Anda di halaman 1dari 22

APLIKASI VAKSINASI Vibrio polivalen MELALUI PAKAN

PADA IKAN KAKAP PUTIH UNTUK PENINGKATAN


IMMUNITAS DAN LAJU PERTUMBUHAN

LAPORAN AKHIR PEREKAYASAAN 2010

DISUSUN OLEH :

ROMI NOVRIADI
HARYONO
MUH KADARI
AHMAD DARMAWAN

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN


DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM
2010
APLIKASI VAKSINASI Vibrio polivalen MELALUI PAKAN PADA IKAN
KAKAP PUTIH UNTUK PENINGKATAN IMMUNITAS DAN LAJU
PERTUMBUHAN

Romi Novriadi*, Haryono , Muh kadari, dan Ahmad Darmawan


Balai Budidaya Laut Batam
Jl. Barelang Raya Jembatan III, Pulau Setokok-Batam
PO BOX 60 Sekupang, Batam – 29422
E-mail : Romi_bbl@yahoo.co.id

ABSTRAK

Salah satu masalah yang cukup serius pada pemeliharaan Ikan kakap
Putih khususnya pada fase pembesaran adalah infeksi penyakit yang
disebabkan oleh bakteri vibrio. Penularannya dapat melalui air atau kontak
langsung antar ikan dan menyebar sangat cepat pada ikan-ikan yang dipelihara
dengan kepadatan tinggi. Bakteri Vibrio yang menginfeksi ikan kakap Putih
selain menyebabkan ikan lemah, berwarna kusam kehitaman, juga
mengakibatkan produksi lendir berlebihan.

Usaha pengendalian penyakit bakterial pada kegiatan budidaya ikan


Kakap Putih selama ini masih tertumpu pada penggunaan bahan kimia dan obat-
obatan atau antibiotik. Namun demikian, penggunaan obat-obatan atau antibiotik
secara terus menerus akan menimbulkan masalah, yaitu timbulnya resistensi
bakteri, salah satu solusi yang dapat digunakan adalah pemberian vaksin.
Vaksin yang digunakan pada perekayasaan ini adalah Vaksin Vibrio polivalen
dan diberikan secara oral melalui pakan.

Hasil yang diperoleh selama 5 (lima) bulan masa perekayasaan, diketahui


bahwa pemberian vaksin memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan
ikan kontrol, dimana sintasan akhir untuk ikan uji adalah 92% dan kontrol 83%,
sementara bobot akhir panjang dan berat rata-rata secara berurutan untuk ikan
uji 35,1 cm dan 410 gr, ikan kontrol 32,8 cm dan 395 gr. pengamatan terhadap
darah ikan yang diberi vaksin mampu meningkatkan respon imunitasnya
berdasarkan pada peningkatan konsentrasi jumlah sel leukosit dan hematokrit.

Kata kunci : Kakap Putih, Vaksin, Vibrio


I. Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Kebutuhan dan permintaan terhadap komoditas ikan secara global saat ini
terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dan ini merupakan
konsekuensi dari peningkatan jumlah penduduk serta adanya perubahan
orientasi kebutuhan konsumsi masyarakat yang lebih mengarah kepada protein
hewani yang lebih sehat, atau biasa disebut sebagai peralihan dari Red meat ke
White meat . ikan menjadi sebuah alternatif makanan yang lebih sehat bila
dibandingkan dengan banyaknya bahan kimia yang digunakan untuk
membudidayakan hewan ternak lainnya. Dengan adanya trend orintasi seperti
itu, maka jika kita terlalu mengandalkan kepada jumlah tangkapan ikan,
kecenderungan yang ada saat ini adalah terjadinya grafik penurunan daya
tangkap ikan dimana Salah satu penyebabnya adalah kondisi Overfishing di
beberapa titik wilayah perairan Indonesia, yang artinya daerah tersebut telah
mengalami beban penangkapan ikan yang melebihi kapasitas daya tangkap
sebenarnya. Daerah-daerah di Indonesia yang saat ini telah mengalami
keadaan Overfishing tersebut umumnya berada pada hampir seluruh perairan
Barat Indonesia, kecuali bagian barat Sumatera dan selatan Jawa.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka pengembangan budidaya ikan


laut merupakan alternatif yang cukup memberikan harapan bagi ketersediaan
pangan untuk masyarakat. Hal ini juga didukung dengan potensi alam yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia, bahkan Negara kita saat ini tercatat sebagai
Negara dengan garis pantai terpanjang ke-2 didunia dengan panjang garis pantai
81.000 km serta potensi penduduk yang notabene secara turun temurun telah
terbiasa dengan budaya laut dan pantai dengan segala lika-liku pengelolaannya.
Kegiatan budidaya laut dan pantai di masa yang akan datang diprediksi akan
memegang peranan penting sebagai tumpuan penyedia sumber pakan hewani
sebagai dampak produksi penangkapan yang terus menurun.

Bila dikaitkan dengan kondisi wilayah Kota Batam khususnya, Dengan


luas wilayah yang dimiliki secara keseluruhan termasuk bila disatukan dengan
daerah Kepulauan Rempang, Galang serta pulau-pulau sekitarnya yang
mencapai 715 Km2 (71.500 Ha) atau sama dengan 115% Luas Singapura
dimana sebahagian besar wilayah tersebut merupakan wilayah perairan, maka
daerah ini (baca: Batam) sangatlah potensial untuk dikembangkan sebagai salah
satu sentra pengembangan budidaya perikanan. Kondisi ini juga ditunjang
dengan keadaan perairan yang tenang karena terlindung oleh ± 329 pulau baik
besar maupun kecil sehingga melindungi wilayah perairan dari arus dan
gelombang kuat serta bila ditinjau dari perputaran arus yang ada dimana sangat
dipengaruhi oleh gerakan air samudera hindia yang melewati selat malaka maka
perairan kota Batam merupakan wilayah perairan yang subur bagi kehidupan
perikanan dan biota laut lainnya.
Namun potensi yang dimiliki tersebut tidak serta merta menyadarkan para
pengambil kebijakan di daerah ini untuk sama-sama membangun perekonomian
berbasiskan kelautan dan perikanan. Tujuan utama pembangunan masih
berbasiskan kepada Pembangunan daratan dimana industri dan pertambangan
tumbuh subur di wilayah kota Batam. Dampak yang dihasilkan dari kebijakan ini
tentu saja terjadi peningkatan volume limbah yang pada akhirnya dibuang ke
laut. Kontaminan laut yang prinsipal pada negara-negara berkembang adalah
limbah yang tidak diolah. Menurut Mcintyre (1990) menyatakan lebih dari 180 l
limbah per orang per hari mengalir ke laut, bahkan di negara-negara yang
sedang berkembang jumlah limbah yang mengalir ke laut lebih besar karena
pembuangan sampah, mandi, mencuci dan kakus langsung dilakukan di sungai
yang akan mengalir ke laut.

Pencemaran limbah dalam suatu perairan mempunyai hubungan dengan


jenis dan jumlah mikroorganisme dalam perairan tersebut. Air buangan kota dan
desa yang berpenduduk padat tidak hanya meningkatkan pertumbuhan bakteri
koliform akan tetapi juga meningkatkan jumlah bakteri pathogen seperti
Salmonella, shigella dan Vibrio cholera (Shuval, 1986). Menurut WHO (1988)
merekomendasi tiga kelompok bakteri indikator pencemaran perairan rekreasi
pantai yaitu fecal coliform, fecal streptococcus dan patogen. Vibrio sp merupakan
salah satu bakteri patogen yang tergolong dalam divisi bakteri, klas
Schizomicetes, ordo Eubacteriales, Famili Vibrionaceae. Bakteir ini bersifat gram
negatif, fakulttif anaerobik, fermentatif, bentuk sel batang dengan ukuran panjang
antara 2-3 um, menghasilkan katalase dan oksidase dan bergerak dengan satu
flagella pada ujung sel (Austin, 1988). Vibrio merupakan patogen oportunistik
yang dalam keadaan normal ada dalam lingkungan pemeliharaan, kemudian
berkembang dari sifat yang saprpfitik menjadi patogenik jika kondisi
lingkungannya memungkinkan.

Bakteri vibrio yang patogen dapat hidup di bagian tubuh organisme lain
baik di luar tubuh dengan jalan menempel, maupun pada organ tubuh bagian
dalam seperti hati, usu dan sebagainya. Menurut Wagiyo (1975) dampak
langsung bakteri patogen dapat menimbulkan penyakit, parasit, pembusukan
dna toksin yang dapat menyebabkan kematian biota yang menghini perairan
tersebut. Beberapa jenis vibrio yang bersifat patogen yaitu dengan
mengeluarkan toksin ganas dan seringkali mengakibatkan kematian pada
manusia dan hewan. Vibrio cholera yang bersal dari darat atau air tawar, sudah
dikenal sebagai penyebab penyakitmuntah berak di Indonesia (Thayib, 1977).
Jenis vibrio yang bersifat pada ikan dan invertebrate laut adalah Vibrio
alginolyticus, V. damsela, V. charchariae, V.anguilarum, V. ordalli, V. cholerae,
V. salmonicida, V. vulnificus, V. parahaemolyticus, V. pelagia, V. splendida, V.
fischeri dan V. harveyi (Austin dan Austin, 1993).
1.2 Perumusan Masalah

Belum dikuasainya manajemen dan penggunaan teknologi pembesaran


secara tepat, khususnya dalam hal penanganan penyakit ikan, mengakibatkan
usaha budidaya Kakap Putih lebih lanjut di pulau Batam cenderung mengalami
kemunduran dari tahun ke tahun. Dari hasil monitoring hama dan penyakit ikan
yang dilakukan bahwa salah satu variabel penyebab penyakit ikan adalah Bakteri
Vibrio sp. Untuk itu dipilih alternatif pengobatan ikan yang aman dan
direkomendasikan yakni Vaksinasi Vibrio polivalen yang dilakukan secara oral
melalui pakan.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka dapat dikemukakan


tujuan penelitian ini yaitu:
1. Mengkaji sejauh mana pengaruh pemberian
vaksin terhadap imunitas Kakap Putih terhadap penyakit Vibriosis.
2. Mengkaji pengaruh Vaksinasi terhadap
peningkatan sintasan dan laju pertumbuhan ikan Kakap Putih.
3. Mengetahui pengaruh pemberian Vaksin terhadap
peningkatan gizi ikan Kakap Putih melalui uji Carcass body

1.4. Manfaat Penilitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam hal


pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapan dimasyarakat serta sebagai
bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan di Batam.
1. Dari segi pengembangan ilmu pengetahuan hasil
penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan
bidang pengelolaan budidaya laut dengan pendekatan terhadap manajemen
pengelolaan dan teknologi.
2. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan rujukan dalam menangani penyakit Vibriosis pada budidaya ikan
Kakap Putih,
3. Bagi pengambil kebijakan, hasil penelitian ini dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan dan
mewujudkan kemajuan budidaya Kakap putih melalui peningkatan sistem
immunitas terhadap penyakit Vibriosis.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Ikan kakap putih adalah ikan yang


mempunyai toleransi yang cukup
besar terhadap kadar garam
(Euryhaline) dan merupakan ikan
katadromous (dibesarkan di air
tawar dan kawin di air laut). Sifat-
sifat inilah yang menyebabkan
ikan kakap putih dapat
dibudidayakan di laut, tambak
maupun air tawar. Pada beberapa
daerah di Indonesia ikan kakap putih dikenal dengan beberapa nama seperti:
pelak, petakan, cabek, cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dubit tekong
(Madura), talungtar, pica-pica, kaca-kaca (Sulawesi). Ikan kakap putih termasuk
dalam famili Centroponidae, secara lengkap taksonominya adalah sbb:

Phillum : Chordata
Sub phillum : Vertebrata
Klas : Pisces
Subclas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Famili : Centroponidae
Genus : Lates
Species : Lates calcarifer (Bloch)

Ciri-ciri morfologis antara lain adalah:


1. Badan memanjang, gepeng dan batang sirip ekor lebar.
2. Pada waktu masih burayak (umur 1 ~ 3 bulan) warnanya gelap dan
setelah menjadi gelondongan (umur 3 ~ 5 bulan) warnanya terang dengan
bagian punggung berwarna coklat kebiru-biruan yang selanjutnya berubah
menjadi keabu-abuan dengan sirip berwarna abu-abu gelap.
3. Mata berwarna merah cemerlang.
4. Mulut lebar, sedikit serong dengan geligi halus.
5. Bagian atas penutup insang terdapat lubang kuping bergerigi.
6. Sirip punggung berjari-jari keras 3 dan lemah 7 ~ 8. Sedangkan bentuk
sirip ekor bulat.

Saat ini publikasi tentang penyakit yang menyerang ikan kakap putih yang
dibudidayakan di laut belum banyak dijumpai. Ikan kakap putih merupakan ikan
teleostei. Ikan jenis ini sering kali diserang virus, bakteri dan jamur. Hal ini juga
didukung dengan analisa rutin yang dilakukan di BBL Batam dimana penyakit
vibriosis merupakan penyakit bakterial utama yang menyerang kakap putih.
Definisi penyakit dalam patologi ikan

Penyakit didefinisikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi, dan atau fungsi
yang mengalami perubahan dari kondisi normal karena beberapa penyebab, dan
terbagi atas dua kelompok yaitu penyebab dari dalam (internal) dan luar
(eksternal). Penyakit ikan umumnya adalah eksternal. Penyakit internal : genetik,
sekresi internal, imunodefisiensi, saraf dan metabolik. Penyakit eksternal :

1). Non patogen


• Penyakit lingkungan :suhu dan kualitas air lainnya (pH, kelarutan gas, zat
beracun).
• Penyakit nutrisi : kekurangan nutrisi, gejala keracunan bahan pakan.

2). Patogen; bersifat parasit dan terdiri atas empat kelompok yaitu :
• Penyakit viral
• Penyakit jamur
• Penyakit bacterial

Karakteristik penyakit infeksi pada ikan


Ikan merupakan salah satu hewan air yang selalu bersentuhan dengan
lingkungan perairan sehingga mudah terinfeksi patogen melalui air. Infeksi
bakteri dan parasit tidak terjadi pada hewan darat melalui perantara udara,
namun pada ikan sering terjadi melalui air. Pada budidaya, air tidak hanya
sebagai tempat hidup bagi ikan, tapi juga sebagai perantara bagi patogen.

Istilah penting penyakit infeksi pada ikan


Istilah penting yang seringkali digunakan dalam penyakit infeksi ikan adalah
sebagai berikut :
• Epidemiologi : ilmu yang mempelajari hubungan berbagai faktor yang
mempengaruhi frekuensi dan penyebaran penyakit pada suatu komunitas.
• Penyebaran vertikal : penyebaran penyakit dari suatu generasi ke
generasi selanjutnya melalui telur.
• Penyebaran horisontal : penyebaran penyakit dari ikan satu ke ikan yang
lain pada kelompok ikan dan waktu yang sama.
• Carrier : hewan yang membawa organisme penyebab penyakit dalam
tubuhnya, namun hewan tersebut terlihat sehat sehingga menjadi
pembawa atau penyebar infeksi.
• Vektor : hewan yang menjadi perantara organisme penyebab penyakit
dari inang yang satu ke inang yang lain.
Contoh : siput, burung.
• Patogenisitas : kemampuan untuk dapat menyebabkan terjadinya
penyakit.
• Virulensi : derajat patogenisitas suatu mikroorganisme.
• Kisaran inang : kisaran hewan-hewan yang dapat diinfeksi oleh patogen.
Bakteri vibrio

Vibrio merupakan jenis bakteri yang hidupnya saprofit di air, air laut, dan
tanah. Bakteri ini juga dapat hidup di salinitas yang relatif tinggi. Sebagian besar
juga bersifat halofil yang tumbuh optimal pada air laut bersalinitas 20-
40‰. Genus Vibrio adalah agen penyebab penyakit vibriosis yang menyerang
hewan laut seperti ikan, udang, dan kerang-kerangan. Spesies Vibrio umumnya
menyerang larva udang dan penyakitnya disebut penyakit udang berpendar.
Bakteri Vibrio menyerang larva udang secara sekunder yaitu pada saat
dalam keadaan stress dan lemah, oleh karena itu sering dikatakan bahwa
bakteri ini termasuk jenis opportunistic pathogen yang dalam keadaan normal
ada dalam lingkungan pemeliharaan, kemudian berkembang dari sifat yang
saprofitik menjadi patogenik jika kondisi lingkungannya memungkinkan.

Terdapatnya bakteri pathogen Vibrio di perairan laut menandakan adanya


kontak dengan buangan limbah industri dan rumah tangga seperti tinja manusia
atau sisa bahan makanan lainnya, di mana bakteri tersebut secara langsung
akan tumbuh dan berkembang bila kondisi perairan tersebut memungkinkan.
Selanjutnya dari keadaan ini kemudian akan berpengaruh terhadap biota
perairan dan akhirnya pada manusia.

Bakteri dari spesies Vibrio secara langsung akan menimbulkan penyakit


(pathogen), yang dapat menyebabkan kematian biota laut yang menghuni
perairan, dan secara tidak langsung bakteri yang terbawa biota laut seperti ikan
akan dikonsumsi oleh manusia, sehingga menyebabkan penyakit pada manusia.

Sifat patogenitas

Dalam keadaan alamiah, bakteri ini hanya patogen terhadap manusia,


tetapi secara eksperimen dapat juga menginfeksi hewan. Hewan laut yang telah
terinfeksi Vibrio khususnya Udang, akan mengalami kondisi tubuh lemah,
berenang lambat, nafsu makan hilang, badan mempunyai bercak merah-
merah (red discoloration) pada pleopod dan abdominal serta pada malam hari
terlihat menyala. Udang yang terkena vibriosis akan menunjukkan gejala
nekrosis. Serta bagian mulut yang kehitaman adalah kolonisasi bakteri pada
esophagus dan mulut.

Vibrio tidak bersifat invasif, yaitu tidak pernah masuk kedalam sirkulasi
darah tetapi menetap di usus sehingga dapat menyebabkan gastritis pada
manusia. Masa inkubasi bakteri ini antara 6 jam sampai 5 hari. Vibrio
menghasilkan enterotoksin yang tidak tahan asam dan panas, musinase, dan
eksotoksin. Toksin diserap dipermukaan gangliosida sel epitel dan merangsang
hipersekresi air dan klorida sehingga menghambat absorpsi natrium. Akibat
kehilangan banyak cairan dan elektrolit, terjadilah kram perut, mual, muntah,
dehidrasi, dan shock (turunnya laju aliran darah secara tiba-tiba). Kematian
dapat terjadi apabila korban kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar.
Penyakit ini disebabkan karena korban mengkonsumsi bakteri hidup, yang
kemudian melekat pada usus halus dan menghasilkan toksin. Produksi toksin
oleh bakteri yang melekat ini menyebabkan diare berair yang merupakan gejala
penyakit ini.

Proses ini dapat dibuktikan dengan pemberian viseral antibodi. Bila


terjadi dehidrasi, maka diberikanlah cairan elektrolit. Immunitas pasif dapat
dilakukan dengan memberikan viseral antibodi dan viseral antitoksin yang
dapat mengurangi cairan tanpa mematikan kuman. Vibrio jenis lain juga dapat
menghasilkan soluble hemolysin yang dapat melisiskan sel darah merah.

Di Indonesia, Wijayati dan Hamid (1997) mendapatkan bahwa bakteri


patogen pada ikan kerapu tikus adalah terdiri dari Vibrio anguillarum, V.
alginolyticus, V. parahaemolyticus dan V. marinus. Seng (1994) juga
menyatakan bahwa V. parahaemolitycus dan V. alginolyticus adalah merupakan
bakteri patogen pada ikan kerapu yang potensial. Sedang menurut
Kasonchandra (1999) bakteri V. parahaemolitycus dan V. alginolyticus berperan
sebagai penyebab kematian pada ikan laut hingga mencapai 80 – 90%. Infeksi
bakteri Vibrio patogen ini yang diduga sebagai penyebab rendahnya sintasan
pembenihan ikan kerapu tikus yang hanya antara 1,2 – 2,9% (Anonim, 1999 b dan
Yuasa, 2000).

Usaha pengendalian penyakit bakterial pada kegiatan budidaya ikan


selama ini masih tertumpu pada penggunaan bahan kimia dan obat-obatan atau
antibiotik. Penggunaan obat-obatan atau antibiotik mempunyai beberapa
keuntungan, seperti manjur apabila tepat diagnosis dan dosisnya, mudah didapat
dan efeknya lebih ceoat teramati. Namun demikian, penggunaan obat-obatan
atau antibiotik secara terus menerus akan menimbulkan masalah, yaitu
timbulnya resistensi bakteri, adanya residu pada tubuh ikan, dan mencemari
lingkungan yang akhirnya dapat membunuh organisme bukan sasaran (Wu, et
al., 1981). Residu obat-obatan atau antibiotik pada daging ikan, dapat
mempengaruhi ekspor ikan kerapu ke negara tujuan. Padahal selama ini,
pengembangan kerapu pangsa pasar terbesar adalah pasar ekspor.

Resistensi bakteri Vibrio sp terhadap beberapa antibiotik telah banyak


dilaporkan peneliti di dunia ini. Di Jepangg, Aoki et al. (1985) telah melakukan uji
resistensi terhadap 139 strain V. anguillarum terhadap sembilan jenis obat-
obatan yaitu Chloramphenicol, Tetracycline, Streptomycin, Amphiciline, Colistin,
Nalidixin Acid, Furazolidone, Sulfamonomethoxine, dan Trimethroprim. Hasilnya
menunjukkan bahwa 98,6% diantaranya adalah resisten terhadap sebagian
besar atau semua dari 9 antibiotik tersebut. Tingginya resistensi bakteri Vibrio
sp. terhadap antibiotik ternyata disebabkan oleh adanya R-plasmid yang bersifat
dapat ditransfer (transferable R-plasmid).
Resistensi bakteri, juga dapat meningkat karena penggunaan obat-obatan
atau antibiotik secara terus menerus. Kamiso et al. (1992) melakukan uji
resistensi 5 strain Aeromonas hydrophyla yang berasal dari berbagai daerah
terhadap lima jenis antibiotik. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa semua
strain bakteri meningkat resistensinya, sebesar 2,5 kali terhadap kanamicin dan
62 kali terhadap kloramfenikol. Oleh karena itu diperlukan alternatif pengendalian
yang lain yang aman terhadap lingkungan, memberikan perlindungan tinggi
dalam waktu yang relatif lama dan efektif serta mudah diberikan.

Vaksinasi

Vaksinasi adalah salah alternatif pengendalian penyakit yang dikenal


cukup efektif dan efisien serta memberikan perlindungan cukup lama. Vaksinasi
pada dasarnya dapat digunakan untuk mencegah penyakit dan meningkatkan
kekebalan ikan (Gould, 1977). Vaksin merupakan satu bahan antigen yang
biasanya berasal dari suatu jasad patogen yang telah dilemahkan atau dimatikan
yang berfungsi untuk meningkatkan ketahanan ikan atau menimbulkan
kekebalan aktif terhadap suatu penyakit tertentu. Vaksinasi merupakan salah
satu upaya penanggulangan penyakit pada hewan (termasuk ikan) dengan cara
pemberian vaksin ke dalam tubuh hewan agar memiliki ketahanan terhadap
serangan penyakit. Teknik pemakaian vaksin yang biasa dilakukan pada ikan
mencakup bermacam cara, yaitu melalui suntikan, makanan atau oral,
perendaman, dan penyemprotan dengan tekanan tinggi. Faktor yang
mempengaruhi vaksinasi pada ikan antara lain temperatur, umur, dan berat ikan.
Faktor temperatur yang rendah membuat produksi antibodi lambat. Sedangkan
untuk umur dan berat ikan, vaksinasi jangan dilakukan pada ikan yang umurnya
kurang dari 2 minggu dan berat badannya kurang dari 1 gram. Hal tersebut
dikarenakan pada umur kurang dari 2 minggu sistem kekebalan organ tubuh ikan
belum sempurna untuk memproduksi antibodi (Ghufran, 2004). Metode vaksin
secara konvensional biasanya dibagi menjadi 2 yaitu, Heat Killed Vaccine (HKV)
dan Formalin Killed Vaccine (FKV).

Saat ini telah dijual berbagai jenis vaksin Vibrio khususnya di negara-
negara barat. Namun vaksin Vibrio tersebut belum tentu dapat memberikan
perlindungan yang efektif terhadap bakteri yang di Indonesia. Hal ini disebabkan
banyaknya serotipe dan heterogenisitas pada bakteri Vibrio tersebut. Harel et al.
(1976) menemukan adanya heterogenisitas dari bakteri Vibrio yang ditemukan di
Amerika Serikat. Disamping itu, masalah lain dalam pembuatan vaksin untuk
mengendalikan penyakit Vibriosis selain adanya heterogenisitas adalah
terbatasnya antigen yang bersifat imunogenik dan protektif. Perkembangan
teknologi rekombinan DNA memungkinkan untuk memecahkan permasalahan
penyediaan protein imunogenik dan protektif dalam jumlah besar dan cepat,
sehingga program vaksinasi tidak terhambat. Oleh karena itu pembuatan vaksin
rekombinan untuk menanggulangi penyakit Vibriosis pada ikan adalah salah satu
jawaban untuk memecahan permasahan dalam mengendalikan penyakit
tersebut.
III. METODE PENELITIAN

III.1 Tempat dan waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 5 (lima) bulan di Balai Budidaya Laut


Batam, yang dimulai pada bulan Februari hingga Juni 2010. Kegiatan ini meliputi
tahapan studi pustaka, pembesaran ikan Kakap putih dalam keramba jaring
apung (KJA), pengamatan (pertumbuhan ikan, mortalitas, berat dan panjang
total, FCR, protein atau energi rasio, titer antibodi, produksi (kg/m3) dan %
sintasan) pengumpulan data, penyusunan basis data, analisis data yang didapat
dan penulisan laporan penelitian.

Tahap pertama adalah pendederan benih ikan Kakap putih dalam


keramba jaring apung (KJA), penebaran dilaksanakan pada tanggal 15 Februari
2010, dan dilakukan pengukuran berat awal rata-rata (gram). Selanjutnya setiap
empat minggu sekali dilakukan pengambilan data. Adapun data-data yang
diambil adalah berat rata-rata setiap bulan (gram), pertambahan berat rata-rata
setiap bulan dibandingkan dengan bulan sebelumnya (gram), laju pertumbuhan
(gram/ekor/hari), konversi pakan, kesehatan ikan dan gangguan penyakit.
Pengamatan hal yang sama tersebut diatas dilakukan disetiap bulan sampai
dengan akhir Juni 2010. Pada bulan terakhir pengamatan yaitu akhir Juni 2010
dilakukan pengamatan tambahan yaitu data produksi (kg/m3) dan % sintasan.
Setiap tahapan pengambilan data tersebut dilakukan pada saat pagi hingga sore
hari. Hal ini dilakukan dengan harapan data kualitas air pada saat pasang dan
surut dapat terwakili seperti yang diharapkan.

Tahap kedua adalah pengumpulan data-data dari setiap bulan dari total 5
bulan masa pengamatan yang dilakukan. Hal ini termasuk data immunitas darah
ikan dan hasil analisa Carcass body pada tubuh ikan.

III.2. Bahan dan Alat Penelitian

Bahan dan alat yang dipergunakan dalam penelitian adalah sebagai


berikut:
A. Bahan:
− Benih Kakap putih dengan ukuran berat awal = 40 gram;
− Pakan
Ada 2 jenis pakan yang akan digunakan dalam penelitian ini yakni pakan
komersial dan alami (ikan rucah). Pakan komersial berasal dari produk KRA.
Pakan tersebut masing-masing akan diberikan sampai kenyang pada setiap
pemberian pakannya. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari jam
08.00; 12.00 dan 16.00
− Vaksin polivalen vibrio ukuran = 107 sel/ikan
− Telur, sebagai bahan pengikat vaksin
B. Peralatan:

− Keramba jaring apung (KJA) ukuran 1x1x1


m ; kerangka dari balok kayu (diameter 10-15 cm); pelampung styrofoam;
Jaring benang polyethelene (PE) mes size 0,5 inch; jangkar besi yang
berfungsi sebagai penahan keramba jaring apung (KJA)
− Tong plastik, Timba plastik, gayung plastik,
pisau dan gunting
− Toples plastik untuk wadah pakan
komersial
− Ember plastik besar untuk tempat
pengambilan ikan sampling pengujian panjang dan berat ikan
− Skopnet untuk mengambil atau menyerok
ikan
− Penggaris untuk mengukur panjang ikan
yang akan diuji
− Timbangan digital untuk menimbang pakan
dan ikan uji. Timbangan juga digunakan untuk menimbang berat ikan uji, baik
sebelum dan sesudah pemberian pakan
− Kamera digital untuk dokumentasi
penelitian lapangan
− Laboratorium adalah tempat untuk
pengamatan titer body dan bakteri
− Alat suntik otomatis untuk menyuntikan
vaksin ke tubuh ikan uji
− Alat Sysmex seri XT.1800 i digunakan
sebagai analisa darah
− DO meter digunakan sebagai alat
mengukur kandungan Oksigen terlarut
− Refraktometer digunakan sebagai alat
mengukur salinitas
− HACH DR 890 Kalorimeter digunakan
sebagai alat mengukur kandungan NO2, NO3 dan NH3;

III.3 Metode Penelitian

a. Persiapan Ikan uji dan kontrol

Kakap Putih yang dipelihara dengan berat awal 40 gram dan panjang total
dimasukkan ke dalam 2 (dua) bak berbeda. Dimana Bak 1 adalah ikan dengan
perlakuan vaksinasi melalui pakan, sementara bak 2 adalah bak dengan ikan
tanpa perlakuan / kontrol. Masing-masing padat tebar adalah 1000 ekor.

b. Penanganan penyakit melalui vaksinasi


Penanganan dan pencegahan penyakit ikan Kakap putih selama
pendederan dilakukan dengan cara vaksinasi. Vaksin polivalen vibrio yang telah
disiapkan dari laboratorium, selanjutnya diujicobakan pada skala laboratorium.
Dalam uji laboratorium ini akan digunakan ikan dengan ukuran berat, ukuran
panjang dan padat penebaran yang berbeda. Tujuh sampai sepuluh hari setelah
vaksinasi, ikan uji dibooster untuk meningkatkan produksi titer antibodinya. Cara
vaksinasi yang digunakan dalam uji skala laboratorium ini adalah: secara oral
melalui pakan.

Persiapan pakan dengan Vaksinasi dilakukan setiap hari selama rentang


waktu 3 (tiga) hari vaksinasi melalui pakan. Dengan mempertimbangkan
Biomass keseluruhan ikan dan konsentrasi vaksin yang diharapkan adalah 107
sel/ikan. 1000 mL vaksin disemprotkan ke 2000 gr pakan pelet yang sebelumnya
telah ditaburi dengan 6 (enam) butir putih telur sebagai bahan pengikat vaksin.
Pakan + vaksin diberikan selama 3 (tiga) hari berturut-turut kepada ikan uji,
sementara sebagai kontrol diberikan pakan yang sama tanpa vaksin.
Pemeliharaan dimulai pada hari ke-4 hingga hari ke-14 dimana akan dilakukan
booster dengan perlakuan yang sama.

Dua minggu setelah dibooster sebagian ikan uji diambil darahnya untuk
pengamatan titer antibodi. Sedangkan sisanya digunakan untuk uji tantang. Uji
tantang dilakukan terhadap bakteri terhadap yang sama dengan yang digunakan
untuk membuat vaksin. Uji tantang dilakukan secara suntikan (im) dengan dosis
106-107 CFU/ml atau pada LD50-nya dan selanjutnya dipelihara dalam akuarium
dengan kondisi yang baik. Selama uji tantang ikan akan diamati tingkat
mortalitas dan waktu terjadinya kematian, pengamatan lainnya adalah gejala-
gejala penyakit yang terjadi. Data hasil pengamatan selanjutnya dianalisis
statistik untuk melihat tingkat keberhasilan atau tingkat perlindungan dari vaksin
yang diuji coba.

Hasil terbaik uji dosis Vaksinasi melalui pakan pada skala laboratorium
tersebut kemudian diujicobakan di lapangan. Benih kakap putih dengan ukuran
berat dan panjang serta kondisi padat penebaran yang berbeda divaksin dengan
vaksin polivalen Vibrio dengan dosis terbaik hasil uji skala laboratorium melalui
pakan. Booster dilakukan satu minggu setelah vaksinasi dengan metode dan
dosis vaksinasi yang sama. Vaksinasi dan booster melalui pakan ini dilakukan
selama 3 hari berturut-turut, dimana pakan yang diberi vaksin diberi Putih telur
ayam sebagai bahan pengikat Vaksin dengan pakan. Satu minggu setelah
booster, ikan dipindah dalam karamba jaring apung berukuran jaring 3x3x3 m3
dengan padat tebar 1000 ekor/jaring untuk selanjutnya dilakukan pengamatan
selama 5 bulan (150 hari penelitian).

Guna mendukung data-data varibel yang telah ditetapkan dalam


penelitian tersebut diatas, dikumpulkan juga berbagai data yang tidak dianalisis,
namun berpengaruh sekali terhadap kelangsungan hidup ikan yaitu pengukuran
kualitas air yang mencakup: (a) suhu, alat ukur yang digunakan adalah
termometer; (b) salinitas, alat ukur yang digunakan adalah refractometer; (c) pH,
alat ukur yang digunakan adalah pH meter atau kertas lakmus; (c) oksigen
terlarut, alat ukur yang digunakan adalah DO meter; (d) Water quality kit test
untuk mengukur kualitas air lainnya; (e) Bahan organik dalam air; (f) kepadatan
bakteri, tempat dimana uji lapang dilakukan. Frekuensi pengukuran kualitas air
dilakukan minimal 1 kali dalam seminggu.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil

A. Pertambahan Berat Ikan

No Tanggal Sampling Pengamatan Berat Ikan


(gram)
Ikan uji Kontrol
1 15 Maret 180 182
2 16 April 230 223
3 16 Mei 300 287
4 16 Juni 410 395

Grafik pertambahan berat

450

400

350

300
Berat (gr)

250 Ikan yang divaksinasi


200 Ikan kontrol

150

100

50

0
15 Maret 16-Apr 16 Mei 16 Juni
Tanggal Sampling

B. Pertambahan Panjang Ikan

No Tanggal Sampling Pengamatan Panjang Ikan


( cm )
Ikan uji Kontrol
1 15 Maret 22 23
2 16 April 31 30
3 16 Mei 39 38
4 16 Juni 47 45

Grafik Pertumbuhan Panjang

50

45

40

35
Panjang (cm)

30
Ikan yang divaksin
25
Kontrol
20

15

10

0
15 Maret 16-Apr 16 Mei 16 Juni
Tanggal Sampling

C. Analisa Darah

No Analisa carcass Sampel ikan

Ikan uji Kontrol


1 Haemoglobin (g/dl) 6,2 5,9
2 Leukosit (j/µ liter) 501,290 487,490
3 Hematokrit (/µ liter) 32,3 27,9
4 Trombosit (/µ liter) 289,240 233,450
5 Eritrosit (juta/µ liter) 1,89 1,62
Kualitas Air

Kualitas lingkungan perairan adalah suatu kelayakan lingkungan perairan


untuk menunjang kehidupan dan pertumbuhan organisme air yang nilainya
dinyatakan dalam suatu kisaran tertentu. Sementara itu, perairan ideal adalah
perairan yang dapat mendukung kehidupan organisme dalam menyelesaikan
daur hidupnya (Boyd, 1990).

Menurut Ismoyo (1994) kualitas air adalah suatu keadaan dan sifat-sifat
fisik, kimia dan biologi suatu perairan yang dibandingkan dengan persyaratan
untuk keperluan tertentu, seperti kualitas air untuk air minum, pertanian dan
perikanan, rumah sakit, industri dan lain sebagainya. Sehingga menjadikan
persyaratan kualitas air berbeda-beda sesuai dengan peruntukannya.

Pertumbuhan ikan kerapu yang cepat diduga karena kualitas perairan


yang cocok, terutama karena adanya pola arus dingin (Hamzah, 2003) yang
diduga menghasilkan oksigen yang cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Davis (1975) bahwa oksigen berperan meningkatkan aktifitas
metabolisme. Kondisi ini sangat ditentukan oleh suhu dan salinitas (Jobling,
1981). Hasil pengamatan kualitas air selama 150 hari penelitian mencakup
parameter pH, salinitas, nitrit, nitrat, oksigen terlarut, suhu, total bakteri dan vibrio
untuk semua jenis perlakuan yang berbeda dihasilkan data hampir relatif sama
disetiap tanggal dilakukan sampling, dan masih dalam batas normal untuk
kelangsungan hidup ikan kerapu macan dalam keramba jaring apung

Data Analisa Kualitas Air Februari 2010

No Parameter Baku Tanggal sampling


Kualitas Mutu Satuan 01-02 08-02 17-02 22-02
Air
1 pH 7 – 8,5 7,85 8,02 8,02 7,95
2 Salinitas Alami ‰
30 30 31 31
33-34
3 NO2 < 0,1 mg/L 0 0 0 0
4 NO3 <1 mg/L 0 0 0 0
5 NH3 <0,02 mg/L 0,01 0,01 0,01 0,02
6 PO4 Mg/L 0 0 0 0
7 Oksigen 4–8 mg/l 5,2 5,4 5,4 5,4
terlarut
0
8 Temperatur 28- c
28,6 28,5 28,7 29,3
32±10
9 Total <
1,49 x 1,32 x 4,25 x 2,71 x
bakteri 10000 CFU/ml
103 103 103 103
umum
10 Vibrio < 100 CFU/ml 30 23 80 35

Data Analisa Kualitas Air Maret 2010

No Parameter Baku Tanggal sampling


Kualitas Mutu Satuan 01-03 08-03 22-03 29-02
Air
1 pH 7 – 8,5 7,96 7,74 7,89 7,72
2 Salinitas Alami ‰
31 31 32 32
33-34
3 NO2 < 0,1 mg/L 0 0 0 0
4 NO3 <1 mg/L 0 0 0 0
5 NH3 <0,02 mg/L 0,02 0,02 0,03 0,02
6 PO4 Mg/L 0 0 0 0
7 Oksigen 4–8 mg/l 5,8 5,4 5,1 5,0
terlarut
0
8 Temperatur 28- c
29,2 29,5 29,3 29,2
32±10
9 Total <
10,07x10 2,39 x
bakteri 10000 CFU/ml 290 2,96 x 103 3
103
umum
10 TBV < 100 CFU/ml
4,45 x
45 2,80 x 102 95
102

Data Analisa Kualitas Air April 2010

No Parameter Baku Tanggal sampling


Kualitas Mutu Satuan 05-04 12-04 19-04 26-04
Air
1 pH 7 – 8,5 7,65 7,86 7,94 7,92

2 Salinitas Alami ‰
32 30 32 32
33-34
3 NO2 < 0,1 mg/L 0 0 0 0
4 NO3 <1 mg/L 0 0 0,1 0
5 NH3 <0,02 mg/L 0,03 0,02 0,04 0,03
6 PO4 Mg/L 0 0 0 0
7 Oksigen 4–8 mg/l 5,0 5,0 4,8 5,0
terlarut
0
8 Temperatur 28- c
29,1 28,9 28,7 28,9
32±10
9 Total <
3,65 x 1,110 x 5,6 x
bakteri 10000 CFU/ml 5,2 x 102
104 103 103
umum
10 Total
7,95 x
Bakteri < 100 CFU/ml 6,8 x 102 6,7 x 102 40
102
Vibrio

Data Analisa Kualitas Air Mei 2010

No Parameter Baku Tanggal sampling


Kualitas Mutu Satuan 03-05 10-05 17-05 24-05
Air
1 pH 7 – 8,5 7,89 7,76 7,92 7,95
2 Salinitas Alami ‰
31 31 32 31
33-34
3 NO2 < 0,1 mg/L 0 0 0 0
4 NO3 <1 mg/L 0 0 0 0
5 NH3 <0,02 mg/L 0,02 0 0,01 0,01
6 PO4 mg/L 0 0 0 0
7 Oksigen 4–8 mg/l 5,2 5,1 5,0 5,4
terlarut
0
8 Temperatur 28- c
29,9 30,2 29,8 30,0
32±10
9 Total <
bakteri 10000 CFU/ml 1.35 x 103 20 50 100
umum
10 Total
Bakteri < 100 CFU/ml 20 20 60 20
Vibrio

Grafik
Grafik Fluktuasi Fluktuasi
Total BakteriTBU dan TBV
Umum selama
(TBU) dan masa
Total Bakteri Vibrio (TBV)
selama masa pengamatan. pengamatan
Jumlah Bakteri (x100 CFU/ml)

120

100

80

Total Bakteri Umum


60
Total Bakteri Vibrio

40

20

0
eb

ei

ei
pr
ar

pr
eb

ar

m
m
-A
-M

A
M
-F
F

5-
1-

1-

19

03

17
17

22

Tanggal Sampling
IV.2 Pembahasan

Dari hasil pengamatan, tampak nyata perbedaan yang dihasilkan baik


untuk variabel Panjang, Berat, Sintasan, kandungan gizi dan sistem immunitas
yang dimiliki oleh ikan yang divaksinasi bila dibandingkan dengan ikan kontrol.
Untuk variabel panjang, dari 4 (empat) kali sampling, menunjukkan bahwa pada
Bulan 1 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata namun tidak halnya dengan
sampling pada bulan ke-2, 3 dan 4 masa pemeliharaan. Pada akhir pengamatan
panjang akhir yang diperoleh pada akhir pengamatan adalah 47 cm. Artinya
selama masa 150 hari pemeliharaan terdapat pertambahan panjang sebesar
0,247 cm/ekor /hari. Hal ini lebih baik bila dibandingkan dengan ikan kontrol
dengan panjang akhir 46 cm yang berarti memiliki laju pertambahan panjang
harian sebesar 0,233 cm/ekor/hari.

Demikian juga halnya dengan laju pertambahan berat ikan. Berat rata-rata
yang dihasilkan pada akhir masa pemeliharaan pada ikan uji adalah 410 gr, yang
berarti laju pertambahan berat hariannya adalah 2,47gr/ekor/hari. Hal ini lebih
baik dibandingkan dengan laju pertumbuhan berat harian ikan kontrol yakni
sebanyak 2,37gr/ekor/hari. Sementara sintasan untuk ikan uji adalah sebanyak
92% lebih baik bila dibandingkan sentasan ikan kontrol sebesar 83%.

Untuk analisa proximat dan profil darah pada ikan uji dan kontrol,
diketahui bahwa ikan uji memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan
dengan ikan kontrol dan profil darah khususnya kandungan leukosit dan
hematokrit menunjukkan ada kenaikan konsentrasi dimana ikan uji memiliki
kandungan leukosit sebanyak 501,290 (j/µ liter) dan hematokrit sebesar 32,3 (j/µ
liter). Sementara pada ikan kontrol jumlah leukosit yang dimiliki adalah 487,490
(j/µ liter) dan hematokrit 27,9 (j/µ liter). Hal ini berarti bahwa sistem immun yang
dimiliki pada ikan yang divaksin lebih baik dibandingkan dengan ikan kontrol. Hal
ini dapat terjadi karena Vaksinasi merupakan salah satu upaya penanggulangan
penyakit pada hewan (termasuk ikan) dengan cara pemberian vaksin ke dalam
tubuh hewan agar memiliki ketahanan terhadap serangan penyakit.
Berdasarkan data kualitas air, untuk pH, oksigen terlarut, suhu, salinitas,
Nitrit, Nitrat dan Ammonia masih berada pada kisaran optimal untuk mendukung
produksi budidaya. Hanya saja memang fluktuasi mingguan dari jumlah Total
Bakteri umum dan Vibrio di dalam air sangat tinggi. Dengan kisaran TBU 20 -
4,25 x 103 dan Total Bakteri Vibrio 20 - 6,8 x 102 merupakan kondisi yang cukup
mengkhawatirkan terjadinya infeksi baik primer maupun sekunder terhadap ikan
Kakap putih yang dibudidayakan. Naumn Vaksinasi menunjukkan keefektivannya
dalam memberikan ketahanan tubuh terhadap serangan penyakit. Hal ini
dibuktikan dengan tingkat sintasan yang relatif tinggi sebesar 92% berbanding
83% dengan ikan kontrol.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan

1. Laju pertumbuhan panjang dan berat harian pada ikan yang divaksin
adalah 0,247 cm/ekor /hari dan 2,47gr/ekor/hari berbanding dengan ikan
kontrol dengan laju pertumbuhan harian 0,233 cm/ekor /hari dan
2,37gr/ekor/hari
2. Sintasan yang diperoleh untuk ikan yang divaksinasi adalah 92%
sementara ikan kontrol 83%.
3. Kandungan gizi ikan pada iakn yang divaksin adalah
4. Profil darah yang diperoleh pada ikan yang divaksin adalah Haemoglobin
6,2 g/dl, Leukosit 501,290 j/µ liter, Hematokrit 32,3 j/µ liter, Trombosit
289,240 j/µ liter, dan Eritrosit 1,89 juta/µ liter. Sementara pada ikan kontrol
memiliki kandungan Haemoglobin 5,9 g/dl, Leukosit 487,490 j/µ liter,
Hematokrit 27,9 j/µ liter, Trombosit 233,450 j/µ liter, dan Eritrosit 1,62
juta/µ liter.

V.2 Saran

1. Perlu dilakukan pengamatan tentang dosis penyediaan vaksin melalui


pakan yang optimal bagi kakap Putih.
2. Perlu dikaji variabel lain seperti pengamatan Titer antibodi pada masing-
masing darah ikan baik yang divaksin maupun kontrol.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2001. Country Status Review 2001 Tentang Eksploitasi dan


Perdagangan dalam Perikanan Karang di Indonesia. Kerjasama
DKP. Yayasan telapak Indonesia dan IMA, Bogor.

Akbar S., 2008. Status of Trend of Full Cycle Grouper Aquaculture Production
and Trade in The Coral Triangle. Country Indonesia. Batam
Aslianti., Slamet B., dan Prasetya G.S., 2002. Pengembangan Budidaya Kerapu
Bebek, Cromileptes altivelis di Teluk Ekas NTB. Prosiding Seminar
Riptek Kelautan Nasional. Balai Besar Riset Perikanan Budidaya
Laut Gondol. Bali
Basyarie A. 2001. Teknologi Pembesaran Ikan Kerapu (Ephinephelus spp).
Prosiding Teknologi Budidaya Laut dan Pengembangan Sea Farming
di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta. 112 –
117p.
Boyd C.E., 1990. Water Quality in Ponds For Aquaculture. Alabama Aquacultural
Experiment Station. Auburn University. Auburn marginatus (female).
Aquaculture 198 (1-2) 55-61

Kamiso H.N., 1985. Diferences in Pathogenicity and Pathology Vibrio


anguillarum and V. ordalii in Chum salmon (Oncorhynchus keta) and
English sole (Parophrys vetulus). Ph.D Thesis, Oregon State
University, Corvallis.

Kamiso, H.N., Triyanto., dan C. Kokarkin, 1998. Penggunaan bibit udang bebas
(SPF) Vibrio dan vaksinasi polivalen untuk penanggulangan
Vibriosis. RUT, 1996-1998. Kantor Menristek, DRN. Jakarta.
Kamiso, H.N., Triyanto dan Hartati, S., 1993. Uji antigenik dan efikasi vaksin
Aeromonas hydrophila. ARM Project. Deptan. Jakarta.
Kamiso, H.N., 1996. Vaksinasi induk untuk meningkatkan kekebalan bibit lele
dumbo (Clarias gariepinus) terhadap serangan Aeromonas
hydrophila. Buletin Ilmu Perikanan, 7 (20-31).

Koesharyani, I. 2001. Iridovirus penyebab kematian pada budidaya ikan Kerapu


lumpur (Epinephelus coioides) deteksi menggunakan PCR. Seminar
Nasional Pengembangan Budidaya Laut Berkelanjutan. Jakarta, 7-8
Maret 2001.

Koesharyani, I, D. Rosa, K.Mahardika, F. Johny, Zafran, K. Yuasa, K. Sugama,


K.Hatai, dan T. Nakai, 2001. Penuntun Diagnosa Penyakit Ikan II.
Penyakit Ikan Laut dan Krustase di Indonesia. JICA-BBRPBL
Gondol.
Lo, B.J, and S.C. Lin, 2001. Charcterization of grouper nervous necrosis virus
(GNVVV). J. Fish Diseases. 24 (1) 3-14

Maeno, Y., L.D. de la Pena, and E.R.C. Lacierda, 2002. Nodavirus infection in
hatchery reared orange spotted grouper Epinephleus coioides. First
record of viral nervous necrosis in the Philipines. Fish Pathology,
37(2) 87-89

Murdjani, M. 2002. Patologi dan patogenisitas Vibrio alginolyticus pada ikan


Kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Tesis S-3, Universitas Brawijaya.
Malang.

Olafsen, J.A. 2001. Interaction between fish larvae and bacteria in marine
aquaculture. Aquaculture 200 (1-2) 223-247.

Puja, Y., S. Akbar, dan Evalawati, 2001. Pemantauan teknologi produksi


budidaya Kerapu dalam program intensifikasi perikanan. Pertemuan
LintasUPT Lingkup Ditjen Perikanan Budidaya, Yogyakarta. 11-14
September 2001.

Rukyani, A. 2001. Strategi pengendalian penyakit viral pada budidaya ikan


kerapu. Seminar Nasional Pengembangan Budidaya Laut
Berkelanjutan. Jakarta, 7-8 Maret 2001.

Tanaka, S., K.M.M. Arimoto, T. Iwamoto, and T. Nakai, 2001. Protective


immunity of seven band grouper Epinephelus septafasciatus, agints
experimental viral nervous necrosis. J. Fish Diseases 24 (1) 15-22.

Yuasa, Kei, dkk. 2003. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. Balai Budidaya Air
Tawar Jambi, Ditjen Perikanan Budidaya, DKP dan JICA