Anda di halaman 1dari 20

PENGERTIAN TENTANG FILSAFAT

Koento Wibisono
PENGANTAR
Terdapat kecenderungan bahwa ilmu pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi ki
ta dipelajari dan diterapkan terlepas dari asumsi asumsi dasar filsafatinya. Ber
bagai permasalahan yang timbul baik teoritis maupun praktis ditinjau dari su
dut pandang masing masing disiplin ilmu dan diterjemahkan dengan bahasa teknisny
a, sendiri sendiri. Akibatnya dialog dan komunikasi sulit dikembangkan.
Dibarengi dengan spesialisasi di semua disiplin i1mu yang dikembangkan secara in
tens, ilmu pengetahuan kehilangan sifatnya yang utuh integral integratif, masing
masing menjadi terisolasi. Tidak terasa adanya kebutuhan untuk saling "menyapa"
antar sesama kita, sehingga upaya untuk membangun suatu academic communit y dala
m arti kata sebenarnya, menjadi terhambat. Universitas kehilangan "hakikat dirin
ya" dan mengarah menjadi suatu "multi versitas". Tembok tembok perryekat antara
fakultas yang satu dengan fakultas yang lain begitu teg,;tmya, sehingga tercipta
suatu struktur dan kultur yang kurang kondusif bagi pengembangan ilmu.
Di satu sisi timbul gagasan ideal untuk mengembangkan perguruan tinggi menjadi s
uatu lembaga penelitian yang canggih sebagaimana sering dikernukakan oleh berbag
ai fihak bahwa sudah tiba saatnya untuk mengarahkan suatu universitas menjadi "r
esearch university". Di sisi lain sikap pandang "pragmatisme" dan "target orient
ed" juga mulai merebak di berbagai perguruan tinggi dengan muncuInya. pendirian
berbagai macam program ekstension dan program diploma serta program magister yan
g diarahkan untuk "meningkatkan kualitas suatu profesi" tertentu. Implikasi yang
timbul yalah bahwa ketrampilan untuk memenuhii kebutuhan pasaran tenaga kerja d
ibekalkan tanpa disertai wawasan i1miah yang dibutuhkan bagi penerapan suatu pro
fesi. Etik dan moral akademik menjadi sering terabaikan, sepi dari perhatian.
Kiranya sudah tiba saatnya untuk menyediakan suatu "overview" sebagai jaringan u
ntuk menunjukkan keterkaitan antar sesama cabang i1mu sehingga ilmu pengetahuan
, beserta kebenaran ilmiah yang ingin dicapainya tidak dipandang sebagai "barang
jadi yang sudah selesai", mandeg dalam kebekuan dogmatis formalistik. Visi dan
orientasi bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu "pengembaraan yang tidak pemah men
genal titik henti "a never ending processâ kurang disadari.
Persoalannya sekarang yalah, sejauh mana filsafat dapat ikut membantu dalam meng
atasi berbagai permasalahan yang telah disebutkan di atas; atau sebaliknya, fils
afat justru akan menambah beban persoalan yang dihadapi oleh dunia perguruan tin
ggi kita.
APA DAN BAGAIMANA FILSAFAT ITU
Berfilsafat bukanlah monopoli para filsuf saja. Berfilsafat adalah menjadi peril
aku setiap orang. Sadar atau tidak, kita masing masing akan berfilsafat pada saa
t kita berhadapan dengan suatu masalah fundamental, dan menuntut kita untuk memb
eri jawabannya secara konkret, baik dalam kedudukan kita sebagai individu maupun
sebagal warga masyarakat.
Sejarah menunjukkan bahwa keterlibatan umat manusia dengan dunia filsafat untuk
bergulat dengan masalah masalah fundamental sudah ada semenjak manusia mulai "be
rtanya dan mengagurni" apa arti makna sesuatu. beserta asal mulanya yang ultimat
e. Semenjak itu dengan berbagai cara dan upayanya manusia ingin memperoleh jawab
an yang dirasakan paling sesuai dengan jiwanya, walaupun jawaban itu pada akhirn
ya sering berada dalam kawasan spekulatif dan non empirik.
Masalah fundamental yang memperoleh jawaban secara spelculatif inilah yang menga
ntarkan umat manusia pada suatu garis batas, yang di luar garis batas itu, akal
dan pengalaman sebagai senjata manusia untuk berfilsafat tidak mampu lagi berper
an yang di luar garis batas itu keyakinan kita masing masing harus tampil. Di si
nilah manusia tiba pada suatu pilihan yang didasari oleh keyakinannya sendiri se
ndiri untuk menentukan jawaban spekulatif mana yang dirasakan paling tepat dan p
aling sesuai dengan hati nuraninya.
Sebagaimana dinyatakan oleh Fichte (1762 - 1814), seorang tokoh dalam aliran fil
safat spekulatif ideafisme Jerman di zaman filsafat modern, bahwa filsafat itu a
dalah hasil keseluruhan kepribadian kita masing masing, sehingga filsafat apa ya
ng kita pilih bergantung kepada siapa dan bagaimana Kita ini. Suatu sistem. fils
afat bukanlah benda mati yang begitu saja dapat kita ambil untuk kemudian kita b
erikan kepada orang lain dengan sesuka hati kita. Filsafat merupakan sesuatu yan
g dijiwai oleh siapa dan bagaimana. keyakinan seseorang (Vloemans, 1948).
Setiap orang, setiap filsuf mempunyai pengertian sendiri sendiri tentang apa dan
bagaimana filsafat itu. Dalam khasanah i1mu pengetahuan sebagaimana kita jumpai
dalam berbagai kepustakaan, kita akan menjumpai berbagai macam batasan atau def
inisi mengenai filsafat ini.
Bagaimana pengertian kita serta bagaimana penghayatannya, kiranya baru akan kita
peroleh secara akurat apabila kita masing masing secara praktis terlibat di dal
amnya, dan secara teoritis kita lacak sejarah kelahiran serta perkembangannya se
jak awal hingga sekarang ini. Melalui penghayatan praktis dan pelacakan teoritis
inilah kita baru akan dapat memaharni secara lebih mendalam arti, makna, serta
isi filsafat itu untuk masingmasing zaman dan kurun waktu lebih dari itu kita a
kan memahami mengapa kemudian timbul berbagai macam kesamaan, perbedaan, dan per
tentangan, dalam sikap pandang dalam menghadapi sesuatu masalah.
Tepatlah kiranya jika van Peursen (1980) mengatakan bahwasanya filsafat itu beru
bah ubah. Kadang kadang ia mengarah kepada hal hal yang ada dalam diri manusia s
endiri, atau hal hal yang ada di luar diri manusia yang berkaitan dengan keputus
an etis, sikap religius, dasar dan arah pengetahuannya, serta sikap pandang meng
enai hidup dan kehidupannya. Filsafat akan selalu berkembang karena manusia dala
m hidup dan kehidupannya juga akan terus menerus berkernbang.
Dengan demikian maka jelaslah kiranya bahwa di satu fihak penjabaran secara a pr
iori mengenai kemungkinan untuk mendapatkan pengertian mengenai filsafat yang be
rtolak dari kodrat manusia harus dihindari. Sebab Kita mengenal kodrat manusia a
tas dasar tingkah laku dan perbuatannya bukan sebaliknya! sedang di lain fih
ak suatu penentuan secara induktif a posteriori yang bertolak dari sesuatu siste
m atau aliran filsafat tertentu yang telah ada akan menghadapkan kita kepada sua
tu kesulitan; karena kita akan berhadapan dengan sekian banyak aliran atau pendi
rian yang saling berbeda (Wyfleman, 1972).
Untuk itu pendekatan melalui sejarah (historische inleiding) merupakan cara pema
haman yang akan "sangat memudahkan" tanpa perlu mensyaratkan seseorang menjadi "
ahli filsafat". Melalui pendekatan historis ini kita akan diperkenalkan kepada p
ara filsuf, ajaran ajarannya, aliran aliran yang berkembang dari waktu ke waktu,
yang pada gilirannya wawasan ilmiah kita akan menjadi semakin luas.
FELSAFAT, ILMU FILSAFAT, DAN ILMU PENGETAHUAN
Untuk menghindarkan kerancuan dalam pemahaman kita tentang apa dan bagaimana fil
safat itu, perlu terlebih dahulu dibedakan antara fidsafat dan i1mu filsafat.
Pengertian kita tentang filsafat yang kita pergunakan dalam percakapan sehari ha
ri, cenderung untuk diberi arti sebagai asas atau suatu pendirian yang mengandun
g prinsip prinsip yang kebenarannya telah kita yakini dan kita terima, sedemikia
n rupa sehingga asas atau pendirian tadi kita pergunakan sebagai dasar dan arah
kehidupan kita atau masyarakat, untuk menjawab masalah masalah fundamental yang
tidak dapat begitu saja diselesaikan secara teknis. Dengan demikian filsafat men
dapatkan konotasinya sebagai pandangan hidup, sehingga muncul apa yang sering ki
ta dengar dengan kata kata filsafat seorang Ilmuwan, filsafat seorang pedagang,
filsafat seorang pendidik, filsafat seorang seniman, dan lain sebagainya.
Dalam pada itu filsafat sebagai ilmu, atau i1mu filsafat tidaklah berbeda dengan
(cabang cabang) ilmu pengetahuan yang lain. Seperti halnya dengan ilmu pengetah
uan yang lain, ilmu filsafat memiliki unsur unsur:
1. Gegenstand, yaitu suatu objek sasaran untuk diteliti dan diketahui menuj
u suatu pengetahuan, kenyataan atau kebenaran.
2. Gegenstand, tadi terus menerus dipertanyakan tanpa mengenal titik henti.
3. Ada alasan atau motif tertentu, dan dengan cara tertentu, pula mengapa G
egenstand tadi terus menerus dipertanyakan.
4. Rangkaian jawaban yang diketemukan kemudian disusun kembali kedalam satu
kesatuan sistem.
Di samping kesamaannya, ilmu filsafat sudah barang tentu mempunyai perbedaan ata
u ciri khasnya tersendiri, terutama terletak pada objek formalnya.
Ilmu filsafat mempertanyakan. hakikat (substansi) atau "apanya" objek sasaran ya
ng dihadapinya dengan menempatkan. objek itu pada kedudukannya secara utuh atau
totalitasnya; sedang ilmu ilmu cabang hanya melihat pada sesuatu sisi atau dimen
si saja. Ilmu filsafat dalam menghadapi objek material manusia, maka yang ingin
dicari yalah apa hakikat manusia itu, apa makna kehadirannya serta tujuan hidup
baik dalam arti imanen maupun transenden. Dengan melihat objek material manusia
hanya pada satu sisi atau dimensi saja, ilmu ilmu cabang tumbuh menjadi ilmu sos
iologi, antropologi, hukum, ekonorni, politik, psikologi dan lain sebagainya.
Demikian pula dengan menempatkan objek material alam semesta, maka ilmu filsafat
mempertanyakan. alam semesta dari sudut apanya (ontologik), dan bagi ilmu ilmu
cabang melihatnya dari sudut dimensi tertentu dengan melahirkan klimatologi, geo
desi, fisika, kimia, astronomi~ mekanika dan lain sebagainya.
Yang jelas, kenyataan telah menunjukkan bahwa setiap cabang ilmu, apabila dalam
perkembangannya telah sampai pada spekulasi spekulasi ataupun teori teori yang p
aling dasar, mau tidak mau cabang ilmu tadi harus kembali memasuki kawasan ilmu
filsafat, sebagaimana tejadi pada ilmu hukum dengan filsafat hukumnya, i1mu pend
idikan, biologi, matematika, sejarah, da~n lain sebagainya.
Bahkan dalam perkembangan akhir akhir ini di kalangan berbagai perguruan tinggi
atau program studi timbul kebutuhan untuk mengembangkan filsafat Ilmu (Philosoph
y of Science), yang oleh sementara pakar disebut ilmu tentang ilmu, sebagai akib
at adanya implikasi implikasi baik positif maupun negatif perkembangan ilmu peng
etahuan bagi kehidupan umat manusia itu sendiri.
MASALAH MASALAH FUNDAMENTAL DALAM FILSAFAT
Tidak dapat diungkiri bahwa filsafat sebagai ilmu pengetahuan. telah dirintis ol
eh orang orang Yunani Kuno, semenjak abad VI SK dan sekaligus mereka pulalah yan
g telah meletakkan. dasar dasar bagi tradisi pemikiran intelektual. ala Barat.
Bahwa kelahiran filsafat Yunani kuno fidak dirintis oleh dunia Timur sudah diteg
askan oleh Diogenes Laertios pada tahun 200 yang kemudian penegasan. itu diperku
at oleh penelitian sebagaimana dilakukan. oleh Eduard Zeller dalam. karyanya Gru
ndriss der Geschischte der Grieschischen Philosophie. Apa yang datang dari dunia
Timur adalah pengetahuan pengetahuan. praksis seperti astronomi, matesis, pengo
batan, dan lain sebagainya (Driyarkara & Busch, 1957).
Melalui mimbar akademis kelahiran dan perkembangan ilmu filsafat Barat diuraikan
secara bertahap (Storig, 1970), yaitu Tahap Yunani Kuno (abad VI SM VI M), Za
man pertengahan (abad VI_)CIV), melalui Renaissance (abad XV) dan Aufklaerung (a
bad XVIII), hingga zaman modem termasuk filsafat kontemporer (abad XIX XX).
Masing masing tahap memilild ciri dan. sifatnya sendiri, dan dalam perkembangan
yang telah berlangsung selama 26 abad itu, Ilu filsafat dihadapkan pada masalah
"abadi" yang tidak pemah terselesaikan dalam arti masing masing fihak akan membe
rikan jawabannya atas dasar pilihan keyakinannya sendiri sendiri, yang disana si
ni tidak sama, berbeda, bahkan saling bertentangan, yang muncul dalam setiap tah
ap atau pun kurun waktu. Masalah "abadi" yang dimaksud antara lain adalah:
1. Bidang ontologi yang mempermasalahkan:
1) Apakah hakikat (yang) "ada" (being, sein).
2) Apakah (yang) "ada" itu sesuatu yang tetap, abadi, atau terus menerus be
rubah.
3) Apakah (yang) "ada" itu sesuatu yang abstrak universal atau yang konkret
individual.
2. Bidang epistemologi yang mempermasalahkan:
1) Apakah sarananya dan bagaimanakah caranya untuk mempergunakan sarana itu
guna mencapai pengetahuan, kebenaran, atau kenyataan.
2) Apakah tolok ukur bagi sesuatu yang dinyatakan sebagai yang benar dan ya
ng nyata yang terus menerus dicari oleh ilmu pengetahuan.
3. Bidang antropologi yang mempermasalahkan:
1) Apa dan siapa manusia itu.
2) Bagaimana hubungan jiwa dan raga.
3) Apa makna dan tujuan li~idup ini dan nilai nilai mana yang secara impera
tif harus dipatuhi.
Dalam sejarah filsafat telah terbukti bahwa manusia sampai pada suatu batas di m
ana akal dan pengalman tidak lagi mampu menunjukkan jabawan mana yang paling ben
ar dalam menghadapi masalah masalah fundamental tadi. Masing masing menjatuhkan
suatu pilihan yang dirasakan paling sesuai dengan hati nuraninya, yang manifesta
sinya muncul sebagai aliran aliran dalam ilmu filsafat yang satu sama lain berbe
da atau pun bertentangan.
Aliran aliran yang dimaksud , dapat disebut antara lain: idealisme/spiritualisme
, materialisme, dualisme, pluralisme (dalam bidang ontologi); rasionalisme, empi
risme, kritisisme agnostisisme, fenomenologi,. (dalam bidang epistemologi); moni
sme, dualisme, eksistensialisme, determinisme atau incleterminisme (dalam bidang
antropologi).
Sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia dapat dipastikan bahwa lahirnya al
iran aliran baru, cabang cabang baru dalam i1mu filsafat akan terus berlangsung.
Sejarah memang telah membuktikan bahwa tiap zaman, tiap, kurun waktu memiliki p
andangan filsafatnya sendiri sendiri.
Atas dasar itu pula dapat difahami mengapa ilmu filsafat diberi batasan atau def
inisi secara berbeda beda di mana tiap orang, tiap filsuf memberikan definisinya
sendiri sendiri (Beekman 1973).
Dengan mengenyampingkan berbagai perbeclaan unsur dalain pemberian definisi, nam
un dapat disimpulkan bahwa ilmu filsafat adalah i1mu yang menunjukkan bagaimana
upaya manusia yang tidak pernah menyerah untuk menentukan kebenaran atau kenyata
an, secara kritis, mendasar dan integral. Karena itu dalam berfilsafat, proses y
ang dilalui adalah refleksi, kontemplasi, abstraksi, dialog, evaluasi, menuju su
atu sintesis.
Ilmu filsafat tidak lagi hanya berada pada tataran abstrak universal dan tekstua
l , i1mu filsafat masa kini juga harus turun ke dataran kontekstual, partisipati
f, dan emansipatolis. Filsafat disebut sebagai Ilmu K Titis (Magnis Suseno, 1992
), dan didorong untuk ikut berperan sebagai dasar dan arah dalam. penvelesaian
masalah masalah fundamental di bidang sosial. ideologi, politik, ekonomi, serta
pendidik an sebacrai humanisasi (Sonny Keraf Mikhael. Dua. 2001; Sastrapratedia,
2001a).
Kontekstuahsasi filsafat dengan kondisi aktual yang sedang kiata alami dewasa i
ni menjadi semakin dirasakan urgensinya, seirin g dengan perkembangan masyarakat
yang sedang mengalami dekadensi dalam berbagai bidang, kehidupan semacam apa va
ng pernah dilukiskan oleh Mohandas K. Gandhi vaitu "politics without principle,
wealth without work, commerce without morality, pleasure without conscience, edu
cation without character, science without humanitv, and worship without sacrific
e." (Sastrapratedja.. 2001b).

KESIMPULAN SEBAGAI WASANA KATA


Melalui pemaparan secara singkat ini kiranya beberapa kesimpulan yang dapat kata
ambil adalah sebacai berikut.
1. Filsafat adalah suatu upaya manusia, suatu "pengembaraan intelektual" ya
ng tidak pemah mengenal titik akhir dalam mencari dan menemukan kebenaran atau k
envataan. Kebenaran atau kenyataan itu sendiii bukanlah barang jadi yang sudah s
elesai, "mandheg," dalam kebekuan dogmatis dan normatif, melainkan sesuatu. Yang
terbuka.
2. Kelahiran dan perkembangan filsafat yang telah berlangsung semenjak jama
n Yunani Kuno, Abad Pertengahan melalui Renaisance dan Aufklaerung hinga. di jam
an modemkon temporer sekarang ini dapat kita jadikan metode berfikir, atau "mitr
a dialog" yang selalu hadir di dalam kita menggali dan menerapkan ilmu.
3. Denggan memahami nilai nilai filsafati maka cakrawala. wawasan ilmiah ki
ta akan diperluas dan diperdalam sedemikian rupa sehingga tanpa harus menjadi se
orang, filsuf akan menjadikan diri kita sebagai ilmuwan atau sajana yng arif,
terhindar dari kecongkakan inteleltual tidak hanyut dalam biduk tradisi yang, m
emandang, ilmu hanva sebagai produk.

Salatiga, 22 Maret 2006

PEMIKIRAN FILSAFAT BARAT: SEJARAH DAN PERANANNYA


DALAM PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh : Koento Wibisono
Misnal Alunir
1. PENGANTAR
Kebudayaan manusla dewasa ini ditandal dengan perkenbangan ilmu pengetah
uan dan teknologi yang teramat cepat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolog
i dewasa ini tidak dapat dilepaskan dari peran dan pengaruh pemikiran filsafat B
arat. Pada awal perkembangan pemilkiran filsafat Barat pada zaman Yunam Kuno, fi
lsafat, identik dengan Ilmu pengetahuan, artinya antara pemikiran filsafat dan i
lmu pengetahuan pada waktu itu tidak dipisahkan. Semua hasil pemikiran manusia p
ada waktu itu disebut filsafat. Pada abad Pertengahan terjadi perubahan, filsafa
t pada zaman ini identik dengan agama, artinya pemikiran filsafat pada waktu it
u menjadi satu dengan dogma Gereja (Agama). Munculnya Renaissans pada abad ke 15
dan Aufklaerung di abad ke 18 membawa perubahan pandangan terhadap filsafat. Fi
lsafat memisahkan diri dan agama, orang mulai bebas mengeluarkan pendapat tanpa
takut dihukum oleh Gereja. Sebagai kelanjutan dari zaman renaissans, filsafat pa
da zaman modern tetap sekuler, namun sekarang filsafat ditinggalkan oleh ilmu pe
ngetahuan. Artinya ilmu pengetahuan sebagai "anak anak" filsafat berdiri sendiri
dan terpecah menjadi berbagai cabang cabang cabang ilmu berkembang dengan cepat
, bahkan memecah diri dalam. berbagai spesialisasi dan dan sub spesialisasi pada
Abad ke20.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang dikembangkan oleh bangsa Barat telah
menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan pada awalnya adalah
suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaannya dan lingku
ngannya, serta menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya, atau menyesuaikan ling
kungannya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. Ilmu pengetahuan pada a
walnya diciptakan dan dikembangkan untuk membuat hidup manusia lebih mudah dan l
ebih nyaman untuk dinikmati, artinya ilmu diciptakan dan dikembangkan sebagai sa
rana untuk membantu manusia meringankan beban kehidupannya. Namun dalam p
erkembangan selanjutnya, khususnya pada abad ke 20 dan menjelang abad ke 21, ilm
u tidak lagi sekedar sarana kehidupan bagi manusia, tetapi telah menjadi sesuatu
yang substantif yang "menguasai" kehidupan urnat manusia baik secara ekstensif
maupun intensif. Berbagai spesialisasi ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam b
erbagai bentuk teknologi tinggi disamping kemanfaatannya yang "luar biasa" telah
menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan.
Berbagai krisis yang ditimbulkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi pada umumnya didorong oleh pemecahan masalah kemanusiaan yang sektoral
. Banyak orang mengira bahwa masalah masalah kemanusiaan akan dapat diselesaikan
hanya oleh satu displin ilmu, bahkan ada *yang mengira hanya disiplin ilmunyala
h yang paling ampuh menyelesalkan berbagai masalah kemanuslaan dewasa ini. Sela
in itu juga muncul, anggapan bahwa metodologi yang paling unggul dalam penelitia
n untuk mencapai kebenaran adalah metodologi yang dikembangkan dalam disiplin il
munya, sedangkan yang diluar disiplin itu tidak diakui bobot ilmiahnya. Oleh kar
ena itu agar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sungguh dapat bermanfaa
t lebih banyak bagi kehidupan manusia, pemikiran sempit itu sudah saatnya diting
galkan. Untuk memecahkan berbagai persoalan kemanusiaan dewasa, ini tidak mungki
n lagi dilakukan oleh, ilmuwan dari satu diplin ilmu saja, melainkan harus ditan
gani bersama oleh berbagai Ilmuwan dalam bidang yang berbeda. Maka sudah saatny
a para. ilmuwan untuk kembali bertanya. dan minta "petunjuk" kepada. "Ibu" yang
telah melahirkannya bagaimana seharusnya kita menyelesaikan masalah masalah kema
nusian yang semakin rumit dan kompleks. Salah satu upaya untuk itu adalah dengan
mempelajari perkembangan pemikiran filsafat, dalam hal ini adalah filsafat Bar
at.
Memahami tradisi pemikiran Barat sebagaimana. tercermin dalam pandangan filsafat
nya merupakan kearifan tersendiri; karena. kita. akan dapat melacak segi segi po
sitifnya yang harus kita tiru dan meniadakan segi segi negatifnya untuk tidak ki
ta ulangi. Pemikiran Barat yang dijiwai oleh semangat Renaissance dan Aufklaerun
g merupakan tradisi yang hingga dewasa ini merupakan "paradigma" bagi pengembang
an budaya Barat dengan implikasi yang sangat luas dan mendalam dalam semua segi
dan sendi kehidupan (Koento Wibisono, 1985 : 2 3).
Perkembangan sejarah filsafat Barat dapat dibagi dalam empat periodisasi.
Perlodisasi ini didasarkan atas ciri pemikiran yang dominan pada waktu itu. Pert
ama adalah zaman Yunani Kuno, ciri pemikiran filsafat pada zaman ini disebut
kosmosentris. Para filosof pada masa ini mempertanyakan asak usul alam semesta d
an jagad raya. Kedua adalah zaman Abad Pertengahan, ciri pemikiran pada zaman in
i disebut teosentris. Para filosof pada masa ini memakai pemikiran filsafat untu
k
memperkuat dogma dogma agama Kristiani. Ketiga adalah zaman Abad Modern, para fi
losof zaman ini menjadikan manusia sebagai pusat analisis filsafat, sehinga lazi
m disebut dengan corak antroposentrisme. Keempat adalah Abad kontemporer, ciri p
okok pemikiran jaman ini ialah logosentris, artinya teks menjadi tema sentral di
skursus para filosof
Tulisan ini akan inencoba menguraikan secara, ringkas perkembangan pemikiran se
jarah filsafat Barat sejak zaman Yunani Kuno sampai dengan Abad ke20/Kontemporer
. Pertama tama dikemukakan secara singkat latar belakang kelahiran masing zaman,
kemudian ciri ciri pokok pemikiran pada zaman tersebut beserta filosof-filosof
yang berpengaruh dominan, akhirya diberikan suatu catatan tentang pengaruh masin
g zaman terhadap perkembangan pemikiran kemanusiaan pada umumnya. Khusus untuk p
emikiran filsafat Barat modem dan kontemporer dibicarakan dalam kerangka aliran
aliran.
II. PERKEMBANGIAN PEMIKIRAN FILSAFAT BARAT
1 Zaman Yunani Kuno (Abad 6 SM - 6 M)
Kelahiran pemikiran filsafat Barat diawali pada abad ke 6 sebelum masehi
yang ditandai oleh runtuhnya mite mite dan dongeng dongeng yang selama ini men
jadi pembenaran terhadap setiap gejala alam. Manusia. pada. walau melalui mite
mite mencari keterangan tentang asal usul alam semesta. dan tentang kejadian yan
g berlangsung didalamnya. Ada dua bentuk mite yang berkembang pada wak tu itu,
yaitu mite kosmogonis, yang mencari tentang asal usul alam semesta, dan mite kos
mologis, berusaha mencari keterangan tentang asal usul serta sifat kejadian alam
semesta (Bertens, 1975:12). Mitolog Yunani meskipun memberikan jawaban terhadap
pertanyaan pertanyaan tentang alam semesta, sayangnya jawaban jawaban tersebut
diberikan dalam bentuk mite yang lolos dari kontrol akal (rasio). Cara berpikir
seperti Ini berlangsung sampai abad ke 6 sebelum masehi. Sedangkan sejak abad ke
6 sebelum masehi orang mulai mencarl jawaban jawaban rasional tentang asal usu
l dan kejadian alam semesta.
Ciri yang menonjol dari filsafat Yunani Kuno di awal kelahirannya adalah ditujuk
annya perhatian terutama pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar
guna rnenemukan sesuatu asas mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya
segala gejala (Fuad Hassan, 1996:14). Thales (640 550 SM) menyimpulkan bahwa air
merupakan arche (asas mula) dari segala sesuatu, pendapatnya ini didukung oleh
kenyataan bahwa air meresapi seluruh benda benda di jagad raya ini. Anaximander
(611-545 SM) meyakini bahwa asas mula dari segala sesuatu adalah apeiron yaitu
sesuatu. yang tidak terbatas. Anaximenes (588-524 SM) mengatakan bahwa asas mula
segala sesuatu itu adalah udara, keyakinannya ini didukung oleh kenyataan bahwa
udara merupakan unsur vital kehidupan. Pythagoras (580-500 SM) mengatakan bahwa
asas segala sesuatu dapat diterangkan atas dasar bilangan bilangan, ia terkenal
karena dalil tentang segi tiga siku siku yang dikemukakannya dan masih berlaku,
sampai saat ini.
Diskusi Kefilsafatan pada jaman Yunani menjadi sernakin semarak dengan tampilnya
dua filosof (pemikir), yaitu Herakleitos (540-475 SM) dan Parmenides (540-475 S
M). Pertanyaan kedua filosof ini tidak lagi tentang apakah asal usul dan kejadia
n alam semesta, tetapi apakah realitas itu berubah, tidak sesuatu yang tetap. Un
gkapannya yang terkenal adalah panta rhei khai uden menei, sernuanya mengalir da
n tidak ada sesuatu pun yang tinggal mantap (Bertens, 1991:45). Parmenides berpa
ndangan sebaliknya, la menegaskan bahwa realitas itu tetap, tidak berubah. Arti
penting Parmenides adalah gagasannya tentang "ada", ia merupakan filsuf pertama
yang mempraktekkan cabang filsafat yang dikenal dikemudian hari dengan "metafisi
ka". Pernyataannya yang berkaitan dengan metafisika itu yaitu: "yang ada itu ada
, dan yang tidak ada itu tidak ada" (Bertens, 1991:47). Kedua tokoh ini dalam se
jarah filsafat menjadi cikal bakal debat metafisika tentang "pluralisme" dan "mo
nisme", dalam bidang epistemologi antara "eimpirisisme" dan "rasionalisme". Hera
kleltos mewakili pluralisme dan empirisme, sedangkan Parmenides adalah wakil dar
i monisme dan rasionalisme.
Pemikir Yunani lain yang penting dalam rangka perkembangan ilmu pengetahuan adal
ah Demokritos (460 370 SM). la menegask.an bahwa realitas terdiri dari banyak un
sur yang disebutnya dengan atom (atomos, dari a = tidak, dan tomos = terbagi). A
tom atom itu sama sekali tidak mempunyai kualitas dan jumlahnya tidak berhingga
(Bertens, 1991:62). Pandangan Demokritos ini merupakan cikal bakal perkembangan
ilmu fisika, kimia dan biologi.
Filsafat Yunani yang telah berhasil mematahkan berbagai mitos tentang kejadian d
an asal usul alam semesta, dan itu berarti dimuainya tahap rasionalisasi pemikir
an manusia tentang alam semesta. Filosof yang mengembangkaii filsafat pada jaman
Yunani yang begitu ramai dipersoalkan sepanjang sejarah filsafat adalah Socrate
s. Socrates (470 SM 399 SM) tidak memberikan suatu ajaran yang sistematis, ia la
ngsung menerapkan metode filsafat langsung dalam kehidupan sehari hari. Metode b
erfilsafat yang diuraikannya disebut "dilaketika" (Yunani: dialegesthai) yang be
rarti bercakap cakap, disebut demikian karena dialog atau wawancara mempunyai pe
ranan hakiki dalam filsafat Socrates (Bertens, 1975:87). Socrates sendiri menyeb
ut metodenya itu "maieutike tekhne" (seni kebidanan), artinya fungsi filosof han
ya membidani lahimya pengetahuan. Socrates seiidiri tidak menyampaikan pengetahu
an, telapi dengan pertanyaan pertanyaannya la membidani pengetahuan yang terdapa
t dalam jiwa orang lain. Dan dengan pertanyaan lebih lanjut ia mengLiji nilal pi
kiran pikiran yang sudah dilahirkan.
Plato (428 SM 348 SM) adalah murid Socrates yang meneruskan tradisi dialog dalam
berfilsafat. Plato meneruskan keaktifan Socrates dengan nengarang dialog dialo
g, sepertinya gurunya, ia tidak mengenal lelah dalam mengadakan dialog dengan la
wan bicaranya. Plato memilih dialog karena ia berkeyakinan bahwa filsafat pada i
ntinya tidak lain dari pada suatu dialog. Berfilsafat berarti mencari kebijaksan
aan atau kebenaran, dan oleh karena itu dapat dimengerti bahwa mencari kebenaran
itu sebaiknya dilakukan bersama sama dalam Suatu dialog.
Plato dikenal sebagal filosof dualisme, artinya ia mengakui adanya dua kenyataan
yang terpisah dan berdiri sendiri, yaitu dunia ide dan dunia bayangan (inderawi
). Dunia ide adalah dunia yang tetap dan abadi, di dalamnya tidak ada perubahan,
sedangkan dunia bayangan (inderawi) adalah dunia yang berubah, yang mencakup be
nda benda jasmani yang disajikan kepada indera. Bertitik tolak dari pandangannya
ini, Plato mengajarkan adanya dua bentuk pengenalan. Di satu pihak ada pengenal
an idea idea yang merupakan pengenalan dalam arti yang sebenarnya. Pengenalan in
i mempunyai sifat sifat yang sama seperti objek obyek yang menjadi arah pengenal
an yang sifatnya teguh, jelas, dan tidak berubah. Di pihak lain ada pengenalan t
entang benda benda jasmani. Pengenalan ini mempunyai sifat sifat tidak tetap, se
lalu berubah (Bertens, 1975:108 109).
Pemikiran filsafat Yunani mencapai puncaknya pada murld Plato yang bernama Aris
toteles (384 SM - 322 SM). la mengatakan bahwa tugas ulama ilmu pengetahuan iala
h mencarl penyebab penyebab objek yang diselidiki. Kekurangan utama para filosof
sebelumnya yang sudah menyelidiki alam adalah bahwa mereka tidak memeriksa semu
a penyebab. Aristoteles berpendapat bahwa tiap tiap kejadian mempunyai empat seb
ab yang semuanya harus disebut, bila manusia hendak memahami proses kejadian seg
ala sesuatu. Keempat penyebab itu menurut Aristoteles adalah:
1 Penyebab material (material cause): inilah bahan dari mana benda dibikin
. Misalnya kursi dibuat dari kayu.
1 Penyebab formal (formal cause): inilah bentuk yang menyusun bahan. Misal
nya bentuk kursi ditambah pada kayu, sehingga kayu menjadi sebuah kursi.
1 Penyebab efisien (efficient cause): inilah sumber kejadian: inilah faklo
r yang menjalankan kejadian. Misainya, tukang kayu yang membikin sebuah kursi.
1 Penyebab final (final cause): inilah tujuan yang menjadi arah seluruh ke
jadian. Misalnya kursi dibikin supaya orang dapat duduk di atasnya (Bertens, 197
5:144).
Ajaran metafisika Aristoteles menyelidiki tentang hakikat ada, ia membed
akan ada yang primer dan sekunder. Ada yang primer disebutnya "substansi" yaitu
suatu ada yang berdiri sendiri, tidak memerlukan sesuatu yang lain. Ada yang sek
under disebutnya "aksiden aksiden", yaitu suatu hal yang tidak berdiri sendiri,
tetapi hanya dapat dikenakan kepada sesuatu yang lain yang berdiri sendiri. Aksi
den aksiden hanya dapat beradd dalam suatu substasni dan tidak pemah lepas darip
adanya (Bertens, 1975:156157). Realitas menurut Aristoteles tersusun atas satu s
ubstansi dan sembilan aksidensi yang terkenal nama sepuluh kategori. Sembilan ak
sidensi itu antara lain: kualitas, kuantitas, relasi, tempat (ruang), waktu, aks
i, passi.
Sama halnya dengan Plato, Aristoteles juga mengemukakan tentang adanya dua penge
tahuan, yaitu pengetahuan inderawi dan pengetahuan akali. Pengetahuan inderawi m
erupakan hasil tangkapan keadaan yang kongkret benda tertentu; pengetahuan akali
merupakan hasil tangkapan hakekat, jenis bencla tertentu. Pengetahuan inderawi
mengarah kepada ilmu pengetahuan, nainun ia sendiri bukan ilmu pengetahuan, ilmu
pengetahuan hanya terdiri dari pengetahuan akali. Itulah sebabnya baik menurut
Aristoteles maupun menurut Plato, tidak mungkin terdapat ilmu pengetahuan mengen
ai hal hal yang konkret, melainkan yang ada hanyalah ilmu pengetahuan mengenai h
al hal yang umum. Jalan untuk sampai pada ilmu pengetahuan ialah jalan abtraksi.
Akal tidaklah mengandung idea idea bawaan, melainkan mengabtraksikan idea idea
yang dipunyainya, yaitu bentuk yang dipunyai benda benda, berdasarkan hasil tang
kapan inderawi (Delfgaauw, 1992:32 33). Sumbangan Aristoteles dalam perkembangan
ilmu pengetahuan adalah pemikirannya tentang sillogisme. Sillogisme adalah suat
u cara menarik kesimpulan dari premis premis sebelumnya. Pasca Aristoteles filsa
fat Yunani mengalami "kemunduran" dalam arti filsafat cenderung untuk memasuki d
unia praktis bahkan berlanjut mengarah kedunia mistik sebagaimana dikembangkan o
leh faham Stoisisme, Epucurisme dan Neo Platonisme (Delfgaauw, 1963:3247).
B. Zaman Abad Pertengahan (6 16 M)
Abad Pertengalian di Eropa adalah zaman keemasan bagi kekristenan. Abad
pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas, karena. dalam abad abad itu
perkembangan alam pikiran Eropa sangat terkendala oleh keharusan untuk disesuaik
an dengan ajaran agama. Filsafat zaman per tengahan biasanya dipandang terlampau
seragam, dan lebih dari itu dipandang seakan akan tidak penting bagi sejarah pe
mikiran sebenarnya. Bila kita hendak memahami perkembangan pemikiran kefilsafata
n, maka pendapat semacam itu hendaknya ditinjau kembali. Apa yang terungkap pada
, masa Renaissans dan pada filsafat abad ke 17, tidak mungkin dipahami, manakala
kita mengabaikan permainan pendahuluan tentang hal hal yang tersebut yang terja
di pada abad pertengahan (Deltgaauw, 1992:63). Filosof Yunani yang berpengaruh p
ada abad pertengahan adalah Plato dan Aristoteles, Plato menampakkan pengaruhnya
pada Agustinus sedangkan ArIstoteles pada Thomas Aquinas.
Filsafat. Agustinus (354A30) merupakan, filsafat mengenai keadaan ikut ambil. ba
gian, suatu bentuk Platonisme yang sangat khas. Dengan pengetahuannya mengenai k
ebenaran kebenaran abadi yang disertakan sejak lahir dalam ingatan dan yang menj
adi sadar karena manusia mengetahui sesuatu, manusia ikut ambil bagian dalam ide
a idea Tuhan, yang mendahului ciptaan dunia* Ciptaan merupakan keadaan yang ikut
ambil bagian dalam idea idea Tuhan, tetapi manusia adalah ciptaan yang unik, ia
bukan keadaan yang ambil bagian yang pasif melainkan dlwujudkan secara aktif da
lam suatu pengetahuan yang penuh kasih (Delfgaaw, 1992:58). Secara demikian manu
sia melalui penciptaan dapat mendaki sampai pada pengakuan yang penuh kasih akan
Tuhan. Dalam arti tertentu keadaan ikut ambil bagian ini tedadi dengan mengetah
ui sesuatu, namun sernua perbuatan mengetahui dibimbing oleh kasih. Demikianlah
menurut Agustinus berpikir dan mengasihi berhubungan secara selaras dan tak terc
eraikan. Tuhan adalah ada sebagai ada, yang bersifat pribadi dan sebagai pribadi
menciptakan seluruh jagad raya secara bebas, dan tidak dengan jalan emanasio ya
ng niscaya terjadi, seperti dikatakan oleh Plotinos.
Pemikiran filsafat ArIstoteles direnungkan secara mendalam oleh Thomas Aquinas
(1125 a274), tanpa ragu ragu ia mengambil pemikiran filsafat Aristoteles sebaga
i dasar dalam berfilsafat. Namun demikian pemikiran filsafat Thomas tidak semata
mata merupakan pengulangan dari filsafat Anistoteles. la membuang hal hal yang
tidak pas dengan ajaran Kristiani dan menambahkan. hal hal baru, sehingga filsaf
atnya melahirkan suatu aliran yang bercorak Thomisme, yang menjadi ciri khas fil
safat Abad Pertengahan yang dikenal dengan preclikat "Ancilla Theologiae".
Thomas dalam hal terjadinya alam semesta menganut teori penciptaan, artinya Tuha
n menciptakan alam semesta. Dengan tindakan mencipta, Tuhan menghasilkan ciptaan
dari ketiadaan. Tuhan mencipta dari ketiadaan pada awal mulanya tidak terdapat
dualisme antara Tuhan (kebaikan) dengan materia (keburukan). Karena segala sesua
tu timbul oleh penciptaan dari Tuhan maka segala sesuatu juga. ambil bagian dala
m kebaikan Tuhan; berarti bahwa juga alam material mempunyai bentuk kebaikan sen
diri. Selanjutnya penciptaan itu bukan merupakan tindakan pada suatu saat terten
tu, yang sesudah itu ciptaan tersebut untuk seterusnya dibiarkan mengadu nasibny
a. Mencipta berarti secara terus menerus menghasilkan serta memelihara ciptaan (
Delfgaaw, 1992:8687). Tuhan mencipta alam semesta serta waktu dari keabadian, ga
gasan penciptaan tidak bertentangan dengan alam abadi. Kitab suci mengajarkan ba
hwa alam semesta berawal mula, tetapi filsafat tidak membuktikan hal itu, sepert
i halnya filsafat juga tidak dapat mebuktikan bahwa alam semesta tidak berawal m
ula.
C. Abad Modern (17 - 19 M)
Peralihan dari abad pertengahan ke abad modern ditandai oleh suatu era yang dise
but dengan 'renaissans'. Renaissans adalah suatu zaman yang sangat menaruh perha
tian dalam bidang seni lukis, patung, arisitektur, musik, sastra, filsafat, ilmu
pengetahuan dan teknologi (Lucas, 1960:3)). Pada 7aman ini berbagai gerakan ber
satu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga mel
ahirkan suatu perubahan , revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk sua
tu pola pemikiran baru dalam filsafat (Patterson, 1971b:2). Zaman renaissans ter
kenal dengan era kelahiran kembali kebebasan manusia dalam berpikir. Renaissans
adalah zaman atau gerakan yang didukung oleh cita cita lahirnya kembali manusia
yang bebas. Manusia bebas yang dimaksudkan dan didambakan adalah manusia bebas s
eperti yang ada dalam zamian Yunani Kuno. Pada zaman renai.ssans ini manusia Bar
at mulai berpikir secara baru, dan secara berangsur angsur melepaskan diri dari
otoritas kekuasaan Gereja yang selama ini telah "mengungkung" kebebasan dalam me
ngemukakan kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan.
Pemikir renaissans yang dapat dikemukakan dalam tulisan ini antara lain, Nicoalu
s Copernicus (1473-1543) dan Francis Bacon (1561-1626). Copernicus adalah seoran
g tokoh gerejani yang ortodoks, ia nienemukan bahwa matahari berada di pusat jag
ad raya, dan bumi memiliki dua macam gerak, yaitu: perputaran sehari hari pada p
orosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teorinya ini disebut "heliosent
risme" di mana matahari adalah pusat jagad raya, bukan bumi sebagaimana yang dik
emukakan oleh Ptolomeus yang diperkuat oleh Gereja. Teori Ptolomeus ini disebut
"geosentrime", bumi adalah pusat jagad raya. Teori Copernicus ini melahirkan rev
olusi pemikiran tentang alam semesta, terutama astronomi. Bacon adalah pemikir y
ang seolah olah meloncat keluar dari jamannya dengan menjadi perintis filsafat i
lmu pengetahuan. Ungkapan Bacon yang terkenal adalah knowledge is power "pengeta
huan adalah kekuasaan". Ada tiga contoh yang dapat membuktikan pernyataan ini, y
altu: (1) mesiu menghasilkan kemenangan dan perang modern; (2) kompas memungkink
an manusia mengarungi lautan; (3) percetakan yang mernpercepat penyebaran ilmu p
engetahuan (Verhaak, 1996:4).
Filsafat Barat modern yang kelahirannya didahului oleh suatu periode yan
g
disebut dengan 'renaissans' dan dimatangkan oleh "gerakan" Aufklaerung di abad k
e I8 itu, di dalamnya. mengandurig dua hal yang sangat penting. Pertama, semakin
berkurangnya kekuasaan Gereja, kedua, semakin bertambahnya kekuasaan ilmu penge
tahuan (Russell, 1957,5 11 ). Pengaruh dari gerakan renaissans dan Aufklaerung i
tu telah menyebabkan peradaban dan kebudayaan Barat modern berkembang dengan pes
at, dan semakin bebas dari pengaruhi otoritas dogma dogma Gereja. Terbebasnya ma
nusia Barat dari otoritas Gereja dampak semakin dipercepatnya perkembangan filsa
fat dan ilmu pengetahuan. Sebab pada zaman renaissans dan Aufklaerung perkembang
an filsafat dan ilmu pengetahuan tidak lagi didasarkan pada otoritas dogma dogma
Gereja, melainkan didasarkan atas kesesuaiannya dengan akal. Sejak itu kebenara
n filsafat dan ilmu pengetahuan didasarkan atas kepercayaan dan kepastian intele
ktual (sikap ilmlah) yang kebenarannya dapat dibuktikan berdasarkan metode, perk
iraan dan pemikiran yang dapat diuji, Kebenaran yang dihasilkan tidak bersifat t
etap, tetapi dapat berubah dan dikoreksi sepanjang waktu. Kebenaran merupakan "a
never ending process", bukan sesuatu yang mandeg, selesai dalam kebekuan normat
ifatau doginatis.
Filsafat Barat modern dengan demikian memiliki corak yang berbeda dengan periode
filsafat Abad Pertengahan. Perbedaan itu terletak terutama pada otoritas kekuas
aan politik dan ilmu pengetahuan. Jika pada Abad Pertengahan otoritas kekuasaan
mutlak dipegang oleh Gereja dengan dogma dogmanya, maka pada zaman Modern otorit
as kekuasaan itu terletak kemampuan akal manusla itu sendiri. Manusia pada zaman
modern tidak mau dlikat oleh kekuasaan manapun, kecuali oleh kekuasaan yang ada
pada dinnya sendiri. Kekuatan yang mengikat itu ialah Agama dengan Gerejanya, s
erta Raja dengan kekuasaan politlknya yang bersifat absolut.
Para filosof modern pertama tama menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari
kitab suci atau dogma dogma Gereja, juga. tidak berasal dari kekuasaan feodal,
melainkan dari dirl manusia sendirl (Nico Syukur Diester, 1992:55). Sebagai ahli
waris zarnan renaissans, filsafat zaman modern itu bercorak "antroposentris", a
rtinya manusia menjadi pusat perhatian penyelidikan filsafati. Semua filsuf pada
zaman ini menyelidiki segi segi subjek manuslawi; "aku" sebagai pusat pemikiran
, pusat pengamatan, pusat kebebasan, pusat tindakan, pusat kehendak, dan pusat
perasaan (Flanimersma, 1983:3 4).
Wacana filsafat yang menjadi topik utama pada zaman modern, khususnya dalam, aba
d ke 17, adalah persoalan epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistemolo
gi adalah bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan apakah sarana yang palin
g memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan
kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan pertanyaan yang bercorak episte
mologis ini, maka dalam filsatat abad ke 17 muncullah dua aliran filsarat yang m
emberikan Jawaban berbeda, bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat tersebut
lalah rasionalisme dan empirisme.
1. Rasionalisme.
Usaha manusia untuk memberi kepada akal suatu kedudukan yang ; berdiri
sendiri, sebagaimana yang telah dirintis oleh para pernikir 'renaissans' berlanj
ut terus sampai abad ke 17. Abad ke 17 adalah abad dimulainya pemikiran pemikir
an
kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh
kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, sehingga tampaklah adanya keyaki
nan bahwa dengan kemampuan akal itu pasti dapat diterangkan segala macam persoal
an, dapat dipahami segala macam permasalahan, dan dapat dipecahkannya segala mac
am masalah kemanusiaan.
Akibat dari keyakinan yang berlebihan lerhadap kemampuan akal itu, dinyatakanlah
perang terhadap mereka yang malas inempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan
yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada Abad pertengahan, terhadap tata
susila yang bersifat tradisi, terhadap apa saja yang tidak masuk akal, dan terh
adap keyakinan keyakinan dan anggapan angapan yang tidak masuk akal (Epping dkk
., 1977: 229).
Dengan berkuasanya akal ini, orang mengharapkan akan lahimya suatu dunia baru ya
ng lebih sempurna, Suatu dunia baru yang dipimpin oleh Akal manusia yang sehat.
Kepercayaan terhadap akal ini terutma terlihat dalam lapangan filsafat, yaitu
dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara 'a priori' suatu sistem keput
usan akal yang luas dan bertingkat tinggi. Corak berpikir dengan melulu menganda
lkan atau berdasarkan atas kernampuan akal (rasio), dalam filsafat dikenal denga
n nama aliran â rasionalisme'.
Aliran filsafat rasionalisme ini berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang mema
dai dan dapat dipercaya adalah akal (rasio). Hanya pengetahuan yang diperoleh me
lalui akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan harus mutla
k, yaitu syarat yang dituntut oieh semua pengetahtuan ilmiah. Sedangkan pengalam
an hanya dapat dipakai untuk inengukuhkan kebenaran pengetahuan yang telah diper
oleh melalui akal. Menurut aliran ini akal tidak memerlukan pengalaman dalam mem
peroleh pengetahuan yang benar, karena akal dapat menurunkan kebenaran ilmu dari
dirinya sendirl. Metode yang diterapkan oleh para filsuf rasionalisme ialah met
ode deduktif, seperti yang berlaku pada ilmu pasti.
Secara ringkas dapatlah dikemukakan dua hal pokok yang merupakan ciri dari setia
p bentuk rasionalisme, yaitu:

1. Adanya pendirian bahwa kebenaran kebenaran yang hakiki itu secara langsu
ng dapat diperoleh dengan menggunakan akal sebagai sarananya.
2. Adanya suatu penjabaran secara logik atau deduksi yang dimaksudkan untuk
memberikan pembuktian seketat mungkin mengenal lain lain segi dari seluruh sisa
bidang pengetahuan berdasarkan atas apa yang dianggap sebagal kebenaran kebenar
an hakiki tersebut di atas (Nuchelmans, 1984: 104).
Tokoh tokoh aliran filsafat rasionalisme ini ialah Descartes, Spinoza, dan Leibn
iz, dari ketiga tokoh ini yang dibicarakan dalam rangka aliran ini adalah Descar
tes.
Tokoh penting aliran filsafat rasionalisme adalah Rene Descartes (1598 1650) yan
g juga adalah pendiri filsafat modern. la pantas untuk mendapat kedudukan itu de
ngan alasan, pertama, karena usaha mencari satu satunya metode dalam seluruh cab
ang penyelidikan manusia; kedua, karena dia mernperkenalkan dalam filsafat, teru
tama tentang penelitian dan konsep dalam filsafat yang menjadi prinsip dasar dal
am perkembangan filsafat modern (Scruton, 1986:3 1 ). Metode Descartes dimaksudk
an bukan saja sebagai metode penelitian ilmlah, ataupun penelitian filsafat, mel
ainkan sebagal metode penelitian rasional mana saja, sebab akal budi manusia sel
alu sama (Bakker, 1984:71 72).
Descartes memulai metodenya dengan meragu ragukan segala macam pernyataan kecual
i pada satu pernyataan saja, yaitu bahwa ia sedang melakukan keragu raguan. Desc
artes (1995:34) sendiri menegaskan bahwa ia dapat saja meragukan segala hal, nam
un satu hal yang tidak mungkin ragukan adalah kegiatan meragu ragukan itu sendir
i. Maka ia sampai pada kebenaran yang tak terbantahkan, yakni :saya berpikir, ja
di saya ada (Cogito ergo sum). Pernyataan ini begitu kokoh dan meyakinkan, sehin
gga anggapan kaum skeptik yang paling ekstrimpun tidak akan mumpu menggoyahkanny
a. Cogito ergo surn ini oleh Descartes diterima sebagai prinsip pertama dari fil
safat.
Bagi Descartes pernyataan "saya berikir, jadi saya ada" adalah terang dan jelas,
segala sesuatu yang bersifat terang dan jelas bagi akal pikiran manusia dapatla
h dipakai sebagai dasar yang tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya untuk mela
kukan penjabaran terhadap pernyataan pernyataan yang lain (Nuchelmans, 1984: 105
). Segenap ilmu pengetahuan haruslah didasarkan atas kepastian kepastian yang ti
dak dapat diragukan lagi kebenarannya yang secara langsung dilihat oleh Akal
pikiran manusia. Metode semacam ini dinamakan juga metode 'apriori' ya
ng secara harafiah berarti berdasarkan atas hal- hal yang adanya mendahului. De
ngan mengunakan metode a priori ini kita seakan akan sudah mengelahui segala gej
ala secara. pasti, meskipun kita belum mempunyai pengalaman inderawi mengenai ha
l hal yang kemudian tampak sebagai gejala gejala itu. Sistem filsafat yang dikem
bangkan Descartes tak dapat dipisahkan dari sikap kritik yang berkembang dalam p
ergolakan Renaissans, kebangkitan budaya yang sekaligus membawa suatu skeptisism
e terhadap dogma agama dan praktek politik yang sampal saat itu menjamin ketahan
an status gereja dan negara. Skeptisisine ini meluas menjiwai Descartes yang de
ngan konsekuen meragukan pengetahuan yang kita peroleh secara inderawi. Tetapi k
emudian metode keraguan ini akhirnya dapat menumbangkan skeptisisme yang berkela
njutan (ekstrim), karena menemukan suatu landasan kebenaran baru(Toeti Herati, 1
984 : 41 ).
3. Empirisme
Para penganut aliran empirisme dalam berfilsafat bertolak belakang dengan para p
enganut aliran rasionalisme. Mereka menentang pendapat pendapat para penganut ra
sionalisme yang berdasarkan atas kepastian kepastian yang bersifiat a priori. Me
nurut penganut empirisme metode ilmu pengetahuan itu bukanlah bersifiat a priori
, tetapi a posteriori. Yang dimaksud dengan metode a posteriori ialah metode yan
g berdasarkan alas hal hal yang datang atau terjadinya atau adanya kemudian.
Bagi penganut empirisisime sumber pengetahuan yang memadai itu ialah pengalaman,
yang dimaksud dengan pengalaman disini ialah pengalaman lahir yang menyangkut
dunia dan pengalaman batin yang menyangkut pribadi manusia. Sedangkan akal manu
sia hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur dan mengolah bahan bahan atau da
ta yang diperoleh melalui pengalaman. 01eh karena itu para penganut aliran empir
isme berkeyakinan bahwa manusia tidak mempunyai ide ide bawaan atau innate ideas
. Bagi mereka manusia itu ibarat, kertas putih yang belum terisi oleh apa apa, d
an baru terisi melalul pengalaman pengalaman, baik pengalaman lahiriah maupun pe
ngalaman batiniah.
Aliran empirisme pertama kali berkembang di Inggris pada abad ke 15 dengan Franc
is Bacon sebagal pelopornya. Bacon memperkenalkan metode eksperimen dalam peny
elidikan atau penelitian. Menurut Bacon, rnanusia. melalui pengalaman dapat meng
etahui benda benda. dan hukum hukum relasi antara benda benda. la juga memberika
n sejumlah petunjuk agar seorang ilmuwan berhati hati terhadap idola idola, yal
tu: (1) idola tribus yaitu menarik kesimpulan secara terburu buru); (2) idola sp
ecus yaitu menarik kesimpulan sesuai dengan seleranya; (3) idola. fori yaitu men
arik kesimpulan berdasarkan pendapat orang banyak; (4) idola theatri yaitu menar
ik kesimpulan berdasar pendapat ilmuwan sebelumnya. Filosof empiris lainnya adal
ah Thomas Hobbes, ia juga meyakini bahwa pengenalan atau pengetahuan itu diperol
eh dari pengalaman. Berbeda dari pendahulunya, John locke lebih terdorong untuk
mengemukakan tentang asal mula gagasan manusia, kemudian menentukan fakta fakta,
menguji kepastian pengetahuan dan memeriksa batas batas pengetahuan manusia.
Paham empirisme ini kemudian dikembangkan oleh David Hume (1611- 1776), ia meneg
askan bahwa sumber satu satunya untuk memperoleh pengetahuan adalah pengalaman,
dan ia sangat menentang kaum rasionalisme yang berlandaskan pada prinsip a prior
i, yang bertitik tolak dari ide ide bawaan. la mengajarkan bahwa manusia tidak r
nembawa pengetahuan bawaan ke dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamat
an, melalui pengamatan ini manusia. memperoleh dua hal yaitu: kesan kesan (impr
esion) dan pengertian pengertian (ideas) (Harun Hadiwijono, 1980: 52). Kesan kes
an (impressions) adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, baik
lahiriah maupun batiniah. Kesan kesan ini menampakkan diri dengan jelas hidup d
an kuat terhadap pengamat. Pengertian pengertian (ideas) merupakan gambaran tent
ang pengamatan yang redup, kabur atau samar samar yang diperoleh dengan merenung
kan kembali atau merefleksikan dalam kesadaran kesan kesan yang telah diterima m
elalui pengamatan langsung.
Pada hakikatriya pemikiran Hume bersifat analitis, kritis dan skeptis. Ia. berpa
ngkal pada suatu keyakinan bahwa hanya kesan kesanlah yang pasti, jelas dan tida
k dapat diragukan. Berdasarkan pendapatnya ini, Hume sampai pada kesimpulan bahw
a â aku" termasuk dalam dunia khayalan. Sebab bagi Hume dunia hanya terdiri dari ke
san kesan yang terpisah pisah, yang tidak dapat disusun secara objektif sistemat
is, karena tidak ada hubungan sebab akibat di antara kesan kesan.
Secara ringkas dapatlah dikatakan bahwa pengetahuan yang bersifat a priori terdi
rl dari proposisi analitik, yakni proposisi yang predikatnya sudah tercakup dala
m subyek. Sebagai contoh, semua angsa putih , semua jejaka itu laki laki, es itu
dingin, lingkaran itu bulat dan lain lain, Dan pendapat ini merupakan ciri khas
pemikiran yang bercorak rasionalistik. Sebaliknya ciri khas dari empiristik a
dalah a posteriori, dan proposisinya adalah sintetik, yakni yang tak dapat diuji
kebenarannya dengan cara menganalisa peryataan, tetapi harus diuji kebenarannya
secara empiris. Misal: rumah mahal, motor baru, dan lain lain.
3. Kritisisme
Seorang filsuf besar Jerman yang bernama Immanuel Kant (1724 1804) telah melakuk
an usaha untuk menjembatani pandangan pandangan yang saling bertentangan, yaitu
antara rasionalisme dan empirisme. Kekurangan kekurangan yang ditunjukkan oleh m
asing masing pandangan tersebut diatas hendak digantinya dengan pandangan yang m
emberikan keleluasaan bagi adanya bahan bahan yang bersifat pengalaman inderawi
dan juga bagi adanya subyek yang mengetahui yang secara aktif mengelola bahan ba
han yang bersifat pengalaman inderawi tersebut. Sebagaimana telah disebutkan pah
am empirisme secara berat sebelah memberikan titik berat pada pengalaman inderaw
i yang bersifat lansung sedangkan paham rasionalisme memberikan peranan yang ter
lalu besar kepada pikiran manusia, artinya memberikan titik berat atau pengutama
an pada penglihatan yang bersifat akali dan penjabaran yang bersifat logik (Nuch
elmans, 1984: 109).
Filsafat Immanuel Kant, yang disebut dengan aliran filsafat kritisisme. Kritisis
me adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam
unsur dalam filsafat rasionalisisne dan empirisisime dalam suatu hubungan yang
seimbang, yang satu tidak terpisahkan dari yang lain. Menurut Kant pengetahuan m
erupakan hasil terakhir yang diperoleh dengan adanya kerjasama di antara dua kom
ponen, yaitu di satu pihak berupa bahan bahan yang bersifat pengalaman Inderawi,
dan dilain pihak cara mengolah kesan kesan yang bersangkutan sedemikian rupa se
hingga terdapat suatu hubungan antara sebab dan akibatnya (Nuchelmans, 1984: 109
110). Sesungguhnya relasi relasi antara sebab dan akibat tidaklah terdapat di da
lam dunia seperti yang terhampar di depan kita yang adanya tidak tergantung pada
kita, melainkan merupakan bentuk bentuk penafsiran manusia yang gunanya ialah a
gar gejala gejala yang begitu beraneka ragam yang kita hadapi, dapatlah dijadika
n sesuatu yang dapat kita pahami dan kalau dapat kita pergunakan untuk kepenti
ngan kita.
Kant yang mencoba untuk mempersatukan rasionalisme dan empirisme, mengatakan bah
wa dengan hanya mementingkan salah satu dari kedua aspek sumber pengetahuan (ras
io dan empiri) tidak akan diperoleh pengetahuan yang kebenarannya bersifat unive
rsal sekaligus dapat memberikan infomasi baru. Pengetahuan yang rasional adalah
pengetahuan yang analitis a priori, disini predikat sudah termuat dalam subyek.
Sedangkan pengetahuan yang empiris adalah pengetahuan yang sintetis a posteriori
, disini predikat dihubungkan dengan subyek yang berdasarkan pengalaman inderawi
. Masing masing mempuyai kekuatan dan kelemahan. Pengetahuan rasional (analitis
a priori) adalah pengetahuan yang bersifat universal, tapi tidak meberikan infor
masi baru. Sebaliknya pengetahuan empiris (sintetis a posteriori) dapat memberik
an informasl baru, tetapi kebenarannya tidak universal.
Untuk menyelesaikan perbedaan pandangan antara rasionalisme dan empirisme ini, K
ant mengemukakan bahwa pengetahuan itu seharusnya sintetis a priori. Yang dimaks
ud derigan pengetahuan yang sintetis a priori ini ialah , pengetahuan bersumber
dari rasio dan empiri yang sekaligus bersifat a priori dan a posteriori (Flamers
ma, 1983: 29). Disini akal budi dan pengalaman inderawi dibutuhkan serentak. Sel
anjutnya Kant mengatakan bahwa pengetahuan selalu bersifat sintetis. Pengetahuan
inderawi misalnya merupakan sintetis hal hal dari luar dan dari bentuk bentuk r
uang dan waktu di dalam saya. Sedangkan pengetahuan dari akal merupakan sintetis
dari data inderawi dan sumbangan dari kategori kategori.
Dengan filsafat kritisnya Immanuel Kant telah menunjuk kan jasanya yang besar, k
arena berdasarkan atas penglihatannya yang begitu jelas mengenai keadaan yang sa
ling mempengaruhi di antara, subyek pengetahuan dan obyek pengeta huan. la telah
memberikan pembetulan terhadap sikap berat sebelah yang dikemukakan oleh pengan
ut raslonalisine dan empirisme. Sehingga Ia telah membuka jalan bagi perkembanga
n filsafat dikemudian harl.
4. Idealisme
Permulaan pemikiran idealisme dalam sejarah filsafat Barat biasanya selalu
dihubungkan dengan Plato (427-347 SM). Akan tetapi istilah idealisme untuk menun
jukkan suatu aliran filsafat, baru dipakal pada abad ke 19 (Titus dkk, 1984:321)
. Aliran filsafat idealisme dalam abab ke 19 merupakan kelanjutan dari pemikiran
filsafat rasionalisme pada abad ke 17. Para penglkut aliran idealisme ini pada
umumnya filsafatnya bersumber dari filsafat kristismenya Immanuel Kant. Fichte (
1762 1814) yang dijuluki sebagai penganut idealisme subyektif adalah merupakan m
urid Kant. Demikian juga dengan Scelling yang filsafatnya disebut dengan idealis
me obyektif Kemudian kedua idealisme ini (subyektif dan obyektif) disintesiskan
dalam filsafat idealisme mutlaknya Hegel (1770 183 1).
Bagi Hegel fikiran adalah essensi dari alam dan alam adalah keseluruhan jiwa yan
g diobyektifkan. Alam adalah proses pemikiran yang memudar, yang adalah juga ak
al yang mutlak (absolute Reason) yang mengekspresikan dirinya dalam bentuk luar.
Oleh karena itu menurut Hegel hukum hukum fikiran merupakan hukum hukum realita
s. Sejarah adalah cara, zat yang mutlak (Absolut) itu menjelma dalam waktu, dan
pengalaman manusia. Oleh karena alam itu satu, dan bersifat mempunyai maksud ser
ta berfikir, maka alam itu berwatak fikiran. Jika kita memikirkan keseluruhan ta
ta tertib yang mencakup in organik., organik, tahap tahap keberadaan spiritual d
alam suatu tata tertib yang mencakup segala galanya, pada waktu itulah kita memb
icarakan tentang yang mutlak,jiwa yang mutlak atau, Tuhan (Titus dkk, 1984: 322)
.
Dari uraian diatas Hegel secara sepintas tampaknya mengingkari adanya realitas l
uar atau realitas obyektif. Akan tetapi sebenarnya ia tidak mengingkari adanya r
ealitas luar atau realitas obyektif tersebut. Hegel hanya percaya bahwa sikapny
a adalah satu satunya sikap yang bersifat adil kepada segi obyektif pengalaman.
Hal ini karena ia menemukan dalam alam prinsip prinsip akal dan maksud yang sama
seperti yang ditemukan manusia dalam dirinya sendiri. Dalam diri manusia terdap
at suatu akal yang memiliki maksud di dalam alam. Hegel percaya bahwa hal ini di
temukan bukan sekedar difahami dalam alam. Alam menurut Hegel telah ada sebelum
manusia ada, tetapi adanya arti dalam dunia, mengandung arti bahwa ada sesuatu s
eperti akal atau pikiran di tengah tengah idealitas. Tata tertib realitas yang s
angat berarti itu diberikan kepada manusia agar ia memikirkan dan berpartisipasi
didalamnya. Keyakinan terhadap arti dan pemikiran dalam struktur dunia merupaka
n intuisi dasar yang menjadi asas idealisme.
Setelah era Hegel telah muncul beberapa filsuf yang menyebut dirinya sebagai pen
ganut allran idealisme. Diantaranya ialah F.H. Bradley dari Inggris, dan aliran
filsafatnya kadang kadang disebut juga neo Hegelianisme Inggris. Filsafat Ideali
sme F.H. Bradley ini sangat berpengaruh terhadap muncul filsafat analitik pada a
bad ke 20.
4. Positivisme
Pendiri dan sekaligus tokoh terpenting dari aliran filsafat positivisme adalah A
uguste Comte (1798 1857). Filsafat Comte anti metafisis, ia hanya menerima fakta
fakta yang ditemukan secara positif ilmiah, dan menjauhkan diri dari sernua per
tanyaan yang mengatasi bidang ilmu-ilmu positif. Semboyan Comte yang terkenal ad
alah savoir pour prevoir (mengetahui supaya siap untuk bertindak), artinya manus
ia harus menyelidiki gejala gejala dan hubungan hubungan antara gejala gejala in
i supaya ia dapat meramalkan apa yang akan terjadi (Hammersma, 1983:54 55). Seme
njak Hegel dan karena Hegel muncul "mode" dikalangan para filsuf untuk "meramalk
an" perkembangan dunia sebagaimana dikembangkan oleh Auguste Comte, Karl Marx, E
milie Durkhelm, Talcot Parson, Amitai Etzioni, van Peursen, Alvin Toffler, John
Naisbitl d1l. (Koento Wibisono, 1983: 74 95).
Filsafat positivisine Comte disebut juga faham empirisme kritis, bahwa pengamata
n dengan teori berjalan seiring. Bagi Comte pengamatan tidak mungkin dilakukan
tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori dan pengamatan juga tidak mun
gkin dilakukan secara "terisolasi", dalam arti harus dikaitkan dengan suatu teor
li (Koento Wibisono, 1983:48). Metode positif Auguste Comte juga menekankan pand
angannya pada hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Baginya pe
rsoalan filsalat yang penting bukan masalah hakekat atau asal mula pertama dan t
ujuan akhir gejala gejala, melainkan bagaimana hubungan antara gejala yang satu
dengan gejala yang lain.
Filsafat Auguste Comte terutama penting sebagai pencipta ilmu sosiologi. Kebanya
kan konsep, prinsip dan metode yang sekarang dipakai dalam sosiologi, berasal da
ri Comte. Comte membagi masyarakat dalam "statika sosial" dan "dinamika sosial",
statika sosial adalah teori tentang susunan masyarakat, sedangkan dinamik a sos
ial adalah teori tentang perkembangan dan kemajuan. Sosilogi ini sekaligus suatu
"filsafat sejarah", karena Comte memberikan tempat kepada fakta fakta individua
l sejarah dalam suatu teori umum, sehingga terjadi sintesis yang menerangkan fak
ta fakta itu. Fakta fakta itu dapat bersifat politik, yuridis, ilmiah, tetapi ju
ga falsafi, religius, atau kultural (Hammersma, 1983:56 57).
6. Marxisme
Sampai dengan dekade 1990 an tidak kurang sepertiga penduduk dunia terpengaruh o
leh filsafat Marxisme, sekurang kurangnya menjadi simpatisannya. Pendiri aliran
filsafat ini adalah Karl Marx (1818 1883). Filsaflat Nlarx adalah perpaduan anta
ra metode dialeklika Hegel dan filsafat materialisme Feuerbach. Marx terutama me
ngritik Hegel yang menurutnya berjalan atas kepalanya, oleh karena itu filsafat
ini harus diputarbalikkan. FlIsafat abstrak harus ditinggalkan, karena teori, in
terpretasi, spekulasi dan sebagainya tidak inenghasilkan perubahan dalam masyara
kat (Hammersma, 1983:70). Sama halnya dengan Hegel, Marx mengajarkan bahwa, seja
rah dijalankan oleh suatu logika tersendiri, namun ia tidak sependapat dengan He
gel yang mengatakan bahwa "motor" sejarah adalah "ide" atau "roh" yang sedang be
rkembang. Bagi Marx motor sejarah terdiri dari hukum hukum sosial ekonomis dan h
ukum ini tidak merupakan sesuatu yang transenden" yang mengatasi manusia dan du
nia, melainkan justru merupakan hasil kerja dan perjuarigan manusia sendiri.
Pemikiran Marx menghubungkan dengan sangat erat ekonoml dengan filsafat. Bagi Ma
rx masalah filsafat bukan hanya masalah pengetahuan dan masalah kehendak murni y
ang utama, melainkan masalah tindakan. Para filosof menurut Marx selarna ini han
ya sekedar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, namun menurutnya yang terpent
ing adalah mengubahnya (Delfgaaw, 1992:150 15 1). Hal yang perlu diubah itu iala
h keadaan masyarakat yang tertindas oleh kaum borjuis dan kapitalis yang menghis
ap kaum proletar. Oleh karena itu menurut Marx kaum proletar harus merebut peran
an kaum Borjuis dan Kapitalis itu melalui revolusi.
Disamping berkembangnya aliran aliran epistemologi, filsafat modern juga mengant
arkan lahimya revolusi industri di abad ke 18 dan negara negara kebangsaan, sert
a ideologi ideologi dunia seperti Liberalisme/Kapitalisme dan Sosialisme/ Komuni
sme.
C. Abad Kontemporer (Abad ke 20)
Tema yang menguasasi refleksi filosofis dalam abad ke 20 ini adalah pemikiran te
ntang bahasa. Sebagian besar pemikir abad ke 20 pemah menulis tentang bahasa (Be
rtens, 1981:17). Ungkapan filsafat yang membingungkan . Tugas filsafat bukanlah
membuat peryataan peryataan tentang sesuatu yang khusus sebagaimana yang dipe
rbuat para filsuf sebelumnya melainkan memecahkan persoalan yang timbul akibat
ketidak pahaman terhadap bahasa logika (Charlesworth, 1959 . 2).
Russell dan Wittgenstein melangkah lebih jauh ke dalam metode analisa bahasa ini
sebagai sikap atau keyakinan ontologis memilih alternatif terbaik bagi aktivita
s berfilsafat. Menurut Wittgenstein, apa yang dihasilkan oleh sebuah karya filsa
fat bukan melulu sederetan ungkapan filsafati, melainkan upaya membuat ungkapan
ungkapan itu menjadi jelas. Tujuan filsafat adalah penjelasan logis terhadap pem
ikiran pemikiran. Filsafat bukanlah doktrin, melainkan aktivitas. Sebuah karya f
ilsafat pada hakikatnya terdiri atas penjelasan (elucidations) (Wittgenstein, 19
63: 49).
Dengan demikian jelaslah apa yang diperbuat oleh para filsuf analitik ini tidak
lain sebagai reaksi atau respons terhadap aktivitas filsafat yarig dilakukan ole
h para penganut aliran filsafat idealisme. Sebab aliran filsafat idealisme lebih
menekankan pada upaya mengintrodusir ungkapan ungkapan filsafati. Padahal ungka
pan ungkapan filsafati yang diintrodusir oleh penganut Idealisme itu menurut fil
suf analitik kebanyakan bermakna ganda, kabur dan tidak terpahami oleh akal seha
t. Hal hal semacam ituah yang perlu diatasi dengan analisa bahasa.
Perkembangan filsafat ahad ke 20 juga ditandai oleh munculnya berbagai aliran fi
lsafat, dan kebanyakan dari aliran itu merupakan kelanjutan dari aliran aliran f
ilsafat yang telah berkembang pada abad modern, seperti: neo thomisme, neo kant
ianisme neohegelianisme, neo marxisnie, neo positivisme dan sebagainya. Namun de
mikian ada juga aliran filsafat yang baru dengan cirl dan corak yang lain sama s
ekali, seperti, fenomenologi, eksistensialisme, pragmatisme, strukturalisme, dan
yang paling mutakhir adalah aliran post modernisine. Pada bagian ini hanya dibi
carakan beberapa aliran dan tokoh yang paling berpengaruh pada abad ke 20.
Tokoh pertama adalah Edmund Husserl (1859 1938), selaku pendiri aliran fenomenol
ogi, ia telah mempengaruhi pemikiran filsafat abad ke 20 ini secara amat mendala
m. Fenomenologi adalah 11mu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainom
enon). Fenomenologi dengan demikian adalah ilmu yang mempelajari apa yang tampak
atau apa yang menampakkan diri atau fenomenon (Bertens, 1981:100). Bagi Hussel
fenomen ialah realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung atau tirai yang m
emisahkan subjek dengan reallias, realitas itu sendiri yang tampak bagi subjek.
Dengan pandangan tentang fenomen ini Husserll nengadakan semacam revolusi dalam
filsafat Barat. Sejak Descartes, kesadaran selalu dimengerti sebagai kesadaran
tertutup atau cogito tertutup, artinya, kesadaran mengenal diri sendiri dan hany
a melalui jalan itu mengenal realitas. Sebaliknya Husserll berpendapat bahwa kes
adaran terarah pada realitas, "kesadaran bersifat intensional" sebetulnya sama.
artinya dengan mengatakan realitas menampakkan dirl.
Eksistensialisme dan fenomenologi merupakan dua gerakan yang sangat erat dan men
unjukkan pemberontakan tambahan terhadap metode metode dan pandangan pandangan f
ilsafat Barat. Istilah eksistensialisme tidak menunjukkan suatu sistem filsafat
secara khusus. Meskipun terdapat perbedaan perbedaan yang besar antara para peng
ikut aliran ini, namun terdapat tema tema yang sama sebagai ciri khas aliran ini
yang tampak pada para penganutnya. Titus dkk. (1984:382) mengidentifikasi cini
aliran eksistensialisime sebagai berikut:
1. Eksistensiallsme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme d
an masyarakat modern, khususnya terhadap ideallsme Hegel.
2. Eksistensialisme adalah suatu protes atas nama individualis terhadap kon
sep konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
3. Eksistensalisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang imperson
al (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan m
assa. Masyarakat industri cenderung untuk menundukkan orang seorang kepada mesin
4. Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan gerakan totaliter, ba
ik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan pero
rangan di dalam kolektif atau massa.
5. Eksistensialisme mcnekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusi
a di dunia.
6. Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, p
engalaman kesadaran yang dalam dan langsung.
Salah seorang tokoh eksistensialime yang populer adalah Jean Paul Sartre (1905
1980), ia membedakan rasio dialektis dengan rasio analitis. Rasio analitis dija
lankan dalam ilmu pengetahuan. Rasio dialektis harus digunakan, jika kita berpik
ir tentang mariusia, sejarah, dan kehidupan sosial. Rasio terakhir ini bersifat
dialektis, karena terdapat identitas dialektis antara Ada dan pengetahuan. Di s
ini ada tidak dilahap olehpengetahuan (seperti hainya idealisme), tetapi pengeta
huan termasuk Ada, artinya pengetahuan merupakan suatu proses yang berlangsung d
alam Ada. Rasio ini dialektis karena objek yang diselidikinya bersifat dialekt
is dan juga karena ia sendiri ditentukan oleh tempatnya dalam se.jarah (Bertens,
1996:111 ).
Aliran filsafat eksistensialisme yang menjadi mode berfilsafat pada pertengahan
abad ke 20 mendapat reaksl dari aliran strukturalisme. Jlka eksistensialisme men
ekankan pada peranan individu, maka strukturalisme justru meliliat manusia "terk
ungkung" dalam berbagai struktur dalam kehidupannya. Secara garis besar acla dua
pengertian pokok yang sangat erat kaitannya dengan strukturafisme sebagai alira
n filsafat. Pertama, strukturalisme adalah metode atau metodologi yang digunakan
untuk mempelajari ilmu ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari prinsip prin
sip linguistik yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure. Di sini ilmu ilmu keman
usiaan dimaksudkan sebagai ilmu ilmu yang dalam terminologi Dilthey disebut Geis
teswissenschaften yang dibedakan dengan ilmu-ilmu pengetahuan alam atau Natu
nvissenschaften. Kedua, strukturalisme merupakan aliran filsafat yang hendak mem
ahami masalah yang muncul dalam sejarah filsafat. Di sini metodologi struktural
dipakai untuk membahas tentang manusia, sejarah, kebudayaan, serta hubungan ant
ara kebudayaan dan alam, yaitu dengan membuka secara sistematik struktur struktu
r kekerabatan dan struktur struktur yang lebih luas dalam kesusasteraan dan dala
m pola pola psikologik tak sadar yang menggerakkan tindakan rnanusia (Kurzwell
, 1980. vi x).
Para strukturalis filosofis yang menerapkan prinsip prinsip srtukturalisme lingu
lstik dalam berfilsafat bereaksi terhadap allran filsafat Fenomenologi dan eksis
tenisialisme yang melihat manusia dari sudut pandangan yang subjektif. Para pen
ganut aliran filsafat strukturalisme ini memiliki corak yang beragam, namun demi
kian mereka memiliki kesamaan, yaltu: penolakan terhadap prioritas kesadaran. Ba
gi mereka manusia tidak lagi merupakan titik pusat yang otonom, manusla tidak la
gi menciptakan sistem inelainkan takluk pada sistem.
Tokoh berpengaruh dalam aliran filsafat strukturalisme adalah Michel Foucault (
1926 '1984). Kesudahan "manusia," sudah dekat, itulah pendirian Foucault yang su
dah terkenal tentang "kematlan" manusia . Maksud Foucault bukannya. Bahwa nanti
tidak ada manusia lagi, inelainkan bahwa akan hilang konsep "manusia" sebagai su
atu kategori istimewa dalam pemikiran kita (Bertens, 1996:217). Manusia akan keh
ilangan tempatnya. yang sentral dalam bidang pengetahuan dan dalam kultur seluru
hnya.
Pada abad ke 20 ada aliran filsafat yang pengaruhnya dalam dunia praksis cukup
besar, yaitu aliran filsaflat Pragmatisme. Pragmatisme merupakan gerakan filsaf
at Amerika yang menjadi terkenal selama satu abad terakhir. Aliran filsafat ini
merupakan suatu sikap, metode dan filsafat yang memakai akibat akibat praktis da
ri pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai kebenaran (Tit
us, dkk., 1984:340). Kelompok pragmatis bersikap kritis terhadap sistem sistem f
ilsafat sebelumnya seperti bentuk bentuk aliran materialrealisme, idealisme dan
realisme. Mereka mengatakan bahwa pada masa lalu filsafat telah keliru karena m
encari hal hal mutlak, yang ultimate, esenisi-esensi abadl, substansi, prinsip y
ang tetap dan sistem kelornpok empiris, dunia yang berubah serta problema proble
manya, dan alam sebagai sesuatu dan manusia tidak mendapat melangkah keluar dari
padanya.
Salah seorang tokoh pragmatisme adalah William James (1842 1910), ia memandang p
emikirannya sendiri sebagai kelanjutan empirisme Inggris, namun empirismenya bu
kan rnerupakan upaya untuk nienyusun kenyataan berdasar atas fakta fakta lepas s
ebagal hasil pengamatan. James membedakan dua macam bentuk pengetahuan, pertama,
pengetahuan yang langsung diperoleh dengan jalan pengamatan, kedua, merupakan p
engetahuan tidak langsung yang diperoleh dengan melalui pengertian (Delfgaauxv,
1988:62)., Kebenaran itu suatu proses, suatu ide dapat menjadi benar apabila did
ukung oleh peristiwa peristiwa sebagai akibat atau buah dari ide itu. Oleh karen
a kebenaran itu hanya suatu yang potensial, baru setelah verifikasi praktis (ber
dasarkan hasil/buah pemikiran ), kebenaran potensial menjadi real.
Postmodernisme sebagai trend dari suatu pemikiran yang sangat populer pada pengh
ujung abad ke 20 ini merambah keberbagai bidang dan disiplin fillsarat dan ilmu
pengetahuan. Istilah "Postmodern" telah digunakan dalam demikian banyak bidang d
engan meriah dan hiruk pikuk. Kemeriahan ini menyebabkan setiap referensi kepa
danya mengandung resiko dicap sebagai ikut mengabadikan mode intelektual yang da
ngkal dan kosong.
Pada awalnya post modernisme lahir sebagai reaksi terhadap kegagalan modernisme.
Dalam modernisme, filsalat memang berpusat pada Epistemologi yang bersandar pad
a gagasan tentang subjektivitas dan objektivitas murni yang satu sama lain terpi
sah tak saling berkaitan. Tugas pokok filsafat adalah mencari fondasi segala pen
getahuan (Fondasionalisme), dan tugas pokok subjek adalah merepresentasikan keny
ataan objektif (Representasionallsme). Dengan demikian maka klaim klaim dari kau
m post modernis tentang "berakhirnya Modernisme" biasanya dimaksudkan untuk men
unjukkan berahirnya anggapan modern tentang "subjek" dan "dunia objektil" tad] (
Bambang Sugiharto, 1996:33).
Wacana postmodern. menjadi populer setelah Francois Lyotard (1924 ) menerbitkan
bukunya The Postmodern Condition: A Report on Knowldge (1979). Modernitas menuru
t Lyotard ditandai oleh kisah kisah besar yang mempunyai fungsi mengarahkan sert
a nienjiwai masyarakat modern, mirip dengan niltos mitos yang mendasari masyarak
at primitif dulu. Sepertl halnya dengan mitos dalam masyarakat primitif, kisah k
isah besarpun melegitimasi institusi institusi serta praktek praktek sosial poli
tik, sistem hukum serta moral, dan seluruh cara berpikir. Tetapi berbeda dengan
rnitos mitos, kisah kisah besar itu tidak mencarl legitimitas dalam suatu perist
iwa yang terjadi pada awal mula (seperti penciptaan oleh dewa dewa), melainkan d
alam suatu masa depan, dalam suatu ide yang harus diwujudkan (Beriens, 1966:348
). Salah satu contoh kisah besar yang berusaha mewujudkan ide scperti itu adala
h emanansipasi progresif dari raslo dan kebebasan dalam liberalisme polink.
PENUTUP
Berdasarkan paparan singkat perkembangan sejarah filsafat Barat sejak ke
lahirannya pacla zarnan Yunani kuno sampal dengan Abad ke 20 atau Abad Kontempoe
r, maka secara singkat dapat ditegaskan bahwa pemikiran Filsafat Barat
berkembang sebagai reaksi terhadap mitos dan sikap dogmatis. Reaksi terhadap mit
os dan sikap dogmatis itil melahirkan pemikiran rasional, artinya suatu pendapa
t yang dimitoskan dan telah menjadi dogma yang beku dilawan, ditentang dan dikor
eksi berdasarkan asumsi asumsi Ilmiah yang baru. Di sini ciri utarna filsafat sp
ekulatif menjadi lebih dominan, artinya ads keberanian untuk menemukan hal hal b
aru, walaupun manusla pada jamannya mungkin belum dapat menerima ide ide terseb
ut pada masa itu, sebagaimana halnya Copernicus, Galileo Galilei yang pandangan
Heliosentrisnya belum dapat diterima oleh umat pada zamannya, namun akhirnya pan
dangan mereka tetap diakui kebenarannya pada era era sesudahnya..
Kelahiran filsafat pada zaman Yunani Kuno merupakan reaksi terhadap mito
s rnitos yang berkembang pada waktu itu inengenai asal usul dan kejadian alam se
mesta. Para filosof Yunaill menerangkan asal usul dan keiadian alam semesta berd
asarkan analisa pemikiran raslonal, padahal manusla pada zaman itu belum mampu
melepaskan diri mereka dari belenggu mitos. Terobosan yang dilakukan oleh para f
ilsuf pada masa itu mungkin tak terpahami pada zamannya, namun akhirnya manusia
mengakui pentingnya peran akal dalam memahami alam semesta.
Demikian juga halnya dengan kelahiran filsafat Modern yang dirintis sejak Rena
issance dan Aufklaerung merupakan reaksi terhadap pe.mikiran filsafat Abad Pe
rtengahan yang bersifat teologis dognatis. Gereja sebagai institusi pada waktu i
tu menjadi satu satunya otoritas yang mengakui kebenaran dan keabsahan pemikira
n filsafat dan ilmu pengetahuan. Padahal perkembangan ilmu pengetahuan di luar
kontrol Gereja sudah berjalan sangat pesat, terutama bidang Astronomi. Sehingga
upaya mengontrol perkembangan ilmu pengetahuan ke dalam sekat sekat agama mengal
ami kegagalan. Terjadilah sekularlsasi ilmu , yakni pemisahan antara aktivitas
ilmiah dengan aktivitas keagamaan.
Pada abad ke 20 kelahiran postmodernisine juga sebagai reaksi terhadap pemikiran
modern yang juga telah berubah menjadi mitos baru. Filsafat modern yang lahir
sebagal reaksi terhadap sikap dogmatis Abad Pertengahan, menurut kaum postmodern
is telah terjebak dalam membangun mitos mitos baru. Mitos mltos itu lalah suatu
keyakinan bahwa dengan pemikiran filsafat, ilmu pengetahuan, dan aplikasinya da
lam teknologi, segala persoalan kemanusiaan dapat diselesaikan. Pada hal kenyata
annya banyak agenda kemanusiaan yang masih membutuhkan pemikiran baru. Di sini
lah postmodernisme "menggugat" modernism yang telah mandeg dan berubah menjadi m
itos baru.
Berdasarkan aksi dan reaksi yang muncul dalam sejarah perkembangan pemikiran
Filsafat Barat ini maka ada beberapa butir kesimpulan yang dapat ditarik sebagai
berikut:
1. Filsafat dapat dipandang sebagai sikap kritis yang mempersoalkan segala
sesuatu yang menurut kacamata awam tidak perlu dipersoalkan.
2. Filsafat memillki daya dobrak yang tinggi terhadap kemapanan yang dicipt
akan oleh manusia dalam peradaban dan kebudayaannya.
3. Filsafat bukan merupakan dogma, melainkan suatu aktivitas yang menuntut
kreativitas pikir secara terus menerus merupakan â un finished journeyâ
4. Peran filsafat yang terpenting dalam penghujung abad ke 20, menyongsong
abad 21 (millenium ke 3) adalah peran untuk mengembangkan pendekatan interdisip
liner. Filsafat seagai â ibiâ ilmu pengetahuan diharapkan kembali mengarahkan â anak-c
cunyaâ sebagai â mitra-dialogâ dalam menyelesaikan persoalan-persoalan aktual manusia
asa kini dan masa datang yang semakin kompleks ruang-lingkupnya.
KEPUSTAKAAN
Jones, W.T., 1969, A History Of Western Philosophy: The Medieval Mind, Harcourt,
brace & World, Inc., New York.
Koento WIbisono, 1983), Arti Perkernbangan Nlenurut Filsafat Positivisme Auguste
Conite, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Koento Wlblsono, 1995, Ilrnu Filsafat dan Aktualitasnya Dalam Pernbangunan Nasio
nal, Gadjah Mada University Press, Yogakarta.
Lowith, K., 1965, From Ilegel To Nietzsche: The Revolution In Nineteenth Century
Thougth, Translated frorn the German by David E. Green, Holt, Rinehart and Wins
ton, New York.
Kurzweil, E., 1980,The Age Of Strukturalism, Columbia University Press, New York
.
Lucas, H.S., 1960, The Renaissance And The Reformation, Harper & Ro%v Publishers
, New York.
Nico syukur Diesw, 1992, "Descartes, Hume, Dan Kant: 'riga Tongg.ak F safat Mode
rn", dalam : Fx. Mudji Sutrisno & F. Budi Hardiman (eds), Para Filsuf Penentu Ge
rak Zaman, Kanisius, Yogyakarta.
Nuchelsmans, G., 1984, "Flisafat Pengetahuan" , dalam Berpikir Secara Kefilsafat
an, Editor dan Alih bahasa: Soejono Soemargono, Nur Cahaya, Yogyakarta.
Patterson, C.H., 1971b, Western Philosophy: Since 1600, vol. 11, Cliff's Notes,
Inc, Nebraska.
Russell, B., 1957, History of Western Philosophy, George Allen & Unwin Ltd., Lon
don.
Scruton, R., 1986, Sejarah Singkat Filsafat Modern: Dari Descartes Sarnpai Wi
ttgenstein, Allh bahasa: Zainal Arifin Tanjung, PT Pantja Simpati, Jakarta.
Titus, et.al., 1983, Persoa la n Persoa Ian Filsafat, terjemahan: II.M. Rasjldl
, Bulan Bintang, Jakarta.
Toeti Heraty, 1984, Aku Dalain Butlaya, Pustaka Jaya, Jakarta.
van Peursen, C.A., 1980, WcgNvijs in tic Wijsbegerte, Elsevier, Ainsterdain/Brus
sel.
Wittgenstein, L., 1963, Tractatus Logico 11hilosophicus, Routledge & Kegan Pau
l LTD., London.
Wylleman, A., 1972, Encyclopedie van de Wijsl)egcerte, Acco Uitgaven, Leuven, Ne
derlands.