Anda di halaman 1dari 3

Kekacauan-Kekacauan Hukum Anak Di Indonesia

Anak memiliki posisi penting bagi Negara Indonesia. Persoalan anak di negeri ini
tidak sekadar diatur dalam peraturan biasa, seperti peraturan pemerintah (PP)
atau peraturan daerah (Perda) saja. Akan tetapi, ketentuan tentang anak ini juga
terdapat dalam konstitusi negara tertinggi, yang juga menjadi sumber hukum
tertinggi di negeri ini.

Kata “anak” dalam UUD 1945 disebut dalam 2 pasal. Pasal 28D ayat (2) yang
berbunyi, “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang
serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi” dan Pasal 34 ayat
(1) yang berbunyi, “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh
negara”.

Di samping itu, negara juga menetapkan undang-undang (UU) yang secara khusus
mengatur tentang pengadilan anak (UU No. 3/1997) dan perlindungan anak (UU No.
23/2002). Meskipun keduanya mengatur tentang anak, sayangnya ada semangat
yang justru saling bertentangan. Hal ini disampaikan Hadi Supeno, Ketua Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kepada TMN (5/7) siang di kantor KPAI,
Menteng.

Menurut Hadi, UU No. 3/1997 tentang Pengadilan Anak ini bukan melindungi anak,
sebaliknya justru “mengkriminalisasi” anak. UU ini, yang dengan kekuasaannya,
banyak menjerat anak berhadapan dengan hukum atau pengadilan. Pasal-pasal
dalam UU ini yang bertentangan dengan semangat UU Perlindungan Anak antara
lain, Pasal 1 ayat (1) yang menyatakan bahwa anak nakal adalah anak yang belum
18 tahun, kecuali sudah kawin. Padahal de facto, banyak anak usia 9-18 tahun
sudah banyak yang menikah. Dengan ketentuan ini, jika anak yang sudah menikah
tersebut berhadapan dengan hukum, berarti digunakan ketentuan hukum orang
dewasa.

“Ayat (2) lebih mengerikan lagi. Disebutkan, anak nakal adalah anak yang
melanggar hukum sesuai perundang-undangan, termasuk melanggar norma yang
hidup di masyarakat. Ini ‘kan aneh. Anak yang melanggar norma masyarakat
disebut sebagai anak nakal dan bisa dihukum,” tegas mantan Wakil Bupati
Banjarnegara ini.

Selain itu, masih banyak pasal-pasal lain tidak selaras dengan semangat
perlindungan anak. Bahkan dalam Pasal 31 disebutkan bahwa “anak negara”
dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan (LP). “Anak Negara” merupakan anak
yang diserahkan kepada negara karena ketidakmampuan orangtuanya mendidik.

“Mereka itu bukan penjahat, kenapa kok diserahkan ke LP. Gimana negara ini? Ini
namanya negara tidak bertanggung jawab, bisa menghukum, bukan mendidik. Atas
dasar itulah, KPAI pada tahun 2010 ini mengajukan judicial review ke MK terhadap
pasal-pasal tersebut,” katanya Hadi Supeno lagi.

Definisi tentang “anak” sendiri dalam berbagai UU ternyata masih beragam.


Akibatnya status anak dalam berbagai UU mengandung kelemahan-kelemahan.
Misalnya, dalam UU tentang Perkawinan, disebut seseorang berusia 16 tahun boleh
menikah. UU Politik meyebutkan bahwa seseorang berusia 17 boleh memilih, dan
dalam UU Lalu lintas seseorang berusia 17 tahun boleh mendapatkan SIM. Padahal
dalam UU No. 23/2002 ini sudah lebih maju daripada ketentuan yang tercantum
konvensi internasional tentang hak anak.

Anak, dalam UU No. 23/2002 ini, adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan
belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Sedangkan dalam
konvensi internasional tentang hak anak dimulai dari 0-18. Artinya, kata Hadi,
kalau di sini, sebelum nol sudah disebut anak. Dan juga berarti bahwa apabila ada
orang memukul seorang ibu yang sedang hamil, pelakunya harus dihukum berlipat,
karena di dalamnya terdapat anak.

“Di Indonesia ini memang susah. Baru-baru ini ada UU tentang Pemuda yang
menyebutkan bahwa Pemuda itu dimulai dari 17 tahun, mestinya dimulai dari 18,
setelah anak. Jadinya tidak konsisten. Mestinya, Dephukham ini mengontrol semua
ini. Karena semua aturan perundang-undangan yang akan dibahas masuk ke
departemen ini,” lanjutnya.

Di sisi lain, sebagaimana dalam UU Perlindungan Anak, terdapat empat prinsip


perlindungan anak yang tidak boleh dilanggar. Prinsip-prinsip tersebut antara lain,
prinsip non diskriminatif, prinsip kepentingan terbaik bagi anak, prinsip
kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta prinsip penghargaan terhadap
pendapat anak.

“Berdasarkan prinsip-prinsip ini, jika kita ingin menolong anak di depan masjid
tidak boleh kita menanyakan suku, ras, dan agama anak itu baru menolong. Selama
dia seorang anak, tidak boleh didiskriminasi. kalau membangun sesuatu bukan atas
dasar kepentingan terbaik buat orang dewasa, tetapi harus kepentingan terbaik
buat anak. Termasuk pembangunan fasilitas umum dan fasilitas khusus,” jelas pria
kelahiran 14 April 1959 ini.

Menghadapi disharmonisasi undang-undang yang menyangkut anak ini, KPAI


mengaku sudah membawanya ke Komisi Hukum Nasional (KHN). Sayangnya, hingga
kini, KHN tidak menindaklanjuti persoalan tersebut sehingga status anak dalam
hukum di Indonesia ini masih simpang siur.

Pengadilan versus Sistem Peradilan Anak

Saat ini KPAI ikut menggodok UU baru terkait anak. Ketika ditanya apa yang dimaui
KPAI? KPAI menginginkan UU Sistem Peradilan Anak, bukan UU Pengadilan Anak,
kalau Indonesia ingin maju.

UU Sistem Peradilan Anak ini, jelas Hadi, tidak di bawah sistem peradilan umum,
jadi terpisah. Pendekatannya harus restorative justice, hukum yang lebih
memulihkan hubungan antara pelaku dengan korban. Karena tujuan hukum
sebenarnya adalah keseimbangan kosmos, perdamaian antar individu, bukan untuk
balas dendam, tetapi bagaimana hubungan di masyarakat dipulihkan. Kalau ada
dua anak berkelahi, terus yang satu dibawa ke pengadilan bisa menyebabkan
dendam, bukan perdamaian.
Jika menggunakan restorative justice ini, kedua orang tua dikumpulkan, difasilitasi
oleh lembaga yang dibentuk oleh negara, lalu terjadi perdamaian antara pelaku
dengan korban. Jadi tujuan utamanya adalah membuat si pelaku menjadi sadar
bahwa apa yang dilakukannya adalah salah, dan dia tidak boleh melakukannya.
Seperti, kalau dirinya dicubit itu sakit, maka dia juga tidak boleh mencubit.

Menurut Hadi, apabila pendekatan restorative justice ini gagal, alternatif kedua
adalah diversi, yakni pengalihan hukuman. Melalui diversi ini anak tidak perlu
masuk penjara, tetapi dimasukkan gedung arsip untuk latihan menata arsip, atau
dimasukkan perpustakaan untuk latihan membuat katalog, atau dimasukkan ke
panti jompo untuk membantu para orang tua di sana atau sebagai relawan sosial
lainnya. Dengan demikian, saat si anak ini keluar, ia telah memiliki keterampilan
atau keahlian sesuai dengan tugas yang diberikan. Saat dia kembali ke masyarakat,
karena menyelesaikan tugas-tugasnya, dia juga tidak divonis sebagai narapidana
yang harus mencari surat keterangan kelakuan baik ke polisi.

Seharusnya, lanjut Hadi, UU tentang Pengadilan Anak itu membahas hal ini, bukan
dibawa ke pangadilan, lalu dipenjara. Apalagi jumlah penjara anak di Indonesia
hanya 16 dan banyak daerah yang tidak punya. Dengan alasan tidak punya penjara
anak, akhirnya anak tersebut titipkan ke penjara orang dewasa. Tentu saja, hal ini
lebih mengerikan lagi.

Mestinya, tugas KPAI sangat berat. Sayangnya, kewenangan yang diberikan KPAI
tidak sampai pada tahap operasional. Kalau tugas KPAI ini dipertegas dan lebih
fokus mungkin akan lebih bermanfaat. Misalnya, diberi kewenangan untuk
melakukan pengawasan dan investigasi terhadap kasus-kasus anak. Karena,
misalnya, kapolri melakukan pelanggaran anak, apakah Menteri Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak berani menegur polisi?

Ada yang bilang tugas KPAI ini abu-abu, hanya meningkatkan efektifitas
penyelenggaraan perlindungan anak. Oleh karena itu, banyak masyarakat salah
paham antara Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) dengan KPAI. Padahal
Komnas PA bukan lembaga resmi milik negara yang diatur melalui UU.