Anda di halaman 1dari 3

Perlukah Ibu Kota Negara dipindahkan?

jakarta sebagai ibukota negara Indonesia yang sudah berumur ratusan abad kini
sudah menjadi kota metropolitan yang memiliki peran sebagai sentra ekonomi dan
pemerintahan, bukan hanya itu saja jakarta juga menjadi central business district
(CBD) bagi kota-kota disekitarnya seperti Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Depok.
perkembangan kota ke arah metropolis juga terbilang relatif cepat dan signifikan sejak
tahun 60 an ketika perencanaan kota mulai terealisasikan dengan titik berat
pembangunan adalah membenahi sektor ekonomi, kemudian kerangka perencanaan
nasional mengenai tata ruang yang terprogram dalam periode dekade membuat
Jakarta semakin maju dan pesat hingga kini.
perubahan yang cepat dan signifikan pada satu sisi dapat mendongkrak
pertumbuhan ekonomi, baik secara makro maupun mikro, mengingat Jakarta adalah
ibu kota negara yang menjadi pintu gerbang negara. namun seiring dengan
perkembangan yang sedemikian pesat ternyata tidak dapat dihindari ekses buruk yang
timbul dari dimensi perencanaan kota seperti kemiskinan, kriminalitas, pemukiman
kumuh, dan lain sebagainya yang berpangkal kepada kehidupan sosial yang buruk.
penyebabnya dapat diketahui dari berbagai faktor karena perencanaan kota bukanlah
hal yang mudah, namun harus mengindahkan multiaspek kehidupan masyarakat.
fenomena tersebut juga pada akhirnya melanda Jakarta.
Permasalahan tersebut kini sudah sampai pada derajat kronis dan sangat
mengganggu yang pada akhirnya berbagai kalangan menyarankan agar ibukota
dipindahkan. pendapat tersebut wajar apabila melihat fenomena yang ada, namun dari
berbagai segi rasanya kurang tepat dan terkesan lari dari masalah. Perencanaan tata
ruang yang termaktub dalam desain atau draft peraturan daerah, meskipun saat ini
pemerintah provinsi sedang giat membahas draft penyesuaian tata ruang provinsi
terhadap UU No.26 Tahun 2007 tentang penataan ruang yang terbaru namun tetap
saja pelaksanaan di lapangan belum mencapai sebuah pencapaian yang optimal
berdasarkan strategi perencanaan. pemindahan ibukota dirasa sebagai hal yang terlalu
terburu-buru dan terkesan lari dari persoalan, memang tidak mudah untuk
memperbaiki sebuah kota dengan komplekstas tinggi seperti Jakarta dan tentu saja
dibutuhkan perencanaan dan inisiatif yang konkrit untuk melakukan perubahan dan
perubahan tersebut membutuhkan partisipasi dari berbagai elemen dan khususnya
pemerintah daerah.
dengan demikian membenahi ibukota dengan perencanaan yang strategis masih
dapat dilakukan daripada memindahkan ibu kota ke daerah lain, disamping itu secara
makro dan dalam hal ini adalah pemerntah pusat harus mengusahakan pemerataan
pembangunan dan optimalisasi pertumbuhan ekonomi di pusat-pusat kota yang
sekarang mulai tumbuh ke arah metropolis seperti Bandung, Medan, Surabaya,
Makassar, dan lain sebagainya. perhatian juga harus diarahkan kepada kota satelit
yang meyangga ibukota sehingga perannya dapat dioptimalkan, mengingat perannya
yang juga cukup signifikan dalam mencukupi kebutuhan penduduknya, baik itu
sebagai alternatif pemukiman atau lain sebagainya. mengenai pemerataan
pembangunan, menilik dari data statistik terbukti bahwa masih terpusatnya
pembangunan di pulau Jawa terutama di Ibu Kota yang mengakibatkan angka
urbanisasi melonjak semakin tinggi di kota-kota besar di Jawa khususnya Jakarta,
memang hidup dijakarta belum dapat dikatakan nyaman dan sejahtera, tetapi sentra
ekonomi dan pembangunan ada di kota ini yang menjadikan peluang dan kesempatan
mencari pekerjaan juga luas dibandingkan dengan daerah lainnya. data BPS tahun
2008 membuktikan bahwa PDB (pendapatan domestik bruto) provinsi DKI sebesar
16,11 persen dari PDB nasional, dan PDB pulau Jawa sebesar 57,68 persen dari total
PDB nasional.
Dari sisi regulasi pemerintah provinsi saat ini masih belum mampu
mengejawantahkan secara paripurna perda tata ruang dan masih banyak yang
menyimpang ketika melihat di lapangan. meskipun saat ini pemda DKI sedang
membahas finalisasi perda yang baru untuk menyesuaikan terhadap UU penataan
ruang yang baru, namun banyak pihak masih menyangsikan hal tersebut.
permasalahannya pun bukan sekedar kepatuhan atau law enforcement tapi juga dari
proses awal pembentukan perda yang tidak strategis serta tidak banyak melibatkan
kalangan masyarakat umum dan luas. asumsi tersebut bukan hanya dugaan semata,
kita dapat melihat beberapa kasus penggusuran dan tata guna tanah yang semrawut
seperti kasus Tanjung Priok dan kasus penggusuran lainnya, mungkin saja pemda
ingin menata kota lebih baik dengan melakukan hal tersebut tetapi tidak tepat guna
dan tidak berkelanjutan (sustainable).
kemacetan di lain pihak juga menjadi isu sentral yang menjadi mimpi buruk
bagi warga ibu kota, jumlah kendaraan dan ketersediaan jalan serta infrastruktur yang
ada sangat begitu timpang dan tidak saling mendukung, data dari Polri menunjukan
bahwa jumlah kendaraan bermotor tahun di DKI tahun 2009 mencapai 9.993.867 unit
yang belum ditambahkan dengan umlah kendaraan yang tidak terdaftar dan kendaraan
yang berasal dari luar kota. Sedangkan pertumbuhan jalan di ibukota menurut data
dan statistik dari lembaga transportasi kota kurang dari 1%, dapat dibayangkan betapa
padatnya jalan ibukota apatah lagi pada jam sibuk dengan kepadatan yang luar biasa
baik dari penduduk jakarta maupun pekerja yang berasal dari daerah atau kota sekitar.
berbagai masalah di atas tentunya berpangkal dari kebijakan publik yang tidak
berkelanjutan dan terencana dengan matang, meskipun terencana tetapi tidak
sepenuhnya berjalan. hasil yang kita dapati dan apa yang kita lihat saat ini di Jakarta
adalah buah hasil dari sistem kebijakan yang hanya bersifat temporer semata seperti
bus tranjakarta dan tree in one misalnya, kedua hal tersebut pada awalnya dianggap
sebagai solusi kemacetan ibu kota yang justru tidak berhasil sama sekali.
wacana pemindahan ibukota saat ini memang menjadi hal yang menggiurkan,
namun terkesan lari dari masalah karena jakarta masih dapat diselamatkan dengan
mulai merancang strategi perencanaan terpadu, baik itu berdasarkan UUPR (undang-
undang penataan ruang) maupun perda yang kelak akan disahkan oleh DPRD DKI.
Sudah saatnya pemerintah daerah secara khusus dan pemerintah pusat secara umum
mengambil tindakan konkrit yang lebih akurat, meningkatkan kordinasi antar instansi
dalam merumuskan solusi permasalahan secara strategis sehingga masalah perkotaan
dapat diatasi dan tidak perlu memindahkan Ibu Kota ke daerah lain.