P. 1
Perjuangan di Iliomar - The Struggle in Iliomar

Perjuangan di Iliomar - The Struggle in Iliomar

5.0

|Views: 4,100|Likes:
Dipublikasikan oleh Ernest Patrick Chamberlain
The Struggle in Iliomar: Resistance in rural East Timor (Perjuangan di Iliomar: Perlawanan di pedesaan di Timor-Leste). Based on field research in Iliomar in 2001 and 2002, the English-language "The Struggle in Iliomar" was published in 2003 (40,000 words) and related the Resistance struggle against the Indonesian occupation in Iliomar and, more broadly, in the eastern districts. That edition was referenced in CAVR's Chega! Final Report. At the request of Timorese friends, this Bahasa Indonesia edition - ie "Perjuangan di Iliomar", was published in 2004, and I gratefully acknowledge the assistance of Nug Katjasungkana with the Bahasa translation. Subsequently, following further field research, revised and expanded English-language editions of "The Struggle" were published in 2004 and 2008 (about 124,000 words). A revised English-language edition is planned for late-2010 that will incorporate further Resistance-era material and also Japanese WWII documents related to Iliomar. Regrettably, during the "uploading" to Scribd of "Perjuangan", the front cover has been somewhat distorted and the section breaks for page numbers and footnote numbering sequence have not "taken".
The Struggle in Iliomar: Resistance in rural East Timor (Perjuangan di Iliomar: Perlawanan di pedesaan di Timor-Leste). Based on field research in Iliomar in 2001 and 2002, the English-language "The Struggle in Iliomar" was published in 2003 (40,000 words) and related the Resistance struggle against the Indonesian occupation in Iliomar and, more broadly, in the eastern districts. That edition was referenced in CAVR's Chega! Final Report. At the request of Timorese friends, this Bahasa Indonesia edition - ie "Perjuangan di Iliomar", was published in 2004, and I gratefully acknowledge the assistance of Nug Katjasungkana with the Bahasa translation. Subsequently, following further field research, revised and expanded English-language editions of "The Struggle" were published in 2004 and 2008 (about 124,000 words). A revised English-language edition is planned for late-2010 that will incorporate further Resistance-era material and also Japanese WWII documents related to Iliomar. Regrettably, during the "uploading" to Scribd of "Perjuangan", the front cover has been somewhat distorted and the section breaks for page numbers and footnote numbering sequence have not "taken".

More info:

Published by: Ernest Patrick Chamberlain on Aug 07, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2013

Perjuangan di Iliomar

Perlawanan di Pedesaan di Timor-Leste Subdistrik
Iliomar

Ernest Chamberlain - 2004

Kata Pengantar
Lebih dari 400 orang Iliomar mati karena kekerasan atau hilang dalam 24 tahun pendudukan Indonesia – mereka adalah para pejuang Perlawanan, anggota-anggota dan pendukung-pendukung klandestin, serta penduduk desa, yang merupakan hampir 10 persen dari penduduk dewasa di Subdistrik yang terpencil ini. Sampai 100 tentara dan paramiliter Indonesia juga mati dalam bentrokan-bentrokan bersenjata di Iliomar. Kerusakan barang juga besar, World Food Program memperkirakan bahwa 90-95 persen infrastruktur Iliomar – gedung-gedung dan prasarana umum – dihancurkan oleh pasukan keamanan Indonesia ketika mereka pergi pada bulan September 1999. Monografi ini berusaha mengungkapkan perjuangan rakyat Iliomar melawan kekuasaan Indonesia dalam kurun waktu 1978-1999. Untuk latar belakang, secara ringkas diuraikan zaman Portugis – demikian pula peristiwa-peristiwa penting yang berpengaruh pada gerakan Perlawanan yang terjadi di luar Subdistrik Iliomar. Monografi ini ditutup dengan proses kemerdekaan 20012002 yang dijalankan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya menjadi seorang Sukarelawan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Volunteer - UNV) di Timor-Leste, dalam beberapa penugasan, mulai pertengahan 1999 sampai dengan pertengahan 2002 – terutama di Iliomar. Dalam diskusi-diskusi dengan penduduk desa Iliomar dan bekas kader Perlawanan – “Klandestin” dan Falintil – saya menjadi sadar tentang berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan terhadap penduduk Iliomar selama pendudukan Indonesia. Saya juga mewawancarai sejumlah orang Timor-Leste yang menjadi pegawai dalam pemerintahan Indonesia dan menjadi bagian dari unsur paramiliter ABRI/TNI. Sebelumnya tidak ada sejarah yang tertulis mengenai periode ini di Iliomar – Perlawanan menyimpan sangat sedikit laporan tertulis, dan rekaman pemerintah lokal hampir sepenuhnya dihancurkan pada waktu kepergian Indonesia dan kekerasan September 1999. Karena itu, peristiwa-peristiwa di Iliomar yang diuraikan dalam monografi ini terutama didasarkan pada sekitar 120 wawancara yang dilakukan di Iliomar dan Los Palos tahun 2001 dan 2002. Hampir semua wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia – dengan sejumlah kecil dilakukan dalam bahasa Tetun dan Makalero yang memerlukan penerjemah lokal. Sementara sumbangan penting semua orang yang diwawancarai diakui, rincian keterangan pribadi mereka tidak diungkapkan dalam monografi ini – tetapi dicatat secara terpisah. Pada bulan November 2002 di Iliomar, rancangan monografi ini dikemukakan kepada satu kelompok fokus yang terdiri dari orang-orang terkemuka Iliomar. Para pembaca mungkin mendapati bahwa monografi ini agak bersifat esoterik [hanya dipahami orang-orang tertentu saja] karena liputannya hanya pada satu dari 65 Subdistrik sekarang ini di Timor-Leste/Timor Lorosae. Tetapi penduduk Iliomar sangat ingin perjuangan mereka dicatat dan, yang penting, sangat ingin mengingat orang-orang yang mati dibunuh dan hilang. Monografi ini mungkin juga berguna sebagai latar belakang ringkas untuk badan-badan perencanaan rekonstruksi, rehabilitasi atau bantuan pembangunan di Iliomar. Ernie Chamberlain Iliomar November 2002

Diterbitkan di Australia tahun 2004 oleh Ernest Chamberlain, Point Lonsdale VIC 3225. Hak cipta © Ernest Chamberlain 2004 chamber@pipeline.com.au Perjuangan di Iliomar – Perlawanan di Pedesaan Timor-Leste – oleh Ernest Chamberlain Terjemahan dikerjakan oleh: Nug Katjasungkana (FORTILOS) Penyunting: Ernest Chamberlain [ versi asli berbahasa Inggris: The Struggle in Iliomar: Resistance in rural East Timor diterbitkan di Australia tahun 2003, katalogisasi ISBN 0 9750350 0 2] Monografi ini memiliki hak cipta. Selain penggunaan yang layak untuk keperluan belajar, penelitian, kritik atau tinjauan yang diperbolehkan Undang-Undang Hak Cipta, tidak ada bagian darinya yang boleh direproduksi dengan proses apa saja, disimpan dalam sistem temu-kembali, atau ditransmisikan dalam bentuk apa saja atau cara apa saja, elektronik, fotocopy mekanis atau lainnya, tanpa izin tertulis sebelumnya dari penulis. Permintaan harus disampaikan kepada penerbit.

National Library of Australia Cataloguing-in-Publication Entry Chamberlain, Ernest, 1944-. [The Struggle in Iliomar. Indonesian] Perjuangan di Iliomar: Perlawanan di Pedesaan Timor-Leste. ISBN 0 9750350 1 0 1. Iliomar (East Timor) – Politics and government – 20th century. 2. Iliomar (East Timor) – History – Autonomy and independence movements. I. Title. 959.8703 Foto: halaman muka – patroli gerilyawan Falintil di daerah Iliomar, April 1994 (kanan – Lere Anan Timor).

Daftar Isi
Kata Pengantar Iliomar – Sebuah Profil Kekuasaan Portugis Invasi dan Pendudukan Indonesia Pembunuhan “Pembersihan Muapepe” 1976 Pengepungan dan Pemusnahan oleh ABRI 1977-1978 Pengepungan di Matebean Kembali ke Iliomar Kerugian Fretilin dan Falintil Pembunuhan “Klandestin” di Iliomar Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), dan Ratih Fretilin Diorganisasikan Kembali – CRNN Pandangan ABRI tentang Perlawanan: 1981-1982 Pembuangan ke Atauro dan Aileu “Operasi Keamanan” dan Koramil 03 Keluarga Berencana Gencatan Senjata – 1983 Pembunuhan “Hansip” Pemerintahan Indonesia Dikonsolidasikan 1985 – Falintil Menyerang Iliomar Penyerangan Falintil di Mata Air Ossohira – 21 Desember 1986 Memperluas Dukungan Perlawanan – Pembentukan CNRM Awal 1990-an: Perluasan Perlawanan dan “Militerisasi” 1 5 11 12 13 14 17 18 20 21 21 22 23 24 25 26 29 31 32 33 35 36

5

Merosotnya Perjuangan Bersenjata dan Pertumbuhan “Klandestin” Organisasi Perlawanan: Bersenjata dan “Klandestin” Pemilihan Umum 1997, CNRT Terbentuk, Pemilihan Umum 1998 Kekerasan dan Penganiayaan Berlanjut Milisi Agama dan Gereja di Iliomar Pertumbuhan Pesat Falintil: 1998-1999 1999 – Pilihan dan Akibatnya di Iliomar Kekerasan dan Penghancuran di Iliomar – September 1999 2000 – Rekonstruksi dan Rehabilitasi Dimulai 2001 – “Timorisasi” dan Pemilihan Umum Dewan Konstituante 30 Agustus 2002 – Pemilihan Umum Presiden dan Kemerdekaan Rekonsiliasi dan Pemulihan “Melawan adalah Menang !” Lampiran: A. Peta (tidak di cantumkan di versi Scribd):

39 42 45 46 46 48 49 50 56 58 59 62 63 64

Distrito de Lautem; Lautem – Bagan Waktu dan Jarak; Lautem – Batas Desa; Iliomar (Peta No. 2507-41) 1:25.000.

B. Iliomar: Statistik dan Catatan tentang Administrasi C. Pasukan Keamanan Indonesia dan Unsur Pro-Integrasi di Los Palos dan Iliomar D. Klandestin di Iliomar – 1997 (Daftar ABRI) E. Iliomar – Ringkasan Korban Yang Diketahui 1975-1999 Kepustakaan (di dalam versi asli berbahasa Inggris saja)

Iliomar – Sebuah Profil
Iliomar,1 salah satu dari 65 subdistrik Timor-Leste, terletak di bagian tenggara pulau ini – sekitar 46 km melalui jalan dari ibu kota Distrik Lautem, Los Palos (juga ditulis “Lospalos”) – yang berjarak sekitar 215 km dengan jalan di sebelah timur kota Dili.2

Dengan wilayah seluas sekitar 292,3 kilometer persegi, Iliomar di sebelah timur berbatasan dengan Subdistrik Los Palos, di utara dengan Subdistrik Luro, di barat laut Subdistrik Baguia dari Distrik Baucau, di barat dengan Subdistrik Uato-Carabau (juga “Watu Carbau”) dari Distrik Viqueque, dan di selatan dengan Laut Timor – dengan garis pantai sepanjang 28,33 km. Iliomar sangat berhutan-hutan dan bergunung-gunung – dengan ciri utama membentang sepanjang jalan utama ke Los Palos yaitu Gunung Acadiroloho (728 m), Gunung Naunili (876 m), Gunung Punaramato (861m), dan Gunung Darabu (638 m). Sungai-sungai di Subdistrik ini mengalir ke selatan masuk Laut Timor – dari timur ke barat: Sungai Namaluto, Sungai Veira, Sungai Miaira, Sungai Massoco, Sungai Lihulo (dengan anak sungai Paifakaver dan Tahmatu), Sungai Cocolai, dan Sungai Irabere (yang membatasi dengan Distrik Viqueque dan satu-satunya yang mengalir terus tanpa henti). Buaya muara sungai (crocodylus porosus) bisa ditemui di muara sungai-sungai tersebut, terutama di barat – tetapi binatang ini dianggap “suci” dan tidak diburu. Binatang utama yang lain adalah rusa (cervus timorensis), babi hutan, monyet, kuskus yang bentuknya seperti tupai (phalanger), musang kelapa (paradoxurus hermaphroditus), dan kelelewar – semuanya diburu.3 Pantai bagian selatan Timor-Leste secara umum digolongkan sebagai wilayah agroklimatik
1 “Iliomar” berarti “rumah dari batu” dalam bahasa Makalero – satu batu karang besar di Gunung Iliomar bentuknya seperti sebuah rumah tradisional gaya Dagada. 2 Lihat peta pada Lampiran A. 3 Untuk rincian teknis tentang geologi, lingkungan, penduduk, dan sumber alam, lihat K.A. Monk, The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku, Periplus Edition (HK) Ltd., Singapore, 1997.

7 “Udic,” yaitu basah terus-menerus selama empat bulan setiap tahun. Di Distrik Lautem, iklimnya panas dan lembab, dengan suhu harian rata-rata 24-30° Celsius. Ada dua musim hujan: April-Juni dan November-Januari – dengan tingkat curah hujan tahunan sekitar 1.500 mm. Iliomar terletak dalam distrik Timor-Leste yang paling dijangkiti malaria, yaitu Distrik Lautem, dan demam berdarah serta kolera juga merupakan penyakit yang umum. Hampir seluruh penduduk Iliomar yang sekitar 7.074 (2003)4 tinggal di enam desa (“suco”) di Subdistrik ini: Iliomar I, Iliomar II (Iradarate), Tirilolo, Cainliu, Fuat, dan Ailebere. Desa-desa ini terdiri dari 25 kampung (atau “aldeia”) – lihat Lampiran B untuk daftar perbandingan istilahistilah administratif, Survey of Sucos in Timor Lorosae,5 angka-angka penduduk yang rinci, dan data statistik lainnya. Penduduknya bernenek-moyang Malayu-Melanesia, dan bahasa asli mereka, Makalero, suatu bahasa Trans-New Guinea/Papua, khas Iliomar.6 Bahasa Fataluku dominan di Subdistrik Los Palos yang bersebelahan; Makassae (yang ada kemiripannya dengan Makalero) digunakan di Subdistrik Luro di utara; dan Naueti (dari kelompok bahasa Kawaimina) di bagian tenggara Viqueque sampai barat. Hubungan antara orang Makalero dengan Fataluku kadang-kadang tegang karena orang Makalero menganggap mereka didiskriminasikan oleh orang Fataluku yang jumlahnya lebih banyak yang menduduki wilayah ibu kota Distrik, Los Palos, dan mendominasi administrasi publik lokal. Hubungan dengan orang Makassae lebih bersahabat. Secara etnis dan budaya, penduduk Iliomar sangat homogen – pada pendaftaran pemilihan umum tahun 2001, sangat sedikit orang dewasa yang tercatat dilahirkan di luar Distrik Lautem, dan hanya satu orang pemilih yang dilahirkan di luar Timor-Leste.7 Masyarakat Iliomar, meskipun “dimodernkan” pada zaman Portugis dan Indonesia, masih mempertahankan hubungan sosial tradisional yang penting, yaitu dua garis keturunan “raja”; seorang pemimpin adat yang menyelesaikan sengketa (tahun 2003, kepala desa Iliomar II, Filipe
4 Tahun 2002, Penduduk Timor Leste diperkirakan 820.000 – 76 persen tinggal di desa. Lihat East Timor, State of the Nation Report, April 2002, halaman 13. 5 Survey of Sucos in Timor Lorosae (SSTL) diselenggarakan pada awal 2001 oleh ETTA (East Timor Transitional Authority), Bank Pembangunan Asia (ADB), Bank Dunia, dan Program Pembangunan PBB (UNDP). Untuk rincian menyeluruh tentang segi-segi fisik dan kependudukan Timor-Leste lihat pula J. Pedersen dan M. Arnberg (penyunting), Social and Economic Conditions in East Timor, ICRP, Columbia University/Fafo Institute, New York/Oslo, 1 November 1999 (http://www.sipa.columbia.edu/ICRP/easttimor.html). 6 Tentang bahasa bacalah G. Hull, “The Languages of East Timor 1772-1997 – A Literature Review” dalam G. Hull dan L. Eccles (penyunting), Studies in the Languages and Cultures of East Timor, Volume I (University of Western Sydney, Macarthur, 1998), halaman 4 menggolongkan Makalero sebagai satu dialek dalam bahasa Makassae; dan J. Valentim, “Fataluku Language in Lautem,” Hakerek Kona Ba Timor Lorosae (Timor Lorosae-Nippon Culture Centre, Dili, 15 Agustus 2001). Sekitar 80 persen dari penduduk Iliomar bisa berbahasa Tetun, sekitar 65 persen bisa berbicara Bahasa Indonesia, dan kurang dari 5 persen bisa berbicara Portugis (tetapi jumlahnya semakin meningkat) – perkiraan penulis 2002. Konstitusi Timor-Leste (2002) menyebutkan Bahasa Tetum dan Bahasa Portugis “adalah bahasa-bahasa resmi” (Pasal 13) di RDTL dan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggeris “merupakan bahasa-bahasa kerja selama dianggap masih perlu” (Pasal 159). 7 Menurut dokumen-dokumen Indonesia, tidak ada transmigran di Distrik Lautem. Lihat 20 Tahun Membangun Timor TImur, 1996, halaman 284-285. Akan tetapi, sebuah laporan pada bulan November 1997 (Suseno, Situasi dan Kondisi: Daerah Pos Desa Iliomar [JUATA], Iliomar, November 1997, halaman 1) mencatat bahwa penduduk Iliomar mencakup “pendatang” – “orang Bugis, Jawa, dan Bali,” kemungkinan migran “spontan.” Untuk pembahasan tentang transmigrasi ke Timor-Leste lihat G. J. Aditjondro, “Correcting Alatas’s Inaccuracies About Transmigration in East Timor”, Murdoch, 4 Oktober 1995; G. J. Aditjondro, “Migrations, Freedom Fighters and Military Instigators: A Case Study on Migrants and Resistance in East Timor”, Newcastle, November 1996; dan G. J. Aditjondro, Menyongsong Matahari Terbit di Puncak Ramelau (Yayasan HAK dan FORTILOS, Jakarta, 2000), halaman 57-74. Seorang “pendatang” yang tercatat dalam proses pendaftaran pemilihan umum 2001 adalah seorang laki-laki kelahiran Roti (Indonesia) yang menikah dengan seorang perempuan setempat.

Pinto); dan hubungan klen dan kekerabatan sangat kuat – dari 34 klen di Subdistrik ini, yang paling kuat dan paling berpengaruh adalah Uae-Falun, Iliomar I, Iliomar II, dan Lorasa. Masyarakat Makalero adalah patriarkal, dengan emas kawin (“barlaque”) dibayarkan kepada keluarga pengantin perempuan. Di kota Los Palos, beberapa keluarga Makalero tinggal dalam kelompok-kelompok di dua kampung Natura dan Sawarika, membentuk komunitas Makalero yang kecil. Di Dili, banyak pemuda Iliomar yang belajar di sekolah menengah dan universitas tinggal di satu rumah besar (sebagai losmen) di Jalan Katedral, Vila Verde. Pendidikan di Subdistrik ini terdiri dari satu Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) di dalam Iliomar Kota8 dengan sekitar 240 pelajar (2002); dan tujuh sekolah dasar (Iliomar I – 375 pelajar, Tirilolo – 325, Cainliu – 183, Iradate – 202, Caidabu – 140, Bubutau – 35, dan Larimi – 83) dengan jumlah keseluruhan pelajar sekitar 1.350. Hampir seluruh penduduk hidup dalam pertanian subsistensi [memenuhi kebutuhan sendiri] – menanam padi, jagung, dan sayur-mayur. Iliomar punya perkebunan kelapa yang luas, dan kopra adalah tanaman dagangan yang penting,9 tetapi belum dipulihkan kembali setelah terjadinya kekerasan dan penghancuran September 1999. Hanya 526,5 hektar tanah subur yang ditanami (2002), dan masih luas tanah pertanian yang belum ditanami. Padi ditanam di bulan Januari dan dipanen bulan April/Mei; dan di pantai bagian selatan di Irabere bisa dilakukan penanaman kedua – ditanam pada bulan April/Mei untuk dipanen pada bulan Agustus/September. Jagung ditanam bulan Januari untuk dipanen bulan April, dan bulan Juni untuk dipanen bulan Agustus. Tikus adalah hama tanaman yang utama untuk jagung dan padi, dan bulan Juni kumbang (oryctos rhinoserosus) bisa menyerang tanaman-tanaman muda kelapa. Tanaman lain yang ditanam mencakup kemiri,10 suatu bibit minyak dari pohon. Meskipun garis pantainya panjang, mengambil ikan sangat jarang dilakukan karena besarnya gelombang laut yang menghantam karang di dekat pantai.11 Binatang ternak mencakup kerbau, sapi – terutama sapi Bali (bos javanicus) yang mirip antelop yang berasal dari banteng liar (bos sundaicus), kuda – pony Timor, babi, dan ayam. Kerbau biasanya tidak dipelihara di dalam desa, tetapi di hutan dan wilayah pinggiran desa diurus oleh gembala. Kaum perempuan menenun kain tradisional – “tais” – yang dikenakan sebagai rok, gaun, dan mantel. Hampir semua laki-laki membawa parang – “katana”, dan hiburan utama untuk laki-laki adalah sabung ayam yang pertandingan utamanya dilakukan pada hari Kamis dan Minggu sore, yang menarik penonton sangat banyak dan melibatkan judi yang bersemangat. Perempuan tua mengunyah sirih. Tuak buatan setempat disajikan pada peristiwa sosial seperti pernikahan dan perkabungan, tetapi mabuk di muka umum sangat jarang terjadi. Walaupun ada sedikit kejahatan, kekerasan rumahtangga terhadap perempuan masih merupakan persoalan.12 Sepak bola, bola
8 “Iliomar Kota” atau “Kecamatan Iliomar” adalah istilah yang umum digunakan untuk wilayah kantor administrasi Subdistrik Iliomar dan wilayah desa-desa sekitarnya Iliomar I, Fuat, dan Ailebere. 9 Produksi kelapa tumbuh secara berarti di Timor-Leste dari 19.009 hektar produksi pada 1977 menjadi 48.203 hektar tahun 1983. C. Budiardjo dan Liem Soei Liong, The War Against East Timor (Zed Books, London, 1984), halaman 107. Tetapi, tahun 1994 hanya 47.780 hektar yang ditanami, memuncak menjadi 55.092 tahun 1992. Statistik pertanian Iliomar ada pada Lampiran B. 10 Minyak dari kemiri – aleurites moluccana, digunakan sebagai bumbu masak, dan untuk sabun, lilin, lampu, dan sebagai bahan untuk shampoo dan kosmetik lainnya. 11 Laut Timor di lepas pantai selatan disebut “Taci Mane” – dalam bahasa Tetun artinya “laut laki-laki,” sementara perairan lebih tenang di pantai bagian utara disebut “Taci Feto,” yaitu “laut perempuan.” 12 Sengketa tentang tanah bukan tidak umum terjadi. Pada malam tanggal 30 Maret 2002, sebuah kotak penyimpanan uang (berisi sekitar USD 13.000 untuk upah kerja pembuatan jalan CEP) dicuri dari kantor polisi Subdistrik – kotak ini ditemukan kembali, rusak tetapi tidak terbuka, di Bukit Hilomar, 1,5 km di sebelah barat desa Ailebere tanggal 31 Maret.

9 volley, dan bola basket sangat diminati pemuda – lapangan basket dibangun di Iliomar Kota pada awal 2002. Anjing dipelihara hampir semua rumahtangga, dan sebagian digunakan untuk berburu. Kucing rumah jarang dan lebih dihargai. Kebanyakan rumah di desa atapnya bergaya “Amarasi”13, tetapi semakin banyak rumah beratap seng di wilayah Iliomar Kota. Sangat sedikit orang desa yang sekarang tinggal di rumah “panggung” tradisional (“uma Lautem/Dagada”), tetapi beberapa bisa dijumpai – termasuk rumah-rumah “suci” (“uma lulik”), kebanyakan terletak di dekat balai pertemuan desa atau kampung (“uma laku”/”balai kampung”). Pasar Subdistrik buka pada hari Kamis dan Minggu pagi di Iliomar Kota berpusat pada bangunan pasar terbuka. Barang-barang utama yang dijual adalah sayur-mayur – misalnya jagung, ubi kayu, ubi jalar; buah-buahan; pinang; tembakau; dan “paun” (roti tawar buatan yang dibuat oleh penduduk setempat). Di Iliomar ada satu toko (di Iliomar Kota) dan beberapa kios yang menjual berbagai macam barang kebutuhan pokok dan bahan makanan pokok. Sebelum dihancurkan pada tahun 1999, sebuah KUD (Koperasi Unit Desa) dan Toko Cina (yang juga mengelola perdagangan kopra14) adalah kegiatan komersial yang utama di Iliomar. Jalan sepanjang 46 km Los Palos-Iliomar diaspal pada tahun 1985-1986, tetapi mulai rusak pada awal dasawarsa 1990-an. Pada akhir tahun 2000 dan pertengahan 2001, hujan lebat menghancurkan bagian-bagian yang luas jalan ini, dan selama beberapa bulan tidak bisa dilalui kendaraan.15 Hujan ini juga menghancurkan dua jembatan besar di atas anak sungai Paifakaver dan Tahmatu dari Sungai Lihulo membuat kendaraan tidak bisa pergi ke arah barat ke Tirilolo. Jalan yang dibangun pada zaman Portugis dari Iliomar II/Iradarate ke arah timur sepanjang pantai melalui Lore ke Los Palos belum bisa dilalui untuk beberapa tahun karena hancurnya jembatanjembatan di atas sungai-sungai dan riam-riam. Jalan ke barat sepanjang pantai selatan ke UatoCarabau bisa dilalui kendaraan, tetapi dengan melintasi Sungai Lihulo (jembatan rusak pada akhir tahun 2001), Sungai Cocolai, dan Sungai Irabere (jembatan juga rusak). Sebuah bus mini (mikrolet) dan truk membawa penumpang dari/ke Los Palos beberapa kali sehari, dengan satu kali perjalanan ongkosnya USD 2 (tahun 2002) – ditambah USD 1 untuk satu karung beras 50 kg. Pada tahun 2002 ada sejumlah kecil kendaraan milik pribadi di Iliomar: hanya dua truk dan lima sepeda motor – jumlah yang sama untuk tahun 1997. Lapangan sepak bola di Iliomar Kota di sebelah Sekolah Dasar Iliomar berfungsi sebagai lapangan pendaratan helikopter – digunakan hanya oleh PBB pada pertengahan 1999-2002.16 Tahun 2002, sebuah kotak pos dipasang di kantor Subdistrik Iliomar dan satu lagi di dekat lapangan pendaratan – tetapi sampai bulan November 2003, pos belum beroperasi. Menurut Human Rights Watch,17 “tidak ada bukti tentang penggunaan ranjau anti-personil” di
13 Beratap daun kelapa dan ditutupi oleh “tali hitam” pohon sagu, dan dengan dinding “bebak” juga dari pohon sagu. Rumah-rumah itu rata-rata luasnya 10 meter persegi dengan dapur di luar. 14 Toko Cina adalah milik Fernando Lie, yang keluarganya berdagang di Iliomar sejak 1960-an. Keluarga Lie, berasal dari golongan etnis Kek (Hakka) Cina, datang di Timor-Leste dari Macau beberapa generasi yang lalu. 15 Batalyon 3 Republik Korea memperbaiki 497 m jalan di bagian utara Caidabu pada periode 24 November 2000 – 14 April 2001. Batalyon-batalyon Republik Korea yang secara berturut-turut ditugaskan di Lautem adalah Pasukan Khusus. 16 Zone pendaratan (LZ, landing zone) helikopter lain kadang-kadang digunakan oleh PBB adalah di Iliomar II (S 08.44.30 E 126.51.51). LZ lain yang terdaftar adalah di Cainliu (S 08.41.30 E 126.49.38); Boropai, di sebelah barat Tirilolo (GR BK 575 386); dan aldeia Iliomar (Iliomar I), Iradarate (GR 646 336). 17 Human Rights Watch, Landmine Monitor Report 2000 – Asia Pacific: Indonesia (www.hrw.org/reports/2000/landmines/LMWEB-18.htm), dan Landmine Monitor Report 2002: Toward a MineFree World – East Timor, New York, September 2002 (http://www.icbl.org/lm/2002/east_timor.html). Namun demikian, sejumlah bekas tentara ABRI di Panti Veteran Seroja di Bekasi (dekat Jakarta) mengaku terluka berat karena ranjau darat pada pertengahan dasawarsa 1970-an ketika bertugas dalam operasi-operasi di Liquiça dan Aileu (G. Sujayanto, “Pejuang Seroja: Bagian Suram Sejarah TimTim”, Intisari on line, November 1999

Timor-Leste, dan negeri ini dianggap “tidak dirusak” oleh ranjau darat, tetapi “ada masalah dengan bahan peledak yang belum meledak.” Namun, walaupun tidak ada laporan mengenai insiden, ada sejumlah risiko kecil bahan peledak militer yang belum meledak, misalnya mortir, roket, bom atau granat di wilayah-wilayah hutan yang terpencil Subdistrik Iliomar – termasuk barang-barang yang berasal dari Perang Dunia II.18 Dihancurkan dalam kekerasan setelah referendum pada bulan September 1999, pembangkit listrik dibangun kembali pada bulan Mei 2002 dengan dua generator diesel 50 KVA diberikan oleh badan bantuan Jepang – tetapi belum tersedia tiang atau kabel listrik untuk jaringan. Pada bulan Agustus 2003 rumahtangga Iliomar baru terjangkau listrik, tetapi hanya rencana untuk melayani Iliomar Kota. Listrik untuk kantor Subdistrik dan kepolisian di sebelahnya disediakan oleh dua generator kecil. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Subdistrik, yang dihancurkan oleh pasukan tentara Indonesia ketika mengundurkan diri pada bulan September 1999, dibangun kembali pada pertengahan 2002. Dua Puskesmas Pembantu tidak dirusak (di desa Tirilolo dan Iliomar II), tetapi tidak punya perlengkapan dan tidak ada tenaga kesehatan (akhir 2003). Sejumlah pos kesehatan desa yang kecil (Posyandu – Pos Pelayanan Terpadu) tidak aktif. Sebelum penghancuran September 1999, ada pelayanan telefon dari kantor Subdistrik ke Los Palos. Sebuah radio dan saluran telefon-radio yang dibangun dan dijalankan oleh PBB beroperasi dari kantor Subdistrik/Kepolisian pada 2001-awal 2003, dan panggilan telefon internasional bisa dilakukan – tetapi terlalu sering terputus. Beberapa antena parabola TV milik pribadi di Iliomar dihancurkan bulan September 1999 dan 10 televisi umum dipindahkan – dan, walaupun sistemnya diberikan kepada kepala-kepala desa oleh PBB pada 2001, tidak ada yang beroperasi pada bulan November 2003 karena tidak ada listrik. Penerimaan siaran radio (dari Los Palos: Radio Timor Leste 97,1 MHz FM; Radio Comunidade 100,1 MHz FM) lemah dan tidak lancar di Iliomar karena terhalang oleh medan yang bergunung-gunung. Sejak hari Kemerdekaan bulan Mei 2002, administrasi Iliomar dikepalai oleh seorang pejabat Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste (República Democrática de Timor-Leste), yaitu seorang Adminstrator Subdistrik, yang berkantor di bekas kantor Indonesia yang telah diperbaiki oleh PBB di Iliomar Kota. Kantor Kepolisian Subdistrik, yang dikelola oleh delapan petugas Kepolisian Nasional Timor-Leste, letaknya di dalam gedung pemerintah Subdistrik. Distrik Lautem adalah distrik pertama yang mengambilalih sepenuhnya tanggungjawab keamanan dan penegakan hukum dari PBB – dengan Angkatan Pertahanan Timor-Leste (F-FDTL) memegang tanggungjawab militer pada 23 Juli 2002 dan Kepolisian Nasional Timor-Leste menjalankan fungsi kepolisian penuh pada 3 April 2003.

Kekuasaan Portugis
Walaupun hanya ada sedikit rincian sejarah, suku-suku di Iliomar adalah animis ketika pertama kali berhubungan dengan Portugis pada akhir 1700-an – sekarang 99 persen dilaporkan beragama Katolik Roma. Iliomar secara tradisional diperintah oleh raja-raja setempat dan para kepala suku (“liurai”) melalui sistem suku dan klen. Di bawah kekuasaan “liurai” terdapat
[http://www.indomendia.com/intisari/1999/november/seroja.htm). 18 Tentara Interfet melaporkan menemukan “selongsong ranjau darat” di lapangan terbang militer Indonesia di Baucau pada awal Oktober 1999 (AFP, 7 Oktober 1999). Pada tahun 2000, sejumlah tentara PBB terbunuh dan terluka karena amunisi yang belum meledak di pantai Cristo Rei di pinggiran timur kota Dili, tempat bekas lapangan tembak militer. Bulan Oktober 2002, sebuah granat mortir yang belum meledak ditemukan dan dijinakkan di Distrik Viqueque.

11 “suco” yang berkuasa atas sejumlah povoação (kampung).19 Raja paling awal yang tercatat di Iliomar adalah Nokameto (juga “Nokameta”) yang, melalui serangkaian perang suku, menetapkan perbatasan Iliomar. Pertempuran dilaporkan mencakup kemenangan atas orang Naueti yang bertetangga di barat dan menetapkan perbatasan Iliomar di Sungai Irabere. Peta-peta awal Portugis memperlihatkan wilayah Iliomar meliputi kerajaan-kerajaan Matarufa dan Vessoro,20 dan orang-orang tua Iliomar menyatakan bahwa nenek-moyang mereka aslinya tinggal di wilayah “Alfanik” di pantai selatan di dekat muara Sungai Cocolai sebelum pindah ke timur laut untuk tinggal di wilayah Iliomar. Kapal-kapal Portugis dan Belanda juga dilaporkan lego jangkar di lepas pantai kawasan Irabere di Iliomar barat daya dan berdagang dengan penduduk desa – kemungkinan di wilayah perhentian kapal di Elomar, sekitar satu kilometer di sebelah timur Sungai Cocolai. Bermula pada 1700-an, benteng perdagangan kecil Portugis di dekat Lore I di pantai selatan (22 km sebelah selatan Los Palos) adalah kehadiran pertama Eropa yang diketahui di Distrik Lautem. Sebelum akhir 1880-an kehadiran permanen Portugis di luar Dili sangat sedikit, dan Portugis berkuasa melalui raja-raja utama setempat. Pada awal abad ke-18, untuk membentuk persekutuan, Portugis memberikan gelar kehormatan pangkat militer kepada para penguasa tradisional: liurai berpangkat kolonel; wakil-wakilnya, letnan kolonel; kepala-kepala desa, mayor atau kapten; dan kepala kampung diberi pangkat letnan atau letnan muda.21 Selanjutnya, pangkat brigadir juga diberikan – dengan raja Iliomar, Nokameto berpangkat brigadir.22 Di pantai utara, Portugis mulai membangun sebuah benteng di Lautem pada 1851 – mungkin untuk menanggapi sebuah serangan besar yang dilakukan oleh para bajak laut Bugis di kawasan Sama (tempat belum diketahui) di Lautem tahun 1847-1848,23 dan kemudian membangun sebuah benteng di pedalaman di Fuiloro (9 km di sebelah utara Los Palos). Di Iliomar, Portugis membangun sebuah benteng batu yang besar pada awal dasawarsa 1900-an di desa Ailebere di lereng bagian barat Bukit Iliomar, yang disebut Kota Omar (“Kota Batu” dalam Bahasa Indonesia/Makalero). Menurut orang-orang tua desa, tahun 1912 satu pasukan Portugis berusaha menindas suatu pemberontakan yang menyerbu dari Same dan Viqueque ke timur ke Iliomar menuju Los Palos, tetapi terpaksa mundur ketika dihadang oleh pasukan-pasukan Iliomar di penyeberanagan Sungai Lihulo di dekat Ossohira. Ini mungkin berhubungan dengan “Pemberontakan Besar” 1910-1912 melawan Portugis yang dipimpin oleh Dom Boaventura da Costa Soto Mayor, yang meskipun berpusat di Manufahi, menyebar ke wilayah-wilayah lain negeri ini.24
19 J. Mariano de Sousa Saldanha, The Political Economy of East Timor Development (Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1994), halaman 43-46. 20 Ibid., halaman 44. 21 Ibid., halaman 46. 22 Pada awal dasawarsa 1990-an, satu patung besar “Brigadir Jenderal Nokameto” dibangun di Kota Iliomar oleh ABRI (dari Kodam Brawijaya) – dan dinodai oleh TNI ketika mereka meninggalkan Iliomar pada awal bulan September 1999. 23 G.C. Gunn, Timor Lorosae 500 Years (Livro do Oriente, Macau, 1999), halaman 56. 24 Pemberontakan ini telah memanas dari tahun 1895 (lihat Gunn, Timor Lorosae 500 Years, halaman 94-102). Korban dalam penindasan pemberontakan ini pada 1910-1912 adalah 3.424 orang Timor-Leste terbunuh dan 12.567 terluka; 289 orang Portugis terbunuh dan 600 terluka (lihat C. Pinto dan M. Jardine, East Timor’s Unfinished Struggle: Inside the Timorese Resistance – A Testimony [South End Press, Boston, 1997], halaman 6; lihat pula J.G. Taylor, Indonesia’s Forgotten War: The Hidden History of East Timor [Pluto Press, Leichhardt, 1991], halaman 11). Dom Boaventura ditangkap di dekat Betano pada bulan Oktober 1912 (Jill Jolliffe, Cover-up: the Inside Story of the Balibo Five [Scribe Publications, 2001], halaman 42) dan dilaporkan mati di dalam penjara di Ataúro atau Aipelo (Gunn, halaman 9). Tetapi L.E. Madjiah mencatat bahwa Boaventura mati di Kefemenanu (Timor Barat) sebagai seorang warganegara Indonesia pada tahun 1969 (lihat “East Timor: Return of the Last Paradise”, The Jakarta Post, 1999 – suatu ringkasan dari pasukan Infantri Tentara Nasional Indonesia, Pusat Kesenjataan Infanteri Banding, 1999

Sebelum dasawarsa 1920-an struktur pemerintahan Portugis belum terkonsolidasi. Mulai tahun 1940, Lautem adalah salah satu dari enam “circumscrições” dengan ibukota Vila Nova Malaca yang terletak di pantai utara (sekarang desa Lautem).25 Di sebelah barat, Lautem berbatasan dengan São Domingos – yang sekarang mencakup Distrik Baucau dan Distrik Viqueque. Lautem terdiri dari “posto” (subdistrik) Laivai, Fuiloro, Lore, Uato-Carabau (sekarang menjadi bagian Distrik Viqueque), Tutuala, dan Iliomar. Distrik diperintah oleh suatu “ajunta local” yang terdiri dari seorang Administrator Portugis, seorang pengusaha Cina yang mengkoordinasikan perdagangan, dan seorang penasehat yang dipilih.26 Pada waktu itu, Posto Iliomar diperintah oleh seorang “Chefe de Posto” Portugis – meskipun kadang-kadang dengan bantuan seorang “pribumi yang bisa dipercaya” sebagai “Pembantu Chefe de Posto.”27 Para Chefe de Posto juga dibantu oleh sekitar sepuluh orang polisi setempat yang dipimpin oleh seorang “cabo” (kopral) dan juga oleh seorang pemuda sukarelawan yang tidak digaji yang disebut “moradores” – sejenis organisasi pandu desa setengah resmi. Tahun 1942-1943, pasukan komando Australia yang bertempur melawan Jepang beroperasi tidak lama di Iliomar, tetapi hampir semua kegiatan mereka terjadi di sebelah baratnya.28 Menurut sebuah laporan militer Australia, pasukan-pasukan tentara Jepang menduduki Lautem pada pertengahan bulan November 1942, membunuh Administrator Portugis dan tiga orang sipil Portugis. Tahun 1943, sebuah laporan militer Australia yang lain mencatat bahwa telefon terhubung dengan Iliomar, dan bahwa gedung-gedung Pemerintah terdiri dari kantor-kantor posto, sebuah rumah peristirahatan, rumah dokter, rumah sakit, dan toko.29 Jepang membangun sebuah lapangan terbang besar di Fuiloro dekat Posto Fuiloro, yang sekarang adalah lapangan pendaratan udara di dekat Rasa, di sebelah utara kota Los Palos. Pesawat-pesawat tempur Sekutu (Amerika Serikat, Australi, Belanda) secara teratur menyerang lapangan terbang Jepang di Fuiloro dan Lautem. Pada 17 Agustus 1942, pesawat-pesawat Jepang membom Posto Iliomar untuk mengancam administrasi Portugis – tetapi tidak ada korban. Tahun 1947, karena alasan keamanan dan strategis, pemerintah Portugis yang kembali berkuasa memindahkan ibukota Circumscriçõe Lautem dari Vila Nova Malaca (Lautem) di pantai utara ke kota Los Palos (La Pala) yang letaknya di tengah, dan enam “posto” (subdistrik)
[http://www.thejakartapost.com/special/os 3_history 2.asp]). 25 Lihat R. Lee, “Portuguese Timor on the Eve of the Pacific War”, dalam G. Hull dan L. Eccles (penyunting), Studies in the Languages and Cultures of East Timor, Jilid 2 (University of Western Sydney, Macarthur, 1999), halaman 77 mengutip Laporan C.H. Archer bertanggal 3 Mei 1941. Dili adalah suatu “concelho” dan enam circumscrições regional adalah: Fronteira, Suor, Manatuto, São Domingos, Lautem, dan Oe-cusse. 26 R. Lee, 1999, halaman 80 mengutip Laporan Archer. Archer juga mencatat bahwa di Timor Portugis jumlah orang Eropa yang menjadi pegawai negeri 11 kali lebih banyak dibandingkan di Timor Belanda. 27 Lihat Terrain Study No. 50, Area Study of Portuguese Timor, Allied Geographic Section and Directorate of Intelligence AAF SWPA, bertanggal 27 Februari 1943, halaman 67. 28 Detasemen H Pasukan Burung Pipit (Sparrow Force) dari Kompi 2/2 Berdiri Sendiri (2/2 Independent Company), dipimpin oleh Letnan C. Doig, beroperasi tidak lama di Circumscriçõe Lautem masuk dari sebuah pangkalan di Viqueque dan kemudian dari Ossu (sekitar 90 km di barat laut Iliomar). Lihat C.C.H. Wray, Timor 1942: Australian Commandos at War with the Japanese (Hutchinson, Australia, 1987), halaman 142 dan C.D. Doig, A History of the 2nd Independent Company and 2/2 Commando Squadron (Trafalgar, Victoria, Valley Word Processing Service, 1986), halaman 139-149. Setelah pengunduran diri Kompi-kompi Berdiri Sendiri (Kompi 2/2 pada Desember 1942; Kompi 2/4 pada Januari 1943), Pasukan Khusus Z (yang juga mencakup personil Portugis dan Timor) beroperasi masuk Timor Portugis bagian timur tetapi dengan keberhasilan kecil. Untuk “Operasi Adder” yang mendarat di dekat Lore (Tanjung Ile Hoi) tanggal 21 Agustus 1944 untuk melakukan pengamatan terhadap lapangan terbang Jepang di Fuiloro, ikuti G.B. Courtney, Silent Feet: The History of “Z” Special Operations 1942-1945 (McPherson’s Printing Group, Melbourne, 1993), halaman 220. 29 Lihat Terrain Study No. 50, halaman 69. Studi ini juga memuat peta-peta, sketsa-sketsa, dan foto-foto yang diambil dari udara.

13 dibentuk (yaitu subdistrik yang ada sampai sekarang, ditambah Lore – yang dibubarkan pada 1976).

Pada tahun 1959, pecah pemberontakan terhadap Portugis di Posto Ossu, Viqueque, dan Uato-Lari di Circumscriçõe Viqueque yang bertetangga, secara nominal dipimpin oleh José Manuel Duarte,30 Salem Musalam Sagran, dan Germano da Silva. Para pemberontak mengajak
30 Pemberontakan pada 4 (atau 7) sampai 14 Juni 1959 dipicu oleh 14 orang pelarian Indonesia dari pemberontakan Permesta yang gagal di Sulawesi (1958-1962), lihat J. Dunn, Timor: A People Betrayed (ABC Books, Sydney, 1966), halaman 33-34; Taylor, 1991, halaman 21-22. Bulan November 1992, José Duarte, yang saat itu menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I di Dili dan paman dari gubernur waktu itu Abílio José Osório Soares, mengatakan bahwa 545 dari pemberontak dibunuh (68 dibuang ke luar negeri), lihat A. Sampaio, “Portugal Accused of Human Rights Violations”, Publico, Sydney, 10 Januari 1996. Pada tahun 1995, Pemerintah Indonesia saat itu mengklaim bahwa pemberontakan ini merupakan usaha untuk integrasi dengan Indonesia, lihat CNRM

pemuda di Iliomar untuk ikut dalam pemberontakan, tetapi mereka dilaporkan menolak. Di antara tentara yang dikerahkan untuk menindas pemberontakan, Portugis memobilisasi beberapa ratus milisi dari wilayah Los Palos yang dalam perjalanan ke wilayah Uato-Lari berhenti di Iliomar.31 Pada awal dasawarsa 1960-an Lautem menjadi salah satu dari 13 “concelhos” Timor Portugis – istilah “circumscriçõe” tidak digunakan lagi. Pembagian administratif ini kemudian diresmikan dengan 58 “postos administrativos,” yang salah satunya adalah Iliomar, dengan Keputusan Pemerintah Portugis 43378 tanggal 22 November 1963. Pada akhir dasawarsa 1960an, hanya ada satu orang pejabat Portugis di Iliomar, yang dibantu oleh sejumlah kecil pejabat lokal, tetapi tidak ada militer tetap yang bertugas di Posto Iliomar. Militer, yang disebut “tropas” oleh orang desa Iliomar, bertempat di kota Los Palos. Di Iliomar, penguasa tradisional tetap kepala-kepala desa (saat itu lima “chefe de suco”) dan tugas administratif utama mereka adalah mendaftar penduduk (“arrolamentos”), menjalankan sensus tahunan, dan memungut pajak.32 Setelah terjadinya kup “Revolução dos Cravos” 25 April 1974 di Lisboa dan liberalisasi politik Mei 1974 di Timor Portugis, cabang-cabang partai politik dibentuk di Iliomar: UDT (União Democrática Timorense – Serikat Demokratik Timor) untuk kalangan “elit” (kepalakepala desa, para pegawai negeri) yang dipimpin oleh Anacleto Madeira (sekarang sudah meninggal); dan Fretilin (Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente) untuk “massa rakyat” yang dipimpin oleh Roberto Seixas Miranda (kemudian menjadi “Camat”, dan selanjutnya tahanan politik di Cipinang 1983-1992). Di Iliomar, terjadi diskusi politik yang bergairah di jalan-jalan, pasar, dan sekolah-sekolah – tetapi tidak terjadi kekerasan, karena kekerasan akan mendapatkan hukuman dari pejabat Pemerintah atau penguasa tradisional. Bulan Maret 1975, pemerintah Portugis menyelenggarakan serangkaian pemilihan umum di desa-desa untuk memilih kepala desa dengan tujuan “mendekolonisasikan struktur politik dan administrasi distrik dengan melibatkan rakyat dan mendidik rakyat mengenai demokrasi.”33 Menurut catatan-catatan Portugis, prakarsa untuk “Timorisasi” dan demokratisasi ini berasal dari “Komisi untuk Mempromosikan Reorganisasi Kota Lautem … golongan Fataluku, kelompok etnis yang dianggap merupakan elit oleh sebagian pihak, mengantisipasi bahwa politik Dili bisa mendominasi proses dekolonisasi.”34 Sejalan dengan itu, Concelho Lautem dipilih sebagai “proyek percontohan” oleh pemerintah Portugis, dan pemilihan-pemilihan umum lokal dilaksanakan dalam dua minggu pertama bulan Maret 1975. Seorang pejabat Kedutaan Besar Australia dari Jakarta, Allan Taylor, menyaksikan pemungutan suara di Iliomar pada 2 Maret yang dijalankan di bawah pengawasan seorang perwira politik Portugis dari Dili, Letnan Sousa
Media Release, 3 Juli 1995. 31 Gunn, 1999, halaman 145 mencatat bahwa pembentukan milisi oleh Portugis di wilayah Los Palos meningkatkan ketegangan etnis di kalangan orang Timor-Leste. Sebuah artikel Indonesia mengklaim bahwa pada 1959 “gerakan perlawanan lebih lanjut juga dilaporkan di Lospalos” (L.E. Madjiah, “East Timor: Return of the Last Paradise, 1999). 32 J. Pedersen dan M. Arneberg (penyunting), Social and Economic Conditions in East Timor, ICRP-Columbia University/Fafo Institute, New York/Oslo, 1 November 1999 (http://www.sipa.columbia.edu/ICRP/easttimor.html), halaman 116. Saldanha, 1994, halaman 65 menyebutkan bahwa pajak kepala untuk laki-laki pada masa sebelum Perang Dunia II untuk laki-laki usia di atas 15 tahun besarnya adalah 15 pataka, yang pada tahun 1975 naik menjadi 30 pataka (pataka = enam escudo). Kewajiban ini juga bisa dibayar dengan kerja wajib dalam pembangunan jalan. 33 W. Way (penyunting), Australian and the Indonesian Incorporation of Portuguese Timor, 1974-1976 (Documents on Australian Foreign Policy – Department of Foreign Affairs and Trade), Melbourne University Press, Carlton South, 2000, halaman 216-218 memuat memo A.R. Taylor tanggal 7 Maret 1975 kepada Canberra, “Portuguese Timor – Preparing for Democracy”. Lihat pula Taylor, 1991, halaman 42-43; dan J. Ramos-Horta, Funu: The Unfinished Saga of East Timor (Red Sea Press, 1987), halaman 49-50. 34 A.M. Real, “Administrative Reform (Annex 3.15 of the Governor’s Report)”, halaman 9-11 dalam Timor Newsletter, Vol. II, No. 1, September 1982.

15 Real, yang bertanggungjawab mengarahkan proses pemilihan umum.35 Wakil-wakil Fretilin dan UDT membantu proses pemilihan umum, tetapi partai yang menginginkan integrasi, Apodeti,36 sebelumnya menyatakan menolak ambil bagian. Di Iliomar, pemilihan umum dilakukan untuk memilih kepala desa Iliomar I dan Fuat, dengan Carlos Correia dan Tómas Pinto terpilih untuk menjadi kepala masing-masing desa. Ini bukanlah pemilihan umum partai dan tingkatannya lokal – dan menurut memo Allan Taylor kepada Canberra, “di Iliomar ... tidak ada pengaruh partai yang menonjol”. Ia juga mencatat: “di Iliomar tidak ada keraguan tentang kesungguh-sungguhan Portugis dalam menjalankan sistem pemilihan umum eksperimental ini. Namun satu hambatan besar untuk keberhasilannya adalah keterbelakangan penduduk, terutama tidak adanya tenaga kerja yang terampil”. Pemilihan umum selanjutnya yang lebih menyeluruh diselenggarakan bulan Juli 1975 untuk memilih kepala-kepala desa dan pejabat-pejabat kota di Distrik Lautem – dengan hasil yang “sangat seimbang” antara wakil-wakil terpilih dari calon Fretilin dan UDT, dan seorang anggota Apodeti.37 Awal Agustus di Iliomar, kepala-kepala suco dan aldeia mengadakan rapat dan memilih Komisi Pemerintahan Lokal pertama – yang terdiri dari seorang Ketua dan dua orang anggota. Menurut catatan Portugis, “upacara ini dipimpin oleh kepala Kantor Urusan Politik (Mayor Francisco Mota) yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya pada saat mengambil sumpah orang Timor pertama yang dipilih oleh rekan sebangsanya untuk menentukan nasib mereka”.38 Selanjutnya pada 10 Agustus 1975 di Los Palos, Gubernur Portugis Lemos Pires mengambil sumpah Dewan Kota (Komite Pemerintahan Regional) pertama Lautem.39 Di seluruh negeri, “pejabat-pejabat kolonial (chefes de posto dan administradores de concelho), yang bersama dengan kepala-kepala tradisional menjadi basis dukungan UDT, diberhentikan atau tersingkir dari jabatannya karena kalah dalam pemilihan umum”40. Tidak dilaporkan terjadinya kekerasan dalam pemilihan-pemilihan umum di Lautem, tetapi satu laporan menyatakan bahwa di kawasan pegunungan agaknya suara kebanyakan diberikan kepada UDT.41 Tetapi, setelah terjadinya “kup” UDT tanggal 11 Agustus 1975 dan “kontra-kup” Fretilin akhir Agustus 1975, semua pejabat UDT di Iliomar ditangkap oleh kader Fretilin setempat dan dibawa ke Los Palos untuk ditahan dan ditanyai – meskipun mereka dilaporkan tidak diperlakukan secara buruk. Setelah dua minggu, orang-orang UDT yang ditahan itu dibebaskan, tetapi hampir semuanya segera melarikan diri ke hutan. Belakangan, mereka bergabung dengan satuan-satuan Perlawanan bersenjata dan bertempur melawan militer
35 H.M. Hill, FRETILIN 1974-1978: Stirrings of Nationalism in East Timor – The Origins, Ideologies and Strategies of a Nationalist Movement (Otford Press, Sydney, 2000), halaman 102-106 menguraikan proses pemilihan umum di dua desa lain di Conselho Lautem – termasuk satu di aldeia Chau Luturo di Fuiloro yang disaksikan oleh wartawan Australia Michael Richardson. 36 Associação Popular Democrática Timorense – Perkumpulan Demokratik Rakyat Timor dibentuk pada 27 Mei 1974 dengan Arnaldo dos Reis Araújo sebagai Ketua (ia menjadi Gubernur Timor Timur pertama setelah integrasi Indonesia) dan Fernando Osório Soares sebagai Sekretaris Jenderal. 37 A.B. de Magalhaes, “A Non-Autonomous Territory Under Portuguese Administration, Culturally Different from Indonesia,” Oporto East Timor Seminar 1, 28 April 1990 (http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1992/04/05/0008.html), halaman 2. 38 A.M. Real, op. cit., halaman 11. 39 A.B. de Magalhaes, 28 April 1990, halaman 2. 40 J. Ramos-Horta, 1987, halaman 49. 41 A.M. Real mencatat bahwa di Conselho Lautem kerjasama antar partai “terbuka dan bermanfaat.” Lihat pula J.G. Taylor, 1991, halaman 42; J. Jolliffe, 2001, halaman 49. H.M. Hill, 2002, halaman 104 mengindikasikan bahwa dalam serangkaian pemilihan umum bulan Maret 1975 “90 persen liurai yang baru dipilih adalah anggota atau pendukung Fretilin.”

Indonesia.42

Invasi dan Pendudukan Indonesia
Akhir 1975, Fretilin membagi Timor-Leste ke dalam enam sektor militer, dengan sektor Concelho Lautem dipimpin oleh Adão Amaral.43 Angkatan bersenjata mereka di Concelho ini secara umum disebut “Tropas Fretilin” atau “Milisi Fretilin” – walaupun Falintil (Forças Armadas da Libertação Nacional de Timor-Leste – Angkatan Bersenjata Pembebasan Nasional Timor-Leste) telah secara resmi dibentuk pada 20 Agustus 1975.44 Pasukan mereka di Lautem dilaporkan berjumlah sekitar 150 – termasuk “milisi” dari Iliomar, dan dipimpin oleh José dos Santos dengan saudaranya, Pedro Sanches sebagai wakil komandan. Bulan September 1975, pasukan khusus45 “sukarelawan” Indonesia bersama dengan pasukan-pasukan Timor-Leste anti-Fretilin yang berada di bawah komando mereka, mulai operasi ke Timor-Leste dari Timor Barat (Operasi Flamboyan/Poinciana) menyerang dan merebut Batugade (7 Oktober), Maliana (14 Oktober), Balibo (16 Oktober), dan Atabae (26 November).46 Tanggal 7 Desember 1975, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) melancarkan Operasi Seroja dengan pasukan lintas udara dan amfibi Indonesia merebut Dili – diikuti dengan pengambilalihan Baucau pada 10/11 Desember.47 Meskipun demikian, perlawanan Falintil dan hujan lebat menghalangi kemajuan ABRI, dan operasi Indonesia baru kembali mendapatkan momentum pada pertengahan Januari 1976. Tanggal 4 Februari 1976, ABRI melancarkan serangan-serangan terhadap Concelho Lautem. Sejumlah kapal terbang Hercules (C-130) menerjunkan pasukan payung dari Batalyon Infantri
42 Andreas, seorang mantan kepala desa, menjadi seorang komandan kompi Falintil pada tahun 1987 – ia meninggal di hutan tahun 1992. 43 Sektor-sektor militer tersebut adalah Dili, Aileu, Atabae, Liquiça, Bobonaro, Manatuto, Viqueque, Baucau, dan Lautem. Lihat L.E. Madjiah, “East Timor: Indonesia’s Military Involvement”, The Jakarta Post, Jakarta 1999 – ringkasan dari pasukan Infantri Tentara Nasional Indonesia, Pusat Kesenjataan Infanteri, Bandung, 1999, halaman 6 (http://www.thejakartapost.com/special/os3_history1.asp). 44 Anggota Komite Sentral Fretilin, Rogério Tiago Lobato dipilih menjadi panglima Falintil, dengan Fernando de Almeida do Carmo sebagai wakilnya. Keduanya adalah mantan perwira rendah dalam tentara Portugis. Lobato juga menjadi Menteri Pertahanan. Lihat H.M. Hill, 2002, halaman 149-150. 45 Kopassandha: Komando Pasukan Sandhi Yudha, yang namanya diubah menjadi Kopassus pada 26 Agustus 1986. Lihat K. Colby, Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces (Equinox Publishing [Asia], Jakarta, 2003), untuk sejarah Pasukan Khusus Indonesia sampai 1993 yang berisi rincian tentang Operasi Flamboyan (halaman 199-235) dan Operasi Seroja (halaman 237-253). 46 Lihat Hendro Subroto, Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur (Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996) dan M.S. Kamah, Seroja: Pengalaman Seorang Wartawan di Medan Tempur Timor Timur (Eko’s, Palu [Sulawesi], 1997), wartawan-wartawan yang menyertai unsur Seroja ABRI. 47 L.E. Madjiah, “Indonesia’s Military Involvement”, 1999, halaman 6-7, 9-12; dan B. Adrian, “Sky Assault on Dili,” Angkasa, No. 5, Februari 1999. Lihat juga Hendro Subroto, 1996 dan K. Conboy, 2003 untuk rincian. Pimpinan Fretilin mundur ke selatan menuju Aileu, Maubisse, dan Same – Xanana Gusmão kemudian bergerak ke timur laut menuju wilayah Manatuto (X. Gusmão [penyunting S. Niner], To Resist Is To Win!: The Autobiography of Xanana Gusmão with Selected Letters and Speeches [Aurora Books, Richmond, 2000], halaman 39-41). Menurut J. Dunn, 1996, halaman 258, kekuatan Falintil terdiri dari 2.500 tentara reguler, 7.000 cadangan barisan kedua, 10.000 orang yang pernah menjalani latihan militer, dan penduduk desa yang telah mendapatkan latihan dasar sejak Oktober. Kemampuan mereka diperkuat dengan pengapalan senjata NATO yang diterima oleh Portugis awal 1975. Untuk pengambilan Baucau dan operasi Seroja awal di wilayah Baucau-Viqueque ikuti A. Ahmadi (penyunting), Feisal Tanjung: Terbaik Untuk Rakyat Terbaik Bagi ABRI (Yayasan Dharmapena Nusantara, Jakarta 1999), halaman 345-370.

17 Lintas Udara 502 ke bagian utara kota Los Palos di Rasa (juga “Raça”, tempat lapangan terbang “Fuiloro” yang dibangun Jepang di masa Perang Dunia II), dan wilayah di dekatnya, Titilari serta perempatan jalan ke Com. Pada hari yang sama, lima kapal angkatan laut Indonesia mendaratkan pasukan di pantai utara di pinggiran desa Lautem.48 Pasukan Falintil melawan kemajuan Indonesia ke arah Los Palos selama tujuh hari, yang dalam waktu itu penduduk meninggalkan kota. Hanya sejumlah kecil orang Cina pekerja toko tinggal untuk melindungi harta-benda mereka. Tetapi setelah sekitar satu minggu, penduduk kembali ke kota yang diduduki ABRI yang diadministrasi oleh Mayor Warsito, komandan Batalyon Infantri (Yonif) 502.49 Berbeda dengan pembunuhan ABRI terhadap orang Cina di Dili, penduduk Cina di Los Palos dilaporkan tidak diperlakukan dengan kejam. Di pantai selatan di bagian barat daya Iliomar, Marinir ABRI kemudian menduduki Uato-Lari (33 km di sebelah barat daya Iliomar) di Concelho Viqueque dan mengancam Uato-Carabau di perbatasan Viqueque/Iliomar (18 km di sebelah barat daya Iliomar).50 Satuan Fretilin Iliomar, berkekuatan sekitar satu kompi, bergerak ke arah Sungai Irabere untuk menghadang kemajuan ABRI ke Iliomar, tetapi tidak ada pendaratan ABRI di sana.

Pembunuhan “Pembersihan Muapepe” 1976
Dalam kurun waktu 20 Mei - 2 Juni 1976, Dewan Tertinggi Perlawanan Fretilin mengadakan rapat di Soibada,51 dan mengubah organisasi politik dan strategi militernya untuk mengutamakan perjuangan gerilya dengan wilayah negeri dibagi menjadi enam wilayah, termasuk Wilayah Timur (Sektor Ponta Leste) yang meliputi Baucau, Viqueque, dan Lautem. Tetapi, di dalam tubuh pimpinan nasional Fretilin muncul pertentangan serius tentang strategi untuk melawan Indonesia. Presiden Francisco Xavier do Amaral tidak mendukung strategi gerilya pedesaan, tetapi ia kalah suara. Sebelumnya pada awal Maret, Komite Sentral telah melakukan pembersihan terhadap unsur-unsur “reaksioner” – terutama Aquiles Freitas Soares Belo dan para pendukungnya.52 Beberapa bulan kemudian, tiga pemimpin Fretilin yang dilaporkan punya hubungan dengan Aquiles, termasuk Francisco Ruas Hornay, ditangkap di Baguia sebagai pengkhianat, dan dikembalikan ke Iliomar (melalui Uato-Carabau) untuk diadili oleh kader Fretilin lokal. Pada waktu itu Iliomar berada di luar wilayah “Kesatuan Dua” (“Unidade 2”) Fretilin/Falintil – yang meliputi Baucau bagian timur dan Viqueque dengan markas di Matebean di bawah Xanana
48 Tetapi, sebuah sumber Los Palos menyatakan bahwa serangan amfibi terhadap Lautem dimulai pada pukul 10.00 tanggal 3 Februari, diikuti dengan terjadinya serangan pasukan payung di kawasan Rasa pada pukul 04.00 tanggal 4 Februari. 49 A. Ahmadi, 1999, halaman 368. Claudio Vieira pada 1976 dijadikan Bupati Lautem. 50 Wilayah-wilayah yang dikontrol Indonesia dan pertempuran berlanjut digambarkan dalam peta “Position of Indonesian Invasion Forces” dalam Timor Information Service, No. 8, 1 Maret 1976. 51 Di kawasan pegunungan tengah antara Dili dan Baucau, sekitar 80 km di sebelah tenggara Dili (lihat Gusmão, 2000, halaman 42). Rapat ini didahului dengan sebuah pertemuan di Barique, di sebelah barat laut Viqueque, bulan April 1976 (lihat Gusmão, 2000, halaman 41). 52 Dikutuk sebagai “reacção” (reaksioner), Aquiles adalah seorang putra liurai Quelicai dan sebelumnya berdinas sebagai seorang tentara Portugis. Ia memimpin pertahanan Atabae terhadap serangan ABRI. Aquiles dieksekusi di Venilale dalam bulan Maret 1976. Dilaporkan bahwa melalui Adelino Carvalho dari Uatolari dan Fernando Sousa dari Uato-Carabau, Aquiles punya cabang-cabang sampai Iliomar. Lihat Gusmão, 2000, halaman 50; P. Gama, “Daftar Kejahatan Yg Dilakukan Fretilin 1975” dalam “Timtim Adili Pro Integrasi Salah Satunya Anggota Kopassus”, Solidaritas Tanpa Batas, 12 Juli 2001, halaman 1; dan Ramos-Horta, 1987, halaman 97.

Gusmão53 sebagai utusan politik. Iliomar agaknya dimasukkan dalam “Kesatuan 1” – yang mencakup wilayah-wilayah Luro, Lore, Moro, Tutuala, dan Los Palos dalam Concelho Lautem. Xanana tampaknya mengarahkan agar tiga orang kader Fretilin yang malang itu dikembalikan ke Iliomar tanpa dilukai.54 Di Iliomar, 12 anggota Fretilin dikutuk sebagai “reaksioner dan pengkhianat” dan ditangkap – kebanyakan dari desa Iliomar II, termasuk kepala desa Oscar Ruas Ferreira, dan kepala desa Tirilolo Manuel Sarmento. Bersama dengan tiga kader yang ditangkap di Baguia, mereka yang ditangkap di Iliomar diikat dan dibawa ke Muapepe, di sebelah utara tempat desa Fuat sebelum tahun 1978 (sekitar enam kilometer di timur laut Iliomar Kota). Di wilayah ini, pada tanggal 17 dan 23 November, mereka dieksekusi dengan parang – kecuali Manuel Sarmento yang, meskipun dalam keadaan terikat, berhasil melarikan diri.55 Tetapi, ia ditangkap lagi pada tanggal 24 November di Bukit Saelarin di dekat Bubutau dan dibunuh. Pada waktu pembunuhan itu, Lere Anan Timor56 adalah anggota Komisaris Politik Fretilin di Zona Iliomar.57

Pengepungan dan Pemusnahan oleh ABRI 1977-1978
Mendekati akhir 1976, Menteri Keuangan Fretilin, Juvenal Inácio dos Reis (nama perjuangan “Sera Key”)58 memerintahkan penduduk untuk pindah dari kota-kota dan desa-desa ke “Zona Merah” (untuk membedakan dengan “Zona Putih” yang dikuasai oleh Indonesia) yang terpencil untuk mencegah mereka menjadi penduduk dari wilayah pendudukan penguasa Indonesia. Pada waktu itu, di kawasan Lautem tentara Indonesia hanya menguasai kota Lautem, Los Palos, dan Com – dan desa-desa sepanjang jalan yang menghubungkan kota-kota tersebut. Di kawasan ini, gerakan ke Zona Merah diarahkan oleh Sekretaris Fretilin, Afonso Savio. Pada tahap pertama, penduduk kawasan Los Palos mundur ke empat “Zona”: Com, di pantai utara; Belta Tiga, di kawasan Tutuala dan Lore; Luro di barat laut; dan Iliomar. Dimulai tahun 1977, penduduk mulai bergerak ke kawasan konsentrasi Fretilin di sekitar Gunung Matebean (juga ditulis “Matebian” – Gunung Arwah) – sekitar 48 km (dalam garis lurus) di sebelah barat-utarabarat kota Los Palos. Dalam pertengahan 1977, Xanana Gusmão ditugaskan ke Kesatuan 1 sebagai utusan politik dan mendirikan markasnya di hutan sebelah tenggara Los Palos. Pada bulan September 1977 ABRI memulai penyerangan selama 18 bulan dengan operasi tahap pertama dipusatkan di
53 Jose Alexandre Gusmão – juga dikenal dengan nama Kay Rala Xanana Gusmão. Dari pertengahan 1976 sampai awal 1977, Xanana Gusmão adalah Wakil Sekretaris Zona Viqueque – yang terletak langsung di sebelah barat Iliomar – di tempat ini Gusmão yang belum berpengalaman “benar-benar sedang berusaha” (Gusmão, 2000, halaman 45). Untuk penjelasan Xanana mengenai pengambilan nama samaran “Xanana” pada awal dasawarsa 1970-an baca I. Cristalis, Bitter Dawn – East Timor, A People’s Story (Zed Books Ltd., London, 2002), halaman 110. 54 X. Gusmão, Timor-Leste: Um Povo, Uma Pátria (Edições Colibri, Lisboa, 1994), halaman 35. 55 Nama-nama orang yang mati dibunuh disebutkan dalam Lampiran E. 56 Lere Anan Timor (Tito Cristobal dos Santos dari Cainliu, Iliomar – juga dikenal dengan panggilan “Tito Ililawa”) adalah komandan Região I/Ponta Leste pada dasawarsa 1990-an dan menjadi Kepala Staf pertama Angkatan Pertahanan Timor-Leste (F-FDTL) pada bulan Februari 2001. 57 X. Gusmão, 1994, halaman 35 menyatakan secara tidak langsung bahwa Lere bertugas sebagai Sekretaris Zona Iliomar pada waktu peristiwa Muapepe. Pada pertemuan umum di Iliomar tanggal 9 November 2002, Lere menjelaskan bahwa pembunuhan-pembunuhan tersebut tidak bisa dihindarkan – mengklaim bahwa pejabat tinggi Fretilin, Sera Key dan “Fernando Cay,” mengancam bahwa Iliomar akan dihancurkan kalau pembunuhanpembunuhan tersebut tidak dilakukan. Tentang Sera Key lihat catatan nomor 58. 58 Sera Key ditangkap pada bulan Maret atau Juli 1979 di dekat Bibileu dan “hilang” (Gusmão, 2000, halaman 25).

19 wilayah bagian barat (Bobonaro, Liquiça, Suai) dan kemudian di bagian tengah, Aileu dan Same.59 Dalam periode ini, pertentangan di dalam Fretilin memuncak dengan penangkapan Presiden Xavier do Amaral karena “pengkhianatan tingkat tinggi” pada tanggal 14 September 197760 dan pembunuhan banyak pendukungnya – termasuk para pemimpin Sektor Timur Adão Amaral dan José dos Santos.61 Perjalanan rakyat yang diarahkan Fretilin ke Matebean dari kawasan Los Palos berlangsung lebih dari satu tahun karena mereka berjalan dalam kelompok-kelompok aldeia, dengan berhenti tinggal di beberapa wilayah selama beberapa bulan. Sebagian dari perjalanan ini bermula dari kawasan kota Los Palos, melalui Maupitine (11 km di sebelah utara) dan kemudian melalui Luro, ke Zona Matebean – tetapi kebanyakan gerak ini pada awalnya adalah ke selatan melalui Lore (22 km sebelah tenggara Los Palos), kemudian ke arah barat melalui Dirimuni, Caidabu, dan Luro ke Matebean. Otobiografi Xanana Gusmão mencatat bahwa ia “mengawasi perpindahan penduduk dari bagian paling timur Pulau ini sepanjang Pegununan Legumau, melalui jalan lama yang dibangun oleh Jepang dalam masa Perang Dunia II yang menghubungkan Luro dengan Baguia”.62

Pengepungan di Matebean
Bulan September 1978, ABRI memulai operasi “pengepungan dan pemusnahan” terhadap wilyah-wilayah Fretilin di sebelah tenggara Baucau – Pegunungan Matebean; dan di sebelah barat Viqueque – Lembah Natarbora. Penduduk pedesaan Iliomar (sekitar 6000 orang) adalah yang terakhir di Sektor Timur yang memulai perjalanan ke Zona Matebean (sekitar 24 km di barat laut dari Iliomar dalam garis lurus), berangkat dalam bulan Agustus 1978 – yang tetap tinggal di Iliomar hanyalah orang-orang yang sangat tua atau sakit. Oleh karena pasukan tentara penyerbu ABRI telah menduduki Baguia, penduduk Iliomar bergerak melalui Luro dan memasuki Zona antara Baguia dan Laga. Pada waktu mereka tiba pada awal September, beberapa puluh ribu penduduk pedesaan dan penduduk kota dari kabupaten Baucau, Viqueque, dan Lautem

59 C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 28-29. 60 Dalam pidato pada hari penangkapan Xavier do Amaral, Nicolau Lobato menuduh kelompok Xavier do Amaral memboikot program-program Fretilin, menyelenggarakan administrasi yang feudal, mendukung regionalisme, dan mengacaukan sector tengah yang saat itu menjadi rentan terhadap serangan ABRI (C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 65; lihat pula H.M. Hill, 2002, halaman 178-179 yang mengutip penangkapan Xavier do Amaral pada 7 September. 61 Gama, 2001, halaman 1; Gusmão, 2000, halaman 51; Gusmão, 1994, halaman 34-35 mengutip “reacção” (reaksioner) dan “traição” (pengkhianat). S. Niner, “A Long Journey of Resistance: The Origins and Struggle of the CNRT” , halaman 11-17 dalam Bulletin of Concerned Asian Scholars, Vol. 31, No. 1 dan 2 (Januari-Juni 2000) “East Timor, Indonesia and the World Community: Resistance, Repression and Responsibility” - halaman 13 mencatat bahwa pengadilan, penyiksaan, dan pembunuhan kader adalah satu “bab” … “yang sedikit dibicarakan” dalam kalangan Perlawanan. Tetapi lihat P. Gama, email 12 Juli 2001. 62 Gusmão, 2000, halaman 55. Ia juga mencatat bahwa rakyat kawasan Maupitine di bawah Mau Velis menolak mengikuti kepindahan ke timur dan memilih untuk tetap berada di zona “yang diduduki” (Gusmão, 2000, halaman 53).

telah berkonsentrasi di Zona Fretilin di Matebean, bersama dengan para pemimpin Fretilin dan beberapa ribu pejuang Falintil.63 Penduduk Iliomar tidak membangun rumah di tempat yang diberikan kepada mereka di Matebean Feto,64 tetapi tinggal di gua-gua, tempat berteduh seadanya, dan di tempat terbuka. Tempat ini menjadi sangat padat penduduk, dan hanya ada sedikit makanan atau air.65 Xanana Gusmão, Komandan Sektor Timur/Região I, menjadi “adjunto” (sekretaris) politik untuk komandan di Matebean, dengan komandan-komandan Falintil Olocasa, Kilik Wai Gai (Reinaldo Freitas Belo), dan Mauk Moruk (Paulino Gama).66 Pertahanan Zona Matebean
63 Sekitar 60.000 penduduk pedesaan awalnya berkumpul di Lembah Natarbora di bawah Vicente Sa’he (Vicente dos Reis – Menteri Perburuhan dan Kesejahteraan) dan Mau Lear (António Duarte Carvarinho – Menteri Kehakiman), dan sekitar 20.000 di Matebean di bawah Xanana Gusmão. C. Budiardjo, 1984, halaman 33. Tetapi, menurut M. Sukasah, Timor Timur: Dulu & Sekarang (Solidamor, Jakarta, 1998), halaman 15, seluruhnya 160.000 orang berkumpul di Matebean. 64 “Feto” berarti “perempuan” dalam bahasa Tetun – Matebean Feto terletak sekitar empat kilometer di sebelah barat daya dari Matebean Mane yang tingginya 2373 meter (“mane” = laki-laki). 65 Xanana Gusmão mencatat, “Saya menyesal memindahkan semua orang ke Matebian di tempat yang tidak mungkin bisa memberi makanan mereka. Matebian benar-benar penuh dan muncul persoalan-persoalan di manamana antara orang-orang yang baru tiba dengan penduduk setempat” (Gusmão, 2000, halaman 55). 66 Dalam awal dasawarsa 1980-an, Kilik dan Mauk Moruk, yang mewakili sayap Marxis-Leninis dalam Fretilin, dihabisi (lihat Paulino Gama, “The War in the Hills, 1975-85: A Fretilin Commander Remembers”, halaman 97-105 dalam Peter Carey dan G. Carter Bentley [penyunting], East Timor at the Crossroads: The Forging of a Nation [Cassell, London, 1995]). Juga lihat email Paulino Gama (Mauk Moruk) tanggal 12 Juli 2001 “Daftar Kejahatan …” yang menyebutkan eksekusi Kilik Wai Gai, Kepala Staf Falintil, di Vemasse tanggal 24 September 1984.

21 awalnya berdasarkan pertahanan statis enam area yang berisi penduduk sipil dan pasukan Falintil. Falintil diorganisasikan ke dalam satuan-satuan dengan peran dan standar yang berbeda-beda: pasukan “sektor” adalah pertahanan garis pertama, diikuti oleh pasukan “intervenção” yang lebih terlatih dan lebih lengkap senjatanya, kemudian “brigada choque” (pasukan penggempur), dan terakhir pasukan elit “vermelha” (merah) untuk melindungi pimpinan, instalasi, dan peralatan penting. Markas dan personil staf dikelompokkan dalam satuan-satuan “kapase.”67 Di Matebean, markas besar – “Comissariat” awalnya didirikan di Uada Bora – dan, setelah Uada Bora direbut ABRI, di Uai Bitai.68 Operasi pengepungan ABRI terhadap Zona Matebean mengerahkan beberapa ribu kekuatan darat, udara, dan laut. Pasukan infantri dan Marinir meluncurkan serangan-serangan darat dengan artileri, mortir, dan dukungan udara. Pesawat-pesawat terbang angkatan udara Indonesia, terutama pesawat udara OV-10F Bronco bikinan Amerika Serikat dan pesawat udara (jet) T-33 Shooting Star menggunakan kanon, senapan mesin, dan bom terhadap Fretilin dan konsentrasi penduduk sipil.69 Bom napalm dilaporkan juga digunakan oleh pesawat pembom Indonesia, dan ada tuduhan tentang penggunaan bom kimia dan biologi.70 Penduduk desa dan Fretilin menyebut pesawat OV-10F yang menyerang “Sakunar” (kalajengking) karena bentuk ekornya yang tinggi. Selebaran propaganda juga dijatuhkan, dan seruan-seruan untuk menyerah disiarkan dari pesawat pengangkut C-47 Dakota. Kapal-kapal angkatan laut berposisi di lepas pantai sebelah utara di Laga juga menembaki kawasan Matebean. Penduduk desa, yang berkonsentrasi di kawasan Matebean Feto dan di kawasan Matebean Mane beberapa kilometer di sebelah timur laut, menderita banyak korban akibat seranganserangan ABRI – begitu pula kader Fretilin dan pejuang Falintil. ABRI juga menderita banyak kehilangan, terutama dari satuan-satuan batalyon infantri 326, 328, dan Marinir. Dalam pertempuran, Falintil menangkap dua orang marinir, tetapi kemudian menyerahkan mereka tanpa luka.71 Tetapi, operasi-operasi ABRI menjadi lebih berhasil ketika mereka memusatkan kekuatan untuk menyerang satu per satu dari enam wilayah basis. Pertentangan antar pemimpin tinggi Perlawanan di Matebean – terutama antara Sera Key dan Kilik, juga memperlemah pertahanan. Kembali dari sebuah misi di bagian barat Matebean,
67 Awalnya, dalam sebuah wawancara di Eropa pada bulan Januari 1977, Menteri Pertahanan Rogério Tiago Lobato menyebutkan pasukan-pasukan Fretilin terdiri dari empat jenis: regular, regional, gerilya, dan pasukan pertahanan diri. Lihat “Rogerio Lobato – An Interview”, Timor Information Service (Walker Press, Fitzroy), No. 18/19, April 1977. 68 Gusmão, 2000, halaman 56. 69 Untuk uraian Xanana Gusmão mengenai pertempuran di Matebean, baca I. Cristalis, 2002, halaman 114-116. Meskipun disebutkan oleh sejumlah laporan, pesawat terbang A-4 buatan AS tidak digunakan (pesawat-pesawat ini baru dikirimkan awal dasawarsa 1980-an) – begitu pula pesawat terbang buatan British Aerospace (20 pesawat terbang Hawk Mk 53 baru diberikan kepada Indonesia mulai September 1980). Menurut Ramos-Horta, Hawk pertama kali digunakan di Timor-Leste pada bulan Agustus 1983. Lihat Hendro Subroto, “Air Power in East Timor in 1975-1979 in Retrospect”, Angkasa, No. 10, Juli 2000; dan C. Budiardjo, “Hawk Aircraft Are Being Used in East Timor”, TAPOL, 14 November 1994. 70 Tuduhan-tuduhan pertama bahwa ABRI menggunakan senjata kimia ada dalam pesan-pesan radio dari Menteri Urusan Dalam Negeri dan Keamanan Fretilin Alarico Fernandes (lihat Pesan 26, 28, 29 dalam “Messages from East Timor”, Timor Information Service (Walker Press, Fitzroy), No. 6, 15 Januari 1976. Lihat pula P. Gama dalam Carey dan Bentley, 1995, halaman 100; Michelle Turner, Telling – East Timor: Personal Testimonies 1942-1992 (New South Wales University, Carlton South, 1992), halaman 114; Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 35-36; dan G.J. Aditjondro, In The Shadow of Mount Ramelau: The Impact of the Occupation of East Timor (Indoc, Leiden, 1994), halaman 65. K. Conboy, 2003, halaman 276 mencatat bahwa pesawat OV-10F ABRI dipersenjatai dengan “Opalm,” yaitu napalm buatan Soviet yang dibeli ABRI untuk perang di Irian Barat 1962. 71 P. Gama, dalam Carey dan Bentley, 1995, halaman 99.

Xanana Gusmão berkomentar bahwa “tidak ada kontrol sama sekali” di Matebean, dan “para komandan kompi adalah satu-satunya yang bertanggungjawab untuk perlawanan yang teguh”.72 Terlambat, Fretilin/Falintil mengusahakan mengubah dari pertahanan basis-posisional ke strategi bergerak – merencanakan pembentukan pasukan bergerak berkekuatan 11.000 yang didukung oleh kelompok-kelompok kecil gerilya. Tetapi, basis-basis mereka jatuh sebelum reorganisasi bisa dijalankan. Pada akhir November 1978, akibat tidak mampu menahan serangan lebih lanjut, Fretilin memerintahkan pasukan-pasukan mereka untuk berpencar, sedang orang sipil diperintahkan untuk menyerah dan kembali ke desa mereka masing-masing. Menurut Xanana, basis Matebean jatuh pada 22 November 1978, dan ia pergi menuju timur bersama satu kompi ke zona Ponta Leste, awalnya ke kawasan Iliomar – sementara yang lain pergi ke zona tengah “untuk memperkuat basis nasional”.73 Tanggal 7 Desember, kelompok Xanana telah bergerak ke timur dan berada di Mehara (31 km di sebelah timur Los Palos). Di sini pasukan dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menghindari ABRI dan mempersiapkan perang gerilya lokal. Pemimpin-pemimpin Fretilin yang lain juga meloloskan diri ke hutan dari Matebean, termasuk Presiden Nicolau Lobato, Mau Hunu Bulerek Karataianu (António Manuel Gomes da Costa – Manecas), Mau Hodu (José Amancio da Costa), Bere Malay/Malai Laka/Latxa, dan Falu Taxai/Falo Chai (Fernando Teles) – dan para pemimpin militer: Mauk Moruk (Paulino Gama), Kilik Wai Gai, Olo Gari,74 Nelo, Taur Matan Ruak (José Maria Vasconcelos), Konis Santana, David Alex, dan Freddy.75 Sekretaris Fretilin Iliomar, Tómas Pinto asal Fuat – yang kemudian dibunuh dalam pertempuran dengan ABRI di wilayah Viqueque tahun 1987, juga lolos dari pengepungan Matebean. Kekalahan Perlawanan di Matebean adalah titik balik yang berarti dalam perjuangan dan merupakan saksi berakhirnya periode “zona bebas” dan “base de apoio” (basis dukungan logistik).

Kembali ke Iliomar
Setelah penduduk Iliomar meninggalkan Matebean, awalnya ABRI memusatkan mereka di kawasan Baguia, tetapi 18 orang “tokoh masyarakat” Iliomar dibawa pergi oleh ABRI dan dieksekusi di Gunung Matebean – termasuk Abel, Adelino Ximenes, Julio Lebre, Aparicio Nunes, António da Silva, José Felis, Gregorio Pinto,76 dan António dos Reis. Beberapa pemimpin lainnya dipenjarakan dan diinterogasi di Baguia selama beberapa bulan – dan sekurangkurangnya dua orang dieksekusi di sana: Serafin dan Celestino. Penduduk desa kembali perlahan-lahan ke Iliomar, tiba pada akhir bulan November/awal Desember. Pada saat mereka tiba, di Kota Iliomar tidak ada pasukan ABRI – tetapi tentara Indonesia itu kembali sekitar satu minggu kemudian. Pasukan ABRI pertama yang ditempatkan di Iliomar adalah satu kompi dari Yonif 328 yang mendirikan satu pos besar di atas Bukit Baitomar di pinggaran barat Kota Iliomar. Komandannya adalah Letnan Samsul Andi (orang Sunda), dan sikap mereka tidak keras selama tiga bulan masa tugas mereka. Tetapi, penduduk tidak diperbolehkan kembali ke desa mereka di luar Iliomar Kota – tetapi berdasarkan rencana
72 Gusmão, 2000, halaman 56. 73 Ibid., halaman 57. 74 Pada 1999 Olo Gari (juga “Ologari”) Aswain menjadi salah satu pimpinan organisasi politik CPD-RDTL– dan seorang pengkritik vokal politik pertahanan dan veteran Pemerintah Timor-Leste. 75 P. Gama dalam Carey dan Bentley, 1995, halaman 101. Gusmão, 2000, halaman 57-58. 76 Gregorio Pinto adalah ayah dari Abílio Quintão Pinto, Sekretaris Klandestin/CNRT Iliomar 1989-1999.

23 pemukiman strategis ABRI (“daerah pemukiman”)77 penduduk dipaksa untuk membangun desa mereka di dekat Iliomar Kota. Para penduduk Iliomar II – yang sebelumnya tinggal di wilayah Kampung Lama sekitar tiga kilometer di sebelah selatan Iliomar Kota, ditempatkan di sebuah kawasan sebelah utara desa Ailebere dan sebelah selatan Iliomar I (yaitu tepat di sebelah selatan Lapangan Merdeka/sekolah dasar). Semua penduduk desa Fuat, yang sebelumnya tinggal di wilayah Bubutau di sebelah utara Maluhira, dikonsentrasikan di dekat pinggiran bagian utara Iliomar I. Penduduk Cainliu, termasuk aldeia Larimi yang jauh, dipaksa untuk bertempat tinggal di wilayah yang sekarang menjadi tempat sekolah menengah pertama dan gereja, dengan penduduk aldeia Caidabu ditempatkan di dekatnya. Penduduk Tirilolo juga ditempatkan di dekat gereja. Bekas toko milik orang Cina, “Toko Cina,” kumpulan gedung-gedung berdinding tembok di pinggir jalan utama, digunakan sebagai markas militer ABRI dan sebuah penjara dalam mana sampai 30 orang yang dicurigai kader dan pendukung Fretilin ditahan. Di daerah pemukiman Iliomar Kota, penduduk desa hanya diperbolehkan bertani dalam jarak 500 m dari batas desa, jika melewati batas ini diharuskan mendapatkan izin dan memiliki “surat jalan.” Tindakan pembatasan ini – yang disebut “karantina,” dimaksudkan untuk mengisolasikan penduduk dari unsur-unsur Falintil di hutan dan untuk membatasi pemberian makanan dan informasi kepada Perlawanan. Karena tidak bisa menjangkau kebun dan ladang tradisional mereka, para penduduk desa mengalami kelaparan dan kesulitan. Komite Palang Merah Internasional (ICRC) melancarkan program pemberian makanan darurat di Iliomar dari tahun 1979 sampai dengan 1981 – dan ini dilanjutkan oleh UNICEF dari pertengahan 1982, tetapi dihentikan Juli 1983.78 Penduduk Iliomar mengingat 1981 dan 1982 sebagai tahun-tahun kesulitan dan kelaparan yang parah.

Kerugian Fretilin dan Falintil
Dalam periode ini, 1978-1979, Fretilin mengalami kerugian besar pada tingkat nasional. Sebelum kekalahan Fretilin di Matebean, bekas Presiden Amaral telah ditangkap oleh ABRI dalam bulan Agustus 1978 di dekat Remexio.79 Tanggal 3 Desember 1978, Alarico Jorge Fernandes (Menteri Dalam Negeri, Keamanan, dan Informasi)80 dan tiga anggota Komite Sentral yang lain menyerahkan diri; tanggal 31 Desember Presiden Fretilin Nicolau dos Reis Lobato
77 Juga disebut “kansele/men”, “perokilan”, “konsir”, “consolomento” atau “campos de concentração.” Tahun 1984 banyak daerah pemukiman yang “ditingkatkan” menjadi “desa binaan pangkal perlawanan”. Lihat J.G. Taylor, 1991, halaman 158. 78 Ramos-Horta, 1987, halaman 196. Budiardjo, 1984, halaman 94 mengutip sebuah laporan menyeluruh Fretilin mengenai keadaan: “di Luro … kelaparan terus-menerus menyertai penduduk di sini yang tidak punya makanan pokok sama sekali … Yang bisa dikatakan tentang keadaan di kamp-kamp di Iliomar adalah bahwa semuanya sama buruknya dengan di Luro”. 79 Hendro Subroto, 1996, halaman 208-210 mengklaim bahwa Amaral ditangkap di dekat muara Sungai Dilor di sebelah barat daya Viqueque. Amaral “ditahan” di Bali (sebagai seorang “pembantu” rumahtangga di rumah Brigadir Jenderal Dading Kalbuadi – yang pada 1975 menjadi komandan Operasi Flamboyan) sampai tahun 1983, saat Kalbuadi (yang naik pangkat menjadi Mayor Jenderal dan diberi jabatan Asisten Logistik) dan Amaral dipindahkan ke Jakarta. Amaral kembali ke Timor-Leste tanggal 4 Februari 2000, direhabilitasi oleh Fretilin pada bulan Mei 2000, dan menjadi calon presiden yang kalah dalam Pemilihan Umum Presiden 14 April 2002. Letnan Jenderal (purnawirawan) Dading Kalbuadi meninggal dunia pada usia 68 tahun tanggal 10 Oktober 1999. 80 Alarico Fernandes membawa serta radio komunikasi eksternal utama Fretilin dan selanjutnya ikut dalam operasi “Halilintar” ABRI untuk mendesak Falintil menyerah. Alarico kemudian dibuang oleh Indonesia ke Pulau Sumba (sekitar 350 km di sebelah barat Kupang).

terbunuh dalam pertempuran dengan ABRI di dekat Maubisse;81 dan awal Februari 1979 Mau Lear (António Duarte Carvarinho – Wakil Presiden Fretilin), dan Vicente Sahe (Vicente dos Reis – Perdana Menteri dan ideolog Fretilin) terbunuh.82 Mengundurkan diri dari Matebean dengan kelompok kecil, Xanana melintasi Iliomar dan menggabungkan kembali unsur-unsur Falintil di hutan Lore tepat di sebelah timur Iliomar, tetapi tiga kompi Falintil dihancurkan oleh serangan ABRI. Sejumlah komandan senior menyerah, dan Xanana menulis: “Kebingungan melanda dan semangatku terguncang! Lebih dari terguncang, terpukul.”83 Ia mencatat: “pemencaran kami dipaksakan oleh musuh, bukan bagian dari rencana strategis, tetapi semata-mata reaksi terhadap serangan-serangan musuh”.84 Bulan Maret 1979, sekelompok kecil pemimpin politik dan komandan militer mengadakan pertemuan di bawah pimpinan Xanana di hutan di Iliomar bagian timur dan memulai pembahasan tentang organisasi dan strategi baru Perlawanan, termasuk “basis-basis struktural untuk perlawanan terorganisir berdasarkan pada ikatan yang erat antara gerilya dan rakyat di kota-kota yang diduduki”.85 Sepanjang 1979, Falintil mengalami kerugian besar lebih lanjut, dan sangat sedikit hubungan antara penduduk desa dengan pasukan-pasukan Perlawanan di hutan. Xanana kemudian mengemukakan secara ringkas kesulitan-kesulitan pada kurun waktu itu sebagai berikut: “1979 menandai tahun kekalahan strategis. Yang Mulia Nicolau Lobato terbunuh di medan pertempuran, puluhan anggota Komite Sentral Fretilin terbunuh atau dibunuh, sejumlah besar anggota Komite Sentral yang lain menyerah, membawa serta 90% pejuang gerilya dan senjata”.86 Sementara Falintil menghindari pertempuran menentukan dengan ABRI, tahun 1980 sejumlah serangan Falintil mencemaskan ABRI dan intelijen ABRI menyebutnya sebagai Fretilin memamerkan “tanda-tanda keberadaannya” dalam “bulan-bulan sebelum rapat Majelis Umum PBB”, yaitu “serangan terhadap stasiun televisi TVRI di Dili pada tanggal 10 Juni 1980; serangan terhadap Baguia tanggal 21 Agustus 1980; serangan terhadap Baucau tanggal 25 Desember 1980;

81 Letnan Prabowo Subianto – kemudian menjadi menantu Presiden Soeharto, memimpin unsur Kopassandha (Nanggala 28) yang bersama dengan unsur-unsur Yonif 744 yang dipimpin oleh Mayor Yunus Yosfiah, bentrok senjata dengan kelompok Nicolau Lobato di dekat desa Dare Mulo. Lobato, yang terluka perut dan pahanya, dilaporkan ditangkap dan mati dalam helikopter ABRI ketika diangkut menuju rumah sakit – istrinya juga dilaporkan mati dalam pertempuran itu (Ramos-Horta, 1987, halaman 157). Sebuah laporan menyatakan bahwa Lobato terluka pahanya, kemudian bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri karena tidak mau menjadi tawanan (L. Murdoch, “Fretilin confident that voters will remember who led the struggle”, Sydney Morning Herald, 25 Agustus 2001). K. Conboy, 2003, halaman 274 menyatakan bahwa Lobato tertembak perutnya di Caicassa, dekat Soibada, dan mati kehabisan darah. Conboy juga mencatat bahwa satu minggu kemudian, wakil panglima Falintil Guido Soares dibunuh oleh tim Nanggala 28 pimpinan Prabowo. 82 Lihat J.G. Taylor, 1991, halaman 97. Hendro Subroto, 1996, halaman 212 mengklaim bahwa Vicente Sahe dibunuh di wilayah Natarbora, Distrik Manufahi bagian selatan pada tanggal 8 Oktober 1978 dan Mau Lear mengalami luka yang mematikan di dekat Venilale pada 10 Oktober 1978. 83 Gusmão, 2000, halaman 59. 84 Ibid., halaman 63. 85 Ibid., halaman 64 juga membahas kematian Nicolau Lobato. Menurut P. Gama, 1997, halaman 101 rapat ini dilakukan di Laivai, di pantai sebelah timur laut Matebean. Setelah rapat, Xanana menuju barat dengan harapan menghubungi sisa-sisa anggota Komite Sentral Fretilin dan meninggalkan Sektor Timur di bawah Mau Hunu, dengan Kilik dan Bere Malay Laka bertanggungjawab atas unsur-unsur bersenjata. 86 K.R.X. Gusmão, “Xanana’s Message to the Resistance”, Cipinang (Jakarta), 7 Desember 1983.

25 dan serangan terencana terhadap desa Mulia tanggal 20 Juni 1980”.87

Pembunuhan “Klandestin” di Iliomar
Awal 1980 ABRI membunuh dua orang kader anggota bawah tanah (“Klandestin”88) di Iliomar: Francisco Amaral dan Olympia da Costa. Francisco Amaral dari desa Tirilolo dibunuh di Bukit Iliomar oleh Hansip (Pertahanan Sipil, pembantu militer yang direkrut dari kalangan orang Timor-Leste),89 dan mayatnya dibuang ke dalam sebuah gua di Bukit Iliomar. Bulan Februari 1980, Olympia da Costa juga dibunuh. Olympia da Costa (lahir 2 Juli 1958) dari aldeia Marafal (desa Ailebere) adalah seorang anggota Klandestin yang memberikan informasi dan barang kebutuhan bagi Falintil di hutan.90 Pada pertengahan Februari 1980,91 ia dipanggil ke markas Kopassandha (nama Kopassus sebelumnya) di Iliomar Kota untuk diinterogasi – kemudian ditempatkan di gedung Toko Cina di pinggir jalan utama. Disebut-sebut bahwa seorang mayor Kopassandha (diyakini sebagai orang Sulawesi berumur sekitar 28 tahun) dari Los Palos bergabung dengan Tim Kopassandha setempat, nama kodenya “Nanggala 2” (Nanggala adalah senjata dalam cerita wayang Jawa) yang dipimpin oleh Letnan Sambroni, untuk menginterogasi Olympia. Anggota-anggota lain Kopassandha termasuk Sersan Charles dan Sersan Edi. Selama interogasi, Olympia disiksa dan diperkosa. Sesudah itu, ia ditelanjangi sampai pinggang dan, hanya memakai celana dalam nilon, ia diarak jalan keliling enam desa (yang saat itu berkonsentrasi di kawasan Iliomar Kota). Dua dari kerabat laki-laki yang lebih tua menggandeng tangannya (José da Gama dari aldeia Titiraven, Cainliu; dan António de Jesus dari aldeia Caidalavarin, Cainliu), dan di setiap desa ia dipaksa memperingatkan penduduk tentang hukuman yang dijatuhkan pada orang yang terlibat perlawanan dan membantu Fretilin/Falintil. Sore harinya, ia melarikan diri dari Toko Cina, tetapi ditangkap kembali di rumah orangtuanya di aldeia Caentau, Iliomar I oleh Hansip setempat – ia berusaha mengambil pakaian sebelum melarikan diri ke hutan. Kembali ke Toko Cina, ia dipukuli, kemudian diberi pakaian seragam militer dan diserahkan kepada satu kesatuan ABRI – diyakini sebagai polisi lapangan Brimob (Brigade Mobil)92 yang menduduki pos di Manulor (dekat aldeia Ossohira di sebelah selatan Iliomar Kota). Sore itu di pos Manulor ia dibayonet tenggorokannya dan mati. Mayatnya tidak dikuburkan, tetapi dibuang di luar pos dan ditutupi
87 Petunjuk Teknis No. Juknis/05/I/1982 tertanggal 10 September 1982 oleh Mayor Willem da Costa, Kepala Seksi Intelijen Korem 164 – disebut sebagai Dokumen 2 dalam C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 183. Pada bulan Januari 2001, Willem da Costa (lahir di Kupang, 1949), sebagai Mayor Jenderal, diangkat menjadi Panglima Komando Daerah Militer IX/Udayana, yang meliputi Timor Barat, kemudian dipindahkan ke Bandung, Jawa Barat, untuk menjabat komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). 88 “Klandestin/Klandestina/Klandestine” adalah istilah umum yang digunakan oleh penduduk desa di Iliomar untuk bawah tanah Fretilin/CRRN/CNRM/CNRT. ABRI/TNI juga melaporkan penggunakan istilah “Klandestin” (lihat catatan kaki nomor 99 dan 104). 89 Untuk catatan mengenai pasukan ABRI/TNI dan paramiliter lihat Lampiran C. Tahun 1982, anggota-anggota Hansip menerima imbalan bulanan sebesar 33 kg beras dan uang 11.500 rupiah, demikian disebutkan dalam petunjuk ABRI, Dokumen 6 dalam C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 223. 90 Olympia adalah seorang anggota sel kurir dan pendukung terdiri dari tiga perempuan - yaitu Olympia, Balbina da Conceição dari Iliomar II (nama perjuangan “Waru Lahaluha”) dan Hilda Madeira. Sel ini dibentuk di Matebean tahun 1978. 91 Sumber Iliomar, termasuk seorang “peserta” dan beberapa saksi mata, tidak jelas mengenai tanggalnya yang tepat – seorang sumber yang mengetahui mengatakan Februari 1980, lainnya menyebut 12 Maret 1980. 92 Sumber-sumber Iliomar lain melaporkan bahwa kesatuan ABRI ini adalah “Marinir” atau “Yonif 320.”

daun kelapa dan pisang. Ketika keluarganya menanyakan nasibnya, mereka mengatakan bahwa ia telah “pergi disekolahkan ke Jawa” – suatu penghalusan untuk dibunuh.93 Keluarganya dan penduduk desa sangat takut untuk mendekati pos dan mengambil mayatnya untuk dikuburkan. Tahun 2000, bekas Komandan Falintil Região Timur, Lere Anan Timor94, memerintahkan pengambilan tulang-belulang orang-orang sipil yang dibunuh oleh ABRI. Keluarga Olympia mencari-cari di wilayah pos Manulor dan menemukan tengkoraknya yang kemudian mereka kuburkan. Di Iliomar, Perkumpulan Perempuan Timor-Leste – OMT (Organização da Mulheres Timorense), memperingati kematian Olympia pada Hari Perempuan Internasional, 8 Maret, setiap tahun.

Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), dan Ratih
Tahun 1980, pemerintah Indonesia di Iliomar memberlakukan suatu sistem kontrol keamanan dan pemantauan tingkat rendah di dalam aldeia: “Rukun Tetangga” (RT – “perkumpulan tetangga”) yang mengelompokkan sejumlah keluarga; dan “Rukun Warga” (RW – perkumpulan kelompok keluarga) yang mengelompokkan beberapa RT.95 Ketua RT dan RW bertanggungjawab atas gerak dan kegiatan penduduk di wilayahnya. Sistem ini juga memberikan struktur referensi yang lebih resmi rumah-rumah bernomor di dalam setiap aldeia yang berguna bagi militer dan pejabat Indonesia yang belum mengenal wilayah. Tetapi di Iliomar, mekanisme RT/RW ini hanya berlaku selama beberapa tahun, menjadi tidak bisa digunakan pada 1985. Di Iliomar tahun 1980, karena di sana hanya ada enam Hansip, sekitar 100 orang Mambae paramiliter Ratih (Rakyat Terlatih) yang bersenjata berasal dari Kabupaten Aileu di selatan Dili dikerahkan dan ditempatkan di desa-desa Iliomar selama sekitar satu tahun. Penduduk desa hanya mengalami kesulitan sedikit dengan Ratih dari Aileu, dan mereka umumnya dihormati. Ratih dari Aileu kemudian digantikan oleh Ratih setempat yang bertugas selama beberapa tahun sampai digantikan oleh organisasi Hansip Iliomar yang telah diperluas. Ratih tidak digaji, tetapi menerima ransum ketika beroperasi jauh dari desa asal mereka.96

Fretilin Diorganisasikan Kembali – CRNN
Pada kurun waktu 1-8 Maret 1982, Fretilin menyelenggarakan “Konferensi Nasional Pertama untuk Reorganisasi Negeri” di Mabai, desa Lacluta (sekitar 35 km di barat laut Viqueque)97 untuk merombak struktur organisasi dan politik mereka. Fretilin juga menyatakan dirinya sebagai partai Marxis-Leninis.98 Secara militer, satuan-satuan Falintil sekarang menjadi
93 G.J. Aditjondro, 2000, halaman 52-53 memberikan daftar penghalusan ABRI/TNI seperti itu. 94 Lere Anan Timor adalah Tito Ililawa. Bulan Februari 2001, ia diangkat menjadi Kolonel, Kepala Staf Angkatan Pertahanan Timor-Leste (Forças Defesa Timor Lorosae – F-FDTL). 95 Sistem RT/RW – dengan rumah-rumah memasang tanda bernomor seperti RT01/RW04, diperkenalkan di Jawa oleh Jepang pada waktu Perang Dunia II dan masih dipertahankan di hampir seluruh Indonesia sampai sekarang. 96 Untuk informasi mengenai dinas Ratih pada awal dasawarsa 1980-an baca C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 224-225 dan halaman 238-244 untuk kalimat-kalimat yang relevan dari dokumen-dokumen ABRI bertanggal Juli dan September 1982 yang dirampas [oleh pihak Perlawanan]. 97 Xanana hampir sepanjang tahun 1980 berada di sebelah barat Matebean, terutama di wilayah Viqueque (Gusmão, 2000, halaman 64-67). 98 W. Saraswati, “Interview with Xanana: Timor Lorosae Akan Menjadi Bangsa Tanpa Angkatan Bersenjata,” Solidamor, Cipinang, September 1998. Bulan Mei 1977, Marxisme dinyatakan sebagai filsafat partai ini, dan Fretilin

27 lebih mobil, dan organisasi bawah tanah di dalam kamp-kamp pemukiman dan di pusat-pusat penduduk mendukung perlawanan bersenjata. Gerakan Perlawanan dipimpin oleh Conselho Revolucionária da Resistencia Nacional (CRRN – Dewan Revolusioner Perlawanan Nasional) dan pada tingkat paling bawah, “nucleos da resistência popular” (“nurep” – inti perlawanan rakyat) dibentuk untuk memelihara hubungan antara Perlawanan di hutan dengan jaringan bawah tanah.99 Xanana Gusmão dipilih sebagai Komisaris Politik Nasional, Ketua CRRN, dan Panglima Falintil.

Pandangan ABRI tentang Perlawanan: 1981-1982
Sebuah dokumen intelijen ABRI100 mencatat bahwa “GPK” (Gerombolan Pengacau Keamanan – penghalusan Indonesia untuk Fretilin/Falintil) membagi Timor-Leste secara organisasi ke dalam tiga wilayah militer:101 - Sektor timur: “Funu Sei Nafatin” (dalam bahasa Tetun, artinya: “Perjuangan Masih Berlanjut”) meliputi wilayah Baucau, Viqueque, dan Los Palos; - Sektor tengah: “Nakroman” (“Terang”) – wilayah Manatuto; dan - Sektor barat – “Haksolok” (“Gembira”) Dokumen ini menyebutkan organisasi sektor bagian timur Funi Sei Nafatin sebagai: Sektor Funu Sei Nafatin Komandan Sektor: Marcur (Rubileki) – dari Ualili Komisaris Politik: Tito Ililawa (Lere Anan Timur) – dari Iliomar Sub-sektor Nafatin (sebelah barat Matebean) Kompi II, Brigade Merah Komandan: David Alex102 Sub-sektor Funuk (sebelah timur Matebean) Kompi I, Brigade Merah Komandan: Falo Chai (Iliomar)103

(Komandan Brigade Merah, Mauk Moruk, bertempat di Sub-sektor Funuk; sedang Kompi III, di bawah Kalisa dan Ologari sering beroperasi di Sub-sektor
secara resmi ditetapkan sebagai sebuah partai Marxis-Leninis oleh Xanana dalam bulan Maret 1981 dalam Konferensi Nasional pertama. Ini menyebabkan pertengkaran di dalam, dan pada 1984, Marxisme-Leninisme ditolak (lihat bagian berikutnya tulisan ini, “Politik Persatuan Nasional”). 99 Gusmão, 2000, halaman 68, catatan 101. Nurep adalah istilah CRRN/CNRM/CNRT untuk pimpinan Perlawanan di suatu desa, dengan “Celcom” untuk tingkat aldeia. Meskipun istilah-istilah ini digunakan di beberapa kabupaten termasuk Baucau, Viqueque, dan Ermera, istilah ini tidak umum di Kecamatan Iliomar sesudah 1993. 100 Petunjuk Teknis “Cara untuk Babinsa …” sebagai Dokumen 1 dalam Budiardjo, 1984, halaman 176-182. 101 Seorang bekas komandan senior Falintil berkomentar dalam bulan November 2002 bahwa pada 1981 Xanana membagi wilayah ini menjadi dua wilayah operasi – Barat dan Timur, dengan jalan Baucau ke Viqueque sebagai batas. Ia juga mencatat bahwa pada 1981 Kilik Wai Gai adalah Kepala Staf Falintil (COFS) dengan Mauk Moruk sebagai Wakil; dan tahun 1983 Xanana adalah COFS dengan dua Wakil – Taur Matan Ruak (Barat) dan Mau Hunu (Timur). 102 David Alex Daitula (David da Costa) meninggal karena terluka pada 25 Juni 1997 setelah terjadinya pertempuran dengan ABRI di aldeiaWatume, desa Caibada – sekitar tiga kilometer di sebelah barat laut Baucau. Tahun 1995 ia menjadi Komandan Falintil Região II – dan tahun 1997 dilaporkan oleh ABRI sebagai Komandan Região I. 103 Falo Chai (Fernando Teles) terbunuh dalam bentrokan dengan pasukan Indonesia yang dipimpin oleh Ketua DPRD II Lautem Luís Monteiro Leite pada tahun 1985. Leite menjadi Ketua DPRD II pada 1982-1987.

Nafatin.) Menurut laporan ABRI ini, setiap sub-sektor dibagi menjadi distrik – disebut “Cernak” (“Centro de Resistencia Nacional”) atau “Celula.” Setiap unsur Cernak/Celula, yang beroperasi di hutan dan dengan sel “OC” (“Orgão Coordinador”)-nya, mengkoordinasikan sejumlah nurep, yaitu badan yang mengorganisasikan dan mengarahkan desa-desa dan tempat-tempat pemukiman. Nurep dikelola oleh satu kelompok kontrol lokal terdiri dari 3-6 orang, yang disebut “Orgão Diretivo” (OD). Laporan ABRI ini juga mencatat bahwa di sejumlah kecamatan Subsektor Funuk, yang mencakup Iliomar, banyak Cernak/Celula telah “dibongkar/dihancurkan.” Unsur-unsur bantuan Falintil yang beroperasi di bawah tanah di dalam desa-desa dan tempattempat pemukiman kembali disebut “Miplin” (“Milicia Popular Libertação Nacional” – Milisi Rakyat untuk Pembebasan Nasional). Namun demikian, di Iliomar banyak dari struktur dan organisasi Perlawanan yang tidak dibentuk, dan unsur-unsur bawah tanah tetap disebut dengan istilah generik “Klandestin.”104 Dalam laporan ABRI selanjutnya tahun 1982 105, “wilayah operasi GPK” di dalam Kabupaten Lautem dicatat sebagai wilayah dari Gunung Paichau (tinggi 925 m – terletak sekitar 22 km di sebelah timur Los Palos) ke selatan sampai pantai (“kelompok Falo Chai/Taxai”); desa Daudere di pantai bagian utara dan pedalaman (“kelompok Mauk Moruk”); dan dengan “kelompok-kelompok kecil tidak teorganisir yang beroperasi … di wilayah Home dan Souro” (sekitar 20 km di sebelah barat laut kota Los Palos). Juga di dalam Kabupaten Lautem, laporan ABRI ini mencatat wilayah desa Koaliu (kadang-kadang disebut “Kooliu”) di dekat Gunung Paichau sebagai tempat pertemuan – “pada kesempatan seperti itu, ada konsentrasi pasukan yang sangat besar di satu tempat”. Secara lebih umum, laporan ini mencatat bahwa “sektor timurlah yang dukungan rakyatnya paling militan dan paling sulit dibongkar. Ini karena sangat kuatnya ikatan keluarga dan juga karena GPK bisa mengkonsolidasikan kepemimpinan politik di wilayah ini selama beberapa tahun … GPK secara sadar memilih wilayah bagian timur sebagai basis belakang dan basis cadangannya”.106

Pembuangan ke Ataúro dan Aileu
Untuk mengisolasikan Falintil dari pendukungnya dan kader Klandestin di desa-desa, pada tahun 1981 24 keluarga Iliomar diasingkan (“diungsikan”) oleh ABRI ke Pulau Ataúro (sebuah pulau yang kering dan tidak subur luasnya 144 km persegi, terletak 23 km di sebelah utara kota Dili).107 Semua keluarga dari Iliomar ini punya kerabat yang menjadi anggota Falintil
104 Bulan Mei 1995, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad ABRI) Hartono bertemu dengan komandan-komandan senior di Dili dan mengarahkan ABRI untuk menggunakan juga istilah “Klandestin” yang digunakan “GPK” dan untuk melakukan “inventarisasi” jumlah Klandestin. Lihat Ant, “Amnesti bagi Sisa GPK Fretilin Tanpa Batas Waktu”, Bernas, 4 Mei 1995. 105 “Instruksi untuk Intelijen Teritorial …” , Dokumen 3 dalam C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 196. Laporan ini juga menguraikan wilayah operasi di kabupaten Baucau dan Viqueque (kelompok Alex, Olo Gari, Kalisa) dan kelompok Kilik dan Mau Hunu yang beroperasi di sebelah baratnya. 106 Ibid, halaman 201. 107 Program pengasingan ini diuraikan dalam J.G. Taylor, 1991, halaman 104-106; C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 64-65, halaman 136-138; dan Petunjuk Teknis ABRI paragraf III.4, Dokumen 1 dalam C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 180. José Ramos-Horta mengatakan “penduduk asli Ataúro yang jumlahnya 5.000 membengkak menjadi 9.000” (Ramos-Horta, 1987, halaman 196). Saldanha, 1994, halaman 121 menyebutkan 4.500 orang yang diasingkan ke Ataúro.

29 di hutan, keluarga yang diasingkan ini termasuk keluarga Tito de Deus (seorang Sekretaris Klandestin di Iliomar) karena kakaknya, Orlando Jeronimo (nama perjuangan “Serasa”) adalah seorang pemimpin unit lokal Falintil. Keluarga Matias Esteves dari Iliomar I juga termasuk yang diasingkan. Banyak keluarga tersebut diasingkan selama lima belas bulan, tetapi sebagian kemudian dipindahkan ke Maliana (di dekat perbatasan barat Provinsi ini) dimana mereka diasingkan selama empat tahun lagi sebelum dikembalikan ke Iliomar pada tahun 1986. Dalam tahap kedua, enam kader Klandestin diasingkan dan dipenjarakan di Aileu. Salah satu dari yang diasingkan ke Aileu tahun 1983, Caetano Gonçalves dari Iliomar I, adalah komandan peleton Falintil di Iliomar tahun 1975-1978.108

“Operasi Keamanan” dan Koramil 03
Pada tanggal 19 Agustus 1981, ABRI melancarkan “Operasi Keamanan/Kikis” di seluruh wilayah negeri yang menggunakan penduduk desa dalam jumlah sangat banyak yang dikerahkan secara paksa dalam suatu strategi “pagar betis” untuk memberantas Falintil di hutan – bergerak ke arah timur dari Dili dan ke arah barat dari Laga, dengan “zona pembunuhan” di kawasan Aitana yang terletak sekitar 35 km di sebelah barat daya Baucau.109 Dislokasi penduduk desa ini merusak penanaman dan panen, yang berakibat pada kekurangan bahan makanan yang parah, dan memberikan tekanan lebih lanjut kepada Falintil. Tekanan juga meningkat terhadap Klandestin di Iliomar. Tahun 1981, Namipua dari desa Fuat ditangkap karena dicurigai sebagai Klandestin dan dipukuli sampai mati di markas Koramil (Komando Rayon Militer – komando militer pada tingkat kecamatan) di gedung Toko Cina. Joaquim Ferreira dari Cainliu dibunuh oleh Hansip pada 1982 karena dicurigai sebagai Klandestin, dan sejumlah orang yang dicurigai sebagai Klandestin dipenjarakan. Seperti dicatat di atas, pada 1981, sebuah markas Koramil yang dikomandani seorang letnan, telah didirikan di Iliomar dengan tanggungjawab atas keamanan dan administrasi militer setempat – termasuk kepolisian. Markas ini, Koramil 2903 (kadang-kadang disingkat menjadi “03”), membawahi pasukan Hansip dan Babinsa (Bintara Pembina Desa – sersan ABRI yang ditempatkan di desa) di Iliomar. Koramil 2903 berada di bawah Kodim (Komando Distrik Militer) 1629 di Los Palos, markas administrasi militer untuk Kabupaten Lautem.110

Keluarga Berencana
Dalam dasawarsa 1980-an, pemerintah Indonesia memberlakukan program perencanaan keluarga nasionalnya, “Keluarga Berencana” (KB) ke Timor-Leste. Tahun 1985, Uskup Belo – saat itu Administrator Apostolik, mengecam ini sebagai “program pengendalian kelahiran paksa”
108 Nama perjuangan “Luru Asu,” ia meninggal di Aileu pada tahun 1986. 109 K. Conboy, 2003, halaman 298 menyebutkan 30.000 penduduk desa dan 12 batalyon ABRI yang terlibat dalam Operasi Kikis selama dua belas bulan – dan menyebutkan nama lengkap operasi ini adalah “Saber Kikis Baratayudha”. 110 “Kabupaten” adalah istilah administrasi Indonesia yang menggantikan “Concelho” Portugis – dan yang sekarang menjadi “Distrik/Distrito.”

dengan mengatakan, “Dengan begitu banyak orang yang mati, kami tidak punya persoalan kependudukan di sini”.111 Bulan Maret 1985, ia mengeluarkan suatu surat gembala – yang sebagian berisi ringkasan ajaran Katolik Roma mengenai pengendalian kelahiran seperti yang dikemukakan dalam surat ensiklik “Humanae vitae” Sri Paus Paulus VI, dan menyatakan “semua alat kontrasepsi bertentangan dengan moral”.112 Para pengkritik program KB menuduh terjadinya penggunaan paksaan dan sterilisasi tersembunyi dan juga menyebutkan progam ini “sangat mengandalkan pada kontrasepsi suntik” – terutama Depo Provera, yang pada tingkat 62 persen “dua kali lebih besar dibandingkan provinsi yang terdekat, Irian Jaya”.113 Akan tetapi, pada 1991, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa penerimaan KB untuk perempuan menikah di Timor-Leste adalah 25,1 persen – jauh lebih rendah dibandingkan angka untuk tingkat nasional 49,7 persen.114 Sejumlah laporan Barat juga menyebutkan bahwa tingkat fertilitas total di Provinsi ini kecenderungan menurunnya sangat lamban – dari 4,7 persen pada 1990 menjadi 4,6 persen pada 1997, yang bertentangan tajam dengan tingkat nasional Indonesia 2,85 pada tahun 1994.115 Di Kabupaten Lautem, “akseptor” KB tahun 1997 dilaporkan sebesar 13,79 persen. Di Iliomar, statistik Indonesia untuk 1997/1998 mencatat total 373 akseptor meliputi 324 suntik (87 persen) dan 39 pil (10 persen).116 Ini diperkirakan merupakan 12 persen dari pasangan usia subur Iliomar (lihat juga angka pada Lampiran B). Pastor yang tugasnya mencapai Iliomar menentang program KB – sebaliknya menganjurkan metode “kalender/temperatur”. Tetapi, banyak pasangan dilaporkan menjadi akseptor KB, karena dibujuk dengan iming-iming materi Indonesia, seperti uang, beras, dan ayam.

Gencatan Senjata – 1983
Pada 1983 Perlawanan berada dalam keadaan kacau-balau. Bulan Maret 1981, Xanana Gusmão dipilih menjadi ketua CRRN (lihat di atas), dan sementara kontak dengan ABRI dihindari, gangguan-gangguan pasukan ABRI dan korban berat berlanjut terus – terutama selama
111 A.S. Kohen, From the Place of Dead: Bishop Belo and the Struggle for East Timor (Lion Publishing, Oxford, 1999), halaman 164. Lihat pula P. Smythe, “The Role of the Church in East Timor: Resistance and Reconciliation” dalam G. Hull dan L. Eccles (penyunting), Studies in the Languages and Cultures of East Timor , Jilid 2 (University of Western Sydney, MacArthur, 1999), halaman 104. 112 “The Church in East Timor – The Church and Indonesia’s birth control program”, halaman 1 dalam Timor Link, No. 3, Oktober 1985. Lihat pula G.J. Aditjondro, 2000, halaman 110-112 dan halaman 239 yang mengutip surat gembala yang kritis dari Uskup Belo pada bulan Maret 1986 yang didukung oleh Gubernur Mário Carrascalão. 113 M. Sissons, From One Day to Another: Violations of Women’s Reproductive and Sexual Rights in East Timor (Yale University, 23 Juni 1997). 114 Drs. R. Brahmana, Buku 20 Tahun Timor Timur Membangun (Korps Pegawai Republik Indonesia Propinsi Timor Timur/Samsul Bakri, Jakarta, 1996), halaman 9. 115 J. Pedersen dan M Arneberg (penyunting), 1999, halaman 56. Bab 4 menguraikan rincian tentang fertilitas dan kontrasepsi. Data tingkat fertilitas yang mirip juga disebutkan dalam Parlemen Australia, Laporan Senat tanggal 7 Desember 2000, halaman 16, yaitu tingkat fertilitas Timor-Leste adalah 4,4 persen pada 1997, sedang Indonesia 2,7. 116 Kabupaten Lautem Dalam Angka (BPS, Kantor Statistik Kabupaten Lautem, Los Palos, Agustus 1998), Tabel 4.56 halaman 130. Lihat angka-angka lebih lanjut dalam Lampiran B.

31 Operasi Keamanan ABRI. Xanana menghabiskan hampir sepanjang tahun 1983 di hutan-hutan Distrik Lautem, bertemu sebentar di bulan September dengan Administrator Apostolik Keuskupan Dili Monsignor Martinho da Costa Lopes.117 Monsignor Martinho dilaporkan bersimpati pada Perlawanan, tetapi mendorong sikap moderat dan memperingatkan terhadap ekses-ekses komunisme.118 Pada akhir 1982, Mayor Gatot Purwanto, komandan Nanggala 28 Kopassandha mengadakan hubungan dengan komandan sektor Fretilin/Falintil Falo Chai, di dekat desa Wailana sekitar 20 kilometer di sebelah selatan Los Palos untuk membahas penghentian permusuhan.119 Pada awal 1983, Xanana menjawab dengan mengusulkan suatu gencatan senjata – atau periode “kontak damai” dengan ABRI dan melakukan kontak dengan perwira-perwira Indonesia. Tujuannya adalah mendapatkan masa istirahat bagi Falintil dan membangun kembali hubungan dengan kader Klandestin di desa-desa dan kota-kota yang jumlahnya sedikit. Suatu Politik Persatuan Nasional juga diluncurkan oleh Perlawanan dalam mana peran semua orang nasionalis, termasuk gerakan mahasiswa yang sedang muncul, sekarang diakui, dan politik sebelumnya “perundingan – tidak dan tidak akan pernah”120 ditinggalkan. ABRI juga dilaporkan lelah berperang dan menerima usulan tersebut – tetapi tidak mau perundingan ini dibuka kepada umum.121 Tanggal 21 Maret 1983, pembicaraan awal gencatan senjata diselenggarakan dengan para perwira Indonesia di Bubu Rake (desa Liaruka) di Kabupaten Viqueque bagian barat laut (sekitar 12 km di barat daya Venilale) – yang meliputi Xanana dan perwira ABRI Mayor Willem da Costa, Mayor Stefanus, dan Kapten Dayun.122 Beberapa hari kemudian, 23 Maret, Xanana menandatangani kesepakatan gencatan senjata untuk seluruh Timor-Leste di Lari Guto (desa Ossu de Cima – sekitar 9 kilometer di sebelah barat daya Venilale) dengan Gatot Purwanto, yang sekarang naik pangkat menjadi kolonel dan diangkat menjadi komandan ABRI untuk TimorLeste. Gubernur Mário Carrascalão juga dilaporkan menghadiri pertemuan ini.123 Selanjutnya, yang pertama dari sejumlah perjanjian lokal ditandatangani di Moro (sebuah aldeia dari Parlamento di utara Los Palos) oleh komisaris politik Fretilin Sektor Timur (“Ponta
117 R. Lennox, The Fighting Spirit of East Timor: The Life of Martinho da Costa Lopes (Pluto, Annandale, 2000), halaman 188. Monsignor Martinho diangkat menjadi Administrator Apostolik, yaitu “pejabat sementara uskup” pada 1981 – ia digantikan oleh Carlos Filipe Ximenes Belo pada 12 Mei 1983, yaitu Uskup Belo sejak 19 Juni 1988. Monsignor Martinho (atau Dom Martinho) meninggal pada 27 Februari 1991. 118 J. Jolliffe, “Former East Timor Church Leader Dies,” The Guardian, London, 1 Maret 1991. 119 K. Conboy, 2003, halaman 289-299 berdasarkan wawancara-wawancara, termasuk dengan Gatot Purwanto, mengemukakan bahwa pada awal 1983 Purwanto mendampingi pemimpin Fretilin ke Jakarta untuk suatu “kunjungan melihat-lihat selama lima hari.” Beberapa sumber mantan Falintil mengkonfirmasikan bahwa pemimpin Fretilin tersebut adalah Falo Chai (Fernando Teles), dan disertai oleh sesama kader Fretilin José da Conceição. 120 Prinsip “tidak berunding” dinyatakan oleh Komando Tertinggi Perjuangan Fretilin pada April 1977. 121 Lihat J.G. Taylor, 1991, halaman 136-137 untuk surat usulan Fretilin yang diserahkan kepada Purwanto. 122 Sebuah kaset pita rekaman pertemuan ini dibawa ke Portugal oleh bekas Administrator Apostolik Monsignor Martinho. Untuk ringkasannya lihat J. Jolliffe (penyunting), Timor Newsletter, Vol. II, No. 3, Oktober 1983, halaman 8-9. 123 Gubernur Carrascalão secara terbuka mengakui diskusinya dengan Xanana dalam sebuah artikel di The Jakarta Post , 10 dan 11 Juli 1983. Saldanha, 1994, halaman 120; B. Singh, East Timor: Myths and Realities (Singapore Institute of International Affairs, Singapore, 1995), halaman 127. Lihat pula komentar Carrascalão kepada suatu delegasi Parlemen Australia pada 28 Juli 1983 (Parliamentary Paper No. 154/1983, halaman 151-152). C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 72 mencatat Fretilin menolak usulan Indonesia agar Carrascalão menjadi wakil utama pihak Indonesia. K. Conboy, 2003, halaman 299 melaporkan tiga pertemuan di kawasan Ossu dengan Xanana pada awal Maret, diikuti pertemuan Mayor Purwanto/Xanana pada 21 Maret – dan pertemuan terpisah Carrascalão/Xanana pada dua hari kemudian 23 Maret 1983.

Leste”) dengan komandan distrik militer Los Palos (yaitu Dandim 1629, seorang letnan kolonel ABRI). Bulan Juni 1983, seorang kurir (“estafeta”) dan anggota Klandestin dari Iliomar, Abílio Quintão Pinto, pergi ke Lari Guto dan bertemu dengan Xanana selama tiga hari untuk menerima instruksi-instruksi tentang pelaksanaan gencatan senjata di Kecamatan Iliomar. Di Iliomar, gencatan senjata dengan Falintil dirundingkan oleh Kepala Kecamatan (Camat), Roberto Seixas Miranda. Tanggal 29 Juli, sebuah delegasi kecil Parlemen Australia melakukan kunjungan singkat ke Iliomar dengan helikopter dan berbicara dengan staf UNICEF di pusat pembagian makanan.124 Dalam periode gencatan senjata, Falintil meningkatkan kontaknya dengan Klandestin yang tersisa di desa-desa dan kota-kota125 dan membuat kemajuan dalam mengajak dan menarik anggota-anggota Hansip untuk menjadi kader dan simpatisan Klandestin. Menurut Kolonel Gatot Purwanto, pasukan ABRI bertemu dengan Falintil di kota-kota dan desa-desa – “kami saling menyapa ketika berpapasan di jalan”.126 Menurut seorang penulis, Falintil bersenjata diperbolehkan mengunjungi desa-desa, helikopter-helikopter ABRI mengangkut pastor ke gunung-gunung untuk mengadakan misa bagi para gerilyawan, dan “bahkan ada pertandinganpertandingan sepak bola antara regu angkatan darat Indonesia dengan regu gerilyawan”.127 Di Iliomar, tidak ada pertandingan sepak bola ABRI-Falintil, tetapi para gerilyawan dan tentara bersama-sama dalam pesta-pesta dan dansa-dansa di Kecamatan. Monsignor Lopes, Administrator Apostolik, mengungkapkan bahwa, “bulan Juni, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, helikopter-helikopter Indonesia mengangkut makanan dan obat-obatan kepada gerilyawan di gunung-gunung dan mengangkut yang sakit dan terluka ke rumah sakit Dili”, dan menambahkan “rakyat sangat gembira dengan istirahat dari perang ini dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun bisa bercocok tanam dengan baik”.128 Tetapi di Iliomar gencatan senjata terhenti pada 8 Agustus 1983 ketika anggota-anggota Hansip membunuh dua gerilyawan Falintil dalam pertemuan “kontak damai” di Hamabere (di Bukit Diriloro, tepat di sebelah utara aldeia Caentau). Empat orang Hansip (José Madeira, Adão Cabral, Mateus Barros, Julião Teles) bertemu dengan dua anggota Falintil (Venancio Savio, juga dikenal dengan panggillan “Mau Lorasa”, sebelumnya berasal dari desa Cacaven – pemimpin; dan Amilcar Rodrigues, sebelumnya berasal dari aldeia Vatamatar) di sebuah kandang kerbau di Hamabere sekitar pukul 14.00. Kedua orang Falintil ini mengusulkan agar Hansip Iliomar bergabung dalam serangan terhadap ABRI di Iliomar malam hari berikutnya – dipimpin oleh komandan Falintil lokal Armando Nolasco (nama perjuangan “Koro Asu”). Takut terjadinya pembalasan jika serangan itu diadakan, pemimpin Hansip José Madeira129 – tanpa perintah dari
124 Parliamentary Paper, 1983, halaman 47-48. Delegasi ini mencatat bahwa “penduduk tampak ketakutan dan rakyat tidak berkerumun melihat-lihat karena ingin tahu Delegasi.” 125 Untuk formasi dan kegiatan Klandestin di Dili, Sektor Tengah dan Baucau dari 1983, lihat C. Pinto dan M. Jardine, 1997, halaman 95-104. Bantuan sipil Fretilin “Arma Branca” sebelumnya dan “estafeta” (pembawa pesan) juga diuraikan pada halaman 51. Tahun 1986, “tidak ada jaringan terpusat untuk semua kelompok bawah tanah yang berbeda-beda. Masing-masing punya hubungan sendiri dengan David Alex, dengan Mau Hudu, dengan Xanana Gusmão, atau pejuang gerilya lain di hutan” (halaman 98). 126 Seperti yang dikatakan kepada seorang wartawan Gatra, Genot Widjoseno (lihat B. Lubis, “It Was A Ruthless Dispute in East Timor”, Gatra, 47/IV, 10 Oktober 1998). Kolonel Gatot Purwanto “diberhentikan dengan hormat” dari ABRI pada Februari 1992 sesuai usulan Dewan Kehormatan Militer setelah mengadakan penyelidikan “Pembantaian Santa Cruz - 12 November 1991”. Purwanto adalah kepala intelijen di Timor Timur pada tahun 1991 (yaitu Asisten Intelijen Kolakops). 127 J. Jolliffe, 2002, halaman 342. 128 J. Jolliffe (penyunting), Timor Newsletter, Vol. II, No. 3, Oktober 1983, halaman 6. 129 José Madeira pada waktu juga pegawai negeri (pegawai negeri sipil – PNS) Indonesia. Adão Cabral menjadi seorang pegawai negeri Indonesia - dan kemudian dibunuh oleh orang yang tak diketahui di Luro pada waktu

33 atas, menembak dan membunuh Venancio; sedang Julião Teles menembak dan membunuh Amilcar. Banyak orang Iliomar yang yakin bahwa kejadian di Hamabere ini menyebabkan rusaknya gencatan senjata di seluruh Provinsi. Tetapi, mungkin kejadian yang lebih serius yang terjadi di Kabupaten Viqueque yang menyebabkan berakhirnya gencatan senjata 1983.130 Di Kabupaten Viqueque, pada 8 Agustus – sebagai balasan terhadap gangguan terhadap perempuan-perempuan setempat, orang-orang Timor-Leste dalam pasukan paramiliter ABRI (Ratih) melakukan desersi,131 bergabung dengan gerilyawan Falintil setempat, dan menyerang sekelompok pasukan zeni ABRI di desa Bibileo sekitar 12 kilometer di sebelah barat daya kota Viqueque.132 Falintil membunuh 13 anggota pasukan zeni ABRI, seorang mayor perang uratsyaraf, dan membunuh seorang perempuan perawat ABRI yang tertangkap.133 Tampaknya sebagai pembalasan, pada 21 Agustus, ABRI membunuh 200-300 penduduk desa di wilayah Kraras134 – yang menjadi dikenal sebagai “desa janda,” dan pembantaian ini dilaporkan secara luas.135 Pengaruh-pengaruh lain yang membuat terhentinya gencatan senjata termasuk pengumuman Jenderal Moerdani pada 8 Agustus mengenai akan dilancarkannya operasi “pembersihan” dan serangan Falintil tanggal 10 Agustus terhadap bagian militer lapangan terbang Dili. Selanjutnya, “Operasi Persatuan” ABRI dilancarkan bulan Agustus 1983, menimbulkan korban dan menghasilkan penyerahan Falintil.136 Penyerahan biasanya dirundingkan sebelumnya
bertugas sebagia Camat. Julião Teles dibunuh di Tirilolo selama serangan Falintil tanggal 8 Januari 1985. Mateus Baros tinggal di Dili (2002), dan José Madeira tinggal di Iliomar I sampai kematiannya karena penyakit pada bulan Juni 2002. 130 Katalis bagi penghentian gencatan senjata 1983 tidaklah jelas. Sejumlah sumber mengatakan bahwa gencatan senjata itu dihentikan “secara sepihak” oleh ABRI, sementara sumber-sumber lain mengatakan bahwa sebabnya adalah “serangan Ratih” pimpinan Ular yang merupakan tanggapan terhadap gangguan-gangguan ABRI. Belakangan, sejumlah bekas pemimpin senior Falintil menyatakan bahwa menanggapi “sikap ABRI yang tidak bisa dipercaya,” Falintil merencanakan dan menjalankan “pemberontakan” skala besar pada awal bulan Agustus, mencakup serangan Ular dan aksi Falintil di desa Mehara, bagian timur Los Palos. 131 Sembilanbelas orang Ratih yang melakukan desersi dipimpin oleh Virgílio dos Anjos (“Ular Ryhyk/Asiuk”) – yang sebelumnya adalah seorang pejuang Falintil yang menyerah kepada ABRI tahun 1979. Ia kemudian menjadi Komandan Região IV Falintil pada 1998-1999. C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 140 menyebutkan bahwa 86 orang Ratih terlibat dalam desersi itu. 132 Desa Bibileo “lama” ini sekitar lima kilometer lebih ke utara dari desa Bibileo sekarang. 133 Seperti yang dikemukakan dalam Jornal das FDTL, 1 Desember 2001. Juga dilaporkan bahwa 16 anggota ABRI dibunuh (New York Times, 19 Juli 1985). Jornal das FDTL itu juga mengindikasikan bahwa pembalasan ABRI dimulai pada 7 September. 134 Kraras adalah suatu wilayah sekitar 10 kilometer di sebelah barat daya kota Viqueque, bukan satu lokasi yang spesifik – kadang-kadang ditulis “Craras” atau dalam J. Dunn, 1996, halaman 299, “Creras.” 135 Lihat C. Budiardjo, 1984, halaman 140; J.G. Taylor, 1991, halaman 102, 142, 147; B. Lubis dalam Gatra, No. 47/IV tanggal 10 Oktober 1998. J. Jolliffe, 2002, halaman 286-301 memberikan uraian yang paling mutakhir dan lengkap tentang pembantaian Kraras, dan menyebutkan bahwa pembunuhan-pembunuhan terjadi di beberapa tempat: terutama Be-Lui (7 September) dan Tahu Bein (12 September). Setelah terjadinya insiden Kraras, Falur Rate Laek – yang menjadi komandan Ratih ABRI di Ossu setelah menyerah tahun 1980, juga melarikan diri ke Falintil bersama dengan anak buahnya. 136 Sebuah “Amnesti” diumumkan pertama kali oleh Presiden Soeharto pada 17 Agustus 1977. Orang-orang desa menyebut menyerah sebagai “turun”. Mereka yang menyerah dipaksa untuk memberikan informasi mengenai Falintil, dan perwira-perwira ABRI mengatakan bahwa banyak yang bersedia memberikan bantuan kepada pasukan keamanan Indonesia – lihat pula Instruksi ABRI “Sistem Keamanan …”, Dokumen 2 dalam C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 195 mencatat bahwa “motif” Falintil “sangat rendah karena setelah tertangkap dan diberi kesempatan untuk hidup, pada hari itu juga mereka mulai menentang GPK atau kawan-kawan mereka di hutan”. Kopassus mengklaim bisa “mengubah” seorang Falintil yang ditawan dalam waktu tiga jam (lihat K. Conboy, 2003, halaman 310). Selain Alarico Fernandes, sejumlah kader terkemuka Falintil menyerah dan membantu ABRI, misalnya Lari Sina (Abel Freitas Ximenes) dan Olo Kasa pada awal 1979 (lihat Gusmão, 2000, halaman 59).

melalui kepala desa atau anggota keluarga. Tetapi banyak janji imbalan ABRI tidak dipenuhi dan, setelah periode “murah hati,” orang yang menyerah didiskriminasi dan dianiaya.

Pembunuhan “Hansip”
Di Iliomar pada akhir 1983, satuan Falintil setempat yang dipimpin oleh Serasa telah berkurang menjadi hanya tujuh anggota. Kader Klandestin di pemukiman juga menjadi target ABRI, dan 25-30 orang yang dicurigai sebagai Klandestin ditahan di tahanan kecil (disebut “Comarca” dalam bahasa Tetun) di Sekolah Dasar Iliomar – meskipun sekolah tetap berlangsung. Orang-orang yang ditahan – termasuk Roberto Seixas Miranda (Camat), Americo Jerónimo (Kepala Desa, Ailebere), Fernando da Costa (seorang pegawai negeri), dan Gaspar Pinto (Iliomar II). Gedung Toko Cina juga digunakan oleh ABRI sebagai penjara dan tempat interogasi untuk waktu penahanan yang tidak lama dan lebih keras. Setelah terhentinya gencatan senjata, ABRI memulai operasi terpadu untuk menghabisi Klandestin di Iliomar – terutama di kalangan anggota-anggota Hansip, dan menggunakan anggota-anggota Hansip yang “pro-integrasi” sebagai tangan aksi mereka. Tanggal 9 September, anggota Hansip Filomeno da Gama ditembak mati di dekat Sekolah Dasar Iliomar oleh sesama anggota Hansip atas perintah komandan peleton mereka.137 Tanggal 27 Oktober, Roberto Seixas Miranda, Americo Jerónimo, dan Fernando da Costa dipindahkan dari penjara di Sekolah Dasar Iliomar ke Dili dan kemudian diadili di Dili sebagai anggota Klandestin – Roberto mendapatkan hukuman 12 tahun penjara, sementara Americo dan Fernando masing-masing mendapatkan hukuman tujuh tahun penjara. Ini adalah satu-satunya pengadilan yang dilakukan terhadap Klandestin Iliomar – yang diadakan karena kedudukan penting mereka, Roberto adalah seorang bekas Camat Iliomar (1983) dan Americo adalah kepala desa Ailebere. Roberto juga dikenal baik oleh Gubernur Mário Carrascalão, Administrator Apostolik di Dili, dan Palang Merah Internasional.138 Bulan November 1983, anggota Hansip Carlos da Costa, Luís Lopes, dan Ernesto Madeira dibunuh oleh Hansip lain saat perjalanan dari Iliomar I ke Iradarate, lagi-lagi atas perintah komandan peleton Hansip José Madeira. Tanggal 3 Desember, Belmonte Jerónimo, kepala aldeia Iliomar, dibunuh oleh ABRI karena dicurigai sebagai Klandestin. Tanggal 4 Desember, Joaquim dos Santos dibunuh oleh Hansip di desa Tirilolo, dan Fernando dos Santos dibunuh di aldeia Vatamatar. Tanggal 9 Desember Marcelino Hornay dibunuh. Tanggal 14 Desember Paulo Fernandes dan istrinya Margarida Fernandes dibunuh di pinggiran bagian utara aldeia Titiraven karena dicurigai sebagai Klandestin oleh Hansip. Margarida ditelanjangi dan disiksa, kemudian anggota keluarga mereka dipaksa untuk memukuli Paulo dan Margarida sampai mati. Dalam dua pembunuhan ini, anggota-anggota Hansip diawasi oleh pasukan dari satuan teritorial ABRI. Tanggal 22 Desember, Hansip membunuh sesama anggota Hansip Martinho Monteiro dan Humberto da Cruz, dan pada hari yang sama, membunuh Americo Cipriano dan Venancio da Costa. Americo dan Venancio awalnya diserang di jalan sebelah utara Sekolah Menengah Pertama, kemudian dibawa ke Koramil untuk diinterogasi. Kemudian mereka dikembalikan ke
137 Oleh Domingos Pinto atas perintah komandan Hansip José Madeira. 138 Roberto menjalani hukuman penjara delapan tahun di Cipinang, Jakarta, dan sekarang tinggal di Portugal. Americo juga dipenjarakan di Cipinang, dan kemudian di Dili. Ia dibebaskan dari penjara Becora, Dili pada 17 Agustus 1989, dan pada tahun 2000 dipilih lagi menjadi kepala desa Ailebere.

35 tempat kejadian awal serangan dan dibunuh. Juga pada tanggal 22 Desember, empat orang yang dicurigai sebagai Klandestin: Carlos Correia, kepala desa Iliomar I; Joaquim Sanches, seorang katekis dan kepala aldeia Ara Ara; José Annunciacão; dan António Jerónimo dibawa dari penjara ke aldeia Caentau, di tempat ini anggota keluarga mereka dipaksa untuk memukuli mereka sampai mati – di bawah pengawasan Hansip atas perintah Kopassandha. Empat orang tersebut sebelumnya dipenjarakan di Toko Cina selama kurang-lebih dua bulan – Carlos Correia adalah Sekretaris Fretilin Zona Iliomar (suatu posisi yang tidak diisi setelah kematiannya sampai kedatangan Abílio Quintão Pinto dari Dili pada 1989). Letnan Darmuhadi adalah anggota senior tim Chandrasa139 Kopassandha di Iliomar, tetapi tidak ada di tempat pembunuhan Caentau – yang ada komandan peleton Hansip José Madeira.140 Pembunuhan di Caentau – dan pembunuhan yang sejenis di Maupitine141 di sebelah timur Los Palos, disebutkan oleh Uskup Belo dalam surat tanggal 18 Februari kepada pendahulunya Monsignor Martinho Lopes: “di Maupitini (Lospalos) dan Iliomar, diadakan pengadilan rakyat, yaitu orangorang yang dituduh berhubungan dengan orang-orang di hutan dibunuh di depan orang yang berkumpul, dengan pedang, pisau, dan tongkat, oleh keluarga mereka sendiri … Dan orang Indonesia tertawa puas, mengusap tangan mereka, mengatakan bukan mereka yang melakukan …”142 Juga di Iliomar pada akhir 1983, Claudio Ferreira ditangkap karena dicurigai Klandestin, dibawa dari Iliomar dengan sebuah helikopter ABRI, dan tidak pernah terlihat lagi.

Pemerintahan Indonesia Dikonsolidasikan
Dari 1983 sampai 1989, meskipun sejumlah dukungan kecil terus diberikan kepada Falintil oleh penduduk desa, gerakan Klandestin di Iliomar tidak punya struktur dan efektivitasnya kecil. Pada pertengahan dasawarsa 1980-an, struktur pemerintah dan militer Indonesia di Iliomar dikonsolidasikan, dan kartu tanda pengenal nasional Indonesia, yang disebut KTP (Kartu Tanda Penduduk) dikeluarkan untuk semua orang Timor-Leste yang berumur lebih dari 16 tahun. Administrasi sipil di Iliomar terdiri dari “Camat” (Kepala Kecamatan – lihat daftar pada Lampiran B) dan sejumlah pegawai negeri – hampir semuanya orang Timor-Leste, yang menduduki kantor Kecamatan di Kota Iliomar. Administrasi militer, termasuk polisi, dijalankan oleh Koramil, yang langsung mengontrol
139 Bulan Maret 1983, tim Kopassandha dengan nama sandi dari Nanggala diubah sampai Chandrasa (juga Candraca/Candrasa) – keduanya adalah nama senjata dalam epos Hindu: Nanggala adalah sebuah tombak, dan Chandrasa adalah kapak (K. Conboy, 2003, halaman 30). Nama sandi tim ini kembali menjadi Nanggala pada dasawarsa 1990-an, dan kemudian ditambahkan tim Tribuana (“tiga alam”). 140 Apolonario Annunciação, saudara José Annunciação adalah saksi kejadian ini, seperti Afonso Pinto – yang kemudian menjadi anggota DPRD II di Los Palos. 141 Di desa Maupitine (11 kilometer di sebelah timur Los Palos), lima orang tokoh desa, yang sebelumnya dipenjarakan di Los Palos selama beberapa bulan, dibunuh di depan umum– kemungkinan adalah pembunuhan “Maupitili” Agustus 1983 yang ditulis dalam J.G. Taylor, 1991, halaman 103. 142 Seperti dilaporkan dalam Timor Newsletter, Vol. II, No. 4, Agustus 1984, halaman 7.

satu kompi Hansip yang terdiri dari dua peleton, dan seorang Babinsa (Bintara Pembina Desa – seorang sersan ABRI yang bertugas di desa) masing-masing untuk enam desa yang ada di Kecamatan ini. Kesatuan militer terbesar yang ditempatkan di Iliomar adalah satu kompi batalyon infanteri teritorial (disebut “BTT” singkatan dari “batalyon teritorial”) yang ditugaskan di TimorLeste selama enam sampai dua belas bulan (daftar BTT yang diketahui bertugas di Iliomar ada pada Lampiran C). Sub-unit BTT bermarkas di bekas gedung pemerintahan Portugis di Kota Iliomar dan memiliki 10 pos di seluruh Kecamatan. Untuk operasi-operasi besar di Kecamatan, BTT disertai oleh kesatuan-kesatuan lain dari Lospalos, termasuk unsur-unsur batalyon “organik” “orang Timor-Leste” Yonif 745 (lihat Lampiran C untuk catatan tentang Yonif 745) dan kadangkadang juga oleh unsur-unsur ABRI/TNI dari Kabupaten lain. Operasi-operasi besar itu diarahkan oleh Markas Sektor A di pangkalan udara Baucau yang mengkomando semua operasi lapangan di bagian timur Provinsi ini. Satu detasemen Nanggala/Chandrasa yang terdiri sampai delapan orang juga berpangkalan di Iliomar dan melaksanakan pengumpulan intelijen, termasuk interogasi, dan kegiatan-kegiatan tertutup lainnya. Mulai 1986 detasemen Kopassandha/Kopassus di Lautem dibantu oleh partisan yang direkrut dari penduduk setempat, pada awalnya kebanyakan adalah bekas Falintil, yang dikenal dengan nama “Tim Alfa.”143 Di Iliomar 8-10 anggota Tim Alfa membantu Kopassandha/Kopassus dalam hal pengumpulan intelijen dan berpartisipasi dalam operasi-operasi lapangan. Kehadiran polisi Indonesia berpusat di markas Polsek (Kepolisian Sektor) yang berkekuatan sekitar 20 orang. Sekitar setengah dari mereka direkrut dari Kamra (Keamanan Rakyat), yaitu pembantu polisi yang berpakaian seragam, tetapi tidak bersenjata; dan seorang kopral atau sersan Bimpolda untuk setiap desa. Bimpolda (“Bimbingan Kepolisian Daerah”) tidak tinggal di desa, tetapi di Polsek. Terpisah dari polisi sipil, satu detasemen polisi Brimob yang bersenjata berat juga bermarkas di Iliomar Kota dengan barakbarak yang tempatnya di dekat gedung Kecamatan.

1985 – Falintil Menyerang Iliomar
Tahun 1984 adalah tahun kesulitan bagi penduduk Iliomar, terutama karena kekurangan makanan. Pada 1981 penduduk Tirilolo dan Cainliu diperbolehkan kembali dari tempat pemukiman di Iliomar Kota ke tempat desa asli mereka; dan penduduk aldeia Larimi telah dipindahkan ke wilayah yang bersebelahan dengan aldeia Liafalun desa Cainliu pada 1982. Tetapi akses ke banyak ladang tradisional mereka masih dibatasi oleh pasukan keamanan Indonesia. Gerakan Klandestin di Iliomar tidak aktif, dan hanya ada sedikit kontak dengan Falintil di hutan – dan hanya sedikit makanan atau barang kebutuhan lain yang bisa dibagikan oleh penduduk kepada Falintil. Karena itu pada Januari 1985 Falintil memutuskan untuk menyerang Iliomar untuk mengacaukan ABRI – dan juga untuk membangunkan kembali semangat perlawanan dan dukungan penduduk desa. Namun salah seorang pemimpin utama
143 Dibentuk tahun 1986 oleh Satuan Tugas (Satgas) 86 Letnan Kolonel Luhut Panjaitan, Tim Alfa berpusat di Lautem ini awalnya terdiri dari 20 orang Timor-Leste dan satu sampai sembilan orang Kopassandha/Kopassus. Tim Alfa diberi nama sesuai dengan nama komandan pertamanya yang orang Timor-Leste, Alfonso (lihat K. Conboy, 2003, halaman 310-312).

37 Falintil setempat, Lere Anan Timor, tidak setuju dengan taktik penyeranganannya – terutama rencana mendekati dan mundur, dan menolak ikut. Pada sekitar pukul 22.00 tanggal 8 Januari 1985, satu pasukan besar Falintil yang dipimpin oleh Mauk Moruk (Paulino Gama),144 terdiri dari pejuang dari empat kompi: dari Baguia, Tutuala, Uatolari, dan Iliomar – dengan kompi Iliomar dipimpin oleh Armando Nolasco (“Koro Asu”)145 – menyerang Iliomar. Sekitar 50 rumah dibakar di desa-desa Iliomar I, Ailebere, dan Tirilolo – banyak yang tidak sengaja. Di aldeia Vatamatar, tujuh penduduk desa tidak bersenjata dibunuh dalam pertempuran: António Moraun, Tómas Barreto, Francisco Ruas, António da Costa, Rosa dos Santos, Luciana de Deus, dan António. Selama pertempuran di wilayah Lubu-Lari, dekat Kota Omar (Ailebere), seorang pejuang Falintil, Teófilo juga terbunuh. Di sebelah barat aldeia Titiraven pada sekitar pukul 22.00, enam orang desa yang salah dikira sebagai anggota ABRI dibunuh oleh Falintil di jalan dari aldeia Caidalavarin: Daniel da Costa (Titiraven), António da Costa (Cainliu), Calisto da Costa (Cainliu), dan Venancio da Cruz (Maluhira). Di Tirilolo, Julião Teles – seorang Hansip yang terlibat dalam pembunuhan “kontak damai” Desember 1983, mengalami luka parah – kemungkinan oleh tembakan mortir ABRI dari posisi mereka di Bukit Baitomar mendukung pos ABRI di Tirilolo. Pada serangan itu, Camat Jaime da Costa tidak ada di tempat pergi ke Uato-Carabau (Kabupaten Viqueque) – ia pergi ke tempat itu untuk menerima 20 truk bahan makanan untuk Iliomar. Gubernur Mário Carrascalão mencatatnya sebagai “kenangan paling pahit ketika kelaparan menyerang kecamatan Iliomar pada tahun 1985”.146

Penyerangan Falintil di Mata Air Ossohira – 21 Desember 1986
Setelah terjadinya reorganisasi 1985, kekuatan Falintil di Lautem bagian barat terdiri dari satu “batalyon” di bawah komando Taur Matan Ruak147 dengan “Kompi A” di bawah Koro Asu dan “Kompi B” di bawah João Miranda. Selembar peta intelijen ABRI pada bulan Maret 1985 mengindikasikan adanya satu pangkalan Falintil di satu tempat yang letaknya beberapa kilometer di sebelah timur Iliomar Kota membentang Sungai Namaluto dan satu pangkalan lainnya di bagian barat jalan Los Palos-Lore. Selembar peta Falintil akhir 1985 menunjukkan pasukanpasukan Indonesia di Iliomar Kota dilengkapi dengan artileri, dengan artileri lainnya ditempatkan
144 Mauk Moruk Ran Nakali Lemori Teki Timor (Paulino Gama) kemudian sangat tidak setuju dengan Xanana Gusmão dan menyerah kepada ABRI tanggal 24 Januari 1985. Ia ditahan selama empat tahun di Jakarta, “melarikan diri” melalui Thailand ke Eropa pada 1990, dan sekarang tinggal di Negeri Belanda (Gama, 2000, halaman 103). Ia juga menulis secara kritis ekses-ekses Fretilin pada pertengahan-akhir dasawarsa 1970-an (misalnya email Gama “Daftar Kejahatan … Fretilin”, 12 Juli 2001). Cornelio Gama (“Eli 7”) adalah saudara laki-lakinya (lihat catatan nomor 234). 145 “Koro Asu”, lahir di Lore, dianggap sebagai salah satu dari komandan Falintil yang paling sukses di wilayah Lautem. Ia terbunuh dalam bentrokan senjata dengan ABRI di dekat Lore pada tahun 1987. 146 “Carrascalao Cites Purwanto”, The Jakarta Post, 15 Juli 1992, halaman 2. 147 Beberapa tahun kemudian, Taur Matan Ruak (José Maria Vasconcelos) dan kelompoknya dikepung oleh ABRI di Gunung Bibileo (Viqueque) dan menyerah (31 Maret 1979). Matan Ruak melarikan diri 23 hari kemudian. Sebagai brigadir jenderal, ia diangkat menjadi Panglima Angkatan Pertahanan Timor-Leste F-FDTL) pada bulan Februari 2001.

di sebelah utara Iliomar di Luro Kota.148 Sejak tahun 1986, pemerintah Indonesia mulai memperbaiki dan mengaspal jalan dari Los Palos menuju Iliomar dan ke barat daya menuju Viqueque. Perusahaan-perusahaan swasta Indonesia menggunakan pekerja Timor-Leste yang membangun hampir semua jalan itu, tetapi sebagian jalan dikerjakan oleh pasukan Zipur (Zeni Tempur) ABRI terutama dari Batalyon 3 asal Bandung dan Batalyon 9. Pada tanggal 21 Desember sekitar pukul 09.00, sekelompok tentara Zipur diserang oleh Falintil di tempat sekitar dua kilometer di sebelah utara aldeia Maluhira (sekitar lima kilometer di sebelah utara Iliomar Kota – lihat peta pada Lampiran A). Pasuken zeni (Zipur 9), dengan sejumlah kecil anggota Yonif 327, meninggalkan pangkalan mereka di sebelah Sungai Paifakaver di dekat Tirilolo dengan sebuah truk Unimog dan menuju timur laut ke Los Palos. Kelompok ini berjumlah 35 orang: 34 ABRI dan satu orang Timor-Leste TBO (Tenaga Bantuan Operasi).149 Pasukan Falintil berkekuatan sekitar 30, dipimpin oleh Koro Asu, terdiri dari peleton-peleton Koro Asu dan Renan Selak (juga disebut “Rena Selak” – nama perjuangan dari Faustino dos Santos), bersama dengan sekitar delapan pemuda berusia 12-13 tahun yang menjadi portir. Kelompok Falintil sebelumnya berangkat dari pangkalan mereka di Hedan di kawasan Buidala, beberapa kilometer ke timur di wilayah Sungai Namalutu. Ketika kendaraan ABRI mulai menanjaki lereng tenggara Gunung Acadiroloho dan mendekati Mata Air Ossohira (GR 620400) sekitar 200 meter di utara tikungan ke Bubutau, Falintil memulai penyerangan. Para pejuang Falintil ditempatkan di kedua sisi jalan – terutama di lereng berpohon-pohon yang curam di sebelah timur jalan, tetapi juga dengan unsur-unsur “pemotong” di lembah sempit sebelah barat jalan. Satu senapan mesin kelompok Falintil ini, yang dikendalikan oleh Vicente Lourdes150 (asal Bubutau), memulai penembakan yang berlangsung sekitar 12 menit – yang dalam waktu itu Falintil juga menggunakan tiga granat. Para pejuang Falintil kemudian bergerak ke depan dan membunuh orang yang terluka. 34 orang yang berada dalam kendaraan ABRI dibunuh – seorang tentara yang terluka, yang oleh Falintil dikira sudah mati, kemudian bangun.151 Falintil merampas 34 senjata – senapan M16 dan M15, amunisi, ransel, pakaian seragam, dan sepatu. Ketika pergi, Falintil menembak ke pos ABRI terdekat. Sekembalinya ke pangkalan Falintil, dan mengantisipasi tindakan pembalasan yang dilakukan ABRI, senjata-senjata dan perlengkapan dibagikan habis, dan pasukan dipecah menjadi beberapa kelompok kecil.152 Kemudian, pangkalan Falintil di Hedan diganti nama menjadi “34” dalam bahasa Tetun untuk merayakan penyerangan 21 Desember 1986 di Mata Air Ossohira.153
148 Satu peta gabungan dilengkapi komentar dicetak dalam Timor Link, No. 6, Juni 1986, halaman 1-2. “Artileri” di Iliomar kemungkinan adalah sebuah mortir ABRI yang ditempatkan di puncak Bukit Baitomar. 149 Untuk rincian mengenai TBO, baca C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, Dokumen ABRI 6, Petunjuk Teknis No. JUKNIS/06/IV/1982 bertanggal 10 September 1982, halaman 226. 150 Vicente Lourdes, berumur 40, menyerah kepada Yonif 612/MD di Bubutau pada 18 Januari 1996. Perhatikan juga keterlibatannya dalam penyerangan terhadap Gubernur Abílio Soares tanggal 26 September 1995 di Namane. 151 Tentara Indonesia yang mati dalam pertempuran di Kabupaten Lautem biasanya tidak dikuburkan di “Taman Makam Pahlawan” di Los Palos, yang hampir seluruhnya untuk orang Timor-Leste, tetapi di tempat pemakaman ABRI di Dili. 152 Dalam wawancara tahun 2002, seorang peserta penghadangan itu menyebutkan bahwa Xanana berada di pangkalan ketika mereka kembali, sementara yang lain mengatakan bahwa Xanana berada di Gunung Paitxau (juga “Paichau” dan “Gunung Poitchou”), sekitar 22 kilometer di sebelah timur Los Palos Kota. 153 Pejuang Falintil Silvestre Maurubi dianggap sebagai perancang utama serangan tersebut. Tetapi menurut dua sumber yang diwawancarai, penghadangan tersebut tidak direncanakan. Nolasco, Renan, dan Falo Chai pergi ke Baguia untuk menemui Mauk Moruk dan, ketika kembali, melihat kendaraan Zipur 9 dan cepat-cepat melancarkan penyerangan – yang merosot nilainya akibat Mauk Moruk menyerah pada 24 Januari 1985 dan Falo Chai dilaporkan terbunuh pada tahun 1985.

39 Membalas penghadangan (“emboscado”) Falintil itu, ABRI melancarkan satu operasi lanjutan di kawasan hutan dan juga melakukan tindakan keras terhadap Klandestin di Kecamatan Iliomar. Di Tirilolo, ABRI menyiksa dan membunuh seorang anggota Klandestin, Pedro Correia, yang dicurigai sebagai mata-mata. Pedro dikebiri dan lehernya digorok – mayatnya ditemukan oleh penduduk desa empat hari kemudian. Di Cainliu, Julio Madeira ditembak matanya – tetapi hidup; dan Diborsio dilukai oleh tentara-tentara dari Yonif 745 Los Palos, tetapi bisa sembuh. Sejumlah anggota Hansip juga ditahan: Luís Camões, Luís da Costa, António da Costa – semua dari Fuat; Feliciano Ferreira dan Domingos Rodrigues – dari Cainliu; dan Manuel dari Tirilolo. Semuanya diinterogasi dan disksa oleh Kopassus di Los Palos, dan kemudian ditahan di Balide (Dili) selama dua bulan. Sekembalinya mereka dari tahanan di Dili, semuanya kecuali Domingos (yang mengaku disiksa untuk bertemu dengan Falintil) kembali ke tugasnya sebagai Hansip dan kemudian menjadi anggota Milsas (penjelasan mengenai Milsas – pembantu ABRI – ada di bawah). Penghadangan Falintil Desember 1986 di Mata Air Ossohira adalah salah satu dari aksi besar terakhir Falintil terhadap militer Indonesia.154 Mengutip satu dokumen Fretilin, satu laporan ringkas mengenai aksi itu yang muncul dalam sebuah buletin Katolik pada pertengahan 1987 yang diterbitkan di Sydney menyebutkan sebagai berikut: “Tanggal 16 November di Iliomar (distrik Lospalos) gerilyawan membunuh 36 orang Indonesia, merampas semua senjata mereka. Laporan-laporan mengatakan bahwa 26 orang ditahan sebagai pembalasan yang 10 di antaranya dibunuh dan 16 orang melarikan diri … Satu laporan yang ditulis kemudian setelahnya mengatakan bahwa pembalasan lebih lanjut dilakukan terhadap penduduk sipil di wilayah itu. Juga pada 16 November, pukul 6 sore, 25 mayat orang Indonesia tiba di Dili dengan helikopter; lampu kota dipadamkan ketika mereka dikuburkan, pada pukul 7 malam.”155

Memperluas Dukungan Perlawanan – Pembentukan CNRM
Bulan April 1986, Xanana secara rahasia bertemu dengan Administrator Apostolik Monsignor Belo di sekolah Fatumaca di selatan Baucau. Belo menegaskan bahwa menyerang sasaran sipil itu tidak sah dan disebutkan menasehati Xanana agar menempuh jalan politik bukannya jalan perjuangan bersenjata – “Ubahlah strategi kalian”.156 Xanana menganggap bahwa Belo berada dalam tekanan politik dan psikologis yang berat,157 dan hanya ada sedikit dasar untuk tercapainya kesepakatan antara keduanya. Mulai 1987, Falintil memasuki periode krisis, dan mengalami banyak korban ketika
154 Tanggal 31 Mei 1997, Falintil menyerang sebuah kendaraan ABRI di dekat Quelicai, sekitar 40 kilometer di sebelah tenggara Baucau, membunuh 16 orang polisi (hampir semuanya Brimob) dan satu orang tentara. 155 “Military Situation”, halaman 2 dalam Timor Link, No. 10, Juli 1987. Perhatikan perbedaan tanggal penyerangan, yaitu tanggal 21 Desember dan 16 November. 156 A.S. Kohen, 1999, halaman 158-159. 157 Lihat ucapan sambutan Gusmão tanggal 20 Mei 1986, “A History That Beats in the Maubere Soul”, dalam Gusmão, 2000, halaman 125 dan lihat pula halaman 139. Uskup Belo awalnya mengkritik Fretilin dalam sebuah wawancara akhir tahun 1984 di surat kabar The Age yang terbit di Melbourne – menyebut para gerilyawan yang seperti ABRI, “menteror penduduk, membakar rumah-rumah, mencuri dan mengambil makanan, …” (lihat J. Jolliffe [penyunting], Timor Newsletter, Vol. II, No. 4, Agustus 1984, halaman 7.

operasi-operasi ABRI menjadi lebih efektif – yang mencakup pasukan Kopassus menyamar sebagai Falintil.158 Dalam periode ini, pasukan Hansip di Iliomar diubah menjadi “Wanra” (Perlawanan Rakyat) dan tetap bersenjata.159 Kekuatan Falintil untuk seluruh Provinsi ini berkurang menjadi sekitar 500 orang. Bulan Desember 1987, pada pertemuan di Aitana di Sektor Tengah, Xanana Gusmão, sebagai pemimpin Perlawanan, mengeluarkan Falintil dari Fretilin, dan menyatakan Falintil sebagai tentara pembebasan nasional yang tidak terkait dengan, atau didominasi oleh, partai politik manapun. Pemimpin utama lainnya yang hadir pada pertemuan itu adalah Mau Hunu (juga ditulis “Ma’ Huno”) Belere Karataiano dan Mau Hodu Ran Kadalak. Memberikan perhatian besar pada perjuangan politik dan diplomasi, pada tahun 1988 Xanana membentuk Conselho Nacional da Resistência Maubere (CNRM) untuk memperluas dukungan nasionalis – menggantikan CRRN, dengan dirinya sendiri sebagai pemimpinnya dengan gelar “Responsável Principal.” Di dalam Timor-Leste, Komite Eksekutif CNRM terdiri dari tiga orang komandan lapangan Falintil, lima pemimpin Klandestin, dan tiga anggota Fretilin. Sikap tidak berpartai (“apartadarismo”) ini juga melibatkan pengakuan akan peran semua orang nasionalis, seperti mahasiswa dan partai-partai politik seperti UDT, dalam perjuangan untuk penentuan nasib sendiri. “Pembelokan ideologis” ini, yang pertama disampaikan kepada publik dalam pidato Xanana tanggal 7 Desember 1987,160 secara resmi disebut “Readjustmento Estrutural do Resistencia” – “Reorganisasi Struktur Perlawanan”. Falintil terus di bawah pengarahan Xanana. Di Iliomar pertengahan dasawarsa 1980-an, dari kesatuan Serasa yang terdiri dari tujuh orang, semuanya terbunuh dalam pertempuran dengan ABRI – kecuali Serasa yang bergabung dengan kesatuan Lere pada 1988. Kesatuan Lere saat itu terdiri dari: Lere, Serasa, António, José Pinto, Vitorino, Armindo, dan Casimiro. Tahun 1989, dengan perbaikan keadaan keamanan, pemerintah Indonesia di Iliomar membolehkan penduduk Caidabu untuk kembali ke tempat asli Caidabu sekitar 11 kilometer di sebelah utara Iliomar Kota.161 Tahun itu, seorang atase militer dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta melakukan kunjungan singkat ke Iliomar dan berkomentar bahwa orang di sana “bersedih,” dan bahwa wilayah itu adalah “bagian yang paling miskin dari kawasan yang miskin”.162 Pada akhir tahun 1989, Abílio Quintão Pinto kembali dari Dili ke Iliomar untuk mengajar di Sekolah Menengah Pertama Katolik dan mulai membangun kembali organisasi Klandestin. Juga, Fernando Lie kembali ke Iliomar, menduduki kembali gedung-gedung Toko Cina, dan memulai kembali kegiatan dagang termasuk berdagang kopra.

Awal 1990-an: Perluasan Perlawanan dan “Militerisasi” ABRI
Pada akhir 1980-an, kekuatan Falintil merosot sampai menjadi kurang dari 100 pejuang aktif di hutan dan melakukan perubahan strategi yang diperlukannya.163 Bulan Juni 1990, deputi politik CNRM Mau Hodu melakukan rapat dengan beberapa pemimpin Klandestin di dekat Baucau untuk menyusun rencana pembentukan gerakan bawah tanah yang bersatu. Kemudian
158 K. Conboy, 2003, halaman 310. 159 Tidak semua Hansip di Timor-Leste diubah, Hansip (ada yang tidak bersenjata) dan Wanra (bersenjata) terus beroperasi di kecamatan lainnya, termasuk sampai akhir dasawarsa 1990-an. 160 Gusmão, 2000, halaman 129-136. 161 Timor-Leste “dibuka” tahun 1989 dengan keluarnya pernyataan Presiden Soeharto pada 27 Desember 1988. 162 Letnan Kolonel H.W. Maynard (Angkatan Udara Amerika Serikat) juga berkomentar bahwa “kepala polisi meminta helicopter diterbangkan keluar” – lihat East Timor Colloquy, 1991, halaman 174, 181. 163 Lihat sambutan Xanana Gusmão pada Upacara Transisi Falintil, Aileu, 1 Februari 2001, “Kita berkurang sampai menjadi kurang dari 100 orang”.

41 pada bulan Juli 1990, sebuah Komite Eksekutif Front Klandestin dibentuk dalam sebuah rapat di Dili, memilih Constâncio Pinto sebagai Sekretaris.164 Dari 1989 sampai 1993, operasi-operasi ABRI di Timor-Leste dilaksanakan oleh Kolakops (Komando Pelaksana Operasi)165 dengan tiga markas operasi lapangan: Sektor A berpusat di Baucau (meliputi tiga kabupaten termasuk Lautem), Sektor B di Ainaro/Same (meliputi sembilan kabupaten), dan Sektor C di Dili.166 Tahun 1991 Sektor A mengendalikan operasi-operasi keamanan utama, termasuk pasukan Kodim dan Koramil, di Baucau, Viqueque, dan Lautem – bersama dengan lima “batalyon infanteri pemukul” ABRI.167 Operasi-operasi utama ke Iliomar, terutama ke wilayah bagian timur subdistrik ini, biasanya melibatkan gabungan pasukan ABRI: batalyon pemukul,168 batalyon teritorial – termasuk Yonif 745 organik, Brimob, dan unsur-unsur paramiliter. Di dalam wilayah operasi Sektor A, ABRI menaksir kekuatan gerilya Sektor Timur (Ponta Leste) Falintil pada tahun 1991 adalah 67 gerilya dengan 45 pucuk senjata, yang beroperasi dalam kelompok-kelompok enam orang – ditambah 39 “anggota sel.”169 ABRI juga berusaha mengklasifikasikan Provinsi ini dari segi “daerah rawan,” menyebut Los Palos di ujung timur Provinsi ini sebagai “Kategori IV” – dengan sekitar 60 persen penduduk bersikap proIndonesia, 22,5 persen “potensial,” 0,5 persen “aktifis” Falintil, dan sekitar 2 persen pendukung Perlawanan.170 Analisis ABRI juga menyebutkan sejumlah rute sebagai “rawan” dengan wilayah yang berbatasan dengan wilayah operasi Falintil. Di dalam Distrik Lautem, ini mencakup jalan utama di pantai dari Baucau sampai Los Palos, dan jalan dari Los Palos ke Iliomar.171 Daerah rawan Klandestin yang dimasukkan dalam daftar Sektor A adalah Iliomar, Los Palos, Mehara, dan Maluro. Setelah terjadinya “Pembantaian Santa Cruz” November 1991, komandan Kolakops yang
164 Donaciano Gomes dan José Manuel dipilih sebagai wakil sekretaris – Pinto dan Jardine, 1997, halaman 124. Constâncio Pinto, yang nama perjuangannya “Terus” (“menderita” dalam bahasa Tetun) ditangkap pada 25 Januari 1991, dibebaskan pada 1 Februari 1991, dan melarikan diri dari Timor-Leste pada 16 Mei 1992. 165 Pendahulunya adalah Kohankam (1976-1984) dan Koopskam (1984-1989). Setelah penghapusan Kolakops pada 30 April 1983, markas Sektor A dan Sektor B dipertahankan dan operasi-operasi dikendalikan oleh Komandan Korem 164 – dengan kemungkinan “pengarahan” dari Markas Grup 3 Kopassus di Batu Jajar, Jawa Barat (lihat Tapol Bulletin, 154/5, November 1999; D. Kammen, “Notes on the Transformation of the East Timor Military Command and Its Implications for Indonesia”, Indonesia, No. 67, April 1999 (Cornell University, Ithaca), halaman 71-74; dan G. Van Klinken & D. Bourchier, “The Key Suspects”, halaman 134-135, dalam H. McDonald dkk. (penyunting), Masters of Terror: Indonesia’s Military & Violence in East Timor in 1999, Canberra Papers on Strategy & Defence No. 145 (Australian National University, Canberra, 2002). 166 Mengenai organisasi Kolakops lihat pula A. Ahmadi (penyunting), 1999, halaman 470. Sektor C (Dili) dihapuskan tahun 1992 – ketika, selama Operasi Tuntas, Markas Sektor B ditempatkan di Dili. 167 Brigadir Jenderal R.S. Warouw, Rencana Operasi “Halo Kapaz,” 30 Agustus 1991. Operasi ini dimulai bulan Agustus 1991 dan direncanakan akan dilancarkan sampai bulan November dengan tujuan menjamin keamanan yang memuaskan untuk kunjungan delegasi parlemen Portugis pada akhir 1991. 168 Dari pertengahan 1990-an, batalyon-batalyon ini, yang kebanyakan gabungan, disebut “Rajawali” dan juga dibentuk “Kompi Pemburu” yang berdiri sendiri – pasukan memakai tanda “Rajawali” dan “Pemburu” di bahu pakaian seragam lapangan mereka. 169 Ibid., Rencana Operasi “Halo Kapaz,” Lampiran C, Intelijen. Kelompok-kelompok tersebut adalah Alex (12 orang, 9 pucuk senjata); Sabica (6 orang, 3 pucuk senjata); Trick (10 orang, 5 pucuk senjata); Alux (9 orang, 8 pucuk senjata); Rodak (10 orang, 7 pucuk senjata); Rangkabian (8 orang, 5 pucuk senjata); Pieter Doly (8 orang, 3 pucuk senjata); dan Lemorai (4 orang, 4 pucuk senjata). 170 Ibid., Sub-Lampiran I untuk Lampiran C memberikan “bagian kue” yang rumit dengan kue seluruh Provinsi memperlihatkan 60 persen pro-Indonesia, 39,4 persen “potensial,” 0,05 persen “aktifis,” dan 0,5 persen pendukung Perlawanan. 171 Ibid., Sub-Lampiran II memperlihatkan kelompok Mau Nana (8 orang) dan kelompok Bonifacio (8 orang) di sepanjang jalan Los Palos-Iliomar.

baru, Brigadir Jenderal Theo Syafei, menjalankan “pendekatan keamanan” yang lebih keras172 terhadap Perlawanan dan melancarkan operasi besar seluruh Provinsi, “Operasi Tuntas.”173 Dokumen-dokumen “Operasi Tuntas” ABRI memperlihatkan bahwa ABRI menilai bahwa kekuatan Falintil seluruh negeri telah meningkat dari 143 gerilyawan dengan 100 pucuk senjata menjadi 245 gerilyawan dengan 130 pucuk senjata.174 Kelompok-kelompok yang beroperasi di dalam Distrik Lautem terdiri dari Rodak (11 orang, di timur Laga), Taur Matan Ruak (5 orang, kawasan Gunung Legumau), Rangkabian (6 orang, di utara Luro), Alux (14 orang, merentang jalan Los Palos-Iliomar), Piter Doli (12 orang, Maupitine), dan Bonifacio (12 orang, Mehara), seluruhnya berjumlah 60 orang dengan 37 pucuk senjata. ABRI masih kuatir terhadap besarnya pengaruh dan kontrol Perlawanan – khususnya di kawasan pedesaan, dan lagi-lagi berusaha menghitung ancaman per wilayah. Perintah operasi Kolakops untuk “Operasi Tuntas” berisi satu daftar klasifikasi keamanan untuk 442 desa TimorLeste.175 Daftar ini membagi desa-desa ke dalam merah, kuning, dan hijau – berdasarkan tingkat “kerawanan”-nya. Seluruh Provinsi, 18 persen digolongkan “merah,” 45 persen “kuning,” dan 37 persen “hijau.” Untuk 34 desa di Lautem, 12 digolongkan “merah,” 12 “kuning,” dan 10 “hijau” – membuat Lautem, bersama dengan Viqueque, Ainaro, dan Manufahi, menjadi kabupatenkabupaten yang paling “rawan” di seluruh Provinsi.176

172 Liem Soei Liong dan C. Budiardjo, “Military Operations Strangulating East Timor”, TAPOL, Topic 354, 21 Desember 1992 (http://basisdata.esosoft.net/1992/12/22/0007.html) menyebutkan Syafei mengkritik “pendekatan kesejahteraan” pendahulunya, mengutip wawancara Syafei dalam Suara Pembaruan, 4 Maret 1992. 173 Brigadir Jenderal T. Syafei, Perintah Operasi “Tuntas I”, Kolakops, Dili, 1 April 1992. “Tuntas” dimulai bulan April 1992 dengan operasi-operasi di Sektor A (Timur), B (Pusat, berpangkalan di Dili), dan operasi satuan tugas berdiri sendiri di Kabupaten Aileu, Covalima, Bobonaro, Ermera, Liquiça, dan Ambeno/Oecussi. Operasi-operasi Sektor A (bermarkas di pangkalan udara Baucau) menggunakan tiga batalyon pemukul, satu kesatuan pasukan khusus (Dampak 86), dan satuan tugas berdiri sendiri di enam kabupaten (Baucau, Lautem, Viqueque, Manatuto, Ainaro, dan Manufahi). 174 Ibid., Lampiran C untuk Perintah Operasi “Tuntas I,” Kolakops, Dili, 1 April 1992. 175 Ibid., Lampiran D, Sub-lampiran 1 – dan juga disebutkan dalam S. Moore, “The Indonesian Military’s Last Years in East Timor: An Analysis of Its Secret Documents,” Indonesia, No. 72, Oktober 2001 (Cornell University, Ithaca), halaman 13-14. 176 Perintah Operasi “Tuntas” tidak memberikan peringkat warna untuk kecamatan atau masing-masing desa.

43 Menanggapi peningkatan ancaman Falintil, ABRI juga memulai program perbaikan pasukan paramiliternya di Timor-Leste. Program ABRI ini – disebut “Milsas” (militerisasi), hanya dilaksanakan di Timor-Leste177 dan kebanyakan “meregulerkan” unsur-unsur Wanra yang sudah ada. Milsas seringkali disebut “tentara tiga bulan,” dan perwira-perwira tinggi di Jakarta kadang-kadang menyebut Milsas sebagai “ABRI putra daerah”.178 Informasi yang diberikan untuk sebuah laporan Senat Amerika Serikat pada 1996 oleh sejumlah pastor Timor-Leste mengindikasikan bahwa unsur-unsur Milsas telah dibentuk di hampir semua kabupaten, dengan 300 orang di Kabupaten Lautem.179 Bulan Agustus 1998, catatan-catatan TNI menyebutkan 2.566 Milsas dan 929 Wanra di Timor-Leste.180 Di Iliomar, Wanra, yang jumlahnya sekitar 4 orang dalam dua peleton, menjalani peningkatan dan namanya menjadi “Milsas.” Dalam kelompok-kelompok kecil, anggota Milsas Iliomar menjalani latihan militer yang berlangsung selama tiga bulan di tempat latihan ABRI, terutama di Bali dan di Malang (Jawa Timur), dan kadang-kadang di Bandung (Jawa Barat) dan Kupang (Timor Barat). Milsas memakai seragam loreng ABRI, dengan lambang Angkatan Darat; dan di Kabupaten Lautem, memakai lambang Kodim setempat, garis merah sebagai tanda pangkat, topi loreng dengan bintang hitam di tengah, dan bersenjata. Sekitar waktu itu, pasukan Kamra pembantu polisi Iliomar dimasukkan ke dalam Polri (Kepolisian Republik Indonesia). Meskipun memakai seragam Polri, bekas Kamra setempat masih bisa dibedakan dari Polri “biasa” karena Kamra tidak memakai tanda pangkat, sementara anggota Polri biasa paling tidak memakai tanda satu garis.

Merosotnya Perjuangan Bersenjata dan Pertumbuhan “Klandestin”
Pada pertengahan Februari 1991, setelah hampir tertangkap di wilayah Ainaro, pemimpin CNRM dan Falintil Xanana Gusmão pindah ke Dili dan tinggal secara rahasia di Lahane pinggiran bagian selatan kota, dan dengan menyamar pergi mengunjungi seluruh wilayah TimorLeste.181 Bulan Juli 1991, Xanana bertemu secara rahasia dengan Uskup Belo di Ossu, sebelah selatan Baucau. Xanana mengusulkan agar misa khusus diadakan di Dili untuk kunjungan satu delegasi parlemen Portugis, tetapi ini ditolak oleh Uskup karena “terlalu berbahaya” – kuatir bahwa akan terjadi demonstrasi dan konfrontasi akan mengakibatkan banjir darah.182 Tanggal 23 Januari 1992, utusan politik Xanana, Mau Hodu Ran Kadalak (José da Costa) ditangkap di Dili.183 Pada waktu itu, 1992, garis besar organisasi Perlawanan adalah:
177 Dr. A. Hasibuan dan T.M. Lubis (Ketua), “Laporan Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM) Timor Timur”, Jakarta, 31 Januari 2000, paragraf 38 (http://www.asahi-net.or.jp/~ak4amtn/dokuments/kppham.html). Laporan lengkap juga dimuat dalam H. McDonald dkk. (penyunting), Masters of Terror, 2002, halaman 15-59 dengan komentar oleh H. McDonald dkk. pada halaman 6-14. 178 Hasibuan & Lubis, 2000, paragraf 38. Sejak tahun 2000 pengumuman resmi Indonesia sering menyebut Milsas sebagai “pasukan cadangan TNI.” 179 Senator C. Pell, 1996, CRS Military Appendix VIII.A.d. to: A Report to the Committee for Foreign Relations, US Senate, US Government Printing Office, Washington, 1996. 180 Comissão para os Direitos do Povo Maubere, “ETO: Breakdown of Indonesian Armed Forces Stationed in ET”, FA03-1999/02/10eng, 11 Februari 1999, halaman 2 (http://www.etan.org/et/1999/february/8-14/11eto,htm). 181 C. Pinto dan M. Jardine, 1997, halaman 160-161. 182 A.S. Kohen, 1999, halaman 189. Pertemuan selanjutnya Uskup Belo dengan Xanana (ketiga) berlangsung di penjara Cipinang (Jakarta) Juli 1998 dan menurut Uskup Belo: “lebih akrab, terbuka, bersahabat”. 183 Mau Hodu diberi amnesti pada 1993 (Simbolon, AFP, “Military repeats its amnesty offer for E. Timor rebels”, 8 Desember 1996). Pada 1999 Mau Hodu menjadi Sekretaris Politik Fretilin, dan “hilang” pada tanggal 8 September

Panglima: Xanana Gusmão Wakil: Taur Matan Ruak Staf senior: Mau Hunu, Mau Nana, Mau Konis Konis Santana (Asisten Politik) Região Fronteira CONDOP Barat Venancio Ernesto (“Dudu”) Região Centro CONDOP Tengah Lere (1987-1994) Ular Ryhyk Falur Rate Laek (Domingos Raul) (1994-1999) Região Ponta Leste CONDOP Timur Armando Nolasco (-1987) David Alex Lere Anan Timor (1994-1999)

Catatan: Dengan tertangkapnya Xanana di Lahane (Dili) pada 20 November 1992 oleh tim Kopassus yang dipimpin oleh Mahidin Simbolon (yang kemudian diangkat menjadi Danrem 164), Xanana digantikan sebagai pemimpin Falintil oleh Mau Hunu (juga dikenal sebagai Ma’Huno Bulerek Karataiano – António João Gomes da Costa), yang dia sendiri enam bulan kemudian juga tertangkap184 dan digantikan oleh Konis Santana.185 Dengan kematian Konis Santana pada 11 Maret 1998 karena jatuh di jurang di kawasan Ainaro (atau meninggal di kawasan Ermera karena luka pelurunya terkena infeksi), Konis Santana digantikan oleh Taur Matan Ruak. __________________________________________ Penduduk Iliomar menyebut masa 1990-an sebagai “sudah aman” – dengan berkurangnya gangguan dari ABRI dan sedikitnya bentrokan bersenjata. Penduduk Iliomar juga menjadi lebih menerima pendudukan Indonesia, dengan beberapa laki-laki menjadi “pegawai negeri sipil” dan banyak yang menjadi anggota ABRI, termasuk Polri. Sejumlah pemuda Iliomar berdinas di kesatuan-kesatuan infantri Kostrad,186 termasuk dalam penugasan operasi di Irian Jaya, tetapi sangat sedikit, jika ada, dari mereka yang bertugas dalam Yonif 745 Los Palos.187
1999 setelah ditahan oleh TNI/Milisi di Kupang, Timor Barat. Menurut I. Cristalis, 2002, halaman 257 mayatnya digali dari sebuah kuburan dangkal pada bulan Oktober 1999 di Batugade (wilayah Timor-Leste di pantai utara, beberapa kilometer dari perbatasan dengan Indonesia). 184 Mau Hunu ditangkap pada 3 April 1993, sekitar 56 km di sebelah selatan Dili. Ia diberi amnesti pada bulan Agustus 1993 (Kolonel M. Simbolon, Danrem 164 - AFP, “Military repeats its amnesty offer for E. Timor rebels”, 8 Desember 1996). Dicalonkan oleh Fretilin untuk Dewan Konstituante pada pemilihan umum 2001, ia mengalami strok dan mengundurkan diri dari kedudukannya. Istrinya, Maria Teresinha Viegas adalah anggota Parlemen Nasional (2003). 185 Perlawanan saat itu dipimpin oleh suatu “troika” Konis Santana, Keri Laran Sabalae (Pedro Nunes, Sekretaris Front Klandestin), dan Ramos-Horta (“Luar Negeri”) sampai Resolusi 1/03/94 yang mereka keluarkan menetapkan kembali Xanana sebagai pemimpin pada bulan Mei 1994 (Lusa, Jornal de Noticias, 10 Mei 1994). Sabalae ditangkap oleh ABRI di dekat Gleno, sekitar 45 kilometer di sebelah barat daya Dili, pada tanggal 1 Juni 1995 dan kemudian dibunuh. 186 Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) kesatuan-kesatuannya lebih efektif dan siap tempur dibandingkan kesatuan-kesatuan teritorial di bawah komando Kodam. 187 Pada pertengahan 1998 sejumlah 6.097 orang Timor-Leste berdinas di ABRI (34 perwira, 558 bintara, 5.505 pangkat lain) (C. Budiardjo & Liem Soei Liong, “East Timor Under the Indonesian Jackboot: An Analysis of Indonesian Army Documents,TAPOL Occasional Report No. 26, Oktober 1998). Kebanyakan orang Timor-Leste

45 Di Iliomar Lere melakukan penyusunan kembali pejuang-pejuang Falintil, dan pada 17 Maret 1993 memasuki aldeia Larimi yang jauh (sekitar 10 kilometer sebelah timur laut Iliomar Kota) dengan sekitar 40 orang yang bertugas mencari informasi dan perbekalan. Tahun 1994 Lere mengambil komando atas Região I (Timur) – dengan David Alex menggantikannya menjadi komandan Região II. Bulan April 1994, terjadi bentrokan besar antara ABRI dan Falintil di kawasan Sungai Veira sekitar 10 kilometer sebelah timur laut Iliomar, yang mengakibatkan enam anggota ABRI mati dan senjata mereka direbut oleh Falintil. Suatu operasi besar ABRI dilaporkan terjadi di kawasan perbatasan Iliomar-Lore pada bulan Juli 1994. Bulan Maret 1995 di kawasan Buidala sebelah timur Iliomar, Falintil membunuh dua anggota ABRI dan merebut senjata mereka. Seorang pejuang Falintil, José Mauwani, adik dari komandan Falintil Lere, juga terbunuh dalam bentrokan ini. Beberapa bulan kemudian, pada 4 Juli 1995 pasukan ABRI membunuh tiga orang gerilyawan Falintil (Fernando, Nuno, dan Lariko) dalam sebuah bentrokan di Subdistrik Iliomar. Tanggal 26 September 1995, Gubernur Timor Timur Abílio José Osório Soares, mengalami gangguan sebentar dari pejuang-pejuang Falintil di Iliomar bagian barat daya ketika dalam perjalanan dari Los Palos menuju Viqueque.188 Soares sedang memimpin rombongan sepeda motor yang berkeliling distrik-distrik untuk merayakan 50 tahun kemerdekaan Indonesia. Di dekat Namane, sekitar 6 kilometer sebelah barat daya Iliomar Kota, konvoi sekitar 30 sepeda motor ini dilihat oleh sekelompok sepuluh gerilyawan Falintil – termasuk Vicente Lourdes, yang menembakkan sekitar 15 tembakan peringatan dari senapan mesinnya di dekat kelompok Gubernur itu. Tidak ada korban. Tetapi kemudian, karena BTT punya satu pos di Namane (beberapa kilometer sebelah timur tempat kejadian insiden), terjadi saling menyalahkan atas ketidakamanan perjalanan Gubernur melalui Subdistrik Iliomar. Tekanan ABRI berlanjut di Iliomar berupa operasi-operasi besar di kawasan hutan perbatasan Iliomar-Lore, dan pada 18 Januari 1996, seorang gerilyawan Falintil, Vicente Lourdes (berumur 40, terlibat dalam penyerangan Ossohira Desember 1986 dan penembakan konvoi Gubernur Soares) menyerah di Bubutau kepada pos Yonif 612. Satu bulan kemudian, pada 27 Februari 1996, Panglima Kodam IX Udayana di Denpasar (Bali) Mayor Jenderal H.A. Rivai mengunjungi Iliomar untuk merayakan ulang tahun program “ABRI Masuk Desa” dan membuka satu proyek sanitasi umum. Falintil melaporkan terjadinya bentrokan bersenjata dengan ABRI di Iliomar pada 27 September 1996, tetapi tidak memberikan rincian mengenai insiden ini. Pada 1995-1996, organisasi Klandestin di Iliomar telah berkembang dan jumlah anggotanya melebihi 20 orang. OMT dan OJT189 (Organização Juventude Timorense – Organisasi Pemuda Timor) sangat aktif. Tetapi, di Iliomar keamanan sangat ketat di dalam organisasi Klandestin dengan para anggotanya tidak mengenal satu sama lain – semua kontak dibuat melalui sejumlah kecil “estafeta” (kurir) yang mencakup Mariana Pinto (Fuat), anak lakilakinya Ricardo Pinto Lourdes, Gonçalves da Costa, Lino de Deus, Domingos Pinto, Simão
berdinas dalam batalyon-batalyon teritorial 700-an yang berada di bawah Kodam IX Udayana, yang bermarkas di Denpasar (Bali), dan Kodam VII Wirabuana yang bermarkas di Ujung Pandang (Sulawesi). 188 Insiden ini muncul dalam berita pendek surat kabar Republika (Jakarta), 27 September 1995. 189 Sayap pelajar Fretilin, UNETIM (União Nacional dos Estudantes Timorense) aktif pada 1974-1977 sampai digantikan oleh organisasi pemuda Fretilin, OPJT. Organisasi-organisasi pemuda perlawanan bawah tanah seluruh Timor-Leste mencakup OJETIL, Loriko, Fitun, RENETIL, dan Dewan Solidaritas Pelajar dan Mahasiswa Timor Timur. Lihat Constâncio Pinto, “The Student Movement and the Independence Struggle in East Timor: An Interview” dalam R. Tanter, M. Seldon, S.R. Shalom (penyunting), Bitter Flowers, Sweet Flowers: East Timor, Indonesia and World Community (Rowman and Littlefield, Maryland, 2001). D. Nicholson, “The Lorikeet Warriors: East Timorese New Generation Nationalist Resistance 1989-1999”, University of Melbourne, tesis belum diterbitkan, Oktober 2001 memberikan tinjauan menyeluruh mengenai gerakan mahasiswa/pelajar bawah tanah.

Castello, Carlos, dan Martins Pinto, dan Tómas Pinto dari Cainliu. Estafeta membawa pesanpesan antar kader Klandestin, dan juga ke Falintil di hutan – terutama ke Komandan Lere di kawasan pangkalan Falintil di Laivai190 (di pinggiran GR 5266, sekitar 13 kilometer ke pedalaman dari pantai utara – yaitu di dalam Lautem, sekitar empat kilometer sebelah timur perbatasan Baucau/Lautem) dan kemudian di Atelari (di Subdistrik Baguia, Distrik Baucau, sekitar 15 kilometer sebelah tenggara Laga, yaitu 25 kilometer sebelah timur laut Iliomar). Pesanpesan juga dibawa ke dan dari Baucau dan Dili. Kader OMT (yaitu perempuan) juga membawa pesan dan barang-barang perbekalan kecil ke Laivai dan Atelari. Bulan Januari 1997, ketika mengunjungi Dili, Sekretaris CNRM Zona Iliomar Abílio Quintão Pinto, diberi tahu melalui telefon bahwa ABRI di Iliomar mengetahui peran dan kegiatannya (seperti yang ditegaskan kemudian dalam laporan BTT191). Tetapi, ia kembali ke Iliomar pada akhir Januari dan tidak ditanyai atau ditangkap. Ia menganggap bahwa setelah terjadinya pembukaan Timor-Leste pada 1989, dan setelah pembantaian Santa Cruz 1991, ABRI lebih berhati-hati dalam menangani rakyat – dan perlakuan yang buruk banyak berkurang. Tahun 1994, Kolonel Kopassus Prabowo Subianto membentuk Gada Paksi (juga disebut “Garda Paksi” – Garda Muda Penegak Integrasi) sebagai milisi pemuda untuk melawan Perlawanan – terutama gerakan Klandestin pemuda. Di Iliomar, kelompok Gada Paksi beranggotakan empat orang, disponsori oleh wakil Iliomar dalam DPRD II Lautem, Afonso Pinto.192 Tetapi, kelompok ini segera diinfiltrasi oleh Klandestin dan rendah efektivitasnya (lihat catatan pada Lampiran C).

Organisasi Perlawanan: Bersenjata dan “Klandestin”
Pada 1996 sebuah laporan oleh BIA (Badan Intelijen ABRI) di Jakarta (Kalibata), menyebutkan daftar kekuatan Falintil di seluruh negeri sebagai 188 orang dengan 88 pucuk senjata. Di Ponta Leste, yaitu Região I, laporan itu merinci kekuatan Falintil seluruhnya 46 gerilyawan dengan 35 pucuk senjata, dan diorganisasikan sebagai berikut: Talisman (nama kode) Lere Anan Timur (Iliomar) Kekuatan: 4 Senjata: 2 Maunana (Gunung Paichau) Kekuatan: 3 Rangkabean (Cacaven) Kekuatan: 4 Senjata: 3 David Alex (Samalari) Kekuatan: 8 Bonifacio (Luro) Kekuatan: 4 Senjata: 3 Rodak (Laga) Kekuatan: 4 Senjata: 4 Alux (Aluk?) (Lore) Kekuatan: 5 Senjata: 3

Renan Selak Bere Malai Laka193 (Maupitine) (selatan Mehara) Kekuatan: 8 Kekuatan: 6

190 Pangkalan Laivai telah digunakan oleh kelompok Rodak dan kelompok Lekinea sejak pertengahan dasawarsa 1980-an, dan juga oleh Eli 7 yang berpangkalan lebih ke arah barat di wilayah Laga. Pangkalan Laivai diserang dan diduduki sebentar oleh pasukan gabungan ABRI pada 1998, terutama dari Kopassus dan Tim Alfa, tetapi Falintil mundur tanpa korban. 191 Suseno, November 1997, Lampiran D. 192 Anggota-anggota Gada Paksi Iliomar mendapatkan pelatihan selama tiga bulan di Jawa. 193 Bere Malai Laka (Laxta – Frederico Raimundo?) mungkin terbunuh dalam pertempuran dengan ABRI di dekat Sungai Galata (Venilale) bulan Agustus 1988 (bersama Oan Timor) atau pada 4 Juli 1995, bersama dengan Noek.

47 Senjata: 3 Senjata: 6 Senjata: 6 Senjata: 5

Bulan September 1996, sebuah laporan BIA memberikan daftar kekuatan Falintil di wilayah Sektor A ABRI (Baucau, Viqueque, Lautem) sebagai 71 gerilyawan bersenjata dan 27 tidak bersenjata. Laporan BIA 1997 memperlihatkan bahwa pimpinan Região I/Ponta Leste adalah: Komandan – David Alex; Wakil – Lere A.T., Rodak (Cipriano),194 Alux Sebuah laporan bulan November 1997195 tentang Iliomar oleh BTT ABRI Yonif 613 memberikan daftar 22 anggota Klandestin di Subdistrik Iliomar – termasuk Abílio Quintão Pinto dan wakilnya Tito de Deus (lihat daftar pada Lampiran D). Laporan ini juga memberikan daftar “GPK” (Gerakan Pengacau Keamanan – istilah ABRI untuk menyebut Falintil mulai sekitar 1990) sebagai berikut: Pemimpin: Lere Anan Timor (Tito dos Santos); Kekuatan: empat orang dengan dua pucuk senjata; Wilayah Operasi: Sungai Namaluto, Gunung Tarafalua, Gunung Duilele, Gunung Denofai, dan Gunung Samarogo; “Kampung yang sering didatangi”: Larimi, Bubutau. Pada akhir 1998, struktur CNRT/Falintil seluruh negeri dikatakan telah terkonsolidasikan dan meluas sebagai berikut:196 Pimpinan Senior Xanana Gusmão: Presiden (dipenjarakan di Cipinang, Jakarta) David Ximenes (Fretilin), Leandro Isaac (UDT): Wakil Panglima Falintil: Taur Matan Ruak; Kepala Staf: Lere Anan Timor (Kekuatan Falintil: 242 orang; 127 pucuk senjata: G-3, FNC, Mauser, M-16, SS-1, TP)
194 Rodak dibunuh sebelumnya, bulan Juli 1995, dalam suatu bentrokan dengan Yonif 330 di kawasan Larimi. 195 Suseno, November 1997: Lampiran D. 196 J.M. Herman, “Pola Hit and Run Jadi Andalan Falintil,” Jawa Pos (Surabaya), 13 April 1999.

Região Região IV Fronteira (Ermera, Liquiça, Bobonaro, Covalima) Ernesto Fernandes (“Dudu”) 60 orang; 27 senjata Região III Região II Centro Região I Ponta Leste (Dili, Aileu, (Baucau, Viqueque, (Lautem, Baucau) Ainaro, Manatuto) Manatuto) Komandan Região Falur Rate Laek Taur Matan Ruak 45; 28 60; 55 Komandan Kelompok Mau Konis* António Somoco Deker* Riak Leman: Sek* Manubela Sabika* Terabulak Matagaio Samba 9* Maubuti – Wakil II Aluk Descartes Lekinaea Rena(n) Selak: Sek’ Berdudu Mau Nana*, Larimau* Ular*, Amico Martino, Celula* Falux, Lu’Olo* Eugenio Nunes/Neves Lere Anan Timor 77; 17

* Catatan: Mau Konis adalah nama perjuangan António Santana. Riak Leman (Vidal de Jesus) menjadi anggota Parlemen Nasional (2002). Samba Sembilan (“9”) adalah nama perjuangan Jaime Ribeiro. Tanggal 9 November 1998, Falintil menyerang pos Koramil di Alas (sekitar 175 km ke arah tenggara Dili di Kabupaten Manufahi), yang dikatakan berlawanan dengan arah kebijakan Xanana Gusmão yang membatasi kegiatan militer. Pembalasan TNI segera dilakukan. Selanjutnya, Sabika (juga dikenal sebagai Sabica Besi/Besse Kulit/Kalil – Americo Ximenes), komandan Região III Falintil, oleh Xanana digantikan dengan Falur Rate Laek/Lai (Domingos Raul). Perubahan komando lebih lanjut terjadi pada pertengahan 1999 ketika Ular Ryhyk (Virgílio dos Anjos – lihat catatan nomor 130, 131) diangkat menjadi Komandan Região IV dengan Deker dan Roke (António Soares Tatamalau) sebagai bawahan utama, dan Sabika diangkat menjadi Komandan Região II.197 Tahun 2001, Sabika dan Falur Rate Laek diangkat menjadi letnan kolonel dalam Angkatan Pertahanan Timor-Leste (F-FDTL: Força Defesa de Timor Lorosae)198 – dengan Falur menjadi komandan Batalyon Pertama F-FDTL di Los Palos; dan Sabika Besse sebagai komandan pangkalan latihan F-FDTL di Metinaro. Mau Nana (Cornelio Ximenes) diangkat menjadi letnan kolonel F-FDTL; Ular, dan Maubuti diangkat menjadi mayor, dan Amico diangkat menjadi kapten. Deker mejadi letnan F-FDTL – dipecat pada akhir tahun 2003. Lu’Olo (Francisco Guterres) adalah Sekretaris Fretilin pada 1999 dan sekarang adalah Presiden Parlemen Nasional (2002). Larimau (Justo Bernardino/Justino Nunes) ditangkap di dekat desa Bauro pada 27 atau 29 Maret 1998. “Celula” digunakan untuk menyebut kurir (“estafeta”). Klandestin CNRM/CNRT Kabupaten Lautem
197 Lihat Z. Anwar (Makarim) dkk., 2002, halaman 80-81 untuk pandangan TNI mengenai organisasi Falintil pada 1999; dan laporan e-mail OSINT, “Loyalist Paramilitaries in East Timor,” 20 Juli 1999 untuk bagan-bagan dan petapeta organisasi Falintil. 198 Falintil secara resmi dibubarkan pada 1 Februari 2001, dengan F-FDTL didirikan pada hari yang sama.

49 Zona: Kode: … Sekretaris: Los Palos Justino Valentim Luro Agapito Ramos Iliomar Lore/Tutuala “Titus Lima” “Tango A” Abílio Feliciano Quintão Pinto Di Zona Iliomar: Abílio Quintão Pinto (Nama kode: “Abut Mesak”) Sekretaris Zona (dari Agustus 1995) Tito de Deus: Vice (Wakil) 1 (Nama kode: Naga Sakti) Mário Fernandes Cabral: Vice 2 (Nama kode: Boro) – sampai 1998 OMT (Organisasi Perempuan) Olinda Marques “Bile Cur” Alicia Gonçalves “Luru Asa” Sidalia Mesquita Ximenes199 OJT (Organisasi Pemuda) Liborio Madeira “Luru Asu” Gonçalves da Costa Alfredo Lebre Moro “Halihun” Sergio

Hubungan Masyarakat Felipe Pinto “Tasi Malai”

Kemiliteran Mau Lo (João Jeronimo)

Logistik Lulik

Jaksa Felipe Pinto

Penerangan Domingos Fernandes

Medicin Mateus Ribeiro

Mobilisasi Massa Jeremias Pinto

Administrasi (?) Adolfo Pinto

Estafeta: 6 lebih – termasuk Gonçalves da Costa (“Lulik Fera Klaran”), Lino de Deus (“Karan-ulun”), Domingos Pinto (“Iradarate”), Carlos (“Lari-kua”), Ricardo Pinto Lourdes, Simão.

Pemilihan Umum 1997, CNRT Terbentuk, Pemilihan Umum 1998
Tanggal 29 Mei 1997, penduduk Iliomar berpartisipasi dalam pemilihan umum Indonesia – yang keempat di zaman Indonesia (1982, 1987, 1992). Catatan ABRI di Iliomar mengindikasikan bahwa 65 persen pemilih di Kecamatan ini memilih partai Golkar yang memerintah; 30 persen memilih PDI (Partai Demokrasi Indonesia); dan 3 persen memilih PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang berbasis muslim.200 Afonso Pinto dipilih kembali sebagai “wakil Golkar Iliomar” untuk DPRD II Lautem yang beranggotakan 20 orang. Laporan oleh
199 Menikah dengan Lere Anan Timor, Kepala Staf F-FDTL, di desa Cainliu tahun 2001. 200 Angka-angka ini berbeda dengan angka resmi Kabupaten Lautem untuk Kecamatan Iliomar yang memperlihatkan rata-rata 2.724 pemilih (dari 3.136 yang punya hak pilih) memberikan suara untuk DPR RI/I/II kepada Golkar 81/82/84 persen; PDI 18,4/17,3/15,6 persen; dan PPP 0,7/0,6/0,4 persen (Kabupaten Lautem Dalam Angka 1997 [BPS, Kantor Statistik Kabupaten Lautem, Los Palos, Agustus 1998], halaman 29-34).

kesatuan BTT ABRI di Iliomar201 mengemukakan: “ada peningkatan tentang pengakuan integrasi, terbukti dengan pernyataan-pernyataan tokoh masyarakat dan pemuda. Pemahaman tentang organisasi dan sistem politik Indonesia meningkat terbukti dengan pelaksanaan Pemilu 1997 di Desa Iliomar dapat berjalan aman dan lancar. Kualitas sumberdaya manusia masih rendah, khususnya di tingkat aparat pemerintahan dirasa yang menghambat pelaksanaan pembangunan”. Tanggal 23 April 1998, pada suatu konferensi Perlawanan di Peniche, Portugal, CNRM diubah namanya menjadi CNRT (Conselho Nacional da Resistência Timorense – Dewan Nasional Perlawanan Bangsa Timor), kata “Maubere” – yang dianggap sebagai istilah “proletariat,” digantikan oleh “Timorense” yang lebih inklusif. Xanana dipilih menjadi Presiden, dan Ramos-Horta dipilih menjadi Wakil Presiden. Konferensi ini juga mengadopsi sebuah program kebijakan yang luas yang disebut “Magna Carta.”202 Perubahan ini kecil dampaknya pada Iliomar, dimana kader Perlawanan terus terdiri dari hampir sepenuhnya pendukung Fretilin. Istilah organisasional Perlawanan yang lain seperti “nurep” (untuk sel desa/suco) dan “celcom” (untuk sel kampung/aldeia) tampaknya tidak banyak digunakan lagi di Zona Iliomar. Bulan Mei 1998, pemerintah Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum yang pertama untuk memilih kepala desa – yang sebelumnya diangkat oleh Camat. Di Iliomar I, Iliomar II, dan Fuat – José Luís da Costa, Filipe Pinto, dan Joaquim Henriques – kepala desa sebelumnya masing-masing terpilih kembali; di Ailebere, Americo Jeronimo digantikan oleh António de Jesus; di Cainliu, Martinho Hornay digantikan oleh Julio Soares; dan di Tirilolo, Selso Martins menggantikan Adão Fernandes Ximenes.

Kekerasan dan Penganiayaan Berlanjut
Walaupun kekerasan terbuka oleh ABRI merosot sejak pertengahan dasawarsa 1990-an, pelanggaran berat hak asasi manusia terus terjadi. Seorang penduduk dari Ailebere, Doli-Boru dibunuh oleh anggota Kopassus di Asonomar, sekitar 4 kilometer dari Ailebere pada tanggal 11 Oktober 1997. Tanggal 8 April 1998, sekitar 20 mahasiswa anggota Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Iliomar (IMPI)203 berdemonstrasi di depan kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta menentang pelanggaran-pelanggaran di Iliomar. Mereka menyebutkan penambahan pasukan ABRI, pembatasan gerak yang lebih ketat, operasi-operasi militer yang direncanakan untuk dimulai pada 20 April, dan kekerasan baru-baru ini oleh tim Kopassus, Rajawali, dan SGI (Satuan Gabungan Intelijen), dan Gada Paksi. Mereka secara khusus mengklaim bahwa Albino da Costa telah ditembak mati di Ailebere bulan April 1997; Saturnino Nunes dos Santos ditangkap pada 29 November 1997; Selso (juga ditulis “Celso”) Martins, kepala desa Tirilolo, disiksa oleh Kopassus bulan Januari 1998 karena melaporkan kematian Albino – lihat di atas; Agostinho Jeronimo, 70 tahun, disiksa pada 3 Maret 1998 oleh wakil Iliomar di DPRD II Lautem, Afonso Pinto; José de Deus, Francisco Barreto, Amancio Ximenes Perreira, dan Fernando dos Santos ditangkap oleh Kopassus pada 23 Maret 1998; dan Eco dos Santos ditangkap tanggal 28 Maret 1998. Meskipun kekerasan ABRI terhadap penduduk desa berkurang, penganiayaan masih berlanjut. Tanggal 13 Oktober 1998, seorang perempuan muda yang sudah menikah penduduk
201 Suseno, November 1997, halaman 2. 202 S. Niner, 2000, halaman 11-17. 203 Matebean, Jakarta, 8 April 1998. Mericio Guevara, seorang mahasiswa Universitas Indonesia, tercatat sebagai ketua IMPI dan Graciliano Oliveira, seorang mahasiswa Institut Teknologi Surabaya (ITS) adalah juru bicaranya.

51 Bubutau (desa Fuat) diperkosa oleh seorang tentara dari BTT setempat Yonif 642. Kejadian ini dilaporkan, tetapi penduduk desa diintimidasi oleh staf Koramil Iliomar agar tidak melanjutkan kasus terhadap tentara ini.204

Milisi
Mulai akhir dasawarsa 1970-an, ABRI merekrut orang Timor-Leste ke dalam berbagai organisasi paramiliter untuk membantu menjaga keamanan, termasuk Hansip, Wanra, Kamra, Ratih, dan pada dasawarsa 1990-an, Gada Paksi dan Milsas. Kopassandha, dan penerusnya, Kopassus, juga secara khusus menambah orang Timor-Leste yang dijadikan pembantu dalam pengumpulan informasi intelijen dan operasi lapangan. Pembantu Kopassus ini – sering disebut “partisan” pada pertengahan dasawarsa 1970-an sampai dengan pertengahan dasawarsa 1980-an, beroperasi di hampir semua 13 kabupaten Timor Timur, dengan yang paling terkenal Halilintar (Atabae/ Bobonaro dibentuk tahun 1975 dan aktif sampai 1980; direformasi pada 1995), Makikit (Viqueque), Tim Sera (Baucau dibentuk 1986), Tim Saka (Ossu/Baucau, 1987), Railakan (Baucau, akhir dasawarsa 1970-an), dan Tim Alfa (Lautem, dibentuk 1986).205 Dokumendokumen TNI yang bocor keluar mengindikasikan bahwa pada 1998 kelompok-kelompok ini secara administratif digolongkan sebagai Wanra. Di Kabupaten Lautem, regu-regu Tim Alfa – rata-rata berkekuatan sekitar delapan orang, bersenjata, dan berpakaian sipil, beroperasi di bawah komando Kopassus setempat di setiap Kecamatan. Di Iliomar, anggota-anggota Tim Alfa sangat dikenal dan, pada akhir dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an, sangat ditakuti karena kegiatan pengumpulan informasi intelijen yang mereka lakukan bisa menyebabkan penduduk desa dituduh, diinterogasi, ditahan – dan bisa lebih buruk lagi. Menyusul usulan Presiden Habibie untuk memberikan otonomi luas – yaitu “status khusus” kepada Timor Timur, ABRI mulai membentuk kesatuan-kesatuan paramiliter baru – khususnya di wilayah barat dan tengah Provinsi ini.206 Kesatuan-kesatuan “milisi” baru ini meliputi Ablai (Manufahi/Same), Ahi (Aileu), Aitarak (Dili/Ainaro), Besi Merah Putih (Maubara/Liquiça), Dadarus (Maliana), Darah Integrasi (Ermera), Darah Merah (Ermera), Garuda Hitam (Ainaro), Junior 59-75 (Viqueque), Laksaur (Covalima), Mahadomi (Manatuto), Mahidi (Ainaro/Cassa), Makikit (diperbaharui, Viqueque), Meo (Ambeno/Oecussi), Naga Merah (Dili/Ermera), Pana (Maubara), Railakan (Ermera), Sakunar (Ambeno/Oecussi), Tim Kosong Kosong (Ainaro), Tatarah (Dili/Maubisse), dan Jati Merah Putih (Lautem).207 Satu cabang
204 East Timor Human Rights Centre, “1998 Annual Report on Human Rights Violations” (Fitzroy, Australia, 1 Maret 1999), Kasus 3.3.1. 205 “Partisan/milisi” telah dibentuk pada 1975 dalam Operasi Flamboyan. K. Conboy, halaman 310-312 menyebutkan pembentukan Tim Sera dan Tim Alfa belakangan pada tahun 1986 oleh Satuan Tugas/Dampak 86 pimpinan Letnan Kolonel Luhut Panjaitan beranggotakan mantan-mantan Falintil dengan pimpinan seorang tentara Kopassandha. 206 Pejabat-pejabat tinggi militer mengatakan bahwa kesatuan-kesatuan milisi ini muncul “secara spontan” … “atas inisiatif rakyat” untuk melindungi diri terhadap “teror, pembunuhan, dan perampokan” dan didukung oleh Pemerintah Daerah sebagai Pam Swakarsa (lihat Z. Anwar [Makarim] dkk., 2002, halaman 74-76. 207 Berlawanan dengan satu laporan pers, Darah Integrasi tidak beroperasi di Lautem – tetapi beroperasi di Ermera. Lihat Z. Anwar (Makarim) dkk., 2002, halaman 77-78 untuk daftar mengenai 20 kesatuan “milisi” yang mencakup para pemimpin, tanggal pembentukan, dan wilayah operasi. Mayor Jenderal TNI Zacky Anwar mengklaim kesatuankesatuan ini tidak dikenal rakyat sebagai “milisi” (suatu istilah yang menurutnya dibuat oleh pers Barat), tetapi sebagai “Pejuang Pro-Integrasi (PPI) – Pam Swakarsa” (halaman 73-74). Untuk garis besar yang obyektif mengenai

kelompok politik milisi, BRTT (Barisan Rakyat Timor Timur) juga beroperasi di Kabupaten Lautem. Semua tiga unsur milisi di kabupaten ini, yaitu Tim Alfa, Jati Merah Putih, dan BRTT diarahkan oleh Bupati Edmundo da Conceição E Silva, komandan TNI (Dandim 1629) Letnan Kolonel Sudrajat A.S.), dan komandan Kopassus setempat Letnan Rahman Zulkarnaen (Catat bahwa Milsas pembantu TNI, yang dibahas sebelumnya, berbeda dari “milisi” ini). Dimulai Desember 1998, unsur-unsur milisi melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang berat terhadap orang Timor-Leste yang mendukung kemerdekaan – terutama di bagian barat Provinsi. Bulan April 1999, diusahakan memberikan suatu penampilan “legal” untuk milisi-milisi ini ketika komandan TNI di Timor Timur (Danrem 164) Kolonel Tono Suratman dan Gubernur Abílio Soares menyatakan bahwa milisi adalah unsur legal dari Pam Swakarsa di bawah komando polisi, yang berhak untuk membawa senjata, dan digaji oleh pemerintah Provinsi.208 Ini khususnya mencakup Tim Alfa di Lautem. Menurut laporan KPP HAM, “sebagian besar pimpinan inti dan personil milisi adalah anggota-anggota Kamra, Wanra (dua jenis penjaga keamanan sipil), Milsas, Gada Paksi, dan Hansip (penjaga keamanan sipil jenis lain lagi) dan anggota-anggota Komando Distrik Militer”.209 Tanggal 7 Maret 1999, milisi pro-integrasi secara resmi dikonsolidasikan di bawah kontrol luas Pasukan Perjuangan Integrasi (PPI) yang dipimpin oleh pemimpin milisi Halilintar João Tavares, dengan Eurico Guterres, pemimpin Aitarak, sebagai orang kedua dalam komando.210 Milisi pro-otonomi di Kabupaten Lautem ditempatkan di bawah “sub-komando” “Sektor A” PPI yang dipimpin oleh Joanico Cesario Belo.211 Di Iliomar, satu-satunya milisi setempat adalah delapan orang anggota Tim Alfa di bawah komando Kopassus, dipimpin oleh Raimundo Ferreira dari Cainliu (anggota-anggotanya termasuk: Julio Cardoso, Tirilolo; José Ferreira, Iliomar I; dan Tito Fernandes, seorang bekas kepala aldeia Larimi). Di Iliomar, hanya satu orang bekas Falintil yang dikatakan menjadi anggota Tim Alfa: Mateus asal aldeia Larimi. Meskipun ditakuti oleh penduduk desa pada dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an, pada pertengahan 1998 Tim Alfa Iliomar jarang mengganggu penduduk, telah diinfiltrasi oleh Klandestin setempat, dan dianggap “tidak efektif” oleh kader senior CNRT di Iliomar.
pembentukan dan organisasi milisi lihat UNICEF East Timor/L. Barry, “East Timorese Children Involved in Armed Conflict”, Case Studies Report – October 2000-February 2001, Lampiran 5 (http://www.etan.org/etanpdf.pdf2/unicef_childsoldiers.pdf) – tetapi tidak menyebutkan Jati Merah Putih, Lautem. Lihat pula D. Kingsbury, “The TNI and the Militias”, halaman 69-80 dalam D. Kingsbury (penyunting), Guns and Ballot Boxes: East Timor’s Vote for Independence (Monash Australia Institute, Clayton, 2000); Brigadir Jenderal T. Suratman, Merah-Putih: Pengabdian dan Tanggungjawab di Timor Timur (Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Jakarta, 2000); UNTAET, “East Timor Political Handbook”, (Version 4), UN Restricted, Dili, 6 April 2001; UNTAET HQ PKF, “Military Capability Study”, UN Restricted, DiIi, 16 Maret 2001; dan laporan email OSINT tanggal 20 Juli 1999. 208 Oki, “Pam Swakarsa di Timtim Dibina Polri, Dibiayai Pemda”, Kompas, 28 Desember 1999 (Jakarta). Lihat pula penjelasan Mayor Jenderal Zacky Anwar tentang Pam Swakarsa dalam Z. Anwar (Makarim) dkk., 2002, halaman 73-79 yaitu “kenyataannya, Pam Swakarsa tidak banyak berbeda dengan penjaga kampung di kota-kota dengan persoalan-persoalan kriminal seperti New York atau Amsterdam” (halaman 75). Pam Swakarsa awalnya dibentuk bulan November 1998 di Jakarta oleh Abdul Gafur (bekas Menteri Pemuda dan Olahraga masa Soeharto) sebagai kelompok “siaga” tandingan untuk melawan mahasiswa yang berdemonstrasi menentang Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). 209 Dr. A. Hasibuan (Ketua), Bab II, 31 Januari 2000. 210 J.M. Herman, “Menelusuri Mereka yang Bertikai di Liquica”, Jawa Pos, 12 April 1999. G. Van Klinken & D. Bourchier, 2002, halaman 214 menyebutkan tanggal 27 Februari 1999 sebagai tanggal pembentukan PPI. 211 Joanico (da Costa) Cesario Belo adalah pemimpin milisi Tim Saka (Baucau) 1996-1999. Ia memegang kepemimpinan atas Saka setelah kematian komandan pendirinya, Julião Fraga, pada 24 Oktober 1996.

53

Agama dan Gereja di Iliomar
Sebuah laporan ABRI bulan November 1997 menyebutkan penduduk Iliomar 99,6 persen beragama Katolik Roma – dengan hanya 15 orang tercatat beragama Islam yang beribadah di rumah masing-masing.212 Laporan ini juga mencatat: “sebagian penduduk Iliomar menganut animisme”213 dan “pengaruh tokoh-tokoh agama seperti pastor dan katekis sangat kuat dalam kehidupan masyarakat”.214 Gereja Katolik di Kecamatan ini (Nossa Senhora de Fátima) didirikan di Iliomar Kota dengan tempat kediaman pastor di sebelahnya, dan kapel-kapel kecil dibangun di Ailebere (Igreja Nossa Senhora das Dores – yang terbesar), kawasan Iliomar II/Iradarate (aldeia Iliomar), Tirilolo, Cainliu, dan Caidabu. Gereja ini juga mendirikan beberapa sekolah: Sekolah Menengah Pertama Katolik João Paolo II215, dan sekolah dasar di aldeia Caidabu. Sebelum 1999 tidak ada pastor Katolik Roma yang tinggal menetap di Iliomar, tugastugas keagamaan rutin diselenggarakan terutama oleh katekis – sekitar enam orang untuk hampir seluruh periode. Para katekis mengadakan kebaktian Minggu di kapel-kapel, dan selama beberapa tahun seorang pastor akan datang ke Iliomar setiap beberapa bulan untuk menyelenggarakan pelayanan besar. Pastor yang berkunjung sejak pertengahan dasawarsa 1970-an sampai akhir 1990-an, Pastor Luís Preto sangat dihormati oleh penduduk Iliomar karena kunjungan bulanannya ke Kecamatan Iliomar. Pada kesempatan seperti itu, ia berjalan kaki dari Los Palos ke Iliomar (46 kilometer) untuk menyelenggarakan misa. Menjengkelkan pemerintah Indonesia, ia mendukung Klandestin dan juga kadang-kadang mengadakan misa di hutan untuk Falintil.216 Iliomar diadministrasikan dari Baucau dan tidak merupakan satu paroki sendiri, tetapi “setengah paroki” (2002). Sepanjang periode Perlawanan di Iliomar, Gereja dianggap “netral”. Tetapi, sedikitnya satu orang katekis dibunuh oleh ABRI (Joaquim Sanches, 22 Desember 1983 – lihat di atas) dan beberapa katekis (termasuk Gaspar Pinto) sebelumnya ditahan oleh ABRI. Para pastor dan petugas Palang Merah yang berkunjung kadang-kadang juga membawa pesan-pesan untuk Perlawanan ke Los Palos dan ke Dili. Pastor yang sekarang (2002), Augustino da Costa (dari Baucau), menetap di Iliomar pada 14 Agustus 1999, dan jumlah katekis bertambah menjadi 12. Sejak akhir 1999 terjadi penurunan kehadiran gereja di Iliomar, terutama oleh laki-laki muda. Para aktivis tidak lagi memerlukan perlindungan gereja dan agaknya semakin memberikan perhatian pada perkumpulanperkumpulan politik atau lebih mengejar tujuan-tujuan material.217
212 Tahun 2002 hanya satu keluarga Muslim yang tinggal di Iliomar, Marcos dos Santos, seorang guru pada Sekolah Dasar Iliomar I. Sebuah masjid (ditutup tahun 1999) bertempat di Los Palos, dan bulan November 2002 ada 26 keluarga Muslim (90 orang) di kota. Konsentrasi besar orang Muslim di Distrik Lautem adalah di Subdistrik Luro dengan orang berjumlah 160 (2002). 213 Tahun 1972, 67,7 persen penduduk Timor-Leste digolongkan sebagai animis dan 31 persen Katolik. Tahun 1992, 90,24 persen didaftar sebagai Katolik (lihat Saldanha, 1994, halaman 365). Satu laporan statistik Distrik Lautem untuk 1997/1998 memperlihatkan penduduk Iliomar: 5.282 Katolik; 12 Islam; 3 Hindu; dan 1.418 lain-lain. “Buan” atau “dukun gaib” sekarang ini tidak dianggap sebagai unsur yang penting dalam kebudayaan Iliomar/Makalero. 214 Suseno, November 1997, halaman 2-3. 215 Pada pertengahan tahun 2002, terjadinya demonstrasi oleh pelajar dan oran gtua menentang uang sekolah bulanan USD 3,00. 216 Untuk dukungan humaniter dan moral Gereja kepada Falintil, lihat P. Smythe, 1999, halaman 106. 217 Gejala ini dicatat dalam Gef, “Umat Nasrani makin jauh dari gereja”, Suara Timor Lorosae, 15 November 2002,

Pertumbuhan Pesat Falintil: 1998-1999
Dalam awal 1998 kekuatan Falintil di Provinsi ini sekitar 300 orang – mereka yang bergabung setelah 1991 disebut “novatos” (“pendatang baru”), yang berbeda dengan “veteranos.” Tetapi, mulai pertengahan 1998 kekuatan Falintil tumbuh dengan pesat. Dengan prospek otonomi – dan kemudian kemerdekaan, banyak bekas pejuang yang kembali ke kesatuannya. Penting bahwa setelah kekerasan milisi pada awal 1999, jumlah Falintil “ditelan” oleh ratusan pemuda, termasuk anggota-anggota front klandestin yang takut ditangkap.218 Orang Timor-Leste paramiliter yang desersi juga bergabung dengan Perlawanan bersenjata di kawasan pangkalan mereka.219 Kamp-kamp Falintil juga menjadi dipenuhi banyak penduduk desa yang melarikan diri dari kekerasan ABRI/TNI dan milisi. Pada akhir Agustus 1999 sebelum konsultasi rakyat (yaitu “referendum”), Falintil memperkirakan kekuatan pasukannya 1.500 orang.220 Di Wilayah Timur (Região I) kamp pangkalan utama di Laivai (sekitar lima kilometer dari pantai bagian utara – dan sekitar 50 kilometer sebelah utara Iliomar Kota), kekuatan Falintil dikatakan sekitar 80.

1999 – Pilihan dan Akibatnya di Iliomar
Pada awal 1999, Camat Iliomar adalah Horacio Marques, dan Sekretaris Kecamatan (“Pendamping”) adalah Gaspar Seixas – keduanya lahir di Kabupaten Lautem. “Komandan” militer Indonesia untuk Subdistrik itu adalah Komandan Koramil (Danramil) 2903 Letnan Dua Mohd. Nur Hamsah (lahir di Sulawesi), dengan Sersan Dua Suprapto sebagai wakilnya. Koramil secara langsung mengkomando satu staf kecil (sekitar enam orang), enam Babinsa, dan dua peleton Milsas yang terdiri dari orang setempat (kekuatan sekitar 40 orang) dipimpin oleh Valente Madeira dengan pangkat “Prada” (kopral dua). Kompi senapan BTT TNI dari Yonif 621 bermarkas di Iliomar Kota dan dikomando oleh Kapten Erwin Setiawan, dengan pos-pos berkekuatan 12 orang di Bukit Alabubu (sebelah utara Dirimuni), Dirimuni, Ula-ia (sebelah utara Caidabu), Caidabu, Naunili, Bubutau, Maluhira, Tirilolo, dan Manulor (Ossohira). Empat personil Kopassus menempati gedung terpisah di Iliomar Kota dan membawahi delapan orang setempat anggota Tim Alfa221 yang dipimpin oleh Raimundo Ferreira dari Cainliu. Kehadiran
halaman 1. 218 Lihat Z. Anwar (Makarim) dkk., 2002, halaman 42 untuk perekrutan Falintil di Região I dan II pada akhir 1998/awal 1999. 219 Z. Anwar (Makarim) dkk., 2002, halaman 82. Orang Timor-Leste anggota TNI, polisi, dan paramiliter keamanan yang melakukan desersi juga jumlahnya melebihi jajaran Falintil, misalnya pada 8 September 1999, 34 personil dari Koramil Soibada, sekitar 80 kilometer sebelah tenggara Dili, menculik kapten TNI mereka dan menyeberang ke Falintil. J. Martinkus, A Dirty Little War (Random House, Sydney, 1999) menyebutkan pemuda di kawasan Ainaro pada bulan Oktober 1999 menyita peralatan TNI yang ditinggalkan dan menyatakan diri mereka sebagai “Falintil.” Lihat pula I. Cristalis, 2002, halaman 172. 220 UNICEF/L. Barry, 2001, halaman 12. TNI memperkirakan kekuatan kader Klandestin 3.000 orang yang mencakup 230 orang dari 33.602 orang Timor-Leste yang menjadi pegawai negeri (lihat Z. Anwar [Makarim] dkk., 2002, halaman 81. Dikemukakan bahwa hanya 112 pejuang Falintil dari tahap awal Perlawanan 1975-1983 yang masih berdinas pada akhir 1999 - lihat H. McDonald, “East Timor’s tiny army aims high”, The Age, Melbourne, 20 April 2002. 221 Dokumen-dokumen ABRI yang bocor mengindikasikan bahwa pada pertengahan 1998 kekuatan Tim Alfa di Distrik Lautem adalah 115 – lihat “Indonesia’s retreat from East Timor”, TAPOL Bulletin, No. 151, Maret 1999.

55 polisi, yang dipimpin oleh Sersan Mayor Andreas (Adrianus) Nidat, terdiri dari kantor Polsek di depan Sekolah Menengah Pertama dengan 19 personil (11 Polri – termasuk enam Bimpolda desa, dan delapan bekas Kamra). Hanya komandan polisi yang membawa senjata – senjata lain disimpan di kantor Polsek. Satu unsur paramiliter polisi terdiri dari 18 personil Brimob di bawah komando Letnan Surtopo punya markas di Iliomar Kota – barak Sabhaia/Samatta Bhayangkari. Kekuatan Falintil di Iliomar hanya delapan gerilyawan: Comandante Lere (Tito dos Santos), Serasa (Orlando Jerónimo), José Pinto, Vitorino Madeira, António Pinto, Casimiro Pinto, Armindo Rangel, dan Domingos Cunha (nama perjuangan “Funukia”). Sesuai dengan politik Perlawanan yang mementingkan perjuangan politik sambil mempertahankan kehadiran militer, mereka menghindari bentrokan dengan pasukan keamanan Indonesia. Tetapi mereka punya kontak teratur dengan organisasi Klandestin CNRT di Iliomar (berjumlah sekitar 30 orang) dan beberapa ratus pendukung. Sekretaris (Vise) CNRT Tito de Deus sering bertemu dengan Serasa (kakaknya) di rumahnya, di rumah pemilik toko Orlando Soares, dan di Bukit Baitomar dan Bukit Iliomar. Tawaran “otonomi luas” dari Presiden Habibie yang mengejutkan pada 9 Juni 1998 dan tawaran pilihan “berpisah dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang disampaikan pada 27 Januari 1999222 menimbulkan kegembiraan dan harapan besar di kalangan penduduk Iliomar – tetapi menimbulkan kecemasan bagi militer dan aparat pemerintah sipil Indonesia, juga bagi banyak orang Timor-Leste yang mendukung integrasi, yaitu para pegawai negeri, militer, dan paramiliter – dan orang-orang yang menjadi tanggungan mereka. Berbeda dengan kawasan bagian barat Timor-Leste, di Kabupaten Lautem tidak terjadi polarisasi dan kekerasan militer seperti di Maliana, Suai, Liquiça, Ainaro, dan Dili pada tengah tahun pertama 1999. Perlawanan sejak dulu kuat di bagian timur Provinsi ini – dan perasaan mendukung integrasi dengan Indonesia jauh lebih lemah dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten bagian barat. Memang “orang bagian timur” (“Lorosa’e”) – yaitu orang “Firaku” (“kawanku” dalam bahasa Makassae) yang energetik dianggap kebalikan dari “orang bagian barat” (“Loro’munu” atau “Kaladi”) yang agak pasif dan kurang mendukung Perlawanan dan kemerdekaan Timor-Leste. Sekitar 50 anggota Tim Alfa dari Los Palos223 dan sejumlah anggota milisi Jati Merah Putih224 yang berpusat di Los Palos ambil bagian dalam apel akbar pro-otonomi di depan kantor Gubernur di Dili tanggal 17 April – yang pada acara itu kepala Pam Swakarsa yang diangkat Indonesia Eurico Guterres menyerukan dilakukannya tindakan kekerasan terhadap orang-orang yang “menghianati integrasi”. Meskipun ketegangan atau dampaknya rendah di Lautem pada akhir 1998 atau awal 1999, milisi Jati Merah Putih melakukan sejumlah “pawai keliling” sekitar kota Los Palos dan ke beberapa desa Lautem, dimulai pada pertengahan April, untuk mengitimidasi penduduk. Pejabat-pejabat pemerintah setempat, seringkali dipimpin oleh Bupati dan Komandan Kodim, berpartisipasi dalam rapat-rapat umum milisi ini.225 Setelah penandatanganan Perjanjian 5 Mei di markas besar PBB, New York, organisasi CNRT di Iliomar menjadi lebih terbuka, tetapi tetap bersikap curiga.226 Bulan Juni, sejumlah
222 Lihat East Timor in Transition 1998-2000 – An Australian Challenge (DFAT, Canberra, 2001), halaman 38-45 untuk pembahasan yang rinci mengenai tawaran Habibie. 223 S. Moore, 2001, halaman 36, catatan kaki 70 – tetapi hati-hati karena angka ini mungkin saja lebih besar dari kenyataannya. 224 Yayasan HAK, “Aitarak dan Kampanye Kekerasan di Timor Timur”, Dili, 21 April 1999 (http://www.solidamor.org/content/beritalalu/19%20april/aitarak.htm). 225 Matebean, “Kabupaten Lautem – Ancaman, Teror, dan Intimidasi”, Laporan Situasi HAM April 1999 (3), Dili, 25 Mei 1999 (http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1999/05/25/0000.htm). 226 Kader CNRT Iliomar sadar akan seruan komandan milisi Darah Merah (Ermera) Lafaek Saburai (Afonso Henrique Pinto) untuk melancarkan operasi pembersihan (“Operasi Sapu Jagad”) “yang bertujuan untuk menghapus

tokoh Iliomar227 mengunjungi pangkalan Falintil di wilayah Atelari untuk membahas dengan Komandan Lere Anan Timor pembentukan suatu organisasi “front luas” di Iliomar yang mencakup pendukung pro-integrasi dan pro-kemerdekaan. Sekembali mereka, dibentuklah “Forum Komunikasi Rakyat Iliomar” beranggotakan 22 orang untuk merundingkan penyelenggaraan “konsultasi rakyat” (yaitu “jajak pendapat”, yang sebenarnya adalah “referendum”). Forum ini diketuai oleh Filipe Pinto – pemimpin adat Iliomar, kepala desa Iliomar II, dan seorang kader senior CNRT (lihat di atas). Martinho Hornay (seorang pegawai negeri) menjadi Wakil, dengan José Luís da Costa (kepala desa Iliomar I) dan Adolfo Pinto masing-masing sebagai Sekretaris. Anggota Forum juga mencakup empat kepala desa lainnya dan sejumlah orang yang resminya pendukung integrasi, seperti pegawai negeri sipil Indonesia yang masih berdinas maupun sudah tidak berdinas lagi. Dalam bulan-bulan pertengahan 1999, kegiatan ofensif militer TNI di Iliomar berhenti. Meskipun pada 24 Mei Carlos Pinto dari aldeia Caidabu ditembak mati di hutan oleh pasukan dari pos Yonif 621 di Caidabu.228 Letnan Mohd. Nur Hamsah, Komandan Koramil 03, bertemu dengan kader senior CNRT – termasuk di rumah Sekretaris (Vice I) Tito de Deus. Nur Hamsah dilaporkan tidak bersemangat, karena yakin bahwa pilihan otonomi – “Opsi I” akan ditolak dalam konsultasi rakyat Agustus. Dalam pertemuan pribadi seperti itu, ia mengatakan pendapatnya, “otonomi pasti kalah,” dan berusaha berdiskusi dengan CNRT tentang bagaimana menjamin transisi yang damai kepada pemerintahan Perlawanan dan kepergian yang aman anak buahnya. Tanggal 7 Juni 1999, penduduk Iliomar memilih dalam pemilihan umum Indonesia229, dengan Afonso Pinto (Golkar), Domingos Morais (PDI-P, orang Caidabu), dan Adolfo Pinto (Golkar, orang Iliomar II – mengganti Jamie da Costa) menjadi “wakil-wakil Iliomar” di DPRD II Lautem. Mandat UNAMET230 untuk menyelenggarakan konsultasi rakyat dimulai dengan pendaftaran pemilih pada 22 Juni, dengan hari pemungutan suara ditetapkan 8 Agustus 1999. Kemudian, pertimbangan administratif dan keamanan – terutama kekerasan milisi, memaksa pengunduran tanggal ini menjadi 13 Juli untuk hari dimulainya pendaftaran dan 30 Agustus untuk pemungutan suara. Pejabat Pemilihan Distrik UNAMET (DEO – District Electoral Officer) tiba di Iliomar pada 4 Juli, dan pada 7 Juli bergabung dua orang UN Civpol (Polisi Sipil PBB) dari Australia, Aaron Crabtree dan Brad McMeeking. DEO memulai pendidikan pemilih pada 10 Juli, mengunjungi ke enam desa. Kelompok DEO awalnya terdiri dari dua orang ketua kelompok (Barry Robert Hay, New Zealand; Mariola Ratschka, Polandia), seorang DEO dari
keberadaan kader sekaligus mass anti-integrasi di bumi Loro Sae.” lihat L. Saburai, “Front Pembersihan Timor Timur Milisi Sayap Kanan ‘Darah Merah’, No. 024/Ops/R/III/1999”, 11 Maret 1999 [http://www.google.com.au/search? q=cache:aPJWs443cvoC:www.solidamor.org/content/beritalalu/26%2520april/darah.htm+%22Lafaek+saburai%22+ %22darah+merah%22&hl=en&ie=UTF-8; L. Saburai, “Red and White Greetings,” 13 April 1999 [http://www.etan.org/et99/april/11-17/13fortil.htm; Comissão para os Direitos do Povo Maubere, ETO, “Operasi Sapu Jagad – Indonesian military’s plan to disrupt independence,” FA 10-1999/10/21eng, 28 Oktober 1999 http://homepage.esoterica.pt/~cdpm/fa10e.htm atau http://www.etan.org/et99c/october/24-31/21operas.htm. Untuk analisis dan komentar ikuti G. Robinson, “The fruitless search for a smoking gun”, halaman 246-247 dalam F. Colombijn & J.T. Lindblad (penyunting), Roots of Violence in Indonesia (KITLV Press, Leiden, 2002). 227 Ini meliputi: José Luís da Costa (kepala desa Iliomar I); Americo Jerónimo (kepala desa Ailebere mulai akhir 1999); Fernando Jerónimo (kepala desa Fuat mulai akhir 1999), dan Francisco da Costa (Sekretaris, desa Cainliu). 228 Carlos, seorang yang dicurigai Klandestin, dikubur oleh TNI di sebuah kuburan yang dangkal. Kemudian hujan yang deras dan banjir lokal menyeret sisa-sisa tubuhnya. 229 Pemilih di seluruh provinsi ini yang memberikan suara di 919 tempat pemungutan suara jumlahnya dilaporkan 93 persen, dengan Golkar mendapatkan 47 persen dan PDI (P) mendapatkan 35 persen. 230 UNAMET – United Nations Mission in East Timor, 11 Juni-29 Oktober 1999.

57 Argentina (Angel Osorio), dan seorang DEO dari Nepal (Aryal Gyanendra) – personel UNAMET/ UNTAET231 yang bertugas di Iliomar didaftar pada Lampiran D. Personil internasional PBB tinggal di akomodasi gereja di sebelah gereja Katolik Iliomar dan mendirikan kantornya di Sekolah Menengah Pertama. Para DEO mempekerjakan sejumlah orang setempat sebagai penerjemah (empat orang) dan pengemudi (dua orang), dan selama 20 hari mulai 16 Juli mendaftar pemilih di Iliomar – yang selesai pada 6 Agustus. Para DEO kemudian kembali ke Los Palos dan tinggal di sana, tetapi pergi-pulang bekerja di Iliomar untuk kebanyakan hari, sementara dua UN Civpol tetap di Iliomar Kota. Tanggal 18 Agustus para DEO kembali tinggal di Iliomar untuk periode “pameran dan tantangan” yang dijadwalkan lima hari, dan merekrut serta melatih sekitar 15 petugas pemilihan setempat. Tanggal 14 Agustus pastor Katolik Augustino da Costa secara tetap tinggal di Iliomar. Sesuai dengan Perjanjian 5 Mei, gerilyawan Falintil mulai bergerak memasuki empat kawasan kantonisasi pada awal Agustus (awalnya direncanakan dimulai pada 18 Juni – lihat peta di bawah), yaitu ke Odelgomo (desa Aiassa di dekat Bobonaro), Ermera (aldeia Holarema di desa Poetete – 10 Agustus), Waimori (juga ditulis “Uai Mori,” sekitar 35 kilometer sebelah barat daya Baucau, di dalam Kabupaten Viqueque),232 dan Atelari (25 kilometer di sebelah barat laut Iliomar di bagian timur Kabupaten Baucau).233

Peta: Tempat Tempat Kantonisasi Falintil – Augustus-Nopember 1999: Aiassa, Poetete, Waimori, Atelari (tidak dicantumkan di versi Scribd)

Pada pertengahan Agustus, Falintil di Iliomar dan Falintil dari pangkalan utama Região I
231 UNTAET – United Nations Transitional Authority in East Timor, 29 Oktober 1999-19 Mei 2002. 232 Untuk laporan saksi mata tentang kegiatan di kantonisasi Waimori, lihat I. Cristalis, 2002, halaman 177-191, 196-201. 233 UNAMET diberi tahu bahwa 187 pejuang Falintil dikantonisasi di Aiassa (Odelgomo), 153 di Poetete, 260 di Waimori (Uai Mori), dan 70 di Atelari: seluruhnya berjumlah 670 (lihat D. Greenlees dan R. Garran, Deliverance: The Inside Story of East Timor’s Fight for Freedom [Allen & Unwin, Crows Nest, 2002], halaman 182; I. Cristalis, 2002, halaman 187).

di Laivai berkonsentrasi di Atelari ketika merayakan hari lahir Falintil tanggal 20 Agustus. Sampai 300 pejuang Falintil berkumpul di Atelari, bersama dengan beberapa ratus penduduk desa – yaitu orang-orang yang terusir dari kampung tempat tinggal mereka (IDP – internally displaced persons) yang menyelamatkan diri dari gangguan milisi dan TNI. Awalnya, kantonisasi Atelari dilaporkan dikomandani oleh Eli Foho Rai Boot (Cornelio Gama)234, tetapi segera digantikan oleh Lere. Pengamat militer UNAMET yang tidak bersenjata (UNMOs – United Nations Military Observers) dari Malaysia dan Brazil ditempatkan di tempat kantonisasi Atelari. Falintil dan milisi pro-otonomi diharuskan menyerahkan senjata235, tetapi tidak terjadi perlucutan senjata di kabupaten-kabupaten bagian timur Provinsi ini. Mengutip memuncaknya kekerasan oleh prointegrasionis, Falintil menolak menyerahkan senjata tetapi, walaupun ada provokasi, tetap berada di dalam empat kawasan kantonisasi – hanya dengan sangat sedikit perkecualian.236 Di Los Palos tanggal 2 Agustus, kantor CNRT dibuka oleh Armindo da Silva, Wakil Sekretaris CNRT untuk Wilayah Timur. Sekitar 500 orang hadir, termasuk wakil-wakil UNAMET dan sejumlah pejabat rendahan Indonesia dan perwira-perwira TNI.237 Selama “masa kampanye” di Iliomar dari tanggal 11 sampai 27 Agustus, CNRT Iliomar menjadi aktif secara terbuka dan mengadakan rapat umum pro-kemerdekaan di Lapangan Merdeka pada 24 Agustus. Pemerintah Indonesia di Iliomar berkampanye kuat untuk integrasi – membagi-bagikan bahan-bahan pro-otonomi seperti kaos, dan memberikan rokok dan sejumlah uang (20.00050.000 rupiah), terutama kepada pemuda, untuk meningkatkan suara yang memilih otonomi. Sementara milisi Jati Merah Putih Los Palos menyelenggarakan kunjungan-kunjungan intimidatif “pawai keliling” ke beberapa desa di Kabupaten Lautem, mereka tidak mengunjungi Kecamatan Iliomar. Tetapi, petugas pemilihan lokal UNAMET di Iliomar sering diintimidasi secara lisan oleh personil keamanan Indonesia, yaitu para polisi yang mengawal mereka – meskipun tidak terjadi kekerasan. Meskipun demikian, luas beredar desas-desus di Iliomar bahwa Milsas punya rencana untuk membunuh semua petugas lokal UNAMET setelah pemungutan suara 30 Agustus. Bulan Agustus, kader senior CNRT di Iliomar mendapatkan satu salinan “surat Garnadi”238 rahasia yang dicuri oleh seorang anggota Klandestin dari markas Korem 164 Wira
234 Eli (juga bernama “L-7”, “Eli-7”, “Elle-Sette”, “L Forai Boot”) adalah seorang dukun karismatik yang mendirikan jaringan bawah tanah Sagrada Familia (Keluarga Kudus) di Dili/Baucau pada 1989. Sebelumnya pada pertengahan dasawarsa 1980-an, ia disebut-sebut mendukung oposisi Abílio Araújo terhadap kepemimpinan Xanana dan beroperasi “independen” sampai 1988 (lihat UNTAET, East Timor Threat Assessment, UN Confidential, Dili, 31 Maret 2001, halaman 77). Saudara laki-laki Eli, Mauk Moruk (Paulino Gama) menyerah pada 24 Januari 1985 dan pindah ke luar negeri (lihat catatan 139). Eli, seorang sub-komandan Região II, yang memimpin serangan terhadap Alas pada bulan November 1998, dikantonisasi pada bulan Agustus di Waimori. I. Cristalis, 2002, halaman 170176, 197-201, 278-279 memberikan kesaksian rinci tangan pertama tentang pertemuan-pertemuan dengan Eli pada 1999-2001. Pada akhir Juli 2002, Eli – yang memimpin satu kelompok veteran Falintil yang tidak puas, diundang menjadi seorang “penasehat keamanan” pemerintah Timor-Leste oleh Menteri Rogerio Lobato. 235 Lihat Joint Agreement of the Peace and Stability Commission (Komisi Perdamaian dan Stabilitas) ditandatangani di Jakarta tanggal 18 Juni 1999. 236 I. Martin, “The Popular Consultation and the United Nations Mission – First Reflections”, halaman 141-142 dalam J.J. Fox dan D.B. Soares, Out of the Ashes: Destruction and Reconstruction of East Timor (Crawford House Publishing, Adelaide, 2000). J. Martinkus, 2001, halaman 376 menyebutkan pengiriman Falintil ke Laleia dan Manatuto. Falintil juga menyerang unsur-unsur Tim Alfa setelah milisi membunuh “kelompok gereja” di Lautem pada 25 September 1999. Lihat juga L.E. Madjiah, Timor Timur: Perginya Si Anak Hilang (Antara Pustaka Utama, Jakarta, 2002), halaman 39-44 untuk daftar pelanggaran yang dituduhkan dilakukan Falintil. 237 Kemudian, pejabat-pejabat Indonesia mengajukan keberatan tentang “sikap memihak” UNAMET ketika wakilwakil UNAMET tidak menghadiri upacara lokal Hari Peringatan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus. 238 “Gambaran umum apabila Opsi I gagal”, Memo M.53/Tim P4-OKTT/7/1999 bertanggal 3 Juli 1999. Mayor Jenderal (purnawirawan) H.R. Garnadi adalah wakil ketua “Satgas P3TT” (Satuan Tugas Pelaksanaan Penentuan Pendapat di Timor Timur), yang awalnya bernama “P4-OKTT”, yang beroperasi 18 Mei-September 1999. Pada akhir

59 Dharma di Dili. Memo dari pensiunan Mayor Jenderal TNI H.R. Garnadi kepada atasannya, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal Feisal Tanjung ini, merekomendasikan tindakan yang harus diambil kalau pilihan otonomi (“Opsi I”) ditolak. Di Iliomar, CNRT menafsirkan memo ini berarti bahwa kalau referendum hasilnya kemerdekaan, maka pasukan keamanan Indonesia dan milisi akan melakukan tindakan kekerasan terhadap CNRT dan para pendukungnya. Kader CNRT juga mengetahui adanya petunjuk PPI tanggal 17 Juli 1999 dari pemimpinnya João Tavares yang menyiratkan dilakukannya penghancuran dan kekerasan terhadap para pendukung kemerdekaan kalau “Opsi I” – pilihan otonomi – kalah.239 Sesuai dengan itu, mulai pertengahan Agustus kader CNRT di Iliomar mulai memindahkan perabotan rumah dan harta benda mereka dari rumah – menyembunyikan barang-barang yang besar di rumah kerabat dan mengubur barang-barang kecil. Tanggal 27 Agustus, pada sekitar pukul 17.30, 10-15 orang anggota milisi dengan senjata otomatis dan parang menyerang dan membom api kantor CNRT di Los Palos. Milisi juga menyerang rumah di sebelah kantor ini, milik Verissimo Dias Quintas yang sudah tua berusia 60 tahun, seorang penguasa tradisional (“Raja Agung”) Los Palos dan pendukung kemerdekaan yang terkemuka, dan membunuhnya.240 Berita tentang kekerasan ini mencapai Iliomar pada 28 Agustus, yang disusul dengan perginya kader CNRT dan hampir semua penduduk kawasan Iliomar Kota (yaitu Iliomar I, Ailebere, dan Rumutau) melarikan diri ke hutan. Penduduk di kawasan Iradarate di pantai juga meninggalkan rumah mereka pada 29 Agustus ketika berita pembunuhan tersebut sampai di kawasan ini. Cuaca baik, dan kebanyakan mereka yang melarikan diri tidur di tanah di tempat terbuka. Pagi-pagi pada hari pemungutan suara, Senin 30 Agustus, penduduk – kebanyakan kembali dari hutan, berkumpul di Sekolah Menengah Pertama di Iliomar Kota, satu-satunya pusat pemungutan suara, dan memberikan suara di enam tempat pemungutan suara. Dari staf pemungutan suara lokal, hanya dua yang tidak datang bekerja, dan mereka segera digantikan dengan staf cadangan. Pada penutupan pusat pemungutan suara sekitar pukul 16.00, polisi Indonesia (anggota Polri dan Brimob), bersama dengan sejumlah Milsas dan milisi Tim Alfa, berkumpul dengan sikap mengancam di luar pusat pemungutan suara. Komandan Polsek Andreas Nidat, mengumumkan dalam bahasa Indonesia bahwa “pemungutan suara sudah selesai, staf PBB harus pergi dan staf lokal harus kembali ke rumah masing-masing kalau tidak anak buah saya akan menggunakan senjata mereka”. Setelah cepat-cepat ambil foto kenang-kenangan dengan para DEO internasional UNAMET, para staf lokal Timor-Leste kembali ke rumah masingmasing, mengumpulkan makanan dan air, dan kemudian segera pergi ke hutan. Tidak lama kemudian, para staf internasional UNAMET pergi dengan kendaraan ke Los Palos dengan kotakkotak pemungutan suara yang disegel, dan kemudian dari sana menuju Dili dimana penghitungan
Juli, teks ini tersedia di Internet (lihat laporan Solidamor, “Surat Rahasia Asisten Menko Polkam”, Jakarta 20 Juli 1999 [http//www.library.ohiou.edu/indopubs/1999/07/25/0247.html]). Pihak berwenang Indonesia menyatakan bahwa surat tersebut “palsu” (lihat Z. Anwar [Makarim] dkk., 2002, halaman 86). Lihat pula analisis dan komentar dalam H. Crouch, “The TNI and East Timor Policy”, halaman 164-165 dan 169-170 dalam J.J. Fox dan D.B. Soares, 2000; G. Robinson, “The fruitless search for a smoking gun”, halaman 249-241 dalam F. Colombijn dan J.T. Lindblad (penyunting), 2002; dan L.E. Madjiah, 2002, halaman 202-208 (Lampiran 3). 239 Siar XPOS, “TNI Ancam Perang di Timor Timur,” 18 Agustus 1999; Pratiwi, “Catatan Perjalanan di Bumi Loro Sa’e (9)”, Matebean (Bogor), 5 Oktober 1999 (http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1999/10/06/0000.html). Lihat pula G. Robinson, 2002, halaman 247-249 yang meneliti keaslian surat PPI João Tavares dan mencatat bahwa kantor politik UNAMET menyimpulkan bahwa surat tersebut “kemungkinan tidak asli”. 240 Tanggal 19 November 2002, dakwaan untuk pembunuhan diajukan terhadap Bupati, dua anggota Kopassus, tujuh anggota Tim Alfa, dan dua anggota BRTT: Martinho da Costa dan José Solari.

suara dilakukan.241 Setelah memberikan suara, dan karena takut kekerasan, hampir semua penduduk Iliomar kembali ke hutan dan kawasan pegunungan terdekat – banyak penduduk kemudian tinggal di hutan selama beberapa minggu. Penduduk desa Iliomar I berkonsentrasi di Bukit Iliomar, penduduk desa Tirilolo di Gunung Tirilolo, penduduk Cainliu di sisi bagian barat Gunung Naunili, dan penduduk Fuat dan sebagian penduduk Iliomar I di Gunung Quelele. Dalam periode itu, cuaca tetap baik, dan kebanyakan orang itu tinggal di luar. Mereka mengumpulkan makanan dari kebun setempat, memakan kelapa dan pisang, dan mencari ubi dan jagung. Di kawasan Tirilolo, pemuda menghitamkan muka mereka dengan bubuk arang dari batu batere, bersenjatakan parang dan tombak bambu, siap mengusir milisi yang mungkin berusaha menyeberangi Sungai Lihulo memasuki Tirilolo dari timur. Penduduk di kawasan Iradarate/Iliomar II di pantai selatan menghancurkan sekitar 10 jembatan kecil di jalan dari Iliomar Kota ke Iliomar II/Iradarate untuk mencegah TNI menggunakan kendaraan mereka memasuki kawasan tersebut. Hasil konsultasi rakyat diumumkan di Hotel Mahkota, Dili oleh UNAMET pada hari Sabtu tanggal 4 September: 98,6 persen pemilih, yaitu 438.968 orang berpartisipasi; dengan 21,5 persen mendukung usulan otonomi luas, dan 78,5 persen menolak usulan tersebut. Organisasiorganisasi pro-otonomi – UNIF (United Front for East Timor) dan FPDK (Front Persatuan, Demokrasi dan Keadilan), mengutip sumber-sumber UNIF dan Polsek, mengklaim bahwa kotakkotak suara di pusat pemungutan suara Iliomar telah dicurangi sehingga merugikan Opsi I prointegrasi, yaitu “diisi” dengan kertas suara pro-kemerdekaan sebelum pemungutan suara dimulai, dan bahwa pemungutan suara yang dilakukan hanyalah suatu “formalitas”.242 Klaim-klaim ini ditolak oleh UNAMET.

Kekerasan dan Penghancuran di Iliomar – September 1999
Di Iliomar, pasukan keamanan Indonesia mulai mundur ke Los Palos pada hari Minggu 5 September, dengan unsur-unsur awal mencakup sebagian besar dari detasemen Brimob berkekuatan 18 orang.243 Pada sekitar pukul 10 malam tanggal 6 September, personil BTT TNI mulai membakar gedung-gedung publik di Iliomar Kota. Ini meliputi: kantor Camat; rumah kediaman Camat; Puskesmas; stasiun pembangkit tenaga listrik PLN; markas dan tempat tinggal BTT; markas Koramil dan bangunan-bangunan barak; kantor KUD (Koperasi Unit Desa); kantor PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga); Sekolah Dasar Iliomar; dan Sekolah Menengah Pertama Iliomar. Polri dan Brimob membakar gedung-gedung dan tempat tinggal staf Polsek, barak Brimob, dan kantor Kopassus di sebelahnya. Tujuh rumah di Iliomar juga dibakar atau rusak berat dimakan api – mencakup komplek bangunan Toko Cina (milik Fernando Lie), dan rumah-rumah Gaspar Seixas, Martinho Hornay, Orlando Soares, Julio Jerónimo, Adolfo Pinto, dan Camilio Seixas. Sejumlah penduduk menuduh bahwa ini disengaja, sementara yang lainnya mengatakan bahwa api yang membakar markas Koramil, karena ditiup angin, yang melahap
241 Penghitungan dilakukan secara terpusat di Museum Propinsi di Dili, tidak dilakukan di kabupaten-kabupaten – untuk menghindari kabupaten tertentu diidentifikasi sebagai pro-otonomi/integrasi atau pro-kemerdekaan. 242 Domingos M. Dores Soares, Kejahatan Sempurna – Buku Kedua, Yayasan Futuro, Jakarta Barat, 2000, halaman 33. Lihat pula Z. Anwar (Makarim) dkk., 2002, halaman 450, Lampiran 9, Serial 59 untuk laporan yang sama menuduh “pengisian kotak” sebelum pemungutan suara di Iliomar. 243 Pemunduran TNI dari Timor-Leste adalah suatu operasi darurat yang terencana yang diarahkan oleh “Operasi Cabut II” Kodam IX Udayana yang bermarkas di Bali.

61 rumah-rumah tersebut. Rumah-rumah di dekatnya milik orang-orang yang diketahui sebagai kader senior CNRT, termasuk Sekretaris Abílio Quintão Pinto, tidak dirusak. Pasukan TNI yang pergi juga menimbulkan kerusakan kecil pada pipa air dari mata air di gunung – peluru melubangi pipa di mata air Senira. Pada tanggal 7 September sekitar pukul 5 pagi, detasemen BTT di Cainliu membakar sekolah dasar Cainliu dan Puskesmas Pembantu. Sore harinya, keluarga-keluarga anggota Milsas dan pendukung pro-otonomi mulai diangkut dengan truk ke Los Palos. Hari berikutnya, 8 September, unsur-unsur pasukan keamanan Indonesia yang tersisa di kawasan Iliomar Kota, terutama BTT, bergerak dengan jalan kaki menuju aldeia/kampung Maluhira. Tanggal 9 September, unsur-unsur TNI ini bertolak dengan truk dari aldeia Maluhira ke Los Palos. Ketika melewati aldeia Caidabu, sekitar 10 kilometer di sebelah utara Iliomar Kota, pasukan TNI menghancurkan sekolah dasar dan juga pos kesehatan kecil (posyandu) di pinggiran bagian selatan kampung ini.244 Dalam sebuah operasi TNI bernama “Op Kenzen”245, penduduk sipil diungsikan dari Iliomar – 709 orang menurut catatan CNRT Iliomar (712 menurut catatan UNTAET), diangkut dengan truk ke Los Palos – dengan sebagian berhenti di pangkalan Yonif 745 di pinggiran bagian utara, dan kemudian sebagian dipusatkan di pelabuhan Com sebelum diangkut dengan kapal laut ke Kupang di Timor Barat. Tetapi sebagian orang Iliomar yang diungsikan tidak langsung dibawa ke Kupang, tetapi dalam perjalanan mereka berhenti selama beberapa minggu di Wonreli di Pulau Kisar, Propinsi Maluku (sekitar 45 kilometer di sebelah utara Com). Pengungsi Iliomar termasuk tiga kepala desa: Selso Martins dari Tirilolo, António de Jesus dari Ailebere, dan Joaquim Henriques dari Fuat. Sejumlah pegawai negeri sipil Indonesia (yang oleh kader CNRT dianggap mendukung atau “netral”) tetap tinggal di Iliomar, termasuk Sekretaris Camat Gaspar Seixas, dan Martinho Hornay (rumah mereka dibakar), dan Domingos dos Reis. Tanggal 8 September, ketika TNI berada di aldeia Maluhira sebelah utara Cainliu, sekelompok kecil pejuang Falintil di kantonisasi Atelari, di bawah komando Serasa, memasuki aldeia Caidalavarin, desa Cainliu. Pada sekitar 9 September, kelompok yang terdiri dari Serasa, Armindo, José Pinto, Vitorino, Armancio (seorang sipil) – dan disertai oleh kepala desa Julião Soares dari Cainliu dan bekas kepala desa Tirilolo Adão Fernandes Ximenes ini memasuki wilayah Iliomar Kota. Serasa menemui pemimpin CNRT Abílio Quintão Pinto dan wakilnya Tito de Deus – keduanya telah kembali dari hutan pada 7 September. Sebelumnya, pada bulan Agustus, Falintil memberikan satu radio kecil kepada pimpinan CNRT di Iliomar agar bisa berkomunikasi dengan Falintil di kantonisasi Atelari dan pemimpin Região/Distrik CNRT, Renan Selak, di Los Palos. Di Iliomar, radio ini dioperasikan oleh Abílio Quintão Pinto, Tito de Deus – dan kadang-kadang oleh Domingos dos Reis. Namun demikian, pada 7 September kode-kode untuk radio telah menjadi tidak berlaku dan komunikasi terhenti. Tetapi pada kedatangannya, Serasa berhasil memperbaiki setelan radio dan komunikasi bisa dilakukan kembali. Tanggal 10 September, CNRT di Iliomar menyelenggarakan pertemuan badan tertingginya – “Komisaun Rekonsiliasaun dan Estabilidade – Iliomar,” yang dihadiri oleh hampir semua kader seniornya. Setelah dilakukan komunikasi CNRT dengan Falintil di Atelari, diaturlah sebuah bantuan makanan darurat dari udara untuk Iliomar, dan pada 24 September sebuah kapal terbang pengangkut Hercules C-130 dari Darwin berhasil menjatuhkan “jatah bantuan harian”
244 Suatu analisis World Food Program (WFP) tanggal 25 Oktober 1999 menaksir penghancuran infrastruktur di Kecamatan Iliomar pada tingkat 90-95 persen (lihat D. Fitzpatrick, “Land Policy in Post-Conflict Circumstances: Some Lessons from East Timor”, The Journal of Humanitarian Assistance, 25 November 2001 [http://www.jha.ac/articles/a074.htm]). 245 OP Kenzen mungkin hanya dilaksanakan di Kabupaten Lautem. Dukungan polisi untuk evakuasi penduduk sipil dilaporkan dijalankan dengan operasi Polisi bernama “Hanoin Lorosae II.”

buatan Amerika Serikat di pinggiran gereja Iliomar.246 Jatah makanan – dalam “kantong” plastik kuning berukuran 30 cm x 20 cm – terbuka karena jatuh, dan sebagian diambil oleh babi dan anjing. Tetapi, hampir semuanya diambil dan dibagikan kepada penduduk oleh kader CNRT. Sebagian penduduk dilaporkan menderita diare setelah memakan makanan jatah bantuan tersebut karena mereka tidak biasa dengan jenis makanan itu. Tanggal 25 September, di Kabupaten Lautem bagian utara, sekelompok milisi Tim Alfa dipimpin oleh Joni Marques membunuh 11 orang termasuk tiga orang pastor dan dua orang biarawati.247 Tanggal 27 September, sebagian dari milisi ini ditangkap oleh Falintil dan kemudian diserahkan kepada pasukan Interfet248 (Batalyon ke-2 Royal Gurkha Rifles Kerajaan Inggris – 2RGR) yang telah mengawal sebuah iring-iringan bantuan menuju Los Palos pada 30 September dan mengamankan ibu kota Kabupaten itu. Pasukan 2RGR juga bergerak cepat ke Com dan, setelah bentrok senjata kecil singkat dengan milisi, membebaskan sekitar 3.000 penduduk yang menunggu evakuasi paksa melalui laut. Pada sekitar pukul 9 malam tanggal 4 Oktober, sebuah iring-iringan kendaraan Interfet dari 2RGR memasuki Iliomar dari Viqueque dan melewati, tanpa berhenti, Kecamatan ini menuju Los Palos. Sejumlah kecil penduduk desa di Kecamatan Iliomar yang telah kembali ke rumah mereka salah menyangka pasukan Interfet adalah TNI yang kembali dan awalnya sangat ketakutan. Pada saat UNAMET kembali ke Lautem pada akhir September, Falintil memegang pemerintahan Distrik di bawah Renan Selak. Sebuah struktur pemerintahan sementara segera dibentuk terdiri dari CNRT, Falintil, dan UNAMET (dan penggantinya, UNTAET) pada awal Oktober. Di Iliomar, kader CNRT mendirikan struktur pemerintahan sementara dikepalai oleh Abílio Quintão Pinto sebagai Sekretaris, Tito de Deus sebagai Vice Sekretaris I, dan Mário Fernandes Cabral sebagai Vice Sekretaris II – dan kontak dilanjutkan dengan Falintil di kantonisasi Atelari. Tanggal 9 Oktober, Serasa kembali ke Atelari, disertai oleh Abílio Quintao Pinto, dan mengembalikan radio ke kantonisasi Falintil. Kekuatan Falintil di kantonisasi Atelari diperkirakan sekitar 300 orang dengan 150 pucuk senjata.249 Tanggal 10 Oktober, Wakil Sekretaris CNRT untuk Iliomar, Tito de Deus, pergi ke Los Palos dan ambil bagian dalam rapat Regional/Distrik CNRT yang dipimpin oleh Sekretaris Renan Selak. Dengan kehadiran permanen Interfet/UNAMET sekarang ditegakkan di Distrik Lautem, rapat memutuskan untuk mengarahkan penduduk agar kembali pulang dari hutan. Tito kembali ke Iliomar pada 12 Oktober, dan – seperti yang diputuskan, penduduk yang masih di hutan segera kembali ke rumah masing-masing. Administrasi CNRT mengangkat kepala-kepala desa – tiga tidak berubah: yaitu José Luís da Costa, Iliomar I; Filipe Pinto, Iliomar II; dan Julião Soares, Cainliu – dan tiga baru: Americo Jerónimo, Ailebere; Fernando Jerónimo, Fuat; dan Adão Fernandes Ximenes, Tirilolo.

246 The World Food Program (WFP) menyelenggarakan “penerjunan bebas” makanan kepada orang-orang yang terusir dari tempat tinggal mereka (Internally Displaced Persons - IDPs) pada periode 17-29 September 1999 menggunakan kapal terbang C-130 milik Australia (Angkatan Udara Australia), Inggris, Perancis, dan WFP. 247 Tanggal 11 Desember 2001, Joni Marques dan tiga orang milisi Tim Alfa lainnya dijatuhi hukuman 33 tahun penjara untuk pembunuhan 25 September itu, dengan anggota-anggota milisi yang lain mendapatkan hukuman dari empat sampai 19 tahun. Dakwaan untuk mereka juga mencakup pembunuhan lain, penyerangan, dan deportasi paksa. 248 Interfet – International Force in East Timor (disponsori oleh PBB): 20 September 1999-23 Februari 2000. 249 Bulan Oktober, Falintil meninggalkan empat kantonisasi mereka dan berkonsentrasi di Aileu, sekitar 45 kilometer di sebelah selatan Dili. Pada akhir November, UNTAET memperkirakan kekuatan Falintil di Aileu sekitar 1.350 orang dengan 240 pucuk senjata, termasuk 150 pejuang dengan 24 senjata dari Região I di bawah Lere Anan Timor (Laporan UNMO tanggal 25 November 1999).

63

2000 – Rekonstruksi dan Rehabilitasi Dimulai
Tanggal 22 Oktober 1999, satu unsur Pasukan Penjaga Perdamaian (PKF – Peace Keeping Force) UNTAET, Batalyon Pasukan Khusus Republik Korea (ROKBATT) berkekuatan 419 orang ditugaskan ke Distrik Lautem dan menempati bekas markas Yonif 745 TNI di Los Palos. Kemudian, patroli keamanan dan kegiatan kemasyarakatan batalyon Korea ini meluas ke Subdistrik Iliomar pada akhir 1999.250 Pada awal Desember 1999, badan-badan bantuan berikut ini aktif di Distrik Lautem: Palang Merah Internasional (ICRC), CARE, Concern, International Rescue Committee (IRC), dan Medecins du Monde (MDM). Pada awal 2000, melampaui bantuan darurat, dimulai usaha rekonstruksi dan rehabilitasi UNTAET, dan sekolah-sekolah (dipasangi atap kembali oleh UNICEF dan USAID) segera dibuka kembali. Pada awal 2000, banyak orang yang diungsikan paksa mulai kembali dari Timor Barat ke rumah mereka di Iliomar. Hujan lebat pada bulan April-Mei 2000 menyebabkan kerusakan besar pada jalan Los Palos-Iliomar, dengan longsor tanah besar (497 meter) di tempat sekitar 11 kilometer sebelah timur laut Iliomar menutup jalan selama beberapa bulan. Banjir juga merusakkan dua jembatan besar di sungai Lihulo ke Tirilolo. Dalam periode itu, personil UNTAET mengunjungi Iliomar dengan helikopter – termasuk patroli UN CIVPOL dan militer dari batalyon PKF Republik Korea. Pasukan zeni militer Republik Korea juga melakukan perbaikan besar jalan di sebelah utara aldeia Caidabu, menyelesaikan tugas ini pada bulan April 2001. Bulan November 2000, seorang Pejabat Lapangan Distrik (DFO – District Field Officer) UNTAET, Robert Akankwasa (Uganda), ditunjuk untuk Subdistrik Iliomar, bersama dengan empat petugas UN Civpol, mendirikan kantor UNTAET di kantor administrasi Subdistrik (yaitu bekas Kecamatan) yang sudah diperbaiki kembali di Iliomar Kota. Setelah perbaikan, tempat tinggal DFO UNTAET dan Civpol dibangun di bekas bangunan Toko Cina. Tahun 2000, satu detasemen militer Republik Korea UNTAET terdiri dari 12 personil, di bawah seorang komandan berpangkat kapten, mendirikan kehadiran permanen di bekas tempat tinggal BTT TNI di seberang kantor UNTAET. Pasukan Republik Korea melakukan patroli keamanan berjalan kaki dan dengan kendaraan, dan berbagai tugas kegiatan kemasyarakatan. Rekonstruksi pada akhir 2000 meliputi pembangunan satu pusat kesehatan kecil di Iliomar Kota untuk menggantikan fasilitas Puskesmas yang telah dihancurkan, dan pemasangan kembali atap sekolah-sekolah yang rusak. Bulan November dan Desember, program imunisasi nasional dilaksanakan di Iliomar, tetapi pesertanya sedikit karena kurangnya publisitas dan promosi. Bulan Desember 2000, 160 kantong pupuk dikirimkan ke Iliomar.

2001 – “Timorisasi” dan Pemilihan Umum Dewan Konstituante 30 Agustus
Pada awal 2001, sekitar 300 dari 709 penduduk yang diungsikan kembali ke Iliomar.251 Bulan Maret 2001, satu tim Registrasi Sipil UNTAET (Sukarelawan PBB Roberto Sanches – Filipina; Angelika Karpol – Jerman) memulai mendaftar semua penduduk Iliomar yang berumur
250 ROKBATT bertugas di Lautem sampai Januari 2002 ketika dipindahkan bertugas ke Oecussi (Ambeno) sebagai bagian dari pengurangan/pemindahan UNTAET. Dari Januari sampai Oktober 2002, keamanan Lautem ditangani oleh batalyon PKF Thailand yang bermarkas di lapangan terbang Baucau. 251 Bulan Maret 2004, 87 penduduk Iliomar (18 keluarga) masih berada di Timor Barat.

di atas 16 tahun – dengan tujuan utama membuat daftar pemilih untuk Pemilihan Umum Dewan (Majelis) Konstituante Agustus 2001, suatu proyek yang berlanjut sampai pertengahan Juni. Tanggal 29 Mei, dua Petugas Pemilihan Distrik (DEO: Ernest Chamberlain – Australi; Charles Ligtvoet – Negeri Belanda) ditugaskan ke Iliomar untuk mengelola proses pemilihan umum. Partai politik Fretilin tersusun dengan baik di Iliomar dengan satu struktur terdiri dari 26 kader Subdistrik; delapan kader di setiap desa; dan delapan kader di setiap aldeia – seluruhnya 274 kader. Pimpinan Fretilin terdiri dari: Sekretaris, Abílio Quintão Pinto (Sekretaris CNRT); Wakil Sekretaris I Filipe Pinto; Wakil Sekretaris II Domingos Fernandes. Satu-satunya partai lain dengan kehadiran permanen di Iliomar adalah Partido Socialista de Timor (PST – Partai Sosialis Timor), yang didirikan pada 10 April 2001 (dan dirombak strukturnya pada 24 Juni 2001) yang memiliki kantor di sebuah rumah pribadi di seberang lapangan sepak bola Iliomar. PST punya struktur dengan 18 kader dan dipimpin oleh Sekretaris Tetap Gaspar de Sousa dan Koordinator Mateus Seixas Miranda. Bulan Mei 2001, sebagai bagian dari politik “Timorisasi” pemerintahan dan administrasi, Mário Fernandes Cabral (mantan kader Klandestin Iliomar) diangkat menjadi Koordinator Subdistrik (Sub-District Coordinator – SDC) di Iliomar – suatu pengangkatan East Timor Transitional Authority (ETTA – Otoritas Transisi Timor-Leste) (SDC pada akhirnya menggantikan DFO UNTAET). Dimulai awal Juni, dalam persiapan untuk pemilihan umum Dewan Konstituante dan penyusunan Konstitusi, kegiatan pendidikan kewarganegaraan dilaksanakan di Iliomar oleh tim Pendidikan Kewarganegaraan Distrik Lautem UNTAET, dan juga oleh organisasi-organisasi non-pemerintah Timor-Leste termasuk Presidium Juventude Lorico Aswain – Timor Leste (PJLA-TL), Educação Civica Constituição ISEG (Instituto Superior de Economia e Gestão) – Dili, dan Timor Lorosa’e Moris (TILMO). Pada pertemuan-pertemuan di aldeia-aldeia, topik yang disampaikan meliputi demokrasi, Konstitusi, hak asasi manusia, dan proses kemerdekaan. Tanggal 9 Juni, untuk memperkuat kegiatan partai independen untuk pemilihan umum, CNRT dibubarkan di seluruh negeri. Di Iliomar, hampir semua aktivis Klandestin dan CNRT menyatakan diri sebagai pendukung Fretilin – dengan perkecualian SDC Mário Fernandes Cabral yang menjadi anggota Partai Demokrat (PD – Partido Democratico). Organisasi perempuan CNRT Iliomar, OMT, dan organisasi pemuda, OJT, segera membentuk kembali diri mereka menjadi cabang dari OPMT dan OJETIL Fretilin. Tanggal 18 Juni, anggota-anggota Komisi Konstitusi, termasuk komisaris lokal Abílio Quintão Pinto (bekas Sekretaris CNRT Iliomar), mengunjungi Iliomar dan, dalam pertemuan umum (“Pertemuan Keakraban”), mengumpulkan masukan untuk penulisan Konstitusi. Hujan yang lebat pada 19 Juni (217 mm dalam 24 jam) tiba-tiba menyebabkan tanah longsor besar pada jalan Iliomar-Los Palos (23 kilometer sebelah timur laut Iliomar – tiga kilometer sebelah selatan Cacaven) yang sangat menghambat gerak kendaraan ke dan dari Subdistrik ini untuk hampir enam minggu. Walaupun tidak terjadi kerusakan serius di Iliomar, Los Palos mengalami banjir yang paling parah dalam 54 tahun – termasuk penghancuran jembatan besar di atas Sungai Papapa di pinggiran barat laut kota, dan banyak rumah hancur.252 Pada rapat di kantor UNTAET Iliomar tanggal 5 Juli dengan DFO UNTAET dan wakil ETTA (SDC Mário Fernandes Cabral), semua enam kepala desa Subdistrik ini mengundurkan diri, mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap “ketidakadilan” keputusan ETTA untuk tidak

252 Pasukan zeni PKF Jepang mengganti jembatan Papapa dengan sebuah Jembatan Bailey pada akhir Oktober 2002.

65 memberi mereka gaji, honorarium, atau tunjangan.253 Selama Juli dan Agustus, satu detasemen zeni Republik Korea ditempatkan di Subdistrik Iliomar dan menyelesaikan perbaikan jalan utama pada “Celah Cacaven,” Bukit Kudaluan (Cainliu), dan pada jalan Iliomar I-Iradarate/Iliomar II yang dibuka untuk lalu-lintas pada akhir bulan Agustus. Selama proses persiapan pemilihan umum Dewan Konstituante (untuk 75 wakil nasional dan 13 wakil distrik), para DEO (dibantu oleh deputi yang direkrut dari orang setempat, yaitu DDEO, Alicia Gonçalves) melaksanakan pendidikan pemilih di semua aldeia, mengelola periode “pameran dan tantangan,” memeriksa persyaratan pemilih, dan membuat daftar pemilih (penduduk berusia 17 tahun ke atas) untuk 3.287 pemilih. Selama tahap kampanye, pertemuanpertemuan dan rapat-rapat umum diselenggarakan di Iliomar oleh Fretilin, PST, Partido Democratico (PD – Partai Demokrat), Partido Democrata Cristão (PDC – Partai Demokrat Kristen), dan Partido Social Democrata (PSD) – semuanya tanpa insiden.254 Tetapi penduduk Iliomar kecewa bahwa tidak satupun kandidat untuk “kursi” Distrik Lautem di Dewan Konstituante yang “kelahiran Iliomar” atau orang yang berbahasa Makalero. Untuk menjalankan pusat-pusat pemungutan suara, para DEO merekrut dan melatih 51 staf pemungutan suara lokal – termasuk 14 perempuan. Tanggal 28 Agustus, tiga pemantau pemilihan dari organisasi nonpemerintah internasional (orang Australi) mengunjungi Iliomar, tinggal menginap di kantor UNTAET. Tanggal 29 Agustus, satu hari sebelum hari pemungutan suara, tiga pemantau internasional (dari negara Uni Eropa) secara singkat mengunjungi Iliomar dan berdiskusi dengan seorang DEO. Pemungutan suara dalam pemilihan umum Dewan Konstituante dilaksanakan dengan sukses pada hari Kamis 30 Agustus di tiga pusat pemungutan suara: Iliomar I (Sekolah Menengah Pertama) – tiga tempat pemungutan suara; Iliomar II (Sekolah Dasar Iradarate) – dua tempat pemungutan suara; dan Cainliu (Sekolah Dasar Cainliu) – tiga tempat pemungutan suara. Pemilih yang memberikan suara di Iliomar diperkirakan sekitar 93 persen dari pemilih yang terdaftar (di Sekolah Menengah Pertama: 97 persen), dan dipantau oleh sekitar 40 wakil partai Timor-Leste dan pemantau pemilihan umum. Setelah penghitungan suara di Los Palos (31 Agustus-3 September), kandidat Fretilin Armindo da Conceição Silva Freitas memenangkan kursi Distrik Lautem (dari 11 kandidat) dengan 52,27 persen dari suara “Distrik.” Suara yang diperoleh Fretilin di Lautem agak lebih rendah daripada yang diharapkan karena satu dari calon independen, Aurelio Freitas Ribeiro, seorang bekas pemimpin pemuda Fretilin yang karismatik, menarik sekitar 16 persen suara – rupanya dari pendukung Fretilin. Fretilin juga memperoleh kebanyakan suara untuk suara “Nasional” di Lautem – 62,27 persen, diikuti oleh PD dengan 10,41 persen, dan PSD dengan 10,11 persen – yang diperebutkan oleh 16 partai dan lima kandidat independen.255 Rekonstruksi dan bantuan meningkat pada 2001 dan mencakup dua proyek irigasi pertanian (Iradarate dan Irabere), pemberian dua traktor tangan bermesin, dua mesin penggiling padi, dan satu mesin penggiling jagung (untuk dikelola oleh koperasi-koperasi lokal). Community
253 Pengunduran diri ini disebabkan oleh surat UNTAET “Melanjutkan Pengakuan Struktur Chefe de Suco/Aldeia” bertanggal 14 Juni 2001 – sementara hal ini menimbulkan kehebohan umum selama beberapa minggu, kepala-kepala desa tetap memegang tanggungjawab mereka dan bekerjasama penuh dengan para DEO (yang berbicara Bahasa Indonesia). 254 João António de Jesus adalah Ketua PSD Iliomar, PDC setempat dipimpin oleh Anacleto Madeira, dan UDC/PDC dipimpin oleh Tómas Amaral. 255 L.S-C. de Sousa, “Some Facts and Comments on the East Timor Constituent Assembly Election”, Lusotopie, Oktober 2001, halaman 299-311 (tersedia di Internet: http://www.cean.u-bordeaux.fr/lusotopie/desousa.pdf) memberikan suatu analisis yang berguna tentang pemilihan umum Dewan Konstituante 2001.

Empowerment Project (CEP – Proyek Pemberdayaan Masyarakat, dijalankan oleh Bank Dunia) mendanai sejumlah proyek setempat termasuk penyeberangan di atas Sungai Paifakaver ke Tirilolo (arungan beton, pelapisan kembali kayu balok jembatan, bronjong batu di tengah sungai). Yayasan Makalero, dikoordinasikan oleh SDC Mário Fernandes Cabral dan diketuai oleh Julião Soares (kepala desa Cainliu), juga didirikan di Iliomar untuk mengelola bantuan pembangunan.

2002 – Pemilihan Umum Presiden dan Kemerdekaan
Bulan November 2001, proses perubahan mata uang nasional dari rupiah Indonesia ke dolar AS dimulai. Di Iliomar, penukaran mata uang dimulai bulan Februari dengan tim “dolarisasi” berkunjung dari Los Palos dan melaksanakan operasinya di kantor UN CIVPOL. Tanggal 21 Januari 2002, “Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi di TimorLeste” 256, sebuah badan independen yang berkekuatan hukum, secara resmi dibentuk di Dili. Mandat Komisi ini adalah menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh semua pihak, antara April 1974 dan Oktober 1999, dan untuk memfasilitasi rekonsiliasi masyarakat dengan keadilan bagi orang-orang yang melakukan pelanggaran yang kurang serius. Komisi ini tidak untuk memberikan amnesti kepada pelaku, dengan semua pelanggaran serius diteruskan kepada Departemen Kehakiman di Dili. Dalam persiapan Pemilihan Umum Presiden April 2002, dua DEO UNTAET (Ernest Chamberlain – Australia, dan Gunalan Sarvanan – Malaysia) ditugaskan ke Iliomar pada 4 Februari, bersama dengan seorang DEO lokal, Albino Albuquerque. Berbeda dengan pelaksanaan untuk pemilihan umum Dewan Konstituante 2001, penduduk aldeia Caidabu dialokasikan ke pusat pemungutan suara di Dirimuni (dikelola oleh DEO Samarapala Vidanangamachchi – Sri Lanka). Dalam minggu-minggu berikutnya, para DEO menyelenggarakan pendidikan pemilih, mengunjungi setiap aldeia di Subdistrik ini dalam beberapa kesempatan. Tanggal 26 Februari, staf ETTA di “Komisi Sistematisasi dan Harmonisasi Konstitusi” mengunjungi Iliomar dan menyelenggarakan pertemuan untuk “mensosialisasikan” rancangan Konstitusi. Penduduk marah karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya, juga tidak ada kesempatan untuk mempelajari rancangan Konstitusi sebelumnya.257 Pada awal April, 48 staf pemungutan suara lokal direkrut dan dilatih oleh para DEO, dan tiga pusat pemungutan suara didirikan – seperti tahun 2001: Sekolah Menengah Pertama Iliomar, Sekolah Dasar Iradarate, dan Sekolah Dasar Cainliu. Tanggal 13 April, satu hari sebelum pemungutan suara, satu rombongan kecil pemantau pemilihan umum internasional dari Uni Eropa mengunjungi Iliomar. Tanggal 14 April, pemungutan suara dilaksanakan tanpa insiden, dan dipantau oleh banyak pemantau lokal berakreditasi dan wakil partai-partai politik. Jumlah pemilih yang berhak di Iliomar (kecuali Caidabu) diperhitungkan 3.674, tetapi yang memberikan suara dalam cuaca yang bagus 70,7 persen, jelas lebih rendah dibandingkan tahun 2001 (93 persen). Banyak penduduk dilaporkan tidak memberikan suara – menganggap bahwa Xanana Gusmão pasti akan mengalahkan calon lain, Francisco Xavier do Amaral.258 Di Distrik Lautem, Xanana mendapatkan 94,52 persen dari suara yang sah, dan Amaral
256 Nama resmi Komisi adalah “Comissão de Acolhimento, Verdade e Reconciliação de Timor-Leste” (CAVR) – dalam bahasa Indonesia: Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi (KPKR). Situs jaringannya adalah: http://www.easttimor-reconciliation.org/ 257 Konstitusi (Undang Undang Dasar) ini ditandatangani oleh Dewan Konstituante pada 22 Maret 2002. 258 Presiden RDTL dari 29 November 1975 sampai pertengahan September 1977 – lihat catatan nomor 60 dan 79.

67 5,48 persen – sementara secara nasional Xanana mendapatkan 82,69 persen dan Amaral 17,31 persen. Tetapi Xanana “bertengkar” dengan Fretilin pada masa kampanye dan, di beberapa tempat, penduduk didorong oleh kader Fretilin untuk tidak memilih, memilih secara informal, atau memilih Amaral. Tetapi di Distrik Lautem kegiatan seperti itu hanya tercatat di desa Rasa dan Titilari di sebelah utara Los Palos Kota. Tanggal 17 April, Xanana Gusmão diumumkan sebagai Presiden terpilih. Timor-Leste yang baru merdeka mengambil sumpah Pemerintah pertamanya dan menyelenggarakan sidang pelantikan Parlemen Nasional pada pagi hari 20 Mei – beberapa jam sesudahnya 120.000 orang merayakan kelahiran negara ini dalam upacara sangat besar di pinggiran bagian barat Dili. Pemerintah, yang terdiri terutama dari anggota kabinet yang sama dengan Dewan Menteri sebelum merdeka, secara resmi dilantik oleh Presiden Xanana Gusmão. Upacara ini dihadiri oleh sekitar 300 orang terkemuka termasuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan, yang menyerahkan kekuasaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa kepada Ketua Parlemen Nasional Timor-Leste.259 Parlemen Timor-Leste kemudian menyelenggarakan sidang pertamanya dalam mana Presiden Gusmão menyampaikan kepada Sekretaris Jenderal Annan permintaan Timor-Leste untuk menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Rekonsiliasi dan Pemulihan
Dalam bulan Juni 2002, wakil regional Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (yaitu CAVR) diangkat. Di Distrik Lautem, dua komisaris yang diangkat adalah Albino da Silva – Sekretaris CNRT Los Palos 1999-2000 dan Justino Valentim – mantan kader senior Klandestin di Los Palos dan mantan guru sekolah yang bekerja di Iliomar. Staf CAVR Lautem termasuk Abílio Quintão Pinto, mantan Sekretaris CNRT Iliomar. Bulan November, tim CAVR mengambil pernyataan-pernyataan di Distrik Lautem bagian timur dan merencanakan memulai bekerja di Iliomar awal 2003. Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi berlanjut di Iliomar, termasuk perbaikan jalan. Tetapi perbaikan yang banyak diperlukan untuk sistem air bersih yang penting (kerusakan pipa) masih tetap terhenti, dan proses pengelolaan lokal Community Empowerment Project di Iliomar mendapatkan kritik.260 Akhir 2002, dibuat satu usulan untuk mendaftar semua orang yang kehilangan nyawa selama pendudukan Indonesia dan usaha untuk mengembalikan tulang-belulang mereka kembali ke desa mereka. Di Iliomar, suatu komite tidak tetap di bawah kepala desa Cainliu, Julião Soares, mengumpulkan informasi dari enam desa Iliomar. Tanggal 9 November, pada waktu kunjungan Kepala Staf F-FDTL Lere Anan Timor, suatu pertemuan umum diselenggarakan di desa Iliomar I dalam mana suatu “Komite Pemulihan Korban Perang”261 dibentuk dengan pemimpin “adat” Filipe Pinto (kepala desa, Iliomar II) sebagai Ketua, Domingos Fernandes sebagai Wakil Ketua, dan Alicia Gonçalves sebagai Bendahara. Rancangan pertama laporan Komite mendaftar 385 korban kelahiran Iliomar yang tulang-belulangnya belum diangkat – didaftar nama, desa asal, dan kerabat.262 Dari mereka ini, 103 adalah pejuang Falintil. Untuk setiap desa, angkanya adalah:
259 UNTAET dibubarkan pada 20 Mei 2002 dan digantikan oleh UN Mission of Support in East Timor (UNMISET – Misi Dukungan PBB di Timor-Leste) dengan mandat dua tahun. 260 “The Community Empowerment Project Revisited”, halaman 6 dalam The La’o Hamutuk Bulletin, Vol. 3, No. 7, Oktober 2002. 261 “Comissão Reculhamento de Vítimas da Guerra do Sub Distrito de Iliomar 1975-1999.” 262 Rancangannya tidak memasukkan tanggal kematian atau tempat kematian/tempat penguburan sementara.

Presiden Gusm?o berpidato di Majelis Umum PBB, State placeNew York , 27 September 2002

Iliomar I: 69; Iliomar II: 37; Ailebere: 76; Tirilolo: 29; Cainliu: 30; dan Fuat: 144.263 Bisa dimengerti adanya kesulitan untuk mengangkat tulang-belulang dari kawasan hutan setelah beberapa tahun berlalu, dan kerja Komite diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun.264

“Melawan adalah Menang!”
Tanggal 27 September 2002, Timor-Leste diterima Majelis Umum Perserikatan BangsaBangsa sebagai Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL) – negara anggotanya yang ke-191. Dengan demikian Timor-Leste menjadi negara dan bangsa merdeka pertama dalam abad ke-21. Upacara Pengibaran Bendera Perjuangan dan PBB, Xanana Gusm?o dengan Kofi Annan,pengorbanan rakyat Timor-Leste untuk pembebasan nasional dan kemerdekaan tidak sia-sia. Selama beberapa dasawarsa, Falintil melancarkan perjuangan di State placeNew York , 27 September 2002 pedesaan – termasuk di Iliomar, dan menderita banyak kehilangan. Gerakan Klandestin dan pendukung Perlawanan lainnya juga teguh pendiriannya dan dengan berani memberikan sumbangan bagi perjuangan. Penduduk Iliomar – dan sesungguhnya semua orang Timor-Leste, telah mengalami penindasan dan selama beberapa dasawarsa mengalami kesulitan dan kehilangan. Setelah memenangkan hak untuk menentukan nasib mereka, rakyat Timor Lorosa’e sekarang bisa bergerak ke depan membangun suatu masyarakat beradab yang adil dan demokratik dalam semangat perdamaian, pemulihan, dan rekonsiliasi. Dengan “Perjuangan” di belakang mereka, rakyat Makalero dari Iliomar siap menghadapi tantangan dan kesempatan bangsa yang baru mereka.

263 Anggota Komite berpendapat bahwa Fuat mengalami kehilangan paling besar karena lokasinya yang dulu, di kawasan Bubutau, bertetangga dengan kawasan pangkalan Falintil ke arah perbatasan Iliomar/Lore. 264 Pada pertengahan 2002, klen Lere Anan Timor mendirikan suatu “rumah tulang-belulang” di aldeia Titiraven (Cainliu) untuk menyimpan tulang-belulang mereka yang telah meninggal.

69

LAMPIRAN B

Iliomar: Statistik265 dan Catatan tentang Administrasi
Terminologi: Indonesia Kabupaten Kecamatan Desa/ Kelurahan Kampung: Kampung/ Dusun Kelompok keluarga: Rukun Tetangga Keluarga: Kepala Keluarga Distrik: Subdistrik: Desa: Portugis Distrito/Conselho Posto Suco Aldeia/Povoação Cabo Uma kain Tetun/CNRT Sub-Região Zona Suku/Nurep Knua/Celcom

Distrik Lautem: 34 Desa/Suco, 147 Kampung/Aldeia Iliomar adalah salah satu dari lima Subdistrik dari Distrik Lautem (yaitu Los Palos, Luro, Lautem/Moro, Tutuala, dan Iliomar). Lautem (1.702 kilometer persegi, garis pantai sepanjang 178,92 kilometer) secara resmi ditetapkan sebagai Kabupaten pada 30 Juli 1976. Distrik ini berpenduduk sekitar 57.200 yang tinggal di 34 desa (terdiri dari 147 aldeia). Moto Distrik adalah “LINCAH” = Lautem Indah, Nyaman, Cantik, Anggun, Harmonis. Los Palos (juga ditulis “Lospalos”), ibu kota Distrik, 226 kilometer dengan jalan beraspal dari Dili dan 89 kilometer dari Baucau. Menurut Survey Suco 2001 (lihat di bawah), Lautem adalah salah satu distrik yang paling sedikit mengalami kekerasan September 1999 – yang paling parah adalah distrik-distrik bagian barat Timor-Leste. Tahun 2001-2003, Administrator Distrik (sebelumnya disebut “Bupati”) Lautem adalah Olavio da Costa Monteiro Almeida – jabatan ini diangkat oleh pemerintah. Statistik curah hujan untuk Kabupaten Lautem selama periode delapan tahun 1990-1997 memperlihatkan musim kering selama lima bulan (Juli sampai dengan November), dan musim basah tujuh bulan (Desember sampai dengan Juni). Curah hujan bulanan rata-rata Lautem 1990-1997 adalah: Januari 176,8 mm, Februari 153,3 mm, Maret 167,6 mm, April 155,6 mm, Mei 209,1 mm, Juni 136,5 mm, Juli 41 mm, Agustus 12,5 mm, September 23,8 mm, Oktober 3,5 mm, November 62,9 mm, dan Desember 231,9 mm. Subdistrik Iliomar: 6 Desa/Suco, 25 Kampung/Aldeia Dalam periode 1952-1965, ada lima desa di Iliomar, yang terdiri dari 27 aldeia (Timor Pequena Monografia, Agência-geral do Ultramar, Lisboa, 1965; K. Sherlock, “East Timor: Liurais and Chefes de Suco – Indigenous Authorities in 1952,” Darwin, 1983). Sebuah sumber Portugis (Timor Pequena Monografia) memperlihatkan penduduk Iliomar tahun 1965 adalah 5.350. Tirilolo didirikan sebagai desa keenam pada tahun 1971. Dalam sensus 1980, penduduk Iliomar dicatat berjumlah 5.435. Tahun 1990, statistik Indonesia memperlihatkan Iliomar dengan wilayah seluas 375 kilometer persegi
265 Hampir semua statistik sampai 1997 diambil dari seri Kabupaten Lautem Dalam Angka 199x, yang diterbitkan oleh Kantor Statistik Lautem di Los Palos. Terbitan terakhir adalah bulan Agustus 1998 untuk periode 1997-1998.

71

LAMPIRAN B

dan enam desa yang terdiri dari 47 aldeia (penduduknya 5.518). Tahun 1991, batas kecamatan-kecamatan di dalam Lautem direvisi, dan wilayah Iliomar dikurangi menjadi 292,3 kilometer persegi (sebagian wilayahnya diserahkan ke Kecamatan Luro dan Kecamatan Lautem, tetapi garis pantai Iliomar tetap 28,33 kilometer). Aldeia-aldeia disusun ulang di Iliomar, dikonsolidasikan dan dikurangi menjadi 25. Dalam periode 1993-1997, penggunaan tanah di Iliomar adalah: 50 hektar (ha) pemukiman, 433 ha sawah, 523 ha pertanian lahan kering, 1.277 ha perkebunan kelapa, dan 25.945 ha hutan (total 29.230 ha). Penduduk tahun 1993 adalah 6.358 orang (1.218 keluarga). 67 persen wilayah Subdistrik ini terletak di ketinggian 100-500 m di atas permukaan laut. Tahun 1997, penduduk berjumlah 6.715 orang: 3.345 laki-laki, 3.370 perempuan – 2.596 anak-anak, 4.199 orang dewasa (yaitu 15 tahun ke atas: 1.943 laki-laki, 2.185 perempuan) dalam 1.279 keluarga. Dalam kelompok umur 20-49 tahun, ada 868 laki-laki dan 1.062 perempuan. Angka pemerintah untuk 1997 juga mencatat 92 orang cacat di Kecamatan Iliomar dan 130 “unsur anti-sosial” – 120 pemuda, dua keluarga, dua banci, dan enam bekas penjahat. Tahun 1999, 709 penduduk Iliomar diungsikan ke Timor Barat – pada bulan Maret 2004 hanya ada 87 penduduk (18 keluarga) yang masih berada di Timor Barat. Tahun 2001, CNRT menyatakan penduduk Iliomar adalah 7.235 orang, yang terdiri dari 1.544 keluarga. Penduduk enam desa pada tahun 2002 adalah 7.376 orang (UNTAET) – yang merupakan 0,92 persen dari seluruh penduduk Timor-Leste. Jumlah penduduk Iliomar pada bulan November 2003 ialah 7.074. Jumlah Penduduk Desa/Suco dan Aldeia/Kampung 2002266 Iliomar I 1.571 Iliomar 514 Ara Ara 287 Caentau 295 Ossohira 317 Vatamatar 158 Iliomar II 1.528 Acara 377 Lihina 396 Madarira 266 Boquila 129 Caidabu 360 Ailebere 876 Leilor 223 Marafal 229 Heitali 184 Lalumato 240 Fuat 584 Rumutau 252 Acadirilo 103 Vataomar 158 Cainliu 1.281 Titiraven 234 Maluhira 334 Liufalin 161 Caidalavarin 322 Larimi 230 Tirilolo 1.536 Tirilolo 549 Tatalalarin 329 Etevata 658

Catatan: Sekitar setengah dari kampung Iliomar (desa Iliomar I) terletak di dekat pantai selatan di kawasan Iradarate, sebelah timur laut dan bersebelahan dengan Iliomar II. Sekitar 20 keluarga Iliomar II bertempat tinggal di dekat lapangan sepakbola di Iliomar Kota (karena pemindahan “paksa” mereka tahun 1978). Kampung Caidabu, sekitar 10 kilometer sebelah utara Iliomar Kota, adalah bagian dari desa Iliomar II. Kampung Acadirilo dan Vataomar desa Fuat terletak sekitar enam kilometer sebelah utara Iliomar
266 Untuk daftar terpilih “Tokoh Terpilih 2002-2004” Iliomar, termasuk kepala desa dan kepala aldeia/kampung, lihat halaman 7 Lampiran ini.

Kota di kawasan Bubutau – tempat Fuat sebelum 1978, sementara kampung Rumutau tetap di tempat pemindahan paksa tahun 1978, yaitu di pinggiran bagian utara kawasan Iliomar Kota. Sementara Boropai diperlihatkan pada peta sebagai desa besar di sebelah barat Tirilolo, Boropai secara administratif adalah bagian dari kampung Etevata desa Tirilolo. Para kepala desa (Chefe de Suco) dibantu oleh seorang Sekretaris (Ajudante) dan Dewan Desa (Conselho de Suco). Mulai 1980-1985, sebagai langkah pengorganisasian dan pengendalian, sistem administrasi pemerintahan Indonesia “RW” (Rukun Warga) dan “RT” (Rukun Tetangga) dibentuk di setiap aldeia/kampung. Setiap RT terdiri dari beberapa keluarga, dan RW terdiri dari empat atau lima RT. Dengan jalan-jalan yang tak bernama dan rumah-rumah tak bernomor, sistem RT/RW merupakan tindakan pengendalian yang berguna bagi para administrator Indonesia dan ABRI. Kriteria Pembangunan Desa 1997, Dewan Pembangunan Suco dan Subdistrik, dan Survey Suco 2001 Pada tahun 1990, semua enam desa itu digolongkan sebagai “swadaya” (tingkat yang paling rendah dalam sistem pembangunan Pemerintah tiga tingkat untuk seluruh Indonesia, yaitu untuk desa yang masih hidup dalam wilayah “adat”). Tahun 1997, dua dari desa-desa ini masih digolongkan sebagai “swadaya,” tiga desa “swakarsa” (tingkat pembangunan menengah), dan satu desa digolongkan “swasembada” (tingkat yang paling maju). Setiap kepala desa dibantu oleh satu Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Di Iliomar tahun 1997, satu LKMD termasuk Golongan I, empat Golongan II, dan satu Golongan III (yang paling tinggi). Bulan Februari 2000, Community Empowerment Project (CEP – Proyek Pemberdayaan Masyarakat) Bank Dunia dijalankan di Timor-Leste dengan tujuan “mendukung penurunan kemiskinan” dan “membangun pertanggungjawaban dan lembaga-lembaga partisipatoris lokal pada tingkat desa dan kampung”. Bulan Maret 2000, Regulasi UNTAET 13/2000 menetapkan struktur pengelolaan seluruh negeri untuk dana pembangunan ini dengan membentuk Dewan Pembangunan Suco dan Dewan Pembangunan Subdistrik.267 Dewan-dewan ini hanya bertugas mengelola dana pembangunan tidak memiliki kekuasaan legislatif, eksekutif atau yudisial – atau untuk menggantikan peran pemimpin tradisional atau lokal. Para kepala desa dan Koordinator Subdistrik bukan anggota dewan-dewan ini. Telah ada laporan tentang adanya ketegangan awal dengan proyek ini, termasuk di Iliomar.268 Proyek ini rencananya ditinjau ulang pada bulan Juni 2003 dan dialihkan kepada Pemerintah RDTL pada bulan Maret 2004.. Dalam periode Maret-April 2001, suatu survey terhadap 498 suco (desa) TimorLeste diselenggarakan oleh ETTA/UNDP/Bank Pembangunan Asia/Bank Dunia269. Survey ini memperlihatkan bahwa penduduk Iliomar berjumlah 6.803: 1.474 rumahtangga, dengan 51 persen penduduk perempuan. Akibat dari kekerasan September
267 Untuk rincian tentang proses penyaringan dan pengelolaan, lihat Regulasi UNTAET 13/2000 tentang Pembentukan Dewan Pembangunan Suco dan Subdistrik untuk Penyaluran Dana Kegiatan Pembangunan, Dili, 10 Maret 2000. 268 “The Community Empowerment Project Revisited”, halaman 6-9, dalam The La’o Hamutuk Bulletin, Vol. 3, No. 7, Oktober 2002. 269 ETTA/UNDP/ADB/World Bank, The 2001 Survey of Sucos, Initial Analysis on Implementation for Poverty Prevention, October 2001.

73

LAMPIRAN B

1999, survey ini mencatat 30 keluarga Iliomar belum kembali (pada Februari 2001)270, 24 rumah masih belum bisa ditinggali, dan 182 ekor binatang hilang. Iliomar adalah salah satu subdistrik yang paling rendah terkena kekerasan, subdistrik “rata-rata” di TimorLeste mengalami 296 orang yang belum kembali; 1.088 rumah yang menjadi tidak bisa dihuni; dan 4.657 ekor binatang hilang. Survey ini memasukkan Indeks Pembangunan Suco (IPS) berdasarkan perhitungan tentang kekayaan relatif, ketersediaan pelayanan sosial, dan akses. Di Iliomar, peringkat untuk desa-desa: Iliomar I: 64; Iliomar II: 32; Ailebere: 63; Fuat: 59; Cainliu: 77; dan Tirilolo: 76. Iliomar II tergolong dalam 50 suco yang paling miskin dari 498 suco yang disurvey; sementara Cainliu dan Tirilolo termasuk peringkat 50 suco yang tertinggi. Rata-rata IPS untuk suco di Distrik Lautem adalah 59 – dan rata-rata untuk Timor-Leste adalah 52. Kepala-kepala desa di Iliomar yang menjadi responden mencatat bahwa selama tiga bulan setiap tahun, keluarga-keluarga mengalami kekurangan makanan, yaitu bulan November, Januari, dan Februari – dengan Iliomar II mengalami “bulan keempat” kekurangan. Listrik Tahun 1997, pembangkit listrik diesel di stasiun Sub-ranting PLN di Iliomar melayani 98 pelanggan dengan sambungan 54.050 VA dan produksi sekitar 6.100 KWH. Stasiun ini dihancurkan oleh TNI ketika pergi dalam bulan September 1999. Dua generator kecil yang diberikan untuk sementara oleh PBB memberikan tenaga listrik untuk kantor pemerintah sejak 2000, dan satu stasiun baru dibangun pada tahun 2002 (bantuan Jepang) dengan dua generator 50 Kva. Pada bulan Agustus 2003, rumahtangga mulai terjangkau listrik, dan sampai bulan April 2004 di kawasan Iliomar Kota 110 rumahtangga terjangkau listrik - ongkos koneksinya USD 10 (USD 20 untuk pegawai negeri dan polisi), dan ongkos bulanan rata-rata ialah USD 3. Pertanian, Peternakan, dan Perikanan271 Tahun 1997, kegiatan pertanian utama dilaporkan sebagai berikut: Areal pertanian (ha) Areal yang dipanen (ha) 272 Padi (lahan basah) 115 91 (2 ton per ha) Padi (lahan kering) 1,25 0,98 Jagung 696 625 (1,45 ton per ha) Ubi kayu 113 103 (6,5 ton per ha) Ubi jalar 42 39 (4,5 ton per ha) Kacang tanah 34 31 (1,15 ton per ha) Kacang kedelai 8 7 (0,6 ton per ha) Kacang hijau 4 3 (0,61 ton per ha) Pohon mangga: 2.269; pohon sukun: 819; pohon nangka: 115; nanas: 473.
270 Sampai bulan Maret 2004, 18 keluarga belum kembali (terdiri atas 87 penduduk). 271 Untuk rincian mengenai praktek pertanian dan peternakan di distrik-distrik bagian timur, lihat J.K Metzner, Man and the Environment in Eastern Timor…, Australian National University, Canberra, 1977, khususnya Bab 3. 272 Angka yang sangat rendah untuk penanaman padi ini mungkin karena pembatasan Indonesia terhadap akses petani ke wilayah penghasil padi utama di Irabere di sebelah barat daya kecamatan ini.

Perkebunan kelapa: 600 ha yang ditanami, tetapi 128 ha belum menghasilkan (terdiri dari 470 ha kelapa dalam dan 0,1 ha kelapa hibrida). Menghasilkan 216,4 ton. Kemiri: 110 ha menghasilkan 60 ton. Pinang: 40 ha menghasilkan 6,5 ton. Peternakan:273 Sapi (Bali): 1.866 (520 jantan; 1.346 betina). Kerbau: 770 (230 jantan, 540 betina). Kuda: 166 (70 jantan; 96 betina). Babi: 2.837. Kambing: 1.292. Domba: 141. Ayam: 3.012. Bebek: 402. Perikanan: Tahun 1997, statistik Indonesia untuk Iliomar mendaftar 30 nelayan, 2 kelompok nelayan, dan 2 kelompok nelayan paruh waktu – tidak terdaftar adanya perahu. Tahun 1999-2002, di pantai bagian selatan, hanya sangat sedikit kegiatan perikanan (tanpa perahu) yang tercatat. Pelayanan Kesehatan Tahun 1990, catatan Indonesia menyebutkan satu Puskesmas di Iliomar Kota dan enam Posyandu (pos pelayanan terpadu - di desa) dan enam Pos Keluarga Berencana di desa-desa. Tahun 1993 terdaftar adanya 12 Posyandu. Tahun 1997 tercatat satu Puskesmas di Iliomar Kota (dengan tempat tidur untuk pasien), 3 Puskesmas Pembantu, dan 13 Posyandu di desa-desa. Tenaga kesehatan di kecamatan ini adalah sebagai berikut: satu dokter, empat bidan, empat perawat, satu perawat gigi, dan lima penilik kesehatan. Pada awal September 1999, satu-satunya Puskesmas dan salah satu Puskesmas Pembantu (Cainliu) dihancurkan oleh pasukan TNI yang mundur – Puskesmas Pembantu di Iliomar II dan Tirilolo dijarah, tetapi gedungnya masih utuh. Satu pusat kesehatan sementara “berukuran Puskesmas Pembantu” dibangun oleh PBB di Iliomar Kota pada tahun 2000, dan satu Pusat Kesehatan yang baru dibangun pada pertengahan 2002. Pada akhir 2003, dua Puskesmas Pembantu (Tirilolo, Iliomar II) belum diberi perlengkapan dan tenaga kesehatan kembali. Dari 34.459 kasus medis yang disebutkan di Kabupaten Lautem tahun 1997: kasus Gangguan Pernafasan berjumlah 28 persen; Malaria – 14,5 persen (Lautem adalah yang paling banyak terkena malaria dari 13 kabupaten); Diare – 7 persen; Kudis – 4,3 persen; TBC – 6,2 persen; Penyakit kulit – 7,7 persen; Bronkitis – 4,8 persen; Radang Mata – 3,9 persen; Influenza – 1,4 persen; Rematik – 13 persen; Sakit Gigi – 1 persen; Kecelakaan – 4,2 persen; Gangguan Sistem Pencernaan – 3 persen. Tahun 1997 di Iliomar, 92 orang digolongkan cacat, terdiri dari: 57 dengan ketidakmampuan fisik, 16 buta, 12 bisu, dua cacat mental, dan tiga mengalami kondisi kulit yang kronis. Pertumbuhan penduduk untuk dasawarsa 1980-an di Kabupaten Lautem diperhitungkan rata-rata 2,4 persen per tahun, dan untuk periode 1990-1997 1,52 persen per tahun. Statistik resmi mengemukakan bahwa rata-rata pertumbuhan penduduk tahunan untuk Kabupaten Lautem dalam periode 1993-1997 adalah 1,61 persen per tahun.
273 Angka ini untuk tahun 1997. Dalam periode 2001-2002, penulis melihat sangat sedikit kambing di Iliomar (kurang dari 50 ekor) dan sangat sedikit bebek.

75

LAMPIRAN B

Tahun 1997, angka kotrasepsi perencanaan keluarga (KB) untuk Kabupaten Lautem dinyatakan sebagai: 3483 akseptor (mungkin adalah pasangan) yang seluruhnya 13,79 persen (dari pasangan penduduk usia subur distrik ini berjumlah 54.634). Angka KB untuk Iliomar adalah: 1990 1993 1997 164 akseptor mencakup 137 suntik, 10 IUD 292 akseptor mencakup 257 suntik, 25 pil, 7 IUD 373 akseptur terdiri dari 324 suntik (87 persen) 39 pil, 7 IUD, 1 “MOW”. Dengan asumsi akseptor adalah “pasangan,” ini merupakan perkiraan 12 persen dari pasangan usia subur Iliomar.

Koperasi: Koperasi Iliomar (Koperasi Unit Desa Makalero) beranggotakan 319 orang pada 1997. Gedungnya di dekat pasar dihancurkan oleh TNI ketika mengundurkan diri bulan September 1999. Arti Nama Dalam bahasa Fataluku: “La Pala” berarti “pertanian datar” – dikorupsi oleh Portugis menjadi “Los Palos.” Dalam bahasa Makalero: Iliomar berarti “rumah batu”; Ailebere: “hujan deras”; Iradarate: “air naik”; Cainliu: satu kelompok tertentu tanaman; Fuat: satu jenis bunga “bunga kayu”; Tirilolo: tidak diketahui – juga ada desa Tirilolo di Distrik Baucau. Irabere: “banyak air.” Iliomar – Chefe de Posto; Camat; Koordinator/Administrator Subdistrik 1972: Agapito Borges (Portugis) 1975: Andre da Costa (Mestizo) 1978: Orlando Marques (asal Rasa, Los Palos) – pergi dengan helikopter, hilang. 1980: Horacio Gago Kopsadas (asal Los Palos) 1981: Raimundo Fernandes (asal Los Palos) 1982: Roberto Seixas Miranda (dipenjarakan di Cipinang 1983 - , sekarang tinggal di Portugal) 1985: Jaime da Costa (kemudian menjadi anggota DPRD II Lautem; 2002: guru sekolah menengah di Los Palos) 1988: Letnan Sirana (ABRI – asal Jawa) berdinas selama empat tahun. 1993: Florindo Ferreira (asal Los Palos) 1995: Tómas Neves (melawan Indonesia, dipecat, sekarang tinggal di Los Palos) 1997: Mateus da Costa (asal Los Palos) – menjabat sementara, bertugas enam bulan 1998: Horacio Marques (sekarang dosen, Universidade Nasional Timor Lorosae, Dili) 2001-2003: Mário Fernandes Cabral (Koordinator Subdistrik pertama) 2003-: Abílio Quintão Pinto (Administrator Subdistrik pertama - bekas Sekretaris CNRT sampai pertengahan 2001) Catatan: Afonso Pinto menjadi “wakil Iliomar” di DPRD II di Los Palos 1982-1999;

kemudian Jaime da Costa juga mejadi wakil. Afonso Pinto, Adolfo Pinto, dan Domingos Morais – semua lahir di Iliomar, dipilih menjadi anggota DPRD II Lautem pada pemilihan umum Indonesia bulan Juni 1999. Pegawai negeri di Kecamatan Iliomar pada periode 1990-1997 (tidak termasuk polisi atau personil militer) berjumlah 12-14 orang. Tahun 1997, 12 orang pegawai negeri terdiri dari: enam orang Golongan I (pangkat terendah), lima orang Golongan II, satu orang Golongan III (Camat). Satu orang pegawai negeri Golongan II bertugas menangani generator listrik Kecamatan (sub-ranting).

Tokoh Terpilih 2002-2004
Distrik Lautem: Administrator Distrik (“Bupati”): Olavio da Costa Monteiro Almeida Koordinator Subdistrik Iliomar: Mário Fernandes Cabral 2001-2003 Administrator Subdistrik Iliomar: Abílio Quintão Pinto – mulai awal 2003 Petugas Pembangunan Masyarakat: David Jerónimo Sanches (mulai Juli 2003) (Community Development Officer – CDO) Petugas Keamanan (2003-2004): Jose da Costa (asal Tirilolo), Verissimo dos Santos (asal Cainliu) Pemimpin “adat” Iliomar: Filipe Pinto (Kepala desa Iliomar II) Bekas Sekretaris Zona Iliomar CNRM/CNRT/ “Perlawanan”: Abílio Quintão Pinto (sampai pertengahan 2001) Polisi: Komandan Stasiun Iliomar – Sersan Castello Branco dos Santos (lahir di Larimi), Cancio de Jesus (wakil): Petugas (7-14) – Albertino da Costa, Amando da Costa Dias, Ameno da Gama, Coralino, Maria …+ Kepala Desa/Suco dan Kampung/Aldeia: Iliomar I (1.571 – IPS 64): José Luís da Costa, Sekretaris: Camilio Seixas Iliomar Ara Ara Caentau Vatamatar Ossohira Hermino Pinto José Chanses Pedro Cabral Francisco João Monteiro dos Santos Iliomar II (1.528 – IPS 32): Filipe Pinto, Sekretaris: Adolfo Pinto Acara Lihina Madarira Boquila Caidabu Francisco Barreto José Pinto Domingos João Hornay Joaquim da Costa Pinto Ailebere (876 – IPS 63): Americo Jerónimo, Sekretaris: Martinho Ximenes Leilor Marafal Hetali Lalumato Humberto Jerónimo Marcus da Costa José Serpa António Gomes dos Santos

77

LAMPIRAN B

Fuat (584 – IPS 59): Fernando Jerónimo Rumutau Acadirolo (Bubutau) Vataomar (Bubutau) Felisberto da Silva José Correia José Martins Cainliu (1.281 – IPS 77): Julião Soares, Sekretaris: Francisco da Costa Caidalavarin Maluhira Titiraven Liufalin Larimi Igino de Carvalho Orlando Lino João Baptista Aleixo da Costa Barbosa Fernandes Tirilolo (1.536 – IPS 76): Adão Fernandes Ximenes Tirilolo Tatalalarin Etevata (termasuk Boropai) Domingos da Cruz António Dias José Martins Agama: Padre Agustino da Costa – Pastor Katolik Roma Pendidikan: Sekolah Menengah Pertama Iliomar: 240 siswa. Koordinator/Kepala Sekolah – Jacob dos Reis. Guru senior mencakup – Tómas Pinto, Emiliano dos Santos, Sabina Savio, Tómas Amaral, Juvita Boavida, Ameliano da Silva (terkait dengan Larimi – pelosok) +. Koordinator Sekolah-Sekolah Dasar: Abílio Jerónimo Sekolah Dasar Iliomar: Kepala Sekolah – Abílio Pinto/Jerónimo 375 siswa Sekolah Dasar Cainliu: Kepala Sekolah – Benediktus Ola, Guru – Filesmina de Jesus + 185 siswa Sekolah Dasar Tirilolo: Kepala Sekolah – Matias da Cruz Correia, Guru – Napoleão Leki Nahak, Manuel da Costa, Justo Barreto + 324 siswa Sekolah Dasar Iradarate (Iliomar II): Kepala Sekolah – Paulo Pinto, Guru – Francisco Birisasi + 202 siswa Sekolah Dasar Larimi: Kepala Sekolah – Anacleto Madeira, 83 siswa Sekolah Dasar Caidabu: José da Silva/Anacleto Madeira, 138 siswa Sekolah Dasar Bubutau: Alegria David, 35 siswa – gedung hancur November 2002; gedung baru dibangun November 2003. Taman Kanak Kanak (TK): Koordinator Alicia Gonçalves (didirikan di Iliomar Kota pada bulan Desember 2003). Kesehatan Puskesmas dihancurkan September 1999, dibangun kembali pertengahan 2002. Staf: Mateus Ribeiro (Kepala Pusat), Martinho da Costa, Honario Ramos, Armindo Ferreira, Narcisio Camões, António Barreto, Carolina Hornay. Puskesmas Pembantu: Tirilolo dan Iliomar II – gedung tanpa perlengkapan dan tanpa tenaga kesehatan – perlu diperbaiki; Puskesmas Pembantu Cainliu dihancurkan September 1999.

Posyandu (pos kesehatan di desa – dilaporkan 13 pada tahun 1997): tidak ada gedung/tenaga/perlengkapan sampai bulan Desember 2003. Partai-Partai Politik Fretilin: Abílio Quintão Pinto (mundur pada awal 2003 – menjadi Administrator Subdistrik). Sekretaris Fretilin: Filipe Pinto, Domingos Fernandes PSD: João António de Deus. Vice: Eurico Jerónimo, Sekretaris: Heraldo da Costa PDC: Anacleto Madeira PST: Gaspar de Sousa, Mateus Seixas Miranda UDC/PDC: Tómas Amaral NGO Lokal OPMT/OMT (Organisasi Perempuan): Felisberta Madeira, Alicia Gonçalves, Margarida Amaral Teles, Cristina Lourdes, Olinda Marques, Rosalina Fernandes, Merlinda da Costa, Amelia Quintão Seixas + Pada 2003, Wanita Sehait / Grupo Feto Neon Ida – GFNI (Grup Wanita Sehati) didirikan dengan ketua Alicia Gonçalves, wakil Olinda Marques. OPJT (Organisasi Pemuda): Liborio Madeira (Ketua), Francisco da Costa, Honario da Costa, Gonçalves da Costa, Alfredo Lebre. Tempat Terpilih: Peta 1:50.000 Edisi I-1999 Series T-754 No. 2507-24 Luro; -51 Laga; -52 Lautem; -61 Fuiloro; -23 Baguia; -33 Los Palos; -21 Uatolari. Peta 1:25.000 Edisi I-1993 No. 2507-241, Iliomar. Matebean Mane 370470 Rasa 772668 Com 864758 Caidabu 625448 Uatocarabau 452313 Matebean Feto 355441 Titilari 792635 Pantai Lautem 689753 Iliomar 610368 Uatolari 288241 Gunung Naunili 613416 Persimpangan Com 870662 Baguia 425455 Luro 615550 Atelari 473545

Personil UNAMET/UNTAET Yang Berdinas di Iliomar 1999-2002 UNAMET 1999 Penentuan Pendapat/Konsultasi Rakyat: UNV DEO: Barry Robert Hay (New Zealand) 6 Juli-30 Agustus; Mariola Ratschka (Polandia) 6 Juli-18 Agustus; Angelo Osorio (Argentina) 11 Juli-30 Agustus; Gyanendra Aryal (Nepal) 6-13 Juli; Tahira Yukiko (Jepang) 20 Juli-30 Agustus; Xavier Noc (Perancis) 25-30 Agustus. UN CIVPOL: Aaron Crabtree (Australia); Brad McMeeking (Australia) 7 Juli-30 Agustus.

79

LAMPIRAN B

UNTAET 2000 UNV DFO: Robert Akankwasa (Uganda) November 2000UN Civpol: Khaled Sweiti (Jordania) -September 2001; Firas Sawaftah (Jordania) – Februari 2002; Charles … (Afrika Barat); … … (Afrika Barat). Pasukan Penjaga Perdamaian (PKF – Peace Keeping Force): detasemen militer Republik Korea (ROK) 12 orang (Pasukan Khusus) ditugaskan ke Iliomar tahun 2000 dari kelompok batalyon Kontingen “Sangroksu” (“Pohon Hijau Abadi”) ROK yang tiba di Los Palos tanggal 22 Oktober 1999 – bermarkas di bekas kamp Yonif 745 di sebelah aldeia Kartini. UNTAET 2001 UNV Pendaftaran Sipil: Roberto Sanchez (Filipina) Maret-Mei; Angelika Karpol (Jerman) Maret-Mei. UNV DEO: Ernest Chamberlain (Australia) 29 Mei-12 September; Charles Ligtvoet (Negeri Belanda) 29 Mei-30 Agustus; Patrick Pacaud (Perancis) 15-30 Agustus. DDEO Timor-Leste: Alicia Gonçalves -30 Agustus. UN Civpol: Khaled Sweiti (Jordania) -September 2001; Firas Sawaftah (Jordania) – Februari 2002; Don Barret (Australia), Mike Whitehead (Australia) 10 Juni-2 November; Pongsri Pongwuit 20 Juli-12 Oktober (Thailand), Meesornrit Amnvay (Thailand) 20 Juli17 Oktober; Mr Yin (Cina), Mr Chen (Cina) 28 Oktober-Desember; Detasemen PKF: 12 personil militer (Pasukan Khusus) Republik Korea (ROK); juga detasemen zeni militer 8 orang untuk beberapa minggu pada akhir tahun 2001 (perbaikan jalan). UNTAET 2002 UNV DEO: Ernest Chamberlain (Australia) 4 Februari-21 April; Gunalan Sarvanan (Malaysia) 4 Februari-14 April; Samarapala Vidanagamchchi (Nepal) – tinggal di Los Palos dan hanya bertugas untuk aldeia Caidabu: Februari-14 April. DEO Timor-Leste: Albino Albuquerque 4 Februari-14 April. UN CIVPOL: Firas Sawaftah (Jordania) – sampai awal Februari; Syaiful (Bangladesh) – sampai pertengahan April; Ali (Bangladesh) –sampai awal April; Stephen Bimpeh (Ghana) 20 Februari-; Francis X. Manlasi (Ghana) 20 Februari-; Akwasi Ankoma Adutwum (Ghana) 20 Februari-. Detasemen PKF: Bulan Januari 2002, kesatuan ROK berpangkalan di Distrik Lautem dipindahkan bertugas di Distrik Oecussi (Ambeno), dan batalyon PKF Thailand berpangkalan di Baucau mengambil tanggungjawab keamanan untuk Lautem. Patroli dengan kendaraan PKF Thailand mengunjungi Iliomar setiap beberapa minggu, biasanya dalam perjalanan dari Uato-Carabau (sampai pertengahan 2002).

Pasukan Keamanan Indonesia dan Unsur Pro-Integrasi di Los Palos dan Iliomar (Catatan: ABRI kembali ke nama sebelumnya TNI pada bulan April 1999)
Lanud Baucau: Sektor A Dibawah komando seorang kolonel – biasanya perwira Kopassus, Markas Sektor A berada di lapangan udara militer (Lanud) Baucau dan melancarkan operasi-operasi lapangan utama di setengah bagian timur Provinsi, terutama di kabupaten Baucau, Manatuto, Viqueque, dan Lautem. Markas ini membawahi batalyon-batalyon infanteri dan unsur-unsur Satgas (Satuan Tugas) Darat Rajawali, termasuk “kompi pemburu” (mulai September 1995), yang dibentuk dari kesatuan Kopassus dan Kostrad.274 Tahun 1998, Komandan Sektor A adalah Kolonel (Kopassus) Sunarko (NRP 29345), yang digantikan pada bulan September 1999 oleh Kolonel Irwin Kusnadi.275 Markas Sektor B bertempat di Same, sebentar di Dili (1992), dan untuk hampir seluruh dasawarsa 1990-an di Ainaro. Markas Sektor C bertempat di Dili sampai akhir 1991. Los Palos: Kodim 1629 (Komando Distrik Militer 1629) Di bawah komando seorang Letnan Kolonel, markas militer distrik ini bertempat di Los Palos dan bertanggungjawab atas keamanan dan administrasi militer di Kabupaten Lautem. Kodim 1629 punya empat Koramil di bawahnya (bernomor 2901-2905, satu di setiap kecamatan) dan kekuatan total pada bulan November 1998 adalah 604 personil (436 ABRI, 78 pegawai sipil, 90 Wanra). Komandan Kodim (Dandim 1629) pada tahun 1999 adalah Letnan Kolonel Sudrajat AS. Staf markas Kodim 1629 dan Koramilnya pada bulan November 1998 bisa dibaca pada: http://homepage.esoterica.pt/~cdpm/orgepen.htm Los Palos: Batalyon 745 (Yonif 745 SYB) Sampada Yudha Bhakti Pada akhir dasawarsa 1970-an dan awal 1980-an, markas dan sebagian besar pasukan batalyon ini berada di Baucau. Markasnya dipindahkan ke Los Palos pada akhir dasawarsa 1980-an, dan pada tahun 1999 markas, kompi A, C, dan D (dukungan) berada di dalam kamp batalyon di pinggiran bagian utara kota Los Palos bersebelahan dengan aldeia Kartini – dengan Kompi B tetap di sebelah selatan kota Baucau di dekat Fatumaca. Batalyon infanteri yang terdiri dari orang Timor-Leste ini kadang-kadang bertugas di Iliomar (dengan pos di Naunili) dan juga berpatroli dan melakukan operasi besar di kecamatan ini. Bersama dengan Yonif 744 yang berpangkalan di Dili, Yonif 745 adalah batalyon “organik,” yang berbeda dengan batalyon “penugasan” BTT. Dokumendokumen ABRI yang bocor mengindikasikan bahwa pada pertengahan 1998 kekuatan Yonif 745 adalah 663 (termasuk 27 perwira dan 126 bintara), dan bulan November 1998 berkekuatan 690 orang. Dari total, 171 adalah orang Timor-Leste (sekitar 26 persen) tidak ada perwira yang orang Timor-Leste; dan 25 persen (32 orang) dari bintara adalah orang Timor-Leste. Tahun 1999, komandan batalyonnya adalah Mayor Jacob Djoko Sarosa (NRP 29991). Batalyon ini mulai mundur dari Los Palos pada pertengahan
274 “Rajawali” adalah kelanjutan dari konsep batalyon gabungan khusus, “Parikesit”, yang pertama kali ditugaskan di Timor-Leste Desember 1978 (lihat K. Conboy, halaman 272). 275 G. Van Klinken & D. Bourchier, 2002, halaman 170.

81

LAMPIRAN C

September 1999 – melalui laut dari Com ke Kupang, dengan rombongan terakhir dipimpin oleh Mayor Sarosa berangkat meninggalkan Los Palos pada sore hari tanggal 20 September. Yonif 745 dituduh membunuh 21 orang sipil di bulan September 1999 pada waktu kepergiannya.276 Batalyon ini dibubarkan di Kupang pada 30 Maret 2000 – bersama dengan komando yang membawahinya Korem 164.277 Iliomar: Koramil 2903 (Komando Rayon Militer 2903) Markas ini berada di Iliomar Kota dengan gedung “asrama” di sebelahnya untuk stafnya. Didirikan awal dasawarsa 1980-an, Koramil ini terdiri dari 44 personil tahun 1997 yang terdiri dari seorang berpangkat letnan dua, delapan bintara tinggi, dan 35 tamtama. Ini mencakup enam Babinsa (Bintara Pembina Desa – Sersan ABRI di desa, satu orang untuk setiap desa), dan dua peleton Milsas yang melalui “militerisasi” telah ditingkatkan dari Hansip pada awal dasawarsa 1990-an. Komandan Koramil (Danramil) biasanya adalah seorang letnan. Komandan terakhir, yaitu sampai September 1999, adalah Letnan Dua Moch. Nur Hamsah (berusia setengah baya, asal Sulawesi) yang telah menjadi Danramil di Iliomar selama beberapa tahun. Babinsa di bulan November 1998 adalah: Iliomar I – Cristiano da Costa; Iliomar II – Gonsalo dos Santos; Ailebere – Armando dos Santos; Fuat – Oktavianus Taiboko; Cainliu – Carlos Freitas Belo; Tirilolo – Januario Pereira. Babinsa punya wewenang atas Bimpolda desa – lihat “Polisi” di bawah, tetapi semua unsur kadang-kadang digabungkan di bawah kontrol suatu “Tim Pembina Desa” yang ditugaskan di semua desa “rawan.”278 BTT: Batalyon Teritorial Batalyon-batalyon teritorial (oleh TNI disebut “penugasan”) yang berpangkalan di provinsi lain, dan penugasan mereka di Timor-Leste biasanya selama 9-12 bulan. Biasanya satu kompi senapan (berkekuatan sampai 120 orang) ditugaskan di Iliomar, dengan markas batalyon (Yonif – batalyon infanteri) tetap di Los Palos (biasanya di barak di dekat desa Rasa). Di Kecamatan Iliomar, markas kompi di Iliomar Kota (di gedung Posto peninggalan Portugis) dengan pos-pos keamanan 10-12 orang di wilayah Kecamatan Iliomar didirikan di Dirimuni, Caidabu, Ula-ia, Naunili, Bubutau, Maluhira, Cainliu, Tirilolo (Bukit Puntinal), Bukit Baitomar, Kota Omar (Ailebere), Manulor (Ossohira), dan Namane. Kekuatan batalyon-batalyon BTT adalah 644 personil - tetapi bulan Oktober 1997, Yonif 144 tercatat berkekuatan 986, dan Yonif 642 tercatat berkekuatan 985. Tanggal penugasan, kesatuan dan komandan yang diketahui di Iliomar adalah sebagai berikut: 1978 Yonif 328/Dirgahayu Kapten Samsul Andi 1979 Yonif 315, 141
276 Letnan Kolonel Jacob Djoko Sarosa dan Letnan Camilo dos Santos didakwa oleh Unit Kejahatan Berat UNMISET (Dili) pada bulan November 2002 melakukan 14 pembunuhan yang didakwakan dilakukan pada saat kepergian Yonif 745 melalui darat dari Los Palos ke Dili tanggal 20 dan 21 September 1999 – termasuk pembunuhan seorang wartawan Belanda Sander Thoenes di Dili tanggal 21 September 1999. 277 Setelah penarikan mundur dari Timor-Leste, batalyon “organik” yang lain, Yonif 744 Satya Yudha Bakti mendirikan pangkalan di Timor Barat di Naibola (sekitar 9 kilometer di sebelah barat Kefamenanu) dan berada di bawah komando Korem 161/Wira Sakti (Kupang) – Kompas, 24 April 2002. 278 C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984: Dokumen 1: “Cara Babinsa …”, halaman 176-177.

1980 1983 1990 1991 1994 1995-1996 1996 1996-1997 1997 1998 1998 1999

Yonif 505 Yonif 143/TWEJ Lampung, Sumatra Yonif 320 ? Yonif 412 Bharata Eka Sakti Yonif 527 dari Kodam Brawijaya Yonif 431 Ujung Pandang (Operasi Mantap II) Yonif 612/MD (Modang) Yonif 327, 433 beroperasi ke Iliomar dari Uato-Carabau Yonif 623 Bhakti Wira Utama Yonif 613 Raja Alam Yonif 642/Kapuas (Operasi Tatoli II); November 1998: berkekuatan 985 Yonif 428 Yonif 621/Manuntung (Kandangan dan Tanjung) – Kalimantan Selatan.

Kapten Satria Buana mejadi Yonif 412/Raider

menjadi Yonif 600/Raider Yonif 327 menjadi Yonif 300/Raider - 2003

Kompi A: Kapten Erwin Setiawan

Kopassus (Komando Pasukan Khusus) Sebelum 26 Desember 1986, kesatuan ini bernama “Kopassandha” dan secara umum oleh penduduk Iliomar disebut “Komando.” Detasemen di Iliomar awalnya bernama sandi “Nanggala”, dari pertengahan 1983 “Chandrasa” (keduanya adalah nama senjata dongeng Hindu279), dan kembali ke nama “Nanggala” dan “Tribuana” (“tiga alam”) pada dasawarsa 1990-an. Detasemen Kopassandha/Kopassus di Iliomar biasanya terdiri dari empat-delapan orang dan beroperasi dari sebuah kantor di Iliomar Kota. Detasemen ini memusatkan pada pengumpulan informasi intelijen (termasuk interogasi) dan mata-mata, serta membawahi unsur “partisan”/milisi Tim Alfa yang terdiri dari delapan orang. Detasemen Kopassus Lautem bermarkas di Laruara di kota Los Palos, menempati tempat yang sama dengan markas Tim Alfa tingkat kabupaten. Tahun 1999, komandan Kopassus di Lautem adalah Letnan Rahman Zulkarnaen. Milisi 280 Unsur Tim Alfa dibentuk di Los Palos tahun 1986281 oleh seorang perwira Kopassandha, Letnan Kolonel Luhut Panjaitan - Komandan Satuan Tugas (Dampak) 86, dan secara operasional dikelola oleh Kopassus. Tim Alfa diberi nama menurut komandan pertamanya orang Timor-Leste, Alfonso, dan awalnya terdiri dari satu inti tidak lebih dari sembilan personil Kopassus dan 21 orang Timor-Leste – kebanyakan mantan gerilyawan
279 Dalam epos Mahabarata dan Ramayana: “Nanggala” adalah tombak yang berujung banyak dan “Chandrasa” adalah senjata berbentuk seperti kapak. 280 Untuk penggunaan “partisan/milisi” paling awal pada 1975 (Operasi Flamboyan dan Seroja) lihat K. Conboy, halaman 207, 211-253. Untuk pembentukan partisan/milisi selanjutnya oleh Kopassandha di bawah komando Nanggala pada 1976, lihat K. Conboy, halaman 266-276. 281 Lihat K. Conboy, 2003, halaman 310-311 untuk rinciannya, dan juga M. Othman dan S. Alford, UNTAET Los Palos Indictment, Dili, 6 Maret 2001, halaman 6 (http://www.jsmp.minihub.org/indictmentspdf/LosPalos.pdf). Tetapi, juga diklaim – mungkin secara salah – bahwa Tim Alfa dibentuk di Los Palos tahun 1983 oleh Mayor (Kopassus) Prabowo Subianto (D. Greenlees dan R. Garran, 2002, halaman 132).

83

LAMPIRAN C

Falintil. Pada akhir 1998 pasukan ini “diregulerkan” namanya saja menjadi Wanra, dan bulan April 1999 dinyatakan sebagai Pam Swakarsa.282 Di Iliomar, Tim Alfa juga memiliki sejumlah pemuda setempat sebagai “asisten”. Tim Alfa bersenjata, tetapi tidak memakai pakaian seragam. Menurut dokumen-dokumen ABRI, kekuatan Tim Alfa di Lautem pada pertengahan tahun 1998 adalah 115; pada 12 April 1999, Jawa Pos (surat kabar Surabaya) memperkirakan Tim Alfa berkekuatan 300 orang dengan 300 pucuk senjata; sementara pada akhir April 1999, satu laporan oleh aktivis-aktivis hak asasi manusia Dili menyebut kekuatan Tim Alfa di Lautem “sekitar 210”.283 Di dalam Lautem, Tim Alfa diarahkan oleh Kopassus dan Bupati Edmundo Conceição e Silva. Komandan lapangan lokal orang Timor-Leste di Lautem adalah Joni Marques284, dan markas Tim Alfa kabupaten menempati tempat yang sama dengan markas Kopassus di Laruara, Los Palos Kota. Tahun 1999, Tim Alfa di Kecamatan Iliomar berkekuatan delapan orang dan dipimpin oleh Raimundo Ferreira (Cainliu) – dan termasuk Julio Cardoso (Tirilolo), José Ferreira (Iliomar I), Tito Fernandes (Cainliu). Pada waktu mengundurkan diri ke Los Palos awal September 1999, mantan personil Tim Alfa yang beroperasi sebagai “milisi” mengganggu unsur-unsur pro-kemerdekaan, terutama di kawasan Los Palos. Pemimpin Tim Alfa terakhir dari Iliomar, Raimundo Fereira asal desa Cainliu, kembali ke Iliomar bulan Februari 2000. Kelompok milisi lain Lautem, Jati Merah Putih, dibentuk tahun 1999 dan juga dipimpin oleh Bupati Edmundo Conceição e Silva,285 tidak beroperasi sampai Kecamatan Iliomar – tetapi satu “pawai keliling” bermotor mencapai desa Cacaven beberapa kilometer dari batas bagian utara Iliomar. Satu sumber secara salah menyebut kelompok milisi Distrik Ermera “Darah Integrasi” beroperasi di Lautem.286 BRTT (Barisan Rakyat Timor Timur)287 adalah kelompok politik pro-otonomi yang juga melakukan pelanggaran hak asasi manusia seperti milisi di Kabupaten Lautem
282 Untuk pandangan ABRI/TNI tentang pembentukan/status milisi, lihat Z. Anwar dkk., 2001, halaman 75-77 yang mengklaim bahwa “milisi” bukanlah istilah yang digunakan rakyat tetapi dibuat oleh pers Barat. Buku ini menyebutkan bahwa sekitar 20 kelompok PPI (termasuk Jati Merah Putih) adalah unsurunsur legal Pam Swakarsa yang dibentuk atas inisiatif inisiatif rakyat untuk mempertahankan diri. Anwar juga menyiratkan bahwa ABRI mendukung unsur-unsur yang didirikan sebelum 1990, seperti Tim Alfa, aslinya adalah Wanra (halaman 76). Tanggal 27 Desember 1999 di hadapan KPP HAM di Jakarta, bekas Danrem 164 Brigadir Jenderal Hartono Suratman mengatakan bahwa Tim Alfa adalah Pam Swakarsa dan membantah bahwa TNI telah melatih atau mempersenjatai mereka, tetapi mereka dilatih oleh Polisi dan dibiayai oleh Pemerintah Daerah (A. Titus, “Former Military Commander: Pam Swakarsa Trained by Police and Funded by Local Government”, Desember 1999 [http://www.geocities.com/Tokyo/Subway/5507/januari00/TIM-tribunal_rejected.html]). 283 J.A. Fonseca, “HAK: Laporan Situasi HAM Timor Timur April 1999 (3),” Divisi Advokasi – Yayasan HAK, Dili, 30 April 1999. 284 José Pereira juga disangka sebagai komandan Tim Alfa Lautem pada 1999 (lihat Judicial System Monitoring Programme, “The General Prosecutor V Joni Marques and 9 Others, The Los Palos Case”, Dili, Maret 2002, halaman 10 [http://www.jsmp.minihub.org/Reports/Los%20Palos%20trial%20report.pdf] 285 J.A. Fonseca, 30 April 1999 mencatat bahwa pemimpin utama Jati Merah Putih mencakup pejabatpejabat senior Francisco Correia Pinto, Jaime Lemos, dan Horacio Gago Cabeadas. 286 E. Hasby, “Antara Timor Timur dan Timor Leste”, Kompas (Jakarta), 23 Agustus 1999, halaman 4. 287 BRTT didirikan tanggal 20 Mei 1999 sebagai “tandingan” pro-integrasi bagi CNRT dengan F.X. Lopes da Cruz sebagai Ketua Umum. Lopes da Cruz, adalah Dutabesar Keliling [Indonesia] untuk masalah Timor Timur. Bulan Juni 1999, BRTT bergabung dengan FPDK, bersama dengan PPI João Tavares. Pengarahan politik keseluruhan diberikan oleh UNTAS (Uni Timor Aswain) dipimpin oleh Domingos Soares (Bupati Dili). Untuk ringkasan dalam bahasa Indonesia, lihat M.A. Nasir dkk., “Antara Timor Timur dan Timor Leste”, Kompas (Jakarta), 23 Agustus 1999.

– tetapi tidak di Iliomar. Kelompok BRTT Lautem dipimpin oleh Bupati Edmundo Conceição e Silva. Milisi Tim Alfa dan Jati Merah Putih resminya berada di bawah komando Persatuan Perjuangan Integrasi (PPI) yang dibentuk pada awal Maret 1999 dan dipimpin oleh João Tavares – dan di tingkat regional, milisi Lautem berada di bawah komandan “Sektor A” PPI Joanico Cesario Belo. Milisi juga berkumpul di bawah front politik dipimpin oleh Bupati Dili Domingos Soares288 – awalnya (mulai 27 Januari 1999) Forum Persatuan, Demokrasi dan Keadilan (FPDK), kemudian, mulai Juni 1999, United Front for East Timor Autonomy (UNIF – Front Bersama Pro-Otonomi Timor Timur) yang menggabungkan FPDK dan BRTT; dari 20 September 1999, yaitu setelah referendum, Front Persatuan Bangsa (FPB) dibentuk di Balibo; dan terakhir dari 5 Februari 2000, Uni Timor Aswain (UNTAS). Hansip (Pertahanan Sipil) Hansip didirikan di Iliomar pada periode 1979-1980. Hansip berada di bawah kategori yang lebih umum Ratih (Rakyat Terlatih, yaitu orang sipil yang diberi latihan militer) dan, meskipun di bawah komando ABRI di Iliomar, resminya dibiayai oleh Departemen Dalam Negeri, dan karena itu berada di bawah wewenang pemerintah daerah. Bersenjata dan berseragam – dan banyak yang akhirnya berdinas “penuh waktu,” Hansip berada di bawah komando Komandan Koramil Iliomar. Pada pertengahan dasawarsa 1980-an, kekuatan Hansip di Iliomar adalah satu kompi yang terdiri dari dua peleton – seluruhnya 40 personil. Tahun 1982, anggota Hansip menerima imbalan bulanan beras 33 kg dan uang 11.500 rupiah. Hansip di Iliomar kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Wanra (Perlawanan Rakyat), yaitu secara resmi berada di bawah pengelolaan ABRI. Tahun 1990, catatan Indonesia memperlihatkan bahwa di Iliomar ada 30 Hansip, 11 Kamra (pembantu polisi), dan 19 Wanra. Pada awal dasawarsa 1990-an, Hansip/Wanra di Iliomar menjalani “militerisasi,” yaitu dijadikan kesatuan Milsas Iliomar. Ratih (Rakyat Terlatih)289 Dasar politik pertahanan Indonesia adalah “Sishankamrata” (Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta)290 – dalam mana penduduk ambil bagian pada tingkat desa sebagai “Ratih” – dengan jumlah senjata yang terbatas. Setelah dilancarkannya Operasi Kikis ABRI di Timor-Leste 1981, kesatuan-kesatuan Ratih dibentuk di banyak tempat. Berbeda dengan Hansip, Ratih hanya mendapatkan imbalan (beras atau jagung) ketika dipanggil untuk beroperasi jauh dari rumah mereka. Di Iliomar tahun 1980, karena di sana hanya ada enam Hansip, sekitar 100 Ratih orang Mambae dari Aileu yang bersenjata dan berseragam ditugaskan dan ditempatkan di desa288 Untuk profil Domingos Soares dan front politik pro-integrasi, lihat G. Van Klinken & D. Bourchier, 2002, halaman 197-199. 289 Ratih dan komponen Hansip, Wanra, dan Kamra di dalamnya dibentuk dengan Undang-Undang No. 20/1982. Untuk uraian tentang Ratih dan komponen-komponennya pada awal dasawarsa 1980-an lihat Petunjuk Teknis No. JUKNIS/06/IV/1982 Dokumen 6 dan juga Dokumen 9 dalam C. Budiardjo & Liem Soei Liong, 1984, halaman 223-227, 238-242. 290 Lihat A. Rabasa dan J. Haseman, The Military and Democracy in Indonesia: Challenges, Politics and Power (Rand Publications, 2002) (tersedia pada http://www.rand.org/publications/MR/MR1599/), untuk pembahasan tentang “Paradigma Baru” politik pertahanan Indonesia yang mengubah Sishankamrata.

85

LAMPIRAN C

desa Iliomar selama sekitar satu tahun. Mereka digantikan oleh Ratih setempat yang berdinas beberapa tahun sampai digantikan oleh Hansip. Dalam Politik Pertahanan Indonesia, menurut konsepnya, semua Hansip akan hilang digantikan oleh Ratih – tetapi berlanjutnya perlawanan oleh Falintil membuat ABRI kemudian meningkatkan sebagian besar Hansip Iliomar menjadi Wanra, dan selanjutnya menjadi Milsas. Milsas Pada awal dasawarsa 1980-an, ABRI meningkatkan banyak anggota Hansip/Wanra di Timor-Leste melalui pelatihan “militerisasi” dan membentuk kesatuankesatuan Milsas. Anggota-anggota Milsas memakai seragam ABRI, bersenjata, dan menjalani latihan peningkatan militer selama tiga bulan di luar Provinsi ini – terutama di Jawa dan/atau Bali. Tahun 1996, kekuatan Milsas di Kabupaten Lautem dilaporkan 300 orang. Agustus 1998, catatan ABRI memperlihatkan bahwa di Timor-Leste ada 2.566 Milsas. Di Iliomar, kekuatan Milsas memuncak menjadi dua peleton, sekitar 40 orang – di bawah komando Koramil. Komandan Milsas terakhir di Iliomar adalah Valente Madeira, dengan pangkat “Prada” (Kopral Dua). Polisi Markas Polda (Kepolisian Daerah) untuk sektor (Polsek) Kecamatan Iliomar terletak di seberang Sekolah Menengah Pertama di pinggiran bagian utara Iliomar Kota. Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek), biasanya berpangkat sersan mayor, membawahi sekitar 11 orang “polisi reguler” dan sekitar 8 polisi orang Timor-Leste (mantan Kamra), yang sebagian dari mereka bertugas di desa-desa sebagai Bimpolda (Bimbingan Masyarakat Kepolisian Daerah). Kapolsek terakhir, yaitu sampai September 1999, adalah Adrianus Nidat (asal Flores). Polisi paramiliter atau Brimob (Brigade Mobil) senjatanya lebih berat. Sekitar 20 orang ditempatkan di Iliomar, dengan satu “asrama” (barak) di Iliomar Kota bersebelahan dengan kantor Kopassus. Unsur ini biasanya dikomandani oleh seorang letnan. Pada pertengahan-akhir dasawarsa 1990-an, unsur Brimob di Lautem berasal dari Ki (Kompi) 5486; Ki 5127 dari Sumatra Utara; Ki 5135 dari Riau; dan Ki 5151 dari Palembang. Lain-lain: Zeni Tempur (“Zipur”): Pada tahun 1985 dan 1986, Batalyon Zipur 3 dan Batalyon Zipur 9 beroperasi di Iliomar – terutama bertugas membangun jalan dan jembatan. Zipur 9 mengalami banyak kehilangan nyawa dalam sebuah serangan Falintil di sebelah utara aldeia Maluhira pada bulan Desember 1986. Gada Paksi (Garda Muda Penegak Integrasi) – juga ditulis “Garda Paksi” atau “Gadapaksi”, dibentuk oleh Kolonel (waktu itu) Kopassus Prabowo Subianto pada bulan Juli 1995 (juga dilaporkan dibentuk 1989291) sebagai milisi pemuda untuk menentang unsur-unsur pro-kemerdekaan. Secara keseluruhan, Gada Paksi dikontrol oleh Kopassus – akan tetapi, dalam sebuah wawancara pers tanggal 17 Juli 1998, Komandan Korem 164 Kolonel Tono Suratman menjelaskan bahwa Gada Paksi berada “di bawah pengelolaan langsung Kepala Staf Korem”, dan “tidak lagi di bawah Grup A atau SGI” (yaitu
291 E. Hasby, 23 Agustus 1999, halaman 3.

Kopassus).292 Anggota-anggota Gada Paksi oleh para pendukung kemerdekaan digambarkan sebagai “algojo/informan”. Di Iliomar, unit Gada Paksi beranggotakan empat orang disponsori oleh anggota DPRD II Afonso Pinto, dan terdiri dari Camilio Seixas sebagai ketua dengan Apolonario Annunciação, Francelino da Costa, dan Fernando Jerónimo sebagai anggota. Anggota Gada Paksi Iliomar mengikuti kursus tiga bulan di Jawa293 – tetapi hampir semua aktif mendukung Perlawanan. Menurut IMPI pada 1998, Gada Paksi aktif di Iliomar. Laporanlaporan pers mencatat terjadinya bentrokan yang dimulai oleh Gada Paksi di distrik tetangga, Uatolari, pada bulan Februari 1999. Pam Swakarsa (Pasukan Pengamanan Swakarsa): Pam Swakarsa adalah pasukan keamanan gaya kelompok siaga yang pertama kali dibentuk di Jakarta pada bulan November 1998 oleh Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) untuk menandingi mahasiswa yang berdemonstrasi menentang Sidang Istimewa MPR. Pam Swakarsa ini dilaporkan direkrut terutama dari kalangan orang Muslim Ambon dan orang Muslim dari desa-desa di Jawa Barat.294 Bulan April 1999, komandan TNI di Timor-Leste Kolonel Tono Suratman, dan Gubernur Abílio Soares mengumumkan unsur-unsur milisi sebagai Pam Swakarsa – di bawah komando polisi, berhak membawa senjata, dan dibiayai oleh Pemerintah Daerah.295 Sekitar 50 anggota Tim Alfa dari Los Palos296 dan sejumlah anggota milisi Jati Merah Putih Los Palos297 ambil bagian dalam rapat umum besar pro-otonomi di depan kantor Gubernur di Dili tanggal 17 April 1999 – dalam mana kepala Pam Swakarsa yang diangkat Indonesia Eurico Guterres menyerukan dilancarkannya tindakan kekerasan terhadap orang-orang yang “mengkhianati integrasi.” Tidak jelas apakah anggota Tim Alfa dari Iliomar ambil bagian dalam rapat umum itu. Kelompok-kelompok berseragam lainnya di Iliomar yang disponsori oleh Pemerintah mencakup: enam Karang Taruna – perkumpulan pemuda kampung yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia; dan Pramuka – perkumpulan pandu.

292 P.D. Prabandari, “Ada Perintah Tembak di Tempat” , Tempo Interactive, Edisi 21/03, 25 Juli 1998, halaman 2. 293 Anggota Gada Paksi mendapatkan latihan di STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) di Jatinangor, Bandung (Jawa Barat) dan beberapa BLK (Balai Latihan Kerja) di Jawa - lihat Z. Anwar (Makarim) dkk., 2002, halaman 76, 79. 294 G.J. Aditjondro, “Guns, Pamphlets and Handie-Talkies”, Humboldt University, Berlin, 3-5 Juli 2000, Bagian III (http://www.geocities.com/ambon67/noframe/gja2110y2k3.htm). 295 Oki, “Pam Swakarsa di Timtim Dibina Polri, Dibiayai Pemda”, Kompas (Jakarta), 28 Desember 1999. Lihat pula A. Titus, Desember 1999 dan Z. Anwar (Makarim), dkk., 2002, halaman 74-79. 296 S. Moore, 2001, halaman 36, catatan nomor 70 – tetapi hati-hati bahwa angka ini mungkin terlalu besar. 297 Yayasan HAK, “Aitarak dan Kampanye Kekerasan Di Timor Timur”, Dili, 21 April 1999. http://www.solidamor.org/content/beritalalu/19%20april/aitarak.htm

LAMPIRAN D

Klandestin di Iliomar – 1997 (Daftar ABRI)
Berikut ini adalah daftar orang-orang yang dicurigai sebagai Klandestin yang disalin dari Lampiran D untuk laporan “Situasi Dan Kondisi Daerah – Pos Desa Illiomar (JUATA)” yang disusun oleh kompi BTT di Iliomar (Kompi Senapan A, Yonif 613/Raja Alam) bertanggal November 1997: “ Lampiran: D (Daftar Nama Klandestine) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Abilio Quintao Jose Jevalino Luis Da Costa Antoni Da Costa Tito Benrandino Amilia Yumenes Fernando Gonsalkes D. Tito Desus Duarte Sarmento Ricardo Pinto Tome Liborin Maidera Paulino Pirera Carlos Da Costa Meres Seino M. Dominggus J. Abilio Jurinimo Florindo Titimau Americo Jerenino Matius Asal Illiomar I SDA SDA SDA SDA SDA SDA SDA SDA SDA SDA Fuat Fuat SDA SDA SDA Ailebere SDA SDA Illiomar Ailebere Illiomar Pekerjaan Guru SMPK Tani SDA SDA SDA SDA SDA SDA SDA SDA SDA Kesehatan Tutuala Tani SDA SDA SDA SDA SDA SDA SDA SDA SDA Umur 65 T 40 T 40 T K/TK K K K K K K K K K K K … … … K K K K K K K K

Dibuat di : Iliomar Pada tanggal : November 1997 Komandan Pos Suseno Sersan Dua NRP 598503 ” (Catatan: Ada banyak kesalahan ejaan nama-nama di atas. Pemimpin Klandestin Abílio Quintão Pínto dan wakilnya, Tito de Deus, disebutkan [1, 9] – begitu pula ketua OJT Liborio Madeira [13].)

LAMPIRAN E

Iliomar – Ringkasan Korban Yang Diketahui 1975-1999
(Rincian banyak korban ABRI dan Falintil tidak diketahui – daftar ini berisi kematian karena kekerasan yang tanggal dan tempatnya diketahui dengan pasti.) Nama Manuel Seixas Luis Watalata Francisco Ruas Hornay, Oscar Ruas Ferreira, Duarte Ximenes, António de Oliveira, Anjelino Pinto, José Ximenes, Paul Fernandes, Marcos Pinto, Julio Ximenes, Silvino Ximenes, Libertino, Sorupuna, Denis da Costa, Manuel Sarmento António da Silva, Abel, , Gregório Pinto, António dos Reis, Adelino Ximenes, Julio Lebre, Aparicio Nunes, Serafin, Celestino + 10 José Felis, Artur Ramos Domingos Barreto Francisco Amaral Olympia da Costa Afonso Pinto Jose Valente Namipua (dari Fuat) Duarte Madeira Orlando Jeronimo Venancio Savio (“Mau Lorasa”), Amílcar Rodrigues Tanggal Desember 1975 October 1976 17 November 1976, 8 dibunuh di Kakimatar; 23 ? November, 6 dibunuh di Muapepe Keterangan Falintil, dibunuh dalam bentrokan dengan ABRI di daerah Sarakanadan. Falintil, dibunuy dalam bentrokan dengan pasukan Francisco Hornay di Larikua (Iliomar II) Pembunuhan “Pembersihan Muapepe” – berjumlah 15. Francisco Hornay dan dua korban ditahan di Baguia dan dikembalikan ke Iliomar. Manuel Sarmento (kepala desa Tirilolo) melarikan diri dari Muapepe tetapi ditangkap kembali dan dibunuh di Saelarin, dekat Bubutau

November 1978

Matebean Feto – dieksekusi oleh ABRI setelah jatuhnya perlawanan Matebean. Serafin dan Celestino ditahan di Baguia sebelum dieksekusi cepat. Falintil, dibunuh oleh ABRI Dibunuh dalam serangan Falintil Dibunuh oleh Hansip, Bukit Iliomar Klandestin, dibunuh oleh ABRI di Manulor (dekat Ossohira, Iliomar I) Hansip, dibunuh dalam emboscado Falintil di Iraamuh – Nuno Bastos kena luka. Hansip, dibunuh dalam emboscado Falintil di Rorok Dibunuh oleh ABRI di markas Koramil Falintil, dibunuh oleh Hansip Hansip, dibunuh oleh Falintil dalam emboscado di Kudaluan, Cainliu Falintil, dibunuh oleh Hansip di Caentau

November 1978 1980 Awal 1980 12 Maret 1980 1981 1981 1981 1981 1982 8 Agustus 1983

89 Filomeno da Gama Carlos da Costa Luís Lopes Ernesto Madeira Belmonte Jerónimo Joaquim dos Santos Fernando dos Santos Marcelino Hornay Paulo Fernandes, Margarida Fernandes Claudio Ferreira Martinho Monteiro Humberto da Cruz Carlos Correia Joaquim Sanches September 1983 November 1983 November 1983 November 1983 3 Desember 1983 4 atau 19 Desember 1983 4 atau 19 Desember 1983 9 Desember 1983 14 Desember 1983 Akhir 1983 22 Desember 1983 22 Desember 1983 22 Desember 1983 22 Desember 1983

LAMPIRAN E Hansip, dibunuh oleh Hansip di Sekolah Dasar Iliomar – Iliomar Kota Hansip, dibunuh oleh Hansip di jalan ke Iradarate/Iliomar II Hansip, dibunuh oleh Hansip di jalan ke Iradarate/Iliomar II Hansip, dibunuh oleh Hansip di jalan ke Iradarate/Iliomar II Dicurigai sebagai Klandestin – dibunuh oleh Hansip Dibunuh oleh Hansip di Tirilolo Dibunuh oleh Hansip di Vatamatar (Iliomar I) Dibunuh oleh Hansip di Cainliu Dicurigai sebagai Klandestin, dibunuh oleh Hansip/ABRI di Titiraven (Cainliu) Ditangkap di Iliomar – hilang. Hansip, dibunuh oleh Hansip di Cainliu Hansip, dibunuh oleh Hansip di Cainliu Kepala desa Iliomar I/Sekretaris Zona Fretilin Iliomar, dibunuh oleh Hansip di Dirilofo, Caentau (Iliomar I) Kepala aldeia Ara Ara, Iliomar I. Dicurigai sebagai Klandestin, dibunuh oleh Hansip di Dirilofo, Caentau (Iliomar I) Dicurigai sebagai Klandestin, dibunuh oleh Hansip di Caentau (Iliomar I) Dibunuh oleh Falintil Secara tidak sengaja terbunuh dalam bentrokan senjata Falintil-ABRI, Vatamatar (Iliomar I)

José Annunciação, António Jerónimo Antonio Bouvida António Moraun, Rosa dos Santos Pinto, Francisco Ruas, Tómas Barreto, António da Costa, Luciana de Deus, António …, Veronica da Costa Seixas, Francisco Suto Maior, Francisco Pinto Frederico da Costa

22 Desember 1983 1984 8 Desember 1985

8 Desember 1985 8 Desember 1985

Hansip Iliomar II. Dibunuh oleh ABRI dalam serangan Falintil Iliomar II - secara tidak sengaja ditembak mati oleh Falintil

LAMPIRAN E Teofilo … Daniel da Costa, Antonio da Costa, Calisto da Costa, Venancio da Cruz Julião Teles Caetano Gonçalves Antonio da Costa, Manu Soru Faustino Pinto 33 orang tentara ABRI, seorang TBO (Tenaga Bantuan Operasi) Pedro Correia Julio Madeira Diborsio Manuel Joao Savio Albertino Monteiro Matias da Costa Enam tentara ABRI Empat tentara ABRI José Mauwani Fernando Nuno Lariko Doli-Boru 8 Desember 1985 8 Desember 1985 8 Desember 1985 1986 1986 1986 21 Desember 1986 tgl belum diketahui dengan pasti Desember 1986 Desember 1986 Desember 1986 1989 12 November 1991 1993 5 Januari 1994 April 1994 Maret 1995 Maret 1995 4 Juli 1995 4 Juli 1995 4 Juli 1995 11 Oktober 1997 Falintil, terbunuh dalam bentrokan senjata Falintil-ABRI di dekat Kota Omar (Ailebere) Tidak sengaja dibunuh Falintil, Titiraven (Cainliu) Tidak sengaja dibunuh oleh tembakan mortir ABRI ?, Tirilolo “Luru Asu”, mantan komandan peleton Falintil dibuang ke Aileu, dibunuh oleh ABRI Falintil - serangan Falintil di kawasan Iradarate, dibunuh oleh ABRI Aldeia Caidabu – dibunuh oleh ABRI di Alapupu Dihadang oleh Falintil di Mata Air Ossohira, dua kilometer sebelah utara aldeia Maluhira Dibunuh oleh ABRI di Tirilolo Dilukai di bagian mata oleh ABRI di Cainliu Dilukai oleh Yonif 745 di Cainliu Dibunuh dalam serangan Falintil di desa Binaan, Iradarate Dili – “Pembantaian Santa Cruz”, hilang. Hansip. Secara tidak sengaja dibunuh dalam bentrokan dengan Hansip Los Palos di daerah Rofohe Lalumato/Ailebere, dicurigai sebagai Klandestin, dibunuh oleh ABRI (Detasemen 551) di Dili atau Baucau Dibunuh oleh Falintil di kawasan Sungai Veira Dibunuh oleh Falintil di wilayah Buidala Falintil, dibunuh oleh ABRi di wilayah Buidala Falintil, dibunuh oleh ABRI di Kecamatan Iliomar Falintil, dibunuh oleh ABRI di Kecamatan Iliomar Falintil, dibunuh oleh ABRI di Kecamatan Iliomar Dibunuh oleh Kopassus di wilayah Asonomar (Ailebere)

91 Carlos Pinto 24 Mei 1999

LAMPIRAN E Dibunuh oleh ABRI (Yonif 621) di hutan dekat Caidabu – mayatnya masih belum diangkat.

Pada akhir 2002, disusun satu proposal oleh pejabat-pejabat Pemerintah untuk mendaftar siapa saja yang telah kehilangan nyawa karena kekerasan selama pendudukan Indonesia dan untuk mengembalikan tulang-belulang mereka ke kampung halaman. Di Iliomar, sebuah panitia tidak tetap di bawah pimpinan kepala desa Cainliu Julião Soares, mengumpulkan informasi untuk enam desa Iliomar. Tanggal 9 November, pada waktu kunjungan Kepala Staf F-FDTL Lere Anan Timor, diselenggarakan suatu pertemuan umum di desa Iliomar I dalam mana sebuah “Komite untuk Pemulihan Korban Perang”298 dibentuk dengan pemimpin “adat” Filipe Pinto (kepala desa, Iliomar II) sebagai Ketua, Domingos Fernandes sebagai Wakil Ketua, dan Alicia Gonçalves sebagai Bendahara. Rancangan299 pertama laporan Komite ini pada bulan November menyusun tabel 385 mayat dari korban kelahiran Iliomar yang masih belum digali kembali – didaftar nama, desa asal, dan kerabat. Darinya, 103 adalah pejuang Falintil. Per desa, angkanya adalah: Iliomar I: 69; Iliomar II: 37; Ailebere: 76; Tirilolo: 29; Cainliu: 30; dan Fuat: 144.300 Bisa dipahami kesulitan menemukan mayat dari kawasan hutan karena waktu telah berlalu bertahun-tahun, dan kerja Komite ini diduga akan memakan waktu bertahun-tahun.

298 “Comissão Reculhamento de Vítimas da Guerra do Sub Distrito de Iliomar 1975-1999.” 299 Rancangan ini tidak memasukkan tanggal kematian atau tempat kematian/penguburan sementara. 300 Para anggota Komite berpendapat bahwa Fuat menderita kehilangan paling banyak karena lokasinya yang dulu, di wilayah Bubutau, bersebelahan dengan kawasan pangkalan Falintil ke arah perbatasan Iliomar/Lore.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->