Anda di halaman 1dari 4

YAM, Terminal Perlindungan Anak Jalanan

Nanang, bocah ingusan dari Brebes itu, tiba-tiba linglung. Kereta api (KA) yang dia tumpangi
ternyata tidak berhenti di sebuah stasiun, tetapi sebuah bengkel KA. Bocah itu tak mengerti
harus kemana melanjutkan langkahnya yang mungil. Bengkel itu sepi, tak ada lalu lalang
penjual asongan. Apalagi rombongan pengamen. Akhirnya anak itu diantar petugas KA ke
rumah singgah, Yayasan Annur Muhiyyam (YAM), yang tidak jauh dari bengkel KA di
bilangan Bukit Duri itu.

Begitu juga yang dialami Rahim (7). Bocah yang pernah sekolah SD beberapa bulan ini
kabur dari orang tuanya di Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Dia kabur lantaran ibunya meninggal
dunia, sedangkan ayahnya yang pemulung menikah lagi dengan perempuan yang
dianggapnya jahat pada dirinya. Dia lontang-lantung di jalanan, tersesat di KA ekonomi.
Beruntung dia bertemua pengamen yang sudah singgah di YAM. Akhirnya, Rahim kecil itu
tinggal di yayasan yang didirikan Drs. Umar Sumardinata, MM itu.

Tak jauh beda dengan pengalaman Eboy, anak yang tak pernah tahu kapan dia dilahirkan.
Dia tak pernah tahu dari mana asal-muasalnya, apalagi orang tuanya. Dia hanya ingat ketika
seusia anak 4 tahun, dirinya sudah di jalanan. Selama di jalanan dirinya mengaku sangat
kotor. Jangankan mandi pakai air bersih, sekadar cuci muka saja dia selalu lupa.

“Bangun tidur, ya, langsung jalan. Mana sempat cuci muka segala. Pakaian yang dipakai, ya,
yang menempel itu saja. Setelah ada tempat tinggal (di YAM), ya, bersih seperti ini,” ujar
Eboy, remaja yang pernah mengamen hingga ke Aceh dan Bali ini.

Meskipun Eboy singgah di YAM, tetapi remaja ini tidak pernah aktif di kegiatan YAM. Dia
memang pernah diikutkan kursus bengkel dan mendapat sertifikat, tetapi dia tidak pernah
mendapat pekerjaan. Meskipun sudah berulang kali melamar pekerjaan ke bengkel, namun
dia mengaku tidak ada satu pun bengkel yang mau menerimanya, karena statusnya yang tidak
jelas. Untuk itu, dia melanjutkan lagi profesinya sebagai pengamen jalanan.

Tak hanya Nanang, Rahim, dan Eboy, masih banyak lagi anak lainnya yang terpaksa singgah
di Yayasan yang berdiri pada 10 Februari 1999. Ada sekitar 40-50 anak yang tinggal di YAM
setiap bulannya. Mereka rata-rata merapat di YAM karena perahu keluarganya berantakan.
Tak hanya anak, ibu-ibu pun terpaksa menumpang di sana bersama anaknya lantaran atau
rumah liarnya digusur petugas.

Sebelum di YAM, mereka terombang-ambing di jalanan, menyatu dengan debu dan asap
hitam untuk sekadar mencari makan, syukur-syukur bisa mendapat pakaian. Tak jarang
mereka mendekam di camp penampungan, karena digaruk petugas karena melanggar
ketertiban. Mereka anak-anak terlantar yang kehilangan hak-hak dasarnya.

Di sana, anak-anak terlantar itu tak hanya menumpang tidur dan mandi. Mereka juga
mendapat makan yang disediakan pengurus yayasan. Setiap bulannya, pengurus membelikan
50 kg beras untuk makan sehari-hari mereka. Meskipun tidak ada donatur tetap untuk
membiayai kelangsungan hidup mereka, termasuk rumah kontrakan seharga 18 juta per
tahunnya, namun ada saja rizki yang turut singgah di rumah itu.

Selain itu, mereka juga diajarkan banyak hal, seperti belajar menyablon, belajar komputer,
dan juga mengikuti pendidikan paket A, B, dan C. Untuk pendidikan paket A, B, dan C saat
tahun pertama, ujian nasionalnya dititipkan di PKBM lain. Lalu setahun kemudian bisa
menyelenggarakan sendiri sampai sekarang. Sampai sekarang, lulusannya mencapai hampir
500 anak.

Para pendamping anak-anak jalanan ini berasal dari STKS, sarjana sosial, sarjana pendidikan.
Rata-rata mereka memiliki pengalaman sebagai guru dan pekerja sosial. Dan yang tak kalah
pentingnya adalah pendamping yang asli dari anak jalanan. Dia adalah leader atau tokoh
kunci.

Sebagaimana pengalaman di lapangan, menurut Jefry, untuk mendidik anak jalanan perlu
pendekatan sendiri. Sebagai anak jalanan yang telah singgah sejak 1999 di YAM ini, Jefry
memiliki cara tersendiri untuk berbicara dari hati ke hati.

“Untuk bisa bicara secara lepas dengan mereka, kadang memerlukan waktu yang lama.
Kebanyakan anak-anak tersebut menutup diri dan tak mau terbuka. Karena saya sendiri juga
pernah hidup di jalanan, saya bisa mengerti apa yang harus saya lakukan dalam mendampingi
mereka,” ujar Jefry yang sehari-hari mengurus administrasi di YAM ini.

Berderet tropi kemenangan dan berbagai piagam penghargaan menghiasi salah satu sudut
ruangan YAM. Tanpa harus bicara, mereka menunjukkan hasil prestasi yang tercapai.

Meski ada yang bertahan sebagai anak jalanan, tetapi tidak sedikit yang berhasil mentas dari
statusnya yang tidak jelas. Ada yang menjadi pengawai negeri, ada yang menjadi kepala
sekolah, ada pula yang bekerja di perusahaan elektronik ternama. Sebab, beberapa
perusahaan besar tidak jarang merekruit anak-anak di YAM ini untuk dilatih dan
dipekerjakan di perusahaan tersebut.

“Memang banyak tawaran untuk pelatihan dan sebagainya, tetapi kami selalu menanyakan
apa tindak lanjut dari pelatihan itu? Kalau diserahkan kembali pada anak-anak tersebut, kami
jarang memenuhi permintaan mereka. Karena anak-anak itu bisa saja kembali ke jalanan,”
ujar Drs. Suwagio, pengurus bidang pemberdayaan masyarakat.

Bermula dari Pendidikan

Sebelum YAM berdiri, Umar Sumardinata adalah seorang guru di sebuah SMA. Pada 1997
dia diajak temannya membantu mengajar informal di Bandar Gebang dan LP Cipinang,
dalam sebuah program yang dibiayai ILO. Setahun kemudian, dia mendirikan bimbingan
belajar untuk anak jalanan di mushala. Ternyata pada saat itu banyak anak yang putus
sekolah karena krisis ekonomi dan politik yang sangat parah di Indonesia. Peserta yang
mengikuti pendidikan informal itupun terus meningkat.

Karena keberhasilan kegiatan yang diselenggarakan oleh Umar, dinas sosial mulai
meliriknya. Apalagi beberapa anak yang putus sekolah kini bisa kembali melanjutkan
pendidikan formalnya. Umar pun disarankan membuat lembaga resmi yang berakta notaris
agar bisa mendapat bantuan dari pemerintah dalam menjalankan niat baiknya. Sejak itu
berdirilah YAM.

Pada 1999 Kanwil Depsos pun memberikan kepercayaan pada YAM untuk
menyelenggarakan pendidikan dan pemberdayaan anak-anak di bantaran sungai di bilangan
Bukit Duri. Sejak itu, Umar dan kawan-kawannya membuat rumah singgah buat anak jalanan
dengan menyewa rumah yang lebih layak dari sebelumnya.

“Oleh karena kami memang memiliki latar belakang pendidikan dan pekerja sosial, akhirnya
dipadukan. Kami pun memberikan layanan pendidikan dan layanan hak-hak dasar sosial buat
anak-anak. Kami mengurus akte kelahiran buat anak-anak yang tidak memiliki identitas yang
jelas. Untuk orang tua yang sedang retak hubungannya, kami memberikan konseling untuk
mereka,” ujar Umar kepada TMN.

Sejak awal, sasaran utama dari kegiatan belajar ini diarahkan untuk anak jalanan. Untuk itu,
program utama yang diberikan oleh YAM ini adalah memberikan bimbingan belajar untuk
mereka. YAM juga memberikan beasiswa pendidikan SMP dan SMA untuk mereka. Namun
pada saat itu sekitar 80 persen anak-anak mengalami putus sekolah, sehingga pada 2001
YAM mulai merintis penyelenggaraan pendidikan kejar paket A, B, dan C.

Rupanya, anak-anak yang sudah bergabung belajar di YAM turut meyakinkan dan mengajak
teman-temannya untuk bergabung juga tempat baru itu juga.

YAM terus tumbuh dan berkembang. Anak-anak jalanan di Jakarta memang tersebar di
berbagai wilayah. YAM pun membuat unit-unit informasi di beberapa tempat strategis, dekat
dengan tempat para pemulung, di antaranya di Cipinang, Matraman, dan Pejompongan. Lalu,
dibuka juga tiga cabang YAM yang berada Citayam dekat stasiun, di kota dan kabupaten
Bekasi.

Untuk menangani masalah ini, Umar terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya lamanya
sebagai guru di SMA. Karena kondisi ini, menurutnya, memerlukan konsentrasi tersendiri.
Apalagi persoalan perlindungan dan pendampingan anak jalanan ini tidak banyak yang
mengurus.

“Kalau anak-anak yang sekolah formal memang mereka mempunyai aksesibilitas normatif
dari keluarganya. Kalau anak jalanan kan tidak memiliki aksesibilitas untuk mendapatkan
haknya. Masalah akte kelahiran saja, misalnya, mereka tidak memiliki orang tua yang jelas.
Kalau pun memiliki orang tua, mereka tinggalnya di RT 00/00,” ungkap Umar.

YAM juga mendapat kepercayaan dari pemerintah dengan memberi mobil belajar untuk
anak-anak jalanan. Mobil belajar itu keliling di berbagai daerah untuk melayani anak-anak
yang tidak mempunyai aksesibilitas pendidikan.

Susahnya mengurus anak-anak jalanan ini memang sudah pasti. Tidak semua anak bisa
bertahan di rumah singgah untuk belajar. Di antara mereka ada yang tak bisa meninggalkan
kenikmatannya hidup di jalanan. Dia tak mau belajar seperti yang lainnya. Ada juga suka
memakai narkoba atau ngelem. Tentu saja dia akan dihukum guyur. Jika masih mengulang
lagi perbuatannya dia akan dikeluarkan.

Sebagai rumah singgah YAM sifatnya hanya sementara. Setelah anak-anak dibina sementara,
mereka dirujuk ke departemen sosial. Ada juga yang dikembalikan kepada keluarganya,
sebagaimana yang pernah dilakukan kerjasama dengan salah satu televisi swasta.

Namun demikian, YAM bukanlah lembaga yang bisa mengurus semua anak jalanan. Mereka
berharap kepolisian, departemen kesehatan, departemen pendidikan, departemen sosial, dan
KPAI, sebagai lembaga pemerintah dan negara bisa bekerjasama dalam mengatasi
perlindungan anak jalanan. YAM, hanyalah terminal sementara bagi perlindungan anak-anak
tersebut. Sebab, anak-anak ini memang tanggung jawab negara sebagaimana amanat UUD
1945 dan UU Perlindungan Anak. (Sahlul)