Anda di halaman 1dari 10

May 15, '08 9:14 PM

Analisis Strategi Korporasi, Bisnis, Fungsional PT. Bakrie Telecom


for everyone
A. Strategi Korporasi
Strategi yang diterapkan Bakrie Telecom adalah strategi growth diversification.
Perkembangan produk CDMA semakin lama semakin meningkat 4 tahun
belakangan. Pada awal kuartal 2007, GSM memiliki market share 88% (turun 1%
dari tahun 2006), sedangkan CDMA 12% (naik 1% dari tahun 2006).
Pertumbuhan pasar ini disikapi Bakrie Telecom dengan memperluas jaringan
sinyal Esia hingga ke 34 kota di Indonesia. Sedangkan strategi diversifikasi
dipilih Bakrie Telecom untuk meningkatkan market share melalui inovasi produk-
produknya. Sedangkan apabila dilihat dari sistem integrasinya, Esia cenderung
bergerak pada integrasi horizontal. Hal ini dapat dilihat dari aliansi Bakrie
Telecom dengan berbagai perusahaan lain seperti produsen handphone CDMA
(Nokia, Samsung, LG, dan lain-lain) dan bank-bank yang ada di Indonesia (BII,
Bank Mandiri).

B. Strategi Bisnis

Strategi bisnis yang diterapkan Bakrie Telecom adalah fokus diferensiasi. Dalam
hal ini, Bakrie Telecom memilih untuk memfokuskan diri pada segmen pasar
CDMA. Pada segmen ini, Bakrie Telecom selalu berusaha melakukan inovasi
sehubungan dengan pelayanannya kepada masyarakat. Umumnya, inovasi itu
berbentuk penawaran program sms atau telepon dengan harga murah maupun
inovasi produk baru semacam Wifone dan Wimode.

C. Strategi Fungsional

1. R & D Strategy
Perusahaan PT. Bakerie Telecom (BTEL) sangat mengedepankan inovasi dan
pengembangan teknologi. Sehingga strategi R&D yang digunakan perusahaan
dalam mencapai keunggulan kompetitifnya adalah menjadi pioneer atau
pemimpin dalam pemilihan teknologi. Hal ini terlihat dari sisi teknologi yang
dipakai, perusahaan mempunyai keyakinan bahwa teknologi CDMA 2000 1x,
merupakan teknologi yang tepat untuk komunikasi data maupun suara yang sesuai
dengan kebutuhan masyarakat. Penggunaan teknologi CDMA 2000 1x merupakan
keputusan strategis yang diambil Perusahaan dalam mengantisipasi karakter
industri telekomunikasi dan teknologi yang telah dan akan selalu berkembang
dengan sangat cepat. Teknologi CDMA 2000 1x sendiri masih dapat
dikembangkan menjadi 3rd Generation (3G) services dengan melakukan upgrade
ke teknologi CDMA 2000 1x EV-DO. Strategi ini mampu menambah fitur produk
dan pelayanan, mengembangkan komunikasi data, yang dapat berwujud aplikasi
berbasis data (content), internet, dan aplikasi-aplikasi multimedia seperti video
conference dan video streaming yang biasanya dimiliki oleh provider GSM.

2. Marketing Strategy
Dalam strategi pemasarannya, BTEL memakai strategi perang harga diantaranya
melalui sistem talktime dalam perhitungan waktu bicara sehingga memudahkan
konsumen untuk mengetahui jatah bicaranya. Bukan menggunakan sistem
perhitungan pulsa yang sebenarnya konsumen belum tentu mengerti tarif
pulsanya. Selain itu, Bakrie Telecom juga bekerjasama dengan produsen
handphone yaitu dengan meluncurkan program berupa pembelian kartu perdana
plus handphone-nya dengan harga murah. Hal ini bertujuan untuk
mengembangkan pemasaran Esia dan juga merebut pangsa pasar CDMA yang
sudah ada dipasaran. Selain itu strategi penjualan dilakukan dengan menjual
jumlah nomor terbatas demi menjaga tingkat kualitas layanan dan memenuhi
harapan masyarakat akan jasa layanan telekomunikasi yang terjangkau dan handal
(BatamPos, 2007). Strategi ini memang tidak diterapkan oleh penyedia CDMA
lain yang senantiasa mengobral nomer-nya secara besar-besaran, tetapi juga
memiliki konsekuensi pembatasan penjualan bagi perusahaaan. Esia melakukan
strategi Penetration Pricing dengan melempar produk CDMA ke pasaran dengan
tarif yang super murah untuk bersaing dengan perusahaan provider sejenis.
Perluasan penetrasi pasar pun dilakukan dengan mengembangkan layanan dan
membuka jaringan ke beberapa wilayah seperti 27 kota di Indonesia, meliputi 17
kota di daerah Jakarta, Jawa Barat dan Banten serta 10 kota tambahan yang baru
beroperasi di tahun 2007 ini seperti Surabaya, Malang, Semarang, Solo,
Jogjakarta, Medan, Padang, Lampung dan Palembang. Dan yang terbaru adalah
pembukaan jaringan di Kalimantan Selatan pada Maret 2008. Untuk menarik
konsumen dan meningkatkan kepercayaan terhadap pelanggan loyal, Esia
melakukan strategi bundling, serta menggaet Nokia untuk menjadi mitra Bakrie
Telecom untuk menggebrak pasar dengan menggelar program paket yang diberi
nama 'Gile Beneer 2X'.

3. Finance Strategy
Dalam penggunaan keuangannya, Esia mengalokasikan ±90% untuk
pengembangan dan peningkatan kualitas jaringan dalam rangka memperluas
cakupan wilayah, menambah kapasitas dan meningkatkan kualitas kepada
pelanggan dan sekitar ±10% untuk modal kerja. Dalam melakukan ekspansinya,
BTEL selain mendapatkan dana dari penawaran saham ini juga akan mencari
pinjaman rupiah dengan asumsi interest rate sebesar 17%.

4. Human Resources Management Strategy


Dalam hal peningkatan kualitas dan produktivitas kerja, BTEL telah mendirikan
Pusat Pelatihan dan Pengembangan yang digunakan oleh karyawan sebagai
fasilitas pelatihan dan pusat pengembangan strategi dan membentuk Bakrie
Telecom Trainers Club untuk memfasilitasi penyebaran pengetahuan di dalam
organisasi sebagai strategi learning Organization. BTEL juga memperkenalkan
sistem penghargaan kepada karyawan, seperti Bakrie Telecom Mission
Impossible Award dan Bakrie Telecom Team Award, yang bertujuan untuk
memberikan penghargaan terhadap kinerja karyawan yang melampaui standar.
Untuk jenjang pendidikan, dari 927 karyawannya, komposisi terbesar adalah
lulusan S1 dan D4 sebesar 56,4% diikuti jenjang D3 sebesar 17,7%. Sedangkan
untuk jenjang usia, komposisi karyawan terbesar adalah berusia 20-30 tahun
sebesar 56,5 % dan diikuti usia 31-35 tahun sebesar 25,9 %.

Analyzed by :Nelita E., Theodoris T.K.W., Siska R., Rifki

Gina Rahmawati
Corporate Communications
PT Bakrie Telecom Tbk.
SIARAN PERS

Model Bisnis Bakrie Telecom Terbukti Mampu Tumbuh kembangkan Perusahaan


Jakarta, 16 Juni 2009

Bakrie Telecom Tahan Krisis, Jakarta 16 Juni 2009 - PT. Bakrie Telecom
Tbk, terbukti mampu melewati krisis keuangan global dengan model bisnis
berkonsep budget operator dan belanja modal serta operasional yang
efisien. Hal ini disampaikan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di
Jakarta, hari ini. Nampak jajaran Manajemen dan Komisaris saat
menyampaikan laporan kepada para pemegang saham. [photo by SYI].

Model bisnis PT Bakrie Telecom Tbk terbukti mampu meminimalisir dampak


krisis keuangan global dan bahkan membawa perusahaan tumbuh ditengah
iklim persaingan yang makin ketat di industri telekomunikasi Indonesia.
Kekuatan model bisnis tersebut bertumpu pada struktur biaya yang rendah
sesuai dengan konsep budget operator serta didukung oleh belanja modal
dan operasional yang efisien.

Pandangan positif terhadap model bisnis Bakrie Telecom mengemuka dalam


hasil pembahasan di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan hari
Selasa kemarin di Jakarta (16/9/09). Berdasarkan pandangan tersebut maka
para pemegang saham sepakat untuk mengangkat kembali seluruh jajaran
direksi maupun komisaris perusahaan untuk periode kepemimpinan
berikutnya.

Pencapaian perusahaan selama tahun 2008 dianggap memuaskan dan dapat


memenuhi target yang diharapkan sehingga pertumbuhan perusahaan terus
menunjukkan hasil positif. "Kami manfaatkan betul peluang yang ada
dengan mengadopsi model bisnis 'Budget Telecom - Low Cost Operator',
menjaga dan menekan biaya, meningkatkan pendapatan dan strategi
pemasaran yang inovatif dalam mencapai pertumbuhan yang
berkesinambungan", ujar Anindya N Bakrie, Direktur Utama PT Bakrie
Telecom tbk di sela-sela acara RUPS di Jakarta Selasa kemarin.

Hasilnya Bakrie Telecom dapat mencapai target pertumbuhan pelanggan


maupun kinerja keuangan yang menguntungkan. Pendapatan kotor perusahaan
di tahun 2008 mencapai Rp 2.805,3 miliar atau naik 67,8% dibanding
pencapaian pendapatan kotor perusahaan tahun sebelumnya sebesar Rp
1.672,0 miliar.

Kenaikan pendapatan tersebut terutama didorong oleh faktor kenaikan laju


pertumbuhan pelanggan yang mencapai 91,2%. Pada akhir tahun 2007 jumlah
pelanggan Bakrie Telecom baru mencapai 3,8 juta sedangkan pada akhir
tahun 2008 jumlah ini meningkat hingga mencapai 7,3 juta pelanggan.

Pertumbuhan pendapatan kotor perusahaan diikuti pula dengan kenaikan


pendapatan bersih. Di tahun 2008 Bakrie Telecom mencatat pendapatan
bersih sebesar Rp 2.202,3 miliar. Jumlah ini meningkat 70,7% dibanding
pencapaian pendapatan bersih perusahaan tahun 2007 sebesar Rp 1.289,9
miliar.

Sementara itu pencapaian positif diperlihatkan pula dari EBITDA


perusahaan. Jika pada tahun 2007 EBITDA perusahaan sebesar Rp 545,4
miliar maka pada tahun 2008 EBITDA perusahaan tumbuh 50,9% menjadi Rp
822,7 miliar.

Lebih lanjut Anindya menjelaskan contoh penerapan model bisnis yang


mengutamakan efisiensi operasional. Hampir seluruh menara yang dimiliki
perusahaan merupakan menara bersama. Bahkan proses penjualan 543
menaranya senilai Rp 450 Miliar pada PT Solusi Tunas Pratama telah
selesai dilaksanakan dengan mulai diterimanya pembayaran sejak tanggal 1
Juni 2009 menyusul penandatanganan penyelesaian dokumen penjualan antara
keduabelah pihak, berupa Sales & Purchase Agreement (SPA) dan Master
Lease Agreement (MLA) pada tanggal 14 Mei 2009 lalu di Jakarta.

"Pembayaran ini menandakan tuntasnya proses penjualan menara Bakrie


Telecom sekaligus terealisirnya "asset light strategy" dimana vendor
pemenang tender telah mulai melakukan pembayaran. Kini kami dapat lebih
fokus pada bisnis inti guna mendukung langkah agresif perusahaan
mengembangkan layanan telekomunikasi ke seluruh wilayah nusantara.
Selain itu kami pun kini lebih tajam dalam mengembangkan program-program
yang memiliki nilai tambah bagi pelanggan sehingga upaya peningkatan
kualitas layanan pada pelanggan juga makin intensif", ujar Anindya.

Diharapkan langkah-langkah agresif pengembangan layanan ini dapat


mendorong laju pertumbuhan pelanggan yang ditargetkan sebesar 10,5 juta
pelanggan di tahun 2009 dan 14 juta pelanggan di tahun 2010. Jumlah
pelanggan Bakrie Telecom sendiri hingga kuartal pertama 2009 telah
mencapai 8 juta pelanggan.

Dana penjualan menara akan digunakan perseroan untuk belanja modal


(capital expenditure) 2008 - 2010 yang nilai keseluruhannya mencapai US$
600 juta. Belanja modal tersebut sebagian didapatkan dari right issue
senilai Rp 3 Triliun yang telah dilakukan pada kuartal pertama 2008.
Sedangkan sisanya didapat melalui skema vendor financing, kas internal
perseroan, serta dari hasil penjualan tower ini.

***
Informasi lebih lanjut :
Divisi Corporate Communications
PT. Bakrie Telecom; Tbk.
(021) 91 10 11 12
www.bakrietelecom.com <http://www.bakrietelecom.com/>
Bakrie Telecom Terpilih sebagai Market Challenger of The Year
Kamis, 12 November 2009
Oleh : Taufik Hidayat

PT Bakrie Telecom Tbk. (BT) terpilih sebagai Market Challenger of the Year 2009 di
Frost & Sullivan Indonesia Telecom Award. Tahun lalu BT juga memperoleh
penghargaan dari lembaga yang sama untuk kategori ” Asia Pacific's Most Promising
Service Provider of the Year". Saat itu BT merupakan penerima award dari Indonesia
pertama selama sejarah Frost & Sullivan ICT Awards tingkat Asia Pasifik yang tahun
2008 lalu dilaksanakan untuk kelima kalinya di Singapura.

Tahun 2009 ini penghargaan Frost & Sullivan diberikan kepada erusahaan-perusahaan
yang mampu melampaui batasan sebagai perusahaan dengan kinerja memuaskan tapi
juga menunjukkan kontribusinya dalam perkembangan industri telekomunikasi
Indonesia.

Khusus kepada BT, predikat market challenger of the year diberikan karena memandang
BT mampu tampil memberikan kontribusi maksimal dan sangat mempengaruhi industri
telekomunikasi nasional. Kriteria penilaian meliputi kinerja dan pertumbuhan operasional
(seperti pendapatan, jumlah pelanggan, ARPU), menciptakan terobosan berarti dalam
setiap produk, layanan atau pun strategi bisnisnya, inovasi yang tiada henti dalam
menciptakan dan memperluas pasar serta telah melakukan inisitatif luar biasa yang
mempengaruhi perkembangan industri telekomunikasi.

Muhammad Buldansyah, Wakil Direktur Utama BT mengatakan penghargaan yang


kembali diraih oleh BT menunjukkan kemampuan perusahaannya untuk menciptakan
berbagai terobosan unik dan mampu mengarahkan perkembangan industri telekomunikasi
nasional. ”Inovasi yang kami kembangkan tidak hanya memberikan tarif paling murah,
tapi terus membuka produk dan layanan baru yang pertama di Indonesia bahkan di
Dunia,” ujarnya.

Sebagai contoh, pria yang akrab disapa Danny ini menunjuk pada kesuksesan Esia dalam
mengeluarkan program yang baru saja diperkenalkan Esia Suka-Suka dimana masyarakat
yang memilih sendiri nomor teleponnya, Esia Bispak: Bisa Pake Tarif Manapun,
bundling ponsel yang sesuai dengan komunitas khusus (Hape Esia Hidayah, Slank atau
pun Slim) dan tarif sms Rp 1 per karakter.

Melalui program-program tersebut BT merubah paradigma pendekatan pelanggan dengan


memberikan kebebasan pada pelanggan untuk memilih sendiri jenis layanannya, mulai
dari nomor telepon, tarif telepon hingga tarif sms-nya. ”Semangat Bakrie Telecom adalah
disruptive innovation. Semangat ini memacu kami untuk menciptakan produk-produk
unggulan yang belum pernah ada sebelumnya. Disamping itu kami memiliki pula
semangat Faster, Better & Cheaper sehingga mendorong kami
bertindak efisien dan efektif”, ujarnya menambahkan.
Danny berharap penghargaan kedua kalinya dari Frost & Sullivan akan semakin memacu
BT mengeluarkan produk-produk inovatifnya. ”Kita tunggu saja inovasi berikutnya dari
Bakrie Telecom. Yang pasti terobosan inovasi di sisi komersial akan kami imbangi pula
dengan kualitas jaringan yang prima. Karena masyarakat butuh akses telekomunikasi
yang murah sekaligus berkualitas,” ujarnya.

(swa)
URL : http://www.swa.co.id/primer/pemasaran/strategi/details.php?cid=1&id=9963
13/11/2009 - 11:18

Tiga Operator Bersaing Jadi Terbaik


Budi Winoto

(ist)

INILAH.COM, Jakarta - Frost & Sullivan menganugerahi tiga operator lokal. Esia
sebagai penantang pasar, Telkomsel selular terbaik dan Indosat layanan data
mobile terbaik. Bagaimana kiprahnya?

Frost & Sullivan itu memberikan penghargaan pada operator yang mampu melampaui
batasan dari kinerja memuaskan. Peraih juga harus menunjukkan kontribusinya dalam
perkembangan industri telekomunikasi Indonesia.

Penerima penghargaan ini ditentukan berdasarkan kinerja dan performansi masing-


masing perusahaan selama periode Juli 2008 hingga Juni 2009 yang dikelompokkan
menjadi tiga kategori Vendor, Service Provider dan Best of the Best.

Penilaian itu melibatkan para pakar dan analis terkemuka di bidang telekomunikasi
diukur berdasarkan berbagai kriteria. Operator diukur berdasarkan pertumbuhan
pendapatan, pangsa pasar, inovasi produk dan layanan, solusi layanan yang variatif,
pertumbuhan jumlah pelanggan, pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan (ARPU), serta
strategi bisnis dan pemasaran di masa mendatang.

Operator yang bersinar dalam Frost & Sullivan Indonesia Telecom Award itu adalah
Telkomsel dan Indosat. Sementara Bakrie Telecom juga cemerlang dengan mendapat
anugerah Market Challenger of the Year 2009.

Tahun lalu Bakrie Telecom memperoleh penghargaan dari lembaga yang sama untuk
kategori Asia Pacific Most Promising Service Provider of the Year. Saat itu Bakrie
Telecom merupakan penerima award dari Indonesia pertama selama sejarah Frost &
Sullivan ICT Awards tingkat Asia Pasifik.

Khusus kepada Bakrie Telecom, predikat Market Challenger of The Year diberikan
karena lembaga konsultan internasional ini memandang Bakrie Telecom mampu tampil
memberikan kontribusi maksimal dan sangat mempengaruhi industri telekomunikasi
nasional.
Sementara Telkomsel kembali mendapat penghargaan Mobile Service Provider of the
Year. Partner & Managing Director Frost & Sullivan Asia Pasific Manoj Menon menilai
Telkomsel secara nyata berhasil menunjukkan performa gemilang dalam setahun terakhir
melalui layanan mobile lifestyle yang ditawarkan.

“Hal ini tergambar dari tingginya pertumbuhan jumlah pelanggan yang juga diimbangi
tingginya pertumbuhan pendapatan. Telkomsel juga terbukti mampu menciptakan
berbagai inovasi produk dan layanan melalui strategi pemasaran yang selalu disesuaikan
dengan kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang.”

Penghargaan Mobile Service Provider of the Year itu merupakan penghargaan kedua
yang diperoleh Telkomsel pada ajang Indonesia Telecoms Award setelah pada tahun lalu
berhasil meraih penghargaan Mobile Data Service Provider of the Year.

Sementara Indosat meraih penghargaan Frost & Sullivan Telecoms Awards untuk
kategori Mobile Data Service Provider of The Year. Penghargaan ini merupakan yang
kedua kalinya setelah sebelumnya pada 2008 Indosat menerima penghargaan ini untuk
kategori Broadband Service Provider of The Year.

“Penghargaan ini merupakan wujud pengakuan dunia industri terhadap kepeloporan


Indosat sebagai penyedia layanan wireless broadband dengan berbagai inovasi sehingga
secara konsisten memberikan nilai lebih dalam rangka meningkatkan kualitas layanan
kepada pelanggan,” kata Guntur S Siboro, Chief Marketing Officer Indosat.

Sebagai operator dengan akses terbatas, Bakrie Telecom sangat fenomenal. Bagaimana
operator ini meraih penghargaan itu? Wakil Dirut Bakrie Telecom M Danny Buldansyah
menilai penghargaan itu kembali diraih karena kemampuan menciptakan berbagai
terobosan unik dan mengarahkan perkembangan industri telekomunikasi nasional.

”Inovasi yang kami kembangkan tidak hanya memberikan tarif paling murah, tapi terus
membuka produk dan layanan baru yang pertama di Indonesia bahkan di dunia,” katanya.

Ia mencontohkan kesuksesan Esia saat mengeluarkan program ‘Esia Suka-Suka’ di mana


masyarakat bisa memilih sendiri nomor teleponnya. Selain itu juga ‘Esia Bispak: Bisa
Pake Tarif Manapun’, bundling ponsel yang sesuai dengan komunitas khusus dengan
‘Hape Esia Hidayah’, ‘Slank dan Slim’ serta tarif SMS Rp 1 per karakter.

Melalui program-program tersebut Bakrie Telecom mengubah paradigma pendekatan


pelanggan dengan memberikan kebebasan untuk memilih sendiri jenis layanannya, mulai
dari nomor telepon, tarif telepon hingga tarif SMS.

”Semangat Bakrie Telecom adalah disruptive innovation. Semangat ini memacu kami
untuk menciptakan produk-produk unggulan yang belum pernah ada sebelumnya.
Disamping itu kami memiliki pula semangat Faster, Better & Cheaper sehingga
mendorong kami bertindak efisien dan efektif,” imbuhnya. [mdr]