Anda di halaman 1dari 3

Perayaan Dilakukan di DPR

Bagaimana Nasib Pancasila Kini?


Ahluwalia

INILAH.COM, Jakarta - Pada 1 Juni 1945 Soekarno membuat sejarah


dengan menyusun Pancasila. Namun perkembangannya Pancasila terus
mengalami cobaan. Akankah Pancasila abadi?

Eksistensi Pancasila sebagai dasar negara, filosofi bangsa, serta ideologi


pemersatu diyakini mulai memasuki gelombang keempat. Kondisi itu ditandai
dengan semakin menguatnya keinginan masyarakat agar peran dan fungsi
Pancasila kembali direvitalisasi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam,
dalam sarasehan nasional memperingati Hari Lahir Pancasila dan Kebangkitan
Nasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta belum lama ini, menyatakan
ada empat gelombang eksistensi Pancasila di kancah politik Indonesia.

Pertama ketika Pancasila diciptakan saat Soekarno berpidato di depan BPUPKI, 1


Juni 1945. Gelombang kedua ketika konstituante, pasca-Pemilu 1955,
memperdebatkan apakah Pancasila terus jadi dasar negara atau ideologi lain. Hal
itu berujung pada Dekrit Presiden 1959.

Gelombang ketiga terjadi ketika Pancasila dimanipulasi, disalahgunakan, dan


hanya boleh diterjemahkan, diinterpretasikan, dan bahkan dipakai menjadi alat
untuk ‘memukul’ musuh-musuhnya oleh kekuatan Orde Baru. Akibatnya, ketika
rezim Orde Baru tumbang pada masa reformasi, kejatuhan Soeharto berdampak
buruk terhadap Pancasila yang makin dilupakan.

Kini, untuk merevitalisasi Pancasila tidak mudah. Jika pada masa Soekarno
mereka (para bapak pendiri bangsa) menempatkan sila Ketuhanan Yang Maha
Esa di urutan pertama karena dianggap penting untuk menyatukan semua pihak,
pada masa sekarang justru harus dimulai dari sila kelima. “Karena memang di
situlah tuntutan zamannya,” tegas Asvi Warman.

Wakil Ketua DPR Pramono Anung mengatakan, acara peringatan Pancasila 1 Juni
akan diisi dengan Pidato Presiden I Republik Indonesia Soekarno (Bung Karno).
Acara ini juga akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Pada 1 Juni, kami akan mengadakan peringatan Pidato Bung Karno yang dihadiri
Presiden SBY. Pidato yang diperingati adalah pidato yang disampaikan beliau
pada 1 Juni," kata Pramono.
Pidato Bung Karno itu dinilai relevan dengan konteks perubahan zaman saat ini.
Peringatan Hari Lahir Pancasila itu dijadwalkan pada pukul 10.00-12.00. "Karena
Selasa bertepatan dengan jadwal paripurna, maka paripurnanya mundur pukul
13.00," katanya.

Wakil Kepala Badan Intelijen Negara As’ad Said Ali menyayangkan kondisi selama
ini, saat nilai-nilai Pancasila tidak lagi dijadikan pedoman, bahkan dalam proses
pembuatan kebijakan sekalipun. “Revitalisasi dan obyektivikasi Pancasila menjadi
penting,” katanya. [mdr]

31/05/2010 - 16:50

1 Juni Hari Lahir Pancasila, Bukan Hari


Pancasila
kawiyan

Lukman Hakiem

INILAH.COM, Jakarta- Tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari lahir Pancasila.


"Tapi bukan Hari Pancasila," ujar Lukman Hakiem, wakil ketua Majelis Pakar DPP
PPP kepada INILAH.COM di Jakarta, Senin.

Lukman menambahkan, ada perbedaan antara Hari Lahir Pancasila dgn Hari
Pancasila.

Pada 1 Juni 1945 untuk kali pertama Soekarno menawarkan lima dasar negara.
Pidato M. Yamin sebelum itu, kata Bung Hatta, tidak pernah ada.

Penetapan 1 Juni sebagai Hari Pancasila mengesankan pada 1 Juni 1945 telah
terjadi kesepakatan final Pancasila sebagai dasar negara, padahal proses menuju
ke sana masih panjang.

Pancasila dirumuskan kata per kata, kalimat per kalimat oleh seluruh anak
bangsa.

"Jika 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Pancasila, dasar negara kita menjadi
eksklusif, milik satu golongan politik tertentu, juga menutup diri terhadap
intervensi wahyu sebab pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 menempatkan
KetuhananYME sebagai sila terakhir, bahkan hilang jika Pancasila diperas jadi
Ekasila, Gotongroyong," papar Lukman yang juga penulis buku 'Di Sekitar
Lahirnya Republik' bersama DR H. Anwar Harjono, SH.
"Jadi, 1 Juni merupakan Hari Lahir Pancasila, bukan Hari Pancasila," pungkas
Lukman. [wdh]