tahapan Identifikasi Awal

Adapun isi dari tahapan ini digambarkan sebagai berikut :

1. Identifikasi Masalah
Pada tahap ini dilakukan identifikasi beberapa permasalahan yang
didapatkan pada saat melakukan pengamatan sehingga bisa dilakukan
sebuah penelitian.

2. Penetapan Tujuan dan Manfaat Penelitian


Pada tahap ini dilakukan penetapan tujuan tentang apa yang ingin
dicapai dan manfaatnya bagi pihak terkait serta bagi penelitian selanjutnya.
Tahap ini merupakan dasar tentang apa yang dilakukan selama penelitian.

16
3. Studi Lapangan
Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap kondisi lapangan
yang sebenarnya, jenis pekerjaan apa yang ada, serta potensi bahaya apa
saja yang terdapat di tempat kerja.
4. Studi Pustaka
Setelah dilakukan identifikasi terhadap permasalahan maka perlu
adanya studi pustaka dari literatur terkait yaitu Permenaker No. Per-
05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.

3.4 Tahap Pengumpulan Data

Tahap pengumpulan data ini, dimana pengumpulan semua bahan –


bahan kajian yang berhubungan dengan penyelesaian permasalahan yang
telah didapat. Tahap ini melakukan pengambilan data tentang struktur
organisasi di PPNS-ITS, komitmen, kebijakan, profil PPNS-ITS, visi dan
misi.

3.5 Tahap Penyusunan Draft Manual SMK3

Tahap penyusunan ini dengan menggunakan Pola Pendekatan secara


manajemen. Dengan memahami hal ini, dapat diprediksi apakah penelitian
tersebut layak digunakan.

3.6 Tahap Analisa dan Kesimpulan

Tahap ini merupakan akhir dari penelitian, dimana peneliti melakukan


tahap analisa tugas akhir, dan memberikan solusi, kesimpulan dan saran bagi
pihak institusi PPNS-ITS.

3.6.1 Analisa

Tahap ini Peneliti mengelola kajian sesuai dengan bahan tugas


akhir yang dilakukan pada data – data yang telah didapat dan telah
diolah.

17
3.6.2 Kesimpulan

Tahap ini akhir dari pengerjaan yang dilakukan oleh peneliti,


dimana kesimpulan ini dapat memberi masukan pada pihak yang telah
dijadikan objek penelitian, hingga kedepannya dapat digunakan sebagai
kebijakan pihak tersebut. Oleh sebab itu rekomendasi dari peneliti
sangat bermanfaat bagi PPNS-ITS sebagai user.

Tabel 3.1 Tabel rencana kegiatan

BULAN
KEGIATAN
I II III IV

Identifikasi dan perumusan masalah

Pengumpulan data

Pengolahan data

Analisa dan kesimpulan

Penyusunan tugas akhir

18
MULAI

IDENTIFIKASI
MASALAH

PENENTUAN
TUJUAN DAN
RUMUSAN
MASALAH
PENELITIAN

STUDI PUSTAKA:
STUDI LAPANGAN:
SMK3
PENGAMATAN PROSES KERJA
PERMENAKER 05/
IDENTIFIKASI POTENSI BAHAYA
MEN/1996

PENGUMPULAN DATA:
KOMITMEN
KEBIJAKAN
VISI DAN MISI
PROFIL PPNS-ITS
STRUKTUR ORGANISASI

PENYUSUNAN DRAFT
MANUAL SMK3

IMPLEMENTASI
SESUAI BATASAN
MASALAH

ANALISA DAN
KESIMPULAN

SELESAI

Gambar 3.1 Diagram alir tugas akhir

19
BAB IV

PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

4.1 Data untuk SMK3

Dalam penyusunan draft manual SMK3, ada beberapa data yang


dibutuhkan, antara lain:

a. Komitmen perusahaan tentang K3

b. Kebijakan K3

c. Profil perusahaan

d. Struktur organisasi perusahaan

e. Visi dan misi perusahaan

Seluruh data ini akan dimasukkan dalam draft manual sesuai dengan
elemen yang terdapat dalam Per-05/MEN/1996.

4.1.1 Komitmen Perusahaan tentang K3

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA


ITS (PPNS-ITS) bertekad memberikan hasil kepada seluruh pihak
yang berkepentingan dengan menerapkan praktek K3 yang terbaik
dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

4.1.2 Kebijakan K3

Dalam mendukung komitmen PPNS-ITS dalam menerapkan


K3 di wilayah kampus, maka pihak manajemen PPNS-ITS telah
menyusun suatu kebijakan K3 yang akan dijalankan di seluruh
wilayah kampus dengan mendapat pengawasan dari seluruh pihak
yang berkepentingan di PPNS-ITS

20
PPNS-ITS menetapkan kebijakan untuk:

1. Menciptakan suasana kampus yang berbudaya K3.


2. Melaksanakan 5R (Rapi, Resik, Ringkas, Rajin, Rawat)
3. Mencegah dan menanggulangi kecelakaan kerja pada
lingkungan kampus.
4. Mengkomunikasikan dan selalu berusaha mematuhi setiap
hukum serta kebijakan mutu dalam K3 kepada seluruh
Civitas Akademika dan pihak terkait lainnya.
5. Menerapkan dan mengembangkan sistem manajemen mutu
dalam K3 dengan benar, tepat dan konsisten.
Kebijakan ini wajib dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh
karyawan, mitra kerja dan pihak-pihak terkait lainnya sesuai bidang
tugas masing-masing.

4.1.3 Profil Perusahaan

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS


(PPNS-ITS) berdiri pada tahun 1987 dengan nama POLITEKNIK
PERKAPALAN NEGERI SURABAYA. PPNS-ITS merupakan
perguruan tinggi yang memiliki jurusan dan program studi antara
lain: Teknik Bangunan Kapal, Teknik Kelistrikan Kapal, Teknik
Permesinan Kapal, Program Studi D4 Teknik Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, Program Studi D4 Teknik Perpipaan, Program
Studi D4 Teknik Pengelasan, Program Studi D4 Teknik Otomasi.
PPNS-ITS juga bergerak dibidang pembuatan kapal dengan
teknologi canggih, mutakhir dan ramah lingkungan. PPNS-ITS ini
didukung oleh manajemen profesional yang sudah berpengalaman
dalam dunia perkapalan, pelayaran dan kelautan. Bertekad untuk
memberikan yang terbaik dalam bisnis ini, kami selalu berpijak
pada nilai-nilai Profesionalisme, Pengembangan Teknologi dan
Peningkatan Kualitas Sumber Daya sebagai landasan dasar dalam
memberikan layanan terbaik demi kepuasan pelanggan dan
21
peminat. Maka tidak mengherankan jika pelanggan dan peminat
kami terus meningkat dari segi kuantitas dari waktu ke waktu.
Demi menjaga kualitas, perusahaan kami telah menerapkan sistem
manajemen mutu (ISO 9001:2008) yang didukung oleh para tenaga
ahli yang berkompeten dan mampu bekerja secara tim demi
tercapainya tujuan dan sasaran mutu PPNS-ITS.

22
4.1.4 Struktur organisasi perusahaan
STRUKTUR ORGANISASI
POLITEKNIK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA
SENAT
DIREKTUR IAB
POLITEKNIK

PEMBANTU DIREKTUR PEMBANTU DIREKTUR


PEMBANTU DIREKTUR
BIDANG ADMINISTRASI BIDANG
BIDANG AKADEMIK
UMUM DAN KEUANGAN KEMAHASISWAAN

KOORDINATOR
BAUK BAAK JASA DAN
PRODUKSI

UNIT PERENCANAAN
DAN
PENGEMBANGAN

UNIT
PENGEMBANGAN
DAN INSTITUSI

KAJUR PUSAT PENELITIAN UNIT UNIT LAYANAN


KAJUR TEKNIK KAJUR
TEKNIK BANGUNAN DAN PENGABDIAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN
MESIN KAPAL PRODI K3
KAPAL PADA MASYARAKAT DAN HKI MASYARAKAT

KABID KABID KARYA


PELATIHAN DAN PENGABDIAN
SERTIFIKASI MASYARAKAT

UPT GUDANG UPT BAHASA DAN UPT


UPT UPT PERAWATAN UPT E-LEARNING
DAN KOORDINATOR FASILITAS
PERPUSTAKAAN DAN PERBAIKAN CENTRE
PERLENGKAPAN MKDU INTERNET

23
4.1.5 Visi dan Misi Perusahaan

Visi perusahaan:

- Menjadi Politeknik bereputasi global dalam melaksanakan


dan mengembangkan teknologi kemaritiman dan teknologi
penunjang kemaritiman serta berperan aktif
mengimplementasikannya.

Misi perusahaan:

- Melaksanakan program pendidikan vokasi dan penelitian


terapan dibidang teknologi kemaritiman (professionalism-
sustainability).

- Berperan dalam kegiatan kemasyarakatan secara aktif dan


produktif, untuk mengembangkan teknologi kemaritiman
(good governance-professionalism).

- Membangun masyarakat akademis berkualitas yang mampu


berkompetisi secara global (sustainability-professionalism).

- Membentuk jejaring kerja dengan sektor industri kemaritiman


serta berbagai institusi terkait untuk merealisasikan sistem
pendidikan yang komprehensif (good governance-
sustainability).

4.2 Usulan pembentukan Tim Kerja

Dalam melaksanakan SMK3 sesuai dengan peraturan yang


berlaku, maka diusulkan untuk membentuk Tim kerja yang akan
melaksanakan seluruh prosedur dalam Manual SMK3 yang disusun.
Dalam hal ini, tim kerja yang diusulkan bernama TIM SMK3. Didalam
TIM SMK3 terdapat struktur organisasi yang bersifat fungsional dan
24
memiliki kompetensi dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan SMK3.
Kompetensi yang dibutuhkan tersebut adalah sebagai berikut:

a) Kompetensi dalam hal kepemimpinan

b) Kompetensi dalam hal identifikasi bahaya

c) Kompetensi dalam peraturan perundang-undangan

d) Kompetensi dalam pengetahuan akan mesin dan peralatan yang ada


di PPNS-ITS

e) Kompetensi dalam penanganan dokumen

Apabila seluruh kompetensi tersebut telah dimiliki oleh tim P2K3


yang dibentuk di PPNS-ITS, maka dengan ini peneliti mengusulkan agar
TIM SMK3 dijalankan oleh P2K3 secara fungsional.

4.3 Usulan Pembentukan Divisi K3

Divisi K3 adalah divisi penting dalam pelaksanaan SMK3, karena


divisi ini berisi sejumlah orang yang memiliki komitmen dalam
menerapkan K3, dilengkapi dengan kompetensi pendukung yang
dianggap penting dalam menerapkan kebijakan K3 dan SMK3. Melihat
struktur organisasi PPNS-ITS yang belum memiliki divisi/bagian K3,
maka dengan ini peneliti mengusulkan dibentuknya divisi K3 yang
memiliki posisi langsung berada dibawah direktur.

4.4 Usulan Penunjukan Manajemen Representatif

Didalam SMK3 dikenal istilah Manajemen Representatif (MR)


yang diadopsi dari OHSAS 18001. Manajemen Representatif (MR) adalah
sebuah jabatan yang bersifat fungsional, yang bertugas dalam TIM SMK3.
Manajemen Representatif memiliki tanggung jawab dalam memimpin

25
TIM SMK3, serta memberikan laporan kepada manajemen puncak PPNS-
ITS tentang kemajuan TIM SMK3 dan program SMK3, dalam arti lain
bahwa Manajemen Representatif (MR) adalah wakil manajemen dalam
TIM SMK3.

4.5 Perhitungan jumlah jam kerja praktek

Dalam Manual SMK3 yang disusun, ditemukan adanya indikator


kinerja. Indikator kinerja ini ditetapkan dengan syarat terukur dan
disetujui oleh pihak manajemen. Dengan ini peneliti melakukan
perhitungan jam kerja praktek di PPNS-ITS sebagai indikator kinerja
keberhasilan program SMK3 yang diusulkan. Data yang diambil adalah
mulai dari bulan September tahun 2009 hingga bulan Agustus 2010.

Untuk menghitung jumlah jam kerja praktek berdasarkan


ketentuan sebagai berikut:

- Jumlah jam kerja pada hari Senin adalah 8,5 jam.

- Jumlah jam kerja pada hari Selasa hingga kamis adalah 9 jam.

- Jumlah jam kerja pada hari Jumat adalah 7 jam.

- Jumlah hari kerja dalam satu bulan adalah 20 hari kerja dengan
5 hari kerja per minggu (tidak termasuk hari kerja untuk
karyawan yang melaksanakan lembur atau masuk pada hari
sabtu).

- Jika libur maka tidak dihitung sebagai hari kerja.

- Hari masuk (sabtu) sebagai pengganti hari libur tidak dihitung


sebagai hari kerja.

- Cuti bersama untuk hari libur keagamaan tidak dihitung sebagai


hari kerja.

26
- Libur akhir tahun selama 2 bulan tidak dihitung sebagai hari
kerja.

- Minggu tenang sebagai persiapan UAS tidak dihitung sebagai


hari kerja.

- Minggu pelaksanaan UAS tidak dihitung sebagai hari kerja

Tabel 4.1. Perhitungan jumlah jam kerja praktek di PPNS-ITS selama 1 tahun
(September 2009-Agustus 2010)

Jumlah jam kerja per bulan


Bulan
Hari kerja Total
September 18 154
Oktober 20 170
Nopember 19 162
Desember 11 98
Januari 19 162
Februari 18 154
Maret 19 162
April 19 162
Mei 18 154
Juni 14 112
Juli 0 0
Agustus 0 0

Total 175 1490


Rata-rata/bulan 15 124.16
Sumber : (Hasil perhitungan)

4.6 Penetapan indikator kinerja

Indikator kinerja keberhasilan program SMK3 di PPNS-ITS


adalah tidak terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya jam
kerja selama satu tahun, atau selama ±1490 jam kerja.

27
4.7 Penyusunan draft manual SMK3

Setelah seluruh data dikumpulkan maka langkah selanjutnya


adalah menyusun draft manual SMK3. Draft manual SMK3 adalah
sebagai berikut:

28
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

1.KOMITMEN DAN KEBIJAKAN

1.1. Kepemimpinan dan Komitmen

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS (PPNS-ITS)


bertekad memberikan hasil kepada seluruh pihak yang berkepentingan dengan
menerapkan praktek K3 yang terbaik dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan
Tinggi.
1.2. Tinjauan Awal Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Initial Review)

PPNS-ITS melakukan peninjauan awal kondisi Keselamatan dan


Kesehatan Kerja denga cara:

a. Mengidentifikasi sumber bahaya yang berkaitan dengan kegiatan yang ada


di tempat kerja di seluruh wilayah PPNS-ITS.
b. Melakukan pembandingan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di
PPNS-ITS dengan pihak lain dalam ruang lingkup kerja yang sama.
c. Melakukan peninjauan sebab dan akibat dari kejadian yang berbahaya, serta
gangguan lainnya yang berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
d. Meninjau ketersediaan sumber daya (baik manusia maupun dana) yang ada
di PPNS-ITS.
Seluruh hasil peninjauan awal Keselamatan dan Kesehatan Kerja akan
digunakan sebagai bahan masukan dalam perencanaan dan pengembangan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PPNS-ITS.

1.3. Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

PPNS-ITS menetapkan kebijakan untuk:

6. Menciptakan suasana kampus yang berbudaya K3.


7. Melaksanakan 5R (Rapi, Resik, Ringkas, Rajin, Rawat)

29
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 29/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

8. Mencegah dan menanggulangi kecelakaan kerja pada lingkungan


kampus.
9. Mengkomunikasikan dan selalu berusaha mematuhi setiap hukum serta
kebijakan mutu dalam K3 kepada seluruh Civitas Akademika dan pihak
terkait lainnya.
10. Menerapkan dan mengembangkan sistem manajemen mutu dalam K3
dengan benar, tepat dan konsisten.
Kebijakan ini wajib dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh karyawan, mitra
kerja dan pihak-pihak terkait lainnya sesuai bidang tugas masing-masing.

2.PERENCANAAN

2.1. Perencanaan Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Resiko

Seluruh bahaya potensial dari aktivitas pekerja secara rutin dan non rutin
pada area kerja yang dilihat dari tingkah laku, kemampuan dan faktor pekerja
yang lain serta bahaya potensial dari infrastruktur, peralatan dan bahan di tempat
kerja pada PPNS-ITS diidentifikasi dan dievaluasi oleh TIM SMK3, untuk
memastikan tujuan dan sasaran K3 sesuai dengan bahaya potensial dan resiko di
PPNS-ITS. Tinjauan bahaya potensial dan resiko akan dilaksanakan bila terjadi
perubahan proses dan atau perubahan perundangan yang berarti atau muncul
perkembangan unit usaha yang baru. TIM SMK3 bertanggungjawab untuk
membuat, menyusun dan memeriksa daftar identifikasi bahaya potensial dan
evaluasi resiko serta daftar resiko penting K3. Manajemen Representatif K3
mengesahkan daftar identifikasi bahaya potensial dan evaluasi resiko serta daftar
resiko penting K3. Setelah melakukan identifikasi dan penilaian resiko, maka TIM
SMK3 melakukan pengendalian resiko.

Prosedur terkait :

1. Prosedur Identifikasi Bahaya.


30
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 30/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

2. Prosedur Penilaian Resiko.


3. Prosedur Pengendalian Resiko
2.2.Peraturan Perundangan dan Persyaratan Lainnya

Perundang-undangan dan persyaratan lainnya yang dapat diterapkan di


PPNS-ITS akan diidentifikasi dan ditinjau ulang pemenuhannya oleh Manjemen
Representatif K3 untuk memastikan komitmen dalam kebijakan K3 terpenuhi.
Direktur PPNS-ITS menentukan persyaratan K3 lainnya yang secara umum akan
diterjemahkan sebagai standar atau kode perusahaan serta persyaratan K3 dari
konsumen untuk diterapkan dalam Sistem Manajemen K3 PPNS-ITS. Persyaratan
perundang-undangan akan ditinjau ulang oleh TIM SMK3 dalam rangka tinjauan
ulang identifikasi bahaya potensial dan evaluasi resiko dalam menanggapi adanya
perubahan perundang-undangan atau perubahan proses atau perubahan
perundang-undangan dan pekerjaan atau proyek dengan bidang yang baru. TIM
SMK3 akan mengakses serta memelihara hubungan dengan instansi-instansi
pemerintah yang terkait dan sumber informasi lainnya dalam jangka waktu yang
ditetapkan oleh manajemen puncak atau TIM SMK3 itu sendiri.

Prosedur terkait Prosedur Identifikasi Peraturan Perundang-undangan dan


Peraturan Lainnya.

2.3.Tujuan dan Sasaran

PPNS-ITS menetapkan, menerapkan, dan memelihara tujuan K3 yang


terdokumentasi pada setiap fungsi dan tingkatan yang relevan di dalamnya.
Tujuan ini harus dapat diukur, diterapkan dan konsisten dengan kebijakan K3,
termasuk komitmen pencegahan terhadap kecelakaan dan PAK (Penyakit Akibat
Kerja) untuk disesuaikan dengan persyaratan hukum dan persyaratan lainnya yang
berlaku, untuk perbaikan berlanjut. Tujuan ini dengan mempertimbangkan pilihan

31
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 31/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

teknologi, keuangan, operasional dan usaha, serta pandangan pihak–pihak yang


berkepentingan.

PPNS-ITS menetapkan, menerapkan dan memelihara semua program


untuk mencapai tujuan. Program–program ini meliputi :

1. Penunjukan tanggung jawab dan wewenang untuk mencapai tujuan pada tiap–
tiap fungsi dan tingkatan yang relevan.
2. Tahapan dan jangka waktu tujuan yang akan diraih .
Program dapat ditinjau secara teratur sesuai dengan jadwal yang
ditentukan oleh TIM SMK3 untuk memastikan tujuan dapat tercapai.

Prosedur terkait Prosedur Penetapan Tujuan & Sasaran Manajemen K3.

2.4.Indikator Kinerja

Dalam rangka menetapkan tujuan dan sasaran K3, PPNS-ITS


menetapkan suatu indikator kinerja yang terukur sebagai dasar penilaian kinerja
K3 dan sebagai informasi keberhasilan pencapaian SMK3 yaitu:

Tidak tejadi kecelakaan kerja yang menimbulkan hilangnya jam kerja


selama kurun waktu jumlah jam tertentu didalam satu tahun (jumlah jam
kerja efektif ±1490 dalam satu tahun, atau dihitung sejak dimulainya
program SMK3)

2.5.Perencanaan Awal dan Perencanaan Kegiatan yang Sedang Berlangsung

PPNS-ITS menyusun rencana yang dapat dikembangkan secara


berkelanjutan dengan:

1. Menunjuk tanggung jawab dalam pencapaian tujuan dan sasaran sesuai


fungsi dan tingkatan manajemen PPNS-ITS
2. Menetapkan sarana dan jangka waktu pencapaian
32
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 32/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

3.PENERAPAN

3.1. Jaminan Kemampuan

3.1.1.Sumber Daya Manusia, Sarana dan Dana

Direktur PPNS-ITS memiliki tanggung jawab utama untuk K3 dan


SMK3. Direktur menunjukkan komitmennya dengan :

a. Menjamin tersedianya sumber daya yang penting untuk menetapkan,


menerapkan, memelihara dan mendukung SMK3 (sumber daya ini
meliputi sumber daya manusia dan tenaga ahli, infrastruktur organisasi,
teknologi dan sumber keuangan).
b. Melakukan identifikasi kompetensi kerja yang diperlukan dalam
manajemen serta menyelenggarakan pelatihan yang dibutuhkan
(termasuk menyediakan tenaga ahli untuk pelatihan).
c. Membuat sebuah peraturan atau persyaratan bahwa keselamatan dan
kesehatan kerja harus diinformasikan secara efektif dalam ruang lingkup
PPNS-ITS.
d. Menyusun sebuah peraturan untuk mendapatkan saran dan pendapat dari
para ahli yang bergerak dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja,
serta bidang lain yang berkaitan dengan sistem kerja di PPNS-ITS.
e. Menyusun sebuah peraturan untuk melaksanakan konsultasi dan
keikutsertaan karyawan secara aktif dalam sistem manajemen K3 di
PPNS-ITS.
Direktur PPNS-ITS menunjuk seorang untuk menjadi Manajemen
Representatif K3 yang bertanggung jawab khusus pada K3 dengan
diuraikannya peran dan kewenangan untuk :

1. Menjamin bahwa SMK3 diterapkan, ditetapkan dan dipelihara


sesuai dengan standar Permenaker No Per-05/MEN/1996.
33
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 33/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

2. Menjamin bahwa laporan kinerja SMK3 dipresentasikan kepada


Direktur untuk ditinjau dan digunakan sebagai dasar untuk
mengembangkan SMK3.
Prosedur terkait Prosedur Penetapan Job Description.

3.1.2.Integrasi

PPNS-ITS dapat menggabungkan Sistem Manajemen


Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan tetap menerapkan prinsip:

a. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan kerja harus dijadikan menjadi


prioritas utama
b. Proses penggabungan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja dengan manajemen PPNS-ITS harus dengan
seimbang
3.1.3.Tanggung Jawab dan Tanggung Gugat

PPNS-ITS menjamin bahwa setiap elemen yang berhubungan


dengan perusahaan, termasuk karyawan, mahasiswa, kontraktor, dan
konsumen memiliki budaya untuk mendukung dan mendapat peran aktif
dalam memberikan kontribusi bagi Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di PPNS-ITS. Maka dengan ini PPNS-ITS akan:

a. Mendokumentasikan dan mengkomunikasikan tanggung jawab dan


tanggung gugat Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta wewenang
untuk bertindak dan menjelaskan pelaporan untuk semua tingkatan
divisi dalam manajemen PPNS-ITS, termasuk karyawan, mahasiswa,
kontraktor, pengunjung, dan konsumen.
b. Menyusun sebuah prosedur pemantauan dan mengkomunikasikan
setiap perubahan tanggung jawab dan tanggung gugat yang memiliki

34
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 34/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

pengaruh dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan


Kerja
c. Selalu berperan aktif dalam menanggapi kondisi yang menyimpang
dari peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.1.4.Konsultasi, Motivasi, dan Kesadaran

PPNS-ITS berkomitmen untuk memperhatikan aspek


Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan melakukan konsultasi dengan
badan berwenang dalam upaya penerapan, pengembangan dan
pemeliharaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

PPNS-ITS melibatkan karyawan untuk berpartisipasi membantu


TIM SMK3 dalam mengidentifikasi bahaya, penilaian resiko, dan
penentuan tindakan pengendalian. Keterlibatan pekerja ini dilakukan
melalui papan pengumuman K3, pertemuan K3 dan email. Pertemuan K3
dapat dilakukan setiap minggu atau sesuai jadwal yang disepakati oleh
TIM SMK3, serta seluruh kegiatan rapat tercatat sebagai bahan
pertimbangan dan masukan bagi rapat selanjutnya.

Konsultasi dengan mahasiwa dan dengan pihak luar (kontraktor,


konsumen, masyarakat) dilakukan jika ada perubahan yang berdampak
pada masalah K3. Konsultasi tersebut dilakukan melalui pihak manajemen
dalam pertemuan K3.

Partisipasi karyawan dalam pengembangan dan peninjauan ulang


mengenai kebijakan dan tujuan K3 dilakukan melalui pertemuan K3 yang
dapat dilaksanakan setiap bulan sekali atau menurut kebijakan Manajemen
Representatif, melalui kotak saran dan melalui email K3.

PPNS-ITS memberikan pengarahan dan pemahaman bagi


karyawan dan mahasiswa, sehingga karyawan dan mahasiswa dapat
35
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 35/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

mendukung tujuan dan sasaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja.


Karyawan, mahasiswa, pengunjung dan pihak lain harus disadarkan akan
bahaya yang dapat timbul dari proses pekerjaan yang ada di PPNS-ITS,
baik yang bersifat fisik, kimia, radiasi, ergonomis, biologis, dan psikologis
sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan.

3.1.5.Pelatihan dan Kompetensi Kerja

PPNS-ITS akan menyenggarakan pelatihan bagi setiap karyawan,


sebagai suatu upaya meningkatan kompetensi kerja serta untuk mencapai
tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. PPNS-ITS akan menyusun
sebuah prosedur untuk mengidentifikasi standar kompetensi kerja serta
pelatihan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi kerja tersebut.
Pelatihan dapat dilaksanakan oleh internal PPNS-ITS atau badan eksternal.
Laporan tentang pelatihan K3 harus dipelihara dan selalu diperbaharui.

Prosedur terkait Prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan

3.2.Kegiatan Pendukung

3.2.1.Komunikasi

PPNS-ITS akan menginformasikan tentang K3 yang berkaitan


dengan peningkatan, penyuluhan, dan kritik terhadap karyawan PPNS-ITS,
masyarakat sekitar dan pihak – pihak lain yang berkepentingan. PPNS-ITS
akan melakukan identifikasi dan menerima semua informasi tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang berasal dari luar perusahaan, serta
menjamin bahwa informasi terkait dikomunikasikan dengan pihak luar
perusahaan yang membutuhkannya.

Karyawan diberikan informasi melalui perwakilan mereka dalam


masalah K3 melalui pelatihan dan briefing.
36
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 36/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

Prosedur terkait Prosedur Komunikasi.

3.2.2.Pelaporan

PPNS-ITS akan menyusun suatu prosedur pelaporan yang tepat dan


baik untuk menjamin kinerja Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.

Karyawan berkewajiban untuk:

a. Ikut serta dalam mendukung tujuan Keselamatan dan Kesehatan


Kerja
b. Memberikan masukan untuk meningkatkan kinerja Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Partisipasi pekerja dalam investigasi kecelakaan dilakukan melalui
telepon, papan pengumuman K3 dan wawancara yang dilakukan oleh TIM
SMK3. Segala bentuk kecelakaan yang terjadi di tempat kerja, pekerja wajib
melaporkannya dan memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya
kepada supervisor dan supervisor wajib melanjutkan informasi pada
Manajemen Representatif.

Prosedur terkait Prosedur pelaporan

3.2.3.Pendokumentasian

PPNS-ITS akan mendokumentasikan seluruh kegiatan Sistem


Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dalam menyusun
dokumentasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, maka
PPNS-ITS harus mencantumkan / memasukkan :

1. Kebijakan dan tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

37
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 37/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

2. Memberikan uraian tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan


Kesehatan Kerja
3. Menguraikan elemen utama dalam Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja serta referensi yang terkait
4. Dokumen dan rekaman yang disyaratkan dalam Per-05/MEN/1996
5. Dokumen dan rekaman yang disyaratkan oleh Tim SMK3 yang berkaitan
dengan risiko manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta
pengendaliannya
Didalam PPNS-ITS telah diberlakukan sistem manajemen mutu (ISO
9001:2008), yang memiliki sistem pendokumentasian yang baik. Maka
dapat dilakukan integrasi sistem manajemen K3 dengan sistem manajemen
mutu internal dalam hal pendokumentasian dan pengendalian dokumen.

Prosedur Terkait Prosedur Dokumentasi (integrasi dengan sistem


manajemen mutu internal yang telah berjalan di PPNS-ITS).

3.2.4.Pengendalian Dokumen

PPNS-ITS menjamin bahwa:

a. Seluruh dokumen yang disimpan dapat diidentifikasi sesuai dengan


tugas dan tanggung jawab masing-masing elemen di perusahaan
b. Dokumen akan ditinjau secara berkala untuk memastikan
kesesuaiannya, dan dapat dilakukan revisi jika diperlukan
c. Laju revisi atau perubahan dokumen dapat diidentifikasi
d. Dokumen yang kadaluarsa segera ditarik atau dimusnahkan dan
master copy-nya disimpan sebagai catatan sejarah perubahan
dokumen.
e. Dokumen ditetapkan pada lokasi yang membutuhkan dan ditentukan
f. Dokumen yang terbaru akan tersedia di seluruh lokasi yang penting

38
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 38/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

Direktur PPNS-ITS bertanggung jawab untuk mengesahkan manual


SMK3. Manajemen Representatif bertanggung jawab untuk mengesahkan
prosedur, instruksi kerja dan form.

TIM SMK3 bertanggung jawab untuk membuat dan mengusulkan


pengesahan prosedur, instruksi kerja dan form kepada Manajemen
Representatif. Prosedur K3 dapat diubah berdasarkan kebutuhan dengan
menggunakan penomoran dokumen yang spesifik dengan pengesahan dari
Manajemen Representatif.

Prosedur Terkait Prosedur Pengendalian Dokumen (integrasi dengan sistem


manajemen mutu internal).

3.2.5.Pencatatan dan Manajemen Informasi

PPNS-ITS menjamin kesesuaian penerapan Sistem Manajemen


Keselamatan dan Kesehatan kerja dicatat dengan baik dan mencakup:

a. Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan indikator kinerja


Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
b. Izin kerja bagi pekerjaan yang memiliki potensi bahaya yang tinggi
c. Segala bentuk resiko dan sumber bahaya dari mesin, peralatan kerja,
lingkungan, dan sifat kerja
d. Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang diselenggarakan
oleh PPNS-ITS
e. Segala bentuk kegiatan inspeksi, perawatan peralatan dan kalibrasi
alat
f. Audit dan tinjauan ulang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja
PPNS-ITS akan menetapkan dan memelihara prosedur untuk
memastikan setiap pekerja menyadari :
39
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 39/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

1. Konsekuensi bahaya – bahaya K3 yang berarti, yang pernah terjadi atau


potensi dari kegiatan kerja, perilaku, dan manfaat K3 untuk memperbaiki
kinerja.
2. Peran dan tanggung jawab mereka dalam mencapai kesesuaian dengan
kebijakan dan prosedur K3 dan dengan persyaratan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja, meliputi tanggap darurat dan kesiagaan.
3. Akibat potensial dari penyimpangan–penyimpangan prosedur operasi yang
ditentukan.
3.3. Identifikasi Sumber bahaya, Penilaian, dan Pengendalian Resiko

3.3.1.Identifikasi Sumber Bahaya

PPNS-ITS mengidentifikasi sumber bahaya yang terdapat di


lokasi kerja dengan tetap mempertimbangkan:

a. Jenis kecelakaan yang mungkin terjadi


b. Penyakit akibat kerja (PAK) yang mungkin timbul dari aktifitas
pekerjaan tersebut
c. Kejadian dan kondisi yang berpotensi menimbulkan kecelakaan
Seluruh hasil identifikasi dicatat dan disimpan sesuai dengan kode
dokumen sehingga dapat digunakan untuk kepentingan yang lain.

3.3.2.Penilaian Resiko

PPNS-ITS melakukan penilaian resiko terhadap kondisi di tempat


kerja untuk menentukan prioritas pengendalian terhadap resiko kecelakaan
atau penyakit akibat kerja. TIM SMK3 melakukan penilaian resiko pada
setiap tempat kerja termasuk bengkel, ruang laboratorium, ruang kelas,
ruang rapat, dan tempat lain yang dianggap berpotensi memiliki resiko
kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja. Seluruh hasil penilaian resiko
dicatat dan diinformasikan kepada seluruh karyawan dan orang lain di
40
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 40/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

tempat kerja, dan dokumen hasil penilaian resiko disimpan sesuai kode
dokumen.

3.3.3.Tindakan Pengendalian

PPNS-ITS akan membuat dan memelihara prosedur pengendalian


terhadap bahaya potensial. Manajemen Representatif bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan prosedur operasi. PPNS-ITS akan menetapkan:

a. Mengintegrasikan tindakan pengendalian kedalam Sistem


Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
b. Pengendalian berhubungan dengan pengadaan barang, peralatan dan
pelayanan kepada karyawan dan mahasiswa
c. Pengendalian terhadap izin kerja bagi karyawan atau kontraktor yang
berada di kawasan berbahaya
Prosedur terkait Prosedur pengendalian

3.3.4.Perancangan (design) dan Rekayasa

PPNS-ITS melakukan proses perancangan dan rekayasa yang


didasarkan atas hasil identifikasi dan penilaian resiko, dalam upaya untuk
mengendalikan resiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang
mungkin timbul di seluruh tempat kerja. Dalam proses perancangan harus
mengikuti sebuah alur yang teratur mulai dari proses pengembangan,
verifikasi tinjauan ulang, validasi dan penyesuaian. Seluruh tahap ini harus
berkaitan dengan identifikasi sumber bahaya, prosedur penilaian dan
pengendalian resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Direktur PPNS-ITS menetapkan orang berkompetensi yang


bertanggung jawab dan memberi wewenang untuk melakukan verifikasi
persyaratan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

41
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 41/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

3.3.5.Pengendalian Administratif

PPNS-ITS melaksanakan tindakan pengendalian administratif


atas potensi bahaya yang terdapat di tempat kerja, sesuai dengan prosedur
dan instruksi kerja yang disusun sebelumnya. Prosedur dan instruksi kerja
ini ditempatkan diseluruh bagian yang memiliki potensi bahaya. Prosedur
dan instruksi kerja dapat ditinjau ulang dan direvisi oleh orang yang
memiliki kompetensi dibidang itu serta disetujui oleh Manajemen
Representatif.

3.3.6.Tinjauan Ulang Kontrak

PPNS-ITS melakukan peninjauan ulang terhadap kontrak kerja,


kontrak pengadaan barang dan jasa, dan kontrak lain yang berhubungan
dengan sistem kerja di perusahaan, untuk menjamin bahwa kontrak
tersebut memenuhi persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang
disetujui oleh manajemen PPNS-ITS.

3.3.7.Pembelian

PPNS-ITS menyusun sebuah sistem pembelian barang dan jasa


untuk menjamin bahwa produk barang dan jasa memenuhi persyaratan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang ditetapkan oleh perusahaan.
Dalam hal ini ditetapkan juga prosedur pemeliharaan barang dan jasa yang
terintegrasi, untuk mencegah dan menangani resiko kecelakaan dan
penyakit akibat kerja.

42
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 42/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

3.3.8.Prosedur Menghadapi Keadaan Darurat atau Bencana

PPNS-ITS akan membuat, menerapkan dan memelihara prosedur


:

1. Identifikasi potensi terjadinya situasi darurat.


2. Tindakan penanganan situasi darurat.
PPNS-ITS akan merespon terhadap situasi darurat yang terjadi
dan mencegah atau mengurangi kerugian yang terjadi.

Dalam perencanaan kesiagaan tanggap darurat PPNS-ITS akan


memperhatikan hal lainnya yang dianggap perlu, misalnya emergency
services dan lingkungan sekitar.

PPNS-ITS akan menguji prosedur kesiagaan tanggap darurat


dalam jangka waktu yang ditentukan oleh TIM SMK3 dan disetujui oleh
manajemen puncak, dengan berkoordinasi dengan divisi keamanan. Dan
juga akan meninjau, merevisi prosedur kesiagaan tanggap darurat,
khususnya setelah terjadi situasi darurat.

Prosedur Terkait Prosedur Tanggap Darurat.

3.3.9.Prosedur Menghadapi Insiden

PPNS-ITS akan membuat, menerapkan dan memelihara prosedur:

1. Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)


2. Perawatan lanjutan
PPNS-ITS akan merespon jika terjadi kecelakaan di tempat kerja
dengan menyediakan tim medis yang selalu siap disaat yang diperlukan.

43
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 43/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

PPNS-ITS akan merevisi prosedur jika terjadi perubahan, serta


menguji prosedur dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh TIM SMK3
serta mendapat persetujuan dari manajemen puncak.

3.3.10.Prosedur Rencana Pemulihan Keadaan Darurat

PPNS-ITS akan membuat, menerapkan dan memelihara prosedur


rencana pemilihan keadaan darurat, untuk dapat memulihkan kembali
keadaan pada kondisi yang normal serta membantu pemulihan karyawan
yang mengalami trauma. PPNS-ITS menjamin seluruh karyawan yang
mengalami luka dan trauma dapat kembali bekerja dengan normal, serta
seluruh biaya perawatan ditanggung oleh perusahaan.

4.PENGUKURAN DAN EVALUASI

4.1.Inspeksi dan Pengujian

PPNS-ITS akan melaksanakan inspeksi dan pengujian seluruh kegiatan


operasi sistem manajemen K3. Hal tersebut dilaksanakan untuk memantau kinerja
K3 sesuai dengan program-program K3 yang telah dibuat serta untuk memantau
adanya kecelakaan, insiden, tingkat kesehatan karyawan dan kekurangan-
kekurangan K3 lainnya di PPNS-ITS. Inspeksi dan pengujian meliputi seluruh
aspek keselamatan di perusahaan. Inspeksi dan pengujian dilaksanakan oleh TIM
SMK3 dengan bekerja sama dengan penanggung jawab tempat kerja dan
karyawan yang ada di tempat kerja. Inspeksi dan pengujian dilaksanakan dengan
disertai alat yang mendukung serta telah dikalibrasi dan diverifikasi oleh orang
yang berwenang. PPNS-ITS juga melaksanakan pemeriksaan kesehatan pekerja
guna memantau apakah ada penyakit akibat kerja. Seluruh hasil inspeksi dan
pengujian tersebut didokumentasikan/dicatat guna analisa tindakan perbaikan &
pencegahan.

44
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 44/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

Prosedur terkait :

1. Prosedur inspeksi dan pengukuran.


2. Prosedur Pemeriksaan Kesehatan
3. Prosedur Kalibrasi & Perawatan Alat-alat Ukur.

4.2.Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

PPNS-ITS melaksanakan audit SMK3 untuk memastikan kesesuaian


penerapan Sistem Manajemen K3 dengan perundang-undangan bagi perusahaan
dan juga peraturan lain yang digunakan dalam melaksanakan sistem manajemen
K3 di PPNS-ITS. Audit dilakukan secara periodik dua kali dalam satu tahun*
untuk menjamin kesesuaian, kecukupan dan keefektifan sistem manajemen K3
secara berkelanjutan. Semua hasil audit dilaporkan pada direktur serta
didokumentasikan / dicatat.

Prosedur terkait Prosedur audit SMK3.

4.3.Tindakan Perbaikan dan Pencegahan

PPNS-ITS melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan yang mengacu


pada hasil pelaksanaan pemantauan, audit, dan tinjauan ulang Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Seluruh temuan akan didokumentasikan, serta
perusahaan menjamin penerapannya secara sistematik dan efektif.

Prosedur terkait Prosedur Tindakan Perbaikan & Pencegahan.

5.TINJAUAN ULANG DAN PENINGKATAN OLEH PIHAK MANAJEMEN

Tinjauan ulang dan peningkatan oleh manajemen PPNS-ITS akan


dilaksanakan minimum satu kali dalam satu tahun* untuk menjamin kesesuaian,
kecukupan, dan keefektifan SMK3 secara berkelanjutan. Tinjauan ulang manajemen

45
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 45/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA ITS

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

MANUAL

dipimpin oleh direktur PPNS-ITS dan dihadiri oleh semua divisi. Tinjauan ulang
harus membahas mengenai kesempatan untuk perbaikan dan kebutuhan untuk
perubahan tentang SMK3. Masukan untuk tinjauan manajemen harus meliputi hasil
audit dan evaluasi SMK3, hasil partisipasi dan konsultasi, keluhan dari pihak luar
mengenai K3, Kebijakan K3, tindak lanjut K3 dari tinjauan manajemen sebelumnya,
dan perkembangan peraturan yang berhubungan dengan K3.

Prosedur terkait Prosedur Tinjauan Manajemen.

Keterangan:

- Tanda (*) yang ada dalam manual ini adalah usulan dari peneliti (mengacu pada
sistem manajemen mutu PPNS-ITS).
- Supervisor yang dimaksud dalam manual ini adalah kepala tiap bagian/kepala
tiap divisi.
- Karyawan yang dimaksud dalam manual ini adalah dosen, teknisi, pekerja tetap
yang ada di PPNS-ITS. Tidak termasuk karyawan kontrak atau outsourcing, dan
mahasiswa.

46
No. Dokumen : PPNS-ITS SMK3 M - 001 Tanggal Terbit :
Hal : 46/18
No. Revisi : PPNS-ITS SMK3 RM - 005 Tanggal Revisi :
4.8 Penyusunan Prosedur bagi Draft Manual SMK3

Prosedur yang disusun adalah prosedur yang dibutuhkan oleh


draft manual SMK3. Diutamakan menyusun prosedur yang oleh Per-
05/MEN/1996 bersifat mendesak/penting. Seluruh prosedur ditempatkan
di Lampiran II dari tugas akhir ini.

4.9 Penerapan Prosedur

4.9.1 Prosedur identifikasi bahaya

Prosedur identifikasi bahaya adalah prosedur yang berisi


tata cara pelaksanaan identifikasi bahaya di PPNS-ITS. Penerapan
prosedur ini dimaksudkan untuk melihat kesesuaian prosedur yang
diusulkan oleh peneliti dengan kondisi di lapangan. Prosedur
diterapkan pada hampir seluruh bengkel dan laboratorium di PPNS-
ITS.

Dalam penerapan prosedur ini dikenal istilah kategori


bahaya yang oleh peneliti dibagi menjadi empat kategori. Kategori
bahaya ini diadopsi dari teknik identifikasi bahaya PHA
(Preliminary Hazard Analysis) sebagai berikut:

Kategori I : Negligible

Kategori II : Marginal

Kategori III : Critical

Kategori IV : Catastrophic

Setiap kategori bahaya secara umum didefenisikan sebagai


bentuk tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh suatu kecelakaan
kerja. Pembagian kategori bahaya ini berdasarkan tingkat kerugian
yang dialami seperti dibawah ini:

47
Tabel 4.2. Kategori bahaya

Kategori bahaya Kerugian

Kategori I Kerusakan sistem yang kecil, namun tidak


menyebabkan cedera/luka terhadap pekerja,
pelepasan bahan kimia kepada lingkungan, atau
paparan terhadap sistem operasi.

Kategori II Paparan dalam skala kecil terhadap manusia, atau


sistem alarm aktivitas sistem menyala.

Kategori III Menyebabkan luka kecil terhadap manusia,


terkena paparan bahan kimia berbahaya atau
terkena radiasi, atau kebakaran, atau pelepasan
bahan kimia kepada lingkungan.

Kategori IV Luka berat atau kematian bagi manusia.

Sumber: (Rausand, 2005)

Penerapan ini ditujukan sebagai bentuk percobaan untuk


melihat bentuk penerapan sebenarnya prosedur di lapangan jika
manual ini dijalankan oleh pihak manajemen puncak PPNS-ITS.
Hasil dari penerapan prosedur tersebut adalah sebagai berikut:

a. Bengkel Konstruksi

Bengkel konstruksi adalah bengkel yang beroperasi sebagai


tempat konstruksi barang-barang keperluan pembuatan kapal.
Tempat ini berisi mesin bending, mesin rolling, mesin las,
mesin gerinda, overhead travelling crane, dan beberapa
mesin lain. Peneliti melaksanakan identifikasi bahaya di
bengkel konstruksi ini dengan pengamatan langsung pada
saat proses bending logam sedang dilakukan serta ada
beberapa mahasiswa yang sedang melaksanakan proses
pengelasan. Hasil identifikasi bahaya di bengkel konstruksi
adalah sebagai berikut:

48
Tabel 4.3. Identifikasi bahaya di bengkel konstruksi

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Jari-jari III Memakai APD


terpotong

2 Fisik Tangan/jari II - Memakai


terjepit APD

- Memakai
alat bantu
untuk
meletakkan
benda kerja

3 Fisik Terkena api III Memakai APD


mesin las

4 Fisik Telinga II - Memakai


terganggu APD
akibat suara
bising - Sistem kerja
shift untuk
mengurangi
waktu
paparan

5 Fisik Terpeleset di I Tumpahan


lantai minyak/oli
segera
dibersihkan

Sumber: (Hasil survey)

b. Bengkel sheet metal

Bengkel sheet metal adalah bengkel yang digunakan sebagai


sarana praktek mahasiswa. Bengkel ini berisi mesin bor,
mesin las, mesin rolling, mesin potong, dan beberapa mesin
lainnya. Pada saat dilakukan identifikasi bahaya, terdapat
beberapa mahasiswa yang sedang melakukan proses
pemotongan plat di mesin potong. Hasil identifikasi bahaya di
bengkel sheet metal adalah sebagai berikut:

49
Tabel 4.4. Identifikasi bahaya di bengkel sheet metal

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Tangan/jari II - Memakai


terjepit APD

- Memakai
alat bantu
untuk
meletakkan
benda kerja

2 Fisik Terkena api III Memakai APD


mesin las

3 Fisik Terkena I Memakai APD


serpihan
logam

4 Fisik Telinga II - Memakai


terganggu APD
akibat suara
bising - Penerapan
sistem kerja
bergantian
untuk
mengurangi
paparan

5 Fisik Terkena II Memakai APD


batu
gerinda

Sumber: (Hasil survey)

c. Bengkel permesinan

Bengkel permesinan berada satu ruangan dengan bengkel


sheet metal. Di bengkel ini berisi mesin bubut, mesin gerinda,
mesin frais, mesin bor dan mesin sekrap. Pada saat
pelaksanaan identifikasi bahaya, terdapat beberapa orang
mahasiswa yang sedang melaksanakan proses menggerinda.
Hasil identifikasi bahaya di bengkel permesinan adalah
sebagai berikut:

50
Tabel 4.5. Identifikasi bahaya di bengkel permesinan

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Terpeleset I Tumpahan


di lantai minyak/oli
segera
dibersihkan

2 Fisik Jari III - Memakai


terpotong APD

3 Fisik Tangan/jari II - Memakai


terjepit alat bantu
untuk
menempatka
n benda
kerja

- Memakai
APD

4 Fisik Terkena I - Memakai


serpihan APD
logam

5 Fisik Terkena II Memakai APD


batu
gerinda

6 Fisik Terkena I Jangan berada


peralatan terlalu dekat
mesin yang dengan mesin
sedang saat sedang
bergerak bekerja

Sumber: (Hasil survey)

d. Bengkel pengelasan

Bengkel ini adalah tempat praktek mahasiswa yang berisi


banyak mesin las SMAW dan OAW, serta mesin potong dan
mesin gerinda. Pada saat melaksanakan identifikasi bahaya,
terdapat teknisi dan beberapa orang mahasiswa yang sedang
melakukan pengelasan dengan menggunakan mesin las
SMAW. Hasil identifikasi bahaya adalah sebagai berikut:

51
Tabel 4.6. Identifikasi bahaya di bengkel pengelasan

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Terkena I Memakai APD


serpihan
logam

2 Fisik Terkena II Memakai APD


mesin
gerinda

3 Fisik Terkena api II Memakai APD


mesin las

4 Fisik Telinga II Memakai APD


terganggu
suara bising

5 Fisik Terkena III - Memakai


logam APD
panas
- Memakai
alat bantu

6 Elektrik Tersengat III Jangan


listrik menyalakan
tegangan mesin jika ada
tinggi bagian yang
rusak/terkelupas
/cacat

7 Fisik Kebakaran III Jangan


menyalakan api
las dekat dengan
material mudah
terbakar

8 Fisik Tertimpa III Pemindahan


beban berat material
dilakukan oleh
beberapa orang

9 Fisik Terkena I Jangan berada


bagian terlalu dekat
mesin yang dengan mesin
bergerak yang bekerja

10 Fisik Tangan/jari III Memakai alat


terpotong bantu

Sumber: (Hasil survey)


52
e. Bengkel non metal

Didalam bengkel ini terdapat mesin gergaji, mesin bor, dan


mesin pemotong kayu lainnya. Juga ditemukan berbagai jenis
cat dan tinner yang bersifat mudah terbakar. Pada saat
pelaksanaan identifikasi bahaya, mesin pemotong kayu
sedang berjalan, dan seorang teknisi terlihat memasang kayu
pada mesin untuk dipotong. Hasil identifikasi bahaya adalah
sebagai berikut:

Tabel 4.7. Identifikasi bahaya di bengkel non metal

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Tangan/jari III Memasang


terpotong pelindung pada
bagian mesin
yang tajam

2 Fisik Terkena II - Memasang


batu pelindung
gerinda pada mesin

- Memakai
APD

3 Fisik Pendengara II Memakai APD


n terganggu
akibat suara
bising

4 Fisik Mata II Memakai APD


terkena
serpihan
kayu

5 Fisik Rambut III - Memotong


terpelintir rambut yang
mesin bor panjang

- Memakai
penutup
kepala

6 Fisik Terpeleset I Tumpahan oli


di lantai dibersihkan

53
Lanjutan tabel 4.7

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

7 Kimia Menghirup I Memakai APD


aroma cat
dan tinner

8 Elektrik Tersengat III Menutup


arus listrik sumber arus
yang terbuka

9 Fisik Kebakaran IV Jangan


menyalakan api
didekat serpihan
kayu atau tinner

Sumber: (Hasil survey)

f. Laboratorium steam power plant

Dari semua laboratorium dan bengkel di PPNS-ITS,


laboratorium steam power plant adalah laboratorium dengan
potensi bahaya terbesar karena tempat ini berisi satu unit
boiler yang sudah berumur ± 22 tahun, serta tidak
mendapatkan perawatan yang rutin. Pada saat pelaksanaan
identifikasi bahaya, boiler dalam keadaan berhenti
beroperasi. Hasil identifikasi bahaya adalah sebagai berikut:

Tabel 4.8. Identifikasi bahaya di laboratorium steam power


plant

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Terpeleset I Tumpahan


di lantai minyak segera
dibersihkan

2 Fisik Terkena III Memakai APD


uap panas
boiler

54
Lanjutan tabel 4.8

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

3 Fisik Telinga II Memakai APD


terganggu
akibat suara
bising

4 Fisik Peledakan IV - Awasi


sistem kerja
proses

- Periksa
kelengkapan
safety valve
dan sistem
pengaman
lainnya

Sumber: (Hasil survey)

g. Laboratorium automatic diesel marine

Posisi laboratorium ini berada dekat dengan steam power


plant, dan berisi satu unit mesin diesel. Pada saat pelaksanaan
identifikasi bahaya, kondisi mesin sedang tidak beroperasi.
Hasil identifikasi bahaya aalah saebagai berikut:

Tabel 4.9. Identifikasi bahaya di laboratorium automatic


diesel marine

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Pendengara II Memakai APD


n terganggu

2 Fisik Menghirup II - Memakai


asap dari APD
mesin
diesel - Perbaiki
sistem
pembuangan

55
Lanjutan tabel 4.9

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

3 Fisik Terpeleset I Tumpahan


di lantai minyak segera
dibersihkan

Sumber: (Hasil survey)

h. Laboratorium reparasi listrik

Laboratorium ini adalah sarana praktek mahasiswa, berisi


peralatan listrik dan sebuah generator yang dapat
dipindahkan. Hasil identifikasi bahaya adalah sebagai berikut:

Tabel 4.10. Identifikasi bahaya di laboratorium reparasi listrik

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Elektrik Tersengat III Menutup


arus sumber arus
yang terbuka

2 Fisik Tertimpa II Penanganan


beban berat material
dilakukan oleh
lebih dari satu
orang

3 Fisik Pendengara II - Memakai


n terganggu APD
akibat suara
bising - Menaruh
mesin diluar
ruangan

4 Fisik Terpeleset Tumpahan


di lantai minyak segera
dibersihkan

Sumber: (Hasil survey)

i. Laboratorium SPPK
56
Tempat ini berisi tabung oksigen, peralatan pemadam
kebakaran dan selang hidran. Laboratorium ini digunakan
sebagai sarana praktek mahasiswa untuk mengetahui tata cara
pemadaman kebakaran. Di tempat ini tidak ditemukan potensi
bahaya yang besar. Hasil identifikasi bahaya adalah sebagai
berikut:

Tabel 4.11. Identifikasi bahaya di laboratorium SPPK

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Kaki II Penanganan


tertimpa material
beban berat dilakukan oleh
lebih dari satu
orang

Sumber: (Hasil survey)

j. Laboratorium instrumentasi listrik dan fisika

Laboratorium ini adalah sarana praktek mahasiswa yang


berisi peralatan listrik dan instrument fisika lainnya. Pada saat
pelaksanaan identifikasi bahaya, terdapat mahasiswa yang
sedang melakukan praktek. Hasil identifikasi bahaya aalah
sebagai berikut:

Tabel 4.12. Identifikasi bahaya di laboratorium instrumentasi


listrik dan fisika

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Elektrik Tersengat III Jangan


arus listrik menyalakan
peralatan dalam
kondisi basah

Lanjutan tabel 4.12


57
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

2 Fisik Tertimpa I - Penempatan


beban berat material
yang baik

- Pemindahan
material oleh
beberapa
orang

3 Fisik Terpeleset I Tumpahan air


dekat wastafel
segera
dibersihkan

4 Fisik Terjepit I - Memakai


APD

- Berhati-hati
saat
memasang
atau
memakai
peralatan

Sumber: (Hasil survey)

k. Laboratorium reparasi mesin

Laboratorium ini adalah sarana praktek yang berisi berbagai


jenis mesin kapal yang sedang dipelajari oleh mahasiswa.
Pada saat pelaksanaan proses identifikasi bahaya, terdapat
mahasiswa dan dosen sedang mempelajari sistem propeller
pada kapal. Terdapat juga teknisi yang sedang memperbaiki
salah satu mesin kapal. Hasil identifikasi bahaya pada
laboratorium reparasi mesin adalah sebagai berikut:

Tabel 4.13. Identifikasi bahaya di laboratorium reparasi mesin


58
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Terpeleset I Tumpahan


minyak segera
dibersihkan

2 Fisik Tertimpa I - Gunakan alat


beban berat bantu
mengangkat
beban

- Pemindahan
beban
dilakukan
beberapa
orang

3 Kimia Menghirup I Memakai APD


uap thinner
dancat

4 Fisik Terkena api III Memakai APD


las

5 Fisik Terjepit I - Memakai


mesin APD

- Memakai
alat bantu

6 Fisik Kebakaran III Jangan


menyalakan
mesin las dekat
serpihan kayu,
plastik, cat,
thinner, dan
kertas

7 Fisik Menghirup I - Periksa


asap residu saluran
mesin buang mesin

- Memakai
APD

Sumber: (Hasil survey)

l. Laboratorium kimia

59
Di laboratorium ini terdapat berbagai jenis bahan kimia,
mulai yang bersifat korosif hingga yang mudah terbakar. Juga
terdapat alat uji kemurnian bahan bakar, serta sebuah oven
yang digunakan untuk memanaskan bahan kimia. Didalam
lemari tersimpan peralatan prakek yang terbuat dari kaca, dan
seluruh bahan kimia ditempatkan pada lemari terpisah. Pada
saat pelaksanaan proses identifikasi bahaya, kondisi
laboratorium dalam keadaan kosong karena tidak ada
kegiatan praktek. Hasil identifikasi bahaya adalah sebagai
berikut:

Tabel 4.14. Identifikasi bahaya di laboratorium kimia

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Kimia Uap kimia I Memakai APD


terhirup

2 Kimia Bahan III Jangan pernah


kimia mencicipi bahan
tertelan kimia

3 Kimia Bahan III Memakai APD


kimia
terkena
kulit

4 Fisik Terpeleset I Tumpahan air


di lantai segera
dibersihkan

5 Kimia Bahan III Memakai APD


kimia
terkena
mata

Sumber: (Hasil survey)

m. Laboratorium ergonomi

60
Laboratorium ini berada dekat dengan laboratorium kimia,
dan digunakan sebagai sarana praktek mahasiswa. Di tempat
ini dilaksanakan praktek ergonomi dan P3K. Peralatan yang
ada di ruangan ini antara lain: treadmill, sepeda ergonomi,
alat pengukur tinggi badan, timbangan, dan peralatan lain.
Pada saat pelaksanaan proses identifikasi bahaya, kondisi
laboratorium dalam keadaan kosong karena tidak ada
kegiatan praktek. Hasil identifikasi bahaya adalah sebagai
berikut:

Tabel 4.15. Identifikasi bahaya di laboratorium ergonomi

Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Kejatuhan I Berhati-hati saat


benda dari mengambil
atas lemari peralatan dari
ketinggian,
gunakan alat
bantu

Sumber: (Hasil survey)

n. Laboratorium kontroller dan mikroprosessor

Dialam laboratorium ini berisi peralatan listrik yang


digunakan sebagai sarana praktek. Pada saat pelaksanaan
proses identifikasi bahaya, kondisi laboratorium sedang
kosong karena tidak ada aktifitas praktek. Terdapat seorang
teknisi sedang memperbaiki salah satu computer. Hasil
identifikasi bahaya aadlah sebagai berikut:

Tabel 4.16. Identifikasi bahaya di laboratorium kontroller dan


mikroprosessor

61
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya

1 Fisik Kejatuhan I Pakai alat bantu


benda dari untuk meraih
ketinggian benda di
ketinggian

2 Ergono Cedera II Pengangkutan


mi punggung material lebih
dari satu orang

3 Elektrik Tersengat III Memakai APD


arus

Sumber: (Hasil survey)

4.9.2 Prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan

a. Bengkel konstruksi

Di bengkel ini terdapat 10 orang karyawan, dan sebagian


besar berlatar belakang pendidikan STM dan D3. Proses
identifikasi dengan cara wawancara langsung dengan
karyawan dan kepala bengkel konstruksi. Hasil identifikasi
kebutuhan pelatihan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.17. Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel konstruksi

Dasar penentuan jenis pelatihan


Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Bidang atau obyek
O belakang Pengalaman potensi bahaya pelatihan
kerja pelatihan
pendidikan yang ada

1 SMP 22 thn Terjepit, Kebersi Fauzi K3


terpotong, han (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las

Lanjutan tabel 4.17

62
Dasar penentuan jenis pelatihan
Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Bidang atau obyek
O belakang Pengalaman potensi bahaya pelatihan
kerja pelatihan
pendidikan yang ada

2 S1 2 thn Terjepit, Mouldin Rachmat K3


terpotong, g (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las

3 D3 15 thn Terjepit, Rolling Rudy K3


terpotong, (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las

4 D3 15 thn Terjepit, Potong Nanang K3


terpotong, plat (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las

5 STM 18 thn Terjepit, Bending Muharor K3


terpotong, (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las

6 STM 18 thn Terjepit, Potong Maftul K3


terpotong, plat (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las

7 STM 20 thn Terjepit, Mouldin Mr Wong K3


terpotong, g (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las

Lanjutan tabel 4.17


63
Dasar penentuan jenis pelatihan

Resiko K3 Sasaran atau


N Latar Jenis
dan potensi Bidang obyek
O belakang Pengalaman pelatihan
bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada

8 STM 20 thn Terjepit, Rolling Husnul K3


terpotong, (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api
las

9 STM 20 thn Terjepit, Bending Budi K3


terpotong, (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api
las

1 STM 15 thn Terjepit, Rolling Kris K3


0 terpotong, (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api
las

Sumber: (Hasil survey)

b. Bengkel sheet metal

Di bengkel ini terdapat 3 orang karyawan, dan dua


diantaranya telah bekerja selama 14 tahun. Proses identifikasi
kebutuhan pelatihan dilakukan dengan wawancara langsung
dengan karyawan yang bersangkutan. Hasil dari identifikasi
kebutuhan pelatihan di bengkel sheet metal ini adalah sebagai
berikut:

Tabel 4.18. Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel sheet metal

64
Dasar penentuan jenis pelatihan

Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
dan potensi Bidang atau obyek
O belakang Pengalaman pelatihan
bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada

1 D3 6 bln Terjepit, Plat dan Karyawan SPPK, K3


terkena api pipa umum
las, terkena
batu gerinda,
terkena
serpihan
logam

2 D3 14 thn Terjepit, Plat dan Karyawan SPPK, K3


terkena api pipa umum
las, terkena
batu gerinda,
terkena
serpihan
logam

3 STM 14 thn Terjepit, Plat dan Karyawan SPPK, K3


terkena api pipa umum
las, terkena
batu gerinda,
terkena
serpihan
logam

Sumber: (hasil survey)

c. Bengkel permesinan

Didalam bengkel ini terdapat 2 (dua) orang karyawan dengan


masa kerja yang sudah lama, serta seorang karyawan yang
baru bekerja. Berdasarkan wawancara langsung dengan
karyawan, maka didapatkan hasil identifikasi kebutuhan
pelatihan sebagai berikut:

Tabel 4.19. Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel permesinan


65
Dasar penentuan jenis pelatihan
Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal Bidang atau obyek
O belakang potensi bahaya pelatihan
aman kerja pelatihan
pendidikan yang ada

1 D3 6 bln Terpeleset, CNC Karyawan SPPK, K3


terjepit, umum
terkena batu
gerinda,
terkena
serpihan
logam

2 STM 21 thn Terpeleset, CNC Karyawan SPPK, K3


terjepit, umum
terkena batu
gerinda,
terkena
serpihan
logam

3 STM 21 thn Terpeleset, CNC Karyawan SPPK, K3


terjepit, umum
terkena batu
gerinda,
terkena
serpihan
logam

Sumber: (Hasil survey)

d. Bengkel non metal

Bengkel ini ditangani oleh 4 orang karyawan yang semuanya


berlatar belakang pendidikan STM. Meskipun tempat kerja ini
memiliki potensi bahaya yang cukup besar, namun karyawan
tidak mendapatkan pelatihan tentang K3 sehingga berpotensi
mengalami kecelakaan. Kondisi tempat kerja yang dipenuhi
bahan mudah terbakar juga memperbesar potensi bahaya yang
ada. Hasil wawancara dengan karyawan adalah sebagai
berikut:

Tabel 4.20. Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel non metal

66
Dasar penentuan jenis pelatihan

Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi Bidang atau obyek
O belakang pelatihan
aman bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada

1 STM 19 thn Terpotong, Fiberglass Didik SPPK, K3


kebakaran, dan mesin iswantoro umum
terpeleset, kayu (karyawan)
pendengaran
terganggu,
terkena batu
gerinda

2 STM 18 thn Terpotong, Fiberglass M. Fauzan SPPK, K3


kebakaran, dan mesin (karyawan) umum
terpeleset, kayu
pendengaran
terganggu,
terkena batu
gerinda

3 STM 17 thn Terpotong, Fiberglass M. Samsul SPPK, K3


kebakaran, dan mesin (karyawan) umum
terpeleset, kayu
pendengaran
terganggu,
terkena batu
gerinda

4 STM 22 thn Terpotong, Fiberglass Hardi SPPK, K3


kebakaran, dan mesin suprayitno umum
terpeleset, kayu (karyawan)
pendengaran
terganggu,
terkena batu
gerinda

Sumber: (Hasil survey)

e. Laboratorium steam power plant

Laboratorium ini diawasi oleh 2 orang karyawan, yang juga


bekerja di laboratorium reparasi mesin dan laboratorium
automatic diesel marine. Jumlah karyawan yang kurang
memadai membuat mereka harus bekerja lebih berat karena
beban kerja yang bertambah.

67
Tabel 4.21. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium steam
power plant

Dasar penentuan jenis pelatihan


Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal Bidang atau obyek
O belakang potensi bahaya pelatihan
aman kerja pelatihan
pendidikan yang ada

1 S1 18 thn Pendengaran Reparasi Eko K3 PUBT,


terganggu, mesin purwanto K3 umum
tersengat arus, dan (karyawan)
peledakan, boiler
terkena uap
panas

2 STM 18 thn Pendengaran Reparasi Andik K3 PUBT,


terganggu, mesin wibowo K3 umum
tersengat arus, dan (karyawan)
peledakan, boiler
terkena uap
panas

Sumber: (Hasil survey)

f. Laboratorium automatic diesel marine

Laboratorium ini ditangani oleh karyawan di steam power


plant dan laboratorium reparasi mesin. Jumlah karyawan yang
kurang memadai harus memaksa mereka mendapatkan beban
kerja yang lebih berat, dan tidak didukung oleh kemampuan
yang memadai, hal ini dapat memperbesar resiko kecelakaan.

Tabel 4.22. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium automatic


diesel marine

Dasar penentuan jenis pelatihan


Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal Bidang atau obyek
O belakang potensi bahaya pelatihan
aman kerja pelatihan
pendidikan yang ada

1 S1 18 thn Pendengaran Reparasi Eko K3 umum


terganggu, mesin purwanto
terpeleset, (karyawan)
menghirup
asap mesin

68
Lanjutan tabel 4.22

Dasar penentuan jenis pelatihan


Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal Bidang atau obyek
O belakang potensi bahaya pelatihan
aman kerja pelatihan
pendidikan yang ada

2 STM 18 thn Pendengaran Reparasi Andik K3 umum


terganggu, mesin wibowo
terpeleset, (karyawan)
menghirup
asap mesin

Sumber: (Hasil survey)

g. Laboratorium reparasi listrik

Laboratorium ini ditangani oleh satu orang karyawan dengan


latar belakang pendidikan SLTA. Tempat kerja ini dipenuhi
oleh instrument listrik bertegangan tinggi, sehingga diperlukan
pelatihan yang mendukung agar tidak terjadi kecelakaan yang
diakibatkan oleh listrik.

Tabel 4.23. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium reparasi


listrik

Dasar penentuan jenis pelatihan

Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi Bidang atau obyek
O belakang pelatihan
aman bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada

1 SLTA 20 thn Tersengat Perbaikan Paidi K3 listrik,


arus dan (karyawan) K3 umum
perawatan
serta
asisten
pengajar

Sumber: (Hasil survey)

69
h. Laboratorium SPPK

Laboratorium ini ditangani oleh satu orang karyawan yang


juga menangani dua laboraotirum yang lain. Jumlah karyawan
yang masih kurang mengakibatkan karyawan tersebut
mendapat pekerjaan yang diluar batas kemampuannya.

Tabel 4.24. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium SPPK

Dasar penentuan jenis pelatihan

Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi atau obyek
O belakang Bidang kerja pelatihan
aman bahaya yang pelatihan
pendidikan
ada

1 STM 20 thn Kaki Perawatan dan Soehartono K3 umum


tertimpa pemeliharaan (karyawan)
beban berat alat praktikum

Sumber: (Hasil survey)

i. Laboratorium uji bahan

Di laboratorium ini terdapat seorang karyawan yang bertugas


menjaga dan merawat alat praktek. Di tempat kerja ini
terdapat alat uji yang menggunakan material yang bersifat
radioaktif. Maka sangat dibutuhkan pengetahuan tentang cara
penanganan bahan radioaktif.

Tabel 4.25. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium uji bahan

Dasar penentuan jenis pelatihan

Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi Bidang atau obyek
O belakang pelatihan
aman bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada

1 STM 15 thn Terjepit, Pengujian Agus K3


radiasi, bahan dan sumitro radioaktif,
menghirup material (karyawan) K3 umum
uap solvent

Sumber: (Hasil survey)

70
j. Laboratorium instrumentasi listrik dan fisika

Laboratorium ini ditangani oleh seorang karyawan yang


bertugas untuk mempersiapkan peralatan praktikum serta
merawat dan memelihara peralatan. Potensi bahaya di tempat
ini tergolong ringan namum berpotensi terjadinya kebakaran.
Maka dibutuhkan pengetahuan tentang cara penanggulangan
kebakaran.

Tabel 4.26. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium


instrumentasi listrik dan fisika

Dasar penentuan jenis pelatihan

Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi Bidang atau obyek
O belakang pelatihan
aman bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada

1 STM 4 thn Tersengat Instrumen Tofan SPPK, K3


arus, listrik dasar (karyawan) umum
terpeleset,
tertimpa
beban berat,
terjepit

Sumber: (Hasil survey)

k. Laboratorium kimia

Laboratorium ini ditangani oleh satu orang karyawan yang


juga menangani laboratorium ergonomi dan SPPK. Idealnya
satu laboratorium ditangani oleh dua orang karyawan, namun
karena jumlah karyawan yang kurang dari cukup, memaksa
satu orang karyawan harus mendapatkan beban yang berat
karena harus menangani beberapa laboratorium sekaligus.

71
Tabel 4.27. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium kimia

Dasar penentuan jenis pelatihan

Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi atau obyek
O belakang Bidang kerja pelatihan
aman bahaya yang pelatihan
pendidikan
ada

1 STM 20 thn Terkena Perawatan Soehartono K3 kimia,


bahan kimia, dan (karyawan) K3 umum
terpeleset pemeliharaan
alat
praktikum

Sumber: (Hasil survey)

l. Laboratorium ergonomi

Laboratorium ini juga ditangani satu orang karyawan yang


sama menangani laboratorium kimia dan SPPK. Potensi
bahaya di tempat ini tidak besar, namun karyawan dapat
mengalami kecelakaan saat melakukan pemindahan barang
dengan tidak baik dan benar.

Tabel 4.28. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium ergonomi

Dasar penentuan jenis pelatihan


Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal atau obyek
O belakang potensi bahaya Bidang kerja pelatihan
aman pelatihan
pendidikan yang ada

1 STM 20 thn Tertimpa Perawatan Soehartono K3 umum


beban dari atas dan (karyawan)
lemari pemeliharaan
alat
praktikum

Sumber: (Hasil survey)

m. Laboratorium reparasi mesin

Laboratorium ini ditangani oleh dua orang yang juga


menangani laboratorium automatic diesel marine dan
laboratorium steam power plant. Tempat ini memiliki potensi

72
bahaya yang cukup besar, namun karyawan tidak
mendapatkan pengetahuan tentang K3 sehingga dapat
menimbulkan kecelakaan.

Tabel 4.29. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium reparasi


mesin

Dasar penentuan jenis pelatihan


Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal Bidang atau obyek
O belakang potensi bahaya pelatihan
aman kerja pelatihan
pendidikan yang ada

1 S1 18 thn Pendengaran Reparasi Eko K3 umum


terganggu, mesin purwanto
terpeleset, (karyawan)
menghirup
asap mesin

2 STM 18 thn Pendengaran Reparasi Andik K3 umum


terganggu, mesin wibowo
terpeleset, (karyawan)
menghirup
asap mesin

Sumber: (Hasil survey)

4.10 Analisa Penerapan Prosedur

Dari hasil penerapan prosedur, maka dapat dilakukan analisa untuk


menentukan jenis pelatihan yang tepat bagi setiap bengkel dan laboratorium
yang diidentifikasi.

4.10.1 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel


konstruksi

Berdasarkan hasil identifikasi, diketahui bahwa karyawan yang


berada di kawasan bengkel konstruksi memiliki keahlian di bidang
moulding, rolling, bending, dan potong plat. Sementara identifikasi
bahaya menunjukkan potensi bahaya yang cukup besar yaitu
terpotong, serta gangguan pendengaran. Dengan ini peneliti

73
menyarankan dilaksanakan pelatihan tentang K3 untuk memberikan
pemahaman bagi karyawan akan bahaya K3 dan bagaimana cara
bekerja yang aman di tempat kerja tersebut. Peneliti juga
menyarankan diberikannya pelatihan tentang tata cara
penanggulangan kebakaran, karena di tempat tersebut ditemui juga
mesin las dan bahan mudah terbakar.

4.10.2 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel


sheet metal

Berdasarkan hasil identifikasi, maka peneliti menyarankan


dilaksanakannya pelatihan tentang tata cara penanggulangan
kebakaran, pelatihan K3 umum untuk memberikan pemahaman bagi
karyawan tentang tata cara kerja yang baik dan aman.

4.10.3 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel


permesinan

Untuk tempat kerja ini, peneliti mengusulkan dilaksanakannya


pelatihan tentang K3, serta tata cara penanggulangan kebakaran
karena di tempat tersebut ditemukan mesin las.

4.10.4 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel non


metal

Bengkel non metal aalah bengkel yang memiliki potensi


bahaya kebakaran terbesar, karena tempat kerja ini dipenuhi oleh
bahan yang mudah terbakar, termasuk thinner, cat, kayu, dan
fiberglass. Maka dengan ini peneliti mengusulkan dilaksanakannya
pelatihan tentang tata cara penanggulangan kebakaran dan pelatihan
tentang tanggap darurat jika terjadi kebakaran besar di tempat kerja.
Juga penting diberikan pelatihan tentang K3 untuk memberikan
pemahaman K3 bagi karyawan tentang bahaya jika menghirup thinner
dan uap cat, serta untuk menerangkan tentang tata cara bekerja yang
baik dan aman.

74
4.10.5 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium
steam power plant

Potensi bahaya terbesar di tempat ini adalah peledakan boiler


dan terkena uap panas. Karyawan di tempat kerja tidak memiliki
keahlian penanggulangan bahaya peledakan. Maka dengan ini peneliti
mengusulkan dilaksanakannya pelatihan tentang keselamatan kerja
pesawat uap dan bejana tekan.

4.10.6 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium


automatic diesel marine

Di tempat kerja ini potensi bahaya terbesar adalah kebisingan


yang berasal dari mesin diesel. Peneliti mengusulkan dilaksanakannya
pelatihan tentang K3 umum dan tata cara pelaksanaan pekerjaan yang
aman, serta cara penggunaan APD yang benar untuk mengantisipasi
potensi bahaya di tempat kerja.

4.10.7 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium


reparasi listrik

Di tempat kerja ini tidak ditemukan potensi bahaya yang besar,


namun tetap perlu dilaksanakan pelatihan, dan peneliti menyarankan
pelatihan tentang K3 listrik dan K3 umum untuk memberikan
pemahaman tentang cara pelaksanaan pekerjaan yang aman.

4.10.8 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium


SPPK

Tempat kerja ini tergolong aman, dan tidak ditemukan potensi


bahaya yang besar. Namun peneliti tetap mengusulkan diberikan
pelatihan tentang K3 umum untuk memberikan penjelasan tentang tata
cara pelaksanaan pekerjaan yang aman.

75
4.10.9 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium
uji bahan

Di tempat kerja ini ditemukan bahan radioaktif yang berpotensi


melepaskan radiasi. Dengan ini peneliti menyarankan dilakukan
pelatihan tentang K3 umum, dan tata cara penanggulangan bahan
radioaktif.

4.10.10 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium


instrumentasi listrik dan fisika

Laboratorium ini termasuk tempat kerja yang memiliki


potensi bahaya kecil, dan peneliti mengusulkan dilaksanakan
pelatihan tentang K3 umum untuk memberikan pemahaman bagi
karyawan tentang tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik dan
aman.

4.10.11 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium


kimia

Tempat kerja ini memiliki potensi bahaya yang besar,


karena berisi bahan kimia yang berbahaya dan beracun bagi
manusia. Dengan ini peneliti menyarankan dilaksanakannya
pelatihan K3 kimia, serta tata cara penanggulangan kebakaran jika
terjadi kebakaran akibat bahan kimia di tempat kerja.

4.10.12 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium


ergonomi

Laboratorium ergonomi ini termasuk tempat kerja yang


memiliki potensi bahaya yang rendah, dan peneliti mengusulkan
dilaksanakan pelatihan K3 umum. Mengingat tempat kerja ini
berada dekat dengan laboratorium kimia, ada kemungkinan
terjadinya kebakaran bahan kimia, maka perlu diberikan pelatihan
tentang tata cara penanggulangan kebakaran akibat bahan kimia.

76
4.10.13 Analisa prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium
reparasi mesin

Tempat kerja ini termasuk memiliki potensi bahaya yang


besar, karena terdapat bahan mudah terbakar dan mesin yang
memiliki bagian bergerak namun tidak diberi pelindung. Peneliti
mengusulkan dilaksanakan pelatihan tentang K3 umum dan tata
cara penanggulangan kebakaran.

4.11 Kesimpulan Penerapan Prosedur

Dari hasil penerapan prosedur identifikasi bahaya maka disimpulkan


bahwa PPNS-ITS termasuk memiliki potensi bahaya yang besar. Hasil
identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel dan laboratorium menunjukkan
bahwa sebagian besar karyawan belum memiliki pengetahuan tentang
keselamatan kerja secara umum, serta ada beberapa karyawan yang
menangani lebih dari satu bengkel atau laboratorium. Hal ini dapat
mengakibatkan pelayanan yang kurang maksimal dari setiap laboratorium
atau bengkel.

77
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisa data, maka didapatkan
kesimpulan sebagai berikut:
1. Manual dan prosedur serta dokumen yang berkaitan dengan prosedur telah
disusun dan siap untuk diterapkan.
2. Hasil perhitungan jam kerja didapatkan jumlah jam kerja praktek di PPNS-
ITS adalah ±1490 jam kerja, dan ini digunakan sebagai pedoman indikator
kinerja keberhasilan program SMK3 di PPNS-ITS.
3. Hasil analisa peneliti berdasarkan penerapan prosedur identifikasi
kebutuhan pelatihan, peneliti memberikan usulan pelaksanaan pelatihan.
Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi terjadinya kecelakaan kerja akibat
ketidaktahuan karyawan akan potensi bahaya dan resiko yang ada di
tempat kerja.

5.2. Saran
Beberapa saran yang dapat diberikan kepada pihak manajemen PPNS-
ITS adalah:
1. Proses perhitungan jam kerja sebaiknya dilaksanakan setiap hari diseluruh
sektor kegiatan mulai bengkel hingga laboratorium agar didapatkan
jumlah jam kerja efektif.
2. TIM SMK3 yang dibentuk sebaiknya bekerja secara optimal agar seluruh
kegiatan dapat dipantau untuk memastikan bahwa program SMK3
dijalankan dengan baik.
3. Untuk penelitian selanjutnya, maka dapat diambil tentang cara pendataan
penyakit akibat kerja (PAK) berdasarkan kondisi di PPNS-ITS.

78
DAFTAR PUSTAKA

Guidelines for Hazard Evaluation Procedures (Second edition with worked


examples)

Permenaker No. Per-04/MEN/1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan


Kesehatan Kerja serta tata cara penunjukan ahli keselamatan kerja

Permenaker No. Per-05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan


Kesehatan Kerja

Rausand, M. 2005. Preliminary Hazard Analysis. Departement of Production and


Quality Engineering Norwegian University of Science and
Technology.

Suardi, R. 2006. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Panduan


penerapan berdasarkan OHSAS 18001 & Permenaker 05/1996).
Jakarta. Penerbit PPM

Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Undang-undang No. 8 tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan

79
LAMPIRAN I
DENAH PPNS-ITS
LAMPIRAN II
KUMPULAN PROSEDUR
A. Prosedur identifikasi bahaya

1.Tujuan
Prosedur ini menjelaskan tata cara umum identifikasi bahaya pada PPNS-ITS.

2.Ruang Lingkup
Ruang lingkup identifikasi bahaya pada PPNS-ITS harus dapat mengendalikan
seluruh potensi bahaya yang ada di perusahaan.
Identifikasi bahaya meliputi :
a) Identifikasi dan evaluasi potensi bahaya di PPNS-ITS.
b) Membuat,menyusun,memeriksa daftar identifikasi bahaya potensial dan
evaluasi resiko serta daftar resiko penting K3.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 2.1

4.Definisi
1. Identifikasi : Langkah yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jenis
masalah yang ada.
2. Bahaya : Sesuatu yang berpotensi menjadi penyebab kerusakan, ini dapat
mencakup substansi, proses kerja, atau aspek lainnya dari lingkungan.
3. Kecelakaan : Suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga
semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda.

5.Tanggung Jawab
5.1. TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :
a) Identifikasi dan evaluasi potensi bahaya di PPNS-ITS.
b) Membuat, menyusun, memeriksa daftar identifikasi bahaya potensial
K3.

5.2. Manajemen Representatif (MR) bertanggungjawab untuk :


a) Mengesahkan daftar identifikasi bahaya potensial dan evaluasi
potensi bahaya.

6.Prosedur
6.1.Identifikasi potensi bahaya di PPNS-ITS
6.1.1.TIM SMK3 melakukan proses identifikasi potensi bahaya.
6.1.2.Hasil tinjauan didokumentasikan dalam Dokumen Identifikasi Bahaya.

6.2.Evaluasi Hasil Identifikasi Bahaya


6.2.1.TIM SMK3 membuat, menyusun, memeriksa daftar identifikasi
bahaya potensial dan evaluasi.
6.2.2.Hasil evaluasi didokumentasikan dan disimpan.
6.3.Bentuk kegiatan Identifikasi Bahaya ini berupa kegiatan survey di lapangan
yang membahas tentang hal-hal yang ada pada klausul 6.1 dan 6.2.
6.3.1.Identifikasi Bahaya oleh TIM SMK3 PPNS-ITS.
6.3.2.Mengesahkan daftar identifikasi bahaya potensial dan evaluasi potensi
bahaya oleh Manajemen Representatif.

6.4.Tinjauan bahaya potensial akan dilaksanakan sesuai jadwal yang ditetapkan


oleh TIM SMK3 atau bila terjadi perubahan proses,dan atau perubahan
perundangan yang berarti, atau muncul perkembangan unit usaha yang baru.

6.5.Bagan alir menjelaskan metode yang digunakan pada Prosedur Identifikasi


Bahaya.

7.Dokumen

N No Masa
Judul Gambaran Lokasi PJ
o Rekaman penyimpanan
Dokumen Catatan
Lemari
Identifika tentang
Dokumen Tim
1 si Potensi Identifikasi F 001 10 tahun
Tim SMK3 SMK3
Bahaya Bahaya di
no.001
PPNS-ITS

8.Lampiran
Lampiran I : Form Dokumen Identifikasi Bahaya
Kegiatan Dokumentasi
START

TIM SMK3
Dokumen identifikasi
potensi bahaya
Melakukan identifikasi dan evaluasi
potensi bahaya pada tempat kerja di
PPNS-ITS

TIM SMK3

Bertanggungjawab menyusun,
memeriksa daftar identifikasi potensi
bahaya potensial

MANAGEMENT REPRESENTATIVE

Mengesahkan daftar identifikasi


potensi bahaya

FINISH
Lampiran I : Form Dokumen Identifikasi Bahaya

Area :
Tim Identifikasi :
Tanggal :

No. Potensi Efek Utama Kategori Cara Keterangan


Bahaya Bahaya Menanggulangi
Bahaya

Katefori Bahaya :
I : Negligible
II : Marginal
III : Critical
IV : Catasthropic
B. Prosedur penilaian resiko

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk menjelaskan tata cara umum penilaian resiko pada
PPNS-ITS.

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk penilaian resiko di laboratorium dan bengkel PPNS-
ITS serta tempat kerja yang memiliki resiko tinggi.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 2.1

4.Definisi
4. Penilaian Resiko: Proses untuk menentukan prioritas pengendalian terhadap
tingkat resiko kecelakaan.
5. Resiko: Peluang/ sesuatu hal yang berpeluang untuk terjadinya kematian,
kerusakan, sakit atau yang lainnya dimana hal tersebut disebabkan bahaya.

5.Tanggung Jawab
5.1. TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :
a. Memastikan seluruh resiko di PPNS-ITS telah diidentifikasi dan
dinilai
b. Melakukan penilaian resiko di bengkel dan laboratorium dan
bengkel serta tempat kerja lain yang memiliki resiko kecelakaan
tinggi

5.2. Manajemen Representatif bertanggungjawab untuk :


a. Mengetahui dan menyetujui hasil penilaian resiko
b. Memastikan penilaian resiko telah dilakukan dengan benar oleh
petugas yang ahli

5.3. Kepala tiap divisi bertanggungjawab untuk :


a. Mencatat dan melaporkan setiap kegiatan yang ada dibawah
pengawasannya
b. Bersama TIM SMK3 (bersifat mengetahui) melakukan penilaian
resiko berdasarkan jenis pekerjaan/kegiatan yang ada di tempat
kerja

6.Prosedur
a. Kepala divisi melaporkan setiap kegiatan di tempat kerja yang
dipimpinnya
b. TIM SMK3 bersama dengan kepala divisi melakukan penilaian resiko
c. Manajemen Representatif menyetujui dan menandatangani laopran
hasil penilaian resiko
d. TIM SMK3 menyimpan laporan hasl penilaian yang akan dibutuhkan
untuk pengendalian resiko

7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Catatan hasil
penilaian Lemari
Laporan
resiko yang dokumen TIM
1 penilaian F002 10 tahun
dilakukan TIM SMK3
resiko
oleh TIM SMK3
SMK3

8.Lampiran
Lampiran I: Form penilaian resiko
Kegiatan Dokumen
START

Kepala divisi
Mencatat dan
melaporkan setiap
kegiatan di tempat kerja
yang dipimpinnya

TIM SMK3
Form penilaian
Melakukan penilaian resiko
resiko

Manajemen representatif
Menyetujui laporan hasil
penilaian resiko

TIM SMK3
Menyimpan dokumen
laporan hasil penilaian
resiko untuk rencana
pengendalian resiko

FINISH
Lampiran I: Form penilaian resiko

Tanggal:
Dibuat oleh:
Diperiksa oleh:
Disetujui oleh:

NO Jenis Resiko Kategori PIC Keterangan


pekerjaan L M H

Keterangan:
H: High (tinggi)
M: Medium (sedang)
L: Low (rendah)

Sumber (Rausand, M. 2005)


C. Prosedur pengendalian resiko

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk menjelaskan cara pelaksanaan pengendalian resiko
di PPNS-ITS.

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk proses pekerjaan di bengkel dan laboratorium PPNS-
ITS, serta tempat kerja lain yang dianggap berbahaya.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 2.1

4.Definisi
6. Resiko: Peluang/ sesuatu hal yang berpeluang untuk terjadinya kematian,
kerusakan, sakit atau yang lainnya dimana hal tersebut disebabkan bahaya.
7. Pengendalian resiko: Sebuah upaya mengendalikan resiko agar tidak
memberikan dampak yang buruk dan mengarah terjadinya kecelakaan

5.Tanggung Jawab
5.1. TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :
a. Melaksanakan pengendalian resiko
b. Melaporkan hasil pengendalian resiko kepada manajemen
representatif
c. Menyimpan dokumen pengendalian resiko sebagai bahan
pertimbangan pengendalian resiko yang lain

5.2. Manajemen representatif bertanggungjawab untuk :


a. Menyetujui dan mengesahkan dokumen pengendalian resiko

6.Prosedur
a) TIM SMK3 melaksanakan pengendalian resiko di bengkel dan
laboratorium
b) Hasil pengendalian dilaporkan ke manajemen representatif
c) Manajemen representatif menyetujui dan mengesahkan laporan
pengendalian resiko
d) TIM SMK3 menyimpan laporan pengendalian resiko untuk digunakan
sebagai bahan pertimbangan pengendalian resiko yang lain
7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Catatan
Lemari
Dokumen pengendalian
dokumen TIM
1 pengendalia resiko di F003 10 tahun
TIM SMK3
n resiko bengkel dan
SMK3
laboratorium

8.Lampiran
Lampiran I: Form pengendalian resiko
Kegiatan Dokumen

Form
pengendalian
resiko
Lampiran I: Form pengendalian resiko

Area/tempat:
Tanggal:
Tim identifikasi resiko:

NO Jenis resiko Bentuk Keterangan


pengendalian
D. Prosedur identifikasi peraturan perundangan dan peraturan lainnya

1.Tujuan
Prosedur ini menjelaskan tata cara umum untuk mengidentifikasi peraturan
perundangan & peraturan lainnya di PPNS-ITS.

2.Ruang Lingkup
Perundangan & peraturan lainnya yang dimaksud di prosedur ini adalah
perundangan & peraturan yang berhubungan dengan SMK3 saja. Prosedur ini
dilaksanakan setiap 1 tahun sekali atau setiap adanya perubahan perundangan &
peraturan lain yang digunakan untuk penerapan SMK3.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 2.2

4.Definisi
1. Peraturan: Sesuatu yang disepakati dan mengikat sekelompok
orang/lembaga dalam rangka mencapai suatu tujuan bersama.
2. Peraturan perundangan: peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga
negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum.

5.Tanggung Jawab
5.1.TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :
a. Mengidentifikasi peraturan perundangan dan peraturan lainnya yang
berhubungan dengan SMK3 di PPNS-ITS
b. Meninjau ulang dan menanggapi jika ada perubahan peraturan perundang-
undangan

5.2. Manajemen Representatif (MR) bertanggungjawab untuk:


a. Memastikan komitmen dan kebijakan terpenuhi.

5.3. Direktur bertanggungjawab untuk:


a. Menetapkan persyaratan K3 lain yang secara umum diterjemahkan sebagai
standard.

6.Prosedur
6.1.Mendaftar perundangan & peraturan lainnya yang digunakan perusahaan
dalam penerapan SMK3.
TIM SMK3 dan Divisi K3 mendaftar perundangan & peraturan lainnya
yang digunakan dalam perusahaan baik yang berasal dari perundangan &
peraturan lokal maupun internasional yang digunakan perusahaan untuk
menerapkan SMK3.
6.2. Memastikan kebijakan dan komitmen terpenuhi.
Setelah mendaftar perundangan & peraturan lain yang digunakan dalam
penerapan SMK3, maka MR memastikan apakah kebijakan dan komitmen
K3 telah dipenuhi atau belum.
6.3.Menetapkan persyaratan K3 lainnya yang kemudian diterjemahkan sebagai
standard
Setelah kebijakan dan komitmen dipenuhi maka direktur menetapkan
persyaratan K3 lain yang akan diterjemahkan sebagai standard.
6.4.Tinjauan ulang dalam menanggapi adanya perubahan peraturan
perundangan.
TIM SMK3 bertugas untuk melakukan peninjauan ulang terhadap prosedur
dan menanggapi jika terjadi perubahan.

7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Catatan
tentang
peraturan
Identifikasi
perundangan Lemari
peraturan
dan peraturan dokumen TIM
1. perundangan F 004 10 tahun
lain yang Divisi K3 SMK3
dan peraturan
berhubungan no.009
lainnya
dengan
SMK3 di
PPNS-ITS

8.Lampiran
Lampiran I : Form identifikasi peraturan perundangan dan peraturan lainnya.
Kegiatan Dokumen

Form identifikasi
peraturan perundangan
dan peraturan lainnya
Lampiran I : Form identifikasi peraturan perundangan dan peraturan lainnya

No Peraturan K3 Peraturan lain Kesesuaian dengan Keterangan


SMK3

Diketahui,

(Manajemen Representatif)
E. Prosedur penetapan tujuan dan sasaran manajemen K3

1.Tujuan
Prosedur ini menjelaskan tata cara umum dalam menetapkan tujuan dan sasaran
K3 di setiap fungsi dan level yang relevan pada PPNS-ITS.

2.Ruang Lingkup
Ruang lingkup penetapan tujuan dan sasaran Manajemen K3 ini meliputi :
a. Penetapan tujuan dan sasaran Manajemen K3
b. Penyetujuan tujuan dan sasaran Manajemen K3
c. Penerapan tujuan dan sasaran Manajemen K3
d. Pemeliharaan tujuan dan sasaran Manajemen K3
e. Peninjauan tujuan dan sasaran Manajemen K3
f. Penyesuaian tujuan dan sasaran Manajemen K3

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 2.3

4.Definisi
8. Bahaya : Sesuatu yang berpotensi menjadi penyebab kerusakan, ini dapat
mencakup substansi, proses kerja, atau aspek lainnya dari lingkungan.
9. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) : Kondisi dan unsur-unsur yang
mempengaruhi kesehatan karyawan, pekerja sementara, personil kontraktor,
pengunjung dan orang lain di tempat kerja.
10. Resiko : Peluang/ sesuatu hal yang berpeluang untuk terjadinya kematian,
kerusakan, sakit atau yang lainnya dimana hal tersebut disebabkan bahaya.
11. Sistem Manajemen K3 (SMK3) : Bagian dari sistem manajemen secara
keseluruhan yang memfasilitasi pengaturan resiko K3 yang berhubungan
dengan bisnis organisasi. Termasuk struktur organisasi, kegiatan-kegiatan
perencanaan, tanggung jawab, praktek, prosedur, proses dan sumber daya
untuk mengembangkan, menerapkan, pencapaian, peninjauan dan
pemeliharaan kebijakan K3 PPNS-ITS..
12. Tujuan : Tujuan yang berkenaan dengan kinerja K3, dimana ditetapkan
sendiri oleh PPNS-ITS untuk dicapai.

5.Tanggung Jawab
5.1.Direktur bertanggungjawab untuk :
c) Menetapkan dan menyetujui tujuan dan sasaran Manajemen K3.

5.2.Kepala Divisi bertanggungjawab untuk :


a. Bersama karyawan bertanggung jawab dalam menerapkan dan memelihara
tujuan dan sasaran Manajemen K3.
5.3.TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :
a. Melakukan identifikasi potensi bahaya
b. Mengajukan rencana tujuan dan sasaran manajemen K3
c. Peninjauan tujuan dan sasaran manajemen K3.
d.Merevisi tujuan dan sasaran manajemen K3

6.Prosedur
6.1.Penetapan Tujuan dan Sasaran Manajemen K3
6.1.1.Penetapan tujuan dan sasaran Manajemen K3 harus menggunakan
indikator kinerja yang dapat di ukur sebagai dasar penilaian kinerja
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan yang sekaligus
merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian sistem.
6.1.2.Tujuan dan sasaran Manajemen K3 harus dibuat dengan
memperhatikan hasil identifikasi bahaya dan evaluasi resiko, peraturan
perundang-undangan dengan memperhatikan faktor biaya, teknologi
dan sumber daya manusia.
6.1.3.Tujuan dan sasaran Manajemen K3 akan didokumentasikan pada form
penetapan tujuan dan sasaran Manajemen K3.

6.2.Persetujuan Tujuan dan Sasaran Manajemen K3


6.2.1.Tujuan dan sasaran Manajemen K3 yang telah ditetapkan harus
mendapatkan persetujuan dari Direktur PPNS-ITS.
6.2.2.Tujuan dan sasaran yang telah disetujui Direktur selanjutnya akan
menjadi tujuan dan sasaran PPNS-ITS yang akan dilaksanakan.

6.3.Penerapan tujuan dan sasaran Manajemen K3


6.3.1.Penerapan tujuan dan sasaran Manajemen K3 akan dilaksanakan oleh
kepala divisi bersama dengan semua karyawan PPNS-ITS.
6.3.2.Penerapan tujuan dan sasaran Manajemen K3 disesuaikan dengan
tahapan dan jangka waktu pencapaian tujuan

6.4.Pemeliharaan Tujuan dan Sasaran Manajemen K3


Kepala divisi bersama dengan seluruh karyawan akan memelihara tujuan
dan sasaran Manajemen K3 yang telah ada.

6.5.Peninjauan Tujuan dan Sasaran Manajemen K3


6.5.1.Peninjauan ulang tujuan dan sasaran Manajemen K3 dilakukan tiap 6
bulan sekali oleh TIM SMK3. Peninjauan ulang tujuan dan sasaran
Manajemen K3 dilakukan untuk memastikan tujuan dapat tercapai.
6.5.2.Tujuan dan sasaran Manajemen K3 yang telah ditinjau akan
didokumentasikan pada form peninjauan tujuan dan sasaran
manajemen K3.
7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Tentang tata
Prosedur Lemari
cara
Penetapan Dokumen
1. penentuan F 005 10 tahun Direktur
Tujuan & Divisi K3
tujuan &
Sasaran no.003
sasaran

8.Lampiran
Lampiran I : Form Penetapan dan persetujuan Tujuan Dan Sasaran
Lampiran II : Form Peninjauan Tiap 6 Bulan Sekali
Kegiatan Dokumen
START

TIM SMK3
Form identifikasi
Melakukan identifikasi bahaya
bahaya pada setiap bagian
di PPNS-ITS

TIM SMK3

Menetapkan kondisi bahaya yang


paling tinggi dan menyusun rencana
tujuan dan sasaran manajemen K3

TIM SMK3

Mengajukan rencana tujuan dan


sasaran manajemen K3 pada
pihak manajemen PPNS-ITS

Direktur Form penetapan dan


persetujuan tujuan
Menetapkan dan dan sasaran
menyetujui tujuan dan
sasaran manajemen K3

A B
Kegiatan Dokumen
A

Kepala divisi dan seluruh


karyawan
Melaksanakan tujuan dan
sasaran manajemen K3

Kepala divisi dan seluruh


karyawan
Memelihara tujuan dan
sasaran manajemen K3

TIM SMK3
Form peninjauan tiap
Meninjau tujuan dan B 6 bulan sekali
sasaran manajemen K3
setiap 6 bulan sekali TIDAK

TIM SMK3

Sesuai?
Merevisi tujuan dan
sasaran manajemen K3
YA

FINISH
Lampiran I : Form Penetapan dan persetujuan Tujuan Dan Sasaran

No. Dokumen :
Disetujui oleh :
Ditetapkan oleh :
Tanggal :
Masa berlaku :

No. Tujuan K3 Sasaran K3 PIC


Lampiran II : Form Peninjauan Tiap 6 Bulan Sekali

No. Dokumen :
Disetujui oleh :
Ditetapkan oleh :
Diisi oleh :
Tanggal :
Masa berlaku :

Hasil Sasaran Hasil


No. Tujuan K3 PIC
Tinjauan K3 Tinjauan
F. Prosedur penetapan job description

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk memelihara dan mengidentifikasi seluruh kegiatan
operasi dan aktifitas yang terkait terhadap bahaya potensial yang memiliki
resiko dan sebagai syarat dalam pengendalian resiko operasi.

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk seluruh kegiatan operasional di PPNS-ITS, yakni
pada pengendalian operasinya.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 3.1.1

4.Definisi
13. APD : alat pelindung diri yang digunakan tenaga kerja agar tidak terpapar
bahaya.
14. Barang : Segala sesuatu yang berwujud dibutuhkan oleh PPNS-ITS untuk
seluruh kegiatan operasional.
15. Inspeksi : Satu cara pemeriksaan tempat kerja secara langsung pada setiap
tindakan tidak aman dari fasilitas fisik sehingga sumber-sumber bahaya
dapat diketahui sebelumnya.
16. Jasa : Segala sesuatu yang tidak berwujud tapi dalam bentuk pelayanan yang
dibutuhkan oleh PPNS-ITS demi kelancaran kegiatan operasional.
17. Operasi : seluruh aktifitas PPNS-ITS.
18. Uji emisi adalah pengujian terhadap gas pembuangan pada kendaraan untuk
mengetahui kandungan gas yang dihasilkan.

5.Tanggung Jawab
5.1.Manajemen Representatif (MR) bertanggungjawab untuk :
a.Memastikan tindakan disiplin agar program terpenuhi.

5.2.Kepala Divisi bertanggungjawab :


d) Memastikan semua operasi tiap divisinya telah diidentifikasi.

5.3.TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :


a. Memastikan pelaksanaan sistem pengendalian operasi dengan baik.

5.4.Divisi K3 bertanggungjawab untuk :


a. Memastikan pelaksanaan sistem pengendalian operasi dengan baik
b. Memonitor pelaksanaan pemeliharaan sebagai bagian dari inspeksi
c. Mencatat dan mengidentifikasi bahaya potensial

5.5.Seluruh karyawan bertanggungjawab untuk :


a. Melaksanakan sistem pengendalian operasi yang telah ditentukan
b. Memelihara APD serta peralatan untuk menunjang operasi tiap-tiap
departemen/divisi
6.Prosedur
6.1.Identifikasi
6.1.1.Divisi K3 harus mengidentifikasi bahaya potensial dan evaluasi resiko,
pemantauan dan pengukuran setiap daerah operasi yang memiliki
resiko
6.1.2.TIM SMK3 harus menetapkan dan memelihara sistem pengendalian
operasi

6.2.Pelaksanaan Pengendalian Operasi


6.2.1.Pemberlakuan izin kerja
a. Setiap unit kerja yang teridentifikasi bahaya potensial harus ada izin
masuk tempat tersebut
b. Tempat yang terdapat potensial bahaya harus di buat pengendalian
dengan memberi tanda larangan dan pegar
6.2.2.Penyediaan APD
Setiap unit kerja harus menyediakan APD yang cukup untuk tenaga
kerja sesuai dengan resiko dan tingkat bahaya
6.2.3 Pemberian Peringatan K3
Setiap unit kerja harus memberikan peringatan K3 untuk daerah yang
telah teridentifikasi bahaya potensial

6.3.Pengelolaan
6.3.1.Pemeliharaan
a. Setiap departemen harus memastikan bahwa semua peralatan,
material dan peralatan pelindung digunakan sesuai ketentuan
b. Kadiv tiap departemen secara periodik harus meninjau semua
peralatan untuk memestikan bahwa perlatan bebas dari kerusakan
dan dipelihara dengan baik
c. TIM SMK3 melakukan inspeksi dan pengujian K3 yang terkait
dengan peralatan dan sistem yang terintegrasi untuk mengetahui
resiko yang ditimbulkan
d.Kadiv tiap departemen memastikan pemeliharaan barang dan jasa
harus terintergrasi dalam penanganan untuk mencegah resiko
kecelakaan
6.3.2.Pemberian Pelayanan
Setiap tenaga kerja diberikan pelayanan berupa pelayanan uji emisi
kendaraan untuk mencegah pencemaran lingkungan asap yang dapat
menganggu aktifitas para pekerja

6.4.Pengawasan
6.4.1.Setiap kegiatan operasi akan diawasi langsung oleh kadiv tiap
departemen untuk memastikan kegiatan operasi berlangsung dengan
aman
6.4.2.Setiap kegiatan operasi akan diawasi langsung oleh MR untuk
memastikan kegiatan operasi telah diidentifikasi dan untuk menjamin
keselamatan dan kesehatan tenaga kerja
6.4.3.Setiap kegiatan operasional dalam PPNS-ITS diawasi langsung oleh
MR sebagai perwakilan dari Direktur Perusahaan.
7.Dokumen
No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Lembaran
yang berisi
persetujuan
Dokumen Lemari
izin kerja
izin kerja dokumen
1 yang ditanda F006 10 tahun Divisi K3
di tempat Divisi
tangani oleh
panas K3
pihak
berwenang di
perusahaan

8.Lampiran
Lampiran I : Form izin kerja di tempat panas / hot work permit.
Kegiatan Dokumen
Lampiran I : Form izin kerja di tempat panas/hot work permit

Nama orang/perusahaan yang melaksanakan hot work:……………………………

Tanggal:……………………………….. Izin no:…………………

Lokasi:…………………………………………………………………………
(diisi dengan rinci, termasuk nama bangunan dan nomor ruangan)

Deskripsi pekerjaan:…………………………………………………………...

Izin ini berlaku mulai…..am/pm pada…./……. Hingga……am/pm pada…./…

Peringatan khusus:………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………....
...................................................................................................................................

Area kerja telah diperiksa dan seluruh tindakan pencegahan yang dianggap perlu
telah diambil.

Nama:…………………….. Tanda tangan:……………. Tanggal:…………….


(Pekerja hot-work)

Area kerja telah diperiksa oleh saya, seluruh alarm kebakaran dan panel telah
diisolasi, area kerja dinyatakan aman dan siap untuk dilaksanakan hot-work.

Nama:……………………. Tanda tangan:…………… Tanggal:……………


(Pejabat berwenang)

Hot-work dimulai pada :........am/pm


Hot-work berakhir pada :........am/pm
G. Prosedur identifikasi kebutuhan pelatihan

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk menjelaskan tata cara pelaksanaan atau
penyelenggaraan pelatihan bagi karyawan di PPNS-ITS.

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini mencakup jenis pelatihan yang diikuti oleh seluruh karyawan
PPNS-ITS pada divisi masing-masing, disesuaikan dengan latar belakang
pendidikan, pengetahuan, serta bidang keahlian yang dimiliki. Pelatihan ini
dapat dilaksanakan oleh pihak internal PPNS-ITS atau mengundang pelatih dari
eksternal/luar.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 3.1.5

4.Definisi
1. Bahaya : Sesuatu yang berpotensi menjadi penyebab kerusakan, ini dapat
mencakup substansi, proses kerja, atau aspek lainnya dari lingkungan.
2. Sistem Manajemen K3 (SMK3) : Bagian dari sistem manajemen secara
keseluruhan yang memfasilitasi pengaturan resiko K3 yang berhubungan
dengan bisnis organisasi. Termasuk struktur organisasi, kegiatan-kegiatan
perencanaan, tanggung jawab, praktek, prosedur, proses dan sumber daya
untuk mengembangkan, menerapkan, pencapaian, peninjauan dan
pemeliharaan kebijakan K3 PPNS-ITS.
3. Sertifikasi
Lembar pengakuan terhadap seseorang yang telah mengikuti dan lulus
suatu pelatihan tertentu
4. Pelatihan/ Training Internal
Kegiatan pembekalan pengetahuan dan keterampilan untuk peningkatan
kepedulian dan kompetensi yang diselenggarakan di PPNS-ITS oleh
orang/ badan yang kredibilitasnya diakui dibidangnya baik masih bekerja
di PPNS-ITS maupun dari luar PPNS-ITS.
5. Pelatihan/ Training Eksternal
Kegiatan pembekalan pengetahuan dan keterampilan untuk peningkatan
kepedulian dan kompetensi yang diselenggarakan oleh orang/ badan
tertentu dan dilaksanakan diluar lingkungan PPNS-ITS.
5.Tanggung Jawab
5.1. Manajemen puncak bertanggungjawab untuk :
a) Meningkatkan kualitas dan sumber daya manusia karyawan yang ada
di PPNS-ITS
b) Menyetujui pelaksanaan pelatihan dan sertifikasi
c) Mendokumentasikan seluruh kegiatan pelatihan dan sertifikasi serta
memeliharanya
d) Melaksanakan peninjauan ulang terhadap hasil evaluasi pelatihan
yang dilaksanakan di PPNS-ITS

5.2. Kepala setiap divisi bertanggungjawab untuk :


a) Menentukan jenis kebutuhan pelatihan yang dibuthkan oleh
karyawan yang ada dibawah pimpinannya.
b) Melakukan evaluasi terhadap hasil pelatihan yang dilakukan di
tempat kerja yang dipimpinnya.

5.3. Divisi pelatihan dan sertifikasi bertanggungjawab untuk :


a) Menyusun jadwal pelatihan dan sertifikasi
b) Melaksanakan pelatihan dan sertifikasi sesuai dengan jadwal dan
jenis kebutuhan pelatihan yang ditetapkan
c) Melaporkan hasil pelatihan kepada pihak manajemen puncak dan
bagian lain yang berkepentingan

6.Prosedur
6.1. Penentuan kebutuhan pelatihan
a) Penentuan kebutuhan pelatihan berdasarkan latar belakang
pendidikan, pengalaman, bidang kerja, jenis resiko dan potensi
bahaya yang ada di tempat kerja
b) Menentukan sasaran pelatihan yang akan dilaksanakan
c) Sasaran pelatihan adalah karyawan yang bekerja di PPNS-ITS
d) Kebutuhan pelatihan yang ditentukan dicantumkan kedalam form
identifikasi kebutuhan pelatihan

6.2. Persetujuan kebutuhan pelatihan


a. Mengajukan form identifikasi kebutuhan pelatihan kepada pihak
manajemen puncak
b. Pihak manajemen puncak menyetujui pelatihan untuk dapat
dilaksanakan di PPNS-ITS
6.3. Pelaksanaan pelatihan
a. Divisi pelatihan dan sertifikasi melaksanakan pelatihan di PPNS-
ITS
b. Jika pelatihan dilaksanakan oleh pihak luar, maka divisi pelatihan
dan sertifikasi bertanggung jawab menyediakan seluruh fasilitas
yang dibutuhkan oleh tenaga luar tersebut, termasuk dalam hal
penyediaan tempat pelatihan
c. Pelaksanaan pelatihan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan
d. Jadwal pelatihan hanya berlaku untuk satu jenis pelatihan. Jika ada
jenis pelatihan lain, maka akan disusun jadwal yang berbeda, untuk
menghindari timbulnya kesalahan yang bersifat teknis dan
administratif.

6.4. Laporan hasil pelatihan


a. Pelatihan yang dilaksanakan harus dilaporkan kepada pihak
manajemen puncak PPNS-ITS
b. Jika pelatihan dilaksanakan pihak luar, maka yang bertanggung
jawab memberikan laporan adalah divisi pelatihan dan sertifikasi
c. Laporan hasil pelatihan dicatat kedalam form laporan hasil
pelatihan

6.5. Evaluasi hasil pelatihan


a. Evaluasi hasil pelatihan dilakukan untuk menilai efektivitas
pelatihan yang berpengaruh pada karyawan. Evaluasi ini dapat
dilaksanakan oleh kepala tiap divisi kepada seluruh karyawan yang
mengikuti pelatihan dibawah pimpinannya.
b. Jika hasil evaluasi memberikan nilai yang kurang memuaskan,
maka kepala divisi berwenang untuk menentukan kebutuhan
pelatihan yang baru.
c. Jika hasil evaluasi memberikan nilai yang baik, maka laporan hasil
pelatihan dapat disimpan
d. Nilai evaluasi hasil pelatihan dicantumkan dalam form evaluasi
hasil pelatihan.

6.6. Pemeliharaan laporan hasil pelatihan


Laporan hasil pelatihan disimpan dan dipelihara oleh divisi pelatihan dan
sertifikasi, dan dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan
pelatihan lain, atau pelatihan yang sama selanjutnya.

7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Lemari
Dokumen Catatan Kepala
dokumen
identifikasi pelatihan masing-
1 F007 kepala 10 tahun
kebutuhan yang masing
masing-
pelatihan dibutuhkan divisi
masing
divisi
Lemari
Jadwal dokumen Divisi
Dokumen
pelatihan divisi pelatihan
2 jadwal F008 10 tahun
yang akan pelatihan dan
pelatihan
dilaksanakan dan sertifikasi
sertifikasi
Lemari
Dokumen dokumen Divisi
laporan Catatan hasil divisi pelatihan
3 F009 10 tahun
hasil pelatihan pelatihan dan
pelatihan dan sertifikasi
sertifikasi
Lemari
Dokumen dokumen Kepala
Catatan
evaluasi kepala masing-
4 evaluasi oleh F010 10 tahun
hasil masing- masing
kepala divisi
pelatihan masing divisi
divisi

8.Lampiran
Lampiran I: Form identifikasi kebutuhan pelatihan
Lampiran II: Form jadwal pelatihan
Lampiran III: Form laporan hasil pelatihan
Lampiran IV: Form evaluasi hasil pelatihan
Kegiatan Dokumen

Form identifikasi
kebutuhan
pelatihan

Form jadwal
pelatihan

Form laporan hasil


pelatihan

Form evaluasi
hasil pelatihan
Lampiran I: Form identifikasi kebutuhan pelatihan

Tanggal :
Dibuat oleh :
Diperiksa oleh :
Disetujui oleh :
Lokasi:

NO Dasar penentuan jenis pelatihan Sasaran atau Jenis


Latar Pengalaman Resiko Bidang obyek pelatihan
belakang K3 dan kerja pelatihan
pendidikan potensi
bahaya
yang
ada
Lampiran II: Form jadwal pelatihan

Tanggal :
Dibuat oleh :
Diperiksa oleh :
Disetujui oleh :
Jenis Pelatihan :

N Tanggal Materi Trainer Tempat Waktu Keterangan


O pelatihan pelatihan pelatihan pelatihan
Lampiran III: Form laporan hasil pelatihan

Tanggal :
Dibuat oleh :
Diperiksa oleh :
Disetujui oleh :
Jenis Pelatihan :

N Tanggal Materi Jumlah Trainer Tempat Biaya PIC


O pelatihan pelatihan peserta pelatihan pelatihan
Lampiran IV: Form evaluasi hasil pelatihan

Tanggal :
Dibuat oleh :
Diperiksa oleh :
Disetujui oleh :
Jenis Pelatihan :

NO Uraian PIC Efektivitas dan Keterangan


penilaian kesesuaian

Keterangan diisi bila ditemukan ketidak sesuaian, dan dijelaskan mengapa hal
tersebut terjadi.
H. Prosedur komunikasi

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk mengkomunikasikan seluruh informasi K3,
termasuk kecelakaan, potensi bahaya dan resiko di PPNS-ITS

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk seluruh sistem operasi di PPNS-ITS

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 3.2.1

4.Definisi
4.1. Komunikasi : Suatu kegiatan penyampaian pesan melalui lisan maupun
tulisan kepada penerima
4.2. Kecelakaan : Suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga
semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda.
4.3. Bahaya : Sesuatu yang berpotensi menjadi penyebab kerusakan, ini
dapat mencakup substansi, proses kerja, atau aspek lainnya dari
lingkungan.

5.Tanggung Jawab
5.1. TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :
a. Mengkomunikasikan K3, potensi bahaya, resiko, dan kecelakaan
kepada seluruh karyawan di PPNS-ITS

5.2. MR bertanggungjawab untuk :


a. Memastikan seluruh informasi K3, potensi bahaya, resiko, dan
kecelakaan telah disebarkan dengan baik dan merata kepada
seluruh karyawan
b. Memerintahkan kepala tiap divisi untuk turut serta
mengkomunikasikan K3, potensi bahaya, resiko, dan kecelakaan
kepada karyawan yang ada dibawah pimpinannya
5.3. Divisi K3 bertanggungjawab untuk :
c. Memastikan seluruh informasi K3, potensi bahaya, resiko, dan
kecelakaan telah disebarkan dengan baik dan merata kepada
seluruh karyawan

6.Prosedur
6.1. TIM SMK3 menetapkan informasi yang akan dikomunikasikan kepada
seluruh karyawan
6.2. MR memerintahkan kepala tiap divisi untuk mengkomunikasikan K3
kepada seluruh karyawan dibawah pimpinannya
6.3. Divisi K3 memastikan bahwa seluruh karyawan telah mendapat informasi
yang baik dan jelas tentang K3

7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
- - - - - - -

8.Lampiran
Kegiatan Dokumen
I. Prosedur pelaporan

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk menjelaskan tata cara umum pelaporan kecelakaan
yang terjadi di PPNS-ITS

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini dapat bersifat internal dan eksternal. Pelaporan eksternal
diserahkan pada Disnaker setempat sebagai syarat klaim asuransi
(JAMSOSTEK atau perusahaan asuransi lainnya).
Klaim asuransi hanya diberikan pada korban yang memiliki identitas sebagai
karyawan/pekerja di PPNS-ITS. Klaim asuransi bagi pekerja diluar PPNS-ITS
(karyawan outsourcing) ditanggung oleh perusahaan tempat pekerja tersebut
berasal.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 3.2.2

4.Definisi
1. Kecelakaan: Kejadian yang tidak diinginkan mengakibatkan kepada
kematian, penyakit akibat kerja, cedera, kerusakan atau kehilangan lainnya.
2. Insiden: Suatu kondisi yang mengindikasikan akan terjadinya kecelakaan.
3. Penilaian resiko: Proses untuk menentukan prioritas pengendalian terhadap
tingkat resiko kecelakaan.
4. Tindakan Perbaikan: Tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan akar
penyebab ketidaksesuaian kecelakaan, insiden yang ditemukan agar
mencegah kecelakaan tersebut tidak terulang lagi.
5. Tindakan Pencegahan: Tindakan yang dilakukan untuk mencegah
kecelakaan insiden agar tidak terjadi kecelakaan terulang lagi.

5.Tanggung Jawab
5.1. Manajemen puncak bertanggungjawab untuk :
a.Mengetahui segala macam kejadian yang menimpa karyawan di PPNS-
ITS.
b.Menandatangani catatan kejadian kecelakaan sebagai bukti bahwa pihak
managemen puncak mengetahui tentang perihal tersebut.
c. Menyediakan fasilitas atau peralatan yang layak yang memenuhi standard
K3.
d. Menyimpan laporan kecelakaan

5.2. Kepala tiap divisi bertanggungjawab untuk :


a. Memberikan tindak lanjut atas laporan yang disampaikan oleh
karyawan tempat kerja yang dipimpinnya.
b. Melaporkan peristiwa kecelakaan yang terjadi di tempat kerja kepada
pihak manajemen puncak.

5.3. Divisi K3 bertanggungjawab untuk :


a. Membuat catatan kecelakaan berdasarkan laporan dari tiap divisi yang
mengalami kecelakaan
b. Melakukan investigasi kecelakaan untuk mengetahui penyebab
kecelakaan
c. Melakukan tindakan pencegahan dengan cara memberikan pengarahan
kepada karyawan (safety talk) sebelum melaksanakan pekerjaan,
melaksanakan penyuluhan dan pelatihan tentang K3
d. Menyimpan laporan hasil kecelakaan

6.Prosedur
6.1. Laporan dari korban/saksi
Saksi atau korban melaporkan peristiwa kecelakaan kepada kepala divisi
tempat karyawan tersebut bekerja. Jika korban tidak dapat melapor, maka
dapat diserahkan pada orang lain yang melihat kejadian tersebut.

6.2. Tindak lanjut laporan oleh kepala divisi


Kepala divisi yang bertanggung jawab menerima laporan dan menindak
lanjuti laporan tersebut dengan meneruskannya kepada manajemen puncak
untuk dicatat.

6.3. Pencatatan rekap kecelakaan oleh manajemen puncak


Pihak manajemen puncak melakukan pencatatan rekap kecelakaan tersebut
sebagai bukti dan sebagai sarana penyusunan laporan kepada pemerintah.
Pihak manajemen selanjutnya memerintahkan divisi K3 untuk
melaksanakan investigasi kecelakaan, serta melaporkan hasilnya kepada
pihak manajemen puncak.

6.4. Investigasi kecelakaan oleh divisi K3


Divisi K3 melaksanakan investigasi kecelakaan dengan dibantu oleh saksi
dan kepala divisi, dengan memanfaatkan bukti-bukti yang ada di lapangan.

6.5. Pengajuan klaim asuransi


Pihak manajemen mengajukan klaim asuransi kepada JAMSOSTEK atau
badan asuransi lain yang mengikat jalinan kerja sama dengan PPNS-ITS.
Proses pengajuan klaim asuransi ini harus didasarkan dengan bukti yang
lengkap dan tertulis.

6.6. Tindakan perbaikan dan pencegahan


Divisi K3 melaksanakan tindakan perbaikand an pencegahan agar
kecelakaan yan gsama tidak terulang kembali di waktu yang selanjutnya.

7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Tiap
Tiap divisi
Laporan divisi dan
dan
1 Pelaporan kejadian F011 manajem 10 tahun
manajemen
kecelakaan en
puncak
puncak
Rekap Laporan
Manajeme
laporan kejadian
Kabinet n
2 kecelakaa kecelakaan F012 10 tahun
MR Representa
n selama 1 selama 1
tif
tahun tahun

8.Lampiran
Lampiran I: Form laporan kecelakaan
Lampiran II: Form rekap laporan kecelakaan selama 1 tahun
Lampiran III: Daftar nomor telepon masing-masing divisi
Kegiatan Dokumen

Form laporan
kecelakaan

Form rekap laporan


kecelakaan selama
1 tahun
NO Tanggal Jumlah Nama Keadaan Kerugian Peristiwa Penyebab
kejadian korban korban korban utama
Lampiran I: Form laporan kecelakaan

Mengetahui,
Kepala divisi…………..

(…………………………………………)
Lampiran II: Form rekap laporan kecelakaan selama 1 tahun

Bulan Waktu dan Jumlah korban Kerugian Penyebab utama


tanggal
kecelakaan
Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September
Oktober

November

Desember

Mengetahui, Menyetujui,

Kepala divisi……. Manajemen Representatif

(……………………………) (……………………………)
Lampiran III: Daftar nomor telepon masing-masing divisi

NO Nama divisi Nomor telepon Keterangan

J. Prosedur pengendalian bahaya potensial

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk melaksanakan tata cara pengendalian terhadap
bahaya potensial yang ada di PPNS-ITS

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk kegiatan operasional di PPNS-ITS

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 3.3.3

4.Definisi

5.Tanggung Jawab
5.1. TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :
a. Menjalankan proses pengendalian
b. Memastikan seluruh kegiatan operasional telah dilakukan prosedur
pengendalian

5.2. Manajemen representatif bertanggungjawab untuk :


a.Memastikan prosedur operasi pengendalian telah dilakukan dengan baik
b. Mengesahkan laporan pengendalian
c.Melaporkan hasil pengendalian kepada pihak manajemen puncak

5.3. Manajemen puncak bertanggungjawab untuk :


a.Mengetahui dan menyetujui prosedur pengendalian
6.Prosedur
6.1 TIM SMK3 melaksanakan proses pengendalian pada kegiatan operasional
di PPNS-ITS
6.2 Manajemen representatif mengesahkan laporan pengendalian yang telah
dilaksanakan oleh TIM SMK3
6.3 Manajemen representatif melaporkan hasil pengendalian kepada
manajemen puncak
6.4 Manajemen puncak mengetahui dan menyetujui laporan pengendalian
yang disampaikan oleh manajemen representatif
6.5 TIM SMK3 menyimpan laporan hasil pengendalian sebagai bahan
pertimbangan pelaksanaan pengendalian di proses operasional yang lain

7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Catatan
tentang hasil
pengendalian Lemari
Laporan
terhadap dokumen TIM
1 hasil F013 10 tahun
bahay TIM SMK3
pengendalian
potensial SMK3
yang ada di
PPNS-ITS

8.Lampiran
Lampiran I: Form laporan hasil pengendalian
Kegiatan Dokumen
START

TIM SMK3
Melakukan proses
pengendalian

Manajemen representatif
Mengetahui dan mengesahkan
laporan pengendalian,
kemudian melaporkan kepada
pihak manajemen puncak

Manajemen puncak
Form laporan hasil
Mengetahui dan menyetujui pengendalian
laporan pengendalian

TIM SMK3
Menyimpan laporan
hasil pengendalian

FINISH
Lampiran I: Form laporan hasil pengendalian

Area:
Tim pelaksana:
Tanggal:

NO Nama kegiatan Jenis bahaya Tindakan Keterangan PIC


potensial pengendalian

Diketahui, Disetujui,

(Manajemen representatif) (Manajemen puncak)


K. Prosedur tanggap darurat

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang kesiagaan tanggap
darurat kepada pekerja dan pihak luar yang berkepentingan sebagai antisipasi
terjadinya situasi darurat.

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk seluruh pekerja, karyawan, staff PPNS-ITS serta
pihak luar yang berkepentingan.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 3.3.8

4.Definisi
19. Pihak luar yang berkepentingan : Semua pihak luar yang ada kaitannya
dengan PPNS-ITS.
20. Keadaan darurat : Keadaan yang mengancam atau membahayakan sehingga
dapat menimbulkan suatu accident (kecelakaan) pada suatu area.

5.Tanggung Jawab
5.1.TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :
a.Mempersiapkan sistem tanggap darurat
b. Meninjau ulang dan merevisi sistem tanggap darurat bila terjadi
perubahan pada sistem operasional perusahaan atau setelah terjadi
kondisi darurat.
5.2.Management Representative bertanggungjawab untuk :
a. Memeriksa dan menyetujui sistem tanggap darurat
b. Mengkomunikasikan, mengkoordinasikan dan menginstruksikan kepada
seluruh karyawan untuk menentukan langkah yang harus diambil untuk
menanggulangi kondisi darurat.

5.3.Divisi keamanan bertanggungjawab untuk :


a. Mengikuti instruksi MR
b. Mengawasi aset perusahaan
c. Mencegah orang yang tidak berkepentingan memasuki kawasan
perusahaan
5.4.Seluruh karyawan bertanggungjawab untuk :
a. Menjalankan sistem tanggap darurat.

6.Prosedur
6.1.TIM SMK3 mempersiapkan sistem tanggap darurat

6.2.Management representative memeriksa dan menyetujui sistem tanggap


darurat.

6.3.Management representative mengkomunikasikan, mengkoordinasikan dan


menginstruksikan kepada seluruh karyawan untuk menentukan langkah
yang harus diambil dalam menangani kondisi darurat .

6.4.Seluruh karyawan melaksanakan sistem tanggap darurat.

6.5.Divisi keamanan mengikuti instruksi dari MR, mengawasi aset perusahaan


an mencegah orang yang tidak berkepentingan memasuki area perusahaan.

6.6.TIM SMK3 melaksanakan peninjauan ulang dan merevisi sistem tanggap


darurat bila terjadi perubahan pada sistem operasional perusahaan atau
setelah terjadi kondisi darurat.

7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Tentang tata
Lemari
Prosedur cara
Dokumen TIM
1. Tanggap pelaksanaan F 014 10 tahun
Divisi K3 SMK3
darurat tanggap
no.006
darurat

8.Lampiran
Kegiatan Dokumen
START

TIM SMK3
Mempersiapkan sistem
tanggap darurat

MR

Memeriksa dan menyetujui


sistem tanggap darurat

MR

Mengkomunikasikan, mengkoordinasikan
dan menginstruksikan kepada seluruh
karyawan untuk menentukan langkah
yang harus diambil untuk menanggulangi
kondisi darurat

Seluruh karyawan
Menjalankan sistem
tanggap darurat

Divisi keamanan

Mengikuti instruksi MR, mengawasi aset


perusahaan dan mencegah orang yang
tidak berkepentingan masuk kedalam
lingkungan perusahaan

TIM SMK3

Meninjau ulang dan merevisi sistem


tanggap darurat jika terjadi perubahan
pada sistem operasional perusahaan
atau setelah terjadi kondisi darurat

FINISH
L. Prosedur inspeksi dan pengukuran

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk melaksanakan inspeksi dan pengukuran di PPNS-
ITS

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk seluruh sistem operasi di bengkel dan laboratorium
PPNS-ITS.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 4.1

4.Definisi

5.Tanggung Jawab
5.1. TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :
a) Melaksanakan inspeksi dan pengukuran
b) Mencatat hasil inspeksi dan pengukuran
c) Menyimpan data dan laporan hasil inspeksi dan pengukuran

5.2. Kepala divisi bertanggungjawab untuk :


a. Mengetahui dan mengizinkan proses inspeksi dan pengukuran
b. Memerintahkan seluruh karyawan untuk ikut mempermudah proses
inspeksi dan pengukuran
c. Menyediakan seluruh fasilitas yang dibutuhkan oleh TIM SMK3
dalam melakukan inspeksi dan pengukuran

5.3. Manajemen representatif bertanggungjawab untuk :


a. Mengetahui dan menyetujui laporan inspeksi dan pengukuran
b. Memastikan proses inspeksi dan pengukuran berjalan dengan baik
dan benar
c. Memerintahkan seluruh kepala divisi untuk ikut mendukung proses
inspeksi dan pengukuran

6.Prosedur
6.1 TIM SMK3 melaksanakan inspeksi dan pengukuran terhadap tempat kerja
6.2 Kepala divisi membantu dengan menyediakan peralatan dan data yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan inspeksi dan pengukuran
6.3 Manajemen representatif menyetujui hasil inspeksi dan pengukuran
6.4 TIM SMK3 menyimpan data hasil inspeksi dan pengukuran sebagai bahan
untuk melaksanakan proses pengendalian

7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Hasil inspeksi
dan
Laporan Lemari
pengukuran
inspeksi dokumen TIM
1 terhadap F015 10 tahun
dan TIM SMK3
peralatan dan
pengukuran SMK3
tempat kerja i
PPNS-ITS

8.Lampiran
Lampiran I Form inspeksi dan pengukuran
Kegiatan Dokumen

Form inspeksi
dan pengukuran
Lampiran I Form inspeksi dan pengukuran

Tempat :
Tanggal :
Tim inspeksi :

Kesesuaian
NO Materi inspeksi Keterangan
Ya Tidak

NO Nama mesin/peralatan Hasil pengukuran Keterangan PIC


M. Prosedur pemeriksaan kesehatan

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bagi seluruh
karyawan yang ada di PPNS-ITS.

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk seluruh karyawan di PPNS-ITS, kecuali karyawan
kontrak.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 4.1

4.Definisi
1. Penyakit adalah: Sesuatu yang bersifat merugikan manusia dan
menimbulkan masalah kesehatan.
2. Penyakit akibat kerja (PAK) adalah: Penyakit yang timbul sebagai
akibat melakukan pekerjaan tertentu.

5.Tanggung Jawab
5.1. Divisi K3 bertanggungjawab untuk :
 Mendata kesehatan dan menyimpan data kesehatan
 Menetapkan jadwal pemeriksaan kesehatan

5.1. Manajemen puncak bertanggungjawab untuk :


 Menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan bagi seluruh karyawan
 Menyediakan terapi kesehatan pagi karyawan yang terindikasi mengalami
penyakit akibat kerja

5.1. Kepala tiap divisi bertanggungjawab untuk :


 Mendata seluruh karyawan yang ada di tempat kerja yang dipimpinnya

5.1. Karyawan bertanggungjawab untuk :


 Mengikuti pemeriksaan kesehatan
 Memberikan keterangan dengan benar tentang kondisi kesehatan, termasuk
penyakit yang sedang diderita

6.Prosedur
6.1. Kepala tiap divisi mendata seluruh karyawan yang ada dibawah pimpinannya
6.2. Manajemen puncak mengundang tim kesehatan dari rumah sakit untuk
melakukan pemeriksaan kesehatan
6.3. Divisi K3 menetapkan jadwal pemeriksaan kesehatan
6.4. Divisi K3 mencatat dan menyimpan dokumen hasil pemeriksaan kesehatan

7.Dokumen

No Masa
No Judul Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Catatan
Laporan tentang hasil Lemari
Divisi
1 pemeriksaan pemeriksaan F016 dokumen 10 tahun
K3
kesehatan kesehatan divisi K3
karyawan

8.Lampiran
Lampiran I: Form laporan pemeriksaan kesehatan
Kegiatan Dokumen
Lampiran I: Form laporan pemeriksaan kesehatan

NO Nama karyawan Jenis pemeriksaan Diagnosa Keterangan


penyakit

Mengetahui,

Kepala divisi K3

(…………………….)
N. Prosedur kalibrasi dan perawatan alat ukur

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk menjelaskan tata cara kalibrasi dan perawatan alat
ukur

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk alat ukur yang dipakai di PPNS-ITS

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 4.1

4.Definisi
1. Alat ukur adalah: Alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran
dengan menggunakan skala tertentu, untuk mengetahui nilai ukuran suatu
benda.
2. Kalibrasi adalah: Proses penyesuaian alat ukur agar memberikan data yang
akurat.

5.Tanggung Jawab
5.1. Kepala divisi/bengkel/laboratorium bertanggungjawab untuk :
a. Mengetahui dan mengesahkan laporan jumlah dan jenis alat ukur di
tempat kerja yang dipimpinnya

5.2. Divisi perawatan bertanggungjawab untuk :


a) Melakukan kalibrasi alat ukur yang dilaporkan oleh teknisi tiap
bengkel dan laboratorium
b) Mencatat hasil kalibrasi dan melaporkan kepada kepala
divisi/bengkel/laboratorium

5.3. Teknisi tiap laboratorium dan bengkel bertanggungjawab untuk :


a) Mendata dan melaporkan segala jenis alat ukur yang ada di bengkel
atau laboratorium
b) Melakukan perawatan terhadap alat ukur
6.Prosedur
6.1 Teknisi tiap bengkel dan laboratorium mencatat seluruh alat ukur yang ada
di bengkel dan laboratorium, dan melaporkannya kepada kepala divisi.
6.2 Kepala divisi mengetahui dan menyetujui program kalibrasi alat ukur
tersebut.
6.3 Divisi perawatan melaksanakan proses kalibrasi alat ukur, kemudian
mencatat dan melaporkannya kepada kepala divisi
6.4 Teknisi tiap bengkel dan laboratorium merawat alat ukur yang telah
dikalibrasi

7.Dokumen

No Masa
No Nama Gambaran Lokasi PJ
Rekaman penyimpanan
Catatan Lemari
Lembar
tentang hasil dokumen Divisi
1 kalibrasi F017 10 tahun
kalibrasi alat divisi perawatan
alat ukur
ukur perawatan
Lemari
Berisi data Teknisi
Lembar dokumen
riwayat tiap
2 kartu F018 tiap 10 tahun
perawatan bengkel
perawatan bengkel
alat ukur dan lab
dan lab

8.Lampiran
Lampiran I: Form kalibrasi alat ukur
Lampiran II: Form kartu perawatan
Kegiatan Dokumen

Form kalibrasi
alat ukur

Form kartu
perawatan alat
ukur
Lampiran I: Form kalibrasi alat ukur

NO Nama alat ukur Kegunaan Jenis kalibrasi Keterangan

Keterangan diisi apabila alat ukur dalam keadaan rusak atau tidak pernah dipakai.
Lampiran II: Form kartu perawatan alat ukur

NO Nama alat ukur Jenis perawatan Tanggal perawatan PIC


yang dilakukan terakhir
O. Prosedur audit

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk menjelaskan tata cara pelaksanaan audit internal
SMK3 di PPNS-ITS yang akan dilaksanakan oleh tim audit.

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini mencakup seluruh dokumen SMK3 yang diterapkan di PPNS-ITS

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 4.2

4.Definisi
1. Audit: Proses pemeriksaan kesesuaian peraturan dengan kegiatan yang
dilaksanakan oleh badan/instansi terkait

5.Tanggung Jawab
5.1. TIM SMK3 bertanggungjawab untuk :
a) Memastikan seluruh dokumen yang dibutuhkan untuk proses audit
telah dilengkapi
b) Membantu kelancaran proses audit internal

5.2. Manajemen Representatif bertanggungjawab untuk :


a) Memastikan kegiatan audit telah dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan dan kesepakatan
b) Mengawasi proses pelaksanaan audit

5.3. Manajemen puncak bertanggungjawab untuk :


a) Menyetujui kegiatan audit oleh tim audit internal SMK3
b) Melengkapi seluruh dokumen yang dibutuhkan untuk proses audit

5.4. Divisi K3 bertanggungjawab untuk :


a) Menyediakan seluruh dokumen yang dibutuhkan oleh tim audit
internal SMK3
b) Mencatat dan menyimpan hasil laporan audit internal SMK3
5.5. Tim audit internal bertanggungjawab untuk :
a) Melaksanakan proses audit internal seusai dengan peraturan
b) Melaporkan hasil audit kepada manajemen puncak

5.6. Seluruh divisi bertanggungjawab untuk :


a) Melengkapi seluruh dokumen yang dibutuhkan dalam proses audit
internal
b) Membantu kelancaran audit dengan tidak menghalang-halangi tim
audit untuk melaksanakan audit

6.Prosedur
6.1 Seluruh divisi menyediakan dokumen yang berkaitan dengan SMK3
6.2 Tim audit internal melaksanakan proses audit dibantu oleh TIM SMK3
6.3 Hasil audit dilaporkan ke pihak manajemen puncak untuk ditindak lanjuti
6.4 Manajemen puncak menyetujui hasil audit dan melakukan tinjauan ulang
6.5 Divisi K3 menyimpan hasil audit sebagai pedoman perbaikan
berkelanjutan

7.Dokumen

No Masa Penanggung
No Judul Gambaran Lokasi
Rekaman penyimpanan jawab
Laporan Catatan
hasil tentang hasil Lemari
1 audit audit yang F019 dokumen 10 tahun Divisi K3
internal dilaksanakan divisi K3
SMK3 oleh tim audit

8.Lampiran
Lampiran I: Form laporan audit SMK3
Kegiatan Dokumen
START

Seluruh divisi
Menyediakan dokumen
yang dibutuhkan untuk
proses audit internal

Tim audit

Melaksanakan audit internal


dan melaporkan kepada
pihak manajemen puncak

Manajemen puncak
Form laporan
Mengetahui dan hasil audit
menyetujui hasil audit, internal
dan melakukan tinjauan
manajemen

Divisi K3

Menyimpan laporan
hasil audit sebagai
pedoman perbaikan
berkelanjutan

FINISH
Lampiran I: Form laporan audit internal SMK3

Kesesuaian dengan Permenaker


Klausul/sub
NO Uraian Dalam
klausul Ya Tidak
proses

Diketahui, Diketahui,

(Manajemen representatif) (Ketua tim audit internal)

Disetujui,

(Manajemen puncak)
P. Prosedur tindakan perbaikan dan pencegahan

1.Tujuan
Prosedur ini menjelaskan tata cara tindakan perbaikan dan pencegahan
berdasarkan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja di PPNS-ITS

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini diterapkan untuk seluruh sarana/peralatan yang menggunakan
sumber tenaga listrik yang ada di bengkel dan laboratorium di PPNS-ITS.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 4.3

4.Definisi
21. Lock out system: Suatu sistem yang terdiri dari peralatan yang digunakan
untuk menjamin bahwa mesin-mesin yang dikontrol tidak dapat
dioperasikan sebelum alat Lock Out ini di lepas.
22. Tag out system: Suatu sistem yang terdiri dari peralatan yang digunakan
untuk mengindikasikan bahwa mesin-mesin yang dikontrol tidak ada
kemungkinan untuk dioperasikan sebelum alat tag out dilepas.
23. Verifikasi alat: Suatu kegiatan untuk memastikan suatu peralatan dapat
berfungsi dengan baik.

5.Tanggung Jawab
5.1.Direktur bertanggungjawab untuk :
e) Mengesahkan rencana perbaikan dan pencegahan pada sistem
produksi dan seluruh sarana di PPNS-ITS.

5.2.Ketua harian P2K3 bertanggungjawab untuk :


f) Memastikan rencana tindakan perbaikan dan pencegahan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangan, standard, dan peraturan teknis yang
berlaku.
g) Memastikan penerapan sistem lock out tag out sesuai dengan
ketentuan dan dilaksanakan dengan baik.

5.3.Divisi K3 bertanggungjawab untuk :


e. Memastikan rencana tindakan perbaikan dan pencegahan sesuai dengan
peraturan perundangan, standard dan pedoman teknis yang berlaku.
f. Memastikan penerapan sistem Lock out Tag out sesuai dengan ketentuan
dan dilaksanakan dengan baik.

5.4. Bagian Teknisi dengan persetujuan Kabag bertanggungjawab untuk :


g.Mengajukan rencana tindakan perbaikan dan pencegahan.
h. Pemeliharaan, tindakan perbaikan dan pencegahan berjalan sesuai dengan
jadwal yang telah ditentukan
i. Menerapkan sistem Lock out Tag out.
j. Menyimpan semua catatan yang memuat data secara rinci dari kegiatan
pemeriksaan, pemeliharaan, perbaikan dan perubahan yang dilakukan atas
seluruh sarana produksi

6.Prosedur
6.1.Bagian teknisi tiap bengkel dan laboratorium membuat jadwal pemeliharaan,
pencegahan, dan perbaikan sarana produksi serta peralatan lainnya
mencakup verifikasi alat-alat pengaman dan persyaratan yang ditetapkan
oleh peraturan perundangan, standard dan pedoman teknis yang berlaku.
Jadwal ini harus mendapat persetujuan dari kepala bagian bengkel atau lab
yang bersangkutan.

6.2.Bagian teknisi mengajukan rencana pemeliharaan, pencegahan, dan


perbaikan sarana produksi dan peralatan lainnya kepada divisi perawatan
PPNS-ITS dengan sebelumnya telah mendapat persetujuan dari kepala
bagian bengkel atau lab yang bersangkutan.

6.3.Divisi K3 dan Ketua harian P2K3 memastikan rencana pemeliharaan,


pencegahan, dan perbaikan sarana produksi dan peralatan lainnya sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangan, standard dan pedoman teknis
yang berlaku

6.4.Direktur PPNS-ITS mengesahkan rencana pemeliharaan, pencegahan, dan


perbaikan sarana produksi dan peralatan lainnya.

6.5.Divisi perawatan melaksanakan pemeliharaan, pencegahan, dan perbaikan,


dan apabila diperlukan untuk melakukan perubahan sarana produksi dan
peralatan lainnya.

6.6.Sistem Lock Out Tag Out harus diterapkan oleh divisi perawatan sebelum
melaksanakan kegiatan pemeliharaan, pencegahan, dan perbaikan sarana
produksi.

6.7.Divisi K3 dan Ketua harian P2K3 memastikan penerapan Sistem Lock Out
Tag Out sesuai dengan ketentuan dan telah dilaksanakan dengan baik

6.8.Divisi perawatan dan teknisi tiap bengkel atau lab menyimpan semua
catatan yang memuat data-data secara rinci dari kegiatan pemeliharaan,
pencegahan, perbaikan dan perubahan-perubahan yang dilakukan atas
sarana produksi serta peralatan lainnya yang juga mengalami perubahan.
7.Dokumen
N No Masa
Judul Gambaran Lokasi PJ
o Rekaman penyimpanan

Tata cara
Prosedur pemelihara
Lemari
perbaikan an sarana Kadiv
1. P 020 Dokumen 10 tahun
dan dan alat- perawatan
Divisi K3
pencegahan alat
produksi

8.Lampiran
Lampiran I : Form Jadwal perbaikan dan pencegahan
Lampiran II : Form kartu kendali
Lampiran III : Tata cara penerapan Lock out dan Tag out
Kegiatan Dokumen
START

Bagian teknisi dengan


Form jadwal
persetujuan Kabag
perbaikan dan
Membuat jadwal perbaikan, pencegahan
pemeliharaan dan
pencegahan

Bagian teknisi dengan


persetujuan Kabag
Mengajukan rencana
perbaikan, pencegahan,
pemeliharaan dan perubahan

Divisi K3 dan P2K3


Memastikan rencana perbaikan,
pencegahan, perbaikan dan
perubahan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku

Direktur

Mengesahkan rencana
perbaikan, pencegahan,
pemeliharaan, dan perubahan

A
Kegiatan Dokumen
A

Divisi perawatan dan teknisi tiap Dokumen tata


bagian cara penerapan
Melaksanakan LOTO, tindakan LOTO
perbaikan, pencegahan,
pemeliharaan dan perubahan

Divisi K3 dan P2K3


Memastikan penerapan LOTO,
tindakan perbaikan, pencegahan,
pemeliharaan dan perubahan
berjalan sesuai ketentuan

Divisi perawatan dan teknisi tiap


bagian Form kartu
kendali
Menyimpan data secara rinci
tentang perbaikan, pencegahan,
pemeliharaan dan perubahan

FINISH
Lampiran I : Form jadwal perbaikan dan pencegahan

Nama peralatan:
Lokasi:
Bulan Jenis Minggu I Minggu Minggu Minggu PIC
kegiatan II III IV
Januari
Februari
Maret
…dst
Lampiran II : Form kartu kendali

Nama mesin:
Lokasi:
Tanggal Uraian kegiatan
Nama mesin No. Mesin PIC
pemeriksaan pemeriksaan
Lampiran III : Tata cara penerapan Lock out dan Tag out

1. Persiapan Untuk Lock Out


Langkah pertama adalah persiapan untuk mematikan peralatan (mesin).
Sebelum mematikan mesin, pekerja harus mengetahui :
- Jenis dan besarnya energi
- Bahaya yang ditimbulkan oleh energi tersebut
- Metode untuk mengendalikan energi secara efektif
Perhatikan juga energi gravitasi, listrik dan tekanan tinggi yang dapat
tersimpan atau terakumulasi kembali setelah mesin dimatikan.
2. Shutdown
Mematikan mesin atau peralatan seperti biasa sesuai dengan prosedur dari
pabrik.
3. Isolasi Energy
Semua peralatan untuk mengisolasi energi harus dipasang dan
dioperasikan untuk mengunci dan mengisolasi sumber energi.
Contoh peralatan Isolasi energi :
- Circuit Breaker
- Katup
- Fuse
- Disconnect. dll
4. Pemasangan Lock Out/ Tag Out
Langkah selanjutnya adalah pemasangan Lock Out dan Tag Out pada
peralatan untuk mengisolasi energi. Lock Out adalah alat untuk menjamin
bahwa peralatan untuk mengisolasi energi tidak dapat di operasikan.
Sedangkan Tag Out adalah alat untuk mengindikasikan bahwa peralatan
untuk mengisolasi energi tidak boleh dioperasikan.
5. Pengendalian Energi Yang Tersisa
Memastikan semua potensi bahaya dari energi sisa telah di netralkan.
Contoh enrgi sisa :
- Pegas yang tertekan
- Counterweights
- Muatan listrik yang tersimpan dalam kapasitor.
- Peralatan atau komponen-komponen yang dapat jatuh karena
gravitasi.
- Udara bertekanan dalam pipa.dll
6. Memeriksa
Sebelum memulai pekrjaan perbaikan pada mesin, pekerja harus
memastikan bahwa tenaga penggerak dari peralatan atau mesin telah
diisolasi dan di netralkan.

Pelepasan Lock out/Tag Out


Pekerja Harus mengikuti prosedur berikut ini untuk melepaskan Lock Out/ Tag
Out Device dan Restoring Energy.
Peralatan
- Pastikan semua peralatan atau permesinan telah dipasang dengan
benar.
- Periksa peralatan atau permesinan untuk menjamin bahwa bagian
yang tidak penting dari mesin telah dilepas.
Pekerja
- Pastikan semua pekerja berada pada posisi yang aman di luar area
berbahaya.
- Informasikan kepada semua pekerja bahwa Lock Out /Tag Out Device
akan dilepas dan tenaga penggerak mesin akan di hidupkan kembali.

Pelepasan Lock Out/Tag Out Device


- Hanya pekerja yang berwenang yang memasang Lock out/Tag Out
Device yang boleh melepaskan Lock out/Tag Out Device.
Q. Prosedur tinjauan manajemen

1.Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk menjelaskan tata cara pelaksanaan tinjauan
manajemen oleh manajemen puncak PPNS-ITS.

2.Ruang Lingkup
Prosedur ini mencakup seluruh laporan hasil audit internal dan laporan lain yang
didapatkankan dari seluruh divisi.

3.Referensi
PER-05/MEN/1996 klausul 5

4.Definisi
1. Tinjauan ulang: Proses pemeriksaan oleh suatu pihak untuk mencari
ketidak sesuaian

5.Tanggung Jawab
5.1. Manajemen puncak bertanggungjawab untuk :
a) Melaksanakan tinjauan manajemen berdasarkan laporan yang
diterima
b) Memerintahkan divisi K3 melaksanakan perbaikan berkelanjutan
c) Meyimpan hasil tinjauan ulang

5.2. Manajemen representatif bertanggungjawab untuk :


a) Memastikan seluruh laporan dan dokumen telah disampaikan
kepada pihak manajemen puncak untuk ditinjau

5.3. Seluruh divisi bertanggungjawab untuk :


a. Melengkapi laporan untuk ditinjau oleh manajemen puncak
b. Menerapkan perbaikan berkelanjutan yang disusun oleh divisi K3

5.4. Divisi K3 bertanggungjawab untuk :


1) Melaksanakan perbaikan berkelanjutan berdasarkan hasil tinjauan
ulang oleh manajemen puncak
2) Menyimpan hasil tinjauan ulang sebagai pedoman perbaikan
berkelanjutan

6.Prosedur
6.1 Manajemen puncak melaksanakan proses tinjauan ulang
6.2 Manajemen puncak memerintahkan divisi K3 untuk melaksanakan
perbaikan berkelanjutan
6.3 Seluruh divisi menerapkan perbaikan berkelanjutan yang disusun oleh
divisi K3
6.4 Divisi K3 dan manajemen puncak menyimpan hasil tinjauan ulang

7.Dokumen

N No Masa
Judul Gambaran Lokasi PJ
o Rekaman penyimpanan
Catatan hasil
Laporan tinjauan oleh Lemari
tinjauan manajemen dokumen Manajemen
1 F021 10 tahun
ulang terhadap manajeme puncak
manajemen hasil audit n puncak
SMK3

8.Lampiran
Lampiran I: Form tinjauan ulang manajemen
Kegiatan Dokumen
START

Manajemen puncak
Form tinjauan
Melaksanakan proses ulang
tinjauan ulang manajemen
berdasarkan laporan dan
hasil audit

Divisi K3

Melaksanakan perbaikan
berkelanjutan

Seluruh divisi

Menerapkan perbaikan
berkelanjutan yang
disusun oleh divisi K3

Manajemen puncak dan


divisi K3
Menyimpan hasil tinjauan
ulang untuk digunakan
pada proses tinjauan
ulang selanjutnya

FINISH
Lampiran I: Form tinjauan ulang manajemen

NO Laporan hasil Kesesuaian dengan Rekomendasi Keterangan


audit peraturan dan manajemen
persyaratan

Menyetujui,

(Manajemen puncak)
LAMPIRAN III
DATA
a. Bengkel Konstruksi
Tabel 4.3. Identifikasi bahaya di bengkel konstruksi
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Jari-jari III Memakai APD
terpotong
2 Fisik Tangan/jari II - Memakai
terjepit APD
- Memakai
alat bantu
untuk
meletakkan
benda kerja
3 Fisik Terkena api III Memakai APD
mesin las
4 Fisik Telinga II - Memakai
terganggu APD
akibat suara - Sistem kerja
bising shift untuk
mengurangi
waktu
paparan
5 Fisik Terpeleset di I Tumpahan
lantai minyak/oli
segera
dibersihkan
b. Bengkel sheet metal
Tabel 4.4. Identifikasi bahaya di bengkel sheet metal
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Tangan/jari II - Memakai
terjepit APD
- Memakai
alat bantu
untuk
meletakkan
benda kerja
2 Fisik Terkena api III Memakai APD
mesin las
3 Fisik Terkena I Memakai APD
serpihan
logam
4 Fisik Telinga II - Memakai
terganggu APD
akibat suara - Penerapan
bising sistem kerja
bergantian
untuk
mengurangi
paparan
5 Fisik Terkena II Memakai APD
batu
gerinda
c. Bengkel permesinan
Tabel 4.5. Identifikasi bahaya di bengkel permesinan
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Terpeleset I Tumpahan
di lantai minyak/oli
segera
dibersihkan
2 Fisik Jari III - Memakai
terpotong APD
3 Fisik Tangan/jari II - Memakai
terjepit alat bantu
untuk
menempatka
n benda
kerja
- Memakai
APD
4 Fisik Terkena I - Memakai
serpihan APD
logam
5 Fisik Terkena II Memakai APD
batu
gerinda
6 Fisik Terkena I Jangan berada
peralatan terlalu dekat
mesin yang dengan mesin
sedang saat sedang
bergerak bekerja
d. Bengkel pengelasan
Tabel 4.6. Identifikasi bahaya di bengkel pengelasan
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Terkena I Memakai APD
serpihan
logam
2 Fisik Terkena II Memakai APD
mesin
gerinda
3 Fisik Terkena api II Memakai APD
mesin las
4 Fisik Telinga II Memakai APD
terganggu
suara bising
5 Fisik Terkena III - Memakai
logam APD
panas - Memakai
alat bantu
6 Elektrik Tersengat III Jangan
listrik menyalakan
tegangan mesin jika ada
tinggi bagian yang
rusak/terkelupas
/cacat
7 Fisik Kebakaran III Jangan
menyalakan api
las dekat dengan
material mudah
terbakar
8 Fisik Tertimpa III Pemindahan
beban berat material
dilakukan oleh
beberapa orang
9 Fisik Terkena I Jangan berada
bagian terlalu dekat
mesin yang dengan mesin
bergerak yang bekerja
10 Fisik Tangan/jari III Memakai alat
terpotong bantu
e. Bengkel non metal
Tabel 4.7. Identifikasi bahaya di bengkel non metal
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Tangan/jari III Memasang
terpotong pelindung pada
bagian mesin
yang tajam
2 Fisik Terkena II - Memasang
batu pelindung
gerinda pada mesin
- Memakai
APD
3 Fisik Pendengara II Memakai APD
n terganggu
akibat suara
bising
4 Fisik Mata II Memakai APD
terkena
serpihan
kayu
5 Fisik Rambut III - Memotong
terpelintir rambut yang
mesin bor panjang
- Memakai
penutup
kepala
6 Fisik Terpeleset I Tumpahan oli
di lantai dibersihkan
7 Kimia Menghirup I Memakai APD
aroma cat
dan tinner
8 Elektrik Tersengat III Menutup
arus listrik sumber arus
yang terbuka
9 Fisik Kebakaran IV Jangan
menyalakan api
didekat serpihan
kayu atau tinner
f. Laboratorium steam power plant
Tabel 4.8. Identifikasi bahaya di laboratorium steam power
plant
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Terpeleset I Tumpahan
di lantai minyak segera
dibersihkan
2 Fisik Terkena III Memakai APD
uap panas
boiler
3 Fisik Telinga II Memakai APD
terganggu
akibat suara
bising
4 Fisik Peledakan IV - Awasi
sistem kerja
proses
- Periksa
kelengkapan
safety valve
dan sistem
pengaman
lainnya
g. Laboratorium automatic diesel marine
Tabel 4.9. Identifikasi bahaya di laboratorium automatic
diesel marine
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Pendengara II Memakai APD
n terganggu
2 Fisik Menghirup II - Memakai
asap dari APD
mesin - Perbaiki
diesel sistem
pembuangan
3 Fisik Terpeleset I Tumpahan
di lantai minyak segera
dibersihkan
h. Laboratorium reparasi listrik
Tabel 4.10. Identifikasi bahaya di laboratorium reparasi listrik
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Elektrik Tersengat III Menutup
arus sumber arus
yang terbuka
2 Fisik Tertimpa II Penanganan
beban berat material
dilakukan oleh
lebih dari satu
orang
3 Fisik Pendengara II - Memakai
n terganggu APD
akibat suara - Menaruh
bising mesin diluar
ruangan
4 Fisik Terpeleset Tumpahan
di lantai minyak segera
dibersihkan
i. Laboratorium SPPK
Tabel 4.11. Identifikasi bahaya di laboratorium SPPK
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Kaki II Penanganan
tertimpa material
beban berat dilakukan oleh
lebih dari satu
orang
j. Laboratorium instrumentasi listrik dan fisika
Tabel 4.12. Identifikasi bahaya di laboratorium instrumentasi
listrik dan fisika
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Elektrik Tersengat III Jangan
arus listrik menyalakan
peralatan dalam
kondisi basah
2 Fisik Tertimpa I - Penempatan
beban berat material
yang baik
- Pemindahan
material oleh
beberapa
orang
3 Fisik Terpeleset I Tumpahan air
dekat wastafel
segera
dibersihkan
4 Fisik Terjepit I - Memakai
APD
- Berhati-hati
saat
memasang
atau
memakai
peralatan
k. Laboratorium reparasi mesin
Tabel 4.13. Identifikasi bahaya di laboratorium reparasi mesin
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Terpeleset I Tumpahan
minyak segera
dibersihkan
2 Fisik Tertimpa I - Gunakan alat
beban berat bantu
mengangkat
beban
- Pemindahan
beban
dilakukan
beberapa
orang
3 Kimia Menghirup I Memakai APD
uap thinner
dancat
4 Fisik Terkena api III Memakai APD
las
5 Fisik Terjepit I - Memakai
mesin APD
- Memakai
alat bantu
6 Fisik Kebakaran III Jangan
menyalakan
mesin las dekat
serpihan kayu,
plastik, cat,
thinner, dan
kertas
7 Fisik Menghirup I - Periksa
asap residu saluran
mesin buang mesin
- Memakai
APD
l. Laboratorium kimia
Tabel 4.14. Identifikasi bahaya di laboratorium kimia
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Kimia Uap kimia I Memakai APD
terhirup
2 Kimia Bahan III Jangan pernah
kimia mencicipi bahan
tertelan kimia
3 Kimia Bahan III Memakai APD
kimia
terkena
kulit
4 Fisik Terpeleset I Tumpahan air
di lantai segera
dibersihkan
5 Kimia Bahan III Memakai APD
kimia
terkena
mata
m. Laboratorium ergonomi
Tabel 4.15. Identifikasi bahaya di laboratorium ergonomi
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Kejatuhan I Berhati-hati saat
benda dari mengambil
atas lemari peralatan dari
ketinggian,
gunakan alat
bantu
n. Laboratorium kontroller dan mikroprosessor
Tabel 4.16. Identifikasi bahaya di laboratorium kontroller dan
mikroprosessor
Cara
N Potensi Kategori
Efek utama menanggulangi Ket
O bahaya bahaya
bahaya
1 Fisik Kejatuhan I Pakai alat bantu
benda dari untuk meraih
ketinggian benda di
ketinggian
2 Ergono Cedera II Pengangkutan
mi punggung material lebih
dari satu orang
3 Elektrik Tersengat III Memakai APD
arus
a. Bengkel konstruksi
Tabel 4.17. Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel konstruksi
Dasar penentuan jenis pelatihan
Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Bidang atau obyek
O belakang Pengalaman potensi bahaya pelatihan
kerja pelatihan
pendidikan yang ada
1 SMP 22 thn Terjepit, Kebersi Fauzi K3
terpotong, han (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las
2 S1 2 thn Terjepit, Mouldin Rachmat K3
terpotong, g (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las
3 D3 15 thn Terjepit, Rolling Rudy K3
terpotong, (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las
4 D3 15 thn Terjepit, Potong Nanang K3
terpotong, plat (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las
5 STM 18 thn Terjepit, Bending Muharor K3
terpotong, (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las
6 STM 18 thn Terjepit, Potong Maftul K3
terpotong, plat (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las
7 STM 20 thn Terjepit, Mouldin Mr Wong K3
terpotong, g (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api las
8 STM 20 thn Terjepit, Rolling Husnul K3
terpotong, (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api
las
9 STM 20 thn Terjepit, Bending Budi K3
terpotong, (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api
las
1 STM 15 thn Terjepit, Rolling Kris K3
0 terpotong, (Karyawan) umum
pendengaran dan
terganggu, SPPK
terpeleset,
terkena api
las
b. Bengkel sheet metal
Tabel 4.18. Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel sheet metal
Dasar penentuan jenis pelatihan
Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
dan potensi Bidang atau obyek
O belakang Pengalaman pelatihan
bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada
1 D3 6 bln Terjepit, Plat dan Karyawan SPPK, K3
terkena api pipa umum
las, terkena
batu gerinda,
terkena
serpihan
logam
2 D3 14 thn Terjepit, Plat dan Karyawan SPPK, K3
terkena api pipa umum
las, terkena
batu gerinda,
terkena
serpihan
logam
3 STM 14 thn Terjepit, Plat dan Karyawan SPPK, K3
terkena api pipa umum
las, terkena
batu gerinda,
terkena
serpihan
logam
c. Bengkel permesinan
Tabel 4.19. Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel permesinan

Dasar penentuan jenis pelatihan


Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal Bidang atau obyek
O belakang potensi bahaya pelatihan
aman kerja pelatihan
pendidikan yang ada
1 D3 6 bln Terpeleset, CNC Karyawan SPPK, K3
terjepit, umum
terkena batu
gerinda,
terkena
serpihan
logam
2 STM 21 thn Terpeleset, CNC Karyawan SPPK, K3
terjepit, umum
terkena batu
gerinda,
terkena
serpihan
logam
3 STM 21 thn Terpeleset, CNC Karyawan SPPK, K3
terjepit, umum
terkena batu
gerinda,
terkena
serpihan
logam
d. Bengkel non metal
Tabel 4.20. Identifikasi kebutuhan pelatihan di bengkel non metal
Dasar penentuan jenis pelatihan
Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi Bidang atau obyek
O belakang pelatihan
aman bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada
1 STM 19 thn Terpotong, Fiberglass Didik SPPK, K3
kebakaran, dan mesin iswantoro umum
terpeleset, kayu (karyawan)
pendengaran
terganggu,
terkena batu
gerinda
2 STM 18 thn Terpotong, Fiberglass M. Fauzan SPPK, K3
kebakaran, dan mesin (karyawan) umum
terpeleset, kayu
pendengaran
terganggu,
terkena batu
gerinda
3 STM 17 thn Terpotong, Fiberglass M. Samsul SPPK, K3
kebakaran, dan mesin (karyawan) umum
terpeleset, kayu
pendengaran
terganggu,
terkena batu
gerinda
4 STM 22 thn Terpotong, Fiberglass Hardi SPPK, K3
kebakaran, dan mesin suprayitno umum
terpeleset, kayu (karyawan)
pendengaran
terganggu,
terkena batu
gerinda
e. Laboratorium steam power plant
Tabel 4.21. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium steam
power plant
Dasar penentuan jenis pelatihan
Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal Bidang atau obyek
O belakang potensi bahaya pelatihan
aman kerja pelatihan
pendidikan yang ada
1 S1 18 thn Pendengaran Reparasi Eko K3 PUBT,
terganggu, mesin purwanto K3 umum
tersengat arus, dan (karyawan)
peledakan, boiler
terkena uap
panas
2 STM 18 thn Pendengaran Reparasi Andik K3 PUBT,
terganggu, mesin wibowo K3 umum
tersengat arus, dan (karyawan)
peledakan, boiler
terkena uap
panas
f. Laboratorium automatic diesel marine
Tabel 4.22. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium automatic
diesel marine
Dasar penentuan jenis pelatihan
Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal Bidang atau obyek
O belakang potensi bahaya pelatihan
aman kerja pelatihan
pendidikan yang ada
1 S1 18 thn Pendengaran Reparasi Eko K3 umum
terganggu, mesin purwanto
terpeleset, (karyawan)
menghirup
asap mesin
2 STM 18 thn Pendengaran Reparasi Andik K3 umum
terganggu, mesin wibowo
terpeleset, (karyawan)
menghirup
asap mesin
g. Laboratorium reparasi listrik
Tabel 4.23. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium reparasi
listrik
Dasar penentuan jenis pelatihan
Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi Bidang atau obyek
O belakang pelatihan
aman bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada
1 SLTA 20 thn Tersengat Perbaikan Paidi K3 listrik,
arus dan (karyawan) K3 umum
perawatan
serta
asisten
pengajar
h. Laboratorium SPPK
Tabel 4.24. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium SPPK
Dasar penentuan jenis pelatihan
Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi atau obyek
O belakang Bidang kerja pelatihan
aman bahaya yang pelatihan
pendidikan
ada
1 STM 20 thn Kaki Perawatan dan Soehartono K3 umum
tertimpa pemeliharaan (karyawan)
beban berat alat praktikum
i. Laboratorium uji bahan
Tabel 4.25. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium uji bahan
Dasar penentuan jenis pelatihan
Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi Bidang atau obyek
O belakang pelatihan
aman bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada
1 STM 15 thn Terjepit, Pengujian Agus K3
radiasi, bahan dan sumitro radioaktif,
menghirup material (karyawan) K3 umum
uap solvent
j. Laboratorium instrumentasi listrik dan fisika
Tabel 4.26. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium
instrumentasi listrik dan fisika
Dasar penentuan jenis pelatihan
Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi Bidang atau obyek
O belakang pelatihan
aman bahaya yang kerja pelatihan
pendidikan
ada
1 STM 4 thn Tersengat Instrumen Tofan SPPK, K3
arus, listrik dasar (karyawan) umum
terpeleset,
tertimpa
beban berat,
terjepit
k. Laboratorium kimia
Tabel 4.27. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium kimia
Dasar penentuan jenis pelatihan
Resiko K3 Sasaran
N Latar Jenis
Pengal dan potensi atau obyek
O belakang Bidang kerja pelatihan
aman bahaya yang pelatihan
pendidikan
ada
1 STM 20 thn Terkena Perawatan Soehartono K3 kimia,
bahan kimia, dan (karyawan) K3 umum
terpeleset pemeliharaan
alat
praktikum
l. Laboratorium ergonomi
Tabel 4.28. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium ergonomi
Dasar penentuan jenis pelatihan
Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal atau obyek
O belakang potensi bahaya Bidang kerja pelatihan
aman pelatihan
pendidikan yang ada
1 STM 20 thn Tertimpa Perawatan Soehartono K3 umum
beban dari atas dan (karyawan)
lemari pemeliharaan
alat
praktikum
m. Laboratorium reparasi mesin
Tabel 4.29. Identifikasi kebutuhan pelatihan di laboratorium reparasi
mesin
Dasar penentuan jenis pelatihan
Sasaran
N Latar Resiko K3 dan Jenis
Pengal Bidang atau obyek
O belakang potensi bahaya pelatihan
aman kerja pelatihan
pendidikan yang ada
1 S1 18 thn Pendengaran Reparasi Eko K3 umum
terganggu, mesin purwanto
terpeleset, (karyawan)
menghirup
asap mesin
2 STM 18 thn Pendengaran Reparasi Andik K3 umum
terganggu, mesin wibowo
terpeleset, (karyawan)
menghirup
asap mesin